Bocah Sakti **
Oleh : Wang Yu
Jilid 01
-- 1 --
Itulah malam menyeramkan.........
Awan gelap menutupi bulan sisir. Kilat berkeredepan, diselingi
oleh bunyinya guntur seolah-olah malam itu bakal turun hujan
besar.
Dalam suasana yang seram itu, ada terdengar percakapan ini :
"In-ji, malam ini cuaca jelek. Kita tak usah latihan ilmu silat."
"Terserah pada Liok Sinshe. Juga bukankah sinshe lagi sakit?"
"Sungguh terang otakmu, In-ji. Kau bakat menjadi seorang
pandai yang selain mengerti ilmu surat juga silat sekaligus !
Ha ha ha......."
"Terima kasih. Semua ini atas didikan Liok sinshe."
Percakapan ini keluar dari sebuah rumah tua yang mencil
sendirian di atas jurang Tong-hong gay, sebelah barat gunung
Hengsan di propinsi Ouwlam.
Dalam rumah itu yang diterangi dengan dua batang lilin, cukup
terang, tampak duduk menghadapi meja seorang anak kirakira
umur 12 tahun tengah menulis. Tidak jauh dari padanya,
diatas sebuah kursi malas, ada rebah seorang laki-laki dari
usia pertengahan. Kepalanya diikat setangan dan pada kedua
belah pilingannya ada ditempel koyo.
Orang sakit itu yang dipanggil Liok Sinshe, tabib Liok, tiba-tiba
bangun dari rebahannya, jalan menghampiri si anak kecil,
duduk di bangku di depannya.
Anak kecil itu hentikan tulisannya, bangkit dari duduknya,
mendekati Liok sinshe.
"Sinshe lagi sakit, sebaiknya Sinshe rebahan saja." kata si
anak dengan roman aleman.
Liok Sinshe ketawa. Ia pegang kedua tangan si bocah, lalu
ditarik dan dipeluk dengan rupa yang sangat menyayang.
"In-ji..." bisiknya di telinga si anak.
"Ya, Sinshe," jawabnya pelan.
Hening sejenak........
Lama ditunggu, belum juga Liok Sinshe menyambung katakatanya.
Lo In, si anak kecil menjadi heran. Lebih terperanjat
pula di kala ia merasakan pipinya hangat. Itulah air, ketika ia
meraba pipinya.
Dengan pelan ia melepaskan diri dari peluknya Liok sinshe.
Hatinya dirasakan mencelos ketika ia mengawasi Liok Sinshe
bercucuran air mata. Tapi air mukanya tetap bersenyum halus.
Senyuman penuh kesayangan, yang biasa Lo In hadapi
sehari-hari selama ia berkumpul denganLiok Sinshe.
"Liok Sinshe, kau kenapa ?" tanyanya cepat.
"Anak In (In-ji)...." kaat Liok sinshe, tidak lampias suaranya,
"Sebenarnya, malam ini ingin aku menuturkan suatu kisah......."
Baru sampai di perkataan 'kisah', tiba-tiba saja Liok Sinshe
meniup padam api lilin hingga dalam ruangan itu menjadi gelap
gulita.
Segera terdengar menyambarnya beberapa senjata rahasia,
disusul oleh suara ketawa : "Ha ha ha, Liok sinshe mau
menutur kisah si bangsat Kwee Cu Gie ! Keluar ! Mari keluar
Liok sinshe, kita bikin perhitungan hutang jiwa dua belas tahun
yang lampau. Ha ha ha, Kwee Cu Gie...... !"
Liok Sinshe dan Lo In saat itu sembunyi di bawah meja hingga
terhindar dari serentetan serangan senjata rahasia musuh
yang dilepas dari jendela. Dalam keadaan biasa, musuh tidak
mudah menyatroni rumahnya, membokong dengan senjata
rahasia. Malam itu rupanya Liok sinshe dipengaruhi oleh
cuaca buruk, membikin kupingnya yang biasanya tajam
menjadi puntul.
"In-ji," bisik Liok sinshe, "Yang datang itu Siauwsan Ngo-ok.
Mereka punya piauw yang direndam racun yang dinamai 'Ngotok
piauw', sangat berbahaya. Juga mereka sangat kejam dan
telengas, maka itu, kalau sebentar aku keluar, harap kau lari
selamatkan diri !"
Si bocah tidak menjawab. Hanya ia pegangi kencang
lengannya Liok sinshe seperti juga ia tidak ijinkan sinshe itu
keluar.
"Liok sinshe, lekas keluar. Apa kau takut ? Hmmm... malam ini
kau harus bayar jiwanya Ngo-te. Kau sembunyi........"
Tiba-tiba dari dalam rumah melesat satu tubuh keluar. Dalam
sekejapan sudah berdiri berhadapan dengan si penantang
yang tidak melanjutkan kata-katanya sampai di perkataan
"sembunyikan......", saking kaget nampak kegesitannya orang itu.
"Aku sudah ada disini, buat apa kau begini bawel ?" kata Liok
sinshe jenaka.
"Bagus, kau harus bayar jiwanya Ngo-te kami !" kata si
penantang.
"Kau ini aneh," sahut Liok sinshe. "Memangnya kau sudah
linglung ?"
Orang itu melengak dikatakan linglung.
Liok Sinshe ketawa geli dalam hatinya, nampak orang itu
melengak heran.
"Sam-ok Cui Seng," menyambung Liok Sinshe, "aku hanya
hutang satu jiwa. Kau masih ngerembengi minta ganti. Sedang
kalian huta pada mereka yang anggauta keluarganya dibunuh,
entah berapa puluh, tidak mau ambil pusing. Apa ini bukannya
linglung perhitunganmu ? Ha ha ha........"
Si Jahat ketiga, Cui Seng mendelu hatinya mendengar katakata
Liok Sinshe, tajam menyindir atas kelakuan mereka yang jahat.
"Sam-to, kekas beresi saja !" teriak Toa-ok Cui Peng (si Jahat no.
1).
"Jangan kasih calon bangkai itu banyak omong !" sambung Jiok
Cui Kin (si jahat ke-2).
Liok Sinshe awas matanya, ia perhatikan sekitarnya. Nyata
selain empat musuhnya yang sudah mengurung, ia dapat lihat
masih ada beberapa orang lagi yang berdiri sedikit jauh dari
mereka.
Kalau tadi ia bersenyum-senyum saja menghadapi empat
lawannya, kini setelah dapat tahu musuhnya ada bawa bala
bantuan, tampak ia kerutkan keningnya.
"Pantas kalian berani datang, kalau kalian bawa bala bantuan"
kata Liok Sinshe jenaka.
Ia sama sekali tidak gentar kelihatannya.
"Hm !" Toa-ok Cui Peng mendengus. "Kau takut ? Aku bisa
kasih kelonggaran padamu. Nah, kau berlutut sekarang,
mengangguk sepuluh kali dihadapan kami kemudian
membunuh diri sendiri. Dengan demikian, kau dapat
selamatkan kematianmu dengan tubuh utuh.........:
"Kentut busuk !" memotong Liok Sinshe. "Dengan turutnya dua
ekor imam busuk dan sebuah kepala gundul bau dalam
keramaian malam ini, apa kalian kira aku tinggal lari ? Kalian
salah hitung, Siauwsan Ngo-ok !"
Suaranya Liok Sinshe dibikin nyaring ketika menyebutkan 'dua
ekor imam busuk' dan 'sebuah kepala gundul', hingga orangorang
yang bersangkutan mendelik matanya saking menahan
amarahnya.
Memang, malam itu kedatangan Siauwsan Ngo-ok (Lima
orang jahat dari gunung Siauw san) dikawal oleh Tiat Cie
Hweshio Hong Hui (si Hweshio Jari besi) dan Tui-Beng Kiam
Siong Leng Tojin (si pedang Pengejar Jiwa) bersama adik
seperguruannya, Jin Leng Tojin yang bergelar Pek-houw-kiam
atau si Pedang Macan Putih.
Ketiga orang suci ini, ada jago-jago kelas satu dalam rimba
persilatan. Cuma sayang sekali, mereka melakukan
perbuatan-perbuatan yang nyeleweng dari tujuan agama
hingga menimbulkan kemarahan diantara jago-jago pembela
keadilan. Diantaranya mereka bentrok dengan Liok Sinshe
dimana telah terjadi pertarungan hebat. Kesudahannya
mereka dapat dipecundangai. Sejak mana mereka menaruh
dendaman hati, mereka meningkatkan kepandaiannya untuk
mencari balas pada lawannya.
Kawanan orang-orang jahat dari Siauwsan habis sabar
mendengar kata-katanya Liok Sinshe. Mereka anggap orang
terlalu menganggap enteng.
Lekas juga Toa-ok Cui Peng hunus goloknya dan mulai buka
penyerangan.
Tadinya Liok Sinshe hendak melayani si Empat Jahat dengan
tangan kosong, tapi melihat ada backingnya, tiga jago kelas
berat, maka ia rubah niatnya semula.
Maka begitu Toa-ok membabat goloknya mengarah leher, ia
mendak berkelit. Ia tidak balas menyerang, sebaliknya ia
lompat menerjang pada Su-ok (si Jahat ke-4) yang baru saja
akan menghunus pedangnya.
Gerakan Liok Sinshe gagal untuk merampas pedang Su-ok
Cui Tie.
Sebab barusan saja ulur tangannya, tiba-tiba goloknya Cui
Seng menyelak, membacok untuk tolong saudaranya.
Su-ok Cui Tie yang mencekal pedang dengan tangan kiri
karena lengan kanannya kutung tempo hari ditabas
pedangnya Liok Sinshe menjadi sangat gusar. Musuhnya mau
merampas senjatanya.
Sambil putar pedang, ia menyerang hebat membantu saudarasaudaranya
yang mengepung Liok Sinshe. Ia sangat gemas
pada musuhnya yang sudah membuat dirinya cacad. Nekad ia
untuk menuntut balas.
Dengan jurusnya 'Tong-cu-ci-louw' -- 'Bocah menunjukkan
jalan', pedangnya menyambar ke arah tenggorokan orang.
Hebat serangan ini karena dilakukan dengan cepat. Tapi Liok
Sinshe ada lebih cepat pula, ia berkelit sambil memutar tubuh
untuk terus lompat tinggi menghindarkan serangan Toa-ok Cui
Peng yang menggunakan tipu 'Hui-hong-sauw-yap'--'Angin
puyuh menyapu dedaunan'. Goloknya yang tajam dua muka,
membabat kaki Liok Sinshe dari kiri ke kanan.
Sungguh mengerikan. Kalau saja Liok Sinshe tidak sangat
gesit, kakinya akan tertabas kuntung tanpa ampun lagi.
Belum kakinya Liok Sinshe menginjak tanah, sudah datang
serangan golok Sam-ok Cui Seng yang mengarah kaki lagi. Si
jahat ketiga itu pikir kali ini ia tidak bakal luput goloknya
membacok kai musuh sebab Liok Sinshe masih belum
menginjakkan kakinya ditanah. Cara bagaimana ia dapat
berkelit ?
Tapi perhitungan Cui Seng meleset. Tampak tubuhnya Liok
Sinshe berputar, berkelit tanpa menginjak tanah hingga ia
lolos dari bahaya.
Suatu gerakan yang indah sekali yang dinamani 'Yan-cu-tengkong'
atau 'Burung walet mumbul di udara' yang membuat
empat lawannya menjadi melongo saking heran. Pikirnya,
musuh begini liehai, apa mereka nanti berhasil menuntut balas
untuk menuntut kematian saudaranya yang kelima ? Hanya
sejenak mereka bersangsi, sebab mereka segera mengurung lagi.
Liok Sinshe yang perhatikan gerak gerik orang, dapat tahu
lawan-lawannya agak jeri untuk melangsungkan pertandingan.
Inilah suatu keuntungan bagi lawan yang sudah unggul. Ia
tertawa gelak-gelak, lalu berkata : "Kalian percuma
mengepung aku. Hayo undang itu si kepala gundul bau dan
dua imam busuk, bantu kalian mengerubuti aku !"
"Sungguh temberang !" terdengar suaranya Tui-beng-kiam
Siong Leng Tojin. "Undangan sudah datang, tidak baik kalau
ditempuh. Mari, mari kita maju !"
Ajakan itu disusul dengan majunya ia dalam kalangan
pertempuran, diikuti oleh Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin.
"Ha ha ha ! Kwee Cu Gie, saat mampusmu sudah diambang
pintu. Masih bersikap jumawa ? Ha ha ha h...!" teriak si
Hweshio (pendeta) Jari Besi Hong Hui sambil jalan mengikuti
di belakang dua imam kawannya.
Di lain saat, tampak Liok Sinshe sudah dikepung oleh tujuh
musuhnya.
"Liok Sinshe," kata Siong Leng Tojin, suaranya mengejeki,
"Kau mau tinggalkan pesan apa, sebelum berangkat mati ?"
Liok Sinshe tidak menjawab, ia hanya kerutkan keningnya.
Otaknya bekerja, pikirnya, menghadapi Siauw San Ngo-ok,
meskipun dengan tangan kosong tidak menjadi soal baginya.
Tapi sekarang ia harus menggempur tujuh musuh, tiga
diantaranya ada jago-jago keals berat. Tanpa senjata
bagaimana ia dapat melayani mereka ?
Diantara empat pengepungnya tadi, Ji-ok Cui Kin kelihatan
agak jeri terhadapnya. Sedang senjata pedangnya itulah yang
paling tajam diantara senjata-senjata saudaranya. Mungkinkah
karena kakinya tinggal sebelah, sebab dahulu dikutungi
olehnya hingga ia tidak dapat leluasa bergerak ?
Bagaimanapun, pikir Liok Sinshe, ia harus waspada terhadap
Ji-ok yang cara melepas piauw beracunnya paling pandai
diantara saudara-saudaranya yang lain. Matanya melirik pada
Ji-ok yang berdiri di samping kirinya Toa-ok.
"Bagaimana ?" tegur Siong Leng Tojin, sikapnya jumawa.
"Memang aku mau tinggalkan pesanan," sahut Liok Sinshe.
"Nah, lekas bicara !" girang Siong Leng Tojin.
"Sebentar, kalau tanganmu putus, harap kau jadi orang baik
selanjutnya......" Liok Sinshe berkata seraya tersenyum.
"Sret !" tiba-tiba Siong Leng Tojin menghunus pedangnya.
"Kurang ajar, kau berani main gila ? Rasakan pedangku ini ?"
teriak Siong Leng Tojin, hatinya panas. Ingin sekali ia tabas
tubuhnya Liok Sinshe kutung dua.
"Eh, nanti dahulu !" kata Liok Sinshe, sambil berkelit dari
tikaman pedang Siong Leng Tojin, "Aku masih belum bicara
habis."
"Manusia hina, tak usah kau banyak pernik !" teriak Siong
Leng Tojin penuh kemurkaan. Serangannya pun dilakukan
saling susul tidak memberikan ketika kepada lawannya yang
melayani ia dengan tangan kosong.
Liok Sinshe berlaku tenang, meskipun kelihatannya ia repot
menghindari serangan lawan yang bertubi-tubi.
Dengan mengandalkan kegesitannya, Liok Sinshe melayani
Siong Leng Tojin.
Dalam tempo singkat saja, pertempuran sudah berjalan tiga
puluh jurus tetapi Siong Leng Tojin masih belum bisa berbuat
apa-apa atas lawannya yang bertangan kosong. Diam-diam ia
kagumi ilmu entengi tubuh musuh yang sampai sebegitu jauh
ia belum dapat menyentuh walaupun hanya bajunya saja.
Kenapa yang lain-lain berdiri diam saja, tidak datang
mengeroyok ?
Itu ada sebabnya. Siong Leng Tojin orangnya sangat
temberang, memandang rendah siapa juga. Ia anggap dirinya
adalah jago pedang nomor wahid di dunia.
Apalagi sekrang ilmu pedangnya sudah meningkat, sejak pada
dua belas tahun yang lalu dipecundangi Liok Sinshe. Ia
anggap sekarang Liok Sinshe sudah bukan tandingannya lagi.
Maka ketika Siauw-san Ngo-ok minta bantuannya, ia majukan
satu syarat ialah kalau ia bertempur dengan Liok Sinshe, yang
lainnya berdiri menonton saja dahulu sampai ia kasih kode
"turun tangan", barulah dilakukan pengeroyokan.
Imam sombong ini ingin menjatuhkan Liok Sinshe dengan
kepandaiannya sendiri.
Kalau tadi ia mendesak lawannya, selewatnya tiga puluh jurus,
pelan-pelan ia berbalik kedesak hingga si Pedang Pengejar
Jiwa jadi kelabakan.
Melihat si iman sudah kedesak, kawan-kawannya ingin lantas
turun tangan. Tapi masih juga belum dapat tanda dari Siong
Leng Tojin. Sampai kemudian terdengar suara 'prang !',
pedangnya si imam jatuh ke tanah, sedang Liok Sinshe lompat
mundur jumpalitan dengan gerakan 'Kera tua jatuh dari pohon'.
"Maaf Tui-beng-kiam !" kata Liok Sinshe seraya kedua
tangannya diangkat menyoja kepada Siong Leng Tojin yang
saat itu berdiri bagaikan patung. Tak dapat ia berkata-kata,
hanya matanya saja melotot mengawasi musuhnya.
Semua orang tercengang dengan kesudahan pertempuran itu.
Meskipun sudah terdesak, tidak semudah itu Siong Leng Tojin
dijatuhkan lawannya. Ini karena salahnya sendiri. Adatnya
yang berangasan tak dapat mengendalikan kemarahannya,
ingin cepat-cepat ia menjatuhkan lawannya.
Ia menggunakan jurusnya yang paling baharu, 'Ouw in hoan
hui' --'Awan hitam bergulung-gulung', pedangnya dibulang
baling cepat ke arah muka lawan untuk membuat mata orang
kabur penglihatannya, kemudian menusuk laksana kilat ke
arah tenggorokan.
Sudah berapa banyak ia bikin terjungkal lawannya dengan
ilmu pedangnya ini. Tapi menghadapi Liok Sinshe ia mesti
bayar mahal. Liok Sinshe ada terlalu gesit, hebat ilmu entengi
tubuhnya, penglihatannya tidak jadi kabur oleh bulang baling
pedangnya. Maka ketika pedang menikam ke arah
tenggorokannya, dengan sebat Liok Sinshe berkelit sambil
lompat nyamping ke kiri, akan dari mana sebelum Tui-bengkiam
sempat menarik pulang pedangnya yang mendapat
sasaran kosong, dua jari tangan kiri Liok Sinshe dengan
totokan 'hong-bun-hiat', menotok jalan darah di bagian pundak
lawan hingga si imam gemetaran tangannya dan dengan
sendirinya, pedangnya juga jatuh ke tanah.
Dengan angkat kedua tangan, Liok Sinshe bersoja pada Siong
Leng Tojin, sebenarnya Liok Sinshe ingin mengadakan
perdamaian, pemusuhan sebaiknya disudahi saja, jangan
ditarik panjang berlarut-larut tidak habisnya. Pikirnya, jagonya
yang paling lihay sudah ia jatuhkan yang lainnya pasti akan
menurut dan hentikan nafsunya untuk menuntut balas.
Tapi sebelum ia membuka suara lebih jauh, tiba-tiba ia
rasakan ada angin menyambar dari belakang. Cepat ia buang
diri ke kanan, sambil bergulingan ia menyelamatkan diri dari
serangan piauw beracun Ji-ok Cui Kin yang datang saling
susul, dibarengi oleh teriakan Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin,
"Turun tangan ! Semua maju, habiskan jiwa keparat itu !"
Mereka ramai-ramai memburu Liok Sinshe yang bergulingan.
Dengan beberapa lompatan enteng, mereka sudah datang
dekat dan hujani tubuh lawan alot itu dengan bacokan,
tusukan dan kemplangan.
Sementara itu........
Awan gelap dari setadian, kini semakin gelap dan..... turunlah
hujan besar.
Orang-orang jahat itu tidak hiraukan lebatnya turun hujan,
mereka bernapsu besar untuk menghabiskan jiwa musuhnya.
Apalagi, musuhnya itu kini sudah mandi darah, lengan kirinya
sudah kena kebacok, mereka jadi beringas !
Ia kumpul tenaganya, kemudian melejit bangun. Dengan
gerakan 'Elang lapar menyambar kelinci', ia menerjang pada
Ji-ok Cui Kin yang berada paling dekat padanya. Cepat Ji-ok
Cui Kin menyambut dengan pedangnya. Tapi ia kalah cepat
sebab Liok Sinshe punya dua jari dari tangan tangan kiri sudah
menotok dengan totokan 'thian-ki-hiat', jalan darah di iga
kanannya, sedang pedangnya pun lantas pindah tangan Liok
Sinshe.
Bagaikan harimau tumbuh sayap, Liok Sinshe sudah
menyerang musuh-musuhnya tanpa ampun lagi. Ia naik pitam
melihat kekejaman dan ketelengasan kawanan jahat itu ketika
menghujani ia dengan berbagai senjata.
Pedangnya berkelebatan di antara sinar kilat dan lebatnya
hujan.
Segera juga terdengar jeritan saling susul, Ji-ok Cui Kin
lehernya kesabat pedang, hampir putus, Sam-ok Cui Seng
rebah dengan kaki kanannya kutung, Pek-houw-kiam Jin Leng
Tojin terkulai, mendeprok di tanah, pundak kanannya
berlumuran darah.
Hanya ketinggalan tiga musuhnya, Tiat Cie Hweshio, Toa-ok
Cui Peng dan Su-ok Cui Tie. Mereka ciut nyalinya, nampak
kawan-kawannya rubuh saling susul sedang Tui-beng-kiam
Siong Leng Tojin masih dalam keadaan tertotok, tak bisa
diharapkan bantuannya. Hampir berbareng muncul dalam
pikiran mereka, "Lari, paling selamat !"
Demikian, mereka bertempur sambil melihat kesempatan.
Dalam keadaan murka hingga kecerdasannya meningkat, Liok
Sinshe sebenarnya tidak sukar untuk menjatuhkan tiga
musuhnya. Sayang, dari lukanya di lengan kiri, muka dan
punggung banyak mengeluarkan darah membuat ia letih dan
tenaganya menurun banyak, kegesitannya pun dengan
sendirinya agak kurang.
Untung musuh-musuhnya tidak perhatikan itu. Mereka hanya
memikirkan 'jalan lari' saja hingga perlawanan mereka juga
tidak sepenuh tenaga.
Meskipun sudah lelah, Liok Sinshe ingin takluki tiga musuhnya
itu.
Demikian, ketika goloknya Toa-ok Cui Peng membacok, ia
tidak menangkis, hanya elakan pundaknya yang diarah.
Berbareng dengan itu, pedangnya meluncur ke muka lawan
dengan gerakan 'Giok li tek hoa' -- 'Bidadari petik kembang'.
Satu jurus yang lihay sekali sebab sebelum Toa-ok Cui Peng
dapat selamatkan mukanya, hidungnya copot kena disentak
ujung pedang. Ia berkaok-kaok sambil tangan kirinya menekap
hidungnya yang gerumpung lumuran darah.
Si hweshio Jari Besi merasa tidak ungkulan layani musuhnya
yang lihai. Ia coba angkat kaki, tapi ia juga tidak luput dikasih
persen tanda mata, kupingnya yang kiri di papas pedangnya
Lok Sinshe.
Su-ok Cui Tie dari pada ia turut lari, malah jadi lemas kakinya
dan jatuh duduk. Matanya meram, mulutnya kemak-kemik
seperti yang memohon Malaikat Elmaut tidak mencabut
jiwanya.
Sesaat kemudian ia raba lehernya, masih utuh. Ia heran, lalu
membuka matanya. Kiranya Liok Sinshe sudah tidak ada
disitu, ia sedang menguber si Hweshio Jari Besi yang lari ke
tepi jurang.
Tiat Ci Hweshio berlarian di tepi jurang dikejar dari belakang
oleh Liok Sinshe. Keduanya menggunakan lari cepat (enteng
tubuh). Hujan sementara itu masih turun dengan lebatnya.
"Kepala gundul bau, apa kau bisa naik ke la..... Ayo !"
Tiba-tiba saja Liok Sinshe berteriak, tubuhnya menyusul rubuh
dan......... tergelincir masuk ke dalam jurang yang curam.
Tiat Cie Hweshio heran, lalu hentikan larinya, balik
menghampiri tempat dimana Liok Sinshe berteriak dan jatuh
ke dalam jurang. Ia lihat jurang ada demikian dalam, diukur
dari sudut ketika ia dengan kawan-kawannya mendaki Tonghong-
gay, ia yakin Liok Sinshe pasti menemui ajalnya.
Girang bukan main hatinya si Hweshio Jari Besi.
"Hahaha !! Hahaha !" ia tertawa gelak-gelak sendirian seperti
orang gila.
"Hai, kepala gundul ! Kau jangan girang dahulu.....!" tiba-tiba
suara orang menyelusup ke dalam kupingnya.
Mungkinkah itu ada setannya Liok Sinshe ? Tiba-tiba
bayangan berkelebat, keluar dari balik pohon.
Tiat Cie Hweshio makin ketakutan, tubuhnya menggigil seperti
yang diserang penyakit malaria.
Hujan mulai berhenti, cuaca agak terang tapi suasana tetap
sunyi menyeramkan dalam daerah pegunungan itu.
Si kepala gundul makin menggigil, kapan pundaknya berasa
ada yang tepuk dari belakang, ketakutannya meningkat dan si
Hweshio Jari Besi bisa jatuh semaput kalau ia tidak
mendengar suara ketawa terkekeh-kekeh, seraya berkata :
"Hweshio pecundang, kau ketakutan ?"
"Ah, Kim Popo, kau bikin aku kaget setengah mati. Hahaha !"
tertawa si kepala gundul sambil putar tubuhnya, menghadapi
orang yang jail tadi.
"Apa kalian lupa dengan pesanku ?" tanya Kim Popo.
Sejenak Tiat-ci Hweshio mengingat-ingat, "Ah, benar-benar
aku harus mati. Aku lupa benar akan pesan Kim Popo",
katanya sambil tepuk-tepuk pahanya.
"Coba kalau kalian tidak mengabaikan pesanku, siang-siang si
keparat itu sudah menjadi makanannya kawanan ular dibawah
jurang. Hihihi......." Kim Popo temberang.
Adalah ketika mendamaikan pengeroyokan atas dirinya Liok
Sinshe, Kim Popo diminta bantuannya juga. Ia bersedia
membantu, tapi tidak mau terang-terangan menggempur Liok
Sinshe, hanya dengan cara gelap ia akan menghajar musuh.
Kim Popo memang ada satu nenek jagoan. Selain ilmu
silatnya tinggi, orang takuti senjata rahasia beracunnya yang
dinamai "touw-kut-tok-ciam' atau jarum berbisa menembus
tulang' yang jarang gagal mengambil korban diwaktu ia
menggunakannya. Jarum itu disimpan dalam satu bungbung
mungil, ada alat rahasianya yang membikin jarum melesat.
Keluarnya tidak satu-satu, tapi lima batang sekaligus,
mengarah bagian tubuh si korban, atas, tengah, bawah, kiri
dan kanan, hingga korbannya sukar meloloskan diri.
Asal usulnya Kim Popo tidak seorang yang tahu, sekalipun
siauw San Ngo-ok yang menjadi anak-anak angkatnya.
Tentang cara bagaimana si Lima Jahat bisa jadi anak-anak
angkatnya Kim Popo, akan dituturkan di sebelah belakang
cerita ini.
Kelupaan akan pesan Kim Popo sebenarnya si Hweshio Jari
Besi ngebohong.
Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin, sewaktu mereka mendaki
jurang Tong-hong-gay mengajari kawan-kawannya jangan
meladeni pesan Kim Popo memancing Liok Sinshe ke tempat
sembunyinya si nenek yang hendak membokong.
Katanya itu tidak perlu, malah akan merendahkan derajat
mereka yang sudah ada nama dalam kalangan kang-ouw.
Dengan mereka bertujuh, sudah cukup untuk membinasakan
Liok SInshe, malah dianggap kelebihan oleh imam itu, kapan
ia ingat dirinya sendiri punya kepandaian sudah meningkat
banyak. Tidak tahunya mereka dibikin kucar kacir dan Liok
Sinshe binasa ditangannya si nenek tua yang membokong
dengan jarum jahatnya.
Liok Sinshe lihai, tidak mudah ia kena dibokong orang. Kalau
saja saat itu turunnya hujan tidak mengganggu
pendengarannya yang tajam.
Tiat Ci Hweshio ajak Kim Popo untuk melihat kawankawannya.
Sesampainya di tempat pertempuran tadi, tampak
Siong Leng Tojin dan Su-ok Cui Tie tengah repot menolongi
kawan-kawannya yang luka. Si imam mukanya merah, bahkan
malu ketika menyambut kedatangannya Kim Popo.
"Maafkan, aku sudah berlaku ceroboh, melupakan pesan
Popo." Siong Leng Tojin sembari angkat tangannya memberi
hormat.
"Kalau tidak, tidak sampai kejadian begini," ia menyambung,
matanya mengawasi kepada korban-korban yang pada rebah
sambil keluarkan rintihannya, menahan rasa sakit.
Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin belum lama ia dapat
membebaskan dirinya dari totokan Liok Sinshe, setelah
berkali-kali ia memeras tenaga dalamnya.
"Tidak apa, ini barangkali sudah takdir." sahut Kim Popo acuh
tak acuh.
Tui-beng-kiam dalam hatinya mendongkol melihat sikap
sombong si nenek tua.
Tiba-tiba Su-ok Cui Tie menghampiri Kim Popo, di depan
siapa ia tekuk lututnya berkata :
"Popo, sakit hati ini laksana dalamnya lautan, kalau Popo tidak
tolong balaskan, bagaimana kami......."
"Anak tolol !" potong Kim Popo. "Apa yang dibalas ? Musuhmu
sudah mampus masuk ke jurang, sekarang barangkali
tubuhnya tengah dikerubuti oleh ular-ular penghuni disitu.
Hihihi !"
Kaget Su-ok Cui Tie mendengar kabar itu sampai ia lompat
bangun dari berlututnya.
"Apa ini benar ?" ia cepat menanya.
Siong Leng Tojin pun turut kaget, tidak terkecuali Toa-ok Cui
Peng dan Jin Leng Tojin yang sedang merintih-rintih.
"Kalau tidak percaya, kau tanya saja si kepala gundul !" jawab
Kim Popo, sikapnya bangga sambil menunjuk kepada si
Hweshio Jari Besi.
Mereka lalu minta keterangan kepada si Hweshio, lalu ia
menuturkan ketika ia diuber-uber Liok Sinshe hampir
kecandak, tiba-tiba ia dengar musuh berteriak dan tubuhnya
roboh tergelincir ke jurang, akibat bokongan Kim Popo dengan
senjata rahasianya yang lihai.
Semua jadi kegirangan, Siong Leng Tojin sambil bersenyum
berkata, "Dengan mampusnya si keparat itu, kerugian kita
sekarang ini sudah dibayar lunas. Hahaha !"
Disamping kegirangan dan rasa puas dari kawanan penjahat
itu, ada yang menceles hatinya dan mengucurkan air mata
mendengar berita kematiannya Liok Sinshe. Siapa gerangan
orang itu ?
Itulah si bocah Lo In yang saat itu mencuri dengar dibelakang
sebuah batu besar, dimana ia mengumpat, menonton
pertandingan yang menegangkan hatinya, Liok Sinshe
dikeroyok orang banyak.
Menggunakan kesempatan orang tidak memperhatikan
dirinya, karena perhatian kawanan penjahat itu tengah
dipusatkan pada Liok Sinshe, diam-diam Lo In sudah
menyelinap di balik batu besar dimana dengan aman ia
sembunyi.
Dengan begitu, Lo In sudah tidak menurut nasehatnya Liok
Sinshe supaya ia lari untuk menyelamatkan dirinya.
Anak ini besar nyalinya. Ia sebenarnya ingin membantu Liok
Sinshe, melihat orang dikeroyok. Tapi mengingat
kepandaiannya masih rendah, terpaksa ia harus menahan
napsu amarahnya.
Lo In sudah kegirangan melihat Liok Sinshe menjatuhkan
musuh-musuhnya satu per satu. Hampir ia melompat keluar
dari tempat persembunyiannya, kalau ia tidak ingat akan
pesanan Liok Sinshe supaya ia kabur untuk menyelamatkan
diri.
Lo In tidak melihat dengan mata sendiri bagaimana Liok
SInshe dirobohkan musuhnya dan tergelincir masuk ke dalam
jurang sebab letak tempat kejadian itu ada jauh dari ia dan
juga teraling oleh pohon-pohon.
Meskipun ia menangis, ia masih sangsikan kebinasaannya
Liok Sinshe.
"Ah, dia lihai. Tidak mungkin dia binasa cuma tergelincir saja
ke dalam jurang." pikir si bocah yang percaya akan
kepandaian Liok SInshe.
Sama dengan pikiran Lo In, terdengar Siong Leng Tojin
menanya, "Popo, dia sangat lihai, mungkinkah dia
menemukan ajalnya ?'
"Hehehe !" Kim Popo ketawa. "Dia boleh lihai tapi racun jarum
mautku, dalam tempo satu jam akan antar dia menghadap
Giam-lo-ong !" Giam-lo-ong dimaksudkan adalah raja akherat.
Kata-kata Kim Popo membuat Lo In kembali sedih. Air
matanya yang barusan sudah berhenti, kembali mengucur.
Suatu kedukaan yang belum pernah ia alami.
Liok Sinshe ada terlalu baik, ramah, sangat memperhatikan
sekali paanya. Sejak ia mengetahui dirinya tak berayah ibu, ia
pandang Liok Sinshe adalah pelindungnya, sebagai gantinya
orang tua.
Sementara itu angin pegunungan meniup agak keras.
Baru sekarang Lo In sadar, bahwa pakaiannya basah kuyup.
Ia merasa kedinginan, tapi ia tidak menggubrisnya. Ia ingin
menyaksikan lebih jauh tindak tanduknya kawanan jahat itu.
Untuk memberikan pertolongan lebih jauh, korban-korbah
pedangnya Liok Sinshe diangkut masuk ke dalam rumah. Suok
Cui Tie segera pasang lilin penerangan.
Dalam pemeriksaan, Ji-ok Cui Kin sudah mati dengan leher
hampir putus. Entah dengan Sam-ok Cui Seng yang
keadaannya tidak sadarkan diri akibat terlalu banyak
mengeluarkan darah dari kaki kanannya yang tertebas
buntung. Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin masih merintih,
sambungan tulang pundaknya yang kanan putus hingga
selanjutnya ia tak dapat gunakan lengan kanannya ini.
Toa-ok Cui Peng amat berduka, Siong Leng Tojin kertak gigi,
menampak pemandangan yang mengharukan itu. Sebaliknya,
Kim Popo acuh tak acuh sikapnya. Rupanya ia mendongkol
pada Siong Leng Tojin yang tak mau perhatikan pesannya
sehingga terjadi mala petaka itu.
"Hei, kemana dia ?" berkata Siong Leng Tojin tiba-tiba, agak
kaget romannya.
"Siapa ?" tanya Su-ok Cui TIe.
"Si bocah ! Hayo, lekas cari !" sahut Tui-beng-kiam, seraya ia
sendiri lantas bertindak melakukan penggeledahan.
Sementara orang repot mencari Lo In, adalah Kim Popo
menggeledah orang punya laci, meja, rak, buku-buku, kopor
dan lain-lain.
Kim Popo seperti lagi mencari sesuatu barang.
Siong Leng Tojin merasa heran, lalu menanya, "Popo, kau lagi
cari apa ?"
"Urusanku aku urus sendiri, urusanmu kau urus sendiri. Buat
apa banyak tanya !" sahut Kim Popo, suaranya tidak enak
didengar.
Siong Leng Tojin cuma bisa nyengir. Dalam hatinya ia amat
mendongkol, pikirnya, "Nenek gila. Kau terlalu menghina !
Tunggu, ada satu tempo, aku bikin kau tahu rasa kelihayannya
Tui-beng-kiam !"
Ia kemudian keluar untuk hindarkan bentrokan dengan Kim
Popo, pura-pura turut kawan-kawannya mencari Lo In sebab di
dalam rumah anak itu tidak diketemukan.
Kim Popo memang memandang rendah pada siapa juga,
bukan hanya pada Siong Leng Tojin seorang. Adatnya aneh,
cepat amrah, sedang kata-katanya kasar.
Orang yang tidak mengimbangi adatnya, bicara beberapa
patah dengannya, akan lantas merasa dihinakan dan menaruh
dendam hati.
Kim Popo aduk-aduk lagi apa yang sudah diperiksa waktu
Siong Leng Tojin sudah keluar. Rupanya ia penasaran barang
yang dicari belum diketemukan.
"Celaka !" katanya perlahan, alisnya berdiri, marah rupanya.
"Tidak mungkin bangsat itu bawa ke dalam jurang !" ia
meneruskan berkata-kata sendirian.
Itulah Kim Popo yang kelihatannya putus asa, tak menemui
barang yang dicari.
Lalu ia jalan keluar, akan dari depan pintu dengan beberapa
kali lompatan saja ia sudah menghilang meninggalkan rumah
Liok Sinshe.
Apa sebenarnya yang dicari oleh Kim Popo ?
Ini, kejadian pada lima tahun yang lampau. Pada hari itu lepas
lohor, cuaca agak mendung. Liok Sinshe jalan terburu-buru,
habis mencari akar-akaran obat di sekitar Siauw-san, kuatir
nanti keburu turun hujan.
Ketika ia lewati pohon cemara yang besar, tiba-tiba ia
merandek. Ia berdiri sejenak sambil pasang kuping. Ia dengar
suara beradunya senjata, seperti ada orang yang tengah
bertempur.
Setelah memperhatikan sekian lama, lalu ia menghampiri tepi
jurang, tidak jauh dari ia berdiri barusan. Ia melongok ke
bawah, tampak sebuah lembah datar dimana ada kelihatan
dua orang sedang bertempur seru.
Dengan menggunakan ilmu entengi tubuhnya, ia lompat ke
bawah mendekati tempat pertempuran untuk menyelidiki siapa
mereka yang bertempur itu. Kiranya mereka itu ada satu
nenek dan satu kakek.
Si nenek menggunakan tongkat sebagai senjatanya, sedang si
kakek bersenjata sebilah pedang panjang. Kenapa mereka
jadi bertempur, itulah ia ingin tahu.
Tapi tidak menanti lama, Liok Sinshe lantas mendengar si
kakek buka suara, "Apa kau sudah tidak kenal persaudaraan
?" katanya, seperti yang sudah kewalahan.
"Hm !" mendengus si nenek. "Baru ada persaudaraan kalau
kau serahkan barang itu !"
"Itu toh bukannya hakmu ?" kata lagi si kakek.
"Aku tidak perduli punya siapa, barang itu harus aku punyai !"
teriak si nenek.
"Ah, kau benar-benar telengas !" si kakek mengeluh.
Kelihatannya ia mulai keteter, permainan pedangnya mulai
kalut hingga si nenek dapat kesempatan untuk merangsek
lawannya dengan serangan-serangan tongkatnya yang hebat.
Melihat gelagat jelek, si kakek mecari kesempatan untuk
angkat kaki.
Pada saat si nenek menusuk dengan tongkatnya, si kakek
menyampok, kakinya menjejak tanah akan lompat mundur,
kemudian putar tubuh dan ............ lari.
"Hm ! mau lari ? Lebih sukar lolos dari Kim Popo dari pada
naik ke langit !" si nenek berseru, tangannya merogoh
sakunya, kemudian dari tangan tangan itu melesat senjata
rahasianya, lima jarum beracun menyambar berbareng.
Segera teriakan ngeri terdengar, si kakek roboh ditanah,
pedangnya terlempar jauh, sementara itu Kim Popo sudah
berdiri di depannya.
-- 2 --
"Kau mau lari dari tanganku ? Hm !" mengejek Kim Popo.
"Tidak rela aku mati ditanganmu, perempuan jahat !" memaki
si kakek.
"Kau berani maki aku ? Nih, rasai........" sambil angkat
tongkatnya hendak dipukulkan pada batok kepala orang.
"Tring !" tiba-tiba terdengar suara. Tongkat besinya Kim Popo
terdorong nyamping, mengemplang tanah hingga
berhamburan. Selamatlah batok kepala si kakek dengan
kejadian ini, tadinya ia sudah meremkan matanya untuk terima
kematian.
Sebaliknya Kim Popo bukan main marahnya, ia berteriak
seperti orang gila, "Manusia usilan, siapa kau, lekas unjuk diri
di depan Popo !"
"Aku disini, Popo." Kim Popo dengar suara di belakangnya.
Kaget ia, cepat ia putar tubuhnya. Di depannya tampak
seorang laki-laki dengan usia kurang lebih empat puluh tahun.
Mukanya putih, cakap, di atas alis kirinya ada codet sebesar
jari kelingking. Rupanya bekas barang tajam mampir disitu.
"Kau yang barusan main-main ?" tanya Kim Popo gemas.
"Benar," sahut orang itu, sambil soja mulutnya bersenyum.
"Siapa kau ?" tanya lagi Kim Popo, sikapnya galak, tangannya
sudah siap dengan tongkat besinya untuk menghajar orang
usilan yang berdiri di depannya.
"Aku yang rendah si orang she Liok," sahutnya tenang.
Kiranya Liok Sinshe yang menolok si kakek dari bahaya pecah
kepalanya.
"Binatang !" teriak Kim Popo kalap. "Terimalah hadiah ini dari
Popo !" Mulutnya berkata, tongkat besinya bekerja.
Ia menyerang lawannya tidak tanggung-tanggung. Dengan
tipu 'Tay-san-ap-teng' -- 'Gunung Agung menimpa kepala', ia
kemplang batok kepala orang dengan tongkat besinya.
Tapi bukan main terkejutnya si nenek. Serangannya gagal,
musuhnya menghilang dari depannya. Ia celigukan mencari,
panas hatinya.
"Aku disini, Popo," suara halus terdengar di belakangnya.
Kaget Kim Popo. Pikirnya, setan barangkali orang ini, yang
bisa menghilang.
Ia penasaran, tongkat besinya sudah banyak makan korban.
Masa sekarang ia mesti jatuh dalam segebrakan saja ? Ia
harus jaga nama, jangan sampai dikalahkan.
Sebenarnya, Kim Popo sudha harus tahu diri. Ia sudah kalah
jauh. Kalau lawan memang kejam, ditepuk jalan darah di
bebokongnya, ia mesti terkulai jatuh duduk.
Dasar Kim Popo bandel, ia masih mau nekad-nekadan.
Dengan jurusnya "In-li-yu-liong' atau 'Naga melayang di awan',
sambil berputar tubuh, tongkatnya menyabat ke belakang
mengarah iga orang. Serangan ini dilakukan dengan cepat,
lincah. Tapi Liok Sinshe lebih cepat dna gesit akan lompat
tinggi, mundur satu tombak.
Melihat kembali sasarannya menghilang bagai setan, Kim
Popo gemas. Ia lompat menyerang lagi, tongkatnya menyodok
ke arah perut. Liok Sinshe berkelit sambil geser kaki
kanannya, tangan kanannya berbareng menepuk tongkat yang
nyelonong lewat.
Tergetar lengannya Kim Popo. Ia rasakan nyeri. Hampirhampir
terlepas tongkat dari cekalannya, itulah tepukan Liok
Sinshe yang menggunakan tenaga dalamnya.
Cepat Kim Popo empos tenaga dalamnya, untuk
menghilangkan rasa nyeri.
"Hehe, binatang kau, boleh jgua !" kata si nenek, seraya
kerjakan lagi tongkatnya. Kali ini hendak nenamu ke arah
dada. Liok Sinshe bersenyum, ia tidak berkelit, sebaliknya
ketika ujung tongkat hampir sampai sasarannya, tiba-tiba ia
mengebut dengan lengan bajunya yang kanan, dari bawah ke
atas.
Liok Sinshe hanya gunakan tenaganya tiga bagian, tapi sudah
cukup membuat tongkatnya si nenek hampir terlepas lagi dari
cekalannya. Angin kebutan lengan baju dirasakan si nenek
menumbuk dadanya sampai rasanya susah bernapas,
lengannya juga kembali dirasakan nyeri.
Lawan terlalu alot, sudah seharusnya Kim Popo terima kalah.
Namun, dasar si nenek keras kepala. Ia masih mau coba
dengan serangannya yang terakhir. Tampak ia melemparkan
tongkatnya, matanya mendelik seram, rambutnya yang kasar
hampir pada berdiri, rupanya ia sedang mengerahkan lwekang
(tenaga dalam). Kemudian, kedua tangannya yang kurus
macam cakar bebek diangkat, tampak kukunya seperti
memanjang. Benar-benar dalam sikapnya yang menyeramkan
itu, Kim Popo bisa membikin anak kecil yang melihatnya
menjerit nangis dan jatuh pingsan.
Liok Sinshe air mukanya tetap bersenyum-senyum, tapi ia
waspada akan serangan lawan yang hebat dengan
pengerahan tenaga dalam sepenuhnya.
Si kakek yang rebah di tanah empas empis, masih sempat
membuka matanya, kaget bukan main ia melihat si nenek
kerahkan tenaganya untuk melakukan serangan maut. "Awas
!" teriaknya kepada Liok Sinshe.
Berbareng dengan perkataan "Awas !", Kim Popo sudah
menerjang sambil berseru menyeramkan, "Binatang, aku akan
adu jiwa denganmu !"
Dengan gerakan 'Beng-houw-pok-ye' -- "Harimau liar
menerkam kambing', ia lompat menerjang musuhnya. Kedua
tangannya mencengkeram kepada lawan, dadanya Liok
Sinshe pasti remuk oleh karenanya kalau serangan itu
menemui sasarannya.
Si orang she Liok tidak takut. Ia bergerak sedikit, kedua
tangannya diulur untuk menyambuti. Ia gunakan tenaganya
empat bagian yang keras untuk lawan keras. Kim Popo tahu
juga bahaya. Cepat ia tarik pulang kedua tangannya untuk
mencegah bentrokan. Ia tidak mau tangannya bentrok dengan
tangan musuh yang unggul banyak tenaga dalamnya.
Serangannya berganti, tangan kanannya diputar lalu dua
jarinya, telunjuk dan tengah bagaikan kilat nyelonong hendak
mengorek sepasang mata lawannya.
Namun, Liok Sinshe sekarang tidak mau kasih si nenek
banyak tingkah lagi. Sambil elakkan kepalanya ke kanan,
tangan kirinya bekerja. Jarinya menyentil dua jari si nenek di
bagian jalan darah tiong-ciong dan siang-yang.
Segera terdengar jeritan melengking, mengalun di sekitar
lembah itu. Itulah jeritan Kim Popo yang kesakitan, jari
telunjuknya kena disentil. Ia rasakan sakit sekali menyelusup
ke ulu hati, panas rasanya.
Berbareng dengan melengking jeritannya, kakinya menjejak
tanah, lompat ke belakang, menjauhkan diri dari lawannya,
kemudian berkata, "Binatang, lain kali kita jumpa lagi."
Setelah mengucap demikian, Kim Popo putar tubuhnya.
Dengan beberapa lompatan tubuhnya sudah menghilang dari
pemandangan.
Oleh karena jeri terhadap kelihaiannya Liok Sinshe, maka
ketika Kim Popo diminta bantuannya oleh Siauw-san Ngo-ok
dan kawan-kawannya untuk mengeroyok si orang she Liok, ia
tidak mau menempur orang dengan berterang, hanya bersedia
membantu dengan jarum mautnya, membokong dari tempat
sembunyi. Tidak ia sangka bahwa rencananya itu dibikin
kacau oleh si imam sombong Siong Leng Tojin.
Kenapa dalam pertempuran satu sama satu tadi dengan Liok
Sinshe si nenek tidak menggunakan jarum mautnya ?
Meskipun keras kepala, Kim Popo punya perhitungan akan
untung rugi. Demikian ia lihat musuh sangat lihai, juga tidak
mencelakakan dirinya, ia sangsi untuk menggunakan senjata
mautnya. Pikirnya kalau ia berhasil, tidak jadi soal. Tapi kalau
gagal, apakah Liok Sinshe tidak jadi naik pitam ? Ia sadar,
kalau mau dengan mudah Liok Sinshe dapat ambil jiwanya
bagaikan orang yang membalik tangannya. Kalau si nenek
tinggalkan perkataan 'lain kali kita jumpa pula', itulah hanya
untuk tolong mukanya dari perasaan malu.
Liok Sinshe melambaikan tangannya dengan senyum dikulum,
ketika Kim Popo ambil 'selamat berpisah', kemudian putar
tubuhnya menghampiri si kakek dalam keadaan dekat mati.
Terkejut Liok Sinshe ketika memeriksa si kakek, dua jarum
beracun sudah menembusi bagian pundak dan bebokongnya.
Pada bagian-bagain itu sudah jadi hitam, menjalar ke bagian
lagin dari tubuhnya, mungkin racun jarum sudah menembusi
tulang.
Ketika Liok Sinshe celentangi si kakek, sesudah periksa
bebokongnya, kepalanya rebah dilengannya. Keadaannya
sudah payah. Matanya meram terus. Liok Sinshe terharu
melihatnya. "Kejam...." Liok Sinshe kata dalam hatinya.
Ingin ia menolongi si kakek, namun apa daya ? Racun jahat
sudah menjadi satu dengan darahnya. Tapi bagaimana pun
juga, ia ingin coba dengan obat pilnya yang mustajab. Taruh
kata si korban tak dapat tertolong jiwanya, ia masih akan dapat
keterangan tentang siapa dirinya si kakek, manakala ia dapat
menyadarkannya dengan pertolongan obatnya.
Ketika tangannya hendak merogoh sakunya, tiba-tiba matanya
si kakek dibuka. Liok Sinshe kegirangan.
"Terima kasih atas pertolonganmu." berkata si kakek,
suaranya lemah.
"Kau siapa, lotiang ?" tanya Liok Sinshe.
"Kau kenal dengan Kwee Cu Gie ?" kakek itu tidak menjawab
pertanyaan Liok Sinshe, ia balik menanya malah.
Liok Sinshe kerutkan keningnya.
"Dia ada satu tayhiap." kata si kakek lagi, tidak menanti
jawabannya Liok Sinshe.
"Dia seharusnya memiliki barang mustika yang kubawa.
Tolong kau kasihkan ini padanya."
Tangan kanannya digerakin, maksudnya hendak merogoh
kantongnya. Tapi sia-sia ia gerakan karena tangan itu sudah
lumpuh.
"Kau siapa, lotiang ?" Liok Sinshe ulangi pertanyaannya.
"Aku....aku... She Kong..... ah....." kepalanya lantas saja
terkulai.
Liok Sinshe terharu menyaksikan kematiannya si kakek she
Kong, air matanya mengembang. Pikirnya, si kakek ini
menyebut nama Kwee Cu Gie, dimana ia kenal Kwee Cu Gie ?
Barang apakah yang hendak dihadiahkan kepada Kwee Cu
Gie ?
Pelan-pelan tangannya Liok Sinshe merogoh kantongnya si
kakek. Ia keluarkan isinya. Tidak ada apa-apa selain perak
hancur dan sebuah buku kecil yang sudah kumal. Kapan ia
baca kalimat di buku itu, tertulis empat huruf yang sudah
banyak luntur. 'Tiam hiat pit koat', terkejut hatinya Liok Sinshe.
"Tiam hiat pit koat......' katanya, tidak tegas. "Dari mana si
kakek dapatkan buku yang sangat berharga itu ?" ia menanya
pada dirinya sendiri.
Liok Sinshe bengong sejenak. Kembali dalam benaknya
muncul pertanyaan, "Ada hubungan apa dia dengan Kwee Cu
Gie ? Begitu sangat dia menghargakan si orang she Kwee,
dengan suka rela ia menghadiahkan buku pelajaran ilmu
menotok jalan darah, suatu buku 'Tiam hiat' yang menjadi
rebutan masa itu dalam Bu-lim (dunia persilatan). Dan apa
hubungannya si nenek dan si kakek, mengingat si kakek
dalam kewalahan bertempur ada mengucapkan kata-kata,
'Apa kau sudah tidak kenal persaudaraan ? Siapa Kim Popo ?
Ia tersadar dalam renungannya, ketika ia meraba si kakek
tubuhnya sudah mulai dingin. Cepat ia masukkan ke sakunya
buku mungil itu, uang perak ancur ia masukkan pula ke dalam
kantongnya si kakek. Setelah mana, dengan menggunakan
pedangnya almarhum ia mulai menggali lubang, ke dalam
mana di lain saat mayatnya si orang she Kong dimasukkan
dan dikubur rapi.
Liok Sinshe gantung pedang si kakek di pinggangnya.
Pikirnya, pelan-pelan ia mau selidiki si kakek dan akan
mengembalikannya. Sebelum angkat kaki, ia soja depan
kuburan si kakek, mulutnya kemak kemik, entah apa yang
dikatakannya.
Setelah mana, ia mendengak. Lihat cuaca memburuk dan
segera akan turun hujan kelihatannya. Ia lalu gerakan kakinya
untuk dengan ilmu entengi tubuh 'Pat pou kan siam' atau
'Delapan tindak mengejar tenggeret', ia meninggalkan tempat
itu.
Liok Sinshe tidak tahu kalau gerak geriknya diintip orang.
Itulah Kim Popo yang balik lagi dengan diam-diam. Ia
penasaran untuk dapatkan barang dari tangan si kakek
diganggu orang. Lari belum jauh, ia putar tubuhnya kembali ke
tempat tadi. Cuma ia tidak berani datang dekat. Diatas, dari
jarak beberapa tombak, ia memasang mata atas gerak gerik
Liok Sinshe.
Gusar bukan main si nenek di waktu melihat Liok Sinshe
memegang buku yang bentuknya mungil yang kemudian
dimasukkan ke dalam sakunya. Itulah justru barang yang ia
arah dari si kakek.
Sekarang barang itu sudah berada di tangan orang lihai.
Bagaimana ia dapat mengambilnya pulang ? Dari marah ia
menjadi lesu, hanya melongo mengawasi orang berlalu
dengan ilmu entengi tubuh. Untuk menyusul, menguntit, ilmu
entengi tubuhnya dibawah Liok Sinshe.
Dengan perasaan sakit hati, ia turun ke bawah untuk ambil
pulang tongkatnya kembali. Mulutnya bergerak-gerak dan
matanya melotot pada kuburannya si kakek seolah-olah ia
sedang mencaci maki si orang she Kong. Saking gemas
malah, ia sudah kemplang tiga kali kuburannya si kakek, akan
kemudian dengan uring-uringan ia berlalu dari tempat itu.
Belum berapa jauh, ia rasakan hujan mulai gerimis. Ia cepati
jalannya untuk mencari tempat meneduh. Dari kejauhan,
jalannya ke selatan. Ia melihat ada bangunan rumah berhala.
Ia lari ke sana, untuk meneduh, menyingkir dari serangan
hujan besar yang saat itu sudah mulai turun dengan lebatnya.
Ketika ia datang dekat, hatinya merasa heran melihat rumah
berhala itu dijaga oleh banyak orang yang bersenjata tajam.
Orang yang keluar masuk juga pada bawa senjata masingmasing.
Ada apa gerangan disitu.
Ia jalan terus ke sana, sampai tiba-tiba ada yang menegur
dibalik satu pohon, "Hei, nenek tua, kau mau kemana ?"
Kim Popo menoleh, dilihatnya ada dua orang bermuka bengis
tengah mengawasi kepadanya. Kim Popo yang adatnya aneh,
cepat marah, menjadi tidak senang.
"Apa mentang-mentang kalian bawa golok, begini caranya
menegur seorang tua ?' sahutn si nenek, tidak enak dilihat
mukanya yang kehujanan.
Dua orang jaga itu, yang satu tinggi kurus, temannya gemuk
pendek berewokan.
"Kita tanya benar-benar, bolehnya dia marah. Hahaha !" kata
si gemuk pada kawannya.
"Hmm !" mendengus Kim Popo.
Matanya pelototi si gemuk, kakinya bergerak. Ia mau jalan
terus, tapi si kurus menghadang cepat-cepat. "Nenek tua, kau
jangan tidak tahu diri !" bentaknya, seraya goloknya
dilintangkan di depan Kim Popo, menghalangi untuk berjalan.
"Trang !" segera terdengar golok di kemplang tongkat.
"Aiyoo !" si kurus berteriak, sambil tangan kirinya memegangi
lengan kanannya yang dirasakan sakit bukan main, goloknya
jatuh nancap di tanah. Ia merintih teraduh-aduh, mukanya
pucat mengawasi Kim Popo yang tampak tertawa terkokohkokoh.
Si gemuk bengong sejenak, melihat kawannya dikerjai si
nenek. Dengan gusar ia menyerang Kim Popo dengan
goloknya. Sayang, tenaganya besar tapi tidak ada 'isi' (pandai
silat). Maka satu tangkisa keras dari tongkatnya Kim Popo
cukup bikin ia berkaok-kaok persis macam kawannya tadi.
Lengannya gemetaran, sakitnya bukan main nyelusup ke
jantung.
Si nenek setelah mendupak si gemuk, sampai meloso
mencium lumpur, lalu angkat kaki pergi. Melihat itu, si kurus
masih sempat kasih tanda 'bahaya' pada kawan-kawannya
dengan suitannya.
Sebentar saja dari balik beberapa pohon keluar orang-orang
jaga dengan golok terhunus, mencegat jalannya Kim Popo.
"Kurang ajar !" maki Kim Popo dalam hatinya. "Kalian kalau
tidak dikasih hajaran, memang tidak kenal kelihaian aku si
nenek."
Lalu dengan ilmu entengi tubuh, ia kelit sana sini dari bacokan
orang-orang yang merintangi jalannya. Tongkatnya yang berat
enam puluh kati berkelebatan diantara hujan lebat. Teriakanteriakan
mengerikan terdengar saling susul dari orang-orang
yang menjadi korban tongkatnya yang berat itu.
Banyak korban jatuh, sedang si nenek dengan seenaknya
jalan berlenggang menghampiri kuil yang dijaga ketat. Orangorang
jeri melihat si nenek demikian lihai, maka mereka pada
minggir dan di lain saat si nenek sudah ada dalam kuil. Tapi,
sebelum ia bertindak lebih jauh, dari jurusan pintu, satu orang
tinggi besar menghadang di depannya.
"Hehe ! Masih ada juga yang minta dikemplang !" jengek Kim
Popo.
"Kau boleh bertingkah di antara orang-orang kami yang tidak
berguna, tapi di depanku, hmm !" kata si orang tinggi besar,
sikapnya jumawa.
Kim Popo sebal melihat tingkahnya.
"Jadi, kau mau apa ?" bentaknya keras.
Sementara menanya, matanya Kim Popo jelalatan melihat ke
sekitar ruangan.
Kiranya kuil itu adalah rumah berhala tua, rupanya sudah tidak
diurus lagi karena disana sini tampak banyak rusak dan bocor.
Sejauh yang dapat ia lihat, di sebelah dalam ada duduk dua
orang menghadapi meja, satu bermuka berewokan, tengah
mengusap-usap brewoknya yang tebal, satunya lagi bermuka
bengis, berhidung panjang. Di samping dan belakang mereka
ada berdiri beberapa orang dengan senjata di tangan masing
masing, siap untuk digunakan.
Di depan mereka ada dua orang tengah berlutut dengan
masing-masing kedua tangannya di ikat ke belakang.
Entahlah, apa yang sudah terjadi. Tapi dari pemandangannya,
Kim Popo dapat menduga bahwa si berewokan dan si hidung
panjang tengah memeriksa dua orang yang berlutut dengan
tangan ditelikung.
Si orang tinggi besar yang mencegat Kim Popo tertawa gelakgelak,
sebelum menjawab pertanyaan Kim Popo yang
menantang.
"Nenek tua, kau kenali aku siapa ?" ia malah balik menanya.
"Di lihat romanmu, kau ini bukan orang baik-baik". jengek Kim
Popo ketus.
"Nenek celaka !" teriak si tinggi besar. "Buka matamu dan
kenali, aku ada sam-taunia dari gunung Siauw-san !"
Dengan menyebut 'sam-taunia (pemimpin ketiga) dari
Siauwsan' si orang tinggi besar kira orang akan jadi kaget,
tubuhnya gemeteran karena itulah Sam-ok Cui Seng, si Jahat
ketiga yang tersohor paling bengis dan telengas diantara si
Lima Jahat dari Siauwsan (Siauwsan Ngo-ok).
Sam-ok Cui Seng ternyata salah hitung.
Si nenek bukan gemetaran, sebaliknya tertawa terpingkalpingkal.
Mendelu bukan main hatinya Sam-ok Cui Seng.
"Apa yang kau ketawai, nenek gendeng ?" bentaknya.
"Tepat dugaanku, kau ini orang jahat !" sahutnya kontan.
Sam-ok Cui Seng tidak tahan meluap amarahnya. Dengan
'Elang lapar menyambar kelinci', ia menubruk Kim Popo.
Tangan kanannya mencengkeram dada, sedang tangan kiri
bekerja untuk merebut tongkat si nenek.
Cepat gerakan itu dilakukan Sam-ok Cui Seng hanya sayang
ia kalah cepat. Bukan saja tongkat si nenek gagal direbut,
malah kepalanya hampir pecah digaplok tangan Kim Popo
yang keras, kalau saja ia tidak keburu mengelakkan
kepalanya.
Sam-ok Cui Seng terkejut serangannya gagal, malah
kepalanya hampir digempur pecah. Ia lompat mundur,
mengawasi si nenek yang ketawa haha hihi.
Sambil menunjuk dengan tongkatnya, Kim Popo berkata,
"Badanmu memang tinggi besar, menyeramkan tapi tidak ada
'isi'. Buat main-main dengan Kim Popo, kau bukan
tandinganku. Lekas kumpulkan saudara-saudaramu untuk
mengerubuti aku !"
Bukan main gusarnya Sam-ok Cui Seng ditantang demikian.
Pikirnya, mungkin barusan ia kurang cepat gerakannya
lantaran terlalu enteng memandang lawan.
Ia penasaran, cuma sangsi kalau ia lawan si nenek dengan
tangan kosong. Maka itu ia mencabut goloknya, berkata,
"Jangan temberang. Lihat golok !"
Perkataan Sam-ok Cui Seng disusul dengan satu sabatan
golok pada pinggang.
Kim Popo ketawa terkekeh-kekeh sambil tubuhnya dengan
enteng lompat tinggi mengelakkan serangan, terputar
sebentaran baru turun menginjak lantai lagi. Sam-ok Cui Seng
merangsek, goloknya menyerang bertubi-tubi. Ia mainkan ilmu
goloknya 'Ngo-houw-toan-bun-to' atau 'Lima macan menjaga
pintu'. Tidak ia memberi kesempatan untuk Kim Popo perbaiki
posisinya.
Tapi pengalaman bertempur, Kim Popo jauh diatas Sam-ok
Cui Seng. Ilmu goloknya 'Lima macan menjaga pintu' yang
belum tamat, mana dapat membuat susah pada si nenek
kosen yang menggunakan ilmu entengi tubuhnya baik sekali.
Kim Popo ingin mencoba tenaga dalamnya si Jahat ketiga.
Golok lawan yang mengarah dadanya, ia kelit nyamping ke
kanan, dari mana tongkatnya digeraki menangkis golok dari
bawah ke atas dengan tipu "Lutung hitam petik buah'. "Trang !"
terdengar suara bentrokan dua senjata, goloknya Sam-ok Cui
Seng terlempar jauh ke atas kemudain turun lagi menghajar
lantai, sehingga menerbitkan suara keras.
Sam-ok Cui Seng tampak berdiri menjublak, lengannya yang
barusan mencekal golok gemetaran, sakit bukan main.
Matanya melotot mengawasi Kim Popo yang tengah terkekehkekeh
tertawa.
Sekonyong-konyong si nenek merasa ada angin menyambar
dari belakang.
Ia duga akan datangnya senjata rahasia. Cepat ia lompat
nyamping ke kiri. Benar saja, itulah piauw beracun yang
dilepas oleh Ji-ok Cui Kin. Kalau si nenek selamat dari piauw
beracun, adalah orangnya Siauwsan Ngo-ok yang berdiri di
depan Kim Popo menjerit dan jatuh rubuh. Ia terkena senjata
piauwnya Ji-ok Cui Kin tepat sekali, tidak ampun lagi, ia roboh
tidak berapa lama. Tubuhnya berkelojotan dan rohnya segera
terbang.
Berbareng dengan dilepas senjata rahasianya, Ji-ok Cui Kin
enjot tubuhnya melesat, tancap kaki didepannya Kim Popo
yang barusan saja memutar tubuhnya untuk melihat siapa
yang melepas senjata rahasia tadi.
"Nenek tua !" bentak Ji-ok Cui Kin gusar. "Kau datang menhina
kami, apa maksudmu ? Apa kau kira mudah keluar dari kuil ini
setelah kau mengacau ?"
Kim Popo awasi orang di depannya. Ternyata ia tidak lain
adalah si hidung panjang yang duduk berduaan dengan si
berewokan di sebelah dalam. Ia berdiri diatas sebelah kakinya
yang kanan karena kaki kirinya kutung sebatas dengkul.
"Kau yang melepaskan piauw barusan ?" tanya Kim Popo,
keningnya mengkerut.
"Tidak salah !" sahut Ji-ok sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Bagus !" teriak Kim Popo, tongkatnya berbareng diangkat
untuk mengemplang batok kepala Ji-ok Cui Kin, tetapi Ji-ok
cepat menangkis dengan pedangnya. Dua senjata saling
bentur hingga meletikkan bunga-bunga api.
"He he, boleh juga tenagamu," kata Kim Popo ketika melihat
pedang lawannya masih tetap tercekal ditangannya.
"Sambutlah ini !" si nenek melanjutkan kata-katanya seraya
gerakkan tongkatnya menyodok ke arah punya 'gudang
makanan' (perut), menuju jalan darah "Liong-kek-hiat'.
Ji-ok Cui Kin tidak takut. Ketika ujung tongkat sampai ia
mengegos, pedangnya dipakai menekan. Kemudian
diserosotin untuk memapas tangan yang mencekal senjata
berat itu. Inilah gerakan yang dinamai 'Tok coa poan cu' atau
'Ular berbisa melilit tiang', satu jurus yang berbahaya sekali
bagi lawannya, ialah akan terpapasnya tangannya.
Melihat gelagat jelek, Kim Popo cepat tarik pulang tongkatnya,
lompat ke samping kiri musuhnya, akan dari mana tongkatnya
bekerja menotok pada jalan darah di iga. Serangan ini
dilakukan cepat sekali hingga Ji-ok Cui Kin gugup untuk
menangkisnya. Dalam bahaya dia. Tapi ada bintang penolong
yang datang tiba-tiba. Itulah Toa-ok Cui Ping, si berewok tadi
yang menolongi saudaranya menangkis tongkat Kim Popo
dengan goloknya. Sementara itu Ji-ok Cui Kin sudah lompat
menjauhkan diri.
Kim Popo marah, alisnya berdiri. Ia penasaran sekali pada
orang yang sudah gagalkan serangannya yang hampir
berhasil Ia mengawasi Toa-ok dengan roman yang geregetan
sekali. Maka tidak banyak omong lagi, ia angkat tongkatnya
menyerang si berewok.
"Tahan !" kata Toa-ok Cui Peng sambil berkelit dari serangan
dan lompat mundur empat tindak.
"Binatang, kau mau omong apa lagi ?" bentak Kim Popo kasar.
Toa-ok Cui Peng angkat tanganya bersoja, katanya, "Maafkan,
aku Cui Peng kurang hormat. Tapi tolong jelaskan apa sebab
kau orang tua datang mengacau disini ?"
"Aku mengacau ? Hm ! Kau tanya orang-orangmu sendiri
tanpa sebab sudah datang mengeroyok padaku, memangnya
aku orang apa ?" jawab si nenek mendongkol.
Cui Peng dapat memahami duduknya kejadian. Memang
kesalahan dipihaknya, orang-orangnya suka berlaku
sewenang-wenang dan perbuatan meraka justru kali ini 'kena
batunya' menemui si nenek kosen.
Ia tidak menjawab si nenek yang balik menanya, sebaliknya ia
berkata lagi, "Aku mengagumi kepandaianmu, orang tua !
Untuk menyingkat waktu, bagaimana kalau pertempuran
dengan senjata dirubah dengan pertaruhan ?"
"Kau mau bertaruh apa ?" tanya Kim Popo, suaranya tidak
sekasar tadi. Rupanya ia measa si berewokan ini, meskipun
kelihatannya bengis kasar, tiap pertanyaannya diucapkan
dengan sopan santun.
"Begini saja," sahut Cui Peng, "kita bertaruh dalam dua babak.
Kalau aku menang, kau harus meninggalkan kuil ini tanpa
syarat."
"Kalau aku yang menang ?" Kim Popo memotong
pembicaraan orang yang belum habis.
"Kalau yang yang menangi, kami tiga saudara akan berlutut di
depanmu dan angkat kau orang tua menjadi ibu angkat kami.
Akur !" sahut Cui Peng ketawa.
Si nenek termenung sebentar.
"Baiklah, bagaimana caranya bertaruh ?" Kim Popo menanya.
"Babak pertama, kita masing-masing menghadapi batu besar.
Siapa yang memukul lebih patah pada batunya masingmasing,
dialah yang menang." menerangkan Toa-ok Cui Peng.
Dan babak yang kedua, kita masing-masing menghadapi dua
batang besi. Siapa yang dapat menekuk atau mematahkan,
dia yang menang."
Kim Popo kembali temenung. Ia tidak sadar bahwa ia tengah
diliciki oleh Toa-ok Cui Peng. Si berewok memang ada ahli
'Gwakang' (tenaga luar) disamping ia mempelajari juga
lwekang (tenaga dalam). Ia sangat andalkan tenaganya yang
seperti raksasa. Pikirnya, si nenek yang kurus kering seperti
yang kurang makan itu, pasti dengan mudah dikalahkan
olehnya.
Si berewok sangat licin. Ia tahu kepandaiannya Kim Popo ada
di atas mereka tiga saudara dan bila si nenek dikerubuti,
belum tentu mereka akan peroleh kemenangan. Pikirnya dari
pada buang tempo, malah bisa-bisa mendapat celaka, lebih
baik si nenek ia ajak bertaruhan untuk jurusan yang ia
andalkan, yang ia percaya seratus persen Kim Popo akan
tergelincir kalah hingga ia boleh angkat kaki dari kuil itu tanpa
adu senjata lagi.
Setelah termenung, Kim Popo berkata lagi, "Kalau kau kalah,
tak usah ganti berbahasa pakai ibu segala, cukup kau orang
memanggil 'Popo' (nenek) saja."
"Bagus, kami menurut saja kau orang tua punya kemauan."
jawab Cui Peng merendah sambil anggukan kepala.
"Nah, kau unjukkan dimana barangnya yang hendak
digunakan sebagai sasaran bertaruh." tanya Kim Popo.
"Oh, itu ada di belakang kuil ini. Mari turut aku ke sana !" sahut
Cui Peng.
Berbareng ia berjalan diikuti oleh dua saudaranya Ji-ok Cui
Kin dan Sam-ok Cui Seng, sedang Su-ok Cui Tie ada di
markas besarnya, gunung Siauw-san, tidak ikut hadir dalam
keramaian dalam kuil tua itu.
Kim Popo turut dari belakang.
Kemudian yang lain-lainnya, jagoan dibawahnya Siauw-san
Ngo-ok menyusul mengikuti. Mereka kegirangan akan
menyaksikan keramaian yang bakal dilihat.
Sesampainya dibelakang ruangan kuil, Toa-ok dengan muka
bersenyum ramah mengunjukan pada Kim Popo dimana
letaknya dua barang yang bakal dipakai sasaran itu. Tampak
di depan agak sebelah kiri, ada dua buah batu besar
sepelukan orang. Entah berapa ratus kati beratnya. Di sebelah
kanannya di satu pojokan, ada menyandar dua batang besi
dari ukuran tengah dua dim dan panjangnya kurang lebih dua
setengah meter.
Setelah mengawasi sejenak, si nenek tampak kerutkan
keningnya.
Matanya Toa-ok yang awas, dapat melihat perubahan ini.
Dalam hatinya amat kegirangan. Sebab dengan mengunjuk
sikap demikian, kelihatannya si nenek tidak mungkin akan
menang dalam pertaruhannya.
"Bagaimana, apakah kita boleh mulai ?" tanya si berewok.
"Boleh saja, kau boleh mulai. Tapi tunggu dahulu." kata Kim
Popo seraya berjalan menghampiri dua batu besar bakal
sasaran itu. Ia memeriksa sambil pegang-pegang. Benarbenar
batu itu kelihatannya alot. Lalu ia jalan menghampiri dua
batang besi yang merupakan toya besar. Juga disini ia
pegang-pegang barang itu dan memeriksa dengan teliti.
Mulutnya kemak kemik seperti ada yang dikatakan tapi tidak
kedengaran oleh siapa pun juga disitu.
Makin kegirangan Toa-ok melihat gerak geriknya si nenek.
"Marilah kita mulai." kata si berewok sambil maju menghampiri
satu diantara dua batu besar itu.
"Jangan sungkan, kau boleh mulai !" kata Kim Popo yang
melihat Toa-ok unjuk laga seperti yang pasti akan dapat
memukul belah batu itu.
"Baiklah," sahutnya. Lalu dikerahkanlah tenaga luar.
Kecuali Kim Popo yang sikapnya acuh tak acuh, semua orang
yang ada menyaksikan disitu dan tegang hatinya, masingmasing
kuatir kepala pemimpinnya gagal dalam
pertaruhannya. Setelah mengerahkan tenaganya, tampak
Toa-ok Cui Peng mengangkat tangannya yang kanan, dibeber
macam golok lalu dengan tiba-tiba tubuhnya mendak,
tangannya membacok. Segera terdengar suara terbelahnya
batu. Batu besar itu terbelah dua.
Di susul oleh sorak ramai, gegap gempita dan seruan "Hidup
pemimpin kita !".
Kemudian Toa-ok Cui Peng jalan menghampiri para penonton
dengan roman tertawa-tawa. Disambut oleh orang-orangnya
sambil tampik sorak ramai.
"Bagus." memuji Kim Popo. "Toa-taunia, hampir kau bikin aku
jeri dan terima kalah. Kalau hatiku tidak mendesak untuk cobacoba."
"Ah, kau terlalu merendah, orang tua." sahut Cui Peng ketawa.
Kim Popo pun tertawa. Lalu ia minta salah seorang pegangi
tongkatnya. Ia sendiri jalannya mendekati batu besar bagian
sasarannya.
Setelah datang dekat, ia berdiri sejenak lalu berpaling ke arah
orang banyak. Kepalanya manggut-manggut lalu entah
bagaimana ia bergerak, tangannya yang kanan tiba-tiba
menggaplok batu besar itu. Terdengar suara gemuruh, batu itu
ternyata hancur berantakan.
Orang banyak jadi terkesima melihatnya. Mereka sangat
tertegun sampai lupa bersorak sorai. Suasana menjadi sunyi
sebentaran sampai kemudian Toa-ok Cui Peng yang juga
terbelalak matanya keheranan sudah bisa menghilangkan rasa
cemasnya dan dengan muka tertawa, ia menyambut Kim Popo
yang sudah balik lagi ke tempat orang banyak berkumpul.
"Orang tua, kau hebat sekali ! Kali ini kau menang. Marilah kita
mulai dengan babak yang kedua." si berewok menantang
seraya menghampiri dua lonjoran besi berat yang menyandar
di tembok.
Ia ambil satu antaranya. Besi yang berat itu ditangannya
seolah-olah bambu saja entengnya. Ia putar-putar sebentar
lalu berkata pada Kim Popo, "Bolehkah aku mulai, orang tua ?"
Kim Popo manggut. "Kau boleh mulai, Toa-taunia." Ia
menyilahkan.
Toa-ok Cui Peng gunakan dengkulnya sebagai penahan besi.
Tenaganya dikerahkan pada kedua tangannya dan dengkul,
lalu...... besi lonjoran itu pelan-pelan melengkung dan mulai
jadi bundar.
Kembali terdengar tampik sorak riuh rendah dan ucapan
bersemangat "Hidup pemimpin kita" beberapa kali. Malah ada
yang berjingkrakan kegirangan. Ji-ok dan Sam-ok berseri-seri
mengawasi Kim Popo yang tengah mengerutkan keningnya.
Pikir mereka, kali ini Toakonya bakal menang hingga stand
menjadi seri 1-1.
Setelah melengkung hampir bundar, besi itu dilemparkan oleh
Toa-ok Cui Peng dan ia kembali ke rombongannya, mukanya
tersungging senyuman puas. Ia kemudian berkata pada Kim
Popo, "Silahkan orang tua !"
Si nenek tanpa dipersilahkan kedua kalinya, ia sudah lantas
menghampiri besi berat itu. Ia pegang kemudian diputar-putar
seperti Toa-ok tadi berbuat. Setelah mana, ia pegang dengan
kedua tangannya. Ia timbang-timbang, akan sebentar lagi
orang lihat besi itu dilemparkan ke atas dengan kedua
tangannya, terputar sebentar kemudian jatuh turun dalam
keadaan melintang.
Inilah ada suatu demonstrasi yang mempersonakan. Penonton
tidak tahu apa yang akan dilakukan Kim Popp atas besi yang
berat itu, yang jatuh turun dengan melintang.
Toa-ok Cui Peng dengan dua saudaranya saling mengawasi,
mata seperti saling menanya. Tidak menanti lama keputusan,
sebab tiba-tiba si nenek berseru keras. Sambil lompat
memapaki besi yang jatuh turun, lengan kanannya menghajar
keras persis di tengah-tengah lonjoran besi itu. "Peletak !"
terdengar suara barang patah. Itulah toya besar yang patah
jadi dua turun jatuh ke tanah.
Kali ini, saking heran dan gembiranya menyaksikan
kepandaiannya Kim Popo yang istimewa, penonton bersorak
riuh. Teriakan terdengar, "Hidup, hidup......."
"Hidup Popo !" Toa-ok tambahkan teriakan kawan-kawannya
yang kelihatan ragu-ragu untuk menyebutkan "Popo".
Maka, setelah diberi contoh, lalu teriakan "Hidup Popo, hidup
Popo" menggema dalam ruangan di belakang kuil tua itu yang
tidak seberapa besarnya.
Kini dengan hati rela, Siauw-san Ngo-ok menyerah kalah.
Ketika Kim Popo balik ke tempat rombongan, tanpa ditegur,
Toa-ok dan dua saudaranya yang lain telah menekuk lututnya
sambil menyebut, "Popo, anak-anakmu memberi hormat dan
mengucapkan selamat panjang umur !"
"Bangunlah Toa..... eh, anak-anak. Aku paling tidak suka
banyak peradatan !" kata Kim Popo yang menyilakan anakanak
angkatnya bangun dari berlututnya.
Demikianlah ada kejadian cara bagaimana Siauw-san Ngo-ok
menjadi anak-anak angkatnya dari Kim Popo.
Toa-ok Cui Peng dan saudara-saudaranya kegirangan
mendapat ibu angkat yang demikian kosen. Segera mereka
menyuruh orang-orangnya menyiapkan satu meja makanan
untuk mereka berpesta pora menghormati Kim Popo.
Ketika rombongan kembali masuk ke ruangan dalam pula, Kim
Popo dapatkan dua orang yang ditelikung tangannya masih
ada. Ia lalu minta keterangan dari Toa-ok, siapa mereka itu.
Kiranya mereka itu ada dua orang piauwsu dari Sam Seng
Piauw Kiok di kota Tongkwan propinsi Siamsay. Satu
perusahaan pengawalan barang yang sangat terkenal, karena
pengiriman-pengiriman yang diurus oleh Sam Seng Piauw Kok
hampir belum pernah gagal atau mendapat halangan di
jalanan.
Kim Popo tampak kerutkan keningnya setelah mendengar
keterangan Toa-ok Cui Peng. Kemudian mengawasi kedua
piauwsu yang berlutut sambil tundukan kepala.
"Hehe, kenapa si orang she Liong pakai dua orang tidak
berguna begini ?" kata Kim Popo, suaranya pelan tapi cukup
kedengaran oleh dua piauwsu itu.
Berbareng mereka angkat kepalanya, mengawasi pada si
nenek.
"Kami sudah kena ditawan. mau dibunuh, boleh bunuh. Untuk
apa banyak rewel ?" berkata satu diantara piauwsu itu yang
mukanya persegi.
Kawannya yang jenggotnya jarang, sambil tertawa sini
berkata, "Tanpa perangkap belum tentu dapat merobohkan
kami berdua !"
"Kau bernama apa ?" tanya Kim Popo kepada si muka
persegi.
"Aku bernama Liok Tek Kim. Belum pernah aku menukar
nama !" sahutnya.
"Dan kau ?" tanya Kim Popo pada si jenggot jarang.
"Aku Tan Kim Tie." jawabnya gagah.
"Kau pernah apa dengan Liong Seng, pemimpin dari Sam
Seng Piauw Kiok ?" si nenek tanya Liong Tek Kim.
"Aku adalah keponakannya." sahutnya singkat.
"Bagus." kata Kim Popo. "Sekarang bagaimana kehendak kau
orang ?"
"Sudah kukatakan, mau bunuh boleh bunuh. Tak usah banyak
cingcong !" sahut si muka persegi, suaranya keras, hatinya
tidak gentar.
"Hehe." Kim Popo tertawa. "Anak-anakku, merdekakan dua
orang ini."
Toa-ok dan saudara-saudaranya melenggak mendengar katakata
Kim Popo. Tidak kecuali dengan dua orang tawanan yang
ditelikung tangannya.
"Tapi......ah, Popo........" kata Sam-ok Cui Seng gugup.
"Merdekakan !" potong si nenek. "Aku bilang merdekakan
harus turut !"
Sam-ok Cui Seng melirik pada saudara tuanya seperti minta
pendapat. Toa-ok Cui Peng mengedipkan matanya, kepalanya
manggut sedikit, suatu pertanda saudara ketiga itu bolhe
lakukan perintah si nenek.
Tanpa sangsi, Sam-ok Cui Seng perintahkan orang-orangnya
untuk memerdekakan dua orang tawanannya. Sekejapan saja
tangan mereka sudah merdeka, tapi mereka masih tetap
berlutut.
"Bangun !" kata Kim Popo. "Kenapa kalian masih tetap berlutut
?'
Dua piauwsu itu tidak menyahut, hanya keduanya pada
tundukkan kepala.
Kim Popo heran. Ketika diselidiknya, kiranya mereka sudah
tidak dapat bangkit dari berlututnya karena dengkul masingmasing
lemas akibat hajaran (siksaan) pada kakinya dipaksa
mereka berlutut oleh Sam-ok Cui Seng.
Kim Popo kerutkan keningnya. Kemudian ia suruh orang
periksa lukanya dan diberi obat lalu diangkut ke lain ruangan
dimana mereka direbahkan dan diberi pertolongan lebih jauh.
"Apa memangnya Popo kenal dengan Liong Seng, pemimpin
dari Sam Seng Piauw Kiok ?" tanya Toa-ok Cui Peng setelah
dua piauwsu itu digotong ke lain ruangan.
Kim Popo anggukan kepalanya. "Orang she Liong itu yang
bergelar Tiat-gee (Si Kerbau Besi), selain ilmu silatnya lihai,
dia juga ada seorang yang peramah." menutur si nenek.
"Luhur budinya, suka tolong orang yang dalam kesusahan
hingga dia sangat dihormati oleh lawan dan kawan. Pun
pergaulannya ada sangat luas, banyak kawan-kawan atau
sahabat-sahabatnya yang berkepandaian tingi di kalangan
putih maupun hitam (baik dan jahat) hingga Piauw kioknya
mendapat banyak kemajuan.........'
"Dia toh tidak punya hubungan penting dengan Popo."
memotong Sam-ok Cui Seng tidak sabaran. Rupanya ia masih
menyesal dua tawanannya dimerdekakan.
Kim Popo pelototi matanya pada si jahat ketiga itu.
Toa-ok dilain pihak mengedipi saudaranya, hingga Cui Seng
tundukkan kepala.
"Aku belum bicara habis, kau sudah main potong saja !" kata
Kim Popo, suaranya kaku. "Aku paling tidak suka orang
potong bicaraku !"
-- 3 --
Si nenek yang adatnya cepat ngambul dan cepat marah,
hampir tidak mau melanjutkan penuturannya kalau tidak Toaok
yang membujuknya dengan sabar.
Kiranya si nenek itu hutang budi pada Tiat-gu Liong Seng yang
memberikan pertolongan di waktu ia sakit dalam sebuah hotel
di Tongkwan. Si Kerbau Besi bukan saja menolong dalam hal
keuangan dan pengobatan, malah dengan ramah tamah
mengundang ia tinggal dalam rumahnya yang besar untuk
beristirahat sampai ia sehat dan segar benar, baharu
dilepaskan ia merantau lagi.
Dilihat romannya yang jelek dan keriputan, ditaksir usianya
Kim Popo sudah dekat mencapai tujuh puluh tahun. Namun,
sebenarnya ia baharu lima puluhan.
Kenapa kelihatannya jadi begitu tua, itu ada sebabnya.
Mukanya yang bagus cantik telah berubah jelek keriputan
akibat ia masak obat beracun yang tiba-tiba meledak
menyambar ke mukanya.
Mendengar ceritanya Kim Popo, Toa-ok Cui Peng manggutmanggut
kepalanya.
Ia merasa bertindak keliru dengan merampas barang-barang
antarannya Sam Seng Piauw Kiok di bawah pimpinannya Tiatgu
Liong Seng yang mulia hatinya.
Di samping jeri menghadapi pembalasannya si Kerbau Besi
yang banyak kawannya yang lihai, juga Ketua dari si Lima
Jahat itu merasa segan pada ibu angkatnya. Maka barangbarang
rampasan dikembalikan pada Liok Tek Kim dan Tan
Kim Tie dengan tidak kurang suatu apa.
Dua piauwsu itu mengucapkan terima kasih terutama pada
Kim Popo sebab dengan datangnya si nenek itu telah
membuat perubahan yang mereka tidak sangka-sangka.
Ketika Liong Tek Kim menanya hal hubungannya si nenek
dengan pemimpinnya, Kim Popo hanya ketawa haha hihi saja,
akan kemudian ia berkata juga, "Tak usah banyak tanya. Kau
nanti akan dapat tahu dari si Kerbau Besi kalau kau sudah
kembali di Tongkwan."
Liong Tek Kim tidak berani banyak tanya pula. Maka ia lalu
siapkan orang-orangnya untuk berangkat lebih jauh, ke tempat
barang-barang kiriman itu dialamatkan. Ia dan kawannya
masih belum bisa jalan atau naik kuda karena kakinya masih
lumpuh. Maka terpaksa ikut naik dalam kereta piauw yang
mereka kawal.
Sementara itu, hujan lebat pun sudah berhenti.
Kim Popo diundang Toa-ok Cui Peng sama-sama pulang ke
markasnya di Siauw san, tapi Kim Popo menolak dengan
alasan bahwa ia masih banyak urusan yang perlu diselesaikan
dan berjanji begitu sudah ada ketikanya, ia akan datang ke
sana menyambang anak-anak angkatnya.
Demikianlah, setelah menjamu Kim Popo sebagai kehormatan
menjadi ibu angkat Siauw-san Ngo-ok, maka mereka telah
berpisahan satu dengan lain.
Mari kita lihat Lo In, si bocah yang dicari oleh Siong Leng Tojin
dan kawan-kawannya yang dianggap ada bibit bencana kalau
tidak dibinasakan.
Ketika Siong Leng Tojin ingat Lo In, si bocah itu waktu sedang
mengintip jendela. Cepat-cepat ia jauhkan diri waktu ia dengar
dirinya akan dicari di sebelah luar, menyelingkar dibaliknya
sebuah pohon besar.
Pemeriksaan dilakukan sangat teliti, bukan saja diatas pohonpohon
karena di duga Lo In ngumpat di atas pohon, juga batu
besar itu, dibelakang mana Lo In pernah mengumpat telah
diselidiki dengan seksama.
"Untung aku sudah tidak sembunyi disitu." kata Lo In dalam
hati kecilnya, waktu melihat batu besar itu diperiksa keras.
Hasilnya mereka laporkan pada Siong Leng Tojin, tak dapat
mencari Lo In setelah uber-uberan dicari.
Setelah mayat Ji-ok Cui Kin ditanam, mereka lalu
meninggalkan tempat itu pada esok paginya terang tanah.
Toa-ok jalan sambil panggul tubuhnya Sam-ok Cui Seng yang
kutung kaki kanannya.
Mereka tidak memusingkan kemana perginya Kim Popo sebab
mereka masing-masing sudah tahu adatnya si nenek yang
angin-anginan, setiap waktu ia pergi tak pernah
memberitahukan bahwa ia akan pergi ke mana.
Setelah keadaan aman, barulah Lo In berani memasuki
rumahnya.
Tampak olehnya, keadaan dalam rumah morat marit, bekas
diaduk-aduk kawanan penjahat, hatinya bukan main sedihnya.
Lo In dijatuhkan diri di kursi malas, yang biasa Liok Sinshe
rebahan, otaknya berputar, memikirkan hidupnya yang
seterusnya tanpa orang melindungi dirinya.
Air matanya mengembeng, sakit hatinya, tangannya
dikepalkan.
"Aku akan membalas dendam akan kematiannya Liok Sinshe
!" ia berkata sendirian, matanya beringas dan tangannya
dikepal-kepalkan.
Lucu kelihatannya kalau anak kecil lagi lagi.
Kapan ia ingat akan nasehat Liok Sinshe bahwa ia harus
berlaku tenang jika menghadapi sesuatu urusan, biar
bagaimana besar pun, maka amarahnya menjadi reda.
Sebagai gantinya, kembali ia menangis, menangis terisakisak.
Lo In terkenang pada masa lampau, lima tahun berselang
hidup terlunta-lunta diantara anak-anak gembel di kota
Lamkoan. Pada hari itu tengah bermain-main di pekarangan
kuil Thian-ong-sie. Tiba-tiba pundaknya ada yang tepuk.
Ketika ia menoleh, tampak seorang laki-laki berparas cakap
menatap kepadanya. Di atas alis kirinya ada tanda codet
seperti bekas barang tajam. Senyumannya yang menawan,
telah menarik sekali hatinya. Itulah orang yang belakangan ia
kenal sebagai Liok Sinshe, yang telah angkat ia dari dunia
gelandangan menjadi seorang anak yang cerdas tangkas,
yang melindungi dan mencintainya sebagai ganti ayahnya.
Masih berbayang saat itu, mula-mula ia ketika ia bertemu Liok
Sinshe.
"Anak, apa kau sudah makan ?" tanyanya Liok Sinshe diwaktu
itu.
Lo In menggelengkan kepala.
"Apa mau makan ?" tanya Liok Sinshe.
Lo In mengangguk.
"Mari ikut aku !" kata Liok Sinshe berbareng tangannya Lo In
dipegang, diajak berlalu dari situ untuk kemudian mereka
memasuki sebuah rumah makan.
Lo In menurut disuruh duduk diatas bangku yang kitari meja
makan. Setelah pesan makanan, Liok Sinshe berkata lagi
pada Lo In, "Anak, kau begini kurus."
Lo In tidak menjawab. Kepalanya nunduk, mengawasi bajunya
yang kumel dan robek disana sini.
"Ayah dan ibumu ada dimana ?" tanya Liok Sinshe memancing
si bocah bicara.
Lo In geleng kepala. "Akut idak tahu ayah dan ibu dimana."
sahutnya kemudian.
Sementara itu, pelayan sudah siapkan hidangan di atas meja.
Lo In awasi makanan di depannya. Ia menelan ludah, mengilar
dia rupanya.
Liok Sinshe memperhatikan anak gembel itu, kurus dan pucat
mukanya. Pakaiannya compang camping, hatinya merasa
sangat kasihan.
"Mari kita makan !" mengajak Liok Sinshe seraya mulai
pegang sumpitnya.
Lo In tidak perlu diundang dua kali, sebab segera ia pegang
sumpit dan mulai cobai makanan yang barusan membuat ia
menelan ludah saking kepingin cicipi. Ia makan banyak, malah
dua kai ia minta tambah nasi.
Liok Sinshe ketawa menampak perbuatan Lo In yang lucu,
simpati serta gerakannya ada cekatan sekali.
"Eh, namamu siapa ?" tanya Liok Sinshe.
"Namaku In, orang bila aku she Lo" jawabnya, mulutnya penuh
nasi.
Geli hatinya Liok Sinshe melihat Lo In yang gembul
makannya.
"Bagus," kata Liok Sinshe. "Kau mau ikut aku ?"
"Kemana ?" Lo In balik menanya.
"Kemana saja." sahut Liok Sinshe. "Kita jalan-jalan melihatlihat
keramaian kota diberbagai tempat."
Lo In meletakkan sumpitnya, mengawasi sebentar pada orang
didepannya.
"Mau, aku mau !" katanya kegirangan.
Demikian, sejak itu Lo In ikut mengembara dengan Liok
Sinshe ke berbagai tempat, kemudian menetap diatas jurang
Tong-hong-gay.
Melebihi dari dugaannya sendiri, Liok Sinshe lihat kecerdikan
dan ketajaman otaknya Lo In ada luar biasa. Tiap pelajaran
baik surat maupun ilmu silat, belum pernah diulang sampai
tiga empat kali. Paling banyak dua kali sudah cukup, ini juga
kalau ruwet.
Lo In ternyata ada satu anak yang jenaka, banyak menghibur
hatinya Liok Sinshe dikala dalam kesunyian merenungkan
nasibnya yang terumbang ambing.
Semakin Lo In tambah umur, Liok Sinshe tampaknya semakin
sayang pada si bocah hingga Lo In dapat mewariskan
kepandaiannya Liok Sinshe salam ilmu surat dan ilmu silat
yang lihai. Sayang ia masih anak-anak hingga belum dapat
digembleng tenaga dalamnya, kalau tidak, ia sudah selihai
Liok Sinshe, malah ada kemungkinan ia lebih gesir dan cepat
lagi.
Meskipun demikian, pelan-pelan Liok Sinshe memulai dengan
gemblengannya tenaga dalam (lwekang). Dimulai ketika
umurnya Lo In meningkat sepuluh tahun. Maka ketika ada
penyerbuan dari Siauw-san Ngo-ok dengan kawan-kawannya
itu adalah dikala Lo In baru dapat gemblengan lwekang dua
tahun lamanya.
Sebenarnya Lo In ingin membantu Liok Sinshe waktu
dikerubuti. Cuma saja, selain ia ragu-ragu akan
kepandaiannya sendiri, yang terutama ia takuti Liok Sinshe
tegur dan marahi padanya, tidak menurut perintah untuk lari
menyelamatkan diri.
Maka juga ia tinggal mengintip nonton saja pertarungan seru
itu. Ia perhatikan betul gerak gerik Liok Sinshe
mempraktekkan kepandaian yang telah diajarkan padanya.
Inilah yang membangkitkan nyalinya jadi besar, untuk dalam
usia yang masih anak-anak kelak ia dapat menjatuhkan lawanlawan
dari penolongnya (Liok Sinshe).
Sekarang Liok Sinshe sudah tidak ada lagi dalam dunia,
kemana Lo In harus pergi ? Apakah ia tinggal tetap saja di
atas jurang Tong-hong-gay untuk meyakinkan ilmu tenaga
dalamnya lebih jauh ?
Pusing kepalanya Lo In memikirkan itu semua.
Tiba-tiba ia rasakan perutnya bergeruyukan minta makan.
"Kurang ajar, orang sedang kesusahan, ada-ada saja !" ia
berkata sendirian, menyesalkan perutnya yang menyelak
diantara alunan ngelamunnya.
Sambil berkata begitu, Lo In bangkit dari duduknya, masuk ke
ruang belakang untuk cari makanan. Sebentar lagi tampak ia
sudah pegang satu potong besar kue. Sambil mengganyang
ransum kering itu ia berjalan keluar.
Maksud Lo In mau duduk ngelamun di atas kursi malasnya
Liok Sinshe tapi sekonyong-konyong ia merandak jalan dan
berdiri terpaku seperti ada apa-apa yang tiba-tiba mundul
dalam ingatannya.
Matahari pagi sudah mulai naik tinggi, sementara Lo In berdiri
terpaku. "Tidak, tidak. Aku tidak percaya dia mati !" ia
menggumam.
Lo In tidak jadi menghampiri kursi malas. Sebaliknya, ia putar
tubuhnya dan jalan mendekati peti obat-obatan. Ia periksa di
dalamnya sudah berantakan. Rupaynya peti itu tidak menjadi
kekecualian diaduk-aduk oleh Kim Popo yang mencari buku
ilmu menotok jalan darah, Tiam-hiat Pit-koat.
Meskipun berantakan, botol-botol kecil yang terisi obat-obat pil
dan puder (bubuk) tidak sampai berceceran, semuanya masih
utuh. Lalu ia ambil botol-botol terisi obat itu, semuanya ada
enam botol, dimasukkan ke dalam kantongnya.
Sebelum Lo In bertindak, tangannya yang kanan dimasukkan
pula ke dalam sakunya dari mana ia keluarkan dua botol yang
berisi pil dan puder. Tangannya diangkat tinggi-tinggi, matanya
memandang tajam pada dua botol itu. Tiba-tiba ia berteriak
kegirangan, "Hidup, hidup. Dia masih hidup. Ha ha ha !"
Tampak si bocah berjingkrakan seperti orang gila.
Apakah Lo In sudah hilang ingatannya ? Apa ia sudah jadi gila
mendadak ? Kalau tidak, kenapa ia berjingkrakan sekonyongkonyong
?
Tidak, Lo In tidak gila. Saking girangnya, setelah ia berpikir
bahwa Liok Sinshe akan ketolongan dengan dua rupa obat
ditangannya tadi, maka ia jadi berjingkrak-jingkrak. Maklumlah
anak masih kecil yang kegirangannya meluap-luap.
Di lain saat, kelihatan ia sudah berlari-larian menuju ke tepi
jurang. Tapi di tengah jalan tiba-tiba ia rem larinya, lalu putar
tubuh dan balik kembali.
Benar-benar lucu kelakuannya si bocah Lo In. Apa maunya Lo
In balik lagi ? Oh, kiranya ia balik ke rumahnya mengambil
pedangnya Liok Sinshe yang disimpan rapi di balik pintu. Itu
adalah satu pedang pendek, hanya kira-kira dua kaki
panjangnya ketika Lo In hunus dari sarungnya.
Pedang itu tidak mengkilap sinarnya, seperti kebanyakan
pedang-pedang dari jago-jago Sungai Telaga (kang-ouw),
hanya kebiru-biruan kalau terkena sinar matahari. Bentuknya
tidak menarik, hingga pantas sekali kalau ia menjadi penghuni
dalam sarung yang sudah kumel. Entah sudah berapa puluh
tahun pedang itu dipakai oleh Liok Sinshe dalam hidupnya
malang melintang dalam dunia Sungai Telaga.
Siong Leng Tojin dan kawan-kawannya ketika melewatkan
sang malam dalam rumah itu dengan pintu terpentang. Coba
kalau ketika itu, pintu itu ditutup. Pasti senjata tajam Liok
Sinshe akan dibeslag, meskipun bentuknya jelek, demikian
pandangan Lo In si bocah.
"Kenapa Liok Sinshe pakai pedang beginian ?" tanya Lo In
pada dirinya sendiri, seraya membulak balik memeriksa.
Ia baru pertama kali melihat senjatanya Liok Sinshe, selama ia
ikuti penolongnya itu. Yang menarik hatinya si bocah adalah
bobotnya pedang itu enteng sekali, maka ia memasuki pula ke
dalam sarungnya, ia gantung di pinggangnya lalu jalan mundar
mandir dengan sikap perwira.
Sok aksi anak itu, tapi lucu laga lagunya dasar anak-anak.
Sayang Liok Sinshe tidak ada. Coba ada, tentu akan
terpingkal-pingkal melihat Lo In dalam gayanya sendiri
menjual aksi.
Lo In dilain saat sudah berada diluar rumah, dengan di
pinggangnya menyandang pedang. Bocah itu dalam usia
meningkat dua belas tahun, tubuhnya kurus dan lebih tinggi
dari anak-anak biasa dalam usia pantarannya. Maka, kelihatan
pantas sekali pedang warisan Liok Sinshe itu tergantung di
pinggangnya yang ceking.
Ia berdiri sejenak di depan rumah. Matanya memandang ke
sekitarnya, kemudian gerakin kakinya melangkah. Ternyata
kali ini ia bukannya lari ke tepi jurang, hanya ia lari
menghampiri batu besar yang semalam ia pakai sembunyikan
diri. Di depan batu mana kira-kira satu tindak jauhnya, ia
hunus pedangnya lalu jongkok untuk menggali tanah.
Sebentar lagi, ditangannya sudah terpegang satu kotak
persegi empat dari ukuran empat cun dan tinggi dua cun.
Setelah dipandang, ia mau masukkan barang itu ke dalam
sakunya tapi berbarang pada saat itu ia kaget dan lompat
mundur mendengar suara orang ketawa di balik batu.
"Hi hi hi ! Anak kecil, serahkan barang itu pada nenekmu."
demikian Lo In dengar orang berkata, segera berkelebat tubuh
dari balik batu, siapa ternyata ada si nenek jelek Kim Popo.
Lo In kenali si nenek yang mengaku membokong Liok Sinshe.
Amarahnya timbul seketika. "Nenek jahat, kau mau apa ?"
tegurnya kasar.
"Begini caranya kau sambut nenekmu ?" kata Kim Popo
seraya tertawa haha-hihi.
"Mana aku ada punya nenek jahat sepertimu." ejek Lo In.
"Jangan banyak cakap, bocah ! Lekas serahkan barang
ditanganmu !" teriak si nenek. Kelihatannya marah bila
dikatakan nenek jahat.
"Kau mau ini ?" Lo In tanya sambil angkat kotak tadi
ditangannya.
"Mari kasih aku." Kim Popo sambil sodorkan tangannya untuk
menjambret.
Lo In tarik pulang tangannya. "Hmm ! Nenek jahat, tidak
semudah itu !" katanya.
Kim Popo rada-rada heran melihat jambretannya gagal. Sebab
menurut pendapatnya, ia sudah bergerak cepat. Tapi si bocah
kelihatan lebih cepat pula menarik tangannya. Ia penasaran. Ia
lompat menubruk untuk merampas barang ditangannya Lo In,
tapi untuk kedua kalinya ia dibuat gregetan karena Lo In sudah
dapat berkelit dengan manis dari terkaman.
"Bocah ini licin seperti si tabib busuk. Aku tidak boleh
sungkan-sungkan lagi !" dmeikian pikirnya Kim Popo dalam
hati. Segera ia gunakan tipu Ki ong pek touw atau elang lapar
menyambar kelinci, dua tangannya yang berkuku runcing
menyambar berbareng mencengkeram dada Lo In. Satu jurus
yang agak ganas untuk digunakan terhadap anak kecil.
Namun si nenek tidak memikir ke situ, ia hanya ingin
menyingkat waktu, barang yang diingini itu lekas pindah dalam
tangannya.
Lo In tahu bahayanya serangan itu, tapi ia tidak takut. Pikirnya
denagn ia majukan dua tangan menangkis, keras lawan keras,
rasanya serangan si nenek dapat dipatahkan. Tapi Lo In lupa
memperhitungkan bahwa tenaga dalamnya kalah jauh di
banding dengan si nenek. Maka tidak heran ia segera rasakan
kelalaiannya, ketika tangannya bentrok dengan tangan si
nenek, ia rasakan dadanya tergentar dan tubuhnya terlempar
jumpalitan sampai sepuluh tindak.
Cepat Lo In bangun tapi dadanya dirasakan masih sesak. Si
nenek, sementara itu sudah lompat maju, berdiri di depannya.
"Bocah bau, kau rasakan nenekmu punya lihai,ya ?" katanya
dengan suara menjengeki.
Lo In tidak berani menjawab sebab ia tengah coba memeras
tenaga dalamnya untuk mendorong pergi rasa sesak dalam
dadanya.
Begitu ia rasakan enak dadanya, tiba-tiba ia rasakan
tangannya dicekal orang.
"Keluarkan hayo keluarkan barang itu !" perintah Kim Popo.
Tangannya si nenek yang mencekal tangannya dirasakan Lo
In seperti sepitan besi.
Lo In mengawasi Kim Popo dengan sorot mata benci.
Melihat anak kecil itu membandel, Kim Popo tidak sabaran.
"Kau masih belum mau keluarkan ?" katanya. Tangannya
dipakai memencet lebih keras hingga butiran-butiran keringat
pada merembes keluar dari lubang-lubang tubuhnya Lo In,
saking ia menahan sakit.
Bandel dan keras kepala anak itu. Ia lebih suka menahan rasa
sakit dari pada menangis keluarkan air mata. Matanya
menyala seperti berapi, tapi meluanpnya napsu membunuh ini
hanya sejenak sebab segera tampak ia kalem lagi. Pelanpelan
ia merogoh sakunya dan dikeluarkan kotak yang
barusan ia gali.
"Nenek jahat, tuh kau boleh gegares !" kata Lo In kasar sambil
melemparkan kotak yang dipegangnya.
Kim Popo lepaskan cekalannya lalu memungut barang yang ia
impi-impikan itu ialah buku mungil 'Tiam-hiat Pit-koat' di dalam
kotak itu.
"Hehe, akhirnya kau menyerah juga bocah !" kata si nenek
sambil coba buka kotak tadi tapi susah terbuka seperti ada
kuncinya.
"Hahaha !" kedengaran Lo In tertawa tiba-tiba.
"Kau ketawai apa ? Lekas serahkan anak kuncinya !" bentak si
nenek.
"Hahaha !" kembali Lo In tertawa.
Kim Popo naik pitam. "Binatang cilik, kau main gila........!"
bentaknya.
"Kau kira hanya kita berdua disini ?" potong Lo In, air mukanya
bersenyum.
Kim Popo sudah siap menyerang Lo In tapi hatinya gentar
mendengar kata-katanya si bocah, memotong bicaranya.
"Memangnya ada siapa lagi ?" ia menanya.
"Masih ada yang belum mati dibokong olehmu. Hahaha, si
nenek jahat kena perangkap." Lo In tertawa terbahak-bahak
hingga menimbulkan rasa takut si nenek meningkat.
Pikirnya, apa benar Liok Sinshe tidak mati ? Celaka ia kalau
benar-benar mereka menggunakan perangkap. Liok Sinshe
sudah pasti tak dapat mengampuni perbuatannya yang
telengas membokong orang.
Melihat Kim Popo seperti yang ketakutan, menengok sana sini
sambil memegangi kotak lebih erat, seolah-olah yang takut
dirampas orang. Lo In berkata pula, "Nenek jahat. Kau masih
tunggu apa lagi. Tidak mau lepaskan kotak ditanganmu itu ?"
"Kau mau mempermainkan aku ? Kau membokong orang. Apa
Liok Sinshe tidak akan menagih ?" sahut Lo In dan ia tekankan
suaranya menjadi keras diwaktu menyebut 'Liok Sinshe'.
Justru tekanan suara 'Liok Sinshe' itu yang membikin
semangatnya Kim Popo hampir terbang seketika. Maka lantas
saja ia geraki kakinya melompat kabur. Sebelum jauh, Lo In
yang jail sudah ambil batu kecil dan disentilkannya, jitu
mengenakan sasaran diarah atas sedikit dari kibulnya hingga
dirasakan sangat sakit. Dan ini dianggap Kim Popo ada Liok
Sinshe yang melakukannya hingga ia lari lebih kencang lagi.
Lo In tertawa geli menyaksikan Kim Popo lari terbirit-birit
ketakutan.
Sebenarnya tidak ada Liok Sinshe. Si nenek hanya takut
bayangannya sendiri saja lari ketakutan. Tadi, ketika dipencet
tangannya oleh Kim Popo, Lo In menyala matanya seperti
yang mengeluarkan apai, napsu dari pembunuhan. Tapi hanya
sejenak ia sudah jadi sabar lagi. Itulah ia ingat akan pesan
Liok Sinshe yang berkata kepadanya, "Anak In, jika kau
menghadapi sesuatu yang genting, harus berlaku tenang.
Sebab ketenangan yang menimbulkan jalan pemecahan !"
Kata-kata Liok Sinshe ini yang mengiang ditelinganya waktu
itu hingga dari meluap amarahnya ia menjadi kalem dengan
tiba-tiba. Dan kemudian timbul dalam otaknya yang cerdik
suatu pikiran yang baik untuk menggertak si nenek lari
tunggang langgang dengan cuma menyebut namanya Liok
Sinshe.
Kejadian itu ialah begitu mudah si nenek kena digertak,
sungguh diluar dugaan Lo In. Sebab ia tidak tahu memang si
nenek jeri betul-betul pada Liok Sinshe sebagai akibat
kesudahannya pertempuran pada lima tahun berselang
dimana Kim Popo dipecundangi dengan sangat mudahnya
ketika si nenek hendak merampas buku rahasia ilmu menotok
jalan darah 'Tiam-hiat Pit-koat' dari tangannya si kakek she
Kong.
Lo In kemudian menghampiri pedangnya yang menggeletak
ditanah lalu memungutnya, disorong lagi di pinggangnya yang
ceking. Kali ini ia tidak balik ke rumahnya hanya memutar
tubuh lari ke jurusan tepi jurang. Ia berlari-larian di tepi jurang
yang curam itu sampai kemudian ia berhenti disuatu tempat
yang ada bekas-bekas seperti disitulah Liok Sinshe sudah
tergelincir masuk ke dalam jurang.
Ia melongok ke bawah. Benar-benar jurang sangat curam.
Entah berapa dalamnya dan didasarnya yang merupakan
lembah, apa tidak ada banyak binatang buasnya.
Tapi Lo In adalah lanak yang besar nyalinya. Ia tidak takut. Ia
lebih perhatikan keselamatan Liok Sinshe dari pada bahaya
yang bisa mengancam pada dirinya sendiri.
Dengan berani Lo In merosot turun sambil memegangi pada
akar-akar rotan yang tumbuh merembet di sana sini. Pelanpelan
ia terus turun ke bawah. Dengan kepandaian entengi
tubuh ajarannya Liok Sinshe, ia lompat sana sini dan akhirnya
sampai juga ia pada tujuannya, di dasarnya jurang. Ia
celigukan ke sekitarnya. Ia dapatkan banyak pepohonan yang
rindang. Mendengak ke atas, tampak tebing jurang ada sangat
curam.
"Bagaimana aku bisa naik ke atas nanti ?" tanyanya pada diri
sendiri, melihat tepi jurang ada demikian tinggi kelihatan dari
sebelah bawah.
Tapi Lo In tidak mau ambil pusing hal kembali naik keatas.
Yang penting ia harus mencari Liok Sinshe. Tapi dimana ia
harus mencarinya ?
Lekas ia gerakin kakinya, mulai mencari Liok Sinshe, orang
yang sangat cintai. Pikirnya, bagaimana pun ia harus
ketemukan tubuhnya Liok Sinshe, baik dalam keadaan
selamat maupun sudah mati.
Kita balik sebentar, melihat Kim Popo yang lari tunggang
langgang ketakutan.
Setelah lari jauh, ia berhenti di bawah sebuah pohon besar
yang rindang daunnya, dimana ia meneduh dengan adem,
menyingkir dari terik panasnya matahari yang waktu itu tengah
mencorong menerangi jagat.
Ia taruh tongkatnya yang berat disampingnya.
Lewat sesaat ia duduk, lantas tangan kirinya merogoh
kantongnya. Dikeluarkan kotak yang ia rampas dari tangan Lo
In. Mukanya berseri-seri, rupanya ia sangat puas dengan
pekerjaannya yang berhasil.
Entah terbuat dari apa, kotak itu kelihatannya sangat kuat tapi
bobotnya enteng sekali. Ia periksa dengan seksama, karena
kotak itu tak dapat dibuka, ia lantas dapatkan ada sebuah
lubang kecil. Pikirnya, disinilah ada lubang kuncinya. Harus ia
dapatkan anak kuncinya. Kalau tidak, cara bagaimana ia bisa
membukanya. Di samping kegirangan, ia mendongkol dan
penasaran. Ia coba membukanya dengan paksa tapi
bagaimana juga kotak tak dapat dibuka.
"Sialan !" ia mengeluh. "Dengan begini aku mesti kerja lagi
untuk dapatkan anak kuncinya." ia meneruskan kata-katanya
sambil membanting kotak itu sekerasnya.
Justru dibanting, kotak itu menjadi terbuka sendirinya. Dari
dalam lompat keluar sebuah buku yang bentuknya mungil.
Matanya Kim Popo terbelalak saking heran. Ia tertegun
sejenak.
Karena ini, ia terlambat mengambil buku yang diimpi-impikan
sebab lain tangan sudah mencomotnya lebih dahulu. Itulah
tangan orang yang lompat dari atas pohon, dengan sebat
sekali sudah dahului Kim Popo mencomot buku mungil yang
mencelat keluar dari kotaknya. Kim Popo tercengang oleh
karenanya.
Kapan ia mengawasi orang di depannya, kiranya ia ada satu
thauto (pendeta yang piara rambut panjang) bermuka bengis.
Dua anting-anting besar yang menghias di telinganya
berkerincingan kalau ia geleng-geleng kepalanya, ramai
kedengarannya.
Si nenek menjadi sangat gusar. "Binatang, kau berani rampas
barangku ?" ia membentak sambil lompat menubruk si thauto
untuk merampas pulang buku yang dicomot si thauto tadi.
Tapi tubrukannyaKim Popo kecele sebab dengan elakan
badannya sedikit saja, Kim Popo telah menubruk angin. Gesit
sekali caranya si thauto bergerak.
Tentu saja Kim Popo yang adatnya angin-anginan, marahnya
menjadi-jadi.
"Binatang, kembalikan barangku ! Kalau tidak, hmm !" bentak
Kim Popo, hatinya penasaran barusan tubrukannya gagal.
"Kau ingin dapat pulang barangmu, harus tanya dulu orangku."
sahut si thauto.
Kim Popo kertak gigi, meskipun giginya sudah sisa tidak
seberapa lagi.
"Mana dia orangmu ?" bentaknya sengit.
"Ini dianya..... ha ha !" sahut si thauto seraya unjuk dua
kepalannya yang besar, mirip buah kelapa kata bohongnya.
"Bagus !" kata Kim Popo mendelu, dadanya dirasakan hampir
meledak.
"Siapa bilang jelek ?" menggoda si thauto. Rupanya orang
jenaka juga.
Habis sabarnya Kim Popo, matanya mendelik hingga
romannya tambah jelek.
"Binatang, lihat seranganku !" serunya, sambil menerjang
dengan tipu pukulan 'Hui heng tong lay' -- 'Angin taufan
menghembus dari Timur', kepalan tangan kanannya mengarah
dada disusul dengan tangan kirinya menyamber orang punya
iga kanan. Cepat serangan saling susul ini datangnya tapi si
thauto tidak gugup. Tangannya yang besar dibuka untuk
menangkap kepalang lawan, sedang iga kanannya yang
diarah dibiarkan saja menjadi sasaran totokan jarinya Kim
Popo.
"Aiyoo !" teriak si nenek tiba-tiba sambil lompat mundur.
Si thauto tidak balas menyerang, hanya berdiri sambil
terbahak-bahak ketawa mengawasi Kim Popo yang teraduhaduh
seraya tangan kanannya memegangi dua jari tangan
kirinya yang barusan dipakai menotok.
Dengan tipu pukulan 'Angin taufan menghembus dari Timur',
Kim Popo ingin sekali gebrak saja menjatuhkan si thauto yang
kurang ajar. Ketika kepalannya hendak disambut dengan
tangan si thauto yang besar, ia melihat bahaya, maka ia cepat
tarik pulang. Tapi tangan kirinya ia teruskan nyelonong ke iga
musuh.
Pikirnya, si thauto tidak membuat penjagaan pada bagian ini,
sudah pasti totokannya akan berhasil membikin lawannya
terkulai rubuh. Tapi kesudahannya ada lain, si nenek telah
menelan pil pahit. Dua jarinya yang dipakai menotok iga
musuh dirasakan seperti menotok tiang besi, sakitnya bukan
main sampai menyusup di ulu hati.
Melihat serangannya gagal, maka cepat ia lompat mundur
sambil berteriak "Aiyoo !", saking tak tahan menahan sakitnya.
Tapi Kim Popo, dasar si nenek bandel. Kalau hanya begitu
saja ia sudah mesti jadi pecundang, maka sebentar lagi
setelah ia memeras tenaga dalamnya buat usir rasa sakit tadi,
segera ia kembali lakukan penyerangan.
"Hahaha, nenek jelek !" goda si thauto. "Masih berani melawan
?"
"Kiramu mukamu bagus ?" sahutnya menjerit saking
mendongkol.
Kata-katanya Kim Popo disusul dengan serangan gesit. Ia
keluarkan ilmu entengi tubuhnya untuk melayani si thauto
yang bertubuh tinggi besar. Pikirnya, si thauto rupanya ada
punya ilmu 'tiang-pou-san' (ilmu kebal). Tubuhnya keras
laksana besi, maka ia harus mencari kelemahannya yaitu
dibagian matanya.
Demikian, setelah bertempur sepuluh jurus, Kim Popo
gunakan kepalannya yang kiri pura-pura menjotos ke arah
perut, sedang sasarannya yang sebenarnya adalah sepasang
matanya lawan. dua jari tangan kanannya, telunjuk dan tengah
dengan sebat meluncur akan mengorek sepasang biji mata si
thauto. Serangannya ini yang dinamai 'Lo wan tou ko' atau
'Lutung tua mencuri buah'.
Cepat sih memang cepat gerakannya Kim Popo, cuma
sayang, kembali ia dapat kerugian. Kepalan kirinya yang purapura
menjotos kena ditangkap tangan si thauto, sedang dua
jari tangan kanannya belum sampai pada sasarannya, ia
rasakan tenaga dorongan yang keras pada kepalannya yang
kena dipegang lawan. Tenaga dorongan itu benar-benar hebat
sampai ia perpelanting dan jungkir balik ke belakang. Di lain
saat, ketika ia sudah dapat tancap pula kakinya ditanah, ia
rasakan sekujur tubuhnya gemetaran dan dadanya sesak.
Untung lwekangnya cukup tinggi hingga tidak sampai
mendapat luka di dalam.
Meskipun demikian, nyalinya ciut seketika. Untuk melawan lagi
si thauto jagoan itu, pikirnya tidak mungkin. Maka setelah ia
rasakan badannya kembali normal, ia lantas saja putar
tubuhnya dan lari. Persis seperti tempo hari ia tunggang
langgang dipecundangi Liok Sinshe.
"Haha, nenek jelek, kau mau lari !" Kim Popo dengar suaranya
si thauto.
Berbareng dengan ditutup kata-katanya, tampak si thauto
geleng-geleng kepalanya. Sepasang antingnya segera
melesat berbareng menyusul Kim Popo.
Si nenek hanya berkaok satu kali lantas kelihatan tubuhnya
terkulai dan mendeprok di tanah. Seluruh tubuhnya dirasakan
lemas.
Kiranya, sepasang anting-anting dikedua telinganya itu adalah
senjata rahasianya si thauto. Sungguh lihai senjata rahasia itu.
Cuma dengan geleng-geleng saja, sepasang anting-anting itu
meleset laksana kilat hingga membuat Kim Popo semaput
jatuh di tanah. Tidak mudah menggunakan senjata rahasia
yang aneh itu kalau lwekang pemiliknya tidak tinggi. Sebab
barang itu baru dapat melesat dari kuping di dorong oleh
tenaga dalam yang istimewa.
Si thauto tertawa gelak-gelak melihat si nenek sudah tidak
berdaya.
Ketika matanya melirik ke tanah, ia melihat kotak tempat buku
menarik perhatiannya. Maka ia lantas pungut dan diperiksa.
Kemudian rogoh sakunya, keluarkan itu buku mungil, dipaskan
dalam kotak. Tiba-tiba kotak itu menutup seketika hingga si
thauto kaget bukan main. Entah bagaimana rupanya ada alat
rahasianya yang ketekan. Maka kotak itu otomatis menutup
buku yang ditaruh di dalamnya.
Si thauto dari kaget menjadi ketawa girang melihat kemujijatan
kotak dapat menutup sendiri. Maka ia lalu masukan kotak itu
ke dalam sakunya. Pikirnya, pada suatu kesempatan ia akan
membukannya nanti. Setelah mana ia menghampiri Kim Popo,
memungut sepasang anting-antingnya yang jatuh tidak jauh
dari si nenek dan dipakainya kembali.
Thauto itu bengis romannya, menakuti tapi orangnya benarbenar
jenaka.
"Nenek bagus, bagaimana sekarang ?" ia menanya dengan
senyum dikulum.
Ia godai Kim Popo tidak lagi ia menyebut 'nenek jelek' tapi
diganti jadi 'nenek bagus'. Enak kedengarannya tapi tidak
enak berkumandang ditelinganya si nenek. Anggapnya ia telah
disindir, maka matanya jadi mendelik.
"Sudah aku berlaku murah barusan, tidak mengambil jiwamu,
apa kau masih kurang terima ?" berkata si thauto.
"Hmm ! Murah hati !" menggerutu Kim Popo.
"Memang," berkata lagi si thauto. "Kalau aku berlaku kejam,
barusan anting-antingku mengarah pada jalan darah kematian
di bebokongmu. Apa ini aku sudah tidak berlaku murah ?"
"Hmm !" mendengus si nenek. "AKu Kim Popo tidak rela
dijatuhkan oleh lawan dengan jalan membokong."
"Habis kau mau apa ? tanya si thauto, geli hatinya nampak
orang kepala batu.
"Kalau kau berani, merdekakan aku sekarang !" sahutnya
ketus.
"Jadi ? Kau mau bertempur lagi ?" tanya lagi si thauto.
"Tidak ! Saat ini aku terima kalah. Tapi lihat, tiga tahun lagi
akan kucari kau untuk menetapkan siapa unggul !" sahut Kim
Popo tengik laganya.
Si thauto tertawa terbahak-bahak lalu tanpa menghiraukan
Kim Popo yang masih duduk mendeprok, ia tinggal pergi.
"Binatang, kau mau siksa aku dengan cara begini !" teriak Kim
Popo, matanya terbelalak keheranan melihat dengan begitu
saja meninggalkan dirinya.
"Lagi dua jam totokan pada jalan darahmu akan hilang
sendirinya. Kau nenek bandel, mesti dihukum dijemur
dipanasnya matahari dua jam. Hahaha !" demikian terdengar
kata-kata si thauto, meskipun sudah jalan jauh kedengarannya
tegas sekali kuping Kim Popo hingga ia jadi terkejut. Pikirnya,
thauto itu hebat sekali tenaga dalamnya sampai bisa mengirim
suara dari jauh.
Terpaksa Kim Popo, si bandel, mesti menanti dua jam
dibawah panasnya matahari untuk mendapat
kebebasannya.....
Kita kembali kepada Lo In yang tengah mencari Liok Sinshe di
lembah dari jurang Tong-hong-gay.
Dengan hati-hati ia mencari dipinggir-pinggiran lalu pelanpelan
sedikit ke tengah, tapi belum juga ia dapatkan tandatanda
yang mengunjuk dimana adanya Liok Sinshe. Kadangkadang
ia mendongak ke atas mengawasi diantara tebingtebing
dengan pengharapan matanya akan bentrok dengan
gerakan sesuatu disana. Tapi sia-sia saja pengharapannya,
malah cuaca pelan-pelan tanpa disadari sudah mulai gelap.
Bermula Lo In kebingungan, bagaimana ia dapat naik pula ke
atas, sedang hari sudah berubah menjadi malam ? Tapi
belakangan hatinya menjadi senang.
Lo In tidak memikirkan untuk kembali ke rumahnya lagi. Yang
penting, ia harus cari terus Liok Sinshe sampai dapat
diketemukan.
Untuk mengisi perutnya yang lapar, Lo In sudah banyak petik
buah-buahan dimasukkan dalam perutnya. Ia rasakan lebih
segar dan nyaman perutnya diisi buah-buahan dari pada diisi
kue atau nasi.
Untuk menghindarkan gangguan dari binatang buas maka
malam itu Lo In tidur diatasnya sebuah pohon yang banyak
cabang dahannya. Di atas dahan yang merupakan
pembaringan baru, mana Lo In dapat cepat-cepat pulas.
Pikirannya melayang-layang, mengingat-ingat tempat-tempat
yang dijelajahinya dalam menemui Liok Sinshe, ia harus
mencari suatu tempat yagn aman. Dimana ia bisa bersemedhi
setiap malam untuk meyakinkan tenaga dalamnya. Sebagai
satu anak yagn bernyali besar Lo In merasa penasaran Kim
Popo yang sudah memencet tangannya sampai ia
mengeluarkan keringat dingin.
(Bersambung)
Jilid 02
Pikirnya, nanti suatu waktu kalau lwekangnya sudah mahir ia
akan cari si nenek buat diajak berkelahi lagi. Sebenarnya Lo In
belum tentu kalah kalau ia layani si nenek dengan
kegesitanya, jangan mengadu tenaga. Yang membuat ia
pecundang adalah karena ia coba-coba adu tenaga dengan
Kim Popo, yang sudah tentu bukan tandingannya.
Dalam keadaan tiduran, kupingnya tiba-tiba mendengar suara
gedebukan, datangnya dari sebelah selatan. Suara apa itu ? Ia
pasang telinganya lagi, saban kira 1-2 menit ia degnar suara
gedebukan itu.
Di dorong oleh perasaan ingin tahu, ia turun dari atas pohon.
Pelan-pelan ia hampiri tempat dimana ada suara gedebukan
tadi.
Setelah jalan beberapa lama, suara gedebukan itu makin
nyata. Rupanya jaraknya sudah tidak jauh lagi. Maka Lo In
rada cepatin jalannya. Segera dari kejauhan ia nampak seperti
ada dua sinar menyorot ke arahnya.
"Apa itu ?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia menduga akan binatang macan. Sebab menurut Liok
Sinshe, matanya macan suka mencorong kalau diwaktu
malam.
Hati Lo In tabah, nyalinya besar, ia tidak takut. Ia menghampiri
lebih dekat. Kiranya itu bukannya macan hanya seekor burung
yang luar biasa besarnya, tengah kebut-kebutkan sayapnya ke
tanah. Suaran gedebukan itu tiada lain dari pada sayapnya si
burung tadi yang dihantamkan ke tanah.
Lo In terus mengintip, ingin tahu apa maunya si burung yang
besar luar biasa itu mengebut-ngebutkan sayapnya ke tanah.
Ia ingat, kalau ia sedang main di tepi jurang sering melihat ada
burung yang luar biasa besarnya melayang-layang diatas
lembah. "Apakah bukan dianya ini ? " tanya Lo In pada dirinya
sendiri. Menurut katanya Liok Sinshe, burung sebesar itu
adalah burung rajawali yang biasa jinak dimiliki orang pandai
yang menyepi tinggalnya di pegunungan. Malah Liok Sinshe
namakan burung itu 'Kim-tiauw' atau 'Rajawali Emas' karena
patuk dan kedua kakinya kekuning-kuningan seperti emas
yang Liok Sinshe dapat lihat sendiri dari dekat pada suatu hari
ia sedang mencari daun obat-obatan di lembah itu.
Apa dia itu benar Kim-tiauw. Ingin Lo In menyaksikan dari
dekat, tapi tak dapat ia lakukan itu. Sayapnya yang memukulmukul
tanah bukan saja menerbitkan suara gedebukan tapi
juga menerbitkan angin keras menderu. Kalau Lo In berani
datang dekat, sekali dikibas sama sayapnya, pasti tubuhnya
akan melayang entah berapa jauhnya.
Setelah memperhatikan agak lama, Lo In berpendapat si
rajawali hanya mengibaskan sayapnya yang kanan saja,
sedang yang kiri diam saja. Ia seperti mau terbang tapi tak
bisa kalau cuma satu sayap. Pikir Lo In tentu rajawali ini
mendapat luka parah pada sayap kirinya.
Hatinya merasa kasihan, ingin ia periksa lukanya. Tapi
bagaimana mendekatinya ?
Otaknya lantas bekerja mencari akal. Matanya memandang ke
sekitarnya tapi agaknya ia cemas tidak melihat jalan untuk
pemecahan. Sebenrar lagi, setelah ia tundukkan kepala ia
menengadah melihat keadaan diatasnya si rajawali.
Tiba-tiba mulutnya bersenyum, rupanya ia sudah dapat akal
untuk mendekati si rajawali yang dalam kesukaran.
Bagaimana ? Dengan gunakan gerakan ilmu entengi tubuh
'Burung walet tembusi mega', ia enjot tubuhnya mencelat dan
di lain detik sudah tampak ia berloncatan dari satu dahan ke
lain dahan pohon. Dalam tempo pendek saja, ia sudah berada
di atas pohon yang dekat sekali pada si burung rajawali. Si
burung rajawali sama sekali engan kalau ada orang yang
datang dekatinya.
Ia masih sibuk gedebukan dengan sayapnya yang kanan.
Lo In menunggu sampai sayap itu berhenti dikebaskan, pada
saat mana enteng sekali tubuhnya melayang dan mencolok di
punggungnya si rajawali yang ketika sadar ada orang
menyerang, ia sudah tidak berdaya karena jalan darah di
bagian sayap dan lehernya sudah kena ditotok oleh si bocah
yang besar nyalinya.
Ketika itu sayapnya yang kanan berhenti mengebas-ngebas
sedang lehernya sudah menjadi kaku, tak dapat digeraki
hingga ia tak dapat mematuk lawan yang berada di atas
pungggungnya. Hanya sinar matanya saja mencorong seperti
yang sedang gusar sekali.
Meskipun mendapat kesukaran karena beratnya sayap si
rajawali, juga dibawah sayapnya terdapat lukanya yang berat,
Lo In dengan gembira sudah dapat mengobati lukanya itu
memakai obatnya Liok Sinshe yang amat mustajab.
Selain obat bubuk ditabur di tempat luka, juga Lo In paksa si
rajawali menelan pilnya, setelah berkutatan lama ia membuka
patuknya.
"Tiauw-heng" kata si bocah pada si rajawali. "Aku ini
temanmu, jangan takut. Maaf, kalau aku sudah berbuat sedikit
kasar menolong kamu !"
Gerak gerik Lo In lucu. Ia memanggil 'Tiauw-heng' atau 'Kanda
rajawali' kepada si burung garuda yang tinggal membisu saja.
Kuatir totokannya kurang kuat hingga si rajawali dapat geraki
pula sayapnya, yang menyebabkan lukanya tidak bisa rapat,
maka Lo In memberikan pula beberapa totokan sehingga
betul-betul tenaganya si burung garuda menjadi lumpuh.
Lukanya si rajawali ternyata kena panah beracun. Untung
tenaganya si burung garuda sangat kuat hingga menjalarnya
racun berjalan dengan perlahan dan keburu mendapat
obatnya Liok Sinshe yang mustajab. Kalau saja sampai
menanti besoknya lagi, terang jiwanya si rajawali tak akan
ketolongan.
Entah siapa yang begitu kejam melepaskan panah
beracunnya.
Lo In malam itu tidak jadi nginap di atas pohon yang banyak
dahannya, yang ia tinggalkan. Sebaliknya ia tidur diatas
pohon, tidak jauh dari mendekamnya si rajawali. Diam-diam ia
siap sedia menghadapi kemungkinan datangnya orang jahat
yang hendak mencelakakan si rajawali.
Tapi syukur sampai hari sudah terang tanah, tidak ada
kejadian apa-apa.
Lo In merosot turun dari atas pohon. Ia lihat si rajawali tengah
memejamkan matanya. Rupanya ia juga bisa tidur karena
tidak merasakan sakit lagi pada sayapnya yang kiri. Matanya
dibuka ketika ia mendengar Lo In berkata, "Tiauw-heng, kau
diam-diam saja mengaso. Tunggu aku akan mencari makanan
untuk kau makan."
Ia berkata sambil anggukan kepalanya seperti yang memberi
hormat kepada saudara yang tuaan. Ah, benar-benar lucu
kelakuannya Lo In.
Kemudian ia putar tubuh dan meninggalkan tempat itu.
Berkat kepandaiannya menyentil dengan batu kecil, maka
dalam tempo pendek saja Lo In sudah dapat menyentil jatuh
tiga ekor ayam hutan. Ketiga ekor ayam itu hendak ia bawa ke
tempatnya. Pikirnya, Tiauw-heng tentu gembul makannya,
tidak cukup kalau hanya 2-3 ekor ayam saja. Maka ia lalu
mencari pula ayam di lain tempat dan segera ia sudah
dapatkan lagi.
Empat dari lima ekor ayam itu, Lo In taruh di depannya si
rajawali, sedang yang seekor ia potong dan bersihkan dalam
selokan jernih, karena air gunung mengalir disitu. Kemudian ia
nyalakan api dan memanggang hasil buruannya.
Sambil panggang ayam, matanya Lo In memandang pada si
rajawali yang tinggal melotot saja mengawasi empat ekor
ayam yang ada di depannya. Ia tak dapat kerjakan patuknya
untuk menerkam hidangan didepannya itu sebab lehernya
masih belum bisa digeraki karena pengaruh totokan Lo In.
"Tiauw-heng." kata Lo In seraya bersenyum. "Kau tunggu
sebentar. Kita nanti makan sama-sama. Bukankah itu ada
lebih menyenangkan sebagai tanda terjalinnya persahabatan
diantara kita ?"
Si rajawali yang diajak bicara hanya matanya saja yang
melotot sebagai jawaban, tapi kali ini sinarnya tidak
bermusuhan.
Setelah beres memanggang ayamnya, Lo In mendekati si
rajawali.
"Tiauw-heng, kau jangan marah. Lantaran aku ingin menolong
jiwamu maka terpaksa dalam dua tiga hari ini aku bikin kau
tidak berdaya. Kau sabarlah !" berkata Lo In sambil kemudian
dengan sebat ia menotok bebas lehernya si rajawali berbareng
ia lompat mundur takut dipatuk.
Rupanya burung itu memahami akan kebaikan hatinya si anak
kecil sebab ia tidak perhatikan Lo In lompat tapi terus saja ia
gasak empat ekor burung itu satu persatu hingga dalam
sekejapan saja telah hilang lenyap dalam perutnya.
Lo In tertawa ngakak melihat kecepatan si rajawali
memindahkan empat ekor ayam ke dalam perutnya.
Hari itu usaha Lo In tidak memberikan hasil dalam mencari
Liok Sinshe.
Pada hari ketiga, ia datang dengan roman lesu mendekati si
rajawali yang sekarang menjadi jinak. Barani ia memeluk
lehernya dan menciumi patuknya yang indah seperti emas.
"Tiauw-heng, aku mencari Liok Sinshe." ia kata pada si
rajawali. "Apa kau lihat dia ada dimana ?"
Seperti yang mengerti akan kata-kata manusia, burung itu
geleng kepalanya.
Lo In makin sayang pada burung itu yang rupanya mengerti
akan omongan orang. Setelah menggelendoti tubuhnya
burung yang seperti raksasa itu, Lo In ingat akan
kewajibannya untuk memeriksa lukanya.
"Tiauw-heng, mari aku periksa lukamu." ia berkata seraya
dengan sebatnya ia menyingkap sayap burung itu, dibawah
mana ada terdapat lukanya yang parah.
Lo In kerutkan keningnya.
"Kau masih belum dapat geraki sayapmu yang terluka, Tiauwheng."
katanya.
Sementara itu, ia keluarkan obatnya dan mulai beri obat baru
pada luka si rajawali, patuknya Lo In buka dengan tangannya
yang kecil untuk dimasukan pil mujarabnya. Sungguh heran,
burung itu menurut saja, jinak sekali dan pasrah apa yang
diperbuat Lo In. Rupanya ia mengerti akan kebaikan orang.
"Tiauw-heng, mulai saat kita ketemu, aku sudah tahu kau akan
menjadi teman sebagai gantinya Liok Sinshe. Maka
selanjutnya, harap kau selalu jangan meninggalkan aku, ya !"
berkata Lo In sambil mengelus-elus sayapnya si rajawali.
Burung itu angguk-anggukkan kepalanya, matanya merem
melek, girang rupanya ia diusap-usap Lo In dengan
kesayangan.
Pada hari keenam si rajawali sudah sembuh benar-benar dari
luka parahnya. Ia sudah dapat geraki kedua sayapnya seperti
sedia kala. Setelah terbang beberapa putaran, ia turun di
depan Lo In lalu mendekam dan kepalanya dianggukanggukkan
seperti yang menghaturkan terima kasih atas
pertolongannya si bocah.
Lo In dapat memahami gerak gerik si burung garuda, maka
sambil menubruk dan menciumi ia berbisik, "Tiauw-heng, kita
sudah jadi saudara. Tak usah kau mengucap terima kasih
segala."
Tangannya mengelus-elus kepalanya si rajawali, ketika ia mau
mengusap-usap patuknya tiba-tiba Lo In merasa heran. Dari
matanya burung itu ada melelehkan air mata. Entahlah,
kenapa burung itu menangis.
Lo In terharu, bukan karena apa. Ia hanya terkenang akan
dirinya Liok Sinshe. Dimanakah adanya penolong itu. Apakah
dia masih hidup atau sudah mati ? Sebab sudah hampir
seminggu ia mencari jejaknya belum juga berhasil
menemuinya.
Siapakah Liok Sinshe itu ? Apa dia Kwee Cu Gie ? Siapakah
Kwee Cu Gie itu ?
Dimana adanya kedua orang tuanya ? Mati sudah atau masih
ada dalam dunia ini ?
Kenapa Liok Sinshe begitu sayang dan memperhatikan dirinya
begitu rupa ? Apa hubungan ia dengan Liok Sinshe ?
Pusing Lo In memikirkannya itu semua. Malah jadi bertambah
sedih hingga saling peluk dengan si rajawali, menangis
sampai terdengar suaranya Lo In terisak-isak.
Sang burung, rupanya ingin menghibur Lo In. Kemudian ia
mementang sayapnya akan terbang ke atas pohonjauh disana,
terpisah dari Lo In.
Lo In yang cerdik mengerti maksudnya si rajawali. Maka ia
juga telah berhenti menangis, ia gosok air matanya dengan
tangan bajunya.
Dalam hari-hari berikutnya dalam usaha mencari Liok Sinshe,
Lo In dikawal oleh si rajawali.
Senang hati Lo In. Sering ia ajak si rajawali bercanda.
Hari-hari demikian mereka bergaul, hingga keakrabannya
meningkat.
Sering atau hampir saban hari, tampak Lo In pesiar di atas
lembah sambil menunggang rajawali yang merupakan kapal
terbangnya.
Dasar anak-anak menghadapi apa yang baru, lupa pada yang
lama. Ditemani si burung raksasa, Lo In merasa aman. Betah
ia tinggal dalam lembah itu, lupa pulang ke rumahnya di atas
jurang Tong-hong-gay yang sebenarnya ia bisa pergi ke sana
dengan mudah dengan menunggang kapal udaranya 'si
rajawai'.
Soal makanan Lo In tidak kekurangan, mau ikan ia dapat di
sungai-sungai kecil yang banyak terdapat disitu. Mau daging
ayam, kelinci, babi, mudah sekali ia dapat. Cuma tinggal
perintah si rajawali yang pergi menangkapnya.
Tapi Lo In lebih senang makan buah-buahan yang terdapat
disitu. Ia rasakan badannya lebih segar dan nyaman dari pada
makan ikan dan daging.
Yang lucu, Lo In sudah dapat tundukkan kawanan kera liar
dalam lembah itu. Mereka kelihatan sangat berterima kasih
dan menganggap Lo In sbagai rajanya.
Dengan begitu, Lo In bertambah banyak kawan.
Bagaimana Lo In dapat tundukkan kawanan kera liar, kecil
besar ? Itulah kejadian pada suatu hari ketika cuaca mendung.
Selagi ia tiduran celentang di bawah sebuah pohon, tiba-tiba ia
dikurung oleh kawanan monyet liar, bukan satu dua tapi
adalah puluhan hingga ia merasa amat heran.
Lo In bangkit, duduk, sambil kedua tangannya memeluk kedua
dengkulnya yang ditekuk. Kepalanya menunduk seolah-olah
yang tidak memperhatikan dirinya tengah dikurung oleh
kawanan monyet galak.
Suara cetcowetan yang ramai dari kawanan monyet itu tidak
dihiraukan oleh Lo In. Terus saja ia berpura-pura mati ular.
Kelihatannya kera-kera itu amat gusar pada si bocah. Bisa
dilihat dari sikap dan gerakan mereka yang keluarkan suara
'her ! her !' sambil mulutnya nyengir-nyengir menakuti.
Entahlah, kenapa mereka demikian benci pada Lo In.
Mungkinkah karena perbuatannya Lo In ?
Untuk melatih ginkang (ilmu entengi tubuh), Lo In saban hari
melatih diri dengan mencelat sana sini di atas pohon. Gesit
luar biasa hingga mengalahkan jauh dari kepandaian kera
kera yang ada disitu.
Rupanya hal inilah yang menyebabkan kawanan kera itu
membenci Lo In.
Mereka yang bermula merasa kagum melihat kegesitannya Lo
In, belakangan merasa mengeri dan anggap Lo In adalah
suatu saingan berat dalam dunianya.
Lama juga sudah Lo In perhatikan sikap permusuhan dari
mereka itu. Tapi Lo In tidak memperdulikan sampai pada saat
itu baharu berasa bahwa dirinya benar-benar dibenci.
Tapi Lo In tidak takut. Pikirnya kawanan kera itu tak dapat
membuat susah dirinya. Ia mau lihat apa mereka bisa bikin
terhadapnya. Tak perlu ia minta bantuan si rajawali yang
dengan sayap raksasanya, sekali mengebas saja membuat
puluhan kera itu akan sungsang sumbel dan terbang kemana
tahu. Ia mau taklukan kawanan kera itu dengan usahanya
sendiri.
Dua yang paling besar diantara kawanan monyet itu,
perdengarkan cetcewetannya lebih keras. Rupanya berupa
bentakan-bentakan, memerintah pada kawan-kawannya untuk
segera menggempur Lo In yang tinggal anteng-anteng saja.
Memang dua kera besar itu adalah yang paling pandai dalam
hal meloncat dari satu ke lain cabang pohon. Kawankawannya
mengagumi kepandaiannya itu. Merekalah yang
paling menaruh dendam pada Lo In, yang dianggap saingan
alot.
Meskipun bentak-bentakannya makin keras, kawanan kera itu
masih belum berani menerjang Lo In. Rupanya mereka jeri
sebab Lo In ada backingnya si rajawali.
Mereka sambil cetcowetan, celigukan sana sini seakan-akan
mengamat-amati apakah si burung raksasa ada di sekitar situ
mengawal si bocah. Si rajawali ternyata tidak ada. Memang
tidak ada. Ia lagi terbang ke lain tempat untuk mencari
makanan.
Hatinya kawanan kera liar itu rupanya jadi berani, sebab suara
'hor, hor !' dari dua pimpinannya paling akhir dibarengi dengan
menyerbunya mereka.
Yang diserbu tiba-tiba saja lenyap dari pandangan mereka.
Terdengar ramai-ramai suara cetcowetan kawanan kera itu.
Sambil kepalanya pada mendongak ke atas dimana mereka
lihat Lo In sedang bercokol di atas dahan sambil ketawaketawa.
Kiranya diwaktu kawanan monyet itu melakukan penyerbuan
serentak, dengan gerakan 'Walet terbang menembusi awan',
tubuhnya Lo In mencelat ke atas, mencelok diatasnya
sebatang dahan pohon, dimana si bocah sambil uncanguncang
kaki mentertawakan lawan-lawannya yang ribut
cetcowetan di sebelah bawah.
Hanya dua tahun Lo In mendapat gemblengan tenaga dalam
dari Liok Sinshe, ia sudah memanfaatkan sebaik-baiknya
dalam latihan ginkeng (entengi tubuh), cukup untuk melayani
kawanan kera yang menyerang dirinya dengan penuh
kebencian.
Degnan dikepalai oleh dua monyet besar tadi, kawanan
monyet itu segera juga pada menaiki pohon, lelompatan
mengepung Lo In yang segera unjuk kegesitannya untuk
meloloskan diri dari kepungan mereka.
Tampak Lo In loncat ke atas sebatang dahan yang lebih tinggi.
Selag ia terbahak-bahak ketawa, sembari kedua tangannya
bertepuk-tepuk keras menggodai kawanan monyet yang
mengubar dirinya, tiba-tiba terdengar suara 'hor ! hor !'
agaknya keras dan lebih bengis di atas kepalanya. Ketika ia
mendongak, kiranya diatasnya ada dua kera lebih besar lagi
dari dua kera besar tadi, yang ia lihat menjadi pemimpinnya.
Itulah sepasang orang utan hitam legam, lengannya besarbesar,
matanya tajam mengawasi Lo In seraya perdengarkan
suara 'hor ! hor !' menakutkan.
Diam-diam Lo In perhatikan, rupanya dua orang utan itu suami
istri. Yang lelaki kepalanya hampir botak, yang perempuan
matanya tertutup satu disebelah kiri, sedang dibelakangnya
ada menggemblok anaknya, mulutnya ramai cetcewetan.
Lo In hendak enjot tubuhnya menyingkir, tapi sudah terlambat.
Si orang utan yang lelaki menyambar dari atas dan tepat dapat
mencekal lengan Lo In.
Sakit rasanya cekalan si orang utan, lebih-lebih Lo In kaget,
tenaganya seperti lenyap oleh pengaruh cekalan itu hingga ia
tak dapat berkutik.
Celaka, pikirnya, apa ia bakalan mati ditangannya si orang
utan ?
Tengah hatinya berkuatir, sekonyong-konyong terdengar
suaranya si rajawali dari jauh tengah mendatangi hingga ia
jadi sangat kegirangan.
Rupanya si orang utan sudah kenali suaranya si rajawali, tahu
juga Lo In ada kawannya, maka ia jadi ketakutan. Dengan
sendirinya, cekalannya yang melumpuhkan itu terlepas. Ia
lompat pula ke atas, ajak bininya ikut lari.
Angin seperti menderu kedengarannya ketika si rajawali
sampai dengan kebasan sayapnya. Ia mencelok disatu dahan
dekat Lo In. Saking berat badannya membuat pohon sampai
tergetar rasanya.
"Tiauw-heng, syukur kau datang. Kalau lambat sedikit saja,
aku kena dicelakai si orang utan !" Lo In berkata pada
kawannya.
Seperti yang mengerti, si rajawali tampak beringas romannya
ketika mendengar ada makhluk yang mau bikin celaka
kawannya.
Lo In berbareng lompat mendekati si rajawali, ia usap-usap
sayapnya.
Tiba-tiba Lo In mendengar suara teriakan. Matanya yang awas
segera dapat lihat si orang utan yang perempuan terpeleset
jatuh. Ia sendiri dapat tolong dirinya karena sudah menjambret
cabang pohon. Tapi anaknya, dalam kaget sudah melepaskan
cekelan pada leheer ibunya hingga tidak ampun lagi anak
orang utan itu meluncur jatuh terbanting di tanah dan pingsan.
Dalam ketakutannya atas kedatangan si rajawali, dua orang
utan itu sudah terbirit-birit lari, lompat dari satu ke lain cabang
pohon. Rupanya yang perempuan kurang hati-hati memilih
cabang pohon, maka ketika ia loncat ke cabang yang lapuk, ia
kaget. Cepat lompat lagi ke lain cabang cuma saja saking
gugupnya ia terpeleset dan menjerit ketika terpelanting.
Yang lelaki berada beberapa tindak disebelah depan, ia kaget
bukan main mendengar jeritan sang istri. Cepat ia putar
tubuhnya tapi sudah tak dapat menolong anaknya yang
terpelanting jatuh dari gendongan ibunya.
Mulutnya cetcowetan ramai. Bersama istrinya, ia cepat-cepat
turun ke bawah, lari menghampiri anaknya yang sudah tidak
sadarkan diri. Sang ibu menubruk anaknya sambil
menggoyang-goyang tubuh si orang utan kecil, mulutnya
cetcowetan menangis.
Segera banyak monyet-monyet yang datang merubung.
Lo In yang melihat dan menyaksikan kejadian yang hebat itu,
tidak tega hatinya. Entahlah, bagaimana keadaannya si anak
orang utan itu.
"Tiauw-heng, mari kita tolong dia." ia berkata pada si rajawali.
Berbareng, ia geraki kakinya berloncatan ke bawah yang
diikuti oleh si rajawali. Dengan hanya sekali kibasan sayapnya
sudah sampai ditempat banyak kera berkumpul. Lo In tidak
tahu bagaimana caranya memberi pertolongan. Sebab kalau
ia dengan begitu saja datang dekat, tentu tidak dapat dipahami
maksud baiknya. Apa lagi si orang utan sudah pernah
memencet lengannya, tentu kedatangan Lo In dianggap akan
menuntut balas, menggunakan kesempatan ketika mereka
sedang kesusahan anaknya mendapat kecelakaan.
Baik juga tongkrongan si rajawali dibuat jeri oleh kawanan
kera itu.
Ketika rajawali itu sampai, mendahului Lo In. Kawanan monyet
itu sudah simpang siur lari. Malah dua orang utan itu, saking
ketakutannya sudah lupa akan anaknya dan lari terbirit-birit.
Anak orang utan itu jadi ditinggalkan sendirian.
Lo In girang menampak kejadian itu diluar perhitungannya.
Cepat ia dekati si anak orang utan, ia periksa, meraba-raba
dadanya, pegang nadinya. Lucu, persis lagaknya seorang
tabib.
Ini, Lo In bukannya menjual aksi. Kelakuan ini meniru Liok
Sinshe jika si tabib Liok diundang untuk mengobati orang
sakit, ia suka turut dan menyaksikan caranya Liok Sinshe
berbuat atas dirinya si pasien.
Lo In girang karena si orang utan kecil tidak putus jiwanya. Ia
hanya tidak berkutik karena pingsan, kaget jatuh dari tempat
yang demikian tinggi.
Kelakuan Lo In itu disaksikan oleh banyak kera dari kejauhan,
terutama oleh dua orang utan dengan penuh rasa kuatir,
apakah anaknya akan dibunuh mati Lo In. Buat merebut
anaknya dari tangan Lo In, mereka tak berani lakukan, melihat
si rajawali tengah mendekam didekatnya.
Melihat keadaan anak orang utan itu berat juga, tak dapat
disembuhkan dengan seketika, maka ia lalu angkat tubuhnya,
diempo lantas menghampiri si rajawali, ke atas punggung Lo
In loncat.
"Tiauw-heng, mari kita pergi !" kata Lo In.
Berbareng si rajawali bangkit lalu mengebaskan kedua
sayapnya akan kemudian terbang mumbul. Tinggal dua orang
utan itu berteriak-teriak dengan cara dia sendiri. Rupanya
mereka sangat gusar pada Lo In yang sudah merampas
anaknya.
Lo In ditempatnya sebuah gubuk yang dibangun diatas sebuah
pohon besar. Memakan waktu juga menolong anak orang utan
itu. Sebab anak orang utan itu kecuali mendapat luka dalam,
juga tangannya yang sebelah kiri keseleo yang perlu ditolong
dengan jalan mengurut tiap hari tiga kali.
Selang empat hari, Lo In sudah bikin anak orang utan itu
sembuh benar. Ia kelihatan suka pada Lo In yagn tadinya
ditakuti. Dalam tempo empat hari mereka berkumpul, anak
orang utan itu menjadi jinak, sering menggelendoti Lo In.
Mulutnya cetcowetan seakan-akan mengajak bercakap-cakap.
Tapi sayang Lo In tidak mengerti akan percakapannya.
Meskipun begitu, Lo In suka pada anak orang utan itu. Sering
ia ajak main, diajak bercakap dengan gerakan mulut dan
tangan.
Gembira kelihatannya anak orang utan itu.
Pada hari yang keenam, Lo In berkata pada si anak orang
utan, "Adikku, hari ini kau harus pulang menemui ayah ibumu.
Harap selanjutnya kau akan menjadi sahabatku yang baik
seperti aku punya Tiauw-heng."
Sambil berkata, Lo In empo anak orang itu lalu keluar dari
gubuknya.
Dengan sekali suitan, segera kapal udaranya sudah datang.
Dengan menumpang si rajawali, Lo In pergi ke tempat dimana
ia telah dikeroyok kawanan monyet liar. Sesampainya disana,
ia dapatkan keadaan sepi. Cuma ada beberapa kera yang
lelompatan sana sini.
Melihat Lo In datang dengan mengempo anak orang utan,
monyet-monyet itu menjadi heran rupanya. Tapi sebentar lagi,
tampak mereka datang lagi membawa kawan-kawannya.
Diantaranya tampak itu sepasang orang utan.
Mereka tidak berani datang dekat pada Lo In karena si rajawali
mendekam di dekatnya. Bagaimana pun, dua orang utan itu
terbelalak matanya melihat Lo In tengah mengempo anaknya
yang cetcowetan menciumi pipinya si bocah.
Lo In dapat melihat pada mereka, maka cepat ia turunkan
anak orang utan itu dari empoannya sambil berkata, "Adikku,
pergi kau ketemui ayah bundamu !" Lo In sambil menunjukkan
kejurusan orang utan yang berada diatas pohon, yang tengah
keheran-heranan mengawasi kejadian itu.
Anak orang utan itu melihat ke jurusan yang ditunjuk oleh Lo
In. Ia melihat pada ayah bundanya. Cepat ia lari sambil
mulutnya cetcowetan. Sang ibu bapak juga tidak tinggal diam.
Mereka loncat-loncat turun dari pohon dan memapaki anaknya
yang lantas diempo oleh si ibu, diciumi dengan penuh
kesayangan.
Dalam empoan ibunya, sang anak cetcowetan sambil
menunjuk-nunjuk kejurusan Lo In. Rupanya ia sedang
bercerita tentang pertolongan yang diberikan Lo In dan
kebaikannya si bocah hingga kelihatannya si ibu merasa
sangat gegetun sekali, sedang si ayah angguk-anggukkan
kepalanya yang botak.
Lo In menyaksikan itu semua dengan bersenyum. Kemudian
putar tubuhnya menyamperi si rajawali, loncat ke
punggungnya. "Mari kita pergi, Tiauw-heng !" katanya sambil
tepok pundaknya si rajawali.
Sebentar saja, Lo In sudah ada di udara bersama kapal
terbangnya.
Meskipun binatang, kawanan kera itu tahu akan kebaikan
orang. Maka sejak itu, mereka telah menghapuskan
kebenciannya dan tidak berani mengganggu lagi Lo In yang
semula dianggap saingan alot.
Malah yang lucu, sejak itu, Lo In boleh dikata tak usah susahsusah
mencari buah-buahan lagi untuk makannya. Karena
setiap pagi, ia dapatkan banyak buah-buahan berserakan di
bawah pohon diatas mana ia tidur. Rupanya ini ada kiriman
dari kawanan keras yang merasa berterima kasih, anak
rajanya sudah ditolongi.
Bebuahan itu ditaruh berserakan. Rupanya kera-kera itu takuti
si rajawali. Maka seenaknya saja mereka melemparkan dan
lari pergi. Lo In memahami ini, maka kepada rajawalinya ia
memesan supaya ia tidak ganggu kera-kera yang
mengantarkan bebuahan itu. Kawanan kera itu belakangan
jadi berani karena melihat si rajawali tidak apa-apa. Maka
buah-buah yang diantarnya, mereka tumpuk dengan rapih.
Malah ada yang berani naik di pohon dan meletakan buahnya
di depan gubuknya Lo In.
Lo In terharu melihat kecintaannya kawanan kera itu.
Maka terjalinlah persahabatan diantara kawanan kera itu
dengan Lo In.
Dalam pertemuan pertama dua orang utan, seperti manusia,
mereka berlutut dihadapan Lo In sambil manggut-manggut. Di
sampingnya ada anaknya yang juga turut berlutut. Mereka
sangat berterima kasih atas pertolongannya Lo In sehingga
anaknya selamat dari cengkeraman maut.
Lo In ketawa. "Toa-hek, Ji-hek dan adikku," kata Lo In. "Kita
orang sendiri, tak usah banyak pakai peradatan. Kalian
bangunlah. Selanjutnya kita menjadi sahabat saling tolong !"
Seperti yang mengerti omongan Lo In, mereka semua bangkit.
Lo In tatkala itu duduk diatas sebuah batu, tengah menikmati
mengalirnya air sungai, dalam mana banyak terdapat ikan-ikan
yang sedang main-main.
Lo In memanggil Toa-hek (si hitam kesatu) dan Ji-hek (si hitam
kedua) kepada dua orang utan itu adalah panggilan dari
keakraban persahabatan.
Toa-hek dan Ji-hek serta anaknya menghampiri Lo In. Toa-hek
mengusap-usap tangan, Ji-hek mengusap-usap pipi,
sementara Siauw-hek (si kecil) lompat kepangkuan Lo In
sambil cowet-cowetan ngomong dalam bahasanya sendiri. Lo
In suka dan sayang pada Siauw-hek, maka ia elus-elus
kepalanya, sambil katanya, "Siauw-hek, kau lekas gede. Nanti
bisa bantu aku mencari Liok Sinshe."
Sejak itulah mereka bergaul rapat.
Supaya pergaulannya lebih leluasa lagi, maka pelan-pelan Lo
In ada pelajari gerak gerik dan suaranya kera-kera diwaktu
mereka berloncatan di pohon-pohon sambil cetcowetan.
Berkat kecerdasan otaknya yang luar biasa, ia dapat kemajuan
banyak dalam bahasa monyet, meskipun tidak seluruhnya.
Cukup dengan membuka mulutnya, cowet-cowet, ia dapat
memerintahkan kera-kera yang diajak bicara olehnya untuk
melaksanakan titahnya dengan baik.
Kawanan kera itu semakin menghargai dan menjunjung tinggi
Lo In. Boleh dikatakan ia adalah raja monyet, karena tiap
titahnya dilaksanakan dengan kontan.
Dengan adanya Toa-hek sebagai teman berlatih, lwekangnya
Lo In meningkat. Kalau mula-mula satu kali pegang saja Lo In
tak dapat berontak dari cekalan Toa-hek, pelan-pelan
tangannya makin kuat hingga dari kewalahan Toa-hek menjadi
pecundang. Dalam latihan tenaga, jangan bicara ilmu silat,
sudah tentu Lo In ada di pihak unggul. Girang hatinya Lo In
dengan kemajuan yang diluar perhitungannya itu. Maka pada
suatu hari si rajawali ia ajak berlatih.
"Tiauw-heng, tenagamu sangat hebat. Aku ingin sepertimu.
Coba, mari kita berlatih !" Lo In menantang.
"Mari !" si bocah mengundang lagi ketika melihat si rajawali
tinggal diam mendekam saja. Ia pasang kuda-kuda untuk
menerima serangan si rajawali.
Sesudah kedap kedip matanya, si burung raksasa pelangpelan
bangkit.
Ketika Lo In menyambar dengan tangannya yang kuat
sekarang, pikirnya, si rajawali tak kuat menahan serangannya.
Tapi si bocah salah hitung. Sebab cuma sekali kebas saja
dengan sayap kirinya, Lo In terdampar oleh angin kebasan
hingga ia jatuh duduk.
"Itu hebat, Tiauw-heng." ia berkata sambil nyengir dan rasakan
pantatnya sakit juga bekas jatuh barusan. "Kau pelan-pelan
dahulu. Jangan terlalu kuat mengebaskan sayapmu !"
Lo In bicara seperti saja terhadap seorang partner, kawan
selatihan. Tapi si burung raksasa seperti yang mengerti akan
maksud Lo In. Benar saja kebasan yang selanjutnya dilakukan
perlahan.
Lo In menjadi girang. Sejak itu ia terus ajak si rajawali berlatih.
Saban hari tenaganya Lo In meningkat an kegesitannya
bertambah. Maka setelah lewat dua bulan, betul-betul luar
biasa tenaga dalamnya si bocah. Ia sudah dapat menahan
kebasan sayap si burung raksasa yang bagaimana keras juga.
Hal mana membuat si rajawali juga merasa heran
kelihatannya.
Lo In bangga dengan latihannya. Ia kira semua itu dari
tenaganya yang meningkat demikian hebatnya. Tapi ia tidak
sadar bahwa tenaga dalamnya itu bisa demikian kokoh
lantaran ia memakan buah Jit-goat-ko atau 'Buah bulan
matahari' yang ia dapatkan diantara buah-buah yang diantar
oleh kawan-kawannya.
Buah itu bentuknya mungil, tidak besar, hanya sebesar telur
angsa. Warnanya separuh merah dan separuh putih. Kapan
buah itu dibelah, segera menyiarkan bau harum yang lama
sekali memenuhi hidung. Kalau disedot, rasanya nyaman dan
segar seluruh badannya. Ini baharu harumnya saja, apalagi
buahnya kalau dimakan rasanya lezat sekali. Tenggorokan
yang dilewati oleh buah itu, selama lima menit terus menerus
akan mengeluarkan hawa wangi yang menyegarkan. Seluruh
badan rasanya kaku sejenak tapi kemudian tangkas lagi.
Tindakan berubah menjadi enteng, sedang tenaga entah dari
mana sudah berlipat tambahnya.
Buah itu Lo In dapatkan dua biji. Entah dari mana sang kera
dapatkan ini, dua-duanya ia sikat habis setelah ia rasakan
bagaimana harum dan enaknya buah itu, dimasukkan ke mulut
lewat tenggorokannya.
Di permulaan cerita dilukiskan bagaimana girang dan bangga
Liok Sinshe menampak kecerdasannya Lo In. Si bocah bukan
saja sudah mewariskan semua kepandaian Liok Sinshe yang
dicatat dalam otaknya, juga rahasia dari ilmu menotok jalan
darah yang terdapat dalam buku 'Tiam-hiat Pit-koat' sudah jadi
miliknya Lo In.
Anak kecil itu tinggal memerlukan gemblengan tenaga alam
yang sempurna, lantas ia akan berubah menjadi satu
pendekar yang sukar menemui tandingan. Tapi peryakinan
lwekang (tenaga dalam) yang sempurna bukannya gampang.
Itu harus meminta bukan satu dua tahun tempo, tapi makan
puluhan tahun. Meskipun demikian, Liok Sinshe yakin, dalam
bimbingannya dalam waktu tidak sampai sepuluh tahun, ia
bisa bikin Lo In menjadi jago tak terkalahkan.
-- 5 --
Hanya sayang sekali, Liok Sinshe yang mengasuh Lo In
sampai setengah jalan, baru saja ia menggembleng lwekang
Lo In dua tahun lamanya, tiba-tiba ada bencana dengan
kedatangannya Siauw-san Ngo-ok dan kawan-kawannya. Liok
Sinshe jatuh tergelincir ke dalam jurang yang jejaknya tak
dapat diketemukan oleh Lo In yang berusaha mencarinya
siang malam.
Setelah dapat menahan kibasan sayap si rajawali yang
demikian dahsyatnya, diam-diam Lo In merasa sangat
geregetan. Ia sendiri merasa tenaga dalamnya ada hebat,
tidak berani ia balas menyerang pada burung kesayangannya,
kuatir nanti si rajawali terluka oleh karenanya. Sekarang, siapa
yang ia dapat ajak berlatih setelah si burung raksasa tak
berdaya menghadapi ia ?
Pada suatu malam, ia keluar dari gubuknya. Tidak lagi ia
leloncatan dari satu ke lain dahan pohon untuk turun ke
bawah, meniru si burung raksasa. Benar-benar hebat ilmu
entengi tubuhnya. Bagaimana ia dapat demikian hebat
ginkangnya ? Inilah justru menjadi pertanyaan yang sampai
sebegitu jauh belum dapat dijawab olehnya sendiri.
Tidak jauh dari situ ada terdapat satu lapangan, cukup besar
untuk berlatih silat. Di sekitarnya banyak tumbuh pohon, tinggi
dan rendah, tidak rata. Dan ini semua bagi Lo In merupakan
lapangan untuk melatih ginkangnya.
Di bawah terangnya sang rembulan, Lo In tampak melatih ilmu
silatnya ajaran Liok Sinshe dengan tangan kosong mula-mula.
Pukulan-pukulannya ternyata luar biasa, semua menerbitkan
angin menderu. Kapan ia tujukan pukulannya ke atas, cabangcabang
pohon yang jaraknya dua tombak pada bergoyang dan
daun-daunnya pada berjatuhan ke tanah. Gerakannya gesit
luar biasa hingga yang tak melihat dengan mata kepala sendiri
tentu akan tidak percaya Lo In mempunyai tenaga yang
sempurna dan ilmu silat yang aneh-aneh melihat usianya baru
masuk empat belas tahun.
Lo In tidak merasa kalau ia dalam lembah itu diam-diam sudah
melewatkan waktunya hampir 2 tahun. Pantas badannya
makin tinggi, sedang romannya makin nyata kecakapannya.
Sayang pakaiannya mulai compang camping. Maklumlah ia
masuk ke dalam lembah itu tak membawa bekal pakaian. Jadi
ia tiap hari mengenakan pakaian itu-itu juga.
Setelah berlatih dengan tangan kosong, Lo In ganti berlatih
dengan pedangnya, juga tidak kurang hebatnya. Kalau tak
dapat dikatakan lebih hebat dan seram pula. Kecepatan
memainkan pedang yang bobotnya sangat enteng,
menimbulkan angin santar. Suaranya 'bat bet bat bet', bisa
membuat musuh yang menghadapinya ciut nyalinya.
Berhenti berlatih, Lo In duduk termenung di atas rumput.
Ia masih penasaran, lalu bangkit dari duduknya menghampiri
sebuah pohon siong (cemara) yang ukuran bulat batangnya
sebesar betis orang gemuk. Ia pasang kuda-kudanya lalu
kerahkan lwekangnya. Tampak seperti menghembus hawa
putih dari embun-embunannya. Ia berdiri kira-kira satu tombak
dari pohon yagn mau dibuat sasarannya. Setelah merasa
cukup kekuatan untuk menyerang, kedua tangannya digeraki
berbareng, diulur ke depan. Angin menghembus keluar hebat
bukan main. Segera terdengar suara 'krak !'. Disana, pohon
siong yang dipakai sasaran, kelihatan tumbang. Tidak dapat
menahan serangan Lo In yang dahsyat itu.
Lo In berdiri bengong. Ia kagum akan tenaganya sendiri,
berbareng ia menanya dirinya sendiri, dari mana mendapat
tenaga yang luar biasa itu.
"Celaka." katanya dalam hati kecilnya. "Tenagaku begini
dahsyat, aku tidak boleh sembarangan pukul orang !"
Sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat.
Lo In kira tidak ada yang lihat perbuatannya. Tidak tahunya,
diam-diam sambil mendekam di atas dahan pohon, si rajawali
menonton ia tengah berlatih silat dan matanya si burung
terbelalak kagum menyaksikan Lo In memukul tumbang pohon
siong.
Sampai dibawah pohon, dengan gerakan 'walet terbang
menembusi awan', ilmu entengi tubuh yang paling ia suka, Lo
In sebentar saja sudah ada didalam gubuknya lagi.
Bulak balik ia di pembaringannya. Tidak bisa tidur memikirkan
akan keanehan tenaganya yang luar biasa. Tiba-tiba
berkelebat dalam benaknya tentang 'Jit-goat-ko', buah mujizat
yagn ia makan demikian harum dan lezat rasanya.
Pikirnya, apakah oleh karena makan itu ? Ia kemudian merasa
sangsi lagi sebab setelah ia makan buah itu, ia lantas rasakan
perubahan aneh dalam tubuhnya, enteng dan gesit dirasakan
tubuhnya, tenaganya pun meningkat entah berapa puluh kali
karean si burung raksasa kontan pada hari-hari berikutnya
tidak berdaya menghadapi ia berlatih.
Dari mana kawanan kera itu dapatkan buah ajaib itu ?
Maka pada keesokan harinya, ia lantas kumpulkan kawankawan
keranya. Ia majukan pertanyaan, siapa diantaranya
yang membawakan buah yang bentuknya macam telur angsa
dan warnanya merah putih.
Lo In gunakan bahasa monyet menanyakannya hingga
puluhan monyet yang hadir dalam pertemuan itu pada
cetcowetan ramai. Rupanya satu dengan lainnya pada saling
bertanya. Tidak lama, satu kera yang berpotongan kecil tapi
gesit, lompat ke depan Lo In, berlutut sambil anggukanggukkan
kepala.
Lo In girang melihatnya. "Pek-gan, jadi kau yang
membawakannya untukku ?" ia menanya seraya mengeluselus
kepalanya si kera.
Pek-gan, kera itu dipanggil Lo In, artinya 'Mata Putih'.
Ia ada satu kera jantan yang bertubuh kecil, tapi kegesitannya
melebihi kawan-kawannya. Dua matanya putih seperti mata
yang terbalik, tapi ia melihat terang sebagaimana biasa. Malah
ada keistimewaannya, dengan sepasang matanya yang aneh
itu, pada malam hari gelap ia dapat melihat tegas terang
bagaikan siang hari. Ia mempunyai teman yang hampir sama
gesit dan cerdasnya dengan dia. Kera ini kepalanya putih dan
lebih jangkung sedikit, tapi kurusnya sama. Ia dipanggil 'Pek
tauw' oleh Lo In, artinya 'Kepala Putih'.
Dua kera ini paling disayang oleh Lo In karena gayanya yang
lucu dan sering bikin ketawa, baik dalam percakapan maupun
dalam kelakuannya. Hingga bagi Lo In, mereka itu ada dua
penghibur yagn menyenangkan.
Lain dari itu, dalam soal mengantar buah-buahan mereka tidak
sembarangan asal petik saja. Selalu mereka pilih buah-buah
yang istimewa untuk dipersembahkanpada junjungannya. Oleh
karenanya Lo In sangat menghargakan mereka.
Pek-gan senang kepalanya diusap-usap Lo In, matanya
melirik bangga pada kawan-kawannya.
"Pek-gan, coba kau terangkan dari mana kau dapatnya. Apa
kau masih bisa dapatkan pula beberapa buah untukku ?"
demikian kata Lo In dalam bahasa kera.
Pek-gan geleng-geleng kepala. Mulutnya kemudian
cetcowetan sambil tangannya menunjuk-nunjuk. Rupanya ia
sedang cerita menuturkan pengalamannya.
Lo In mengerti cerita Pek-gan. Kiranya buah mujizat itu si kera
dapatkan pada satu tebing yang curam disebelah barat
mereka sedang berkumpul. Pohonnya hanya mengeluarkan
dua buah. Malah setelah dipetik buahnya, pohon itu lantas
layu, daun-daunnya pada kuncup.
"Tidak apa." kata Lo In. "Lain kali kau boleh bawakan lagi
buah-buah lain yang sama baiknya. Nah, kau boleh kumpul
lagi dengan teman-temanmu !" Lo In sambil tepuk-tepuk
pundaknya si kera.
Berbareng dengan ini, tiba-tiba Lo In dan kawanan kera
menjadi kaget mendengar suara monyet berteriak-teriak minta
tolong Lo In dan yang lain-lain pasang kuping untuk menegasi
dari mana datangnya suara minta tolong itu.
"Ah, itu suaranya Ji-hek !" kata Lo In sambil lompat dari
duduknya.
Terus ia gunakan ilmu entengi tubuhnya, memburu ke selatan.
Semua kera paling kalut, masing-masing gunakan kecepatan
lari menyusul Lo In. Sedang si rajawali juga tidak ketinggalan,
pentang sayapnya dan terbang mendahului Lo In.
Lo In tidak minta 'kapal terbangnya' stop dahulu untuk
membawa dia, sebab ia tahu Ji-hek lebih perlu lekas ditolong,
jikalau ia mendengar teriakannya yang menyayatkan hati.
Ketika Lo In sampai disatu lapangan terbuka, ia lihat
rajawalinya sedang bertempur dengan manusia, entah siapa
dia. Tidak jauh dari mereka bertempur, tampak menggeletak
Toa-hek, tengah dipeluki oleh Ji-hek sambil berteriak-teriak
menangis minta pertolongan.
Cepat Lo In menghampiri Ji-hek.
Melihat Lo In datang, Ji-hek kegirangan. Mulutnya ramai
menceritakan apa yang sudah terjadi. Kiranya Toa-hek sudah
bertempur dengan orang yang sekarang lagi bertempur
dengansi rajawali. Dalam keadaan tidak waspada, Toa-hek
sudah dirubuhkan dengan senjata beracun.
Lo In tidak perhatikan Ji-hek nyerocos cetcowetan. Ia terus
saja memeriksa lukanya Toa-hek. Keadaannya parah juga,
matanya meram saja ! Lo In girang sebab Toa-hek tidak
terancam bahaya kematian karena lukanya.
Cepat ia bersihkan darah di pundaknya Toa-hek. Dengan
tangan bajunya lalu keluarkan obatnya, dioleskannya, sedang
pil mustajabnya dimasukkan ke dalam mulutnya Toa-hek.
Mustajab benar obatnya Lo In, warisan Liok Sinshe. Karena
tidak lama setelah obat berjalan dalam perut dan pundaknya,
Toa-hek sudah dapat membuka matanya dan merintih pelanpelan.
Melihat Toa-hek sudah tertolong, maka Lo In bangun berdiri
menyaksikan pertempuran si garuda dengan lawannya. Ia
perhatikan musuhnya si garuda ternyata adalah seorang tua
dengan hidung bengkok seperti patuk burung kakaktua,
mulutnya lebar, jidatnya jantuk. Entah ada tanda apanya lagi di
mukanya sebab hanya itu saja yang dapat dilihat dari
kejauhan oleh Lo In.
Ternyata orang tua itu ada punya lwekang hebat juga. Sebab
samberan si rajawali terus dapat ditolak mundur. Tampak si
rajawali napsu benar hendak membinasakan musuhnya. Angin
pukulan si orang tua, seolah-olah tidak dihiraukan. Ia terus
menyambar musuhnya sambil perdengarkan pekikan yang
gusar sekali.
Entah ada permusuhan apa si rajawali begitu marahnya.
Lo In lihat, orang tua itu mulai keteter. Ia mulai gunakan
senjata rahasianya. Ser ! Ser ! Lo In dengar suaranya senjata
rahasia si orang tua menyambar pada si rajawali. Tapi sampai
sebegitu jauh dengan kebasan sayapnya, saban kali senjata
rahasianya si orang tua dapat dijatuhkan.
Lo In kuatir akan keselamatan burung kesayangannya. Maka
ia lalu bersuit, si rajawali masih bernapsu bertempur. Suitan
tanda memanggil Lo In seperti juga ia tidak mendengarnya.
Tapi, ketika suitan yang kedua nadanya agak keras, membuat
si rajawali tak dapat membandal panggilan tuannya.
Ia putar tubuh dan terbang menghampiri Lo In.
Sementara itu, si orang tua sudah memburu datang.
Kiranya dia itu seorang tua dari usia kira-kira 50 tahun. Selain
tanda-tanda yag Lo In dapat lihat terlebih dahulu, ia saksikan
lagi, orang tuaitu mulutnya dan giginya omping. Entah tinggal
berapa giginya, yang terang di sebelah depannya, atas bawah
sudah sungsang sumbel.
Segera Lo In dan si orang tua sudah berhadap-hadapan, kira
satu tombak jauhnya. Sambil menunjuk dengan jarinya, si
orang tua berkata pada Lo In, "Em ! Jadi kau ini tuannya si
burung celaka itu ?"
Lo In merasa tidak senang burungnya dikatai 'si burung
celaka'.
"Lotiang (orang tua), kau sudah celakai Toa-hek, lantas kau
mau celakai juga aku punya Tiauw-heng, apa maksudmu ?" Lo
In balik menanya tanpa menjawab pertanyaan orang yang
diajukan lebih dahulu.
"Aku tidak peduli kau punya Toa-hek, Tiauw-heng, Sam-heng,
apa hek apa heng kek ! Asal aku mau bunuh, tidak ada orang
yang berani rintangi !" si orang tua nyerocos, kasar betul.
Suaranya nyaring macam gembreng pecah.
Lo In mendongkol hatinya. Tapi ia tidak berani kurang ajar. Ia
tetap berlaku sopan terhadap orang asing itu. Selama hampir
dua tahun dalam lembah, hari itu, Lo In untuk yang pertama
kalinya ketemu lagi dengan manusia. Di samping ia suka
berlaku jail, mengocok orang, juga perangainya halus dan
ingin bersahabat sama siapa juga. "Jadi lotiang masih marah
sekarang ?" tanyanya.
Matanya si orang asing mendelik.
"Aku mau bunuh orang utan dan burung busukmu. Kau mau
apa ?" bentaknya.
Lo In kedip-kedipkan matanya, seperti yang ketakutan.
"Lotiang, kau sebenarnya siapa ? Apa namamu ?" tanya Lo In
tenang.
"Hahaha." si orang asing ketawa, seraya tepuk-tepuk dadanya.
"Tidak perlu kau tahu siapa aku sebab kau masih bocah. Tapi
tidak apa aku sebutkan supaya mati merem. Hahaha, aku ini
Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng dari Coa-kok !"
Lo In tidak kaget si orang asing sebutkan namanya, sekaligus
dengan gelarnya 'Toan Bilo-mo' atau 'Si Iblis Alis Buntung'.
Yang membikin ia heran, Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng macam
orang edan. Apa dia setengah atau memang betul-betul
sinting ? Lo In tanya dirinya sendiri.
Kalau orang baik-baik, tidak semestinya ia menyebutkan
namanya yang seram sambil tepuk-tepuk dada dihadapan
seorang anak kecil seperti Lo In. Sebab Lo In belum tahu apaapa
dengan dunia Kang-ouw.
Yang lebih aneh pula, Siauw Cu Leng pakai mengatakan
'supaya kau mati merem' segala, apakah maksudnya ? Apa ia
mau bunuh juga Lo In ? Ini pun menjadi pertanyaan dalam
hatinya si bocah.
Lo In memandang mukanya si iblis, benar-benar saja kedua
alisnya pendek (kuntugn), cuma setengah dari alisnya orang
biasa.
Setelah menyebutkan nama dan gelarnya, Siauw Cu Leng
jalan mau menghampiri Toa-hek sehingga Toa-hek
mengerang gusar sedang Ji-hek tampak siap sedia buat
menjaga kalau suaminya diserang.
"Hei, kau mau apa ?" tanya Lo In.
"Ah, kau anak bau, tau apa !" sahut Toan Bilo-mo Siauw Cu
Leng seraya mengebaskan lengan bajunya. Dari mana
mengembus angin keras, menyerang Lo In.
Si Iblis Alis Buntung berdiri heran melihat Lo In tidak apa-apa.
Si bocah tinggal tetap berdiri ditempatnya. Biasanya, kalau
orang akan jungkir balik, apalagi ini anak kecil yang dikebas,
kenapa dia diam saja ? Demikian tanya si iblis dalam hatinya.
Apa kurang kencang kebasannya ? Maka ia lalu mengebas
sekali lagi dengan lwekan ditambah menjadi 7 bagian, tapi......
Lo In masih berdiri ditempatnya sambil bersenyum geli.
Rupanya ia masih merasa lucu atas kelakuan si iblis.
Memang, kalau anak kecil biasanya yang dikebut pasti akan
jungkir balik dan mungkin jatuh pingsan. Tapi kali ini Lo In
yang dikebas, tidak bisa mempan sebab tenaga dalam Lo In
ada diatasnya si Iblis Alis Buntung.
"Silahkan, kau mau bunuh Toa-hek ?" tanya Lo In ketika
melihat si iblis berdiri tertegun.
Sebagai tokoh iblis yang ditakuti sepak terjangnya, tentu saja
Siauw Cu Leng tidak mengira dapat dijatuhkan demikian
mudah oleh satu anak kecil yang masih ingusan, kata hati
kecilnya.
Ia lalu lompat menerjang, menghajar Lo In dengan kedua
tangannya yang menghembuskan angin besar. Debu dan
tanah berterbangan saking hebatnya dilanggar angin serangan
Siauw Cu Leng. Tapi Lo In sudah menghilang dari depannya.
Bukan main kagetnya, cepat ia putar tubuhnya. Dilihat Lo In
sudah berada dibelakangnya sambil anteng-anteng saja
menggendong tangan.
"Tanah tidak berdosa kau hajar begitu bengis, lotiang !" Lo In
kata dengan jenaka.
Malu bukan main si Iblis Alis Buntung diejek si bocah, naik
pitam dia. "Bagus, kau jaga pukulan mautku !" teriaknya
nyaring.
Pukulan yang dikerahkan dengan tenaga maksimum kalau
kena tubuh Lo In bisa hancur lebur berkeping-keping, tapi lagi
lagi pukulan si iblis cuma bisa menghajar tanah sebab Lo In
sudah bisa menghilang lagi kemana tahu.
"Anak busuk, kau berani permainkan aku, Toan Bilo-mo ?"
bentaknya sambil celigukan, matanya mencari bayangan Lo In.
SI iblis benar heran. Entah bagaimana Lo In bergerak sebab
tahu-tahu ia hanya menghajar tanah lagi. Ia marah-marah
hanya untuk menyimpan mukanya dari perasaan malu sebab
sebenarnya telah takut bukan main dalam menghadapi si
bocah punya kegesitan yang seperti setan saja bisa
menghilang.
Pikirnya, kalau tidak siang-siang angkat kaki, ia bisa susah.
Ia tahu bahwa saat itu Lo in berada di samping kirinya. Ia
bukan menyerang lagi, hanya ia lompat ke depan dan angkat
kaki terbirit-birit lari.
Lo In tidak mau tanam bibit permusuhan, makanya ia tadi
hanya lawan si iblis dengan kelincahannya saja mengelakkan
serangan-serangan. Ketika si iblis melarikan diri, ia hanya
ketawa, tidak mengejar. Tapi tidak demikian dengan si
rajawali, begitu meliaht Siauw Cu Leng lompat lari, ia juga
gerakan sayapnya menyerang dari atas. Cakarnya yang
bagaikan baja, nyaris mencomot hilang kepalanya si iblis,
kalau Siauw Cu Leng tidak menggunakan tipu 'Keledai malas
bergulingan diatas rumput', akan kemudian disusul dengan
gerakan 'Lo hie ta teng' atau 'Ikan gabus meletik', untuk ia
terus melarikan diri.
Lo In tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan pertunjukan itu.
ia tidak ijinkan si rajawali mengejar terus lawannya karena ia
tahu orang itu sangat licik hingga mungkin burung
kesayangannya nanti bisa dapat celaka oleh senjata
rahasianya yang berbisa. Oleh karenanya ia lalu
memperdengarkan suitannya memanggil si rajawali untuk
terbang pulang.
Tampak burung kesayangannya unjuk roman bengis dan
penasaran.
"Tiauw-heng, kau kenapa begitu marah pada dia ?" tanya Lo
In seraya elus-elus sayapnya, sebagaimana biasa unjuk
kesayangannya.
Si rajawali tidak geleng atau anggukkan kepalanya, dia diam
saja.
Lo In mengerti burung kesayangannya sedang marah.
Seketika itu ia ingat akan kejadian si burung raksasa
menderita luka, ia terkena anak panah beracun. Maka cepat ia
pungut anak panah yang barusan menancap dipundaknya
Toa-hek. Ketika ia perhatikan dengan seksama, lantas ia
mengerti bahwa yang memanah si rajawali adalah si Iblis Alis
Buntung. Pantesan burung kesayangannya begitu marah pada
Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng.
"Tidak apa, lain kali kita ketemu, kita akan kasih hajaran
padanya." menghibur Lo In pada burung garudanya. Si
rajawali kali ini, mendengar Lo In mengucapkan kata-katanya
telah memanggutkan kepalanya.
Kenapa Toa-hek bertempur dengan Toan Bilo-mo Siauw Cu
Leng ?
Itu adalah kebetulan kesompokan di jalanan. Ketika Siauw Cu
Leng sedang jalan lewati pohon, tiba-tiba ada bayangan
lompat dari atas. Ia kaget, cepat balik tubuhnya dan ia lantas
berhadapan denga Toa hek sebab bayangan tadi memang
Toa-hek yang barusan turun dari pohon.
Sebenarnya, kalau Siauw Cu Leng tidak timbul niatan ingin
menaluki si orang utan, ia teruskan jalannya, tentu tidak akan
ada kejadian apa-apa, sebab Toa-hek juga tidak
perdulikannya.
Apa mau, Siauw Cu Leng ketarik dengan tubuhnya Toa-hek
yang tegap dan kokoh kuat. Pikirnya, kalau ia bisa taluki orang
utan ini dan dijadikan pembantunya, ada baiknya juga untuk
disuruh-suruh. Segera ia datang mendekati, ia mulai
mengganggu, mengundang kemarahan Toa-hek. Ia berhasil
sebab Toa-hek lantas kedengaran menggerang gusar.
Dengan gerakan 'Hek houw tam jiauw' atau 'Macan hitam
mencengkeram', ia lompat menerjang. Tangan kanannya
menyambar lengan kiri Toa-hek, sedang tangan kiri, dengan
dua jarinya meluncur mau menotok 'hongbun-hiat', jalan darah
di pundak kanan si orang utan.
Inilah gerakan yang dilakukan dengan cepat. Pikirnya, dalam
segebrakan itu ia akan bikin lawan tidak berdaya. Tapi
perhitungan Siauw Cu Leng ternyata keliru sebab Toa-hek
segera elakkan lengannya yang hendak dicekal sedang
tangan kiri si iblis yang hendak menotok pundak sudah kena
ditangkis keras sekali hingga si iblis lompat mundur saking
kaget dan kesakitan.
"Apa mungkin monyet ini bisa ilmu silat ?" ia menanya dirinya
sendiri, sambil matanya mengawasi Toa-hek.
Tapi si orang utan yang sudah marah, tak mengasih
kesempatan untuk Siauw Cu Leng banyak menanya-nanya
dalam hatinya karena segera ia menyerang dengan tangannya
yang gede berbulu dan kepaksa si iblis harus keluarkan
kegesitannya untuk menyelamatkan diri.
Ia rada ngeri untuk kasih tangannya bentrok lagi dengan
tangan Toa-hek sebab barusan ketika ditangkis, ia rasakan
tangannya seperti ditangkis sepotong besi sampai ia rasakan
kesemputan tangannya. Sebaliknya, ia mau menggunakan
lwekang, menggempur rubuh Toa-hek, hatinya tidka
mengirakan karena ia ingin taluki si orang utan, bukannya
hendak membunuhnya.
Jadi, bagaimana ia harus berbuat ? Dalam berkelit sana sini,
menghindarkan sambarang tangan Toa-hek, si iblis putar
otaknya mencari jalan merobohkan Toa-hek.
Ia dapat jalan rupanya sebab sebentar kemudian ia lompat
keluar dari pertempuran, lari dikejar oleh Toa-hek.
Siauw Cu Leng menyelinap dibalik sebuah pohon besar
hampir dua pelukan, disini dia ajak Toa-hek main petak,
berputar ia disini sampai kemudian ia berada dibelakang si
orang utan. Diam-diam ia keluarkan panah beraacunnya,
terdengar Toa-hek menjerit roboh karena pundaknya kena
dilanggar senjata rahasia si iblis.
Siauw Cu Leng kegirangan. Tapi baru saja dengan terbahakbahak
ia ketawa seraya mendekati Toa-hek, dari atas pohon
menyambar satu bayangan. Untung ia awas. Cepat berkelit
selamatkan diri dari serangan. "Bangsat pembokong !"
bentaknya sambil memandang orang yang membokong tadi.
Ia terkejut juga sebab yang menyerang dirinya bukanlah
manusia, tapi orang utan lagi, orang utan betina. Memang Jihek
yang datang hendak menolong suaminya yang terancam
bahaya.
Segera mukanya si iblis berubah. Napsu membunuhnya
tampak dari romannya yang beringas. Ia kerahkan
lwekangnya, maksudnya hendak menghajar Ji-hek dengan
sekali pukul saja. Tapi pada saat Ji-hek terancam bahaya,
tiba-tiba terdengar suara si rajawali mendatangi, bagaikan
kapal terbang yang hendak mendarat saja, si burung raksasa
menyambar Siauw Cu Leng. Pohon dimana si iblis berdiri ada
merintangi si rajawali menyambar dengan leluasa. Maka ia
serempet Siauw Cu Leng dengan sayapnya hingga si iblis
terpental bergulingan, sebelum ia berdaya untuk
menyelamatkan dirinya.
Ia bergulingan menjauhi pohon kemudian ia lompat bangun,
lebih jauh lagi jaraknya dari pohon yang membuat si rajawali
tidak leluasa. Maka dengan enak saja Kim-tiauw permainkan
Siauw Cu Leng dengan kebasan sayap dan cakaran kedua
kakinya yang tajam-tajam. Tapi Siauw Cu Leng ada satu tokoh
iblis yang sudah terkenal dalam kalangan Kang-ouw. Maka
tidak mudah si rajawali mencomot kepalanya yang saban kali
hampir tercakar sebab ketika si iblis dapat memperbaiki
posisinya, segera juga serangan-serangan si rajawali di balas
dengan serangan tangan yang menghembuskan angin santar.
Itulah Pek-kong-ciang, pukulan udara kosong yang digunakan
Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng.
Si rajawali dengan demikian terus ketahuan tiap
menyambarnya. Pertarungan dilakukan hebat sekali sebab si
rajawali yang kenali musuhnya yang telah melukai ia,
kelihatannya sangat bernapsu sekali hendak mencakar dan
mematuk binasa musuhnya itu.
Siauw Cu Leng menggempur dengan hati-hati, ia pun sudah
siapkan panah beracunnya untuk merobohkan si rajawali.
Justru ia sudah siap, tiba-tiba terdengar suitannya Lo In.
Suitan pertama si rajawali belaga pilon, tapi suitan kedua yang
nadanya agak keras, membuat si rajawali tak dapat
meremehkan panggilan tuannya dan ia putar tubuh melayang
balik menyampari Lo In.
Siauw Cu Leng menyesal sekali ia terlambat melepas panah
beracunnya karena gara-gara suitan Lo In. Oleh karena itu
juga, maka Siauw Cu Leng sudah mendatangi Lo In dan
marah-marah di depan si bocah seperti orang gila. Tapi
kesudahannya ia kena dipecundangi si jago kecil dengan
hanya menggunakan kegesitan entengi tubuhnya saja.
Toa-hek sangat berterima kasih atas pertolongan Lo In.
Tiba-tiba ia jatuhkan diri, menyembah di depan si jago cilik.
"Kau terlalu menghargai aku, Toa-hek. Bangunlah !" berkata
Lo In sambil tepuk-tepuk pundaknya Toa-hek.
Lo In berjaln pulang dengan diiringi oleh tentara keranya.
