Bocah Sakti **

 

Oleh : Wang Yu

Jilid 01

-- 1 --

Itulah malam menyeramkan.........

 

Awan gelap menutupi bulan sisir. Kilat berkeredepan, diselingi

oleh bunyinya guntur seolah-olah malam itu bakal turun hujan

besar.

Dalam suasana yang seram itu, ada terdengar percakapan ini :

"In-ji, malam ini cuaca jelek. Kita tak usah latihan ilmu silat."

"Terserah pada Liok Sinshe. Juga bukankah sinshe lagi sakit?"

"Sungguh terang otakmu, In-ji. Kau bakat menjadi seorang

pandai yang selain mengerti ilmu surat juga silat sekaligus !

Ha ha ha......."

"Terima kasih. Semua ini atas didikan Liok sinshe."

Percakapan ini keluar dari sebuah rumah tua yang mencil

sendirian di atas jurang Tong-hong gay, sebelah barat gunung

Hengsan di propinsi Ouwlam.

Dalam rumah itu yang diterangi dengan dua batang lilin, cukup

terang, tampak duduk menghadapi meja seorang anak kirakira

umur 12 tahun tengah menulis. Tidak jauh dari padanya,

diatas sebuah kursi malas, ada rebah seorang laki-laki dari

usia pertengahan. Kepalanya diikat setangan dan pada kedua

belah pilingannya ada ditempel koyo.

Orang sakit itu yang dipanggil Liok Sinshe, tabib Liok, tiba-tiba

bangun dari rebahannya, jalan menghampiri si anak kecil,

duduk di bangku di depannya.

Anak kecil itu hentikan tulisannya, bangkit dari duduknya,

mendekati Liok sinshe.

"Sinshe lagi sakit, sebaiknya Sinshe rebahan saja." kata si

anak dengan roman aleman.

Liok Sinshe ketawa. Ia pegang kedua tangan si bocah, lalu

ditarik dan dipeluk dengan rupa yang sangat menyayang.

"In-ji..." bisiknya di telinga si anak.

"Ya, Sinshe," jawabnya pelan.

Hening sejenak........

Lama ditunggu, belum juga Liok Sinshe menyambung katakatanya.

Lo In, si anak kecil menjadi heran. Lebih terperanjat

pula di kala ia merasakan pipinya hangat. Itulah air, ketika ia

meraba pipinya.

Dengan pelan ia melepaskan diri dari peluknya Liok sinshe.

Hatinya dirasakan mencelos ketika ia mengawasi Liok Sinshe

bercucuran air mata. Tapi air mukanya tetap bersenyum halus.

Senyuman penuh kesayangan, yang biasa Lo In hadapi

sehari-hari selama ia berkumpul denganLiok Sinshe.

"Liok Sinshe, kau kenapa ?" tanyanya cepat.

"Anak In (In-ji)...." kaat Liok sinshe, tidak lampias suaranya,

"Sebenarnya, malam ini ingin aku menuturkan suatu kisah......."

Baru sampai di perkataan 'kisah', tiba-tiba saja Liok Sinshe

meniup padam api lilin hingga dalam ruangan itu menjadi gelap gulita.

Segera terdengar menyambarnya beberapa senjata rahasia,

disusul oleh suara ketawa : "Ha ha ha, Liok sinshe mau

menutur kisah si bangsat Kwee Cu Gie ! Keluar ! Mari keluar

Liok sinshe, kita bikin perhitungan hutang jiwa dua belas tahun

yang lampau. Ha ha ha, Kwee Cu Gie...... !"

Liok Sinshe dan Lo In saat itu sembunyi di bawah meja hingga

terhindar dari serentetan serangan senjata rahasia musuh

yang dilepas dari jendela. Dalam keadaan biasa, musuh tidak

mudah menyatroni rumahnya, membokong dengan senjata

rahasia. Malam itu rupanya Liok sinshe dipengaruhi oleh

cuaca buruk, membikin kupingnya yang biasanya tajam

menjadi puntul.

"In-ji," bisik Liok sinshe, "Yang datang itu Siauwsan Ngo-ok.

Mereka punya piauw yang direndam racun yang dinamai 'Ngotok

piauw', sangat berbahaya. Juga mereka sangat kejam dan

telengas, maka itu, kalau sebentar aku keluar, harap kau lari

selamatkan diri !"

Si bocah tidak menjawab. Hanya ia pegangi kencang

lengannya Liok sinshe seperti juga ia tidak ijinkan sinshe itu

keluar.

"Liok sinshe, lekas keluar. Apa kau takut ? Hmmm... malam ini

kau harus bayar jiwanya Ngo-te. Kau sembunyi........"

Tiba-tiba dari dalam rumah melesat satu tubuh keluar. Dalam

sekejapan sudah berdiri berhadapan dengan si penantang

yang tidak melanjutkan kata-katanya sampai di perkataan

"sembunyikan......", saking kaget nampak kegesitannya orang itu.

"Aku sudah ada disini, buat apa kau begini bawel ?" kata Liok

sinshe jenaka.

"Bagus, kau harus bayar jiwanya Ngo-te kami !" kata si

penantang.

"Kau ini aneh," sahut Liok sinshe. "Memangnya kau sudah

linglung ?"

Orang itu melengak dikatakan linglung.

Liok Sinshe ketawa geli dalam hatinya, nampak orang itu

melengak heran.

"Sam-ok Cui Seng," menyambung Liok Sinshe, "aku hanya

hutang satu jiwa. Kau masih ngerembengi minta ganti. Sedang

kalian huta pada mereka yang anggauta keluarganya dibunuh,

entah berapa puluh, tidak mau ambil pusing. Apa ini bukannya

linglung perhitunganmu ? Ha ha ha........"

Si Jahat ketiga, Cui Seng mendelu hatinya mendengar katakata

Liok Sinshe, tajam menyindir atas kelakuan mereka yang jahat.

"Sam-to, kekas beresi saja !" teriak Toa-ok Cui Peng (si Jahat no. 1).

"Jangan kasih calon bangkai itu banyak omong !" sambung Jiok

Cui Kin (si jahat ke-2).

Liok Sinshe awas matanya, ia perhatikan sekitarnya. Nyata

selain empat musuhnya yang sudah mengurung, ia dapat lihat

masih ada beberapa orang lagi yang berdiri sedikit jauh dari

mereka.

Kalau tadi ia bersenyum-senyum saja menghadapi empat

lawannya, kini setelah dapat tahu musuhnya ada bawa bala

bantuan, tampak ia kerutkan keningnya.

"Pantas kalian berani datang, kalau kalian bawa bala bantuan"

kata Liok Sinshe jenaka.

Ia sama sekali tidak gentar kelihatannya.

"Hm !" Toa-ok Cui Peng mendengus. "Kau takut ? Aku bisa

kasih kelonggaran padamu. Nah, kau berlutut sekarang,

mengangguk sepuluh kali dihadapan kami kemudian

membunuh diri sendiri. Dengan demikian, kau dapat

selamatkan kematianmu dengan tubuh utuh.........:

"Kentut busuk !" memotong Liok Sinshe. "Dengan turutnya dua

ekor imam busuk dan sebuah kepala gundul bau dalam

keramaian malam ini, apa kalian kira aku tinggal lari ? Kalian

salah hitung, Siauwsan Ngo-ok !"

Suaranya Liok Sinshe dibikin nyaring ketika menyebutkan 'dua

ekor imam busuk' dan 'sebuah kepala gundul', hingga orangorang

yang bersangkutan mendelik matanya saking menahan

amarahnya.

Memang, malam itu kedatangan Siauwsan Ngo-ok (Lima

orang jahat dari gunung Siauw san) dikawal oleh Tiat Cie

Hweshio Hong Hui (si Hweshio Jari besi) dan Tui-Beng Kiam

Siong Leng Tojin (si pedang Pengejar Jiwa) bersama adik

 

seperguruannya, Jin Leng Tojin yang bergelar Pek-houw-kiam

atau si Pedang Macan Putih.

Ketiga orang suci ini, ada jago-jago kelas satu dalam rimba

persilatan. Cuma sayang sekali, mereka melakukan

perbuatan-perbuatan yang nyeleweng dari tujuan agama

hingga menimbulkan kemarahan diantara jago-jago pembela

keadilan. Diantaranya mereka bentrok dengan Liok Sinshe

dimana telah terjadi pertarungan hebat. Kesudahannya

mereka dapat dipecundangai. Sejak mana mereka menaruh

dendaman hati, mereka meningkatkan kepandaiannya untuk

mencari balas pada lawannya.

Kawanan orang-orang jahat dari Siauwsan habis sabar

mendengar kata-katanya Liok Sinshe. Mereka anggap orang

terlalu menganggap enteng.

Lekas juga Toa-ok Cui Peng hunus goloknya dan mulai buka

penyerangan.

Tadinya Liok Sinshe hendak melayani si Empat Jahat dengan

tangan kosong, tapi melihat ada backingnya, tiga jago kelas

berat, maka ia rubah niatnya semula.

Maka begitu Toa-ok membabat goloknya mengarah leher, ia

mendak berkelit. Ia tidak balas menyerang, sebaliknya ia

lompat menerjang pada Su-ok (si Jahat ke-4) yang baru saja

akan menghunus pedangnya.

Gerakan Liok Sinshe gagal untuk merampas pedang Su-ok

Cui Tie.

Sebab barusan saja ulur tangannya, tiba-tiba goloknya Cui

Seng menyelak, membacok untuk tolong saudaranya.

Su-ok Cui Tie yang mencekal pedang dengan tangan kiri

karena lengan kanannya kutung tempo hari ditabas

pedangnya Liok Sinshe menjadi sangat gusar. Musuhnya mau

merampas senjatanya.

Sambil putar pedang, ia menyerang hebat membantu saudarasaudaranya

yang mengepung Liok Sinshe. Ia sangat gemas

pada musuhnya yang sudah membuat dirinya cacad. Nekad ia

untuk menuntut balas.

Dengan jurusnya 'Tong-cu-ci-louw' -- 'Bocah menunjukkan

jalan', pedangnya menyambar ke arah tenggorokan orang.

Hebat serangan ini karena dilakukan dengan cepat. Tapi Liok

Sinshe ada lebih cepat pula, ia berkelit sambil memutar tubuh

untuk terus lompat tinggi menghindarkan serangan Toa-ok Cui

Peng yang menggunakan tipu 'Hui-hong-sauw-yap'--'Angin

puyuh menyapu dedaunan'. Goloknya yang tajam dua muka,

membabat kaki Liok Sinshe dari kiri ke kanan.

Sungguh mengerikan. Kalau saja Liok Sinshe tidak sangat

gesit, kakinya akan tertabas kuntung tanpa ampun lagi.

Belum kakinya Liok Sinshe menginjak tanah, sudah datang

serangan golok Sam-ok Cui Seng yang mengarah kaki lagi. Si

jahat ketiga itu pikir kali ini ia tidak bakal luput goloknya

membacok kai musuh sebab Liok Sinshe masih belum

menginjakkan kakinya ditanah. Cara bagaimana ia dapat

berkelit ?

Tapi perhitungan Cui Seng meleset. Tampak tubuhnya Liok

Sinshe berputar, berkelit tanpa menginjak tanah hingga ia

lolos dari bahaya.

Suatu gerakan yang indah sekali yang dinamani 'Yan-cu-tengkong'

atau 'Burung walet mumbul di udara' yang membuat

empat lawannya menjadi melongo saking heran. Pikirnya,

musuh begini liehai, apa mereka nanti berhasil menuntut balas

untuk menuntut kematian saudaranya yang kelima ? Hanya

sejenak mereka bersangsi, sebab mereka segera mengurung lagi.

Liok Sinshe yang perhatikan gerak gerik orang, dapat tahu

lawan-lawannya agak jeri untuk melangsungkan pertandingan.

Inilah suatu keuntungan bagi lawan yang sudah unggul. Ia

tertawa gelak-gelak, lalu berkata : "Kalian percuma

mengepung aku. Hayo undang itu si kepala gundul bau dan

dua imam busuk, bantu kalian mengerubuti aku !"

"Sungguh temberang !" terdengar suaranya Tui-beng-kiam

Siong Leng Tojin. "Undangan sudah datang, tidak baik kalau

ditempuh. Mari, mari kita maju !"

Ajakan itu disusul dengan majunya ia dalam kalangan

pertempuran, diikuti oleh Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin.

"Ha ha ha ! Kwee Cu Gie, saat mampusmu sudah diambang

pintu. Masih bersikap jumawa ? Ha ha ha h...!" teriak si

Hweshio (pendeta) Jari Besi Hong Hui sambil jalan mengikuti

di belakang dua imam kawannya.

Di lain saat, tampak Liok Sinshe sudah dikepung oleh tujuh

musuhnya.

"Liok Sinshe," kata Siong Leng Tojin, suaranya mengejeki,

 

"Kau mau tinggalkan pesan apa, sebelum berangkat mati ?"

Liok Sinshe tidak menjawab, ia hanya kerutkan keningnya.

Otaknya bekerja, pikirnya, menghadapi Siauw San Ngo-ok,

meskipun dengan tangan kosong tidak menjadi soal baginya.

Tapi sekarang ia harus menggempur tujuh musuh, tiga

diantaranya ada jago-jago keals berat. Tanpa senjata

bagaimana ia dapat melayani mereka ?

Diantara empat pengepungnya tadi, Ji-ok Cui Kin kelihatan

agak jeri terhadapnya. Sedang senjata pedangnya itulah yang

paling tajam diantara senjata-senjata saudaranya. Mungkinkah

karena kakinya tinggal sebelah, sebab dahulu dikutungi

olehnya hingga ia tidak dapat leluasa bergerak ?

Bagaimanapun, pikir Liok Sinshe, ia harus waspada terhadap

Ji-ok yang cara melepas piauw beracunnya paling pandai

diantara saudara-saudaranya yang lain. Matanya melirik pada

Ji-ok yang berdiri di samping kirinya Toa-ok.

"Bagaimana ?" tegur Siong Leng Tojin, sikapnya jumawa.

"Memang aku mau tinggalkan pesanan," sahut Liok Sinshe.

"Nah, lekas bicara !" girang Siong Leng Tojin.

"Sebentar, kalau tanganmu putus, harap kau jadi orang baik

selanjutnya......" Liok Sinshe berkata seraya tersenyum.

"Sret !" tiba-tiba Siong Leng Tojin menghunus pedangnya.

"Kurang ajar, kau berani main gila ? Rasakan pedangku ini ?"

 

teriak Siong Leng Tojin, hatinya panas. Ingin sekali ia tabas

tubuhnya Liok Sinshe kutung dua.

"Eh, nanti dahulu !" kata Liok Sinshe, sambil berkelit dari

tikaman pedang Siong Leng Tojin, "Aku masih belum bicara

habis."

"Manusia hina, tak usah kau banyak pernik !" teriak Siong

Leng Tojin penuh kemurkaan. Serangannya pun dilakukan

saling susul tidak memberikan ketika kepada lawannya yang

melayani ia dengan tangan kosong.

Liok Sinshe berlaku tenang, meskipun kelihatannya ia repot

menghindari serangan lawan yang bertubi-tubi.

Dengan mengandalkan kegesitannya, Liok Sinshe melayani

Siong Leng Tojin.

Dalam tempo singkat saja, pertempuran sudah berjalan tiga

puluh jurus tetapi Siong Leng Tojin masih belum bisa berbuat

apa-apa atas lawannya yang bertangan kosong. Diam-diam ia

kagumi ilmu entengi tubuh musuh yang sampai sebegitu jauh

ia belum dapat menyentuh walaupun hanya bajunya saja.

Kenapa yang lain-lain berdiri diam saja, tidak datang

mengeroyok ?

Itu ada sebabnya. Siong Leng Tojin orangnya sangat

temberang, memandang rendah siapa juga. Ia anggap dirinya

adalah jago pedang nomor wahid di dunia.

Apalagi sekrang ilmu pedangnya sudah meningkat, sejak pada

dua belas tahun yang lalu dipecundangi Liok Sinshe. Ia

 

anggap sekarang Liok Sinshe sudah bukan tandingannya lagi.

Maka ketika Siauw-san Ngo-ok minta bantuannya, ia majukan

satu syarat ialah kalau ia bertempur dengan Liok Sinshe, yang

lainnya berdiri menonton saja dahulu sampai ia kasih kode

"turun tangan", barulah dilakukan pengeroyokan.

Imam sombong ini ingin menjatuhkan Liok Sinshe dengan

kepandaiannya sendiri.

Kalau tadi ia mendesak lawannya, selewatnya tiga puluh jurus,

pelan-pelan ia berbalik kedesak hingga si Pedang Pengejar

Jiwa jadi kelabakan.

Melihat si iman sudah kedesak, kawan-kawannya ingin lantas

turun tangan. Tapi masih juga belum dapat tanda dari Siong

Leng Tojin. Sampai kemudian terdengar suara 'prang !',

pedangnya si imam jatuh ke tanah, sedang Liok Sinshe lompat

mundur jumpalitan dengan gerakan 'Kera tua jatuh dari pohon'.

"Maaf Tui-beng-kiam !" kata Liok Sinshe seraya kedua

tangannya diangkat menyoja kepada Siong Leng Tojin yang

saat itu berdiri bagaikan patung. Tak dapat ia berkata-kata,

hanya matanya saja melotot mengawasi musuhnya.

Semua orang tercengang dengan kesudahan pertempuran itu.

Meskipun sudah terdesak, tidak semudah itu Siong Leng Tojin

dijatuhkan lawannya. Ini karena salahnya sendiri. Adatnya

yang berangasan tak dapat mengendalikan kemarahannya,

ingin cepat-cepat ia menjatuhkan lawannya.

Ia menggunakan jurusnya yang paling baharu, 'Ouw in hoan

hui' --'Awan hitam bergulung-gulung', pedangnya dibulang

 

baling cepat ke arah muka lawan untuk membuat mata orang

kabur penglihatannya, kemudian menusuk laksana kilat ke

arah tenggorokan.

Sudah berapa banyak ia bikin terjungkal lawannya dengan

ilmu pedangnya ini. Tapi menghadapi Liok Sinshe ia mesti

bayar mahal. Liok Sinshe ada terlalu gesit, hebat ilmu entengi

tubuhnya, penglihatannya tidak jadi kabur oleh bulang baling

pedangnya. Maka ketika pedang menikam ke arah

tenggorokannya, dengan sebat Liok Sinshe berkelit sambil

lompat nyamping ke kiri, akan dari mana sebelum Tui-bengkiam

sempat menarik pulang pedangnya yang mendapat

sasaran kosong, dua jari tangan kiri Liok Sinshe dengan

totokan 'hong-bun-hiat', menotok jalan darah di bagian pundak

lawan hingga si imam gemetaran tangannya dan dengan

sendirinya, pedangnya juga jatuh ke tanah.

Dengan angkat kedua tangan, Liok Sinshe bersoja pada Siong

Leng Tojin, sebenarnya Liok Sinshe ingin mengadakan

perdamaian, pemusuhan sebaiknya disudahi saja, jangan

ditarik panjang berlarut-larut tidak habisnya. Pikirnya, jagonya

yang paling lihay sudah ia jatuhkan yang lainnya pasti akan

menurut dan hentikan nafsunya untuk menuntut balas.

Tapi sebelum ia membuka suara lebih jauh, tiba-tiba ia

rasakan ada angin menyambar dari belakang. Cepat ia buang

diri ke kanan, sambil bergulingan ia menyelamatkan diri dari

serangan piauw beracun Ji-ok Cui Kin yang datang saling

susul, dibarengi oleh teriakan Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin,

"Turun tangan ! Semua maju, habiskan jiwa keparat itu !"

Mereka ramai-ramai memburu Liok Sinshe yang bergulingan.

Dengan beberapa lompatan enteng, mereka sudah datang

 

dekat dan hujani tubuh lawan alot itu dengan bacokan,

tusukan dan kemplangan.

Sementara itu........

Awan gelap dari setadian, kini semakin gelap dan..... turunlah

hujan besar.

Orang-orang jahat itu tidak hiraukan lebatnya turun hujan,

mereka bernapsu besar untuk menghabiskan jiwa musuhnya.

Apalagi, musuhnya itu kini sudah mandi darah, lengan kirinya

sudah kena kebacok, mereka jadi beringas !

Ia kumpul tenaganya, kemudian melejit bangun. Dengan

gerakan 'Elang lapar menyambar kelinci', ia menerjang pada

Ji-ok Cui Kin yang berada paling dekat padanya. Cepat Ji-ok

Cui Kin menyambut dengan pedangnya. Tapi ia kalah cepat

sebab Liok Sinshe punya dua jari dari tangan tangan kiri sudah

menotok dengan totokan 'thian-ki-hiat', jalan darah di iga

kanannya, sedang pedangnya pun lantas pindah tangan Liok

Sinshe.

Bagaikan harimau tumbuh sayap, Liok Sinshe sudah

menyerang musuh-musuhnya tanpa ampun lagi. Ia naik pitam

melihat kekejaman dan ketelengasan kawanan jahat itu ketika

menghujani ia dengan berbagai senjata.

Pedangnya berkelebatan di antara sinar kilat dan lebatnya

hujan.

Segera juga terdengar jeritan saling susul, Ji-ok Cui Kin

lehernya kesabat pedang, hampir putus, Sam-ok Cui Seng

rebah dengan kaki kanannya kutung, Pek-houw-kiam Jin Leng

 

Tojin terkulai, mendeprok di tanah, pundak kanannya

berlumuran darah.

Hanya ketinggalan tiga musuhnya, Tiat Cie Hweshio, Toa-ok

Cui Peng dan Su-ok Cui Tie. Mereka ciut nyalinya, nampak

kawan-kawannya rubuh saling susul sedang Tui-beng-kiam

Siong Leng Tojin masih dalam keadaan tertotok, tak bisa

diharapkan bantuannya. Hampir berbareng muncul dalam

pikiran mereka, "Lari, paling selamat !"

Demikian, mereka bertempur sambil melihat kesempatan.

Dalam keadaan murka hingga kecerdasannya meningkat, Liok

Sinshe sebenarnya tidak sukar untuk menjatuhkan tiga

musuhnya. Sayang, dari lukanya di lengan kiri, muka dan

punggung banyak mengeluarkan darah membuat ia letih dan

tenaganya menurun banyak, kegesitannya pun dengan

sendirinya agak kurang.

Untung musuh-musuhnya tidak perhatikan itu. Mereka hanya

memikirkan 'jalan lari' saja hingga perlawanan mereka juga

tidak sepenuh tenaga.

Meskipun sudah lelah, Liok Sinshe ingin takluki tiga musuhnya

itu.

Demikian, ketika goloknya Toa-ok Cui Peng membacok, ia

tidak menangkis, hanya elakan pundaknya yang diarah.

Berbareng dengan itu, pedangnya meluncur ke muka lawan

dengan gerakan 'Giok li tek hoa' -- 'Bidadari petik kembang'.

Satu jurus yang lihay sekali sebab sebelum Toa-ok Cui Peng

dapat selamatkan mukanya, hidungnya copot kena disentak

ujung pedang. Ia berkaok-kaok sambil tangan kirinya menekap

 

hidungnya yang gerumpung lumuran darah.

Si hweshio Jari Besi merasa tidak ungkulan layani musuhnya

yang lihai. Ia coba angkat kaki, tapi ia juga tidak luput dikasih

persen tanda mata, kupingnya yang kiri di papas pedangnya

Lok Sinshe.

Su-ok Cui Tie dari pada ia turut lari, malah jadi lemas kakinya

dan jatuh duduk. Matanya meram, mulutnya kemak-kemik

seperti yang memohon Malaikat Elmaut tidak mencabut

jiwanya.

Sesaat kemudian ia raba lehernya, masih utuh. Ia heran, lalu

membuka matanya. Kiranya Liok Sinshe sudah tidak ada

disitu, ia sedang menguber si Hweshio Jari Besi yang lari ke

tepi jurang.

Tiat Ci Hweshio berlarian di tepi jurang dikejar dari belakang

oleh Liok Sinshe. Keduanya menggunakan lari cepat (enteng

tubuh). Hujan sementara itu masih turun dengan lebatnya.

"Kepala gundul bau, apa kau bisa naik ke la..... Ayo !"

Tiba-tiba saja Liok Sinshe berteriak, tubuhnya menyusul rubuh

dan......... tergelincir masuk ke dalam jurang yang curam.

Tiat Cie Hweshio heran, lalu hentikan larinya, balik

menghampiri tempat dimana Liok Sinshe berteriak dan jatuh

ke dalam jurang. Ia lihat jurang ada demikian dalam, diukur

dari sudut ketika ia dengan kawan-kawannya mendaki Tonghong-

gay, ia yakin Liok Sinshe pasti menemui ajalnya.

Girang bukan main hatinya si Hweshio Jari Besi.

 

"Hahaha !! Hahaha !" ia tertawa gelak-gelak sendirian seperti

orang gila.

"Hai, kepala gundul ! Kau jangan girang dahulu.....!" tiba-tiba

suara orang menyelusup ke dalam kupingnya.

Mungkinkah itu ada setannya Liok Sinshe ? Tiba-tiba

bayangan berkelebat, keluar dari balik pohon.

Tiat Cie Hweshio makin ketakutan, tubuhnya menggigil seperti

yang diserang penyakit malaria.

Hujan mulai berhenti, cuaca agak terang tapi suasana tetap

sunyi menyeramkan dalam daerah pegunungan itu.

Si kepala gundul makin menggigil, kapan pundaknya berasa

ada yang tepuk dari belakang, ketakutannya meningkat dan si

Hweshio Jari Besi bisa jatuh semaput kalau ia tidak

mendengar suara ketawa terkekeh-kekeh, seraya berkata :

"Hweshio pecundang, kau ketakutan ?"

"Ah, Kim Popo, kau bikin aku kaget setengah mati. Hahaha !"

tertawa si kepala gundul sambil putar tubuhnya, menghadapi

orang yang jail tadi.

"Apa kalian lupa dengan pesanku ?" tanya Kim Popo.

Sejenak Tiat-ci Hweshio mengingat-ingat, "Ah, benar-benar

aku harus mati. Aku lupa benar akan pesan Kim Popo",

katanya sambil tepuk-tepuk pahanya.

"Coba kalau kalian tidak mengabaikan pesanku, siang-siang si

 

keparat itu sudah menjadi makanannya kawanan ular dibawah

jurang. Hihihi......." Kim Popo temberang.

Adalah ketika mendamaikan pengeroyokan atas dirinya Liok

Sinshe, Kim Popo diminta bantuannya juga. Ia bersedia

membantu, tapi tidak mau terang-terangan menggempur Liok

Sinshe, hanya dengan cara gelap ia akan menghajar musuh.

Kim Popo memang ada satu nenek jagoan. Selain ilmu

silatnya tinggi, orang takuti senjata rahasia beracunnya yang

dinamai "touw-kut-tok-ciam' atau jarum berbisa menembus

tulang' yang jarang gagal mengambil korban diwaktu ia

menggunakannya. Jarum itu disimpan dalam satu bungbung

mungil, ada alat rahasianya yang membikin jarum melesat.

Keluarnya tidak satu-satu, tapi lima batang sekaligus,

mengarah bagian tubuh si korban, atas, tengah, bawah, kiri

dan kanan, hingga korbannya sukar meloloskan diri.

Asal usulnya Kim Popo tidak seorang yang tahu, sekalipun

siauw San Ngo-ok yang menjadi anak-anak angkatnya.

Tentang cara bagaimana si Lima Jahat bisa jadi anak-anak

angkatnya Kim Popo, akan dituturkan di sebelah belakang

cerita ini.

Kelupaan akan pesan Kim Popo sebenarnya si Hweshio Jari

Besi ngebohong.

Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin, sewaktu mereka mendaki

jurang Tong-hong-gay mengajari kawan-kawannya jangan

meladeni pesan Kim Popo memancing Liok Sinshe ke tempat

sembunyinya si nenek yang hendak membokong.

Katanya itu tidak perlu, malah akan merendahkan derajat

 

mereka yang sudah ada nama dalam kalangan kang-ouw.

Dengan mereka bertujuh, sudah cukup untuk membinasakan

Liok SInshe, malah dianggap kelebihan oleh imam itu, kapan

ia ingat dirinya sendiri punya kepandaian sudah meningkat

banyak. Tidak tahunya mereka dibikin kucar kacir dan Liok

Sinshe binasa ditangannya si nenek tua yang membokong

dengan jarum jahatnya.

Liok Sinshe lihai, tidak mudah ia kena dibokong orang. Kalau

saja saat itu turunnya hujan tidak mengganggu

pendengarannya yang tajam.

Tiat Ci Hweshio ajak Kim Popo untuk melihat kawankawannya.

Sesampainya di tempat pertempuran tadi, tampak

Siong Leng Tojin dan Su-ok Cui Tie tengah repot menolongi

kawan-kawannya yang luka. Si imam mukanya merah, bahkan

malu ketika menyambut kedatangannya Kim Popo.

"Maafkan, aku sudah berlaku ceroboh, melupakan pesan

Popo." Siong Leng Tojin sembari angkat tangannya memberi

hormat.

"Kalau tidak, tidak sampai kejadian begini," ia menyambung,

matanya mengawasi kepada korban-korban yang pada rebah

sambil keluarkan rintihannya, menahan rasa sakit.

Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin belum lama ia dapat

membebaskan dirinya dari totokan Liok Sinshe, setelah

berkali-kali ia memeras tenaga dalamnya.

"Tidak apa, ini barangkali sudah takdir." sahut Kim Popo acuh

tak acuh.

 

Tui-beng-kiam dalam hatinya mendongkol melihat sikap

sombong si nenek tua.

Tiba-tiba Su-ok Cui Tie menghampiri Kim Popo, di depan

siapa ia tekuk lututnya berkata :

"Popo, sakit hati ini laksana dalamnya lautan, kalau Popo tidak

tolong balaskan, bagaimana kami......."

"Anak tolol !" potong Kim Popo. "Apa yang dibalas ? Musuhmu

sudah mampus masuk ke jurang, sekarang barangkali

tubuhnya tengah dikerubuti oleh ular-ular penghuni disitu.

Hihihi !"

Kaget Su-ok Cui Tie mendengar kabar itu sampai ia lompat

bangun dari berlututnya.

"Apa ini benar ?" ia cepat menanya.

Siong Leng Tojin pun turut kaget, tidak terkecuali Toa-ok Cui

Peng dan Jin Leng Tojin yang sedang merintih-rintih.

"Kalau tidak percaya, kau tanya saja si kepala gundul !" jawab

Kim Popo, sikapnya bangga sambil menunjuk kepada si

Hweshio Jari Besi.

Mereka lalu minta keterangan kepada si Hweshio, lalu ia

menuturkan ketika ia diuber-uber Liok Sinshe hampir

kecandak, tiba-tiba ia dengar musuh berteriak dan tubuhnya

roboh tergelincir ke jurang, akibat bokongan Kim Popo dengan

senjata rahasianya yang lihai.

Semua jadi kegirangan, Siong Leng Tojin sambil bersenyum

 

berkata, "Dengan mampusnya si keparat itu, kerugian kita

sekarang ini sudah dibayar lunas. Hahaha !"

Disamping kegirangan dan rasa puas dari kawanan penjahat

itu, ada yang menceles hatinya dan mengucurkan air mata

mendengar berita kematiannya Liok Sinshe. Siapa gerangan

orang itu ?

Itulah si bocah Lo In yang saat itu mencuri dengar dibelakang

sebuah batu besar, dimana ia mengumpat, menonton

pertandingan yang menegangkan hatinya, Liok Sinshe

dikeroyok orang banyak.

Menggunakan kesempatan orang tidak memperhatikan

dirinya, karena perhatian kawanan penjahat itu tengah

dipusatkan pada Liok Sinshe, diam-diam Lo In sudah

menyelinap di balik batu besar dimana dengan aman ia

sembunyi.

Dengan begitu, Lo In sudah tidak menurut nasehatnya Liok

Sinshe supaya ia lari untuk menyelamatkan dirinya.

Anak ini besar nyalinya. Ia sebenarnya ingin membantu Liok

Sinshe, melihat orang dikeroyok. Tapi mengingat

kepandaiannya masih rendah, terpaksa ia harus menahan

napsu amarahnya.

Lo In sudah kegirangan melihat Liok Sinshe menjatuhkan

musuh-musuhnya satu per satu. Hampir ia melompat keluar

dari tempat persembunyiannya, kalau ia tidak ingat akan

pesanan Liok Sinshe supaya ia kabur untuk menyelamatkan

diri.

 

Lo In tidak melihat dengan mata sendiri bagaimana Liok

SInshe dirobohkan musuhnya dan tergelincir masuk ke dalam

jurang sebab letak tempat kejadian itu ada jauh dari ia dan

juga teraling oleh pohon-pohon.

Meskipun ia menangis, ia masih sangsikan kebinasaannya

Liok Sinshe.

"Ah, dia lihai. Tidak mungkin dia binasa cuma tergelincir saja

ke dalam jurang." pikir si bocah yang percaya akan

kepandaian Liok SInshe.

Sama dengan pikiran Lo In, terdengar Siong Leng Tojin

menanya, "Popo, dia sangat lihai, mungkinkah dia

menemukan ajalnya ?'

"Hehehe !" Kim Popo ketawa. "Dia boleh lihai tapi racun jarum

mautku, dalam tempo satu jam akan antar dia menghadap

Giam-lo-ong !" Giam-lo-ong dimaksudkan adalah raja akherat.

Kata-kata Kim Popo membuat Lo In kembali sedih. Air

matanya yang barusan sudah berhenti, kembali mengucur.

Suatu kedukaan yang belum pernah ia alami.

Liok Sinshe ada terlalu baik, ramah, sangat memperhatikan

sekali paanya. Sejak ia mengetahui dirinya tak berayah ibu, ia

pandang Liok Sinshe adalah pelindungnya, sebagai gantinya

orang tua.

Sementara itu angin pegunungan meniup agak keras.

Baru sekarang Lo In sadar, bahwa pakaiannya basah kuyup.

Ia merasa kedinginan, tapi ia tidak menggubrisnya. Ia ingin

 

menyaksikan lebih jauh tindak tanduknya kawanan jahat itu.

Untuk memberikan pertolongan lebih jauh, korban-korbah

pedangnya Liok Sinshe diangkut masuk ke dalam rumah. Suok

Cui Tie segera pasang lilin penerangan.

Dalam pemeriksaan, Ji-ok Cui Kin sudah mati dengan leher

hampir putus. Entah dengan Sam-ok Cui Seng yang

keadaannya tidak sadarkan diri akibat terlalu banyak

mengeluarkan darah dari kaki kanannya yang tertebas

buntung. Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin masih merintih,

sambungan tulang pundaknya yang kanan putus hingga

selanjutnya ia tak dapat gunakan lengan kanannya ini.

Toa-ok Cui Peng amat berduka, Siong Leng Tojin kertak gigi,

menampak pemandangan yang mengharukan itu. Sebaliknya,

Kim Popo acuh tak acuh sikapnya. Rupanya ia mendongkol

pada Siong Leng Tojin yang tak mau perhatikan pesannya

sehingga terjadi mala petaka itu.

"Hei, kemana dia ?" berkata Siong Leng Tojin tiba-tiba, agak

kaget romannya.

"Siapa ?" tanya Su-ok Cui TIe.

"Si bocah ! Hayo, lekas cari !" sahut Tui-beng-kiam, seraya ia

sendiri lantas bertindak melakukan penggeledahan.

Sementara orang repot mencari Lo In, adalah Kim Popo

menggeledah orang punya laci, meja, rak, buku-buku, kopor

dan lain-lain.

Kim Popo seperti lagi mencari sesuatu barang.

 

Siong Leng Tojin merasa heran, lalu menanya, "Popo, kau lagi

cari apa ?"

"Urusanku aku urus sendiri, urusanmu kau urus sendiri. Buat

apa banyak tanya !" sahut Kim Popo, suaranya tidak enak

didengar.

Siong Leng Tojin cuma bisa nyengir. Dalam hatinya ia amat

mendongkol, pikirnya, "Nenek gila. Kau terlalu menghina !

Tunggu, ada satu tempo, aku bikin kau tahu rasa kelihayannya

Tui-beng-kiam !"

Ia kemudian keluar untuk hindarkan bentrokan dengan Kim

Popo, pura-pura turut kawan-kawannya mencari Lo In sebab di

dalam rumah anak itu tidak diketemukan.

Kim Popo memang memandang rendah pada siapa juga,

bukan hanya pada Siong Leng Tojin seorang. Adatnya aneh,

cepat amrah, sedang kata-katanya kasar.

Orang yang tidak mengimbangi adatnya, bicara beberapa

patah dengannya, akan lantas merasa dihinakan dan menaruh

dendam hati.

Kim Popo aduk-aduk lagi apa yang sudah diperiksa waktu

Siong Leng Tojin sudah keluar. Rupanya ia penasaran barang

yang dicari belum diketemukan.

"Celaka !" katanya perlahan, alisnya berdiri, marah rupanya.

"Tidak mungkin bangsat itu bawa ke dalam jurang !" ia

meneruskan berkata-kata sendirian.

 

Itulah Kim Popo yang kelihatannya putus asa, tak menemui

barang yang dicari.

Lalu ia jalan keluar, akan dari depan pintu dengan beberapa

kali lompatan saja ia sudah menghilang meninggalkan rumah

Liok Sinshe.

Apa sebenarnya yang dicari oleh Kim Popo ?

Ini, kejadian pada lima tahun yang lampau. Pada hari itu lepas

lohor, cuaca agak mendung. Liok Sinshe jalan terburu-buru,

habis mencari akar-akaran obat di sekitar Siauw-san, kuatir

nanti keburu turun hujan.

Ketika ia lewati pohon cemara yang besar, tiba-tiba ia

merandek. Ia berdiri sejenak sambil pasang kuping. Ia dengar

suara beradunya senjata, seperti ada orang yang tengah

bertempur.

Setelah memperhatikan sekian lama, lalu ia menghampiri tepi

jurang, tidak jauh dari ia berdiri barusan. Ia melongok ke

bawah, tampak sebuah lembah datar dimana ada kelihatan

dua orang sedang bertempur seru.

Dengan menggunakan ilmu entengi tubuhnya, ia lompat ke

bawah mendekati tempat pertempuran untuk menyelidiki siapa

mereka yang bertempur itu. Kiranya mereka itu ada satu

nenek dan satu kakek.

Si nenek menggunakan tongkat sebagai senjatanya, sedang si

kakek bersenjata sebilah pedang panjang. Kenapa mereka

jadi bertempur, itulah ia ingin tahu.

 

Tapi tidak menanti lama, Liok Sinshe lantas mendengar si

kakek buka suara, "Apa kau sudah tidak kenal persaudaraan

?" katanya, seperti yang sudah kewalahan.

"Hm !" mendengus si nenek. "Baru ada persaudaraan kalau

kau serahkan barang itu !"

"Itu toh bukannya hakmu ?" kata lagi si kakek.

"Aku tidak perduli punya siapa, barang itu harus aku punyai !"

teriak si nenek.

"Ah, kau benar-benar telengas !" si kakek mengeluh.

Kelihatannya ia mulai keteter, permainan pedangnya mulai

kalut hingga si nenek dapat kesempatan untuk merangsek

lawannya dengan serangan-serangan tongkatnya yang hebat.

Melihat gelagat jelek, si kakek mecari kesempatan untuk

angkat kaki.

Pada saat si nenek menusuk dengan tongkatnya, si kakek

menyampok, kakinya menjejak tanah akan lompat mundur,

kemudian putar tubuh dan ............ lari.

"Hm ! mau lari ? Lebih sukar lolos dari Kim Popo dari pada

naik ke langit !" si nenek berseru, tangannya merogoh

sakunya, kemudian dari tangan tangan itu melesat senjata

rahasianya, lima jarum beracun menyambar berbareng.

Segera teriakan ngeri terdengar, si kakek roboh ditanah,

pedangnya terlempar jauh, sementara itu Kim Popo sudah

berdiri di depannya.

 

-- 2 --

"Kau mau lari dari tanganku ? Hm !" mengejek Kim Popo.

"Tidak rela aku mati ditanganmu, perempuan jahat !" memaki

si kakek.

"Kau berani maki aku ? Nih, rasai........" sambil angkat

tongkatnya hendak dipukulkan pada batok kepala orang.

"Tring !" tiba-tiba terdengar suara. Tongkat besinya Kim Popo

terdorong nyamping, mengemplang tanah hingga

berhamburan. Selamatlah batok kepala si kakek dengan

kejadian ini, tadinya ia sudah meremkan matanya untuk terima

kematian.

Sebaliknya Kim Popo bukan main marahnya, ia berteriak

seperti orang gila, "Manusia usilan, siapa kau, lekas unjuk diri

di depan Popo !"

"Aku disini, Popo." Kim Popo dengar suara di belakangnya.

Kaget ia, cepat ia putar tubuhnya. Di depannya tampak

seorang laki-laki dengan usia kurang lebih empat puluh tahun.

Mukanya putih, cakap, di atas alis kirinya ada codet sebesar

jari kelingking. Rupanya bekas barang tajam mampir disitu.

"Kau yang barusan main-main ?" tanya Kim Popo gemas.

"Benar," sahut orang itu, sambil soja mulutnya bersenyum.

"Siapa kau ?" tanya lagi Kim Popo, sikapnya galak, tangannya

 

sudah siap dengan tongkat besinya untuk menghajar orang

usilan yang berdiri di depannya.

"Aku yang rendah si orang she Liok," sahutnya tenang.

Kiranya Liok Sinshe yang menolok si kakek dari bahaya pecah

kepalanya.

"Binatang !" teriak Kim Popo kalap. "Terimalah hadiah ini dari

Popo !" Mulutnya berkata, tongkat besinya bekerja.

Ia menyerang lawannya tidak tanggung-tanggung. Dengan

tipu 'Tay-san-ap-teng' -- 'Gunung Agung menimpa kepala', ia

kemplang batok kepala orang dengan tongkat besinya.

Tapi bukan main terkejutnya si nenek. Serangannya gagal,

musuhnya menghilang dari depannya. Ia celigukan mencari,

panas hatinya.

"Aku disini, Popo," suara halus terdengar di belakangnya.

Kaget Kim Popo. Pikirnya, setan barangkali orang ini, yang

bisa menghilang.

Ia penasaran, tongkat besinya sudah banyak makan korban.

Masa sekarang ia mesti jatuh dalam segebrakan saja ? Ia

harus jaga nama, jangan sampai dikalahkan.

Sebenarnya, Kim Popo sudha harus tahu diri. Ia sudah kalah

jauh. Kalau lawan memang kejam, ditepuk jalan darah di

bebokongnya, ia mesti terkulai jatuh duduk.

Dasar Kim Popo bandel, ia masih mau nekad-nekadan.

 

Dengan jurusnya "In-li-yu-liong' atau 'Naga melayang di awan',

sambil berputar tubuh, tongkatnya menyabat ke belakang

mengarah iga orang. Serangan ini dilakukan dengan cepat,

lincah. Tapi Liok Sinshe lebih cepat dna gesit akan lompat

tinggi, mundur satu tombak.

Melihat kembali sasarannya menghilang bagai setan, Kim

Popo gemas. Ia lompat menyerang lagi, tongkatnya menyodok

ke arah perut. Liok Sinshe berkelit sambil geser kaki

kanannya, tangan kanannya berbareng menepuk tongkat yang

nyelonong lewat.

Tergetar lengannya Kim Popo. Ia rasakan nyeri. Hampirhampir

terlepas tongkat dari cekalannya, itulah tepukan Liok

Sinshe yang menggunakan tenaga dalamnya.

Cepat Kim Popo empos tenaga dalamnya, untuk

menghilangkan rasa nyeri.

"Hehe, binatang kau, boleh jgua !" kata si nenek, seraya

kerjakan lagi tongkatnya. Kali ini hendak nenamu ke arah

dada. Liok Sinshe bersenyum, ia tidak berkelit, sebaliknya

ketika ujung tongkat hampir sampai sasarannya, tiba-tiba ia

mengebut dengan lengan bajunya yang kanan, dari bawah ke

atas.

Liok Sinshe hanya gunakan tenaganya tiga bagian, tapi sudah

cukup membuat tongkatnya si nenek hampir terlepas lagi dari

cekalannya. Angin kebutan lengan baju dirasakan si nenek

menumbuk dadanya sampai rasanya susah bernapas,

lengannya juga kembali dirasakan nyeri.

Lawan terlalu alot, sudah seharusnya Kim Popo terima kalah.

 

Namun, dasar si nenek keras kepala. Ia masih mau coba

dengan serangannya yang terakhir. Tampak ia melemparkan

tongkatnya, matanya mendelik seram, rambutnya yang kasar

hampir pada berdiri, rupanya ia sedang mengerahkan lwekang

(tenaga dalam). Kemudian, kedua tangannya yang kurus

macam cakar bebek diangkat, tampak kukunya seperti

memanjang. Benar-benar dalam sikapnya yang menyeramkan

itu, Kim Popo bisa membikin anak kecil yang melihatnya

menjerit nangis dan jatuh pingsan.

Liok Sinshe air mukanya tetap bersenyum-senyum, tapi ia

waspada akan serangan lawan yang hebat dengan

pengerahan tenaga dalam sepenuhnya.

Si kakek yang rebah di tanah empas empis, masih sempat

membuka matanya, kaget bukan main ia melihat si nenek

kerahkan tenaganya untuk melakukan serangan maut. "Awas

!" teriaknya kepada Liok Sinshe.

Berbareng dengan perkataan "Awas !", Kim Popo sudah

menerjang sambil berseru menyeramkan, "Binatang, aku akan

adu jiwa denganmu !"

Dengan gerakan 'Beng-houw-pok-ye' -- "Harimau liar

menerkam kambing', ia lompat menerjang musuhnya. Kedua

tangannya mencengkeram kepada lawan, dadanya Liok

Sinshe pasti remuk oleh karenanya kalau serangan itu

menemui sasarannya.

Si orang she Liok tidak takut. Ia bergerak sedikit, kedua

tangannya diulur untuk menyambuti. Ia gunakan tenaganya

empat bagian yang keras untuk lawan keras. Kim Popo tahu

juga bahaya. Cepat ia tarik pulang kedua tangannya untuk

 

mencegah bentrokan. Ia tidak mau tangannya bentrok dengan

tangan musuh yang unggul banyak tenaga dalamnya.

Serangannya berganti, tangan kanannya diputar lalu dua

jarinya, telunjuk dan tengah bagaikan kilat nyelonong hendak

mengorek sepasang mata lawannya.

Namun, Liok Sinshe sekarang tidak mau kasih si nenek

banyak tingkah lagi. Sambil elakkan kepalanya ke kanan,

tangan kirinya bekerja. Jarinya menyentil dua jari si nenek di

bagian jalan darah tiong-ciong dan siang-yang.

Segera terdengar jeritan melengking, mengalun di sekitar

lembah itu. Itulah jeritan Kim Popo yang kesakitan, jari

telunjuknya kena disentil. Ia rasakan sakit sekali menyelusup

ke ulu hati, panas rasanya.

Berbareng dengan melengking jeritannya, kakinya menjejak

tanah, lompat ke belakang, menjauhkan diri dari lawannya,

kemudian berkata, "Binatang, lain kali kita jumpa lagi."

Setelah mengucap demikian, Kim Popo putar tubuhnya.

Dengan beberapa lompatan tubuhnya sudah menghilang dari

pemandangan.

Oleh karena jeri terhadap kelihaiannya Liok Sinshe, maka

ketika Kim Popo diminta bantuannya oleh Siauw-san Ngo-ok

dan kawan-kawannya untuk mengeroyok si orang she Liok, ia

tidak mau menempur orang dengan berterang, hanya bersedia

membantu dengan jarum mautnya, membokong dari tempat

sembunyi. Tidak ia sangka bahwa rencananya itu dibikin

kacau oleh si imam sombong Siong Leng Tojin.

 

Kenapa dalam pertempuran satu sama satu tadi dengan Liok

Sinshe si nenek tidak menggunakan jarum mautnya ?

Meskipun keras kepala, Kim Popo punya perhitungan akan

untung rugi. Demikian ia lihat musuh sangat lihai, juga tidak

mencelakakan dirinya, ia sangsi untuk menggunakan senjata

mautnya. Pikirnya kalau ia berhasil, tidak jadi soal. Tapi kalau

gagal, apakah Liok Sinshe tidak jadi naik pitam ? Ia sadar,

kalau mau dengan mudah Liok Sinshe dapat ambil jiwanya

bagaikan orang yang membalik tangannya. Kalau si nenek

tinggalkan perkataan 'lain kali kita jumpa pula', itulah hanya

untuk tolong mukanya dari perasaan malu.

Liok Sinshe melambaikan tangannya dengan senyum dikulum,

ketika Kim Popo ambil 'selamat berpisah', kemudian putar

tubuhnya menghampiri si kakek dalam keadaan dekat mati.

Terkejut Liok Sinshe ketika memeriksa si kakek, dua jarum

beracun sudah menembusi bagian pundak dan bebokongnya.

Pada bagian-bagain itu sudah jadi hitam, menjalar ke bagian

lagin dari tubuhnya, mungkin racun jarum sudah menembusi

tulang.

Ketika Liok Sinshe celentangi si kakek, sesudah periksa

bebokongnya, kepalanya rebah dilengannya. Keadaannya

sudah payah. Matanya meram terus. Liok Sinshe terharu

melihatnya. "Kejam...." Liok Sinshe kata dalam hatinya.

Ingin ia menolongi si kakek, namun apa daya ? Racun jahat

sudah menjadi satu dengan darahnya. Tapi bagaimana pun

juga, ia ingin coba dengan obat pilnya yang mustajab. Taruh

kata si korban tak dapat tertolong jiwanya, ia masih akan dapat

keterangan tentang siapa dirinya si kakek, manakala ia dapat

menyadarkannya dengan pertolongan obatnya.

 

Ketika tangannya hendak merogoh sakunya, tiba-tiba matanya

si kakek dibuka. Liok Sinshe kegirangan.

"Terima kasih atas pertolonganmu." berkata si kakek,

suaranya lemah.

"Kau siapa, lotiang ?" tanya Liok Sinshe.

"Kau kenal dengan Kwee Cu Gie ?" kakek itu tidak menjawab

pertanyaan Liok Sinshe, ia balik menanya malah.

Liok Sinshe kerutkan keningnya.

"Dia ada satu tayhiap." kata si kakek lagi, tidak menanti

jawabannya Liok Sinshe.

"Dia seharusnya memiliki barang mustika yang kubawa.

Tolong kau kasihkan ini padanya."

Tangan kanannya digerakin, maksudnya hendak merogoh

kantongnya. Tapi sia-sia ia gerakan karena tangan itu sudah

lumpuh.

"Kau siapa, lotiang ?" Liok Sinshe ulangi pertanyaannya.

"Aku....aku... She Kong..... ah....." kepalanya lantas saja

terkulai.

Liok Sinshe terharu menyaksikan kematiannya si kakek she

Kong, air matanya mengembang. Pikirnya, si kakek ini

menyebut nama Kwee Cu Gie, dimana ia kenal Kwee Cu Gie ?

Barang apakah yang hendak dihadiahkan kepada Kwee Cu

Gie ?

 

Pelan-pelan tangannya Liok Sinshe merogoh kantongnya si

kakek. Ia keluarkan isinya. Tidak ada apa-apa selain perak

hancur dan sebuah buku kecil yang sudah kumal. Kapan ia

baca kalimat di buku itu, tertulis empat huruf yang sudah

banyak luntur. 'Tiam hiat pit koat', terkejut hatinya Liok Sinshe.

"Tiam hiat pit koat......' katanya, tidak tegas. "Dari mana si

kakek dapatkan buku yang sangat berharga itu ?" ia menanya

pada dirinya sendiri.

Liok Sinshe bengong sejenak. Kembali dalam benaknya

muncul pertanyaan, "Ada hubungan apa dia dengan Kwee Cu

Gie ? Begitu sangat dia menghargakan si orang she Kwee,

dengan suka rela ia menghadiahkan buku pelajaran ilmu

menotok jalan darah, suatu buku 'Tiam hiat' yang menjadi

rebutan masa itu dalam Bu-lim (dunia persilatan). Dan apa

hubungannya si nenek dan si kakek, mengingat si kakek

dalam kewalahan bertempur ada mengucapkan kata-kata,

'Apa kau sudah tidak kenal persaudaraan ? Siapa Kim Popo ?

Ia tersadar dalam renungannya, ketika ia meraba si kakek

tubuhnya sudah mulai dingin. Cepat ia masukkan ke sakunya

buku mungil itu, uang perak ancur ia masukkan pula ke dalam

kantongnya si kakek. Setelah mana, dengan menggunakan

pedangnya almarhum ia mulai menggali lubang, ke dalam

mana di lain saat mayatnya si orang she Kong dimasukkan

dan dikubur rapi.

Liok Sinshe gantung pedang si kakek di pinggangnya.

Pikirnya, pelan-pelan ia mau selidiki si kakek dan akan

mengembalikannya. Sebelum angkat kaki, ia soja depan

kuburan si kakek, mulutnya kemak kemik, entah apa yang

 

dikatakannya.

Setelah mana, ia mendengak. Lihat cuaca memburuk dan

segera akan turun hujan kelihatannya. Ia lalu gerakan kakinya

untuk dengan ilmu entengi tubuh 'Pat pou kan siam' atau

'Delapan tindak mengejar tenggeret', ia meninggalkan tempat

itu.

Liok Sinshe tidak tahu kalau gerak geriknya diintip orang.

Itulah Kim Popo yang balik lagi dengan diam-diam. Ia

penasaran untuk dapatkan barang dari tangan si kakek

diganggu orang. Lari belum jauh, ia putar tubuhnya kembali ke

tempat tadi. Cuma ia tidak berani datang dekat. Diatas, dari

jarak beberapa tombak, ia memasang mata atas gerak gerik

Liok Sinshe.

Gusar bukan main si nenek di waktu melihat Liok Sinshe

memegang buku yang bentuknya mungil yang kemudian

dimasukkan ke dalam sakunya. Itulah justru barang yang ia

arah dari si kakek.

Sekarang barang itu sudah berada di tangan orang lihai.

Bagaimana ia dapat mengambilnya pulang ? Dari marah ia

menjadi lesu, hanya melongo mengawasi orang berlalu

dengan ilmu entengi tubuh. Untuk menyusul, menguntit, ilmu

entengi tubuhnya dibawah Liok Sinshe.

Dengan perasaan sakit hati, ia turun ke bawah untuk ambil

pulang tongkatnya kembali. Mulutnya bergerak-gerak dan

matanya melotot pada kuburannya si kakek seolah-olah ia

sedang mencaci maki si orang she Kong. Saking gemas

malah, ia sudah kemplang tiga kali kuburannya si kakek, akan

 

kemudian dengan uring-uringan ia berlalu dari tempat itu.

Belum berapa jauh, ia rasakan hujan mulai gerimis. Ia cepati

jalannya untuk mencari tempat meneduh. Dari kejauhan,

jalannya ke selatan. Ia melihat ada bangunan rumah berhala.

Ia lari ke sana, untuk meneduh, menyingkir dari serangan

hujan besar yang saat itu sudah mulai turun dengan lebatnya.

Ketika ia datang dekat, hatinya merasa heran melihat rumah

berhala itu dijaga oleh banyak orang yang bersenjata tajam.

Orang yang keluar masuk juga pada bawa senjata masingmasing.

Ada apa gerangan disitu.

Ia jalan terus ke sana, sampai tiba-tiba ada yang menegur

dibalik satu pohon, "Hei, nenek tua, kau mau kemana ?"

Kim Popo menoleh, dilihatnya ada dua orang bermuka bengis

tengah mengawasi kepadanya. Kim Popo yang adatnya aneh,

cepat marah, menjadi tidak senang.

"Apa mentang-mentang kalian bawa golok, begini caranya

menegur seorang tua ?' sahutn si nenek, tidak enak dilihat

mukanya yang kehujanan.

Dua orang jaga itu, yang satu tinggi kurus, temannya gemuk

pendek berewokan.

"Kita tanya benar-benar, bolehnya dia marah. Hahaha !" kata

si gemuk pada kawannya.

"Hmm !" mendengus Kim Popo.

Matanya pelototi si gemuk, kakinya bergerak. Ia mau jalan

 

terus, tapi si kurus menghadang cepat-cepat. "Nenek tua, kau

jangan tidak tahu diri !" bentaknya, seraya goloknya

dilintangkan di depan Kim Popo, menghalangi untuk berjalan.

"Trang !" segera terdengar golok di kemplang tongkat.

"Aiyoo !" si kurus berteriak, sambil tangan kirinya memegangi

lengan kanannya yang dirasakan sakit bukan main, goloknya

jatuh nancap di tanah. Ia merintih teraduh-aduh, mukanya

pucat mengawasi Kim Popo yang tampak tertawa terkokohkokoh.

Si gemuk bengong sejenak, melihat kawannya dikerjai si

nenek. Dengan gusar ia menyerang Kim Popo dengan

goloknya. Sayang, tenaganya besar tapi tidak ada 'isi' (pandai

silat). Maka satu tangkisa keras dari tongkatnya Kim Popo

cukup bikin ia berkaok-kaok persis macam kawannya tadi.

Lengannya gemetaran, sakitnya bukan main nyelusup ke

jantung.

Si nenek setelah mendupak si gemuk, sampai meloso

mencium lumpur, lalu angkat kaki pergi. Melihat itu, si kurus

masih sempat kasih tanda 'bahaya' pada kawan-kawannya

dengan suitannya.

Sebentar saja dari balik beberapa pohon keluar orang-orang

jaga dengan golok terhunus, mencegat jalannya Kim Popo.

"Kurang ajar !" maki Kim Popo dalam hatinya. "Kalian kalau

tidak dikasih hajaran, memang tidak kenal kelihaian aku si

nenek."

Lalu dengan ilmu entengi tubuh, ia kelit sana sini dari bacokan

 

orang-orang yang merintangi jalannya. Tongkatnya yang berat

enam puluh kati berkelebatan diantara hujan lebat. Teriakanteriakan

mengerikan terdengar saling susul dari orang-orang

yang menjadi korban tongkatnya yang berat itu.

Banyak korban jatuh, sedang si nenek dengan seenaknya

jalan berlenggang menghampiri kuil yang dijaga ketat. Orangorang

jeri melihat si nenek demikian lihai, maka mereka pada

minggir dan di lain saat si nenek sudah ada dalam kuil. Tapi,

sebelum ia bertindak lebih jauh, dari jurusan pintu, satu orang

tinggi besar menghadang di depannya.

"Hehe ! Masih ada juga yang minta dikemplang !" jengek Kim

Popo.

"Kau boleh bertingkah di antara orang-orang kami yang tidak

berguna, tapi di depanku, hmm !" kata si orang tinggi besar,

sikapnya jumawa.

Kim Popo sebal melihat tingkahnya.

"Jadi, kau mau apa ?" bentaknya keras.

Sementara menanya, matanya Kim Popo jelalatan melihat ke

sekitar ruangan.

Kiranya kuil itu adalah rumah berhala tua, rupanya sudah tidak

diurus lagi karena disana sini tampak banyak rusak dan bocor.

Sejauh yang dapat ia lihat, di sebelah dalam ada duduk dua

orang menghadapi meja, satu bermuka berewokan, tengah

mengusap-usap brewoknya yang tebal, satunya lagi bermuka

bengis, berhidung panjang. Di samping dan belakang mereka

ada berdiri beberapa orang dengan senjata di tangan masing

masing, siap untuk digunakan.

Di depan mereka ada dua orang tengah berlutut dengan

masing-masing kedua tangannya di ikat ke belakang.

Entahlah, apa yang sudah terjadi. Tapi dari pemandangannya,

Kim Popo dapat menduga bahwa si berewokan dan si hidung

panjang tengah memeriksa dua orang yang berlutut dengan

tangan ditelikung.

Si orang tinggi besar yang mencegat Kim Popo tertawa gelakgelak,

sebelum menjawab pertanyaan Kim Popo yang

menantang.

"Nenek tua, kau kenali aku siapa ?" ia malah balik menanya.

"Di lihat romanmu, kau ini bukan orang baik-baik". jengek Kim

Popo ketus.

"Nenek celaka !" teriak si tinggi besar. "Buka matamu dan

kenali, aku ada sam-taunia dari gunung Siauw-san !"

Dengan menyebut 'sam-taunia (pemimpin ketiga) dari

Siauwsan' si orang tinggi besar kira orang akan jadi kaget,

tubuhnya gemeteran karena itulah Sam-ok Cui Seng, si Jahat

ketiga yang tersohor paling bengis dan telengas diantara si

Lima Jahat dari Siauwsan (Siauwsan Ngo-ok).

Sam-ok Cui Seng ternyata salah hitung.

Si nenek bukan gemetaran, sebaliknya tertawa terpingkalpingkal.

Mendelu bukan main hatinya Sam-ok Cui Seng.

 

"Apa yang kau ketawai, nenek gendeng ?" bentaknya.

"Tepat dugaanku, kau ini orang jahat !" sahutnya kontan.

Sam-ok Cui Seng tidak tahan meluap amarahnya. Dengan

'Elang lapar menyambar kelinci', ia menubruk Kim Popo.

Tangan kanannya mencengkeram dada, sedang tangan kiri

bekerja untuk merebut tongkat si nenek.

Cepat gerakan itu dilakukan Sam-ok Cui Seng hanya sayang

ia kalah cepat. Bukan saja tongkat si nenek gagal direbut,

malah kepalanya hampir pecah digaplok tangan Kim Popo

yang keras, kalau saja ia tidak keburu mengelakkan

kepalanya.

Sam-ok Cui Seng terkejut serangannya gagal, malah

kepalanya hampir digempur pecah. Ia lompat mundur,

mengawasi si nenek yang ketawa haha hihi.

Sambil menunjuk dengan tongkatnya, Kim Popo berkata,

"Badanmu memang tinggi besar, menyeramkan tapi tidak ada

'isi'. Buat main-main dengan Kim Popo, kau bukan

tandinganku. Lekas kumpulkan saudara-saudaramu untuk

mengerubuti aku !"

Bukan main gusarnya Sam-ok Cui Seng ditantang demikian.

Pikirnya, mungkin barusan ia kurang cepat gerakannya

lantaran terlalu enteng memandang lawan.

Ia penasaran, cuma sangsi kalau ia lawan si nenek dengan

tangan kosong. Maka itu ia mencabut goloknya, berkata,

 

"Jangan temberang. Lihat golok !"

Perkataan Sam-ok Cui Seng disusul dengan satu sabatan

golok pada pinggang.

Kim Popo ketawa terkekeh-kekeh sambil tubuhnya dengan

enteng lompat tinggi mengelakkan serangan, terputar

sebentaran baru turun menginjak lantai lagi. Sam-ok Cui Seng

merangsek, goloknya menyerang bertubi-tubi. Ia mainkan ilmu

goloknya 'Ngo-houw-toan-bun-to' atau 'Lima macan menjaga

pintu'. Tidak ia memberi kesempatan untuk Kim Popo perbaiki

posisinya.

Tapi pengalaman bertempur, Kim Popo jauh diatas Sam-ok

Cui Seng. Ilmu goloknya 'Lima macan menjaga pintu' yang

belum tamat, mana dapat membuat susah pada si nenek

kosen yang menggunakan ilmu entengi tubuhnya baik sekali.

Kim Popo ingin mencoba tenaga dalamnya si Jahat ketiga.

Golok lawan yang mengarah dadanya, ia kelit nyamping ke

kanan, dari mana tongkatnya digeraki menangkis golok dari

bawah ke atas dengan tipu "Lutung hitam petik buah'. "Trang !"

terdengar suara bentrokan dua senjata, goloknya Sam-ok Cui

Seng terlempar jauh ke atas kemudain turun lagi menghajar

lantai, sehingga menerbitkan suara keras.

Sam-ok Cui Seng tampak berdiri menjublak, lengannya yang

barusan mencekal golok gemetaran, sakit bukan main.

Matanya melotot mengawasi Kim Popo yang tengah terkekehkekeh

tertawa.

Sekonyong-konyong si nenek merasa ada angin menyambar

dari belakang.

 

Ia duga akan datangnya senjata rahasia. Cepat ia lompat

nyamping ke kiri. Benar saja, itulah piauw beracun yang

dilepas oleh Ji-ok Cui Kin. Kalau si nenek selamat dari piauw

beracun, adalah orangnya Siauwsan Ngo-ok yang berdiri di

depan Kim Popo menjerit dan jatuh rubuh. Ia terkena senjata

piauwnya Ji-ok Cui Kin tepat sekali, tidak ampun lagi, ia roboh

tidak berapa lama. Tubuhnya berkelojotan dan rohnya segera

terbang.

Berbareng dengan dilepas senjata rahasianya, Ji-ok Cui Kin

enjot tubuhnya melesat, tancap kaki didepannya Kim Popo

yang barusan saja memutar tubuhnya untuk melihat siapa

yang melepas senjata rahasia tadi.

"Nenek tua !" bentak Ji-ok Cui Kin gusar. "Kau datang menhina

kami, apa maksudmu ? Apa kau kira mudah keluar dari kuil ini

setelah kau mengacau ?"

Kim Popo awasi orang di depannya. Ternyata ia tidak lain

adalah si hidung panjang yang duduk berduaan dengan si

berewokan di sebelah dalam. Ia berdiri diatas sebelah kakinya

yang kanan karena kaki kirinya kutung sebatas dengkul.

"Kau yang melepaskan piauw barusan ?" tanya Kim Popo,

keningnya mengkerut.

"Tidak salah !" sahut Ji-ok sambil menepuk-nepuk dadanya.

"Bagus !" teriak Kim Popo, tongkatnya berbareng diangkat

untuk mengemplang batok kepala Ji-ok Cui Kin, tetapi Ji-ok

cepat menangkis dengan pedangnya. Dua senjata saling

bentur hingga meletikkan bunga-bunga api.

 

"He he, boleh juga tenagamu," kata Kim Popo ketika melihat

pedang lawannya masih tetap tercekal ditangannya.

"Sambutlah ini !" si nenek melanjutkan kata-katanya seraya

gerakkan tongkatnya menyodok ke arah punya 'gudang

makanan' (perut), menuju jalan darah "Liong-kek-hiat'.

Ji-ok Cui Kin tidak takut. Ketika ujung tongkat sampai ia

mengegos, pedangnya dipakai menekan. Kemudian

diserosotin untuk memapas tangan yang mencekal senjata

berat itu. Inilah gerakan yang dinamai 'Tok coa poan cu' atau

'Ular berbisa melilit tiang', satu jurus yang berbahaya sekali

bagi lawannya, ialah akan terpapasnya tangannya.

Melihat gelagat jelek, Kim Popo cepat tarik pulang tongkatnya,

lompat ke samping kiri musuhnya, akan dari mana tongkatnya

bekerja menotok pada jalan darah di iga. Serangan ini

dilakukan cepat sekali hingga Ji-ok Cui Kin gugup untuk

menangkisnya. Dalam bahaya dia. Tapi ada bintang penolong

yang datang tiba-tiba. Itulah Toa-ok Cui Ping, si berewok tadi

yang menolongi saudaranya menangkis tongkat Kim Popo

dengan goloknya. Sementara itu Ji-ok Cui Kin sudah lompat

menjauhkan diri.

Kim Popo marah, alisnya berdiri. Ia penasaran sekali pada

orang yang sudah gagalkan serangannya yang hampir

berhasil Ia mengawasi Toa-ok dengan roman yang geregetan

sekali. Maka tidak banyak omong lagi, ia angkat tongkatnya

menyerang si berewok.

"Tahan !" kata Toa-ok Cui Peng sambil berkelit dari serangan

dan lompat mundur empat tindak.

 

"Binatang, kau mau omong apa lagi ?" bentak Kim Popo kasar.

Toa-ok Cui Peng angkat tanganya bersoja, katanya, "Maafkan,

aku Cui Peng kurang hormat. Tapi tolong jelaskan apa sebab

kau orang tua datang mengacau disini ?"

"Aku mengacau ? Hm ! Kau tanya orang-orangmu sendiri

tanpa sebab sudah datang mengeroyok padaku, memangnya

aku orang apa ?" jawab si nenek mendongkol.

Cui Peng dapat memahami duduknya kejadian. Memang

kesalahan dipihaknya, orang-orangnya suka berlaku

sewenang-wenang dan perbuatan meraka justru kali ini 'kena

batunya' menemui si nenek kosen.

Ia tidak menjawab si nenek yang balik menanya, sebaliknya ia

berkata lagi, "Aku mengagumi kepandaianmu, orang tua !

Untuk menyingkat waktu, bagaimana kalau pertempuran

dengan senjata dirubah dengan pertaruhan ?"

"Kau mau bertaruh apa ?" tanya Kim Popo, suaranya tidak

sekasar tadi. Rupanya ia measa si berewokan ini, meskipun

kelihatannya bengis kasar, tiap pertanyaannya diucapkan

dengan sopan santun.

"Begini saja," sahut Cui Peng, "kita bertaruh dalam dua babak.

Kalau aku menang, kau harus meninggalkan kuil ini tanpa

syarat."

"Kalau aku yang menang ?" Kim Popo memotong

pembicaraan orang yang belum habis.

"Kalau yang yang menangi, kami tiga saudara akan berlutut di

 

depanmu dan angkat kau orang tua menjadi ibu angkat kami.

Akur !" sahut Cui Peng ketawa.

Si nenek termenung sebentar.

"Baiklah, bagaimana caranya bertaruh ?" Kim Popo menanya.

"Babak pertama, kita masing-masing menghadapi batu besar.

Siapa yang memukul lebih patah pada batunya masingmasing,

dialah yang menang." menerangkan Toa-ok Cui Peng.

Dan babak yang kedua, kita masing-masing menghadapi dua

batang besi. Siapa yang dapat menekuk atau mematahkan,

dia yang menang."

Kim Popo kembali temenung. Ia tidak sadar bahwa ia tengah

diliciki oleh Toa-ok Cui Peng. Si berewok memang ada ahli

'Gwakang' (tenaga luar) disamping ia mempelajari juga

lwekang (tenaga dalam). Ia sangat andalkan tenaganya yang

seperti raksasa. Pikirnya, si nenek yang kurus kering seperti

yang kurang makan itu, pasti dengan mudah dikalahkan

olehnya.

Si berewok sangat licin. Ia tahu kepandaiannya Kim Popo ada

di atas mereka tiga saudara dan bila si nenek dikerubuti,

belum tentu mereka akan peroleh kemenangan. Pikirnya dari

pada buang tempo, malah bisa-bisa mendapat celaka, lebih

baik si nenek ia ajak bertaruhan untuk jurusan yang ia

andalkan, yang ia percaya seratus persen Kim Popo akan

tergelincir kalah hingga ia boleh angkat kaki dari kuil itu tanpa

adu senjata lagi.

Setelah termenung, Kim Popo berkata lagi, "Kalau kau kalah,

tak usah ganti berbahasa pakai ibu segala, cukup kau orang

 

memanggil 'Popo' (nenek) saja."

"Bagus, kami menurut saja kau orang tua punya kemauan."

jawab Cui Peng merendah sambil anggukan kepala.

"Nah, kau unjukkan dimana barangnya yang hendak

digunakan sebagai sasaran bertaruh." tanya Kim Popo.

"Oh, itu ada di belakang kuil ini. Mari turut aku ke sana !" sahut

Cui Peng.

Berbareng ia berjalan diikuti oleh dua saudaranya Ji-ok Cui

Kin dan Sam-ok Cui Seng, sedang Su-ok Cui Tie ada di

markas besarnya, gunung Siauw-san, tidak ikut hadir dalam

keramaian dalam kuil tua itu.

Kim Popo turut dari belakang.

Kemudian yang lain-lainnya, jagoan dibawahnya Siauw-san

Ngo-ok menyusul mengikuti. Mereka kegirangan akan

menyaksikan keramaian yang bakal dilihat.

Sesampainya dibelakang ruangan kuil, Toa-ok dengan muka

bersenyum ramah mengunjukan pada Kim Popo dimana

letaknya dua barang yang bakal dipakai sasaran itu. Tampak

di depan agak sebelah kiri, ada dua buah batu besar

sepelukan orang. Entah berapa ratus kati beratnya. Di sebelah

kanannya di satu pojokan, ada menyandar dua batang besi

dari ukuran tengah dua dim dan panjangnya kurang lebih dua

setengah meter.

Setelah mengawasi sejenak, si nenek tampak kerutkan

keningnya.

 

Matanya Toa-ok yang awas, dapat melihat perubahan ini.

Dalam hatinya amat kegirangan. Sebab dengan mengunjuk

sikap demikian, kelihatannya si nenek tidak mungkin akan

menang dalam pertaruhannya.

"Bagaimana, apakah kita boleh mulai ?" tanya si berewok.

"Boleh saja, kau boleh mulai. Tapi tunggu dahulu." kata Kim

Popo seraya berjalan menghampiri dua batu besar bakal

sasaran itu. Ia memeriksa sambil pegang-pegang. Benarbenar

batu itu kelihatannya alot. Lalu ia jalan menghampiri dua

batang besi yang merupakan toya besar. Juga disini ia

pegang-pegang barang itu dan memeriksa dengan teliti.

Mulutnya kemak kemik seperti ada yang dikatakan tapi tidak

kedengaran oleh siapa pun juga disitu.

Makin kegirangan Toa-ok melihat gerak geriknya si nenek.

"Marilah kita mulai." kata si berewok sambil maju menghampiri

satu diantara dua batu besar itu.

"Jangan sungkan, kau boleh mulai !" kata Kim Popo yang

melihat Toa-ok unjuk laga seperti yang pasti akan dapat

memukul belah batu itu.

"Baiklah," sahutnya. Lalu dikerahkanlah tenaga luar.

Kecuali Kim Popo yang sikapnya acuh tak acuh, semua orang

yang ada menyaksikan disitu dan tegang hatinya, masingmasing

kuatir kepala pemimpinnya gagal dalam

pertaruhannya. Setelah mengerahkan tenaganya, tampak

Toa-ok Cui Peng mengangkat tangannya yang kanan, dibeber

 

macam golok lalu dengan tiba-tiba tubuhnya mendak,

tangannya membacok. Segera terdengar suara terbelahnya

batu. Batu besar itu terbelah dua.

Di susul oleh sorak ramai, gegap gempita dan seruan "Hidup

pemimpin kita !".

Kemudian Toa-ok Cui Peng jalan menghampiri para penonton

dengan roman tertawa-tawa. Disambut oleh orang-orangnya

sambil tampik sorak ramai.

"Bagus." memuji Kim Popo. "Toa-taunia, hampir kau bikin aku

jeri dan terima kalah. Kalau hatiku tidak mendesak untuk cobacoba."

"Ah, kau terlalu merendah, orang tua." sahut Cui Peng ketawa.

Kim Popo pun tertawa. Lalu ia minta salah seorang pegangi

tongkatnya. Ia sendiri jalannya mendekati batu besar bagian

sasarannya.

Setelah datang dekat, ia berdiri sejenak lalu berpaling ke arah

orang banyak. Kepalanya manggut-manggut lalu entah

bagaimana ia bergerak, tangannya yang kanan tiba-tiba

menggaplok batu besar itu. Terdengar suara gemuruh, batu itu

ternyata hancur berantakan.

Orang banyak jadi terkesima melihatnya. Mereka sangat

tertegun sampai lupa bersorak sorai. Suasana menjadi sunyi

sebentaran sampai kemudian Toa-ok Cui Peng yang juga

terbelalak matanya keheranan sudah bisa menghilangkan rasa

cemasnya dan dengan muka tertawa, ia menyambut Kim Popo

yang sudah balik lagi ke tempat orang banyak berkumpul.

 

"Orang tua, kau hebat sekali ! Kali ini kau menang. Marilah kita

mulai dengan babak yang kedua." si berewok menantang

seraya menghampiri dua lonjoran besi berat yang menyandar

di tembok.

Ia ambil satu antaranya. Besi yang berat itu ditangannya

seolah-olah bambu saja entengnya. Ia putar-putar sebentar

lalu berkata pada Kim Popo, "Bolehkah aku mulai, orang tua ?"

Kim Popo manggut. "Kau boleh mulai, Toa-taunia." Ia

menyilahkan.

Toa-ok Cui Peng gunakan dengkulnya sebagai penahan besi.

Tenaganya dikerahkan pada kedua tangannya dan dengkul,

lalu...... besi lonjoran itu pelan-pelan melengkung dan mulai

jadi bundar.

Kembali terdengar tampik sorak riuh rendah dan ucapan

bersemangat "Hidup pemimpin kita" beberapa kali. Malah ada

yang berjingkrakan kegirangan. Ji-ok dan Sam-ok berseri-seri

mengawasi Kim Popo yang tengah mengerutkan keningnya.

Pikir mereka, kali ini Toakonya bakal menang hingga stand

menjadi seri 1-1.

Setelah melengkung hampir bundar, besi itu dilemparkan oleh

Toa-ok Cui Peng dan ia kembali ke rombongannya, mukanya

tersungging senyuman puas. Ia kemudian berkata pada Kim

Popo, "Silahkan orang tua !"

Si nenek tanpa dipersilahkan kedua kalinya, ia sudah lantas

menghampiri besi berat itu. Ia pegang kemudian diputar-putar

seperti Toa-ok tadi berbuat. Setelah mana, ia pegang dengan

 

kedua tangannya. Ia timbang-timbang, akan sebentar lagi

orang lihat besi itu dilemparkan ke atas dengan kedua

tangannya, terputar sebentar kemudian jatuh turun dalam

keadaan melintang.

Inilah ada suatu demonstrasi yang mempersonakan. Penonton

tidak tahu apa yang akan dilakukan Kim Popp atas besi yang

berat itu, yang jatuh turun dengan melintang.

Toa-ok Cui Peng dengan dua saudaranya saling mengawasi,

mata seperti saling menanya. Tidak menanti lama keputusan,

sebab tiba-tiba si nenek berseru keras. Sambil lompat

memapaki besi yang jatuh turun, lengan kanannya menghajar

keras persis di tengah-tengah lonjoran besi itu. "Peletak !"

terdengar suara barang patah. Itulah toya besar yang patah

jadi dua turun jatuh ke tanah.

Kali ini, saking heran dan gembiranya menyaksikan

kepandaiannya Kim Popo yang istimewa, penonton bersorak

riuh. Teriakan terdengar, "Hidup, hidup......."

"Hidup Popo !" Toa-ok tambahkan teriakan kawan-kawannya

yang kelihatan ragu-ragu untuk menyebutkan "Popo".

Maka, setelah diberi contoh, lalu teriakan "Hidup Popo, hidup

Popo" menggema dalam ruangan di belakang kuil tua itu yang

tidak seberapa besarnya.

Kini dengan hati rela, Siauw-san Ngo-ok menyerah kalah.

Ketika Kim Popo balik ke tempat rombongan, tanpa ditegur,

Toa-ok dan dua saudaranya yang lain telah menekuk lututnya

sambil menyebut, "Popo, anak-anakmu memberi hormat dan

 

mengucapkan selamat panjang umur !"

"Bangunlah Toa..... eh, anak-anak. Aku paling tidak suka

banyak peradatan !" kata Kim Popo yang menyilakan anakanak

angkatnya bangun dari berlututnya.

Demikianlah ada kejadian cara bagaimana Siauw-san Ngo-ok

menjadi anak-anak angkatnya dari Kim Popo.

Toa-ok Cui Peng dan saudara-saudaranya kegirangan

mendapat ibu angkat yang demikian kosen. Segera mereka

menyuruh orang-orangnya menyiapkan satu meja makanan

untuk mereka berpesta pora menghormati Kim Popo.

Ketika rombongan kembali masuk ke ruangan dalam pula, Kim

Popo dapatkan dua orang yang ditelikung tangannya masih

ada. Ia lalu minta keterangan dari Toa-ok, siapa mereka itu.

Kiranya mereka itu ada dua orang piauwsu dari Sam Seng

Piauw Kiok di kota Tongkwan propinsi Siamsay. Satu

perusahaan pengawalan barang yang sangat terkenal, karena

pengiriman-pengiriman yang diurus oleh Sam Seng Piauw Kok

hampir belum pernah gagal atau mendapat halangan di

jalanan.

Kim Popo tampak kerutkan keningnya setelah mendengar

keterangan Toa-ok Cui Peng. Kemudian mengawasi kedua

piauwsu yang berlutut sambil tundukan kepala.

"Hehe, kenapa si orang she Liong pakai dua orang tidak

berguna begini ?" kata Kim Popo, suaranya pelan tapi cukup

kedengaran oleh dua piauwsu itu.

Berbareng mereka angkat kepalanya, mengawasi pada si

 

nenek.

"Kami sudah kena ditawan. mau dibunuh, boleh bunuh. Untuk

apa banyak rewel ?" berkata satu diantara piauwsu itu yang

mukanya persegi.

Kawannya yang jenggotnya jarang, sambil tertawa sini

berkata, "Tanpa perangkap belum tentu dapat merobohkan

kami berdua !"

"Kau bernama apa ?" tanya Kim Popo kepada si muka

persegi.

"Aku bernama Liok Tek Kim. Belum pernah aku menukar

nama !" sahutnya.

"Dan kau ?" tanya Kim Popo pada si jenggot jarang.

"Aku Tan Kim Tie." jawabnya gagah.

"Kau pernah apa dengan Liong Seng, pemimpin dari Sam

Seng Piauw Kiok ?" si nenek tanya Liong Tek Kim.

"Aku adalah keponakannya." sahutnya singkat.

"Bagus." kata Kim Popo. "Sekarang bagaimana kehendak kau

orang ?"

"Sudah kukatakan, mau bunuh boleh bunuh. Tak usah banyak

cingcong !" sahut si muka persegi, suaranya keras, hatinya

tidak gentar.

"Hehe." Kim Popo tertawa. "Anak-anakku, merdekakan dua

 

orang ini."

Toa-ok dan saudara-saudaranya melenggak mendengar katakata

Kim Popo. Tidak kecuali dengan dua orang tawanan yang

ditelikung tangannya.

"Tapi......ah, Popo........" kata Sam-ok Cui Seng gugup.

"Merdekakan !" potong si nenek. "Aku bilang merdekakan

harus turut !"

Sam-ok Cui Seng melirik pada saudara tuanya seperti minta

pendapat. Toa-ok Cui Peng mengedipkan matanya, kepalanya

manggut sedikit, suatu pertanda saudara ketiga itu bolhe

lakukan perintah si nenek.

Tanpa sangsi, Sam-ok Cui Seng perintahkan orang-orangnya

untuk memerdekakan dua orang tawanannya. Sekejapan saja

tangan mereka sudah merdeka, tapi mereka masih tetap

berlutut.

"Bangun !" kata Kim Popo. "Kenapa kalian masih tetap berlutut

?'

Dua piauwsu itu tidak menyahut, hanya keduanya pada

tundukkan kepala.

Kim Popo heran. Ketika diselidiknya, kiranya mereka sudah

tidak dapat bangkit dari berlututnya karena dengkul masingmasing

lemas akibat hajaran (siksaan) pada kakinya dipaksa

mereka berlutut oleh Sam-ok Cui Seng.

Kim Popo kerutkan keningnya. Kemudian ia suruh orang

 

periksa lukanya dan diberi obat lalu diangkut ke lain ruangan

dimana mereka direbahkan dan diberi pertolongan lebih jauh.

"Apa memangnya Popo kenal dengan Liong Seng, pemimpin

dari Sam Seng Piauw Kiok ?" tanya Toa-ok Cui Peng setelah

dua piauwsu itu digotong ke lain ruangan.

Kim Popo anggukan kepalanya. "Orang she Liong itu yang

bergelar Tiat-gee (Si Kerbau Besi), selain ilmu silatnya lihai,

dia juga ada seorang yang peramah." menutur si nenek.

"Luhur budinya, suka tolong orang yang dalam kesusahan

hingga dia sangat dihormati oleh lawan dan kawan. Pun

pergaulannya ada sangat luas, banyak kawan-kawan atau

sahabat-sahabatnya yang berkepandaian tingi di kalangan

putih maupun hitam (baik dan jahat) hingga Piauw kioknya

mendapat banyak kemajuan.........'

"Dia toh tidak punya hubungan penting dengan Popo."

memotong Sam-ok Cui Seng tidak sabaran. Rupanya ia masih

menyesal dua tawanannya dimerdekakan.

Kim Popo pelototi matanya pada si jahat ketiga itu.

Toa-ok dilain pihak mengedipi saudaranya, hingga Cui Seng

tundukkan kepala.

"Aku belum bicara habis, kau sudah main potong saja !" kata

Kim Popo, suaranya kaku. "Aku paling tidak suka orang

potong bicaraku !"

-- 3 --

Si nenek yang adatnya cepat ngambul dan cepat marah,

 

hampir tidak mau melanjutkan penuturannya kalau tidak Toaok

yang membujuknya dengan sabar.

Kiranya si nenek itu hutang budi pada Tiat-gu Liong Seng yang

memberikan pertolongan di waktu ia sakit dalam sebuah hotel

di Tongkwan. Si Kerbau Besi bukan saja menolong dalam hal

keuangan dan pengobatan, malah dengan ramah tamah

mengundang ia tinggal dalam rumahnya yang besar untuk

beristirahat sampai ia sehat dan segar benar, baharu

dilepaskan ia merantau lagi.

Dilihat romannya yang jelek dan keriputan, ditaksir usianya

Kim Popo sudah dekat mencapai tujuh puluh tahun. Namun,

sebenarnya ia baharu lima puluhan.

Kenapa kelihatannya jadi begitu tua, itu ada sebabnya.

Mukanya yang bagus cantik telah berubah jelek keriputan

akibat ia masak obat beracun yang tiba-tiba meledak

menyambar ke mukanya.

Mendengar ceritanya Kim Popo, Toa-ok Cui Peng manggutmanggut

kepalanya.

Ia merasa bertindak keliru dengan merampas barang-barang

antarannya Sam Seng Piauw Kiok di bawah pimpinannya Tiatgu

Liong Seng yang mulia hatinya.

Di samping jeri menghadapi pembalasannya si Kerbau Besi

yang banyak kawannya yang lihai, juga Ketua dari si Lima

Jahat itu merasa segan pada ibu angkatnya. Maka barangbarang

rampasan dikembalikan pada Liok Tek Kim dan Tan

Kim Tie dengan tidak kurang suatu apa.

 

Dua piauwsu itu mengucapkan terima kasih terutama pada

Kim Popo sebab dengan datangnya si nenek itu telah

membuat perubahan yang mereka tidak sangka-sangka.

Ketika Liong Tek Kim menanya hal hubungannya si nenek

dengan pemimpinnya, Kim Popo hanya ketawa haha hihi saja,

akan kemudian ia berkata juga, "Tak usah banyak tanya. Kau

nanti akan dapat tahu dari si Kerbau Besi kalau kau sudah

kembali di Tongkwan."

Liong Tek Kim tidak berani banyak tanya pula. Maka ia lalu

siapkan orang-orangnya untuk berangkat lebih jauh, ke tempat

barang-barang kiriman itu dialamatkan. Ia dan kawannya

masih belum bisa jalan atau naik kuda karena kakinya masih

lumpuh. Maka terpaksa ikut naik dalam kereta piauw yang

mereka kawal.

Sementara itu, hujan lebat pun sudah berhenti.

Kim Popo diundang Toa-ok Cui Peng sama-sama pulang ke

markasnya di Siauw san, tapi Kim Popo menolak dengan

alasan bahwa ia masih banyak urusan yang perlu diselesaikan

dan berjanji begitu sudah ada ketikanya, ia akan datang ke

sana menyambang anak-anak angkatnya.

Demikianlah, setelah menjamu Kim Popo sebagai kehormatan

menjadi ibu angkat Siauw-san Ngo-ok, maka mereka telah

berpisahan satu dengan lain.

Mari kita lihat Lo In, si bocah yang dicari oleh Siong Leng Tojin

dan kawan-kawannya yang dianggap ada bibit bencana kalau

tidak dibinasakan.

 

Ketika Siong Leng Tojin ingat Lo In, si bocah itu waktu sedang

mengintip jendela. Cepat-cepat ia jauhkan diri waktu ia dengar

dirinya akan dicari di sebelah luar, menyelingkar dibaliknya

sebuah pohon besar.

Pemeriksaan dilakukan sangat teliti, bukan saja diatas pohonpohon

karena di duga Lo In ngumpat di atas pohon, juga batu

besar itu, dibelakang mana Lo In pernah mengumpat telah

diselidiki dengan seksama.

"Untung aku sudah tidak sembunyi disitu." kata Lo In dalam

hati kecilnya, waktu melihat batu besar itu diperiksa keras.

Hasilnya mereka laporkan pada Siong Leng Tojin, tak dapat

mencari Lo In setelah uber-uberan dicari.

Setelah mayat Ji-ok Cui Kin ditanam, mereka lalu

meninggalkan tempat itu pada esok paginya terang tanah.

Toa-ok jalan sambil panggul tubuhnya Sam-ok Cui Seng yang

kutung kaki kanannya.

Mereka tidak memusingkan kemana perginya Kim Popo sebab

mereka masing-masing sudah tahu adatnya si nenek yang

angin-anginan, setiap waktu ia pergi tak pernah

memberitahukan bahwa ia akan pergi ke mana.

Setelah keadaan aman, barulah Lo In berani memasuki

rumahnya.

Tampak olehnya, keadaan dalam rumah morat marit, bekas

diaduk-aduk kawanan penjahat, hatinya bukan main sedihnya.

Lo In dijatuhkan diri di kursi malas, yang biasa Liok Sinshe

 

rebahan, otaknya berputar, memikirkan hidupnya yang

seterusnya tanpa orang melindungi dirinya.

Air matanya mengembeng, sakit hatinya, tangannya

dikepalkan.

"Aku akan membalas dendam akan kematiannya Liok Sinshe

!" ia berkata sendirian, matanya beringas dan tangannya

dikepal-kepalkan.

Lucu kelihatannya kalau anak kecil lagi lagi.

Kapan ia ingat akan nasehat Liok Sinshe bahwa ia harus

berlaku tenang jika menghadapi sesuatu urusan, biar

bagaimana besar pun, maka amarahnya menjadi reda.

Sebagai gantinya, kembali ia menangis, menangis terisakisak.

Lo In terkenang pada masa lampau, lima tahun berselang

hidup terlunta-lunta diantara anak-anak gembel di kota

Lamkoan. Pada hari itu tengah bermain-main di pekarangan

kuil Thian-ong-sie. Tiba-tiba pundaknya ada yang tepuk.

Ketika ia menoleh, tampak seorang laki-laki berparas cakap

menatap kepadanya. Di atas alis kirinya ada tanda codet

seperti bekas barang tajam. Senyumannya yang menawan,

telah menarik sekali hatinya. Itulah orang yang belakangan ia

kenal sebagai Liok Sinshe, yang telah angkat ia dari dunia

gelandangan menjadi seorang anak yang cerdas tangkas,

yang melindungi dan mencintainya sebagai ganti ayahnya.

Masih berbayang saat itu, mula-mula ia ketika ia bertemu Liok

Sinshe.

 

"Anak, apa kau sudah makan ?" tanyanya Liok Sinshe diwaktu

itu.

Lo In menggelengkan kepala.

"Apa mau makan ?" tanya Liok Sinshe.

Lo In mengangguk.

"Mari ikut aku !" kata Liok Sinshe berbareng tangannya Lo In

dipegang, diajak berlalu dari situ untuk kemudian mereka

memasuki sebuah rumah makan.

Lo In menurut disuruh duduk diatas bangku yang kitari meja

makan. Setelah pesan makanan, Liok Sinshe berkata lagi

pada Lo In, "Anak, kau begini kurus."

Lo In tidak menjawab. Kepalanya nunduk, mengawasi bajunya

yang kumel dan robek disana sini.

"Ayah dan ibumu ada dimana ?" tanya Liok Sinshe memancing

si bocah bicara.

Lo In geleng kepala. "Akut idak tahu ayah dan ibu dimana."

sahutnya kemudian.

Sementara itu, pelayan sudah siapkan hidangan di atas meja.

Lo In awasi makanan di depannya. Ia menelan ludah, mengilar

dia rupanya.

Liok Sinshe memperhatikan anak gembel itu, kurus dan pucat

 

mukanya. Pakaiannya compang camping, hatinya merasa

sangat kasihan.

"Mari kita makan !" mengajak Liok Sinshe seraya mulai

pegang sumpitnya.

Lo In tidak perlu diundang dua kali, sebab segera ia pegang

sumpit dan mulai cobai makanan yang barusan membuat ia

menelan ludah saking kepingin cicipi. Ia makan banyak, malah

dua kai ia minta tambah nasi.

Liok Sinshe ketawa menampak perbuatan Lo In yang lucu,

simpati serta gerakannya ada cekatan sekali.

"Eh, namamu siapa ?" tanya Liok Sinshe.

"Namaku In, orang bila aku she Lo" jawabnya, mulutnya penuh

nasi.

Geli hatinya Liok Sinshe melihat Lo In yang gembul

makannya.

"Bagus," kata Liok Sinshe. "Kau mau ikut aku ?"

"Kemana ?" Lo In balik menanya.

"Kemana saja." sahut Liok Sinshe. "Kita jalan-jalan melihatlihat

keramaian kota diberbagai tempat."

Lo In meletakkan sumpitnya, mengawasi sebentar pada orang

didepannya.

"Mau, aku mau !" katanya kegirangan.

 

Demikian, sejak itu Lo In ikut mengembara dengan Liok

Sinshe ke berbagai tempat, kemudian menetap diatas jurang

Tong-hong-gay.

Melebihi dari dugaannya sendiri, Liok Sinshe lihat kecerdikan

dan ketajaman otaknya Lo In ada luar biasa. Tiap pelajaran

baik surat maupun ilmu silat, belum pernah diulang sampai

tiga empat kali. Paling banyak dua kali sudah cukup, ini juga

kalau ruwet.

Lo In ternyata ada satu anak yang jenaka, banyak menghibur

hatinya Liok Sinshe dikala dalam kesunyian merenungkan

nasibnya yang terumbang ambing.

Semakin Lo In tambah umur, Liok Sinshe tampaknya semakin

sayang pada si bocah hingga Lo In dapat mewariskan

kepandaiannya Liok Sinshe salam ilmu surat dan ilmu silat

yang lihai. Sayang ia masih anak-anak hingga belum dapat

digembleng tenaga dalamnya, kalau tidak, ia sudah selihai

Liok Sinshe, malah ada kemungkinan ia lebih gesir dan cepat

lagi.

Meskipun demikian, pelan-pelan Liok Sinshe memulai dengan

gemblengannya tenaga dalam (lwekang). Dimulai ketika

umurnya Lo In meningkat sepuluh tahun. Maka ketika ada

penyerbuan dari Siauw-san Ngo-ok dengan kawan-kawannya

itu adalah dikala Lo In baru dapat gemblengan lwekang dua

tahun lamanya.

Sebenarnya Lo In ingin membantu Liok Sinshe waktu

dikerubuti. Cuma saja, selain ia ragu-ragu akan

kepandaiannya sendiri, yang terutama ia takuti Liok Sinshe

 

tegur dan marahi padanya, tidak menurut perintah untuk lari

menyelamatkan diri.

Maka juga ia tinggal mengintip nonton saja pertarungan seru

itu. Ia perhatikan betul gerak gerik Liok Sinshe

mempraktekkan kepandaian yang telah diajarkan padanya.

Inilah yang membangkitkan nyalinya jadi besar, untuk dalam

usia yang masih anak-anak kelak ia dapat menjatuhkan lawanlawan

dari penolongnya (Liok Sinshe).

Sekarang Liok Sinshe sudah tidak ada lagi dalam dunia,

kemana Lo In harus pergi ? Apakah ia tinggal tetap saja di

atas jurang Tong-hong-gay untuk meyakinkan ilmu tenaga

dalamnya lebih jauh ?

Pusing kepalanya Lo In memikirkan itu semua.

Tiba-tiba ia rasakan perutnya bergeruyukan minta makan.

"Kurang ajar, orang sedang kesusahan, ada-ada saja !" ia

berkata sendirian, menyesalkan perutnya yang menyelak

diantara alunan ngelamunnya.

Sambil berkata begitu, Lo In bangkit dari duduknya, masuk ke

ruang belakang untuk cari makanan. Sebentar lagi tampak ia

sudah pegang satu potong besar kue. Sambil mengganyang

ransum kering itu ia berjalan keluar.

Maksud Lo In mau duduk ngelamun di atas kursi malasnya

Liok Sinshe tapi sekonyong-konyong ia merandak jalan dan

berdiri terpaku seperti ada apa-apa yang tiba-tiba mundul

dalam ingatannya.

 

Matahari pagi sudah mulai naik tinggi, sementara Lo In berdiri

terpaku. "Tidak, tidak. Aku tidak percaya dia mati !" ia

menggumam.

Lo In tidak jadi menghampiri kursi malas. Sebaliknya, ia putar

tubuhnya dan jalan mendekati peti obat-obatan. Ia periksa di

dalamnya sudah berantakan. Rupaynya peti itu tidak menjadi

kekecualian diaduk-aduk oleh Kim Popo yang mencari buku

ilmu menotok jalan darah, Tiam-hiat Pit-koat.

Meskipun berantakan, botol-botol kecil yang terisi obat-obat pil

dan puder (bubuk) tidak sampai berceceran, semuanya masih

utuh. Lalu ia ambil botol-botol terisi obat itu, semuanya ada

enam botol, dimasukkan ke dalam kantongnya.

Sebelum Lo In bertindak, tangannya yang kanan dimasukkan

pula ke dalam sakunya dari mana ia keluarkan dua botol yang

berisi pil dan puder. Tangannya diangkat tinggi-tinggi, matanya

memandang tajam pada dua botol itu. Tiba-tiba ia berteriak

kegirangan, "Hidup, hidup. Dia masih hidup. Ha ha ha !"

Tampak si bocah berjingkrakan seperti orang gila.

Apakah Lo In sudah hilang ingatannya ? Apa ia sudah jadi gila

mendadak ? Kalau tidak, kenapa ia berjingkrakan sekonyongkonyong

?

Tidak, Lo In tidak gila. Saking girangnya, setelah ia berpikir

bahwa Liok Sinshe akan ketolongan dengan dua rupa obat

ditangannya tadi, maka ia jadi berjingkrak-jingkrak. Maklumlah

anak masih kecil yang kegirangannya meluap-luap.

Di lain saat, kelihatan ia sudah berlari-larian menuju ke tepi

 

jurang. Tapi di tengah jalan tiba-tiba ia rem larinya, lalu putar

tubuh dan balik kembali.

Benar-benar lucu kelakuannya si bocah Lo In. Apa maunya Lo

In balik lagi ? Oh, kiranya ia balik ke rumahnya mengambil

pedangnya Liok Sinshe yang disimpan rapi di balik pintu. Itu

adalah satu pedang pendek, hanya kira-kira dua kaki

panjangnya ketika Lo In hunus dari sarungnya.

Pedang itu tidak mengkilap sinarnya, seperti kebanyakan

pedang-pedang dari jago-jago Sungai Telaga (kang-ouw),

hanya kebiru-biruan kalau terkena sinar matahari. Bentuknya

tidak menarik, hingga pantas sekali kalau ia menjadi penghuni

dalam sarung yang sudah kumel. Entah sudah berapa puluh

tahun pedang itu dipakai oleh Liok Sinshe dalam hidupnya

malang melintang dalam dunia Sungai Telaga.

Siong Leng Tojin dan kawan-kawannya ketika melewatkan

sang malam dalam rumah itu dengan pintu terpentang. Coba

kalau ketika itu, pintu itu ditutup. Pasti senjata tajam Liok

Sinshe akan dibeslag, meskipun bentuknya jelek, demikian

pandangan Lo In si bocah.

"Kenapa Liok Sinshe pakai pedang beginian ?" tanya Lo In

pada dirinya sendiri, seraya membulak balik memeriksa.

Ia baru pertama kali melihat senjatanya Liok Sinshe, selama ia

ikuti penolongnya itu. Yang menarik hatinya si bocah adalah

bobotnya pedang itu enteng sekali, maka ia memasuki pula ke

dalam sarungnya, ia gantung di pinggangnya lalu jalan mundar

mandir dengan sikap perwira.

Sok aksi anak itu, tapi lucu laga lagunya dasar anak-anak.

 

Sayang Liok Sinshe tidak ada. Coba ada, tentu akan

terpingkal-pingkal melihat Lo In dalam gayanya sendiri

menjual aksi.

Lo In dilain saat sudah berada diluar rumah, dengan di

pinggangnya menyandang pedang. Bocah itu dalam usia

meningkat dua belas tahun, tubuhnya kurus dan lebih tinggi

dari anak-anak biasa dalam usia pantarannya. Maka, kelihatan

pantas sekali pedang warisan Liok Sinshe itu tergantung di

pinggangnya yang ceking.

Ia berdiri sejenak di depan rumah. Matanya memandang ke

sekitarnya, kemudian gerakin kakinya melangkah. Ternyata

kali ini ia bukannya lari ke tepi jurang, hanya ia lari

menghampiri batu besar yang semalam ia pakai sembunyikan

diri. Di depan batu mana kira-kira satu tindak jauhnya, ia

hunus pedangnya lalu jongkok untuk menggali tanah.

Sebentar lagi, ditangannya sudah terpegang satu kotak

persegi empat dari ukuran empat cun dan tinggi dua cun.

Setelah dipandang, ia mau masukkan barang itu ke dalam

sakunya tapi berbarang pada saat itu ia kaget dan lompat

mundur mendengar suara orang ketawa di balik batu.

"Hi hi hi ! Anak kecil, serahkan barang itu pada nenekmu."

demikian Lo In dengar orang berkata, segera berkelebat tubuh

dari balik batu, siapa ternyata ada si nenek jelek Kim Popo.

Lo In kenali si nenek yang mengaku membokong Liok Sinshe.

Amarahnya timbul seketika. "Nenek jahat, kau mau apa ?"

tegurnya kasar.

"Begini caranya kau sambut nenekmu ?" kata Kim Popo

 

seraya tertawa haha-hihi.

"Mana aku ada punya nenek jahat sepertimu." ejek Lo In.

"Jangan banyak cakap, bocah ! Lekas serahkan barang

ditanganmu !" teriak si nenek. Kelihatannya marah bila

dikatakan nenek jahat.

"Kau mau ini ?" Lo In tanya sambil angkat kotak tadi

ditangannya.

"Mari kasih aku." Kim Popo sambil sodorkan tangannya untuk

menjambret.

Lo In tarik pulang tangannya. "Hmm ! Nenek jahat, tidak

semudah itu !" katanya.

Kim Popo rada-rada heran melihat jambretannya gagal. Sebab

menurut pendapatnya, ia sudah bergerak cepat. Tapi si bocah

kelihatan lebih cepat pula menarik tangannya. Ia penasaran. Ia

lompat menubruk untuk merampas barang ditangannya Lo In,

tapi untuk kedua kalinya ia dibuat gregetan karena Lo In sudah

dapat berkelit dengan manis dari terkaman.

"Bocah ini licin seperti si tabib busuk. Aku tidak boleh

sungkan-sungkan lagi !" dmeikian pikirnya Kim Popo dalam

hati. Segera ia gunakan tipu Ki ong pek touw atau elang lapar

menyambar kelinci, dua tangannya yang berkuku runcing

menyambar berbareng mencengkeram dada Lo In. Satu jurus

yang agak ganas untuk digunakan terhadap anak kecil.

Namun si nenek tidak memikir ke situ, ia hanya ingin

menyingkat waktu, barang yang diingini itu lekas pindah dalam

 

tangannya.

Lo In tahu bahayanya serangan itu, tapi ia tidak takut. Pikirnya

denagn ia majukan dua tangan menangkis, keras lawan keras,

rasanya serangan si nenek dapat dipatahkan. Tapi Lo In lupa

memperhitungkan bahwa tenaga dalamnya kalah jauh di

banding dengan si nenek. Maka tidak heran ia segera rasakan

kelalaiannya, ketika tangannya bentrok dengan tangan si

nenek, ia rasakan dadanya tergentar dan tubuhnya terlempar

jumpalitan sampai sepuluh tindak.

Cepat Lo In bangun tapi dadanya dirasakan masih sesak. Si

nenek, sementara itu sudah lompat maju, berdiri di depannya.

"Bocah bau, kau rasakan nenekmu punya lihai,ya ?" katanya

dengan suara menjengeki.

Lo In tidak berani menjawab sebab ia tengah coba memeras

tenaga dalamnya untuk mendorong pergi rasa sesak dalam

dadanya.

Begitu ia rasakan enak dadanya, tiba-tiba ia rasakan

tangannya dicekal orang.

"Keluarkan hayo keluarkan barang itu !" perintah Kim Popo.

Tangannya si nenek yang mencekal tangannya dirasakan Lo

In seperti sepitan besi.

Lo In mengawasi Kim Popo dengan sorot mata benci.

Melihat anak kecil itu membandel, Kim Popo tidak sabaran.

"Kau masih belum mau keluarkan ?" katanya. Tangannya

dipakai memencet lebih keras hingga butiran-butiran keringat

 

pada merembes keluar dari lubang-lubang tubuhnya Lo In,

saking ia menahan sakit.

Bandel dan keras kepala anak itu. Ia lebih suka menahan rasa

sakit dari pada menangis keluarkan air mata. Matanya

menyala seperti berapi, tapi meluanpnya napsu membunuh ini

hanya sejenak sebab segera tampak ia kalem lagi. Pelanpelan

ia merogoh sakunya dan dikeluarkan kotak yang

barusan ia gali.

"Nenek jahat, tuh kau boleh gegares !" kata Lo In kasar sambil

melemparkan kotak yang dipegangnya.

Kim Popo lepaskan cekalannya lalu memungut barang yang ia

impi-impikan itu ialah buku mungil 'Tiam-hiat Pit-koat' di dalam

kotak itu.

"Hehe, akhirnya kau menyerah juga bocah !" kata si nenek

sambil coba buka kotak tadi tapi susah terbuka seperti ada

kuncinya.

"Hahaha !" kedengaran Lo In tertawa tiba-tiba.

"Kau ketawai apa ? Lekas serahkan anak kuncinya !" bentak si

nenek.

"Hahaha !" kembali Lo In tertawa.

Kim Popo naik pitam. "Binatang cilik, kau main gila........!"

bentaknya.

"Kau kira hanya kita berdua disini ?" potong Lo In, air mukanya

bersenyum.

 

Kim Popo sudah siap menyerang Lo In tapi hatinya gentar

mendengar kata-katanya si bocah, memotong bicaranya.

"Memangnya ada siapa lagi ?" ia menanya.

"Masih ada yang belum mati dibokong olehmu. Hahaha, si

nenek jahat kena perangkap." Lo In tertawa terbahak-bahak

hingga menimbulkan rasa takut si nenek meningkat.

Pikirnya, apa benar Liok Sinshe tidak mati ? Celaka ia kalau

benar-benar mereka menggunakan perangkap. Liok Sinshe

sudah pasti tak dapat mengampuni perbuatannya yang

telengas membokong orang.

Melihat Kim Popo seperti yang ketakutan, menengok sana sini

sambil memegangi kotak lebih erat, seolah-olah yang takut

dirampas orang. Lo In berkata pula, "Nenek jahat. Kau masih

tunggu apa lagi. Tidak mau lepaskan kotak ditanganmu itu ?"

"Kau mau mempermainkan aku ? Kau membokong orang. Apa

Liok Sinshe tidak akan menagih ?" sahut Lo In dan ia tekankan

suaranya menjadi keras diwaktu menyebut 'Liok Sinshe'.

Justru tekanan suara 'Liok Sinshe' itu yang membikin

semangatnya Kim Popo hampir terbang seketika. Maka lantas

saja ia geraki kakinya melompat kabur. Sebelum jauh, Lo In

yang jail sudah ambil batu kecil dan disentilkannya, jitu

mengenakan sasaran diarah atas sedikit dari kibulnya hingga

dirasakan sangat sakit. Dan ini dianggap Kim Popo ada Liok

Sinshe yang melakukannya hingga ia lari lebih kencang lagi.

Lo In tertawa geli menyaksikan Kim Popo lari terbirit-birit

ketakutan.

 

Sebenarnya tidak ada Liok Sinshe. Si nenek hanya takut

bayangannya sendiri saja lari ketakutan. Tadi, ketika dipencet

tangannya oleh Kim Popo, Lo In menyala matanya seperti

yang mengeluarkan apai, napsu dari pembunuhan. Tapi hanya

sejenak ia sudah jadi sabar lagi. Itulah ia ingat akan pesan

Liok Sinshe yang berkata kepadanya, "Anak In, jika kau

menghadapi sesuatu yang genting, harus berlaku tenang.

Sebab ketenangan yang menimbulkan jalan pemecahan !"

Kata-kata Liok Sinshe ini yang mengiang ditelinganya waktu

itu hingga dari meluap amarahnya ia menjadi kalem dengan

tiba-tiba. Dan kemudian timbul dalam otaknya yang cerdik

suatu pikiran yang baik untuk menggertak si nenek lari

tunggang langgang dengan cuma menyebut namanya Liok

Sinshe.