Dalam perjalanan, Lo In berpikir mungin dalam lembah itu
bukan ia sendiri manusia yang menjadi penghuninya.
Munculnya si Iblis Alis Buntung sudah tentu ada kawankawannya
pula yang turut dengannya. Berpendapat bahwa
disekitarnya lembah mesti ada orang-orang lainnya pula yang
tinggal, maka dalam hatinya jago cilik kita ingin ia ketemukan
mereka itu untuk menanyakan keterangan kalau-kalau
diantaranya ada yang mengetahui tentang jejaknya Liok
Sinshe.
Meskipun hampir dua tahun sudah, Lo In menjadi penghuni
lembah, belum pernah ia melupakan Liok Sinshe. Tiap hari ia
masih terus mencari jejaknya Liok Sinshe. Malah tentara
keranya dikerahkan untuk membantu mencarinya. Ia sangat
mencintai Liok Sinshe yang ia anggap sebagai pengganti
orang tuanya, yang ia tidak tahu siapa dan dimana adanya
sekarang.
Tiga hari sejak kejadian diatas, Lo In dengan sendirian coba
melakukan pemeriksaan disekitarnya tempat dengan
pengharapan ia akan bertemu dengan orang yang ia dapat
ajak bicara. Ia menerobos sana menerobos sini, diantara
pepohonan yang lebat sampai akhirnya ia mendekati satu
rimba bambu. Tidak jauh dari sini, ia lihat ada sebuah sungai
kecil. Ia datang mendekati, duduk ditepinya untuk melepaskan
lelah.
Belum lama ia duduk, terbawa oleh silirannya angin, sayupsayup
ia seperti mendengar ada orang yang merintih. Ia kaget
kapan ia tegasi, rintihan itu keluar dari jalanan masuk ke rimba
bambu tadi.
Siapakah gerangan yang merintih itu ? Dalam hatinya, ia
girang dapat menemukan manusia disitu, tetapi juga kuatir
bahwa ia akan terlambat dapat menolong orang yang dalam
kesulitan itu sebab dari suara rintihannya, orang itu seperti
mendapat luka berat.
Dengan beberapa kali lompatan saja, Lo In sudha masuk ke
dalam rimba bambu.
Di pinggiran jalan ia nampak ada satu nenek yang sedang
rebah merintih.
Ia datang mendekati, ia pegang lengannya si nenek dari
belakang sebab si nenek sedang rebah miring. "Kau kenapa,
Popo ?" tanya Lo In.
Lo In menduga si nenek bisa silat sebab dari dandanannya
ada lain dari kebanyakan nenek-nenek. Juga ia lihat, tidak
jauh dari si nenek, ada kedapatan sepotong besi, panjang tiga
kaki. Rupanya potongan besi itu yang merupakan toya
pendek, ada gegumamnya si nenek yang roboh merintih.
Merasa lengannya dipegang orang, si nenek berbalik dan
memandang Lo In.
"Oh, anak." sahutnya. "Aku terluka berat oleh itu anjing keparat
!"
Paras mukanya si nenek kelihatan seperti yang marah dan
penasaran.
"Siapa yang lukai Popo ?" tanya Lo In.
"Ah, kalau diceritakan, gemas sekali aku pada si keparat ! Aku
hanya kalah sejurus saja, apa mau betisku kena ditendang
oleh tendangan geledeknya hingga aku rubuh tidak ampun
lagi. Untung dia tidak barengi mengemplang kepalaku dengan
toyaku yang dia rampas. Kalau sampai begitu, celaka aku si
nenek sekarang sudah mampus !" demikian si nenek menutur.
Ia tidak menjawab langsung pertanyaan Lo In.
Si nenek sambil bercerita, sembari bangkit dari rebahnya dan
duduk. Lalu gulung kaki celananya yang kanan. "Nih, kau lihat.
Bukankah orang itu amat kejam ?" si nenek sambung
bicaranya sambil menunjuk pada lukanya.
Lo In lihat, benar saja betisnya matang biru akibat tendangan
lawannya.
"Siapa yagn lukai Popo ?" Lo In ulangi pertanyaannya tadi.
Si nenek mengawasi Lo In sebentar, lalu berkata, "Ah, kau
masih kecil. Barangkali kau belum kenal dia. Dia itu ada satu
iblis kejam. Namanya Siauw Cu Leng dengan gelarnya si 'Iblis
Alis Buntung'. Anak, sebaiknya kau tolong aku dari pada kau
tanyakan orang yang mencelakai aku sebab toh kau tidak bisa
berbuat apa-apa untuk membalaskan sakit hatiku si nenek !"
Lo In hanya mendehem. Lalu ia segera mau periksa lukanya si
nenek, tapi ia urungkan ketika si nenek berkata lagi, "Eh,
tunggu dulu. Kau tentu mau tahu juga aku berhantam dengan
si iblis, bukan ?"
Lo In hanya manggutkan kepala.
"Lantarannya ia menuduh aku sudah menemukan buah 'Jitgoat-
ko' dan aku sudah memakannya sendiri." kata pula si
nenek.
"Apa buah 'Jit-goat-ko' itu ?" tanya Lo In.
"Jit-goat-ko," sahut si nenek. "Bentuknya mungil sebesar telur
angsa, warnanya merah putih. Siapa makan ini, tubuhnya
akan kuat luar biasa. Kalau yang pandai silat, lwekangnya
meningkat. Makan satu seperti tambahan tenaga dalam dari
latihan 5 tahun. Makan dua sebagai berlatih 10 tahun. Siapa
yang dapat makan buah ini, rejekinya besar. Mana aku si
nenek punya itu rejeki dapatkan buah yang demikian, tapi
difitnah oleh si jahat itu sampai aku rasakan semaput betisku
ditendang olehnya. Baik, nanti ada satu waktu, aku akan bikin
perhitungan padanya. Ia tak nanti lolos dari pembalasanku !"
Sementara si nenek nyerocos cerita, Lo In diam-diam merasa
terkejut dalam hatinya. Ia tidak sangka buah 'Jit-goat-ko' ada
demikian besar khasiatnya. Pantas dia makan dua buah itu,
tenaganya tambah entah berapa puluh lipat hingga ia bikin
tidak berkutik Toa-hek dan si rajawali, dua teman dalam
latihannya. Kalau begitu, pikirnya, tenaganya meningkat
seperti juga ia berlatih sepuluh tahun sudah lwekangnya.
Parasnya si bocah yang terkejut, tidak lepas dari matanya si
nenek yang berkilat sebentaran, lalu berkata pada Lo In,
"Anak, coba kau tolong periksa lukaku. Aku rasakan sangat
sakit !"
Lo In menurut, ia tekuk lututnya dan memeriksa luka si nenek.
Tiba-tiba terdengar suara 'buk !' disusul oleh jeritan 'aiyoo !'
dari Lo In berbareng badan si bocah lantas rebah terkulai.
Kiranya Lo In kena dibokong si nenek. Ia kena perangkap
sebab si nenek sebenarnya bukan terluka. Betisnya yang
matang biru hanya buatannya sendiri dengan mengerahkan
tenaga dalamnya, disalurkan ke betisnya hingga timbullah itu
tanda seperti yang benar kena ditendang orang.
Lo In masih kecil, belum kenal kecurangan manusia. Ia masih
belum berpengalaman dalam rimba persilatan yang banyak
akal-akal busuk yang dilakukan orang-orang jahat. Ia percaya
saja akan obrolannya si nenek. Ketika ia tekuk lutut, nunduk
untuk periksa luka yang dikatakan si nenek jahat, tiba-tiba
dengan kejam si nenek membokong Lo In dengan tenaga
sepenuhnya.
Tentu saja Lo In yang tidak berjaga-jaga, sekali digebuk ia
jatuh setelah mengeluarkan jeritan 'Aiyoo !' yang
mengenaskan.
"Hehehe !" si nenek tertawa terkekeh-kekeh sambil bangkit
dari duduknya dan mengawasi korbannya yang rebah
tengkurup, tidak sadarkan diri.
"Bagus !" tiba-tiba terdengar suara orang dari gerombolan
pohon bambu, berbareng orangnya muncul. Siapa, ternyata
bukan lain orang adalah Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng sambil
ketawa-ketawa datang menghampiri.
"Anak bau !" katanya sambil menendang tubuhnya Lo In
hingga terpental bergulingan setombak jauhnya. "Rasakan
gempuran tangan ciciku !" si iblis menyerang gemas seraya
memburu dan hendak menendang lagi.
"Tahan !" kedengaran si nenek menyetop niatnya Siauw Cu
Leng yang gemas sekali pada Lo In yang pernah bikin ia lari
terbirit-birit.
Siauw Cu Leng tidak jadi menendang. Ia jadi uring-uringan, ia
berkata, "Anak bau ini, buat apa ditinggal hidup ? Mampusi
saja, habis perkara !"
Si nenek goyang-goyang tangannya sambil jalan
menghampiri. Dekat tubuh Lo In, ia jongkok mengawasi
parasnya si bocah yang cakap tengah telentang dengan tidak
ingat orang, mungkin napasnya sudah berhenti.
Pelan-pelan tangannya si nenek ditempelkan pada dadanya
Lo In. Ia dapatkan Lo In masih bernapas meskipun sangat
perlahan. Kembali ia mengawasi pada paras Lo In lalu
menghela napas, "Musti anak ini turunannya dia........." ia
berkata perlahan, tapi cukup nyata bagi telinganya Siauw Cu
Leng.
Si Iblis Alis Buntung juga turut jongkok.
Sambil turut mengawasi si bocah yang seolah-olah sudah
tidak ada napasnya, Siauw Cu Leng menanya, "Siapa yang
kau maksudkan, cici ?"
"Dia..........dia........" sahtu si nenek bengong.
"Oh, aku tahu. Dia si orang she........." Siauw Cu Leng kata
lagi. Ia tak dapat meneruskan kata-katanya karena si nenek
tiba-tiba menaruh telunjuk di mulut, bersuara "sstt !"
Siauw Cu Leng celingukan sebab tanda dari kakaknya itu
menandakan ada orang yang mengintai. Tapi ia tidak lihat
apa-apa kecuali dua monyet kecil yang sedang lelompatan di
pohon bambu.
Yang satu kelihatan kepalanya putih sedang yang pendekan
matanya putih. Dua monyet itu kelihatan lucu sekali.
Setelah lama memperhatikan, mereka itu tidak mendengar
gerakan apa-apa lagi, maka Siauw Cu Leng sambil ketawa
berkata, "Ah, cici. Hanya dua binatang itu saja yang
mengagetkan kita." sambil ia menunjuk pada dua kera yang
seenaknya saja bermain lompat-lompatan saling kejar, malah
terkadang sampai mendekati mereka dengan aksinya masingmasing
yang lucu.
Siapa si nenek itu ? Ia bernama entah siapa, tapi ia terkenal
dalam kalangan kang-ouw dengan nama Ang Hoa Lobo atau
si nenek Kembang Merah. Rupanya nama ini diambil dari
kebiasaannya, pada rambutnya suka dicantum kembang yang
warnanya merah.
Kepandaiannya jauh diatas Siauw Cu Leng.
Namanya saja si iblis Siauw cu Leng memanggil cici (kakak).
Tapi sebenarnya mereka itu sudah menjadi laki bini diluar
kawin.
Ang Hoa Lobo 'jago racun', disamping kepandaian silatnya
tinggi hingga Siauw Cu Leng yang biasa tidak takuti siapa
juga, ia tunduk terhadap bininya diluar kawin itu. Ia pun juga
mempunyai panah beracun buatang Ang Hoa Lobo.
Demikian, tatkala mengetahui bahwa kecurigaannya tidak
beralasan, makan Ang Hoa Lobo suruh Siauw Cu Leng
pondong Lo In untuk dibawa pergi dari tempat itu.
Siauw Cu Leng benci pada Lo In tapi ia tak dapat menolak
perintah sang ratu. Terpaksa dengan uring-uringan ia angkat
si bocah, terus dipanggul di pundaknya.
Ang Hoa dan Kim Popo, jadi sudah dua-dua nenek yang
muncul dalam cerita. Sekarang, mari kita melihat perjalanan
Kim Popo dan asal usul dua nenek itu.
Kim Popo setelah dijemur selama dua jam dibawah terik
panasnya matahari, barulah dengan sendirinya totokan si
thauto bebas. Di samping sangat gusar, ia rasakan
tenggorokannya sangat kering. Cepat ia bangkit lalu
menghampiri tongkatnya dan dipungutnya. Ia meneduh
sebentar di bawah pohon kemudian ia mencari air, kalau-kalau
didekat situ ada kali kecil yang jernih airnya.
Keinginannya Kim Popo kesampaian, sebab tidak lama ia
jalan, ia menemui sebuah kali kecil yang airnya jernih
bagaikan kaca, keluar dari mata-mata air dari pegunungan.
Kegirangan dia sampai di tepi kali, ia rebahkan diri tengkurap,
tangan kanannya dipakai menyendok air. Dengan napsu, ia
minum sekenyangnya. Ia cuci muka dan cacapi kepalanya
yang barusan kena dijemur panasnya matahari.
Ia rasakan adem sekali ketika merasakan air kali itu meresap
di kepalanya.
"Hahaha ! Dia ada disini !" tiba-tiba Kim Popo dibikin kaget
oleh suara laki-laki dari belakangnya. Cepat ia bergulingan
untuk menyelamatkan diri dari serangan gelap kemudian
dengan gerakan 'Ikan gabus meletik', di lain saat ia sudah
tancap kakinya berdiri sambil pegangn kencang tongkatnya.
Ia menduga si thauto yagn datang lagi. Maka ia sudah siap
untuk menempur musuhnya dengan mati-matian. Tapi ketika
ia mengawasi orang yang tertawa tadi, amarahnya dengan
seketika lenyap dan malah ia ikut ketawa dan berkata : "Koko,
kau bikin kaget orang saja. Mengapa sih suka jail begitu ?"
Tidak biasanya Kim Popo keluarkan suara dengan nada begitu
empuk dan halus. Kiranya orang itu ada 'kenalan lama' dari
Kim Popo.
"Adik Kim, kau dari mana ?" tanya orang laki-laki itu.
"Kau sendiri, datang dari mana dan mau kemana ?" balik
tanya Kim Popo sambil melirikkan matanya.
"Ah, adik Kim. Kau belum jawab pertanyaanku." kata lagi
orang laki-laki itu sambil jalan menghampiri dekat pada si
nenek.
"Aku..... aku, eh......... kau........." sahut Kim Popo, agak gugup
suaranya.
Laki-laki itu telah mencekal tangannya Kim Popo yang kurus,
dengan tangan kanan ia mencekal, sedang tangan kirinya
memegang lengan kanan si nenek sehingga si nenek coba
berontak dari cekalan dan pegangan si lelaki sambil
mengucapkan kata-kata yang gugup tadi.
Berontaknya Kim Popo hanya 'aksi' atau pura-pura saja.
Sebab iahanya sebentaran saja beraksi demikian. Selanjutnya
ia jinak, antapkan perbuatannya si laki-laki tadi sambil
tundukkan kepala seperti anak dara yang malu-malu kucing.
Orang akan merasa geli dan lucu, melihat adegan yang 'luar
biasa' itu.
Kim Popo yang terkenal dengan adatnya yang angin-anginan
dan kepala batu, eh, bolehnya begini jinak pada lelaki yang
dihadapinya malah mengunjuk aksi manja aleman, bagaikan
anak perawan usia sweet-seventeen.
Siapakah lelaki itu ? Siapa Kim Popo itu ?
Marilah kita menuturkan 'kisah roman' dari mereka yang cukup
menarik.
Di sebelah barat kota Hoa-im dalam provinsi Siamcay, ada
tinggal bekas piauwsu (pengawal antaran barang) bernama
Kong Tek Liang. Ia terkenal dengan ilmu tongkatnya yang
dinamai 'Thian-lo Sin-kuay-hoat' atau 'Ilmu silat tongkat sakti
jatuh dari langit', terdiri dari 6 jalan dan masing-masing jalan
ada mempunyai 8 jurus, sama sekali jadi 48 jurus.
Dengan kepandaiannya ini, ia banyak taluki penjegal-penjegal
atau perampok-perampok besar, dalam perjalanan mengawal
barang-barang antaran. Ketika ia masih jadi piauwsu,
sehingga namanya terkenal dengan julukan Sin-kuay piauwsu
atau Piauwsu Tongkat Sakti. Setelah berusia tua, ia dengan
sendirinya mengundurkan diri dan menetap di sebelah barat
kota Hoa-im.
Kong Tek Liang mempunyai anak perempuan bernama Kong
Kim Nio, yang sangat dimanjakan karena ia hanya puteri satusatunya.
Di samping Kong Kim Nio, si Piauwsu Tongkat Sakti
mempunyai dua murid bernama Siauw Cu Leng dan The Sam.
Kim Nio ada berparas cantik menarik hingga Siauw Cu Leng
dan The Sam tergila-gila oleh kejelitaannya Kim Nio.
Siauw Cu Leng parasnya cakap tapi sifatnya licik dan agak
ceriwis. Sebaliknya The Sam, meskipun kalah cakap dari
Siauw Cu Leng, ia lebih pandai dalam merayu si dara. Hatinya
Kim Nio lebih mendoyong pada The Sam, pergaulan mereka
pun menjadi lebih erat oleh karenanya.
Pada suatu hari, Kim Nio duduk berduaan dengan The Sam
beromong-omong dalam sebuah taman bunga yang terdapat
dipekaranagn rumah Kong Tek Liang yang lebar luas. Mereka
begitu asyiknya ngobrol sampai tak disadari dua tangan
mereka saling pegang.
"Adik Kim," terdengar suara The Sam berkata dengan suara
perlahan. "Mungkinkah kita bisa jadi kawan seumur hidup ?"
"Kenapa tak mungkin, koko ?" sahut Kim Nio dengan mukanya
bersemu merah sebab seketika itu ia merasakan pegangan
tangannya The Sam makin erat dan duduknya menggeser
lebih dekat lagi.
"Aku kuatir kau tidak menjadi milikku, adik Kim." kata The
Sam, suaranyaagak gemetar.
"Kenapa kau memikir begitu, koko ?" tanya Kim Nio seraya
tarik tangannya yang dipegang erat-erat oleh The Sam.
Tapi The Sam tidak mau melepaskan tangan yang ditarik
pulang itu, malah ia menggunakan dua tangan menggenggam,
seolah-olah takut tangan si gadis yang lemas halus laksana
kapas itu terlepas. Kim Nio juga tidak memaksa, ia antapkan
tangannya dalam genggaman kedua tangan The Sam yang
kuat. Hatinya tiba-tiba memukul melihat The Sam duduknya
makin menggeser saja merapati tubuhnya.
"Adik Kim........" kata The Sam, suaranya hampir tidak
kedengaran.
"Kenapa, koko ?" tanya Kim Nio terkejut, melihat gerak gerik
The Sam.
Anak muda itu mengawasi parasnya si nona, dari sela-sela
matanya The Sam menetes air mata turun mengalir di kedua
pipinya.
"Kau kenapa, koko ?" Kim Nio ulangi pertanyaannya, heran
melihat The Sam menangis.
"Aku mencintai kau, tapi aku akan kehilangan kau......." sahut
The Sam. Ia menangis, seperti anak kecil.
-- 6 --
Kim Nio makin heran. Sambil tarik lepas tangannya dari
genggaman The Sam, ia berkata, "Koko, kau omonglah yang
jelas. Jangan kau menangis tidak karuan, membuat aku jadi
menghadapi teka teki."
"Adik Kim, boleh aku bicara terus terang ?" tanya The Sam
setelah menyusut air matanya.
"Kenapa tidak boleh." sahut Kim Nio. "Kau ceritalah dengan
tenang."
"Adik Kim, aku bakal kehilangan kau sebab kau sudah
ditunangi dengan Suheng Siauw Cu Leng dan...." sampai
disini bicara The Sam mandek karena dipotong oleh Kim Nio.
"Dari mana kau tahu ini ?" Kim Nio memotong, seraya bangkit
dari duduknya, berjingkrak saking kaget.
"Suhu yang ceritakan ini padaku." sahut The Sam.
"Kenapa ayah tidak cerita tentang ini padaku ? Aku heran !"
kata Kim Nio.
"Dengan pertunangan ini, hilanglah pengharapanku. Bukankah
itu berarti aku akan kehilangan kau, adik Kim ?" The Sam
berkata lagi sambil tundukkan kepala.
Kim Nio melihat si pemuda yang putus harapan, merasa amat
kasihan.
Hatinya, meskipun suka pada kecakapan Siauw Cu Leng,
sebanding kalau menjadi suami istri, tapi ia tak dapat melupai
Ji suhengnya (kakak kedua dalam perguruan), yang ia cintai
dengan hati murni. Sebagai tanda bahwa ia lebih mesra
terhadap The Sam, terbukti dari panggilannya. Ia seharusnya
memanggil Ji-suheng pada The Sam tapi ia hanya memanggil
'koko' saja. Sebab pikir Kim Nio, panggilan ini ada lebih mesra
kedengarannya.
Tangang Kim Nio yang halus tiba-tiba diangkat lalu memegang
dagu The Sam, diangkat hingga dua pasang mata bertemu
pandangan. "Koko, kau jangan kuatir. Aku akan menjadi
milikmu......." kata Kim Nio menghibur, mulutnya yang mungil
menyungging senyuman yang tak dapat dilupakan oleh si
pemuda yang kuatir kisah cintanya akan menjadi tamat.
Tampak The Sam pun bersenyum setelah mendengar katakata
Kim Nio. Badannya tiba-tiba bergerak maju dan dilain
saat tampak Kim Nio sudah berada dalam rangkulannya The
Sam, jinak sekali kelihatannya.
The Sam mencium pipi kanannya Kim Nio perlahan sambil
berbisik, "Adik Kim......"
"Ya....... koko........." sahut Kim Nio sambil merasakan ciuman
hangat dalam pelukan kekasih yang ia sangat cintai.
"Adik Kim, boleh aku menciummu lagi ?" bisik The Sam lagi.
Kim Nio hanya manggut, bersenyum dan segera ia merasakan
ciuman hangat di pipi kirinya. Keduanya saling peluk dengan
penuh kasih.
"Ha ha ha !" sekonyong-konyong terdengar suara ketawa
mengejek.
Dua makhluk yang sedang asyik dalam lautan asmara terkejut,
melepaskan pelukannya dan masing-masing lompat
menjauhkan diri satu sama lainnya.
Di situ tambah satu orang ialah Siauw Cu Leng. Dengan suara
sinis, Siauw Cu Leng berkata, "Bagus, bagus ya, perbuatan
bagus !"
Kim Nio berdiri tercengang, sedang The Sam tundukkan
kepala seakan-akan persakitan yang merasa bersalah.
Tampak Kim Nio tekap mukanya dengan kedua tangannya, ia
menangis saking malunya lalu lari masuk ke dalam rumah.
"The Sam !" bentak Siauw Cu Leng kasar.
"Apa kau tidak tahu adik Kim sudha menjadi milikku ? Apa kau
belaga pilon dengan perkataan suhu ?"
The Sam tidak menyahut, ia hanya tundukkan kepalanya.
Siauw Cu Leng sebenarnya bukanlah dengan sengaja
mengintip perbuatan mereka, tapi secara kebetulan saja.
Ketika ia ke belakang, ia masuk ke taman bunga mau memetik
sekuntum bunga untuk dihadiahkan pada Kim Nio, apabila
sebentar sore pertunangan mereka diberitahukan pada si jelita
oleh suhunya.
Kong Tek Liang mengambil keputusan Siauw Cu Leng
sebagai mantunya berdasarkan perhitungan bahwa Siauw Cu
Leng cakap parasnya, pintar mengambil hati sang suhu, juga
dengannya ada hubungan famili. Ibunya Siauw Cu Leng ada
adik piauwnya yang menikah dengan orang she Siauw. Atas
permufakatan kedua orang tua, ialah Kong Tek Liang dan
ibunya Siauw Cu Leng, bapaknya sudah mati, mereka setuju
merangkapkan jodoh anak-anaknya.
Kepada Kim Nio sendiri, Kong Tek Liang belum memberi
tahukan tentang pertunangan itu karena Sin-kuay Piauwsu
mau mencari kesempatan yang baik sehingga anaknya tidak
menjadi terkejut. Kong Tek Loang tahu bahwa anaknya ada
lebih mencintai The Sam, maka dengan perlahan ia
merenggangkan dahulu pergaulannya kedua orang muda itu.
Kepada The Sam ia sudah beritahukan. Maksudnya supaya
The sam mengundurkan diri karena Kim Nio sudah menjadi
miliknya Siauw Cu Leng. Si orang tua tidak mengira, bukannya
The Sam mundur, malah makin merapat hubungannya hingga
terjadi adegan yang dipergoki Siauw Cu Leng.
Siauw Cu Leng yang pergoki bakal istrinya dipeluki orang,
bukan main marahnya. Ia sudah lantas mau menerjang dan
gebuk mampus The Sam, tapi ia takut salah pukul sehingga
bukannya The Sam yang terpukul tetapi malah tunangannya.
Maka ia hanya perdengarkan suara ketawanya yang bernada
mengejek.
Sekarang mereka hanya berduaan saja, makin meluap
kegemasan Siauw Cu Leng.
"Bangsat she The, kau terlalu kurang ajar !" teriaknya. "Berani
kau merebut bakal istriku ? Nih, rasain !"
Berbareng ia menerjang. Kepalanya The Sam menjadi
sasaran dengan gerakan "Tok pek Hoasan' atau 'Menggempur
gunung Hoasan'. Serangan dilakukan dengan cepat luar biasa,
dibarengi dengan hawa amarah yang meluap-luap. Tidak
heran kalau kepalanya The Sam yang sedang nunduk bisa
berantakan otaknya kalau saja pukulan Siauw Cu Leng
mengenakan sasarannya.
The Sam tahu datangnya bahaya, cepat ia kelit ke kanan.
"Tahan !" serunya.
Siauw Cu Leng tarik pulagn tenaganya yang mengenakan
sasaran kosong. Lalu dengan mata melotot menanya, "Kau
mau bicara apa lagi ? Terima sajalah kematianmu ini hari !"
Berbareng dengan itu ia juga sudah lantas mau menyerang
lagi.
"Kau adalah suheng dan aku adalah sute. Tidak seharusnya
bila kakak adik mesti berkelahi. Maka haraplah suheng suka
bersabar." kata The Sam seraya mengelakan tubuhnya,
berkelit sana sini untuk menghindari serangan Siauw Cu Leng
yang dilancarkan bertubi-tubi.
"Hmm !" mendengus Siauw Cu Leng sambil serangannya tidak
ia hentikan.
"Maaf suheng kalau aku kurang ajar !" kata The Sam seraya
kali ini, ia tidak mau mengalah terus terusan.
Dua saudara dalam seperguruan itu jadi saling gasak dengan
serunya.
Dalam tempo pendek saja, sudah lewat 28 jurus. Siauw Cu
Leng sangat penasaran untuk dapat menjatuhkan saudara
mudanya.
Dua saudara itu, sebenarnya kepandaiannya tidak berimbang.
Dengan kata lain dapat dikatakan Siauw Cu Leng selangkah
lebih unggul sebagai saudara tua. Tapi oleh karena Siauw Cu
Leng berkelahinya dengan bernapsu, maka ia telah menelan
pil pahit dari The Sam.
Sehingga terbitlah suatu kejadian. Ketika ia menggunai tipu
'Hiu hi lian po' atau 'Ikan cucut menerjang gelombang'.
Kepalan kirinya menjotos muka, sedang tangan kanannya
dengan dua jarinya meluncur menotok 'hoa kay hiat', jalan
darah di pundak kiri The Sam.
Serangan cepat itu dilakukan hampir berbareng, tapi The Sam
juga tidak kurang cepatnya untuk menyelamatkan diri. Tangan
kanan menangkis jotosan ke muka sambil kelit miring ke kiri
berbareng ia menyambar lengan kanan lawan yang hendak
menotok pundaknya. Ia menggennak sejenak, kemudian
tangannya membalik, menghajar dada Siauw Cu Leng yang
terjerunuk ke depan.
Ini adalah jurus 'Sin-chiu Pa-houw' atau 'Tangan sakit
menggempur macan', jurus keempat dari jalan kelima dari
'Thian Lo Sin-kuay-hoat', ilmu silat tongkat sakti yang menjadi
kebanggaannya Sin-koay Piauwsu Kong Tek Liang.
Telak hajaran The Sam didadanya Siauw Cu Leng sehingga ia
rubuh seketika setelah mengeluarkan jeritan ngeri, dari
mulutnya kontan menyemburkan darah panas dan ia jatuh
pingsan.
The Sam jadi ketakutan. Ia bukannya datang menolong,
angkut sang suheng ke dalam rumah untuk minta pertolongan
suhunya, sebaliknya ia malah angkat kaki dari situ untuk
melenyapkan diri.
Siauw Cu Leng menggeletak dengan tak sadarkan diri.
Kong Tek Liang yang barusan pulang habis menamu ke rumah
temannya, diberitahukan oleh Kim Nio, dua suhengnya tengah
berkelahi. Lantas buru-buru melihat ke belakang dengan
maksud mau memisahkan, tapi sudah terlambat. Disitu ia
hanya dapatkan Siauw Cu Leng terlentang pingsan
berlumuran darah.
Bukan main kagetnya sang guru. Cepat-cepat ia memberikan
pertolongannya setelah memeriksa lukanya di dada, ia
pondong murid kepalanya itu dibawa masuk ke rumah.
Kim Nio mengikuti dari belakang sambil menangis
sesenggukan.
Si Tongkat Sakti marah-marah dan mengeluarkan ancaman
hendak menghukum The Sam tapi sejak itu tidak kelihatan
pula mata hidungnya sang murid, apalagi pulang ke rumah.
Hal mana sangat mendukakan hatinya Kim Nio.
Karena kejadian itu, karena gara-garanya Kim Nio, maka sang
ayah bertindak bengis menghukum Kim Nio disuruh merawati
dirinya Siauw Cu Leng sampai sembuh.
Mau tidak mau Kim Nio menurut, tidak berani ia
membangkang. Apalagi ia mengingat tiada orang lain yang
dapat merawati Siauw Cu Leng, selain ia berdua ayahnya
yang sudah lanjut usianya.
Dalam perawatan, Kim Nio bersungguh-sungguh sebab ia
merasa berdosa. Ia yang menyebabkan luka parahnya sang
suheng. Maka dengan berangsur-angsur Siauw Cu Leng mulai
sembuh dari luka parahnya.
Di waktu sakit tak dapat bangun, Siauw Cu Leng sering
ditolong Kim Nio, mengangkat bangun dari tidurnya untuk
minum obat. Pun sering membantu ayahnya mengurut-urut
jalan darahnya sang suheng supaya lancar lagi. Dengan
sering bersentuhan badan dan mata pandang memandang,
hatinya Kim Nio pelan-pelan terpikat juga pada Siauw Cu
Leng, lupa ia pada The Sam yang sekarang entah ada
dimana.
Sering Kim Nio menemani sang suheng duduk di tepi
pembaringannya, kasak kusuk mengobrol ketawa-tawa. Dari
memegang jari terus ia memegang tangan, lalu ke lengan. Kim
Nio antapkan tangan nakal si ceriwis, malah ia bersenyum.
Tapi alangkah kagetnya, tiba-tiba Siauw Cu Leng meniup
padam api lilin. Kim Nio rasakan tangannya ditarik hingga ia
terjerunuk menubruk badannya si bangor di atas pembaringan.
Kim Nio berontak tapi sudah terlambat, dua tangan yang kuat
telah memeluk dirinya.
Kim Nio memberontak, tapi tidak berdaya karena ciuman si
ceriwis Siauw Cu Leng yang bertubi-tubi membuat badannya
jadi lemas tak bertulang.
"Adik Kim,... oh...'
"Suheng.... ah...."
Hanya kata-kata ini yang terdengar sejenak dari lubang kunci
pintu kamar Siauw Cu Leng, sayup-sayup kedengarannya
seperti terbawa hembusannya angin.
Itulah kisah pada suatu malam, dimana si Tongkat Sakti Kong
Tek Liang tidak ada di rumah, lagi main tio-ki (catur Tionghoa)
di rumah tetangganya.
Masih terdengar suaranya Kim Nio, sayup-sayup jauh disana,
tapi tegas : "Jangan suheng, jangan........"
Lantas sang malam pun menjadi sunyi senyap.......
Sejak itu, dua minggu kemudian dalam rumah Sinkuay
Piauwsu Kong Tek Liang diadakan keramaian, pesta
pernikahan Kim Nio, puteri tunggalnya dengan Siauw Cu
Leng.
Banyak kawan-kawannya Kong Tek Liang yang datang
meramaikan pesta itu.
Diantara tetamunya yang kelihatan sangat dihormati adalah
Teng Siu bersama anak perempuannya bernama Teng Goat
Go yang tinggal di sebelah selatan rumahnya Kong Tek Liang.
Melihat dirinya dihormati lebih dari tetamu yang lainnya, Teng
Siu tampaknya amat angkuh, seakan-akan ia tidak
memandang mata pada banyak tetamu yang hadir dalam
pesta itu. Maka, untuk mereka yang gampang tersinggung
hatinya, tidak mau mendekatinya, kuatir nanti terbit urusan
yang tidak diingini.
Sebenarnya, memang Teng Siu orang takuti. Ditakuti bukan
kepandaian ilmu silatnya yang tinggi atau ia seorang hartawan
besar, ia disungkani kawan dan lawan karena 'racun'nya. Ia
sangat mahir membuat racun hingga dalam kalangan 'hitam'
(kawanan penjahat), ia sangat dihormati karena banyak
diantara kawanan jahat itu yang membuat senjata rahasianya
dengan bisa yang diperoleh dari Teng Siu. Dalam kalangan
jahat, orang hanya kenal nama julukannya Hoa-im, si orang
beracun dari Hoa-im.
Anak perempuannya, Goat Go yang umurnya 24 tahun sebaya
dengan Kim Nio, sudah mewarisi kepandaiannya sang ayah.
Dengan Kim Nio, Goat Go kenal baik sebab teman dalam satu
sekolahan.
Meskipun parasnya cantik, Goat Go hatinya tidak cantik. Jelus,
gampang mengiri. Maka tidak heran kalau ia mengiri pada Kim
Nio yang dapatkan Siauw Cu Leng sebagai suami yang
ganteng.
Seperti juga dengan Kim Nio, Goat Go siang-siang sudah
kehilangan ibu, meninggal dunia pada waktu ia berusia 8
tahun. Ia hidup bersama ayah dan Twa-ienya (kakak
perempuan ibunya) yang menggantikan sang ibu yang sudah
berada di alam baka.
Goat Go lebih dimanja oleh orang tuanya dibandingkan
dengan Kim Nio, kemerdekaannya tidak dikekang. Ia boleh
pergi melancong seharian atau satu malaman tidak pernah
ditegur oleh ayahnya, yang percaya penuh Goat Go bisa jaga
diri sendiri.
Begitulah, ketika ia habis pulang dari undangan, otaknya
bekerja untuk mencari pasangan yang lebih cakap dari
suaminya Kim Nio.
Ia memang cantik menarik, banyak pemuda yang incar dirinya
tapi tidak berani majukan lamaran karena pengaruh sang ayah
yang termashur biasanya.
Juga disekitar kampungnya, Goat Go tidak menemui orang
yang secakap suami Kim Nio. Mana ia mau ladeni mereka
yang mengincar dirinya. Ia justru ingin cari orang yang lebih
cakap dan ganteng dari Siauw Cu Leng.
Teng Siu tidak memikirkan akan jodohnya sang puteri. Ia
hanya menyerahkan atas pilihan anaknya, ia hanya akur saja.
Pikirnya, ini demi keberuntungna anak tunggalnya.
Pada suatu hari, selagi Goat Go ngelayap, ia mampir dalam
sebuah rumah makan hendak mengisi perutnya yang lapar.
Sikapnya galak betul, main bentak saja kepada pelayan yang
melayaninya. Tapi si pelayan melayani ia dengan ramah
tamah, meskipun dibentak-bentak. Ini karena si pelayan,
siang-siang sudah mendapat bisikan dari majikannya supaya
melayani si nona dengan baik dan manis budi meskipun si
nona berlaku galak kepadanya.
Majikan rumah makan itu sudah tahu ketika Goat Go masuk, ia
kenali itu ada puterinya Hoa-im Tok-jin, maka cepat-cepat ia
bisiki pelayan yang hendak melayaninya supaya layani
dengan baik sehingga tidak terbit onar.
Meskipun si pemilik rumah makan sudah atur demikian rapih,
toh terjadi juga keonaran, tak dapat dicegah. Sebabnya, Goat
Go marah-marah lantaran si pelayan salah membawakan
santapan yang ia pesan. Makanan itu semestinya dibawa ke
meja seorang tamu anak muda yang duduk di pojok, tapi ia
salah bawa ke mejanya si nona. Rupanya ia sangat bingung
karena dipesan lekas-lekas membawa makanan pesanannya
si nona. Dalam marahnya, Goat Go angkat mangkok sayur
yang masih mengepul panas lalu disiramkan ke mukanya si
pelayan. Siapa, sudah tentu saja menjadi gelagapan dan
berteriak-teriak kepanasan mukanya. Para tamu menjadi
tercengang melihat perbuatannya Goat Go.
Mereka yang kenali si nona, pada membayar uang makannya
di tempat kasir dan ngeloyor pergi. Sedang tamu-tamu yang
datang dari lain tempat pada berdiri dari bangkunya
mengawasi Goat Go. Mereka sangat tidak senang melihat
kelakuan si nona yang demikian keterlaluan.
Termasuk si anak muda yang duduk di pojok, yang sayurnya
disiramkan ke muka si pelayan. Merasa tidak puas, ia datang
menghampiri ke tempat Goat Go yang saat itu sedang
terpingkal-pingkal ketawai si pelayan yang gelagapan
kepanasan mukanya, sambil kedua tangannya dipakai
menekap muka.
Sambil tolak si pelayan minggir, anak muda itu maju
mendekati Goat Go berkata, "Cici, perbuatanmu sangat
keliwatan !"
Si nona heran ada orang berani menegur kelakuannya. Ia
angkat kepalanya memandang. Kiranya yang menegur itu
seorang anak muda, dandanannya sebagai pelajar, di
punggungnya ada terselip sebatang pedang pendek.
Pengawakannya tinggi kurus, gagah dan cakap tampangnya,
mengalahkan kecakapan Siauw Cu Leng dalam pandangan
Goat Go yang tengah mencari pasangan.
Diam-diam ia tertegun memandang si anak muda. Pikirnya,
pemuda itulah yang pantas menjadi pasangan dirinya. Tapi
Goat Go wataknya tinggi hati, tidak senang ada orang tegur
dirinya. Maka setelah mengerutkan keningnya, ia bangkit dari
duduknya, menghadapi si anak muda. "Habis kau mau apa ?"
ia jawab teguran si anak muda.
"Pelayan itu tidak berbuat kesalahan beasr, kenapa kau
sampai berbuat yang begitu keliwatan ?" kata si pemuda lagi.
"Ia, habis kau mau apa ?" tantang si nona.
Tidak marah dia, mukanya tampak berseri-seri seakan-akan
pandang remeh pada anak muda di depannya. Si anak muda
tidak takut, tapi si pemilik rumah makan sebaliknya yang
ketakutan setengah mati. Meskipun takut, ia coba maju dan
ingin melerai antara dua muda mudi yang kelihatannya hendak
bergerak.
"Sudah, sudah." katanya. "Kejadian itu tidak berarti, untuk apa
ditarik panjang. Sudah, sudahlah..........." sambil ajukan diri,
hendak memisahkan.
"Plak !" tiba-tiba terdengar suara, kiranya itu tangannya si
nona yang mampir ke pipinya si pemilik rumah makan.
"Jangan coba melerai, aku tidak suka cecongormu muncul
diantara kita !" bentak si gadis, matanya melotot gusar.
Sambil menekan pipinya yang panas bekas tamparan si nona,
pemilik rumah makan itu mundur teratur. Hanya matanya saja
kedap kedip sambil meringis-ringis kesakitan. Kelakuan mana
mengelitik urat ketawa Goat Go sebab ketika itu ia tertawa
cekikikan sambil matanya melirik pada si anak muda.
Dalam keadaan tertegun, si anak muda dengar Goat Go
berkata : "Apa kau juga ingin rasakan ini ?" seraya unjuk
telapak tangannya yang putih halus.
"Cobalah !" sahut si anak muda, dingin suaranya.
Goat Go memang kepingin usap muka orang yang cakap,
sekarang ada jalan untuk ia berbuat demikian. Maka dalam
girangnya, seketika ia lantas angkat tangannya dipakai
menampar pipinya si anak muda.
Tapi..... tampaknya bukan mengenakan pipi orang, sebaliknya
angin yagn ditampar olehnya sebab si anak muda dengan
otomatis sudah berkelit.
Merah mukanya si nona, bukan main malu dia. Maka di lain
saat ia sudah menampar lagi, malah ia gunakan tipu 'Thian lie
hun hoa' atau 'Bidadari sebarkan kembang', bukan satu tapi
dengan dua tangan ia menampar kalang kabut ke mukanya si
anak muda. Sayang gerakannya meskipun cepat, si pemuda
malah lebih cepat menghindarkan hujan tamparan itu.
Akhirnya Goat Go berhenti sendiri. Kiranya barusan ia hanya
menampari angin tok, sebab si anak muda siang-siang sudah
jauhkan diri dan berdiri di depannya dengan muka tersungging
senyuman ejek.
Goat Go jadi kalap melihat si anak muda mentertawai dirinya.
"Kau berani permainkan nonamu, hmm ! Kau lihat !"
bentaknya, berbareng ia depak terpental bangku di dekatnya,
meja ia terbaliki lalu lompat pada si pemuda. Tangan
kanannya di ulur ke arah dada lawan hendak mencengkeram
sedang tangan kirinya dengan kecepatan kilat menyambar
pada 'thian-ki-hiat', jalan darah di iga kanan. Serangan ini
dilakukan dengan berbareng, ganas kelihatannya tapi si anak
muda tinggal kalem saja. Ia menunggu datangnya serangan,
begitu tangan kanan Goat Go hampir sampai di dada, tangan
kirinya si pemuda sudah siap untuk menyambuti. Sementara
tangan kanan si nona kena dicekal, adalah tangan kirinya yang
hendak menotok jalan darah di iga kena ditekan ke bawah.
Goat Go merasa sesak dadanya menahan tekanan si anak
muda yang dibarengi dengan sebagian tenaga dalam.
Si anak muda menggunakan gerakan 'Sian-jin tian chiu' --
'Sang Dewa mementang kedua lengannya', untuk menyambuti
serangannya Tong Goat Go yang hebat.
Si nona berontak-berontak untuk meloloskan kedua lengannya
yang sudah kena dicekal si anak muda. Tapi bagaimana pun
ia keluarkan tenaga sepenuhnya, tetap tangannya tak dapat
diloloskan dari cekalan lawan yang makin lama makin sakit
rasanya. Rupanya anak muda ini mau kasih sedikit hajaran
pada Goat Go yang tengik lagaknya, keterlaluan
perbuatannya.
Lwekang si pemuda rupanya tinggi sebab sebentar kemudian
kelihatan Goat Go sudah tak berkutik. Itulah pengaruhnya
lwekang (tenaga dalam) yang disalurkan ke tangannya yang
mencekal tangan si nona yang membuat Goat Go merasakan
lumpuh badannya.
Matanya si nona menatap si anak muda.
"Kau mau apakan kau, setan ?" tanyanya.
Ia sudah tidak meronta-ronta lagi, sudah menyerah kalah
tampaknya.
"Aku mau kau ganti kerugian apa yang sudah kau rusakkan
dan uang obat untuk si pelayan yang kau siram mukanya
dengan sayur !" sahut si anak muda.
"Baik." kata Goat Go tanpa banyak pikir lagi.
Si pemuda tertegun. Ia tidak menyangka urusan begitu
gampang, si nona mau menerima permintaannya. Dalam
tercengangnya, ia masih terus mencekali kedua tangannya si
nona.
"Kau masih belum mau melepaskan tanganku ?" Goat Go
tegur, suaranya halus dan ramah, membuat si anak muda
gelagapan dan buru-buru saja ia lepaskannya.
Tampak muka si anak muda bersemu merah saking jengah.
Setelah terlepas kedua tangannya, si nona urut-urut. Rupanya
ia masih merasa sakit bekas cekalan tadi. Tenaganya yang
barusan dirasakan lumpuh, sekarang sudah balik kembali.
Hatinya girang, ia tidak mendendam karena ia memang naksir
pada si anak muda.
Pikirnya, anak muda ini selain berparas cakap juga
berkepandaian tinggi. Mau cari siapa lagi kalau bukan dia,
dijadikan jodohnya ? Memikir sikapnya Goat Go gampang
berubah, mengherankan semua orang termasuk si pemilik
rumah makan yang masih merasakan pipinya panas bekas
tamparan si nona tadi.
"Mari kita ke kasir." mengajak Goat Go pada si anak muda.
"Cici, kau baik betul." kata si anak muda tanpa merasa.
"Memang aku tidak sakit." sahutnya bersenyum sambil melirik
tajam.
Si anak muda kembali tertegun. Pikirnya, anak dara ini benarbenar
aneh kelakuannya. Tadi ia begitu marah, beringas, tapi
sekarang begitu ramah dan ketawa, malah bisa melucu lagi.
Anak siapakah dia ? Lirikannya tajam menusuk pusat
asmaranya.
Anak muda itu mesem mendengar jawaban Goat Go yang
lucu.
Ia mengikuti dari belakang si nona, tapi belum sampai di
tempat kasir untuk membikin perhitungan, si pemilik rumah
makan sudah datang menyongsong. Katanya, "Kionghi,
kionghi !" sambil angkat tangannya menyoja kepada kedua
anak muda itu. Perbuatannya mana membuat mereka jadi
heran.
"Apanya yang hendak kau beri selamat ?" tanya Goat Go.
"Oh itu, kalian sekarang sudah akur lagi. Maka aku
mengucapkan kionghi kepada kalian." jawabnya seraya
ketawa haha hehe.
"Oh, begitu."kata Goat Go. "Sekarang mari kita hitung berapa
kerugian yang sudah aku bikin rusak serta itu uang obat untuk
pelayanmu."
"Tidak apa, tidak apa, itu tak usah." kata si pemilik rumah
makan sambil goyang-goyang tangannya. "Itu perkara kecil,
buat apa mesti diganti."
Tapi Goat Go tidak meladeni kata-kata merendah si pemilik
rumah makan, ia kedok kantongnya, keluarkan uang perakan
hancur, lalu ditaruh diatas meja.
"Cukup ?' tanyanya sambil mengawasi si pemilik rumah
makan.
Mengingat urusan akan berlarut-larut nanti, maka si pemilik
rumah makan terima saja penggantian si nona tanpa
menyebut 'tak usah' lagi. Ia hanya kata, "Cukup, cukup. Sudah
kelebihan malah."
Setelah selesai berurusan, Goat Go putar tubuhnya lalu
menghadapi si anak muda yang berdiri di belakangnya. Ia
ketawa manis, berkata, "Bagaimanan ? Kau puas sekarang ?"
Si pemuda anggukkan kepalanya.
"Kau belum makan, bukan ?" tanya si nona lagi.
Belum si anak muda menjawab, Goat Go sudah tarik
tangannya diajak duduk menghadapi satu meja yang agak
dipojok.
Si nona teriaki pelayan, pesan makanan untuk dua orang,
katanya, "Lekas siapkan makanan enak untuk kita makan !"
Makanan disiapkan dengan ekstra cepat oleh kok (tukang
masak).
Di lain saat, kelihatan dua muda mudi itu sudah kerjakan
sumpitnya mendahar hidangannya. Kalau si gadis ketawaketawa
dan banyak bicara, tetapi si pemuda tinggal membisu
saja.
Sejenak tadi si pemuda membisu saja, rupanya pikirannya
masih terpengaruh oleh laga lagunya Goat Go yang benarbenar
aneh menurut pendapatnya.
"Hei, kau berubah jadi orang bisu ?" menegur si nona, ketawa
manis sambil ujung sumpitnya dipakai mencolek hidung si
anak muda.
Pemuda itu kaget, cepat mengelak hingga sang sumpit si nona
tak usah berkenalan dengan hidungnya yang mungil.
Ia tertawa, katanya, "Cici, benar-benar aku dibikin heran oleh
kelakuanmu."
"Herannya kenapa ?" tanya si nona, matanya melirik tajam.
Kembali pusat asmara si pemuda tertusuk oleh lirikannya.
"Barusan aku lihat kau bengis seperti Li-giam-ong (Ratu
akherat)." kata si pemuda. "Sekarang kau berubah sebagai
Tian-li (bidadari) cantik dan ramah tamah........."
"Stop !" memotong Goat Go sambil mulutnya mengunyah
daging bebek panggang, tangannya yang memegang sumpit
diangkat digoyang-goyangkan.
Ketika daging bebek panggang sudah lewat
ditenggorokannya, ia meneruskan kata-katanya : "Kau bisa
juga melucu, hi ! Dari mana kau belajar ? Hi hi hi......."
Anak muda itu tertawa, kini ia tertawa terbahak-bahak.
Goat Go tidak kesepian lagi karena si pemuda mulai kembali
dengan kegembiraannya.
Mereka dapat tertawa-tawa gembira dalam rumah makan yang
sekarang sudah kosong ditinggalkan oleh para tamu.
Hanya pemilik rumah dan para pelayannya yang menonton
adegan lucu, aneh sebab tadinya musuh sekarang mereka
menjadi sahabat seperti juga sahabat lama.
Ketika mereka habis makan, Goat Go bangkit hendak
membayar uang santapannya tapi dicegah oleh si pemuda,
berkata :
"Cici, kali ini aku yang bayar. Tadi kau sudah rogoh kantong
untuk mengganti kerugian. Apa salahnya kalau sekarang aku
yang membayar makanan, bukan ?"
Goat Go hanya tersenyum manis. "Terima kasih" ucapannya
halus.
Setelah membayar makanan, si pemuda balik lagi ke tempat
duduknya. Ia mengajak si nona berlalu. "Eh, nanti dulu." kata
si nona seraya pegang tangan si anak muda yang lemas
seperti juga tangannya sendiri yang halus.
"Ada urusan apa ?" tanya si pemuda.
"Aku duduk dahulu." si gadis menyuruh orang duduk, yang
segera diturut.
"Lama kita mengobrol dan ketawa-ketawa tapi belum kita
mengetahui nama masing-masing. Siapa sebenarnya kau,
adik ?" menanya Goat Go.
"Aku she Kwee, nama Cu Gie." sahut si anak muda.
"Dan umurmu ?" tanya Goat Go lagi.
"Tahun ini aku masuk 21 tahun." sahut Kwee Cu Gie.
"Pantesan kau panggil aku cici. Kalau begitu memang benar
aku ada lebih tua 3 tahun dari kau, adik Gie." berkata si nona.
Goat Go berkata seraya ketawa manis, melirik tajam dengan
ujung matanya.
Lagi-lagi Kwee Cu Gie dibuat bergoyang pusat asmaranya,
karena lirikan tajam si gadis. Tapi ia ada satu pemuda sopan,
tidak berani ia kurang ajar meskipun Goat Go, si berandalan
mengasih kesempatan Kwee Cu Gie untuk berbuat demikian.
"Sekarang kau hendak kemana ?" tanya Goat Go.
"Aku mau mencari pamanku." sahutnya.
"Adik Gie, bagaimana kalau kau mampir dahulu di rumahku ?"
mengundang si gadis.
"Terima kasih. Aku sangat kesusu. Lain kali saja kita bertemu
pula." jawabnya.
"Kalau begitu, baiklah. Cuma jangan lupa, kalau kau datang ke
sini cari aku ya !" memesan Goat Go, blak-blakan ia berkata,
tak pakai malu-malu lagi.
Kwee Cu Gie yang sopan santun merasa heran si nona
memesan demikian kepada seorang lelaki yang barusan saja
dikenal olehnya.
Goat Go memahami pikirannya si anak muda, maka lalu
berkata, "Adik Gie, aku bukannya gadis pingitan. Aku sangat
bebas, maka jangan heran kalau aku bicara blak-blakan. Apa
yang aku pikir dan lantas keluarkan."
Kwee Cu Gie anggukkan kepalanya.
"Nah, sampai disini saja kita berpisahan." kata si pemuda
kemudian.
"Bagus, selamat jalan adik Gie." sahut Goat Go. Sedikit pun
kelihatannya ia tidak merasa berat dengan perpisahan itu.
Tapi setelah Kwee Cu Gie berlalu dari sampingnya, ia menjadi
sedih sendirinya. Pilu rasa hatinya berpisahan dengan orang
yang dicintainya. Entah kapan mereka dapat bertemu pula. Ia
menyesal, tadi tidak ia tanyakan nama pamannya si anak
muda itu siapa namanya dan dimana tempat kediamannya.
Dengan mengetahui alamatnya, bisalah ia susul Kwee cu Gie
kesana buat diajak makan-makan lagi dan tertawa-tawa
menghibur hati.
Goat Go pulang dengan perasaan lesu, seperti orang yang
kehilangan sesuatu.
Di lain pihak, Kwee Cu Gie juga mengenangkan dirinya si
gadis. Pikirnya, gadis itu kecantikannya tidak mengecewakan,
dapat menggoncangkan jantung orang yang melihat,
ketawanya yang manis dan lirikannya yang mantap dalam
pusat asmara. Tapi sayang dalam sifarnya yang berandalan
itu ada tersembunyi kegenitan yang seakan-akan
mengundang untuk berbuat kurang ajar terhadapnya.
Kwee Cu Gie menghela napas sambil melanjutkan
perjalanannya.
Hari sudah sore, tidak keburu ia mencari pamannya. Maka
pada malam harinya ia menginap dalam sebuah rumah
penginapan di kota Hoa-im.
Keesokan harinya, setelah tanya-tanya orang, ia sampai di
depan rumah yang terkurung tembok disekitarnya. Ia
mengetok-ngetok pintu rumah dengan gelang besi yang
tergantung di pintu. Rupanya memang ini diperuntukkan bagi
tetamu memanggil orang di sebelah dalam. Tidak lama ia
menanti, sebentar kemudian pintu dibuka. Satu pelayan
perempuan muncul didepannya dan menanyakan ada urusan
apa, siapa yang dicari.
Kwee Cu Gie kasih tahu maksud kedatangannya hendak
menemui tuan rumah. Si pelayan segera masuk ke dalam
setelah memesan Kwee Cu Gie untuk menunggu sebentar.
Tidak lama si pelayan keluar lagi dan mengundang Kwee Cu
Gie masuk.
Ia diantar ke dalam satu ruangan tengah dan disuruh duduk
menanti, sebentar lagi tuan rumah akan muncul menemuinya.
Kwee Cu Gie menunggu. Lama juga belum kelihatan muncul
tuan rumah. Ia jadi kesal, maka ia bangkit dari duduknya lalu
menghampiri satu pigura yang melukiskan pemandangan di
suatu pegunungan dimana ada berkeliaran banyak binatang
buas. Asyik ia memandangi pigur itu hingga tidak merasa
kalau dibelakangnya sekarang ada muncul satu orang.
Ia menjadi kaget ketika sekonyong-konyong kedua matanya
disekap oleh dua tangan dari belakangnya. Cepat, ia mau
nglitik orang dibelakangnya itu, kalau ia tidak tahu bahwa yang
memegang tangan yang halus lemas, disusul oleh suara
empuk merayu, berkata, "Adik Gie, kau toh datang juga ke
rumahku......"
Kwee Cu Gie cepat putar tubuhnya dan... itulah Goat Go yang
berdiri di depannya, bersenyum memikat hati.
(Bersambung)
Jilid 03
Anak muda itu tercengang sebentaran. Belum sempat ia
menanya, Goat Go sudah tarik tangannya si anak muda. "Mari
kita duduk-duduk kongkouw !" katanya.
Ruangan itu perabotannya cukup mewah, pigura-pigura
dengan lukisan indah tergantung pada dinding-dinding
sehingga menarik selera tetamu, pot-pot kembang diatur rapi
sekali, siliran angin yang masuk dari jendela meniup
harumnya, mewangi masuk ke hidung.
Goat Go ajak Kwee Cu Gie duduk di atas bangku panjang
yang beralaskan bahan yang empuk, yang ditempatkan di
bawah jendela yang menghadap ke taman bunga.
"Adik Gie, " kata Goat Go, setelah mereka pada duduk.
"Sekarang aku tahu asal usulmu. Kau bukankah anaknya bibi
San dari Hoay-siang."
Kwee Cu Gie ketawa. "Kau benar, cici" sahutnya. "Di mana
adanya paman Siu ? Aku ingin lekas sampaikan pemberian
selamat ibuku dan menanya keselamatannya."
"Sabar adik Gie." kaat Goat Go. "Segera ayah akan keluar, dia
sekarang masih repot dengan pekerjaannya.
Terpaksa Kwee Cu Gie layani si nona kong kouw. Sudah tentu
ngobrolnya urusan famili diantara mereka. Goat Go berkali-kali
menyatakan ia ingin ketemu bibinya (ibu Kwee Cu Gie).
Katanya, sejak ibunya meninggal, ia tidak pernah ketemu lagi
dengan ibunya Kwee Cu Gie yang pindah ke Hoay-siang dari
Hoa-im.
Kiranya ibu Kwee Cu Gie itu ada saudara piauw dari Teng Siu,
ayahnya Goat Go bernama Thio Leng San yang menikah
dengan Bian-ciang Kwee Eng Siang, salah satu jago
terkemuka dalam kalangan kang-ouw.
Ketika masih di Hoa-im, meskipun ada tersangkut famili, Kwee
Eng Siang tidak suka bergaul dengan Teng Siu. Ia tidak suka
akan pergaulannya Teng Siu dengan orang-orang dari
kalangan tidak benar terutama ia benci akan kepandaiannya
Teng Siu membuat racun dipakai membantu orang-orang
jahat.
Pernah Eng Siang satu kali menasehati Teng Siu untuk jangan
bergaul dengan kawanan penjahat dan kepandaiannya
membuat racun sebaiknya disalurkan untuk kebaikan
menolong orang saki. Tapi nasehat Eng Siang tidak digubris,
malah selanjutnya perbuatannya makin mencolok di mata Eng
Siang.
Untuk menghindarkan bentrokan diantara famili sendiri, maka
Eng Siang ajak istrinya pindah ke Hoay-siang, suatu kota
dimana ia dilahirkan.
Pada waktu kepindahan itu, Kwee Cu Gie baru berumur lima
tahun.
Demikian, sewaktu mengobrol Goat Go mencoba menarik
hatinya Kwee Cu Gie dengan aksi genitnya. Tiap sebentar ia
pegang tangan si pemuda, mengasi lowongan untuk si
pemuda berbuat kurang ajar terhadap dirinya. Tapi
pancingannya itu ternyata tidak berhasilm, malah dari berani
melayani bicara, kelihatannya Kwee Cu Gie menjadi takut
melihat kegenitan Teng Goat Go.
Si nona jadi tidak sabaran, kenapa sang korban begini alot. Ia
mengundang saudara piauw itu untuk minum arak yang
barusan dibawakan oleh pelayannya.
Untuk membuat cici piauwnya senang, Kwee Cu Gie tidak
menolak. Tapi ketika ia minum baru tiga sloki, ia rasakan
matanya berkunang-kunang. Matanya pun dirasakan seperti
mau mengantuk. Seketika ia tak dapat menahan badannya
lagi. Ia rubuh celentang di atas bangku panjang yang
didudukinya.
"Hihihi, Cu Gie." kedengaran Goat Go ketawa, waktu melihat
korbannya rubuh.
Pipi Goat Go kemerah-merahan karena pengaruh arak yang
diminum barusan membuat si nona kelihatan tambahcanti dan
menggiurkan. Cuma sayang kecantikannya ini dibikin suram
oleh perbuatannya yang tidak bagus.
Goat Go bangkit dari duduknya, menghampiri si pemuda yang
sudah tidur nyenyak tampaknya. Ia tak dapat menahan rindu
hatinya yang meluap seketika. Maka ia lantas menubruk,
memeluk Cu Gie dan mencium pipinya.
"Plak ! Plak !" tiba-tiba terdengar suara pipi ditampar. Ternyata
pipi yang ditampar itu adalah pipinya si nona Goat Go yang
segera melepaskan pelukannya dan lompat mundur seraya
pegangi kedua pipinya yang panas bekas tamparan serta ia
rasakan ada giginya yang rontok.
"Anak kurang ajar !" bentkanya. "Kau berani tampar aku ?"
berbareng ia menerjang Cu Gie yang tengah mencelat bangun
dari rebahnya.
Sambil memutar tubuh, Cu Gie sambuti serangan Goat Go.
Tangan kanan si nona kena dipegang, dipelintir hingga Goat
Go berkaok-kaok kesakitan menangis.
Ketika Goat Go terima kabar dari pelayannya ada satu tama
muda cakap mencari ayahnya, lantas ia menduga akan dirinya
Kwee Cu Gie yang datang. Ia mengintip ketika Cu Gie diajak
masuk oleh pelayan. Benar saja ia lihat si pemuda yang
dirindukannya. Ia tidak jadi mengabarkan pada ayahnya yang
waktu itu sedan dalam kamar laboratoriumnya memasak obat.
Pikirnya, ia akan layani sendiri dahulu, belakangan baru
diberitahukan pada ayahnya. Tidak lupa ia siapkan arak yang
dicampuri beng-han-ye semacam obat tidur, maksudnya kalau
dengan kecantikan dan kegenitannya ia tak berhasil menjaring
si anak muda, ia mau bikin Cu Gie menjadi mabuk dan tertidur
dan selanjutnya ia boleh buat sesukanya atas tubuhnya Cu
Gie. Ia pesan pelayannya untuk membawakan arak dan sedikit
hidangan keluar kalau mereka sedang asyik bercakap-cakap.
Ia menggunakan tempat arak yang mempunyai dua aliran,
yaitu suatu aliran untuk arak biasa dan satu aliran lagi untuk
arak yang dicampuri obat tidur.
Caranya Goat Go untuk menjaring korbannya memang amat
rapih.
Tapi ia tidak memperhitungkan bahwa Cu Gie ada jago muda
yang lihai.
Ketika Cu Gie merasakan gejala tidak baik dari pengaruh arak,
segera ia gunakan lwekangnya yang tinggi untuk mendesak
arak yang diminumnya itu keluar dari lubang-lubang peluh
(keringat). Ia pura-pura seperti benar-benar ia kena
pengaruhnya arak. Setelah melenggut sejenak, ia rubuhkan
dirinya di atas bangku panjang yang didudukinya itu.
Ketika merasa dirinya dipeluk dan diciumi Goat Go, bukannya
ia menyambut dengan mesra, sebaliknya ia menjadi marah.
Bau harum dari tubuhnya Goat Go yang menembus ke dalam
lubang hidungnya tidak ia hiraukan, tangannya segera
melayang dan menampar keras juga sampai giginya si nona
ada beberapa yang rontok.
Selagi mencoba bangun, ia tahu dirinya diserang Goat Go.
Dengan sekali badannya berputar, ia sudah dapat menyambuti
serangan si nona dan tangannya Goat Go kena dicekal,
dipelintir hingga nona genit itu jadi berkaok-kaok kesakitan.
Cu Gie wataknya halus. Kalau tadi ia menampar itu dilakukan
saking tak dapat menahan marahnya. Kini marahnya sudah
hilang. Melihat Goat Go berkaok-kaok kesakitan, ia lepaskan
tangannya sambil berkata, "Cici, perbuatanmu bikin aku jadi
lupa ! Harap perbuatanmu ini kau tidak ulangi lagi !" berbareng
Cu Gie putar tubuhnya. Dengan beberapa lompatan saja ia
sudah berada di pintu pekarangan.
Goat Go melenggak. Cepat ia memburu, ia hendak memanggil
balik tapi tak dapat keluar suara dari mulutnya. Ia malu. Ia
hanya menyaksikan si anak muda melenyapkan diri di balik
pintu pekarangan.
Sambil membetulkan pakaian dan rambutnya yang kusut,
Goat Go bantingkan diri diatas bangku panjang tadi yang
membuat riwayatnya tak terlupakan olehnya sampai kemudian
ia merubah dirinya menjadi Ang Hoa Lobo, si Nenek Bunga
Merah.
Di lain pihak, Kim Nio tidak kenal apa artinya 'bisa'. Ia diajari
oleh Goat Go sampai pandai tapi kemudian rusak mukanya
karean hembusan obat yang dimasak sehingga ia belakangan
berubah menjadi Kim Popo. Setelah mukanya jadi jelek tidak
karuan, Siauw Cu Leng yang cakap telah meninggalkannya,
ikut Goat Go. Belakangan nona Goat Go juga mukanya rusak
akibat racun. Buat bikin Siauw cu Leng tidak meninggalkan
dirinya, Goat Go sudah gasak mukanya si cakap dengan 'bisa;
sehingga lebih jelek dari mukanya Goat Go. Si 'Arjuna' tidak
laku lagi di kalangan perempuan baik-baik. Oleh karenanya ia
sangat setia pada Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go, puteri
kesayangan dari Hoa-im Tok-jin Teng Siu.
Kisah cinta 'segitiga' antara Kim Popo alias Kim Nio, Siauw Cu
Leng si Arjuna dan Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go, ramai
dan menarik untuk ditutukan dan ini kita akan ceritakan di
sebelah belakang.
Sekarang, mari kita balik kepada Kim Popo yang bersua
kembali dengan The Sam yang menjadi 'idaman hatinya' di
waktu Kim Nio belum berubah menjadi Kim Popo.
The Sam ketika kabur dari rumah perguruannya karena sudah
memukul parah Siauw Cu Leng yang menjadi suhengnya, ia
terus berkelana di kalangan kang-ouw (Sungai Telaga)
mencari pengalaman. Ia beruntung ketemu dengan salah
seorang Tojin (imam). Ia mengajarkan ilmu 'Thong-pie-kong' --
'ilmu lengan sakti', ialah kalau lengan kanan diulur memanjang
sementara lengan kirinya mengkeret pendek. Dengan
kepandaiannya ini, ia dapat menjagoi meskipun sering kali
juga ia kena dipecundangi lawannya.
The Sam sudah lama tidak ketemu muka dengan Kim Popo
sejak ia kabut dari rumah perguruan baru sekarang ia
berjumpa pula. Ia kenali Kim Popo sebagai bekas ia punya
Kim Nio adalah dari suaranya dan potongan tubuhnya yang
selama ini tak dapat dilupakan olehnya. Ia tahu, memang Kim
Popo bukannya Kim Nio dahulu yang cantik menarik.
Sekarang mukanya sudah rusak. Ini ia dapat tahu dari
kenalan-kenalannya yang dahulu tinggalnya tidak berjauhan
dari rumah si Tongkat Sakti Kong Tek Liang. Ia merasa
kasihan atas nasib bekas kekasihnya. Ia mencari-cari, sampai
hari itu dengan secara kebetulan ia ketemukan bekas
'darlingnya' sedang minum air selokan.
Setelah memperhatikan lebih tegas, baharulah ia berani
ketawa dibelakangnya Kim Popo yang tengah minum air kali
dan cacapi kepalanya supaya adem.
"Mari kita ngobrol di bawah pohon itu." kata The Sam seraya
tuntun tangannya Kim Popo yang jinak sekali bagai mana
kucing peliharaan.
Di bawah pohon mereka ngobrol saling menuturkan
pengalamannya masing-masing sambil ketawa riang gembira.
Inilah mungkin kejadian yang pertama kali dialami si nenek
sejak Kim Popo meninggalkan rumahnya di Hoa-im.
"Koko, aku sekarang sudah jelek begini, apakah kau masih
mencintai aku ?" kata Kim Popo setelah sejenak percakapan
mereka terhenti.
"Adik Kim." sahut The Sam, suaranya mengasihi hingga
membuat Kim Popo terkenang akan masa lampau diwaktu
berkasih-kasihan di taman bunga. "Kau terlalu memandang
rendah akan cintaku. Meskipun mukamu sudah rusak, aku
tetap mencintaimu !" sambung The Sam.
Merasa lega hatinya Kim Popo mendengar kata-kata itu.
Menyesal ia tidak dapat hidup bersuami istri dengan The Sam.
Kalau tidak, tidaklah ia mengalami penghidupan yang gagal
total seperti sekarang ini.
Kim Popo tundukkan kepala lalu menatap wajahnya The Sam,
tersenyum ia tapi sudah tentu senyumannya 'senyuman
istimewa' karena giginya sudah tinggal beberapa buah saja.
Terdengar di lain saat Kim Popo menghela napas.
"Ya, sang tempo sudah membuat kita sama-sama tua." kata
Kim Popo, sauranya berubah. "Tak perlu kita berdendang
asmara lagi. Mari kita bicarakan urusan penting !"
The Sam melongo mendengar kata-kata Kim Popo.
Ia tidak menyangka perubahan sikap si nenek akan begitu
cepat. Ia menanya, "Urusan apa yang kau maksudkan penting,
adik Kim ?"
Kim Popo lalu menceritakan bahwa barusan ia kehilangan
barang berharga dirampas oleh si thauto beranting-anting
emas. Ia amat penasaran. Sebab selain barangnya yang
penting kena dirampas, juga ia sudah kena dijemur 2 jam
lamanya.
"Ah, kau berurusan dengan dia ?" tanya The Sam, romannya
seperti yang terkejut.
"Memangnya kenapa, siapa dia sih ?" balik menanya Kim
Popo.
"Ah, adik Kim." sahut The Sam. "Dia sangat lihai. Orang tidak
tahu siapa namanya, tapi orang kenal julukannya Kim Wan
Thauto (Thauto beranting-anting emas). Dia bukan saja lihai
ilmu silatnya tapi senjata rahasianya di kedua telinganya.
Kalau sudah dilepas, tiada seorang pun korbannya yang dapat
lolos dari sasarannya."
The Sam cerita benar. Senjata rahasia "Kim-wan' dari si thauto
ada sangat hebat sebab dilepas dengan tenaga dalam.
Sampai dimana tingginya lwekan si thauto dapat diukur dari
kepandaiannya melepas senjata rahasia itu. Dan ia dapat
kendalikan yaitu bisa enteng, bisa setengah berat dan berat
waktu ia menghajar orang. Pukulan enteng seperti yang dibikin
terkulai Kim Popo, setengah berat bikin orang terus pingsan,
yang berat bisa bikin korbannya terus tidak bangun lagi alias
jiwanya melayang untuk menghadap Giam-lo-ong (Raj
Akhirat).
"Dia begitu lihai....." Kim Popo menghela napas. "Habislah
pengharapanku untuk dapat merebut barangku yang sangat
penting itu."
"Barang apa sebenarnya yang dirampas Kim-wan Thauto ?"
tanya The Sam.
"Barang itu adalah menjadi rebutan oleh kalangan bu-lim
(rimba persilatan) pada dewasa ini." menerangkan Kim Popo.
"Apakah itu ?" The Sam ingin tahu.
"Barang itu adalah sebuah buku mungil yang bernama 'Thiamhiat
Pit-koat', pelajaran ilmu menotok jalan darah yang luar
biasa pentingnya bagi setiap dunia persilatan." kata Kim Popo.
The Sam kerutkan keningnya, ia tundukkan kepala, berpikir,
lalu menanya, "Sampai begitu penting, bukankah setiap orang
yang pandai ilmu silat dapat menotok lawan dengan baik ?"
"Kau jangan meremehkan 'Thiam-hiat Pit-koat'. Ia dikarang
oleh satu ahli totok kenamaan, The Leng Tong namanya,
orang dari propinsi Shoatang. Pada jamannya yaitu 80 tahun
berselang, The Leng Tong tidak menemukan tandingan dalam
ilmu totokan jalan darah. Banyak orang kepingin berguru
padanya tapi dia tolak. Dia tidak mau menerima murid. Hanya
dia ada lepas kata kalau dia sudah tidak ada dalam dunia, di
belakang hari orang akan menemui bukunya yang dinamai
'Thiam-hiat', kalau orang itu memang berjodoh untuk menjadi
muridnya. Kau tidak tahu, koko. Buku itu memuat tiga macam
ilmu totokan. Kecuali pelajaran menotok jalan darah
menggunakan satu sampai dua jari dari dekat, dalam bukunya
ada disebut menotok dari jauh dengan menyentil batu kecil
dan kebasan tangan baju. Malah, yang penting, totokan The
Leng Tong dapat dikendalikan berat entengnya dengan jitu
sekali." demikian Kim Popo menutur.
"Aha, aku juga orang she The, siapa tahu ada jodoh
mendapatkan buku itu." kata The Sam kegirangan sambil
tepuk-tepuk pahanya.
"Bagaimana kau bisa bilang begitu ?" tanya Kim Popo heran.
"Aku she The dan Leng Tong juga she The. Kita sama-sama
she The. Tidak mustahil kalau barangnya The Leng Tong
diwariskan padaku, bukan ?" sahut The Sam.
Ia menutup kata-katanya sambil terus tarik tangannya si nenek
diajak pergi.
"Mari kita susul Kim-wan Thauto !" ia mengajak Kim Popo.
"Kau bilang Kim-wan Thauto lihai. Bagaimana kau dapat
merebut kembali 'Thiam-hiat Pit-koat' dari tangannya ?" tanya
Kim Popo sangsi.
"Ah, itu urusan belakangan. Mari kita susul nanti dia keburu
sudah jalan jauh, sukar kita mencarinya." sahut The Sam.
Ia pun, berbareng gerakan kakinya mengajak Kim Popo
berlalu dari situ.
Kim Popo tak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali mengikuti
bekas kekasihnya itu. Malah diam-diam hatinya merasa girang
The Sam sudah mau bantu ia merebut pulang buku pelajaran
ilmu menotok itu. Apa The Sam berhasil atau tidak, pikirnya,
itu bagaimana nanti saja. Ia percaya bekas kekasihnya itu
sudah mempunyai akal untuk merebut kembali buku mungil
itu, bila dilihat The Sam demikian napsu mengajak ia
menyusul Kim-wan Thauto.
Kita tinggalkan dahulu Kim Popo dan The Sam yang menyusul
Kim wan Thauto. Kita balik kepada Lo In, bagaimana si bocah
itu, apakah dia binasa akibat gebukan Ang Hoa Lobo yang
dilakukan dengan sepenuh tenaga ?
Lo In dibawa masuk ke dalam sebuah rumah yang dibangun
dari bambu dengan separuh batu. Cukup besar rumah itu dan
mempunyai pekarangan depan belakang.
Lo In diletakkan di sebuah bale-bale dengan kasar sekali oleh
Siauw Cu Leng yang sangat membenci bocah itu.
Keadaan Lo In masih belum sadarkan diri.
Kenapa Ang Hoa Lobo begitu kejam menghajar bebokong
anak kecil dengan menggunakan tenaga penuh ? Itu ada
sebabnya.
Siauw Cu Leng ketika pulang habis dipecundangi oleh Lo In
telah mengadu pada Ang Hoa Lobo tentang munculnya satu
bocah luar biasa. Ia telah dipecundangi dengan hanya
kegesitan saja, malahan pukulan gunturnya yang
menghancurkan batu gunung tidak mempan dihadapkan pada
si bocah.
Ang Hoa Lobo tertawa terkekeh mendengar penuturannya si
Iblis Buntung, yang alisnya dibuntungi oleh Ang Hoa Lobo.
"Sama anak kecil kau kalah, bagaimana kau hadapi anak gede
?" kata Ang Hoa Lobo seraya mentertawakan Siauw Cu Leng.
"Kau tidak tahu, cici." sahut Siauw Cu Leng. "Setelah aku
rubuh, dia menantang, katanya : 'Iblis gila, kau boleh
datangkan iblis temanmu. Biar segerobak aku tidak takut !'
Nah, ini 'kan satu hinaan bagi kita. Mana boleh anak yang
masih ingusan diumbar ngaco begitu."
Siauw Cu Leng mulai menghasut, ketika melihat Ang Hoa
Lobo tidak mau meladeni pengaduannya. Mendengar katakata
si Iblis Alis Buntung, tampak Ang Hoa Lobo kerutkan
alisnya, "Apakah benar kata-katamu ?" tanyanya kemudian.
"Kenapa tidak benar ? Memangnya aku mau ambil untung dari
perkataanku yang tidak benar ? Aku bicara yang benar, buat
apa timbulkan yang tidak betul !" nyerocos Siauw Cu Leng,
mukanya kelihatan sungguh-sungguh.
"Anak bandel. Masa dia berani omong besar ?" kata si nenek,
mulai marah dia.
Siauw Cu Leng lalu cerita, Lo In selain kepandainnya hebat
juga mempunya tentara kera dan burung rajawali. Kalau tidak
dibokong, jangan harap bisa menowelnya, apalagi untuk
menangkapnya. Dia mesti sudah makan buah JJit-goat-go,
kalau tidak tentu tidak begitu hebat.
Disebutnya buah Jit-goat-go, mendadak saja Ang Hoa Lobo
berjingkrak.
Sudah lama ia mendengar akan khasiatnya buah itu. Maka
juga ia sudah mencari dari satu ke lain gunung. Sekarang,
buah itu sudah dimakan si anak kecil. Dimana ia bisa dapatkan
pula dalam daerah pegunungan disitu yang sangat luas ? Ia
benci kepada orang yang sudah mendahului ia memakan buah
yang ia idam-idamkan. Maka setelah berjingkrak, ia berkata
pada Siauw Cu Leng, "Dimana kita bisa menemui dia ?"
"Tidak, tidak bisa kita menemui dia begitu saja. Dia luar biasa
kepandaiannya, apalagi dia mempunyai rajawali dan tentara
keranya yang melindungi."
"Habis, bagaimana ?" tanya si nenek, jeri juga mendengar
kata-kata si iblis.
"Dia mesti dibokong. Kita harus mengatur perangkap, yang dia
tidak curiga sama sekali. Asal sudah ada kesempatan, kau
harus menghajar dia sepenuh tenaga. Sebab tanpa tenaga
penuh mana dia bisa rubuh karena dia sudah makan buah Jitgoat-
go, tenaga dalamnya tentu bukan main hebatnya !"
demikian Siauw Cu Leng mengajukan usulnya yang kejam.
Tapi memang si iblis benar. Tidak mudah Lo In ditakluki
dengan cuma mengadu silat. Sebab anak itu sudah lihai sekali
ditambah dengan tentara kera dan rajawalinya.
Si nenek percaya akan kata-katanya sang suami diluar kawin.
Maka mereka lalu berdamai soal pasang perangkap dalam
menangkap si bocah.
Begitulah, hari itu rupanya Lo In dilanggar apes (sial). Maka ia
sudah masuk perangkap yang diatur oleh Ang Hoa Lobo dan
Siauw Cu Leng.
Untung Lo In tenaga dalamnya sudah hebat berkat makan
buah Jit-goat-go, kalau saja kejadian itu sebelum ia makan
buah, bisa celaka 2 x 13. Pasti isi perutnya ambrol dan
nyawanya melayang seketika menerima pukulan hebat dari
Ang Hoa Lobo. Ia hanya merasakan dadanya sesak tiba-tiba,
tubuhnya dirasakan lumpuh. Maka ia rubuh pingsan setelah
mengeluarkan jeritan.
Juga Lo In masih untung jiwanya tidak sampai melayang
karena Ang Hoa Lobo menyetop tendangan Siauw Cu Leng
yang kedua kali. Kalau sampai kakinya si iblis bekerja,
rasanya Lo In sudah tidak bernyawa ketika itu. Si Iblis Alis
Buntung sangat benci Lo In, tentu tendangannya yang kedua
kali jauh lebih berat dari yang pertama, yang cuma terpental
tidak seberapa jauh.
Ketika meletakkan Lo In dibale-bale, Siauw Cu Leng dapat
lihat pedang pendek di pinggang si bocah, lalu diloloskan
kemudian diserahkan pada Ang Hoa Lobo sambil berkata, "Ini,
kepunyaan dia."
Ang Hoa Lobo menyambuti, lalu dihunus pedang pendek yang
bobotnya sangat enteng itu lalu diperiksa. Di atas badan
pedang tidak ada apa-apanya yang aneh, tapi ketika diselidiki
gagangnya, Ang Hoa Lobo dapat melihat huruf-huruf kecil
yang berbunyi, 'Kwee Cu Gie Toan-kiam' atau 'Pedang pendek
kepunyaan Kwee Cu Gie'.
"Betul, betul punya dia ?' tanya Siau Cu Leng yang sedari tadi
mengawasi Ang Hoa Lobo memeriksa pedang pendek itu.
Si nenek tidak menjawab, ia hanya angguk-anggukkan kepala
atas pertanyaan si orang she Siauw. Si Iblis kelihatannya agak
cemburuan juga melihat si nenek yang begitu kesemsem
memandangi pedang ditangannya.
"Hm ! Dia keturunannya...." Ang Hoa Lobo tiba-tiba
menggerutu sendirian setlah lama ia memandangi pedang
ditangannya.
"Dia keturunannya, buat apa dikasih hidup. Mampusi saja !"
kata Siauw Cu Leng mendengar Ang Hoa Lobo menggerutu
sendirian.
"Jangan, aku ada jalan." sahut Ang Hoa Lobo.
"Jalan bagaimana ?" tanya Siauw Cu Leng tidak sabaran
kelihatannya.
"Kita bikin rusak mukanya." jawab si nenek.
"Bagus ! Mari kita mulai." kata Siauw Cu Leng. Ia main cara
kilat saja berurusan dengan Ang Hoa Lobo sebab si nenek
sering berubah-ubah pikirannya. Ia mendesak karena ingin
lekas-lekas apa yang Ang Hoa Lobo kata, segera
dilaksanakan. Ia seperti membenci sampai tujuh turunan Lo In
saja.
Siauw Cu Leng mengambil pisau, bersiap-siap untuk merusak
mukanya Lo In.
"Bukan begitu caranya." kata Ang Hoa Lobo seraya goyanggoyang
tangannya.
"Habis, kau mau pakai apa ?" tanya Siauw Cu Leng.
Ang Hoa Lobo tidak menjawab. Sebaliknya dari kantongnya ia
keluarkan sebungkus obat. "Ambil air !" ia memerintah Siauw
Cu Leng.
Segera permintaan si nenek dipenuhi. Si iblis mengambil air
dalam gelas.
Ang Hoa Lobo menyambuti. Air dalam gelas itu ia buang ke
lantai sampai tinggal seperluanya, lalu obat yang berupa
bubuk berwarna hitam ia masukkan dalam gelas, diaduk kira
satu menit. Kemudian ia suruh Siauw Cu Leng ambil sobekan
kain. Ketika barang yang diminta diberikan, ia lalu robek
seperlunya untuk digunakan sebagai kuas. Obat hitam itu ia
polesi pada bagian muka Lo In, dari jidat terus sampai ke
dagu. Hanya bagian leher dan kuping tidak diganggu.
Sebentar saja muka Lo In yang putih cakap berubah menjadi
hitam legam seperti Zwarte Piet (si Piet Hitam, kacung
Sinterklas).
Setelah selesai, tiba-tiba si nenek berkakakan ketawa.
"Nah, inilah pembalasanku ! Aku mau lihat, tanpa diundang dia
akan datang berlutut dihadapanku untuk minta-minta
dikasihani !" ia berkata bangga.
Siauw Cu Leng bingung. Apa yang si nenek sebenarnya
maksudkan dengan kata-katanya. Ia lalu menanya, "Apa yang
kau maksudkan dengan kata-katamu, cici ?"
"Hehehe !" Ang Hoa Lobo ketawa. "Aku bikin anaknya begini.
Kalau bapakanya tahu tentu dia bakal mencari aku. Dia tentu
datang berlutut dihadapanku untuk minta obat pemusnahnya,
jangan sampai anaknya yang cakap ini mempunyai dua muka.
Baru sekarang Siauw Cu Leng mengerti maksudnya si nenek.
Kiranya Ang Hoa Lobo hendak membikin malu Kwee Cu Gie.
Dengan bikin wajah Lo In berubah hitam, Kwee Cu Gie pasti
mengerti siapa punya perbuatan. Orang she Kwee itu tentu
akan mencari Ang Hoa Lobo untuk menolong anaknya, minta
belas kasihannya si nenek supaya Ang Hoa Lobo
mengembalikan wajah anaknya pada keadaan semula.
Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go sampai saat itu masih
merasa penasaran pada Kwee Cu Gie yang sudah menampar
pipinya dua kali sehingga beberapa giginya pada rontok dan
sekarang ia sudah ompong !
"Sekarang kita mau apakan dia ?' tanya Siauw Cu Leng.
"Masukan jadi satu dengan si sundal cilik." sahut Ang Hoa
Lobo.
Siauw Cu Leng sangsi tampaknya, ia berdiri saja menjublek.
"Kau masih belum mau bawa dia pergi, mau tunggu apa ?" si
nenek membentak.
"Tapi cici, tapi....... " si iblis terhenti bicaranya ketika si
nenek
Kembang Merah memotong. "Tapi, tapi apa ? Lekas kerjakan
!"
"Aku kuatir kejadian selanjutnya." jawab si Iblis Alis Buntung,
ia beranikan hati mendebat Ang Hoa Lobo. "Binatang kecil ini
sangat hebat tenaga dalamnya. Sebentar kalau dia sudah
siuman, apakah dia tidak ngamuk ?"
"Ngamuk ? Hehehe !" si Nenek Kembang Merah ketawa.
"Sudah tidak ambrol isi perutnya menahan pukulanku, sudah
bagus. Mau ngamuk ? Hmm ! Aku mau lihat. Lekas kerjakan
perintahku, jangan banyak cing cong !"
Siauw Cu Leng tak berani banyak kata. Ia lalu angkat
tubuhnya Lo In, dipondong di bawa ke kamar belakang. Ke
dalam mana, tubuhnya Lo In menggelinding karena diletakkan
oleh Siauw Cu Leng separuh dilemparkan.
"Iblis, kau bawa masuk apa kesini ?" bentak seorang anak
perempuan kecil yang ada dalam kamar itu ketika melihat
pintu kamar dibukan dan tubuh Lo In diletakkan di lantai
separuh dilemparkan.
Sambil menutup pintu kamar lagi, Siauw Cu Leng menjawab,
"Sundal cilik, kau tak usah kesepian lagi. Sekarang ditemani si
setan cilik ! Hahaha !"
Si iblis berkata-kata sambil meninggalkan kamar itu yang
merupakan kamar tahanan rupanya. Memang, kamar itu boleh
disebut kamar tahanan sebab dalam kamar itu ada disekap
seorang gadis cilik umur kira-kira belum 15 tahun. Jadi lebih
tua dari Lo In yang usianya baru memasuki tahun ke-14.
Dalam ruangan itu yang lumayan juga lebarnya, mendapat
penerangan dari sela jeruji-jeruji jendela kecil yang kokoh dan
kuat dari bambu pilihan. Tidak ada perabotan didalam situ
kecuali bale-bale yang muat 2 orang serta bangku dan
mejanya yang sudah reyot. Tampak si nona kecil berdiri
tertegun melihat 'tamu' datang dalam keadaan tidak sadarkan
diri.
Rambutnya si dara cilik yang dikepang dua tampak sudah
awut-awutan, romannya lesu dan pucat tapi tidak
mempengaruhi air mukanya yang jernih, ramai dengan
senyum dikulum.
Pelan-pelan ia jalan menghampiri tubuhnya Lo In. Ia jongkok
disampingnya lalu memandang parasnya Lo In. Hatinya
merasa geli, ia ketawa melihat mukanya Lo In yang hitam
legam. Di usap-usap pipi Lo In, kemudian melihat pada
tangannya yang barusan dipakai meraba. Oh, kenapa tidak
hitam ? Ia menduga, tadinya wajah hitam itu disengaja si
bocah dengan mengolesi mukanya dengan arang hitam
legam.
Selama itu, Lo In tidak berkutik. Di goyang-goyang badannya,
tapi Lo In tetap tak sadarkan diri. Mulai curiga hatinya si dara
cilik, lalu ia tekuk lututnya, lengkungkan badannya, telinganya
di pasang di atas dada Lo In. Ia dapatkan si bocah masih ada
napasnya. Ia periksa keadaan Lo In lebih jauh, keculai
mukanya hitam, tidak kedapatan tanda-tanda bekas dianiaya.
Ketika ia gerakkan kakinya hendak jongkok pula, tiba-tiba ia
rasakan kakinya lemas dan jatuh ke depan diatas tubuhnya Lo
In. Selagi ia berusaha hendak bangun, tiba-tiba ia mendengar
suara dari sebelah luar kamar, "Eng Lian, kau masih tetap
membandel ? Lihat itu setan cilik contohnya ! Selain aku tidak
kasih makan kau, juga aku akan bikin mukamu yang cantik jadi
berubah hitam seperti si setan cilik ! Hehehe......."
Dara cilik itu yang ternyata bernama Eng Lian kenali suaranya
Ang Hoa Lobo yang berkata-kata tadi. Tampak ia menggertak
giginya, tangannya yang kecil mungil mengepal keras,
rupanya ia sangat marah. Sekarang ia mengerti, yang
membuat wajah anak itu hitam adalah si Nenek Kembang
Merah.
"Siapa yang mau berurusan denganmu, nenek jahat !" sahut
Eng Lian kemudian.
"Hehe ! Bagus, baru tiga hari aku hukum kau tidak makan.
Kalau kau masih tetap membandel, hemm ! Aku kasih tempo
tiga hari lagi untuk kau pikir-pikir. Kalau sampai temponya kau
masih tetap membandel, jangan salahkan si nenek bila
berbuat kejam Pikirkanlah !" demikian si nenek mengancam.
Eng Lian tidak mau ladeni Ang Hoa Lobo sampai nenek itu
meninggalkan kamar itu, tidak terdapat jawaban dari sebelah
dalam.
Si dara cilik sudah tiga hari dihukum tidak makan oleh Ang
Hoa Lobo, pantasan kakinya lemas. Dalam bingung, apa yang
akan ia buat menghadapi Lo In yang masih pingsan, sedang
perutnya sudah sangat lapar, tiba-tiba Eng Lian dibikin terkejut
dengan diceploskannya benda-benda bundar melalui sela-sela
jeruji jendela.
Ia merayap menghampiri salah satu benda itu, kiranya itu ada
buah-buah yang diceploskan dari sebelah luar. Siapa yang
mengirimnya ? Matanya mengawasi ke jurusan jendela, ia
melihat ada dua ekor kera disana, sedang repot menceplosceploskan
buah-buahan. Dalam herannya, ia ingin mendekati
dua kera itu tapi ia tak dapat bangun karena kakinya amat
lemas.
Dua kera itu, sudah tentu pembaca dapat menebaknya siapa.
Sebab mereka tidak lain adalah Pek-gan dan Pek-tauw, si
monyet mata putih dan kepala putih yang menjadi
kesayangannya Lo In.
Mereka melihat tuannya dibawa masuk ke dalam rumah itu
terus mengintip akan segala tindak tanduknya Siauw Cu Leng
dengan Ang Hoa Lobo. Setelah tahu yang Lo In ditempatkan
dalam kamar belakang, mereka lantas mencari buah-buahan
di sekitar tempat itu untuk dipersembahkan kepada
majikannya. Tapi mereka tidak tahu kalau Lo In dalam
keadaan pingsan. Mereka hanya mengira bahwa majikannya
itu sedang tidur nyenyak.
Eng Lian dapat pungut salah satu buah dan dimakannya. Ia
rasakan manis dan enak. Ia lalu makan lagi beberapa buah
untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Benar-benar ia
rasakan buah-buah yang dimakan istimewa. Kecuali manis
dan lezat, setelah masuk ke dalam perut telah menimbulkan
reaksi tubuh menjadi segar dan kuat.
Bukan main girangnya Eng Lian ketika ia tahu kakinya sudah
dapat digerakkan lagi dengan leluasa. Ia lantas kumpulkan
buah-buah itu supaya nanti jangan sampai ketahuan oleh dua
iblis yang hendak merongrongnya.
Hari berikutnya, Eng Lian repot menerima kiriman dari Pekgan
dan Pek-tauw. Lucu laga lagunya dua kera itu hingga Eng
Lian merasa suka dan sayang. Ia sendiri tidak mengerti
kenapa dua monyet itu begitu baik mau mengirimkan buahbuahan
kepadanya yang dalam kesukaran. Ia belum tahu
kalau dua kera itu mengirim buah-buahan bukan untuk dia tapi
untuk majikannya, Lo In, yang Eng Lian tidak tahu anak itu
siapa namanya dan datang dari mana.
Sambil melahap buah semacam jambu, Eng Lian memandangi
wajah Lo In.
Pikirnya, anak ini parasnya cakap sayang dibuat hitam oleh si
nenek jahat. Apakah warna hitam yang melekat itu nanti dapat
dicuci dan parasnya anak cakap itu kembali pada asalnya ? Ia
tanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ia dibikin kegirangan
melihat Lo In pelan-pelan telah membuka matanya. Saking
girangnya sampai ia lempar buah yang dimakannya dan
tangannya yang kecil halus memegang pipinya Lo In,
menanya, "Oh, adik, aku sudah siuman ? Enak betul tidurmu."
Lucu kelakuannya Eng Lian. Ia kira Lo In tidur nyenyak. Ia
tidak tahu kalau Lo In menderita pukulan dahsyat.
Lo In heran, matanya kecap kecip memandang Eng Lian.
Pikirnya, apakah ia sedang ngimpi atau sudah berada di lain
dunia ? Kenapa ada anak perempuan disampingnya ? Ia
angkat tangan kanannya, jari telunjuknya dimasukkan dalam
mulutnya, digigit, au, tentu saja ia berjengkit kesakitan.
"Hi hi hi.... anak tolol. Kenapa menggigit jari sendiri ?" Eng
Lian ketawa, melihat Lo In kesakitan menggigit jarinya
barusan.
"Kau siapa, cici ?" tanya Lo In, lemah suaranya.
"Aku Eng Lian, kau sendiri siapa ?" balik menanya si dara cilik,
lucu lagaknya.
"Oh, enci Lian......." Lo In terus bungkam.
"Hei, hei, kenapa kau tidak sebutkan namamu ?" kata Eng
Lian seraya menggoyang-goyang lengan Lo In yang tatkala itu
sudah mau meramkan matanya lagi.
Lo In kembali membuka matanya, ia tersenyum mengawasi si
nona cilik.
"Apa sih yang dilihat ?" kata Eng Lian ketika mereka beradu
pandangan sambil mencibirkan bibirnya yang mungil.
"Enci Lian, aku ini berada dimana ?" tanya Lo In, tidak
melayani orang mencibirkan bibirnya.
"Dalam kamar tahanan." sahut Eng Lian singkat, dongkol
rupanya dia.
Lo In terkejut. Ia coba gerakkan badannya untuk bangun, tapi
belum bisa. Sebab seluruh badannya dirasakan lemas.
Tenaga raksasanya entah pergi kemana. Ia heran, kemana
perginya tenaganya yang dahsyat.
Lantas dia ingat akan kejadian ketika bertemu dengan si
nenek di rimba bambu. Bagaimana ia dibokong. Pikirnya,
mungkin gebukan si nenek yang menyebabkan hilang
tenaganya. Buktinya, ia peras tenaga dalamnya, bukannya
berhasil malah bobokongnya dirasakan sakit bekas gebukan si
nenek.
"Jahat..........." ia menggerendeng, perlahan suaranya.
Perlahan suaranya tapi menusuk telinga Eng Lian. Mukanya
lantas cemberut. "Jahat, jahat, siapa jahat, hah !" tangannya
berbareng mau menampar.
"Tahan !" kata Lo In cepat ketika pipinya hendak ditampar si
dara cilik. "Enci Lian, aku bukan maksudkan kau jahat."
sambung Lo In.
Eng Lian ketawa, sambil tarik pulang tangannya. "Habis, siapa
yang kau maksudkan ? Sebab disini tidak ada orang lain
kecuali kita berdua." katanya.
Lo In anggap dirinya lucu. Oh, bolehlah ketemu ini dara cilik
yang lebih lucu dan aneh adatnya. Seketika juga Lo In merasa
suka berteman dengan Eng Lian, maka sambil bersenyum ia
berkata, "Enci Lian, yang aku maksudkan adalah nenek itu
dengan kembang merah disanggulnya."
"Oh, dianya ?" kata Eng Lian sambil leletkan lidahnya.
"Ya." sahut Lo In. "Dimana dia sekarang ? Aku dibokong
olehnya, digebuk dari belakang sampai rasanya semaput.
Untung aku tak sampai mati."
"Eh, mengapa sampai begitu ? Mengapa, kenapa ?" Eng Lian
minta Lo In tuturkan.
Lo In lantas ceritakan kejadian di rimba bambu ketika ia
hendak menolongi si nenek, tidak tahunya ia kena masuk
perangkap.
Eng Lian yang mendengari cerita Lo In merasa panas hatinya
kepada Ang Hoa Lobo yang kejam. Di samping itu ia merasa
simpati pada Lo In, anak yang berhati mulia menjadi korban
dari tangan telengas.
"Dia, si nenek itu memang jahat. Dia ada disini, dibantu oleh si
kakak jelek Siauw Cu Leng yang julukannya Toan Bi-lomo."
menerangkan Eng Lian.
"oh, iblis itu juga ada disini ?" tanya Lo In terkejut.
Eng Lian anggukkan kepalanya.
-- 8 --
Tadinya, Lo In tidak mengerti apa salahnya dia digebuk oleh si
Nenek Kembang Merah ? Padahal baru saja ia berjumpa
dengan maksud baik hendak memberikan pertolongan tapi
bukan terima kasih ia dapat dari si nenek, malah gebukan
yang membikin isi perutnya berantakan, untung tenaga
dalamnya cukup dahsyat.
Sekarang, ia mendengar cerita Eng Lian, si Iblis Alis Buntung
itu adalah konconya Ang Hoa Lobo, lantas ia mengerti
duduknya urusan. Tentu gara-gara mulut si iblis yang tajam
menghasut sehingga si nenek menurunkan tangan telengas
atas dirinya.
"Enci Lian, anak si......" Lo In hendak menanya tapi sudah
dipotong oleh si dara cilik, katanya, "Makan dahulu ini.
Perutmu tentu sudah minta diisi !" sambil menjejalkan
sebagian buah yang tengah ia lahap ke mulut Lo In.
Terpaksa Lo In mengganyangnya. Seketika hatinya terkesiap,
karena buah itulah yang biasa ia makan kiriman dari dua
keranya yang sangat disayang. Maka ia lalu menanya, "Enci
Lian, kau dapat dari mana buah ini ?" sambil unjukkan
sepotong buah yang belum habis ia makan.
"Entahlah. Ada dua malaikat berupa kera yang mengantarkan
ke sini. " jawab Eng Lian. Gembira dia sebab sekarang ia tidak
usah memikirkan lagi akan kelaparan.
"Oh, itu adalah Pek-gan dan Pek-tauw." kata Lo In.
"Betul, betul. Yang satu berkepala putih, yang lainnya
sepasang matanya yang putih. Kera siapakah mereka itu, apa
kau tahu ?" Eng Lian cerita.
"Mereka ada teman-teman baikku." sahut Lo In.
Eng Lian terbelalak matanya, heran mendengar Lo In
mengatakan dua kera itu ada teman baiknya lalu minta Lo In
cerita bagaimana ia bisa bersahabat dengan dua kera yang
pandai itu.
Lo In tidak berkeberatan. Sebelumnya ia perkenalkan dahulu
namanya Lo In, lalu menuturkan perjalanan hidupnya dari
anak jembel sampai mengerti surat dan ilmu silat atas
pimpinan Liok Sinshe. Ia turun ke dalam jurang mencari Liok
Sinshe yang jatuh dibokong musuh, bagaimana ia hidup dalam
lembah itu bersama-sama dengan si rajawali yang ia
sembuhkan dari lukanya, bagaimana ia taklukan kawanan
monyet lantaran menolong Siauw-hek.
Eng Lian yang hatinya sangat tertarik oleh penuturan Lo In
tidak memotong ceritanya Lo In. Ia sangat kagumi si bocah
yang luar biasa dan besar rejekinya sampai dapat makan buah
'Jit-goat-ko.'.
"Adik In," kata Eng Lian, setelah mendengar habis cerita Lo In.
"Kau ada satu bocah luar biasa. Bukan mustahil kau nanti jadi
terkenal dan orang menyebut kau 'sinlong', bocah sakti.
Hihihi......"
"Mudah-mudahan," sahut Lo In membanyol. "Dengan doa
restumu, kata-katamu tadi akan menjadi kenyataan."
Si dara cilik mesem manis.
Setelah menutur, Lo In coba gerakkan badannya. Ternyata
masih belum dapat bergerak sebagaimana mestinya. Ia sudah
pegal rebah saja maka ia minta si dara cilik bantu ia untuk
dapat duduk. Eng Lian tidak berkeberatan. Ia bantu sampai Lo
In dapat duduk betul.
"Terima kasih, enci Lian." kata Lo In.
"Terima kasih kembali." sahut si dara cilik jenaka.
Lo In makin girang hatinya ia memperoleh teman yang lebih
jenaka dari dirinya.
"Enci Lian." kata Lo In. "Aku sudah bercerita tentang
perjalanan hidupku. Sekarang giliranmu cerita bukan ?"
"Tentu, tentu, adikku manis." sahut Eng Lian melucu. "Aku
hidup bersama......."
"Hei, Eng Lian. Kau jangan banyak ngobrol. Bagaimana, kau
menyerah tidak ?" tiba-tiba terdengar kata-kata dari sebelah
luar kamar hingga ceritanya si dara cilik terhenti seketika.
Si Nenek Kembang Merah yang memotong kata-kata Eng Lian
tadi.
Mendongkol hatinya si dara cilik, kelihatan dari romannya yang
merengut, tangannya dikepal-kepal gergetan, lucu
kelihatannya sampai Lo In tak dapat menahan ketawanya
terbahak-bahak.
"Kau ketawai apa, bocah ?" bentak Eng Lian. Tangannya
diangkat mau menampar Lo In tapi tidak jadi ketika ia melihat
Lo In tempelkan satu jari dimulutnya seraya tangan kirinya
digoyang-goyang.
Heran Eng Lian melihat lagaknya Lo In, ia menanya,
"Memangnya ada apa sih ?"
"Tidak apa-apa." sahut Lo In. "Cuma aku lihat enci makin
marah jadi makin ber....... au !" Lo In berjengit karena
perkataannya belum putus, tangan si dara cilik yang mungil
nyelonong ke pipinya, tidak menampar hanya mencubit hingga
Lo In kesakitan.
"Rasakan, ya !" kata Eng Lian sambil cekikikan tertawa melihat
Lo in pegangi pipinya yang kesakitan.
"Hei, Eng Lian, kau dengar tidak ?" bentak suara Ang Hoa
Lobo.
"Janji tiga hari belum sampai, kenapa kau minta putusan
sekarang ?" sahut Eng Lian, suaranya lantang berani.
"Hehe.... jadi aku mesti tunggu ?" si nenek ketawa.
"Ya, tunggu saja. Sampai pada waktunya, aku beri putusan !"
kata Eng Lian.
Lantas terdengar suara kakinya si nenek berlalu.
Kiranya Siauw Cu Leng yang menggosok-gosok si nenek
supaya mendesak Eng Lian.
Ia mencuri dengar percakapan Eng Lian dan Lo In, lantas
usulkan pada si nenek kembang merah supaya lekas
mendesak Eng Lian berikan keputusannya. Ia menyatakan
kekuatirannya akan Lo In yang sudah siuman dari pingsannya,
nanti membikin susah mereka. Si nenek tidak kuatiri.
"Mengapa kamu harus takut dengan anak sambal itu ?" Ang
Hoa Lobo berkata pada Siauw Cu Leng. "Tenaga dalamnya
sudah musnah, berani dia main gila pada kita ?"
Ang Hoa Lobo percaya benar masa pukulan mautnya yang
sudah memusnahkan tenaga dalamnya Lo In. Ini memang
benar sebab Lo In rasakan tenaga raksasanya hilang lenyap
meskipun ia sudah coba berkali-kali untuk dikumpulkan.
Yang penting, pikir Ang Hoa Lobo adalah Eng Lian yang harus
didesak supaya memberitahukan rahasia pelajaran yang ia
perlukan.
Setelah Ang Hoa Lobo berlalu, Lo In menanya kepada Eng
Lian, "Enci janjikan apa sama dia ? Apa dia mau ?"
Eng Lian lantas cerita pada Lo In hal kedatangannya Ang Hoa
Lobo dan Siauw Cu Leng, sekalian menutur tentang dirinya
dalam rumah itu.
Si dara cilik ternyata ada dari keluarga Oey, menurut
keterangannya.
Ia hidup bersama ayah dan ibunya bertiga dalam desa Tengong
chung, sebelah barat kota Gukwan di bawah kaki gunung
Hengsan. Sampai umur 7 tahun Eng Lian ikut ibunya di Tengong-
chung, sering pindah dari satu dusun ke dusun lain di
pegunungan sebab ayahnya mempunyai hobi (kesukaan)
memelihara ular dan akhirnya mereka menetap di lembah itu
sudah 4 tahun lamanya.
Pada kira-kira hampir 2 tahun yang lalu, pernah keluarga Oey
kedatangan seorang tamu yang mengaku she Tan, entah
namanya siapa. Tapi menurut ibunya, tamu itu biasa dipanggil
Tan Sianseng. Tamu she Tan itu sangat baik pada ibunya,
sering mengajak omong sambil ketawa-ketawa, malah bukan
jarang mereka kedapatan suka kasak kusuk berduaan saja.
Tapi ayahnya sama sekali tidak menaruh cemburu, malah
kelihatannya seperti yang sangat menghormati pada tamu she
Tan itu. Terhadap Eng Lian, tamu itu juga sangat sayang dan
mencintai sebagai pada anaknya sendiri.
Dua minggu lamanya tamu itu menginap dalam rumahnya
tetapi kemudian menghilang, berbareng juga menghilang
ibunya Eng Lian. Si dara cilik tentu saja menangis ditinggalkan
ibunya, tapi sang ayah menghibur. Kata ayah, ibu pergi
dengan Tan Sianseng buat satu urusan penting dan tidak lama
pun akan kembali.
Tapi sampai sekarang sang ibu belum kelihatan mata
hidungnya muncul kembali. Sampai disini Eng Lian menutur, ia
menangis hingga Lo In yang merasa dirinya piatu menjadi
turut terharu dan turut mengalirkan air mata.
Sambil menyusut air matanya dengan tangan baju, Eng Lian
melanjutkan ceritanya. "Dua minggu yang lalu kita kedatangan
dua iblis yang sekarang ada disini. Katanya numpang
menginap untuk melakuka penyelidikan dalam lembah."
"Ayah tidak berkeberatan atas permintaan mereka, malah
suak antar-antar mereka menjelajah tempat yang asing bagi
mereka. Belakangan mereka lihat ayah banyak pelihara ular.
Mereka heran lalu si nenek jahat minta ayah mengajarinya
cara bagaimana dapat menjinaki atau menaluki ular. Ayah
ketawa, ia bilang kepandaiannya tak dapat diturunkan lain
orang kecuali pada anaknya yaitu aku."
"Jadi, enci Lian pandai menaluki ular ?" menyelak Lo In yang
sedari tadi mendengarkan saja penuturan si dara cilik.
Eng Lian manggut. "Mereka tidak apa-apa permintaannya
ditolak." menyambung Eng Lian dalam ceritanya. "Pada
keesokan harinya, mereka mengajak lagi ayah untuk
menjelajah pegunungan. Ayah tidka menolak sebab dia pun
ingin menyelidiki ular-ular yang ada ditempat-tempat lain. Eh,
tidak tahunya ketika mereka pulang, ayah ternyata tidak turut
pulang. Sampai sekarang ayah hilang. Entah dimana dia
adanya. Setelah ayah tidak ada, orang-orang jahat itu
mendesak aku supaya aku turunkan pelajaran menaluki ular
kepadanya."
"Apa enci tidak tanya pada mereka, kemana ayahmu pergi ?"
tanya Lo In disaat Eng Lian hentikan sebentar penuturannya
karena ia menangis ketika sampai pada bagian menutur
ayahnya tidak pulang.
"Aku sudah tanya mereka. Tapi mereka bilang ayah pergi
menyusul ibu dan tidak berapa hari juga akan pulang."
menyambung Eng Lian. "Tadinya aku tak keberatan
menurunkan kepandaianku menakluki ular tapi belakangan
aku segan. Aku mogok mengasih pelajaran pada mereka
karena si Nenek Kembang Merah itu sangat jahat. Telah
membunuh aku punya Tok-gan Siancu."
"Apa itu Tok-gan Siancu ?" menyela Lo In.
"Tok-gan Siancu adalah ular kesayanganku, bermata satu,
mempunyai empat sayap, besarnya sebesar betis orang
gemuk." menerangkan Eng Lian.
Tok-gan Siancu artinya Dewi Bermata Satu. Bagus juga Eng
Lian kasi nama ular kesayangannya yang dua meter
panjangnya.
"Kenapa Tok-gan Siancu dibunuh nenek jahat itu ?" tanya Lo
In.
"Kejadian itu pada suatu sore, di waktu dia ajak aku melihat
ular kesayanganku. Tiba-tiba Tok-gan Siancu beringas melihat
si nenek, kepalanya bangun dari melingkarnya kemudian
menyambar tangan si nenek yang sedang pegang jeruji
kerangkeng dari bambu, menggigit tanganya itu hingga dia
semalaman panas dingin tidak bisa tidur. Kalau dia tidak
ketolongan oleh obatku, dia pasti melayang jiwanya. Tapi dia
bukan terima kasih padaku, malah keesokan harinya, aku lihat
aku punya Tok-gan Siancu sudah menjadi bangkai dalam
kerangkengnya, dibunuh oleh si nenek jahat. Aku menangis
atas kematiannya itu.........'
Eng Lian bercerita sambil menangis, ingat dengan ular
kesayangannya yang sangat jinak dan menjadi teman
mainnya.
Lo In menghibur Eng Lian, tapi diam-diam hatinya merasa
gemas pada Ang Hoa Lobo yang sangat telengas itu. Pikirnya,
ada satu waktu kalau tenaganya sudah pulih kembali, ia ingin
memberi hajaran pada si nenek.
Eng Lian selagi susut air matanya, tiba-tiba mendengar
cetcowetan kunyuk di luar jendela. "Nah, itu teman-temanmu
datang." ia kata pada Lo In.
Lo In mengawasi ke jendela, ia lihat Pek-gan dan Pek-tauw
sedang menurunkan kirimannya melalui sela-sela jeruji. Lo In
perdengarkan suara cetcowetan juga hingga Eng Lian heran
dan merasa lucu. "Hihi, dia juga bisa bicara monyet......."
seraya menekap mulut Lo In, tapi cepat ia tarik pulang lagi
tangannya itu ketika melihat matanya Lo In melotot padanya.
Pikirnya, Lo In tentu sedang bicara serius dengan sang kera,
makanya perbuatannya tadi dipelototi. Memang, Lo In sedang
beri teguran Pek-gan dan Pek-tauw, kenapa dua kera itu tidak
berusaha untuk menolong ia dalam kesusahan. Ia tegaskan si
nenek dan si kakek bukan orang baik-baik, harus mereka
waspada nanti dijebak oleh mereka.
Seperti yang menerima salah, kedua kera itu membungkam
mulutnya pada saat Lo In sedang cetcowetan mengomeli pada
mereka.
Tidak lama, setelah Lo In tutup mulutnya berhenti bicara, Pekgan
dan Pek-tauw cetcowetan sebentar, manggut-manggut,
lalu meninggalkan tempat itu.
Setelah melihat Lo In mukanya tenang lagi, baharulah Eng
Lian berani menanya, "Adik In, kau omong apa dengan dua
temanmuitu ?"
"Aku marah-marah, mereka sangat goblok, tidak berusaha
mencari daya untuk menolong aku ! Rupanya mereka
ketakutan dan lari pergi." menerangkan Lo In.
"Pandai benar kau bercakap-cakap dalam bahasa monyet,
adik In." memuji Eng Lian, mesem manis. "Kau lagi marahmarah,
pantesan aku dipelototi. Coba sekarang matamu
melototi aku, kalau aku tidak gasak mukamu, jangan panggil
aku si Lian !"
Dengan serentak Lo In tertawa terbahak-bahak mendengar
kata-kata Eng Lian, apalagi melihat si dara cilik ketika
mengucapkan kata-kata paling belakang, sembari gulung
tangan bajunya dan keluarkan kepalan tangannya yang bulat
kecil mungil, diunjukan pada Lo In.
Sepasang anak jenaka itu kelihatan cocok satu dengan lain,
seolah-olah tidak menghiraukan kekejamannya si Nenek
Kembang Merah dan si Iblis Alis Buntung.
Ketika menjelang malam, dua orang jahat itu berunding.
"Cici, lebih baik kita mampusi saja si setan kecil itu !" usul
Siauw Cu Leng pada 'darlingnya', masih saja ketakutan dia
terhadap Lo In.
"Kau jangan aduk-aduk rencanaku, Cu Leng." sahut Ang
Hoa Lobo.
Siauw Cu Leng tidak setuju dengan rencanaya si Nenek
Kembang Merah karena ia tahu kepandaiannya Kwee Cu Gie
yang hebat. Nanti bukan Kwee Cu Gie yang berlutut tapi si
nenek yang semaput berlutut di hadapan pendekar tersohor
itu, pikir Siauw Cu Leng. Tapi ia tak mau menyatakan
pikirannya itu pada Ang Hoa Lobo, kuatir si nenek marahmarah
membuat hatinya tidak enak. Sebab si nenek kalau
marah-marah bukan mulutnya saja yang nyap-nyap tapi
tangannya suka nampar.
Mereka terus kasak kuduk berunding, sementara sang malam
sudah mulai sangat sunyi. "Tolong kau tuangkan air dicangkir
untuk aku minum." memerintah si nenek pada kekasihnya.
Siauw Cu Leng menurut, ia tuang air dari teko sebanyak 2
cangkir sebab yang satu lagi cangkir untuknya.
Kemudian ia serahkan satu cangkir pada Ang Hoa Lobo. Ia ini
menyambuti, lalu tempelkan ke mulut untuk dihirup isinya.
Belum menghirup habis, tiba-tiba cangkir itu melesat ke
jendela, dilontarkan oleh Ang Hoa Lobo sambil membentak,
"Bangsat ! Kau berani mengintai ?"
Menyusul suara cetcowetan di luar jendela. Kiranya si kepala
putih yang cetcowetan itu. Ia kesakitan kupingnya yang kiri
kena keserempet pinggiran cangkir yang dilontarkan Ang Hoa
Lobo.
"Ah, itu kan hanya si kunyuk kecil, cici." kata Siauw Cu Leng
mentertawakan Ang Hoa Lobo yang mengira didatangi musuh
berat.
"TIdak perduli, lekas kejar dan bunuh dia !" perintah Ang Hoa
Lobo bengis.
Siauw Cu Leng tak dapat membangkang perintah ratunya,
meskipun dalam hati ia uring-uringan, terpaksa ia keluar untuk
mengejar si kera.
Tapi baru saja ia muncul di pintu tiba-tiba tangannya ada yang
menyambar. Ia berkelit, selamatkan tangannya dari sambaran
tadi. Kiranya yang menyambar tangannya itu adalah Ji-hek
yang berdiri di depannya, sudah bersiap-siap untuk
menyambar lagi tangan Siauw Cu Leng.
Si Iblis Alis Buntung marah bukan main, ia kerahkan
tenaganya untuk melancarkan pukulan maut pada Ji-hek. Tapi
sebelum tangan jahatnya bergerak, diserang dari belakang
oleh Siauw-hek yang sekarang sudah besar. Siauw Cu Leng
cepat mengegos, kasih lewat serangan membokong itu.
Kemudian ia maju menerjang pada Ji-hek, lagi-lagi
serangannya kecandak karena saat itu lompat dua monyet
kecil berbareng ke arahnya hendak memeluk lehernya.
Kepaksa ia harus mengelak lagi dari serangan dua monyet
tadi, hingga mereka ini tubruk angin. Lain-lain kawanan
monyet datang mengurung hingga dari berani si Iblis Alis
Buntung menjadi jeri melihat datangnya tentara monyet. Entah
dari mana datangnya sebab tahu-tahu sekarang ia
berhadapan ratusan monyet kecil dan besar, dibantu oleh Jihek
dan Siauw-hek.
Dimana adanya Toa-hek ? Si Iblis bertanya-tanya dalam
hatinya yang jeri.
Ia lalu berteriak-teriak minta bantuan Ang Hoa Lobo yang
segera muncul dengan toya besinya yang berat. Ia melihat
Siauw cu Leng tengah dikerubuti kawanan kera, bukan main
marahnya.
Ia putar toya besinya, maksudnya hendak menyerbu
melepaskan 'darlingnya' dari kepungan tentara kera. Tetapi
sebelum ia dapat bergerak, dari atas genteng rumah
melayang satu tubuh. Itulah Toa-hek yang sudah lama
menanti munculnya si nenek.
Lengannya dirasakan sangat sakit kena dicekal Toa-hek
hingga toya besinya jatuh sendiri. Tapi Ang Hoa Lobo
bukannya si nenek kejam kalau hanya segebrakan saja dapat
dikuasai Toa-hek. Seketika itu ia mengerahkan lwekangnya,
mendorong cekalannya Toa-hek pada lengannya. Sekali
berontak ia sudah lolos dari cekalan Toa-hek. Cepat ia pungut
toyanya lalu menyerang pada si orang utan yang
perdengarkan suara her ! her ! yang menakutkan.
Ang Hoa Lobo tidak gentar dengan roman Toa-hek yang
sedang gusar.
Toyanya digeraki untuk menyodok perut Toa-hek. Tapi
sodokannya lupu karena dengan manis si orang utan dapat
menyelamatkan diri dengan berkelit lompat ke samping kiri si
nenek akan dari mana lengan kanannya yang berbulu dipakai
membentur toya Ang Hoa Lobo terus ditekan ke bawah. Inilah
gerakan 'Kim ke tan tian ci' atau 'Ayam Emas geraki satu
sayap' yang Lo In ajarkan kepada Toa-hek dalam latihannya.
Ternyata si gorila cerdik juga dan dapat mengingat diorakanya
tipu silat istimewa itu. Cuma sayang ia kalah cerdas dengan
Ang Hoa Lobo. Bukan toya si nenek dapat ia rebut, sebaliknya
dadanya hampir ditembusi senjatanya Ang Hoa Lobo, kalau ia
tidak cepat memutar tubuh untuk menyelamatkan diri dari
sodokan maut itu.
Ang Hoa Lobo gunakan tipu 'Hek liong lam cu' atau 'Naga
hitam mencari mutiara' untuk memusnahkan tipu Toa-hek
'Ayam emas menggerakkan satu sayapnya'. Ketika toyanya
ditekan ke bawah, ia tidak lantas tarik pulang, sebaliknya ia
kerahkan tenaga dalamnya disalurkan ke toya yang membuat
toya jadi sangat berat. Dalam heran, melihat toya tak dapat
ditekan, Toa-hek terkejut waktu sekonyong-konyong si nenek
ditarik pulang, kemudian dengan kecepatan kilat disodorkan
ke arah dadanya. Untung ia dapat memutar tubuhnya untuk
berkelit. Kalau tidak, celaka dia kepanggang toyanya si nenek.
"Hehe, pintar juga kau." tertawa si nenek, sedang hatinya
diam-diam merasa gegetun, kenapa gorila ini bisa ilmu silat. Ia
lantas menduga akan Lo In yang ajarkan tentu. Segera ia
sudah mulai menyerang pula pada Toa-hek yang ketika itu
sudah memperbaiki posisinya.
Manusia kontra binatang itu jadi bertempur seru. Selainnya
memang latihan dan kecerdasan. Ang Hoa Lobo pun ada
pakai senjata toya untuk mendesak lawannya yang bertangan
kosong. Maka sudah tentu saja Toa-hek tak dapat
mempertahankan perlawanannya. Belum 10 jurus, ia sudah
patah perlawanannya. Toya si nenek sudah melanggar bahu
kanannya, lantaran kurang cepat ia mengegosi serangan
lawan. Untung sebelum si nenek menghajar lebih telak
padanya, beberapa kunyuk yang melihat si gorila dalam
bahaya sudah lantas turun tangan mengerubuti sehingga Ang
Hoa Lobo menjadi sangat repot.
Si nenek putar toyanya yang menerbitkan angin menderuderu.
Kawanan monyet itu melihat gelagat juga. Sementara Ang
Hoa Lobo tengah memutar toyanya, mereka tidak berani
datang menerjang, hanya menonton saja dari kejauhan.
Menggunakan kesempatan itu, Ang Hoa Lobo sudah enjot
tubuhnya, menyela ke arah Siauw Cu Leng yang sedang
dikerubuti. Di sini Ang Hoa Lobo memutarkan pula toyanya
untuk membubarkan kepungan atas kekasihnya sehingga
kawanan monyet itu pada mundur melihat datangnya bahaya.
Hanya Ji-hek dan Siauw-hek yang masih menempur Siauw Cu
Leng yang sudah kehabisan 'bensin' kelihatannya. Napasnya
tampak ngos-ngosan, keringat mengucur membuat
pakaiannya basah kuyup. Ia merasa girang atas kedatangan
Ang Hoa Lobo, dapat ia bernapas sedikit legaan, apalagi ia
melihat Siauw-hek kena kehantam toyanya si nenek,
menambahkan kegirangannya. Ia tinggalkan Ji-hek dan lompat
mengubar Siauw-hek yang berkaok-kaok kesakitan, melarikan
diri.
Lebih baik barangkali kalau siauw Cu Leng tidak mengejar
Siauw-hek sebab justru ia mengejar, ia telah mengalami
kesulitan, hampir jiwanya melayang. Di saat ia sudah hampir
menyandak si anak gorila, tahu-tahu dari atas pohon
kedengaran suara 'bleber', itulah si rajawali yang pentang
sayapnya menyambar pada Siauw Cu Leng.
Bukan main kagetnya si Iblis Alis Buntung. Musuh alotnya
sudah muncul sedang tenaganya sudah hampir habis. Apa
daya ? Ia jadi menghela napas lalu memeramkan matanya
untuk terima nasib dicengkeram si rajawali yang kukunya
runcing-runcing. Tengah ia berdiri sambil memeramkan
matanya, tiba-tiba ia merasa dirinya disambar orang dan
dibawa lari, dipanggul di atas pundak. Itulah Ang Hoa Lobo
yang menolong kekasihnya dalam bahaya maut. Sambil
memutar toyanya untuk melindungi diri, ia geraki kakinya
sekuatnya untuk menyingkir dari sambaran-sambaran si
rajawali yang amat ganas kelihatannya.
Suara menderu-deru dan angin keras dari putaran toyanya si
nenek membuat si rajawali tidak berani gegabah
mendekatinya. Ia hanya menyambar-nyambar saja sambil
keluarkan pekikan menyeramkan.
Ang Hoa Lobo lama-lama merasa jeri untuk meladeni si
burung raksasa yang makin lama makin beringas
menerkamnya. Ia sembari lari dan memutar toya, matanya
celigukan untuk mencari tempat perlindungan. Di sana, di
sebelah depannya kira-kira sepuluh tombak, ia melihat ada
rimba yang lebar dengan pohon-pohon, maka ia lari kesitu.
Benar saja, ia dengan kekasihnya dapat menyelamatkan diri
sebab untuk masuk mengejar ke dalam rimba itu, tak dapat
dilakukan oleh si burung raksasa karena sukar ia mementang
sayap, dirintangi oleh banyak cabang-cabang pohon.
Si rajawali ketika melihat dua musuhnya dapat melenyapkan
diri ke dalam rimba, ia melampiaskan marahnya dengan
mengeluarkan pekikan-pekikan melengking seram.
Siauw-hek sementara itu sudah balik pula berkumpul dengan
ibu dan ayahnya, bersam-sama sekalian kawan-kawan
monyetnya.
Atas penunjukan Pek-gan dan Pek-tauw, Toa-hek sudah
hampiri kamar belakang dimana Lo In dan Eng Lian ditahan.
Dengan sekali pukul saja, pintu kamar sudah terpentang lebar.
Toa-hek masuk ke dalam mencari Lo In.
Eng Lian menjerit melihat datangnya si gorila, tanpa disadari ia
sudah menubruk dan memeluki Lo In, ketakutan setengah
mati. Badannya bergemetaran dalam pelukan Lo In hingga Lo
In tidak tahan untuk tidak mentertawakan kelakuan sang
kawan yang jenaka itu.
Lo In usap-usap rambut kepala si dara cilik yang hitam jengat
dan halus, yang saat itu tengah umpatkan mukanya di dada Lo
In, seram melihat kedatangan Toa-hek.
"Enci Lin, kau jangan takut. Mereka adalah kawan-kawan
kita........" kata Lo In, suaranya halus sambil tangannya
memegang dagu si dara supaya Eng Lian melihat pula pada si
gorila.
Eng Lian mendengar kata-kata Lo In memberanikan diri untuk
memandang kepada si orang utan. Kali ini ia melihat, bukan
atu tapi ada tiga orang utan yang sedang berlutut di hadapan
Lo In.
Terbelalak matanya Eng Lian, hatinya berdebar-debar.
"Enci Lian, mereka adalah Toa-hek sekeluarga." Lo In
memperkenalkan pada Eng Lian.
Meskipun Lo In dalam penuturannya, ada menceritakan juga
tentang tiga gorila ini, Eng Lian tidak dapat lepas dari
perasaan takutnya karena sikapnya ketiga gorila itu benarbenar
menyeramkan.
"A......... aku takut In." sahut si dara cilik.
"Kau jangan takut, nanti aku kenalkan." berbareng Lo In
mulutnya cetcowetan bicara kepada Toa-hek sekeluarga.
Betul-betul membuat Eng Lian heran sebab setelah Lo In
bicara, ketiganya lalu bangkit dan mendekati si dara cilik untuk
mengusap-usap lengan dan pipinya. Karena saking takutnya,
Eng Lian lebih kencang memeluk Lo In, pipinya yang kanan
merapat di dadanya Lo In, hanya sepasang matanya saja yang
bundar jeli bundar, kedap kedip memandang pada tiga kawan
Lo In. Ia rasakan bulu-bulu Ji-hek dan tangannya yang kasar
mengusap-usap pipinya.
Ia beranikan hati untuk menerima 'tanda persahabatan' itu
malah makin lama usapan-usapan Ji-hek itu dirasakan makin
meresap dalam hatinya, tanda kasih sayangnya seorang ibu.
Maka pelan-pelan perasaan takutnya telah terusir pergi jauh.
Eng Lian jadi tabah. Dasar anah jenaka dan berani, seketika
itu juga berubah sikapnya. Ia balas mengusap-usap tangan Jihek
seraya menjabat tangan Siauw-hel dan Toa-hek hingga
ketiga kera itu berjingkrak kegirangan.
Eng Lian kaget mereka berjingkrakan, dikira hendak
menerkam dirinya. Tapi setelah Lo In memberi keterangan
bahwa mereka itu kegirangan, si dara berubah sikap,
membuat Eng Lian bersenyum manis dan angguk-anggukkan
kepalanya.
Toa-hek sekeluarga sebenarnya merasa heran wajah Lo In
berubah hitam tapi mereka kenali suaranya.
Lo In yang belum bisa jalan dipondong oleh Toa-hek, dibawa
keluar dimana sudah ada ratusan kera yang menyambut,
ramai cetcowetan yang dapat memekakkan telinga. Sangat
kegirangan rupanya mereka dapatka 'rajanya' selamat.
Malah si kera Mata Putih dan si Kepala Putih sudah datang
mendekat Lo In untuk minta dielus-elus kepanya, rupanya
mereka menagih jasanya yang sudah mengabarkan pada
kawan-kawannya tentang Lo In terancam bahaya. Memang
merekalah yang disuruh Lo In untuk mengabarkan dan
mengatur penyerbuan dari tentara kera ke situ untuk
membebaskan ia dan Eng Lian dari cengkeraman orang-orang
jahat.
Eng Lian kagum pada Lo In yang sudah dapat mengerahkan
tentara keranya untuk mengusir Ang Hoa Lobo dan Siauw Cu
Leng, dua manusia iblis kejam.
Tiba-tiba terdengar pekikan si rajawali, sebentar saja burung
raksasa itu sudah terbang mendatangi. Ia mendekam di depan
Lo In yang sedang dalam pondongan Toa-hek, kepalanya
manggut tiga kali. Lo In bersenyum, "Tiauw-heng, terima kasih
kau sudah bantu mengusir orang-orang jahat itu, Bagaimana,
kau baik-baik saja berpisah denganku beberapa hari ini ?"
demikian Lo In berkata-kata kepada burung kesayangannya.
Eng Lian yang mendengar kata-kata Lo In, hatinya ketawa
geli. Pikirnya, masa bicara sama seekor burung seperti juga
bicara dengan manusia, mana burung itu mengerti maksud
omongannya ? Tapi alangkah ia tercengang ketika melihat si
rajawali mengangguk-anggukkan kepalanya dengan manja
kelihatannya, ia gosok-gosokkan tubuhnya pada kepalanya.
Lucuk lagak-lagaknya si burung raksasa hingga Eng Lian jadi
ketawa, kali ini bukan dalam hatinya saja yang cekikian. Ia
mendekati Lo In mencekal lengannya, lalu berkata, "Adik In,
kau benar-benar hebat." jempolnya yang mungil pun
berbareng diunjukkan hingga Lo In tertawa bangga.
Lo In perlu merawat diri untuk memulihkan tenaga dalamnya,
maka ia perintah tentara keranya termasuk si rajawali supaya
berjaga-jaga di sekitar rumah itu, jangan kasih orang asing
datang mengganggu.
Dalam rumah Eng Lian, Lo In dirawat si dara cilik dengan
penuh perhatian hingga si bocah merasa sangat berterima
kasih pada kawan barunya itu.
Lewat dua hari, Lo In tampak sudah dapat belajar jalan
dipimpin oleh Eng Loan. Pada waktu mereka ngomongngomong
di serambi belakang rumah, tiba-tiba Eng Lian
seperti mengingati sesuatu. Seketika ia bangkit dari duduknya.
Lo In cepat pegang tangan si dara cilik menanya, "Ada apa
Enci Lian ?"
"Tunggu !" sahut Eng Lian sambil lepaskan tangannya dari
cekalan Lo In. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan
cepat.
Tidak lama kemudian, ia muncul lagi dengan satu gelas
ditangannya.
Ia mendekati Lo In dan berkata, "Adik In, aku mempunyai obat
manjur untuk mengembalikan lwekangmu cuma aku takut kau
tidak berani makan."
Lo In ketawa, "Enci Lian, aku sangat berterima kasih
kepadamu." sahut Lo In. "Jangan kata obat, racun juga kalau
kau suruh aku makan, aku tidak akan menolak pemberianmu."
Si dara cilik cekikikan ketawa mendengar kata-kata Lo In.
"Anak tolol" katanya setelah ia habis ketawa. "Orang mau
kasih obat kenapa jadi racun dibawa-bawa ? Memangnya aku
si Nenek Kembang Merah ? Hihihi......."
Lo In pun turut ketawa. "Mana obat itu ?" ia kemudian
menanya.
"Ini dia obat manjur yang tidak ada duanya." sahut Eng Lian
seraya angsurkan gelas yang ada ditangannya tadi.
Lo In menyambuti. Ia periksa isi gelas, ia dapatkan satu benda
bundar sebesar telu ayam, warnanya meah tua direndam
dengan arak putih. Tampaknya benda itu lunak sekali seakanakan
telur ayam barusan dipecahkan.
"Barang apa ini ?" tanya Lo In keheranan.
"Kau makan dahulu, nanti baru aku ceritakan," sahut Eng Lian.
Lo In dekati gelas pada hidungnya, ia terkejut, dari dalam
gelas menyambar bau harum yang enak sekali.
"Kau takut makan ?" tanya si dara cilik, mukanya kelihatan
cemas.
Lo In adalah seorang laki-laki, tidak mungkin ia menarik
pulang apa yang sudah ia kaakan tadi pada Eng Lian,
meskipun itu hanya bersifat main-main.
Maka setelah ia nyengir sebentaran, ia lantas angkat gelas itu
dan isinya sekali teguk saja lenyap lewat tenggorokannya.
"Adik In, oh...kau...." Eng Lian menubruk, memeluk Lo In
kegirangan, hampir ia menciumi pipi orang.
Lo In gelagapan dipeluki Eng Lian dengan tiba-tiba, gelas
yang dipegangnya itu hampir jatuh di lantai.
"Kau kenapa, enci Lian ?" si bocah menanya.
Sambil tangannya masih memegang kedua pundaknya Lo In,
si dara cilik menatap parasnya si bodah, mukanya
menyungging senyuman. Ia berkata, " Adik In, rejekimu besar
senyuman. Kau akan sembuh, sembuh......segera !"
"Enci Lian, bagaimana kau tahu aku bakalan sembuh segera
?" tanya Lo In.
"Adik In, itu yang kau makan adalah lwetam dari Tok-gan
Siancu, ular kesayanganku yang aku ambil setelah mati."
menerangkan Eng Lian sambil duduk pula di tempat duduknya
tadi.
"Hanya lwetam ular, apalah artinya ?" kata Lo In tertawa.
Lwetam artinya nyali, jadi Lo In sudah telan nyali ular.
"Kau tidak tahu khasiatnya." kata Eng Lian lagi. "Menurut kata
ayahku,
Tok-gan Siancu mempunyai lwetam yang tak ternilai. Cuma
saja nyali itu tak dapat dimiliki begitu saja, misalnya dengan
sengaja kita bunuh mati Tok-gan Siancu, lantas diambil
nyalinya. Ini tidak akan ada khasiatnya.
"Jadi, bagaimana semestinya ?" Lo In memotong tidak
sabaran.
"Adik In, kau dengar dulu aku cerita. Jangan kau potong." kata
Eng Lian.
Lo In nyengir. Kemudian Eng Lian meneruskan ceritanya,
"Tok-gan Siancu harus marah dahulu dan lalu menggigit
orang. Dengan begitu bisanya sudah buyar. Bisa itu terpusat
pada nyalinya. Tok-gan Siancu sudah marah dan menggigit si
jahat Nenek Kembang Merah, maka nyalinya sudah bersih
dari racun. Justru ia kena dibunuh Ang Hoa Lobo, aku jadi
ingat akan kata-kata ayahku. Maka aku cepat membelah
perutnya, ambil nyalinya yang berharga itu sebelum aku kubur
bangkainya. Nyali itu aku rendam dalam obat yang dapat
mengawetkan. Pikirku akan aku berikan pada ayah apabila ia
sudah pulang mencari ibu."
"Habis, sekarang kau kasih nyali itu aku makan, ayahmu tidak
kebagian, bagaimana kau nanti dapat
mempertanggungjawabkan pada ayahmu ?" kata Lo In.
Si dara cilik bersenyum. Ia berkata lagi, "Taruh kata ayahku
pulang, dia juga belum tentu berani memakannya. Karena
nyali yang kau makan itu baru dapat sebagai obat dan
menimbulkan khasiatnya kalau ia dimakan oleh orang yang
lwekangnya tinggi sedang terluka parah. Khasiatnya untuk
mengembalikan tenaganya yang lenyap dan
menambahkannya berlipat ganda. Ini, entah benar atau tidak,
aku sendiri belum pernah mengalami. Tapi lihatlah nanti
reaksinya bagaimana setalah kau makan nyalinya Tok-gan
Siancu."
Lo In anggukkan kepala. Sementara itu ia rasakan badannya
tiba-tiba panas. Ia minta si dara cilik untuk memimpinnya
masuk. Ia ingin rebah diatas pembaringan.
Eng Lian cepat memenuhi permintaannya. Belum lama Lo In
rebah, tiba-tiba Eng Lian dibikin kaget oleh suara merintih Lo
In.
"Kau kenapa, adik In ?" Eng Lian menanya.
"Panas, oh, panas aku rasakan sekujur badanku.........." Lo In
berteriak.
Eng Lian tidak tahu apa yang harus diperbuatnya ketika
melihat Lo In sangat gelisah diatas bale-balenya, tak tahan
merasakan menyerangnya hawa panas.
Ia mau menghampiri, menjadi takut. Karena Lo In seperti yang
sedang mengamuk. Ia takut kena jotosan kepalannya Lo In.
Betul-betul bingung Eng Lian. Cuma mulutnya saja yang ramai
menanyakan Lo In kenapa bisa jadi begitu. Tapi, ia tak dapat
jawaban dari si bocah. Tiba-tiba ia ingat bahwa Lo In jadi
begitu setelah makan nyalinya ular. Apakah itu yang menjadi
gara-garanya ? Ia jadi takut sebab Lo In makan lwetam itu atas
anjurannya. Ia bukannya meracuni, memang dengan sungguhsungguh
ia hendak menolong Lo In tapi kenyataannya
sekarang jadi begini. Bagaimana ?
Lima menit kira-kira Lo In bergelisahan. Tiba-tiba tubuhnya
diam, tenang dan ia bisa tidur nyenyak. Entah kenapa bisa jadi
begitu. Eng Lian segera mendekat Lo In lalu mencekal
tangannya. Ia periksa sekujur badannya si bocah mandi
keringat. Cepat ia ambil kain-kain tebal untuk menyekanya.
Tak dapat Lo In dibanguni meskipun digoyang-goyang keras
tubuhnya. Ia tidur sampai keesokan harinya baru mendusin
membuat Eng Lian menangis ketakutan kalau-kalau si bocah
mati.
Sekarang melihat Lo In membuka matanya, Eng Lian ketawa,
berhenti menangisnya. Sambil susut airmatanya, ia menanya,
"Adik In, apa kau sudah baik ?"
"Eh, kenapa kau tanya begitu ? Dan kenapa kau menangis,
enci Lian ?" balik menanya Lo In yang menjadi keheranan
nampak si dara cilik menangis.
"Adik In, kau tidak tahu, aku ketakutan kau mati !" sahut si
gadis cilik.
Lalu Eng Lian tuturkan bagaimana Lo In dalam
kegelisahannya mengamuk diatas bale-bale karena
kepanasan, bagaimana si bocah terus tidur nyenyak sampai
sekarang baru mendusin. Hal mana membikin Lo In kaget,
lantas ia mencelat bangun. Begitu enteng ia mencelat, ketika
ia tancapkan kakinya di lantai tidak perdengarkan suara apaapa
seperti juga jatuhnya selembar daun.
Eng Lian terbelalak matanya, heran melihat Lo In dengan
mendadak saja bisa gerak, badannya lompat mencelat dari
tempat tidurnya yang sebenarnya untuk bangun saja ia harus
mendapat pertolongan si dara cilik.
Belum sempat ia menanya, tiba-tiba ia rasakan pinggangnya
dicekal Lo In dan tubuhnya diapungkan, hampir saja
kepalanya menyundul atap rumah kalau tidak cepat-cepat Lo
In menyusul lompat dan tarik pulang si dara cilik dan dilain
saat, Eng Lian jatuh dalam pelukan Lo In.
"Enci Lian, kau adalah penolongku......." bisik Lo In seraya
mencium pipinya si dara cilik hingga Eng Lian merasa panas
mukanya. Tapi ia tidak mau berontak sebab dalam pelukan Lo
In, ia merasa lebih aman.
Tapi kemudian ia berontak juga sambil mencubit pipi si bocah,
ia berkata :
"Anak nakal. Kenapa kau bikin encimu kaget setengah mati
barusan ?"
"Ah, enci Lian, maafkan aku." sahut Lo In seraya melepaskan
pelukannya. "Saking kegirangan aku, sampai lupa yang
diapungkan itu ada enciku yang baik hati. Hahaha......"
Mulutnya si nona menjebir, lucu tapi ia tidak mengatakan
penyesalan apa-apa sebag memang juga hatinya turut girang
dengan kembalinya lagi tenaga Lo In berkat pertolongan dari
nyali ular kesayangannya, Tok-gan Siancu.
Memang luar biasa khasiatnya nyali ular itu. Sebab Lo In
merasakan bukan saja tenaga lamanya pulih kembali tapi juga
seperti bertambah, badannya dirasakan jauh lebih enteng dari
pada sebelumnya.
Selama Lo In dalam kegirangan, Eng Lian sering menatap
wajahnya Lo In lama, hingga Lo In curiga. Ia menanya, "Ada
apa yang heran diwajahku, enci Lian ?"
"Itu, eh, itu.... tanda yang tidak bisa hilang." sahutnya.
"Tanda apa, enci Lian ?" Lo In kata heran sebab sejak dahulu
ia tidak punya tanda apa-apa diwajahnya yang cakap.
"Itu tanda hitam diwajamu, adik In." sahut Eng Lian. "Kukira
tadinya dengan makan nyali ular kesayanganku itu, sekaligus
akan mengunjuk khasiatnya, menghilangkan tanda hitam pada
wajahmu. Tapi kenyataannya....... masih saja ada."
Sebelum Lo In membuka mulut menanya, Eng Liang sudah
menuturkan bagaimana si Nenek Kembang Merah sudah
membikin wajah Lo In menjadi hitam legam.
Lo In terkejut, ia usap-usap keras pipinya yang hitam lalu
pandang jari-jari tangannya yang dipakai mengusap-usap tadi.
Ia tak dapat lihat ada tanda-tanda hitam. Jadi tanda hitam itu
tak dapat dihapus.
Ia pinjam kaca dari Eng Lian dan mengacai wajahnya. Benar
saja mukanya hitam legam. Bukan main marahnya si bocah.
"Kurang ajar itu nenek dekat mampus. Akan kau rasakan
pembalasanku nanti........."
"Ah, kau jangan marah, adik In." memotong Eng Lian. "Kita
belum tahu betul dia jahat, membunuh orang misalnya, maka
tak perlu kita balas membalas. Asal kita ketemu dia, dengan
rela dia memberi obat pemusnahnya, kita bikin habis saja
urusan. Dengan begitu tidak saling balsa membalas lagi.
-- 9 --
Lo In adatnya halus. Ia suak mengampuni siapa juga. Kalau
barusan ia mengucapkan kata-kata mau membalas, itu
didorong oleh hawa amarahnya yang muncul seketika. Maka
waktu Eng Lian menasehatkan dengan kata-kata yang lemah
lembut dan masuk dalam sanubarinya, ia angguk-anggukan
kepalanya dan menyatakan penyesalannya.
Dua anak itu suka membanyol, jenaka tapi pribadinya luhur.
Cocok mereka itu menjadi teman yang akrab, di lembah yang
jauh dari pergaulan manusia.
Sampai disini kita tinggalkan Lo In dan Eng Lian. Mari kita lihat
perjalanan Kim-wan Thauto. Setelah ia meninggalkan Kim
Popo begitu saja dibawah terik panasnya matahari, selagi ia
jalan tiba-tiba ia mendengar ada derap kaki kuda mendatangi
dari belakangnya.
Ketika ia menoleh, kiranya ada tiga penunggang kuda yang
mendatangi ke arahnya. Entah siapa gerangan mereka itu.
Mereka melarikan kudanya cukup kencang ketikan melewati
ia. Ia dapat melihat wajahnya mereka itu. Yang satu, yang
paling tua diantara mereka, usianya dikira 45 tahun, yang
kedua 40 tahun dan yang muda ditaksir kurang lebih 20 tahun.
yang pertama mukanya terang, tak berkumis, yang kedua
mukanya hitam, piara kumis berewokan, yang muda parasnya
cakap.
Si berewokan pada waktu lewati Kim-wan Thauto bepaling
pada si thauto, matanya melotot mengawasi. Si thauto tidak
senang dipelototi tanpa sebab, tapi sebelum ia menegur,
orang yang berusia paling tua tadi kedengaran berkata pada si
berewokan, "Samte, kau jangan cari urusan sebelum kita
ketemu toako......"
Kim wan Thauto lantas tidak dengar lagi apa yang mereka
bicarakan kemudian karena kudanya dipecut lari makin
kencang.
Dengan menggunakan ilmu entengi tubuhnya, Kim Wan
Thauto menyusul mereka.
Sayang tak dapat menyusul karena mereka sudah jauh
jaraknya, apalagi ketika sampai di satu tikungan, Kim Wan
Thauto kehilangan jejak mereka.
Kim Wan Thauto teruskan perjalanannya sambil menebaknebak
dalam hatinya, siapakah mereka itu dan apa sebabnya
tiba-tiba si berewokan pelototinya.
Sebentar kemudian ia sampai di desa Kunhiang, satu desa
yang besar juga dan ramah penduduknya. Diantaranya banyak
orang-orang hartawan yang tinggal menetap disitu, pada
membuka perusahaan.
Kim Wan Thauto masuk ke sebuah rumah makan 'An Goan',
dimana kedapatan banyak tamu dari dalam dan luar desa
Kunhiang. Ia terus masuk mengambil tempat disuatu pojokan
lalu pesan makanan pada pelayan yang menghampirinya.
Sementara ia menunggu makanan disiapkan, ia memandang
ke sekitarnya. Ia lihat ada satu tamu yang menghadapi meja
besar sendiri saja, sedang meja besar demikian biasanya
untuk para tamu dalam rombongan besar.
Ia heran melihat tamu itu yang barusan ia lewati ketika
memasuki rumah makan.
Tamu itu mukanya persegi, jenggotnya macam jenggot
kambing. Alisnya yang kanan hilang, rupanya bekas golok
mampir pada bagian dekat alisnya itu, juga matanya meram.
Tegasnya mata kanannya picak. Entah ia sedang menunggu
siapa sebab sikapnya seperti ada yang ditunggu, tiap sebentar
matanya mengawasi ke jurusan pintu masuk.
Sebentar kemudian, sewaktu Kim Wan Thauto mulai dengan
hidangannya, ia mendengar suara ramai orang bercakap di
sebelah luar, pintu pun lantas terbuka, masuklah orang-orang
yang ramai bercakap-cakap tadi. Mereka disambut oleh orang
yang duduk sendirian tadi dengan kata-kata, "Wah, kenapa
kalian datang lama benar ?"
"Maaf toako, barusan kita diajak Kongcu untuk menemukan
ayah Kongcu dahulu sehingga kita terlibat dalam arena
percakapan, itulah yang bikin kita terlambat." kata seorang
diantaranya yang berusaha masuk.
Kim Wan Thauto terkejut sebab mereka itu tiada lain adalah
tiga orang penunggang kuda yang ditemukannya di jalanan
tadi.
Anak muda yang bersama-sama menunggang kuda ternyata
adalah anaknya Tan Wangwee, seorang hartawan yang cukup
terkenal. Mereka bertiga memanggilnya Kongcu.
Tan Kongcu supaya dikenal baik oleh pemilik rumah makan
termasuk pelayannya karena ia dengan kawan-kawannya
mendapat pelayangan yang istimewa kelihatannya. Dari
percakapan mereka, Kim Wan Thauto dapat mencuri dengar.
Hatinya jadi terkejut juga sebab tiga orang itu tiada lain adalah
Sucoan Sam-sat atau tiga algojo dari Sucoan yang terkenal
kekejamannya di wilayah Sucoan.
Tiga algojo itu mempunyai julukan masing-masing yang
menyeramkan. Si toako bernama Puy Teng alias Giam-ong
(Raja akherat), si jiko yaitu si muka terang namanya Teng
Cong, julukannya Mo-jiauw atau si Cakar Setan, yang bontot si
berewok yang melototi Kim Wan Thauto menamakan dirinya
Sin-mo Lie Kui, si Iblis Sakti.
Gelarannya si hebat-hebat, entahlah kepandaiannya tapi yang
terang mereka terkenal dengan perbuatan yang suka
sewenang-wenang dan buas.
Tiga alogojo dari sucoan itu tidak bisa omong perlahan,
mereka bercakap-cakap dengan berisik sehingga banyak
orang yang ada di situ pada dapat curi pendapatan mereka,
diantaranya tentu Kim Wan Thauto yang menaruh perhatian
istimewa atas kedatangannya Sucoan Sam-sat ke desa itu.
Kiranya mereka itu datang atas undangan Tan Wangwee,
mereka spesial diundang oleh Tan Kongcu untuk membikin
perhitungan dengan Liu Wangwee yang menuduh Tan
Wangwee ada simpanan orang jahat dalam rumahnya.
Kim Wan Thauto paling suka mencampuri urusan yang tidak
adil, maka dalam hal Tan Wangwee dan Liu Wangwee, ia ingin
tahu duduk perkaranya.
Ia lebih percaya pada Liu Wangwee yang benar kalau melihat
orang-orang undangan Tan Wangwee terdiri dari bajingan
buas. Maka itu, ia harus cari tahu keadaannya Liu Wangwee,
tapi dimana ? Ia masih asing dalam deast itu yang baru
pertama kali ia datangi.
Ia tidak kurang akal, sebab begitu kawanan jahat itu sudah
bubaran dengan tidak memperhatikan dirinya yang duduk di
pojokan, ia lantas panggil pelayan yang melayani ia untuk
menanyakan keterangan dimana letak rumahnya Liu
Wangwee.
Cuaca sementara itu sudah mulai sore. Ia sewa kamar dalam
rumah makan itu yang merupakan juga rumah penginapan.
Ketika hari mulai gelap, ia bikin kunjungan ke rumahnya Liu
Wangwee.
Kiranya rumahnya si hartawa Liu itu sekitarnya dikurung rapat
dengan pagar tembok. Tingginya kira-kira satu setengah
tombak. Kim Wan Thauto tidak mau mengunjunginya dengan
terang-terangan sebab kuatir tuan rumah nanti salah sangka
atas kedatangannya yang tiba-tiba itu. Maka pikirnya lebih baik
sebentar tengah malam saja ia kembali lagi bikin penyelidikan.
Oleh karena itu ia lalu pulang ke hotelnya kembali.
Setelah mengisi perutnya lebih dahulu, Kim Wan Thauto lalu
masuk ke kamarnya.
Sambil menunggu waktu, ia rebahan. Ketika ia merobah
miring, tiba-tiba ia rasakan ada yang mengganjal. Lantas ingat
akan kotak yang ia rampas dari Kim Popo dalam kantongnya.
Ia lalu merogoh keluarkan, ia main-mainkan ditangannya dan
mencoba membukanya tapi kotak itu tak dapat dibuka. Ia
girang tapi entah apa isinya buku mungil itu, tidak
diketahuinya. Ia menyesal tak ditanyakan itu pada si nenek
bandel.
Ia kelihatannya tidak begitu menghargakan kotak itu, maka
ditaruhnya di bawah bantal setelah beberapa lama dimainmainkannya.
Ia kemudian bangun lagi dari rebahannya, ambil buku dari
kantongnya lalu duduk membacanya sampai kemudian ia
mendengar kentongan dua kali dipukul menandakan jam dua
tengah malam. Pikirnya sudah waktunya ia lakukan
penyelidikan. Seketika itu ia keluar dari kamar dengan
mengambil jalan dari jendela supaya tidak mengganggu tamutamu
yang nginap disitu dan bikin curiga pemilik hotel.
Sebentar saja ia sudah sampai di dekat rumahnya Liu
Wangwee. Tidak susah, dengan menggunakan ilmu entengi
tubuh, ia sudah lompat melewati tembok pekarangan dari
rumah hartawan Liu.
Rumah itu ternyata berloteng. Pada tingkat satu, ia lihat masih
terang. Apakah masih ada orang yang belum tidur ? Tanyanya
pada diri sendiri.
Ini kebetulan sekali, pikirnya. Lalu dengan menggunakan
kepandaian memanjat, sebentar saja ia sudah sampai di
loteng tingkat satu. Ia mengintai dari jendela. Ia lihat di
dalamnya ada seorang lelaki yang kira-kira berusia lima
puluhan tengah membaca buku, sedang disampingnya
terdapat seorang gadis yang kira-kira berusia 18 tahun sedang
duduk.
Kim Wan Thauto lantas menduga akan Liu Wangwee, ketika ia
mendengar si gadis berkata-kata, "Sudah malam ayah. Untuk
apa urusan demikian dipikirkan."
"Tapi anak Hiang." kata sang ayah. "Kau jangan meremehkan
paman Tan."
"Dia toh takut pada ayah, kenapa mesti dipikirkan ?" kata si
gadis lagi.
Lu Wangwee tarik napas sambil letakkan bukunya diatas
meja, ia berkata lagi, "Anak Hiang, ayah sudah nasehatkan,
kau jangan suka mengatakan apa-apa tentang paman Tan tapi
kau seenaknya saja omong hingga jadi urusan sekarang.
Bagaimana sebenarnya yang menjadi pokok lantaran, coba
kau terangkan. Jangan pakai diumpat-umpatkan.:
"Itulah pada suatu hari," sahut si gadi. "Ketika enci Ciok datang
padaku membujuk aku supaya aku terima lamaran saudara
misannya, si Kongcu ceriwis itu, dia ada menyebut bahwa
kekayaan paman Tan jauh lebih kaya dari pada kita. Hatiku
jadi panas dan meyemprot dia dengan kata, 'Tentu saja
paman Tan lebih kaya lantaran pelihara maling dalam
rumahnya !' Kata-kata ini rupanya disampaikan pada paman
Tan sehingga ia menjadi marah, menegur ayah supaya minta
maaf di depan umum. Aku yang salah, aku yang tanggung
jawab, kenapa ayah dibawa-bawa ?"
Si gadis ketika mengucapkan kata-kata yang paling belakang,
kelihatan marah, menggertakkan giginya, gemas rupanya dia.
"Terang si Ciok mesti adukan kata-katamu yang menyinggung
itu." kata Liu Wangwee. "Karena buat dirinya juga tidak enak,
kau mengatakan pamannya pelihara maling. Paman Tan
sendiri, tidak berani padaku, tapi dia ada punya orang. Dia
kasih tempo buat ayah menghaturkan maaf dalam tempo tiga
hari. Kalau dalam tempo tersebut ayahmu tak memenuhi
permintaannya, dia akan minta kawan-kawannya datang untuk
menghajar ayah. Besok sudah hari ketiga, entah bagaimana
nanti kejadiannya. Kabarnya paman Tan sudah mengundang
kawan-kawannya dan sudah datang tadi siang."
"Siapa yang dia datangkan ?" tanya si anak.
"Kau mana tahu kekejaman paman Tan. Dia sudah datangkan
bala bantuannya, tidak tanggung-tanggung ialah Sucoan Samsat
yang tersohor sangat buas !"
"Tiga algojo dari Sucoan......." menggumam si gadis. "Kalau
ayah takut, biar saja nanti aku yang layani. Baru tiga algojo,
meskipun dia datangkan selusin algojo juga aku tidak takut !"
"Kau punya kepandaian apa ?" tanya si ayah, melengak heran.
"Ayah nanti lihat saja." sahut sang anak. "Sekarang ayah
masuk tidur saja, urusan diserahkan pada aku saja yang nanti
menghadapinya."
Liu Wangwee bingung. Bagaimana anaknya begini gagah ?
Siapa yang dia bakal andalkan ? Dia sendiri yang
menghadapinya, itu tak mungkin sebab ia tahu benar Bwee
Hiang, anak gadisnya tidak punya kemampuan itu. Ilmu
silatnya hanya ia yang ajari, bagaimana dia begitu besar hati
untuk menghadapi musuh berat ?
Tapi untuk membuat anak gadisnya senang, ia pun menurut
disuruh masuh tidur, diantar oleh Bwee Hiang.
Kim Wan Thauto diam-diam memuji kegagahan si gadis. Ia
pun angkat jempolnya. Tapi ketika ia mau angkat kaki dari situ,
ia urungkan karena mendengar suara menangis
sesenggukkan. Itulah Bwee Hiang, yang sudah balik lagi dari
mengantarkan ayahnya masuk tidur.
Ia duduk diatas kursi yang barusan diduduki ayahnya,
menangsi sesenggukkan tanpa ada orang yang
menghiburnya.
"Aku yang sudah menerbitkan bencana, mengapa ayahku
yang harus bertanggung jawab ? Oh, nasib........ibu...... ibu,
kenapa kau sudah meninggalkan aku lebih dahulu ?"
terdengar si gadis berkata-kata sendirian, ia sesambat pada
ibunya yang sudah lama berada di alam baka.
Kim Wan Thauto yang berhati baja, melihat adegan itu tak
dapat mempertahankan kesedihannya. Ia diam-diam merasa
terharu akan nasibnya Bwee Hiang. Kapan ia ingat lagi, ia jadi
heran kenapa si gadis menangis begitu sedang tadi ia lihat
tegas si gadis begitu gagah mengucapkan kata-katanya untuk
tanggung sendiri semua urusan yang mengancam keluarga
Liu. Apa benar si gadis mempunyai kepandaian tinggi untuk
menghadapi Tiga Algojo dari Sucoan ?
Sehingga Kim Wan Thauto masih ragu-ragu. Tapi bisa saja
terjadi keanehan-keanehan, maka Kim Wan Thauto pikir
biarlah ia nanti menonton saja apa yang akan dilakukan oleh si
gadis. Malah diam-diam ia berjanji akan membantu si gadis
manakala dipandang perlu. Setelah berpikir demikian, maka ia
lantas berlalu dari tempat mengintainya tanpa diketahui oleh si
gadis yang masih menangis sesenggukkan.
Pada hari esoknya, ada hari penghabisan dari ultimatum yang
dikirimkan pada Liu Wangwee tapi oleh Tan Wangwee
ditunggu-tunggu tidak ada kabar apa-apa dari pihak hartawan
Liu sehingga Tan Wangwee menjadi amat mendongkol.
Oleh karenanya ia lalu himpunkan kawan-kawannya yang
diundang.
Dalam desa kunhiang itu, diantara hartawan-hartawan yang
paling menonjol adalah hartawan Liu. Ia mempunyai banyak
pabrik tahu, tenun dan lain-lainnya dimana ia pakai banyak
buruh sebagai pekerjanya. Dengan adanya mata pencaharian
yang dibuka oleh hartawan Liu, maka tidak heran kalau desa
kunhiang menjadi amat ramai. Buruh dari mana-mana pada
datang minta pekerjaan pada perusahaannya Liu Wangwee.
Kawan-kawannya hartawan Liu yang juga dikenal sebagai
hartawan sangat menghormat Liu Wangwee karena ia ini
meskipun kaya juga tidak sombong dan banyak menolong
orang yang dapat kesusahan.
Di antara kawan-kawan Liu Wangwee termasuk juga Tan
Wangwee.
Hartawan Tan memang terkenal kaya tapi tidak membuka
perusahaan apa-apa. Orang tidak tahunya mendapat
kekayaan dari mana tapi yang terang kekayaannya makin
bertambah saja sejak anak-anaknya pulang dari tempat lain.
Katanya baru tamat dari belajar silat dan pulang ke rumah
untuk bantu usaha orang tua.
Belum lama Tan Kongcu pulang dari perguruan, dalam desa
kunhiang yang tadinya aman-aman saja, lantas jadi banyak
maling. Hartawan-hartawan yag menetap dalam desat itu
banyak dipreteli kekayaannya oleh maling-maling itu. Itu bukan
maling biasa sebab semua itu dikerjakan oleh satu orang dan
untuk kejadian itu orang desa kunhiang menaakan ia 'Huicat'
atau 'Maling biasa terbang' karena tak dapat diselidiki jejaknya
baik oleh korban-korbannya sendiri maupun oleh pihak yang
berwajib. Yang herannya justru maling terbang itu mengincar
hartawan-hartawan yang 'kaya' saja sebab yang tanggungtanggung
tak pernah mendapat gangguan. Jadi keadaan tidak
aman hanya dialami oleh mereka yang betul-betul hartawan.
Liu Wangwee meskipun ia sendiri belum pernah mendapat
gangguan, dengan sendirinya sebagai ketua kaum hartawan ia
malu hati buat peluk tangan saja. Maka ia kumpulkan kawankawannya
untuk berunding mencari jalan sampai mereka
dapat mengamankan lagi desanya dari gangguan maling.
Belum ada keputusan tentang daya apa dapat diambil untuk
menangkap maling terbang itu, dua hari sejak diadakan rapat
oleh Liu Wangwee, rumahnya sendiri telah didatangi si maling
terbang itu.
Ia sendiri tidak menghadapinya tapi gadisnya, Bwee Hiang,
pada malam itu sudah bertempur seru dengan si maling
terbang yang pakai topeng mukanya.
Sudah menjadi kebiasaan Bwee Hiang, ia baharus masuk tidur
kalau ayahnya terlebih dahulu ia antarkan masuk tidur. Maka
ia tidur lebih larut (malam) dari ayahnya. Waktu barusan saja
ia bangkit dari duduknya hendak meninggalkan ruangan baca,
kupingnya yang tajam seperti mendengar ada orang yang
membuka jendela perlahan. Ia pura-pura tidak memperdulikan
itu, terus saja ia jalan. Tapi ia tidak menuju ke kamarnya, tapi
ia membelok ke satu gang yang dapat menembus keluar. Ia
lantas dapat memergoki seorang yang sedang mengintip di
jendela. Si nona segera menduga yang datang adalah maling
terbang. Maka dengan tidak bersuara kakinya menotol lantai,
tubuhnya yang langsing mencelat ke arah orang yang sedang
mengintip tadi.
"Maling terbang, akhirnya kau datang juga. " kata si gadis
sekonyong-konyong.
Bukan main kagetnya orang itu sebab segear ia berkelit ke
kanan dengan gugup mengelak serangan Bwee Hiang yang
membarengi kata-katanya tadi.
Itulah kejadian di atas loteng tingkat satu.
Si maling terbang tidak membalas serangan si gadis, hanya ia
lompat ke atas genteng. Enteng sekali tubuhnya, menghampiri
loteng tingkat dua. Ia mengira kegesitannya sudah tidak ada
taranya, tapi bukan main kagetnya ketika ia barusan saja
menginjak genteng terdengar pula suaranya Bwee Hiang,
"Kau mau lari ? Hmm ! Tamu datang tidak disambut, itu tidak
hormat !"
Si maling lantas putar tubuhnya, sekarang ia berhadapan
dengan si gadis yang tersenyum mengejek kepadanya.
Sungguh ia tidak mengira, kalau Bwee Hiang dapat
menandingi kegesitannya, malah kelihatan lebih gesit lagi.
Bwee Hiang ketika jalan keluar hendak pergoki si maling, ia
sudah sembat pedang yang biasa ia pakai dalam latihan
dengan ayahnya. Dengan senjata itu ia tunjuk si maling sambil
berkata, "Hui cat, kau tak akan lolos dari aku !"
Si maling tidak menjawab, hanya ia lantas menghunus
pedangnya.
"bagus !" kata Bwee Hiang, "Mari kita main-main !"
Kata-katanya ditutup dengan serangan pada dua jurusan.
Pertama, ujung pedang si nona seperti menyerang
tenggorokan, ketika si maling bertopeng menangkis, ia tarik
pedangnya supaya jangan bentrok dengan senjata lawan,
lantas diteruskan menusuk pada 'kiok-ti-hiat', jalan darah di
bagian pundak kiri untuk sekalian menyontek tulang pundak
orang. Gerakan ini dilakukan dengan cepat laksana kilat, salah
satu jurus yang hebat dari Bwee Hoa Kim Hoat (Ilmu silat
pedang kembang bwee) yang dinamai 'Hoa kay beng goat'
atau 'Kembang mekar memandang rembulan'.
Tapi si maling bertopeng cukup gesit.
Melihat tangkisannya luput sebab pedang lawan cepat ditarik
pulang, pundaknya yang di arah si nona ia elakkan dengan
turunkan pundaknya sedikit hingga ujung pedang tak dapat
sasarannya.
"Aha, boleh juga !" kata Bwee Hiang melihat serangannya
yang ditujukan pada dua arah luput semua. Berbareng, ia pun
lantas menyerang pula dengan jurus-jurus yang mematikan.
Pedangnya berkelebatan menyambar-nyambar ke arah jalan
darah lawan sehingga merupakan tekanan yang berat bagi si
maling terbang. Apalagi pikirannya tidak mau melayani si nona
lama-lama. Maka begitu ia mendapat lowongan, lantas enjot
tubuhnya mencelat mundur ke tepi genteng rumah, dari mana
dengan ilmu entengi tubuh ia loncat ke genteng rumah tingkat
satu akan terus loncat ke bagian bawah, lari menghampiri
tembok pekarangan. Tubuhnya enteng sekali diwaktu ia
melompati tembok pekarangan rumah Liu Wangwee, dari
mana ia teruskan larinya ke arah barat dan melenyapkan diri
dalam sebuah rumah besar.
Maling itu mengira dirinya tidak dikejar si nona karena
beberapa kali ia menoleh ke belakang tidak nampak bayangan
yang mengejar apalagi mendengar suaranya si nona. Tapi ia
salah hitung. Ia boleh gesit dan dapat menghilang bagaikan
setan kalau kepandaiannya itu dihadapkan pada orang biasa
atau ilmu silatnya hanya ilmu silat pasaran saja. Tapi kali ini ia
menghadapi Bwee Hiang yang kegesitannya cukup tinggi.
Tentu saja jejaknya tak luput dari kuntitan si nona.
Ketika ia menghilang dalam rumah besar tadi, tiba-tiba Bwee
Hiang berdiri tertegun. Sebab rumah itu adalah rumah Tan
Wangwee. Ia lantas menduga bahwa Tan Wangwee dalam
rumahnya ada pelihara maling, makanya kekayaannya dengan
tentu meningkat tanpa orang mengetahui dari mana
sumbernya.
Si gadis pulang lagi ke rumah. Pikirannya makin yakin bahwa
Tan Wangwee telah pelihara maling. Maka ketika keesokan
harinya ia ketemu ayahnya, lantas ia menceritakan
pengalamannya semalam. Sang ayah terkejut juga mendengar
cerita anaknya, lantas ia berkata, "Anak Hiang, kau sudah tahu
rahasianya paman Tan, harap kau jaga mulutmu jangan
sampai mengeluarkan kata-kata yang bisa menyinggungnya.
Paman Tan segan dan menghormatku karena dia tahu aku
ada seorang yang dipandang tinggi oelh penduduk kunhiang
dan dia tahu juga aku berkepandaian tidak rendah dalam ilmu
silat. Tapi kalau kita membuat gara-gara menyinggung
kehormatannya, dia tentu akan pandang lagi padaku. Dia
dapat datangkan kawan-kawannya dari golongan jahat untuk
menghadapi aku karena dia sendiri tidak berani untuk
berurusan langsugn dengan aku. Ingat, anak Hiang !"
Bwee Hiang mengiakan atas nasehat itu. Tapi ia lupa ketika
Cok Ciok, teman mainnya yang menjadi keponakan Tan
Wangwee membanggakan kekayaannya hartawan Tan di atas
kekayaan keluarga Lu. Hatinya panas seketika dan
mengatakan tentu saja Tan Wangwee lebih kaya karena
dalam rumahnya ada pelihara maling. Kata-kata inilah yang
menjadi 'urusan' sehingga Tan Wangwee mengundang
Sucoan Sam-sat yang sangat kesohor kebuasannya untuk
menghadapi Liu Wangwee.
Dalam pertemuan dengan tamu-tamu undangannya, Tan
Wangwee menanyakan pikiran mereka bagaimana mereka
akan bertindak kalau sampai nanti malam masih belum terima
kabar dari Liu Wangwee. Giam-ong Puy Teng dan Sin-mo Lie
Kui ada orang-orang kasar, mereka tidak dapat mengeluarkan
pikiran yang baik, maka diminta pikirannya Mo-jiauw Teng
cong, si Cakar Setan yang banyak akalnya untuk mengusulkan
sesuatu untuk kebaikannya Tan Wangwee.
"Menurut pikiranku," kata Mo-jiauw Teng Cong, "Kalau nanti
malam Liu Wangwee tidak kirim orang mengabarkan apa-apa
kepada kita, sebaiknya kita datangi rumahnya untuk minta
keputusan. Kalau dia lulusi permintaan Tan-heng yaitu
bersedia untuk minta maaf dihadapan umum, kita bikin habis
saja urusan ini. Kalau tidak, baik nanti kita lihat gelagat
bagaimana, kalau perlu kita gunakan kekerasan untuk
menaklukinya."
"Ah, kau terlalu bertele-tele." kata Puy Teng Toako dari
Sucoan Sam-sat.
"Kau benar Toako, jiko terlalu berliku-liku. Kita ambil jalan
pendek saja, kalau nanti dia tidak mau meluluskan permintaan
Tan-heng, kita habisi saja jiwanya !" Sin-mo Lie Kui
menyatakan pikirannya.
"Kita harus pakai jalan lunak dahulu, kalau bisa kita jangan
sampai bertempur dengan dia." Mo-jiauw perkuatkan usulnya.
"Memangnya Jie-te takut ?" tanya Puy Teng, si toako.
"Hahaha......!" Sin-mo Lie Kui tertawa. "Biasanya Jiko paling
berani, mengapa disini menghadapi Liu Wangwee saja jadi
ketakutan ?"
Tan Wangwee sementara itu tinggal membungkam. Begitu
juga dengan Tan Kongcu, anaknya yang disuruh mengundang
Sucoan Sam-sat.
Mo-jiauw Teng Cong jadi serba salah.
Si Cakar Setan memang ada sedikit jeri, seelah ia cari
keterangan bahwa Liu Wangwee selainnya ia sendiri ilmu
silatnya tidak renah, juga ada anak daranya yang membantu.
Kabarnya hartawan Liu itu juga banyak mempunyai sahabat
dalam Bu-lim.
Menurut pikirannya, lebih baik digunakan jalan damai saja.
Keterangan yang ia dapat itu tidak ia beritahukan kepada dua
kawannya karena kuatir ia dikatakan pengecut. Tapi akhirnya
si Setan Sakti Lie Kui telah mengatakan juga hingga membuat
ia jadi serba salah.
Belum ia dapat menyatakan pikirannya lagi, tiba-tiba Tan
Wangwee berkata, "Memang, untuk menaikkan pamornya
Sucoan Sam-sat, lebih baik ambil jalan pendek saja."
"Kau maksudkan apa jalan pendek itu ?" tanya Mo-jiauw Teng
Cong.
"Kalau Liu Wangwee tidak mau menurut perintahku, lebih baik
jiwanya dihabiskan saja." jawab Tan Wangwee.
Mo-jiauw Teng Cong kalah suara, maka selanjutnya ia
membungkam.
Demikianlah, ketika sang malam tiba belum juga diterima
kabar apa-apa dari pihak hartawan Liu, maka tiga algojo dari
Sucoan itu, diiringi oleh Tan Kongcu telah menyatroni
rumahnya Liu Wangwee. Tan Wangwee sendirian tidak turut
karena ia malu hati kalau sampai dirumahnya Liu Wangwee ia
mesti tarik urat dengan tuan rumah.
Di pekarangan rumah, kedatangan mereka disambut oleh Liu
Wangwee sendiri.
Tuan rumah kelihatan ramah tamah, sedang pihak tamu
sangat sombong sikapnya.
Tidak termasuk Mo-jiauw yang pandai menggunakan otaknya.
Ia melihat Liu Wangwee bertubuh sedang tingginya, agak
gemuk, memelihara jenggot yang bagus ! Romannya
berwibawa, keras wataknya meskipun kelihatannya ia sangat
ramah tamah.
Tamu-tamu diundang masuk ke ruangan tengah, dimana
sudah disiapkan barang hidangan seperlunya. Rupanya
hartawan Liu sudah menduga akan kedatangannya mereka,
maka ia sudah suruh pelayan-pelayannya mengadakan meja
perjamuan sederhana.
Tan Kongcu dan Lie Kui yang lagaknya paling tengik.
Terutama Tan Kongcu yang seolah-olah membanggakan para
pahlawannya, amat menyebalkan tingkahnya.
"Aku tidak melihat ayahmu turut datang, dimana dia, anak Sin
?" tanya Liu Wangwee pada Tan Kongcu ketika mereka sudah
sama-sama ambil tempat duduk.
Tan Kongcu pelototkan matanya sebelum ia menjawab
pertanyaannya Liu Wangwee.
Di waktu dalam keadaan biasa, dua keluarga (Liu dan Tan)
ada baik satu dengan lain, malah Liu Wangwee tidak melarang
Tan Kongcu sesudah masing-masing meningkat dewasa untuk
datang ngomong-ngomong dengan Bwee Hiang, puterinya,
karena Tan Kongcu teman sepermainan si nona di waktu
mereka masih kecil.
Jadi persahabatan keluarga Tan dan Liu itu sudah sejak lama.
Apa mau sekarang terbit bentrokan yang sesungguhnya amat
disayagnkan. Sebenarnya Tan Wangwee sendiri segan
bentrokan dengan Liu Wangwee karena urusan tersebut
hanya persoalan kecil saja. Tetapi lantaran adanya
hasutannya Tan Kongcu, anak muda itu sangat gemas pada
Bwee Hiang yang menolak menjadi isterinya malah
menghinanya bahwa dalam rumahnya ada pelihara maling.
Panggilan Liu Wangwee pada Tan Kongcu biasa saj,
memanggil namanya sebagai juga orang tua itu memanggil
anaknya sendiri.
Setelah pelototi Liu Wangwee, Tan Kongcu menjawab, "Ayah
tidak perlu ketemu paman. Dia bilang kalau paman mau kasih
kabar, katakan saja padaku."
Jawaban yang amat kurang ajar, malah matanya pakai melotot
segala. Tapi Liu Wangwee tidak jadi marah. Ia tetap sabar.
"Anak Sin," kata Liu Wangwee. "Jawabanku singkat saja. Aku
dapat mohon maaf pada ayahmu, tapi tidak dihadapan umum."
"Hmm ! Justru ini kita tidak mau terima !" kata Liung Sin
mendengus.
"Habis, kau mau apa ?" tanya Liu Wangwee, jadi habis sabar
rupanya melihat sikap yang tengik dari si anak muda ceriwis
menurut Bwee Hiang.
Melihat keadaan sudah mulai panas, Mo-jiauw Teng Cong
menyela, "Liu Wangwee, kedatangan kami kesini adalah
hendak mendamaikan urusan bukan hendak mencari ribut
dengan keluarga saudara Liu. Aku pikir, sebaiknya saudara
Liu mengalah saja dan suka memohon maaf di depan umum.
Dengan begitu urusan menjadi beres."
"Saudara ini siapa ?" tanya hartawan Liu yang pura-pura tidak
tahu.
"Mereka adalah Giam-ong Puy Teng." jawab Teng Cong
seraya menunjuk pada saudara tuanya. "Aku sendiri bernama
Teng Cong, sedang dia adalah Sin-mo Lie Kui. Kami bertiga,
entah bagaimana anggapan orang dalam dunia Kangouw,
telah mendapat julukan Su-coan Sam-sat. Julukan ini dilebihlebihi."
Liu Wangwee angguk-anggukkan kepalanya sambil mengurut
kumisnya yang panjang.
"Jiko, untuk apa banyak omong. Lekas, bikin beres saja !" kata
Sin-mo Lie Kui sambil matanya melotot pada Liu Wangwee.
Hartawan Liu berlagak pilon atas sikapnya si berewok jahat.
"Aku sudah katakan," kata Liu Wangwee. "Apakah saudara
Teng tidak dengar jawabanku pada anak Sin barusan ?"
"Brak !" tiba-tiba terdengar suara piring mangkok di atas meja
beterbangan. Sayur pada tumpah berlelehan gara-gara Giamong
Puy Teng yang menggebrak meja dengan telapak
tangannya yang besar. "Kepala batu !" bentaknya pada tuan
rumah. "Aku mau lihat kepandaian apa yang kau mau
perlihatkan dihadapan Sucoan Sam-sat !"
Teng Cong tidak setuju dengan kelakuan Sang Toako yang
berangasan itu tapi perbuatannya sudah terjadi, maka ia
tinggal menanti reaksi dari tuan rumah saja.
Meskipun Liu Wangwee tidak senang akan kelakuannya si
mata satu, ia masih bisa menahan sabar. Katanya, "Aku si tua
tidak berguna lagi tapi untuk melayani kau seorang kasar,
rasanya masih belum tentu !"
"Kau berani sama Sucoan Sam-sat ?" bentak Puy Teng,
marah dia.
"Sucoan Sam-sat lain, tapi dengan kau, aku tidak tinggal lari !"
sahut tuan rumah.
Puy Teng bangkit dari duduknya. Ia tertawa gelak-gelak sambil
katanya, "Mari, mari diluar kita coba." berbareng tubuhnya,
enteng sekali, melesat ke arah pintu.
Liu Wangwee tidak takut. Ia pun bangkit dari duduknya, lantas
jalan keluar. Di pekarangan ia lihat Puy Teng sudah berdiri
menanti.
Tidak sampai tarik urat lagi, mereka telah berhadapan, lantas
bergebrak.
Teng Cong dan Lie Kui tidak berani datang mengeroyok Liu
Wangwee karena mereka tahu akan adatnya sang toako.
Kalau ia belum kalah belum mau dibantui saudarasaudaranya.
Maka juga mereka tinggal menonton saja.
Dua macan berkelahi, tentu saja sangat ramai.
Liu Wangwee mainkan 'Bwee Hoa Ciang Hoat' atau 'Ilmu
pukulan kembang bwee', sedang dipihaknya Giam-ong Puy
Teng menggunakan 'Eng-jiauw-kang' atau 'Tenaga Kuku
Garuda' untuk melayani lawan. Liu Wangwee mendesak
lawannya dengan pukulan-pukulan halus tapi mantap, tapi
dilayani dengan sambaran tangan yang keras berat oleh
Giam-ong Puy Teng yang menggunakan ilmu pukulan Eng
jiauw kang. Tidak kecewa Giam-ong Puy Teng sebagai toako
dari Sucoan Sam-sat karena ilmu pukulannya itu saban-saban
membuat lawannya tergetar. Dari berimbang, pelan-pelan
tampak Liu Wangwee keteter.
Liu Wangwee merasa cemas dengan kepandaiannya karena
ia yakin bahwa ia bukan tandingannya Giam-ong Puy Teng.
Dalam keadaan yang cemas itu, hatinya menjadi makin cemas
ketika ia mendengar beradunya senjata dan melihat puterinya
Bwee Hiang sudah bergebrak dengan Tan Kongcu.
Ia menguatirkan keselamatan puterinya yang tersayang itu,
maka perlawanan yang diberikan pada musuhnya tidak
sebagaimana mestinya. Dalam keadaan bingung, tiba-tiba
berkelebat tangannya Giam-ong Puy Teng hendak
mencengkeram dadanya, ia geser kaki kirinya berkelit dari
cengkerama ke arah dada, tapi ia lupa datangnya tangan kiri
musuh yang menjambret pinggangnya. Tanpa ampun lagi ia
terkulai roboh setelah menjerit perlahan. Giam-ong Puy teng
telah menggunakan tipu pukulan 'Say pek sie' atau 'Terkaman
singa' untuk mreobohkan lawannya.
Jeritan Liu Wangwee diwaktu terkulai roboh disusul jeritan lain
ialah jeritan Tan Kongcu yang tulang pundaknya kena disontek
ujung pedang Bwee Hiang.
Setelah merobohkan lawannya, Bwee Hiang lantas enjot
tubuhnya mencelat ke arah tempat ayahnya bertempur. Tapi
sudah terlambat karena ayahnya sudah roboh dan tidak
bangun lagi. Alisnya si nona berdiri, saking gusarnya ia
membentak Giam-ong Puy Teng, "Manusia jahat, kau apakan
ayahku ? Aku akan adu jiwa denganmu !"
Kata-katanya ditutup dengan serangan pedangnya yang
tajam. Tapi Giam-ong Puy Teng bukannya Tan Kongcu sebab
dengan satu elakan saja pedang si nona menemui sasaran
kosong. Ketika ia tarik pulang pedangnya hendak menyerang
lagi, di depannya sudah ganti orang. Itulah si berewok Lie Kui
yang bengis.
"Nona manis, kau jangan main-main dengan toakoku. Untung
dia tidak biasa layani bangsa perempuan. Kalau tidak, hmm !
Jangan harap mukamu yang cantik akan tetap utuh !"
Itulah kata-kata Sin-mo Lie Kui yang enak untuk si berewok
sendiri tapi tidak enak untuk telinganya si nona. Tidak heran
kalau Bwee Hiang menggerang disusul dengan serangan
pedangnya ke arah orang punya jalanan makanan
(kerongkongan) tapi si setan sakti sambil ketawa haha hehe
berkelit, "Nona manis jangan galak-galak !" menggoda si muka
berewok.
Bwee Hiang makin meluap amarahnya, pedangnya
menyambar-nyambar tapi si berewok hanya berkelit sana sini
tanpa melakukan serangan membalas. Malah menggodainya
makin menjadi membuat si nona tak dapat mengendalikan
amarahnya. Ia menempur dengan serangan-serangan nekad,
justru inilah kesempatan untuk si berewok berlaku ceriwis,
coba ulurkan tangan untuk menyolek pipi yang putih dari Bwee
Hiang.
Untung Bwee Hiang masih awas, ia dapat menyelamatkan
mukanya dari colokan Lie Kui yang kurang ajar. Ketika di lain
saat si berewok mau menyolek lagi, ia babat tangan orang
tersebut dengan pedangnya hingga si ceriwis amat kaget,
kalau tidak secepat kilat ia tarik pulag tangannya yang bangor.
"Jangan kejam-kejam, nona," ia menggodai Bwee Hiang.
(Bersambung)
Jilid 04
Kepandaian si nona ketinggalan jauh dibandingkan dengan
Sin-mo Lie Kui. Maka ia kena digocok sana sini hingga Tan
Kongcu yang menonton di pinggiran menjadi tertawa terbahakbahak
meliha si nona sudah mandi keringat meskipun ia
sendiri waktu itu menderita rasa sakit bukan main pada luka
dipundaknya karena barusan kena disontek pedangnya si
nona yang tajam.
"Nah, rasakan sekarang pembalasanku, digecek mampus kau
oleh samko !" Tan Kongcu mengejeki si gadis yang sedang
kepayahan.
Lama-lama si nona menjadi lelah, kata-kata si Kongcu ceriwis
menusuk hatinya, membuat hatinya sangat pedih. Pikirnya,
daripada ia bakal terima hinaan orang-orang jahat itu, lebih
baik ia ambil keputusan nekad. Bunuh diri !
Tiba-tiba si gadis melompat dari arena pertempuran, seraya
berkata, "Tahan !"
"Kau mau bicara apa, nona manis ?" tanya Lie Kui, haha hehe
tertawa.
Si nona tidak meladeni, hanya menubruk ayahnya yang
menggeletak di tanah dengan napas empas empis. Ia girang
ketika mendapat kenyataan ayahnya tidak putus jiwanya.
"Ayah, legakan hatimu. Semua ini ada gara-garaku, maka aku
yang akan bertanggung jawab."
Setelah mengucapkan kata-katanya yang gagah itu, si nona
tampak bangkit.
Ia berdiri, pedangnya masih tercekal di tangannya, matanya
mengawasi ke sekitarnya. Tampak olehnya Giam-ong Puy
Teng dan kawan-kawannya tengah mengawasinya dengan
senyuman masing-masing.
"Tuan-tuan." tiba-tiba si nona berkata. "Ayahku tidak berdosa,
kalian harus bebaskan ayahku. Akulah yang mengatakan
dalam rumah paman Tan ada dipelihara maling. Maka
sepantasnya aku yang bertanggung jawab dari itu, sebagai
permohonan maaf, lihatlah sekarang aku lakukan..........."
Kata-kata ini disusul dengan diangkatnya pedangnya dan akan
ditebaskannya lehernya yang putih hingga kawanan jahat
yang biasanya tidak berkedip membunuh orang, melihat
kelakuan nekad si gadis telah pada menutup matanya, merasa
ngeri.
"Tring !" tiba-tiba terdengar suara batu kecil membentur
pedang, segera juga pedangnya si nona terlepas dari
cekalannya. Di susul oleh melayangnya sesosok tubuh dari
atas sebuah pohon.
Apakah Kim Wan Thauto yang datang menolong Bwee Hiang
?
Bukan. Kim Wan Thauto memang mengumpat diatas genteng,
menonton pertarungan yang terjadi di sebelah bawah. Ketika
Liu Wangwee dirubuhkan, ia masih belum mau turun tangan
untuk membantu sebab ia ingin melihat bagaimana tindakan
Bwee Hiang lebih jauh mengingat kata-kata si nona dihadapan
ayahnya. Ia ingin melihat apakah pedangnya si nona akan
dapat mengusi tiga orang jahat itu. Tapi ia kecewa hatinya,
nampak si nona dipermainkan oleh Lie Kui. Pikirnya, apakah si
gadis hanya begitu saja kepandaiannya ? Melihat Bwee Hiang
berlaku nekad, ia sudah siap akan menggoyangkan
kepalanya, untuk melepaskan senjata anting-antingnya ke
arah pedang si nona yang tengah diayunkan ke lehernya. Tapi
ia jadi tercengang karena maksudnya sudah disusul orang
lain.
Dalam tertegunnya, ia mendengar orang yang barusan
menolong Bwee Hiang tertawa gelak-gelak. Hatinya terkejut
sebab suara tertawa itu seperti ia pernah mendengarnya tapi
dimana ? Ia kumpul ingatannya tapi ia lupa dimana ia pernah
dengar suara ketawa yang ia pernah kenal.
Orang barusan melayang turun dari pohon, tampak
menghampiri Bwee Hiang. Ia memungut pedang si nona yang
seketika itu berdiri bagaikan patung. Matanya yang jeli
mencilak mengawasi pada orang yang menolong dirinya.
Orang itu tak tampak mukanya karena kepalanya terbungkus
kerudung kain merah.
"Kau siapa ?" tanya si nona seraya menerima kembali
pedangnya yang diangsurkan oleh orang yang berkerudung
merah.
"Anak Hiang," kata si kerudung merah, tidak menjawab
pertanyaan Bwee Hiang. "Dengan membunuh diri berarti kau
membunuh ayahmu. Sekarang lekas tolong ayahmu dan tamutamu
ini serahkan aku yang melayani !"
Bwee Hiang kaget, mengapa si kerudung merah
memanggilnya 'anak Hiang'. Siapakah dia ? Tapi ia sekarang
tidak dapat mengajukan pertanyaan karena ia lebih perlu
lekas-lekas menolong ayahnya. Cepat ia bertindak
menghampiri ayahnya dan lantas memeriksa luka sang ayah
yang parah, dua tulang iganya patah.
Sementara Sucon Sam-sat yang sedari tadi berdiri tertegun
memperhatikan kedatangan si kerudung merah, lantas
mengurung si orang asing. Mereka sadar bahwa yang datang
niscaya seorang lawan yang alot.
"Hmm !" mendengus si kerudung merah. "Liu Wangwee,
apakah kurang hormat melayani para tamunya ? Biarlah aku
yang menggantikannya........."
"Siapa kau ?" bentak Sin-mo Lie Kui yang berangasan
wataknya.
"Kau panggil saja aku si kerudung merah, wakilnya Liu
Wangwee." sahutnya.
"Bagus, bagus. Hahaha !" kata Giam-ong Puy Teng seraya
ketawa terbahak-bahak.
"Hahaha............ hahaha......... !" si kerudung merah juga
ikutikutan
ketawa.
Giam-ong Puy Teng mendelikkan matanya. "Kau tertawakan
apa, setan !" bentaknya.
"Aku tertawakan kau." sahutnya kontan.
"Kurang ajar, apa yang harus kau tertawakan ?" tanyanya
agak heran.
"Itu......... itu..............." sahut si kerudung merah sambil
masih
tertawa. "Itu, menurutmu aku bagus, kau mana tahu bahwa
mukaku bagus sedang aku pakai kerudung."
Ini merupakan jawaban yang 'olok-olok' sehingga
menimbulkan amarahnya toako dari Sucoan Sam-sat menjadi
lebih meluap. Sebelah matanya, yang tinggal satu, mendelik
lagi lalu menyerang si kerudung merah dengan jurusnya yang
paling diandalkan 'Eng Jiauw chiu' atau 'Cengkeraman cakar
garuda', kedua tangannya diulur untuk mencengkeram dada.
Gerakannya cepat, kalau kena dicengkeram, pasti melayang
jiwa korbannya karena cengkeraman itu berisikan tenaga
dalam yang dahsyat.
Tapi si kerudung merah acuh tak acuh menghadapi serangan
dahsyat itu. Ia menunggu sampai serangan datang, kedua
tangannya dirangkap sejenak lalu diajukan ke depan, nyelusup
diantara dua tangan lawan, mendadak dipentangkan secepat
kilat sehingga dua tangan lawan yang mencengkeram dapat
ditolak nyamping. Inilah gerakan 'Siang hong seng thian' atau
'Sepasang burung hong naik ke langit', jurus yang paling tepat
untuk memusnahkan 'Eng jiauw chiu' lawan.
Melihat serangannya gagal, cepat Giam-ong Puy Teng ganti
tipu. Tampak tubuhnya terputar ke belakang lawan.
Tangannya yang kanan diulur, mencengkeram bagian
pinggang untuk membikin remuk tulang iga. Ini adalah gerakan
istimewa dari Giam-ong Puy Teng yang dinamai 'Mo Lie jiauw
chiu' atau "Cengkeraman Kuntilanak'. Berbareng ia berkata,
"Terima nasib, sahabat !"
Ia berkata demikian, menyangka seratus persen serangannya
kali ini tak akan luput. Tapi diluar dugaannya sang lawan
sudah mengelak dengan gesit sambil lompat satu tindak ke
depan. Sebelum si kerudung merah berputar tubuh, Giam-ong
Puy Teng sudah maju merangsak, ia menggempur batok
kepala musuh dengan gaplokan yang dahsyat. Sayang
bukannya si kerudung merah berantakan kepalanya,
sebaliknya tampak Giam-ong Puy Teng terkulai roboh. Hal
mana membuat dua saudaranya yang tengah menonton
dengan kegirangan toakonya diatas angin menjadi keheranan.
"Sudah cukup !" kata si kerudung merah sambil lompat
menjauhi Giam-ong Puy Teng yang tubuhnya terkulai
mendeprok di tanah.
Kenapa Giam-ong Puy Teng ? Ketika si kerudung merah
lompat satu tindak ke depan, berkelit dari serangan Giam-ong
Puy Teng yang menggunakan tipu 'Cengkeraman Kuntilanak',
ia rasakan dibelakangnya ada sambaran angin. Cepat ia
mendek sambil memutar tubuhnya ke kiri. Dalam posisi ini,
sehingga ia adanya lowongan pada iga kanan Giam-ong Puy
Teng yang sedang angkat tangan kanannya untuk
menggaplok kepala, enak saja dua jari tangan kiri si kerudung
merah nyelonong ke jalan darah 'thian-coan-hiat'. Kontan si
raja akherat menjadi terkulai roboh. Kejadian ini hanya
beberapa detik saja. Saking cepatnya, maka tidak heran kalau
dua saudaranya Giam-ong Puy Teng menjadi melongo
keheranan.
Dari melongo keheranan, Sin-mo Lie Kui meluap amarahnya.
Lantas saja menerjang si kerudung merah sambil berkata,
"Setan, akan aku cuci kehormatan Sucoan Sam-sat !"
"Dicuci juga bakalan kotor juga !" menggoda si kerudung
merah seraya berkelit dari serangan Lie Kui yang
menggunakan jurus 'Mo lie khoa keng' atau 'Kuntilanak
berkaca'. Sambaran dua tangannya menghembuskan angin
menderu. Biasanya dengan menggunakan serangan ini, Lie
Kui dalam segebrakan dapat menjatuhkan musuhnya. Tapi
kali ini ia salah hitung. Si kerudung merah lwekangnya sangat
kuat. Malah si Setan Sakti tidak menjadi sakti karena kaget
nampak musuhnya hilang dari depannya. Ia merasa dirinya
gesit, dapat mempermainkan orang, tidak dinyana ia kalah
jauh dari si kerudung merah.
Bertarung baru lima jurus, lantas Mo-jiauw Teng Cong dapat
menilai bahwa saudara mudanya tak dapat menandingi
musuhnya. Ia heran kenapa si kerudung merah, tadi waktu
menempur Giam-ong Puy Teng tidak memperlihatkan
kegesitannya seperti sekarang ini menghadapi ia punya
Samte.
Melihat saudaranya hanya beberapa gebrakan saja sudah
terdesak, ia tidak dapat berpeluk tangan untuk menonton.
Maka si Cakar Setan seketika itu lantas menyerbu
mengeroyok si kerudung merah yang tengah mempermainkan
Lie Kui.
Dengan turunnya si Cakar Setan, Lie Kui berharap segera
diperoleh kemenangan dengan cepat sebab kepandaiannya
sang Jiko atau si Cakar Setan ada lebih tingkat dari ia dan
toakonya (Giam-ong Puy Teng). Sayang pengharapannya
meleset sebab bukannya mempercepat kemenangan, tapi
mempercepat kekalahan.
"Bagus." tiba-tiba si kerudung merah berkata ketika ia elakkan
cengkeraman Mo-jiauw Teng Cong yang ganas. Berbareng
tampak ia mencelat ke atas untuk menghindari gencetan
serangan dari dua arah, Mo-jiauw Teng Cong mencengkeram
bagian atas perutnya seperti mau mengorek hati, sedang Sinmo
Lie Kui menggempur pinggangnya. Tidak sampai menanti
sang musuh menginjakkan kakinya ditanah lagi, Lie Kui siap
dengan serangan susulan yang mematikan dengan tipu 'Hui
hong tong lay' atau 'Angin taufan datang dari timur'.
Tangannya diulur saling susul untuk menjambret kaki kanan
lawan yang masih dalam keadaan terapung. Tapi kaki lawan
seperti ada matanya, ia mengelak, turun sedikit lantas
menotok ke arah jin-tiong-hiat di jidat si berewok. Ia hanya
menjerit 'aiyoo !' lantas rubuh mendeprok. Totokan pada ujung
sepatu ini, membawa efek pada Mo-jiauw Teng Cong. Tangan
kanannya yang dibeber bagaikan golok dipakai untuk
menebas kaki si kerudung merah yang masih terapung. Ujung
sepatu yang barusan menotok jidatnya Lie Kui tampak berbalik
lalu menyontek pergelangan tangan. Tepat sekali
mengenakan jalan darah 'Yang-kok-hiat', hingga seketika itu
Mo-jiauw Teng Cong merasakan lengannya kesemutan, hawa
panas menjalar ke seluruh tubuhnya dan kontan ia pun roboh
meniru Lie Kui.
Gerakan yang dilakukan si kerudung merah memang luar
biasa sukarnya. Dengan badan masih terapung, ujung
sepatunya dapat menotok roboh dua lawan tangguh sekaligus,
bukan suatu ilmu mengentengi tubuh yang mudah dilatih.
Tanpa mempunyai lwekang sampai pada batas tertinggi,
jangan harap dapat melatihnya. Pun, melatih ilmu demikian
akan meminta tempo puluhan tahun. Dalam kalangan Bu-lim,
orang namakan tipu silat itu 'Siang hong ko hong', atau
'Sepasang hong terbang lewati puncak gunung'. Jarang
terlihat di kalangan jago-jago dalam dunia Kangouw.
Bahwa si kerudung merah dapat mendemonstrasikan ilmu
yang langka itu, dapatlah diukur sampai dimana hebatnya
lwekang orang itu. Oleh karenanya, maka Sucoan Sam-sat
dengan sendirinya sudah menjadi ciut nyalinya.
Tang Kongcu yang sangat ketakutan lantas angkat kaki
meninggalkan kawan-kawannya. Tapi belum berapa langkah,
ia rasakan ada angin berkesiur disampingnya dan tahu-tahu si
kerudung merah sudah ada dihadapannya. Ia menggigil
ketakutan, tubuhnya dirasakan lumpuh dan seketika itu juga
dia jatuh duduk.
"Mau lari ?" tegur si kerudung merah, suaranya halus tapi
berwibawa.
"Ampun tayhiap, ampuni aku........." Tan Kongcu meratap
sambil tangannya menyoja-nyoja.
"Kau yang menjadi biang keladi dari ini semua. Cara
bagaimana yang kau hendaki untuk mengampuni kau, anak
jahat !" kata si kerudung merah, suaranya agak bengis.
Terkejut hatinya Tan Kongcu. Pikirnya, dari mana si kerudung
merah dapat tahu bahwa dirinya menjadi biang keladi dari
keonaran itu.
Ketakutan ditambah kaget, tentu saja hatinya si pemuda jahat
jadi terguncang keras dan setelah ia berkata, "Ampun, ampun
tayhiap......" lantas saja tubuhnya terkulai dan jatuh pingsan.
Tiga sudah rubuh karena totokan dan satu rubuh karena
ketakutan, membuat si kerudung merah tertawa gelak-gelak
sampai suaranya mendengung di angkasa hingga Kim Wan
Thauto yang berada di atas genteng terpengaruh juga. Untuk
tidak sampai diketahui oleh si kerudung merah yang lihai itu,
Kim Wan Thauto dengan diam-diam sudah meninggalkan
tempat sembunyinya, pulang ke hotelnya.
Pada keesokan harinya ia berkemas-kemas untuk
meninggalkan hotel. Ketika ia meraba ke bawah bantalnya
dimana ia sesapkan kotak kecil mungilnya, kaget ia sebab
kotak itu sudah tidak ada ditempatnya.
Ia ingat betul ketika ia pulang dengan ambil jalan jendela, ia
periksa pintu kamarnya masih tetap terkunci. Dari manakah
datangnya penjahat yang sudah mencuri barangnya ? Ia
periksa barang-barangnya yang lain, tidak ada yang
kehilangan kecuali kotak kecil itu. Pikirnya, tentu orang sudah
masuk dari jendela. Dari kenyataannya orang hanya
mengarah kotak itu, jadi kotak mungil itu tentu sangat
berharga. Tapi apa yang menjadi sebab kotak itu sangat
dimaui ? Ini hanya merupakan pertanyaan saja bagi Kim Wan
Thauto karena ia sendiri belum lihat isinya.
Ia anggap kotak itu tidak penting baginya, maka ia tidak
banyak ribut dalam hotel itu. Setelah ia membayar uang
sewaan kamar dan makannya, lalu ia ngeloyor meninggalkan
rumah makan An Goan untuk meneruskan kelananya.
Balik kepada si kerudung merah. Setelah merobohkan Sucoan
Sam-sat dan si Kongcu ceriwis, lalu ia menghampiri Bwee
Hiang yang sedang repot menolongi ayahnya. Tadi si gadis,
meskipun sedang repot menolongi ayahnya, dapat
menyaksikan juga bagaimana si kerudung merah menjatuhkan
lawannya satu demi satu. Dalam hatinya merasa amat kagum
atas kepandaian tersebut. Entah siapa dia itu, kenpa
memanggil dia 'anak Hiang', apakah dia mempunyai hubungan
keluarga dengan ayahnya ? Demikian dalam hatinya
menanya-nanya akan halnya si kerudung merah.
Ketika si kerudung merah jongkok mau periksa lukanya Liu
Wangwee, si nona sudah siap untuk memajukan pertanyaan
siapa adanya penolong itu, tapi tidak jadi karena penolong itu
lantas berkata, "Anak Hiang, mari kita bawa ayahmu masuk ke
dalam rumah. Ia perlu dengan pertolongan cepat."
Tanpa menanti jawaban, si kerudung merah sudah
memondong Liu Wangwee.
Sampai di dalam rumah, para pelayan yang menggigil
ketakutan, yang turut menyaksikan jalannya pertandingan
barusan sudah menyambut tubuhnya Liu Wangwee untuk
diletaki diatas pembaringan kecil dimana biasanya Liu
Wangwee suka pakai untuk tidur siang.
Hartawan Liu masih terus pingsan. Ketika diperiksa lukanya
oleh si kerudung merah, ternyata dua tulang iganya patah. Si
kerudung merah geleng-geleng kepala setelah melihat lukanya
Liu Wangwee.
Melihat itu Bwee Hiang menjadi ketakutan.
"Apa luka ayah tak dapat disembuhkan ?" ia menanya pada
tamu asing.
"Dapat, cuma makan tempo lama." sahut si kerudung merah.
"Asal sembuh kembali, tak perduli berapa lama, aku akan
merawatnya." kata Bwee Hiang dengan hati lega.
"Bagus, kau anak baik, anak Hiang." kata si kerudung merah
pula.
"Kau keliru berkata begitu." si nona bersenyum sedih.
"Kenapa ?" tanya si kerudung merah. Heran ia mendengar
kata-kata Bwee Hiang.
"Aku anak puthauw (tidak berbakti) sebab akulah yang
menjadi gara-gara hingga timbulnya kejadian seperti
sekarang." jawab Bwee Hiang seraya menundukkan kepala
dan dari kedua matanya yang bagus mengucur air mata.
"Mari kita tolong ayahmu." si kerudung merah berkata,
menyimpangkan kesedihannya si nona. Sementara itu, ia
minta air kepada salah satu pelayan untuk membersihkan
lukanya Liu Wangwee.
Bwee Hiang usulkan untuk memanggil sinshe, tapi tamu asing
itu menggoyangkan tangannya. "Tak usah, nanti aku obati
sendiri ayahmu." ia berkata.
Si nona percaya akan kepandaian orang tersebut. Ia hanya
membantu saja apa yang ia dapat atas pekerjaan si bintang
penolong untuk kesembuhan ayahnya.
Malam harinya, Liu Wangwee kedengaran merintih. Seluruh
tubuhnya terasa panas, sedang dibagian yang luka parah
amat sakit. Tapi setelah diberi obat lagi oleh si kerudung
merah, perlahan-lahan Liu Wangwee hilang rintihannya dan
kemudian baru dapat pulas. Dijaga oleh Bwee Hiang yang
tidak tidur baragn sekejap pun pada malam itu. Selama mana,
sering ia tumpahkan air mata. Ia sangat menyesal telah
menerbitkan bencana pada ayahnya.
Pemberesan pada kawanan penjahat dilakukan sangat singkat
oleh si kerudung merah. Setelha memberikan pertolongan
pertama pada Liu Wangwee, ia keluar lagi dari rumah dan
menghampiri korban-korban totokannya.
"Untuk membuat kalian jangan penasaran, nah, mari kita
bertempur lagi !" berbareng ia menyepak satu demi satu
tubuhnya Sucoan Sam-sat.
Giam-ong dan dua saudaranya segera juga bebas dari
totokan. Mereka lompat berdiri mengawasi si kerudung merah.
Hanya Tan Kongcu yang masih belum dibebaskan totokannya,
yang dalam pingsan telah ditotok oleh si kerudung merah.
Maksudnya supaya anak hartawan jahat itu tidak melarikan
diri, sementara ia memberikan pertolongan kepada Liw
Wangwee.
Tiga algojo dari Sucon merasakan badannya segar kembali.
Maka semangat berkelahinya juga lantas timbul dengan
serentak.
"Sahabat, kau buka kerudungmu kalau kau benar laki-laki !"
kata Giam-ong Puy Teng.
"Hahaha !" si kerudung merah tertawa. "Tidak ada yang
istimewa di wajahku, buat apa kalian hendak mengenalinya ?
Kalian terkenal sangat jahat, maka aku ingin memunahkan
tenaga dalam masing-masing. Untuk membikin kalian jangan
jadi penasaran, maka aku pun sudah membebaskan kalian
dari totokan !"
Mendengar itu, tiga jagoan dari Sucoan amat kaget. Belum
pernah mereka sekaget saat itu. Tapi hati mereka angkuh
karena percaya dengan tiga tenaga gabungan, mereka dapat
mengalahkan si kerudung merah yang sangat sombong.
Mo-jiauw Teng Cong yang pandai bicara dan banyak akalnya
berkata, "Kami tidak bermusuhan dengan kau, kenapa kau
hendak memusnahkan lwekang kami ?"
Terdengar si kerudung merah tertawa, lalu berkata, "Memang,
dengan aku pribadi kalian tidak bermusuhan tapi kalian sangat
jahat dan banyak membunuh sesama manusia, tak pandang
bulu, jahat atau baik. Kejahatan kalian sudah tak terkira, maka
aku akan mewakili mereka yang sudah mati penasaran untuk
menghukum kalian........."
"Kentut !" memotong Sin-mo Lie Kui yang menjadi panas atas
kata-kata si kerudung merah, sikapnya sudah hendak
menyerang.
"Jangan temberang, sahabat !" menyela Giam-ong Puy Teng.
"Maksudmu hendak memusnahkan lwekang kami bertiga
hanya merupakan impianmu saja. Ha ha ha.........." berbareng
ia menerjang hendak menjambret kerudung lawan.
Cuma sayang kepandaiannya di bawah si kerudung merah
sebab bukan saja kerudung orang luput menjambret, malah
jari-jari tangannya kena disentil hingga ia merasakan kesakitan
dan lantas lompat mundur lagi.
Mo-jiauw Teng Cong, diantara tiga jagoan jahat itu yang
percaya bahwa si kerudung merah akan buktikan katakatanya,
sebenarnya mencoba mendamaikan urusan
sehingga dapat dibereskan dengan menyenangkan. Tetapi
usahanya selalu dibikin gagal oleh sikap dan kata-kata kedua
saudaranya yang ingin selalu berkelahi sebagai keputusannya.
Dengan suara kalem terdengar si kerudung merah berkata
lagi, "Sebaiknya kalian bersiap-siap sebab temponya sudah
dekat untuk aku musnahkan lwekang kalian. Lekas siap !"
Dua orang berangasan, Giam-ong Puy Teng dan Sin-mo Lie
Kui, begit kata 'siap!' meluncur dari mulutnya si kerudung
merah, sudah lantas menerjang dengan jurus-jurusnya yang
paling ganas untuk mengirim lawannya ke dunia lain.
"Bukan kami tapi kau yang akan kami musnahkan lwekangnya
!" bentak Giam-ong Puy Teng dengan suara menggelepar,
saking marahnya dia.
"Belum komplit kalau belum turun tiga-tiganya." menyindir si
kerudung merah seraya mengelak sana sini menghindarkan
serangan dua orang yang sudah kemasukan setan. Mo-jiauw
Teng Cong yang berdiri dengan ragu-ragu, merasa tepat sekali
kena sindiran si kerudung merah, maka hatinya pun panas
seketika.
"Jangan jumawa, sahabat !" ia kemudain berkata sambil terjun
dalam arena pertempuran, mengeroyok si kerudung merah.
"Hahaha, ini baru komplit !" katanya. Berbareng dengan
perkataan 'komplit !' segera terdengar suara 'buk ! buk !'
beberapa kali, disusul oleh jeritan saling susul dan........ di
lain
detik tampak Sucoan Sam-sat pada tergeletak sana sini.
Sementara si kerudung merah tampak berdiri ketawa-ketawa.
Ketiga jagoan jahat itu tidak melihat, entah bagaimana si
kerudung merah bergerak, tahu-tahu merasakan punggungnya
digebuk dua kali. Kontan rasa panas menyelusup ke ulu hati,
kaki berbareng lumpuh hingga seketika itu tak tahan untuk
mendeprok di tanah.
Tapi hanya sebentaran saja hawa panas yang merupakan
reaksi dari gebukan di punggung itu, sebab segera sudah pulih
lagi kesegarannya. Mereka menjadi kegirangan, tapi tatkala
mereka coba empos tenaga dalamnya, tiba-tiba 'plong....'
hilang lenyap.
Mereka mengerti bahwa tenaga dalam mereka sudah
dimusnahkan oleh si kerudung merah. Mereka pada bangun
berdiri sambil menundukkan kepala.
"Kalian sangat jahat. Kalau watak demikian kalian masih
belum mau buang, lain kali ketemu aku, terang aku tak bisa
ampuni lagi. Nah, sekarang enyahlah kalian !" si kerudung
merah mempersilahkan Sucoan Sam-sat meninggalkan
tempat itu.
Mereka ngeloyor pergi dengan tidak berani angkat kepala.
Sungguh menyedihkan, Sucoan Sam-sat yang biasanya
seenaknya membunuh orang seperti juga memotong rumput,
kini sekaligus mendapat malu di desa Kunhiang. Apakah
mereka dapat memulihkan pula lwekangnya kemudian belajar
lagi untuk menuntut balas kehinaan yang mereka telah alami
hari itu, entahlah dibelakang hari.
Yang terang, mereka malu untuk pulang ke rumahnya Tan
Wangwee lagi. Langsung mereka pulang ke sarangnya di
Sucoan.
Setelah mereka pergi, si kerudung merah menghampiri Tan
Kongcu dan membebaskan ia dari totokan. Ketika ia bangun
berdiri, lantas mendengar si kerudung merah berkata, "Kau
menjadi biang keladi keonaran, kau harus dihukum !"
Tan Kongcu menggigil ketakutan, takut ilmu silatnya akan
dimusnahkan.
"Tapi mengingat kau tidak sejahat Sucoan Sam-sat, maka aku
kasih kelonggaran. Nah, hunuslah pedangmu dan potong
sebuah kupingmu !" menitah si kerudung merah.
Tan Kongcu ragu-ragu sebab hilangnya kupingnya sebelah
berarti mengurangi parasnya yang cakap, pikirnya.
"Apa perlu aku yang harus turun tangan ?" si kerudung merah
menegur, waktu melihat si kongcu ceriwis ragu-ragu.
"Oh, tidak, tidak....." jawab Tan Kongcu gugup. Berbareng ia
pun menghunus pedangnya untuk memotong sebelah
kupingnya.
Pada saat itu, Bwee Hiang datang menghampiri mereka.
Sambil menunjuk pada si kongcu ceriwis, ia berkata, "Dialah
sebagai maling terbang yang dicari. Kenapa diberi hukuman
begitu murah ?" matanya si gadis mengawasi si kerudung
merah.
"Bagaimana kau tahu dia si maling terbang ?" tanya si
kerudung merah.
"Aku dapat tahu dari ilmu silatnya ketika bertempur dengan
aku." sahut Bwee Hiang.
Si kerudung merah tertawa terbahak-bahak sehingga Tan
Kongcu ketakutan setengah mati.
Dalam hatinya, diam-diam ia memaki Bwee Hiang,
"Perempuan sundel, kau bikin celaka aku. Tunggu nanti
pembalasanku !"
Setelah tertawa, si kerudung merah berkata pada Tan Kongcu,
"Kalau begitu, satu kupingmu itu harus menggelinding di tanah
!"
Tan Kongcu mengerti, ia toh tak dapat membangkang. Maka ia
kerjakan lagi pedangnya untuk menebas kutung kupingnya
sehingga ia tak berkuping lagi. Dengan hilangnya kedua
telinganya itu, kelihatannya ia sangat lucu.
Bwee Hiang hampir-hampir tidak dapat menahan ketawanya,
tapi ia tahan sebisanya supaya tidak melukai hatinya si kongcu
ceriwis............
Mari kita lihat Lo In dan Eng Lian yang sudah lama kita
tinggalkan.
Lo In amat berterima kasih pada Eng Lian yang sudah
menolong memulihkan tenaga dalamnya dengan memberikan
nyali ular kesayangannya.
Sebaliknya Eng Lian girang, ia sudah dapat menolong adik Innya
yang nakal.
Dua anak itu kelihatan cocok satu dengan lain. Tiap hari
mereka bermain-main disekitar rumahnya. Eng Lian melihat
pakaian Lo In sudah compang camping, merasa tidak tega.
Maka ia gunakan temponya untuk membuat pakaian Lo In dari
pakaian ayahnya yang ia kecilkan hingga pas untuk dipakai si
bocah.
Pada suatu hari ketika Lo In keluar dari kamar dengan pakaian
'baru', tampak gagah benar. Maka ia berkata pada Eng Lian,
"Enci Lian, buatanmu ini bagus betul. Coba lihat, gagah tidak
aku dalam pakaian baru ?"
Eng Lian memandang Lo In kemudian ketawa cekikikan
mendengar kata-kata si bocah. "Anak kecil," katanya. "Aksi
amat nih, pakai mau dipandang gagah segala."
"Anak besar yang bikin, mana tidak jadi gagah dipakainya ?"
sahut Lo In.
Eng Lian monyongkan mulutnya yang mungil. Segera juga
kedua bocah itu pada tertawa gembira, masing-masing
senang dengan kejenakaan mereka.
Oey Hoan Ciang atau ayahnya Eng Lian, ada memelihara
puluhan ular di pekarangan rumahnya. Masing-masing
dikurung dengan kerangkeng dari bambu. Bermacam-macam
ular yang dapat dilihat Lo In ketika Eng Lian ajak si bocah
melihat-lihat 'kebun binatangnya'.
Pada suatu hari setelah lakukan inspeksi, dua anak itu pada
duduk diserambi belakang rumah, dimana biasanya mereka
suka duduk omong-omong.
Tiba-tiba Lo In terdengar menghela napas.
"Hei, kau kenapa ?" tanya Eng Lian kontan.
Lo In tertawa mesem. "Aku menyayangkan ular-ular itu tinggal
dalam kurungan." kata Lo In. "Coba mereka di.........."
"Diapakan ?" memotong Eng Liang, seperti biasa, dia tukang
potong omongan.
"Dilepaskan aku maksudkan, enci Lian." sahutnya.
"Hihihi, anak tolo." si dara cilik ketawa. "Kalau dilepas
bukankah mereka tak bisa pulang lagi ? Kau ini ada-ada saja."
"Enci Lian," kata Lo In serius. "Coba kalau kita lepas, selain
kita tidak perlu memikirkan makanannya, juga bagi mereka
akan sangat berterima kasih karena telah mendapat
kebebasan."
"Adik In, bagaimana sih. Mana ada ular bisa berterima kasih
segala !" kata Eng Lian.
Setelah menarik napas lagi, Lo In berkata, "Enci Lian, kau lihat
kawanan keraku. Aku dapat menjinakkan mereka dengan
kehalusan, mereka sangat setia kepadaku, apa yang aku mau,
mereka lantas lakukan tanpa ragu-ragu."
Eng Lian diam, tapi otaknya bekerja.
"Habis, bagaimana kehendakmu ?" tanyanya.
"Ular hanya dapat mendesis, tapi tidak bisa omong." kata Lo
In. "Menurut Liok Sinshe, ular dapat diperintah dengan suatu
lagu dari tetabuhan. Misalnya kita menggunakan seruling
sebagai alat untuk memerintah ular sengan sesuka kita. Aku
lihat kamu menjinakkan ular hanya untuk dipelihara, tapi tidak
dapat dibuat teman. Ini sayang sekali sebab kalau kita dapat
membuat ular-ular sebagai kawan, sewaktu kita membutuhkan
tenaganya, dapat kita minta pertolongannya. Ini, kau jangan
pandang remeh, enci Lian."
Si dara cilik angguk-anggukkan kepalanya.
"Mulai sekarang, mari kita mencoba akan kata-katanya Liok
Sinshe. Kalau benar ular-ular itu dapat ditundukkan dan
diperintah dengan irama lagu, oh, sungguh suatu keuntungan
besar bagi kita berdua sebab disamping kita sudah punya
teman kawanan kera dan rajawali, juga kita dapat sahabat
kawanan ular." demikian Lo In tambahkan.
Eng Lian lantas saja bertepuk tangan. "Bagus, bagus."
katanya girang. "Mari, kita sekarang mulai. Tapi, eh, dari mana
kiat dapat alat tabuhannya ?"
"Itu mudah. Kita coba dengan seruling saja." sahut Lo In.
"Serulingnya dari mana ?" tanya si dara cilik.
"Mari kita cari serulingnya." kata si bocah seraya pegang
tangan Eng Lian, diajak berlalu dari situ.
Eng Lian mengikuti saja dituntun oleh Lo In. Tidak merasa
janggal dia. Karena ini ada kebiasaan Lo In kalau mengajak
encinya pergi main-main.
Segera juga mereka sudah sampai di satu rimba bambu,
dimana Lo In memperhatikan batang-batang pohon bambu
yang baik untuk dipakai membuat seruling yang merdu
suaranya. Sebentar kemudian, tampak ia mencabut pisau
yang diselipkan di pinggangnya dan ia mulai memotong satu
batang bambu yang dianggap akan memenuhi syarat untuk
digunakan sebagai seruling.
Mereka kemudian balik pula ke rumah, dimana dengan cepat
Lo In membuat seruling, sedang Eng Lian hanya menonton
saja si adik In bekerja.
Setelah selesai, Lo In coba-coba meniupnya. Ternyata
bikinannya tidak mengecewakan. Segera juga tiupannya Lo In
berirama keras perlahan dan tinggi rendah.
"Hihihi, adik In." Eng Lian ketawai Lo In. "Kau bisa meniup
seruling, tapi mana bisa kau memerintah ular ? Hihihi...."
Lo In tidak layani ejekan sang enci, ia terus meniupkan
beberapa lagu dekat kurungan-kurungan ular. Ia mencoba
pada satu ular yang sebesar lengan, panjangnya satu meter
lebih.
Beberapa lagu ia perdengarkan tapi ular itu tetap meringkuk,
tidak menghiraukan Lo In yang sedang meniup mati-matian.
Eng Lian melihat itu, terpingkal-pingkal ia ketawai si bocah.
"Aku juga sudah duga, mana dapat ular-ular diperintah dengan
lagu. Ada-ada saja, eh, eh....." tiba-tiba si dara hentikan
ejekannya ketika ia melihat dengan perlahan ular yang tidur
tadi mengangkat kepalanya. Banyak lagu yang ada dalam
otaknya Lo In, si bocah jadi kegirangan. Ia ganti berganti
meniup lagunya sampai ia membuat sang ular terus berdansa
dalam kurungannya. Hal mana membuat Eng Lian jadi berdiri
terpaku sambil leletkan lidahnya, saking keheranan.
Tiba-tiba Lo In hentikan tiupan serulingnya, lantas putar
tubuhnya menghadap Eng Lian yang berdiri terpaku di
belakangnya. "Bagaimana, enciku yang baik ?"
Si dara cilik tidak lantas menyahut, ia hanya unjukkan
jempolnya yang kecil mungil. "Adik In, luar biasa kau......." puji
Eng Lian setelah ia sadar dari keheranannya melihat hasil
yang gemilang dari percobaannya Lo In.
Sambil menghampiri si dara cilik, Lo In berkata, "Selanjutnya,
kita akan latih ular-ular yang ada disini sampai mereka bukan
saja jinak tapi menurut perintah kita. Kalau sudah begitu,
baharulah kita menjadi majikannya."
"Kau benar-benar hebat, adik In."memuji si dara cilik sambil
mencubit hangat pipi Lo In.
Berkat kecerdasan dan kemauan yang sungguh-sungguh, Lo
In berhasil dengan percobaannya menundukkan dan
memerintah kawanan ular. Ular-ular yang ada dalam kurungan
segera pada dilepaskan untuk mendapat kemerdekaannya.
Mereka dapat dipanggil balik bila Lo In meniup serulingnya,
malah bukan ular-ular yang tadinya dalam kurungan saja,
malahan ular-ular lain yang terdapat disekitarnya pada datang
dan menghadap kita punya jago cilik yang didampingi oleh
ratu ciliknya.
Bukan main girangnya Lo In dan Eng Lian melihat hasil usaha
mereka.
Lo In selainnya mendapat warisan ilmu silat dan surat, juga
mendapat warisan dalam ilmu pengobatan dari Liok Sinshe.
Tidak heran kalau ia sering mencari akar-akar pohon yang
merupakan obat dan menciptakan obat pulung (pil) yang
mustajab untuk menjaga kesehatan ia dan Eng Lian.
Disamping itu, Eng Lian juga giat belajar silat dari Lo In, juga
tidak ketinggalan belajar bahasa monyet hingga selanjutnya ia
dapat bergaul leluasa dengan tentara monyet Lo In. Si burung
garuda juga sudah jinak dengannya. Malah kalau tidak mereka
berduaan naik si rajawali, Eng Lian juga suka pesiar sedirian.
Ada pepatah yang membilang, 'Ada waktu berkumpul, tentu
ada waktu berpisah'. Pepatah ini memang tidak salahnya,
sebagaimana yang dialami oleh Lo In dan Eng Lian.
Itulah pada suatu sore, Lo In melihat burung rajawalinya
pulang dengan tidak membawa Eng Lian, sedang dua jam
yang lalu ia lihat menunggang burung raksasanya
sebagaimana biasa untuk pesiar di sekitar lembah itu.
Lo In terkejut. Segera ia menghampiri burungnya yang sedang
tundukkan kepalanya mendekam. Ia heran, lalu menanya,
"Tauw-heng, kau bersama-sama lagi enci Eng Lian. Kemana
dia pergi ?"
Burung itu diam saja, seolah-olah merasa bersalah.
Lo In jadi bingung. Bagaimana dia bisa tahu sedang si rajawali
tidak bisa bicara seperti manusia. Maka, ia cepat lompat ke
punggung si burung raksasa, ia tepuk pundaknya sambil
berkata, "Lekas, bawa aku ke tempat enciku !"
Si rajawali lantas bangkit dan pentang sayapnya, segera
terbang ke jurusan barat kemudian turun pada suatu tempat
yang lebat dengan pepohonan.
-- 11 --
Lo In lompat turun dari punggung si rajawali kemudian
melakukan pemeriksaan di sekitar tempat itu. Ia sampai pada
satu tempat yang banyak tumbuh pohon bunga, tentu ia
mendarat di sini. Cepat ia memeriksa, tampak olehnya ada
satu pohon kembang yang berbunga bagus sekali.
Ia menghampiri ke sana, tiba-tiba ia menjadi kaget tatkala
matanya melihat di tanah ada berceceran darah. Apakah enci
Lian dibunuh di sini ? Tanya ia dalam hati kecilnya. Ia jadi
bingung dan sangat kuatir akan keselamatannya enci Liannya.
Ia jongkok dan memeriksa lebih teliti, darah itu berceceran
sampai pada jalanan masuk ke dalam rimba pohon. Ia
mengikuti terus jejak darah yang dapat terlihat, sampai tibatiba
ia sadar kalau dirinya sudah dikurung oleh tiga orang yang
ia tidak kenal, belakangan menyusul lagi empat orang yang
keluar dari semak-semak.
Mereka itu rupanya jago-jago silat pilihan, semuanya pada
membawa senjata tajam di pinggangnya masing-masing. Tiba
tiba seorang, yang menjadi pemimpin rupanya, berkata,
"Hehehe, aku heran. Kenapa Pangcu kirim kita begini banyak
untuk membekuk satu anak hitam begini saja ?"
Lo In mengawasi pada orang yang barusan berkata. Ia lihat
orang itu kira-kira usia pertengahan, mukanya persegi tiga,
hidungnya mancung, mulutnya ada sedikit tongos.
"Kita mesti percaya pada kata-kata Pangcu. Jangan kita
sembarangan memandang enteng, Cin-heng (saudara Cin)."
terdengar yang lain berkata.
"Aku sih bukannya sombong. Kalau hanya menghadapi segala
bocah begini, sembari tiduran juga aku bisa menangkapnya.
Ha ha ha !" kata lagi si pemimpin.
Kecuali yang barusan kasih nasihat pada orang she Cin, yang
lain-lainnya memang pada memandang rendah pada Lo In.
Mengurung makin rapat, Lo In heran. Ia tidak kenal dengan
mereka tapi sikapnya seperti yang memusuhi dirinya.
"Para paman, kalian menghendaki apa dari aku ?" Lo In tanya,
sekenanya saja.
"Kami akan menangkapmu !" bentak salah satu diantaranya.
"Aku tidak bersalah, kenapa mesti ditangkap ?" tanya Lo In.
"Kau anaknya Kwee Cu Gie, bukan ?" balik tanya si pemimpin.
"Siapa itu Kwee Cu Gie, aku tidak kenal." sahut Lo In kontan.
"Bocah hitam, kau mau main-main sama engkongmu !" si
pemimpin berkata lagi.
Berbareng ia menjambret tangan Lo In yang sedang
memegang kembang. Tangan Lo In dapat dicekal, sambil
pelintir ia berkata, "Anak hitam, mengakulah. Jangan....... Kau
!" tiba-tiba ia berjengit sebab sekarang menjadi berbalik.
Bukan tangan Lo In yang diplintir tapi tangan si orang kasar
yang diplintir.
Kawan-kawan lainnya menjadi kaget, melihat pemimpinnya
hanya segebrakan saja sudah dapat dikuasai Lo In.
Lo In salurkan sedikit tenaga dalam ke tangannya, segera
tangan si pemimpin yang kena diplintir seperti kena strum
listrik. Ia teraduh-aduh tanpa dapat melepaskan pegangan Lo
In. Meskipun tangannya kecil, seakan-akan melengket.
"Kalian kenapa diam saja ? Lekas maju semua !" teriak si
pemimpin yang sudah jadi mandi peluh kena diplintir Lo In.
Seperti baru sadar dari tidurnya, mereka lantas serentak
menyerbu.
Dua belas tangan menghajar berbareng. Itu bukan main
hebatnya. Lo In bisa hancur lebur badannya. Tapi
kenyataannya lain, ketika serangan serentak sampai, dengan
kegesitannya laksana kilat, Lo In menghilang sambil
melepaskan si pemimpin yang dijadikan temberang.
Si pemimpin jadi berkuing-kuing seperti babi dipotong karena
dihujani pukulan kawan-kawannya sendiri.
Kaget mereka, bukan Lo In yang dihujani pukulan tapi
kawannya sendiri. Cepat mereka mancari bayangan Lo In.
Mereka lihat si anak kecil hitam berada tidak jauh dari mereka,
sedang tenang-tenang saja bermain setangkai bunga.
Mereka mulai jeri tapi tak dapat mereka abaikan perintah dari
kepala perkumpulannya. Maka itu mereka maju pula
berbareng untuk menangkap Lo In.
"Kita tidak bermusuhan, kenapa kalian mau tangkap aku ?"
tanya Lo In.
"Perintah dari atasan tak dapat diabaikan." sahut satu
diantaranya.
"Kalian dari mana sebenarnya ?" tanya si bocah pula, tenangtenang
saja.
"Kami dari Ceng Gee Pang." sahut tiga orang hampir
berbareng.
"Untuk apa banyak cakap, lekas tangkap dia !" bentak si
pemimpin.
Perintah mana, sudah lantas dikerjakan. Enam orang
mengurung Lo In. Tapi mereka sangat hati-hati, kuatir nanti
bocah lolos lagi.
"Sebetulnya aku ingin main-main dengan kalian, sayang
temponya tidak ada. Karena aku mau mencari enci Lian." kata
Lo In, tersenyum nakal.
"Anak hitam, sebaiknya kau menyerah supaya tidak membuat
kami jadi berabe dan tubuhmu kesakitan karena hujanan
kepalan kami !" berkata salah satu diantara orang yang
mengepung Lo In.
"Kalian tak dapat menangkap aku." menantang si bocah.
"Jangan sombong, anak kecil !" terdengar jawaban.
Sementara itu pengurungan makin diperketat, kira-kira
jaraknya satu meter lebih.
"Kalau kalian tidak percaya, nah, lihatlah !" kata si bocah.
Lo In berkata begitu, jarak mengepung makin rapat. Setelah itu
berbareng mereka menubruk dan menyangka si bocah akan
tertangkap.
Tapi sebelum maksud mereka kesampaian, tapak Lo In
meremas-remas kembang ditangannya lalu sambil memutar
tubuhnya ia meniup kembang ditangannya hingga
berserabutan terbang mengarah ke hiat-to (jalan darah) di
jidat, leher, pundak dan lain-lainnya. Kontan enam orang yang
mengepung pada lemas kakinya karena kena ditotok oleh
lembaran-lembaran kembang tadi.
Sementara itu Lo in sudah tidak ada bayangannya lagi
dihadapan mereka.
Karena totokan dengan kembang itu hanya totokan main-main
saja dari Lo In, maka hanya beberapa menit saja mereka
lumpuh. Selanjutnya mereka sudah dapat bangun pula dan
segar kembali sebagaimana biasa.
Melihat kawan-kawannya dirobohkan dengan hanya tiupan
kembang yang diremas, membuat Cin Lian Hin si pemimpin
menjadi melongo terpaku ditempatnya. Ia geleng-geleng
kepala. Pikirnya, apa bisa jadi ada seseorang bocah yang
mempunyai tenaga dalam begitu hebat, susah diukur ?
"Hahaha, Cin-heng." tiba-tiba diantara mereka ada yang
ketawa terpingkal-pingkal.
"Hei, Kek Kim. Kau tertawakan apa ?" tanya Cin Lian Hin.
"Aku tertawakan kau, Cin heng. Kau bilang, kau mau ganda
dia sembari tiduran, nah sekarang apa buktinya ? Malah kita
bertujuh diganda olehnya seperti memeram mata saja. Aaha !"
kembali Kek Kim tertawa seenaknya.
Cin Lian Hin merah seluruh mukanya, saking jengahnya.
Untuk tidak sampai jadi berkelahi dianara kawan sendiri,
beberapa orang menyela untuk simpangkan pembicaraan itu
hingga dua orang itu tidak sampai adu kepalan.
Mereka tidak ungkulan mencari Lo In, maka pulanglah mereka
untuk memberi laporan kepada Pancu (ketua perserikatan)
mereka.
Sampai cuaca menjadi gelap, Lo In masih juga belum dapat
menemukan Eng Lian.
Hatinya sangat kuatir akan keselamatan si dara cilik, melihat
darah berceceran. Ia menyesal tadi tak menanyakan tentang
enci Lian kepada salah satu orang yang mengeroyok mereka,
lantas terburu-buru untuk mencarinya.
Lo In pulang dengan lesu, badannya sangat lemas ketika ia
turun dari punggungnya si garuda. Keadaan mana dilihat oleh
si burung raksasa dengan mengembang air matanya, rupanya
ia turut berduka atas kehilangan Eng Lian.
Esok paginya, Lo In kumpulkan tentara keranya, diperintah
untuk mencari Eng Lian sementara ia sendiri dengan naik si
rajawali mencari disekitar lembah, tapi jejak Eng Lian tak
dapat dijumpai oleh si bocah.
Diam-diam ia menangis kehilangan enci Liannya.
Ketika dua tiga hari dicari disekitar lembah enci Eng Lian tidak
diketemukan, pada hari yang keempat, Lo In mencari sampai
cuaca remang-remang gelap.
Ketika ia mau pulang, tiba-tiba dalam pikirannya berkelebat
pikiran apakah boleh jadi Eng Lian sudah dibawa naik ke atas
? Mungkin si dara cilik ada di atas Tong-hong-gay. Pikirnya,
apa salahnya ia coba-coba naik ke atas sekalian melongok
rumahnya dahulu, bagaimana keadaannya sekarang ini.
Ia tepuk-tepuk burung raksasanya untuk terbang tinggi, ke
atas puncak jurang.
Si rajawali merasa heran. Tidak sari-sarinya sang tuan kecil
menyuruh dia terbang sampai ke atas puncak. Tapi ia terbang
sampai ke atas puncak, tapi ia terbang dengan semangat
karena ia tahu Lo In hendak mencari Eng Lian.
Sampai di atas cuaca sudah gelap, cuma diterangi oleh bulan
sisir yang tenggelam timbul diantara awan yang menutupinya.
Melihat itu, Lo In jadi terkenang akan kejadian hampir dua
tahun berselang ketika ia berdiam dengan Liok Sinshe di
puncak jurang itu. Ia turun dari 'kapal terbangnya', menyuruh si
rajawali menantikan disitu saja, jangan ikut ia yang hendak
mencari bekas rumahnya.
Sampai di tempat yang dituju, Lo In merasa heran sebab
rumahnya lain dari dahulu. Kalau tadinya sudah tua, sekarang
bagus mentereng, malahan dijaga oleh beberapa pengawal
yang bersenjata tajam.
Siapakah yang menjadi penghuni baru dari bekas rumahnya
itu ?
Lampu-lampu di sana sini tampak sudah dipasang hingga
cukup terang di sekitar rumah itu. Ingin Lo In menghampiri
rumah itu tapi kuatir orang nanti salah anggapan dan
menghinanya. Jalan paling baik, pikirnya, ia mengintip dengan
diam-diam saja ke dalam rumah itu. Siapa tahu ia dapat kabar
halnya enci Eng Lian yang hilang.
Dengan ginkangnya (ilmu entengi tubuh) yang sudah diukur,
dapat sekejap saja Lo In sudah berada di atas genteng rumah
tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal.
Dari sini Lo In tidak dapat melihat ke ruangan dalam karena
gentengnya dilapis dari sebelah bawah. Rupanya disengaja
dibuat begitu kekar supaya tidak ada orang yang mencuri
dengar apa yang dibicarakan dalam ruangan.
Terpaksa Lo In turun lagi ke bawah.
Dua orang jaga hanya nampak berkesiurnya angin tapi tak
melihat adanya bayangan orang, tidak tahu Lo In datang
mendekati mereka.
Dua orang penjaga itu, tengah duduk membelakangi pohon,
yang satu pendek, satu lagi kurus.
"Menurut Cin Lian Hin, calon Tongcu dari cabang Ceng Gie
Pang disini dengan membawa enam pilihannya sudah
menemukan bocah yang diinginkan oleh Pangcu." demikian Lo
In mendengar si pendek berkata pada temannya.
"Habis, apa yang sudah ditangkap ?" tanya si kurus.
"Katanya mukanya hitam legam, cuma kuping dan lehernya
saja putih."
"Heran, masa calon Tocu (pemimpin) bisa dipermainkan,
apalagi dibantu oleh enam orang pilihan yang memperkuat
perserikatan kita."
Demikian Lo In mendengar pembicaraan dua pengawal itu.
Selagi ia sangsi, kenapa ia mau ditangkap, lantas mendengar
pula si kurus menanya pada kawannya, "Hei, Lao Can, kenapa
sih anak kecil itu mau ditangkap ?'
"Mana aku tahu." sahut si pendek. "Cuma aku dengar, dia itu
anaknya Kwee Cu Gie. Siapa Kwee Cu Gie dan kenapa
anaknya mau ditangkap, aku tidak tahu."
"Itu Cin Lian Hin dan kawan-kawannya hanya gentong nasi
saja. Masa anak kecil saja tidak bisa menangkap. Coba kalau
aku yang disuruh, aku bekuk saja batang lehernya sampai dia
terampun-ampun. Hahaha !" membual si kurus, seraya bangkit
mau meninggalkan kawannya yang masih duduk. Tiba-tiba ia
rasakan batang lehernya seperti ada yang menepuk. Sakit
rasanya sampai ia meringis-ringis.
Sambil berbalik, ia tegur temannya, "Hei, Lao Can. Kau jangan
main-main, sakit tuh. Main tepuk belakang batang lehar orang,
tidak ada kira-kiranya !"
"Siapa yang menepuk batang lehermu ?" tanya si pendek
sambil bangkit dan mau ngeloyor meninggalkan si kurus.
Mendadak ia rasakan telinganya seperti disentil, sakit bukan
main. Ia lantas berbalik dan marah-marah menegur si kurus.
"Kenapa kau menyentil telingaku ?"
"Siapa yang menyentil telingamu ?" si kurus melotot.
Dua-dua kelihatan mendongkol. Tapi mengingat akan
kewajiban meronda sudah waktunya, mereka ngeloyor jalan.
Belum dua tindak mereka berlalu, tiba-tiba keduany berseru,
"au !" Si kurus pegangi belakang lehernya, sedang si pendek
pegangi telinganya. Panas rasanya pada bagian yang
dipegangnya itu. Berbareng mereka putar tubuh dan
berhadapan. Masing-masing matanya saling mendelik.
"Betul-betul kau bikin penasaran orang, pendek !" kata si
kurus, katanya marah.
"Kau juga bikin penasaran orang," sahut si pendek.
"Kau tepuk pundakku lagi !"
"Kau sentil kupingku lagi !"
Mereka bertengkar dan akhirnya berkelahi. Masing-masing
tidak mau mengaku salah. Memang mereka tidak bersalah
sebab yang menyebabkan itu adalah Lo In. Dengan gunakan
kegesitannya, saban-saban menyelingkar di balik pohon, Lo In
godai dua pengawal itu. Ia menepuk belakang lehernya si
kurus, kemudian menyentil kuping si pendek, akhirnya mereka
adu kepalan.
Jail benar si bocah. setelah orang berkelahi, ia nonton dengan
bertepuk tangan. Tanpa disadari bahwa hal itu akan
menimbulkan kecurigaan. Dan ini pun telah terjadi, si kurus
dan si pendek yang tengah berkelahi saling jotos, lantas saja
hentikan perkelahiannya, mengawasi Lo In yang sedang
bertepuk tangan.
"Hei, dari mana datangnya ini bocah bermuka hitam ?" pikir
mereka.
Lantas mereka ingat akan penuturannya Cin Lian Hin. Inilah
rupanya si anak kecil yang dikatakan lihai. Mereka tidak
melihat adanya kelebihan dari si bocah sehingga ia sangat
ditakuti, girang hatinya, masing-masing ingin menangkap Lo
In. Kalau mereka dapat tangkap si bocah, berarti satu jasa
besar dan tidak mustahil bila mereka dinaiki pangkatnya.
Terdorong oleh rasa serakah, dua pengawal itu lantas main
mata satu sama lain untuk kerja sama menangkap Lo In.
"Anak kecil, kau siapa ?" tanya si kurus.
"Aku adalah aku, buat apa kau tanya." sahut Lo In jenaka.
"Anak sambel, apa kau tidak tahu masuk ke sini dilarang ?"
bentak si pendek.
Siapa yang berani melarang aku datang untuk main-main
disini ?" Lo In balik menanya.
Kembali dua pengawal itu main mata, segera tangan kiri Lo In
sudah kena disambar si pendek sedang si kurus berbareng
menyekal tangan kanannya. Mereka kegirangan dapat
menangkap Lo In. "Anak kecil, mari ikut kami menghadap Hupancu."
berkata si kurus sambil tarik tangan Lo In.
Dengan bangga mereka sudah giring Lo In. Kawan-kawannya
pada merasa heran melihat si kurus dan si pendek menggusur
satu bocah bermuka hitam. Anak siapa itu, berani mati datang
ke situ yang terjaga keras.
Tidak mudah untuk menghadap Hu-pangcu (wakil ketua)
sebab harus melalui beberapa ruangan yang dijaga kuat. Lo In
menjadi benar-benar pangling (tidak mengenali) bekas
rumahnya, diperbesar dan menjadi mewah itu. Ia jinak sekali
dituntun si pendek dan kurus untuk dihadapkan kepada Hupangcu.
Sampai di ruangan tempatnya Hu-pangcu, Lo In lihat ruangan
itu diperaboti indah sekali. Entah berapa banyak Ceng Gee
Pang (Golongan Gigi Hijau) mengeluarkan duit untuk
memperindah ruangan itu.
Lo In lihat kira-kira ada 20 orang tengah mengadakan rapat
menghadapi meja panjang. Ditengah-tengahnya ada seorang
dengan muka lonjong dan kumis pendek, usianya kira-kira di
bawah lima puluh tahun. Tubuhnya agak kegemuk-gemukan,
pakaiannya dari sutra yang mahal harganya.
Lo In menduga orang itu tentu Hu-pangcu dari Ceng Gee
Pang.
Diantara yang hadir dalam rapat itu terdapat calon Tocu Cin
Lian Hin bersama kawannya yang menangkap Lo In. Ketika
melihat si bocah bermuka hitam dibawa masuk, mereka amat
terkejut. Ada juga yang kucak-kucak matanya, tidak percaya
bahwa Lo In begitu mudah dapat ditangkap oleh dua tukang
rondanya.
"Apakah dia anaknya yang mempermainkan kalian ?" tanya
Hu-pangcu kepada Cin Lian Hin dan kawan-kawannya.
"Belum pasti." sahut Cin Lian Hin. "Tak semudah itu dia dapat
ditangkap."
Hu-pangcu tersenyum tidak enak sebab dalam senyuman itu
seolah-olah mengandung sindiran kepada Cin Lian Hin
dengan kawan-kawannya tidak becus menangkap seorang
bocah saja.
Kalau Hu-pangcu itu dapat anggapan remeh pada Lo In,
tidaklah heran sebab si bocah menurut saja dibentak-benatk
dan dijoroki oleh si pendek dan si kurus yang membawanya
menghadap si wakil ketua.
Si pendek dan si kurus setelah melaporkan bagaimana
mereka dapat menangkap si anak kecil, lalu majukan Lo In
untuk diperiksa.
"Anak kecil, apakah maksud kau untuk masuk kemari ?" tanya
Hu-pangcu, suaranya tidak bengis.
"Aku mau mencari enci Lian." sahut Lo In.
"Siapa itu enci Lian ?' tanya Hu-pangcu.
"Dia adalah enciku, teman karibku." Lo In menerangkan.
"Apa kau yang permainkan dia dengan kawan-kawannya ?"
Hu-pangcu tanya lagi, seraya jarinya menunjuk pada Cin Lian
Hin.
Lo In mengawasi si orang she Cin sebentar, "Kau tanya saja
pada dia." sahutnya.
Si wakil ketua melengak. Pikirnya bocah ini sikapnya acuh tak
acuh, menjawab pertanyaan seenaknya saja, hatinya menjadi
tidak senang.
Matanya tiba-tiba bersinar mengawasi si pendek dan si kurus.
Mereka ketakutan dan gelapan. Mereka tahu kesalahannya,
barusan lupa menyuruh Lo In berlutut untuk menghadap wakil
ketua. Cepat mereka dekati Lo In. Masing-masing pada
pegang lengan Lo In dijoroki supaya berlutut.
Hampir berbareng mereka membentak, "Berlutut !"
Waktu itu para hadirin termasuk Hu-pangcu terkejut dan
katanya terbelalak.
Mengapa mereka ? Mereka melihat ada yang berlutut tapi
bukannya Lo In malahan dua pengawal yang menjoroki Lo In
sambil berseru 'berlutut !' yang berlutut.
Itulah Lo In yang mendemonstrasikan kelincahannya.
Waktu si bocah dipegang lengannya dan dibentak disuruh
berlutut, ia geraki sedikit badannya, lolos dari pegangan si
pendek dan si kurus lalu berjongkok. Kedua tangannya
dipentang untuk menotok hiat-to di dengkul yang membuat
pengawal itu terkulai dan berlutut, sedang Lo In sudah lantas
berdiri.
Gerakan Lo In sangat cepat laksana kilat. Hanya beberapa
detik saja terjadi sehingga banyak diantara hadirin yang tidak
tahu bagaimana Lo In bergerak.
Hanya Hu-pangcu yagn melihat tegas, bagaimana dua
pengawalnya dirubuhkan dengan satu gerakan kilat dari si
bocah.
Waktu Lo In dapat ditangkap oleh si pendek dan si kurus itu
hanya atas kemauan Lo In. Pikirnya, dengan membiarkan
dirinya ditangkap dan dibawa menghadap pemimpin, ia bisa
dapat tahu keadaan di dalam dan siapa yang kepalai
Golongan Gigi Hijau yang hendak menangkap dirinya.
SI bocah gesit luar biasa, tetapi belum tentu lwekangnya luar
biasa. Kalau nampak usianya yang masih begitu muda, belum
masuk hitungan jago muda.
Pikiran itu muncul diantara para hadirin, diantaranya ada satu
yang mukanya kekuning-kuningan yang bernama Gouw Li Lit
bangkit dari duduknya, datang menghampiri Lo In sambil
ketawa-ketawa, "Anak kecil, kau hebat !" katanya sambil
menepuk pundaknya si bocah dengan tenaga lima bagian.
Pikirnya, sekali tepuk si bocah akan terkulai sedikitnya, kalau
tidak sampai tergetar jantungnya pasti copot. Tidak disangka,
kalau tepukannya itu membawa akibat yang memalukan.
Ialah, telapak tangannya yang menepuk, ia rasakan seperti
menepuk kapas atas pundaknya Lo In, malah tangannya tak
dapat diangkat dari pundaknya Lo In seakan-akan menempel
saja. Kaget bukan main Gouw Li Lit, apalagi ketika Lo In
menyalurkan lwekangnya ke pundak orang she Gouw itu
hampir menjerit kesakitan dan rasa linu sekujur badannya
seketika. Waktu Lo In goyang sedikit pundaknya, tangan Gouw
Li Lit terlepas dan terdorong sempoyongan, hampir jatuh
duduk kalau ia tidak gunakan 'cian kin tui' atau ilmu
memberatkan bada seribu kati untuk menahan tubuhnya.
Gouw Li Lit pucat mukanya, merasa sangat penasaran
dirubuhkan hanya segebrakan saja oleh bocah yang barusan
lepas netek. Ia ada satu ahli Gwakang (tenaga luar) yang oleh
kawan dan lawan disegani. Dimana ia taruh muka bila hanya
begitu saja dapat keok sama anak kecil. Tidak heran kalau ia
jadi sangat gusar. Matanya mendelik pada Lo In dan berkata,
"Anak kecil, mari kita adu kepandaian !"
"Aku tidak ada tempo, aku hendak mencari enci Lian." sahut
Lo In.
Penerangan dalam ruangan itu cukup, dipasang beberapa lilin,
diantaranya ada empat lilin yang besar ditancap dibelakang
meja rapat.
Gouw Li Lit mendekati Lo In, "Aku tidak rela dengan gebraka
tadi. Maka marilah kita adu kepandaian." menantang Gouw Li
Lit sambil pasang kuda-kuda.
Melihat lagaknya orang she Gouw, Lo In jadi ketawa. "Aku
tidak mau berkelahi, kenapa kau memaksa ?" katanya seraya
masih ketawa.
Lo In ketawa sebenarnya wajar karena merasa lucu melihat
tingkahnya si orang she Gouw. Tapi ketawanya si bocah justru
dianggap satu hinaan oleh Gouw Li Lit. "Aku ketawa apa,
bocah !" bentaknya lalu disusul dengan serangan hebat
menggunakan tenaga penuh. Angin pukulannya sampai
menderu, segera terdengar suara 'brak !'. Itulah meja yang
berantakan terkena angin pukulannya.
Lo In tatkala itu berdiri tidak jauh dari meja yang hancur tadi.
Kalau serangan Gouw Li Lit itu mengenakan sasarannya, pasti
si anak kecil remuk tulang-tulangnya. Baikna saja ia sudah
menghilang dan sodorkan meja sebagai wakilnya.
Para hadirin jadi tegang. Mereka tahu si orang she Gouw
kalau sudah kalap, untuk mencuci kehormatannya, jalan satusatunya
adalah menghancurkan tubuh Lo In.
Hanya sayang, si anak kecil terlalu gesit untuk lantas
menghilang dari hadapan Gouw Li Lit yang saban kali
menyerang dengan tenaga maksimum.
"Bocah hitam !" teriak Gouw Li Lit kalap. "Kau jangan
menghilang kayak setan. Kalau berani sambuti seranganku !"
Kelihatannya ia kewalahan dilawan dengan kegesitan Lo In.
Maka ia berteriak kalap tadi. Ia berteriak sambil membarengi
dengan serangan dahsyat.
"Aku tidak mau berkelahi, kau paksa juga. Nah, baiklah aku
sambuti !" Lo In sambuti seenaknya saja, tanpa pasang kudakuda
segala.
Gouw Li Lit girang teriakannya tidak sia-sia. Seketika ia
menyerang dengan jurus yang mematikan, sepasang
kepalannya yang segede kepala bayi, menyambar ke arah
dada Lo In. Ini adalah tipu 'sian coa touw sin' atau 'Sepasang
ular muntahkan bisanya'. Satu jurus yang ganas, mengerikan,
apalagi itu ditujukan kepada Lo In anak kecil. Tidak heran
kalau para hadirin menjadi amat kaget dan kuatir akan
keselamatan si bocah.
Tapi Lo In tenang-tenang saja, malah ia masih bisa ketawa
ketika pukulan sampai. Ia tidak berkelit menghilang,
sebaliknya ia papaki sepasang kepalan lawan dengan satu
sampokan tangan kiri, keras lawan keras. Lucu kelihatannya
sebab dua lengan yang segede anak ditangkis oleh satu
tangan yang kecil halus. Menurut teori, akan patahlah tangan
yang kecil itu. Tapi prakteknya, setelah bentrokan keras, Gouw
Li Lit tarik pulang sepasang lengannya dengan susah payah
seperti yang terlepas dari sambungan pundaknya, wajahnya
meringis-ringis kesakitan, jantungnya tergetar seperti mau
copot saja rasanya. Sementara si bocah hanya berdiri
senyum-senyum saja melihat sang lawan lompat mundur
dengan muka pucat dan meringis-ringis.
Lo In telah gunakan gerakan 'Tan cian cui tah' atau 'Dengan
satu tangan mendorong pagoda', satu tangkisan keras yang
mengandung tenaga dalam yang dahsyat untuk memunahkan
serangan Gouw Li Lit yang ganas.
Para hadirin hampir tak percaya dengan mata kepalanya
sendiri menyaksikan adegan yang langka dalam dunia
persilatan (Bu lim) seperti yang diperlihatkan oleh si anak kecil
berwajah hitam.
"Hek-bin Sin-tong........" menggumam Hu-pangcu dari Ceng
Gee Pang saking kagum ia melihat kepandaian Lo In.
Meskipun perlahan Hu-pangcu itu menggumam tetapi
terdengar nyata di telinga para hadirin yang mempunyai
lwekan tinggi. Mereka pada menoleh pada Hu-pangcu, seraya
dalam hatinya masing-masing pada berkata, "Pantas anak
hitam ini mendapat julukan 'Hek-bin Sin-tong' dari mulutnya
Hu-pangcu Ceng Gee Pang. Belakangan hari telah membuat
namanya Lo In populer dengan julukan itu dalam dunia
Kangouw.
Diantara para jagoan yang hadir dalam rapat itu adalah Gouw
Li Lit yang paling menonjol kepandaiannya. Sekarang si orang
she Gouw sudah dikalahkan dengan begitu mudah, siapa lagi
yang berani maju ?
Hu-pangcu, meskipun jeri hatinya merasa tidak puas kalau
tempatnya diacak-acak oleh anak kecil. Maka seketika itu
lantas memberi tanda pada para hadirin untuk mengepung Lo
In.
Mereka bangun dengan serentak dari masing-masing tempat
duduknya, memburu Lo In.
Si bocah kaget juga. Sebelum ia buka mulut menanyakan
sebabnya mereka datang mengeroyok, ia dibikin repot oleh
hujan kepalan dan tangan dibeber menabas bagaikan golok
tajam. Terpaksa Lo In keluarkan ilmu entengi tubuh ajaran
Liok Sinshe yang dinamai 'Bu eng bu seng sin hoat' atau 'Ilmu
sakti tidak bayangan tiada suara', yang ia yakinkan dengan
mahir betul.
Dengan kepandaian meringankan tubuh yang sakti itu,
membuat jagoan-jagoan yang mengeroyok saban-saban
tubruk angin. Sungguh lucu kalau menyaksikan adegan itu.
Kawanan jagoan seakan-akan merupakan kawanan serigala
yang kelaparan berebut menangkap mangsanya, tapi sang
korban saban-saban menghilang dari hadapannya. Bukannya
jarang, satu sama lain saling beradu tangan, beradu tubuh dan
berbenturan kepala disebabkan berbarengan mereka
menubruk mangsanya. Tapi sang mangsa telah hilang lenyap
seperti masuk dalam rumah atau naik ke langit saja.
Dalam sengitnya mereka mengepung Lo In, sampai tak
menyadari bahwa saat itu ada seorang tamu sudah lama
menonton mereka sedang uber-uberan.
"Hahaha ! Ang Ban Ie, kau menjadi anak kecil lagi ? ha ha
ha......... !" Inilah suara si tamu, keras berwibawa sehingga
semua orang hentikan uber-uberannya.
Mereka tidak tahu kemana si bocah menghilangnya, tapi
mereka lebih perlukan menghadapi tamu yang baru datang itu.
Rupanya mereka kenal baik pada tamu yang datang itu sebab
semuanya kelihatan pada menunjuk muka tegang.
Tamu itu ada seorang tua dengan muka bersih, pakaiannya
pun perlente, dari mana menunjukkan bahwa si tamu itu bukan
orang dari tingkatan rendah.
Tamu itu memang tiada lain adalah Pangcu dari Ceng Gee
Pang.
Melihat ketuanya yang datang, segera Ang Ban Ie, si wakil
ketua lekas menghampiri memberi hormat. Ia berkata, "Toako,
mengapa malam-malam kau datang kemari ? Tentu ada
urusan penting yang hendak dibicarakan dengan aku."
Pangcu dari Ceng Gee Pang itu ada saudara cintong dari Ang
Ban Ie, namanay Ang Ban Teng. Ia lihai menggunakan senjata
rahasia bentuk panah yang direndam dalam obat, bukannya
racun tapi istimewa kerjanya. Panah itu asal menancap pada
tubuh korbannya, kalau menemui darah lantas menjadi lumer
dan sang korban akan menggigil kedinginan. Kaki tangan tak
dapat digerakkan seperti membeku untuk sepuluh menit
lamanya. Entahlah, Ang Bang Teng menggunakan bahan obat
apa untuk senjata panahnya yang istimewa itu, tapi yang
terang namanya terkenal dengan Soa-cian Ang atau Ang si
Panah Salju.
"Terang kalau tidak ada urusan penting, tak aku datang
malam-malam kesini." jawab Ang Ban Teng, si Panah Salju
sembari jalan menghampiri meja rapat dan lantas duduk di
meja kepala, di dampingi oleh Ang Ban Ie, si wakil ketua.
Orang-orang pada berkumpul lagi mengitari meja rapat
dengan dalam hatinya masing-masing pada menanya urusan
penting apa yang dibawa Pangcu itu.
"Hiante," kata Soat-cian Ang. "Kenapa kalian mengeroyok
anak kecil tadi ? Apakah tidak malu nanti diketahui oleh rekanrekan
dalam kalangan Kangouw ?"
Ang Ban Ie ketawa, tapi ketawanya tentu saja tidak wajar. Ia
merasa malu dengan teguran saudara tuanya. Meskipun
begitu, ia harus membela diri agar jangan terlalu
dipersalahkan. Ia berkata, "Soalnya bocah itu anaknya Kwee
Cu Gie. Bukankah Siong Leng Totiang ada minta bantuan kita,
diwaktu kita hendak menempati tempat ini supaya kita
membantunya untuk menangkap anaknya Kwee Cu Gie ?'
Soat-cian Ang kerukan keningnya. "Dari mana kau tahu bocah
itu anaknya Kwee Cu Gie ?"
Pada sepuluh hari yagn lalu kita ada kedatangan Ang Hoa
Lobo dengan Toan-bi Lomo Siauw Cu Leng." jawab Ang Ban
Ie.
"Hah ! Dua iblis itu datang kemari?" tanya Soat-cian Ang,
terkejut dia.
"Betul," sahut Hu-pangcu Ang Ban Ie. "Si nenek mengatakan
bahwa dibawah jurang ada satu lembah dimana ada tinggal
seorang anak kecil yang mempunyai tentara kera dan burung
raksasa. Aku jadi ingat akan pesan Siong Leng Totiang
supaya kita membantunya. Maka aku lalu menanya pada si
nenek, apakah anak itu bukannya anak Kwee Cu Gie. Ang
Hoa Lobo manggut. Ang Hoa Lobo kata anak itu lihai, harus
dipancing meninggalkan tentara kera dan burung raksasanya,
baru ada harapan ditangkap degnan menggunakan banyak
orang kuat kita. Kalau diserangnya, ia kata jangan banyak
harap dapat menangkap si bocah karena tentara kera dan
burung rajawalinya, ada pelindung yang sangat kuat......."
"Lalu kau kirim orang untuk memancing dia, bukan ?"
memotong Soat-cian Ang.
"Betul," melanjutkan Ang Ban Ie. "Aku sudah kirim tujuh orang
kuat kesana dikepalai oleh Cin Lian Hian. Inilah Tocu kita
untuk cabang disini." Ang Ben Ie menunjuk Cin Lian Hin
memperkenalkan kepada Pangcunya.
Soat-cin Ang manggut-manggut. "Teruskan, hayo teruskan
ceritamu." katanya.
"Cin hiante dan kawan-kawan tak usah memancing lagi si
anak kecil meninggalkan sarangnya." melanjutkan Ang Ban Ie.
Karena dalam perjalanan ke sana dia sudah bertemu dengan
anak yang dimaksud, yang mencari kawannya yang bernama
Eng Lian. Rupanya Cin hiante terlalu memandang enteng
pada si anak kecil, karena bukan saja anak yang diarah tak
dapt ditangkap, malah Cin hiante dengan enam kawannya
kena dirobohkan dengan memalukan sekali."
Selanjutnya Ang Ban Ie menuturkan bagaimana Cin Lian Hin
dan kawan-kawan dipecundangi oleh Lo In dan tentang
kedatangannya si bocah malam itu ke markas mereka malammalam
untuk mencari temannya hingga menjadi adu
kepandaian dengan Gouw Li Lit disusul dengan pengeroyokan
ramai-ramai oleh mereka.
Soat-jian Ang angguk-anggukkan kepalanya, sembari urut-urut
kumisnya.
Diam-diam ia merasa kaget mendengar penuturannya Ang
Ban Ie.
"Anaknya sudah begitu hebat, bagaimana dengan bapaknya
?" terdengar si Pangcu bergumam. Kiranya gumaman Ang
Ban Teng dapat didengar tegas oleh para hadirin yang
kepandaian lwekangnya tidak rendah.
"Pangcu maksudkan siapa bapaknya ?" tanya Gouw Li Lit tibatiba.
"Aku tidak tahu apa bapaknya si anak kecil itu masih hidup
atau sudah mati. Sebab menurut Siong Leng Totiang, Kwee
Cu Gie yang menyaru jadi Liok Sinshe ada dua tahun yang
lampau sudah mati masuk jurang dibokong oleh Kim Popo."
menerangkan Soat-cian Ang.
"Lalu bagaimana pikiran Toako ?" tanya Ang Ban Ie.
"Kemarin dulu, aku ada kedatangan sobatku. dia itu ada Liu In
Ciang, yang kini terkenal dengan nama Liu Wangwee di desa
Kunhiang." menutur Soat-jian Ang. "Dalam omong-omong dia
menceritakan pengalamannya pada satu setengah tahun yang
lalu dia didatangi Sucoan Sam-sat........"
"Apa Pangcu bilang ? Sucoan Sam-sat ?" memotong Gouw Li
Lit. Ia kaget rupanya.
"Benar." sahut Soat-cain Ang. "Siapa tidak kenal dengan tiga
algojo dari Sucon itu. Rata-rata orang persilatan pernah
mendengar tentang mereka itu."
"Mereka datang ada urusan apa dengan Liu Wangwee ?"
menyela Ang Ban Ie.
"Sucoan Sam-sat datang atas undangannya Tan Kong Ceng,
salah satu hartawan di Kunhiang. Entah ada urusan apa yang
menyebang Liu In Ciang dan Tan Kong Ceng bentrok hingga
hartawan Tan mengundang tiga algojo dari sucoan. Tapi yang
penting untuk kita adalah keterangan sobatku itu. Katanya
dalam pertempuran dengan Giam-ong Puy Teng, Liu In Ciang
dapat dirobohkan dengan mendapat luka parah, dua tulang
iganya patah. Anak gadisnya, Bwee Hiang, dalam putus
harapan hendak menebas kuntung lehernya, tiba-tiba
pedangnya terpental jatuh dari cekalannya karena benturan
batu kecil yang dilepas dari jurusan pohon, dari mana telah
turun melayang sesosok tubuh, ialah si kerudung
merah..........."
"Siapa itu si kerudung merah ?" menyela beberapa hadirin
hampir berbareng.
"Hahaha !" tertawa Soat-cian Ang. "Si kerudung merah adalah
bintang penolong dari sobatku itu. Dia bukan saja melabrak
Sucoan Sam-sat satu demi satu, malah belakangan disuruh
maju berbareng tapi mereka tidak ungkulan menghadapi si
kerudung merah. Lwekang dari tiga penjahat itu telah
dimusnahkan dan diancam apabila mereka tidak bisa rubah
adatnya dan belakangan hari ketemu lagi dengannya, si
kerudung merah akan mengambil jiwanya."
Sampai disini menutur, kelihatan Soat-cian Ang gembira, air
mukanya berseri-seri sambil elus-elus janggutnya. Atas
desakan hadirin ia menutur lagi, "Liu Wangwee diobati olehnya
sampai sembuh. Ketika ditanyai siapa adanya si kerudung
merah, selalu dia menyimpangkan pertanyaan hingga sobatku
tidak tahu siapa dia sebenarnya. Tapi yang terang, ilmu
silatnya luar biasa. Sekali gebrak, ia bikin lawannya mati kutu
mendeprok di tanah. Dia meninggalkan rumah sobatku,
menghibur supaya hartawan Liu jangan memikirkan lagi si tiga
algojo karena dia sudah musnahkan ilmu silatnya dan mereka
tidak berani datang lagi. Tapi perhitungan itu rupanya meleset
sebab Sucoan Sam-sat bukan merubah kelakuannya,
sebaliknya mereka minta pertolongan gurunya, Thie-tauw-eng
Ie Jie Lo (si Garuda Kepala Besi).
"Gurunya sendiri tidak sanggup memulihkan tenaga dalam
mereka. Untung ada supeknya, Hong-hwe-liong Siang Hong
Sin, dapat menolongnya meskipun perlahan-lahan. Sekarang
kepandaian mereka sudah pulih. Setelah mendapat petunjuk
dari guru dan supeknya, kabarnya Sucoan Sam-sat sudah
keluar lagi dari sarangnya mencari si kerudung merah. Tapi
sudah beberapa bulan dicari belum dapat dijumpai dimana
adanya si kerudung merah. Sahabatku, Liu In Ciang menjadi
gelisah. Karena tak dapat menemukan musuhnya maka
mereka akan datang pula ke Kunhiang untuk menghancurkan
keluarga Liu. Liu Wangwee sendiri tidak mohon pertolongan
apa-apa padaku, cuma aku sebagai sobatnya, mana dapat
tinggal peluk tangan menonton Liu In Ciang menghadapi
bahaya maut."
Semua yang hadir tidak membuka suara apa-apa setelah
mendengar penuturannya san Pangcu sampai kemudian Hupangcu,
Ang Ban Ie yang memecahkan kesunyian. "Jadi
apakah kita akan ikut campur tangan dalam urusan Liu
Wangwee ?"
Soat-cian Ang angguk-anggukkan kepala.
Kembali keadaan menjadi sunyi.
"Untuk menolong Liu Wangwee adalah wajar." kata Gouw Li
Lit. "Sebab Liu In Ciang ada sahabat Pangcu. Cuma saja,
bagaimana kita harus menghadapinya itu tiga algojo dari
Sucoan yang tersohor sangat ganas ?"
"Justru dalam hal ini aku datang kemari untuk berunding.
Bagaimana pikiran saudara-saudara sekalian ?" berkata Soatcian
Ang sambil perhatikan wajah hadirin satu demi satu. Ia
mengharap ada pikiran baik keluar dari salah satu
diantaranya.
Mereka berunding, mencari jalan keluar.
Sementara itu soal si anak kecil sudah tidak disinggungsinggung
lagi oleh mereka. Apa lagi sang Pangcu tidak
menanyakan soalnya lebih jauh. Perhatian sekarang jauh
dipusatkan kepada soal mencari jalan untuk menolong Liu
Wangwee yang terancam bahaya.
Dimana si bocah mengumpat ?
Kiranya ia mengumpat di bawah meja rapat yang ditutup
dengan kain merah. Enak saja ia diam-diam disitu mencuri
dengar apa yang dibicarakan oleh mereka. Kembali dalam
benak Lo In timbul pertanyaan : Siapakah dirinya ? Anak
siapa, apakah Kwee Cu Gie benar ayahnya ? Dimana ibunya ?
Liok Sinshe dikatakan menyamar, diam diatas jurang Tonghong-
gay, apakah benar ia Kwee Cu Gie, kenapa dia tidak
omong bahwa dia adalah anaknya ? Semua telah membikin
pusing kepalanya si bocah lagi.
Memikir dalam ruangan itu ia tidak mempunyai kepentingan
pula, maka diam-diam tanpa disadari oleh para hadirin yang
tengah memusatkan perhatiannya kepada urusan Liu
Wangwee, Lo In sudah bisa menyingkir dari ruangan itu.
Dengan menggunakan kepandaiannya meringankan tubuh,
tidak seorang pun dapat melihat ia berlalu kecuali
berkesiurnya angin disamping para penjaga. Sebentar lagi Lo
In sudah menghampiri burung raksasanya yang
menantikannya dengan penuh khawatir.
Mari kita lihat keadaan Eng Lian.
Sore itu Eng Lian naik garudanya sendirian, pesiar diatas
lembah. Ketika si rajawali melayang rendah, tiba-tiba burung
raksasa itu nampak berkelebatnya seekor kelinci. Otomatis ia
menyambar ke bawah, tapi sang korban sudah lari
bersembunyi diantara pohon bunga-bungaan.
Melihat banyak pohon kembang, Eng Lian sangat tertarik
hatinya. Ia tepuk-tepuk pundaknya si burung raksasa sambil
berkata, "Tiauw-heng, kau turun disini, aku nanti tangkapkan
kelinci untukmu."
Si dara cilik dari tadi terpingkal-pingkal ketawai burungnya
yang gagal menyambar mangsanya. Ia ingin menolong
tangkapi si kelinci yang menyusup diantara pohon-pohon yang
merintangi si rajawali mementang sayapnya.
Si burung raksasa lantas mendarat. Eng Lian dengan gembira
lompat turun dari bebekong si rajawali kemudian ia lari
menyusup diantara pohon-pohon kembang. Lagaknya seperti
yang mengubar kelinci tapi sebenarnya ia hendak memetika
kembang-kembang yang harum semerbak memenuhi hidung.
Senang sekali Eng Lian berada diantara bunga-bunga.
Tangannya repot memetik sana sini, memilih bunga yang
bagus-bagus untuk dibawa pulang. "Sayang adik In tidak turut,
kalau tidak, oh, bagaimana gembiranya kita memetik kembang
yang harum mewangi ini." ia berkata-kata sendiri.
"Selamat bertemu lagi nona Lian........" tiba-tiba si dara cilik
mendengar orang berkata dari belakangnya hingga ia cepat
menoleh dengan kaget.
Kiranya yang berkata-kata tadi adalah Ang Hoa Lobo, kenalan
lama yang Eng Lian sangat benci. Sambil cemberut, ia
menanya : "Nenek jahat mau apa ?"
"Hehehe !" si nenek ketawa kering. "Bagaimana kau bisa
katakan aku jahat ?"
"Memang kau jahat." sahut Eng Lian berani. "Kau sudah pukul
adik In sampai luka berat, kemudian kau hukum aku tidak
makan beberapa hari. Apa itu tidak jahat ?"
"Aku toh belum gebuk mati si bocah, belum hukum mati kamu,
masih belum terhitung jahat, bukan ?" bantah si Nenek
Kembang Merah seraya haha hihi ketawa.
"Hmm !" si dara cilik mendengus. Mendongkol dia mendengar
alasan si nenek.
"Aku datang hendak menyambut kau, Eng Lian." kata si
nenek.
"Menyambut aku ?" si nona cilik menanya heran. "Aku sudah
tidak ada hubungan lagi dengan kau, untuk apa kau
menyambut aku ?"
"Hubungan kita masih ada. Sebegitu jauh, kau masih tetap
membandel tidak ajarkan menjinaki ular." sahut si nenek
ketawa.
--12--
Si dara cilik geleng kepala.
"Aku tidak mau ajarkan kau." katanya.
"Kenapa ?" Ang Hoa Lobo menanya heran.
"Kalau kau sudah dapat menjinaki ular, nanti kau akan lebih
jahat lagi." sahut si dara cilik.
"Tidak, tidak. Aku berjanji akan menjadi orang baik, kalau kau
sudah ajarkan menjinaki ular." si nenek cepat menyahut.
"Soalnya ditempatku Coa-kok (Lembah Ular) disana ada
banyak kawanan ular, aku mau bikin kawanan ular itu takluk
padaku, lain tidak."
Si nona kerutkan alisnya yang lentik, ia berpikir rupanya.
"Nona Lian, aku hanya minta kau ajari aku. Setelah mana aku
tak akan mengganggu lagi kau." Ang Hoa Lobo berjanji.
Kembali si nona tidak menjawab. Ia berpikir, memang paling
baik kalau si nenek tidak datang mengganggu ia dan Lo In
punya ketentraman. Apalagi si nenek berjanji akan menjadi
orang baik. Tidak ada salahnya kalau ia mengajari si nenek
menjinaki ular. Setelah mengambil keputusan, ia berkata,
"Baiklah, mari ikut aku."
Si nona berkata seraya geraki kakinya hendak berlalu dari situ,
menghampiri si rajawali yang menunggu jauh di sana.
Ang Hoa Lobo sudah tentu saja tidak bersedia mengikuti si
nona karena disana ada si rajawali yang kalau melihat dia
dengan Siauw Cu Leng akan beringas dan mengajak
bertempur. Maka itu ia lalu berkata, "Nona Lian, sebaiknya kita
jangan ke rumahmu. Kau ikut aku saja ke Coa-kok."
Si nona putar tubuhnya. "Mana bisa begitu, adik In sedang
menunggui aku." sahutnya seraya lari hendak lari
meninggalkan Ang Hoa Lobo.
Lari belum jauh, tiba-tiba ia dicegat oleh Siauw Cu Leng.
"Hahaha ! Dara cilik, kau mau lari kemana ?" bentaknya kasar.
"Kakek jahat, kau jangan merintangi aku !" semprot Eng Lian.
Si nona coba hindarkan sambaran tangan Siauw Cu Leng, tapi
ia ada satu gadis cilik yang baru saja belajar silat. Mana dapat
ia lolos dari si Iblis Alis Buntung yang kasar dan kejam. Maka
sambaran tangan yang kedua kali sudah dapat menangkap
pergelanagan tangan si nona cilik hingga ia menjerit karena
pegangan si Iblis Alis Buntung seperti jepitan besi rasanya.
Si dara cilik berontak-rontak tidak menolong.
"Eng Lian sebaiknya jangan kau menolak undangan kami. Hei,
Cu Leng, jangan kau kurang ajar pada guru cilik kita !" kata
Ang Hoa Lobo melihat Toan-bi Lo-mo memencet tangan si
nona kecil dengan keras hingga menjerit kesakitan.
Siauw Cu Leng menurut. Ia longgarkan pegangannya.
Si rajawali yang menunggu majikannya jauh dari situ,
bukannya tidak mendengar jeritan nonanya. Ia hanya
mengebas-ngebaskan sayapnya saja. Untuk terbang masuk
ke tempatnya Eng Lian tak dapat ia lakukan karena banyak
rintangan cabang pohon untuk sayapnya bebas bergerak.
Tidak heran, ia kelihatan sangat gelisah sebab suara jeritan
Eng Lian itu ada satu tanda si dara cilik dalam bahaya.
Setelah lama ia nantikan nonanya belum kelihatan muncul,
maka terpaksa ia pulang untuk memberitahukan pada Lo In. Di
lain pihak, Eng Lian sudah kena ditotok oleh Siauw Cu Leng
dan dibawa pergi dari situ.
Belum berapa tindak mereka berlalu, telah berjumpa dengan
Cin Lian Hin dan enam kawannya. Ang Hoa Lobo berkata
pada Cin Lian Hin, "Ini ada cara yang kebetulan. Tak usah
kalian memancing lagi si bocah keluar dari sarangnya, kalian
tunggu saja disini. Pasti si bocah akan datang kemari untuk
mencari temannya."
Cin Lian Hin sangat kegirangan. Pikiranya memang hal itu
sangat baik, tidak berabe lagi harus memancing Lo In keluar
dari sarangnya yang banyak teman kawanan kera.
Sementara itu, atas perintah si nenek, Siauw Cu Leng sudah
tangkap seekor kelinci, ia potong dan daranya dibikin
berceceran dari mulai pohon kembang di mana Eng Lian
berdiri sampai sejauh bisa darah sang kelinci dapat
dikucurkan.
Jadi darah yang berceceran yang Lo In jumpai itu bukannya
darah Eng Lian tapi darahnya sang kelinci liar yang nasibnya
lagi sial ketemu Siauw Cu Leng.
Ang Hoa Lobo senang dapatkan Eng Lian. Ia bawa ke
sarangnya, Coa-kok yang sukar didatangi orang karena di
lembah itu kesohor banyak ularnya.
Di sana Eng Lian dibujuk lagi oleh Ang Hoa Lobo, dijanjikan ia
akan dibebaskan dan diantarkan kepada Lo In kalau ia sudah
turunkan ajaran menakluki kawanan ular. SI dara cilik dapat
dibujuk, tanpa banyak pikir ia lantas berikan pelajaran pada
Ang Hoa Lobo. Hatinya sudah kepingin buru-buru ketemu Lo
In lagi. Ia kuatirkan putus asa mencari dirinya yang diculik oleh
si Nenek Kembang Merah. Kalau ia sudah menurukan
pelajaran menakluki ular kepada Ang Hoa Lobo, pikirnya, ia
akan mendapat kebebasannya dan segera dapat pulang ke
rumahnya bertemu pula dengan adiknya.
Dasar anak kecil, masih belum tahu kecurangannya manusia.
Eng Lian kena dikibuli Ang Hoa Lobo sebab setelah si nenek
dapat ilmu menakluki ular bukan saja kebebasannya si dara
cilik tidak diberikan, malah Eng Lian dipakai alat untuk
keuntungannya Ang Hoa Lobo dan gula-gulanya (Siauw Cu
Leng).
"Popo." kata Eng Lian pada suatu hari. Ia sekarang memanggil
popo atas usul si nenek sebab katanya diantara mereka tidak
ada permusuhan dan malah dengan panggilan yang halus itu,
kedengarannya lebih mesra dan lebih dekat hubungan
keluarga. "Aku sudah turunkan pelajaran menakluki ular,
kapan aku dibebaskan dan ketemu lagi denan adik In ? Dia
tentu sudah menunggu-nunggu aku dengan tidak sabaran."
Ang Hoa Lobo tertawa ramah. Katanya, "Oh, besok ada hari
baik. Tanggal 7 bulan 7, aku akan antarkan kau kembali ke
rumahmu dan ketemu lagi dengan Lo In."
Eng Lian senang mendapat jawaban itu. Ia menubruk Ang Hoa
Lobo, memeluk dengan mesra, katanya berbisik, "Popo, kau
sangat baik......."
Si nenek mengelus-elus rambut kepalanya Lian.
"Anak Lian," katanya, "Besok ada hari berpisahan kita. Maka
sebentar malam sebaiknya aku mengadakan sedikit
perjamuan untuk memberi selamat jalan padamu. Sebab
belum tahu kapan kia bisa ketemu lagi."
"Oh, tidak Popo. Nanti aku dengan adik In akan menyambangi
kau disini. Jangna lupa, kalau adik In kemari, kau mau juga
akan memberi obat pemunah pada mukanya adik In yang
hitam supaya ia dapat kembali pada wajahnya yang asli."
demikian si dara cilik nyerocos, tampaknya ia sangat manja.
Ang Hoa Lobo mendengar kata-kata Eng Lian anggukanggukkan
kepalanya. "Tentu, itu jangan kau minta juga aku
akan sembuhkan muka anak In." sahutnya ramah.
Hatinya si dara cilik makin girang.
Pada malamnya lantas diadakan perjamuan sederhana.
Eng Lian yang tidak biasa minum arak, ia hanya disuguhi teh
saja. Teh yang wangi dan menyegarkan badannya. Maka ia
beberapa kali meneguk isi cangkir yang saban kali disilahkan
minum oleh Ang Hoa Lobo.
Si nenek dan Siauw Cu Leng dengan gembira menemani
pesta perpisahan itu.
Setelah beberapa cangkir teh masuk dalam perutnya Eng
Lian, si dara cilik tiba-tiba menguap beberapa kali lantas
bangkit dari duduknya sambil berkata, "Aku sudah ngantuk,
biarlah aku tidur lebih dahulu........."
Baru saja ia mengucapkan 'dahulu........' lantas roboh terkulai,
dengkulnya dirasakan lemas. Lantas saja ia tidur di lantai, lupa
akan keadaan disekitarnya.
"Hehehe !" terdengar Ang Hoa Lobo ketawa seram.
"Hebat obatmu, cici !" memuji si Iblis Alis Buntung.
"Ini baru tidur saja. Sebentar kalau dia sudah siuman, kau
boleh lihat bagaimana pengaruh obatku yang kuberikan
padanya. He he he......" si nenek berkata sangat bangga
tampaknya.
Eng Lian diantapkan saja tidur di lantai, sementara Ang Hoa
Lobo teruskan makan minumnya bersama Siauw Cu Leng
dengan gembira.
Kira-kira 1 jam sudah berlalu, tampak si gadis cilik mulai
mendusin.
Eng Lian kucak-kucak matanya kemudian bangkit dari
rebahnya. Matanya yang jeli halus kini berubah jadi beringas
seperti kerasukan setan.
"Hi...hi....hi...........hihihi.........!" tiba-tiba Eng Lian
ketawa
menyeramkan.
"Bagaimana ?" Ang Hoa Lobo tanya Siauw Cu Leng yang saat
itu jadi bengong melihat kelakuan Eng Lian.
"Begini !" sahut si Iblis Alis Buntung seraya mengacungkan
jempolnya.
Beringas sikapnya Eng Lian, menakutkan. Matanya terus
mengawasi Ang Hoa Lobo, tapi yang diawasi tinggal tenangtenang
saja, malah ketawa ramah.
Tiba-tiba........ Eng Lian berteriak keras, lalu menubruk si
nenek. Kedua tangannya diangkat hendak mencengkeram
muka si nenek. Tapi dengan mudah kedua tangan si dara cilik
dipegangnya, lalu berkata, "Eng Lian, jangan kurang ajar
kepada suhu. Lekas berlutut !"
Sungguh mengherankan. Kata-kata Ang Hoa Lobo diturut
dengan serentak. Eng Lian jatuhkan dirinya berlutut, sambil
mengucap 'Suhu'.
Toan Bi Lo-mo Siauw Cu Leng hanya mendengar dari Ang
Hoa Lobo bahwa 'istrinya' itu mempunyai satu kepandaian
mengherankan. Ia belum mau percaya sebab kalau belum
melihat buktinya. Sekarang dengan mata kepala sendiri ia
menyaksikan kepandaian istimewa dari Ang Hoa Lobo. Diamdiam
bulu tengkuknya dirasakan pada berdiri, seram, makin
takut ia pada si nenek.
"Cu Leng." si nenek berkata pada si Iblis Alis Buntung yang
saat itu kelihatan duduk termangu-mangu. "Inilah kepandaian
yang diwariskan oleh suhuku, Lambay Mo Lie kepadaku,
murid tunggalnya. Obat itu dinamai 'Cian jit su su hun' (Obat
bubuk mematikan ingatan seribu hari). Siapa yang minum
akan membuat lupa siapa dirinya dan kejadian-kejadian yang
lampau, dia hanya mempunyai ingatan ada punya suhu,
kepada siapa dia harus setia dan menurut segala perintahnya.
"Sekarang bagaimana kita harus berbuat atas dirinya ?" tanya
Siauw Cu Leng.
"Eng Lian ada punya sepasang ular kecil." kata si nenek.
"Warnanya kekuning-kuningan seperti emas. Ditaruh dalam
sebuh bumbung mungil yang dia bawa-bawa dibadannya.
Kalau aku tanya kenapa sepasang ular itu tidak dia lepas,
katanya untuk menjaga dirinya. Dia ada seorang lemah, tidak
pandai silat. Kalau ada orang hendak berbuat jahat padanya,
dia dapat melepaskan ularnya untuk menggigit. Siapa yang
kena digigit oleh ular emasnya itu akan keracunan dan dalam
tempo setengah jam, kalau tak mendapat obat pemusnahnya
bakal mati dan tubuhnya lumer menjadi air tanpa bekas.........'
"Ah, sampai begitu hebatnya ?" menyela Siauw Cu Leng,
ketakutan dia.
"Itu aku belum buktikan sendiri. Mungkin omongannya tidak
salah. Katanya sepasang ular itu adalah pemberian ayahnya
dengan pesan kalau tidak keliwat terpaksa jangan dilepaskan
untuk membunuh orang. Makanya sampai sebegitu jauh dia
simpan saja sepasang ular emas itu dalam bumbung di
badannya.
"Aku tidak melihat dia kasih makan ularnya." kata Siauw Cu
Leng.
"Sepasang ular itu bisa tiga bulan berturut-turut tidak makan."
menerangkan Ang Hoa Lobo. "Ini aku tahu dari Eng Lia.
Makanannya apa, aku sendiri tidak tahu sebab si Lian tidak
mau mengatakan padaku."
"Kalau sepasang ular itu begitu jahat, paling baik kita rampas
saja dari padanya, kita bunuh mati. Jadi tidak membahayakan
kita." usul Siauw Cu Leng.
"Jangan, jangan." sahut Ang Hoa Lobo seraya goyang-goyang
tangan. "Mati atau hidup sepasang ular itu bagi kita tidak
penting."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita takluki dia dan dijadikan
alat untuk kita. " usul Siauw Cu Leng bernapsu.
"Tidak bisa." sahut si nenek. "Sepasang ular itu tak dapat
ditakluki oleh kita kecuali oleh Eng Lian yang menjadi
majikannya. Juga tidak akan membahayakan pada kita karena
dalam keadaan tidak sadar, Eng Lian tentu akan menjadi alat
kita yang dapat kita gunakan untuk membunuh musuh-musuh
kita. Ini bukannya baik ?"
Siauw Cu Leng ketawa nyengir.
"Eng Lian selain punya senjata ampuh itu, juga punya senjata
lainnya yang tidak kurang ampuhnya." menerangkan Ang Hoa
Lobo.
"Senjata apa, cici ?" tanya Siauw Cu Leng.
"Setelah makan obatku, pikirannya menjadi linglung, gigitan
giginya akan membuat orang yang digigitnya akan kepanasan
seperti dibakar jantungnya dalam tempo lima menit setelah
mana si korban akan sembuh kembali tapi ingatannya lantas
berubah dan tunduk kepada Eng Lian, dapat diperintah
sesukanya Eng Lian....."
"Ah, cici....... aku takut ! Kalau orang yang digigit Egn Lian itu
dapat diperintah Eng Lian. Bagaimana kalau Eng Lian perintah
orang menghajar kita ?"
"Tua bangka tolol !" jengek si nenek ketawa. "Mana bisa Eng
Lian suruh hajar kita sebab Eng Lian ada di bawah pengaruh
kita."
Siauw Cu Leng membungkam.
Sementara itu, Eng Lian tinggal berlutut di depan Ang Hoa
Lobo bagaikan patung.
"Sekarang Eng Lian sudah tidak ingat lagi akan dirinya. Perlu
dia mendapat pelayan-pelayan untuk melayaninya. Sebab
mana aku yang menjadi suhunya melayani dia mandi, makan,
temani kongkow segala. Dia harus mempunyai banyak
pelayan." Ang Hoa Lobo utarakan pikirannya.
"Habis, dari mana kita cari pelayan begitu banyak ?" tanya
Siauw Cu Leng, garuk-garuk kepala.
"Culik. Kenapa kau tidak bisa culik anak gadis orang ?" bentak
si nenek.
Si Iblis Alis Buntung ketawa nyengir. Memang jalan yang
paling mudah untuk mendapati pelayan-pelayan Eng Lian
harus menculik gadis-gadis orang.
Demikian, dengan menggunakan kepandaiannya yang tinggi,
Ang Hoa Lobo dan Siauw Cu Leng dalam beberapa hari saja
sudah dapat menculik banyak gadis-gadis dan anak lelaki
yang berusia tanggung sebaya dengan Eng Lian. Semuanya
dicekoki obat oleh Ang Hoa Lobo supaya ingatannya masingmasing
lenyap. Apa yang dipikirkan mereka hanya punya 1
suhu (guru) pada siapa haru setia dan menurut segala
perintahnya. Yang mereka anggap suhunya adalah Eng Lian,
bukannya Ang Hoa Lobo sebab si nenek sudah menjadi
suhunya Eng Lian. Tegasnya Ang Hoa Lobo menjadi sucow
(kakek guru) dari itu sekian banyak wanita dan pria tanggung.
Senang bukan main hatinya Ang Hoa Lobo melihat muridnya
Eng Lian dan cucu muridnya demikian banyak. Tentu saja ada
meminta biaya besar untuk mengongkosi mereka. Dari mana
di dapat biaya untuk itu ? Gampang. Suruh saja si Iblis Alis
Buntung mencuri atau membegal, maka biaya didapatkan
dengan mudahnya.
Dalam sedikit tempo saja, Eng Lian berubah menjadi ratu
tanpa mahkota.
Semua dayang-dayang yang menjadi pengiringnya
berseragam sutra putih yang tipis, pakai ikat kepala juga dari
sutra putih tertaneap sekuntum bunga dari sutra merah.
Sebaliknya, pria pakaiannya dari sutra kuning menyolok, ikat
kepalanya juga dari sutra kuning, tertancap sekuntum bunga
dari sutra merah seperti para wanita.
Ang Hoa Lobo namakan prajuritnya ini Ang Hoa Kun atau
Pasukan Kembang Merah, simbol (tanda) yang si nenek paling
suka.
Eng Lian berpakaian sutra tipis kuning keemas-emasan,
lapisnya dari sutra warna dadu sangat tipis hingga tubuhnya
yang halus putih berbayang. Ikat kepalanya dari sutra putih
dengan burung-burungan tengah mematuk setangkai bunga
merah. Kalau kepalanya Eng Lian bergerak, burung-burungan
itu angguk-anggukan karena dipasangi per. Indah sekali dan
menarik perhatian.
Para dayang, kecuali sutra tipis warna putih yang merupakan
pakaian luar, di bagian dalam tubuhnya dibungkus oleh sutra
biru ekstra tipis yang ketat hingga tubuhnya yang putih seperti
tercetak, menggiurkan, merangsang napsu lelaki yang
gampang goyah imannya. Sungguh jempol Ang Hoa Lobo
menciptakan mode pakaian yang merangsang napsu birahi.
Rupanya si nenek sudah mempunyai tujuan tertentu
menciptakan mode pakaian istimewa ini, yang membuat Siauw
Cu Leng bengong dan telan ludah.
Ang Hoa Lobo diam-diam bukannya tidak tahu Siauw Cu Leng
yang ceriwis mengiler sampai telan ludah untuk 'cicipi' salah
satu bidadari bikinan itu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Ia mau
kasih hajar pada suami diluar kawin itu supaya kapok atas
perbuatannya yang nyeleweng.
Begitulah telah terjadi. Sore itu Siauw Cu Leng berusaha
pulang dari bepergiannya. Ia dapatkan Ang Hoa Lobo dan Eng
Lian tidak ada ditempatnya. Ia mencari-cari tak terdapat di
sekitar rumah. Diam-diam ia sudah dekati salah satu
dayangnya Eng Lian yang bernama Cui Sian yang waktu itu
sudah benahi pakaiannya Eng Lian yang habis tukaran. Cui
Sian ketawa-ketawa diajak ngobrol oleh Siauw Cu Leng.
Sudah tentu ketawanya tidak wajar, linglung, tak tahu dimana
dirinya berada.
Memandang tubuhnya Cui Sian yang seperti tercetak dibalik
pakaiannya yang gerombongan tipis, bukan main ngilernya si
ceriwis Siauw Cu Leng. Pikirnya ini ada ketika baik, kenapa
dia tak mau gunakan ? Apalagi melihat keadaannya Cui Sian
seperti yang hilang ingatannya, apa ia bisa bikin kalau dia
perkosa atas dirinya ? Napsu birahinya timbul dengan
serentak, tak dapat ia mengendalikannya.
Ia maju lebih dekat, menyambar tangan orang yang putih
halus. Cui Sian hanya tertawa haha hihi seraya berontakberontak
melepaskan tangannya dari cekalan Siauw Cu Leng.
"Cui Sian, mari kita main." berkata Siauw Cu Leng berbareng
ia memeluk dan mencium pipi Cui Sian. Beradunya tubuh yang
hangat membuat Siauw Cu Leng seperti kalap. Ia pondong si
nona hendak dikerjai di atas pembaringan tapi........'Aiyoo !'.
Sekonyong-konyong Siauw Cu Leng berjengkit, serentak ia
melepaskan pondongannya dan tubuhnya Cui Sian terbanting
di lantai. "Hihihihi........." si nona ketawa seraya lari keluar
dari
kamar Eng Lian.
Kenapa Siauw Cu Leng ? Itu hasil dari pekerjaan yang tidak
sopan. Ia memondong Cui Sian dengan maksud keji tapi
sebelum napsu jahatnya kesampaian, lengannya sudah kena
digigit oleh Cui Sian. Bekas gigitan sakit bukan main sehingga
mengeluarkan teriakan 'Aiyoo !' dan lepaskan tubuh si nona
dari pondongannya. Seketika itu ia terkulai roboh, hawa panas
dirasakan meluap ke jantungnya seperti dibakar. Ia menjeritjerit
beberapa kali kemudian tenang lagi dan dapat berdiri pula
sebagaimana biasa, hanya.... ingatannya hilang. Keadaannya
tidak beda seperti korban-korban lainnya yang kena dicekoki
obatnya Ang Hoa Lobo.
Siauw Cu Leng tidak sadar dimana dirinya berada. Perlahanlahan
ia jalan dan berkumpul dengan golongan pria dari Ang
Hoa Kun.
Korban dari obatnya Ang Hoa Lobo yang istimewa memang
benar hilang ingatannya, tidak ingat lagi keadaan dirinya
siapa. Tapi dapat diajak ngobrol, bersenda gurau, ketawaketawa
apabila yang diobrolkan dapat mengitik urat ketawa
seperti juga keadaannya ada normal. Dia tidak akan digigit
kalau salah satu dari 3 bagian dari anggautanya tidak
kesentuh. Tiga bagian anggauta penting itu adalah jidat, buah
dada dan perut.
Kalau salah satu bagian ini kena kesentuh, kontan si korban
akan sadar bahwa dirinya dalam bahaya. Lantas saja
menggigit macam anjing gila menularkan racun. Giginya
nancap pada bagian daging yang digigit, menimbulkan hawa
panas nyelusup ke jantung seperti dibakar tapi hanya
sebentaran. Kemudian si korban gigitan normal lagi cuma saja
penyakit hilang ingatannya menular dan ia keadaannya akan
seperti yang menggigitnya.
Tiada seorang pun yang dapat tahu rahasia tiga bagian
anggauta yang tak dapat disentuh ini kecuali Ang Hoa Lobo
yang mewarisi ilmu sakti dari Lamhay Mo Lie.
Buah dadanya Cui San yang bulat menonjol membikin napsu
iblisnya Siauw Cu Leng melonjak, tak dapat ia melewatkan
kesempatan baik pikirnya. Diwaktu memondong Cui Sian ia
sudah mencium buah dada si nona dan.... karena sentuhan
mulut pada buah dada menyebabkan Cui Sian sadar akan
bahaya mengancam dirinya, otomatis seketika itu ia menggigit
lengannya si ceriwis sehingga menjerit kesakitan.
"Hehehe........." tertawa Ang Hoa Lobo ketika ia pulang melihat
keadaannya Siauw Cu Leng yang jadi hilang ingatannya. Ia
tidak mengenali istrinya, hanya ia memberi hormat pada Eng
Lian seperti kawan-kawannya yang lain. "Inilah ada satu
hukuman bagi orang yang menyeleweng. Cu Leng, Cu Leng,
sampai kapan tabiatmu yang buruk itu bisa dibuang ?
Hehehe........"
Siauw Cu Leng seperti tidak mendengar kata-kata Ang Hoa
Lobo, ia diam saja.
Si nenek lalu membisiki kupingnya Eng Lian, segera ia
berkata, "Siapa diantara kalian yang diganggu oleh Yaya ?
Maju ke depan !"
Saat itu Eng Lian sudah duduk diatas kursi kebesarannya,
didampingi oleh Ang Hoa Lobo dan dikitari oleh dayangdayangnya
yang cantik-cantik. Eng Lian berkata pada dayangdayangnya
yang berkumpul disitu.
Tanpa Eng Lian mengucapkan kedua kalinya, segera tampak
satu dara muncul tampil ke depan ialah Cui Sian. Ia ini berlutut
di depan Eng Lian. Ang Hoa Lobo perhatikan pakaian Cui
Sian, ternyata ada yang sobek pada bagian buah dadanya.
Si nenek manggut-manggut melihat itu. Ia sudah lantas
menduga sobeknya baju si nona pada bagian buah dadanya
adalah kerjaan tangan nakal dari Siauw Cu Leng.
Setelah hilang ingatannya, Eng Lian merubah panggilannya
kecuali pada si Nenek Kembang Merah sudah ia panggil Popo
(nenek), kepada Siauw Cu Leng ia panggil Yaya (kakek atau
engkong) yang biasanya si dara cilik panggil si nenek dan si
kakek jahat.
"Cu Leng, atas kelakuanmu yang ceriwis, aku hukum kau
untuk beberapa lamanya menjadi anggauta Ang-hoa kun !"
berkata si nenek.
Siauw Cu Leng tinggal membisu saja. Ang Hoa Lobo lupa
bahwa Siauw Cu Leng tak dapa menangkap omongannya
kecuali omongan itu keluar dari mulutnya Eng Lian sebab Eng
Lianlah dalam benaknya ada ia punya suhu.
Kapan Ang Hoa Lobo ingat akan keadaan itu, maka ia suruh
Eng Lian yang bicara pada Siauw Cu Leng dan sekarang si
kakek ceriwis kelihatan pucat mukanya, ia maju ke depan dan
jatuhkan diri berlutut di depan Eng Lian sambil manggutmanggut
dia berkata, "Hamba terima salah, mohon Siancu
punya belas kasihan."
Lucu kelakuan Siauw Cu Leng hingga Ang Hoa Lobo yang
melihatnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah mana, tiba-tiba
hatinya merasa menyesal. Pikirnya jelek, Siauw Cu Leng ada
lakinya dan teman diajak berunding. Kalau sekarang ia
ditinggal begitu, hilang ingatannya, dengan siapa dia dapat
bicara untuk mendamaikan cita-citanya lebih jauh. Lantaran
berpikir demikian, maka si nenek terpaksa mengembalikan
pula ingatannya si kakek ceriwis, dikasih obat pemunahnya.
Obat itu diaduk dengan air teh dalam sebuah mangkok, di
depan siapa ia berkata, "Nah, kau minumlah ini !"
Siauw Cu Leng yang masih tetap berlutut tidak meladeni
perintah Ang Hoa Lobo, hanya matanya saja mengawasi si
nenek. Ang Hoa Lobo heran, tapi segera pikiran terangnya
berkelebat. "Ah, dasar sudha jadi nenek, pelupa. Kenapa aku
berbuat begini." ia berkata-kata sendirian sambil jalan
menghampiri Eng Lian.
"Anak Lian, kau suruh orangmu untuk kasih mangkok obat ini
pada yayamu supaya diminum isinya." Ang Hoa Lobo kata
pada Eng Lian seraya menyodorkan mangkok obat pada si
dara cilik yang lantas menyambuti kemudian diserahkan pada
salah satu dayangnya untuk melakukan perintahnya Ang Hoa
Lobo.
Kiranya si nenek kembali lupa bahwa anggauta-anggautanya
Ang-hoa-kun hanya tunduk perintah Siancu (dewi) yang
dianggap suhunya, lain orang jangan harap dapat memerintah
meskipun Ang Hoa Lobo yang menjadi Sucownya (kakek
guru).
Mendengar perintah Siancu, maka Siauw Cu Leng tanpa raguragu
sudah lenyap terima mangkok yang disodorkan padanya
dan minum habis isinya. Sebentar lagi tampak ia menguap
beberapa kali, lalu roboh dilantai dan tidur pulas sampai
mengorok.
Sementara itu Eng Lian sudah suruh Cui Sian bangun dari
berlututnya dan disuruh tukar pakaiannya yang sobek. Cui
Sian menurut lalu meninggalkan ruangan itu.
Eng Lian ada memelihar sepasang ular kecil, warnanya
keemas-emasa yang disimpan dalam sebuah bumbung kecil
mungil, entah dari dahan apa bumbung itu dibuat, bobotnya
enteng dan licin mengkilat. Sepasang ular itu panjangnya
masing-masing hanya tiga cun (dim), gesit luar biasa. Kalau
bumbung ditekan terbuka maka mereka segera mencelat
keluar dan menyambar pada korbannya untuk menggigit.
Racunnya sangat jahat karena korbannya dalam tempo
setengah jam akan mati dan badannya lumer menjadi air
tanpa meninggalkan bekas, kalau tidak keburu dapat obat
pemusnahnya.
Eng Lian tadinya tidak percaya demikian jahat bisa ular
emasnya itu. Tapi setelah menyaksikan sendiri, ia meleletkan
lidahnya. Itulah ia lihat pada waktu sepasang ular itu hendak
diwariskan padanya oleh sang ayah. Maksudnya untuk
menjaga dirinya. Pada saat itu telah dicoba sang ular disuruh
menggigit ular besar yang panjangnya satu meter. Benar saja
ular besar itu mati setelah kena digigit setengah jam lamanya,
bangkainya lumer menjadi air.
Sang ayah memesan kalau tidak sangat perlu, senjata ampuh
itu jangan dikeluarkan karena akibatnya sangat mengerikan.
Kepada Lo In ia masih belum mau ceritakan ia ada
mempunyai senjata ampuh itu. Takut Lo In nanti melarang ia
membawa-bawanya, sedang ia sangat sayang pada sepasang
ular itu, seakan-akan jimatnya.
Berdasarkan sepasang ular emas itu dan kebetulan Coa-kok
(Lembah ular) ada menjadi tempat kediamannya, maka Ang
Hoa Lobo telah memberi gelaran kepada Eng Lian, Kim Coa
Siancu atau Dewi Ular Emas. Memang gelaran ini sangat tepat
untuk Eng Lian karena si dara cilik adalah penakluk ular. Untuk
membikin si dara cilik lebih ditakuti lagi namanya, disamping
sudah punya kepandaian menakluki ular dan sepasang
senjata ampuhnya ular emas, Ang Hoa Lobo dengan tidak
mengenal capek, siang malam dia didik Eng Lian dengan ilmu
silat, rahasia ilmu pedang dan pukulan tangan kosong yang
hebat diturunkan semua pada si dara cilik hingga dalam tempo
pendek Eng Lian sudah berubah dirinya dari gadis cilik yang
lemah gemulai menjadi gadis cilik yang gesit dan tangkas.
Tinggal menggembleng lwekangnya (tenaga dalam) saja,
setelah mana Eng Lian dapat digolongkan sebagai jago kelas
satu.
Setelah siuman kembali, Siauw Cu Leng nampak dirinya tidur
menggeletak di atas lantai, ia lantas ingat akan kesalahannya.
Ia jadi ketakutan pada Ang Hoa Lobo.
"Orang she Siauw." kata si nenek, setelah tertawa terkekehkekeh.
"Masih ada nyali untuk berbuat yang bukan-bukan lagi
nanti ? Kali ini aku mau ampunkan selembar jiwamu tapi lain
kali, hmm !"
Siauw Cu Leng malu, tidak berani ia angkat kepala. Ia masih
tinggal duduk dilantai, kalau tidak Ang Hoa Lobo membentak,
katanya, "Lekas bangun, atur pekerjaanmu sebagaimana
biasa !"
Siauw Cu Leng dengan roman lesu dan malu telah
meninggalkan ruangan itu untuk berkumpul dengan 'Pasukan
Kembang Merah' di lapangan latihan dimana ia biasa
mengajar ilmu silat kepada mereka.
Ang-hoa-kun bagian pria, mendapat didikan dari Siauw Cu
Leng sedang buat bagian wanitanya dididik sendiri oleh Ang
Hoa Lobo. Ketika hari pertama mendidik anak buahnya, si
nenek pernah berkata pada Siauw Cu Leng. "Kita masing
masing mendidik orang-orang muda yang berbakat. Sampai
dimana kepandaian mereka, kita tidak tahu. Tapi satu waktu
nanti aku akan mengadakan pertemuan umum, dimana muridmuridmu
akan dihadapkan dengan murid-muridku. Lihatlah
siapa yang lebih jempol mendidiknya !"
Karena sudah ada kata-kata demikian dari Ang Hoa Lobo,
maka Siauw Cu Leng tidak berani alpakan kewajibannya dan
mendidik orang-orangnya dengan sungguh-sungguh. Maka
tidak heran kalau dalam sedikit waktu orang-orangnya menjadi
pandai silat juga walau belum boleh dikatakan masuk kelas
satu.
Kata-kata Ang Hoa Lobo pada Siauw Cu Leng hanya sebagai
anjuran pada si kakek ceriwis. Sebab umumnya anak murid
Ang Hoa Lobo ada lebih tinggi ilmu silatnya karena dididik oleh
orang yang pandai seperti Ang Hoa Lobo. Kepandaian Siauw
Cu Leng kalah jauh dengan si nenek, apa lagi lwekang Ang
Hoa Lobo ada sangat tinggi.
Tidak sembarangan Ang Hoa Lobo maupun Siauw Cu Leng
menculik anak-anak tanggung pria dan wanita. Mereka
memilih hanya mereka yang dinilai berbakat untuk mendapat
didikan ilmu silat, barulah diculik dibawa ke Coa-kok.
Tidak heran kalau ada beberapa anak jago-jago silat
kenamaan yang hilang lenyap diculik Ang Hoa Lobo atau
Siauw Cu Leng sehingga orang tuanya menjadi gelagapan
mencarinya.
Adanya penculikan-penculikan itu telah menghebohkan
kalangan Kangouw.
Jago-jago silat bergerak dengan serentak untuk mencari
jejaknya si penculik.
Sebenarnya perbuatan-perbuatan menculik dari kedua iblis itu
susah dicari jejaknya kalau tidak si nenek yang 'sok' dengan
kepopuleran nama. Pada belakangan ini, ia setelah menculik
anak orang telah meninggalkan nama Kim Coa Siancu. Malah
yang paling menghebohkan adalah kejadian dirumahnya Hekhouw
Ma Liong, guru silat kenamaan di kota Lengkoan,
Hokkian, dimana Ang Hoa Lobo membuat huru hara.
Sudah beberapa hari memang Ang Hoa Lobo ada tinggal di
kota Lengkoan untuk mencari gadis-gadis yang berbakat untuk
menjadi pelayannya Eng Lian. Ia ada mengincar pada Ma Sian
Bwee ialah gadisnya Hek-houw Ma Liong yang usianya hampir
sebaya dengan Eng Lian. Sian Bwee tubuhnya kecil, gesit dan
cerdik rupanya. Maka Ang Hoa Lobo sangat ketarik padanya.
Untuk terangkan meminta langsung pada orang tuanya, sudah
tentu tidak mungkin. Maka ia gunakan jalan sebagaimana
biasa menculik anak orang dengan menggunakan obat pulas,
tidak ada yang merintanginya. Tapi sekali ini perhitungan Ang
Hoa Lobo meleset. Ma Liong bukan sembarangan guru silat, ia
memang jago, murid kepala dari Siang-tauw-niauw Kam Eng
Kim, Si Burung Kepala Dua yang terkenal dalam kalangan
jago-jago silat propinsi Hokkian.
Malam itu Ma Liong sedang berlatih dengan tiga orang
muridnya, Mak Kian anaknya sendiri, Gouw Liu Pa dan Hoan
Tek Huy. Tempat berlatih letaknya di pekarangan belakang
rumah, cukup lebar hingga mereka berlatih dengan penuh
semangat.
Cuaca malam itu tidak menentu, kadang-kadang terang dan
kadang-kadang gelap disebabkan sang awan yang menutupi
bulan muda baru nongol. Hek-houw Ma Liong yang tengah
memberi petunjuk-petunjuk pada murid-muridnya, tiba-tiba
bungkam mulutnya sambil matanya mengawasi ke jurusan
loteng rumahnya. Sekilas ia merasa seperti melihat ada
mencelat ke sana sesosok bayangan gesit luar biasa, sebentar
saja sudah lenyap.
Hatinya merasa tidak enak sebab diloteng sana ada tidur ia
punya anak gadis, Sian Bwee, hanya ditemani oleh seorang
pelayannya. Hek-houw Ma Liong menduga bayangan itu
mungkin ada Cay-hoa-cat (maling tukang petik bunga), hatinya
makin tidak enak akan keselamatan anak gadisnya.
"Kalian teruskan berlatih, aku ada urusan sebentar." ia berkata
tiba-tiba kepada ketiga muridnya berbareng ia sudah gerakkan
badannya melesat ke bawah loteng, dari mana ia enjot
tubuhnya untuk terus hinggap diatas melalui langkan.
Perlahan-lahan ia menghampiri pintu kamar anaknya. Melalui
lubang kunci, ia dapat lihat dalam kamar ada satu nenek
sedang membungkus tubuh anaknya dengan kain sprei.
Bukan main marahnya Hek-houw Ma Liong. Ia tendang pintu
hingga terbuka dan lompat masuk menerjang si nenek yang
tiada lain adalah Ang Hoa Lobo.
Mendengar pintu ditendang terbuka, dari mana ada bayangan
lompat menerjang dirinya, Ang Hoa Lobo cepat berkelit sambil
lepaskan bungkusan yang saat itu sudah siap diangkat ke
pundaknya.
"Maling kurang ajar, kau berani ganggu keluarga Ma ?"
demikian ada bentakan si Macan Hitam Ma Liong dalam
marahnya ketika ia menerjang masuk dalam kamar Sian
Bwee. Ia menggunakan tipu 'Beng houw Pok yo' atau 'Harimau
buas menubruk kambing', dua tangannya diulur
mencengkeram kedua pundak si nenek untuk dengan
sekaligus menarik copot lengan orang sebatas pundak. Satu
serangan yang ganas karena si Macan Hitam Ma Liong sangat
gusar kepada si nenek.
Mungkin serangan Ma Liong yang ganas dan cepat itu berhasil
kalau yang diserang itu bukannya Ang Hoa Lobo, si nenek
yang sudah kawakan menggempur jago-jago silat dimana
saja. Dengan sedikit menggeser badannya, Ang Hoa Lobo
sudah dapat meluputkan diri dari serangan si Macan Hitam.
Melihat serangannya gagal, si guru silat sudah menyerang lagi
dengan gerakan 'Coa ong sim hiat' atau 'Ular mencari liang'. Ia
merangsak, tangan kirinya menyambar perut sedang tangan
kanannya berbareng nyelonong ke arah mata, dua jarinya
hendak mengorek sepasang lampu lawan. Tentu saja Ang Hoa
Lobo tidak ijinkan orang main-main dengan matanya. Tangan
kanannya menekan ke bawah tangan Ma Liong yang
menyambar perutnya sedang tangan kirinya menyentil dengan
cepat sekali pada 'siang-yang-hiat', jalan darah di jari telunjuk
lawan yang mau mengorek matanya.
'Nyer !' rasanya ketika telunjuknya kena disentil. Ma Liong
rasakan kesemutan dan ngilu. Tapi ia ada jago silat yang
keras kepala dan bandel, hanya sebentar saja ia sudah dapat
membebaskan rasa kesemutan dan ngilu.
"Nenek maling !" bentak Hek-houw Ma Liong gemas tapi agak
jeri juga melihat si nenek sangat lihai. Dua serangannya yang
dahsyat dapat dipatahkan dengan mudah, malah ia hampir
dirobohkan dengan totokan 'siang-yang-hiat'. "Aku tidak
bermusuhan dengan kau. Kenapa kau mau mencelakakan
keluarga Ma ?" tanya Ma Liong.
"Aku tidak pernah mencelakakan keluarga Ma, aku hanya mau
ajak anak gadismu untuk menjadi pelayannya Kim Coa
Siancu....." jawab Ang Hoa Lobo tenang-tenang. Tapi ia tak
dapat meneruskan kata-katanya karena lantas dipotong oleh
Ma Liong, "Hah ! Apa kau kata ? Kim Coa Siancu ? Siapa kau,
apa kau Kim Coa Siancu sendiri ?"
"He he he !" tertawa Ang Hoa Lobo yang melihat Hek-houw Ma
Liong seperti yang ketakutan mendengar disebut Kim Coa
Siancu. "Aku bukannya Kim Coa Sincu, tapi aku ada
suruhannya saja. Kepandaianku amat rendah, beda jauh
dengan majikan Kim Coa Siancu yang dapat pergi dan pulang
dengan hanya berkesiur angin saja. Tak seorang pun dapat
melihat bayangannya kalau dia memasuki rumah orang."
(Bersambung)
Jilid 05
Hek-houw Ma Liong terkejut. Pikirnya, orang suruhannya
sudah begini lihai. Sudah terang si nenek tidak ngebohong
kalau Kim Coa Siancu sendiri ada jauh lebih lihai dari
padanya. Meskipun sangat jeri, ia tidak ingin kehilangan anak
gadisnya. Begitu melihat Ang Hoa Lobo sudah menyentuh
pula tubuh anak gadisnya, hendak diangkat. Lantas ia kalap.
Ia terjang si nenek dengan pukulan maut, tapi Ang Hoa Lobo
hanya geraki badannya sedikit, lantas tangan kanannya
diulurkan untuk menangkis. 'Krak' segera terdengar satu
suara, berbareng si Macan Hitam lompat mundur sambil
pegangi tangan kirinya yang telah patah tulangnya.
Tiba-tiba tiga sosok tubuh sudah menyerbu masuk. Mereka
ternyata murid-muridnya Ma Liong. Si guru silat melihat
kedatangan murid-muridnya bukannya girang malah ia jadi
ketakutan karena ia sudah perhitungkan, mereka bukan
tandingannya si nenek.
Ia hendak membuka mulut mencegah tapi sudah terlambat
karena Gouw Liu Pa yang berangasan sudah menerjang Ang
Hoa Lobo dibantu oleh Hoan Tek Huy sedang Ma Kian
menolong ayahnya yang dalam semaput kesakitan.
Ang Hoa Lobo pikir tidak seharusnya ia membuang-buang
waktu, maka ketika si berangasan Gouw Liu Pa mengulur
tangannya ke arah dada, ia menyampok dengan tangan
bajunya yang berisi lwekang. Tentu saja si berangasan tidak
tahan. Kedua lengannya ia rasakan seperti copot. Si nenek
susul dengan totokan ke iga kiri sehingga Gouw Liu Pa
seketika itu juga roboh di lantai.
Tek Huy melihat kawannya hanya segebrakan saja
dirobohkan, hatinya panas lalu menerjang Ang Hoa Lobo. Si
nenek berkelit ke samping, dari mana jarinya yang kurus diulur
meluncur menotok 'ceng-leng'hiat' di lengan kanan Tek Huy
sehingga merasakan lengan yang tertotok itu kesemutan dan
ngilu kemudian ia pun roboh terkulai seperti Gouw Liu Pa.
Ma Kian terkejut. Apa mau, sebelum ia turun tangan, dengan
kegesitannya si nenek sudah mendahului si anak guru silat,
menotok 'thian-ki-hiat' di iga kanan. Lantas Ma Kian juga roboh
seperti teman-temannya. Serangan is nenek tak puas sampai
disitu sebab segera menyusul si guru silat Ma Liong sendiri
dibikin mendeprok di lantai karena totokan si nenek yang lihai.
"Hehehe !" terdengar Ang Hoa Lobo tertawa ketika melihat
musuh-musuhnya sudah dirobohkan semua. Ia menghampiri
pembaringan Sian Bwee, membungkus tubuh si dara yang tak
bergerak karena ditotok lalu diangkat lantas dipanggul dibawa
pergi dari situ. "Aku hanya menotok tidak berat. Maka dalam
tempo tidak lama kalian sudah bebas pula dari totokan.
Hehehe....!" demikian si nenek meninggalkan kata-katanya
ketika ia mau berjalan pergi membawa Sian Bwee.
Si Macan Hitam Ma Liong dan ketiga muridnya hanya matanya
saja dapat bergerak-gerak mengawasi si nenek, mulutnya tak
dapat membuka suara untuk mencaci atau meminta belas
kasihannya Ang Hoa Lobo supaya jangan membawa Sian
Bwee.
Adalah pada saat si nenek menginjakkan kakinya ditanah,
barusan lompat dari atas genteng rumah tiba-tiba ia dibikin
kaget dengan teguran dari belakangnya, "Jalan perlahan
sedikit, orang tua. Jangan tergesa-gesa !"
Ang Hoa Lobo cepat menoleh, kiranya yang berkata-kata tadi
adalah seorang perempuan usia kira-kira 40 tahun. Mukanya
bundar, alisnya lentik, tingginya sedang, cantik wanita itu,
sedang ditangannya ada mencekal sebatang pedang yang
siap untuk digunakan dimana perlu.
"Kau siapa ?" tanya Ang Hoa Lobo.
Wanita itu ketawa manis sebelum menjawab, "Aku adalah
nyonya dari rumah ini." kemudian sahutnya, suaranya halus
terang.
"Oh, jadi kau ada nyonya Ma ?" tanya Ang Hoa Lobo pula.
"Tidak salah, aku adalah nyonya Ma.' sahutnya. "Ingin aku
menanyakan sebab apa kau orang tua mencari perkara
dengan keluarga kami disini ?"
"Heheheh !" tertawa Ang Hoa Lobo. "Soalnya aku mau
membawa anak gadismu dirintangi oleh suamimu. Kalau tidak,
tak akan aku menganggu ketentramanmu."
Nyonya Ma bersenyum tawar. Alisnya tampak berkerut,
"Meskipun kau sudah mengacau dalam rumahku, melukai
suamiku dan menotok rubuh tiga muridnya, tidak aku tarik
panjang. Kau boleh berlalu dengan tenang asal kau tinggalkan
itu bungkusan yang digemblik dipunggungmu. Akur ?" kata si
nyonya Ma.
Diam-diam si nenek merasa heran. Ia mengawasi wanita
cantik, pikirnya, bisa ada orang yang sikapnya begini tenang
menghadapi musuh yang sudah timbulkan kerugian. Ucap
katanya begitu merendah, seharusnya si nenek mengalah dan
kembalikan bungkusan gede itu kepada nyonya Ma, tapi dasar
watak si nenek mau unggul saja, tidak mau ia pulang dengan
tangan kosong. Maka ia lalu menjawab, "Seharusnya aku
menurut apa kau katakan, cuma dalam menjalankan perintah
Kim Coa Siancu, siapa yang berani membantah ? Inilah yang
menjadikan aku keberatan......."
Ia tutup kata-katanya sambil putar tubuhnya, disusul dengan
satu lompatan jauh untuk lantas meninggalkan si wanita
cantik. Tapi niatnya si nenek tidak kesampaian sebab
dibelakangnya lantas terdengar pula nyonya Ma berkata,
"Kalau begitu, marilah kita main-main untuk menetapkan siapa
unggul !"
Kapan Ang Hoa Lobo balik tubuhnya, lantas ia menghampiri
nyonya Ma yang sudah siap dengan pedangnya. Melihat
caranya si nyonya menyusul ia yang lari menggunakan ilmu
larinya yang istimewa dengan mudah saja dapat membayangi
dirinya, maka Ang Hoa Lobo menduga bahwa wanita ini
bukannya lawanan empuk. Maka itu ia lalu turunkan
bungkusannya yang berisi Sian Bwee kemudian menghadapi
nyonya Ma, ia berkata, "Jika kau inin main-main, tidak ada
halangannya kita mencoba beberapa jurus !"
Toya besinya si nenek sudah disiapkan di tangan kanan.
"Bagus !" kata nyonya Ma. "Nah, sambutlah seranganku !" ia
menyambung tanpa ada tawar menawar lagi dalam hal siapa
lebih dahulu menyerang. Rupanya nyonya Ma sangat
mendongkol atas kelakuannya si nenek, meskipun sudah
dilayani dengan kerendahan juga masih kepala batu saja.
Dua jago betina segera sudah bertempur seru.
Ilmu pedang nyonya Ma baik sekali hingga Ang Hoa Lobo
berhati-hati melayaninya. Salah sedikit saja ia bisa
dipecundangi dan habislah cita-citanya untuk membangun
Ang-hoa-pay (Partai Kembang Merah). Maka itu si nenek
Kembang merah melayani nyonya Ma dengan sungguhsungguh
hingga pertarungan menjadi seru.
Si wanita cantik (nyonya Ma) adalah puteri tunggal dari Siangtauw-
niauw Kam Eng Kim, namanya Lian Eng dan mendapat
julukan 'Lengkoan Giok-li' atau 'Wanita elok dari kota
Lengkoan'. Selain kesohor kecantikannya, juga kesohor ilmu
pedangnya yang hebat.
Maklumlah puteri tunggal dari si Burung Kepala Dua yang
terkenal dalam propinsi Hokkian, semua kepandaiannya yang
ada diturunkan pada Lian Eng sehingga si juwita dari
Lengkoan itu menjadi jago betina yang belum menemukan
tandingannya. Kepandaiannya itu ada setingkat lebih tinggi
dari Hek-houw Ma Liong yang menjadi suaminya atau murid
kepala dari Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim.
Pertempuran antara Lian Eng Kam dan Ang Hoa Lobo benarbenar
ramai. Pedangnya Lian Eng berkelebatan mencari
sasaran penting pada tubuh si nenek. Sebaliknya, Ang Hoa
Lobo dengan toya besinya yang berat, berputaran dan toyanya
menyambar-nyambar keluarkan suara menderu-deru. Diamdiam
Lian Eng berpikir, orang suruhannya begini lihai,
bagaimana dengan Kim Coa Siancu sendiri kalau menyatroni
rumahnya ?
Lengkoan Giok-li lalu merangsek. Pedangnya berputar
sebentaran lalu dengan gerakan kilat ia menikam ke arah
tenggorokan Ang Hoa Lobo. Ini ada gerakan 'Giok li touw
kang' atau 'Wanita elok menyeberang sungai', salah satu jurus
yang penting dari Liu-su Kian-hoat atau ilmu silat pohon Liu,
yang menjadi kebanggaan ayahnya.
Biasanya Lian Eng belum pernah gagal menggunakan tipu
'Giok li touw kang', tapi kali ini yang dihadapi adalah Ang Hoa
Lobo. Terang tak semudah yang ia alami sebelumnya. Melihat
pedang hendak menikam 'jalan makanan', si nenek menaiki
badannya, toyanya dipegang dengan dua tangan dilintangi
menangkis serangan, kaki kanannya berbareng bekerja
menyapu kaki Lengkoan Giok-li. Ini adalah gerakan 'Liong
pang heng ouw' atau 'Toya naga melindungi telaga'.
Melihat serangan gagal, malah kakinya hampir disapu si
nenek, cepat Lian Eng ganti serangannya dengan 'Peng ouw
se ie' atau 'Hujan gerimis ditengah telaga'. Pedangnya susul
menyusul mengarah mta, tenggorokan, pundak dan
sebagainya. Cepat gerakan pedang itu hingga kalau bukan
Ang Hoa Lobo yang ilmu toyanya tinggi, siang-siang ia sudah
dapat dirobohkan oleh si jago betina dari kota Lengkoan. Si
nenek tahu bahayanya serangan musuh lalu memutar
toyanya, dibarengi dengan suara ketawanya yang melengking,
menggunakan tenaga dalamnya untuk membuat kacau pikiran
musuhnya yang sedang hebat menyerang. Inilah salah satu
jurus Ang Hoa Lobo yang paling ampuh yang dinamai 'Yu lim
mo siauw' atau 'Di rimba sunyi iblis tertawa'.
Benar saja, tipu silat si nenek membawa efek buruk bagi Lian
Eng. Sebab seketika ia mendengar suara tertawa yang seram
melengking, pemusatan pikirannya jadi terganggu. Hatinya
tergetar oleh suara tawa Ang Hoa Lobo, serangannya jadi
kacau. Kelemahan ini tidak disia-siakan oleh si nenek, toyanya
yang berputar tadi berganti arah, nyelonong ke 'hoa-kay-hiat',
jalan darah di bagian pundak kiri Lian Eng, kontan si wanita
cantik terkulai roboh. Ia rasakan totokan ujung toya si nenek
melumpuhkan lengan kirinya. Tangan kanannya masih
mencekal pedang tapi tak dapat digerakkan karena
kelumpuhan itu dari lengan kiri menjalar ke lengan kanan.
Tidak heran kalau pedangnyajatuh dengan sendirinya dan ia
mendeprok di tanah tak berdaya.
"Hehehe !" tertawa si nenek. "Bagaimana nyonya Ma yang
botoh ?"
Ang Hoa Lobo berkata sambil bekerja, angkat dan panggul
pula bungkusan gede yang terisi Sian Bwee. Setelah selesai
dan tinggal berangkat, ia berkata pada Lian Eng, "Nyonya Ma,
kau tak usah kuatir. Anakmu akan kupelihara seperti anak
sendiri. Dia akan menjadi pelayannya Kim Coa Siancu.
Belakangan hari, kalau berjumpa pula dengannya, kau akan
kegirangan sebab ilmu silatnya akan berada diatas kalian
suami istri. Nah, selamat tinggal........"
Setelah melemparkan senyumannya yang tidak enak dilihat, si
nenek meninggalkan nyonya Ma yang tidak berdaya.
Lengkoan Giok-li mengawasi berlalunya Ang Hoa Lobo
dengan berlinang-linang air mata. Ia sangat berduka dan
penasaran anak gadisnya digondol orang tapi ia tak dapat
menolongnya.........
Sudah lama kita tinggalkan Kim Popo. Marilah kita lihat si
nenek bandel dengan pacarnya The Sam. Bagaimana
perbuatan mereka untuk dapat merebut kembali kotak yang
berisi buku Tiam-hiat Pit-koat yang berada di tangan Kim Wan
Thauto.
Belum lama Kim Wan Thauto sampai di Kunhiang, mereka
juga sudah datang menyusul dan dari kejauhan
memperhatikan gerak gerik dari si Thauto beranting emas.
Kim Popo tidak ambil tempat di rumah penginapan An Goan,
dimana Kim Wan Thauto menginap. Ini untuk menjaga jangan
sampai ia dikenali oleh Kim Wan Thauto sedang The Sam, ia
suruh ambil di rumah penginapan An Goan untuk
memperhatikan gerak gerik Thauto dimana bila ada
kesempatan The Sam boleh turun tangan untuk merampas
pulang kotak mungil berisi kitab pelajaran menotok jalan darah
yang amat berharga.
The Sam menurut perintah pacarnya.
Tidak berani The Sam menghadapi Kim Wan Thauto dengan
terang-terangan. Maka ia menunggu sampai si Thauto lenah,
baru ia akan turun tangan. Pada malam kedua meliaht gerak
gerik Kim Wan Thauto pada waktu makan malam, The Sam
yang lihai matanya dapat menduga bahwa Kim Wan Thauto
sedang menghadapi suatu urusan, pikirnya, pasti ia akan
keluar lagi sebentar tengah malam. Ia sudah menduga pasti si
Thauto akan ambil jalan dari jendela kamarnya. Supaya
jangan bikin kaget orang, maka malam itu ia terus pasang
mata ke jurusan jendelanya si pendeta rambut panjang.
Benar lihai dugaannya sebab Kim Wan Thauto lewat tengah
malam betul saja keluar melalui jendela kamarnya. Girang
hatinya The Sam. Tidak lama si Thauto pergi, ia lantas masuk
ke kamar Kim Wan Thauto melalui jendela tadi dimana ia
menggeledah dan kegirangan menemukan barang yang
diselipkan dibawah bantal.
Barang itu ia masukkan ke kantongnya, kemudian meniup lilin
yang ia pasang ketika ia masuk dalam kamar itu yang dalam
keadaan gelap. Cepat ia keluar dari jendela dan dilain saat ia
sudah berada dalam kamarnya sendiri.
Setelah menyalakan lilin, ia duduk menghadapi meja. Dari
sakunya ia keluarkan kotak kecil yang barusan ia sikat dari
kamarnya Kim Wan Thauto.
Ia pandang kotak mungil itu sekian lama lalu mencoba
membukanya tapi tak dapat dibuka. Ia coba dan coba lagi,
kotak mungil itu tetap tak dapat dibuka.
Setelah dipandang lagi barang itu untuk sesaat lamanya, tibatiba
ia tertawa, "Hahaha ! Barng berharga memang sukar
didapat, biarlah aku buka belakangan."
Kemudian kotak itu ia letakkan diatas meja. Kembali ia
memandangnya, tiba-tiba pikiran serakah timbul seketika.
"Tidak, aku tidak akan serahkan barang ini pada Kim Nio. Aku
harus miliki dulu. Bila aku sudah pandai meyakinkannya dan
benar-benar dapat malang melintang dengan ilmu menotokku
yang hebat, barulah aku akan menemui Kim Nio lagi. Waktu itu
dia toh tidak akan memarahi aku lagi sebab aku sudah dapat
membujuk dia dengan turunkan sedikit kepandaian menotokku
kepadanya. Dia tentu sudah kegirangan dengan ilmu yang
didapatkan dari Tiam-hiat Pit-koat. Hahaha......" demikian ia
berkata-kata sendirian.
Sebentar lagi tampak The Sam menguap beberapa kali,
ngantuk dirasakan matanya. Lalu ia menghampiri
pembaringan dan tidur nyenyak disana tanpa memperhatikan
pula barang berharganya yang terletak diatas mejanya. Malah
ia lupa untuk meniup padam api lilin, yang biasanya
dipadamkan bila orang hendak masuk tidur.
Dalam keadaan gelap, tiba-tiba sesosok tubuh telah masuk
dalam kamar itu melalui jendela, kemudian cepat melompat
keluar lagi.
Pada keesokan harinya The Sam baru bangun setelah
matahari naik tinggi.
"Celaka, kenapa aku jadi kepulasan seperti orang mati !"
berkata The Sam sembari turun dari pembaringan,
menghampiri meja diatas mana ia taruh kota mungilnya.
"Hah !" ia terkejut karena kotak berharga itu sudah tidak ada
ditempatnya.
Dengan gugup ia memeriksa, malah sampai di kolong
mejanya, kalau-kalau kotak itu jatuh pikirnya. Tapi barang itu
tak diketemuka, lenyap, hilang entah siapa yang ambil. Baru
sekarang ia sadar akan keserakahan hatinya untuk memiliki
kepandaian hebat tapi akhirnya gigit jari.
Siapa yang ambil kotak berharga itu ? Apakah Kim Wan
Thauto ? Bagaimana ia harus melaporkan pada Kim Nio akan
kejadian itu ? Pikirnya, bagaimana juga ia harus menemui Kim
Nio (dimaksudkan Kim Popo) supaya bisa berdamai.
bagaimana baiknya untuk mendapatkan kembali barang
berharga itu.
Maka setelh ia cuci muka dan berpakaian rapi, lalu ia keluar
dari hotel An Goan menuju ke hotel Hok Lai untuk menemui
Kim Popo.
Belum sampai ia bertindak mencari kamar Kim Popo, tiba-tiba
ia dicegat oleh kuasa hotel yang berkata, "Aku ada titipan
sepucuk surat untuk tuan, marilah ikut ke kantorku." si pemilik
ajak The Sam ke kantornya.
"Surat dari siapa ?" tanya The Sam.
"Sebentar kalau tuan sudah lihat, tentu tahu surat itu dari
siapa." sahutnya.
Sebentar lagi mereka sudah berada dalam kamar hotel. Si
kuasa hotel ambil surat dari dalam lacinya lalu diserahkan
kepada The Sam.
Ia tidak punya sahabat atau kenalan yang dapat mengadakan
surat menyurat. Dari mana datangnya surat itu ? Tanyanya
dalam hati kecilnya. Tapi bagaimana juga ia harus membuka
dan membaca isinya, baru ketahuan siapa pengirimnya.
Koko,
Setelah aku sudah pandai meyakinkannya dan dapat
malang melintang dengan ilmu menotokku yang hebat,
barulah aku akan menemui kau lagi. Waktu itu, sebab aku
sudah dapat membujuk kau dengan menurunkan sedikit
kepandaian menotokku kepadamu. Kau tentu akan kegirangan
dengan ilmu totok yang didapatkan dari Tiam-hiat Pit-koat.
Hihihi...."
Surat itu tidak ditandatangani tapi sudah terang sekali bagi
The Sam bahwa surat itu ditulis oleh Kim Popo alias Kim Nio.
Kata-katanya persis seperti yang dikatakan tadi malam, maka
kotak kecil itu juga sudah tentu telah terbang bersama Kim
Popo. Ia sesalkan dirinya yang tidak jujur. Sekarang ia
kehilangan kotak berharga dan kehilangan juga Kim Nio,
malah kehilangan juga kepercayaan sang pacar itu,
bagaimana ia ada muka nanti bertemu lagi dengan Kim Popo
?
Dalam keadaan lesu The Sam meninggalkan kantor hotel Hok
Lay, tidak jadi mencari kamarnya Kim Popo sebab
penghuninya sudah terbang tadi pagi-pagi sekali, menurut
kuasa hotel.
Rupanya Kim Popo tidak percaya seratur persen atas
kejujuran The Sam. Maka kalau The Sam membayangi Kim
Wan Thauto, ia sendiri tidak tahu kalau dirinya dibayangi juga
oleh Kim Popo. Kata-katanya yang diucapkan dalam
kamarnya, semua terdengar tegas oleh Kim Popo yang
mengintip dari jendela.
"Kurang ajar ! Dia mau main gila denganku. Hmm !" diam-diam
Kim Popo berkata dalam hati kecilnya. Kemudian dia menyulut
hio obat pulas yang asapnya ia tiup masuk ke dalam kamar
The Sam. Sebentar saja tampak The Sam mengantuk dan
menguap beberapa kali, akan kemudian saking tidak tahan ia
sudah banting dirinya di pembaringan dan tidur nyenyak, tidak
menghiraukan kotak berharganya disikat Kim Popo.
Sekarang kita kembali pada Liu Wangwee.
Liu Wangwee sangat berterima kasih kepada si kerudung
merah. Disamping itu, ia menyesal sekali tidak dapat
mengetahui siapa adanya bintang penolongnya itu sampai
pada saat si kerudung merah meninggalkan rumahnya.
Dari suara bicara bintang penolongnya, seperti ia pernah
mendengarnya cuma ia lupa dimana ia pernah mendengar
suara itu. Meskipun ia coba kumpul ingatannya, tapi tetap
luput untuk mengingatkan dimana ia pernah ketemu dengan
orang yang suaranya tidak asing ditelinganya. Ingin sekali ia
menjambret kerudung si kerudung merah tetapi sudah tentu
keinginan itu tak dapat ia wujudkan karena perbuatan itu tentu
tak sopan.
Ia hanya boleh terhibur hatinya ketika si kerudung merah
meninggalkan, memesannya, "Toako, kau jangan kuatirkan
lagi kepada Sucoan Sam-sat karena mereka tentu tidak akan
berani lagi datang kemari sedang bentrokan dengan Tan Kong
Ceng sebaikanya diselesaikan saja agar tidak menanam
permusuhan yang tidak ada gunanya."
"Terima kasih atas nasihat Injin (tuan penolong),aku akan
perhatikan betul-betul. Cuma saja....." Liu Wangwee tidak
dapat menemukan kata-katanya, sebaliknya ia tersenyum
kepada tamunya yang aneh itu.
"Cuma saja apa, toako ?" tanya si kerudung merah.
"Cuma saja aku menyesal tak dapat melihat wajah Injin." sahut
Liu Wangwee.
"Untuk apa melihat wajahku. Kita berkenalan cara begini saja
sudah cukup." kata si kerudung merah, ia tertawa gelak-gelak.
Liu Wangwee terkejut, suara tertawa itu seperti ia kenal baik
tapi dimana ia pernah mendengarnya, siapa orangnya ? Maka
dengan bernapsu berkata, "Injin, suara ketawamu aku kenal
benar, hanya dimana aku pernah mendengarnya aku sudah
lupa lagi. Dasar aku sudah tua, tukang pelupa !"
"Toako kenal suara tawaku, itu sudah bagus." sahut si
kerudung merah. "Sekarang belum waktunya aku
memperkenalkan wajahku tapi ada suatu waktu, tentu aku
akan datang pula untuk menyambangi toako dan disitulah
toako nanti kenali siapa diriku."
Liu Wangwee tidak memaksa si kerudung merah untuk
memperkenalkan diri karena sudah jelas si bintang penolong
sungkan berbuat demikian. Maka ia suruh seorang pelayan
untuk panggil keluar nonanya, untuk kasih selamat jalan
kepada bintang penolongnya yang hendak berangkat hari itu.
Sebentar lagi tampak Bwee Hiang sudah keluar, lalu Liu
Wangwee berkata pada gadisnya, "Anak Hiang, Injin akan
berangkat hari ini juga. Lekas kau mengucapkan selamat jalan
dan terima kasih."
Bwee Hiang lantas berlutut dihadapan si kerudung merah
yang sedang duduk di kursi.
"Budi Injin sebesar gunung, entah dengan apa kami dari
keluarga Liu dapat membalasnya. Moga-moga Thian akan
melindungi Injin dalam perjalanan dengan tak kurang suatu
apa pun. Bwee Hiang mengharap perpisahan ini hanya untuk
sementara saja dan segera akan disusul oleh kunjungan Injin
sehingga Bwee Hiang dapat melayani Injin lagi..." demikian si
gadis mengucapkan kata-kata selamat berpisahnya, air
matanya tampak bercucuran jatuh di lantai.
Bwee Hiang sangat duka hatinya. Ia tidak menduga si
kerudung merah akan meninggalkan mereka demikian
cepatnya sebab hari kemarin ia duduk berkumpul dengan si
bintang penolong, tidak ada omongan bahwa si kerudung
merah akan berangkat hari ini.
Dalam beberapa hari berkumpul, disamping si kerudung
merah terus mengobati ayahnya, tamu asing itu sangat ramah
terhadap dirinya. Ia dapat banyak petunjuk dalam hal ilmu silat
maupun sastra, dan Bwee Hiang juga sangat hormat dalam
pelayanannya sehingga si kerudung merah kelihatan betah
tinggal dalam rumah Liu Wangwee.
Sebagaimana dengan ayahnya, Bwee Hiang juga sudah
berusaha memancing siapa dirinya si kerudung merah tapi
tamu itu selalu kesampingkan omongan yang menyinggung
tentang keadaan dirinya, maka Bwee Hiang tidak berani
mendesak.
Kini tiba-tiba ia mendengar si kerudung merah akan angkat
kaki dari rumahnya, tentu saja si nona menjadi terkejut dan
merasa sangat sedih.
Seraya mengelus-elus rambut si nona, si kerudung merah
berkata, "Anak Hiang, kau tak usah menangis. Kau lupa
dengan peribahasa yang mengatakan, 'Tiap ada berkumpul.
selalu ada berpisah'. Maka perpisahan ini semoga disusul
dengan kunjunganku berikutnya. Kata-katamu ini tepat sekali.
Nah, bangunlah nak !"
Sementara Bwee Hiang bangkit dari berlututnya sambil
menyusuti air matanya dengan saputangan berbareng si
kerudung merah juga bangkit dari duduknya. Setelah angkat
tangan menyoja pada Liu Wangwee, dengan tidak berkata
apa-apa lagi ia putar tubuhnya dan meninggalkan ruangan itu
dengan cepat sehingga Liu Wangwee tertegun ditempatnya
melihat sikap tamunya yang aneh itu.
Sebentar saja si kerudung merah sudah lenyap dari
pandangan mereka.
Sejak itu ayah dan anak itu berlatih keras dalam ilmu pukulan
maupun pedang untuk berjaga-jaga kalau-kalau dari pihaknya
Tan Kong Ceng mencari gara-gara pula.
Dengan dapat beberapa petunjuk yang berharga dari si
kerudung merah, dalam tempo pendek ilmu pedang Bwee
Hiang sudah berubah jauh. Ia merasa girang akan
kemajuannya itu tapi ia tidak pernah lupa untuk berterima
kasih kepada tamu anehnya itu.
Hari lewat dengan cepat laksana anak panah yang melesat
dari busurnya. Tanpa terasa sudah satu tahun setengah
dilewati sejak kunjungannya si kerudung merah. Ternyata si
bintang penolong tidak kelihatan mata hidungnya pula. Tapi
Liu Wangwee dan Bwee Hiang tentram hatinya karena ilmus
ialtnya sudah banyak maju.
Sementara itu desa Kunhiang pun sudah banyak berubah.
Desa itu maju karena pabrik-pabrik disitu bertamah banyak.
Penduduk makin banyak sehingga makin ramai desa itu,
tentam dan aman. Hartawan Tan juga tidak mencari gara-gara
pula kepada Liu Wangwee.
Liu Wangwee mengira keadaan akan dinikmati terus dampai
hari tuanya, tidak dikira pada suatu hari ia dibikin terkejut
dengan adanya kabar yang tersiar bahwa Sucoan Samsat
sudah kembali mengganas. Mereka sedang mencari si
kerudung merah.
Kabar yang mengagetkan Liu Wangwee adanya berita yang
mengatakan bahwa Sucoan Sam-sat akan membakar dan
menghancurkan desa Kunhiang kalau mereka tidak
menemukan si kerudung merah. Mereka hendak
melampiaskan angkara murkanya kepada desa Kunhiang
sebagai gantinya si kerudung merah.
Bingung hatinya Liu Wangwee bersama gadisnya. Kemana
mencari si kerudung merah yang sampai sebegitu jauh tidak
mengunjungi rumahnya.
Tiba-tiba Liu Wangwee ingat akan sahabatnya yang tinggal
dikota Gakwan, dibawah kaki gunung Hengsan, ialah Soatcian
Ang Ban Teng, Pangcu dari Ceng Gee Pang.
Pikirnya, Ceng Gee Pang ada mempunyai banyak anggauta,
tersebar luas, siapa tahu dengan bantuan Pangcu dari Ceng
Gee Pang, ia dapat berita dimana adanya si kerudung merah
supaya dapat diberitahukan tentang maksud Sucoan Sam-sat
mencarinya.
Demikianlah, Liu Wangwee setelah memesan Bwee Hiang
untuk berhati-hati dirumah, ia berangkat ke kota Gakwan
menemui Ang Ban Teng dan minta pertolongan sahabat ini.
Ang Ban Teng dan Liu Wangwee ada sahabat dari banyak
tahun, maka pertemuan mereka sangat menggembirakan. Liu
Wangwee tidak minta bantuan sang sahabat untuk
menghadapi tiga algojo dari Sucoan, ia hanya minta bantuan
supaya mendengar-dengar dimana adanya si kerudung
merah. Ang Ban teng menjanjikan akan membantunya.
Meskipun tidak diminta bantuan untuk menghadapi Sucoan
Sam-sat, Ang Ban Teng tidak enak nampak sahabatnya
menghadapi bencana, maka Pangcu dari Ceng Gee Pang itu
sudah perlukan malam-malam mengunjungi markas
cabangnya di atas jurang Tong-hong-gay seperti yang kita
ceritakan disebelah atas.
Sudah dua minggu lamanya sejak kunjungannya pada Ang
Ban Teng, diam-diam Liu Wangwee merasa cemas hatinya
karena belum mendapat berita apa-apa dari sahabat itu.
Pada suatu siang hari untuk menghibur diri dari
kecemasannya, Liu Wangwee jalan-jalan disekitra desa dan
akhirnya memasuki rumah makan An Goan dimana ia minta
disediakan arak dan makanan sederhana untuk mengisi
perutnya.
Setelah ia menengak beberapa sloki araknya, tiba-tiba ia
dibikin kaget oleh suara ramai-ramai diatas loteng. Ketika ia
melihat ke loteng, saat itu satu anak kecil tengah dilemparkan
oleh dua pelayan rumah makan melalui langkan.
Liu Wangwee memeramkan matanya saking ngeri melihat
adegan itu. Pikirnya, anak kecil dilempar dari atas loteng yang
demikian tinggi, bagaimana jadinya kalau sebentar jatuh diatas
lantai. Kalau tidak hancur, sedikitnya anak itu bakalan
setengah mati keadaannya. Ketika ia membuka pula matanya,
tiba-tiba ia berseru, "Eh...."
Matanya terbelalak heran sebab anak kecil itu tampak lagi
berdiri tidak kurang suatu apa, hanya kedua tangannya
memegangi perutnya.
Tampak dua pelayan yang melemparkan si bocah turun dan
satu diantaranya yang dipanggil Lo-ji telah mendamprat. "Enak
saja kau ngomong. Besok-besok sampai kapan kau akan
membayarnya ? Memangnya uang sewa kamar disini boleh
diulur-ulurkan ? Hmm ! Bocah, lebih baikkau sekarang pergi
dari sini supaya jangan aku si Lo-ji menggebuki kau setengah
mati. Hayu, pergi sana. Bocah tukang sikat !"
"Aku bukan mau sikat uang sewaan kamar cuma aku mau
minta tempo besok." kata si anak kecil.
Lo-sam, kawannya Lo-ji menghampiri si bocah, katanya,
"Sudah, sudah, hayo keluar. Jangan sampai Lo-ji turun tangan
!"
Lo-sam berkata sambil menjoroki si anak kecil hingga
sempoyongan.
Tamu-tamu rumah makan itu jadi pada menonton kejadian itu.
Mereka lihat si anak kecil wajahnya hitam legam seperti pantat
kuali, usianya kira-kira baru 14 tahun, cuma perawakannya
ada tinggi kurus. Entah anak siapa dia, para tamu menanya
dalam hatinya.
Ada yang menanyakan pada Lo-ji, lalu menerangkan. "Aku
tidak tahu dia anak siapa, hanya dia sudah menginap disini
selama tiga malam. Ketika diminta uang sewa kamar dan
makan, katanya besok, besok kapan ? Dia memang anak
gembel yang kesasar ke sini rupanya."
Lo-ji tutup kata-katanya sambil menghampiri si bocah yang
belum mau pergi.
Ia ulur tangannya dan menjoroki lagi sambil berkata, "Lekas
keluar, aku tak ingin melihat cecongormu, tukang sikat !"
Kembali si bocah sempoyongan, malah kali ini sampai
terpelanting tapi ia cepat bangun lagi. Para tamu pada ketawa
terbahak-bahak melihat kejadian itu.
Hanya Liu Wangwee yang lihai matanya tidak turut ketawa.
Sedari tadi, pada saat ia buka matanya melihat si bocah tidak
apa-apa dilempar dari atas loteng, hatinya merasa heran.
Sekarang ia menyaksikan si anak kecil dijoroki sempoyongan
sampai terpelanting lagi, tapi kakinya antap betul. Anak itu
seperti mempunyai kepandaian yang disembunyikan.
Melihat si bocah belum mau keluar, dua pelayan itu makin
marah. Dua orang lalu menubruk mau menggusur si anak
hitam dilempar keluar. Benar si bocah kena dicekal tapi waktu
mau diseret tidak bergeming seperti nyangkut pada tiang besi.
Tapi ini hanya sejenak saja, sebab lantas si bocah dapat
diseretoleh dua pelayan itu.
Dasar orang-orang dogol, pikirnya, barusan si bocah tidak
bergeming diseret lantaran kurang keras gentaknya, maka
mereka ulangi lagi, benar saja anak kecil itu kena diseret.
"Tahan !" tiba-tiba Liu Wangwee berkata ketika melihat si
bocah mau dilempar keluar.
Dua pelayan itu hentikan niatnya melempar si anak kecil
keluar. Mereka lihat ada orang menghampiri mereka, lantas
mereka kenali itu adalah Liu Wangwee, ketua dari orang-orang
kaya dalam desa itu.
Dengan sangat hormat, mereka menanyakan apa maksudnya
si hartawan mengucapkan kata 'Tahan !' yang mana dijawab
oleh Liu Wangwee, "Kalian lepaskan anak ini, semua
hutangnya aku yang tanggung !"
Dua pelayan itu melengak. Tapi tidak berani membantah,
maka seketika itu mereka melepaskan cekalannya hingga si
anak kecil sekarang bebas.
Anak itu ketawa nyengir pada mereka, lalu membungkukkan
badan memberi hormat pada Liu Wangwee, katanya, "Terima
kasih atas kebaikan Lope."
"Anak kurang ajar, Loya begitu kenapa dipanggil Lope ?"
semprot Lo-ji mau ambil muka Liu Wangwee.
Tapi hartawan Liu menggoyangkan tangannya, "Kalian sudah
tidak ada urusan lagi, lekas layani tamu-tamu lainnya !"
Lo-ji jadi bengong. Dikira bakal dipuji tapi kenyataannya
menerima kata-kata pahit dari Liu Wangwee.
Lo-ji dan Lo-sam pada ngeloyor pergi.
"Anak, mari kita makan sama-sama." kata Liu Wangwee
seraya tangannya diulur mencekal lengan si anak kecil diajak
ke mejanya.
Liu Wangwee minta pelayan tambah hidangan lagi.
Setelah sama-sama sudah ambil tempat duduk, Liu Wangwee
menanya, "Anak, namamu siapa ?"
"Aku she Lo, nama In." sahut si anak kecil, yang memang Lo
In adanya. "Aku ribut dengan pelayan itu lantaran......."
"Sudah, sudah." memotong Liu Wangwee seraya goyanggoyang
tangannya. "Urusan dengan mereka sudah aku
bereskan, jadi tak usah kau sebut-sebut lagi. Aku hanya mau
berkenalan dengan kau, sebenarnya kau anak siapa ?"
Mendapat pertanyaan itu, Lo In tidak lantas menjawab. Ia
kerutkan keningnya, berpikir apakah ia boleh mengaku ia
anaknya Kwee Cu Giok ? Tidak bisa, sebab ia tidak kenal
siapa Kwee Cu Giok itu. Anak Liok Sinshe juga tidak tepat
sebab Liok Sinshe janya pelindungnya saja, ia jadi sangsi.
"Anak, kau dapat kesulitan untuk menyebutkan nama orang
tuamu ?" tanya Liu Wangwee yang melihat Lo In seperti yang
ragu-ragu akan menyebutnya.
"Oh, bukan, bukan." sahut Lo In gugup. "Aku sendiri tidak tahu
aku anak siapa, maka aku jadi ragu-ragu untuk menjawabnya."
Lo In berkata dengan malu-malu, sambil tundukkan kepalanya.
Liu Wangwee ketawa. "Tidak apa, mari kita makan. Eh,
barusan aku lihat kau memegangi perut saja, apa kau sakit ?"
"Memang aku lagi sakit perut, tapi sekarang sudah baik."
jawab Lo In.
"Lantaran tubuhmu didorong-dorong tadi oleh dua orang dogol
itu, rupanya perutmu terkojak-kojak hingga perutmu kabur
sendirinya. Hahaha..." Liu Wangwee tertawa.
Lo In turut tertawa.
"Mari kita makan." mengundang hartawan Liu.
Lo In tidak diundang untuk kedua kalinya, ia hantam saja
makanan yang sudah tersedia di depannya. Sudah lama ia
hanya makan buah-buahan saja, kini menghadapi makanan
enak bukan main senangnya. Hampir kenyang, tiba-tiba ia
ingat sesuatu dalam benaknya, maka seketika itu ia letakkan
mangkok dan sumpitnya.
Ia bengong, dari kedua matanya tampak ada mengembeng air
mata.
Liu Wangwee heran melihat kelakuannya Lo In, ia menanya,
"Nak, kenapa ? Apa kau rasakan perutmu sakit lagi ?"
Lo In geleng kepala. "Aku menghadapi makanan seenak ini,
aku jadi ingat kepada seseorang yang pernah mengajak aku
makan seperti Lope sekarang ini." kata Lo In seraya menyusut
air matanya dengan tangan bajunya.
"Siapa orang itu ?" tanya Liu Wangwee.
"Lebih baik aku tidak menyebutkan namanya." sahut Lo In.
"Sebab dengan menyebutkan namanya aku menjadi lebih
sedih lagi."
Liu Wangwee tidak menanya panjang. Ia hanya menghibur,
"Orang baik memang selalu diingat orang, biarlah orang itu
mendapat lindungan Thian. Anak, kau jangan sedih, sebaiknya
kau makan terus dan lebih banyak."
Mendengar hiburan Liu Wangwee, bukannya Lo In terhibur
sebaliknya malah ia menangis tersedu-sedu hingga membuat
tamu-tamu yang duduk disekitarnya menjadi heran.
Liu Wangwee merasa tidak enak. "Nak, mari kita pulang. Di
rumah ada enci yang dapat menghiburmu."
Dengan serentak Lo In hentikan tangisnya yang terisak-isak
ketika mendengar Liu Wangwee menyebutkan kata 'enci'. Ia
ingat akan enci Eng Lian-nya. Apakah yang dimaksud oleh
orang tua didepannya ini ada enci Eng Lian-nya ?
Lo In anggukkan kepalanya.
Liu Wangwee heran melihat kelakuannya si anak hitam,
apakah dia kurang waras ingatannya, tadi menangis tersedusedu
sekarang berhenti menangis seraya mengangguk,a pa
yang ia anggukkan ? Justru kelakuan Lo In yang ia anggap
aneh itu yang membuat Liu Wangwee makin keras niatnya
untuk mengetahui rahasia dirinya si bocah.
Meskipun ditutup oleh wajahnya yang hitam, mata Lo In yang
tajam bercahaya tidak bisa menutup matanya Liu Wangwee
yang lihai. Orang tua itu menduga pasti si bocah ada
berkepandaian sangat tinggi dilihat dari sorot matanya yang
tajam luar biasa seakan-akan ada membungkus tenaga dalam
yang dahsyat.
Setelah membayar uang makanan, Liu Wangwee lantas ajak
Lo In berlalu dari situ.
"Kau mau ajak aku kemana, Lope ?' tanya Lo In seperti yang
linglung.
"mari kita pulang." sahut Liu Wangwee manis budi.
"Pulang kemana ?" si bocah menanya heran.
"Ke rumahku. Mari, disana kita bisa ngomong-ngomong
dengan tiada yang ganggu." Liu Wangwee kata seraya tarik
tangan Lo In.
"Nanti dulu, aku mau ambil pakaianku sebentar." kata Lo In
sambil terus lari naik tangga loteng masuk ke kamarnya.
Sebentar lagi ia sudah turun lagi dengan membawa buntalan
kecil. Liu Wangwee ketawa melihat kelakuan Lo In yang lucu.
Dalam perjalanan, Lo In menanya, "Lope kata tadi di rumah
ada enci ?"
"Ya, benar ada enci. Di sana kau akan ketemu enci." sahut Liu
Wangwee.
Lo In kegirangan. Jalannya makin cepat hingga Liu Wangwee
terheran-heran sebab ia sudah gunakan jalan cepat untuk
mencoba meninggalkan si bocah, kenyataannya Lo In masih
terus mengintil dalam jarang yang dekat sekali dengannya.
-- 14 --
Ketika sampai dirumah, Bwee Hiang heran melihat ayahnya
membawa pulang satu anak berwajah hitam seperti pantat
kuali. "Nah, ini encimu." kata Liu Wangwee memperkenalkan
anak gadisnya pada si bocah.
"Bukan, bukan, dia bukan enci Lianku." sahut si bocah
mengawasi Bwee Hiang.
"Siapa itu enci Lianmu ?" tanya Bwee Hiang, tersenyum
manis.
Lo In ketawa nyengir. Lucu kelihatannya hingga Bwee Hiang
tertawa ngikik.
"Anak Hiang, kau bawa masuk adikmu itu." kata Liu Wangwee
dari sebelah dalam, yang sudah masuk lebih dahulu setelah
memperkenalkan Bwee Hiang pada Lo In.
"Adik, mari masuk." kata Bwee Hiang.
"Ah, aku tidak mau. Tidak ada enci Lian, buat apa aku masuk."
kata si bocah seraya mundur dan mau ngeloyor dari depan
pintu masuk.
"hei, kau mau kemana ? Mari masuk, di dalam nanti enci kasih
makanan enak." membujuk Bwee Hiang seraya cekal
tangannya Lo In ditarik masuk ke dalam.
Lo In sudah mau bebaskan tangannya yang dicekal si gadis
kalau ia tidak mendengar Bwee Hiang kata 'mau kasih
makanan enak'. Ia ragu-ragu makanan enak apa yang akan
diberikan padanya oleh enci yang baru dikenal itu.
Lagian Bwee Hiang kelihatan ramah tamah meskipun tidak
selincah enci Liannya, si bocah merasa malu hati. Maka ia
menurut dituntun oleh Bwee Hiang dibawa masuk ke dalam
rumah dimana Lo In dapat lihat perabotan dan perhiasan
rumah itu sangat indah dan menarik perhatiannya.
Dasar orang gunung, ia menanya ini itu pada Bwee Hiang,
kapan ia melihat barang yang menarik hatinya. Si gadis sangat
sabar, ia memberi keterangan dengan terang hingga Lo In
menjadi girang.
"Ini namanya apa ?" tanya Lo In pada Bwee Hiang seraya
menunjuk sesuatu ketika ia dibawa ke ruang belakang.
Bwee Hiang pintar, otaknya cerdas. Melihat Lo In laga lagunya
seperti baru keluar dari pegunungan, maka ia selalu melayani
gerak geriknya supaya si bocah senang.
Apalagi barusan dikisiki oleh ayahnya supaya ia perlakukan si
bocah baik-baik karena bocah itu ada isinya. Maka Bwee
Hiang menjaga hati-hati supaya tidak membikin hatinya si
anak kecil kurang senang.
Ketika ia ditanya Lo In sambil tersenyum ia menjawab, "Aku
Bwee Hiang, dan kau, siapa namamu ?"
"Aku she Lo nama In, enci Hiang." jawabnya seraya nyengir
ketawa.
Nyengir ketawa dalam wajah hitam macam pantat kuali, tentu
saja kelihatannya lucu dan tak tahan Bwee Hiang untuk tidak
tertawa. Ia ngikik ketawa sambil menekap mulutnya dengan
tangannya yang halus putih.
Lo In senang melihat teman barunya banyak ketawa. Pada
Bwee Hiang ternyata Lo In lebih terlepas omongannya hingga
diam-diam si gadis pun merasa suka pada anak hitam ini.
Ditanya kenapa Lo In ribut dalam rumah makan, Lo In lantas
saja nyerocos cerita. ia kata bukannya ia tidak mau bayar
uang sewa kamar tapi lantaran uangnya kena dicopet orang,
maka ia minta tempo besok. Apa mau pada hari yang
dijanjikan ia sakit perut tidak bisa keluar hingga kembali
berjanji besok. Tapi orang-orang rumah makan tidak mau
mengerti dan mengusir dia seperti mengusir binatang. Untung
ketemu sama Liu Wangwee dan membereskannya, kalau tidak
entah bagaimana jadinya.
"Orang usirmu seperti binatang, kenapa kau tidak melawan ?"
tany Bwee Hiang.
"Aku anak kecil, mana bisa menang sama orang tua." sahut Lo
In ketawa.
"Kau bohong, ya. Kalau kau mau, mungkin dua orang dogol itu
bukan tandinganmu." berkata lag si gadis yang hendak
memancing Lo In.
Lo In ketawa nyengir. "Enci Hiang bisa saja. Aku tidak pandai
berkelahi. Bagaimana aku bisa menangkan dua orang tua itu"
jawab Lo In kemudian.
Si bocah suka dengan humor, maka laga lagunya sabansaban
bikin Bwee Hiang ketawa ngikik hingga diam-diam si
gadis merasa suka sama adik kecil ini.
Omong-omong tidak terasa lagi hari sudah sore. Lo In permisi
pada Bwee Hiang hendak berlalu, tapi si gadis menahan.
"Nanti dulu, aku akan kabarkan pada ayah." katanya.
"Jangan ganggu orang tua. Biarkan dia mengaso. Sebentar
pun masih boleh enci sampaikan aku punya rasa hormat dan
terima kasih padanya." berkata Lo In ketawa.
"Adik kecil, kau jangan pergi dulu. Kalau aku pergi, aku nanti
marah !" kata Bwee Hiang sambil bangkit dari duduknya dan
masuk ke dalam menemui ayahnya.
Lo In tidak berani tinggalkan tempat itu, karena ia takut
membuat marah Bwee Hiang yang ia pandang sebagai enci
yang sangat baik padanya.
Selagi menanti Bwee Hiang, pikirannya melayang pada Eng
Lian. Dimana enci nakal itu sekarang berada, dimana ia harus
mencaharinya ?
Dalam keadaan ngelamun, tiba-tiba ia ditegur oleh Bwee
Hiang, "Adik kecil, kau lagi ingati apa saja sampai
terbengongbengong
kulihat."
Lo In seperti tersadar dari tidurnya, dengan gugup ia
menjawab, "Tidak, oh tidak. Aku hanya memikiri dimana
malam ini aku harus menginap. Aku tidak punya uang untuk
membayar uang sewa penginapan, nanti diusir orang lagi."
Bwee Hiang tersenyum, "Adik kecil kalau tidak, seharusnya
kau tidur di pohon." si gadis berkata sambil ngikik ketawa.
"Oh, kalau di lembah, oh, tidak, kalau.... kalau....." omongan Lo
In jadi kacau.
Ia kesalahan omong maka ia jadi gugup tidak karuan tapi
Bwee Hiang yang cerdik sudah lantas dapat menangkap apa
yang Lo In ingin maksudkan omongannya itu.
"Nah, anak tukang ngebohong." ia berkata sambil jari
telunjuknya menuding pada Lo In. "Ngomongnya saja sudah
gaga gugu hihihi..."
Mau tidak mau Lo In jadi ketawa melihat teman barunya
bergaya lucu.
"Begini, adik kecil." berkata lagi Bwee Hiang. "Ayah kata
sedikitnya kau harus menjadi tamu kita seminggu lamanya, itu
baru betul. Kau tidak boleh sekarang pergi dari sini sebab
ayah kata kalau kau paksa pergi artinya kau tidak memandang
mata pada orang tua."
Lo In jadi melengak mendengar kata-kata Bwee Hiang. "Habis,
aku tidur dimana ?" tanyanya.
"Di pohon, tuh !" jawab Bwee Hiang sembari jarinya
telunjuknya menunjuk ke jurusan pohon, lucu gayanya hingga
Lo In jadi tertawa terbahak-bahak.
Senang Lo In dapatkan teman barunya yang jenaka, sekalipun
tidak seperti Eng Lian yang kejenakaannya suka dibarengi
dengan mencubit. Si bocah tidak ingat bahwa usia Eng Lian
dan Bwee Hiang jauh bedanya. Eng Lian masih terhitung
anak-anak sedang Bwee Hiang sudah masuk hitungan gadi
yang sudah matang 'keluar pintu', mana bisa antara Eng Lian
dan Bwee Hiang disamakan kelakuannya.
Bwee Hiang demikian open pada Lo In selain sendirinya kena
ketarik sama kejenakannya si bocah, adalah keinginan
ayahnya supaya ia dapat mengetahui asal usulnya Lo In.
Liu Wangwee percaya anak gadisnya yang cerdik dapat
mengorek rahasia dirinya Lo In yang diduga menyembunyikan
kepandaian sangat tinggi. Liu Wangwee curigai Lo In bukan
anak sembarangan, siapa tahu bapaknya ada orang lihai yang
dapat menolong ia dalam kesulitan menghadapi Sucoan Samsat.
Matanya Liu Wangwee lihai. Memang betul Lo In hendak
sembunyikan kepandaiannnya. Hanya sayang, dasar anak
kecil 'sok aksi', dipancing-pancing akhirnya si bocah bercerita
juga pada Bwee Hiang bahwasanya ia di lembah ada
mempunyai kawan-kawan tentara kera, burung rajawali, gorila
serta teman mainnya Eng Lian yang nakal jenaka.
Perihal ia makan buah 'Jit-goat-ko' dan nyalinya Tok-gan
Siancu tidak ia ceritakan pada si gadis. Bwee Hiang separuh
percaya, setengah tidak. Tapi melihat Lo In bercerita sambil
bergaya dan tangannya tidak bisa diam dan unjuk aksinya,
mau tidak mau tiap sebentar si nona jadi cekikikan ketawa.
Lo In girang dapat membikin teman barunya itu ketawa ngikik.
Dengan pertemuan ini, membuat ia tidak begitu kehilangan
atas lenyapnya Eng Lian.
Keluarga Liu ada kaya raya, rumahnya besar bertingkat,
dilingkari dengan pekarangan yang lebar dan luas. Malah
dibelakang rumahnya ada satu tempat yang dinamakan 'rimba
kecil', dimana orang bisa jalan-jalan cari angin seperti di
Kebon Raja. Untuk mengurus rumah dan tanahnya yang luas
itu, sudah tentu hartawan Liu ada memakai banyak pegawai
dan pelayan. Bwee Hiang sendiri ada pakai dua pelayan yang
ia beri nama sendiri Ling Ling dan Lan Lan yang berusia kirakira
15 dan 16 tahun.
Bwee Hiang bukan gadis hartawan yang sombong dan
angkuh, sebaliknya ia sangat ramah tamah sehingga dua
pelayannya sangat suka dan setia padanya. Begitulah dengan
bergaul sama Bwee Hiang yang diramaikan oleh Ling Ling dan
Lan Lan, kelihatannya si bocah Lo In senang tinggal dalam
rumahnya Liu Wangwee.
Pada suatu sore, cuaca ada adem sekali. Tampak Lo In
sedang mendongeng apa tahu, yang terang Bwee Hiang
terpingkal-pingkal ketawa.
"Kalau mendengar dari mulutmu yang banyak omong, kukira
kau hanya satu bocah tukang ngobrol saja, adik kecil." berkata
Bwee Hiang setelah ia berhenti ketawa.
Kiranya Lo In sedang mendongeng bagaimana ia dapat
memerintah tentara keranya dengan bahasa monyet, perintah
burung garudanya dengan hanya siulan saja, lompat tinggi ke
atas pohon dengan hanay sekali gerakan saja, inilah rupanya
yang membuat Bwee Hiang terpingkal-pingkal ketawa.
Pantasan si gadis sama sekali tidak percaya. Pikirnya,
bagaimana manusia bisa bercakap bahasa monyet,
memerintah dan memanggil burung raksasa hanya dengan
siulan saja. Maka juga, setelah ia terpingkal-pingkal ketawa ia
mengatakan si bocah hanya pandai omong besar saja. Ia tidak
kira justru kata-kata ini membuat si bocah penasaran.
"Enci Hiang mau bukti ?" tanya si bocah dalam penasarannya.
"Coba kau tangkan tuh burung gereja yang saling kejar di
pohon !" sahut Bwee Hiang ketawa seraya jarinya menunjuk
ke pohon.
Lo In menoleh ke jurusan yang ditunjuk. Benar saja ada dua
ekor burung gereja yang terbang saling kejar. Tanpa banyak
omong si bocah dekati pohon, kemudian enjot tubuhnya
ngapung ke atas pohon. Entah bagaimana ia menyergap,
tahu-tahu dua ekor burung gereja itu sudah berada
ditangannya dan dibawa lompat turun.
Sambil ketawa-ketawa ia menghampiri Bwee Hiang, seketika
itu sedang terbelalak keheranan melihat gerakan si bocah
yang sangat gesit.
"Nah, ini lihat, burung yang enci suruh tangkap." berkata si
bocah seraya taruh dua ekor burung gereja itu ditelapakan
tangan kirinya.
Burung yang tadinya lincah, terbang dengan gesitnya,
sekarang berada di telapak tangan si bocah kelihatannya
jinak, hanya sayapnya mengebas-ngebas seperti mau terbang
tapi tak dapat mereka pergi dari telapak tangan Lo In seakanakan
sepasang kakinya pada melengket pada telapak tangan
si bocah.
Bwee Hiang lihat burung itu tampak gemetaran, seperti yang
kedinginan. Ia heran, tapi ia lantas berkata, "Pantas tidak bisa
terbang, burung-burung itu barusan kau pencet sih !"
"Siapa yang pencet ? Nah, nih lihat !" berkata Lo In seraya ia
lemparkan dua ekor burung itu ke udara. Lantas saja dua
burung itu dapat bergerak bebas lagi, terbang gesit sekali
seperti tadinya. Malah, kali ini mereka seperti yang ketakutan,
sudah terbang jauh dari situ.
Bwee Hiang tidak merasa heran. Ia kira si bocah tentu bisa
main sulap dengan dua ekor burung gereja yang ditangkapnya
tadi. Tapi untuk membikin si bocah jangan sampai kurang
senang, maka ia berkata sambil unjukkan jempolnya, "Begini,
kau benar hebat adik kecil. Kau ajari aku nanti, ya !"
Lo In hanya ketawa, tapi diam-diam si bocah yang 'sok aksi'
bangga dalam hatinya.
Pada malam harinya, ketika Bwee Hiang omong-omong
dengan ayahnya, sang ayah menanya : "Anak Hiang,
bagaimana dengan usahamu, apa sudah berhasil ?"
"Ah, itu anak tidak punya kepandaian apa-apa. Cuma omong
kosong saja. Katanya ada punya teman kawanan kera dan ia
bisa bahasa monyet. Hihihi...." jawab Bwee Hiang.
Liu Wangwee kerutkan alisnya mendengar si putri menutur.
Sebelum ia buka mulut menanya, Bwee Hiang sudah
menyambung, "Tapi ayah, lompatannya ke atas pohon dan
menangkap burung memang begini !" Bwee Hiang unjuk
jempolnya.
"Lompatan bagaimana, coba, coba kau tuturkan." mendesak
sang ayah.
Bwee Hiang lantas tuturkan bagaimana Lo In lompat ke pohon,
tahu-tahu dua ekor burung gereja sudah kena ditangkapnya.
Kemudian ditaruh ditelapak tangan dan burung-burung itu tak
dapat terbang seolah-olah kedinginan. "Anak hitam itu
mungkin hanya bisa sulap saja, yah. Tidak sebagaimana ayah
duga ada menyembunyikan kepandaiannya...." kata Bwee
Hiang menutup penuturannya. Tapi ia terhenti kata-katanya
karena tiba-tiba ia dibikin kaget oleh kelakuan sang ayah yang
sekonyong-konyong tertawa terbahak-bahak.
"Oh, ayah ketawakan dia ? Memang juga lucu caranya
menangkap burung dan ditaruh ditangannya, persis tukang
sulap." menyambung Bwee Hiang, turut ketawa.
"Anak tolol !" kata Liu Wangwee kepada puterinya, hingga
sang puteri menjadi kaget karena tidak biasanya sang ayah
mengatakan ia 'anak tolol'.
"Ayah, kenapa kau bilang aku tolol ?" ia menanya dengan
penasaran.
"Anak Hiang, itu bukannya ilmu sulap dari si bocah."
menerangkan sang ayah dengan roman kegirangan. "Anak itu
telah memperlihatkan 'Han ki bian kang', Ilmu tenaga lunak
berhawa dingin, satu ilmu yang tak mudah dilatih kalau
orangnya tidak punya lwekang yang dahsyat dalam tubuhnya.
Hahaha, memang tidak meleset dugaanku. Dia satu anak yang
luar biasa, harus kau baik-baik melayaninya dan coba-coba
pancing kepandaian silatnya, anak Hiang."
Bwee Hiang melongo mendengar kata-kata ayahnya.
Pikirnya, kalau begitu si bocah benar bukannya main sulap
seperti yang dikiranya. Entahlah, apa dia hanya punya
kepandaian itu saja ? Maka ia girang ketika ayahnya
menganjurkan buat ia coba-coba pancing kepandaiannya si
bocah hitam dengan ilmu silat.
Demikian pada suatu sore, Bwee Hiang ajak Lo In ke lapangan
tempat berlatih.
Belum lama mereka omong-omong, muncul Liu Wangwee
menghampiri mereka. Mereka jadi ngobrol bertiga. Setelah
beberapa lama Liu Wangwee berkata kepada anaknya, "Anak
Hiang, cuaca begini baik, bagaimana kalau kita berlatih
pedang ?"
"Bagus, bagus !" kata sang anak sambil bertepuk tangan. "Eh,
Ling Ling, coba kau ambilkan sepasang pedang yang biasa
aku dan ayah pakai berlatih !" kata Bwee Hiang suruh
pelayannya.
Ling Ling lekas berlalu ambil barang yang diperlukan, sebentar
lagi ia sudah ambilkan sepasang pedang pada nonanya.
Satu batang pedang ia pegang sendiri, lainnya ia angsurkan
kepada ayahnya. Sambil melirik pada Lo In yang tinggal
tenang-tenang saja duduk. Bwee Hiang berkata, "Adik kecil,
kau lihat encimu main pedang. Kau nonton disitu !"
Liu Wangwee sementara itu sudah siap, ia mengedipkan
matanya pada si gadis, satu tanda supaya Bwee Hiang
berlatih benar-benar lalu serang menyerang dimulai. Perlahan
mula-mulanya, tapi makin lama main seru. 'Bwee hoa kiam
hoat' dimainkan dengan indah sekali, banyak jurus-jurus yang
berbahaya diperlihatkan hingga sepasang pedang
berkelebatan seakan-akan lihat sambaran. Ling Ling dan Lan
Lan yang menyaksikan merasa sangat kagum dan bertepuk
tangan beberapa kali.
Sebaliknya, Lo In menonton acuh ta acuh kelihatannya. Sikap
si bocah tak lolos dari matanya Liu Wangwee yang lihai.
"Sudah, kita sampai disini saja." kata Liu Wangwee sambil
lompat keluar dari arena pertempuran.
Bwee Hiang juga merasa heran si bocah seperti yang tidak
tertarik dengan latihan mereka yang sangat hebat. Terdengar
Liu Wangwee menanya, "Anak In, apa kau tidak tertarik
dengan latihan kami barusan ?"
"Aku tidak bisa berkelahi seperti kalian, mana aku mengerti."
sahutnya, nyengir ketawa.
Liu Wangwee menggelengkan kepala. Di luar tahunya Lo In,
matanya mengedip pada gadisnya, disambut dengan
manggutan oleh Bwee Hiang.
"Anak In tidak bisa main pedang. Coba kau ajari anak Hiang.
Aku ada urusan. Biarlah kalian berdua teruskan berlatih."
berkata Liu Wangwee sambil terus bertindak meninggalkan Lo
In dan Bwee Hiang.
Bwee Hiang ambil tempat disampingnya Lo In. Ia berkata,
"Adik kecil, mari aku ajari kau bermain pedang supaya jangan
nanti dihina orang." sambil menarik tangannya Lo In diajak ke
tengah lapangan. "Nah, ini pakai pedangku. Aku pakai pedang
ayah." menyambung si nona seraya angsurkan pedangnya
pada si bocah, sedang ia mengambil pedang Liu Wangwee
yang diletakkan tidak jauh dari situ.
"Ketika mereka sudah berhadapan, Lo In berkata, "Eh,
barusan aku tidak ingat bagaimana kau mainkan pedangmu.
Coba sekarang unjuk sekali lagi."
Jengkel juga Bwee Hiang menghadapi anak yang cerewet ini,
sembari putar pedangnya ia berkata, "Nah, ini lihat !"
Bwee Hiang mainkan tipu-tipu silat 'Bwee hoa kiam hoat' atau
'Ilmu pedang kembang bwee'. ialah 'Bwee swat tiauw goat'
atau 'Kembang bwee mekar menghadapi rembulan'. Pedang si
nona menusuk ke depan, ke kanan dan ke kiri dengan cepat
sekali. Kemudian disusul dengan tipu 'Bwee hiang boan wan'
atau 'Harumnya bunga bwee memenuhi taman', salah satu
jurus dari 'Bwee hoa kiam hoat' yang paling disukai oleh Bwee
Hiang. Mungkin karena namanya 'bwee hiang' ada termasuk di
dalamnya. Tampak Bwee Hiang bersemangat memainkan tipu
'Bwee hiang boan wan', pedangnya menari-nari dengan
indahnya, berkelebat laksana kilat, tubuhnya si nona yang
tinggi seolah-olah tebungkus oleh sinar pedang yang
dimainkan.
Lo In kelihatan tersenyum-senyum. "Enci Hiang, hebat
permainan pedangmu. Sayang aku tak dapat melayani kau.
Aku ngeri melihat pedangmu menyambar-nyambar. Bisa-bisa
leherku putus oleh.... eh, kau jangan main-main...."
Berbareng si bocah menghilang dari hadapannya Bwee Hiang
sehingga pedangnya Bwee Hiang menyabet angin. Matanya si
gadis celingukan mencari Lo In sementara dua pelayannya
Ling Ling dan Lan Lan pada mendekap mulutnya untuk
menahan ketawa karena saat itu tampak Lo In berada di
belakangnya Bwee Hiang sambil leletkan lidahnya dalam
gayanya yang sangat lucu.
Melihat Bwee Hiang celingukan mencari dirinya, Lo In berkata,
"Enci Hiang, aku ada disini."
Bwee Hiang cepat putar tubuhnya. Benar saja si nakal sudah
ada dibelakangnya.
"Setan kecil." kata Bwee Hiang, ketawa kegirangan. "Kau
membohongi encimu, ya !"
"Habis, leherku mau disabet pedang, siapa mau kasih." sahut
Lo In melucu seraya pegangi lehernya hingga Bwee Hiang
ngikik ketawa dibarengi oleh ketawanya Ling Ling dan Lan
Lan. Ramailah saat itu pada ketawa.
Apa sebenarnya sudah terjadi hingga Lo In kepaksa
memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa ? Saat itu,
Bwee Hiang sedang enaknya memainkan tipu silatnya 'Bwe
hiang boan wan', ia mendengar si anak kecil nyerocos
ngomong lantas berkelebat dalam benaknya untuk menyerang
tiba-tiba pada si bocah dengan telengas. Kalau Lo In bisa silat,
tentu ia akan berkelit dari serangannya. Sebaliknya kalau si
bocah tak punya guru, paling-paling si anak kecil akan terluka
batang lehernya.
Mendapat pikiran bagus itu, maka selagi ia putar pedangnya,
diam-diam ia balik mata pedangnya sehingga belakang saja
yang ia gunakan membabatleher Lo In dengan jurus yang
ampuh dan seperti kilat menyambar. Dalam kagetnya,
otomatis keluar ilmu saktinya Lo In 'Bu eng bue seng' (tiada
bayangan tiada suara), menghilang dari hadapannya Bwee
Hiang sehingga si nona terperanjat. Pikirnya, hanya setan saja
yang bisa menghilang demikian.
Hatinya kegirangan sebab percobaannya berhasil. Ia tidak
ragu-ragu lagi bahwa si bocah memang ada mempunyai
kepandaian luar biasa seperti kata ayahnya.
"Anak kecil, kau jangan suka gede bohong." kata Bwee Hiang
sehabisnya ngikik ketawa. "Sekarang sudah ketahuan rahasia
dirimu, kau mau bilang apa ?"
Lo In ketawa nyengir. Tiba-tiba ia rasakan adanya angin
menyambar dari belakangnya, tangannya yang kanan
menyampok ke belakang lalu tangan kirinya diacungkan,
kemudian tubuhnya berputar. Tahu-tahu dia sudah menggigti
sebuah benda. Ia melihat si penyerang gelap lompat dari balik
pohon mau melarikan diri. Benda yang digigit di mulutnya ia
tiup sambil berkata, "Perlahan jalan, sahabat...."
Orang itu menjerit dan jatuh meloso, badannya menggigil
kedinginan.
Lo In sudah mau lompat menyusul tapi dari balik pohon-pohon
kembali muncul lima orang yang memegat dan
mengurungnya. Ternyata orang-oang itu hebat-hebat
pengawakannya, tinggi besar dan bengis-bengis. Tapi Lo In
tidak takut seperti biasa, ia menanya dengan tenang, "Para
paman, aku tidak bermusuhan dengan kalian, kenapa kalian
mau tangkap aku ?"
"Hahaha !" tertawa seorang diantaranya, seraya usap-usap
jenggotnya yang panjang. "Anak kecil, kau anaknya Kwee Cu
Gie, bukan ?"
"Aku tidak kenal siapa Kwee Cu Gie." kata Lo In tenang.
"Tidak perduli kau anak Kwee Cu Gie atau bukan, kami harus
tangkap sebab kau sudah membuat malu namanya Ceng Gee
Pang !" kata lagi orang tadi.
"Oh, jadi kalian adalah orang-orangnya Ceng Gee Pang ?"
tanya Lo In.
"Kalau benar, kau mau apa ?"
"Aku sih cuma mau menanya saja." Lo In berkata sambil
bejak-bejak benda ditangannya. Kiranya itu ada dua panah
kecil yang barusan ia tangkap dengan tangannya dari si
penyerang gelap.
Lima orang yang mengurung si bocah terbelalak matanya
karena mereka kenali panah kecil itu terbuat dari logam
istimewa tapi diremas-remas Lo In si bocah seperti juga
meremas tepung terigu. Dua panah itu hancur menjadi bubuk.
"Maju semua !" bentak orang tadi yang berkata pada Lo In,
menganjurkan kawan-kawannya mengepung rapat.
Dengan rada-rada jeri mereka maju.
"Aku hanya satu bocah. Kalau sebentar kalian kalah sama
anak kecil, jangan salahkan aku berbuat kurang ajar, ya !"
berkata Lo In, ketawa nyengir dia.
Panas hatinya orang-orang yang mengepung si bocah. Masa
mereka yang sudah tercatat namanya dikalangan Kangouw
sebagai jago-jago kenamaan boleh diingusi oleh satu bocah
yang belum lepas tetek, pikir masing-masing.
"Anak sombong, lebih baik kau menyerah supaya dengan baik
kita bawa kau ke pusat untuk dihadapkan kepada Pangcu."
kata satu diantara lima orang itu.
"Buat apa aku menghadap Pangcu kalian ?" kata si bocah
acuh tak acuh.
Kalau Lo In menghadapi lima jago itu dengan santai saja,
sebaliknya Bwee Hiang dan dua orang pelayannya Ling Ling
dan Lan Lan menjadi ketakutan. Mereka kuatirkan
keselamatannya Lo In. Meskipun Bwee Hiang tahu barusan Lo
In ada unjukkan kepandaiannya yang luar biasa, pikirnya,
anak kecil menghadapi orang-orang gede yang sudah
kawakan dalam kalangan kangouw, mana bisa menang ?
Apalagi Bwee Hiang melihat semuanya pada membawa
senjata tajam yang menyeramkan.
Ia diam-diam heran kenapa ada orang-orang masuk ke dalam
rumahnya, sang ayah diam-diam saja ? Apakah ayahnya
memang tidak ada di rumah ? Mungkinkah sang ayah keluar
sebab tidak kelihatan muncul orang tua itu disitu justru
keadaan sedang gentingnya.
Bwee Hiang menjadi nekat. Ia lalu lompat menghampiri Lo In,
katanya, "Adik kecil, kau jangan takut. Encimu datang
membantu !"
Lo In menoleh ke arah Bwee Hiang. "Enci Hiang, kau tenangtenang
saja nonton. Lihat adikmua akan bikin semua paman
ini tangkap angin."
"Kentut !" memotong si orang yang berjenggot panjang.
"Jangan jumawa, anak kecil. Lihat kami tangkap kau !"
Berbareng ia ajak kawan-kawannya maju, kira-kira jaraknya
empat langkalh lagi mereka mendekati Lo In, tiba-tiba si bocah
ketawa terbahak-bahak lalu tubuhnya berputar seperti gasing,
perlahan seperti asap tubuhnya naik ke atas hingga lima orang
itu jadi heran dan matanya mengikuti tubuh Lo In yang
ngapung seperti asap. Dalam tertegunnya tiba-tiba mereka
rasakan dengkulnya pada terkulai roboh mendeprok ditanah
dibarengi dengan jatuhnya sepotong baju dari udara. Kiranya
yang mencolot ke udara tadi bukan tubuh Lo In, sebaliknya
bajunya yang melayang ke udara bagaikan asap, sementara
Lo In berbareng sudha jongkok dan lalu menotok 'leng-coanhiat'
jalan darah di dengkul masing-masing lawannya.
Sambil pakai lagi bajunya, Lo In jalan menghampiri Bwee
Hiang yang saat itu berdiri terkesima di tempatnya. Ling Ling
dan Lan Lan terbelalak matanya nampak kejadian yang
mempesonakan di depannya, satu kejadian yang mungkin
dilakukan hanya oleh tukang sulap kawakan dengan ilmu
sihirnya, tapi tidak oleh si anak kecil seperti Lo In. Sungguh
kejadian itu mengagumkan kepada yang melihatnya.
Termasuk itu orang-orang kasar yang telah menjadi korban
totokan Lo In.
"Enci Hiang, kau mau apakan orang-orang jahat ini ?" tanya Lo
In.
Bwee Hiang masih belum hilang kesimanya, ia hanya
memandang si bocah dengan air mata mengembeng saking
girangnya ia menyaksikan ilmu sakti Lo In.
"Kenapa kau menangis, enci Hiang ?" tanya Lo In kaget.
"Oh, oh, adik kecil. Aku menangis saking kegirangan.
Kau,kau...... selamat."
"Sekarang enci mau apakan mereka itu ?"
"Adik kecil, biarkan saja dahulu, tunggu ayah pu...."
"Tahan, tahan !" terdengar suara dari kejauhan hingga si nona
berhenti bicaranya.
Kiranya yang datang itu adalah Liu Wangwee. Ketika is orang
tua sampai pada mereka, Bwee Hiang cepat berkata, "Ayah,
orang-orang ini....."
"Tunggu, aku bicara dahulu." memotong Liu Wangwee.
"Semua ada orang sendiri. Kejadian yang menegangkan
barusan adalah gara-gara ayahmu."
Bwee Hiang terkejut, "Ayah....."
"Tunggu dahulu, aku belum bicara habis." kata Liu Wangwee.
"Anak In, harap kau jangan marah, Semua ini ada aku yang
atur. Aku lihat kau selalu mau umpatkan kepandaianmu yang
sakti, membuat aku jadi tidak sabaran. Maka, kebetulan ada
Pangcu datang dari Ceng Gee Pang dan orang-orangnya.