Kejadian itu ialah begitu mudah si nenek kena digertak,

sungguh diluar dugaan Lo In. Sebab ia tidak tahu memang si

nenek jeri betul-betul pada Liok Sinshe sebagai akibat

kesudahannya pertempuran pada lima tahun berselang

dimana Kim Popo dipecundangi dengan sangat mudahnya

ketika si nenek hendak merampas buku rahasia ilmu menotok

jalan darah 'Tiam-hiat Pit-koat' dari tangannya si kakek she

Kong.

Lo In kemudian menghampiri pedangnya yang menggeletak

ditanah lalu memungutnya, disorong lagi di pinggangnya yang

ceking. Kali ini ia tidak balik ke rumahnya hanya memutar

tubuh lari ke jurusan tepi jurang. Ia berlari-larian di tepi jurang

yang curam itu sampai kemudian ia berhenti disuatu tempat

yang ada bekas-bekas seperti disitulah Liok Sinshe sudah

tergelincir masuk ke dalam jurang.

 

Ia melongok ke bawah. Benar-benar jurang sangat curam.

Entah berapa dalamnya dan didasarnya yang merupakan

lembah, apa tidak ada banyak binatang buasnya.

Tapi Lo In adalah lanak yang besar nyalinya. Ia tidak takut. Ia

lebih perhatikan keselamatan Liok Sinshe dari pada bahaya

yang bisa mengancam pada dirinya sendiri.

Dengan berani Lo In merosot turun sambil memegangi pada

akar-akar rotan yang tumbuh merembet di sana sini. Pelanpelan

ia terus turun ke bawah. Dengan kepandaian entengi

tubuh ajarannya Liok Sinshe, ia lompat sana sini dan akhirnya

sampai juga ia pada tujuannya, di dasarnya jurang. Ia

celigukan ke sekitarnya. Ia dapatkan banyak pepohonan yang

rindang. Mendengak ke atas, tampak tebing jurang ada sangat

curam.

"Bagaimana aku bisa naik ke atas nanti ?" tanyanya pada diri

sendiri, melihat tepi jurang ada demikian tinggi kelihatan dari

sebelah bawah.

Tapi Lo In tidak mau ambil pusing hal kembali naik keatas.

Yang penting ia harus mencari Liok Sinshe. Tapi dimana ia

harus mencarinya ?

Lekas ia gerakin kakinya, mulai mencari Liok Sinshe, orang

yang sangat cintai. Pikirnya, bagaimana pun ia harus

ketemukan tubuhnya Liok Sinshe, baik dalam keadaan

selamat maupun sudah mati.

Kita balik sebentar, melihat Kim Popo yang lari tunggang

langgang ketakutan.

 

Setelah lari jauh, ia berhenti di bawah sebuah pohon besar

yang rindang daunnya, dimana ia meneduh dengan adem,

menyingkir dari terik panasnya matahari yang waktu itu tengah

mencorong menerangi jagat.

Ia taruh tongkatnya yang berat disampingnya.

Lewat sesaat ia duduk, lantas tangan kirinya merogoh

kantongnya. Dikeluarkan kotak yang ia rampas dari tangan Lo

In. Mukanya berseri-seri, rupanya ia sangat puas dengan

pekerjaannya yang berhasil.

Entah terbuat dari apa, kotak itu kelihatannya sangat kuat tapi

bobotnya enteng sekali. Ia periksa dengan seksama, karena

kotak itu tak dapat dibuka, ia lantas dapatkan ada sebuah

lubang kecil. Pikirnya, disinilah ada lubang kuncinya. Harus ia

dapatkan anak kuncinya. Kalau tidak, cara bagaimana ia bisa

membukanya. Di samping kegirangan, ia mendongkol dan

penasaran. Ia coba membukanya dengan paksa tapi

bagaimana juga kotak tak dapat dibuka.

"Sialan !" ia mengeluh. "Dengan begini aku mesti kerja lagi

untuk dapatkan anak kuncinya." ia meneruskan kata-katanya

sambil membanting kotak itu sekerasnya.

Justru dibanting, kotak itu menjadi terbuka sendirinya. Dari

dalam lompat keluar sebuah buku yang bentuknya mungil.

Matanya Kim Popo terbelalak saking heran. Ia tertegun

sejenak.

Karena ini, ia terlambat mengambil buku yang diimpi-impikan

sebab lain tangan sudah mencomotnya lebih dahulu. Itulah

 

tangan orang yang lompat dari atas pohon, dengan sebat

sekali sudah dahului Kim Popo mencomot buku mungil yang

mencelat keluar dari kotaknya. Kim Popo tercengang oleh

karenanya.

Kapan ia mengawasi orang di depannya, kiranya ia ada satu

thauto (pendeta yang piara rambut panjang) bermuka bengis.

Dua anting-anting besar yang menghias di telinganya

berkerincingan kalau ia geleng-geleng kepalanya, ramai

kedengarannya.

Si nenek menjadi sangat gusar. "Binatang, kau berani rampas

barangku ?" ia membentak sambil lompat menubruk si thauto

untuk merampas pulang buku yang dicomot si thauto tadi.

Tapi tubrukannyaKim Popo kecele sebab dengan elakan

badannya sedikit saja, Kim Popo telah menubruk angin. Gesit

sekali caranya si thauto bergerak.

Tentu saja Kim Popo yang adatnya angin-anginan, marahnya

menjadi-jadi.

"Binatang, kembalikan barangku ! Kalau tidak, hmm !" bentak

Kim Popo, hatinya penasaran barusan tubrukannya gagal.

"Kau ingin dapat pulang barangmu, harus tanya dulu orangku."

sahut si thauto.

Kim Popo kertak gigi, meskipun giginya sudah sisa tidak

seberapa lagi.

"Mana dia orangmu ?" bentaknya sengit.

 

"Ini dianya..... ha ha !" sahut si thauto seraya unjuk dua

kepalannya yang besar, mirip buah kelapa kata bohongnya.

"Bagus !" kata Kim Popo mendelu, dadanya dirasakan hampir

meledak.

"Siapa bilang jelek ?" menggoda si thauto. Rupanya orang

jenaka juga.

Habis sabarnya Kim Popo, matanya mendelik hingga

romannya tambah jelek.

"Binatang, lihat seranganku !" serunya, sambil menerjang

dengan tipu pukulan 'Hui heng tong lay' -- 'Angin taufan

menghembus dari Timur', kepalan tangan kanannya mengarah

dada disusul dengan tangan kirinya menyamber orang punya

iga kanan. Cepat serangan saling susul ini datangnya tapi si

thauto tidak gugup. Tangannya yang besar dibuka untuk

menangkap kepalang lawan, sedang iga kanannya yang

diarah dibiarkan saja menjadi sasaran totokan jarinya Kim

Popo.

"Aiyoo !" teriak si nenek tiba-tiba sambil lompat mundur.

Si thauto tidak balas menyerang, hanya berdiri sambil

terbahak-bahak ketawa mengawasi Kim Popo yang teraduhaduh

seraya tangan kanannya memegangi dua jari tangan

kirinya yang barusan dipakai menotok.

Dengan tipu pukulan 'Angin taufan menghembus dari Timur',

Kim Popo ingin sekali gebrak saja menjatuhkan si thauto yang

kurang ajar. Ketika kepalannya hendak disambut dengan

tangan si thauto yang besar, ia melihat bahaya, maka ia cepat

 

tarik pulang. Tapi tangan kirinya ia teruskan nyelonong ke iga

musuh.

Pikirnya, si thauto tidak membuat penjagaan pada bagian ini,

sudah pasti totokannya akan berhasil membikin lawannya

terkulai rubuh. Tapi kesudahannya ada lain, si nenek telah

menelan pil pahit. Dua jarinya yang dipakai menotok iga

musuh dirasakan seperti menotok tiang besi, sakitnya bukan

main sampai menyusup di ulu hati.

Melihat serangannya gagal, maka cepat ia lompat mundur

sambil berteriak "Aiyoo !", saking tak tahan menahan sakitnya.

Tapi Kim Popo, dasar si nenek bandel. Kalau hanya begitu

saja ia sudah mesti jadi pecundang, maka sebentar lagi

setelah ia memeras tenaga dalamnya buat usir rasa sakit tadi,

segera ia kembali lakukan penyerangan.

"Hahaha, nenek jelek !" goda si thauto. "Masih berani melawan

?"

"Kiramu mukamu bagus ?" sahutnya menjerit saking

mendongkol.

Kata-katanya Kim Popo disusul dengan serangan gesit. Ia

keluarkan ilmu entengi tubuhnya untuk melayani si thauto

yang bertubuh tinggi besar. Pikirnya, si thauto rupanya ada

punya ilmu 'tiang-pou-san' (ilmu kebal). Tubuhnya keras

laksana besi, maka ia harus mencari kelemahannya yaitu

dibagian matanya.

Demikian, setelah bertempur sepuluh jurus, Kim Popo

gunakan kepalannya yang kiri pura-pura menjotos ke arah

 

perut, sedang sasarannya yang sebenarnya adalah sepasang

matanya lawan. dua jari tangan kanannya, telunjuk dan tengah

dengan sebat meluncur akan mengorek sepasang biji mata si

thauto. Serangannya ini yang dinamai 'Lo wan tou ko' atau

'Lutung tua mencuri buah'.

Cepat sih memang cepat gerakannya Kim Popo, cuma

sayang, kembali ia dapat kerugian. Kepalan kirinya yang purapura

menjotos kena ditangkap tangan si thauto, sedang dua

jari tangan kanannya belum sampai pada sasarannya, ia

rasakan tenaga dorongan yang keras pada kepalannya yang

kena dipegang lawan. Tenaga dorongan itu benar-benar hebat

sampai ia perpelanting dan jungkir balik ke belakang. Di lain

saat, ketika ia sudah dapat tancap pula kakinya ditanah, ia

rasakan sekujur tubuhnya gemetaran dan dadanya sesak.

Untung lwekangnya cukup tinggi hingga tidak sampai

mendapat luka di dalam.

Meskipun demikian, nyalinya ciut seketika. Untuk melawan lagi

si thauto jagoan itu, pikirnya tidak mungkin. Maka setelah ia

rasakan badannya kembali normal, ia lantas saja putar

tubuhnya dan lari. Persis seperti tempo hari ia tunggang

langgang dipecundangi Liok Sinshe.

"Haha, nenek jelek, kau mau lari !" Kim Popo dengar suaranya

si thauto.

Berbareng dengan ditutup kata-katanya, tampak si thauto

geleng-geleng kepalanya. Sepasang antingnya segera

melesat berbareng menyusul Kim Popo.

Si nenek hanya berkaok satu kali lantas kelihatan tubuhnya

 

terkulai dan mendeprok di tanah. Seluruh tubuhnya dirasakan

lemas.

Kiranya, sepasang anting-anting dikedua telinganya itu adalah

senjata rahasianya si thauto. Sungguh lihai senjata rahasia itu.

Cuma dengan geleng-geleng saja, sepasang anting-anting itu

meleset laksana kilat hingga membuat Kim Popo semaput

jatuh di tanah. Tidak mudah menggunakan senjata rahasia

yang aneh itu kalau lwekang pemiliknya tidak tinggi. Sebab

barang itu baru dapat melesat dari kuping di dorong oleh

tenaga dalam yang istimewa.

Si thauto tertawa gelak-gelak melihat si nenek sudah tidak

berdaya.

Ketika matanya melirik ke tanah, ia melihat kotak tempat buku

menarik perhatiannya. Maka ia lantas pungut dan diperiksa.

Kemudian rogoh sakunya, keluarkan itu buku mungil, dipaskan

dalam kotak. Tiba-tiba kotak itu menutup seketika hingga si

thauto kaget bukan main. Entah bagaimana rupanya ada alat

rahasianya yang ketekan. Maka kotak itu otomatis menutup

buku yang ditaruh di dalamnya.

Si thauto dari kaget menjadi ketawa girang melihat kemujijatan

kotak dapat menutup sendiri. Maka ia lalu masukan kotak itu

ke dalam sakunya. Pikirnya, pada suatu kesempatan ia akan

membukannya nanti. Setelah mana ia menghampiri Kim Popo,

memungut sepasang anting-antingnya yang jatuh tidak jauh

dari si nenek dan dipakainya kembali.

Thauto itu bengis romannya, menakuti tapi orangnya benarbenar

jenaka.

 

"Nenek bagus, bagaimana sekarang ?" ia menanya dengan

senyum dikulum.

Ia godai Kim Popo tidak lagi ia menyebut 'nenek jelek' tapi

diganti jadi 'nenek bagus'. Enak kedengarannya tapi tidak

enak berkumandang ditelinganya si nenek. Anggapnya ia telah

disindir, maka matanya jadi mendelik.

"Sudah aku berlaku murah barusan, tidak mengambil jiwamu,

apa kau masih kurang terima ?" berkata si thauto.

"Hmm ! Murah hati !" menggerutu Kim Popo.

"Memang," berkata lagi si thauto. "Kalau aku berlaku kejam,

barusan anting-antingku mengarah pada jalan darah kematian

di bebokongmu. Apa ini aku sudah tidak berlaku murah ?"

"Hmm !" mendengus si nenek. "AKu Kim Popo tidak rela

dijatuhkan oleh lawan dengan jalan membokong."

"Habis kau mau apa ? tanya si thauto, geli hatinya nampak

orang kepala batu.

"Kalau kau berani, merdekakan aku sekarang !" sahutnya

ketus.

"Jadi ? Kau mau bertempur lagi ?" tanya lagi si thauto.

"Tidak ! Saat ini aku terima kalah. Tapi lihat, tiga tahun lagi

akan kucari kau untuk menetapkan siapa unggul !" sahut Kim

Popo tengik laganya.

Si thauto tertawa terbahak-bahak lalu tanpa menghiraukan

 

Kim Popo yang masih duduk mendeprok, ia tinggal pergi.

"Binatang, kau mau siksa aku dengan cara begini !" teriak Kim

Popo, matanya terbelalak keheranan melihat dengan begitu

saja meninggalkan dirinya.

"Lagi dua jam totokan pada jalan darahmu akan hilang

sendirinya. Kau nenek bandel, mesti dihukum dijemur

dipanasnya matahari dua jam. Hahaha !" demikian terdengar

kata-kata si thauto, meskipun sudah jalan jauh kedengarannya

tegas sekali kuping Kim Popo hingga ia jadi terkejut. Pikirnya,

thauto itu hebat sekali tenaga dalamnya sampai bisa mengirim

suara dari jauh.

Terpaksa Kim Popo, si bandel, mesti menanti dua jam

dibawah panasnya matahari untuk mendapat

kebebasannya.....

Kita kembali kepada Lo In yang tengah mencari Liok Sinshe di

lembah dari jurang Tong-hong-gay.

Dengan hati-hati ia mencari dipinggir-pinggiran lalu pelanpelan

sedikit ke tengah, tapi belum juga ia dapatkan tandatanda

yang mengunjuk dimana adanya Liok Sinshe. Kadangkadang

ia mendongak ke atas mengawasi diantara tebingtebing

dengan pengharapan matanya akan bentrok dengan

gerakan sesuatu disana. Tapi sia-sia saja pengharapannya,

malah cuaca pelan-pelan tanpa disadari sudah mulai gelap.

Bermula Lo In kebingungan, bagaimana ia dapat naik pula ke

atas, sedang hari sudah berubah menjadi malam ? Tapi

belakangan hatinya menjadi senang.

 

Lo In tidak memikirkan untuk kembali ke rumahnya lagi. Yang

penting, ia harus cari terus Liok Sinshe sampai dapat

diketemukan.

Untuk mengisi perutnya yang lapar, Lo In sudah banyak petik

buah-buahan dimasukkan dalam perutnya. Ia rasakan lebih

segar dan nyaman perutnya diisi buah-buahan dari pada diisi

kue atau nasi.

Untuk menghindarkan gangguan dari binatang buas maka

malam itu Lo In tidur diatasnya sebuah pohon yang banyak

cabang dahannya. Di atas dahan yang merupakan

pembaringan baru, mana Lo In dapat cepat-cepat pulas.

Pikirannya melayang-layang, mengingat-ingat tempat-tempat

yang dijelajahinya dalam menemui Liok Sinshe, ia harus

mencari suatu tempat yagn aman. Dimana ia bisa bersemedhi

setiap malam untuk meyakinkan tenaga dalamnya. Sebagai

satu anak yagn bernyali besar Lo In merasa penasaran Kim

Popo yang sudah memencet tangannya sampai ia

mengeluarkan keringat dingin.

(Bersambung)

Jilid 02

Pikirnya, nanti suatu waktu kalau lwekangnya sudah mahir ia

akan cari si nenek buat diajak berkelahi lagi. Sebenarnya Lo In

belum tentu kalah kalau ia layani si nenek dengan

kegesitanya, jangan mengadu tenaga. Yang membuat ia

pecundang adalah karena ia coba-coba adu tenaga dengan

Kim Popo, yang sudah tentu bukan tandingannya.

Dalam keadaan tiduran, kupingnya tiba-tiba mendengar suara

 

gedebukan, datangnya dari sebelah selatan. Suara apa itu ? Ia

pasang telinganya lagi, saban kira 1-2 menit ia degnar suara

gedebukan itu.

Di dorong oleh perasaan ingin tahu, ia turun dari atas pohon.

Pelan-pelan ia hampiri tempat dimana ada suara gedebukan

tadi.

Setelah jalan beberapa lama, suara gedebukan itu makin

nyata. Rupanya jaraknya sudah tidak jauh lagi. Maka Lo In

rada cepatin jalannya. Segera dari kejauhan ia nampak seperti

ada dua sinar menyorot ke arahnya.

"Apa itu ?" tanyanya pada diri sendiri.

Ia menduga akan binatang macan. Sebab menurut Liok

Sinshe, matanya macan suka mencorong kalau diwaktu

malam.

Hati Lo In tabah, nyalinya besar, ia tidak takut. Ia menghampiri

lebih dekat. Kiranya itu bukannya macan hanya seekor burung

yang luar biasa besarnya, tengah kebut-kebutkan sayapnya ke

tanah. Suaran gedebukan itu tiada lain dari pada sayapnya si

burung tadi yang dihantamkan ke tanah.

Lo In terus mengintip, ingin tahu apa maunya si burung yang

besar luar biasa itu mengebut-ngebutkan sayapnya ke tanah.

Ia ingat, kalau ia sedang main di tepi jurang sering melihat ada

burung yang luar biasa besarnya melayang-layang diatas

lembah. "Apakah bukan dianya ini ? " tanya Lo In pada dirinya

sendiri. Menurut katanya Liok Sinshe, burung sebesar itu

 

adalah burung rajawali yang biasa jinak dimiliki orang pandai

yang menyepi tinggalnya di pegunungan. Malah Liok Sinshe

namakan burung itu 'Kim-tiauw' atau 'Rajawali Emas' karena

patuk dan kedua kakinya kekuning-kuningan seperti emas

yang Liok Sinshe dapat lihat sendiri dari dekat pada suatu hari

ia sedang mencari daun obat-obatan di lembah itu.

Apa dia itu benar Kim-tiauw. Ingin Lo In menyaksikan dari

dekat, tapi tak dapat ia lakukan itu. Sayapnya yang memukulmukul

tanah bukan saja menerbitkan suara gedebukan tapi

juga menerbitkan angin keras menderu. Kalau Lo In berani

datang dekat, sekali dikibas sama sayapnya, pasti tubuhnya

akan melayang entah berapa jauhnya.

Setelah memperhatikan agak lama, Lo In berpendapat si

rajawali hanya mengibaskan sayapnya yang kanan saja,

sedang yang kiri diam saja. Ia seperti mau terbang tapi tak

bisa kalau cuma satu sayap. Pikir Lo In tentu rajawali ini

mendapat luka parah pada sayap kirinya.

Hatinya merasa kasihan, ingin ia periksa lukanya. Tapi

bagaimana mendekatinya ?

Otaknya lantas bekerja mencari akal. Matanya memandang ke

sekitarnya tapi agaknya ia cemas tidak melihat jalan untuk

pemecahan. Sebenrar lagi, setelah ia tundukkan kepala ia

menengadah melihat keadaan diatasnya si rajawali.

Tiba-tiba mulutnya bersenyum, rupanya ia sudah dapat akal

untuk mendekati si rajawali yang dalam kesukaran.

Bagaimana ? Dengan gunakan gerakan ilmu entengi tubuh

'Burung walet tembusi mega', ia enjot tubuhnya mencelat dan

 

di lain detik sudah tampak ia berloncatan dari satu dahan ke

lain dahan pohon. Dalam tempo pendek saja, ia sudah berada

di atas pohon yang dekat sekali pada si burung rajawali. Si

burung rajawali sama sekali engan kalau ada orang yang

datang dekatinya.

Ia masih sibuk gedebukan dengan sayapnya yang kanan.

Lo In menunggu sampai sayap itu berhenti dikebaskan, pada

saat mana enteng sekali tubuhnya melayang dan mencolok di

punggungnya si rajawali yang ketika sadar ada orang

menyerang, ia sudah tidak berdaya karena jalan darah di

bagian sayap dan lehernya sudah kena ditotok oleh si bocah

yang besar nyalinya.

Ketika itu sayapnya yang kanan berhenti mengebas-ngebas

sedang lehernya sudah menjadi kaku, tak dapat digeraki

hingga ia tak dapat mematuk lawan yang berada di atas

pungggungnya. Hanya sinar matanya saja mencorong seperti

yang sedang gusar sekali.

Meskipun mendapat kesukaran karena beratnya sayap si

rajawali, juga dibawah sayapnya terdapat lukanya yang berat,

Lo In dengan gembira sudah dapat mengobati lukanya itu

memakai obatnya Liok Sinshe yang amat mustajab.

Selain obat bubuk ditabur di tempat luka, juga Lo In paksa si

rajawali menelan pilnya, setelah berkutatan lama ia membuka

patuknya.

"Tiauw-heng" kata si bocah pada si rajawali. "Aku ini

temanmu, jangan takut. Maaf, kalau aku sudah berbuat sedikit

 

kasar menolong kamu !"

Gerak gerik Lo In lucu. Ia memanggil 'Tiauw-heng' atau 'Kanda

rajawali' kepada si burung garuda yang tinggal membisu saja.

Kuatir totokannya kurang kuat hingga si rajawali dapat geraki

pula sayapnya, yang menyebabkan lukanya tidak bisa rapat,

maka Lo In memberikan pula beberapa totokan sehingga

betul-betul tenaganya si burung garuda menjadi lumpuh.

Lukanya si rajawali ternyata kena panah beracun. Untung

tenaganya si burung garuda sangat kuat hingga menjalarnya

racun berjalan dengan perlahan dan keburu mendapat

obatnya Liok Sinshe yang mustajab. Kalau saja sampai

menanti besoknya lagi, terang jiwanya si rajawali tak akan

ketolongan.

Entah siapa yang begitu kejam melepaskan panah

beracunnya.

Lo In malam itu tidak jadi nginap di atas pohon yang banyak

dahannya, yang ia tinggalkan. Sebaliknya ia tidur diatas

pohon, tidak jauh dari mendekamnya si rajawali. Diam-diam ia

siap sedia menghadapi kemungkinan datangnya orang jahat

yang hendak mencelakakan si rajawali.

Tapi syukur sampai hari sudah terang tanah, tidak ada

kejadian apa-apa.

Lo In merosot turun dari atas pohon. Ia lihat si rajawali tengah

memejamkan matanya. Rupanya ia juga bisa tidur karena

tidak merasakan sakit lagi pada sayapnya yang kiri. Matanya

dibuka ketika ia mendengar Lo In berkata, "Tiauw-heng, kau

 

diam-diam saja mengaso. Tunggu aku akan mencari makanan

untuk kau makan."

Ia berkata sambil anggukan kepalanya seperti yang memberi

hormat kepada saudara yang tuaan. Ah, benar-benar lucu

kelakuannya Lo In.

Kemudian ia putar tubuh dan meninggalkan tempat itu.

Berkat kepandaiannya menyentil dengan batu kecil, maka

dalam tempo pendek saja Lo In sudah dapat menyentil jatuh

tiga ekor ayam hutan. Ketiga ekor ayam itu hendak ia bawa ke

tempatnya. Pikirnya, Tiauw-heng tentu gembul makannya,

tidak cukup kalau hanya 2-3 ekor ayam saja. Maka ia lalu

mencari pula ayam di lain tempat dan segera ia sudah

dapatkan lagi.

Empat dari lima ekor ayam itu, Lo In taruh di depannya si

rajawali, sedang yang seekor ia potong dan bersihkan dalam

selokan jernih, karena air gunung mengalir disitu. Kemudian ia

nyalakan api dan memanggang hasil buruannya.

Sambil panggang ayam, matanya Lo In memandang pada si

rajawali yang tinggal melotot saja mengawasi empat ekor

ayam yang ada di depannya. Ia tak dapat kerjakan patuknya

untuk menerkam hidangan didepannya itu sebab lehernya

masih belum bisa digeraki karena pengaruh totokan Lo In.

"Tiauw-heng." kata Lo In seraya bersenyum. "Kau tunggu

sebentar. Kita nanti makan sama-sama. Bukankah itu ada

lebih menyenangkan sebagai tanda terjalinnya persahabatan

diantara kita ?"

 

Si rajawali yang diajak bicara hanya matanya saja yang

melotot sebagai jawaban, tapi kali ini sinarnya tidak

bermusuhan.

Setelah beres memanggang ayamnya, Lo In mendekati si

rajawali.

"Tiauw-heng, kau jangan marah. Lantaran aku ingin menolong

jiwamu maka terpaksa dalam dua tiga hari ini aku bikin kau

tidak berdaya. Kau sabarlah !" berkata Lo In sambil kemudian

dengan sebat ia menotok bebas lehernya si rajawali berbareng

ia lompat mundur takut dipatuk.

Rupanya burung itu memahami akan kebaikan hatinya si anak

kecil sebab ia tidak perhatikan Lo In lompat tapi terus saja ia

gasak empat ekor burung itu satu persatu hingga dalam

sekejapan saja telah hilang lenyap dalam perutnya.

Lo In tertawa ngakak melihat kecepatan si rajawali

memindahkan empat ekor ayam ke dalam perutnya.

Hari itu usaha Lo In tidak memberikan hasil dalam mencari

Liok Sinshe.

Pada hari ketiga, ia datang dengan roman lesu mendekati si

rajawali yang sekarang menjadi jinak. Barani ia memeluk

lehernya dan menciumi patuknya yang indah seperti emas.

"Tiauw-heng, aku mencari Liok Sinshe." ia kata pada si

rajawali. "Apa kau lihat dia ada dimana ?"

Seperti yang mengerti akan kata-kata manusia, burung itu

geleng kepalanya.

 

Lo In makin sayang pada burung itu yang rupanya mengerti

akan omongan orang. Setelah menggelendoti tubuhnya

burung yang seperti raksasa itu, Lo In ingat akan

kewajibannya untuk memeriksa lukanya.

"Tiauw-heng, mari aku periksa lukamu." ia berkata seraya

dengan sebatnya ia menyingkap sayap burung itu, dibawah

mana ada terdapat lukanya yang parah.

Lo In kerutkan keningnya.

"Kau masih belum dapat geraki sayapmu yang terluka, Tiauwheng."

katanya.

Sementara itu, ia keluarkan obatnya dan mulai beri obat baru

pada luka si rajawali, patuknya Lo In buka dengan tangannya

yang kecil untuk dimasukan pil mujarabnya. Sungguh heran,

burung itu menurut saja, jinak sekali dan pasrah apa yang

diperbuat Lo In. Rupanya ia mengerti akan kebaikan orang.

"Tiauw-heng, mulai saat kita ketemu, aku sudah tahu kau akan

menjadi teman sebagai gantinya Liok Sinshe. Maka

selanjutnya, harap kau selalu jangan meninggalkan aku, ya !"

berkata Lo In sambil mengelus-elus sayapnya si rajawali.

Burung itu angguk-anggukkan kepalanya, matanya merem

melek, girang rupanya ia diusap-usap Lo In dengan

kesayangan.

Pada hari keenam si rajawali sudah sembuh benar-benar dari

luka parahnya. Ia sudah dapat geraki kedua sayapnya seperti

sedia kala. Setelah terbang beberapa putaran, ia turun di

 

depan Lo In lalu mendekam dan kepalanya dianggukanggukkan

seperti yang menghaturkan terima kasih atas

pertolongannya si bocah.

Lo In dapat memahami gerak gerik si burung garuda, maka

sambil menubruk dan menciumi ia berbisik, "Tiauw-heng, kita

sudah jadi saudara. Tak usah kau mengucap terima kasih

segala."

Tangannya mengelus-elus kepalanya si rajawali, ketika ia mau

mengusap-usap patuknya tiba-tiba Lo In merasa heran. Dari

matanya burung itu ada melelehkan air mata. Entahlah,

kenapa burung itu menangis.

Lo In terharu, bukan karena apa. Ia hanya terkenang akan

dirinya Liok Sinshe. Dimanakah adanya penolong itu. Apakah

dia masih hidup atau sudah mati ? Sebab sudah hampir

seminggu ia mencari jejaknya belum juga berhasil

menemuinya.

Siapakah Liok Sinshe itu ? Apa dia Kwee Cu Gie ? Siapakah

Kwee Cu Gie itu ?

Dimana adanya kedua orang tuanya ? Mati sudah atau masih

ada dalam dunia ini ?

Kenapa Liok Sinshe begitu sayang dan memperhatikan dirinya

begitu rupa ? Apa hubungan ia dengan Liok Sinshe ?

Pusing Lo In memikirkannya itu semua. Malah jadi bertambah

sedih hingga saling peluk dengan si rajawali, menangis

sampai terdengar suaranya Lo In terisak-isak.

 

Sang burung, rupanya ingin menghibur Lo In. Kemudian ia

mementang sayapnya akan terbang ke atas pohonjauh disana,

terpisah dari Lo In.

Lo In yang cerdik mengerti maksudnya si rajawali. Maka ia

juga telah berhenti menangis, ia gosok air matanya dengan

tangan bajunya.

Dalam hari-hari berikutnya dalam usaha mencari Liok Sinshe,

Lo In dikawal oleh si rajawali.

Senang hati Lo In. Sering ia ajak si rajawali bercanda.

Hari-hari demikian mereka bergaul, hingga keakrabannya

meningkat.

Sering atau hampir saban hari, tampak Lo In pesiar di atas

lembah sambil menunggang rajawali yang merupakan kapal

terbangnya.

Dasar anak-anak menghadapi apa yang baru, lupa pada yang

lama. Ditemani si burung raksasa, Lo In merasa aman. Betah

ia tinggal dalam lembah itu, lupa pulang ke rumahnya di atas

jurang Tong-hong-gay yang sebenarnya ia bisa pergi ke sana

dengan mudah dengan menunggang kapal udaranya 'si

rajawai'.

Soal makanan Lo In tidak kekurangan, mau ikan ia dapat di

sungai-sungai kecil yang banyak terdapat disitu. Mau daging

ayam, kelinci, babi, mudah sekali ia dapat. Cuma tinggal

perintah si rajawali yang pergi menangkapnya.

Tapi Lo In lebih senang makan buah-buahan yang terdapat

 

disitu. Ia rasakan badannya lebih segar dan nyaman dari pada

makan ikan dan daging.

Yang lucu, Lo In sudah dapat tundukkan kawanan kera liar

dalam lembah itu. Mereka kelihatan sangat berterima kasih

dan menganggap Lo In sbagai rajanya.

Dengan begitu, Lo In bertambah banyak kawan.

Bagaimana Lo In dapat tundukkan kawanan kera liar, kecil

besar ? Itulah kejadian pada suatu hari ketika cuaca mendung.

Selagi ia tiduran celentang di bawah sebuah pohon, tiba-tiba ia

dikurung oleh kawanan monyet liar, bukan satu dua tapi

adalah puluhan hingga ia merasa amat heran.

Lo In bangkit, duduk, sambil kedua tangannya memeluk kedua

dengkulnya yang ditekuk. Kepalanya menunduk seolah-olah

yang tidak memperhatikan dirinya tengah dikurung oleh

kawanan monyet galak.

Suara cetcowetan yang ramai dari kawanan monyet itu tidak

dihiraukan oleh Lo In. Terus saja ia berpura-pura mati ular.

Kelihatannya kera-kera itu amat gusar pada si bocah. Bisa

dilihat dari sikap dan gerakan mereka yang keluarkan suara

'her ! her !' sambil mulutnya nyengir-nyengir menakuti.

Entahlah, kenapa mereka demikian benci pada Lo In.

Mungkinkah karena perbuatannya Lo In ?

Untuk melatih ginkang (ilmu entengi tubuh), Lo In saban hari

melatih diri dengan mencelat sana sini di atas pohon. Gesit

luar biasa hingga mengalahkan jauh dari kepandaian kera kera yang ada disitu.

Rupanya hal inilah yang menyebabkan kawanan kera itu

membenci Lo In.

Mereka yang bermula merasa kagum melihat kegesitannya Lo

In, belakangan merasa mengeri dan anggap Lo In adalah

suatu saingan berat dalam dunianya.

Lama juga sudah Lo In perhatikan sikap permusuhan dari

mereka itu. Tapi Lo In tidak memperdulikan sampai pada saat

itu baharu berasa bahwa dirinya benar-benar dibenci.

Tapi Lo In tidak takut. Pikirnya kawanan kera itu tak dapat

membuat susah dirinya. Ia mau lihat apa mereka bisa bikin

terhadapnya. Tak perlu ia minta bantuan si rajawali yang

dengan sayap raksasanya, sekali mengebas saja membuat

puluhan kera itu akan sungsang sumbel dan terbang kemana

tahu. Ia mau taklukan kawanan kera itu dengan usahanya

sendiri.

Dua yang paling besar diantara kawanan monyet itu,

perdengarkan cetcewetannya lebih keras. Rupanya berupa

bentakan-bentakan, memerintah pada kawan-kawannya untuk

segera menggempur Lo In yang tinggal anteng-anteng saja.

Memang dua kera besar itu adalah yang paling pandai dalam

hal meloncat dari satu ke lain cabang pohon. Kawankawannya

mengagumi kepandaiannya itu. Merekalah yang

paling menaruh dendam pada Lo In, yang dianggap saingan

alot.

Meskipun bentak-bentakannya makin keras, kawanan kera itu

 

masih belum berani menerjang Lo In. Rupanya mereka jeri

sebab Lo In ada backingnya si rajawali.

Mereka sambil cetcowetan, celigukan sana sini seakan-akan

mengamat-amati apakah si burung raksasa ada di sekitar situ

mengawal si bocah. Si rajawali ternyata tidak ada. Memang

tidak ada. Ia lagi terbang ke lain tempat untuk mencari

makanan.

Hatinya kawanan kera liar itu rupanya jadi berani, sebab suara

'hor, hor !' dari dua pimpinannya paling akhir dibarengi dengan

menyerbunya mereka.

Yang diserbu tiba-tiba saja lenyap dari pandangan mereka.

Terdengar ramai-ramai suara cetcowetan kawanan kera itu.

Sambil kepalanya pada mendongak ke atas dimana mereka

lihat Lo In sedang bercokol di atas dahan sambil ketawaketawa.

Kiranya diwaktu kawanan monyet itu melakukan penyerbuan

serentak, dengan gerakan 'Walet terbang menembusi awan',

tubuhnya Lo In mencelat ke atas, mencelok diatasnya

sebatang dahan pohon, dimana si bocah sambil uncanguncang

kaki mentertawakan lawan-lawannya yang ribut

cetcowetan di sebelah bawah.

Hanya dua tahun Lo In mendapat gemblengan tenaga dalam

dari Liok Sinshe, ia sudah memanfaatkan sebaik-baiknya

dalam latihan ginkeng (entengi tubuh), cukup untuk melayani

kawanan kera yang menyerang dirinya dengan penuh

kebencian.

 

Degnan dikepalai oleh dua monyet besar tadi, kawanan

monyet itu segera juga pada menaiki pohon, lelompatan

mengepung Lo In yang segera unjuk kegesitannya untuk

meloloskan diri dari kepungan mereka.

Tampak Lo In loncat ke atas sebatang dahan yang lebih tinggi.

Selag ia terbahak-bahak ketawa, sembari kedua tangannya

bertepuk-tepuk keras menggodai kawanan monyet yang

mengubar dirinya, tiba-tiba terdengar suara 'hor ! hor !'

agaknya keras dan lebih bengis di atas kepalanya. Ketika ia

mendongak, kiranya diatasnya ada dua kera lebih besar lagi

dari dua kera besar tadi, yang ia lihat menjadi pemimpinnya.

Itulah sepasang orang utan hitam legam, lengannya besarbesar,

matanya tajam mengawasi Lo In seraya perdengarkan

suara 'hor ! hor !' menakutkan.

Diam-diam Lo In perhatikan, rupanya dua orang utan itu suami

istri. Yang lelaki kepalanya hampir botak, yang perempuan

matanya tertutup satu disebelah kiri, sedang dibelakangnya

ada menggemblok anaknya, mulutnya ramai cetcewetan.

Lo In hendak enjot tubuhnya menyingkir, tapi sudah terlambat.

Si orang utan yang lelaki menyambar dari atas dan tepat dapat

mencekal lengan Lo In.

Sakit rasanya cekalan si orang utan, lebih-lebih Lo In kaget,

tenaganya seperti lenyap oleh pengaruh cekalan itu hingga ia

tak dapat berkutik.

Celaka, pikirnya, apa ia bakalan mati ditangannya si orang

utan ?

 

Tengah hatinya berkuatir, sekonyong-konyong terdengar

suaranya si rajawali dari jauh tengah mendatangi hingga ia

jadi sangat kegirangan.

Rupanya si orang utan sudah kenali suaranya si rajawali, tahu

juga Lo In ada kawannya, maka ia jadi ketakutan. Dengan

sendirinya, cekalannya yang melumpuhkan itu terlepas. Ia

lompat pula ke atas, ajak bininya ikut lari.

Angin seperti menderu kedengarannya ketika si rajawali

sampai dengan kebasan sayapnya. Ia mencelok disatu dahan

dekat Lo In. Saking berat badannya membuat pohon sampai

tergetar rasanya.

"Tiauw-heng, syukur kau datang. Kalau lambat sedikit saja,

aku kena dicelakai si orang utan !" Lo In berkata pada

kawannya.

Seperti yang mengerti, si rajawali tampak beringas romannya

ketika mendengar ada makhluk yang mau bikin celaka

kawannya.

Lo In berbareng lompat mendekati si rajawali, ia usap-usap

sayapnya.

Tiba-tiba Lo In mendengar suara teriakan. Matanya yang awas

segera dapat lihat si orang utan yang perempuan terpeleset

jatuh. Ia sendiri dapat tolong dirinya karena sudah menjambret

cabang pohon. Tapi anaknya, dalam kaget sudah melepaskan

cekelan pada leheer ibunya hingga tidak ampun lagi anak

orang utan itu meluncur jatuh terbanting di tanah dan pingsan.

Dalam ketakutannya atas kedatangan si rajawali, dua orang

 

utan itu sudah terbirit-birit lari, lompat dari satu ke lain cabang

pohon. Rupanya yang perempuan kurang hati-hati memilih

cabang pohon, maka ketika ia loncat ke cabang yang lapuk, ia

kaget. Cepat lompat lagi ke lain cabang cuma saja saking

gugupnya ia terpeleset dan menjerit ketika terpelanting.

Yang lelaki berada beberapa tindak disebelah depan, ia kaget

bukan main mendengar jeritan sang istri. Cepat ia putar

tubuhnya tapi sudah tak dapat menolong anaknya yang

terpelanting jatuh dari gendongan ibunya.

Mulutnya cetcowetan ramai. Bersama istrinya, ia cepat-cepat

turun ke bawah, lari menghampiri anaknya yang sudah tidak

sadarkan diri. Sang ibu menubruk anaknya sambil

menggoyang-goyang tubuh si orang utan kecil, mulutnya

cetcowetan menangis.

Segera banyak monyet-monyet yang datang merubung.

Lo In yang melihat dan menyaksikan kejadian yang hebat itu,

tidak tega hatinya. Entahlah, bagaimana keadaannya si anak

orang utan itu.

"Tiauw-heng, mari kita tolong dia." ia berkata pada si rajawali.

Berbareng, ia geraki kakinya berloncatan ke bawah yang

diikuti oleh si rajawali. Dengan hanya sekali kibasan sayapnya

sudah sampai ditempat banyak kera berkumpul. Lo In tidak

tahu bagaimana caranya memberi pertolongan. Sebab kalau

ia dengan begitu saja datang dekat, tentu tidak dapat dipahami

maksud baiknya. Apa lagi si orang utan sudah pernah

memencet lengannya, tentu kedatangan Lo In dianggap akan

menuntut balas, menggunakan kesempatan ketika mereka

 

sedang kesusahan anaknya mendapat kecelakaan.

Baik juga tongkrongan si rajawali dibuat jeri oleh kawanan

kera itu.

Ketika rajawali itu sampai, mendahului Lo In. Kawanan monyet

itu sudah simpang siur lari. Malah dua orang utan itu, saking

ketakutannya sudah lupa akan anaknya dan lari terbirit-birit.

Anak orang utan itu jadi ditinggalkan sendirian.

Lo In girang menampak kejadian itu diluar perhitungannya.

Cepat ia dekati si anak orang utan, ia periksa, meraba-raba

dadanya, pegang nadinya. Lucu, persis lagaknya seorang

tabib.

Ini, Lo In bukannya menjual aksi. Kelakuan ini meniru Liok

Sinshe jika si tabib Liok diundang untuk mengobati orang

sakit, ia suka turut dan menyaksikan caranya Liok Sinshe

berbuat atas dirinya si pasien.

Lo In girang karena si orang utan kecil tidak putus jiwanya. Ia

hanya tidak berkutik karena pingsan, kaget jatuh dari tempat

yang demikian tinggi.

Kelakuan Lo In itu disaksikan oleh banyak kera dari kejauhan,

terutama oleh dua orang utan dengan penuh rasa kuatir,

apakah anaknya akan dibunuh mati Lo In. Buat merebut

anaknya dari tangan Lo In, mereka tak berani lakukan, melihat

si rajawali tengah mendekam didekatnya.

Melihat keadaan anak orang utan itu berat juga, tak dapat

disembuhkan dengan seketika, maka ia lalu angkat tubuhnya,

 

diempo lantas menghampiri si rajawali, ke atas punggung Lo

In loncat.

"Tiauw-heng, mari kita pergi !" kata Lo In.

Berbareng si rajawali bangkit lalu mengebaskan kedua

sayapnya akan kemudian terbang mumbul. Tinggal dua orang

utan itu berteriak-teriak dengan cara dia sendiri. Rupanya

mereka sangat gusar pada Lo In yang sudah merampas

anaknya.

Lo In ditempatnya sebuah gubuk yang dibangun diatas sebuah

pohon besar. Memakan waktu juga menolong anak orang utan

itu. Sebab anak orang utan itu kecuali mendapat luka dalam,

juga tangannya yang sebelah kiri keseleo yang perlu ditolong

dengan jalan mengurut tiap hari tiga kali.

Selang empat hari, Lo In sudah bikin anak orang utan itu

sembuh benar. Ia kelihatan suka pada Lo In yagn tadinya

ditakuti. Dalam tempo empat hari mereka berkumpul, anak

orang utan itu menjadi jinak, sering menggelendoti Lo In.

Mulutnya cetcowetan seakan-akan mengajak bercakap-cakap.

Tapi sayang Lo In tidak mengerti akan percakapannya.

Meskipun begitu, Lo In suka pada anak orang utan itu. Sering

ia ajak main, diajak bercakap dengan gerakan mulut dan

tangan.

Gembira kelihatannya anak orang utan itu.

Pada hari yang keenam, Lo In berkata pada si anak orang

utan, "Adikku, hari ini kau harus pulang menemui ayah ibumu.

Harap selanjutnya kau akan menjadi sahabatku yang baik

 

seperti aku punya Tiauw-heng."

Sambil berkata, Lo In empo anak orang itu lalu keluar dari

gubuknya.

Dengan sekali suitan, segera kapal udaranya sudah datang.

Dengan menumpang si rajawali, Lo In pergi ke tempat dimana

ia telah dikeroyok kawanan monyet liar. Sesampainya disana,

ia dapatkan keadaan sepi. Cuma ada beberapa kera yang

lelompatan sana sini.

Melihat Lo In datang dengan mengempo anak orang utan,

monyet-monyet itu menjadi heran rupanya. Tapi sebentar lagi,

tampak mereka datang lagi membawa kawan-kawannya.

Diantaranya tampak itu sepasang orang utan.

Mereka tidak berani datang dekat pada Lo In karena si rajawali

mendekam di dekatnya. Bagaimana pun, dua orang utan itu

terbelalak matanya melihat Lo In tengah mengempo anaknya

yang cetcowetan menciumi pipinya si bocah.

Lo In dapat melihat pada mereka, maka cepat ia turunkan

anak orang utan itu dari empoannya sambil berkata, "Adikku,

pergi kau ketemui ayah bundamu !" Lo In sambil menunjukkan

kejurusan orang utan yang berada diatas pohon, yang tengah

keheran-heranan mengawasi kejadian itu.

Anak orang utan itu melihat ke jurusan yang ditunjuk oleh Lo

In. Ia melihat pada ayah bundanya. Cepat ia lari sambil

mulutnya cetcowetan. Sang ibu bapak juga tidak tinggal diam.

Mereka loncat-loncat turun dari pohon dan memapaki anaknya

yang lantas diempo oleh si ibu, diciumi dengan penuh

 

kesayangan.

Dalam empoan ibunya, sang anak cetcowetan sambil

menunjuk-nunjuk kejurusan Lo In. Rupanya ia sedang

bercerita tentang pertolongan yang diberikan Lo In dan

kebaikannya si bocah hingga kelihatannya si ibu merasa

sangat gegetun sekali, sedang si ayah angguk-anggukkan

kepalanya yang botak.

Lo In menyaksikan itu semua dengan bersenyum. Kemudian

putar tubuhnya menyamperi si rajawali, loncat ke

punggungnya. "Mari kita pergi, Tiauw-heng !" katanya sambil

tepok pundaknya si rajawali.

Sebentar saja, Lo In sudah ada di udara bersama kapal

terbangnya.

Meskipun binatang, kawanan kera itu tahu akan kebaikan

orang. Maka sejak itu, mereka telah menghapuskan

kebenciannya dan tidak berani mengganggu lagi Lo In yang

semula dianggap saingan alot.

Malah yang lucu, sejak itu, Lo In boleh dikata tak usah susahsusah

mencari buah-buahan lagi untuk makannya. Karena

setiap pagi, ia dapatkan banyak buah-buahan berserakan di

bawah pohon diatas mana ia tidur. Rupanya ini ada kiriman

dari kawanan keras yang merasa berterima kasih, anak

rajanya sudah ditolongi.

Bebuahan itu ditaruh berserakan. Rupanya kera-kera itu takuti

si rajawali. Maka seenaknya saja mereka melemparkan dan

lari pergi. Lo In memahami ini, maka kepada rajawalinya ia

memesan supaya ia tidak ganggu kera-kera yang

 

mengantarkan bebuahan itu. Kawanan kera itu belakangan

jadi berani karena melihat si rajawali tidak apa-apa. Maka

buah-buah yang diantarnya, mereka tumpuk dengan rapih.

Malah ada yang berani naik di pohon dan meletakan buahnya

di depan gubuknya Lo In.

Lo In terharu melihat kecintaannya kawanan kera itu.

Maka terjalinlah persahabatan diantara kawanan kera itu

dengan Lo In.

Dalam pertemuan pertama dua orang utan, seperti manusia,

mereka berlutut dihadapan Lo In sambil manggut-manggut. Di

sampingnya ada anaknya yang juga turut berlutut. Mereka

sangat berterima kasih atas pertolongannya Lo In sehingga

anaknya selamat dari cengkeraman maut.

Lo In ketawa. "Toa-hek, Ji-hek dan adikku," kata Lo In. "Kita

orang sendiri, tak usah banyak pakai peradatan. Kalian

bangunlah. Selanjutnya kita menjadi sahabat saling tolong !"

Seperti yang mengerti omongan Lo In, mereka semua bangkit.

Lo In tatkala itu duduk diatas sebuah batu, tengah menikmati

mengalirnya air sungai, dalam mana banyak terdapat ikan-ikan

yang sedang main-main.

Lo In memanggil Toa-hek (si hitam kesatu) dan Ji-hek (si hitam

kedua) kepada dua orang utan itu adalah panggilan dari

keakraban persahabatan.

Toa-hek dan Ji-hek serta anaknya menghampiri Lo In. Toa-hek

mengusap-usap tangan, Ji-hek mengusap-usap pipi,

 

sementara Siauw-hek (si kecil) lompat kepangkuan Lo In

sambil cowet-cowetan ngomong dalam bahasanya sendiri. Lo

In suka dan sayang pada Siauw-hek, maka ia elus-elus

kepalanya, sambil katanya, "Siauw-hek, kau lekas gede. Nanti

bisa bantu aku mencari Liok Sinshe."

Sejak itulah mereka bergaul rapat.

Supaya pergaulannya lebih leluasa lagi, maka pelan-pelan Lo

In ada pelajari gerak gerik dan suaranya kera-kera diwaktu

mereka berloncatan di pohon-pohon sambil cetcowetan.

Berkat kecerdasan otaknya yang luar biasa, ia dapat kemajuan

banyak dalam bahasa monyet, meskipun tidak seluruhnya.

Cukup dengan membuka mulutnya, cowet-cowet, ia dapat

memerintahkan kera-kera yang diajak bicara olehnya untuk

melaksanakan titahnya dengan baik.

Kawanan kera itu semakin menghargai dan menjunjung tinggi

Lo In. Boleh dikatakan ia adalah raja monyet, karena tiap

titahnya dilaksanakan dengan kontan.

Dengan adanya Toa-hek sebagai teman berlatih, lwekangnya

Lo In meningkat. Kalau mula-mula satu kali pegang saja Lo In

tak dapat berontak dari cekalan Toa-hek, pelan-pelan

tangannya makin kuat hingga dari kewalahan Toa-hek menjadi

pecundang. Dalam latihan tenaga, jangan bicara ilmu silat,

sudah tentu Lo In ada di pihak unggul. Girang hatinya Lo In

dengan kemajuan yang diluar perhitungannya itu. Maka pada

suatu hari si rajawali ia ajak berlatih.

"Tiauw-heng, tenagamu sangat hebat. Aku ingin sepertimu.

Coba, mari kita berlatih !" Lo In menantang.

 

"Mari !" si bocah mengundang lagi ketika melihat si rajawali

tinggal diam mendekam saja. Ia pasang kuda-kuda untuk

menerima serangan si rajawali.

Sesudah kedap kedip matanya, si burung raksasa pelangpelan

bangkit.

Ketika Lo In menyambar dengan tangannya yang kuat

sekarang, pikirnya, si rajawali tak kuat menahan serangannya.

Tapi si bocah salah hitung. Sebab cuma sekali kebas saja

dengan sayap kirinya, Lo In terdampar oleh angin kebasan

hingga ia jatuh duduk.

"Itu hebat, Tiauw-heng." ia berkata sambil nyengir dan rasakan

pantatnya sakit juga bekas jatuh barusan. "Kau pelan-pelan

dahulu. Jangan terlalu kuat mengebaskan sayapmu !"

Lo In bicara seperti saja terhadap seorang partner, kawan

selatihan. Tapi si burung raksasa seperti yang mengerti akan

maksud Lo In. Benar saja kebasan yang selanjutnya dilakukan

perlahan.

Lo In menjadi girang. Sejak itu ia terus ajak si rajawali berlatih.

Saban hari tenaganya Lo In meningkat an kegesitannya

bertambah. Maka setelah lewat dua bulan, betul-betul luar

biasa tenaga dalamnya si bocah. Ia sudah dapat menahan

kebasan sayap si burung raksasa yang bagaimana keras juga.

Hal mana membuat si rajawali juga merasa heran

kelihatannya.

Lo In bangga dengan latihannya. Ia kira semua itu dari

tenaganya yang meningkat demikian hebatnya. Tapi ia tidak

sadar bahwa tenaga dalamnya itu bisa demikian kokoh

 

lantaran ia memakan buah Jit-goat-ko atau 'Buah bulan

matahari' yang ia dapatkan diantara buah-buah yang diantar

oleh kawan-kawannya.

Buah itu bentuknya mungil, tidak besar, hanya sebesar telur

angsa. Warnanya separuh merah dan separuh putih. Kapan

buah itu dibelah, segera menyiarkan bau harum yang lama

sekali memenuhi hidung. Kalau disedot, rasanya nyaman dan

segar seluruh badannya. Ini baharu harumnya saja, apalagi

buahnya kalau dimakan rasanya lezat sekali. Tenggorokan

yang dilewati oleh buah itu, selama lima menit terus menerus

akan mengeluarkan hawa wangi yang menyegarkan. Seluruh

badan rasanya kaku sejenak tapi kemudian tangkas lagi.

Tindakan berubah menjadi enteng, sedang tenaga entah dari

mana sudah berlipat tambahnya.

Buah itu Lo In dapatkan dua biji. Entah dari mana sang kera

dapatkan ini, dua-duanya ia sikat habis setelah ia rasakan

bagaimana harum dan enaknya buah itu, dimasukkan ke mulut

lewat tenggorokannya.

Di permulaan cerita dilukiskan bagaimana girang dan bangga

Liok Sinshe menampak kecerdasannya Lo In. Si bocah bukan

saja sudah mewariskan semua kepandaian Liok Sinshe yang

dicatat dalam otaknya, juga rahasia dari ilmu menotok jalan

darah yang terdapat dalam buku 'Tiam-hiat Pit-koat' sudah jadi

miliknya Lo In.

Anak kecil itu tinggal memerlukan gemblengan tenaga alam

yang sempurna, lantas ia akan berubah menjadi satu

pendekar yang sukar menemui tandingan. Tapi peryakinan

lwekang (tenaga dalam) yang sempurna bukannya gampang.

Itu harus meminta bukan satu dua tahun tempo, tapi makan

 

puluhan tahun. Meskipun demikian, Liok Sinshe yakin, dalam

bimbingannya dalam waktu tidak sampai sepuluh tahun, ia

bisa bikin Lo In menjadi jago tak terkalahkan.

-- 5 --

Hanya sayang sekali, Liok Sinshe yang mengasuh Lo In

sampai setengah jalan, baru saja ia menggembleng lwekang

Lo In dua tahun lamanya, tiba-tiba ada bencana dengan

kedatangannya Siauw-san Ngo-ok dan kawan-kawannya. Liok

Sinshe jatuh tergelincir ke dalam jurang yang jejaknya tak

dapat diketemukan oleh Lo In yang berusaha mencarinya

siang malam.

Setelah dapat menahan kibasan sayap si rajawali yang

demikian dahsyatnya, diam-diam Lo In merasa sangat

geregetan. Ia sendiri merasa tenaga dalamnya ada hebat,

tidak berani ia balas menyerang pada burung kesayangannya,

kuatir nanti si rajawali terluka oleh karenanya. Sekarang, siapa

yang ia dapat ajak berlatih setelah si burung raksasa tak

berdaya menghadapi ia ?

Pada suatu malam, ia keluar dari gubuknya. Tidak lagi ia

leloncatan dari satu ke lain dahan pohon untuk turun ke

bawah, meniru si burung raksasa. Benar-benar hebat ilmu

entengi tubuhnya. Bagaimana ia dapat demikian hebat

ginkangnya ? Inilah justru menjadi pertanyaan yang sampai

sebegitu jauh belum dapat dijawab olehnya sendiri.

Tidak jauh dari situ ada terdapat satu lapangan, cukup besar

untuk berlatih silat. Di sekitarnya banyak tumbuh pohon, tinggi

dan rendah, tidak rata. Dan ini semua bagi Lo In merupakan

lapangan untuk melatih ginkangnya.

 

Di bawah terangnya sang rembulan, Lo In tampak melatih ilmu

silatnya ajaran Liok Sinshe dengan tangan kosong mula-mula.

Pukulan-pukulannya ternyata luar biasa, semua menerbitkan

angin menderu. Kapan ia tujukan pukulannya ke atas, cabangcabang

pohon yang jaraknya dua tombak pada bergoyang dan

daun-daunnya pada berjatuhan ke tanah. Gerakannya gesit

luar biasa hingga yang tak melihat dengan mata kepala sendiri

tentu akan tidak percaya Lo In mempunyai tenaga yang

sempurna dan ilmu silat yang aneh-aneh melihat usianya baru

masuk empat belas tahun.

Lo In tidak merasa kalau ia dalam lembah itu diam-diam sudah

melewatkan waktunya hampir 2 tahun. Pantas badannya

makin tinggi, sedang romannya makin nyata kecakapannya.

Sayang pakaiannya mulai compang camping. Maklumlah ia

masuk ke dalam lembah itu tak membawa bekal pakaian. Jadi

ia tiap hari mengenakan pakaian itu-itu juga.

Setelah berlatih dengan tangan kosong, Lo In ganti berlatih

dengan pedangnya, juga tidak kurang hebatnya. Kalau tak

dapat dikatakan lebih hebat dan seram pula. Kecepatan

memainkan pedang yang bobotnya sangat enteng,

menimbulkan angin santar. Suaranya 'bat bet bat bet', bisa

membuat musuh yang menghadapinya ciut nyalinya.

Berhenti berlatih, Lo In duduk termenung di atas rumput.

Ia masih penasaran, lalu bangkit dari duduknya menghampiri

sebuah pohon siong (cemara) yang ukuran bulat batangnya

sebesar betis orang gemuk. Ia pasang kuda-kudanya lalu

kerahkan lwekangnya. Tampak seperti menghembus hawa

putih dari embun-embunannya. Ia berdiri kira-kira satu tombak

 

dari pohon yagn mau dibuat sasarannya. Setelah merasa

cukup kekuatan untuk menyerang, kedua tangannya digeraki

berbareng, diulur ke depan. Angin menghembus keluar hebat

bukan main. Segera terdengar suara 'krak !'. Disana, pohon

siong yang dipakai sasaran, kelihatan tumbang. Tidak dapat

menahan serangan Lo In yang dahsyat itu.

Lo In berdiri bengong. Ia kagum akan tenaganya sendiri,

berbareng ia menanya dirinya sendiri, dari mana mendapat

tenaga yang luar biasa itu.

"Celaka." katanya dalam hati kecilnya. "Tenagaku begini

dahsyat, aku tidak boleh sembarangan pukul orang !"

Sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat.

Lo In kira tidak ada yang lihat perbuatannya. Tidak tahunya,

diam-diam sambil mendekam di atas dahan pohon, si rajawali

menonton ia tengah berlatih silat dan matanya si burung

terbelalak kagum menyaksikan Lo In memukul tumbang pohon

siong.

Sampai dibawah pohon, dengan gerakan 'walet terbang

menembusi awan', ilmu entengi tubuh yang paling ia suka, Lo

In sebentar saja sudah ada didalam gubuknya lagi.

Bulak balik ia di pembaringannya. Tidak bisa tidur memikirkan

akan keanehan tenaganya yang luar biasa. Tiba-tiba

berkelebat dalam benaknya tentang 'Jit-goat-ko', buah mujizat

yagn ia makan demikian harum dan lezat rasanya.

Pikirnya, apakah oleh karena makan itu ? Ia kemudian merasa

sangsi lagi sebab setelah ia makan buah itu, ia lantas rasakan

 

perubahan aneh dalam tubuhnya, enteng dan gesit dirasakan

tubuhnya, tenaganya pun meningkat entah berapa puluh kali

karean si burung raksasa kontan pada hari-hari berikutnya

tidak berdaya menghadapi ia berlatih.

Dari mana kawanan kera itu dapatkan buah ajaib itu ?

Maka pada keesokan harinya, ia lantas kumpulkan kawankawan

keranya. Ia majukan pertanyaan, siapa diantaranya

yang membawakan buah yang bentuknya macam telur angsa

dan warnanya merah putih.

Lo In gunakan bahasa monyet menanyakannya hingga

puluhan monyet yang hadir dalam pertemuan itu pada

cetcowetan ramai. Rupanya satu dengan lainnya pada saling

bertanya. Tidak lama, satu kera yang berpotongan kecil tapi

gesit, lompat ke depan Lo In, berlutut sambil anggukanggukkan

kepala.

Lo In girang melihatnya. "Pek-gan, jadi kau yang

membawakannya untukku ?" ia menanya seraya mengeluselus

kepalanya si kera.

Pek-gan, kera itu dipanggil Lo In, artinya 'Mata Putih'.

Ia ada satu kera jantan yang bertubuh kecil, tapi kegesitannya

melebihi kawan-kawannya. Dua matanya putih seperti mata

yang terbalik, tapi ia melihat terang sebagaimana biasa. Malah

ada keistimewaannya, dengan sepasang matanya yang aneh

itu, pada malam hari gelap ia dapat melihat tegas terang

bagaikan siang hari. Ia mempunyai teman yang hampir sama

gesit dan cerdasnya dengan dia. Kera ini kepalanya putih dan

lebih jangkung sedikit, tapi kurusnya sama. Ia dipanggil 'Pek

tauw' oleh Lo In, artinya 'Kepala Putih'.

Dua kera ini paling disayang oleh Lo In karena gayanya yang

lucu dan sering bikin ketawa, baik dalam percakapan maupun

dalam kelakuannya. Hingga bagi Lo In, mereka itu ada dua

penghibur yagn menyenangkan.

Lain dari itu, dalam soal mengantar buah-buahan mereka tidak

sembarangan asal petik saja. Selalu mereka pilih buah-buah

yang istimewa untuk dipersembahkanpada junjungannya. Oleh

karenanya Lo In sangat menghargakan mereka.

Pek-gan senang kepalanya diusap-usap Lo In, matanya

melirik bangga pada kawan-kawannya.

"Pek-gan, coba kau terangkan dari mana kau dapatnya. Apa

kau masih bisa dapatkan pula beberapa buah untukku ?"

demikian kata Lo In dalam bahasa kera.

Pek-gan geleng-geleng kepala. Mulutnya kemudian

cetcowetan sambil tangannya menunjuk-nunjuk. Rupanya ia

sedang cerita menuturkan pengalamannya.

Lo In mengerti cerita Pek-gan. Kiranya buah mujizat itu si kera

dapatkan pada satu tebing yang curam disebelah barat

mereka sedang berkumpul. Pohonnya hanya mengeluarkan

dua buah. Malah setelah dipetik buahnya, pohon itu lantas

layu, daun-daunnya pada kuncup.

"Tidak apa." kata Lo In. "Lain kali kau boleh bawakan lagi

buah-buah lain yang sama baiknya. Nah, kau boleh kumpul

lagi dengan teman-temanmu !" Lo In sambil tepuk-tepuk

pundaknya si kera.

Berbareng dengan ini, tiba-tiba Lo In dan kawanan kera

menjadi kaget mendengar suara monyet berteriak-teriak minta

tolong Lo In dan yang lain-lain pasang kuping untuk menegasi

dari mana datangnya suara minta tolong itu.

"Ah, itu suaranya Ji-hek !" kata Lo In sambil lompat dari

duduknya.

Terus ia gunakan ilmu entengi tubuhnya, memburu ke selatan.

Semua kera paling kalut, masing-masing gunakan kecepatan

lari menyusul Lo In. Sedang si rajawali juga tidak ketinggalan,

pentang sayapnya dan terbang mendahului Lo In.

Lo In tidak minta 'kapal terbangnya' stop dahulu untuk

membawa dia, sebab ia tahu Ji-hek lebih perlu lekas ditolong,

jikalau ia mendengar teriakannya yang menyayatkan hati.

Ketika Lo In sampai disatu lapangan terbuka, ia lihat

rajawalinya sedang bertempur dengan manusia, entah siapa

dia. Tidak jauh dari mereka bertempur, tampak menggeletak

Toa-hek, tengah dipeluki oleh Ji-hek sambil berteriak-teriak

menangis minta pertolongan.

Cepat Lo In menghampiri Ji-hek.

Melihat Lo In datang, Ji-hek kegirangan. Mulutnya ramai

menceritakan apa yang sudah terjadi. Kiranya Toa-hek sudah

bertempur dengan orang yang sekarang lagi bertempur

dengansi rajawali. Dalam keadaan tidak waspada, Toa-hek

sudah dirubuhkan dengan senjata beracun.

Lo In tidak perhatikan Ji-hek nyerocos cetcowetan. Ia terus

saja memeriksa lukanya Toa-hek. Keadaannya parah juga,

matanya meram saja ! Lo In girang sebab Toa-hek tidak

terancam bahaya kematian karena lukanya.

Cepat ia bersihkan darah di pundaknya Toa-hek. Dengan

tangan bajunya lalu keluarkan obatnya, dioleskannya, sedang

pil mustajabnya dimasukkan ke dalam mulutnya Toa-hek.

Mustajab benar obatnya Lo In, warisan Liok Sinshe. Karena

tidak lama setelah obat berjalan dalam perut dan pundaknya,

Toa-hek sudah dapat membuka matanya dan merintih pelanpelan.

Melihat Toa-hek sudah tertolong, maka Lo In bangun berdiri

menyaksikan pertempuran si garuda dengan lawannya. Ia

perhatikan musuhnya si garuda ternyata adalah seorang tua

dengan hidung bengkok seperti patuk burung kakaktua,

mulutnya lebar, jidatnya jantuk. Entah ada tanda apanya lagi di

mukanya sebab hanya itu saja yang dapat dilihat dari

kejauhan oleh Lo In.

Ternyata orang tua itu ada punya lwekang hebat juga. Sebab

samberan si rajawali terus dapat ditolak mundur. Tampak si

rajawali napsu benar hendak membinasakan musuhnya. Angin

pukulan si orang tua, seolah-olah tidak dihiraukan. Ia terus

menyambar musuhnya sambil perdengarkan pekikan yang

gusar sekali.

Entah ada permusuhan apa si rajawali begitu marahnya.

Lo In lihat, orang tua itu mulai keteter. Ia mulai gunakan

senjata rahasianya. Ser ! Ser ! Lo In dengar suaranya senjata

rahasia si orang tua menyambar pada si rajawali. Tapi sampai

 

sebegitu jauh dengan kebasan sayapnya, saban kali senjata

rahasianya si orang tua dapat dijatuhkan.

Lo In kuatir akan keselamatan burung kesayangannya. Maka

ia lalu bersuit, si rajawali masih bernapsu bertempur. Suitan

tanda memanggil Lo In seperti juga ia tidak mendengarnya.

Tapi, ketika suitan yang kedua nadanya agak keras, membuat

si rajawali tak dapat membandal panggilan tuannya.

Ia putar tubuh dan terbang menghampiri Lo In.

Sementara itu, si orang tua sudah memburu datang.

Kiranya dia itu seorang tua dari usia kira-kira 50 tahun. Selain

tanda-tanda yag Lo In dapat lihat terlebih dahulu, ia saksikan

lagi, orang tuaitu mulutnya dan giginya omping. Entah tinggal

berapa giginya, yang terang di sebelah depannya, atas bawah

sudah sungsang sumbel.

Segera Lo In dan si orang tua sudah berhadap-hadapan, kira

satu tombak jauhnya. Sambil menunjuk dengan jarinya, si

orang tua berkata pada Lo In, "Em ! Jadi kau ini tuannya si

burung celaka itu ?"

Lo In merasa tidak senang burungnya dikatai 'si burung

celaka'.

"Lotiang (orang tua), kau sudah celakai Toa-hek, lantas kau

mau celakai juga aku punya Tiauw-heng, apa maksudmu ?" Lo

In balik menanya tanpa menjawab pertanyaan orang yang

diajukan lebih dahulu.

"Aku tidak peduli kau punya Toa-hek, Tiauw-heng, Sam-heng,

 

apa hek apa heng kek ! Asal aku mau bunuh, tidak ada orang

yang berani rintangi !" si orang tua nyerocos, kasar betul.

Suaranya nyaring macam gembreng pecah.

Lo In mendongkol hatinya. Tapi ia tidak berani kurang ajar. Ia

tetap berlaku sopan terhadap orang asing itu. Selama hampir

dua tahun dalam lembah, hari itu, Lo In untuk yang pertama

kalinya ketemu lagi dengan manusia. Di samping ia suka

berlaku jail, mengocok orang, juga perangainya halus dan

ingin bersahabat sama siapa juga. "Jadi lotiang masih marah

sekarang ?" tanyanya.

Matanya si orang asing mendelik.

"Aku mau bunuh orang utan dan burung busukmu. Kau mau

apa ?" bentaknya.

Lo In kedip-kedipkan matanya, seperti yang ketakutan.

"Lotiang, kau sebenarnya siapa ? Apa namamu ?" tanya Lo In

tenang.

"Hahaha." si orang asing ketawa, seraya tepuk-tepuk dadanya.

"Tidak perlu kau tahu siapa aku sebab kau masih bocah. Tapi

tidak apa aku sebutkan supaya mati merem. Hahaha, aku ini

Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng dari Coa-kok !"

Lo In tidak kaget si orang asing sebutkan namanya, sekaligus

dengan gelarnya 'Toan Bilo-mo' atau 'Si Iblis Alis Buntung'.

Yang membikin ia heran, Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng macam

orang edan. Apa dia setengah atau memang betul-betul

sinting ? Lo In tanya dirinya sendiri.

 

Kalau orang baik-baik, tidak semestinya ia menyebutkan

namanya yang seram sambil tepuk-tepuk dada dihadapan

seorang anak kecil seperti Lo In. Sebab Lo In belum tahu apaapa

dengan dunia Kang-ouw.

Yang lebih aneh pula, Siauw Cu Leng pakai mengatakan

'supaya kau mati merem' segala, apakah maksudnya ? Apa ia

mau bunuh juga Lo In ? Ini pun menjadi pertanyaan dalam

hatinya si bocah.

Lo In memandang mukanya si iblis, benar-benar saja kedua

alisnya pendek (kuntugn), cuma setengah dari alisnya orang

biasa.

Setelah menyebutkan nama dan gelarnya, Siauw Cu Leng

jalan mau menghampiri Toa-hek sehingga Toa-hek

mengerang gusar sedang Ji-hek tampak siap sedia buat

menjaga kalau suaminya diserang.

"Hei, kau mau apa ?" tanya Lo In.

"Ah, kau anak bau, tau apa !" sahut Toan Bilo-mo Siauw Cu

Leng seraya mengebaskan lengan bajunya. Dari mana

mengembus angin keras, menyerang Lo In.

Si Iblis Alis Buntung berdiri heran melihat Lo In tidak apa-apa.

Si bocah tinggal tetap berdiri ditempatnya. Biasanya, kalau

orang akan jungkir balik, apalagi ini anak kecil yang dikebas,

kenapa dia diam saja ? Demikian tanya si iblis dalam hatinya.

Apa kurang kencang kebasannya ? Maka ia lalu mengebas

sekali lagi dengan lwekan ditambah menjadi 7 bagian, tapi......

Lo In masih berdiri ditempatnya sambil bersenyum geli.

 

Rupanya ia masih merasa lucu atas kelakuan si iblis.

Memang, kalau anak kecil biasanya yang dikebut pasti akan

jungkir balik dan mungkin jatuh pingsan. Tapi kali ini Lo In

yang dikebas, tidak bisa mempan sebab tenaga dalam Lo In

ada diatasnya si Iblis Alis Buntung.

"Silahkan, kau mau bunuh Toa-hek ?" tanya Lo In ketika

melihat si iblis berdiri tertegun.

Sebagai tokoh iblis yang ditakuti sepak terjangnya, tentu saja

Siauw Cu Leng tidak mengira dapat dijatuhkan demikian

mudah oleh satu anak kecil yang masih ingusan, kata hati

kecilnya.

Ia lalu lompat menerjang, menghajar Lo In dengan kedua

tangannya yang menghembuskan angin besar. Debu dan

tanah berterbangan saking hebatnya dilanggar angin serangan

Siauw Cu Leng. Tapi Lo In sudah menghilang dari depannya.

Bukan main kagetnya, cepat ia putar tubuhnya. Dilihat Lo In

sudah berada dibelakangnya sambil anteng-anteng saja

menggendong tangan.

"Tanah tidak berdosa kau hajar begitu bengis, lotiang !" Lo In

kata dengan jenaka.

Malu bukan main si Iblis Alis Buntung diejek si bocah, naik

pitam dia. "Bagus, kau jaga pukulan mautku !" teriaknya

nyaring.

Pukulan yang dikerahkan dengan tenaga maksimum kalau

kena tubuh Lo In bisa hancur lebur berkeping-keping, tapi lagi

lagi pukulan si iblis cuma bisa menghajar tanah sebab Lo In

sudah bisa menghilang lagi kemana tahu.

"Anak busuk, kau berani permainkan aku, Toan Bilo-mo ?"

bentaknya sambil celigukan, matanya mencari bayangan Lo In.

SI iblis benar heran. Entah bagaimana Lo In bergerak sebab

tahu-tahu ia hanya menghajar tanah lagi. Ia marah-marah

hanya untuk menyimpan mukanya dari perasaan malu sebab

sebenarnya telah takut bukan main dalam menghadapi si

bocah punya kegesitan yang seperti setan saja bisa

menghilang.

Pikirnya, kalau tidak siang-siang angkat kaki, ia bisa susah.

Ia tahu bahwa saat itu Lo in berada di samping kirinya. Ia

bukan menyerang lagi, hanya ia lompat ke depan dan angkat

kaki terbirit-birit lari.

Lo In tidak mau tanam bibit permusuhan, makanya ia tadi

hanya lawan si iblis dengan kelincahannya saja mengelakkan

serangan-serangan. Ketika si iblis melarikan diri, ia hanya

ketawa, tidak mengejar. Tapi tidak demikian dengan si

rajawali, begitu meliaht Siauw Cu Leng lompat lari, ia juga

gerakan sayapnya menyerang dari atas. Cakarnya yang

bagaikan baja, nyaris mencomot hilang kepalanya si iblis,

kalau Siauw Cu Leng tidak menggunakan tipu 'Keledai malas

bergulingan diatas rumput', akan kemudian disusul dengan

gerakan 'Lo hie ta teng' atau 'Ikan gabus meletik', untuk ia

terus melarikan diri.

Lo In tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan pertunjukan itu.

 

ia tidak ijinkan si rajawali mengejar terus lawannya karena ia

tahu orang itu sangat licik hingga mungkin burung

kesayangannya nanti bisa dapat celaka oleh senjata

rahasianya yang berbisa. Oleh karenanya ia lalu

memperdengarkan suitannya memanggil si rajawali untuk

terbang pulang.

Tampak burung kesayangannya unjuk roman bengis dan

penasaran.

"Tiauw-heng, kau kenapa begitu marah pada dia ?" tanya Lo

In seraya elus-elus sayapnya, sebagaimana biasa unjuk

kesayangannya.

Si rajawali tidak geleng atau anggukkan kepalanya, dia diam

saja.

Lo In mengerti burung kesayangannya sedang marah.

Seketika itu ia ingat akan kejadian si burung raksasa

menderita luka, ia terkena anak panah beracun. Maka cepat ia

pungut anak panah yang barusan menancap dipundaknya

Toa-hek. Ketika ia perhatikan dengan seksama, lantas ia

mengerti bahwa yang memanah si rajawali adalah si Iblis Alis

Buntung. Pantesan burung kesayangannya begitu marah pada

Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng.

"Tidak apa, lain kali kita ketemu, kita akan kasih hajaran

padanya." menghibur Lo In pada burung garudanya. Si

rajawali kali ini, mendengar Lo In mengucapkan kata-katanya

telah memanggutkan kepalanya.

Kenapa Toa-hek bertempur dengan Toan Bilo-mo Siauw Cu

 

Leng ?

Itu adalah kebetulan kesompokan di jalanan. Ketika Siauw Cu

Leng sedang jalan lewati pohon, tiba-tiba ada bayangan

lompat dari atas. Ia kaget, cepat balik tubuhnya dan ia lantas

berhadapan denga Toa hek sebab bayangan tadi memang

Toa-hek yang barusan turun dari pohon.

Sebenarnya, kalau Siauw Cu Leng tidak timbul niatan ingin

menaluki si orang utan, ia teruskan jalannya, tentu tidak akan

ada kejadian apa-apa, sebab Toa-hek juga tidak

perdulikannya.

Apa mau, Siauw Cu Leng ketarik dengan tubuhnya Toa-hek

yang tegap dan kokoh kuat. Pikirnya, kalau ia bisa taluki orang

utan ini dan dijadikan pembantunya, ada baiknya juga untuk

disuruh-suruh. Segera ia datang mendekati, ia mulai

mengganggu, mengundang kemarahan Toa-hek. Ia berhasil

sebab Toa-hek lantas kedengaran menggerang gusar.

Dengan gerakan 'Hek houw tam jiauw' atau 'Macan hitam

mencengkeram', ia lompat menerjang. Tangan kanannya

menyambar lengan kiri Toa-hek, sedang tangan kiri, dengan

dua jarinya meluncur mau menotok 'hongbun-hiat', jalan darah

di pundak kanan si orang utan.

Inilah gerakan yang dilakukan dengan cepat. Pikirnya, dalam

segebrakan itu ia akan bikin lawan tidak berdaya. Tapi

perhitungan Siauw Cu Leng ternyata keliru sebab Toa-hek

segera elakkan lengannya yang hendak dicekal sedang

tangan kiri si iblis yang hendak menotok pundak sudah kena

ditangkis keras sekali hingga si iblis lompat mundur saking

kaget dan kesakitan.

 

"Apa mungkin monyet ini bisa ilmu silat ?" ia menanya dirinya

sendiri, sambil matanya mengawasi Toa-hek.

Tapi si orang utan yang sudah marah, tak mengasih

kesempatan untuk Siauw Cu Leng banyak menanya-nanya

dalam hatinya karena segera ia menyerang dengan tangannya

yang gede berbulu dan kepaksa si iblis harus keluarkan

kegesitannya untuk menyelamatkan diri.

Ia rada ngeri untuk kasih tangannya bentrok lagi dengan

tangan Toa-hek sebab barusan ketika ditangkis, ia rasakan

tangannya seperti ditangkis sepotong besi sampai ia rasakan

kesemputan tangannya. Sebaliknya, ia mau menggunakan

lwekang, menggempur rubuh Toa-hek, hatinya tidka

mengirakan karena ia ingin taluki si orang utan, bukannya

hendak membunuhnya.

Jadi, bagaimana ia harus berbuat ? Dalam berkelit sana sini,

menghindarkan sambarang tangan Toa-hek, si iblis putar

otaknya mencari jalan merobohkan Toa-hek.

Ia dapat jalan rupanya sebab sebentar kemudian ia lompat

keluar dari pertempuran, lari dikejar oleh Toa-hek.

Siauw Cu Leng menyelinap dibalik sebuah pohon besar

hampir dua pelukan, disini dia ajak Toa-hek main petak,

berputar ia disini sampai kemudian ia berada dibelakang si

orang utan. Diam-diam ia keluarkan panah beraacunnya,

terdengar Toa-hek menjerit roboh karena pundaknya kena

dilanggar senjata rahasia si iblis.

Siauw Cu Leng kegirangan. Tapi baru saja dengan terbahakbahak

ia ketawa seraya mendekati Toa-hek, dari atas pohon

 

menyambar satu bayangan. Untung ia awas. Cepat berkelit

selamatkan diri dari serangan. "Bangsat pembokong !"

bentaknya sambil memandang orang yang membokong tadi.

Ia terkejut juga sebab yang menyerang dirinya bukanlah

manusia, tapi orang utan lagi, orang utan betina. Memang Jihek

yang datang hendak menolong suaminya yang terancam

bahaya.

Segera mukanya si iblis berubah. Napsu membunuhnya

tampak dari romannya yang beringas. Ia kerahkan

lwekangnya, maksudnya hendak menghajar Ji-hek dengan

sekali pukul saja. Tapi pada saat Ji-hek terancam bahaya,

tiba-tiba terdengar suara si rajawali mendatangi, bagaikan

kapal terbang yang hendak mendarat saja, si burung raksasa

menyambar Siauw Cu Leng. Pohon dimana si iblis berdiri ada

merintangi si rajawali menyambar dengan leluasa. Maka ia

serempet Siauw Cu Leng dengan sayapnya hingga si iblis

terpental bergulingan, sebelum ia berdaya untuk

menyelamatkan dirinya.

Ia bergulingan menjauhi pohon kemudian ia lompat bangun,

lebih jauh lagi jaraknya dari pohon yang membuat si rajawali

tidak leluasa. Maka dengan enak saja Kim-tiauw permainkan

Siauw Cu Leng dengan kebasan sayap dan cakaran kedua

kakinya yang tajam-tajam. Tapi Siauw Cu Leng ada satu tokoh

iblis yang sudah terkenal dalam kalangan Kang-ouw. Maka

tidak mudah si rajawali mencomot kepalanya yang saban kali

hampir tercakar sebab ketika si iblis dapat memperbaiki

posisinya, segera juga serangan-serangan si rajawali di balas

dengan serangan tangan yang menghembuskan angin santar.

Itulah Pek-kong-ciang, pukulan udara kosong yang digunakan

Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng.

 

Si rajawali dengan demikian terus ketahuan tiap

menyambarnya. Pertarungan dilakukan hebat sekali sebab si

rajawali yang kenali musuhnya yang telah melukai ia,

kelihatannya sangat bernapsu sekali hendak mencakar dan

mematuk binasa musuhnya itu.

Siauw Cu Leng menggempur dengan hati-hati, ia pun sudah

siapkan panah beracunnya untuk merobohkan si rajawali.

Justru ia sudah siap, tiba-tiba terdengar suitannya Lo In.

Suitan pertama si rajawali belaga pilon, tapi suitan kedua yang

nadanya agak keras, membuat si rajawali tak dapat

meremehkan panggilan tuannya dan ia putar tubuh melayang

balik menyampari Lo In.

Siauw Cu Leng menyesal sekali ia terlambat melepas panah

beracunnya karena gara-gara suitan Lo In. Oleh karena itu

juga, maka Siauw Cu Leng sudah mendatangi Lo In dan

marah-marah di depan si bocah seperti orang gila. Tapi

kesudahannya ia kena dipecundangi si jago kecil dengan

hanya menggunakan kegesitan entengi tubuhnya saja.

Toa-hek sangat berterima kasih atas pertolongan Lo In.

Tiba-tiba ia jatuhkan diri, menyembah di depan si jago cilik.

"Kau terlalu menghargai aku, Toa-hek. Bangunlah !" berkata

Lo In sambil tepuk-tepuk pundaknya Toa-hek.

Lo In berjaln pulang dengan diiringi oleh tentara keranya.

Dalam perjalanan, Lo In berpikir mungin dalam lembah itu

bukan ia sendiri manusia yang menjadi penghuninya.

 

Munculnya si Iblis Alis Buntung sudah tentu ada kawankawannya

pula yang turut dengannya. Berpendapat bahwa

disekitarnya lembah mesti ada orang-orang lainnya pula yang

tinggal, maka dalam hatinya jago cilik kita ingin ia ketemukan

mereka itu untuk menanyakan keterangan kalau-kalau

diantaranya ada yang mengetahui tentang jejaknya Liok

Sinshe.

Meskipun hampir dua tahun sudah, Lo In menjadi penghuni

lembah, belum pernah ia melupakan Liok Sinshe. Tiap hari ia

masih terus mencari jejaknya Liok Sinshe. Malah tentara

keranya dikerahkan untuk membantu mencarinya. Ia sangat

mencintai Liok Sinshe yang ia anggap sebagai pengganti

orang tuanya, yang ia tidak tahu siapa dan dimana adanya

sekarang.

Tiga hari sejak kejadian diatas, Lo In dengan sendirian coba

melakukan pemeriksaan disekitarnya tempat dengan

pengharapan ia akan bertemu dengan orang yang ia dapat

ajak bicara. Ia menerobos sana menerobos sini, diantara

pepohonan yang lebat sampai akhirnya ia mendekati satu

rimba bambu. Tidak jauh dari sini, ia lihat ada sebuah sungai

kecil. Ia datang mendekati, duduk ditepinya untuk melepaskan

lelah.

Belum lama ia duduk, terbawa oleh silirannya angin, sayupsayup

ia seperti mendengar ada orang yang merintih. Ia kaget

kapan ia tegasi, rintihan itu keluar dari jalanan masuk ke rimba

bambu tadi.

Siapakah gerangan yang merintih itu ? Dalam hatinya, ia

girang dapat menemukan manusia disitu, tetapi juga kuatir

bahwa ia akan terlambat dapat menolong orang yang dalam

 

kesulitan itu sebab dari suara rintihannya, orang itu seperti

mendapat luka berat.

Dengan beberapa kali lompatan saja, Lo In sudha masuk ke

dalam rimba bambu.

Di pinggiran jalan ia nampak ada satu nenek yang sedang

rebah merintih.

Ia datang mendekati, ia pegang lengannya si nenek dari

belakang sebab si nenek sedang rebah miring. "Kau kenapa,

Popo ?" tanya Lo In.

Lo In menduga si nenek bisa silat sebab dari dandanannya

ada lain dari kebanyakan nenek-nenek. Juga ia lihat, tidak

jauh dari si nenek, ada kedapatan sepotong besi, panjang tiga

kaki. Rupanya potongan besi itu yang merupakan toya

pendek, ada gegumamnya si nenek yang roboh merintih.

Merasa lengannya dipegang orang, si nenek berbalik dan

memandang Lo In.

"Oh, anak." sahutnya. "Aku terluka berat oleh itu anjing keparat

!"

Paras mukanya si nenek kelihatan seperti yang marah dan

penasaran.

"Siapa yang lukai Popo ?" tanya Lo In.

"Ah, kalau diceritakan, gemas sekali aku pada si keparat ! Aku

hanya kalah sejurus saja, apa mau betisku kena ditendang

oleh tendangan geledeknya hingga aku rubuh tidak ampun

 

lagi. Untung dia tidak barengi mengemplang kepalaku dengan

toyaku yang dia rampas. Kalau sampai begitu, celaka aku si

nenek sekarang sudah mampus !" demikian si nenek menutur.

Ia tidak menjawab langsung pertanyaan Lo In.

Si nenek sambil bercerita, sembari bangkit dari rebahnya dan

duduk. Lalu gulung kaki celananya yang kanan. "Nih, kau lihat.

Bukankah orang itu amat kejam ?" si nenek sambung

bicaranya sambil menunjuk pada lukanya.

Lo In lihat, benar saja betisnya matang biru akibat tendangan

lawannya.

"Siapa yagn lukai Popo ?" Lo In ulangi pertanyaannya tadi.

Si nenek mengawasi Lo In sebentar, lalu berkata, "Ah, kau

masih kecil. Barangkali kau belum kenal dia. Dia itu ada satu

iblis kejam. Namanya Siauw Cu Leng dengan gelarnya si 'Iblis

Alis Buntung'. Anak, sebaiknya kau tolong aku dari pada kau

tanyakan orang yang mencelakai aku sebab toh kau tidak bisa

berbuat apa-apa untuk membalaskan sakit hatiku si nenek !"

Lo In hanya mendehem. Lalu ia segera mau periksa lukanya si

nenek, tapi ia urungkan ketika si nenek berkata lagi, "Eh,

tunggu dulu. Kau tentu mau tahu juga aku berhantam dengan

si iblis, bukan ?"

Lo In hanya manggutkan kepala.

"Lantarannya ia menuduh aku sudah menemukan buah 'Jitgoat-

ko' dan aku sudah memakannya sendiri." kata pula si

nenek.

 

"Apa buah 'Jit-goat-ko' itu ?" tanya Lo In.

"Jit-goat-ko," sahut si nenek. "Bentuknya mungil sebesar telur

angsa, warnanya merah putih. Siapa makan ini, tubuhnya

akan kuat luar biasa. Kalau yang pandai silat, lwekangnya

meningkat. Makan satu seperti tambahan tenaga dalam dari

latihan 5 tahun. Makan dua sebagai berlatih 10 tahun. Siapa

yang dapat makan buah ini, rejekinya besar. Mana aku si

nenek punya itu rejeki dapatkan buah yang demikian, tapi

difitnah oleh si jahat itu sampai aku rasakan semaput betisku

ditendang olehnya. Baik, nanti ada satu waktu, aku akan bikin

perhitungan padanya. Ia tak nanti lolos dari pembalasanku !"

Sementara si nenek nyerocos cerita, Lo In diam-diam merasa

terkejut dalam hatinya. Ia tidak sangka buah 'Jit-goat-ko' ada

demikian besar khasiatnya. Pantas dia makan dua buah itu,

tenaganya tambah entah berapa puluh lipat hingga ia bikin

tidak berkutik Toa-hek dan si rajawali, dua teman dalam

latihannya. Kalau begitu, pikirnya, tenaganya meningkat

seperti juga ia berlatih sepuluh tahun sudah lwekangnya.

Parasnya si bocah yang terkejut, tidak lepas dari matanya si

nenek yang berkilat sebentaran, lalu berkata pada Lo In,

"Anak, coba kau tolong periksa lukaku. Aku rasakan sangat

sakit !"

Lo In menurut, ia tekuk lututnya dan memeriksa luka si nenek.

Tiba-tiba terdengar suara 'buk !' disusul oleh jeritan 'aiyoo !'

dari Lo In berbareng badan si bocah lantas rebah terkulai.

Kiranya Lo In kena dibokong si nenek. Ia kena perangkap

sebab si nenek sebenarnya bukan terluka. Betisnya yang

 

matang biru hanya buatannya sendiri dengan mengerahkan

tenaga dalamnya, disalurkan ke betisnya hingga timbullah itu

tanda seperti yang benar kena ditendang orang.

Lo In masih kecil, belum kenal kecurangan manusia. Ia masih

belum berpengalaman dalam rimba persilatan yang banyak

akal-akal busuk yang dilakukan orang-orang jahat. Ia percaya

saja akan obrolannya si nenek. Ketika ia tekuk lutut, nunduk

untuk periksa luka yang dikatakan si nenek jahat, tiba-tiba

dengan kejam si nenek membokong Lo In dengan tenaga

sepenuhnya.

Tentu saja Lo In yang tidak berjaga-jaga, sekali digebuk ia

jatuh setelah mengeluarkan jeritan 'Aiyoo !' yang

mengenaskan.

"Hehehe !" si nenek tertawa terkekeh-kekeh sambil bangkit

dari duduknya dan mengawasi korbannya yang rebah

tengkurup, tidak sadarkan diri.

"Bagus !" tiba-tiba terdengar suara orang dari gerombolan

pohon bambu, berbareng orangnya muncul. Siapa, ternyata

bukan lain orang adalah Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng sambil

ketawa-ketawa datang menghampiri.

"Anak bau !" katanya sambil menendang tubuhnya Lo In

hingga terpental bergulingan setombak jauhnya. "Rasakan

gempuran tangan ciciku !" si iblis menyerang gemas seraya

memburu dan hendak menendang lagi.

"Tahan !" kedengaran si nenek menyetop niatnya Siauw Cu

Leng yang gemas sekali pada Lo In yang pernah bikin ia lari

terbirit-birit.

 

Siauw Cu Leng tidak jadi menendang. Ia jadi uring-uringan, ia

berkata, "Anak bau ini, buat apa ditinggal hidup ? Mampusi

saja, habis perkara !"

Si nenek goyang-goyang tangannya sambil jalan

menghampiri. Dekat tubuh Lo In, ia jongkok mengawasi

parasnya si bocah yang cakap tengah telentang dengan tidak

ingat orang, mungkin napasnya sudah berhenti.

Pelan-pelan tangannya si nenek ditempelkan pada dadanya

Lo In. Ia dapatkan Lo In masih bernapas meskipun sangat

perlahan. Kembali ia mengawasi pada paras Lo In lalu

menghela napas, "Musti anak ini turunannya dia........." ia

berkata perlahan, tapi cukup nyata bagi telinganya Siauw Cu

Leng.

Si Iblis Alis Buntung juga turut jongkok.

Sambil turut mengawasi si bocah yang seolah-olah sudah

tidak ada napasnya, Siauw Cu Leng menanya, "Siapa yang

kau maksudkan, cici ?"

"Dia..........dia........" sahtu si nenek bengong.

"Oh, aku tahu. Dia si orang she........." Siauw Cu Leng kata

lagi. Ia tak dapat meneruskan kata-katanya karena si nenek

tiba-tiba menaruh telunjuk di mulut, bersuara "sstt !"

Siauw Cu Leng celingukan sebab tanda dari kakaknya itu

menandakan ada orang yang mengintai. Tapi ia tidak lihat

apa-apa kecuali dua monyet kecil yang sedang lelompatan di

pohon bambu.

 

Yang satu kelihatan kepalanya putih sedang yang pendekan

matanya putih. Dua monyet itu kelihatan lucu sekali.

Setelah lama memperhatikan, mereka itu tidak mendengar

gerakan apa-apa lagi, maka Siauw Cu Leng sambil ketawa

berkata, "Ah, cici. Hanya dua binatang itu saja yang

mengagetkan kita." sambil ia menunjuk pada dua kera yang

seenaknya saja bermain lompat-lompatan saling kejar, malah

terkadang sampai mendekati mereka dengan aksinya masingmasing

yang lucu.

Siapa si nenek itu ? Ia bernama entah siapa, tapi ia terkenal

dalam kalangan kang-ouw dengan nama Ang Hoa Lobo atau

si nenek Kembang Merah. Rupanya nama ini diambil dari

kebiasaannya, pada rambutnya suka dicantum kembang yang

warnanya merah.

Kepandaiannya jauh diatas Siauw Cu Leng.

Namanya saja si iblis Siauw cu Leng memanggil cici (kakak).

Tapi sebenarnya mereka itu sudah menjadi laki bini diluar

kawin.

Ang Hoa Lobo 'jago racun', disamping kepandaian silatnya

tinggi hingga Siauw Cu Leng yang biasa tidak takuti siapa

juga, ia tunduk terhadap bininya diluar kawin itu. Ia pun juga

mempunyai panah beracun buatang Ang Hoa Lobo.

Demikian, tatkala mengetahui bahwa kecurigaannya tidak

beralasan, makan Ang Hoa Lobo suruh Siauw Cu Leng

pondong Lo In untuk dibawa pergi dari tempat itu.

 

Siauw Cu Leng benci pada Lo In tapi ia tak dapat menolak

perintah sang ratu. Terpaksa dengan uring-uringan ia angkat

si bocah, terus dipanggul di pundaknya.

Ang Hoa dan Kim Popo, jadi sudah dua-dua nenek yang

muncul dalam cerita. Sekarang, mari kita melihat perjalanan

Kim Popo dan asal usul dua nenek itu.

Kim Popo setelah dijemur selama dua jam dibawah terik

panasnya matahari, barulah dengan sendirinya totokan si

thauto bebas. Di samping sangat gusar, ia rasakan

tenggorokannya sangat kering. Cepat ia bangkit lalu

menghampiri tongkatnya dan dipungutnya. Ia meneduh

sebentar di bawah pohon kemudian ia mencari air, kalau-kalau

didekat situ ada kali kecil yang jernih airnya.

Keinginannya Kim Popo kesampaian, sebab tidak lama ia

jalan, ia menemui sebuah kali kecil yang airnya jernih

bagaikan kaca, keluar dari mata-mata air dari pegunungan.

Kegirangan dia sampai di tepi kali, ia rebahkan diri tengkurap,

tangan kanannya dipakai menyendok air. Dengan napsu, ia

minum sekenyangnya. Ia cuci muka dan cacapi kepalanya

yang barusan kena dijemur panasnya matahari.

Ia rasakan adem sekali ketika merasakan air kali itu meresap

di kepalanya.

"Hahaha ! Dia ada disini !" tiba-tiba Kim Popo dibikin kaget

oleh suara laki-laki dari belakangnya. Cepat ia bergulingan

untuk menyelamatkan diri dari serangan gelap kemudian

dengan gerakan 'Ikan gabus meletik', di lain saat ia sudah

tancap kakinya berdiri sambil pegangn kencang tongkatnya.

 

Ia menduga si thauto yagn datang lagi. Maka ia sudah siap

untuk menempur musuhnya dengan mati-matian. Tapi ketika

ia mengawasi orang yang tertawa tadi, amarahnya dengan

seketika lenyap dan malah ia ikut ketawa dan berkata : "Koko,

kau bikin kaget orang saja. Mengapa sih suka jail begitu ?"

Tidak biasanya Kim Popo keluarkan suara dengan nada begitu

empuk dan halus. Kiranya orang itu ada 'kenalan lama' dari

Kim Popo.

"Adik Kim, kau dari mana ?" tanya orang laki-laki itu.

"Kau sendiri, datang dari mana dan mau kemana ?" balik

tanya Kim Popo sambil melirikkan matanya.

"Ah, adik Kim. Kau belum jawab pertanyaanku." kata lagi

orang laki-laki itu sambil jalan menghampiri dekat pada si

nenek.

"Aku..... aku, eh......... kau........." sahut Kim Popo, agak gugup

suaranya.

Laki-laki itu telah mencekal tangannya Kim Popo yang kurus,

dengan tangan kanan ia mencekal, sedang tangan kirinya

memegang lengan kanan si nenek sehingga si nenek coba

berontak dari cekalan dan pegangan si lelaki sambil

mengucapkan kata-kata yang gugup tadi.

Berontaknya Kim Popo hanya 'aksi' atau pura-pura saja.

Sebab iahanya sebentaran saja beraksi demikian. Selanjutnya

ia jinak, antapkan perbuatannya si laki-laki tadi sambil

tundukkan kepala seperti anak dara yang malu-malu kucing.

 

Orang akan merasa geli dan lucu, melihat adegan yang 'luar

biasa' itu.

Kim Popo yang terkenal dengan adatnya yang angin-anginan

dan kepala batu, eh, bolehnya begini jinak pada lelaki yang

dihadapinya malah mengunjuk aksi manja aleman, bagaikan

anak perawan usia sweet-seventeen.

Siapakah lelaki itu ? Siapa Kim Popo itu ?

Marilah kita menuturkan 'kisah roman' dari mereka yang cukup

menarik.

Di sebelah barat kota Hoa-im dalam provinsi Siamcay, ada

tinggal bekas piauwsu (pengawal antaran barang) bernama

Kong Tek Liang. Ia terkenal dengan ilmu tongkatnya yang

dinamai 'Thian-lo Sin-kuay-hoat' atau 'Ilmu silat tongkat sakti

jatuh dari langit', terdiri dari 6 jalan dan masing-masing jalan

ada mempunyai 8 jurus, sama sekali jadi 48 jurus.

Dengan kepandaiannya ini, ia banyak taluki penjegal-penjegal

atau perampok-perampok besar, dalam perjalanan mengawal

barang-barang antaran. Ketika ia masih jadi piauwsu,

sehingga namanya terkenal dengan julukan Sin-kuay piauwsu

atau Piauwsu Tongkat Sakti. Setelah berusia tua, ia dengan

sendirinya mengundurkan diri dan menetap di sebelah barat

kota Hoa-im.

Kong Tek Liang mempunyai anak perempuan bernama Kong

Kim Nio, yang sangat dimanjakan karena ia hanya puteri satusatunya.

Di samping Kong Kim Nio, si Piauwsu Tongkat Sakti

 

mempunyai dua murid bernama Siauw Cu Leng dan The Sam.

Kim Nio ada berparas cantik menarik hingga Siauw Cu Leng

dan The Sam tergila-gila oleh kejelitaannya Kim Nio.

Siauw Cu Leng parasnya cakap tapi sifatnya licik dan agak

ceriwis. Sebaliknya The Sam, meskipun kalah cakap dari

Siauw Cu Leng, ia lebih pandai dalam merayu si dara. Hatinya

Kim Nio lebih mendoyong pada The Sam, pergaulan mereka

pun menjadi lebih erat oleh karenanya.

Pada suatu hari, Kim Nio duduk berduaan dengan The Sam

beromong-omong dalam sebuah taman bunga yang terdapat

dipekaranagn rumah Kong Tek Liang yang lebar luas. Mereka

begitu asyiknya ngobrol sampai tak disadari dua tangan

mereka saling pegang.

"Adik Kim," terdengar suara The Sam berkata dengan suara

perlahan. "Mungkinkah kita bisa jadi kawan seumur hidup ?"

"Kenapa tak mungkin, koko ?" sahut Kim Nio dengan mukanya

bersemu merah sebab seketika itu ia merasakan pegangan

tangannya The Sam makin erat dan duduknya menggeser

lebih dekat lagi.

"Aku kuatir kau tidak menjadi milikku, adik Kim." kata The

Sam, suaranyaagak gemetar.

"Kenapa kau memikir begitu, koko ?" tanya Kim Nio seraya

tarik tangannya yang dipegang erat-erat oleh The Sam.

Tapi The Sam tidak mau melepaskan tangan yang ditarik

pulang itu, malah ia menggunakan dua tangan menggenggam,

 

seolah-olah takut tangan si gadis yang lemas halus laksana

kapas itu terlepas. Kim Nio juga tidak memaksa, ia antapkan

tangannya dalam genggaman kedua tangan The Sam yang

kuat. Hatinya tiba-tiba memukul melihat The Sam duduknya

makin menggeser saja merapati tubuhnya.

"Adik Kim........" kata The Sam, suaranya hampir tidak

kedengaran.

"Kenapa, koko ?" tanya Kim Nio terkejut, melihat gerak gerik

The Sam.

Anak muda itu mengawasi parasnya si nona, dari sela-sela

matanya The Sam menetes air mata turun mengalir di kedua

pipinya.

"Kau kenapa, koko ?" Kim Nio ulangi pertanyaannya, heran

melihat The Sam menangis.

"Aku mencintai kau, tapi aku akan kehilangan kau......." sahut

The Sam. Ia menangis, seperti anak kecil.

-- 6 --

Kim Nio makin heran. Sambil tarik lepas tangannya dari

genggaman The Sam, ia berkata, "Koko, kau omonglah yang

jelas. Jangan kau menangis tidak karuan, membuat aku jadi

menghadapi teka teki."

"Adik Kim, boleh aku bicara terus terang ?" tanya The Sam

setelah menyusut air matanya.

"Kenapa tidak boleh." sahut Kim Nio. "Kau ceritalah dengan

 

tenang."

"Adik Kim, aku bakal kehilangan kau sebab kau sudah

ditunangi dengan Suheng Siauw Cu Leng dan...." sampai

disini bicara The Sam mandek karena dipotong oleh Kim Nio.

"Dari mana kau tahu ini ?" Kim Nio memotong, seraya bangkit

dari duduknya, berjingkrak saking kaget.

"Suhu yang ceritakan ini padaku." sahut The Sam.

"Kenapa ayah tidak cerita tentang ini padaku ? Aku heran !"

kata Kim Nio.

"Dengan pertunangan ini, hilanglah pengharapanku. Bukankah

itu berarti aku akan kehilangan kau, adik Kim ?" The Sam

berkata lagi sambil tundukkan kepala.

Kim Nio melihat si pemuda yang putus harapan, merasa amat

kasihan.

Hatinya, meskipun suka pada kecakapan Siauw Cu Leng,

sebanding kalau menjadi suami istri, tapi ia tak dapat melupai

Ji suhengnya (kakak kedua dalam perguruan), yang ia cintai

dengan hati murni. Sebagai tanda bahwa ia lebih mesra

terhadap The Sam, terbukti dari panggilannya. Ia seharusnya

memanggil Ji-suheng pada The Sam tapi ia hanya memanggil

'koko' saja. Sebab pikir Kim Nio, panggilan ini ada lebih mesra

kedengarannya.

Tangang Kim Nio yang halus tiba-tiba diangkat lalu memegang

dagu The Sam, diangkat hingga dua pasang mata bertemu

pandangan. "Koko, kau jangan kuatir. Aku akan menjadi

 

milikmu......." kata Kim Nio menghibur, mulutnya yang mungil

menyungging senyuman yang tak dapat dilupakan oleh si

pemuda yang kuatir kisah cintanya akan menjadi tamat.

Tampak The Sam pun bersenyum setelah mendengar katakata

Kim Nio. Badannya tiba-tiba bergerak maju dan dilain

saat tampak Kim Nio sudah berada dalam rangkulannya The

Sam, jinak sekali kelihatannya.

The Sam mencium pipi kanannya Kim Nio perlahan sambil

berbisik, "Adik Kim......"

"Ya....... koko........." sahut Kim Nio sambil merasakan ciuman

hangat dalam pelukan kekasih yang ia sangat cintai.

"Adik Kim, boleh aku menciummu lagi ?" bisik The Sam lagi.

Kim Nio hanya manggut, bersenyum dan segera ia merasakan

ciuman hangat di pipi kirinya. Keduanya saling peluk dengan

penuh kasih.

"Ha ha ha !" sekonyong-konyong terdengar suara ketawa

mengejek.

Dua makhluk yang sedang asyik dalam lautan asmara terkejut,

melepaskan pelukannya dan masing-masing lompat

menjauhkan diri satu sama lainnya.

Di situ tambah satu orang ialah Siauw Cu Leng. Dengan suara

sinis, Siauw Cu Leng berkata, "Bagus, bagus ya, perbuatan

bagus !"

Kim Nio berdiri tercengang, sedang The Sam tundukkan

 

kepala seakan-akan persakitan yang merasa bersalah.

Tampak Kim Nio tekap mukanya dengan kedua tangannya, ia

menangis saking malunya lalu lari masuk ke dalam rumah.

"The Sam !" bentak Siauw Cu Leng kasar.

"Apa kau tidak tahu adik Kim sudha menjadi milikku ? Apa kau

belaga pilon dengan perkataan suhu ?"

The Sam tidak menyahut, ia hanya tundukkan kepalanya.

Siauw Cu Leng sebenarnya bukanlah dengan sengaja

mengintip perbuatan mereka, tapi secara kebetulan saja.

Ketika ia ke belakang, ia masuk ke taman bunga mau memetik

sekuntum bunga untuk dihadiahkan pada Kim Nio, apabila

sebentar sore pertunangan mereka diberitahukan pada si jelita

oleh suhunya.

Kong Tek Liang mengambil keputusan Siauw Cu Leng

sebagai mantunya berdasarkan perhitungan bahwa Siauw Cu

Leng cakap parasnya, pintar mengambil hati sang suhu, juga

dengannya ada hubungan famili. Ibunya Siauw Cu Leng ada

adik piauwnya yang menikah dengan orang she Siauw. Atas

permufakatan kedua orang tua, ialah Kong Tek Liang dan

ibunya Siauw Cu Leng, bapaknya sudah mati, mereka setuju

merangkapkan jodoh anak-anaknya.

Kepada Kim Nio sendiri, Kong Tek Liang belum memberi

tahukan tentang pertunangan itu karena Sin-kuay Piauwsu

mau mencari kesempatan yang baik sehingga anaknya tidak

menjadi terkejut. Kong Tek Loang tahu bahwa anaknya ada

lebih mencintai The Sam, maka dengan perlahan ia

 

merenggangkan dahulu pergaulannya kedua orang muda itu.

Kepada The Sam ia sudah beritahukan. Maksudnya supaya

The sam mengundurkan diri karena Kim Nio sudah menjadi

miliknya Siauw Cu Leng. Si orang tua tidak mengira, bukannya

The Sam mundur, malah makin merapat hubungannya hingga

terjadi adegan yang dipergoki Siauw Cu Leng.

Siauw Cu Leng yang pergoki bakal istrinya dipeluki orang,

bukan main marahnya. Ia sudah lantas mau menerjang dan

gebuk mampus The Sam, tapi ia takut salah pukul sehingga

bukannya The Sam yang terpukul tetapi malah tunangannya.

Maka ia hanya perdengarkan suara ketawanya yang bernada

mengejek.

Sekarang mereka hanya berduaan saja, makin meluap

kegemasan Siauw Cu Leng.

"Bangsat she The, kau terlalu kurang ajar !" teriaknya. "Berani

kau merebut bakal istriku ? Nih, rasain !"

Berbareng ia menerjang. Kepalanya The Sam menjadi

sasaran dengan gerakan "Tok pek Hoasan' atau 'Menggempur

gunung Hoasan'. Serangan dilakukan dengan cepat luar biasa,

dibarengi dengan hawa amarah yang meluap-luap. Tidak

heran kalau kepalanya The Sam yang sedang nunduk bisa

berantakan otaknya kalau saja pukulan Siauw Cu Leng

mengenakan sasarannya.

The Sam tahu datangnya bahaya, cepat ia kelit ke kanan.

"Tahan !" serunya.

Siauw Cu Leng tarik pulagn tenaganya yang mengenakan

sasaran kosong. Lalu dengan mata melotot menanya, "Kau

 

mau bicara apa lagi ? Terima sajalah kematianmu ini hari !"

Berbareng dengan itu ia juga sudah lantas mau menyerang

lagi.

"Kau adalah suheng dan aku adalah sute. Tidak seharusnya

bila kakak adik mesti berkelahi. Maka haraplah suheng suka

bersabar." kata The Sam seraya mengelakan tubuhnya,

berkelit sana sini untuk menghindari serangan Siauw Cu Leng

yang dilancarkan bertubi-tubi.

"Hmm !" mendengus Siauw Cu Leng sambil serangannya tidak

ia hentikan.

"Maaf suheng kalau aku kurang ajar !" kata The Sam seraya

kali ini, ia tidak mau mengalah terus terusan.

Dua saudara dalam seperguruan itu jadi saling gasak dengan

serunya.

Dalam tempo pendek saja, sudah lewat 28 jurus. Siauw Cu

Leng sangat penasaran untuk dapat menjatuhkan saudara

mudanya.