Pangcu dari Ceng Gee Pang adalah sahabatku. Ketika aku
ceritakan hal dirimu, dia kaget. Karena dia menduga pasti
bahwa kau ada anak itu yang membuat repot cabangnya di
Tong-hong-gay. Sahabatku ingin mencoba-coba dengan
panah saljunya, dibantu oleh lima anak buahnya, ternyata
percobaan mereka telah membuka kedokmua yang
menyembunyikan kepandaian saktimu. Anak In, nanti aku
akan ceritakan panjang lebar duduknya urusan. Sekarang aku
perkenalkan kau dengan Ang Pangcu dari Ceng Gee Pang...."
Berbareng maju satu orang, ternyata orang itu adalah si
pembokong denan panah lihainya, hingga Lo In menjadi
tertawa terbahak-bahak.
Setelah Lo In ketawa puas, Soat-cian Ang berkata, "Siauwhiap
(pendekar cilik), harap kau jangan marah. Barusan apa
yang aku lakukan adalah hanya main-main saja. Tidak
sebenarnya kami mau berbuat kurang ajar padamu."
"Main-main tinggal main-main, paman." sahut Lo In, melucu
dia. "Kalau aku tidak punya sedikit kepandaian, barusan aku
sudah ditembusi oleh tiga panah tanganmu."
Semua orang jadi ketawa, begitu juga Bwee Hiang, Ling Ling
an Lan Lan. Lega hatinya masing-masing, setelah tahu
duduknya perkara.
Lima orang yang masih mendeprok di tanah lalu dibebaskan
dari totokan oleh Lo In. Mereka pada bangun serentak,
salaman dengan si bocah, memohon maaf untuk kelakuannya
yang barusan dibuat. Tapi Lo In sudah lantas berkata, "Para
paman, kalian tidak bersalah. Malah yang harus minta maaf
pada kalian yang sudah berbuat kurang ajar membikin kalian
duduk ditanah sebentaran. Hahaha.... "
Meskipun kata-kata Lo In membanyol sifatnya, tapi mereka
merasa tersindir juga, tampak muka semuanya pada bersemu
merah saking jengah.
Dari musuh sekarang sudah menjadi teman, maka dengan
gembira orang-orang pada masuk ke dalam untuk
menyambung pembicaraan lebih jauh.
Lo In yang tadinya hendak menyembunyikan kepandaiannya,
sekarang sudah tidak bisa lagi. Rahasianya sudah bocor.
Maksudnya menyembunyikan kepandaia, ia tidak mau cari
urusan, kuatir ketahan perjalanannya mencari enci Liannya.
Tidak tahunya ia ketemu dengan Liu Wangwee yang lihat
matanya hingga rahasia dirinya jadi terbongkar.
Soat-cian Ang bersama dengan lima orang pilihannya datang
ke rumah Liu Wangwee untuk memberitahukan bahwa ia tidak
mendapat kabar perihal si kerudung merah. Ia mau damaikan
bagaimana baiknya nanti menghadapi Sucoan Sam-sat. Tibatiba
ia mendengar si bocah hitam ada dirumahnya Liu
Wangwee, membikian ia disamping kegirangan ingin juga
mencoba-coba kepandaian si bocah yang dikatakan Hupangcu
Ang Ban Ie si bocah boleh dijuluki 'Hek bin sin tong'
atau 'si bocah sakti hitam'.
Setelah sekarang ia menjajal kepandaiannya Lo In, barulah ia
mau percaya memang anak itu sakti dalam ilmu silat. Tiga
panahnya yang diarahkan dengan sungguh-sungguh malah
disambut dengan tangan dan mulut. Itu adalah kepandaian
luar biasa yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Malah
yang membikin ia kaget adalah lima orangnya, bukan orang
sembarangan, jago-jago pilihan sudha kena dikerjakan
demikian mudahnya, membuat ia merasa takluk pada
kepandaian si bocah.
Dalam omong-omong, Liu Wangwee menyatakan kesulitannya
pada Lo In bahwa ia akan disatroni oleh Sucoan Sam-sat
sedang si kerudung merah yang ditunggu-tunggu tidak
kunjung datang, malah diselidiki juga tidak ketahuan jejaknya
ada dimana.
"Mendengar namanya," kata Lo In. "Tiga algojo itu benarbenar
seram. Entah kepandaiannya bagaimana, tapi kalau
sepanjang aku masih ada disini, aku nanti coba-coba
menghadapinya. Harap Lope jangan kuatir."
Liu Wangwee saling pandang dengan Ang Ban Teng.
"Memangnnya kau mau pergi dari sini, Siauw-hiap (pendekar
cilik) ?" tanya Ang Ban Teng.
"Jangan panggil Siauwhiap segala. Panggil saja aku anak In.
Aku paling suka dengar, karena itu ada panggilannya Liok
Sinshe." kata Lo In.
"Baik, baik." sahut Ang Ban Teng cepat. "Aku selanjutnya akan
panggil kau, anak In. Tapi kalau aku boleh tahu, siapa itu Liok
Sinshe yang kau sebutkan ?"
"Liok Sinshe ada seorang baik. Biarlah kita jangan omong
tentang Liok Sinshe sebab nanti bikin aku menangis karena
ingat kepadanya." kata Lo In, sedih tampaknya.
Liu Wangwee dan Soat-cian Ang saling pandang nampak
kelakuannya si bocah.
"Anak In, kau mau kemana ?" tanya Soat-cian Ang, nampak Lo
In bangkit dari duduknya dan mau ngeloyor keluar.
Lo In balik tubuhnya, sambil ketawa nyengir ia menyahut. "Aku
mau mencari enci Hiang."
Rupanya si bocah tidak kerasan duduk berunding dengan
orang-orang tua.
Liu Wangwee kedipi matanya pada sahabatnya hingga Soatcian
ANg tidak membuka mulut lagi. Mereka hanya
mengawasi saja si bocah ngeloyor keluar.
"Biarkan dia pergi pada Bwee Hiang. Anak itu selama disini
kelihatan akur betul dengan puteriku. Aku percaya Bwee
Hiang dapat menahan dia." kata Liu Wangwee pada Soat-cian
Ang dan para hadirin lainnya.
Soat-cian Ang anggukkan kepalanya. "Adatnya aneh tapi
terang ia mempunyai kepandaian yang luar biasa sampai aku
dan lima Hiocu pilihan digulingkan." menyatakan Pangcu dari
Ceng Gee Pang sambil melirik pada anak-anak buahnya.
Lima Hiocu (pemimpin pusat) pada ketawa, tapi dalam hatinya
merasa malu.
Soat-cian Ang alihkan pembicaraan sekarang pada soal
Sucoan Sam-sat.
"Bagaimana sekarang pikiran toako ?" tanya Ang Ban Teng.
"Bagaimana kau pikir tentang si bocah ?" balik menanya Liu
Wangwee.
"Anak itu berkepandaian tinggi. Hanya aku sangsikan
pengalamannya bertempur dengan jago-jago kelas berat
seperti Sucoan Sam-sat." menyatakan Soat-cin Ang.
"Jadi bagaimana baiknya ?" Liu Wangwee seperti yang
keputusan akal.
"SUcoan Sam-sat adalah sangat ganas." menyatakan Soatcian
Ang. "Kalau toako gagal majukan kita punya jago cilik,
akibatnya mengerikan. Seluruh keluarga toako akan dibasmi
olehnya. Ini justru yang aku sedang pikirkan."
Liu Wangwee ketawa. Tapi ketawanya mengandung
kecemasan. Ia rupanya dapat mengerti akan kekuatiran
sahabatnya itu. Memang juga ia sangsikan Lo In nanti bisa
tempur tiga algojo dari Sucoan yang buat itu tapi apa daya ?
Keadaan sudah memaksa, si kerudung merah yang diharapharap
kedatangannya kini ditumplek pada si bocah saja. Kalau
toh Lo In tidak tahan mengusir tiga jagoan jahat dari Sucoan
itu, apa boleh buat. Sudah nasibnya mesti hancur lebur
dibawah keganasannya mereka. Cuma ia menyesal kalau
dalam urusannya itu si bocah nanti kebawa-bawa membuang
jiwa dengan percuma. APa nanti kata orang tuanya apabila
mengetahui duduknya urusan bahwa jago cilik itu dibawabawa
olehnya sehingga menemui kebinasaannya.
Memikir kesitu, hartawan Liu menjadi lesu.
Untuk beberapa saat dalam ruangan itu menjadi sunyi.
"Pangcu, bukankah kita akan ketamua Kian-san Ji-lo ?"
nyeletuk salah satu Hiocu dari Ceng Gee Pang yang bernama
Lie Goan Tay.
"Aaa... " tiba-tiba Ang Ban Teng terkejut girang. "Kau benar Lie
Hiocu. Aku sampai lupa akan kedatangan Kian-san Ji-lo. Ya,
ya, betul toako."ia meneruskan kata-katanya pada Liu
Wangwee. "Dalam dua hari ini Ceng Gee Pang akan
kedatangan Kian-san Ji-lo, aku nanti coba untuk minta
bantuannya. Asal mereka bersedia membantu, rasanya kita
tak usah kuatirkan akan kedatangannya tiga orang jahat itu
kemari."
"Kian-san Ji-lo...." menggumam Liu Wangwee.
"Bukankah toako juga kenal dengan Kian-san Ji-lo Cia Kie dan
Cia Liang ? Dua orang tua dari Kian-san itu kepandaiannya
susah diukur."
Liu Wangwee anggukkan kepala. "Aku tidak kenal dengan dua
orang tua dari gunung Kian-san (Kian-san Ji-lo)." katanya.
"Hanya kau dengar sepak terjangnya dalam rimba persilatan
tidak menentu sehingga orang sangsi apakah mereka itu
masuk kalangan Pek-to atau Hek-to.
Liu Wangwee belum jelas benar apakah Kian-san Ji-lo itu
masuk Pek-to (golongan ksatria) atau Hek-to (golongan jahat).
"Mereka ada hubungan baik dengan suhuku." berkata Soatcian
Ang. "Kalau aku minta bantuannya, rasanya mereka tentu
mau terima."
"Ya, kalau Hiante yang minta untuk memecahkan kesulitan
Hiante sendiri rasanya mereka tidak menolak." menyatakan
Liu Wangwee.
"Tapi ini halnya menyangkut diriku, mana dapat mereka
dimintakan bantuannya sedang aku tidak kenal kepada
mereka ?"
"Hahaha...." tertawa Soat-cian Ang.
"Toako ini anggap aku seperti orang lain atau bagaimana ?
Urusan toako sama juga ada urusanku, kenapa mesti dibedabedakan
?"
Senang Liu Wangwee mendengar kata-kata sahabatnya itu,
dengan siapa memang ia bersahabat rapat meskipu tidak
angkat saudara.
"Kalau begitu terserahlah untuk mana sebelumnya aku
mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas perhatian
Hiante." kata Liu Wangwee seraya bangkit dari duduknya dan
angkat tangannya menyoja pada Ang Ban Teng hingga
tergopoh-gopoh Soat-cian Ang berdiri untuk membalasnya. Ia
berkata, "Jangan seeji, toako."
Demikian perundingan sudah didapat pemecahan.
Kian-san Ji-lo atau dua orang tua dari gunung Kian-san, she
Cia bernama Kie dan Liang, pendek saja. Sepak terjangnya
disamping membuat kagum orang, juga membikin orang
membenci mereka. Itulah karena perbuatannya yang murah
hati dan kejam buas hingga orang tak dapat memastikan
mereka masuk golongan baik atau jahat.
Mereka ada hubungan baik dengan gurunya Soat-cian Ang, si
panah salju ialah Ang Hui Kin, satu she dengan Soat-cian Ang,
gelarnya 'Touw-kut-ciang' atau 'si pukulan menembus tulang',
cukup kenamaan dalam kalangan Kangouw.
Omong-omong dalam hal berkelana, Ang Hui Kin dapat tahu
kalau dua sahabatnya ini bakal lewati kota Gakwan, maka Ang
Hui Kin minta kalau dua orang tua itu lewat disana, sukalah
mampir di pusat Ceng Gee Pang. Disana muridnya Ang Ban
Teng menjadi Pangcu.
Cia Kie dan Cia Leng terima baik undangan itu. Maka diamdiam
Ang Hui Kin sudah mengabarkan pada Ang Ban Teng
bakal kedatangannya dua orang tua itu ke Gakwan.
Benar jgua, dua jago tua yang sepak terjangnya tak menentu
itu datang di Gakwan, selewatnya dua hari dari kejadiankejadian
yang diceritakan diatas.
Kedatangan mereka sangat dihormatai sekali oleh Ang Ban
Teng dan anak buahnya.
Dalam omong-omong, Soat-cian Ang menceritakan tentang
sahabatnya Liu Wangwee menghadapi kesuakaran akan
disatroni Sucoan Sam-sat dan minta bantuannya dua orang
tua itu untuk menjadi perantara suapaya urusan dapat
didamaikan.
Cia Kie kerutkan alisnya setelah mendengar penuturan Ang
Ban Teng.
"Untuk menjadi perantara, kami tidak keberatan." kata Cia Kie.
"Cuma soalnya, apakah Sucoan Sam-sat dapat memahami
atau tidak kami punya maksud baik ? Biasanya, tiga algojo itu
suka bawa kemauannya sendiri, tidak ingin urusannya
dicampuri orang lain. Inilah yang sulit. Akhirnya, tentu akan
terjadi pertempuran."
Ang Ban Teng terdiam. Lalu ia ceritakan tentang Sucoan Samsat
yang dipecundangi si kerudung merah. Sebenarnya
mereka ada mencari si kerudung merah tapi oelh karena orang
yang dicari tak dapat diketemukan, maka Liu Wangwee yang
akan dijadikan sasaran dari kekejamannya sebagai
pembalasan sakit hati.
"Memang aku dengar." Cia Liang kali ini yang bicara. "Pada
waktu belakangan ini ada muncul satu pendekar dengan
kerudung merah. Katanya ia selalu membuat kebaikan dalam
sepak terjangnya sehingga orang sangat memujanya. Kami
belum tahu siapa adanya dia dan ingin sekali kalau ketemu,
kami juga akan coba-coba kepandaiannya yang hebat seperti
dikatakan orang."
-- 15 --
Lalu Ang Pangcu ceritakan halnya si bocah Lo In, bagaimana
dia (Soat-cian Ang) dan lima Hiocunya dipecundangi si bocah
secara yang mempesonakan. Dua orang tua itu diam-diam
terkejut mendengar ceritanya Pangcu dari Ceng Gee Pang.
"Ah, masa ada kejadian begitu ?" tanya Cia Liang, tidak
percaya dia.
"Memang, kalu tidak menyaksikan dengan mata kepala
sendiri, tidak akan percaya dengan ceritaku barusan." kata
Ang Ban Teng. "Nanti kedua Lo-suhu saksikan sendiri
kepandaiannya yang luar biasa itu."
Tadinya Kian-san Ji-lo mau menolak dengan halus permintaan
bantuan Ang Bang Teng. Tapi setelah mendengar tentang
adanya bocah hitam yang gaib kepandaiannya, maka mereka
jadi rubah haluan. Ingin mereka menyaksikan kepandaiannya
bocah sakti itu.
Demikianlah, pada malam harinya dengan diantar oleh Ang
Ban Teng, Kian-san Ji-lo telah bikin kunjungan pada Liu
Wangwee, oleh siapa diterima dengan manis budi hormat
hingga dua orang tua itu menjadi girang.
Selain mereka bertiga, juga Ang Ban Teng ajak lima Hiocunya.
Pikirnya, jikalau perlu mereka bisa dikerahkan tenaganya.
Meskipun bulan muda, malam itu malamnya Sie-gww ce-cit
(bulan 4 tanggal 7 Tionghoa), cuaca tampak terang. Sudah
menjadi kebiasaan dari Liu Wangwee, kalau ada datang tamu
yang menjadi kenalan baiknya, ia suka bawa tamunya itu ke
taman bungan yang dikitari oleh banyak pohon besar dan
tinggi yang terawat baik. Kali ini kedatangan Pangcu dari Ceng
Gee Pang yang membawa serta Kian-san Ji-lo dan lima anak
buahnya juga oleh Liu Wangwee dibawa ke taman tersebut.
Disana, selain mereka menikmati hidangan yang mencocoki
selera, juga menikmati harumnya bunga-bunga yang baru
mekar dalam taman yang luas itu.
Senang kelihatannya para tamu dibawa ke tempat ini. Mereka
memuji Liu Wangwee yang dapat menciptakan taman
sedemikian indah dan menariknya.
Dalam omong-omong Kian-san Ji-lo matanya selalu melirik
sana sini. Liu Wangwee diam-diam heran, tapi Ang Ang Teng
lantas sudah dapat tebak maksud dua jago tua itu. Ia lantas
berkata pada Liu Wangwee, "Toako, kedua Lo-suhu ini ingin
berkenalan dengan anak In. Dimana dia sekarang ?"
"Oh, begitu." sahut Liu Wangwee, tahu sekarang ia kenapa
dari setadian dua jago tua itu larak lirik saja. "Nanti aku suruh
panggil dia."
Lantas Liu Wangwee suruh salah satu pelayannya untuk
memanggil Lo In.
Tidak lama pelayan itu datang kembali tapi tidak dengan Lo In.
Ia berkata pada Liu Wangwee, "Loya, anak itu tidak ada
ditempatnya."
"Coba cari, tentu dia ada bersama Siocia."
"Sudah kucari dan menanyakan pada Siocia. Katanya anak
kecil itu sejak siang tadi keluar dan sampai sekarang belum
kembali."
Liu Wangwee heran. Kemana perginya Lo In sebab biasanya
anak itu hampir tidak berkisar dari samping puterinya. Lalu ia
minta maaf kepada dua jago tua itu, katanya, "Harap kedua
Lo-suhu dapat memaafkan, bocah itu katanya tidak ada."
"Jangan seeji, Liu-heng." kat Cia Kie. "Kedatangan kami
kemari memang pertama ingin belajar kenal dengan bocah
sakti itu. Tapi biarlah, kalau dia tidak ada di rumah. Kami
rupanya tidak berjodoh menemuinya."
"Maksud kedua." menyambung Cia Liang, adiknya. "Adalah
hendak mendamaikan urusan Liu-heng dengan Sucoan Samsat.
Kami harap saja berjalan memuaskan dan...."
Cia Leng berhenti bicaranya karena melihat ada satu pelayan
yang berlarian datang menghampiri Liu Wangwee kepada
siapa diserahkan sebatang pisau kecil dengan secarik kertas.
Tanpa menanya lagi pada si pelayan, Liu Wangwee lantas
baca surat itu diterangi rembulan. Tampak mukanya pucat
setelah membaca.
"Toako, ada urusan apa yang membuat kau kaget ?" tanya
Ang Ban Teng.
Liu Wangwee tidak menjawab, hanya serahkan secarik kertas
itu kepada sahabatnya, siapa lalu menyambuti dan dibaca
isinya.
"Sucoan Sam-sat datang !" sekonyong-konyong Ang Ban Teng
berteriak hingga membuat terkejut para hadirin seketika itu,
tidak terkecuali Kian-san Ji-lo.
"Inilah Lo-suhu, coba baca." kata Ang Ban Teng seraya
menyerahkan secarik kertas itu kepada Cia Kie yang lalu
membacanya. Surat itu hanya pendek saja bunyinya :
"Liu In Ciang, meskipun kau minta bala bantuan dua tua
bangka dari Kian-san, rumahmu toh akan kami hancurkan dan
bakar habis. Serumah tanggamu tak ada satu jiwa yang kami
tinggalkan !
Sucoan Sam-sat"
"Hehehe !" tertawa Cia Kie. "Kami tidak bermusuhan dengan
kalian, tapi kalau kalian anggap kami sebagai musuh, apa
boleh buat. !"
Kemudian ia berpaling pada Liu Wangwee yang masih
tertegun ditempatnya. Ia berkata, "Liu-heng, mereka
memasukkan nama kita berdua. Biarlah kami berdiri
dibelakangmu. Jangan takut Liu-heng. Dan....."
"Hahaha !" sekonyong-konyong kedengaran suara tawa dari
balik gerombolan rumput alang-alang hingga bicaranya Cia
Kie menjadi terhenti lalu berpaling ke jurusan orang tertawa
tadi yang lantas muncul dan Liu Wangwee kenali itulah Sin-mo
Lie Kui, si berewok ganas, saudara ketiga dari Sucoan Samsat.
Terdengar kata-katanya menyambung ketawanya tadi.
"Tua bangka, biarpun kalian berdua berdiri di belakangnya,
percuma saja. Paling baik, kalau kalian tahu gelagat lantas
enyah dari sini dan biarkan kami mengganas pada keluarga
Liu !"
Cia Kie dan Cia Liang bangkit dengan serentak. Yang disebut
duluan berkata, "Kian-san Ji-lo belum pernah terbirit-birit lari
oleh karena gertakan. Malah makin digertak mereka makin
nekad. Hahaha..."
Tertawanya berhenti karena sebatang piauw menyambar pada
tenggorokannya.
"kau kirim barang rongsokan begini. Mana masuk hitungan
jago Kangouw !" Cia Kie kata seraya tangannya diangkat dan
piauw tahu-tahu sudah terjepit pada dua jarinya lalu dibuang
begitu saja hingga membuat Lie Kui panas hatinya melihat
senjata rahasianya dihina oleh Cia Kie.
Melihat akan terjadi pertempuran ramai, maka semua orang
pada mundur. Sedang pelayan-pelayan yang hatinya kecil
sudah pada lari ketakutan.
"Kau sambuti lagi ini !" teriak Lie Kui, berbareng tangannya
saling susul hingga beberapa batang piauw menyambar
dahsyat ke arahnya Cia Kie.
Ta[i si orang she Cia tidak gentar. Dengan berkelit dan
kebasan lengan bajunya yang gedombrongan, semua piauw
Lie Kui kena dijatuhkan. Tidak heran kalau Lie Kui menjadi
jengkel dan penasaran, cepat ia enjot tubuhnya lompat
mendekati Cia Kie.
Setelah berhadapan, si berewok obral makiannya pada Cia
Kie sambil dua kepalannya bekerja saling susul menyerang
toako dari Kian-san Ji-lo. Mereka jadi bertempur seru saling
jotos, hebat sekali, sama-sama tandingan.
Liu Wangwee merasa tidak enak hatinya. Belum apa-apanya,
tamu barunya sudah bertarung dengan musuhnya yang ganas.
Bagaimana kalau Cia Kie nanti mengalami celaka ?
Ai, kemana perginya si bocah perginya ? Demikian pikir Liu
Wangwee yang menjadi kacau pikirannya memikirkan Lo In
yang diharap tenaganya.
Sementara itu perkelahian hebat berlangsung terus. Diamdiam
tanpa diketahui oleh orang-orang disitu yang tengah
memusatkan perhatiannya kepada mereka yang sedang
bertempur, disitu sudah tambah dua orang yang bukanlain
adalah Giam-ong Puy Teng dan si Cakar Setan Teng Cong.
Mereka menyaksikan Sam-tenya berkelahi tenang-tenang
saja, seolah-olah sudah memperhitungkan bahwa Cia Kie
bukan tandingan Samtenya yang belakangan ini sudah dipale
oleh gurunya.
Lie Kui berkelahi bagaikan banteng ngamuk, pukulannya
mendatangkan suara menderu-deru dan betul-betul saja Cia
Kie keteter. Melihat gelagat jelek, Cia Liang adiknya sudah
lantas nyerbu untuk bantu engkonya tapi si Raja Akherat Puy
Teng sudah menghadang di hadapannya. "Jangan kesusu,
sobat !" katanya. "Kalau mau main-main, jangan ganggu orang
yang sedang enaknya berlatih. Mari aku layani kau !"
Cia Liang gemas. Tanpa banyak cing-cong lagi ia sudah
menerjang Puy Teng. Si Raja Akherat ganas pukulanpukulannya.
Lwekangnya bertambah setelah dipale oleh
gurunya, sebagai bekal untuk menuntut balas. Ia bersilat
degan Mo-jiauw Sin-kang atau Tenaga sakti cengkeraman
setan. Jurus-jurus yang digunakan sangat berbahaya sekali.
Tangannya menjambret dan mencengkeram hingga dalam
sedikit tempo saja Cia Liang menjadi kewalahan melayaninya.
"Celaka !" kata Liu Wangwee dlam hatinya ketika melihat
kedua penolongnya keteter. Bagaimana sekarang ? Dari takut,
hatinya Liu Wangwee menjadi nekad. Seketika itu juga lompat
ke dalam kalangan berkelahi hendak membantu Cia Liang
yang sudah kepayahan.
Perbuatan Liu Wangwee dicegat oleh Teng Cong hingga dua
orang ini jadi bertempur. Liu Wangwee gunakan 'Bwee hoat
Kun-hoat (Ilmu jotosan bunga bwee) untuk menggempur Mojiauw
Teng Cong. Meskipun kelihatannya perlahan seranganserangannya
tapi antap dan telak sekali mengarah
sasarannya. Dalam beberapa bulan ini, ia berlatih tekun
bersama puterinya. Maka telah didapat kemajuan yang baik
sekali. Ia kelihatan bersilat lebih lincah dan cepat. Kalau tempo
hari ketemu Teng Cong, saat itu Liu Wangwee sudah punya
pukulan-pukulan seperti sekarang, mungkin dapat sama kuat
kalau tidak sampai menang. Tapi sekarang dimana Mo-jiauw
juga sudah mendapat pelajaran dari gurunya sebagai bekal
untuk mencahari si kerudung merah, mau tidak mau Lin In
Ciang harus mengakui pihak lawan ada lebih unggul.
Teng Cong dari dahulu memang adalah setingkat lebih tinggi
kepandaiannya dari dua saudaranya. Ia pun disayang oleh
gurunya Thitouw-eng Ie Jie Lo atau Garuda Kepala Besi yang
menciptakan ilmu pukulannya tersendiri yang dinamai 'Sin-mo
Siang jiauw Ciang-hoat' atau 'Ilmu pukulan Sepasang Cakar
Iblis Sakti'.
Melayani Mo-jiauw Sin-kang dari Teng Cong yang lihai, sudah
tentu Liu In Ciang alias Liu Wangwee bukan tandingannya. Hal
mana membuat Pangcu dari Ceng Gee Pang yang menonton
menjadi khawatir. Ia lalu mengedipkan pada lima anak
buahnya. Tidak sampai dikedipi dua kali, mereka sudah sama
mengerti sebab dengan serentak sudah menyerbu ke dalam
arena pertarungan sehingga adegan-adegan saling gempur
dalam taman bunga itu menjadi ramai bukan main.
Tiga orang lawan delapan orang, Sucoan Sam-sat tidak
menjadi keder malah tampak makin bernapsu. Tubuhnya
berkelebatan gesit sekali hingga lawan-lawannya saban-saban
kebogehan serangannya tidak mendapat sasarannya.
Sebentar lagi terdengar jeritan saling susul. Itu adalah jeritan
tanda dari kesakitan. Tampak beberapa tubuh pada roboh
tersungkur, terkulai atau mendeprok di tanah dengan sukar
bangun pula. Mereka yang roboh itu adalah lima Hioucu
bersama Pangcu dari Ceng Gee Pang, mereka kedengaran
merintih kesakitan. Yang masih kuat bertempur tnggal Kiansan
Ji-lo dengan tuan rumah. Tapi juga tidak lama sebab Cia
Kie sudah dibikin mental tubuhnya kena tendangan Lie Kui,
Cia Liang adiknya menyusul kena dicengkeram pundaknya
oleh Giam-ong Puy Teng sedang Liu Wangwee tampak masih
terus bertahan. Ini bukannya karena Liu Wangwee ilmu
silatnya lebih tinggi dari Kian-san Ji-lo, yang sebenarnya kalau
ia masih terus dapat bertahan adalah Teng Cong tidak
sekejam dua saudaranya. Ia bermaksud mau bikin Liu
Wangwee lelah dan roboh sendirinya, ia peras tenaga Liu
Wangwee dengan kegesitannya lompat sana sini.
Dalam keadaan sudah tinggal robohnya saja, tiba-tiba Liu
Wangwee mendengar teriakan puterinya dari jauh yang
barusan keluar dari rumahnya. Bwee Hiang barusan saja
mendapat laporan dari salah satu pelayannya bahwa ayahnya
terancam bahaya di taman bunga, berhantam dengan salah
satu orang dari Sucoan Sam-sat.
Ia cepat sembat pedangnya dan lari keluar. Tampak olehnya
sang ayah sudah lelah dan tinggal robohnya saja. Hatinya
sedih bercampur gusar, ia berteriak, "Orang jahat, kau jangan
lukai ayahku !"
Dengan beberapa lompatan ia sudah sampai di taman bunga.
Mo-jiauw Teng Cong lompat mundur ketika diserang Bwee
Hiang dengan pedangnya. Berbareng tampak Liu Wangwee
sudah jatuh duduk saking lelahnya karena barusan diperas
tenaganya oleh si Ji-ko dari Sucoan Sam-sat.
"Jangan melukai ayah ! Berani ganggu lagi, jangan sesalkan
pedang nonamu tidak mengenal ampun !" kata si nona dengan
gagah, ia berdiri di samping Liu Wangwee yang mengeletak
empas-empis kecapaian.
Kian-san Ji-lo dan yang lainnya sudah pada rebah malang
melintang, dari mulutnya keluar rintihan kesakitan.
Melihat kejadian itu semua, hatinya si nona sangat sakit. Ia
menyesal orang kabarinya telah terlambat. Kalau tidak, tentu
ia sudah keluar siang-siang membantu para tamu yang
membantu ayahnya menempur si tiga algojo buas.
"Ji-ko, serahkan dia padaku." kata Lie Kui yang kegirangan
melihat si botoh dapat ia jumpai kembali. "Kalau sebentar kita
basmi keluarga Liu, biar tinggalkan dia untuk aku. Hahaha....."
Bwee Hiang kenali si berewok yang tempo hari kurang ajar
terhadap dirinya. Matanya melotot gemas ke arah si ceriwis
hingga Lie Kui kembali berkakakan ketawa.
"Kau ketawai apa, orang jelek !" semprot si gadis.
"Kau jangan marah. Jelek-jelek aku bakal suamimu, bukan ?"
goda Lie Kui.
"Fui !" si gadis meludahi muka Lie Kui, saking gemasnya.
Sin-mo Lie Kui keburu berkelit hingga mukanya tidak sampai
berkenalan dengan ludah si nona. Ia tidak marah, malah
dengan ketawa hahah hihi, ia menghampiri Bwee Hiang.
Tangannya yang nakal diulur untuk mencolek pipi orang, tapi
pedang si nona menyabet laksana kilat. Cepat ia tarik
tangannya, kalau tidak, pasti tangan nakal itu akan kutung dan
kutungannya pasti jatuh di tanah.
"Nona manis, kau jangan galak-galak. Nanti aku cium kau di
depan orang banyak !" Lie Kui mengancam dengan
omongannya yang tidak enak di dengar untuk telinga si nona.
"Tutup mulut kotormu !" bentak Bwee Hiang. Berbareng
pedangnya dikasi kerja untuk menyerang si setan sakti.
Pikirnya, ia sudah berlatih banyka dengan ayahnya, masa ia
tidak bisa menabas si berewok yang memuakkan ini ? Ia tidak
tahu bahwa Lie Kui juga sudah dapat kemajuan banyak,
dibekali oleh gurunya.
Serangan si nona meskipun bagus dan berbahaya, tidak
ubahnya seperti dahulu ketika ia menghadapi Lie Kui. Ia hanya
diganda dengan berkelit sana sini saja hingga diam-diam
Bwee Hiang mengeluh kenapa dirinya goblok amat tidak bisa
menjatuhkan Lie Kui.
Si setan sakti sebaliknya merasakan bahwa ilmu pedang si
nona sudah jauh berbeda dengan dahulu. Diam-diam ia amat
berterima kasih pada gurunya sebab kalau tidak
kepandaiannya ditambah, sekarang menghadapi si nona,
salah-salah lehernya bisa dibabat pedang yang menari-nari
dengan sangat cepatnya.
Bwee Hiang gunakan gurus serangan kesayangannya, ialah
'Bwee hiang boan-wan' (harumnya bunga bwee memenuhi
taman), bagus sekali dimainkan oleh si gadis. Gerakan
pedang menari-nari dengan indahnya. Menyabet ke kiri ke
kanan, ke atas ke bawah dengan cepat sekali. Dengan itu ia
coba mendesak si setan sakti tapi tidak bermanfaat. Lie Kui
adalah lebih gesit dari dahulu. Malah sekarang lantaran agak
kewalahan, selainnya berkelit sana sini, lengan bajunya sering
dipakai menyampok pedang hingga serang si nona sering
mencong dari sasarannya.
Teng Cong dan Puy Teng ketawa bergelak-gelak melihat si
bontot tengan permainkan si nona yang sudah jadi mandi
keringat.
Sebaliknya, Kian-san Ji-lo menonton dengan rasa penuh
penasaran. Pangcu dari Ceng Gee Pang dengan lima anak
buahnya merintih-rintih menahan sakit dari lukanya sedang Liu
Wangwee keadaannya dalam sadar atau tidak, mengikuti
jalannya pertempuran si gadis lawan si bontot dari Sucoan
Sam-sat.
Sebentar lagi, tampak si gadis menusuk dengan bernapsu.
Inilah tindakan yang ditunggu-tunggu oleh Lie Kui. Dengan tipu
'Han mo tui ho' atau 'Setan kedinginan mengejar api', ia lihat
pedang Bwee Hiang tangan bajunya dibarengi dengan
kekuatan lwekang, ia menyentak hingga senjata itu terlepas
dari cekalannya si gadis. Malah Bwee Hiang hampir
terhuyung-huyung menubruk si berewok kalau sja ia tidak
cepat-cepat tancap kakinya dengan ilmu 'cian kin tui' yang
membuat berat badannya seribu kati.
Bwee Hiang berdiri terkesima. Putuslah semua harapannya.
Tadinya ia berbesar hati dengan ilmu pedangnya yang hebat,
ia dapat melindungi orang-orang yang kini rebah malang
melintang. Kenyataannya, ilmu pedangnya meskipun
meningkat berkat pengunjukkannya si kerudung merah, tidak
bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi si muka berewok.
Ia lupa bahwa lwekannya kalah jauh dengan Lie Kui. Jago
pedang tak dapat menjadi jago pedang yang kesohor jikalau
ilmunya itu tidak dibarengi dengan lwekang yang tinggi.
Seperti Bwee Hiang, ilmu pedangnya bukannya jelek, ia bisa
bikin Lie Kui mandi keringat dan mungkin tertusuk salah satu
anggotanya kalau saja lwekangnya Bwee Hiang sedikit sama
dengan tenaga dalamnya si berewok.
Bwee Hiang hanya merasa cemas, cemas karena latihannya
kurang mahir pikirnya. Sayang, sebenarnya Bwee Hiang bisa
menjadi jago betina kelas wahid sebab ia berbakat kalau saja
ia mendapat didikan yang baik dari seorang berilmu dan
melatih lwekangnya yang dahsyat untuk menghadapi jagojago
kuat.
Dalam putus asa dan hilang harapan, Bwee Hiang cuma bisa
jongkok dan menubruk ayahnya, dipeluki sambil menangis.
"Oh, ayah, anakmu yang celaka ini, yang membuat gara-gara
ini semua. Oh, ayah, ayah....." ia menangis makin keras ketika
sang ayah digoyang-goyang tubuhnya tinggal diam saja.
Dasar orang buas, dengan tidak punya perasaan sedikitpun
melihat orang sedang bersedih. Sin-mo Lie Kui seraya
menghampiri si nona, ia menggodai, "Nona manis, kalau aku
Lie Kui tidak pandang kau ada calon istriku, siang-siang sudah
aku cabut nyawamu. Sekarang jangan nangis, marilah ikut
aku..........."
"Tahan, tahan, aku datang....." terdengar orang berteriak,
keluar dari pintu belakang rumah. Teriakan mana membikin
Lie Kui tidak jadi mencekal lengan si botoh yang lemas halus.
Dalam sekejapan saja lantas berdiri di depan Sucoan Sam-sat
seorang anak berwajah hitam. Mereka tidak tahu bagaimana si
bocah bergerak sebab tahu-tahu setelah terdengar
teriakannya 'Tahan, tahan, aku datang........', orangnya sudah
berdiri di hadapan mereka. Sudah tentu mereka tidak pandang
mata pada Lo In yang hanya satu bocah mukanya hitam, lain
tidak.
Lie Kui tertawa, kapan melihat anak kecil itu wajahnya hitam.
Ia berkata, "Anak kecil, pantas benar kalau kau jadi anak aku
Lie-toaya (tuan besar Lie)."
Lo In ketawa nyengir. "Sama-sama hitam, bagus sekali kalau
kau pelayan dari aku Losiauwya (tuan kecil)". sahut Lo In.
Matanya Lie Kui mendelik pada si bocah.
"Hei, anak kecil. Lekas kau enyah dari sini !" kata Giam-ong
Puy Teng nyaring.
"Kenapa aku harus pergi ?" tanya Lo In.
"Di sini bukan urusan anak kecil, semua urusan orang tua !"
sahut Puy Teng.
Lo In tiba-tiba ketawa gelak-gelak. Meskipun suaranya tidak
sekeras orang dewasa, tapi bagi telinga bukan main berisiknya
hingga dirasakan pekak oleh karenanya. Sucoan Sam-sat
bukan main kagetnya apabila merasakan suara ketawa itu
selain menyelusup ke kuping memekakkan juga jantung rasa
tergetar.
Teng Cong yang sangat berhati-hati dalam segala hal lalu
menanya pada si bocah, "Saudara kecil, apa maksudmu
datang kemari ?"
Matanya si bocah berkilat melihat ke sekitarnya, banyak orang
bergeletakan rebah keluarkan rintihan sedang enci Hiangnya
sedang menangis sesengukkan memeluki Liu Wangwee. "Enci
Hiang, kau mengapa menangis ?" ia tanyai Bwee Hiang dan
tidak meladeni pertanyaannya Mo-jiauw Teng Cong.
"Adik kecil, kau terlambat datang. Oh, ayah, ayah
sudah.........." Bwee Hiang tak dapat melampiaskan katakatanya.
Karena sangat sedih, ia tersedu-sedu menangis
sembari peluki tubuhnya Liu Wangwee dan digoyang-goyang,
mulutnya tak hentinya memanggil : "ayah, ayah !"
"Anak bau, kau bikin ribut saja !" bentak Lie Kui seraya
tangannya yang segede apa tahu, digaploki ke kepala Lo In.
Badannya si berewokan mendadak terputar sendiri karena
saking kerasnya ia memukul, ia telah menggaplok angin sebab
Lo In sudah lenyap dari hadapannya.
Mo-jiauw Teng cong yang lihat gelagat jelek sudah lantas
hendak mencegah Lie Kui berlaku kasar pada si bocah tapi
gagal akeran Giam-ong Puy Teng yang berangasan sudah
turun tangan mencengkeram kedua pundak Lo In saat itu ada
dibelakangnya Lie Kui.
"Celaka !" pikir Mo-jiauw Teng Cong dalam hati kecilnya.
Sebelum ia membuka mulut hendak mencegah toakonya
berlaku kasar, tiba-tiba terdengar : plak ! plak ! tiga kali.
Tubuhnya Giam-ong Puy Teng tampak terputar bagaikan
gasing, seraya tangannya memegangi pipinya yang kena
digampar oleh Lo In. Kesakitan bukan main dia, sebab giginya
sampai pada rontok, malah kepalanya jadi keleyengan pusing
karena tubuhnya terputar. Entah dibagaimanakan oleh si
bocah nakal.
Bwee Hiang sembari tersedu-sedu menangis, diam-diam ia
perhatikan gerak gerik adik kecilnya. Melihat Lo In dalam
segebrakan saja membuat dua jagoan yang kesohor
kebuasannya menjadi pecundang, bukan main girangnya.
Malah ia tertawa ngikik waktu nampak Giam-ong tubuhnya
berputar macam gasing seraya memegangi pipinya yang
bekas digampar si bocah.
Melihat keadaan genting, Mo-jiauw Teng Cong tak dapat
berpeluk tangan menonton. Segera ia melompat, maksudnya
hendak membekuk Lo In yang berdiri membelakanginya.
Adegan itu sangat menegangkan urat syaraf sampai-sampai
Bwee Hiang menjerit saking ngerinya melihat si bocah
dibokong. Tapi bukannya si bocah yang kena dibekuk,
sebaliknya si Cakar Setan yang tersungkur dan ngusruk habis,
mukanya mencium tanah.
Terbelalak matanya si gadis. Ia hampir tidak percaya akan
penglihatannya sebab Lo In tampaknya lenyap seperti asap
saja. Gerakannya bagaikan kilat, seantero tubuhnya seperti
ada matanya, tidak mudah di bokong lawan.
Giam-ong Puy Teng tampak roboh terkulai, setelah main
gasing sebentaran. Ia rasakan kepalanya pusing benar,
mulutnya berlumuran darah. Ketika ia semburkan ada tiga
empat biji giginya yang ikut lompat keluar dengan darahnya.
Lie Kui naik pitam. Goloknya yang berkilauan dihunus dari
sarungnya.
"Anak haram jadah ! Kau rasakan golok kakakmu !" bentaknya
disusul dengan serangan membacok dari atas ke bawah
kemudian dari samping kiri ke kanan dan sebaliknya, disusul
dengan tikaman ke arah dada, dahsyat sekali. Cepat
serangannya Lie Kui, bertubi-tubi. Tidak heran sebab ia
menggunakan salah satu jurus yang paling ampuh dari 'Sinmo
Siang jiauw Ciang-hoat' yang dinamai 'Han mo hoan sin'
atau 'Setan kedinginan jungkir balik'.
Cuma si berewokan merasa amat gegetun karena tiap
tebasan, tikaman dan sontekan dari goloknya, seakan-akan
menebas, menikam dan menyontek bayangan saja. Lo In di
depannya bergerak terlalu gesit, meskipun melayani ia dengan
tangan kosong.
Mata Lie Kui serasa mabuk, nampak Lo In seperti menari-nari
dengan lima bayangan, mengitari dirinya. Terpaksa ia
membacok sana sini, serabutan saja.
Untuk mengocok si berewokan itu, Lo In sudah gunakan
gerakan 'Thian lie pian in', ialah 'Bidadari menari di awan'. Si
bocah punya 'Bu ong sin kang' (tenaga sakti tanpa bayangan)
yagn sempurna, telah memungkinkan ia memerkan gerakan
yang indah, lincah dan gesit laksana kilat dalam jurusnya
'Bidadari menari di awan' tubuhnya tampak bagaikan menarinari
diikuti dengan lima bayangan. Karena ini si bontot dari
Sucoan Sam-sat matanya menjadi mabuk.
Bwee Hiang berhenti menangis. Ia terpesona dengan
kepandaiannya si bocah sakti yang nakal, lupa ia kepada
ayahnya yang barusan ia peluki dengan tangisan terisak-isak.
Demikian mudah si bocah permainkan Lie Kui yang tinggi
besar, kasar. Hatonya merasa puas. Pikirnya, "Aku sendiri tak
dapat membalas si kurang ajar. Biarlah adik In yang tolong
balaskan !"
Dalam berpikir demikian, tiba-tiba ia menjerit, "Adik kecil, awas
!"
Berbareng dengan jeritan si gadis tampak Lo In jumpalitan.
Ujung sepatunya yang kecil menotok jalan darah di
pergelangan tangan kanan Lie Kui hingga goloknya terpental
dan orangnya jatuh numprah. Badannya Lo In kemudian
berputar, mencelat ke atas beberapa kali. Ketika si bocah
berhenti bergerak, tampak ia berdiri dengan mulut menggigit
pisau dah dua tangannya juga menggenggam pisau.
Dari mana Lo In dapat tiga pisau dengan berbareng ?
Itu ketika sedang gembiranya Bwee Hiang menonton si
berewokan dipermainkan oleh adik kecilnya, tiba-tiba matanya
yang awas melihat Mo-jiauw Teng Cong tengah mengayun
tangannya melepaskan senjata rahasianya 'Thoat-beng-ciam'
(Jarum pencabut nyawa) dan Giam-ong Puy Teng
menyambitkan 'Hui-to' (pisau terbang).
Mereka lepaskan senjata-senjata rahasianya dengan serentak
dan saling susul hingga Bwee Hiang menjerit 'Adik kecil, awas
!' dan hatinya ketakutan adik kecilnya mati dibokong oleh dua
orang jahat itu. Mendengar tanda bahaya, si bocah lantas
jungkir balik, ujung sepatunya menotok pergelangan Lie Kui
hingga goloknya jatuh untuk hindarkan hujan jarum, badannya
berputar mengebut dengan bajunya sedang sambaransambaran
pisau terbang Giam-ong Puy Teng, ia punahkan
dengan tubuhnya mencelat pergi datang beberapa kali. Dua
pisau ia tangkap dan satu ia gigit hingga waktu ia tancap kaki
pula ke tanha, tampak gayanya lucu sekali. Mulutnya yang
menggigit pisau seperti ketawa, dua pisau yang dipegang
kedua tangannya diacung-acungkan. Tapi hanya sejenak saja
si bocah hitam bergaya lucu sebab kemudian pisau di tangan
kiri ia lontarkan pada Lie Kui, mengarah kuping sebelah kiri
hingga si berewokan menjerit dan memegang telinganya yang
daunnya sudah copot. Pisau di mulut ia tiup, menyambar
telinga Mo-jiauw Teng Cong sebelah kanan hingga ia pun
menjerit, daun kupingnya mental jatuh di tanah. Tinggal pisau
di tangan kanannya yang membuat Giam-ong Puy Teng
menggigil ketakutan sebab saat itulah ada gilirannya.
Si bocah dengan wajahnya yang hitam legam memandang
toako dari Sucoan Sam-sat. Kemudian ia menengadah ke
langit lalu tertawa gelak-gelak yang memekakkan telinga tiga
algojo pecundang, setelah mana ia memandang pula Giamong
Puy Teng dan berkata, "Kau ada paman jahat, biar
hukuman begini saja !"
Berbareng dengan kata-katanya, pisau ditangan kanannya
juga sudah lantas meluncur ke arah mata kirinya. Pisau itu
meluncur cepat karena di dorong oleh kekuatan lwekang
sehingga tahu-tahu sudah nancap pada matanya si raja
akherat tanpa ia dapat berkelit lagi. Ia teraduh-aduh sambil
pegangi matanya yang berlumuran darah.
Sucoan Sam-sat rasakan hukuman yang mereka terima lebih
berat dari si kerudung merah sebab dua daun kuping yang
mental dari tempatnya tak dapat ditempel lagi dan matanya
Giam-ong Puy Teng menjadi meram dua-duanya. Ia menjadi
buta.
Untuk mengeroyok Lo In, itu sudah tak mungkin. Si bocah
kepandaiannya benar-benar mempesonakan. Belum pernah
mereka saksikan jago silat yang mana juga, apalagi Lo In
hanya satu anak kecil saja. Dengan memimpin toakonya yang
sudah buta, Teng Cong dan Lie Kui berlalu meninggalkan
tempat itu. Mereka ketakutan ditahan oleh Lo In tapi
kenyataannya tidak demikian sebab si bocah sudah bertindak
menghampiri Bwee Hiang, tidak menghiraukan lagi pada
mereka.
"Adik kecil, kau datang terlambat. Kemana saja kau pergi ?"
tanya Bwee Hiang sambil deliki matanya, ia memarahi si adik
kecil.
Lo In hanya tertawa nyengir. Ia tidak ladeni enci Hiangnya.
Sebaliknya, ia lantas jongkok untuk memeriksa keadaan Liu
Wangwee.
"Gara-gara kau adik kecil datang terlambat, ayah, ayah
sudah....." Bwee Hiang kembali menangis sesenggukkan,
seraya goyang-goyang tubuhnya Liu Wangwee.
Bwee Hiang rupanya ngeri untuk mengatakan 'ayah sudah
MATI', hanya sampai pada kata 'sudah' lantas ia nangis
sesenggukan seperti anak kecil.
"Enci Hiang, kenapa kau menangisi lope begini sedih ?" kata
Lo In setelah si bocah memeriksa Liu Wangwee.
Sambil menyeka air matanya dengan lengan baju, Bwee
Hiang menyahut, "Kau bisa kata begitu tapi bagaimana aku
tidak bisa menangis karena dia sudah pulang..... Oh, ayah,
ayah, kau tega tinggalkan Bwee Hiang....."
Bwee Hiang menangis keras, malah kali ini gegerungan.
Lo In menjadi heran, dari heran ia jadi tertawa terbahak-bahak.
Sudah menjadi wataknya rupanya, kalau Lo In menghadapi
sesuatu yang akan meminta tenaganya, ia suka tertawa
terbahak-bahak.
Orang sedang kematian bapak, sedih bukan main. Menangis
untuk melampiaskan kesedihan, tiba-tiba mendengar si bocah
ketawa terbahak-bahak, sudah tentu si nona menjadi jengkel.
Tak tahan meluapnya hawa amarah, maka seketika itu ia
sudah lantas merangsang Lo In yang sedang jongkok di
dekatnya. Ia ingin cekek mampus saja si bocah seketika itu
sampai melupakan badannya bersentuhan dengan si bocah.
Gemas ia hendak menggigit Lo In yang saat itu dengan sabar
melayani tangan si nona yang saling susul hendak
mencengkeram mukanya. Dua tangannya si nona sudah kena
dipegangi Lo In, lalu Bwee Hiang gunakan mulutnya menggigit
pipi si bocah muka hitam. Heran, Lo In tinggal antapkan saja
pipinya digigit si nona.
Lo In kelihatan seperti yang bercanda dengan Bwee Hiang,
tapi sebaliknya si nona beringas hendak menerkamnya.
Orang-orang yang melihat perbuatan Lo In pada mencela,
diam-diam pada mengutuk kelakuan si bocah yang
keterlaluan. Masa orang yang menangisi ayahnya yang mati
ditertawakan, mereka tidak menyalahkan kalau si nona begitu
marah. Malah, kalau mereka tidak sedang terluka, tentu
dengan serentak turut mengganyang si bocah.
Bwee Hiang rasakan menggigit pipinya Lo In bukannya
menggigit daging tapi seperti menggigit kapas, lunak bukan
main. Dalam sikapnya itu ia bukan menggigit, sebaliknya
seperti ia menciumi si hitam. Ketika ia sadar atas kelakuannya
yang tidak benar, ia rasakan dirinya sudah berada dalam
pelukan Lo In. Ia berontak tapi tanpa hasil. Kedua tangan Lo In
yang memeluk dirinya seperti besi seberat seribu kati, susah
disingkirkan. Ia jadi jengah dengan sendirinya, selebar
mukanya merah karena malu. Ketika mulutnya sudah siap
hendak mencaci maki, tiba-tiba ia mendengar si bocah
berkata, seperti berbisik di kupingnya, "Enci Hiang, jangan
marah. Juga jangan menangis sebab Lope tidak apa-apa....."
Bwee Hiang mendelik matanya, "Apa kau masih belum mau
lepaskan encimu ?" Bwee Hiang menegur tatkala si bocah
masih terus memeluki tubuhnya.
Sambil ketawa haha hihi, Lo In lepaskan pelukannya.
Kelakuan Lo In hanya bersifat main-main saja. Ia anggap
Bwee Hiang seperti Eng Lian. Sebaliknya bagi Bwee Hiang
yang sudah dewasa, merasa tidak enak Lo In perlakukan
dirinya demikian di depan orang banyak.
Ketika ia hendak melampiaskan amarahnya via mulutnya, Lo
In sudah mendahului berkata, "Enci Hiang, Lope hanya
kehabisan tenaga. Dia tidak mati !"
"Hah ! Masa ?" Bwee Hiang kaget tapi timbul harapannya.
"Kau lihat, nanti adikmu tolong Lope." kata Lo In.
Sambil berkata, tangan Lo In bekerja. Ia angkat tubuhnya Liu
Wangwee supaya dikasih duduk, lalu berkata pada Bwee
Hiang, "Kau bantu aku, enci Hiang. Kau pegangi tubuh Lope
supaya dia dapat duduk tegak."
Bwee Hiang cepat membantu, memegangi tubuhnya Liu
Wangwee yang lemas dan hendak jatuh rebah lagi. Kemudian
Lo In tempelkan tangan kirinya ke bokong si orang tua, tangan
kanannya menempel di dada. Seperti strum mengalir, tenaga
dalamnya Lo In yang dikerahkan, sudah nyusup membuka
otot-otot yang mecet dan saluran-saluran darah yagn jalannya
mampet. Dalam tempo tidak lama, kelihatan Liu Wangwee
bergerak, kemudian menarik napas dan membuka matanya.
Saking kegirangannya, Bwee Hiang lantas mau berteriak dan
memeluk ayahnya tapi melihat Lo In geleng-geleng kepalanya,
ia tidak berani sembarangan. Ia taat pada kewajibannya
sampai si orang tua pulih kesegarannya. Ia melihat Lo In dan
Bwee Hiang ada didekatnya. Si gadi tengah memegangi
tubuhnya, sedang Lo In menempelkan telapakan tangannya di
dada dan di bebokongnya.
Liu Wangwee mengerti bahwa Lo In sedang menolong dirinya
dengan tenaga dalamnya yang dahsyat sebab ia rasakan
hawa panas menyelusup dimana-mana dalam tubuhnya dan
segera ia merasakan kesegarannya kembali.
"Anak-anak, terima kasih atas pertolongan kalian." Liu
Wangwee tiba-tiba berkata.
Bwee Hiang memandang Lo In dan Lo In anggukkan
kepalanya. Itu sebagai tanda si nona boleh bicara dengan
ayahnya. Seketika si nona sudah menubruk ayahnya dan
berkata sambil berlinang-linang air mata, "Ayah, kau sudah
sembuh. Oh, untung ada adik kecil. Kalau tidak, entahlah
bagaimana jadinya kita." Bwee Hiang berkata seraya
menunjuk pada Lo In yang saat itu juga ia sudah hentikan
pertolongannya pada Liu Wangwee yang sudah kembali
kesehatannya.
"Anak In, terima kasih. Kau anak baik. Semoga selamanya kau
mendapat perlindungan dari Thian...." Liu Wangwee berkata,
seraya ia bangkit dari duduknya dibantu oleh Bwee Hiang
yang sangat kegirangan.
Setelah melihat sang ayah dapat bergerak bebas, si nona
lepaskan tangannya yang membantu Liu Wangwee untuk
berdiri. Lalu ia rapihkan rambut kepalanya yang awut-awutan
dan ketika ia merapihkan pakaiannya yang juga awut-awutan,
matanya melirik pada Lo In yang mengangguk sambil ketawa.
Bwee Hiang pelototi matanya sebentar, tapi ia pun ketawa
mesem. Ia sadar sekarang, bahwa perbuatan Lo In barusan
bukannya kelakuan kurang ajar. Itu hanya kelakuan dari
seorang bocah nakal yang menganggap ia (Bwee Hiang)
sebagai teman sebayanya memain.
Kalaupun dimisalkan Lo In barusan main gila terhadap dirinya,
si nona pun tidak merasa menyesal sebab pertolongan Lo In
pada orang tuanya ada jauh lebih berharga dari kenakalannya
si bocah barusan atas dirinya. Maka itu, barusan setelah
pelototi Lo In, ia telah kasih senyum mesem memikat pada si
bocah hitam.
Liu Wangwee melihat Kian-san Ji-lo dan Pangcu beserta anak
buahnya roboh malang melintang terluka karena
mengganasnya Sucoan Sam-sat, hatinya sangat terharu.
Sebab oleh karena hendak membantu dirinya, mereka telah
menjadi korban.
"Anak In, coba kau periksa lukanya para pamanmu itu.
Barangkali kau dapat menolongnya." berkata itu Liu wangwee
kepada Lo In.
(Bersambung)
Jilid 06
Si bocah menurut. Yang luka parah ternyata Cia Liang dari
Kian-san Ji-lo, tulang sambungan pundak sebelah kiri remuk
dicengkeram Giam-ong Puy Teng. Cian Kie sang engko tidak
seberapa berat kena tendangan Lie Kui sedang Pangcu dan
lima anak buahnya dari Ceng Gee Pang hanya luka-luka
ringan. Mungkin karena takut, mereka tidak berani maju lagi
dan pura-pura merintih kesakitan ketika mereka dirobohkan.
Sementara Lo In memberi pertolongan kepada mereka yang
terluka, Bwee Hiang di lain pihak sudah nyerocos menuturkan
bagaimana Lo In menempur tiga jago jahat dari Sucoan dan
merobohkannya satu persatu.
Liu Wangwee ketika Lo In datang, ia sudah jatuh pingsan,
tidak menonton pertempuran ramai itu. Maka sambil anggukanggukan
kepala, diam-diam Liu Wangwee merasa sangat
kagum akan kepandaian Li In yang sakti.
"Hek-bin Sin-tong...." kedengaran ia menggumam setelah
mendengar habis si nona bercerita. Ini adalah cetusan
perkataan yang tanpa terasa dari bibirnya Liu Wangwee
seperti juga kejadian dengan Hu-pangcu dari Ceng Gee Pang
tempo hari.
Julukan bagi Lo In ialah 'Hek-bin Sin-tong' atau 'Si bocah sakti
berwajah hitam', sejak membuat kucar kacir Sucoan Sam-sat
telah menjadi populer di kalangan Kangouw. Nama Hek-bin
Sin-tong untuk Lo In dengan serentak telah menjadi terkenal.
Seraya mengurut-urut jenggotnya, Liu Wangwee menarik
napas tatkala Bwee Hiang habis menutur. Parasnya kelihatan
sangat berduka, hingga Bwee Hiang jadi kaget.
"Ayah, kau kenapa ?" tanya sang gadis penuh kuatir.
"Aku menyesal anak In datang terlambat. Kalau tidak, tentu
para pamanmu tidak sampai mengalami malapetaka seperti
sekarang ini." jawab sang ayah lesu.
"Aku juga tidak tahu kemana anak nakal itu sudah pergi. Coba
aku nanti tanya padanya." kata Bwee Hiang seraya bertindak
menghampiri si bocah yang sedang repot.
Kiranya Lo In tidak boleh disalahkan. Sebab ia tidak tahu kalau
pada malam ini bakal kedatangan Sucoan Sam-sat. Ia permisi
pada Bwee Hiang untuk jalan-jalan keluar lantaran ada urusan
sendiri.
Si bocah masih penasaran pada orang yang menggasak
miliknya berupa bungkusan kecil. Uang ia tidak buat pikira.
Yang ia sayangi obat-obatan yang ia bawa ada dalam
bungkusan itu. Maksudnya ia keluar jalan-jalan, siapa tahu ia
dapat pergoki orang yang menyikat barang miliknya itu. Dari
siang ia kelayapan tanpa tujuan sampai pada saat cuaca
remang-remang ia lihat ada seorang yang kebetulan
kesamprokan dengannya seperti ketakutan dan menjauhkan
diri.
Orang yang potongannya kurus kecil tapi gesit. Romannya
seperti kunyuk, ketawanya tidak enak dilihat. Lo In lantas
curiga, mungkin orang ini yang sudah ambil buntelan kecilnya.
Ia pura-pura tidak memperhatikan tapi diam-diam ia pasang
mata kemana perginya orang itu. Lo In harus melewati
beberapa lapangan dan tikungan untuk menguntit orang yang
mencurigakan itu. Waktu sampai pada satu jalan yang
menikung ke belakang sebuah kuil kecil, Lo In kehilangan jejak
orang yang dikuntitnya. Ia merasa heran. Bagaimana orang itu
bisa lolos dari kuntitannya.
Pikirnya, tidak bisa salah. Orang itu tentu masuk ke dalam kuil
di situ.
Dasar anak bernyali besar, tanpa pikir dirinya bisa terjebak, Lo
In sudah masuk dalam kuil itu. Di dalam ia disambut oleh
Hweshio (pendeta) muda dari kira-kira berusia 18 tahun dan
menanyakan pada Lo In, "Saudara kecil, ada urusan apa kau
datang kemari ?"
"Aku hendak sembahyang, suhu." sahutnya singkat, sedang
matanya berkilat memperhatikan sekitarnya. Ia mengharap
kalau-kalau dapat melihat orang yang dikuntitnya.
Omongnya mau sembahyang tapi Lo In tidak maju ke tempat
pemujaan, sebaliknya ia jalan sana sini melongok-longok
mencari orang yang dicurigai.
"Saudara kecil, kau cari apa ?" tanya si Hweshio mesem,
rupanya sudah tahu apa yang diinginkan oleh si bocah.
"Tidak, aku mau mencari orang. Apa suhu dapat lihat ada
orang kurus kecil masuk ke sini barusan ?" Lo In balik
menanya.
"Bukankah saudara kecil hendak sembahyang ?" menanya
lagi si Hweshio.
"Sembahyang belakangan kalau aku sudah ketemu orang itu."
sahutnya, nyengir.
"Saudara kecil, tempat disini tidak boleh dipakai main-main !"
kata si Hweshio.
"Aku omong benar, bagaimana kau katakan main-main ?"
"Tadi bilangnya mau sembahyang, sekarang mau cari orang.
Apa itu bukannya main-main ?"
"Kau keluarkan dulu orang itu, aku nanti sembahyang !"
Si Hweshio jadi kurang senang, matanya mendelik. Ia angkat
tangannya, menunjuk ke pintu sambil katanya, "Keluar, lekas
keluar !"
"Kau suruh aku keluar, mudah saja. Asal kau sudah keluarkan
orang yang sembunyi dalam kuilmu disini !"
Panas hatinya si Hweshio. Si bocah diusir, bukannya menurut
malah menantang !
"Aku Tong Seng, murid keempat dari Ceng Bian Hweshio.
Belum pernah menemui tamu macam kau yang tidak tahu adat
!" teriaknya sambil tepuk-tepuk dada.
"Baru murid keempat, biar kau murid nomor wahid juga aku
tidak takut. Asal kau masih membandel tidak mau keluarkan
orang yang kucari !" sahut Lo In.
Meluap amarahnya Tong Seng Hweshio.
"Kau kira disini biasa sembunyikan maling ?" bentaknya
berbareng tangannya melayang hendak menyekik batang
leher Lo In.
"Hehehe, kau mau berkelahi ?" kata Lo In, tangan si Hweshio
yang melayang dapat ditangkapnya. Sekali sentak tubuh Tong
Seng Hweshio terjerunuk ke depan, jidatnya membentur meja
tepekong hingga kontan tambah daging.
"Rampok ! Rampok !" teriaknya seraya pegangi jidatnya yang
kesakitan.
Lo In tenang-tenang saja meskipun dari berbagai jurusan pada
bermunculan kawanan kepala gundul dengan masing-masing
membawa gegaman pentungan kayu besar. Si bocah hitung
kira-kira ada 15 orang yang muncul berbareng mendengar
teriakannya Tong Seng Hweshio tapi diantaranya tidak
kelihatan orang yang dicari.
Satu Hweshio yang usianya lebih tua dari Tong Seng tampak
maju mendekat Lo In. Dengan bengis ia membentak, "Anak
kecil, kau mau merampok di sini ?"
"Buat apa aku merampok kuilmu yang tidak ada harganya."
sahut Lo In. "Aku hanya mau minta orang yang kucari, kau
keluarkan !"
"Siapa yang kau cari ?" tanya si Hweshio.
"Hehehe, kau juga mau main putar-putar ?" kata Lo In tidak
senang.
"Nih, main putar-putar !" bentak si Hweshio seraya pentungnya
melayang mau mengepruk kepala Lo In.
"Bagus !" kata Lo In, berbareng ia berkelit nyamping. Ketika
pentungan lewat, kakinya maju, tangan kanannya dengan satu
jari telunjuk menotok lengan si Hweshio jagoan yang menjerit
seketika dan roboh terkulai.
Semuanya menyerbu Lo In. Sesosok tubuh menjadi sasaran
pentungan ramai-ramai hingga yang dijadikan sasaran
menjadi berkuing-kuing seperti babi dipotong. Kiranya orang
yang dihujani pentungan bukannya Lo In sebab si bocah
sudah lenyap tanpa setahu mereka. Mereka
celingukanmencari seraya minta maaf pada si Hweshio yang
menjadi sasaran pentungan tadi. Siapa, ternyata ada Hong
Seng, murid kepala dari Ceng Bian Hweshio dalam kuil itu.
"Kemana itu anak anjing ?" teriak Hong Seng penuh
kegusaran. Ia dapat bergerak bebas pula dari totokan Lo In
sebab si bocah hanya menotok main-main saja.
Mendengar ribut-ribut, Ceng Bian Hweshio keluar dari kamar
semedhinya. Murid-muridnya repot melapor tentang
munculnya bocah berwajah hitam membuat onar dalam kuil.
Ketika ditanyaka apa sebabnya, Hong Seng lapor kalau si
bocah hitam itu mencari jejaknya si kurus kecil.
"Aku sudah katakan, kalian jangan suka campur dengan si
Tangan panjang Ong Cit. Sebab satu waktu Ong Cit akan
ketemu batunya. Benar ia pandai memindahkan milik orang
dengan menggunakan kesebatan tanganya, tapi itu perbuatan
tidak baik. Satu waktu bila ia diterjang sial bisa susah. Nah,
buktinya sekarang, bagaimana ? Kuil kita menjadi kerembetrembet
oleh perbuatannya Ong Cit."
Kawanan Hweshio itu ada komplotannya Ong Cit. Mereka
suka melindungi si Tangan Panjang dengan menyuruh Ong Cit
melenyapkan diri dalam kuilnya sebab tidak ada orang berani
carinya kalau ia sudah berada dalam kuil itu. Orang segan
kepada Ceng Bian Hweshio yang menjadi kuil tersebut.
Mereka begitu perlu melindungi si Tangan Panjang latnaran
mereka sering mendapat bagian dari penghasilan yang
diperoleh Ong Cit.
Mendengar kata-kata gurunya, Hong Seng membela
kawannya. Ia berkata, "Suhu, Ong Cit banyak membantu kuil
kita. Apa suhu hendak pungkir kedermawanannya ? Orang
sudah hinakan kuil kita, bukannya suhu mencari tahu siapa
orangnya, sebaliknya suhu marahi kita dan sesalkan bergaul
dengan Ong CIt."
Ceng Bian Hweshio juga bukannya pendeta suci. Maka ketika
mendengar jawaban sang murid kepala, seketika itu menjadi
gusar.
"Mari kita cari anak hitam itu !" katanya seraya ajak anak
muridnya untuk memeriksa seluruh kuil.
Tapi Lo In tidak diketemukan, entah kemana bocah itu larinya.
Ketika Hong Seng membuka sebuah kamar yang biasa dipakai
untuk mengumpat oleh Ong cit, kaget bukan main si murid
kepala dari Ceng Bian Hweshio. Dalam kamar itu tampak Ong
Cit, dua daun kupingnya hilang, empat jari tangan kanannya
sudah kuntung dan kuntungannya jatuh di lantai. Dari tangan
dan kedua belah telinganya tampak berlumuran darah, bekas
bekerjanya pisau tajam yang menggeletak tidak jauh dari si
Tangan Panjang. Malah pisau itu pun miliknya Ong Cit.
Si copet lihat dalam keadaan tidak bergerak karena kena
ditotok terpaksa Hong Seng lapor pada gurunya untuk sekalian
minta bantuan supaya membuka totokan.
Ceng Bian Hweshio sudah lantas datang ke kamarnya Ong
Cit.
Ia geleng-geleng kepala nampak nasib yang dialami si Tangan
lihai. Cepat ia bekerja untuk membuka totokan tapi sana sini
ditepuk tubuhnya si copet lihai oleh si kepala kuil untuk
membebaskan totokan tetap tak berhasil.
Hong Seng heran. Ceng Bian Hweshio malah lebih heran dan
terkejut karena sebagai orang Kangouw kawakan ia tidak bisa
membuka totokan orang.
Bagaimana ia berusaha ternyata tidak peroleh hasilnya malah
Ong Cit tiap sebentar berjengit kesakitan dan matanya
mengucurkan air. Ia menangis dan matanya saja yang
mencilak-cilak seolah-olah memohon supaya percobaa Ceng
Bian Hweshio jangan diteruskan karena ia merasakan suatu
siksaan ditepuk sana sini bagian anggautanya untuk mencari
tempat membuka totokan.
Ceng Bian Hweshio yang sudah banyak pengalaman dapat
memahami keadaan si Tangan Panjang. Maka ia hentikan
percobaannya. Ia berkata, "Biasanya totokan macam ini tidak
sembarang orang bisa buka, berjalan dua jam lamanya dan si
korban akhirnya bebas dengan sendirinya. Maka tunggu saja
dua jam lagi, lihat bagaimana jadinya." Ceng Bian Hweshio
berkata seraya ngeloyor keluar dari kamar.
Tinggal Hong Seng dan kawan-kawannya pada menemani
Ong Cit sambil menanti sang waktu lewat dua jam
sebagaimana dikatakan oleh suhunya. Selama menemani,
diam-diam mereka ketakutan kalau-kalau si bocah wajah
hitam itu datang lagi menotok mereka dan menyiksa
sebagaimana yang dialami si Tangan Panjang Ong Cit.
Syukur-syukur si bocah tidak datang lagi dan mereka
kegirangan. Ketika sudah lewat dua jam, benar saja totokan
pada Ong Cit terbuka dengan sendirinya. Kini baru terdengar
rintihan si Tangan Panjang yang kesakitan karena sepasang
daun telinga dan empat jari di tangan kanannya dihilangkan
orang dengan paksa.
Hong Seng sudah memberi obat pil bikinan Ceng Bian
Hweshio untuk menahan rasa sakit dan obat bubuk untuk
diborehkan pada bagian-bagian angguta yang terluka maka
Ong Cit tidak sampai menderita kesakitan terus menerus.
Menurut penuturan Ong Cit, ketika ia kesomplokan dengan Lo
In, ia lihat matanya Lo In berkilat tajam menotok di jantungnya
hingga berdebaran. Maka ia jadi ketakutan sebab menurut
penuturan jago-jago persilatan kalau orang punya mata
demikian berwibawa mempunyai lwekang (tenaga dalam)
yang dahsyat.
Tadinya ia tidak takuti Lo In ketika dalam rumah makan ia
sambar bungkusa kecilnya yang saat itu si bocah tengah
bicara dengan seorang pelayan, berdiri membelakangi
bungkusannya. Tapi tadi, ketika ia kesomplokan dan
pandangannya kebentrok dengan mata Lo In yang berkilat
menusuk jantung, membuat ia jadi ketakutan.
Sebagai copet yang lihai, ia tahu dirinya dikuntit Lo In. Maka
pikirnya, jalan yang selamat adalah masuk ke dalam kuil Thian
Ong Bio dimana ia banyak kawan yang dapat membantu
melindungi dirinya. Setelah kasak kusuk dengan Tong Seng
lalu ia masuk ke kamar biasa ia mengumpat tapi tidak urung ia
dapat diketemukan oleh si bocah muka hitam. Tatkala mana ia
sudah berlaku nekad dengan pisaunya yang tajam luar biasa,
ia menerjang Lo In.
"Hehe, mau melawan ?" si bocah berkata berbareng Ong Cit
rasakan nadi tangannya yang memegang pisau kena disentil,
kesemutan lemas, pisaunya dengan sendirinya jatuh ke lantai.
Ia coba menerobos keluar tapi satu tendangan mengenai
pahanya membuat ia jatuh melongsor. Cepat ia bangun lagi
tapi bukan untuk lari, sebaliknya ia lantas jatuhkan diri berlutut
di depan Lo In untuk minta ampun.
"Asal kau kembalikan barangku, aku nanti kasih kelonggaran."
kata Lo In.
"Ada, oh, ada. Aku tidak ganggu sedikit pun barang Siaoya."
sahut Ong Cit.
Setelah berkata, Ong Cit bangun dari berlututnya dan jalan
menghampiri satu lemari kecil dimana ia keluarkan miliknya Lo
In.
"Inilah barang Siaoya." katanya seraya menyerahkan pada Lo
In.
Lo In menyambuti lalu periksa isinya, ternyata benar saja tidak
diganggu.
Uang yang jumlahnya tidak seberapa dan botol obat-obatan
yang si copet tidak tahu obat apa membikin Ong Cit tidak
bernafsu untuk mengganggunya. Makanya juga ia lantas
simpan saja di dalam lemari kecil, spesial untuk menyimpan
barang-barang rongsokkan (tidak berharga) dari hasil kerja
tangan panjangnya.
"Bagus." kata Lo In setelah memeriksa isi bungkusa kecilnya.
"Nasibmu masih baik. Coba kau bikin hilang barangku.
Sebagai gantinya aku bikin hancur batok kepalamu. Nah, ini
kau lihat !" berbareng tangan Lo In diulur mengambil sebuah
patung kecil diatas meja tidak jauh dari situ. Patung itu dikepal
Lo In sejenak lalu setelah kepalannya dibuka, ia perlihatkan
pada Ong Cit.
Matanya Ong Cit terbelalak ketakutan, badannya menggigil
seperti disambar penyakit malaria layaknya. Kembali ia tekuk
lututnya dan minta-minta ampun.
"Ampun, Siaoya, ampunilah selembar jiwaku........." ia
meratap.
Kiranya patung itu, meskipun kecil terbuat dari logam murni
yang kuat. Di taruh dalam kamar itu, merupakan tepekongnya
Ong Cit dalam pekerjaan jahatnya.
Patung yang sekeras itu ternyata dalam genggamannya Lo In
telah berubah menjadi tepung terigu. Sudah tentu saja Ong Cit
menjadi ketakutan menyaksikan demikian dahsyatnya tenaga
dalam si bocah wajah hitam.
Setelah meniup berhamburan patung yang berubah menjadi
tepung itu dari tangannya, Lo In berkata pada Ong Cit, "Kau
jahat, suka bikin susah orang tapi tidak sejahat orang yang
membunuh sesamanya. Maka aku kasih kelonggaran
hukuman. Sekarang kau ambil pisau ini dan iris kedua daun
telingamu !"
Ong Cit gemetaran tubuhnya. Matanya memandang Lo In
seperti yang mohon dikasihani tapi Lo In belagak pilon, malah
katanya, "Lekas kerjakan !"
Si Tangan Panjang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia ambil
pisaunya sendiri yang tadi jatuh di lantai, sambil kuatkan hati,
ia mengiris dua daun telinganya satu demi satu. Darah
mengetel jatuh dari telingan yang sudah kehilangan daunnya.
Melihat itu, hatinya Ong Cit terkesiap dan ia jatuh pingsan.
Kapan ia siuman kembali, ia dapatkan dirinya tak dapat
bergerak. Empat jari di tangan kanannya sudah berserakan di
lantai bersama dua daun kupingnya.
Mulutnya tak dapat bersuara untuk minta tolong karena urat
gagunya sudah kena ditotok Lo In. Maka terpaksa ia
menantikan orang datang membuka kamarnya saja.
Mendengar penuturan Ong Cit, semua orang menjadi gentar
terhadap si bocah wajah hitam. Mereka mengharap Lo In tidak
mengulangi kedatangannya ke kuil mereka.
Demikianlah, Lo In sambil bersiul-siul kegirangan mendapat
pulang barangnya yang tak ternilai harganya. Ia berjalan
pulang ke ruman Liu Wangwee. Justru tatkala itu Kian-san Jilo
dan jago-jago dari Ceng Gee Pang sudah dirobohkan oleh
Sucoan Sam-sat. Si botoh Bwee Hiang tengah dipermainkan
oleh Lie Kui. Pelayan yang melihat si bocah pulang lantas
memberikan laporannya. Kaget Lo In. Cepat ia lari ke taman
bunga, dimana ia lihat enci Hiang sedang peluki tubuhnya Liu
Wangwee yang dalam keadaan kehabisan tenaga. Kapan ia
lihat Lie Kui hendak menganggu Bwee Hiang, mengulur
tangan hendak memegang si nona, lantas ia berteriak :
'Tahan, tahan, aku datang.....!' dari kejauhan, sementara
tubuhnya melesat seperti meluncurnya roket yang barusan
dilepaskan, bagaimana si bocah bergerak tahu-tahu sudah
muncul dihadapan mereka.
Tidak mudah untuk memberi pertolongan kepada mereka yang
menjadi korban keganasan Sucoan Sam-sat, apalagi Cia
Liang yang remuk sambungan tulang pundaknya di
cengkeram Giam-ong Puy Teng. Untung, dengan secara
kebetulan, Lo In sudah dapat kembali obat mustajabnya
sehingga dapat menolong mereka dengan tidak usah ke sana
sini mencari obat.
Obat buatan Lo In, yang mewariskan kepandaian Liok Sinshe
memang manjur sekali. Maka dalam tempo pendek korbankorban
yang terluka karena keganasan Sucoan Sam-sat
sudah dapat bergerak pula. Hal mana membikin Liu Wangwee
jadi sangat kegirangan. Segera ia suruh Bwee Hiang supaya
pelayan-pelayannya menyiapkan satu meja perjamuan untuk
memberi selamat pada mereka, yang membantu dirinya
dengan tidak sampai mengorbankan jiwanya.
Dengan dipimpin oleh Liu Wangwee dan Pangcu dari Ceng
Gee Pang, dilain saat para tamu sudah kelihatan pada
memasuki rumahnya Liu Wangwee. Mereka diantar ke sebuah
ruangan makan yang lebar luas dan diperaboti indah lengkap.
Mereka kelihatan amat senang dapat memasuki ruangan yang
mencocoki seleranya sehingga mereka pada melupakan apa
yang sudah terjadi barusan dan rasa sakitnya kena dihajar
oleh Sucoan Sam-sat.
Sementara, Lo In tidak mau turut dengan mereka. Ia hanya
menyusul Bwee Hiang yang pergi dari situ untuk
menyampaikan perintah Liu Wangwee kepada para pelayan
yang bertugas menyiapkan barang hidangan.
"Kenapa kau ikuti aku ?" tanya Bwee Hiang. "Bukannya
berkumpul dengan para paman. Siapa tahu mereka mau
dengar ceritamu yang lucu-lucu. Hihihi...."
"Aku tidak kerasan berkumpul dengan orang tua. Maka aku
menyusul enci kemari." sahut si bocah. "Apa tidak boleh ?"
"Bukannya tidak boleh, cumanya tidak pantas begitu saja
meninggalkan mereka."
"Tidak pantas dalam pandangan mereka, tidak jadi soal. Asal
pantas dalam pandangan enci Hiang, aku sudah puas."
Kata-kata Lo In mengingatkan Bwee Hiang pada kejadian, ia
menciumi pipinya si bocah yang maksudnya mau gigit hancur
dagingnya, tahu-tahu si bocah berbalik memeluki tubuhnya.
Ingat kesitu, wajah si nona menjadi merah dan berkata, "Tidak
pantas kelakuanmu barusan terhadap encimu. Malu ditonton
banyak orang !"
"Enci yang mulai, bagaimana bisa salahkan aku ?"
"Hah ! Aku mulai apa ?" si gadis cepat menanya, kaget ia
dituduh yang mulai.
"Mencium pipiku, apakah itu bukan mulai dulu ? Maka lantas
saja kalau aku main-main memeluk tubuh enci, bukan ?
Hehehe... "
Bwee Hiang pucat wajahnya lalu merah karena jengah.
Pikirnya, kurang ajar bocah hitam ini. Tapinya memang
alasannya tepat juga. Ia jadi membisu. Kemudian, ia gerakan
kakinya lebih cepat meninggalkan Lo In dengan tidak berkatakata
seperti yang sedang mendongkol.
Sebelum ia bertindak jauh, tiba-tiba kupingnya mendengar Lo
In berkata, "Baik, kau marah. Aku pun akan pergi dari sini !"
Terkejut si nona. Cepat ia balik tubuhnya dan lekas
menghampiri Lo In. Sambil pegang tangan si bocah, dituntun,
ia berkata, "Adik kecil, kau gampang ngambek ya ? Mari ikut
encimu !"
Lo In ketawa nyengir, sebaliknya si nona gondok. Cuma ia
tidak berani berlaku kasar lagi pada si bocah, takut Lo In
benar-benar pergi dari rumahnya. Kalau Lo In berlalu garagara
ia (Bwee Hiang), pasti ia akan didamprat oleh ayahnya.
Juga, andaikata diantara Sucoan Sam-sat ada yang balik lagi,
siapa yang berani melayaninya ? Dalam bahaya, keluarga Liu,
bagaimana dapat membiarkan si bocah pergi begitu saja ?
Oleh sebab itu, maka Bwee Hiang sudah robah sikapnya yang
mendongkol menjadi ramah seperti biasanya hingga Lo In
senang hatinya.
Demikian, tidak lama perjamuan sudah disiapkan.
Lo In ada bersama-sama Bwee Hiang di ruangan belakang
lagi ngomong-ngomong. Tiba-tiba muncul satu pelayan,
berkata pada Bwee Hiang, "Siocia, loya suruh aku undang
adik kecil turut serta dalam perjamuan !"
"Nah, kau dapat kehormatan. Lekas pergi turut makan ke
sana. Makanannya enak-enak, tentu kau dapat makan
banyak." berkata Bwee Hiang pada Lo In, menggodai si
bocah.
"Brengsek !" Lo In menggerutu hingga Bwee Hiang menjadi
heran.
"Apanya yang brengsek, adik kecil ?" si nona lantas menanya.
Lo In tidak menjawab perkataan Bwee Hiang, sebaliknya ia
berkata pada si pelayan, "Kau katakan pada Loya, aku tidak
bisa ke sana, lagi tidak enak badan."
"Hihihi..." Bwee Hiang tertawa ngikik, sambil tekap mulutnya.
"Orangnya segar bugar dikatakan tidak enak badan. Kalau
tidak enak badan iut, biasanya rebah di pembaringan. Ah, adik
kecil, kau kenapa sih permainkan orang tua ?"
Lo In ketawa nyengir. Kepalanya digeleng-gelengkan. "Aku
tidak mau ke sana, kalau tidak bersama enci." ia berkata
kemudian.
Bwee Hiang melengak. "Kenapa mesti sama-sama encimu ke
sana ?" ia menanya.
"Kalau bersama enci, aku jadi punya teman ngobrol." sahut si
bocah.
Bwee Hiang memandang paa pelayannya yang saat itu tengah
tersenyum-senyum melihat lagak lagunya dan kata-katanya si
bocah yang serba lucu. "Kau katakan pada Loya apa yang
dikatakan adik kecil barusan." Bwee Hiang berkata pada si
pelayan yang sedang menanti keputusan.
Pelayan itu lantas berlalu. Tak lama lagi ia kembali, katanya,
"Loya minta adik kecil ke sana bersama-sama Siocia."
"Nah, ini baru betul !" kata Lo In seraya bertepuk tangan
kegirangan.
Bwee Hiang jebirkan bibirnya yang mungil pada Lo In yang
kontan disambut dengan jebiran pula hingga si pelayan yang
menyaksikan adegan itu tidak tahan untuk tidak ketawa
cekikikan. Bwee Hiang tidak marah sebab ia tahu, memang
kelakuan mereka waktu itu dapat mengitik urat ketawa.
Si nona tak usah tukar pakaian lagi karena ia sekarang sudah
berdandan rapih.
Tadi, setelah ia pesan tukang masak untuk menyiapkan
hidangan, ia sudah masuk ke kamarnya untuk menukar
pakaian yang kotor dan awut-awutan. Rambutnya pun sudah
rapih dibereskan oleh dua pelayannya Ling Ling dan Lan Lan.
Waktu ia menemui Lo In pula, kecantikannya membuat kagum
si bocah berbareng bau harum menusuk ke lubang hidungnya.
Entah minyak wangi apa yang dipakai Bwee Hiang. Yang
terang si bocah setelah menghirum bau harum itu merasakan
dadanya lega dan segar.
"Hebat enciku ini." ia berkata dalam hati kecilnya. Tidak berani
ia mengatakan terang-terangan, nanti sang enci salah paham.
Coba kalau Eng Lian yang ia hadapkan, sudah lantas
mulutnya ramai memuji dan mungkin ia memeluk si dara
harum sambil membisiki kata-kata pujian pada telinganya.
Kalau dalam keadaan biasa, sudah tentu Liu Wangwee
keberatan puterinya turut dalam perjamuan diantara orangorang
lelaki yang bukan menjadi famili dekatnya. Tapi kali ini
ia terpaksa karena Lo In tanpa Bwee Hiang biar bagaimana
juga tak akan menghadiri perjamuan itu. LO In justru orang
penting dimana Kian-san Ji-lo berkali-kali ada mengatakan
keinginannya berkenalan dengan si bocah.
Demikian ketika Lo In dan Bwee Hiang muncul, orang-orang
pada bertepuk tangan. Malah Soat-cian Ang, Pangcu dari
Ceng Gee Pang berseru, "Hidup, jago kecil kita." beberapa
kali, disambut riuh oleh anak buahnya.
Kian-san Ji-lo hanya ketawa ngekeh, kepalanya manggutmanggut.
Segera perjamuan dimulai karena sekarang sudah komplit
dengan hadirnya Lo In.
Dalam omong-omong, Cia Kie berkata pada Lo In, "Siohiap,
eh, anak In. Tiga manusai dari Sucoan itu sangat jahat. Kau
telah memberi hukuman terlalu enteng pada mereka. Mereka
jadi keenakan, malah mungkin akan menuntut balas !'
Kian-san Ji-lo sudah dikisiki oleh Ang Ban Teng, kalau bicara
dengan Lo In jangan menggunakan perkataan 'Siaohiap'
sebab si bocah paling suka dipanggil 'anak In'. Ia menyatakan
penyesalannya pada Lo In yang memberikan hukuman terlalu
enteng pada Sucoan Sam-sat yang kesohor kebuasannya.
"Paman-paman itu toh tidak membunuh orang." sahut Lo In
acuh tak acuh.
"Ha ha ha !" Cia Kie tertawa. "Anak In, kau masih kecil. Belum
banyak mendengar dalam kalangan Kangouw orang ributi
kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh mereka. Kau tahu
anak In, mereka membunuh orang tanpa berkedip matanya.
Entah sudah berapa banyak jiwa yang dikirimkan pada Giamlo-
ong oleh mereka. Tapi yang terang, kalangan Pekto
maupun Hekto pada mengutuk atas perbuatannya.
Terbelalak matanya Lo In. Lucu tampaknya sepasang mata
yang bening dan berwibawa terdapat diantara wajahnya yang
hitam legam.
"Ah, masa sampai begitu ?" Lo In menanya, heran dia.
"Seharusnya mereka itu dibasmi habis." menyela Cia Liang.
"Apa dibasmi, paman maksudkan apa dibasmi ?" si bocah
tidak mengerti.
"Di basmi ialah dibunuh habis mereka itu." menegaskan Cia
Liang, ketawa.
"Mana bisa dibunuh, aku tidak biasa membunuh." Lo In ketawa
nyengir.
"Mereka datang ke sini mau membunuh keluarga Liu, tidak
satu juga yang mereka mau kasih tinggal. Kenapa kita tidak
mau bunuh habis mereka ?" tanya Cia Kie.
Lo In geleng-geleng kepala. "Aku belum pernah bunuh orang."
katanya lucu.
Para hadirin jadi saling pandang melihat kelakuan si bocah.
Bwee Hiang ingin menegur atas ketololan Lo In tapi ia tidak
berani buka mulut dihadapan banyak orang tua. Hanya
matanya saja mengawasi si bocah seolah-olah menyesalkan
dengan kata-kata yang diucapkan Lo In. Tapi Lo In tidak dapat
memahami isi hatinya si enci Hiang. Ia tinggal tenang-tenang
saja.
Ang Pangcu tidak sabaran. Ia lantas berkata, "Anak In, kalau
mereka tidak dibasmi habis, dibunuh semua aku maksudkan,
mereka akan...."
Kata-kata Ang Pancu tidak diteruskan karena ia kaget tiba-tiba
melihat satu orangnya bernama Kang Kiat muncul diantar oleh
satu pelayan.
kang Kiat ada salah satu Tocu dari markas cabang Ceng Gee
Pang di sebelah barat desa Kunhiang (tempatnya Liu
Wangwee). Belum berapa lama dibangun, masih dibawah
penilikan Hoan Hiocu dari pusat di Gakwan. Disana selainnya
Kang Tocu, masih ada tiga Tocu lagi yang menjadi pemimpin
cabang itu, dibantu oleh beberapa anak buahnya yang
semuanya ada pandai silat.
Ceng Gee Pang pada waktu belakangan ini mendapat
kemajuan pesat, membangun cabang di beberapa tempat.
Ang Ban Teng merasa sangat girang karena dalam
pimpinannya Ceng Gee Pang mendapat banyak kemajuan.
Melihat kedatangan Kang Kiat dengan air muka kusut dan
bajunya berlepotan darah, dengan cepat Ang Ban Teng
menaya, "Kang Tocu, kelihatannya ada kabar penting untukku.
Ada apa ?"
Setelah memberi hormat dan disuruh ambil tempat duduk oleh
Liu Wangwee, Kang Tocu lalu menyampaikan kabar duka
untuk Ceng Gee Pang.
Kan Kiat menceritakan telah kedatangan dua orang itu malam,
satu bermuka kelimis bersih dan satu lagi hitam berewokan
bengis. Mereka menanyakan apa disitu ada pusat dari Ceng
Gee Pang. Kang Kiat jawab bukan, hanya cabangnya saja
yang baharu dibangun belum lama. Tiba-tiba ia dengar si
berewokan ketawa terbahak-bahak lalu berkata pada
temannya, "Jiko, Ceng Gee Pang suah menjadi alatnya Liu In
Ciang, mari kita bereskan !"
Leng Tongcu yang berdiri tidak jauh dari Kang Kiat panas
hatinya mendengar kata-kata si berewokan, lalu maju dan
berkata, "Apa yang dibereskan ?" -- tangannya berbareng
melayang hendak menggaplok kepala tamu yang tidak
diundang itu.
Tapi si berewokan yang bukan lain Lie KUi adanya, sudah
lantas berkelit. Cepat bagaikan kilat tangannya diulurkan
menepuk pundaknya Leng Tongcu yang tidak keburu
mengelakkannya. Hanya menjerit sekali, Leng Tongcu sudah
roboh tersungkur tidak bangun lagi. Kang Kiat melihat hal itu
menjadi gusar. Ia sudah lantas mau menerjang Lie Kui tapi
Ong Tocu sudah mendahului.
Orang-orang Ceng Gee Pang beringas dan ramai-ramai
mengeroyok si berewokan hitam tapi mereka diganda hanya
dengan ketawa-ketawa saja, malah ketika Mo-jiauw Teng
Cong, si muka kelimis turun tangan, segera terdengar
beberapa jeritan ngeri dan orang-orang Ceng Gee Pang pada
roboh dihajar dua tamu tidak diundang itu.
Kemudian muncul orang-orang bersenjata dipimpin oleh Hoan
Hiocu.
Barangkali lebih baik kalau rombongan bersenjata tajam ini
tidak muncul sebab akibatnya sangat mengerikan. Lie Kui dan
Teng cong lantas merampas golok lawan, dengan senjata
mana mereka mengganas. Teriakan-teriakan ngeri
menyayatkan hati, kepala orang pating berjatuhan bagaikan
buah kelapa yang berjatuhan dari pohonnya. Banjir darah
disitu, malah Hoan Hiocu pun menjadi salah satu korbannya.
Kepalanya menggelinding jatuh dilantai karena ditebas oleh
Lie Kui.
Kang Kiat yang masih sempat menyelamatkan diri, sudah
lantas meninggalkan mereka yang sedang ngamuk dalam
markasnya, lari ke rumahnya Liu Wangwee. Ia tahu
Pangcunya ada disana untuk memberi laporan.
Ang Pangcu mendengar kejadian yang menyedihkan itu
sampai tidak bisa membuka mulut, saking sangat gusar dan
jeri pada Sucoan Sam-sat.
"Ang-hiante, bagaimana baiknya ini ?" Liu Wangwee berkata
pada Ang Ban Teng.
"Hahaha !" sekonyong-konyong Cia Kie ketawa.
"Anak In, kalau kau tidak menyaksikan dengan mata kepala
sendiri, tentu kau mengatakan aku si kakek omong kosong.
Nah, sekarang buktinya bagaimana ?"
"Anak In, coba kau turut paman Ang pergi ke sana
menengoknya." Liu Wangwee berkata pada si bocah yang
acuh tak acuh mendengar hal itu.
Mendengar kata-katanya Liu Wangwee, barulah ia seperti
tersadar. Tapi ia tidak menyahut, sebaliknya ia memandan
Bwee Hiang yang pucat wajahnya mendengar kabar jelek
yang disampaikan oleh Kang Kiat.
"Kau ikut paman Ang ke sana, adik kecil." berkata Bwee Hiang
ketika si bocah tinggal diam saja duduk di kursinya. "Apa mesti
encimu turut ke sana ?"
Nada suaranya paling belakang agak keras, seperti teguran.
"Anak In, turutlah kata-kata encimu." Liu Wangwee
menganjurkan.
Lo In tinggal diam saja.
Liu Wangwee dan Bwee Hiang saling pandang nampak Lo In
tidak bergerak dari duduknya. Mereka mengerti kalau tidak
bersama Bwee Hiang, si bocah tidak mau pergi. Keadaan
sudah demikian mendesak, Ang Pangcu kelihatan amat
gelisah. Ia tidak punya nyali untuk pergi ke markas cabangnya
tanpa Lo In, sebab percuma saja akan mengantarkan jiwa saja
kepada Sucoan Sam-sat.
Matanya mengawasi Liu Wangwee seperti memohon
pertolongan. Liu Wangwee menjadi sangat tidak enak, maka ia
lalu berkata pada puterinya, "Anak HInga, kau bawa
pedangmu dan antarkan adik kecilmu kesana, ikut paman
Ang."
Bwee Hiang bangkit dari duduknya dan berlalu, diikuti oleh Lo
In, seolah-olah yang tidak mau ketinggalan. Kemana Bwee
Hiang pergi, ia harus ikut. Sungguh lucu lagaknya si bocah
hitam. Sebenarnya bukan apa-apa kelakuannya Lo In itu, ia
memang ketakutan kehilangan Bwee Hiang seperti ia sudah
kehilangan Eng Lian.
Sebentar lagi tampak Bwee Hiang sudah muncul kembali
dengan pakaian ringkas, pedangnya disorong di pinggang. Di
belakangnya tampak Lo In mengintil.
"Habis, kalau anak pergi, siapa yang temani ayah ?" tanya si
gadis. Ia khawatir ayahnya ditinggal sendirian.
"Legakan hatimu, kami disini akan menemani ayahmu." Cia
Kie berkata tertawa.
Lega hatinya si gadis, lalu ia bersama Lo In ikut Ang Pangcu
dan Kang Kiat pergi ke markas cabang Ceng Gee Pang.
Karena masing-masing dapat menggunakan jalan cepat, maka
dalam tempo pendek saja mereka sudah sampai di tempat
tujuan.
Keadaan dalam markas cabang itu benar-benar mengerikan.
Mayat tampak malang melintang, yang kuntung tangan, kaki,
paha dan kepala terdapat di sana sini.
Sunyi senyap, hanya terkadang seperti ada terdengar rintihan
dari korban-korban yang belum mati. Sementara Lie Kui dan
Teng cong yang diharapkan masih dapat dijumpai disitu,
ternyata sudah tidak kelihatan mata hidungnya.
Ang Pangcu nampak semua itu telah mengucurkan air mata,
diikuti oleh lima Hiocunya. Bwee Hiang juga tidak dapat
menahan rasa terharunya, ia menangis. Beberapa kali ia
menyeka air mata dengan lengan bajunya.
Lo In yang belum pernah melihat orang dibunuh demikian
kejam, tampak geleng-geleng kepala. Pernah ia melihat orang
terluka, berceceran darahnya, kejadian itu dua tahun yang lalu
dimana Liok Sinshe mengamuk menghajar musuh-musuhnya.
Di sini ia nampak bukan darah berceceran saja, tapi
mengumpiang di sana sini, sedang kepala, tangan, kaki dan
lain-lain anggota tubuh manusia berserakan mengerikan.
Hatinya yang lemah tidak mau membunuh orang, tiba-tiba
tergugah. Tangannya yang kecil dikepal-kepalkan, romannya
sangat gusar. Ia menyesal tadi kenapa ia tidak membereskan
jiwanya Sucoan Sam-sat. Kalau tidak, tentu ia tidak
menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan seperti
sekarang ini.
Bwee Hiang melirik pada adik kecilnya, ia tahu bahwa Lo In
sangat gusar.
"Adik kecil," katanya. "Lantaran kau punya murah hati, nah
kejadiannya begini. Kau lihat, bagaimana kejamnya Sucoan
Sam-sat mengganas !"
"Biarlah sekali lagi kita ketemu mereka, aku tak akan kasih
ampun !" jawab si bocah seraya angguk-anggukkan
kepalanya.
Terkejut Bwee Hiang. Pikirnya, kenapa bocah ini mengatakan
'kita' ? Apakah dimaksudkan dia dengan ia (Bwee Hiang) yang
kelak akan menghadapi Sucoan Sam-sat ?
Ia tidak sempat memecahkan soal ganjil itu karena segera
mendegnar Ang Pangcu berkata pada Lo In, "Anak In, inilah
bukti dari perbuatan ganas Sucoan Sam-sat. Maka kalau
belakang hari kau ketemu mereka, aku harap kau suka
menghukum mereka yang setimpal dengan kebuasannya !"
"Aku mengerti paman Ang. Semoga dalam perjalanan
berkelana aku akan menjumpai mereka supaya para paman
yang mati sekarang toh akhirnya mendapat kepuasan di alam
baka !" demikian si bocah berjanji.
-- 17 --
Kata-kata Lo In membuat Bwee Hiang ketawa girang sebab
sudah terang si bocah sekarang sudah berubah
pandangannya terhadap orang-orang jahat. Kelemahan
hatinya berubah menjadi suatu keganasan. Yang paling girang
adalah Ang Pangcu sebab ia percaya meskipun ia sendiri tidak
bisa membalas kekejamannya Sucoan Sam-sat, sekarang ada
si bocah sakit yang menyanggupinya.
Mendengar kedatangannya ketua dari pusat, maka orangorang
Ceng Gee Pang yang tadi pada lari menyembunyikan
diri dari angkara murka Sucoan Sam-sat pada muncul dan
memberikan pertolongan pada mereka yang belum tewas
jiwanya. Atas perintahnya Pangcu, tempat itu dibersihkan dari
mayat-mayat yang malang melintang.
Ketika Kang Kiat berada jauh dari Bwee Hiang dan Lo In, Kang
Tocu berkata pada Ang Pangcu, "Pangcu, kalau tadi kita tidak
berkutat dulu membujuk si bocah muka hitam, kita pasti
datang disini dalam waktunya. Kita masih bisa menjumpai dua
orang jahat itu dan kita dapat menolong saudara-saudara kita,
tidak sampai mengambil korban begini banyak !"
"Kang Tocu." katanya. "Kau tidak tahu." Ang Pangcu ketawa.
"Justru si bocah yang penting kita bawa ke sini. Apa dengan
tenaga kita, dapat kita usir Sucoan Sam-sat ? Hmm ! Kau
jangan mimpi. Bocah itu mempunyai kepandaian yang susah
diukur, dialah yang telah mengusir pergi Sucoan Sam-at dari
taman bungan Liu Wangwee, dimana kita berenam dan Kian
san Ji-lo sudah roboh tidak berdaya. Kalau tidak ada dia,
sekarang, kau tentu tidak bisa berhadapan dengan
Pangcumu........."
"Ha ! Apa iya ?" memotong Kang Kiat, matanya terbelalak
kurang percaya.
Ang Pangcu hanya tersenyum melihat kelakuan Tocunya.
Sementara itu ia sudah bertindak ke arah Bwee Hiang dan Lo
In yang tengah ngomong-ngomong.
Sebelum ia membuka mulut bicara, Bwee Hiang sudah
mendahului, "Paman Ang, musuh sudah pergi. Sedang paman
juga repot menghadapi para paman yang mati dan terluka.
Maka sebaiknya aku dan adik In pulagn saja. Aku masih
kuatirkan di rumah ada terjadi apa-apa yang tidak diingini !"
Sebenarnya Ang Pangcu hendak menahan mereka tapi
karena alasannya Bwee Hiang cukup teguh maka ia pun tidak
bisa berkata apa-apa selain mengucap terima kasih pada Lo in
dan si nona atas perhatiannya.
"Aku harap saja di rumah tidak terjadi apa-apa, anak Hiang !"
berkata Ang Pangcu ketika ia mengantar muda mudi itu keluar
dari kantor cabangnya.
Hanya diwaktu menyaksikan pemandangan yang mengerikan
tadi, tampak Lo In seperti hatinya tergerak, gusar dan berubah
kelemahan hatinya dengan ketegasan. Tapi waktu dalam
perjalanan si bocah hanya biasa lagi saja. Riang gembira dan
saban-saban menggodai enci Hiangnya supaya tertawa. Lo In
senang hatinya, kalau melihat Bwee Hiang ngikiki ketawa
karena kejenakaannya. Dalam perjalanan pulang ini juga
bukan sedikit Bwee Hiang dibikin ketawa ngikik oleh ucapan
atau lagaknya si bocah.
Kapan mereka sampai di rumah pula, Bwee Hiang berasa
tidak enak hatinya. Ia tidak melihat ada pelayannya yang
membukai pintu pekarangan. Malah pintu itu tidak terkunci,
tidak biasanya demikian. Masuk ke dalam rumah, biasanya ia
disambut oleh Ling Ling dan Lan Lang. Kali ini tidak kelihatan
satu juga pelayannya itu. Kemana mereka sudah pergi ? Ia
masuk lebih jauh ke ruangan dimana ayahnya dan Kian-san Jilo
pasang omong di waktu ia meninggalkan rumah. Tidak
tampak mereka disitu.
"Adik kecil, mungkin ada kejadian hebat di sini !" kata Bwee
Hiang. Hatinya sangat tegang, sedang Lo In terus mengintil di
belakangnya si gadis.
Bwee Hiang cepatkan tindakannya, menghampiri kamarnya.
Ketika ia membuka pintu kamar, matanya terbelalak. Lo In
tidak turut masuk ketika melihat Bwee Hiang tergesa-gesa
masuk ke dalam kamarnya, ia menanti di luar sambil bersiulsiul.
Bwee Hiang lihat Lan Lan menggeletak di lantai sudah tidak
bernapas. Ia jongkok memeriksa. Terkejut ia ketika melihat
pakaiannya si pelayang sobek sana sini seperti yang disobek
orang. Kapan Bwee Hiang angkat pakaian yang menutupi
tubuh si pelayan, kiranya Lan Lang sudah telanjang sehingga
pusar ke bawah. Dari tanda-tanda yang mencurigakan, Bwee
Hiang duga Lan Lan dibunuh setelah diperkosa. Tidak
terdapat tanda penganiayaan. Rupanya Lan Lan dibunuh
dengan totokan maut.
Bwee Hiang ngeri. Ia menekap mulutnya. Kemudia ia buka
tekapan tangannya, ia memandang ke pembaringannya. "Hei,
kenapa ada orang lagi tidur ?" ia menanya pada dirinya
sendiri. Cepat ia bangkit dari jongkoknya lantas menghampiri
orang yang seperti tertidur dengan pakai selimut.
"Kurang ajar, siapa berani tidur di pembaringanku ?" bentak
Bwee Hiang seraya ia menyingkap selimut yang dipakai
menutup kepala orang yang lagi tidur.
"Ah, Ling Ling !" teriaknya ketika ia mengenali wajah orang
yang tidur.
Pada wajahnya Ling Ling yang cantik tampak sepasang mata
yang melotot penasaran. Meskipun merasa ngeri melihat
wajahnya si pelayan, Bwee Hiang masih sempat membuka
selimut yang menutupi tubuh. "Aiyaaa !" Bwee Hiang
mengeluarkan teriakan tertahan, seraya ia mundur setelah
menutupi pula selimut tadi yang menutupi tubuhnya Ling Ling.
Apakah yang membikin si nona sangat kaget ?
Kiranya, ketika selimut dibuka, tampak tubuh Ling Ling
telanjang bulat. Sepasang buah dadanya yang montok sudah
dikupas orang hingga rata. Kemana sepasang buah dadanya
itu ? Sedang tangan kirinya, 3 dim diatas nadi berlumur darah,
tertabas kutung oleh senjata tajam.
Bwee hiang tak tahan menghadapi dua adegan di depannya,
maka ia berteriak, "Adik kecil, adik kecil, lekas kau masuk !"
Lo In terkejut mendengar panggilan Bwee Hiang seperti yang
ketakutan.
Sekali lompat ia sudah berada di dalam mendekati Bwee
Hiang yang berdiri gemetaran di tepi pembaringan di atas
mana ada terlentang mayatnya Ling Ling.
Ketika Lo In sudah berada di dekatnya, Bwee Hiang tak tahan
dengan goncangan hatinya maka ia roboh terkulai dan akan
mendeprok di lantai kalau tidak keburu Lo In datang
menyangga. "Enci Hiang, enci Hiang !" memanggil si bocah
ketika melihat si nona lemas badannya dan kedua matanya
tertutup.
Apa yang sudah terjadi ? Tanyanya dalam hati. Sementara
matanya melirik ke bawah, ia melihat tubuhnya Lan Lan yang
terkapar tak berkutik. Cepat Lo In pondong Bwee Hiang dan
diletakkan di atas satu dipan, tidak jauh dari pembaringan.
Meskipun biasanya Lo In sangat tenang, kali ini kelihatan ia
gugup juga.
Cepat si bocah menghampiri Lan Lan yang menggeletak di
lantai. kapan ia membuka baju yang sobek sana sini yang
menutupi tubuhnya Lan Lan, tampak Lan Lan telanjang bagian
bawahnya. Cepat ia menutupi pula Lan lan, lalu meraba
tangan si pelayan diperiksa urat nadinya. Kiranya Lan Lan
sudah tidak bernyawa. Ia geleng-geleng kepala tampaknya ia
merasa kasihan pada si pelayan yang bernasib malang itu. Ia
mengerti bahwa Lan lan mati karena totokan jahat pada jalan
darah.
Lo In jadi termenung sejenak dalam keadaan berjongkok.
Kapan matanya kemudian melirik ke pembaringan, ia lihat ada
sesosok tubuh yang ditutupi selimut seluruhnya. Cepat ia
bangkit dan menghampiri. Perlahan-lahan ia membuka selimut
yang menutupi. Kaget ia karena itulah Ling Ling yang
ketawanya manis dan mukanya botoh, sekarang sudah jadi
mayat dengan mata melotot.
Dalam terkejutnya, ia menyingkap terus selimut yang menutupi
tubuh Ling Ling. Bukan main gusarnya Lo In nampak
sepasang buah dadanya si pelayan yang cantik dikupas orang.
Berbayang di matanya si bocah, kapan Ling Ling turut tertawa
ngikik, sepasang buah dadanya yang bulat menonjol seperti
turut bergoyang.
Pikir si bocah, Ling Ling toh sudah jadi mayat. Apa
halangannya kalau ia diperiksa lebih jauh tanda-tanda
kekejaman manusia atas dirinya si pelayan. Maka, ia sudah
menyingkap terus selimut dan.... hatinya terkesiap kapan
melihat tangan kirinya si Ling Ling dekat pergelangan
terkutung mengeluarkan banyak darah. Kekejaman itu
sedikitnya dengan pedang, kalau tidak dengan golok
dikerjainya. Lo In sambil bergidik. Ia bergidik dan bulu
tengkuknya dirasakan berdiri. Bukannya takut tapi meluap
kegusarannya yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Cepat-cepat ia menutupi pula tubuhnya Ling Ling dengan
selimutnya.
Lo In tampak berdiri bengong. Pikirnya, apakah mungkin ada
manusia demikian kejam merusak anggauta tubuh si Ling Ling
yang botoh mungil ? Tapi bukti sudah ada, bagaimana juga Lo
In dapat melupakan kekejamannya manusia jahat dalam dunia
yang lebar ini.
Kalau tadi ia acuh tak acuh meskipun sudah menyaksikan
kekejaman dalam markas cabang Ceng Gee Pang, sekarang
setelah menyaksikan Ling Ling dan Lan Lang menjadi korban
keganasan manusia jahat, maka hatinya benar-benar menjadi
sadar bahwa seharusnya ia membasmi kejahatan untuk
menolong si lemah.
Tiba-tiba ia teringat akan Liu Wangwee, maka seketika itu ia
lompat keluar kamar.
Saban beberapa tindak ia jalan, ia menemukan mayat para
pelayan yang mengerikan. Ia tidak ada tempo untuk
memeriksa satu demi satu. Yang penting ia mau cari Liu
Wangwee, orang tua yang telah perlakukan dirinya sangat
baik.
Setelah ia berputar-putar mencari, tidak juga ia menemukan si
orang tua. Akhirnya ia sampai ke taman bunga, dimana belum
lama berselang ada dilakukan pertempuran dengan Sucoan
Sam-sat. Di sini ia telah menemui mayatnya Cia Kie terkapar
dengan leher hampir putus, tidak jauh darinya terlihat
mayatnya Cia Liang terlentang dengan kepala sudah terpisah.
Cemas hatinya Lo In, sebab Liu Wangwee masih juga belum
diketemukan.
Ia berdiri bengong. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam
menangkap seperti ada suara rintihan dalam gerombolan
alang-alang. Dengan beberapa lompatan ia sudah sampai
disana, ia menerobos masuk dan kemudian keluar lagi dengan
sesosok tubuh dipanggul di atas pundaknya. Itulah Liu
Wangwee yang keadaannya sudah hampir mati.
Lo In letaki orang tua yang bernasib buruk di tempat terbuka.
Dengan meminjam penerangan rembulan, Lo In periksa
keadaannya si orang tua.
Si bocah cepat menotok beberapa bagian jalan darah untuk
menghentikan darah yang keluar tidak hentinya dari luka-luka
di bagian muka, bahu dan kedua tangannya yang sudah
menjadi buntung. Keadaan lukanya si hartawan sangat parah.
Lo In putus harapan untuk merampas jiwanya dari malaikat
elmaut. Meskipun demikian, ia coba keluarkan obatnya yang
manjur untuk menolongnya. Dalam repotnya, tiba-tiba ia
dibikin kaget oleh Bwee Hiang yang menubruk ayahnya dan
menangis menggerung-gerung.
Bwee Hiang ketika mendusin dari pingsannya, ia tidak melihat
adik kecilnya dalam kamar. Ia lantas menduga Lo In tentu
sedang mencari ayahnya. Cepat ia bangun dan lari keluar. Ia
tidak perdulikan mayat-mayat para pelayannya yang malang
melintang ia ketemukan. Terus ia mencari Lo In sampai ia
jumpai si bocah sedang memberikan pertolongan pada
ayahnya di taman bunga.
Bukan main takutnya si gadis tampak keadaan ayahnya sudah
sangat payah. Ia memeluki sambil menangis, tangannya
meraba-raba wajah si orang tua yang sudah mandi darah.
Dengan jari-jarinya yang halus, si nona beberapa kali coba
melekkan matanya Liu Wangwee yang meram saja seperti
sudah mati. Putus harapan si nona, ia menangis makin
menjadi.
"Enci Hiang." tiba-tiba si gadis mendengar adik kecilnya
berkata halus. "Lope tidak dapat ditolong hanya dengan
tangisan saja. Maka tenangkanlah hati enci dan marilah kita
sama-sama menolongnya."
Bwee Hiang seperti tersadar mendengar kata-kata si bocah. Ia
melepaskan pelukannya sambil masih terisak-isak ia
menyusuti air matanya.
"Adik kecil, bagaimana ini..........?" si gadis kebingungan,
tangisnya belum berhenti.
"Tenang, enci Hiang." menghibur Lo In. "Jiwa ada di tangan
Thian (Tuhan). Kita manusia harus pasrah kepada nasib, asal
kita sudah menolong dengan sebisanya kepada Lope. Coba
aku periksa lagi keadaannya."
Lo In berkata sambil tangannya mengangkat tubuhnya Liu
Wangwee hendak di pondong, di bawa pergi dari situ.
Tiba-tiba matanya Liu Wangwee yang barusan meram saja
tampak dibuka, sebelum badannya terangkat oleh Lo In. Si
bocah tersenyum kepadanya. Bwee Hiang lihat itu, mukanya
mendekati wajah si orang tua. Katanya, "Ayah, oh, ayah......"
Si orang tua tersenyum. Terdengar ia berkata, "Anak Hiang,
anak Hiang. Selanjutnya kau harus akur-akur dengan adik
kecilmu. Eh, anak In." Liu Wangwee teruskan kata-katanya
pada si bocah. "Tolong kau jaga encimu. Biarlah kalian hi...."
Sampai disitu kata-kata Liu Wangwee terputus berbareng
jiwanya juga sudah pergi. Kepalanya teklok dengan
sendirinya. Lo In menghela napas. Liu Wangwee mati dengan
disangga tangannya. Suatu kematian yang mengharukan,
setelah meninggalkan pesa pada putri kesayangannya dan si
bocah wajah hitam.
Sementara itu, setelah mendengar pesan sang ayah kemudian
melihat ayahnya menutup mata, Bwee Hiang tidak tahan
dengan getaran hati yang sangat sedih dan putus harapan.
Maka ia tidak bisa menangis, sebaliknya, ia jatuh pingsan........
Sampai disini kita melihat pada Eng Lian.
Seperti diceritakan di sebelah atas, Eng Lian setelah dicekoki
'Cian jit su su hun' atau 'Obat bubuk mematikan ingatan seribu
hari', ingatannya sudah berubah dan menjadi lupa kepada
segala kejadian yang sudah-sudah. Si bocah Lo In sudah tidak
ada dalam alam pikirannya lagi. Ia hanya ingat Ang Hoa Lobo
ada suhunya dan kepada siapa ia harus bersetia dan menurut.
Meskipun demikian, obat itu tidak mengganggu alam
pikirannya yang cerdik, lincah dan gayanya yang lucu. Ang
Hoa Lobo sangat kegirangan setelah menguasai Eng Lian.
Cita-citanya yang besar untuk mendirikan partay baru, segera
kesampaian dengan bantuannya Siauw Cu Leng.
Ang Hoa Pay (Partay Bunga Merah) telah terbentuk dan
perlahan-lahan dikenal di kalangan Kangouw. Akan tetapi
orang tak dapat menemukan dimana pusat atau cabangnya
Partay Bunga Merah itu. Orang hanya dengar perkumpulan
baru itu dikepalakan oleh satu nona muda yang menamakan
dirinya Kim Coa Siancu atau Dewi Ular Emas.
Kabarnya Kim Coa Siancu ada sangat lihai, pergi dan datang
tak kelihatan bayangannya, menakjubkan dan membuat jagojago
rimba persilatan (Bulim) menjadi khawatir akan sepak
terjangnya partai baru itu. Apakah partai itu berhaluan baik
atau jahat. Tapi yang terang, belakangan ini banyak terjadi
penculikan anak-anak tanggung usianya, menimbulkan
kegemparan karena diketahui penculikan-penculikan itu
dilakukan oleh Kim Coa Siancu.
Eng Lian yang sudah berubah dirinya menjadi Kim Coa Siancu
memang juga berkepandaian lihai. Ia bukan saja dapat didikan
serius dari Ang Hoa Lobo tapi juga disayang oleh Sucouwnya
ialah Lamhay Mo Lie atau 'Si Iblis wanita dari lautan kidul
(selatan)' yang kepandaiannya susah diukur.
Lamhay Mo Lie yang melihat Eng Lian ada berbakat jempolan,
tidak ragu-ragu lagi ia mendidik si dara cilik dengan luar bisa.
Lwekangnya Eng Lian dahsyat oleh karena emposan dari
obat-obat gaib Lamhay Mo Lie. Dalam tempo pendek atau
tidak sampai dua tahun, dari satu dara kecil yang lemah, Eng
Lian berubah menjadi si 'Jelita 17 tahun' yang tegap, cantik
luar biasa dan kepandaiannya sangat tinggi. Memang tidak
dilebih-lebihkan kalau Ang Hoa Lobo suka membual bahwa
Kim Coa Siancu ada seorang yang hebat kepandaiannya
sebab memang demikian kenyataannya si dara cilik di bawah
didikan langsung dari Lamhay Mo Lie.
Sepanjang muncul Kim Coa Siancu yang memimpin Ang Hoa
Pay, ada juga beberapa orang kuat yang dapat menyelidiki
dimana tempatnya partai baru itu. Tapi Coa-kok (lembah ular)
adalah sangat berbahaya untuk dikunjungi, maka ada sedikit
orang yang berani menempuh bahaya untuk pergi ke sana.
Diantara yang sedikit orang yagn berani menempuh bahaya
terhitung Siang-tauw niauw Kam Eng Kim, puteri dan
mantunya (Lengkoan Giok Lie Kam Lian Eng dan Hek-houw
Ma Liong). Mereka sangat penasaran dengan diculiknya Ma
Sian Bwee, cucu dan puteri kesayangannya mereka.
Setelah Ma Sian Bwee diculik Ang Hoa Lobo, dengan
bercucuran air mata Kam Lian Eng melapor pada ayahnya, si
Burung Kepala Dua Kam Eng Kim. Mendengar laporan yang
mengagetkan itu, bukan main marahnya si Burung Kepala
Dua. Sambil menggebrak meja ia mencaci si nenek yang
menculiknya, ia tidak tahu siapa namanya si nenek culik itu.
Hanya ia tahu si nenek adalah suruhannya Kim Coa Siancu
sebagaimana diterangkan oleh Lengkoan Giok-Lie Kam Lian
Eng.
Sejak itu, penyelidikan dilakukan dengan sungguh-sungguh
untuk mengetahui dimana tempatnya Kim Coa Siancu itu.
Sampai beberapa lama dia berusaha, akhirnya dapat juga
keterangan yang dingini oleh mereka.
"Coa-kok letaknya ada di sebelah utara barat gunung
Hengsan." menyatakan Ma Liong dalam membicarakan soal
menolong anaknya.
"Jauh tentunya dari tempat kita." kata sang isteri, Lengkoan
Giok Lie.
"Jauh tidak menjadi soal." menyela Kam Eng Kim. "Yang
dipikirkan tempat itu merupakan lembah yang banyak ular
jahatnya. Banyak orang bilang yang memasuki lembah itu,
bisa masuk tidak bisa keluar lagi."
"Apa benar sampai begitu bahayanya, ayah ?" tanya
Lengkoan Giok-lie.
"Aku sendiri belum tahu ke sana, bagaimana aku tahu ?"
jawab sang ayah.
"Biar bagaimana, kita tidak tega anak Bwee diantapkan begitu
saja !" Ma Liong menyatakan kecemasannya.
Kam Eng Kim dan puterinya membungkam.
Tampak si Burung Kepala Dua mengurut-urut jenggotnya yang
panjang. "Memang begitu." katanya. "Tidak perduli ada
gunung golok di sana, kita harus pergi untuk menolong Sian
Bwee !" si jago tua meneruskan, bersemangat dia.
"Kapan kita berangkat ?" Lengkoan Giok-lie juga
bersemangat.
Ma Liong melirik pada mertuanya, tidak berkata apa-apa.
"Nanti aku tanyakan dahulu pada sahabatku Louw Bin Cie,
apa dia bersedia untuk mengikuti kita atau tidak." Kam Eng
Kim menyatakan.
"Bagus." kata Ma Liong. "Kalau Louw Su-siok turut, kita dapat
tambah tenaga yang sangat berarti. Dia kepandaiannya
menggunakan sepasang pedang, tiada yang dapat
menandinginya !"
Ma Liong kelihatan kegirangan mendengar Louw Bin Cie akan
diajak dalam kepergiannya itu. Tidak heran ia kegirangan
karena Louw Bin Cie ada tersohor kepandaiannya bersilat
dengan sepasang pedangnya. Dua pedang yang digunakan
olehnya bukan pedang dari ukuran biasa, tapi pendek. Dari
ujung pedang samapi di ujung gagangnya kira-kira panjang
dua kaki. Pedang biasa, tajam hanya satu muka. Tapi pedang
Louw Bin Cie ada dua muka, depan belakang.
Kepandaiannya menggunakan sepasang pedang itu, membuat
namanya Louw Bin Cie terkenal dengan julukan Sian-jin
Siang-kiam Louw Bin Jie atau 'Si Sepasang Pedang Dewa'
dan dengan kepandaiannya ini bukan sedikit jago-jago silat
yang menjadi pecundang. Malah di kalangan Hekto (jahat)
namanya sangat ditakuti.
Dengan Kam Eng Kim, si Sepasang Pedang Dewa ada
bersahabat baik, lebih-lebih dari saudara putusan perut. Maka
ketika Louw Bin Cie mendapat kabar hal diculiknya Sian
Bwee, dia juga sangat gusar. Sian Bwee ada satu anak
perempuan yang berbakat untuk belajar ilmu silat. Maka Louw
Bin Cie sering memberi beberapa petunjuk dan pandangan
kepada si dara cilik sebagai cucunya juga, karena atas
perintah Kam Eng Kim, kepadanya Sian Bwee ada memanggil
Yaya (engkong atau kakek).
Demikian, ketika ditanya pikirannya, Louw Bin Cie tidak pikirpikir
lagi. Ia sudah lantas menyanggupi untuk pergi bersamasama
dengan Kam Eng Kim ke Coa-kok.
"Aku ingin lihat, Kim Coa Siancu itu macam bagaimana.
Apakah dia ada mempunyai tangan delapan sampai orang
ketakutan kepadanya ? Hmm !" Louw Bin Cie menyatakan
kesengitannya ketika Kam Eng Kim mengatakan si Dewi Ular
Emas ada sangat lihai ilmu silatnya, disamping juga ada
pembantunya yang lihai-lihai.
Pada keesokan harinya, genap satu setengah tahun Sian
Bwee menghilang. Ma Liong dan isteri dengan dikawal oleh
dua jago tua Kam Eng Kiam dan Louw Bin cie, mereka
melakukan perjalanan ke lembah ular dimana ada
bersemayam Kim Coa Siancu.
Dalam perjalanan kesana, mereka dapat kesukaran mencari
keterangan. Waktu jarak tempat yang dituju masih jauh,
mereka masih dapat petunjuk dari orang dimana letaknya
Coa-kok. Tapi makin mendekat ke tempat tujuan, makin sukar
mereka dapat keterangan. Orang-orang yang ditanyai
kebanyakan menggeleng kepala, mengatakan tidak tahu.
Lengkoan Giok-lie coba gunakan pengaruh uang, menyogok,
supaya orang mau kasih petunjuk tetapi tidak ada yang mau
terima. Mereka jadi heran.
"Kalau begitu jalannya, bagaimana kita cari sarangnya Kiam
Coa Siancu ?" tiba-tiba Kam Eng Kiam mengutarakan
pikirannya.
Ma Liong dan isterinya hanya memandang si jago tua, hanya
diam saja. Rupanya mereka satu pikiran. Memang sukar untuk
mencari sarangnya Kim Coa Siancu, manakala tidak
mendapat petunjuk dari orang-orang yang berdekatan dengan
Coa-kok.
Louw Bin Cie juga terdiam di tempat berdirinya.
Setelah semuanya membisu untuk beberapa lama, tiba-tiba
Louw Bin Cie berkata, "Mari ikut aku. Di sana ada orang yang
akan menolong kita."
Louw Bin Cie berkata sambil tangannya menunjuk ke
jurusandepan, nyamping ke kiri hingga kawan-kawannya
menjadi heran, "Memangnya siapa ada tinggal disana ?" tanya
Kam Eng Kim pada sahabatnya.
"Aku kira toako tentu kenal orangnya manakala sudah jumpa."
jawabnya.
Louw Bin Cie tidak menerangkan siapa adanya orang itu,
hanya ia terus memimpin orang-orangnya dengan jalan lebih
dahulu menuju ke arah yang barusan ia tunjuk sehingga Kam
Eng Kim sungkan untuk menanya lebih jauh.
Tidak lama mereka jalan, segera menemukan sebuah rumah
sederhana dikurung oleh pagar bambu sekitarnya. Mereka
sampai didekatnya, tiba-tiba dibikin kaget oleh anjing yang
menyalak. Gonggongan anjing itu keras dan galak. Rupanya
anjing jantan sebab kemudian disusul menyalaknya anjing lain
yang tidak begitu galak, anjing betina rupanya. Sebentar lagi
tampak muncul seorang wanita yang berusia pertengahan,
melihatnya, Louw Bin Cie menyapa, "Thio Jiso (enso kedua),
apa kau baik-baik saja ? Sungguh girang aku dapat melihat
kau lagi."
Wanita tadi memandang ke jurusan Louw Bin Cie, "Eh, kau
yang datang Louw-ji (si Louw kedua). Sungguh tidak disangkasangka."
kata si wanita seraya menghampiri pintu pekarangan,
berbareng mulutnya ramai melarang anjing-anjingnya
menyalak.
"Mari, mari masuk. Kau bawa banyak teman ?" kata si wanita
lagi seraya membuka pintu pekarangan, menyilahkan tamutamunya
masuk.
"Bagaimana, apa toako ada di rumah ?" tanya Louw Bin Cie
sambil terus berjalan mengikuti si Thio Jiso, nyonya rumah
rupanya.
Si wanita yang dipanggil Thio Jiso tidak menyahut, hanya
jalannya dipercepat dan masuk lebih dahulu ke dalam rumah.
Sebentar lagi tampak muncul lagi wanita lain. Lian Eng yang
melihat merasa bingung sebab wanita itu romannya hampir
sama dengan yang tadi, hanya sedikit tuaan. Tapi kalau dilihat
sepintas lalu, orang bisa keliru dan menyangka wanita yang
baru muncul itu yang tadi juga.
"Selamat datang, selamat datang !" menyambut si wanita yang
barusan muncul.
"Thio Toaso, bagaimana kau baik-baik saja ?" kata Louw Bin
Cie sambil angkat tangannya menyoja si nyonya dan diturut
oleh yang lain.
Lian Eng bingung Louw Bin Jie memanggil Jiso dan Toaso
(enso kedua dan kesatu). Apa tuan rumah punya dua isteri ?
Tanya hati kecilnya.
Lengkoan Giok-lie tak usah lama-lama menebak dalam
hatinya karena ia segera diperkenalkan kepada tuan rumah
dan dua wanita tadi.
Dan benar saja dua wanita itu adalah isterinya tuan rumah.
Mereka itu Sian Kin dan Sian Lian, orang she Kho, keduanya
adalah isteri dari Kim to Thio Tiat, si Golok Emas yang pada
10 tahun berselang terkenal namanya sebagai guru silat di
kota Hokciu (Hokkian). Sian Kin dan Sian Lin adalah sepasang
dara kembar dari puteri hartawan Kho di kota Hokciu yang
bersama-sama mencintai Thio Tiat gara-gara belajar silat. Thio
Tiat tidak memilih-milih lagi, ia sikat sekaligus kedua-duanya
menjadi istrinya. Matanya Thio Tiat benar-benar lihai sebab
dua isterinya memang benar isteri-isteri yang pantas
mendapat cinta sang suami.
Karena mereka betul-betul setia dan merawat suaminya
dengan baik. Satu sama lain bisa akur, tidak main iri-irian
seperti biasanya bila satu suami dengan dua istri bila dijadikan
satu (srumah) pasti cakar-cakaran. Tetapi mereka dapat hidup
dengan bahagia.
Belakangan Thio Tiat merasa bosan dengan penghidupan di
kota, maka ia sudah ajak dua istrinya menyepi di tempat
pegunungan, yang ditinggali sekarang, ialah dusun Cit-sengtin,
termasuk wilayah Coa-kok juga.
Thio Tiat dengan Louw Bin Cie adalah teman baik dari kecil.
Malah ketika si guru silat bercinta-cintaan dengan sepasang
dara kembar, ia tahu juga. Malah sering menggodai mereka.
Pada waktu itu ia sering mendapat pesanan Sian Kin dan Sian
Lin, bukannya suatu hadiah tapi pesanan cubit karena si dara
jengkel digodai. Thio Tiat hanya ketawa terbahak-bahak dapat
melihat Louw Bin Cie teraduh-aduh terima cubitan Sian Lin
yang lebih galak dari encinya.
Louw Bin Cie dipanggil Louw-ji karena masih ada engkonya
yang dipanggil Louwtoa (si Louw kesatu atau tua) yang
bernama Bin Gie, yang juga mengenali sepasang dara itu tapi
tidak suka bersenda gurau seperti Louw Bin Cie.
Demikian pertemuan antara Thio Tiat dan Louw Bin Cie,
sungguh-sungguh menggirangkan kedua pihak karena sejak si
orang she Thio menyepi di kampungnya situ, belum pernah
ketemu lagi dengan teman sepermainan di waktu masih kecil
itu.
Louw Bin Cie mengenalkan Kam Eng Kim dan lain-lainnya
pada Thio Tiat dimana Thio Tiat memberi sambutannya indah
dan sopan hingga menyenangkan para tamunya. Siang-tauwniauw
Kam Eng Kiam memang kenal dengan Thio Tiat tapi
hanya kenal nama saja. Begitu juga sebaliknya dengan Thio
Tiat. Tapi sekarang, begitu berani, kelihatan mereka cocok
dan dapat mengobrol banyak.
Demikian, dilain pihak Lian Eng pun dapat mengobrol dengan
gembira dengan dua nyonya rumahnya, yang ternyata suka
ngomong. Tidak hentinya dua nyonya rumah itu menghujani
Lian Eng dengan rupa-rupa pertanyaan tentang keadaan di
kota sekarang ini. Lengkoan Giok-lie tidak keberatan untuk
menceritakan perubahan-perubahan yang ia tahu sehingga
dua nyonya itu kelihatannya merasa senang.
Selama mereka bercakap-cakap, tak terasa cuaca mulai
gelap.
Dengan ramah tamah, tuan dan nyonya rumah mengundang
mereka untuk melewatkan sang malam dalam rumah itu saja.
Para tamu tidak melihat alasan untuk menolak. Apalagi urusan
yang penting hendak ditanyakan belum dilakukan. Maka itu
mereka dengan baik telah menerima undangan untuk
menginap dalam rumah Thio Tiat.
Nyonya rumah telah menyediakan hidangan sekedarnya tapi
cukup lezat dimakan oleh para tamu dan semuanya pada
mengatakan banyak terima kasih.
Pada mulanya, di waktu omong-omong dengan perlahanlahan
Louw Bin Cie timbulkan persoalan Kim Coa Siancu.
Waktu mendengar disebutnya Kim Coa Siancu, otomatis,
tampak wajah Thio Tiat dan dua istrinya menjadi pucat.
Tapi Thio Tiat dapat menguasai getaran jantungnya yang
kaget. "Sebaiknya jangan kita bicarakan soal itu." katanya,
perlahan suaranya.
Ma Liong tidak puas. Ia lantas ceritakan tentang diculiknya
Sian Bwee dan maksud mereka lewat di Cit-sen-tin adalah
hendak menyatroni sarangnya Kim Coa Siancu di Coa-kok.
Hanya menyesal sekali, tidak ada seorang yang dapat
memberi petunjuk yang jelas untuk pergi ke sana.
Mendengar itu, Thio Tiat saling pandang dengan kedua
istrinya.
"Urusan kalian memang hebat." kata Sian Lin tiba-tiba. "Dalam
hal lain mungkin kita dengan lantas dapat membantu tapi
dalam itu, maaf saja."
"Kenapa begitu ?" tanya Kam Eng Kim, tidak puas dia.
"Dalam wilayah di sini, ada satu pantangan untuk orang
menyebut apa-apa mengenai dirinya, apalagi petunjuk seperti
yang kalian ingini." berkata lagi Sian Lin, wajahnya sudah
pucat ketakutan.
Thio Tiat dan Sian Kin juga kelihatan gelisah.
"Hahaha !" terdengar Kam Eng Kim tertawa.
"Kalian tidak berani kasih tahu, kami juga tak berani lama-lama
tinggal disini. Nah, marilah kita pergi !" ia bangkit dari
duduknya mengajak kawan-kawannya berlalu dari rumah itu,
malam-malam itu juga.
"Ayah, kau jangan bawa adat yang bukan-bukan !" berkata
Lian Eng yang merasa jengkel dengan kelakuan sang ayah
yang tidak benar.
"Apa kau bilang ? Bukan-bukan ? Hmm !" tidakk senang ia
ditegur anaknya.
"Orang sudah begitu baik terhadap kita, masa dibalas dengan
kelakuan yang demikian tidak sopan ?" berkata lagi Lien Eng,
berani ia menyela ayahnya.
"Kau, kau, anak apa ! Tidak punya isi perut. Orang sudah
ketakutan masih mau ngotot lagi. Mereka boleh takut pada si
sundal Kim Coa Sian....." berbareng api lilin yang sengaja
dipasang dua batang telah menjadi padam.
"Hihihi....." kedengaran suara ketawa wanita di sebelah luar,
perlahan suara ketawa itu tapi menusuk ke telinga orang yang
ada disitu. Thio Tiat dan dua istrinya saling peluk ketakutan
sementara Ma Liong dan Liang Eng juga jeri hatinya, hanya
Louw Bin Cie yang besar hatinya. Dengan sekali lompat ia
sudah berada di luar pintu. Di sana si orang she Louw hanya
melihat seperti segulungan asap ketiup angin pergi, pergi tidak
kelihatan ditelan kegelapan sang malam.
Louw Bin Cie sebenarnya hendak mencegat larinya si wanita
yang ketawa tadi tapi sudah terlambat. Wanita itu sudah
lenyap seperti asap bergulung-gulung.
Si orang she Louw hanya bisa menghela napas dengan
mendongkol. Ketika ia masuk lagi ke dalam, api lilin
penerangan sudah dipasang lagi. Mendadak Lian Eng menjerit
melihat ayahnya sedang duduk menyender di kursi dengan
kedua matanya tertutup.
Waktu Thio Tiat dan dua istrinya mendekati, mereka menjadi
menggigil seperti yang merian, "Kim...... Kim..... Coa....
Sian.....cu.....!" kata-kata ini molor keluar dari bibirnya sian
Lin
seraya tangannya menunjuk pada jidatnya Kam Eng Kim
dimana terdapat goresan seperti gambar ular kecil tengah
meloget-loget jalan.
"Ayah, ayah........." Lian Eng bangkit dari duduknya hendak
menubruk ayahnya, tapi cepat dihalangi oleh Sian Lian hingga
mereka jadi berkutatan. Lian Eng berontak hendak
menghampiri ayahnya sedang Sian Lian bertahan
menghalanginya.
Segera Sian Kin sudah turun tangan juga, katanya, "Nona
Eng, kau dengar dulu omonganku. Sabar, satu sudah hilang,
masa harus yang lain menyusul ?"
Ma Liong dan Louw Bin Cie heran mendengar kata-kata Sian
Kin.
Sementara itu, Lian Eng juga sudah menjadi tenang. Tidak lagi
ia berontak untuk memeluk ayahnya yang sudah jadi mayat. Ia
ingin mendengar penjelasan Sian Kin, yang lalu berkata lagi,
"Nona Eng, kalau adikku barusan mencegah kau menubruk
ayahmu adalah demi keselamatanmu. Kam Lo-enghiong
setelah mendapat totokan maut dari Siancu, badannya
menjadi beracun. Kalau kena diraba, orang yang merabanya
akan ikut ia ke alam baka. Inilah yang dapat kuterangkan.
Harap kau tidak menjadi kecil hati. Sekarang paling baik kita
urus jenasah ayahmu baik-baik. Mau ditanam disini boleh saja,
mau di bawa pulang, itu terserah."
Lengkoan Giok-lie mendengar perkataan Sian Kin, berdiri bulu
kuduknya. Seram dia, hatinya berdebar keras, ketakutan.
Matanya saling pandang dengan suaminya.
Ma Liong ragu-ragu akan Sian Kin, maka ia tinggal membisu
saja, tak dapat ia memberi putusan. Sang istri paham dengan
sikapnya sang suami, maka dari takut ia juga menjadi raguragu
atas keterangannya Sian Kin.
Louw Bin Cie juga masih tidak percaya, masa sampai begitu
ampuh totokan si Dewi Ular Emas. Dapatkan ia menyimpan
bisa di dalam tubuhnya sang korban ?
Melihat sikap mereka, kuatir salah satu antaranya nanti nekad
mencoba-coba meraba mayatnya Kam Eng Kiam, maka si Jiso
(Sian Lin) berkata, "Kalian mungkin tidak percaya akan katakata
enciku. Nanti aku kasih bukti !" berbareng ia berlalu dari
situ masuk ke belakang. Tidak lama ia kembali dengan
membawa seekor anak anjing yang masih kecil hingga para
tamu menjadi heran.
"Nah, lihat, aku korbankan makhluk yang tidak berdosa !"
katanya berbareng ia pegang kepalanya si anjing kecil,
mukanya ditempelkam pada pipinya Kam Eng Kim, lalu
dilepaskan dengan cepat hingga si anak anjing jatuh di lantai.
Ia tidak berkuing-kuing lari mencari ibunya, sebaliknya, begitu
badannya menyentuh lantai, tampak ia berkelejetan seperti
makan racun layaknya. Sebentar kemudian terdengar suara
'Ngik' hanya sekali dan anjing kecil itu melayang jiwanya dan
tubuhnya sudah tak bergerak lagi.
Lian Eng lompat menubruk Ma Liong. Ia memeluk suaminya
dengan ketakutan bukan main.
Ma Liong pun tergetar hatinya, tapi tidak ketakutan seperti Lian
Eng.
Louw Bin Cie dilain pihak, tampak angguk-anggukkan
kepalanya. Hatinya cemas tercampur terharu. Ia cemas karena
gara-gara ia yang membawanya ke rumah Thio Tiat sehingga
Kam Eng Kim menemukan kematian konyol, terharu
kehilangan si Burung Kepada Dua yang tidak sedikit tahun
menjadi sahabatnya. Ia jadi berdiri menjublek.
Sekonyong-konyong Lian Eng melepaskan pelukan dari
suaminya lalu menghampiri Sian Lin, di dekapnya Lian Eng
jatuhkan diri berlutut sambil berkata, "Lin koukou, kau adalah
Injinku, terimalah hormatku dan aku mohon maaf atas
kelakuanku barusan yang tidak benar." air matanya tampak
bercucuran.
Koukou artinya bibi dan Injin (tuan penolong).
Melihat kelakuan Lengkoan Giok-lie, Sian Lin mengelus-elus
rambut si juwita dari kota Lengkoan, "Anak Eng. Kita orang
sendiri, tak usah banyak peradatan. Nah, bangunlah !" Sian
Lin menyilakan si nyonya muda bangun.
Mengingat nanti berabe diperjalanan kalau mayatnya Kam
Eng Kim di bawa pulang, maka atas kemauan Lin Eng sendiri,
mayat Kam Eng Kim dikubur di Cit-seng-tin. Mayat itu
dibungkus dengan kain tebal dan selimut supaya tubuhnya
yang beracun tidak sampai teraba oleh orang yang
menggotongnya ke dalam liang kubur. Lian Eng mengucurkan
banyak air mata, menyaksikan penguburan jenasah ayahnya
yang kesohor itu hanya disaksikan oleh ia sendiri, sang mantu
Ma Liong, sahabatnya Louw Bin Cie serta Thio Tiat dan dua
nyonya yang mulia hatinya. Coba kematian Siang-tauw-niauw
Kam Eng Kim kejadian di tempatnya sendiri, sudah tentu
banyak yang datang melayat dan penguburan dilakukan
dengan ramai sekali dengan diantar oleh banyak kawankawannya
dalam dunia Kangouw.
Setelah selesai membereskan penguburan jenasah ayahnya,
Lian Eng ajak kawan-kawannya untuk meneruskan perjalanan.
Kepada tuan rumah dan dua nyonya rumah, Lengkoan Giok-lie
mengucapkan banyak terima kasih. Malahan ia mau
tinggalkan uang untuk ongkos selama mereka tinggal disitu,
akan tetapi ditolak oleh tuan dan nyonya rumah yang manis
budi.
Dalam perjalanan, mereka mampir disebuah rumah makan An
Seng untuk melepaskan lelah dan mengisi perut. Mengingat
akan nasehat dua nyonya Thio Tiat bahwa ada pantangan
bagi orang-orang yang tinggal di wilayah dekat Lembah Ular
menyebutkan nama Kim Coa Siancu atau menyinggungnyinggung
soalnya, maka Lian Eng dan dua kawannya tak
berani dengan terang-terangan berbicara mengenai soal Kim
Coa Siancu lagi. Mereka kini tahu akan kelihaiannya si Dewi
Ular Emas.
Meskipun demikian, diam-diam Lian Eng ada mengandung
maksud bahwa suatu waktu ia mesti menemui Kim Coa Siancu
untuk menentukan siapa unggul. Tapi hal ini ia tidak dapat
lakukan sekarang. Pikirnya, ia akan belajar atau
memperdalam ilmu silatnya lagi, setelah mana ia baru akan
mencari Kim Coa Siancu yang telah menculik puterinya dan
membunuh ayahnya.
Dalam rumah makan itu mereka kasak kusuk untuk mengambil
keputusan, apakah perjalanan baik diteruskan atau baik
pulang saja. Louw Bin Cie tidak berkata apa-apa sebab ia
memang hanya sebagai pengantar saja. Putusannya sudah
tentu ada pada Ma Liong dan istrinya yang mempunyai
kepentingan dalam hal itu.
"Diteruskan juga percuma, kita hanya akan mengantarkan jiwa
saja." Ma Liong menyatakan pikirannya. "Sebaiknya kita
pulang saja dahulu untuk berdamai dengan orang-orang tua
dirumah, untuk meminta nasehatnya bagaimana kita harus
berbuat menghadapi musuh yang sangat tangguh."
Louw Bin Cie pikir, itulah jalan paling baik. Maka Lian Eng pun
tidak bisa membantah dan mereka sekarang telah putar
haluan untuk balik kembali saja.
Tidak jauh dari meja makan mereka, tampak ada 4 orang, juga
sedang makan dengan bernapsu. Mereka ketawa geli dalam
hati melihat satu diantaranya yang bermuka merah dan gendut
pendek, makannya sangat gembul. Beberapa kali telah
tambah nasi dalam mangkoknya tapi masih belum juga
kelihatan merasa kenyang.
"Tan-heng, aku kuatir perutmu nanti kembung seperti balon !"
kawannya bermuka putih menggodai si gendut yang makan
tanpa batas.
"Hahaha !" si gendut tertawa seraya letakkan mangkok dan
sumpitnya di meja, mulutnya masih penuh dengan nasi.
Setelah menelan habis nasi di mulutnya, ia meneruskan
berkata, "Perjalanan kita ke Coa-kok harus melewati banyak
tempat sepi. Maka aku harus bekal makanan dalam perutku
supaya tidak kelaparan di jalan. Hahaha !"
Si gendut tertawa seraya tepuk-tepuk perutnya.
Louw Bin Cie terkejut mendengar kata si gendut. Pikirnya,
kalau begitu 4 orang yang sedang makan itu bermaksud
hendak pergi ke lembah ular. Apa maksud mereka ke sana ?
Apa ada urusan yang sama dengan urusannya Ma Liong ?
Louw Bin Cie saling berpandangan dengan Ma Liong serta
istrinya.
Si Sepasang Pedang Dewa Louw Bin Cie ingin mencari tahu,
kalau benar mereka ada bertujuan sama, baik sekali kalau
diajak menjadi teman seperjalanan. Ketika ia mau bangkit dari
duduknya, tiba-tiba ia mendengar seorang lain yang memakai
kumis berkata pada si gemuk, "Tan-heng, jangan-jangan
belum sampai disana bekal dalam perutmu itu sudah
digerembengi orang............ Hehehe !"
Si gemuk ketawa, "Aku Tan Thiat Ga, datang kemari
mengantar dia, aku punya toako." berkata si gemuk seraya
menunjuk orang di depannya yang berperawakan jangkung.
"Kalau aku si orang she Tan tidak punya 'isi', mana berani
begitu gegabah mengantar orang ke tempat yang seram !"
Maksud si gemuk 'isi' itu artinya 'punya kepandaian silat'. Tapi
temannya, si kumis berlagak pilon dengan arti yang
sebenarnya, ia menggodai, katanya, "Tentu saja ada isi, ialah
isi perut. Hahahaha...."
Semua orang ketawa kecuali si jangkuk yang kelihatannya
sedari tadi bermuram durja saja. Thiat Gu rupanya seorang
yang jenaka diantara mereka, maka kawannya suka
menggodainya. Sebab kemudian dengan gayanya yang lucu
ia berkata lagi pada si kumis seraya mengusap-usap perutnya,
kepalanya nunduk memandang perutnya yang seperti balon
ditiup, katanya, "Lie-heng, isi ini penuh dengan lwekang
(tenaga dalam) yang dahsyat. Siapa berani raba isinya ? Hmm
! Jago-jago temanku, jungkir balik dengan iniku !" si gemuk
perlihatkan kepalannya. Lalu meneruskan, "Di sini aku mau
coba si dara jelita yang disohorkan berkepandaian sangat
tinggi !"
"Siapa itu dara jelita, Tan-heng ?" tanya si kumis seraya
menahan tertawa.
"Hehehe...." kepalanya mendongak. "Itulah Kim Coa Sian......
!"
Baru saja menyebut 'Kim Coa Sian...', belum 'cu'-nya
keucapkan, badan si gemuk tiba-tiba gemetaran dan jatuh ke
lantai bersama bangku yang didudukinya.
Semua orang kaget, apa lagi kawan-kawannya yang serentak
turun tangan menolong temannya yang diserang penyakit
ayan, pikir mereka.
"Hi hi hi..... !" terdengar suara ketawa wanita di sebelah luar.
-- 18 --
Suara ketawa itu tidak diperhatikan oleh kawan-kawannya Tiat
Gu yang sedang repot menolong si gemuk yang kelenger
dengan tiba-tiba itu. Tapi bagi Louw Bin Cie dengan kawankawannya,
tertawa wanita itu mereka kenal baik. Itulah Kim
Coa Siancu, berkata dalam hati masing-masing. Tidak berani
mereka mengucapkan dengan terang-terangan karena takut
mati konyol seperti Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim dan si
gemuk yang barusan mereka saksikan menemui ajalnya.
Louw Bin Cie hanya dapat berpandangan dengan dua
kawannya.
Sementara itu Tiat Gu yang digoyang-goyang lengannya tetap
tidak sadarkan diri. Si jangkung, toakonya si gemuk lalu ulur
tangannya meraba pipi dan dahinya sang kawan. Tiba-tiba ia
bergemetaran dan jatuh meloso di lantai. Berkelejatan
sebentar seperti anak anjing beberapa malam yang lalu Lian
Eng saksikan, lantas si jangkung tidak berkutik lagi.
Melihat si jangkung keracunan gara-gara meraba pipi si
gemuk, maka dua kawannya yang lain ketakutan, tidak berani
meraba tubuh sang kawan. Apalagi si kumis yang barusan
menggoyang-goyang lengan si gemuk, bukan main ia
ketakutan. Ia tidak apa-apa menggoyang-goyang lengan si
gemuk lantaran lengan si korban ketutupan lengan baju. Coba
bila tidak, pasti si kumis yang direnggut duluan jiwanya oleh
racun dahsyat dari Kim Coa Siancu. Keadaan waktu itu
menjadi panik, para tamu yang takut tentang hal itu sebentar
saja sudah padalari keluar kecuali tamu-tamu yang datang dari
luar tempat tidak mengerti akan kematiannya si gemuk dan si
jangkung. Penduduk disitu sudah lantas tahu bahwa si gemuk
mendapat hadiah 'Bu-im In-coa' atau 'Cap ular tanpa suara',
senjata rahasia Kim Coa Siancu yang menggemparkan.
Pada dahi si gemuk tampak goresan gambar ular yang sedang
melegot-legot jalan.
Entah macam apa bentuknya senjata rahasia dari Kim Coa
Siancu, tiada orang yang tahu. Orang-orang hanya tahu
korban-korban yang kena sasarannya akan gemetaran
sebentar dan kemudian lantas mati. Pada jidat si korban akan
diketemukan satu goresan gambar ular kecil yang jalan
melegot-legot. Berdasar inilah rupanya orang menamakan
senjata yang ampuh dari Kim Coa Siancu 'Bu-im In-coan' atau
'Cap ular tanpa suara'.
Si muka putih dan si kumis mengeluarkan banyak uang juga
untuk mengubur jenazah kedua kawannya karena mereka tak
dapat melakukannya sendiri tapi harus minta bantuannya
beberapa penduduk disitu yang sudah biasa menguburkan
korban-korban dari Kim Coa Siancu sehingga tidak sampai
keracunan.
Louw Bin Cie dan dua kawannya tidak menyaksikan
penguburan itu karena mereka sudah lantas melakukan
perjalanan pulang.
Meskipun sudah kawakan dalam dunia Kangouw, Louw Bin
Cie menyaksikan kejadian yang sehebat dilakukan Kim Coa
Siancu, diam-diam keberaniannya menjadi kecut untuk
menghadapi Kim Coa Siancu. Ia ingin buru-buru pulang untuk
berunding dengan kawan-kawannya yang lebih tua tentang
halnya Kim Coa Siancu.
Ketika matahari mendoyon ke sebelah barat, si Sepasang
Pedang Dewa Louw Bin Cie dan dua kawannya menjadi
kebingungan karena sudah kesasar jalan. Hari sudah
mendekati sore, bagaimana mereka nanti dapat tempat
pemondokan sebab disitu jalan-jalan yang dilewati boleh
dikata hanya hutan-hutan yang sepi saja.
Di depan sana, tiba-tiba Lian Eng nampak ada satu kebun
bunga.
Ia memang paling suka pada kembang-kembang, maka
seketika itu ia cepatkan jalannya meninggalkan kawankawannya.
Ia tidak mengira bahwa disana sudah ada seorang
gadis tengah memetik bunga-bungan yang indah seraya dari
mulutnya terdengar suara nyanyian yang amat merdu
kedengarannya.
"Hm, siapa anak dara ditengah-tengah hutan ini ?" Lian Eng
menanya pada dirinya sendiri seraya teruskan jalannya
mendekati si anak dara yang tengah asyik memetik bunga.
Lengkoan Giok-lie menggunakan ilmu entengi tubuh maka
juga si gadis jelita tadi tidak mengetahui kalau dirinya ada
yang dekati.
"Adik manis, kau sendirian saja memetik kembang ?" tiba-tiba
ia menegur si gadis yang kelihatan kaget dan hentikan
menyanyinya.
Ka[an ia menoleh pada Lengkoan Giok-lie, si Lengkoan Gioklie
menjadi sangat terperanjat hatinya. "Eh, kau, kau ada disini,
anak Bwe..." tiba-tiba mulutnya nyonya Ma tercetus ucapan
aneh.
Aneh untuk si gadis sebab ia tidak kenal sama wanita di
depannya.
"Siapa yang kau maksudkan dengan anak Bwee ?" ia lantas
menanya.
"Eh, apa kau bukan anak Bwee ?" Lengkoan Giok-lie
menegasi berbareng hatinya rada sangsi karena reaksi dari si
gadis di luar dugaannya.
Gadis itu geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan
Lengkoan Giok-lie.
Lian Eng menjadi penasaran, ia datang lebih dekat dan
mengawasi wajah gadis itu.
Ia lihat si gadis pengawakannya agak berubah, lebih jangkung
dan lebih botoh dari Sian Bwee anaknya satu setengah tahun
yang lalu. Pikirnya, perubahan itu wajar karena satu setengah
tahu ia tidak ketemu anaknya itu. Ibu mana sih yang tidak
mengenali anaknya, maka juga Lian Eng sudah berkata pula,
"Tidak salah, kau adalah Sian Bwee anakku. Kalau buka,
siapa ada orang tuamu, adik manis ?"
"Hihihi..... bibi ini lucu. Aku jadi anakmu, aku sudah keliru. Aku
bernama Cui Sian bukannya Sian Bwee !" si gadis
menyangkal seraya terus memetik bunganya, tidak
memperdulikan Lian ENg yang haus akan cintanya sang puteri
yang hilang !
Sementara itu Ma Liong, suaminya sudah datang mendekati
isterinya yang sedang terpaku, tercengang mendapat
perlakuan dari si gadis yang ia kira anaknya.
"Engko Liong, coba kau lihat siapa dia." kata Lian Eng ketika
mengetahui suaminya ada didepannya. "Eh, nona. Coba kau
lihat siapa ini." Lian Eng kata pada si gadis yang sedang
membelakangi mereka, asyik memetik bunga.
Si gadis menolah kepada mereka. Ma Liong terkesiap hatinya
nampak wajah si gadis tapi dia sangsi sebab gadis yang
dilihatnya ini pengawakannya lebih jangkung dan lebih botoh
dari anaknya Sian Bwee yang hilang.
"Adik Eng, anak ini mirip dengan anak kita." akhirnya ia
berkata juga.
Liang Eng tidak menyahuti kata-katanya sang suami tapi ia
gapaikan tangannya pada Louw Bin Cie yang berdiri sedikit
jauh dari mereka, si Sepasang Pedang Dewa dengan segera
lantas datang menghampiri.
"Louw susiok (paman), coba kau lihat, siapa gadis itu." kata
Lian Eng.
Louw Bin Cie memandang pada gadis yang asyik memetik
bunga, "Hei, nona, coba kau berpaling sebentar !" katanya
pada si gadis.
Si nona menoleh dan melemparkan senyuman manis.
"Ah, dialah Sian Bwee." kataya setelah melihat tegas roman
muka si gadis.
"Nah, bagaimana pendapatmu ?" Lian Eng menanya
suaminya.
Ma Liong juga memang menduga gadis itu adalah anaknya
hanya ia ragu-ragu karena perbedaan perawakan si gadis itu.
Mendengar perkataan sang isteri dan ucapan Louw Bin Cie,
mau tidak mau ia harus akui bahwa gadis di depannya itu ada
puterinya yang hilang. Maka ia lantas maju mendekati dan
berkata, "Anak Sian, apakah kau sudah lupa kepada ayah
bundamu ? Kau disini sendirian, mari kita pulang !"
"Hihihi...." si gadis ketawa empuk. "Pulang ? Pulang kemana ?
Aku tidak bisa meninggalkan suhu, lagian aku tidak kenal
kalian !" si gadis berbareng angkat kaki hendak meninggalkan
mereka.
"Tunggu !" kata Lian Eng, agak bengis suaranya.
Si gadis hentikan tindakannya. Ia agak kaget, wanita ini main
bentak, pikirnya.
"Kau mau apa ? Aku tidak ada urusan dengan kau. Kenapa
kau tetap juga mengaku aku sebagai anakmu ? Hihihi, adaada
saja."
Lian Eng dan dua kawannya seketika mempunyai satu
anggapan baha gadis di depannya ini memang Sian Bwee
adanya, cuma saja ingatannya sudah tidak waras, memungkiri
ayah bundanya sendiri. Maka mendengar kata-kata Cui Sian,
Louw Bin Cie saling pandang bertiga. Dengan satu tanda
kedipan dari Lian Eng, segera juga Ma Liong bergerak hendak
menangkap Cui Sian.
Pikrinya, dengan sekali jambret tangan Cui Sian sudah dapat
dicekal olehnya sebab dalam gerakannya ia gunakan tipu
'Sianjin hian chiu' atau 'Sang Dewa perlihatkan tangan', salah
satu jurus dari 'Liu su ciang hoat' (Ilmu pukulan pohon Liu)
yang menjadi kebanggaan dalam perguruannya.
Tangan kiri di dada untuk menjaga serangan membalik,
tangan kanan menyambar tangan si gadis. Ma Liong sangsi
kalau Cui Sian bukan puterinya dan pandai silat, maka ia
sudah gunakan tipu itu. Tapi sebaliknya sang isteri, Lian Eng
menganggap perbuatan sang suami itu terlalu kasar terhadap
anak sendiri.
Meskipun kelihatannya tidak berjaga-jaga, tangannya yang
halus terancam bakal kena dicekal Ma Liong, si gadis
waspada juga. Begitu tangan Ma Liong menyambar, segera ia
tarik sedikit tangannya sehingga sambaran tangan Ma Liong
hanya menangkap angin.
"Hihihi..." Cui Sian ketawa, seraya lari dari situ.
Ma Liong terbelalak matanya, Lian Eng terpaku ditempatnya
dan Louw Bin Cie manggut-manggut kepalanya. Kenapa ? Ma
Liong suami isteri dan Louw Bin Cie bukannya heran atas
kegesitannya si gadis, hanya mereka kenali Cui Sian
menyelamatkan tangannya dari sambaran Ma Liong adalah
jurus 'Thian lie kay tay' atau "Bidadari meloloskan sabuk'.
Suatu gerakan yang khusus untuk mengelakkan tipu 'Sian jin
hian ciu' dari ilmu silat 'Liu su ciang hoat'.
Dengan begitu, Cui Sian itu benar-benar adalah Sian Bwee,
puterinya yang hilang itu.
Lian Eng tidak sabaran setelah mendapat bukti ini, maka ia
sudah lompat menyusul sebelum Cui Sian pergi jauh, "Anak
Bwee, kau mau kemana ?" ia memanggil.
Cui Sian tidak meladeni, ia terus lari seperti yang ketakutan.
Tiba-tiba ia hentikan larinya dan kebingungan karena di
depannya sudah ada Ma Liong yang mencegat. Ia tidak
kekurangan akal, lantas ia belik ke kanan, lari menghampiri
sebuah pohon besar seraya berteriak-teriak minta tolong. Tapi
sebelum ia sampai ke pohon yang dituju, tiba-tiba muncul
Louw Bin Cie dari balik sebuah pohon yang terus mencekal
tangan si gadis sehingga tidak berkutik meskipun Cui Sian
berontak-rontak keras untuk melepaskan tangannya. Tidak
lama lagi, sudah sampai Ma Liong dan Lian Eng kesitu.
Lian Eng peluk Cui Sian seraya mengelus-elus rambutnya,
"Anak Bwee, kau benar-benar adalah puteriku yang hilang.
Apa kau tidak kenali aku, ibumu ?" berkata Lian Eng dengan
penuh kesayangan. Tapi si gadis terus berontak-rontak,
mulutnya ribut tidak mengakui Lian Eng dan Ma Liong sebagai
ayah ibunya, hingga suami isteri itu kewalahan.
"Mari kita bawa dengan paksa saja." Ma Liong mengusulkna.
"Nanti setelah di rumah, kita pikir bagaimana baiknya
mengobati pikirannya yang ngawur."
Louw Bin Cie setuju dengan usul itu.
Tiada ada lain jalan dari pada demikian, maka Lian Eng juga
jadi mufakat dan seketika itu juga, Ma Liong sudah gunakan
jarinya menotok jalan darah si gadis yang membuat ia tidak
berontak-rontak dan gampang diangkutnya. Tiba-tiba mereka
mendengar suara, "hihihi!". Suara ketawa wanita yang sangat
dikenal oleh mereka.
"Kim Coa Siancu..." ucap mereka dalam hati masing-masing.
Ma Liong dan Lian Eng tanpa disadari sudah menggigil
tubuhnya.
Louw Bin Cie masih dapat menahan getaran jantungnya, ia
tidak demikian jeri seperti Ma Liong suami isteri. Ia pasrah
kepada nasib apabila senjata rahasianya Kim Coa Siancu
ialah 'Buim In-coa' mengambil jiwanya seketika itu.
Mereka sudah pada memeramkan matanya untuk menerima
kematian.
Tapi lama ditunggu, kiranya tidak ada apa-apa yang
menakutkan sebab disana tidak jauh dari pohon besar tampak
seorang dara manis yang umurnya sebaya dengan Cui Sian
lagi ketawa-tawa manis ke arahnya.
Kapan Lian Eng perhatikan si dara manis yang sedang jalan
mendatangi, ia lihat, gadis itu benar-benar sangat cantik.
Terpesona ia oleh kecantikan gadis itu. Kecantikannya sendiri
yang sampai mendapat julukan Lengkoan Giok-lie atau si
Jelita dari kota Lengkoan, ia merasa belum menemui
tandingan, sekarang ia menjumpai nona di depannya sungguh
menakjubkan hatinya.
Dalam pakaian serba tipis yang menggiurkan, burungburungan
yang bergerak-gerak memain pada ikat kepalanya
yang pantas sekali, sungguh nona ini pantas menjadi satu ratu
yang dipuja dalam suatu negera. Demikian mempesonakan
wajahnya si dara manis, hingga Lian Eng tanpa merasa dari
bibirnya telah berkata, "Nona, kau sangat cantik....." tatkala si
dara manis sudah berhadapan dengan Lengkoan Giok-lie.
"Terima kasih atas pujianmu." suaranya ramah dan meresap di
hati.
Cui Sian sementara itu masih tetap dikuasai oleh Ma Liong
dan isterinya.
Ketika melihat yang datang itu lantas saja Cui Sian berkata,
"Siancu, mereka hendak membawa aku. Katanya aku adalah
anak mereka. Tolong Siancu supaya dapat mengusir mereka
yang mengganggu kesenangan kita !"
Lenkoan Giok-lie dan dua kawannya menjadi terkejut. Kiranya
dara manis itu adalah Kim Coa Siancu yang ditakuti bagaikan
hantu. Mereka kira tadinya Kim Coa Siancu itu adalah satu
wanita yang berwajah jelek menakuti dengan jari-jarinya yang
berkuku panjang-panjang runcing menyeramkan. Tidak
tahunya, ia hanya satu dara manis dari usia yang sebaya
dengan Sian Bwee dan cantik sekali.
Lian Eng memberanikan hati apalagi melihat Kim Coa Siancu
tidak ada apa-apanya yang harus ditakuti dan seram. Ia
berkata, "Mohon Siancu punya kemurahan supaya anakku ini
dikembalikan ingatannya dan mengenali ayah bundanya lagi."
Kim Coa Siancu tertawa manis. "Dari mana kau tahu CUi Sian
adalah puteri kalian ? Bagaimana kalian dapat mengenalinya
?" tanya Kim Coa Siancu.
"Aku yang menjadi ibunya, mana tak bisa mengenali anaknya.
Juga ayahnya dan Yayanya (dimaksudkan Louw Bin Cie) pasti
mengenalinya."
"Orang bisa saja keliru kecuali bila ada buktinya."
"Bukti apa yang Siancu maksudkan ?" menyela Ma Liong.
"Kalian mengatakan Cui Sian adalah anak kalian, tapi apa
buktinya ?" sahut si Dewi Ular Emas.
Lengkoan Giok-lie dan suaminya merenungkan apa yang
dimaksud oleh Kim Coa Siancu.
Akhirnya Lengkoan Giok-lie dapat tahu maksud si Dewi Ular
Emas, lalu katanya :"Aku dapat buktikan bahwa pada jidat
puteriku ada satu andeng-andeng kecil. Sepintas lalu memang
tidak kelihatan. Tapi kalau diperhatikan tampak nyata."
"Bagus." kata Kim Coa Siancu. "Coba kau unjukkan padaku,
dimana adanya andeng-andeng itu pada jidatnya Cui Sian.
Kalau benar ada, tentu Cui Sian adalah anak kalian."
"Baik !" sahut Lian Eng hampir berbareng dengan Ma Liong.
Lengkoan GIok-lie lantas pegang kepala Cui Sian dan
memeriksa. Bukan main girangnya sebab tanda yang
dimaksudkan itu memang ada diatas jidat Cui Sian.
"Siancu, ini dia...." kata Lengkoan Giok-lie seraya dengan
jarinya ia tekan andeng-andeng paa jidat si gadis.
Karena jidatnya kena disentuh, otomatis Cui Sian beringas
dan tangannya si wanita cantik dari kota Lengkoan kena digigit
seketika. Cui Sian berbareng berontak dan lari kepada Kim
Coa Siancu sambil ketawa hi hi hi....
Cui Sian merasa dirinya aman disampingnya Kim Coa Siancu.
Sementara Ma Liong dan Louw Bin Cie berdiri bengong
melihat kejadian itu. Kim Coa Siancu telah berkata, "Nah, lihat
buktinya !"
Apa yang dimaksudkan 'Nah, lihat buktinya' oleh Kim Coa
Siancu, Ma Liong dan Louw Bin Cie tidak paham tapi yang
terang bahwa dengan sekonyong-konyong setelah digigit Cui
Sian, Lengkoan Giok-lie telah tertawa Hi hi hi..., berbareng
gerakan kakinya lari pada Kim Coa Siancu.
Pikirannya Lengkoan Giok-lie sudah berubah sekarang,
berubah dalam alam pikiran untuk Kim Coa Sianculah adanya
suhunya dan pelindungnya. Ia sudah tidak mengenali Ma
Liong lagi sebagai suaminya, apalagi kepada Louw Bin Cie.
Ma Liong jadi kebingungan. Anak belum dapat ditarik pulang,
sekarang isterinya lagi ikut pihak sana. Dalam tertegunnya itu,
Ma Liong dengar kata-kata Louw Bin Cie, "Lekas tarik pulang
isterimu sebelum dikuasai orang !"
Ma Liong tiba-tiba menjadi nekad. Ia lompat dan menyambar
tangan isterinya. Tapi sang isteri berkelit seperti Cui Sian
barusan menggunakan gerak 'Bidadari loloskan sabuknya',
hingga Ma Liong menjadi sangat cemas.
"Adik Eng, ingat mari kita pulang !" kata Ma Liong seraya
kembali ia lakukan percobaannya untuk menjambret tangan
Lengkoan Giok-lie.
Lagi-lagi Ma Liong jambret angin, malah diluar dugaannya,
sang isteri telah menyerangnya dengan jurus yang sangat
berbahaya. Coba kalau ia tidak siap sedia dengan
kemungkinan itu, tentu kena dihajar oleh Lengkoan Giok-lie.
"Pulang ? Pulang kemana ? Aku tidak kenal dengan kau !"
bentak Lengkoan Giok-lie, sambil maju menyerang Ma Liong
lagi.
"Adik Eng, ingat, kau adalah istriku." kata Ma Liong sambil
menangkis serangan-serangan Lengkoan Giok-lie yang hebat.
"Susiok !" teriak Ma Liong. "Kau jangan diam saja, lekas bantu
aku !"
Mendengar teriakan Ma Liong, Louw Bin Cie seperti yang baru
tersadar dari tidurnya. Ia sudah lantas maju untuk bantu
menangkap Lengkoan Giok-lie.
Pertempuran menjadi seru. Lengkoan Giok-lie dikerubuti dua
orang yang kepandaiannya sudah terkenal dalam kalangan
Kangouw.
Kim Coa Siancu dan Cui Sian hanya menonton saja, tidak
begitu menaruh perhatian kelihatannya. Rupanya mereka
hanya menunggu bagaimana kesudahannya pertempuran
sengit itu.
Lengkoan Giok-lie tampak beringas menempur dua lawannya.
Karena kalah unggul, akhirnya Lian Eng menjadi kewalahan
dan kena disergap oleh Louw BIn Cie. Lengkoan Giok-lie
masih terus berontak-rontak.
Tidak enak Louw Bin Cie pikir, saat itu ia memeluki istri orang,
maka ia teriaki Ma Liong, "Lekas, lekas kau gantikan aku !"
Dengan cepat Ma Liong menggantikan yang masih terus
meronta-ronta, "Jahanam, kau tidak mau lepaskan nyonyamu
!" ia semprot Ma Long hingga sang suami jadi kebingungan.
"Adik Eng, kau toh ada istriku. Bagaimana kau maki aku
jahanam ?" kata Ma Liong sambil pererat pelukannya, kuatir
sang isteri terlepas lagi.
"Kau dua orang jahat, bagaimana mau menghina nyonyamu ?"
semprot Lian Eng, sepasang matanya beringas menakutkan.
Ma Liong hanya saling pandang dengan Louw Bin Cie.
Louw Bin Cie gerak-gerakkan tangannya, mengasih isyarat
pada Ma Liong. Si Macam Hitam Ma Liong mengira sang
paman menyuruh ia menotok jalan darah isterinya supaya
jangan ia berontak-rontak terus-terusan. Dalam keadaan
tertotok, meskipun pikirannya sudah berubah, Lengkoan Gioklie
mudah diangkut pulang.
Tapi bagaimana ? Dua tangannya dipakai memeluki Lian Eng.
Bagaimana mungkin dengan satu tangan ia bisa kuasai Lian
Eng sedang dengan satu tangan lain dapat menotok Lengkoan
Giok-lie ? Tapi ia tidak kekurangan akal rupanya, tangan
kanannya yang memeluk Lian Eng digeser pindah ke atas,
maksudnya hendak menotok 'tee-hiat' (jalan darah dibawah
tetek) tapi justru tiba-tiba Lian Eng berontak, jari yang hendak
menotok 'tee-hiat' tadi, sesudah menyentuh buah dadanya
Lengkoan Giok-lie, otomatis si cantik dari kota Lengkoan itu
menggigit lengan Ma Liong hingga Ma Liong jadi kesakitan
dan berbareng dengan Lengkoan GIok-lie yang terlepas dari
pelukannya, ia lari menghampiri Kim Coa Siancu seraya
ketawa hihihi !
Tampak Ma Liong berdiri kesakitan digigit Lengkoan Giok-lie
tadi.
"Liong-jie, kau kenapa ?" tanya Louw Bin Cie seraya
menghampiri pada Ma Liong.
"Siapa kau ?" bentak Ma Liong tiba-tiba hingga Louw Bin Cie
sangat kaget.
"Aku adalah kau punya susiok." sahut Louw Bin ie terang.
"Susiok ? Siapa susiok ?" kata Ma Liong, matanya beringas.
Louw Bin Cie mengerti bahwa Ma Liong juga sudah ketularan
berubah pikirannya seperti istrinya tadi. Tapi toh ia mau coba
juga, katanya, "Liong-jie, ingat ! Kau kena dikerjai orang. Ingat,
lekas ingat !"
Ma Liong bukannya mengingatkan malah ia jadi marah pada
Louw Bin Cie. "Pergi kau ! Aku tidak kenal denganmu !"
bentaknya kasar. Berbareng ia juga sudah jalan menghampiri
Kim Coa Siancu yang memandang Louw Bin Cie dengan
senyuman manis mempesonakan.
"Bagaimana, paman ?" tanyanya pada Louw Bin Cie.
Louw Bin Cie jadi serba salah. Ia mau marah salah, tidak
marah memang ia tahu sudah dipermainkan oleh Kim Coa
Siancu. Perlahan dari jeri hatinya menjadi nekad. Pikirnya, ia
tempo hari meninggalkan kampung halaman dengan empat
orang, masa sekarang ia harus pulang dengan sendirian.
"Siancu." katanya dengan hati mantap setelah ia berhadapan
dengan Kim Coa Siancu yang tatkala itu sudah hendak berlalu
meninggalkan tempat itu, diiringi oleh Cui Sian, Ma Liong
dengan istrinya, "Kau adalah satu Dewi yang sangat dipuja.
Tidak seharusnya kau berlaku kejam...."
"Aku kejam apa ?" memotong Kim Coa Siancu.
"Setelah merampas anaknya, masa sekarang kau mau kuasai
juga ayah bundanya ? Itu suatu perbuatan yang tidak betul,
masuk hitungan kejam." berkata si orang she Louw berani.
"Orang she Louw," Kim Coa Siancu ketawa manis. "Kalau aku
tidak pandang kau orang baik yang belum pernah berbuat
kejahatan, siang-siang aku sudah ambil jiwamu." kata si Dewi
Ular Emas.
"Bagus." sahut Louw Bin Cie. "Kau sudah menghargai aku,
tapi aku juga tidak akan angkat kaki dari sini sebelum aku adu
jiwa dengan kau."
Berbareng dengan kata-katanya, Louw Bin Cie sudah
mencabut dua belah pedangnya.
Pikirnya, ia kesohor kepanaiannya dengan sepasang
pedangnya yang aneh, belum pernah dipecundangi musuh,
masa menghadapi satu gadis cilik saja ia mesti terima takluk
sebelum bertempur ? Sungguh hatinya yan berani tidak mau
terima.
"Siancu." katanya lagi. "Dengan sepasang pedangku ini, akan
aku adu jiwa denganmu. Mari, marilah kita menetapkan siapa
unggul !"
Kim Coa Siancu yang sedari tadi menonton saja laga lagunya
Louw Bin Cie yang sudah nekad, tiba-tiba ia tertawa. Suaranya
kali ini melengking menusuk telinga hingga Louw Bin Cie kalau
tidak merasa malu, saat itu ia sudah kepingin angkat
tangannya untuk menutupi kupingnya yang sakit seperti
ditusuk-tusuk.
Setelah berhenti tertawa, Kim Coa Siancu memandang Louw
Bin Cie.
"Kau mau berkelahi ?" tanyanya halus, bukan satu bentakan.
"Ya !" sahut Louw Bin Cie singkat.
"Sudah siap ?" Kim Coa Siancu menggoda.
"Sudah siap ?" Kim Coa Siancu menggoda.
"Ya !" sahut Louw Bin Cie gemas. Berbareng ia mulai
menyerang, tidak menanti Kim Coa Siancu bersiap-siap
dahulu. Pikirnya, dengan secara tidak menduga-duga
serangannya akan berhasil. Tapi ia tidak mengira bahwa Kim
Coa Siancu tidak boleh dipandang enteng.
Demikian ketika sepasang pedangnya menusuk berbareng ke
arah dada, tiba-tiba tangan kiri Louw CIn Bie kesemutan dan
pedang jatuh dengan sendirinya. Saat itu Louw Bin Cie hanya
lihat Kim Coa Siancu bergerak sedikit tangannya, berkelebat
menyentil jalan darah pada nadi tangan kirinya.
Louw Bin Cie bukan jago kampungan, sentilah Kim Coa
Siancu pada nadinya hanya membuat jatuh satu pedangnya
tidak sampai membuat ia jatuh terkulai oleh pengaruh totokan.
"Boleh juga, ya !" berkata Kim COa Siancu seraya berkelit dari
serangan susulan Louw Bin Cie yang hebat sebab si orang
she Louw sudah menggunakan tipu yang sukar dielakan yang
dinamai 'Beng goat Kiam eng' atau 'Bayangan pedang
diterang bulan'. Ujung pedang seperti menusuk dada tapi
sebenarnya yang diarah adalah 'jalanan nasi' (tenggorokan).
Cepat laksana kilat gerakan ini dilakukan, maklumlah Louw
Bin Cie adalah jago pedang maka julukannya juga 'Sian-jin
Siang-kiam', si Sepasang Pedang Dewa.
Tapi.... terbelalak sepasang matanya si Sepasang Pedang
Dewa ketika melihat ujung pedangnya bukan menusuk
tenggorokan tapi nancap diantara dua jari mungil si Dewi Ular
Emas, wajahnya si elok bersenyum manis ke arahnya.
Louw Bin Cie kerahkan tenaga dalamnya untuk menarik
pulang pedangnya yang dijepit dua jarinya Kim Coa Siancu
tapi meskipun ia berdegingan, tidak dapat ia tarik lolos dari
jepitan jari lawan. Kaget si Sepasang Pedang Dewa, peluh
bercucuan di seluruh tubuhnya.
"Mari, kita jangan terlalu lama main-main !" berkata Kim Coa
Siancu berbareng terdengar suara 'pletak !'. Itu adalah suara
patahnya pedang Louw Bin Cie hingga si jago pedang hanya
memegangi pedang buntung di tangannya sambil berdiri
menjublek, tidak tahu apa yang ia harus berbuat saking
kagetnya.
Pedang Louw Bin Cie bukan sembarangan pedang. Dibuat
dari baja pilihan, meskipun pendek, bobotnya berat juga.
Bukan sedikit menemui senjata lawan yang lebih besar dan
berat, pedangnya dapat memapas kuntung. Tapi sekarang,
sekarang ditangannya Kim Coa Siancu hanya ujungnya saja
dijepit oleh dua jarinya yang halus mungil, sekali dikutik,
pedang sudah patah persis pada tengah-tengahnya.
SAmpai dimana tenaga alam Kim Coa Sianvu, benar-benar
susah diukur.
Oleh karenanya si Sepasang Pedang Dewa menjadi
menjublek, tidak tahu apa yang ia harus bikin saat itu.
Kepalanya nunduk dengan perasaan kagum.
"Hi hi hi !" suara ketawa yang membuat si Sepasang Pedang
Dewa tersadar dari kekagetannya. Cepat ia angkat mukanya,
kiranya suara ketawa itu sudah berada di tempat jauh. Kim
Coa Siancu sudah tidak ada pula disitu, berbareng Cui Sian
alias Sian Bwee dengan ayah bundanya sekali, sudah tidak
kelihatan mata hidungnya. Louw Bin Cie hanya bisa menghela
napas beberapa kali dengan putus harapan.
Ia lalu membongkoki badannya, memungut pedangnya yang
jatuh tadi.
Perlahan-lahan ia bertindak meninggalkan tempat itu dengan
penuh teka teki akan kelihaian Kim Coa Siancu yang muda
belia dan cantik luar biasa.
Beberapa lie ia jalan tanpa merasa, tiba-tiba ia melihat jauh di
depan seperti ada dua orang sedang meneduh di bawah
pohon, yang satu tengah berdiri, yang lainnya tengah duduk,
dua-dua kelihatan menyandar pada batang pohon. Louw Bin
Cie kegirangan akan menemui dua orang ditempat yang sepi
itu. Pikirnya, dapatkah mereka ia buat teman kongkouw
(ngomong) dalam perjalanan.
Ia cepatkan jalannya. Beberapa tindak lagi mendekati dua
orang itu, ia lantas hendak membuka mulut menyapa tapi katakatanya
urung meluncur dari bibirnya karena matanya tiba-tiba
jadi terbelalak kaget. Kiranya orang-orang yang menyandar itu
bukan seperti biasanya menyandar melepaskan lelah,
keduanya tertusuk dengan pedang. Yang menyandar sambil
berdiri adalah seorang yang masih muda, dadanya tertusuk
pedang hingga menembus ke batang pohon, sementara yang
satunya lagi adalah wanita muda, lehernya disate pedang
menembus pohon.
Mata keduanya melotot gusar seakan-akan kematian mereka
itu penasaran. Meskipun si Sepasang Pedang Dewa banyak
pengalamannya bertempur, kematian-kematian seperti yang ia
saksikan sekarang adalah wajar. Tapi mengingat bahwa
kematian mereka ini bukan dari perkelahian tapi akibat
keganasan Kim Coa Siancu, membuat hatinya tergetar setelah
melihat tanda goresan Cap Ular Kecil yang berlegot-legot jalan
pada jidatnya si korban masing-masing. Suatu tanda cap yang
menakutkan bagi siapa yang melihatnya.
Siapakah korban-korban itu ? Louw Bin Cie tidak berani
memeriksa kantong baju mereka, untuk mendapatkan
petunjuk siapa sebenarnya mereka itu. Ia takut akan
keracunan dan menemui kematian konyol.
Kembali Louw Bin Cie melihat lagi akan sepak terjangnya Kim
Coa Siancu.
Sebenarnya menurut hatinya yang tidak tega, Louw Bin Cie
ingin gulung tangan baju bantu mengubur dua mayat itu tapi
mengingat bahanyanya racun Kim Coa Siancu. Ia urungkan
niatnya, ia lalu meneruskan perjalanannya sambil menghela
napas. Baru kali ini si Sepasang Pedang Dewa banyak
keluarkan elahan napas dalam perjalanan. Biasanya ia paling
gembira dan nyalinya besar, meskipun dalam perjalanan
menempuh bahaya.
Belum berapa lama Louw Bin Cie berjalan, kembali ia
menemukan sesosok tubuh yang sedang celentang. Ketika ia
datang mendekati, kaget bukan main sebab orang itu adalah si
muka putih, temannya si gemuk yang tampak sudah jadi
mayat dengan tanda goresan Cap Ular pada jidatnya.
Kemana perginya si kumisan, temannya si gemuk yang
satunya lagi ? Demikian tanya Louw Bin Cie dalam hati
kecilnya.
Louw Bin Cie makin jeri hatinya. Tak ada tempo ia untuk
memeriksa tubuh si muka putih yang sudah jadi mayat, ia
lantas teruskan perjalanannya. Ingin cepat-cepat ia sampai di
rumah untuk mendongeng kepada kawan-kawan halnya si
Dewi Ular Emas yang hebat dan menggemparkan sepak
terjangnya.
Pikirnya, yang penting ia harus lekas-lekas keluar dari daerah
berbahaya yang termasuk wilayah Coa-kok supaya jangan
sampai menemukan kematian konyol.
Akhirnya ia sampai juga di Tong-pek-cun, satu dusun yang
ramai dan banyak penduduknya, terletak di luar wilayah
berbahaya dari Lembah Ular. Hatinya Louw Bin Cie baru
merasa lega. Ia mamir pada sebuah rumah makan 'Ce-lamtiam'
yang kesohor dengan arak wanginya. Banyak orang dari
lain tempat datang, kebanyakan pada masuk dalam rumah
makan itu. Maka tidak heran kalau sabah hari rumah makan itu
penuh dengan tamu-tamu, kalau tidak dari luar dudun, tentu
yang datang makan dari dalam dusun itu sendiri.
Sedang enaknya Louw Bin Cie mencicipi makanan lezat dan
arak wangi sebagai pengantarnya, tiba-tiba matanya melihat
pada seorang tamu yang barusan masuk. Ia kenali itulah si
kumis teman si gemuk. Ia ingin dapat beromong-omong
dengan si kumis, mengerti teman-temannya yang telah gugur
dan maksud mereka ke Lembah Ular.
Dengan cara kebetulan, si kumis kehabisan tempat dan
datang makan satu meja dengan Louw Bin Cie. Mereka lalu
berkenalan, sementara menunggu hidangan si kumis yang
perawakan kecil kurusm memperkenalkan namanya Tiong Kiat
she Lie asalah dari propinsi Kwitang.
Louw Bin Cie terkejut. Pikirnya, apa bukan dianya ? Lantas ia
menanya, "Lie-heng ini bukannya Kengcu Kim-kauw cian yang
menggemparkan Kwitang ?"
Kengcu Kim-kauw-cian artinya 'Si Gunting Emas dari kota
Kengcu'.
"Ah, itu hanyalah nama kosong saja." sahut Lie Tiong Kiat
merendah. "Aku sendiri tidak punya kepandaian apa-apa tapi
teman-teman Kangouw main sembarangan memberi julukan
'si Gunting Emas', sungguh berkelebihan."
Louw Bin Cie terkejut mendengar namanya Lie Tiong Kiat
yang bergelar di Gunting Emas, lantaran mendengar sepak
terjangnya si Gunting Emas yang hebat dan pantas dapat
pujian. Ia menindas si jahat menolong si lemah. Di samping
ilmu silatnya tinggi, tubuhnya enteng seperti jatuhnya
selembar daun kalau ia lompat dari atas menginjak tanah,
tidak ada suaranya. Lompat tingginya melebihi kepandaian
jago-jago silat kelas satu, khusus ia namakan ilmu entengi
tubuhnya itu 'Kim cian coan in' atau 'Panah emas tembusi
mega'.
"Sepantasnyalah kalau orang memberikan julukan kau
demikian." kata Louw Bin Cie seraya manggut-manggut
kepalanya, air mukanya tersenyum ramah.
"Nama saudara Louw juga sangat santar terdengar di
telingaku. Maka aku girang sekali dapat berkenalan dengan
saudara." si Gunting Emas balas memuji.
(Bersambung)
Jilid 07
Letak meja mereka makan di satu pojokan, agak jauh dari
meja tamu lain. Maka dengan leluasa mereka dapat
membicarakan soal-soal yang rahasia, asal tidak keras-keras
bicaranya. Demikian, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh
Louw Bin Cie untuk menanyakan halnya si Gunting Emas
datang ke Lembah Ular.
Lie Tiong Kiat kaget Louw Bin Cie timbulkan soal Kim Coa
Siancu.
Mengingat ia sudah berada di luar wilayah Lembah Ular, tidak
ada halangan untuk berbicara dengan Louw Bin Cie mengenai
halnya Kim Coa Siancu. Ia menanya, "Dari mana saudara tahu
halnya aku ke Coa-kok ?"
"Ketika kawan saudara yang gemuk itu menemui ajalnya, aku
juga beserta kawan-kawan berada di sana menyaksikan."
sahut Louw Bin Cie.
"Louw-heng kata bersama-sama kawan, sekarang kawankawanmu
ada dimana ?" tanya Lie Tiong Kiat. Ia heran Louw
Bin Cie hanya sendirian tapi menyebutkan ada kawankawannya.
"Lie-heng jangan kaget." sahut Louw bin Cie. "Seperti dengan
kau, aku juga sudah kehilangan kawan-kawan dalam
perjalanan."
"Juga dibunuh Kim Coa Siancu ?' tanya Lie Tiong Kiat.
"Satu yang di bunuh, sedang yang lain pada mengikuti si Dewi
Ular Emas."
"He, bagaimana bisa begitu ?"
Louw Bin Cie menghela napas. Lalu ia ceritakan terbunuhnya
Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim, pertemuannya dengan Cui
Sian yang dikenali Lengkoan Giok-lie dan Ma Liong sebagai
puterinya yang hilang diculik. Kemudian muncul Kim Coa
Siancu, Lengkoan Giok-lie digigit Cui Sian dan ingatannya
menjadi berubah dan lalu menggigit Ma Liong sehingga
suaminya ini pun menjadi berubah pikirannya dan mengikuti si
Dewi Ular Emas dengan kesukaan sendiri. Kemudian ia
sendiri maju, nekad untuk menempur Kim Coa Siancu tapi
kesudahannya dipecundangi dengan cara yang memalukan
sekali.
Si Gunting Emas Lie Tiong Kiat manggut-manggut, kemudian
terdengar ia menghela napas.
Atas permintaan Louw Bin Cie, si Gunting Emas lalu
menuturkan riwayat perjalanannya ke Lembah Ular yang ia
tidak sangka-sangka akan berbahaya sekali.
Pada suatu malam gelap dan hujan turun dengan rintik-rintik.
Keadaannya sunyi senyap dan hawanya dingin membuat
orang tidur nyenyak berselimut tebal.
Pada saat itu, Tan Eng Sian (si jangkung teman si gemuk)
barusan saja pulang dari rumah kawannya yang tinggal di luar
kota Hokcu dimana ia menginap dua malam untuk memberi
pertolongan kepada anak temannya yang dapat sakit.
Tan Eng Siang selainnya terkenal pandai silat, juga pandai
obat-obatan. Maka tidak jarang ia mendapat undangan
sahabat atau kenalan yang anggota keluarganya dalam sakit
untuk diminta pertolongannya.
Tatkala ia samapi di halaman rumahnya, tiba-tiba ia dibikin
kaget oleh berkelebatnya bayangan keluar dari jendela
rumahnya. Ia tidak tahu bayangan siapa yang merupakan
asap menghilang ditelan kegelapan, yang terang ia
mendengar suara seram, "Hihihi..." sehingga ia kaget dan
menduga bayangan tadi manusia yang masuk ke dalam
rumahnya.
Tan Eng Sian tergopoh-gopoh menggedor pintu yang segera
dibukai oleh seorang pelayan laki-laki tau yang sudah
bongkok.
"Siapa yang masuk barusan ?" tanya Eng Sian cepat.
"Tidak ada yang masuk kemari," sahut si kakek bongkok.
Eng Sian tidak sempat memajukan pertanyaan lebih jauh
karena hatinya penuh dengan kekuatiran rupanya sebab
sikapnya amat gugup.
Cepat ia pergi ke kamarnya. Ternyata kamar dikunci dari
sebelah dalam. Ia heran sebab tidak biasanya sang istri tidur
dengan pintu kamar terkunci. Sebab menurut kata istrinya
sebaiknya pintu kamar jangan dikunci, kalau ada apa-apa
gampang keluarnya. Ini ada alasan yang janggal tapi karena ia
sangat mencintai istrinya ialah istri kedua yang baru dua tahun
ia nikah, karena istri pertamanya meninggal dunia pada lima
tahun berselang, ia tidak keberatan dengan usulnya itu.
Tapi kenyataannya sekarang dikunci dari sebelah dalam ?
Kenapa ? Ah, tentu perbuatan orang jahat yang merupakan
bayangan tadi, pikirnya. Dalam keadaan mendesak, diliputi
oleh kekuatiran, tidak ada jalan lain Tan Eng Sian mendobrak
pintu kamar dengan paksa karena sang isteri yang dipanggilpanggil
beberapa lamanya belum juga membuka pintu
kamarnya.
Waktu sang pintu sudah terpentang, sekali lompat Tan Eng
Sian sudah berada di dalam kamar. Matanya terbelalak ketika
ia melihat ke atas pembaringannya. Ia tampak berdiri
menjublek dengan wajah gusar, matanya tidak berkedip
memandang ke arah pembaringan dimana isterinya tampak
rebah celentang dalam pakaian hawa (telanjang) sedang di
sisinya ada seorang lelaki yang memeluk sang isteri dalam
pakaian adam. Adegan dua orang telanjang bulat inilah yang
membuat Tan Eng Sian berdiri menjublek dengan mata
terbelalak.
Dari sangat gusar, Eng Sian menjadi heran sebab dua
manusia yang main-main pat-pat gulipat itu tidak bergerak,
apalagi lompat ketakutan dan pakai pakaiannya kembali.
Ketika Tan Eng Sian mendekati dengan kegusaran yang
meluap-luap, ternyata dua manusia mesum itu sudah tidak
ada napasnya. Jiwanya telah melayang, entah sejak kapan.
Cepat Tan Eng Sian periksa, ternyata mereka tidak terluka
apa-apa.
Kapan diselidiki lebih tegas, kiranya mereka itu telah ditotok
urat kematiannya dalam keadaan telanjang bulat seperti yang
dihadapi ia sekarang.
Saking gemasnya tiba-tiba tangan Tan Eng Sian menyambar
saling susul dan dua manusia mesum itu dilain saat tubuhnya
sudah pada pindah ke lantai, sedikitpun tidak mengeluarkan
kesakitan meskipun terbanting keras karena memang dua
manusia menjijikan itu sudah tidak bernapas lagi.
Eng Sian lalu keluar, ia berteriak memanggil si bongkok.
Meskipun suaranya keras dan diulang-ulang, tidak kelihatan si
bongkok datang menghampiri.
"Kemana si bongkok perginya, apa dia sudah mampus ?"
berkata Tan Eng Sian dalam marahnya seraya kakinya
bertindak ke kamar si bongkok. Di situ tidak ada orangnya,
makin meluap amarahya Tan Eng Sian. Ia pergi ke belakang
berteriak-teriak memanggil pelayan-pelayannya yang lain tidak
ada kelihatan muncul satu juga.
Si kakek bongkok itu Eng Sian belum jelas benar asal usulnya.
Ia menemukan si bongkok di halaman kuil 'Malaikat Bumi',
ketika ia mengantar Loan Giok, isterinya sembahyang
membayar kaul penyakitnya supaya sembuh. Si bongkok
dengan roman yang mengharukan soja-soja minta pekerjaan
pada Eng Sian suami isteri untuk pekerjaan apa saja ia mau
terima asal dapat makan katanya.
Atas usulnya Loan Giok yang merasa kasihan pada si kakek
bongkok, ia telah diterima bekerja untuk membikin bersih
kebun di pekarangan sebab kebetulan tukan kebunnya Eng
Sian berhenti pada dua hari yang lalu.
Melihat kecerdikannya si kakek bongkok setelah satu minggu
tinggal pada keluarga Tan Eng Sian sudah percayakan
padanya untuk menjaga pintu di waktu malam sebab Eng Sian
sering bepergian. Tuan rumah puas dengan pekerjaan si
bongkok, ia sangat cekatan dan gesit. Kalau Eng Sian pulang
malam, menggedor rumahnya tidak sampai diulangi berkalikali,
si bongkok sudah lantas membukainya.
Sudah jangka dua minggu si bongkok bekerja pada Tan Eng
Sian.
Melihat bujang-bujangnya tidak muncul, si bongkok juga
kemana tahu, Eng Sian lari masuk lagi, menghampiri satu
pojokan dalam ruangan tengah rumahnya dimana terdapat
sebuah lemari cukup besar dan berta, tapi untuk Eng Sian
tidak menjadi halangan, ketika ia menggeser lemari itu
kelihatan enteng dapat dikisarkan.
Terkejut Eng Sian seketika, mukanya tampak pucat melihat
lubang rahasia tempat menyimpan hartanya sudah dibongkar
orang. Tiada seorang yang tahu tempat menyimpan harta itu
dibawahnya lemari kecuali Loan GIok isterinya. Maka itu,
lantas saja ia mencurigai isterinya. Tapi bagaimana ia
menegur dan tanya Loan Giok karena sang isteri sudah tidak
bernyawa lagi ?
Sejak ia masuk ke dalam rumah tadi, yang ia kuatir adalah
lubang rahasia itu karena di dalamnya ada tersimpan satu
kalung lehe dari batu giok (kumala) tertabur berlian yang ia
dapat miliki dari Gouw Tiang Su saudara angkatnya dengan
mempertaruhkan jiwanya.
Gouw Tiang Su adalah satu maling terbang yang licin, entah
dari mana ia dapat menyikat kalung kumala sangat berharga
itu. Ketika ia memperlihatkan hasilnya itu kepada Tan Eng
Sian, lantas timbul dalam hatinya si orang she Tan yang
serakah untuk memiliki barang-barang berharga. Ketika
diminta, malah mau dibeli dengan uang, barang itu tak
diberikan oleh Gouw Tiang Su, maka Eng Sian terpaksa
menggunakan kekerasan untuk memilikinya. Dalam
perkelahian yang sangat seru, Eng Sian hampir celaka kalau
tidak ada orang ketiga yang datang menyela. Ialah seorang
muda dari usia tiga puluhan, mukanya tampan, namanya Coan
Sim, she Tan sama dengan Eng Sian yang telah bantu
mengerubuti Gouw Tiang Su hingga ia kewalahan dan
akhirnya ia menyerah, barangnya dirampas oleh Tan Eng
Sian.
Karena kejadian itu maka Coan Sim sering-sering suka datang
bertamu ke rumah Eng Sian yang disambut dengan manis
budi dan ramah oleh tuan dan nyonya rumah.
Loan Giok ketika ikut Tan Eng Sian sudah janda, ditinggal mati
oleh suaminya yang menjadi sahabar Eng Sian. Ia ambil Loan
Giok terdorong oleh perasaan kasihan. Tatkala mana usia
Loan Giok bukan muda lagi, sudah 45, lebih tua 4 tahun dari
Eng Sian. Tapi lantaran Loan Giok bisa merawat diri,
wajahnya tetap segar seperti juga wanita yang baru berusia
30an.
Wajahnya yang hitam manis botoh, kalau tertawa memincuk
jantung membuat Eng Sian yang sudah lama bujangan, tidak
punya pilihan lain selain mengambil Loan Giok sebagai istrinya
untuk menyambung kebahagiaan sampai di hari tuanya.
Memang benar Loan Giok ada seorang istri yang baik, tidak
genit dan mencintai suaminya hingga selama itu Eng Sian
merasa puas dengan pelayanan Loan Giok.
Kebahagiaan yang diharap sampai tua oleh Eng Sian suami
isteri ternyata tak dapat terlaksana. Manusia boleh
mengharap, tapi guratan nasib tak dapat dielakkan.
Demikian awan mendung telah muncul memayungi keluarga
Tan ialah dengan munculnya Coan Sim, bintang penolong Eng
Sian ketika menghadapi Gouw Tiang Su.
Coan Sim tampan wajahnya, tapi hatinya busuk. Tukang
mempermainkan anak isteri orang degnan ketampanannya
sebagai modal. Ia tidak punya pekerjaan, sehari-harinya hanya
luntang lantung saja. Kalau ia bisa berlaku royal dalam
hidupnya yang workloss itu karena berkat dari tante girang
yang membantunya.
Pada sore itu dimana Tan Eng Sian sedang keluar, Coan Sim
dapat kesempatan ngobrol dengan Loan Giok. Nyonya untuk
rumah pandang Coan Sim adalah pemuda sopan santun.
Memang demikian ia membawa kelakuannya di depan Tan
Eng Sian dan Loan Giok apabila sedang omong-omong. Maka
Loan Giok tidak berkeberatan menemani Coan Sim
mengobrol, malah si pemuda dapat suguhan hidangan enak
berupa kue-kue dan teh hangat sebagai kawan dalam
menikmati pasang omong.
Dalam omong-omong, bukan sekali dua kali mereka beradu
pandangan hingga Loan Giok sering tundukkan kepala,
hatinya tergetar karena pandangan tajam dari matanya si anak
muda tampan. Sebaliknya, Coan Sim makin tergiur
memandang calon tante girang didepannya yang hitam manis
dengan senyum memikat.
Dari omong-omong sopan lantas melantur kepada kata-kata
melantur, itulah Coan Sim yang mulai keluarkan aksi
merayunya. Ia berkata, "Siapa tidak jadi kegirangan omongomong
dengan Tan-hujin yang sangat cantik...."
Tan-hujin artinya nyonya Tan.
"Saudara Tan, kau omong berlebihan." sahut Loan Giok
seraya angkat kepalanya dari menunduk marusan karena
tikaman mata lihai si anak muda.
Coan Sim ketawa. Ia kata lagi, "Selama aku ingat belum
pernah aku memuji siapa juga kecuali pada hujin yang
memang aku kagumi kecantikannya...."
Berdebar hatinya Loan Giok. Belum pernah ia mendengar
kata-kata yang dapat membanggakan sanubarinya seperti
yang ia dengar dari mulut Coan Sim yang seolah-olah
bunyinya musik mengalun di telinganya.
Ia diam saja. Sampai Coan Sim berkata lagi, "Kecantikan
hupjan diatas dari segala gadis cantik dari umur 17 keatas.
Hahaha, ini bukannya bohong. Aku berani bersumpah.
Gerakan hujin diwaktu jalan, diwaktu duduk, dilengkapi oleh
senyuman manis memikat, siapa yang akan tidak gugur
imannya ?"
"Aha, saudara ini suka main-main. Aku sudah menjadi nenek
dan...."
"Itu hanyalah pikiran hujin." Coan Sim cepat memotong
sebelum Loan Giok melanjutkan kata-katanya. "Usia tidak
menjadi ukuran, kalau memang wajah sendiri memang cantik
dipandangan orang."
Mau tidak mau, Lok Giok yang biasanya tidak genit, menjadi
berubah mendadak sontak mendengar rayuan Coan Sim yang
dahsyat itu.
Dari suaminya yang dulu maupun yang sekarang, belum
pernah Loan Giok mendengar pujian tentang kecantikan
dirinya apalagi yang demikian muluk seperti yang ia dengar
dari mulutnya si anak muda yang tampan. Waktu ia melirik
pada wajah si pemuda yang tengah berseri-seri ke arahnya,
jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tersenyum membalas,
kemudian dengan lagak manja ia berkata, "Apa iya ?"
"Siapa yang membohongi hujin ?" si anak muda kata,
romannya serius.
"Baiklah, aku akan kasih hadiah...." kata si nyonya rumah.
Berbareng ia bangkit dari duduknya, entah mau kemana.
Coan Sim juga cepat bangkit, ia menghadang. Dengan berani
ia pegang kedua lengan Loan Giok, ia menarik dan mendekap
badan Loan Giok di dadanya. Dua tubuh bersentuhan hangat,
tergetar hatinya Loan Giok. Ia coba berontak, susah terlepas
dari pelukannya Coan Sim. Ketika ia angkat mukanya
mendongak, tahu-tahu mulurnya sudah ditekan bibirnya Coan
Sim. Dari berontak ia menjadi jinak. Hanya tangan kirinya
mengikuti tangan kanan Con sim yang mulai galak dan
berkeliaran meraba buah dada yang jadi berombak dan lainlain
anggota tubuh sampai si nyonya bergemetaran ketika
tangan nakal Coan SIm sampai pada bagian yang hanya oleh
tangan suami yang syah bagian itu boleh disentuh.
"Ah, kau. Jangan disini...." kata Loan Giok perlahan,
tangannya yang kanan berbareng mendorong dada si pemuda
hingga ia terlepas dari pelukan Coan Sim yang ceriwis
kemudian jalan tanpa menoleh lagi.
Coan Sim kesima sebentaran tapi ia segera mengikuti si
nyonya. Ia sudah dapat menduga maksudnya si nyonya dan
benar saja ia telah dibawa ke kamarnya.
Girang seperti menemui gunung emas, ketika Coan Sim sudah
berada dalam kamar si tante girang. Terdengar dari sebelah
luar suaranya Loan Giok. "Ah, kau begini nakal terhadap
nenek-nenek. Hihihi....."
"Nenek-nenek justru yang bisa main... ma..."sahut Coan Sim
terputus. Berbareng terdengar suara pintu didorong terbuka,
seorang kakek bongkok masuk ke dalam dengan pisau
ditangannya.
Dua manusia mesum itu terbelalak kaget.
Loan Giok sembat selimut untuk menutupi tubuhnya yang
telanjang.
"Kakek gila, kenapa kau berani masuk ke kamar nyonyamu !"
semprot Loan Giok.
Coan Sim yang memang punya kepandaian silat sudah segera
hendak melompat menerkam si kakek, ia tidak takut orang ada
bawa pisau tajam. Sayang, sebelum ia bergerak si bongkok
sudah sampai dan menotok 'thian ki hiat', jalan darah pada iga
kanannya hingga ia terkulai di ranjang dalam keadaan tidak
berpakaian.
Loan Giok menjadi ketakutan, mukanya pucat seperti
kehabisan darah.
"Hehehe, jangan takut !" kata si bongkok. "Asal kau mau
katakan dimana disimpannya kalung kumala, aku tidak akan
apa-apakan kau dan lelaki jahanam ini !" sambil menunjuk
pada Coan Sim yang tidak berkutik.
Loan Giok memang menyayangi kalung kumala berharga itu
seperti juga dengan Eng Sian suaminya. Tapi dalam keadaan
yang genting itu dimana jiwanya tentu lebih pentind dari pada
kalung kumala, maka ia lantas berkata, "Kau cari di bawah
lemari yang terletak dipojokan dari ruang tengah !"
"Bagus ! Kau tunggu sampai aku ketemukan barang itu. Kalau
kau bohong, awas !" mengancam si bongkok seraya putar
tubuhnya jalan kelua dan pintu ia kunci dari sebelah luar
hingga Loan Giok tidak bisa keluar menggunakan kesempatan
si kakek lagi pergi.
Loan Giok menangis lalu bangkit memeriksa keadaan Coan
Sim yang hanya sepasang matanya saja berputar, badannya
sendiri tak dapat digerakkan.
"Oh, kau kenapa jadi begini ?" tanya si nyonya Tan seraya
menggoyang-goyang tubuh si pemuda yang diam saja.
Nyonya Tan tidak tahu kalau Coan Sim kena ditotok.
Tante girang tidak jadi girang menghadapi kegawatan pada
saat itu.
Sebagai nyonya yang tidak genit dan memang baik
kelakuannya, Loan Giok menangis menyesalkan kelakuannya
yang tidak benar. Ia telah khilap seketika, pada saat
mendengar rayuan asmara dari si pemuda tampan tapi busuk
hatinya. Apa daya sekarang ? Ia hanya mengharap belas
kasihan si kakek bongkok, sebentar bila ia sudah kembali. Ia
tahu bahwa si bongkok tidak akan gagal mencari kalung
kumala.
Sebentar lagi ia mendengar pintu di buka, si kakek tampak
berjalan masuk sambil ketawa-ketawa. Tapi ketika sampai
tidak jauh dari tepi pembaringan, Loan Giok kaget melihat
sikapnya berubah bengis. Ia ketakutan, hampir ia selimuti
kepalanya sekali kalau tiak keburu mendengar si kakek
berkata, "Tan-hujin terima kasih. Ini !" berbareng ia kodok
sakunya dan keluarkan kalung kumala dan diperlihatkan pada
Loan Giok.
"Bagus, kau bawalah !" sahut nyonya Tan, hatinya agak lega
karena si bongkok tidak sebengis tadi malah suaranya pun
enak didengar.
Pikirnya, ada harapan ia. Tapi tiba-tiba ia terkejut ketika si
bongkok datang lebih dekat ke tepi pembaringan dan
cenderungkan badannya, tangannya diulur seperti hendak
memegang tubuhnya. Ia memeramkan matanya, ia pasrah
pada nasib kalau sampai si kakek hendak memperkosa dirinya
asal jiwanya dikasih hidup. Kiranya si bongkok bukannya
hendak memeluk Loan Giok yang sudah siap menyerahkan
diri, sebaliknya ia menototk urat kematian Loan GIok yang
seketika itu si tante girang berkelejetan sebentaran dan
napasnya pun lantas putus.
Coan Sim melihat kejadian itu menjadi ketakutan. Tidak lama
sebab ia juga lantas menyusul arwahnya si nyonya hitam
manis yang belum jauh meninggalkannya. Setelah
membereskan si pemuda mesum, si bongkok singkap selimut
yang menutupi tubuh Loan Giok kemudian angkat badannya
Coan Sim yang sudah jadi mayat, di gabrukan ke tubuhnya
Loan Giok hingga keadaannya seperti yang saling peluk dalam
keadaanya yang tidak genah dipandang untuk mereka yang
beriman teguh.
Demikian, si bongkoklah yang membereskan dua manusia
mesum itu, sekarang kemana si kakek bongkok dengan kalung
kumalanya ? Eng Sian berdiri terpaku sekian lama tatkala
menyaksikan lubang rahasia penyimpanan hartanya sudah
dibongkar orang.
Ia jongkok lalau memeriksa, benar saja kalung kumalanya
sudah terbang.
"Hehehe ! " Sekonyong-konyong terdengar suara ketawa
dibelakangnya. Cepat Tan Eng Sian balik tubuhnya, kiranya
yang ketawa itu tiada lain adalah si bongkok yang dicari-cari.
Eng Sian bangun dari jongkoknya lantas menghajar si
bongkok dengan dua kepalannya tapi ia menghajar angin
karena si bongkok sudah berkelit dengan lincahnya. Malah
Eng Sian menjadi kaget sebab si bongkok sekarang sudah
tidak bongkok pula badannya.
"Kau.... kau, siapa sebenarnya ?" Eng Sian menanya gugup.
"Hehehe, kau mau tahu siapa aku ? Aku adalah Kut-nia Huima
Sie Toan Leng !" di kakek memperkenalkan namanya
sehingga tergetar hatinya Eng Sian.
Tan Eng Siang kaget karena Kut-nia Hui-ma atau 'Si Kuda
Terbang dari Bukit Tulang' Sie Toan Leng adalah begal
tunggal yang malang melintang di sekitar pegunungan
Kiansan. Wataknya angin-anginan hingga orang bisa serba
salah menghadapinya, kalau bukan kawan karibnya yang
biasa galang gulung dengannya.
"Kenapa kau menjadi orang bongkok dan nyelusup ke
rumahku ?" tanya Eng Sian.
"Kalau tidak ada kepentingan, mana si Kuda Terbang mau
merendah menjadi orang bongkok segala !" jawabnya,
seenaknya saja kelihatannya.
"Jadi, kau yang curi kalung kumala dalam rumahku ?"
"Tepat dugaanmu, saudara Tan."
"Kau yang bunuh dua manusia hina itu dalam kamar ?"
"Kau menebak jitu sekali, saudara Tan."
"Aku tidak perduli dengan dua manusia hina itu, tapi kalung
kumala itu. Hm ! Apabila kau tidak kembalikan, jangan harap
kau bisa keluar dari rumahku !"
Sie Toan Leng tiba-tiba tertawa terbahak-bahak hingga Tan
Eng Sian heran.
"Kau mentertawakan apa ? Memangnya aku tidak bisa
buktikan ucapanku barusan ?"
"Aku tertawa bukannya tertawakan kau." sahut si Kuda
Terbang. "Aku tertawa karena kedogolanku hingga barang
yang sudah ada di tangan bisa hilang dirampas orang.
Saudara Tan, kau paham akan kata-kataku ini ?"
Tan Eng Sian melongo. Ia belum dapat menangkap betul apa
maksud kata-kata Sie Toan Leng barusan, maka ia lalu minta
ketegasan.
"Setelah aku membereskan dua manusia terkutuk itu, aku
keluar kamar dan kuncikan mereka dari luar. Pikirku, kalau kau
pulang aakn dapat pergoki bagaimana tidak setianya istrimu
dan kawan mudamu itu." demikian Kut-nia Hui-ma Sie Toan
Leng bercerita kepada Tan Eng Sian.
"Lalu, terus, terus bagaimana dengan kalung kumala itu."
mendesak Eng Sian tidak sabaran.
"Ketika aku jalan sampai di pertengahan rumah, aku masih
sempat mengodok keluar dari sakuku kalung kumala itu untuk
aku memandangnya sekali lagi. Sekonyong-konyong aku
rasakan ada angin dingin berkesiur disampingku. Aku kaget.
Sebelum aku tahu apa-apa kalung kumala itu sudah pindah
tangan. Kaget dan gusar saat itu, lantas aku melihat di
depanku gadis cantik tersenyum ke arahku."
"Kalung kumala tampak ada ditangannya yang putih halus.
Aku merasa gegetun, cara bagaimana ia dapat merampas
barang itu dari tanganku tanpa merasa apa-apa. Apakah dia
satu setan gentayangan ? Tapi kupikir di dunia mana ada
setan, maka aku lantas membentak, 'Anal sambel, kau berani
permainkan kakekmu ? Lekas kembalikan barang yang
ditanganmu itu !' Dia tidak menyahut hanya ketawa manis
saja."
"Aku si Kuda Terbang, mana ketarik dengan senyuman wanita
cantik. Hatiku lebih ketarik oleh kalung kumala yang dengan
susah payang aku dapatkan. Maka seketika itu aku
membentak lagi, 'Kau berani permainkan kakekmu !'
Berbareng aku pun maju untuk menyerang dan merampas
pulang kalung kumala. Tapi.... ia hanya mengebas perlahan
dengan lengan bajunya ke arahku, tiba-tiba aku rasakan
serangkum angin menerjang sangat kuat sekali hingga
tindakanku tertahan oleh karenanya. Aku heran, kukerahkan
tenaga dalam dan maju terus. Si jelita kembali mengebas
dengan lengan bajunya, kali ini agak kerasan dikit tapi cukup
membuat aku terpelanting hingga dahiku tambah daging
karena kebentur pinggir meja. Sialan, pikirku. Amarahku jadi
meluap. Berbareng terdengar suara ketawa 'Hihihi..'. Gadis itu
sudah menghilang dari pandanganku, lenyap bersama dengan
kalung kumala...." Demikian si Kuda Terbang menutup
ceritanya.
Tan Eng Siang berdiri termangu-mangu mendengar si Kuda
Terbang ceritanya.
Ia menghela napas. Apa daya ? Pikirnya kalau kalung kumala
itu masih ada pada Sie Toan Leng, biarpun ia harus mengadu
jiwa, ia akan berusaha untuk merampas pulang barangnya.
Tapi sekarang, putuslah harapannya. Bagaimana ia bisa
menghadapi lawan, sedang si Kuda Terbang sendiri yang
kepandaiannya sangat tinggi, hanya dikebas sekali sudah
terpelanting.
Kut-nia Hui-ma Sie Toan Leng lalu ngeloyor pergi.
"Tunggu." kata Tang Eng Sian tiba-tiba.
"Kau mau apa lagi ? Barangmu toh sudah tidak ada padaku,
apa kau tidak percaya ?" berkata si Kuda Terbang seraya
ketawa.
"Bukan itu maksudku." sahut Tan Eng Sian.
"Aku hanya mau tahu apa kau kenal gadis yang datang kesini
itu ?"
"Mana aku tahu, sebab kenal wajahnya juga baru pada saat
itu."
"Sebagai begal tunggal, kau harus tahu !"
Si Kuda Terbang termenung sebentar.
"Eh," katanya sekonyong-konyong seperti yang teringat
sesuatu, telunjuknya ditekankan pada jidatnya. Ia
meneruskan, katanya : "Sekarang aku ingat. Menurut katanya
kawan-kawanku yang suka tinggal suara ketawa berbareng
orangnya menghilang adalah Kim Coa Siancu dari Coa-kok !"
"Kim Coa Siancu...." menggumam Tan Eng Sian.
Ia pun pernah dengar tentang munculnya Kim Coa Siancu
yang melakukan penculikan beberapa lama berselang.
Menurut berita, datang dan perginya hantu itu ada
menakjubkan seakan-akan bagaikan asap yang lenyap ketiup
angin. Tiada seorang pun yang pernah mempergoki wajahnya.
Ia sendiri menduga hantu itu romannya menakutkan luar
biasa, maka kepandaiannya ada sangat tinggi. Kalau seperti
yang dikatakan sekarang oleh si Kuda Terbang, dia hanya ada
satu gadis cantik saja, ia sangsi apakah dia itu ada Kim Coa
Siancu yang dihebohkan dalam kalangan Kangouw ?
"Kim Coa Siancu sangat lihai." si Kuda Terbang berkata lagi.
"Datang dan perginya hanya seperti bayangan. Aku belum
yakin ada manusia demikian lihai tapi setelah sekarang aku
menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mau tidak mau aku
harus mengakui memang Kim Coa Siancu ada begini !"
berbareng ia menunjukkan jempolnya.
Tan Eng Sian cemas hatinya. Pikirnya, bagaimana ia bisa
dapat pulang barangnya yang sangat berharga itu di tangan
seorang yang sangat lihai ?
"Kalung kumala itu ada sangat berharga, bagaimana kau pikir
?" tanya Eng Sian.
"Aku tahu, kalau tidak, bagaimana aku berusaha untuk
memilikinya ?"
Tan Eng Sian manggut-manggut. "Sekarang." katanya.
"Kalung kumala ada di tangan Kim Coa Siancu, apakah kau
tidak ada niat untuk merebutnya kembali ?"
"Itu bukan pekerjaan mudah." sahut si Kuda Terbang. "Aku
harus runding dulu dengan teman-temanku, tentang
bagaimana baiknya."
"Bagus ! Marilah kita berlomba, siapa yang dapat merampas
pulang lebih dulu."
"Baiklah !" sahut si Kuda Terbang, berbareng ia pun lantas
ngeloyor dari situ.
Tan Eng Sian pun lantas bekerja, mengubur mayatnya Loan
Giok dan Coan Sim dengan diam-diam di belakang rumahnya
yang terdapat kebun yang rindang.
Dengan begitu, maka Tan Eng Sian tidak perlu lagi berurusan
dengna yang berwajib.
Kalung kumala yang menjadi rebutan itu, kecuali harganya
sukar dinilai, juga mempunyai khasiat untuk kesehatan. Siapa
yang pakai kalung itu, katanya tidak akan didatangi penyakit
dan badan akan selalu merasa sehat dan segar.
Bagaimana Kut-nia Hui-ma Sie Toan Leng dapat tahu adanya
kalung kumala itu dirumahnya Tan Eng Sian, sebabnya karena
Gouw Tiang Su yang memberitahukan padanya.
Kalau digunakan kekerasan, si Kuda Terbang menyangsikan
kepandaiannya. Maka si Kuda Terbang berpikiran
menggunakan jalan halus yaitu menjadi pembantu Tan Eng
Sian, dalam rumah diam-diam ia menyelidiki dimana
disimpannya barang permata itu. Tuakng kebun Tan Eng Sian,
ia sogok suruh berhenti bekerja. Maka dengan mudah si Kuda
Tebang diterima bekerja di rumahnya keluarga Tan.
Sudah dua minggu ia lakukan penyelidikan dengan sabar,
tidak juga ia berhasil.
Kebetulan Tan Eng Sian tidak ada dirumah, ia pergoki nyonya
rumah sedang main gila dengan Coan Sim. Menggunakan
kesempatan ini, ia berhasil menggertak Loan Giok dan
menemukan barang permata yagn dicarinya sekian lama. Tapi
dasar bukan miliknya, tiba-tiba muncul Kim Coa Siancu.
Barang yang sudah ada ditangannya dipindah tangan oleh
Kim Coa Siancu dengan demikian mudahnya.
Kim Coa Siancu datang ke rumahnya Eng Sian pun
bermaksud hendak memiliki kalung kumala karena tertarik
dengan khasiatnya untuk kesehatan. Kiranya barang itu
sebenarnya adalah milik seorang pangeran Boan yang
ternama. Lantaran kehilangan barangnya itu, ia telah membuat
pengumuman. Barang siapa yang dapat mengembalikan
kalung kumala itu akan diberi hadiah besar atau pangkat
dalam pemerintahan. Rupanya pangeran itu sangat
berpengaruh, maka dengan mudah dapat menjanjikan pangkat
pada siapa yang dapat mengembalikan barangnya yang
sangat berharga itu. Kim Coa Siancu dapat tahu hal kalung
kumala itu berdasarkan pada pengumuman itu.
Tan Eng Sian adalah jago silat ulung, banyak pengalamannya
dan banyak kenalannya. Seperti katanya si Kuda Terbang Sie
Toan Leng, pikirnya, memang tidak mudah dengan sendirian
saja berurusan dengan Kim Coa Siancu. Maka itu, ia sudah
kumpul kawan-kawannya yang dianggap paling akrab dan
dapat mengawal menyatroni Lembah Ular.
Keputusan Tan Eng Sian pergi dengan diantar oleh tiga orang
kawannya.
Lembah ular belum dapat dicari, Tan Eng Sian sudah harus
menyerahkan jiwanya dalam perjalanan sebagaimana yang
sudah diceritakan di atas.
Demikian Kim-kauw-cian Lie Tiong Kiat menutur pada Louw
Bin Cie.
Kita kembali pada Lo In yagn tinggal dalam rumahnya Liu
Wangwee.
Melihat Bwee Hiang berubah menjadi pendiam dan selalu
berduka sejak ayahnya meninggal dunia, membuat Lo In
menjadi tidak betah lama-lama dalam rumah orang hartawan
itu. Wataknya paling suka bergembira, tidak memusingkan hal
yang dihadapi, apalagi untuk urusan yang sudah lewat.
Makanya, ia paling cocok dengang Eng Lian.
Tapi kemana perginya enci Lian ? Lo In sering-sering
menanya pada dirinya sendiri.
Mengingat bahwa dia keluar lembah, meninggalkan rajawali
dan kawan-kawan keranya disebabkan untuk mencari Eng Lia,
maka dalam pikirannya kini selalu berbayang Eng Lian yang
lincah jenaka.
Pada suatu sore ia berkata pada Bwee Hiang : "Enci Hiang,
sudah lama aku berada disini. Maka besok pagi aku akan
teruskan perjalanan mencari enci Lian. Harap enci Hiang baikbaik
saja di rumah sampai aku sudah menemui enci Lian.
Tentu akan datang pula kemari untuk menyambangmu lagi."
Bwee Hiang terkejut mendengar kata-kata Lo In yagn tidak
diduga-duganya.
"Adik kecil, apa kau tega meninggalkan encimu begitu saja ?"
ia menanya.
"Semua urusan sudah beres, tidak halangannya kalau aku
meninggalkan enci sekarang. Aku toh sudah janji akan
kembali kalau nanti sudah menemui enci Lian."
"Tapi bukan itu yang kumaksudkan."
"Habis, aku harus berbuat bagaimana ?"
"Sucoan Sam-sat adalah musuh besarku." kata Bwee Hiang,
romannya beringas ketika ia menyebutkan 'Sucoan Sam-sat',
ia meneruskan, "Hutang darah pada keluarga Liu harus aku
tagih berikut dengan bunganya !"
"Nah, tagihlah ! Mudah saja, bukan ?" kata Lo In wajar, bukan
melucu.
"Adik kecil, kau kelewatan...." Bwee Hiang tiba-tiba menutup
mukanya dan menangis.
Lo In menjadi heran. Ia berkata, "Enci Hiang, kau jangan
menangis. Aku jadi tidak enak melihatnya."
"Adik kecil, kau tahu aku tidak berdaya terhadap mereka." kata
Bwee Hiang seraya susut air matanya dan terisak-isak. "Aku
harus belajar kepandaian lagi, baru aku akan mencari mereka.
Dengan kedua tanganku akan kubereskan jiwa mereka !"
"Oh, mau tambah kepandaian ? Mudah saja. Cari guru yang
pandai dan belajar sungguh-sungguh, bukankah itu jalan yang
paling baik. Untuk apa enci menangis ?"
"Adik kecil, kau sungguh kelewatan terhadap encimu...." si
gadis menangis makin menjadi, ia sangat menyesalkan Lo In.
"Enci Hiang, jangan menangis. Apa salahnya omonganku
yang barusan ?"
Bwee Hiang tundukkan kepala seraya masih terisak-isak
menangis.
Lo In kebingungan karena kata-katanya disalahkan. Ia
menanya, "Habis, bagaimana aku harus berbuat supaya hati
enci senang ?"
"Adik kecil." sahut Bwee Hiang sambil menyusut air matanya.
"Kepandaianmu di atas jago silat yang mana juga, kenapa kau
begitu pelit untuk mengajarkan satu dua jurus pada encimu
untuk bekal bagiku untuk menuntut balas ?"
"Hehehe, jadi enci mau angkat aku jadi guru ?"
Bwee Hiang mengangguk, ketawa mesem ia melihat lagak si
bocah yang lucu.
"Mana bisa begitu." Lo In kata. "Usia enci jauh lebih banyak
dariku, bagaimana aku lebih muda boleh menjadi gurumu.
Hahaha...." Lo In tertawa terbahak-bahak.
Bwee Hiang jengkel. Ia merasa seperti dipermainkan si bocah
saja, suaranya agak kaku ketika ia berkata, "Adik kecil, kalau
kau tiadk mau ajari encimu, aku juga tidak hendak memaksa !"
"Bukan begitu, aku masih kecil masa harus jadi guru ?"
"Tak usah main guru-guruan, kalau kau mau ajari encimu !"
"Hehehe, enci marah ya ?" Lo In menggodai si gadis yang
sedang cemberut.
"Memang, memang aku marah !" sahutnya kaku.
"Senang aku melihatnya kalau enci Hiang marah !"
Gemas hatinya Bwee Hiang mendengar ucapan Lo In. "Bagus,
kau mau suruh aku mati kejengkelan, bocah !" bentak Bwee
Hiang.
Lo In ketakutan melihat enci Hiang benar-benar marah. "Enci
Hiang, kau jangan marah." kata Lo In cepat melihat gelagat
jelek.
"Hm, kau senang melihat aku marah, kenapa sekarang suruh
aku jangan marah ?"
"Bukan lantaran itu, enci Hiang !"
"Habis, lantaran apa kau senang ?"
"Lantaran wajah enci, makin marah kelihatan makin cantik.
Aduh !"
Lo In tiba-tiba mengaduh karena tangan Bwee Hiang yang
lemas halus tiba-tiba menyambar kupingnya, dipuntir agak
keras.
"Nah, rasakan hadian dari mulut bocormu !" kata Bwee Hiang.
Ketawa si gadis karena serangan mendadaknya berhasil
menemui sasarannya.
Lo In sudah sangat lihai. Sebeanrnya, tidak semudah yang
dipikirkan Bwee Hiang, si bocah kena dijewer kupingnya. Ia
melihat gerakan si gadis tapi ia antapkan supaya si gadis
merasa senang, malah ia berteriak mengaduh lagi sehingga
benar-beanr membuat Bwee Hiang merasa puas dengan hasil
gerakannya yang tiba-tiba.
Lo In pura-pura kesakitan, kedua tangannya memegangi
telinganya yang dipuntir tadi, dengan gerak griknya yang lucu
ia berkata, "Enci Hiang, kau betul kejam. Masa kuping orang
dipuntir hampir copot ? Sakit tuh !"
Mau tidak mau Bwee Hiang jadi ngikik ketawa geli.
Sejak itulah Bwee Hiang belajar kepandaian pada Lo In.
Selama bergaul dengan Lo In, Bwee Hiang dapat menyelami
watak si bocah yang selalu bergembira, seakan-akan dalam
alam pikirannya tidak ada kata-kata 'sedih' atau 'duka'. Ia
senang bersenda gurau, ketawa-ketawa riang, bersentuhan
badan saking sengitnya bercanda. Semua itu terjadi karena
wataknya yang polos, bukan timbul karena kelakuan kurang
ajar yang disengaja.
Bwee Hiang yang sudah 'matang' dalam usia dewasa, mulamula
merasa jengah mengimbangi gerak gerik Lo In,
ketakutan kepada kedua tangannya dipegang, ditarik untuk
diajak berjoget di lantai ruangan atau dilapangan berlatih, tapi
belakangan setelah menyelami watak polos dari si bocah, ia
tidak ragu-ragu lagi untuk menyerah di ajak bergembira ria
oleh Lo In. Berpegangan tangan dan bersentuhan badan,
sudah tidak menjadi soal lagi bagi si gadis. Lantaran ini juga,
si bocah jadi betah berkumpul dengan Bwee Hiang.
-- 20 --
Eng Lian untuk sementara seperti terlupa saja dalam alam
pikirannya Lo In karena Bwee Hiang dapat diajak bermain
seperti juga si bocah bermain-main dengan si dara cilik yang
sekarang sudah berubah nama menjadi Kim Coa Siancu yang
menyeramkan sepak terjangnya.
Bwee Hiang adalah gadis berbakat, cerdas otaknya untuk
memahami sesuatu pelajaran terutama dalam hal ilmu silat,
yang ia rindukan mendapat kepandaian tinggi untuk dengan
tangannya sendiri ia dapat menuntut balas kepada musuhmusuhnya.
Di bawah didikan si 'guru cilik', dalam tempo pendek
kepandaiannya Bwee Hiang meningkat berlipat kali,
lwekangnya hebat hingga jurus 'Bwee hiang boan wan' atau
'Harumnya bunga bwee memenuhi taman' yang si nona paling
suka mainkan menjadi sangat lihai. Pedangnya yang menari
nari diisi dengan tenaga dalam yang kuat, membuat senjata itu
menyambar-nyambar laksana kilat cepatnya mengarah
tempat-tempat yang berbahaya di tubuh lawan. Kenyataan ini
Bwee Hiang rasakan ketika berlatih dengan Lo In. Si 'guru cilik'
minta supaya si gadis menyerang dengan sungguh-sungguh
seperti menghadapi musuh yang sungguhan, ia lalu mainkan
jurus 'Bwee hiang boan wan' yang hebat luar biasa hingga
ketika latihan dihentikan, tampak si gadis air mukanya
menyungging senyum puas.
Bwee Hiang tadinya seorang gadis yang keras hati, agak
angkuh. Maklumlah puterinya seorang hartawan. Tidak mudah
untuk mengundang ketawanya yang mahal. Tapi, malah ia
kenal si bocah berwajah hitam, malah belakangan
pergaulannya makin rapat dengan guru angkatnya Lo In
sebagai 'guru ciliknya', dalam tempo satu setengah tahun si
gadis menjadi berubah segala-galanya. Kepandaian silatnya
meningkat berlipat ganda, wataknya juga jadi ketularan watak
Lo In yang selalu bergembira ria.
Setelah Lo In merasa Bwee Hiang sudah dapat dilepas dalam
suatu pertarungan kelas wahid, untuk mencari pengalaman, si
bocah usulkan untuk Bwee Hiang ikut berkelana dengannya
dalam dunia Kangouw. Ia sendiri tidak tahu bagaimana
sebenarnya yang dinamai dunia Kangouw, tapi tujuan
pertamanya adalah hendak mencari tahu halnya Eng Lian,
entah dimana enci Liannya itu sekarang.
Ketika mendengar usulnya Lo In, cepat Bwee Hiang
menyahut, "Memang aku sedang pikirkan untuk keluar cari
pengalaman, kebetulan kau membuka jalan. Mari, kapan kita
berangkat, adik kecil ?"
"Bagaimana dengan rumah yang begini besar dan pabrikpabrik
kalau enci tinggalkan ?" balik menanya Lo In yang
menaruh perhatian juga rupanya selama ia diam satu tahun
lebih dengan Bwee Hiang.
"Adik Hiang, kau perhatikan juga soal rumah dan pabrikku, itu
bagus." berkata Bwee Hiang. "Semua itu mudah saja aku atur.
Nanti aku angkat pamanku Liue Keng Sin menjadi kuasa
penuh untuk mengurusnya.
"Kalau begitu." sahut Lo In ketawa, "Kapan saja enci sudah
bereskan urusan, sehingga boleh kita berangkat."
Bwee Hiang setuju. Pada malamnya si nona mengajak Liu
Keng Sin berunding, ternyata ia tidak keberatan diserahi
pertanggungan jawab yang besar sebab memang sejak Liu
Wangwee mati, ia meamng sudah diserahi kuasa atas semua
kekayaan hartawan Liu.
Setelah membereskan urusannya, Bwee Hiang pada hari
berikutnya telah mengajak Lo In berangkat untuk berkelana.
"Bagus !" Lo In kegirangan. "Mari kita berangkat !" kata Lon In,
nampak Bwee Hiang sudah berdandan rapi, ketawa nyengir ke
arah si gadis.
"Apa yang kau ketawai, anak kecil ?" tegur Bwee Hiang.
"Kau kelihatan lebih... eh, eh, jangan...." Lo In terputus
omongannya karena dengan serentak tangannya si noan
kelihatan berkelebat hendak menjewer kupingnya tatkala ia
mengatakan 'lebih'...
Bwee Hiang seolah-olah sudah tahu kemana arahnya katakata
nakal si bocah.
"Tahu takut kok !" Bwee Hiang kata, ketawa manis.
"Sejak tempo hari telingaku dipuntir." kata Lo In, "Sampai
sekarang rasanya masih meresap dalam jantung. He he he...."
Kata-kata si bocah dengan sewajarnya, tidak mengandung
apa-apa tapi Bwee Hiang tanpa merasa wajahnya berubah
semu merah sehingga ia mau cekikikan tidak jadi.
Si gadis artikan kata-kata Lo In seperti yang hendak
membilang,"Jiwamu adalah tanda kasih yang kusimpan dalam
hari sampai sekarang." Cuma si bocah memakai kata-kata
yang tidak langsung hingga arti sebenarnya tersembunyi di
dalamnya.
Lo In sekarang sudah gede, umurnya sudah 16 tahun, tidak
bisa disamakan dengan 2 tahun berselang dalam usia 14
tahun kata-katanya ngawur, demikian pikirnya Bwee Hiang.
Apakah si bocah dalam perjalanan nanti kurang ajar
terhadapnya ? Ia jadi ragu-ragu untuk berangkat.
"Enci Hiang." berkata Lo In. "Dalam perjalanan kita ini, kalau
kita menemui hotel, kita pesan 2 kamar. Kalau kebetulan kita
nginap di hutan, aku nanti tidur di pohon dan kau dibawahnya.
Bukankah ini menyenangkan perjalanan kita ?"
Bwee Hiang tercengang, "Baik, baik, bagus..." sahut Bwee
Hiang ngawur.
Ia agak gugup dalam menghilangkan kecurigaannya tadi.
Kiranya ia curiga tanpa beralasan. Si bocah ada demikian
sopan, dengan dalih apa ia menuduh si bocah akan berbuat
sesuatu yang kurang ajar terhadapnya.
Kata-kata Lo In itu membuat kesangsian Bwee Hiang tersapu
pergi tanpa bekas.
Dengan gembira ia mengajak si bocah mulai meninggalkan
rumahnya.
Ketika sampai di pintu pekarangan, tiba-tiba Bwee Hiang
merandek dan memandang si bocah dengan senyumannya
yang manis.
"Masih ada yang ketinggalan ?" tanya Lo In.
"Bukan itu." sahut Bwee Hiang. "Aku lihat kau tidak membekal
senjata. Bagaimana nanti kalu kita ketemu orang jahat ?"
Lo In tertawa terbahak-bahak. Katanya, "Enci Hiang, kau
masih sangsikan aku si bocah dengan tangan kosong dapat
menundukkan lawan ?"
"Bukan tidak percaya." sahut Bwee Hiang.
"Paling baik kalau kau membawa senjata. Aku pikir pedang
adalah benda yang paling mudah untuk dibawa-bawa.
Bagaimana kalau kau bawa pedang ayahku ?'
Lo In geleng kepala.
Bwee Hiang tahu Lo In kepala batu juga, maka ia tidak
memaksa dan ia berkata, "Kalau begitu, mari kita berangkat !"
Bwee Hiang berkata seraya gerakkan kakinya diikuti oleh Lo In
yang segera sudah berada disisinya untuk diajak omongomong.
Seperti burung yang terlepas dari kurungan, tampak Bwee
Hiang amat gembira melakukan perjalanan berkelana.
Perjalanan mereka sangat menarik perhatian umum yang
berlalu lalang lantaran wajah mereka yang sangat menyolok
perbedaannya. Bwee Hiang yang cantik lemah gemulai
sedang Lo In wajahnya hitam legam kelihatannya lucu.
Kalau banyak yang lalu lalang sering tersenyum memandang
ke arah mereka, hanya yang memperhatikannya Bwee Hiang
sedang Lo In acuh tak acuh dengan perasaan heran mereka.
Biasanya kalau apa-apa yang ganjil suka mendapat
gangguan, begitulah terjadi dengan perjalanan muda mudi itu
yang belum lama meninggalkan kampungnya.
Ketika 2 lie lagi sampai di dusun Suyang-tin, Lo In dan Bwee
Hiang telah kesamprokan dengan rombongan pemuda
berandal. Kira-kira ada lima belas orang, mereka smeua pada
membekal senjata tajam. Ada yang membawa pedang, golok
dan sebagainya. Rupanya mereka barusan habis latihan ilmu
silat.
Ketika mereka melewati Lo In dan Bwee Hiang, satu diantara
dari mereka yang kepalanya gundul nyeletuk, "Sayang, gadis
begitu cantik dikawal oleh satu bocah hitam. Coba yang
temani aku, tentu akan lebih pantas ! Hahaha...."
"Ciang Hong, kau jangan suka usilan !" mencegah temannya
yang jalan di belakang, rupanya adalah pemimpin rombongan.
Pemuda yang dipanggil Ciang Hong menoleh ke belakang,
bukan ke arah si pemimpin ia memandang tetapi ke arah
Bwee Hiang yang kebetulan mengawasinya. Matanya
mengedipi Bwee Hiang hingga si gadis menjadi mendongkol.
Memang sejak mendengar kata-kata Ciang Hong tadi si gadis
sudah gusar, sekarang ia melihat sikap pemuda tersebut yang
makin kurang ajar, bukan main marahnya.
Si gadis meludah, tanda muak melihat lagaknya Ciang Hong.
Melihat itu, Ciang Hong tidak senang. Ia keluar dari
rombongannya yang sedang jalan, menghampiri Bwee Hiang
yang seketika itu juga sudah sampai di depannya sebab
memang sama-sama mau ke dusun Suyangtin.
"Kau meludah untuk apa, hah !" bentak Ciang Hong,
tangannya berbareng nyelonong mau menyolek wajah Bwee
Hiang yang cantik.
Bwee Hiang tidak banyak cakap. Begitu tangan si ceriwis
sampai, kepalanya mengelak sedikit berbareng tangan Ciang
Hong ditangkap. Cukup dengan satu sentakan si ceriwis
nyelonong nyungsep dalam gerombolan rumput alang-alang di
tepi jalan.
Kawan-kawannya Ciang Hoang hentikan jalannya melihat
Ciang Hong sekali gebrak dipecundangi si gadis. Sebentar lagi
mereka lihat Ciang Hong sudah keluar lagi dari gerombolan
alang-alang. Dengan gusar ia membentak, "Kau berani
menghina Tong-sinoya ? aduh ! aduh !... " omongnya ditutup
dengan kata-kata mengaduh.
Kiranya Tong Ciang Hong kena dua tamparan dari Bwee
Hiang hingga beberapa giginya rontok dan mulutnya
berlumuran darah. Ketika ia semprotkan, tiga buah giginya ikut
lompat keluar dibarengi dengan darah.
"Kau berani kurang ajar pada nonamu ? Hmm ! Itulah
bagiannya...." kata Bwee Hiang dengan gusar. "Adik kecil,
mari kita jalan !" Ia mengajak Lo In yang tinggal menonton saja
bagaimana sang enci menghajar orang yang iseng mulutnya.
"Perlahan jalan !" tiba-tiba Bwee Hiang mendengar orang
berkata di belakangnya.
Ketika ia menoleh kiranya adalah teman Ciang Hong yang
berdiri di depannya sambil ketawa haha hihi macam monyet
kena terasi.
"Oo, kau mau bela kawanmu itu ? Hmm !" kata Bwee Hiang.
"Terang aku musti bela kawanku, aku mau lihat kau bisa pergi
dari sini atau tidak !"
Si gadis sangat mendongkol, matanya melirik pada Lo In tapi
si bocah diam saja. Ia hanya kedipkan matanya seperti
menganjurkan 'lawan'.
Lo In memang sengaja tidak mau turun tangan, mau melihat
bagaimana kemajuan si gadis selama dididik olehnya.
Sang kawan mengerti akan maksud si bocah wajah hitam.
"Nah, marilah kita berkelahi !" si gadis kemudian menantang.
Pemuda itu tidak sungkan-sungkan lagi. Ia keluarkan tipu
silatnya 'Burung elang menyambar kelici'. Dua tangannya
dipentang bagaikan kilat menyambar ia menubruk Bwee Hiang
tapi si gadis sudah lenyap dari pandangannya. Tahu-tahu ia
rasakan pinggulnya ditendang dari belakang hingga ia jatuh
ngeyungsep, mukanya memakan tanah jalanan yang banyak
batu kerikilnya.
Kawan lainnya datang memburu, juga dengan sekali tarikan
tangan, lawan Bwee Hiang sudah mengaduh-aduh kesakitan,
berkutatan dalam gerombolan rumput alang-alang kemana
barusan tubuhnya si gundul nyungsep.
Melihat si nona ada demikian tangkas, kawan-kawannya yang
lain datang mengeroyok.
"Jangan, enci Hiang." berkata Lo In ketika ia melihat si gadis
hendak menghunus pedangnya hingga ia masukkan lagi. Ia
mengerti sang kawan menyuruh ia lawan banyak orang itu
dengan tangan kosong.
Bwee Hiang gunakan ajaran Lo In menggunakan 'Bu eng sin
kang' (Tenaga sakti tanpa bayangan), bagi Bwee Hiang sudah
kelebihan untuk melayani 15 pemuda yang mengeroyok
dirinya, meskipun diantara mereka ada yang menggunakan
senjata, membokong dirinya. Tubuhnya si nona berputaran
hingga kawanan pengeroyok tak dapat menyentuh meskipun
ujung bajunya saja.
Saban-saban bila mereka kira si nona tak bisa lolos dari
jambretan atau pukulan, dengan mendadak si nona seperti
menghilang, tahu-tahu sudah ada di belakangnya. Tidak
heran, kalau mereka berkelahi sambil berteriak-teriak
mengutuk Bwee Hiang hingga si nona merasa tidak enak
mendengar caci maki mereka.
Lo In kuatir enci Hiangnya melakukan pembunuhan, melihat si
gadis beringasan, maka ia berseru, "Cukup, enci Hiang !"
Lantas, beberapa kali si nona berkelebat. Maka 15 pemuda
berandalan itu semuanya rebah kena ditusuk oleh Bwee
Hiang.
Sambil berseri-seri si nona menghampiri si bocah wajah hitam
sambil menarik tangannya, ia berkata, "Adik kecil, mari kita
jalan. Aku kuatir disini aku bisa membunuh orang !"
Lo In memahami hati si gadis yang amat mendongkol kepada
mereka yang mengeroyoknya karena sudah mengeluarkan
kata-kata yang tidak enak didengar oleh si gadis. Maka begitu
tangannya ditarik diajak jalan, Lo In sudah lantas saja
mengikuti tanpa banyak rewel. Dalam perjalanan Bwee Hiang
berkata, "Adik kecil, ajaranmu hebat benar ! Hihihi, sekali
gebrakan sudah menjatuhkan 15 orang !"
"Jangan bangga dulu enci Hiang. Mereka itu adalah jago kelas
tiga, paling banyak kelas dua. Belum dapat diukur kepandaian
enci. Eh, enci Hiang !"
Tiba-tiba si bocah mendorong Bwee Hiang ke samping hingga
si gadis terhuyung-huyung.
Kurang ajar, pikir Bwee Hiang. Kenapa si bocah main-main
begini, mendorong orang sampai terhuyung-huyung. Ketika ia
menoleh, Lo In sedang berhadapan dengan satu kakek yang
jenggot dan rambutnya sudah pada putih semua. Ia
mendengar Lo In berkata, "Kakek tua, tidak seharusnya kau
membokong orang. Kalau kau mempunyai kepandaian, boleh
tantang enciku terang-terangan !"
Bwee Hiang kaget mendengar kata-kata Lo In. Kalau begitu,
barusan Lo In bukan main-main mendorong dirinya sampai
terhuyung-huyung. Ia berbuat demikian untuk menyelamatkan
dirinya dari bokongan jahat. kakek tua itu membokong dengan
senjata apa ? tanya Bwee Hiang dalam hatinya. Matanya
mengawasi ke batang pohon sebab tadi mereka sedang jalan
enak-enak menuju ke arah pohon. Ia lihat disitu tertancap
sebatang panah kecil sampai hampir amblas semua. Rupanya
senjata itu dilepas dengan kekuatan besar sampai menancap
demikian rupa.
Bwee Hiang bergidik. Di samping itu ia merasa bersyukur atas
pertolongan adik kecilnya. Sekarang ia memandang ke arah si
pembokong. Tiba-tiba ia menjadi gusar lalu menghampiri Lo In
yang sedang bertengkar dengan si kakek.
"Adik kecil, dia membokong aku barusan ?" tanyanya lantas.
Lo In menganggukkan kepalanya.
"Hehehe, kakek tua. Kau mau berkelahi denganku ?" tanya
Bwee Hiang.
Si kakek tua hanya mengawasi si nona dengan roman bengis.
"Kalau mau berkelahi, sebutkan dahulu apa lantarannya." si
gadis kata dengan tawar.
"Itu sudah dikatakan." menyela Lo In.
"Enci sudah bikin sungsang sumbel anak muridnya maka dia
jadi mendendam hati padamu dan dia mencoba
membokongmu !"
"Hei, kakek tua kalau begitu kau adalah kakek pengecut !"
jengek Bwee Hiang.
"Kau punya kepandaian apa hendak melawan aku ?" tanya si
kakek.
"Hihihi... !" Bwee Hiang tertawa. "Kau tentu tidak punya isi apaapa
makanya kau membokong. Kalau benar-benar satu lakilaki,
kau harus berani lawan aku dengan berhadapan muka !"
Panas hatinya si kakek dikatakan tidak punya isi apa-apa,
maka ia tepuk-tepuk dadanya sambil berkata, "Aku Kie Giok
Tong, jago kenamaan dalam dusun Suyangtin, siapa dalam
dusun ini yang tidak kenal namaku yang kesohor sebagai guru
silat !"
"Hihihi." tertawa Bwee Hiang, ia menggodai, "Jago kampungan
hanya terkenal di dalam kampung saja dan kesukaannya
membokong orang lantaran tidak sanggup menghadapinya
sendiri. Cis, tidak tahu malu !"
Meluap amarahnya Kie Giok Tong. Tanpa banyak cakap lagi,
seketika ia sudah menyerang Bwee Hiang hingga mereka jadi
bertempur. Baru bertempur lima jurus, Kie Giok Tong sudah
empas empis kepayahan. Lo In jadi ketawa geli, kasihan ia
melihat si kakek hanya dipermainkan oleh Bwee Hiang, ia
lantas berkata, "Enci Hiang cukup !", berbareng Kie Giok Tong
sudah ditotok roboh oleh si nona.
Rupanya kata 'cukup' yang meluncur dari bibirnya Lo In
seakan-akan kode untuk Bwee Hiang mengakhiri pertempuran
dengan satu kemenangan.
"Adik kecil," kata Bwee Hiang ketika ia datang dekat pada Lo
In. "Brengsek kampung ini kakek sudah hampir mampus
masih mau gerembengi ilmu silatku !"
"Hus ! Jangan omong kasar begitu." Lo In kata sambil ketawa
geli.
"Mari kita jalan !" Bwee Hiang mengajak adik kecilnya.
Kie Giok Tong hanya bisa mengawasi berlalunya dua muda
mudi itu tanpa dapat bergerak dari mendeprok dari tanah.
Kakek she Kie itu memang jagoan dalam dusun Suyangtin. Di
waktu mudanya ia bekerja pada salah satu Piauw kiok
(perusahaan pengawalan barang) ke kota Gukwan, namanya
lumayan juga terkenal sebagai Piauwsu (pengawal antaran
barang). Sudah lima belas tahun ia tinggal di Suyangtin, pada
sepuluh tahun belakangan ia membuka perguruan silat dan
menerima banyak murid.
Pernah datang dua tiga orang yang pandai silat ke dusun
Suyangtin dan bergebrak dengannya, tidak satu yang dapat
menjatuhkan dirinya. Oleh karenanya Kie Giok Tong menjadi
bangga dengan kepandaiannya itu. Ia mengira bahwa
kepandaian silatnya sudah sangat tinggi, ia tidak mengira
bahwa kepandaian orang-orang yang mencobanya hanya jago
kampungan saja.
Kini ia dipermainkan oleh hanya satu gadis yang pantas
menjadi jujurnya, malah umurnya kurang lebih dua puluh
tahun, pedih rasa hatinya, ia tidak puas dijatuhkan si gadis, ia
tidak puas dijatuhkan si gadis meskipun kekalahannya itu
adalah wajar.
Ia coba empos tenaga dalamnya untuk membebaskan totokan,
girang ia ketika dapat kenyataan tiba-tia ia sudah bisa gerakan
pula kaki tangannya seperti biasa.
Ia merasa bahwa lwekangnya sangat sempurna dengan
mudah ia dapat membebaskan diri dari totokan tapi ia tidak
tahu, kalau totokan Bwee Hiang hanya totokan main-main saja
ajaran Lo In yang dinamai 'Poan ban tiam hiat' atau 'Totokan
setengah iseng' yang si bocah dapatkan dari buku 'Tiam-hiat
Pit-koat'.
Barusan saja ia bangkit dari mendeproknya, Kie Giok Tong
sudah dikerubungi anak muridnya yang juga sudah bebas dari
totokan Bwee Hiang.
"Gadis itu sangat lihai." berkata Kie Giok Tong setelah ia
menghela napas.
"Suhu, apa tidak baik kita kumpulkan para paman untuk bikin
perhitungan dengan wanita liar itu ?" usul pemuda yang
menjadi kepala rombongan pemuda bergajul yang sudah
dikasih 'rasa' oleh Bwee Hiang.
Kie Giok Tong anggukkan kepalanya, "Tapi, dimana para
pamanmu sekarang ?" ia menanya.
Sebelum Kie Giok Tong mendapat jawaban tiba-tiba ia melihat
ada 4 orang yang berlari-larian ke arahnya. Si kakek
mengawasi, ia berkata kepada pemuda yang mengajukan usu
yang ternyata adalah murid kepalanya beranam Cia Kim Seng.
"Kim Seng, kebetulan. Nah, tuh lihat para pamanmu sudah
datang."
Sebentar kemudian 4 orang tadi sudah sampai. Mereka adalah
saudara-saudara angkat dari Kie Giok Tong dan mereka
menamakan dirinya 'Suyangtin Ngo-houw' atau 'Lima harimau
dari Suyangting'. Seram juga kedengarannya, memang juga
menyeramkan bagi penduduk Suyangtin, mereka sangat
menghormati Lima Harimau itu. Suyangtin Ngo-houw tidak
jahta, mereka sebagai pelindung dari dusun, hanya tabiatnya
agak sombong. Maklumlah jago-jago silat kampungan, kalau
merasa dirinya jagoan sudah lantas perlihatkan
keangkuhannya di hadapan penduduk yang lemah.
"Toako, aku mendapat kabar kau dengan keponakan murid
mendapat kesusahan dari seorang wanita liar, apa benar ?"
tanya salah seorang saudara angkat Kie Giok Tong yang
bernama Tan Him yang termasuk nomor tiga dari Lima
Harimau.
"Kabar itu tidak salah." sahut Kie Giok Tong. "Dari siapa
Samte dapat kabar itu ?" balik menanya si kakek she Kie.
"Dari si A Kong yang lari dengan napas tersengal-sengal
mengabarkan padaku." sahut Tan Him. "Aku terkejut
mendengar ada orang yang coba-coba tarik kumis harimau,
segera aku beritaku pada jiko, sute dan ngote. Maka kami
berempat lanas menyusul kemari. Dimana sekarang adanya
wanita liar itu ?"
"Samte." kata Kie Giok Tong seraya geleng-geleng kepala.
"Aku belum pernah menemukan tandingan sejak aku
berkelana di dunia Kangouw maupun tinggal dalam kampung
kita disini. Kalian semua toh tahu, bukan ? Tapi kali ini aku
ketemu gadis liar itu, cuma dalam lima jurus saja aku
dijatuhkan. Benar-benar aku merasa sangat penasaran !"
Terkejut hati empat saudaranya. Mreka mendengar si jago tua
dirobohkan dalam tempo lima jurus, itu hebat sekali ! Kie Giok
Tong, meskipun usianya sudah lanjut sangat alot kalau
bertempur, napasnya panjang dan sangat tangkas. Mereka
sering saksikan manakala mereka sedang berlatih sialt.
"Gadis itu sangat lincah, serangan-seranganku yang
mematikan dielakkan dengan berkelit ke sana sini. Coba
kalian pikir, apakah ini tidak menjengkelkan ? Dalam sengit,
aku keluarkan serangan dengan tipu 'Kim Liong seng thian'
(Naga emas naik ke langit) yang seperti kalian tahu, jurus ini
sangatlah ampuh untuk menjatuhkan lawan, tapi.... tiba-tiba
kurasakan kesemutan ketika dia menowel pundak kananku.
Kiranya towelan itu bukan sembarang towel sebab dari
kesemutan aku jadi lemas dan jatuh terduduk di tanah. Dia
telah menotok lo-ji-hiat, halan darah di pundak kanan. Syukur
lwekangku tinggi hingga aku dapat membebaskan totokan
kejinya itu..." Demikian si kakek menutur, tampak ia sangat
bangga ketika mengatakan lwekangnya sangat tinggi dapat
membebaskan totokan Bwee Hiang.
Dasar jago kampungan, seperti katak (kodok) di dalam
tempurung yang tidak bisa menilai kepandaian orang
seberapa tingginya, hanya menyangka lwekannya yang hebat.
Ia tidak insyaf bahwa Bwee Hiang sudah bermurah hati
kepadanya, hanya menotok secara main-main saja.
"Memang, kalau bukan toako memiliki tenaga dalam yang
tinggi, tidak mudah membebaskan diri dari totokan jahat !"
memuji Song Cie Liang, jiko dari Lima Harimau hingga si
kakek she Kie senang mendengarnya.
Tinggal Cia Kim Seng saling berpandangan dengan kawankawannya.
Mereka heran si kakek mengatakan dengan
menggunakan lwekangnya dapat membebaskan totokan
orang sedang apa yang mereka alami, totokan itu bebas
dengan sendirinya, tidak lama setelah mereka dirobohkan oleh
Bwee Hiang. Tapi karena mereka percaya akan
kepandaiannya sang Suhu (guru) maka mereka juga tidak mau
mengatakan apa-apa.
"Sekarang, kemana perginya wanita liar itu ?" tanya Teng
Hauw, si nomor empat dari Lima Harimau.
"Aku kira mereka belum pergi jauh dari kampung kita." sahut
Kie Giok Tong.
"Mereka, toako kata ? Apa gadis itu ada temannya ?" Tan Him
menanya.
"Ya, satu bocah berwajah hitam bagai pantat kuali." sahut si
kakek.
"Cuma satu bocah, apa artinya. Mari kita susul !" mengajak
Song Cie Liang.
Rombongan pemuda bergajulan itu sekarang ditambah
dengan Suhu dan empat pamannya pergi menyusul. Mereka
besar hatinya sebab dengan tambahan tenaga yang sanat
berarti itu mereka harap dapat membalas hinaan yang mereka
derita.
Baru saja mereka hendak berangkat, tiba-tiba melihat seorang
anak tanggung berlari-lari ke arah mereka. Cepat juga lari
anak itu.
"Itulah si A Kong yang datang !" kata Tan Him
Yang lain-lainnya juga sudah segera kenali si A Kong, anak
tanggung yang biasa dipakai sebagai mata-mata oleh
Suyangtin Ngo-houw. Anak itu cerdik dan gesit, maka ia
sangat disayang oleh Lima Harimau dari Suyangtin.
"A Kong, kau datang tergopoh-gopoh. Ada kabar penting apa
hendak disampaikan pada kami ?" tanya Kie Giok Tong
setelah anak itu sudah berada di depan mereka.
Dengan masih sengal-sengal napasnya, A Kong menyahut,
"Toa-loya sekarang ada di rumah makan An Hok sedang
makan minum bersama si bocah muka hitam !"
"Bagus, kerja kau baik sekali A Kong." memuji Kie Giok Tong.
Senang kelihatannya anak itu mendapat pujian toako dari
Lima Harimau.
Kie Giok Tong lantas berunding dengan empat saudaranya.
"Kalau kita ramai-ramai masuk ke dalam rumah makan, kita
sebagai pengacau." Kie Giok Tong menyatakan pada saudarasaudaranya.
"Bagaimana kalau kita memencar ?"
"Maksud toako bagaimana ?" tanya Song Cie Liang, si Jiko.
"Kita saja berlima yang masuk, sedang Kim Seng dan
saudara-saudaranya boleh menunggu di sebelah luar. Kalau
sampai terjadi keributan dengan lawan, kita pancing lawan
keluar. Di situ kita keroyok ramai-ramai, bukankah ini bagus ?"
"Bagus, bagus, kita turut pikiran toako." memuji Tan Him.
Sesampainya di sana, Ngo-houw lihat si gadis sedang ketawaketawa
gembira dengan si bocah muka hitam. Diam-diam
mereka nyelusup masuk dan ambil meja sedikit jauh dari meja
dimana Lo In dan Bwee Hiang tengah menikmati barang
hidangannya.
Mereka terus menerus pasang mata pada dua tamu dari luar
dusun Suyangtin itu.
Diam-diam empat saudaranya Kie Giok Tong memandang
enteng pada Bwee Hiang yang kelihatannya tidak ada apaapanya
yang harus ditakuti. Romannya yang cantik
menyinarkan welas asih malah. Bagaimana seorang dara
yang lemah gemulai itu dapat memiliki kepandaian yang hebat
sehingga toakonya dalam lima jurus sudah digulingkan ?
"Enci Hiang, kau lihat kelihaian aku." tiba-tiba Ngo-houw
mendengar Lo In berkata pada Bwee Hiang. Mereka lihat,
berbareng dengan kata-katanya, si bocah muka hitam
tangannya memegang poci arak. Mulut poci ditegakki ke atas.
"Mau apa dia ?" tanya Ng-houw dalam hatinya masing-masing.
Belum sempat mereka menduga apa-apa, sekonyongkonyong
mereka lihat meluncur keluar arak dari dalam poci,
naik ke atas kira dua kaki tingginya. Arak itu diatas dapat
bertahan dua menit lamanya sehingga arak itu tidak jatuh
diatas meja. Setelah itu, arak itu nyerosot masuk lagi ke mulut
poci, tidak ada setetes pun yang berlumuran jatuh di atas
meja.
Itu suatu pertunjukkan yang tidak mudah sebab hanya dengan
lwekang yang sudah sempurna saja, dapat dilakukan. Lo In
unjuk kepandaian ini bukan hendak membanggakan
kepandaiannya, hanya hendak membikin ngeri Suyangtin Nghouw
tanpa kekerasan. Diam-diam Lo In sudah tahu
kedatangannya Kie Giok Tong bersama empat temannya,
maka ia kisiki Bwee Hiang untuk belaga pilon akan kehadiran
mereka dan Lo In menjatakan ia hendak tundukkan mereka
dengan kepandaiannya yang istimewa.
Dasar dogol, lima jago kampungan itu benar kagum melihat
caranya Lo In bermain arak tapi mereka mengira bahwa si
bocah wajah hitam itu hanya pandai main bersulap saja, lain
tidak ! Sebentar Lo In kasih pertunjukan kedua. Ia pegang
mangkok kosong, lalu diangkat ke atas. Pantat mangkok ia
sanggah dengan sumpit, tahu-tahu mangkok sudah terputar,
sebentar naik sebentar turun tapi tak lolos dari sebatang
sumpit yang ada di tangannya Lo In.
Ini juga suatu pertunjukan lwekang yang dahsyat. Sebaliknya
juga, ini dianggap oleh kawanan dogol itu si bocah hanya main
sulap saja. Sedang mereka hendak ketawa berkakakan, tibatiba
matanya pada terbelalak kaget ke arahnya Lo In.
Saat itulah yang membuat mereka kagum bukan main.
Lo In setelah bikin mangkok berputar turun naik disanggah
oleh sebatang sumpitnya, tiba-tiba tangan kirinya menyambuti
mangkok yang turun berbareng sumpit di tangan kanannya
melesat ke atas. Terdengar suara 'ngik !' disusul dengan
jatuhnya suatu benda dari atas. Kiranya yang jatuh itu adalah
seekor tikus yang jatuh dari bubungan rumah, tubuhnya sudah
terbidik oleh sumpitnya Lo In yang barusan meluncur ke atas,
sumpit itu telah jatuh dibawah berbareng dengan badannya si
tikus yang bernasib malang. Kejadian ini bukan permainan
sulap tapi satu kepandaian yang luar biasa hingga Lima
Harimau termangu-mangu duduk di tempatnya. Mereka tidak
bisa mengatakan si bocah main sulap lagi karena dengan
mata kepala mereka sendiri mereka menyaksikan kepandaian
yang luar biasa, yang baru pernah mereka melihat dalam
seumurnya mereka.
Terdengar suara tempik sorak dari para tamu yang melihat
kejadian itu.
"Toako," kata Tan Him, perlahan suaranya. "Selembar
rambutnya saja pun, kita tak dapat mengganggunya."
Kie Giok Tong angguk-anggukan kepalanya, yang lainnya
tinggal membisu.
Meskipun adatnya angkuh, tinggi hati, si kakek orang she Kie
orangnya suka bersahabat. Ia menghormati kepandaian orang
yang ia kagumi, maka juga selama ia jadi Piauwsu banyak
orang-orang gagah yang menjadi sahabat baiknya.
Kini ia melihat kepandaian si bocah yang luar biasa, ingin ia
mengikat persahabatan. Karena timbulnya pikirani tu, maka
Kie Giok Tong bangkit dari duduknya, jalan menghampiri meja
Lo In dimana ia menjura kepada muda mudi itu, sambil
berkata, "Siao-hiap dan Li-hiap, terima hormatku, si kakek
yang punya mata tapi tidak melihat !"
Bwee Hiang masih cekikikan ketawa dan mengagumi
kepandaian adik kecilnya, tiba-tiba Kie Giok Tong
menghampiri. Ia mengira si kakek akan cari urusan lagi. Ia
berhenti ketawa dan siap sedia tapi tidak tahunya si kakek
menjura memberi hormat hingga ia dan Lo In jadi tergopohgopoh
membalas hormatnya si orang tua.
Lo In tidak banyak omong, maka Bwee Hiang yang mewakili
bicara, "Lo-enghiong (jago tua), jangan begini merendah.
Karena kami berdua yang muda menjadi tidak enak oleh
kehormatan Lo-enghiong yang berlebihan. Mari, mari duduk
makan sama-sama kami !"
Kie Giok Tong tidak merendah lagi, ia lantas turut duduk di
meja Lo In dan Bwee Hiang. Sebelum membuka suara, ia
menoleh kepada empat saudaranya, tangannya menggapai.
Sebentar lagi mereka sudah datang menghampiri. Dengan
sendirinya mereka pada mengambil kursi dan duduk mengitari
meja makan Lo In.
Bwee Hiang girang melihat taktik Lo In berhasil baik, dapat
dengan halus menundukkan Lima Harimau dari Suyangting.
Bwee Hiang teriaki pelayan, minta tambah hidangan untuk
lima orang yang baru datang. Mereka mula-mula menampik,
tapi Bwee Hiang dengan ramah berkata, "Ini adalah
pertemuan kita yang menggirangkan. Tidak baik kalau kalian
Lo-enghiong menampik undangan kami yang muda."
Melihat si nona demikian ramah dan kata-katanya diucapkan
dengan tulus hati, maka Kie Giok Tong dan kawan-kawan
menjadi malu hati, lantas pada menghaturkan terima kasih
atas undangan manis budi dari si gadis yang semula
dipandang musuh alias si gadis liar.
Mereka segera berkenalan satu dengan lain. Bwee Hiang tidak
bicara sewajarnya tentang siapa dirinya, ia hanya mengaku
dengan Lo In adalah kakak beradik dan dalam perjalan
merantau yag kebetulan melewati di dusun itu. Kie Giok Tong
minta maaf untuk kelakuan sendiri dan anak muridnya yang
kurang ajar.
"Ah, itu hanya kejadian biasa." kata si nona merendah. "Kalau
tidak didahului dengan perkelahian, mana bisa kita jadi
bersahabat seperti sekarang ini ?"
Lima Harimau itu makin menghormat kepada si nona yang
bisa bicara merendah dan menunjukan pribadinya yang luhur.
Lo In selama itu hanya tertawa nyengir saja, tidak turut bicara.
Kie Giok Tong yang merasa kagum pada si bocah, telah
membuka mulutnya menanya : "Aku, si kakek merasa kagum
atas kepandaian Siaohiap, sekarang Siaohiap sudah umur
berapa ?"
"Tahun ini aku masuh..... eh, tunggu !" berbareng tubuh Lo In
melesat ke arah pintu, menyusul seorang Thauto yang sedang
jalan keluar.
Thauto itu selain membawa buntelan kecil, juga ada
menyelipkan sebilah pedang pendek di bebokongnya.
Bwee Hiang kaget melihat kelakuan si adik kecil, cepat ia
menyusul keluar diikuti oleh Lima Harimau dibelakangnya.
Bwee Hiang lihat jauh disana, disuatu lapangan tampak Lo In
sedang berhadapan dengan si Thauto. Ia menyusul ke sana,
juga Lima Harimau tidak mau ketinggalan mereka dibelakang
si nona. Mereka kepingin tahu, ada urusan apa dengan begitu
tergopoh-gopoh si bocah hitam menyusul si Thauto.
Di sana mereka menyaksikan Lo In sedang bertengkar dengan
si pendeta rambut panjang.
Terdengar Lo In berkata, "Aku tidak perduli kau dapat dari
siapa, tapi itu adalah pedangku. Kau harus mengembalikan
pada pemiliknya !"
Si Thauto yang tiada lain adalah Kim Wan Thauto tertawa
bergelak-gelak mendengar ucapan Lo In, setelah itu ia
berkata, "Anak kecil, jangan kau cari urusan dengan aku.
Pedang orang lain diakui pedang sendiri, belajar dari mana
kau hendak memiliki barang orang ? Kau ngimpi barangkali ?"
"Pedang pendek itu kepunyaan orang yang kuhormati, mana
aku tidak bisa mengenalinya !"
"Dengan bukti apa kau mengatakan pedang itu adalah milikmu
?"
Lo In jadi kebingungan sebab ia memang tidak perhatikan
betul tanda-tanda yang ada pada pedang pendek Liok Sin-she
sampai hilang digondol Siauw Cu Leng.
Melihat Lo In termangu-mangu, Kim Wan Thauto berkata,
"Tanpa bisa mengunjuk bukti, mana aku mau mengembalikan
padamu, anak kecil !"
"Tidak, aku mesti dapat kembali." sahutnya tegas.
"Dengan apa kau bisa dapat kembali barangmu ?"
"Dengan kepandaianku !"
Kim Wan Thauto gelak-gelak ketawa. "Anak kecil, dengan
kepandaianmu tersebut tadi dalam rumah makan, hendak kau
merampas pedangku ? Hm ! Jangan harap !'
"Betul kau tidak mau mengembalikannya dengan baik ?"
Diam-diam Kim Wan Thauto waspada menghadapi bocah
hitam ini karena Lo In bukan bocah sembarangan. Bila melihat
lwekang (tenaga dalam) yang dipertunjuki tadi di dalam rumah
makan.
Tadinya ia mau mengeloyor diam-diam, tidak tahunya Lo In
matanya lihai lantas mengenali kalau Kim Wan Thauto di
bebokongnya membawa pedang Liok Sinshe. Lama memang
Lo In memikirkan pedang itu. Ia percaya pedang pendek itu
diambil Siauw Cu Leng ketika ia sedang pingsan di bokong
oleh Ang Hoa Lobo.
Di samping mencari Eng Lian, juga ia saban-saban pasang
mata pada siapa yang dijumpainya, kalau-kalau ia mendapat
lihat ada orang yang membawa pedangnya itu.
Dengan cara kebetulan matanya yang lihai dapat melihat
barang itu ada di punggungnya Kim Wan Thauto yang tengah
berjalan keluar dari rumah makan. Seketika itu ia enjot
tubuhnya melesat, menyusul si Thauto.
Maksud Lo In tidak mau mencari urusan, asal pedang sudah
dikembalikan, urusan sudah selesai. Ia tidak kira bahwa yang
diajak urusan adalah Kim Wan Thauto, bukannya jago
sembarangan yang dapat digertak dengan permainannya tadi.
Melihat si bocah bertindak maju, Kim Wan Thauto sudah siap
sedia.
"Thauto kesasar, kau lihat tuan kecilmu ambil pedang !"
berbareng ia menyerang pendeta rambut panjang. Kim Wan
Thauto memang sudah siap, ia mendorong dengan tangannya,
menggunakan lwekang 5 bagian. Tampak Lo In terpental
jumpalitan. Tapi hanya sekejap saja, si bocah sudah ada lagi
di hadapannya hingga ia mau ketawa terbahak-bahak tidak
jadi.
Sekali lagi Lo In menerjang, kali ini Kim Wan Thauto mengibas
dengan bajunya, menggunakan lwekan tujuh bagian.
Tampak si bocah berputar tubuhnya kemudian berjumpalitan
hingga Kim Wan Thauto tidak tahan untuk tidak tertawa
terbaha-bahak. Kepalanya sampai mendongak ke atas saking
enaknya ketawa.
Sekonyong-konyong ia rasakan ada angin berkesiur disisinya.
Ketika ia sadar kena diakali si bocah, tapi sudah terlambat
sebab Lo In sambil ketawa nyengir tampak sedang acungkan
pedang pendek yang barusan masih menyelip di
bebokongnya.
"Terima kasih atas kebaikan hatimu untuk mengembalikan
pedangku." kata si bocah dengna gayanya yang lucu.
Kim Wan Thauto cepat meraba punggungnya, memang
pedang sudah tidak ada ditempatnya. Bukan main gusarnya,
pikirnya, masa anak kecil ini begitu hebat kepandaiannya ?
Sebagai jago kawakan, ia tidak rela dipermainkan anak kecil.
Maka seketika itu ia membentak, "Bocah hitam, kalau kau
tidak kembalikan pedang itu, jangan sesalkan Hudyamu
(Budhamu) berlaku kasar terhadap anak kecil !"
"Untuk dapat pulang, mudah saja. Asal kau unjuk kepandaian
!" sahut Lo In, lalu putar tubuhnya dan lari kepada Bwee
Hiang.
Kim Wan Thauto marah bukan main, lantas kepalanya
digelengkan. Sekaligus dua anting-antingnya melesat dari
kedua telinganya, saling susul menyambar ke arah jalan darah
Lo In di pundak dan tengkuk.
"Adik kecil, awas !" teriak Bwee Hiang melihat senjata rahasia
anting-anting Kim Wan Thauto sudah mendekati sasarannya.
Si gadis sampai memeramkan matanya karena ngeri adik
kecilnya akan roboh dihajar anting-antingnya si Thauto yang
gede.
Di saat ia memeramkan matanya, berbareng ia dengar suara
'tring ! tring !' dua kali. Ketika ia membuka matanya lagi, ia
lihat
adik kecilnya tengah tersenyum-senyum ke arah Kim Wan
Thauto yang berdiri terpaku di tempatnya.
Lo In sangat lihai, tidak semudah yang dikira Kim Wan Thauto
si bocah akan kena dibokong meskipun senjata rahasia
anting-anting emas Kim Wan Thauto belum pernah luput
mengarah sasarannya.
Ketika Bwee Hiang berteriak, Lo In sudah membalik tubuhnya.
Dengan pedang Liok Sinshe, ia hajar dua anting-anting Kim
Wan Thauto hingga keduanya jatuh ditanah, setelah
mengeluarkan suara 'tring ! tring!' dua kali.
Kalau Bwee Hiang merasa bersyukur adik kecilnya selamat,
adalah Kim Wan Thauto di lain pihak merah padam mukanya,
saking gusar rupanya.
"Masih ada lagi ?" Lo In ngeledek Kim Wan Thauto.
"Bocah hitam, kau jangan bangga dulu !" sahut Kim Wan
Thauto seraya merogoh sakunya, kemudian ia mengayunkan
tangannya. Lima anting-anting emas menyambar berbareng
laksana kilat cepatnya, mengarah sasaran atas, tengah,
bawah dan di kanan kiri. Disinilah adanya keistimewaan Kim
Wan Thauto melepas senjata rahasianya sebab lawan yang
diserang dari lima jurusan sangatlah sukar untuk meluputkan
dirinya sehingga tanpa ada salah satu dari lima senjata
rahasia itu yang mengenakan sasarannya.
Lo In mengerti serangan lawan sangat berbahaya, ia
keluarkan ilmu saktinya 'Bu im sin kang', badannya berputar
bagaikan asap bergulung naik ke atas hingga Kim Wan Thauto
terkejut menyaksikan keanehan itu. Tidak lama, ia melihat Lo
In sudah berdiri ketawa ke arahnya. Ia berkata, "Taysu, terima
kasih atas pemberian anting-anting emasmu !" Lo In berkata
seraya dari tangan bajunya ia keluarkan lima anting-anting
emas Kim Wan Thauto yang barusan dilontarkan kepada si
bocah.
Kim Wan Thauto berdiri melongo....
Sebagai orang Kangouw kawakan, Kim Wan Thauto tahu akan
itu peribahasa, "Ksatria harus tahu pada saat maju dan pada
waktu mundur", pepatah tersebut adalah suatu nasehat yang
baik. Mengingat ini, Kim Wan Thauto jadi menghela napas.
-- 21 --
Tidak sampai menunggu Lo In membuka mulut lagi, ia sudah
menghampiri si bocah di depannya. Ia angkat tangannya
bersoja, katanya, "Siao-hiap, kau menang ! Kau adalah orang
pertama yang membuka mataku bahwa orang pandai masih
ada yang lebih pandai. Aku mengira tadinya tidak sukar aku
menemukan tandingan, tidak tahunya, menghadapi kau Siaohiap
aku tidak berkutik. Hahaha... !"
Berbareng dengan menutup kata-katanya, Kim Wan Thauto
telah jatuhkan diri berlutut sehingga Lo In repot dan
menyingkir ke samping, serta katanya, "Taysu, kau jangan
bikin diriku lekas tua dengan caramu begini."
Kemudian ia tepuk-tepuk pundak orang perlahan tapi diamdiam
ia gunakan lwekangnya untuk bikin si Thauto bangun
dari berlututnya. Kim Wan Thauto tahu Lo In tengah
mengerahkan tenaganya, ia juga kerahkan tenaga dalamnya
untuk bertahan. Tapi akhirnya ia mesti mengakui keunggulan
Lo In dalam tenaga dalam. Maka ia pun tidak berani mencobacoba
terus. Segera ia bangkir dari berlututnya dan berkata,
"Siaohiap, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu. Aku
harap kau akan menerima baik !"
"Dalam urusan apa itu, Taysu ?" tanya si bocah.
"Caramu yang luar biasa memusnahkan serangan dari tujuh
anting-anting emasku, membuat aku sangat kagum ! Aku
sudah lepas kata, barang siapa yang bisa meluputkan diri dari
serangan senjata rahasiaku ialah yang berupa tujuh antinganting
emas, orang itu akan aku angkat menjadi guruku. Aku
sangka bahwa guru itu pastilah orang yang lebih tua dariku,
tidak tahunya malahan sebaliknya adalah seorang anak kecil.
Siaohiap, kau jangan menolak kalau sekarang aku harus
memenuhi sumpahku...."
Berbareng Kim Wan Thauto kembali hendak tekuk lututnya,
tapi Lo In keburu mencegah. Ia berkata, "Taysu, kau adalah
jago kelas wahid dalam Kangouw, sukar menemukan
tandingan. Untuk perkara kecil saja masa harus berlaku begini
merendah terhadap aku si bocah. Kalau Taysu punya senjata
rahasia yang lihat dapat aku punahkan, ituhanya dengan cara
kebetulan saja, lantaran Taysu tidak sungguh-sungguh
melepasnya dan menaruh kasihan kepada aku masih anak
kecil."
"Tidak, tidak. Memang aku menyerah kalah padamu." sahut
Kim Wan Thauto.
Si pendeta yang memelihara rambut panjang adalah satu
pendeta yang jujur dan belum pernah menarik kembali apa
yang ia sudah katakana, maka ia merasa tidak enak kalau ia
tarik kembali kata-kata yang ia sudah keluarkan dari bibirnya.
Maka, ia sudah mendesak supaya Lo In suka terima ia
menjadi muridnya, ia berjanji akan setia kepada si bocah.
Sebaliknya, Lo In terus menolak.
Melihat mereka tarik urat, yang satu ingin diterima jadi murid
dan yang lain menolak, dengan tiada ada keputusan sama
sekali, Bwee Hiang lalu campur tangan. Dengan air muka
berseri-seri ia datang menghampiri, kepada Kim Wan Thauto
si gadis memberi hormat serta berkata, "Kalau kalian tidak
keberatan, bagaimana kalau aku majukan diri sebagai orang
perantara untuk memutuskan urusan kalian ?"
"Bagus, bagus !" kata Kim Wan Thauto mendahului Lo In yang
hendak membuka mulutnya berbicara hingga si bocah muka
hitam urung berkata dan anggukkan kepalanya saja seperti
tanda bahwa ia pun mufakat dengan turun tangannya Bwee
Hiang.
Lo In percaya kecerdikan sang enci. Dengan keputusannya
Bwee Hiang pasti akan disetujui oleh mereka kedua pihak.
"Dari pembicaraan Taysu," Bwee Hiang mulai. "Aku memuji
Taysu adalah seorang yang jujur, tidak ingin memungkiri janji.
Tapi mendengar alasan adik In juga benar, masa ia harus
punya murid Taysu, lebih pantas bila adik In menjadi muridnya
Taysu. Ini baru pantas....."
"Tapi Liehiap...." memotong Kim Wan Thauto, terputus, karena
si nona goyang-goyang tangannya.
"Aku belum habis bicara, harap Taysu jangan memotong
dulu." kata Bwee Hiang.
"Jadi dua-duanya ada punya alasan kuat." berkata si nona
meneruskan. "Sekarang begini saja. Taysu mengagumi adik
In, sedagn adik In juga sangat menghargai Taysu. Bagaimana
kalau angkat saudara saja.....?"
"Bagus, bagus !" Lo In tiba-tiba memotong bicaranya si gadis.
Saking kegirangan, setuju dengan enci Hiangnya, Lo In
sampai bertepuk tangan.
Sebaliknya Kim Wan Thauto kerutkan keningnya. Agaknya
mereka kurang menyetujui putusan Bwee Hiang sebab
menyeleweng kepada sumpahnya. Si gadis yang cerdik sudah
lantas dapat menyelami pikiran si Thauto yagn kurang setuju.
Maka ia lantas berkata pula, "Seorang murid setia, selalu akan
bikin gurunya senang. Maka, apa salahnya kalau Taysu
menerima keputusan yang disenangi adik In agar adik In
hatinya merasa senang. Apa ini bukan sama saja Taysu
sebagai seorang murid telah membuat senang pada gurunya ?
Aku kira dengan keputusan kalian angkat saudara, tidak
menyimpang dari maksud Taysu yang sebenarnya."
Mendengar si gadis demikian fasih ucapan katanya dan teguh
alasannya, Kim Wan Thauto angguk-anggukkan kepalanya
dan kemudia ia tertawa ke arah Bwee Hiang hingga si gadis
kegirangan melihat usahanya akan berhasil.
"Liehiap, kau sungguh pandai membuka pikiran orang yang
bodoh." memuji Kim Wan Thauto. "Aku senang, kalau kau juga
termasuk dalam upacara angkat saudara. Harap kau jangan
menolak !"
Bwe Hiang kaget. Ia tidak mengira si Thauto akan bawa-bawa
juga dirinya. Tapi ia tidak keberatan untuk angkat saudara
dengan Kim Wan Thauto yang ia lihat pendeta itu benar
mukanya bengis tapi orangnya jujur dan termasuk salah satu
ksatria di kalangan jago-jago silat budiman. Malah dengan
mempunyai saudara angkat macam Kim Wan Thauto,
untuknya ada satu keuntungan, tenaganya dapat dipakai
membantu dalam usahanya menuntut balas kepada Sucoan
Sam-sat.
Memikir demikian, maka wajah Bwee Hiang berseri-seri. Ia
berkata, "Terima kasih Taysu. Sungguh tidak kukira kau
sangat menghargakan aku yang rendah."
Kim Wan Thauto kegirangan bahwa si nona tidak menolak.
Demikian selanjutnya tiga orang itu telah angkat saudara
dalam upacara sederhana disaksikan oleh Lima Harimau dan
anak-anak muridnya mereka yang jumlahnya bukan sedikit.
Kim Wan Thauto dipanggil 'Toako' oleh Bwee Hiang dan Lo In
sedang pada dua anak tersebut, atas permintaan mereka, Kim
Wan Thauto memanggil anak Hiang dan anak In, yang
sederhana saja. Si Thauto rambut panjang senang juga dapat
memanggil 'anak' pada si gadis dan si bocah, karena mereka
itu memang pantas menjadi anaknya Kim Wan Thauto.
Lima macan dari Suyangtin sangat menghormati tiga orang
tamu itu, terutama kepada Lo In yang mereka anggap adalah
'Bocah Sakti' yang tidak ada duanya. Kepandaiannya sukar
diukur. Mereka merasakan penglihatannya seolah-olah kabut
ketika menyaksikan tubuh Lo In tiba-tiba berputar-putar dan
seperti asap bergulung-gulung, tahu-tahu setelah si bocah
tersenyum ke arah Kim Wan Thauto dari lengan bajunya
mengeluarkan lima senjata rahasia anting-anting emas dari si
pendeta yang dilontarkan dengan tenaga lwekang yang
dahsyatnya bukan main.
Mereka berlomba mengundang Lo In dan dua saudaranya
untuk menginap di rumahnya. Tapi Bwee Hiang tidak mau
membuat berabe mereka maka dengan manis budi undangan
itu ditolak hingga tidak punya alasan lagi mereka untuk
mendesak terus. Meskipun demikian, mereka mengundang
untuk mampir bertemu ke rumah masing-masing selama Lo In
dan dua saudaranya ada di Suyangtin. Hal ini tidak ditampik
oleh Bwee Hiang dan dua saudaranya, demi untuk
menyenangkan pada hati mereka.
Atas pilihan Bwee Hiang, tiga saudara itu mondok di hotel Hok
An, suatu rumah penginapan yang sangat bersih dalam dusun
Suyangtin.
Dalam omong-omong, sebelumnya masuk tidur, Kim Wan
Thauto berkata pada Bwee Hiang, "Anak Hiang, aku masih
belum bisa lupakan wajahmu pada tiga tahun yang lalu."
Bwee Hiang heran. Ia lantas menanya, "Bagaimana toako bisa
kenali wajahku ? Apa memang toako sudah kenal sebelum kita
angkat saudara ? Aku sendiri lupa. Harap toako tidak kecil hati
kalau adikmu pelupa."
"Anak Hiang, aku kenal tanpa berkenalan tapi kukenali
wajahmu di atas loteng pertama dari rumahmu.''
Bwee Hiang terkejut. Sepasang matanya yang jernih halus
memandang pada Kim Wan Thauto tidak berkedip. Kata-kata
si toako betul-betul mengagetkan hatinya karena katanya
mengenali wajahnya adalah dari jendela kamar di atas loteng
pertama.
"Toako, kau jangan bikin aku bertanya-tanya. Lekas ceritakan
apa yang sudah terjadi pada saat itu." berkata Bwee Hiang
kemudian.
Melihat adik angkatnya tidak sabaran seperti cacing kena abu,
maka Kim Wan Thauto lantas bercerita bagaimana ia telah
melakukan penyelidikan dalam rumah Liu Wangwee untuk
mendapat keterangan tentang kedatangannya Sucoan Samsat.
Ia mendengar tentang percakapan Bwee Hiang dengan
ayahnya dalam kamar kemudian ia bertekad akan membantu
Liu Wangwee akan tetapi kenyataannya bahwa bantuannya
tidak diperlukan dengan turun tangannya si kerudung merah.
Dituturkan dengan jelas pada Bwee Hiang, hingga si nona
yang tidak memotong pembicaraan orang, mendengarkan
semua itu tanpa terasa telah mengucurkan air mata.
"Anak Hiang." kata Kim Wan Thauto, kaget ia melihat adik
angkatnya menangis. "Kau kenapa menangis ? Apa
penuturanku melukai hatimu karena aku tidak turun tangan
membantu keluargamu ? Kepandaian si kerudung merah
sudah lebih dari cukup. Untuk apa aku membikin berabe dia
dengan memunculkan diri pada saat itu ?"
Bwee Hiang geleng-geleng kepala, seraya menyusut air
matanya yang berlinang-linang.
"Toako, bukan begitu duduknya." berkata si nona, masih
sesenggukan.
Lo In pun jadi kaget, enci Hiangnya tiba-tiba menangis.
"Enci Hiang, kau kenapa ? Barusan toako cerita, tiba-tiba saja
kau menangis." Lo In menanya sang enci yang sedang sedih
saja.
Bwee Hiang tidak menjawab Lo In, hanya berkata pula kepada
Kim Wan Thauto.
"Toako, bukan begitu duduknya. Sebetulnya aku sangat
berterima kasih atas perhatianmu hendak menolong
keluargaku. Yang aku sedihkan adalah cerita toako itu
membuat aku terkenang pada ayahku almarhum."
"Hah ? Ayahmu sudah meninggal dunia ? Sakit apa ?" tanya
Kim Wan Thauto otomatis.
"Toako, kau tidak tahu." sahut Bwee Hiang, tersenyum sedih.
"Ayahku bukannya mati karena sakit tapi dibunuh oleh Sucoan
Sam-sat. Ah, toako....."
Bwee Hiang putus bicaranya karena ia tidak tahan dengan
kesedihannya, ia menangis lagi. Agak keras sekarang hingga
Kim Wan Thauto dan Lo In kebingungan kalau-kalau tangisan
itu dapat mengganggu penghuni kamar lainnya sehingga bisa
membikin orang-orang pada keluar untuk menanyakan ada
urusan apa sampai menangis begitu sedih.
Kim Wan Thauto dan Lo In bergiliran menghibur Bwee Hiang.
Si gadis cepat terhibur rupanya sebab kemudian ia hentikan
tangisnya lalu menceritakan pada Kim Wan Thauto tentang
keganasannya Sucoan Sam-sat yang membunuh seisi
rumahnya termasuk Kian-san Ji-lo, setelah pada sebelumnya
mereka kena dihajar oleh Lo In. Mereka telah mengganas juga
dalam markas cabang Ceng Gee Pang sehingga banyak
meminta korban jiwa.
Kim Wan Thauto sangat gusar mendengar laporan Bwee
Hiang.
"Aku dapat kabar tentang kebuasannya Sucoan Sam-sat, akan
tetapi tidak mengira sampai begitu kejam dan menganggap
jiwa manusia seperti jiwa kecoak !" kata Kim Wan Thauto,
seraya giginya kedengaran berkeretak, menahan amarahnya.
"Toako," kata Bwee Hiang. "Kita sudah angkat saudara. Maka
dalam halnya Sucoan Sam-sat, aku mengharap sekali bantuan
toako dalam usahaku menuntut balas."
"Anak Hiang, meskipun kita belum angkat saudara, aku juga
akan membantu kau sebisa-bisanya untuk membasmi orangorang
jahat itu !" jawab Kim Wan Thauto tegas.
Diam-diam Bwee Hiang merasa sangat berterima kasih atas
janji Kim Wan Thauto.
"Sayang anak In pada waktu itu tidak membinasakan saja
kawanan jahat itu." Kim Wan Thauto menyatakan sangat
menyesalkan.
"Adik In masih terlalu kecil, belum sampai berpikiran ke situ.
Apalagi memang dia berhati lemah untuk bertindak kejam !"
kata Bwee Hiang sambil melirik pada Lo In yang tidak campur
dalam percakapan mereka berdua.
Lo In hanya nyengir ketawa melihat Bwee Hiang melirik
kepadanya.
"Ya, memang anak In masih kecil." sahut Kim Wan Thauto
ketawa. "Sebagai jago kecil berkelana dalam dunia Kangouw,
nanti dia akan bertambah pengalaman dan mempunyai
pandangan terhadap orang-orang yang jahat dan licik. Maka
itu anak In, kau harus waspada menjaga diri."
"Terima kasih atas nasihat toako." kata Lo In, tertawa nyengir.
"Tapi, anak In." Kim Wan Thauto berkata lagi, matanya
memandang wajah Lo In yang hitam legam. "Aku lihat
wajahmu tidak semestinya hitam, cara bagaimana kau
memoles wajahmu jadi hitam begini ?"
"Panjang untuk diceritakan, toako." sahut Lo In. "Tapi
sekarang aku minta toako dulu bercerita bagaimana toako
dapatkan pedang pendekku itu ?"
"Sebenarnya aku mau minta adikku dulu bercerita, tapi tidak
apalah. Biar toakomu mengisahkan satu kejadian yang lucu."
Selanjutnya Kim Wan Thauto mengisahkan dari mana ia
dapatkan pedang pendek.
Pada suatu hari menjelang sore, hujan turun dengan lebat.
Kim Wan Thauto dalam perjalanan mengunjungi salah satu
sahabatnya, kebingungan tidak menemui rumah untuk
meneduh, untuk menyingkir dari serangan hujan lebat.
Dengan menggunakan ilmu jalan cepat, sekira dua lie maju ke
depan, tiba-tiba ia menemukan satu kuil rusak.
Ke dalam kuil itu ia masuk. Lumayan juga dapat menyingkir
dari serangan hujan lebat meski pun di sana sini tampak kuil
itu pada bocor gentengnya.
Rupanya kuil itu sudah lama ditinggalkan penghuninya tapi
masih ada towie (taplak meja) rombeng yang panjang sampai
menutupi kolong meja, diatasnya terdapat sebuah tepekong
yang lagi duduk bersila. Pikirnya kalau ia masuk ke kolong
meja itu, baik juga. Sebab tidak kedinginan dari hembusan
angin yang masuk ke dalam rumah berhala itu yang hampir
tidak berpintu. Setelah berpikir ia lalu masuk ke kolong meja
tadi.
Benar saja di kolong itu ia merasa agak hangat juga.
Belum lama ia rebahan, tiba-tiba ia mendengar seperti ada
orang yang masuk ke dalam kuil itu. Ia lalu mengintip melalui
lubang dari towie yang rombeng.
Ia lihat yang datang itu adalah seorang laki-laki berperawakan
tinggi kurus, mukanya tidak enak dilihat saking jeleknya. Di
bebokongnya ia menggendong sebuah bungkusan besar.
Entah apa isinya buntelan besar itu.
Ketika si orang jelek tadi sudah berada di dalam, ia lalu
gubraki di atas lantai buntelan yang digendongnya lalu ia
gibrik-gibriki bajunya yang basah kuyup kehujanan.
"Kurang ajar, tadi terang benderang, eh, mendadak turun
hujan besar. Dasar anak sialan !" orang itu berkata-kata
sendirian sambil perlahan-lahan membuka buntelan besar
tadi. Kiranya isinya adalah sesosok tubuh yang tidak berkutik.
Waktu Kim Wan Thauto menegasi kiranya ia adalah satu anak
muda yang cakap, putih, mirip seorang perempuan.
Ia rupanya telah ditotok pingsan sebab pipinya yang halus
diusap-usap ke sana kemari oleh si wajah jelek, anak muda itu
tinggal diam saja.
"Sungguh sayang kau dijelmakan sebagai seorang lelaki.
Kalau kau perempuan yang sekarang jatuh di tanganku ?
Hmm !" demikian si jelek berkata-kata sendirian.
Entah apa maksudnya kata-kata itu tapi bagi Kim Wan Thauto
sudah lantas menduga bahwa orang jelek itu bukan orang
baik-baik, tentu anak muda itu kena diculik olehnya. Ia terus
mengintip. Ia melihat si jelek membuka totokan si anak muda
yang sebentar kemudian telah dapat membuka matanya.
Melihat wajah si jelek, anak muda itu kerutkan alisnya.
"Aku tidak kenal kau siapa, asal kau kembalikan aku ke rumah
orang tuaku, urusan dapat habis sampai disini saja. Tapi,
kalau sebaliknya ? Hmm!" kata si anak muda, seperti
mengancam si orang jelek.
"Hmm ! Apa hmm ! Apa kau kira aku takut kepada ayahmu
Kong Tek Cong ?" si orang jelek kata dengan suara kasar.
Kim Wan Thauto terkejut mendengar disebutnya Kong Tek
Cong ialah sahabatnya yang ia hendak kunjungi. Kalau begitu,
pikirnya, anak muda ini tentu putera sahabatnya yang
dipanggil Liang Hin.
"Ayahku adalah Chungcu (ketua kampung) dari Pek-in-chung,
mempunyai banyak sahabat-sahabat dalam kalangan
Kangouw." kata si anak muda. "Kalau kau tidak takuti ayahku,
kau juga harus memikirkan kepada sahabat-sahabatnya yang
tentu tidak akan tinggal dima atas perbuatanmu menculik aku."
Kong Tek Cong memang Chungcu dari Pek-in-chung
(Kampung awan putih di Kang-say).
Namanya sangat terkenal dalam kalangan Kangouw. Bukan
karena ilmu silatnya dihargakan tapi juga sebagai seorang
kaya raya, wataknya sangat ramah dan tangannya mudah
untuk menolong sesamanya yang dapat kesusahan. Bukan
sedikit jago Kangouw yang mendapat pertolongannya apabila
dalam perjalanan mendapat kesukaran uang misalnya. Tidak
heran kalau Kong Tek Cong mendapat banyak sahabat.
Ketika mendengar Liang Hin menyebut-nyebut kawankawannya
Kong Teng Cong, si wajah jelek bukannya takut
malah tertawa terbahak-bahak, katanya, "Siapa tidak kenal
padaku Toan Bi Lomo yang malang melintang tanpa menemui
tandingan. Biarpun ayahmu mengumpulkan semua kawankawannya,
aku juga tidak takut. Apalagi mereka berani datang
ke Coa-kok, aku tanggung semuanya akan dibasmi habis !"
Liang Hin tersenyum sinis mendengar kata-kata si muka jelek
yang tiada lain adalah Siauw Cu Leng dengan gelarnya Toan
Bi Lomo (si Iblis Alis Buntung). Dalam usahanya menculik
anak-anak muda tanggung, ternyata ia berani juga menculik
anaknya Kong Tek Cong yang sangat terkenal namanya.
"Kau benar-benar tidak mau membebaskan Siaoyamu ?"
menegaskan Liang Hin.
"Kau jangan mimpi, anak muda ! Hahaha .. !" berbareng ia
mendak disusul dengan suara 'siuutt' yang memancarkan sinar
seperti kembang api lewat kira-kira dua dim diatas rambut
kepalanya hingga ia menjadi sangat kaget.
Kiranya itu senjata rahasia dari Pek-in-chung yang dinamai
'Pek in hwee cian' atau 'Panah api awan putih', senjata rahasia
yang khusus dibuat oleh Kong Tek Cong untuk digunakan oleh
orang-orangnya untuk melindungi Pek-in-chung.
Panah api itu apabila dilepas dari busurnya akan
mengeluarkan suara menyiut keras lantas dalam perjalanan
menuju sasarannya tiba-tiba memancarkan sinar seperti
kembang api yang biasa dipasang oleh anak-anak. Orangorang
Kangouw yang melihat sinar yang tiba-tiba memencar
dari panah api itu lantas mengenali, itu adalah senjata rahasia
dari Pek-in-chung yang sangat terkenal. Kalau mengenai
sasarannya, panah api itu akan membakar pakaian si korban
dan menghanguskan bagian tubuh yang ditujunya.
Siauw Cu Leng cukup lihai. Begitu ia mendengar suara
menyiut lantas ia kenali akan senjata rahasia dari Pek-inchung,
sayang ia tak dapat lolos dari mencarnya api.
Rambutnya sebagian sudah kena kebakar hingga ia repot
untuk mematikan dengan lengan bajunya.
Dalam kerepotan itu, segera menyusul dua tiga panah api lagi.
Tapi karena ia sudah bersedia, semuanya dapat dikebas jatuh
dengan tangan bajunya.
"Bangsat kurang ajar !" ia berteriak. Tapi sebelum ia membuka
mulut besar, segera di depannya sudah ada tiga orang tinggi
besar dengan golok di tangan.
"Kau berani memaki 'bangsat kurang ajar' ? Sungguh
menyebalkan ! Perbuatanmu yang sangat kurang ajar, bangsat
penculik !" memaki salah satu diantaranya yang menjadi
pemimpin dari tiga orang itu rupanya.
"Tan siokhu (paman), dia..... dia..... " Liang Hin tak dapat
meneruskan kata-katanya karena dengan sebat Siauw Cu
Leng sudah menotoknya roboh mendeprok di lantai.
Kim Wan Thauto yang terus menonton, ia kenali tiga orang
yang datang itu adalah tiga saudara angkat dari Kong Tek
Cong yang bernama Nio Him, Tan Nie Ciang dan Lie Kim
Giok. Mereka empat saudara terkenal dengan julukan 'Pek-in
Su-kiat' atau 'Empat jago dari kampung Awan Putih'. Sepak
terjangnya mendapat pujian rakyat karena mereka menolong
yang lemah, merintangi yang kuat.
Banyak perbuatan yang sewenang-wenang dapat dibereskan
oleh mereka dengan adil.
Yang tadi memaki Siauw Cu Leng adalah Tan Nie Ciang.
Mendapat balasan makian, Siauw Cu Leng marah. Ia berkata,
"Baru kalian tiga orang, biarpun Pek-in Su-kiat turun sekaligus,
aku Toan Bi Lomo tidak takut !"
Berbareng dengan kata-katanya Siauw Cu Leng sudah
sambar tubuhnya Liang Hin untuk lantas dibawa melompat
kabur. Tapi Kim Giok yang menjaga di pintu sudah lantas
menghadang. "Mau lari ?" jengeknya. "Turunkan Kong Kongcu
lalu berlutut minta ampun, baru kami nanti memberikan
pertimbangan !"
"Kentut busuk !" teriak Siauw Cu Leng gusar. "Lihat kakekmu
nanti akan bikin kalian kocar kacir, tidak ada jalan untuk
umpatkan diri !"
Dengan pundak kiri memanggul tubuh Liang Hin, tangan
kanannya sempat mencabut pedang pendek. Ia berkata pula,
"Hayo, maju semua !"
Tan Nie Ciang tahu lawannya lihai tapi masa dikerubuti tiga
lawan ia dapat pertahankan diri, apalagi berkelahi sambil
memanggul tubuh orang ?
Memikir kesitu, maka Tan Nie Ciang maju paling dulu. Ia
membentak, "Orang jahat, jangan tembereng. Lihat aku orang
she Tan akan ambil kepalamu !"
Berbareng Tan Nie Ciang bulang baling goloknya yang tajam,
tiba-tiba ia menyerang membabat pinggang lawan. Ini suatu
gerakan yang dinamai 'Ki houw pok yo' atau 'macan kelaparan
menerkam kambing', tidak gampang dikelit oleh pihak lawan
untuk gerakan yang cepat dan ganas itu sehingga telah
membuat nama Tan Nie Ciang naik. Sayang ketemu Siauw Cu
Leng yang gesit. Toan Bi Lomo tidak mau menangkis dengan
pedangnya yang pendek dan bobotnya sangat enteng, kuatir
pedangnya tidak tahan kebentur pedang lawan yang berat.
Maka begitu datang golok mengarah pinggang, cepat ia
berkelit dengan lompat setindak ke belakang hingga sabetan
golok lewat depan perutnya hanya dua dim saja. Berbareng ia
bertindak maju, sebelum musuh mengambil posisinya,
pedangnya diputar terus ditikamkan ke arah tenggorokan. Ini
suatu tipu 'Tong cu ci louw' atau 'Bocah menunjukkan jalanan',
suatu serangan yang tiba-tiba dilakukan. Mula-mula pedang
diputar untuk membingungkan lawan kemudian menikam
dengan tiba-tiba ke arah tenggorokan.
Untung Tan Nie Ciang juga bukan jago kemarin, ia sudah
berpengalaman.
Dengan tipu 'Kim ke pa tauw' atau 'Ayam Emas goyang
kepala', kepalanya dimiringkan ke kiri kemudian dengan badan
separuh jongkok, goloknya menikam 'gudang makanan' (perut)
Siauw Cu Leng. Dengan tangkas Toan Bi Lomo menjejakkan
kakinya lompat ke atas, menghindari serangan. Tan Nie Ciang
merangsek, ia tidak mau kasih lawannya untuk perbaiki
posisinya tapi Siauw Cu Leng bukan Toan Bi Lomo kalau tidak
berdaya dengan rangsekan Tan Nie Ciang. Ia turun dari atas
dengan pedang pendeknya diputar untuk mematahkan
serangan susulan Tan Nie Ciang.
Dua senjata beradu keras hingga menimbulkan bunga-bunga
api, tampak golok Tan Nie Ciang kuntung sepuluh dim dari
ujungnya hingga Tan Nie Ciang sangat terkejut.
Nio Him dan Kim Giok hanya menonton saja. Mereka percaya
Tan Nie Ciang dapat mengalahkan Siauw Cu Leng karena ia
berkelahi sambil memanggul tubuh Liang Hin. Tapi
kenyataannya beban di atas pundaknya tidak menjadi
rintangan bagi Siauw Cu Leng bergerak leluasa melayani Tan
Nie Ciang.
Melihat keunggulan Siauw Cu Leng barulah dua saudara itu
bergerak. Tapi sebelum mengeroyok, tiba-tiba mereka
mendengar beradunya senjata dan goloknya Tan Nie Ciang
tertabas kuntung hingga mereka sangat kaget.
Toan Bi Lomo kaget. Ia tidak mengira pedang pendek yang
bobotnya enteng itu dapat menabas kutung goloknya Tan Nie
Ciang yang kasar dan berat. Sudah beberapa kali ia
menyingkirkan dari beradunya senjata. Kalau barusan mesti
beradu juga, itu ia lakukan dengan terpaksa sebab waktu turun
dari lompatnya ia papaki golok Tan Nie Ciang.
Kini ia tahu pedang pendeknya sangat ampuh, maka hatinya
jadi besar.
Ia tidak ragu-ragu lagi untuk mengadu senjata. Hasilnya juga
kelihatan dengan gemilang sebab Nio Him dan Kim Giok, satu
demi satu goloknya pun dibikin kutung oleh pedang
pendeknya hingga mereka tidak berdaya, mereka hanya
melihat Siauw Cu Leng melesat keluar kuil.
Mereka tidak berkutik untuk mencegah Toan Bi Lomo. Karena
dengan senjata mereka sudah dikalahkan, bagaimana dengan
tangan kosong mereka dapat merintangi Siauw Cu Leng ?
Dengan girang si Iblis Alis Buntung sudah kabur.
Hujan pun sudah berhenti, dengan tindakan cepat ia
meninggalkan kuil. Hatinya kegirangan mempunyai pedang
pusaka yang ampuh.
"Perlahan jalan, sahabat !" tiba-tiba ia mendengar suara orang
berkata dibelakangnya hingga ia menjadi kaget. Cepat ia putar
tubuhnya berbalik. Cepat ia putar tubuhnya berbalik. Ia lihat
orang yang menegur itu, barusan keluar dari balik pohon
begitu ia melewatinya.
Ia ternyata adalah Thauto..... Memang tiada lain orang itu
adalah Kim Wan Thauto.
Kenapa Kim Wan Thauto dengan mendadak saja ada dibalik
pohon ? Bukankah ia tadi mengintip dibalik towie yang
rombeng ? Kiranya, waktu melihat tiga orangnya Pek-in-chung
dirobohkan, Kim Wan Thauto tidak lantas muncul diantara
mereka tapi sudah menyingkir dan keluar dari pintu samping.
Ia cegat Siauw Cu Leng diduga akan mengambil jalan itu.
Kim Wan Thauto merasa tidak leluasa kalau sampai terjadi
perkelahian dengan seru dalam kuil itu, kurang lebar. Maka ia
berusaha untuk cegat Siauw Cu Leng dijalanan, dimana
terdapat lapangan rumput yang luas untuk bertempur
menggunakan kepandaian kelas wahid. Itulah sebabnya maka
tiba-tiba Kim Wan Thauto sudah ada dibalik pohon.
Waktu melihat dihadapannya ada seorang pendeta yang
berambut panjang dan kedua telinganya memakai antinganting
emas, lantas Siauw Cu Leng kenali bahwa
dihadapannya itu tentu adalah Kim Wan Thauto yang terkenal
dengan senjata rahasia anting-anting emasnya yang sukar
dihindarkan.
"Hehehe !" tertawa Siauw Cu Leng. "Juga Taysu hendak ikut
campur dalam urusanku ? Seorang yang saleh tidak
seharusnya mencampuri urusan orang lain, maka ada lebih
baik kalau Taysu mundur saja, maka diantara kita selanjutnya
tidak apa-apa."
"Bagus." sahut Kim Wan Thauto. "Aku juga mengharap
diantara kita tidak ada apa-apa, asal kau suka turunkan Kong
Kongcu yang ada dipundakmu itu !"
"Dengan hak apa kau suruh aku turunkan milikku ?" tanya
Toan Bi Lomo.
"Sudah tentu aku ada berhak, hak sebagai pamannya Lian
Hin. Kong Tek Cong adalah sahabat baikku !"
"Taysu, jangan kau ngaco belo disini. Aku tidak percaya kalau
Kong Tek Cong mempunyai sahabat sepertimu !"
Siauw Cu Leng sudah mulai kasar dalam ucapan katanya tapi
Kim Wan Thauto masih bersabar. Ia berkata lagi, "Bukan aku
saja menjadi sahabat Kong Tek Cong, Chungcu dari Pek-inchung,
juga Hweeshio dan Tojin banyak yang bersahabat
degnannya karena Kong Chungcu adalah seorang yang baik
dan berbudi luhur."
"Persetan dengan berbudi luhur. Pendeknya, kau minggir.
Kalau tidak ? Hmm !"
"Hmm ! Aku baru minggir kalau kau turunkan Kong Kongcu
dari pundakmu !"
Siauw Cu Leng hanya mendengar saja tentang kegagahannya
Kim Wan Thauto tapi dia sendiri belum pernah ketemu atau
membenturnya, maka ia sangsi bahwa omongan orang belum
tentu benar karena ia belum mencobanya. Seraya tertawa
tawar ia berkata, "Aku tahu kau adalah Kim Wan Thauto, tapi
sikapmu sekarang ini membikin aku hilang sabar. Orang lain
boleh takut padamu, tapi aku Toan Bi Lomo tidak nanti jeri
menghadapi kau. Asal berani kau rintangi perbuatanku, tahu
sendiri !"
"Hahaha !" terdengar Kim Wan Thauto tertawa terbahakbahak.
"Kau tertawakan apa, Thauto linglung !" bentak Siauw Cu
Leng.
"Mari kita menetapkan, kau atau aku yang linglung !"
menantang Kim Wan Tahuto.
Toan Bi Lomo berpikir.
Menghadapi tiga orang dari Pek-in-chung adalah lawanan
enteng meskipun ia melayani dengan memanggul Lian Hin
dipundaknya tapi menghadapi Kim Wan Thauto yang
namanya sudah termasyur, bagaimana ia bisa samakan
dengan melawan orang-orang dari Pek-in-chung ? Maka ia
lantas turunkan Liang Hin dari pundaknya. Setelah itu, ia
menghadapi Kim Wan Thauto yang sudah siap sedia, ia
berkata, "Apa kau kira kau Siauw Cu Leng takut padamu ?"
"Siapa bilang kau takut padaku ? Aku hanya hendak mainmain
dengan kau untuk menetapkan siapa yang linglung
seperti kau kata tadi !" sahut Kim Wan Thauto dengan senyum
mengejek hingga si Iblis Alis Buntung menjadi marah.
"Thauto kesasar, kau lihat aku bikin kau sungsang sumbel
hanya 10 jurus saja hingga untuk lari pun kau tidak ada jalan !"
kata Siauw Cu Leng temberang.
"Bagus, marilah kita mulai !" tantang Kim Wan Thauto.
Segera juga kelihatan mereka sudah mulai bergebrak seru.
Berkelahi dengan tangan kosong meminta lebih banyak
tenaga lwekang untuk merobohkan lawan dengan pukulanpukulan
berat, banyak tipu-tipu silat yang membahayakan
lawan diperlihatkan oleh kedua pihak hingga pertempuran
menjadi ramai. Sambaran tangan yang mengandung tenaga
dalam, dahsyat sekali hingga tanah basah berterbangan.
Suara menderu-deru terdengar disebabkan oleh angin
pukulan, malah tanah banyak yang ambrol berlubang kena
sasaran angin pukulan mereka.
Nio Him dan dua saudaranya yang juga sudah datang kesitu
sangat mengagumkan ilmu pukulan dari kedua lawan yang
bertarung itu. Baik Siauw Cu Leng maupun pihak Kim Wan
Thauto, sama-sama tangkas dan gesit menyerang lawan.
Lwekang dari kedua pihak pun berimbang hingga sukar
mengatakan siapa diantaranya yang akan bakal jadi
pecundang.
Diam-diam Siauw Cu Leng mengakui ketangguhan lawan,
sebaliknya Kim Wan Thauto juga tidak mengira kalau si Iblis
Alis Buntung ini mempunyai kepandaian yang hebat. Pikirnya,
ia harus hati-hati melayaninya sebab salah tindak sedikit saja
ia bakal dikalahkan oleh Toan Bi Lomo, dimana ia harus taruh
muka untuk namanya yang sudah kesohor dikalangan
Kangouw.
Barusan hujan berhenti, maka lapangan rumput agak licin.
Kedua pihak merasa kuatir akan kuda-kudanya gempur karena
tanah licin. Oleh sebab itu masing-masing berlaku sangat hatihati
untuk menjaga diri jangan sampai dijatuhkan lawan.
Serangan-serangan Siauw Cu Leng sangat hebat. Ia seakanakan
tidak mengasih kesempatan untuk musuhnya bergerak
leluasa melayani pukulan-pukulannya yang ampuh.
Kim Wan Thauto berpikir selama ia bertempur, musuh sangat
tangkas, permainan silatnya juga bagus, kelihatan tidak ada
lowongan yang lemah. Pikirnya, ia harus menggunakan akal
untuk menjatuhkan musuh.
Kalau tadi Kim Wan Thauto membungkam saja, sekarang ia
mengoceh, katanya, "Toan Bi Lomo, apa janjimu barusan ?
Hmm ! Dengan kepandaianmu begini saja masih mau banyak
laga ? Sekarang sudah berapa jurus ? Aku masih belum
sungsang sumbel !"
Selagi enaknya ia mencecar musuhnya, tiba-tiba ia dengar
Kim Wan Thauto mengolok-olok, hatinya tidak enak. Ia tidak
menyahuti ocehan lawan.
"Dalam tempo sepuluh jurus, untuk lari pun aku tidak
mempunyai maksud." jengek Kim Wan Thauto pula seraya
berkelit dari serangan lawan. "Tapi buktinya sudah tiga puluh
jurus kau masih belum apa-apanya. Kesombonganmu ini kau
boleh bawa dalam impianmu saja, Toan Bi Lomo ! Hahaha,
tidak kena bukan ?" Kim Wan Thauto menggoda sambil
berkelit.
(Bersambung)
Jilid 08
Toan Bi Lomo keluarkan suara di hidung.
Ia benci pada lawan yang mulutnya bawel ini. "Kau kira aku
tidak bisa merobohkan kau, Thauto kesasap !" bentaknya
gusar.
"Kalau bisa, nah» robohkanlah ! Kenapa mesti menunggununggu
lama ?"
"Kau lihat sebentar, aku bikin kau terpelanting mampus "
"Jangan pakai sebentar, sekarang saja |" goda Kim Wan
Thauto ketawa.
Panas hatinya Siauw Cu Leng, ia pephebat serangannya
hingga Kim Wan Thauto keteter, ia main mundur saja.
Dalam napsunya karena olok-olok dari Kim Wan Thauto,
Toan Bi Lomo telah gunakan jurus Yap-tee-chong-tho (Di
bawah daun sembunyikan buah tho), tangan kirinya menyolok
mata sebagai pancingan» sepangan sebenarnya adalah
dengan tangan kanan menotok Hoa-kap-hiat
(jalan darah dibagian dada), dua serangan saling susul
yang membuat lawan kelabakan.
Namun Kim Wan Thauto sudah kawakan dalam
pertempuran, tidak mudah ia dibikin terjungkal oleh jurus Yaptee-
chong-tho. Tampak ia kerahkan ilmu kebalnya Tiat-pouwsan
di bagian dada sedang serangan ke arah mata ia kelit
dengan bagus sekali.
"Aduhh !" terdengar Toan Bi Lomo mengaduh ketika jarinya
menyentuh dada Kim Wan Thauto yang seperti papan besi
kerasnya. Cepat ia menarik pulang tangannya tapi agak
terlambat, jarinya Kim Wan Thauto berbareng menyentil keras
pada nadinya hingga badan Siauw Cu Leng gemetaran sambil
lompat mundur.
Kim Wan Thauto telah menggunakan gerak tipu Tiat-iekoan-
jit atau 'Baju besi menutup matahari', suatu gerakan yang
berhasil memunahkan tipu Yap-tee-cong-tho dari Siauw Cu
Leng. Sekarang si Iblis Alis Buntung tidak berani menyerang
lagi, ia berdiri menjublek seraya kerahkan lweekangnya untuk
mengusir rasa kesemutan di nadinya yang barusan kena
disentil oleh Kim Wan Thauto.
"Bagaimana, apa masih mau diteruskan ?" Kim Wan Thauto
mengejek.
"Baiklah, kali ini kau menang- Sampai lain kali kita jumpa
pula !" jawab Siauw Cu Leng seraya putar tubuhnya berlalu.
"Tunggu !" seru Kim Wan Thauto ketika baru saja si Iblis
Alis Buntung melangkah berapa tindak hendak berlalu hingga
ia hentikan melangkahnya dan putar kembali tubuhnya, ia
menanya, "Apa kau masih penasaran terhadap orang yang
sudah mengaku kalah ? Kau jangan terlalu menghina, ada
satu waktu kita akan berjumpa pula !"
"Bukan itu maksudku." sahut Kim Wan Thauto.
"Habis, kau mau apa ?" tanya Siauw Cu Leng gusar. "Kong
Kongcu sudah aku tinggalkan, kau mau apalagi gerembengi
aku mau berlalu ?"
"Tinggalkan pedang yagn tergantung dipinggangmu l'"
sahut Kim Wan Thauto tertawa.
"Pedang ini tidak ada sangkutannya dengan kau, kenapa
kau mau merampas milik orang ? Betul-betul kau tidak tahu
malu !"
Kim Wan Thauto tertawa gelak-gelak. "siapa bilang tidak
ada sangkutannya ? Pedang itu ada milik sahabatku,
bagaimana kau kata tidak ada sangkutannya 7" kata Kim Wan
Thauto.
Terkejut hatinya si Iblis Alis Buntung. Pedang itu ada
miliknya Kwee Cu Gie, kalau si Thauto kenali ada milik
sahabatnya, terang si Thauto ada hubungan erat dengan
Kwee Cu Gie. Namun si Iblis Alis Buntung orangnya bandel
dan licik, maka ia juga tertawa terbahak-bahak menyaingi
tertawanya Kim Wan Thauto.
"Kenapa kau tertawa ?" tanya Kim wan Thauto heran-
"Aku tertawakan kau, sembarangan saja mengakui pedang
orang." sahut Siauw Cu Leng. "Kalau pedang ini pedang
sahabatmu, apa buktinya ?"
"Toan Bi Lomo, kau jangan banyak tanya, kau lihat saja
pada gagang pedang ada goresan nama pemiliknya."
"Siapa pemiliknya, coba kau sebutkan !"
"Hahah, kau masih mau banyak tanya lagi- Pada goresan
itu ada disebut namanya Kwee Cu Gie bukan ?"
Kaget Toan Bi Lomo, memang pada gagang pedang itu
tertatah namanya Kwee Cu Gie.
Ternyata Kim Wan Thauto lihai mengenali pedang kawan.
Ia dapat mengenali pedang itu ketika Toan Bi Lomo
menangkis golok Tan Nie Ciang yang kontan terpapas kutung,
kemudian dengan beruntun golok Nio Him dan Kim Giok juga
telah dibikin buntung oleh pedang pendek yang tajam itu.
Dalam dunia KangoUw pada masa itu hanya pedang
pendek Kwee Cu Gie Tayhiap yang dapat
memapas golok kutung. Suatu keanehan sebenarnya
sebab pedang pendek itu selainnya pendek juga bobotnya
sangat enteng tapi bisa membikin kutung golok yang bobotnya
sangat berat.
Siauw cu Leng tak dapat memungkiri apa yang dikatakan
oleh Kim Wan Thauto.
Cuma saja, seperti dikatakan, ia sangat licik. Setelah tidak
ada jalan untuk memungkiri kata-kata Kim Wan Thauto, ia lalu
mencari jalan untuk meloloskan diri kabur dari situ dengan
Pedang masih miliknya.
Maka diwaktu melihat Kim Wan Thauto sedang gelak-gelak
ketauia, mentertawkan dirinya yang tidak bisa memberi
jawaban, segera ia tidak sia-siakan ketika itu. ia enjot
tubuhnya kabur. Namun belum lama lari atau terdengar
dibelakangnya ada suara benda bergemerincing menyusul
kemudian ia rasakan iga kanan dan pundak kirinya
kesemutan, menyusul tubuhnya terkulai jatuh ditanah.
Kiranya Kim Wan Thauto ketika melihat lawannya kabur,
segera ia gelengkan kepalanya. Dua senjata rahasia antingantingnya
melesat saling susul menyambar pada jalan darah
Tay-it-hiat dan Seng-hong-hiat hingga si Iblis Alis Buntung
harus mengakui kelihaiannya si Thauto beranting emas- Ia
sangat gusar harus menerima kekalahannya yang kedua kali
dari lawannya.
"Toan Bi Lomo, aku tidak mengira kalau ada demikian licik
!" menyindir Kim Wan Thauto ketika ia meloloskan pedang dari
pinggangnya Siauw Cu Leng.
Si Iblis Alis Buntung hanya mendengus gusar.
Setelah pedang berada ditangannya, Kim Wan Thauto telah
memungut kembali anting-antingnya yang jatuh tidak jauh dari
siauw Cu Leng dan dikenakannya pula ditelinganya.
"Aku tidak punya permusuhan apa-apa dengan kau, maka
kau boleh pergi !" kata Kim Wan Thauto seraya kakinya
menyepak pada pinggul Siauw Cu Leng yang seketika itu
bebas dari totokan anting-anting dan ia ngeloyor pergi setelah
melemparkan muka asem pada Kim Wan Thauto.
Kim Wan Thauto memeriksa pedang pendek itu. Ternyata
memang ada tertulis pada gagang pedang 'Kwee Cu Gie Toan
Kiam' (pedang pendek dari Kwee Cu Gie), pedang
sahabatnya. Diam-diam Kim Wan Thauto merasa heran
kenapa pedang si pendekar Besar bisa jatuh ditangannya
Siauw Cu Leng.
Sedangnya ia mengagumi pedang pendek itu, tiba-tiba ia
dengar opang berkata, "Paman, aku sangat berterima kasih
sekali atas pertolonganmu----11
Ketika Kim Wan Thauto berpaling, kiranya yang berkata itu
ada Kong Liang Hin, puteranya Kong Tek Cong sahabatnya.
Anak muda itu telah dibebaskan oleh Tan Nie Ciang ketika
si Iblis Alis Buntung telah dirobohkan oleh Kim Wan Thauto.
Begitu melihat Siauw Cu Leng sudah pergi, maka pemuda itu
sudah menghampiri Kim Wan Thauto yang tengah mengagumi
pedang sahabatnya.
"Anak Hin, apa kau sudah lupa pada pamanmu ?" tanya
Kim Wan Thauto ketauia.
Kong Liang Hin heran, ia lantas menatap wajah orang.
"Ah, kau... kau., paman Auw-yang..." Kong Liang Hin kenali
seraya menubruk pada si Thayto dan matanya berkaca-kaca
menangis dalam dekapannya si Thauto.
"Anak Hin, bagaimana dengan ayahmu ?*" tanya Kim Wan
Thauto.
"Ayah baik-baik saja tapi selalu ia mengharap paman
pulang ke kampung halaman." sahut Kong Liang Hin sepaya
menyeka air matanya.
Kong Liang Hin menangis karena ia rindu kepada Kim Wan
Thauto yang sudah lama berpisah dan baru waktu itu mereka
ketemu kembali.
Kim Wan Thauto dengan Kong Tek Cong ada sahabat baik,
malah telah angkat saudara.
Ia bertempat tinggal di Pek-in-chung juga dan sering
berkunjung ke rumahnya Kong Tek Cong dimana Liang Hin
yang masih kecil suka diberi petunjuk-petunjuk hal ilmu silat
dan Liang Hin Pandang Kim Wan Thauto seperti orang tuanya
sendiri.
Mereka bergaul akrab jikalau Kim Wan Thauto sedang ada
dikampungnya.
Ia paling suka merantau. Kalau sudah meninggalkan
kampung halamannya 2-3 tahun baru kembali- Ketika ia
meninggalkan kampungnya belakangan ini, ternyata sampai 5
tahun tidak kelihatan ia pulang hingga menimbulkan keraguraguan
dalam hatinya Tong Tek Cong kalau Kim Wan Thauto
itu telah meninggal dunia dalam perantauan.
Tidak heran Kong Liang Hin tidak kenalai Kim Wan Thauto
sebab waktu si Thauto belum menjadi pendeta, ia masih
menjadi pendekar dengan nama Auw-yang Siang Gie.
Dalam perantauan ia telah ketemu dengan seorang Thauto
jagoan ialah Tek Kim Thauto, dengan siapa Auw-yang Siang
Gie telah bertempur untuk menjajal masing-masing punya ilmu
silat siapa lebih tinggi.
Itulah sebagai kesudahan pertandingan hal ilmu silat, dalam
mana Auw-yang Siang Gie selalu mau lebih unggul saja.
Dalam pertempuran itu yang memakan waktu sampai 20n
jurus, Auw-yang Siang Gie telah dikalahkan Tek Kim
Thauto- Sejak mana Auw-yang Siang Gie mengaku kalah
pada Tek Kim Thauto.
Tek Kim Thauto ada seorang baik, ia suka memberi
petunjuk-petunjuk kepada Auw-yang Siang Gie hingga yang
tersebut belakangan menjadi sangat berterima kasih sekali.
Belakangan, atas maunya sendiri Auw-yang Siang Gie yang
tidak berkeluarga telah masuk menjadi Thauto. Untuk
membuat tali perhubungan lebih erat pula, Auw-yang Siang
Gie telah angkat saudara dengan Tek Kim Thauto.
Setelah angkat saudara, Tek Kim Thauto telah menurunkan
banyak ilmu silat yang Auw-yang Siang Gie belum tahu. Maka
kepandaiannya Auw-yang Siang Gie menjadi hebat, ia
menggunakan nama Kim Wan Thauto atau pendeta berantinganting
emas dalam dunia Kangouw. Oleh karena ilmu silatnya
tinggi, maka sebentar saja namanya Kim Wan Thauto telah
naik tinggi dan namanya Auui-yang Siang Gie telah lenyap-
"Paman Auw-yang, kenapa kau sekarang menjadi pendeta
?" tanya Kong Liang Hin.
"Panjang untuk diceritakan, anak Hin. Nanti, kalau aku
sudah ketemu dengan ayahmu, akan kuceritakan perjalanan
paman." sahut Kim Wan Thauto.
Nio Him, Tan Nie Ciang dan Lie Kim Giok juga sudah
datang dan mengunjuk hormat kepada si Thauto. Mereka
menyatakan tidak mengenali kalau Kim Wan Thauto adalah
Auui-yang Siang
Gie dan menanyakan sejak kapan menjadi Thauto. Kim
Wan Thauto berjanji akan menceritakan riwayatnya manakala
sudah jumpa dengan Kong Chungcu dari Pek-in-chung.
Demikian, mereka telah pulang ramai-ramai ke Pek-inchung,
dimana Kim Wan Tnauto telah disambut dengan
gembira sekali oleh Tong Tek Cong dan keluarga.
Begitulah ada penuturannya Kim Wan Thauto kepada Lo In
dan Bwee Hiang-
"Sekarang aku sudah menutur, maka tinggal giliranmu adik
In menuturkan riwayat perjalananmu sampai muka yang cakap
menjadi hitam legam begitu. Hahaha...." Kim Wan Thauto
berkelakar hingga Bwee Hiang juga turut ketawa.
Lo In lalu menuturkan riwayatnya ialah dari anak jembel
menjadi anak yang mempunyai kepandaian silat yang tinggi
berkat didikannya Liok Sinshe. Ia ceritakan bagaimana Liok
Sinshe sayang padanya seperti juga anak sendiri. Kalau Liok
Sinshe sedang mencari daun obat-obatan tidak pernah ia
ditinggal sendirian. Selalu ia diajak pergi sana sini dengan ilmu
meringankan tubuh. Ia sangat mengagumi kepandaiannya
Liok Sinshe yang telah loncat dari satu ke lain tebing yang
curam dengan menggendol dirinya.
Lo In tuturkan cara bagaimana Liok Sinshe jatuh ke dalam
jurang karena dibokong oleh jarum mautnya Kim Popo,
bagaimana ia mencari-cari Liok Sinshe dalam lembah sampai
menjadi sahabat dengan si burung rajawali, kemudian
kawanan kera juga telah menjadi
teman-temannya. Ia kena dibokong oleh Ang Hoa Lobo dan
dipoles hitam wajahnya, lwekangnya hampir musnah kalau
tidak mendapat pertolongan dari wetam Tokgan Siancu, ular
kesayangannya Eng Lian. pedang pendek kepunyaan Liok
Sinshe ia bawa, mungkin dimiliki Siauw Cu Leng sebab ia
tidak melihat lagi pedang itu. Dengan Eng Lian ia bergaul
akrab, begitu juga dengan kawanan monyet dan gorila sampai
ia dapat berbicara bahasa monyet dan pandai meniup seruling
memanggil dan menakluki ular.
panjang lebar Lo In cerita pada Kim Wan Thauto sampai
pada kejadian ia menempur Sucoan Sam-sat dan memberi
didikan ilmu silat kepada Bwee Hiang.
Setelah Lo In menutur, terdengar Kim Wan Thauto
menghela napas.
"Liok Sinshe itu pasti ada ayahmu, Kwee Cu Gie Tayhiap,
anak In." berkata Kim Wan Thauto. "Aku belum pernah
menyaksikan kepandaian lompat dari satu ke lain tebing begitu
mahir seperti Liok Sinshe, kecuali kepandaian yang dimiliki
oleh Kwee Cu Gie. Ia ada satu Tayhiap yang sangat dihormati
kawan tapi ditakuti oleh lawan. Karena sepak terjangnya yang
melindungi si lemah menumpas si kuat jahat, maka ia banyak
musuhnya dalam kalangan jahat. Mungkin ia pakai nama Liok
Sinshe sebagai nama samaran. Ia mengumpatkan dirinya dari
musuhnya yang ingin menuntut balas."
"Kalau Liok Sinshe ada Kwee Cu Gie, ayahku, kenapa dia
tidak mengaku bahwa dia ada ayahku ? Sudah sekian tahun
kami berkumpul." tanya Lo In ragu-ragu-
"Mesti ada sesuatu hal yang membuat dia Perlu untuk
sementara tidak menjelaskan dirinya siapa, anak in. Kau
jangan cemas dan menyesalkan, nanti kapan kau satu waktu
ketemu dengannya lagi kau boleh menanyakan."
"Liok Sinshe sudah mati, mana dapat kau ketemu pula
dengannya ?" "Ia berkepandaian tinggi, aku tidak percaya dia
mati begitu saja."
"Ya, aku juga meragukan akan kematiannya Liok Sinshe."
sahut Lo In. "Ia sangat tinggi kepandaiannya. Untuk jatuh ke
dalam jurang saja tidak mungkin dia sampai binasa, hanya
yang aku khawatirkan adalah jarum beracunnya si nenek."
"Jarum beracun Kim Popo juga tidak bisa berbuat banyak
terhadapnya. Kau percaya, anak In, ia tidak mati dan satu
waktu akan jumpa pula dengan kau !"
Lo In kegirangan meskipun hatinya agak ragu-ragu.
Ia menundukkan kepalanya, ketika ia angkat pula tampak
air mata menggenang diteiakupan matanya, ia menangis.
"Adik kecil, kenapa kau menangis ?" tanya Bwee Hiang
kaget.
"Tidak apa-apa." sahut Lo in ketawa terpaksa.
"Anak In, kau memikirkan apa sampai menangis ?" tanya
Kim Wan Thauto.
"Aku ingat kepada Liok Sinshe." sahutnya. "Omong-omong
tentang dirinya, aku jadi ingat kebaikannya terhadap diriku----"
"Adik kecil, kenapa kau sampai begitu berduka ? Orang
baik selalu mendapat perlindungannya Thian, maka ada satu
temPo kau akan ketemu lagi dengan Liok Sinshe." menghibur
Buiee Hiang dengan suara empuk menyayang.
Lo In ketauia nyengir. Dasar wataknya si bocah yang aneh,
maka ketika Kim Wan Thauto bantu menghiburnya, kedukaan
Lo in lantas lenyap tanpa bekas.
"Malam sudah larut, sebaiknya anak Hiang masuk tidur."
tiba-tiba Kim Wan Thauto menyatakan pikirannya.
"Aku masih belum ngantuk." sahut si nona ketawa-
"Ah, matamu sudah ngantuk. pergi sana tidur. Biar adik
kecilmu aku yang jagai, tidak nanti dia hilang-..." Kim Wan
Thauto berkelakar.
Bwee Hiang jebikan bibirnya hingga Kim Wan Thauto
ketawa terbahak-bahak.
Memang si nona sudah ngantuk, melihat adik kecilnya
menangis ia jadi tidak tega meninggalkannya. Sekarang ia
didesak untuk masuk tidur, ia lantas bangkit dari duduknya dan
ngeloyor ke kamarnya.
Buiee Hiang ambil kamar sendiri, sedang Lo In tidur samasama
dengan Kim Wan Thauto.
Setelah si nona pergi, Kim Wan Thauto berkata paa Lo In,
"Anak In, kau bawa-bawa anak orang kaya merantau, apa
tidak takut mendapat kesulitan di jalanan 7"
"Toako maksudkan enci Hiang ?" L0 In balik menanya.
"Ya, ia ada satu Siocia, kepandaiannya biasa saja aku
lihat."
"Toako, kau jangan pandang rendah pada enci Hiang."
"Ah, dia bisa apa ? Tempo hari dia dipemainkan oleh si
setan hitam dapi Sucoan Sarrrsat, hampir-hampir dia dapat
malu kalau tidak keburu si kerudung merah turun tangan."
"Oh, itu kejadian dulu-" sahut Lo In. "Lain dulu lain
sekarang, enci Hiang dulu dan
sekacang kepandaiannya beda seperti langit dan bumi.
Toako tidak tahu- ' "Apa iya ?" Kim Wan Thauto menanya
heran.
"Kalau toako tidak percaya, boleh saksikan kalau enci
Hiang nanti bergebrak !" Kim Wan Thauto masih meragukan
akan keterangan Lo In tapi ia tidak kata apa-apa.
Setelah omong-omong pula urusan yang tidak mengenai
jalannya cerita, Kim Wan Thauto ajak adik kecilnya masuk
tidur.
Kita melihat pada Bwee Hiang, apakah si nona tidur pulas ?
Kiranya Bwee Hiang masih belum pulas, pikirannya
melayang-layang, ia jengkel kepada adik kecilnya yang masih
belum dapat menilai kepandaiannya sampai dimana karena
beberapa orang yang ia pecundangi si adik kecil ada orangorang
dari kelas 3 dan paling atas kelas 2. Kapan ia ketemu
dengan lawan kelas 1 ? Ia tanya hati kecilnya. Girang hatinya
mana kala ia dapat merobohkan jago kelas 1 di depan adik
kecilnya, tentu ia bakal mendapat pujian.
Sementara itu matanya sudah mulai mengajak tidur.
Barusan saja ia mau pulas, tiba-tiba ia mendengar sesuatu
yang mencurigakan. Dengan pura-pura pulas, ia perhatikan
sekitarnya kamar. Ia kaget nampak ada seorang tinggi besar
sudah berada dalam kamarnya tengah duduk di kursi.
"Apa maunya dia tanya Bwee Hiang dalam hatinya.
Ia urungkan niatnya mau menegur orang itu ketika ia
nampak orang tinggi besar bangkit dari kursinya dan jalan
menghampiri pembaringannya. Ia telah menyingkap kelambu
dan mengawasi kepada Bwee Hiang yang tidur agak miring ke
depan.
Si nona lihat orang itu ada memakai topeng hingga ia tidak
mengenali macam apa parasnya si orang jahat yang masuk ke
dalam kamarnya itu.
Hatinya Bwee hiang berdebaran nampak orang itu telah
mengulurkan tangannya hendak menjamah lengannya yang
halus putih. Tapi entah kenapa ketika hampir menyentuh
lengan yang lunak itu, tiba-tiba tangannya ditarik pulang. Bwee
Hiang masih diam saja, mau lihat lagaknya orang itu lebih
jauh.
Sebentar lagi kelambu telah disingkap begitu rupa sehingga
seluruh badannya orang itu berada dalam kelambu. Baru saat
itu Bwee Hiang agak jeri, orang akan berbuat kurang ajar atas
dirinya.
Tiba-tiba saja orang itu telah menyergap si nona yang
sedang tidur. Tapi alangkah kagetnya ia melihat yang disergap
telah menghilang dan tahu-tahu sudah ada dibawah tempat
tidur. Bwee Hiang sangat gesit. Begitu oran merangkul dirinya,
ia sudah menggelinding menggunakan ilmu 'Kimlun-hoan-sin'
atau 'Roda emas menggelinding' jaran Lo In untuk
menyelamatkan diri dari terkaman musuh yang dilakukan
sekonyong-konyong.
"Manusia jahat, kau berani ganggu nonamu sedang tidur ?"
bentak Bwee Hiang. Kakinya berbareng menjejak betis orang
itu hingga keluarkan rintihan tertahan saking menahan sakit.
Orang itu lantas berbalik dan menguber Bwee Hiang yang
sementara itu dengan gerakan 'Hui-niauw-cut-lim' atau 'Burung
terbang keluar hutan', enteng sekali badannya sudah melesat
keluar dari jendela.
Gesit orang tinggi besar itu. Melihat korbannya kabur sudah
lantas menyusul keluar dari jendela, dimana Bwee Hiang telah
menanti padanya. Ternyata Bwee Hiang tidak lari, ia segan
berkelahi dalam kamar yang sempit makanya ia keluar dan
menantang berkelahi di luar.
"Heheh, binatang. Kau berani gila pada nonamu ?" bentak
Bwee Hiang ketika mereka sudah berhadapan.
"Nona, aku datang hendak menemani kau tidur, kenapa kau
jadi marah-marah ?" orang itu menyahut dengan suara Parau.
"Fui !" Bwee Hiang meludah. "Berani kurang ajar terhadap
nonamu, kau harus tanggung akibatnya ! Nah, jagalah
serangan nonamu !" berbareng Buiee Hiang menyerang
dengan pukulan yang hebat sekali hingga orang itu lompat
mundur untuk mengelakkan serangan dahsyat si nona.
Kedua orang itu jadi bertempur seru.
Bwee Hiang baru mendapat lawan alot. Ia senang
menghadapinya. Sayang waktu itu tidak ada Lo In. Pikirnya,
kalau ada pasti akan menambah kegembiraannya berkelahi
dengan musuh tangguh itu.
Orang itu telah mengeluarkan satu jurus yang aneh,
membingungkan lawan. Ia seperti hendak mencengkeram
dada namun kapan lengannya dekat sampai sasaran telah
berubah, tangannya dipentang merangkul berbareng menotok
hiat~to (jalan darah) di lengan lawan untuk melumpuhkan
perlawanan musuh. Inilah ada gerakan yang dinamai Hekhouw-
lok-siaUui (Harimau hitam ketawa), satu gerak tipu yang
berbahaya sekali bagi musuhnya kalau kena diterkam olehnya
sebab sang musuh akan lumpuh seketika karena lengannya
kena ditotok.
Untuk serangan yang hebat itu, Bwee Hiang gunakan jurus
'Pa-ong-gie-kah' atau "Couw Pa Ong meloloskan jubahnya'
untuk menyelamatkan diri.
Pertempuran berjalan terus dengan ramai sekali.
Tiba-tiba orang itu memutar tangan kanannya disusul oleh
tangan kirinya yang seperti kilat cepatnya telah nyelonong
hendak mengorek sepasang lentera si nona. Buiee Hiang
kaget sepasang matanya hendak dicopoti. Segera ia gunakan
'Kim-kee-yau-tauw' atau 'Ayam emas menggoyangkan
kepalanya'. Tampak kepalanya bergoyang dan sodokan
tangan lawan ke arah matanya dapat dikelit dengan indahnya-
Sayang saat itu hanya mereka berdua saja rupanya yang
bertarung. Kalau ada penontonnya pasti akan bersorak-sorak
melihat kedua lauian itu sama tangguhnya.
Orang itu heran saban-saban serangannya tidak mendapat
sasarannya.
Ia lihat si nona sangat gesit, tidak mudah dipecundangi
cepat-cepat.
Opang itu penasara, ia merangsek dengan nekad. Lantaran
sangat bernapsunya ia mengalahkan lauian, maka telah
menimbulkan kekalahannya, ia menggunakan gerak tipu 'Haytee-
lo-got' atau 'Di dasar laut meraup rembulan', tangan
kanannya seperti menyerang dada, tahu-tahu tangan kirinya
yang menyerang rusuk- Buiee Hiang kaget tapi ia tidak gugup.
Ia gunakan tipu 'Nelayan melintangi perahu' untuk
menyelamatkan dirinya. Namun ia tidak begitu saja. Ia balas
menyerang dengan kecepatan kilat. Dua jarinya dari tangan
kiri yang halus lunak namun seperti dua batang besi telah
nyelonong ke ketiak
orang itu, sebelum yang tersebut belakangan perbaiki
posisinya. Tidak ampun lagi orang itu merasakan kesemutan
di ketiaknya, hingga ia berdiri bagaikan patung karena ;senghoat-
hiat'nya telah kena ditotok jitu sekali.
"Hahahaha, binatang. Kau sekarang mau apa ?" jengek
Bwee Hiang ketika melihat musuhnya mudah tidak berkutik-
"Sekarang baru rasakan lihainya nonamu, ya."
Buiee Hiang menghampiri. Baru saja ia melangkah belum
jauh atau ia dibikin kaget oleh menyambarnya sebuah benda
yang menempel di pipinya, kiranya itu hanya selembar daun
kecil. Meskipun demikian cukup bikin nona kita jadi marah, ia
mendongak ke atas Pohon dan membentak, "Manusia kurang
ajar, kalau kau berani, turun ! Terimalah hukuman dari nonamu
!"
Baru saja si nona menutup perkataannya atau sesosok
bayangan melayang turun dari atas pohon. Bwee Hiang gugup
melihat orang demikian gesit sebab tahu~tahu ia sudah kena
dirangkul. Ia meronta-ronta sambil memaki-maki.
"Enci Hiang, inilah adik kecilmu. Apa kau tidak kenali ?"
terdengar suara berbisik di telinganya si nona. Kapan ia putar
tubuh berbalik, memang yang merangkul ia adalah si bocah.
"Adik kecil, kau bikin encimu penasaran l' kata si nona seraya
tangannya mencubit keras hingga Lo In berteriak kesakitan.
"Anak nakal, itulah bagiannya... hihihi..." tertawa Buiee
Hiang.
Si nona lanjutkan niatnya menghampiri musuhnya yang
sudah tidak berdaya.
"Tahan !" kata Lo In hingga Buiee Hiang hentikan jalannya.
"Kau mau apa campur-campurA urusanku, adik kecil ?"
tanya Bwee Hiang.
"Siapa bilang itu ada urusan enci sendiri, aku juga harus
turut campur !"
"Kau mau bikin encimu dongkol karena jengkel ?"
'Bukan begitu, urusan enci ada urusanku juga."
"Tapi aku tidak mau diganggu. Orang itu sangat kurang
ajar, aku harus kasih hajaran. Sekalipun aku tidak sampai
membunuhnya-"
"Jangan, jangan sampai begitu marahnya."
"Kenapa tidak boleh marah ?"
"Itulah ada orang kita sendiri____"
Bwee Hiang tidak percaya. "Orang kita siapa ? Kalau orang
kita, kenapa dia begitu kurang ajar pada encimu. Dia
mengganggu ketika encimu barusan mau pulas, maka tidak
boleh tidak dia harus dikasih hajaran ! "
Lo In ketawa gelak-gelak hingga Bwee Hiang menjadi
heran. 'Enci Hiang, kau tidak percaya ia ada orang kita sendiri
?" tanya Lo In. 'Aku tidak percaya, biarkan aku menghukum
padanya |" 'Kau akan menyesal sebab dia ada lebih tua dari
kita !"
'perduli amat, asal dia kurang ajar biarpun lebih tua 10 kali
lipat, aku tidak taku !" 'Nah, pergilah urusan dengannya." kata
Lo In.
Bwee Hiang menghampiri orang itu, kemudian dengan
sekali renggut saja topengnya orang itu telah lenyap dari
wajahnya.
"Kau, eh, kau.... toako ?" berkata Bwee Hiang ketika kenali
0rang itu.
Orang itu hanya bersenyum, tidak menyahut lantaran sudah
ditotok lumpuh. Cepat Bui^e Hiang membebaskan orang itu
dari totokan.
"Anak Hiang, maafkan padaku yang tidak mengenal
aturan____" kata orang itu.
"Tapi toako, kenapa kau berbuat yang tidak benar ?" tanya
si gadis heran.
"Itulah anak Hiang, aku didorong oleh perasaan tidak
percaya, kau sekarang sudah hebat kepandaiannya menurut
anak In, maka aku sudah mencoba-coba menyaksikan dengan
mata kepala sendiri. Aku sengaja mengolok-olok supaya kau
marah dan mengeluarkan kepandaianmu yang hebat. Aku
sekarang percaya bahwa anak Hiang kepandaiannya jauh
diatas dari dahulu ketika ketemu si bontot dari Sucoan Samsat."
"Nah, aku bilang apa, bukannya orang sendiri ?" nyeletuk
Lo In ketawa.
Bwee Hiang paham akan maksud dari Kim Wan Thauto,
orang tinggi besar bertopeng yang tadi bertempur dengannya
mati-matina, maka ia pun jadi tertawa cekikikan-
Kiranya itulah Kim Wan Thauto yang menggoda Bwee
Hiang.
Bwee Hiang dikatakan jempol kepandaiannya, telah
meragukan hatinya Kim Wan Thauto. Maka
ketika ia melihat Lo In sudah pulas, ia diam-diam telah
copoti anting-antingnya dan menyaru sebagai opang biasa,
tidak lupa ia mengenakan topeng supaya tidak dikenali oleh
Bwee Hiang. Ia kira Lo In tidak tahu tapi si bocah diam-diam
telah mengikuti gerak geriknya.
Kalau ia ada mengucapkan kata-kata yang agak janggal,
itulah maksud Kim Wan Thauto supaya si nona meluap
amarahnya dan mengeluarkan kepandaiannya yang tinggi.
Ia kira tadinya dapat menjatuhkan Bwee Hiang dengan
mudah, tapi kenyataannya ia berusaha dengan sia-sia malah
akhirnya ia yang kena dijatuhkan oleh si nona-
Sungguh memalukan bila mengingat kepandaiannya
sendiri. Namun, ia tidak jadi penasaran terhadap Bwee Hiang
yang menjadi adiknya sekarang.
Demikian, 3 saudara itu sambil ketawa-ketawa telah balik
pula ke kamarnya masing-masing
Pada keesokan harinya Kim Wan Thauto dan 2 adiknya
telah diundang makan-makan oleh Suyangtin Ngo-houw-
Perjamuan itu diadakan bergiliran oleh Lima Harimau dari
Suyangtin. Hari itu giliran pertama dirumahnya Kie Giok tong,
yang berjalan dengan sangat menggembirakan.
Keesokan harinya dirumahnya Song Cie Liang, Jiko dari
Ngo Houw- Kemudian di rumahnya Tan
Him, Samko dari Ngo Houw dan ketika pada gilirannya
Teng Hauw, Sie-ko dari Ngo Houw ada terjadi urusan.
Itulah Kim Wan Thauto yang timbulkan urusan.
Si Thauto beranting-anting emas melihat romannya Teng
Hauw ada murung saja sejak pada perjamuan pertama di
rumahnya Kie Giok Tong, membikin hatinya kurang senang. Ia
menganggap barangkali Teng Hauw tidak senang kepada
mereka, tiga suadara mendapat perlakuan yang begitu
hormat. Maka dalam perjamuan di rumahnya, melihat tuan
rumah tetap murung, ia telah menyatakan tidak senangnya.
"Kami berkumpul makan-makan, bukannya kami mintaminta.
Tapi atas undangan kalian. Maka aku tidak mengerti
melihat sikapnya Teng-heng yang selalu murung seolah-olah
yang tidak senang menjamu kepada kami orang...."
"Oh, bukan, bukan begitu...." Teng Hauw mencegat
perkataan Kim Wan Thauto.
Ia tidak bisa meneruskan kata-katanya karena ia kurang
bisa bicara, maka Kie Giok Tong yang telah menalangi ia
bicara. Katanya, "Taysu, bukannya lantaran itu. Teng-siete
kelihatan tidak gembira lantaran ia punya kesukarannya
sendiri yang tak dapat diutarakan kepada orang lain. Harap
Taysu jangan salah mengerti."
"Kesukaran bukannya tidak bisa diatasi, asal orang mau
berdamai. Kalian menghormati kami orang, tandanya ada
taruh kepercayaan. Kenapa kesukarannya Teng-heng tidak
suka diberitahukan kepada kami orang ? Siapa tahu kami
dapat menolong dan meringankan kesukarannya Teng-heng."
Ngo Houw bungkam mendengar perkataan Kim Wan
Thauto yang beralasan-Mereka saling lihati dengan tiada satu
yang berani buka suara.
Teng Hauui gelisah kelihatannya. Ia ingin mengutarakan
apa-apa namun ia tidak pandai merangkai perkataan, ia hanya
mengawasi saja saban-saban kepada Kie Giok T°ng.
Melihat demikian, Kim Wan Thauto bangkit dari duduknya,
ia berkata, "Kalau kalian tidak suka menaruh kepercayaan
kepada kami orang, biarlah kami mohon diri saja. Anak in dan
Hiang, mari kita berangkat !"
Lima Harimau terkejut. Mereka tampak gugup menahan
kepergiannya Kim Wan Thauto.
"Taysu, harap sabar dulu." kata Kie Giok Tong. "Duduk
dulu, kami tidak ingin membuat tamu-tamunya yang terhormat
menjadi penasaran."
Kim Wan Thauto dan dua saudaranya pada duduk pula.
"Toako." kata Teng Hauw pada Kie Giok T0ng. "Kau
ceritakan saja kepada Taysu tentang kesukaranku sUpaya dia
jangan salah mengerti."
Kie Giok Tong anggukkan kepalanya.
"Taysu, sebenarnya urusan ini ada rahasia. Tidak boleh
diketahui oleh orang dari luar dusun sebab akibatnya ada
sangat hebat bagi orang yang mengetahui." berkata Kie Giok
Tong yang masih ragu-ragu untuk menuturkan kesukaran
Teng Hauw.
"Aku dan dua saudaraku tidak takut akan akibatnya. Maka
Kie-heng boleh ceritakan saja, rahasia apa yang tak boleh
diketahui oleh orang dari luar dusun."
"Hari ini sudah tanggal 13. Lagi 3 hari sudah tanggal 16 dan
pada hari itulah Siete akan kehilangan puteri tunggalnya,
maka siapa yang tidak jadi murung ?" menerangkan Kie Giok
Tong yang tidak ada ujung pangkalnya hingga Kim Wan
Thauto dan dua saudaranya menjadi bengong. Sukar
menangkapnya apa yang dimaksudkan oleh si orang she Kie.
Bwee Hiang meraba-raba, setelah ketawa ia berkata,
"Tanggal 16 ada hari baik. Hari itulah puteri paman Teng
menemukan hari baiknya ketemu jodoh. Maka, urusan
perkawinan adalah lumrah. Kenapa harus dibuat duka oleh
paman Teng ?"
"Oh, bukan, bukan itu...." kata Teng Hauw lalu ia minta
supaya Kie Giok Tong cerita yang terang kepada para
tamunya.
"Bukan begitu duduknya urusan, nona Hiang." kata Kie
Giok Tong. "Kalau bukan perkawinan, habis apa ?" tanya
Bwee Hiang kepingin tahu.
"Bukan perkawinan yang lazim tapi ini persembahan
kepada Thoat Beng Mo Siauw yang setiap bulan tanggal 16
harus dikirimi sajian seorang gadis jelita____" kata Kie Giok
Tong.
Kim Wan Thauto yang tidak paham dengan ceritanya Kie
Giok Tong minta si orang she Kie menutur dengan rapi supaya
urusan dapat dipertimbangkan. Kie Giok Tong meskipun
dipengaruhi oleh perasaan takut telah menuturkan juga suatu
kisah yang menarik yang telah terjadi dalam dusun Suyangtin-
— 23 —
Kira-kira enam bulan berselang, dalam dusun Suyangtin
yang aman telah terjadi kegemparan dengan munculnya satu
iblis jahat yang menamakan dirinya Thoat Beng Mo Siauw (si
Hantu Ketawa pencabut Jiwa). Munculnya iblis itu telah
menggelisahkan penduduk kampung, malah yang berwajib
juga tidak dapat mengatasi gangguan itu. Sebenarnya yang
berwajib banyak menggantungkan pekerjaannya kepada
Suyangtin Ngo Houw (Lima Harimau) yang besar
pengaruhnya. Maka dalam hal urusan si Hantu Ketauia juga
mereka telah menyerahkan bagaimana baiknya diatur oleh
Lima Harimau-
Yang sangat ganas perbuatannya si Hantu Ketauia, ia telah
membikin air minum dari sumur maupun sungai telah beracun
dan penduduk yang meminumnya telah mati konyol. Binatangbinatang
piaraan pada mati keracunan apabila si Hantu
Ketawa sedang marah.
Berhubung dengan mana Suyangtin Ngo Houw telah
berunding untuk mengadakan kompromi dengan Thoat Beng
Mo Siauui. Si Hantu Ketauia tidak munculkan diri, hanya
mengirim wakilnya untuk mengadakan perdamaian.
Dalam perdamaian itu telah diterima baik suatu keputusan,
ialah setiap tanggal 16 penduduk Suyangting harus
menyerahkan seorang gadis jelita kepada Thoat Beng Mo
Siauw.
Penduduk banyak yang tidak rela dengan keputusan itu
sebab mereka sayang anak gadisnya dikorbankan kepada si
Hantu Ketawa. Mereka banyak yang pada pindah ke lain
dusun. Namun, hari ini pindah, besokannya mereka sudah
balik pula menjadi mayat, terdapat di masing-masing
pekarangan rumahnya yang ditinggalkan.
Lantaran mana, maka penduduk menjadi jeri untuk
meninggalkan Suyangtin dan terima nasib anak gadisnya akan
dijadikan sajiannya si Hantu Ketawa.
Untuk tidak membikin penduduk jadi iri-irian, maka
Suyangtin Ngo Houw juga mau berkorban, ialah pada setiap
pemilihan gadis yang akan dijadikan korban ada termasuk
juga satu gadisnya diantara Lima Harimau. Kalau diundi
misalnya jatuh pada nasibnya dari puteri Lima Harimau, maka
apa boleh buat disajikannya dengan rela.
Pemilihan gadis-gadis itu biasanya dilakukan tanggal 10
setiap bulan.
Gadis-gadis tidak turut dalam undian, hanya orang tuanya
saja yang maju supaya gadis-gadis itu tidak langsung menjadi
kaget karena nasibnya yang malang-
Thoat Beng Mo Siayui itu seperti yang tahu gadis mana
bulan ini akan dijadikan mangsa-Sebab kalau diganti dengan
lain gadis, orang tua gadis yang bersangkutan bakal mati
konyol dalam rumahnya- Oleh karena itu, maka tidak berani
satu juga yang coba-coba menukarkan gadisnya dengan lain
gadis manakala sudah sampai temponya disajikan.
Pernah ada kejadian ke dusun Suyangting ada dua
pendekar yang menamakan dirinya 'Siamsay Jie Liong' atau
'Dua Naga dari Siamsay'. Mereka ada sepasang pendekar
kenamaan dalam kalangan Kangouw yang kebetulan lewat.
Mereka tidak puas dengan perbuatannya si Hantu Ketawa.
Maka mereka sudah tawarkan diri untuk membunuh iblis
kejam itu. Mereka telah berdamai denga Suyangting Ngo
Houw.
"Kami penduduk Suyangtin sangat berterima kasih kedua
enghiong suka buang tempo guna
menumpas kejahatan dari si Hantu Ketawa." menyatakan
Kie Giok Tong ketika menjamu kedua orang gagah itu. "Cuma
saja sebelum enghiong berdua pergi ke sana hapus
dipertimbangkan dulu bahayanya. Thoat Beng Mo Siauw ada
sangat tinggi kepandaiannya dan banyak anak buahnya. Kalau
kita salah tangan bukannya berhasil dalam usaha, sebaliknya
akan mengalami nasib yang tidak diinginkan."
"Legakan hatimu, paman." menghibur Seng Liong, yang tua
dari Dua Naga. "Kami berdua sudah biasa menumpas
kejahatan demikian. Maka dalam halnya Thoat Beng Mo
Siauw juga rasanya tidak akan gagal usaha kami."
"Manusia jahat begitu, kalau lama-lama dikasih hidup lebihlebih
menyusahkan kepada rakyat. Maka selekasnya kami
akan bekerja." menimpali Keng Liong, saudara mudanya.
Kie Giok Tong manggut-manggut tapi dalam hatinya
meragukan itikad baik dari Dua Naga dari Siamsay itu.
Meragukan bukan apa-apa takut mereka mati konyol. Sebab
sebelum mereka sudah pernah ada tiga orang gagah yang
datang kesitu dan menawarkan tenaganya untuk membasmi
Thoat Beng Mo Siauw. penghabisannya bukan si Hantu
Ketawa yang mati, malah mereka bertiga kedapatan mayatnya
di pinggir dusun Suyangtin.
Meskipun dengan samar-samar Kie Giok Tong coba
menahan, ternyata Siamsay Jie Liong tak dapat dirubah
niatnya. Terpaksa Kie Giok Tong dan sudara-saudaranya
merestui kePergiannya. Kie Giok Tong berkata, "Atas nama
penduduk dari Suyangtin, kami berlima
mendoakan kepada Jiwie-enghiong supaya berhasil dalam
menumpas si Hantu Ketawa dan balik kembali ke Suyangtin
dengan selamat. Harap Jiwie berhati-hati l'"
jiwie-enghiong (kedua orang gagah).
Berangkatlah hari itu kedua orang gagah itu ke Pek-kut-nia
(Bukit Tualng putih), sarangnya Thoat Beng Mo Siauw. Lima
Harimau telah mendoakan dengan sujud supaya pekerjaan
mulianya Siamsay Jie Liong itu berhasil memuaskan.
BeSokan harinya tidak ada kabar apa-apa dari mereka.
Pada lusanya orang melaporkan kepada Suyangtin Ngo Houw
telah kedapatan mayatnya dua orang gagah itu di pinggiran
dusun. Keadaannya sungguh mengerikan sebab kedua
kepalanya hampir terpisah dari masing-masing lehernya. Itulah
menunjukkan kekejamannya dari Thoat Beng Mo Siauw.
Suyangtin Ngo Houw hanya bisa menghela napas.
Mereka telah menyuruh beberapa orang kampung untuk
mengurus mayatnya dua orang gagah itu guna ditanam baikbaik
serta disembahyangi.
Pada malamnya, Lima Harimau itu telah membikin
pertemuan untuk membicarakan urusan Thoat Beng Mo
Siauw.
Pertemuan itu diadakan di rumahnya Tan Him, orang ketiga
dari Lima Harimau, dalam ruangan dari sebuah bangunan
yang spesial dibangun untuk mengadakan rapat.
Bangunan itu pernahnya di sebelah belakang rumah besar
dari Tan Him, diperaboti lengkap dengan kursi meja dan
pigura-pigura indah sebagai pajangan. Sebagai penerangan
telah dipasang lilin-lilin besar dan kecil. Lima Harimau dari
Suyangting itu semuanya orang-orang hartawan yang
menetap disitu dari lain tempat-
Hidupnya mereka boleh dikatakan mewah dan senang.
Malam itu angin meniup tidak menentu, kadang-kadang
besar dan kadang-kadang sepoi-sepoi saja.
Manakala sang bayu sedang meniup kencang keadaan
menjadi berisik dikarenakan cabang-cabang pohon beradu
satu dengan lain dan daun-daunnya pada berguguran rontok.
"Toako." tiba-tiba Song Cie Liang, orang kedua dari Ngo
Houw berkata. "Kita sudah mendapat gelaran Lima Harimau,
sudah lama kita menjagoi dan dihormati oleh penduduk.
Sekarang dengan adanya Thoat Beng Mo Siauw, benar-benar
pengaruh kita seperti tertindih dan lenyap. Kepercayaan
penduduk kepada kita seakan-akan telah buyar....."
"Memang sungguh menyebalkan perbuatannya Thoat Beng
Mo Siauw itu." sahut Kie Giok Tong
dengan suara gusar- "Habis, apa kita bisa bikin karena
memang kita tak punya kemampuan mengatasi pengaruhnya
si Hantu Ketawa."
"Apa kita tidak bisa mencari seorang jago yang benar-benar
dapat mengalahkan si Hantu Ketauia ?" Tan Him menyatakan
pikirannya. "Aku rela keluar uang untuk membiayai jago-jago
yang benar-benar dapat menumpas si Hantu Ketawa."
"Thoat Beng Mo Siauw sangat tinggi kepandaiannya, sukar
diukur. Maka sulit sekali kita mencari orang-orang yang dapat
menandingi kepandaiannya. Menurut kabar, kecuali dia sendiri
berkepandaian tinggi masih ada anak buahnya yang hebat
kepandaiannya, entahlah siapa mereka itu." menyatakan Cia
sin Eng si nomor lima dari Lima Harimau.
Tampak mereka tidak dapat mengambil keputusan, maka
keadaan menjadi sepi dan masing-masing putar otak untuk
mencari daya upaya bagaimana baiknya untuk mengatasi
pengaruh Thoat Beng Mo Siauw yang membuat gurem
pengaruhnya Suyangtin Ngo Houw.
Sementara itu terdengar di sebelah luar angin meniup
kencang dan mengeluarkan suara menderu-deru. Entah
bagaimana tiba-tiba saja, semua lilin penerangan telah
menjadi padam hingga Lima Harimau itu menjadi ketakutan.
"Hahaha..... hahaha---- !" terdengar suara parau ketawa di
sebelah luar.
Itulah suara ketawa yang belum pernah mereka dengar,
menyeramkan sekali mengiang di telinga masing-masing.
Mareka menduga akan datangnya si Hantu Ketawa.
Tak usah mereka menduga-duga. Memang juga yang
datang itu ada si Hantu Ketawa yang lantas berkata setelah
tertawa terbahak-bahak, keras nyaring, "Suyangtin Ngo Houw,
aku Thoat Beng Mo Siauw sudah ada di depan pintu. Kenapa
kalian tidak lekas mengunjuk hormat ? Lekas keluar
menemukan majikanmu !"
Namanya saja Lima Harimau, namun mereka gemetaran
badannya tatkala itu dipanggil oleh si Hantu Ketawa. Sungguh
lucu sekali.
Sebelum keluar mereka mengintip dulu, ingin mengetahui
bagaimana romannya Thoat Beng Mo Siauw yang
menyeramkan itu.
Wujudnya si Hantu ketawa memang benar-benar seperti
Hantu. Rambutnya riap-riap seperti Thauto (pendeta piara
rambut panjang), wajahnya bengis dengan hidung bengkok
dan gigi bercaling, sedang matanya melesak ke dalam, namun
telah mengeluarkan cahaya yang berpengaruh. Itulah
menandakan bahwa lwekangnya si Hantu Ketawa sangat
tinggi. Dengan wajah demikian dan diiringi oleh suara
ketawanya yang parau menyeramkan, betul-betul telah
membuat Lima Harimau itu nyalinya berubah menjadi Lima
Tikus.
Masing-masing badannya menggigil seperti yang
kedinginan.
Thoat Beng Mo Siauw tampak berdiri sambil memondong
seorang wanita kecil langsing, entah wanita siapa itu.
Keadaannya tidak berkutik dalam pelukan si Hantu Ketawa-
Rupanya ia telah kena ditotok.
"Suyangtin Ngo HoUw> apa kalian tidak Punya nyali untuk
ketemu Thoat Ben Mo Siauw ?" tepdenar si Hantu Ketawa
berkata pula dengan suara yang nyaring sekali.
"Toako, mari kita keluar !" mengajak Song Cie Liang yang
lebih berani hatinya.
Kie Giok Tong dan lain-lainnya menurut.
"Hahaha.____. hahaha----!" tertawa Thoat Beng Mo Siauw
ketika melihat Suyangting Ngo
Houw pada keluar dari rumah. "Bagus, kalian menurut
perintah Mo-ong."
Si Hantu Ketawa bahasakan dirinya Mo-ong (Raja Iblis).
"Malam ini Mo-ong datang ada perintah apa untuk kami
orang ?" Kie Giok Tong berkata, memberanikan diri.
"Hahaha....... hahaha-" ketawa si Hantu Ketawa. "Mo-ong
datang untuk
memperkenalkan diri dan kasih peringatan kepada kalian
supaya lain kali harus
hati-hati. Jangan ceritakan urusan hybunan Suyangtin
dengan Mo-ong kepada orang luar. Kalau kalian tidak
Perhatikan perintah Mo-ong ini, awas ! Jangan sesalkan kalau
Mo-ong marah dan bikin ludes seisi dusun Suyangting !"
"Menurut perintah» menurut perintah Mo-ong.... I" jawab
Kie Giok Tong seraya manggut-manggut diikuti oleh saudarasaudaranya
yang lain.
"Bagus, bagus !" kata si Hantu Ketawa. "Untuk kelakuan
kalian yang sudah telah berhubungan dengan Siam-say Jie
Liong sebenarnya Mo-ong harus mengasih hukuman kepada
kalian, tapi tidak apa. Mo-ong hanya ambil ini saja dari
rumahnya Tan Him. Hei, Tan Him, kau lihat ini siapa ?"
Tan Him terkejut dipanggil Thoat Beng Mo Siauw. Ia cepat
melihat kepada wanita yang diunjukkan si Hantu Ketawa-
Kaget bukan main Tan Him. Ia kenali wanita itu ada budaknya
yang baru berumur 15 tahun- Ia bernama Hiang Tin, pelayan
dari puterinya. Ia sangat disayang karena anak itu menurut
sekali- Malah ada ingatan Tan Him dan isterinya, angkat ia
menjadi anak angkatnya.
Sayang, sebelum matannya Tan Him dan nyonya terkabul,
anak itu sekarang sudah menjadi korbannya si Hantu Ketawa-
Sedih hatinya tan Him hingga keluar air mata.
Ia memberanikan hati maju ke depan dan berlutut di depan
si Hantu Ketawa, katanya,
"Mo-ong, harap Mo-ong punya murah hati supaya
membebaskan budakku itu..."
"Hahaha........ hahaha.....!" Thoat Beng Mo Siauw ketawa.
"Sekali wanita jatuh ke tangan
Mo-ong, tidak akan terlepas pula !"
Tan Him sangat sayang kepada Hiang Tin, mendengar
jawaban si Hantu Ketawa ia menjadi nekad- Dengan jurus
Kie~eng-pok-toUw atau 'Elang lapar menyambar kelinci', Tan
Him coba rampas Hiang Tin dari pond0ngan Thoat Beng Mo
Siauw.
Tentu saja percobaan Tan Him gagal sebab dengan satu
kebasan tangan baju saja Tan Him terpukul mundur-
Melihat Tan Him berlaku nekad, saudara-saudaranya yang
lain pun ikut-ikutan nekad. Mereka dengan serempak
menerjang pada si Hantu Ketawa.
"Hahaha____ hahaha----!" Thoat Beng Mo Siauw ketawa
gelak-gelak melihat Lima Harimau
bergerak menerjang kepadanya. Kemudian badannya
berkelebat, entah bagaimana ia geraki tangannya tahu-tahu
semua harimau telah jatuh duduk dengan pundaknya
dirasakan kesemutan. Rupanya kena ditotok oleh si Hantu
Ketawa.
Hebat kepanaiannya si Hantu Ketawa. Dalam segebrakan
saja sudah menjatuhkan Suyangtin Ngo Houw yang
kepandaiannya lumayan juga.
"Untuk kelakuan kalian yang kurang ajar sebenarnya Moong
hendak menghukum mati. Tapi biarlah kali ini Mo-ong
kasih ampun. Kalau lain kali berani lagi kurang ajar di depan
Mo-ong, jangan harap kalian dapat hidup lama !"
Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya tidak bisa kata
apa-apa. Memang mereka tak dapat berkata apa-apa karena
kena ditotok. Mereka hanya mengawasi berlalunya si Hantu
Ketawa dengan membawa Hiang Tin.
Lama juga mereka harus menanti totokan si Hantu Ketawa
bebas dengan sendirinya. Mereka jengkel bukan main kena
dijatuhkan demikian mudah oleh si Hantu Ketawa. Untung
mereka tidak tersiksa lama karena tiba-tiba ada datang dua
bintang Penolong.
Mereka itu ada dua kakek yang wajah dan potongan
badannya sama, rupanya mereka saudara kembar. Mereka
telah membebaskan totokan Thoat Beng Mo Siauw hingga Kie
Giok Tong dan kawan-kawan menjadi sangat berterima kasih
kepada dua kakek itu.
Mereka perkenalkan diri sebagai Siam-say Ji~lo (Dua orang
tua dari Siam-say), gurunya Siam-say Jie Liong yang telah
tewas ditangannya Thoat Beng Mo Siauw.
Girang hatinya Suyangtin Ngo Houw dapat bertemu dengan
gurunya Siam-say Jie Liong.
Sepasang kakek kembar itu diundang masuk ke dalam
bangunan tempat berapat dimana Kie Giok Tong dan kawankawan
menjadi kaget karena melihat sekarang penerangan
lilin telah menjadi terang kembali. Entah siapa yang telah
memasangnya kembali. Kie Giok Tong dan kawan-kawan
tidak sempat memperhatikan itu karena kegirangan atas
kedatangannya Siam-say Jie-lo. Mereka mengharap kalaukalau
sepasang kakek itu dapat mengatasi kepandaiannya
Thoat Beng Mo Siauw. Sangat hormat memperlakukan dirinya
sepasang kakek itu.
Siamsay Jie-lo memperkenalkan namanya Lim Teng dan
Lim Keng, dua saudara kembar.
"Kedatangan Jiwie Lim-heng sungguh tidak kebetulan,
kalau siangan sedikit pasti akan ketemu dengan si Hantu
Ketawa yang telah membunuh mati Siamsay Jie Liong."
berkata Kie Giok Tong seraya menghela napas.
Dua kakek ini menyatakan menyesalnya. "Kami datang
kemari menyusul dua murid kami-" berkata Lim Teng. Mereka
ada jago-jago muda yagn kepandaiannya lumayan juga. Cuma
kalau dihadapi kepada si Hantu Ketawa sudah tentu bukan
tandingannya. Maka itu, ketika kami mendengar mereka
hendak menyatroni sarangnya si Hantu Ketawa, lekas-lekas
kami menyusul ke sini. Tapi siapa tahu kedatangan kami
sudah terlambat dan dua muridku itu telah mati di tangannya si
Hantu Ketawa yang kejam !"
"Baik juga kalau Jiwie hendak menyambangi kuburannya
Siamsay Jie Liong." kata Kie Giok Tong. "Akan kami antarkan
Jiwie ke sana."
"Terima kasih Kie-heng. Besok akan kami berziarah ke
sana." sahut Lim Teng.
Sebetulnya Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya takut
membicarakan halnya Thoat Beng Mo Siauw yang telah
mengancam kepada mereka. Namun mereka sangat
penasaran sekali, maka mereka tidak sungkan-sungkan
membicarakan halnya si Hantu Ketawa kepada Siamsay Jielo
dan menunjukkan sarangnya di Pek-kut-nia.
Mereka ceritakan kekejaman si Hantu Ketawa dan
untuknya setiap tanggal 16, penduduk harus menyediakan
satu gadis cantik- Sampai waktu itu sudah ada 4 gadis cantik
yang telah disajikan kepada Thoat Beng Mo Siauw, tidak
terhitung Hiang Tin, budaknya Tan Him yang cantik dan baru
saja umurnya 15 tahun.
Siamsay Jie-lo geleng-geleng kepala mendengar
kekejaman si Hantu Ketawa.
"Manusia jahat itu memang pantas dibasmi. Sayang
muridku yang paling benci sama kejahatan demikian tidak bisa
menahan napsunya. Coba kalau dapat menunggu beberapa
hari disini, kita bisa bersama-sama pergi ke sana
membasminya." kata Lim Teng.
"Bagaimana kalau kita sama-sama kesana ?" tanya Lim
Keng kepada Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya, yang
mana dijawab dengan gelengan kepala oleh mereka.
"Bukannya kami tidak mau bersama-sama Jiwie kesana,
lantaran kami telah terima ancaman keras dari si Hantu
Ketawa. Kalau kami muncul terang-terangan dengan Jiwie,
amarahnya si Hantu Ketawa jadi meluao. Kalau kita dapat
mengatasi kepandaiannya yang hebat itu, tidak apa. Tapi
kalau umpamanya pihak kita gagal, habislah serumah tangga
kami. Maka itu, harap Jiwie tidak menjadi kecil hati." demikian
Kie Giok Tong mewakili saudara-saudaranya menjawab
ajakannya Lim Keng.
"Tidak apa, tidak apa." menyelak Lim Teng. "Kami berdua
juga sudah cukup ke sana untuk menuntut balas murid-murid
kami yang telah dibinasakan."
Pasang omong telah dilakukan lebih jauh dengan kurang
gembira.
Besokannya dua kakek itu ziarah ke makamnya Siamsay
Jie Liong. Mereka senang melihat kuburan dua muridnya
diatur baik, untuk mana mereka menghaturkan terima kasih
kepada Kie Giok Tong dengan saudara-saudaranya.
"Kie-heng dan saudara-saudara sekalian demikian
memperhatikan kepada kuburan dari dua murid kami.
Sungguh kami harus membilang banyak-banyak terima kasih-"
kata Lim Teng.
"Itulah ada kehalusan dari kami, menghormat kepada
mereka yang telah berkorban untuk keamanannya
Suyangtin..." jawab Kie Giok Tong merendah-
Pada hari itu juga Siamsay Jie-lo telah pamitan kepada Kie
Giok Tong dkk untuk mereka menyatroni Pek-kut-nia-
Kie Giok Tong dkk telah memberi nasehat supaya mereka
berhati-hati karena disana bukan saja si Hantu Ketauia yang
kepandaiannya sangat tinggi» tapi masih ada lagi anak
buahnya yang berkepandaian tinggi-tinggi.
Lim Teng dan saudaranya mengucapkan terima kasih atas
semua nasehat itu.
Perjaianan ke Pek-kut-nia tidak semudah yang diduga
sebab dua kakek she Lim itu harus menempuh perjalanan
yang bulak biluk dan hanya dengan pertolongan dari tukang
cari kayu baru dapat mendekati Pek-kut-nia•
Sebagai jago Kangouui kapakan, Siamsay Jie-lo ada
sangat hati-hati dalam menempuh perjalanannya. Maka tidak
sampai mereka masuk dalam jebakan musuh. Meskipun
demikian, mereka harus melewati beberapa rintangan yagn
diatur oleh si Hantu Ketauia sebelumnya mereka dapat
bertemu dengan Thoat Beng Mo Siauw.
Dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi,
Siamsay Jie-lo dapat menyisihkan rintangan-rintangan yagn
kuat dan akhirnya bisa juga ketemu dengan Thoat Beng Mo
Siauw.
"Hahaha.--. hahaha..... !" si Hantu «etawa gelak-gelak
ketawa ketika berhadapan dengan
dua kakek she Lim itu. 'Tamu-tamu datang harus disambut !
Mari kita menyambutnya ! '
Si Hantu Ketauia telah mengajak dua jago yang menjadi
kaki tangannya untuk menghadapi Siamsay Jie-lo.
"Jiuii datang menghadap Mo-ong ada urusan apa ?" tanya
si Hantu Ketawa. Sepasang kakek kembar itu tidak menyahut»
hanya hidungnya mendengus.
"Hahaha..... hahaha \" ketauia Thoat Beng Mo Siauui. "Di
depan Mo-ong mau banyak lagak ? Betul-betul Jiwi tidak tahu
bakalan mampus I"
"Belum tentu kami yang mampus, mungkin kau sudah dekat
ajalnya !" jauiab Lim Keng mendahului saudaranya menjawab
kata-kata si Hantu Ketauia yang menghina itu.
"Kalian mau apa menghadap M0-ong ? Kenapa kalian bikin
susah kepada orang-orangku dan diantaranya ada yang mati
karena perbuatan kalian ?"
"Hehehe, ada yang mati sudah wajar karena mereka tidak
tahu diri menghalang-halangi perjalanan kami. Sekarang, kami
hendak minta ganti jiwa atas kematian dari kedua murid kami
yang mati ditangan kau \" berkata Lim Teng lantang.
"Hahaha.____ hahaha ! Ganti jiwa ? Ganti jiwa untuk siapa
?" tanya si Hantu Ketawa.
"Ganti jiwa untuk dUa murid kami yang kau sudah
binasakan !" sahut Lim Teng.
"Hahaha... hahaha... ! Ganti jiwa buat apa ? Kalian sudah
membunuh-bunuhi beberapa orang kami. flpa tidak cukup
untuk dipakai ganti jiwa ?"
"Hm ! flku minta jiwamu, Setan Ketawa \" bentak Lim Teng-
"Hahaha____ hahaha. | Mana orang, lekas tangkap dua
bangsat ini !" srunya kepada
orang-orangnya. Dengan segera yang dipanggil sudah
datang serentak.
Ternyata mereka terdiri dari orang-orang yang berbadan
kuat dan bengis-bengis wajahnya. Mereka rupanya khusus
digunakan diwaktu menggertak orang.
Sepasang kakek itu tidak keder kelihatannya, karena
mereka ketawa dengan tenang-tenang saja melihat dirinya
dikurung. Hanay tangannya masing-masing siap mencabut
pedang-
"Kalian sudah berada dalam lubang macan, berani banyak
lagak ?" bentak Thoat Beng Mo Siauw yang kemudian gelakgelak
ketawa-
Rupanya gelaran Thoat Beng Mo Siauw tepat benar
untuknya sebab setiap perkataannya kalau
tidak didahului dengan ketauia gelak-gelaknya, adalah
buntutnya disusul oleh ketauianya yang menyeramkan.
"Setan Ketauia !11 bentak Lim Teng. "Setelah kami datang
kemari, tidak akan meninggalkan tempatmu sebelum
membawa kepalamu !"
"Uladuh» hebat benar nyalinya orang ini. Siapa kalian ?"
tanyanya, disusul oleh ketawa seramnya.
"Kau kenali sebelum mampus ! Kami berdua ada orang she
Lim dan mendapat gelaran Siamsay Jie-lo dari dunia sungai
telaga (Kang-Ouw). Hari ini Siamsay Jie-lo datang kemari
hendak mengambil kepalanya si Setan Ketawa."
"Hahaha---- hahaha... ! Mana orang, lekas tangkap mereka
!" serunya, disusul oleh
menyerbunya kira-kira 10 orang ke arah Siamsay Jie-lo.
Sepasang kakek itu sudah siap sedia. Maka ketika melihat
gelagat tidak baik, sudah lantas pada mencabut pedang
masing-masing. Pertempuran segera terjadi dengan seru
sekali, dua iauian sepuluh. Ternyata Siam-say Jie-lo bukan
nama kosong. Mereka telah kasih lihat ilmu pedangnya yang
hebat sekali, menusuk ke kiri dan kanan tanpa ampun lagi
membikin orang-orang yang mengerubuti menjerit kena
dilanggar pedang.
Melihat 10 orang mengeroyok masih belum dapat
menangkap Siamsay Jie-lo, Thoat Beng Mo Siauui
perintahkan 2 orang kuat di kiri dan kanannya untuk turun
tangan membantu.
Dengan turunnya dua orang kuat itu, telah membikin repot
pada sepasang kakek itu.
Thoat Beng Mo Siauw tampak duduk diatas mimbar dengan
ketawa berkakakan melihat sepasang kakek dari Siamsay itu
dikeroyok anak buahnya.
Sungguh hebat perlawanan dari Siamsay Jie-lo. Cuma saja
mereka dikeroyok oleh orang-orang pilihan dari si Hantu
Ketawa. Maka Pelan-pelan kelihatan mereka keteter dan main
mundur saja bertempurnya.
Dilihat jalannya pertandingan demikian, Thoat Beng Mo
Siauw sudah meramalkan lnO persen kemenangan ada
dipihaknya, meskipun sepasang kakek itu sangat tangkas
bertempurnya. Makin gencar ketawanya si Hantu Ketawa
melihata anak buahnya mendesak lawannya. Namun dilain
saat si Hantu dibuat terbelalak matanya ketika melihat
sepasang kakek itu merubah cara bersilatnya dan balas
menyerang kepada lawannya dengan nekad sekali. flda
beberapa orang yang roboh kena ditusuk pedangnya si kakek
dan merintih kesakitan.
Sepasang kakek itu tambah semangat melihat banyak
lawannya yang dirobohkan.
Tapi mereka kaget sekali ketika mendengar Thoat Beng Mo
Siauw bersiul nyaring dan 10
orang pula telah muncul menggantikan mreka yang sudah
kepayahan mengeroyok Siamsay Jie-lo. Tentu saja Siamsay
Jie_lo jadi kewalahan-
Diam-diam mereka mengeluh harus melayani tenaga baru.
Namun mereka ada tokoh-tokoh kelas satu, tidak gampanggampang
mundur. Mereka telah pertunjukkan kepandaiannya
hebat sekali sehingga orang-0rang baru terpukul mundu dan
ada beberapa orang yang roboh karena disambar pedangnya
sepasang kakek jagoan itu.
"Hahaha.... hahaha... ! Semua mundur !." seru Thoat Beng
Mo Siauw nyaring.
Seruan itu berpengaruh benar sebab dengan serentak
mereka pada lompat mundur dari kalangan Pertempuran.
Kenapa si Hantu Ketawa meneriaki orang-orangnya
mundur ? Itulah karena ia melihat tidak ada gunanya orangorangnya
itu, mereka tidak bisa merobohkan sepasang kakek
dari Siamsay. Ia hendak maju sendiri melayani dua kakek
jagoan itu.
Seruan si Hantu Ketauia untuk orang-orangnya mundur
membikin sepasang kakek itu heran. Meskipun ada beberapa
orang yang dirobohkan, tetap mereka sebenarnya ada diatas
angin dan lambat laun dapat membikin mereka (kedua kakek)
ambruk sendiri perlawanannya karena kelelahan bertempur.
"Hahaha...... hahaha.... !" ketauia Thoat Beng Mo Siauui
setelah orang-orangnya pada
mundur. "Kalian bukankah menghendaki kepalaku ? Mari
kita main-main beberapa jurus. Kalau kalian menang dengan
rela aku hadiahkan kepalaku. Sebaliknya, kalau kalian kalah
sudah tentu aku juga menghendaki kepala kalian. Ini toh
pantas bukan ?"
Lim Teng marah betul. Ia menyahut, "Hal itu untuk apa
dikatakan pula ? Kalau tidak kami yang mati, kau yang
mampus ! Mari kita menentukan siapa kuat \"
"Hahaha____ hahaha ! Mana golok 7" kata si Hantu
Ketauia.
Sebentar saja orangnya telah menyerahkan golok besar
yang biasa dipakai oleh si Hantu Ketawa. Dilihat dari besarnya
golok, pasti bobotnya ada sangat berat dan dalam tangannya
Thoat Beng Mo Siauw, senjata itu dicekal seperti mencekal
golok-golokan dari kayu saja entengnya. Sungguh hebat
tenaganya si Hantu Ketauia. Mau tidak mau telah membuat
kedua kakek itu mengeluh juga dalam hatinya.
Setelah mengebaskan goloknya beberapa kali sehingga
mengeluarkan suara mengaung, Thoat Beng Mo Siauw
berkata, "Sahabat-sahabat, marilah kita mulai !"
Siamsay Jie-lo sangat benci pada si Hantu Ketawa. Tidak
heran kalau dengan tidak banyak cakap mereka telah
menyerang dengan berbareng kepada lawannya.
Mereka bertempur dengan ramai sekali disaksikan oleh
banyak penonton, ialah anak buahnya si Hantu Ketawa.
Masing-masing bersorak membatu semangat untuk
cukongnya.
Thoat Beng Mo Siauw telah mainkan goloknya dengan
tenang sekali, hal mana menunjukkan bahwa si Hantu Ketawa
bukannya orang kuat sembarangan.
Kalau tadi dikeroyok oleh belasan orang, Siamsay Jie-lo
masih dapat bernapas dan balas menyerang merobohkan
lawannya, kali ini menempur si Hantu Ketauia seorang
beratnya bukan main. Pedang mereka tak dapat dipakai
membentur goloknya si Hantu Ketauia yang sangat berat
bobotnya. Maka saban-saban mereka mengelakan beradunya
senjata. Hal mana sebenarnya ada satu kerugian untuk
mereka.
Dengan begitu, bebaslah golok si Hantu Ketawa
menyerang sana sini.
Benar-benar si Hantu Ketawa sangat lihai. Beberapa
serangan maut dari Siamsay Jie-lo semuanya dapat
dipunahkan dengan seenaknya saja.
Meskipun berkali-kali mereka dapat elakkan pedangnya
jangan sampai beradu dengan goloknya si Hantu Ketawa,
akhirnya toh bentrok juga dan pedang Lim Teng terlepas dari
cekaiannya, ia rasakan ngilu sekali tangannya. Di lain pihak
Lim Keng yang hendak menolongi saudaranya juga
pedangnya dibikin terbang oleh si Hantu Ketawa sampai
badannya Lim Keng gemetaran menahan rasa ngilu di seluruh
badannya.
Mereka berdiri bengong mengawasi kepada Th0at Beng Mo
Siauw yang berdiri dengan ketawanya yang menyeramkan.
Tampik sorak riuh rendah kedengaran nebat sekali memuji
kemenangan Thoat Beng Mo Siauw, sementara Siamsay Jielo
hanya berdiri dengan tundukkan kepala.
Orang-orangnya si Hantu Ketauia tanpa mendapat perintah
lagi sudah menubruk Pada Siamsay Jie-lo dan masing-masing
kedua tangannya ditelikung dengan tali yang kuat.
Mereka dengan galak menggampar dan menendangi
sepasang kakek pecundang itu.
Mendapat Perlakuan yang sangat menghina itu, Siamsay
Jie-lo tidak bisa membalas. Mereka terima nasib dirinya
diperhina oleh orang-orangnya Thoat Beng Mo Siauw.
"Kalian memasuki mereka ke dalam tahanan \" memerintah
si Hantu Ketauia, sebagaimana biasa kata-katanya itu telah
disusul oleh ketawanya yang menyeramkan
Mereka dijebloskan ke dalam tahanan yang sangat buruk
keadaannya. Kalau lama-lama mereka ditahan disitu, mungkin
akan mati konyol tidak tahan dengan baunya yang
memuakkan. Apa yang menyiarkan bau busuk itu ? Entahlah.
Tapi yang terang bagi Siamsay Jie-lo kamar tahanan itu akan
mengundang penyakit dan mereka akan mati konyol.
Sedih hatinya dua jagoan kolot itu- Tapi apa mau dikata.
Mereka sudah bertekad bulat untuk membalas kematian sang
murid. Tapi gagal dan akhirnya mereka harus menerima
penghinaan yang belum pernah mereka alami.
Pada waktu sore mereka menerima ransum makanan yang
jelek sekali, lebih jelek dari makanan binatang babi. Tentu saja
mereka tak dapat makan. Rasanya, meskipun mereka dikasih
makanan enak juga tak dapat mereka makan karena keadaan
dalam kamar tahanan yang buruk dan bau itu. Bagaimana
orang dapat makan dengan bebas kalau disampingnya ada
bau busuk yang menusuk hidung ?