Dua saudara itu, sebenarnya kepandaiannya tidak berimbang.

Dengan kata lain dapat dikatakan Siauw Cu Leng selangkah

lebih unggul sebagai saudara tua. Tapi oleh karena Siauw Cu

Leng berkelahinya dengan bernapsu, maka ia telah menelan

pil pahit dari The Sam.

Sehingga terbitlah suatu kejadian. Ketika ia menggunai tipu

'Hiu hi lian po' atau 'Ikan cucut menerjang gelombang'.

Kepalan kirinya menjotos muka, sedang tangan kanannya

 

dengan dua jarinya meluncur menotok 'hoa kay hiat', jalan

darah di pundak kiri The Sam.

Serangan cepat itu dilakukan hampir berbareng, tapi The Sam

juga tidak kurang cepatnya untuk menyelamatkan diri. Tangan

kanan menangkis jotosan ke muka sambil kelit miring ke kiri

berbareng ia menyambar lengan kanan lawan yang hendak

menotok pundaknya. Ia menggennak sejenak, kemudian

tangannya membalik, menghajar dada Siauw Cu Leng yang

terjerunuk ke depan.

Ini adalah jurus 'Sin-chiu Pa-houw' atau 'Tangan sakit

menggempur macan', jurus keempat dari jalan kelima dari

'Thian Lo Sin-kuay-hoat', ilmu silat tongkat sakti yang menjadi

kebanggaannya Sin-koay Piauwsu Kong Tek Liang.

Telak hajaran The Sam didadanya Siauw Cu Leng sehingga ia

rubuh seketika setelah mengeluarkan jeritan ngeri, dari

mulutnya kontan menyemburkan darah panas dan ia jatuh

pingsan.

The Sam jadi ketakutan. Ia bukannya datang menolong,

angkut sang suheng ke dalam rumah untuk minta pertolongan

suhunya, sebaliknya ia malah angkat kaki dari situ untuk

melenyapkan diri.

Siauw Cu Leng menggeletak dengan tak sadarkan diri.

Kong Tek Liang yang barusan pulang habis menamu ke rumah

temannya, diberitahukan oleh Kim Nio, dua suhengnya tengah

berkelahi. Lantas buru-buru melihat ke belakang dengan

maksud mau memisahkan, tapi sudah terlambat. Disitu ia

hanya dapatkan Siauw Cu Leng terlentang pingsan

 

berlumuran darah.

Bukan main kagetnya sang guru. Cepat-cepat ia memberikan

pertolongannya setelah memeriksa lukanya di dada, ia

pondong murid kepalanya itu dibawa masuk ke rumah.

Kim Nio mengikuti dari belakang sambil menangis

sesenggukan.

Si Tongkat Sakti marah-marah dan mengeluarkan ancaman

hendak menghukum The Sam tapi sejak itu tidak kelihatan

pula mata hidungnya sang murid, apalagi pulang ke rumah.

Hal mana sangat mendukakan hatinya Kim Nio.

Karena kejadian itu, karena gara-garanya Kim Nio, maka sang

ayah bertindak bengis menghukum Kim Nio disuruh merawati

dirinya Siauw Cu Leng sampai sembuh.

Mau tidak mau Kim Nio menurut, tidak berani ia

membangkang. Apalagi ia mengingat tiada orang lain yang

dapat merawati Siauw Cu Leng, selain ia berdua ayahnya

yang sudah lanjut usianya.

Dalam perawatan, Kim Nio bersungguh-sungguh sebab ia

merasa berdosa. Ia yang menyebabkan luka parahnya sang

suheng. Maka dengan berangsur-angsur Siauw Cu Leng mulai

sembuh dari luka parahnya.

Di waktu sakit tak dapat bangun, Siauw Cu Leng sering

ditolong Kim Nio, mengangkat bangun dari tidurnya untuk

minum obat. Pun sering membantu ayahnya mengurut-urut

jalan darahnya sang suheng supaya lancar lagi. Dengan

sering bersentuhan badan dan mata pandang memandang,

 

hatinya Kim Nio pelan-pelan terpikat juga pada Siauw Cu

Leng, lupa ia pada The Sam yang sekarang entah ada

dimana.

Sering Kim Nio menemani sang suheng duduk di tepi

pembaringannya, kasak kusuk mengobrol ketawa-tawa. Dari

memegang jari terus ia memegang tangan, lalu ke lengan. Kim

Nio antapkan tangan nakal si ceriwis, malah ia bersenyum.

Tapi alangkah kagetnya, tiba-tiba Siauw Cu Leng meniup

padam api lilin. Kim Nio rasakan tangannya ditarik hingga ia

terjerunuk menubruk badannya si bangor di atas pembaringan.

Kim Nio berontak tapi sudah terlambat, dua tangan yang kuat

telah memeluk dirinya.

Kim Nio memberontak, tapi tidak berdaya karena ciuman si

ceriwis Siauw Cu Leng yang bertubi-tubi membuat badannya

jadi lemas tak bertulang.

"Adik Kim,... oh...'

"Suheng.... ah...."

Hanya kata-kata ini yang terdengar sejenak dari lubang kunci

pintu kamar Siauw Cu Leng, sayup-sayup kedengarannya

seperti terbawa hembusannya angin.

Itulah kisah pada suatu malam, dimana si Tongkat Sakti Kong

Tek Liang tidak ada di rumah, lagi main tio-ki (catur Tionghoa)

di rumah tetangganya.

Masih terdengar suaranya Kim Nio, sayup-sayup jauh disana,

tapi tegas : "Jangan suheng, jangan........"

 

Lantas sang malam pun menjadi sunyi senyap.......

Sejak itu, dua minggu kemudian dalam rumah Sinkuay

Piauwsu Kong Tek Liang diadakan keramaian, pesta

pernikahan Kim Nio, puteri tunggalnya dengan Siauw Cu

Leng.

Banyak kawan-kawannya Kong Tek Liang yang datang

meramaikan pesta itu.

Diantara tetamunya yang kelihatan sangat dihormati adalah

Teng Siu bersama anak perempuannya bernama Teng Goat

Go yang tinggal di sebelah selatan rumahnya Kong Tek Liang.

Melihat dirinya dihormati lebih dari tetamu yang lainnya, Teng

Siu tampaknya amat angkuh, seakan-akan ia tidak

memandang mata pada banyak tetamu yang hadir dalam

pesta itu. Maka, untuk mereka yang gampang tersinggung

hatinya, tidak mau mendekatinya, kuatir nanti terbit urusan

yang tidak diingini.

Sebenarnya, memang Teng Siu orang takuti. Ditakuti bukan

kepandaian ilmu silatnya yang tinggi atau ia seorang hartawan

besar, ia disungkani kawan dan lawan karena 'racun'nya. Ia

sangat mahir membuat racun hingga dalam kalangan 'hitam'

(kawanan penjahat), ia sangat dihormati karena banyak

diantara kawanan jahat itu yang membuat senjata rahasianya

dengan bisa yang diperoleh dari Teng Siu. Dalam kalangan

jahat, orang hanya kenal nama julukannya Hoa-im, si orang

beracun dari Hoa-im.

Anak perempuannya, Goat Go yang umurnya 24 tahun sebaya

dengan Kim Nio, sudah mewarisi kepandaiannya sang ayah.

 

Dengan Kim Nio, Goat Go kenal baik sebab teman dalam satu

sekolahan.

Meskipun parasnya cantik, Goat Go hatinya tidak cantik. Jelus,

gampang mengiri. Maka tidak heran kalau ia mengiri pada Kim

Nio yang dapatkan Siauw Cu Leng sebagai suami yang

ganteng.

Seperti juga dengan Kim Nio, Goat Go siang-siang sudah

kehilangan ibu, meninggal dunia pada waktu ia berusia 8

tahun. Ia hidup bersama ayah dan Twa-ienya (kakak

perempuan ibunya) yang menggantikan sang ibu yang sudah

berada di alam baka.

Goat Go lebih dimanja oleh orang tuanya dibandingkan

dengan Kim Nio, kemerdekaannya tidak dikekang. Ia boleh

pergi melancong seharian atau satu malaman tidak pernah

ditegur oleh ayahnya, yang percaya penuh Goat Go bisa jaga

diri sendiri.

Begitulah, ketika ia habis pulang dari undangan, otaknya

bekerja untuk mencari pasangan yang lebih cakap dari

suaminya Kim Nio.

Ia memang cantik menarik, banyak pemuda yang incar dirinya

tapi tidak berani majukan lamaran karena pengaruh sang ayah

yang termashur biasanya.

Juga disekitar kampungnya, Goat Go tidak menemui orang

yang secakap suami Kim Nio. Mana ia mau ladeni mereka

yang mengincar dirinya. Ia justru ingin cari orang yang lebih

cakap dan ganteng dari Siauw Cu Leng.

 

Teng Siu tidak memikirkan akan jodohnya sang puteri. Ia

hanya menyerahkan atas pilihan anaknya, ia hanya akur saja.

Pikirnya, ini demi keberuntungna anak tunggalnya.

Pada suatu hari, selagi Goat Go ngelayap, ia mampir dalam

sebuah rumah makan hendak mengisi perutnya yang lapar.

Sikapnya galak betul, main bentak saja kepada pelayan yang

melayaninya. Tapi si pelayan melayani ia dengan ramah

tamah, meskipun dibentak-bentak. Ini karena si pelayan,

siang-siang sudah mendapat bisikan dari majikannya supaya

melayani si nona dengan baik dan manis budi meskipun si

nona berlaku galak kepadanya.

Majikan rumah makan itu sudah tahu ketika Goat Go masuk, ia

kenali itu ada puterinya Hoa-im Tok-jin, maka cepat-cepat ia

bisiki pelayan yang hendak melayaninya supaya layani

dengan baik sehingga tidak terbit onar.

Meskipun si pemilik rumah makan sudah atur demikian rapih,

toh terjadi juga keonaran, tak dapat dicegah. Sebabnya, Goat

Go marah-marah lantaran si pelayan salah membawakan

santapan yang ia pesan. Makanan itu semestinya dibawa ke

meja seorang tamu anak muda yang duduk di pojok, tapi ia

salah bawa ke mejanya si nona. Rupanya ia sangat bingung

karena dipesan lekas-lekas membawa makanan pesanannya

si nona. Dalam marahnya, Goat Go angkat mangkok sayur

yang masih mengepul panas lalu disiramkan ke mukanya si

pelayan. Siapa, sudah tentu saja menjadi gelagapan dan

berteriak-teriak kepanasan mukanya. Para tamu menjadi

tercengang melihat perbuatannya Goat Go.

Mereka yang kenali si nona, pada membayar uang makannya

di tempat kasir dan ngeloyor pergi. Sedang tamu-tamu yang

 

datang dari lain tempat pada berdiri dari bangkunya

mengawasi Goat Go. Mereka sangat tidak senang melihat

kelakuan si nona yang demikian keterlaluan.

Termasuk si anak muda yang duduk di pojok, yang sayurnya

disiramkan ke muka si pelayan. Merasa tidak puas, ia datang

menghampiri ke tempat Goat Go yang saat itu sedang

terpingkal-pingkal ketawai si pelayan yang gelagapan

kepanasan mukanya, sambil kedua tangannya dipakai

menekap muka.

Sambil tolak si pelayan minggir, anak muda itu maju

mendekati Goat Go berkata, "Cici, perbuatanmu sangat

keliwatan !"

Si nona heran ada orang berani menegur kelakuannya. Ia

angkat kepalanya memandang. Kiranya yang menegur itu

seorang anak muda, dandanannya sebagai pelajar, di

punggungnya ada terselip sebatang pedang pendek.

Pengawakannya tinggi kurus, gagah dan cakap tampangnya,

mengalahkan kecakapan Siauw Cu Leng dalam pandangan

Goat Go yang tengah mencari pasangan.

Diam-diam ia tertegun memandang si anak muda. Pikirnya,

pemuda itulah yang pantas menjadi pasangan dirinya. Tapi

Goat Go wataknya tinggi hati, tidak senang ada orang tegur

dirinya. Maka setelah mengerutkan keningnya, ia bangkit dari

duduknya, menghadapi si anak muda. "Habis kau mau apa ?"

ia jawab teguran si anak muda.

"Pelayan itu tidak berbuat kesalahan beasr, kenapa kau

sampai berbuat yang begitu keliwatan ?" kata si pemuda lagi.

 

"Ia, habis kau mau apa ?" tantang si nona.

Tidak marah dia, mukanya tampak berseri-seri seakan-akan

pandang remeh pada anak muda di depannya. Si anak muda

tidak takut, tapi si pemilik rumah makan sebaliknya yang

ketakutan setengah mati. Meskipun takut, ia coba maju dan

ingin melerai antara dua muda mudi yang kelihatannya hendak

bergerak.

"Sudah, sudah." katanya. "Kejadian itu tidak berarti, untuk apa

ditarik panjang. Sudah, sudahlah..........." sambil ajukan diri,

hendak memisahkan.

"Plak !" tiba-tiba terdengar suara, kiranya itu tangannya si

nona yang mampir ke pipinya si pemilik rumah makan.

"Jangan coba melerai, aku tidak suka cecongormu muncul

diantara kita !" bentak si gadis, matanya melotot gusar.

Sambil menekan pipinya yang panas bekas tamparan si nona,

pemilik rumah makan itu mundur teratur. Hanya matanya saja

kedap kedip sambil meringis-ringis kesakitan. Kelakuan mana

mengelitik urat ketawa Goat Go sebab ketika itu ia tertawa

cekikikan sambil matanya melirik pada si anak muda.

Dalam keadaan tertegun, si anak muda dengar Goat Go

berkata : "Apa kau juga ingin rasakan ini ?" seraya unjuk

telapak tangannya yang putih halus.

"Cobalah !" sahut si anak muda, dingin suaranya.

Goat Go memang kepingin usap muka orang yang cakap,

sekarang ada jalan untuk ia berbuat demikian. Maka dalam

girangnya, seketika ia lantas angkat tangannya dipakai

 

menampar pipinya si anak muda.

Tapi..... tampaknya bukan mengenakan pipi orang, sebaliknya

angin yagn ditampar olehnya sebab si anak muda dengan

otomatis sudah berkelit.

Merah mukanya si nona, bukan main malu dia. Maka di lain

saat ia sudah menampar lagi, malah ia gunakan tipu 'Thian lie

hun hoa' atau 'Bidadari sebarkan kembang', bukan satu tapi

dengan dua tangan ia menampar kalang kabut ke mukanya si

anak muda. Sayang gerakannya meskipun cepat, si pemuda

malah lebih cepat menghindarkan hujan tamparan itu.

Akhirnya Goat Go berhenti sendiri. Kiranya barusan ia hanya

menampari angin tok, sebab si anak muda siang-siang sudah

jauhkan diri dan berdiri di depannya dengan muka tersungging

senyuman ejek.

Goat Go jadi kalap melihat si anak muda mentertawai dirinya.

"Kau berani permainkan nonamu, hmm ! Kau lihat !"

bentaknya, berbareng ia depak terpental bangku di dekatnya,

meja ia terbaliki lalu lompat pada si pemuda. Tangan

kanannya di ulur ke arah dada lawan hendak mencengkeram

sedang tangan kirinya dengan kecepatan kilat menyambar

pada 'thian-ki-hiat', jalan darah di iga kanan. Serangan ini

dilakukan dengan berbareng, ganas kelihatannya tapi si anak

muda tinggal kalem saja. Ia menunggu datangnya serangan,

begitu tangan kanan Goat Go hampir sampai di dada, tangan

kirinya si pemuda sudah siap untuk menyambuti. Sementara

tangan kanan si nona kena dicekal, adalah tangan kirinya yang

hendak menotok jalan darah di iga kena ditekan ke bawah.

Goat Go merasa sesak dadanya menahan tekanan si anak

 

muda yang dibarengi dengan sebagian tenaga dalam.

Si anak muda menggunakan gerakan 'Sian-jin tian chiu' --

'Sang Dewa mementang kedua lengannya', untuk menyambuti

serangannya Tong Goat Go yang hebat.

Si nona berontak-berontak untuk meloloskan kedua lengannya

yang sudah kena dicekal si anak muda. Tapi bagaimana pun

ia keluarkan tenaga sepenuhnya, tetap tangannya tak dapat

diloloskan dari cekalan lawan yang makin lama makin sakit

rasanya. Rupanya anak muda ini mau kasih sedikit hajaran

pada Goat Go yang tengik lagaknya, keterlaluan

perbuatannya.

Lwekang si pemuda rupanya tinggi sebab sebentar kemudian

kelihatan Goat Go sudah tak berkutik. Itulah pengaruhnya

lwekang (tenaga dalam) yang disalurkan ke tangannya yang

mencekal tangan si nona yang membuat Goat Go merasakan

lumpuh badannya.

Matanya si nona menatap si anak muda.

"Kau mau apakan kau, setan ?" tanyanya.

Ia sudah tidak meronta-ronta lagi, sudah menyerah kalah

tampaknya.

"Aku mau kau ganti kerugian apa yang sudah kau rusakkan

dan uang obat untuk si pelayan yang kau siram mukanya

dengan sayur !" sahut si anak muda.

"Baik." kata Goat Go tanpa banyak pikir lagi.

 

Si pemuda tertegun. Ia tidak menyangka urusan begitu

gampang, si nona mau menerima permintaannya. Dalam

tercengangnya, ia masih terus mencekali kedua tangannya si

nona.

"Kau masih belum mau melepaskan tanganku ?" Goat Go

tegur, suaranya halus dan ramah, membuat si anak muda

gelagapan dan buru-buru saja ia lepaskannya.

Tampak muka si anak muda bersemu merah saking jengah.

Setelah terlepas kedua tangannya, si nona urut-urut. Rupanya

ia masih merasa sakit bekas cekalan tadi. Tenaganya yang

barusan dirasakan lumpuh, sekarang sudah balik kembali.

Hatinya girang, ia tidak mendendam karena ia memang naksir

pada si anak muda.

Pikirnya, anak muda ini selain berparas cakap juga

berkepandaian tinggi. Mau cari siapa lagi kalau bukan dia,

dijadikan jodohnya ? Memikir sikapnya Goat Go gampang

berubah, mengherankan semua orang termasuk si pemilik

rumah makan yang masih merasakan pipinya panas bekas

tamparan si nona tadi.

"Mari kita ke kasir." mengajak Goat Go pada si anak muda.

"Cici, kau baik betul." kata si anak muda tanpa merasa.

"Memang aku tidak sakit." sahutnya bersenyum sambil melirik

tajam.

Si anak muda kembali tertegun. Pikirnya, anak dara ini benarbenar

aneh kelakuannya. Tadi ia begitu marah, beringas, tapi

 

sekarang begitu ramah dan ketawa, malah bisa melucu lagi.

Anak siapakah dia ? Lirikannya tajam menusuk pusat

asmaranya.

Anak muda itu mesem mendengar jawaban Goat Go yang

lucu.

Ia mengikuti dari belakang si nona, tapi belum sampai di

tempat kasir untuk membikin perhitungan, si pemilik rumah

makan sudah datang menyongsong. Katanya, "Kionghi,

kionghi !" sambil angkat tangannya menyoja kepada kedua

anak muda itu. Perbuatannya mana membuat mereka jadi

heran.

"Apanya yang hendak kau beri selamat ?" tanya Goat Go.

"Oh itu, kalian sekarang sudah akur lagi. Maka aku

mengucapkan kionghi kepada kalian." jawabnya seraya

ketawa haha hehe.

"Oh, begitu."kata Goat Go. "Sekarang mari kita hitung berapa

kerugian yang sudah aku bikin rusak serta itu uang obat untuk

pelayanmu."

"Tidak apa, tidak apa, itu tak usah." kata si pemilik rumah

makan sambil goyang-goyang tangannya. "Itu perkara kecil,

buat apa mesti diganti."

Tapi Goat Go tidak meladeni kata-kata merendah si pemilik

rumah makan, ia kedok kantongnya, keluarkan uang perakan

hancur, lalu ditaruh diatas meja.

"Cukup ?' tanyanya sambil mengawasi si pemilik rumah

 

makan.

Mengingat urusan akan berlarut-larut nanti, maka si pemilik

rumah makan terima saja penggantian si nona tanpa

menyebut 'tak usah' lagi. Ia hanya kata, "Cukup, cukup. Sudah

kelebihan malah."

Setelah selesai berurusan, Goat Go putar tubuhnya lalu

menghadapi si anak muda yang berdiri di belakangnya. Ia

ketawa manis, berkata, "Bagaimanan ? Kau puas sekarang ?"

Si pemuda anggukkan kepalanya.

"Kau belum makan, bukan ?" tanya si nona lagi.

Belum si anak muda menjawab, Goat Go sudah tarik

tangannya diajak duduk menghadapi satu meja yang agak

dipojok.

Si nona teriaki pelayan, pesan makanan untuk dua orang,

katanya, "Lekas siapkan makanan enak untuk kita makan !"

Makanan disiapkan dengan ekstra cepat oleh kok (tukang

masak).

Di lain saat, kelihatan dua muda mudi itu sudah kerjakan

sumpitnya mendahar hidangannya. Kalau si gadis ketawaketawa

dan banyak bicara, tetapi si pemuda tinggal membisu

saja.

Sejenak tadi si pemuda membisu saja, rupanya pikirannya

masih terpengaruh oleh laga lagunya Goat Go yang benarbenar

aneh menurut pendapatnya.

 

"Hei, kau berubah jadi orang bisu ?" menegur si nona, ketawa

manis sambil ujung sumpitnya dipakai mencolek hidung si

anak muda.

Pemuda itu kaget, cepat mengelak hingga sang sumpit si nona

tak usah berkenalan dengan hidungnya yang mungil.

Ia tertawa, katanya, "Cici, benar-benar aku dibikin heran oleh

kelakuanmu."

"Herannya kenapa ?" tanya si nona, matanya melirik tajam.

Kembali pusat asmara si pemuda tertusuk oleh lirikannya.

"Barusan aku lihat kau bengis seperti Li-giam-ong (Ratu

akherat)." kata si pemuda. "Sekarang kau berubah sebagai

Tian-li (bidadari) cantik dan ramah tamah........."

"Stop !" memotong Goat Go sambil mulutnya mengunyah

daging bebek panggang, tangannya yang memegang sumpit

diangkat digoyang-goyangkan.

Ketika daging bebek panggang sudah lewat

ditenggorokannya, ia meneruskan kata-katanya : "Kau bisa

juga melucu, hi ! Dari mana kau belajar ? Hi hi hi......."

Anak muda itu tertawa, kini ia tertawa terbahak-bahak.

Goat Go tidak kesepian lagi karena si pemuda mulai kembali

dengan kegembiraannya.

Mereka dapat tertawa-tawa gembira dalam rumah makan yang

 

sekarang sudah kosong ditinggalkan oleh para tamu.

Hanya pemilik rumah dan para pelayannya yang menonton

adegan lucu, aneh sebab tadinya musuh sekarang mereka

menjadi sahabat seperti juga sahabat lama.

Ketika mereka habis makan, Goat Go bangkit hendak

membayar uang santapannya tapi dicegah oleh si pemuda,

berkata :

"Cici, kali ini aku yang bayar. Tadi kau sudah rogoh kantong

untuk mengganti kerugian. Apa salahnya kalau sekarang aku

yang membayar makanan, bukan ?"

Goat Go hanya tersenyum manis. "Terima kasih" ucapannya

halus.

Setelah membayar makanan, si pemuda balik lagi ke tempat

duduknya. Ia mengajak si nona berlalu. "Eh, nanti dulu." kata

si nona seraya pegang tangan si anak muda yang lemas

seperti juga tangannya sendiri yang halus.

"Ada urusan apa ?" tanya si pemuda.

"Aku duduk dahulu." si gadis menyuruh orang duduk, yang

segera diturut.

"Lama kita mengobrol dan ketawa-ketawa tapi belum kita

mengetahui nama masing-masing. Siapa sebenarnya kau,

adik ?" menanya Goat Go.

"Aku she Kwee, nama Cu Gie." sahut si anak muda.

 

"Dan umurmu ?" tanya Goat Go lagi.

"Tahun ini aku masuk 21 tahun." sahut Kwee Cu Gie.

"Pantesan kau panggil aku cici. Kalau begitu memang benar

aku ada lebih tua 3 tahun dari kau, adik Gie." berkata si nona.

Goat Go berkata seraya ketawa manis, melirik tajam dengan

ujung matanya.

Lagi-lagi Kwee Cu Gie dibuat bergoyang pusat asmaranya,

karena lirikan tajam si gadis. Tapi ia ada satu pemuda sopan,

tidak berani ia kurang ajar meskipun Goat Go, si berandalan

mengasih kesempatan Kwee Cu Gie untuk berbuat demikian.

"Sekarang kau hendak kemana ?" tanya Goat Go.

"Aku mau mencari pamanku." sahutnya.

"Adik Gie, bagaimana kalau kau mampir dahulu di rumahku ?"

mengundang si gadis.

"Terima kasih. Aku sangat kesusu. Lain kali saja kita bertemu

pula." jawabnya.

"Kalau begitu, baiklah. Cuma jangan lupa, kalau kau datang ke

sini cari aku ya !" memesan Goat Go, blak-blakan ia berkata,

tak pakai malu-malu lagi.

Kwee Cu Gie yang sopan santun merasa heran si nona

memesan demikian kepada seorang lelaki yang barusan saja

dikenal olehnya.

 

Goat Go memahami pikirannya si anak muda, maka lalu

berkata, "Adik Gie, aku bukannya gadis pingitan. Aku sangat

bebas, maka jangan heran kalau aku bicara blak-blakan. Apa

yang aku pikir dan lantas keluarkan."

Kwee Cu Gie anggukkan kepalanya.

"Nah, sampai disini saja kita berpisahan." kata si pemuda

kemudian.

"Bagus, selamat jalan adik Gie." sahut Goat Go. Sedikit pun

kelihatannya ia tidak merasa berat dengan perpisahan itu.

Tapi setelah Kwee Cu Gie berlalu dari sampingnya, ia menjadi

sedih sendirinya. Pilu rasa hatinya berpisahan dengan orang

yang dicintainya. Entah kapan mereka dapat bertemu pula. Ia

menyesal, tadi tidak ia tanyakan nama pamannya si anak

muda itu siapa namanya dan dimana tempat kediamannya.

Dengan mengetahui alamatnya, bisalah ia susul Kwee cu Gie

kesana buat diajak makan-makan lagi dan tertawa-tawa

menghibur hati.

Goat Go pulang dengan perasaan lesu, seperti orang yang

kehilangan sesuatu.

Di lain pihak, Kwee Cu Gie juga mengenangkan dirinya si

gadis. Pikirnya, gadis itu kecantikannya tidak mengecewakan,

dapat menggoncangkan jantung orang yang melihat,

ketawanya yang manis dan lirikannya yang mantap dalam

pusat asmara. Tapi sayang dalam sifarnya yang berandalan

itu ada tersembunyi kegenitan yang seakan-akan

mengundang untuk berbuat kurang ajar terhadapnya.

 

Kwee Cu Gie menghela napas sambil melanjutkan

perjalanannya.

Hari sudah sore, tidak keburu ia mencari pamannya. Maka

pada malam harinya ia menginap dalam sebuah rumah

penginapan di kota Hoa-im.

Keesokan harinya, setelah tanya-tanya orang, ia sampai di

depan rumah yang terkurung tembok disekitarnya. Ia

mengetok-ngetok pintu rumah dengan gelang besi yang

tergantung di pintu. Rupanya memang ini diperuntukkan bagi

tetamu memanggil orang di sebelah dalam. Tidak lama ia

menanti, sebentar kemudian pintu dibuka. Satu pelayan

perempuan muncul didepannya dan menanyakan ada urusan

apa, siapa yang dicari.

Kwee Cu Gie kasih tahu maksud kedatangannya hendak

menemui tuan rumah. Si pelayan segera masuk ke dalam

setelah memesan Kwee Cu Gie untuk menunggu sebentar.

Tidak lama si pelayan keluar lagi dan mengundang Kwee Cu

Gie masuk.

Ia diantar ke dalam satu ruangan tengah dan disuruh duduk

menanti, sebentar lagi tuan rumah akan muncul menemuinya.

Kwee Cu Gie menunggu. Lama juga belum kelihatan muncul

tuan rumah. Ia jadi kesal, maka ia bangkit dari duduknya lalu

menghampiri satu pigura yang melukiskan pemandangan di

suatu pegunungan dimana ada berkeliaran banyak binatang

buas. Asyik ia memandangi pigur itu hingga tidak merasa

kalau dibelakangnya sekarang ada muncul satu orang.

 

Ia menjadi kaget ketika sekonyong-konyong kedua matanya

disekap oleh dua tangan dari belakangnya. Cepat, ia mau

nglitik orang dibelakangnya itu, kalau ia tidak tahu bahwa yang

memegang tangan yang halus lemas, disusul oleh suara

empuk merayu, berkata, "Adik Gie, kau toh datang juga ke

rumahku......"

Kwee Cu Gie cepat putar tubuhnya dan... itulah Goat Go yang

berdiri di depannya, bersenyum memikat hati.

(Bersambung)

Jilid 03

Anak muda itu tercengang sebentaran. Belum sempat ia

menanya, Goat Go sudah tarik tangannya si anak muda. "Mari

kita duduk-duduk kongkouw !" katanya.

Ruangan itu perabotannya cukup mewah, pigura-pigura

dengan lukisan indah tergantung pada dinding-dinding

sehingga menarik selera tetamu, pot-pot kembang diatur rapi

sekali, siliran angin yang masuk dari jendela meniup

harumnya, mewangi masuk ke hidung.

Goat Go ajak Kwee Cu Gie duduk di atas bangku panjang

yang beralaskan bahan yang empuk, yang ditempatkan di

bawah jendela yang menghadap ke taman bunga.

"Adik Gie, " kata Goat Go, setelah mereka pada duduk.

"Sekarang aku tahu asal usulmu. Kau bukankah anaknya bibi

San dari Hoay-siang."

 

Kwee Cu Gie ketawa. "Kau benar, cici" sahutnya. "Di mana

adanya paman Siu ? Aku ingin lekas sampaikan pemberian

selamat ibuku dan menanya keselamatannya."

"Sabar adik Gie." kaat Goat Go. "Segera ayah akan keluar, dia

sekarang masih repot dengan pekerjaannya.

Terpaksa Kwee Cu Gie layani si nona kong kouw. Sudah tentu

ngobrolnya urusan famili diantara mereka. Goat Go berkali-kali

menyatakan ia ingin ketemu bibinya (ibu Kwee Cu Gie).

Katanya, sejak ibunya meninggal, ia tidak pernah ketemu lagi

dengan ibunya Kwee Cu Gie yang pindah ke Hoay-siang dari

Hoa-im.

Kiranya ibu Kwee Cu Gie itu ada saudara piauw dari Teng Siu,

ayahnya Goat Go bernama Thio Leng San yang menikah

dengan Bian-ciang Kwee Eng Siang, salah satu jago

terkemuka dalam kalangan kang-ouw.

Ketika masih di Hoa-im, meskipun ada tersangkut famili, Kwee

Eng Siang tidak suka bergaul dengan Teng Siu. Ia tidak suka

akan pergaulannya Teng Siu dengan orang-orang dari

kalangan tidak benar terutama ia benci akan kepandaiannya

Teng Siu membuat racun dipakai membantu orang-orang

jahat.

Pernah Eng Siang satu kali menasehati Teng Siu untuk jangan

bergaul dengan kawanan penjahat dan kepandaiannya

membuat racun sebaiknya disalurkan untuk kebaikan

menolong orang saki. Tapi nasehat Eng Siang tidak digubris,

malah selanjutnya perbuatannya makin mencolok di mata Eng

Siang.

 

Untuk menghindarkan bentrokan diantara famili sendiri, maka

Eng Siang ajak istrinya pindah ke Hoay-siang, suatu kota

dimana ia dilahirkan.

Pada waktu kepindahan itu, Kwee Cu Gie baru berumur lima

tahun.

Demikian, sewaktu mengobrol Goat Go mencoba menarik

hatinya Kwee Cu Gie dengan aksi genitnya. Tiap sebentar ia

pegang tangan si pemuda, mengasi lowongan untuk si

pemuda berbuat kurang ajar terhadap dirinya. Tapi

pancingannya itu ternyata tidak berhasilm, malah dari berani

melayani bicara, kelihatannya Kwee Cu Gie menjadi takut

melihat kegenitan Teng Goat Go.

Si nona jadi tidak sabaran, kenapa sang korban begini alot. Ia

mengundang saudara piauw itu untuk minum arak yang

barusan dibawakan oleh pelayannya.

Untuk membuat cici piauwnya senang, Kwee Cu Gie tidak

menolak. Tapi ketika ia minum baru tiga sloki, ia rasakan

matanya berkunang-kunang. Matanya pun dirasakan seperti

mau mengantuk. Seketika ia tak dapat menahan badannya

lagi. Ia rubuh celentang di atas bangku panjang yang

didudukinya.

"Hihihi, Cu Gie." kedengaran Goat Go ketawa, waktu melihat

korbannya rubuh.

Pipi Goat Go kemerah-merahan karena pengaruh arak yang

diminum barusan membuat si nona kelihatan tambahcanti dan

menggiurkan. Cuma sayang kecantikannya ini dibikin suram

oleh perbuatannya yang tidak bagus.

 

Goat Go bangkit dari duduknya, menghampiri si pemuda yang

sudah tidur nyenyak tampaknya. Ia tak dapat menahan rindu

hatinya yang meluap seketika. Maka ia lantas menubruk,

memeluk Cu Gie dan mencium pipinya.

"Plak ! Plak !" tiba-tiba terdengar suara pipi ditampar. Ternyata

pipi yang ditampar itu adalah pipinya si nona Goat Go yang

segera melepaskan pelukannya dan lompat mundur seraya

pegangi kedua pipinya yang panas bekas tamparan serta ia

rasakan ada giginya yang rontok.

"Anak kurang ajar !" bentkanya. "Kau berani tampar aku ?"

berbareng ia menerjang Cu Gie yang tengah mencelat bangun

dari rebahnya.

Sambil memutar tubuh, Cu Gie sambuti serangan Goat Go.

Tangan kanan si nona kena dipegang, dipelintir hingga Goat

Go berkaok-kaok kesakitan menangis.

Ketika Goat Go terima kabar dari pelayannya ada satu tama

muda cakap mencari ayahnya, lantas ia menduga akan dirinya

Kwee Cu Gie yang datang. Ia mengintip ketika Cu Gie diajak

masuk oleh pelayan. Benar saja ia lihat si pemuda yang

dirindukannya. Ia tidak jadi mengabarkan pada ayahnya yang

waktu itu sedan dalam kamar laboratoriumnya memasak obat.

Pikirnya, ia akan layani sendiri dahulu, belakangan baru

diberitahukan pada ayahnya. Tidak lupa ia siapkan arak yang

dicampuri beng-han-ye semacam obat tidur, maksudnya kalau

dengan kecantikan dan kegenitannya ia tak berhasil menjaring

si anak muda, ia mau bikin Cu Gie menjadi mabuk dan tertidur

dan selanjutnya ia boleh buat sesukanya atas tubuhnya Cu

Gie. Ia pesan pelayannya untuk membawakan arak dan sedikit

 

hidangan keluar kalau mereka sedang asyik bercakap-cakap.

Ia menggunakan tempat arak yang mempunyai dua aliran,

yaitu suatu aliran untuk arak biasa dan satu aliran lagi untuk

arak yang dicampuri obat tidur.

Caranya Goat Go untuk menjaring korbannya memang amat

rapih.

Tapi ia tidak memperhitungkan bahwa Cu Gie ada jago muda

yang lihai.

Ketika Cu Gie merasakan gejala tidak baik dari pengaruh arak,

segera ia gunakan lwekangnya yang tinggi untuk mendesak

arak yang diminumnya itu keluar dari lubang-lubang peluh

(keringat). Ia pura-pura seperti benar-benar ia kena

pengaruhnya arak. Setelah melenggut sejenak, ia rubuhkan

dirinya di atas bangku panjang yang didudukinya itu.

Ketika merasa dirinya dipeluk dan diciumi Goat Go, bukannya

ia menyambut dengan mesra, sebaliknya ia menjadi marah.

Bau harum dari tubuhnya Goat Go yang menembus ke dalam

lubang hidungnya tidak ia hiraukan, tangannya segera

melayang dan menampar keras juga sampai giginya si nona

ada beberapa yang rontok.

Selagi mencoba bangun, ia tahu dirinya diserang Goat Go.

Dengan sekali badannya berputar, ia sudah dapat menyambuti

serangan si nona dan tangannya Goat Go kena dicekal,

dipelintir hingga nona genit itu jadi berkaok-kaok kesakitan.

Cu Gie wataknya halus. Kalau tadi ia menampar itu dilakukan

saking tak dapat menahan marahnya. Kini marahnya sudah

hilang. Melihat Goat Go berkaok-kaok kesakitan, ia lepaskan

 

tangannya sambil berkata, "Cici, perbuatanmu bikin aku jadi

lupa ! Harap perbuatanmu ini kau tidak ulangi lagi !" berbareng

Cu Gie putar tubuhnya. Dengan beberapa lompatan saja ia

sudah berada di pintu pekarangan.

Goat Go melenggak. Cepat ia memburu, ia hendak memanggil

balik tapi tak dapat keluar suara dari mulutnya. Ia malu. Ia

hanya menyaksikan si anak muda melenyapkan diri di balik

pintu pekarangan.

Sambil membetulkan pakaian dan rambutnya yang kusut,

Goat Go bantingkan diri diatas bangku panjang tadi yang

membuat riwayatnya tak terlupakan olehnya sampai kemudian

ia merubah dirinya menjadi Ang Hoa Lobo, si Nenek Bunga

Merah.

Di lain pihak, Kim Nio tidak kenal apa artinya 'bisa'. Ia diajari

oleh Goat Go sampai pandai tapi kemudian rusak mukanya

karean hembusan obat yang dimasak sehingga ia belakangan

berubah menjadi Kim Popo. Setelah mukanya jadi jelek tidak

karuan, Siauw Cu Leng yang cakap telah meninggalkannya,

ikut Goat Go. Belakangan nona Goat Go juga mukanya rusak

akibat racun. Buat bikin Siauw cu Leng tidak meninggalkan

dirinya, Goat Go sudah gasak mukanya si cakap dengan 'bisa;

sehingga lebih jelek dari mukanya Goat Go. Si 'Arjuna' tidak

laku lagi di kalangan perempuan baik-baik. Oleh karenanya ia

sangat setia pada Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go, puteri

kesayangan dari Hoa-im Tok-jin Teng Siu.

Kisah cinta 'segitiga' antara Kim Popo alias Kim Nio, Siauw Cu

Leng si Arjuna dan Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go, ramai

dan menarik untuk ditutukan dan ini kita akan ceritakan di

sebelah belakang.

 

Sekarang, mari kita balik kepada Kim Popo yang bersua

kembali dengan The Sam yang menjadi 'idaman hatinya' di

waktu Kim Nio belum berubah menjadi Kim Popo.

The Sam ketika kabur dari rumah perguruannya karena sudah

memukul parah Siauw Cu Leng yang menjadi suhengnya, ia

terus berkelana di kalangan kang-ouw (Sungai Telaga)

mencari pengalaman. Ia beruntung ketemu dengan salah

seorang Tojin (imam). Ia mengajarkan ilmu 'Thong-pie-kong' --

'ilmu lengan sakti', ialah kalau lengan kanan diulur memanjang

sementara lengan kirinya mengkeret pendek. Dengan

kepandaiannya ini, ia dapat menjagoi meskipun sering kali

juga ia kena dipecundangi lawannya.

The Sam sudah lama tidak ketemu muka dengan Kim Popo

sejak ia kabut dari rumah perguruan baru sekarang ia

berjumpa pula. Ia kenali Kim Popo sebagai bekas ia punya

Kim Nio adalah dari suaranya dan potongan tubuhnya yang

selama ini tak dapat dilupakan olehnya. Ia tahu, memang Kim

Popo bukannya Kim Nio dahulu yang cantik menarik.

Sekarang mukanya sudah rusak. Ini ia dapat tahu dari

kenalan-kenalannya yang dahulu tinggalnya tidak berjauhan

dari rumah si Tongkat Sakti Kong Tek Liang. Ia merasa

kasihan atas nasib bekas kekasihnya. Ia mencari-cari, sampai

hari itu dengan secara kebetulan ia ketemukan bekas

'darlingnya' sedang minum air selokan.

Setelah memperhatikan lebih tegas, baharulah ia berani

ketawa dibelakangnya Kim Popo yang tengah minum air kali

dan cacapi kepalanya supaya adem.

"Mari kita ngobrol di bawah pohon itu." kata The Sam seraya

 

tuntun tangannya Kim Popo yang jinak sekali bagai mana

kucing peliharaan.

Di bawah pohon mereka ngobrol saling menuturkan

pengalamannya masing-masing sambil ketawa riang gembira.

Inilah mungkin kejadian yang pertama kali dialami si nenek

sejak Kim Popo meninggalkan rumahnya di Hoa-im.

"Koko, aku sekarang sudah jelek begini, apakah kau masih

mencintai aku ?" kata Kim Popo setelah sejenak percakapan

mereka terhenti.

"Adik Kim." sahut The Sam, suaranya mengasihi hingga

membuat Kim Popo terkenang akan masa lampau diwaktu

berkasih-kasihan di taman bunga. "Kau terlalu memandang

rendah akan cintaku. Meskipun mukamu sudah rusak, aku

tetap mencintaimu !" sambung The Sam.

Merasa lega hatinya Kim Popo mendengar kata-kata itu.

Menyesal ia tidak dapat hidup bersuami istri dengan The Sam.

Kalau tidak, tidaklah ia mengalami penghidupan yang gagal

total seperti sekarang ini.

Kim Popo tundukkan kepala lalu menatap wajahnya The Sam,

tersenyum ia tapi sudah tentu senyumannya 'senyuman

istimewa' karena giginya sudah tinggal beberapa buah saja.

Terdengar di lain saat Kim Popo menghela napas.

"Ya, sang tempo sudah membuat kita sama-sama tua." kata

Kim Popo, sauranya berubah. "Tak perlu kita berdendang

asmara lagi. Mari kita bicarakan urusan penting !"

 

The Sam melongo mendengar kata-kata Kim Popo.

Ia tidak menyangka perubahan sikap si nenek akan begitu

cepat. Ia menanya, "Urusan apa yang kau maksudkan penting,

adik Kim ?"

Kim Popo lalu menceritakan bahwa barusan ia kehilangan

barang berharga dirampas oleh si thauto beranting-anting

emas. Ia amat penasaran. Sebab selain barangnya yang

penting kena dirampas, juga ia sudah kena dijemur 2 jam

lamanya.

"Ah, kau berurusan dengan dia ?" tanya The Sam, romannya

seperti yang terkejut.

"Memangnya kenapa, siapa dia sih ?" balik menanya Kim

Popo.

"Ah, adik Kim." sahut The Sam. "Dia sangat lihai. Orang tidak

tahu siapa namanya, tapi orang kenal julukannya Kim Wan

Thauto (Thauto beranting-anting emas). Dia bukan saja lihai

ilmu silatnya tapi senjata rahasianya di kedua telinganya.

Kalau sudah dilepas, tiada seorang pun korbannya yang dapat

lolos dari sasarannya."

The Sam cerita benar. Senjata rahasia "Kim-wan' dari si thauto

ada sangat hebat sebab dilepas dengan tenaga dalam.

Sampai dimana tingginya lwekan si thauto dapat diukur dari

kepandaiannya melepas senjata rahasia itu. Dan ia dapat

kendalikan yaitu bisa enteng, bisa setengah berat dan berat

waktu ia menghajar orang. Pukulan enteng seperti yang dibikin

terkulai Kim Popo, setengah berat bikin orang terus pingsan,

 

yang berat bisa bikin korbannya terus tidak bangun lagi alias

jiwanya melayang untuk menghadap Giam-lo-ong (Raj

Akhirat).

"Dia begitu lihai....." Kim Popo menghela napas. "Habislah

pengharapanku untuk dapat merebut barangku yang sangat

penting itu."

"Barang apa sebenarnya yang dirampas Kim-wan Thauto ?"

tanya The Sam.

"Barang itu adalah menjadi rebutan oleh kalangan bu-lim

(rimba persilatan) pada dewasa ini." menerangkan Kim Popo.

"Apakah itu ?" The Sam ingin tahu.

"Barang itu adalah sebuah buku mungil yang bernama 'Thiamhiat

Pit-koat', pelajaran ilmu menotok jalan darah yang luar

biasa pentingnya bagi setiap dunia persilatan." kata Kim Popo.

The Sam kerutkan keningnya, ia tundukkan kepala, berpikir,

lalu menanya, "Sampai begitu penting, bukankah setiap orang

yang pandai ilmu silat dapat menotok lawan dengan baik ?"

"Kau jangan meremehkan 'Thiam-hiat Pit-koat'. Ia dikarang

oleh satu ahli totok kenamaan, The Leng Tong namanya,

orang dari propinsi Shoatang. Pada jamannya yaitu 80 tahun

berselang, The Leng Tong tidak menemukan tandingan dalam

ilmu totokan jalan darah. Banyak orang kepingin berguru

padanya tapi dia tolak. Dia tidak mau menerima murid. Hanya

dia ada lepas kata kalau dia sudah tidak ada dalam dunia, di

belakang hari orang akan menemui bukunya yang dinamai

'Thiam-hiat', kalau orang itu memang berjodoh untuk menjadi

 

muridnya. Kau tidak tahu, koko. Buku itu memuat tiga macam

ilmu totokan. Kecuali pelajaran menotok jalan darah

menggunakan satu sampai dua jari dari dekat, dalam bukunya

ada disebut menotok dari jauh dengan menyentil batu kecil

dan kebasan tangan baju. Malah, yang penting, totokan The

Leng Tong dapat dikendalikan berat entengnya dengan jitu

sekali." demikian Kim Popo menutur.

"Aha, aku juga orang she The, siapa tahu ada jodoh

mendapatkan buku itu." kata The Sam kegirangan sambil

tepuk-tepuk pahanya.

"Bagaimana kau bisa bilang begitu ?" tanya Kim Popo heran.

"Aku she The dan Leng Tong juga she The. Kita sama-sama

she The. Tidak mustahil kalau barangnya The Leng Tong

diwariskan padaku, bukan ?" sahut The Sam.

Ia menutup kata-katanya sambil terus tarik tangannya si nenek

diajak pergi.

"Mari kita susul Kim-wan Thauto !" ia mengajak Kim Popo.

"Kau bilang Kim-wan Thauto lihai. Bagaimana kau dapat

merebut kembali 'Thiam-hiat Pit-koat' dari tangannya ?" tanya

Kim Popo sangsi.

"Ah, itu urusan belakangan. Mari kita susul nanti dia keburu

sudah jalan jauh, sukar kita mencarinya." sahut The Sam.

Ia pun, berbareng gerakan kakinya mengajak Kim Popo

berlalu dari situ.

 

Kim Popo tak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali mengikuti

bekas kekasihnya itu. Malah diam-diam hatinya merasa girang

The Sam sudah mau bantu ia merebut pulang buku pelajaran

ilmu menotok itu. Apa The Sam berhasil atau tidak, pikirnya,

itu bagaimana nanti saja. Ia percaya bekas kekasihnya itu

sudah mempunyai akal untuk merebut kembali buku mungil

itu, bila dilihat The Sam demikian napsu mengajak ia

menyusul Kim-wan Thauto.

Kita tinggalkan dahulu Kim Popo dan The Sam yang menyusul

Kim wan Thauto. Kita balik kepada Lo In, bagaimana si bocah

itu, apakah dia binasa akibat gebukan Ang Hoa Lobo yang

dilakukan dengan sepenuh tenaga ?

Lo In dibawa masuk ke dalam sebuah rumah yang dibangun

dari bambu dengan separuh batu. Cukup besar rumah itu dan

mempunyai pekarangan depan belakang.

Lo In diletakkan di sebuah bale-bale dengan kasar sekali oleh

Siauw Cu Leng yang sangat membenci bocah itu.

Keadaan Lo In masih belum sadarkan diri.

Kenapa Ang Hoa Lobo begitu kejam menghajar bebokong

anak kecil dengan menggunakan tenaga penuh ? Itu ada

sebabnya.

Siauw Cu Leng ketika pulang habis dipecundangi oleh Lo In

telah mengadu pada Ang Hoa Lobo tentang munculnya satu

bocah luar biasa. Ia telah dipecundangi dengan hanya

kegesitan saja, malahan pukulan gunturnya yang

menghancurkan batu gunung tidak mempan dihadapkan pada

si bocah.

 

Ang Hoa Lobo tertawa terkekeh mendengar penuturannya si

Iblis Buntung, yang alisnya dibuntungi oleh Ang Hoa Lobo.

"Sama anak kecil kau kalah, bagaimana kau hadapi anak gede

?" kata Ang Hoa Lobo seraya mentertawakan Siauw Cu Leng.

"Kau tidak tahu, cici." sahut Siauw Cu Leng. "Setelah aku

rubuh, dia menantang, katanya : 'Iblis gila, kau boleh

datangkan iblis temanmu. Biar segerobak aku tidak takut !'

Nah, ini 'kan satu hinaan bagi kita. Mana boleh anak yang

masih ingusan diumbar ngaco begitu."

Siauw Cu Leng mulai menghasut, ketika melihat Ang Hoa

Lobo tidak mau meladeni pengaduannya. Mendengar katakata

si Iblis Alis Buntung, tampak Ang Hoa Lobo kerutkan

alisnya, "Apakah benar kata-katamu ?" tanyanya kemudian.

"Kenapa tidak benar ? Memangnya aku mau ambil untung dari

perkataanku yang tidak benar ? Aku bicara yang benar, buat

apa timbulkan yang tidak betul !" nyerocos Siauw Cu Leng,

mukanya kelihatan sungguh-sungguh.

"Anak bandel. Masa dia berani omong besar ?" kata si nenek,

mulai marah dia.

Siauw Cu Leng lalu cerita, Lo In selain kepandainnya hebat

juga mempunya tentara kera dan burung rajawali. Kalau tidak

dibokong, jangan harap bisa menowelnya, apalagi untuk

menangkapnya. Dia mesti sudah makan buah JJit-goat-go,

kalau tidak tentu tidak begitu hebat.

Disebutnya buah Jit-goat-go, mendadak saja Ang Hoa Lobo

 

berjingkrak.

Sudah lama ia mendengar akan khasiatnya buah itu. Maka

juga ia sudah mencari dari satu ke lain gunung. Sekarang,

buah itu sudah dimakan si anak kecil. Dimana ia bisa dapatkan

pula dalam daerah pegunungan disitu yang sangat luas ? Ia

benci kepada orang yang sudah mendahului ia memakan buah

yang ia idam-idamkan. Maka setelah berjingkrak, ia berkata

pada Siauw Cu Leng, "Dimana kita bisa menemui dia ?"

"Tidak, tidak bisa kita menemui dia begitu saja. Dia luar biasa

kepandaiannya, apalagi dia mempunyai rajawali dan tentara

keranya yang melindungi."

"Habis, bagaimana ?" tanya si nenek, jeri juga mendengar

kata-kata si iblis.

"Dia mesti dibokong. Kita harus mengatur perangkap, yang dia

tidak curiga sama sekali. Asal sudah ada kesempatan, kau

harus menghajar dia sepenuh tenaga. Sebab tanpa tenaga

penuh mana dia bisa rubuh karena dia sudah makan buah Jitgoat-

go, tenaga dalamnya tentu bukan main hebatnya !"

demikian Siauw Cu Leng mengajukan usulnya yang kejam.

Tapi memang si iblis benar. Tidak mudah Lo In ditakluki

dengan cuma mengadu silat. Sebab anak itu sudah lihai sekali

ditambah dengan tentara kera dan rajawalinya.

Si nenek percaya akan kata-katanya sang suami diluar kawin.

Maka mereka lalu berdamai soal pasang perangkap dalam

menangkap si bocah.

Begitulah, hari itu rupanya Lo In dilanggar apes (sial). Maka ia

 

sudah masuk perangkap yang diatur oleh Ang Hoa Lobo dan

Siauw Cu Leng.

Untung Lo In tenaga dalamnya sudah hebat berkat makan

buah Jit-goat-go, kalau saja kejadian itu sebelum ia makan

buah, bisa celaka 2 x 13. Pasti isi perutnya ambrol dan

nyawanya melayang seketika menerima pukulan hebat dari

Ang Hoa Lobo. Ia hanya merasakan dadanya sesak tiba-tiba,

tubuhnya dirasakan lumpuh. Maka ia rubuh pingsan setelah

mengeluarkan jeritan.

Juga Lo In masih untung jiwanya tidak sampai melayang

karena Ang Hoa Lobo menyetop tendangan Siauw Cu Leng

yang kedua kali. Kalau sampai kakinya si iblis bekerja,

rasanya Lo In sudah tidak bernyawa ketika itu. Si Iblis Alis

Buntung sangat benci Lo In, tentu tendangannya yang kedua

kali jauh lebih berat dari yang pertama, yang cuma terpental

tidak seberapa jauh.

Ketika meletakkan Lo In dibale-bale, Siauw Cu Leng dapat

lihat pedang pendek di pinggang si bocah, lalu diloloskan

kemudian diserahkan pada Ang Hoa Lobo sambil berkata, "Ini,

kepunyaan dia."

Ang Hoa Lobo menyambuti, lalu dihunus pedang pendek yang

bobotnya sangat enteng itu lalu diperiksa. Di atas badan

pedang tidak ada apa-apanya yang aneh, tapi ketika diselidiki

gagangnya, Ang Hoa Lobo dapat melihat huruf-huruf kecil

yang berbunyi, 'Kwee Cu Gie Toan-kiam' atau 'Pedang pendek

kepunyaan Kwee Cu Gie'.

"Betul, betul punya dia ?' tanya Siau Cu Leng yang sedari tadi

mengawasi Ang Hoa Lobo memeriksa pedang pendek itu.

 

Si nenek tidak menjawab, ia hanya angguk-anggukkan kepala

atas pertanyaan si orang she Siauw. Si Iblis kelihatannya agak

cemburuan juga melihat si nenek yang begitu kesemsem

memandangi pedang ditangannya.

"Hm ! Dia keturunannya...." Ang Hoa Lobo tiba-tiba

menggerutu sendirian setlah lama ia memandangi pedang

ditangannya.

"Dia keturunannya, buat apa dikasih hidup. Mampusi saja !"

kata Siauw Cu Leng mendengar Ang Hoa Lobo menggerutu

sendirian.

"Jangan, aku ada jalan." sahut Ang Hoa Lobo.

"Jalan bagaimana ?" tanya Siauw Cu Leng tidak sabaran

kelihatannya.

"Kita bikin rusak mukanya." jawab si nenek.

"Bagus ! Mari kita mulai." kata Siauw Cu Leng. Ia main cara

kilat saja berurusan dengan Ang Hoa Lobo sebab si nenek

sering berubah-ubah pikirannya. Ia mendesak karena ingin

lekas-lekas apa yang Ang Hoa Lobo kata, segera

dilaksanakan. Ia seperti membenci sampai tujuh turunan Lo In

saja.

Siauw Cu Leng mengambil pisau, bersiap-siap untuk merusak

mukanya Lo In.

"Bukan begitu caranya." kata Ang Hoa Lobo seraya goyanggoyang

tangannya.

 

"Habis, kau mau pakai apa ?" tanya Siauw Cu Leng.

Ang Hoa Lobo tidak menjawab. Sebaliknya dari kantongnya ia

keluarkan sebungkus obat. "Ambil air !" ia memerintah Siauw

Cu Leng.

Segera permintaan si nenek dipenuhi. Si iblis mengambil air

dalam gelas.

Ang Hoa Lobo menyambuti. Air dalam gelas itu ia buang ke

lantai sampai tinggal seperluanya, lalu obat yang berupa

bubuk berwarna hitam ia masukkan dalam gelas, diaduk kira

satu menit. Kemudian ia suruh Siauw Cu Leng ambil sobekan

kain. Ketika barang yang diminta diberikan, ia lalu robek

seperlunya untuk digunakan sebagai kuas. Obat hitam itu ia

polesi pada bagian muka Lo In, dari jidat terus sampai ke

dagu. Hanya bagian leher dan kuping tidak diganggu.

Sebentar saja muka Lo In yang putih cakap berubah menjadi

hitam legam seperti Zwarte Piet (si Piet Hitam, kacung

Sinterklas).

Setelah selesai, tiba-tiba si nenek berkakakan ketawa.

"Nah, inilah pembalasanku ! Aku mau lihat, tanpa diundang dia

akan datang berlutut dihadapanku untuk minta-minta

dikasihani !" ia berkata bangga.

Siauw Cu Leng bingung. Apa yang si nenek sebenarnya

maksudkan dengan kata-katanya. Ia lalu menanya, "Apa yang

kau maksudkan dengan kata-katamu, cici ?"

"Hehehe !" Ang Hoa Lobo ketawa. "Aku bikin anaknya begini.

 

Kalau bapakanya tahu tentu dia bakal mencari aku. Dia tentu

datang berlutut dihadapanku untuk minta obat pemusnahnya,

jangan sampai anaknya yang cakap ini mempunyai dua muka.

Baru sekarang Siauw Cu Leng mengerti maksudnya si nenek.

Kiranya Ang Hoa Lobo hendak membikin malu Kwee Cu Gie.

Dengan bikin wajah Lo In berubah hitam, Kwee Cu Gie pasti

mengerti siapa punya perbuatan. Orang she Kwee itu tentu

akan mencari Ang Hoa Lobo untuk menolong anaknya, minta

belas kasihannya si nenek supaya Ang Hoa Lobo

mengembalikan wajah anaknya pada keadaan semula.

Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go sampai saat itu masih

merasa penasaran pada Kwee Cu Gie yang sudah menampar

pipinya dua kali sehingga beberapa giginya pada rontok dan

sekarang ia sudah ompong !

"Sekarang kita mau apakan dia ?' tanya Siauw Cu Leng.

"Masukan jadi satu dengan si sundal cilik." sahut Ang Hoa

Lobo.

Siauw Cu Leng sangsi tampaknya, ia berdiri saja menjublek.

"Kau masih belum mau bawa dia pergi, mau tunggu apa ?" si

nenek membentak.

"Tapi cici, tapi....... " si iblis terhenti bicaranya ketika si nenek

Kembang Merah memotong. "Tapi, tapi apa ? Lekas kerjakan

!"

"Aku kuatir kejadian selanjutnya." jawab si Iblis Alis Buntung,

 

ia beranikan hati mendebat Ang Hoa Lobo. "Binatang kecil ini

sangat hebat tenaga dalamnya. Sebentar kalau dia sudah

siuman, apakah dia tidak ngamuk ?"

"Ngamuk ? Hehehe !" si Nenek Kembang Merah ketawa.

"Sudah tidak ambrol isi perutnya menahan pukulanku, sudah

bagus. Mau ngamuk ? Hmm ! Aku mau lihat. Lekas kerjakan

perintahku, jangan banyak cing cong !"

Siauw Cu Leng tak berani banyak kata. Ia lalu angkat

tubuhnya Lo In, dipondong di bawa ke kamar belakang. Ke

dalam mana, tubuhnya Lo In menggelinding karena diletakkan

oleh Siauw Cu Leng separuh dilemparkan.

"Iblis, kau bawa masuk apa kesini ?" bentak seorang anak

perempuan kecil yang ada dalam kamar itu ketika melihat

pintu kamar dibukan dan tubuh Lo In diletakkan di lantai

separuh dilemparkan.

Sambil menutup pintu kamar lagi, Siauw Cu Leng menjawab,

"Sundal cilik, kau tak usah kesepian lagi. Sekarang ditemani si

setan cilik ! Hahaha !"

Si iblis berkata-kata sambil meninggalkan kamar itu yang

merupakan kamar tahanan rupanya. Memang, kamar itu boleh

disebut kamar tahanan sebab dalam kamar itu ada disekap

seorang gadis cilik umur kira-kira belum 15 tahun. Jadi lebih

tua dari Lo In yang usianya baru memasuki tahun ke-14.

Dalam ruangan itu yang lumayan juga lebarnya, mendapat

penerangan dari sela jeruji-jeruji jendela kecil yang kokoh dan

kuat dari bambu pilihan. Tidak ada perabotan didalam situ

kecuali bale-bale yang muat 2 orang serta bangku dan

 

mejanya yang sudah reyot. Tampak si nona kecil berdiri

tertegun melihat 'tamu' datang dalam keadaan tidak sadarkan

diri.

Rambutnya si dara cilik yang dikepang dua tampak sudah

awut-awutan, romannya lesu dan pucat tapi tidak

mempengaruhi air mukanya yang jernih, ramai dengan

senyum dikulum.

Pelan-pelan ia jalan menghampiri tubuhnya Lo In. Ia jongkok

disampingnya lalu memandang parasnya Lo In. Hatinya

merasa geli, ia ketawa melihat mukanya Lo In yang hitam

legam. Di usap-usap pipi Lo In, kemudian melihat pada

tangannya yang barusan dipakai meraba. Oh, kenapa tidak

hitam ? Ia menduga, tadinya wajah hitam itu disengaja si

bocah dengan mengolesi mukanya dengan arang hitam

legam.

Selama itu, Lo In tidak berkutik. Di goyang-goyang badannya,

tapi Lo In tetap tak sadarkan diri. Mulai curiga hatinya si dara

cilik, lalu ia tekuk lututnya, lengkungkan badannya, telinganya

di pasang di atas dada Lo In. Ia dapatkan si bocah masih ada

napasnya. Ia periksa keadaan Lo In lebih jauh, keculai

mukanya hitam, tidak kedapatan tanda-tanda bekas dianiaya.

Ketika ia gerakkan kakinya hendak jongkok pula, tiba-tiba ia

rasakan kakinya lemas dan jatuh ke depan diatas tubuhnya Lo

In. Selagi ia berusaha hendak bangun, tiba-tiba ia mendengar

suara dari sebelah luar kamar, "Eng Lian, kau masih tetap

membandel ? Lihat itu setan cilik contohnya ! Selain aku tidak

kasih makan kau, juga aku akan bikin mukamu yang cantik jadi

berubah hitam seperti si setan cilik ! Hehehe......."

 

Dara cilik itu yang ternyata bernama Eng Lian kenali suaranya

Ang Hoa Lobo yang berkata-kata tadi. Tampak ia menggertak

giginya, tangannya yang kecil mungil mengepal keras,

rupanya ia sangat marah. Sekarang ia mengerti, yang

membuat wajah anak itu hitam adalah si Nenek Kembang

Merah.

"Siapa yang mau berurusan denganmu, nenek jahat !" sahut

Eng Lian kemudian.

"Hehe ! Bagus, baru tiga hari aku hukum kau tidak makan.

Kalau kau masih tetap membandel, hemm ! Aku kasih tempo

tiga hari lagi untuk kau pikir-pikir. Kalau sampai temponya kau

masih tetap membandel, jangan salahkan si nenek bila

berbuat kejam Pikirkanlah !" demikian si nenek mengancam.

Eng Lian tidak mau ladeni Ang Hoa Lobo sampai nenek itu

meninggalkan kamar itu, tidak terdapat jawaban dari sebelah

dalam.

Si dara cilik sudah tiga hari dihukum tidak makan oleh Ang

Hoa Lobo, pantasan kakinya lemas. Dalam bingung, apa yang

akan ia buat menghadapi Lo In yang masih pingsan, sedang

perutnya sudah sangat lapar, tiba-tiba Eng Lian dibikin terkejut

dengan diceploskannya benda-benda bundar melalui sela-sela

jeruji jendela.

Ia merayap menghampiri salah satu benda itu, kiranya itu ada

buah-buah yang diceploskan dari sebelah luar. Siapa yang

mengirimnya ? Matanya mengawasi ke jurusan jendela, ia

melihat ada dua ekor kera disana, sedang repot menceplosceploskan

buah-buahan. Dalam herannya, ia ingin mendekati

dua kera itu tapi ia tak dapat bangun karena kakinya amat

 

lemas.

Dua kera itu, sudah tentu pembaca dapat menebaknya siapa.

Sebab mereka tidak lain adalah Pek-gan dan Pek-tauw, si

monyet mata putih dan kepala putih yang menjadi

kesayangannya Lo In.

Mereka melihat tuannya dibawa masuk ke dalam rumah itu

terus mengintip akan segala tindak tanduknya Siauw Cu Leng

dengan Ang Hoa Lobo. Setelah tahu yang Lo In ditempatkan

dalam kamar belakang, mereka lantas mencari buah-buahan

di sekitar tempat itu untuk dipersembahkan kepada

majikannya. Tapi mereka tidak tahu kalau Lo In dalam

keadaan pingsan. Mereka hanya mengira bahwa majikannya

itu sedang tidur nyenyak.

Eng Lian dapat pungut salah satu buah dan dimakannya. Ia

rasakan manis dan enak. Ia lalu makan lagi beberapa buah

untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Benar-benar ia

rasakan buah-buah yang dimakan istimewa. Kecuali manis

dan lezat, setelah masuk ke dalam perut telah menimbulkan

reaksi tubuh menjadi segar dan kuat.

Bukan main girangnya Eng Lian ketika ia tahu kakinya sudah

dapat digerakkan lagi dengan leluasa. Ia lantas kumpulkan

buah-buah itu supaya nanti jangan sampai ketahuan oleh dua

iblis yang hendak merongrongnya.

Hari berikutnya, Eng Lian repot menerima kiriman dari Pekgan

dan Pek-tauw. Lucu laga lagunya dua kera itu hingga Eng

Lian merasa suka dan sayang. Ia sendiri tidak mengerti

kenapa dua monyet itu begitu baik mau mengirimkan buahbuahan

kepadanya yang dalam kesukaran. Ia belum tahu

 

kalau dua kera itu mengirim buah-buahan bukan untuk dia tapi

untuk majikannya, Lo In, yang Eng Lian tidak tahu anak itu

siapa namanya dan datang dari mana.

Sambil melahap buah semacam jambu, Eng Lian memandangi

wajah Lo In.

Pikirnya, anak ini parasnya cakap sayang dibuat hitam oleh si

nenek jahat. Apakah warna hitam yang melekat itu nanti dapat

dicuci dan parasnya anak cakap itu kembali pada asalnya ? Ia

tanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ia dibikin kegirangan

melihat Lo In pelan-pelan telah membuka matanya. Saking

girangnya sampai ia lempar buah yang dimakannya dan

tangannya yang kecil halus memegang pipinya Lo In,

menanya, "Oh, adik, aku sudah siuman ? Enak betul tidurmu."

Lucu kelakuannya Eng Lian. Ia kira Lo In tidur nyenyak. Ia

tidak tahu kalau Lo In menderita pukulan dahsyat.

Lo In heran, matanya kecap kecip memandang Eng Lian.

Pikirnya, apakah ia sedang ngimpi atau sudah berada di lain

dunia ? Kenapa ada anak perempuan disampingnya ? Ia

angkat tangan kanannya, jari telunjuknya dimasukkan dalam

mulutnya, digigit, au, tentu saja ia berjengkit kesakitan.

"Hi hi hi.... anak tolol. Kenapa menggigit jari sendiri ?" Eng

Lian ketawa, melihat Lo In kesakitan menggigit jarinya

barusan.

"Kau siapa, cici ?" tanya Lo In, lemah suaranya.

"Aku Eng Lian, kau sendiri siapa ?" balik menanya si dara cilik,

lucu lagaknya.

 

"Oh, enci Lian......." Lo In terus bungkam.

"Hei, hei, kenapa kau tidak sebutkan namamu ?" kata Eng

Lian seraya menggoyang-goyang lengan Lo In yang tatkala itu

sudah mau meramkan matanya lagi.

Lo In kembali membuka matanya, ia tersenyum mengawasi si

nona cilik.

"Apa sih yang dilihat ?" kata Eng Lian ketika mereka beradu

pandangan sambil mencibirkan bibirnya yang mungil.

"Enci Lian, aku ini berada dimana ?" tanya Lo In, tidak

melayani orang mencibirkan bibirnya.

"Dalam kamar tahanan." sahut Eng Lian singkat, dongkol

rupanya dia.

Lo In terkejut. Ia coba gerakkan badannya untuk bangun, tapi

belum bisa. Sebab seluruh badannya dirasakan lemas.

Tenaga raksasanya entah pergi kemana. Ia heran, kemana

perginya tenaganya yang dahsyat.

Lantas dia ingat akan kejadian ketika bertemu dengan si

nenek di rimba bambu. Bagaimana ia dibokong. Pikirnya,

mungkin gebukan si nenek yang menyebabkan hilang

tenaganya. Buktinya, ia peras tenaga dalamnya, bukannya

berhasil malah bobokongnya dirasakan sakit bekas gebukan si

nenek.

"Jahat..........." ia menggerendeng, perlahan suaranya.

 

Perlahan suaranya tapi menusuk telinga Eng Lian. Mukanya

lantas cemberut. "Jahat, jahat, siapa jahat, hah !" tangannya

berbareng mau menampar.

"Tahan !" kata Lo In cepat ketika pipinya hendak ditampar si

dara cilik. "Enci Lian, aku bukan maksudkan kau jahat."

sambung Lo In.

Eng Lian ketawa, sambil tarik pulang tangannya. "Habis, siapa

yang kau maksudkan ? Sebab disini tidak ada orang lain

kecuali kita berdua." katanya.

Lo In anggap dirinya lucu. Oh, bolehlah ketemu ini dara cilik

yang lebih lucu dan aneh adatnya. Seketika juga Lo In merasa

suka berteman dengan Eng Lian, maka sambil bersenyum ia

berkata, "Enci Lian, yang aku maksudkan adalah nenek itu

dengan kembang merah disanggulnya."

"Oh, dianya ?" kata Eng Lian sambil leletkan lidahnya.

"Ya." sahut Lo In. "Dimana dia sekarang ? Aku dibokong

olehnya, digebuk dari belakang sampai rasanya semaput.

Untung aku tak sampai mati."

"Eh, mengapa sampai begitu ? Mengapa, kenapa ?" Eng Lian

minta Lo In tuturkan.

Lo In lantas ceritakan kejadian di rimba bambu ketika ia

hendak menolongi si nenek, tidak tahunya ia kena masuk

perangkap.

Eng Lian yang mendengari cerita Lo In merasa panas hatinya

kepada Ang Hoa Lobo yang kejam. Di samping itu ia merasa

 

simpati pada Lo In, anak yang berhati mulia menjadi korban

dari tangan telengas.

"Dia, si nenek itu memang jahat. Dia ada disini, dibantu oleh si

kakak jelek Siauw Cu Leng yang julukannya Toan Bi-lomo."

menerangkan Eng Lian.

"oh, iblis itu juga ada disini ?" tanya Lo In terkejut.

Eng Lian anggukkan kepalanya.

-- 8 --

Tadinya, Lo In tidak mengerti apa salahnya dia digebuk oleh si

Nenek Kembang Merah ? Padahal baru saja ia berjumpa

dengan maksud baik hendak memberikan pertolongan tapi

bukan terima kasih ia dapat dari si nenek, malah gebukan

yang membikin isi perutnya berantakan, untung tenaga

dalamnya cukup dahsyat.

Sekarang, ia mendengar cerita Eng Lian, si Iblis Alis Buntung

itu adalah konconya Ang Hoa Lobo, lantas ia mengerti

duduknya urusan. Tentu gara-gara mulut si iblis yang tajam

menghasut sehingga si nenek menurunkan tangan telengas

atas dirinya.

"Enci Lian, anak si......" Lo In hendak menanya tapi sudah

dipotong oleh si dara cilik, katanya, "Makan dahulu ini.

Perutmu tentu sudah minta diisi !" sambil menjejalkan

sebagian buah yang tengah ia lahap ke mulut Lo In.

Terpaksa Lo In mengganyangnya. Seketika hatinya terkesiap,

karena buah itulah yang biasa ia makan kiriman dari dua

 

keranya yang sangat disayang. Maka ia lalu menanya, "Enci

Lian, kau dapat dari mana buah ini ?" sambil unjukkan

sepotong buah yang belum habis ia makan.

"Entahlah. Ada dua malaikat berupa kera yang mengantarkan

ke sini. " jawab Eng Lian. Gembira dia sebab sekarang ia tidak

usah memikirkan lagi akan kelaparan.

"Oh, itu adalah Pek-gan dan Pek-tauw." kata Lo In.

"Betul, betul. Yang satu berkepala putih, yang lainnya

sepasang matanya yang putih. Kera siapakah mereka itu, apa

kau tahu ?" Eng Lian cerita.

"Mereka ada teman-teman baikku." sahut Lo In.

Eng Lian terbelalak matanya, heran mendengar Lo In

mengatakan dua kera itu ada teman baiknya lalu minta Lo In

cerita bagaimana ia bisa bersahabat dengan dua kera yang

pandai itu.

Lo In tidak berkeberatan. Sebelumnya ia perkenalkan dahulu

namanya Lo In, lalu menuturkan perjalanan hidupnya dari

anak jembel sampai mengerti surat dan ilmu silat atas

pimpinan Liok Sinshe. Ia turun ke dalam jurang mencari Liok

Sinshe yang jatuh dibokong musuh, bagaimana ia hidup dalam

lembah itu bersama-sama dengan si rajawali yang ia

sembuhkan dari lukanya, bagaimana ia taklukan kawanan

monyet lantaran menolong Siauw-hek.

Eng Lian yang hatinya sangat tertarik oleh penuturan Lo In

tidak memotong ceritanya Lo In. Ia sangat kagumi si bocah

yang luar biasa dan besar rejekinya sampai dapat makan buah

 

'Jit-goat-ko.'.

"Adik In," kata Eng Lian, setelah mendengar habis cerita Lo In.

"Kau ada satu bocah luar biasa. Bukan mustahil kau nanti jadi

terkenal dan orang menyebut kau 'sinlong', bocah sakti.

Hihihi......"

"Mudah-mudahan," sahut Lo In membanyol. "Dengan doa

restumu, kata-katamu tadi akan menjadi kenyataan."

Si dara cilik mesem manis.

Setelah menutur, Lo In coba gerakkan badannya. Ternyata

masih belum dapat bergerak sebagaimana mestinya. Ia sudah

pegal rebah saja maka ia minta si dara cilik bantu ia untuk

dapat duduk. Eng Lian tidak berkeberatan. Ia bantu sampai Lo

In dapat duduk betul.

"Terima kasih, enci Lian." kata Lo In.

"Terima kasih kembali." sahut si dara cilik jenaka.

Lo In makin girang hatinya ia memperoleh teman yang lebih

jenaka dari dirinya.

"Enci Lian." kata Lo In. "Aku sudah bercerita tentang

perjalanan hidupku. Sekarang giliranmu cerita bukan ?"

"Tentu, tentu, adikku manis." sahut Eng Lian melucu. "Aku

hidup bersama......."

"Hei, Eng Lian. Kau jangan banyak ngobrol. Bagaimana, kau

menyerah tidak ?" tiba-tiba terdengar kata-kata dari sebelah

 

luar kamar hingga ceritanya si dara cilik terhenti seketika.

Si Nenek Kembang Merah yang memotong kata-kata Eng Lian

tadi.

Mendongkol hatinya si dara cilik, kelihatan dari romannya yang

merengut, tangannya dikepal-kepal gergetan, lucu

kelihatannya sampai Lo In tak dapat menahan ketawanya

terbahak-bahak.

"Kau ketawai apa, bocah ?" bentak Eng Lian. Tangannya

diangkat mau menampar Lo In tapi tidak jadi ketika ia melihat

Lo In tempelkan satu jari dimulutnya seraya tangan kirinya

digoyang-goyang.

Heran Eng Lian melihat lagaknya Lo In, ia menanya,

"Memangnya ada apa sih ?"

"Tidak apa-apa." sahut Lo In. "Cuma aku lihat enci makin

marah jadi makin ber....... au !" Lo In berjengit karena

perkataannya belum putus, tangan si dara cilik yang mungil

nyelonong ke pipinya, tidak menampar hanya mencubit hingga

Lo In kesakitan.

"Rasakan, ya !" kata Eng Lian sambil cekikikan tertawa melihat

Lo in pegangi pipinya yang kesakitan.

"Hei, Eng Lian, kau dengar tidak ?" bentak suara Ang Hoa

Lobo.

"Janji tiga hari belum sampai, kenapa kau minta putusan

sekarang ?" sahut Eng Lian, suaranya lantang berani.

 

"Hehe.... jadi aku mesti tunggu ?" si nenek ketawa.

"Ya, tunggu saja. Sampai pada waktunya, aku beri putusan !"

kata Eng Lian.

Lantas terdengar suara kakinya si nenek berlalu.

Kiranya Siauw Cu Leng yang menggosok-gosok si nenek

supaya mendesak Eng Lian.

Ia mencuri dengar percakapan Eng Lian dan Lo In, lantas

usulkan pada si nenek kembang merah supaya lekas

mendesak Eng Lian berikan keputusannya. Ia menyatakan

kekuatirannya akan Lo In yang sudah siuman dari pingsannya,

nanti membikin susah mereka. Si nenek tidak kuatiri.

"Mengapa kamu harus takut dengan anak sambal itu ?" Ang

Hoa Lobo berkata pada Siauw Cu Leng. "Tenaga dalamnya

sudah musnah, berani dia main gila pada kita ?"

Ang Hoa Lobo percaya benar masa pukulan mautnya yang

sudah memusnahkan tenaga dalamnya Lo In. Ini memang

benar sebab Lo In rasakan tenaga raksasanya hilang lenyap

meskipun ia sudah coba berkali-kali untuk dikumpulkan.

Yang penting, pikir Ang Hoa Lobo adalah Eng Lian yang harus

didesak supaya memberitahukan rahasia pelajaran yang ia

perlukan.

Setelah Ang Hoa Lobo berlalu, Lo In menanya kepada Eng

Lian, "Enci janjikan apa sama dia ? Apa dia mau ?"

Eng Lian lantas cerita pada Lo In hal kedatangannya Ang Hoa

 

Lobo dan Siauw Cu Leng, sekalian menutur tentang dirinya

dalam rumah itu.

Si dara cilik ternyata ada dari keluarga Oey, menurut

keterangannya.

Ia hidup bersama ayah dan ibunya bertiga dalam desa Tengong

chung, sebelah barat kota Gukwan di bawah kaki gunung

Hengsan. Sampai umur 7 tahun Eng Lian ikut ibunya di Tengong-

chung, sering pindah dari satu dusun ke dusun lain di

pegunungan sebab ayahnya mempunyai hobi (kesukaan)

memelihara ular dan akhirnya mereka menetap di lembah itu

sudah 4 tahun lamanya.

Pada kira-kira hampir 2 tahun yang lalu, pernah keluarga Oey

kedatangan seorang tamu yang mengaku she Tan, entah

namanya siapa. Tapi menurut ibunya, tamu itu biasa dipanggil

Tan Sianseng. Tamu she Tan itu sangat baik pada ibunya,

sering mengajak omong sambil ketawa-ketawa, malah bukan

jarang mereka kedapatan suka kasak kusuk berduaan saja.

Tapi ayahnya sama sekali tidak menaruh cemburu, malah

kelihatannya seperti yang sangat menghormati pada tamu she

Tan itu. Terhadap Eng Lian, tamu itu juga sangat sayang dan

mencintai sebagai pada anaknya sendiri.

Dua minggu lamanya tamu itu menginap dalam rumahnya

tetapi kemudian menghilang, berbareng juga menghilang

ibunya Eng Lian. Si dara cilik tentu saja menangis ditinggalkan

ibunya, tapi sang ayah menghibur. Kata ayah, ibu pergi

dengan Tan Sianseng buat satu urusan penting dan tidak lama

pun akan kembali.

Tapi sampai sekarang sang ibu belum kelihatan mata

 

hidungnya muncul kembali. Sampai disini Eng Lian menutur, ia

menangis hingga Lo In yang merasa dirinya piatu menjadi

turut terharu dan turut mengalirkan air mata.

Sambil menyusut air matanya dengan tangan baju, Eng Lian

melanjutkan ceritanya. "Dua minggu yang lalu kita kedatangan

dua iblis yang sekarang ada disini. Katanya numpang

menginap untuk melakuka penyelidikan dalam lembah."

"Ayah tidak berkeberatan atas permintaan mereka, malah

suak antar-antar mereka menjelajah tempat yang asing bagi

mereka. Belakangan mereka lihat ayah banyak pelihara ular.

Mereka heran lalu si nenek jahat minta ayah mengajarinya

cara bagaimana dapat menjinaki atau menaluki ular. Ayah

ketawa, ia bilang kepandaiannya tak dapat diturunkan lain

orang kecuali pada anaknya yaitu aku."

"Jadi, enci Lian pandai menaluki ular ?" menyelak Lo In yang

sedari tadi mendengarkan saja penuturan si dara cilik.

Eng Lian manggut. "Mereka tidak apa-apa permintaannya

ditolak." menyambung Eng Lian dalam ceritanya. "Pada

keesokan harinya, mereka mengajak lagi ayah untuk

menjelajah pegunungan. Ayah tidka menolak sebab dia pun

ingin menyelidiki ular-ular yang ada ditempat-tempat lain. Eh,

tidak tahunya ketika mereka pulang, ayah ternyata tidak turut

pulang. Sampai sekarang ayah hilang. Entah dimana dia

adanya. Setelah ayah tidak ada, orang-orang jahat itu

mendesak aku supaya aku turunkan pelajaran menaluki ular

kepadanya."

"Apa enci tidak tanya pada mereka, kemana ayahmu pergi ?"

tanya Lo In disaat Eng Lian hentikan sebentar penuturannya

 

karena ia menangis ketika sampai pada bagian menutur

ayahnya tidak pulang.

"Aku sudah tanya mereka. Tapi mereka bilang ayah pergi

menyusul ibu dan tidak berapa hari juga akan pulang."

menyambung Eng Lian. "Tadinya aku tak keberatan

menurunkan kepandaianku menakluki ular tapi belakangan

aku segan. Aku mogok mengasih pelajaran pada mereka

karena si Nenek Kembang Merah itu sangat jahat. Telah

membunuh aku punya Tok-gan Siancu."

"Apa itu Tok-gan Siancu ?" menyela Lo In.

"Tok-gan Siancu adalah ular kesayanganku, bermata satu,

mempunyai empat sayap, besarnya sebesar betis orang

gemuk." menerangkan Eng Lian.

Tok-gan Siancu artinya Dewi Bermata Satu. Bagus juga Eng

Lian kasi nama ular kesayangannya yang dua meter

panjangnya.

"Kenapa Tok-gan Siancu dibunuh nenek jahat itu ?" tanya Lo

In.

"Kejadian itu pada suatu sore, di waktu dia ajak aku melihat

ular kesayanganku. Tiba-tiba Tok-gan Siancu beringas melihat

si nenek, kepalanya bangun dari melingkarnya kemudian

menyambar tangan si nenek yang sedang pegang jeruji

kerangkeng dari bambu, menggigit tanganya itu hingga dia

semalaman panas dingin tidak bisa tidur. Kalau dia tidak

ketolongan oleh obatku, dia pasti melayang jiwanya. Tapi dia

bukan terima kasih padaku, malah keesokan harinya, aku lihat

aku punya Tok-gan Siancu sudah menjadi bangkai dalam

 

kerangkengnya, dibunuh oleh si nenek jahat. Aku menangis

atas kematiannya itu.........'

Eng Lian bercerita sambil menangis, ingat dengan ular

kesayangannya yang sangat jinak dan menjadi teman

mainnya.

Lo In menghibur Eng Lian, tapi diam-diam hatinya merasa

gemas pada Ang Hoa Lobo yang sangat telengas itu. Pikirnya,

ada satu waktu kalau tenaganya sudah pulih kembali, ia ingin

memberi hajaran pada si nenek.

Eng Lian selagi susut air matanya, tiba-tiba mendengar

cetcowetan kunyuk di luar jendela. "Nah, itu teman-temanmu

datang." ia kata pada Lo In.

Lo In mengawasi ke jendela, ia lihat Pek-gan dan Pek-tauw

sedang menurunkan kirimannya melalui sela-sela jeruji. Lo In

perdengarkan suara cetcowetan juga hingga Eng Lian heran

dan merasa lucu. "Hihi, dia juga bisa bicara monyet......."

seraya menekap mulut Lo In, tapi cepat ia tarik pulang lagi

tangannya itu ketika melihat matanya Lo In melotot padanya.

Pikirnya, Lo In tentu sedang bicara serius dengan sang kera,

makanya perbuatannya tadi dipelototi. Memang, Lo In sedang

beri teguran Pek-gan dan Pek-tauw, kenapa dua kera itu tidak

berusaha untuk menolong ia dalam kesusahan. Ia tegaskan si

nenek dan si kakek bukan orang baik-baik, harus mereka

waspada nanti dijebak oleh mereka.

Seperti yang menerima salah, kedua kera itu membungkam

mulutnya pada saat Lo In sedang cetcowetan mengomeli pada

mereka.

 

Tidak lama, setelah Lo In tutup mulutnya berhenti bicara, Pekgan

dan Pek-tauw cetcowetan sebentar, manggut-manggut,

lalu meninggalkan tempat itu.

Setelah melihat Lo In mukanya tenang lagi, baharulah Eng

Lian berani menanya, "Adik In, kau omong apa dengan dua

temanmuitu ?"

"Aku marah-marah, mereka sangat goblok, tidak berusaha

mencari daya untuk menolong aku ! Rupanya mereka

ketakutan dan lari pergi." menerangkan Lo In.

"Pandai benar kau bercakap-cakap dalam bahasa monyet,

adik In." memuji Eng Lian, mesem manis. "Kau lagi marahmarah,

pantesan aku dipelototi. Coba sekarang matamu

melototi aku, kalau aku tidak gasak mukamu, jangan panggil

aku si Lian !"

Dengan serentak Lo In tertawa terbahak-bahak mendengar

kata-kata Eng Lian, apalagi melihat si dara cilik ketika

mengucapkan kata-kata paling belakang, sembari gulung

tangan bajunya dan keluarkan kepalan tangannya yang bulat

kecil mungil, diunjukan pada Lo In.

Sepasang anak jenaka itu kelihatan cocok satu dengan lain,

seolah-olah tidak menghiraukan kekejamannya si Nenek

Kembang Merah dan si Iblis Alis Buntung.

Ketika menjelang malam, dua orang jahat itu berunding.

"Cici, lebih baik kita mampusi saja si setan kecil itu !" usul

 

Siauw Cu Leng pada 'darlingnya', masih saja ketakutan dia

terhadap Lo In.

"Kau jangan aduk-aduk rencanaku, Cu Leng." sahut Ang

Hoa Lobo.

Siauw Cu Leng tidak setuju dengan rencanaya si Nenek

Kembang Merah karena ia tahu kepandaiannya Kwee Cu Gie

yang hebat. Nanti bukan Kwee Cu Gie yang berlutut tapi si

nenek yang semaput berlutut di hadapan pendekar tersohor

itu, pikir Siauw Cu Leng. Tapi ia tak mau menyatakan

pikirannya itu pada Ang Hoa Lobo, kuatir si nenek marahmarah

membuat hatinya tidak enak. Sebab si nenek kalau

marah-marah bukan mulutnya saja yang nyap-nyap tapi

tangannya suka nampar.

Mereka terus kasak kuduk berunding, sementara sang malam

sudah mulai sangat sunyi. "Tolong kau tuangkan air dicangkir

untuk aku minum." memerintah si nenek pada kekasihnya.

Siauw Cu Leng menurut, ia tuang air dari teko sebanyak 2

cangkir sebab yang satu lagi cangkir untuknya.

Kemudian ia serahkan satu cangkir pada Ang Hoa Lobo. Ia ini

menyambuti, lalu tempelkan ke mulut untuk dihirup isinya.

Belum menghirup habis, tiba-tiba cangkir itu melesat ke

jendela, dilontarkan oleh Ang Hoa Lobo sambil membentak,

"Bangsat ! Kau berani mengintai ?"

Menyusul suara cetcowetan di luar jendela. Kiranya si kepala

putih yang cetcowetan itu. Ia kesakitan kupingnya yang kiri

kena keserempet pinggiran cangkir yang dilontarkan Ang Hoa

Lobo.

 

"Ah, itu kan hanya si kunyuk kecil, cici." kata Siauw Cu Leng

mentertawakan Ang Hoa Lobo yang mengira didatangi musuh

berat.

"TIdak perduli, lekas kejar dan bunuh dia !" perintah Ang Hoa

Lobo bengis.

Siauw Cu Leng tak dapat membangkang perintah ratunya,

meskipun dalam hati ia uring-uringan, terpaksa ia keluar untuk

mengejar si kera.

Tapi baru saja ia muncul di pintu tiba-tiba tangannya ada yang

menyambar. Ia berkelit, selamatkan tangannya dari sambaran

tadi. Kiranya yang menyambar tangannya itu adalah Ji-hek

yang berdiri di depannya, sudah bersiap-siap untuk

menyambar lagi tangan Siauw Cu Leng.

Si Iblis Alis Buntung marah bukan main, ia kerahkan

tenaganya untuk melancarkan pukulan maut pada Ji-hek. Tapi

sebelum tangan jahatnya bergerak, diserang dari belakang

oleh Siauw-hek yang sekarang sudah besar. Siauw Cu Leng

cepat mengegos, kasih lewat serangan membokong itu.

Kemudian ia maju menerjang pada Ji-hek, lagi-lagi

serangannya kecandak karena saat itu lompat dua monyet

kecil berbareng ke arahnya hendak memeluk lehernya.

Kepaksa ia harus mengelak lagi dari serangan dua monyet

tadi, hingga mereka ini tubruk angin. Lain-lain kawanan

monyet datang mengurung hingga dari berani si Iblis Alis

Buntung menjadi jeri melihat datangnya tentara monyet. Entah

dari mana datangnya sebab tahu-tahu sekarang ia

berhadapan ratusan monyet kecil dan besar, dibantu oleh Jihek

dan Siauw-hek.

 

Dimana adanya Toa-hek ? Si Iblis bertanya-tanya dalam

hatinya yang jeri.

Ia lalu berteriak-teriak minta bantuan Ang Hoa Lobo yang

segera muncul dengan toya besinya yang berat. Ia melihat

Siauw cu Leng tengah dikerubuti kawanan kera, bukan main

marahnya.

Ia putar toya besinya, maksudnya hendak menyerbu

melepaskan 'darlingnya' dari kepungan tentara kera. Tetapi

sebelum ia dapat bergerak, dari atas genteng rumah

melayang satu tubuh. Itulah Toa-hek yang sudah lama

menanti munculnya si nenek.

Lengannya dirasakan sangat sakit kena dicekal Toa-hek

hingga toya besinya jatuh sendiri. Tapi Ang Hoa Lobo

bukannya si nenek kejam kalau hanya segebrakan saja dapat

dikuasai Toa-hek. Seketika itu ia mengerahkan lwekangnya,

mendorong cekalannya Toa-hek pada lengannya. Sekali

berontak ia sudah lolos dari cekalan Toa-hek. Cepat ia pungut

toyanya lalu menyerang pada si orang utan yang

perdengarkan suara her ! her ! yang menakutkan.

Ang Hoa Lobo tidak gentar dengan roman Toa-hek yang

sedang gusar.

Toyanya digeraki untuk menyodok perut Toa-hek. Tapi

sodokannya lupu karena dengan manis si orang utan dapat

menyelamatkan diri dengan berkelit lompat ke samping kiri si

nenek akan dari mana lengan kanannya yang berbulu dipakai

membentur toya Ang Hoa Lobo terus ditekan ke bawah. Inilah

gerakan 'Kim ke tan tian ci' atau 'Ayam Emas geraki satu

sayap' yang Lo In ajarkan kepada Toa-hek dalam latihannya.

 

Ternyata si gorila cerdik juga dan dapat mengingat diorakanya

tipu silat istimewa itu. Cuma sayang ia kalah cerdas dengan

Ang Hoa Lobo. Bukan toya si nenek dapat ia rebut, sebaliknya

dadanya hampir ditembusi senjatanya Ang Hoa Lobo, kalau ia

tidak cepat memutar tubuh untuk menyelamatkan diri dari

sodokan maut itu.

Ang Hoa Lobo gunakan tipu 'Hek liong lam cu' atau 'Naga

hitam mencari mutiara' untuk memusnahkan tipu Toa-hek

'Ayam emas menggerakkan satu sayapnya'. Ketika toyanya

ditekan ke bawah, ia tidak lantas tarik pulang, sebaliknya ia

kerahkan tenaga dalamnya disalurkan ke toya yang membuat

toya jadi sangat berat. Dalam heran, melihat toya tak dapat

ditekan, Toa-hek terkejut waktu sekonyong-konyong si nenek

ditarik pulang, kemudian dengan kecepatan kilat disodorkan

ke arah dadanya. Untung ia dapat memutar tubuhnya untuk

berkelit. Kalau tidak, celaka dia kepanggang toyanya si nenek.

"Hehe, pintar juga kau." tertawa si nenek, sedang hatinya

diam-diam merasa gegetun, kenapa gorila ini bisa ilmu silat. Ia

lantas menduga akan Lo In yang ajarkan tentu. Segera ia

sudah mulai menyerang pula pada Toa-hek yang ketika itu

sudah memperbaiki posisinya.

Manusia kontra binatang itu jadi bertempur seru. Selainnya

memang latihan dan kecerdasan. Ang Hoa Lobo pun ada

pakai senjata toya untuk mendesak lawannya yang bertangan

kosong. Maka sudah tentu saja Toa-hek tak dapat

mempertahankan perlawanannya. Belum 10 jurus, ia sudah

patah perlawanannya. Toya si nenek sudah melanggar bahu

kanannya, lantaran kurang cepat ia mengegosi serangan

lawan. Untung sebelum si nenek menghajar lebih telak

padanya, beberapa kunyuk yang melihat si gorila dalam

 

bahaya sudah lantas turun tangan mengerubuti sehingga Ang

Hoa Lobo menjadi sangat repot.

Si nenek putar toyanya yang menerbitkan angin menderuderu.

Kawanan monyet itu melihat gelagat juga. Sementara Ang

Hoa Lobo tengah memutar toyanya, mereka tidak berani

datang menerjang, hanya menonton saja dari kejauhan.

Menggunakan kesempatan itu, Ang Hoa Lobo sudah enjot

tubuhnya, menyela ke arah Siauw Cu Leng yang sedang

dikerubuti. Di sini Ang Hoa Lobo memutarkan pula toyanya

untuk membubarkan kepungan atas kekasihnya sehingga

kawanan monyet itu pada mundur melihat datangnya bahaya.

Hanya Ji-hek dan Siauw-hek yang masih menempur Siauw Cu

Leng yang sudah kehabisan 'bensin' kelihatannya. Napasnya

tampak ngos-ngosan, keringat mengucur membuat

pakaiannya basah kuyup. Ia merasa girang atas kedatangan

Ang Hoa Lobo, dapat ia bernapas sedikit legaan, apalagi ia

melihat Siauw-hek kena kehantam toyanya si nenek,

menambahkan kegirangannya. Ia tinggalkan Ji-hek dan lompat

mengubar Siauw-hek yang berkaok-kaok kesakitan, melarikan

diri.

Lebih baik barangkali kalau siauw Cu Leng tidak mengejar

Siauw-hek sebab justru ia mengejar, ia telah mengalami

kesulitan, hampir jiwanya melayang. Di saat ia sudah hampir

menyandak si anak gorila, tahu-tahu dari atas pohon

kedengaran suara 'bleber', itulah si rajawali yang pentang

sayapnya menyambar pada Siauw Cu Leng.

Bukan main kagetnya si Iblis Alis Buntung. Musuh alotnya

 

sudah muncul sedang tenaganya sudah hampir habis. Apa

daya ? Ia jadi menghela napas lalu memeramkan matanya

untuk terima nasib dicengkeram si rajawali yang kukunya

runcing-runcing. Tengah ia berdiri sambil memeramkan

matanya, tiba-tiba ia merasa dirinya disambar orang dan

dibawa lari, dipanggul di atas pundak. Itulah Ang Hoa Lobo

yang menolong kekasihnya dalam bahaya maut. Sambil

memutar toyanya untuk melindungi diri, ia geraki kakinya

sekuatnya untuk menyingkir dari sambaran-sambaran si

rajawali yang amat ganas kelihatannya.

Suara menderu-deru dan angin keras dari putaran toyanya si

nenek membuat si rajawali tidak berani gegabah

mendekatinya. Ia hanya menyambar-nyambar saja sambil

keluarkan pekikan menyeramkan.

Ang Hoa Lobo lama-lama merasa jeri untuk meladeni si

burung raksasa yang makin lama makin beringas

menerkamnya. Ia sembari lari dan memutar toya, matanya

celigukan untuk mencari tempat perlindungan. Di sana, di

sebelah depannya kira-kira sepuluh tombak, ia melihat ada

rimba yang lebar dengan pohon-pohon, maka ia lari kesitu.

Benar saja, ia dengan kekasihnya dapat menyelamatkan diri

sebab untuk masuk mengejar ke dalam rimba itu, tak dapat

dilakukan oleh si burung raksasa karena sukar ia mementang

sayap, dirintangi oleh banyak cabang-cabang pohon.

Si rajawali ketika melihat dua musuhnya dapat melenyapkan

diri ke dalam rimba, ia melampiaskan marahnya dengan

mengeluarkan pekikan-pekikan melengking seram.

Siauw-hek sementara itu sudah balik pula berkumpul dengan

ibu dan ayahnya, bersam-sama sekalian kawan-kawan

 

monyetnya.

Atas penunjukan Pek-gan dan Pek-tauw, Toa-hek sudah

hampiri kamar belakang dimana Lo In dan Eng Lian ditahan.

Dengan sekali pukul saja, pintu kamar sudah terpentang lebar.

Toa-hek masuk ke dalam mencari Lo In.

Eng Lian menjerit melihat datangnya si gorila, tanpa disadari ia

sudah menubruk dan memeluki Lo In, ketakutan setengah

mati. Badannya bergemetaran dalam pelukan Lo In hingga Lo

In tidak tahan untuk tidak mentertawakan kelakuan sang

kawan yang jenaka itu.

Lo In usap-usap rambut kepala si dara cilik yang hitam jengat

dan halus, yang saat itu tengah umpatkan mukanya di dada Lo

In, seram melihat kedatangan Toa-hek.

"Enci Lin, kau jangan takut. Mereka adalah kawan-kawan

kita........" kata Lo In, suaranya halus sambil tangannya

memegang dagu si dara supaya Eng Lian melihat pula pada si

gorila.

Eng Lian mendengar kata-kata Lo In memberanikan diri untuk

memandang kepada si orang utan. Kali ini ia melihat, bukan

atu tapi ada tiga orang utan yang sedang berlutut di hadapan

Lo In.

Terbelalak matanya Eng Lian, hatinya berdebar-debar.

"Enci Lian, mereka adalah Toa-hek sekeluarga." Lo In

memperkenalkan pada Eng Lian.

Meskipun Lo In dalam penuturannya, ada menceritakan juga

 

tentang tiga gorila ini, Eng Lian tidak dapat lepas dari

perasaan takutnya karena sikapnya ketiga gorila itu benarbenar

menyeramkan.

"A......... aku takut In." sahut si dara cilik.

"Kau jangan takut, nanti aku kenalkan." berbareng Lo In

mulutnya cetcowetan bicara kepada Toa-hek sekeluarga.

Betul-betul membuat Eng Lian heran sebab setelah Lo In

bicara, ketiganya lalu bangkit dan mendekati si dara cilik untuk

mengusap-usap lengan dan pipinya. Karena saking takutnya,

Eng Lian lebih kencang memeluk Lo In, pipinya yang kanan

merapat di dadanya Lo In, hanya sepasang matanya saja yang

bundar jeli bundar, kedap kedip memandang pada tiga kawan

Lo In. Ia rasakan bulu-bulu Ji-hek dan tangannya yang kasar

mengusap-usap pipinya.

Ia beranikan hati untuk menerima 'tanda persahabatan' itu

malah makin lama usapan-usapan Ji-hek itu dirasakan makin

meresap dalam hatinya, tanda kasih sayangnya seorang ibu.

Maka pelan-pelan perasaan takutnya telah terusir pergi jauh.

Eng Lian jadi tabah. Dasar anah jenaka dan berani, seketika

itu juga berubah sikapnya. Ia balas mengusap-usap tangan Jihek

seraya menjabat tangan Siauw-hel dan Toa-hek hingga

ketiga kera itu berjingkrak kegirangan.

Eng Lian kaget mereka berjingkrakan, dikira hendak

menerkam dirinya. Tapi setelah Lo In memberi keterangan

bahwa mereka itu kegirangan, si dara berubah sikap,

membuat Eng Lian bersenyum manis dan angguk-anggukkan

kepalanya.

 

Toa-hek sekeluarga sebenarnya merasa heran wajah Lo In

berubah hitam tapi mereka kenali suaranya.

Lo In yang belum bisa jalan dipondong oleh Toa-hek, dibawa

keluar dimana sudah ada ratusan kera yang menyambut,

ramai cetcowetan yang dapat memekakkan telinga. Sangat

kegirangan rupanya mereka dapatka 'rajanya' selamat.

Malah si kera Mata Putih dan si Kepala Putih sudah datang

mendekat Lo In untuk minta dielus-elus kepanya, rupanya

mereka menagih jasanya yang sudah mengabarkan pada

kawan-kawannya tentang Lo In terancam bahaya. Memang

merekalah yang disuruh Lo In untuk mengabarkan dan

mengatur penyerbuan dari tentara kera ke situ untuk

membebaskan ia dan Eng Lian dari cengkeraman orang-orang

jahat.

Eng Lian kagum pada Lo In yang sudah dapat mengerahkan

tentara keranya untuk mengusir Ang Hoa Lobo dan Siauw Cu

Leng, dua manusia iblis kejam.

Tiba-tiba terdengar pekikan si rajawali, sebentar saja burung

raksasa itu sudah terbang mendatangi. Ia mendekam di depan

Lo In yang sedang dalam pondongan Toa-hek, kepalanya

manggut tiga kali. Lo In bersenyum, "Tiauw-heng, terima kasih

kau sudah bantu mengusir orang-orang jahat itu, Bagaimana,

kau baik-baik saja berpisah denganku beberapa hari ini ?"

demikian Lo In berkata-kata kepada burung kesayangannya.

Eng Lian yang mendengar kata-kata Lo In, hatinya ketawa

geli. Pikirnya, masa bicara sama seekor burung seperti juga

bicara dengan manusia, mana burung itu mengerti maksud

 

omongannya ? Tapi alangkah ia tercengang ketika melihat si

rajawali mengangguk-anggukkan kepalanya dengan manja

kelihatannya, ia gosok-gosokkan tubuhnya pada kepalanya.

Lucuk lagak-lagaknya si burung raksasa hingga Eng Lian jadi

ketawa, kali ini bukan dalam hatinya saja yang cekikian. Ia

mendekati Lo In mencekal lengannya, lalu berkata, "Adik In,

kau benar-benar hebat." jempolnya yang mungil pun

berbareng diunjukkan hingga Lo In tertawa bangga.

Lo In perlu merawat diri untuk memulihkan tenaga dalamnya,

maka ia perintah tentara keranya termasuk si rajawali supaya

berjaga-jaga di sekitar rumah itu, jangan kasih orang asing

datang mengganggu.

Dalam rumah Eng Lian, Lo In dirawat si dara cilik dengan

penuh perhatian hingga si bocah merasa sangat berterima

kasih pada kawan barunya itu.

Lewat dua hari, Lo In tampak sudah dapat belajar jalan

dipimpin oleh Eng Loan. Pada waktu mereka ngomongngomong

di serambi belakang rumah, tiba-tiba Eng Lian

seperti mengingati sesuatu. Seketika ia bangkit dari duduknya.

Lo In cepat pegang tangan si dara cilik menanya, "Ada apa

Enci Lian ?"

"Tunggu !" sahut Eng Lian sambil lepaskan tangannya dari

cekalan Lo In. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan

cepat.

Tidak lama kemudian, ia muncul lagi dengan satu gelas

ditangannya.

 

Ia mendekati Lo In dan berkata, "Adik In, aku mempunyai obat

manjur untuk mengembalikan lwekangmu cuma aku takut kau

tidak berani makan."

Lo In ketawa, "Enci Lian, aku sangat berterima kasih

kepadamu." sahut Lo In. "Jangan kata obat, racun juga kalau

kau suruh aku makan, aku tidak akan menolak pemberianmu."

Si dara cilik cekikikan ketawa mendengar kata-kata Lo In.

"Anak tolol" katanya setelah ia habis ketawa. "Orang mau

kasih obat kenapa jadi racun dibawa-bawa ? Memangnya aku

si Nenek Kembang Merah ? Hihihi......."

Lo In pun turut ketawa. "Mana obat itu ?" ia kemudian

menanya.

"Ini dia obat manjur yang tidak ada duanya." sahut Eng Lian

seraya angsurkan gelas yang ada ditangannya tadi.

Lo In menyambuti. Ia periksa isi gelas, ia dapatkan satu benda

bundar sebesar telu ayam, warnanya meah tua direndam

dengan arak putih. Tampaknya benda itu lunak sekali seakanakan

telur ayam barusan dipecahkan.

"Barang apa ini ?" tanya Lo In keheranan.

"Kau makan dahulu, nanti baru aku ceritakan," sahut Eng Lian.

Lo In dekati gelas pada hidungnya, ia terkejut, dari dalam

gelas menyambar bau harum yang enak sekali.

"Kau takut makan ?" tanya si dara cilik, mukanya kelihatan

 

cemas.

Lo In adalah seorang laki-laki, tidak mungkin ia menarik

pulang apa yang sudah ia kaakan tadi pada Eng Lian,

meskipun itu hanya bersifat main-main.

Maka setelah ia nyengir sebentaran, ia lantas angkat gelas itu

dan isinya sekali teguk saja lenyap lewat tenggorokannya.

"Adik In, oh...kau...." Eng Lian menubruk, memeluk Lo In

kegirangan, hampir ia menciumi pipi orang.

Lo In gelagapan dipeluki Eng Lian dengan tiba-tiba, gelas

yang dipegangnya itu hampir jatuh di lantai.

"Kau kenapa, enci Lian ?" si bocah menanya.

Sambil tangannya masih memegang kedua pundaknya Lo In,

si dara cilik menatap parasnya si bodah, mukanya

menyungging senyuman. Ia berkata, " Adik In, rejekimu besar

senyuman. Kau akan sembuh, sembuh......segera !"

"Enci Lian, bagaimana kau tahu aku bakalan sembuh segera

?" tanya Lo In.

"Adik In, itu yang kau makan adalah lwetam dari Tok-gan

Siancu, ular kesayanganku yang aku ambil setelah mati."

menerangkan Eng Lian sambil duduk pula di tempat duduknya

tadi.

"Hanya lwetam ular, apalah artinya ?" kata Lo In tertawa.

Lwetam artinya nyali, jadi Lo In sudah telan nyali ular.

 

"Kau tidak tahu khasiatnya." kata Eng Lian lagi. "Menurut kata

ayahku,

Tok-gan Siancu mempunyai lwetam yang tak ternilai. Cuma

saja nyali itu tak dapat dimiliki begitu saja, misalnya dengan

sengaja kita bunuh mati Tok-gan Siancu, lantas diambil

nyalinya. Ini tidak akan ada khasiatnya.

"Jadi, bagaimana semestinya ?" Lo In memotong tidak

sabaran.

"Adik In, kau dengar dulu aku cerita. Jangan kau potong." kata

Eng Lian.

Lo In nyengir. Kemudian Eng Lian meneruskan ceritanya,

"Tok-gan Siancu harus marah dahulu dan lalu menggigit

orang. Dengan begitu bisanya sudah buyar. Bisa itu terpusat

pada nyalinya. Tok-gan Siancu sudah marah dan menggigit si

jahat Nenek Kembang Merah, maka nyalinya sudah bersih

dari racun. Justru ia kena dibunuh Ang Hoa Lobo, aku jadi

ingat akan kata-kata ayahku. Maka aku cepat membelah

perutnya, ambil nyalinya yang berharga itu sebelum aku kubur

bangkainya. Nyali itu aku rendam dalam obat yang dapat

mengawetkan. Pikirku akan aku berikan pada ayah apabila ia

sudah pulang mencari ibu."

"Habis, sekarang kau kasih nyali itu aku makan, ayahmu tidak

kebagian, bagaimana kau nanti dapat

mempertanggungjawabkan pada ayahmu ?" kata Lo In.

Si dara cilik bersenyum. Ia berkata lagi, "Taruh kata ayahku

pulang, dia juga belum tentu berani memakannya. Karena

nyali yang kau makan itu baru dapat sebagai obat dan

 

menimbulkan khasiatnya kalau ia dimakan oleh orang yang

lwekangnya tinggi sedang terluka parah. Khasiatnya untuk

mengembalikan tenaganya yang lenyap dan

menambahkannya berlipat ganda. Ini, entah benar atau tidak,

aku sendiri belum pernah mengalami. Tapi lihatlah nanti

reaksinya bagaimana setalah kau makan nyalinya Tok-gan

Siancu."

Lo In anggukkan kepala. Sementara itu ia rasakan badannya

tiba-tiba panas. Ia minta si dara cilik untuk memimpinnya

masuk. Ia ingin rebah diatas pembaringan.