"Koko, apa kita harus terima nasib begini saja ?" tanya Lim
Keng, sang adik. Lim Teng menghela napas panjang.
"Saban hari kita terima makanan tapi kita tidak makan.
Terang lama-lama kita akan mati kelaparan." berkata pula Lim
Keng. "Sebisanya kita pertahankan hidup kita untuk belakang
kali melakukan pembalasan kepada si Hantu Ketawa-"
"Pembalasan..." menggumam Lim Teng-
"Ya, pembalasan- Apa kok mau bikin habis saja sakit hati
kita dan dua murid kita yang
telah mendahului kita
"Adik Keng, soal mati hidup kita dalam kamar tahanan ini
masih suatu pertanyaan. Bagaimana kau memikirkan
pembalasan ?" kata sang kakak dengan lesu.
Lim Teng kelihatannya sudah putus harapan, sebaliknya
dengan adiknya masih ingin hidup dan melakukan
pembalasan untuk sakit hati yang mereka telah alamkan.
Lim Keng membujuk keras untuk bikin saudara tuanya tidak
putus harapan dan semangatnya terbangun. Ia berhasil sebab
pada hari-hari berikutnya Lim Teng mau juga menelan
beberapa suap makanan jelek yang disajikan untuk mereka.
Itu hanya sekedar untuk menahan jangan mereka mati
kelaparan.
Satu minggu mereka disekap dalam tahanan itu sampai
badannya kurus, namun semangatnya hidup. Mereka yakin
akhirnya mereka akan dapat keluar dari kamar tahanan yang
busuk itu untuk kemudian melakukan pembalasan kepada si
Hantu Ketauia.
Sebenarnya itu ada pengharapan kosong. Tidak mungkin
mereka dibebaskan dari kamar tahanan yang buruk itu
kemudian melakukan pembalasan. Yang lebih mungkin adalah
mereka lambat laun habis tenaganya dan mati konyol- Tapi,
sang nasib maunya lain. Pengharapan mereka seakan-akan
telah dikaburkan.
Demikian pada suatu hari mereka telah dikeluarkan dari
kamar tahanan yang buruk itu dibawa menghadap pada Thoat
Beng Mo Siauw.
Tampak si Hantu Ketawa duduk diapit oleh dua jagoan
yang menjadi kaki tangannya.
Keren sekali kalau melihat Thoat Beng Mo Siauw duduk
dikursi kebesarannya, apalagi saban-saban terdengar suara
ketawanya yang menyeramkan bulu badan-
Di depan si Hantu Ketawa, Siamsay Jie-lo disuruh berlutut.
Namun mereka membantah hingga kepaksa lututnya digedor
sama pentungan yang membuat akhirny mereka berlutut juga
diluar keinginannya.
"Hahaha____. hahaha.... ! Siamsay Jie-lo, sudah satu
minggu kalian mendekam dalam kamar
tahanan. Bagaimana kalian rasakan ? Enak tidur, senang
bergerak ?"
Siamsay Jie-lo tidak menyahut, hanya menundukkan
kepalanya saja.
"Hahaha..... hahaha..... ! Siamsay Jie-lo, Mo-ong mau kasih
jalan hidup asal kalian suka
menjadi pembantu Mo-on, bagaimana ?"
Lim Teng dan Lim Keng saling awasi satu dengan lain
sejenak, baru Lim jeng menyahut, "Asal Mo-ong suka kasih
kebebasan pada kami» mau disuruh apa juga kami akan
menurut
perintah Mo-ong !"
"Hahaha-... hahaha.-...! Bagus, bagus, mulai sekarang
kalian dibebaskan dan menjadi pembantu Mo-ong. Asal kalian
dapat menunjukkan jasa dalam Pekerjaan kalian pasti Mo-ong
tidak akan melupakan !"
Atas perintah Thoat Beng Mo Siauw, orangnya telah
membebaskan Siamsay Jie-lo dari ikatan tangannya.
Kemudian lututnya yang dibikin lemas barusan oleh pentungan
telah diobati dan mulai hari itu Siamsay Jie-lo telah menjadi
orangnya Thoat Beng Mo Siauw, sehari-hari galang gulung
dengan kawanan penjahat.
Siamsay Jie-lo mau menjadi budaknya si Hantu Ketauia
bukannya ingin hidup senang. Mereka mau merendah lantaran
ingin membebaskan diri dari pengaruh si raja iblis. Pikirnya,
kalau mereka menolak tawaran si Hantu Ketawa, terang
mereka akan dijebloskan pula dalam tahanan yang buruk itu,
sampai kapan mereka dapat merdeka ? Sebaliknya kalau
terima tawaran, keuntungan bagi mereka menemukan banyak
kans untuk dapat melarikan diri dan mewujudkan cita-citanya
menuntut balas pada Thoat Beng Mo Siauw yang gagah
perkasa itu.
Siamsay jie-lo selalu diintip gerak geriknya oleh mata-mata
dari si Hantu Ketawa, namun mereka bisa bawa diri sehingga
lama-lama kecurigaan atas dirinya menjadi lunak.
Hampir saban minggu orangnya telah membawakan
perempuan cantik untuk Thoat Beng Mo siauw
bersenang-senang. Wanita-wanita yang menjadi korbannya
itu hanya seminggu ditangannya si raja iblis kemudian
dioperkan kepada orang-orangnya yang disayang. Terutama
kaki tangannya yang diandalkan, sering mendapat hadiah
lebih dahulu dari yang lainnya-
Malah Siamsay Jie-lo juga pernah ditawari wanita bekas
kaki tangannya si raja iblis, akan tetapi dengan halus mereka
men0lak dengan alasan mereka sudah tua, tidak suka plesiran
dengan orang perempuan.
penghidupan dalam kekuasaan Thoat Beng Mo Siauw
sebenarnya memuakkan dalam ukuran hidupnya dua kakek
dari Siamsay itu. Namun mereka tak dapat berbuat apa-apa
sebab masih belum ada kesempatan untuk angkat kaki dari
situ.
Wanita-wanita yang menjadi korbannya Thoat Beng Mo
Siauw ada juga yang bunuh diri setelah dinodai tapi
kebanyakan mereka pada temahai hidup dan rela menjadi
bola bundar dioper ke sana sini sehingga tabiatnya berubah
menjadi genit dan merupakan wanita 'p' yagn sangat
memuakkan.
Pada suatu hari, menggunakan kesempatan Thoat Beng
Mo Siauw sedang keluar dengan beberapa jagoannya,
Siamsay Jie-lo telah angkat kaki dari situ. Namun
Perbuatannya telah diketahui oleh mata-mata si Hantu Ketawa
hingga terjadi pengepungan ramai.
Siamsay Jjie-lo telah mengamuk dan membunuh banyak
orangnya Thoat Beng Mo Siauw, namun
mereka tidak bisa lolos dari kepungan sehingga mereka jadi
nekad dan mengamuk mati-matian. Dengan badan berlumuran
darah, mereka telah dikejar oleh orang-orangnya si Hantu
Ketauia. Untuk menolong diri, dua kakek itu gunakan
ginkangnya. Benar lawannya dapat ditinggalkan, namun
keadaan mereka sangat payah. Di perjalanan Lim Keng tealh
ambruk kecapean- Kepaksa Lim Teng menolongi adiknya duu
sebelum meneruskan kaburnya. Hatinya sangat gelisah,
khawatir musuh keburu sampai dan mereka bakal mendapat
penghinaan yang bukan-bukan nanti.
"Koko, adikmu sudah tidak berguna lagi. Kau lekas lari
selamatkan diri. Di belakang kali
kau dapat menuntut balas dan adikmu di tempat baka juga
akan merasa senang.----"
demikian Lim Keng telah berkata kepada kakaknya.
"Tidak, kau harus hidup dan sama-sama nanti datang
kembali menuntut balas ! ' menghibur kakaknya dengan
berlinang-linang air mata.
Lim Keng bersenyum, "Sejak muda kita berkumpul samasama,
berkelana sama-sama dan dalam menghadapi suka
duka kita selalu bersama, tapi kali ini, aku harap kau tidak
bersama aku. Relakan kepergianku, pulang menemui murid
kita yang telah mendahului kita....."
Lim Teng menangis seperti anak kecil mendengar
perkataan adiknya.
Makin gelisah hatinya karena sebentar lagi, musuh akan
sudah sampai disitu.
Benar saja, begitu Lim Keng menarik napasnya yang
penghabisan, tampak banyak musuh mendatangi. Kepaksa
Lim Teng meninggalkan mayatnya sang adik, ia kabur seperti
kesetanan sehingga orang-orangnya Thoat Beng Mo Siauw
tak dapat menangkapnya. Mereka hanya boleh merasa puas
dengan mayatnya Lim Keng yang mereka bawa pulang ke
markas untuk dipakai bukti nanti Thoat Beng Mo Siauw
kembali dari kepergiannya.
Lim Teng dengan susah payah sampai juga di Suyangtin.
Orang yang melihat padanya telah melaporkan kepada lima
harimau yang segera pada datang menyambut Lim Teng yang
pakaiannya penuh darah, badannya banyak mendapat lukaluka.
Keadaannya payah benar. Maka ketika berjumpa dengan
Lima Harimau telah roboh terkulai saking lelahnya dan seluruh
badannya lemas terlalu banyak mengeluarkan darah. Kie Giok
Tong perintah orang-orangnya untuk menggotong Lim Teng ke
rumahnya, dimana Lom Teng ditolong sebagaimana mestinya.
Keadaannya jago tua itu sangat gawat, namun ia masih
daPat menceritakan pengalamannya kepada Kie Giok Tong
dkk dengan sangat jelas-
Pada keesokan harinya Lim Teng telah menutup mata.
Kasihan, ia dapat meloloskan diri dengan meninggalkan
mayatnya sang adik, maksudnya belakang kali ia akan
membawa banyak teman untuk membalas sakit hati kepada
Thoat Beng Mo Siauw. Tapi kenyataannya tak dapat ia
berbuat apa-apa yang dicita-citakan karena badannya tidak
mengijinkan dan telah
melepaskan napasnya yang penghabisan di rumahnya Kie
Giok Tong.
Lima Harimau sangat berduka atas kematiannya Siamsay
Jie-lo seperti juga kematiannya Siarrrsay Jie Liong (Dua naga
dari Siamsay).
— 24 —
Sejak itu tidak ada kejadian pula ada orang-orang gagah
yang datang dengan niat menumpas kejahatannya Thoat Beng
Mo Siauw. Suyangtin dapat mengalami keadaan aman dan
tentram, sebegitu lama penduduk memenuhkan peraturan
yang ditetapkan oleh Thoat Beng Mo Siauw ialah saban
tanggal 16 dikirim seorang gadis yang cantik jelita untuk si
Raja Iblis.
Pada bulan itu adalah bulan keenam, dimana pilihan gadisgadis
telah jatuh kepada puterinya Teng Houw dari Suyangtin
Ng0-H0uw. Puterinya Teng Houw ada putri tunggal bernama
Leng Siong, umurnya baru 17 tahun, wajahnya cantik sekali-
Oleh karena menghadapi kehilangan puterinya pada tanggal
16 yang akan datang, maka mukanya Teng Houw selalu
bermuram durja, sangat duka akan kehilangan puteri
tunggalnya-
Malah Leng Siong sendiri sekarang tengah menangis saja,
tidak mau dijadikan sajian Thoat Beng Mo Siauw.
Demikian ada penuturan Kie Giok Tong kepada Kim Wan
Thauto, Lo In dan Bwee Hiang, baru
tahu sekarang duduknya perkara. Maka Kim Wan Thauto
telah minta maaf untuk sikapnya barusan yang kasar.
"Kelakuan Taysu mana bisa disalahkan. Memang sebagai
sahabat baik Taysu pun ingin tahu duduknya urusan supaya
dapat membantu memecahkannya, bukan ?" berkata Kie Giok
Tong dengan muka berseri-seri, puas dapat menceritakan
halnya Thoat Beng Mo SiaUui kepada Kim Wan Thauto dan
dua saudaranya hingga Kim Wan Thauto tidak menaruh curiga
pula kepada Suyangtin Ngo Houw-
Penuturan itu sangat menarik sekali hatinya Bwee Hiang-
Pikirnya, "Thoat Beng Mo Siauw sangat jahat, banyak
meminta korban uiantia baik-baik- Kalau tidak buru-buru
dibasmi pasti akan menyusahkan pada kaum perempuan.
Sebaiknya aku berdamai dengan adik kecil, biar aku yang
gantikan Leng Siong dan adik kecil yang antar aku ke sana.
Kita berdua akan basmi kawanan jahat itu...
Matanya Bwee Hiang mengawasi kepada adik kecilnya,
disambut oleh L o In dengan menyeringai ketawa. Bwee Hiang
sudah hendak membuka mulut menyatakan pikirannya, namun
sudah didahului oleh Kim Wan Thauto yang berkata,
"Kesulitan yang dihadapi oleh Teng-heng bukannya tidak bisa
diatasi, cuma entahlah orangnya yang kita bisa andalkan suka
atau tidak campur urusan ini."
Kie Giok Tong terkejut. Ia menanya, "Orangnya siapa yang
Taysu maksudkan ?"
Kim Wan Thauto tidak menjawab hanya ia ketauia ke
arahnya Lo in.
Sekarang Kie Giok Tong mengerti akan kata-kata Kim Wan
Thauto tadi. Orang yang diandalkan itu adalah si Bocah Sakti.
"Kalau anak In suka menolong Teng-heng, urusan akan
beres sudah." kata si Thauto. "Biarlah adik kecil dengan aku
kesana..." menyela Bwee Hiang.
"Nah, ini baru betul." kata Kim Wan Thauto. "flnak In tidak
bisa bekerja betul tanpa anak Hiang yang mendorongnya.
Hahaha.... bagus, bagus____"
Bwee Hiang dan Lo In saling pandang dengan pikiran
masing-masing.
"Taysu, kau mau atur bagaimana ?" tanya Kie Giok Tong
kepingin tahu
"Aku mau atur begini." jawab Kim Wan Thauto. "flnak Hiang
gantikan kedudukannya nona Leng Siong, sedang anak In
yang mengantarnya. Sampai di pek-kut-nia ketemu si Hantu
Ketawa, terserah pada pertimbangan dua anak itu. Aku rasa
dengan anak in dan Hiang kesana urusan Thoat Beng Mo
Siauui akan selesai sudah. Ia akan tinggal namanya saja. Aku
Percaya anak in dapat mengatasi kepandaiannya yang
dikatakan hebat."
Kie Giok Tong saling lihati diantara saudara-saudaranya.
Teng HaUui ragu-ragu untuk menerima tawaran itu. Ia
masih meragukan kepandaiannya Lo In yang masih anak-anak
dan Bwee Hiang satu gadis cantik yang tidak ada apa-apanya
yang ditakuti, ia khawatir dua anak itu akan menjadi korbannya
si Hantu Ketawa yang kejam. Kalau sampai kejadian demikian,
bagaimana ia dapat mempertanggungjawabkan kepada orang
tuannya dua anak itu ?
Sementara Teng Hauui dalam ragu-ragu, tiba-tiba Bwee
Hiang berkata, "Paman Teng, apa kau tidak keberatan ajak
aku menemui adik Leng Siong ?"
"Tentu, tentu, masa aku keberatan. Mari ikut aku nona
Hiang." kata Teng Hauw.
Bwee Hiang kedipkan mata kepada Lo In, seakan-akan
kode suruh si bocah menunggu padanya. Lo In hanya ketawa
nyengir melihat enci Hiangnya ikut Teng Hauw masuk ke
dalam, tapi lekas juga ia kaget sebab dengan perginya sang
enci ia jadi kesepian. Ia paling ogah kumpul-kumpul dengan
orang-orang tua.
Bwee Hiang sementara itu sudah masuk dan menemui
nyonya Teng yang sedan berada di kamarnya sang puteri.
Leng Siong sendiri tenah menangis sambil memeluki bantal.
Teng Hauw memperkenalkan Bwee Hiang kepada istrinya
dan sebaliknya, kedua wanita itu saling merendah. Teng Hauw
keluar lagi menemui tamu-tamu yang lainnya.
"Anak Siong, kau jangan menangis saja. Lihat nih enci
Hiang datang menjenguk kau. Lekas bangun, malu ihh
menangis saja ada tamu !" kata sang ibu kepada puterinya.
Leng Siong kaget. Ia lempar bantal yang dipeluki menangis
tadi, lalu bangun dari pembaringannya menemui Bwee Hiang.
Nona Bwee Hiang lihat Leng Siong sangat cantik hanya
sayang kedua matanya pada bengul, rupanya saking
kebanyakan menagnis- Segera dua wanita itu berjabatan
tangan memperkenalkan diri, Bwee Hiang berkelakar, " Adik
Leng Siong, kau sangat cantik. Cuma kedua matamu itu pada
bengkak, jelek ihh !"
"Enci Hiang, kau bisa saja, orang jelek dikatakan cantik."
"Kalau gadis cantik macam adik Siong dikatakan jelek,
gadis yang bagaimana yang boleh dikatakan cantik 7"
"Gadis itu toh sudah ada disini....." sahut Leng Siong
ketawa mesem.
"Siapa 7" tanya Bwee Hiang kepingin tahu.
"Enci Hiang sendiri..-" sahut Leng Siong ketauia cekikikan,
lupa barusan ia menangis terus-terusan.
Buiee Hiang tertegun sebentar. Pikirnya, anak ini pandai
benar membaliki duduknya urusan dan suka berkelakar-
Sungguh sayang kalau dijadikan mangsanya si Hantu Ketauia.
"Bagus, kau pandai memutar duduknya urusan." kata Buiee
Hiang ketauia-
Leng Siong ajak Buiee Hiang duduk bersama diatas kursi
panjang.
Ibunya Leng Siong masih duduk di tempatnya tadi- Ia
merasa suka kepada Bwee Hiang yang begitu bertemu
dengan anaknya sudah lantas seperti teman akrab saja.
"Adik Siong." kata Bwee Hiang. "Sebenarnya aku ingin
bertemu dengan kau, mau lihat keadaan kita berimbang atau
tidak. Sebab aku akan menggantikan kau menjadi korbannya
si Hantu Ketawa....."
"Enci Hiang !•" potong Leng Siong kaget.
"Apa kau bilang ? Kau mau menggantikan aku menjadi
mangsanya si Hantu Ketawa ? Oh, jangan, jangan- Aku tidak
mau orang berkorban untuk kepentinganku. Biarlah aku yang
tanggung sendiri......"
Legn Siong berkata sambil menangis sesenggukan.
Nyonya Teng sangat kasihan kepada anaknya yang telah
putus asa-
"Anak Siong, encimu bukan betul-betul menjadi korbannya
si Hantu Ketawa. Ia hanya menggantikan kau untuk ke sana
membasmi si orang jahat itu......" menghibur Nyonya Teng.
Leng Siong terkejut. Rambutnya yang riap-riaP ia angkat
dan menatap wajahnya Bwee Hiang. "Enci." katanya. "Enci
mau kesana membasmi si Hantu Ketauia 7 Ah, tidak mungkin.
Kau secantik ini pergi ke sana sendirian, sama saja kau
mengantarkan jiwa."
"Hihihi...-" Bwee Hiang tertawa ngikik.
"Kenapa kau tertawa, enci Hiang ?" tanya Leng Siong
heran. "Aku mentertawakan kau, adik Siong." sahut Bwee
Hiang. "Kau tertawakan aku, kenapa ?" tanya si gadis.
"Aku kesana bukannya sendirian, ada adikku yang
kepandaiannya begini !" kata Bwee Hiang
sambil acungkan jempolnya.
"Adikmu 7 Apa kepandaiannya lebih atas dari si Hantu
Ketawa ?"
"Sudah tentu, adikku kepandaiannya susah diukur,
pendeknya kalau ia yang turun tangan, jangan hanya satu
Hantu Ketawa, biarpun ada sepuluh Hantu Ketauia pasti ia
akan tangkap semuanya. Hihihi
"Enci Hiang, kau jangan berkelakar untuk urusan kosong !"
kata Nona Teng. "Kenapa aku berkelakar dalam urusan
kosong, apa memangnya aku dapat keuntungan 7"
Leng Siong membenarkan jawaban Bwee Hiang. Ia merasa
barusan telah kesalahan omong dan khawatir menyinggung
hatinya sang teman baharu. Maka lantas berkata, "Enci Hiang,
kau jangan marah. Barusan akan kesalahan omong. Adikmu
itu tentu cakap romannya sebab kau sendiri begini cantik...."
Bwee Hiang terpingkal-pingkal ketawa mendengar adik
kecilnya dikatakan cakap-"Enci, kenpa kau tertawa begitu
enaknya 7"
"Tidak apa-apa- Aku ketawa geli barusan kau mengatakan
adikku cakap."
Memangnya adikmu itu berwajah jelek ?"
Ah, tidak- Cukup menarik kalau kau nanti melihatnya."
Enci Hiang, apa dia ada disini ?"
Ada. Kau mau berkenalan dengannya ?"
Tentu. Sebab dia mau menolong diriku dari cengkeraman si
Hantu Ketawa." "Baiklah, nanti aku panggil dia masuk."
Bwee Hiang permisi pada nyonya Teng keluar sebentar
memanggil adik kecilnya.
Ketika Bwee Hiang sudah berlalu, buru-buru nyonya Teng
berkata, "Anak Si0ng, mereka segera akan datang. Mana
boleh pertemuan dilakukan di dalam kamar ini. Maka itu, lekas
dandan sedikit dan menyambutnya mereka di ruangan
tengah."
Sang ibu berkata sambil bangkit dari duduknya dan keluar.
Leng Siong pikir kata-kata ibunya tadi memang benar,
maka dengan terburu-buru ia
bersolek dan tukaran pakaian akan kemudian keluar
menanti di ruangan tengah bersama ibunya. Benar saja tidak
lama Bwee Hiang dan Lo in masuk diantar oleh pelayan.
Leng Siong kaget melihat Lo In wajahnya hitam lega. Lebih
kaget lagi ketika ia diperkenalkan oleh Bwee Hiang, tiba-tiba
saja Lo in menubruk padanya sambil berkata, "Enci Eng Lian,
kau ada disini ? Hm, diam-diam kau mengumpat disini ya,
membuat adikmu mencari setengah mati. Hahaha.-.-"
Lo In memeluk Leng Siong dengan keras hingga si nona
meronta-ronta minta tolong pada ibunya dan Buiee Hiang.
Ibunya Leng Siong menjadi kesima melihat adegan itu,
sedang Bwee Hiang juga sangat heran dengan tiba-tiba saja
adik kecilnya merangkul Leng Siong dan mengatakan si nona
ada enci Eng Liannya.
Setelah hilang tertegunnya, Buiee Hiang cepat menarik
tangannya Lo In dan berkata, "Adik kecil, kau jangan membikin
maiu orang. Itu bukan enci Lianmu, dia ada puterinya paman
Teng. Hayo lepaskan pelukanmu !"
Lo in dengan perlahan-lahan melepaskan pelukannya, "Apa
benar kau bukan enci Lianku ?" kata Lo In seraya menatap
wajah Leng Siong yang kemerah-merahan jengah dipeluki
oleh laki-laki yang barusan saja dikenal.
"Aku bukannya enci l_ianmu..." sahut Leng Siong seraya
merapihkan pakaiannya yang kusut dan ambil tempat duduk
tidak jauh dari Bwee Hiang. Napasnya masih terengah-engah,
barusan mengerahkan tenaganya habis-habisan untuk
meloloskan diri dari pelukan Lo In, si bocah wajah hitam yang
kesalahan menerka orang.
Lo In masih ragu-ragu atas keterangan Leng Siong, maka ia
mengamat-amati lagi wajah si nona yang cantik jelita hingga si
nona menjadi kemalu-maluan diawasi terus-terusan oleh Lo In.
Bwee Hiang di lain pihak merasa tidak enak hatinya atas
kelakuan Lo In tadi.
"Adik kecil." tegurnya. "Lain kali jangan suka sembrono.
Kau lihat dulu yang tegas, gadis yang dihadapi ada enci
Lianmu apa bukan. Jangan main rangkul saja..."
Bwee Hiang menegur sambil tertawa terkekeh-kekeh,
hatinya tiba-tiba jadi geli mengingat kesembronoan Lo in tadi
sehingga Leng Siong menjadi ketakutan setengah mati.
"Aku masih penasaran, enci Hiang- Coba kau tolong
periksa, apa diatas alisnya yang sebelah kiri ada tanda tai lalat
tidak ?" memohon Lo In pada Bwee Hiang.
Bwee Hiang menurut. Ia minta periksa alisnya Leng Siong
yang sebelah kiri tapi tidak ada kedapatan tai lalat yang
dimaksudkan Lo In-
"Adik kecil, benar-benar ia bukan enci Lianmu. Tanda tai
lalat dialisnya tidak ada."
Lo In manggutkan kepalanya. Dengan sopan ia bersoja
meminta maaf kepada Leng Siong, juga kepada ibunya yang
masih diam saja kesima.
Nyonya Teng lihat Lo In, meskipun sifatnya agak liar namun
kelihatannya ia ada anak yang polos dan jujup, maka
kelakuannya tadi terhadap Leng Siong bukannya tidak ada
sebabnya-Maka ia lalu minta keterangan sedikit pada Lo In
tentang Eng Lian.
Lo In menutupkan tentang pengawakan dan wajahnya Eng
Lian persis sama dengan Leng Siong, hanya itu tanda tai lalat
saja tidak ada pada Leng Siong. Ia sangat merindukan enci
Liannya yang sudah lama berpisahan, makanya tadi tanpa
sengaja ia telah merangkul Leng Siong yang disangkanya ada
enci Liannya.
Nyonya Teng angguk-anggukkan kepalanya. Diam-diam
hatinya bergoncang mendengar penutupan Lo In. Ia ingat
sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan di depan anak-anak muda
itu.
Setelah ia omong-omong sebentar, lantas meninggalkan 3
anak muda itu duduk kongkouw dengan asyiknya. Lo In sudah
melupakan kejadian barusan, sedang Leng Siong juga dapat
memahami kesalahan Lo In yang tidak disengaja. Ia malah
sekarang suka kepada si bocah nakal yang bisa berkelakar
dan mengitik urat ketauia.
Di lain pihak, Kim wan Thauto sudah merancangkan
maksudnya ialah Bwee Hiang duduk dalam tandu, di gotong
oleh dua orang diantaranya Lo in satu ikut menggotong- Bwee
Hiang akan diantar ke Pek-kut~nia dipersembahkan kepada
Thoat Beng Mo Siauw.
Lima Harimau semuanya sudah mufakat, hanya tinggal
tunggu waktunya saja tanal 16.
Pada keesokan harinya Bwee Hiang dan Lo In dibawa ke
Giok Lie Teng (Peseban Bidadari) oleh Leng Siong, dimana
mereka bercakap-cakap dengan gembira. Kemudian Leng
Siong ajak dua kawannya untuk melihat-lihat kebonnya yang
luas.
Dalam perjalanan Bwee Hiang menggodai Leng Siong,
katanya : "Adik Siong, tepat nama beseban ini dengan
orangnya yang suka datang menangin disitu-"
"Enci maksudkan bagaimana ?" tanya Leng Siong.
"Nama beseban bidadari, tepat benar sebab kau sendiri
seperti bidadari, adik Siong !" jawab Bwee Hiang ketawa
ngikik.
"Enci Hiang, kau bisa saja-..." kata Leng Siong, tangannya
diulur mencubit.
"Aduh ! Kenapa aku mencubit aku, adik Siong. Kalau mau
mencubit, cubitlah tuh adik kecil !" kata Bwee Hiang seraya
monyongkan mulutnya ke arah Lo In.
Lo In ketawa menyeringai, "Mana enci Leng Siong berani
mencubit aku, dia takut dirangkul !" L o In berkelakar.
Leng Siong kemerah-merahan wajahnya, matanya menatap
Lo In dengan gergetan.
Terkejut hatinya Lo in melihat Leng Siong dalam sikap
gergetan itu, sebab Persis ia melihat Eng Lian kalau ia sedang
godai dan si nona penasaran menatap padanya dengan sorot
mata dan sikap seperti Leng Siong sekarang.
Segera juga mereka beradu Pandangan di luar tahunya
Bwee Hiang, keduanya terkejut dan pada melengoskan
pandangannya. Leng Siong menundukkan kepala sedang Lo
In pikirannya melayang-layang kepada enci Liannya.
Bwee Hiang yang memecahkan kesunyian, ia berkata,
"Mari kita duduk-duduk di bawah pohon itu yang teduh !"
Lo In mengiyakan, ia hanya mengikuti saja kemananya
kedua gadis jelita itu- Di lain saat mereka telah duduk-duduk
mengangin.
Selama kongkouw, matanya Lo in ketarik oleh banyak kera
yang pada lelompatan dari satu ke lain cabang. Pikirannya
melayang-layang ke lembah Tong-hong-gay dimana ia
berkawan
dengan kawanan kera dan si rajawali kapal terbangnya.
Lo In meninggalkan dua gadis yang sedang asyik
kongkouw itu dan menghampiri kawanan kera. Ia disambut
dengan har har dan wajah yang menakuti dari kawanan
monyet. Mereka seperti tidak senang didekati Lo In. Namun
setelah Lo in bicara dalam bahasanya, kawanan monyet itu
menjadi jinak dan berkumpul merubung si Bocah Sakti.
Lo In minta kawanan monyet itu tolong mencarikan buahbuahan
yang lezat untuk ia dan kawan-kawannya makan.
Kawanan monyet itu kegirangan dan berjanji akan mencarikan
buah-buahan yang dimaksudkan, setelah mana kawanan kera
itu telah bubaran lari serabutan ke beberapa jurusan dengan
masing-masing keluarkan suara cetcowetan yang ramai sekali.
Ketika Lo In putar tubuhnya hendak kembali, dibelakangnya
sudah ada Bwee Hiang dan Leng Siong sedang berdiri
mentertawakan kepadanya.
'Adik kecil, sungguh lucu sekali kau bicara barusan dengan
kawanan kera. Apakah mereka mengerti dengan bicaramu itu
7 Hihihi---- " tertawa Bwee Hiang.
Leng Siong ikut ketawa dan Lo In hanya ketawa nyengir.
"Kau katakan apa kepada mereka sehingga mereka pada
bubaran tumpang siur ?" tanya Bwee
Hiang kepada Lo In ketika melihat adik kecilnya hanya
ketauia nyengir saja.
"Aku suruh mereka mencarikan bebuahan yang lezat untuk
kita makan." sahut Lo In.
"Bagus." kata Bwee Hiang. "Encimu mau lihat, aPa benar
mereka nanti membawakan bebuahan yang dimaksud.
Rasanya kawanan kera itu hanya main-main saja dengan kau,
adik Kecil."
"Kau lihat saja nanti, enci Hiang." sahut Lo In.
Mereka kembali ke bawah pohon tadi, dimana mereka
meneruskan ngobrolnya-
"Adik Leng Siong, adik kecil ini katanya pandai meniup
seruling mengundang ular. Apa kau tidak ingin mendengarnya
7"
Leng Siong melirik pada Lo In dengan senyumnya yang
memikat-"APa benar, adik kecil ?" tanya Leng Siong.
"Bohong, enci Hiang hanya seenaknya saja berkata." sahut
Lo In-
"Adik kecil, kau jangan bohongi lagi enci Leng Siong."
bantah Bwee Hiang.
Lo In tidak menyahut, ia hanya ketawa nyengir.
"Adik kecil, sebagai tandanya persahabatan, apa salahnya
kau perdengarkan suara serulingmu untuk aku dengar."
berkata Leng Siong.
"Hayo, jangan malas- Kalau nona rumah suruh, jangan
bandel !" menyela Bwee Hiang.
Lo In kewalahan didesak kedua gadis jelita itu. Maka ia
mencabut serulingnya dan ia mulai meniupnya dengan lagulagu
gembira. Kedua gadis itu pikirannya melayang-layang
mengikuti irama lagu gembira, tampak wajahnya berseri-seri.
Kapan irama lagu membiluk pada lagu yang tegang,
berubahlah wajah kedua gadis itu menjadi tegang dan serius
sekali. Yang paling hebat, kapan irama lagu seruling Lo In
sampai pada lagu yang sedih, dirasakan oleh kedua gadis itu
seperti hatinya disayat dan sangat sedih, maka berlinanglinanglah
air mata mereka.
Ingin mereka menyetop Lo In meniup serulingnya, namun
merek tidak berdaya karena terbawa oleh ayunan lagu sedih
mencengkeram hatinya. Sampai terisak-isak kedengaran
mereka menangis mendengar irama lagu sedih dari seruling si
bocah nakal.
Tiba-tiba suara seruling dihentikan, lenyaplah lagu sedih
itu- Tampak kedua gadis itu telah menyeka masing-masing
matanya yang penuh dengan air kesedihan.
"Sungguh hebat adik kecil kita !" memuji Buiee Hiang dikala
kegembiraannya telah balik kembali.
Leng Siong sementara itu telah mengawasi kepada Lo in
yang tidak menjawab pujiannya Bwee Hiang, malah
menundukkan kepalanya seperti yang menangis.
"Adik kecil, kau kenapa ?" tanya Leng Siong, melihat Lo In
diam saja.
Lo In pelan-pelan angkat kepalanya dan memandang Leng
Siong.
"Aku terkenang kepada enci Lian, entahlah sekarang dia
ada dimana." sahut si bocah seraya menyeka air matanya
yang berkaca-kaca-
Leng Siong tundukkan kepalanya tatkala matanya Lo In
mengawasi saja pada wajahnya yang mirip Eng Lian.
"Kau ada begitu Perhatikan enci Lianmu. Pasti ada satu
waktu Tuhan akan pertemukan kau
dengannya- Tak usah kau sedihkan- Enci Lianmu pasti
dalam selamat____" menghibur Leng
Siong yang merasa sangat kasihan kepada Lo in.
"Biasanya adik kecil tidak cengeng kalau ingat akan enci
Liannya. Entahlah sejak dia melihat wajah adik Leng Siong,
sebentar-sebentar keingatan saja dengan enci Liannya."
nyeletuk Bwee Hiang sambil ketawa.
Leng Siong semu-semu merah wajah mendengar
perkataan Bwee Hiang.
Bwee Hiang perhatikan perubahan Leng Siong yang rada
kikuk, maka ia alihkan pembicaraan, katanya, "Adik kecil, lagu
serulingmu hanya membuat orang sedih saja. Tidak ada
hasilnya apa-apa."
"Siapa bilang tidak ada hasilnya ?" sahut Lo In.
"Kau kata, dengan lagu serulingmu akan dapat
mengundang kawanan ular. ' kata Bwee Hiang-Kalau itu apa
?" sahut Lo In sambil menunjuk ke depan.
Bwee Hiang dan Leng Siong memandang ke arah yang
diunjuk oleh Lo In. Tiba-tiba saja matanya kedua gadis itu
terbelalak ketakutan. Memang benar, tidak jauh dari mereka
ada berkumpul banyak ular kecil besar. Ada yang angkat
kepalanya dan menjulurkan lidanya, ada yang lugat legot
seperti yang berjoget, entah dari mana datangnya ular yang
jumlanya hitung ratusan-
Bukan saja kawanan ular itu hanya berkumpul di sebelah
depan, tapi tampak disekitarnya juga hingga Lo in dan dua
gadis itu terkurung di tengah-tengah.
"Habis, bagaimana ini ?" keluh Leng Siong yang ketakutan.
"Nah, biarkan enci Leng Siong dikawani kawanan ular. Aku
dan enci Hiang bisa keluar dari kepungan mereka !" Lo In
menakut-nakuti si gadis yang sedang ketakutan.
Bwee Hiagn ketauia ngikik.
"Enci Hiang, kau jangan ketawa saja." tegur Leng Hiong
rada keras suaranya, rupanya ia jengkel. "Carilah daya supaya
aku dapat keluar dari sini."
"Kau jangan takut, adik Leng Siong-" menghibur Bwee
Hiang- "Disini ada jago cilik kita, apanya yang ditakuti 7"
"Aku tidak berdaya menghadapi bagitu banyak ular.
Bagaimana enci Hiang kata demikian ?" kata Lo In seperti
yang putus asa.
Leng Siong yang tidak tahu sampai dimana kepandaiannya
Lo in telah menangis.
"Adik kecil, kau mau suruh encimu dimakan ular ?" kata
Leng Siong sesenggukan menangis. "Biarlah, sebelum kau
dimakan ular akan kucakar dulu mukamu yang hitam legam
untuk melampiaskan penasaranku. Uh, uh, uh... "Leng Siong
menangis.
Leng Siong mendekati Lo In dengan maksud mencakar
mukanya si bocah. "Adik kecil, kau jangan godai enci Lianmu
!" tegur Bwee Hiang ketawa.
Bwee Hiang sengaja menyebut namanya Eng Lian agar si
bocah muka hitam hentikan menggodai Leng Siong yang
benar-benar ketakutan melihat ular yang jumlahnya ratusan
itu.
Benar saja Lo In terkejut. Ia ingat seketika itu pada enci
Liannya, dipandangnya wajah Leng Siong yang cantik sedang
menangis.
Seraya Pegangi tangan Leng Siong yang hendak mencakar
mukanya, L0 in berkata, "Enci Leng Siong, kau jangan takut.
flku ada disini, keselamatanmu aku jamin...."
Lo In mencekal tangan yang halus lunak itu seraya matanya
mengawasi Leng Siong hingga si nona kembali pelongoskan
mukanya dan menunduk kemalu-maluan. Pikirnya, "Anak
hitam ini sudah tergila-gila sama enci Liannya. Makanya selalu
mengawasi saja wajahku yang mirip enci Liannya. Lama-lama
apa dia tidak menyulitkan diriku ?"
Tengah ia berpikir demikian, tiba-tiba dibikin kaget oleh
suara ketawa gelak-gelak dari luar lingkaran ular. Entah dari
mana datangnya sudah ada kira-kira dua belas orang yang
berdiri sambil tertawa ke arah mereka.
"Enci Hiang, itulah lawanmu. Lekas sambut ke sana !" Lo In
menganjurkan Bwee Hiang yang berdiri tertegun melihat ada
banyak orang laki-laki muncul dengan tiba-tiba.
Buiee Hiang paling gembira kalau disuruh bertempur. Maka
dengan tidak mengatakan apa-apa, ia enjot tubuhnya
mencelat melewati lingkaran ular dan tahu-tahu ia sudah ada
di depan dua belas laki-laki tadi. Dengan gagah ia menegur,
"Kalian siapa datang mengganggu kesenangan nonamu ?
Lekas kasih tahu, supaya nonamu jangan kesalahan tangan
membunuh orang yang tidak bernama !"
Seorang diantara dua belas orang itu rupanya menjadi
pemimpinnya telah maju ke depan dan berkata, "Nona manis,
aku Hek-liong Gouw Cin mendapat perintah untuk menangkap
kalian. Maka kau jangan bikin Perlawanan. Menyerah saja,
karena dengan membikin perlawanan kau bisa dapat susah
dikeroyok kami ramai-ramai."
Bwee Hiang tertawa cekikikan.
"Kalian bangsa gentong nasi mau bikin susah pada nonamu
? Hm ! Kalian jangan ngimpi ! Mari, aku mau lihat kau orang
macam aPa berani mengacau disini !"
Bwee Hiang seorang gadis cantik dan lemah gemulai, tidak
disangka-sangka oleh Hek-liong Gouw Cin, si Naga Hitam,
berani menentang kepada mereka. Dalam gusarnya ia
membentak,
"Budak liar, apa Bouui toaya tidak mampu tangkap kau ?"
Gouw Cin berkata seraya menyerang pada si n0na.
Kepandaian Bwee Hiang sekarang sudah hebat. Ia bukan
Bwee Hiang di jaman SuCoan Sanrsat menyerbu ke rumahnya
Liu Ulangwee. Ia sekarang mendapat pelajaran tinggi dari guru
kecilnya (Lo In)• Maka tidak heran kalau hanya dengan gepaki
saja sedikit badannya serangan si Naga Hitam menemukan
sasaran kosong.
Si orang she Gouw heran. Kembali ia menyerang, sia-sia
saja. Malah entah bagaimana si nona bergerak tahu-tahu ia
sudah kena ditampar dua kali sehingga terputar. Bwee Hiang
ketawa ngikik melihat musuhnya terputar ditampar olehnya.
Sementara itu kawan-kawannya GoUw Cin tidak tinggal
diam. Dengan serentak mereka menyerbu dan mengurung
Buiee Hiang ditengah-tengah. Si nona tidak gentar, apalagi ia
tahu dibelakangnya ada guru ciliknya. Semangatnya menyala
dikeroyok banyak orang-
Ia gunakan ginkangnya untuk berkelit dari seranganserangan
orang jahat itu.
Di lain pihak, Leng Siong sangat mengagumi
kepandaiannya Buiee Hiang yang bisa melesat tubuhnya
melebati lingkaran ular dan kini si nona sudah bertempur.
Ketika pandangannya beralih kepada Lo In, si nona terkejut
melihat ada dua orang yang mendekati Lo In
hendak membokong. Ia menjerit, "Adik In, awas !"
Saking ngeri Leng Siong pejamkan matanya. Ia menduga
adik kecil itu remuk kepalanya digempur oleh dua orang jahat
yang berbadan tinggi besar.
Leng Siong mencelos hatinya mendengar suara jeritan.
Pelan-pelan ia membuka matanya, kiranya yang menjerit
tadi bukannya Lo In, hanya kedua lawannya yang telah hancur
kepalanya dibenturkan satu dengan lain oleh jago cilik kita.
Sebelum Leng Siong menjerit kasih tahu ada bahaya, Lo In
sudah tahu bahwa ada dua orang hendakmembokong dirinya.
Maka dengan menggunakan kegesitannya ia berhasil
mencekuk dua orang itu lalu diadukan kepalanya hingga
hancur berantakan.
"Adik kecil, kau tidak apa-apa ?" tanya Leng Siong cemas.
Lo In hanya ketawa nyengir, berbareng ia jumput sebuah
batu kecil. Begitu batu itu melesat ke atas, terdengar jeritan
orang dari atas pohon, menyusul badannya telah jatuh persis
di depan Leng Siong hingga si nona menjadi sangat kaget.
"Adik kecil !" serunya ketakutan.
Orang itu tidak berkutik karena kena ditotok oleh batu kecil
tadi. Namun di tangannya
ada memegang senjata rahasia yang dekat meledak.
Leng Siong barusan saja memanggil adik kecil, Lo in
dengan gesit telah menyambar si nona ditarik dalam
pelukannya. Leng Siong kaget dan meponta-ronta dapi
pelukan Lo In, ia mengira si anak kecil mau main gila
terhadapnya. "Adik kecil, kau jangan begini terhadapku. Aku
bukannya Eng Lian..." keluhnya-
Berbareng terdengar suara 'Dar \' keras sekali hingga tanah
dimana Leng Siong duduk tadi menjadi berlubang. Si nona
leietkan lidahnya nampak kejadian itu, ia menatap wajahnya
Lo In yang ketawa kepadanya.
"Adik kecil, oh, kau sudah menyelamatkan encimu...." kata
Leng Siong seraya sesapkan kepalanya di dada Lo In yang
kecil.
Sekarang si nona baru tahu maksud baik dari Lo In. Maka
ia sangat berterima kasih dan tidak meronta lagi, malah ia
sesapkan kepalanya di dada si jago cilik dengan roman yang
manja.
"Enci Leng Siong, kau cantik seperti enci Lian..." bisik Lo In
ditelinga si gadis, sedang tangannya mengusap-usap
rambutnya kepalanya si nona yang hitam jengat.
"Apa iya, adik kecil... ?" sahut Leng Siong perlahan,
kepalanya mendongak menatap Lo In
yang mengagumi kecantikannya- Untuk pertama kalinya
tergetar hatinya Leng Siong beradu pandangannya dengan si
bocah muka hitam.
Leng Siong senang dalam dekapannya L0 In, ia ingin itu
berjalan iama-iamaan namun keadaan ada sangat gawat.
Buiee Hiang perlu mendapat bantuan meskipun sudah ada
beberapa kawan yang dirobohkan dengan totokan.
"Mari kita liihat enci Hiang !" kata Lo In seraya meraih Leng
Siong dan dengan sekali enjot saja tubuhnya melayang
bersama Leng Siong melewati batas lingkaran ular yang
sedang berkumpul- Dengan Leng Siong masih dalam
p0nd0ngannya, L0 in telah membantu Buiee Hiang
menendang mental dua orang baru yagn mau mengeroyok si
nona. Dua orang itu tubuhnya mental jatuh Persis diantara
kumpulan ular. Dengan enak saja mereka telah dilahap oleh
kawanan ular yang sedang lapar rupanya.
"Enci Hiang, cukup ! seru Lo In-
Itulah ada seruan merupakan kode untuk Bwee Hiang
mengakhiri perkelahiannya.
Sementara Leng Siong barusan saja diturunkan oleh Lo In,
Bwee Hiang telah selesaikan Pertempurannya. Semua
musuhnya dirobohkan dengan totokan.
Hebat kepandaiannya si nona hingga Leng Siong melongo
dibuatnya.
Lo In telah menotok bebas Hek-liong Gouw Cin dan
menanya, ia dengan kawan-kawannya itu suruhan siapa telah
datang kesitu.
Belum si Naga Hitam menjawab, tampak Kim Ulan Thauto
dan Suyangtin Ngo Houui jalan mendatangi hingga
pemeriksaan Lo In serahkan pada si Thauto.
Si Naga Hitam membandel tidak mau mengaku siapa yang
suruh dirinya hingga Kim Wan Thauto kewalahan.
Pemeriksaan ketunda berhubung dengan datangnya
segerombolan kera yang pada membaca bebuahan. Kim Wan
Thauto dan Suyangtin Ngo Houui heran begitu banyak kera
dari mana datang. Lo In kasih mengerti pada mereka bahwa
kawanan kera itu hendak mempersembahkan barang
bawaannya yang diminta olehnya.
Kim Wan Thauto terbahak-bahak ketawa mendengar
perkataan Lo In.
Lo In membilang terima kasih pada kawanan kera dan
minta mereka bubar.
Ramai mereka cetcowetan lari serabutan mendapat
perintah dari Lo In.
"Toako, para paman, enci Hiang dan Leng Siong, mari kita
makan antaran mereka !" berkata Lo In seraya ia sendiri
menjumput sebuah dan dimakannya. Ternyata bebuahan
antaran kawanan kera itu sangat lezat rasanay, semua orang
pada memuji terutama Bwee Hiang dan
Leng Siong yang bergantian mengangkat jempolnya
memuji kepada Lo In yang bisa memerintah kawanan kera.
"Itu ada banyak ular dari mana datangnya, anak in ?" tanya
Kim Wan Thauto. "Adik kecil yang memanggil dengan
serulingnya." menyela Buiee Hiang ketawa.
"Sebaiknya mereka disuruh pulang lagi saja, anak in !" kata
Kim Wan Thaut0 yang melihat Leng Siong dan Suyangtin Ngo
Houw kelihatannya ketakutan-
Lo In menurut perintah. Ia keluarkan serulingnya dan
meniupnya sebuah lagu yang empuk kedengarannya tapi
berwibawa seakan-akan perintah- Selagi orang mengagumi
tiupan seruling si bocah, kawanan ular itu perlahan-lahan telah
menggelesar pada pergi dari situ.
Kim Wan Thauto dan Suyangtin Ngo Houw sangat
mengagumi kepandaiannya si bocah-Pemeriksaan dilanjutkan
kepada Hek-liong Goyw cin.
|_egn Siong minta permisi untuk pulang lebih dahulu karena
kepalanya pusing katanya barusan menyaksikan kejadiankejadian
yang mengagetkan dan baru pernah ia alami.
Kim Wan Thauto dan lain-lain tidak keberatan si nona
berlalu. Malah Buiee Hiang berkata, "Sebaiknya memang kau
kembali lebih dahulu. Pemeriksaan disniakan makan waktu.
Ha^aP kau jangan keterusan kaget, nanti bisa bikin kau sakit."
Leng Siong bersenyum- Setelah melemparkan lirikan yang
berarti kepada Lo In, si nona telah meninggalkan mereka
pulang ke rumahnya.
Gouw Cin baharu mau mengaku setelah tidak tahan disiksa
oleh totokan yang menimbulkan seluruh badannya dirasakan
sakit seperti digigiti oleh ribuan semut.
"fliyoo... !" tiba-tiba Gouw Cin menjerit. Tubuhnya kontan
terkulai roboh sebelumnya ia memberi pengakuan siaPa yang
telah meberi pengakuan siapa yang telah menyuruh ia dan
kawan-kawan datang mengacau ke situ.
Kim Wan Thauto Periksa keadaan Gouw Cin, ternyata
Gouw Cin telah mati dihajar oleh senjata rahasia yang
membuat hangus dan bolong pada bagian bawah dari
teteknya yang sebelah kiri. Senjata rahasia apa itu demikian
lihainya ?
Tiba-tiba Kim Wan Thauto kaget dan menggumam, "Apa
senjatanya Tui Hun Lolo ?" Meskipun menggumamnya tidak
keras tapi terdengar oleh Kie Giok Tong dan kawan-kawan.
"Siapa ? Taysu tadi kata Tui Hun Lolo ?" tanya Kie Giok
Tong kaget.
Tui Hun Lolo ada satu wanita yang belum berapa tua
usianya, dibawah 50 tahun namun suka berpakaian neneknenek
dan senang dipanggil nenek (lolo). Sebenarnya ia
masih memiliki kecantikan yang dapat menggiurkan lelaki
yang rakus. Nama aslinya Siang Niang Niang tapi lebih dikenal
dengan nama Tui Hun Lolo atau si 'Nenek pengejar roh'.
Senjata rahasianya 'Siauw'sim'hwe'cian' atau 'Panah api
membakar hati' ada sangat lihai, apabila mengenakan
sasarannya sang korban tidak ketolongan jiwanya.
"Anak In, kemana dia anak In ?" tiba-tiba Kim Wan Thauto
ingat pada si bocah.
Ternyata Lo In sudah tidak ada diantara mereka, begitu
juga dengan Bwee Hiang.
Mereka menduga Lo In dan Bwee Hiang sama-sama
mengejar si penjahat yang melepas senjata rahasia tadi dan
merengut jiwanya Hek-liong Gouw Cin.
Khawatir di rumah ada timbul malapetaka, maka Kim Wan
Thauto ajak kawan-kawannya melihat. Tapi ternyata di rumah
tidak ada kejadian apa-apa. Nyonya Teng ditanyakan halnya
Lo In dan Bwee Hiang barangkali ada lihat, telah geleng
kepalanya dan ia hanya lihat anaknya pulang dan masuk
kamarnya karena kepalanya pusing.
Kapan Kim Wan Thauto ajak teman-temannya melihat pula
orang-orang jahat yang telah roboh
ditotok, untuk kekagetannya mereka tidak dapatkan mereka
ada ditempatnya tadi. Mereka semuanya sudah ditolong oleh
kawannya sebab sudah pada kabur tidak meninggalkan
bekas.
Kita melihat Lo In. Si jago kecil telah mengejar penjahat
diikuti oleh Bwee Hiang. Namun Bwee Hiang yang ginkangnya
kalah, jauh ketinggalan oleh adik kecilnya.
Lo In tiba-tiba merandek kehilangan jejak penjahat yang
dikejarnya, ia menyesal tapi masih penasaran kalau ilmu
meringankan tubuhnya kalah oleh si penjahat. Oleh sebab
mana ia berputar-putar disitu mencarinya. Tiba-tiba ia
mendengar suara senjata beradu, seperti ada orang yang
sedagn bertempur- Ia lantas melakukan penyelidikan, kiranya
yang bertempur itu ada seorang laki-laki tinggi besar dengan
wajah menyeramkan melawan seorang wanita lemah gemulai
berpakaian tipis. Kaget Lo In kapan ia tegasi wanita itu
wajahnya persis Leng Siong. Apakah Leng Siong yang sedang
bertempur ? tanya hati kecilnya.
"Hantu Ketawa, kau hari in ketemu Kim coa Siancu. Berarti
lelakonmu yang jahat sudah tamat dan kau tak dapat ketawa
lagi. Hihihi----"
Terkejut hatinya Lo In sebab suara empuk itu ada suaranya
Eng Lian atau Leng Siong. Namun dari lagaknya yang nakal
berandalan Lo In menduga akan Eng Lian yang sedang
berhadapan dengan si Hanu Ketawa yang ia baru lihat
romannya.
"Siancu, kau sudah sampai di Pek-kut-nia. Untuk apa kita
bertarung, lebih baik kau ikut aku untuk bersenangsenang......"
kata si Hantu Ketawa, tertawa gelak-gelak.
"Kurang ajar, kau berani omong kotor di depan nonamu ?"
bentak si wanita yang ternyata ada Kim Coa Siancu, si Dewi
Ular Emas yang ditakuti dikalangan Kangouw.
Si Hantu Ketawa haha hehe dan perhatiannya dibikin kabur
oleh pakaian si Dewi Ular yang serba tipis menggiurkan.
Lantaran mana ia jadi alpa dan kena dipencundangi, Ia kena
ditotok jalan darahnya hingga tidak bisa berkutik.
Kim Coa Siancu tertawa cekikikan melihat lawannya
dikalahkan.
"Enci Eng Lian, akhirnya aku kutemukan juga kau di
sini......" tiba-tiba Kim coa Siancu
kaget dalam ketawa cekikikannya mendengar orang
berkata kepadanya. Ketika ia berpaling ternyata orang yang
berkata-kata tadi ada seorang bocah bermuka hitam-
Kim Coa Siancu geli melihat wajah Lo in yang hitam seperti
pantat kuali.
"Hei, anak hitam. Kau mau apa datang kemari ?" tegurnya.
"Masa kau tidak kenali sama adik In-mu ?" balas menanya
Lo In.
"Siapa itu adik in, aku tidak kenal ! Kenapa kau panggil aku
enci Eng Lian» apa kau tidak keliru lihat orang ? Hm, anak
hitam... lekas kau menyingkir kesana sebelum Siancu marah
lantaran kau mau campur-campur urusannya."
Lo in bukannya takut malah mengulurkan tangannya
hendak mencekal tangan yang halus macam kapas itu- Kim
Coa Siancu berkelit dan membentak, "Bocah hitam, kau mau
mampus berani kurang ajar kepada Siancu ?"
"Siancu tinggal Siancu. Tapi di depanku kau adalah enci
Lian-ku." jawab Lo In.
Kim c°a Siancu heran. "Adik kecil." katanya. "Aku bukan
enci Lian_mu, aku adalah Kim Coa Siancu dari Ang H0a pay di
Coa-kok !"
Kim Coa Siancu harap si bocah ketakutan mendengar
disebut nama Ang Hoa Pay dan C0a-kok (lembah ular) yang
seram itu, tapi untuk keheranannya si bocah malah haha hihi
mendekati kepadanya dan berkata :
"Enci Lian, kau jangan bikin adikmu penasaran. Lama aku
mencarinya, sekarang sudah ketemu kau memungkiri
namamu Eng Lian."
"Adik kecil, memang aku bukannya Eng Lian \"
menegaskan Kim Coa Siancu.
Lo In jengkel maka tiba-tiba saja ia merangkul hingga Kim
Coa Siancu menjadi kelabakan. Siancu menggunakan
kepandaiannya yang tinggi meloloskan diri dari rangkulan si
bocah. Dalam gusar Siancu menyerang Lo In dengan hebat.
Tapi Lo in tidak membalas, ia hanya gunakan ginkangnya
yang ampuh untuk bikin Siancu lelah.
Watakanya yang nakal timbul, Kim Coa Siancu ditouiel
telinganya dan dicolek pipinya oleh Lo In hingga Siancu
menjerit-jerit mapan.
"Enci Lian." kata Lo In. "Selama kau belum mau mengaku
ada enci Lian-ku, akan kubikin kau marah tidak bisa dan
menangis juga tidak bisa...."
(Bersambung)
Jilid 09
Baru saja ia akan meneruskan kata-katanya, tiba-tiba ia
ingat sesuatu. Tetapi belum selesai ingatannya, tiba-tiba ia
melihat ada dua sinar keemas-emasan melesat dari lengan
bajunya si cantik. Untung ia sempat mengebas dengan tangan
bajunya. Sinar emas itu jatuh di tanah dan ia lihat ternyata
adalah dua ekor ular kecil yang warnanya kekuning-kuningan.
Itulah Kim Coa (ular Emas), senjata ampuh dari Kim Coa
Siancu.
Melihat senjata ampuhnya dapat dipunahkan, Kim Coa
siancu tidak punya pilihan dari pada lari menyingkir dari si
Bocah Sakti.
Ginkangnya hebat, akan tetapi ia kecele sebab tiba-tiba ia
rasakan- ada angin dingin lewat disampingnya, tahu-tahu Lo In
sudah menghadang di depannya.
"Kau mau main gila barusan ?" tegur Lo In dengan marah.
Barusan ketika ia teringat sesuatu sehingga bicaranya
terputus karena ia ingat bahwa kata-katanya Kim Coa Siancu
rada janggal. Tidak pernah Eng Lian memanggilnya 'adik
kecil', tetapi biasanya 'adik In'. Pikirnya mungkin wanita di
depannya ini bukan enci Liannya. Ia waspada, maka ketika
sepasang ular emasnya Kim Coa Siancu melesat dari lengan
baju Siancu, Lo In sudah siap dan mengebaskan tangan
bajunya hingga tidak sampai digigit oleh ular jahat itu.
Seperti diketahui, ular emasnya Kim Coa Siancu (Eng Lian)
sangat berbisa apabila memagut ular. Dalam tempo setengah
jam tubuh si korban akan lumer dan menjadi air, lenyap tanpa
bekas, syukur juga jago cilik kita dapat menyelamatkan
dirinya, berkat kelihaiannya menghadapi sesuatu bahaya.
"Bocah hitam Kau terlalu menghinaku " menjerit Kim Coa
siancu, saking gemas ia pada Lo In yang merintangi
kemerdekaannya.
"siapa yang menghinamu ?" tanya Lo In heran.
"Tadi kau menowel telingaku, kemudian mencolek pipiku,
bukankah itu suatu hinaan? Hm Bocah, kau sekarang menang
" si Dewi ular emas berkata sengit.
"Hahaha " Lo In tertawa terbahak-bahak.
"Bocah hitam gila, kau tertawakan apa ?" bentak Kim Coa
siancu.
"Perbuatan saja seperti yang kau katakan adalah wajar
diantara aku dan enci Lianku. Karena enci Eng Lian adalah
teman mainku. Tapi kalau kau bukan enci Lianku, baiklah aku
minta maaf sekarang "
si bocah menjura lalu memutar tubuh untuk meninggalkan
tempat itu. Tapi belum berapa tindak ia pergi, tiba-tiba ia
mendengar bentakan Kim Coa siancu:
"TUnggu "
Lo In merandek,
"Kau mau apa la.....gi....?" terputus kata-kata Lo In karena
berbareng tubuhnya berbalik, ia mendak untuk mengelakkan
sinar berkeredep dari tangannya Kim Coa siancu yang menuju
ke arah jidatnya, Itulah Bu im in coa (Cap ular tanpa suara),
senjata rahasia yang paling ditakuti dikalangan Bulim.
Gesit luar biasa jago cilik kita, setelah mendak lalu enjot
tubuhnya melesat ke depan si Dewi ular emas. Baru saja ia
hendak memaki Kim Coa siancu, si Dewi ular emas
membentak sambil kebutkan setangan mungilnya,
"Anak kecil, tidurlah "
Lo In berbareng merasa kepalanya pusing, matanya
berkunang-kunang setelah menghirup bau harum dari
setangan Kim Coa siancu yang barusan dikebaskan.
Di lain saat tampak Lo In telah roboh terlentang di tanah,
tidak ingat lagi akan keadaan disekitarnya-
"Hihihi—" tertawa Kim Coa siancu.
"Akhirnya kau dapat roboh juga, bocah hitam " ia berkatakata
sendirian. Lalu ia keluarkan satu kotak kecil dari lengan
bajunya, berjongkok dan kotak itu ia taruh di tanah- sebentar
kemudian tampak dua sinar emas melompat masuk dalam
kotak kecil itu.
Kiranya yang lompat masuk tadi adalah sepasang ular
emas Kim Coa siancu yang tadi kena dikebas jatuh di tanah
oleh Lo In.
Kotak kecil itu adalah tempatnya Kim-coa (ular emas).
Apabila ditaruh ditanah, tutupnya dibuka, dari dalam kotak
akan mengeluarkan bau harum yang menarik selera ular emas
itu untuk masuk ke dalamnya. Maka, bila Kim Coa siancu
kehilangan ular emasnya, ia taruh saja kotaknya ditanah,
lantas sepasang ular itu akan masuk kembali ke kotak itu. Bau
harum dari dalam kotak itu seakan-akan besi berani yang
dapat menyedot ular sebagai besinya.
setelah ular kesayangannya sudah masuk lagi ke dalam
kotak- la simpan pula dibalik lengan bajunya. Lalu ia bangkit
dari jongkoknya dan akan meninggalkan tempat itu, tetapi tibatiba
ia ingat dengan si Hantu Ketawa yang telah tidak berkutik
lagi.
" Hantu Ketawa." kata Kim coa siancu, cekikikan ketawa.
"Sekarang kau sudah tidak bisa ketawa, bukan?
Kedosaanmu sudah melewati batas. Maka daripada kau nanti
mengganas lagi, lebih baik aku kirim kau ke akherat saja "
setelah berkata demikian, si Dewi ular emas angkat
lengannya dan tiba-tiba melesat dua sinar emas menyambar
tubuhnnya si Hantu Ketawa yang tentu tak dapat menangkis
karena dalam keadaan tidak berdaya, sepasang ular itu telah
menggigitnya hingga tubuh si Hantu Ketawa tampak
bergemetaran. Kim Coa siancu lalu mendekat kotak kecilnya
pada Kim-coa dan hanya sekejap saja ular emas itu sudah
menyambar masuk lagi dalam rumahnya (kotak). Kemudian
kota itu disimpan pula dalam lengan bajunya.
"Wanita kejam " tiba-tiba Kim Coa siancu mendengar
bentakan seseorang tidak jauh
Ketika ia menoleh, kiranya ia sudah dikurung oleh
musuhnya yang tidak kurang dari 20 orang. Entah siapa
diantaranya yang membentaknya tadi-
Mereka itu perawakannya tidak sama, ada yang kurus,
gemuk, pendek dan lain-lain hingga lucu kelihatannya- Tapi
rata-rata mukanya bengis-bengis, semuanya mengenakan
pakaian serba hitam.
"siapa yang memaki aku tadi ?" tanya Kim Coa siancu, tidak
senang dia.
"Wanita jahat, kau sudah mencelakakan pemimpin kami "
teriak satu diantaranya, yang bukan lain adalah yang memaki
Kim Coa siancu tadi- Perawakannya tinggi besar.
"oo, kau-—" berbareng lengan baju si Dewi ular emas
mengebas ke arah orang tadi, yang ketika itu baru akan
bertindak ke depan. Tidak ampun lagi, ia sudah terdorong
mundur oleh anginnya lengan baju. Malah ia merasa sesak
dadanya dan jatuh terduduk dengan mata mendelik-
"Siapa lagi, h ayo maju " tantangan Kim Coa siancu.
Melihat pemimpinnya dalam segebrakan saja sudah
dirobohkan, maka yang lain-lainnya yang mengurung si Dewi
ular emas kelihatannya jeri juga.
Tapi mereka berpikir bahwa wanita di depannya ini
hanyalah wanita lemah gemulai dan sendirian lagi. Mana
mungkin dia dapat melawan mereka yang jumlahnya begitu
banyak-Lantaran berpikir demikian, maka mereka ramai-ramai
menyerbu ke arah Kim Coa siancu tapi sambil tertawa hihihihi
si Dewi ular emas telah permainkan mereka. Tampak
tubuhnya yang menggiurkan berputaran dikepung oleh banyak
orang.
Melihat tubuh yang ceking langsing dan menggiurkan
dibalik pakaiannya yang sangat tipis, orang banyak itu yang
sebagian besar adalah penjahat-penjahat yang doyan
pelesiran sudah tentu mengeroyok tidak sungguh-sungguh-
Mereka lebih mementingkan melihat gerakan tubuh yang
menggiurkan itu sebagai tontonannya daripada buru-buru
menangkapnya-
"Kawanan gentong nasi " tiba-tiba terdengar teriakan
seseorang diantara rombongan-rombongan yang baru datang.
"Kalian bukan bekerja tapi menonton sampai kapan
perempuan maling ini dapat dibekuk ? Hayo, kita maju "
Kiranya pendatang baru itu semuanya bergegaman senjata
tajam yang dikepalai oleh seorang yang bermuka hijau, yang
barusan membentak kawan-kawannya sebagai gentong nasi.
Terdengar ia menyerukan kepada mereka yang mengepung
dengan tangan kosong,
"mundur semua ambil senjata Kepung wanita liar ini jangan
kasih lo......"
Kata-katanya si muka hijau terputus sebab dia tiba-tiba
terkulai roboh- yang disusul juga oleh beberapa orang yang
juga roboh terkulai dengan tidak sempat mengeluarkan
teriakan lagi. Teman-temannya ketakutan, lantas pada
mundur. Mereka tampak lebih penting menolong kawan
daripada datang mengeroyok si nona yang ganas
mengayunkan senjata rahasia tanpa suara.
sementara itu yang lain, yang masih bengong bertambah
kaget melihat kawan-kawan yang memberikan pertolongan
pada yang mati pada bergelimpangan roboh saling susul,
Itulah bukti keganasannya senjata rahasia Bu im in coa1, ialah
Cap ular Tanpa suara yang dapat merembet korban lebih
banyak- Dan bahkan semua manusia bila memegang tubuh
korbannya.
Kim Coa siancu yang sedang tertawa cekikikan melihat
banyak korban berjatuhan akibat senjata rahasianya, tiba-tiba
dibikin kaget oleh benda yang memercikan api yang
melewatinya kira-kira lima cun (dim) dari dadanya yang putih
halus.
"Hehehe" suara ketawa dari seorang perempuan terdengar
menyusul. Belum Kim Coan siancu hilang kagetnya,
dihadapannya sudah berdiri seorang nenek tua. Terkejut si
Dewi ular emas.
"Tui Hun Lolo..." ia menggumam.
"Kau kenali juga aku, gadis cilik" kata si nenek tua yang
tiada lain adalah Tui Hun Lolo. Kemudian ia menghadap ke
arah Lo In yang sedang tengkurap, ia menggapai sambil
berkata,
"Anak hitam, kau kemari "
Entah bagaimana Lo In bergerak, sekali mencelat dari
tengkurapnya tahu-tahu sudah ada di depan Kim Coa siancu
dan Tui Hun Lolo.
"Heheh, kau punya kepandaian juga, h e " tertawa Tui Hun
Lolo.
si Dewi ular Emas sangat kaget, Ia mengawasi si bocah
hitam dengan mata mendelong penuh tanda tanya, Ia tidak
mengira si bocah dapat tahan dengan kebasan setangan
ajaibnya, yang biasanya paling sedikit orang harus pingsan
setengah jam kalau kena dikebas oleh setangan ajaibnya. Kini
si bocah muka hitam dalam tempo sebentaran saja sudah bisa
bangun lagi, betul-betul menakjubkan kepandaiannya.
Kim Coa siancu belum habis mengerti dengan ilmu apa si
bocah dapat memusnahkan pengaruh setangan ajaibnya, tibatiba
ia mendengar Tui Hun Lolo berkata lagi kepada Lo In,
"Kau tadi yang merintangi jarum mautku ?"
Lo In ketawa nyengir, Ia tidak menjawab, hanya anggukkan
kepalanya.
"Dengan senjata rahasia apa kau dapat memusnahkan
serangan jarumku ?"
"Hanya dengan batu kerikil saja."
"Bohong, mana bisa kau memusnahkan senjata jarumku
yang lihai dengan hanya memakai sebuah batu kecil saja "
Kembali si bocah ketawa haha hihi,
"Itu terserah pada nenek " sahutnya.
Kalau Tui Hun Lolo merasa sangat gemas pada bocah di
depannya ini, sebaliknya Kim Coa siancu sangat bersyukur
kepada Lo In. Bahwa tadi, percikan bunga api lima cun di
depan dadanya itu adalah jarum mautnya si nenek yang kena
dibentur batu kecil Lo In. Dengan mana berarti si bocah muka
hitam telah menyelamatkan dirinya (Kim Coa siancu). Kini Kim
Coa siancu memandang Lo In dengan perasaan penuh terima
kasih.
"siancu " bentak Tui Hun Lolo.
"Keluarkan obat pemunahmu untuk menolong si Hantu
Ketawa. Lekas, lambat sedikit jiwanya bakal melayang "
Kim Coa siancu bersenyum sinis. Katanya,
"Buat apa orang jahat ditolong, lebih lekas mati tentu ada
lebih baik, untuk di alam baka dia mempertanggungkan dosadosanya.-
Dia sangat
jahat, siapa pun tidak mau menolong si Hantu Ketawa...."
"Kau berani membangkang perintah si nenek ?" memotong
Tui Hun Lolo.
"Kenapa aku tidak berani ?" sahut Kim Coa siancu, lantang
suaranya.
"Kematian sudah di depan mata, masih berani main gila
sama Tui Hun Lolo ?"
"Belum tentu, nenek tua Mungkin kau yang menghadapi
kematian"
Bukan main marah Tui Hun kena diejek oleh gadis semuda
Kim Coa siancu.
Lawan-lawan tuanya tidak berani seperti si Dewi ular emas,
menantang dengan tidak berkedip mata sedikitpun. Kalau
tidak ada isinya, pikir Tui Hun Lolo, tentu si Dewi Ular Emas
tidak bakal begitu berani menantang, Ia harus waspada
menghadapinya.
Apalagi ia melihat mayat bergelimpangan, korban dari
keganasan si Dewi ular Esmas, gadis cilik itu bukan lawan
empuk juga disampingnya kelihatan ada si bocah berwajah
hitam yang kepandaiannya entah berapa tingginya.
Tapi bagi hantu wanita yang pernah malang melintang tidak
takut langit dan bumi, mana mau ia mengalah kepada dua
bocah yang bau pupur dikepalanya aja masih belum hilang
"Siancu, kau membantah keinginanku. Marilah kita
menetapkan siapa yang unggul" tantangnya seraya lompat ke
tempat yang lebar.
senjata pentunganny a yang berupa tongkat sudah ia
siapkan. Akan tetapi ketika melihat Kim Coa siancu tidak
membawa apa-apa, sambil melemparkan pentungannya ke
samping, ia berkata,
"Baik, marilah kita main-main dengan tangan kosong " si
Dewi ular Emas ketawa ngikik. Katanya,
" Nenek tua, kau mau berkelahi ?"
Tuii Hun Lolo melengak ditanya demikian.
"Meskpun sudah nenek-nenek, belum tentu kau yang muda
dapat menjatuhkannya " ucapnya jumawa.
Tidak biasanya Tui Hun Lolo bicara dengan tenang dan
agak ramah, tetapi karena ia masih tetap kuatir akan
kepandaian lawan. Dia begitu muda, paling-paling masih
berumur 17-tahun, bagaimana dia bisa jadi siancu kalau tidak
punya kepandaian yang diandalkan? Apalagi ia mendengar
orang cerita, munculnya Kim Coa siancu telah
mengguncangkan rimba persilatan, maka ia tidak berani
sembarangan bertindak terhadap lawan yang muda belia ini.
" Kalau begitu, baiklah, aku majukan adikku dulu." sahut
Kim Coa siancu ketawa.
si nenek melengak. sedang Lo In juga bingung si Dewi ular
Emas berkata demikian. Apa maksudnya Kim Coa siancu itu ?
Belum sempat Lo In menanya, ia sudah mendengar Kim Coa
siancu berkata kepadanya,
"Adik kecil, kau talangi encimu main-main dengan ini nenek
yang tersohor tukang mengejar roh, kau berani ?"
Kim Coa siancu berkata sambil bersenyum ke arahnya.
hingga Lo In kaget sebab senyuman memikat dari si Dewi ular
emas adalah persis senyuman enci Liannya.
Tanpa disadari si bocah nyeletuk,
"Untuk enci Lian, menghadapi siapa juga aku berani"
si Dewi ular emas melengak heran.
"Kembali dia memanggil aku enci Lian, apa memang aku ini
ada enci Liannya ? siapa sebenarnya aku ini ?" Kim Coa
siancu menanya pada dirinya sendiri
Pikirnya, biarlah ia menyaru seperti eng Lian sehingga si
bocah mau diadukan dengan si nenek jahat, Ia percaya -100
persen Lo In pasti akan menang.
"Adik kecil, hayo lawan. Kau mesti menang. Kalau kalah
nanti enci Lianmu marah-Hajar dia biar terkuing-kuing "
berkata Kim Coa siancu, cekikikan ia ketawa. Tui Hun Lolo
melotot matanya, hatinya panas bagaikan dibakar.
"Jangan menghina, gadis liar" bentaknya marah-
"Meskipun kalian berdua mengerubuti, aku si nenek tua
tidak akan takut"
"Aduh sombongnya " si Dewi ular emas menggodai-
"satu lawan satu masih belum tentu, mau dilawan dua lagi-
Hihihi—-" berrbareng ia berkelit dari serangan Tui Hun Lolo
yang sudah tak dapat mengendalikan panas hatinya, sambil
berkelit, Kim Coa siancu lari ke belakang Lo In.
"Adik kecil, hayo maju Apa kau tunggu encimu marah ?"
kata si Dewi ular emas.
Lo In jadi kebingungan. Persis benar, ketawa, senyuman
dan suaranya seperti Eng Lian. Akan tetapi kenapa kalau Eng
Lian memanggil ia 'adik kecil' ? Belum pernah ia, ia selalu
dengar dipanggil "adik In" oleh enci Liannya dengan mesra.
Tapi melihat Kim Coa siancu benar-benar tidak mau
berkelahi, sepertijuga menganggap enteng dirinya, Lo In jadi
kewalahan, Ia berkata,
" N enek tua, mari aku yang layani. Enciku baru turun, kalau
aku sudah dikalahkan "
Tui Hun Lolo yang sedang gemas pada Kim Coa siancu, ia
hentikan ubernya pada si Dewi Ular emas. Ia menatap si
bocah wajah hitam.
"oo, kau jadi tukang pukulnya ? Baik, marilah maju, sini"
menantang Tui Hun Lolo.
Lo In tidak gentar dengan tantangan si nenek, ia maju
mendekati Tui Hun Lolo.
"Bagus, bagus. Ini baru betul-betul adikku yang manis "
kata Kim Coa siancu seraya bertepuk tangan macam anak
kecil.
Kembali Lo In merasa heran dengan kelakuannya si Dewi
ular emas sebab kata-kata yang keluar dari bibirnya Kim Coa
siancu persis seperti perkataan enci Eng Liannya yang ia
sangat ingin menjumpainya. Tapi, Kim Coa siancu ini apakah
encinya atau bukan, urusan belakangan, sekarang ia harus
melayani si nenek yang ia duga kepandaiannya tidak rendah,
sebab julukannya saja si 'Nenek pengejar roh'-
Kedengarannya sudah seram
"silahkan menyerang " Lo In mengundang pada Tui Hun
Lolo.
"Awas " seru Tui Hun Lolo, tubuhnya berkelebat dan
menyerang dengan tipu pukulan 'ok miao pok cie' (Kucing
galak menubruk tikus) - serangan dilakukan dengan
sekonyong-konyong sebelum lawan mengambil posisi, si
nenek pikir dengan menggunakan jurus "ok miao pok cie' si
anak kecil tentu tida ada jalan untuk lari. Ia kira Lo In adalah
tikus jinak dan ia sendiri adalah kucing galaknya. Tidak
tahunya, si bocah wajah hitam belum kena disergap, siangsiang
sudah lenyap dari hadapannya.
Entah bagaimana si bocah bergerak tapi yang terang, mata
Tui Hun Lolo yang sangat lihai mendadak seperti lamur
menghadapi Lo In. Cepat ia putar tubuh, segera ia melihat Lo
In dengan tersenyum-senyum ke arahnya.
Panas hati Tui Hun Lolo, kembali ia menerjang tetapi
kembali ia kehilangan Lo In. Pikirnya, bocah ini tidak boleh di
kasih hati. Maka ia keluarkan Tui-hun-ciang-hoat1 (Ilmu
pukulan mengejar roh) ciptaannya sendiri yang meliputi 50
jurus yang hebat-hebat.
Tui-hun-ciang-hoat1 ini memang lihai, spesial diciptakan
oleh Tui Hun Lolo untuk berkelahi jarak jauh dengan
menggunakan sambaran-sambaran anginpukulan yang
disertai Iwekang.
Dengan menggunakan 'Tui-hun-ciang-hoat', maka
serangan-serangan si nenek juga berubah sangat dahsyat.
Angin pukulannya membuat debu-debu dan pasir
beterbangan. Malah ada pohon-pohon yang tumbuh di
dekatnya pada tumbang, tidak tahan dengan anginpukulan Tui
Hun Lolo yang sedang unjuk kesaktiannya.
Belum pernah Tui Hun Lolo gagal dengan Ilmu Pukulan
Mengejar Roh ciptaannya sendiri itu. Akan tetapi menghadapi
si bocah wajah hitam, ia kewalahan sendiri. Tui Hun Lolo
hanya menggempur tapi yang digempur saban-saban lolos
dari gempurannya yang maha dahsyat. Tak dapat
dibayangkan kalau Lo In kena digempur oleh tenaga sakti Tui
Hun Lolo, entah kemana tubuhnya akan terbang melayang.
Lo In tidak mau kurang ajar terhadap orang tua yang
sepantasnya menjadi neneknya, Ia tidak mau membalas
serangan si nenek, Ia hanya lawan dengan kegesitan
tubuhnya, bagaikan kilat cepatnya.
"Anak kurang ajar Kau berani permainkan nenekmu Hmm "
menggerang Tai Hun Lolo, berbareng ia perhebat seranganserangannya.
Kim Coa siancu yang menonton dari jauh karena kalau
dekat-dekat takut kesambar angin pukulan Tui Hun Lolo,
tampak melelerkan lidahnya, Ia merasa kuatir kalau-kalaus si
bocah nanti salah tindak sehingga menjadi mangsa dari
tenaga sakti si nenek.
Tapi, melihat kelincahan Lo In yang dengan tenang
mempermainkan si nenek, ia jadi tersenyum manis. Puas
hatinya karena kalau ia yang melayani si nenek, mungkin
siang-siang sudah dibikin terbang tubuhnya entah kemana
perginya. Melihat Tui Hun Lolo sudah mulai gelisah karena
saban pukulannya tidak mengenakan sasarannya, Lo In mulai
keluarkan jurus jurus dari Bu eng sin kang yang membikin si
nenek kebingungan.
Mula-mula Lo In gunakan jurus Thian lie pian in (Bidadari
menari di dalam awan), lincah dan gesit gerakannya, yang
membikin Tui Hun Lolo gelabakan. Ia nampak seperti ada
enam Lo In. yang mana diantaranya Lo In, ia sendiri tidak
tahu.
oleh karenanya, maka gempurannya jadi serabutan saja,
bukan main dahsyatnya. Tapi hasilnya ? Nfhil Lo In lalu
merubah jurusnya dengan 'Hui hong soan tah', ialah 'Angin
puyuh mengitari pagoda', gerakan ini justru lebih
mencemaskan si nenek yang sudah keriputan. Ia melihat
seperti ada enam Lo In yang mengitari dirinya, berputaran
perlahan, makin lama makin cepat sehingga mata si nenek
berkunang-kunang dan tanpa disadarinya tubuhnya juga ikutikut
berputar, makin lama makin cepat laksana gasing terlepas
dari talinya.
Kim Coa siancu sampai termangu-mangu menyaksikan
adegan yang hebat itu.
Bocah hitam ini sangat hebat kepandaiannya- Pikirnya,
alangkah baiknya kalau dia bisa ditarik menjadi kawan dalam
Ang Hoa Pay- Kepandaiannya yang menakjubkan, apakah ada
dipunyai oleh sucouwnya Lam Hay Mo Lie ? Ia bertanya-tanya
dalam hati sendiri-sementara Kim Coa siancu tengah
melamun, adalah pertempuran sudah berhenti-
Lo In tampak ketawa menyeringai kepada Tui Hun Lolo
yang pada saat itu tengah mendeprok di tanah, tengkurep
seperti anak kecil disusul dengan muntah-muntah-
"Hei, si nenek itu menangis " Kim Coa siancu keheranheranan
dalam hatinyasetelah
merasakan pusingnya hilangan, Tui Hun Lolo tidak
lantas bangkit dari deprokannya.- Hanya ia berkata,
"Bocah hitam, kau durhaka mempermainkan satu nenek
tua, diajak berputaran sampai pusing dan muntah-muntah."
"sebenarnya aku tidak mau bikin Popo seperti ini." kata Lo
In.
"Tapi kenapa kau bikin aku seperti ini ?"
Lo In menyeringai,
"Lantaran Popo (nenek) tadi menyerang begitu ganas. Aku
tidak punya lain pilihan selain bikin Popo jatuh duduk dan
muntah-muntah sebagai gantinya serangan balasanku
Hahaha "
Dasar anak kecil tidak punya pikiran, bukannya menolong si
nenek yang tengkurep mendeprok di tanah, ini malah ketawa
terbahak-bahak. Lucunya Lo In malah ngajakin berkelahi lagi,
katanya,
"Popo, bagaimana, masih mau diteruskan ?"
Tui Hun Lolo deliki matanya.
"ya, kali ini kau menang, bocah hitam " sahutnya kemudian,
tekanan suaranya tidak enak didengar.
"Jadi, bagaimana ?" tanya Lo In, tidak mengerti ia akan
kata-kata Tui Hun Lolo.
"Aku menyerah kalah, buat apa bertempur lagi " bentak Tui
Hun Lolo.
Lo In ketawa nyengir, baru sekarang ia mengerti kata-kata
si nenek tadisementara
itu, si nenek sudah bangkit dari deprokannya
danjalan menghampiri si Hantu Ketawa yang ternyata sudah
tidak bernyawa lagi dan tubuhnya sudah mulai lumer jadi air
akibat gigitan sepasang ular emasnya Kim Coa siancusi
nenek menghela napas menyaksikan kematian konyol
dari si Hantu Ketawa.
"Kim Coa siancu...." ia menggumam. Berbareng ia ingat
sesuatu, lantas ia celingukan tapi Kim Coa siancu yang dicari
oleh matanya sudah tidak ada di tempat itu, entah sejak kapan
perginya.
Melihat si nenek celingukan, Lo In juga mengikuti seraya
berseru,
"Enci Lian, enci Lian, kau dimana ?"
Kiranya Kim Coa siancu sudah lama pergi karena tidak
terdengar ia menyahut, maupun bayangannya si Dewi ular
emas yang cantik jelita. Lo In mencari sana sini tapi Kim Coa
siancu tetap tak diketemukan.
si bocah menjaid lesu. Kepalanya mendongak ke angkasa,
tampak olehnya bulan sisir sudah mulai terbungkus oleh sang
awan yang agak gelap.
Menggunakan ginkangnya yang tiada taranya, Lo In dilain
saat sudah ada pula di kampung su yang ting, dimana ia
disambut oleh Kim Wan Thauto dan Kie Giok tong serta
sekalian saudara-saudaranya. Lo In tidak melihat Bwee Hiang,
ia lalu menanya pada Kim Wan Thauto,
"Toako, enci Hiang tidak ada- Dimana dia ?"
"Hah " Kim Wan Thauto kaget-
"Bukankah bersama-sama anak In tadi ?"
"Celaka " seru Lo In.
"Tentu dia kesasarjalan "
"Sekarang bagaimana ?" Kim Wan Thauto kebingungan.
"Nanti aku cari dia-" sahut Lo In. segera ia hendak pergi lagi
tapi Kim Wan Thauto menahan si bocah untuk menanyakan
tentang kepergiannya barusan.
"sayang toako tidak nonton." kata Lo In ketawa nyengir.
"Aku ketemu Kim Coa siancu. Entah, siapa itu Kim...."
"Nanti dulu-" memotong Kim Wan Thauto kaget-
"Kim Co siancu kau bilang ?"
"ya, Kim Coa siancu- Apa toako kenal dengan dia ?" tanya
Lo In.
"Aku tidak kenal tapi aku pernah dengar, orangnya cantik
sekali ya ?" sahut Kim Wan Thauto-
Lo In ketawa, kepalanya manggut.
"Kau berkelahi dengannya ?" tanya Kim Wan Thauto-
Lo In anggukkan kepala- Ia berkata,
"Kim Coa siancu romannya persis enci Lianku. Entahlah,
sebab dia tidak mengaku dirinya adalah teman mainku."
Kim Wan Thauto mesem. Pikirnya, anak ini kepandaiannya
susah diukur. Tapi sifat kekanak-kanakannya belum hilang, Itu
wajar sebab Lo In baru masih hitungan -10 tahun usianya,
maka omongan-omongannya tentu lebih banyak kekanakkanakan.
"Anak In, bagaimana kau bisa lolos dari tangan Kim Coa
siancu ?" tanya Kim Wan Thauto ketika melihat si bocah mulai
lesu ingat sama enci Liannya.
Lo In semangat ditanya demikian, Ia lalu menutur panjang
lebar pertarungannya dengan si Dewi ular emas. orang-orang
yang mendengar merasa ngeri ketika mendengar si Dewi ular
Emas mau ambil jiwa Lo In dengan ular emasnya dan senjata
rahasianya Bu im in coa, yang menggetarkan rimba persilatan.
"Minum dulu, minum dulu " menyela Kie Giok Tong kepada
si bocah yang sedang gembira menutur pertemuannya dengan
si Dewi ular emas.
"Eh, siauhiap belum makan." menyambung Kie Giok Tong,
lantas ia minta tuan rumah menyuruh orangnya menyediakan
makanan untuk Lo In.
setelah mengisi kenyang perutnya, Lo In meneruskan
ceritanya,
"siancu sudah tidak bisa menang melawanku tetapi bila ia
menggunakan senjata ajaibnya untuk merobohakn aku, benar
dia berhasil merobohkan aku. Tapi hanya sebentaran saja aku
mabuk karena setangannya karena pada saat aku roboh, aku
sadar bahwa siancu sudah berlaku licik. Maka aku kerahkan
Iwekangku untuk mengusir pergi hawa ngantuk- Aku pura-pura
tidur tengkurup, tapi mataku waspada- Aku ingin tahu apa
yang Kim Coa siancu berbuat lebih jauh- Dia menghampiri si
Hantu Ketawa yang rebah tak berdaya kena totokannya,
setelah ngomel, siancu keluarkan sepasang ular emasnya dan
disuruh menggigit tubuhnya si Hantu Ketawa. Kesudahannya
tubuh si Hantu Ketawa lumer jadi air. Dan juga, ada datangnya
Tui Hun Lolo........"
"Hee, Tui Hun Lolo juga ada waktu itu, anak In ?" menyela
Kim Wan Thauto-
" ya, justru siancu sedang lengah, si nenek membokongnya
dengan jarum api membakar api. untung aku lihat. Dengan
sebuah batu kerikik aku menyentil jarumnya, luput mengarah
sasaran. Tiga-tiga jarumnya aku bikin jatuh hingga si nenek
marah-marah- Dia menantang siancu mula-mula tapi siancu
tidak mau ladeni dan majukan aku hingga akhirnya si nenek
berkelahi dengan aku- Hahaha "
setelah ketawa, Lo In lanjutkan ceritanya bagaimana ia
menjatuhkan si nenek dengan menggunakan kepandaiannya
Bu im sin kang1, semua yang mendengar pada kagum,
termasuk Kim Wan Thauto yang biarpun sudah kawakan
dalam dunia Kangouw-
"sst Ada orang datang " tiba-tiba Lo In berkata perlahan tapi
tegas berkumandang di telinga mereka yang sedang ramai
bicara, memuji-muji si bocah wajah hitam yang telah
menjatuhkan Kim Coa siancu dan bikin Tui Hun Lolo semaput.
Kaget mereka mendengar perkataan Lo In. segera suasana
menjadi sunyi, hati mereka berdebaran kecuali Lo In yang
nyalinya besar.
"Tamu diatas genteng, lekas turun Mari kita bicara " berkata
Lo in.
. . .
"Hihihi-..." kedengaran suara tertawa seorang wanita di atas
genteng.
"Kim Coa siancu...." kata Kim Wan Thauto perlahan, ia
punjeri kelihatannya.
Entah bagaimana Lo In menggunakan kepandaiannya
sebab tubuhnya yang sedang enak duduk di kursi tahu-tahu
sudah mencelat ke atas, genteng pada pecah ditumbuk kepala
dan badannya lolos keluar.
Di atas genteng rumah ia celingukan. Matanya yang lihai
dapat melihat berkelebatnya bayangan ke arah selatan, Ia
mengerahkan ilmu entengi tubuhnya untuk menguber.
sebentar saja, ia sudah kehilangan bayangan tadi. Dan
waktu ia sudah sampai di dekat paseban bidadari, Lo In
sangat heran sebab ia lihat betul bayangan itu lari kejurusan
Giok Lie Teng. Tetapi kenapa tidak kedapatan disitu ? Lo In
berdiri termangu-mangu.
"Adik kecil, adik kecil. Mana cnci Bwee Hiang " tiba-tiba Lo
In dengar orang memanggilnya dari jurusan kali kecil di bawah
jembatan yang menghubungi ke paseban bidadaro-
Lo In lekas menoleh- Kiranya Leng siong yang sedang jalan
mendatangi ke arahnya"
"Heheh, kau ada disini ?" kata Lo In, ketawa agak tidak
wajar.
"ya, tadi siang kepalaku pusing maka aku tiduran sebentar.
Ketika aku mendusin aku tanya ibu, apa kau dan enci Hiang
ada cari aku. Kata ibu, kau dengan enci Hiang sedang pergi
mengubar orang jahat. Aku kaget dan kuatir. setelah makan
malam, aku lantas masuk kamar. Tapi hatiku tidak enak saja
memikirkan kalian, maka aku datang kesini untuk menghibur
hati yang penuh kuatir......."
"Terima kasih, terima kasih-" memotong Lo In, suaranya
agak mengejek-
"Kau kenapa adik kecil ? Kenapa kau datang sendiri,
kemana enci Hiang ?" tanya nona Teng.
Lo In tidak menyahut, tapi ia mengawasi roman muka Leng
siong dengan tajam hingga Leng siong melengos kemaluan.
sambil menunduk, Leng siong berkata lagi,
"Adik kecil, mana enci Hiang ?¦
"Enci Bwee Hiang ? Mari kita bicara " berbareng ia sambar
pinggang si nona, dibawa mencelat terbang ke atas Giok Lie
Teng.
Kaget setengah mati Leng siong, dengan tiba-tiba saja
siadik kecil menyambar pinggangnya dan diajak terbang ke
Giok Lie Teng.
"Adik kecil, kenapa kau main-main begini ?" tanya Leng
siong, waktu diturunkan dalam paseban mukanya semu merah
karena jengah dipeluki si bocah muka hitam.
Leng siong tidak anggap si bocah kurang ajar, sebaliknya,
kelakuan Lo In itu dianggap satu demonstrasi untuk
memperlihatkan kepandaiannya- Lo In adalah penolongnya
dari cengkeraman si Hantu Ketawa- Kalau ia dipeluk dan
dibawa terbang seperti tadi, ia anggap perbuatannya Lo In itu
tidak janggal, malah menyenangkan.
Dalam senangnya, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh pertanyaan
Lo In.
"Enci Leng Siong, apakah kau adalah Kim Coa siancu dari
Ang Hoa Pay ?"
"Adik kecil, kau bilang apa ?" tanya Leng siong setelah
tenangkan hatinya.
"Kau adalah Kim Coa siancu dari Ang Hoa Pay."
"Hei, siapa itu Kim Coa siancu ?"
"Kau jangan berpura-pura, enci Leng siong "
"Adik kecil, kau omong apa jangan sembarang tuduh. Aku
tidak kenal siapa itu Kim Coa siancu. Dengar juga baru-baru
baru sekarang ini...."
"Kau mau mengaku atau tidak ? Aku belum pernah marah,
tapi kalau kau permainkan aku, kau tahu sendiri "
"siapa mau permainkan kau? Adik kecil, jangan sembarang
tuduh "
"Brak" tiba-tiba suara meja pecah berantakan kena tepukan
Lo In yang sedang gusar.
Leng siong menjadi ketakutan.
"Kau, kau...." ia berkata gugup.
"Hehe, tidak mau mengaku ?" berbareng Lo In menyergap.
Tubuh orang dipeluk dan digoncang-goncang sambil katanya,
"Kau bukan enci Leng siong, juga bukan Kim Coa siancu,
tapi.........kau adalah enci Lianku. Hahaha.... "
Leng siong yang didekati Lo In biasanya merasa aman. Kini
melihat kelakuan si bocah seperti kerasukan setan, menjadi
ketakutan dan mau menangis.
"Enci Lian, kau tidak mau mengaku. Tahu sendiri akan
kucubit kau sebagai hukuman dari adik In-mu..."
"Adik kecil, kau keliru menerka orang, jangan begini kasar "
kata Leng siong serta meronta-ronta dari pelukan Lo In.
Meronta-ronta percuma.
Pelukan Lo In yang kerasukan setan rupanya, mana bisa
terlepas demikian mudah- Malah si bocah telah buktikan
ancamannya.
Ia berkata,
"Enci Lian, karena adikmu sudah habis sabar, jangan
marah ya—." terus saja ia mencubit pipi Leng siong hingga
Leng siong berteriak kesakitan.
Dari takut, Leng siong menjadi marah diperlakukan kasar
demikian oleh Lo In.
"hei, bocah gila Kau mau apakan diriku ? Meskipun kau
mampus juga, aku tidak akan mengaku sebab aku bukan enci
Lianmu "
Lo In tertegun. Apa betul gadis di depannya ini Leng siong
adanya ? Apakah bukan Kim Coa siancu yang berkepandaian
tinggi ? Ia jadi sangsi. Kalau Kim Coa siancu sudah tentu akan
melawan terhadap kelakuannya kurang sopan itu. sehingga ia
sangat kebingungan.
Dalam kebingungan dan agak malu dengan kelakuannya
barusan, tiba-tiba ia mendengar orang berkata di bawah
peseban,
"Hihihi, bocah hitam tidak punya malu,peluki gadis orang
ditengah malam...."
Putus kata-katanya dan orang itu sudah lantas mau lompat
pergi tapi terlambat-seperti kilat menyambar, tahu-tahu Lo In
sudah ada dihadapannya- "Hehehe, Kim Coa siancu- selamat
datang " berkata Lo In, ketawa menyeringai-orang itu memang
benar Kim Coa siancu.
Tadinya, rupanya Kim Coa siancu mau menggodai Lo In.
Tapi ia tidak tahu Lo In kepandaiannya luar biasa, Ia bukan
Bocah sakti kalau dapat diingusi si Dewi ular Emas demikian
mudah- oleh karenanya, kata-kata Lo In seperti tidak masuk ke
telinganya karena saat itu ia kesima nampak kepandaian si
bocah yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Dalam kesima
ia jadi tersenyum manis ke arah Lo In yang menghadang di
depannya.
"Enci Eng Lian, ah, kau menyaru jadi Kim Coa siancu " tibatiba
Lo In berseru, menyusul. Dengan kecepatan kilat
tangannya menyambar tangan si cantik yang lunak, halus.
Kim Coa siancu tidak berkelit, ia kasih tangannya dipegang
erat oleh si bocah wajah hitam, malah ia jadi cekikikan ketawa.
Lo In tergetar hatinya, itu persis suara ketawa Eng Lian
"Enci Lian, sudah kupegang sekarang. Kau tidak bisa lolos
lagi " kata Lo In dengan gembira sekali.
Kim Coa siancu memandang Lo In seraya tersenyum.
Tampak ia merasa kasihan pada si bocah wajah hitam yang
mencari enci Eng Liannya seperti orang gila. Pikirnya, kalau
dirinya ada si gadis yang dicarinya, senang sekali ia punya
kawan si bocah yang kepandaiannya sukar diukur. Malah ada
baiknya sekali, kalau Lo In dijadikan pembantunya untuk
mengepalai Ang Hoa Pay.
"Adik kecil, mari kita bicara." tiba-tiba Kim Coa siancu
berkata.
"Bagus, nah bicaralah enci Lian." sahut Lo In, senang
hatinya.
"Tidak disini, adik kecil."
"Dimana ?"
"Nah, disana " sahut si Dewi ular emas, seraya menunjuk
kepeseban.
"Baiklah, mari kita ke sana." kata Lo In.
"Kau masih belum mau lepasi tangan encimu ?" Kim Coa
siancu menegur seraya deliki matanya yang jeli.
"Aku takut, aku takut...." kata Lo In seraya dengan perlahan
melepaskan tangan si nona yang ia pegang erat-erat seperti
ketakutan orang kabur saja.
"Kau takut orang lari, bukan ?" tanya Kim Coa sincu,
ketawa manis. Lo In tidak menjawab, hanya anggukanggukkan
kepalanya.
"Kau jangan kuatir adik kecil, siancu belum pernah menipu
orang. Kalau tok aku dapat lari, bisa apa ? Di tanganmu, siapa
yang bisa melarikan diri ?" si Dewi ular emas memuji si bocah
hingga Lo In menjadi sangat bangga.
Dengan menggunakan ilmu entengi tubuh, dalam sekejap
saja Kim Coa siancu dan Lo In sudah ada dalam peseban,
dimana tampak Leng siong sedang menangis tersedu-sedu.
Ketika Lo In dan Kim Coa siancu melayang ke atas
peseban, mereka menginjakkan kakinya diatas lantai dengan
tidak menerbitkan suara sehingga Leng siong yang sedang
tunduk menangis tidak tahu kalau dua orang itu sudah berada
di dekatnya.
Melihat nona Teng menangis dengan sedihnya, Lo In jadi
sangat menyesal atas kelakuannya yang kasar tadi pada enci
Leng siong. Mukanya kalau tidak hitam, pasti akan kentara
sekali berubah merah saking jengah. Ketika diam-diam ia
beradu pandang dengan Kim Coa siancu yang akhirnya
tersenyum ke arahnya sambil matanya melirik pada Leng
siong seakan-akan menyesalkan menangisnya gadis itu garagara
perbuatannya tadi- sebelum si bocah minta maaf pada
Leng siong, Kim Coa siancu sudah mendahului berkata
dibelakang Leng siong,
"Adik, kau jangan menangis. Adik kecil salah paham maka
sudah perlakukan kau dengan kasar tadi "
Leng siong terkejut mendengar dengan tiba-tiba saja ada
orang berkata dibelakangnya.
Dengan masih terisak-isak ia menoleh. Lebih-lebih terkejut
dia karena ia melihat gadis didepannya itu seperti juga dirinya
sedang berkata. Wanita itu mirip betul dengan roman
mukanya, malah perawakannya juga hampir sama, kecil,
langsing menggiurkan. Dalam pakaian yang serba tipis, wajah
dan rambut kepala yang terawat baik, malah kelihatan Kim
Coa siancu ada lebih cantik dari dirinya.
"Enci, kau siapa ?" tanya Leng siong, setelah hilang
kagetnya.
Kim Coa siancu tersenyum.
"Kalau aku tidak salah dengar dari adik kecil tadi, kau ini
adalah adik Leng siong, bukan ?" sahut Kim Coa siancu, tidak
menjawab apa yang ditanyakan Leng siong.
"ya, betul. Kau sendiri siapa, enci ?" mengulangi Leng siong
bertanya.
sementara itu, Leng siong sudah bangkit berdiri
berhadapan dengan si Dewi ular emas yang juga merasa
terheran-heran gadis di depannya ini ada duplikat dari dirinya.
Pikirnya, apa bisa jadi dalam dunia ini ada hal demikian yang
kebetulan sekali ? untuk sejenak ia belum bisa menjawab
pertanyaannya Leng siong. Dua orang itu jadi pada berdiri
bagaikan patung saiing berhadapan.
Lo In yang nampak adegan itu jadi kegirangan, Ia bertepuk
tangan, katanya :
"sama, sama, siapa pun tak dapat membedakan enci Leng
siong dan mana Lian eh, enci Lian, enciku yang kucari-cari
baru ketemu sekarang...."
Hampir berbareng, dua gadis jelita itu melirikkan matanya
yang tajam halus ke arah Lo In. Keduanya berbareng
tersenyum melihat lagak si bocah yang lucu.
"Celaka " seru Lo In.
"Aku berhadapan dengan dua enciku yang manis...."
"Ngaco " bentak Kim Coa siancu, tetapi mukanya
tersenyum manis.
sementara Leng siong telah menekap mulutnya dan ketawa
ngikik melihat Lo In dengan lucunya telah melelerkan lidahnya
ketika mendengar bentakan Kim Coa siancu. Akhirnya tigatiganya
pada ketawa dengan gembira.
Leng siong yang tadi merasa sangat sedih diperlakukan
dengan kasar oleh Lo In, sekarang dapat ketawa enak- Ia
sendiri tidak tahu kemana perginya kesedihannya itu.
"Enci." kata Leng siong, setelah mereka berhenti ketawa.
"AKu berhadapan dengan kau seperti juga aku lagi
berkaca."
"sama, pikiranmu sama denganku- Kenapa kita berdua bisa
mirip sekali satu sama lain ? Betul-betul sangat mengherankan
" jawab Kim Coa siancu bersenyum-
"Mari, mari kita duduk omong-omong." mengundang Leng
siong gembira.
Kim Coa siancu dan Lo In mengikuti Leng siong ambil
tempat duduk-Ketika mereka sudah pada duduk, Leng siong
berkata,
"sayang mejanya tidak ada, barusan kena digempur adik
kecil-" matanya melirik pada Lo In.
Lo In jadijengah- Tapi hatinya sebentaran sebab ia lantas
berkata pada si gadis,
"jangan gusar enci Leng siong, aku pun merasa menyesal
sudah unjuk kelakuan yang tidak genah itu"
"Sudahlah-" menyela Kim Coa siancu-
"Kita bercakap-cakap toh tidak memerlukan meja sebab
tidak ada hidangan yang untuk disikat masuk ke dalam perut."
Nona Teng geli dalam hatinya mendengar kata-kata Kim
Coa siancu yang lucu.
"Enci, kau masih belum menjawab pertanyaanku-" kata
Leng siong.
"Apa itu ?" tanya Kim Coa siancu.
"Kau ini siapa sebenarnya ?"
"oo, aku Kim Coa siancu."
"Kim Coa siancu ?" Leng siong menegasi dengan mata
terbelalak-
"Jadi kau, kau yang dimaksud oleh adik kecil ?"
"Betul, adik siong." sahut Kim Coa siancu.
"Kita berdua dicurigai oleh adik kecil itu (sambil menunjuk
Lo In) bahwa kita adalah enci Eng Liannya. Hihi, memang lucu
dia, main menerka sembarangan saja "
"Memang, dia sembarangan terka saja, membikin orang
penasaran. Malah barusan dia mencubit pipiku sampai matang
biru, aku jadi menangis. Ah, malu juga aku barusan menangis,
orang sudah gede menangis, jelek bukan ?" kata Leng siong
sambil matanya melirik pada Lo In.
"Adik kecil, kita bukan enci Eng Lianmu. sekarang kau mau
apa ?" tanya Kim Coa siancu seraya memandang si bocah
dengan ketawa.
Lo In ketawa nyengir, Ia menjawab,
"Enci Leng siong boleh bilang dia bukan enci Eng Lianku,
tapi kau, mana bisa mungkin ?"
"Aku ?" tanya Kim Coa siancu kaget.
"Apa tandanya kau menerka aku ?"
"Itu kan mudah saja." sahut Lo In.
"Dekat alismu yang kiri ada tai lalat. Ini tak dapat
membohongi aku. Hahaha...."
Tanpa disadari tangannya Kim Coa siancu diangkat untuk
mengusut tanda yang dikatakan Lo In. Ia memang tahu,
memang ada tanda dekat alisnya tapi bagaimana si bocah
tahu, kalau ia baru kenal belum lama saja ?
oleh karena dalam paseban itu hanya diterangi oleh sinar
rembulan yang remang-remang, maka Leng siong tidak dapat
melihat tanda pada alisnya Kim Coa siancu. Hanya hatinya
berdebaran, pikirnya, gadis di depannya ini tentu Eng Lian
adanya, tapi kenapa masih mungkir saja ?
setelah sekian lama dalam kesunyian, tiba-tiba Kim Coa
Siancu berkata,
"Dari mana kau tahu aku mempunyai tanda dekat alisku ?"
"Lhooo.....ini kan pertanyaan aneh ? Mana aku tidak dapat
tahu, kalau kau memang ada teman mainku di lemah Tong
hong-gay." sahut Lo In ketawa nyengir. Disebutnya Tonghong-
gay, sekilas seperti Kim Coa siancu ingat tapi lantas
terlupa lagi. Begitulah ada mujizatnya obat "Ciat-jit-su-su-hun"
(obat bubuk mematikan ingatan seribu hari) dari Ang Hoa
Lobo, warisan dari Lam Hay Mo Lie. Tampak Kim Coa siancu
duduk termenung-menung.
Leng siong melihat si Dewi ular seperti merenungkan tempo
yang lalu, ia sudah mau buka suara, hanya Lo In telah
mendahului berkata,
"Enci Lian, kau tentu belum lupa ketika kita bersama-sama
naik di atas punggung rajawali, pesiar diatas lembah,
bagaimana kita main-main dengan kawanan kera kita, aku
meniup seruling menaklukan kawanan ular, ketika kau
ngambek memukul remuk buah semangka karena jengkel aku
malas antar kau
menangkap ikan. coba kau ingatkan semua itu "
Kim Coa siancu termenung-menung saja, seperti yang coba
mengumpulkan ingatannya yang sudah lalu tapi luput untuk
dapat mengingatkan lagi. sambil tersenyum, ia berkata pada
Lo In,
"Adik kecil, barangkali kau keliru kenali orang, sebab apa
yang kau katakan tadi, sama sekali aku tidak ingat."
"Baik, sekarang aku mau tanya. Apa kau masih ingat ketika
kau memberikan nyali TOk gan siancu, ular kesayangan
kepadaku untuk mengobati aku yang terluka parah ? Coba kau
ingat-ingat lagi " kata Lo In dengan sabar.
Kembali Kim Coa siancu kerjakan pikirannya yang sehat,
juga sia-sia saja.
"Aku tidak ingat. Tapi kenapa kau terluka parah ?" tanya si
Dewi ular Emas.
"Lantaran aku terlalu jujur, mau menolong si nenek, tidak
tahunya si nenek sangat jahat. Dia membokong aku ketika aku
mau periksa lukanya."
"siapa si nenek jahat itu ?"
"Pada rambut kepalanya biasa ia cantumkan kembang
merah- Maka ia dipanggil Ang Hoa Lobo- Dia sangat jahat-
Malah sebelum aku kenal dengan kau, enci Lian, dia sudah
menghukum kau kelaparan beberapa hari....."
"Hei, kau bilang Ang Hoa Lobo ?" memotong Kim Coa
siancu, kaget dia-
"ya, Ang Hoa Lobo, si nenek jahat itu " sahut Lo In.
Kim Coa siancu cemberut mukanya, hingga Lo In menjadi
heran.
setelah deliki matanya pada si bocah, si Dewi ular emas
berkata,
"Anak hitam, kau jangan sembarangan menyebut-nyebut
nama guruku, sekali lagi kau menyebut nama guruku. aku adu
jiwa denganmu "
Lo In jadi kebingungan mendengar kata-katanya si Dewi
ular emas. Kenapa enci Eng Liannya menjadi murid si nenek
jahat ? Bukankah Eng Lian pun juga membenci Ang Hoa Lobo
? begitu setia Eng Lian pada Ang Hoa Lobo sehingga ia
dilarang menyebutkan nama Ang Hoa Lobo- Pikirnya, pasti
dibalik kehilangan ingatannya enci Liannya ini ada sesuatu
yang tidak beres.
Ia tahu kalau ia mengatakan 'Ang Hoa Lobo' si Dewi ular
emas akan menyerang ia karena tidak suka nama gurunya
disebut-sebut. Tapi Lo In tidak takut. Malah ia ingin tahu
bagaimana kesudahannya kalau ia mengatakan nama Ang
Hoa Lobo lagi di depan Kim Coa siancu yang terus tidak mau
kenal kepadanya.
"Enci Eng Lian." kata Lo In.
"Biasanya aku suka mengalah kepadamu. Tapi sekarang
melihat kelakuanmu yang aneh, maaf saja kalau adikmu tidak
dengar ancamanmu tadi- Aku maksudkan Ang Hoa Lobo itu
adalah satu nenek jahat. Ang Hoa Lo....."
Putus kata-kata Lo In karena tiba-tiba saja Kim Coa siancu
menyerangnya dengan beringas.
Ia kelihatan marah betul pada Lo In. sambil menyerang ia
membentak.
"Anak hitam, kau berani menyebut nama guruku lagi
Rasakan ini"
Ganas betul serangan si Dewi ular emas tapi dengan kalem
dapat dilayani oleh Lo In. Dalam paseban itu, mereka jadi
bertempur seru.
Leng siong jadi ketakutan, Ia tadinya mengira dengan
munculnya Kim Coa siancu urusan akan menjadi beres dan Lo
In dapat menemukan enci Liannya. Tidak disangka urusan
malah menjadi ruwet. Mereka telah bertempur mati-matian.
Untuk melerai mereka, tentu saja mustahil bagi Leng siong.
Maka ia menjerit-jerit saja, katanya,
"Enci, jangan berkelahi- Adik kecil, kau harus mengalah-
Eh, enci, jangan pukul dia"
Ramai teriakan mulut Leng siong. serabutan ia mengatakan
sambil menjerit, melihat saban-saban Kim Coa siancu
menyerang Lo In dengan tenaga penuh hingga tiang paseban
tergetar kena angin pukulannya.
Tiba-tiba Kim Coa siancu melesat dari paseban, melayang
turun ke bawah-
"Anak hitam Mari, mari sini" ia menantang Lo In,
"Dalam paseban tidak leluasa kita bertempur Mari disini
lebih lega "
Lo In juga sudah melayang turun dari paseban.
" Kalau mau bela si nenek jahat Ang Hoa Lobo, boleh
keluarkan kepandaianmu ajarannya di depan aku orang she
Lo " kata Lo In tatkala ia sudah berada di depan si Dewi ular
Emas yang wajahnya sekarang berubah menyeramkan.
Kecantikan si Dewi ular emas menjadi lenyap seketika,
rambutnya riap-riapan menakutkan, giginya terdengar
berkeretekan, saking gemas pada Lo In yang kembali
menyebut nama gurunya, malah memaki-maki-
Hebat serangan-serangan Kim Coa siancu- Rupanya ia
hendak membuktikan, memang ia akan adu jiwa dengan Lo In
bila si bocah menyebut nama gurunya sekali lagi. serangan
hebat hanya dilakukan dari sepihak saja, ialah oleh Kim Coa
siancu. sedang Lo In hanya mengegos dan berkelit, tidak
membalas menyerang. Meskipun demikian. tampaknya
mereka benar-benar seperti sedang adu jiwa.
Leng siong menonton di atas tribun (paseban). Ia tidak bisa
berdaya apa-apa untuk melerai dua orang yang sedang
berkelahi- selain menjerit-jerit sampai suaranya serak, Ia pun
menangis sambil banting-banting kaki- Ia menyesal tidak
punya kepandaian silat yang lebih tinggi dari mereka. Kalau
tidak, sudah sedari tadi ia turun tangan memisahkan dua
orang yang sedang bergebrak itu.
Meskipun ia hanya mengegos dan berkelit, diam-diam Lo In
waspada juga kalau-kalau si Dewi ular emas nanti nekad dan
mengeluarkan senjata rahasianya, sengaja Lo In tidak mau
permainkan Kim Coa siancu, tidak seperti biasanya ia lenyap
darl pandangan lawan dan tahu-tahu ada di belakang orang, Ia
melayani si Dewi ular emas dengan sungguh-sungguh, ia
punya tujuan tertentu ialah ingin membikin lawan lemas
dengan sendirinya karena sudah mengerahkan tenaganya
melewati batas untuk mengumbar nafsu amarahnya yang
meluap-luap.
Tiba-tiba Kim Coa siancu hentikan serangannya, sambil
menyingkap rambutnya yang meriap ke mukanya, ia berkata,
"Kenapa kau tidak balas menyerang ?" Lo In ketawa
nyengir,
"Aku toh bukan berkelahi dengan musuh-" sahut Lo In.
"Jadi, kaupandang apa aku ini?" tanya Kim Coa siancu.
"Kau adalah enci Lianku. Habis aku pandang apa lagi?"
"Em Aku adalah siancu dari Ang Hoa Pay, bukan enci
Lianmu "
"orang boleh mengatakan kau adalah siancu dari Ang Hoa
Pay tapi di pandanganku, kau adalah enci Lianku "
Kim Coa siancu kewalahan, saban-saban Lo In menyebut
dirinya Eng Lian, bukan siancu yang tersohor namanya dari
Ang Hoa Pay. Betul-betul anak hitam ini sudah gila barang
kali, pikir Kim Coa siancu, sembari matanya melotot
mengawasi si bocah.
Lo In tidak gubris sikap si Dewi ular Emas. Ia percaya,
akhirnya ia bikin ingatan sang enci kembali pada asalnya, Ia
menduga enci Eng Liannya ini sudah dikasih obat yang ia tak
tahu sehingga ingatannya berubah menjadi lupa dengan
kejadian yang sudah-sudah-Dugaannya si bocah tepat benar,
hanya ia tidak tahu obat apa namanya yang begitu mujizat
untuk menguasai Eng Lian yang biasanya sangat benci pada
Ang Hoa Lobo-
"Berani sekarang kau menyebut nama guruku lagi ?" tanya
Kim Coa siancu, suaranya agak ramah, mukanya juga sudah
mulai tersenyum-
"Kenapa tidak berani ?" sahut Lo In, heran juga ia
mendengar pertanyaan si gadis-
"Coba kau katakan, kalau kau ber...."
Putus kata-katanya Kim Coa siancu lantaran dibikin lagi
meluap amarahnya ketika Lo In memotong, katanya,
"Ang Hoa Lobo, Ang Hoa Lobo, nenek jahat "
"Anak hitam kurang ajar Kau berani? "
berbareng serangan dahsyat telah diulangi lagi. Angin
sambaran tangannya Kim Coa Siancu sampai berbunyi siutsiut
saking hebatnya ia menggunakan Iwekangnya untuk
menggempur si bocah hitam yang bandel tiada taranya-Potpot
kembang, bangunan tembok perhiasan yang ada disapu
oleh angin pukulan Kim Coa siancu.
Lo In diam-diam berpikir, gadis di depannya ini betul-betul
sudah jadi gila. Tapi ia yakin benar si gadis jelita adalah enci
Eng Liannya. Bagaimana pun, ia harus menolong sang enci
yang diperalat oleh Ang Hoa Lobo, si nenek jahat. Tapi
bagaimana akalnya ? Sembari menangkis dan berkelit dari
serangan si Dewi ular Emas, diam-diam Lo In mencari cara
untuk menolong Eng Lian dari kehilangan ingatannya.
Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Romannya berubah kegirangan.
Entah apa yang diingat si bocah yang mendadak membuat
Romannya berubah kegirangan.
Sementara itu Kim Coa Siancu sudah lelah dengan
sendirinya karena semua serangan hebat yang meminta
banyak tenaga sia-sia saja, tidak ada hasilnya. Lo In masih
terus melayani dengan penuh kesabaran.
yang membikin si Dewi ular Emas tidak mengerti, kenapa
serangan yang begitu dahsyat tidak dibalas oleh Lo In. Ia ingin
menyerang dengan Bu im in coa ialah senjata rahasia Cap ular
Tanpa suara, tapi si bocah tidak berdosa besar. Bagaimana ia
bisa berlaku kejam membunuh orang yang tidak berdosa
besar ?
Pikirnya ia mesti ganti taktik berkelahinya, kalau tidak la
akan lemas sendiri, menggempur lawan dengan tenaga penuh
tapi tidak berhasil. Baru ia memikir akan ganti taktik, ia
mendengar si bocah berkata,
"Enci Lian, apa kau masih belum mau menyerah pada
adikmu ?"
"Siapa enci Lianmu ?" bentak Kim Coa Siancu. Sekaligus ia
menyerang dengan tenaga penuh lagi sampai pohon di
depannya bergoyang-goyang, akan tetapi si bocah mendadak
sudah lenyap dari hadapannya.
" Celaka " seru Kim Coa siancu, nampak si bocah ganti
taktik,
Hatinya berdebaran, kuatir dirinya akan dipermainkan Lo In
seperti yang dialami oleh Tui Hun Lolo. Baru ia memikir ke
situ, tiba-tiba ia merasa kupingnya ditowel dari belakang, Ia
berbalik cepat tapi Lo In lebih cepat lagi memutar ke
belakangnya, sekarang, pipinya kena dicolek-
Colek bukan sembarang colek seperti lagunya Titik
sandora.
"Anak hitam kurang ajar amat hah " teriak Kim Coa siancu,
parasnya semu merah karena dicolek pipinya oleh si nakal.
"Enci Lian, kalau kau belum mau menyerah kalah, jangan
sesalkan adikmu berlaku keterlaluan." kata Lo In sembari
ketawa haha hihi di belakang si gadis.
Panas hatinya Kim Coa siancu, sambil memutar tubuh ia
membentak,
"Nih, rasakan" laksana kilat menyambar Bu im in coa lepas
dari tangannya si Dewi ular Emas, senjata rahasia yang
sangat ganas.
Kalau sudah keluar senjata rahasia Cap ular itu adalah
tanda bahwa pemiliknya sudah sangat marah- Tadi, Kim Coa
siancu sebenarnya tidak mau gunakan senjata dahsyatnya itu,
akan tetapi ketika merasa dirinya dipermainkan Lo In dengan
sangat kurang ajar dengan menowel kuping dan mencolek
pipinya, ia jadi merubah niatannya. Tanpa banyak pikir lagi ia
sudah gunakan senjata rahasianya itu.
Hanya mengkredep remang-remang melesatnya Bu im in
coa, orang yang tiada sangka itu adalah senjata rahasia yang
sangat berbahaya. Cuma saja Kim Coa siancu ketemu Lo In,
Hek-bin-sin-tong atau si Bocah sakti Muka Hitam yang
kepandaiannya susah diukur- Maka berapa banyak juga
senjata ganasnya itu dilepas, tak akan dapat menemukan
sasarannya hingga Kim Coa siancu sangat cemas hatinya-
Makin ia ngawur melepas senjata rahasianya, makin sering
pipinya kena dicolek Lo In. saking jengkel Kim Coa siancu
kepingin menangis digodai Lo In. Habis daya dia- Akhirnya ia
berdiri menjublek kecapaian.
Lo Injuga sudah hentikan 'olok-olokannya'- sekarang ia
berada di depan si Dewi ular Emas sambil cengar cengir
ketawa-
"Menyebalkan anak hitam ini " kata Kim Coa siancu dalam
hatinyasenyumannya
yang manis memikat sudah lenyap entah
kemana tahu, sebaliknya mukanya cemberut memandang
pada Lo In. bernas betul dia, kepingin dia mencengkeram
berantakan muka si bocah hitam. Tapi apa daya ? Tenaga
sudah habis, senjata rahasia yang sangat ampuh sudah
diobral habis, hanya tinggal sepasang ular kesayangannya.- Ia
tidak berani sembarangan melepaskan sepasang ular
emasnya, takut kena dibunuh oleh Lo In jika ia serangannya
luput dari sasarannya.
Dalam kebingungan, tiba-tiba ia rasakan dirinya dipeluk-
Itulah si bocah nakal Lo In yang memeluk erat dirinya.
"Bocah gila, kau berani menghina siancu " bentaknya,
seraya ia berontak hendak loloskan tubuhnya.
Ini sebenarnya adalah taktik Lo In, yang membuat ia
bersenyum kegirangan tadi-
Biasanya kalau Eng Lian dalam olok-olok kena dipeluk, si
nona suka mencubit keras-keras lengannya. Pada waktu
demikian ia tidak menggunakan Iwekang, dibiarkan cubitannya
si nona supaya cubitannya mempunyai bekas matang biru,
dengan maksud untuk menyenangkan hatinya Eng Lian.
Ia bukannya mau kurang ajar, tapi perbuatan itu sering
membikin lawannya seram kalau tidak mengetahui tabiatnya
yang polos jujur.
Begitulah Lo In mau pancing Kim Coa siancu supaya
mengaku bahwa dirinya adalah enci Eng Liannya yang dicari,
Ia mengharap cubitannya si nona, tapi...
"Aduuuh " sekonyong-konyong si bocah berteriak
mengaduh karena dengan tiba-tiba Kim Coa siancu menggigit
sekerasnya hingga gigitannya si nona tertanam pada daging
lengannya-Lo In dan mulut si nona belepotan darah sewaktu ia
melepaskan gigitannya. Tinggal si bocah kesakitan teraduh
aduh seraya pegangi tangannya dan semetar itu pelukan pada
tubuhnya Kim Coa siancu juga dilepaskan.
Lo In tidak semudah itu dapat digigit dagingnya. Kalau si
bocah gunakan Bian-kang (tenaga lunak), maka Kim Coa
siancu bakal bukan menggigit daging tapi menggigit kapas
rasanya. Tetapi karena Lo In sedang tiada siaga sehingga
gigitan siancu itu yang tak disangka-sangka tak dapat
dihindari. Tidak heran kalau Lo In teraduh-aduh. salahnya
sendiri. Mau mancing cubotan akhirnya kena gigitan.
Kenapa Kim Coa siancu menggigit kaya anjing gila ?
Karena ketika ia meronta-ronta, buah dadanya kena ketekan.
otomatis timbul reaksi seperti tempo hari Toan Bi Lomo siauw
Cu Leng mau permainkan cuisian, tetapi belum berhasil sudah
kena digigit hingga hilang ingatannya dan lupa akan dirinya
siapa, seperti orang linglung.
Apakah Lo In juga akan jatuh dibawah pengaruhnya Kim
Coa siancu seperti Lengkoan Giok Lie dan Hek houw Ma
Liong tempo hari ? Entahlah, sebab sampai sebegitu jauh si
bocah sakti hanya mengusap-usap lengannya yang kesakitan
sambil matanya mengawasi si Dewi ular emas yang cekikikan
ketawa.
Nona Teng dari atas paseban yang sudah berhenti
menjerit-jerit merasa sangat lucu menyaksikan adegan yang
terjadi di bawah paseban. nampak Lo In digigit oleh Kim Coa
siancu teraduh-aduh dan si nona cekikikan ketawa, Leng siong
juga menekap mulutnya yang mungil untuk menahan ketawa
gelinya.
setelah cekikikan ketawa enak, Kim Coa siancu berkata
pada Lo In,
"Anak Hitam, enak ya kena siancu gigit. Makanya, jadi
orang jangan kurang a...."
Tiba-tiba saja Kim Coa siancu terputus omongannya,
sedang tubuhnya terkulai roboh hingga Lo In kaget dan cepat
menyangganya hingga si nona tidak sampai jatuh ke tanah.
Kembali siancu dalam pelukan Lo In, si nakal.
Kali ini Lo In tidak nakal, malah kaget ia sebab Kim Coa
siancu matanya mendelik terbalik seperti yang kesurupan,
"Enci Lian, enci Lian, kau kenapa ?" tanya Lo In sambil
goyang-goyang tangannya Kim Coa siancu. Tidak tahu ia apa
yang harus diperbuatnya untuk menolong siancu.
"Enci Leng siong kemari " teriak Lo In ketika melihat Kim
Coa siancu keadaannya menguatirkan dalam pelukannya.
Leng Siong mendengar panggilan Lo In lantas mau turun
dari paseban tapi tidak jadi sebab melihat Lo In sudah
melayang bagaikan burung membawa Kim Coa siancu dan
menclok di paseban.
Lo In rebahkan Kim Coa siancu di atas bangku panjang.
"Enci Leng siong, lekas tolong dia " kata Lo In gugup,
seraya tangannya mengoyang-goyang pipinya Kim Coa siancu
yang sedang tidak sadarkan diri
Leng siong sudah datang dekat,
"Enci Lian, enci Lian...." si nona memanggil, ketularan
panggila Lo In kepada Kim Coa siancu. si Dewi ular Emas
tidak ingat orang, Ia rebah dalam pingsan.
yang membuat Lo In dan Leng siong menjadi sangat kaget,
nampak mulutnya si Dewi ular Emas mengeluarkan busa,
sedang matanya mendelik ketakutan.
"ai, enci Lian, kau kenapa ? uh... uh... uh...." Leng siong
menangis seraya peluki tubuhnya Kim Coa siancu yang
mulutnya berbusa dan matanya mendelik menakutkan. Tapi
Leng siong tidak takut, malah tangannya yang halus dipakai
mengusap-usap mukanya Kim Coa siancu, mulutnya kemak
kemik berdoa memohon supaya matanya siancu jangan
mendelik saja. Benar saja permohonannya terkabul sebab
dengan perlahan-lahan si Dewi ular emas telah memeramkan
matanya. Mulutnya yang sudah dibersihkan dari busanya oleh
Leng siong, tampak menyungging senyuman seakan-akan
sedang mengimpi dalam enak tidur.
"Adik kecil, kenapa kau diam saja, bukan memanggil Taysu
datang kemari ?" tegur Leng siong ketika melihat Lo In berdiri
mematung di dekatnya.
seperti yang baru sadar, Lo In mengiakan lalu angkat kaki
hendak berlalu tapi tak jadi sebab Kim Wan Thauto dengan
diiringi Lima Harimau sudah kelihatan mendatangi. Dari jauh
Lo In sudah berteriak.
"Toako, toako, lekas kemari "
Kim Wan Thauto terkejut mendengar panggilan Lo In, maka
dengan dua tiga lompatan saja ia sudah meninggalkan
suyangtin Ngo Houw kemudian dengan satu enjotan enteng,
tubuhnya sudah berada di paseban.
"Anak In, ada apa ?" tanyanya.
Tapi Lo In tidak menjawab hanya lari menghampiri Kim Coa
siancu yang rebah diatas bangku panjang dimana kelihatann
Leng siong dengan menangis.
"Ai, ada apa dengan anak Hiang ?" berkata Kim Wan
Thauto seraya datang dekat pada bangku diatas mana ada
rebah sesosok tubuh wanita.
Kurang begitu terang keadaan disitu Maklum, sang
rembulan saban-saban digodai oleh melayangnya bayangan
gelap hingga saban-saban ia ketutupan. Kim Wan Thauto
berdebaran hatinya, ia lalu menanya,
"Anak In, kenapa dengan anak Hiang ?"
"Toako, dia bukan......bukan enci Hiang." sahut Lo In rada
gugup,
" Habis siapa ?" tanya Kim Wan Thauto seraya datang lebih
dekat untuk mengenali, Ia memandang pada wajah Kim coa
siancu, ia tidak kenal. Wajahnya sangat cantik, lebih cantik
dari Bwee Hiang. Cuma pakaiannya agak janggal. serba tipis,
takpantas dipakai oleh wanita-wanita sopan.
Kapan ia tegasi lagi wajah si Dewi ular emas, tiba-tiba Kim
Wan Thauto terkejut, juga Teng Hauw yang sudah ada disitu
menyaksikan hatinya berdebaran.
"Hai, mukanya mirip benar dengan Leng siong " kata Kim
Wan Thauto-
"Ya, seperti pinang dibelah dua." menimpali Teng Hauw
yang sedari tadi memang mau berkata akan tetapi telah
didahului oleh Kim Wan Thauto
"Siapa dia, anak In ?" tanya Kim Wan Thauto-
Dasar anak nakal, bukannya menjawab malah ia berbalik
menanya,
"Coba terka siapa dia, toako ?"
"Kim Coa siancu....." nyeletuk Leng siong dikala Kim Wan
Thauto mau mengatakan tidak kenal.
"Kim Coa siancu ?" Kim Wan Thauto mengulangi dengan
kaget,
"ya, betul katanya enci Leng siong." menetapkan Lo In.
"Bagaimana dia bisa jadi begini ?" tanya Kim Wan Thauto
heran. Lo In dan Leng siong bergilir bercerita secara ringkas.
"sebaiknya siancu dibawa ke dalam rumah untuk kita
periksa lebih jauh-" kata Kim Wan Thauto yang segera
dibenarkan oleh orang banyak.
"sekarang, cara bagaimana membawanya siancu ke sana
?" Leng siong tentu tidak kuat, maka Kim Wan Thauto melirik
pada Lo In, katanya,
"Anak In, kau yang bawa dia ke rumah-Hayo, lekas
kerjakan" ia pun lantas bertindak mendahului yang lainnya,
disusul oleh Leng siong dan Lo In yang memondong Kim Coa
siancu-
Di lain detik mereka sudah ada dalam rumah Teng Houw-
Kim Coa siancu direbahkan di atas sebuah dipan.
Kim Wan Thauto aad tahu juga dalam urusan pengobatan,
maka ia lalu memeriksa nadinya Kim Coa siancu yang masih
terus seperti orang pulas.
"Celaka, kenapa aku tolol benar " tiba-tiba Lo In berkata
seraya ketuk kepalanya sendiri ketika melihat Kim Wan Thauto
memeriksa nadinya si nona. "Kenapa kau bilang begitu, anak
In ?" tanya Kim Wan Thauto-
"Ah, tidak apa-apa-" sahutnya, sebenarnya ia mau
mengatakan kenapa ia lupa tadi tidak memeriksa nadinya Kim
Coa siancu. sedang ia tahu banyak dalam urusan pengobatan,
warisannya Liok sinshe- Ia mau menerangkan terus terang
apa maksudnya ia berkata
"celaka" tadi tapi ia malu. Maka ketika ditanya Kim Wan
Thauto, ia hanya kata tidak apa-apa.
Kim Wan Thauto menerukan pemeriksaannya.
"Ah, siancu tidak apa-apa. Cuma barusan terlalu banyak
mengeluarkan tenaga, badannya jadi sangat letih dan jatuh
pingsan. Anak In, kau keterlaluan menggodai orang sampai
siancu kepayahan. Kalau dia kenapa-kenapa siapa yang harus
bertanggung jawab ? Kau, bukan ? Dia toh enci Lianmu kau
bilang " berkata Kim Wan Thauto pada Lo In, ia menegur
halus.
Lo In diam saja- Ia merasa salah rupanya sebab biasanya
ia paling cepat menangkis kata-kata orang- Memang, ia sendiri
menyesal. Tahu begini akibatnya, terang ia tidak akan
lakukan. Kalau enci Eng Liannya sampai tidak bisa ketolongan
jiwanya, siapa yang akan menanggung sedih ? Bukankah
dirinya sendiri yang menderita ?
Dalam tergesa-gesanya, tiba-tiba ia mendengar Kim Wan
Thauto menanya,
"Anak In, bagaimana dengan anak Hiang ? sampai
sekarang dia belum kelihatan pulang "
Lo In seperti tersadar,
"ya, betul. Kemana perginya enci Hiang ? Biar aku pergi
cari-" kata si bocah, kakinya juga sudah lantas digeraki untuk
berlalu dari situ.
Kemana ia harus mencari si nona, ia tidak tahu. Ia hanya
menuruti saja kemana kakinya membawa dirinya.
sambil mengikuti kakinya membawa dirinya, pikiran Lo In
selalu melayang pada Kim Coa siancu. Pikirnya, apakah
sekarang dia sudah mendusin ? Apa tidak mendapat kesulitan
apa-apa dengan pingsannya yang mendadak? Ia jadi
kebingungan sendiri karena ia bertugas mencari Bwee Hiang
sedang hatinya kecantol oleh Kim Coa siancu di rumahnya
Teng Hauw.
Entah kemana perginya Bwee Hiang sebab dicari sampai
dekat pagi, belum dapat diketemukan jejaknya. Lo In balik ke
suyang tin.
Ketika berjumpa dengan Kim Wan Thauto yang sudah
bangun pagi-pagi, Lo In ditanya bagaimana hasilnya mencari
Bwee Hiang. Lo In hanya angkat pundak- Katanya,
" Aku sudah menggunakan ginkang ke sana sini mencari
tapi enci Hiang tidak ketemu."
Kim Wan Thauto menghela napas mendapat jawaban itu.
"Sekarang bagaimana tindakanmu, anak In ?" tanya Kim
Wan Thauto-
"Kita berunding saja bagaimana baiknya, toako Bagaimana
dengan keadaan siancu ? Apa dia sudah siuman dari
pingsannya ketika aku pergi?"
"Belum tapi tidak apa-apa keadaannya-"
"Apa toako yakin benar siancu tidak apa-apa ?"
Kim Wan Thauto tersenyum- Ia lihat Lo In agak gelisah, ia
menghibur,
"Kau jangan kuatir, anak In. Mungkin sekarang siancu
sudah mendusin."
"Dimana dia sekarang ?" tanya Lo In cepat.
"Dia tidur bersama-sama dengan Leng siong." sahut Kim
Wan Thauto-
Lo In anggukkan kepala- Romannya tidak demikian tegang
lagi- Tapi diam-diam ia mengharap akan kemunculannya Kim
Coa siancu pada saat itu di depannya-
Kita tinggalkan dahulu Lo In yang menantikan
kemunculannya Kim Coa siancu dan marilah kita melihat pada
Bwee Hiang. Kemana sebenarnya si nona sudah pergi ? Ia
menyusul Lo In dengan sia-sia saja, sebab ginkangnya kalah
jauh-Hatinya merasa cemas tatkala tak dapat menyusul adik
kecilnya.
"Kemana adik kecil sudah pergi ?" tanya dalam hatinya.
Untuk meneruskan larinya menyusul Lo In, hatinya kuatir
nanti ia akan kesasar jalan. Pikirnya, ada lebih baik kembali
saja ke suyangtin. Disana ia menantikan baliknya Lo In. Ia
tidak kuatir adik kecilnya dapat bahaya karena ia percaya 100
persen adik kecilnya ada sangat cerdik dan tinggi
kepandaiannya.
Ia putar tubuhnya hendak kembali, tapi kemana ia harus
ambil jalan ?
Ia jadi kebingungan kehilangan jalan kembali. Maklumlah ia
dibesarkan dalam rumah mewah sebagai anak gadis seorang
kaya raya. Kecuali berkunjung kepada sanak Iamili, belum
pernah ia bertindak jauh dari rumahnya. Kini ia berada di
pegunungan yang sunyi, jalan sendirian di waktu malam
demikian, rasa takut telah mencekau hatinya, oleh karenanya,
ia lari sebisa-bisanya saja, tak tahu kemana tujuannya tapi
dalam hati diam-diam ia berdoa supaya kakinya membawa
kejalan yang betul kembali ke suyangtin.
"sayang aku tidak membawa pedang." katanya dalam hati.
"Kalau tidak, dapatlah pedang itu dipakai kawan dalam
kesunyian malam ini."
Baru saja ia mengingatkan akan pedangnya yang
ketinggalan di suyangtin, tiba-tiba terdengar suara bentakan,
"Berhenti "
Berbareng berlompatan keluar tiga orang gerombolan yang
mukanya bertopeng. Bwee Hiang kaget mendengar bentakan
itu, ditambah lagi dirinya dihadang oleh lima orang, semua
wajahnya pada memakai topeng hitam. Tiga orang tadi yang
melompat keluar dari gerombolan pun sudah tiba di situ, jadi
ada 5 orang yang mengurung si nona dalam ketakutan, Ia
tabahkan hatinya, menanya,
"Kalian ada urusan apa menghadang dalam perjalananku
?"
"Urusan sudah tentu ada, makanya tadi aku suruh kau
berhenti, hahaha " sahut orang yang membentak tadi-
Bwee Hiang tidak senang melihat orang berlaku kurang
ajar, sebelum ia menyemprot dengan kata-kata tajam, ia
didahului oleh salah satu gerombolan yang lain, katanya,
"Nona manis, kau dari mana dan mau kemana ? Malammalam
keluyuran, kukira kau adalah setan wanita yang
gentayangan dipegunungan....."
"Tutup bacotmu " bentak Bwee Hiang memotong bicara
orang.
"Aduh, galak betul ya " menimbrung yang lainnya.
"Galak sih memang galak, cuma..."
"Cuma apa ? Coba katakan, cuma apa ?"
"Cuma seorang wanita, apa perlunya galak-galak, hahaha "
"Wanita... dan wanita itu ada dua macam."
"Ah, kau ini ada-ada saja, dua macam bagaimana sih ?"
"Dua macam Ada wanita jelek- ada wanita.... ehm, yang ini
sih-— "
Demikian, 5 orang itu saling sahutan berkata membuat si
nona tak punya kesempatan untuk menyemprotkan
amarahnya- tapi, ketika orang mengatakan ada "5 macam
wanita", kegusarannya sudah luber dari takaran. Tanpa pakai
kata-kata lagi, kepalannya langsung berbicara hingga seorang
diantaranya yang paling ceriwis dan paling depan berdirinya
sudah kena bogem mentah si nona dan kontan terpelanting
beberapa tindak hingga Bwee Hiang ketawa ngikik melihat
orang merangkak-rangkak dengan susahnya hendak bangun
lagi-
"Hei, kau berani pukul kami punya Lak-ko? Aduh...."
Kembali orang yang berteriak itu jadi makanan kepalan si
nona. Ia terpelanting seperti temannya barusan.
"Hehehe, kau jagoan betul nona," kata seorang yang lain,
yang maju ke depan.
Kepadanya Bwee Hiang juga mau kasih hajaran.
Kepalannya melayang seperti tadi, tapi ia kecele karena orang
itu sudah dapat bekelit dengan bagus, sambil katanya,
"Lakko dan Jiko kau bisa sesukamu, tapi terhadap aku
Citko dari 'sip sam siao mo', hehe "
Disekitar pegunungan Pek-kut-nia memang sudah lama
ada muncul kawanan pemuda yang kerjanya mengganggu
ketentraman penduduk- Mereka berkeluyuran di waktu malam
untuk mencari mangsanya, sedang di waktu siang mereka
dijadikan malam untuk tidur seharian. Kawanan pemuda itu
umur yang paling tua antara 21 tahun dan paling muda 25
tahun, semuanya ada 13 orang yang mereka namakan 'Sip
sam siao mo' atau " 13 Iblis cilik', semuanya ada
berkepandaian silat.
Lucunya cara mereka merunutkan kepandaian masingmasing.
Biasanya orang runutkan yang atasan ada lebih
pandai dari yang bawahan, akan tetapi "Siao sam siao mo' lain
dari yang lain. Mereka pakai sistem ganjil ialah nomor 1 paling
tinggi kepandaiannya, lalu ke-3, ke-5 dan seterusnya.Jadi
yang nomor 3,4 dan lain-lainnya yang nomor genap
kepandaiannya lebih rendahan dari nomor ganjil. Entahlah,
apa maknanya mereka atur demikian. Akan tetapi yang terang,
perbuatan-perbuatan mereka ada menyusahkan pada
penduduk di sekitarnya, sudah masuk pengaduan pada yang
berwajib tentang adanya gangguan itu dan oleh yang berwajib
sudah dikirim beberapa orang untuk mengatasinya, tapi
hasilnya nihil. Bukan saja yang berwajib kewalahan, malah
ada beberapa orangnya yang tidak pulang kembali dan
mayatnya kedapatan busuk di tengah jalan, oleh karenanya,
yang berwajib belakangan ini 'belagak pilon' saja terhadap
gangguan dari 'sip sam siao mo', meskipun banyak pengaduan
yang diterimanya dari banyak penduduk.
Lain kelucuan adalah cara 'sip sam siao mo' dalam cara
saling memanggil, tidak ada perkataan 'te' (adik), hanya yang
dipakai 'ko' (kakak), umpanya si toako (kakak yang tua)
memanggil pada saudaranya yang ke-3, mestinya samte (adik
ketiga), ia memanggil samko (kakak ketiga).
Nama-nama aslinya sudah mereka hapus hingga orang
yang kenal dengan mereka juga memanggil sama seperti
mereka sebut dalam persaudaraannya.
Bwee Hiang melihat serangannya gagal, ia jadi heran juga.
Tapi ia tidak takut, malah ia ketawa ngikik ketika mendengar si
Citko perkenalkan dirinya dari 'sip sam sio mo' dengan
bangga.
"hei, kenapa kau tertawa ?" tanya Citko heran.
"Aku tertawakan kau barusan menyebut 'Sip sam siao mo'.
Kurang pantas nama ini bagi kalian, masa dipanggil iblis cilik.
Kalau iblis itu biasanya orang yang sudah tua atau kakekkakek."
"Hehehe, tahu juga si manis." kata Citko ketawa. Entah
bagaimana tampangnya saat itu sebab ia memakai topeng.
"Kalau pakai nama yang pantas, tak usah berabe pakai
topeng segala." berkata Bwee Hiang, sedikltpun ia tidak
unjukkan roman takut pada mereka. "Coba kau sebutkan
nama apa yang pantas untuk kami orang " kata Citko.
"oo, mudah saja. Cuma apa hadiahnya kalau aku kasih
nama yang bagus ?"
"Hadiahnya mudah saja, kami tidak akan perlakukan kasar
padamu."
"Maksudmu ?" Bwee Hiang menegas.
"Kalau kau kami tangkap, tak akan diperlakukan kasar
"sahut Citko.
Kawan-kawan citko semua pada bergembira mendengar
tanya jawab si gadis dan citko, terutama yang menarik
perhatian mereka adalah gayanya si gadis dan romannya yang
cantik.
"Bagus," kata Bwee Hiang.
"Sekarang aku namakan...."
"Lekas kau sebutkan nona manis," Citko makin 'empuk'
suaranya. Rupanya mengira si gadis ada 'sir' (naksir)
kepadanya, ia maju satu tindak mendekati.
"Sebagai gantinya 'Sip sam siao mo', kau pakai 'Sip sam
siao kay', hihihi......"
"Kurang ajar" bentak Citko, marah betul dia.
Kiranya si nona ganti nama 'Sip sam siao mo' menjadi 'Sip
sam siao kay' atau artinya '13 pengemis cilik' sehingga
membuat Citko iadi sangat marah.
Bwee Hiang sih benar-benar keterlaluan, masa nama yang
ganteng '13 iblis cilik' diganti jadi '13 tukang ngemis', tidak
heran kalau omongannya menerbitkan kemurkaan bukan saja
pada Citko, tapi juga pada lain-lain saudaranya.
"Kau menghina, berani kau menghina 'sip sam sio ma' ?
Hm Rasakan ini" kata Citko berbareng ia ulur tangannya
menjotos ke muka si nona.
Bwee Hiang tidak menangkis, hanya ia berkelit ke kiri
Tangan tangannya berbareng menyambar kepalan citko Tapi
Citko tahu adanya bahaya, cepat tarik pulang kepalannya.
Kaki kirinya digeser maju dengan menggunakan tipu 'Siao
khauw tek ko' (Anak monyet petik buah), dengan kurang ajar
tangan kirinya diulur hendak mencomot buah dada si nona.
Tapi sebelum tangan sampai pada sasaran, dengan manis
Bwee Hiang mengelak, berbareng tangan kanannya yang
dibeber telah telah memotong dari samping.
"Aiyoo " teriak citko karena lengan tangannya yang nakal
yang hendak gerayangi tetek orang kena dibacok oleh tangan
Bwee Hiang yang keras.
Citko berteriak sambil lompat mundur kesakitan, Ia merasa
lengannya seperti terkutung disabat golok- bukan main
sakitnya. Matanya melotot mengawasi sigadis yang
tersenyum-senyum mengejek kepadanya.
Mengetahui musuh-musuhnya hendak berlaku kurang ajar
atas dirinya, maka Bwee Hiang rubah taktik berkelahinya.
Ketika ia diserbu oleh anak-anak muda berandalan itu, ia
hanya menggunakan kegesitannya hingga maksud mereka
untuk menangkap si nona saban-saban kecele.Jangankan
orangnya ketangkap, sedang ujung baju si nona saja, mereka
tidak bisa sentuh.
Sekarang mereka baru tahu kalau si nona kepandaiannya
jauh lebih tinggi dari mereka. Tak dapat mereka melakukan
pengepungan begitu saja, perlu meminta bantuan senjatanya.
Bwee Hiang melihat gerakan mereka yang pada mencabut
senjata.
Bagaimana ? Apa ia juga perlu pakai senjata atau lawan
terus dengan tangan kosong ? sayang Lo In tidak ada
disampingnya. Kalau si bocah wajah hitam itu ada
disampingnya, tentu dapat menilai lawan punya kepandaian
tinggi rendahnya.
Untuk membikin dirinya lebih aman, memang perlu ia
pegang senjata. Dimana ia bisa dapatkan itu? Matanya melirik
pada Citko yang masih berdiri bagaikan patung. Dengan satu
lompatan gesit, sebelum Citko bergerak, tahu-tahu pedangnya
sudah pindah di tangan si nona, bukan main gusarnya dia-
"Jangan kasih lolos wanita liar itu Hayo terus tangkap dia,
hidup atau mati " Citko teriaki kawan-kawannya dengan sengit.
"Hihihi-.. mau tangkap nonamu? Tanya dulu pada kawan
saya " kata si nona.
Citko dan saudara-saudaranya kaget mendengar si nona
menyebutkan 'kawan saya', kalau begitu si nona ada
membawa kawan, citko membentak.
"Mana kawanmu ? Lekas suruh turun ke sini berkelahi"
"Ini kawanku" sahut si nona ketawa seraya acungkan
pedang yang dapat dirampas dari Citko.
Meluap amarahnya Citko dan kawan-kawannya.
"serbu serbu " mereka saling berteriak keras hingga
kesunyian sang malam untuk beberapa detik lenyap.
Kalau dengan tangan kosong Bwee Hiang tidak gentar,
apalagi sekarang ia menggunakan pedang. Terang hatinya
makin mantap.
setelah terdengar treng treng trong beberapa kali, lalu
disusul dengan jeritan mereka yang terluka, dalam tempo
sedikit saja si nona sudah merobohkan 6 orang diantara 8
orangnya 'Sip sam siao mo'. Restan 2 orang itu adalah Citko
dan jiko yang melihat gelagat tidak menguntungkan, sudah
lantas undurkan diri dari pengeroyokannya atas dirinya si
gadis jagoan.
Tampak Bwee Hiang berdiri tersenyum-senyum mengawasi
korban-korbannya yang rebah malang melintang. Kemudian ia
menghampiri Citko danjiko yang tak dapat melarikan diri
karena kakinya lemas.Jiko yang paling ketakutan dihampiri si
nona.
"Pedangmu boleh juga. Mari kasihkan sarungnya sekali."
kata Bwee Hiang pada Citko dengan roman sungguhsungguhcitko
tidak menyahut, ia hanya mendengus dan buang
muka-
Tiba-tiba ia rasakan ada berkelebat bayangan di dekatnya-
Ketika ia mengawasi lagi ke arah si gadis, tampak Bwee Hiang
sedang berseri-seri sambil memasukkan pedang ke dalam
sarungnya. Citko cepat raba pinggangnya, ternyata sarung
pedang sudah tidak ada lagi di tempatnya, sudah ada di sana,
di tangannya si nona.
sambil menggantung pedang di pinggangnya, Bwee Hiang
berkata,
" Nona mu belum tahu sampai dimana kejahatan kalian,
maka untuk sementara kau ampunkan dulu. Kapan nanti aku
dengar kejahatan kalian yang bukan-bukan, tentu akan aku
datangi sarang kalian dan mengubrak-abriknya "
Bwee Hiang tutup perkataannya dengan memutar tubuh
hendak meninggalkan tempat itu. Belum berapa jauh ia
bertindak, tiba-tiba ia merasakan ada angin ke arahnya, cepat
ia mendak dan tangan bajunya mengebas ke belakang.
"Aiyoo " terdengar teriak Citko dan tubuhnya roboh untuk
tak bangun lagi.
"Hihi, mau main senjata gelap ?" kata si nona dengan suara
tawar.
Citko diam-diam sangat gemas pada Bwee Hiang. Tidak
rela ia dikalahkan si nona. Maka, tatkala Bwee Hiang bertindak
belum jauh, ia sudah keluarkan senjata pelurunya sebesar
telur ayam. Ia memang pandai mainkan senjata rahasia
demikian, dapat melepaskan saling susul. Biasanya ia sangat
bangga dengan kepandaiannya itu. Tapi kali ini kena batunya.
Apa boleh buat ia ketemu Bwee Hiang murid jago cilik kita Lo
In. Tidak sembarangan dapat dibokong orang.
Demikian, ketika peluru datang dekat, di kebas balik oleh
tangan bajunya si nona sehingga tepat mengenakan
tenggorokannya Citko. Ini yang disebut senjata makan tuan,
sebab Citko roboh terus melayang jiwanya.
Jiko nampak saudaranya yang ke-7 roboh dihajar pelurunya
sendiri menjadi sangat sedih, berbareng ia juga takut terhadap
Bwee Hiang, Ketika ia hampiri si nona badannya menggigil,
malah saking takutnya ia roboh pingsan.
"Hm sebegini saja nyalinya orang sip sam siao mo ?" Bwee
Hiang mendengus ketika melihatjiko roboh pingsan sebelum
ditanya olehnya.
Ia kemudian mendekati yang lain-lainnya, yang pada rebah
terluka dan merintih-rintih- semua nyalinya pada ciut, malah
ada yang minta-minta ampun ketakutan di bunuh.
Bwee Hiang pikir, orang-orang itu semua hanya 'gentong
nasi' alias tidak berguna, maka ia lalu tinggal pergi.
Ia gunakan jalan cepat. Belum berapa lama ia ingat
sesuatu, lantas merandek dan kemudian putar tubuhnya balik
lagi ke tempat tadi. Ternyata disanan sudah tidak ada orangorangnya
'Sip sam siao mo'. Ia banting-banting kaki, menyesal
atas ketololannya. Kiranya ia balik lagi hendak menanyakan
jalan ke jurusan Suyangtin, harus ambil jalanan yang sebelah
mana. Dengan lesu ia bertindak pergi.
Di pinggir-pinggir jalanan banyak gerombolan rumput
alang-alang dan pohon-pohon lebat, sangatlah menyeramkan
di waktu malam. Maka iajalan dengan waspada.
Tiba-tiba kupingnya mendengar keresekan, seperti orang
jalan diantara gerombolan alang-alang, Ia jalan terus belagak
pilon.
"Nona manis, mau kemana ?" tiba-tiba orang bertanya.
Berbareng Bwee Hiang diserang dari dua jurusan kiri dan
kanan- oleh dua orang yang juga mengenakan topeng.
Mereka sangat gesit. Tapi Bwee Hiang lebih gesit lagi
sebab serangan mereka tanpa hasil. Si nona sudah enjot
tubuhnya melayang ke depan kira-kira dua tombak, di mana ia
tancap kaki seraya melolos pedangnya.
Dua orang tadi ternyata punya keberanian untuk
menghadapi si gadis. Ternyata mereka bukan termasuk
rombongan citko tadi yang sudah dikasih hajaran dan
terampun-ampun. Ketika mereka datang dekat, Bwee Hiang
membentak,
"Manusia hina, kalian mau bikin susah nenekmu "
"Hahaha " satu diantaranya tertawa terbahak-bahak,
suaranya macam gembreng pecah, tidak enak di dengar,
"samko dan Kiuko sudah sampai, alamat jelek untukmu "
samko dan Kiuko ialah si nomor 3 dan nomor 9 yang
terkenal paling tinggi kepandaian silatnya maupun ilmu entengi
tubuhnya diantara ke 13 iblis cilik itu.
Kalau mereka berkata dengan temberang barusan,
memang wajar sebab banyak korbannya yang ketemu 3 orang
itu belum pernah dapat meloloskan dirinya-
"Hehe, dari 'Sip sam siao mo' lagi ? " si gadis menjengak-
"Tidak salah, nona manis-" sahut Kiuko, seraya cengar
cengir tertawa- Entah bagaimana roman mukanya pada saat
itu lantaran ketutupan topeng. "Kiuko, jangan banyak cakap.
Bekuk saja buat dihadapkan pada toako " kata samko.
"Enak saja kau buka mulut, memangnya nonamu anak
ayam mudah dibekuk ?" si nona berkata sambil mendengus.
"Hahaha " tertawa samko, suaranya lebih keras dari Kiuko
tadi
-"Boleh maju sekaligus dua-duanya " tantang Bwee Hiang.
"Wah, jagoan juga ya " mengejek samko
"Memang jagoan, kalau tidak, mana bisa Citko roboh
ditangannya " kata Kiuko.
"citko kalian sudah menunggu kalian dalam perjalanan.
Lekas maju, supaya bisa sama-sama menghadap Giam-lo-ong
Mari lekas "Bwee Hiang menggapai dengan pedangnya.
samko dan Kiuko marah ditantang si nona dengan jumawa.
si nomor 9 yang tidak sabaran, lantas menyerang dengan
sepasang golok pendeknya.
Trang Trang terdengar beradunya senjata. Bwee Hiang
dengan pedangnya menangkis ke kanan dan ke kiri dari
serangan goloknya Kiuko. Tangkisan disertai Iwekang hingga
Kiuko tergetar dan lompat mundur.
Ia merasakan sakit kedua belah tangannya, hampir-hampir
dua goloknya terlepas dari cekalannya.
"samko, maju " teriaknya seraya kembali menyerang.
Benar-benar samko tidak tinggal diam. Ia maju membantui
kawannya dengan senjata ruyung hingga Bwee Hiang
dikeroyok berdua.
Pertempuran berjalan seru. Dengan pedangnya si nona
kasih perlawanan tangkas dan lincah, tidak mengasih
kesempatan untuk dua lawannya menyerang dengan leluasa.
"Jangan kasih lolos budak liar ini, Kiuko " kata samko.
"Tentu saja. Lolos berarti kita tak dapat muka dari toako"
sahutnya.
"Budak ini wajahnya memang pantas buat jadi istri toako
kita "
"Ah, samko lihai juga matanya ya."
"Toako tentu kegirangan sebab gantinya yang mati, lebih
cantik,"
"Akur saja. Tentu kita dapat muka dan dapat hadiah dari
toako"
Bwee Hiang diam-diam menjadi gusar mendengar ucap
kata dua orang itu. Ia mengerti dirinya mau ditangkap
hidup,hidup untuk dijadikan istri ketuanya yang telah kematian
istrinya. Ketika samko hendak membuka mulut lagi, Bwee
Hiang mendahului berkata,
"Akan kuselot mulut bocormu Lihat.... "
Berbareng Bwee Hiang gunakan jurus ilmu pedang
kesayangannya ialah 'Bwee hiang boan wan' atau "Harumnya
bunga bwee memenuhi taman". Dalam tempo pendek saja
dua lawannya telah terdesak mundur berulang-ulang.
"Angin keras, burung hong terbang " tiba-tiba samko
berkata pada kawannya.
Itu adalah kata-kata rahasia dari 'Sip sam siao mo' yang
berarti
"Lawan alot, lekas lari1". Kode yang umum diantara
kawanan pemuda bergajul itu. Maka ketika mendengar itu
Kiuko sudah lantas siap-siap menunggu kesempatan untuk
angkat kaki-
"Nona manis, kami tidak ada tempo untuk melayani kau"
berkata samko, berbareng ia melompat ke samping kanan dan
Kiuko ke samping kiri lantas mereka lari dengan berpencar.
"Hm Mau lari?" bentak Bwee Hiang. Tapi ia kebingungan
karena harus menguber lawan yang mana diantaranya,
mereka larinya terpencarjustru
Bwee Hiang dalam sangsi, dua lawan yang ilmu
entengi tubuhnya tidak rendah, sudah menghilang di telah
kegelapan.
setelah berdiri termangu-mangu sejenak, Bwee Hiang
lanjutkan perjalanannya.
Lari belum berapa lama, tiba-tiba ia merandek mendengar
ada orang memanggil,
"Nona manis, nona manis, aku ada disini"
Kapan Bwee Hiang menoleh ke arah orang yang
memanggil, kiranya Kiuko yang sedang berdiri kira-kira sejarak
tiga-empat tombak jauhnya. Bwee Hiang tidak mau kasih hati,
ia cepat menguber tapi Kiuko sudah lari siang-siang dari
tempat berdirinya.
Entah berapa lama Bwee Hiang menguber masuk keluar
diantara pepohonan, Kiuko masih belum kecandakjuga.
Akhirnya ia hentikan larinya dan jalan perlahan-lahan dengan
pengharapan ada orang yang datang pula mengganggu tapi
ternyata tidak ada apa-apa lagi sampai cuaca mulai terang.
Entah dimana sekarang dirinya berada, pikirnya paling
perlu ia mencari rumah orang atau kedai makanan untuk
menanyakan jalan sembari mengisi perutnya yang sudah
berkeruyukan kepingin diisi-
"Ha, disana ada rumah-" ia berkata dalam hatinya tatkala
melihat dari kejauhan ada satu rumah, entah rumah siapa itu-
Bwee Hiang cepati jalannya, di lain detik ia sudah ada
disana. Kiranya disitu terdapat 3-4 rumah, satu sama lain
jaraknya agak berjauhan.
Di waktu pagi-pagi begitu, rupanya penghuni-penghuni
rumah malas bangun. Makanya belum ada orang satu pun
yang kelihatan di pekarangan rumah.
Bwee Hiang dengan perlahan menghampiri sebuah rumah
diantaranya. Ketika ia hendak mengetuk pintu, tiba-tiba ia
mendengar percakapan di sebelah dalam, Ia tidak jadi
mengetuk pintu, hanya pasang kuping untuk mendengar apa
yang dipercakapkan. Kiranya yang bercakap-cakap itu adalah
suami istri.
"Kita punya dua anak lelaki, bukannya menjadi kebanggaan
orang tua, malah belakangan ini kelakuannya menjengkelkan
saja." kata sang suami seraya menghela napas. Lalu
melanjutkan,
"sia-sia saja aku mendidik mereka dalam ilmu silat sebab
mereka gunakan pada jalan yang salah- Bukannya aku
mendoakan, tapi satu waktu mereka akan menemui bencana
atas perbuatannya itu-"
"Kau ini orang tua apa-" terdengar istrinya memotong.
"Bukannya mendoakan anak-anak hidup selamat senang,
ini malah sebaliknya, mendoakan anak-anak mendapat
bencana. Macam apa kau sebagai orang tua ?"
"Aku sudah katakan, bukannya aku ingin menyumpahnya,
hanya satu waktu mereka pasti akan menemukan bencana
karena perbuatannya yang tidak benar." bantah sang suami,
sang istri terdiam mendengar perkataan suaminya.
"Bukannya membantu orang tua berburu binatang sebagai
nafkahnya, malah masuk perkumpulan. Kalau perkumpulan
yang tujuannya benar, tidak apa. Ini malah masuk
perkumpulan yang tidak benar. Apa nama perkumpulan itu,
kau tahu ?" kembali terdengar lelaki bicara.
"Tentu saja aku tahu." sahut istrinya.
"Apa ?" menanya sang suami, suaranya mendengus.
"sudahlah, kita jangan bicarakan itu"
"Kenapa tidak membicarakan itu, bukankah ini menyangkut
nasib anak-anak kita ?"
"ya, habis kau mau apa ?"
"Aku mau kau turun tangan untuk menyelamatkan anakanak
kita supaya mereka undurkan diri dari perkumpulan yang
dinamai sip sam siao......."
"Hussttt jangan sebut-sebut itu" memotong istrinya.
Bwee Hiang disebelah luar dapat mendengar dengan tegas
percakapan mereka. Mendengar pembicaraan itu, Bwee Hiang
paham kalau tuan dan nyonya rumah bukan orang jahat,
hanya anak-anaknya yang brengsek ikut-ikutan 'Sip sam siao
mo-'
si nona kembali urung mengetuk pintu, ketika mendengar
yang lelaki bicara pula,
"Aku sudah tua, tambahan sakitan saja. Kalau terus
menerus si Co dan si Kian tidak merubah perbuatannya dan
jadi orang benar, bisa-bisa aku mati lantarn kesal, kau tahu ?"
Istrinya tidak kedengaran memberikan sahutannya.
"Coba kau pikir," kata sang suami lagi.
"sampai begini begini hari kemarin sore belum juga pulang,
apa-apa anak-anak kita itu ? Ini gara-gara temannya si Kim
dan si Goan yang ajak-ajak mereka masuk jadi anggota dari
sip sam siao....."
"Hussttt " memotong istrinya.
" orang kata jangan sebut-sebut itu, masih juga mau
diulangi. Apa kau tua bangka ini sudah bosan hidup ?"
"Aku sudah tua, paling-paling juga aku dibunuh- Takut apa "
"Ngaco Kalau kau mati dibunuh, kau kira aku bakal enakenakan
tinggal hidup ?"
Diam-diam Bwee Hiang geli dalam hatinya- Pikirnya, setia
juga perempuan itu kepada suaminya. Di dorong oleh ingin
tahu, macam bagaimana suami istri itu, maka Bwee Hiang
sudah mengetuk pintu rumah.
"Nah, mereka baru pulang " kata sang suami.
"Biar kutegur mereka " sahut istrinya.
sebntar lagi, kapan pintu dibuka, nyonya rumah jadi
keheranan karena yang berdiri di depan pintu bukan anakanaknya,
hanya seorang gadis jelita dengan menyoreng
pedang di pinggangnya.
"Nona, ada urusan apa ?" tanyanya setelah kagetnya
hilangan.
Bwee Hiang tersenyum manis, Ia menjawab,
"Aku kesasar semalaman. Kalau bibi tidak keberatan, ingin
aku menumpang tinggal sebentaran untuk menghilangkan
letih. Nanti akan kuganti ongkos sekedarnya untuk kebaikan
bibi."
"oh, kau kesasar ? Mari, mari masuk-" mengundang nyonya
rumah
Bwee Hiang bertindak masuk- Di dalam ia dapatkan
seorang lelaki dari usia pertengahan, romannya pucat dan
agak lesu. Rupanya dia ini tuan rumah, pikir si gadisorang
laki-laki itu bangkit dari duduknya ketika melihat
Bwee Hiang bertindak masuk dengan membekal pedang, Ia
menyambut dengan hormat, sedang si gadis menjura
kepadanya sambil berkata,
"Mohon paman memaafkanku, pagi hari begini datang
mengganggu ketentramanmu. Aku semalaman kesasar jalan,
maka aku minta kepada bibi tadi menumpang tinggal
sebentara disini untuk menghilangkan lelah-"
"oo, boleh- Kenapa mesti bilang mengganggu ketentraman
segala." sahutnya ramah-
"Mari duduk disini-" mengundang nyonya rumah-
Bwee Hiang tidak pakai malu-malu, ia menghampiri bangku
dan duduk diatasnya-
Tuan dan nyonya rumah temani sigadis yang tengah betuli
ikat rambut kepalanya yang aduk-adukan. Mereka mengawasi
parasnya Bwee Hiang yang cantik,
setelah kesengsem dengan kecantikan si nona, nyonya
rumah melirik pada suaminya yang ketawa nyengir ke arahnya
ketika istrinya mengedip kepadanya dan acungkan jempolnya.
sang suami rupanya mengerti akan alam pikiran sang istri
yang menghendaki seorang anak gadis yang demikian
cantiknya.
"oh " tiba-tiba nyonya rumah berkata, seperti baru sadar.
Berbareng ia sudah bangkit dari duduknya, pergi ke belakang.
Tidak lama ia sudah muncul lagi dengan barang hidangan
sekedarnya.
"Wah, aku jadi membikin repot bibi saja." kata Bwee Hiang
ketika nyonya rumah meletakkan barang hidangan di atas
meja.
"Ah, tidak sama sekali." sahutnya.
"Kau semalaman kesasar di pegunungan, sudah tentu
sangat kelaparan bukan ?"
Bwee Hiang anggukkan kepala melihat nyonya rumah
tersenyum ke arahnya.
Air teh hangat segera dituan ke dalam cangkir masingmasing
oleh nyonya rumah, sambil berkata,
"Mari nona, silahkan minum dan coba kuenya yang ada."
Bwe Hiang girang hatinya menemui nyonya rumah
demikian ramah tamah-
"Mari paman, kita mulai." mengundang Bwee Hiang.
Dengan tidak malu-malu lagi ia angkat cangkir teh, dihirup
isinya sampai habis. Hawa hangat terasa dalam badannya
setelah minum air teh, lalu ia menjumput kue dan disikatnya
dengan bernapsu.
Dari tanya jawab yang berlangsung, Bwee Hiang dapat
tahu kalau tuan rumah itu she Phang, lengkapnya Phang Leng
cu. Tinggal dalam daerah pegunungan pek-kut-nia sudahtahun
bersama istri dan dua anak lelakinya, pekerjaannya
berburu binatang yang hasilnya dijual untuk menutup ongkos
sehari-hari
"Dua anak lelaki itu kembar." menerangkan Leng cu.
"Mereka biasa membantu aku berburu. Tapi belakangan ini
sangat malas dan malah ma....."
sang istri deliki mata ke arahnya, hingga ia tidak
meneruskan omongannya-Leng cu menundukkan kepala
seraya menghela napas-
Bwee Hiang lihai matanya, dapat melihat kode dari nyonya
rumah tadi yang melarang sang suami meneruskan bicaranyasi
gadis mengerti karena sudah mendengar percakapan
mereka, yang dimaksud Leng cu adalah 'masuk sip sam siao
mo'.
Si nona menghibur, katanya,
"Anak-anak belum dewasa, memang suka menjengkelkan
orang tua. Tapi paman, jangan lekas putus asa. Kalau mereka
sudah cukup dewasa dan bisa menggunakan pikirannya,
sudah tentu tabiatnya akan berubah."
"Kau bicara betul, nona. orang tua ini sebagai ayahnya,
tidak punya pikiran ke situ. Maunya uring-uringan saja dan
menyesalkan si Co dan si Kian tidak berbakti, tanpa memberi
nasehat kepada anak-anaknya." kata nyonya rumah-
"Nona rupanya pandai ilmu silat, maka pedangnya tidak
ketinggalan." kata Leng cu, menyimpangkan pembicaraan
barusan.
"Ah, aku hanya belajar silat kampungan saja." sahut si
gadis merendah
"Aku bawa-bawa pedang hanya sebagai teman saja,
menghilangkan kesepian dijalanan."
"Sebenarnya nona hendak kemana ?" tanya nyonya Leng
cu.
Bwee Hiang pikir, tidak perlu ia memutar sewajarnya, maka
ia menjawab,
"Aku keluar bersama teman, tapi dijalanan aku berpisahan
untuk suatu urusan. Mungkin temanku itu sudah balik ke
suyangtin. Aku hendak pulang ke sana tapi tak menemui
jalanan, malah kesasar dan sampai disini-"
Leng cu manggut-manggut. "Aku tinggal disini sudah lama,
tapi belum pernah pergi sana sini. Maka tidak tahu dimana
letaknya suyangtin." berkata ia kepada Bwee Hiang.
"Kalau kutahu, tentu aku bisa unjukkan dimana letaknya,
meskipun aku tidak mengantar sendiri nona ke sana."
Bwee Hiang tadinya hendak menanyakan dimana letaknya
suyangtin, tapi tidak jadi karena sekarang sudah mendengar
tuan rumah tidak tahu dimana letaknya dusun dari Lima
Harimau itu. Hatinya menjadi tidak tentram, kuatir tidak
berjumpa pula dengan Kim Wan Thauto dan adik kecilnya Lo
In.
Tengah ia termenung-menung memikirkan nasibnya, tibatiba
pintu digedor secara kasar dari sebelah luar. Tampak
nyonya rumah tergopoh-gopoh lari ke pintu dan membukanya.
Dua anak muda kelihatannya berjalan masuk- Mukanya
sama, perawakannya juga sama. hanya yang jalan
belakangan ada sedikit tinggian. Tidak jelek wajah dua
pemuda itu, cuma sikapnya kasar terhadap orang tua.
Mereka anggap sang ibu yang membukai pintu sebagai
pelayannya saja. Malah mereka menyahut kasar sekali ketika
ditegur ibunya, kenapa mereka baru pulang sejak pergi
kemarin sore.
"Ibu untuk apa banyak tanya ?" bentak Teng Co-
"Apa ibumu tidak boleh menanya ?" balik tanya sang ibu-
"Pergi dan pulang kami berdua tak usah ditanya, pekerjaan
ibu hanyalah membukai pintu, selesai " kata Teng Kian, sang
adik,
"sstt Jangan omong keras-keras- Di dalam ada tamu-" kata
sang ibu.
"Tamu siapa ? Pakai terima tamu segala " menggerutu
Teng Co, seaya hendak berjalan masuk tetapi dicegah oleh
adiknya Teng Kian sambil berkata, "Kita intip saja siapa tamu
itu"
Mereka mengintip di balik tirai yang memisahkan dua
ruangan, depan dan tengah- Bwee Hiang di ruangan tengah
sedang bercakap-cakap dengan tuan rumah-
Kapan mereka lihat siapa yang berada di dalam, hampir
berbareng mereka mundur setindak dan saling pandang
hingga sang ibu menjadi heran.
"Kalian kenapa ?" tanya ibunya, tidak mengerti akan
kelakuan dua anaknya.
"sstt " Teng co tempelkan jari di mulutnya, sekarang ia yang
memberi tanda pada sang ibu agar jangan omong keras-keras.
"Memangnya kenapa ?" tanya lagi sang ibu perlahan.
"Nona itu adalah nona yang semalam menghajar kami
orang dari sip sam siao mo-" jawab Teng co perlahan, hampir
berbisik,
"Aku kuatir dikenali dia, bisa runyam "
sang ibu terkejut, Ia bertanya,
"Apa kalian berdua juga turut mengeroyok ?" Teng Co dan
Teng Kian manggut berbareng.
" Celaka " seru sang ibu perlahan.
"Dengan berapa orang kalian mengeroyok?"
"Delapan orang, malah Citko binasa ditangannya " sahut
Teng Kian.
Nyonya rumah menggigil badannya, Ia ketakutan, dalam
hatinya mengira kedatangan si nona tentu mencari dua
anaknya. Mungkin akan dibinasakan
"Ai, kenapa kalian ikut-ikutan ?" menyesalkan si nyonya.
"Bagaimana tidak ikut-ikutan kalau perintah toako "jawab
Teng co-
Nyonya rumah tak sempat bicara karena matanya berkacakaca.
Ia sedih akan kelakuan anak-anaknya. Pikirnya, apakah
kedatangan Bwee Hiang seperti apa yang dimaksudkan oleh
suaminya tadi, bahwa anak-anaknya bakal menemui bencana
?
"twako, mari kita keluar lagi " ajak Teng Co pada saudara
mudanya.
"Nanti dulu." sahut Teng Kian.
"semalam kita mengeroyok dia pakai topeng, kalau kita
ketemu dia sekarang, mana dapat dikenali ?"
"Ah, aku takut dikenali." kata Teng Co, jeri ia untuk masuk
ke dalam.
"Tidak. coba mari ikut aku " mengajak Teng Kian, yang
ternyata ada jauh lebih tabah dari sang kakak- Karena begitu
ia habis mengucapkan kata-katanya lantas membuka tirai dan
berjalan masuk-
Teng Co kepaksa mengikuti di belakangnya.
Di depan sang ayah, dua anak itu memberi hormat dan
menanyakan kesehatannya hingga Leng cu menjadi melengak
keheranan sebab tidak biasanya dua anak itu berlaku
demikian. Diam-diam ia jadi girang, dua anaknya itu bisa unjuk
kelakuan sopan di depannya sang tetamu, Ia berkata pada
dua anaknya,
"Heeiii, kalian memberi hormat pada cici ini yang kebetulan
mampir dalam rumah kita."
Teng Kian dan Teng Co menurut, yang mana dibalas oleh
si nona dengan semestinya.
Bwee Hiang sudah termasuk gadis Kangouw, tidak kikukkikuk
lagi menghadapi dua pemuda itu, malah ia belaga pilon
atau seakan-akan ia baru ketemu dengan mereka.
Hanya sebentaran Teng Co dan Teng Kian pasang omong,
la lalu permisi meninggalkan tamunya dengan alasan ada
urusan yang harus dibereskan. Mereka menganggap si nona
sudah kena dikibuli, tidak mengenali mereka.
"Nah, aku bilang juga apa ?" kata Teng Kian ketika mereka
sudah berada berduaan dalam kamarnya.
"Tentu dia tidak mengenali kita, sebab kita mengenakan
topeng semalam."
"Coba kita ngeloyor keluar, tentu akan menerbitkan
kecurigaan."
"Kau benar, bisa memikir panjang, Pweko (kakak ke-8?)-"
kata Teng Co-
"siko (kakak ke-4) suka gampang mundur saja sih-
Selamanya kita tak dapat mengerjakan urusan besar dan
mendapat pujian dari toako" kata Pweko alias Teng Kian
dengan bangga barusan dipuji sang engko
"Kau bilang urusan besar, apa maksudmu dengan kata-kata
itu ?" tanya siko
"Haha, kalau kita dapat mempersembahkan dia untuk
toako, bukan itu suatu perbuatan yang besar yang kita sudah
lakukan?"
"Dia begitu lihai, mana bisa kita berdua dapat
menggempurnya ?"
"ah, kau benar-benar sangat tolol. Kalau kita terangterangan
berkelahi dengannya, sama saja dua ketimun
ketemu duren. Tentu tidak bakal menang Tapi kita haru
menggunakan akal untuk menangkapnya, hahaha "
siko menjadi heran melihat tingkah laku adiknya, Ia lalu
menanya akal apa yang akan diandalkan untuk menangkap
Bwee Hiang.
"Mari aku kasih tahu." sahut si adik denagn bangga, siko
mendekati adiknya yang lalu berbisik di telinganya.
"Ah, kau benar-benar jempol " memuji siko seraya
acungkan jempolnya. setelah berunding, kakak beradik itu
lantas masuk tidur.
Hulah kerjanya anggota 'Sip sam siao mo', siang dipakai
malam, malam dipakai siang, jadi terbalik menggunakan
tempo seperti dengan orang-orang biasa.
Di lain ruangan, tampak Bwee Hiang enak-enak saja
ngobrol dengan Leng cu dan nyonya rumah- Kalau sang suami
kelihatan gembira kongkouw dalam hal ilmu silat dengan Bwee
Hiang, adalah sang istri kelihatan murung saja-
Leng cu mengira istrinya mendongkol pada dua anaknya,
maka ia tidak menanyakan sebab apa kemurungannya itu.
Akan tetapi Bwee Hiang diam-diam sudah tahu kekesalan
nyonya rumah yang merasa kuatir akan keselamatan dua
putranya, si gadis yang lihai pendengarannya sudah dapat
menangkap pembicaraan mereka dibalik tirai tadi-
Mula-mula ia lihat nyonya rumah sangat gembira melayani
ia bicara, itu sebelum anak-anaknya pulang. Akan tetapi
sesudah anak-anaknya ada di rumah, kelihatannya nyonya
rumah berubah sikapnya seperti sedang berduka. Tapi, untuk
itu, si nona belaga pilon.
"Aku masih merasa letih." tiba-tiba Bwee Hiang berkata.
"Bagaimana kalau aku malam ini menginap semalam disini-
Apa kalian tidak keberatan ?"
Nyonya rumah diam, tapi Leng cu lantas menjawab,
"Tidak, tidak, malah kita senang sekali kalau nona tidak
mencela rumah kami yang buruk ini-"
Nyonya rumah melengak- ia melengak terkejut- Pikirnya, si
nona menginap dalam rumahnya, apakah hendak melakukan
pembunuhan atas mereka serumah diwaktu malam? oh,
sungguh ngeri sekali kalau sampai ada kejadian demikian.
Ia sebisa-bisanya tindak perasaan takutnya, tampak
mulutnya tersenyum ramah dipaksakan hingga Bwee Hiang
dlam-diam merasa geli dalam hatinya.
"Nah, aku sudah makan cukup hidangan kalian. Aku akan
pergi dulu dan sebentar sore aku balik untuk menginap disini-"
kataBwee Hiang tiba-tiba permisi berlalu.
"Kau hendak kemana, nona ?" tanya Leng cu.
"Aku hendak cari tahu dimana letaknya dusun suyangtin."
sahut si nona.
"Baiklah kalau begitu." kata Leng cu.
"Beberapa lie dari sini, kau akan ketemu beberapa rumah
yang juga penghuni-penghuninya adalah memburu binatang
seperti aku. Kau tanyakan saja disana, barangkali saja mereka
tahu."
"Terima kasih, paman. Nah, bibi, saya permisi dulu " kata
Bwee Hiang seraya bangkit dari duduknya dan bertindak
keluar dari rumah diantar oleh nyonya rumah dan tuan rumah.
setelah si nona pergi dan tidak kelihatan bayangannya lagi,
Leng cu menanya pada istrinya,
"Aku lihat kau hilang kegembiraan terhadap si nona.
Apakah kau tidak senang kepadanya ? Tidak biasanya kulihat
kau perlakukan tamu macam begini-"
"Aku bukannya tidak senang." jawab sang istri.
"Dia itu adalah algojo yang akan membasmi kita serumah,
kau tahu ?"
"Hah " Leng cu terkejut bukan main. "siapa bilang ? Dari
mana kau tahu ?"
sang istri lalu cerita apa yang ia dengar dari dua anaknya,
bahwa si nona semalam sudah menghajar kawanan 'Sip sam
siao mo' kocar kacir.
"Aku menduga kedatangannya si nona itu adalah alamat
bencana bagi kita sekeluarga." kata sang istri, tubuhnya
menggigil.
"Bagaimana baiknya sih, uh, uh, uh-..." ia menangis sedih
dan ketakutan.
Jangan ketakutan dulu." membujuk sang suami.
"Apa sudah jelas niatnya itu ? Memangnya dia sudah
mengenali bahwa anak-anak kita anggota kumpulan brengsek
itu ? Belum pasti duduknya soal sudah menangis ketakutan "
(Bersambung)
Jilid 10
Nyonya rumah rupanya anggap kata-kata suaminya
beralasan, maka perlahan-lahan nangisnya berhenti. Lalu
berkata,
"Biar pun begitu, kita harus sedia payung sebelum hujan.
Kita harus cari akal supaya kita lolos dari bencana "
"Dasar anak-anak kita yang membawa sial, maka kita jadi
menghadapi kesulitan ini."
"Sekarang sudah terjadi begini, kau masih mau sesalkan
anak-anak kita ?" Leng Cu membungkam.
"Memangnya kau sudah tidak punya otak untuk mencari
pikiran baik ?" kata nyonya rumah ketika melihat suaminya
membisu seribu bahasa.
"He hehe," ketawa Leng Cu.
"Sekarang begini saja. Sebentar sore si nona akan balik
untuk menginap di rumah kita. Nah, saat aku benah-benahku
dan apa yang perlu supaya datang sudah beres tempat tidur
untuknya. Kita nanti lihat, bagaimana sikapnya terhadap kita.
Kalau melihat gelagat baik, tidak apa. Tapi kalau sebaliknya,
tidak ada salahnya kalau kita berdua berlutut minta ampun
kepadanya."
Nyonya rumah tidak berkata-kata lagi. Ia sudah lantas
ngeloyor tinggalkan suaminya untuk menyiapkan kamar bagi si
nona.
Bwee Hiang keluar hari itu telah mencari keterangan halnya
Sip sam siao mo. Dari keterangan yang dikumpul, ia dapat
kenyataan bahwa 'Sip sam siao mo' sangat sewenang-wenang
dalam sepak terjangnya. Bukan sedikit yang dibikin susah
olehnya. Malah ada beberapa penduduk yang punya gadisgadis
cantik parasnya sudah diculik. Kabar halnya gadis-aadis
diculik yang membuat si nona amat gusar dan menimbulkan
keinginan untuk membasmi 'Sip sam siao mo', guna
membebaskan penduduk dari gangguannya.
Ketika cuaca mulai remang-remang gelap, tampak Bwee
Hiang pulang ke rumahnya Leng Cu, disambut Leng Cu suami
istri dengan ramah- Mereka tidak nampakkan perubahan apaapa
wajahnya, malah nyonya Leng Cu yang Bwee Hiang lihat
paling belakangan ada murung, kini ia lihat dalam gembira.
senang Bwee Hiang ketika nampak ia sudah disediakan
tempat yang serba bersih untuk melewatkan sang malam
dalam rumahnya Leng Cu.
"Bagaimana, apa sudah dapat keterangan dimana letaknya
suyangtin ?" tanya Lengcu pada Bwee Hiang sambil ketawa.
"Menyesal, tidak seorang pun yang tahu letaknya." sahut si
nona.
sebentar lagi Bwee Hiang dijamu makan sekedarnya, tapi si
nona menolak- Katanya ia sudah kenyang makan diluaran.
Tuan dan nyonya rumah tidak memaksa, mereka lantas
makan berduaan saja.
Bwee Hiang heran melihat mereka makan berduaan saja,
kemana perginya dua anaknya ? Maka ia lalu menanya,
"Bibi, kemana anak-anakmu ? Kenapa tidak diajak makan
bersama ?"
"oo, mereka ada urusun diluaran. Mungkin besok pagi baru
kembali. Mereka sangat repot dengan pekerjaannya yang baru
rupanya." sahut nyonya rumah-
Bwee Hiang bersenyum- Ia tidak menanyakan lebih jauh,
hanya ia berkata.
"Aku sangat lelah- Maafkan aku, aku ingin masuk tidur lebih
dahulu "
Bwee Hiang berkata sambil kakinya melangkah ke sebuah
kamar yang hanya teraling oleh kain panjang yang merupakan
tirai.
sang malam pun sudah bertambah larut hingga kedengaran
suara ngeros Bwee Hiang yang kecapaian rupanya. Tuan dan
nyonya rumah pun sudah pada masuk setelah mereka
bercakap-cakap sebentaran.
Dalam kesunyian sang malam, tiba-tiba tirai yang
menghalangi ruangan Bwee Hiang tidur pelan-pelan telah
tersingkap. Di lain detik dua orang sudah berdiri dekat
pembaringan memandang pada si nona yang tidur telentang.
si nona tidur dengan tidak tukar pakaian, pedangnya juga
tetap tersoren di pinggangnya. Melihat itu, kedua orang itu
menjadi seram juga. sebaliknya, melihat si nona tidur pulas
dengan mulut menyungging senyuman dan wajahnya yang
cantik menarik, membuat jantungnya mereka berdebaran.
"siko, sayang amat gadis begini cantik dikorbankan untuk
toako kita yang sangat kasar."
kedengaran seorang berbisik, tiada lain adalah suara
Pweko-siko tidak menyahut, ia hanya angguk-anggukan
kepalanya-
Matanya terus mengawasi parasnya Bwee Hiang.
"ya, apa mau dikata, kita sudah janjikan. Masa kita tarik
pulang janji kita ?" sahut siko kemudian.
"sekarang bagaimana kita bawa dia kesana ?" tanya pweko
"Kita ringkus saja. Dia toh sudah tidak berdaya kena
pengaruh asap hio pulas kita yang mujarab. Paling sedikit dia
akan kepulesan satu jam lamanya. Kita tentu sudah sampai
disana. Apalagi toako janjikan mau kirim kereta untuk
menyambut kita dalam perjalanan."
"Begitupun bagus." sahut Pweko
"Mari kita mulai kerja "
Pweko berkata sambil ulur tangannya memengang lengan
si nona yang halus untuk dikasih duduk dan ditelikung kedua
tangannya.
"Nanti dulu Pweko " kata siko ketika melihat si nona sudah
dikasih duduk dan mulai hendak ditelikung kedua tangannya,
sambil berkata siko mendekati si nona, memandang paras
orang dari dekat. Bau harum telah menusuk hidungnya hingga
napsu birahi dari anak muda yang sedang galaknya tak
tertahankan, mukanya nyelonong dengan tiba-tiba hendak
mencium bibir yang merah semringah itu
'cuh ' tiba-tiba ludah kental melesat dari mulut Bwee Hiang
mengarah mata kirinya si bangor hingga siko berteriak
mengaduh dan tangannya menekap matanya yang kesakitan.
Belum sempat mulutnya dibuka untuk memaki, kembali suara
'cuh' terdengar lagi dan mata kanannya kini yang kesakitan
dan siko menjadi buta oleh karenanya.
Kedua tangannya serabutan untuk mencari pegangan,
sebelum pegangan dapat dipegang, ia merasa dadanya sesak
kena dihantam sepatunya Bwee Hiang. Ia roboh terpelanting
dan tidak bangun lagi.
Kemana Pweko, kok diam saja ? Kiranya ia sudah terlebih
dulu roboh kena ditotok jalan darahnya bagian dada (Ubunhiat).
Pweko roboh tak berdaya masih mending, tidak cacat,
sedang kakaknya (siko) roboh dengan kedua matanya buta
kena diludahi si nona yang disemprotkan dengan Iwekang-
Cepat si nona bangkit ketika melihat dua orang sudah
menjadi korban totokannya. Baru ia melangkah melewati tirai,
ia dihadang oleh dua orang yang tengah berlutut hingga ia
menjadi terkejut.
Kiranya yang berlutut itu tiada lain adalah tuan dan nyonya
rumah-
Bwee Hiang lihat nyonya rumah bercucuran air matanya,
sedangkan suaminya matanya berkaca-kaca ketika
memandang ke arahnya.
"Liehiap." kata Leng Cu dengan suara parau.
"Kami berdua suami istri menyerahkan diri untuk menerima
hukuman atas perbuatan dua anak kami yang durhaka "
"Hehehe, terima salah ?" kata Bwee Hiang.
"Kalian bersekongkol untuk menyusahkan nonamu, ya ?
Bagus, bagus perbuatan kalian."
Bwee Hiang sudah memperhitungkan akan kejadian malam
itu- Ia menggeros tidur hanya pura-pura saja, sementara ia
sudah menelan pil pemunah obat pulas pengasi Lo In hingga
asap hio pulasnya Pweko yang mujarab tidak mempan.
Lo In sengaja bekali si nona pil pemunah obat pulas itu
sebab ia kuatir Bwee Hiang pada suatu ketika psti akan
mengalami kesulitan dari orang jahat dalam perantauannya
karena dalam setiap rumah penginapan mereka tidur terpisah
hingga si bocah tak dapat melindunginya. Bwee Hiang
percaya penuh akan nasehat guru ciliknya. Maka setiap ia
masuk tidur, ia selalu menelan satu pil untuk menjaga segala
kemungkinan yang tidak diingini-Kejadian barusan itu adalah
satu pengalaman, yang membuktikan kebenaran nasehat Lo
In itu hingga si nona diam-diam bersyukur pada guru ciliknya
itu.
Lo In masih kecil, belum ada pengalaman dalam dunia
Kangouw. Tapi soal itu ia dapat keterangan dari Liok sinshe
yang spesial menasehatkan di dalam perantauan jangan
melupakan pil mujizat itu. Tempo hari, kebasan Kim Coa
siancu dengan setangannya tidak akan mempan bila si bocah
sudah menelan pil anti yang mutajab itu. Mendengar teguran
Bwee Hiang, Leng cu suami istri jadi gemetaran.
"Lantaran takut dengan ancaman Toako dari 'Sip sam siao
mo', akan membunuh mati sekeluarga kalau kami tidak
menurut perintahnya, maka kami menjadi takut sehingga
terpaksa kami membuat kesulitan pada nona. si Co dan si
Kian menggunakan obat tidur atas perintahnya toako dengan
ancaman dibunuh mati kalau mereka tidak dapat menangkap
Liehiap- sekarang kejadian sudah begii, kami pun tidak perlu
kabur untuk menyelamatkan diri kami yang berdosa. Nah,
hunuslah pedang Liehiap dan tebaskan pada leher kami suami
istri yang tidak beruntung....."
Demikian Leng cu menerangkan di depan Bwee Hiang
sambil berlinang-linang air mata, sedang istirnya menangis
tersedu-sedu.
Leng cu berkata bahwa obat pules yang digunakan itu atas
titahnya toako, sebenarnya dusta sebab itu atas usaha
anaknya si Teng Kian.
Bwee Hiang merasa kasihan pada suami istri itu. Ia percaya
mereka memang tidak jahat, sebagaimana ia dapat dengar
dari percakapan mereka ketika ia mau masuk ke rumahnya
Leng cu.
"Liehiap, lekaslah habiskan jiwa kamiJ angan tunggutunggu
lagi." kata Leng cu ketika ia melihat si nona tinggal
menjublek.
Bwee Hiang sudah membuka mulut hendak berkata, tibatiba
terdengar pintu rumah digedor dengan kasar dari sebelah
luar. Tuan dan nyonya rumah tidak bergerak meskipun
gedoran pada pintu makin lama makin keras, hingga suaranya
rumah mau roboh-Mereka tahu bahwa yang datang itu adalah
kawanan 'sip sam siao mo'.
" Lekas buka " perintah Bwee Hiang pada nyonya rumah
yang biasanya tukang buka pintu, setelah mendengar
perintah, baru ia bangkit dari berlututnya dan lari menghampiri
pintu yang hampir terbuka karena gedoran makin hebat
segera lima orang sudah menerobos ke dalam- Mereka
pada mengenakan topeng dengan golok terhunus di tangan
masing-masing.
"Mana siko dan Pweko ? Kenapa mereka terlambat
mengantar orang ke sana ?" tanya satu diantaranya kepada
nyonya rumah-
"Mereka, mereka-— ada di....." nyonya rumah terputus-putus
bicaranya hingga orang yang menanya tadijadi marah-
"Mereka, mereka apa ?" bentaknya, kakinya pun berbareng
melayang menendang nyonya rumah hingga jatuh tersungkur
ke kolong meja-
"Hahaha, hahaha " tertawa orang kejam itu, setelah
menendang nyonya rumah hingga masuk ke kolong mejasebelum
ia berhenti ketawa, tiba-tiba ia merasakan lehernya
dingin-Cepat ia menoleh- Tampak olehnya seorang dara jelita
sedang tersenyum ke arahnya dengan pedang ditempelkan
pada lehernya-
Kagetnya bukan main, hingga seorang kejam mendadak
merasa lemas-Kiranya penyebab rasa dingin tadi adalah
pedang yang menempel di lehernya-
Ia melirik pada kawan-kawannya, entah sejak kapan
kawan-kawannya sudah roboh di sana sini hingga ia seorang
yang masih ketinggalan untuk menghadapi kematian.
yang tadinya begitu gagah berani, main hantam dan main
tendang, sekarang orang itu berubah menjadi pengecut yang
ketakutan. Tak tahan lututnya lemas, maka ia terkulai
mendeprok- Tapi ujung pedang Bwee Hiang masih mengikuti
terus dilehernya.