Eng Lian cepat memenuhi permintaannya. Belum lama Lo In

rebah, tiba-tiba Eng Lian dibikin kaget oleh suara merintih Lo

In.

"Kau kenapa, adik In ?" Eng Lian menanya.

"Panas, oh, panas aku rasakan sekujur badanku.........." Lo In

berteriak.

Eng Lian tidak tahu apa yang harus diperbuatnya ketika

melihat Lo In sangat gelisah diatas bale-balenya, tak tahan

merasakan menyerangnya hawa panas.

Ia mau menghampiri, menjadi takut. Karena Lo In seperti yang

sedang mengamuk. Ia takut kena jotosan kepalannya Lo In.

Betul-betul bingung Eng Lian. Cuma mulutnya saja yang ramai

menanyakan Lo In kenapa bisa jadi begitu. Tapi, ia tak dapat

jawaban dari si bocah. Tiba-tiba ia ingat bahwa Lo In jadi

begitu setelah makan nyalinya ular. Apakah itu yang menjadi

gara-garanya ? Ia jadi takut sebab Lo In makan lwetam itu atas

 

anjurannya. Ia bukannya meracuni, memang dengan sungguhsungguh

ia hendak menolong Lo In tapi kenyataannya

sekarang jadi begini. Bagaimana ?

Lima menit kira-kira Lo In bergelisahan. Tiba-tiba tubuhnya

diam, tenang dan ia bisa tidur nyenyak. Entah kenapa bisa jadi

begitu. Eng Lian segera mendekat Lo In lalu mencekal

tangannya. Ia periksa sekujur badannya si bocah mandi

keringat. Cepat ia ambil kain-kain tebal untuk menyekanya.

Tak dapat Lo In dibanguni meskipun digoyang-goyang keras

tubuhnya. Ia tidur sampai keesokan harinya baru mendusin

membuat Eng Lian menangis ketakutan kalau-kalau si bocah

mati.

Sekarang melihat Lo In membuka matanya, Eng Lian ketawa,

berhenti menangisnya. Sambil susut airmatanya, ia menanya,

"Adik In, apa kau sudah baik ?"

"Eh, kenapa kau tanya begitu ? Dan kenapa kau menangis,

enci Lian ?" balik menanya Lo In yang menjadi keheranan

nampak si dara cilik menangis.

"Adik In, kau tidak tahu, aku ketakutan kau mati !" sahut si

gadis cilik.

Lalu Eng Lian tuturkan bagaimana Lo In dalam

kegelisahannya mengamuk diatas bale-bale karena

kepanasan, bagaimana si bocah terus tidur nyenyak sampai

sekarang baru mendusin. Hal mana membikin Lo In kaget,

lantas ia mencelat bangun. Begitu enteng ia mencelat, ketika

ia tancapkan kakinya di lantai tidak perdengarkan suara apaapa

seperti juga jatuhnya selembar daun.

 

Eng Lian terbelalak matanya, heran melihat Lo In dengan

mendadak saja bisa gerak, badannya lompat mencelat dari

tempat tidurnya yang sebenarnya untuk bangun saja ia harus

mendapat pertolongan si dara cilik.

Belum sempat ia menanya, tiba-tiba ia rasakan pinggangnya

dicekal Lo In dan tubuhnya diapungkan, hampir saja

kepalanya menyundul atap rumah kalau tidak cepat-cepat Lo

In menyusul lompat dan tarik pulang si dara cilik dan dilain

saat, Eng Lian jatuh dalam pelukan Lo In.

"Enci Lian, kau adalah penolongku......." bisik Lo In seraya

mencium pipinya si dara cilik hingga Eng Lian merasa panas

mukanya. Tapi ia tidak mau berontak sebab dalam pelukan Lo

In, ia merasa lebih aman.

Tapi kemudian ia berontak juga sambil mencubit pipi si bocah,

ia berkata :

"Anak nakal. Kenapa kau bikin encimu kaget setengah mati

barusan ?"

"Ah, enci Lian, maafkan aku." sahut Lo In seraya melepaskan

pelukannya. "Saking kegirangan aku, sampai lupa yang

diapungkan itu ada enciku yang baik hati. Hahaha......"

Mulutnya si nona menjebir, lucu tapi ia tidak mengatakan

penyesalan apa-apa sebag memang juga hatinya turut girang

dengan kembalinya lagi tenaga Lo In berkat pertolongan dari

nyali ular kesayangannya, Tok-gan Siancu.

Memang luar biasa khasiatnya nyali ular itu. Sebab Lo In

merasakan bukan saja tenaga lamanya pulih kembali tapi juga

 

seperti bertambah, badannya dirasakan jauh lebih enteng dari

pada sebelumnya.

Selama Lo In dalam kegirangan, Eng Lian sering menatap

wajahnya Lo In lama, hingga Lo In curiga. Ia menanya, "Ada

apa yang heran diwajahku, enci Lian ?"

"Itu, eh, itu.... tanda yang tidak bisa hilang." sahutnya.

"Tanda apa, enci Lian ?" Lo In kata heran sebab sejak dahulu

ia tidak punya tanda apa-apa diwajahnya yang cakap.

"Itu tanda hitam diwajamu, adik In." sahut Eng Lian. "Kukira

tadinya dengan makan nyali ular kesayanganku itu, sekaligus

akan mengunjuk khasiatnya, menghilangkan tanda hitam pada

wajahmu. Tapi kenyataannya....... masih saja ada."

Sebelum Lo In membuka mulut menanya, Eng Liang sudah

menuturkan bagaimana si Nenek Kembang Merah sudah

membikin wajah Lo In menjadi hitam legam.

Lo In terkejut, ia usap-usap keras pipinya yang hitam lalu

pandang jari-jari tangannya yang dipakai mengusap-usap tadi.

Ia tak dapat lihat ada tanda-tanda hitam. Jadi tanda hitam itu

tak dapat dihapus.

Ia pinjam kaca dari Eng Lian dan mengacai wajahnya. Benar

saja mukanya hitam legam. Bukan main marahnya si bocah.

"Kurang ajar itu nenek dekat mampus. Akan kau rasakan

pembalasanku nanti........."

"Ah, kau jangan marah, adik In." memotong Eng Lian. "Kita

belum tahu betul dia jahat, membunuh orang misalnya, maka

 

tak perlu kita balas membalas. Asal kita ketemu dia, dengan

rela dia memberi obat pemusnahnya, kita bikin habis saja

urusan. Dengan begitu tidak saling balsa membalas lagi.

-- 9 --

Lo In adatnya halus. Ia suak mengampuni siapa juga. Kalau

barusan ia mengucapkan kata-kata mau membalas, itu

didorong oleh hawa amarahnya yang muncul seketika. Maka

waktu Eng Lian menasehatkan dengan kata-kata yang lemah

lembut dan masuk dalam sanubarinya, ia angguk-anggukan

kepalanya dan menyatakan penyesalannya.

Dua anak itu suka membanyol, jenaka tapi pribadinya luhur.

Cocok mereka itu menjadi teman yang akrab, di lembah yang

jauh dari pergaulan manusia.

Sampai disini kita tinggalkan Lo In dan Eng Lian. Mari kita lihat

perjalanan Kim-wan Thauto. Setelah ia meninggalkan Kim

Popo begitu saja dibawah terik panasnya matahari, selagi ia

jalan tiba-tiba ia mendengar ada derap kaki kuda mendatangi

dari belakangnya.

Ketika ia menoleh, kiranya ada tiga penunggang kuda yang

mendatangi ke arahnya. Entah siapa gerangan mereka itu.

Mereka melarikan kudanya cukup kencang ketikan melewati

ia. Ia dapat melihat wajahnya mereka itu. Yang satu, yang

paling tua diantara mereka, usianya dikira 45 tahun, yang

kedua 40 tahun dan yang muda ditaksir kurang lebih 20 tahun.

yang pertama mukanya terang, tak berkumis, yang kedua

mukanya hitam, piara kumis berewokan, yang muda parasnya

cakap.

 

Si berewokan pada waktu lewati Kim-wan Thauto bepaling

pada si thauto, matanya melotot mengawasi. Si thauto tidak

senang dipelototi tanpa sebab, tapi sebelum ia menegur,

orang yang berusia paling tua tadi kedengaran berkata pada si

berewokan, "Samte, kau jangan cari urusan sebelum kita

ketemu toako......"

Kim wan Thauto lantas tidak dengar lagi apa yang mereka

bicarakan kemudian karena kudanya dipecut lari makin

kencang.

Dengan menggunakan ilmu entengi tubuhnya, Kim Wan

Thauto menyusul mereka.

Sayang tak dapat menyusul karena mereka sudah jauh

jaraknya, apalagi ketika sampai di satu tikungan, Kim Wan

Thauto kehilangan jejak mereka.

Kim Wan Thauto teruskan perjalanannya sambil menebaknebak

dalam hatinya, siapakah mereka itu dan apa sebabnya

tiba-tiba si berewokan pelototinya.

Sebentar kemudian ia sampai di desa Kunhiang, satu desa

yang besar juga dan ramah penduduknya. Diantaranya banyak

orang-orang hartawan yang tinggal menetap disitu, pada

membuka perusahaan.

Kim Wan Thauto masuk ke sebuah rumah makan 'An Goan',

dimana kedapatan banyak tamu dari dalam dan luar desa

Kunhiang. Ia terus masuk mengambil tempat disuatu pojokan

lalu pesan makanan pada pelayan yang menghampirinya.

Sementara ia menunggu makanan disiapkan, ia memandang

 

ke sekitarnya. Ia lihat ada satu tamu yang menghadapi meja

besar sendiri saja, sedang meja besar demikian biasanya

untuk para tamu dalam rombongan besar.

Ia heran melihat tamu itu yang barusan ia lewati ketika

memasuki rumah makan.

Tamu itu mukanya persegi, jenggotnya macam jenggot

kambing. Alisnya yang kanan hilang, rupanya bekas golok

mampir pada bagian dekat alisnya itu, juga matanya meram.

Tegasnya mata kanannya picak. Entah ia sedang menunggu

siapa sebab sikapnya seperti ada yang ditunggu, tiap sebentar

matanya mengawasi ke jurusan pintu masuk.

Sebentar kemudian, sewaktu Kim Wan Thauto mulai dengan

hidangannya, ia mendengar suara ramai orang bercakap di

sebelah luar, pintu pun lantas terbuka, masuklah orang-orang

yang ramai bercakap-cakap tadi. Mereka disambut oleh orang

yang duduk sendirian tadi dengan kata-kata, "Wah, kenapa

kalian datang lama benar ?"

"Maaf toako, barusan kita diajak Kongcu untuk menemukan

ayah Kongcu dahulu sehingga kita terlibat dalam arena

percakapan, itulah yang bikin kita terlambat." kata seorang

diantaranya yang berusaha masuk.

Kim Wan Thauto terkejut sebab mereka itu tiada lain adalah

tiga orang penunggang kuda yang ditemukannya di jalanan

tadi.

Anak muda yang bersama-sama menunggang kuda ternyata

adalah anaknya Tan Wangwee, seorang hartawan yang cukup

terkenal. Mereka bertiga memanggilnya Kongcu.

 

Tan Kongcu supaya dikenal baik oleh pemilik rumah makan

termasuk pelayannya karena ia dengan kawan-kawannya

mendapat pelayangan yang istimewa kelihatannya. Dari

percakapan mereka, Kim Wan Thauto dapat mencuri dengar.

Hatinya jadi terkejut juga sebab tiga orang itu tiada lain adalah

Sucoan Sam-sat atau tiga algojo dari Sucoan yang terkenal

kekejamannya di wilayah Sucoan.

Tiga algojo itu mempunyai julukan masing-masing yang

menyeramkan. Si toako bernama Puy Teng alias Giam-ong

(Raja akherat), si jiko yaitu si muka terang namanya Teng

Cong, julukannya Mo-jiauw atau si Cakar Setan, yang bontot si

berewok yang melototi Kim Wan Thauto menamakan dirinya

Sin-mo Lie Kui, si Iblis Sakti.

Gelarannya si hebat-hebat, entahlah kepandaiannya tapi yang

terang mereka terkenal dengan perbuatan yang suka

sewenang-wenang dan buas.

Tiga alogojo dari sucoan itu tidak bisa omong perlahan,

mereka bercakap-cakap dengan berisik sehingga banyak

orang yang ada di situ pada dapat curi pendapatan mereka,

diantaranya tentu Kim Wan Thauto yang menaruh perhatian

istimewa atas kedatangannya Sucoan Sam-sat ke desa itu.

Kiranya mereka itu datang atas undangan Tan Wangwee,

mereka spesial diundang oleh Tan Kongcu untuk membikin

perhitungan dengan Liu Wangwee yang menuduh Tan

Wangwee ada simpanan orang jahat dalam rumahnya.

Kim Wan Thauto paling suka mencampuri urusan yang tidak

adil, maka dalam hal Tan Wangwee dan Liu Wangwee, ia ingin

 

tahu duduk perkaranya.

Ia lebih percaya pada Liu Wangwee yang benar kalau melihat

orang-orang undangan Tan Wangwee terdiri dari bajingan

buas. Maka itu, ia harus cari tahu keadaannya Liu Wangwee,

tapi dimana ? Ia masih asing dalam deast itu yang baru

pertama kali ia datangi.

Ia tidak kurang akal, sebab begitu kawanan jahat itu sudah

bubaran dengan tidak memperhatikan dirinya yang duduk di

pojokan, ia lantas panggil pelayan yang melayani ia untuk

menanyakan keterangan dimana letak rumahnya Liu

Wangwee.

Cuaca sementara itu sudah mulai sore. Ia sewa kamar dalam

rumah makan itu yang merupakan juga rumah penginapan.

Ketika hari mulai gelap, ia bikin kunjungan ke rumahnya Liu

Wangwee.

Kiranya rumahnya si hartawa Liu itu sekitarnya dikurung rapat

dengan pagar tembok. Tingginya kira-kira satu setengah

tombak. Kim Wan Thauto tidak mau mengunjunginya dengan

terang-terangan sebab kuatir tuan rumah nanti salah sangka

atas kedatangannya yang tiba-tiba itu. Maka pikirnya lebih baik

sebentar tengah malam saja ia kembali lagi bikin penyelidikan.

Oleh karena itu ia lalu pulang ke hotelnya kembali.

Setelah mengisi perutnya lebih dahulu, Kim Wan Thauto lalu

masuk ke kamarnya.

Sambil menunggu waktu, ia rebahan. Ketika ia merobah

miring, tiba-tiba ia rasakan ada yang mengganjal. Lantas ingat

 

akan kotak yang ia rampas dari Kim Popo dalam kantongnya.

Ia lalu merogoh keluarkan, ia main-mainkan ditangannya dan

mencoba membukanya tapi kotak itu tak dapat dibuka. Ia

girang tapi entah apa isinya buku mungil itu, tidak

diketahuinya. Ia menyesal tak ditanyakan itu pada si nenek

bandel.

Ia kelihatannya tidak begitu menghargakan kotak itu, maka

ditaruhnya di bawah bantal setelah beberapa lama dimainmainkannya.

Ia kemudian bangun lagi dari rebahannya, ambil buku dari

kantongnya lalu duduk membacanya sampai kemudian ia

mendengar kentongan dua kali dipukul menandakan jam dua

tengah malam. Pikirnya sudah waktunya ia lakukan

penyelidikan. Seketika itu ia keluar dari kamar dengan

mengambil jalan dari jendela supaya tidak mengganggu tamutamu

yang nginap disitu dan bikin curiga pemilik hotel.

Sebentar saja ia sudah sampai di dekat rumahnya Liu

Wangwee. Tidak susah, dengan menggunakan ilmu entengi

tubuh, ia sudah lompat melewati tembok pekarangan dari

rumah hartawan Liu.

Rumah itu ternyata berloteng. Pada tingkat satu, ia lihat masih

terang. Apakah masih ada orang yang belum tidur ? Tanyanya

pada diri sendiri.

Ini kebetulan sekali, pikirnya. Lalu dengan menggunakan

kepandaian memanjat, sebentar saja ia sudah sampai di

loteng tingkat satu. Ia mengintai dari jendela. Ia lihat di

dalamnya ada seorang lelaki yang kira-kira berusia lima

puluhan tengah membaca buku, sedang disampingnya

 

terdapat seorang gadis yang kira-kira berusia 18 tahun sedang

duduk.

Kim Wan Thauto lantas menduga akan Liu Wangwee, ketika ia

mendengar si gadis berkata-kata, "Sudah malam ayah. Untuk

apa urusan demikian dipikirkan."

"Tapi anak Hiang." kata sang ayah. "Kau jangan meremehkan

paman Tan."

"Dia toh takut pada ayah, kenapa mesti dipikirkan ?" kata si

gadis lagi.

Lu Wangwee tarik napas sambil letakkan bukunya diatas

meja, ia berkata lagi, "Anak Hiang, ayah sudah nasehatkan,

kau jangan suka mengatakan apa-apa tentang paman Tan tapi

kau seenaknya saja omong hingga jadi urusan sekarang.

Bagaimana sebenarnya yang menjadi pokok lantaran, coba

kau terangkan. Jangan pakai diumpat-umpatkan.:

"Itulah pada suatu hari," sahut si gadi. "Ketika enci Ciok datang

padaku membujuk aku supaya aku terima lamaran saudara

misannya, si Kongcu ceriwis itu, dia ada menyebut bahwa

kekayaan paman Tan jauh lebih kaya dari pada kita. Hatiku

jadi panas dan meyemprot dia dengan kata, 'Tentu saja

paman Tan lebih kaya lantaran pelihara maling dalam

rumahnya !' Kata-kata ini rupanya disampaikan pada paman

Tan sehingga ia menjadi marah, menegur ayah supaya minta

maaf di depan umum. Aku yang salah, aku yang tanggung

jawab, kenapa ayah dibawa-bawa ?"

Si gadis ketika mengucapkan kata-kata yang paling belakang,

kelihatan marah, menggertakkan giginya, gemas rupanya dia.

 

"Terang si Ciok mesti adukan kata-katamu yang menyinggung

itu." kata Liu Wangwee. "Karena buat dirinya juga tidak enak,

kau mengatakan pamannya pelihara maling. Paman Tan

sendiri, tidak berani padaku, tapi dia ada punya orang. Dia

kasih tempo buat ayah menghaturkan maaf dalam tempo tiga

hari. Kalau dalam tempo tersebut ayahmu tak memenuhi

permintaannya, dia akan minta kawan-kawannya datang untuk

menghajar ayah. Besok sudah hari ketiga, entah bagaimana

nanti kejadiannya. Kabarnya paman Tan sudah mengundang

kawan-kawannya dan sudah datang tadi siang."

"Siapa yang dia datangkan ?" tanya si anak.

"Kau mana tahu kekejaman paman Tan. Dia sudah datangkan

bala bantuannya, tidak tanggung-tanggung ialah Sucoan Samsat

yang tersohor sangat buas !"

"Tiga algojo dari Sucoan......." menggumam si gadis. "Kalau

ayah takut, biar saja nanti aku yang layani. Baru tiga algojo,

meskipun dia datangkan selusin algojo juga aku tidak takut !"

"Kau punya kepandaian apa ?" tanya si ayah, melengak heran.

"Ayah nanti lihat saja." sahut sang anak. "Sekarang ayah

masuk tidur saja, urusan diserahkan pada aku saja yang nanti

menghadapinya."

Liu Wangwee bingung. Bagaimana anaknya begini gagah ?

Siapa yang dia bakal andalkan ? Dia sendiri yang

menghadapinya, itu tak mungkin sebab ia tahu benar Bwee

Hiang, anak gadisnya tidak punya kemampuan itu. Ilmu

silatnya hanya ia yang ajari, bagaimana dia begitu besar hati

 

untuk menghadapi musuh berat ?

Tapi untuk membuat anak gadisnya senang, ia pun menurut

disuruh masuh tidur, diantar oleh Bwee Hiang.

Kim Wan Thauto diam-diam memuji kegagahan si gadis. Ia

pun angkat jempolnya. Tapi ketika ia mau angkat kaki dari situ,

ia urungkan karena mendengar suara menangis

sesenggukkan. Itulah Bwee Hiang, yang sudah balik lagi dari

mengantarkan ayahnya masuk tidur.

Ia duduk diatas kursi yang barusan diduduki ayahnya,

menangsi sesenggukkan tanpa ada orang yang

menghiburnya.

"Aku yang sudah menerbitkan bencana, mengapa ayahku

yang harus bertanggung jawab ? Oh, nasib........ibu...... ibu,

kenapa kau sudah meninggalkan aku lebih dahulu ?"

terdengar si gadis berkata-kata sendirian, ia sesambat pada

ibunya yang sudah lama berada di alam baka.

Kim Wan Thauto yang berhati baja, melihat adegan itu tak

dapat mempertahankan kesedihannya. Ia diam-diam merasa

terharu akan nasibnya Bwee Hiang. Kapan ia ingat lagi, ia jadi

heran kenapa si gadis menangis begitu sedang tadi ia lihat

tegas si gadis begitu gagah mengucapkan kata-katanya untuk

tanggung sendiri semua urusan yang mengancam keluarga

Liu. Apa benar si gadis mempunyai kepandaian tinggi untuk

menghadapi Tiga Algojo dari Sucoan ?

Sehingga Kim Wan Thauto masih ragu-ragu. Tapi bisa saja

terjadi keanehan-keanehan, maka Kim Wan Thauto pikir

biarlah ia nanti menonton saja apa yang akan dilakukan oleh si

 

gadis. Malah diam-diam ia berjanji akan membantu si gadis

manakala dipandang perlu. Setelah berpikir demikian, maka ia

lantas berlalu dari tempat mengintainya tanpa diketahui oleh si

gadis yang masih menangis sesenggukkan.

Pada hari esoknya, ada hari penghabisan dari ultimatum yang

dikirimkan pada Liu Wangwee tapi oleh Tan Wangwee

ditunggu-tunggu tidak ada kabar apa-apa dari pihak hartawan

Liu sehingga Tan Wangwee menjadi amat mendongkol.

Oleh karenanya ia lalu himpunkan kawan-kawannya yang

diundang.

Dalam desa kunhiang itu, diantara hartawan-hartawan yang

paling menonjol adalah hartawan Liu. Ia mempunyai banyak

pabrik tahu, tenun dan lain-lainnya dimana ia pakai banyak

buruh sebagai pekerjanya. Dengan adanya mata pencaharian

yang dibuka oleh hartawan Liu, maka tidak heran kalau desa

kunhiang menjadi amat ramai. Buruh dari mana-mana pada

datang minta pekerjaan pada perusahaannya Liu Wangwee.

Kawan-kawannya hartawan Liu yang juga dikenal sebagai

hartawan sangat menghormat Liu Wangwee karena ia ini

meskipun kaya juga tidak sombong dan banyak menolong

orang yang dapat kesusahan.

Di antara kawan-kawan Liu Wangwee termasuk juga Tan

Wangwee.

Hartawan Tan memang terkenal kaya tapi tidak membuka

perusahaan apa-apa. Orang tidak tahunya mendapat

kekayaan dari mana tapi yang terang kekayaannya makin

bertambah saja sejak anak-anaknya pulang dari tempat lain.

Katanya baru tamat dari belajar silat dan pulang ke rumah

 

untuk bantu usaha orang tua.

Belum lama Tan Kongcu pulang dari perguruan, dalam desa

kunhiang yang tadinya aman-aman saja, lantas jadi banyak

maling. Hartawan-hartawan yag menetap dalam desat itu

banyak dipreteli kekayaannya oleh maling-maling itu. Itu bukan

maling biasa sebab semua itu dikerjakan oleh satu orang dan

untuk kejadian itu orang desa kunhiang menaakan ia 'Huicat'

atau 'Maling biasa terbang' karena tak dapat diselidiki jejaknya

baik oleh korban-korbannya sendiri maupun oleh pihak yang

berwajib. Yang herannya justru maling terbang itu mengincar

hartawan-hartawan yang 'kaya' saja sebab yang tanggungtanggung

tak pernah mendapat gangguan. Jadi keadaan tidak

aman hanya dialami oleh mereka yang betul-betul hartawan.

Liu Wangwee meskipun ia sendiri belum pernah mendapat

gangguan, dengan sendirinya sebagai ketua kaum hartawan ia

malu hati buat peluk tangan saja. Maka ia kumpulkan kawankawannya

untuk berunding mencari jalan sampai mereka

dapat mengamankan lagi desanya dari gangguan maling.

Belum ada keputusan tentang daya apa dapat diambil untuk

menangkap maling terbang itu, dua hari sejak diadakan rapat

oleh Liu Wangwee, rumahnya sendiri telah didatangi si maling

terbang itu.

Ia sendiri tidak menghadapinya tapi gadisnya, Bwee Hiang,

pada malam itu sudah bertempur seru dengan si maling

terbang yang pakai topeng mukanya.

Sudah menjadi kebiasaan Bwee Hiang, ia baharus masuk tidur

kalau ayahnya terlebih dahulu ia antarkan masuk tidur. Maka

ia tidur lebih larut (malam) dari ayahnya. Waktu barusan saja

 

ia bangkit dari duduknya hendak meninggalkan ruangan baca,

kupingnya yang tajam seperti mendengar ada orang yang

membuka jendela perlahan. Ia pura-pura tidak memperdulikan

itu, terus saja ia jalan. Tapi ia tidak menuju ke kamarnya, tapi

ia membelok ke satu gang yang dapat menembus keluar. Ia

lantas dapat memergoki seorang yang sedang mengintip di

jendela. Si nona segera menduga yang datang adalah maling

terbang. Maka dengan tidak bersuara kakinya menotol lantai,

tubuhnya yang langsing mencelat ke arah orang yang sedang

mengintip tadi.

"Maling terbang, akhirnya kau datang juga. " kata si gadis

sekonyong-konyong.

Bukan main kagetnya orang itu sebab segear ia berkelit ke

kanan dengan gugup mengelak serangan Bwee Hiang yang

membarengi kata-katanya tadi.

Itulah kejadian di atas loteng tingkat satu.

Si maling terbang tidak membalas serangan si gadis, hanya ia

lompat ke atas genteng. Enteng sekali tubuhnya, menghampiri

loteng tingkat dua. Ia mengira kegesitannya sudah tidak ada

taranya, tapi bukan main kagetnya ketika ia barusan saja

menginjak genteng terdengar pula suaranya Bwee Hiang,

"Kau mau lari ? Hmm ! Tamu datang tidak disambut, itu tidak

hormat !"

Si maling lantas putar tubuhnya, sekarang ia berhadapan

dengan si gadis yang tersenyum mengejek kepadanya.

Sungguh ia tidak mengira, kalau Bwee Hiang dapat

menandingi kegesitannya, malah kelihatan lebih gesit lagi.

 

Bwee Hiang ketika jalan keluar hendak pergoki si maling, ia

sudah sembat pedang yang biasa ia pakai dalam latihan

dengan ayahnya. Dengan senjata itu ia tunjuk si maling sambil

berkata, "Hui cat, kau tak akan lolos dari aku !"

Si maling tidak menjawab, hanya ia lantas menghunus

pedangnya.

"bagus !" kata Bwee Hiang, "Mari kita main-main !"

Kata-katanya ditutup dengan serangan pada dua jurusan.

Pertama, ujung pedang si nona seperti menyerang

tenggorokan, ketika si maling bertopeng menangkis, ia tarik

pedangnya supaya jangan bentrok dengan senjata lawan,

lantas diteruskan menusuk pada 'kiok-ti-hiat', jalan darah di

bagian pundak kiri untuk sekalian menyontek tulang pundak

orang. Gerakan ini dilakukan dengan cepat laksana kilat, salah

satu jurus yang hebat dari Bwee Hoa Kim Hoat (Ilmu silat

pedang kembang bwee) yang dinamai 'Hoa kay beng goat'

atau 'Kembang mekar memandang rembulan'.

Tapi si maling bertopeng cukup gesit.

Melihat tangkisannya luput sebab pedang lawan cepat ditarik

pulang, pundaknya yang di arah si nona ia elakkan dengan

turunkan pundaknya sedikit hingga ujung pedang tak dapat

sasarannya.

"Aha, boleh juga !" kata Bwee Hiang melihat serangannya

yang ditujukan pada dua arah luput semua. Berbareng, ia pun

lantas menyerang pula dengan jurus-jurus yang mematikan.

Pedangnya berkelebatan menyambar-nyambar ke arah jalan

darah lawan sehingga merupakan tekanan yang berat bagi si

 

maling terbang. Apalagi pikirannya tidak mau melayani si nona

lama-lama. Maka begitu ia mendapat lowongan, lantas enjot

tubuhnya mencelat mundur ke tepi genteng rumah, dari mana

dengan ilmu entengi tubuh ia loncat ke genteng rumah tingkat

satu akan terus loncat ke bagian bawah, lari menghampiri

tembok pekarangan. Tubuhnya enteng sekali diwaktu ia

melompati tembok pekarangan rumah Liu Wangwee, dari

mana ia teruskan larinya ke arah barat dan melenyapkan diri

dalam sebuah rumah besar.

Maling itu mengira dirinya tidak dikejar si nona karena

beberapa kali ia menoleh ke belakang tidak nampak bayangan

yang mengejar apalagi mendengar suaranya si nona. Tapi ia

salah hitung. Ia boleh gesit dan dapat menghilang bagaikan

setan kalau kepandaiannya itu dihadapkan pada orang biasa

atau ilmu silatnya hanya ilmu silat pasaran saja. Tapi kali ini ia

menghadapi Bwee Hiang yang kegesitannya cukup tinggi.

Tentu saja jejaknya tak luput dari kuntitan si nona.

Ketika ia menghilang dalam rumah besar tadi, tiba-tiba Bwee

Hiang berdiri tertegun. Sebab rumah itu adalah rumah Tan

Wangwee. Ia lantas menduga bahwa Tan Wangwee dalam

rumahnya ada pelihara maling, makanya kekayaannya dengan

tentu meningkat tanpa orang mengetahui dari mana

sumbernya.

Si gadis pulang lagi ke rumah. Pikirannya makin yakin bahwa

Tan Wangwee telah pelihara maling. Maka ketika keesokan

harinya ia ketemu ayahnya, lantas ia menceritakan

pengalamannya semalam. Sang ayah terkejut juga mendengar

cerita anaknya, lantas ia berkata, "Anak Hiang, kau sudah tahu

rahasianya paman Tan, harap kau jaga mulutmu jangan

sampai mengeluarkan kata-kata yang bisa menyinggungnya.

 

Paman Tan segan dan menghormatku karena dia tahu aku

ada seorang yang dipandang tinggi oelh penduduk kunhiang

dan dia tahu juga aku berkepandaian tidak rendah dalam ilmu

silat. Tapi kalau kita membuat gara-gara menyinggung

kehormatannya, dia tentu akan pandang lagi padaku. Dia

dapat datangkan kawan-kawannya dari golongan jahat untuk

menghadapi aku karena dia sendiri tidak berani untuk

berurusan langsugn dengan aku. Ingat, anak Hiang !"

Bwee Hiang mengiakan atas nasehat itu. Tapi ia lupa ketika

Cok Ciok, teman mainnya yang menjadi keponakan Tan

Wangwee membanggakan kekayaannya hartawan Tan di atas

kekayaan keluarga Lu. Hatinya panas seketika dan

mengatakan tentu saja Tan Wangwee lebih kaya karena

dalam rumahnya ada pelihara maling. Kata-kata inilah yang

menjadi 'urusan' sehingga Tan Wangwee mengundang

Sucoan Sam-sat yang sangat kesohor kebuasannya untuk

menghadapi Liu Wangwee.

Dalam pertemuan dengan tamu-tamu undangannya, Tan

Wangwee menanyakan pikiran mereka bagaimana mereka

akan bertindak kalau sampai nanti malam masih belum terima

kabar dari Liu Wangwee. Giam-ong Puy Teng dan Sin-mo Lie

Kui ada orang-orang kasar, mereka tidak dapat mengeluarkan

pikiran yang baik, maka diminta pikirannya Mo-jiauw Teng

cong, si Cakar Setan yang banyak akalnya untuk mengusulkan

sesuatu untuk kebaikannya Tan Wangwee.

"Menurut pikiranku," kata Mo-jiauw Teng Cong, "Kalau nanti

malam Liu Wangwee tidak kirim orang mengabarkan apa-apa

kepada kita, sebaiknya kita datangi rumahnya untuk minta

keputusan. Kalau dia lulusi permintaan Tan-heng yaitu

bersedia untuk minta maaf dihadapan umum, kita bikin habis

 

saja urusan ini. Kalau tidak, baik nanti kita lihat gelagat

bagaimana, kalau perlu kita gunakan kekerasan untuk

menaklukinya."

"Ah, kau terlalu bertele-tele." kata Puy Teng Toako dari

Sucoan Sam-sat.

"Kau benar Toako, jiko terlalu berliku-liku. Kita ambil jalan

pendek saja, kalau nanti dia tidak mau meluluskan permintaan

Tan-heng, kita habisi saja jiwanya !" Sin-mo Lie Kui

menyatakan pikirannya.

"Kita harus pakai jalan lunak dahulu, kalau bisa kita jangan

sampai bertempur dengan dia." Mo-jiauw perkuatkan usulnya.

"Memangnya Jie-te takut ?" tanya Puy Teng, si toako.

"Hahaha......!" Sin-mo Lie Kui tertawa. "Biasanya Jiko paling

berani, mengapa disini menghadapi Liu Wangwee saja jadi

ketakutan ?"

Tan Wangwee sementara itu tinggal membungkam. Begitu

juga dengan Tan Kongcu, anaknya yang disuruh mengundang

Sucoan Sam-sat.

Mo-jiauw Teng Cong jadi serba salah.

Si Cakar Setan memang ada sedikit jeri, seelah ia cari

keterangan bahwa Liu Wangwee selainnya ia sendiri ilmu

silatnya tidak renah, juga ada anak daranya yang membantu.

Kabarnya hartawan Liu itu juga banyak mempunyai sahabat

dalam Bu-lim.

 

Menurut pikirannya, lebih baik digunakan jalan damai saja.

Keterangan yang ia dapat itu tidak ia beritahukan kepada dua

kawannya karena kuatir ia dikatakan pengecut. Tapi akhirnya

si Setan Sakti Lie Kui telah mengatakan juga hingga membuat

ia jadi serba salah.

Belum ia dapat menyatakan pikirannya lagi, tiba-tiba Tan

Wangwee berkata, "Memang, untuk menaikkan pamornya

Sucoan Sam-sat, lebih baik ambil jalan pendek saja."

"Kau maksudkan apa jalan pendek itu ?" tanya Mo-jiauw Teng

Cong.

"Kalau Liu Wangwee tidak mau menurut perintahku, lebih baik

jiwanya dihabiskan saja." jawab Tan Wangwee.

Mo-jiauw Teng Cong kalah suara, maka selanjutnya ia

membungkam.

Demikianlah, ketika sang malam tiba belum juga diterima

kabar apa-apa dari pihak hartawan Liu, maka tiga algojo dari

Sucoan itu, diiringi oleh Tan Kongcu telah menyatroni

rumahnya Liu Wangwee. Tan Wangwee sendirian tidak turut

karena ia malu hati kalau sampai dirumahnya Liu Wangwee ia

mesti tarik urat dengan tuan rumah.

Di pekarangan rumah, kedatangan mereka disambut oleh Liu

Wangwee sendiri.

Tuan rumah kelihatan ramah tamah, sedang pihak tamu

sangat sombong sikapnya.

Tidak termasuk Mo-jiauw yang pandai menggunakan otaknya.

 

Ia melihat Liu Wangwee bertubuh sedang tingginya, agak

gemuk, memelihara jenggot yang bagus ! Romannya

berwibawa, keras wataknya meskipun kelihatannya ia sangat

ramah tamah.

Tamu-tamu diundang masuk ke ruangan tengah, dimana

sudah disiapkan barang hidangan seperlunya. Rupanya

hartawan Liu sudah menduga akan kedatangannya mereka,

maka ia sudah suruh pelayan-pelayannya mengadakan meja

perjamuan sederhana.

Tan Kongcu dan Lie Kui yang lagaknya paling tengik.

Terutama Tan Kongcu yang seolah-olah membanggakan para

pahlawannya, amat menyebalkan tingkahnya.

"Aku tidak melihat ayahmu turut datang, dimana dia, anak Sin

?" tanya Liu Wangwee pada Tan Kongcu ketika mereka sudah

sama-sama ambil tempat duduk.

Tan Kongcu pelototkan matanya sebelum ia menjawab

pertanyaannya Liu Wangwee.

Di waktu dalam keadaan biasa, dua keluarga (Liu dan Tan)

ada baik satu dengan lain, malah Liu Wangwee tidak melarang

Tan Kongcu sesudah masing-masing meningkat dewasa untuk

datang ngomong-ngomong dengan Bwee Hiang, puterinya,

karena Tan Kongcu teman sepermainan si nona di waktu

mereka masih kecil.

Jadi persahabatan keluarga Tan dan Liu itu sudah sejak lama.

Apa mau sekarang terbit bentrokan yang sesungguhnya amat

disayagnkan. Sebenarnya Tan Wangwee sendiri segan

bentrokan dengan Liu Wangwee karena urusan tersebut

 

hanya persoalan kecil saja. Tetapi lantaran adanya

hasutannya Tan Kongcu, anak muda itu sangat gemas pada

Bwee Hiang yang menolak menjadi isterinya malah

menghinanya bahwa dalam rumahnya ada pelihara maling.

Panggilan Liu Wangwee pada Tan Kongcu biasa saj,

memanggil namanya sebagai juga orang tua itu memanggil

anaknya sendiri.

Setelah pelototi Liu Wangwee, Tan Kongcu menjawab, "Ayah

tidak perlu ketemu paman. Dia bilang kalau paman mau kasih

kabar, katakan saja padaku."

Jawaban yang amat kurang ajar, malah matanya pakai melotot

segala. Tapi Liu Wangwee tidak jadi marah. Ia tetap sabar.

"Anak Sin," kata Liu Wangwee. "Jawabanku singkat saja. Aku

dapat mohon maaf pada ayahmu, tapi tidak dihadapan umum."

"Hmm ! Justru ini kita tidak mau terima !" kata Liung Sin

mendengus.

"Habis, kau mau apa ?" tanya Liu Wangwee, jadi habis sabar

rupanya melihat sikap yang tengik dari si anak muda ceriwis

menurut Bwee Hiang.

Melihat keadaan sudah mulai panas, Mo-jiauw Teng Cong

menyela, "Liu Wangwee, kedatangan kami kesini adalah

hendak mendamaikan urusan bukan hendak mencari ribut

dengan keluarga saudara Liu. Aku pikir, sebaiknya saudara

Liu mengalah saja dan suka memohon maaf di depan umum.

Dengan begitu urusan menjadi beres."

"Saudara ini siapa ?" tanya hartawan Liu yang pura-pura tidak

 

tahu.

"Mereka adalah Giam-ong Puy Teng." jawab Teng Cong

seraya menunjuk pada saudara tuanya. "Aku sendiri bernama

Teng Cong, sedang dia adalah Sin-mo Lie Kui. Kami bertiga,

entah bagaimana anggapan orang dalam dunia Kangouw,

telah mendapat julukan Su-coan Sam-sat. Julukan ini dilebihlebihi."

Liu Wangwee angguk-anggukkan kepalanya sambil mengurut

kumisnya yang panjang.

"Jiko, untuk apa banyak omong. Lekas, bikin beres saja !" kata

Sin-mo Lie Kui sambil matanya melotot pada Liu Wangwee.

Hartawan Liu berlagak pilon atas sikapnya si berewok jahat.

"Aku sudah katakan," kata Liu Wangwee. "Apakah saudara

Teng tidak dengar jawabanku pada anak Sin barusan ?"

"Brak !" tiba-tiba terdengar suara piring mangkok di atas meja

beterbangan. Sayur pada tumpah berlelehan gara-gara Giamong

Puy Teng yang menggebrak meja dengan telapak

tangannya yang besar. "Kepala batu !" bentaknya pada tuan

rumah. "Aku mau lihat kepandaian apa yang kau mau

perlihatkan dihadapan Sucoan Sam-sat !"

Teng Cong tidak setuju dengan kelakuan Sang Toako yang

berangasan itu tapi perbuatannya sudah terjadi, maka ia

tinggal menanti reaksi dari tuan rumah saja.

Meskipun Liu Wangwee tidak senang akan kelakuannya si

mata satu, ia masih bisa menahan sabar. Katanya, "Aku si tua

 

tidak berguna lagi tapi untuk melayani kau seorang kasar,

rasanya masih belum tentu !"

"Kau berani sama Sucoan Sam-sat ?" bentak Puy Teng,

marah dia.

"Sucoan Sam-sat lain, tapi dengan kau, aku tidak tinggal lari !"

sahut tuan rumah.

Puy Teng bangkit dari duduknya. Ia tertawa gelak-gelak sambil

katanya, "Mari, mari diluar kita coba." berbareng tubuhnya,

enteng sekali, melesat ke arah pintu.

Liu Wangwee tidak takut. Ia pun bangkit dari duduknya, lantas

jalan keluar. Di pekarangan ia lihat Puy Teng sudah berdiri

menanti.

Tidak sampai tarik urat lagi, mereka telah berhadapan, lantas

bergebrak.

Teng Cong dan Lie Kui tidak berani datang mengeroyok Liu

Wangwee karena mereka tahu akan adatnya sang toako.

Kalau ia belum kalah belum mau dibantui saudarasaudaranya.

Maka juga mereka tinggal menonton saja.

Dua macan berkelahi, tentu saja sangat ramai.

Liu Wangwee mainkan 'Bwee Hoa Ciang Hoat' atau 'Ilmu

pukulan kembang bwee', sedang dipihaknya Giam-ong Puy

Teng menggunakan 'Eng-jiauw-kang' atau 'Tenaga Kuku

Garuda' untuk melayani lawan. Liu Wangwee mendesak

lawannya dengan pukulan-pukulan halus tapi mantap, tapi

dilayani dengan sambaran tangan yang keras berat oleh

 

Giam-ong Puy Teng yang menggunakan ilmu pukulan Eng

jiauw kang. Tidak kecewa Giam-ong Puy Teng sebagai toako

dari Sucoan Sam-sat karena ilmu pukulannya itu saban-saban

membuat lawannya tergetar. Dari berimbang, pelan-pelan

tampak Liu Wangwee keteter.

Liu Wangwee merasa cemas dengan kepandaiannya karena

ia yakin bahwa ia bukan tandingannya Giam-ong Puy Teng.

Dalam keadaan yang cemas itu, hatinya menjadi makin cemas

ketika ia mendengar beradunya senjata dan melihat puterinya

Bwee Hiang sudah bergebrak dengan Tan Kongcu.

Ia menguatirkan keselamatan puterinya yang tersayang itu,

maka perlawanan yang diberikan pada musuhnya tidak

sebagaimana mestinya. Dalam keadaan bingung, tiba-tiba

berkelebat tangannya Giam-ong Puy Teng hendak

mencengkeram dadanya, ia geser kaki kirinya berkelit dari

cengkerama ke arah dada, tapi ia lupa datangnya tangan kiri

musuh yang menjambret pinggangnya. Tanpa ampun lagi ia

terkulai roboh setelah menjerit perlahan. Giam-ong Puy teng

telah menggunakan tipu pukulan 'Say pek sie' atau 'Terkaman

singa' untuk mreobohkan lawannya.

Jeritan Liu Wangwee diwaktu terkulai roboh disusul jeritan lain

ialah jeritan Tan Kongcu yang tulang pundaknya kena disontek

ujung pedang Bwee Hiang.

Setelah merobohkan lawannya, Bwee Hiang lantas enjot

tubuhnya mencelat ke arah tempat ayahnya bertempur. Tapi

sudah terlambat karena ayahnya sudah roboh dan tidak

bangun lagi. Alisnya si nona berdiri, saking gusarnya ia

membentak Giam-ong Puy Teng, "Manusia jahat, kau apakan

ayahku ? Aku akan adu jiwa denganmu !"

 

Kata-katanya ditutup dengan serangan pedangnya yang

tajam. Tapi Giam-ong Puy Teng bukannya Tan Kongcu sebab

dengan satu elakan saja pedang si nona menemui sasaran

kosong. Ketika ia tarik pulang pedangnya hendak menyerang

lagi, di depannya sudah ganti orang. Itulah si berewok Lie Kui

yang bengis.

"Nona manis, kau jangan main-main dengan toakoku. Untung

dia tidak biasa layani bangsa perempuan. Kalau tidak, hmm !

Jangan harap mukamu yang cantik akan tetap utuh !"

Itulah kata-kata Sin-mo Lie Kui yang enak untuk si berewok

sendiri tapi tidak enak untuk telinganya si nona. Tidak heran

kalau Bwee Hiang menggerang disusul dengan serangan

pedangnya ke arah orang punya jalanan makanan

(kerongkongan) tapi si setan sakti sambil ketawa haha hehe

berkelit, "Nona manis jangan galak-galak !" menggoda si muka

berewok.

Bwee Hiang makin meluap amarahnya, pedangnya

menyambar-nyambar tapi si berewok hanya berkelit sana sini

tanpa melakukan serangan membalas. Malah menggodainya

makin menjadi membuat si nona tak dapat mengendalikan

amarahnya. Ia menempur dengan serangan-serangan nekad,

justru inilah kesempatan untuk si berewok berlaku ceriwis,

coba ulurkan tangan untuk menyolek pipi yang putih dari Bwee

Hiang.

Untung Bwee Hiang masih awas, ia dapat menyelamatkan

mukanya dari colokan Lie Kui yang kurang ajar. Ketika di lain

saat si berewok mau menyolek lagi, ia babat tangan orang

tersebut dengan pedangnya hingga si ceriwis amat kaget,

 

kalau tidak secepat kilat ia tarik pulag tangannya yang bangor.

"Jangan kejam-kejam, nona," ia menggodai Bwee Hiang.

(Bersambung)

Jilid 04

Kepandaian si nona ketinggalan jauh dibandingkan dengan

Sin-mo Lie Kui. Maka ia kena digocok sana sini hingga Tan

Kongcu yang menonton di pinggiran menjadi tertawa terbahakbahak

meliha si nona sudah mandi keringat meskipun ia

sendiri waktu itu menderita rasa sakit bukan main pada luka

dipundaknya karena barusan kena disontek pedangnya si

nona yang tajam.

"Nah, rasakan sekarang pembalasanku, digecek mampus kau

oleh samko !" Tan Kongcu mengejeki si gadis yang sedang

kepayahan.

Lama-lama si nona menjadi lelah, kata-kata si Kongcu ceriwis

menusuk hatinya, membuat hatinya sangat pedih. Pikirnya,

daripada ia bakal terima hinaan orang-orang jahat itu, lebih

baik ia ambil keputusan nekad. Bunuh diri !

Tiba-tiba si gadis melompat dari arena pertempuran, seraya

berkata, "Tahan !"

"Kau mau bicara apa, nona manis ?" tanya Lie Kui, haha hehe

tertawa.

Si nona tidak meladeni, hanya menubruk ayahnya yang

menggeletak di tanah dengan napas empas empis. Ia girang

ketika mendapat kenyataan ayahnya tidak putus jiwanya.

 

"Ayah, legakan hatimu. Semua ini ada gara-garaku, maka aku

yang akan bertanggung jawab."

Setelah mengucapkan kata-katanya yang gagah itu, si nona

tampak bangkit.

Ia berdiri, pedangnya masih tercekal di tangannya, matanya

mengawasi ke sekitarnya. Tampak olehnya Giam-ong Puy

Teng dan kawan-kawannya tengah mengawasinya dengan

senyuman masing-masing.

"Tuan-tuan." tiba-tiba si nona berkata. "Ayahku tidak berdosa,

kalian harus bebaskan ayahku. Akulah yang mengatakan

dalam rumah paman Tan ada dipelihara maling. Maka

sepantasnya aku yang bertanggung jawab dari itu, sebagai

permohonan maaf, lihatlah sekarang aku lakukan..........."

Kata-kata ini disusul dengan diangkatnya pedangnya dan akan

ditebaskannya lehernya yang putih hingga kawanan jahat

yang biasanya tidak berkedip membunuh orang, melihat

kelakuan nekad si gadis telah pada menutup matanya, merasa

ngeri.

"Tring !" tiba-tiba terdengar suara batu kecil membentur

pedang, segera juga pedangnya si nona terlepas dari

cekalannya. Di susul oleh melayangnya sesosok tubuh dari

atas sebuah pohon.

Apakah Kim Wan Thauto yang datang menolong Bwee Hiang

?

Bukan. Kim Wan Thauto memang mengumpat diatas genteng,

menonton pertarungan yang terjadi di sebelah bawah. Ketika

 

Liu Wangwee dirubuhkan, ia masih belum mau turun tangan

untuk membantu sebab ia ingin melihat bagaimana tindakan

Bwee Hiang lebih jauh mengingat kata-kata si nona dihadapan

ayahnya. Ia ingin melihat apakah pedangnya si nona akan

dapat mengusi tiga orang jahat itu. Tapi ia kecewa hatinya,

nampak si nona dipermainkan oleh Lie Kui. Pikirnya, apakah si

gadis hanya begitu saja kepandaiannya ? Melihat Bwee Hiang

berlaku nekad, ia sudah siap akan menggoyangkan

kepalanya, untuk melepaskan senjata anting-antingnya ke

arah pedang si nona yang tengah diayunkan ke lehernya. Tapi

ia jadi tercengang karena maksudnya sudah disusul orang

lain.

Dalam tertegunnya, ia mendengar orang yang barusan

menolong Bwee Hiang tertawa gelak-gelak. Hatinya terkejut

sebab suara tertawa itu seperti ia pernah mendengarnya tapi

dimana ? Ia kumpul ingatannya tapi ia lupa dimana ia pernah

dengar suara ketawa yang ia pernah kenal.

Orang barusan melayang turun dari pohon, tampak

menghampiri Bwee Hiang. Ia memungut pedang si nona yang

seketika itu berdiri bagaikan patung. Matanya yang jeli

mencilak mengawasi pada orang yang menolong dirinya.

Orang itu tak tampak mukanya karena kepalanya terbungkus

kerudung kain merah.

"Kau siapa ?" tanya si nona seraya menerima kembali

pedangnya yang diangsurkan oleh orang yang berkerudung

merah.

"Anak Hiang," kata si kerudung merah, tidak menjawab

pertanyaan Bwee Hiang. "Dengan membunuh diri berarti kau

 

membunuh ayahmu. Sekarang lekas tolong ayahmu dan tamutamu

ini serahkan aku yang melayani !"

Bwee Hiang kaget, mengapa si kerudung merah

memanggilnya 'anak Hiang'. Siapakah dia ? Tapi ia sekarang

tidak dapat mengajukan pertanyaan karena ia lebih perlu

lekas-lekas menolong ayahnya. Cepat ia bertindak

menghampiri ayahnya dan lantas memeriksa luka sang ayah

yang parah, dua tulang iganya patah.

Sementara Sucon Sam-sat yang sedari tadi berdiri tertegun

memperhatikan kedatangan si kerudung merah, lantas

mengurung si orang asing. Mereka sadar bahwa yang datang

niscaya seorang lawan yang alot.

"Hmm !" mendengus si kerudung merah. "Liu Wangwee,

apakah kurang hormat melayani para tamunya ? Biarlah aku

yang menggantikannya........."

"Siapa kau ?" bentak Sin-mo Lie Kui yang berangasan

wataknya.

"Kau panggil saja aku si kerudung merah, wakilnya Liu

Wangwee." sahutnya.

"Bagus, bagus. Hahaha !" kata Giam-ong Puy Teng seraya

ketawa terbahak-bahak.

"Hahaha............ hahaha......... !" si kerudung merah juga ikutikutan

ketawa.

Giam-ong Puy Teng mendelikkan matanya. "Kau tertawakan

apa, setan !" bentaknya.

 

"Aku tertawakan kau." sahutnya kontan.

"Kurang ajar, apa yang harus kau tertawakan ?" tanyanya

agak heran.

"Itu......... itu..............." sahut si kerudung merah sambil masih

tertawa. "Itu, menurutmu aku bagus, kau mana tahu bahwa

mukaku bagus sedang aku pakai kerudung."

Ini merupakan jawaban yang 'olok-olok' sehingga

menimbulkan amarahnya toako dari Sucoan Sam-sat menjadi

lebih meluap. Sebelah matanya, yang tinggal satu, mendelik

lagi lalu menyerang si kerudung merah dengan jurusnya yang

paling diandalkan 'Eng Jiauw chiu' atau 'Cengkeraman cakar

garuda', kedua tangannya diulur untuk mencengkeram dada.

Gerakannya cepat, kalau kena dicengkeram, pasti melayang

jiwa korbannya karena cengkeraman itu berisikan tenaga

dalam yang dahsyat.

Tapi si kerudung merah acuh tak acuh menghadapi serangan

dahsyat itu. Ia menunggu sampai serangan datang, kedua

tangannya dirangkap sejenak lalu diajukan ke depan, nyelusup

diantara dua tangan lawan, mendadak dipentangkan secepat

kilat sehingga dua tangan lawan yang mencengkeram dapat

ditolak nyamping. Inilah gerakan 'Siang hong seng thian' atau

'Sepasang burung hong naik ke langit', jurus yang paling tepat

untuk memusnahkan 'Eng jiauw chiu' lawan.

Melihat serangannya gagal, cepat Giam-ong Puy Teng ganti

tipu. Tampak tubuhnya terputar ke belakang lawan.

Tangannya yang kanan diulur, mencengkeram bagian

pinggang untuk membikin remuk tulang iga. Ini adalah gerakan

 

istimewa dari Giam-ong Puy Teng yang dinamai 'Mo Lie jiauw

chiu' atau "Cengkeraman Kuntilanak'. Berbareng ia berkata,

"Terima nasib, sahabat !"

Ia berkata demikian, menyangka seratus persen serangannya

kali ini tak akan luput. Tapi diluar dugaannya sang lawan

sudah mengelak dengan gesit sambil lompat satu tindak ke

depan. Sebelum si kerudung merah berputar tubuh, Giam-ong

Puy Teng sudah maju merangsak, ia menggempur batok

kepala musuh dengan gaplokan yang dahsyat. Sayang

bukannya si kerudung merah berantakan kepalanya,

sebaliknya tampak Giam-ong Puy Teng terkulai roboh. Hal

mana membuat dua saudaranya yang tengah menonton

dengan kegirangan toakonya diatas angin menjadi keheranan.

"Sudah cukup !" kata si kerudung merah sambil lompat

menjauhi Giam-ong Puy Teng yang tubuhnya terkulai

mendeprok di tanah.

Kenapa Giam-ong Puy Teng ? Ketika si kerudung merah

lompat satu tindak ke depan, berkelit dari serangan Giam-ong

Puy Teng yang menggunakan tipu 'Cengkeraman Kuntilanak',

ia rasakan dibelakangnya ada sambaran angin. Cepat ia

mendek sambil memutar tubuhnya ke kiri. Dalam posisi ini,

sehingga ia adanya lowongan pada iga kanan Giam-ong Puy

Teng yang sedang angkat tangan kanannya untuk

menggaplok kepala, enak saja dua jari tangan kiri si kerudung

merah nyelonong ke jalan darah 'thian-coan-hiat'. Kontan si

raja akherat menjadi terkulai roboh. Kejadian ini hanya

beberapa detik saja. Saking cepatnya, maka tidak heran kalau

dua saudaranya Giam-ong Puy Teng menjadi melongo

keheranan.

 

Dari melongo keheranan, Sin-mo Lie Kui meluap amarahnya.

Lantas saja menerjang si kerudung merah sambil berkata,

"Setan, akan aku cuci kehormatan Sucoan Sam-sat !"

"Dicuci juga bakalan kotor juga !" menggoda si kerudung

merah seraya berkelit dari serangan Lie Kui yang

menggunakan jurus 'Mo lie khoa keng' atau 'Kuntilanak

berkaca'. Sambaran dua tangannya menghembuskan angin

menderu. Biasanya dengan menggunakan serangan ini, Lie

Kui dalam segebrakan dapat menjatuhkan musuhnya. Tapi

kali ini ia salah hitung. Si kerudung merah lwekangnya sangat

kuat. Malah si Setan Sakti tidak menjadi sakti karena kaget

nampak musuhnya hilang dari depannya. Ia merasa dirinya

gesit, dapat mempermainkan orang, tidak dinyana ia kalah

jauh dari si kerudung merah.

Bertarung baru lima jurus, lantas Mo-jiauw Teng Cong dapat

menilai bahwa saudara mudanya tak dapat menandingi

musuhnya. Ia heran kenapa si kerudung merah, tadi waktu

menempur Giam-ong Puy Teng tidak memperlihatkan

kegesitannya seperti sekarang ini menghadapi ia punya

Samte.

Melihat saudaranya hanya beberapa gebrakan saja sudah

terdesak, ia tidak dapat berpeluk tangan untuk menonton.

Maka si Cakar Setan seketika itu lantas menyerbu

mengeroyok si kerudung merah yang tengah mempermainkan

Lie Kui.

Dengan turunnya si Cakar Setan, Lie Kui berharap segera

diperoleh kemenangan dengan cepat sebab kepandaiannya

sang Jiko atau si Cakar Setan ada lebih tingkat dari ia dan

toakonya (Giam-ong Puy Teng). Sayang pengharapannya

 

meleset sebab bukannya mempercepat kemenangan, tapi

mempercepat kekalahan.

"Bagus." tiba-tiba si kerudung merah berkata ketika ia elakkan

cengkeraman Mo-jiauw Teng Cong yang ganas. Berbareng

tampak ia mencelat ke atas untuk menghindari gencetan

serangan dari dua arah, Mo-jiauw Teng Cong mencengkeram

bagian atas perutnya seperti mau mengorek hati, sedang Sinmo

Lie Kui menggempur pinggangnya. Tidak sampai menanti

sang musuh menginjakkan kakinya ditanah lagi, Lie Kui siap

dengan serangan susulan yang mematikan dengan tipu 'Hui

hong tong lay' atau 'Angin taufan datang dari timur'.

Tangannya diulur saling susul untuk menjambret kaki kanan

lawan yang masih dalam keadaan terapung. Tapi kaki lawan

seperti ada matanya, ia mengelak, turun sedikit lantas

menotok ke arah jin-tiong-hiat di jidat si berewok. Ia hanya

menjerit 'aiyoo !' lantas rubuh mendeprok. Totokan pada ujung

sepatu ini, membawa efek pada Mo-jiauw Teng Cong. Tangan

kanannya yang dibeber bagaikan golok dipakai untuk

menebas kaki si kerudung merah yang masih terapung. Ujung

sepatu yang barusan menotok jidatnya Lie Kui tampak berbalik

lalu menyontek pergelangan tangan. Tepat sekali

mengenakan jalan darah 'Yang-kok-hiat', hingga seketika itu

Mo-jiauw Teng Cong merasakan lengannya kesemutan, hawa

panas menjalar ke seluruh tubuhnya dan kontan ia pun roboh

meniru Lie Kui.

Gerakan yang dilakukan si kerudung merah memang luar

biasa sukarnya. Dengan badan masih terapung, ujung

sepatunya dapat menotok roboh dua lawan tangguh sekaligus,

bukan suatu ilmu mengentengi tubuh yang mudah dilatih.

Tanpa mempunyai lwekang sampai pada batas tertinggi,

jangan harap dapat melatihnya. Pun, melatih ilmu demikian

 

akan meminta tempo puluhan tahun. Dalam kalangan Bu-lim,

orang namakan tipu silat itu 'Siang hong ko hong', atau

'Sepasang hong terbang lewati puncak gunung'. Jarang

terlihat di kalangan jago-jago dalam dunia Kangouw.

Bahwa si kerudung merah dapat mendemonstrasikan ilmu

yang langka itu, dapatlah diukur sampai dimana hebatnya

lwekang orang itu. Oleh karenanya, maka Sucoan Sam-sat

dengan sendirinya sudah menjadi ciut nyalinya.

Tang Kongcu yang sangat ketakutan lantas angkat kaki

meninggalkan kawan-kawannya. Tapi belum berapa langkah,

ia rasakan ada angin berkesiur disampingnya dan tahu-tahu si

kerudung merah sudah ada dihadapannya. Ia menggigil

ketakutan, tubuhnya dirasakan lumpuh dan seketika itu juga

dia jatuh duduk.

"Mau lari ?" tegur si kerudung merah, suaranya halus tapi

berwibawa.

"Ampun tayhiap, ampuni aku........." Tan Kongcu meratap

sambil tangannya menyoja-nyoja.

"Kau yang menjadi biang keladi dari ini semua. Cara

bagaimana yang kau hendaki untuk mengampuni kau, anak

jahat !" kata si kerudung merah, suaranya agak bengis.

Terkejut hatinya Tan Kongcu. Pikirnya, dari mana si kerudung

merah dapat tahu bahwa dirinya menjadi biang keladi dari

keonaran itu.

Ketakutan ditambah kaget, tentu saja hatinya si pemuda jahat

jadi terguncang keras dan setelah ia berkata, "Ampun, ampun

 

tayhiap......" lantas saja tubuhnya terkulai dan jatuh pingsan.

Tiga sudah rubuh karena totokan dan satu rubuh karena

ketakutan, membuat si kerudung merah tertawa gelak-gelak

sampai suaranya mendengung di angkasa hingga Kim Wan

Thauto yang berada di atas genteng terpengaruh juga. Untuk

tidak sampai diketahui oleh si kerudung merah yang lihai itu,

Kim Wan Thauto dengan diam-diam sudah meninggalkan

tempat sembunyinya, pulang ke hotelnya.

Pada keesokan harinya ia berkemas-kemas untuk

meninggalkan hotel. Ketika ia meraba ke bawah bantalnya

dimana ia sesapkan kotak kecil mungilnya, kaget ia sebab

kotak itu sudah tidak ada ditempatnya.

Ia ingat betul ketika ia pulang dengan ambil jalan jendela, ia

periksa pintu kamarnya masih tetap terkunci. Dari manakah

datangnya penjahat yang sudah mencuri barangnya ? Ia

periksa barang-barangnya yang lain, tidak ada yang

kehilangan kecuali kotak kecil itu. Pikirnya, tentu orang sudah

masuk dari jendela. Dari kenyataannya orang hanya

mengarah kotak itu, jadi kotak mungil itu tentu sangat

berharga. Tapi apa yang menjadi sebab kotak itu sangat

dimaui ? Ini hanya merupakan pertanyaan saja bagi Kim Wan

Thauto karena ia sendiri belum lihat isinya.

Ia anggap kotak itu tidak penting baginya, maka ia tidak

banyak ribut dalam hotel itu. Setelah ia membayar uang

sewaan kamar dan makannya, lalu ia ngeloyor meninggalkan

rumah makan An Goan untuk meneruskan kelananya.

Balik kepada si kerudung merah. Setelah merobohkan Sucoan

Sam-sat dan si Kongcu ceriwis, lalu ia menghampiri Bwee

 

Hiang yang sedang repot menolongi ayahnya. Tadi si gadis,

meskipun sedang repot menolongi ayahnya, dapat

menyaksikan juga bagaimana si kerudung merah menjatuhkan

lawannya satu demi satu. Dalam hatinya merasa amat kagum

atas kepandaian tersebut. Entah siapa dia itu, kenpa

memanggil dia 'anak Hiang', apakah dia mempunyai hubungan

keluarga dengan ayahnya ? Demikian dalam hatinya

menanya-nanya akan halnya si kerudung merah.

Ketika si kerudung merah jongkok mau periksa lukanya Liu

Wangwee, si nona sudah siap untuk memajukan pertanyaan

siapa adanya penolong itu, tapi tidak jadi karena penolong itu

lantas berkata, "Anak Hiang, mari kita bawa ayahmu masuk ke

dalam rumah. Ia perlu dengan pertolongan cepat."

Tanpa menanti jawaban, si kerudung merah sudah

memondong Liu Wangwee.

Sampai di dalam rumah, para pelayan yang menggigil

ketakutan, yang turut menyaksikan jalannya pertandingan

barusan sudah menyambut tubuhnya Liu Wangwee untuk

diletaki diatas pembaringan kecil dimana biasanya Liu

Wangwee suka pakai untuk tidur siang.

Hartawan Liu masih terus pingsan. Ketika diperiksa lukanya

oleh si kerudung merah, ternyata dua tulang iganya patah. Si

kerudung merah geleng-geleng kepala setelah melihat lukanya

Liu Wangwee.

Melihat itu Bwee Hiang menjadi ketakutan.

"Apa luka ayah tak dapat disembuhkan ?" ia menanya pada

tamu asing.

 

"Dapat, cuma makan tempo lama." sahut si kerudung merah.

"Asal sembuh kembali, tak perduli berapa lama, aku akan

merawatnya." kata Bwee Hiang dengan hati lega.

"Bagus, kau anak baik, anak Hiang." kata si kerudung merah

pula.

"Kau keliru berkata begitu." si nona bersenyum sedih.

"Kenapa ?" tanya si kerudung merah. Heran ia mendengar

kata-kata Bwee Hiang.

"Aku anak puthauw (tidak berbakti) sebab akulah yang

menjadi gara-gara hingga timbulnya kejadian seperti

sekarang." jawab Bwee Hiang seraya menundukkan kepala

dan dari kedua matanya yang bagus mengucur air mata.

"Mari kita tolong ayahmu." si kerudung merah berkata,

menyimpangkan kesedihannya si nona. Sementara itu, ia

minta air kepada salah satu pelayan untuk membersihkan

lukanya Liu Wangwee.

Bwee Hiang usulkan untuk memanggil sinshe, tapi tamu asing

itu menggoyangkan tangannya. "Tak usah, nanti aku obati

sendiri ayahmu." ia berkata.

Si nona percaya akan kepandaian orang tersebut. Ia hanya

membantu saja apa yang ia dapat atas pekerjaan si bintang

penolong untuk kesembuhan ayahnya.

Malam harinya, Liu Wangwee kedengaran merintih. Seluruh

 

tubuhnya terasa panas, sedang dibagian yang luka parah

amat sakit. Tapi setelah diberi obat lagi oleh si kerudung

merah, perlahan-lahan Liu Wangwee hilang rintihannya dan

kemudian baru dapat pulas. Dijaga oleh Bwee Hiang yang

tidak tidur baragn sekejap pun pada malam itu. Selama mana,

sering ia tumpahkan air mata. Ia sangat menyesal telah

menerbitkan bencana pada ayahnya.

Pemberesan pada kawanan penjahat dilakukan sangat singkat

oleh si kerudung merah. Setelha memberikan pertolongan

pertama pada Liu Wangwee, ia keluar lagi dari rumah dan

menghampiri korban-korban totokannya.

"Untuk membuat kalian jangan penasaran, nah, mari kita

bertempur lagi !" berbareng ia menyepak satu demi satu

tubuhnya Sucoan Sam-sat.

Giam-ong dan dua saudaranya segera juga bebas dari

totokan. Mereka lompat berdiri mengawasi si kerudung merah.

Hanya Tan Kongcu yang masih belum dibebaskan totokannya,

yang dalam pingsan telah ditotok oleh si kerudung merah.

Maksudnya supaya anak hartawan jahat itu tidak melarikan

diri, sementara ia memberikan pertolongan kepada Liw

Wangwee.

Tiga algojo dari Sucon merasakan badannya segar kembali.

Maka semangat berkelahinya juga lantas timbul dengan

serentak.

"Sahabat, kau buka kerudungmu kalau kau benar laki-laki !"

kata Giam-ong Puy Teng.

 

"Hahaha !" si kerudung merah tertawa. "Tidak ada yang

istimewa di wajahku, buat apa kalian hendak mengenalinya ?

Kalian terkenal sangat jahat, maka aku ingin memunahkan

tenaga dalam masing-masing. Untuk membikin kalian jangan

jadi penasaran, maka aku pun sudah membebaskan kalian

dari totokan !"

Mendengar itu, tiga jagoan dari Sucoan amat kaget. Belum

pernah mereka sekaget saat itu. Tapi hati mereka angkuh

karena percaya dengan tiga tenaga gabungan, mereka dapat

mengalahkan si kerudung merah yang sangat sombong.

Mo-jiauw Teng Cong yang pandai bicara dan banyak akalnya

berkata, "Kami tidak bermusuhan dengan kau, kenapa kau

hendak memusnahkan lwekang kami ?"

Terdengar si kerudung merah tertawa, lalu berkata, "Memang,

dengan aku pribadi kalian tidak bermusuhan tapi kalian sangat

jahat dan banyak membunuh sesama manusia, tak pandang

bulu, jahat atau baik. Kejahatan kalian sudah tak terkira, maka

aku akan mewakili mereka yang sudah mati penasaran untuk

menghukum kalian........."

"Kentut !" memotong Sin-mo Lie Kui yang menjadi panas atas

kata-kata si kerudung merah, sikapnya sudah hendak

menyerang.

"Jangan temberang, sahabat !" menyela Giam-ong Puy Teng.

"Maksudmu hendak memusnahkan lwekang kami bertiga

hanya merupakan impianmu saja. Ha ha ha.........." berbareng

ia menerjang hendak menjambret kerudung lawan.

Cuma sayang kepandaiannya di bawah si kerudung merah

 

sebab bukan saja kerudung orang luput menjambret, malah

jari-jari tangannya kena disentil hingga ia merasakan kesakitan

dan lantas lompat mundur lagi.

Mo-jiauw Teng Cong, diantara tiga jagoan jahat itu yang

percaya bahwa si kerudung merah akan buktikan katakatanya,

sebenarnya mencoba mendamaikan urusan

sehingga dapat dibereskan dengan menyenangkan. Tetapi

usahanya selalu dibikin gagal oleh sikap dan kata-kata kedua

saudaranya yang ingin selalu berkelahi sebagai keputusannya.

Dengan suara kalem terdengar si kerudung merah berkata

lagi, "Sebaiknya kalian bersiap-siap sebab temponya sudah

dekat untuk aku musnahkan lwekang kalian. Lekas siap !"

Dua orang berangasan, Giam-ong Puy Teng dan Sin-mo Lie

Kui, begit kata 'siap!' meluncur dari mulutnya si kerudung

merah, sudah lantas menerjang dengan jurus-jurusnya yang

paling ganas untuk mengirim lawannya ke dunia lain.

"Bukan kami tapi kau yang akan kami musnahkan lwekangnya

!" bentak Giam-ong Puy Teng dengan suara menggelepar,

saking marahnya dia.

"Belum komplit kalau belum turun tiga-tiganya." menyindir si

kerudung merah seraya mengelak sana sini menghindarkan

serangan dua orang yang sudah kemasukan setan. Mo-jiauw

Teng Cong yang berdiri dengan ragu-ragu, merasa tepat sekali

kena sindiran si kerudung merah, maka hatinya pun panas

seketika.

"Jangan jumawa, sahabat !" ia kemudain berkata sambil terjun

dalam arena pertempuran, mengeroyok si kerudung merah.

 

"Hahaha, ini baru komplit !" katanya. Berbareng dengan

perkataan 'komplit !' segera terdengar suara 'buk ! buk !'

beberapa kali, disusul oleh jeritan saling susul dan........ di lain

detik tampak Sucoan Sam-sat pada tergeletak sana sini.

Sementara si kerudung merah tampak berdiri ketawa-ketawa.

Ketiga jagoan jahat itu tidak melihat, entah bagaimana si

kerudung merah bergerak, tahu-tahu merasakan punggungnya

digebuk dua kali. Kontan rasa panas menyelusup ke ulu hati,

kaki berbareng lumpuh hingga seketika itu tak tahan untuk

mendeprok di tanah.

Tapi hanya sebentaran saja hawa panas yang merupakan

reaksi dari gebukan di punggung itu, sebab segera sudah pulih

lagi kesegarannya. Mereka menjadi kegirangan, tapi tatkala

mereka coba empos tenaga dalamnya, tiba-tiba 'plong....'

hilang lenyap.

Mereka mengerti bahwa tenaga dalam mereka sudah

dimusnahkan oleh si kerudung merah. Mereka pada bangun

berdiri sambil menundukkan kepala.

"Kalian sangat jahat. Kalau watak demikian kalian masih

belum mau buang, lain kali ketemu aku, terang aku tak bisa

ampuni lagi. Nah, sekarang enyahlah kalian !" si kerudung

merah mempersilahkan Sucoan Sam-sat meninggalkan

tempat itu.

Mereka ngeloyor pergi dengan tidak berani angkat kepala.

Sungguh menyedihkan, Sucoan Sam-sat yang biasanya

seenaknya membunuh orang seperti juga memotong rumput,

kini sekaligus mendapat malu di desa Kunhiang. Apakah

 

mereka dapat memulihkan pula lwekangnya kemudian belajar

lagi untuk menuntut balas kehinaan yang mereka telah alami

hari itu, entahlah dibelakang hari.

Yang terang, mereka malu untuk pulang ke rumahnya Tan

Wangwee lagi. Langsung mereka pulang ke sarangnya di

Sucoan.

Setelah mereka pergi, si kerudung merah menghampiri Tan

Kongcu dan membebaskan ia dari totokan. Ketika ia bangun

berdiri, lantas mendengar si kerudung merah berkata, "Kau

menjadi biang keladi keonaran, kau harus dihukum !"

Tan Kongcu menggigil ketakutan, takut ilmu silatnya akan

dimusnahkan.

"Tapi mengingat kau tidak sejahat Sucoan Sam-sat, maka aku

kasih kelonggaran. Nah, hunuslah pedangmu dan potong

sebuah kupingmu !" menitah si kerudung merah.

Tan Kongcu ragu-ragu sebab hilangnya kupingnya sebelah

berarti mengurangi parasnya yang cakap, pikirnya.

"Apa perlu aku yang harus turun tangan ?" si kerudung merah

menegur, waktu melihat si kongcu ceriwis ragu-ragu.

"Oh, tidak, tidak....." jawab Tan Kongcu gugup. Berbareng ia

pun menghunus pedangnya untuk memotong sebelah

kupingnya.

Pada saat itu, Bwee Hiang datang menghampiri mereka.

Sambil menunjuk pada si kongcu ceriwis, ia berkata, "Dialah

sebagai maling terbang yang dicari. Kenapa diberi hukuman

 

begitu murah ?" matanya si gadis mengawasi si kerudung

merah.

"Bagaimana kau tahu dia si maling terbang ?" tanya si

kerudung merah.

"Aku dapat tahu dari ilmu silatnya ketika bertempur dengan

aku." sahut Bwee Hiang.

Si kerudung merah tertawa terbahak-bahak sehingga Tan

Kongcu ketakutan setengah mati.

Dalam hatinya, diam-diam ia memaki Bwee Hiang,

"Perempuan sundel, kau bikin celaka aku. Tunggu nanti

pembalasanku !"

Setelah tertawa, si kerudung merah berkata pada Tan Kongcu,

"Kalau begitu, satu kupingmu itu harus menggelinding di tanah

!"

Tan Kongcu mengerti, ia toh tak dapat membangkang. Maka ia

kerjakan lagi pedangnya untuk menebas kutung kupingnya

sehingga ia tak berkuping lagi. Dengan hilangnya kedua

telinganya itu, kelihatannya ia sangat lucu.

Bwee Hiang hampir-hampir tidak dapat menahan ketawanya,

tapi ia tahan sebisanya supaya tidak melukai hatinya si kongcu

ceriwis............

Mari kita lihat Lo In dan Eng Lian yang sudah lama kita

tinggalkan.

Lo In amat berterima kasih pada Eng Lian yang sudah

 

menolong memulihkan tenaga dalamnya dengan memberikan

nyali ular kesayangannya.

Sebaliknya Eng Lian girang, ia sudah dapat menolong adik Innya

yang nakal.

Dua anak itu kelihatan cocok satu dengan lain. Tiap hari

mereka bermain-main disekitar rumahnya. Eng Lian melihat

pakaian Lo In sudah compang camping, merasa tidak tega.

Maka ia gunakan temponya untuk membuat pakaian Lo In dari

pakaian ayahnya yang ia kecilkan hingga pas untuk dipakai si

bocah.

Pada suatu hari ketika Lo In keluar dari kamar dengan pakaian

'baru', tampak gagah benar. Maka ia berkata pada Eng Lian,

"Enci Lian, buatanmu ini bagus betul. Coba lihat, gagah tidak

aku dalam pakaian baru ?"

Eng Lian memandang Lo In kemudian ketawa cekikikan

mendengar kata-kata si bocah. "Anak kecil," katanya. "Aksi

amat nih, pakai mau dipandang gagah segala."

"Anak besar yang bikin, mana tidak jadi gagah dipakainya ?"

sahut Lo In.

Eng Lian monyongkan mulutnya yang mungil. Segera juga

kedua bocah itu pada tertawa gembira, masing-masing

senang dengan kejenakaan mereka.

Oey Hoan Ciang atau ayahnya Eng Lian, ada memelihara

puluhan ular di pekarangan rumahnya. Masing-masing

dikurung dengan kerangkeng dari bambu. Bermacam-macam

ular yang dapat dilihat Lo In ketika Eng Lian ajak si bocah

 

melihat-lihat 'kebun binatangnya'.

Pada suatu hari setelah lakukan inspeksi, dua anak itu pada

duduk diserambi belakang rumah, dimana biasanya mereka

suka duduk omong-omong.

Tiba-tiba Lo In terdengar menghela napas.

"Hei, kau kenapa ?" tanya Eng Lian kontan.

Lo In tertawa mesem. "Aku menyayangkan ular-ular itu tinggal

dalam kurungan." kata Lo In. "Coba mereka di.........."

"Diapakan ?" memotong Eng Liang, seperti biasa, dia tukang

potong omongan.

"Dilepaskan aku maksudkan, enci Lian." sahutnya.

"Hihihi, anak tolo." si dara cilik ketawa. "Kalau dilepas

bukankah mereka tak bisa pulang lagi ? Kau ini ada-ada saja."

"Enci Lian," kata Lo In serius. "Coba kalau kita lepas, selain

kita tidak perlu memikirkan makanannya, juga bagi mereka

akan sangat berterima kasih karena telah mendapat

kebebasan."

"Adik In, bagaimana sih. Mana ada ular bisa berterima kasih

segala !" kata Eng Lian.

Setelah menarik napas lagi, Lo In berkata, "Enci Lian, kau lihat

kawanan keraku. Aku dapat menjinakkan mereka dengan

kehalusan, mereka sangat setia kepadaku, apa yang aku mau,

mereka lantas lakukan tanpa ragu-ragu."

 

Eng Lian diam, tapi otaknya bekerja.

"Habis, bagaimana kehendakmu ?" tanyanya.

"Ular hanya dapat mendesis, tapi tidak bisa omong." kata Lo

In. "Menurut Liok Sinshe, ular dapat diperintah dengan suatu

lagu dari tetabuhan. Misalnya kita menggunakan seruling

sebagai alat untuk memerintah ular sengan sesuka kita. Aku

lihat kamu menjinakkan ular hanya untuk dipelihara, tapi tidak

dapat dibuat teman. Ini sayang sekali sebab kalau kita dapat

membuat ular-ular sebagai kawan, sewaktu kita membutuhkan

tenaganya, dapat kita minta pertolongannya. Ini, kau jangan

pandang remeh, enci Lian."

Si dara cilik angguk-anggukkan kepalanya.

"Mulai sekarang, mari kita mencoba akan kata-katanya Liok

Sinshe. Kalau benar ular-ular itu dapat ditundukkan dan

diperintah dengan irama lagu, oh, sungguh suatu keuntungan

besar bagi kita berdua sebab disamping kita sudah punya

teman kawanan kera dan rajawali, juga kita dapat sahabat

kawanan ular." demikian Lo In tambahkan.

Eng Lian lantas saja bertepuk tangan. "Bagus, bagus."

katanya girang. "Mari, kita sekarang mulai. Tapi, eh, dari mana

kiat dapat alat tabuhannya ?"

"Itu mudah. Kita coba dengan seruling saja." sahut Lo In.

"Serulingnya dari mana ?" tanya si dara cilik.

"Mari kita cari serulingnya." kata si bocah seraya pegang

 

tangan Eng Lian, diajak berlalu dari situ.

Eng Lian mengikuti saja dituntun oleh Lo In. Tidak merasa

janggal dia. Karena ini ada kebiasaan Lo In kalau mengajak

encinya pergi main-main.

Segera juga mereka sudah sampai di satu rimba bambu,

dimana Lo In memperhatikan batang-batang pohon bambu

yang baik untuk dipakai membuat seruling yang merdu

suaranya. Sebentar kemudian, tampak ia mencabut pisau

yang diselipkan di pinggangnya dan ia mulai memotong satu

batang bambu yang dianggap akan memenuhi syarat untuk

digunakan sebagai seruling.

Mereka kemudian balik pula ke rumah, dimana dengan cepat

Lo In membuat seruling, sedang Eng Lian hanya menonton

saja si adik In bekerja.

Setelah selesai, Lo In coba-coba meniupnya. Ternyata

bikinannya tidak mengecewakan. Segera juga tiupannya Lo In

berirama keras perlahan dan tinggi rendah.

"Hihihi, adik In." Eng Lian ketawai Lo In. "Kau bisa meniup

seruling, tapi mana bisa kau memerintah ular ? Hihihi...."

Lo In tidak layani ejekan sang enci, ia terus meniupkan

beberapa lagu dekat kurungan-kurungan ular. Ia mencoba

pada satu ular yang sebesar lengan, panjangnya satu meter

lebih.

Beberapa lagu ia perdengarkan tapi ular itu tetap meringkuk,

tidak menghiraukan Lo In yang sedang meniup mati-matian.

 

Eng Lian melihat itu, terpingkal-pingkal ia ketawai si bocah.

"Aku juga sudah duga, mana dapat ular-ular diperintah dengan

lagu. Ada-ada saja, eh, eh....." tiba-tiba si dara hentikan

ejekannya ketika ia melihat dengan perlahan ular yang tidur

tadi mengangkat kepalanya. Banyak lagu yang ada dalam

otaknya Lo In, si bocah jadi kegirangan. Ia ganti berganti

meniup lagunya sampai ia membuat sang ular terus berdansa

dalam kurungannya. Hal mana membuat Eng Lian jadi berdiri

terpaku sambil leletkan lidahnya, saking keheranan.

Tiba-tiba Lo In hentikan tiupan serulingnya, lantas putar

tubuhnya menghadap Eng Lian yang berdiri terpaku di

belakangnya. "Bagaimana, enciku yang baik ?"

Si dara cilik tidak lantas menyahut, ia hanya unjukkan

jempolnya yang kecil mungil. "Adik In, luar biasa kau......." puji

Eng Lian setelah ia sadar dari keheranannya melihat hasil

yang gemilang dari percobaannya Lo In.

Sambil menghampiri si dara cilik, Lo In berkata, "Selanjutnya,

kita akan latih ular-ular yang ada disini sampai mereka bukan

saja jinak tapi menurut perintah kita. Kalau sudah begitu,

baharulah kita menjadi majikannya."

"Kau benar-benar hebat, adik In."memuji si dara cilik sambil

mencubit hangat pipi Lo In.

Berkat kecerdasan dan kemauan yang sungguh-sungguh, Lo

In berhasil dengan percobaannya menundukkan dan

memerintah kawanan ular. Ular-ular yang ada dalam kurungan

segera pada dilepaskan untuk mendapat kemerdekaannya.

Mereka dapat dipanggil balik bila Lo In meniup serulingnya,

 

malah bukan ular-ular yang tadinya dalam kurungan saja,

malahan ular-ular lain yang terdapat disekitarnya pada datang

dan menghadap kita punya jago cilik yang didampingi oleh

ratu ciliknya.

Bukan main girangnya Lo In dan Eng Lian melihat hasil usaha

mereka.

Lo In selainnya mendapat warisan ilmu silat dan surat, juga

mendapat warisan dalam ilmu pengobatan dari Liok Sinshe.

Tidak heran kalau ia sering mencari akar-akar pohon yang

merupakan obat dan menciptakan obat pulung (pil) yang

mustajab untuk menjaga kesehatan ia dan Eng Lian.

Disamping itu, Eng Lian juga giat belajar silat dari Lo In, juga

tidak ketinggalan belajar bahasa monyet hingga selanjutnya ia

dapat bergaul leluasa dengan tentara monyet Lo In. Si burung

garuda juga sudah jinak dengannya. Malah kalau tidak mereka

berduaan naik si rajawali, Eng Lian juga suka pesiar sedirian.

Ada pepatah yang membilang, 'Ada waktu berkumpul, tentu

ada waktu berpisah'. Pepatah ini memang tidak salahnya,

sebagaimana yang dialami oleh Lo In dan Eng Lian.

Itulah pada suatu sore, Lo In melihat burung rajawalinya

pulang dengan tidak membawa Eng Lian, sedang dua jam

yang lalu ia lihat menunggang burung raksasanya

sebagaimana biasa untuk pesiar di sekitar lembah itu.

Lo In terkejut. Segera ia menghampiri burungnya yang sedang

tundukkan kepalanya mendekam. Ia heran, lalu menanya,

"Tauw-heng, kau bersama-sama lagi enci Eng Lian. Kemana

dia pergi ?"

 

Burung itu diam saja, seolah-olah merasa bersalah.

Lo In jadi bingung. Bagaimana dia bisa tahu sedang si rajawali

tidak bisa bicara seperti manusia. Maka, ia cepat lompat ke

punggung si burung raksasa, ia tepuk pundaknya sambil

berkata, "Lekas, bawa aku ke tempat enciku !"

Si rajawali lantas bangkit dan pentang sayapnya, segera

terbang ke jurusan barat kemudian turun pada suatu tempat

yang lebat dengan pepohonan.

-- 11 --

Lo In lompat turun dari punggung si rajawali kemudian

melakukan pemeriksaan di sekitar tempat itu. Ia sampai pada

satu tempat yang banyak tumbuh pohon bunga, tentu ia

mendarat di sini. Cepat ia memeriksa, tampak olehnya ada

satu pohon kembang yang berbunga bagus sekali.

Ia menghampiri ke sana, tiba-tiba ia menjadi kaget tatkala

matanya melihat di tanah ada berceceran darah. Apakah enci

Lian dibunuh di sini ? Tanya ia dalam hati kecilnya. Ia jadi

bingung dan sangat kuatir akan keselamatannya enci Liannya.

Ia jongkok dan memeriksa lebih teliti, darah itu berceceran

sampai pada jalanan masuk ke dalam rimba pohon. Ia

mengikuti terus jejak darah yang dapat terlihat, sampai tibatiba

ia sadar kalau dirinya sudah dikurung oleh tiga orang yang

ia tidak kenal, belakangan menyusul lagi empat orang yang

keluar dari semak-semak.

Mereka itu rupanya jago-jago silat pilihan, semuanya pada

membawa senjata tajam di pinggangnya masing-masing. Tiba

 

tiba seorang, yang menjadi pemimpin rupanya, berkata,

"Hehehe, aku heran. Kenapa Pangcu kirim kita begini banyak

untuk membekuk satu anak hitam begini saja ?"

Lo In mengawasi pada orang yang barusan berkata. Ia lihat

orang itu kira-kira usia pertengahan, mukanya persegi tiga,

hidungnya mancung, mulutnya ada sedikit tongos.

"Kita mesti percaya pada kata-kata Pangcu. Jangan kita

sembarangan memandang enteng, Cin-heng (saudara Cin)."

terdengar yang lain berkata.

"Aku sih bukannya sombong. Kalau hanya menghadapi segala

bocah begini, sembari tiduran juga aku bisa menangkapnya.

Ha ha ha !" kata lagi si pemimpin.

Kecuali yang barusan kasih nasihat pada orang she Cin, yang

lain-lainnya memang pada memandang rendah pada Lo In.

Mengurung makin rapat, Lo In heran. Ia tidak kenal dengan

mereka tapi sikapnya seperti yang memusuhi dirinya.

"Para paman, kalian menghendaki apa dari aku ?" Lo In tanya,

sekenanya saja.

"Kami akan menangkapmu !" bentak salah satu diantaranya.

"Aku tidak bersalah, kenapa mesti ditangkap ?" tanya Lo In.

"Kau anaknya Kwee Cu Gie, bukan ?" balik tanya si pemimpin.

"Siapa itu Kwee Cu Gie, aku tidak kenal." sahut Lo In kontan.

 

"Bocah hitam, kau mau main-main sama engkongmu !" si

pemimpin berkata lagi.

Berbareng ia menjambret tangan Lo In yang sedang

memegang kembang. Tangan Lo In dapat dicekal, sambil

pelintir ia berkata, "Anak hitam, mengakulah. Jangan....... Kau

!" tiba-tiba ia berjengit sebab sekarang menjadi berbalik.

Bukan tangan Lo In yang diplintir tapi tangan si orang kasar

yang diplintir.

Kawan-kawan lainnya menjadi kaget, melihat pemimpinnya

hanya segebrakan saja sudah dapat dikuasai Lo In.

Lo In salurkan sedikit tenaga dalam ke tangannya, segera

tangan si pemimpin yang kena diplintir seperti kena strum

listrik. Ia teraduh-aduh tanpa dapat melepaskan pegangan Lo

In. Meskipun tangannya kecil, seakan-akan melengket.

"Kalian kenapa diam saja ? Lekas maju semua !" teriak si

pemimpin yang sudah jadi mandi peluh kena diplintir Lo In.

Seperti baru sadar dari tidurnya, mereka lantas serentak

menyerbu.

Dua belas tangan menghajar berbareng. Itu bukan main

hebatnya. Lo In bisa hancur lebur badannya. Tapi

kenyataannya lain, ketika serangan serentak sampai, dengan

kegesitannya laksana kilat, Lo In menghilang sambil

melepaskan si pemimpin yang dijadikan temberang.

Si pemimpin jadi berkuing-kuing seperti babi dipotong karena

dihujani pukulan kawan-kawannya sendiri.

 

Kaget mereka, bukan Lo In yang dihujani pukulan tapi

kawannya sendiri. Cepat mereka mancari bayangan Lo In.

Mereka lihat si anak kecil hitam berada tidak jauh dari mereka,

sedang tenang-tenang saja bermain setangkai bunga.

Mereka mulai jeri tapi tak dapat mereka abaikan perintah dari

kepala perkumpulannya. Maka itu mereka maju pula

berbareng untuk menangkap Lo In.

"Kita tidak bermusuhan, kenapa kalian mau tangkap aku ?"

tanya Lo In.

"Perintah dari atasan tak dapat diabaikan." sahut satu

diantaranya.

"Kalian dari mana sebenarnya ?" tanya si bocah pula, tenangtenang

saja.

"Kami dari Ceng Gee Pang." sahut tiga orang hampir

berbareng.

"Untuk apa banyak cakap, lekas tangkap dia !" bentak si

pemimpin.

Perintah mana, sudah lantas dikerjakan. Enam orang

mengurung Lo In. Tapi mereka sangat hati-hati, kuatir nanti

bocah lolos lagi.

"Sebetulnya aku ingin main-main dengan kalian, sayang

temponya tidak ada. Karena aku mau mencari enci Lian." kata

Lo In, tersenyum nakal.

"Anak hitam, sebaiknya kau menyerah supaya tidak membuat

 

kami jadi berabe dan tubuhmu kesakitan karena hujanan

kepalan kami !" berkata salah satu diantara orang yang

mengepung Lo In.

"Kalian tak dapat menangkap aku." menantang si bocah.

"Jangan sombong, anak kecil !" terdengar jawaban.

Sementara itu pengurungan makin diperketat, kira-kira

jaraknya satu meter lebih.

"Kalau kalian tidak percaya, nah, lihatlah !" kata si bocah.

Lo In berkata begitu, jarak mengepung makin rapat. Setelah itu

berbareng mereka menubruk dan menyangka si bocah akan

tertangkap.

Tapi sebelum maksud mereka kesampaian, tapak Lo In

meremas-remas kembang ditangannya lalu sambil memutar

tubuhnya ia meniup kembang ditangannya hingga

berserabutan terbang mengarah ke hiat-to (jalan darah) di

jidat, leher, pundak dan lain-lainnya. Kontan enam orang yang

mengepung pada lemas kakinya karena kena ditotok oleh

lembaran-lembaran kembang tadi.

Sementara itu Lo in sudah tidak ada bayangannya lagi

dihadapan mereka.

Karena totokan dengan kembang itu hanya totokan main-main

saja dari Lo In, maka hanya beberapa menit saja mereka

lumpuh. Selanjutnya mereka sudah dapat bangun pula dan

segar kembali sebagaimana biasa.

 

Melihat kawan-kawannya dirobohkan dengan hanya tiupan

kembang yang diremas, membuat Cin Lian Hin si pemimpin

menjadi melongo terpaku ditempatnya. Ia geleng-geleng

kepala. Pikirnya, apa bisa jadi ada seseorang bocah yang

mempunyai tenaga dalam begitu hebat, susah diukur ?

"Hahaha, Cin-heng." tiba-tiba diantara mereka ada yang

ketawa terpingkal-pingkal.

"Hei, Kek Kim. Kau tertawakan apa ?" tanya Cin Lian Hin.

"Aku tertawakan kau, Cin heng. Kau bilang, kau mau ganda

dia sembari tiduran, nah sekarang apa buktinya ? Malah kita

bertujuh diganda olehnya seperti memeram mata saja. Aaha !"

kembali Kek Kim tertawa seenaknya.

Cin Lian Hin merah seluruh mukanya, saking jengahnya.

Untuk tidak sampai jadi berkelahi dianara kawan sendiri,

beberapa orang menyela untuk simpangkan pembicaraan itu

hingga dua orang itu tidak sampai adu kepalan.

Mereka tidak ungkulan mencari Lo In, maka pulanglah mereka

untuk memberi laporan kepada Pancu (ketua perserikatan)

mereka.

Sampai cuaca menjadi gelap, Lo In masih juga belum dapat

menemukan Eng Lian.

Hatinya sangat kuatir akan keselamatan si dara cilik, melihat

darah berceceran. Ia menyesal tadi tak menanyakan tentang

enci Lian kepada salah satu orang yang mengeroyok mereka,

lantas terburu-buru untuk mencarinya.

 

Lo In pulang dengan lesu, badannya sangat lemas ketika ia

turun dari punggungnya si garuda. Keadaan mana dilihat oleh

si burung raksasa dengan mengembang air matanya, rupanya

ia turut berduka atas kehilangan Eng Lian.

Esok paginya, Lo In kumpulkan tentara keranya, diperintah

untuk mencari Eng Lian sementara ia sendiri dengan naik si

rajawali mencari disekitar lembah, tapi jejak Eng Lian tak

dapat dijumpai oleh si bocah.

Diam-diam ia menangis kehilangan enci Liannya.

Ketika dua tiga hari dicari disekitar lembah enci Eng Lian tidak

diketemukan, pada hari yang keempat, Lo In mencari sampai

cuaca remang-remang gelap.

Ketika ia mau pulang, tiba-tiba dalam pikirannya berkelebat

pikiran apakah boleh jadi Eng Lian sudah dibawa naik ke atas

? Mungkin si dara cilik ada di atas Tong-hong-gay. Pikirnya,

apa salahnya ia coba-coba naik ke atas sekalian melongok

rumahnya dahulu, bagaimana keadaannya sekarang ini.

Ia tepuk-tepuk burung raksasanya untuk terbang tinggi, ke

atas puncak jurang.

Si rajawali merasa heran. Tidak sari-sarinya sang tuan kecil

menyuruh dia terbang sampai ke atas puncak. Tapi ia terbang

sampai ke atas puncak, tapi ia terbang dengan semangat

karena ia tahu Lo In hendak mencari Eng Lian.

Sampai di atas cuaca sudah gelap, cuma diterangi oleh bulan

sisir yang tenggelam timbul diantara awan yang menutupinya.

 

Melihat itu, Lo In jadi terkenang akan kejadian hampir dua

tahun berselang ketika ia berdiam dengan Liok Sinshe di

puncak jurang itu. Ia turun dari 'kapal terbangnya', menyuruh si

rajawali menantikan disitu saja, jangan ikut ia yang hendak

mencari bekas rumahnya.

Sampai di tempat yang dituju, Lo In merasa heran sebab

rumahnya lain dari dahulu. Kalau tadinya sudah tua, sekarang

bagus mentereng, malahan dijaga oleh beberapa pengawal

yang bersenjata tajam.

Siapakah yang menjadi penghuni baru dari bekas rumahnya

itu ?

Lampu-lampu di sana sini tampak sudah dipasang hingga

cukup terang di sekitar rumah itu. Ingin Lo In menghampiri

rumah itu tapi kuatir orang nanti salah anggapan dan

menghinanya. Jalan paling baik, pikirnya, ia mengintip dengan

diam-diam saja ke dalam rumah itu. Siapa tahu ia dapat kabar

halnya enci Eng Lian yang hilang.

Dengan ginkangnya (ilmu entengi tubuh) yang sudah diukur,

dapat sekejap saja Lo In sudah berada di atas genteng rumah

tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal.

Dari sini Lo In tidak dapat melihat ke ruangan dalam karena

gentengnya dilapis dari sebelah bawah. Rupanya disengaja

dibuat begitu kekar supaya tidak ada orang yang mencuri

dengar apa yang dibicarakan dalam ruangan.

Terpaksa Lo In turun lagi ke bawah.

Dua orang jaga hanya nampak berkesiurnya angin tapi tak

 

melihat adanya bayangan orang, tidak tahu Lo In datang

mendekati mereka.

Dua orang penjaga itu, tengah duduk membelakangi pohon,

yang satu pendek, satu lagi kurus.

"Menurut Cin Lian Hin, calon Tongcu dari cabang Ceng Gie

Pang disini dengan membawa enam pilihannya sudah

menemukan bocah yang diinginkan oleh Pangcu." demikian Lo

In mendengar si pendek berkata pada temannya.

"Habis, apa yang sudah ditangkap ?" tanya si kurus.

"Katanya mukanya hitam legam, cuma kuping dan lehernya

saja putih."

"Heran, masa calon Tocu (pemimpin) bisa dipermainkan,

apalagi dibantu oleh enam orang pilihan yang memperkuat

perserikatan kita."

Demikian Lo In mendengar pembicaraan dua pengawal itu.

Selagi ia sangsi, kenapa ia mau ditangkap, lantas mendengar

pula si kurus menanya pada kawannya, "Hei, Lao Can, kenapa

sih anak kecil itu mau ditangkap ?'

"Mana aku tahu." sahut si pendek. "Cuma aku dengar, dia itu

anaknya Kwee Cu Gie. Siapa Kwee Cu Gie dan kenapa

anaknya mau ditangkap, aku tidak tahu."

"Itu Cin Lian Hin dan kawan-kawannya hanya gentong nasi

saja. Masa anak kecil saja tidak bisa menangkap. Coba kalau

aku yang disuruh, aku bekuk saja batang lehernya sampai dia

 

terampun-ampun. Hahaha !" membual si kurus, seraya bangkit

mau meninggalkan kawannya yang masih duduk. Tiba-tiba ia

rasakan batang lehernya seperti ada yang menepuk. Sakit

rasanya sampai ia meringis-ringis.

Sambil berbalik, ia tegur temannya, "Hei, Lao Can. Kau jangan

main-main, sakit tuh. Main tepuk belakang batang lehar orang,

tidak ada kira-kiranya !"

"Siapa yang menepuk batang lehermu ?" tanya si pendek

sambil bangkit dan mau ngeloyor meninggalkan si kurus.

Mendadak ia rasakan telinganya seperti disentil, sakit bukan

main. Ia lantas berbalik dan marah-marah menegur si kurus.

"Kenapa kau menyentil telingaku ?"

"Siapa yang menyentil telingamu ?" si kurus melotot.

Dua-dua kelihatan mendongkol. Tapi mengingat akan

kewajiban meronda sudah waktunya, mereka ngeloyor jalan.

Belum dua tindak mereka berlalu, tiba-tiba keduany berseru,

"au !" Si kurus pegangi belakang lehernya, sedang si pendek

pegangi telinganya. Panas rasanya pada bagian yang

dipegangnya itu. Berbareng mereka putar tubuh dan

berhadapan. Masing-masing matanya saling mendelik.

"Betul-betul kau bikin penasaran orang, pendek !" kata si

kurus, katanya marah.

"Kau juga bikin penasaran orang," sahut si pendek.

"Kau tepuk pundakku lagi !"

 

"Kau sentil kupingku lagi !"

Mereka bertengkar dan akhirnya berkelahi. Masing-masing

tidak mau mengaku salah. Memang mereka tidak bersalah

sebab yang menyebabkan itu adalah Lo In. Dengan gunakan

kegesitannya, saban-saban menyelingkar di balik pohon, Lo In

godai dua pengawal itu. Ia menepuk belakang lehernya si

kurus, kemudian menyentil kuping si pendek, akhirnya mereka

adu kepalan.

Jail benar si bocah. setelah orang berkelahi, ia nonton dengan

bertepuk tangan. Tanpa disadari bahwa hal itu akan

menimbulkan kecurigaan. Dan ini pun telah terjadi, si kurus

dan si pendek yang tengah berkelahi saling jotos, lantas saja

hentikan perkelahiannya, mengawasi Lo In yang sedang

bertepuk tangan.

"Hei, dari mana datangnya ini bocah bermuka hitam ?" pikir

mereka.

Lantas mereka ingat akan penuturannya Cin Lian Hin. Inilah

rupanya si anak kecil yang dikatakan lihai. Mereka tidak

melihat adanya kelebihan dari si bocah sehingga ia sangat

ditakuti, girang hatinya, masing-masing ingin menangkap Lo

In. Kalau mereka dapat tangkap si bocah, berarti satu jasa

besar dan tidak mustahil bila mereka dinaiki pangkatnya.

Terdorong oleh rasa serakah, dua pengawal itu lantas main

mata satu sama lain untuk kerja sama menangkap Lo In.

"Anak kecil, kau siapa ?" tanya si kurus.

"Aku adalah aku, buat apa kau tanya." sahut Lo In jenaka.

 

"Anak sambel, apa kau tidak tahu masuk ke sini dilarang ?"

bentak si pendek.

Siapa yang berani melarang aku datang untuk main-main

disini ?" Lo In balik menanya.

Kembali dua pengawal itu main mata, segera tangan kiri Lo In

sudah kena disambar si pendek sedang si kurus berbareng

menyekal tangan kanannya. Mereka kegirangan dapat

menangkap Lo In. "Anak kecil, mari ikut kami menghadap Hupancu."

berkata si kurus sambil tarik tangan Lo In.

Dengan bangga mereka sudah giring Lo In. Kawan-kawannya

pada merasa heran melihat si kurus dan si pendek menggusur

satu bocah bermuka hitam. Anak siapa itu, berani mati datang

ke situ yang terjaga keras.

Tidak mudah untuk menghadap Hu-pangcu (wakil ketua)

sebab harus melalui beberapa ruangan yang dijaga kuat. Lo In

menjadi benar-benar pangling (tidak mengenali) bekas

rumahnya, diperbesar dan menjadi mewah itu. Ia jinak sekali

dituntun si pendek dan kurus untuk dihadapkan kepada Hupangcu.

Sampai di ruangan tempatnya Hu-pangcu, Lo In lihat ruangan

itu diperaboti indah sekali. Entah berapa banyak Ceng Gee

Pang (Golongan Gigi Hijau) mengeluarkan duit untuk

memperindah ruangan itu.

Lo In lihat kira-kira ada 20 orang tengah mengadakan rapat

menghadapi meja panjang. Ditengah-tengahnya ada seorang

dengan muka lonjong dan kumis pendek, usianya kira-kira di

 

bawah lima puluh tahun. Tubuhnya agak kegemuk-gemukan,

pakaiannya dari sutra yang mahal harganya.

Lo In menduga orang itu tentu Hu-pangcu dari Ceng Gee

Pang.

Diantara yang hadir dalam rapat itu terdapat calon Tocu Cin

Lian Hin bersama kawannya yang menangkap Lo In. Ketika

melihat si bocah bermuka hitam dibawa masuk, mereka amat

terkejut. Ada juga yang kucak-kucak matanya, tidak percaya

bahwa Lo In begitu mudah dapat ditangkap oleh dua tukang

rondanya.

"Apakah dia anaknya yang mempermainkan kalian ?" tanya

Hu-pangcu kepada Cin Lian Hin dan kawan-kawannya.

"Belum pasti." sahut Cin Lian Hin. "Tak semudah itu dia dapat

ditangkap."

Hu-pangcu tersenyum tidak enak sebab dalam senyuman itu

seolah-olah mengandung sindiran kepada Cin Lian Hin

dengan kawan-kawannya tidak becus menangkap seorang

bocah saja.

Kalau Hu-pangcu itu dapat anggapan remeh pada Lo In,

tidaklah heran sebab si bocah menurut saja dibentak-benatk

dan dijoroki oleh si pendek dan si kurus yang membawanya

menghadap si wakil ketua.

Si pendek dan si kurus setelah melaporkan bagaimana

mereka dapat menangkap si anak kecil, lalu majukan Lo In

untuk diperiksa.

 

"Anak kecil, apakah maksud kau untuk masuk kemari ?" tanya

Hu-pangcu, suaranya tidak bengis.

"Aku mau mencari enci Lian." sahut Lo In.

"Siapa itu enci Lian ?' tanya Hu-pangcu.

"Dia adalah enciku, teman karibku." Lo In menerangkan.

"Apa kau yang permainkan dia dengan kawan-kawannya ?"

Hu-pangcu tanya lagi, seraya jarinya menunjuk pada Cin Lian

Hin.

Lo In mengawasi si orang she Cin sebentar, "Kau tanya saja

pada dia." sahutnya.

Si wakil ketua melengak. Pikirnya bocah ini sikapnya acuh tak

acuh, menjawab pertanyaan seenaknya saja, hatinya menjadi

tidak senang.

Matanya tiba-tiba bersinar mengawasi si pendek dan si kurus.

Mereka ketakutan dan gelapan. Mereka tahu kesalahannya,

barusan lupa menyuruh Lo In berlutut untuk menghadap wakil

ketua. Cepat mereka dekati Lo In. Masing-masing pada

pegang lengan Lo In dijoroki supaya berlutut.

Hampir berbareng mereka membentak, "Berlutut !"

Waktu itu para hadirin termasuk Hu-pangcu terkejut dan

katanya terbelalak.

Mengapa mereka ? Mereka melihat ada yang berlutut tapi

 

bukannya Lo In malahan dua pengawal yang menjoroki Lo In

sambil berseru 'berlutut !' yang berlutut.

Itulah Lo In yang mendemonstrasikan kelincahannya.

Waktu si bocah dipegang lengannya dan dibentak disuruh

berlutut, ia geraki sedikit badannya, lolos dari pegangan si

pendek dan si kurus lalu berjongkok. Kedua tangannya

dipentang untuk menotok hiat-to di dengkul yang membuat

pengawal itu terkulai dan berlutut, sedang Lo In sudah lantas

berdiri.

Gerakan Lo In sangat cepat laksana kilat. Hanya beberapa

detik saja terjadi sehingga banyak diantara hadirin yang tidak

tahu bagaimana Lo In bergerak.

Hanya Hu-pangcu yagn melihat tegas, bagaimana dua

pengawalnya dirubuhkan dengan satu gerakan kilat dari si

bocah.

Waktu Lo In dapat ditangkap oleh si pendek dan si kurus itu

hanya atas kemauan Lo In. Pikirnya, dengan membiarkan

dirinya ditangkap dan dibawa menghadap pemimpin, ia bisa

dapat tahu keadaan di dalam dan siapa yang kepalai

Golongan Gigi Hijau yang hendak menangkap dirinya.

SI bocah gesit luar biasa, tetapi belum tentu lwekangnya luar

biasa. Kalau nampak usianya yang masih begitu muda, belum

masuk hitungan jago muda.

Pikiran itu muncul diantara para hadirin, diantaranya ada satu

yang mukanya kekuning-kuningan yang bernama Gouw Li Lit

bangkit dari duduknya, datang menghampiri Lo In sambil

 

ketawa-ketawa, "Anak kecil, kau hebat !" katanya sambil

menepuk pundaknya si bocah dengan tenaga lima bagian.

Pikirnya, sekali tepuk si bocah akan terkulai sedikitnya, kalau

tidak sampai tergetar jantungnya pasti copot. Tidak disangka,

kalau tepukannya itu membawa akibat yang memalukan.

Ialah, telapak tangannya yang menepuk, ia rasakan seperti

menepuk kapas atas pundaknya Lo In, malah tangannya tak

dapat diangkat dari pundaknya Lo In seakan-akan menempel

saja. Kaget bukan main Gouw Li Lit, apalagi ketika Lo In

menyalurkan lwekangnya ke pundak orang she Gouw itu

hampir menjerit kesakitan dan rasa linu sekujur badannya

seketika. Waktu Lo In goyang sedikit pundaknya, tangan Gouw

Li Lit terlepas dan terdorong sempoyongan, hampir jatuh

duduk kalau ia tidak gunakan 'cian kin tui' atau ilmu

memberatkan bada seribu kati untuk menahan tubuhnya.

Gouw Li Lit pucat mukanya, merasa sangat penasaran

dirubuhkan hanya segebrakan saja oleh bocah yang barusan

lepas netek. Ia ada satu ahli Gwakang (tenaga luar) yang oleh

kawan dan lawan disegani. Dimana ia taruh muka bila hanya

begitu saja dapat keok sama anak kecil. Tidak heran kalau ia

jadi sangat gusar. Matanya mendelik pada Lo In dan berkata,

"Anak kecil, mari kita adu kepandaian !"