Dengan satu sontekan ujung pedang, topeng orang itu
sobek dan wajahnya lantas kelihatan pucat ketakutan, Ia
ternyata seorang pemuda belum masuk 20 tahun, dengan
suara gemetar ia berkata,
" Ampun Liehiap, ampunkanjiwa semutku. Aku masih punya
dua adik dan dua orang tua yang harus kurawat. Kalau aku
dibunuh, siapa yang akan merawat mereka ? oh, ampun"
Tidak senang Bwee Hiang terhadap pemuda yang begitu
pengecut. Akan tetapi mendengar kata-katanya bahwa ia
mempunyai banyak tanggung jawab di rumah, maka mau tak
mau si nona merasa kasihan juga.
"Untuk mengampuni jiwamu tidak sudah asal kaujawab
dengan betul pertanyaanku." kata Bwee Hiang seraya ujung
pedangnya digores-goreskan pada leher orang.
"Katakan, Liehiap mau menanya apa ?" sahut orang itu
sangat ketakutan.
"Pertama kutanya, siapa nama pemimpinmu ?"
"Toako yang Liehiap maksudkan ?"
"ya, lekas sebutkan "
"Dia she Coa bernama Pang.... Aiyoo— "
Terputus bicara orang itu, tubuhnya terkulai dengan kepala
pecah dihantam senjata gelap yang berupa peluru besi yang
menyambar dari jendela mengarah tepat dijidatnya. membuat
ia roboh tidak bangun lagi.
Dengan gerakan 'yan cu coan lim' atau 'Burung walet
terbang masuk hutan'. Bwee Hiang enjot tubuhnya, melesat
molos dari jendela. Meskipun demikian gesit, ia masih
terlambat sebab orang yang melepas senjata gelap itu sudah
lari kira-kira beberapa tombak di sana. si nona penasaran dan
lantas gerakan kakinya menguber. Dalam kegelapan malam,
tampak dua orang saling kejar.
Mengejar sudah beberapa lama, Bwee Hoang masih belum
dapat menyandak orang itu, yang masih lari di sebelah
depannya, Ia merasa bahwa ilmu entengi tubuhnya hanya
berimbang dengan orang yang dikejarnya, maka hati si nona
menjadi cemas.
selagi sangsi untuk mengejar terus, tiba-tiba ia rasakan
badannya melayang. Kiranya ia telah menginjak lubang
jebakan yang dalam, Bwee Hiang terjatuh ke dalamnya.
Tapi si nona lihai. Begitu kakinya menginjak dasar lubang,
sudah enjot tubuhnya membal lagi. Cuma sayang lubang itu
terlalu dalam hingga si nona terpaksa harus jatuh pula ke
dalam lubang, tak dapat ia mencapai pinggiran lubang untuk
menolong dirinya. Baru sekarang si nona menjadi kaget dan
kuatir. Dalam lubang keadaan sangat gelap dan baunya tidak
enak hingga Bwee Hiang hampir muntah-muntah, kalau tidak
keburu ambil setangan untuk menekap lubang hidungnya.
"Hahaha " terdengar orang tertawa di sebelah atas.
Kemudian disambung dengan kata-kata,
"Mau tahu nama toako dari 'sip sam siao mo' tidak sukar-
Asal kau bersedia untuk menjadi isterinya yang tercinta "
Bwee Hiang sangat mendongkol, tapi ia tak berdaya.
"Bagaimana, nona manis ? Apa kau jadi istriku atau mati
dipendam hidup, hidup dalam lubang ini ? Hayo, lekas pilih
Aku tidak banyak tempo disini "
Bwee Hiang sudah mau membuka mulutnya untuk mencaci
maki, tapi kata-katanya urung dikeluarkan karena ia ingat satu
akal. Ia hanya dia terus, pura-pura jatuh pingsan kejeblos
dalam lubang jebakan sehingga kemungkinan toako akan
mengirim orang ke dasar lubang untuk cari tahu dirinya-
Disitulah ia akan mendapat kesempatan untuk menolong
dirinya yang sudah tidak berdaya-
Toako sudah berteriak-teriak keras tetap tidak ada jawaban
dari dalam lubang- Pikir toako, si nona mesti mendapat
halangan apa-apa, kalau tidak jatuh pingsan. Benar tepat
perhitungan si nona sebab tidak lama lagi ia dapat lihat dua
orang dikerek turun dengan membawa obor. Mereka yang
dikirim ke dalam lubang itu adalah Ngoko dan Lakko (nomor 5
dan nomor 6), sebab Lakko tidak berani turun sendiri Ia minta
supaya Ngoko temaninya.
Ketika mereka mencapai dasar lubang, dari penerangan
obor mereka lihat si nona tengah terlentang pingsan.
"Betul dugaan Toako, anak ayam ini sedang tidur nyenyak
disini-" berkata Lakko-
"Huss, jangan banyak cakap- Lekas bekerja " sahut Ngoko
Lakko segera turun dari keranjang kerekan, menghampiri si
nona yang tidak berkutik, obor ia dekati pada wajah si nona
untuk memandang paras Bwee Hiang yang cantik jelita.
"Ah, nona begini manis, sayang betul jadi korbannya toako
kita yang kasar" ia menggumam perlahan tapi terdengar tegas
di telinganya Ngoko
"Apa yang kau lakukan ? Lekas angkat dia " kata Ngoko
yang tidak memberi kesempatan Lakko Lakko cepat
memondong si nona. Di lain saat mereka bertiga sudah berada
di atas pula. Ketika Lakko mau meletakkan si nona di atas
rumput, tiba-tiba toako berkata,
"Mari, kasih aku yang pondong "
Lakko serahkan tubuh si nona di tangan sang pemimpin.
"Mari kita pulang " kata toako yang segera di dahului oleh
kakinya bergerak sambil memondong si gadis.
Bau harum pakaiannya yang membungkus si nona
menusuk hidung toako hingga ia sambil memondong,
pikirannya melayang-layang jauh di awan.
Pikirnya bagaimana bahagianya ia kalau dapatkan si cantik
sebagai ganti isterinya yang sudah mati sebulan yang lalu.
Menurut siIatnya yang kejam, sebenarnya Bwee Hiang
seharusnya dibunuh lantaran sudah membunuh beberapa
orangnya- Akan tetapi kecantikan si nona telah membuyarkan
amarah toako.
Citko sudah binasa, dua orang (siko dan Pweko) tertotok,
empat orang dibunuh oleh Bwee Hiang dalam rumah Leng cu,
satu orang dibunuh peluru besinya toako hingga sang
pemimpin dari 13 Iblis Cilik (sip sam siao mo) kini hanya
ditemani oleh empat orang saudaranya. Tapi semuanya itu
tidak dipikirkan lagi oleh toako- Pokoknya ia sudah dapat si
cantik Bwee Hiang sebagai penghiburnya-Demikian, tidak
lama lagi mereka sudah sampai di markasnya. Kiranya yang
digunakan sebagai markas oleh 13 Iblis Cilik itu adalah satu
kuil tua yang disana sini sudah mengalami perbaikan.
Rupanya kuil itu sudah lama ditelantarkan, hanya ketika 13
iblis cilik bermarkas disitu sudah diperbaiki.
setelah berada di dalam kuil, dengan perlahan tubuh Bwee
Hiang direbahkan diatas sebuah dipan.
"sungguh cantik dia." kata toako dalam hati. Ia memandang
dengan tidak merasa bosan pada wajah Bwee Hiang yang
seolah-olah sedang tersenyum dalam tidurnya yang nyenyak-
Tak tahan ia dengan debaran hati, bergejolaknya sang nafsu
birahi yang muncul dengan tiba-tiba, maka cepat ia
meloloskan topengnya lalu mencondongkan, badannya
hendak mencium bibir yang menggiurkan itu.
Tiba-tiba ia merasakan iganya kesemutan dan seluruh
badannya menjadi lemas- Ia roboh terkulai dengan tidak bisa
mengucapkan apa-apa dari mulutnya-
Kiranya, selagi bibirnya hendak ditempelkan pada bibirnya
si gadis, hiat-to dibagian iganya sudah ditotok oleh Bwee
Hiang yang sejak diangkat dari lubang jebakan si gadis purapura
pingsan.
Empat kawannya yang melihat sang toako hendak
mencium si gadis, dalam hati masing-masing sangat ngilar.
Tapi alangkah kagetnya tatkala nampak toakonya dengan
sekonyong-konyong telah roboh terkulai sebelum menunaikan
keinginannya untuk mencium si gadis-
"Hei, toako kenapa ?" seru satu dlantara empat orang itu.
si gadis berbareng bangkit dengan tiba-tiba- Terdengar
sret-sret beberapa kali-seflera juga kepala empat orang dari
13 Iblis Cilik menggelundung ke lantai- Itulah Bwee Hiang
yang menghunus pedangnya secara kilat ditebaskan kepada
empat batang leher orang
hingga kehilangan kepalanya.
si nona lalu menghampiri toako, katanya, "Dimana kau
simpan perempuan-perempuan culikanmu ?"
Toako tidak menyahut, ia diam saja.
"Kau tidak menjawab ?" tanya Bwee Hiang galak-
Toako hanya kedap kedip matanya, tidak mengeluarkan
suara.
Kapan Bwee Hiang mau menampar si pemimpin dari 13
Iblis Cilik tapi ia urung menampar orang tersebut karena ia
ingat sesuatu.
"Kenapa aku jadi tolol ?" ia tegur dirinya sendiri, seraya
kakinya menendang pada hiat-to yang membuka jalan darah
toako
Toako sampai bergulingan mendapat tendangan sepatu
sigadis yang berujung lancip. Kiranya si nona tegur dirinya
tadi, ternyata alpa membuka totokan pada tubuh toako sebab
bagaimana juga toako tak dapat bicara sebelum totokannya
dibebaskan terlebih dahulu. Kapan toako sudah berdiri bebas,
ia tertawa tawar pada si gadis.
Bwee Hiang lihat, toako bukan termasuk pemuda lagi
sebab umurnya ditaksir sudah melampaui 40 tahun, si nona
berkata,
"Kau tua bangka ini, mengepalakan anak-anak melakukan
penyelewengan. Betul-betul dosamu tidak bisa diampuni"
Toako nyalinya besar, Ia tidak takut melihat Bwee Hiang
barusan telah membunuh mati empat orangnya sekaligus,
malah ia ketawa ketika ditegur si gadis,
"simpananku tidak perlu orang lain mau tahu " katanya
tawar.
"Kematian sudah diambang pintu, masih mau berlagak ?"
"Belum tentu." mendengus toako
"Kematianmu tentu belum puas kalau tidak menyaksikan
kepandaianmu nonamu, maka aku kasih kesempatan untuk
kau membela diri- Lekas cabut pedangmu " "He he, lantaran
kecantikanmu aku terjebak dalam akalmu. Kalau tidak, hm "
"Kalau tidak, apa kau maksudkan ?" tanya Bwee Hiang.
"Kalau tidak, siang-siang sudah kumampusi kau " seru
toako dengan gusar.
"Hihihi, makanya jadi pemimpin jangan suka kepincut sama
paras cantik-" kata Bwee Hiang menggodai-
"Sekarang kau jatuh di tanganku. Terang ajalmu sudah
dekat"
"sret" terdengar pedang toako dihunus.
Di bawah penerangan lampu, pedang itu bergemerlapan
tajam sampai Bwee Hiang terkejut dalam hatinya.
"Pedang bagus " katanya diam-diam.
Melihat si nona mengawasi pedangnya dengan kesima, ia
kira si nona takut padanya. Maka ia lantas berkata,
"Menyerahlah kalau kau takutjadi istriku toh tidak bakal
menjadi rendah derajatmu. Malah kau bakal di........."
Toako terputus kata-katanya karena si nona sudah
menyerang dengan sengit, sambil membentak.
"Kentut, jangan banyak lagak Lihat, kuambil jiwamu"
"Belum tentu, nona yang manis "
toako ngeledek si gadis sambil berkelit.
"Hehe, kau pintar juga selamatkan diri, ya "sigadis ketawa
tawar.
"Masih terlalu siang buang menghitung kemenanganmu,
nona manis "
"Kau berani ngeledek nonamu ? Nih, rasakan"
Mulutnya bicara, berbareng pedangnya berkelebat
menyerang.
"Trang " suara kedua senjata beradu, pedang si nona
ditangkis sekerasnya oleh toako-Berbareng dengan suara
"trang " pedangnya si nona terkutung kira-kira sepuluh
sentimeter hingga Bwee Hiang sangat kaget.
"Aku sudah kata, lebih baik kau menyerah untuk jadi
nyonya ku- Tak usah kau capek-capek memainkan pedang
per...." berbareng toako berkelit karena si nona sudah
menerjang dengan gusar.
" Lihat, dengan pedang buntungku, akan kuselot mulut
bocormu " teriak si gadis-
Mereka jadi bertempur seru- Ternyata kepandaian toako
tidak lemah- Ia dapat melayani serangan si gadis- Ia tidak
berniat menjatuhkan Bwee Hiang dengan kekerasan. Tapi apa
mau, pedang buntungnya Bweee Hiang telah menabas kutung
rambut kepalanya, membuat ia jadi sangat gusar.
"Budak liar, kau berani main gila pada toako? Hm "
berbareng ia gerakan permainan pedangnya lebih cepat.
Toako mengira si gadis memainkan pedangnya begitu saja.
Ia tidak takut, malah pikirnya kalau barusan ia tidak lengah
tidak bakal rambutnya kena dipapas buntung oleh si gadissekarang
ia gerakkan pedangnya lebih cepat, pasti Bwee
Hiang akan kewalahan dan menyerah kalah-
Ia tidak tahu kalau si gadis menggempur ia hanya mainmain
saja, mau lihat kepandaiannya sampai dimana. Ketika si
gadis sudah tahu bahwa menggempur toako hanya buang
tempo saja, bukan mendapat pandangan, maka ia pun
merubah taktik- sekarang, bukan pedang yang berkelebat
saja, akan tetapi dibarengi dengan tubuhnya yang sebentarsebentar
lenyap dari pandangan toako hingga pemimpin dari
13 Iblis Cilik itu menjadi ngos-ngosan napasnya.
Pada saat tidak terduga-duga, tahu-tahu nadi tangan kanan
toako kena ditepuk dan kontan pedangnya jatuh berkelontrang
di lantai.
Tepukan si gadis meskipun perlahan tapi sakinya bukan
main dirasakan oleh toako, sampai nyelusup kejantung. Ia
masih penasaran dan cepat bungkukkan badannya mau ambil
pedangnya. Tapi pedang siang-siang sudah diinjak oleh
kakinya Bwee Hiang.
"Kau tidak pantas memiliki pedang mustika " kata Bwee
Hiang, berbareng sepatunya yang menginjak pedang
'salaman' dengan jidat toako hingga ia terpelanting
bergulingan seraya teraduh-aduh.
sambil menjumput pedang toako, Bwee Hiang cekikikan
ketawa.
"Nah, aku ganti pedangmu " kata si gadis seraya
melemparkan pedangnya sendiri pada toako yang masih
teraduh-aduh karena jidatnya berleleran darah kena dicium
sepatu.
Ketika Bwee Hiang masukan pedang barunya dalam
sarung yang ada dipinggangnya, ternyata tidak pas,
kepanjangan sedikit. Matanya lantas melirik pada sarung
pedang yang ada dipinggangnya toako, kiranya sarung
pedang itu adalah sarung pedang yang bagus.
" Lekas serahkan sarungnya " ia membentak-
Toako tidak berani ayal karena sudah tahu kelihaiannya si
gadis sekarang.
Cepat ia loloskan sarung pedangnya dan dilemparnya pada
Bwee Hiang. Dengan satu tangkapan bagus, Bwee Hiang di
lain saat sudah masukkan pedang barunya ke dalam
sarungnya yang asli. girang hatinya Bwee Hiang ketika ia
sudah menyoren pedang barunya.
Pikirnya, dengan kawan yang sakti itu ia dapat malang
melintang dalam dunia Kangouw dengan atau tidak dengan
guru ciliknya yang sekarang entah ada dimana.
"Lekas unjukkan dimana tempat penyimpanan wanitawanita
yang kau culik " bentak Bwee Hiang dengan bengis
hingga toako jadi ketakutan.
"Itu, itu—" ia berkata gugup hingga Bwee Hiang tidak
sabaran.
"Itu, itu apa ?" kakinya berbareng menendang hingga toako
bergulingan dan membentur meja abu tepekong yang sudah
amoh hingga berantakan.
Bwee Hiang ketawa cekikikan melihat abu tepekong
berhamburan diatas kepalanya toako dari 13 Iblis cilik. Bukan
main marahnya toako, tapi apa yang ia bisa bikin- Ia toh sudah
tidak bisa menang lawan si gadis-
Dalam merenungkan nasibnya pada saat itu, ia terkejut
ketika Bwee Hiang membentak sambil menghunus
pedangnya-
"Tidak lekas bicara, mau tunggu kapan ?" Toako sudah
kenal tajamnya pedang bekas miliknya itu, maka ia ketakutan.
"Semua wanita yang diculik tidak ada disini." menerangkan
toako.
"Lalu, kau umpatkan dimana ?" tanya Bwee Hiang.
"Mereka sudah dikirim ke Pekskut-nia, dipersembahkan
kepada Thoat Beng Mo Siauw." sahutnya.
"Betul bicaramu ?"
"Kenapa tidak betul, aku adalah orangnya Thoat Beng Mo
Siauw-"
Bwee Hiang berpikir- Adik kecilnya menyusul si Hantu
Ketawa ke Pekskut-nia- Ia juga menyusul tetapi kehilangan
jejaknya- Entahlah, apakah Lo In masih ada disana.
Tapi si nona masih kurang percaya atas keterangannya
toako. Maka ia lalu mendekati toako dan menotoknya. setelah
mana ia lantas menggeledah dalam kuil tua itu, ternyata tidak
ada wanita yang ditahan disitu. Ketika ia keluar lagi, lalu
menotok bebas si toako.
Kiranya ia tadi menotok toako, kuatir orang nanti kabur
selama ia melakukan penggeledahan, Ia lalu berkata pada
toako,
"Mari kita ke Pekskut-nia " Mendengar perkataan si nona,
diam-diam toako merasa girang.
Pikirnya,
"Kau ajak aku ke Pekskut-nia, sama juga kau mencari
mampus Di sana ada si Hantu Ketawa dan banyak kawannya,
kau mana dapat meloloskan diri Cuma sayang kau yang
berparas cantik harus jatuh ditangannya Thoat Beng Mo
Siauw......."
Di lain saat mereka sudah berlari-larian di tengah malam
buta menuju ke Pekskut-nia.
Tidak sampai mencapai puncaknya bukit, mereka berhenti
di depan sebuah rumah besar yang dibangun panjang dan
luas pekarangannya.
Bwee Hiang memperhatikan bangunan rumah itu. Kiranya
bekas kuil tua yang sudah dipermak jadi lebih besar.
"Apa ini tempatnya Thoat Beng mo siauw ?" tanya si nona
kepada toako yang tengah berdiri menjublek.
Toako anggukkan kepala tanpa menyahut. Rupanya ia
sedang keheranan kenapa markas besarnya demikian sepi-
Tidak seorang pun ada di luar, biasanya ada beberapa orang
yang menjaga di sekitarnya rumah.
Ketika ia sedang menduga-duga apa yang sudah terjadi di
situ, tiba-tiba ia kaget mendengar bentakan Bwee Hiang,
" Jalan"
Toako makin merasa heran ketika ia membuka pintu
pekarangan tidak terkunci, Ia jalan terus membawa Bwee
Hiang masuk ke dalam rumahsi
nona sudah siap dengan pedang di tangan, Ia
mengharap akan ketemu dengan adik kecilnya di situ, tapi ia
sangsi karena kelihatan rumah itu sunyi-sunyi saja seperti
yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya.
ruangan depan keadaannya sepi. Ketika toako dan Bwee
Hiang masuk ke dalam ruangan tengah, tiba-tiba dihadang
oleh tiga orang yang berpakaian hitam, satu diantaranya telah
menegur toako, katanya,
"Hei, toako, kau bawa apa itu ?" Ia berkata sambil matanya
melirik pada Bwee Hiang dengan ceriwis sekali. Bwee Hiang
meludah, muak ia melihat orang berkelakuan tengik itu. Toako
tidak menyahut, ia hanya angkat tangan kanannya di taruh di
dada. Itu adalah kode bahwa dirinya ada dalam bahaya.
orang yang menanya tadi menjadi kaget, lalu mengawasi si
nona yang membawa pedang tajam di tangannya. Lalu ia
melirik pada dua kawannya, kemudian dengan berbareng
mereka menyerang si nona.
"Bagus " seru Bwee Hiang. Berbareng terdengar tiga kali
suara "sret", tiga kepala orang-orang tadi telah menggelinding
di lantai. Darah menyembur keluar dari leher masing-masing
korban tapi Bwee Hiang sedikit pun tidak merasa ngeri,
sebaliknya dengan toako, badannya menjadi menggigil
ketakutan.
"Kau orang jahat, dikasih hidup juga percuma " kata si nona
pada toako, tahu-tahu sebelum ia melihat bagaimana si nona
bergerak, kepalanya telah menggelinding pula dilantai hingga
dalam halaman itu banjir darah-
Bwee Hiang ketawa tawar menyaksikan itu. Ia tidak merasa
ngeri dan tidak merasa menyesal atas perbuatannya yang
ganas, mengingat perbuatannya itu belum ada
sepersepuluhnya dari perbuatan su coan sam-sat yang
membasmi markas Ceng Giee Pang dan membunuh-bunuh
seisi rumah tangganya.
setelah membereskan empar orang di ruangan tengah, si
nona lantas hendak masuk ke lain ruangan lagi. Tapi
sebelumnya ia telah dihadang oleh dua orang yang romannya
bengis-bengis. Cuma saja roman yang bengis-bengis itu tidak
lama berhadapan dengan si nona. sebelum mereka bergerak,
dengan pedangnya Bwee Hiang sudah mendahului dan
kembali ruangan tengah itu tambah dua kepala manusia yang
menggelinding. Cepat Bwee Hiang lompat masuk ke lain
ruangan.
Keadaannya sunyi-sunyi saja. Ketika ia jalan makin ke
dalam, tiba-tiba ia mendengar suara wanita cekikikan ketawa.
Ia heran, masa ada wanita yang ketawa ditangannya orang
jahat, bukannya menangis ketakutan.
Ketika Bwee Hiang mendekati kamar dari mana ada
terdengar ketawa tadi, ia mendengar si wanita berkata,
"Dasar lelaki tidak ada kenyangnya, aduh, kan sakit tuh
tetek orang di.....hihihi...."
Bwee Hiang yang masih 'hijau' tentu saja menjadi heran
mendengar kata-kata si wanita dari dalam kamar. Apa yang
mereka sedang lakukan ? tanyanya dalam hati.
si nona sudah angkat kaki hendak menendang pintu, tidak
jadi, ketika mendengar yang lelaki berkata,
"siauw Cui, kau adalah kembang diantara wanita yang
menjadi gula-gulanya si hantu tua. sekarang si hantu tua
sudah mati. Bagaimana pun kau akan menjadi milikku."
"Pintar juga kau memilih-" terdengar si wanita yang
dipanggil siauw Cui menjawab-
"Apa kau tidak takut pada orang she Kan yang sudah
memiliki aku lebih dulu ? Hm Aku tidak percaya kau berani
bergebrak dengannya untuk rebutkan diriku yang hina Hihi....."
"ah, kau nakal......."
"siauw Cuui, aku orang she Tan, bagaimana cun akan
memilikimu......"
sampai di situ Bwee Hiang dengar ada suara jalan yang
perlahan mendatangi, mereka, cepat ia menyingkir ke samping
dan mendekati jendela kamar.
Kembali si nona mendengar suara si wanita berkata,
"Kau mau ambil diriku yang hina, sungguh aku sangat
berterima kasih- Nanti setelah kita menjadi suami istri barulah
kita bisa merdeka- sekarang sudahlah, kau lekas keluar- Nanti
keburu datang orang she Kan, kau bisa berabe-"
"Nanti atau sekarang sama saja, malam ini kau harus
melayani aku......."
"Brakk " terdengar suara pintu ditendang terbuka.
Bwee Hiang hatinya menjadi makin kepingin menonton
adegan di sebelah dalam- Ia mengintip dari jendela- Ia lihat
wanita dan laki-laki yang bercakap-cakap tadi sedang
berpelukan dalam pakaian setengah telanjang. Matanya
tampak terbelalak memandang kepada orang yang barusan
masuk dengan menendang pintu.
Lelaki yang barusan masuk lebih besar, tapi tingginya kalah
dengan lelaki yang tengah memeluki si wanita yang dipanggil
siauw Cui.
"Hahaha. Bagus perbuatanmu siauw Cui." kata orang she
Kan yang barusan masuk-
"Kau kata mau ikut aku dengan setia, tidak tahunya diamdiam
simpan lelaki dalam kamar. Kalau aku tidak membunuh
kalian, tentu orang akan menyangka aku adalah seorang
pengecut" berbareng ia menghunus goloknya.
siauw Cui berontak dari pelukan orang she Tan dan lompat
ke arah si orang she Kan, katanya.
"Jangan. jangan engko Hok Hu. Aku sumpah selanjutnya
akan setia pada....."
"Nah, inilah bukti kesetiaanmu" bentaknya sebelum wanita
itu habis kata-katanya, berbareng kepalanya terpisah dari
lehernya disabat golok tajam
si orang sheTan yang sudah merapikan pakaiannya,
nampak Siauw Cui ditabas batang lehernya menjadi merah
matanya saking gusar-
" orang she Kan, apa memangnya aku takut pada mu?"
sambil menyerang dengan goloknya yang sudah dihunusnya
hingga mereka jadi bertempur dalam kamar yang tidak
seberapa lebar. Dua-dua berkelahi dalam kegusaran, tentu
saja serangan-serangan yang dilancarkan oleh masing-masing
adalah serangan-serangan yang mematikan.
Untuk sementara kelihatan orang she Tan dapat
memberikan perlawanan bagus, tapi ia kalah pengalaman dan
perlahan-lahan terdesak sampai ke pojok-
"Nah, susullah roh si sundalmu ke neraka " bentak si orang
she Kan berbareng ujung goloknya sudah menikam pada dada
lawannya hingga amblas dan ujung golok baru berhenti
menusuk sesudah ditahan dengan tembok kamar.
Cepat orang she Kan menarik goloknya kembali, tapi bukan
untuk dibersihkan dari darah musuhnya hanya disabetkan
kepada batang leher lawan yang sudah tidak berdaya. Roh
orang she Tan benar-benar telah menyusul sang kekasih yang
sudah jalan dahulu.
Puas kelihatannya orang she Kan, sudah membunuh dua
orang cabul tadi- Setelah menendang mayatnya siauw Cui, ia
keluar dari kamar, di depan pintu ia menggumam,
"Aku adalah Kan Hok Hui, cukup mempunyai kepandaian
silat. Kenapa tidak bisa menggantikan si tua yang sudah
mampus ? Hahaha, pantas, pantas..........."
Ia jalan terus ke ruangan belakang, sama sekali tidak tahu
kalau geark geriknya ada yang membayangi ialah Bwee Hiang
jago perempuan kita. Bwee Hiang kenapa tidak menebas saja
batang lehernya Kan Hok Hui ?
Itu karena si nona ada maksud lain. Ia mau tahu gerak gerik
Kan Hok Hui lebih jauh yang menurut gumamannya tadi ingin
menjadi kepala disitu.
Kan Hok Hui telah membunyikan lonceng tanda buat orangorang
berkumpul dalam ruangan belakang yang luas lebar-
Rupanya disitu biasa dipakai rapat oleh mereka. sebentar lagi
tampak berkumpul kurang lebih 20 orang, mereka pada duduk
diatas bangku-bangku panjang. Banyak tempat yang lowong.
Rupanya kawan penjahat sudah banyak kurang orangnya
karena tempo hari dibasmi oleh Kim Coa siancu. Tampak
sebuah mimbar, diatas mana ada di taruh sebuah meja
dengan tiga buah kursi.
Tampak kursi yang tengah diduduki oleh Kan Hok Hui,
sedang kursi di kanan kirinya tidak ada yang duduki. Biasanya
kursi yang tengah diduduki oleh Thoat Beng Mo Siauw, yang
kanan oleh Kan Hok Hui dan yang kiri oleh Thio Jin Liong. Dua
orang ini adalah tangan kanan si Hantu Ketawa (Thoat Beng
mo siauw).
sekarang si Hantu Ketawa danjin Liong sudah mati. Maka
Kan Hok Huilah yang mengepalai kawanan orang jahat itu.
setelah orang-orang pada berkumpul, terdengar Kan Hok
Hui berkata,
"Saudara-saudara sekalian, seperti kalian tahu, Thoat Beng
mo siauw dan jin Liong sudah mati dan kini tinggal aku sendiri
yang masih hidup- Aku mau menggantikan si orang tua
(dimaksudkan si Hantu Ketawa) menjadi kepala disini-
Bagaimana pendapat sekalian saudara-saudara ?" semua
orang bersorak menanda kan persetujuannyagirang
hatinya Kan Hok Hui. Ia berkata lagi,
"Kalian jangan ikut-ikutan saja- Kalau diantaranya ada yang
tidak setuju boleh angkat tangan. Aku tidak memaksanya.
Hayo, siapa yang tidak setuju ?"
Ada diantaranya yang sebenarnya tidak merasa setuju.
Akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena takut akan
kekejamannya Kan Hok Hui. Mereka jadi ikut-ikutan saja
setuju. Meskpun begitu, tampak dua orang yang
mengacungkan tangannya.
Kan Hok Hui diam-diam sangat tidak senang ada orang
yang menentangnya, Ia kata,
"Bagus. Coba terangkan oleh dua orang saudara yang
mengacungkan tangannya, kenapa kalian tidak setuju dengan
pengangkatan diriku menjadi pemimpin ?"
"oh, kami bukannya tidak setuju." salah sahut satu
diantaranya.
"Kami sekarang lihat, hanya saudara Kan saja yang
memimpin, sedang yang sudah-sudah kita dipimpin oleh 3
orang."
"oo, begitu." sahut Kan Hok Hui, reda perasaan tidak
senangnya.
"Hal itu mudah dirundingkan belakangan, setelah aku
memegang tampuk pimpinan."
"Mufakat kalau begitu." kata dua orang hampir berbareng.
"Tidak mufakat " terdengar suara yang lain berbareng
orangnya muncul dari balik tirai yang memisahkan ruangan
yang disebelahnya.
semua mata ditujukan pada orang tadi. Kiranya dia adalah
seorang gadis cantik jelita hingga mereka jadi melongo heran
memandang si gadis yang tiada lain adalah Bwee Hiang.
Mereka menanya-nanya pada dirinya masing-masing, gadis
siapa yang muncul malam-malam dalam ruangan rapat itu.
Apakah dia manusia atau setan.
Tapi Kan Hok Hui lantas perdengarkan suara ketawanya. Ia
kemudian berkata,
"Kau bukan anggota kita, bagaimana mungkin kau dapat
mengemukakan suaramu ? sebenarnya siapakah kau ?
Malam-malam ada disini- Apa kau tidak takut dengan kami
orang ?"
"Hihi " ketawa Bwee Hiang.
" Kalau takut masa aku datang kemari ?"
"Jadi, kau mau apa ?" tegur Kan Hok Huu.
"Biasanya, dalam pemilihan pemimpin, yang kuat dialah
yang dipilih sebagai pemimpin, sekarang belum ketentuan
kekuatanmu, lantas saja mengangkat diri sebagai pemimpin,
Itu tidak adil " Bwee Hiang menyatakan.
Perkataan Bwee Hiang bikin semua orang saling lirik satu
dengan lain.
Kata-kata si nona memang benar, akan tetapi siapa
orangnya yang dapat mengalahkan Kan Hok Hui yang sudah
jelas kepandaiannya di atas semua orangnya.
"Hahaha " Kan Hok Hui tertawa terbahak-bahak-
Meskipun ia merasa aneh atas kedatangannya si nona
yang tiba-tiba, ia tidak memikirkan untuk menangkapnya- Ia
tahu si nona parasnya cantik, maka ia ingin takluki Bwee
Hiang dengan kehalusan hingga hatinya si nona akan terpikat
sendiri olehnya-
Kan Hok Hui sangat licin dan cerdik. Melihat si nona ada
membekal pedang di pinggangnya, lantas tahu bahwa wanita
itu bukan sembarangan wanita. Kedatangannya pun tentu
mempunyai maksud tertentu, Ia tidak mau sembarangan
membenturnya, ia percaya dengan kecerdikannya ia dapat
menguasai si nona. siapa tahu si gadis memang sudah
menjadi jodohnya untuk menjadi istrinya.
Maka dalam gembiranya, ia tertawa, setelah tertawa ,ia
berkata,
"Nona ini adalah tamu kita, apa yang dia katakan barusan
memang benar, sekarang siapa dlantara saudara-saudara
yang ada minat untuk main-main dengan aku ? Ada baiknya
juga untuk membuka matanya tamu kita yang ingin melihat
pengangkatan pemimpin dilakukan dengan adil"
"Nah, itu baru benar" kata Bwee Hiang, ketawa manis.
setelah sepi sejenak, seorang yang beralis tebal dan muka
lebar kelihatan bangun dari bangkunya dan maju ke depan, Ia
berkata,
"Maaf, aku un Hoa ingin coba-coba peruntungan. Harap
saudara Kan berlaku murah "
un Hoa berkata sambil angkat tangannya memberi hormat
pada Kan Hok Hui.
Kan Hok Hui bangkit dari kursinya, turun dari mimbar dan
jalan menghampiri un Hoa.
Jarak antara bangku-bangku dan mimbar, lebar juga.
Disitulah mereka bertemu untuk memperebutkan jabatan
pemimpin.
Bwee Hiang senang dapat mengadu domba kan kawanan
penjahat itu. sebaliknya Kan Hok Hui mendongkol. Tapi
karena ia sudah punya maksud untuk menakluki si nona
dengan halus, terpaksa ia harus tunjukan kepandaiannya.
Tidak banyak cakap lagi antara Kan Hok Hui dan un Hoa.
Mereka sudah lantas saling serang. Ternyata kepandaiannya
un Hoa kalah jauh, maka hanya dalam dua jurus saja ia sudah
kena ditendang nyungsep ke kolong bangku.
"Mari, siapa lagi yang maju " tantang Kan Hok Hui
Beberapa orang yang panas hatinya sudah maju bergiliran.
Tapi semua bukan tandingan Kan Hok Hui, semua dijatuhkan
dengan mudahnya.
setelah tidak ada orang yang berani maju lagi, maka sambil
unjuk senyuman bangga, Kan Hok Hui berkata,
"setelah kalian tidak ada yang berani maju lagi, terang
jabatan pemimpin aku yang dapat, bukan ?"
"Nanti dulu, masih ada yang belum dijatuhkan" kata Bwee
Hiang, ketawa riang,
"siapa ?" tanya Hok Hui.
"Aku....."jawab Bwee Hiang.
"Kalau toh tidak masuk hitungan orang kami, bagaimana
mau merebut jabatan pemimpin? Kau pergi sana Dimana
rumah mu sebenarnya ?"
"orang mau merebut jabatan pemimpin, ini malah menanya
rumah orang segala, Itu kan tidak masuk dalam rumah. Hihihi-
.."
"Kau tidak pantas menjadi pemimpin, lebih pantas jadi
nyonya pemimpin"
Bwee Hiang deliki matanya ke arah Hok Hui, yang sedang
ketawa memandangnya.
Delikan mata Bwee Hiang yang tajam, bukan membikin
marah Kan Hok Hui, sebaliknya hatinya tergoncang dengan
serentak.
"Awas, akan kuselot mulut bocormu " mengancam Bwee
Hiang.
Kan Hok Hui tertawa gelak-gelak mendengar kata-kata si
nona yang lucu.
"Kau ketawa kan apa, hah " bentak Bwee Hiang.
"Aku ketawa kan kau nona manis, jadi isteri....."
"Plok " Kan Hok Hui rasakan pipi kirinya ditampar hingga
perkataannya putus setengah jalan, yang tadinya ia hendak
mengatakan jadi isitriku lebih baik.......
Tamparan si nona bukannya tidak dirasakan oleh Kan Hok
Hui, sebab seketika itu meluap amarahnya.
"Gadis liar, kau berani" bentaknya sambil menerjang si
nona di depannya, tapi Bwee Hiang dengan manis berkelit.
"Heheh, pintar juga kau berkelit, ya " kata Kan Hok Hui,
segera ia melancarkan serangan susulan. Lagi-lagi ia mesti
menyerang tempat kosong sebab si nona sudah berkelit
sambil memutar ke samping kirinya.
Kan Hok Hui kaget si nona demikian gesit. Baru saja ia
berbalik dan hendak melancarkan serangan ketiga kalinya,
tiba-tiba ia rasakan pipi kanannya ditampar. Belum tahu ada
berapa biji giginya yang rontok ketika ditampar pipi kirinya,
sekarang pipi kanannya lagi kena tamparan si nona. Entah
berapa biji lagi giginya yang rontok, tapi yang terang ketika ia
semprotkan dari mulutnya yang berboboran darah, ada lompat
keluar sampai lima buah giginya.
Terang marahnya Kan Ho Hui sudah sampai di rambut
kepala.
"Perempuan hina, kau berani main-main dengan tua
besarmu ? Hm " bentaknya.
Tapi sebelum ia bergerak menyerang si gadis, ia telah
didahului dengan satujotosan tepat ke dagunya hingga ia jatuh
terpelanting.
Melihat Kan Hok Hui merangkak-rangkak dengan susah
mau bangun, Bwee Hiang ketawa geli, tidak tahan ia kalau
tidak cekikikan.
Kawan-kawannya Kan Hok Hui tidak satu yang berani turun
tangan melihat pemimpinnya dihajar babak belur oleh si nona.
Ketika Kan Hok Hui dapat bangun lagi, ia hanya mengawasi
si nona denganpenuh kegusaran tapi mulutnya membungkam.
"Nah, apa kau mulai percaya dengan ancamanku ? Aku
sudah selot mulutmu yang bocor " kata Bwee Hiang seraya
ketawa terpingkal-pingkal.
Kan Hok Hui tidak menjawab perkataan si nona, sebaliknya
dengan mulut belepotan darah ia berkata pada kawankawannya,
"Kalian mau tunggu apa lagi ? Lekas tangkap gadis liar itu "
Reaksi dari seruan ini ternyata mengecewakan, sebab
mereka seperi yang berlagak pilon, diam saja tak bangkit dari
duduknya.
"siapa yang dapat menangkap dia, akan kuangkat jadi
pemimpin" seru Kan Hok Hui lagi.
seruan ini ternyata ada pengaruhnya sebab hampir
serentak semuanya pada bangun berdiri dan mengurung
Bwee Hiang yang masih enak-enak ketawa.
Kapan si nona melihat dirinya dikepung, bukannya takut
malah ketawa cekikikan, katanya,
"Kalian mau tangkap nonamu ? Bagus, silahkan tangkap "
"Kau ini budak hina dari mana, kesasar ke....."
Hulah un Hoa yang berkata. Mendingnan kalau ia tidak
buka mulut dan diam-diam mengeroyok si nona. Ini dia buka
mulut keluarkan perkataan kotor membuat Bwee Hiang sengit.
Maka ketika ia belum habis bicara, sudah dihajar mulutnya
oleh si nona.
seperti Kan Hok Hui, dari mulutnya yang belepotan darah ia
semprotkan beberapa buah giginya yang rontoh- Ia tidak
berani membuka mulut lagi tapi dengan gemas ia bantu
kawan-kawannya menerjang si gadis.
Bwee Hiang sekarang bukan Bwee Hiang jamannya si
kerudung merah, sebagai murid jago cilik kita (Lo In) si nona
tidak mengecewakan. Tambahan ia sudah berpengalaman
dalam pertempuran keroyokan. Maka dikepung dengan 30
orang, ia anggap sepi saja. Dengan lincahnya ia kelit sana sini
mengelakkan serangan. Kakinya cun tidak tinggal diam hingga
banyak yang rubuh kena ditendang jin-tiong-hiat dan jalan
darah di jidat kena dicium ujung sepatunya si nona yang
mungil. Kan Hok Hui di lain pihak berteria-teriak menganjurkan
supaya kepungan dipererat, jangan kasih si nona lolos.
sedang ia sendiri tinggal berdiri, tidak turut mengeroyok
karena dirasakan kepalanya mendenyut-denyut sakit, itulah
efek dari mulutnya yang berboran darah
Tapi melihat orang-orangnya makin kurang karena sudah
pada rebah dirobohkan Bwee Hiang, mau tidak mau ia
kepaksa turun tangan juga- Ia tidak bertangan kosong, tapi
dengan goloknya ia menyerang Bwee Hiang.
"Kau datang lagi ? Hehehe " Bwee Hiang menjengeki,
ketika ia kelit dari serangan golok Kan Hok Hui yang tajam.
"Budak hina, kalau malam ini aku tidak bisa tangkap kau,
benar-benar aku bukan orang she Kan, murid kesayangan si
Hantu Ketawa dari Pek-kut-nia " berkata Kan Hok Hui dengan
sombongnya.
Kini Bwee Hiang tahu kalau orang she Kan ini adalah murid
kepala dari si Hantu Ketawa. Barangkali lebih baik ia tidak
menyebutkan dirinya siapa, sebab dengan menyebutkan
dirinya adalah murid dari si Hantu Ketawa, bukan membuat si
nona jeri malah menjadi benci terhadapnya. Pikir si nona,
kalau dia ini murid si Hantu Ketawa, sudah tentu sangat jahat
seperti juga dengan gurunya yang kesohor.
sisa 10 orang yang masih belum roboh, hanya dari
kejauhan saja membantu Kan Hok Hui yang sedang kalap
menyerang Bwee Hiang.
Dalam babak yang menentukan Kan Hok Hui telah
menggunakan tipu 'Ngo seng boan goat' (Lima bintang
mengurung rembulan), goloknya diputar dan mengurung rapat,
beberapa kali menuju ke arah tubuh lawan yang berbahaya.
Bwee Hiang kaget sedikit, ia tidak mengira Kan Hok Hui punya
kepandaian boleh juga. Tapi serangan itu ia anggap ada
serangan enteng, meskipun dirinya seperti sudah terkurung
golok
sekonyong-konyong, la kelebatkan pedangnya yang tajam
pada depan mukanya Kan Hok Hui. Dalam gugup, Kan Hok
Hui menangkis.
"Trang " suara senjata keduanya beradu, kontan goloknya
Kan Hok Hui terpapas kuntung. Belum sempat orang she Kan
tenangkan hatinya yang kaget, tiba-tiba jari tangan kiri Bwee
Hiang menyelonong ke 'sam-li-hiat',jalan darah di lengan
kanan, seketika itu juga ia roboh terkulai dengan golok
buntungnya sekali, si nona telah menggunakan salah satu
jurus dari Bwee-hoa Kiam-hoat yang dinamai 'Bwee lie kian
goat' atau 'Dibalik bunga bwee mengintip rembulan', suatu
gerakan yang lihai sekali untuk memunahkan tipu 'Lima
bintang mengurung rembulan' yang digunakan oleh Kan Hok
Hui-
Melihat pemimpinnya tidak berdaya, mendeprok di lantai,
maka sisa yang 10 orang lagi yang berhati macam kertas,
semuanya berlutut minta ampun pada jago betina kita hingga
Bwee Hiang ngikik ketawa.
Di luar dugaan, kecuali Kan Hok Hui, Bwee Hiang telah
menotok bebas kawanan orang jahat yang mengeroyoknya
tadi semuranya pada berlutut di depannya Bwee Hiang.
Seperti yang masih kekanak-kanakan pikirannya, Bwee
Hiang tampak senang dirinya dipuja demikian oleh orangorang
di depannya, Ia lantas bertindak naik ke atas mimbar
dimana ia duduk diatas kursi kebesaran (pemimpin).
Sambil ketok-ketok meja dengan pedangnya, Bwee Hiang
berkata,
"Sekalian dengar, Aku sekarang sudah jadi pemimpin
kalian lantaran sudah mengalahkan kalian semua. Kalian mau
takluk apa tidak ? Siapa yang masih penasaran, boleh bangun
"
Semua orang manggut-manggut kepalanya, Hampir
berbareng semua orang berseru,
"Hidup,"
hidup Lie-tay-ong segala, aku bukannya kepala berandal.
Aku hanya pemimpin"
"Hidup, hidup ketua kita " terdengar pula suara berseru
ramai-ramai.
Kali ini Bwee Hiang tidak menegur, Ia kelihatan senang
dipanggil ketua. Lie-tay-ong itu ada panggilan kawanan
berandal kepada kepala berandal wanita, maka Bwee Hiang
tidak mau dipanggil Lie-tay-ong.
"sekarang aku tanya, siapa diantara kalian yang mau
mewakili bicara dengan aku. Perlu aku mengajukan beberapa
pertanyaan" berkata Bwee Hiang.
semuanya berdiam, tidak seorang yang berani bangkit dari
berlututnya.
"Hei, kenapa kalian takut ? Lekas maju satu orang untuk
aku tanyakan apa-apa."
Mendengar nada suaranya seperti yang gusar, mereka
yang berlutut pada ketakutan. Syukur ada satu diantaranya
yang bangkit dari berlutut, siapa ? Kiranya dia si un Hoa yang
coba peruntungan mengadu silat dengan Kan Hok Huiun
Hoa maju ke depan mimbar, sambil menjura memberi
hormat, ia berkata,
"Apa yang liehiap hendak tanyakan, tanyalah padaku. Apa
yang aku tahu, akan aku jawab sejelasnya. Harap Liehiap
jangan kuatir dibohongi."
Bwee Hiang diam-diam ketawa geli dalam hatinya. Belum
apa-apa un Hoa sudah mencegah orang jangan kuatir
dibohongi. Memangnya ia (un Hoa) tukang ngebohong ? Tapi
kalau dilihat tampangnya, un Hoa kelihatan ada jujur dan
besar nyalinya, Ia senang, maka Bwee Hiang menanya,
"Siapa itu tukang bohong (dusta) ?"
"Aku bukan bilang tukang bohong, tapi sebagai penegasan
bahwa aku tidak akan membohongi Liehiap dalam tanya jawab
yang kuberikan pada Liehiap."
"Bagus." kata Bwee Hiang.
"Sekarang yang pertama kutanya, apa kau pernah lihat ada
anak berwajah hitam, kira-kira berusia 16 tahun ada datang
kemari ?"
"Tidak pernah kulihat ada anak muka hitam kemari-"
Heran Bwee Hiang, si adik kecil tidak datang kesitu.
sebaliknya hatinya merasa lega. Cuma kemana perginya si
adik kecil itu.
"Lalu, matinya Thoat Beng Mo siauw lantaran apa ? Kalau
sakit, sakit apa dan kalau dibunuh siapa yang membunuhnya
pemimpin kalian itu ?"
"Pemimpin klta dibunuh oleh Kim Coa siancu."
"Hah siapa itu Kim Coa siancu ?"
"Aku tidak tahu, hanya menurut kata teman-teman
orangnya sangat cantik-"
"He, cantik mana dengan aku ?"
un Hoa membisu- Tapi dalam hatinya diam-diam merasa
geli atas pertanyaan si nona.
"Bagaimana, cantik mana dengan aku "
"Aku tidak tahu karena aku tidak melihat dengan mata
sendiri Kim Coa siancu itu. Jadi kau tidak bisa
membandingkannya dengan Liehiap."
"Bagaimana Kim Coa siancu dapat membunuh pemimpin
yang terkenal lihai ?"
"Dia kena digigit ular emasnya."
"stop soal Kim Coa siancu. sekarang kutanya, ada berapa
banyak wanita yang ada dikurung disini ?"
"Tidak tahu persis jumlahnya tapi lebih dari sepuluh orang."
"Bagus, semuanya baik-baik saja tinggal disini ?"
"Ia semuanya baik-baik saja. Semuanya menurut, cuma
ada satu gadis dari ong-ke-chung yang kemarin diculik sampai
sekarang menangis saja."
"Hah, kenapa demikian ? Lekas kau bawa dia kemari "
un Hoa mengiyakan. Ia putar tubuhnya dan pergi ambil si
gadis she ong. sebentar lagi gadis itu sudah dibawa
menghadap Bwee Hiang. Ternyata un Hoa mendapat
kesulitan untuk membawanya karena si gadis meronta-ronta
dan menggigit, tidak mau dibawa keluar kamarnya. Disamping
menggigit dan mencaci maki un Hoa, si gadis juga berjeritan
menangis.
Kapan sudah berhadapan dengan Bwee Hiang, si gadis
memandang jago betina kita dengan roman menghina, tidak
lagi menangis dia.
Bwee Hiang menjadi heran, ia menanya,
"Kau berasal dari ong-ke-chung ?"
"Kalau sudah tahu, buat apa tanya ?" sahut si gadis ketus.
"Hei, kenapa kau marah-marah ?" tanya Bwee Hiang.
" Aku pantas marah sebab aku benci padamu. Kau sesama
jenis denganku tapi perbuatanmu sangat cabul " si gadis ong
menuduh Bwee Hiang hingga si nona jadi kebingungan. Tapi
segera Bwee Hiang dapat menyelami pikiran si gadis ong itu,
rupanya ia menyangka bahwa dirinya adalah komplotan dari si
Hantu Ketawa.
"Hehe, adik ong, kau jangan sembarang sangka- Apa kau
kira aku ini anggota komplotannya si Hantu Ketawa ?"
si gadis terbelalak matanya, memandang tajam pada Bwee
Hiang, malah mengucek-ngucek matanya seperti ingin melihat
lebih tegas- Memang wanita yang dilihatnya itu cantik betul
tapi tidak ada sifat-sifat genit- Duduk disampingnya pun tidak
ada orang lelaki- Ia heran, lalu menanya,
"Kau siapa ?"
"Mari kau naik, akan kuperkenalkan siapa encimu " Bwee
Hiang menggapai.
Ketika si gadis sudah naik di atas mimbar dan berhadapan
dengannya, Bwee Hiang menanya perlahan,
"Namamu siapa, adik ?"
"Aku ong Kui Hoa, dan enci siapa ?" si nona balik menanya.
"Bagus, adik Hoa. Aku sendiri Bwee Hiang she Liu." sahut
Bwee Hiang.
"Tapi enci, kenapa kau ada disini ? Ini tempat kotor " tegur
Kui Hoa.
"Justru ini tempat kotor aku mau bikin bersih, adik Hoa."
kata Bwee Hiang lalu perlahan-lahan dengan singkat ia
menerangkan maksud kedatangannya kesitu.
Tiba-tiba saja Kui Hoa jatuhkan diri, berlutut sambil berkata,
"Enci, kau ada injin (tuan penolong) yang kuharap-harap,
oh, sungguh tidak terduga-duga....." berbareng ia memeluk
kakinya Bwee Hiang hingga si nona
tersipu-sipu mengangkat bangun Kui Hoa serta katanya,
"Adik Hoa, kau jangan begini- Nanti bila semua urusan
beres, akan kuantar pulang kau kerumahmu."
Bukan main girangnya ong Kui Hoa, hampir ia memeluk
dan mencium pipi Bwee Hiang saking merasa sangat
berterima kasih. kalau tidak Bwee Hiang menggoyang
tangannya dan matanya mengedipi supaya si nona berlaku
tenang
Kui Hoa berdiri di sampingnya, ia tidak mau duduk
meskipun beberapa kali Bwee Hiang menyuruh ia duduk
disampingnya-
Bwee Hiang lihat paras Kui Hoa cukup cantik meskipun
tidak secantik dirinya- Hanya kedua matanya pada benggul,
rupanya si nona menagis terus-terusan.
"Hei, un Hoa " kata Bwee Hiang.
"Coba kau kumpulkan wanita-wanita lainnya semua."
un Hoa menurut. Agak lama juga baru keluar dengan
menggiring kira-kira 15 orang wanita. Mereka dikumpulkan
dibawah mimbar untuk diperiksa oleh Bwee Hiang. setelah
memandang agak lama juga, Bwee Hiang menanya pada Kui
Hoa,
"Adik Hoa, bagaimana pendapatmu tentang mereka ?"
"Ah, semuanya perempuan tidak benar-" sahut si gadis-
Memang tepat kata-katanya Kui Hoa, sebab semuanya
pada genit-genit- Alisnya yang disipat, bibirnya yang dimerahi
serta wajahnya yang dipoles medok dengan pupur sebagai
tanda bukti bahwa sekumpulan wanita itu adalah wanita tidak
benar- Hanya menjadi wadah lelaki dapat melampiaskan
napsu birahinya. Tegasnya merupakan wanita 'mainan' kaum
lelaki dalam tempat kotor itu.
Bwee Hiang anggukkan kepalanya mendengar jawaban Kui
Hoa.
Tapi mengingat bahwa wanita-wanita itu tadinya adalah
perempuan-perempuan benar, karena berbuah demikian itu
gara-gara paksaan dari lelaki yang ganas. Bwee Hiang masih
dapat mempertimbangkan keputusannya.
Bwee Hiang lalu suruh un Hoa kumpulkan semua harta
yang ada dalam kuil itu, tapi ternyata tidak seberapa sebab
benda-benda yang mahal dan berharga katanya sudah
diangkut pergi oleh Tui Hun Lolo ke Hek-liong-tong. un Hoa
dan kawan-kawannya menyatakan tidak tahu dimana letaknya
gua Naga Hitam itu, ketika ditanya Bwee Hiang.
"Adikku." kata Bwee Hiang pada Kui Hoa-
"Kau tunggu sebentar disini- Aku akan bicara dengan
mereka-" Berbareng Bwee Hiang sudah turun dari mimbar, Ia
menghampiri Kan Hok Hui dan membebaskan ia dari totokan
sehingga ia dapat berdiri bebas.
"Semua bangun" seru Bwee Hiang. Dengan serentak
semua yang berlutut pada bangun berdiri
"Kalian tentu tahu kewajiban terhadap pemimpinnya, segala
titahnya harus dituruti, tidak boleh dibantah, bukan?"
demikian Bwee Hiang menanya pada mereka. semua orang
mengiyakan dengan berbareng.
"Nah, sekarang begini-" kata Bwee Hiang lagi.
"Aku sebagai pemimpin memerintah kepada kalian untuk
pulang ke masing-masing kampung halaman dan carilah
usaha dengan jalan halal. Masing-masing akan dapat bagian
bekal hidup sederhana. Tapi ingat Apabila aku dengar kalian
membuat sarang lagi dan mengumpulkan kawan-kawan untuk
melakukan kejahatan, akan kudatangi kalian. Disitu, selain
sarang kalian, jiwa kalian pun akan aku musnahkan untuk
dikirim ke akhirat tanpa ampun"
semua orang yang mendengarnya pada bergidik, berdiri
bulu badannya. Bwee Hiang lalu menggapai Kan Hok Hui yang
lalu datang menghampiri
"sebenarnya," kata Bwee Hiang,
"siang-siang aku sudah mau tebas batang lehermu untuk
menyusul rohnya siauw Cui dan si orang she Tan menghadap
ciiam-lo-ong. Tapi biarlah kuampuni sekali ini"
Kan Hok Hui kaget mendengar rohnya mau dikirim
menyusul rohnya siauw Cui dan si orang she Tan. Apakah si
nona ada menyaksikan adegan ia membunuh dua orang cabul
itu ? Tanyanya dalam hati kecilnya.
Bagaimana pun ia merasa sangat berterima kasih kepada
Bwee Hiang yang mengasih kesempatan untuk ia hidup. Ia
menjura pada si nona, katanya,
"Liehiap, budimu yang besar tidak mengambil jiwaku, aku
tak akan melupakan. Kalau aku tak dapat membalas sekarang,
biarlah di lain penitisan aku dapat membalasnya. Aku berjanji
selanjutnya akan menuntut penghidupan yang halal "
"Bagus, bagus." kata si nona, girang ia mendengar katakatanya
Kan Hok Hui.
"sekarang aku kuasakan padamu untuk mengatur
pembagian harta untuk bekal kau dan kawan-kawan dalam
hidup selanjutnya. Nah, mulailah kau bekerja "
Dengan dibantu un Hoa, Kan Hok Hui sudah
menyelesaikan perintah Bwee Hiang. Harta yang ada di bagi
rata diantara mereka.
Bwee Hiang sementara itu sudah ada diatas mimbar lagi,
tengah duduk bersama-sama Kui Hoa yang sekarang tidak
menolak lagi untuk diajak duduk bersama-sama oleh Bwee
Hiang. Mereka omong-omong seperti kenalan lama saja
hingga Kui Hoa merasa sangat senang terhadap teman
barunya ini.
sebentar lagi Kan Hok Hui dan Un Hoa melaporkan bahwa
pekerjaan pembagian harta sudah selesai, si nona mau suruh
apa lagi ?
Tindakan selanjutnya dari Bwee Hiang adalah membakar
habis sarang penjahat itu, kemudian ia bubarkan mereka
setelah terlebih dahulu diancam akan diambil jiwanya kalau
lain kali mereka diketemukan masih melakukan kejahatan.
Kemudian Bwee Hiang antar Kui Hoa pulag ke ong-kechung.
Kita kembali kepada Kim Coa siancu yang tidur bersamasama
Leng siong.
Malam itu Leng siong dan ibunya menjaga Kim Coa siancu
dengan penuh perhatian. Istimewa nyonya Teng, yang sabansaban
melongok ke dalam kelambu dan memandang
parasnya Kim Coa siancu yang cantik dengan tidak merasa
bosan.
"Ibu, dia lagi tidur, jangan diganggu " kata Leng siong ketika
melihat sang ibu beberapa kali telah melongok ke dalam
kelambu.
Tapi peringatan Leng siong seolah-olah tidak diacuhkan
oleh nyonya Teng sebab di lain saat kembali ia menyingkap
kelambu dan memandang parasnya si Dewi ular emas dengan
termenung-menung.
Lama-lama Leng siong menjadi curiga, ia menanya,
"Ibu, kau kelihatannya tidak bisa diam. saban-saban
melongok ke dalam kelambu. Ada apa sih dengan siancu ?"
Nyonya Teng menghela napas dan parasnya agak kusut,
seperti ada urusan ruwet yang ia pikirkan. Leng siong menjadi
heran, ia menanya,
"Ibu, ada apa sih dengan siancu ? Kelihatannya ibu sangat
tertarik olehnya."
"Anak siaong, dia......." terputus bicaranya ketika terdengar
pintu kamar diketuk perlahan dari luar.
"Siapa ?" tanya Leng siong seraya menghampiri pintu.
"Ayah, anak siong." terdengar jawaban dari sebelah luar.
Leng siong cepat membuka pintu, tampak di depannya ada
ayahnya yang berdiri-
"Bagaimana keadaannya, sudah mendusin dia ?" tanya
sang ayah, mendahului sang puteri yang sudah membuka
mulutnya hendak bicara.
"Tengko yang datang ? Lekas masuk kemari " berkata
nyonya Teng dari sebelah dalam. Tengko artinya kakak Teng,
panggilan sehari-hari nyonya Teng kepada suaminya.
Teng Hauw lantas masuk, menghampiri isterinya yang
berdiri di tepi pembaringan sambil menyingkapkan kelambu.
"Tengko, coba kau lihat " kata sang isteri-
Teng Hauw cepat mendekati isterinya dan ikut memandang
pada parasnya Kim Coa siancu yang seperti tengah tidur
nyenyak-
Paras cantik itu menyungging senyuman yang tak mudah
dilupakan oleh siapa yang melihatnyasetelah
suami isteri itu memandang agak lama, keduanya
lalu saling bertukar pandang dan tersenyum hingga Leng
siong yang menyaksikan gerak gerik kedua orang tuanya itu
merasa heran.
"Kalian lagi bikin apa ?" kata Leng siong, seraya
menyelipkan badannya diantara mereka dan turut memandang
ke arahnya Kim Coa siancu.
Kini pandang suami isteri itu dialihkan kepada parasnya
Leng siong.
"Tengko, tidak bisa salah lagi dianya....." kata nyonya Teng
perlahan kepada suaminya yang segera angguk-anggukkan
kepalanya mendengar kata-kata sang isteri.
Leng siong menjadi bingung, Ia menanya,
"Dianya siapa, ibu ?"
"Dia tidak salah lagi tentu encimu." jawab nyonya Teng
tersenyum.
"Aah Aku ada punya enci ? Kenapa ibu tidak mengatakan
itu kepadaku ?"
"Ceritanya panjang, kejadian itu pa da........" nyonya Teng
terputus bicaranya mendengar siancu ngelindur, katanya,
"Adik In, adik In kau nakal betul "
Leng siong terkejut. "Aha Tidak bisa salah lagi siancu
adalah Eng Lian yang dicari-cari si bocah muka hitam" kata
Leng siong dalam hatinya.
"Dia adalah enci Eng Lian yang tengah dicari setengah mati
oleh adik kecil." kata Leng Siong pada ayah dan ibunya.
"segala sesuatu nanti akan terang, apabila siancu sudah
siuman." sahut nyonya Teng, lalu kembali memandang
parasnya siancu yang cantik jelita.
"Adik In, nanti encimu marah......" kembali siancu ngelindur,
parasnya tampak tersenyum-senyum akan tetapi matanya
terus meram saja.
"Nanti aku panggil Taysu." kata Teng Hauw seraya
ngeloyor keluar. Tidak lama lagi Kim Wan Thauto sudah
masuk ke dalam kamar.
Kali ini kelambu bukan disingkap lagi, malah dipentang
lebar supaya semua orang dapat melihat siancu dan
mendengar ngelindurnya. Kie Giok Tong dan tiga saudaranya
tidak turut masuk, mereka hanya mendengarkan di sebelah
luar.
Agak lama juga siancu ditunggu berkata-kata pula dalam
ngelindurnya.
Ketika Kim Wan Thauto kegerahan berada di dalam kamar
lama-lama, baru saja ia hendak ngeloyor keluar sebentar, tibatiba
ia
mendengar siancu berkata,
"Adik In, kau tidak mau turut perintah encimu ? Awas, kalau
encimu sudah marah— Hihihi......"
Kim Wan Thauto geleng-geleng kepala. "Dia benar Eng
Lian, teman mainnya anak In." kata si Thauto-
"Cuma herannya, kenapa dia bisa jadi Kim Coa siancu ?"
"sebelum dapat keterangan, memang kita dalam gelap,
Taysu-" menjawab nyonya Teng ketawa.
"Nanti kalau siancu sudah siuman, baru kita dapat
pemecahannya."
"Hujin (nyonya) benar." kata Kim Wan Thauto.
"Tolong dijaga, coba bagaimana sikapnya kalau dia sudah
mendusin."
"Terang kami akan jaga betul, sebab si nona mungkin
bukan orang lain." nyeletuk nyonya Teng, membuka rahasia
dia-
"Bukan orang lain bagaimana ?" tanya Kim Wan Thauto
ingin tahu.
"Mungkin si nona adalah anak kita." menyahut Teng Hauw.
"Hahaha.....bagus, bagus." Kim Wan Thauto tertawa.
"Bagaimana riwayatnya, coba kasih cerita sedikit untuk
menambah pengetahuanku. "
"Ah, nanti saja kalau si nona sudah siuman." sahut nyonya
Teng.
Kim Wan Thauto mengangguk-angguk- Ia tidak memaksa,
sebaliknya menghela napas. Katanya,
"sekarang anak In sekarang tidak ada disini, coba ada,
bagaimana girangnya dia menemukan enci Liannya kembali."
"Dia pergi kemana ?" nyeletuk Leng siong, hingga Kim Wan
Thauto heran si gadis nyeletuk tanpa banyak pikir lagi.
Leng siong merasa keterlepasan omong, wajahnya semu
merah- Tapi ia tidak menyesal, memang ia sangat ingin tahu
kemana si bocah muka hitam itu perginya-
"Dia lagi menyusul atau boleUi dikatakan mencari Bwee
Hiang." kata Kim Wan Thauto, tersenyum ke arah si gadis-
Leng siong juga tersenyum, lalu menundukkan kepala.
setelah Kim Wan Thauto dan Teng Hauw pada keluar untuk
omong-omong lagi di ruangan pertengahan, Leng siong lalu
menanya pada ibunya,
"Ibu, kau tidak menceritakan padaku bahwa aku ada
mempunyai cici. Nah, sekarang kau harus cerita. Tidak mau
aku menunggu lama-lama."
"sabar, anak siong. Kapan encimu belum mendusin..." si
nyonya hentikan omongannya, nampak pembaringan
bergoyang- goyang dan kelambu yang barusan sudah ditutup
lagi seperti disingkapkan.
"Hei, aku ada dimana ini ?" tiba-tiba Leng Siong dan ibunya
dibikin kaget oleh kata-kata yang keluar dari dalam kelambu.
Disusul oleh turunnya Kim Coa siancu dari pembaringan
dengan tiba-tiba.
"Eh, enci, enci, kaujangan bangun dulu." kata Leng siong
seraya memburu dan mendorong Kim Coa siancu supaya tidur
kembali-
Tentu saja dorongan Leng siong tidak ada artinya bagi si
Dewi ular emas karena Leng siong merasa ia seperti
mendorong tiang besi yang tidak bergeming.
"Kau siapa ?" tanya si Dewi ular emas, ketika melihat Leng
siong mendorong-dorong ia untuk naik kembali ke atas
pembaringan.
"Aku adikmu, Leng siong." jawab si nona.
" Enci, jangan turun dulu, harus tiduran, enci terlalu lelah "
"Leng siong, adikku ? Aku tidak kenal " kata si Dewi ular
Emas seraya duduk di tepi pembaringan dan mengawasi
parasnya Leng siong dengan tajam.
Leng siong melihat siancu sudah duduk di tepi
pembaringan dan mengawasi saja kepadanya, dengan
tersenyum ia berkata,
"Enci Eng Lian, kau heran wajahku mirip dengan wajahmu,
bukan ?" siancu hanya duduk termangu-mangu, tidak
menjawab pertanyaan Leng siong.
Ia seperti sedang mengumpulkan ingatannya yang sudahsudah.
Leng siong tidak mengganggu, ia hanya berdiri di
dekatnya siancu. Di lain pihak, perlahan-lahan nyonya Teng
datang menghampiri mereka. sebagai orang tua yang sudah
berpengalaman, nyonya Teng mengerti siancu membutuhkan
banyak waktu untuk dapat mengumpulkan ingatannya yang
sudah terlupakan, Ia dan Leng siong menunggu sampai siancu
sebentar dapat bicara.
Tidak lama atau siancu sudah berpaling kepada nyonya
Teng,
"Bibi ini siapa ?" ia menanya tapi nyonya Teng tidak lantas
menyahut, hanya tersenyum ke arahnya.
Kembali siancu termangu-mangu- Ia tidak menghiraukan
pertanyaan tadi tidak dijawab oleh nyonya Teng. sampai tibatiba
ia berkata,
"Ah, sekarang aku ingat. Adik ini yang ada dipaseban
menonton aku bertarung dengan si bocah muka hitam, bukan
?"
" ya." jawab Leng siong singkat.
"Eh, itu si bocah hitam, bukan adik In ?" kata pula siancu,
setelah sejenak ia termenung-menung lagi.
"Kenapa aku berkelahi dengan adik In ? Aduh, kasihan dia
kena kugigit sampai borboran darah...."
"Enci Eng Lian, bukan ?" Leng siong menanya perlahan.
"ya, aku Eng Lian." sahutnya, seraya matanya mengawasi
pada pakaiannya.
"Eh, kenapa pakaianku macam ini ?"
Leng siong dan ibunya saling melirik dan tersenyum.
"Dimana aku berada sekarang, adik ?" tanyanya pada Leng
siong.
"Enci berada dikamarku." sahut si nona rumah-
"Hei, kenapa aku bisa berada di dalam kamarmu ?"
"Coba enci ingat-ingat dengan perlahan, kenapa bisa
berada disini." Eng Lian tersenyum, Ia kembali kumpulkan
ingatannya.
"oh, ya, aku ingat sekarang." tiba-tiba siancu alias Eng Lian
berkata.
"Setelah aku menggigit lengannya adik In, lantas aku
merasakan kepalaku pusing dan tidak ingat lagi. Bukan
lantaran itu, aku dibawa kemari"
Leng siong anggukkan kepala seraya tersenyum, Ia tidak
mau banyak-banyak omong supaya ingatan siancu lebih cepat
kembali.
Ia mau kasih kesempatan Eng Lian bicara lebih banyak,
menandakan bahwa ingatannya sudah kembali betul-betul.
"Dimana adanya adik In ?" Eng Lian menanya.
"Dia ada disini-" sahut Leng siong.
"Coba kau tolong panggilkan dia kemari."
"oh, dia lagi keluar. Mungkin besok pagi baru balik,"
"Ah, si nakal itu. Kemana saja dia sudah pergi ? Tidak ingat
kepada encinya "
"Adik kecil selalu ingat kepadamu enci, malah sekali tempo
aku lihat dia menangis memikirkan enci-"
"Apa iya ? Akan kucubit dia kalau ketemu "
Leng siong melengak. Pikirnya, enci Eng Uan ini benarbenar
masih kekanak-kanakan.
Pantas si bocah wajah hitam selalu merindukan dia sebab
teman mainnya ada demikian manja terhadapnya. sampai
begitu jauh nyonya Teng tidak campur bicara tapi setelah
melihat siancu atau Eng Lian mulai berkumpul ingatannya,
tentu ia nimbrun bicara hingga lama-lama dalam kamar itu
menjadi ramai dengan tertawa mereka. Eng Lian bisa
membanyol, sudah tentu saja ia mudah mengitik urat ketawa
Leng siong dan ibunya sehingga bukan sekali dua kali mereka
tertawa terpingkal-pingkal.
sementara itu malam pun sudah larut. Maka nyonya Teng
meninggalkan dua gadis jelita itu untuk balik ke kamarnya
sendiri.
Balik kepada jago cilik kita yang pagi-pagi pulang habis
mencariBwee Hiang dengan sia-sia. Ia menanti di ruang
depan atas kemunculannya Kim Coa siancu.
Ketika cuaca sudah makin terang, belum juga kelihatan
siancu atau enci Eng Lian muncul, Lo In menjadi gelisah- Ia
berkata pada Kim Wan Thauto,
"Toako, kenapa belum juga kelihatan enci Eng Lian keluar
?"
Kim Wan Thauto ketawa ke arahnya- sebelum ia
menjawab, tiba-tiba muncul satu pelayan wanita kecil
menyuruh Lo In masuk ke dalam-
"Nah, suruhan itu sudah datang, jangan kuatir, enci Eng
Lianmu tidak akan lari." goda Kim Wan Thauto kepada jago
cilik kita.
Lo In ketawa nyengir, seraya bangkit dari duduknya
mengikuti si pelayan masuk ke dalam, sebelum sampai di
dalam, Lo In menanya pada si pelayan,
"Hei, adik kecil, siapa yang undang aku masuk? Apa
nonamu, nona tamu atau nyonya besar ?"
si pelayan tersenyum,
"Tiga-tiganya." sahutnya ketawa geli-
"Ah, kau main-main. Nona tamu itu yang undang, bukan ?"
tanya Lo In lagi-
"Lihatlah nanti." sahut si pelayan singkat.
sementara itu mereka sudah sampai diruangan dalam,
dimana sudah menanti nyonya Teng Hauw- si bocah kecewa
karena tidak melihat Kim Coa siancu maupun Leng siong di
situ-
"Bibi Teng, mana enci Eng Lian dan Leng slong ?" ua lantas
saja menanya pada nyonya rumah.
"Sabar" sahut nyonya rumah-
"Mari, mari duduk, menunggu sebentar"
Malas-malasan Lo In ambil tempat duduk- Hatinya kecewa
lagi tatkala nampak Teng Hauw, Kim Wan Thauto, Kie Giok
Tong dan lain-lain saling susul muncul dalam ruangan itu.
Mereka disilahkan dengan hormat oleh nyonya rumah untuk
mengambil tempat duduk-
Kim Wan Thauto melihat Lo In tidak gembira nampak
kedatangan mereka ke dalam ruangan itu, lantas berkata,
"Anak In, pagi ini ada kejadian yang tak dapat dilupakan
seumur hidupmu. Maka kami orang ingin turut
menyaksikannya -"
Lo In tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh sang Toako,
tapi ia terpaksa unjuk ketawa nyengirnya yang terkenal.
setelah semua ambil tempat duduk, nyonya Teng berkata
pada si bocah,
"Hiantit (keponakan), aku sudah tua. Mataku sudah lamur
untuk membedakan barang yang hampir serupa warnanya.
Maka aku undang kau datang untuk menolong
membedakannya dua barang yang sama bentuknya "
"Bibi Teng bisa saja-" kata si bocah-
"Dengan sejujurnya aku mengatakan, aku juga tak dapat
membedakan barang yang hampir sama bentuknya-"
"Hiantit masih muda, mata masih terang, aku tidak percaya
kalau tak dapat membedakan barang yang hampir serupa
warnanya." berkata lagi nyonya rumah, matanya melirik
kepada para tamu sambil tersenyum-senyum
Kim Wan Thauto mesem, Kie Giok Tong anggukanggukkan
kepalanya, lainnya pada menahan ketawa gelinya,
semua itu tanpa disadari oleh Lo In, jago cilik kita.
"Mana barangnya, bibi Teng ?" kata Lo In tidak sabaran.
Pikirnya, orang mau ketemu enci Lian, ini malah menyuruh
orang membedakan barang sebala. Benar-benar bibi Teng ini
brengsek orangnya
"Nanti aku akan suruh orang mengambilnya." sahut nyonya
rumah seraya menyuruh satu pelayan perempuan masuk ke
dalam.
Katanya untuk mengambil barang, tidak tahunya yang
muncul.........dua bidadari kembar keluar dari balik tirai dengan
tersenyum-senyum riang.
"Hianti, nah tuh dia, coba kau bedakan mana adalah enci
Lianmu ?" berkata nyonya Teng ketika melihat Lo In bengong
terlongo-longo di tempat duduknya.
Dua nona yang baru muncul itu wajahnya seperti pinang di
belah dua, pakaiannya sama, gerak geriknya sama, semua
sama, dari mana bisa dibedakan yang mana Eng Lian dan
yang mana Leng siong ?
Bukan hanya Lo In tapi juga Teng Hauw, Kim Wan Thauto
dan yang lain-lainnya duduk terpesona di atas kursinya
masing-masing menampak sepasang anak kembar itu muncul.
Cantik menggiurkan sepasang dara kembar itu, siapa pun tak
dapat membantahnya.
Dara kembar itu tidak menghampiri meja perjamuan, hanya
berpose tidak jauh dari Lo In duduk, tersenyum-senyum ke
arahnya.
Lo In kucek-kucek matanya sambil menggeleng-geleng
kepala.
"Bibi Teng, mana enci Lian, enci Leng siong ?"tanyanya
pada nyonya Teng.
"Kenapa jadi menanya padaku ?" sahut nyonya rumah
ketawa.
"Bibi Teng, jangan main-main. Lekas unjukkan yang mana
adalah enci Eng Lian."
"Anak In, kau jangan suruh bibi Teng yang unjuk Mana dia
tahu tahu yang mana Eng Lian atau Leng siong. Bukankah tadi
dia minta pertolonganmu untuk membedakannya ?"
Lo In ketawa nyengir, Ia sudah kepingin peluk enci Eng
Liannya untuk melepaskan rindunya kepada teman mainnya
itu, akan tetapi siapa diantara dua dara itu adalah enci Liannya
yang tepat ? lantaran ceroboh, bisa-bisa ia memeluk Leng
siong, bukankah itu akan menggelikan orang ? Bingung luga
Lo In.
Ketika nyonya rumah mendesak supaya Lo In lekas
menyebutkan yang mana adalah enci Eng Liannya, ia berkata,
"Baiklah, aku nanti pilih- Paling-paling juga aku nanti
kesalahan menyebut enci Leng siong adalah enci Eng Lian,
tidak apa toh "
"oo, tidak bisa begitu" kata Kim Wan Thauto
"Habis bagaimana ? Toako ini suka banyak urusan"
"Kalau anak In salah tebak, artinya anak In tidak sungguhsungguh
mengenangkan enci Lianmu. Maka Eng Lian juga
akan kembali menjadi Kim Coa siancu."
Lo In menjublek mendengar kata-katanya Kim Wan Thauto-
"Celaka tiga belas, memang seharusnya aku mengenali
enciku- Kalau gagal, enci Lian akan marahi aku." demikian
pikir si bocah- Sembari berpikir ia mengawasi dengan tajam ke
arah dua dara di depannya- Tapi meskipun matanya lihai
dapat melihat jauh, ia tak dapat menemukan tanda tai lalat di
atas alis kirinya Eng Lian.
Rupanya tanda itu sudah ditutupi oleh nyonya Teng ketika
dua dara itu di make-up-
Tapi Lo In adalah bocah cerdik luar biasa. Pantang
menyerah, kalau hanya kehilangan tanda tai lalat pada alis
kirinya Eng Lian, ia sudah lantas mencari akal lagi.
"Aku sekarang hendak menanya pada kedua enci, siapa
aku ini ?"tanya Lo In.
"Lo In, si bocah hitam " terdengar dua dara itu menyahut
berbareng.
Lo In kaget. Pikirnya,
" Celaka, dua dara ini menyebut aku si bocah hitam,
semestinya enci Lian tak akan menyebut demikian."
Bingung dia karena suaranya dua dara kembar itu sama,
tak dapat dibedakan.
Ia memandang ke arah sepasang dara itu, mereka
tersenyum sama, melirik sama, habis yang mana satu adanya
enci Lianku ? Tanya hati kecilnya.
"Dari mana aku asalnya ?" ia lalu menanya lagi.
"Dari lembah Tong-hong-gay." sahut sepasang dara
berbareng.
"siapa orang yang sayang padaku selama diatas Tonghong-
gay ?"
"Liok sinshe-"
"Di mana sekarang adanya Liok sinshe ?"
sepasang dara itu saling pandang sejenak, tapi lantas
menyahut,
"Belum diketemukan."
Tadinya Lo In sudah kegirangan, pertanyaannya paling
belakang tak dapat dijawab oleh salah satu diantaranya, tapi
mengapa jawabannya jitu benar dua-duanya ? Lo In berpikir
sebentar- Pusing ia, buntu jalan.
"Sudahlah enci Lian, jangan godai adikmu."
"yang mana enci Lianmu ?"
"Tunggu, tunggu aku akan unjukan." kata Lo In seraya
bangkit dengan tergesa-gesa dari duduknya hingga lengannya
kebentur sana sini. Baru ia bertindak dua langkah
menghampiri si dara kembar tiba-tiba ia berjengit-
"Aduh, sakit lengan ku bekas digigit- Aduh, aduh "
Lo In berteriak mengaduh sambil pelangi lengan yang
bekas digigit Kim Coa siancu hingga Kim Wan Thauto dan
lain-lainnya jadi kaget- sebelum mereka memberikan
pertolongan, dua dara kembar sudah ada di dekat Lo In pada
memegangi lengan Lo In.
Dara yang dikiri yang memegangi lengan kirinya yang tidak
terluka berkata,
"Adik kecil, kau kenapa ?"
Dara yang memegangi lengan kanannya yang terluka
berkata,
"Adik In, kau kenapa ?"
Tiba-tiba saja Lo In tertawa terbahak-bahak hinga dua dara
kembar itu menjadi terperanjat.
"Apa yang kau ketawakan, adik kecil ?" tanya dara yang di
sebelah kiri
"Apa yang kau ketawakan, adik In ?" tanya dara yang
disebelah kanan.
Pertanyaan sepasang dara jelita itu, bukannya dijawab oleh
Lo In, ia malah tertawa makin keras dan terpingkal-pingkal,
semua orang heran kenapa Lo In tertawa demikian enaknya.
setelah Lo In berhenti ketawa, entah bagaimana si bocah
bergerak, tahu-tahu dara yang disebelah kanannya sudah
jatuh dalam pelukannya.
"Adik In, adik In, kau jangan gila-gilaan begini " si dara
meronta-ronta.
"Hahaha, inilah enci Eng Lianku " berkata Lo In dengan
suara gembira.
Eng Lian yang sudah ketahuan siapa dirinya, kontan ia
mencubit Lo In.
"Anak nakal, kau belum mau lepaskan encimu ?"ia
membentak si bocahsambil
tertawa berkakakan Lo In lepaskan pelukannya dan
kembali ke tempat duduknya-semua orang kebingungan,
apakah benar yang dipeluk Lo In tadi adalah nona Eng Lian.
Mereka hampir berbareng melirik pada nyonya Teng yang
tampak anggukan kepalanya sambil tersenyum.
" Lihai, lihai " kata Kie Giok Tong sambil tunjukkan
jempolnya.
Eng Lian dan Leng siong sementara itu sudah turut duduk
menghadapi meja perjamuan seraya ketawa riang.
"Bagaimana kau bisa membedakan enci Lianmu, anak In ?"
tanya Kim Wan Thauto, penasaran ia sebab sepasang dara itu
sukar dibedakan.
"sebenarnya dia sulit juga, beberapa pertanyaanku dijawab
betul semuanya, malah suaranya enci Eng Lian dan Leng
siong tidak ada bedanya. Barusan aku mengaduh hanya purapura
saja, mau lihat reaksi dari mereka terhadapku. Dua-dua
perhatiannya sama mesranya, cuma mereka lupa satu hal
yang membuka rahasia. Hahaha " Demikian Lo In
menerangkan, hingga Eng Lian dan Leng siong penasaran.
Hampir berbareng mereka menanya,
"Apakah yang membuka rahasia ?"
"Panggilan padaku. Hahaha " Enci Leng siong panggil 'adik
kecil', sedang enci Eng Lian 'adik In' yang sudah meresap
dalam telingaku-"
Leng siong ketawa ngikik.
Eng Lian deliki matanya yang bagus ke arah si nakal- Kalau
tidak banyak orang mungkin Kim Coa siancu yang sekarang
kembali pada Eng Lian akan mencubit Lo In-
Leng siong nampak Lo In dan Eng Lian beradu pandangan
mesra rada-rada tergetar hatinya- Tapi la yang wataknya
halus, kejadian itu hanya sejenak saja menggetarkan, lantas
sudah hilang tanpa bekassemua
orang kagum akan kecerdikan si bocah hitam.
Perjamuan makan sementara itu sudah dimulai-
Kiranya perjamuan makan itu diadakan oleh tuan dan
nyonya rumah untuk kehormatan d memberi selamat kepada
Lo In dan Eng Lian, sudah berpisah dua tahun lamanya,
sekarang dapat berkumpul kembali-Lo In dan Eng Lian diamdiam
merasa girang atas kebaikannya keluarga Teng.
si bocah kelihatan makan banyak, rupanya hatinya sangat
gembira menemukan kembali teman mainnya yang sangat
dirindukannya, sering-sering mereka beradu pandang disusul
oleh senyuman masing-masing yang sudah dikenalnya.
"Nona Lian." tiba-tiba Kim Wan Thauto berkata,
"Hari ini adalah hari baik- sungguh aku dan saudarasaudara
yang lainnya turut merasa girang bahwa kau dengan
anak In sudah dapat berkumpul kembali. Dalam kesempatan
yang sebaik ini, bagaimana kalau kau mendongeng halmu
sampai menjadi Kim Coa siancu."
Eng Lian ketawa manis mendengar permintaannya n Kim
Wan Thautosi
nona ada satu dara yang luwes dan tidak pemalu, tidak
keberatan ia menceritakan hal dirinya di depan hadirin yang
baru dikenalnya-
Ia mulai ketika ia diculik dari lembah oleh Ang Hoa Lobo
dan siauw Cu Leng. si Nenek Kembang Merah dan si Iblis Alis
Buntung siauw Cu Leng memperlakukan dirinya baik-baik
saja, malah kelihatan mereka sangat sayang, Ia tidak
keberatan si Nenek Kembang Merah minta belajar cara
menakluki ular, ketika padanya dijanjikan akan dikembalikan
pula ke lembah dan bertemu dengan adik In-nya. Tidak
tahunya ia kena dikibuli, malah ia dicekoki obat
'Cian-jit-su-suhun'
yang membikin ia lupa ingatan yang sudah-sudah- Ia lupa
kepada Lo In, Kim-tiauw kawanan kera teman mainnya, hanya
yang diingat bahwa ia adalah muridnya Ang Hoa Lobo kepada
siapa ia harus mentaati segala perintahnya.
Ang Hoa Lobo dan siauw Cu Leng besar ambekannya dan
hendak mendirikan Ang Hoa PI mereka sudah culik-culiki
banyak gadis dan pemuda untuk dijadikan prajuritnya.
Ia mendapat didikan langsung dari Ang Hoa Lobo hingga ia
pandai ilmu silat, malah ketika Lamhay Mo Lie yang menjadi
sucouw-nya datang ke Coa Kok- Hantu Wanita dari Lamhay itu
sangat sayang pada dirinya dan memberi banyak petunjukpetunjuk
yang berharga soal ilmu silat dan Iwekang sehingga
kepandaiannya meningkat, baik dalam hal Iwekang maupun
mengenakan ilmu silatnya sendiri, sucouw Lamhay Mo Lie ada
sangat lihai, belum menemukan tandingan menurut katanya
Ang Hoa Lobo.
Selama obat 'Cian-jit-su-su-hun' (obat bubuk memtikan
ingatan seribu hari) masih bekerja, tegasnya belum
dipunahkan (dikasih obat penawarnya) ada tiga pantangan
menyentuh tubuh si korban obat mujizat itu, yaitu tidak boleh
disentuh bagian jidat, tetek dan perutnya. Kalau orang
menyentuh salah satu bagian ini, orang yang menyentuhnya
digigit kontan oleh si korban dan yang kena digigit dalam
tempo pendek akan berubah pikirannya, tidak ingat lagi
kejadian-kejadian yang sudah lalu, hanya yang diingatnya taat
kepada perintah siancu.
"sungguh mengerikan" kata Kie Giok Tong.
"Tapi kenapa gigitanmu pada anak In tidak membikin anak
In berubah ingatannya ?" tanya Kim Wan Thauto yang merasa
heran atas keterangan Eng Lian.
"Aku juga heran." sahut si nona.
"Bukan saja adik In tidak apa-apa, malah aku bisa jatuh
pingsan dan ingatanku kembali seperti asal."
Lo In pun merasa heran. Menurut penuturan Eng Lian,
semestinya ia jatuh dibawah pengaruhnya Eng Lian (Kim Coa
siancu pada saat itu), tapi kenapa tidak apa-apa ?
Dalam ingatannya yang cerdik, Lo In ingat sesuatu, maka ia
lantas berkata,
"Enci Lian, mungkin nyali Toksgan sian-cu yang menolak
racun 'Cian-jit-su-su-hun' hingga aku tidak apa-apa."
"Adik In, kau bicara ada alasannya." sahut si nona ketawa.
"Tapi...." "Tapi apa ?" tanya Lo In cepat-
"Tapi bagaimana ingatanku bisa kembali ?" sahut Eng Lian.
"Itu mudah saja ditebak-" kta Lo In.
"Bagaimana pendapatmu, adik In ?" tanya si nona.
"Ketika enci menggigit daging lenganku sampai nyoplok
dan borboran darah, sedikit banyak enci ada menelan juga
darah dari daging gigitan. Darah inilah yang merupakan obat
penawar untuk melenyapkan pengaruhnya 'Cian-jit-su-su-hun'.
coba masuk diakal tidak ?"
"Benar, benar, adik In." kata Eng Lian seraya menepak
meja hingga mangkok piring sayur yang diatas meja pada
berdansa. Malah ada mangkok sayur yang tumpah dan
muncrat mengenakan baju Tan Kim dan song cie Liang. —
Mereka cepat bangkit dari duduknya dan menggiberikberikan
bajunya sedang matanya melotot kepada Eng Lian.
"Menyebalkan kelakuan gadis liar ini." piketnya dalam hati,
akan tetapi mereka tidak berani mengatakan terang-terangan,
masih memandang kepada Lo In dan Kim Wan Thauto-
"Maaf, maaf, barusan aku kelupaan." kata Eng Lian atas
kelakuannya yang tidak disengaja tadi. Ia tidak gubris
pelototan matanya Tan Him dan song cie Liang.
Lo In ketawa nyengir. Tapi diam-diam ia merasa sedikit
tidak enak enci Liannya mengumbar keberandalannya di
depan banyak orang tua. Meskipun begitu, ia tidak berani
menegur enci Liannya, yang bisa menghilangkan kegembiraan
mereka yang telah berkumpul kembali, Ia berkata,
"Para paman, harap memaafkan atas kelakuan enciku yang
tidak disengaja."
"oh, urusan kecil, urusan kecil." kata Kie Giok Tong,
mendahului tuan rumah bicara.
"Masa buat urusan begitu kecil kami orang menaruh hati ?
Hahaha "
Kie Giok Tong pandai bergaul danjuga bisa melihat gelagat,
Ia sembunyikan kedongkolannya di balik wajahnya yang
ramah tamah-
Bwee Hiang ia sudah kenal kegagahannya, tapi si Dewi ular
Emas ini ada gadis liar. Entahlah berapa tinggik
kepandaiannya. Demikian Kie Giok Tong diam-diam terpikir
dalam hatinya.
Kim Wan Thauto pun tampak kurang senang melihat
kelakuan Eng Lian yang kasar.
Teng Hauw dan nyonya hanya geleng-geleng kepala,
sebaliknya Leng siong sudah ketawa cekikikan melihat Tan
Kim dan song Cie Liang kepanasan kena kesiram sayur.
setelah makanan yang tumpah diganti, perjamuan dilanjutkan
dengan kurang gembira.
Eng Lian tidak perdulikan orang punya pandangan terhadap
dirinya, ia makan seenaknya saja ditemani oleh Leng siong.
"Adik In, kau tidak mau temani encimu makan ?" tegur Eng
Lian ketika melihat Lo In diam saja menonton mereka makan
dengan gembira-
Lo In ketawa nyengir, Ia juga lantas hantam makanan tanpa
sungkan-sungkan untuk membikin Eng Lian senang hatinya.
Tapi diam-diam Lo In sedang kerjakan otaknya mencari akal
supaya Kim Wan Thauto dan Lima Harimau pun menghargai
Eng Lian seperti juga mereka menghormati Bwee Hiang.
Belum sempat Lo In memecahkan persoalan, tiba-tiba ia
dibikin terperanjat oleh kejadian yang tidak terduga-duga sama
sekali.
Lo In melihat Eng Lian menyumpit mie dari mang kok besar,
ditaruh dalam mangkok makannya, Ia tidak lantas makan mie
dalam mang koknya itu, sebaliknya ia bakal main dikutik sana
dikutik sini. Lo In heran, apa maknanya enci Eng Lian main
dengan mie itu.
Ketika ia hendak membuka mulut menanya, sekonyongkonyong
ia lihat ada dua potong mie sekira panjang dua cun
(dim) masing-masing dipisahkan oleh sumpitnya Eng Lian.
"Hahah, enci Lian kau lagi bikin apa-apaan itu ?" tanya Lo
In.
Berbareng dengan pertanyaan Lo In, dua potong mie tadi
dikutik, sumpit mencelat dari mang koknya, seketika itu
terdengar teriakan mengaduh dari Tan Him dan song cie
Liang, tubuhnya berbareng terkulai dari duduknya dan roboh
dilantai.
Kaget bukan main Lo In nampak kejadian itu, Eng Lian
telah unjuk kenakalannya. Cepat ia memburu pada Tan Him
dan song cie Liang yang sedang dirubung oleh Kim Wan
Thauto, Kie Giok Tong dan lain-lainnya. Keadaan Tan Him dan
song cie Liang tidak berkutik, seperti kena ditotok-
Kim Wan Thauto heran, bagaimana dua orang itu roboh
dengan tiba-tiba saja. Pasti mereka sudah diserang dengan
senjata gelap-
Tapi siapa penyerangnya ? Di situ ada Lo In, jago cilik yang
lihai, siapa berani main gila dengan sesukanya ?
Tiada seorang yang tahu kecuali Lo In bahwa perbuatan itu
adalah perbuatan Eng Lian yang main-main, malah Leng siong
yang duduk di dekatnya Eng Lian pun, tidak engah kalau Kim
Coa siancu sudah unjuk kepandaiannya yang istimewa.
Keadaan menjadi tegang. Hanya Lo In yang diam-diam
ketawa melirik pada Eng Lian, siapa telah menyambut dengan
senyuman puas. Malah Eng Lian telah mencekikik dengan
tiba-tiba hingga Leng siong di sebelahnya menjadi heran.
Kim Wan Thauto coba membebaskan Tan Kim dan song
cie Liang dari totokan tapi sia-sia saja. Malah korban itu
meringis-ringis kesakitan ketika jalan darah membebaskan
diurut-urut oleh Kim Wan Thauto- si Thauto menjadi gelisah-
"Anak In, ini bagaimana ?" Kim Wan Thauto menanya pada
si bocah ketika melihat Lo In sudah ada di dekatnya-
" orang jahat sudah datang mengacau " kata Kie Giok Tong
ketakutan.
semua orang sudah merubung-rubung song cie Liang dan
Tan Him, kecuali Eng Lian dan Leng siong tinggal enakenakan
meneruskan makannya.
Nyonya Teng pucat pasi wajahnya mendengar Kie Giok
Tong mengatakan ada orang jahat datang mengacau.
" Hiantit, bagaimana ini ?" ia menanya pada Lo In.
semua perhatian ditumplek pada Lo In sebab mereka tahu
hanya si boacah wajah hitam yang sakti itu yang dapat
menyelamatkan mereka.
"Anak In, kenapa kau diam saja ? Lekas tolong paman Tan
dan song " kata Kim Wan Thauto yang putus asa tak dapat
membebaskan totokan orang.
"ya, siaohiap, tolonglah " Kie Giok Tong kata dengan wajah
memohon.
"orang jahat sih tidak ada." kata Lo In.
"Mungkin kedua paman ini menerbitkan perasaan tidak
senang pada orang pandai hingga mereka dikasih rasa."
Kim Wan Thauto dan Kie cHiok Tong heran mendengar
kata-kata Lo In.
"Anak In, siapa orang pandai itu ?" tanya Kim Wan Thauto-
"Coba aku periksa apanya yang kena ditotok-" sahut Lo In
seraya jongkok memeriksa, Ia tidak menjawab langsung atas
pertanyaan sang toako.
Lo In pura-pura memeriksa bagian mana yang ditotok
'orang pandai', ketika ia memeriksa wajah Tan Him, persis
pada jidatnya ada menempel sepotong mie yang panjang dua
cun tengah melingkar seperti ular, melekat bagaikan masuk ke
dalam kulit. Lalu diperiksanya pula keadaan song cie Liang,
kiranya ia senasib dengan Tan Him pada jidatnya menempel
mie yang melingkar macam ular.
Kie Giok Tong sangat heran, akan tetapi Kim Wan Thauto
sebaliknya telah mengerutkan keningnya, Ia berkata,
"Anak In, lekas bebaskan mereka dari totokan"
"Toako, jangan marah, aku tidak bisa membebaskannya."
sahut Lo In.
" Habis, habis bagaimana ini ?" kata Kie Giok Tong
kebingungan, pikirnya, Lo In sendiri tak dapat membebaskan
totokan pada dua saudaranya, siapa lagi yang dapat diharap ?
Apa ada yang lebih tinggi kepandaiannya dari si bocah ?
"Jangan cemas." menghibur Lo In.
"Ada orangnya yang dapat membebaskan.
"siapa, siapa ?" Kie Giok Tong memotong dengan
bernapsu.
"Tapi dengan satu syarat." Lo In masih pelit untuk
menunjukkan orang itu.
"Syarat apa Lo In Hiantit maksudkan ?" tanya Kie Giok
Tong.
"Kalau kedua paman sudah dibebaskan, aku harap urusan
tidak ditarik panjang. Bikin habis sampai disini- Titik" Lo In
majukan syaratnya.
Kie Giok Tong heran mendengar perkataan Lo In.
"Kenapa pakai ada syarat begitu segala ?" ia menanya.
"Itu untuk kebaikan kedua pihak-" sahut Lo In tenangtenang
saja-
Kie Giok Tong melirik pada Kim Wan Thauto yang lantas
anggukkan kepalanya sedikit.
"Baiklah-" kata Kie Giok Tong kemudian.
" orang pandai itu boleh dipanggil"
"orang itu ada disini-" sahut Lo In seraya melirik pada meja
perjamuan, dimana Eng Lian dan Leng siong sedang asyik
makan-makan seakan-akan mereka tidak menghiraukan
kepada kejadian yang mengejutkan itu.
Melihat gerakan Lo In, baru Kim Wan Thauto sadar siapa
yang main-main di depannya. sebagai jago kawakan, tidak
senang ia orang main-main diluar tahunya- sebab itu satu
penghinaan. Maka menuruti hatinya yang panas, seketika itu
ia bangkit dari jongkoknya, kepalanya la lalu digelengkan, tibatiba
sepasang anting-anting emasnya melesat saling susul ke
arah Eng Lian yang sedang ulur tangan untuk menyumpit
daging ayam.
"Toako, kau berbuat apa ?" kata Lo In kaget ketika melihat
sepasang anting-anting emas, senjata ampuhnya Kim Wan
Thauto melesat ke arahnya Eng Lian.
Lo In tidak keburu mencegah, sebab perbuatan Kim Wan
Thauto itu ada diluar perhitungannya.
" Celaka, enci Lian " dalam hatinya mengeluh.
Tapi kekagetan Lo In hanya sejenak sebab di lain detik
kelihatan ia kegirangan dan bertepuk tangan, sebaliknya Kim
Wan Thauto berdiri termangu-mangu memandang ke arah Eng
Lian yang berkata kepada Leng siong,
"Adik siong, aku mau sumpit daging ayam, kenapa jadi
kesalahan menyumpit ini ?" seraya unjukkan sepasang antinganting
emas Kim Wan Thauto yang terjepit pada sepasang
sumpit makannya si nona.
Leng siong terheran-heran sebab ia tidak tahu apa yang
sudah terjadi.
Kim Wan Thauto berdiri menjublek lantaran menyaksikan
kepandaian Eng Lian diluar dugaannya sama sekali. Boleh
dikatakan ia menyerang Eng Lian separuh membokong karena
si nona pada saat itu tengah menyumpit daging ayam. Eng
Lian tarik pulang sumpitnya ketika mengetahui ada senjata
rahasia menyerang dirinya. Dengan hanya acungkan
sumpitnya, sepasang anting-anting emasnya Kim Wan Thauto
pada nempel terjepit, bagaikan anting-anting besi karatan
yang nempel pada besi berani.
sungguh menakjubkan kepandaiannya Kim Coa siancu dan
toh ia tidak menegur kepada yang melepaskan senjata
gelapnya, malah ia memperlihatkan hasilnya kepada Leng
siong dengan mengatakan bahwa ia kesalahan mau
menyumpit daging ayam kena mencomot anting-anting orang.
Bukan main malunya Kim Wan Thauto tapi Lo In sudah datang
menghibur, katanya,
"Toako, kita adalah orang sendiri tidak usah malu. Enci Lian
dapat menangkis serangang toako tentu saja mudah lantaran
toako tidak dengan sungguh-sungguh ikutkan Iwekang toako
yang dahsyat. Coba kalau toako menyerang dengan betulbetul,
mana dapat enci Lian memusnahkan serangan toako ?"
Kim Wan Thauto tertawa terbahak-bahak-
"Aku menyerah, aku menyerah-" katanya kemudian seraya
jalan menghampiri Eng Lian.
"Enci Lian, itu Taysu datang. Mungkin dia hendak menagih
anting-antingnya." berkata Leng siong seraya tangannyaa
menowel Eng Lian.
"Biarkan dia datang." sahut Eng Lian.
"Kalau dia tidak minta maaf, siapa mau pulangi antinganting
emasnya. Boleh juga kita bagi seorang satu sebagai
tanda peringatan, bukan ? Hihihi—."
"Nona Lian," Kim Wan Thauto menyetop ketawanya Eng
Lian.
"Aku si Thauto tidak tahu diri dan mohon maaf atas
kelakuanku barusan. Kepandaian nona Lian yang
menakjubkan, aku si Thauto mengaku kalah- Tolong nona
kembalikan anting-anting rongsokanku untuk menghias
telingaku yang kedinginan ditinggalkan penghuninya-"
"Hihi— hihi—" Eng Lian ketawa cekikikan, malah terpingkalpingkal
ia ketawa mendengar kata-katanya Kim Wan Thauto
yang lucu, malah Leng siong juga ikut-ikutan ketawa-
Kim Wan Thauto ada satu pendeta kesatria, tidak merasa
malu ia mengaku kalah di hadapan lawan, seperti tempo hari
dipecundangi Lo In. Ia tidak gusar melihat Eng Lian ketawa
terpingkal-pingkal sebab memang ada menjadi maksudnya
untuk bikin si nona nakal ketawa enak dengan kata-katanya
yang lucu tadi
setelah berhenti ketawa, Eng Lian berkata,
"Taysu, ini aku kembalikan. Lain kali jangan main-main
begitu. Kalau dengan tidak cara kebetulan aku dapat
menyambuti senjata anting-anting Taysu yang ampuh,
barusan aku bisa celaka, syukur Taysu hanya main-main saja
menyerangnya." Eng Lian berkata sambil menyerahkan
kembali anting-anting si Thauto, sedang air mukanya sedikit
pun tidak mengunjuk rasa tidak senang, malah tersenyum
manis ke arahnya Kim Wan Thauto-
Si pendeta rambut panjang menerima kembali barangnya
dengan menghaturkan terima kasih tapi diam-diam ia merasa
gegetun akan kata-katanya Eng Lian yang menutupi
ketidakbecusannya (Kim Wan Thauto). Ia tidak menyangka
bahwa dibalik tingkah laku yang berandalan, Eng Lian ada
gadis cilik yang simpatik. Dalam ucap katanya seakan-akan
menghibur orang punya rasa cemas dan malu. Wataknya
sama dengan Lo In. ternyata si bocah begitu akur dengan enci
Liannya. Demikian Kim Wan Thauto berkata-kata dalam hati
kecilnya selama berhadapan dengan Eng Lian.
Lo In di lain pihak sangat senang hatinya karena enci
Liannya tidak mengecewakan baik dalam kepandaiannya yang
istimewa maupun dalam ucap katanya kepada orang yang
dipecundangi olehnya.
"Enci Lian, kaujangan enak-enakan duduk. Ada kerjaan
yang meminta bantuanmu " kata Lo In tiba-tiba.
"Adik In, kau kejam menegur encimu selagi makan." sahut
Eng Lian mesem. Lo In ketawa nyengir.
"Bukannya kejam. Enci Lian, hayo tolongi orang "
"Kau sendiri dapat menolongnya, kenapa mesti minta
bantuanku ?" Lo In kerutkan keningnya.
"Baiklah, siapa yang kuharus tolong ?" kata Eng Uan
ketawa melihat adik In- ny a seperti mendongkol.
"Enci Lian berlagak pilon lagi-" kata Lo In nyengir seraya
menunjuk Tan Him dan song Cie Liang yang masih rebah di
lantai dirubung oleh saudara-saudaranya
Eng Lian bangkit dari duduknya lalujalan menghampiri dua
korban totokannya. Ia berkata ada Kie Giok Tong,
"Lopek, bicara terus terang, kalau aku masih jadi siancu,
kedua paman ini jangan harap sekarang masih bisa
bernapas."
"Nona Lian, kenapa kau begitu marah kepada mereka ?"
tanya Kie Giok Tong.
"Lantaran aku tidak sengaja menggebrak meja." sahut si
nona.
"sayur menyiram bajunya mereka. Rupanya mereka tidak
senang terus-terusan, matanya selalu melotot kalau berpaling
ke arahku, siapa tidak jadi dongkol ? Aku toh sudah memohon
maaf, bukan ? Dengan sedikit kepandaian, aku bikin mereka
tahu rasa "
Kie Giok Tong sekarang baru tahu duduknya urusan, si
nona tidak terlalu disalahkan dalam tindakannya, karena
saking gemasnya ia dipelototi terus menerus, Ia sesalkan
perbuatan dua saudaranya.,
"Nona Lian, biarlah aku lebih dulu minta maaf atas
kekasaran saudara-saudaraku. Kapan mereka sudah bebas
dari totokan akan kusuruh mereka minta maaf pada nona.
sekarang, tolonglah nona bebaskan mereka dari totokan."
Belum habis Kie Giok Tong berkata, Tan Him dan song cie
Lian sudah mendapat kebebasannya. Tampak Eng Lian hanya
mengetuk jidatnya masing-masing, mie yang menempel
dijidatpada copot melompat dan dua saudara dari suyangtin
Ngo-houw kontan bebas dari totokan. Rupanya mie yang
nempel tadi merupakan kunci dari totokan Eng Lian karena
ketika si nona ketuk jidatnya orang dan mie copot dari
melekatnya, lantas saja Tan Him dan song cie Liang dapat
kembali kemerdekaannya.
Lo In bukannya tidak bisa membebaskan totokan Eng Lian
meskipun dengan lain caranya. Ia sengaja mengaku tidak bisa
karena ia ingin orang minta pertolongannya Eng Lian, supaya
Eng Lian mendapat nama dan dihormati seperti Bwee Hiang.
sebelumnya ia telah majukan syarat, maksudnya supaya
Lima Harimau dari suyangtin tidak mendendam kepada enci
Liannya. Ia tidak mengira kalau Kim Wan Thautojuga mau
coba-coba kepandaiannya Eng Lian. Syukur enci Liannya
menyimpan kepandaian hebat hingga kembali menggirangkan
hatinya si bocah melihat Kim Wan Thauto dapat ditakluki oleh
Eng Lian.
Melihat dua saudaranya sudah merdeka kembali, Kie Giok
Tong dengan cepat menyuruh mereka minta maaf kepada Eng
Lian. Tan Him dan song cie Liang tidak sampai disuruh untuk
kedua kalinya, mereka sudah lantas melakukan apa yang
diingin oleh toakonya.
" Kedua saudara masih belum kenal dengan watakku yang
setengah liar." kata Eng Lian merendah-
"Tidak heran kalau dengan secara tak disadari sudah
Jengkel kepadaku. Tapi satu dua kali paman-paman sudah
tahu watak aku Eng Lian, pasti akan memaafkan dan
menyayangku."
Tan Him dan song cie Hiang kagum akan kata-kata si nona
yang mengandung banyak arti. Mereka pun lantas menghapus
rasa dendamnya pada Eng Lian. sambil omong-omong dan
ketawa-ketawa gembira, orang-orang sudah pada duduk pula
mengitari meja perjamuan dimana mereka meneruskan makan
minumnya dengan gembira.
Eng Lian dan Leng siong yang sudah makan kenyang, tidak
turut makan-makan lagi, hanya mereka menonton saja orang
yang sedang makan.
"Anak Lian dan siong, kenapa kalian tidak makan ?" tanya
nyonya Teng ketika melihat dua dara itu hanya asyik
kongkouw saja.
"Aku sudah kenyang, ibu." sahut Leng siong. Kemudian ia
kutik tangannya Eng Lian dan berkata,
"Mari kita ke Giok Lie Teng. Di sana kita bisa omong-omong
dengan leluasa, tidak campur dengan orang tua-tua."
"Adik siong ini pikirannya sehat. Mari" sahut Eng Lian. Ia
pun sudah lantas bangkir dari duduknya, permisi pada para
hadirin untuk mengundurkan diri-
Kim Wan Thauto dengan Lima Harimau termasuk nyonya
Teng tidak keberatan mereka meninggalkan perjamuan,
kecuali Lo In yang matanya tak kedip-kedip mengikuti
berlalunya Eng Lian dan Leng siong.
Lo In masih sempat melihat Eng Lian melemparkan
senyuman ke arahnya, ketika lenyap dibalik pintu. si bocah
hatinya tidak tenang, Ia kepingin menyusul dua dara itu tapi
perasaan malu menahan dirinya. Apalagi perjamuan itu
diadakan spesial untuk kehormatan ia dan Eng Lian, maka
kalau ia juga meninggalkannya tidak baik sikapnya terhadap
tuan rumah dan lain-lainnya. Terpaksa si bocah menjublek di
kursinya.
sebenarnya ia paling tidak senang kalau kongkouw dengan
para orang tua, tapi pada waktu itu ia kepaksa melayaninya.
"Anak In, sekarang kau sudah berkumpul pula dengan enci
Eng Lian-mu, tapi bagaimana dengan enci Bwee Hiang-mu ?"
tiba-tiba Kim Wan Thauto menimbulkan soal Bwee Hiang.
Lo In terkejut mendengar disebutnya Bwee Hiang. Ia seperti
yang baru tersadar dari tidurnya, seperti diketahui, wataknya
Lo In ada aneh- Dalam sesuatu hal ia anggap remeh, tidak
suka memikirkan dengan serius kecuali terhadap Liok sinshe,
orang yang ia sangat puja-puja. Meskipun demikian, dengan
ditimbulkannya soal Bwee Hiang, mau tidak mau ia harus
memikirkannya juga.
"Toako, bagaimana pendapatmu soal enci Hiang ?"ia malah
balik menanya pada Kim Wan Thauto-
"sampai sekarang belumjuga dia kembali, kemana saja dia
perginya ?"
"Bwee Hiang pergi dari rumahnya, gara-gara kau yang ajak-
" kata Kim Wan Thauto, seperti menyesalkan pada si bocah.
"Sekarang dia menghilang, kau tinggal enak-enakan saja
lantaran sudah ada enci Lian. Mana dapat begitu, anak In "
(Bersambung)
Jilid 11
Lo In tidak menjawab, ia hanya duduk dengan termenungmenung,
Ia pun bingung, kemana ia harus mencari enci
Hiangnya.
"Begini saja." kata Lo In kemudian.
"Kalau dalam dua tiga hari ini belum juga enci Hiang
pulang, kita bersama-sama mencarinya. Bagaimana toako
pikir?"
Kim Wan Thauto diam saja, tidak meniawab.
Mendengar kata-katanya si bocah, Kim Wan Thauto
menduga Lo In malas mencarinya lantaran berat untuk
meninggalkan Eng Lian.
"Lo Hiantit." kata nyonya Teng campur bicara.
"Perkataan Taysu adalah perkataan seorang tua yang
menyayangi pada anak-anaknya, harus Hiantit perhatikan.
Tidak ada jeleknya diwaktu senggang selama Hiantit ada disini
pergi mencari nona Hiang. Aku pun sangat kuatir, kalau-kalau
nona Hiang mendapat halangan."
Juga Kie Giok Tong menimbrung menasehati Lo In
sehingga si bocah tak dapat alasan untuk dalam, dua tiga hari
ia menanti di Suyangtin tinggal enak-enakan saja dengan Eng
Lian. Pikirnya, ia akan berdamai dengan enci Liannya,
bagaimana baiknya soal Bwee Hiang yang hilang itu.
Sementara itu, perjamuan pun sudah selesai.
Lo In permisi pada nyonya Teng untuk pergi menemui enci
Liannya.
Nyonya Teng tersenyum, katanya,
"Pergilah, jangan sungkan-sungkan disini- Anggap saja
seperti rumah sendiri"
sambil ngeloyor masuk ke dalam, hatinya Lo In merasa
senang atas kebaikannya nyonya rumah- sementara Kim Wan
Thauto tinggal duduk bertigaan dengan ruan (Teng Hauw) dan
nyonya rumah sebab Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya
sudah pada pulang ke masing-masing rumahnya dengan
urusannya sendiri-sendiri
"Anak In sebenarnya adalah satu anak baik, kepandaiannya
susah diukur, cuma wataknya aneh. Kalau ada yang baru suka
melupakan yang lama, inilah cacatnya. Aku kuatir dengan
berkumpulnya kembali ia dengan Eng Lian, ia akan melupakan
Bwee Hiang."
Kim Wan Thauto menyatakan kuatirnya kepada tuan dan
nyonya rumah-
Teng Hauw tidak bisa bicara, isterinya yang mewakili,
katanya,
"Taysu, kau benar. Tapi, aku nanti coba turut campur dalam
urusan ini dan akan membujuknya langsung atau melalui Eng
Lian dan Leng siong. Aku percaya Lo Hiantit akan ingat pada
nona Hiang yang belum pulang sampai sekarang."
"Bagus." kata Kim Wan Thauto
"Inilah yang aku harap. Kalau Hujin mau turun tangan,
rasanya urusan dapat berjalan lancar. Aku mengharap sekali
bantuan Hujin- Di samping anak In, aku juga tidak tinggal
diam- Akan kucari Bwee Hiang sampai ketemu- Kasihan anak
itu sudah piatu, meskipun ada mempunyai kekayaan yang
berlimpah-limpah yang untuknya ada lebih baik tinggal di
rumah daripada merantau dalam dunia Kangouw yang banyak
berbahanya."
Teng Hauw dan isterinya kaget mendengar Kim Wan
Thauto mengatakan kekayaan Bwee Hiang berlimpah-limpah.
Nyonya Teng lalu menanya,
"Nona Hiang itu anaknya siapa, Taysu ?"
"Dia adalah anaknya Liu In Ciang, seorang hartawan
terkenal di Kunhiang-" sahut Kim Wan Thauto- Kemudian ia
cerita dengan ringkas halnya Liu Wangwee dan puterinya
Bwee Hiang- Tentang permusuhan dengan sucoan sam-sat
sehingga Liu Wangwee serumah tangga dibasmi oleh tiga
algojo dari sucoan.
"Perginya nona Hiang dari rumah tentu akan mencari
musuh-musuhnya." kata nyonya Teng yang sangat tertarik
dengan riwayat Liu Wangwee dan hatinya merasa kasihan
kepada Bwee Hiang yang sudah piatu.
"Aku kira demikian maksudnya-" jawab Kim Wan Thauto-
"Anak itu mengandalkan Lo In untuk menuntut balas- Aku
kuatir ia gagal dengan niatannya, bila melihat anak In adatnya
angin- anginan."
Nyonya Teng tersenyum.
"Taysu," katanya.
"Kita jangan bicara demikian dahulu, siapa tahu Lo In sudah
menyanggupi. Kalau tidak, tentu nona Hiang juga tidak berani
keluar rumah mencari musuh-musuhnya yang ganas itu-
Juga......."
"Juga apa, Hujin ?" potong Kim Wan Thauto.
"Juga, sekarang ada tambahan tenaga dari Eng Lian."
sahut nyonya Teng- "Empat orang termasuk Taysu, rasanya
bukan main kuatnya untuk menghadapi Sucoan sam-sat yang
kesohor buas itu. Malah disini aku sekeluarga pun akan
mendoakan akan berhasilnya kalian menumpas kejahatan "
Kim Wan Thauto ketawa mendengar perkataan nyonya
rumah-
Dengan alasan hendak jalan-jalan mencari keterangan
halnya Bwee Hiang disekitar suyangtin, Kim Wan Thauto
mengundurkan diri dari Teng Hauw suami isteri-
Kim Wan Thauto kesal hatinya, memikirkan Bwee Hiang. Ia
kuatirsi gadis mendapat halangan yang sukar diatasi karena
Bwee Hiang sebagai gadis hartawan baru saja menginjakkan
kakinya dalam dunia Kangouw yang banyak bahayanya.
si Thauto pikir, meskipun Bwee Hiang ada berkepandaian
tinggi, ia hanya satu wanita tanpa pengawal. Romannya yang
cantik, lebih banyak mengundang bahaya daripada
keselamatan. Bagaimana ia dapat membela dirinya ? orang
licik dan jahat terlalu banyak dalam kalangan Kangouw, inilah
yang sangat menguatirkan hatinya si Thauto-Diam-diam Kim
Wan Thauto berdoa supaya Tuhan melindungi si gadis
Ia jalan tanpa disadari kemana kakinya membawa dirinya,
tahu-tahu ia sudah duduk bercokol dalam sebuah warung
arak- sebagai pendeta, ia tidak pantang minum arak- Maka ia
minta pelayan supaya menyediakan arak baik untuknya-
Ia pasang kuping kalau-kalau ia mendapat kabar tentang
dirinya Bwee Hiang. Tapi luput, ia tidak mendengar apa-apa
yang dikira dapat mencari jejaknya si gadissetelah
minum satu dua cawan, karena tadi di dalam
perjamuan ia sudah minum banyak arak, ia lalu keluar lagi dari
warung itu dengan maksud hendakputar kayun.
"Hehehe, ada disini ?" tiba-tiba ia dengar orang berkata
sambil menepuk bahunya. Kim Wan Thauto berpaling, kiranya
di depannya ada berdiri kenalan lama.
"sudah lupa ?" tanya orang itu, sambil tertawa ngekeh-
"Masa lupa, nenek yang kujemur dua jam di panasnya
matahari-" sahutnya-
"Benar tajam ingatanmu-" kata si nenek, yang tiada lain
adalah Kim Popo yang sudah lama kita tinggalkan dalam
cerita ini.
"Mau apa kau datang kesini ?" tanya Kim Wan Thauto-
"Aku mencari kau sudah lama-" sahut Kim Popo-
"Aku toh bukan suamimu, kenapa kau mencari aku ?" goda
Kim Wan Thauto-
" Kurang ajar" bentak Kim Popo merengut hingga
tampangnya tambah jelek
"Kau kira mukamu kebagusan diuber-uber aku si nenek ?
Hm Taruh kata aku masih muda, untuk dijadikan isterimu nanti
dahulu."
Kim Wan Thauto tertawa terbahak-bahak-
"Thauto edan, kau tertawakan apa ?" bentak Kim Popo
melotot matanya-
"Hatiku geli mendengar kata-katamu barusan." sahut Kim
Wan Thauto-
" gelinya ?" Kim Popo membentak lagi. Rupanya Kim Wan
Thauto sudah gemas sekali pada Kim Wan Thauto sebab
suaranya main bentak saja.
.Justeru dibentak-bentak malah Kim Wan Thauto makin
suka menggodainya.
"gelinya ? Tampangmu sekarang jelek, apalagi masih
mudanya tentu brengsek " Kim Wan Thauto menggodai si
nenek lagi.
Meluap amarahnya Kim Popo- Memang ia paling tidak
sabaran menghadapi sesuatu soal, apalagi menghadapi Kim
Wan Thauto yang jail.
"Aku mencari kau untuk menagih hutang, kau tahu ?" kata
si nenek gemas.
" Aku tidak punya uang, bagaimana kau mau menagih
hutangku?"
"Kau bukan hutang duit, Thauto brengsek"
"Habis, aku hutang apa padamu, nenek jahat ?"
"Wut Wut " terdengar sambaran angin tongkat Kim Popo
yang menyambar pada tubuhnya Kim Wan Thauto, saking
gemas digodai, Ia suruh tongkatnya yang bicara.
"Bagus " seru Kim Wan Thauto seraya kelit sana sini hingga
tongkat si nenek saban-saban tidak mengenakan sasarannya.
"Thauto kurang ajar Kalau tidak dikasih rasa, memang
mulutmu terus-terusan bocor-Rasakan kemplangan tongkat
nenekmu " berkata Kim Popo seraya menyerang bertubi-tubi.
Kim Wan Thauto kaget juga melayani Kim Popo karena
kepandaiannya beda dengan dua tahun yang lalu. Tadi ia
begitu memandang rendah pada si nenek, sekarang setelah
dicecar dengan tongkat si nenek, la tidak berani lengah lagi.
Bingung juga si Thauto karena ia harus melayani Kim Popo
dengan tangan kosong.
"Nenek bagus " tiba-tiba ia membentak-
"Kalau berani kau berkelahi, jangan pakai tongkat Mari kita
berkelahi dengan tangan kosong "
"Hehe, takut ya ? Baik, nenekmu penuhi keinginanmu "
sahut Kim Popo seraya melemparkan tongkatnya ke samping.
sementara itu, sudah banyak orang yang menonton mengitari
mereka.
"Nanti dulu " kata Kim Popo seraya lompat ke samping,
memungut lagi tongkatnya dan ia lantas usir-usir penonton
yang mulai banyak jumlahnya.
Kim Wan Thauto sudah lantas siap sedia mendengar Kim
Popo berkata 'nanti dulu' mengira si nenek akan mengirim
pukulan maut Tidak tahunya Kim Popo mengambil tongkatnya
untuk melabrak para penonton, tidak mau ia bertempur
ditonton orang banyak-
"Memang aku orang gila ditonton kalian ?" teriak Kim Popo,
seraya putar tongkatnya hingga bersuara gemuruh dan
anginnya menyambar-nyambar bukan main kerasnya.
Penonton pada ketakutan dan lari tumpang siur, mengira si
nenek itu adalah nenek sinting, tidak boleh didekati.
Kim Wan Thauto terkejut melihat si nenek memutar
tongkatnya mengeluarkan suara gemuruh, Ia tidak sangka Kim
Popo sekarang jauh bedanya dengan Kim Popo pada dua
tahun yang lalu. Pikirnya, Kim Popo rupanya berlatih keras
selama dua tahun itu untuk pertemuan dengannya yang kedua
kali.
setelah mengusir bubar penonton, Kim Popo lemparkan
pula tongkatnya dan menghampiri Kim Wan Thauto- Ia
berkata,
"Mari kita menguji, siapa unggul ?"
"Sudah tentu aku yang unggul " sahut Kim Wan Thauto-Kim
Popo deliki matanya,
"Hehe, mau menang ?" katanya mengejek.
Kim Wan Thauto ketawa- Tapi diam-diam hatinya rada jeri
juga menghadapi nenek ini yang kepandaiannya berubah jauh
dari tempo hari-
Kim Popo buka serangan dengan 'Kim tiau tian ci' (garuda
emas pentang sayapnya), tampak dua tangannya dipentang,
mendadak kecepatan kilat telah menyergap Kim Wan Thauto
yang coba berkelit dengan memutar tubuh, tapi tak urung
terdengar suara 'bret' itulah baju Kim Wan Thauto di bagian
dekat dadanya kena dicengkeram robek oleh si nenek.
"Hehe, ini baru bajunya " katawa Kim Popo seraya unjukkan
robekan bajupada lawannya- Lain kali dadamu kubikin remuk
dan isinya berantakan" Kim Wan Thauto hanya tersenyum
saja-
"Masih berani ? Lekas tekuk lutus dan jemur dirimu d ipa
nasnya matahari dua jam seperti aku tempo hari, barulah aku
ampunkan jiwamu" berkata lagi Kim Popo dengan congkaknya
hingga lawan tertawa terbahak-bahak-
"Masih sempat ketawa sedang kekalahan sudah nyata ?"
bentak Kim Popo-
"Kau masih belum menang, lihat ini apa ?" kata Kim Wan
Thauto sambil membuka telapakan tangannya, diunjukkan
pada Kim Poposi
nenek terbelalak matanya. Cepat ia meraba kondenya,
memang sudah tidak ada bunga yang diselipkan disitu, sudah
pindah di telapak tangan Kim Wan Thauto.
"Kurang ajar, kau berani main-main pada Kim Popo?"
"Kurang ajar, kau berani main-mainpada Kim Wan Thauto?"
si nenek gemas betul pada lawan yang mulutnya paling
bisa menggodai orang. Dalam gusarnya, kembali ia
menyerang lawannya.
Kim Wan Thauto melayani dengan waspada, ia tidak berani
memandang rendah pada lawannya seperti tempo hari. oleh
karenanya pertempuran menjadi seru sekali.
Kim Popo mainkan ilmu pukulan 'Thian lok sin kun'
(Kepalan sakti jatuh dari langit) warisan dari ayahnya si
Tongkat sakti Kong Tek Liang.
sejak dipecundangi Kim Wan Thauto, Kim Popo telah
memperdalam kepandaiannya dengan membaca buku
pelajaran ilmu Tongkat sakti dan Kepalan sakti, yang dulu ia
abaikan karena terlalu dimanja oleh ayahnya.
Kekalahan tempo hari dari Kim Wan Thauto seolah-olah
merupakan cambuk untuk ia belajar tekun ilmu saktinya, ialah
ilmu turunan untuk memperdalam kepandaiannya-
Memang otaknya si nenek tua tidak tumpul. Maka dalam
ketekunan memperdalam ilmunya Kim Popo telah berhasil
seperti kenyataannya sekarang dihadapkan pada musuh lama
(Kim Wan Thauto), membuat lawan-lawannya rada-rada keder
menghadapinya.
Ilmu pukulan Thian loksin kun banyak perubahannya yang
membingungkan. Kim Wan Thauto repot juga mengelakan
serangan-serangan Kim Popo-
Untuk kekurangannya, Kim Wan Thauto coba gunakan akal
cerdiknya ialah membuat musuh panas hatinya sehingga
mengacaukan pikirannya.
"Nenek bagus." ia menggoda,
"sebaiknya kita berhenti saja berkelahi-"
"Aku bukannya takut, nenek bagus." sahut Kim Wan Thauto
tenang-tenang saja.
"Kalau tidak takut, kenapa minta berhenti berkelahi ?"
"sebab, aku tahu kau toh tidak bisa menang "
Kim Popo makin bertubi-tubi menyerangnya hingga Kim
Wan Thauto gelagapan.
"Nenek je—. eh, nenek bagus." kata lagi Kim Wan Thauto-
"Meskipun kau keluarkan isi perutmu semua, tak mungkin
dapat menjatuhkan aku si Thauto-"
Kim Popo masih tetap dengan serangan-serangannya, juga
tidak kelihatan panas hatinya mendengar kata-katanya Kim
Wan Thauto yang hendak memancing kemarahan orang.
"Hehe, tidak tahu malu" tiba-tiba Kim Popo menyemprot si
Thauto-
"Kenapa aku malu ? Memangnya aku kenapa ?"
"Akal bulusmu tidak laku- Biarpun kau mengoceh sampai
mulutmu robek, tak nanti Kim Popo kejebak dengan tipu
muslihatmu. Hm "
Kim Wan Thauto terkejut. Kiranya akalnya sudah kena
diraba siang-siang oleh si nenek- Pantasan seranganserangan
Kim Popo tidak ada perubahan, terus mantap.
Makin lama Kim Popo bertempur makin gagah hingga Kim
Wan Thauto agak gelisah juga sebab akalnya sudah dapat
diketahui oleh lawan.
Kalau sampai ia kena dirubuhkan si nenek, benar-benar
runyam. Terang si nenk akan menghinanya dengan suruh
menjemur dipanasnya matahari barang dua jam, seperti dulu
ia pernah berbuat atas dirinya si nenek.
yang membuat ia lebih bingung, tangannya si nenek bisa
memanjang dan mengkeret.
Kalau tangan kanan diulur, tangan kirinya mengkeret. Itu
yang menyulitkan Kim Wan Thauto untuk berkelit dari
serangan Kim Popo-Entah ilmu apa yang dimainkan Kim
Popo-
Kim Wan Thauto bingung. Tapi lama-lama ia kenali juga
itulah yang dinamakan 'Thong pie-kong' ilmu mengkerat dan
memanjangkan tangan.
Kim Wan Thauto menanya pada dirinya sendiri, dari mana
si nenek belajar yang begituan, Ia tidak tahu bahwa Kim Popo
selama galang gulung dengan The sam, ex darlingnya, ia
sudah menjiplok juga ilmu 'Thong pie-kong' bekas kekasihnya
itu. Ia sudah pelajarkan ilmu itu hingga mahir- Mungkin The
sam sendirinya sekarang kalah pandai menggunakan ilmu
'Thong-pie-kong' itu. Melihat lawannya keteter, Kim Popo
ketawa terkekeh-kekeh.
"Thauto bagus-" ia balik menggoda Kim Wan Thauto yang
sudah kepayahan.
"sebentar, sebentar kalau sudah kujemur kau dipanasnya
matahari, baru boleh obral kentut busukmu Hehehe......"
Kim Wan Th auto mendongkol. Biasanya ia paling Jenaka
menggodai orang. Belum pernah ia kerutkan alisnya apabila ia
menghadapi musuh yang bagaimana pun tangguhnya. Tapi
kali ini betul-betul ia kewalahan. Tambahan modalnya
memancing kemarahan lawan sudah tidak laku, Kim Popo
barusan sudah menelanjangi akal bulusnya.
Tapi ia masih terhibur juga, karena ia masih mengandal
pada 'Tiat-pou-san', ilmu kebalnya baju besi. Pikirnya, si nenek
tidak bisa berbuat banyak atas diriya- Melihat dirinya terusterusan
kedesak, Kim Wan Th auto nekad juga. Tangan
kanannya tiba-tiba diputar, tahu-tahu tangan kirinya dengan
kecepatan kilat nyelonong ke muka, dua jarinya telunjuk dan
tengah bagaikan kaitan besi hendak copoti lentera (biji mata)
orang, itulah gerakan 'siang liong coan tah' (Dua naga
menembusi menara) yang sangat diandalkan oleh Kim Wan
Th auto, jarang lawannya dapat mengelit serangannya yang
dilakukan laksana kilat itu.
Tapi Kim Popo bukan si nenek pada dua tahun yang lalu.
Kim Popo egoskan serangan berbahaya itu sambil memutar
tubuh ke kiri Dalam terkejutnya melihat si nenek demikian
gesit memusnahkan serangannya, tahu-tahu Kim Wan Thauto
rasakan 'gudang makanan' (perut) digedor sepatunya si
nenek- Persis ujung sepatu Kim Popo menotok 'tiong-kek hiat',
jalan darah diperut hingga siThauto tak berkuasa lagi akan
tubuhnya yang roboh mendeprok di tanah- Indah sekali
gerakan Kim Popo yang dinamai 'Ko hong liu sui' atau 'Air
mengalir burung hong lewat'-
"Hehe, Thauto bagus " kata Kim Popo melihat lawannya
sudah tidak berdaya.
"Rasakan panasnya matahari dua jam dan boleh keluarkan
kentut busukmu.
Kim Wan Thauto hanya kedap kedip matanya, tak dapat ia
mengeluarkan suara.
Dalam hatinya ia mendongkol, tapi hanya sejenak saja.
sebagai kesatria, ia harus menerima kekalahannya dengan
rela. Ia dulu pernah menjemur Kim Popo dipanasnya matahari.
Kalau si nenek sekarang berbuat demikian atas dirinya, itu
jamak saja. Mereka jadi tidak punya hutang satu dengan yang
lain. orang banyak yang menonton dari kejauhan perlahanlahan
pada bubaran, karena pertempuran sudah habis. Hanya
mereka heran, si paderi rambut panjang tinggal mendeprok di
tanah, tidak bangun berdiri menghadapi si nenek yang sedang
memaki-maki rupanya. Mereka tidak tahu kalau Kim Wan
Thauto sudah kena ditotok oleh Kim Popo-
"Di sini banyak yang berlalu lalang, mungkin ada orang
yang hendak mendong membebaskan kau. Maka aku akan
menunggui kau selama dua jam, baru akan kutinggalkan kau
dan dengan begitu hutangmu sudah terbayar lunas. Kita satu
sama lain tidak punya sangkutan apa-apa lagi. Nah, selamat
menjemur badan " berkata Kim Popo seraya terpingkal-pingkal
ketawa meninggalkan Kim Wan Thauto di bawah matahari
siang yang sedang panasnya.
Kim Wan Thauto hanya senyum-senyum saja ketika si
nenek meninggalkan dirinya.
"Benar tidak enak-" kata Kim Wan Thauto dalam hatinya-
"Belum lama dijemur sudah begini panasnya. Entahlah
kalau sebentar sudah dua jam lewat- Apa aku masih bisa
tahan untuk tidak pingsan."
sementara itu, Kim Popo sudah ada di warung arak di sana,
meneduh sambil mengawasi ke arah Kim Wan Thauto yang
sudah berlepotan keringat kepanasan.
orang banyak yang berlalu lalang tapi tidak ada yang berani
menanyakan apa-apa kepada Kim Popo yang duduk dengan
keren sambil memegangi tongkat besinya. Kim Wan Th auto
sudah mulai merasakan tenggorokannya kering, haus sekali
rasanya.-
Diam-diam ia membayangkan bagaimana Kim Popo tempo
hari ia hukum dua jam dipanasnya matahari, kepanasan dan
kehausan, seperti yang sekarang ia alami, sangat menyesal ia
akan perbuatannya yang kelewatan dulu, terlalu menuruti
emosi hatinya.
Pada waktu itu ia anggap dirinya jagoan, belum
menemukan tandingan, dapat berlaku sedikit sewenangwenang
menghukum si nenek- Tidak tahunya belakangan ini
banyak kejadian yang membuka matanya, Ia melihat
kepandaian si kerudung merah yang membikin sucoan samsat
jatuh bangun, suatu kepandaian yang tak dapat dimiliki
olehnya. Kemudian ia ketemu Lo In, dijatuhkan mutlah oleh si
bocah sehingga tujuh senjata rahasia anting-anting emasnya
tidak berdaya dihadapkan pada anak kecil itu, lalu ia mencoba
kepandaiannya Bwee Hiang, gagal. Hampir-hampir ia
dijatuhkan dengan konyol, sekarang pertandingan ulang
dengan Kim Popo, kembali ia keok.
Mengingat itu semua, kalau mula-mula ia bangga dengan
kepandaiannya kini rasanya kepandaiannya terlalu rendah-
Terlalu berlebih-lebihan orang Kangouw menjunjung dirinya
sebagai jagoan diantara jago kelas wahid
sebenarnya ia sudah tidak tahan, ketika lewat satu jam ia
dijemur. Tapi ia keraskan hatinya, tidak mau ia kalah oleh Kim
Popo yang tahan dua jam. Ia pejamkan matanya menerima
nasibnya yang malang.
"Thauto bagus, bagaimana kau rasakan ? Hehe, enak ya ?"
sekonyong-konyong ia mendengar pula suaranya Kim Popo.
Kim Wan Thauto tidak mau ladeni si nenek, la diam
memeramkan matanya.
"Sebenarnya, enak banget sekarang aku kemplang
kepalanya berantakan, tapi kita tak bermusuhan bukan?"
terdengar pula suaranya Kim Popo-
"Masih ada setengah jam kau harus lunasi hutangmu,
setelah itu akan kutinggalkan kau"
Matahari menyorot keras, untuk omong-omong beberapa
patah kata saja Kim Popo tidak tahan akan panasnya,
sebenarnya ia merasa kasihan pada Kim Wan Thauto, tapi
karena adanya yang sableng hanya sekilas saja perasaan
kasihan itu timbul dalam hatinya. Tetapi ia mau balas Kim Wan
Thauto dengan dua jam seperti yang dlalami oleh dirinya
tempo hari-
Kapan ia sudah kepanasan dan memutar tubuh untuk
meneduh pula di warung arak tadi, ia terkejut di depannya ada
menghadang bocah berwajah hitam, ketawa ke arahnya.
sambil bertolak pinggang.
Entah berapa lama si bocah berada disitu, tentu sudah
mendengarkan percakapannya dengan Kim Wan Thauto- Kim
Popo terkejut karena ia mempunya kepandaian mendengar
yang tajam tapi tidak sadar akan kehadirannay si bocah
"Bocah hitam, kau mau apa datang ke sini " bentak Kim
Popo-
Justru disebutnya 'bocah hitam', matanya Kim Wan Thauto
yang meram saja dengan mendadak dibuka lebar, Ia melihat
Lo In yang datang. Hatinya kegirangan bukan main sebab
pikirnya ia tidak harus menunggu setengah jam lagi dijemur.
Lo In tidak menjawab si nenek, hanya lengan bajunya
mengebas ke arah Kim Wan Thauto-Kontan sipaderi rambut
panjang sudah terbebas dari totokan si nenek-
Kim Popo terkejut bukan main melihat anak kecil itu, hanya
dengan sekali kebas dengan lengan bajunya, si Thauto sudah
terbebas dari totokan. Itu adalah kepandaian yang jarang
terlihat. Dari terkejut si nenek menjadi gusar. sambil melotot
matanya mengawasi Lo In, ia berkata,
"Anak—. kau berani turut campur dalam urusanku ?"
"Hahaha " Lo In tertawa terbahak-bahak hingga Kim Popo
heran.
"Anak sinting, kau tertawakan apa ?" bentaknya keras.
"Kau katakan aku sinting, apa Popo tidak sinting " sahut Lo
In masih ketawa.
"Aku sinting kenapa ?"
"Menjemur orang di panasnya matahari. Bukan itu
perbuatan orang sinting "
"Itu urusanku dengan si Thauto brengsek, tidak ada
sangkutan dengan kau"
"siapa bilang tidak ada sangkutan denganku ?"
Kim Popo melengak mendengar perkataan Lo In. pikirnya,
apa bisa jadi anak hitam ini ada urusan dengannya ? Tapi ia
tidak mau menanya lebih jauh, hanya tongkatnya yang bicara,
Ia kemplang Lo In tidak menggunakan Iwekang, takut si bocah
mati dibawah tongkatnya, Ia tidak menyangka, kemplangan
tongkatnya mengemplang angin, karena si bocah sudah
berkelit dengan tangkasnya.
"Popo, tongkatmu terlalu berbahaya.Jangan main-main,
nanti nimpa kepalaku " Lo In menggodai si nenek yang sedang
keheranan kemplangannya tidak mengenakan sasaranya.
"Nenek bagus." menimbrung Kim Wan Thauto-
"Sekarang ketemu adikku, asal kau bisa menyentuh ujung
bajunya saja, dengan rela aku hadiahkan kepalaku padamu "
Heran Kim Popo mendengar anak kecil disebut adiknya-
Sejak kapan paderi berambut panjang itu punya adik hitam
kayak pantat kuali ?
"Heheh, adikmu dia ?" tertawa Kim Popo-
"Terlalau kelebihan, kalau kau mengatakan aku tak dapat
menyentuh ujung bajunya saja. Bukan saja ujung bajunya, tapi
akan kukemplang mampus dia " berbareng tongkatnya
menyabet disertai Iwekang hingga bersuara. Menyusul suara
'bat bet bat bet' beberapa kali. Itulah suara tongkat Kim Popo
yang menyabet berulang-ulang, sayang sabat kali sabetan
yang dahsyat itu saban kali juga menyabet tempat kosong.
Kim Popo heran saban-saban kehilangan sasarannya, Ia
membentak,
"Bocah hitam, siapa kau ? Lekas kasih tahu sebelum Popo
kirim jiwamu menghadap Giam-lo-ong " Kata-kata Kim Popo
bukan membikin takut lawan, malah Lo In tertawa terbahakbahak-
"Masih terlalu pagi aku menghadap Giam-lo-ong, aku masih
anak-anak- Mau juga Popo yang sudah usia lanjut menghadap
raja akherat- Hahaha "
Kim Popo melengak- Memang juga lebih pantas ia yang
menghadap Giam-lo-ong di banding si bocah yang masih
anak-anak- Ia tahu anak kecil itu mengejek dirinya, justru
lantaran itu ia menjadi marah- Tongkatnya diputar. Kali ini
bukan hanya menyabet, tapi mengemplang dan menusuk,
tongkatnya bergerak lihai sekali.
Dalam gusarnya ia menyerang bertubi-tubi. Tiba-tiba ia
rasakan ada angin dingin berkesiur seperti menghembus di
pinggangnya, ia lompat mundur, Ia periksa pinggangnya tidak
apa-apa, bajunya juga tidak kurang suatu apa. Lalau ia
memandang Lo In yang ketawa ke arahnya.
"Bocah hitam, kau main gila ?" bentaknya, kembali
tongkatnya bekerja.
Kim Popo sekarang insyaf ia menghadapi lawan alot,
meskipun lawannya hanya satu bocah hitam saja. Maka ia
keluarkan ilmu tongkatnya yang dinamai 'Thian-lok-sin-koay1'
(flmu Tongkat sakti jatuh dari langit).
Tampak Lo In bergerak cepat untuk menghindarkan
serangan Kim Popo yang hebat.
Makin lama Kim Popo mainkan tongkatnya makin cepat dan
mengurung Lo In yang melayani ia dengan kegesitannya saja,
tidak mau si bocah balas menyerang.
Kim Popo gelak-gelak ketawa melihat Lo In seperti yang
kesurupan. Sampai ia lengah, ketika tiba-tiba Lo In meraba
dadanya yang kemudian lompat mundur.
"Hehehe, takut ya ?" ejek Kim Popo, masih ketawa ia.
"Terima kasih, barusan aku usut di pinggang takut kotak
yang baru aku usut dari dadamu jatuh. Hahaha......"
Lo In ketawa, terpingkal-pingkal.
"Bocah hitam, apa kau kata ?" tanya Kim Popo seraya
meraba dadanya.
Bukan main kagetnya Kim Popo, sebab barang yang sangat
dijaga-jaga sudah terbang dari dadanya. Lalu matanya
memandang pada Lo In yang saat itu sedang main-mainkan
sebuah kotak kecil, Hulah kotak kecil yang berisi Tiam-hiat
Pitkoat,
buku pelajaran menotok darah karangan The Leng Tong,
jago Thiam-hiat (menotok jalan darah) pada 80 tahun
berselang.
Buku yang tak ternilai harganya. Dengan susah payah ia
berusaha mendapatkannya dari tangan Lo In, jatuh pada Kim
Wan Thauto, jatuh pada The sam, jatuh padanya (Kim Popo),
lalu sekarang kembali jatuh di tangan Lo In.
"Hei, itu adalah kotakku yang hilang di hotel " kata Kim Wan
Thauto ketika melihat Lo In sambil ketawa-ketawa mainkan
kotak mungil itu.
"Kentut busuk " bentak Kim Popo-
"Kau yang merebut dari aku, mau mengatakan punyamu ?
sungguh tidak tahu malu "
Kim Wan Thauto ketawa nyengir, Ia berasa salah sebab
memang juga kotak itu ketika ia memiliki adalah dari tangan si
neneksementara
itu Kim Popo sudah memandang dengan tajam
pada Lo In.
"oo, kalau begitu kau ada si bocah dari Tong-hong-gay ?"
berkata Kim Popo-
"Bagus, bagus, kalau Popo masih kenali aku yang rendah-"
sahut Lo In.
selama melayani Kim Popo, Lo In ingat akan buku 'Tiamhiat
Pit-koat'. Maka dengan kepandaiannya yang sakti ia
mengusut orang punya pinggang. Ketika disini tidak
kedapatan, maka Lo In sudah cari di dada orang. Benar saja,
kotak mungil itu ada di situ dan ia sudah comot tanpa Kim
Popo merasa sedikit pun. Itulah menandakan kepandaiannya
Lo In ada luar biasa.
Mengetahui siapa si bocah hitam, Kimpopo membayangkan
pada kejadian yang sudah lalu. Dulu ia bisa puntir tangan si
bocah dan paksa ia keluarkan kotak 'Tiam-hiat Pit-koat'-
sekarang, kepandaiannya malah sudah tambah, tidak bisa
menangkap si bocah, Itu menandakan bahwa ia bukan
tandingan Lo In.
Meskipun wataknya angin-anginan, Kim Popo tahu juga
gelagat. Cuma sayangnya ia punya cacat, bandel, sudah
terang ia melihat gelagat tidak menguntungkan kalau masih
mau melawan Lo In, tapi tidak rela buku pentingnya dirampas
si bocah dan ia mau coba-coba lagi sekali bertarung, Inilah
sifat bandelnya, yang sering membikin ia kejeblos seperti
tempo hari ia melawan Liok sinshe.
"Bocah-" tiba-tiba Kim Popo berkata, setelah termenung
sebentaran.
"Asal kau mau menyerahkan kembali barang itu padaku,
urusan akan Popo bikin habis sampai disini saja. sebaliknya,
kau tahu sendiri, Kim Popo tak akan gentar menghadapi siapa
juga. Apalai kau cuma satu anak kecil yang bau tetek emakmu
sja belum hilang "
"sudah terang keok. masih banyak lagak lagi " menyela Kim
Wan Tiiauto. Mata Kim Popo mendelik pada Kim Wan Thauto-
"Nah, bocah, nenekmu akan layani kau dengan sungguhsungguh.
Lekas cabut pedangmu. " menantang Kim Popo
dengan tidak merasa malu-malu atas jengekan Kim Wan
Thauto tadi-
"Pedang Liok sinshe, mana aku berani sembarang gunakan
" sahut Lo In.
Kim Popo terkejut bukan main disebutnya nama 'Liok
sinshe', tiba-tiba saja badannya menggigil seperti yang panas
dingin.
"Bocah, apa Liok.....Liok........" kata Kim Popo gugup,
suaranya gemetar.
"ya, Liok sinshe, Liok sin.... she " Lo In dengan sengaja
menandaskan.
Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, Kim Popo putar
tubuhnya dan enjot kakinya melayang jauh, dari mana ia lari
terbirit-birit ketakutan. Kim Wan Thauto ketawa terbahakbahak
melihat lagaknya Kim Popo-sebaliknya Lo In telah
menundukkan kepala sambil memainkan kotak mungilnyasetelah
habis tertawa enaknya, Kim Wan Thauto
menghampiri Lo In yang masih berdiri sambil menundukkan
kepala.
"Anak In," katanya seraya pegang dagu orang dan
didongaki mukanya,
"Hei, kenapa kau menangis ?" Kim Wan Thauto melihat
matanya Lo In berkaca-kaca.
"Hatiku terkenang kepada Liok sinshe-" sahutnya seraya
menyusut air matanya dengan tangan bajunya, Ia
menyambung,
"Entahlah, Liok sinshe sekarang ada dimana. Dia adalah
orang baik, yang menyayangi aku seperti anaknya........"
"Anak In." kata Kim Wan Thauto menghibur.
"Kalau Liok sinshe masih hidup, satu waktu kau akan
menjumpainya. Kenapa mesti disedihkan ? Bukankah kau kata
bahwa kau tidak percaya Liok sinshe mati karena dia
mempunyai kepandaian sangat tinggi ? Nah, buat apa kau
bersedih. Berdoalah supaya satu waktu Tuhan akan ajak kau
menjumpai Liok sinshe dengan sehat walafiat. Hahaha."
Kesedihan Lo In pun lantas lenyap tanpa bekas mendengar
kata-kata Kim Wan Thauto yang ditutup terbahak-bahak
gembira, Hulah wataknya si bocah yang aneh- Berduka karena
sedih seketika, bergembira karena ketawa seketika, Hulah
rupanya ada "motto" Lo In dalam hidupnya.
sementara itu suyangtin Ngo Houw juga sudah ada disitu
dan beberapa orang yang menonton tadi kelihatan masih
penasaran ingin melihat wajahnya si bocah dari dekat. Mereka
sangat kagum akan kepandaian Lo In yang dengan tangan
kosong menggempur si nenek yang bertongkat besi sangat
berat.
"Tidak ada apa-apa yang harus ditonton, hayo kalian pada
pergi " mengusir Kie Giok Tong hingga orang-orang yang
sangat menghargai pada suyangtin Ngo Houw pada bubaran
tanpa diusir sampai dua kali.
Bagaimana Lo In dapat tahu kalau Kim Wan Tiiauto dapat
kesulitan dari Kim Popo ? Itulah gara-gara si bocah A Kong,
anak tanggung yang menjadi orang kepercayaan suyangtin
Ngo Houw- Dengan cara kebetulan mendapat tahu kesulitan
yang dialami Kim Wan Thauto setelah si Thauto dijemur satu
jam lebih lama.
Buru-buru A Kong kasih tahu pada Kie Giok Tong yang
sudah lantas pergi ke rumahnya Teng Hauw untuk
mengabarkan kejadian itu pada Lo In yang waktu itu sedang
Eng Lian dan Leng siong.
Mendapat tahu toakonya dalam kesulitan, tidak buang
tempo lagi Lo In sudah lantas menyusul, Ia tidak mengira
bahwa si nenek yang mempersulit itu adalah Kim Popo,
kenalan lamanya. Dengan diam-diam menggunakan ilmu
entengi tubuhnya ia sudah dekati Kim Popo yang sedang
menggodai Kim Wan Thauto-.
Dalam perjalanan pulang Kim Wan Thauto menanya pada
Lo In,
"Anak In, kau kata Kim Popo yang membokong Liok sinshe
hingga jatuh kejurang. Kenapa tadi kau tidak menuntut balas
akan jarumnya yang jahat itu ?"
Lo In ketawa nyengir jawabnya,
"Aku sangsi Liok sinshe mati. Maka aku sangsi mengambil
jiwa Popo, apalagi aku lihat Popo bukannya orang jahat "
"Bagus, bagus." kata Kim Wan Thauto seraya menepuknepuk
pundak Lo In.
"Mungkin tidak ada anak keduanya yang mempunyai jiwa
luhur sepertimu. Kaupantas nanti akan menjadi satu Tayhiap
(pendekar besar) seperti Kwee Cu Gie ayahmu."
"Toako, apa Kwee Cu Gie itu ayahku ?" tanya Lo In heran.
"Aku yakin benar kau adalah anaknya Kwee Cu Gie-"
"Lalu, dimana ibuku ? Dimana ayahku sekarang ?" Kim
Wan Thauto bungkam diberondong pertanyaan Lo In.
sementara itu, mereka sudah sampai di rumahnya Teng
Hauw, dimana mereka disambut oleh Eng Lian dan Leng
siong, malah nyonya Teng juga ada serta.
"Adik In, bagaimana ? Kau sudah usir si nenek yang
mengganggu Taysu?" tanya Eng Lian, ramai mulutnya,
sedang Leng siong hanya tersenyum-senyum saja ke arah si
bocah wajah hitam yang tengah ketawa-tawa nyengir.
"Dia bukan diusir oleh anak In." menyela Kim Wan Thauto
ketawa.
"Wah, habis siapa yang bisa usir dia ?" tanya Eng Lian.
"Dia lari terbirit-birit mendengar namanya Liok sinshe
disebut anak In"
"Masa sampai begitu ketakutan ?"
"Dia yang membokong Liok sinshe dengan 'touw-kut tok
ciam', mungkin dia kira Liok sinshe ada berserta kita, makanya
dia lari ketakutan."
Eng Lian ketawa terpingkal-pingkal.
"Ah, dia takut sama bayangannya sendiri" katanya setelah
enak ia ketawa.
sementara Kim Wan Thauto bercakap-cakap di ruang tamu,
Eng Lian dan Leng siong diikuti Lo In sudah kembali ke Giok
Lie Teng, dimana mereka teruskan kongkouwnya yang
tertunda karena urusan Kim Wan Thauto dijemur Kim Popo.
Kiranya yang mereka percakapkan adalah urusan
menghilangnya Bwee Hiang.
"Enci Lian." kata Leng siong.
"Enci Hiang orangnya sangat riang, macam enci juga. siapa
yang kenal dia, dalam tempo singkat seperti sudah kenal
lama."
"sayangnya dia tidak ada disini, kalau tidak- kita bisa
bercakap-cakap dengannya." sahut Eng Lian tersenyum.
Kemudian ia menyambung berkata pada Lo In,
"Adik In, bagaimana kau dapat berkenalan dengan enci
Hiang ?"
Lo In lalu menuturkan riwayat Ia tengah mencari-cari Eng
Lian dengan cara kebetulan ketemu dengan Liu Wangwee
dalam rumah penginapan yang lalu membawanya ke
rumahnya. Di sana ia berkenalan dengan Bwee Hiang.
Panjang lebar ia menutur, bagaimana ia kasih hajaran pada
Sucoan sam-sat, tentang pembunuhan oleh Sucoan sam-sat
di markas cabang Ceng Gee Pang, dibunuhnya seisi rumah
Liu Wangwee- Hanya tentang ia membuka selimut yang
menutupi mayatnya Ling Ling, ia tidak sebut-sebut. Rupanya
ia ngeri enci Liannya akan melotot padanya.
"Untung enci Hiang ikut aku ke markas cabang ceng Gee
Pang. Kalau tidak, ia pun tidak akan luput mendapat bahaya."
LoIn menutup penuturannya.
"Lalu seterusnya bagaimana adik In dengan Bwee Hiang ?"
tanya Eng Lian ketawa.
setelah nyengir sebentar, Lo In berkata,
"Aku tidak bisa meninggalkan dia karena dia minta aku
mengajari ilmu silat sebab katanya untuk bekal menuntut balas
pada sucoan sam-sat. Dia mau supaya dengan tangannya
sendiri membunuh orang-orang jahat yang membasmi
serumah tangganya "
"Ringkasnya, adik kecil ini menjadi guru cilik dari enci
Hiang," menyela Leng siong sambil tersenyum melirik ke
arahnya Lo In.
"Ai, aku kurang hormat pada siao suhu (guru cilik)-" kata
Eng Lian seraya bangkit dari duduknya dan menjura pada Lo
In.
"Jangan seeji (sungkan) Liehiap-" Lo In menyambuti
hormatnya Eng Lian.
Lucu gerak geriknya muda mudi itu sehinga Leng siong
terpingkal-pingkal ketawa.
"Enci dan adik kecil." kata Leng siong setelah ia berhenti
ketawa.
"Benar-benar aku akan kehilangan kalau kalian sudah pergi
meninggalkan rumahku. Aku ingin kalian tinggal tetap saja
disini, bagaimana ?"
"Adik siong boleh kalau suka ke tempat bocah hitam."
membanyol Eng Lian,
"Hitam juga bukan sembaran hitam, nona." sahut Lo In
ketawa.
"sudah buktinya hitam, disikat juga toh tinggal hitam "
"Bagaimana kalau dibedaki? kan jadi putih."
Geerr Leng siong ketawa sampai terbahak-bahak diikuti
oleh Eng Lian.
"Dia ini memang paling bisa, rasakan ya " Eng Lian
berbareng mencubit lengan Lo In hingga si bocah teraduhaduh.
"Ah, sayang......." berkata Lo In seraya mengusap-usap
lengannya yang dicubit.
"Sayang? Sayang apa ?" semprot Eng Lian tapi manis air
mukanya.
"Kalau dicubit begini sudah biasa." sahut Lo In.
"Jangan digigit, kaya tikut menggigit kucing......"
Kembali Leng siong tertawa terpingkal-pingkal sampai
memegangi perutnya. Kata-kata Lo In mengingatkan kembali
ketika Kim Coa siancu menggigit lengannya si bocah sampai
berboran darahsementara
Leng siong tertawa enak, dua tangan Eng Lian
berbareng menyergap lengan Lo In dan dicubitnya kuat-kuat
sambil berkata,
"Kalau tidak dikasih hajaran begini, memang anak nakal ini
main sindir-sindir saja."
Tiba-tiba Eng Lian menjerit, lengan Lo In yang dicubitnya
sekuat-kuatnya dirasakan jari-jarinya yang kepanasan.
"Kau mainkan encimu, hah " bentak Eng Lian cemberut,
berbareng tangannya diulur mencubit pipi Lo In hingga si
bocah teraduh-aduh kesakitan.
sebenarnya Lo In juga bisa salurkan tenaga saktinya
(siauw-thian-sin-kang) untuk membikin pipinya panas
membara macam tadi, tapi tidak berani melihat Eng Lian
cemberut. Maka ia antapkan enci Liannya mencubit pipinya
hingga matang biru-setelah begitu, baru si nona puas- Tapi toh
ia kelab akan.
"Adik In, oh, sakit ? sakit ?" Eng Lian cepat mengusap-usap
pipi Lo In yang bekas dicubit, wajahnya seperti ketakutan.
Dasar anak nakal, bukannya menghibur sang enci yang
ketakutan malah dia membanyol, katanya,
"Tidak apa, hilang sakitnya kalau sudah ada ini" seraya
pegang tangan Eng Lian yang putih halus ditekankan pada
bibirnya.
"Ah, adik In, kau sudah angot " kata Eng Lian seraya tarik
pulang tangannya, disusul oleh mulutnya yang dimonyongkan
ke arahnya Lo In. geli hatinya Leng siong nampak lagak
lagunya Lo In dan Eng Lian.
"Makanya jadi adik jangan suka nakal." berkata Leng siong.
"Kalau enci sudah marah dan mencubit, nah, baru tahu
rasa "
"Dicubit sih tidak apa, asal ? Ah, sudahlah......." sahut Lo In
ketawa.
Leng siong penasaran perkataan Lo In setengah-setengah.
"Adik kecil, kau mau bilang apa ? Asal apa sih ?" tanya
Leng siong kepingin tahu-
"Asal jangan nangis.......orang sudah gede nangis jelek kan
?" sahut Lo In ketawa.
Kontan bersemu merah seluruh muka nona Leng siong.
wajahnya yang berseri-seri memikat, berubah cemberut, si
nona merasa tersinggung karena dialah yang dicubit Lo In
menangis dan mengaku kalau orang sudah gede, menangis itu
jelek
Eng Lian ketawa terpingkal-pingkal melihat Leng siong
cemberuti Lo In yang mengolok-oloknya tadi- Tapi Lo In
berlagak pilon dicemberuti enci Leng siong ny a.
"Hajar, jangan kasih hati Cubit yang keras, biar dia teraduhaduh
" kata Eng Lian pada Leng siong yang mengawasi si
bocah dengan penasaran.
"Adik kecil, kau menyindir aku barusan ?" tanya Leng siong
penasaran.
"cubitanku mungkin lebih keras dari enci Lian dan dapat
bikin kau semaput semalaman"
"Biar, aku nangis juga tidak kenapa, sebab aku anak kecil.
Hehehe" sahut si nakal.
Dari tadi memang Leng siong kepingin menggasak
lengannya si bocah nakal, ketika mendengar dirinya disindir-
Tapi ia malu pada Eng Lian. Tapi setelah mendapat anjuran
Eng Lian, ia jadi berani. Maka ia mengancam akan mencubit
lebih keras.
Dalam emasnya, benar-benar ia mencubit Lo In sekeraskerasnya.
Pikirnya, biar si bocah hitam terkuing-kuing
kesakitan. Mula-mulai ia rasakan benar daging yang dicubit
hingga ia kegirangan dan berkata,
"Adik kecil, enak ya ?" Tiba-tiba ia terkejut, daging lengan
Lo In mendadak berubah lunak seperti juga mencubit kapas.
Cepat si nona tarik pulang tangannya, ketika mau dipegang si
nakal.
"Bagaimana, sudah puas ?" tanya Eng Lian ketika melihat
Leng Siong menarik pulang tangannya, mengira orang sudah
melampiaskan penasarannya. Leng siong dengan muka
merah mengangguk.
"Jangan malu-malu, kita orang sendiri" menghibur Eng Lian
melihat Leng siong seperti merasa sangat malu sehabis
mencubit Lo In.
"oh, tidak, tidak, cuma........." sahut Leng siong.
"Cuma apa ?" tanya Eng Lian ketawa.
"Cuma daging adik kecil kenapa kayak kapas ?" sahut Leng
siong.
sementara Lo In ketawa nyengir, sebaliknya Eng Lian
ketawa ngikik, mentertawakan Leng siong yang duduk
keheran-heranan. sementara itu...........
" Celaka " tiba-tiba saja Eng Lian hentikan ketawa ngikiknya
berbareng ia sudah lompat turun dari paseban disusul oleh Lo
In hingga Leng siong tinggal sendirian.
Ketika Lo In dapat menyandak Eng Lian di dalam rumah, si
bocah hitam lihat enci Liannya pucat pasi wajahnya, Ia heran,
lalu menanya,
"Enci Lian, kau kenapa ?" Eng Lian tidak menyahut,
romannya seperti ketakutan.
"Mari duduk " kata Lo In seraya tuntun tangan si nona
diajak duduk pada sebuah bangku panjang.
"Tenangi dulu pikiranmu, enci." menghibur Lo In sementara
dalam hatinya tidak habis mengerti, mengapa dengan tiba-tiba
saja sang enci menyebut "celaka " lalu lompat turun dari
paseban.
"Adik In, kau tidak lihat barusan ada sinar keemas-emasan
berkeredep di udara ?" kata Eng Lian setelah hilang kagetnya.
"Aku tidak begitu perhatikan." sahut Lo In.
"Memangnya kenapa ?"
"Itu adalah 'Lamhay-sian' (Benang emas dari Lautan Kidul),
alamat kedatangannya sucouw." kata Eng Lian.
" Aku tidak pulang, rupanya sucouw telah mencari aku."
"Ah, kenapa kau begitu ketakutan, enci Lian ?" kata Lo In.
"Sudah tentu aku ketakutan. Aku tentu akan disuruh pulang
olehnya. Habis bagaimana ? Aku tentu akan berpisah lagi
dengan kau "
"Wah, celaka " kali ini LoIn yang kaget, dengan sekonyongkonyong
tubuhnya berbareng melompat keluar rumah- Dalam
sekejapan saja ia sudah ada diatas paseban.
Eng Lian tidak berani tongolkan dirinya. Maka ketika Lo In
lompat pergi ia tidak turut pergi, hanya dalam hatinya
bertanya-tanya adik In-nya ada urusan apa sampai Ia menanti
pulangnya Lo In. Tidak lama Lo In sudah kembali dengan
paras lesu-
"Adik In, kau kenapa ?" tanya Eng Lian melihat Lo In lesu.
"Dia sudah tidak ada-" sahutnya dengan tidak bernafsu-
"siapa yang tidak ada, adik In?" tanya Eng Lian pula-
"Enci Leng siong........."
"Hah Adik siong tidak ada ?"
"ya, dia sudah tidak ada di paseban."
"Mungkin dia sudah pulang."
" kalau pulang tentu dia lewat sini dan mencari kita."
"Habis, kemana dia sudah pergi ?"
"Terang sudah dibawa sucouwmu."
"Ah, adik In, mana bisa jadi- Leng siong toh bukannya aku
?"
"Memang betul bukan enci, tapi wajahnya yang sama, siapa
bisa bedakan ?"
Baru sekarang Eng Lian mengerti kenapa Lo In barusan
tergopoh-gopoh pergi ke paseban. Kiranya si bocah
menguatirkan Leng siong disambar sucouwnya. Eng Lian
menjadi tidak enak hatinya menghadapi soal Leng siong.
"Habis, sekarang bagaimana baiknya, adik In ?" Ia
menanya dengan gelisah-
"Lain kali," kata Lo In.
"Menghadapi kesulitan jangan kesusu......"
"Habis, aku takut terhadap sucouw. Kenapa kau ikut-ikutan
lari ?"
"Aku menyusul enci lantaran kuatir enci menghadapi
sesuatu yang tak dapat diatasi oleh enci."
Eng Lian melirikan matanya yang tajam, Ia tersenyum
senang atas perhatian sang adik. Tapi ia heran adik In-nya
tidak menyambut senyuman sebagaimana biasanya, wajahnya
Lo In agak tegang.
"Jadi bagaimana sekarang ?"tanya Eng Lian.
"Kalau aku tahu sucouwmu yang datang, barusan aku tidak
tinggal pergi." kata Lo In.
"Tidak sampai enci Leng siong hilang "
"Kau berani lawan sucouw? Dia sukar dilawan, mana kau
bisa menang ?"
"Menang atau kalah, itu urusan belakang, setidak-tidaknya
aku sudah membela enci Leng siong sehingga tidak akan
disalahkan oleh paman dan bibi Teng." Eng Lian tundukkan
kepalanya. Ia menyesal atas perbuatannya tadi, sehingga
menyebabkan hilangnya anak orang.
sementara Lo In dan Eng Lian belum dapat pemecahan
dalam soal Leng siong, tiba-tiba muncul nyonya Teng dan
menanya,
"Kemana anak siong ? Kenapa tidak bersama-sama kalian"
Lo In kebingungan untuk memberi Jawabannya, tapi Eng
Lian sebaliknya- Ia berkata,
"Adik siong dibawa sucouwku ke Coa-kok "
"Ah, anak Lian, jangan main-main." nyonya Teng
tersenyum lirih-
"Buat apa aku main-main. Memang adik siong dibawa
sucouw." menegaskan Eng Lian yang sedikit pun ia tidak
memikirkan akan kekagetannya seorang ibu manakala
mendapat tahu kalau anaknya dalam bahaya.
Nyonya Teng hanya senyum-senyum saja mengira
perkataan Eng Lian sebab mengira si nona yang pintar
membanyol tengah menggodai dirinya. Tapi setelah Eng Lian
menuturkan duduknya urusan, sekonyong-konyong saja
nyonya Teng jatuh terkulai dan rubuh dilantai kalau tidak Lo In
dengan cepat sudah datang menyangga.
"Wah, dia pingsan" berkata Eng Lian, sedikit juga ia tidak
unjukkan rasa kaget atas kejadian itu.
"Bawa, hayo bawa ke dalam " ia suruh Lo In memondong
nyonya Teng dibawa masuk ke dalam.
Lo In lantas memondong si nyonya yang sudah tidak ingat
orang.
oleh Lo In, seorang pelayan disuruah mengabarkan pada
Teng Hauw dan Kim Wan Thauto-Tidak lama lagi masuk Teng
Hauw, sedang Kim Wan Thauto tidak turut datang.
Bingung Teng Hauw melihat istrinya jatuh pingsan, Ia lalu
menanya pada Lo In,
"Lo Hiantit, kenapa bibimu ? Eh, mana Leng siong ?"
Belum Lo In menjawab, Eng Lian sudah nyeletuk
mendahului,
"Aku kasih tahu bibi, adik siong dibawa sucouw lantas dia
jatuh pingsan, antahlah, apa memang bibi ada punya penyakit
ayan ?"
Mendengar Leng siong dibawa sucouwnya Kim Coa siancu,
kagetnya Teng Hauw bukan kepalang dan ia jatuh duduk
dikursi. Termenung-menung ia dan kedua matanya berkacakaca
hingga Lo In merasa kasihan, sebaliknya Eng Lian
tinggal tenang-tenang saja. Betul-betul watak Eng Lian lebih
aneh dari si bocah wajah hitam.
"Hiantit, bagaimana ini.............?" berkata Teng Hauw
dengan suara lirih.
"Paman Teng." sahut Lo In.
"Kita sudah tahu siapa ujang culik enci Leng siong. Aku
harus menyusul ke Coa-kok untuk mengambil kembali enci
Leng siong dari tangannya Lam-hay Mo-lie-"
"Hei, kau jangan ke sana " Eng Lian mencegah-
"Kalau ke sana, bisa masuk tak bisa keluar, kau tahu
Apalagi sekarang ada sucouw yang sangat lihai "
Lo In ketawa hambar. "Enci Liang." katanya "Kita harus
tanggung jawab atas hilangnya enci Leng siong. Kalau kau
tidak maupergi, biar aku sendiri yang kesana "
"Tidak- tidak, aku mau ikut " kata Eng Lian, seperti anak
kecil lagaknya.
sementara itu nyonya Teng sudah siuman dan menangis
tersedu-sedu sambil sesambatan memanggil-manggil Leng
siong, puterinya yang hilang.
Lo In melihat itu menjadi tidak enak hatinya.
Sebentar lagi Kie Giok Tong yang mendapat kabar Teng
Hauw dalam kesulitan, sudah datang bersama-sama
saudaranya yang lain.
Mendapat kabar dari Lo In tentang hilangnya Leng Siong,
Kie Giok Tong dan lain-lainnya juga menjadi kaget. Toako dari
Lima Harimau itu sebisa-bisanya menghibur hati nyonya Teng
yang menangis saja.
"Hilangnya anak Siong," kata Kie Giok Tong. Justru sedang
bersama-sama Lo Hiantit. Maka untuk mendapatkan dia
kembali pun sebaiknya Lo Hiantit yang berusaha. Kami
mengharap sekali bantuan Lo Hiantit. Kami percaya dengan
kepandaian Lo Hiantit yang tidak ada taranya, rasanya tidak
susah untuk merampas pulang Leng Siong "
Kie Giok Tong dalam kata-katanya ada menyesalkan Lo In.
Tapi ia atur perkataannya demikian rupa, supaya tidak
menyinggung perasaannya Lo In. Tapi biar bagaimana juga,
Lo In yang cerdik sudah dapat menangkap bahwa dirinya
disesalkan.
"Kie Lopek bicara dari hal yang wajar." kata Lo In.
"Baik, aku nanti berusaha sebisanya mendapatkan kembali
enci Leng Siong meskipun apa pun yang akan terjadi atas
diriku yang tidak berguna "
"Lo Hiantit, kau jangan salah paham." berkata Kie Giok
Tong yang pandai melihat gelagat.
"Apa yang aku barusan bilang, bukannya menyesalkan kau.
Hanya kami dari suyangtin Ngo-houw mau minta bantuanmu.
Habis, kalau tidak minta bantuan Hiantit yang berkepandaian
tinggi, sama siapa kita dapat minta bantuan lagi ?"
Lo In tidak mau debat, ia hanya anggukkan kepalanya.
Kapan ia melihat ke sekitarnya, ia tidak nampak Kim Wan
Thauto- Lalu ia menanya pada tuan rumah,
"Paman Teng, kemana perginya toako ?"
" Entah dia pergi kemana, hanya dia ada menitipkan surat
ini untuk Hiantit." sahut Teng Hauw seraya keluarkan sebuah
sampul dari kantongnya dan diberikan pada Lo In. Ketika Lo In
sobek sampul dan baca surat Kim Wan Thauto, hanya pendek
saja bunyinya :
"Anak In, toako tidak berguna. Mengikuti anak In hanya
membuat berabe saja. sampai disini saja, kita berpisahan.
Toako akan berusaha mencari anak Hiang, semoga toako
berhasil. Harap anak In bisa jaga diri dalam perjalanan. Kim
Wan Thauto"
Benar-benar pusing kepalanya Lo In. urusan yang satu
belum beres, muncul lagi yang lain. Lo In menduga perginya
Kim Wan Thauto lantaran tidak begitu cocok dengan tabiatnya
Eng Lian, tidak seperti terhadap Bwee Hiang. Memang
tabiatnya dua gadis ini sangat jauh bedanya seperti langit dan
bumi. Kalau Eng Lian berandalan dan tidak begitu
memandang pada orang yang lebih tuaan, sebaliknya dengan
Bwee Hiang yang halus tutur katanya dan bisa menyesuaikan
diri hingga orang menaruh simpati bergaul dengannya.
Mungkin disebabkan usianya Bwee Hiang ada lebih tua dan
lebih 'matang'. Tapi bagaimana pun, Bwee Hiang memang
seorang gadis yang terdidik (terpelajar) dan arahnya bergaul
ada sangat simpatik, hingga orang suka kepadanya.
sampai pada waktu malam, baru nyonya Teng kelihatan
reda sedihnya- Ia panggil Lo In dan Eng Lian berkumpul, juga
Teng Hauw ada hadir-
"Anak Lian." kata nyonya Teng-
" Aku panggil kau berkumpul ada satu hal yang ingin
kusampaikan padamu- soal apa, kau tahu ?"
"Mana aku tahu, bibi belum omong." sahut Eng Lian
ketawa.
Nyonya Teng tersenyum lirih-
"Sebenarnya yang aku ingin ceritakan padamu, anak siong
turut serta mendengarkan ada terlebih baik. Tapi dia tidak ada,
tidak apalah kuceritakan padamu-"
"Urusan apa itu, bibi Teng ?" tanya Eng Lian.
"Urusan hubungan kita bersama." sahut nyonya Teng
tersenyum.
Eng Lian mendesak supaya nyonya Teng lekas bercerita.
Lantas nyonya Teng mengisahkan satu kejadian yang cukup
menarik untuk dituturkan disini-Itu kejadian kira-kira delapan
belas tahun yang lalu.
Di suatu dusun yang bernama Cenghiang, kira-kira 200 lie
di sebelah barat dari suyangtin, masa itu ada hidup seorang
gadis bersama kakeknya, si kakek bernama Tan Giok siong
dan si gadis namanya Lie Gin Hoa.
Hidupnya Gin Hoa sangat tertekan oleh kakeknya yang
bengis. Tidak diperbolehkan ia berpakaian rapih dan merawat
dirinya hingga kecantikannya mengumpat dibalik wajahnya
yang kotor dan pakaian yang kumal.
Biasanya seorang kakek sangat memanjakan cucunya dan
kepingin cucunya lekas-lekas lalu, tapi Giok siong sebaliknya,
ia menekan kemerdekaan cucunya seakan-akan sang cucu
tidak boleh kawin dan sampai mati terus merawat dirinya.
Entahlah, dalam dunia yang lebar ini ada macam kakek
yang begituan.
Untunglah Gin Hoa bukannya gadis yang suka dimanja, ia
dapat menyesuaikan dirinya terhadap kakeknya yang bengis.
Cuma saja, parasnya yang kotor dan pakaiannya yang kumal
membuat Gin Hoa sampai usia lewat 20 tahun belum ada yang
naksir.
Pada suatu hari, ketika ia habis mencuci pakaian di kali
yang letaknya agak jauh juga dari rumahnya, ia turun mandi di
kali dengan hanya bagian bawahnya saja yang tertutup
sedang bagian atas tubuhnya telanjang. Tampak tubuhnya
yang halus putih mempesonakanpada yang melihatnya, Ia ada
bersama dua orang temannya mencuci di kali itu. Terdengar
satu diantara temannya itu berkata kepadanya,
"Enci Gin, tubuhmu begini halus putih macam sutera,
kenapa wajahmu kotor amat ?"
"ya, enci Gin. Bersihkan sekali, aku ingin lihat kecantikan
aslimu " menimpali temennya yang lain.
Gin Hoa hanya tersenyum sambil mandi terus.
"Kakekmu terlalu kejam, menekan enci- sampai begini"
"Rupanya kakek enci Gin tidak senang melihat wanita
cantik "
"Dengan romanmu yang sembarangan, mana dapat
pasaran?"
"Aku sendiri yang jelek, sudah 3 tahun laku."
"Hihi, bisa saja enci Soen jangan gitu dong "
" Emang, kalau enci Gin unjukkan kecantikan aslinya, 3
tahun yang lalu sudah tentu disambar orang. Tidak seperti
sekarang, sudah masuk 23 tahun masih belum punya pacar
satu juga."
"Emangnya kalau berpacaran mesti punya dua tiga pacar?"
"Tentu, kalau yang ini lolos, yang itu, kalau yang itu gagal,
ada yang ini."
"Hihi, enci soen bisa saja- Mari kita pulang, kita kan sudah
selesai-"
"Baru aku mau ajaki kau pulang- Biar kita tinggal enci Gin
sendirian merendam dirinya lama-lama. Biar daki-dakimu pada
rontok- Hihihi—-"
Demikian 3 orang itu mengocok Gin Hoa yang sedang
merendam diri dalam kali yang jernih.
"Hei, kalian tega amat meninggalkan aku sendirian" teriak
Gin Hoa, ketika melihat dua kawannya sehabis mengocok
dirinya (Gin Hoa) pada meninggalkan pgrgi
Tapi teriakannya tidak dihiraukan, malah mereka ngikik
ketawa sambiljalan terus meninggalkan Gin Hoa yang masih
mandi-
"Biar mereka pergi, aku boleh merendam badan lamalamaan."
kata Gin Hoa ketawa. Tiba-tiba ia mendengar suara
seruling menggema di bawa sang bayu.
"Lebih enak lagi aku merendam diri diiringi seruling." kata si
gadis sambil gosoki tubuhnya yang putih halus, cuma
herannya mukanya sendiri ia tak ambil pusing. Malah ketika
tangannya kesalahan waktu mau menggosok pipinya, dia
menggumam,
"Hei, di sini kakek tidak mau " Lucu lagaknya si gadis.
Ia dengar suara seruling makin lama makin dekat, akan
kemudian......lenyap tak terdengar pula.
Kesal mendengar lenyapnya suara seruling Gin Hoa
menggerutu,
"Siapa sih yang meniup seruling ? Lagi enak-enak nonamu
mendengarkan, lantas dihentikan"
Gin Hoa berkata seraya naik ke darat. Tapi.........alangkah
kagetnya nampak pakaiannya tidak ada di tempatnya tadi-
"Celaka " pikirnya. "Aku dalam keadaan telanjang begini,
dari mana aku dapat penutup tubuhku? Kurang ajar, siapa sih
yang begitu jail? Akan kugasak dia kalau aku ketemukan
orang jail itu "
Tubuh yang berdiri dalam pakaian..........ehm Tentu saja
bikin pria yang lihat bisa jatuh lemas mendadak- Tapi Gin Hoa
tidak memikir ke situ, pikirnya ditempat itu jarang atau belum
pernah ia lihat kaum pria yang lalu lalang.
Dalam kebingungan mencari penutup badan, ia ingat akan
cuciannya tadi- Maka ia buka bakul cuciannya dan mengambil
pakaiannya yang basah dan dipakainya seketika itu sedang
mulutnya menggerutu,
"Tidak salah, tentu si soen dan si sin tadi yang main gila
menggodai orang terlalu kelewatan. Masa pakaian orang
dibawa pergi diam-diam. Baik, kalau kuketemu mereka, akan
kumaki habis-habisan"
Dengan mengenakan pakaian yang barusan dicuci,
entenganjuga bobot bakul yang dikempit dipinggangnya, Ia
pulang dengan perasaan mendongkol pada dua temannya
yang ia anggap menggodainya keterlaluan.
Belum berapa tindak ia berjalan, ia nampak di sebelah
depan ada sepotong kain yang terpancang dipokoknya pohon.
Kapan ia dekati, alangkah terkejutnya, sebab itu adalah
baju dan celananya yang hilang. Cepat ia menjambret, kiranya
pakaian itu terpancang pada sebatang seruling yang nancap
pada pokoknya pohon.
Ia coba cabut seruling itu tapi sampai berkutatan, ia tak
dapat mencabutnya hingga ia uring-uringan. Katanya,
"orang yang punya seruling, kenapa kau jail amat sama
nonamu ? Awas Kalau sampai jumpa dengan nonamu, akan
kuhajar batang hidungmu yang kaya
ser......."
Ia terperanjat ketika sekonyong-konyong menempel ke
mulutnya yang sedang nyerocos hingga terputus kata-katanya,
Ia coba mengelak, percuma, malah hidung tadi makin
melengket di mulutnya dan tubuhnya dipeluk prang erat-erat
hingga rasanya 'ngap'.
Ketika ia sadar, siapa orang yang berlaku kurang ajar itu,
bukannya Gin Hoa marah malah dari menronta keras ia jadi
jinak dan kasihkan bibirnya dicium lama-lama.
"Koko, kau bikin aku rasanya "ngap " kata Gin Hoa setelah
terlepas dari pelukan orang sambil tundukkan kepala.
"Adik Gin, kalau tidak dengan cara begini, selalu kau mau
lari saja dari aku." sahut orang itu dengan suara halus dan
ramah-
Di balik wajahnya yang kotor, matanya melirik tajam pada
orang itu yang juga telah tergetar hatinya. Dengan tiba-tiba ia
lantas ulur tangannya hendak memeluk lagi.
"Jangan, koko" kata si gadis seraya mundur satu tindak-
"Adik Gin, lama aku mimpikan kau. sayang selalu kau
menjauhkan diri saja dari aku. Barusan aku sudah saksikan
keindahan tubuhmu, membikin aku hampir jatuh dari pohon,
sudah lama kutahu kau umpatkan kecantikanmu di balik
wajahmu yang kotor. Tapi untuk menyaksikan tubuhmu yang
menggiurkan tadi, belum pernah aku mengimpi.........."
"Koko," memotong si gadis, seraya tundukkan kepala. Malu
rupanya ia tubuhnya yang indah ditonton orang di depannya.
"Kau bikin aku penasaran atas kelakuanmu."
"AKu Gouw Tay Lie, tak bakal bikin kau penasaran.
sekarang juga aku akan pergi pada kakekmu untuk melamar
dirimu. Dikasih atau tidak- aku akan memaksanya "
Gouw Tay Lie adalah pemuda umur tiga puluhan, wajahnya
cakap dan tampan. Entah dari mana datangnya dia sebab
dalam dusun cenghian itu ia tinggal belum berapa lama. Ia
sering-sering perhatikan Gin Hoa kalau pergi cuci di kali
bersama-sama temannya.
Teman-teman Gin Hoa sering ketemu si pemuda dalam
perjalanan mencuci ke kali, mengira bahwa Gouw Tay Lie
naksir pada dirinya, sudah unjuk kegenitannya kepada si muka
tampan. Tapi Gouw Tay Lie tidak meladeni mereka, hanya
matanya berpusat kepada Gin Hoa.
Dari gerak gerik dan lirikan Gin Hoa yang tajam, Tay Lie
mengerti bahwa perhatiannya pada si nona mendapat
sambutan, Ia sudah berusaha mendekati, tapi selalu si nona
menjauhkan diri Malah kalau pergi cuci di kali tanpa ada yang
temani, Gin Hoa tidak mau pergi. Tay Lie tahu bahwa si nona
bukan tidak mau melayani, ia hanya takut pada kakeknya yang
bengis dan mengekang dirinya.
setelah berkali-kali untuk mendekati si gadis berwajah kotor
tidak berhasil, akhirnya ia ambil jalan nekad seperti yang
dilukiskan diatas.
Mendengar kata-kata si pemuda yang hendak melamar
dirinya dan akan memaksanya kalau si kakek tetap bertahan,
Gin Hoa jadi kaget, Ia berkata. "Jangan, jangan. Kakek adanya
luar biasa. Kalau dia marah, aku yang jadi korban nanti."
Tay Lie mau percaya akan keterangan si nona.
Pemuda itu sudah mencari keterangan halnya si kakekmemang
adanya luar biasa. Ada beberapa tetangganya
diminta perantaranya untuk melamarkan Gin Hoa, tidak ada
yang berani. Malah menasehatkan Tay Lie untuk jangan dekati
si nona, lebih baik cari yang lain saja.
Malah pernah ada kejadian, si nona dipukuli si kakek
karena ada orang yang meminang si gadis untuk dijadikan
istrinya yang sah. orang yang melamar itu kedudukannya
dalam dusun itu boleh juga. sengaja ia mencari wanita yang
romannya tidak berapa cantik, asal boleh
dipakai'Pendaringan', dimaksudkan yang setia dan sabar
untuk merawat dua anaknya yang masih kecil, belum lama
ditinggal mati oleh ibunya. Lantaran ini, maka segan orang
berurusan dengan si kakek dalam hal cucunya itu.
gara-gara si kakek yang adatnya aneh, bisa-bisa Gin Hoa
jadi perawan tua.
Tadinya Tay Lie sudah nekad dan mau datangi si kakek
untuk minta dirinya Gin Hoa. Mendengar kata-kata Gin Hoa
yang separuh meratap, ia menjadi kasihan pada si nona dan
urungkan niatnya- Tapi, ia mencintai Gin Hoa- Cara
bagaimana ia dapatkan si gadis ? Inila h yang membuat
kepalanya pusing.
sejak dari mulutnya kena ditempel hidung Tay Lie, si nona
jadi berpikiran.
orang demikian tampan, mau sama dirinya yang berwajah
kotor menjijikkan, sungguh ia tidak habis mengerti, Ia tidak
sadar kalau Tay Lie sudah tahu bahwa dibalik wajah yang
kotor itu ada mengumpat kecantikan yang bercahaya
sejak itulah Tay Lie dan Gin Hoa makin rapat hubungannya
di luar tahunya sang kakek yang bengis, sering mereka bikin
pertemuan rahasia di tempat-tempat yang sunyi.
Hari lewat hari, Giok siong (si kakek) lihat badannya sang
cucu berubah- sering tiduran siang, biasanya tidak pernah
dilakukan Gin Hoa, malah terkadang tampaknya si nona
sangat lesu, tidak bersemangat untuk mengerjakan apa-apa.
Giok siong menjadi heran. Dari heran ia menjadi curiga
ketika nampak perutnya sang cucu seperti melembung.
Pada suatu malam tampak romannya Giok siong sangat
tegang, kadang-kadang beringas. Entah kenapa si kakek
mendadak berubah demikian menakutkan, sebentar lagi ia
masuk ke dapur, dimana ia ambil golok, piranti membelah
kayu.
Ketika melihat golok itu puntul, lalu ia dekati batu asahan,
dimana ia mengasah golok itu sampai tajam benar. Kalau
orang yang melihat tingkah lakunya si kakek malam-malam
mengasah golok, tentu orang akan menanya : Apa-apaan dia
mengasah golok malam-malam ? Memangnya tidak ada waktu
siang untuk membuat golok tajam ?
sebentar lagi, setelah melihat golok sudah tajam, Giok
siang tampak pentil-pentil bagian tajamnya, Ia ketawa, tidak
sampai terbahak-bahak, seakan-akan takut ada orang dengar.
Dengan golok itu ia masuk lagi ke dalam, Ia duduk pada
sebuah dipan, piranti tidurnya.
"Gin Hoa, Gin Hoa Kemari sebentar" tiba-tiba si kakek
teriaki cucunya yang belum lama masuk kamarnya untuk tidur.
Gin Hoa yang memang belum pulas, kaget mendengar
panggilan sang kakek-
Cepat ia turun dari pembaringan, keluar menghampir
kakeknya yang tengah duduk ditepi pembaringannya.
"yaya (kakek), ada perintah apa kau memanggil aku ?"
tanyanya.
"Gin Hoa, bukan tidak ada alasannya aku memanggil kau."
"yaya mau suruh apa ? Katakanlah, aku lantas akan
mengerjakannya."
"Hehehe, cucuku yang manis." si kakek ketawa asem.
Gin Hoa tidak enak hatinya melihat gerak g erik sang kakek
yang aneh.
"Aku mau tanya kau, harus kau mengaku terus terang."
berkata Giok siong.
"Aku memangnya kenapa, yaya?" tanya si gadis ketakutan.
"Kau sudah berhubungan dengan siapa ? Lekas mengaku "
"Tidak, aku selalu merawati yaya, tidak berhubungan
dengan siapa juga."
"Bagus " kata Giok siong seraya bangkit mendekati
cucunya yang tengah gemetaran.
"Weekk " tiba-tiba terdengar suara robeknya kain. Kiranya
pakaian bagian perutnya Gin Hoa kena dijambret oleh si
kakek.
"Hahahaha, tidak ada hubungan ? ini apa ?" si kakek kata
sambil menunjuk pada perutnya Gin Hoa yang sudah mulai
mengembung.
Tersipu-sipu Gin Hoa coba menutupi perutnya yang
telanjang, sambil menangis, ia putar tubuhnya lari ke kamar
dengan maksud mau tukaran. Tapi satu tendangan dari Giok
siong bikin Gin Hoa jatuh meloso- Kembali terdengar suara
"wekk wekk1 beberapa kali. pakaian Gin Hoa yang sudah
robek bertambah robek lagi di sana sini hingga si nona
separuh telanjang.
"Hehe, bagus ya berani kelabui yayamu " kata Giok, siong
seraya mengambil golok dari dekat bantal tidurnya.
"Kau lihat ini apa ?" berkata Giok siong seraya acungkan
goloknya.
Gin Hoa tengah merang kak-rangka k bangun sambil
menangis, Ia singkap rambutnya yang terurai ke mukanya
untuk melihat barang apa yang si kakek suruh lihat, Ia menjerit
nampak Giok siong memegang golok tajam.
"yaya, kau mau apakan aku ? uh.....uh.....uh......." ia
menangis keras.
"Aku mau belah, keluarkan anak haram dari perutmu "
sahut Giok siong bengis. Mendengar perkataan si kakeksekali
menjerit lantas Gin Hoa pingsan-,
"Bagus-" kata Giok siong ketika melihat cucunya pingsan.
"Aku tak usah menelikung tanganmu lagi untuk
mengeluarkan anak haram dari perutmu " Ia berkata sambil
mendekati Gin Hoa yang menggeletak separuh telungkup,. si
kakek kelihatan cucunya jadi rebah terlentang hingga tergetar
juga hatinya si tua tampak tubuhnya Gin Hoa separuh terttup.
Perutnya yang melembung dibungkus oleh kulit yang putih
halus, membikin Giok siong jongkok termangu-mangu.
"Kurang ajar." tiba-tiba ia menggerutu.
"Siapa manusianya yang berani ganggu cucuku ? Betulbetul
dia berani main-main dengan kumis "
Nyata si kakek sudah ambil keputusan tetap untuk
mengeluarkan bayi dari dalam perutnya Gin Hoa, melihat ia
sudah menyobek lagi pakaian si nona sehingga sekarang
tampak jelas perutnya Gin Hoa yang sedang mengandung.
Kasihan Gin Hoa akan menjadi korban kekejaman
kakeknya sendiri Isi perutnya akan dikeluarkan dengan paksa-
Gin Hoa matanya masih terus tertutup ketika golok dapur yang
sudah diasah tajam mulai menyentuh pusarnya. Rupanya si
kakek hendak mulai membelah perut cucunya dari situ.
"Trang " huara golok terbentur benda keras, berbareng
goloknya Giok siong juga sudah terlempar diluar kemaunnya si
kakek-
Kiranya benda yang membentur golok si kakek adalah
sebuah batu yang sebesar jempol tangan, yang jatuh persis
diatas perutnya Gin Hoa- Bukan main kagetnya Giok siong.
cepat ia bangun berdiri dan membentak.
"Bangsat, kau berani main gila pada orang she Tan ? Lekas
unjukan cecongormu "
"Aku ada disini-" terdengar orang menyahut dari belakang.
Cepat cilik, siong memutar tubuh. Kiranya dia seorang
muda dari usia tiga puluhan yang menyahut bentakan tadi-
Wajahnya tampan, tinggi kurus, tengah berseri-seri ke arahnya
sambil menjura hormat.
si kakek bukannya senang melihat pemuda sopan dan
berwajah tampan, sebaliknya ia sangat gusar. Bentaknya,
"Anak sialan, tentu kau yang bikin cucuku jadi melembung
perutnya. Hm, bagus, bagus "
Meskipun ia sangat gusar dan memaki si pemuda yang
tiada lain adalah Gouw Tay Lie adanya, tidak berani ia
sembarang bergerak melihat si pemuda dengan sebuah batu
sudah bikin golok terlempar dari cekalannya.
"Mohon maaf pada kakek-" kata Tay Lie.
"Urusan adik Gin, aku yang tanggung jawab. Aku tidak akan
sia-siakannya."
"Hm, bagus-bagus." kata si kakek sambil anggukanggukkan
kepalanya.
"Adat kakek ada luar biasa. Maka terpaksa aku ambil jalan
seperti yang sekarang kakek sudah tahu untuk aku dapatkan
dirinya adik Gin,"
"Hm Bagus, bagus...."
"selanjutnya, adik Gin akan menjadi istriku"
"Hm Bagus, bagus........"
"Apa yang bagus ?" tanya Tay Lie yang jengkel bicaranya
hanya dijawab dengan 'bagus, bagus' saja.
"Memang bagus, kau sudah bikin melembung perut cucuku
tanpa permisi dulu dari aku. Apa perbuatanmu itu aku harus
bilang jelek ?"
Tay Lie melengak mendengar jawaban si kakek seperti
sinting.
Ia melirik pada Gin Hoa yang tengah telentang tidak ingat
orang dengan badan hampir kehilangan tutupnya sama sekali.
Hatinya sangat kasihan, cepat ia jongkok, kemudian
memondong si nona.
"Hei, kau mau bawa kemana cucuku ?" Giok siong tiba-tiba
menanya.
"Aku mau rebahkan dia diatas pembaringan dan
menolongnya." sahut Tay Lie seraya terus bertindak
menghampiri dipan si kakek-
"Hei, itu tempat tidurku, tak boleh ditaruh disitu, kotor " kata
Giok siong.