"Aku tidak ada tempo, aku hendak mencari enci Lian." sahut

Lo In.

Penerangan dalam ruangan itu cukup, dipasang beberapa lilin,

diantaranya ada empat lilin yang besar ditancap dibelakang

meja rapat.

Gouw Li Lit mendekati Lo In, "Aku tidak rela dengan gebraka

 

tadi. Maka marilah kita adu kepandaian." menantang Gouw Li

Lit sambil pasang kuda-kuda.

Melihat lagaknya orang she Gouw, Lo In jadi ketawa. "Aku

tidak mau berkelahi, kenapa kau memaksa ?" katanya seraya

masih ketawa.

Lo In ketawa sebenarnya wajar karena merasa lucu melihat

tingkahnya si orang she Gouw. Tapi ketawanya si bocah justru

dianggap satu hinaan oleh Gouw Li Lit. "Aku ketawa apa,

bocah !" bentaknya lalu disusul dengan serangan hebat

menggunakan tenaga penuh. Angin pukulannya sampai

menderu, segera terdengar suara 'brak !'. Itulah meja yang

berantakan terkena angin pukulannya.

Lo In tatkala itu berdiri tidak jauh dari meja yang hancur tadi.

Kalau serangan Gouw Li Lit itu mengenakan sasarannya, pasti

si anak kecil remuk tulang-tulangnya. Baikna saja ia sudah

menghilang dan sodorkan meja sebagai wakilnya.

Para hadirin jadi tegang. Mereka tahu si orang she Gouw

kalau sudah kalap, untuk mencuci kehormatannya, jalan satusatunya

adalah menghancurkan tubuh Lo In.

Hanya sayang, si anak kecil terlalu gesit untuk lantas

menghilang dari hadapan Gouw Li Lit yang saban kali

menyerang dengan tenaga maksimum.

"Bocah hitam !" teriak Gouw Li Lit kalap. "Kau jangan

menghilang kayak setan. Kalau berani sambuti seranganku !"

Kelihatannya ia kewalahan dilawan dengan kegesitan Lo In.

Maka ia berteriak kalap tadi. Ia berteriak sambil membarengi

 

dengan serangan dahsyat.

"Aku tidak mau berkelahi, kau paksa juga. Nah, baiklah aku

sambuti !" Lo In sambuti seenaknya saja, tanpa pasang kudakuda

segala.

Gouw Li Lit girang teriakannya tidak sia-sia. Seketika ia

menyerang dengan jurus yang mematikan, sepasang

kepalannya yang segede kepala bayi, menyambar ke arah

dada Lo In. Ini adalah tipu 'sian coa touw sin' atau 'Sepasang

ular muntahkan bisanya'. Satu jurus yang ganas, mengerikan,

apalagi itu ditujukan kepada Lo In anak kecil. Tidak heran

kalau para hadirin menjadi amat kaget dan kuatir akan

keselamatan si bocah.

Tapi Lo In tenang-tenang saja, malah ia masih bisa ketawa

ketika pukulan sampai. Ia tidak berkelit menghilang,

sebaliknya ia papaki sepasang kepalan lawan dengan satu

sampokan tangan kiri, keras lawan keras. Lucu kelihatannya

sebab dua lengan yang segede anak ditangkis oleh satu

tangan yang kecil halus. Menurut teori, akan patahlah tangan

yang kecil itu. Tapi prakteknya, setelah bentrokan keras, Gouw

Li Lit tarik pulang sepasang lengannya dengan susah payah

seperti yang terlepas dari sambungan pundaknya, wajahnya

meringis-ringis kesakitan, jantungnya tergetar seperti mau

copot saja rasanya. Sementara si bocah hanya berdiri

senyum-senyum saja melihat sang lawan lompat mundur

dengan muka pucat dan meringis-ringis.

Lo In telah gunakan gerakan 'Tan cian cui tah' atau 'Dengan

satu tangan mendorong pagoda', satu tangkisan keras yang

mengandung tenaga dalam yang dahsyat untuk memunahkan

serangan Gouw Li Lit yang ganas.

 

Para hadirin hampir tak percaya dengan mata kepalanya

sendiri menyaksikan adegan yang langka dalam dunia

persilatan (Bu lim) seperti yang diperlihatkan oleh si anak kecil

berwajah hitam.

"Hek-bin Sin-tong........" menggumam Hu-pangcu dari Ceng

Gee Pang saking kagum ia melihat kepandaian Lo In.

Meskipun perlahan Hu-pangcu itu menggumam tetapi

terdengar nyata di telinga para hadirin yang mempunyai

lwekan tinggi. Mereka pada menoleh pada Hu-pangcu, seraya

dalam hatinya masing-masing pada berkata, "Pantas anak

hitam ini mendapat julukan 'Hek-bin Sin-tong' dari mulutnya

Hu-pangcu Ceng Gee Pang. Belakangan hari telah membuat

namanya Lo In populer dengan julukan itu dalam dunia

Kangouw.

Diantara para jagoan yang hadir dalam rapat itu adalah Gouw

Li Lit yang paling menonjol kepandaiannya. Sekarang si orang

she Gouw sudah dikalahkan dengan begitu mudah, siapa lagi

yang berani maju ?

Hu-pangcu, meskipun jeri hatinya merasa tidak puas kalau

tempatnya diacak-acak oleh anak kecil. Maka seketika itu

lantas memberi tanda pada para hadirin untuk mengepung Lo

In.

Mereka bangun dengan serentak dari masing-masing tempat

duduknya, memburu Lo In.

Si bocah kaget juga. Sebelum ia buka mulut menanyakan

sebabnya mereka datang mengeroyok, ia dibikin repot oleh

 

hujan kepalan dan tangan dibeber menabas bagaikan golok

tajam. Terpaksa Lo In keluarkan ilmu entengi tubuh ajaran

Liok Sinshe yang dinamai 'Bu eng bu seng sin hoat' atau 'Ilmu

sakti tidak bayangan tiada suara', yang ia yakinkan dengan

mahir betul.

Dengan kepandaian meringankan tubuh yang sakti itu,

membuat jagoan-jagoan yang mengeroyok saban-saban

tubruk angin. Sungguh lucu kalau menyaksikan adegan itu.

Kawanan jagoan seakan-akan merupakan kawanan serigala

yang kelaparan berebut menangkap mangsanya, tapi sang

korban saban-saban menghilang dari hadapannya. Bukannya

jarang, satu sama lain saling beradu tangan, beradu tubuh dan

berbenturan kepala disebabkan berbarengan mereka

menubruk mangsanya. Tapi sang mangsa telah hilang lenyap

seperti masuk dalam rumah atau naik ke langit saja.

Dalam sengitnya mereka mengepung Lo In, sampai tak

menyadari bahwa saat itu ada seorang tamu sudah lama

menonton mereka sedang uber-uberan.

"Hahaha ! Ang Ban Ie, kau menjadi anak kecil lagi ? ha ha

ha......... !" Inilah suara si tamu, keras berwibawa sehingga

semua orang hentikan uber-uberannya.

Mereka tidak tahu kemana si bocah menghilangnya, tapi

mereka lebih perlukan menghadapi tamu yang baru datang itu.

Rupanya mereka kenal baik pada tamu yang datang itu sebab

semuanya kelihatan pada menunjuk muka tegang.

Tamu itu ada seorang tua dengan muka bersih, pakaiannya

pun perlente, dari mana menunjukkan bahwa si tamu itu bukan

orang dari tingkatan rendah.

 

Tamu itu memang tiada lain adalah Pangcu dari Ceng Gee

Pang.

Melihat ketuanya yang datang, segera Ang Ban Ie, si wakil

ketua lekas menghampiri memberi hormat. Ia berkata, "Toako,

mengapa malam-malam kau datang kemari ? Tentu ada

urusan penting yang hendak dibicarakan dengan aku."

Pangcu dari Ceng Gee Pang itu ada saudara cintong dari Ang

Ban Ie, namanay Ang Ban Teng. Ia lihai menggunakan senjata

rahasia bentuk panah yang direndam dalam obat, bukannya

racun tapi istimewa kerjanya. Panah itu asal menancap pada

tubuh korbannya, kalau menemui darah lantas menjadi lumer

dan sang korban akan menggigil kedinginan. Kaki tangan tak

dapat digerakkan seperti membeku untuk sepuluh menit

lamanya. Entahlah, Ang Bang Teng menggunakan bahan obat

apa untuk senjata panahnya yang istimewa itu, tapi yang

terang namanya terkenal dengan Soa-cian Ang atau Ang si

Panah Salju.

"Terang kalau tidak ada urusan penting, tak aku datang

malam-malam kesini." jawab Ang Ban Teng, si Panah Salju

sembari jalan menghampiri meja rapat dan lantas duduk di

meja kepala, di dampingi oleh Ang Ban Ie, si wakil ketua.

Orang-orang pada berkumpul lagi mengitari meja rapat

dengan dalam hatinya masing-masing pada menanya urusan

penting apa yang dibawa Pangcu itu.

"Hiante," kata Soat-cian Ang. "Kenapa kalian mengeroyok

anak kecil tadi ? Apakah tidak malu nanti diketahui oleh rekanrekan

dalam kalangan Kangouw ?"

 

Ang Ban Ie ketawa, tapi ketawanya tentu saja tidak wajar. Ia

merasa malu dengan teguran saudara tuanya. Meskipun

begitu, ia harus membela diri agar jangan terlalu

dipersalahkan. Ia berkata, "Soalnya bocah itu anaknya Kwee

Cu Gie. Bukankah Siong Leng Totiang ada minta bantuan kita,

diwaktu kita hendak menempati tempat ini supaya kita

membantunya untuk menangkap anaknya Kwee Cu Gie ?'

Soat-cian Ang kerukan keningnya. "Dari mana kau tahu bocah

itu anaknya Kwee Cu Gie ?"

Pada sepuluh hari yagn lalu kita ada kedatangan Ang Hoa

Lobo dengan Toan-bi Lomo Siauw Cu Leng." jawab Ang Ban

Ie.

"Hah ! Dua iblis itu datang kemari?" tanya Soat-cian Ang,

terkejut dia.

"Betul," sahut Hu-pangcu Ang Ban Ie. "Si nenek mengatakan

bahwa dibawah jurang ada satu lembah dimana ada tinggal

seorang anak kecil yang mempunyai tentara kera dan burung

raksasa. Aku jadi ingat akan pesan Siong Leng Totiang

supaya kita membantunya. Maka aku lalu menanya pada si

nenek, apakah anak itu bukannya anak Kwee Cu Gie. Ang

Hoa Lobo manggut. Ang Hoa Lobo kata anak itu lihai, harus

dipancing meninggalkan tentara kera dan burung raksasanya,

baru ada harapan ditangkap degnan menggunakan banyak

orang kuat kita. Kalau diserangnya, ia kata jangan banyak

harap dapat menangkap si bocah karena tentara kera dan

burung rajawalinya, ada pelindung yang sangat kuat......."

"Lalu kau kirim orang untuk memancing dia, bukan ?"

 

memotong Soat-cian Ang.

"Betul," melanjutkan Ang Ban Ie. "Aku sudah kirim tujuh orang

kuat kesana dikepalai oleh Cin Lian Hian. Inilah Tocu kita

untuk cabang disini." Ang Ben Ie menunjuk Cin Lian Hin

memperkenalkan kepada Pangcunya.

Soat-cin Ang manggut-manggut. "Teruskan, hayo teruskan

ceritamu." katanya.

"Cin hiante dan kawan-kawan tak usah memancing lagi si

anak kecil meninggalkan sarangnya." melanjutkan Ang Ban Ie.

Karena dalam perjalanan ke sana dia sudah bertemu dengan

anak yang dimaksud, yang mencari kawannya yang bernama

Eng Lian. Rupanya Cin hiante terlalu memandang enteng

pada si anak kecil, karena bukan saja anak yang diarah tak

dapt ditangkap, malah Cin hiante dengan enam kawannya

kena dirobohkan dengan memalukan sekali."

Selanjutnya Ang Ban Ie menuturkan bagaimana Cin Lian Hin

dan kawan-kawan dipecundangi oleh Lo In dan tentang

kedatangannya si bocah malam itu ke markas mereka malammalam

untuk mencari temannya hingga menjadi adu

kepandaian dengan Gouw Li Lit disusul dengan pengeroyokan

ramai-ramai oleh mereka.

Soat-jian Ang angguk-anggukkan kepalanya, sembari urut-urut

kumisnya.

Diam-diam ia merasa kaget mendengar penuturannya Ang

Ban Ie.

"Anaknya sudah begitu hebat, bagaimana dengan bapaknya

 

?" terdengar si Pangcu bergumam. Kiranya gumaman Ang

Ban Teng dapat didengar tegas oleh para hadirin yang

kepandaian lwekangnya tidak rendah.

"Pangcu maksudkan siapa bapaknya ?" tanya Gouw Li Lit tibatiba.

"Aku tidak tahu apa bapaknya si anak kecil itu masih hidup

atau sudah mati. Sebab menurut Siong Leng Totiang, Kwee

Cu Gie yang menyaru jadi Liok Sinshe ada dua tahun yang

lampau sudah mati masuk jurang dibokong oleh Kim Popo."

menerangkan Soat-cian Ang.

"Lalu bagaimana pikiran Toako ?" tanya Ang Ban Ie.

"Kemarin dulu, aku ada kedatangan sobatku. dia itu ada Liu In

Ciang, yang kini terkenal dengan nama Liu Wangwee di desa

Kunhiang." menutur Soat-jian Ang. "Dalam omong-omong dia

menceritakan pengalamannya pada satu setengah tahun yang

lalu dia didatangi Sucoan Sam-sat........"

"Apa Pangcu bilang ? Sucoan Sam-sat ?" memotong Gouw Li

Lit. Ia kaget rupanya.

"Benar." sahut Soat-cain Ang. "Siapa tidak kenal dengan tiga

algojo dari Sucon itu. Rata-rata orang persilatan pernah

mendengar tentang mereka itu."

"Mereka datang ada urusan apa dengan Liu Wangwee ?"

menyela Ang Ban Ie.

"Sucoan Sam-sat datang atas undangannya Tan Kong Ceng,

salah satu hartawan di Kunhiang. Entah ada urusan apa yang

 

menyebang Liu In Ciang dan Tan Kong Ceng bentrok hingga

hartawan Tan mengundang tiga algojo dari sucoan. Tapi yang

penting untuk kita adalah keterangan sobatku itu. Katanya

dalam pertempuran dengan Giam-ong Puy Teng, Liu In Ciang

dapat dirobohkan dengan mendapat luka parah, dua tulang

iganya patah. Anak gadisnya, Bwee Hiang, dalam putus

harapan hendak menebas kuntung lehernya, tiba-tiba

pedangnya terpental jatuh dari cekalannya karena benturan

batu kecil yang dilepas dari jurusan pohon, dari mana telah

turun melayang sesosok tubuh, ialah si kerudung

merah..........."

"Siapa itu si kerudung merah ?" menyela beberapa hadirin

hampir berbareng.

"Hahaha !" tertawa Soat-cian Ang. "Si kerudung merah adalah

bintang penolong dari sobatku itu. Dia bukan saja melabrak

Sucoan Sam-sat satu demi satu, malah belakangan disuruh

maju berbareng tapi mereka tidak ungkulan menghadapi si

kerudung merah. Lwekang dari tiga penjahat itu telah

dimusnahkan dan diancam apabila mereka tidak bisa rubah

adatnya dan belakangan hari ketemu lagi dengannya, si

kerudung merah akan mengambil jiwanya."

Sampai disini menutur, kelihatan Soat-cian Ang gembira, air

mukanya berseri-seri sambil elus-elus janggutnya. Atas

desakan hadirin ia menutur lagi, "Liu Wangwee diobati olehnya

sampai sembuh. Ketika ditanyai siapa adanya si kerudung

merah, selalu dia menyimpangkan pertanyaan hingga sobatku

tidak tahu siapa dia sebenarnya. Tapi yang terang, ilmu

silatnya luar biasa. Sekali gebrak, ia bikin lawannya mati kutu

mendeprok di tanah. Dia meninggalkan rumah sobatku,

menghibur supaya hartawan Liu jangan memikirkan lagi si tiga

 

algojo karena dia sudah musnahkan ilmu silatnya dan mereka

tidak berani datang lagi. Tapi perhitungan itu rupanya meleset

sebab Sucoan Sam-sat bukan merubah kelakuannya,

sebaliknya mereka minta pertolongan gurunya, Thie-tauw-eng

Ie Jie Lo (si Garuda Kepala Besi).

"Gurunya sendiri tidak sanggup memulihkan tenaga dalam

mereka. Untung ada supeknya, Hong-hwe-liong Siang Hong

Sin, dapat menolongnya meskipun perlahan-lahan. Sekarang

kepandaian mereka sudah pulih. Setelah mendapat petunjuk

dari guru dan supeknya, kabarnya Sucoan Sam-sat sudah

keluar lagi dari sarangnya mencari si kerudung merah. Tapi

sudah beberapa bulan dicari belum dapat dijumpai dimana

adanya si kerudung merah. Sahabatku, Liu In Ciang menjadi

gelisah. Karena tak dapat menemukan musuhnya maka

mereka akan datang pula ke Kunhiang untuk menghancurkan

keluarga Liu. Liu Wangwee sendiri tidak mohon pertolongan

apa-apa padaku, cuma aku sebagai sobatnya, mana dapat

tinggal peluk tangan menonton Liu In Ciang menghadapi

bahaya maut."

Semua yang hadir tidak membuka suara apa-apa setelah

mendengar penuturannya san Pangcu sampai kemudian Hupangcu,

Ang Ban Ie yang memecahkan kesunyian. "Jadi

apakah kita akan ikut campur tangan dalam urusan Liu

Wangwee ?"

Soat-cian Ang angguk-anggukkan kepala.

Kembali keadaan menjadi sunyi.

"Untuk menolong Liu Wangwee adalah wajar." kata Gouw Li

Lit. "Sebab Liu In Ciang ada sahabat Pangcu. Cuma saja,

 

bagaimana kita harus menghadapinya itu tiga algojo dari

Sucoan yang tersohor sangat ganas ?"

"Justru dalam hal ini aku datang kemari untuk berunding.

Bagaimana pikiran saudara-saudara sekalian ?" berkata Soatcian

Ang sambil perhatikan wajah hadirin satu demi satu. Ia

mengharap ada pikiran baik keluar dari salah satu

diantaranya.

Mereka berunding, mencari jalan keluar.

Sementara itu soal si anak kecil sudah tidak disinggungsinggung

lagi oleh mereka. Apa lagi sang Pangcu tidak

menanyakan soalnya lebih jauh. Perhatian sekarang jauh

dipusatkan kepada soal mencari jalan untuk menolong Liu

Wangwee yang terancam bahaya.

Dimana si bocah mengumpat ?

Kiranya ia mengumpat di bawah meja rapat yang ditutup

dengan kain merah. Enak saja ia diam-diam disitu mencuri

dengar apa yang dibicarakan oleh mereka. Kembali dalam

benak Lo In timbul pertanyaan : Siapakah dirinya ? Anak

siapa, apakah Kwee Cu Gie benar ayahnya ? Dimana ibunya ?

Liok Sinshe dikatakan menyamar, diam diatas jurang Tonghong-

gay, apakah benar ia Kwee Cu Gie, kenapa dia tidak

omong bahwa dia adalah anaknya ? Semua telah membikin

pusing kepalanya si bocah lagi.

Memikir dalam ruangan itu ia tidak mempunyai kepentingan

pula, maka diam-diam tanpa disadari oleh para hadirin yang

tengah memusatkan perhatiannya kepada urusan Liu

Wangwee, Lo In sudah bisa menyingkir dari ruangan itu.

 

Dengan menggunakan kepandaiannya meringankan tubuh,

tidak seorang pun dapat melihat ia berlalu kecuali

berkesiurnya angin disamping para penjaga. Sebentar lagi Lo

In sudah menghampiri burung raksasanya yang

menantikannya dengan penuh khawatir.

Mari kita lihat keadaan Eng Lian.

Sore itu Eng Lian naik garudanya sendirian, pesiar diatas

lembah. Ketika si rajawali melayang rendah, tiba-tiba burung

raksasa itu nampak berkelebatnya seekor kelinci. Otomatis ia

menyambar ke bawah, tapi sang korban sudah lari

bersembunyi diantara pohon bunga-bungaan.

Melihat banyak pohon kembang, Eng Lian sangat tertarik

hatinya. Ia tepuk-tepuk pundaknya si burung raksasa sambil

berkata, "Tiauw-heng, kau turun disini, aku nanti tangkapkan

kelinci untukmu."

Si dara cilik dari tadi terpingkal-pingkal ketawai burungnya

yang gagal menyambar mangsanya. Ia ingin menolong

tangkapi si kelinci yang menyusup diantara pohon-pohon yang

merintangi si rajawali mementang sayapnya.

Si burung raksasa lantas mendarat. Eng Lian dengan gembira

lompat turun dari bebekong si rajawali kemudian ia lari

menyusup diantara pohon-pohon kembang. Lagaknya seperti

yang mengubar kelinci tapi sebenarnya ia hendak memetika

kembang-kembang yang harum semerbak memenuhi hidung.

Senang sekali Eng Lian berada diantara bunga-bunga.

Tangannya repot memetik sana sini, memilih bunga yang

bagus-bagus untuk dibawa pulang. "Sayang adik In tidak turut,

 

kalau tidak, oh, bagaimana gembiranya kita memetik kembang

yang harum mewangi ini." ia berkata-kata sendiri.

"Selamat bertemu lagi nona Lian........" tiba-tiba si dara cilik

mendengar orang berkata dari belakangnya hingga ia cepat

menoleh dengan kaget.

Kiranya yang berkata-kata tadi adalah Ang Hoa Lobo, kenalan

lama yang Eng Lian sangat benci. Sambil cemberut, ia

menanya : "Nenek jahat mau apa ?"

"Hehehe !" si nenek ketawa kering. "Bagaimana kau bisa

katakan aku jahat ?"

"Memang kau jahat." sahut Eng Lian berani. "Kau sudah pukul

adik In sampai luka berat, kemudian kau hukum aku tidak

makan beberapa hari. Apa itu tidak jahat ?"

"Aku toh belum gebuk mati si bocah, belum hukum mati kamu,

masih belum terhitung jahat, bukan ?" bantah si Nenek

Kembang Merah seraya haha hihi ketawa.

"Hmm !" si dara cilik mendengus. Mendongkol dia mendengar

alasan si nenek.

"Aku datang hendak menyambut kau, Eng Lian." kata si

nenek.

"Menyambut aku ?" si nona cilik menanya heran. "Aku sudah

tidak ada hubungan lagi dengan kau, untuk apa kau

menyambut aku ?"

"Hubungan kita masih ada. Sebegitu jauh, kau masih tetap

 

membandel tidak ajarkan menjinaki ular." sahut si nenek

ketawa.

--12--

Si dara cilik geleng kepala.

"Aku tidak mau ajarkan kau." katanya.

"Kenapa ?" Ang Hoa Lobo menanya heran.

"Kalau kau sudah dapat menjinaki ular, nanti kau akan lebih

jahat lagi." sahut si dara cilik.

"Tidak, tidak. Aku berjanji akan menjadi orang baik, kalau kau

sudah ajarkan menjinaki ular." si nenek cepat menyahut.

"Soalnya ditempatku Coa-kok (Lembah Ular) disana ada

banyak kawanan ular, aku mau bikin kawanan ular itu takluk

padaku, lain tidak."

Si nona kerutkan alisnya yang lentik, ia berpikir rupanya.

"Nona Lian, aku hanya minta kau ajari aku. Setelah mana aku

tak akan mengganggu lagi kau." Ang Hoa Lobo berjanji.

Kembali si nona tidak menjawab. Ia berpikir, memang paling

baik kalau si nenek tidak datang mengganggu ia dan Lo In

punya ketentraman. Apalagi si nenek berjanji akan menjadi

orang baik. Tidak ada salahnya kalau ia mengajari si nenek

menjinaki ular. Setelah mengambil keputusan, ia berkata,

"Baiklah, mari ikut aku."

 

Si nona berkata seraya geraki kakinya hendak berlalu dari situ,

menghampiri si rajawali yang menunggu jauh di sana.

Ang Hoa Lobo sudah tentu saja tidak bersedia mengikuti si

nona karena disana ada si rajawali yang kalau melihat dia

dengan Siauw Cu Leng akan beringas dan mengajak

bertempur. Maka itu ia lalu berkata, "Nona Lian, sebaiknya kita

jangan ke rumahmu. Kau ikut aku saja ke Coa-kok."

Si nona putar tubuhnya. "Mana bisa begitu, adik In sedang

menunggui aku." sahutnya seraya lari hendak lari

meninggalkan Ang Hoa Lobo.

Lari belum jauh, tiba-tiba ia dicegat oleh Siauw Cu Leng.

"Hahaha ! Dara cilik, kau mau lari kemana ?" bentaknya kasar.

"Kakek jahat, kau jangan merintangi aku !" semprot Eng Lian.

Si nona coba hindarkan sambaran tangan Siauw Cu Leng, tapi

ia ada satu gadis cilik yang baru saja belajar silat. Mana dapat

ia lolos dari si Iblis Alis Buntung yang kasar dan kejam. Maka

sambaran tangan yang kedua kali sudah dapat menangkap

pergelanagan tangan si nona cilik hingga ia menjerit karena

pegangan si Iblis Alis Buntung seperti jepitan besi rasanya.

Si dara cilik berontak-rontak tidak menolong.

"Eng Lian sebaiknya jangan kau menolak undangan kami. Hei,

Cu Leng, jangan kau kurang ajar pada guru cilik kita !" kata

Ang Hoa Lobo melihat Toan-bi Lo-mo memencet tangan si

nona kecil dengan keras hingga menjerit kesakitan.

 

Siauw Cu Leng menurut. Ia longgarkan pegangannya.

Si rajawali yang menunggu majikannya jauh dari situ,

bukannya tidak mendengar jeritan nonanya. Ia hanya

mengebas-ngebaskan sayapnya saja. Untuk terbang masuk

ke tempatnya Eng Lian tak dapat ia lakukan karena banyak

rintangan cabang pohon untuk sayapnya bebas bergerak.

Tidak heran, ia kelihatan sangat gelisah sebab suara jeritan

Eng Lian itu ada satu tanda si dara cilik dalam bahaya.

Setelah lama ia nantikan nonanya belum kelihatan muncul,

maka terpaksa ia pulang untuk memberitahukan pada Lo In. Di

lain pihak, Eng Lian sudah kena ditotok oleh Siauw Cu Leng

dan dibawa pergi dari situ.

Belum berapa tindak mereka berlalu, telah berjumpa dengan

Cin Lian Hin dan enam kawannya. Ang Hoa Lobo berkata

pada Cin Lian Hin, "Ini ada cara yang kebetulan. Tak usah

kalian memancing lagi si bocah keluar dari sarangnya, kalian

tunggu saja disini. Pasti si bocah akan datang kemari untuk

mencari temannya."

Cin Lian Hin sangat kegirangan. Pikiranya memang hal itu

sangat baik, tidak berabe lagi harus memancing Lo In keluar

dari sarangnya yang banyak teman kawanan kera.

Sementara itu, atas perintah si nenek, Siauw Cu Leng sudah

tangkap seekor kelinci, ia potong dan daranya dibikin

berceceran dari mulai pohon kembang di mana Eng Lian

berdiri sampai sejauh bisa darah sang kelinci dapat

dikucurkan.

Jadi darah yang berceceran yang Lo In jumpai itu bukannya

 

darah Eng Lian tapi darahnya sang kelinci liar yang nasibnya

lagi sial ketemu Siauw Cu Leng.

Ang Hoa Lobo senang dapatkan Eng Lian. Ia bawa ke

sarangnya, Coa-kok yang sukar didatangi orang karena di

lembah itu kesohor banyak ularnya.

Di sana Eng Lian dibujuk lagi oleh Ang Hoa Lobo, dijanjikan ia

akan dibebaskan dan diantarkan kepada Lo In kalau ia sudah

turunkan ajaran menakluki kawanan ular. SI dara cilik dapat

dibujuk, tanpa banyak pikir ia lantas berikan pelajaran pada

Ang Hoa Lobo. Hatinya sudah kepingin buru-buru ketemu Lo

In lagi. Ia kuatirkan putus asa mencari dirinya yang diculik oleh

si Nenek Kembang Merah. Kalau ia sudah menurukan

pelajaran menakluki ular kepada Ang Hoa Lobo, pikirnya, ia

akan mendapat kebebasannya dan segera dapat pulang ke

rumahnya bertemu pula dengan adiknya.

Dasar anak kecil, masih belum tahu kecurangannya manusia.

Eng Lian kena dikibuli Ang Hoa Lobo sebab setelah si nenek

dapat ilmu menakluki ular bukan saja kebebasannya si dara

cilik tidak diberikan, malah Eng Lian dipakai alat untuk

keuntungannya Ang Hoa Lobo dan gula-gulanya (Siauw Cu

Leng).

"Popo." kata Eng Lian pada suatu hari. Ia sekarang memanggil

popo atas usul si nenek sebab katanya diantara mereka tidak

ada permusuhan dan malah dengan panggilan yang halus itu,

kedengarannya lebih mesra dan lebih dekat hubungan

keluarga. "Aku sudah turunkan pelajaran menakluki ular,

kapan aku dibebaskan dan ketemu lagi denan adik In ? Dia

tentu sudah menunggu-nunggu aku dengan tidak sabaran."

 

Ang Hoa Lobo tertawa ramah. Katanya, "Oh, besok ada hari

baik. Tanggal 7 bulan 7, aku akan antarkan kau kembali ke

rumahmu dan ketemu lagi dengan Lo In."

Eng Lian senang mendapat jawaban itu. Ia menubruk Ang Hoa

Lobo, memeluk dengan mesra, katanya berbisik, "Popo, kau

sangat baik......."

Si nenek mengelus-elus rambut kepalanya Lian.

"Anak Lian," katanya, "Besok ada hari berpisahan kita. Maka

sebentar malam sebaiknya aku mengadakan sedikit

perjamuan untuk memberi selamat jalan padamu. Sebab

belum tahu kapan kia bisa ketemu lagi."

"Oh, tidak Popo. Nanti aku dengan adik In akan menyambangi

kau disini. Jangna lupa, kalau adik In kemari, kau mau juga

akan memberi obat pemunah pada mukanya adik In yang

hitam supaya ia dapat kembali pada wajahnya yang asli."

demikian si dara cilik nyerocos, tampaknya ia sangat manja.

Ang Hoa Lobo mendengar kata-kata Eng Lian anggukanggukkan

kepalanya. "Tentu, itu jangan kau minta juga aku

akan sembuhkan muka anak In." sahutnya ramah.

Hatinya si dara cilik makin girang.

Pada malamnya lantas diadakan perjamuan sederhana.

Eng Lian yang tidak biasa minum arak, ia hanya disuguhi teh

saja. Teh yang wangi dan menyegarkan badannya. Maka ia

beberapa kali meneguk isi cangkir yang saban kali disilahkan

minum oleh Ang Hoa Lobo.

 

Si nenek dan Siauw Cu Leng dengan gembira menemani

pesta perpisahan itu.

Setelah beberapa cangkir teh masuk dalam perutnya Eng

Lian, si dara cilik tiba-tiba menguap beberapa kali lantas

bangkit dari duduknya sambil berkata, "Aku sudah ngantuk,

biarlah aku tidur lebih dahulu........."

Baru saja ia mengucapkan 'dahulu........' lantas roboh terkulai,

dengkulnya dirasakan lemas. Lantas saja ia tidur di lantai, lupa

akan keadaan disekitarnya.

"Hehehe !" terdengar Ang Hoa Lobo ketawa seram.

"Hebat obatmu, cici !" memuji si Iblis Alis Buntung.

"Ini baru tidur saja. Sebentar kalau dia sudah siuman, kau

boleh lihat bagaimana pengaruh obatku yang kuberikan

padanya. He he he......" si nenek berkata sangat bangga

tampaknya.

Eng Lian diantapkan saja tidur di lantai, sementara Ang Hoa

Lobo teruskan makan minumnya bersama Siauw Cu Leng

dengan gembira.

Kira-kira 1 jam sudah berlalu, tampak si gadis cilik mulai

mendusin.

Eng Lian kucak-kucak matanya kemudian bangkit dari

rebahnya. Matanya yang jeli halus kini berubah jadi beringas

seperti kerasukan setan.

 

"Hi...hi....hi...........hihihi.........!" tiba-tiba Eng Lian ketawa

menyeramkan.

"Bagaimana ?" Ang Hoa Lobo tanya Siauw Cu Leng yang saat

itu jadi bengong melihat kelakuan Eng Lian.

"Begini !" sahut si Iblis Alis Buntung seraya mengacungkan

jempolnya.

Beringas sikapnya Eng Lian, menakutkan. Matanya terus

mengawasi Ang Hoa Lobo, tapi yang diawasi tinggal tenangtenang

saja, malah ketawa ramah.

Tiba-tiba........ Eng Lian berteriak keras, lalu menubruk si

nenek. Kedua tangannya diangkat hendak mencengkeram

muka si nenek. Tapi dengan mudah kedua tangan si dara cilik

dipegangnya, lalu berkata, "Eng Lian, jangan kurang ajar

kepada suhu. Lekas berlutut !"

Sungguh mengherankan. Kata-kata Ang Hoa Lobo diturut

dengan serentak. Eng Lian jatuhkan dirinya berlutut, sambil

mengucap 'Suhu'.

Toan Bi Lo-mo Siauw Cu Leng hanya mendengar dari Ang

Hoa Lobo bahwa 'istrinya' itu mempunyai satu kepandaian

mengherankan. Ia belum mau percaya sebab kalau belum

melihat buktinya. Sekarang dengan mata kepala sendiri ia

menyaksikan kepandaian istimewa dari Ang Hoa Lobo. Diamdiam

bulu tengkuknya dirasakan pada berdiri, seram, makin

takut ia pada si nenek.

"Cu Leng." si nenek berkata pada si Iblis Alis Buntung yang

saat itu kelihatan duduk termangu-mangu. "Inilah kepandaian

 

yang diwariskan oleh suhuku, Lambay Mo Lie kepadaku,

murid tunggalnya. Obat itu dinamai 'Cian jit su su hun' (Obat

bubuk mematikan ingatan seribu hari). Siapa yang minum

akan membuat lupa siapa dirinya dan kejadian-kejadian yang

lampau, dia hanya mempunyai ingatan ada punya suhu,

kepada siapa dia harus setia dan menurut segala perintahnya.

"Sekarang bagaimana kita harus berbuat atas dirinya ?" tanya

Siauw Cu Leng.

"Eng Lian ada punya sepasang ular kecil." kata si nenek.

"Warnanya kekuning-kuningan seperti emas. Ditaruh dalam

sebuh bumbung mungil yang dia bawa-bawa dibadannya.

Kalau aku tanya kenapa sepasang ular itu tidak dia lepas,

katanya untuk menjaga dirinya. Dia ada seorang lemah, tidak

pandai silat. Kalau ada orang hendak berbuat jahat padanya,

dia dapat melepaskan ularnya untuk menggigit. Siapa yang

kena digigit oleh ular emasnya itu akan keracunan dan dalam

tempo setengah jam, kalau tak mendapat obat pemusnahnya

bakal mati dan tubuhnya lumer menjadi air tanpa bekas.........'

"Ah, sampai begitu hebatnya ?" menyela Siauw Cu Leng,

ketakutan dia.

"Itu aku belum buktikan sendiri. Mungkin omongannya tidak

salah. Katanya sepasang ular itu adalah pemberian ayahnya

dengan pesan kalau tidak keliwat terpaksa jangan dilepaskan

untuk membunuh orang. Makanya sampai sebegitu jauh dia

simpan saja sepasang ular emas itu dalam bumbung di

badannya.

"Aku tidak melihat dia kasih makan ularnya." kata Siauw Cu

Leng.

 

"Sepasang ular itu bisa tiga bulan berturut-turut tidak makan."

menerangkan Ang Hoa Lobo. "Ini aku tahu dari Eng Lia.

Makanannya apa, aku sendiri tidak tahu sebab si Lian tidak

mau mengatakan padaku."

"Kalau sepasang ular itu begitu jahat, paling baik kita rampas

saja dari padanya, kita bunuh mati. Jadi tidak membahayakan

kita." usul Siauw Cu Leng.

"Jangan, jangan." sahut Ang Hoa Lobo seraya goyang-goyang

tangan. "Mati atau hidup sepasang ular itu bagi kita tidak

penting."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita takluki dia dan dijadikan

alat untuk kita. " usul Siauw Cu Leng bernapsu.

"Tidak bisa." sahut si nenek. "Sepasang ular itu tak dapat

ditakluki oleh kita kecuali oleh Eng Lian yang menjadi

majikannya. Juga tidak akan membahayakan pada kita karena

dalam keadaan tidak sadar, Eng Lian tentu akan menjadi alat

kita yang dapat kita gunakan untuk membunuh musuh-musuh

kita. Ini bukannya baik ?"

Siauw Cu Leng ketawa nyengir.

"Eng Lian selain punya senjata ampuh itu, juga punya senjata

lainnya yang tidak kurang ampuhnya." menerangkan Ang Hoa

Lobo.

"Senjata apa, cici ?" tanya Siauw Cu Leng.

"Setelah makan obatku, pikirannya menjadi linglung, gigitan

 

giginya akan membuat orang yang digigitnya akan kepanasan

seperti dibakar jantungnya dalam tempo lima menit setelah

mana si korban akan sembuh kembali tapi ingatannya lantas

berubah dan tunduk kepada Eng Lian, dapat diperintah

sesukanya Eng Lian....."

"Ah, cici....... aku takut ! Kalau orang yang digigit Egn Lian itu

dapat diperintah Eng Lian. Bagaimana kalau Eng Lian perintah

orang menghajar kita ?"

"Tua bangka tolol !" jengek si nenek ketawa. "Mana bisa Eng

Lian suruh hajar kita sebab Eng Lian ada di bawah pengaruh

kita."

Siauw Cu Leng membungkam.

Sementara itu, Eng Lian tinggal berlutut di depan Ang Hoa

Lobo bagaikan patung.

"Sekarang Eng Lian sudah tidak ingat lagi akan dirinya. Perlu

dia mendapat pelayan-pelayan untuk melayaninya. Sebab

mana aku yang menjadi suhunya melayani dia mandi, makan,

temani kongkow segala. Dia harus mempunyai banyak

pelayan." Ang Hoa Lobo utarakan pikirannya.

"Habis, dari mana kita cari pelayan begitu banyak ?" tanya

Siauw Cu Leng, garuk-garuk kepala.

"Culik. Kenapa kau tidak bisa culik anak gadis orang ?" bentak

si nenek.

Si Iblis Alis Buntung ketawa nyengir. Memang jalan yang

paling mudah untuk mendapati pelayan-pelayan Eng Lian

 

harus menculik gadis-gadis orang.

Demikian, dengan menggunakan kepandaiannya yang tinggi,

Ang Hoa Lobo dan Siauw Cu Leng dalam beberapa hari saja

sudah dapat menculik banyak gadis-gadis dan anak lelaki

yang berusia tanggung sebaya dengan Eng Lian. Semuanya

dicekoki obat oleh Ang Hoa Lobo supaya ingatannya masingmasing

lenyap. Apa yang dipikirkan mereka hanya punya 1

suhu (guru) pada siapa haru setia dan menurut segala

perintahnya. Yang mereka anggap suhunya adalah Eng Lian,

bukannya Ang Hoa Lobo sebab si nenek sudah menjadi

suhunya Eng Lian. Tegasnya Ang Hoa Lobo menjadi sucow

(kakek guru) dari itu sekian banyak wanita dan pria tanggung.

Senang bukan main hatinya Ang Hoa Lobo melihat muridnya

Eng Lian dan cucu muridnya demikian banyak. Tentu saja ada

meminta biaya besar untuk mengongkosi mereka. Dari mana

di dapat biaya untuk itu ? Gampang. Suruh saja si Iblis Alis

Buntung mencuri atau membegal, maka biaya didapatkan

dengan mudahnya.

Dalam sedikit tempo saja, Eng Lian berubah menjadi ratu

tanpa mahkota.

Semua dayang-dayang yang menjadi pengiringnya

berseragam sutra putih yang tipis, pakai ikat kepala juga dari

sutra putih tertaneap sekuntum bunga dari sutra merah.

Sebaliknya, pria pakaiannya dari sutra kuning menyolok, ikat

kepalanya juga dari sutra kuning, tertancap sekuntum bunga

dari sutra merah seperti para wanita.

Ang Hoa Lobo namakan prajuritnya ini Ang Hoa Kun atau

Pasukan Kembang Merah, simbol (tanda) yang si nenek paling

 

suka.

Eng Lian berpakaian sutra tipis kuning keemas-emasan,

lapisnya dari sutra warna dadu sangat tipis hingga tubuhnya

yang halus putih berbayang. Ikat kepalanya dari sutra putih

dengan burung-burungan tengah mematuk setangkai bunga

merah. Kalau kepalanya Eng Lian bergerak, burung-burungan

itu angguk-anggukan karena dipasangi per. Indah sekali dan

menarik perhatian.

Para dayang, kecuali sutra tipis warna putih yang merupakan

pakaian luar, di bagian dalam tubuhnya dibungkus oleh sutra

biru ekstra tipis yang ketat hingga tubuhnya yang putih seperti

tercetak, menggiurkan, merangsang napsu lelaki yang

gampang goyah imannya. Sungguh jempol Ang Hoa Lobo

menciptakan mode pakaian yang merangsang napsu birahi.

Rupanya si nenek sudah mempunyai tujuan tertentu

menciptakan mode pakaian istimewa ini, yang membuat Siauw

Cu Leng bengong dan telan ludah.

Ang Hoa Lobo diam-diam bukannya tidak tahu Siauw Cu Leng

yang ceriwis mengiler sampai telan ludah untuk 'cicipi' salah

satu bidadari bikinan itu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Ia mau

kasih hajar pada suami diluar kawin itu supaya kapok atas

perbuatannya yang nyeleweng.

Begitulah telah terjadi. Sore itu Siauw Cu Leng berusaha

pulang dari bepergiannya. Ia dapatkan Ang Hoa Lobo dan Eng

Lian tidak ada ditempatnya. Ia mencari-cari tak terdapat di

sekitar rumah. Diam-diam ia sudah dekati salah satu

dayangnya Eng Lian yang bernama Cui Sian yang waktu itu

sudah benahi pakaiannya Eng Lian yang habis tukaran. Cui

 

Sian ketawa-ketawa diajak ngobrol oleh Siauw Cu Leng.

Sudah tentu ketawanya tidak wajar, linglung, tak tahu dimana

dirinya berada.

Memandang tubuhnya Cui Sian yang seperti tercetak dibalik

pakaiannya yang gerombongan tipis, bukan main ngilernya si

ceriwis Siauw Cu Leng. Pikirnya ini ada ketika baik, kenapa

dia tak mau gunakan ? Apalagi melihat keadaannya Cui Sian

seperti yang hilang ingatannya, apa ia bisa bikin kalau dia

perkosa atas dirinya ? Napsu birahinya timbul dengan

serentak, tak dapat ia mengendalikannya.

Ia maju lebih dekat, menyambar tangan orang yang putih

halus. Cui Sian hanya tertawa haha hihi seraya berontakberontak

melepaskan tangannya dari cekalan Siauw Cu Leng.

"Cui Sian, mari kita main." berkata Siauw Cu Leng berbareng

ia memeluk dan mencium pipi Cui Sian. Beradunya tubuh yang

hangat membuat Siauw Cu Leng seperti kalap. Ia pondong si

nona hendak dikerjai di atas pembaringan tapi........'Aiyoo !'.

Sekonyong-konyong Siauw Cu Leng berjengkit, serentak ia

melepaskan pondongannya dan tubuhnya Cui Sian terbanting

di lantai. "Hihihihi........." si nona ketawa seraya lari keluar dari

kamar Eng Lian.

Kenapa Siauw Cu Leng ? Itu hasil dari pekerjaan yang tidak

sopan. Ia memondong Cui Sian dengan maksud keji tapi

sebelum napsu jahatnya kesampaian, lengannya sudah kena

digigit oleh Cui Sian. Bekas gigitan sakit bukan main sehingga

mengeluarkan teriakan 'Aiyoo !' dan lepaskan tubuh si nona

dari pondongannya. Seketika itu ia terkulai roboh, hawa panas

dirasakan meluap ke jantungnya seperti dibakar. Ia menjeritjerit

beberapa kali kemudian tenang lagi dan dapat berdiri pula

sebagaimana biasa, hanya.... ingatannya hilang. Keadaannya

 

tidak beda seperti korban-korban lainnya yang kena dicekoki

obatnya Ang Hoa Lobo.

Siauw Cu Leng tidak sadar dimana dirinya berada. Perlahanlahan

ia jalan dan berkumpul dengan golongan pria dari Ang

Hoa Kun.

Korban dari obatnya Ang Hoa Lobo yang istimewa memang

benar hilang ingatannya, tidak ingat lagi keadaan dirinya

siapa. Tapi dapat diajak ngobrol, bersenda gurau, ketawaketawa

apabila yang diobrolkan dapat mengitik urat ketawa

seperti juga keadaannya ada normal. Dia tidak akan digigit

kalau salah satu dari 3 bagian dari anggautanya tidak

kesentuh. Tiga bagian anggauta penting itu adalah jidat, buah

dada dan perut.

Kalau salah satu bagian ini kena kesentuh, kontan si korban

akan sadar bahwa dirinya dalam bahaya. Lantas saja

menggigit macam anjing gila menularkan racun. Giginya

nancap pada bagian daging yang digigit, menimbulkan hawa

panas nyelusup ke jantung seperti dibakar tapi hanya

sebentaran. Kemudian si korban gigitan normal lagi cuma saja

penyakit hilang ingatannya menular dan ia keadaannya akan

seperti yang menggigitnya.

Tiada seorang pun yang dapat tahu rahasia tiga bagian

anggauta yang tak dapat disentuh ini kecuali Ang Hoa Lobo

yang mewarisi ilmu sakti dari Lamhay Mo Lie.

Buah dadanya Cui San yang bulat menonjol membikin napsu

iblisnya Siauw Cu Leng melonjak, tak dapat ia melewatkan

kesempatan baik pikirnya. Diwaktu memondong Cui Sian ia

sudah mencium buah dada si nona dan.... karena sentuhan

 

mulut pada buah dada menyebabkan Cui Sian sadar akan

bahaya mengancam dirinya, otomatis seketika itu ia menggigit

lengannya si ceriwis sehingga menjerit kesakitan.

"Hehehe........." tertawa Ang Hoa Lobo ketika ia pulang melihat

keadaannya Siauw Cu Leng yang jadi hilang ingatannya. Ia

tidak mengenali istrinya, hanya ia memberi hormat pada Eng

Lian seperti kawan-kawannya yang lain. "Inilah ada satu

hukuman bagi orang yang menyeleweng. Cu Leng, Cu Leng,

sampai kapan tabiatmu yang buruk itu bisa dibuang ?

Hehehe........"

Siauw Cu Leng seperti tidak mendengar kata-kata Ang Hoa

Lobo, ia diam saja.

Si nenek lalu membisiki kupingnya Eng Lian, segera ia

berkata, "Siapa diantara kalian yang diganggu oleh Yaya ?

Maju ke depan !"

Saat itu Eng Lian sudah duduk diatas kursi kebesarannya,

didampingi oleh Ang Hoa Lobo dan dikitari oleh dayangdayangnya

yang cantik-cantik. Eng Lian berkata pada dayangdayangnya

yang berkumpul disitu.

Tanpa Eng Lian mengucapkan kedua kalinya, segera tampak

satu dara muncul tampil ke depan ialah Cui Sian. Ia ini berlutut

di depan Eng Lian. Ang Hoa Lobo perhatikan pakaian Cui

Sian, ternyata ada yang sobek pada bagian buah dadanya.

Si nenek manggut-manggut melihat itu. Ia sudah lantas

menduga sobeknya baju si nona pada bagian buah dadanya

adalah kerjaan tangan nakal dari Siauw Cu Leng.

 

Setelah hilang ingatannya, Eng Lian merubah panggilannya

kecuali pada si Nenek Kembang Merah sudah ia panggil Popo

(nenek), kepada Siauw Cu Leng ia panggil Yaya (kakek atau

engkong) yang biasanya si dara cilik panggil si nenek dan si

kakek jahat.

"Cu Leng, atas kelakuanmu yang ceriwis, aku hukum kau

untuk beberapa lamanya menjadi anggauta Ang-hoa kun !"

berkata si nenek.

Siauw Cu Leng tinggal membisu saja. Ang Hoa Lobo lupa

bahwa Siauw Cu Leng tak dapa menangkap omongannya

kecuali omongan itu keluar dari mulutnya Eng Lian sebab Eng

Lianlah dalam benaknya ada ia punya suhu.

Kapan Ang Hoa Lobo ingat akan keadaan itu, maka ia suruh

Eng Lian yang bicara pada Siauw Cu Leng dan sekarang si

kakek ceriwis kelihatan pucat mukanya, ia maju ke depan dan

jatuhkan diri berlutut di depan Eng Lian sambil manggutmanggut

dia berkata, "Hamba terima salah, mohon Siancu

punya belas kasihan."

Lucu kelakuan Siauw Cu Leng hingga Ang Hoa Lobo yang

melihatnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah mana, tiba-tiba

hatinya merasa menyesal. Pikirnya jelek, Siauw Cu Leng ada

lakinya dan teman diajak berunding. Kalau sekarang ia

ditinggal begitu, hilang ingatannya, dengan siapa dia dapat

bicara untuk mendamaikan cita-citanya lebih jauh. Lantaran

berpikir demikian, maka si nenek terpaksa mengembalikan

pula ingatannya si kakek ceriwis, dikasih obat pemunahnya.

Obat itu diaduk dengan air teh dalam sebuah mangkok, di

depan siapa ia berkata, "Nah, kau minumlah ini !"

 

Siauw Cu Leng yang masih tetap berlutut tidak meladeni

perintah Ang Hoa Lobo, hanya matanya saja mengawasi si

nenek. Ang Hoa Lobo heran, tapi segera pikiran terangnya

berkelebat. "Ah, dasar sudha jadi nenek, pelupa. Kenapa aku

berbuat begini." ia berkata-kata sendirian sambil jalan

menghampiri Eng Lian.

"Anak Lian, kau suruh orangmu untuk kasih mangkok obat ini

pada yayamu supaya diminum isinya." Ang Hoa Lobo kata

pada Eng Lian seraya menyodorkan mangkok obat pada si

dara cilik yang lantas menyambuti kemudian diserahkan pada

salah satu dayangnya untuk melakukan perintahnya Ang Hoa

Lobo.

Kiranya si nenek kembali lupa bahwa anggauta-anggautanya

Ang-hoa-kun hanya tunduk perintah Siancu (dewi) yang

dianggap suhunya, lain orang jangan harap dapat memerintah

meskipun Ang Hoa Lobo yang menjadi Sucownya (kakek

guru).

Mendengar perintah Siancu, maka Siauw Cu Leng tanpa raguragu

sudah lenyap terima mangkok yang disodorkan padanya

dan minum habis isinya. Sebentar lagi tampak ia menguap

beberapa kali, lalu roboh dilantai dan tidur pulas sampai

mengorok.

Sementara itu Eng Lian sudah suruh Cui Sian bangun dari

berlututnya dan disuruh tukar pakaiannya yang sobek. Cui

Sian menurut lalu meninggalkan ruangan itu.

Eng Lian ada memelihar sepasang ular kecil, warnanya

keemas-emasa yang disimpan dalam sebuah bumbung kecil

 

mungil, entah dari dahan apa bumbung itu dibuat, bobotnya

enteng dan licin mengkilat. Sepasang ular itu panjangnya

masing-masing hanya tiga cun (dim), gesit luar biasa. Kalau

bumbung ditekan terbuka maka mereka segera mencelat

keluar dan menyambar pada korbannya untuk menggigit.

Racunnya sangat jahat karena korbannya dalam tempo

setengah jam akan mati dan badannya lumer menjadi air

tanpa meninggalkan bekas, kalau tidak keburu dapat obat

pemusnahnya.

Eng Lian tadinya tidak percaya demikian jahat bisa ular

emasnya itu. Tapi setelah menyaksikan sendiri, ia meleletkan

lidahnya. Itulah ia lihat pada waktu sepasang ular itu hendak

diwariskan padanya oleh sang ayah. Maksudnya untuk

menjaga dirinya. Pada saat itu telah dicoba sang ular disuruh

menggigit ular besar yang panjangnya satu meter. Benar saja

ular besar itu mati setelah kena digigit setengah jam lamanya,

bangkainya lumer menjadi air.

Sang ayah memesan kalau tidak sangat perlu, senjata ampuh

itu jangan dikeluarkan karena akibatnya sangat mengerikan.

Kepada Lo In ia masih belum mau ceritakan ia ada

mempunyai senjata ampuh itu. Takut Lo In nanti melarang ia

membawa-bawanya, sedang ia sangat sayang pada sepasang

ular itu, seakan-akan jimatnya.

Berdasarkan sepasang ular emas itu dan kebetulan Coa-kok

(Lembah ular) ada menjadi tempat kediamannya, maka Ang

Hoa Lobo telah memberi gelaran kepada Eng Lian, Kim Coa

Siancu atau Dewi Ular Emas. Memang gelaran ini sangat tepat

untuk Eng Lian karena si dara cilik adalah penakluk ular. Untuk

membikin si dara cilik lebih ditakuti lagi namanya, disamping

sudah punya kepandaian menakluki ular dan sepasang

 

senjata ampuhnya ular emas, Ang Hoa Lobo dengan tidak

mengenal capek, siang malam dia didik Eng Lian dengan ilmu

silat, rahasia ilmu pedang dan pukulan tangan kosong yang

hebat diturunkan semua pada si dara cilik hingga dalam tempo

pendek Eng Lian sudah berubah dirinya dari gadis cilik yang

lemah gemulai menjadi gadis cilik yang gesit dan tangkas.

Tinggal menggembleng lwekangnya (tenaga dalam) saja,

setelah mana Eng Lian dapat digolongkan sebagai jago kelas

satu.

Setelah siuman kembali, Siauw Cu Leng nampak dirinya tidur

menggeletak di atas lantai, ia lantas ingat akan kesalahannya.

Ia jadi ketakutan pada Ang Hoa Lobo.

"Orang she Siauw." kata si nenek, setelah tertawa terkekehkekeh.

"Masih ada nyali untuk berbuat yang bukan-bukan lagi

nanti ? Kali ini aku mau ampunkan selembar jiwamu tapi lain

kali, hmm !"

Siauw Cu Leng malu, tidak berani ia angkat kepala. Ia masih

tinggal duduk dilantai, kalau tidak Ang Hoa Lobo membentak,

katanya, "Lekas bangun, atur pekerjaanmu sebagaimana

biasa !"

Siauw Cu Leng dengan roman lesu dan malu telah

meninggalkan ruangan itu untuk berkumpul dengan 'Pasukan

Kembang Merah' di lapangan latihan dimana ia biasa

mengajar ilmu silat kepada mereka.

Ang-hoa-kun bagian pria, mendapat didikan dari Siauw Cu

Leng sedang buat bagian wanitanya dididik sendiri oleh Ang

Hoa Lobo. Ketika hari pertama mendidik anak buahnya, si

nenek pernah berkata pada Siauw Cu Leng. "Kita masing

 

masing mendidik orang-orang muda yang berbakat. Sampai

dimana kepandaian mereka, kita tidak tahu. Tapi satu waktu

nanti aku akan mengadakan pertemuan umum, dimana muridmuridmu

akan dihadapkan dengan murid-muridku. Lihatlah

siapa yang lebih jempol mendidiknya !"

Karena sudah ada kata-kata demikian dari Ang Hoa Lobo,

maka Siauw Cu Leng tidak berani alpakan kewajibannya dan

mendidik orang-orangnya dengan sungguh-sungguh. Maka

tidak heran kalau dalam sedikit waktu orang-orangnya menjadi

pandai silat juga walau belum boleh dikatakan masuk kelas

satu.

Kata-kata Ang Hoa Lobo pada Siauw Cu Leng hanya sebagai

anjuran pada si kakek ceriwis. Sebab umumnya anak murid

Ang Hoa Lobo ada lebih tinggi ilmu silatnya karena dididik oleh

orang yang pandai seperti Ang Hoa Lobo. Kepandaian Siauw

Cu Leng kalah jauh dengan si nenek, apa lagi lwekang Ang

Hoa Lobo ada sangat tinggi.

Tidak sembarangan Ang Hoa Lobo maupun Siauw Cu Leng

menculik anak-anak tanggung pria dan wanita. Mereka

memilih hanya mereka yang dinilai berbakat untuk mendapat

didikan ilmu silat, barulah diculik dibawa ke Coa-kok.

Tidak heran kalau ada beberapa anak jago-jago silat

kenamaan yang hilang lenyap diculik Ang Hoa Lobo atau

Siauw Cu Leng sehingga orang tuanya menjadi gelagapan

mencarinya.

Adanya penculikan-penculikan itu telah menghebohkan

kalangan Kangouw.

 

Jago-jago silat bergerak dengan serentak untuk mencari

jejaknya si penculik.

Sebenarnya perbuatan-perbuatan menculik dari kedua iblis itu

susah dicari jejaknya kalau tidak si nenek yang 'sok' dengan

kepopuleran nama. Pada belakangan ini, ia setelah menculik

anak orang telah meninggalkan nama Kim Coa Siancu. Malah

yang paling menghebohkan adalah kejadian dirumahnya Hekhouw

Ma Liong, guru silat kenamaan di kota Lengkoan,

Hokkian, dimana Ang Hoa Lobo membuat huru hara.

Sudah beberapa hari memang Ang Hoa Lobo ada tinggal di

kota Lengkoan untuk mencari gadis-gadis yang berbakat untuk

menjadi pelayannya Eng Lian. Ia ada mengincar pada Ma Sian

Bwee ialah gadisnya Hek-houw Ma Liong yang usianya hampir

sebaya dengan Eng Lian. Sian Bwee tubuhnya kecil, gesit dan

cerdik rupanya. Maka Ang Hoa Lobo sangat ketarik padanya.

Untuk terangkan meminta langsung pada orang tuanya, sudah

tentu tidak mungkin. Maka ia gunakan jalan sebagaimana

biasa menculik anak orang dengan menggunakan obat pulas,

tidak ada yang merintanginya. Tapi sekali ini perhitungan Ang

Hoa Lobo meleset. Ma Liong bukan sembarangan guru silat, ia

memang jago, murid kepala dari Siang-tauw-niauw Kam Eng

Kim, Si Burung Kepala Dua yang terkenal dalam kalangan

jago-jago silat propinsi Hokkian.

Malam itu Ma Liong sedang berlatih dengan tiga orang

muridnya, Mak Kian anaknya sendiri, Gouw Liu Pa dan Hoan

Tek Huy. Tempat berlatih letaknya di pekarangan belakang

rumah, cukup lebar hingga mereka berlatih dengan penuh

semangat.

 

Cuaca malam itu tidak menentu, kadang-kadang terang dan

kadang-kadang gelap disebabkan sang awan yang menutupi

bulan muda baru nongol. Hek-houw Ma Liong yang tengah

memberi petunjuk-petunjuk pada murid-muridnya, tiba-tiba

bungkam mulutnya sambil matanya mengawasi ke jurusan

loteng rumahnya. Sekilas ia merasa seperti melihat ada

mencelat ke sana sesosok bayangan gesit luar biasa, sebentar

saja sudah lenyap.

Hatinya merasa tidak enak sebab diloteng sana ada tidur ia

punya anak gadis, Sian Bwee, hanya ditemani oleh seorang

pelayannya. Hek-houw Ma Liong menduga bayangan itu

mungkin ada Cay-hoa-cat (maling tukang petik bunga), hatinya

makin tidak enak akan keselamatan anak gadisnya.

"Kalian teruskan berlatih, aku ada urusan sebentar." ia berkata

tiba-tiba kepada ketiga muridnya berbareng ia sudah gerakkan

badannya melesat ke bawah loteng, dari mana ia enjot

tubuhnya untuk terus hinggap diatas melalui langkan.

Perlahan-lahan ia menghampiri pintu kamar anaknya. Melalui

lubang kunci, ia dapat lihat dalam kamar ada satu nenek

sedang membungkus tubuh anaknya dengan kain sprei.

Bukan main marahnya Hek-houw Ma Liong. Ia tendang pintu

hingga terbuka dan lompat masuk menerjang si nenek yang

tiada lain adalah Ang Hoa Lobo.

Mendengar pintu ditendang terbuka, dari mana ada bayangan

lompat menerjang dirinya, Ang Hoa Lobo cepat berkelit sambil

lepaskan bungkusan yang saat itu sudah siap diangkat ke

pundaknya.

"Maling kurang ajar, kau berani ganggu keluarga Ma ?"

demikian ada bentakan si Macan Hitam Ma Liong dalam

 

marahnya ketika ia menerjang masuk dalam kamar Sian

Bwee. Ia menggunakan tipu 'Beng houw Pok yo' atau 'Harimau

buas menubruk kambing', dua tangannya diulur

mencengkeram kedua pundak si nenek untuk dengan

sekaligus menarik copot lengan orang sebatas pundak. Satu

serangan yang ganas karena si Macan Hitam Ma Liong sangat

gusar kepada si nenek.

Mungkin serangan Ma Liong yang ganas dan cepat itu berhasil

kalau yang diserang itu bukannya Ang Hoa Lobo, si nenek

yang sudah kawakan menggempur jago-jago silat dimana

saja. Dengan sedikit menggeser badannya, Ang Hoa Lobo

sudah dapat meluputkan diri dari serangan si Macan Hitam.

Melihat serangannya gagal, si guru silat sudah menyerang lagi

dengan gerakan 'Coa ong sim hiat' atau 'Ular mencari liang'. Ia

merangsak, tangan kirinya menyambar perut sedang tangan

kanannya berbareng nyelonong ke arah mata, dua jarinya

hendak mengorek sepasang lampu lawan. Tentu saja Ang Hoa

Lobo tidak ijinkan orang main-main dengan matanya. Tangan

kanannya menekan ke bawah tangan Ma Liong yang

menyambar perutnya sedang tangan kirinya menyentil dengan

cepat sekali pada 'siang-yang-hiat', jalan darah di jari telunjuk

lawan yang mau mengorek matanya.

'Nyer !' rasanya ketika telunjuknya kena disentil. Ma Liong

rasakan kesemutan dan ngilu. Tapi ia ada jago silat yang

keras kepala dan bandel, hanya sebentar saja ia sudah dapat

membebaskan rasa kesemutan dan ngilu.

"Nenek maling !" bentak Hek-houw Ma Liong gemas tapi agak

jeri juga melihat si nenek sangat lihai. Dua serangannya yang

dahsyat dapat dipatahkan dengan mudah, malah ia hampir

 

dirobohkan dengan totokan 'siang-yang-hiat'. "Aku tidak

bermusuhan dengan kau. Kenapa kau mau mencelakakan

keluarga Ma ?" tanya Ma Liong.

"Aku tidak pernah mencelakakan keluarga Ma, aku hanya mau

ajak anak gadismu untuk menjadi pelayannya Kim Coa

Siancu....." jawab Ang Hoa Lobo tenang-tenang. Tapi ia tak

dapat meneruskan kata-katanya karena lantas dipotong oleh

Ma Liong, "Hah ! Apa kau kata ? Kim Coa Siancu ? Siapa kau,

apa kau Kim Coa Siancu sendiri ?"

"He he he !" tertawa Ang Hoa Lobo yang melihat Hek-houw Ma

Liong seperti yang ketakutan mendengar disebut Kim Coa

Siancu. "Aku bukannya Kim Coa Sincu, tapi aku ada

suruhannya saja. Kepandaianku amat rendah, beda jauh

dengan majikan Kim Coa Siancu yang dapat pergi dan pulang

dengan hanya berkesiur angin saja. Tak seorang pun dapat

melihat bayangannya kalau dia memasuki rumah orang."

(Bersambung)

Jilid 05

Hek-houw Ma Liong terkejut. Pikirnya, orang suruhannya

sudah begini lihai. Sudah terang si nenek tidak ngebohong

kalau Kim Coa Siancu sendiri ada jauh lebih lihai dari

padanya. Meskipun sangat jeri, ia tidak ingin kehilangan anak

gadisnya. Begitu melihat Ang Hoa Lobo sudah menyentuh

pula tubuh anak gadisnya, hendak diangkat. Lantas ia kalap.

Ia terjang si nenek dengan pukulan maut, tapi Ang Hoa Lobo

hanya geraki badannya sedikit, lantas tangan kanannya

diulurkan untuk menangkis. 'Krak' segera terdengar satu

suara, berbareng si Macan Hitam lompat mundur sambil

pegangi tangan kirinya yang telah patah tulangnya.

 

Tiba-tiba tiga sosok tubuh sudah menyerbu masuk. Mereka

ternyata murid-muridnya Ma Liong. Si guru silat melihat

kedatangan murid-muridnya bukannya girang malah ia jadi

ketakutan karena ia sudah perhitungkan, mereka bukan

tandingannya si nenek.

Ia hendak membuka mulut mencegah tapi sudah terlambat

karena Gouw Liu Pa yang berangasan sudah menerjang Ang

Hoa Lobo dibantu oleh Hoan Tek Huy sedang Ma Kian

menolong ayahnya yang dalam semaput kesakitan.

Ang Hoa Lobo pikir tidak seharusnya ia membuang-buang

waktu, maka ketika si berangasan Gouw Liu Pa mengulur

tangannya ke arah dada, ia menyampok dengan tangan

bajunya yang berisi lwekang. Tentu saja si berangasan tidak

tahan. Kedua lengannya ia rasakan seperti copot. Si nenek

susul dengan totokan ke iga kiri sehingga Gouw Liu Pa

seketika itu juga roboh di lantai.

Tek Huy melihat kawannya hanya segebrakan saja

dirobohkan, hatinya panas lalu menerjang Ang Hoa Lobo. Si

nenek berkelit ke samping, dari mana jarinya yang kurus diulur

meluncur menotok 'ceng-leng'hiat' di lengan kanan Tek Huy

sehingga merasakan lengan yang tertotok itu kesemutan dan

ngilu kemudian ia pun roboh terkulai seperti Gouw Liu Pa.

Ma Kian terkejut. Apa mau, sebelum ia turun tangan, dengan

kegesitannya si nenek sudah mendahului si anak guru silat,

menotok 'thian-ki-hiat' di iga kanan. Lantas Ma Kian juga roboh

seperti teman-temannya. Serangan is nenek tak puas sampai

disitu sebab segera menyusul si guru silat Ma Liong sendiri

dibikin mendeprok di lantai karena totokan si nenek yang lihai.

 

"Hehehe !" terdengar Ang Hoa Lobo tertawa ketika melihat

musuh-musuhnya sudah dirobohkan semua. Ia menghampiri

pembaringan Sian Bwee, membungkus tubuh si dara yang tak

bergerak karena ditotok lalu diangkat lantas dipanggul dibawa

pergi dari situ. "Aku hanya menotok tidak berat. Maka dalam

tempo tidak lama kalian sudah bebas pula dari totokan.

Hehehe....!" demikian si nenek meninggalkan kata-katanya

ketika ia mau berjalan pergi membawa Sian Bwee.

Si Macan Hitam Ma Liong dan ketiga muridnya hanya matanya

saja dapat bergerak-gerak mengawasi si nenek, mulutnya tak

dapat membuka suara untuk mencaci atau meminta belas

kasihannya Ang Hoa Lobo supaya jangan membawa Sian

Bwee.

Adalah pada saat si nenek menginjakkan kakinya ditanah,

barusan lompat dari atas genteng rumah tiba-tiba ia dibikin

kaget dengan teguran dari belakangnya, "Jalan perlahan

sedikit, orang tua. Jangan tergesa-gesa !"

Ang Hoa Lobo cepat menoleh, kiranya yang berkata-kata tadi

adalah seorang perempuan usia kira-kira 40 tahun. Mukanya

bundar, alisnya lentik, tingginya sedang, cantik wanita itu,

sedang ditangannya ada mencekal sebatang pedang yang

siap untuk digunakan dimana perlu.

"Kau siapa ?" tanya Ang Hoa Lobo.

Wanita itu ketawa manis sebelum menjawab, "Aku adalah

nyonya dari rumah ini." kemudian sahutnya, suaranya halus

terang.

 

"Oh, jadi kau ada nyonya Ma ?" tanya Ang Hoa Lobo pula.

"Tidak salah, aku adalah nyonya Ma.' sahutnya. "Ingin aku

menanyakan sebab apa kau orang tua mencari perkara

dengan keluarga kami disini ?"

"Heheheh !" tertawa Ang Hoa Lobo. "Soalnya aku mau

membawa anak gadismu dirintangi oleh suamimu. Kalau tidak,

tak akan aku menganggu ketentramanmu."

Nyonya Ma bersenyum tawar. Alisnya tampak berkerut,

"Meskipun kau sudah mengacau dalam rumahku, melukai

suamiku dan menotok rubuh tiga muridnya, tidak aku tarik

panjang. Kau boleh berlalu dengan tenang asal kau tinggalkan

itu bungkusan yang digemblik dipunggungmu. Akur ?" kata si

nyonya Ma.

Diam-diam si nenek merasa heran. Ia mengawasi wanita

cantik, pikirnya, bisa ada orang yang sikapnya begini tenang

menghadapi musuh yang sudah timbulkan kerugian. Ucap

katanya begitu merendah, seharusnya si nenek mengalah dan

kembalikan bungkusan gede itu kepada nyonya Ma, tapi dasar

watak si nenek mau unggul saja, tidak mau ia pulang dengan

tangan kosong. Maka ia lalu menjawab, "Seharusnya aku

menurut apa kau katakan, cuma dalam menjalankan perintah

Kim Coa Siancu, siapa yang berani membantah ? Inilah yang

menjadikan aku keberatan......."

Ia tutup kata-katanya sambil putar tubuhnya, disusul dengan

satu lompatan jauh untuk lantas meninggalkan si wanita

cantik. Tapi niatnya si nenek tidak kesampaian sebab

dibelakangnya lantas terdengar pula nyonya Ma berkata,

"Kalau begitu, marilah kita main-main untuk menetapkan siapa

 

unggul !"

Kapan Ang Hoa Lobo balik tubuhnya, lantas ia menghampiri

nyonya Ma yang sudah siap dengan pedangnya. Melihat

caranya si nyonya menyusul ia yang lari menggunakan ilmu

larinya yang istimewa dengan mudah saja dapat membayangi

dirinya, maka Ang Hoa Lobo menduga bahwa wanita ini

bukannya lawanan empuk. Maka itu ia lalu turunkan

bungkusannya yang berisi Sian Bwee kemudian menghadapi

nyonya Ma, ia berkata, "Jika kau inin main-main, tidak ada

halangannya kita mencoba beberapa jurus !"

Toya besinya si nenek sudah disiapkan di tangan kanan.

"Bagus !" kata nyonya Ma. "Nah, sambutlah seranganku !" ia

menyambung tanpa ada tawar menawar lagi dalam hal siapa

lebih dahulu menyerang. Rupanya nyonya Ma sangat

mendongkol atas kelakuannya si nenek, meskipun sudah

dilayani dengan kerendahan juga masih kepala batu saja.

Dua jago betina segera sudah bertempur seru.

Ilmu pedang nyonya Ma baik sekali hingga Ang Hoa Lobo

berhati-hati melayaninya. Salah sedikit saja ia bisa

dipecundangi dan habislah cita-citanya untuk membangun

Ang-hoa-pay (Partai Kembang Merah). Maka itu si nenek

Kembang merah melayani nyonya Ma dengan sungguhsungguh

hingga pertarungan menjadi seru.

Si wanita cantik (nyonya Ma) adalah puteri tunggal dari Siangtauw-

niauw Kam Eng Kim, namanya Lian Eng dan mendapat

julukan 'Lengkoan Giok-li' atau 'Wanita elok dari kota

Lengkoan'. Selain kesohor kecantikannya, juga kesohor ilmu

 

pedangnya yang hebat.

Maklumlah puteri tunggal dari si Burung Kepala Dua yang

terkenal dalam propinsi Hokkian, semua kepandaiannya yang

ada diturunkan pada Lian Eng sehingga si juwita dari

Lengkoan itu menjadi jago betina yang belum menemukan

tandingannya. Kepandaiannya itu ada setingkat lebih tinggi

dari Hek-houw Ma Liong yang menjadi suaminya atau murid

kepala dari Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim.

Pertempuran antara Lian Eng Kam dan Ang Hoa Lobo benarbenar

ramai. Pedangnya Lian Eng berkelebatan mencari

sasaran penting pada tubuh si nenek. Sebaliknya, Ang Hoa

Lobo dengan toya besinya yang berat, berputaran dan toyanya

menyambar-nyambar keluarkan suara menderu-deru. Diamdiam

Lian Eng berpikir, orang suruhannya begini lihai,

bagaimana dengan Kim Coa Siancu sendiri kalau menyatroni

rumahnya ?

Lengkoan Giok-li lalu merangsek. Pedangnya berputar

sebentaran lalu dengan gerakan kilat ia menikam ke arah

tenggorokan Ang Hoa Lobo. Ini ada gerakan 'Giok li touw

kang' atau 'Wanita elok menyeberang sungai', salah satu jurus

yang penting dari Liu-su Kian-hoat atau ilmu silat pohon Liu,

yang menjadi kebanggaan ayahnya.

Biasanya Lian Eng belum pernah gagal menggunakan tipu

'Giok li touw kang', tapi kali ini yang dihadapi adalah Ang Hoa

Lobo. Terang tak semudah yang ia alami sebelumnya. Melihat

pedang hendak menikam 'jalan makanan', si nenek menaiki

badannya, toyanya dipegang dengan dua tangan dilintangi

menangkis serangan, kaki kanannya berbareng bekerja

menyapu kaki Lengkoan Giok-li. Ini adalah gerakan 'Liong

 

pang heng ouw' atau 'Toya naga melindungi telaga'.

Melihat serangan gagal, malah kakinya hampir disapu si

nenek, cepat Lian Eng ganti serangannya dengan 'Peng ouw

se ie' atau 'Hujan gerimis ditengah telaga'. Pedangnya susul

menyusul mengarah mta, tenggorokan, pundak dan

sebagainya. Cepat gerakan pedang itu hingga kalau bukan

Ang Hoa Lobo yang ilmu toyanya tinggi, siang-siang ia sudah

dapat dirobohkan oleh si jago betina dari kota Lengkoan. Si

nenek tahu bahayanya serangan musuh lalu memutar

toyanya, dibarengi dengan suara ketawanya yang melengking,

menggunakan tenaga dalamnya untuk membuat kacau pikiran

musuhnya yang sedang hebat menyerang. Inilah salah satu

jurus Ang Hoa Lobo yang paling ampuh yang dinamai 'Yu lim

mo siauw' atau 'Di rimba sunyi iblis tertawa'.

Benar saja, tipu silat si nenek membawa efek buruk bagi Lian

Eng. Sebab seketika ia mendengar suara tertawa yang seram

melengking, pemusatan pikirannya jadi terganggu. Hatinya

tergetar oleh suara tawa Ang Hoa Lobo, serangannya jadi

kacau. Kelemahan ini tidak disia-siakan oleh si nenek, toyanya

yang berputar tadi berganti arah, nyelonong ke 'hoa-kay-hiat',

jalan darah di bagian pundak kiri Lian Eng, kontan si wanita

cantik terkulai roboh. Ia rasakan totokan ujung toya si nenek

melumpuhkan lengan kirinya. Tangan kanannya masih

mencekal pedang tapi tak dapat digerakkan karena

kelumpuhan itu dari lengan kiri menjalar ke lengan kanan.

Tidak heran kalau pedangnyajatuh dengan sendirinya dan ia

mendeprok di tanah tak berdaya.

"Hehehe !" tertawa si nenek. "Bagaimana nyonya Ma yang

botoh ?"

 

Ang Hoa Lobo berkata sambil bekerja, angkat dan panggul

pula bungkusan gede yang terisi Sian Bwee. Setelah selesai

dan tinggal berangkat, ia berkata pada Lian Eng, "Nyonya Ma,

kau tak usah kuatir. Anakmu akan kupelihara seperti anak

sendiri. Dia akan menjadi pelayannya Kim Coa Siancu.

Belakangan hari, kalau berjumpa pula dengannya, kau akan

kegirangan sebab ilmu silatnya akan berada diatas kalian

suami istri. Nah, selamat tinggal........"

Setelah melemparkan senyumannya yang tidak enak dilihat, si

nenek meninggalkan nyonya Ma yang tidak berdaya.

Lengkoan Giok-li mengawasi berlalunya Ang Hoa Lobo

dengan berlinang-linang air mata. Ia sangat berduka dan

penasaran anak gadisnya digondol orang tapi ia tak dapat

menolongnya.........

Sudah lama kita tinggalkan Kim Popo. Marilah kita lihat si

nenek bandel dengan pacarnya The Sam. Bagaimana

perbuatan mereka untuk dapat merebut kembali kotak yang

berisi buku Tiam-hiat Pit-koat yang berada di tangan Kim Wan

Thauto.

Belum lama Kim Wan Thauto sampai di Kunhiang, mereka

juga sudah datang menyusul dan dari kejauhan

memperhatikan gerak gerik dari si Thauto beranting emas.

Kim Popo tidak ambil tempat di rumah penginapan An Goan,

dimana Kim Wan Thauto menginap. Ini untuk menjaga jangan

sampai ia dikenali oleh Kim Wan Thauto sedang The Sam, ia

suruh ambil di rumah penginapan An Goan untuk

memperhatikan gerak gerik Thauto dimana bila ada

kesempatan The Sam boleh turun tangan untuk merampas

pulang kotak mungil berisi kitab pelajaran menotok jalan darah

 

yang amat berharga.

The Sam menurut perintah pacarnya.

Tidak berani The Sam menghadapi Kim Wan Thauto dengan

terang-terangan. Maka ia menunggu sampai si Thauto lenah,

baru ia akan turun tangan. Pada malam kedua meliaht gerak

gerik Kim Wan Thauto pada waktu makan malam, The Sam

yang lihai matanya dapat menduga bahwa Kim Wan Thauto

sedang menghadapi suatu urusan, pikirnya, pasti ia akan

keluar lagi sebentar tengah malam. Ia sudah menduga pasti si

Thauto akan ambil jalan dari jendela kamarnya. Supaya

jangan bikin kaget orang, maka malam itu ia terus pasang

mata ke jurusan jendelanya si pendeta rambut panjang.

Benar lihai dugaannya sebab Kim Wan Thauto lewat tengah

malam betul saja keluar melalui jendela kamarnya. Girang

hatinya The Sam. Tidak lama si Thauto pergi, ia lantas masuk

ke kamar Kim Wan Thauto melalui jendela tadi dimana ia

menggeledah dan kegirangan menemukan barang yang

diselipkan dibawah bantal.

Barang itu ia masukkan ke kantongnya, kemudian meniup lilin

yang ia pasang ketika ia masuk dalam kamar itu yang dalam

keadaan gelap. Cepat ia keluar dari jendela dan dilain saat ia

sudah berada dalam kamarnya sendiri.

Setelah menyalakan lilin, ia duduk menghadapi meja. Dari

sakunya ia keluarkan kotak kecil yang barusan ia sikat dari

kamarnya Kim Wan Thauto.

Ia pandang kotak mungil itu sekian lama lalu mencoba

membukanya tapi tak dapat dibuka. Ia coba dan coba lagi,

 

kotak mungil itu tetap tak dapat dibuka.

Setelah dipandang lagi barang itu untuk sesaat lamanya, tibatiba

ia tertawa, "Hahaha ! Barng berharga memang sukar

didapat, biarlah aku buka belakangan."

Kemudian kotak itu ia letakkan diatas meja. Kembali ia

memandangnya, tiba-tiba pikiran serakah timbul seketika.

"Tidak, aku tidak akan serahkan barang ini pada Kim Nio. Aku

harus miliki dulu. Bila aku sudah pandai meyakinkannya dan

benar-benar dapat malang melintang dengan ilmu menotokku

yang hebat, barulah aku akan menemui Kim Nio lagi. Waktu itu

dia toh tidak akan memarahi aku lagi sebab aku sudah dapat

membujuk dia dengan turunkan sedikit kepandaian menotokku

kepadanya. Dia tentu sudah kegirangan dengan ilmu yang

didapatkan dari Tiam-hiat Pit-koat. Hahaha......" demikian ia

berkata-kata sendirian.

Sebentar lagi tampak The Sam menguap beberapa kali,

ngantuk dirasakan matanya. Lalu ia menghampiri

pembaringan dan tidur nyenyak disana tanpa memperhatikan

pula barang berharganya yang terletak diatas mejanya. Malah

ia lupa untuk meniup padam api lilin, yang biasanya

dipadamkan bila orang hendak masuk tidur.

Dalam keadaan gelap, tiba-tiba sesosok tubuh telah masuk

dalam kamar itu melalui jendela, kemudian cepat melompat

keluar lagi.

Pada keesokan harinya The Sam baru bangun setelah

matahari naik tinggi.

"Celaka, kenapa aku jadi kepulasan seperti orang mati !"

 

berkata The Sam sembari turun dari pembaringan,

menghampiri meja diatas mana ia taruh kota mungilnya.

"Hah !" ia terkejut karena kotak berharga itu sudah tidak ada

ditempatnya.

Dengan gugup ia memeriksa, malah sampai di kolong

mejanya, kalau-kalau kotak itu jatuh pikirnya. Tapi barang itu

tak diketemuka, lenyap, hilang entah siapa yang ambil. Baru

sekarang ia sadar akan keserakahan hatinya untuk memiliki

kepandaian hebat tapi akhirnya gigit jari.

Siapa yang ambil kotak berharga itu ? Apakah Kim Wan

Thauto ? Bagaimana ia harus melaporkan pada Kim Nio akan

kejadian itu ? Pikirnya, bagaimana juga ia harus menemui Kim

Nio (dimaksudkan Kim Popo) supaya bisa berdamai.

bagaimana baiknya untuk mendapatkan kembali barang

berharga itu.

Maka setelh ia cuci muka dan berpakaian rapi, lalu ia keluar

dari hotel An Goan menuju ke hotel Hok Lai untuk menemui

Kim Popo.

Belum sampai ia bertindak mencari kamar Kim Popo, tiba-tiba

ia dicegat oleh kuasa hotel yang berkata, "Aku ada titipan

sepucuk surat untuk tuan, marilah ikut ke kantorku." si pemilik

ajak The Sam ke kantornya.

"Surat dari siapa ?" tanya The Sam.

"Sebentar kalau tuan sudah lihat, tentu tahu surat itu dari

siapa." sahutnya.

 

Sebentar lagi mereka sudah berada dalam kamar hotel. Si

kuasa hotel ambil surat dari dalam lacinya lalu diserahkan

kepada The Sam.

Ia tidak punya sahabat atau kenalan yang dapat mengadakan

surat menyurat. Dari mana datangnya surat itu ? Tanyanya

dalam hati kecilnya. Tapi bagaimana juga ia harus membuka

dan membaca isinya, baru ketahuan siapa pengirimnya.

Koko,

Setelah aku sudah pandai meyakinkannya dan dapat

malang melintang dengan ilmu menotokku yang hebat,

barulah aku akan menemui kau lagi. Waktu itu, sebab aku

sudah dapat membujuk kau dengan menurunkan sedikit

kepandaian menotokku kepadamu. Kau tentu akan kegirangan

dengan ilmu totok yang didapatkan dari Tiam-hiat Pit-koat.

Hihihi...."

Surat itu tidak ditandatangani tapi sudah terang sekali bagi

The Sam bahwa surat itu ditulis oleh Kim Popo alias Kim Nio.

Kata-katanya persis seperti yang dikatakan tadi malam, maka

kotak kecil itu juga sudah tentu telah terbang bersama Kim

Popo. Ia sesalkan dirinya yang tidak jujur. Sekarang ia

kehilangan kotak berharga dan kehilangan juga Kim Nio,

malah kehilangan juga kepercayaan sang pacar itu,

bagaimana ia ada muka nanti bertemu lagi dengan Kim Popo

?

Dalam keadaan lesu The Sam meninggalkan kantor hotel Hok

Lay, tidak jadi mencari kamarnya Kim Popo sebab

penghuninya sudah terbang tadi pagi-pagi sekali, menurut

kuasa hotel.

 

Rupanya Kim Popo tidak percaya seratur persen atas

kejujuran The Sam. Maka kalau The Sam membayangi Kim

Wan Thauto, ia sendiri tidak tahu kalau dirinya dibayangi juga

oleh Kim Popo. Kata-katanya yang diucapkan dalam

kamarnya, semua terdengar tegas oleh Kim Popo yang

mengintip dari jendela.

"Kurang ajar ! Dia mau main gila denganku. Hmm !" diam-diam

Kim Popo berkata dalam hati kecilnya. Kemudian dia menyulut

hio obat pulas yang asapnya ia tiup masuk ke dalam kamar

The Sam. Sebentar saja tampak The Sam mengantuk dan

menguap beberapa kali, akan kemudian saking tidak tahan ia

sudah banting dirinya di pembaringan dan tidur nyenyak, tidak

menghiraukan kotak berharganya disikat Kim Popo.

Sekarang kita kembali pada Liu Wangwee.

Liu Wangwee sangat berterima kasih kepada si kerudung

merah. Disamping itu, ia menyesal sekali tidak dapat

mengetahui siapa adanya bintang penolongnya itu sampai

pada saat si kerudung merah meninggalkan rumahnya.

Dari suara bicara bintang penolongnya, seperti ia pernah

mendengarnya cuma ia lupa dimana ia pernah mendengar

suara itu. Meskipun ia coba kumpul ingatannya, tapi tetap

luput untuk mengingatkan dimana ia pernah ketemu dengan

orang yang suaranya tidak asing ditelinganya. Ingin sekali ia

menjambret kerudung si kerudung merah tetapi sudah tentu

keinginan itu tak dapat ia wujudkan karena perbuatan itu tentu

tak sopan.

Ia hanya boleh terhibur hatinya ketika si kerudung merah

meninggalkan, memesannya, "Toako, kau jangan kuatirkan

 

lagi kepada Sucoan Sam-sat karena mereka tentu tidak akan

berani lagi datang kemari sedang bentrokan dengan Tan Kong

Ceng sebaikanya diselesaikan saja agar tidak menanam

permusuhan yang tidak ada gunanya."

"Terima kasih atas nasihat Injin (tuan penolong),aku akan

perhatikan betul-betul. Cuma saja....." Liu Wangwee tidak

dapat menemukan kata-katanya, sebaliknya ia tersenyum

kepada tamunya yang aneh itu.

"Cuma saja apa, toako ?" tanya si kerudung merah.

"Cuma saja aku menyesal tak dapat melihat wajah Injin." sahut

Liu Wangwee.

"Untuk apa melihat wajahku. Kita berkenalan cara begini saja

sudah cukup." kata si kerudung merah, ia tertawa gelak-gelak.

Liu Wangwee terkejut, suara tertawa itu seperti ia kenal baik

tapi dimana ia pernah mendengarnya, siapa orangnya ? Maka

dengan bernapsu berkata, "Injin, suara ketawamu aku kenal

benar, hanya dimana aku pernah mendengarnya aku sudah

lupa lagi. Dasar aku sudah tua, tukang pelupa !"

"Toako kenal suara tawaku, itu sudah bagus." sahut si

kerudung merah. "Sekarang belum waktunya aku

memperkenalkan wajahku tapi ada suatu waktu, tentu aku

akan datang pula untuk menyambangi toako dan disitulah

toako nanti kenali siapa diriku."

Liu Wangwee tidak memaksa si kerudung merah untuk

memperkenalkan diri karena sudah jelas si bintang penolong

sungkan berbuat demikian. Maka ia suruh seorang pelayan

 

untuk panggil keluar nonanya, untuk kasih selamat jalan

kepada bintang penolongnya yang hendak berangkat hari itu.

Sebentar lagi tampak Bwee Hiang sudah keluar, lalu Liu

Wangwee berkata pada gadisnya, "Anak Hiang, Injin akan

berangkat hari ini juga. Lekas kau mengucapkan selamat jalan

dan terima kasih."

Bwee Hiang lantas berlutut dihadapan si kerudung merah

yang sedang duduk di kursi.

"Budi Injin sebesar gunung, entah dengan apa kami dari

keluarga Liu dapat membalasnya. Moga-moga Thian akan

melindungi Injin dalam perjalanan dengan tak kurang suatu

apa pun. Bwee Hiang mengharap perpisahan ini hanya untuk

sementara saja dan segera akan disusul oleh kunjungan Injin

sehingga Bwee Hiang dapat melayani Injin lagi..." demikian si

gadis mengucapkan kata-kata selamat berpisahnya, air

matanya tampak bercucuran jatuh di lantai.

Bwee Hiang sangat duka hatinya. Ia tidak menduga si

kerudung merah akan meninggalkan mereka demikian

cepatnya sebab hari kemarin ia duduk berkumpul dengan si

bintang penolong, tidak ada omongan bahwa si kerudung

merah akan berangkat hari ini.

Dalam beberapa hari berkumpul, disamping si kerudung

merah terus mengobati ayahnya, tamu asing itu sangat ramah

terhadap dirinya. Ia dapat banyak petunjuk dalam hal ilmu silat

maupun sastra, dan Bwee Hiang juga sangat hormat dalam

pelayanannya sehingga si kerudung merah kelihatan betah

tinggal dalam rumah Liu Wangwee.

Sebagaimana dengan ayahnya, Bwee Hiang juga sudah

 

berusaha memancing siapa dirinya si kerudung merah tapi

tamu itu selalu kesampingkan omongan yang menyinggung

tentang keadaan dirinya, maka Bwee Hiang tidak berani

mendesak.

Kini tiba-tiba ia mendengar si kerudung merah akan angkat

kaki dari rumahnya, tentu saja si nona menjadi terkejut dan

merasa sangat sedih.

Seraya mengelus-elus rambut si nona, si kerudung merah

berkata, "Anak Hiang, kau tak usah menangis. Kau lupa

dengan peribahasa yang mengatakan, 'Tiap ada berkumpul.

selalu ada berpisah'. Maka perpisahan ini semoga disusul

dengan kunjunganku berikutnya. Kata-katamu ini tepat sekali.

Nah, bangunlah nak !"

Sementara Bwee Hiang bangkit dari berlututnya sambil

menyusuti air matanya dengan saputangan berbareng si

kerudung merah juga bangkit dari duduknya. Setelah angkat

tangan menyoja pada Liu Wangwee, dengan tidak berkata

apa-apa lagi ia putar tubuhnya dan meninggalkan ruangan itu

dengan cepat sehingga Liu Wangwee tertegun ditempatnya

melihat sikap tamunya yang aneh itu.

Sebentar saja si kerudung merah sudah lenyap dari

pandangan mereka.

Sejak itu ayah dan anak itu berlatih keras dalam ilmu pukulan

maupun pedang untuk berjaga-jaga kalau-kalau dari pihaknya

Tan Kong Ceng mencari gara-gara pula.

Dengan dapat beberapa petunjuk yang berharga dari si

kerudung merah, dalam tempo pendek ilmu pedang Bwee

 

Hiang sudah berubah jauh. Ia merasa girang akan

kemajuannya itu tapi ia tidak pernah lupa untuk berterima

kasih kepada tamu anehnya itu.

Hari lewat dengan cepat laksana anak panah yang melesat

dari busurnya. Tanpa terasa sudah satu tahun setengah

dilewati sejak kunjungannya si kerudung merah. Ternyata si

bintang penolong tidak kelihatan mata hidungnya pula. Tapi

Liu Wangwee dan Bwee Hiang tentram hatinya karena ilmus

ialtnya sudah banyak maju.

Sementara itu desa Kunhiang pun sudah banyak berubah.

Desa itu maju karena pabrik-pabrik disitu bertamah banyak.

Penduduk makin banyak sehingga makin ramai desa itu,

tentam dan aman. Hartawan Tan juga tidak mencari gara-gara

pula kepada Liu Wangwee.

Liu Wangwee mengira keadaan akan dinikmati terus dampai

hari tuanya, tidak dikira pada suatu hari ia dibikin terkejut

dengan adanya kabar yang tersiar bahwa Sucoan Samsat

sudah kembali mengganas. Mereka sedang mencari si

kerudung merah.

Kabar yang mengagetkan Liu Wangwee adanya berita yang

mengatakan bahwa Sucoan Sam-sat akan membakar dan

menghancurkan desa Kunhiang kalau mereka tidak

menemukan si kerudung merah. Mereka hendak

melampiaskan angkara murkanya kepada desa Kunhiang

sebagai gantinya si kerudung merah.

Bingung hatinya Liu Wangwee bersama gadisnya. Kemana

mencari si kerudung merah yang sampai sebegitu jauh tidak

mengunjungi rumahnya.

 

Tiba-tiba Liu Wangwee ingat akan sahabatnya yang tinggal

dikota Gakwan, dibawah kaki gunung Hengsan, ialah Soatcian

Ang Ban Teng, Pangcu dari Ceng Gee Pang.

Pikirnya, Ceng Gee Pang ada mempunyai banyak anggauta,

tersebar luas, siapa tahu dengan bantuan Pangcu dari Ceng

Gee Pang, ia dapat berita dimana adanya si kerudung merah

supaya dapat diberitahukan tentang maksud Sucoan Sam-sat

mencarinya.

Demikianlah, Liu Wangwee setelah memesan Bwee Hiang

untuk berhati-hati dirumah, ia berangkat ke kota Gakwan

menemui Ang Ban Teng dan minta pertolongan sahabat ini.

Ang Ban Teng dan Liu Wangwee ada sahabat dari banyak

tahun, maka pertemuan mereka sangat menggembirakan. Liu

Wangwee tidak minta bantuan sang sahabat untuk

menghadapi tiga algojo dari Sucoan, ia hanya minta bantuan

supaya mendengar-dengar dimana adanya si kerudung

merah. Ang Ban teng menjanjikan akan membantunya.

Meskipun tidak diminta bantuan untuk menghadapi Sucoan

Sam-sat, Ang Ban Teng tidak enak nampak sahabatnya

menghadapi bencana, maka Pangcu dari Ceng Gee Pang itu

sudah perlukan malam-malam mengunjungi markas

cabangnya di atas jurang Tong-hong-gay seperti yang kita

ceritakan disebelah atas.

Sudah dua minggu lamanya sejak kunjungannya pada Ang

Ban Teng, diam-diam Liu Wangwee merasa cemas hatinya

karena belum mendapat berita apa-apa dari sahabat itu.

 

Pada suatu siang hari untuk menghibur diri dari

kecemasannya, Liu Wangwee jalan-jalan disekitra desa dan

akhirnya memasuki rumah makan An Goan dimana ia minta

disediakan arak dan makanan sederhana untuk mengisi

perutnya.

Setelah ia menengak beberapa sloki araknya, tiba-tiba ia

dibikin kaget oleh suara ramai-ramai diatas loteng. Ketika ia

melihat ke loteng, saat itu satu anak kecil tengah dilemparkan

oleh dua pelayan rumah makan melalui langkan.

Liu Wangwee memeramkan matanya saking ngeri melihat

adegan itu. Pikirnya, anak kecil dilempar dari atas loteng yang

demikian tinggi, bagaimana jadinya kalau sebentar jatuh diatas

lantai. Kalau tidak hancur, sedikitnya anak itu bakalan

setengah mati keadaannya. Ketika ia membuka pula matanya,

tiba-tiba ia berseru, "Eh...."

Matanya terbelalak heran sebab anak kecil itu tampak lagi

berdiri tidak kurang suatu apa, hanya kedua tangannya

memegangi perutnya.

Tampak dua pelayan yang melemparkan si bocah turun dan

satu diantaranya yang dipanggil Lo-ji telah mendamprat. "Enak

saja kau ngomong. Besok-besok sampai kapan kau akan

membayarnya ? Memangnya uang sewa kamar disini boleh

diulur-ulurkan ? Hmm ! Bocah, lebih baikkau sekarang pergi

dari sini supaya jangan aku si Lo-ji menggebuki kau setengah

mati. Hayu, pergi sana. Bocah tukang sikat !"

"Aku bukan mau sikat uang sewaan kamar cuma aku mau

minta tempo besok." kata si anak kecil.

 

Lo-sam, kawannya Lo-ji menghampiri si bocah, katanya,

"Sudah, sudah, hayo keluar. Jangan sampai Lo-ji turun tangan

!"

Lo-sam berkata sambil menjoroki si anak kecil hingga

sempoyongan.

Tamu-tamu rumah makan itu jadi pada menonton kejadian itu.

Mereka lihat si anak kecil wajahnya hitam legam seperti pantat

kuali, usianya kira-kira baru 14 tahun, cuma perawakannya

ada tinggi kurus. Entah anak siapa dia, para tamu menanya

dalam hatinya.

Ada yang menanyakan pada Lo-ji, lalu menerangkan. "Aku

tidak tahu dia anak siapa, hanya dia sudah menginap disini

selama tiga malam. Ketika diminta uang sewa kamar dan

makan, katanya besok, besok kapan ? Dia memang anak

gembel yang kesasar ke sini rupanya."

Lo-ji tutup kata-katanya sambil menghampiri si bocah yang

belum mau pergi.

Ia ulur tangannya dan menjoroki lagi sambil berkata, "Lekas

keluar, aku tak ingin melihat cecongormu, tukang sikat !"

Kembali si bocah sempoyongan, malah kali ini sampai

terpelanting tapi ia cepat bangun lagi. Para tamu pada ketawa

terbahak-bahak melihat kejadian itu.

Hanya Liu Wangwee yang lihai matanya tidak turut ketawa.

Sedari tadi, pada saat ia buka matanya melihat si bocah tidak

 

apa-apa dilempar dari atas loteng, hatinya merasa heran.

Sekarang ia menyaksikan si anak kecil dijoroki sempoyongan

sampai terpelanting lagi, tapi kakinya antap betul. Anak itu

seperti mempunyai kepandaian yang disembunyikan.

Melihat si bocah belum mau keluar, dua pelayan itu makin

marah. Dua orang lalu menubruk mau menggusur si anak

hitam dilempar keluar. Benar si bocah kena dicekal tapi waktu

mau diseret tidak bergeming seperti nyangkut pada tiang besi.

Tapi ini hanya sejenak saja, sebab lantas si bocah dapat

diseretoleh dua pelayan itu.

Dasar orang-orang dogol, pikirnya, barusan si bocah tidak

bergeming diseret lantaran kurang keras gentaknya, maka

mereka ulangi lagi, benar saja anak kecil itu kena diseret.

"Tahan !" tiba-tiba Liu Wangwee berkata ketika melihat si

bocah mau dilempar keluar.

Dua pelayan itu hentikan niatnya melempar si anak kecil

keluar. Mereka lihat ada orang menghampiri mereka, lantas

mereka kenali itu adalah Liu Wangwee, ketua dari orang-orang

kaya dalam desa itu.

Dengan sangat hormat, mereka menanyakan apa maksudnya

si hartawan mengucapkan kata 'Tahan !' yang mana dijawab

oleh Liu Wangwee, "Kalian lepaskan anak ini, semua

hutangnya aku yang tanggung !"

Dua pelayan itu melengak. Tapi tidak berani membantah,

maka seketika itu mereka melepaskan cekalannya hingga si

anak kecil sekarang bebas.

 

Anak itu ketawa nyengir pada mereka, lalu membungkukkan

badan memberi hormat pada Liu Wangwee, katanya, "Terima

kasih atas kebaikan Lope."

"Anak kurang ajar, Loya begitu kenapa dipanggil Lope ?"

semprot Lo-ji mau ambil muka Liu Wangwee.

Tapi hartawan Liu menggoyangkan tangannya, "Kalian sudah

tidak ada urusan lagi, lekas layani tamu-tamu lainnya !"

Lo-ji jadi bengong. Dikira bakal dipuji tapi kenyataannya

menerima kata-kata pahit dari Liu Wangwee.

Lo-ji dan Lo-sam pada ngeloyor pergi.

"Anak, mari kita makan sama-sama." kata Liu Wangwee

seraya tangannya diulur mencekal lengan si anak kecil diajak

ke mejanya.

Liu Wangwee minta pelayan tambah hidangan lagi.

Setelah sama-sama sudah ambil tempat duduk, Liu Wangwee

menanya, "Anak, namamu siapa ?"

"Aku she Lo, nama In." sahut si anak kecil, yang memang Lo

In adanya. "Aku ribut dengan pelayan itu lantaran......."

"Sudah, sudah." memotong Liu Wangwee seraya goyanggoyang

tangannya. "Urusan dengan mereka sudah aku

bereskan, jadi tak usah kau sebut-sebut lagi. Aku hanya mau

berkenalan dengan kau, sebenarnya kau anak siapa ?"

Mendapat pertanyaan itu, Lo In tidak lantas menjawab. Ia

 

kerutkan keningnya, berpikir apakah ia boleh mengaku ia

anaknya Kwee Cu Giok ? Tidak bisa, sebab ia tidak kenal

siapa Kwee Cu Giok itu. Anak Liok Sinshe juga tidak tepat

sebab Liok Sinshe janya pelindungnya saja, ia jadi sangsi.

"Anak, kau dapat kesulitan untuk menyebutkan nama orang

tuamu ?" tanya Liu Wangwee yang melihat Lo In seperti yang

ragu-ragu akan menyebutnya.

"Oh, bukan, bukan." sahut Lo In gugup. "Aku sendiri tidak tahu

aku anak siapa, maka aku jadi ragu-ragu untuk menjawabnya."

Lo In berkata dengan malu-malu, sambil tundukkan kepalanya.

Liu Wangwee ketawa. "Tidak apa, mari kita makan. Eh,

barusan aku lihat kau memegangi perut saja, apa kau sakit ?"

"Memang aku lagi sakit perut, tapi sekarang sudah baik."

jawab Lo In.

"Lantaran tubuhmu didorong-dorong tadi oleh dua orang dogol

itu, rupanya perutmu terkojak-kojak hingga perutmu kabur

sendirinya. Hahaha..." Liu Wangwee tertawa.

Lo In turut tertawa.

"Mari kita makan." mengundang hartawan Liu.

Lo In tidak diundang untuk kedua kalinya, ia hantam saja

makanan yang sudah tersedia di depannya. Sudah lama ia

hanya makan buah-buahan saja, kini menghadapi makanan

enak bukan main senangnya. Hampir kenyang, tiba-tiba ia

ingat sesuatu dalam benaknya, maka seketika itu ia letakkan

mangkok dan sumpitnya.

 

Ia bengong, dari kedua matanya tampak ada mengembeng air

mata.

Liu Wangwee heran melihat kelakuannya Lo In, ia menanya,

"Nak, kenapa ? Apa kau rasakan perutmu sakit lagi ?"

Lo In geleng kepala. "Aku menghadapi makanan seenak ini,

aku jadi ingat kepada seseorang yang pernah mengajak aku

makan seperti Lope sekarang ini." kata Lo In seraya menyusut

air matanya dengan tangan bajunya.

"Siapa orang itu ?" tanya Liu Wangwee.

"Lebih baik aku tidak menyebutkan namanya." sahut Lo In.

"Sebab dengan menyebutkan namanya aku menjadi lebih

sedih lagi."

Liu Wangwee tidak menanya panjang. Ia hanya menghibur,

"Orang baik memang selalu diingat orang, biarlah orang itu

mendapat lindungan Thian. Anak, kau jangan sedih, sebaiknya

kau makan terus dan lebih banyak."

Mendengar hiburan Liu Wangwee, bukannya Lo In terhibur

sebaliknya malah ia menangis tersedu-sedu hingga membuat

tamu-tamu yang duduk disekitarnya menjadi heran.

Liu Wangwee merasa tidak enak. "Nak, mari kita pulang. Di

rumah ada enci yang dapat menghiburmu."

Dengan serentak Lo In hentikan tangisnya yang terisak-isak

ketika mendengar Liu Wangwee menyebutkan kata 'enci'. Ia

ingat akan enci Eng Lian-nya. Apakah yang dimaksud oleh

 

orang tua didepannya ini ada enci Eng Lian-nya ?

Lo In anggukkan kepalanya.

Liu Wangwee heran melihat kelakuannya si anak hitam,

apakah dia kurang waras ingatannya, tadi menangis tersedusedu

sekarang berhenti menangis seraya mengangguk,a pa

yang ia anggukkan ? Justru kelakuan Lo In yang ia anggap

aneh itu yang membuat Liu Wangwee makin keras niatnya

untuk mengetahui rahasia dirinya si bocah.

Meskipun ditutup oleh wajahnya yang hitam, mata Lo In yang

tajam bercahaya tidak bisa menutup matanya Liu Wangwee

yang lihai. Orang tua itu menduga pasti si bocah ada

berkepandaian sangat tinggi dilihat dari sorot matanya yang

tajam luar biasa seakan-akan ada membungkus tenaga dalam

yang dahsyat.

Setelah membayar uang makanan, Liu Wangwee lantas ajak

Lo In berlalu dari situ.

"Kau mau ajak aku kemana, Lope ?' tanya Lo In seperti yang

linglung.

"mari kita pulang." sahut Liu Wangwee manis budi.

"Pulang kemana ?" si bocah menanya heran.

"Ke rumahku. Mari, disana kita bisa ngomong-ngomong

dengan tiada yang ganggu." Liu Wangwee kata seraya tarik

tangan Lo In.

"Nanti dulu, aku mau ambil pakaianku sebentar." kata Lo In

 

sambil terus lari naik tangga loteng masuk ke kamarnya.

Sebentar lagi ia sudah turun lagi dengan membawa buntalan

kecil. Liu Wangwee ketawa melihat kelakuan Lo In yang lucu.

Dalam perjalanan, Lo In menanya, "Lope kata tadi di rumah

ada enci ?"

"Ya, benar ada enci. Di sana kau akan ketemu enci." sahut Liu

Wangwee.

Lo In kegirangan. Jalannya makin cepat hingga Liu Wangwee

terheran-heran sebab ia sudah gunakan jalan cepat untuk

mencoba meninggalkan si bocah, kenyataannya Lo In masih

terus mengintil dalam jarang yang dekat sekali dengannya.

-- 14 --

Ketika sampai dirumah, Bwee Hiang heran melihat ayahnya

membawa pulang satu anak berwajah hitam seperti pantat

kuali. "Nah, ini encimu." kata Liu Wangwee memperkenalkan

anak gadisnya pada si bocah.

"Bukan, bukan, dia bukan enci Lianku." sahut si bocah

mengawasi Bwee Hiang.

"Siapa itu enci Lianmu ?" tanya Bwee Hiang, tersenyum

manis.

Lo In ketawa nyengir. Lucu kelihatannya hingga Bwee Hiang

tertawa ngikik.

"Anak Hiang, kau bawa masuk adikmu itu." kata Liu Wangwee

dari sebelah dalam, yang sudah masuk lebih dahulu setelah

 

memperkenalkan Bwee Hiang pada Lo In.

"Adik, mari masuk." kata Bwee Hiang.

"Ah, aku tidak mau. Tidak ada enci Lian, buat apa aku masuk."

kata si bocah seraya mundur dan mau ngeloyor dari depan

pintu masuk.

"hei, kau mau kemana ? Mari masuk, di dalam nanti enci kasih

makanan enak." membujuk Bwee Hiang seraya cekal

tangannya Lo In ditarik masuk ke dalam.

Lo In sudah mau bebaskan tangannya yang dicekal si gadis

kalau ia tidak mendengar Bwee Hiang kata 'mau kasih

makanan enak'. Ia ragu-ragu makanan enak apa yang akan

diberikan padanya oleh enci yang baru dikenal itu.

Lagian Bwee Hiang kelihatan ramah tamah meskipun tidak

selincah enci Liannya, si bocah merasa malu hati. Maka ia

menurut dituntun oleh Bwee Hiang dibawa masuk ke dalam

rumah dimana Lo In dapat lihat perabotan dan perhiasan

rumah itu sangat indah dan menarik perhatiannya.

Dasar orang gunung, ia menanya ini itu pada Bwee Hiang,

kapan ia melihat barang yang menarik hatinya. Si gadis sangat

sabar, ia memberi keterangan dengan terang hingga Lo In

menjadi girang.

"Ini namanya apa ?" tanya Lo In pada Bwee Hiang seraya

menunjuk sesuatu ketika ia dibawa ke ruang belakang.

Bwee Hiang pintar, otaknya cerdas. Melihat Lo In laga lagunya

seperti baru keluar dari pegunungan, maka ia selalu melayani

 

gerak geriknya supaya si bocah senang.

Apalagi barusan dikisiki oleh ayahnya supaya ia perlakukan si

bocah baik-baik karena bocah itu ada isinya. Maka Bwee

Hiang menjaga hati-hati supaya tidak membikin hatinya si

anak kecil kurang senang.

Ketika ia ditanya Lo In sambil tersenyum ia menjawab, "Aku

Bwee Hiang, dan kau, siapa namamu ?"

"Aku she Lo nama In, enci Hiang." jawabnya seraya nyengir

ketawa.

Nyengir ketawa dalam wajah hitam macam pantat kuali, tentu

saja kelihatannya lucu dan tak tahan Bwee Hiang untuk tidak

tertawa. Ia ngikik ketawa sambil menekap mulutnya dengan

tangannya yang halus putih.

Lo In senang melihat teman barunya banyak ketawa. Pada

Bwee Hiang ternyata Lo In lebih terlepas omongannya hingga

diam-diam si gadis pun merasa suka pada anak hitam ini.

Ditanya kenapa Lo In ribut dalam rumah makan, Lo In lantas

saja nyerocos cerita. ia kata bukannya ia tidak mau bayar

uang sewa kamar tapi lantaran uangnya kena dicopet orang,

maka ia minta tempo besok. Apa mau pada hari yang

dijanjikan ia sakit perut tidak bisa keluar hingga kembali

berjanji besok. Tapi orang-orang rumah makan tidak mau

mengerti dan mengusir dia seperti mengusir binatang. Untung

ketemu sama Liu Wangwee dan membereskannya, kalau tidak

entah bagaimana jadinya.

"Orang usirmu seperti binatang, kenapa kau tidak melawan ?"

 

tany Bwee Hiang.

"Aku anak kecil, mana bisa menang sama orang tua." sahut Lo

In ketawa.

"Kau bohong, ya. Kalau kau mau, mungkin dua orang dogol itu

bukan tandinganmu." berkata lag si gadis yang hendak

memancing Lo In.

Lo In ketawa nyengir. "Enci Hiang bisa saja. Aku tidak pandai

berkelahi. Bagaimana aku bisa menangkan dua orang tua itu"

jawab Lo In kemudian.

Si bocah suka dengan humor, maka laga lagunya sabansaban

bikin Bwee Hiang ketawa ngikik hingga diam-diam si

gadis merasa suka sama adik kecil ini.

Omong-omong tidak terasa lagi hari sudah sore. Lo In permisi

pada Bwee Hiang hendak berlalu, tapi si gadis menahan.

"Nanti dulu, aku akan kabarkan pada ayah." katanya.

"Jangan ganggu orang tua. Biarkan dia mengaso. Sebentar

pun masih boleh enci sampaikan aku punya rasa hormat dan

terima kasih padanya." berkata Lo In ketawa.

"Adik kecil, kau jangan pergi dulu. Kalau aku pergi, aku nanti

marah !" kata Bwee Hiang sambil bangkit dari duduknya dan

masuk ke dalam menemui ayahnya.

Lo In tidak berani tinggalkan tempat itu, karena ia takut

membuat marah Bwee Hiang yang ia pandang sebagai enci

yang sangat baik padanya.

 

Selagi menanti Bwee Hiang, pikirannya melayang pada Eng

Lian. Dimana enci nakal itu sekarang berada, dimana ia harus

mencaharinya ?

Dalam keadaan ngelamun, tiba-tiba ia ditegur oleh Bwee

Hiang, "Adik kecil, kau lagi ingati apa saja sampai terbengongbengong

kulihat."

Lo In seperti tersadar dari tidurnya, dengan gugup ia

menjawab, "Tidak, oh tidak. Aku hanya memikiri dimana

malam ini aku harus menginap. Aku tidak punya uang untuk

membayar uang sewa penginapan, nanti diusir orang lagi."

Bwee Hiang tersenyum, "Adik kecil kalau tidak, seharusnya

kau tidur di pohon." si gadis berkata sambil ngikik ketawa.

"Oh, kalau di lembah, oh, tidak, kalau.... kalau....." omongan Lo

In jadi kacau.

Ia kesalahan omong maka ia jadi gugup tidak karuan tapi

Bwee Hiang yang cerdik sudah lantas dapat menangkap apa

yang Lo In ingin maksudkan omongannya itu.

"Nah, anak tukang ngebohong." ia berkata sambil jari

telunjuknya menuding pada Lo In. "Ngomongnya saja sudah

gaga gugu hihihi..."

Mau tidak mau Lo In jadi ketawa melihat teman barunya

bergaya lucu.

"Begini, adik kecil." berkata lagi Bwee Hiang. "Ayah kata

sedikitnya kau harus menjadi tamu kita seminggu lamanya, itu

baru betul. Kau tidak boleh sekarang pergi dari sini sebab

 

ayah kata kalau kau paksa pergi artinya kau tidak memandang

mata pada orang tua."

Lo In jadi melengak mendengar kata-kata Bwee Hiang. "Habis,

aku tidur dimana ?" tanyanya.

"Di pohon, tuh !" jawab Bwee Hiang sembari jarinya

telunjuknya menunjuk ke jurusan pohon, lucu gayanya hingga

Lo In jadi tertawa terbahak-bahak.

Senang Lo In dapatkan teman barunya yang jenaka, sekalipun

tidak seperti Eng Lian yang kejenakaannya suka dibarengi

dengan mencubit. Si bocah tidak ingat bahwa usia Eng Lian

dan Bwee Hiang jauh bedanya. Eng Lian masih terhitung

anak-anak sedang Bwee Hiang sudah masuk hitungan gadi

yang sudah matang 'keluar pintu', mana bisa antara Eng Lian

dan Bwee Hiang disamakan kelakuannya.

Bwee Hiang demikian open pada Lo In selain sendirinya kena

ketarik sama kejenakannya si bocah, adalah keinginan

ayahnya supaya ia dapat mengetahui asal usulnya Lo In.

Liu Wangwee percaya anak gadisnya yang cerdik dapat

mengorek rahasia dirinya Lo In yang diduga menyembunyikan

kepandaian sangat tinggi. Liu Wangwee curigai Lo In bukan

anak sembarangan, siapa tahu bapaknya ada orang lihai yang

dapat menolong ia dalam kesulitan menghadapi Sucoan Samsat.

Matanya Liu Wangwee lihai. Memang betul Lo In hendak

sembunyikan kepandaiannnya. Hanya sayang, dasar anak

kecil 'sok aksi', dipancing-pancing akhirnya si bocah bercerita

juga pada Bwee Hiang bahwasanya ia di lembah ada

 

mempunyai kawan-kawan tentara kera, burung rajawali, gorila

serta teman mainnya Eng Lian yang nakal jenaka.

Perihal ia makan buah 'Jit-goat-ko' dan nyalinya Tok-gan

Siancu tidak ia ceritakan pada si gadis. Bwee Hiang separuh

percaya, setengah tidak. Tapi melihat Lo In bercerita sambil

bergaya dan tangannya tidak bisa diam dan unjuk aksinya,

mau tidak mau tiap sebentar si nona jadi cekikikan ketawa.

Lo In girang dapat membikin teman barunya itu ketawa ngikik.

Dengan pertemuan ini, membuat ia tidak begitu kehilangan

atas lenyapnya Eng Lian.

Keluarga Liu ada kaya raya, rumahnya besar bertingkat,

dilingkari dengan pekarangan yang lebar dan luas. Malah

dibelakang rumahnya ada satu tempat yang dinamakan 'rimba

kecil', dimana orang bisa jalan-jalan cari angin seperti di

Kebon Raja. Untuk mengurus rumah dan tanahnya yang luas

itu, sudah tentu hartawan Liu ada memakai banyak pegawai

dan pelayan. Bwee Hiang sendiri ada pakai dua pelayan yang

ia beri nama sendiri Ling Ling dan Lan Lan yang berusia kirakira

15 dan 16 tahun.

Bwee Hiang bukan gadis hartawan yang sombong dan

angkuh, sebaliknya ia sangat ramah tamah sehingga dua

pelayannya sangat suka dan setia padanya. Begitulah dengan

bergaul sama Bwee Hiang yang diramaikan oleh Ling Ling dan

Lan Lan, kelihatannya si bocah Lo In senang tinggal dalam

rumahnya Liu Wangwee.

Pada suatu sore, cuaca ada adem sekali. Tampak Lo In

sedang mendongeng apa tahu, yang terang Bwee Hiang

terpingkal-pingkal ketawa.

 

"Kalau mendengar dari mulutmu yang banyak omong, kukira

kau hanya satu bocah tukang ngobrol saja, adik kecil." berkata

Bwee Hiang setelah ia berhenti ketawa.

Kiranya Lo In sedang mendongeng bagaimana ia dapat

memerintah tentara keranya dengan bahasa monyet, perintah

burung garudanya dengan hanya siulan saja, lompat tinggi ke

atas pohon dengan hanay sekali gerakan saja, inilah rupanya

yang membuat Bwee Hiang terpingkal-pingkal ketawa.

Pantasan si gadis sama sekali tidak percaya. Pikirnya,

bagaimana manusia bisa bercakap bahasa monyet,

memerintah dan memanggil burung raksasa hanya dengan

siulan saja. Maka juga, setelah ia terpingkal-pingkal ketawa ia

mengatakan si bocah hanya pandai omong besar saja. Ia tidak

kira justru kata-kata ini membuat si bocah penasaran.

"Enci Hiang mau bukti ?" tanya si bocah dalam penasarannya.

"Coba kau tangkan tuh burung gereja yang saling kejar di

pohon !" sahut Bwee Hiang ketawa seraya jarinya menunjuk

ke pohon.

Lo In menoleh ke jurusan yang ditunjuk. Benar saja ada dua

ekor burung gereja yang terbang saling kejar. Tanpa banyak

omong si bocah dekati pohon, kemudian enjot tubuhnya

ngapung ke atas pohon. Entah bagaimana ia menyergap,

tahu-tahu dua ekor burung gereja itu sudah berada

ditangannya dan dibawa lompat turun.

Sambil ketawa-ketawa ia menghampiri Bwee Hiang, seketika

itu sedang terbelalak keheranan melihat gerakan si bocah

yang sangat gesit.

 

"Nah, ini lihat, burung yang enci suruh tangkap." berkata si

bocah seraya taruh dua ekor burung gereja itu ditelapakan

tangan kirinya.

Burung yang tadinya lincah, terbang dengan gesitnya,

sekarang berada di telapak tangan si bocah kelihatannya

jinak, hanya sayapnya mengebas-ngebas seperti mau terbang

tapi tak dapat mereka pergi dari telapak tangan Lo In seakanakan

sepasang kakinya pada melengket pada telapak tangan

si bocah.

Bwee Hiang lihat burung itu tampak gemetaran, seperti yang

kedinginan. Ia heran, tapi ia lantas berkata, "Pantas tidak bisa

terbang, burung-burung itu barusan kau pencet sih !"

"Siapa yang pencet ? Nah, nih lihat !" berkata Lo In seraya ia

lemparkan dua ekor burung itu ke udara. Lantas saja dua

burung itu dapat bergerak bebas lagi, terbang gesit sekali

seperti tadinya. Malah, kali ini mereka seperti yang ketakutan,

sudah terbang jauh dari situ.

Bwee Hiang tidak merasa heran. Ia kira si bocah tentu bisa

main sulap dengan dua ekor burung gereja yang ditangkapnya

tadi. Tapi untuk membikin si bocah jangan sampai kurang

senang, maka ia berkata sambil unjukkan jempolnya, "Begini,

kau benar hebat adik kecil. Kau ajari aku nanti, ya !"

Lo In hanya ketawa, tapi diam-diam si bocah yang 'sok aksi'

bangga dalam hatinya.

Pada malam harinya, ketika Bwee Hiang omong-omong

dengan ayahnya, sang ayah menanya : "Anak Hiang,

 

bagaimana dengan usahamu, apa sudah berhasil ?"

"Ah, itu anak tidak punya kepandaian apa-apa. Cuma omong

kosong saja. Katanya ada punya teman kawanan kera dan ia

bisa bahasa monyet. Hihihi...." jawab Bwee Hiang.

Liu Wangwee kerutkan alisnya mendengar si putri menutur.

Sebelum ia buka mulut menanya, Bwee Hiang sudah

menyambung, "Tapi ayah, lompatannya ke atas pohon dan

menangkap burung memang begini !" Bwee Hiang unjuk

jempolnya.

"Lompatan bagaimana, coba, coba kau tuturkan." mendesak

sang ayah.

Bwee Hiang lantas tuturkan bagaimana Lo In lompat ke pohon,

tahu-tahu dua ekor burung gereja sudah kena ditangkapnya.

Kemudian ditaruh ditelapak tangan dan burung-burung itu tak

dapat terbang seolah-olah kedinginan. "Anak hitam itu

mungkin hanya bisa sulap saja, yah. Tidak sebagaimana ayah

duga ada menyembunyikan kepandaiannya...." kata Bwee

Hiang menutup penuturannya. Tapi ia terhenti kata-katanya

karena tiba-tiba ia dibikin kaget oleh kelakuan sang ayah yang

sekonyong-konyong tertawa terbahak-bahak.

"Oh, ayah ketawakan dia ? Memang juga lucu caranya

menangkap burung dan ditaruh ditangannya, persis tukang

sulap." menyambung Bwee Hiang, turut ketawa.

"Anak tolol !" kata Liu Wangwee kepada puterinya, hingga

sang puteri menjadi kaget karena tidak biasanya sang ayah

mengatakan ia 'anak tolol'.

 

"Ayah, kenapa kau bilang aku tolol ?" ia menanya dengan

penasaran.

"Anak Hiang, itu bukannya ilmu sulap dari si bocah."

menerangkan sang ayah dengan roman kegirangan. "Anak itu

telah memperlihatkan 'Han ki bian kang', Ilmu tenaga lunak

berhawa dingin, satu ilmu yang tak mudah dilatih kalau

orangnya tidak punya lwekang yang dahsyat dalam tubuhnya.

Hahaha, memang tidak meleset dugaanku. Dia satu anak yang

luar biasa, harus kau baik-baik melayaninya dan coba-coba

pancing kepandaian silatnya, anak Hiang."

Bwee Hiang melongo mendengar kata-kata ayahnya.

Pikirnya, kalau begitu si bocah benar bukannya main sulap

seperti yang dikiranya. Entahlah, apa dia hanya punya

kepandaian itu saja ? Maka ia girang ketika ayahnya

menganjurkan buat ia coba-coba pancing kepandaiannya si

bocah hitam dengan ilmu silat.

Demikian pada suatu sore, Bwee Hiang ajak Lo In ke lapangan

tempat berlatih.

Belum lama mereka omong-omong, muncul Liu Wangwee

menghampiri mereka. Mereka jadi ngobrol bertiga. Setelah

beberapa lama Liu Wangwee berkata kepada anaknya, "Anak

Hiang, cuaca begini baik, bagaimana kalau kita berlatih

pedang ?"

"Bagus, bagus !" kata sang anak sambil bertepuk tangan. "Eh,

Ling Ling, coba kau ambilkan sepasang pedang yang biasa

aku dan ayah pakai berlatih !" kata Bwee Hiang suruh

 

pelayannya.

Ling Ling lekas berlalu ambil barang yang diperlukan, sebentar

lagi ia sudah ambilkan sepasang pedang pada nonanya.

Satu batang pedang ia pegang sendiri, lainnya ia angsurkan

kepada ayahnya. Sambil melirik pada Lo In yang tinggal

tenang-tenang saja duduk. Bwee Hiang berkata, "Adik kecil,

kau lihat encimu main pedang. Kau nonton disitu !"

Liu Wangwee sementara itu sudah siap, ia mengedipkan

matanya pada si gadis, satu tanda supaya Bwee Hiang

berlatih benar-benar lalu serang menyerang dimulai. Perlahan

mula-mulanya, tapi makin lama main seru. 'Bwee hoa kiam

hoat' dimainkan dengan indah sekali, banyak jurus-jurus yang

berbahaya diperlihatkan hingga sepasang pedang

berkelebatan seakan-akan lihat sambaran. Ling Ling dan Lan

Lan yang menyaksikan merasa sangat kagum dan bertepuk

tangan beberapa kali.

Sebaliknya, Lo In menonton acuh ta acuh kelihatannya. Sikap

si bocah tak lolos dari matanya Liu Wangwee yang lihai.

"Sudah, kita sampai disini saja." kata Liu Wangwee sambil

lompat keluar dari arena pertempuran.

Bwee Hiang juga merasa heran si bocah seperti yang tidak

tertarik dengan latihan mereka yang sangat hebat. Terdengar

Liu Wangwee menanya, "Anak In, apa kau tidak tertarik

dengan latihan kami barusan ?"

"Aku tidak bisa berkelahi seperti kalian, mana aku mengerti."

sahutnya, nyengir ketawa.

 

Liu Wangwee menggelengkan kepala. Di luar tahunya Lo In,

matanya mengedip pada gadisnya, disambut dengan

manggutan oleh Bwee Hiang.

"Anak In tidak bisa main pedang. Coba kau ajari anak Hiang.

Aku ada urusan. Biarlah kalian berdua teruskan berlatih."

berkata Liu Wangwee sambil terus bertindak meninggalkan Lo

In dan Bwee Hiang.

Bwee Hiang ambil tempat disampingnya Lo In. Ia berkata,

"Adik kecil, mari aku ajari kau bermain pedang supaya jangan

nanti dihina orang." sambil menarik tangannya Lo In diajak ke

tengah lapangan. "Nah, ini pakai pedangku. Aku pakai pedang

ayah." menyambung si nona seraya angsurkan pedangnya

pada si bocah, sedang ia mengambil pedang Liu Wangwee

yang diletakkan tidak jauh dari situ.

"Ketika mereka sudah berhadapan, Lo In berkata, "Eh,

barusan aku tidak ingat bagaimana kau mainkan pedangmu.

Coba sekarang unjuk sekali lagi."

Jengkel juga Bwee Hiang menghadapi anak yang cerewet ini,

sembari putar pedangnya ia berkata, "Nah, ini lihat !"

Bwee Hiang mainkan tipu-tipu silat 'Bwee hoa kiam hoat' atau

'Ilmu pedang kembang bwee'. ialah 'Bwee swat tiauw goat'

atau 'Kembang bwee mekar menghadapi rembulan'. Pedang si

nona menusuk ke depan, ke kanan dan ke kiri dengan cepat

sekali. Kemudian disusul dengan tipu 'Bwee hiang boan wan'

atau 'Harumnya bunga bwee memenuhi taman', salah satu

jurus dari 'Bwee hoa kiam hoat' yang paling disukai oleh Bwee

Hiang. Mungkin karena namanya 'bwee hiang' ada termasuk di

dalamnya. Tampak Bwee Hiang bersemangat memainkan tipu

 

'Bwee hiang boan wan', pedangnya menari-nari dengan

indahnya, berkelebat laksana kilat, tubuhnya si nona yang

tinggi seolah-olah tebungkus oleh sinar pedang yang

dimainkan.

Lo In kelihatan tersenyum-senyum. "Enci Hiang, hebat

permainan pedangmu. Sayang aku tak dapat melayani kau.

Aku ngeri melihat pedangmu menyambar-nyambar. Bisa-bisa

leherku putus oleh.... eh, kau jangan main-main...."

Berbareng si bocah menghilang dari hadapannya Bwee Hiang

sehingga pedangnya Bwee Hiang menyabet angin. Matanya si

gadis celingukan mencari Lo In sementara dua pelayannya

Ling Ling dan Lan Lan pada mendekap mulutnya untuk

menahan ketawa karena saat itu tampak Lo In berada di

belakangnya Bwee Hiang sambil leletkan lidahnya dalam

gayanya yang sangat lucu.

Melihat Bwee Hiang celingukan mencari dirinya, Lo In berkata,

"Enci Hiang, aku ada disini."

Bwee Hiang cepat putar tubuhnya. Benar saja si nakal sudah

ada dibelakangnya.

"Setan kecil." kata Bwee Hiang, ketawa kegirangan. "Kau

membohongi encimu, ya !"

"Habis, leherku mau disabet pedang, siapa mau kasih." sahut

Lo In melucu seraya pegangi lehernya hingga Bwee Hiang

ngikik ketawa dibarengi oleh ketawanya Ling Ling dan Lan

Lan. Ramailah saat itu pada ketawa.

Apa sebenarnya sudah terjadi hingga Lo In kepaksa

 

memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa ? Saat itu,

Bwee Hiang sedang enaknya memainkan tipu silatnya 'Bwe

hiang boan wan', ia mendengar si anak kecil nyerocos

ngomong lantas berkelebat dalam benaknya untuk menyerang

tiba-tiba pada si bocah dengan telengas. Kalau Lo In bisa silat,

tentu ia akan berkelit dari serangannya. Sebaliknya kalau si

bocah tak punya guru, paling-paling si anak kecil akan terluka

batang lehernya.

Mendapat pikiran bagus itu, maka selagi ia putar pedangnya,

diam-diam ia balik mata pedangnya sehingga belakang saja

yang ia gunakan membabatleher Lo In dengan jurus yang

ampuh dan seperti kilat menyambar. Dalam kagetnya,

otomatis keluar ilmu saktinya Lo In 'Bu eng bue seng' (tiada

bayangan tiada suara), menghilang dari hadapannya Bwee

Hiang sehingga si nona terperanjat. Pikirnya, hanya setan saja

yang bisa menghilang demikian.

Hatinya kegirangan sebab percobaannya berhasil. Ia tidak

ragu-ragu lagi bahwa si bocah memang ada mempunyai

kepandaian luar biasa seperti kata ayahnya.

"Anak kecil, kau jangan suka gede bohong." kata Bwee Hiang

sehabisnya ngikik ketawa. "Sekarang sudah ketahuan rahasia

dirimu, kau mau bilang apa ?"

Lo In ketawa nyengir. Tiba-tiba ia rasakan adanya angin

menyambar dari belakangnya, tangannya yang kanan

menyampok ke belakang lalu tangan kirinya diacungkan,

kemudian tubuhnya berputar. Tahu-tahu dia sudah menggigti

sebuah benda. Ia melihat si penyerang gelap lompat dari balik

pohon mau melarikan diri. Benda yang digigit di mulutnya ia

tiup sambil berkata, "Perlahan jalan, sahabat...."

 

Orang itu menjerit dan jatuh meloso, badannya menggigil

kedinginan.

Lo In sudah mau lompat menyusul tapi dari balik pohon-pohon

kembali muncul lima orang yang memegat dan

mengurungnya. Ternyata orang-oang itu hebat-hebat

pengawakannya, tinggi besar dan bengis-bengis. Tapi Lo In

tidak takut seperti biasa, ia menanya dengan tenang, "Para

paman, aku tidak bermusuhan dengan kalian, kenapa kalian

mau tangkap aku ?"

"Hahaha !" tertawa seorang diantaranya, seraya usap-usap

jenggotnya yang panjang. "Anak kecil, kau anaknya Kwee Cu

Gie, bukan ?"

"Aku tidak kenal siapa Kwee Cu Gie." kata Lo In tenang.

"Tidak perduli kau anak Kwee Cu Gie atau bukan, kami harus

tangkap sebab kau sudah membuat malu namanya Ceng Gee

Pang !" kata lagi orang tadi.

"Oh, jadi kalian adalah orang-orangnya Ceng Gee Pang ?"

tanya Lo In.

"Kalau benar, kau mau apa ?"

"Aku sih cuma mau menanya saja." Lo In berkata sambil

bejak-bejak benda ditangannya. Kiranya itu ada dua panah

kecil yang barusan ia tangkap dengan tangannya dari si

penyerang gelap.

Lima orang yang mengurung si bocah terbelalak matanya

 

karena mereka kenali panah kecil itu terbuat dari logam

istimewa tapi diremas-remas Lo In si bocah seperti juga

meremas tepung terigu. Dua panah itu hancur menjadi bubuk.

"Maju semua !" bentak orang tadi yang berkata pada Lo In,

menganjurkan kawan-kawannya mengepung rapat.

Dengan rada-rada jeri mereka maju.

"Aku hanya satu bocah. Kalau sebentar kalian kalah sama

anak kecil, jangan salahkan aku berbuat kurang ajar, ya !"

berkata Lo In, ketawa nyengir dia.

Panas hatinya orang-orang yang mengepung si bocah. Masa

mereka yang sudah tercatat namanya dikalangan Kangouw

sebagai jago-jago kenamaan boleh diingusi oleh satu bocah

yang belum lepas tetek, pikir masing-masing.

"Anak sombong, lebih baik kau menyerah supaya dengan baik

kita bawa kau ke pusat untuk dihadapkan kepada Pangcu."

kata satu diantara lima orang itu.

"Buat apa aku menghadap Pangcu kalian ?" kata si bocah

acuh tak acuh.

Kalau Lo In menghadapi lima jago itu dengan santai saja,

sebaliknya Bwee Hiang dan dua orang pelayannya Ling Ling

dan Lan Lan menjadi ketakutan. Mereka kuatirkan

keselamatannya Lo In. Meskipun Bwee Hiang tahu barusan Lo

In ada unjukkan kepandaiannya yang luar biasa, pikirnya,

anak kecil menghadapi orang-orang gede yang sudah

kawakan dalam kalangan kangouw, mana bisa menang ?

Apalagi Bwee Hiang melihat semuanya pada membawa

 

senjata tajam yang menyeramkan.

Ia diam-diam heran kenapa ada orang-orang masuk ke dalam

rumahnya, sang ayah diam-diam saja ? Apakah ayahnya

memang tidak ada di rumah ? Mungkinkah sang ayah keluar

sebab tidak kelihatan muncul orang tua itu disitu justru

keadaan sedang gentingnya.

Bwee Hiang menjadi nekat. Ia lalu lompat menghampiri Lo In,

katanya, "Adik kecil, kau jangan takut. Encimu datang

membantu !"

Lo In menoleh ke arah Bwee Hiang. "Enci Hiang, kau tenangtenang

saja nonton. Lihat adikmua akan bikin semua paman

ini tangkap angin."

"Kentut !" memotong si orang yang berjenggot panjang.

"Jangan jumawa, anak kecil. Lihat kami tangkap kau !"

Berbareng ia ajak kawan-kawannya maju, kira-kira jaraknya

empat langkalh lagi mereka mendekati Lo In, tiba-tiba si bocah

ketawa terbahak-bahak lalu tubuhnya berputar seperti gasing,

perlahan seperti asap tubuhnya naik ke atas hingga lima orang

itu jadi heran dan matanya mengikuti tubuh Lo In yang

ngapung seperti asap. Dalam tertegunnya tiba-tiba mereka

rasakan dengkulnya pada terkulai roboh mendeprok ditanah

dibarengi dengan jatuhnya sepotong baju dari udara. Kiranya

yang mencolot ke udara tadi bukan tubuh Lo In, sebaliknya

bajunya yang melayang ke udara bagaikan asap, sementara

Lo In berbareng sudha jongkok dan lalu menotok 'leng-coanhiat'

jalan darah di dengkul masing-masing lawannya.

Sambil pakai lagi bajunya, Lo In jalan menghampiri Bwee

 

Hiang yang saat itu berdiri terkesima di tempatnya. Ling Ling

dan Lan Lan terbelalak matanya nampak kejadian yang

mempesonakan di depannya, satu kejadian yang mungkin

dilakukan hanya oleh tukang sulap kawakan dengan ilmu

sihirnya, tapi tidak oleh si anak kecil seperti Lo In. Sungguh

kejadian itu mengagumkan kepada yang melihatnya.

Termasuk itu orang-orang kasar yang telah menjadi korban

totokan Lo In.

"Enci Hiang, kau mau apakan orang-orang jahat ini ?" tanya Lo

In.

Bwee Hiang masih belum hilang kesimanya, ia hanya

memandang si bocah dengan air mata mengembeng saking

girangnya ia menyaksikan ilmu sakti Lo In.

"Kenapa kau menangis, enci Hiang ?" tanya Lo In kaget.

"Oh, oh, adik kecil. Aku menangis saking kegirangan.

Kau,kau...... selamat."

"Sekarang enci mau apakan mereka itu ?"

"Adik kecil, biarkan saja dahulu, tunggu ayah pu...."

"Tahan, tahan !" terdengar suara dari kejauhan hingga si nona

berhenti bicaranya.

Kiranya yang datang itu adalah Liu Wangwee. Ketika is orang

tua sampai pada mereka, Bwee Hiang cepat berkata, "Ayah,

orang-orang ini....."

"Tunggu, aku bicara dahulu." memotong Liu Wangwee.

 

"Semua ada orang sendiri. Kejadian yang menegangkan

barusan adalah gara-gara ayahmu."

Bwee Hiang terkejut, "Ayah....."

"Tunggu dahulu, aku belum bicara habis." kata Liu Wangwee.

"Anak In, harap kau jangan marah, Semua ini ada aku yang

atur. Aku lihat kau selalu mau umpatkan kepandaianmu yang

sakti, membuat aku jadi tidak sabaran. Maka, kebetulan ada

Pangcu datang dari Ceng Gee Pang dan orang-orangnya.

Pangcu dari Ceng Gee Pang adalah sahabatku. Ketika aku

ceritakan hal dirimu, dia kaget. Karena dia menduga pasti

bahwa kau ada anak itu yang membuat repot cabangnya di

Tong-hong-gay. Sahabatku ingin mencoba-coba dengan

panah saljunya, dibantu oleh lima anak buahnya, ternyata

percobaan mereka telah membuka kedokmua yang

menyembunyikan kepandaian saktimu. Anak In, nanti aku

akan ceritakan panjang lebar duduknya urusan. Sekarang aku

perkenalkan kau dengan Ang Pangcu dari Ceng Gee Pang...."

Berbareng maju satu orang, ternyata orang itu adalah si

pembokong denan panah lihainya, hingga Lo In menjadi

tertawa terbahak-bahak.

Setelah Lo In ketawa puas, Soat-cian Ang berkata, "Siauwhiap

(pendekar cilik), harap kau jangan marah. Barusan apa

yang aku lakukan adalah hanya main-main saja. Tidak

sebenarnya kami mau berbuat kurang ajar padamu."

"Main-main tinggal main-main, paman." sahut Lo In, melucu

dia. "Kalau aku tidak punya sedikit kepandaian, barusan aku

sudah ditembusi oleh tiga panah tanganmu."

 

Semua orang jadi ketawa, begitu juga Bwee Hiang, Ling Ling

an Lan Lan. Lega hatinya masing-masing, setelah tahu

duduknya perkara.

Lima orang yang masih mendeprok di tanah lalu dibebaskan

dari totokan oleh Lo In. Mereka pada bangun serentak,

salaman dengan si bocah, memohon maaf untuk kelakuannya

yang barusan dibuat. Tapi Lo In sudah lantas berkata, "Para

paman, kalian tidak bersalah. Malah yang harus minta maaf

pada kalian yang sudah berbuat kurang ajar membikin kalian

duduk ditanah sebentaran. Hahaha.... "

Meskipun kata-kata Lo In membanyol sifatnya, tapi mereka

merasa tersindir juga, tampak muka semuanya pada bersemu

merah saking jengah.

Dari musuh sekarang sudah menjadi teman, maka dengan

gembira orang-orang pada masuk ke dalam untuk

menyambung pembicaraan lebih jauh.

Lo In yang tadinya hendak menyembunyikan kepandaiannya,

sekarang sudah tidak bisa lagi. Rahasianya sudah bocor.

Maksudnya menyembunyikan kepandaia, ia tidak mau cari

urusan, kuatir ketahan perjalanannya mencari enci Liannya.

Tidak tahunya ia ketemu dengan Liu Wangwee yang lihat

matanya hingga rahasia dirinya jadi terbongkar.

Soat-cian Ang bersama dengan lima orang pilihannya datang

ke rumah Liu Wangwee untuk memberitahukan bahwa ia tidak

mendapat kabar perihal si kerudung merah. Ia mau damaikan

bagaimana baiknya nanti menghadapi Sucoan Sam-sat. Tibatiba

ia mendengar si bocah hitam ada dirumahnya Liu

Wangwee, membikian ia disamping kegirangan ingin juga

 

mencoba-coba kepandaian si bocah yang dikatakan Hupangcu

Ang Ban Ie si bocah boleh dijuluki 'Hek bin sin tong'

atau 'si bocah sakti hitam'.

Setelah sekarang ia menjajal kepandaiannya Lo In, barulah ia

mau percaya memang anak itu sakti dalam ilmu silat. Tiga

panahnya yang diarahkan dengan sungguh-sungguh malah

disambut dengan tangan dan mulut. Itu adalah kepandaian

luar biasa yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Malah

yang membikin ia kaget adalah lima orangnya, bukan orang

sembarangan, jago-jago pilihan sudha kena dikerjakan

demikian mudahnya, membuat ia merasa takluk pada

kepandaian si bocah.

Dalam omong-omong, Liu Wangwee menyatakan kesulitannya

pada Lo In bahwa ia akan disatroni oleh Sucoan Sam-sat

sedang si kerudung merah yang ditunggu-tunggu tidak

kunjung datang, malah diselidiki juga tidak ketahuan jejaknya

ada dimana.

"Mendengar namanya," kata Lo In. "Tiga algojo itu benarbenar

seram. Entah kepandaiannya bagaimana, tapi kalau

sepanjang aku masih ada disini, aku nanti coba-coba

menghadapinya. Harap Lope jangan kuatir."

Liu Wangwee saling pandang dengan Ang Ban Teng.

"Memangnnya kau mau pergi dari sini, Siauw-hiap (pendekar

cilik) ?" tanya Ang Ban Teng.

"Jangan panggil Siauwhiap segala. Panggil saja aku anak In.

Aku paling suka dengar, karena itu ada panggilannya Liok

Sinshe." kata Lo In.

 

"Baik, baik." sahut Ang Ban Teng cepat. "Aku selanjutnya akan

panggil kau, anak In. Tapi kalau aku boleh tahu, siapa itu Liok

Sinshe yang kau sebutkan ?"

"Liok Sinshe ada seorang baik. Biarlah kita jangan omong

tentang Liok Sinshe sebab nanti bikin aku menangis karena

ingat kepadanya." kata Lo In, sedih tampaknya.

Liu Wangwee dan Soat-cian Ang saling pandang nampak

kelakuannya si bocah.

"Anak In, kau mau kemana ?" tanya Soat-cian Ang, nampak Lo

In bangkit dari duduknya dan mau ngeloyor keluar.

Lo In balik tubuhnya, sambil ketawa nyengir ia menyahut. "Aku

mau mencari enci Hiang."

Rupanya si bocah tidak kerasan duduk berunding dengan

orang-orang tua.

Liu Wangwee kedipi matanya pada sahabatnya hingga Soatcian

ANg tidak membuka mulut lagi. Mereka hanya

mengawasi saja si bocah ngeloyor keluar.

"Biarkan dia pergi pada Bwee Hiang. Anak itu selama disini

kelihatan akur betul dengan puteriku. Aku percaya Bwee

Hiang dapat menahan dia." kata Liu Wangwee pada Soat-cian

Ang dan para hadirin lainnya.

Soat-cian Ang anggukkan kepalanya. "Adatnya aneh tapi

terang ia mempunyai kepandaian yang luar biasa sampai aku

dan lima Hiocu pilihan digulingkan." menyatakan Pangcu dari

 

Ceng Gee Pang sambil melirik pada anak-anak buahnya.

Lima Hiocu (pemimpin pusat) pada ketawa, tapi dalam hatinya

merasa malu.

Soat-cian Ang alihkan pembicaraan sekarang pada soal

Sucoan Sam-sat.

"Bagaimana sekarang pikiran toako ?" tanya Ang Ban Teng.

"Bagaimana kau pikir tentang si bocah ?" balik menanya Liu

Wangwee.

"Anak itu berkepandaian tinggi. Hanya aku sangsikan

pengalamannya bertempur dengan jago-jago kelas berat

seperti Sucoan Sam-sat." menyatakan Soat-cin Ang.

"Jadi bagaimana baiknya ?" Liu Wangwee seperti yang

keputusan akal.

"SUcoan Sam-sat adalah sangat ganas." menyatakan Soatcian

Ang. "Kalau toako gagal majukan kita punya jago cilik,

akibatnya mengerikan. Seluruh keluarga toako akan dibasmi

olehnya. Ini justru yang aku sedang pikirkan."

Liu Wangwee ketawa. Tapi ketawanya mengandung

kecemasan. Ia rupanya dapat mengerti akan kekuatiran

sahabatnya itu. Memang juga ia sangsikan Lo In nanti bisa

tempur tiga algojo dari Sucoan yang buat itu tapi apa daya ?

Keadaan sudah memaksa, si kerudung merah yang diharapharap

kedatangannya kini ditumplek pada si bocah saja. Kalau

toh Lo In tidak tahan mengusir tiga jagoan jahat dari Sucoan

itu, apa boleh buat. Sudah nasibnya mesti hancur lebur

 

dibawah keganasannya mereka. Cuma ia menyesal kalau

dalam urusannya itu si bocah nanti kebawa-bawa membuang

jiwa dengan percuma. APa nanti kata orang tuanya apabila

mengetahui duduknya urusan bahwa jago cilik itu dibawabawa

olehnya sehingga menemui kebinasaannya.

Memikir kesitu, hartawan Liu menjadi lesu.

Untuk beberapa saat dalam ruangan itu menjadi sunyi.

"Pangcu, bukankah kita akan ketamua Kian-san Ji-lo ?"

nyeletuk salah satu Hiocu dari Ceng Gee Pang yang bernama

Lie Goan Tay.

"Aaa... " tiba-tiba Ang Ban Teng terkejut girang. "Kau benar Lie

Hiocu. Aku sampai lupa akan kedatangan Kian-san Ji-lo. Ya,

ya, betul toako."ia meneruskan kata-katanya pada Liu

Wangwee. "Dalam dua hari ini Ceng Gee Pang akan

kedatangan Kian-san Ji-lo, aku nanti coba untuk minta

bantuannya. Asal mereka bersedia membantu, rasanya kita

tak usah kuatirkan akan kedatangannya tiga orang jahat itu

kemari."

"Kian-san Ji-lo...." menggumam Liu Wangwee.

"Bukankah toako juga kenal dengan Kian-san Ji-lo Cia Kie dan

Cia Liang ? Dua orang tua dari Kian-san itu kepandaiannya

susah diukur."

Liu Wangwee anggukkan kepala. "Aku tidak kenal dengan dua

orang tua dari gunung Kian-san (Kian-san Ji-lo)." katanya.

"Hanya kau dengar sepak terjangnya dalam rimba persilatan

 

tidak menentu sehingga orang sangsi apakah mereka itu

masuk kalangan Pek-to atau Hek-to.

Liu Wangwee belum jelas benar apakah Kian-san Ji-lo itu

masuk Pek-to (golongan ksatria) atau Hek-to (golongan jahat).

"Mereka ada hubungan baik dengan suhuku." berkata Soatcian

Ang. "Kalau aku minta bantuannya, rasanya mereka tentu

mau terima."

"Ya, kalau Hiante yang minta untuk memecahkan kesulitan

Hiante sendiri rasanya mereka tidak menolak." menyatakan

Liu Wangwee.

"Tapi ini halnya menyangkut diriku, mana dapat mereka

dimintakan bantuannya sedang aku tidak kenal kepada

mereka ?"

"Hahaha...." tertawa Soat-cian Ang.

"Toako ini anggap aku seperti orang lain atau bagaimana ?

Urusan toako sama juga ada urusanku, kenapa mesti dibedabedakan

?"

Senang Liu Wangwee mendengar kata-kata sahabatnya itu,

dengan siapa memang ia bersahabat rapat meskipu tidak

angkat saudara.

"Kalau begitu terserahlah untuk mana sebelumnya aku

mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas perhatian

Hiante." kata Liu Wangwee seraya bangkit dari duduknya dan

angkat tangannya menyoja pada Ang Ban Teng hingga

tergopoh-gopoh Soat-cian Ang berdiri untuk membalasnya. Ia

 

berkata, "Jangan seeji, toako."

Demikian perundingan sudah didapat pemecahan.

Kian-san Ji-lo atau dua orang tua dari gunung Kian-san, she

Cia bernama Kie dan Liang, pendek saja. Sepak terjangnya

disamping membuat kagum orang, juga membikin orang

membenci mereka. Itulah karena perbuatannya yang murah

hati dan kejam buas hingga orang tak dapat memastikan

mereka masuk golongan baik atau jahat.

Mereka ada hubungan baik dengan gurunya Soat-cian Ang, si

panah salju ialah Ang Hui Kin, satu she dengan Soat-cian Ang,

gelarnya 'Touw-kut-ciang' atau 'si pukulan menembus tulang',

cukup kenamaan dalam kalangan Kangouw.

Omong-omong dalam hal berkelana, Ang Hui Kin dapat tahu

kalau dua sahabatnya ini bakal lewati kota Gakwan, maka Ang

Hui Kin minta kalau dua orang tua itu lewat disana, sukalah

mampir di pusat Ceng Gee Pang. Disana muridnya Ang Ban

Teng menjadi Pangcu.

Cia Kie dan Cia Leng terima baik undangan itu. Maka diamdiam

Ang Hui Kin sudah mengabarkan pada Ang Ban Teng

bakal kedatangannya dua orang tua itu ke Gakwan.

Benar jgua, dua jago tua yang sepak terjangnya tak menentu

itu datang di Gakwan, selewatnya dua hari dari kejadiankejadian

yang diceritakan diatas.

Kedatangan mereka sangat dihormatai sekali oleh Ang Ban

Teng dan anak buahnya.

 

Dalam omong-omong, Soat-cian Ang menceritakan tentang

sahabatnya Liu Wangwee menghadapi kesuakaran akan

disatroni Sucoan Sam-sat dan minta bantuannya dua orang

tua itu untuk menjadi perantara suapaya urusan dapat

didamaikan.

Cia Kie kerutkan alisnya setelah mendengar penuturan Ang

Ban Teng.

"Untuk menjadi perantara, kami tidak keberatan." kata Cia Kie.

"Cuma soalnya, apakah Sucoan Sam-sat dapat memahami

atau tidak kami punya maksud baik ? Biasanya, tiga algojo itu

suka bawa kemauannya sendiri, tidak ingin urusannya

dicampuri orang lain. Inilah yang sulit. Akhirnya, tentu akan

terjadi pertempuran."

Ang Ban Teng terdiam. Lalu ia ceritakan tentang Sucoan Samsat

yang dipecundangi si kerudung merah. Sebenarnya

mereka ada mencari si kerudung merah tapi oelh karena orang

yang dicari tak dapat diketemukan, maka Liu Wangwee yang

akan dijadikan sasaran dari kekejamannya sebagai

pembalasan sakit hati.

"Memang aku dengar." Cia Liang kali ini yang bicara. "Pada

waktu belakangan ini ada muncul satu pendekar dengan

kerudung merah. Katanya ia selalu membuat kebaikan dalam

sepak terjangnya sehingga orang sangat memujanya. Kami

belum tahu siapa adanya dia dan ingin sekali kalau ketemu,

kami juga akan coba-coba kepandaiannya yang hebat seperti

dikatakan orang."

-- 15 --

 

Lalu Ang Pangcu ceritakan halnya si bocah Lo In, bagaimana

dia (Soat-cian Ang) dan lima Hiocunya dipecundangi si bocah

secara yang mempesonakan. Dua orang tua itu diam-diam

terkejut mendengar ceritanya Pangcu dari Ceng Gee Pang.

"Ah, masa ada kejadian begitu ?" tanya Cia Liang, tidak

percaya dia.

"Memang, kalu tidak menyaksikan dengan mata kepala

sendiri, tidak akan percaya dengan ceritaku barusan." kata

Ang Ban Teng. "Nanti kedua Lo-suhu saksikan sendiri

kepandaiannya yang luar biasa itu."

Tadinya Kian-san Ji-lo mau menolak dengan halus permintaan

bantuan Ang Bang Teng. Tapi setelah mendengar tentang

adanya bocah hitam yang gaib kepandaiannya, maka mereka

jadi rubah haluan. Ingin mereka menyaksikan kepandaiannya

bocah sakti itu.

Demikianlah, pada malam harinya dengan diantar oleh Ang

Ban Teng, Kian-san Ji-lo telah bikin kunjungan pada Liu

Wangwee, oleh siapa diterima dengan manis budi hormat

hingga dua orang tua itu menjadi girang.

Selain mereka bertiga, juga Ang Ban Teng ajak lima Hiocunya.

Pikirnya, jikalau perlu mereka bisa dikerahkan tenaganya.

Meskipun bulan muda, malam itu malamnya Sie-gww ce-cit

(bulan 4 tanggal 7 Tionghoa), cuaca tampak terang. Sudah

menjadi kebiasaan dari Liu Wangwee, kalau ada datang tamu

yang menjadi kenalan baiknya, ia suka bawa tamunya itu ke

taman bungan yang dikitari oleh banyak pohon besar dan

tinggi yang terawat baik. Kali ini kedatangan Pangcu dari Ceng

 

Gee Pang yang membawa serta Kian-san Ji-lo dan lima anak

buahnya juga oleh Liu Wangwee dibawa ke taman tersebut.

Disana, selain mereka menikmati hidangan yang mencocoki

selera, juga menikmati harumnya bunga-bunga yang baru

mekar dalam taman yang luas itu.

Senang kelihatannya para tamu dibawa ke tempat ini. Mereka

memuji Liu Wangwee yang dapat menciptakan taman

sedemikian indah dan menariknya.

Dalam omong-omong Kian-san Ji-lo matanya selalu melirik

sana sini. Liu Wangwee diam-diam heran, tapi Ang Ang Teng

lantas sudah dapat tebak maksud dua jago tua itu. Ia lantas

berkata pada Liu Wangwee, "Toako, kedua Lo-suhu ini ingin

berkenalan dengan anak In. Dimana dia sekarang ?"

"Oh, begitu." sahut Liu Wangwee, tahu sekarang ia kenapa

dari setadian dua jago tua itu larak lirik saja. "Nanti aku suruh

panggil dia."

Lantas Liu Wangwee suruh salah satu pelayannya untuk

memanggil Lo In.

Tidak lama pelayan itu datang kembali tapi tidak dengan Lo In.

Ia berkata pada Liu Wangwee, "Loya, anak itu tidak ada

ditempatnya."

"Coba cari, tentu dia ada bersama Siocia."

"Sudah kucari dan menanyakan pada Siocia. Katanya anak

kecil itu sejak siang tadi keluar dan sampai sekarang belum

kembali."

 

Liu Wangwee heran. Kemana perginya Lo In sebab biasanya

anak itu hampir tidak berkisar dari samping puterinya. Lalu ia

minta maaf kepada dua jago tua itu, katanya, "Harap kedua

Lo-suhu dapat memaafkan, bocah itu katanya tidak ada."

"Jangan seeji, Liu-heng." kat Cia Kie. "Kedatangan kami

kemari memang pertama ingin belajar kenal dengan bocah

sakti itu. Tapi biarlah, kalau dia tidak ada di rumah. Kami

rupanya tidak berjodoh menemuinya."

"Maksud kedua." menyambung Cia Liang, adiknya. "Adalah

hendak mendamaikan urusan Liu-heng dengan Sucoan Samsat.

Kami harap saja berjalan memuaskan dan...."

Cia Leng berhenti bicaranya karena melihat ada satu pelayan

yang berlarian datang menghampiri Liu Wangwee kepada

siapa diserahkan sebatang pisau kecil dengan secarik kertas.

Tanpa menanya lagi pada si pelayan, Liu Wangwee lantas

baca surat itu diterangi rembulan. Tampak mukanya pucat

setelah membaca.

"Toako, ada urusan apa yang membuat kau kaget ?" tanya

Ang Ban Teng.

Liu Wangwee tidak menjawab, hanya serahkan secarik kertas

itu kepada sahabatnya, siapa lalu menyambuti dan dibaca

isinya.

"Sucoan Sam-sat datang !" sekonyong-konyong Ang Ban Teng

berteriak hingga membuat terkejut para hadirin seketika itu,

tidak terkecuali Kian-san Ji-lo.

 

"Inilah Lo-suhu, coba baca." kata Ang Ban Teng seraya

menyerahkan secarik kertas itu kepada Cia Kie yang lalu

membacanya. Surat itu hanya pendek saja bunyinya :

"Liu In Ciang, meskipun kau minta bala bantuan dua tua

bangka dari Kian-san, rumahmu toh akan kami hancurkan dan

bakar habis. Serumah tanggamu tak ada satu jiwa yang kami

tinggalkan !

Sucoan Sam-sat"

"Hehehe !" tertawa Cia Kie. "Kami tidak bermusuhan dengan

kalian, tapi kalau kalian anggap kami sebagai musuh, apa

boleh buat. !"

Kemudian ia berpaling pada Liu Wangwee yang masih

tertegun ditempatnya. Ia berkata, "Liu-heng, mereka

memasukkan nama kita berdua. Biarlah kami berdiri

dibelakangmu. Jangan takut Liu-heng. Dan....."

"Hahaha !" sekonyong-konyong kedengaran suara tawa dari

balik gerombolan rumput alang-alang hingga bicaranya Cia

Kie menjadi terhenti lalu berpaling ke jurusan orang tertawa

tadi yang lantas muncul dan Liu Wangwee kenali itulah Sin-mo

Lie Kui, si berewok ganas, saudara ketiga dari Sucoan Samsat.

Terdengar kata-katanya menyambung ketawanya tadi.

"Tua bangka, biarpun kalian berdua berdiri di belakangnya,

percuma saja. Paling baik, kalau kalian tahu gelagat lantas

enyah dari sini dan biarkan kami mengganas pada keluarga

Liu !"

Cia Kie dan Cia Liang bangkit dengan serentak. Yang disebut

duluan berkata, "Kian-san Ji-lo belum pernah terbirit-birit lari

oleh karena gertakan. Malah makin digertak mereka makin

 

nekad. Hahaha..."

Tertawanya berhenti karena sebatang piauw menyambar pada

tenggorokannya.

"kau kirim barang rongsokan begini. Mana masuk hitungan

jago Kangouw !" Cia Kie kata seraya tangannya diangkat dan

piauw tahu-tahu sudah terjepit pada dua jarinya lalu dibuang

begitu saja hingga membuat Lie Kui panas hatinya melihat

senjata rahasianya dihina oleh Cia Kie.

Melihat akan terjadi pertempuran ramai, maka semua orang

pada mundur. Sedang pelayan-pelayan yang hatinya kecil

sudah pada lari ketakutan.

"Kau sambuti lagi ini !" teriak Lie Kui, berbareng tangannya

saling susul hingga beberapa batang piauw menyambar

dahsyat ke arahnya Cia Kie.

Ta[i si orang she Cia tidak gentar. Dengan berkelit dan

kebasan lengan bajunya yang gedombrongan, semua piauw

Lie Kui kena dijatuhkan. Tidak heran kalau Lie Kui menjadi

jengkel dan penasaran, cepat ia enjot tubuhnya lompat

mendekati Cia Kie.

Setelah berhadapan, si berewok obral makiannya pada Cia

Kie sambil dua kepalannya bekerja saling susul menyerang

toako dari Kian-san Ji-lo. Mereka jadi bertempur seru saling

jotos, hebat sekali, sama-sama tandingan.

Liu Wangwee merasa tidak enak hatinya. Belum apa-apanya,

tamu barunya sudah bertarung dengan musuhnya yang ganas.

Bagaimana kalau Cia Kie nanti mengalami celaka ?

 

Ai, kemana perginya si bocah perginya ? Demikian pikir Liu

Wangwee yang menjadi kacau pikirannya memikirkan Lo In

yang diharap tenaganya.

Sementara itu perkelahian hebat berlangsung terus. Diamdiam

tanpa diketahui oleh orang-orang disitu yang tengah

memusatkan perhatiannya kepada mereka yang sedang

bertempur, disitu sudah tambah dua orang yang bukanlain

adalah Giam-ong Puy Teng dan si Cakar Setan Teng Cong.

Mereka menyaksikan Sam-tenya berkelahi tenang-tenang

saja, seolah-olah sudah memperhitungkan bahwa Cia Kie

bukan tandingan Samtenya yang belakangan ini sudah dipale

oleh gurunya.

Lie Kui berkelahi bagaikan banteng ngamuk, pukulannya

mendatangkan suara menderu-deru dan betul-betul saja Cia

Kie keteter. Melihat gelagat jelek, Cia Liang adiknya sudah

lantas nyerbu untuk bantu engkonya tapi si Raja Akherat Puy

Teng sudah menghadang di hadapannya. "Jangan kesusu,

sobat !" katanya. "Kalau mau main-main, jangan ganggu orang

yang sedang enaknya berlatih. Mari aku layani kau !"

Cia Liang gemas. Tanpa banyak cing-cong lagi ia sudah

menerjang Puy Teng. Si Raja Akherat ganas pukulanpukulannya.

Lwekangnya bertambah setelah dipale oleh

gurunya, sebagai bekal untuk menuntut balas. Ia bersilat

degan Mo-jiauw Sin-kang atau Tenaga sakti cengkeraman

setan. Jurus-jurus yang digunakan sangat berbahaya sekali.

Tangannya menjambret dan mencengkeram hingga dalam

sedikit tempo saja Cia Liang menjadi kewalahan melayaninya.

"Celaka !" kata Liu Wangwee dlam hatinya ketika melihat

 

kedua penolongnya keteter. Bagaimana sekarang ? Dari takut,

hatinya Liu Wangwee menjadi nekad. Seketika itu juga lompat

ke dalam kalangan berkelahi hendak membantu Cia Liang

yang sudah kepayahan.

Perbuatan Liu Wangwee dicegat oleh Teng Cong hingga dua

orang ini jadi bertempur. Liu Wangwee gunakan 'Bwee hoat

Kun-hoat (Ilmu jotosan bunga bwee) untuk menggempur Mojiauw

Teng Cong. Meskipun kelihatannya perlahan seranganserangannya

tapi antap dan telak sekali mengarah

sasarannya. Dalam beberapa bulan ini, ia berlatih tekun

bersama puterinya. Maka telah didapat kemajuan yang baik

sekali. Ia kelihatan bersilat lebih lincah dan cepat. Kalau tempo

hari ketemu Teng Cong, saat itu Liu Wangwee sudah punya

pukulan-pukulan seperti sekarang, mungkin dapat sama kuat

kalau tidak sampai menang. Tapi sekarang dimana Mo-jiauw

juga sudah mendapat pelajaran dari gurunya sebagai bekal

untuk mencahari si kerudung merah, mau tidak mau Lin In

Ciang harus mengakui pihak lawan ada lebih unggul.

Teng Cong dari dahulu memang adalah setingkat lebih tinggi

kepandaiannya dari dua saudaranya. Ia pun disayang oleh

gurunya Thitouw-eng Ie Jie Lo atau Garuda Kepala Besi yang

menciptakan ilmu pukulannya tersendiri yang dinamai 'Sin-mo

Siang jiauw Ciang-hoat' atau 'Ilmu pukulan Sepasang Cakar

Iblis Sakti'.

Melayani Mo-jiauw Sin-kang dari Teng Cong yang lihai, sudah

tentu Liu In Ciang alias Liu Wangwee bukan tandingannya. Hal

mana membuat Pangcu dari Ceng Gee Pang yang menonton

menjadi khawatir. Ia lalu mengedipkan pada lima anak

buahnya. Tidak sampai dikedipi dua kali, mereka sudah sama

mengerti sebab dengan serentak sudah menyerbu ke dalam

 

arena pertarungan sehingga adegan-adegan saling gempur

dalam taman bunga itu menjadi ramai bukan main.

Tiga orang lawan delapan orang, Sucoan Sam-sat tidak

menjadi keder malah tampak makin bernapsu. Tubuhnya

berkelebatan gesit sekali hingga lawan-lawannya saban-saban

kebogehan serangannya tidak mendapat sasarannya.

Sebentar lagi terdengar jeritan saling susul. Itu adalah jeritan

tanda dari kesakitan. Tampak beberapa tubuh pada roboh

tersungkur, terkulai atau mendeprok di tanah dengan sukar

bangun pula. Mereka yang roboh itu adalah lima Hioucu

bersama Pangcu dari Ceng Gee Pang, mereka kedengaran

merintih kesakitan. Yang masih kuat bertempur tnggal Kiansan

Ji-lo dengan tuan rumah. Tapi juga tidak lama sebab Cia

Kie sudah dibikin mental tubuhnya kena tendangan Lie Kui,

Cia Liang adiknya menyusul kena dicengkeram pundaknya

oleh Giam-ong Puy Teng sedang Liu Wangwee tampak masih

terus bertahan. Ini bukannya karena Liu Wangwee ilmu

silatnya lebih tinggi dari Kian-san Ji-lo, yang sebenarnya kalau

ia masih terus dapat bertahan adalah Teng Cong tidak

sekejam dua saudaranya. Ia bermaksud mau bikin Liu

Wangwee lelah dan roboh sendirinya, ia peras tenaga Liu

Wangwee dengan kegesitannya lompat sana sini.

Dalam keadaan sudah tinggal robohnya saja, tiba-tiba Liu

Wangwee mendengar teriakan puterinya dari jauh yang

barusan keluar dari rumahnya. Bwee Hiang barusan saja

mendapat laporan dari salah satu pelayannya bahwa ayahnya

terancam bahaya di taman bunga, berhantam dengan salah

satu orang dari Sucoan Sam-sat.

Ia cepat sembat pedangnya dan lari keluar. Tampak olehnya

 

sang ayah sudah lelah dan tinggal robohnya saja. Hatinya

sedih bercampur gusar, ia berteriak, "Orang jahat, kau jangan

lukai ayahku !"

Dengan beberapa lompatan ia sudah sampai di taman bunga.

Mo-jiauw Teng Cong lompat mundur ketika diserang Bwee

Hiang dengan pedangnya. Berbareng tampak Liu Wangwee

sudah jatuh duduk saking lelahnya karena barusan diperas

tenaganya oleh si Ji-ko dari Sucoan Sam-sat.

"Jangan melukai ayah ! Berani ganggu lagi, jangan sesalkan

pedang nonamu tidak mengenal ampun !" kata si nona dengan

gagah, ia berdiri di samping Liu Wangwee yang mengeletak

empas-empis kecapaian.

Kian-san Ji-lo dan yang lainnya sudah pada rebah malang

melintang, dari mulutnya keluar rintihan kesakitan.

Melihat kejadian itu semua, hatinya si nona sangat sakit. Ia

menyesal orang kabarinya telah terlambat. Kalau tidak, tentu

ia sudah keluar siang-siang membantu para tamu yang

membantu ayahnya menempur si tiga algojo buas.

"Ji-ko, serahkan dia padaku." kata Lie Kui yang kegirangan

melihat si botoh dapat ia jumpai kembali. "Kalau sebentar kita

basmi keluarga Liu, biar tinggalkan dia untuk aku. Hahaha....."

Bwee Hiang kenali si berewok yang tempo hari kurang ajar

terhadap dirinya. Matanya melotot gemas ke arah si ceriwis

hingga Lie Kui kembali berkakakan ketawa.

"Kau ketawai apa, orang jelek !" semprot si gadis.

 

"Kau jangan marah. Jelek-jelek aku bakal suamimu, bukan ?"

goda Lie Kui.

"Fui !" si gadis meludahi muka Lie Kui, saking gemasnya.

Sin-mo Lie Kui keburu berkelit hingga mukanya tidak sampai

berkenalan dengan ludah si nona. Ia tidak marah, malah

dengan ketawa hahah hihi, ia menghampiri Bwee Hiang.

Tangannya yang nakal diulur untuk mencolek pipi orang, tapi

pedang si nona menyabet laksana kilat. Cepat ia tarik

tangannya, kalau tidak, pasti tangan nakal itu akan kutung dan

kutungannya pasti jatuh di tanah.

"Nona manis, kau jangan galak-galak. Nanti aku cium kau di

depan orang banyak !" Lie Kui mengancam dengan

omongannya yang tidak enak di dengar untuk telinga si nona.

"Tutup mulut kotormu !" bentak Bwee Hiang. Berbareng

pedangnya dikasi kerja untuk menyerang si setan sakti.

Pikirnya, ia sudah berlatih banyka dengan ayahnya, masa ia

tidak bisa menabas si berewok yang memuakkan ini ? Ia tidak

tahu bahwa Lie Kui juga sudah dapat kemajuan banyak,

dibekali oleh gurunya.

Serangan si nona meskipun bagus dan berbahaya, tidak

ubahnya seperti dahulu ketika ia menghadapi Lie Kui. Ia hanya

diganda dengan berkelit sana sini saja hingga diam-diam

Bwee Hiang mengeluh kenapa dirinya goblok amat tidak bisa

menjatuhkan Lie Kui.

Si setan sakti sebaliknya merasakan bahwa ilmu pedang si

nona sudah jauh berbeda dengan dahulu. Diam-diam ia amat

 

berterima kasih pada gurunya sebab kalau tidak

kepandaiannya ditambah, sekarang menghadapi si nona,

salah-salah lehernya bisa dibabat pedang yang menari-nari

dengan sangat cepatnya.

Bwee Hiang gunakan gurus serangan kesayangannya, ialah

'Bwee hiang boan-wan' (harumnya bunga bwee memenuhi

taman), bagus sekali dimainkan oleh si gadis. Gerakan

pedang menari-nari dengan indahnya. Menyabet ke kiri ke

kanan, ke atas ke bawah dengan cepat sekali. Dengan itu ia

coba mendesak si setan sakti tapi tidak bermanfaat. Lie Kui

adalah lebih gesit dari dahulu. Malah sekarang lantaran agak

kewalahan, selainnya berkelit sana sini, lengan bajunya sering

dipakai menyampok pedang hingga serang si nona sering

mencong dari sasarannya.

Teng Cong dan Puy Teng ketawa bergelak-gelak melihat si

bontot tengan permainkan si nona yang sudah jadi mandi

keringat.

Sebaliknya, Kian-san Ji-lo menonton dengan rasa penuh

penasaran. Pangcu dari Ceng Gee Pang dengan lima anak

buahnya merintih-rintih menahan sakit dari lukanya sedang Liu

Wangwee keadaannya dalam sadar atau tidak, mengikuti

jalannya pertempuran si gadis lawan si bontot dari Sucoan

Sam-sat.

Sebentar lagi, tampak si gadis menusuk dengan bernapsu.

Inilah tindakan yang ditunggu-tunggu oleh Lie Kui. Dengan tipu

'Han mo tui ho' atau 'Setan kedinginan mengejar api', ia lihat

pedang Bwee Hiang tangan bajunya dibarengi dengan

kekuatan lwekang, ia menyentak hingga senjata itu terlepas

dari cekalannya si gadis. Malah Bwee Hiang hampir

 

terhuyung-huyung menubruk si berewok kalau sja ia tidak

cepat-cepat tancap kakinya dengan ilmu 'cian kin tui' yang

membuat berat badannya seribu kati.

Bwee Hiang berdiri terkesima. Putuslah semua harapannya.

Tadinya ia berbesar hati dengan ilmu pedangnya yang hebat,

ia dapat melindungi orang-orang yang kini rebah malang

melintang. Kenyataannya, ilmu pedangnya meskipun

meningkat berkat pengunjukkannya si kerudung merah, tidak

bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi si muka berewok.

Ia lupa bahwa lwekannya kalah jauh dengan Lie Kui. Jago

pedang tak dapat menjadi jago pedang yang kesohor jikalau

ilmunya itu tidak dibarengi dengan lwekang yang tinggi.

Seperti Bwee Hiang, ilmu pedangnya bukannya jelek, ia bisa

bikin Lie Kui mandi keringat dan mungkin tertusuk salah satu

anggotanya kalau saja lwekangnya Bwee Hiang sedikit sama

dengan tenaga dalamnya si berewok.

Bwee Hiang hanya merasa cemas, cemas karena latihannya

kurang mahir pikirnya. Sayang, sebenarnya Bwee Hiang bisa

menjadi jago betina kelas wahid sebab ia berbakat kalau saja

ia mendapat didikan yang baik dari seorang berilmu dan

melatih lwekangnya yang dahsyat untuk menghadapi jagojago

kuat.

Dalam putus asa dan hilang harapan, Bwee Hiang cuma bisa

jongkok dan menubruk ayahnya, dipeluki sambil menangis.

"Oh, ayah, anakmu yang celaka ini, yang membuat gara-gara

ini semua. Oh, ayah, ayah....." ia menangis makin keras ketika

sang ayah digoyang-goyang tubuhnya tinggal diam saja.

Dasar orang buas, dengan tidak punya perasaan sedikitpun

 

melihat orang sedang bersedih. Sin-mo Lie Kui seraya

menghampiri si nona, ia menggodai, "Nona manis, kalau aku

Lie Kui tidak pandang kau ada calon istriku, siang-siang sudah

aku cabut nyawamu. Sekarang jangan nangis, marilah ikut

aku..........."

"Tahan, tahan, aku datang....." terdengar orang berteriak,

keluar dari pintu belakang rumah. Teriakan mana membikin

Lie Kui tidak jadi mencekal lengan si botoh yang lemas halus.

Dalam sekejapan saja lantas berdiri di depan Sucoan Sam-sat

seorang anak berwajah hitam. Mereka tidak tahu bagaimana si

bocah bergerak sebab tahu-tahu setelah terdengar

teriakannya 'Tahan, tahan, aku datang........', orangnya sudah

berdiri di hadapan mereka. Sudah tentu mereka tidak pandang

mata pada Lo In yang hanya satu bocah mukanya hitam, lain

tidak.

Lie Kui tertawa, kapan melihat anak kecil itu wajahnya hitam.

Ia berkata, "Anak kecil, pantas benar kalau kau jadi anak aku

Lie-toaya (tuan besar Lie)."

Lo In ketawa nyengir. "Sama-sama hitam, bagus sekali kalau

kau pelayan dari aku Losiauwya (tuan kecil)". sahut Lo In.

Matanya Lie Kui mendelik pada si bocah.

"Hei, anak kecil. Lekas kau enyah dari sini !" kata Giam-ong

Puy Teng nyaring.

"Kenapa aku harus pergi ?" tanya Lo In.

"Di sini bukan urusan anak kecil, semua urusan orang tua !"

 

sahut Puy Teng.

Lo In tiba-tiba ketawa gelak-gelak. Meskipun suaranya tidak

sekeras orang dewasa, tapi bagi telinga bukan main berisiknya

hingga dirasakan pekak oleh karenanya. Sucoan Sam-sat

bukan main kagetnya apabila merasakan suara ketawa itu

selain menyelusup ke kuping memekakkan juga jantung rasa

tergetar.

Teng Cong yang sangat berhati-hati dalam segala hal lalu

menanya pada si bocah, "Saudara kecil, apa maksudmu

datang kemari ?"

Matanya si bocah berkilat melihat ke sekitarnya, banyak orang

bergeletakan rebah keluarkan rintihan sedang enci Hiangnya

sedang menangis sesengukkan memeluki Liu Wangwee. "Enci

Hiang, kau mengapa menangis ?" ia tanyai Bwee Hiang dan

tidak meladeni pertanyaannya Mo-jiauw Teng Cong.

"Adik kecil, kau terlambat datang. Oh, ayah, ayah

sudah.........." Bwee Hiang tak dapat melampiaskan katakatanya.

Karena sangat sedih, ia tersedu-sedu menangis

sembari peluki tubuhnya Liu Wangwee dan digoyang-goyang,

mulutnya tak hentinya memanggil : "ayah, ayah !"

"Anak bau, kau bikin ribut saja !" bentak Lie Kui seraya

tangannya yang segede apa tahu, digaploki ke kepala Lo In.

Badannya si berewokan mendadak terputar sendiri karena

saking kerasnya ia memukul, ia telah menggaplok angin sebab

Lo In sudah lenyap dari hadapannya.

Mo-jiauw Teng cong yang lihat gelagat jelek sudah lantas

hendak mencegah Lie Kui berlaku kasar pada si bocah tapi

 

gagal akeran Giam-ong Puy Teng yang berangasan sudah

turun tangan mencengkeram kedua pundak Lo In saat itu ada

dibelakangnya Lie Kui.

"Celaka !" pikir Mo-jiauw Teng Cong dalam hati kecilnya.

Sebelum ia membuka mulut hendak mencegah toakonya

berlaku kasar, tiba-tiba terdengar : plak ! plak ! tiga kali.

Tubuhnya Giam-ong Puy Teng tampak terputar bagaikan

gasing, seraya tangannya memegangi pipinya yang kena

digampar oleh Lo In. Kesakitan bukan main dia, sebab giginya

sampai pada rontok, malah kepalanya jadi keleyengan pusing

karena tubuhnya terputar. Entah dibagaimanakan oleh si

bocah nakal.

Bwee Hiang sembari tersedu-sedu menangis, diam-diam ia

perhatikan gerak gerik adik kecilnya. Melihat Lo In dalam

segebrakan saja membuat dua jagoan yang kesohor

kebuasannya menjadi pecundang, bukan main girangnya.

Malah ia tertawa ngikik waktu nampak Giam-ong tubuhnya

berputar macam gasing seraya memegangi pipinya yang

bekas digampar si bocah.

Melihat keadaan genting, Mo-jiauw Teng Cong tak dapat

berpeluk tangan menonton. Segera ia melompat, maksudnya

hendak membekuk Lo In yang berdiri membelakanginya.

Adegan itu sangat menegangkan urat syaraf sampai-sampai

Bwee Hiang menjerit saking ngerinya melihat si bocah

dibokong. Tapi bukannya si bocah yang kena dibekuk,

sebaliknya si Cakar Setan yang tersungkur dan ngusruk habis,

mukanya mencium tanah.

Terbelalak matanya si gadis. Ia hampir tidak percaya akan

penglihatannya sebab Lo In tampaknya lenyap seperti asap

 

saja. Gerakannya bagaikan kilat, seantero tubuhnya seperti

ada matanya, tidak mudah di bokong lawan.

Giam-ong Puy Teng tampak roboh terkulai, setelah main

gasing sebentaran. Ia rasakan kepalanya pusing benar,

mulutnya berlumuran darah. Ketika ia semburkan ada tiga

empat biji giginya yang ikut lompat keluar dengan darahnya.

Lie Kui naik pitam. Goloknya yang berkilauan dihunus dari

sarungnya.

"Anak haram jadah ! Kau rasakan golok kakakmu !" bentaknya

disusul dengan serangan membacok dari atas ke bawah

kemudian dari samping kiri ke kanan dan sebaliknya, disusul

dengan tikaman ke arah dada, dahsyat sekali. Cepat

serangannya Lie Kui, bertubi-tubi. Tidak heran sebab ia

menggunakan salah satu jurus yang paling ampuh dari 'Sinmo

Siang jiauw Ciang-hoat' yang dinamai 'Han mo hoan sin'

atau 'Setan kedinginan jungkir balik'.

Cuma si berewokan merasa amat gegetun karena tiap

tebasan, tikaman dan sontekan dari goloknya, seakan-akan

menebas, menikam dan menyontek bayangan saja. Lo In di

depannya bergerak terlalu gesit, meskipun melayani ia dengan

tangan kosong.

Mata Lie Kui serasa mabuk, nampak Lo In seperti menari-nari

dengan lima bayangan, mengitari dirinya. Terpaksa ia

membacok sana sini, serabutan saja.

Untuk mengocok si berewokan itu, Lo In sudah gunakan

gerakan 'Thian lie pian in', ialah 'Bidadari menari di awan'. Si

bocah punya 'Bu ong sin kang' (tenaga sakti tanpa bayangan)

 

yagn sempurna, telah memungkinkan ia memerkan gerakan

yang indah, lincah dan gesit laksana kilat dalam jurusnya

'Bidadari menari di awan' tubuhnya tampak bagaikan menarinari

diikuti dengan lima bayangan. Karena ini si bontot dari

Sucoan Sam-sat matanya menjadi mabuk.

Bwee Hiang berhenti menangis. Ia terpesona dengan

kepandaiannya si bocah sakti yang nakal, lupa ia kepada

ayahnya yang barusan ia peluki dengan tangisan terisak-isak.

Demikian mudah si bocah permainkan Lie Kui yang tinggi

besar, kasar. Hatonya merasa puas. Pikirnya, "Aku sendiri tak

dapat membalas si kurang ajar. Biarlah adik In yang tolong

balaskan !"

Dalam berpikir demikian, tiba-tiba ia menjerit, "Adik kecil, awas

!"

Berbareng dengan jeritan si gadis tampak Lo In jumpalitan.

Ujung sepatunya yang kecil menotok jalan darah di

pergelangan tangan kanan Lie Kui hingga goloknya terpental

dan orangnya jatuh numprah. Badannya Lo In kemudian

berputar, mencelat ke atas beberapa kali. Ketika si bocah

berhenti bergerak, tampak ia berdiri dengan mulut menggigit

pisau dah dua tangannya juga menggenggam pisau.

Dari mana Lo In dapat tiga pisau dengan berbareng ?

Itu ketika sedang gembiranya Bwee Hiang menonton si

berewokan dipermainkan oleh adik kecilnya, tiba-tiba matanya

yang awas melihat Mo-jiauw Teng Cong tengah mengayun

tangannya melepaskan senjata rahasianya 'Thoat-beng-ciam'

(Jarum pencabut nyawa) dan Giam-ong Puy Teng

 

menyambitkan 'Hui-to' (pisau terbang).

Mereka lepaskan senjata-senjata rahasianya dengan serentak

dan saling susul hingga Bwee Hiang menjerit 'Adik kecil, awas

!' dan hatinya ketakutan adik kecilnya mati dibokong oleh dua

orang jahat itu. Mendengar tanda bahaya, si bocah lantas

jungkir balik, ujung sepatunya menotok pergelangan Lie Kui

hingga goloknya jatuh untuk hindarkan hujan jarum, badannya

berputar mengebut dengan bajunya sedang sambaransambaran

pisau terbang Giam-ong Puy Teng, ia punahkan

dengan tubuhnya mencelat pergi datang beberapa kali. Dua

pisau ia tangkap dan satu ia gigit hingga waktu ia tancap kaki

pula ke tanha, tampak gayanya lucu sekali. Mulutnya yang

menggigit pisau seperti ketawa, dua pisau yang dipegang

kedua tangannya diacung-acungkan. Tapi hanya sejenak saja

si bocah hitam bergaya lucu sebab kemudian pisau di tangan

kiri ia lontarkan pada Lie Kui, mengarah kuping sebelah kiri

hingga si berewokan menjerit dan memegang telinganya yang

daunnya sudah copot. Pisau di mulut ia tiup, menyambar

telinga Mo-jiauw Teng Cong sebelah kanan hingga ia pun

menjerit, daun kupingnya mental jatuh di tanah. Tinggal pisau

di tangan kanannya yang membuat Giam-ong Puy Teng

menggigil ketakutan sebab saat itulah ada gilirannya.

Si bocah dengan wajahnya yang hitam legam memandang

toako dari Sucoan Sam-sat. Kemudian ia menengadah ke

langit lalu tertawa gelak-gelak yang memekakkan telinga tiga

algojo pecundang, setelah mana ia memandang pula Giamong

Puy Teng dan berkata, "Kau ada paman jahat, biar

hukuman begini saja !"

Berbareng dengan kata-katanya, pisau ditangan kanannya

juga sudah lantas meluncur ke arah mata kirinya. Pisau itu

 

meluncur cepat karena di dorong oleh kekuatan lwekang

sehingga tahu-tahu sudah nancap pada matanya si raja

akherat tanpa ia dapat berkelit lagi. Ia teraduh-aduh sambil

pegangi matanya yang berlumuran darah.

Sucoan Sam-sat rasakan hukuman yang mereka terima lebih

berat dari si kerudung merah sebab dua daun kuping yang

mental dari tempatnya tak dapat ditempel lagi dan matanya

Giam-ong Puy Teng menjadi meram dua-duanya. Ia menjadi

buta.

Untuk mengeroyok Lo In, itu sudah tak mungkin. Si bocah

kepandaiannya benar-benar mempesonakan. Belum pernah

mereka saksikan jago silat yang mana juga, apalagi Lo In

hanya satu anak kecil saja. Dengan memimpin toakonya yang

sudah buta, Teng Cong dan Lie Kui berlalu meninggalkan

tempat itu. Mereka ketakutan ditahan oleh Lo In tapi

kenyataannya tidak demikian sebab si bocah sudah bertindak

menghampiri Bwee Hiang, tidak menghiraukan lagi pada

mereka.

"Adik kecil, kau datang terlambat. Kemana saja kau pergi ?"

tanya Bwee Hiang sambil deliki matanya, ia memarahi si adik

kecil.

Lo In hanya tertawa nyengir. Ia tidak ladeni enci Hiangnya.

Sebaliknya, ia lantas jongkok untuk memeriksa keadaan Liu

Wangwee.

"Gara-gara kau adik kecil datang terlambat, ayah, ayah

sudah....." Bwee Hiang kembali menangis sesenggukkan,

seraya goyang-goyang tubuhnya Liu Wangwee.

 

Bwee Hiang rupanya ngeri untuk mengatakan 'ayah sudah

MATI', hanya sampai pada kata 'sudah' lantas ia nangis

sesenggukan seperti anak kecil.

"Enci Hiang, kenapa kau menangisi lope begini sedih ?" kata

Lo In setelah si bocah memeriksa Liu Wangwee.

Sambil menyeka air matanya dengan lengan baju, Bwee

Hiang menyahut, "Kau bisa kata begitu tapi bagaimana aku

tidak bisa menangis karena dia sudah pulang..... Oh, ayah,

ayah, kau tega tinggalkan Bwee Hiang....."

Bwee Hiang menangis keras, malah kali ini gegerungan.

Lo In menjadi heran, dari heran ia jadi tertawa terbahak-bahak.

Sudah menjadi wataknya rupanya, kalau Lo In menghadapi

sesuatu yang akan meminta tenaganya, ia suka tertawa

terbahak-bahak.

Orang sedang kematian bapak, sedih bukan main. Menangis

untuk melampiaskan kesedihan, tiba-tiba mendengar si bocah

ketawa terbahak-bahak, sudah tentu si nona menjadi jengkel.

Tak tahan meluapnya hawa amarah, maka seketika itu ia

sudah lantas merangsang Lo In yang sedang jongkok di

dekatnya. Ia ingin cekek mampus saja si bocah seketika itu

sampai melupakan badannya bersentuhan dengan si bocah.

Gemas ia hendak menggigit Lo In yang saat itu dengan sabar

melayani tangan si nona yang saling susul hendak

mencengkeram mukanya. Dua tangannya si nona sudah kena

dipegangi Lo In, lalu Bwee Hiang gunakan mulutnya menggigit

pipi si bocah muka hitam. Heran, Lo In tinggal antapkan saja

pipinya digigit si nona.

 

Lo In kelihatan seperti yang bercanda dengan Bwee Hiang,

tapi sebaliknya si nona beringas hendak menerkamnya.

Orang-orang yang melihat perbuatan Lo In pada mencela,

diam-diam pada mengutuk kelakuan si bocah yang

keterlaluan. Masa orang yang menangisi ayahnya yang mati

ditertawakan, mereka tidak menyalahkan kalau si nona begitu

marah. Malah, kalau mereka tidak sedang terluka, tentu

dengan serentak turut mengganyang si bocah.

Bwee Hiang rasakan menggigit pipinya Lo In bukannya

menggigit daging tapi seperti menggigit kapas, lunak bukan

main. Dalam sikapnya itu ia bukan menggigit, sebaliknya

seperti ia menciumi si hitam. Ketika ia sadar atas kelakuannya

yang tidak benar, ia rasakan dirinya sudah berada dalam

pelukan Lo In. Ia berontak tapi tanpa hasil. Kedua tangan Lo In

yang memeluk dirinya seperti besi seberat seribu kati, susah

disingkirkan. Ia jadi jengah dengan sendirinya, selebar

mukanya merah karena malu. Ketika mulutnya sudah siap

hendak mencaci maki, tiba-tiba ia mendengar si bocah

berkata, seperti berbisik di kupingnya, "Enci Hiang, jangan

marah. Juga jangan menangis sebab Lope tidak apa-apa....."

Bwee Hiang mendelik matanya, "Apa kau masih belum mau

lepaskan encimu ?" Bwee Hiang menegur tatkala si bocah

masih terus memeluki tubuhnya.

Sambil ketawa haha hihi, Lo In lepaskan pelukannya.

Kelakuan Lo In hanya bersifat main-main saja. Ia anggap

Bwee Hiang seperti Eng Lian. Sebaliknya bagi Bwee Hiang

yang sudah dewasa, merasa tidak enak Lo In perlakukan

 

dirinya demikian di depan orang banyak.

Ketika ia hendak melampiaskan amarahnya via mulutnya, Lo

In sudah mendahului berkata, "Enci Hiang, Lope hanya

kehabisan tenaga. Dia tidak mati !"

"Hah ! Masa ?" Bwee Hiang kaget tapi timbul harapannya.

"Kau lihat, nanti adikmu tolong Lope." kata Lo In.

Sambil berkata, tangan Lo In bekerja. Ia angkat tubuhnya Liu

Wangwee supaya dikasih duduk, lalu berkata pada Bwee

Hiang, "Kau bantu aku, enci Hiang. Kau pegangi tubuh Lope

supaya dia dapat duduk tegak."

Bwee Hiang cepat membantu, memegangi tubuhnya Liu

Wangwee yang lemas dan hendak jatuh rebah lagi. Kemudian

Lo In tempelkan tangan kirinya ke bokong si orang tua, tangan

kanannya menempel di dada. Seperti strum mengalir, tenaga

dalamnya Lo In yang dikerahkan, sudah nyusup membuka

otot-otot yang mecet dan saluran-saluran darah yagn jalannya

mampet. Dalam tempo tidak lama, kelihatan Liu Wangwee

bergerak, kemudian menarik napas dan membuka matanya.

Saking kegirangannya, Bwee Hiang lantas mau berteriak dan

memeluk ayahnya tapi melihat Lo In geleng-geleng kepalanya,

ia tidak berani sembarangan. Ia taat pada kewajibannya

sampai si orang tua pulih kesegarannya. Ia melihat Lo In dan

Bwee Hiang ada didekatnya. Si gadi tengah memegangi

tubuhnya, sedang Lo In menempelkan telapakan tangannya di

dada dan di bebokongnya.

Liu Wangwee mengerti bahwa Lo In sedang menolong dirinya

 

dengan tenaga dalamnya yang dahsyat sebab ia rasakan

hawa panas menyelusup dimana-mana dalam tubuhnya dan

segera ia merasakan kesegarannya kembali.

"Anak-anak, terima kasih atas pertolongan kalian." Liu

Wangwee tiba-tiba berkata.

Bwee Hiang memandang Lo In dan Lo In anggukkan

kepalanya. Itu sebagai tanda si nona boleh bicara dengan

ayahnya. Seketika si nona sudah menubruk ayahnya dan

berkata sambil berlinang-linang air mata, "Ayah, kau sudah

sembuh. Oh, untung ada adik kecil. Kalau tidak, entahlah

bagaimana jadinya kita." Bwee Hiang berkata seraya

menunjuk pada Lo In yang saat itu juga ia sudah hentikan

pertolongannya pada Liu Wangwee yang sudah kembali

kesehatannya.

"Anak In, terima kasih. Kau anak baik. Semoga selamanya kau

mendapat perlindungan dari Thian...." Liu Wangwee berkata,

seraya ia bangkit dari duduknya dibantu oleh Bwee Hiang

yang sangat kegirangan.

Setelah melihat sang ayah dapat bergerak bebas, si nona

lepaskan tangannya yang membantu Liu Wangwee untuk

berdiri. Lalu ia rapihkan rambut kepalanya yang awut-awutan

dan ketika ia merapihkan pakaiannya yang juga awut-awutan,

matanya melirik pada Lo In yang mengangguk sambil ketawa.

Bwee Hiang pelototi matanya sebentar, tapi ia pun ketawa

mesem. Ia sadar sekarang, bahwa perbuatan Lo In barusan

bukannya kelakuan kurang ajar. Itu hanya kelakuan dari

seorang bocah nakal yang menganggap ia (Bwee Hiang)

sebagai teman sebayanya memain.

 

Kalaupun dimisalkan Lo In barusan main gila terhadap dirinya,

si nona pun tidak merasa menyesal sebab pertolongan Lo In

pada orang tuanya ada jauh lebih berharga dari kenakalannya

si bocah barusan atas dirinya. Maka itu, barusan setelah

pelototi Lo In, ia telah kasih senyum mesem memikat pada si

bocah hitam.

Liu Wangwee melihat Kian-san Ji-lo dan Pangcu beserta anak

buahnya roboh malang melintang terluka karena

mengganasnya Sucoan Sam-sat, hatinya sangat terharu.

Sebab oleh karena hendak membantu dirinya, mereka telah

menjadi korban.

"Anak In, coba kau periksa lukanya para pamanmu itu.

Barangkali kau dapat menolongnya." berkata itu Liu wangwee

kepada Lo In.

(Bersambung)

Jilid 06

Si bocah menurut. Yang luka parah ternyata Cia Liang dari

Kian-san Ji-lo, tulang sambungan pundak sebelah kiri remuk

dicengkeram Giam-ong Puy Teng. Cian Kie sang engko tidak

seberapa berat kena tendangan Lie Kui sedang Pangcu dan

lima anak buahnya dari Ceng Gee Pang hanya luka-luka

ringan. Mungkin karena takut, mereka tidak berani maju lagi

dan pura-pura merintih kesakitan ketika mereka dirobohkan.

Sementara Lo In memberi pertolongan kepada mereka yang

terluka, Bwee Hiang di lain pihak sudah nyerocos menuturkan

bagaimana Lo In menempur tiga jago jahat dari Sucoan dan

merobohkannya satu persatu.

 

Liu Wangwee ketika Lo In datang, ia sudah jatuh pingsan,

tidak menonton pertempuran ramai itu. Maka sambil anggukanggukan

kepala, diam-diam Liu Wangwee merasa sangat

kagum akan kepandaian Li In yang sakti.

"Hek-bin Sin-tong...." kedengaran ia menggumam setelah

mendengar habis si nona bercerita. Ini adalah cetusan

perkataan yang tanpa terasa dari bibirnya Liu Wangwee

seperti juga kejadian dengan Hu-pangcu dari Ceng Gee Pang

tempo hari.

Julukan bagi Lo In ialah 'Hek-bin Sin-tong' atau 'Si bocah sakti

berwajah hitam', sejak membuat kucar kacir Sucoan Sam-sat

telah menjadi populer di kalangan Kangouw. Nama Hek-bin

Sin-tong untuk Lo In dengan serentak telah menjadi terkenal.

Seraya mengurut-urut jenggotnya, Liu Wangwee menarik

napas tatkala Bwee Hiang habis menutur. Parasnya kelihatan

sangat berduka, hingga Bwee Hiang jadi kaget.

"Ayah, kau kenapa ?" tanya sang gadis penuh kuatir.

"Aku menyesal anak In datang terlambat. Kalau tidak, tentu

para pamanmu tidak sampai mengalami malapetaka seperti

sekarang ini." jawab sang ayah lesu.

"Aku juga tidak tahu kemana anak nakal itu sudah pergi. Coba

aku nanti tanya padanya." kata Bwee Hiang seraya bertindak

menghampiri si bocah yang sedang repot.

Kiranya Lo In tidak boleh disalahkan. Sebab ia tidak tahu kalau

pada malam ini bakal kedatangan Sucoan Sam-sat. Ia permisi

pada Bwee Hiang untuk jalan-jalan keluar lantaran ada urusan

 

sendiri.

Si bocah masih penasaran pada orang yang menggasak

miliknya berupa bungkusan kecil. Uang ia tidak buat pikira.

Yang ia sayangi obat-obatan yang ia bawa ada dalam

bungkusan itu. Maksudnya ia keluar jalan-jalan, siapa tahu ia

dapat pergoki orang yang menyikat barang miliknya itu. Dari

siang ia kelayapan tanpa tujuan sampai pada saat cuaca

remang-remang ia lihat ada seorang yang kebetulan

kesamprokan dengannya seperti ketakutan dan menjauhkan

diri.

Orang yang potongannya kurus kecil tapi gesit. Romannya

seperti kunyuk, ketawanya tidak enak dilihat. Lo In lantas

curiga, mungkin orang ini yang sudah ambil buntelan kecilnya.

Ia pura-pura tidak memperhatikan tapi diam-diam ia pasang

mata kemana perginya orang itu. Lo In harus melewati

beberapa lapangan dan tikungan untuk menguntit orang yang

mencurigakan itu. Waktu sampai pada satu jalan yang

menikung ke belakang sebuah kuil kecil, Lo In kehilangan jejak

orang yang dikuntitnya. Ia merasa heran. Bagaimana orang itu

bisa lolos dari kuntitannya.

Pikirnya, tidak bisa salah. Orang itu tentu masuk ke dalam kuil

di situ.

Dasar anak bernyali besar, tanpa pikir dirinya bisa terjebak, Lo

In sudah masuk dalam kuil itu. Di dalam ia disambut oleh

Hweshio (pendeta) muda dari kira-kira berusia 18 tahun dan

menanyakan pada Lo In, "Saudara kecil, ada urusan apa kau

datang kemari ?"

"Aku hendak sembahyang, suhu." sahutnya singkat, sedang

 

matanya berkilat memperhatikan sekitarnya. Ia mengharap

kalau-kalau dapat melihat orang yang dikuntitnya.

Omongnya mau sembahyang tapi Lo In tidak maju ke tempat

pemujaan, sebaliknya ia jalan sana sini melongok-longok

mencari orang yang dicurigai.

"Saudara kecil, kau cari apa ?" tanya si Hweshio mesem,

rupanya sudah tahu apa yang diinginkan oleh si bocah.

"Tidak, aku mau mencari orang. Apa suhu dapat lihat ada

orang kurus kecil masuk ke sini barusan ?" Lo In balik

menanya.

"Bukankah saudara kecil hendak sembahyang ?" menanya

lagi si Hweshio.

"Sembahyang belakangan kalau aku sudah ketemu orang itu."

sahutnya, nyengir.

"Saudara kecil, tempat disini tidak boleh dipakai main-main !"

kata si Hweshio.

"Aku omong benar, bagaimana kau katakan main-main ?"

"Tadi bilangnya mau sembahyang, sekarang mau cari orang.

Apa itu bukannya main-main ?"

"Kau keluarkan dulu orang itu, aku nanti sembahyang !"

Si Hweshio jadi kurang senang, matanya mendelik. Ia angkat

tangannya, menunjuk ke pintu sambil katanya, "Keluar, lekas

keluar !"

 

"Kau suruh aku keluar, mudah saja. Asal kau sudah keluarkan

orang yang sembunyi dalam kuilmu disini !"

Panas hatinya si Hweshio. Si bocah diusir, bukannya menurut

malah menantang !

"Aku Tong Seng, murid keempat dari Ceng Bian Hweshio.

Belum pernah menemui tamu macam kau yang tidak tahu adat

!" teriaknya sambil tepuk-tepuk dada.

"Baru murid keempat, biar kau murid nomor wahid juga aku

tidak takut. Asal kau masih membandel tidak mau keluarkan

orang yang kucari !" sahut Lo In.

Meluap amarahnya Tong Seng Hweshio.

"Kau kira disini biasa sembunyikan maling ?" bentaknya

berbareng tangannya melayang hendak menyekik batang

leher Lo In.

"Hehehe, kau mau berkelahi ?" kata Lo In, tangan si Hweshio

yang melayang dapat ditangkapnya. Sekali sentak tubuh Tong

Seng Hweshio terjerunuk ke depan, jidatnya membentur meja

tepekong hingga kontan tambah daging.

"Rampok ! Rampok !" teriaknya seraya pegangi jidatnya yang

kesakitan.

Lo In tenang-tenang saja meskipun dari berbagai jurusan pada

bermunculan kawanan kepala gundul dengan masing-masing

membawa gegaman pentungan kayu besar. Si bocah hitung

kira-kira ada 15 orang yang muncul berbareng mendengar

 

teriakannya Tong Seng Hweshio tapi diantaranya tidak

kelihatan orang yang dicari.

Satu Hweshio yang usianya lebih tua dari Tong Seng tampak

maju mendekat Lo In. Dengan bengis ia membentak, "Anak

kecil, kau mau merampok di sini ?"

"Buat apa aku merampok kuilmu yang tidak ada harganya."

sahut Lo In. "Aku hanya mau minta orang yang kucari, kau

keluarkan !"

"Siapa yang kau cari ?" tanya si Hweshio.

"Hehehe, kau juga mau main putar-putar ?" kata Lo In tidak

senang.

"Nih, main putar-putar !" bentak si Hweshio seraya pentungnya

melayang mau mengepruk kepala Lo In.

"Bagus !" kata Lo In, berbareng ia berkelit nyamping. Ketika

pentungan lewat, kakinya maju, tangan kanannya dengan satu

jari telunjuk menotok lengan si Hweshio jagoan yang menjerit

seketika dan roboh terkulai.

Semuanya menyerbu Lo In. Sesosok tubuh menjadi sasaran

pentungan ramai-ramai hingga yang dijadikan sasaran

menjadi berkuing-kuing seperti babi dipotong. Kiranya orang

yang dihujani pentungan bukannya Lo In sebab si bocah

sudah lenyap tanpa setahu mereka. Mereka

celingukanmencari seraya minta maaf pada si Hweshio yang

menjadi sasaran pentungan tadi. Siapa, ternyata ada Hong

Seng, murid kepala dari Ceng Bian Hweshio dalam kuil itu.

 

"Kemana itu anak anjing ?" teriak Hong Seng penuh

kegusaran. Ia dapat bergerak bebas pula dari totokan Lo In

sebab si bocah hanya menotok main-main saja.

Mendengar ribut-ribut, Ceng Bian Hweshio keluar dari kamar

semedhinya. Murid-muridnya repot melapor tentang

munculnya bocah berwajah hitam membuat onar dalam kuil.

Ketika ditanyaka apa sebabnya, Hong Seng lapor kalau si

bocah hitam itu mencari jejaknya si kurus kecil.

"Aku sudah katakan, kalian jangan suka campur dengan si

Tangan panjang Ong Cit. Sebab satu waktu Ong Cit akan

ketemu batunya. Benar ia pandai memindahkan milik orang

dengan menggunakan kesebatan tanganya, tapi itu perbuatan

tidak baik. Satu waktu bila ia diterjang sial bisa susah. Nah,

buktinya sekarang, bagaimana ? Kuil kita menjadi kerembetrembet

oleh perbuatannya Ong Cit."

Kawanan Hweshio itu ada komplotannya Ong Cit. Mereka

suka melindungi si Tangan Panjang dengan menyuruh Ong Cit

melenyapkan diri dalam kuilnya sebab tidak ada orang berani

carinya kalau ia sudah berada dalam kuil itu. Orang segan

kepada Ceng Bian Hweshio yang menjadi kuil tersebut.

Mereka begitu perlu melindungi si Tangan Panjang latnaran

mereka sering mendapat bagian dari penghasilan yang

diperoleh Ong Cit.

Mendengar kata-kata gurunya, Hong Seng membela

kawannya. Ia berkata, "Suhu, Ong Cit banyak membantu kuil

kita. Apa suhu hendak pungkir kedermawanannya ? Orang

sudah hinakan kuil kita, bukannya suhu mencari tahu siapa

 

orangnya, sebaliknya suhu marahi kita dan sesalkan bergaul

dengan Ong CIt."

Ceng Bian Hweshio juga bukannya pendeta suci. Maka ketika

mendengar jawaban sang murid kepala, seketika itu menjadi

gusar.

"Mari kita cari anak hitam itu !" katanya seraya ajak anak

muridnya untuk memeriksa seluruh kuil.

Tapi Lo In tidak diketemukan, entah kemana bocah itu larinya.

Ketika Hong Seng membuka sebuah kamar yang biasa dipakai

untuk mengumpat oleh Ong cit, kaget bukan main si murid

kepala dari Ceng Bian Hweshio. Dalam kamar itu tampak Ong

Cit, dua daun kupingnya hilang, empat jari tangan kanannya

sudah kuntung dan kuntungannya jatuh di lantai. Dari tangan

dan kedua belah telinganya tampak berlumuran darah, bekas

bekerjanya pisau tajam yang menggeletak tidak jauh dari si

Tangan Panjang. Malah pisau itu pun miliknya Ong Cit.

Si copet lihat dalam keadaan tidak bergerak karena kena

ditotok terpaksa Hong Seng lapor pada gurunya untuk sekalian

minta bantuan supaya membuka totokan.

Ceng Bian Hweshio sudah lantas datang ke kamarnya Ong

Cit.

Ia geleng-geleng kepala nampak nasib yang dialami si Tangan

lihai. Cepat ia bekerja untuk membuka totokan tapi sana sini

ditepuk tubuhnya si copet lihai oleh si kepala kuil untuk

membebaskan totokan tetap tak berhasil.

 

Hong Seng heran. Ceng Bian Hweshio malah lebih heran dan

terkejut karena sebagai orang Kangouw kawakan ia tidak bisa

membuka totokan orang.

Bagaimana ia berusaha ternyata tidak peroleh hasilnya malah

Ong Cit tiap sebentar berjengit kesakitan dan matanya

mengucurkan air. Ia menangis dan matanya saja yang

mencilak-cilak seolah-olah memohon supaya percobaa Ceng

Bian Hweshio jangan diteruskan karena ia merasakan suatu

siksaan ditepuk sana sini bagian anggautanya untuk mencari

tempat membuka totokan.

Ceng Bian Hweshio yang sudah banyak pengalaman dapat

memahami keadaan si Tangan Panjang. Maka ia hentikan

percobaannya. Ia berkata, "Biasanya totokan macam ini tidak

sembarang orang bisa buka, berjalan dua jam lamanya dan si

korban akhirnya bebas dengan sendirinya. Maka tunggu saja

dua jam lagi, lihat bagaimana jadinya." Ceng Bian Hweshio

berkata seraya ngeloyor keluar dari kamar.

Tinggal Hong Seng dan kawan-kawannya pada menemani

Ong Cit sambil menanti sang waktu lewat dua jam

sebagaimana dikatakan oleh suhunya. Selama menemani,

diam-diam mereka ketakutan kalau-kalau si bocah wajah

hitam itu datang lagi menotok mereka dan menyiksa

sebagaimana yang dialami si Tangan Panjang Ong Cit.

Syukur-syukur si bocah tidak datang lagi dan mereka

kegirangan. Ketika sudah lewat dua jam, benar saja totokan

pada Ong Cit terbuka dengan sendirinya. Kini baru terdengar

rintihan si Tangan Panjang yang kesakitan karena sepasang

daun telinga dan empat jari di tangan kanannya dihilangkan

orang dengan paksa.

 

Hong Seng sudah memberi obat pil bikinan Ceng Bian

Hweshio untuk menahan rasa sakit dan obat bubuk untuk

diborehkan pada bagian-bagian angguta yang terluka maka

Ong Cit tidak sampai menderita kesakitan terus menerus.

Menurut penuturan Ong Cit, ketika ia kesomplokan dengan Lo

In, ia lihat matanya Lo In berkilat tajam menotok di jantungnya

hingga berdebaran. Maka ia jadi ketakutan sebab menurut

penuturan jago-jago persilatan kalau orang punya mata

demikian berwibawa mempunyai lwekang (tenaga dalam)

yang dahsyat.

Tadinya ia tidak takuti Lo In ketika dalam rumah makan ia

sambar bungkusa kecilnya yang saat itu si bocah tengah

bicara dengan seorang pelayan, berdiri membelakangi

bungkusannya. Tapi tadi, ketika ia kesomplokan dan

pandangannya kebentrok dengan mata Lo In yang berkilat

menusuk jantung, membuat ia jadi ketakutan.

Sebagai copet yang lihai, ia tahu dirinya dikuntit Lo In. Maka

pikirnya, jalan yang selamat adalah masuk ke dalam kuil Thian

Ong Bio dimana ia banyak kawan yang dapat membantu

melindungi dirinya. Setelah kasak kusuk dengan Tong Seng

lalu ia masuk ke kamar biasa ia mengumpat tapi tidak urung ia

dapat diketemukan oleh si bocah muka hitam. Tatkala mana ia

sudah berlaku nekad dengan pisaunya yang tajam luar biasa,

ia menerjang Lo In.

"Hehe, mau melawan ?" si bocah berkata berbareng Ong Cit

rasakan nadi tangannya yang memegang pisau kena disentil,

kesemutan lemas, pisaunya dengan sendirinya jatuh ke lantai.

Ia coba menerobos keluar tapi satu tendangan mengenai

 

pahanya membuat ia jatuh melongsor. Cepat ia bangun lagi

tapi bukan untuk lari, sebaliknya ia lantas jatuhkan diri berlutut

di depan Lo In untuk minta ampun.

"Asal kau kembalikan barangku, aku nanti kasih kelonggaran."

kata Lo In.

"Ada, oh, ada. Aku tidak ganggu sedikit pun barang Siaoya."

sahut Ong Cit.

Setelah berkata, Ong Cit bangun dari berlututnya dan jalan

menghampiri satu lemari kecil dimana ia keluarkan miliknya Lo

In.

"Inilah barang Siaoya." katanya seraya menyerahkan pada Lo

In.

Lo In menyambuti lalu periksa isinya, ternyata benar saja tidak

diganggu.

Uang yang jumlahnya tidak seberapa dan botol obat-obatan

yang si copet tidak tahu obat apa membikin Ong Cit tidak

bernafsu untuk mengganggunya. Makanya juga ia lantas

simpan saja di dalam lemari kecil, spesial untuk menyimpan

barang-barang rongsokkan (tidak berharga) dari hasil kerja

tangan panjangnya.

"Bagus." kata Lo In setelah memeriksa isi bungkusa kecilnya.

"Nasibmu masih baik. Coba kau bikin hilang barangku.

Sebagai gantinya aku bikin hancur batok kepalamu. Nah, ini

kau lihat !" berbareng tangan Lo In diulur mengambil sebuah

patung kecil diatas meja tidak jauh dari situ. Patung itu dikepal

Lo In sejenak lalu setelah kepalannya dibuka, ia perlihatkan

 

pada Ong Cit.

Matanya Ong Cit terbelalak ketakutan, badannya menggigil

seperti disambar penyakit malaria layaknya. Kembali ia tekuk

lututnya dan minta-minta ampun.

"Ampun, Siaoya, ampunilah selembar jiwaku........." ia

meratap.

Kiranya patung itu, meskipun kecil terbuat dari logam murni

yang kuat. Di taruh dalam kamar itu, merupakan tepekongnya

Ong Cit dalam pekerjaan jahatnya.

Patung yang sekeras itu ternyata dalam genggamannya Lo In

telah berubah menjadi tepung terigu. Sudah tentu saja Ong Cit

menjadi ketakutan menyaksikan demikian dahsyatnya tenaga

dalam si bocah wajah hitam.

Setelah meniup berhamburan patung yang berubah menjadi

tepung itu dari tangannya, Lo In berkata pada Ong Cit, "Kau

jahat, suka bikin susah orang tapi tidak sejahat orang yang

membunuh sesamanya. Maka aku kasih kelonggaran

hukuman. Sekarang kau ambil pisau ini dan iris kedua daun

telingamu !"

Ong Cit gemetaran tubuhnya. Matanya memandang Lo In

seperti yang mohon dikasihani tapi Lo In belagak pilon, malah

katanya, "Lekas kerjakan !"

Si Tangan Panjang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia ambil

pisaunya sendiri yang tadi jatuh di lantai, sambil kuatkan hati,

ia mengiris dua daun telinganya satu demi satu. Darah

mengetel jatuh dari telingan yang sudah kehilangan daunnya.

 

Melihat itu, hatinya Ong Cit terkesiap dan ia jatuh pingsan.

Kapan ia siuman kembali, ia dapatkan dirinya tak dapat

bergerak. Empat jari di tangan kanannya sudah berserakan di

lantai bersama dua daun kupingnya.

Mulutnya tak dapat bersuara untuk minta tolong karena urat

gagunya sudah kena ditotok Lo In. Maka terpaksa ia

menantikan orang datang membuka kamarnya saja.

Mendengar penuturan Ong Cit, semua orang menjadi gentar

terhadap si bocah wajah hitam. Mereka mengharap Lo In tidak

mengulangi kedatangannya ke kuil mereka.

Demikianlah, Lo In sambil bersiul-siul kegirangan mendapat

pulang barangnya yang tak ternilai harganya. Ia berjalan

pulang ke ruman Liu Wangwee. Justru tatkala itu Kian-san Jilo

dan jago-jago dari Ceng Gee Pang sudah dirobohkan oleh

Sucoan Sam-sat. Si botoh Bwee Hiang tengah dipermainkan

oleh Lie Kui. Pelayan yang melihat si bocah pulang lantas

memberikan laporannya. Kaget Lo In. Cepat ia lari ke taman

bunga, dimana ia lihat enci Hiang sedang peluki tubuhnya Liu

Wangwee yang dalam keadaan kehabisan tenaga. Kapan ia

lihat Lie Kui hendak menganggu Bwee Hiang, mengulur

tangan hendak memegang si nona, lantas ia berteriak :

'Tahan, tahan, aku datang.....!' dari kejauhan, sementara

tubuhnya melesat seperti meluncurnya roket yang barusan

dilepaskan, bagaimana si bocah bergerak tahu-tahu sudah

muncul dihadapan mereka.

Tidak mudah untuk memberi pertolongan kepada mereka yang

menjadi korban keganasan Sucoan Sam-sat, apalagi Cia

Liang yang remuk sambungan tulang pundaknya di

 

cengkeram Giam-ong Puy Teng. Untung, dengan secara

kebetulan, Lo In sudah dapat kembali obat mustajabnya

sehingga dapat menolong mereka dengan tidak usah ke sana

sini mencari obat.

Obat buatan Lo In, yang mewariskan kepandaian Liok Sinshe

memang manjur sekali. Maka dalam tempo pendek korbankorban

yang terluka karena keganasan Sucoan Sam-sat

sudah dapat bergerak pula. Hal mana membikin Liu Wangwee

jadi sangat kegirangan. Segera ia suruh Bwee Hiang supaya

pelayan-pelayannya menyiapkan satu meja perjamuan untuk

memberi selamat pada mereka, yang membantu dirinya

dengan tidak sampai mengorbankan jiwanya.

Dengan dipimpin oleh Liu Wangwee dan Pangcu dari Ceng

Gee Pang, dilain saat para tamu sudah kelihatan pada

memasuki rumahnya Liu Wangwee. Mereka diantar ke sebuah

ruangan makan yang lebar luas dan diperaboti indah lengkap.

Mereka kelihatan amat senang dapat memasuki ruangan yang

mencocoki seleranya sehingga mereka pada melupakan apa

yang sudah terjadi barusan dan rasa sakitnya kena dihajar

oleh Sucoan Sam-sat.

Sementara, Lo In tidak mau turut dengan mereka. Ia hanya

menyusul Bwee Hiang yang pergi dari situ untuk

menyampaikan perintah Liu Wangwee kepada para pelayan

yang bertugas menyiapkan barang hidangan.

"Kenapa kau ikuti aku ?" tanya Bwee Hiang. "Bukannya

berkumpul dengan para paman. Siapa tahu mereka mau

dengar ceritamu yang lucu-lucu. Hihihi...."

 

"Aku tidak kerasan berkumpul dengan orang tua. Maka aku

menyusul enci kemari." sahut si bocah. "Apa tidak boleh ?"

"Bukannya tidak boleh, cumanya tidak pantas begitu saja

meninggalkan mereka."

"Tidak pantas dalam pandangan mereka, tidak jadi soal. Asal

pantas dalam pandangan enci Hiang, aku sudah puas."

Kata-kata Lo In mengingatkan Bwee Hiang pada kejadian, ia

menciumi pipinya si bocah yang maksudnya mau gigit hancur

dagingnya, tahu-tahu si bocah berbalik memeluki tubuhnya.

Ingat kesitu, wajah si nona menjadi merah dan berkata, "Tidak

pantas kelakuanmu barusan terhadap encimu. Malu ditonton

banyak orang !"

"Enci yang mulai, bagaimana bisa salahkan aku ?"

"Hah ! Aku mulai apa ?" si gadis cepat menanya, kaget ia

dituduh yang mulai.

"Mencium pipiku, apakah itu bukan mulai dulu ? Maka lantas

saja kalau aku main-main memeluk tubuh enci, bukan ?

Hehehe... "

Bwee Hiang pucat wajahnya lalu merah karena jengah.

Pikirnya, kurang ajar bocah hitam ini. Tapinya memang

alasannya tepat juga. Ia jadi membisu. Kemudian, ia gerakan

kakinya lebih cepat meninggalkan Lo In dengan tidak berkatakata

seperti yang sedang mendongkol.

Sebelum ia bertindak jauh, tiba-tiba kupingnya mendengar Lo

In berkata, "Baik, kau marah. Aku pun akan pergi dari sini !"

 

Terkejut si nona. Cepat ia balik tubuhnya dan lekas

menghampiri Lo In. Sambil pegang tangan si bocah, dituntun,

ia berkata, "Adik kecil, kau gampang ngambek ya ? Mari ikut

encimu !"

Lo In ketawa nyengir, sebaliknya si nona gondok. Cuma ia

tidak berani berlaku kasar lagi pada si bocah, takut Lo In

benar-benar pergi dari rumahnya. Kalau Lo In berlalu garagara

ia (Bwee Hiang), pasti ia akan didamprat oleh ayahnya.

Juga, andaikata diantara Sucoan Sam-sat ada yang balik lagi,

siapa yang berani melayaninya ? Dalam bahaya, keluarga Liu,

bagaimana dapat membiarkan si bocah pergi begitu saja ?

Oleh sebab itu, maka Bwee Hiang sudah robah sikapnya yang

mendongkol menjadi ramah seperti biasanya hingga Lo In

senang hatinya.