Tay Lie tidak meladeni si kakek- sambil mendengus ia
bawa si nona ke dalam kamarnya, dimana ia rebahkan dan.
menutupi badan Gin Hoa yang telanjang.
Ia segera mulai mengurut-urut urat-urat dari jalan darah
yang ia tahu untuk membikin Gin Hoa tersadar. Lama juga ia
berusaha menyadarkan si gadis.
"Hei, kau lama-lama dalam kamar lagi apa-apaan ?"
kedengaran suara si kakek dari sebelah luar.
Tay Lie melengak- jadi melengak keheranan ia jadi geli
ketawa sendiri menyaksikan tindak tanduk si kakek- Pikirnya,
orang sedang repot menolong gin Hoa, bukannya bantu
menolongi, ini malah menanya yang bukan-bukan. Benarbenar
orang tua itu sudah sinting atau linglung.
Tay Lie tidak meladeni si kakek- terus ia berusaha
menolong Gin Hoa.
"sudah tanpa permisi bikin perut cucuku kembung,
sekarang lama-lamaan di dalam kamar cucuku. Betul-betul
kau bikin si kakek jadi penasaran" kedengaran Giok siong
kembali mengucapkan kata-kata yang melantur, sebentar lagi
tampak Gin Hoa siuman.
"Koko, kau juga datang ?" tanya si gadis lemah-
"Adik Gin, aku datang unuk melindungi kau." sahut si
pemuda, ketawa.
"Memangnya aku kenapa ?" tanya si gadis, seperti
mengigau.
"Adik Gin, anak kita mau dikeluarkan dari perutmu oleh
kakekmu."
"Koko" menjerit Gin Hoa sambil bangun dan menubruk Tay
Lie yang duduk di tepi pembaringan.
"AKu takut.....aku takut......" katanya dalam pelukan si
pemuda. Gin Hoa lupa akan pakaian yang sudah koyak-koyak-
"Adik Gin, tenang, tenang " menghibur Tay Lie seraya
membelai-belai rambutnya si gadis yang hitam jengat bagus.
"Hei, lagi apa-apaan ?" si kakek berkata sambil tongolkan
kepalanya dari balik muilie (terai pintu) sebab kamarnya Gin
Hoa tidak berpintu.
Gin Hoa kaget- Ia dorong Tay Lie dan masuk lagi ke dalam
selimut- Kini ia sadar bahwa dirinya hanya berpakaian
separuh-
"Koko, itu kakek datang mau membelah perutku.........."
meratap Gin Hoa dari dalam selimut, Ia sudah menutup
seluruh badannya dengan selimut saking ketakutan-
Tay Lie tidak menjawab, sebaliknya ia bangkit dan berjalan
keluar dimana Giok siong sudah duduk menantinya di ruang
tengah, seraya tangannya memegang golok yang tadi mau
dipakai membelah perut cucunya. Tay Lie tidak gentar si kakek
memegang golok-
Ia jalan menghampiri dan duduk di depannya- Ia berkata,
"Urusan sudah jadi begini, kau sekarang mau apa ?"
" urusan tidak jadi begini kalau tidak gara-garamu tanpa
permisi melembungkan perut cucuku." sahut Giok siong
dengan mata bersinar rasa penasaran.
Tay Lie anggap orang tua ini benar-benar sinting. Masa
saban-saban menyebut kehamilan cucunya tanpa permisi.
Kalau tidak sinting, orang ini tentu kakek cabul. Dalam
jengkelnya Tay Lie berkata kasar, katanya,
"ya sudah, aku tanpa permisi melembungkan perut cucumu.
Kau mau apa ?"
"Heheh, kau mau ngaku juga kesalahanmu, ya " Giok siong
ketawa aneh-
"Aku Gouw Tay Lie, berani berbuat tentu berani tanggung
jawab "
"Tanggung jawab apa " mendengus si kakek- matanya
melotot.
"Aku tanggung jawab buat kehidupannya adik Gin. Aku
tidak nanti sia-siakan dan akan menjadikan istri yang
tersayang "
"Hahaha " giok siong tertawa terbahak-bahak-
"Kau lihat ini ?"
Tay Lie lihat cilik, siong acungkan goloknyasebelum
ia bicara, cilik, siong sudah mendahulu,
"Aku Tan.........."
".........Giok siong " terdengar orang menyambung dari
sebelah luar. Lalu disusul dengan tertawa yang terbahakbahak,
si kakek dengan mendadak saja agak bergidik
badannya-
Tay Lie heran, dengan mendadak sontak setelah
mendengar tertawanya orang diluar rumah si kakek bergidik
sampai badannya gemetaran. Entah siapa orang yang datang
itu. "Brak " tiba-tiba pintu ditendang terbuka.
Tampak berjalan masuk seorang pria bermuka persegi dan
gemuk badannya. Dari muka dan perawakannya, Tay Lie
heran, tidak ada yang harus ditakuti- Kenapa si kakek
bolehnya bergidik sampai gemetaran badannya ?
orang itu tidak memandang pada Tay Lie yang ada disitu,
hanya langsung berkata kepada Giok siong,
" Kakek sinting, tidak nyana kau mengumpat disini Tujuh
tahun sudah aku mencari-cari kau. Mana cucu perempuanmu?
Lekas keluarkan"
si kakek tidak menyahut, hanya matanya saja memandang
pada orang gemuk itu dengan roman agak pucat, seakan-akan
melihat setan.
"Aku ciu-kui Gouw TOa (si setan Arak) belum pernah
mengampuni anak buahnya yang berkhianat Tapi untukmu,
aku bisa kasih kelonggaran, asal cucu perempuanmu lekas
kasih keluar. Dimana dia, lekas Hahaha, sekarang kau tak
punya alasan untuk mengatakan cucumu masih di bawah
umur"
Gin Hoa dikamar mendengar suara Gouw Toa juga
ketakutan, ia tutup rapat-rapat semua badannya dengan
selimut, takut orang itu nanti masuk ke dalam kamarnya dan
melihat dirinya. Diam-diam ia jengkel, kemana sih perginya
Tay Lie, tidak kedengaran suaranya.
Ia barusan saja tukaran pakaiannya yang koyak-koyak dan
mau memanggil Tay Lie masuk untuk menasehati supaya si
anak muda jangan kasar-kasar bercakap dengan yayanya, tapi
niatannya urung karena ia mendengar suara yang ia kenali
betul.
"Patung, kau diam saja " bentak Gouw Toa, si setan Arak-
Untung Giok siong sudah menguasai keadaan maka ketika
dibentak demikian, bukan makin menggigil ketakutan malah
tiba-tiba ia ketawa dan tampangnya berubah tidak ketakutan
lagi seakan-akan dalam benaknya sudah mendapat
pemecahan untuk menghadapi Gouw Toa.
Bukan Tay Lie saja yang heran, juga Gouw Toa jadi
melengak sejenak nampak si kakek tidak bergemetaran
mendengar bentakannya yang nyaring
"orang she Gouw, kau sudah terlambat datang." sahut Giok
siong ketawa.
"Apanya yang terlambat datang ?" tanya Gouw Toa heran.
"Cucuku sudah melembung. Hahaha...."
"Apanya yang melembung "
"Sudah tentu perutnya, hahaha "
Gouw Toa memang pandang Giok siong ada satu kakek
yang sinting, ucap katanya suka melantur ketika si kakek
masih menjadi anak buahnya. Tapi mendengar kata-kata
melembung perut cucu perempuannya si kakek- mau tak mau
ia menjadi terkejut dan memandang ke arahnya si kakek
dengan muka bengis.
"Jadi, cucu perempuanmu sudah punya suami?" ia
menanya, cemas hatinya.
"Punya suami sih belum, cuma dia sudah melembung."
sahut si kakek haha hihi.
"siapa yang bikin dia melembung ?" bertanya Gouw Toa
sangat gusar.
Giok siong tidak menjawab, hanya matanya saja melirik
pada Tay Lie yang enak-enakan mendengari orang bertanya
jawab. "Brak Prang Preng Prong....."
Itulah suara meja terbalik diatas mana ada ditaruh piring
mang kok, tempat teh dan lain-lain hingga ramai
kedengarannya.
Meja itu terbalik ditendang sekerasnya oleh Gouw Toa,
yang seketika itu meluap amarahnya kepada Tay Lie- si setan
Arak penasaran, bakal miliknya didahului oleh si pemuda yang
tak dikenal dan juga tidak dipandang mata olehnya, cilik, siong
kembali gemetaran nampak si setan Arak mulai umbar
amarahnya.
Tapi Tay Lie tinggal tenang-tenang saja dan memandang
pada Gouw Toa dengan tersenyum sinis. Tampaknya ia tidak
gentar kepada si setan Arak-si kakek tidak menjawab, hanya
matanya kedap kedip pada Tay Lie.
" Lekas katakan" kembali si setan Arak membentak-
Giok siong dengan muka ketakutan, melihat ke kamar Gin
Hoa yang tidak berpintu
"Hahaha " si setan Arak tertawa keras, tubuhnya berbareng
melompat ke pintu kamar
dan ia akan menerobos masuk kalau tidak tertahan oleh
suara halus dari dalam kamar. "Jangan.. Jangan masuk- Aku
lagi tukar pakaian, segera aku keluar"
"Hehehe, nona manis, kau masih kenali juga pada Gouw
Toaya ?" kata Gouw Toa ketawa.
"Aku tahu Gouw Toaya yang datang, tunggu sebentar"
sahut Gin Hoa, empuk suaranya.
si setan Arak yang merangkap juga jabatan setan
Perempuan, tampak berseri-seri kegirangan, menunggu
keluarnya si elok dari kamarnya.
Tay Lie sudah muak melihat lagaknya Gouw Toa. Tadi
ketika si setan Arak mau menerobos ke kamarnya sang
kekasih, ia sudah mau menghadang tapi urung ketika
mendengar suara Gin Hoa yang dapat menyetop kelakuan si
setan Arak yang kasar.
Ia masih mau lihat, apa yang Gin Hoa bisa bikin untuk
menghadapi Gouw Toa Juga ia masih samar-samar untuk
mengetahui duduknya urusan. Maka ia tidak mau turun tangan
dulu. Hanya yang sudah terang baginya adalah Giok siong,
memang dia ada seorang kakek sinting. Bagaimana
lantarannya Giok siong mengekang kemerdekaan cucunya,
inilah yang ia kepingin tahu.
Tidak lama Gin Hoa telah keluar dari kamar.
Ia tertawa kepada Gouw Toa, sebaliknya Gouw Toa
terbelalak matanya memandang kepada si nona.
"Apa kau si Gin dari tujuh tahun yang lalu ?"
"siapa bilang bukan si Gin yang dulu ? Waktu itu aku baru
berumur lima belas, sudah tentu sekarang lain rupanya. Lain
dulu lain sekarang, Gouw Toa y a Hihihi......" Gin Hoa ketawa
tapi tidak membuat guncang hatinya si setan ciila Perempuan,
malah ia seram rupanya, matanya kedap kedip seperti orang
tolol.
Tadinya Gouw Toa mengira dari dalam kamar akan keluar
satu gadis yang cantik jelita dengan senyuman yang memikat
dan lagak lagunya yang Jenaka, tidak tahunya di depannya
sekarang berdiri satu wanita yang mukanya buruk bagaikan
restan penyakit cacar. Matanya belekan (tai mata di sana sini),
pakaiannya kumel seperti yang sudah tahunan lantaran tidak
dicuci-cuci, mulutnya juga seperti mengok ke kiri seketika
berbayang di depan Gouw Toa roman cantik jelita Gin Hoa
pada usianya yang mulai mangkat dewasa. Luwes dan
cekatan, omongannya serba Jenaka penghibur lara. Tapi
sekarang kenapa jadi begini ? Dalam usia dewasa Gin Hoa
semestinya lebih cantik dan mempesonakan. Ini malah lebih
buruk dari wanita yang disebut jelek-
Tak dapat Gouw Toa memecahkan persoalan itu sebab
buktinya memang si nona berwajah buruk menyeramkan.
"Kalau benar si Gin, kenapa wajahmu berubah seburuk ini
?" si setan Arak menanya perlahan, seperti cemas hatinya.
"Kalau dulu wajahku cantik dan sekarang buruk, itu
perubahan yang wajar." sahut Gin Hoa, melirik pada Gouw
Toa seraya tersenyum, Gouw Toa main muak melihat lirikan
dan senyuman Gin Hoa-
Kenapa ? Gouw Toa lihat lirikan Gin Hoa bukan memikat
tapi seperti berjatuhan tai matanya, senyumannya
menyeramkan sebab mulutnya yang mengok seperti lebih
mengok lagi. Tapi betul seperti katanya cilik, siong, cucunya
sudah melembung perutnya.
Mungkin si nona sudah mengandung tujuh delapan bulan.
Dalam keadaan mengandung, tubuhnya Gin Hoa berubah
makin menggiurkan sebenarnya. Tapi si setan Arak tidak
melihat itu, hanya yang dibuat pikiran wajah si nona yang
buruk.
Dari merasa cemas dan heran, ia menjadi marah,
"Kau bilang perubahan yang wajar, apa artinya itu ? Lekas
katakan"
setelah tersenyum yang memuakkan Gouw Toa, si nona
menjawab,
"Aku diserang penyakit cacar, makanya wajahku jadi
berubah begini- Kapan Gouw Toaya pulang Jangan lupa ajak
aku, ya"
"Ajak kau pulang ?" kata si setan Arak dengan sinis.
"ya, sejak aku pulang ke rumahmu ?"
"siapa yang mau bawa orang macam kau ?"
"Dari jauh kau cari aku, kenapa sekarang berubah
pikiranmu "
"siapa yang cari kau, budak buruk "
"Lho, kenapa kau jadi memaki si Gin ?"
"Memaki maish bagus, sebagai ganti tendangan Gouw
Toaya "
"Ajak dong, kan kau mencari aku ?" Gin Hoa dengan berani
mendekati si setan Arak dan hendak mencekal tangan orang
dengan tangannya yang kotor.
"Kurang ajar Kau berani..........?" kakinya pun melayang
hendak menendang Gin Hoa.
Tendangan itu berat ratusan kati, tambahan mengarah
perut. Kalau saja mengenai sasarannya terang perutnya Gin
Hoa akan berantakan dan bayi didalamnya mati seketika. Hal
mana membuat Gin Hoa sangat kaget, sebab perbuatan si
setan Arak ada diluar perhitungan, Ia sudah pejamkan
matanya untuk terima binasa. "Bluk " terdengar suara tubuh
yang jatuh.
Gin Hoa terkejut, cepat dia membuka matanya.
Kiranya suara "bluk1 tadi adalah suara tubuhnya Gouw Toa
yang berat, jatuh meloso di lantai dan sedang merangkak
bangun. Di dekatnya kelihatan Tay Lie berdiri sambil senyumsenyum.
Apakah yang sudah terjadi ? Gin Hoa tak usah putar
otak untuk mencari tahu, karena lantas terdengar bentakan
Gouw Toa kepada Gouw Tay Lie,
"Binatang Hm Bagus, bagus, bagus......."
"Apa yang bagus ?" tanya Gouw Tay Lie keheranan.
"Bagus perbuatanmu bikin bunting anak orang tanpa
dinikah " sahut Gouw Toa.
"Itu ada urusan pribadiku, ada sangkut apa dengan kau?"
"sangkutan apa ? Hm Kau tidak tahu Gin Hoa kepunyaanku
?"
"Kalau kepunyaanmu, kenpa kau tidak mau bawa kau,
malah ini menendang kayak kuda kelaparan" menyela Gin
Hoa dengan berani.
Gouw Toa melengak- Ia tidak menduga Gin Hoa berani
mengejek demikian.
"Kau kira wajahmu kebagusan untuk dibawa oleh Gouw
Toaya ?" bentaknya.
"Hihi, orang sinting." kata gin Hoa.
"Kakekku kau katakan sinting, tidak tahunya kau lebih
sinting lagi........."
"Kau berani.......?" mengancam Gouw Toa, tangannya
diulur hendak memukul.
"Nah, pukullah " menantang Gin Hoa dengan lucu sebab ia
berkata sambil sodorkan perutnya yang barusan mau
ditendang si setan Arak-
Bukan main gusarnya Gouw toa,
"Budak hina, kau menantang " katanya nyaring, kepalanya
juga sudah lantas melayang hendak menghantam dadanya si
nona.
sayang, sebelum tinju sampai pada sasarannya, ditengah
jalan sudah dipegang oleh Gouw Tay Lie- Entah bagaimana
Tay Lie, bergerak- Rupanya ia pandai kuntauw, tahu-tahu
tubuhnya si setan Arak disengkilit dan untuk kedua kalinya
terdengar suara -'bluk', tampak Gouw Toa meloso-loso lagi di
lantai.
Dengan susah payah baru ia bisa bangun berdiri
"Anak muda, siapa namamu ?" tanyanya.
"Aku Gouw Tay Lie- Kalau masih penasaran, boleh lain kali
cari aku" sahutnya.
"Bagus, kali ini kau menang. Lain kali giliranku yang
menang." kata Gouw Toa. Ia berkata sambil kebas-kebas
pakaiannya yang berdebu, barusan jatuh sampai dua kali.
"Kali ini aku menang, lain kalijuga aku pasti tetap menang."
Tay Lie menyindir.
"Baiklah, kita sama-sama she Gouw. Lain kali kita tetapkan
si Gouw yang mana yang unggul." kata Gouw Toa seraya jalan
ngeloyor ke pintu, akan kemudian ia menghilang dalam
kegelapan sang malam.
Tay Lie tidak perdulikan Gouw Toa yang ngeloyor pergi,
sebaliknya ia menghampiri Gin Hoa yang sedang ketawa,
mulutnya mengok dan wajahnya buruk- Ia berkata,
"Adik Gin, kau pandai benar membuat wajahmu seburuk ini
" sambil menowel pipi orang hingga si nona ngikik tertawa.
"Koko, bagaimana kalau wajahku lebih buruk dari ini, tentu
kau muak ?" tanya Gin Hoa.
"Lebih buruk lagi tidak berarti bagiku." sahut Tay Lie tegas.
"Cintaku padamu sebesar gunung. Mang dapat digoyang
oleh wajahmu yang buruk."
"Betul ?"
"Kenapa tidak betul ?"
"TUnggu sebentar, ya ?" kata Gin Hoa seraya terus
ngeloyor ke belakang.
Lama juga si nona dibelakang. Membuat Tay Lie tidak
sabaran. Ia lalu menyusul, baru saja ia mendekati pintu
belakang, ia kesomplokan dengan seorang gadis yang luar
biasa cantiknya hingga ia berdiri bengong.
Kalau Tay Lie tidak mengenali pakaiannya si gadis cantik
jelita itu kumel menjijikan, pemuda itu tentu tidak mengenali
kalau gadis yang berdiri di depannya sambil tersenyum
memikat adalah Gin Hoa, sang kekasih.
"Adik Gin, kau....." Tay Lie berkata perlahan sambil
menyergap si gadis dan segera si cantik jatuh dalam
pelukannya.
"Koko, kau suka sama wajah seburuk ini ?" bisik si gadis
mesra.
"Adik Gin, aku sudah duga kau adalah satu bidadari." Tay
Lie balas berbisik,
"Kalau aku bidadari, habis kau apa ?"
"AKu bataranya.........."
"Ah, koko, kau bisa saja. Mana ada batara segala "
"Adik Gin, kalau ada bidadari mesti ada bataranya. Kapan
ada wanita mesti ada pria, bukan begitu ?"
"Koko........." Gin Hoa seraya dongaki mukanya,
memandang paras Tay Lie yang tampan.
"Pintar sekali kau ini..........." Gin Hoa melanjutkan sambil
jari telunjuknya yang mungil ditempelkan pada bibirnya Tay
Lie-
"Adik Gin.........." suara Tay Lie agak gemetaran.
"Ko......ko..........." Gin Hoa suaranya hanya sampai disitu
sebab dua pasang bibir sudah melekat tak terpisahkan.
Hangat dan aman si nona rasakan dalam pelukan sang
kekasih.
Mungkin hanya bayi yang ada dalam perut Gin Hoa yang
menonton ayah dan ibunya bermain asmara. oh, tidak Masih
ada si kakek sinting yang menyaksikan adegan itu.
Kiranya si kakek tidak sesinting seperti anggapan orang.
Karena seketika melihat dua anak muda itu ada demikian
besar cintanya satu sama lain, pikirannya yang gila-gilaan
telah berubah- Ia tertawa terkekeh-kekeh sambil berkata,
"Bagus, bagus......."
Terkejut sepasang muda mudi yang tengah menikmati
kebahagiaannya. Dua pasang bibir terpisahkan dan masingmasing
dengan sendirinya melepaskan pelukannya. Dua
pasang mata memandang ke arah si kakek yang terkekehkekeh
ketawa.
"Bagus, apa maksudmu bilang bagus, kakek ?" tanya Tay
Lie agak kasar.
"Bagus, kalian berdua setimpal betul buat jadi suami isteri.
Ha ha ha ha........"
Gin Hoa dan Tay Lie melengak- Mereka heran si kakek
mengatakan demikian.
"yaya, kau suka aku diambil istri oleh koko ?" tanya Gin
Hoa.
"suka, suka, hahaha "si kakek ketawa kegirangan.
Tay Lie dan Gin Hoa saling bertukar pandang seraya
tersenyum.
Apa yang dikatakan Giok Siong memang keluar dari hati
yang tulus sebab selanjutnya si kakek tidak mengungkatungkat
lagi soal perut melembung1 dari cucunya.
Di samping senang bahwa cucunya mendapat jodoh yang
setimpal, juga cilik, siong ada menghargai kepandaiannya Tay
Lie yang dengan mudah dapat menyengkilit jatuh dua kali si
setan Arak dan ngeloyor dengan ketakutan.
Tay Lie selanjutnya tinggal bersama-sama dalam satu
rumah.
Dalam omong-omong, Tay Lie ada menanyakan halnya si
kakek kepada Gin Hoa- Kiranya si kakek itu adatnya memang
ada sedikit sinting, bicaranya rada linglung. Tapi tidak sejahat
sebagaimana orang duga. Tentang dirinya dikekang dalam
soal bersolek dan berpakaian rapih, atas keinginannya si
kakek karena ia takut cucunya diambil Gouw Toa, seorang
jagoan dari sebuah dusun yang jaraknya kira-kira Go lie dari
tempat tinggalnya yang sekarang.
Gouw Toa banyak anak buahnya, termasuk kakeknya yang
pada waktu itu tidak selinglung seperti sekarang, Giok siong
ada punya kepandaian membuat panah tangan, maka ia
dipekerjakan sebagai anak buahnya oleh Gouw Toa. Waktu
itu, Gin Hoa usianya baru lima belas tahun, nakal dan Jenaka,
sering berkunjung ke tempat kakeknya bekerja. Disitulah
Gouw Toa melihat Gin Hoa yang sedang meningkat dewasa
cantik parasnya, Jenaka orangnya, lalu meminang pada Giok
siong.
Gouw Toa menduga Giok siong dengan senang akan
menerima lamarannya, cucunya dijadikan bininya yang
keempat. Kenyataannya ia hanya dikasih janji bahwa soal
lamarannya baru akan dipertimbangkan kalau Gin Hoa sudah
berumur dua puluh tahun, sekarang masih terlalu kecil.
Gouw Toa sangat berpengaruh, Ia mengancam si kakekkatanya
kalau mesti tunggu sampai Gin Hoa umur dua puluh
tahun, ia keburu mampus, Ia mendesak si kakek supaya
dalam usia 17 - l8 tahun, Gin Hoa sudah diserahkan
kepadanya.
Lantaran takut si kakek muIakat akan menyerahkan Gin
Hoa kalau sudah berumur l8 tahun. Tapi diam-diam Giok siong
sudah berdamai dengan cucunya untuk melarikan diri dari
kekuasaannya gouw Toa yang jahat, Ia tidak mau cucunya
dikorbankan kepada seorang bandot seperti gouw Toa yang
tidak kenyang punya tiga istri.
Maka itu, Gin Hoa dengan kakeknya pindah dengan diamdiam
ke kampung yang sekarang mereka tinggal, Giok siong
suruh cucunya umpatkan kecantikannya dibalik wajahnya
yang kotor dan pakaian kumel, takut dikenali oleh Gouw Toa,
sedang si kakek sendiri tidak suka bertetangga atau
bercampur dengan teman-teman sekampungnya, Giok siong
terkenal galak dan kejam pada cucunya, malah ada yang
melamar ditolak dan dimaki-maki, bukannya ia tidak mau lepas
cucunya kawin, ia sebenarnya sayang pada cucunya dan mau
cucunya dapatkan jodohnya yang setimpal.
Gin Hoa juga salah sangka bahwa kakeknya benar-benar
tidak kasih dirinya menikah, maka ketika Tay Lie mau majukan
lamarannnya sudah dicegah oleh si nona. Ia tidak tahu kalau
benar-benar Tay Lie datang melamar, belum tentu ditolak si
kakek yang sedang mengharapjodohnya sang cucu yang
setimpal.
Mungkin si kakek akan memukuli Gin Hoa ketika ia
mengembalikan wajah buruknya ke wajah aslinya, kalau tidak
ada Tay Lie yang cakap ganteng disampingnya.
Giok siong diam-diam merasa beruntung dengan
perjodohan cucunya. Meskipun mereka "menikah" tanpa ijin
dahulu darinya. Ia percaya Tay Lie dapat melindungi isterinya,
melihat kepandaian Tay Lie yang ia saksikan.
Demikian, Tay Lie dan Gin Hoa mencicipkan
kebahagiaannya bersama-sama Giok siong yang tidak begitu
sinting lagi setelah melihat keberuntungan cucunya.
Kegirangan memuncak tatkala Gin Hoa telah melahirkan
anak kembar perempuan.
Anak kembar itu mungil-mungil, hingga bukan saja Tay Lie
dan Gin Hoa sebagai ayah ibunya yang menyayang mereka,
juga si kakek Giok siong bukan main sayangnya.
Tay Lie ada mempunyai teman Teng Hauw, anak orang
hartawan, dengan siapa ia bergaul rapat. Bukan jarang Teng
Hauw suka datang ke rumah Tay Lie hingga dengan Gin Hoa,
tamunya tidak kikuk-kikuk lagi bergaul.
Kalau datang ke rumah Tay Lie, mesti Teng Hauw
membawakan oleh-oleh untuk dua anak kembarnya yang Gin
Hoa namakan Leng siong dan Leng sian.
Dasar ibunya lincah Jenaka, maka anak-anaknya juga
menuruni. Kecil-kecil dalam usia hampir dua tahun, mereka
sudah bisa mengirik urat ketawa ayah ibunya.
Apa lagi Leng sian, selain mulutny bawel, ia ada lebih
Jenaka dari adiknya Leng siong. Teng Hauw kelihatan sangat
sayang pada dua anak kembar itu.
Pada suatu hari kedukaan telah menimpa pada keluarga
Teng Hauw. Istrinya telah meninggal dunia lantaran sakit, Ia
meninggalkan dua anak laki-laki umur lima dan enam tahun.
Dengan istrinya Teng Hauw, Gin Hoa kenal baik hampir
seperti saudara, gara-gara perkenalan yang akrab antara Teng
Hauw dan Tay Lie-
Maka berhubung dengan kematian nyonya Teng, Gin Hoa
pergi bantu di rumahnya Teng Hauw dengan membawa Leng
siong sedang Leng sian ditinggalkan di rumah karena
kelihatan Leng sian lebih rapat pada kongconya.
Hulah malam yang gelap petang ketika Gin Hoa dan Leng
siong tidak ada di rumah-
Pada waktu itu Leng Sian sudah tidur bersama kongconya,
sedang Tay Lie masih duduk membaca buku dipertengahan
rumah- Tiba-tiba ia dibikin kaget mendengar pintu digedor dari
sebelah luar, disusul dengan suara menantang,
"Hei, gouw Tay Lie lekas keluar sini untuk menentukan si
orang she Gouw yang mana yang unggul"
Lantas saja Tay Lie menduga akan kedatangannya gouw
Toa yang hendak menuntut balas, Ia tadinya mengira urusan
sudah habis saja sebab sudah hampir dua tahun tidak ada
kabarnya ceritanya tentang gouw Toa. Mendadak sekarang si
setan Arak datang, sedikitnya ia tentu tidak bersendirian,
makanya berani datang menantang.
sebenarnya ia tidak mau sembarangan keluar kalau tidak
Gouw Toa berteriak lagi menantang yang bukan-bukan,
katanya,
"Gouw Tay Lie, kalau tidak berani keluar, potong saja
kepalamu untuk jadi wanita Keluar kau bakal mati, tinggal di
dalamjuga kau bakal mampus sama saja "
Di dorong oleh kegusarannya yang meluap seketika, Tay
Lie sudah sambar sebatang golok dan membuka pintu keluar.
Benar saja dugaan Tay Lie- si setan Arak datang tidak
sendirian, ia ada membawa kira-kira sepuluh kawannya-
Bagaimana gagahnya juga Gouw Tay Lie, dikepung oleh
banyak orang, ia tidak bisa berbuat banyak- Malah setelah ia
keletihan melakukan perlawanan, ia sudah kena dibacok
Gouw Toa pundaknya sehingga membikin Tay Lie roboh tak
ampun lagi. segera ia dihujani bacokan, setelah ia
mengeluarkan teriakan yang menyayatkan hati, lalu nyawanya
melayang.
Giok siong di dalam bersama buyutnya, Leng sian sudah
mendusin dan mendengarkan pertarungan di sebelah luar
rumah- badannya si kakek menggigil ketika mendengar
teriakan cucu mantunya yang menyayatkan hati-
"Dia mati dibunuh " menggumam si kakek-
Belum sempat ia memikir lain, tampak di depan
pembaringannya sudah berdiri Gouw Toa dengan golok
terhunus hingga si kakek mukanya pucat ketakutan.
"Sebenarnya aku mau tebas kutung batang lehernya, tapi
biarlah aku kasih ampun" berkata Gouw Toa. Berbareng
punggung goloknya menghajar pundaknya si kakek hingga ia
jatuh pingsan seketika.
"Hei, kau jangan pukul kongco " kata Leng sian tiba-tiba.
"siapa kau ?" bentak Gouw Toa.
"Aku anak kecil " sahut Leng sian.
"Anak siapa kau ?"
"Baru kenal, buat apa tanya ?"
"Kau anak siapa ? Tidak takut ini ?" kata Gouw Toa sambil
sodorkan ujung golok yang masih berlepotan darah pada
mukanya Leng sian.
"Hei, golokmu ada darahnya. Kau habis potong ayam ?"
tanya si kecil lucu.
Gouw Toa sebaliknya dari marah, ia ketawa terbahakbahak
nampak Leng siang begitu lucu dan tidak gentar sedikit
pun dengan golok mengkilatnya, Ia tinggalkan Leng sian dan
masuk ke kamar Gin Hoa tanpa permisi.
Dari mata-matanya, ia dapat kabar bahwa Gin Hoa tidak
buruk rupanya seperti yang ia lihat, malah sangat cantik dan
hidup bahagia dengan Gouw Tay Lie.
Kabar itulah yang membuat Gouw Toa naik darah- Ia
merasa dirinya sudah kena ditipu Gin Hoa. Entahlah, si gadis
waktu itu sudah melabur mukanya dengan bahan apa
sehingga kelihatan wajahnya begitu buruk- banyak tai
matanya, mulutnya mengok dan ada terotolan di wajahnya
seperti restan penyakit cacar
Kedatangannya sekarang, ia sudah membayangkan akan
dapat memeluk Gin Hoa yang cantik menggiurkan, biar si nona
sudah bekas orang juga. Tapi, ketika ia masuk dalam kamar,
tidak ada si cantik yang dibayangkan, Ia aduk-aduk orang
punya tempat tidur, malah memeriksa ke kolong pembaringan,
mengira si nona mengumpat, luput ia dapatkan Gin Hoa sebab
memang juga si nona tidak ada di rumah lagi, ke tempat
kematian di rumahnya Teng Hauw.
Dengan marah-marah Gouw Toa balik lagi ke tempatnya
Giok Siong pingsan.
"Hei, kau masuk ke kamar tadi cari apa ?" tanya Leng sian,
ketawa nyengir.
Gouw Toa melengak ditanya si gadis cilik demikian.
"Kemana ibumu ?" tanya gouw Toa dengan sabar-
"Mana aku tahu. Aku sedang main-main sama kongcoku-"
"Eh, anak. kasih tau kemana ibumu, nanti aku kasih mainan
bagus-"
"Mana aku tahu, aku sedang main-main sama kongcoku-"
"Betul, aku nanti kasih mainan yang begini untukmu." gouw
Toa membujuk seraya acungkan jempolnya
"Manan aku tahu, aku sedang main-main sama kongco-"
Jengkel Gouw Toa melihat Leng sian saban dibujuk
jawabannya serupa saja.
Ia ganti taktik, ia membentak,
"Kau tidak mau kasih tahu ? Awas "
"Hihi, paling banyak aku pukul aku tidur seperti kongco-"
Kewalahan Gouw Toa, ia hampiri lagi Giok Siong.
"Hei, kau mau apakan lagi kongco ?" tanya Leng sian
melihat Gouw Toa menghampiri Giok Siong yang menggeletak
pingsan.
Mendengar perkataan si nona cilik, timbul dalam pikirannya
Gouw Toa suatu akal untuk bikin Leng sian membuka
mulutnya mengasih tahu kemana pergi ibunya.
"Anak kecil, aku lihat kongcomu akan kupotong kepalanya "
Gouw Toa berkata sambil beraksi dengan goloknya mau
menyembelih batang lehernya Giok siong.
"Hihi, boleh juga aku nonton orang dipotong " kata si nona
cilik hingga Gouw Toa jadi berdiri melongo- Ia mengira tadinya
Leng sian bakalan nangis ketakutan kongconya mau dipotong,
tidak tahunya malah ketawa ngikik dan mau nonton kepala
orang dipotong. Pikirnya, lebih baik ia culik Leng sian untuk
dijadikan anaknya-
Begitu berpikir, begitu ia bekerja sebab Leng sian dilain
detik sudah dipondong pergi meskipun ia menjerit-jerit tidak
mau meninggalkan kongconya-sampai diluar, Gouw Toa ajak
kawan-kawannya berlalu.
setelah yakin kawanan penjahat sudah berlalu, Giok Siong
yang pura-pura pingsan sudah bangun berdiri- Ia menangis
sedih buyutnya dibawa penjahat- Lalu ia keluar untuk melihat
keadaan cucu mantunya. Kaget bukan main ia melihat Tay Lie
rebah dengan badan hancur dicincang golok kawanan
penjahat.
Giok Siong lalu pergi lapor pada Gin Hoa yang segera
pulang dengan diantar oleh Teng Hauw. Tidak menghiraukan
Tay Lie yang berlepotan darah, Gin Hoa sudah menubruk
suaminya dan menangis gegerungan.
Dengan susah payah Teng Hauw dapat meredakan
kesedihannya Gin Hoa. Teng Hauw lalu suruh urus mayatnya
Tay Lie untuk dikebumikan.
Ketika sembahyang di depan kuburan Tay Lie, Teng Hauw
berkata,
"Toako, legakan hatimu. Toaso dan anak-anak akan
kurawat serta melindunginya................"
Benar-benar saja Teng Hauw telah merawat dan
melindungi Gin Hoa. setelah dapat kecocokan kedua fihak.
mereka mengikat menjadi suami istri, Inilah kejadian yang
kebetulan. Teng Hauw kehilangan isteri yang dapat mendidik
dua anaknya yang masih kecil, Gin Hoa kehilangan suami dan
memerlukan perlindungan. Kedua fihak sama menutup
kebutuhannya. Maka setelah berdamai dan mendapat
kecocokan, mereka mengikat jodoh setelah tiga tahun
berselang Gin Hoa lepas putih atas kematian suaminya yang
tercinta..............
"Jadi, aku ini Leng sian, ibu ?" kata Eng Lian dengan mata
berkaca-kaca setelah nyonya Teng menutur habis ceritanya
yang panjang.
"siapa lagi kalau bukan anakku Leng sian yang hilang ?"
sahut nyonya Teng ketawa sedih.
"oh, ibu......." tiba-tiba saja Eng Lian alias Leng sian
menubruk nyonya Teng dan menjatuhkan diri dalam
pelukannya sang ibu. Kedua-duanya jadi menangis sedih-
"Anakku." bisik nyonya Teng alias Gin Hoa dengan suara
sedih- "Ibumu siang malam mengharap akan bertemunya kita
kembali- syukur Tuhan sudah melindungi dan kita bisa
berkumpul pula, ibu dan anak yang sudah tujuh belas tahun
berpisah- oh. Tuhan, terima kasih atas kemurahanMu..........."
nyonya Teng menangis sedih.
Eng Lian tidak menyahut, ia masih terisak-isak menangis.
Teng Hauw berseri-seri kegirangan, stelah ia juga menepas
air mata melihat pertemuan yang mengharukan diantara ibu
dan anak itu. Lo In dilain pihak duduk membisu 1001 bahasa.
Meskipun demikian, pikirannya melayang-layang. Dalam
hatinya berkata,
"Apa Liok sinshe itu Kwee Cu Git adanya ? Kim Wan
Tahuto kata, Kwee Cu Git adalah ayahku. Tapi kenapa Liok
sinshe diam-diam saja tidak mengaku aku sebagai anaknya ?
Dimana Liok sinshe dan Kwee Cu Git sekarang ? Lalu, dimana
ibuku ? Apakah dia sudah mati ? Eng Lian sudah menemukan
kembali ibunya- oh, bagaimana girang kalau aku juga dapat
menemukan ibu yang melahirkan aku ke dunia ini............
Diam-diam Lo In juga jadi berkaca-kaca matanya, sedih
rupanya ia ingat akan nasibnya yang belum ketentuan ayah
ibunya. Ketika ia sedang menyusut air mata dengan tangan
bajunya, Lo In mendengar Eng Lian berkata,
"Adik In, kau harus memberi hormat pada ibu. Eh, kenapa
kau menangis ?"
Eng Lian cepat melepaskan pelukan ibunya dan
menghampiri Lo In.
"Adik In, kau kenapa ?" Eng Lian ulangi pertanyaannya
seraya mengusap-usap bahu Lo In.
"Aku menangis karena terkenang akan ibuku pula melihat
kau menemui ibumu. Entah dimana ibuku sekarang." sahut Lo
In, kembali si bocah berlinang-linang air mata.
"Kenapa kau sampai begini sedih ?" kata Eng Lian
menghibur,
"sekarang aku ketemu ibu, lain kali giliranmu ketemu ibumu.
Kan sama juga ?"
Meskipun hiburan Eng Lian ada ceplos-ceplos sekenanya,
tapi dianggap oleh Lo In benar juga perkataannya sang enci.
Ia ketawa nyengir pada Eng Lian lalu bangun dari duduknya
menghampiri nyonya Teng untuk memberi hormat. Nyonya
Teng senang nampak si bocah mendengar kata-kata anaknya,
tapi diam-diam ia merasa gegetun akan wataknya Lo In yang
barusan demikian sedihnya, sebentaran saja sudah berubah
gembira seperti tak ada kejadian apa-apa.
Juga kelakuan Eng Lian membuat ia bingung. Barusan si
gadis menangis sedih, berpelukan dengannya, sekarang
menuntun tangan Lo In untuk diajak duduk lagi berdampingan
sambil ketawa-ketawa, tidak nampak bayangan kesedihannya
barusan. Nyonya Teng jadi saling pandang dengan suaminya.
"Anak sian, seharusnya kau mengucapkan terima kasih
kepada Teng siokhu yang telah melindungi dan merawat ibu
serta adikmu dengan tak kurang suatu apa-" berkata nyonya
Teng sambil tersenyum.
Eng Lian melirik pada Teng Hauw yang duduk tersenyum.
"Ibu, nama Eng Lian sudah melekat padaku. Maka
sebaiknya ibu panggil Eng Sian saja dari pada Leng sian yang
asing untukku." jawab sang anak seraya bangun dari
duduknya menghampiri Teng Hauw.
Nyonya Teng ketawa anaknya menolak mengganti
namanya dengan yang lama.
sementara itu Eng Lian sudah menjura pada Teng Hauw
seraya berkata,
"Paman Teng, aku Eng Lian mengucapkan banyak terima
kasih, paman sudah ajak ibu dan adik tinggal sama-sama dan
semoga adik siong punya adik lagi..........."
"Hust " nyonya Teng memotong sang anak yang melantur
bicaranya, sambil ketawa nyonya Teng melanjutkan,
"Ibumu sudah jadi nenek-nenek, apa-apaan omong
melantur begitu ?"
Eng Lian melengak heran dikatakan bicaranya jadi
melantur, Ia panas dan lalu menanya,
"Ibu, apa salah omonganku barusan ? Bukan lebih baik
kalau ada adik lagi untuk temani adik siong ?"
Teng Hauw ngakak ketawa mendengar perkataan Eng Lian
yang polos. sebaliknya nyonya Teng deliki matanya pada sang
suami dengan paras semu-semu merah
Tapi nyonya Teng dapat menyelami watak sang anak yang
Jenaka berandalan ini, ia berkata,
"Anak Lian, sudah ada kau sekarang, buat apa adik lagi
buat menemani Leng siong ?"
"Mana bisa aku tinggal disini, aku mau pulang....." sahut
Eng Lian.
"Pulang kemana ?" tanya sang ibu, memotong bicaranya
Eng Lian.
"Pulang ke lembah Tong-hong-gay dengan adik In untuk
sama-sama lagi naik Tiauw-heng dan main-main dengan Jiehek
dan siao-hek- Hihihi........." Eng Lian ketawa ngikik seraya
melirik manis ke arah Lo In yang tengah ketawa nyengir
mendengar enci Liannya berkata mau pergi ke lembah Tonghong-
gay.
"Siapa itu Tiauw-heng Jie-hek dan siao-hek ?" tanya
nyonya Teng, yang menjadi keheranan anaknya yang baru
ditemui kembali itu tidak mau tinggal sama-sama dengannya.
"Hihi, ibu tidak kenal Tiauw-heng, adik In " kata Eng Lian
(Bersambung)
Jilid 12
Nyonya Teng sudah mau buka mulut lagi menanya, Lo In
sudah mendahului menerangkan siapa yang Eng Lian
maksudkan dengan Tiauw-heng,jie-hek dan Siao-hek. Ialah si
rajawali emas dan gorila-gorila yang menyeramkan apabila
orang baru melihatnya.
"Selainnya itu," menjelaskan Lo In dalam ceritana,
"Kami juga ada punya banyak teman kawanan kera kecil
besar yang selalu menyediakan makanan berupa buahbuahan
untuk kami makan setiap hari. Di sana kami hidup
senang dan merdeka."
Nyonya Teng dan suaminya terbelalak matanya dan
berdebaran hatinya mendengarkan penuturan Lo In. Dalam
hatinya nyonya Teng berkata,
"Pantasan anak Sian wataknya agak liar, kalau begitu
campurannya dengan segala buronan-buronan hutan." Pedih
hatinya mengingat akan ditinggalkan pula oleh Eng Lian.
Tampak la murung. Sebentar lagi ia seperti kaget, katanya,
"Anak Sian, eh, Lian, bagaimana dengan adikmu siong
yang dibawa oleh Sucouwmu ?"
"Sucouw ? Idiiih, aku takut sama sucouw." sahutnya sambil
melirik pada Lo In. si bocah tidak enak hatinya ketika semua
mata pada memandang padanya.
"Bibi dan paman harap legakan hati. Meskipun
kepandaianku rendah, tapi untuk merebut pulang enci Leng
Siong, aku sanggup lakukan. Kalau enci Lian takut, biar aku
sendiri yang pergi ke Coa Kok dan........"
"Tidak, tidak- Aku mesti ikut kau, adik In " memotong Eng
Lian seraya tangannya repot menekap mulutnya Lo In yang
tengah menghibur ibu dan ayahnya.
Nyonya Teng dan suaminya merasa lucu melihat tingkah
laku anaknya yang satu dari si kembar dua hingga mereka jadi
ketawa geli.
Meskipun sangat duka dengan lenyapnya Leng siong, hati
mereka terhibur akan janji Lo In, si bocah sakti yang akan
merampas pulang anaknya yang tercinta Juga mereka tidak
kuatir Leng siong mendapat halangan apa-apa ditangannya
Lam hay Mo Lie seperti yang mereka dengar dari Eng Lian
bahwa Hantu Wanita dari Lautan Kidul itu sangat sayang pada
Eng Lian. Kepada Leng siong juga pasti Lamhay Mo Lie akan
menyayangnya, ditangannya malah bukan mustahil Leng
siong akan mendapat kepandaian silat yang tinggi seperti Eng
Lian.
Dalam omong-omong lebih jauh, tiba-tiba nyonya Teng
merandek dalam kata-katanya,
"Tunggu " katanya seraya bangkit dari duduknya dan
masuk ke dalam.
sebentar ia sudah keluar lagi dengan roman berseri-seri. Ia
mendekati Lo In dan berkata,
"Lo Hiantit, aku tidak punya apa-apa sebagai tanda kenangkenangan.
Kau terimalah ini warisan dari ayahnya Eng Lian."
Nyonya Teng berkata sambil angsurkan sejilid kitab mungil.
Lo In bermaksud menolak, tapi melihat barang yang
diangsurkan itu merupakan sejilid buku dan nyonya rumah
mengatakan adalah warisan dari ayah Eng Lian, ia jadi
kepingin tahu juga. Ia menyambuti seraya menghaturkan
terima kasih-Terus saja ia masukkan ke dalam sakunya tanpa
dilihat lagi apa judulnya buku.
Dengan mendapat restunya Teng Hauw suami isteri, Lo In
dan Eng Lian pada hari berikutnya memohon selamat berpisah
untuk menolong Leng siong. Belum jauh mereka jalan tiba-tiba
ada yang memanggil dari belakang. Lo In berpaling. Kiranya
yang memanggil ada Kie Giok Tong dan tiga saudaranya.,
masing-masing pada membawa bungkusan. Lo In dan Eng
Lian merandek untuk menantikan.
"Mereka apa-apaan menahan perjalanan kita ?" nyeletuk
Eng Lian kurang senang.
"Husstt " kata Lo In.
"orang demikian hormat, masa kita tidak ladeni ?"
"Sengaja kita ngumpat-ngumpat pergi, siapa sih yang kasih
tahu mereka "
"sudah tentu ayahmu yang kasih tahu mereka."
"Kapan aku sudah pesan jangan bikin berabe mereka.
Kalau kita sudah pergi boleh saja ayah dan ibu mengabarkan
pada mereka."
"Tentu dengan diam-diam ayahmu mengabarkan karena
tidak enak untuknya kalau tidak mengabarkan sama sekali hal
kepergian kita."
Eng Lian hanya mendengus mendengar penjelasan Lo In.
sementara itu Kie Giok Tong dan tiga saudaranya sudah
sampai.
"Lo Hiantit, kau terlalu. Kalau kami tahu kau hari ini bakal
meninggalkan suyangtin, tadi malam kami tentu mengadakan
satu meja perjamuan untuk memberi selamat jalan kepada
kalian. Kami hanya mengantarkan barang-barang yang tidak
berharga ini, harap Lo Hiantit dan nona Lian suka terima baik,"
demikian Kie Giok Tong berkata seraya ia angsurkan barang
yang dibawanya, diturut oleh yang lain-lainnya.
"Terima kasih, terima kasih." kata Lo In.
"Menyesal tak dapat aku terima, lantaran berabe dibawa di
perjalanan."
Melihat bungkusan-bungkusan diterimakan oleh suyangtin
si-houw (empat macan) tidak memberabekan kalau diterima,
maka Eng Lian menyela,
"Adik In." katanya.
"orang demikian baik kepada kita, kenapa menolak tanda
kecintaannya ? Mari aku yang mewakili terima " seraya
menerima bungkusan-bungkusan yang disodorkan oleh Empat
Macan.
"Bagus, memang benar apa katanya nona Lian." kata Kie
Giok Tong, setelah ia menyerahkan bungkusannya, kecil tapi
agak berat.
Lo In tidak bisa berkata apa-apa kalau encinya sudah
bertindak. Karena kalau ia tetap menolak bakal dapat delikan
tidak enak dari Eng Lian. Lalu ia punjadi menghaturkan terima
kasih kepada mereka yang menaruh simpati itu.
setelah omong-omong sebentar, dalam mana Kie Giok
Tong mengulangi pengharapannya agar si bocah sukses
dalam usaha mengambil pulang Leng siong. Mereka lalu
berpisahan.
"Enci Lian, kan kita jadi berabe bawa-bawa bungkusan
begini banyak ?" kata Lo In dalam perjalanan selanjutnya.
"Berabe apa sih?"sahutsi nona ketawa.
"Mari kita cari tempat penginapan untuk memeriksa barangbarang
apa saja yang mereka bekali untuk kita."
Lo In tidak menyahut, hanya ia ketawa nyengir.
"Tapi ini apa, bungkusan kecil-kecil juga berat2 benar." kata
Eng Lian seraya angkat tinggi-tinggi bungkusan kecil yang
dihadiahkan oleh Kie Giok Tong.
"Coba kita lihat apa isinya." sahut Lo In seraya menyambuti
bungkusan tadi yang disodorkan Eng Lian kepadanya.
Ketika Lo In periksa isinya, ia menjadi kaget.
"Enci Lian, mari sini" katanya pada sang kawan yang
sedang repot, lagi memeriksa dan menaksir-naksir barangbarang
apa yang ada dalam bungkusan lain-lainnya.
Eng Lian menghampiri Lo In. Ia juga kaget melihat isi
bungkusan yang dibuka Lo In. Kiranya bungkusan yang berat
itu terisi lempengan uang emas dan perak. entah berapa
banyak timbangannya.
Meskipun hati mereka kurang enak mendapat hadiah
demikian, mereka kegirangan juga sebab merupakan bekal
yang sangat dibutuhkan dalam perjalanan mereka yang
berkantong kosong. Apalagi Lo In tidak punya uang sama
sekali sebab dalam perjalanan dengan Bwee Hiang, selalu si
nona yang mengeluarkan biaya untuk makan, sewa
penginapan dan lain-lainnya.
Beberapa orang yang berlalu lalang tidak dihiraukan oleh
mereka, karena perhatian mereka dipusatkan pada isinya
bungkusan kecil yang berat itu.
setelah beberapa bungkusan lainnya dibagi dalam buntelan
masing-masing, mereka lalu meneruskan perjalanan.
Bungkusan uang disimpan pada Lo In. Bobotnya ada berat
juga. Tidak enak kalau bungkusan itu harus dibawa oleh Eng
Lian sebagai perempuan.
Mereka berjalan dengan gembira. Keakraban mereka pada
3 tahun yang lalu tidak menjadi hilang disebabkan usia mereka
yang bertambah-
Kegembiraan mereka meluap ketika melalul jalanan-jalanan
pegunungan yang pemandangannya mirip seperti di lembah
Tong-hong-gay.
"Adik In, selama kau berpisahan denganku, apa kau tidak
merindukan pulang ke lembah kita di Tong-hong-gay ?" tibatiba
Eng Lian menanya, ketika mereka meneduh dibawahnya
sebuah pohon yang daunnya rindang.
"Aku merindukan." sahut Lo In.
"Cuma saja, ah, sudahlah........"
"Nah, tuh- Belum apa-apanya lagaknya sudah angot lagi."
Lo In heran dikatakan angot. Ia menanya.
" Angot apanya, enci Lian ?"
"Angot, kalau ngomong suka dipotong-potong. Kau kata
'sudahlah', apa maksudmu ?"
"oo, tentang itu. Aku maksudkan, kalau tidak dengan enci
Lian bersama-sama mana aku bisa betah tinggal di lembah
kita "
Eng Lian tekap mulutnya yang mungil dan ketawa ngikik-
"Jadi, kalau tidak encimu, kau takut tinggal sendirian ?"
katanya.
"Bukannya takut, cuma saja..........."
"Cuma saja apa ?" memotong si nona ingin tahu.
"Kalau aku sendirian jadi kesepian, pikiranku jadi linglung
dan bisa-bisa jadi gila "
"gilanya kenapa ?"
"Gila karena memikirkan enci Lianku yang bawel........"
Tiba-tiba saja dua jari Eng Lian, telunjuk dan jempol
mencubit lengan Lo In.
"Anak nakal, masih belum kapok ? Ah, tidak, jangan......."
si nona ngawur kata-katanya sambil cepat menarik pulang
tangannya yang mencubit.
Kiranya Eng Lian mendadak kaget, setelah jari jarinya
mencubit. Cepat ia tarik tangannya takut Lo In menyalurkan
"siauw-thian-sin-kang" atau "Tenaga sakti membakar langit"
yang panasnya seperti besi dibakar.
Lo In mengerti maksud Eng Lian menarik pulang
cubitannya. Maka ia tertawa terbahak-bahak, sebaliknya Eng
Lian tampak merengut.
si bocah melihat encinya jengkel lantas mencari akal. Ia
kata,
"Enci Lian, mari kita lihat buku warisan ayahmu, pengasih
bibi Teng."
sambil berkata Lo In merogo sakunya dan kasih keluar
buku pemberian nyonya Teng.
"Buku apa sih ?" tanya Eng Lian sambil duduk mendekati si
bocah- Hilang marahnya seketika dan tersenyum-senyum
manis lagi seperti biasa. Diam-diam Lo In geli hatinya melihat
sang enci yang aneh adatnya tapi ia lucu bahwa dirinya juga
ada aneh bin ajaib wataknya.
Muda mudi itu duduk berdempetan memeriksa judul buku.
Kiranya kita itu isinya adalah pelajaran caranya menggunakan
7- pisau terbang yang dinamai "Hui-to Pit-kip"-
Lo In balik-balik lembaran buku dan membaca isinya.
Dalam tempo singkat saja si bocah sudah dapat menangkan
inti sari dari "Hui-to Pit-kip" yang mencakup pelajaran melatih
Iwekang (tenaga dalam), sebab pisau terbang itu kurang
faedahnya kalau tidak disertakan dengan kekuatan tenaga
dalam.
Jago cilik kita sudah sempurna Iwekangnya dan tinggi,
kepandaian silatnya- Tidak memerlukan segala senjata
rahasia, apalagi senjata pisau terbang segala-
Kepandaian Liok sinshe yang luar biasa sudah diwariskan
semua kepada si bocah-Belakangan ternyata tidak terbatas
pada kepandaian Liok sinshe saja sebab diam-diam Lo In
sudah menggodok lebih sempurna dan menciptakan tipu-tipu
serangan yang lebih mudah dan lebih lihai dari apa yang ia
dapat pelajari dari ajaran Liok sinshe.
Tampak ia kerutkan keningnya, setelah membaca isinya
buku.
"Mari kasih aku yang meyakinkan." kata Eng Lian seraya
merebut buku yang tengah dipegangi Lo In.
" Kau sudah tidak memerlukan pula yang beginian, tapi aku
sebaliknya. Aku harus mempelajarinya karena ini adalah
warisan dari ayahku."
Lo In ketawa serta angguk-anggukan kepalanya.
"Tapi enci Lan." kata Lo In.
"Bukankah kau juga tidak memerlukan senjata rahasia
pisau terbang ? senjata rahasiamu Bu-im-in-coa1 sudah lebih
dari cukup kau gunakan."
"Itu kan punyanya Kim Coa siancu. Aku sudah tidak
menjadi Siancu lagi, mana dapat aku menggunakannya. Bisabisa
aku mendapat hukuman sucouw."
"Dan itu, Kim-coa, bagaimana ?"
"Ah, tidak sembarangan aku menggunakan ular emasku."
"Kenapa tempo hari kau sembarangan gunakan menyerang
adikmu ?"
"Adik In, kau gila ? Masa encimu begitu kejam kalau tahu
kau adalah adikku ?"
"ya, tapi boleh dikata kau sudah berlaku sembarangan."
" Kapan ? Waktu itu aku masih menjadi siancu."
Lo In termenung, pikirnya, benar juga perkataan sang enci.
Ia berkata,
"Baiklah, kau pelajari senjata rahasia pisau terbang itu. Apa
yang kau kurang terang boleh tanyakan aku. Nanti adikmu
akan memberi penjelasan."
senang hatinya Eng Lian.
"Adik In, kenapa kau demikian memperhatikan aku ?"
"sebab kau sangat baik sekali padaku, enci Lian."
"Bagaimana dengan enci Bwee Hiangmu?"
Kaget Lo In mendengar disebut namanya Bwee Hiang
seperti saat itu barusan saja ia ingat, sedang Bwee Hiang
sudah lama menghilang dan perlu dicari-
"Enci Lian dan enci Hiang sama baiknya padaku." sahut Lo
In kemudian.
"sama artinya tidak ada perbedaan sedikit juga ?" tanya
Eng Lian ketawa-
Lo In juga ketawa nyengir jawabnya,
"Tentu saja ada- Perasaanku lebih dekat dengan enci Lian
dan juga enci Lian ada lebih..........ah, sudahlah-"
"Nah, tuh, mulai angot lagi dengan watakmu- Lebih apa sih
?"
"Enci Lian lebih cantik dari enci Hiang......." Lo In
menyatakan polos.
Meskipun begitu, si bocah sudah siap sedia untuk
menyambut tangannya Eng Lian yang diduga bakal
menyambar lengan atau pipinya untuk dicubit.
Tapi Lo In kecele, Eng Lian tidak melakukan penyerangan,
sebaliknya ia ketawa ngikik dan kasih lirikan manis
mempesonakan ke arah si bocah, siapa, meskipun belum tahu
apa-apa sedikit banyak terkesiap juga nampak tingkah laku
sang enci. Ia pun lantas ketawa dan keduanya jadi pada
ketawa gembira.
"Adik In, encimu akan bantu kau mencari enci Hiang mu."
kata Eng Lian wajar. Lo In jadi kegirangan mendengar
perkataan Eng Lian.
Mendengar perkataan Lo In bahwa si bocah lebih dekat
padanya dan ia lebih cantik dari Bwee Hiang, hati Eng Lian
merasa senang dan tidak khawatir si bocah berwajah hitam
akan dimiliki Bwee Hiang. Ia sendiri heran kenapa hatinya
tidak menginginkan Lo In dimiliki orang lain. entah kenapa, ia
juga tidak tahu.
Demikian, dua muda mudi itu dibawah pohon sambil
mengadem telah meyakinkan "Hui-to Pit-kip"" Ada beberapa
bagian yang kurang jelas, Eng Lian lantas menanyakan pada
si bocah yang dengan gembira telah memberi penjelasan.
setelah lama juga mereka belajar, Lo In kelihatan bangkit
dari duduknya dan ngeloyor mendekati pohon yang tidak jauh
dari mereka, Ia memotong dua cabang pohon itu dengan
pedangnya (pedang Liok sinshe)- Ia heran nampak tajamnya
pedang seperti baru nempel cabang pohon tertabas kutung, Ia
coba ke dahannya, eh, putus juga dengan mudahnya. Lalu
bongkot pohon ia tabas perlahan,juga terpapas dengan
mudahnya.
"Enci Lian, coba kau kemari " serunya kepada si nona yang
sedang asyik membaca "Hui-to Pit-kip"-
"Ada apa sih adik In ?" sahutnya seraya bangkit dari
dudukna, akan tetapi matanya masih terus membaca buku
yang dipegangnya.
Ketika Eng Lian sudah datang dekat, Lo In berkata,
"Enci Lian, coba lihat " sambil berbareng ia menabas
perlahan pada bongkot pohon yang sebesar mang kok. pohon
mana segera tumbang seketika.
Eng Lian terbelalak matanya-
"Adik In, kenapa tajam amat pedangmu ?" tanyanya, seraya
mendekati Lon dan minta lihat pedang luar biasa itu.
Lo In sudah lantas menyerahkan. Eng Lian meneliti muka
dan belakang pedang, tidak ada yang istimewa. Pikirnya
pedang begini jelek, kenapa begitu tajam.
" E h, adik In, ini apa ?" seru si gadis ketika ia meneliti
sampai pada gagangnya.
"Kwee Cu Gle Toan-kiam, bukan ?" sahut Lo In yang sudah
menduga lebih dahulu.
"Betul, betul. Apa kau sudah tahu ?" tanya si nona-
"Tadinya aku tak tahu, tapi toako (dimaksudkan Kim Wan
Thauto) yang kasih tahu padaku. Tapi aku heran, kenapa dia
berada di tangan Liok sinshe."
"Mungkin Liok sinshe adalah Kwee Cu Gie- siapa sih Kwee
Cu Gie ?"
" orang bilang Kwee Cu Gie adalah ayahku, tapi entahlah "
"Bagus, bagus. Kalau begitu kau masih punya ayah. Mari
kita cari sekalian."
Lo In diam. termenung. tiba-tiba melayang pada waktu ia
berkumpul dengan Liok sinshe, orang baik yang
memperhatikan dirinya. Liok sinshe itu apakah ayahnya yang
bernama Kwee Cu Gie ? Tapi, kenapa dia tidak mengaku anak
pada dirinya ? Ia ingat ketika Liok sinshe mau menuturkan
suatu kisah, tiba-tiba lilin ditiup padam oleh Liok sinshe,
kemudian mereka diberondong senjata piauw beracun.
Pertempuran hebat dibawahnya hujan lebat, dimana Liok
sinshe dikeroyok banyak orang, berbayang saat itu di depan
matanya.
"Hei, kau lagi ngelamun apa ?" Eng Lian menegur, seraya
menowel lengan orang.
Lo In seperti baru sadar, cepat pungut dua cabang pohon
yang ia barusan tebang. Kemudian bersama Eng Lian
menghampiri ke bawah pohon pula.
"Adik In, ini adalah pedang mustika, kasih aku pakai saja,
boleh ?" Eng Lian tanya.
"Tentu saja boleh- Malah maksudku untuk menghadiahkan
itu pada enci."
"Hihi, pedang orang mau dihadiahkan pada encimu." si
gadis ketawa.
"Pedang orang, bukan orang lain. Boleh kan barang punya
ayah sendiri dikasih enci untuk tanda mata. Hahaha........."
Lo In berkata sejujurnya, tidak bermaksud apa-apa dalam
perkataannya, sebaliknya Eng Lian yang sudah "matang",
kata-kata Lo In dianggap serius, maka parasnya lantas saja
berubah semu merah dan menundukkan kepala.
Si nakal tidak tahu apa yang sedang dipikirkan sang enci, ia
berkata,
"Enci Lian, mari aku pinjam dahulu pedangnya untuk
membikin pisau-pisauan guna kau latihan."
si nona angsurkan pedangnya yang diminta si nakal tanpa
kata apa-apa. Ia kemudian duduk pula seraya membuka-buka
lembaran kitab "Hui-to Pit-kip", seakan-akan yang betul-betul
tengah meyakinkan isinya buku, padahal pikirannya melayanglayang
ngelamun akan kebahagiaannya yang bakal datang.
Tapi dasar gadis nakal berandalan, apa yang dipikirkan
barusan, hanya sebentaran saja mengganggu otaknya sebab
dilain saat ia sudah melupakan itu semua.
Ia menegur Lo In,
"Adik In, mana pisaunya ? Lama amat membuat tujuh bilah
pisau saja- Kau bikin apa lagi ?"
"Enci, kau main gampang saja, kan sudah bikinnya." sahut
Lo In.
"Jangan bagus-bagus, asal berbentuk sedikit pisau saja
sudah cukup "
Baharu si gadis berkata "cukup", Lo In sudah ada di
depannya, sambil kasih lihat tujuh bilah pisau buatannya, si
bocah berkata,
"Nih, lihat buatan adikmu, bagus tidak ?" Eng Lian
menyambuti,
"Kenapa bagus amat ?" katanya, setelah memeriksa.
"Ini kepanjangan." sahut Lo In.
"Pisau yang aslinya nanti kita suruh orang bikin, palingpaling
juga panjangnya empat cun (dim)-Eng Lian kegirangan
melihat adik In-nya bisa kerja cepat.
si nona sudah memiliki Iwekang, tidak perlu lagi ia
menghapal dari kitab "Hui-to Pit-kip", cukup ia meyakinkan
cara menyambitkan pisau.
otaknya terang, maka dalam tempo pendek ia sudah dapat
mengingat petunjuk-petunjuk di dalam kita. Maka ia lantas ajak
Lo In untuk melatih diri si bocah yang sangat cerdik, dapat
memimpin Eng Lian berlatih dengan pisau terbangnyasedang
mereka kelelap dalam kegembiraan melatih Hui-to,
tiba-tiba mereka berhenti berlatih ketika nampak ada kira-kira
sepuluh orang datang menghampiri dengan masing-masing
ada membawa senjata tajam ditangannya-Lo In heran melihat
kedatangan mereka, begitu banyak dengan membawa senjata
-"Mereka mau apa-apaan datang kemari ?" tanya Eng Lian
pada Lo In. Lo In geleng kepala dan menunggu mereka datang
dekat.
seorang dengan muka berewokan bengis berkata pada Lo
In,
"Anak kecil, barusan kau ada bawa-bawa buntelan kecil
berisi mas dan perak- Mana dia ?"
"Dari mana kau tahu ?" tanya Lo In heran.
"Barusan orangku melihat kau ada membuka bungkusan
kecil"
"Habis, kau mau apa kalau aku betul membawanya ?"
"Aku minta kau serahkan bungkusan itu kepaaku Hek-in
Touw Liong (si Mega Hitam). Kalau kau tidak menurut, kau
lihat ini apa ?" sambil acungkan goloknya.
"Hihihi " tiba-tiba saja Eng Lian ketawa terpingkal-pingkal.
"Apa yang kau tertawakan, budak kecil ?" tanya Hek-in
Touw Liong heran.
"Barang itu memangnya kau punya, makanya minta
diserahkan?" sahut Eng Lian.
"Bukan aku punya, tapi justru aku mau dapati itu dari
kalian."
"Enak saja kau ngomong. Bisa tidak dapatinya ?"
"Kenapa tidak bisa ? Kalau secara halus kalian tidak mau
menyerahkan, melakukannya dengan kekerasan. Kalian anakanak,
bau pupuk di kepala aja masih belum hilang. Mau
melawan dengan apa ?"
"Matamu buta, tidak mengenali nonamu siapa ?" bentak
Eng Lian.
"Aku tahu sebab kaujuga akan kami ringkus untuk
dipersembahkan kepada pemimpin kami."
"siapa pemimpin kamu namanya dan dimana tinggalnya ?"
"Tidak perlu banyak tanya, lekas serahkan barang yang
diminta "
"Kalau aku tidak mau kasih ?" ngeledek Eng Lian, gembira
ia kelihatannya kalau sudah menghadapi pertempuran.
Lo In tinggal berdiri saja menonton encinya bertengkar.
"Maju semua " berseru si berewokan kepada temantemannya.
Mereka itu ada orang-orang jahat yang mengacau
keamanan sekitar tempat itu. Tadi ketika Eng Lian dan Lo In
memeriksa bungkusan pemberian Kie Giok TOng, rupanya
ada salah satu orangnya yang melihat dan mengabarkan pada
kepalanya- Maka juga Lo In dan Eng Lian yang sedang enakenakan
melatih Hui-to telah disatroni. Apa mau mereka
kebentur tembok, bukannya kebentur pagar bambu yang
amoh. Lo In sama sekali tidak bergerak melihat sepuluh orang
datang menyerbu.
Ia menonton enci Liannya dikepung. Kaget dan dan heran
juga ia melihat sang enci gunakan pisau kayunya yang
barusan dilatih, satu demi satu kena disambit roboh oleh pisau
kayunya. Malah serangannya jitu benar sebab yang dituju
persis jalan darah pada tubuh orang sehingga mereka pada
roboh tanpa dapat bangun lagi.
Hek-in touw Liong merasa cukup tujuh orangnya untuk
menangkap Eng Lian, maka ia dengan dua kawannya
menghampiri Lo In. Maksudnya hendak menangkapnya.
Dengan beringas mereka menyerang, tapi dengan meringis
mereka mundur kesakitan. Mukanya seperti dihantam
segumpal pasir dengan hanya dikebas tangan bajunya Lo In.
Dengan ketakutan mereka memutar tubuh hendak lari, tapi
dengan satu kebasan lengan baju si bocah sakti membuat
mereka roboh berbareng. Kakinya lemas, tak dapat diperintah
untuk lari. Kepaksa mereka mendeprok dengan ketakutan.
semuanya telah dibikin rebah tak berdaya. Tujuh orang oleh
Eng Lian dengan totokan pisau kayunya, tiga orang dengan
totokan angin lengan bajunya Lo In. si nona dan si bocah
ketawa terkekekh nampak semua itu.
Kemudian mereka melanjutkan latihannya tanpa
menghiraukan pada orang-orang yang rebah tertotok itu.
Ketika mereka sudah merasa cukup berlatih, Lo In berkata
pada Eng Lian,
"Hui-to Pit-kip rupanya berjodoh dengan enci Lian. Maka
juga dengan sedikit waktu saja kau telah dapat yakinkan
hampir mahir betul. Baik kita membuat Hui-to yang bagus
pada satu pandai besi yang ahli- Kita nanti pilih salah satu
yang baik bikinannya, kepada siapa kita boleh suruh bikini"
"Dimana kita dapat cari pandai besi yang baik, adik In ?"
tanya si nona.
"Kita toh dalam perjalanan, sepanjang jalan kita boleh
tanya-tanya pada penduduk-siapa tahu kita kebetulan
menemui pandai besi yang ahli, bukan ?" Eng Lian kegirangan
mendengar perkataan Lo In.
"Mari kita jalan." kata lagi si bocah seraya memungut
pedang yang menggeletak ditanah kemudian menyerahkan
pada Eng Lian sambil katanya,
"Kau lebih memerlukan. Maka peganglah pedang ayahku
ini sebagai tanda mata." Lo In berkata sambil ketawa nyengir
seorang bocah-
"Terima kasih-" kata Eng Lian seraya menyambuti lalu
gantung pedang "tanda mata" itu dipinggangnya yang ceking
langsing, Ia tidak ketawa kegirangan, hanya lantas mendahului
Lo In, jalan seperti malu.
sejenak Lo In merasa aneh dengan kelakuan sang enci
diluar kebiasaannya. Hanya sejenak perasaan aneh itu timbul,
lantas ia sudah menyusul dan berseru,
"Enci Lian, jangan cepat-cepat jalan. Memangnya mau
menyusul siapa ?"
Lucu lagaknya si bocah. Ia tidak tahu akan perasaan si
gadis cilik yang hatinya mulai dikacaukan oleh panah dewi
asmara.
Eng Lian juga hanya sepintas lalu timbul perasaan kikuknya
karena segera ia kembali kepada sikapnya yang riang
gembira-
"Adik In." katanya sambil menantikan adik In-nya yang
menyusul di belakang.
"Kau jalan lambat amat sih- Mana ada waktu encimu
menungguimu- Aku sebal melihat itu sepuluh manusia tidak
tahu diri"
Lo In ketawa nyengir setelah berada di samping Eng Lian.
"Anak penakut " kata Eng Lian berguyon seraya mencubit
perlahan pipi si hitam.
"Baru ditinggalkan sebegitu saja sudah ketakutan. Hihi......."
"Memang aku ketakutan." sahut Lo In kontan.
"Ketakutan pada teman-temannya itu sepuluh orang yang
tidak punya guna ?"
"oo, bukan itu. Manusia begituan, biar didatangkan
segerobak lagi juga tidak aku tinggal lari."
"Habis, kau ketakutan sama siapa ?"
"Aku ketakutan kehilangan enci Lian." Lo In kata, mukanya
yang hitam ketawa.
"Ah, adik In........." hanya ini yang keluar dari mulut Eng Lian
yang mungil lalu ia ajak Lo In untuk melanjutkan
perjalanannya.
Dalam sedikit waktu saja, sikapnya Eng Lian sudah wajar
lagi. Ia banyak ketawa ngikik lantaran si bocah ngobroinya
membikin urat-urat ketawa tergerak-
"Ah, ada kerjaan lagi " kata Lo In tiba-tiba-
"Kerjaan apa, adik In ?" Eng Lian menanya heran.
"Mereka menyusul kita." sahut Lo In.
"Mari kita gunakan jalan cepat saja supaya mereka tak
dapat menyusul kita."
"Jangan." kata Eng Lian.
"Kita harus kasih hajaran dulu, baru kita tinggal mereka
pergi."
"Tapi, aku harap kau jangan bikin luka mereka "
"Buat apa aku membikin luka orang. Aku hanya mau mainmain
saja."
"Baiklah, mari kita tunggu." kata Lo In seraya tarik
tangannya Eng Lian buat diajak duduk dipinggiran jalanan
dimana ada terdapat batu besar. Mereka duduk menunggu.
Lama juga belum kelihatan mereka datang. Eng Lian
ketawa ngikik dengan tiba-tiba.
"Adik In, kau hanya ingin duduk berdekatan dengan encimu
saja sebab apa kau katakan tidak ada orang-orangnya " kata
Eng Lian.
"Aku barusan bilang mereka masih jauh- Tapi sekarang
sudah dekat. Bukankah itu banyak suara kaki orang
mendatangi ? Malah ada yang naik kuda segala
kedengarannya"
si bocah kata seraya diam pasang kuping. Eng Lian juga
pasang telinganya.
Belum sempat Eng Lian berkata kepada Lo In, segera
dihadapan mereka sudah ada tiga orang penunggang kuda
yang ketawa terbahak-bahak nyarinG sekali. Setelah berhenti
ketawa, satu diantaranya yang mulutnya agak mengok ke
kanan telah berkata,
"Aku kira tadinya dua orang dengan badan tinggi besar
menyeramkan dan masing-masing bertangan empat. Tidak
tahunya hanya dua bocah ingusan saja. Hahaha— haup oho,
oho........."
kata-katanya terhenti karena selagi ketawa ada menyambar
suatu benda ke mulutnya hingga ia gelagapan dan batukbatuk-
Ia rasakan seperti ada yang nyangkut
ditenggorokannya.
"Kau kenapa, toako ?" tanya temannya heran,
si mulut mengok tidak menjawab, sebaliknya ia berkutat
untuk mengeluarkan benda yang nyangkut dalam
tenggorokannya. Air matanya bercucuran keluar tidak nangis,
mulutnya owa owe bertahak tak hentinya.
setelah lama ia disiksa oleh benda yang nyangkut dalam
tenggorokannya, akhirnya dapat juga benda itu dikeluarkan.
Kiranya benda itu hanya selembar rumput alang-alang yang
panjangnya kira-kira tiga cun berujung tajam.
sementara itu, orang-orang yang berjalan kaki mengikuti
tiga penunggang kuda itu sudah ada disitu, pada berdiri siap
dengan senjatanya masing-masing. Mereka pun heran
nampak pemimpinnya owa owe seperti wanita ngidam
(mengandung bayi) sampai bercucuran air mata dan payah
benar kelihatannya, malah hampir-hampir ia jatuh dari
kudanya.
sambil melemparkan rumput alang-alang yang menyulitkan
tenggorokannya tadi, si mulut mengok mendelik matanya ke
arah Eng Lian yang saat itu tengah ketawa terpingkal-pingkal
sembari memegangi perutnya.
"Budak liar " bentaknya.
"Kau yang main gila barusan pada tuan besarmu Hm "
seiring dengan kata-katanya, cambuk kudanya diangkat
untuk menghajar si gadis nakal.
"Pluk " terdengar suara barang jatuh yang semestinya
berbunyi "Tar Tar " tandanya cambuk kuda bekerja. Tapi ini
suara "Pluk "yang kedengaran. Kiranya suara pluk adalah
suara pecut si mulut mengok yang jatuh sebelum dia dapat
digerakkan menghajar Eng Lian, tetapi telah didahului oleh
Eng Lian yang mengirim pisau terbang kayunya mengarah
jalan darah dibahunya.
Kembali si mulut mengok dirugikan, sebelum ini ia dirugikan
oleh Lo In yang mengirim rumput alang-alang ke mulutnya
sehingga bersemayam ditenggorokannya karena si bocah
merasa sebal dengan lagaknya yang tengik si mulut mengok
tertegun di atas kudanya.
"Toako, dua bocah ini rupanya bukan sembarangan bocah-
Mari kita bereskan saja " berkata temannya yang bermuka
lonjong.
" ya, jangan kita buang tempo-" menimpali temannya yang
satu yang berjenggot kambing.
si mulut mengok sudah lantas turun dari kudanya diikuti
oleh dua temannya la la u menghampiri Eng Lian yang ada
disampingnya Lo In.
"Adik In." bisik si dara cilik,
"Kau diam saja nonton. Biar aku yang bereskan tiga kurcaci
ini. Akan kubikin satu persatu jatuh duduk dan berlutut
padaku"
Lo In diam saja, hanya manggut sambil ketawa nyengir.
"Hei, kalian ini anak siapa ?" tiba-tiba si mulut mengok
membentak nyaring. Eng Lian dan Lo In diam saja, tidak
menjawab bentakan yang nyaring itu.
"Kalian tidak dengar pertanyaan Lie Toaya ?" bentaknya
lagi lebih nyaring. Lie Toaya artinya tuan besar Lie.
Melihat dua anak itu tinggal diam saja, si mulut mengok jadi
gusar. Bentaknya lagi lebih nyaring,
"Aku Lie Kiang tidak pernah membunuh anak kecil. Maka
itu lekas kalian panggil orang tua kalian datang terima binasa
di ujung golok Toaya "
Tadi Lo In dan Eng Lian mau tinggal diam saja menonton
lagaknya si mulut mengok dan mau lihat apa yang ia bisa
bikin- Tapi mendengar kata-kata si Lie Toaya yang mengitik
urat ketawa, tiba-tiba saja Eng Lian ketawa ngikik-
Tiga orang yang naik kuda itu tiga saudara she Lie, bukan
seayah seibu- yang tua Lie Kiang (si mulut mengok), kedua Lie
Sun (si muka lonjong) dan ketiga Lie Bin (sijeng got kambing).
Dalam desa Tiokschung mereka dikenal dengan nama
Tiokschung-sam-lie (Tiga Saudara Lie dari Tiokschung) dan
menjadi jagoan yang tak terkalahkan dalam kampungnya.
Maka juga mereka ada sangat sombong dan pandang
sesamanya sangat rendah-Melihat Eng Lian ketawa ngikik, Lie
Kian atau si mulut mengok menjadai heran.
"Kau ketawakan apa ?" bentaknya bengis.
"Aku ketawakan lagak tengikmu " sahut Eng Lian kontan.
"Dengan anaknya masih belum tentu menang, mau
menantang orang tuanya. Apa-apaan ?"
"Toako" nyeletuk Lie sun.
"sudah jangan banyak cakap- Timpa saja sekali dengan
gagang golok, biar dia tahu rasa "
"Ah, yang beginian sih, ginikan saja.......aduh " Lie Bin
berjengit sambil lompat mundur dan meraba jenggot
kambingnya yang telah kehilangan beberapa lembar hingga
matanya mendelik ke arah Eng Lian yang nakal.
Kiranya si jenggot kambing ada sedikit nakal juga terhadap
cewek (wanita). Melihat si dara cilik demikian cantik dan
Jenaka, mendadak timbul napsunya ingin memeluk Eng Lian.
Maka ketika ia kata "ginikan saja............1 berbareng ia hendak
memeluk si dara cilik- Tidak tahunya bukan Eng Lian kena
dipeluk dan meronta-ronta ketakutan, sebaliknya si dara cilik
lenyap dari depannya sambil mencuri beberapa lembar
jenggot kambingnyasementara
Lie Bin mendelik matanya, Eng Lian di
depannya ketawa ngikik- sambil angkat tangannya yang
menggenggam beberapa lembar jenggot Lie Bin, ia berkata,
"Awas Kalau kau berani kurang ajar lagi, akan kucabut
semua jenggotmu yang macam jenggot kambing itu"
Lie Kiang dan Lie Bin tak dapat menahan hatinya yang
mendelu. Tanpa banyak cakap, mereka menerjang Eng Lian.
Mereka hendak menangkap si nona untuk dikasih berapa
cambukan pantatnya sebagai hajaran.
Lie sun tidak turut. Karena pikirnya ia harus mengawasi si
bocah hitam. Kalau-Kalau Lo In nanti membantu kawannya, ia
lantas dapat merintanginya. Pikirannya sih memang baik,
hanya ia tidak tahu si bocah wajah hitam itu ada Hek-bin-sintong
atau siBocah sakti muka hitam. Kalau ia tahu siapa
dirinya Lo In, tentu ia sudah lari tunggang langgang dengan
tidak menengok ke belakang lagi-
Lo Inpun tidak ada maksud membantu kawannya karena ia
sudah dipesan Eng Lian bahwa ia hanya disurun nonton enci
Liannya berkelahi-
Lie Kiang dan Lie Bin yang semula hanya bermaksud
menangkap si dara cilik untuk dihajar dengan cambukmenjadi
sengit dan menyerang dengan pukulan-pukulan yang
ganas, melihat Eng Lian telah mempermainkan dirinya-
Tapi Eng Lian tidak takut- Memang maunya dia, dua jago
dari Tiok-chung itu mengeluarkan kepandaiannya yang aslisaking
gemas dan sengitnya, serangan-serangannya mereka
telah menimbulkan angin keras yang membikin orangorangnya
yang menonton disekitarnya pada mundur jauh-jauh
takut kesambar angin pukulan.
Melihat dua saudaranya tidak bisa berbuat apa-apa
terhadap si gadis cilik, diam-diam hatinya Lie sun menjadi
cemas, Ia tinggalkannya Lo In dan bantu mengepung Eng
Lian.
"Bagus, kalian sudah datang komplit " seru Eng Lian
Jenaka.
"Awas, aku nanti bikin kalian satu demi satu jatuh berlutut di
depan nona kecilmu. Hihihi........" Eng Lian ngeledek
Tiokchung-sam-lie sehingga tiga jago itu menjadi sangat
gusar.
Benar bukan omong kosong kepandaian tiga benggolan
Tiokchung itu. serangan-serangan mereka dilakukan dengan
teratur dan hebat sekali hingga diam-diam Lo In kuatirkan
encinya salah tangan dan celaka di tangan mereka. Dengan
turunnya Lie Sun jalan perkelahian tambah seru lagi.
Tampak Eng Lian dikurung rapat oleh tiga saudara Lie, tiputipu
serangan yang berbahaya dilancarkan dengan sengit ke
arah Eng Lian. Timbullah seketika keganasan mereka untuk
melenyapkan si dara cilik dari muka bumi ini.
sampai dimana tingginya kepandaian Eng Lian dapat dinilai
dari caranya ia melayani tiga orang lawannya yang bukan
rendah kepandaiannya, sampai angin pukulan mereka
menghembus dan menakutkan para begundalnya yang
menonton disekitarnya. sampai begitu jauh si nona tidak balas
meyerang, hanya berkelit saja.
"Awas " tiba-tiba Eng Lian berseru. Berbareng
bayangannya berkelebat dan jenggotnya Lie Bin kena
dijambret sehingga seketika Lie Bin berhenti mengeroyok dan
berdiri tertegun sambil meraba jenggotnya yagn sudah mulai
gundul. Meluap amarah Lie Bin dan ia menerjang lagi Eng
Lian dengan sengitnya-
"Awas " kembali si nona berseru- "Plak Plak " menyusul
suara tamparan dua kali-
Tampak tubuhnya Lie Kian terhuyung-huyung kemudian
jatuh duduk- Ia rasakan dunia berputar, kepalanya pusing
tujuh keliling, dari mulutnya keluar kecap segar. Lucu
kelihatannya Lie Kiang, mulutnya yang agak mengok seperti
betul-betul mengok akibat kerasnya tamparan si dara nakal-
Untuk merobohkan Lie Kiang sampai semaput demikian,
Eng Lian telah menggunakan jurus ketiga dari "Lam-hayciang-
hoat" (Ilmu pukulan dari laut kidul) yang dinamakan
"Lam-hay-liu-sui" atau "Air mengalir dari Laut Kidul"- Lihainya
jurus ketiga dari "Lam-hay-ciang-hoat" itu dapat menimbulkan
perasaan aneh bagi korbannya- Tamparan Eng Lian bukan
sembarang tamparan sebab taparan biasa paling-paling juga
membikin kecap serta ada dua sampai tiga buah giginya yang
rontok atau copot. Tetapi akibat tamparan dari "Lam-hay-liusui"
nya, Lie Kiang mulutnya melelehkan darah tapi giginya
tidak apa-apa, kuat dan segar, Ia terkulai jatuh untuk tidak
bangun lagi. Badannya terasa lemas tak bertenaga seperti
kena ditotok jalan darahnya, Inilah keistimewaan dari jurus
"Lam-hay-liu-sui" (Air mengalir dari Laut Kidul), ajaran sucouwnya
Eng Lian ialah Lamhay Mo Lie, pada waktu si nona masih
dalam tangan Ang Hoa Pay menjadi Kim Coa siancu (Dewi
ular emas).
Demikianlah, melihat saudara tuanya yang hanya ditampar
saja sudah roboh dengan tidak bangun lagi, Lie sun dan Lie
Bin menjadi cemas hatinya. Tapi mereka tidak mengurangi
serangan-serangannya yang berbahaya, malah makin gencar
saking gemasnya pada si dara cilik yang lincah yang tak dapat
ditawan.
Penonton dibikin kagum oleh gerakan si nona yang
istimewa. Waktu Eng Lian dengan enteng badannya mencelat
ke atas sampai lima meter tingginya, ketika mengelakkan
serangan kombinasi dua lawannya yang hendak menggunting
pinggangnya.
Di tengah udara si dara cilik bikin gerakan yang
mengagumkan, setelah terputar badannya, ia turun ke bawah
dengan gerakan kaki seperti menendang saling susul hingga
Lie sun dan Lie Bin ragu-ragu untuk menyergap si nona begitu
Eng Lian menancapkan kakinya di tanah lagi.
Tapi mereka sudah sangat gemas pada si dara cilik.
Buktinya, begitu Eng Lian menyentuhkan kakinya di tanah tiga
meter jaraknya dari mereka, dengan berbareng mereka lompat
menyergap. Tapi si nona seperti ada dipasang per pada
kakinya, lantas membal lagi dan jumpalitan ke belakang
mereka.
Lie sun dan Lie Bin terkejut bukan main. Lekas mereka
putar tubuh untuk menghadapi si nona pula. Tapi sudah
terlambat karena ia rasakan seketika bahunya kesemutan
kemudian lemas tak bertenaga dan tubuhnya menyusul
terkulai roboh-
Dengan sekaligus dapat merobohkan dua musuh tangguh,
itu bukan pekerjaan mudah-Tidak heran kalau Lo In yang
berkepandaian sangat tinggi telah bersorak dengan tiba-tiba
dan berkata,
"Enci Lian, benar-benar kau hebat Kionghi " sambil angkat
tangannya dengan lucu menyoja pada Eng Lian.
si nona deliki matanya yang halus sambil tersenyum pada
si wajah hitam.
Eng Lian barusan telah menggunakan gerakan kombinasi
"Lian-hoan-tui-kong" (Tendangan berantai di angkasa) dan
"Hay-tee-tancu1 (Mencari mutiara di bawah laut), juga
termasuk tipu serangan yang si nona yakinkan dari "Lam-hayciang-
hoat1. gerakan "Tendangan berantai di angkasa1
adalah ketika Eng Lian melambung tubuhnya ke udara dan
kakinya bergerak saling susul seperti menendang, Ini
sebenarnya untuk menghadapi musuh yang sama-sama
terapung di udara, tapi kalau Eng Lian sudah berbuat
demiikian, itu hanya ia mendemonstrasikan kepandaiannya
saja.
Yang kedua "Mencari mutiara di bawah laut adalah gerakan
yang tidak diduga-duga karena begitu kakinya menginjak
tanah, si nona sudah mumbul lagi dan jungkir balik ke
belakang lawan, yang dari mana otomatis kedua lengannya
bekerja untuk menotok jalan darah lawan pada bagian
belakang pundaknya sebelum kedua lawannya membalikkan
tubuhnya. Tiga musuhnya sekarang sudah mendeprok di
tanah dengan tak dapat bangun lagi.
Benar-benar si nona telah buktikan perkataannya kepada
adik In-nya, bahwa ia akan jatuhkan satu persatu lawannya
dan berlutut padanya.
Begitu lama Eng Lian bertempur, tidak menunjukkan bahwa
ia lelah- Itu membuktikan bahwa tenaga dalam si nona
sempurnagirang
bukan main hatinya Lo In menyaksikan kelihaian
enci Liannya yang tadinya ia sangsi, kuatir si nona salah
tangan dan dibikin celaka musuh-musuhnya. Syukur ia tidak
keburu napsu ceburkan diri datang membantu Eng Lian. Kalau
sampai kejadian begitu, paling sedikit ia akan diomeli encinya
kalau tidak dicubit keras pipinya lantaran tidak mendengar
perkataan sang enci yang kosen.
"Mari, maju semua " tantang Eng Lian ketika melihat begitu
banyak begundalnya Tiokschung-sam-lie hanya pada berdiri
bengong mengawasi tiga cukongnya mendeprok di tanah tak
dapat bergerak-
Mereka tidak bergerak di tangan si nona, malah saling lihati
satu sama lain.
Ketika Eng Lian menggertak seperti hendak menghampiri
mereka seperti yang hendak berdamai satu dengan lain,
mereka segera pada lari serabutan ketakutan.
"Enci Lian, aku mau apakan ini tiga ekor kambing ?" tanya
Lo In melihat mereka hanya berlimaan saja setelah
begundalbegundalnya
Tiokschung-sam-lie pada kabur.
"Seperti yang sudah, kita tinggalkan saja." sahut Eng Lian
yang tengah membereskan rambut dan pakaiannya,
tampaknya ia tidak menghiraukan pada tiga pecundangnya.
"Ah, jangan enci Lian " kata Lo In.
"Kenapa jangan ?" tanya si dara cilik heran, sementara itu
ia sudah rapih-
"Mereka terkena ilmumu beratjuga. Kasihan mereka kalau
dibiarkan."
Lo In tidak menyebut "totokan" tapi "ilmu" untuk membikin
Eng Lian senang.
Cerdik juga si bocah, menerka jalan pikirannya sang kawan
sebab sehabis ia berkata demikian, tampak si nona ketawa
manis, senang hatinya rupanya.
"Ah, adik In, kau bisa saja. Masa totokan biasa dikatakan
ilmu ?" kata Eng Lian..
"Siapa bilang bukannya ilmu ? Malah kalau ditambah
"sakti"juga ada tepat sekali sebab kepandaiannya enci sangat
hebat"
Eng Lian tertawa ngikik mendengar si bocah berkokoh
dengan pendiriannya.
"Totokan biasa dikatakan ilmu sakti. Kau sih ada-ada saja,
adik In"
"orang menggampar lawannya, biar bagaimana keras
paling-paling hanya si korban kesakitan dan giginya pada
nyoplok. Tapi enci gamparannya ada lain coraknya, tamparan
enci adalah tamparan sakti sebab lawan lantas roboh terkulai
dengan tidak dapat bangun lagi. Malah dari mulutnya tidak
menyemburkan gigi yang copot selain darah meleleh
dibibirnya."
"Hihihi—" Eng Lian ketawa ngikik,
"Habis apalagi kesaktian encimu ?"
"Ketika kaki enci menyentuh tanah dan mumbul lagi,
berjumpalitan ke belakang lawan berbareng menotok tanpa
memberi kesempatan pada lawan, apakah itu bukannya ilmu
sakti ? Ha h a, coba adikmu periksa, apa kaki enci dipasangi
per?"
Lo In berkata, serentak berbuat dan mau pegang kaki Eng
Lian hingga si nona jadi gugup dan tarik wajahnya tersenyum
manis.
"orang mau periksa ada per tidaknya, kok dikatakan sinting
" Lo In bergurau Jenaka
"Mari adikmu periksa, boleh apa tidak"
"Tidak- tidak......" kata si dara cilik sambil angkat naik turun
kakinya, berkelit dari tangan Lo In yang paksa mau
memegangnya.
"Aduuuh " Lo In menjerit dan lompat mundur sambil
pegangi pipinya.
"Nah, rasakan ya, anak nakal. Kalau encimu sudah sengit "
berkata Eng Lian cekikikan ketawa melihat Lo In meringisringis
ketawa melihat Lo In meringis-ringis pelangi pipinya
yang barusan ia cubit.
"Enci Lian, awas akan kubalas " seru Lo In, badannya
lantas bergerak menubruk si dara cilik. Tapi Eng Lian sudah
keburu lompat ke dekatnya kuda Lie Kiang. Ia berkata,
"Adik In, mari kita belajar menaik kuda saja dari pada kau
balas mencubit encimu "
Lo In kegirangan.
"Benar, benar." katanya lucu. segera ia juga lantas
memegang tali kendali kuda Lie Bin. Dengan satu lompatan
saja tanpa menginjak pelana, ia sudah bercokol di atas kuda.
sementara itu si gadis juga sudah meniru caranya Lo In
menaiki kuda. Mereka berseri-seri diatas kudanya masingmasing.
"Adik In, kau sudah bisa belum naik kuda ?" tanya Eng
Lian.
"Kapan kita baru belajar-" sahut Lo In
"Mari kita coba-coba."
"Adik In, kita jangan larikan dulu kuda kita. Kita jajal dulu
perlahan, nanti kalau sudah gapah dan tetap kita
mengendalikannya, barulah perlahan-lahan kita suruh dia lari.
Bukankah itu lebih bagus ?"
"Bagus, bagus." sahut Lo In yang tadinya hendak main
larikan saja, sedang ia belum pernah naik kuda.
Eng Lian senang usulnya diterima baik oleh si adik nakal.
Mereka jalankan masing-masing kudanya dengan perlahan
jalan berendeng sambil saban-saban saling lirik ketawaketawa.
Kebetulan kuda yang diambil itu, dua-duanya jinak.
Coba kalau salah satu dari dua bocah itu mengambil kudanya
Lie sun, pasti akan gagal belajar menunggang kuda karena
kudanya Lie sun belum lama dibeli dan masih liar. Bisa-bisa
Lo In atau Eng Lian yang menaikinya jatuh terbanting.
Dasar dua-dua anak nakal dan berani, belum lama mereka
jalankan kudanya perlahan, tiba-tiba Lo In sudah mencambuk
perlahan supaya sang kuda jalan lebih kencang. Tidak
tahunya kuda itu telah mengangkat kakinya sambil meringkik.
Tapi Lo In tidak takut, malah ia ketawa terbahak-bahak
kesenangan di atas kuda. Mendadak kudanya menaruh pula
dua kaki depannya ditanah dan membawa Lo In kabur entah
kemana.
Eng Lian kaget nampak kawannya dibawa kabur. Tanpa
disadari ia juga memecut kudanya hinga berjingkrak dan
menyusul adik In-nya. Mereka kelihatan saling kejar dijalanan
pegunungan yang luas lebar. Eng Lian lihat Lo In dengan
kudanya sedang mendaki sebuah bukit, Ia cambuk dan
cambuk lagi kudanya supaya dapat mengudak si bocah yang
sudah jauh meninggalkannya.
sungguh ajaib kepandaian dua bocah itu- Tadinya belajar
dan takut-takut menaiki kudanya. sekarang tampak demikian
gapahnya mereka menunggang kuda seperti yang sudah
biasa. Rupanya kesatu didorong oleh nyalinya yang besar,
kedua dipaksa oleh kudanya. Maka dengan mendadak saja
mereka menjadi kampiun naik kuda.
Ketika Eng Lian mendaki bukit yang barusan ia lihat
darijauh Lo In mendakinya, ia kehilangan jejak Lo In di balik
bukit.
Eng Lian kebingungan, Ia tahan kudanya dan pasang mata
ke sekelilingnya tapi tidak kelihatan Lo In dengan kudanya.
Makin tidak enak hatinya Eng Lian ketika ia berusaha
mencarinya Lo In tidak juga ia ketemuku n adik nakalnya itu.
Dalam putus asanya ia jadi mewek (nangis).
"Adik In, kenapa kau tinggalkan encimu ?" berkata Eng Lian
sendirian sambil menyusut air matanya yang berlinang-linang
pada pipinya yang botoh-
Eng Lian menantikan disitu Kalau-Kalau Lo In nanti kembali
lagi. Akan tetapi ditunggu sampai matahari tenggelam ke barat
tidak kelihatan mata hidungnya si bocah wajah hitam.
sampai disini kita kembali kepada Bwee Hiang yang sudah
lama kita tinggalkan.
Bwee Hiang sudah antar ong Kui Hoa sampai di rumahnya
dengan selamat hingga kedua orang tuanya Kui Hoa sangat
berterima kasih kepada jago betina kita atas pertolongannya
kepada puterinya.
Pulangnya Kui Hoa sangat menggemparkan ong-ke-cnung,
sebuah kampung yang tidak begitu banyak penduduknya.
Banyak sanak Iamili dan sahabat-sahabat keluarga ong pada
datang untuk memberi selamat kepada keluarga ong yang
puterinya sudah kembali dengan selamat.
Diantara yang datang ada on Lian dengan puterana
bernama Keng Siang, satu pemuda yang Idt^nrns cakap umur
32 tahun.
Kui Hoa diminta oleh para hadirin untuk menuturkan
riwayatnya diculiktau lebih tegas dirampas dengan paksa oleh
orang-orang Thoat Beng mo Siauw atau si Hantu Ketawa yang
menyeramkan penduduk ong-ke-chung.
Si nona tidak menutur banyak hal dirinya sebab keburu
mendapat pertolongan dari Bwee Hiang. Ia kata,
"Kalau tidak ada enci ini", sambil menunjuk paria Bwee
Hiang,
"entahlah bagaimana dengan nasibku ?"
Dalam paria itu, si nona telah menceritakan halnya Bwee
Hiang telah menaklukan kawanan penjahat hingga yang
mendengarkan terkagum-kagum keparia si nona she Liu yang
gagah perkasa. Mereka telah memberikan pujiannya tapi
Bwee Hiang merendahkan diri.
katanya, "Kepandaianku tidak tinggi, kalau mereka sudah
dapat aku tumpas adalah dengan cara kebetulan saja. coba
Thoat Beng siauw Mo masih hidup, mungkin pekerjaanku tidak
semudah itu..........."
"Hah Thoat Beng Mo siauw sudah mati ?"
tiba-tiba ong Keng siang si pemuda cakap, menanya
dengan mata terbelalak-
" Aku sendiri tidak menyaksikan kematiannya." sahut Bwee
Hiang.
"Aku hanya dapat kabar dari anak buahnya bahwa si Hantu
Ketawa telah binasa di tangannya Kim Coa siancu dengan
gigitan ular emasnya yang amat lihai."
ong Keng siang seperti yang belum hilang kagetnya,
tampak ia seperti terpaku duduk dikursinya hingga diam-diam
Bwee Hiang menhadi heran dalam hatinya.
"Kenapa pemuda ini ada demikian memperhatikan pada si
Hantu Ketawa ? Apakah dia ada hubungannya ? Ah, tidak bisa
jadi- Pemuda begini cakap untuk apa ia bikin hubungan
dengan seorang jahat dan buas ? Demikian rupa-rupa
pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Meskipun demikian,
tampak Bwee Hiang tenang-tenang saja, belaga pilon
terhadap kelakuannya Keng siang yang anehorang
banyak kegirangan mendengar kabar kematiannya si
Hantu Ketawa, hanya Keng siang yang kelihatannya tidak
mengunjuk reaksi apa-apa.
Bwee Hiang matanya lihai. Sejak hatinya merasa aneh
akan gerak gerik si pemuda cakap, ia jadi merasa curiga.
" Kalau Thoat Beng Mo siauw sudah mati, terang bekas
markasnya itu sekarag telah menjadi kosong, bukan ?"
Keng siang menanya sambil ketawa dipaksakan.
"oo, markasnya sudah habis dimakan api." nyeletuk Kui
Hoa.
"siapa yang emmbakarnya ?" Keng siang menanya
kepingin tahu.
"Enci Bwee Hiang yang suruh anak buahnya si Hantu
Ketawa membakarnya-" sahut Kui Hoa seraya melirik pada
Bwee Hiang-
"Lalu, kemana anak buahnya sekarang ?" Keng siang
menegas-
"sudah dibubarkan oleh enci Bwee Hiang-" jawab Kui Hoa
Keng siang manggut-manggut akan selanjutnya ia
membisu- Tidak lama kemudian ia sudah ngeloyor pergi
dengan diam-diam dan tidak ada yang memperhatikan selain
ayahnya yang diminta permisi untuk pulang lebih dahulu-
Kepergiannya dengan diam-diam ia pikir tidak ada orang
yang tahu- Ia lupa kalau Bwee Hiang yang matanya awas tak
dapat diselomoti-
Kui Hoa tidak enak kalau ia terus menerus dirubung-rubung
oleh orang banyak, terutama ia melihat tamunya seperti
merasa sebal melayani mereka, maka Kui Hoa sudah lantas
mohon diri untuk masuk ke dalam.
Kui Hoa bawa Bwee Hiang ke dalam kamarnya sendiri,
dimana ia tukaran pakaian.
"Adik Hoa, kamarmu begini indah- sudah tentu kau
menangis waktu dijebloskan dalam tahanan." berkat Bwee
Hiang menggoda.
"Enci Hiang, entah dengan apa aku dapat membalasnya
atas pertolonganmu." sahut si nona ong, tengah merapikan
pakaiannya di muka cermin,
"soalnya asal kau sudah selamat, untuk apa bicara tentang
membalas budi ?"
"Tapi enci, biar bagaimana aku tak dapat melupakan
pertolonganmu-"
"Baiklah." Bwee Hiang tertawa.
"sekarang aku mau menanya pada adik Hoa. Tapi aku
harap kau dapat menjawab dengan terus terang "
"Enci, kau tanyalah- Aku nanti akan menjawab dengan
sejujurnya."
Dalam pada itu, tampak Kui Hoa sudah selesai berdandan
dan duduk berhadapan dengan Bwee Hiang. Baharu saja ia
duduk- ia harus bangun lagi ketika mendengar pintu kamarnya
ada yang ketuk- Ia membukai, tampak satu pelayannya masuk
dengan membawakan penampan yang berisi hidangan untuk
siocia dan tamunya.
setelah mengatur hidangan di atas meja, pelayan tadi
lantas berlalu lagi setelah permisi pada siocianya. Pintu kamar
ditutup lagi. Kui Hoa lantas duduk menghadapi tamunya.
Ia mengundang.
"Enci Hiang, mari makan apa yang ada. Harap kau jangan
mencelanya. Besok-besok tentu akan aku jamu enci dengan
meja yang penuh hidangan lezat. Kau tidak menolak, bukan ?"
"Untuk apa kau menjamu aku sampai demikian ?" tanya
Bwee Hiang ketawa.
" Untuk kehormatan ha Liu Lie-hiap (pendekar wanita) yang
sudah menolong aku."
"Hihi, ada-ada saja nona Kui Hoa yang manis ini.
"Eh, adik Kui. Wajahmu sekarang benar-benar sudah
berubah, tidak seperti waktu di markasnya Thoat Beng Mo
siauw."
"Berubahnya bagaimana ?" tanya Kui Hoa kepingin tahu.
"Kau berubah sangat cantik- tidak heran Thoat Beng Mo
siauw tergila-gila- Hihi....."
Wajahnya Kui Hoa tampak semu merah
"Enci Hiang, kau memuji terlalu berlebihan."
katanya agak kikuk- Bwee Hiang lantas tahu bahwa nona
ong seorang gadis pendiam.
"Mari kita makan." Bwee Hiang mengundang untuk
menghilangkan rasa kikuk Kui Hoa. Ia pun sudah mendahului
menyumpir makanan.
"Aku sudah biasa tidak malu-malu. Ketambahan aku sudah
lapar- Maka barusan aku yang mengundang makan,
semestinya kau, adik Hoa."
"Itu sama saja." sahut Kui Hoa yang juga lantas turun
tangan untuk menyikat makanan diatas meja.
Kedua gadis itu bercakap-cakap dengan gembira, sampai
pada pokoknya soal yang ditanyakan Bwee Hiang tadi- Kui
Hoa menanya lagi,
"Enci, kau mau tanya apa padaku?"
"oo, ya- Hampir aku lupa." sahut Bwee Hiang sambil
menaruh sumpitnya.
"Dalam urusan apa, enci Hiang ?" tanya Kui Hoa kepingin
tahu.
"Aku mau tanya kau, siapa pemuda cakap itu yang sabansaban
menanyakan urusannya Thoat Beng Mo siauw ? Aku
lihat sikapmu seperti yang ketakutan terhadapnya."
Kui Hoa wajahnya pucat mendengar pertanyaan Bwee
Hiang yang diluar dugaannya.
sejenak ia tidak menyahut sampai Bwee Hiang berkata lagi,
"Adik Hoa, kalau kau merasa keberatan untuk
menerangkan padaku, tidak apa. Biarlah kutarik pulang
pertanyaanku tadi dan anggaplah bahwa aku seperti tidak
menanyakan apa-apa padamu."
"oo, tidak, tidak-" kata Kui Hoa lantas.
"Dia bernama Keng siang dan menjadi saudara cintong
denganku, sebab ayahnya adalah adik ayahku."
"Begitu ?" sahut Bwee Hiang.
"Tapi kenapa kau seperti yang ketakutan melihat dia ?"
"soalnya, soalnya...........eh, aku tak dapat menceritakan
kepadamu enci." kata Kui Hoa terputus-putus bicaranya
seperti menyembunyikan sesuatu rahasia.
Nampak Kui Hoa demikian gugup, makin curiga Bwee
Hiang ada apa-apa yang Kui Hoa sukar menuturkannya
kepada orang luar. Ia kepingin tahu, tapi tidak baik kalau ia
mendesak si nona. Apa daya ? Tapi dasar murid jago cilik kita
(Lo In) cerdik otaknya. Hanya sebentaran saja Bwee Hiang
termenung, lantas ia kelihatan tersenyum seperti sudah dapat
jalan keluar.
Ia berkata, "Adik Kui, aku kira tadinya kau ada sahabat baru
yang bisa pegang janji, tidak tahunya aku kecele Biarlah aku
sekarang mohon diri saja "
Bwee Hiang berkata sambil bangkit dari duduknya, sudah
tentu membikin Kui Hoa jadi kelab akan. Cepat-cepat ia juga
bangun dan memegangi tangan Bwee Hiang, disuruh duduk
lagi. Katanya,
"Enci Hiang, jangan marah Aku akan bicara terus terang
tentang dirinya engko Keng siang. Duduk, duduklah enci
Jangan bikin aku ketakutan, kau pergi meninggalkan aku
begitu saja."
"Bagus, itu baharu sahabat baikku." sahutBwee Hiang
ketawa sambil duduk lagi.
Itu hanyalah taktik Bwee Hiang untuk membikin nona ong
membuka rahasianya tentang dirinya Keng siang yang nona
Liu curiga pemuda cakap itu ada hubungannya dengan Thoat
Beng Mo siauw. Pikirnya, kalau benar Keng siang ada
begundalnya si Hantu Ketawa, sekalian saja ia bekerja untuk
membereskannya.
Kui Hoa menutur pada Bwee Hiang dengan tidak pakai
tedeng aling-aling.
Kiranya ong Keng siang dalam kampungnya ada terkenal
tidak baik kelakuannya. sayang dibalik wajahnya yang cakap,
ia ada menyembunyikan kekejaman dan suka main
perempuan.
sudah berulang kali ia tukar bini sampai paling belakang
adik cincongnya sendiri, ialah Kui Hoa tanpa mengingat
hubungan keluarga ia mau ganggu.
Keng siang berwajah cakap ganceng, mulutnya manis dan
pintar merayu.
Kui Hoa yang usianya baru memasuki 18 tahun tidak kenal
akan kepalsuannya seseorang pria yang wajahnya cakap tapi
hatinya tidak baik- Dalam buaian kata-katanya yang merayu
Kui Hoa dapat di"nina bobo"kan.
ong seng, ayahnya Kui Hoa sangat sayang pada puterinya
itu lancaran belum lama ia sudah kehilangan encinya Kui Hoa
yang mati karena sakit- Ia tidak merintangi anak gadisnya
yang ia anggap masih kecil bergaul dengan Keng siang
keponakannya. Apalagi saban Keng siang berkunjung
alasannya adalah hendak memberi pelajaran surat kepada
adik cincongnya hingga kedua orang tuanya Kui Hoa merasa
senang atas kesudian Keng siang memberi pelajaran surat
kepada puterinya.
Pada suatu sore, dalam memberikan pelajaran di kamar
tulis, Keng siang berkata pada Kui Hoa,
"Adik Hoa, kau sangat cancik, Ibarat kembang sedang
mekarnya dan aku ingin menjadi kumbangnya. Apa kau suka
kokomu menjadi kumbang mendekati kau ?"
Kui Hoa tengah menulis, ia diam saja. Tapi lama-lama ia
mengerti akan maksud omongan sang engko cincong maka ia
ketawa manis dengan pipi semu merah-
"Adikku, lama aku impikan wajahmu yang cancik-" Keng
siang berkata lagi-
"Ingin aku memilikinya- Apakah kau bersedia untuk.jadi
isteriku ?"
si nona menatap wajah Keng siang yang cakap sementara
hatinya berdebaran mendengar engko cincongnya secara
blak-blakan membuka rahasia hatinya-
"Aku sendiri tidak keberatan, asal ayah dan ibu setuju."
sahut si gadis sambil tundukkan kepala malu-malu.
"Cuma kata ibu, tidak baik kalau kita mengikat jodoh karena
masih ada hubungan darah. Tidak baik untuk keturunan."
"oh, apa kau sudah kasih tahu tentang urusan kita ?" tanya
Keng siang kaget.
"Kasih tahu terang-terangan sih tidak, hanya aku samarsamar
tanya ibu apakah kakak dan adik cintong menikah
dibolehkan atau tidak. Lantas kata ibu, itu tidak boleh sebab
masih ada hubungan keluarga dan bisa mencelakakan pada
turunan,"
"Adik Hoa, apakah kau percaya omongan ibumu itu ?"
" Aku percaya. Masa ibu membohong iku ? setiap ibu yang
mengasihi anaknya tentu ingin melihat anaknya beruntung
dalam hidup berkeluarga."
Keng siang diam. Lama ia tidak berkata-kata seperti yang
memikirkan apa-apa dalam otaknya yang jahat. Kemudian ia
berkata,
"Bagaimana juga kau akan menjadi isteriku. Kau jangan
percaya sama omongan ibumu yang melantur."
"Hei, kau berani menuduh ibu omong sembarangan " kata
Kui Hoa tidak senang.
"Kenapa tidak berani ? sudah terang kita boleh menikah
berdasarka suka sama suka, kenapa ibumu mengatakan
perkataan yang janggal itu? seakan -akan menghalangi jodoh
kita. Pendeknya kau setuju atau tidak, toh kau akan jadi
milikku"
Kui Hoa tidak senang mendengar perkataan Keng siang
demikian kasar.
"Kau mau paksa aku bila aku tidak setujui ?" katanya tidak
senang.
"sudah tahu, untuk apa kau menanya ?" Keng siang mulai
unjuk kekasarannya.
sampai sebegitu jauh Kui Hoa pandang engko cintongnya
ada seorang yang tamah dan berwajah cakap, senang ia
saban-saban mendapat kunjungan engkonya itu. Ia pandang
Keng siang sebagai engko sendiri yang sangat baik hati,
memberi pelajaran surat kepadanya. Tapi lambat laun si gadis
merasakan kelakuannya Keng siang agak janggal
terhadapnya, seperti yang mempunyai maksud tertentu atas
dirinya, bukan dengan sewajarnya ia mengajari surat
kepadanya. Hal itu pun baginya menjadi jelas ketika Keng
siang mulai mengeluarkan kata-kata yang merayu, hingga
hatinya menjadi guncang masuk perangkap asmara.
Mengingat ia dengan Keng siang bukanlah orang lain,
maka dengan samar-samar ia menanyakan pada ibunya kalau
kakak dan adik sama-sama she, tegasnya saudara cintong,
apakah boleh menikah- sang ibu paham akan maksud
puterinya yang mulai kena panah dan tahu bahwa orang yang
dimaksudkan si gadis adalah Keng siang. Tapi sebagai ibu
yang bijaksana ia tidak mau membuka rahasia anaknya.
Hanya ia mengatakan dengan jujur bahwa perjodohan itu tidak
dibenarkan oleh siapa juga karena akibatnya akan merusak
keturunan.
Kui Hoa sangat menyesal kenapa ia dilahirkan menjadi adik
cintongnya Keng siang. Kalau tidak- ia setuju sekali pada
pemuda yang berwajah tampan itu.
Ingin hal itu ia katakan pada Keng siang tapi tidak ada
jalan, sebab sebagai wanita, mana boleh lebih dahulu
memberi tahukan hal demikian kepada seorang lelaki yang
tengah mengharapkan dirinya.
Dengan cara kebetulan pada sore itu, dalam omong-omong
dapat ia memberitahukan pada Keng siang. Tidak tahunya
Keng siang bukannya merundingkan mencari jalan keluar,
sebaliknya malah menghina ibunya dan mengancam dengan
kekerasan akan memiliki dirinya.
Meskipun hatinya setuju pada Keng Siang, tapi tatkala
melihat Keng Siang berlaku kasar demikian, Kui Hoa menjadi
tidak senang. Dalam kesalnya Kui Hoa bangkit dari duduknya
dan berkata,
"Sudahlah, urusan kita sampai disini saja "
Tapi sebelum Kui Hoa sempat melangkahkan kakinya, tibatiba
ia rasakan tangannya dipegang Keng siang.
"Adik Kui Hoa, tidak semudah ini kau berlalu Hehehe" kata
Keng siang dengan roman beringas seperti kerangsekan
setan. Kui Hoa menjadi marah melihat engko cincongnya
berlaku kurang ajar
"Binatang, kau berani berlaku kasar begini ?" ia
mendamprat sambil tarik tangannya dari cekalan Keng siang.
Bukannya tangan terlepas, malah Keng siang datang lebih
dekat padanya dan sebelum ia sempat mencaci maki lagi, si
pemuda ganas sudah memeluk dirinya, Ia coba beroncak dan
sudah membuka mulutnya untuk berteriak minta tolong, apa
mau mulutnya kena didekap tangan Keng siang.
Kui Hoa meronca-ronca untuk meloloskan diri tetapi
percuma saja. Malah hidungnya yang kena ketutupan tangan
Keng siang membuat ia tak dapat bernapas dan perlahanlahan
ia jadi lemas, lalu ia merasakan badannya terangkat
dipondong oleh Keng siang.
Ia menjadi kaget menghadapi maksud jahat sang engko
cincong, tapi ia tidak berdaya untuk, melawan. Hanya ia tahu
bahwa dirinya telah direbahkan diatas dipan dan sang engko
yang sudah kerangsekan setan telah menciumi pipi dan mulut
dengan seenaknya saja tanpa ia dapat melawan untuk
mempertahankan dirinya.
Pada saat itulah, ketika Keng siang hendak memperkosa
Kui Hoa, tiba-tiba pintu kamar tulis terbuka dan dua orang
tidak dikenal lompat masuk.
satu antaranya telah membentak.
"Manusia bergajul, kau mau berbuat apa ?"
seiring dengan bentakannya , orang itu menyerang Keng
siang. Dengan berani Keng siang melawan tapi lantaran
dikeroyok dua orang akhirnya ia kalah dan lari keluar kamar
dengan tidak berpaling lagi ke belakang.
Mereka tertawa gelak-gelak melihat Keng siang lari
tunggang langgang. yang membentak tadi seorang tinggi
kurus dengan matanya yang sebelah kiri seperti meram.
Rupanya matanya sudah rusak satu. Dengan laku kasar ia
pondong Kui Hoa yang sudah tidak berdaya lantaran lemas
seluruh badannya. Tapi si nona masih sempat menanya,
"Kalian mau bawa aku kemana ?"
"Hahaha, mau tanya lagi nona manis." katanya ceriwis.
"sayang aku menjalankan tugas. Kalau tidak, kita tentu
boleh bersenang-senang.........."
"hush.. jangan ngaco belo " kata temannya.
"Kalau ada yang dengar dan dilaporkan pada orang tua,
kau bisa susah "
orang terrsebut menjadi ketakutan. Tanpa banyak cakap ia
pondong terus si nona keluar kamar. Kui Hoa seperti
mendapat tenaga baru. Ia meronta-ronta dan memaki,
"Kau mau bawa kemana nonamu ? Binatang, lekas
lepaskan nonamu"
"Baik, aku nanti lepaskan kau kalau sudah sampai di Pekkut-
nia " sahut orang itu.
"Pek-... kut.....nia....." Kui Hoa mengulangi dengan terputusputus
dan berbareng seketika itu ia telah jatuh pingsan.
Rupanya hatinya diserang oleh perasaan takut yang hebat
karena ia tahu bahwa dirinya akan menjadi korban si Hantu
Ketawa di Pek-kut-nia. Ia sering dengarkan ayah dan ibunya
mengatakan bahwa disana ada tinggal satu hantu tua jahat
yang suka mengganggu anak perawan orang.
"Nah, itulah keteranganku, enci Hiang." kata Kui Hoa.
"Kau lihat aku ketakutan ketika berpandangan dengan
engko Keng siang lantaran adanya perasaan bahwa aku
belum bebas. Engko Keng siang pasti akan membuat susah
lagi pada diriku setelah ia tahu bahwa Thoat Beng Mo siauw
sudah mati. sudah tidak ada yang ia takuti dan tentu ia punya
suka untuk melampiaskan kelakuannya yang buruk "
"Adik, kau jangan takut " menghibur Bwee Hiang.
"Ada aku disini, takut apa ?"
"Tapi enci, kau toh tidak tinggal selamanya bersamaku."
"Aku akan tinggal selama kau belum aman, adikku"
"Terima kasih enci yang baik," kata Kui Hoa.
"Aku senang sekali kalau kau bisa selamanya disamping
enci Hiang."
"Masa selamanya mau bersamaku saja. Kalau kau nanti
punya suami, bagaimana ?" menggoda Bwee Hiang sambil
ketawa hingga Kui Hoa merah seluruh wajahnya.
"Enci, aku tidak akan menikah kalau kau selamanya ada
disamping ku." kata Kui Hoa sambil menundukkan kepala.
" Kalau aku yang menikah, bagaimana ?" Bwee Hiang
menggoda lagi. Rupanya Bwee Hiang sekarang sudah
ketularan guru ciliknya yang nakal suka menggodai orang. Kui
Hoa tidak menyahut, matanya yang bagus deliki sang enci
yang nakal. Akhirnya keduanya jadi pada tertawa.
senang Kui Hoa mendapat teman seperti Bwee Hiang yang
Jenaka sepak terjangnya, disamping sebagai jago betina yang
belum menemukan tandingan.
Dua hari sudah Bwee Hiang tinggal di rumahnya Kui Hoa,
ia tidak nampak kejadian apa-apa- Pada malam yang ketiga,
ketika dua gadis itu sedang omong-omong dengan asyiknya,
tiba-tiba Bwee Hiang merasa seperti ada apa-apa yang tidak
beres melihat Kui Hoa saban-saban menguap ngantuk. Malah
sembari bicara, Kui Hoa matanya tampak meram.
Bwee Hiang juga merasa sangat ngantuk- Cepat ia rogoh
sakunya mengeluarkan pil pengasih Lo In dan ditelan dengan
air teh sebagai alat pengantarnya.
setelah mana ia menguap beberapa kali. Lalu pondong Kui
Hoa yang sudah dari setadian tidur tanpa terasa diatas meja,
direbahkan dipembaringan. Ia juga lantas naik tidur dan
menutup kelambu, selama dirumah Kui Hoa, Bwee Hiang
memang tidur bersama-sama dengan nona rumah yang ramah
tamah itu.
Lewat sekian lama, tampak ada bayangan masuk melalui
jendela kamar yang memang terpentang. Dengan berjingkatjingkat,
kuatir suara tindakannya kedengaran, orang itu telah
menghampiri pembaringan dan menyingkap kelambu. Hatinya
berdebar-debar keras nampak dua nona cantik sedang tidur
lupa daratan dalam pakaian tidurnya yang serba tipis.
"Hehe " orang itu tertawa perlahan.
"Kiranya seorang Liehiap juga tak dapat lolos dari hio
pulasnya yang manjur. Dasar peruntungan yang mujur, yang
mana antaranya yang harus aku pilih ? Ah, biar aku ambil dulu
si pendekar wanita yang lihai. Asal dia sudah jadi "mainanku",
apa dia bisa bikin ? Paling-paling juga dia marah-marah-
Untuk membunuh aku sudah tidak mungkin karena nasi sudah
jadi bubur. Kepaksa dia nanti turut aku Haha Adik Kui Hoa aku
titipi saja dulu, lagi tiga malam baru aku ambil sebab waktu itu
tentu aku sudah bosa sama si Liehiap "
Kebetulan Bwee Hiang yang diincar tidurnya di sebelah
pinggir, hingga dengan mudah saja sudah dipondong pergi
oleh orang itu setelah mengucapkan perkataan,
"Nona manis, mari kita berangkat "
Gesit bayangan itu, meskipun membawa beban ia dapat lari
cepat, sebentar saja ia sudah berada di luar ong-ke-chung.
Tidak lama ia sampai pada sebuah bangunan rumah tua di
pegunungan yang jauh bila hendak kemana-mana. Tampak
ada dua orang yang menyambutnya dengan sangat hormat.
Rupanya mereka adalah centeng rumah itu karena itu
keduanya membawa golok di pinggang.
Ketika orang itu sudah masuk ke dalam, terdengar orang
dibelakangnya berkata,
"Loji, kongcu kita bawa barang baru. Besok pagi tentu kita
akan mendapat hadiah dua botol arak. Hahaha.......Biar kita
doakan lebih banyak bawa barang baru hingga kita dapat
minum arak mabuk-mabukan "
"Loa-toa, kau jangan kegirangan dulu. Kalau arak sudah
ditangan, barulah kita boleh girang." sahut temannya si Lo-ji-
Dalam pada itu, orang yang membawa Bwee Hiang tadi
yang bukan lain Keng siang adanya sudah ada di dalam,
tengah menyalakan dua batang lilin besar. Keadaan dalam
ruangan itu menjadi terang ketika Keng siang telah tambah
lagi dengan dua lilin yang lebih kecilan.
Itu berada di ruangan tengah yang merupakanjuga ruangan
kamar sebab disitu tampak ada dua buah pembaringan yang
dihias indah sekali dan serba harum di dalamnya.
Kapan orang tidur dalam salah satu pembaringan itu, pasti
akan merasa segar dan pikiran melayang-layang disebabkan
bau harum sedap menusuk hidung dan perlengkapan
pembaringan yang serba bersih dan indah-
Keng siang bawa Bwee Hiang ke pembaringan yang
letaknya sebelah dalam, yang lebih indah dari yang satunya, di
atas mana si nona direbahkan dengan tidak berkutik, sambil
merebahkan Bwee Hiang, Keng siang berkata,
" Nona pendekar, terimalah nasibmu sebagai nyonya Keng
siang. Tunggu aku ambil lilin untuk menerangi wajahmu yang
sangat cantik," Ia berkata sambil berlalu mengambil lilin dan
ditaruh diatas meja tidak jauh dari pembaringan yang harum
semerbak itu.
Keng siang kegirangan bukan main bahwa sebentar lagi ia
akan "naik surga" dengan si cantik Bwee Hiang yang
keadaannya sudah tidak berkutik di atas pembaringan.
Biasanya kalau hendak menerkam korbannya, Keng siang
meloloskan pakaian luarnya. Kali ini rupanya ada kecualian
karena tak tertahankan dengan getaran hatinya melihat
wajahnya Bwee Hiang yang cantik seperti tersenyum ke
arahnya. Bibirnya merah menyala menantang lawan
tampaknya.
"Nona cantik, biarlah aku kasih persekot du.........."
"cuh Cuh " terdengar dua kali Bwee Hiang meludahi Keng
siang tepat mengenai kedua matanya, disaat Keng siang
menundukkan kepalanya hencak mencium si nona.
Itulah ludah kental yang lama disiapkan oleh Bwee Hiang.
Ia meludahi kedua matanya si cakap Keng siang dengan
Iwekang, tidak heran kalau Keng siang menjerit teraduh-aduh
sambil menekap kedua matanya, ia lompat mundur.
Ketika ia coba buka matanya, ternyata penglihatannya
menjadi gelap, tak ada benda yang ia dapat lihat, kedua
matanya sudah menjadi buta.
Keng Siang menjadi ketakutan. Dari ketakutan ia menjadi
nekad- Dengan tenaga penuh ia sudah menyergap ke atas
pembaringan sambil menghajar kedua tangannya hebat sekali.
Pikirnya dengan serangan mendadak itu, si nona yang
meludahinya akan melayang jiwanya seketika itu juga. Ia salah
hitung sebab musuh yang ditemuinya adalah Bwee Hiang si
jago betina yang belum menemukan tandingan yang dapat ia
bikin celaka, mana dapat bung.
Hanya suara pembaringan yang terdengar dihajar oleh
Keng siang sebab Bwee Hiang sudah sedari tadi ada
dibelakangnya.
"Manusia hina " bentak si nona.
"Percuma kau dikasih hidup, hanya menyusahkan orang
saja " berbareng kakinya Bwee Hiang bekerja dan Keng siang
roboh dengan jidat membentur tepi ranjang besi. Kontan
jidatnya tambah daging hingga tangannya repot mengusapi
jidatnya yang benjol-
"Manusia hina " terdengar Bwee Hiang kembali membentak
ketika Keng siang sudah berdiri pula dengan tangan merabaraba
mencari pegangan.
"Banyak korban tentu kau lakukan dan inilah hukuman dari
seorang wanita "
"Duk— Bluk " menyusul terdengar suara itulah bebokong
Keng siang yang dihajar dan tubuhnya roboh di lantai
mengeluarkan suara "bluk"
"Liehiap, ampuni selembar jiwaku, oh....." Keng siang
meratap kesakitan.
"Plak Plak " suara dua kali gamparan Bwee Hiang
mengenakan dua belah pipinya Keng siang, cukup membuat
beberapa giginya si muka tampan rontok dengan berboran
darah dari mulurnya. Keadaannya sangat kasihan, tapi Bwee
Hiang hatinya tidak merasa kasihan lagi. Ketika si nona
hendak angkat Keng siang bangun dan hendak dihajar lagi,
tiba-tiba ia rasakan ada angin dingin dari belakangnya. Cepat
ia berputar dan berbalik berada
dibela kang Keng siang.
"cras " menyusul suara. Kiranya tubuh Keng siang terbabat
kutung oleh golok tajam yang disabetkan oleh centengnya
sendiri.
Tatkala si nona merasa ada angin dingin di belakangnya, ia
tahu akan datangnya senjata tajam. Maka cepat tubuhnya
berputar ke belakang Keng siang, tubuh Keng siang didorong
untuk mengganti kedudukannya tadi- Maka tidak ampun lagi
tubuh Keng siang yang terbabat kutung yang semestinya
tubuh Bwee Hiang. Kejadian cepat dan hanya beberapa detik
saja terjadinya hingga si centeng jadi melongo sendiri.
sebelum ia sadarakan kagetnya, tiba-tiba badannya terasa
enteng melayang. Kiranya Bwee Hiang sudah menendang
dengan kaki dari bawah ke atas, mengarah pantat si centeng
sehingga tubuhnya melayang dan "buk" saja tubuhnya jatuh
dilantai.
Ketika ia hendak bangun lagi, ia tidak merasakan apa-apa
lagi sebab kepalanya sudah menggelinding disabet oleh
goloknya sendiri melalui tangan Bwee Hiang.
seorang kawannya datang, ialah Lo-toa dan membentak
Bwee Hiang,
" Wanita liar, dari mana kau datang kemari ?"
Bwee Hiang dalam pada itu sudah siap dengan goloknya,
Ia menjawab,
"Hehe, masih belum terlambat kau menyusul roh saudara
dan cukongmu menghadap ciiam-lo-ong "
Lo-toa nama aslinya adalah sie Giam, bekas guru silat di
ong-ke-chung.
sengaja Keng siang undang ia untuk menjadi centeng di
rumah "simpanannya" dengan upah yang cukup untuk
mengongkosi rumah tanganya- Maka kepandaian silatnya
boleh juga dibanding dengan si Lo-ji yang sudah melayang
jiwanya-
Waktu ia melihat Kongcu dan kawannya sudah binasa,
kemurkaannya telah meluap seketika- sekarang ditambah
dengan kata-kata Bwee Hiang yang suruh ia menyusul arwah
majikan dan kawannya, terang kemurkaannya menjadi dobel.
"Perempuan liar, lihat ini" tanpa memikirkan lagi
kepandaian musuh, ia menyerang dengan kalap- gerakannya
baikjuga, ia menggunakan jurus "Elang lapar menyambar
kelinci" yang sangat ia banggakan, belum pernah gagal
menyerang musuh.
serangannya pasti tidak gagal kalau ia menyerang jago
jago kampungan. Tapi Bwee Hiang adalah murid Lo In, si
bocah sakti- Maka belum sempat ia menggunakan tipu
serangan yang lainnya, tiba-tiba ia rasakan dadanya ditembusi
golok si nona yang dengan tanpa sadar cara bagaimana si
nona barusan bergerak-
Ia jadi ketakutan setengah mati waktu golok Bwee Hiang
menembusi dadanya- sudah terlambat baginya untuk minta
ampun, sebab waktu golok dicabut dari dadanya, lantas saja
darah segar membanjir keluar dari lukanya dan seketika itu
juga ia terkulai badannya untuk tidak bangun selama-lamanya.
Itulah Liu Bwee Hiang, puterinya Liu Wangwee dari
Kunhiang yang tidak menyesal sudah melakukan pembunuhan
itu mengingat perbuatannya tidak seberapa kalau dibanding
dengan sucoan sam-sat yang telah membasmi habis seluruh
isi rumah tangganya.
Dengan seenaknya saja ia melenggang keluar dari rumah
tua itu, setelah ia melemparkan golok di tangannya. Di luar
rumah, dengan ginkang (ilmu entengi tubuh) yang tinggi dalam
tempo pendek saja ia sudah sampai di rumah ong seng.
Dengan melalui jendela, si nona masuk ke dalam kamarnya
Kui Hoa dimana ia lihat nona masih tidur nyenyaksetelah
menukarkan pakaiannya yang kecipratan darah
tadi, Bwee Hiang lantas naik ke pembaringan dan tidur pulas
seperti kejadian yang barusan ia hadapi tidak artinya bagi si
nona jagoan.
Pada keesokannya sesudah kematian Keng siang tidak ada
kejadian apa-apa, tapi pada hari kedua keadaan dalam ongke-
chung menjadi gempar dengan diketemukannya mayatmayat
dalam bangunan tua dipegunungan yang sunyi.
sudah tentu ong Liang dan istrinya menjadi sangat sedih
ketika mendengar diantara mayat-mayat itu terdapat mayatnya
sang anak- ong seng, ayahnya Kui Hoa datang ke rumah ong
Liang untuk menyaksikan mayatnya sang keponakan.
sungguh mengerikan Tubuhnya Keng siang terpotong dua.
Entah siapa yang telah demikian kejam membunuh ong
Kongcu. orang kira pembunuhnya tentu orang dari luar daerah
ong-ke-chung karena di dalam kampung itu tak ada jagoan
yang melebihi Keng siang. Pengusutan pada pembunuhan
dilakukan. Malah ong Liang sebagai hartawan di ong-ke-chung
telah menyediakan hadiah besar kepada siapa yang dapat
menangkap pembunuh anaknya.
ong Kui Hoa juga dapat dengar tentang kematian sang
engko cintong. Disamping ia merasa aman dengan lenyapnya
ong Keng siang tetapi hatinya sedih juga bila mengenangkan
saat-saat yang bahagia ketika ia duduk berduaan dengan si
pemuda cakap. Demikian nikmat ia rasakan dalam buaian
kata-kata merayu ong Keng siang.
Ia suka menarik napas kalau mengenangkan tempo yang
lampau. Setelah itu ia masuk ke kamar menemui Bwee Hiang
sebab Bwee Hiang tidak ingin menampakkan dirinya kepada
yang lain kecuali Kui Hoa, nona rumah telah berkata seperti
memancing Bwee Hiang,
"Enci Hiang, kau tahu siapa pembunuh dari engko Keng
siang ?"
"Mana aku tahu." sahut Bwee Hiang.
"Aku kira tentu orang luar yang membunuh engko Keng
siang."
"Mungkin juga, tapi kenapa ? Apa kau berduka dengan
kematiannya Keng Siang "
"Bukan begitu, hanya aku kepingin tahu saja siapa
pembunuhnya."
" Kalau demikian, nah, kau tebak-tebak saja." kata Bwee
Hiang ketawa.
Kui Hoa melihat Bwee Hiang ketawa, ia jadi curiga. Lalu
menanya sambil ketawa,
"Enci, kalau aku tidak salah tebak- pembunuhnya tentu ada
disini."
Bwee Hiang ketawa ngikik hingga Kui Hoa bertambah
curiga-
"Enci Hiang, kau mengaku saja. Kau tentu yang
membunuh, ya ?"
"Dari mana kau bisa tahu ? Jangan sembarangan menuduh
orang "
"Ah, aku sudah tahu. Pembunuhnya ada di depanku
sekarang." Kui Hoa berkata lagi sambil tersenyum pada Bwee
Hiang.
"Dari mana kau bisa tahu ?" Bwee Hiang menanya dengan
heran.
"Aku toh tidak kemana-mana, tiap detik ada bersamamu,
bukan ?"
"Enci Hiang, bajumu yang membuka rahasia." Kui Hoa
ketawa.
"Membuka rahasia bagaimana, adik Hoa ?" Bwee Hiang
kepingin tahu.
"Nenek ciang, si tukang cuci, ada lapor padaku bahwa
bajumu ada banyak noda darah ketika ia mencucinya." Kui
Hoa menerangkan.
Bwee Hiang melengak- Lantas ia ingat pada malam itu,
setelah ia berada pula dalam kamar Kui Hoa, ia membuka
bajunya yang banyak noda darahsi
nona lalu tersenyum kepada Kui Hoa. Ia berkata,
"Adik Hoa, kau cerdik juga. Tapi aku bukan pembunuhnya
Keng siang, engko cintongmu "
Kui Hoa melengak heran.
" Habis, siapa yang bunuh engko Keng siang " tanyanya.
"yang membunuh Keng siang, orangnya sendiri" sahut
Bwee Hiang yang lalu menuturkan kejadian malam itu, hampirhampir
saja mereka jadi korban obat pulasnya Keng siang
kalau tidak keburu ia (Bwee Hiang) sadar bahwa ada orang
yang ingin membius mereka.
Diceritakan dengan jelas kepada Kui Hoa, bagaimana ia
membiarkan dirinya dibawa ke tempat "penyimpanan" Keng
siang, bagaimana ia menghajar Keng siang berkesudahan
dengan kematiannya dan tiga orang yang melayang jiwanya.
Mendengar itu, diam-diam Kui Hoa berdiri bulu pundaknya.
"Enci, sebenarnya kau siapa ?" kata Kui Hoa setelah
sejenak ia termenung.
Bwee Hiang tidak keberatan untuk menerangkan siapa
dirinya. Maka si nona secara ringkas telah menuturkan
perjalanannya, hingga Kui Hoa terkagum-kagum
mendengarnya.
"Enci, tidak salahnya bila aku menyebut kau seorang
Liehiap-" berkata Kui Hoa setelah Bwee Hiang habis bercerita.
"Cuma sayang aku tidak berjodoh ketemu dengan adik
kecilmu yang lihai itu. oh, aku sangat bangga sekali kalau
dapat berkenalan dengan jago cilik seperti adik kecilmu itu."
"Adik Hoa, adik kecilku sangat Jenaka." Bwee Hiang kata
dengan ketawa.
" Kalau kau dapat berkumpul dua tiga hari saja dengannya,
kau akan merasa umurmu bertambah dua tiga tahun,
antahlah, kapan aku dapat bersua lagi dengannya."
si nona menghela napas Kui Hoa mengerti akan kedukaan
sang enci yang kehilangan jejak adik kecilnya.
Tapi nona ong diam-diam merasa heran atas perkataan
Bwee Hiang bahwa kalau ia berkumpul dua tiga hari dengan
Lo In, umurnya dapat bertambah dua tiga tahun, Ia lalu
menanya,
"Enci, apa yang kau maksudkan dengan tambah umur dua
tiga tahun ?"
"Adik kecilku mukanya hitam legam macam pantat kuali tapi
pribadinya sangat polos Tiap kali ia melucu, tiap kali orang
yang mendengarnya akan tergerak urat ketawanya. selama
kita berkumpul, belum pernah satu hari pun tidak ketawa
terpingkal-pingkal oleh kejenakaannya. Disamping
kepandaiannya bikin tergerak urat ketawa orang, ilmu silatnya
tinggi luar biasa, susah diukur."
Kui Hoa sangat tertarik dengan penuturan Bwee Hiang,
"Enci," katanya.
" Kalau kau sudah dapat menemui adik kecilmu, tolong kau
bawa kesini supaya aku dapat belajar kenal, boleh tidak ?"
"Boleh saja, asal urat ketawa mu nanti jangan putus." sahut
Bwee Hiang ketawa.
Kui Hoa tersenyum manis mendengar itu Ia berkata,
"Enci, kau juga rupanya ketularan penyakit adik kecilmu
yang lucu itu. setiap kali kau berkata, membikin aku kepingin
ketawa."
Bwee Hiang ketawa ngikik,
"Eh, adik Hoa." katanya tiba-tiba.
"Apa kau bisa tolongi aku?"
"Tolongi apa ? Katakanlah, kalau bisa tentu akan kutolongi
kau " sahut Kui Hoa.
"T0long belikan pakaian pria. sudah tentu bukan kau yang
pergi tapi kau suruh orangmu untuk membelinya." kata Bwee
Hiang.
Kui Hoa melengak- Ia kira Bwee Hiang mau minta tolong
apa, tidak tahunya minta dibelikan pakaian pria. Ia heran, buat
apa si nona beli yang begituan, lalu ia menanya.
"Enci, untuk apa pakaian pria ?Juga, disini mana ada yang
jual?"
" Untuk aku pakai dalam perjalanan mencari adik kecilku-
Dengan pakaian perempuan, aku rasa kurang leluasa
menghadapi mata2 alap- Tapi bagaimana ya ? Kau kata tadi
disini tidak ada yang jual "
"Jangan kuatir, aku akan bikinkan untukmu, enci"
Tiba-tiba saja Bwee Hiang memeluk Kui Hoa hingga nona
ong jadi gelagapan.
"Adik Hoa, sungguh kau baik sekali pada encimu. Tolong
bikinkan yang bagus, ya " kata Bwee Hiang sambil tidak lupa
ia kecup pipinya Kui Hoa yang botoh-Kui Hoa berdebar juga
hatinya ketika pipinya dikecup (dicium) Bwee Hiang.
Memang pandai Kui Hoa membuat pakaian. Tidak makan
tempo banyak sebab pada malam berikutnya Bwee Hiang
sudah dapat memakai pakaian pria tersebut di depan cermin
dalam kamarnya Kui Hoa.
sungguh cakap parasnya Bwee Hiang dalam pakaiannya
yang baru. sambil berpose di depan Kui Hoa, sang enci
berkata,
"Adik Hoa, apa hatimu tidak bergolak melihat pemuda
seperti ini ?"
Kui Hoa terpesona. Memang hatinya berdebaran nampak
Bwee Hiang demikian cakapnya dalam pakaiannya yang
baharu.
"Sungguh pria yang sangat cakap " ia berkata dalam hati
kecilnya, parasnya tampak bersenyum-senyum tanpa
menjawab pertanyaan Bwee Hiang.
seminggu sudah lamanya Bwee Hiang berkumpul dengan
Kui Hoa. Pada suatu pagi, Bwee Hiang mohon diri dari si nona
dan ayah bunda nona Kui Hoa untuk meneruskan perjalanan
mencari adik kecilnya. Mereka coba menahan tapi nona Liu
menolak dengan halus-
Keluarga ong membekali ia uang banyak sekali untuk ia
pakai di perjalanan. Tapi Bwee Hiang hanya ambil separuhnya
saja. Bwee Hiang terpaksa menerima sumbangan orang
karena ia membutuhkan sebab buntalan dan pakaiannya
ketinggalan disuyangtin (rumahnya Leng siong) dimana di
dalamnya ia bekal banyak uang dari rumahnya.
Benar saja, dengan pakaian pria, si nona lebih leluasa
dalam perjalanannya- Tidak banyak 'mata liar' yang
memandangnya, sebaliknya "mata halus" (wanita) banyak
yang terpesona oleh parasnya yang cakap-
Bwee Hiang pikir kurang baik kalau ia sudah menyaru
lelaki, namanya tidak dirubah-Maka ia lalu pikirkan satu nama
yang mengingatkan ia pada adik kecilnya- Tidak ragu-ragu lagi
lantas ia menggunakan nama In Hiang, Liu In Hiang.
sementara Bwee Hiang menyaru jadi Laki-Laki, untuk
memudahkannya kita pakai namanya yang baru iaLah In
Hiang, Liu In Hiang.
seteLah keLuar dari ong-ke-chung, In Hiang bingung juga
kemana ia harus tujui untuk mencari adik kecilnya. Dengan
sendirian menyatroni sarangnya sucoan sam-sat, itu tidak
mungkin- Tanpa bantuan adik kecilnya (Lo In) yang hebat
kepandaiannya, meskipun ia punya dua kepaLa dan empat
tangan, In Hiang akan pikir-pikir dulu menghadapi kebuasan si
Tiga ALgojo dari Sucoan.
Ia jaLan semau kakinya saja tanpa tujuan.
Tanpa disadari ia sudah memasuki Kunhoa, sebuah kota
kecil. Tampak keadaan disitu amat ramai, kebetulan sedang
haripasar rupanya-
In Hiang melihat ke kiri dan ke kanan, mengharap dengan
cara kebetulan dapat ketemu dengan adik kecilnya- Ia lihat
tidak jauh darinya ada banyak orang berkumpul sedang
menaksir-naksir harga kuda yang diperjualbelikan di situ.
In Hiang memang suka tunggang kuda dan sering pesiar
dengan ayahnya dipegunungan. Tapi sejak ia kenal Lo In,
kegemarannya pada kuda menjadi hilang, sekarang ia ketemu
pasar kuda, hatinya menjadi tertarik- Pikirnya, kalau ia dapat
membeli seekor kuda untuk kawan perjalanan, barangkali ada
lebih baik,
Iseng-iseng ia datang menghampiri pasar kuda untuk
memilih kuda yang baik. Pilih punya pilih akhirnya tidak ada
yang ia setujui hingga In Hiang menjadi kecewa, Ia lantas mau
meninggalkan pasar kuda itu. Tapi belum berapa langkah ia
bertindak, mendengar ada suara kuda meringkik. Cepat In
Hiang menoleh- Ia lihat kuda yang baru dituntun datang
dengan warna merah mengkilap, kepalanya saban-saban
diangkat dan perdengarkan suaranya yang nyaring.
"Ah, inilah kuda bagus." kata In Hiang dalam hatinya, Ia
tidak jadi berlalu dari situ, sebaliknya ia menghampiri orang
yang menuntun kuda merah tadi-
"saudara." katanya hormat-
"Apakah kau mau jual kudamu itu ?"
yang menuntun kuda tidak lantas menyahut, hanya
mengawasi pada pemuda1 kita yang cakap dengan mata tidak
berkedip-
In Hiang rada-rada kikuk diawasi si tukang kuda demikian
rupa-
"Apa saudara baru Lihat manusia seperti aku ?" tegur In
Hiang kurang senang.
"Tidak, tidak"" sahut si tukang kuda gugup.
"Aku Lihat kau sangat cakap, maka barusan aku jadi
kesemsem. sukaLah kau memaafkannya, adik kecil."
Tukang kuda itu usianya kira-kira sudah setengah abad-
Tapi sikapnya gagah dan tindakannya mantap seperti yang
pandai silat, In Hiang tahu ini tapi ia tidak ambil perduli. Ia
kesitu hanya mau membeLi kuda, bukannya untuk mencari
onar.
"Bagaimana ? Apa kau maujuaL kudamu itu ?" tanya In
Hiang pula.
KembaLi si tukang kuda tidak menyahut. KaLi ini ia tidak
mengawasi wajah orang, hanya pedang In Hiang yang
tergantung dipinggangnya ia awasi dengan kagum.
"Hei, kau mau juaL kudamu tidak ?" In Hiang mulai jengkeL.
"Aku tidak maujuaL kudaku, hanya aku mau tukar." sahut si
tukang kuda.
"Tukar dengan apa ?" tanya In Hiang kepingin tahu.
"TUkar dengan pedangmu itu." sahut si tukang kuda sambil
menunjuk pinggang In Hiang.
"Ah, mana boLeh- Tukar dengan uang toh sama saja."
"Tidak- aku mau tukar dengan pedangmu-"
In Hiang tidak mau Layani si tukang kuda yang kukuh mau
minta kudanya ditukar dengan pedang. Maka ia Lantas mau
ngeloyor pergi- BeLum berapa Langkah ia bertindak, tiba-tiba
ia dengar orang membentak dari beLakangnya.
"Tunggu "
In Hiang merandek dan putar tubuhnya. Kiranya yang
membentak tadi adaLah si tukang kuda yang ngotot mau tukar
kudanya dengan pedang.
In Hiang kata,
"Kuda ada kudamu, pedang ada pedangku, sudah tidak ada
urusan Lagi kalau aku tidak mau tukar "
Dalam pada itu si tukang kuda sudah datang menghampiri,
"Bagus, pedang ada pedangmu dan kuda ada kudaku.
Kalau aku mau tukar, kau bisa apa adik kecil. Hahaha "
Kiranya si tukang kuda ada "cabang atas" {jagoan) juga
dalam kota Kunhoa itu. Makanya begitu temberang dan mau
berbuat sewenang-wenang. Pasar kuda yang tadi ramai lantas
berubah sepi ketika melihat si tukang kuda bertengka dengan
anak muda.
"Mungkin kau orang baru datang, maka aku perkenalkan
padamu. Aku adalah Hek-him Toan Ceng, murid kelima Tiat-ci
Hweshio dari Thian-ong-bio. Hahaha Kau boleh tanya orang,
siapa Hek-him Toan Ceng, adik kecil"
Dengan memperkenalkan namanya Hek-him Toan ceng (si
Beruang Hitam) dan gurunya Tiat-ci Hweshio, si Pendeta jari
Besi, orang itu mengira In Hiang bakal gemetaran badannya
seketika. Tidak tahunya In Hiang malah ketawa meniru
terbahak-bahaknya si Beruang Hitam tadi hingga Hek-him
Toan ceng jadi mendelik matanya karena gusar ketawanya
di"ciplok" oleh In Hiang, si anak muda yang cakap ganteng.
"Binatang, kau mau main gila dengan Hgo Toaya (Tuan
besar kelima) ?" bentaknya nyaring.
"Aku kurang paham." ngeledek In Hiang
."Kau sebenarnya mau apa ?"
"Lepas pedangmu Baru kau boleh berlalu dari sini"
"Lepas kudamu Baru kau boleh pergi dari sini"
Dari suaranya yang tegas ngeledek lawan, terang jago
betina kita mulai naik pitam menghadapi Hek-him Toan ceng
yang mencari gara-gara.
"Anak kurang ajar, berani kau ngeledek Ngo Toaya ?"
"Tua bangka kurang ajar, berani kau mengganggu Siauya
?"
Digodai begitu, si Beruang Hitam menjadi sangat gusar.
Dalam katanya, jangan lagi ia digodai begitu, orang
memandang mukanya lamaan dikit, ia pelototi lantas lari sipat
kuping ketakutan. Tidak pernah sebelumnya ia hadapi pemuda
yang demikian berani. Dalam gusarnya ia hunus goloknya
yang berat dan berkata,
"Anak muda, aku sayangkan mukamu yang cakap
mendapat tanda dari golokku Tapi, apa boleh buat "
"sret " In Hiang mencabut pedangnya lalu menjawab,
" orang tua, aku sayangkan daun kupingmu bakal hilang
sebelah gara-gara pedangku Tapi, apa boleh buat "
Betul-betul menjengkelkan kata-kata sambutan In Hiang
hingga si Beruang Hitam hilang sabar dan lantas saja
menyerang dengan jurus 'Hek-him-pay-yang' atau 'Beruang
hitam menyembah matahari'- Golok mula-mula diputar, terus
menusuk dada, tapi setengah jalan tusukan berubah arah
mengarah perut, sungguh hebat serangan kombinasi dari si
Beruang Hitam. Pantasan namanya ditakuti oleh kawan dan
lawan dalam kotanya.
In Hiang kaget juga nampak serangan si Beruang Hitam
yang berubah arah cepat sekali. Baiknya ia sudah dapat
gemblengan guru ciliknya yang sakti. Pedangnya yang
dilintangkan tadi untuk menangkis serangan tusukan golik ke
dada, sudah lantas berubah arah juga menekan golok lawan
yang nyelonong ke perutnya.
Dua senjata jadi melekat satu sama lain. Hek-him TOan
ceng coba tarik pulang goloknya yang ditindih pedangnya In
Hiang, tapi gagal, Golok seperti melengket dan tekanan
pedang dirasakan sangat berat, Ia kerahkan lwekangnya,juga
sia-sia saja ia menarik pulang goloknya hingga ia
mengeluarkan peluh dingin.
Ia tak menduga bahwa lawan yang muda belia itu
mempunyai tenaga dalam yang hebat. Matanya mendelik ke
arah In Hiang yang sedang mentertawakannya yang tidak
becus membebaskan goloknya yang ditindih pedangnya.
Tiba-tiba saja In Hiang menggentak pedangnya terlepas
menyusul dengan kecepatan kilat pedang menabas dari
bawah ke atas, sembari memegangi telinganya yang kiri yang
sudah hilang daunnya.
Itulah In Hiang menggunakanjurusnya yang indah sekali
yang dinamakan 'Liu-sui-pian-lou' atau "Air mengalir berubah
arah" hingga si Beruang Hitam dirugikan, daun telinganya
disuruh istirahat di tanah.
Dalam murka si Beruang Hitam lupa bahwa lawannya itu
bukan tandingannya, Ia menerjang seperti yang kerangsokan
setan, Golok besarnya membabat pinggang In Hiang tetapi
telah dielaknya dengan lompat mundur dua langkah- Hek-him
Toan ceng merangsek, goloknya sekarang menebas dari atas
ke bawah pada bahu lawan, In Hiang tahu bahayanya
serangan itu. Cepat ia tangkis golok dengan keras dari bawah
ke atas. Trang ", suara senjata beradu, seketika tampak Toan
ceng berdiri melongo sambil pegangi goloknya yang sudah
kutung bagian tengahnya.
sungguh tajam pedang In Hiang yang ia dapatkan dari si
Toako "sip-sam-siau-mo".
Dengan golok utuh Toan ceng tidak bisa apa-apa, maka
sekarang goloknya sudah buntung, apa ia bisa bikin terhadap
In Hiang yang jauh lebih tinggi kepandaiannya. Maka, Hek-him
Toan ceng sudah melemparkan golok buntungnya lalu jalan
ngeloyor meninggalkan In Hiang.
"Hei, kudamu ini, apa kau kelupaan ?" teriak In Hiang.
si Beruang Hitam menoleh- Ia berkata,
"Kau sudah menang, ambillah "
setelah berkata, si Beruang Hitam lantas putar tubuhnya
lagi dan berlalu dengan cepat hingga In Hiang melongo
dibuatnya karena ia tak menduga kemenangannya barusan
diberi hadiah kuda jempolan yang lengkap dengan pelananya.
sambil masukkan pedang pada sarungnya pula, In Hiang
menghampiri kuda hadiah Hek-him Toan Ceng. Ia mengusapusap
dan tepuk-tepuk lehernya kuda itu dengan sikap sayang.
Kuda itu bebenger, kepalanya diangguk-anggukkan dan kaki
depan yang kanan digaruk-garuk ke tanah seolah-olah
menyuruh si nona lekas naik di punggungnya untuk berlalu
dari tempat berbahaya itu. sayang In Hiang tak mengerti akan
"kode" si kuda cerdik itu. Ia terus mengusap-usap dengan
penuh rasa sayang.
In Hiang memandang sekitarnya, ternyata sudah sepi-
Hampir tidak ada kelihatan satu orang juga. Pikirnya, apakah
disitu biasanya begitu kalau ada orang bertempur ? Pada
ketakutan lari atau masing-masing menutup pintu rumahnya ?
Ia ketawa geli- Baru saja ia menyemplak kudanya, tiba-tiba
dari jauh terdengar bentakan nyaring,
"Anak muda, jangan pergi dulu- Tunggu, tunggu "
sebentar saja orang yang berteriak-teriak tadi sudah ada
dihadapannya-
Kiranya ia ada Hek-him Toan ceng yang diantar oleh empat
kawannya, satu orang biasa dan tiga hweshio masih mudamuda.
Mereka adalah saudara seperguruan dengan Hek-him
Toan Ceng.
Ketika si Beruang Hitam berlalu daripada suhunya Tiat-ci
Hweshio bahwa ia sudah dikalahkan musuh dan minta sang
guru membalaskan sakit hatinya agar pamornya dalam kota
Kunhoa tidak jatuh.
Letaknya Thian-ong-biojauh diluar kota, bagaimana ia bisa
mencapai ke sana sementara musuhnya belum meninggalkan
kota. Ini adalah urusan yang memusingkan kepalanya.
Mendadak ia jadi kegirangan ketika bertemu dengan sisuhengnya
(kakak ke-4) yang bernama Leng Hian yang
mengatakan bahwa Toa-suheng,ji-suheng dan sam-suheng
(kakak ke-i, ke-3 dan ke-2) ada dalam kota sedang
menjalankan tugas memungut derma.
Cepat-cepat Toan ceng ajak Leng Hian untuk menemui tiga
saudara tuanya yang waktu itu sedang beristirahat dalam kuil
cabang Thian-ong-bio. Kepada 3 saudara tuanya, Toa Ceng
melapor tentang pertempurannya dengan seorang muda yan
dikalahkan. Tentu saja dalam laporan itu ia kasih bumbu yang
bukan-bukan supaya tiga saudara tuanya menjadi panas
hatinya, sedang kelakuannya hendak memeras In Hiang, ia
tidak sebut-sebut.
Begitu berhadapan dengan In Hiang, siBeruang Hitam
berkata pada Hweshio muda yang kepalanya gede, umurnya
kira-kira 50 tahun.
"Toa-suheng, dia ini yang merampas kuda kita. Aku sudah
cukup mempertahankan jangan sampai kena dirampas, nyata
tidak berhasil lantaran bocah ini menggunakan pedang pusaka
"
si Hweshio kepala gede lantas saja marah, ia membentak.
"Binatang, kau berani merampas orang punya kuda
mentang-mentang kau ada punya pedang pusaka ?"
In Hiang jadi melongo mendengar omongannya Toan Ceng,
kemudian disusul oleh makian si Hweshio kepala gede yang
tidak mengetahui ujung pangkalnya.
"Hai, Beruang Hitam " kata In Hiang nyaring, suara
wanitanya lenyap karena ia sudah melatih suara pria dalam
penyaruannya.
"Kenapa kau jadi ngaco belo ? Bukankah kau sudah
hadiahkan kudamu lantaran kau kalah berkelahi ? Kenapa
sekarang kau menuduh aku merampasnya ? Kau kira no....oh
tuan mudamu boleh kau permainkan"
In Hiang keseleo lidahnya, barusan hampir ia mengatakan
"nonamu", baru sampai di "no..." untung ia ingat, lantas dia
ganti dengan "tuan mudamu".
"Ah, anak kecil, kau jangan banyak lagak- Lekas
kembalikan kudaku dan terima hukumanku rangket 10 kali,
baru kau dapat ampun meninggalkan tempat ini" kata Hek-him
Toan Ceng, pulih lagi kesombongannya yang sudah.
In Hiang menjadi gusar, sebelum ia balas memaki, tiba-tiba
saja dua Hweshio dan Leng Hiang sudah menyergap di diatas
kuda. In Hiang tidak kasihkan dirinya disergap. Dengan
meminjam injakan pelana, ia enjot tubuhnya terbang dan
meluncur turun kira jarak 4 meter dari mereka-
"srett " ia mencabut pedangnya dan siap untuk bertempur.
"oo, kau mau main pedang ? Hehe " ketawa Toasuhengnya
Toan ciang.
"sam-suheng, coba kasih pinjam golokmu. Aku mau jajal
dia sampai dimana dapat menggunakan pedang pusakanya."
Berbareng Hek sam suheng sudah menyodorkan goloknya.
girang hatinya Toan Ceng, Toa-suhengnya akan bergebrak
sebab ia yakin 100 persen Toa-suhengnya akan menang
diatas angin, pikirnya, mungkin hanya 5 jurus saja si pemuda
bakal sudah terjungkal. Pedang tajamnya akan ia miliki,
apabila si pemuda dirobohkan.
"Kepala gundul, hanya buang tempo saja siaoya mu
melayani kau seorang, sebaiknya maju semua Dan kau, hei.
Beruang Hitam, mau sekalian" tantang In Hiang.
si Hweshio kepala gede bukan main panas hatinya
diremehkan oleh pemuda yang tidak ada apa-apanya untuk
ditakuti-
"Jangan sombong, terima dulu golok Taysu " bentaknya
dan konta menerjang In Hiang hingga mereka jadi bertempur.
Dalam pada itu, Hek-him Toan cenng anjurkan pada
saudara-saudaranya untuk mencari Genggaman untuk
mengeroyok In Hiang apabila Toa-suhengnya keteter.
sebentar saja mereka sudah siap, dua Hweshio pada
pegang pikulan, Toan ceng golok sedang Leng Hian sebatang
besi yang merupakan toya panjang.
Persiapan mereka memang diperlukan sebab sebentar lagi
kelihatan benar-benar Toa-suheng mereka telah keteter,
hanya dibikin pembelaan saja dengan goloknya, tidak
kelihatan membalas menyerang. Mereka kuatir akan Toasuhengnya
dilukai si pemuda, maka dengan serentak mereka
sudah turun tangan mengeroyok In Hiang.
"Bagus, semua sudah turun" seru In Hiang, suaranya
seperti kegirangan.
Kepandaiannya murid-murid Tiat-ci Hweshio memang
bukannya rendah, apalagi mereka berlima bergabung
mengeroyok lawannya, terang telah membuat lawannya repot
bukan main.
Dalam kerepotannya In Hiang menjadi naik pitam. Tadinya
bermaksud hanya untuk main-main saja melayani mereka dan
mengasih hajaran satu demi satu. Tapi setelah ia merasakan
tekanan berat juga dan mereka kelihatan menyerang dengan
telengas seolah-olah menginginkan jiwanya, pikirannya jadi
berubah dan hendak balas menyerang dengan kejam
"Awas " seru In Hiang lalu disusul dengan suara "sret sret1
beberapa kali. Tampak senjata lawan saling susul berjatuhan
di tanah dibarengi dengan suara jeritan kesakitan. Dalam
beberapa detik saja, pedang pusaka In Hiang sudah
mengambil lima korban sekaligus, si Hweshio kepala gede,
kutung lengannya sebatas sikut, dua Hweshio lainnya
mendapat tusukan di masing-masing bahunya, Leng Hian
copot tangan kanannya sebatas pergelangan dan paling
menderita adalah siBeruang Hitam, kecuali lengan kanannya
terpapas kutung sebatas pundak, dadanya juga memancarkan
darah segar bekas ujung pedang bertamu ke situ. Hek-him
Toan ceng sudah tak ketolongan jiwanya karena setelah
terkulai roboh, ia sudah lantas menarik napasnya yang
penghabisan.
ciut nyalinya 4 saudaranya Toan ceng. seketika itu juga
mereka sudah pada lari meninggalkan si Beruang Hitam yang
sudah menjadi bangkai.
Demikian adalah jalannya nasib Dasar si Beruang Hitam
mesti mati di ujung pedangnya In Hiang yang sebenarnya bila
ia tidak kembali lagi, tentu jiwanya tidak melayang.
setelah membikin bersih pedangnya, In Hiang masukkan
kembali pedang ke dalam sarungnya.
Keadaan tempat itu jadi bertambah sepi dari sebelumnya si
Beruang Hitam menemukan ajalnya, tidak seorang manusia
tampak menongolkan kepalanya.
In Hiang menghampiri kudanya, lalu menyemplaknya.
Dengan beberapa tepukan pada lehernya si merah sudah
lantas angkat kakinya untuk bawa In Hiang ke arah selatan.
sekarang kita kembali pada Lo In, kemana sebenarnya ia
dibawa kabur kudanya hingga membuat enci Liannya mewek
kehilangan jejaknya.
Dasar anak besar nyalinya dan nakal berandalan, Lo In
dibawa kabur kudanya demikian rupa bukannya takut malah
berkikikan ketawa di atas kudanya, Ia biarkan kudanya
membawa dirinya. Pikirnya, sampai dimana sih kekuatan
tenaga kuda. Biarka ia lari sampai napasnya habis sendirinya,
setempe ia berpaling ke belakang dan melihat enci Liannya
sedang menyusul dengan cepatnya, cambuk lantas dikerjakan
supaya sang kuda bawa dirinya lebih kencang meninggalkan
encinya. Diam-diam hatinya geli, ketika nampak ke belakang
tidak kelihatan bayangan Eng Lian menyusul.
Pikirnya, sang enci tentu gelabakan mencari jejaknya yang
hilang. Tapi, biarlah sebentar ia akan kembali untuk menerima
hukuman "cubitan" sang enci karena perbuatannya yang
sudah membuat encinya kebingungan.
Lo In berpikir demikian, tapi ia lupa sudah berapa jauh la
dibawa sang kuda- Dan kudanya, apakah masih bisa
membawa ia kembali, yang napasnya sekarang sudah
kempas kempis kecapaian lantaran kehabisan tenaga-
Tampak kuda Lo In tiba-tiba menekuk lututnya dan mendeprok
tak dapat jalan.
Dasar anak kecil, tidak memikirkan akan keadaan sang
kuda yang setengah mampus. Ketika ia lompat turun dari
pelana malah ia menanya,
"Hei, kenapa kau berhenti? gara- gara kau, sebentar enciku
akan datang menyusul nanti"
Dalam pada itu, Lo In merasa lapar. Rupanya tadi diatas
kuda banyak terkocok perutnya, Ia lalu meninggalkan
kudanya, mencari buah-buahan di sekitar situ untuk mengisi
perutnya, senang ia rupanya berkeliaran di tempat itu yang
mengingatkan ia kepada lembah TOng-hong-gay yang sudah
lama ia tinggalkan. Di tempat itu ia dapat bergaul dengan
kawanan monyet.
Lantaran ia mengerti dan bisa berbicara bahasa kera, maka
dalam tempo pendek saja ia sudah dikerubungi oleh banyak
kawanan kera- Lo In minta dipetikkan buah-buahan yang lezat.
Dalam tempo pendek- banyak kera berdatangan dengan
masing-masing membawa persembahannya berupa buahbuah
yang lezat.
selama menggayang (menguyah) bebuahan, Lo In
terkenang akan Eng Lian. pikirnya, kalau disampingnya saat
itu ada Eng Lian bagaimana senang hatinya mereka
dikerubungi oleh kawanan kera seperti di lembah Tong-honggay.
Tiba-tiba kawanan monyet itu bubar sambil cetcowetan.
Lo In mengerti ada orang yang datang tapi ia tidak bergerak
dari duduknya seperti tidak tahu apa-apa. sementara kawanan
monyet ramai cetcowetan, seolah-olah yang menganjurkan
supaya Lo In lekas meninggalkan tempat itu, ada kedatangan
orang asing ke situ
Tapi Lo In dalam bahasa kera menjawab bahwa ia tidak
takut dan suruh kawan-kawannya berlaku tenang-tenang saja
karena itu kawanan kera itu tidak ramai lagi cetcowetan.
sebentar lagi, benar saja ada tiga orang datang
denganjalans sempoyongan seperti orang mabuk arak- Lo In
lihat dari kejauhan usia mereka rata-rata sudah lewat
setengah abad, masing-masing membawa senjata pedang
dan badannya kokoh kuat. Rupanya mereka itu jago jago silat
kelas wahid- Yang mengherankan Lo In, kenapa mereka jalan
sempoyongan seperti kehilangan tenaga.
Kira-kira jarak tiga tombak dari Lo In duduk, mereka tidak
lihat adanya si bocah disitu sebab kealangan pohon, mereka
telah jatuh duduk mendeprok di tanah, satu diantaranya malah
lantas merebahkan diri
"Sungguh berbahaya, sungguh berbahaya sekali."
tiba-tiba Lo In dengar satu diantaranya dari tiga orang itu
berkata. Lalu melanjutkan,
"Toako sudah pesan kita hati-hati, agar kita sebelum
mendekati gua menelan dulu pil penahan serangan racun
ternyata tidak ada faedahnya. Tetap kita dirugikan. Hawa
racun sangat jahat, siapa yang bisa masuk ke dalam gua
angker itu."
"ya, kalau dilihat begitu jahat hawa racunnya sampai
banyak para jago Bu-lim bergelimpangan menemukan ajalnya,
siapa orangnya yang bisa dapatkan It-sin-keng yagn sangat
diidam-idamkan oleh setiap orang."
demikian Lo In mendengar percakapan mereka. Terdengar
beberapa kali elahan napas.
Lebih jauh Lo In dapat dengar tanya jawab dua orang itu
berikut:
"samko, apa sih isinya It-sin-keng sampai jago jago berani
berkorban untuk mendapatkannya ? Keterlaluan, aku ngeri
melihatnya orang-orang pada gelimpangan mati di depan gua
ular yang menghembuskan hawa racun itu-"
"Menurut kata toako, It-sin-keng adalah kitab sakti yang
memuat lima pelajaran meyakinkan Iwekang, ilmu pedang,
pukulan tangan kosong, ginkang (imu entengi tubuh) dan caracara
memusnahkan serangan lawan yang bagaimana tinggi
pun ilmunya."
"Tapi samko, kita sudah meyakinkan Iwekang, ilmu pedang
dan lain-lain mencakup semua isinya It-sin-keng. Apa gunanya
kita mesti pertaruhkan jiwa untuk mendapatkan kitab sakti itu
?"
"Ha ha, Ngote, kau terlalu meremehkan kitab mujizat itu.
Isinya sudah tentu lain dari pada yang lain. Kalau orang
memiliki kitab itu dan dia dapat meyakinkan isinya sampai
mahir, orang itu akan menjadi sakti dan malang melintang di
kalangan Kangouw tanpa tandingan. Makanya, tidak ada jagojago
persilatan yang tidak menghendakinya "
(Bersambung)
Jilid 13
"Ah, Samko. Apa itu berkelebihan ? Coba kau terangkan
salah satu pelajarannya yang maha sakti. Tentu kau sudah
dapat keterangan dari toako."
"Makanya aku berani pertaruhkan jiwa karena ketarik oleh
perkataan toako. Katanya Iwekang dari kitab mujizat dapat
menyedot Iwekang lawan, ginkangnya sudah jangan ditanya
mujizatnya lagi, dapat membuat kabur penglihatan musuh dan
menghilang tanpa bayangan. Ilmu pukulan tangan kosong
hebatnya bukan main, ilmu pedangnya hanya mencakup lima
jurus saja, tapi cukup untuk menghadapi lawan yang
bagaimana tangguh ilmu pedangnya- Lawan tak dapat lewat
dari lima jurus sudah terjungkal. Entah bagaimana dengan
pelajaran cara-cara memusnahkan serangan lawan yang
mahasakti yang terdapat dalam It-sin-keng. Kata toako,
kemujizatannya sudah jangan ditanya lagi" Lalu terdengar
elahan napas saling bergantian.
"Sayang kita tidak punya jodoh untuk mendapatkannya.
Kalau tidak, dengan memiliki kitab mujizat itu Cit-seng-pay
(partai 7 bintang) bakal menjagoi diantara partai-partai lain
termasuk Siauw-lim-pay dan Bu-tong-pay yang sangat
kesohor itu."
Lalu terdengar yang diajak bicara menghela napas panjang.
"Ngote, bagaimana keadaan Lakte ? Apa dia sudah bisa
jalan lagi ?"
"Oh, oh, Samko, kau lihat Lakte sudah tidak ada napasnya "
Lalu terdengar suara menangis. Rupanya dua orang itu
sedang menangisi saudaranya yang telah putus jiwanya,
korban hawa racun yang jahat.
Lo In dalam pada itu diam saja duduk mendengarkan tanya
jawab mereka. Dalam hatinya sangat ketarik dengan
pengalaman mereka, Ia sudah mempunyai kepandaian sangat
tinggi. Pikirnya, tidak perlu ia dengan It-sin-keng segala.
Hanya ia ingin lihat isinya, bagaimana macam sampai
menggemparkan dan banyak jago-jago ingin mendapatkannya
tanpa menghiraukan jiwanya lagi. untuk mendapatkan kitab
itu, apakah ia juga harus mati ? Dalam hati kecilnya menanya.
"samko, It-sin-keng itu asalnya dari mana ?" tiba-tiba Lo In
mendengar pula orang bicara.
"Menurut toako, kitab sakti itu ditulis oleh seorang hweshio
angkatan tua dari siauw-lim-sipada 100 tahun yang lalu. Dia
telah mengasingkan diri dalam gua yang berbahaya itu
dengan ditemani oleh seekor ular besar yang dapat menelan
manusia-"
"Mungkinkah hweshio itu masih hidup sekarang ?"
"Rasanya tidak mungkin. Karena tatkala itu dia
mengasingkan diri umurnya sudah mencapai 70 tahun. Tapi
mungkin ularnya belum mati dan menjagai kerangka si
hweshio dengan kitab mujizatnya. Rasanya tidak ada orang
yang mampu datang dekat pada gua pertapaannya si hweshio,
apalagi mau mendekatinya. Kau saksikan sendiri, di dalam
jarak dua tombak, orang masih dicabut nyawanya oleh hawa
racun yang dihembuskan dari mulut gua. sekarang, marilah
kita tanam mayatnya Lakte-"
"Mari, tapi— aduh Kepalaku pusing, samko......"
Lo In lihat orang yang berteriak aduh tadi telah merebahkan
diri dekat mayat temannya, sedang yang satunya jadi
kebingungan dan menggoyang-goyang lengannya orang yang
barusan merebahkan diri, sambil berkata,
"Ngote, Ngote, kau kenapa ? Ai, kau juga turut Lakte
meninggalkan aku sendirian. Ah, bagaimana ini.........?"
Lo In tidak tega hanya duduk menonton saja orang sedang
dalam kesusahan. Maka seketika itu ia bangkit dari duduknya
dan menghampiri mereka.
Orang itu sedang repot gegerungan menangisi saudaranya
yang mati hingga tidak tahu kalau Lo In sudah berdiri di
depannya hingga ia sangat kaget ketika Lo In berkata,
"Lopek, maaf aku anak kecil mengganggu kau dalam
kesusahan. Dapatkah barangkali aku menolongnya"
Orang itu tidak menyahut, sebaliknya memandang Lo In
dari atas sampai ke bawah dan sebaliknya, Ia lihat yang
datang hanya satu bocah berwajah hitam, apa artinya
pertolongannya ? Cuma saja, barusan Lo In omong perlahan
tapi terdengar mengiang tegas dalam telinganya, orang itu
terkejut juga dalam hatinya.
Biar bagaimana, melihat si bocah tidak ada apa-apanya
yang aneh, orang itu tidak percaya si bocah ada mempunyai
Iwekang yang tinggi, Ia menanya,
"Anak kecil, dengan siapa kau ada disini ? sebaiknya kau
lekas-lekas pergi dari sini sebab disini tempat yang berbahaya,
Sayang kalau kau nanti mati konyol "
"Lopek, kematian itu sudah takdir- Dimana juga kalau mau
mati, orang tak dapat menghindarkan kematiannya. Buat apa
ditakuti ?" jawab Lo In ketawa nyengir.
"Hahaha " orang itu tertawa gelak-gelak tapi mendadak ia
hentikan ketawanya dan matanya menatap Lo In dengan tajam
lalu berkata,
"Kau, kau.......Hek bin-sin-tong "
Orang itu menganggap Lo In sangat lucu telah
mengucapkan kata-kata sebagai kakek yang memberi petuah-
Dalam ketawanya tergelak-gelaknya, tiba-tiba ia ingat akan
cerita toakonya bahwa dalam dunia Kangouw ada muncul satu
anak yang kepandaiannya susah diukur, maka seketika itu
juga ia hentikan ketawanya dan menatap tajam pada Lo In.
"Itu hanyalah julukan kosong saja, Lopek-" kata Lo In ketika
melihat orang itu memandangnya dengan mata tak berkedip-
"Aku anak kecil bisa apa ?"
"Tapi siaohiap, apa kau datang juga buat urusan klta
mujizat ?" tanya orang itu kepingin tahu, seraya matanya terus
mengawasi Lo In.
"sama sekali aku tidak bermaksud ke situ. Aku sampai
disini dibawa kabur oleh kudaku, soal It-sin-keng baru aku
dengar ketika Lopek sedang bercakap-cakap dengan teman
Lopek-
"Oo, kau jadi mendengarkan apa yang kita percakapkan ?"
tanya orang itu.
"Aku hanya mendengar dengan cara kebetulan, bukan
sengaja mencuri dengar-"
"Kau mendengar dengan cara kebetulan atau mencuri
dengar, tidak menjadi soal bagiku. Hanya aku nasehatkan kau
jangan pergi ke sana. Aku ikut menyayangkan kepandaianmu
yang tinggi akan menemukan kematian yang sia-sia."
"Terima kasihi Lopek" sahut Lo In.
"Lebih baik aku pulang mencari enci Lianku dari pada pergi
ke gua yang seram itu."
"Siapa itu enci Lian yang kau sebut barusan ?"
"Dia ada teman mainku. Mungkin sekarang dia sedang
gelabakan mencari aku yang barusan aku tinggalkan jauh di
belakang kudaku."
Mendengar jawaban Lo In yang kekanak-kanakan, diamdiam
orang itu geli dalam hatinya-
Ia yang tadinya memanggil siaohiap (pendekar cilik),
sekarang dirubah menjadi "adik kecil", panggilan mana
memang sangat disuka oleh si bocah daripada siaohiap
"Adik kecil, mungkin aku juga tidak bisa pulang lagi ke
rumah- Maka aku ingin menuturkan sesuatu dan minta
pertolonganmu- Apa kau kau suka dengar?"
"Tentu, tentu aku senang mendengar Lopek cerita-" kata Lo
In kontan.
Orang itu ketawa mesem. Lalu ia mulai bercerita.
Orang itu bernama Lim Kek Ciang. Dengan enam
kawannya ia membangun partai yang dinamakan cit-seng-pay
(partai 7 bintang) di kota Gukwan, dibawahnya kaki gunung
Hengsan.Berkat usahanya yang sungguh-sungguh dari
saudara itu, maka Cit-seng-pay telah berkembang baik dan
mendapat banyak anggota.
selama memajukan perkumpulannya, tujuh saudara itu
tidak henti-hentinya berusaha untuk mendapatkan kepandaian
lebih tinggi supaya dengan kepandaian yang tinggi mereka
dapat memimpin partainya sebanding dengan partai-partai
besar seperti siauw Lim dan Bu Tong.
Mendadak dalam waktu belakangan ini ada tersiar kabar
tentang adanya It-sin-keng. Barang siapa yang mendapatkan
akan menjadi jago tak terkalahkan. Mereka lalu berunding
untuk mendapatkanya- Mereka tahu akan bahayanya orang
yang pergi ke sana (gua ular), sudah banyak yang mati, akan
tetapi mereka ambil keputusan untuk mencoba-coba pergijuga
dengan melihat gelagat.
Maka oleh toako dari Cit-seng-pay telah diutus tiga
saudaranya yang berkepandaian tinggi dan cerdik, ialah Lim
Kek Ciang, Tan Liong Ho dan cia Kiang. Dalam partai, mereka
menjabat pemimpin ketiga, kelima dan keenam.
Ketika mereka sampai di sin-coa-tong (gua ular sakti),
nampak sudah banyak mayat yang terkapar di depan gua.
Mereka yang sudah menjadi mayat itu termasuk dalam
lingkaran satu tombak jauhnya dari mulut gua, sedang yang
dalam lingkaran dua tombak masih ada kedapatan yang masih
belum putus jiwanya. Melihat mereka sangat kasihan sekali,
dan megap-megap seperti hendak putus jiwanya.
Diantara mereka yang dalam keadaan menyedihkan itu,
Kek Ciang dapat lihat ada yang ia kenali, ialah salah satu tocu
dari Ceng-gee-pang.
Kek ciang dan dua saudaranya menghampiri. Apa mau,
belum mereka sempat mengulurkan tangannya menarik sang
kenalan dari daerah kematian, mereka sudah dihantam oleh
hawa racun hingga sempoyongan mundur buat kemudian
jatuh duduk
syukur mereka sudah menelan pil penahan racun terlebih
dahulu hingga mereka tidak sampai menjadi korban seperti
Tocu dari Ceng-gee-pang tadi-
Mereka jadi ketakutan dan Kek Ciang ajak dua saudaranya
untuk pulang kembali saja. Ia tak sanggup mengemban tugas
yang dibebankan toakonya. Dengan susah payah mereka
dapat bangun dari duduknya. Mereka jalan sambil
berpegangan satu dengan lain lantaran kakinya lemas.
sebenarnya mereka ingin mengaso lama-lamaan tidak jauh
dari tempat berbahaya, akan tetapi mereka takut masih akan
kena hawa racunjuga. Maka dengan paksakan diri mereka
meneruskan perjalanannya.
Demikianlah, sampailah mereka di tempat yang Lo In
sedang duduk menikmati buah persembahan dari kawanan
kera.
setelah habis menutu, Kek ciang berkata pada Lo In,
"Adik kecil, aku merasakan diriku juga bakal menyusul
arwahnya dua saudaraku, maka aku minta tolong kalau aku
mati, kau tolong kuburkan satu lubang dengan dua
saudaraku."
" Ah, jangan kata begitu, Lopek-" menghibur Lo In ketika
tampak orang kelihatan cemas dan ketakutan.
" Lopek masih kuat-kuat saja. Marilah kita kubur dua
saudara Lopke yang telah meninggal dunia."
"Adik kecil, tolong kau nanti ketemuka toako dan laporkan
kejadian disini. Toako akan percaya dengan keteranganmu
manakala dia sudah melihat pedangku ini. Nah, tolong kau
simpankan pedang....ku. Ah, kepala......ku.... be........"
Terputus-putus kata-katanya Kek Ciang, sementara itu
badannya juga sudah terkulai roboh dan ketika Lo In periksa
ternyata Kek Ciang sudah tidak ada nyawanya lagi. Lo In
merasa terharu juga akan kematian tiga jago dari Cit-seng-pay
itu.
Untuk memenuhi permintaannya Kek Ciang, benar Lo In
sudah mengubur Kek Ciang bertiga dalam satu lobang yang ia
gali dibantu oleh kawanan kera.
setelah mana ia gantang pedang Kek Ciang di pinggangnya
untuk kemudian ia serahkan kepada toako dari Cit-seng-pay
beserta laporannya-
Lo In setelah beres mengadakan upacara penguburan,
tidak lantas meninggalkan tempat itu, hanya ia melamun
duduk di bawah pohon tadi mengganyang bebuahan.
Pikirannya melayang-layang. Dimana adanya Liok Sinshe,
Kwee Cu Gie dan ibunya, ia tidak tahu. yang ia tahu bahwa
dirinya sebatang kara. Ia belum mencicipkan kesayangannya
seorang ayah, seorang ibu yang lahirkan ia ke dunia, yang
pertama-tama ia rasakan hangat adalah kecintaannya Liok
sinshe- Tapi dimanakah Liok sinshe sekarang berada ?
Kemudian Eng Lian, teman mainnya yang ia ketemukan dalam
lembah, ada sangat memperhatikan dirinya, lalu Bwee Hiang
yang ia ketemukan di Kun hiang baik sekali terhadap
dirinyasekarang,
dimanakah kedua kedua enci yang baik hati itu ?
Ia merasa bahwa dirinya adalah anak "buang-buangan".
Kalau ia mati, paling-paling juga enci Lian dan enci Hiangnya
yang akan menangisi dirinya. Maka itu timbullah keinginannya
untuk spekulasi dengan dirinya, mencoba memasuki sin-coatong
yang sudah banyak meminta korban jiwasebagai
anak kecil yang belum pernah mengalami bahaya,
si bocah wajah hitam malah kegirangan setelah timbul
pikirannya akan pergi ke sin-coa-tong. Ia lalu kumpulkan
kawanan kera dan menanyakan dimana letaknya sin-coa-tong.
Tampak kawanan monyet itu ramai cecowetan seperti
ketakutan lagaknya. Memang juga mereka ketakutan dan
membujuk Lo In supaya jangan ke sana.
Dengan sabar Lo In balik membujuk kawanan kera itu
supaya jangan takut, Ia mempunyai daya untuk mengatasi
bahaya, untuk membikin kawanan monyet itu lebih percaya
lagi, Lo In tidak segan-segan mempertunjukkan dua tiga
macam kepandaiannya yang menakjubkan seperti berdiri
diatas ranting pohon, tubuhnya mencolot ke atas macam roket
setelah lebih dahulu berputar, lalu lengan bajunya mengebas
ke batang pohon hingga pohon itu tumbang. Melihat
kepandaian itu, semua kera memberi sambutan yang gemuruh
saking merasa kagum dan mereka percaya akan
kepandaiannya si bocah cilik.
Dengan girang, kawanan monyet itu mengantar Lo In ke
sin-coa-tong di lembah "Sian-jin-gay" (Jurang Dewa).
Kiranya untuk sampai ke sana, Lo In harus menempuh
jalanan yang bulak biluk dan beberapa kali menemukan
jalanan sempit yang hanya dapat dilalui oleh satu orang saja.
Makin dekat pada gua ular keadaannya makin menyeramkan
dan Lo In sampai di sin-coa-tong hari sudah mulai sore-
Kawanan kera hanya berani mengantar sampai jarak empat
lima tombak dari gua ular dan setelah memberi beberapa
petunjuk pada Lo In, mereka lantas pada bubaran seperti
ketakutan.
Perlahan-lahan Lo In mendekati sin-coa-tong. Keadaan
memang seram, disekitar gua hingga dua tombak, banyak
pepoNonan dan ada pohon yang mereyot demikian rupa
hingga menutupi mulut gua. sepintas lalu saja, orang tidak
akan tahu kalau disitu ada mulut gua yang angker dan banyak
meminta korban.
Dari jarak tiga tombak, Lo In sudah melihat adanya banyak
mayat yang terkapar. Malah bukan sedikit yang sudah menjadi
rangka. Lo In jadi menghela napas melihat pemandangan
yang mengerikan itu. semestinya menurut teori, Lo In sudah
harus urungkan niatnya melihat pemandangan yang
menyeramkan itu. Akan tetapi bagi Lo In pemandangan itu
malah makin membesarkan nyalinya untuk memasuki gua
sakti itu.
Dalam hatinya ia berkata, "Liok sinshe, enci Lian dan enci
Hiang, selamat tinggal. Aku akan memasuki gua ular sebagai
tempat kuburanku Jangan kalian menangisi aku sebab dalam
gua aku tidak sendirian, ditemani Lo-cianpwee yang maha
sakti dan ular besar lawannya TOk gan siancu. Hehehe......"
Benar-benar Lo In telah ketawa tatkala hatinya
mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang
sayang kepada dirinya.
Tampak ia berdiri tepekur seperti memohon doa restu dari
yang Maha Kuasa-sementara itu, cuaca juga sudah mulai
remang-remang gelap
Tidak takut ia bersendirian di tempat yang demikian sepi
dan menyeramkan. Perlahan-lahan ia jatuhkan diri untuk
bersila. Matanya mengawasi jauh ke mulut gua.
Tiba-tiba ia ingat sesuatu yang membuat ia seperti kaget.
"Aku mau coba........" demikian ia menggumam sedang
tangannya lantas meraba ke pinggangnya dimana ada
diselipkan sebatang serulingnya, sebentar lagi terdengar suara
seruling mengalun di lembah sunyi itu.
Keadaan sudah menjadi gelap, hanya ada bintang-bintang
saja yang menerangi jagat. Tapi gua terkadang ketutup oleh
mega hitam yang berlalu lalang, jagat berubah menjadi gelap-
Bunyinya serangga dan burung hantu di waktu malam gelap
demikian menambah keseraman dan membuat bulu kuduk
pada mengkirik.
Tapi walaupun malam bertambah larut, Lo In makin senang
meniup serulingnya-
Itu karena sembari meniup seruling, ia mendapat banyak
ilham untuk menciptakan ilmu pukulan yang baru-baru.
sembari meniup serulingnya, ketika sang malam sudah larut,
perlahan-lahan ia berdiri dan lalu berjalan maju ke arah gua
ular.
Ia jalan seperti orang yang ngelindur (mengigau) turun dari
ranjangnya dan berjalan keluar rumah tidak menyadari dirinya
ada dimana.
suara seruling mengalun makin merdu dan mengharukan.
Tiba-tiba dari dalam gua, ada nongol kepala ular yang
besarnya luar biasa. Matanya sebesar kepalan petinju,
menyorot terang seperti lampu bateri yang menyilaukan mata,
membuat Lo In heran tapi tidak kaget. Hatinya tenang dan
berani, terbukti dari jalannya tidak ia hentikan.
Entah bagaimana ular yang luar biasa besarnya itu turun
dari guanya yang dua tombak tingginya dari bawah, sebab
tahu-tahu Lo In lihat ia sudah ada di hadapannya sambil
kepalanya diangkat tinggi-tinggi, lidahnya yang seperti centong
nasi dilelet-lelerkan.
Bukannya takut, malah senang Lo In dengan usahanya
yang berhasil. Makin merdu ia meniup serulingnya, makin
berjingkrakan kelihatan si ular di depannya dan seperti sedang
joget. Padahal, melihat besarnya ular seperti gulungan kasur,
sekali caplok saja si bocah wajah hitam akan ditelan masuk
menjadi penghuni perutnya sang ular. Perlahan-lahan Lo In
maju melewati sang ular dengan masih terus meniup
serulingnya.
Makin mendekati ia kepada gua ular, dibuntuti oleh ular
raksasa itu yang jalan melegot-legot menyeramkan, sampai
dibawah gua, tiba-tiba saja, tanpa mengenjot tubuhnya lagi
tubuh Lo In sudah mencelat ke atas dan hinggap di tepi mulut
gua. Melihat si peniup seruling memasuki guanya, ular
raksasa itu menjadi gugup.
Tampak badannya melegot pergi datang beberapa kali,
tahu-tahu tubuhnya sudah ngapung dan sampai di tepi mulut
gua, sementara Lo In sudah menghilang masuk ke dalamnya,
suara seruling sekarang menggema di dalam sin-coa-tong.
Apakah si ular raksasa akan menelan Lo In yang memasuki
guanya tanpa permisi ?
Tadinya Lo In menduga dalam gua keadaan gelap gulita.
Tapi kenyataannya tidak demikian. Di sebelah dalam ada
penerangan yang cukup- Ketika Lo In memeriksa, ternyata
penerangan itu berasal dari pancaran tiga buah batu mustika
yang digantung disitu.
si ular raksasa juga sudah sampai di dalam, Ia mendekati
Lo In tapi tidak menyerang dan menelan si bocah- sebaliknya
badannya menggelesar bulak balik dikakinya Lo In. Kemudian
ia melingkarkan badannya di depan Lo In setelah lebih dahulu
mengangkat kepalanya seperti memberi hormat.
"Coa-heng (Saudara ular)" tiba-tiba si bocah berkata.
"Terima kasih kau tidak marah aku berkunjung dalam
istanamu tanpa permisi dulu. Aku harap selanjutnya kau akan
menjadi temanku dalam gua ini........."
sekonyong-konyong ular raksasa itu mengangkat
kepalanya dan mendesis keras, hingga rasanya tergetar
dalam gua itu. Lo In ada sedikit kaget, mengira ular raksasa itu
marahi Tapi melihat ia lantas melingkarkan pula kepalanya,
maka Lo In berpikir bahwa perbuatan ular tadi yang
menggetarkan gua itu sebagai tanda pernyataan senangnya
atas kata-katanya tadi.
girang hatinya Lo In. Lantas saja ia memeriksa keadaan
gua disebelah dalam, dimana ia dapatkan kerongkang
(kerangka manusia) dalam sikap duduk bersila. Masih
kedapatan kain yang menempel. Rupanya bekas jubahnya,
tapi sudah sangat amohi Ketika Lo In pegang sudah seperti
debu rasanya.
Di depan kerangka ada tertulis perkataan:
"YANG MASUK KESINI ADALAH MURIDKU- DIA HARUS
MENGUBUR JENAZAHKU "
Setelah membaca tulisan itu, Lo In lantas saja berlutut di
depan kerangka itu dan berkata,
"Suhu, tecu sudah lancang masuk- Harap suhu suka
mengampuni dosa tecu. Mohon diberi petunjuk selanjutnya. "
Bangkit dari berlututnya Lo In lantas memeriksa lebih jauh
tapi tidak kedapatan kitab yang dinamai "It-sin-keng",
meskipun ia sudah mencari kemana dalam gua itu.
Pikirnya, "Tidak apalah kitab itu tak diketemukan. Baiklah
aku mengubur jenasah suhu saja. setelah itu aku baru
meninggalkan pula gua ini" Kemudian ia menggali lubang
dengan medang Lim Kek Ciang.
setelah mana, ia lantas berlutut lagi dan manggut tiga kali,
katanya
"Suhu, tecu akan mengubur jenasah suhu. Harap suhu
memberi petunjuk kepada tecu."
Bangkit dari berlututnya, lantas ia menghampiri kerangka
gurunya dan mengangkatnya untuk dikebumikan. Dengan
penuh hikmat Lo In mengubur kerangka suhunya. Entah siapa
namanya, si bocah tidak mau ambil pusing.
setelah beres dikebumikan, depan kuburan suhunya Lo In
kembali berlutut,
"Suhu, tecu sudah menunaikan tugas, sekarang tecu
mohon diri untuk berlalu......."
Pada saat itulah tiba-tiba Lo In merasakan ada berkesiur
angin yang menumbuk dadanya hingga ia terdorong dan
membentur dinding gua dibelakangnya. Bukan main kagetnya
si bocah- Pikirnya, jago yang mana juga yang Iwekangnya
hebat, tak bakalan dapat mendorongnya sampai membentur
dinding. Apalagi saat itu ia dalam keadaan berlutut. Cuma
herannya, angin yang menumbuk dadanya itu ia rasakan tidak
ada efeknya, pernapasannya berjalan sebagaimana biasanya-
Cuma pantatnya saja sedikit nyeri kebentur gua.
Ia jadi geli sendirinya ketika melihat kesana sini tidak ada
orang asing