Demikian, tidak lama perjamuan sudah disiapkan.

Lo In ada bersama-sama Bwee Hiang di ruangan belakang

lagi ngomong-ngomong. Tiba-tiba muncul satu pelayan,

berkata pada Bwee Hiang, "Siocia, loya suruh aku undang

adik kecil turut serta dalam perjamuan !"

"Nah, kau dapat kehormatan. Lekas pergi turut makan ke

sana. Makanannya enak-enak, tentu kau dapat makan

banyak." berkata Bwee Hiang pada Lo In, menggodai si

bocah.

"Brengsek !" Lo In menggerutu hingga Bwee Hiang menjadi

heran.

"Apanya yang brengsek, adik kecil ?" si nona lantas menanya.

 

Lo In tidak menjawab perkataan Bwee Hiang, sebaliknya ia

berkata pada si pelayan, "Kau katakan pada Loya, aku tidak

bisa ke sana, lagi tidak enak badan."

"Hihihi..." Bwee Hiang tertawa ngikik, sambil tekap mulutnya.

"Orangnya segar bugar dikatakan tidak enak badan. Kalau

tidak enak badan iut, biasanya rebah di pembaringan. Ah, adik

kecil, kau kenapa sih permainkan orang tua ?"

Lo In ketawa nyengir. Kepalanya digeleng-gelengkan. "Aku

tidak mau ke sana, kalau tidak bersama enci." ia berkata

kemudian.

Bwee Hiang melengak. "Kenapa mesti sama-sama encimu ke

sana ?" ia menanya.

"Kalau bersama enci, aku jadi punya teman ngobrol." sahut si

bocah.

Bwee Hiang memandang paa pelayannya yang saat itu tengah

tersenyum-senyum melihat lagak lagunya dan kata-katanya si

bocah yang serba lucu. "Kau katakan pada Loya apa yang

dikatakan adik kecil barusan." Bwee Hiang berkata pada si

pelayan yang sedang menanti keputusan.

Pelayan itu lantas berlalu. Tak lama lagi ia kembali, katanya,

"Loya minta adik kecil ke sana bersama-sama Siocia."

"Nah, ini baru betul !" kata Lo In seraya bertepuk tangan

kegirangan.

Bwee Hiang jebirkan bibirnya yang mungil pada Lo In yang

 

kontan disambut dengan jebiran pula hingga si pelayan yang

menyaksikan adegan itu tidak tahan untuk tidak ketawa

cekikikan. Bwee Hiang tidak marah sebab ia tahu, memang

kelakuan mereka waktu itu dapat mengitik urat ketawa.

Si nona tak usah tukar pakaian lagi karena ia sekarang sudah

berdandan rapih.

Tadi, setelah ia pesan tukang masak untuk menyiapkan

hidangan, ia sudah masuk ke kamarnya untuk menukar

pakaian yang kotor dan awut-awutan. Rambutnya pun sudah

rapih dibereskan oleh dua pelayannya Ling Ling dan Lan Lan.

Waktu ia menemui Lo In pula, kecantikannya membuat kagum

si bocah berbareng bau harum menusuk ke lubang hidungnya.

Entah minyak wangi apa yang dipakai Bwee Hiang. Yang

terang si bocah setelah menghirum bau harum itu merasakan

dadanya lega dan segar.

"Hebat enciku ini." ia berkata dalam hati kecilnya. Tidak berani

ia mengatakan terang-terangan, nanti sang enci salah paham.

Coba kalau Eng Lian yang ia hadapkan, sudah lantas

mulutnya ramai memuji dan mungkin ia memeluk si dara

harum sambil membisiki kata-kata pujian pada telinganya.

Kalau dalam keadaan biasa, sudah tentu Liu Wangwee

keberatan puterinya turut dalam perjamuan diantara orangorang

lelaki yang bukan menjadi famili dekatnya. Tapi kali ini

ia terpaksa karena Lo In tanpa Bwee Hiang biar bagaimana

juga tak akan menghadiri perjamuan itu. LO In justru orang

penting dimana Kian-san Ji-lo berkali-kali ada mengatakan

keinginannya berkenalan dengan si bocah.

Demikian ketika Lo In dan Bwee Hiang muncul, orang-orang

 

pada bertepuk tangan. Malah Soat-cian Ang, Pangcu dari

Ceng Gee Pang berseru, "Hidup, jago kecil kita." beberapa

kali, disambut riuh oleh anak buahnya.

Kian-san Ji-lo hanya ketawa ngekeh, kepalanya manggutmanggut.

Segera perjamuan dimulai karena sekarang sudah komplit

dengan hadirnya Lo In.

Dalam omong-omong, Cia Kie berkata pada Lo In, "Siohiap,

eh, anak In. Tiga manusai dari Sucoan itu sangat jahat. Kau

telah memberi hukuman terlalu enteng pada mereka. Mereka

jadi keenakan, malah mungkin akan menuntut balas !'

Kian-san Ji-lo sudah dikisiki oleh Ang Ban Teng, kalau bicara

dengan Lo In jangan menggunakan perkataan 'Siaohiap'

sebab si bocah paling suka dipanggil 'anak In'. Ia menyatakan

penyesalannya pada Lo In yang memberikan hukuman terlalu

enteng pada Sucoan Sam-sat yang kesohor kebuasannya.

"Paman-paman itu toh tidak membunuh orang." sahut Lo In

acuh tak acuh.

"Ha ha ha !" Cia Kie tertawa. "Anak In, kau masih kecil. Belum

banyak mendengar dalam kalangan Kangouw orang ributi

kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh mereka. Kau tahu

anak In, mereka membunuh orang tanpa berkedip matanya.

Entah sudah berapa banyak jiwa yang dikirimkan pada Giamlo-

ong oleh mereka. Tapi yang terang, kalangan Pekto

maupun Hekto pada mengutuk atas perbuatannya.

Terbelalak matanya Lo In. Lucu tampaknya sepasang mata

 

yang bening dan berwibawa terdapat diantara wajahnya yang

hitam legam.

"Ah, masa sampai begitu ?" Lo In menanya, heran dia.

"Seharusnya mereka itu dibasmi habis." menyela Cia Liang.

"Apa dibasmi, paman maksudkan apa dibasmi ?" si bocah

tidak mengerti.

"Di basmi ialah dibunuh habis mereka itu." menegaskan Cia

Liang, ketawa.

"Mana bisa dibunuh, aku tidak biasa membunuh." Lo In ketawa

nyengir.

"Mereka datang ke sini mau membunuh keluarga Liu, tidak

satu juga yang mereka mau kasih tinggal. Kenapa kita tidak

mau bunuh habis mereka ?" tanya Cia Kie.

Lo In geleng-geleng kepala. "Aku belum pernah bunuh orang."

katanya lucu.

Para hadirin jadi saling pandang melihat kelakuan si bocah.

Bwee Hiang ingin menegur atas ketololan Lo In tapi ia tidak

berani buka mulut dihadapan banyak orang tua. Hanya

matanya saja mengawasi si bocah seolah-olah menyesalkan

dengan kata-kata yang diucapkan Lo In. Tapi Lo In tidak dapat

memahami isi hatinya si enci Hiang. Ia tinggal tenang-tenang

saja.

Ang Pangcu tidak sabaran. Ia lantas berkata, "Anak In, kalau

mereka tidak dibasmi habis, dibunuh semua aku maksudkan,

 

mereka akan...."

Kata-kata Ang Pancu tidak diteruskan karena ia kaget tiba-tiba

melihat satu orangnya bernama Kang Kiat muncul diantar oleh

satu pelayan.

kang Kiat ada salah satu Tocu dari markas cabang Ceng Gee

Pang di sebelah barat desa Kunhiang (tempatnya Liu

Wangwee). Belum berapa lama dibangun, masih dibawah

penilikan Hoan Hiocu dari pusat di Gakwan. Disana selainnya

Kang Tocu, masih ada tiga Tocu lagi yang menjadi pemimpin

cabang itu, dibantu oleh beberapa anak buahnya yang

semuanya ada pandai silat.

Ceng Gee Pang pada waktu belakangan ini mendapat

kemajuan pesat, membangun cabang di beberapa tempat.

Ang Ban Teng merasa sangat girang karena dalam

pimpinannya Ceng Gee Pang mendapat banyak kemajuan.

Melihat kedatangan Kang Kiat dengan air muka kusut dan

bajunya berlepotan darah, dengan cepat Ang Ban Teng

menaya, "Kang Tocu, kelihatannya ada kabar penting untukku.

Ada apa ?"

Setelah memberi hormat dan disuruh ambil tempat duduk oleh

Liu Wangwee, Kang Tocu lalu menyampaikan kabar duka

untuk Ceng Gee Pang.

Kan Kiat menceritakan telah kedatangan dua orang itu malam,

satu bermuka kelimis bersih dan satu lagi hitam berewokan

bengis. Mereka menanyakan apa disitu ada pusat dari Ceng

Gee Pang. Kang Kiat jawab bukan, hanya cabangnya saja

yang baharu dibangun belum lama. Tiba-tiba ia dengar si

 

berewokan ketawa terbahak-bahak lalu berkata pada

temannya, "Jiko, Ceng Gee Pang suah menjadi alatnya Liu In

Ciang, mari kita bereskan !"

Leng Tongcu yang berdiri tidak jauh dari Kang Kiat panas

hatinya mendengar kata-kata si berewokan, lalu maju dan

berkata, "Apa yang dibereskan ?" -- tangannya berbareng

melayang hendak menggaplok kepala tamu yang tidak

diundang itu.

Tapi si berewokan yang bukan lain Lie KUi adanya, sudah

lantas berkelit. Cepat bagaikan kilat tangannya diulurkan

menepuk pundaknya Leng Tongcu yang tidak keburu

mengelakkannya. Hanya menjerit sekali, Leng Tongcu sudah

roboh tersungkur tidak bangun lagi. Kang Kiat melihat hal itu

menjadi gusar. Ia sudah lantas mau menerjang Lie Kui tapi

Ong Tocu sudah mendahului.

Orang-orang Ceng Gee Pang beringas dan ramai-ramai

mengeroyok si berewokan hitam tapi mereka diganda hanya

dengan ketawa-ketawa saja, malah ketika Mo-jiauw Teng

Cong, si muka kelimis turun tangan, segera terdengar

beberapa jeritan ngeri dan orang-orang Ceng Gee Pang pada

roboh dihajar dua tamu tidak diundang itu.

Kemudian muncul orang-orang bersenjata dipimpin oleh Hoan

Hiocu.

Barangkali lebih baik kalau rombongan bersenjata tajam ini

tidak muncul sebab akibatnya sangat mengerikan. Lie Kui dan

Teng cong lantas merampas golok lawan, dengan senjata

mana mereka mengganas. Teriakan-teriakan ngeri

menyayatkan hati, kepala orang pating berjatuhan bagaikan

 

buah kelapa yang berjatuhan dari pohonnya. Banjir darah

disitu, malah Hoan Hiocu pun menjadi salah satu korbannya.

Kepalanya menggelinding jatuh dilantai karena ditebas oleh

Lie Kui.

Kang Kiat yang masih sempat menyelamatkan diri, sudah

lantas meninggalkan mereka yang sedang ngamuk dalam

markasnya, lari ke rumahnya Liu Wangwee. Ia tahu

Pangcunya ada disana untuk memberi laporan.

Ang Pangcu mendengar kejadian yang menyedihkan itu

sampai tidak bisa membuka mulut, saking sangat gusar dan

jeri pada Sucoan Sam-sat.

"Ang-hiante, bagaimana baiknya ini ?" Liu Wangwee berkata

pada Ang Ban Teng.

"Hahaha !" sekonyong-konyong Cia Kie ketawa.

"Anak In, kalau kau tidak menyaksikan dengan mata kepala

sendiri, tentu kau mengatakan aku si kakek omong kosong.

Nah, sekarang buktinya bagaimana ?"

"Anak In, coba kau turut paman Ang pergi ke sana

menengoknya." Liu Wangwee berkata pada si bocah yang

acuh tak acuh mendengar hal itu.

Mendengar kata-katanya Liu Wangwee, barulah ia seperti

tersadar. Tapi ia tidak menyahut, sebaliknya ia memandan

Bwee Hiang yang pucat wajahnya mendengar kabar jelek

yang disampaikan oleh Kang Kiat.

"Kau ikut paman Ang ke sana, adik kecil." berkata Bwee Hiang

 

ketika si bocah tinggal diam saja duduk di kursinya. "Apa mesti

encimu turut ke sana ?"

Nada suaranya paling belakang agak keras, seperti teguran.

"Anak In, turutlah kata-kata encimu." Liu Wangwee

menganjurkan.

Lo In tinggal diam saja.

Liu Wangwee dan Bwee Hiang saling pandang nampak Lo In

tidak bergerak dari duduknya. Mereka mengerti kalau tidak

bersama Bwee Hiang, si bocah tidak mau pergi. Keadaan

sudah demikian mendesak, Ang Pangcu kelihatan amat

gelisah. Ia tidak punya nyali untuk pergi ke markas cabangnya

tanpa Lo In, sebab percuma saja akan mengantarkan jiwa saja

kepada Sucoan Sam-sat.

Matanya mengawasi Liu Wangwee seperti memohon

pertolongan. Liu Wangwee menjadi sangat tidak enak, maka ia

lalu berkata pada puterinya, "Anak HInga, kau bawa

pedangmu dan antarkan adik kecilmu kesana, ikut paman

Ang."

Bwee Hiang bangkit dari duduknya dan berlalu, diikuti oleh Lo

In, seolah-olah yang tidak mau ketinggalan. Kemana Bwee

Hiang pergi, ia harus ikut. Sungguh lucu lagaknya si bocah

hitam. Sebenarnya bukan apa-apa kelakuannya Lo In itu, ia

memang ketakutan kehilangan Bwee Hiang seperti ia sudah

kehilangan Eng Lian.

Sebentar lagi tampak Bwee Hiang sudah muncul kembali

dengan pakaian ringkas, pedangnya disorong di pinggang. Di

 

belakangnya tampak Lo In mengintil.

"Habis, kalau anak pergi, siapa yang temani ayah ?" tanya si

gadis. Ia khawatir ayahnya ditinggal sendirian.

"Legakan hatimu, kami disini akan menemani ayahmu." Cia

Kie berkata tertawa.

Lega hatinya si gadis, lalu ia bersama Lo In ikut Ang Pangcu

dan Kang Kiat pergi ke markas cabang Ceng Gee Pang.

Karena masing-masing dapat menggunakan jalan cepat, maka

dalam tempo pendek saja mereka sudah sampai di tempat

tujuan.

Keadaan dalam markas cabang itu benar-benar mengerikan.

Mayat tampak malang melintang, yang kuntung tangan, kaki,

paha dan kepala terdapat di sana sini.

Sunyi senyap, hanya terkadang seperti ada terdengar rintihan

dari korban-korban yang belum mati. Sementara Lie Kui dan

Teng cong yang diharapkan masih dapat dijumpai disitu,

ternyata sudah tidak kelihatan mata hidungnya.

Ang Pangcu nampak semua itu telah mengucurkan air mata,

diikuti oleh lima Hiocunya. Bwee Hiang juga tidak dapat

menahan rasa terharunya, ia menangis. Beberapa kali ia

menyeka air mata dengan lengan bajunya.

Lo In yang belum pernah melihat orang dibunuh demikian

kejam, tampak geleng-geleng kepala. Pernah ia melihat orang

terluka, berceceran darahnya, kejadian itu dua tahun yang lalu

dimana Liok Sinshe mengamuk menghajar musuh-musuhnya.

Di sini ia nampak bukan darah berceceran saja, tapi

 

mengumpiang di sana sini, sedang kepala, tangan, kaki dan

lain-lain anggota tubuh manusia berserakan mengerikan.

Hatinya yang lemah tidak mau membunuh orang, tiba-tiba

tergugah. Tangannya yang kecil dikepal-kepalkan, romannya

sangat gusar. Ia menyesal tadi kenapa ia tidak membereskan

jiwanya Sucoan Sam-sat. Kalau tidak, tentu ia tidak

menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan seperti

sekarang ini.

Bwee Hiang melirik pada adik kecilnya, ia tahu bahwa Lo In

sangat gusar.

"Adik kecil," katanya. "Lantaran kau punya murah hati, nah

kejadiannya begini. Kau lihat, bagaimana kejamnya Sucoan

Sam-sat mengganas !"

"Biarlah sekali lagi kita ketemu mereka, aku tak akan kasih

ampun !" jawab si bocah seraya angguk-anggukkan

kepalanya.

Terkejut Bwee Hiang. Pikirnya, kenapa bocah ini mengatakan

'kita' ? Apakah dimaksudkan dia dengan ia (Bwee Hiang) yang

kelak akan menghadapi Sucoan Sam-sat ?

Ia tidak sempat memecahkan soal ganjil itu karena segera

mendegnar Ang Pangcu berkata pada Lo In, "Anak In, inilah

bukti dari perbuatan ganas Sucoan Sam-sat. Maka kalau

belakang hari kau ketemu mereka, aku harap kau suka

menghukum mereka yang setimpal dengan kebuasannya !"

"Aku mengerti paman Ang. Semoga dalam perjalanan

berkelana aku akan menjumpai mereka supaya para paman

 

yang mati sekarang toh akhirnya mendapat kepuasan di alam

baka !" demikian si bocah berjanji.

-- 17 --

Kata-kata Lo In membuat Bwee Hiang ketawa girang sebab

sudah terang si bocah sekarang sudah berubah

pandangannya terhadap orang-orang jahat. Kelemahan

hatinya berubah menjadi suatu keganasan. Yang paling girang

adalah Ang Pangcu sebab ia percaya meskipun ia sendiri tidak

bisa membalas kekejamannya Sucoan Sam-sat, sekarang ada

si bocah sakit yang menyanggupinya.

Mendengar kedatangannya ketua dari pusat, maka orangorang

Ceng Gee Pang yang tadi pada lari menyembunyikan

diri dari angkara murka Sucoan Sam-sat pada muncul dan

memberikan pertolongan pada mereka yang belum tewas

jiwanya. Atas perintahnya Pangcu, tempat itu dibersihkan dari

mayat-mayat yang malang melintang.

Ketika Kang Kiat berada jauh dari Bwee Hiang dan Lo In, Kang

Tocu berkata pada Ang Pangcu, "Pangcu, kalau tadi kita tidak

berkutat dulu membujuk si bocah muka hitam, kita pasti

datang disini dalam waktunya. Kita masih bisa menjumpai dua

orang jahat itu dan kita dapat menolong saudara-saudara kita,

tidak sampai mengambil korban begini banyak !"

"Kang Tocu." katanya. "Kau tidak tahu." Ang Pangcu ketawa.

"Justru si bocah yang penting kita bawa ke sini. Apa dengan

tenaga kita, dapat kita usir Sucoan Sam-sat ? Hmm ! Kau

jangan mimpi. Bocah itu mempunyai kepandaian yang susah

diukur, dialah yang telah mengusir pergi Sucoan Sam-at dari

taman bungan Liu Wangwee, dimana kita berenam dan Kian

 

san Ji-lo sudah roboh tidak berdaya. Kalau tidak ada dia,

sekarang, kau tentu tidak bisa berhadapan dengan

Pangcumu........."

"Ha ! Apa iya ?" memotong Kang Kiat, matanya terbelalak

kurang percaya.

Ang Pangcu hanya tersenyum melihat kelakuan Tocunya.

Sementara itu ia sudah bertindak ke arah Bwee Hiang dan Lo

In yang tengah ngomong-ngomong.

Sebelum ia membuka mulut bicara, Bwee Hiang sudah

mendahului, "Paman Ang, musuh sudah pergi. Sedang paman

juga repot menghadapi para paman yang mati dan terluka.

Maka sebaiknya aku dan adik In pulagn saja. Aku masih

kuatirkan di rumah ada terjadi apa-apa yang tidak diingini !"

Sebenarnya Ang Pangcu hendak menahan mereka tapi

karena alasannya Bwee Hiang cukup teguh maka ia pun tidak

bisa berkata apa-apa selain mengucap terima kasih pada Lo in

dan si nona atas perhatiannya.

"Aku harap saja di rumah tidak terjadi apa-apa, anak Hiang !"

berkata Ang Pangcu ketika ia mengantar muda mudi itu keluar

dari kantor cabangnya.

Hanya diwaktu menyaksikan pemandangan yang mengerikan

tadi, tampak Lo In seperti hatinya tergerak, gusar dan berubah

kelemahan hatinya dengan ketegasan. Tapi waktu dalam

perjalanan si bocah hanya biasa lagi saja. Riang gembira dan

saban-saban menggodai enci Hiangnya supaya tertawa. Lo In

senang hatinya, kalau melihat Bwee Hiang ngikiki ketawa

karena kejenakaannya. Dalam perjalanan pulang ini juga

 

bukan sedikit Bwee Hiang dibikin ketawa ngikik oleh ucapan

atau lagaknya si bocah.

Kapan mereka sampai di rumah pula, Bwee Hiang berasa

tidak enak hatinya. Ia tidak melihat ada pelayannya yang

membukai pintu pekarangan. Malah pintu itu tidak terkunci,

tidak biasanya demikian. Masuk ke dalam rumah, biasanya ia

disambut oleh Ling Ling dan Lan Lang. Kali ini tidak kelihatan

satu juga pelayannya itu. Kemana mereka sudah pergi ? Ia

masuk lebih jauh ke ruangan dimana ayahnya dan Kian-san Jilo

pasang omong di waktu ia meninggalkan rumah. Tidak

tampak mereka disitu.

"Adik kecil, mungkin ada kejadian hebat di sini !" kata Bwee

Hiang. Hatinya sangat tegang, sedang Lo In terus mengintil di

belakangnya si gadis.

Bwee Hiang cepatkan tindakannya, menghampiri kamarnya.

Ketika ia membuka pintu kamar, matanya terbelalak. Lo In

tidak turut masuk ketika melihat Bwee Hiang tergesa-gesa

masuk ke dalam kamarnya, ia menanti di luar sambil bersiulsiul.

Bwee Hiang lihat Lan Lan menggeletak di lantai sudah tidak

bernapas. Ia jongkok memeriksa. Terkejut ia ketika melihat

pakaiannya si pelayang sobek sana sini seperti yang disobek

orang. Kapan Bwee Hiang angkat pakaian yang menutupi

tubuh si pelayan, kiranya Lan Lang sudah telanjang sehingga

pusar ke bawah. Dari tanda-tanda yang mencurigakan, Bwee

Hiang duga Lan Lan dibunuh setelah diperkosa. Tidak

terdapat tanda penganiayaan. Rupanya Lan Lan dibunuh

dengan totokan maut.

 

Bwee Hiang ngeri. Ia menekap mulutnya. Kemudia ia buka

tekapan tangannya, ia memandang ke pembaringannya. "Hei,

kenapa ada orang lagi tidur ?" ia menanya pada dirinya

sendiri. Cepat ia bangkit dari jongkoknya lantas menghampiri

orang yang seperti tertidur dengan pakai selimut.

"Kurang ajar, siapa berani tidur di pembaringanku ?" bentak

Bwee Hiang seraya ia menyingkap selimut yang dipakai

menutup kepala orang yang lagi tidur.

"Ah, Ling Ling !" teriaknya ketika ia mengenali wajah orang

yang tidur.

Pada wajahnya Ling Ling yang cantik tampak sepasang mata

yang melotot penasaran. Meskipun merasa ngeri melihat

wajahnya si pelayan, Bwee Hiang masih sempat membuka

selimut yang menutupi tubuh. "Aiyaaa !" Bwee Hiang

mengeluarkan teriakan tertahan, seraya ia mundur setelah

menutupi pula selimut tadi yang menutupi tubuhnya Ling Ling.

Apakah yang membikin si nona sangat kaget ?

Kiranya, ketika selimut dibuka, tampak tubuh Ling Ling

telanjang bulat. Sepasang buah dadanya yang montok sudah

dikupas orang hingga rata. Kemana sepasang buah dadanya

itu ? Sedang tangan kirinya, 3 dim diatas nadi berlumur darah,

tertabas kutung oleh senjata tajam.

Bwee hiang tak tahan menghadapi dua adegan di depannya,

maka ia berteriak, "Adik kecil, adik kecil, lekas kau masuk !"

Lo In terkejut mendengar panggilan Bwee Hiang seperti yang

ketakutan.

 

Sekali lompat ia sudah berada di dalam mendekati Bwee

Hiang yang berdiri gemetaran di tepi pembaringan di atas

mana ada terlentang mayatnya Ling Ling.

Ketika Lo In sudah berada di dekatnya, Bwee Hiang tak tahan

dengan goncangan hatinya maka ia roboh terkulai dan akan

mendeprok di lantai kalau tidak keburu Lo In datang

menyangga. "Enci Hiang, enci Hiang !" memanggil si bocah

ketika melihat si nona lemas badannya dan kedua matanya

tertutup.

Apa yang sudah terjadi ? Tanyanya dalam hati. Sementara

matanya melirik ke bawah, ia melihat tubuhnya Lan Lan yang

terkapar tak berkutik. Cepat Lo In pondong Bwee Hiang dan

diletakkan di atas satu dipan, tidak jauh dari pembaringan.

Meskipun biasanya Lo In sangat tenang, kali ini kelihatan ia

gugup juga.

Cepat si bocah menghampiri Lan Lan yang menggeletak di

lantai. kapan ia membuka baju yang sobek sana sini yang

menutupi tubuhnya Lan Lan, tampak Lan Lan telanjang bagian

bawahnya. Cepat ia menutupi pula Lan lan, lalu meraba

tangan si pelayan diperiksa urat nadinya. Kiranya Lan Lan

sudah tidak bernyawa. Ia geleng-geleng kepala tampaknya ia

merasa kasihan pada si pelayan yang bernasib malang itu. Ia

mengerti bahwa Lan lan mati karena totokan jahat pada jalan

darah.

Lo In jadi termenung sejenak dalam keadaan berjongkok.

Kapan matanya kemudian melirik ke pembaringan, ia lihat ada

sesosok tubuh yang ditutupi selimut seluruhnya. Cepat ia

 

bangkit dan menghampiri. Perlahan-lahan ia membuka selimut

yang menutupi. Kaget ia karena itulah Ling Ling yang

ketawanya manis dan mukanya botoh, sekarang sudah jadi

mayat dengan mata melotot.

Dalam terkejutnya, ia menyingkap terus selimut yang menutupi

tubuh Ling Ling. Bukan main gusarnya Lo In nampak

sepasang buah dadanya si pelayan yang cantik dikupas orang.

Berbayang di matanya si bocah, kapan Ling Ling turut tertawa

ngikik, sepasang buah dadanya yang bulat menonjol seperti

turut bergoyang.

Pikir si bocah, Ling Ling toh sudah jadi mayat. Apa

halangannya kalau ia diperiksa lebih jauh tanda-tanda

kekejaman manusia atas dirinya si pelayan. Maka, ia sudah

menyingkap terus selimut dan.... hatinya terkesiap kapan

melihat tangan kirinya si Ling Ling dekat pergelangan

terkutung mengeluarkan banyak darah. Kekejaman itu

sedikitnya dengan pedang, kalau tidak dengan golok

dikerjainya. Lo In sambil bergidik. Ia bergidik dan bulu

tengkuknya dirasakan berdiri. Bukannya takut tapi meluap

kegusarannya yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Cepat-cepat ia menutupi pula tubuhnya Ling Ling dengan

selimutnya.

Lo In tampak berdiri bengong. Pikirnya, apakah mungkin ada

manusia demikian kejam merusak anggauta tubuh si Ling Ling

yang botoh mungil ? Tapi bukti sudah ada, bagaimana juga Lo

In dapat melupakan kekejamannya manusia jahat dalam dunia

yang lebar ini.

Kalau tadi ia acuh tak acuh meskipun sudah menyaksikan

 

kekejaman dalam markas cabang Ceng Gee Pang, sekarang

setelah menyaksikan Ling Ling dan Lan Lang menjadi korban

keganasan manusia jahat, maka hatinya benar-benar menjadi

sadar bahwa seharusnya ia membasmi kejahatan untuk

menolong si lemah.

Tiba-tiba ia teringat akan Liu Wangwee, maka seketika itu ia

lompat keluar kamar.

Saban beberapa tindak ia jalan, ia menemukan mayat para

pelayan yang mengerikan. Ia tidak ada tempo untuk

memeriksa satu demi satu. Yang penting ia mau cari Liu

Wangwee, orang tua yang telah perlakukan dirinya sangat

baik.

Setelah ia berputar-putar mencari, tidak juga ia menemukan si

orang tua. Akhirnya ia sampai ke taman bunga, dimana belum

lama berselang ada dilakukan pertempuran dengan Sucoan

Sam-sat. Di sini ia telah menemui mayatnya Cia Kie terkapar

dengan leher hampir putus, tidak jauh darinya terlihat

mayatnya Cia Liang terlentang dengan kepala sudah terpisah.

Cemas hatinya Lo In, sebab Liu Wangwee masih juga belum

diketemukan.

Ia berdiri bengong. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam

menangkap seperti ada suara rintihan dalam gerombolan

alang-alang. Dengan beberapa lompatan ia sudah sampai

disana, ia menerobos masuk dan kemudian keluar lagi dengan

sesosok tubuh dipanggul di atas pundaknya. Itulah Liu

Wangwee yang keadaannya sudah hampir mati.

Lo In letaki orang tua yang bernasib buruk di tempat terbuka.

 

Dengan meminjam penerangan rembulan, Lo In periksa

keadaannya si orang tua.

Si bocah cepat menotok beberapa bagian jalan darah untuk

menghentikan darah yang keluar tidak hentinya dari luka-luka

di bagian muka, bahu dan kedua tangannya yang sudah

menjadi buntung. Keadaan lukanya si hartawan sangat parah.

Lo In putus harapan untuk merampas jiwanya dari malaikat

elmaut. Meskipun demikian, ia coba keluarkan obatnya yang

manjur untuk menolongnya. Dalam repotnya, tiba-tiba ia

dibikin kaget oleh Bwee Hiang yang menubruk ayahnya dan

menangis menggerung-gerung.

Bwee Hiang ketika mendusin dari pingsannya, ia tidak melihat

adik kecilnya dalam kamar. Ia lantas menduga Lo In tentu

sedang mencari ayahnya. Cepat ia bangun dan lari keluar. Ia

tidak perdulikan mayat-mayat para pelayannya yang malang

melintang ia ketemukan. Terus ia mencari Lo In sampai ia

jumpai si bocah sedang memberikan pertolongan pada

ayahnya di taman bunga.

Bukan main takutnya si gadis tampak keadaan ayahnya sudah

sangat payah. Ia memeluki sambil menangis, tangannya

meraba-raba wajah si orang tua yang sudah mandi darah.

Dengan jari-jarinya yang halus, si nona beberapa kali coba

melekkan matanya Liu Wangwee yang meram saja seperti

sudah mati. Putus harapan si nona, ia menangis makin

menjadi.

"Enci Hiang." tiba-tiba si gadis mendengar adik kecilnya

berkata halus. "Lope tidak dapat ditolong hanya dengan

tangisan saja. Maka tenangkanlah hati enci dan marilah kita

 

sama-sama menolongnya."

Bwee Hiang seperti tersadar mendengar kata-kata si bocah. Ia

melepaskan pelukannya sambil masih terisak-isak ia

menyusuti air matanya.

"Adik kecil, bagaimana ini..........?" si gadis kebingungan,

tangisnya belum berhenti.

"Tenang, enci Hiang." menghibur Lo In. "Jiwa ada di tangan

Thian (Tuhan). Kita manusia harus pasrah kepada nasib, asal

kita sudah menolong dengan sebisanya kepada Lope. Coba

aku periksa lagi keadaannya."

Lo In berkata sambil tangannya mengangkat tubuhnya Liu

Wangwee hendak di pondong, di bawa pergi dari situ.

Tiba-tiba matanya Liu Wangwee yang barusan meram saja

tampak dibuka, sebelum badannya terangkat oleh Lo In. Si

bocah tersenyum kepadanya. Bwee Hiang lihat itu, mukanya

mendekati wajah si orang tua. Katanya, "Ayah, oh, ayah......"

Si orang tua tersenyum. Terdengar ia berkata, "Anak Hiang,

anak Hiang. Selanjutnya kau harus akur-akur dengan adik

kecilmu. Eh, anak In." Liu Wangwee teruskan kata-katanya

pada si bocah. "Tolong kau jaga encimu. Biarlah kalian hi...."

Sampai disitu kata-kata Liu Wangwee terputus berbareng

jiwanya juga sudah pergi. Kepalanya teklok dengan

sendirinya. Lo In menghela napas. Liu Wangwee mati dengan

disangga tangannya. Suatu kematian yang mengharukan,

setelah meninggalkan pesa pada putri kesayangannya dan si

bocah wajah hitam.

 

Sementara itu, setelah mendengar pesan sang ayah kemudian

melihat ayahnya menutup mata, Bwee Hiang tidak tahan

dengan getaran hati yang sangat sedih dan putus harapan.

Maka ia tidak bisa menangis, sebaliknya, ia jatuh pingsan........

Sampai disini kita melihat pada Eng Lian.

Seperti diceritakan di sebelah atas, Eng Lian setelah dicekoki

'Cian jit su su hun' atau 'Obat bubuk mematikan ingatan seribu

hari', ingatannya sudah berubah dan menjadi lupa kepada

segala kejadian yang sudah-sudah. Si bocah Lo In sudah tidak

ada dalam alam pikirannya lagi. Ia hanya ingat Ang Hoa Lobo

ada suhunya dan kepada siapa ia harus bersetia dan menurut.

Meskipun demikian, obat itu tidak mengganggu alam

pikirannya yang cerdik, lincah dan gayanya yang lucu. Ang

Hoa Lobo sangat kegirangan setelah menguasai Eng Lian.

Cita-citanya yang besar untuk mendirikan partay baru, segera

kesampaian dengan bantuannya Siauw Cu Leng.

Ang Hoa Pay (Partay Bunga Merah) telah terbentuk dan

perlahan-lahan dikenal di kalangan Kangouw. Akan tetapi

orang tak dapat menemukan dimana pusat atau cabangnya

Partay Bunga Merah itu. Orang hanya dengar perkumpulan

baru itu dikepalakan oleh satu nona muda yang menamakan

dirinya Kim Coa Siancu atau Dewi Ular Emas.

Kabarnya Kim Coa Siancu ada sangat lihai, pergi dan datang

tak kelihatan bayangannya, menakjubkan dan membuat jagojago

rimba persilatan (Bulim) menjadi khawatir akan sepak

terjangnya partai baru itu. Apakah partai itu berhaluan baik

atau jahat. Tapi yang terang, belakangan ini banyak terjadi

penculikan anak-anak tanggung usianya, menimbulkan

kegemparan karena diketahui penculikan-penculikan itu

 

dilakukan oleh Kim Coa Siancu.

Eng Lian yang sudah berubah dirinya menjadi Kim Coa Siancu

memang juga berkepandaian lihai. Ia bukan saja dapat didikan

serius dari Ang Hoa Lobo tapi juga disayang oleh Sucouwnya

ialah Lamhay Mo Lie atau 'Si Iblis wanita dari lautan kidul

(selatan)' yang kepandaiannya susah diukur.

Lamhay Mo Lie yang melihat Eng Lian ada berbakat jempolan,

tidak ragu-ragu lagi ia mendidik si dara cilik dengan luar bisa.

Lwekangnya Eng Lian dahsyat oleh karena emposan dari

obat-obat gaib Lamhay Mo Lie. Dalam tempo pendek atau

tidak sampai dua tahun, dari satu dara kecil yang lemah, Eng

Lian berubah menjadi si 'Jelita 17 tahun' yang tegap, cantik

luar biasa dan kepandaiannya sangat tinggi. Memang tidak

dilebih-lebihkan kalau Ang Hoa Lobo suka membual bahwa

Kim Coa Siancu ada seorang yang hebat kepandaiannya

sebab memang demikian kenyataannya si dara cilik di bawah

didikan langsung dari Lamhay Mo Lie.

Sepanjang muncul Kim Coa Siancu yang memimpin Ang Hoa

Pay, ada juga beberapa orang kuat yang dapat menyelidiki

dimana tempatnya partai baru itu. Tapi Coa-kok (lembah ular)

adalah sangat berbahaya untuk dikunjungi, maka ada sedikit

orang yang berani menempuh bahaya untuk pergi ke sana.

Diantara yang sedikit orang yagn berani menempuh bahaya

terhitung Siang-tauw niauw Kam Eng Kim, puteri dan

mantunya (Lengkoan Giok Lie Kam Lian Eng dan Hek-houw

Ma Liong). Mereka sangat penasaran dengan diculiknya Ma

Sian Bwee, cucu dan puteri kesayangannya mereka.

Setelah Ma Sian Bwee diculik Ang Hoa Lobo, dengan

 

bercucuran air mata Kam Lian Eng melapor pada ayahnya, si

Burung Kepala Dua Kam Eng Kim. Mendengar laporan yang

mengagetkan itu, bukan main marahnya si Burung Kepala

Dua. Sambil menggebrak meja ia mencaci si nenek yang

menculiknya, ia tidak tahu siapa namanya si nenek culik itu.

Hanya ia tahu si nenek adalah suruhannya Kim Coa Siancu

sebagaimana diterangkan oleh Lengkoan Giok-Lie Kam Lian

Eng.

Sejak itu, penyelidikan dilakukan dengan sungguh-sungguh

untuk mengetahui dimana tempatnya Kim Coa Siancu itu.

Sampai beberapa lama dia berusaha, akhirnya dapat juga

keterangan yang dingini oleh mereka.

"Coa-kok letaknya ada di sebelah utara barat gunung

Hengsan." menyatakan Ma Liong dalam membicarakan soal

menolong anaknya.

"Jauh tentunya dari tempat kita." kata sang isteri, Lengkoan

Giok Lie.

"Jauh tidak menjadi soal." menyela Kam Eng Kim. "Yang

dipikirkan tempat itu merupakan lembah yang banyak ular

jahatnya. Banyak orang bilang yang memasuki lembah itu,

bisa masuk tidak bisa keluar lagi."

"Apa benar sampai begitu bahayanya, ayah ?" tanya

Lengkoan Giok-lie.

"Aku sendiri belum tahu ke sana, bagaimana aku tahu ?"

jawab sang ayah.

"Biar bagaimana, kita tidak tega anak Bwee diantapkan begitu

 

saja !" Ma Liong menyatakan kecemasannya.

Kam Eng Kim dan puterinya membungkam.

Tampak si Burung Kepala Dua mengurut-urut jenggotnya yang

panjang. "Memang begitu." katanya. "Tidak perduli ada

gunung golok di sana, kita harus pergi untuk menolong Sian

Bwee !" si jago tua meneruskan, bersemangat dia.

"Kapan kita berangkat ?" Lengkoan Giok-lie juga

bersemangat.

Ma Liong melirik pada mertuanya, tidak berkata apa-apa.

"Nanti aku tanyakan dahulu pada sahabatku Louw Bin Cie,

apa dia bersedia untuk mengikuti kita atau tidak." Kam Eng

Kim menyatakan.

"Bagus." kata Ma Liong. "Kalau Louw Su-siok turut, kita dapat

tambah tenaga yang sangat berarti. Dia kepandaiannya

menggunakan sepasang pedang, tiada yang dapat

menandinginya !"

Ma Liong kelihatan kegirangan mendengar Louw Bin Cie akan

diajak dalam kepergiannya itu. Tidak heran ia kegirangan

karena Louw Bin Cie ada tersohor kepandaiannya bersilat

dengan sepasang pedangnya. Dua pedang yang digunakan

olehnya bukan pedang dari ukuran biasa, tapi pendek. Dari

ujung pedang samapi di ujung gagangnya kira-kira panjang

dua kaki. Pedang biasa, tajam hanya satu muka. Tapi pedang

Louw Bin Cie ada dua muka, depan belakang.

Kepandaiannya menggunakan sepasang pedang itu, membuat

 

namanya Louw Bin Cie terkenal dengan julukan Sian-jin

Siang-kiam Louw Bin Jie atau 'Si Sepasang Pedang Dewa'

dan dengan kepandaiannya ini bukan sedikit jago-jago silat

yang menjadi pecundang. Malah di kalangan Hekto (jahat)

namanya sangat ditakuti.

Dengan Kam Eng Kim, si Sepasang Pedang Dewa ada

bersahabat baik, lebih-lebih dari saudara putusan perut. Maka

ketika Louw Bin Cie mendapat kabar hal diculiknya Sian

Bwee, dia juga sangat gusar. Sian Bwee ada satu anak

perempuan yang berbakat untuk belajar ilmu silat. Maka Louw

Bin Cie sering memberi beberapa petunjuk dan pandangan

kepada si dara cilik sebagai cucunya juga, karena atas

perintah Kam Eng Kim, kepadanya Sian Bwee ada memanggil

Yaya (engkong atau kakek).

Demikian, ketika ditanya pikirannya, Louw Bin Cie tidak pikirpikir

lagi. Ia sudah lantas menyanggupi untuk pergi bersamasama

dengan Kam Eng Kim ke Coa-kok.

"Aku ingin lihat, Kim Coa Siancu itu macam bagaimana.

Apakah dia ada mempunyai tangan delapan sampai orang

ketakutan kepadanya ? Hmm !" Louw Bin Cie menyatakan

kesengitannya ketika Kam Eng Kim mengatakan si Dewi Ular

Emas ada sangat lihai ilmu silatnya, disamping juga ada

pembantunya yang lihai-lihai.

Pada keesokan harinya, genap satu setengah tahun Sian

Bwee menghilang. Ma Liong dan isteri dengan dikawal oleh

dua jago tua Kam Eng Kiam dan Louw Bin cie, mereka

melakukan perjalanan ke lembah ular dimana ada

bersemayam Kim Coa Siancu.

 

Dalam perjalanan kesana, mereka dapat kesukaran mencari

keterangan. Waktu jarak tempat yang dituju masih jauh,

mereka masih dapat petunjuk dari orang dimana letaknya

Coa-kok. Tapi makin mendekat ke tempat tujuan, makin sukar

mereka dapat keterangan. Orang-orang yang ditanyai

kebanyakan menggeleng kepala, mengatakan tidak tahu.

Lengkoan Giok-lie coba gunakan pengaruh uang, menyogok,

supaya orang mau kasih petunjuk tetapi tidak ada yang mau

terima. Mereka jadi heran.

"Kalau begitu jalannya, bagaimana kita cari sarangnya Kiam

Coa Siancu ?" tiba-tiba Kam Eng Kiam mengutarakan

pikirannya.

Ma Liong dan isterinya hanya memandang si jago tua, hanya

diam saja. Rupanya mereka satu pikiran. Memang sukar untuk

mencari sarangnya Kim Coa Siancu, manakala tidak

mendapat petunjuk dari orang-orang yang berdekatan dengan

Coa-kok.

Louw Bin Cie juga terdiam di tempat berdirinya.

Setelah semuanya membisu untuk beberapa lama, tiba-tiba

Louw Bin Cie berkata, "Mari ikut aku. Di sana ada orang yang

akan menolong kita."

Louw Bin Cie berkata sambil tangannya menunjuk ke

jurusandepan, nyamping ke kiri hingga kawan-kawannya

menjadi heran, "Memangnya siapa ada tinggal disana ?" tanya

Kam Eng Kim pada sahabatnya.

"Aku kira toako tentu kenal orangnya manakala sudah jumpa."

jawabnya.

 

Louw Bin Cie tidak menerangkan siapa adanya orang itu,

hanya ia terus memimpin orang-orangnya dengan jalan lebih

dahulu menuju ke arah yang barusan ia tunjuk sehingga Kam

Eng Kim sungkan untuk menanya lebih jauh.

Tidak lama mereka jalan, segera menemukan sebuah rumah

sederhana dikurung oleh pagar bambu sekitarnya. Mereka

sampai didekatnya, tiba-tiba dibikin kaget oleh anjing yang

menyalak. Gonggongan anjing itu keras dan galak. Rupanya

anjing jantan sebab kemudian disusul menyalaknya anjing lain

yang tidak begitu galak, anjing betina rupanya. Sebentar lagi

tampak muncul seorang wanita yang berusia pertengahan,

melihatnya, Louw Bin Cie menyapa, "Thio Jiso (enso kedua),

apa kau baik-baik saja ? Sungguh girang aku dapat melihat

kau lagi."

Wanita tadi memandang ke jurusan Louw Bin Cie, "Eh, kau

yang datang Louw-ji (si Louw kedua). Sungguh tidak disangkasangka."

kata si wanita seraya menghampiri pintu pekarangan,

berbareng mulutnya ramai melarang anjing-anjingnya

menyalak.

"Mari, mari masuk. Kau bawa banyak teman ?" kata si wanita

lagi seraya membuka pintu pekarangan, menyilahkan tamutamunya

masuk.

"Bagaimana, apa toako ada di rumah ?" tanya Louw Bin Cie

sambil terus berjalan mengikuti si Thio Jiso, nyonya rumah

rupanya.

Si wanita yang dipanggil Thio Jiso tidak menyahut, hanya

jalannya dipercepat dan masuk lebih dahulu ke dalam rumah.

 

Sebentar lagi tampak muncul lagi wanita lain. Lian Eng yang

melihat merasa bingung sebab wanita itu romannya hampir

sama dengan yang tadi, hanya sedikit tuaan. Tapi kalau dilihat

sepintas lalu, orang bisa keliru dan menyangka wanita yang

baru muncul itu yang tadi juga.

"Selamat datang, selamat datang !" menyambut si wanita yang

barusan muncul.

"Thio Toaso, bagaimana kau baik-baik saja ?" kata Louw Bin

Cie sambil angkat tangannya menyoja si nyonya dan diturut

oleh yang lain.

Lian Eng bingung Louw Bin Jie memanggil Jiso dan Toaso

(enso kedua dan kesatu). Apa tuan rumah punya dua isteri ?

Tanya hati kecilnya.

Lengkoan Giok-lie tak usah lama-lama menebak dalam

hatinya karena ia segera diperkenalkan kepada tuan rumah

dan dua wanita tadi.

Dan benar saja dua wanita itu adalah isterinya tuan rumah.

Mereka itu Sian Kin dan Sian Lian, orang she Kho, keduanya

adalah isteri dari Kim to Thio Tiat, si Golok Emas yang pada

10 tahun berselang terkenal namanya sebagai guru silat di

kota Hokciu (Hokkian). Sian Kin dan Sian Lin adalah sepasang

dara kembar dari puteri hartawan Kho di kota Hokciu yang

bersama-sama mencintai Thio Tiat gara-gara belajar silat. Thio

Tiat tidak memilih-milih lagi, ia sikat sekaligus kedua-duanya

menjadi istrinya. Matanya Thio Tiat benar-benar lihai sebab

dua isterinya memang benar isteri-isteri yang pantas

mendapat cinta sang suami.

 

Karena mereka betul-betul setia dan merawat suaminya

dengan baik. Satu sama lain bisa akur, tidak main iri-irian

seperti biasanya bila satu suami dengan dua istri bila dijadikan

satu (srumah) pasti cakar-cakaran. Tetapi mereka dapat hidup

dengan bahagia.

Belakangan Thio Tiat merasa bosan dengan penghidupan di

kota, maka ia sudah ajak dua istrinya menyepi di tempat

pegunungan, yang ditinggali sekarang, ialah dusun Cit-sengtin,

termasuk wilayah Coa-kok juga.

Thio Tiat dengan Louw Bin Cie adalah teman baik dari kecil.

Malah ketika si guru silat bercinta-cintaan dengan sepasang

dara kembar, ia tahu juga. Malah sering menggodai mereka.

Pada waktu itu ia sering mendapat pesanan Sian Kin dan Sian

Lin, bukannya suatu hadiah tapi pesanan cubit karena si dara

jengkel digodai. Thio Tiat hanya ketawa terbahak-bahak dapat

melihat Louw Bin Cie teraduh-aduh terima cubitan Sian Lin

yang lebih galak dari encinya.

Louw Bin Cie dipanggil Louw-ji karena masih ada engkonya

yang dipanggil Louwtoa (si Louw kesatu atau tua) yang

bernama Bin Gie, yang juga mengenali sepasang dara itu tapi

tidak suka bersenda gurau seperti Louw Bin Cie.

Demikian pertemuan antara Thio Tiat dan Louw Bin Cie,

sungguh-sungguh menggirangkan kedua pihak karena sejak si

orang she Thio menyepi di kampungnya situ, belum pernah

ketemu lagi dengan teman sepermainan di waktu masih kecil

itu.

Louw Bin Cie mengenalkan Kam Eng Kim dan lain-lainnya

 

pada Thio Tiat dimana Thio Tiat memberi sambutannya indah

dan sopan hingga menyenangkan para tamunya. Siang-tauwniauw

Kam Eng Kiam memang kenal dengan Thio Tiat tapi

hanya kenal nama saja. Begitu juga sebaliknya dengan Thio

Tiat. Tapi sekarang, begitu berani, kelihatan mereka cocok

dan dapat mengobrol banyak.

Demikian, dilain pihak Lian Eng pun dapat mengobrol dengan

gembira dengan dua nyonya rumahnya, yang ternyata suka

ngomong. Tidak hentinya dua nyonya rumah itu menghujani

Lian Eng dengan rupa-rupa pertanyaan tentang keadaan di

kota sekarang ini. Lengkoan Giok-lie tidak keberatan untuk

menceritakan perubahan-perubahan yang ia tahu sehingga

dua nyonya itu kelihatannya merasa senang.

Selama mereka bercakap-cakap, tak terasa cuaca mulai

gelap.

Dengan ramah tamah, tuan dan nyonya rumah mengundang

mereka untuk melewatkan sang malam dalam rumah itu saja.

Para tamu tidak melihat alasan untuk menolak. Apalagi urusan

yang penting hendak ditanyakan belum dilakukan. Maka itu

mereka dengan baik telah menerima undangan untuk

menginap dalam rumah Thio Tiat.

Nyonya rumah telah menyediakan hidangan sekedarnya tapi

cukup lezat dimakan oleh para tamu dan semuanya pada

mengatakan banyak terima kasih.

Pada mulanya, di waktu omong-omong dengan perlahanlahan

Louw Bin Cie timbulkan persoalan Kim Coa Siancu.

Waktu mendengar disebutnya Kim Coa Siancu, otomatis,

tampak wajah Thio Tiat dan dua istrinya menjadi pucat.

 

Tapi Thio Tiat dapat menguasai getaran jantungnya yang

kaget. "Sebaiknya jangan kita bicarakan soal itu." katanya,

perlahan suaranya.

Ma Liong tidak puas. Ia lantas ceritakan tentang diculiknya

Sian Bwee dan maksud mereka lewat di Cit-sen-tin adalah

hendak menyatroni sarangnya Kim Coa Siancu di Coa-kok.

Hanya menyesal sekali, tidak ada seorang yang dapat

memberi petunjuk yang jelas untuk pergi ke sana.

Mendengar itu, Thio Tiat saling pandang dengan kedua

istrinya.

"Urusan kalian memang hebat." kata Sian Lin tiba-tiba. "Dalam

hal lain mungkin kita dengan lantas dapat membantu tapi

dalam itu, maaf saja."

"Kenapa begitu ?" tanya Kam Eng Kim, tidak puas dia.

"Dalam wilayah di sini, ada satu pantangan untuk orang

menyebut apa-apa mengenai dirinya, apalagi petunjuk seperti

yang kalian ingini." berkata lagi Sian Lin, wajahnya sudah

pucat ketakutan.

Thio Tiat dan Sian Kin juga kelihatan gelisah.

"Hahaha !" terdengar Kam Eng Kim tertawa.

"Kalian tidak berani kasih tahu, kami juga tak berani lama-lama

tinggal disini. Nah, marilah kita pergi !" ia bangkit dari

duduknya mengajak kawan-kawannya berlalu dari rumah itu,

malam-malam itu juga.

 

"Ayah, kau jangan bawa adat yang bukan-bukan !" berkata

Lian Eng yang merasa jengkel dengan kelakuan sang ayah

yang tidak benar.

"Apa kau bilang ? Bukan-bukan ? Hmm !" tidakk senang ia

ditegur anaknya.

"Orang sudah begitu baik terhadap kita, masa dibalas dengan

kelakuan yang demikian tidak sopan ?" berkata lagi Lien Eng,

berani ia menyela ayahnya.

"Kau, kau, anak apa ! Tidak punya isi perut. Orang sudah

ketakutan masih mau ngotot lagi. Mereka boleh takut pada si

sundal Kim Coa Sian....." berbareng api lilin yang sengaja

dipasang dua batang telah menjadi padam.

"Hihihi....." kedengaran suara ketawa wanita di sebelah luar,

perlahan suara ketawa itu tapi menusuk ke telinga orang yang

ada disitu. Thio Tiat dan dua istrinya saling peluk ketakutan

sementara Ma Liong dan Liang Eng juga jeri hatinya, hanya

Louw Bin Cie yang besar hatinya. Dengan sekali lompat ia

sudah berada di luar pintu. Di sana si orang she Louw hanya

melihat seperti segulungan asap ketiup angin pergi, pergi tidak

kelihatan ditelan kegelapan sang malam.

Louw Bin Cie sebenarnya hendak mencegat larinya si wanita

yang ketawa tadi tapi sudah terlambat. Wanita itu sudah

lenyap seperti asap bergulung-gulung.

Si orang she Louw hanya bisa menghela napas dengan

mendongkol. Ketika ia masuk lagi ke dalam, api lilin

penerangan sudah dipasang lagi. Mendadak Lian Eng menjerit

 

melihat ayahnya sedang duduk menyender di kursi dengan

kedua matanya tertutup.

Waktu Thio Tiat dan dua istrinya mendekati, mereka menjadi

menggigil seperti yang merian, "Kim...... Kim..... Coa....

Sian.....cu.....!" kata-kata ini molor keluar dari bibirnya sian Lin

seraya tangannya menunjuk pada jidatnya Kam Eng Kim

dimana terdapat goresan seperti gambar ular kecil tengah

meloget-loget jalan.

"Ayah, ayah........." Lian Eng bangkit dari duduknya hendak

menubruk ayahnya, tapi cepat dihalangi oleh Sian Lian hingga

mereka jadi berkutatan. Lian Eng berontak hendak

menghampiri ayahnya sedang Sian Lian bertahan

menghalanginya.

Segera Sian Kin sudah turun tangan juga, katanya, "Nona

Eng, kau dengar dulu omonganku. Sabar, satu sudah hilang,

masa harus yang lain menyusul ?"

Ma Liong dan Louw Bin Cie heran mendengar kata-kata Sian

Kin.

Sementara itu, Lian Eng juga sudah menjadi tenang. Tidak lagi

ia berontak untuk memeluk ayahnya yang sudah jadi mayat. Ia

ingin mendengar penjelasan Sian Kin, yang lalu berkata lagi,

"Nona Eng, kalau adikku barusan mencegah kau menubruk

ayahmu adalah demi keselamatanmu. Kam Lo-enghiong

setelah mendapat totokan maut dari Siancu, badannya

menjadi beracun. Kalau kena diraba, orang yang merabanya

akan ikut ia ke alam baka. Inilah yang dapat kuterangkan.

Harap kau tidak menjadi kecil hati. Sekarang paling baik kita

urus jenasah ayahmu baik-baik. Mau ditanam disini boleh saja,

 

mau di bawa pulang, itu terserah."

Lengkoan Giok-lie mendengar perkataan Sian Kin, berdiri bulu

kuduknya. Seram dia, hatinya berdebar keras, ketakutan.

Matanya saling pandang dengan suaminya.

Ma Liong ragu-ragu akan Sian Kin, maka ia tinggal membisu

saja, tak dapat ia memberi putusan. Sang istri paham dengan

sikapnya sang suami, maka dari takut ia juga menjadi raguragu

atas keterangannya Sian Kin.

Louw Bin Cie juga masih tidak percaya, masa sampai begitu

ampuh totokan si Dewi Ular Emas. Dapatkan ia menyimpan

bisa di dalam tubuhnya sang korban ?

Melihat sikap mereka, kuatir salah satu antaranya nanti nekad

mencoba-coba meraba mayatnya Kam Eng Kiam, maka si Jiso

(Sian Lin) berkata, "Kalian mungkin tidak percaya akan katakata

enciku. Nanti aku kasih bukti !" berbareng ia berlalu dari

situ masuk ke belakang. Tidak lama ia kembali dengan

membawa seekor anak anjing yang masih kecil hingga para

tamu menjadi heran.

"Nah, lihat, aku korbankan makhluk yang tidak berdosa !"

katanya berbareng ia pegang kepalanya si anjing kecil,

mukanya ditempelkam pada pipinya Kam Eng Kim, lalu

dilepaskan dengan cepat hingga si anak anjing jatuh di lantai.

Ia tidak berkuing-kuing lari mencari ibunya, sebaliknya, begitu

badannya menyentuh lantai, tampak ia berkelejetan seperti

makan racun layaknya. Sebentar kemudian terdengar suara

'Ngik' hanya sekali dan anjing kecil itu melayang jiwanya dan

tubuhnya sudah tak bergerak lagi.

 

Lian Eng lompat menubruk Ma Liong. Ia memeluk suaminya

dengan ketakutan bukan main.

Ma Liong pun tergetar hatinya, tapi tidak ketakutan seperti Lian

Eng.

Louw Bin Cie dilain pihak, tampak angguk-anggukkan

kepalanya. Hatinya cemas tercampur terharu. Ia cemas karena

gara-gara ia yang membawanya ke rumah Thio Tiat sehingga

Kam Eng Kim menemukan kematian konyol, terharu

kehilangan si Burung Kepada Dua yang tidak sedikit tahun

menjadi sahabatnya. Ia jadi berdiri menjublek.

Sekonyong-konyong Lian Eng melepaskan pelukan dari

suaminya lalu menghampiri Sian Lin, di dekapnya Lian Eng

jatuhkan diri berlutut sambil berkata, "Lin koukou, kau adalah

Injinku, terimalah hormatku dan aku mohon maaf atas

kelakuanku barusan yang tidak benar." air matanya tampak

bercucuran.

Koukou artinya bibi dan Injin (tuan penolong).

Melihat kelakuan Lengkoan Giok-lie, Sian Lin mengelus-elus

rambut si juwita dari kota Lengkoan, "Anak Eng. Kita orang

sendiri, tak usah banyak peradatan. Nah, bangunlah !" Sian

Lin menyilakan si nyonya muda bangun.

Mengingat nanti berabe diperjalanan kalau mayatnya Kam

Eng Kim di bawa pulang, maka atas kemauan Lin Eng sendiri,

mayat Kam Eng Kim dikubur di Cit-seng-tin. Mayat itu

dibungkus dengan kain tebal dan selimut supaya tubuhnya

yang beracun tidak sampai teraba oleh orang yang

menggotongnya ke dalam liang kubur. Lian Eng mengucurkan

 

banyak air mata, menyaksikan penguburan jenasah ayahnya

yang kesohor itu hanya disaksikan oleh ia sendiri, sang mantu

Ma Liong, sahabatnya Louw Bin Cie serta Thio Tiat dan dua

nyonya yang mulia hatinya. Coba kematian Siang-tauw-niauw

Kam Eng Kim kejadian di tempatnya sendiri, sudah tentu

banyak yang datang melayat dan penguburan dilakukan

dengan ramai sekali dengan diantar oleh banyak kawankawannya

dalam dunia Kangouw.

Setelah selesai membereskan penguburan jenasah ayahnya,

Lian Eng ajak kawan-kawannya untuk meneruskan perjalanan.

Kepada tuan rumah dan dua nyonya rumah, Lengkoan Giok-lie

mengucapkan banyak terima kasih. Malahan ia mau

tinggalkan uang untuk ongkos selama mereka tinggal disitu,

akan tetapi ditolak oleh tuan dan nyonya rumah yang manis

budi.

Dalam perjalanan, mereka mampir disebuah rumah makan An

Seng untuk melepaskan lelah dan mengisi perut. Mengingat

akan nasehat dua nyonya Thio Tiat bahwa ada pantangan

bagi orang-orang yang tinggal di wilayah dekat Lembah Ular

menyebutkan nama Kim Coa Siancu atau menyinggungnyinggung

soalnya, maka Lian Eng dan dua kawannya tak

berani dengan terang-terangan berbicara mengenai soal Kim

Coa Siancu lagi. Mereka kini tahu akan kelihaiannya si Dewi

Ular Emas.

Meskipun demikian, diam-diam Lian Eng ada mengandung

maksud bahwa suatu waktu ia mesti menemui Kim Coa Siancu

untuk menentukan siapa unggul. Tapi hal ini ia tidak dapat

lakukan sekarang. Pikirnya, ia akan belajar atau

memperdalam ilmu silatnya lagi, setelah mana ia baru akan

mencari Kim Coa Siancu yang telah menculik puterinya dan

 

membunuh ayahnya.

Dalam rumah makan itu mereka kasak kusuk untuk mengambil

keputusan, apakah perjalanan baik diteruskan atau baik

pulang saja. Louw Bin Cie tidak berkata apa-apa sebab ia

memang hanya sebagai pengantar saja. Putusannya sudah

tentu ada pada Ma Liong dan istrinya yang mempunyai

kepentingan dalam hal itu.

"Diteruskan juga percuma, kita hanya akan mengantarkan jiwa

saja." Ma Liong menyatakan pikirannya. "Sebaiknya kita

pulang saja dahulu untuk berdamai dengan orang-orang tua

dirumah, untuk meminta nasehatnya bagaimana kita harus

berbuat menghadapi musuh yang sangat tangguh."

Louw Bin Cie pikir, itulah jalan paling baik. Maka Lian Eng pun

tidak bisa membantah dan mereka sekarang telah putar

haluan untuk balik kembali saja.

Tidak jauh dari meja makan mereka, tampak ada 4 orang, juga

sedang makan dengan bernapsu. Mereka ketawa geli dalam

hati melihat satu diantaranya yang bermuka merah dan gendut

pendek, makannya sangat gembul. Beberapa kali telah

tambah nasi dalam mangkoknya tapi masih belum juga

kelihatan merasa kenyang.

"Tan-heng, aku kuatir perutmu nanti kembung seperti balon !"

kawannya bermuka putih menggodai si gendut yang makan

tanpa batas.

"Hahaha !" si gendut tertawa seraya letakkan mangkok dan

sumpitnya di meja, mulutnya masih penuh dengan nasi.

Setelah menelan habis nasi di mulutnya, ia meneruskan

 

berkata, "Perjalanan kita ke Coa-kok harus melewati banyak

tempat sepi. Maka aku harus bekal makanan dalam perutku

supaya tidak kelaparan di jalan. Hahaha !"

Si gendut tertawa seraya tepuk-tepuk perutnya.

Louw Bin Cie terkejut mendengar kata si gendut. Pikirnya,

kalau begitu 4 orang yang sedang makan itu bermaksud

hendak pergi ke lembah ular. Apa maksud mereka ke sana ?

Apa ada urusan yang sama dengan urusannya Ma Liong ?

Louw Bin Cie saling berpandangan dengan Ma Liong serta

istrinya.

Si Sepasang Pedang Dewa Louw Bin Cie ingin mencari tahu,

kalau benar mereka ada bertujuan sama, baik sekali kalau

diajak menjadi teman seperjalanan. Ketika ia mau bangkit dari

duduknya, tiba-tiba ia mendengar seorang lain yang memakai

kumis berkata pada si gemuk, "Tan-heng, jangan-jangan

belum sampai disana bekal dalam perutmu itu sudah

digerembengi orang............ Hehehe !"

Si gemuk ketawa, "Aku Tan Thiat Ga, datang kemari

mengantar dia, aku punya toako." berkata si gemuk seraya

menunjuk orang di depannya yang berperawakan jangkung.

"Kalau aku si orang she Tan tidak punya 'isi', mana berani

begitu gegabah mengantar orang ke tempat yang seram !"

Maksud si gemuk 'isi' itu artinya 'punya kepandaian silat'. Tapi

temannya, si kumis berlagak pilon dengan arti yang

sebenarnya, ia menggodai, katanya, "Tentu saja ada isi, ialah

isi perut. Hahahaha...."

 

Semua orang ketawa kecuali si jangkuk yang kelihatannya

sedari tadi bermuram durja saja. Thiat Gu rupanya seorang

yang jenaka diantara mereka, maka kawannya suka

menggodainya. Sebab kemudian dengan gayanya yang lucu

ia berkata lagi pada si kumis seraya mengusap-usap perutnya,

kepalanya nunduk memandang perutnya yang seperti balon

ditiup, katanya, "Lie-heng, isi ini penuh dengan lwekang

(tenaga dalam) yang dahsyat. Siapa berani raba isinya ? Hmm

! Jago-jago temanku, jungkir balik dengan iniku !" si gemuk

perlihatkan kepalannya. Lalu meneruskan, "Di sini aku mau

coba si dara jelita yang disohorkan berkepandaian sangat

tinggi !"

"Siapa itu dara jelita, Tan-heng ?" tanya si kumis seraya

menahan tertawa.

"Hehehe...." kepalanya mendongak. "Itulah Kim Coa Sian......

!"

Baru saja menyebut 'Kim Coa Sian...', belum 'cu'-nya

keucapkan, badan si gemuk tiba-tiba gemetaran dan jatuh ke

lantai bersama bangku yang didudukinya.

Semua orang kaget, apa lagi kawan-kawannya yang serentak

turun tangan menolong temannya yang diserang penyakit

ayan, pikir mereka.

"Hi hi hi..... !" terdengar suara ketawa wanita di sebelah luar.

-- 18 --

Suara ketawa itu tidak diperhatikan oleh kawan-kawannya Tiat

Gu yang sedang repot menolong si gemuk yang kelenger

 

dengan tiba-tiba itu. Tapi bagi Louw Bin Cie dengan kawankawannya,

tertawa wanita itu mereka kenal baik. Itulah Kim

Coa Siancu, berkata dalam hati masing-masing. Tidak berani

mereka mengucapkan dengan terang-terangan karena takut

mati konyol seperti Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim dan si

gemuk yang barusan mereka saksikan menemui ajalnya.

Louw Bin Cie hanya dapat berpandangan dengan dua

kawannya.

Sementara itu Tiat Gu yang digoyang-goyang lengannya tetap

tidak sadarkan diri. Si jangkung, toakonya si gemuk lalu ulur

tangannya meraba pipi dan dahinya sang kawan. Tiba-tiba ia

bergemetaran dan jatuh meloso di lantai. Berkelejatan

sebentar seperti anak anjing beberapa malam yang lalu Lian

Eng saksikan, lantas si jangkung tidak berkutik lagi.

Melihat si jangkung keracunan gara-gara meraba pipi si

gemuk, maka dua kawannya yang lain ketakutan, tidak berani

meraba tubuh sang kawan. Apalagi si kumis yang barusan

menggoyang-goyang lengan si gemuk, bukan main ia

ketakutan. Ia tidak apa-apa menggoyang-goyang lengan si

gemuk lantaran lengan si korban ketutupan lengan baju. Coba

bila tidak, pasti si kumis yang direnggut duluan jiwanya oleh

racun dahsyat dari Kim Coa Siancu. Keadaan waktu itu

menjadi panik, para tamu yang takut tentang hal itu sebentar

saja sudah padalari keluar kecuali tamu-tamu yang datang dari

luar tempat tidak mengerti akan kematiannya si gemuk dan si

jangkung. Penduduk disitu sudah lantas tahu bahwa si gemuk

mendapat hadiah 'Bu-im In-coa' atau 'Cap ular tanpa suara',

senjata rahasia Kim Coa Siancu yang menggemparkan.

Pada dahi si gemuk tampak goresan gambar ular yang sedang

 

melegot-legot jalan.

Entah macam apa bentuknya senjata rahasia dari Kim Coa

Siancu, tiada orang yang tahu. Orang-orang hanya tahu

korban-korban yang kena sasarannya akan gemetaran

sebentar dan kemudian lantas mati. Pada jidat si korban akan

diketemukan satu goresan gambar ular kecil yang jalan

melegot-legot. Berdasar inilah rupanya orang menamakan

senjata yang ampuh dari Kim Coa Siancu 'Bu-im In-coan' atau

'Cap ular tanpa suara'.

Si muka putih dan si kumis mengeluarkan banyak uang juga

untuk mengubur jenazah kedua kawannya karena mereka tak

dapat melakukannya sendiri tapi harus minta bantuannya

beberapa penduduk disitu yang sudah biasa menguburkan

korban-korban dari Kim Coa Siancu sehingga tidak sampai

keracunan.

Louw Bin Cie dan dua kawannya tidak menyaksikan

penguburan itu karena mereka sudah lantas melakukan

perjalanan pulang.

Meskipun sudah kawakan dalam dunia Kangouw, Louw Bin

Cie menyaksikan kejadian yang sehebat dilakukan Kim Coa

Siancu, diam-diam keberaniannya menjadi kecut untuk

menghadapi Kim Coa Siancu. Ia ingin buru-buru pulang untuk

berunding dengan kawan-kawannya yang lebih tua tentang

halnya Kim Coa Siancu.

Ketika matahari mendoyon ke sebelah barat, si Sepasang

Pedang Dewa Louw Bin Cie dan dua kawannya menjadi

kebingungan karena sudah kesasar jalan. Hari sudah

mendekati sore, bagaimana mereka nanti dapat tempat

 

pemondokan sebab disitu jalan-jalan yang dilewati boleh

dikata hanya hutan-hutan yang sepi saja.

Di depan sana, tiba-tiba Lian Eng nampak ada satu kebun

bunga.

Ia memang paling suka pada kembang-kembang, maka

seketika itu ia cepatkan jalannya meninggalkan kawankawannya.

Ia tidak mengira bahwa disana sudah ada seorang

gadis tengah memetik bunga-bungan yang indah seraya dari

mulutnya terdengar suara nyanyian yang amat merdu

kedengarannya.

"Hm, siapa anak dara ditengah-tengah hutan ini ?" Lian Eng

menanya pada dirinya sendiri seraya teruskan jalannya

mendekati si anak dara yang tengah asyik memetik bunga.

Lengkoan Giok-lie menggunakan ilmu entengi tubuh maka

juga si gadis jelita tadi tidak mengetahui kalau dirinya ada

yang dekati.

"Adik manis, kau sendirian saja memetik kembang ?" tiba-tiba

ia menegur si gadis yang kelihatan kaget dan hentikan

menyanyinya.

Ka[an ia menoleh pada Lengkoan Giok-lie, si Lengkoan Gioklie

menjadi sangat terperanjat hatinya. "Eh, kau, kau ada disini,

anak Bwe..." tiba-tiba mulutnya nyonya Ma tercetus ucapan

aneh.

Aneh untuk si gadis sebab ia tidak kenal sama wanita di

depannya.

"Siapa yang kau maksudkan dengan anak Bwee ?" ia lantas

 

menanya.

"Eh, apa kau bukan anak Bwee ?" Lengkoan Giok-lie

menegasi berbareng hatinya rada sangsi karena reaksi dari si

gadis di luar dugaannya.

Gadis itu geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan

Lengkoan Giok-lie.

Lian Eng menjadi penasaran, ia datang lebih dekat dan

mengawasi wajah gadis itu.

Ia lihat si gadis pengawakannya agak berubah, lebih jangkung

dan lebih botoh dari Sian Bwee anaknya satu setengah tahun

yang lalu. Pikirnya, perubahan itu wajar karena satu setengah

tahu ia tidak ketemu anaknya itu. Ibu mana sih yang tidak

mengenali anaknya, maka juga Lian Eng sudah berkata pula,

"Tidak salah, kau adalah Sian Bwee anakku. Kalau buka,

siapa ada orang tuamu, adik manis ?"

"Hihihi..... bibi ini lucu. Aku jadi anakmu, aku sudah keliru. Aku

bernama Cui Sian bukannya Sian Bwee !" si gadis

menyangkal seraya terus memetik bunganya, tidak

memperdulikan Lian ENg yang haus akan cintanya sang puteri

yang hilang !

Sementara itu Ma Liong, suaminya sudah datang mendekati

isterinya yang sedang terpaku, tercengang mendapat

perlakuan dari si gadis yang ia kira anaknya.

"Engko Liong, coba kau lihat siapa dia." kata Lian Eng ketika

mengetahui suaminya ada didepannya. "Eh, nona. Coba kau

lihat siapa ini." Lian Eng kata pada si gadis yang sedang

 

membelakangi mereka, asyik memetik bunga.

Si gadis menolah kepada mereka. Ma Liong terkesiap hatinya

nampak wajah si gadis tapi dia sangsi sebab gadis yang

dilihatnya ini pengawakannya lebih jangkung dan lebih botoh

dari anaknya Sian Bwee yang hilang.

"Adik Eng, anak ini mirip dengan anak kita." akhirnya ia

berkata juga.

Liang Eng tidak menyahuti kata-katanya sang suami tapi ia

gapaikan tangannya pada Louw Bin Cie yang berdiri sedikit

jauh dari mereka, si Sepasang Pedang Dewa dengan segera

lantas datang menghampiri.

"Louw susiok (paman), coba kau lihat, siapa gadis itu." kata

Lian Eng.

Louw Bin Cie memandang pada gadis yang asyik memetik

bunga, "Hei, nona, coba kau berpaling sebentar !" katanya

pada si gadis.

Si nona menoleh dan melemparkan senyuman manis.

"Ah, dialah Sian Bwee." kataya setelah melihat tegas roman

muka si gadis.

"Nah, bagaimana pendapatmu ?" Lian Eng menanya

suaminya.

Ma Liong juga memang menduga gadis itu adalah anaknya

hanya ia ragu-ragu karena perbedaan perawakan si gadis itu.

 

Mendengar perkataan sang isteri dan ucapan Louw Bin Cie,

mau tidak mau ia harus akui bahwa gadis di depannya itu ada

puterinya yang hilang. Maka ia lantas maju mendekati dan

berkata, "Anak Sian, apakah kau sudah lupa kepada ayah

bundamu ? Kau disini sendirian, mari kita pulang !"

"Hihihi...." si gadis ketawa empuk. "Pulang ? Pulang kemana ?

Aku tidak bisa meninggalkan suhu, lagian aku tidak kenal

kalian !" si gadis berbareng angkat kaki hendak meninggalkan

mereka.

"Tunggu !" kata Lian Eng, agak bengis suaranya.

Si gadis hentikan tindakannya. Ia agak kaget, wanita ini main

bentak, pikirnya.

"Kau mau apa ? Aku tidak ada urusan dengan kau. Kenapa

kau tetap juga mengaku aku sebagai anakmu ? Hihihi, adaada

saja."

Lian Eng dan dua kawannya seketika mempunyai satu

anggapan baha gadis di depannya ini memang Sian Bwee

adanya, cuma saja ingatannya sudah tidak waras, memungkiri

ayah bundanya sendiri. Maka mendengar kata-kata Cui Sian,

Louw Bin Cie saling pandang bertiga. Dengan satu tanda

kedipan dari Lian Eng, segera juga Ma Liong bergerak hendak

menangkap Cui Sian.

Pikrinya, dengan sekali jambret tangan Cui Sian sudah dapat

dicekal olehnya sebab dalam gerakannya ia gunakan tipu

'Sianjin hian chiu' atau 'Sang Dewa perlihatkan tangan', salah

satu jurus dari 'Liu su ciang hoat' (Ilmu pukulan pohon Liu)

yang menjadi kebanggaan dalam perguruannya.

 

Tangan kiri di dada untuk menjaga serangan membalik,

tangan kanan menyambar tangan si gadis. Ma Liong sangsi

kalau Cui Sian bukan puterinya dan pandai silat, maka ia

sudah gunakan tipu itu. Tapi sebaliknya sang isteri, Lian Eng

menganggap perbuatan sang suami itu terlalu kasar terhadap

anak sendiri.

Meskipun kelihatannya tidak berjaga-jaga, tangannya yang

halus terancam bakal kena dicekal Ma Liong, si gadis

waspada juga. Begitu tangan Ma Liong menyambar, segera ia

tarik sedikit tangannya sehingga sambaran tangan Ma Liong

hanya menangkap angin.

"Hihihi..." Cui Sian ketawa, seraya lari dari situ.

Ma Liong terbelalak matanya, Lian Eng terpaku ditempatnya

dan Louw Bin Cie manggut-manggut kepalanya. Kenapa ? Ma

Liong suami isteri dan Louw Bin Cie bukannya heran atas

kegesitannya si gadis, hanya mereka kenali Cui Sian

menyelamatkan tangannya dari sambaran Ma Liong adalah

jurus 'Thian lie kay tay' atau "Bidadari meloloskan sabuk'.

Suatu gerakan yang khusus untuk mengelakkan tipu 'Sian jin

hian ciu' dari ilmu silat 'Liu su ciang hoat'.

Dengan begitu, Cui Sian itu benar-benar adalah Sian Bwee,

puterinya yang hilang itu.

Lian Eng tidak sabaran setelah mendapat bukti ini, maka ia

sudah lompat menyusul sebelum Cui Sian pergi jauh, "Anak

Bwee, kau mau kemana ?" ia memanggil.

Cui Sian tidak meladeni, ia terus lari seperti yang ketakutan.

 

Tiba-tiba ia hentikan larinya dan kebingungan karena di

depannya sudah ada Ma Liong yang mencegat. Ia tidak

kekurangan akal, lantas ia belik ke kanan, lari menghampiri

sebuah pohon besar seraya berteriak-teriak minta tolong. Tapi

sebelum ia sampai ke pohon yang dituju, tiba-tiba muncul

Louw Bin Cie dari balik sebuah pohon yang terus mencekal

tangan si gadis sehingga tidak berkutik meskipun Cui Sian

berontak-rontak keras untuk melepaskan tangannya. Tidak

lama lagi, sudah sampai Ma Liong dan Lian Eng kesitu.

Lian Eng peluk Cui Sian seraya mengelus-elus rambutnya,

"Anak Bwee, kau benar-benar adalah puteriku yang hilang.

Apa kau tidak kenali aku, ibumu ?" berkata Lian Eng dengan

penuh kesayangan. Tapi si gadis terus berontak-rontak,

mulutnya ribut tidak mengakui Lian Eng dan Ma Liong sebagai

ayah ibunya, hingga suami isteri itu kewalahan.

"Mari kita bawa dengan paksa saja." Ma Liong mengusulkna.

"Nanti setelah di rumah, kita pikir bagaimana baiknya

mengobati pikirannya yang ngawur."

Louw Bin Cie setuju dengan usul itu.

Tiada ada lain jalan dari pada demikian, maka Lian Eng juga

jadi mufakat dan seketika itu juga, Ma Liong sudah gunakan

jarinya menotok jalan darah si gadis yang membuat ia tidak

berontak-rontak dan gampang diangkutnya. Tiba-tiba mereka

mendengar suara, "hihihi!". Suara ketawa wanita yang sangat

dikenal oleh mereka.

"Kim Coa Siancu..." ucap mereka dalam hati masing-masing.

Ma Liong dan Lian Eng tanpa disadari sudah menggigil

 

tubuhnya.

Louw Bin Cie masih dapat menahan getaran jantungnya, ia

tidak demikian jeri seperti Ma Liong suami isteri. Ia pasrah

kepada nasib apabila senjata rahasianya Kim Coa Siancu

ialah 'Buim In-coa' mengambil jiwanya seketika itu.

Mereka sudah pada memeramkan matanya untuk menerima

kematian.

Tapi lama ditunggu, kiranya tidak ada apa-apa yang

menakutkan sebab disana tidak jauh dari pohon besar tampak

seorang dara manis yang umurnya sebaya dengan Cui Sian

lagi ketawa-tawa manis ke arahnya.

Kapan Lian Eng perhatikan si dara manis yang sedang jalan

mendatangi, ia lihat, gadis itu benar-benar sangat cantik.

Terpesona ia oleh kecantikan gadis itu. Kecantikannya sendiri

yang sampai mendapat julukan Lengkoan Giok-lie atau si

Jelita dari kota Lengkoan, ia merasa belum menemui

tandingan, sekarang ia menjumpai nona di depannya sungguh

menakjubkan hatinya.

Dalam pakaian serba tipis yang menggiurkan, burungburungan

yang bergerak-gerak memain pada ikat kepalanya

yang pantas sekali, sungguh nona ini pantas menjadi satu ratu

yang dipuja dalam suatu negera. Demikian mempesonakan

wajahnya si dara manis, hingga Lian Eng tanpa merasa dari

bibirnya telah berkata, "Nona, kau sangat cantik....." tatkala si

dara manis sudah berhadapan dengan Lengkoan Giok-lie.

"Terima kasih atas pujianmu." suaranya ramah dan meresap di

hati.

 

Cui Sian sementara itu masih tetap dikuasai oleh Ma Liong

dan isterinya.

Ketika melihat yang datang itu lantas saja Cui Sian berkata,

"Siancu, mereka hendak membawa aku. Katanya aku adalah

anak mereka. Tolong Siancu supaya dapat mengusir mereka

yang mengganggu kesenangan kita !"

Lenkoan Giok-lie dan dua kawannya menjadi terkejut. Kiranya

dara manis itu adalah Kim Coa Siancu yang ditakuti bagaikan

hantu. Mereka kira tadinya Kim Coa Siancu itu adalah satu

wanita yang berwajah jelek menakuti dengan jari-jarinya yang

berkuku panjang-panjang runcing menyeramkan. Tidak

tahunya, ia hanya satu dara manis dari usia yang sebaya

dengan Sian Bwee dan cantik sekali.

Lian Eng memberanikan hati apalagi melihat Kim Coa Siancu

tidak ada apa-apanya yang harus ditakuti dan seram. Ia

berkata, "Mohon Siancu punya kemurahan supaya anakku ini

dikembalikan ingatannya dan mengenali ayah bundanya lagi."

Kim Coa Siancu tertawa manis. "Dari mana kau tahu CUi Sian

adalah puteri kalian ? Bagaimana kalian dapat mengenalinya

?" tanya Kim Coa Siancu.

"Aku yang menjadi ibunya, mana tak bisa mengenali anaknya.

Juga ayahnya dan Yayanya (dimaksudkan Louw Bin Cie) pasti

mengenalinya."

"Orang bisa saja keliru kecuali bila ada buktinya."

"Bukti apa yang Siancu maksudkan ?" menyela Ma Liong.

 

"Kalian mengatakan Cui Sian adalah anak kalian, tapi apa

buktinya ?" sahut si Dewi Ular Emas.

Lengkoan Giok-lie dan suaminya merenungkan apa yang

dimaksud oleh Kim Coa Siancu.

Akhirnya Lengkoan Giok-lie dapat tahu maksud si Dewi Ular

Emas, lalu katanya :"Aku dapat buktikan bahwa pada jidat

puteriku ada satu andeng-andeng kecil. Sepintas lalu memang

tidak kelihatan. Tapi kalau diperhatikan tampak nyata."

"Bagus." kata Kim Coa Siancu. "Coba kau unjukkan padaku,

dimana adanya andeng-andeng itu pada jidatnya Cui Sian.

Kalau benar ada, tentu Cui Sian adalah anak kalian."

"Baik !" sahut Lian Eng hampir berbareng dengan Ma Liong.

Lengkoan GIok-lie lantas pegang kepala Cui Sian dan

memeriksa. Bukan main girangnya sebab tanda yang

dimaksudkan itu memang ada diatas jidat Cui Sian.

"Siancu, ini dia...." kata Lengkoan Giok-lie seraya dengan

jarinya ia tekan andeng-andeng paa jidat si gadis.

Karena jidatnya kena disentuh, otomatis Cui Sian beringas

dan tangannya si wanita cantik dari kota Lengkoan kena digigit

seketika. Cui Sian berbareng berontak dan lari kepada Kim

Coa Siancu sambil ketawa hi hi hi....

Cui Sian merasa dirinya aman disampingnya Kim Coa Siancu.

Sementara Ma Liong dan Louw Bin Cie berdiri bengong

 

melihat kejadian itu. Kim Coa Siancu telah berkata, "Nah, lihat

buktinya !"

Apa yang dimaksudkan 'Nah, lihat buktinya' oleh Kim Coa

Siancu, Ma Liong dan Louw Bin Cie tidak paham tapi yang

terang bahwa dengan sekonyong-konyong setelah digigit Cui

Sian, Lengkoan Giok-lie telah tertawa Hi hi hi..., berbareng

gerakan kakinya lari pada Kim Coa Siancu.

Pikirannya Lengkoan Giok-lie sudah berubah sekarang,

berubah dalam alam pikiran untuk Kim Coa Sianculah adanya

suhunya dan pelindungnya. Ia sudah tidak mengenali Ma

Liong lagi sebagai suaminya, apalagi kepada Louw Bin Cie.

Ma Liong jadi kebingungan. Anak belum dapat ditarik pulang,

sekarang isterinya lagi ikut pihak sana. Dalam tertegunnya itu,

Ma Liong dengar kata-kata Louw Bin Cie, "Lekas tarik pulang

isterimu sebelum dikuasai orang !"

Ma Liong tiba-tiba menjadi nekad. Ia lompat dan menyambar

tangan isterinya. Tapi sang isteri berkelit seperti Cui Sian

barusan menggunakan gerak 'Bidadari loloskan sabuknya',

hingga Ma Liong menjadi sangat cemas.

"Adik Eng, ingat mari kita pulang !" kata Ma Liong seraya

kembali ia lakukan percobaannya untuk menjambret tangan

Lengkoan Giok-lie.

Lagi-lagi Ma Liong jambret angin, malah diluar dugaannya,

sang isteri telah menyerangnya dengan jurus yang sangat

berbahaya. Coba kalau ia tidak siap sedia dengan

kemungkinan itu, tentu kena dihajar oleh Lengkoan Giok-lie.

 

"Pulang ? Pulang kemana ? Aku tidak kenal dengan kau !"

bentak Lengkoan Giok-lie, sambil maju menyerang Ma Liong

lagi.

"Adik Eng, ingat, kau adalah istriku." kata Ma Liong sambil

menangkis serangan-serangan Lengkoan Giok-lie yang hebat.

"Susiok !" teriak Ma Liong. "Kau jangan diam saja, lekas bantu

aku !"

Mendengar teriakan Ma Liong, Louw Bin Cie seperti yang baru

tersadar dari tidurnya. Ia sudah lantas maju untuk bantu

menangkap Lengkoan Giok-lie.

Pertempuran menjadi seru. Lengkoan Giok-lie dikerubuti dua

orang yang kepandaiannya sudah terkenal dalam kalangan

Kangouw.

Kim Coa Siancu dan Cui Sian hanya menonton saja, tidak

begitu menaruh perhatian kelihatannya. Rupanya mereka

hanya menunggu bagaimana kesudahannya pertempuran

sengit itu.

Lengkoan Giok-lie tampak beringas menempur dua lawannya.

Karena kalah unggul, akhirnya Lian Eng menjadi kewalahan

dan kena disergap oleh Louw BIn Cie. Lengkoan Giok-lie

masih terus berontak-rontak.

Tidak enak Louw Bin Cie pikir, saat itu ia memeluki istri orang,

maka ia teriaki Ma Liong, "Lekas, lekas kau gantikan aku !"

Dengan cepat Ma Liong menggantikan yang masih terus

 

meronta-ronta, "Jahanam, kau tidak mau lepaskan nyonyamu

!" ia semprot Ma Long hingga sang suami jadi kebingungan.

"Adik Eng, kau toh ada istriku. Bagaimana kau maki aku

jahanam ?" kata Ma Liong sambil pererat pelukannya, kuatir

sang isteri terlepas lagi.

"Kau dua orang jahat, bagaimana mau menghina nyonyamu ?"

semprot Lian Eng, sepasang matanya beringas menakutkan.

Ma Liong hanya saling pandang dengan Louw Bin Cie.

Louw Bin Cie gerak-gerakkan tangannya, mengasih isyarat

pada Ma Liong. Si Macam Hitam Ma Liong mengira sang

paman menyuruh ia menotok jalan darah isterinya supaya

jangan ia berontak-rontak terus-terusan. Dalam keadaan

tertotok, meskipun pikirannya sudah berubah, Lengkoan Gioklie

mudah diangkut pulang.

Tapi bagaimana ? Dua tangannya dipakai memeluki Lian Eng.

Bagaimana mungkin dengan satu tangan ia bisa kuasai Lian

Eng sedang dengan satu tangan lain dapat menotok Lengkoan

Giok-lie ? Tapi ia tidak kekurangan akal rupanya, tangan

kanannya yang memeluk Lian Eng digeser pindah ke atas,

maksudnya hendak menotok 'tee-hiat' (jalan darah dibawah

tetek) tapi justru tiba-tiba Lian Eng berontak, jari yang hendak

menotok 'tee-hiat' tadi, sesudah menyentuh buah dadanya

Lengkoan Giok-lie, otomatis si cantik dari kota Lengkoan itu

menggigit lengan Ma Liong hingga Ma Liong jadi kesakitan

dan berbareng dengan Lengkoan GIok-lie yang terlepas dari

pelukannya, ia lari menghampiri Kim Coa Siancu seraya

ketawa hihihi !

 

Tampak Ma Liong berdiri kesakitan digigit Lengkoan Giok-lie

tadi.

"Liong-jie, kau kenapa ?" tanya Louw Bin Cie seraya

menghampiri pada Ma Liong.

"Siapa kau ?" bentak Ma Liong tiba-tiba hingga Louw Bin Cie

sangat kaget.

"Aku adalah kau punya susiok." sahut Louw Bin ie terang.

"Susiok ? Siapa susiok ?" kata Ma Liong, matanya beringas.

Louw Bin Cie mengerti bahwa Ma Liong juga sudah ketularan

berubah pikirannya seperti istrinya tadi. Tapi toh ia mau coba

juga, katanya, "Liong-jie, ingat ! Kau kena dikerjai orang. Ingat,

lekas ingat !"

Ma Liong bukannya mengingatkan malah ia jadi marah pada

Louw Bin Cie. "Pergi kau ! Aku tidak kenal denganmu !"

bentaknya kasar. Berbareng ia juga sudah jalan menghampiri

Kim Coa Siancu yang memandang Louw Bin Cie dengan

senyuman manis mempesonakan.

"Bagaimana, paman ?" tanyanya pada Louw Bin Cie.

Louw Bin Cie jadi serba salah. Ia mau marah salah, tidak

marah memang ia tahu sudah dipermainkan oleh Kim Coa

Siancu. Perlahan dari jeri hatinya menjadi nekad. Pikirnya, ia

tempo hari meninggalkan kampung halaman dengan empat

orang, masa sekarang ia harus pulang dengan sendirian.

"Siancu." katanya dengan hati mantap setelah ia berhadapan

 

dengan Kim Coa Siancu yang tatkala itu sudah hendak berlalu

meninggalkan tempat itu, diiringi oleh Cui Sian, Ma Liong

dengan istrinya, "Kau adalah satu Dewi yang sangat dipuja.

Tidak seharusnya kau berlaku kejam...."

"Aku kejam apa ?" memotong Kim Coa Siancu.

"Setelah merampas anaknya, masa sekarang kau mau kuasai

juga ayah bundanya ? Itu suatu perbuatan yang tidak betul,

masuk hitungan kejam." berkata si orang she Louw berani.

"Orang she Louw," Kim Coa Siancu ketawa manis. "Kalau aku

tidak pandang kau orang baik yang belum pernah berbuat

kejahatan, siang-siang aku sudah ambil jiwamu." kata si Dewi

Ular Emas.

"Bagus." sahut Louw Bin Cie. "Kau sudah menghargai aku,

tapi aku juga tidak akan angkat kaki dari sini sebelum aku adu

jiwa dengan kau."

Berbareng dengan kata-katanya, Louw Bin Cie sudah

mencabut dua belah pedangnya.

Pikirnya, ia kesohor kepanaiannya dengan sepasang

pedangnya yang aneh, belum pernah dipecundangi musuh,

masa menghadapi satu gadis cilik saja ia mesti terima takluk

sebelum bertempur ? Sungguh hatinya yan berani tidak mau

terima.

"Siancu." katanya lagi. "Dengan sepasang pedangku ini, akan

aku adu jiwa denganmu. Mari, marilah kita menetapkan siapa

unggul !"

 

Kim Coa Siancu yang sedari tadi menonton saja laga lagunya

Louw Bin Cie yang sudah nekad, tiba-tiba ia tertawa. Suaranya

kali ini melengking menusuk telinga hingga Louw Bin Cie kalau

tidak merasa malu, saat itu ia sudah kepingin angkat

tangannya untuk menutupi kupingnya yang sakit seperti

ditusuk-tusuk.

Setelah berhenti tertawa, Kim Coa Siancu memandang Louw

Bin Cie.

"Kau mau berkelahi ?" tanyanya halus, bukan satu bentakan.

"Ya !" sahut Louw Bin Cie singkat.

"Sudah siap ?" Kim Coa Siancu menggoda.

"Sudah siap ?" Kim Coa Siancu menggoda.

"Ya !" sahut Louw Bin Cie gemas. Berbareng ia mulai

menyerang, tidak menanti Kim Coa Siancu bersiap-siap

dahulu. Pikirnya, dengan secara tidak menduga-duga

serangannya akan berhasil. Tapi ia tidak mengira bahwa Kim

Coa Siancu tidak boleh dipandang enteng.

Demikian ketika sepasang pedangnya menusuk berbareng ke

arah dada, tiba-tiba tangan kiri Louw CIn Bie kesemutan dan

pedang jatuh dengan sendirinya. Saat itu Louw Bin Cie hanya

lihat Kim Coa Siancu bergerak sedikit tangannya, berkelebat

menyentil jalan darah pada nadi tangan kirinya.

Louw Bin Cie bukan jago kampungan, sentilah Kim Coa

Siancu pada nadinya hanya membuat jatuh satu pedangnya

tidak sampai membuat ia jatuh terkulai oleh pengaruh totokan.

 

"Boleh juga, ya !" berkata Kim COa Siancu seraya berkelit dari

serangan susulan Louw Bin Cie yang hebat sebab si orang

she Louw sudah menggunakan tipu yang sukar dielakan yang

dinamai 'Beng goat Kiam eng' atau 'Bayangan pedang

diterang bulan'. Ujung pedang seperti menusuk dada tapi

sebenarnya yang diarah adalah 'jalanan nasi' (tenggorokan).

Cepat laksana kilat gerakan ini dilakukan, maklumlah Louw

Bin Cie adalah jago pedang maka julukannya juga 'Sian-jin

Siang-kiam', si Sepasang Pedang Dewa.

Tapi.... terbelalak sepasang matanya si Sepasang Pedang

Dewa ketika melihat ujung pedangnya bukan menusuk

tenggorokan tapi nancap diantara dua jari mungil si Dewi Ular

Emas, wajahnya si elok bersenyum manis ke arahnya.

Louw Bin Cie kerahkan tenaga dalamnya untuk menarik

pulang pedangnya yang dijepit dua jarinya Kim Coa Siancu

tapi meskipun ia berdegingan, tidak dapat ia tarik lolos dari

jepitan jari lawan. Kaget si Sepasang Pedang Dewa, peluh

bercucuan di seluruh tubuhnya.

"Mari, kita jangan terlalu lama main-main !" berkata Kim Coa

Siancu berbareng terdengar suara 'pletak !'. Itu adalah suara

patahnya pedang Louw Bin Cie hingga si jago pedang hanya

memegangi pedang buntung di tangannya sambil berdiri

menjublek, tidak tahu apa yang ia harus berbuat saking

kagetnya.

Pedang Louw Bin Cie bukan sembarangan pedang. Dibuat

dari baja pilihan, meskipun pendek, bobotnya berat juga.

Bukan sedikit menemui senjata lawan yang lebih besar dan

berat, pedangnya dapat memapas kuntung. Tapi sekarang,

 

sekarang ditangannya Kim Coa Siancu hanya ujungnya saja

dijepit oleh dua jarinya yang halus mungil, sekali dikutik,

pedang sudah patah persis pada tengah-tengahnya.

SAmpai dimana tenaga alam Kim Coa Sianvu, benar-benar

susah diukur.

Oleh karenanya si Sepasang Pedang Dewa menjadi

menjublek, tidak tahu apa yang ia harus bikin saat itu.

Kepalanya nunduk dengan perasaan kagum.

"Hi hi hi !" suara ketawa yang membuat si Sepasang Pedang

Dewa tersadar dari kekagetannya. Cepat ia angkat mukanya,

kiranya suara ketawa itu sudah berada di tempat jauh. Kim

Coa Siancu sudah tidak ada pula disitu, berbareng Cui Sian

alias Sian Bwee dengan ayah bundanya sekali, sudah tidak

kelihatan mata hidungnya. Louw Bin Cie hanya bisa menghela

napas beberapa kali dengan putus harapan.

Ia lalu membongkoki badannya, memungut pedangnya yang

jatuh tadi.

Perlahan-lahan ia bertindak meninggalkan tempat itu dengan

penuh teka teki akan kelihaian Kim Coa Siancu yang muda

belia dan cantik luar biasa.

Beberapa lie ia jalan tanpa merasa, tiba-tiba ia melihat jauh di

depan seperti ada dua orang sedang meneduh di bawah

pohon, yang satu tengah berdiri, yang lainnya tengah duduk,

dua-dua kelihatan menyandar pada batang pohon. Louw Bin

Cie kegirangan akan menemui dua orang ditempat yang sepi

itu. Pikirnya, dapatkah mereka ia buat teman kongkouw

(ngomong) dalam perjalanan.

 

Ia cepatkan jalannya. Beberapa tindak lagi mendekati dua

orang itu, ia lantas hendak membuka mulut menyapa tapi katakatanya

urung meluncur dari bibirnya karena matanya tiba-tiba

jadi terbelalak kaget. Kiranya orang-orang yang menyandar itu

bukan seperti biasanya menyandar melepaskan lelah,

keduanya tertusuk dengan pedang. Yang menyandar sambil

berdiri adalah seorang yang masih muda, dadanya tertusuk

pedang hingga menembus ke batang pohon, sementara yang

satunya lagi adalah wanita muda, lehernya disate pedang

menembus pohon.

Mata keduanya melotot gusar seakan-akan kematian mereka

itu penasaran. Meskipun si Sepasang Pedang Dewa banyak

pengalamannya bertempur, kematian-kematian seperti yang ia

saksikan sekarang adalah wajar. Tapi mengingat bahwa

kematian mereka ini bukan dari perkelahian tapi akibat

keganasan Kim Coa Siancu, membuat hatinya tergetar setelah

melihat tanda goresan Cap Ular Kecil yang berlegot-legot jalan

pada jidatnya si korban masing-masing. Suatu tanda cap yang

menakutkan bagi siapa yang melihatnya.

Siapakah korban-korban itu ? Louw Bin Cie tidak berani

memeriksa kantong baju mereka, untuk mendapatkan

petunjuk siapa sebenarnya mereka itu. Ia takut akan

keracunan dan menemui kematian konyol.

Kembali Louw Bin Cie melihat lagi akan sepak terjangnya Kim

Coa Siancu.

Sebenarnya menurut hatinya yang tidak tega, Louw Bin Cie

ingin gulung tangan baju bantu mengubur dua mayat itu tapi

mengingat bahanyanya racun Kim Coa Siancu. Ia urungkan

 

niatnya, ia lalu meneruskan perjalanannya sambil menghela

napas. Baru kali ini si Sepasang Pedang Dewa banyak

keluarkan elahan napas dalam perjalanan. Biasanya ia paling

gembira dan nyalinya besar, meskipun dalam perjalanan

menempuh bahaya.

Belum berapa lama Louw Bin Cie berjalan, kembali ia

menemukan sesosok tubuh yang sedang celentang. Ketika ia

datang mendekati, kaget bukan main sebab orang itu adalah si

muka putih, temannya si gemuk yang tampak sudah jadi

mayat dengan tanda goresan Cap Ular pada jidatnya.

Kemana perginya si kumisan, temannya si gemuk yang

satunya lagi ? Demikian tanya Louw Bin Cie dalam hati

kecilnya.

Louw Bin Cie makin jeri hatinya. Tak ada tempo ia untuk

memeriksa tubuh si muka putih yang sudah jadi mayat, ia

lantas teruskan perjalanannya. Ingin cepat-cepat ia sampai di

rumah untuk mendongeng kepada kawan-kawan halnya si

Dewi Ular Emas yang hebat dan menggemparkan sepak

terjangnya.

Pikirnya, yang penting ia harus lekas-lekas keluar dari daerah

berbahaya yang termasuk wilayah Coa-kok supaya jangan

sampai menemukan kematian konyol.

Akhirnya ia sampai juga di Tong-pek-cun, satu dusun yang

ramai dan banyak penduduknya, terletak di luar wilayah

berbahaya dari Lembah Ular. Hatinya Louw Bin Cie baru

merasa lega. Ia mamir pada sebuah rumah makan 'Ce-lamtiam'

yang kesohor dengan arak wanginya. Banyak orang dari

lain tempat datang, kebanyakan pada masuk dalam rumah

 

makan itu. Maka tidak heran kalau sabah hari rumah makan itu

penuh dengan tamu-tamu, kalau tidak dari luar dudun, tentu

yang datang makan dari dalam dusun itu sendiri.

Sedang enaknya Louw Bin Cie mencicipi makanan lezat dan

arak wangi sebagai pengantarnya, tiba-tiba matanya melihat

pada seorang tamu yang barusan masuk. Ia kenali itulah si

kumis teman si gemuk. Ia ingin dapat beromong-omong

dengan si kumis, mengerti teman-temannya yang telah gugur

dan maksud mereka ke Lembah Ular.

Dengan cara kebetulan, si kumis kehabisan tempat dan

datang makan satu meja dengan Louw Bin Cie. Mereka lalu

berkenalan, sementara menunggu hidangan si kumis yang

perawakan kecil kurusm memperkenalkan namanya Tiong Kiat

she Lie asalah dari propinsi Kwitang.

Louw Bin Cie terkejut. Pikirnya, apa bukan dianya ? Lantas ia

menanya, "Lie-heng ini bukannya Kengcu Kim-kauw cian yang

menggemparkan Kwitang ?"

Kengcu Kim-kauw-cian artinya 'Si Gunting Emas dari kota

Kengcu'.

"Ah, itu hanyalah nama kosong saja." sahut Lie Tiong Kiat

merendah. "Aku sendiri tidak punya kepandaian apa-apa tapi

teman-teman Kangouw main sembarangan memberi julukan

'si Gunting Emas', sungguh berkelebihan."

Louw Bin Cie terkejut mendengar namanya Lie Tiong Kiat

yang bergelar di Gunting Emas, lantaran mendengar sepak

terjangnya si Gunting Emas yang hebat dan pantas dapat

pujian. Ia menindas si jahat menolong si lemah. Di samping

 

ilmu silatnya tinggi, tubuhnya enteng seperti jatuhnya

selembar daun kalau ia lompat dari atas menginjak tanah,

tidak ada suaranya. Lompat tingginya melebihi kepandaian

jago-jago silat kelas satu, khusus ia namakan ilmu entengi

tubuhnya itu 'Kim cian coan in' atau 'Panah emas tembusi

mega'.

"Sepantasnyalah kalau orang memberikan julukan kau

demikian." kata Louw Bin Cie seraya manggut-manggut

kepalanya, air mukanya tersenyum ramah.

"Nama saudara Louw juga sangat santar terdengar di

telingaku. Maka aku girang sekali dapat berkenalan dengan

saudara." si Gunting Emas balas memuji.

(Bersambung)

Jilid 07

Letak meja mereka makan di satu pojokan, agak jauh dari

meja tamu lain. Maka dengan leluasa mereka dapat

membicarakan soal-soal yang rahasia, asal tidak keras-keras

bicaranya. Demikian, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh

Louw Bin Cie untuk menanyakan halnya si Gunting Emas

datang ke Lembah Ular.

Lie Tiong Kiat kaget Louw Bin Cie timbulkan soal Kim Coa

Siancu.

Mengingat ia sudah berada di luar wilayah Lembah Ular, tidak

ada halangan untuk berbicara dengan Louw Bin Cie mengenai

halnya Kim Coa Siancu. Ia menanya, "Dari mana saudara tahu

halnya aku ke Coa-kok ?"

 

"Ketika kawan saudara yang gemuk itu menemui ajalnya, aku

juga beserta kawan-kawan berada di sana menyaksikan."

sahut Louw Bin Cie.

"Louw-heng kata bersama-sama kawan, sekarang kawankawanmu

ada dimana ?" tanya Lie Tiong Kiat. Ia heran Louw

Bin Cie hanya sendirian tapi menyebutkan ada kawankawannya.

"Lie-heng jangan kaget." sahut Louw bin Cie. "Seperti dengan

kau, aku juga sudah kehilangan kawan-kawan dalam

perjalanan."

"Juga dibunuh Kim Coa Siancu ?' tanya Lie Tiong Kiat.

"Satu yang di bunuh, sedang yang lain pada mengikuti si Dewi

Ular Emas."

"He, bagaimana bisa begitu ?"

Louw Bin Cie menghela napas. Lalu ia ceritakan terbunuhnya

Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim, pertemuannya dengan Cui

Sian yang dikenali Lengkoan Giok-lie dan Ma Liong sebagai

puterinya yang hilang diculik. Kemudian muncul Kim Coa

Siancu, Lengkoan Giok-lie digigit Cui Sian dan ingatannya

menjadi berubah dan lalu menggigit Ma Liong sehingga

suaminya ini pun menjadi berubah pikirannya dan mengikuti si

Dewi Ular Emas dengan kesukaan sendiri. Kemudian ia

sendiri maju, nekad untuk menempur Kim Coa Siancu tapi

kesudahannya dipecundangi dengan cara yang memalukan

sekali.

Si Gunting Emas Lie Tiong Kiat manggut-manggut, kemudian

 

terdengar ia menghela napas.

Atas permintaan Louw Bin Cie, si Gunting Emas lalu

menuturkan riwayat perjalanannya ke Lembah Ular yang ia

tidak sangka-sangka akan berbahaya sekali.

Pada suatu malam gelap dan hujan turun dengan rintik-rintik.

Keadaannya sunyi senyap dan hawanya dingin membuat

orang tidur nyenyak berselimut tebal.

Pada saat itu, Tan Eng Sian (si jangkung teman si gemuk)

barusan saja pulang dari rumah kawannya yang tinggal di luar

kota Hokcu dimana ia menginap dua malam untuk memberi

pertolongan kepada anak temannya yang dapat sakit.

Tan Eng Siang selainnya terkenal pandai silat, juga pandai

obat-obatan. Maka tidak jarang ia mendapat undangan

sahabat atau kenalan yang anggota keluarganya dalam sakit

untuk diminta pertolongannya.

Tatkala ia samapi di halaman rumahnya, tiba-tiba ia dibikin

kaget oleh berkelebatnya bayangan keluar dari jendela

rumahnya. Ia tidak tahu bayangan siapa yang merupakan

asap menghilang ditelan kegelapan, yang terang ia

mendengar suara seram, "Hihihi..." sehingga ia kaget dan

menduga bayangan tadi manusia yang masuk ke dalam

rumahnya.

Tan Eng Sian tergopoh-gopoh menggedor pintu yang segera

dibukai oleh seorang pelayan laki-laki tau yang sudah

bongkok.

"Siapa yang masuk barusan ?" tanya Eng Sian cepat.

 

"Tidak ada yang masuk kemari," sahut si kakek bongkok.

Eng Sian tidak sempat memajukan pertanyaan lebih jauh

karena hatinya penuh dengan kekuatiran rupanya sebab

sikapnya amat gugup.

Cepat ia pergi ke kamarnya. Ternyata kamar dikunci dari

sebelah dalam. Ia heran sebab tidak biasanya sang istri tidur

dengan pintu kamar terkunci. Sebab menurut kata istrinya

sebaiknya pintu kamar jangan dikunci, kalau ada apa-apa

gampang keluarnya. Ini ada alasan yang janggal tapi karena ia

sangat mencintai istrinya ialah istri kedua yang baru dua tahun

ia nikah, karena istri pertamanya meninggal dunia pada lima

tahun berselang, ia tidak keberatan dengan usulnya itu.

Tapi kenyataannya sekarang dikunci dari sebelah dalam ?

Kenapa ? Ah, tentu perbuatan orang jahat yang merupakan

bayangan tadi, pikirnya. Dalam keadaan mendesak, diliputi

oleh kekuatiran, tidak ada jalan lain Tan Eng Sian mendobrak

pintu kamar dengan paksa karena sang isteri yang dipanggilpanggil

beberapa lamanya belum juga membuka pintu

kamarnya.

Waktu sang pintu sudah terpentang, sekali lompat Tan Eng

Sian sudah berada di dalam kamar. Matanya terbelalak ketika

ia melihat ke atas pembaringannya. Ia tampak berdiri

menjublek dengan wajah gusar, matanya tidak berkedip

memandang ke arah pembaringan dimana isterinya tampak

rebah celentang dalam pakaian hawa (telanjang) sedang di

sisinya ada seorang lelaki yang memeluk sang isteri dalam

pakaian adam. Adegan dua orang telanjang bulat inilah yang

membuat Tan Eng Sian berdiri menjublek dengan mata

 

terbelalak.

Dari sangat gusar, Eng Sian menjadi heran sebab dua

manusia yang main-main pat-pat gulipat itu tidak bergerak,

apalagi lompat ketakutan dan pakai pakaiannya kembali.

Ketika Tan Eng Sian mendekati dengan kegusaran yang

meluap-luap, ternyata dua manusia mesum itu sudah tidak

ada napasnya. Jiwanya telah melayang, entah sejak kapan.

Cepat Tan Eng Sian periksa, ternyata mereka tidak terluka

apa-apa.

Kapan diselidiki lebih tegas, kiranya mereka itu telah ditotok

urat kematiannya dalam keadaan telanjang bulat seperti yang

dihadapi ia sekarang.

Saking gemasnya tiba-tiba tangan Tan Eng Sian menyambar

saling susul dan dua manusia mesum itu dilain saat tubuhnya

sudah pada pindah ke lantai, sedikitpun tidak mengeluarkan

kesakitan meskipun terbanting keras karena memang dua

manusia menjijikan itu sudah tidak bernapas lagi.

Eng Sian lalu keluar, ia berteriak memanggil si bongkok.

Meskipun suaranya keras dan diulang-ulang, tidak kelihatan si

bongkok datang menghampiri.

"Kemana si bongkok perginya, apa dia sudah mampus ?"

berkata Tan Eng Sian dalam marahnya seraya kakinya

bertindak ke kamar si bongkok. Di situ tidak ada orangnya,

makin meluap amarahya Tan Eng Sian. Ia pergi ke belakang

berteriak-teriak memanggil pelayan-pelayannya yang lain tidak

ada kelihatan muncul satu juga.

 

Si kakek bongkok itu Eng Sian belum jelas benar asal usulnya.

Ia menemukan si bongkok di halaman kuil 'Malaikat Bumi',

ketika ia mengantar Loan Giok, isterinya sembahyang

membayar kaul penyakitnya supaya sembuh. Si bongkok

dengan roman yang mengharukan soja-soja minta pekerjaan

pada Eng Sian suami isteri untuk pekerjaan apa saja ia mau

terima asal dapat makan katanya.

Atas usulnya Loan Giok yang merasa kasihan pada si kakek

bongkok, ia telah diterima bekerja untuk membikin bersih

kebun di pekarangan sebab kebetulan tukan kebunnya Eng

Sian berhenti pada dua hari yang lalu.

Melihat kecerdikannya si kakek bongkok setelah satu minggu

tinggal pada keluarga Tan Eng Sian sudah percayakan

padanya untuk menjaga pintu di waktu malam sebab Eng Sian

sering bepergian. Tuan rumah puas dengan pekerjaan si

bongkok, ia sangat cekatan dan gesit. Kalau Eng Sian pulang

malam, menggedor rumahnya tidak sampai diulangi berkalikali,

si bongkok sudah lantas membukainya.

Sudah jangka dua minggu si bongkok bekerja pada Tan Eng

Sian.

Melihat bujang-bujangnya tidak muncul, si bongkok juga

kemana tahu, Eng Sian lari masuk lagi, menghampiri satu

pojokan dalam ruangan tengah rumahnya dimana terdapat

sebuah lemari cukup besar dan berta, tapi untuk Eng Sian

tidak menjadi halangan, ketika ia menggeser lemari itu

kelihatan enteng dapat dikisarkan.

Terkejut Eng Sian seketika, mukanya tampak pucat melihat

lubang rahasia tempat menyimpan hartanya sudah dibongkar

 

orang. Tiada seorang yang tahu tempat menyimpan harta itu

dibawahnya lemari kecuali Loan GIok isterinya. Maka itu,

lantas saja ia mencurigai isterinya. Tapi bagaimana ia

menegur dan tanya Loan Giok karena sang isteri sudah tidak

bernyawa lagi ?

Sejak ia masuk ke dalam rumah tadi, yang ia kuatir adalah

lubang rahasia itu karena di dalamnya ada tersimpan satu

kalung lehe dari batu giok (kumala) tertabur berlian yang ia

dapat miliki dari Gouw Tiang Su saudara angkatnya dengan

mempertaruhkan jiwanya.

Gouw Tiang Su adalah satu maling terbang yang licin, entah

dari mana ia dapat menyikat kalung kumala sangat berharga

itu. Ketika ia memperlihatkan hasilnya itu kepada Tan Eng

Sian, lantas timbul dalam hatinya si orang she Tan yang

serakah untuk memiliki barang-barang berharga. Ketika

diminta, malah mau dibeli dengan uang, barang itu tak

diberikan oleh Gouw Tiang Su, maka Eng Sian terpaksa

menggunakan kekerasan untuk memilikinya. Dalam

perkelahian yang sangat seru, Eng Sian hampir celaka kalau

tidak ada orang ketiga yang datang menyela. Ialah seorang

muda dari usia tiga puluhan, mukanya tampan, namanya Coan

Sim, she Tan sama dengan Eng Sian yang telah bantu

mengerubuti Gouw Tiang Su hingga ia kewalahan dan

akhirnya ia menyerah, barangnya dirampas oleh Tan Eng

Sian.

Karena kejadian itu maka Coan Sim sering-sering suka datang

bertamu ke rumah Eng Sian yang disambut dengan manis

budi dan ramah oleh tuan dan nyonya rumah.

Loan Giok ketika ikut Tan Eng Sian sudah janda, ditinggal mati

 

oleh suaminya yang menjadi sahabar Eng Sian. Ia ambil Loan

Giok terdorong oleh perasaan kasihan. Tatkala mana usia

Loan Giok bukan muda lagi, sudah 45, lebih tua 4 tahun dari

Eng Sian. Tapi lantaran Loan Giok bisa merawat diri,

wajahnya tetap segar seperti juga wanita yang baru berusia

30an.

Wajahnya yang hitam manis botoh, kalau tertawa memincuk

jantung membuat Eng Sian yang sudah lama bujangan, tidak

punya pilihan lain selain mengambil Loan Giok sebagai istrinya

untuk menyambung kebahagiaan sampai di hari tuanya.

Memang benar Loan Giok ada seorang istri yang baik, tidak

genit dan mencintai suaminya hingga selama itu Eng Sian

merasa puas dengan pelayanan Loan Giok.

Kebahagiaan yang diharap sampai tua oleh Eng Sian suami

isteri ternyata tak dapat terlaksana. Manusia boleh

mengharap, tapi guratan nasib tak dapat dielakkan.

Demikian awan mendung telah muncul memayungi keluarga

Tan ialah dengan munculnya Coan Sim, bintang penolong Eng

Sian ketika menghadapi Gouw Tiang Su.

Coan Sim tampan wajahnya, tapi hatinya busuk. Tukang

mempermainkan anak isteri orang degnan ketampanannya

sebagai modal. Ia tidak punya pekerjaan, sehari-harinya hanya

luntang lantung saja. Kalau ia bisa berlaku royal dalam

hidupnya yang workloss itu karena berkat dari tante girang

yang membantunya.

Pada sore itu dimana Tan Eng Sian sedang keluar, Coan Sim

dapat kesempatan ngobrol dengan Loan Giok. Nyonya untuk

 

rumah pandang Coan Sim adalah pemuda sopan santun.

Memang demikian ia membawa kelakuannya di depan Tan

Eng Sian dan Loan Giok apabila sedang omong-omong. Maka

Loan Giok tidak berkeberatan menemani Coan Sim

mengobrol, malah si pemuda dapat suguhan hidangan enak

berupa kue-kue dan teh hangat sebagai kawan dalam

menikmati pasang omong.

Dalam omong-omong, bukan sekali dua kali mereka beradu

pandangan hingga Loan Giok sering tundukkan kepala,

hatinya tergetar karena pandangan tajam dari matanya si anak

muda tampan. Sebaliknya, Coan Sim makin tergiur

memandang calon tante girang didepannya yang hitam manis

dengan senyum memikat.

Dari omong-omong sopan lantas melantur kepada kata-kata

melantur, itulah Coan Sim yang mulai keluarkan aksi

merayunya. Ia berkata, "Siapa tidak jadi kegirangan omongomong

dengan Tan-hujin yang sangat cantik...."

Tan-hujin artinya nyonya Tan.

"Saudara Tan, kau omong berlebihan." sahut Loan Giok

seraya angkat kepalanya dari menunduk marusan karena

tikaman mata lihai si anak muda.

Coan Sim ketawa. Ia kata lagi, "Selama aku ingat belum

pernah aku memuji siapa juga kecuali pada hujin yang

memang aku kagumi kecantikannya...."

Berdebar hatinya Loan Giok. Belum pernah ia mendengar

kata-kata yang dapat membanggakan sanubarinya seperti

yang ia dengar dari mulut Coan Sim yang seolah-olah

 

bunyinya musik mengalun di telinganya.

Ia diam saja. Sampai Coan Sim berkata lagi, "Kecantikan

hupjan diatas dari segala gadis cantik dari umur 17 keatas.

Hahaha, ini bukannya bohong. Aku berani bersumpah.

Gerakan hujin diwaktu jalan, diwaktu duduk, dilengkapi oleh

senyuman manis memikat, siapa yang akan tidak gugur

imannya ?"

"Aha, saudara ini suka main-main. Aku sudah menjadi nenek

dan...."

"Itu hanyalah pikiran hujin." Coan Sim cepat memotong

sebelum Loan Giok melanjutkan kata-katanya. "Usia tidak

menjadi ukuran, kalau memang wajah sendiri memang cantik

dipandangan orang."

Mau tidak mau, Lok Giok yang biasanya tidak genit, menjadi

berubah mendadak sontak mendengar rayuan Coan Sim yang

dahsyat itu.

Dari suaminya yang dulu maupun yang sekarang, belum

pernah Loan Giok mendengar pujian tentang kecantikan

dirinya apalagi yang demikian muluk seperti yang ia dengar

dari mulutnya si anak muda yang tampan. Waktu ia melirik

pada wajah si pemuda yang tengah berseri-seri ke arahnya,

jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tersenyum membalas,

kemudian dengan lagak manja ia berkata, "Apa iya ?"

"Siapa yang membohongi hujin ?" si anak muda kata,

romannya serius.

"Baiklah, aku akan kasih hadiah...." kata si nyonya rumah.

 

Berbareng ia bangkit dari duduknya, entah mau kemana.

Coan Sim juga cepat bangkit, ia menghadang. Dengan berani

ia pegang kedua lengan Loan Giok, ia menarik dan mendekap

badan Loan Giok di dadanya. Dua tubuh bersentuhan hangat,

tergetar hatinya Loan Giok. Ia coba berontak, susah terlepas

dari pelukannya Coan Sim. Ketika ia angkat mukanya

mendongak, tahu-tahu mulurnya sudah ditekan bibirnya Coan

Sim. Dari berontak ia menjadi jinak. Hanya tangan kirinya

mengikuti tangan kanan Con sim yang mulai galak dan

berkeliaran meraba buah dada yang jadi berombak dan lainlain

anggota tubuh sampai si nyonya bergemetaran ketika

tangan nakal Coan SIm sampai pada bagian yang hanya oleh

tangan suami yang syah bagian itu boleh disentuh.

"Ah, kau. Jangan disini...." kata Loan Giok perlahan,

tangannya yang kanan berbareng mendorong dada si pemuda

hingga ia terlepas dari pelukan Coan Sim yang ceriwis

kemudian jalan tanpa menoleh lagi.

Coan Sim kesima sebentaran tapi ia segera mengikuti si

nyonya. Ia sudah dapat menduga maksudnya si nyonya dan

benar saja ia telah dibawa ke kamarnya.

Girang seperti menemui gunung emas, ketika Coan Sim sudah

berada dalam kamar si tante girang. Terdengar dari sebelah

luar suaranya Loan Giok. "Ah, kau begini nakal terhadap

nenek-nenek. Hihihi....."

"Nenek-nenek justru yang bisa main... ma..."sahut Coan Sim

terputus. Berbareng terdengar suara pintu didorong terbuka,

seorang kakek bongkok masuk ke dalam dengan pisau

ditangannya.

 

Dua manusia mesum itu terbelalak kaget.

Loan Giok sembat selimut untuk menutupi tubuhnya yang

telanjang.

"Kakek gila, kenapa kau berani masuk ke kamar nyonyamu !"

semprot Loan Giok.

Coan Sim yang memang punya kepandaian silat sudah segera

hendak melompat menerkam si kakek, ia tidak takut orang ada

bawa pisau tajam. Sayang, sebelum ia bergerak si bongkok

sudah sampai dan menotok 'thian ki hiat', jalan darah pada iga

kanannya hingga ia terkulai di ranjang dalam keadaan tidak

berpakaian.

Loan Giok menjadi ketakutan, mukanya pucat seperti

kehabisan darah.

"Hehehe, jangan takut !" kata si bongkok. "Asal kau mau

katakan dimana disimpannya kalung kumala, aku tidak akan

apa-apakan kau dan lelaki jahanam ini !" sambil menunjuk

pada Coan Sim yang tidak berkutik.

Loan Giok memang menyayangi kalung kumala berharga itu

seperti juga dengan Eng Sian suaminya. Tapi dalam keadaan

yang genting itu dimana jiwanya tentu lebih pentind dari pada

kalung kumala, maka ia lantas berkata, "Kau cari di bawah

lemari yang terletak dipojokan dari ruang tengah !"

"Bagus ! Kau tunggu sampai aku ketemukan barang itu. Kalau

kau bohong, awas !" mengancam si bongkok seraya putar

tubuhnya jalan kelua dan pintu ia kunci dari sebelah luar

 

hingga Loan Giok tidak bisa keluar menggunakan kesempatan

si kakek lagi pergi.

Loan Giok menangis lalu bangkit memeriksa keadaan Coan

Sim yang hanya sepasang matanya saja berputar, badannya

sendiri tak dapat digerakkan.

"Oh, kau kenapa jadi begini ?" tanya si nyonya Tan seraya

menggoyang-goyang tubuh si pemuda yang diam saja.

Nyonya Tan tidak tahu kalau Coan Sim kena ditotok.

Tante girang tidak jadi girang menghadapi kegawatan pada

saat itu.

Sebagai nyonya yang tidak genit dan memang baik

kelakuannya, Loan Giok menangis menyesalkan kelakuannya

yang tidak benar. Ia telah khilap seketika, pada saat

mendengar rayuan asmara dari si pemuda tampan tapi busuk

hatinya. Apa daya sekarang ? Ia hanya mengharap belas

kasihan si kakek bongkok, sebentar bila ia sudah kembali. Ia

tahu bahwa si bongkok tidak akan gagal mencari kalung

kumala.

Sebentar lagi ia mendengar pintu di buka, si kakek tampak

berjalan masuk sambil ketawa-ketawa. Tapi ketika sampai

tidak jauh dari tepi pembaringan, Loan Giok kaget melihat

sikapnya berubah bengis. Ia ketakutan, hampir ia selimuti

kepalanya sekali kalau tiak keburu mendengar si kakek

berkata, "Tan-hujin terima kasih. Ini !" berbareng ia kodok

sakunya dan keluarkan kalung kumala dan diperlihatkan pada

Loan Giok.

"Bagus, kau bawalah !" sahut nyonya Tan, hatinya agak lega

 

karena si bongkok tidak sebengis tadi malah suaranya pun

enak didengar.

Pikirnya, ada harapan ia. Tapi tiba-tiba ia terkejut ketika si

bongkok datang lebih dekat ke tepi pembaringan dan

cenderungkan badannya, tangannya diulur seperti hendak

memegang tubuhnya. Ia memeramkan matanya, ia pasrah

pada nasib kalau sampai si kakek hendak memperkosa dirinya

asal jiwanya dikasih hidup. Kiranya si bongkok bukannya

hendak memeluk Loan Giok yang sudah siap menyerahkan

diri, sebaliknya ia menototk urat kematian Loan GIok yang

seketika itu si tante girang berkelejetan sebentaran dan

napasnya pun lantas putus.

Coan Sim melihat kejadian itu menjadi ketakutan. Tidak lama

sebab ia juga lantas menyusul arwahnya si nyonya hitam

manis yang belum jauh meninggalkannya. Setelah

membereskan si pemuda mesum, si bongkok singkap selimut

yang menutupi tubuh Loan Giok kemudian angkat badannya

Coan Sim yang sudah jadi mayat, di gabrukan ke tubuhnya

Loan Giok hingga keadaannya seperti yang saling peluk dalam

keadaanya yang tidak genah dipandang untuk mereka yang

beriman teguh.

Demikian, si bongkoklah yang membereskan dua manusia

mesum itu, sekarang kemana si kakek bongkok dengan kalung

kumalanya ? Eng Sian berdiri terpaku sekian lama tatkala

menyaksikan lubang rahasia penyimpanan hartanya sudah

dibongkar orang.

Ia jongkok lalau memeriksa, benar saja kalung kumalanya

sudah terbang.

 

"Hehehe ! " Sekonyong-konyong terdengar suara ketawa

dibelakangnya. Cepat Tan Eng Sian balik tubuhnya, kiranya

yang ketawa itu tiada lain adalah si bongkok yang dicari-cari.

Eng Sian bangun dari jongkoknya lantas menghajar si

bongkok dengan dua kepalannya tapi ia menghajar angin

karena si bongkok sudah berkelit dengan lincahnya. Malah

Eng Sian menjadi kaget sebab si bongkok sekarang sudah

tidak bongkok pula badannya.

"Kau.... kau, siapa sebenarnya ?" Eng Sian menanya gugup.

"Hehehe, kau mau tahu siapa aku ? Aku adalah Kut-nia Huima

Sie Toan Leng !" di kakek memperkenalkan namanya

sehingga tergetar hatinya Eng Sian.

Tan Eng Siang kaget karena Kut-nia Hui-ma atau 'Si Kuda

Terbang dari Bukit Tulang' Sie Toan Leng adalah begal

tunggal yang malang melintang di sekitar pegunungan

Kiansan. Wataknya angin-anginan hingga orang bisa serba

salah menghadapinya, kalau bukan kawan karibnya yang

biasa galang gulung dengannya.

"Kenapa kau menjadi orang bongkok dan nyelusup ke

rumahku ?" tanya Eng Sian.

"Kalau tidak ada kepentingan, mana si Kuda Terbang mau

merendah menjadi orang bongkok segala !" jawabnya,

seenaknya saja kelihatannya.

"Jadi, kau yang curi kalung kumala dalam rumahku ?"

"Tepat dugaanmu, saudara Tan."

 

"Kau yang bunuh dua manusia hina itu dalam kamar ?"

"Kau menebak jitu sekali, saudara Tan."

"Aku tidak perduli dengan dua manusia hina itu, tapi kalung

kumala itu. Hm ! Apabila kau tidak kembalikan, jangan harap

kau bisa keluar dari rumahku !"

Sie Toan Leng tiba-tiba tertawa terbahak-bahak hingga Tan

Eng Sian heran.

"Kau mentertawakan apa ? Memangnya aku tidak bisa

buktikan ucapanku barusan ?"

"Aku tertawa bukannya tertawakan kau." sahut si Kuda

Terbang. "Aku tertawa karena kedogolanku hingga barang

yang sudah ada di tangan bisa hilang dirampas orang.

Saudara Tan, kau paham akan kata-kataku ini ?"

Tan Eng Sian melongo. Ia belum dapat menangkap betul apa

maksud kata-kata Sie Toan Leng barusan, maka ia lalu minta

ketegasan.

"Setelah aku membereskan dua manusia terkutuk itu, aku

keluar kamar dan kuncikan mereka dari luar. Pikirku, kalau kau

pulang aakn dapat pergoki bagaimana tidak setianya istrimu

dan kawan mudamu itu." demikian Kut-nia Hui-ma Sie Toan

Leng bercerita kepada Tan Eng Sian.

"Lalu, terus, terus bagaimana dengan kalung kumala itu."

mendesak Eng Sian tidak sabaran.

 

"Ketika aku jalan sampai di pertengahan rumah, aku masih

sempat mengodok keluar dari sakuku kalung kumala itu untuk

aku memandangnya sekali lagi. Sekonyong-konyong aku

rasakan ada angin dingin berkesiur disampingku. Aku kaget.

Sebelum aku tahu apa-apa kalung kumala itu sudah pindah

tangan. Kaget dan gusar saat itu, lantas aku melihat di

depanku gadis cantik tersenyum ke arahku."

"Kalung kumala tampak ada ditangannya yang putih halus.

Aku merasa gegetun, cara bagaimana ia dapat merampas

barang itu dari tanganku tanpa merasa apa-apa. Apakah dia

satu setan gentayangan ? Tapi kupikir di dunia mana ada

setan, maka aku lantas membentak, 'Anal sambel, kau berani

permainkan kakekmu ? Lekas kembalikan barang yang

ditanganmu itu !' Dia tidak menyahut hanya ketawa manis

saja."

"Aku si Kuda Terbang, mana ketarik dengan senyuman wanita

cantik. Hatiku lebih ketarik oleh kalung kumala yang dengan

susah payang aku dapatkan. Maka seketika itu aku

membentak lagi, 'Kau berani permainkan kakekmu !'

Berbareng aku pun maju untuk menyerang dan merampas

pulang kalung kumala. Tapi.... ia hanya mengebas perlahan

dengan lengan bajunya ke arahku, tiba-tiba aku rasakan

serangkum angin menerjang sangat kuat sekali hingga

tindakanku tertahan oleh karenanya. Aku heran, kukerahkan

tenaga dalam dan maju terus. Si jelita kembali mengebas

dengan lengan bajunya, kali ini agak kerasan dikit tapi cukup

membuat aku terpelanting hingga dahiku tambah daging

karena kebentur pinggir meja. Sialan, pikirku. Amarahku jadi

meluap. Berbareng terdengar suara ketawa 'Hihihi..'. Gadis itu

sudah menghilang dari pandanganku, lenyap bersama dengan

kalung kumala...." Demikian si Kuda Terbang menutup

 

ceritanya.

Tan Eng Siang berdiri termangu-mangu mendengar si Kuda

Terbang ceritanya.

Ia menghela napas. Apa daya ? Pikirnya kalau kalung kumala

itu masih ada pada Sie Toan Leng, biarpun ia harus mengadu

jiwa, ia akan berusaha untuk merampas pulang barangnya.

Tapi sekarang, putuslah harapannya. Bagaimana ia bisa

menghadapi lawan, sedang si Kuda Terbang sendiri yang

kepandaiannya sangat tinggi, hanya dikebas sekali sudah

terpelanting.

Kut-nia Hui-ma Sie Toan Leng lalu ngeloyor pergi.

"Tunggu." kata Tang Eng Sian tiba-tiba.

"Kau mau apa lagi ? Barangmu toh sudah tidak ada padaku,

apa kau tidak percaya ?" berkata si Kuda Terbang seraya

ketawa.

"Bukan itu maksudku." sahut Tan Eng Sian.

"Aku hanya mau tahu apa kau kenal gadis yang datang kesini

itu ?"

"Mana aku tahu, sebab kenal wajahnya juga baru pada saat

itu."

"Sebagai begal tunggal, kau harus tahu !"

Si Kuda Terbang termenung sebentar.

 

"Eh," katanya sekonyong-konyong seperti yang teringat

sesuatu, telunjuknya ditekankan pada jidatnya. Ia

meneruskan, katanya : "Sekarang aku ingat. Menurut katanya

kawan-kawanku yang suka tinggal suara ketawa berbareng

orangnya menghilang adalah Kim Coa Siancu dari Coa-kok !"

"Kim Coa Siancu...." menggumam Tan Eng Sian.

Ia pun pernah dengar tentang munculnya Kim Coa Siancu

yang melakukan penculikan beberapa lama berselang.

Menurut berita, datang dan perginya hantu itu ada

menakjubkan seakan-akan bagaikan asap yang lenyap ketiup

angin. Tiada seorang pun yang pernah mempergoki wajahnya.

Ia sendiri menduga hantu itu romannya menakutkan luar

biasa, maka kepandaiannya ada sangat tinggi. Kalau seperti

yang dikatakan sekarang oleh si Kuda Terbang, dia hanya ada

satu gadis cantik saja, ia sangsi apakah dia itu ada Kim Coa

Siancu yang dihebohkan dalam kalangan Kangouw ?

"Kim Coa Siancu sangat lihai." si Kuda Terbang berkata lagi.

"Datang dan perginya hanya seperti bayangan. Aku belum

yakin ada manusia demikian lihai tapi setelah sekarang aku

menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mau tidak mau aku

harus mengakui memang Kim Coa Siancu ada begini !"

berbareng ia menunjukkan jempolnya.

Tan Eng Sian cemas hatinya. Pikirnya, bagaimana ia bisa

dapat pulang barangnya yang sangat berharga itu di tangan

seorang yang sangat lihai ?

"Kalung kumala itu ada sangat berharga, bagaimana kau pikir

?" tanya Eng Sian.

 

"Aku tahu, kalau tidak, bagaimana aku berusaha untuk

memilikinya ?"

Tan Eng Sian manggut-manggut. "Sekarang." katanya.

"Kalung kumala ada di tangan Kim Coa Siancu, apakah kau

tidak ada niat untuk merebutnya kembali ?"

"Itu bukan pekerjaan mudah." sahut si Kuda Terbang. "Aku

harus runding dulu dengan teman-temanku, tentang

bagaimana baiknya."

"Bagus ! Marilah kita berlomba, siapa yang dapat merampas

pulang lebih dulu."

"Baiklah !" sahut si Kuda Terbang, berbareng ia pun lantas

ngeloyor dari situ.

Tan Eng Sian pun lantas bekerja, mengubur mayatnya Loan

Giok dan Coan Sim dengan diam-diam di belakang rumahnya

yang terdapat kebun yang rindang.

Dengan begitu, maka Tan Eng Sian tidak perlu lagi berurusan

dengna yang berwajib.

Kalung kumala yang menjadi rebutan itu, kecuali harganya

sukar dinilai, juga mempunyai khasiat untuk kesehatan. Siapa

yang pakai kalung itu, katanya tidak akan didatangi penyakit

dan badan akan selalu merasa sehat dan segar.

Bagaimana Kut-nia Hui-ma Sie Toan Leng dapat tahu adanya

kalung kumala itu dirumahnya Tan Eng Sian, sebabnya karena

Gouw Tiang Su yang memberitahukan padanya.

 

Kalau digunakan kekerasan, si Kuda Terbang menyangsikan

kepandaiannya. Maka si Kuda Terbang berpikiran

menggunakan jalan halus yaitu menjadi pembantu Tan Eng

Sian, dalam rumah diam-diam ia menyelidiki dimana

disimpannya barang permata itu. Tuakng kebun Tan Eng Sian,

ia sogok suruh berhenti bekerja. Maka dengan mudah si Kuda

Tebang diterima bekerja di rumahnya keluarga Tan.

Sudah dua minggu ia lakukan penyelidikan dengan sabar,

tidak juga ia berhasil.

Kebetulan Tan Eng Sian tidak ada dirumah, ia pergoki nyonya

rumah sedang main gila dengan Coan Sim. Menggunakan

kesempatan ini, ia berhasil menggertak Loan Giok dan

menemukan barang permata yagn dicarinya sekian lama. Tapi

dasar bukan miliknya, tiba-tiba muncul Kim Coa Siancu.

Barang yang sudah ada ditangannya dipindah tangan oleh

Kim Coa Siancu dengan demikian mudahnya.

Kim Coa Siancu datang ke rumahnya Eng Sian pun

bermaksud hendak memiliki kalung kumala karena tertarik

dengan khasiatnya untuk kesehatan. Kiranya barang itu

sebenarnya adalah milik seorang pangeran Boan yang

ternama. Lantaran kehilangan barangnya itu, ia telah membuat

pengumuman. Barang siapa yang dapat mengembalikan

kalung kumala itu akan diberi hadiah besar atau pangkat

dalam pemerintahan. Rupanya pangeran itu sangat

berpengaruh, maka dengan mudah dapat menjanjikan pangkat

pada siapa yang dapat mengembalikan barangnya yang

sangat berharga itu. Kim Coa Siancu dapat tahu hal kalung

kumala itu berdasarkan pada pengumuman itu.

Tan Eng Sian adalah jago silat ulung, banyak pengalamannya

 

dan banyak kenalannya. Seperti katanya si Kuda Terbang Sie

Toan Leng, pikirnya, memang tidak mudah dengan sendirian

saja berurusan dengan Kim Coa Siancu. Maka itu, ia sudah

kumpul kawan-kawannya yang dianggap paling akrab dan

dapat mengawal menyatroni Lembah Ular.

Keputusan Tan Eng Sian pergi dengan diantar oleh tiga orang

kawannya.

Lembah ular belum dapat dicari, Tan Eng Sian sudah harus

menyerahkan jiwanya dalam perjalanan sebagaimana yang

sudah diceritakan di atas.

Demikian Kim-kauw-cian Lie Tiong Kiat menutur pada Louw

Bin Cie.

Kita kembali pada Lo In yagn tinggal dalam rumahnya Liu

Wangwee.

Melihat Bwee Hiang berubah menjadi pendiam dan selalu

berduka sejak ayahnya meninggal dunia, membuat Lo In

menjadi tidak betah lama-lama dalam rumah orang hartawan

itu. Wataknya paling suka bergembira, tidak memusingkan hal

yang dihadapi, apalagi untuk urusan yang sudah lewat.

Makanya, ia paling cocok dengang Eng Lian.

Tapi kemana perginya enci Lian ? Lo In sering-sering

menanya pada dirinya sendiri.

Mengingat bahwa dia keluar lembah, meninggalkan rajawali

dan kawan-kawan keranya disebabkan untuk mencari Eng Lia,

maka dalam pikirannya kini selalu berbayang Eng Lian yang

lincah jenaka.

 

Pada suatu sore ia berkata pada Bwee Hiang : "Enci Hiang,

sudah lama aku berada disini. Maka besok pagi aku akan

teruskan perjalanan mencari enci Lian. Harap enci Hiang baikbaik

saja di rumah sampai aku sudah menemui enci Lian.

Tentu akan datang pula kemari untuk menyambangmu lagi."

Bwee Hiang terkejut mendengar kata-kata Lo In yagn tidak

diduga-duganya.

"Adik kecil, apa kau tega meninggalkan encimu begitu saja ?"

ia menanya.

"Semua urusan sudah beres, tidak halangannya kalau aku

meninggalkan enci sekarang. Aku toh sudah janji akan

kembali kalau nanti sudah menemui enci Lian."

"Tapi bukan itu yang kumaksudkan."

"Habis, aku harus berbuat bagaimana ?"

"Sucoan Sam-sat adalah musuh besarku." kata Bwee Hiang,

romannya beringas ketika ia menyebutkan 'Sucoan Sam-sat',

ia meneruskan, "Hutang darah pada keluarga Liu harus aku

tagih berikut dengan bunganya !"

"Nah, tagihlah ! Mudah saja, bukan ?" kata Lo In wajar, bukan

melucu.

"Adik kecil, kau kelewatan...." Bwee Hiang tiba-tiba menutup

mukanya dan menangis.

Lo In menjadi heran. Ia berkata, "Enci Hiang, kau jangan

 

menangis. Aku jadi tidak enak melihatnya."

"Adik kecil, kau tahu aku tidak berdaya terhadap mereka." kata

Bwee Hiang seraya susut air matanya dan terisak-isak. "Aku

harus belajar kepandaian lagi, baru aku akan mencari mereka.

Dengan kedua tanganku akan kubereskan jiwa mereka !"

"Oh, mau tambah kepandaian ? Mudah saja. Cari guru yang

pandai dan belajar sungguh-sungguh, bukankah itu jalan yang

paling baik. Untuk apa enci menangis ?"

"Adik kecil, kau sungguh kelewatan terhadap encimu...." si

gadis menangis makin menjadi, ia sangat menyesalkan Lo In.

"Enci Hiang, jangan menangis. Apa salahnya omonganku

yang barusan ?"

Bwee Hiang tundukkan kepala seraya masih terisak-isak

menangis.

Lo In kebingungan karena kata-katanya disalahkan. Ia

menanya, "Habis, bagaimana aku harus berbuat supaya hati

enci senang ?"

"Adik kecil." sahut Bwee Hiang sambil menyusut air matanya.

"Kepandaianmu di atas jago silat yang mana juga, kenapa kau

begitu pelit untuk mengajarkan satu dua jurus pada encimu

untuk bekal bagiku untuk menuntut balas ?"

"Hehehe, jadi enci mau angkat aku jadi guru ?"

Bwee Hiang mengangguk, ketawa mesem ia melihat lagak si

bocah yang lucu.

 

"Mana bisa begitu." Lo In kata. "Usia enci jauh lebih banyak

dariku, bagaimana aku lebih muda boleh menjadi gurumu.

Hahaha...." Lo In tertawa terbahak-bahak.

Bwee Hiang jengkel. Ia merasa seperti dipermainkan si bocah

saja, suaranya agak kaku ketika ia berkata, "Adik kecil, kalau

kau tiadk mau ajari encimu, aku juga tidak hendak memaksa !"

"Bukan begitu, aku masih kecil masa harus jadi guru ?"

"Tak usah main guru-guruan, kalau kau mau ajari encimu !"

"Hehehe, enci marah ya ?" Lo In menggodai si gadis yang

sedang cemberut.

"Memang, memang aku marah !" sahutnya kaku.

"Senang aku melihatnya kalau enci Hiang marah !"

Gemas hatinya Bwee Hiang mendengar ucapan Lo In. "Bagus,

kau mau suruh aku mati kejengkelan, bocah !" bentak Bwee

Hiang.

Lo In ketakutan melihat enci Hiang benar-benar marah. "Enci

Hiang, kau jangan marah." kata Lo In cepat melihat gelagat

jelek.

"Hm, kau senang melihat aku marah, kenapa sekarang suruh

aku jangan marah ?"

"Bukan lantaran itu, enci Hiang !"

 

"Habis, lantaran apa kau senang ?"

"Lantaran wajah enci, makin marah kelihatan makin cantik.

Aduh !"

Lo In tiba-tiba mengaduh karena tangan Bwee Hiang yang

lemas halus tiba-tiba menyambar kupingnya, dipuntir agak

keras.

"Nah, rasakan hadian dari mulut bocormu !" kata Bwee Hiang.

Ketawa si gadis karena serangan mendadaknya berhasil

menemui sasarannya.

Lo In sudah sangat lihai. Sebeanrnya, tidak semudah yang

dipikirkan Bwee Hiang, si bocah kena dijewer kupingnya. Ia

melihat gerakan si gadis tapi ia antapkan supaya si gadis

merasa senang, malah ia berteriak mengaduh lagi sehingga

benar-beanr membuat Bwee Hiang merasa puas dengan hasil

gerakannya yang tiba-tiba.

Lo In pura-pura kesakitan, kedua tangannya memegangi

telinganya yang dipuntir tadi, dengan gerak griknya yang lucu

ia berkata, "Enci Hiang, kau betul kejam. Masa kuping orang

dipuntir hampir copot ? Sakit tuh !"

Mau tidak mau Bwee Hiang jadi ngikik ketawa geli.

Sejak itulah Bwee Hiang belajar kepandaian pada Lo In.

Selama bergaul dengan Lo In, Bwee Hiang dapat menyelami

watak si bocah yang selalu bergembira, seakan-akan dalam

alam pikirannya tidak ada kata-kata 'sedih' atau 'duka'. Ia

senang bersenda gurau, ketawa-ketawa riang, bersentuhan

 

badan saking sengitnya bercanda. Semua itu terjadi karena

wataknya yang polos, bukan timbul karena kelakuan kurang

ajar yang disengaja.

Bwee Hiang yang sudah 'matang' dalam usia dewasa, mulamula

merasa jengah mengimbangi gerak gerik Lo In,

ketakutan kepada kedua tangannya dipegang, ditarik untuk

diajak berjoget di lantai ruangan atau dilapangan berlatih, tapi

belakangan setelah menyelami watak polos dari si bocah, ia

tidak ragu-ragu lagi untuk menyerah di ajak bergembira ria

oleh Lo In. Berpegangan tangan dan bersentuhan badan,

sudah tidak menjadi soal lagi bagi si gadis. Lantaran ini juga,

si bocah jadi betah berkumpul dengan Bwee Hiang.

-- 20 --

Eng Lian untuk sementara seperti terlupa saja dalam alam

pikirannya Lo In karena Bwee Hiang dapat diajak bermain

seperti juga si bocah bermain-main dengan si dara cilik yang

sekarang sudah berubah nama menjadi Kim Coa Siancu yang

menyeramkan sepak terjangnya.

Bwee Hiang adalah gadis berbakat, cerdas otaknya untuk

memahami sesuatu pelajaran terutama dalam hal ilmu silat,

yang ia rindukan mendapat kepandaian tinggi untuk dengan

tangannya sendiri ia dapat menuntut balas kepada musuhmusuhnya.

Di bawah didikan si 'guru cilik', dalam tempo pendek

kepandaiannya Bwee Hiang meningkat berlipat kali,

lwekangnya hebat hingga jurus 'Bwee hiang boan wan' atau

'Harumnya bunga bwee memenuhi taman' yang si nona paling

suka mainkan menjadi sangat lihai. Pedangnya yang menari

 

nari diisi dengan tenaga dalam yang kuat, membuat senjata itu

menyambar-nyambar laksana kilat cepatnya mengarah

tempat-tempat yang berbahaya di tubuh lawan. Kenyataan ini

Bwee Hiang rasakan ketika berlatih dengan Lo In. Si 'guru cilik'

minta supaya si gadis menyerang dengan sungguh-sungguh

seperti menghadapi musuh yang sungguhan, ia lalu mainkan

jurus 'Bwee hiang boan wan' yang hebat luar biasa hingga

ketika latihan dihentikan, tampak si gadis air mukanya

menyungging senyum puas.

Bwee Hiang tadinya seorang gadis yang keras hati, agak

angkuh. Maklumlah puterinya seorang hartawan. Tidak mudah

untuk mengundang ketawanya yang mahal. Tapi, malah ia

kenal si bocah berwajah hitam, malah belakangan

pergaulannya makin rapat dengan guru angkatnya Lo In

sebagai 'guru ciliknya', dalam tempo satu setengah tahun si

gadis menjadi berubah segala-galanya. Kepandaian silatnya

meningkat berlipat ganda, wataknya juga jadi ketularan watak

Lo In yang selalu bergembira ria.

Setelah Lo In merasa Bwee Hiang sudah dapat dilepas dalam

suatu pertarungan kelas wahid, untuk mencari pengalaman, si

bocah usulkan untuk Bwee Hiang ikut berkelana dengannya

dalam dunia Kangouw. Ia sendiri tidak tahu bagaimana

sebenarnya yang dinamai dunia Kangouw, tapi tujuan

pertamanya adalah hendak mencari tahu halnya Eng Lian,

entah dimana enci Liannya itu sekarang.

Ketika mendengar usulnya Lo In, cepat Bwee Hiang

menyahut, "Memang aku sedang pikirkan untuk keluar cari

pengalaman, kebetulan kau membuka jalan. Mari, kapan kita

berangkat, adik kecil ?"

 

"Bagaimana dengan rumah yang begini besar dan pabrikpabrik

kalau enci tinggalkan ?" balik menanya Lo In yang

menaruh perhatian juga rupanya selama ia diam satu tahun

lebih dengan Bwee Hiang.

"Adik Hiang, kau perhatikan juga soal rumah dan pabrikku, itu

bagus." berkata Bwee Hiang. "Semua itu mudah saja aku atur.

Nanti aku angkat pamanku Liue Keng Sin menjadi kuasa

penuh untuk mengurusnya.

"Kalau begitu." sahut Lo In ketawa, "Kapan saja enci sudah

bereskan urusan, sehingga boleh kita berangkat."

Bwee Hiang setuju. Pada malamnya si nona mengajak Liu

Keng Sin berunding, ternyata ia tidak keberatan diserahi

pertanggungan jawab yang besar sebab memang sejak Liu

Wangwee mati, ia meamng sudah diserahi kuasa atas semua

kekayaan hartawan Liu.

Setelah membereskan urusannya, Bwee Hiang pada hari

berikutnya telah mengajak Lo In berangkat untuk berkelana.

"Bagus !" Lo In kegirangan. "Mari kita berangkat !" kata Lon In,

nampak Bwee Hiang sudah berdandan rapi, ketawa nyengir ke

arah si gadis.

"Apa yang kau ketawai, anak kecil ?" tegur Bwee Hiang.

"Kau kelihatan lebih... eh, eh, jangan...." Lo In terputus

omongannya karena dengan serentak tangannya si noan

kelihatan berkelebat hendak menjewer kupingnya tatkala ia

mengatakan 'lebih'...

 

Bwee Hiang seolah-olah sudah tahu kemana arahnya katakata

nakal si bocah.

"Tahu takut kok !" Bwee Hiang kata, ketawa manis.

"Sejak tempo hari telingaku dipuntir." kata Lo In, "Sampai

sekarang rasanya masih meresap dalam jantung. He he he...."

Kata-kata si bocah dengan sewajarnya, tidak mengandung

apa-apa tapi Bwee Hiang tanpa merasa wajahnya berubah

semu merah sehingga ia mau cekikikan tidak jadi.

Si gadis artikan kata-kata Lo In seperti yang hendak

membilang,"Jiwamu adalah tanda kasih yang kusimpan dalam

hari sampai sekarang." Cuma si bocah memakai kata-kata

yang tidak langsung hingga arti sebenarnya tersembunyi di

dalamnya.

Lo In sekarang sudah gede, umurnya sudah 16 tahun, tidak

bisa disamakan dengan 2 tahun berselang dalam usia 14

tahun kata-katanya ngawur, demikian pikirnya Bwee Hiang.

Apakah si bocah dalam perjalanan nanti kurang ajar

terhadapnya ? Ia jadi ragu-ragu untuk berangkat.

"Enci Hiang." berkata Lo In. "Dalam perjalanan kita ini, kalau

kita menemui hotel, kita pesan 2 kamar. Kalau kebetulan kita

nginap di hutan, aku nanti tidur di pohon dan kau dibawahnya.

Bukankah ini menyenangkan perjalanan kita ?"

Bwee Hiang tercengang, "Baik, baik, bagus..." sahut Bwee

Hiang ngawur.

Ia agak gugup dalam menghilangkan kecurigaannya tadi.

 

Kiranya ia curiga tanpa beralasan. Si bocah ada demikian

sopan, dengan dalih apa ia menuduh si bocah akan berbuat

sesuatu yang kurang ajar terhadapnya.

Kata-kata Lo In itu membuat kesangsian Bwee Hiang tersapu

pergi tanpa bekas.

Dengan gembira ia mengajak si bocah mulai meninggalkan

rumahnya.

Ketika sampai di pintu pekarangan, tiba-tiba Bwee Hiang

merandek dan memandang si bocah dengan senyumannya

yang manis.

"Masih ada yang ketinggalan ?" tanya Lo In.

"Bukan itu." sahut Bwee Hiang. "Aku lihat kau tidak membekal

senjata. Bagaimana nanti kalu kita ketemu orang jahat ?"

Lo In tertawa terbahak-bahak. Katanya, "Enci Hiang, kau

masih sangsikan aku si bocah dengan tangan kosong dapat

menundukkan lawan ?"

"Bukan tidak percaya." sahut Bwee Hiang.

"Paling baik kalau kau membawa senjata. Aku pikir pedang

adalah benda yang paling mudah untuk dibawa-bawa.

Bagaimana kalau kau bawa pedang ayahku ?'

Lo In geleng kepala.

Bwee Hiang tahu Lo In kepala batu juga, maka ia tidak

memaksa dan ia berkata, "Kalau begitu, mari kita berangkat !"

 

Bwee Hiang berkata seraya gerakkan kakinya diikuti oleh Lo In

yang segera sudah berada disisinya untuk diajak omongomong.

Seperti burung yang terlepas dari kurungan, tampak Bwee

Hiang amat gembira melakukan perjalanan berkelana.

Perjalanan mereka sangat menarik perhatian umum yang

berlalu lalang lantaran wajah mereka yang sangat menyolok

perbedaannya. Bwee Hiang yang cantik lemah gemulai

sedang Lo In wajahnya hitam legam kelihatannya lucu.

Kalau banyak yang lalu lalang sering tersenyum memandang

ke arah mereka, hanya yang memperhatikannya Bwee Hiang

sedang Lo In acuh tak acuh dengan perasaan heran mereka.

Biasanya kalau apa-apa yang ganjil suka mendapat

gangguan, begitulah terjadi dengan perjalanan muda mudi itu

yang belum lama meninggalkan kampungnya.

Ketika 2 lie lagi sampai di dusun Suyang-tin, Lo In dan Bwee

Hiang telah kesamprokan dengan rombongan pemuda

berandal. Kira-kira ada lima belas orang, mereka smeua pada

membekal senjata tajam. Ada yang membawa pedang, golok

dan sebagainya. Rupanya mereka barusan habis latihan ilmu

silat.

Ketika mereka melewati Lo In dan Bwee Hiang, satu diantara

dari mereka yang kepalanya gundul nyeletuk, "Sayang, gadis

begitu cantik dikawal oleh satu bocah hitam. Coba yang

temani aku, tentu akan lebih pantas ! Hahaha...."

 

"Ciang Hong, kau jangan suka usilan !" mencegah temannya

yang jalan di belakang, rupanya adalah pemimpin rombongan.

Pemuda yang dipanggil Ciang Hong menoleh ke belakang,

bukan ke arah si pemimpin ia memandang tetapi ke arah

Bwee Hiang yang kebetulan mengawasinya. Matanya

mengedipi Bwee Hiang hingga si gadis menjadi mendongkol.

Memang sejak mendengar kata-kata Ciang Hong tadi si gadis

sudah gusar, sekarang ia melihat sikap pemuda tersebut yang

makin kurang ajar, bukan main marahnya.

Si gadis meludah, tanda muak melihat lagaknya Ciang Hong.

Melihat itu, Ciang Hong tidak senang. Ia keluar dari

rombongannya yang sedang jalan, menghampiri Bwee Hiang

yang seketika itu juga sudah sampai di depannya sebab

memang sama-sama mau ke dusun Suyangtin.

"Kau meludah untuk apa, hah !" bentak Ciang Hong,

tangannya berbareng nyelonong mau menyolek wajah Bwee

Hiang yang cantik.

Bwee Hiang tidak banyak cakap. Begitu tangan si ceriwis

sampai, kepalanya mengelak sedikit berbareng tangan Ciang

Hong ditangkap. Cukup dengan satu sentakan si ceriwis

nyelonong nyungsep dalam gerombolan rumput alang-alang di

tepi jalan.

Kawan-kawannya Ciang Hoang hentikan jalannya melihat

Ciang Hong sekali gebrak dipecundangi si gadis. Sebentar lagi

mereka lihat Ciang Hong sudah keluar lagi dari gerombolan

alang-alang. Dengan gusar ia membentak, "Kau berani

 

menghina Tong-sinoya ? aduh ! aduh !... " omongnya ditutup

dengan kata-kata mengaduh.

Kiranya Tong Ciang Hong kena dua tamparan dari Bwee

Hiang hingga beberapa giginya rontok dan mulutnya

berlumuran darah. Ketika ia semprotkan, tiga buah giginya ikut

lompat keluar dibarengi dengan darah.

"Kau berani kurang ajar pada nonamu ? Hmm ! Itulah

bagiannya...." kata Bwee Hiang dengan gusar. "Adik kecil,

mari kita jalan !" Ia mengajak Lo In yang tinggal menonton saja

bagaimana sang enci menghajar orang yang iseng mulutnya.

"Perlahan jalan !" tiba-tiba Bwee Hiang mendengar orang

berkata di belakangnya.

Ketika ia menoleh kiranya adalah teman Ciang Hong yang

berdiri di depannya sambil ketawa haha hihi macam monyet

kena terasi.

"Oo, kau mau bela kawanmu itu ? Hmm !" kata Bwee Hiang.

"Terang aku musti bela kawanku, aku mau lihat kau bisa pergi

dari sini atau tidak !"

Si gadis sangat mendongkol, matanya melirik pada Lo In tapi

si bocah diam saja. Ia hanya kedipkan matanya seperti

menganjurkan 'lawan'.

Lo In memang sengaja tidak mau turun tangan, mau melihat

bagaimana kemajuan si gadis selama dididik olehnya.

Sang kawan mengerti akan maksud si bocah wajah hitam.

 

"Nah, marilah kita berkelahi !" si gadis kemudian menantang.

Pemuda itu tidak sungkan-sungkan lagi. Ia keluarkan tipu

silatnya 'Burung elang menyambar kelici'. Dua tangannya

dipentang bagaikan kilat menyambar ia menubruk Bwee Hiang

tapi si gadis sudah lenyap dari pandangannya. Tahu-tahu ia

rasakan pinggulnya ditendang dari belakang hingga ia jatuh

ngeyungsep, mukanya memakan tanah jalanan yang banyak

batu kerikilnya.

Kawan lainnya datang memburu, juga dengan sekali tarikan

tangan, lawan Bwee Hiang sudah mengaduh-aduh kesakitan,

berkutatan dalam gerombolan rumput alang-alang kemana

barusan tubuhnya si gundul nyungsep.

Melihat si nona ada demikian tangkas, kawan-kawannya yang

lain datang mengeroyok.

"Jangan, enci Hiang." berkata Lo In ketika ia melihat si gadis

hendak menghunus pedangnya hingga ia masukkan lagi. Ia

mengerti sang kawan menyuruh ia lawan banyak orang itu

dengan tangan kosong.

Bwee Hiang gunakan ajaran Lo In menggunakan 'Bu eng sin

kang' (Tenaga sakti tanpa bayangan), bagi Bwee Hiang sudah

kelebihan untuk melayani 15 pemuda yang mengeroyok

dirinya, meskipun diantara mereka ada yang menggunakan

senjata, membokong dirinya. Tubuhnya si nona berputaran

hingga kawanan pengeroyok tak dapat menyentuh meskipun

ujung bajunya saja.

Saban-saban bila mereka kira si nona tak bisa lolos dari

 

jambretan atau pukulan, dengan mendadak si nona seperti

menghilang, tahu-tahu sudah ada di belakangnya. Tidak

heran, kalau mereka berkelahi sambil berteriak-teriak

mengutuk Bwee Hiang hingga si nona merasa tidak enak

mendengar caci maki mereka.

Lo In kuatir enci Hiangnya melakukan pembunuhan, melihat si

gadis beringasan, maka ia berseru, "Cukup, enci Hiang !"

Lantas, beberapa kali si nona berkelebat. Maka 15 pemuda

berandalan itu semuanya rebah kena ditusuk oleh Bwee

Hiang.

Sambil berseri-seri si nona menghampiri si bocah wajah hitam

sambil menarik tangannya, ia berkata, "Adik kecil, mari kita

jalan. Aku kuatir disini aku bisa membunuh orang !"

Lo In memahami hati si gadis yang amat mendongkol kepada

mereka yang mengeroyoknya karena sudah mengeluarkan

kata-kata yang tidak enak didengar oleh si gadis. Maka begitu

tangannya ditarik diajak jalan, Lo In sudah lantas saja

mengikuti tanpa banyak rewel. Dalam perjalanan Bwee Hiang

berkata, "Adik kecil, ajaranmu hebat benar ! Hihihi, sekali

gebrakan sudah menjatuhkan 15 orang !"

"Jangan bangga dulu enci Hiang. Mereka itu adalah jago kelas

tiga, paling banyak kelas dua. Belum dapat diukur kepandaian

enci. Eh, enci Hiang !"

Tiba-tiba si bocah mendorong Bwee Hiang ke samping hingga

si gadis terhuyung-huyung.

Kurang ajar, pikir Bwee Hiang. Kenapa si bocah main-main

 

begini, mendorong orang sampai terhuyung-huyung. Ketika ia

menoleh, Lo In sedang berhadapan dengan satu kakek yang

jenggot dan rambutnya sudah pada putih semua. Ia

mendengar Lo In berkata, "Kakek tua, tidak seharusnya kau

membokong orang. Kalau kau mempunyai kepandaian, boleh

tantang enciku terang-terangan !"

Bwee Hiang kaget mendengar kata-kata Lo In. Kalau begitu,

barusan Lo In bukan main-main mendorong dirinya sampai

terhuyung-huyung. Ia berbuat demikian untuk menyelamatkan

dirinya dari bokongan jahat. kakek tua itu membokong dengan

senjata apa ? tanya Bwee Hiang dalam hatinya. Matanya

mengawasi ke batang pohon sebab tadi mereka sedang jalan

enak-enak menuju ke arah pohon. Ia lihat disitu tertancap

sebatang panah kecil sampai hampir amblas semua. Rupanya

senjata itu dilepas dengan kekuatan besar sampai menancap

demikian rupa.

Bwee Hiang bergidik. Di samping itu ia merasa bersyukur atas

pertolongan adik kecilnya. Sekarang ia memandang ke arah si

pembokong. Tiba-tiba ia menjadi gusar lalu menghampiri Lo In

yang sedang bertengkar dengan si kakek.

"Adik kecil, dia membokong aku barusan ?" tanyanya lantas.

Lo In menganggukkan kepalanya.

"Hehehe, kakek tua. Kau mau berkelahi denganku ?" tanya

Bwee Hiang.

Si kakek tua hanya mengawasi si nona dengan roman bengis.

"Kalau mau berkelahi, sebutkan dahulu apa lantarannya." si

 

gadis kata dengan tawar.

"Itu sudah dikatakan." menyela Lo In.

"Enci sudah bikin sungsang sumbel anak muridnya maka dia

jadi mendendam hati padamu dan dia mencoba

membokongmu !"

"Hei, kakek tua kalau begitu kau adalah kakek pengecut !"

jengek Bwee Hiang.

"Kau punya kepandaian apa hendak melawan aku ?" tanya si

kakek.

"Hihihi... !" Bwee Hiang tertawa. "Kau tentu tidak punya isi apaapa

makanya kau membokong. Kalau benar-benar satu lakilaki,

kau harus berani lawan aku dengan berhadapan muka !"

Panas hatinya si kakek dikatakan tidak punya isi apa-apa,

maka ia tepuk-tepuk dadanya sambil berkata, "Aku Kie Giok

Tong, jago kenamaan dalam dusun Suyangtin, siapa dalam

dusun ini yang tidak kenal namaku yang kesohor sebagai guru

silat !"

"Hihihi." tertawa Bwee Hiang, ia menggodai, "Jago kampungan

hanya terkenal di dalam kampung saja dan kesukaannya

membokong orang lantaran tidak sanggup menghadapinya

sendiri. Cis, tidak tahu malu !"

Meluap amarahnya Kie Giok Tong. Tanpa banyak cakap lagi,

seketika ia sudah menyerang Bwee Hiang hingga mereka jadi

bertempur. Baru bertempur lima jurus, Kie Giok Tong sudah

empas empis kepayahan. Lo In jadi ketawa geli, kasihan ia

 

melihat si kakek hanya dipermainkan oleh Bwee Hiang, ia

lantas berkata, "Enci Hiang cukup !", berbareng Kie Giok Tong

sudah ditotok roboh oleh si nona.

Rupanya kata 'cukup' yang meluncur dari bibirnya Lo In

seakan-akan kode untuk Bwee Hiang mengakhiri pertempuran

dengan satu kemenangan.

"Adik kecil," kata Bwee Hiang ketika ia datang dekat pada Lo

In. "Brengsek kampung ini kakek sudah hampir mampus

masih mau gerembengi ilmu silatku !"

"Hus ! Jangan omong kasar begitu." Lo In kata sambil ketawa

geli.

"Mari kita jalan !" Bwee Hiang mengajak adik kecilnya.

Kie Giok Tong hanya bisa mengawasi berlalunya dua muda

mudi itu tanpa dapat bergerak dari mendeprok dari tanah.

Kakek she Kie itu memang jagoan dalam dusun Suyangtin. Di

waktu mudanya ia bekerja pada salah satu Piauw kiok

(perusahaan pengawalan barang) ke kota Gukwan, namanya

lumayan juga terkenal sebagai Piauwsu (pengawal antaran

barang). Sudah lima belas tahun ia tinggal di Suyangtin, pada

sepuluh tahun belakangan ia membuka perguruan silat dan

menerima banyak murid.

Pernah datang dua tiga orang yang pandai silat ke dusun

Suyangtin dan bergebrak dengannya, tidak satu yang dapat

menjatuhkan dirinya. Oleh karenanya Kie Giok Tong menjadi

bangga dengan kepandaiannya itu. Ia mengira bahwa

kepandaian silatnya sudah sangat tinggi, ia tidak mengira

 

bahwa kepandaian orang-orang yang mencobanya hanya jago

kampungan saja.

Kini ia dipermainkan oleh hanya satu gadis yang pantas

menjadi jujurnya, malah umurnya kurang lebih dua puluh

tahun, pedih rasa hatinya, ia tidak puas dijatuhkan si gadis, ia

tidak puas dijatuhkan si gadis meskipun kekalahannya itu

adalah wajar.

Ia coba empos tenaga dalamnya untuk membebaskan totokan,

girang ia ketika dapat kenyataan tiba-tia ia sudah bisa gerakan

pula kaki tangannya seperti biasa.

Ia merasa bahwa lwekangnya sangat sempurna dengan

mudah ia dapat membebaskan diri dari totokan tapi ia tidak

tahu, kalau totokan Bwee Hiang hanya totokan main-main saja

ajaran Lo In yang dinamai 'Poan ban tiam hiat' atau 'Totokan

setengah iseng' yang si bocah dapatkan dari buku 'Tiam-hiat

Pit-koat'.

Barusan saja ia bangkit dari mendeproknya, Kie Giok Tong

sudah dikerubungi anak muridnya yang juga sudah bebas dari

totokan Bwee Hiang.

"Gadis itu sangat lihai." berkata Kie Giok Tong setelah ia

menghela napas.

"Suhu, apa tidak baik kita kumpulkan para paman untuk bikin

perhitungan dengan wanita liar itu ?" usul pemuda yang

menjadi kepala rombongan pemuda bergajul yang sudah

dikasih 'rasa' oleh Bwee Hiang.

Kie Giok Tong anggukkan kepalanya, "Tapi, dimana para

 

pamanmu sekarang ?" ia menanya.

Sebelum Kie Giok Tong mendapat jawaban tiba-tiba ia melihat

ada 4 orang yang berlari-larian ke arahnya. Si kakek

mengawasi, ia berkata kepada pemuda yang mengajukan usu

yang ternyata adalah murid kepalanya beranam Cia Kim Seng.

"Kim Seng, kebetulan. Nah, tuh lihat para pamanmu sudah

datang."

Sebentar kemudian 4 orang tadi sudah sampai. Mereka adalah

saudara-saudara angkat dari Kie Giok Tong dan mereka

menamakan dirinya 'Suyangtin Ngo-houw' atau 'Lima harimau

dari Suyangting'. Seram juga kedengarannya, memang juga

menyeramkan bagi penduduk Suyangtin, mereka sangat

menghormati Lima Harimau itu. Suyangtin Ngo-houw tidak

jahta, mereka sebagai pelindung dari dusun, hanya tabiatnya

agak sombong. Maklumlah jago-jago silat kampungan, kalau

merasa dirinya jagoan sudah lantas perlihatkan

keangkuhannya di hadapan penduduk yang lemah.

"Toako, aku mendapat kabar kau dengan keponakan murid

mendapat kesusahan dari seorang wanita liar, apa benar ?"

tanya salah seorang saudara angkat Kie Giok Tong yang

bernama Tan Him yang termasuk nomor tiga dari Lima

Harimau.

"Kabar itu tidak salah." sahut Kie Giok Tong. "Dari siapa

Samte dapat kabar itu ?" balik menanya si kakek she Kie.

"Dari si A Kong yang lari dengan napas tersengal-sengal

mengabarkan padaku." sahut Tan Him. "Aku terkejut

mendengar ada orang yang coba-coba tarik kumis harimau,

segera aku beritaku pada jiko, sute dan ngote. Maka kami

 

berempat lanas menyusul kemari. Dimana sekarang adanya

wanita liar itu ?"

"Samte." kata Kie Giok Tong seraya geleng-geleng kepala.

"Aku belum pernah menemukan tandingan sejak aku

berkelana di dunia Kangouw maupun tinggal dalam kampung

kita disini. Kalian semua toh tahu, bukan ? Tapi kali ini aku

ketemu gadis liar itu, cuma dalam lima jurus saja aku

dijatuhkan. Benar-benar aku merasa sangat penasaran !"

Terkejut hati empat saudaranya. Mreka mendengar si jago tua

dirobohkan dalam tempo lima jurus, itu hebat sekali ! Kie Giok

Tong, meskipun usianya sudah lanjut sangat alot kalau

bertempur, napasnya panjang dan sangat tangkas. Mereka

sering saksikan manakala mereka sedang berlatih sialt.

"Gadis itu sangat lincah, serangan-seranganku yang

mematikan dielakkan dengan berkelit ke sana sini. Coba

kalian pikir, apakah ini tidak menjengkelkan ? Dalam sengit,

aku keluarkan serangan dengan tipu 'Kim Liong seng thian'

(Naga emas naik ke langit) yang seperti kalian tahu, jurus ini

sangatlah ampuh untuk menjatuhkan lawan, tapi.... tiba-tiba

kurasakan kesemutan ketika dia menowel pundak kananku.

Kiranya towelan itu bukan sembarang towel sebab dari

kesemutan aku jadi lemas dan jatuh terduduk di tanah. Dia

telah menotok lo-ji-hiat, halan darah di pundak kanan. Syukur

lwekangku tinggi hingga aku dapat membebaskan totokan

kejinya itu..." Demikian si kakek menutur, tampak ia sangat

bangga ketika mengatakan lwekangnya sangat tinggi dapat

membebaskan totokan Bwee Hiang.

Dasar jago kampungan, seperti katak (kodok) di dalam

tempurung yang tidak bisa menilai kepandaian orang

 

seberapa tingginya, hanya menyangka lwekannya yang hebat.

Ia tidak insyaf bahwa Bwee Hiang sudah bermurah hati

kepadanya, hanya menotok secara main-main saja.

"Memang, kalau bukan toako memiliki tenaga dalam yang

tinggi, tidak mudah membebaskan diri dari totokan jahat !"

memuji Song Cie Liang, jiko dari Lima Harimau hingga si

kakek she Kie senang mendengarnya.

Tinggal Cia Kim Seng saling berpandangan dengan kawankawannya.

Mereka heran si kakek mengatakan dengan

menggunakan lwekangnya dapat membebaskan totokan

orang sedang apa yang mereka alami, totokan itu bebas

dengan sendirinya, tidak lama setelah mereka dirobohkan oleh

Bwee Hiang. Tapi karena mereka percaya akan

kepandaiannya sang Suhu (guru) maka mereka juga tidak mau

mengatakan apa-apa.

"Sekarang, kemana perginya wanita liar itu ?" tanya Teng

Hauw, si nomor empat dari Lima Harimau.

"Aku kira mereka belum pergi jauh dari kampung kita." sahut

Kie Giok Tong.

"Mereka, toako kata ? Apa gadis itu ada temannya ?" Tan Him

menanya.

"Ya, satu bocah berwajah hitam bagai pantat kuali." sahut si

kakek.

"Cuma satu bocah, apa artinya. Mari kita susul !" mengajak

Song Cie Liang.

 

Rombongan pemuda bergajulan itu sekarang ditambah

dengan Suhu dan empat pamannya pergi menyusul. Mereka

besar hatinya sebab dengan tambahan tenaga yang sanat

berarti itu mereka harap dapat membalas hinaan yang mereka

derita.

Baru saja mereka hendak berangkat, tiba-tiba melihat seorang

anak tanggung berlari-lari ke arah mereka. Cepat juga lari

anak itu.

"Itulah si A Kong yang datang !" kata Tan Him

Yang lain-lainnya juga sudah segera kenali si A Kong, anak

tanggung yang biasa dipakai sebagai mata-mata oleh

Suyangtin Ngo-houw. Anak itu cerdik dan gesit, maka ia

sangat disayang oleh Lima Harimau dari Suyangtin.

"A Kong, kau datang tergopoh-gopoh. Ada kabar penting apa

hendak disampaikan pada kami ?" tanya Kie Giok Tong

setelah anak itu sudah berada di depan mereka.

Dengan masih sengal-sengal napasnya, A Kong menyahut,

"Toa-loya sekarang ada di rumah makan An Hok sedang

makan minum bersama si bocah muka hitam !"

"Bagus, kerja kau baik sekali A Kong." memuji Kie Giok Tong.

Senang kelihatannya anak itu mendapat pujian toako dari

Lima Harimau.

Kie Giok Tong lantas berunding dengan empat saudaranya.

"Kalau kita ramai-ramai masuk ke dalam rumah makan, kita

 

sebagai pengacau." Kie Giok Tong menyatakan pada saudarasaudaranya.

"Bagaimana kalau kita memencar ?"

"Maksud toako bagaimana ?" tanya Song Cie Liang, si Jiko.

"Kita saja berlima yang masuk, sedang Kim Seng dan

saudara-saudaranya boleh menunggu di sebelah luar. Kalau

sampai terjadi keributan dengan lawan, kita pancing lawan

keluar. Di situ kita keroyok ramai-ramai, bukankah ini bagus ?"

"Bagus, bagus, kita turut pikiran toako." memuji Tan Him.

Sesampainya di sana, Ngo-houw lihat si gadis sedang ketawaketawa

gembira dengan si bocah muka hitam. Diam-diam

mereka nyelusup masuk dan ambil meja sedikit jauh dari meja

dimana Lo In dan Bwee Hiang tengah menikmati barang

hidangannya.

Mereka terus menerus pasang mata pada dua tamu dari luar

dusun Suyangtin itu.

Diam-diam empat saudaranya Kie Giok Tong memandang

enteng pada Bwee Hiang yang kelihatannya tidak ada apaapanya

yang harus ditakuti. Romannya yang cantik

menyinarkan welas asih malah. Bagaimana seorang dara

yang lemah gemulai itu dapat memiliki kepandaian yang hebat

sehingga toakonya dalam lima jurus sudah digulingkan ?

"Enci Hiang, kau lihat kelihaian aku." tiba-tiba Ngo-houw

mendengar Lo In berkata pada Bwee Hiang. Mereka lihat,

berbareng dengan kata-katanya, si bocah muka hitam

tangannya memegang poci arak. Mulut poci ditegakki ke atas.

 

"Mau apa dia ?" tanya Ng-houw dalam hatinya masing-masing.

Belum sempat mereka menduga apa-apa, sekonyongkonyong

mereka lihat meluncur keluar arak dari dalam poci,

naik ke atas kira dua kaki tingginya. Arak itu diatas dapat

bertahan dua menit lamanya sehingga arak itu tidak jatuh

diatas meja. Setelah itu, arak itu nyerosot masuk lagi ke mulut

poci, tidak ada setetes pun yang berlumuran jatuh di atas

meja.

Itu suatu pertunjukkan yang tidak mudah sebab hanya dengan

lwekang yang sudah sempurna saja, dapat dilakukan. Lo In

unjuk kepandaian ini bukan hendak membanggakan

kepandaiannya, hanya hendak membikin ngeri Suyangtin Nghouw

tanpa kekerasan. Diam-diam Lo In sudah tahu

kedatangannya Kie Giok Tong bersama empat temannya,

maka ia kisiki Bwee Hiang untuk belaga pilon akan kehadiran

mereka dan Lo In menjatakan ia hendak tundukkan mereka

dengan kepandaiannya yang istimewa.

Dasar dogol, lima jago kampungan itu benar kagum melihat

caranya Lo In bermain arak tapi mereka mengira bahwa si

bocah wajah hitam itu hanya pandai main bersulap saja, lain

tidak ! Sebentar Lo In kasih pertunjukan kedua. Ia pegang

mangkok kosong, lalu diangkat ke atas. Pantat mangkok ia

sanggah dengan sumpit, tahu-tahu mangkok sudah terputar,

sebentar naik sebentar turun tapi tak lolos dari sebatang

sumpit yang ada di tangannya Lo In.

Ini juga suatu pertunjukan lwekang yang dahsyat. Sebaliknya

juga, ini dianggap oleh kawanan dogol itu si bocah hanya main

sulap saja. Sedang mereka hendak ketawa berkakakan, tibatiba

matanya pada terbelalak kaget ke arahnya Lo In.

 

Saat itulah yang membuat mereka kagum bukan main.

Lo In setelah bikin mangkok berputar turun naik disanggah

oleh sebatang sumpitnya, tiba-tiba tangan kirinya menyambuti

mangkok yang turun berbareng sumpit di tangan kanannya

melesat ke atas. Terdengar suara 'ngik !' disusul dengan

jatuhnya suatu benda dari atas. Kiranya yang jatuh itu adalah

seekor tikus yang jatuh dari bubungan rumah, tubuhnya sudah

terbidik oleh sumpitnya Lo In yang barusan meluncur ke atas,

sumpit itu telah jatuh dibawah berbareng dengan badannya si

tikus yang bernasib malang. Kejadian ini bukan permainan

sulap tapi satu kepandaian yang luar biasa hingga Lima

Harimau termangu-mangu duduk di tempatnya. Mereka tidak

bisa mengatakan si bocah main sulap lagi karena dengan

mata kepala mereka sendiri mereka menyaksikan kepandaian

yang luar biasa, yang baru pernah mereka melihat dalam

seumurnya mereka.

Terdengar suara tempik sorak dari para tamu yang melihat

kejadian itu.

"Toako," kata Tan Him, perlahan suaranya. "Selembar

rambutnya saja pun, kita tak dapat mengganggunya."

Kie Giok Tong angguk-anggukan kepalanya, yang lainnya

tinggal membisu.

Meskipun adatnya angkuh, tinggi hati, si kakek orang she Kie

orangnya suka bersahabat. Ia menghormati kepandaian orang

yang ia kagumi, maka juga selama ia jadi Piauwsu banyak

orang-orang gagah yang menjadi sahabat baiknya.

 

Kini ia melihat kepandaian si bocah yang luar biasa, ingin ia

mengikat persahabatan. Karena timbulnya pikirani tu, maka

Kie Giok Tong bangkit dari duduknya, jalan menghampiri meja

Lo In dimana ia menjura kepada muda mudi itu, sambil

berkata, "Siao-hiap dan Li-hiap, terima hormatku, si kakek

yang punya mata tapi tidak melihat !"

Bwee Hiang masih cekikikan ketawa dan mengagumi

kepandaian adik kecilnya, tiba-tiba Kie Giok Tong

menghampiri. Ia mengira si kakek akan cari urusan lagi. Ia

berhenti ketawa dan siap sedia tapi tidak tahunya si kakek

menjura memberi hormat hingga ia dan Lo In jadi tergopohgopoh

membalas hormatnya si orang tua.

Lo In tidak banyak omong, maka Bwee Hiang yang mewakili

bicara, "Lo-enghiong (jago tua), jangan begini merendah.

Karena kami berdua yang muda menjadi tidak enak oleh

kehormatan Lo-enghiong yang berlebihan. Mari, mari duduk

makan sama-sama kami !"

Kie Giok Tong tidak merendah lagi, ia lantas turut duduk di

meja Lo In dan Bwee Hiang. Sebelum membuka suara, ia

menoleh kepada empat saudaranya, tangannya menggapai.

Sebentar lagi mereka sudah datang menghampiri. Dengan

sendirinya mereka pada mengambil kursi dan duduk mengitari

meja makan Lo In.

Bwee Hiang girang melihat taktik Lo In berhasil baik, dapat

dengan halus menundukkan Lima Harimau dari Suyangting.

Bwee Hiang teriaki pelayan, minta tambah hidangan untuk

lima orang yang baru datang. Mereka mula-mula menampik,

tapi Bwee Hiang dengan ramah berkata, "Ini adalah

pertemuan kita yang menggirangkan. Tidak baik kalau kalian

 

Lo-enghiong menampik undangan kami yang muda."

Melihat si nona demikian ramah dan kata-katanya diucapkan

dengan tulus hati, maka Kie Giok Tong dan kawan-kawan

menjadi malu hati, lantas pada menghaturkan terima kasih

atas undangan manis budi dari si gadis yang semula

dipandang musuh alias si gadis liar.

Mereka segera berkenalan satu dengan lain. Bwee Hiang tidak

bicara sewajarnya tentang siapa dirinya, ia hanya mengaku

dengan Lo In adalah kakak beradik dan dalam perjalan

merantau yag kebetulan melewati di dusun itu. Kie Giok Tong

minta maaf untuk kelakuan sendiri dan anak muridnya yang

kurang ajar.

"Ah, itu hanya kejadian biasa." kata si nona merendah. "Kalau

tidak didahului dengan perkelahian, mana bisa kita jadi

bersahabat seperti sekarang ini ?"

Lima Harimau itu makin menghormat kepada si nona yang

bisa bicara merendah dan menunjukan pribadinya yang luhur.

Lo In selama itu hanya tertawa nyengir saja, tidak turut bicara.

Kie Giok Tong yang merasa kagum pada si bocah, telah

membuka mulutnya menanya : "Aku, si kakek merasa kagum

atas kepandaian Siaohiap, sekarang Siaohiap sudah umur

berapa ?"

"Tahun ini aku masuh..... eh, tunggu !" berbareng tubuh Lo In

melesat ke arah pintu, menyusul seorang Thauto yang sedang

jalan keluar.

 

Thauto itu selain membawa buntelan kecil, juga ada

menyelipkan sebilah pedang pendek di bebokongnya.

Bwee Hiang kaget melihat kelakuan si adik kecil, cepat ia

menyusul keluar diikuti oleh Lima Harimau dibelakangnya.

Bwee Hiang lihat jauh disana, disuatu lapangan tampak Lo In

sedang berhadapan dengan si Thauto. Ia menyusul ke sana,

juga Lima Harimau tidak mau ketinggalan mereka dibelakang

si nona. Mereka kepingin tahu, ada urusan apa dengan begitu

tergopoh-gopoh si bocah hitam menyusul si Thauto.

Di sana mereka menyaksikan Lo In sedang bertengkar dengan

si pendeta rambut panjang.

Terdengar Lo In berkata, "Aku tidak perduli kau dapat dari

siapa, tapi itu adalah pedangku. Kau harus mengembalikan

pada pemiliknya !"

Si Thauto yang tiada lain adalah Kim Wan Thauto tertawa

bergelak-gelak mendengar ucapan Lo In, setelah itu ia

berkata, "Anak kecil, jangan kau cari urusan dengan aku.

Pedang orang lain diakui pedang sendiri, belajar dari mana

kau hendak memiliki barang orang ? Kau ngimpi barangkali ?"

"Pedang pendek itu kepunyaan orang yang kuhormati, mana

aku tidak bisa mengenalinya !"

"Dengan bukti apa kau mengatakan pedang itu adalah milikmu

?"

Lo In jadi kebingungan sebab ia memang tidak perhatikan

betul tanda-tanda yang ada pada pedang pendek Liok Sin-she

 

sampai hilang digondol Siauw Cu Leng.

Melihat Lo In termangu-mangu, Kim Wan Thauto berkata,

"Tanpa bisa mengunjuk bukti, mana aku mau mengembalikan

padamu, anak kecil !"

"Tidak, aku mesti dapat kembali." sahutnya tegas.

"Dengan apa kau bisa dapat kembali barangmu ?"

"Dengan kepandaianku !"

Kim Wan Thauto gelak-gelak ketawa. "Anak kecil, dengan

kepandaianmu tersebut tadi dalam rumah makan, hendak kau

merampas pedangku ? Hm ! Jangan harap !'

"Betul kau tidak mau mengembalikannya dengan baik ?"

Diam-diam Kim Wan Thauto waspada menghadapi bocah

hitam ini karena Lo In bukan bocah sembarangan. Bila melihat

lwekang (tenaga dalam) yang dipertunjuki tadi di dalam rumah

makan.

Tadinya ia mau mengeloyor diam-diam, tidak tahunya Lo In

matanya lihai lantas mengenali kalau Kim Wan Thauto di

bebokongnya membawa pedang Liok Sinshe. Lama memang

Lo In memikirkan pedang itu. Ia percaya pedang pendek itu

diambil Siauw Cu Leng ketika ia sedang pingsan di bokong

oleh Ang Hoa Lobo.

Di samping mencari Eng Lian, juga ia saban-saban pasang

mata pada siapa yang dijumpainya, kalau-kalau ia mendapat

lihat ada orang yang membawa pedangnya itu.

 

Dengan cara kebetulan matanya yang lihai dapat melihat

barang itu ada di punggungnya Kim Wan Thauto yang tengah

berjalan keluar dari rumah makan. Seketika itu ia enjot

tubuhnya melesat, menyusul si Thauto.

Maksud Lo In tidak mau mencari urusan, asal pedang sudah

dikembalikan, urusan sudah selesai. Ia tidak kira bahwa yang

diajak urusan adalah Kim Wan Thauto, bukannya jago

sembarangan yang dapat digertak dengan permainannya tadi.

Melihat si bocah bertindak maju, Kim Wan Thauto sudah siap

sedia.

"Thauto kesasar, kau lihat tuan kecilmu ambil pedang !"

berbareng ia menyerang pendeta rambut panjang. Kim Wan

Thauto memang sudah siap, ia mendorong dengan tangannya,

menggunakan lwekang 5 bagian. Tampak Lo In terpental

jumpalitan. Tapi hanya sekejap saja, si bocah sudah ada lagi

di hadapannya hingga ia mau ketawa terbahak-bahak tidak

jadi.

Sekali lagi Lo In menerjang, kali ini Kim Wan Thauto mengibas

dengan bajunya, menggunakan lwekan tujuh bagian.

Tampak si bocah berputar tubuhnya kemudian berjumpalitan

hingga Kim Wan Thauto tidak tahan untuk tidak tertawa

terbaha-bahak. Kepalanya sampai mendongak ke atas saking

enaknya ketawa.

Sekonyong-konyong ia rasakan ada angin berkesiur disisinya.

Ketika ia sadar kena diakali si bocah, tapi sudah terlambat

sebab Lo In sambil ketawa nyengir tampak sedang acungkan

 

pedang pendek yang barusan masih menyelip di

bebokongnya.

"Terima kasih atas kebaikan hatimu untuk mengembalikan

pedangku." kata si bocah dengna gayanya yang lucu.

Kim Wan Thauto cepat meraba punggungnya, memang

pedang sudah tidak ada ditempatnya. Bukan main gusarnya,

pikirnya, masa anak kecil ini begitu hebat kepandaiannya ?

Sebagai jago kawakan, ia tidak rela dipermainkan anak kecil.

Maka seketika itu ia membentak, "Bocah hitam, kalau kau

tidak kembalikan pedang itu, jangan sesalkan Hudyamu

(Budhamu) berlaku kasar terhadap anak kecil !"

"Untuk dapat pulang, mudah saja. Asal kau unjuk kepandaian

!" sahut Lo In, lalu putar tubuhnya dan lari kepada Bwee

Hiang.

Kim Wan Thauto marah bukan main, lantas kepalanya

digelengkan. Sekaligus dua anting-antingnya melesat dari

kedua telinganya, saling susul menyambar ke arah jalan darah

Lo In di pundak dan tengkuk.

"Adik kecil, awas !" teriak Bwee Hiang melihat senjata rahasia

anting-anting Kim Wan Thauto sudah mendekati sasarannya.

Si gadis sampai memeramkan matanya karena ngeri adik

kecilnya akan roboh dihajar anting-antingnya si Thauto yang

gede.

Di saat ia memeramkan matanya, berbareng ia dengar suara

'tring ! tring !' dua kali. Ketika ia membuka matanya lagi, ia lihat

adik kecilnya tengah tersenyum-senyum ke arah Kim Wan

Thauto yang berdiri terpaku di tempatnya.

 

Lo In sangat lihai, tidak semudah yang dikira Kim Wan Thauto

si bocah akan kena dibokong meskipun senjata rahasia

anting-anting emas Kim Wan Thauto belum pernah luput

mengarah sasarannya.

Ketika Bwee Hiang berteriak, Lo In sudah membalik tubuhnya.

Dengan pedang Liok Sinshe, ia hajar dua anting-anting Kim

Wan Thauto hingga keduanya jatuh ditanah, setelah

mengeluarkan suara 'tring ! tring!' dua kali.

Kalau Bwee Hiang merasa bersyukur adik kecilnya selamat,

adalah Kim Wan Thauto di lain pihak merah padam mukanya,

saking gusar rupanya.

"Masih ada lagi ?" Lo In ngeledek Kim Wan Thauto.

"Bocah hitam, kau jangan bangga dulu !" sahut Kim Wan

Thauto seraya merogoh sakunya, kemudian ia mengayunkan

tangannya. Lima anting-anting emas menyambar berbareng

laksana kilat cepatnya, mengarah sasaran atas, tengah,

bawah dan di kanan kiri. Disinilah adanya keistimewaan Kim

Wan Thauto melepas senjata rahasianya sebab lawan yang

diserang dari lima jurusan sangatlah sukar untuk meluputkan

dirinya sehingga tanpa ada salah satu dari lima senjata

rahasia itu yang mengenakan sasarannya.

Lo In mengerti serangan lawan sangat berbahaya, ia

keluarkan ilmu saktinya 'Bu im sin kang', badannya berputar

bagaikan asap bergulung naik ke atas hingga Kim Wan Thauto

terkejut menyaksikan keanehan itu. Tidak lama, ia melihat Lo

In sudah berdiri ketawa ke arahnya. Ia berkata, "Taysu, terima

kasih atas pemberian anting-anting emasmu !" Lo In berkata

 

seraya dari tangan bajunya ia keluarkan lima anting-anting

emas Kim Wan Thauto yang barusan dilontarkan kepada si

bocah.

Kim Wan Thauto berdiri melongo....

Sebagai orang Kangouw kawakan, Kim Wan Thauto tahu akan

itu peribahasa, "Ksatria harus tahu pada saat maju dan pada

waktu mundur", pepatah tersebut adalah suatu nasehat yang

baik. Mengingat ini, Kim Wan Thauto jadi menghela napas.

-- 21 --

Tidak sampai menunggu Lo In membuka mulut lagi, ia sudah

menghampiri si bocah di depannya. Ia angkat tangannya

bersoja, katanya, "Siao-hiap, kau menang ! Kau adalah orang

pertama yang membuka mataku bahwa orang pandai masih

ada yang lebih pandai. Aku mengira tadinya tidak sukar aku

menemukan tandingan, tidak tahunya, menghadapi kau Siaohiap

aku tidak berkutik. Hahaha... !"

Berbareng dengan menutup kata-katanya, Kim Wan Thauto

telah jatuhkan diri berlutut sehingga Lo In repot dan

menyingkir ke samping, serta katanya, "Taysu, kau jangan

bikin diriku lekas tua dengan caramu begini."

Kemudian ia tepuk-tepuk pundak orang perlahan tapi diamdiam

ia gunakan lwekangnya untuk bikin si Thauto bangun

dari berlututnya. Kim Wan Thauto tahu Lo In tengah

mengerahkan tenaganya, ia juga kerahkan tenaga dalamnya

untuk bertahan. Tapi akhirnya ia mesti mengakui keunggulan

Lo In dalam tenaga dalam. Maka ia pun tidak berani mencobacoba

terus. Segera ia bangkir dari berlututnya dan berkata,

 

"Siaohiap, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu. Aku

harap kau akan menerima baik !"

"Dalam urusan apa itu, Taysu ?" tanya si bocah.

"Caramu yang luar biasa memusnahkan serangan dari tujuh

anting-anting emasku, membuat aku sangat kagum ! Aku

sudah lepas kata, barang siapa yang bisa meluputkan diri dari

serangan senjata rahasiaku ialah yang berupa tujuh antinganting

emas, orang itu akan aku angkat menjadi guruku. Aku

sangka bahwa guru itu pastilah orang yang lebih tua dariku,

tidak tahunya malahan sebaliknya adalah seorang anak kecil.

Siaohiap, kau jangan menolak kalau sekarang aku harus

memenuhi sumpahku...."

Berbareng Kim Wan Thauto kembali hendak tekuk lututnya,

tapi Lo In keburu mencegah. Ia berkata, "Taysu, kau adalah

jago kelas wahid dalam Kangouw, sukar menemukan

tandingan. Untuk perkara kecil saja masa harus berlaku begini

merendah terhadap aku si bocah. Kalau Taysu punya senjata

rahasia yang lihat dapat aku punahkan, ituhanya dengan cara

kebetulan saja, lantaran Taysu tidak sungguh-sungguh

melepasnya dan menaruh kasihan kepada aku masih anak

kecil."

"Tidak, tidak. Memang aku menyerah kalah padamu." sahut

Kim Wan Thauto.

Si pendeta yang memelihara rambut panjang adalah satu

pendeta yang jujur dan belum pernah menarik kembali apa

yang ia sudah katakana, maka ia merasa tidak enak kalau ia

tarik kembali kata-kata yang ia sudah keluarkan dari bibirnya.

 

Maka, ia sudah mendesak supaya Lo In suka terima ia

menjadi muridnya, ia berjanji akan setia kepada si bocah.

Sebaliknya, Lo In terus menolak.

Melihat mereka tarik urat, yang satu ingin diterima jadi murid

dan yang lain menolak, dengan tiada ada keputusan sama

sekali, Bwee Hiang lalu campur tangan. Dengan air muka

berseri-seri ia datang menghampiri, kepada Kim Wan Thauto

si gadis memberi hormat serta berkata, "Kalau kalian tidak

keberatan, bagaimana kalau aku majukan diri sebagai orang

perantara untuk memutuskan urusan kalian ?"

"Bagus, bagus !" kata Kim Wan Thauto mendahului Lo In yang

hendak membuka mulutnya berbicara hingga si bocah muka

hitam urung berkata dan anggukkan kepalanya saja seperti

tanda bahwa ia pun mufakat dengan turun tangannya Bwee

Hiang.

Lo In percaya kecerdikan sang enci. Dengan keputusannya

Bwee Hiang pasti akan disetujui oleh mereka kedua pihak.

"Dari pembicaraan Taysu," Bwee Hiang mulai. "Aku memuji

Taysu adalah seorang yang jujur, tidak ingin memungkiri janji.

Tapi mendengar alasan adik In juga benar, masa ia harus

punya murid Taysu, lebih pantas bila adik In menjadi muridnya

Taysu. Ini baru pantas....."

"Tapi Liehiap...." memotong Kim Wan Thauto, terputus, karena

si nona goyang-goyang tangannya.

"Aku belum habis bicara, harap Taysu jangan memotong

dulu." kata Bwee Hiang.

 

"Jadi dua-duanya ada punya alasan kuat." berkata si nona

meneruskan. "Sekarang begini saja. Taysu mengagumi adik

In, sedagn adik In juga sangat menghargai Taysu. Bagaimana

kalau angkat saudara saja.....?"

"Bagus, bagus !" Lo In tiba-tiba memotong bicaranya si gadis.

Saking kegirangan, setuju dengan enci Hiangnya, Lo In

sampai bertepuk tangan.

Sebaliknya Kim Wan Thauto kerutkan keningnya. Agaknya

mereka kurang menyetujui putusan Bwee Hiang sebab

menyeleweng kepada sumpahnya. Si gadis yang cerdik sudah

lantas dapat menyelami pikiran si Thauto yagn kurang setuju.

Maka ia lantas berkata pula, "Seorang murid setia, selalu akan

bikin gurunya senang. Maka, apa salahnya kalau Taysu

menerima keputusan yang disenangi adik In agar adik In

hatinya merasa senang. Apa ini bukan sama saja Taysu

sebagai seorang murid telah membuat senang pada gurunya ?

Aku kira dengan keputusan kalian angkat saudara, tidak

menyimpang dari maksud Taysu yang sebenarnya."

Mendengar si gadis demikian fasih ucapan katanya dan teguh

alasannya, Kim Wan Thauto angguk-anggukkan kepalanya

dan kemudia ia tertawa ke arah Bwee Hiang hingga si gadis

kegirangan melihat usahanya akan berhasil.

"Liehiap, kau sungguh pandai membuka pikiran orang yang

bodoh." memuji Kim Wan Thauto. "Aku senang, kalau kau juga

termasuk dalam upacara angkat saudara. Harap kau jangan

menolak !"

Bwe Hiang kaget. Ia tidak mengira si Thauto akan bawa-bawa

juga dirinya. Tapi ia tidak keberatan untuk angkat saudara

 

dengan Kim Wan Thauto yang ia lihat pendeta itu benar

mukanya bengis tapi orangnya jujur dan termasuk salah satu

ksatria di kalangan jago-jago silat budiman. Malah dengan

mempunyai saudara angkat macam Kim Wan Thauto,

untuknya ada satu keuntungan, tenaganya dapat dipakai

membantu dalam usahanya menuntut balas kepada Sucoan

Sam-sat.

Memikir demikian, maka wajah Bwee Hiang berseri-seri. Ia

berkata, "Terima kasih Taysu. Sungguh tidak kukira kau

sangat menghargakan aku yang rendah."

Kim Wan Thauto kegirangan bahwa si nona tidak menolak.

Demikian selanjutnya tiga orang itu telah angkat saudara

dalam upacara sederhana disaksikan oleh Lima Harimau dan

anak-anak muridnya mereka yang jumlahnya bukan sedikit.

Kim Wan Thauto dipanggil 'Toako' oleh Bwee Hiang dan Lo In

sedang pada dua anak tersebut, atas permintaan mereka, Kim

Wan Thauto memanggil anak Hiang dan anak In, yang

sederhana saja. Si Thauto rambut panjang senang juga dapat

memanggil 'anak' pada si gadis dan si bocah, karena mereka

itu memang pantas menjadi anaknya Kim Wan Thauto.

Lima macan dari Suyangtin sangat menghormati tiga orang

tamu itu, terutama kepada Lo In yang mereka anggap adalah

'Bocah Sakti' yang tidak ada duanya. Kepandaiannya sukar

diukur. Mereka merasakan penglihatannya seolah-olah kabut

ketika menyaksikan tubuh Lo In tiba-tiba berputar-putar dan

seperti asap bergulung-gulung, tahu-tahu setelah si bocah

tersenyum ke arah Kim Wan Thauto dari lengan bajunya

mengeluarkan lima senjata rahasia anting-anting emas dari si

pendeta yang dilontarkan dengan tenaga lwekang yang

 

dahsyatnya bukan main.

Mereka berlomba mengundang Lo In dan dua saudaranya

untuk menginap di rumahnya. Tapi Bwee Hiang tidak mau

membuat berabe mereka maka dengan manis budi undangan

itu ditolak hingga tidak punya alasan lagi mereka untuk

mendesak terus. Meskipun demikian, mereka mengundang

untuk mampir bertemu ke rumah masing-masing selama Lo In

dan dua saudaranya ada di Suyangtin. Hal ini tidak ditampik

oleh Bwee Hiang dan dua saudaranya, demi untuk

menyenangkan pada hati mereka.

Atas pilihan Bwee Hiang, tiga saudara itu mondok di hotel Hok

An, suatu rumah penginapan yang sangat bersih dalam dusun

Suyangtin.

Dalam omong-omong, sebelumnya masuk tidur, Kim Wan

Thauto berkata pada Bwee Hiang, "Anak Hiang, aku masih

belum bisa lupakan wajahmu pada tiga tahun yang lalu."

Bwee Hiang heran. Ia lantas menanya, "Bagaimana toako bisa

kenali wajahku ? Apa memang toako sudah kenal sebelum kita

angkat saudara ? Aku sendiri lupa. Harap toako tidak kecil hati

kalau adikmu pelupa."

"Anak Hiang, aku kenal tanpa berkenalan tapi kukenali

wajahmu di atas loteng pertama dari rumahmu.''

Bwee Hiang terkejut. Sepasang matanya yang jernih halus

memandang pada Kim Wan Thauto tidak berkedip. Kata-kata

si toako betul-betul mengagetkan hatinya karena katanya

mengenali wajahnya adalah dari jendela kamar di atas loteng

pertama.

 

"Toako, kau jangan bikin aku bertanya-tanya. Lekas ceritakan

apa yang sudah terjadi pada saat itu." berkata Bwee Hiang

kemudian.

Melihat adik angkatnya tidak sabaran seperti cacing kena abu,

maka Kim Wan Thauto lantas bercerita bagaimana ia telah

melakukan penyelidikan dalam rumah Liu Wangwee untuk

mendapat keterangan tentang kedatangannya Sucoan Samsat.

Ia mendengar tentang percakapan Bwee Hiang dengan

ayahnya dalam kamar kemudian ia bertekad akan membantu

Liu Wangwee akan tetapi kenyataannya bahwa bantuannya

tidak diperlukan dengan turun tangannya si kerudung merah.

Dituturkan dengan jelas pada Bwee Hiang, hingga si nona

yang tidak memotong pembicaraan orang, mendengarkan

semua itu tanpa terasa telah mengucurkan air mata.

"Anak Hiang." kata Kim Wan Thauto, kaget ia melihat adik

angkatnya menangis. "Kau kenapa menangis ? Apa

penuturanku melukai hatimu karena aku tidak turun tangan

membantu keluargamu ? Kepandaian si kerudung merah

sudah lebih dari cukup. Untuk apa aku membikin berabe dia

dengan memunculkan diri pada saat itu ?"

Bwee Hiang geleng-geleng kepala, seraya menyusut air

matanya yang berlinang-linang.

"Toako, bukan begitu duduknya." berkata si nona, masih

sesenggukan.

Lo In pun jadi kaget, enci Hiangnya tiba-tiba menangis.

"Enci Hiang, kau kenapa ? Barusan toako cerita, tiba-tiba saja

 

kau menangis." Lo In menanya sang enci yang sedang sedih

saja.

Bwee Hiang tidak menjawab Lo In, hanya berkata pula kepada

Kim Wan Thauto.

"Toako, bukan begitu duduknya. Sebetulnya aku sangat

berterima kasih atas perhatianmu hendak menolong

keluargaku. Yang aku sedihkan adalah cerita toako itu

membuat aku terkenang pada ayahku almarhum."

"Hah ? Ayahmu sudah meninggal dunia ? Sakit apa ?" tanya

Kim Wan Thauto otomatis.

"Toako, kau tidak tahu." sahut Bwee Hiang, tersenyum sedih.

"Ayahku bukannya mati karena sakit tapi dibunuh oleh Sucoan

Sam-sat. Ah, toako....."

Bwee Hiang putus bicaranya karena ia tidak tahan dengan

kesedihannya, ia menangis lagi. Agak keras sekarang hingga

Kim Wan Thauto dan Lo In kebingungan kalau-kalau tangisan

itu dapat mengganggu penghuni kamar lainnya sehingga bisa

membikin orang-orang pada keluar untuk menanyakan ada

urusan apa sampai menangis begitu sedih.

Kim Wan Thauto dan Lo In bergiliran menghibur Bwee Hiang.

Si gadis cepat terhibur rupanya sebab kemudian ia hentikan

tangisnya lalu menceritakan pada Kim Wan Thauto tentang

keganasannya Sucoan Sam-sat yang membunuh seisi

rumahnya termasuk Kian-san Ji-lo, setelah pada sebelumnya

mereka kena dihajar oleh Lo In. Mereka telah mengganas juga

dalam markas cabang Ceng Gee Pang sehingga banyak

 

meminta korban jiwa.

Kim Wan Thauto sangat gusar mendengar laporan Bwee

Hiang.

"Aku dapat kabar tentang kebuasannya Sucoan Sam-sat, akan

tetapi tidak mengira sampai begitu kejam dan menganggap

jiwa manusia seperti jiwa kecoak !" kata Kim Wan Thauto,

seraya giginya kedengaran berkeretak, menahan amarahnya.

"Toako," kata Bwee Hiang. "Kita sudah angkat saudara. Maka

dalam halnya Sucoan Sam-sat, aku mengharap sekali bantuan

toako dalam usahaku menuntut balas."

"Anak Hiang, meskipun kita belum angkat saudara, aku juga

akan membantu kau sebisa-bisanya untuk membasmi orangorang

jahat itu !" jawab Kim Wan Thauto tegas.

Diam-diam Bwee Hiang merasa sangat berterima kasih atas

janji Kim Wan Thauto.

"Sayang anak In pada waktu itu tidak membinasakan saja

kawanan jahat itu." Kim Wan Thauto menyatakan sangat

menyesalkan.

"Adik In masih terlalu kecil, belum sampai berpikiran ke situ.

Apalagi memang dia berhati lemah untuk bertindak kejam !"

kata Bwee Hiang sambil melirik pada Lo In yang tidak campur

dalam percakapan mereka berdua.

Lo In hanya nyengir ketawa melihat Bwee Hiang melirik

kepadanya.

 

"Ya, memang anak In masih kecil." sahut Kim Wan Thauto

ketawa. "Sebagai jago kecil berkelana dalam dunia Kangouw,

nanti dia akan bertambah pengalaman dan mempunyai

pandangan terhadap orang-orang yang jahat dan licik. Maka

itu anak In, kau harus waspada menjaga diri."

"Terima kasih atas nasihat toako." kata Lo In, tertawa nyengir.

"Tapi, anak In." Kim Wan Thauto berkata lagi, matanya

memandang wajah Lo In yang hitam legam. "Aku lihat

wajahmu tidak semestinya hitam, cara bagaimana kau

memoles wajahmu jadi hitam begini ?"

"Panjang untuk diceritakan, toako." sahut Lo In. "Tapi

sekarang aku minta toako dulu bercerita bagaimana toako

dapatkan pedang pendekku itu ?"

"Sebenarnya aku mau minta adikku dulu bercerita, tapi tidak

apalah. Biar toakomu mengisahkan satu kejadian yang lucu."

Selanjutnya Kim Wan Thauto mengisahkan dari mana ia

dapatkan pedang pendek.

Pada suatu hari menjelang sore, hujan turun dengan lebat.

Kim Wan Thauto dalam perjalanan mengunjungi salah satu

sahabatnya, kebingungan tidak menemui rumah untuk

meneduh, untuk menyingkir dari serangan hujan lebat.

Dengan menggunakan ilmu jalan cepat, sekira dua lie maju ke

depan, tiba-tiba ia menemukan satu kuil rusak.

Ke dalam kuil itu ia masuk. Lumayan juga dapat menyingkir

dari serangan hujan lebat meski pun di sana sini tampak kuil

itu pada bocor gentengnya.

 

Rupanya kuil itu sudah lama ditinggalkan penghuninya tapi

masih ada towie (taplak meja) rombeng yang panjang sampai

menutupi kolong meja, diatasnya terdapat sebuah tepekong

yang lagi duduk bersila. Pikirnya kalau ia masuk ke kolong

meja itu, baik juga. Sebab tidak kedinginan dari hembusan

angin yang masuk ke dalam rumah berhala itu yang hampir

tidak berpintu. Setelah berpikir ia lalu masuk ke kolong meja

tadi.

Benar saja di kolong itu ia merasa agak hangat juga.

Belum lama ia rebahan, tiba-tiba ia mendengar seperti ada

orang yang masuk ke dalam kuil itu. Ia lalu mengintip melalui

lubang dari towie yang rombeng.

Ia lihat yang datang itu adalah seorang laki-laki berperawakan

tinggi kurus, mukanya tidak enak dilihat saking jeleknya. Di

bebokongnya ia menggendong sebuah bungkusan besar.

Entah apa isinya buntelan besar itu.

Ketika si orang jelek tadi sudah berada di dalam, ia lalu

gubraki di atas lantai buntelan yang digendongnya lalu ia

gibrik-gibriki bajunya yang basah kuyup kehujanan.

"Kurang ajar, tadi terang benderang, eh, mendadak turun

hujan besar. Dasar anak sialan !" orang itu berkata-kata

sendirian sambil perlahan-lahan membuka buntelan besar

tadi. Kiranya isinya adalah sesosok tubuh yang tidak berkutik.

Waktu Kim Wan Thauto menegasi kiranya ia adalah satu anak

muda yang cakap, putih, mirip seorang perempuan.

Ia rupanya telah ditotok pingsan sebab pipinya yang halus

 

diusap-usap ke sana kemari oleh si wajah jelek, anak muda itu

tinggal diam saja.

"Sungguh sayang kau dijelmakan sebagai seorang lelaki.

Kalau kau perempuan yang sekarang jatuh di tanganku ?

Hmm !" demikian si jelek berkata-kata sendirian.

Entah apa maksudnya kata-kata itu tapi bagi Kim Wan Thauto

sudah lantas menduga bahwa orang jelek itu bukan orang

baik-baik, tentu anak muda itu kena diculik olehnya. Ia terus

mengintip. Ia melihat si jelek membuka totokan si anak muda

yang sebentar kemudian telah dapat membuka matanya.

Melihat wajah si jelek, anak muda itu kerutkan alisnya.

"Aku tidak kenal kau siapa, asal kau kembalikan aku ke rumah

orang tuaku, urusan dapat habis sampai disini saja. Tapi,

kalau sebaliknya ? Hmm!" kata si anak muda, seperti

mengancam si orang jelek.

"Hmm ! Apa hmm ! Apa kau kira aku takut kepada ayahmu

Kong Tek Cong ?" si orang jelek kata dengan suara kasar.

Kim Wan Thauto terkejut mendengar disebutnya Kong Tek

Cong ialah sahabatnya yang ia hendak kunjungi. Kalau begitu,

pikirnya, anak muda ini tentu putera sahabatnya yang

dipanggil Liang Hin.

"Ayahku adalah Chungcu (ketua kampung) dari Pek-in-chung,

mempunyai banyak sahabat-sahabat dalam kalangan

Kangouw." kata si anak muda. "Kalau kau tidak takuti ayahku,

kau juga harus memikirkan kepada sahabat-sahabatnya yang

tentu tidak akan tinggal dima atas perbuatanmu menculik aku."

 

Kong Tek Cong memang Chungcu dari Pek-in-chung

(Kampung awan putih di Kang-say).

Namanya sangat terkenal dalam kalangan Kangouw. Bukan

karena ilmu silatnya dihargakan tapi juga sebagai seorang

kaya raya, wataknya sangat ramah dan tangannya mudah

untuk menolong sesamanya yang dapat kesusahan. Bukan

sedikit jago Kangouw yang mendapat pertolongannya apabila

dalam perjalanan mendapat kesukaran uang misalnya. Tidak

heran kalau Kong Tek Cong mendapat banyak sahabat.

Ketika mendengar Liang Hin menyebut-nyebut kawankawannya

Kong Teng Cong, si wajah jelek bukannya takut

malah tertawa terbahak-bahak, katanya, "Siapa tidak kenal

padaku Toan Bi Lomo yang malang melintang tanpa menemui

tandingan. Biarpun ayahmu mengumpulkan semua kawankawannya,

aku juga tidak takut. Apalagi mereka berani datang

ke Coa-kok, aku tanggung semuanya akan dibasmi habis !"

Liang Hin tersenyum sinis mendengar kata-kata si muka jelek

yang tiada lain adalah Siauw Cu Leng dengan gelarnya Toan

Bi Lomo (si Iblis Alis Buntung). Dalam usahanya menculik

anak-anak muda tanggung, ternyata ia berani juga menculik

anaknya Kong Tek Cong yang sangat terkenal namanya.

"Kau benar-benar tidak mau membebaskan Siaoyamu ?"

menegaskan Liang Hin.

"Kau jangan mimpi, anak muda ! Hahaha .. !" berbareng ia

mendak disusul dengan suara 'siuutt' yang memancarkan sinar

seperti kembang api lewat kira-kira dua dim diatas rambut

kepalanya hingga ia menjadi sangat kaget.

 

Kiranya itu senjata rahasia dari Pek-in-chung yang dinamai

'Pek in hwee cian' atau 'Panah api awan putih', senjata rahasia

yang khusus dibuat oleh Kong Tek Cong untuk digunakan oleh

orang-orangnya untuk melindungi Pek-in-chung.

Panah api itu apabila dilepas dari busurnya akan

mengeluarkan suara menyiut keras lantas dalam perjalanan

menuju sasarannya tiba-tiba memancarkan sinar seperti

kembang api yang biasa dipasang oleh anak-anak. Orangorang

Kangouw yang melihat sinar yang tiba-tiba memencar

dari panah api itu lantas mengenali, itu adalah senjata rahasia

dari Pek-in-chung yang sangat terkenal. Kalau mengenai

sasarannya, panah api itu akan membakar pakaian si korban

dan menghanguskan bagian tubuh yang ditujunya.

Siauw Cu Leng cukup lihai. Begitu ia mendengar suara

menyiut lantas ia kenali akan senjata rahasia dari Pek-inchung,

sayang ia tak dapat lolos dari mencarnya api.

Rambutnya sebagian sudah kena kebakar hingga ia repot

untuk mematikan dengan lengan bajunya.

Dalam kerepotan itu, segera menyusul dua tiga panah api lagi.

Tapi karena ia sudah bersedia, semuanya dapat dikebas jatuh

dengan tangan bajunya.

"Bangsat kurang ajar !" ia berteriak. Tapi sebelum ia membuka

mulut besar, segera di depannya sudah ada tiga orang tinggi

besar dengan golok di tangan.

"Kau berani memaki 'bangsat kurang ajar' ? Sungguh

menyebalkan ! Perbuatanmu yang sangat kurang ajar, bangsat

penculik !" memaki salah satu diantaranya yang menjadi

 

pemimpin dari tiga orang itu rupanya.

"Tan siokhu (paman), dia..... dia..... " Liang Hin tak dapat

meneruskan kata-katanya karena dengan sebat Siauw Cu

Leng sudah menotoknya roboh mendeprok di lantai.

Kim Wan Thauto yang terus menonton, ia kenali tiga orang

yang datang itu adalah tiga saudara angkat dari Kong Tek

Cong yang bernama Nio Him, Tan Nie Ciang dan Lie Kim

Giok. Mereka empat saudara terkenal dengan julukan 'Pek-in

Su-kiat' atau 'Empat jago dari kampung Awan Putih'. Sepak

terjangnya mendapat pujian rakyat karena mereka menolong

yang lemah, merintangi yang kuat.

Banyak perbuatan yang sewenang-wenang dapat dibereskan

oleh mereka dengan adil.

Yang tadi memaki Siauw Cu Leng adalah Tan Nie Ciang.

Mendapat balasan makian, Siauw Cu Leng marah. Ia berkata,

"Baru kalian tiga orang, biarpun Pek-in Su-kiat turun sekaligus,

aku Toan Bi Lomo tidak takut !"

Berbareng dengan kata-katanya Siauw Cu Leng sudah

sambar tubuhnya Liang Hin untuk lantas dibawa melompat

kabur. Tapi Kim Giok yang menjaga di pintu sudah lantas

menghadang. "Mau lari ?" jengeknya. "Turunkan Kong Kongcu

lalu berlutut minta ampun, baru kami nanti memberikan

pertimbangan !"

"Kentut busuk !" teriak Siauw Cu Leng gusar. "Lihat kakekmu

nanti akan bikin kalian kocar kacir, tidak ada jalan untuk

umpatkan diri !"

 

Dengan pundak kiri memanggul tubuh Liang Hin, tangan

kanannya sempat mencabut pedang pendek. Ia berkata pula,

"Hayo, maju semua !"

Tan Nie Ciang tahu lawannya lihai tapi masa dikerubuti tiga

lawan ia dapat pertahankan diri, apalagi berkelahi sambil

memanggul tubuh orang ?

Memikir kesitu, maka Tan Nie Ciang maju paling dulu. Ia

membentak, "Orang jahat, jangan tembereng. Lihat aku orang

she Tan akan ambil kepalamu !"

Berbareng Tan Nie Ciang bulang baling goloknya yang tajam,

tiba-tiba ia menyerang membabat pinggang lawan. Ini suatu

gerakan yang dinamai 'Ki houw pok yo' atau 'macan kelaparan

menerkam kambing', tidak gampang dikelit oleh pihak lawan

untuk gerakan yang cepat dan ganas itu sehingga telah

membuat nama Tan Nie Ciang naik. Sayang ketemu Siauw Cu

Leng yang gesit. Toan Bi Lomo tidak mau menangkis dengan

pedangnya yang pendek dan bobotnya sangat enteng, kuatir

pedangnya tidak tahan kebentur pedang lawan yang berat.

Maka begitu datang golok mengarah pinggang, cepat ia

berkelit dengan lompat setindak ke belakang hingga sabetan

golok lewat depan perutnya hanya dua dim saja. Berbareng ia

bertindak maju, sebelum musuh mengambil posisinya,

pedangnya diputar terus ditikamkan ke arah tenggorokan. Ini

suatu tipu 'Tong cu ci louw' atau 'Bocah menunjukkan jalanan',

suatu serangan yang tiba-tiba dilakukan. Mula-mula pedang

diputar untuk membingungkan lawan kemudian menikam

dengan tiba-tiba ke arah tenggorokan.

Untung Tan Nie Ciang juga bukan jago kemarin, ia sudah

 

berpengalaman.

Dengan tipu 'Kim ke pa tauw' atau 'Ayam Emas goyang

kepala', kepalanya dimiringkan ke kiri kemudian dengan badan

separuh jongkok, goloknya menikam 'gudang makanan' (perut)

Siauw Cu Leng. Dengan tangkas Toan Bi Lomo menjejakkan

kakinya lompat ke atas, menghindari serangan. Tan Nie Ciang

merangsek, ia tidak mau kasih lawannya untuk perbaiki

posisinya tapi Siauw Cu Leng bukan Toan Bi Lomo kalau tidak

berdaya dengan rangsekan Tan Nie Ciang. Ia turun dari atas

dengan pedang pendeknya diputar untuk mematahkan

serangan susulan Tan Nie Ciang.

Dua senjata beradu keras hingga menimbulkan bunga-bunga

api, tampak golok Tan Nie Ciang kuntung sepuluh dim dari

ujungnya hingga Tan Nie Ciang sangat terkejut.

Nio Him dan Kim Giok hanya menonton saja. Mereka percaya

Tan Nie Ciang dapat mengalahkan Siauw Cu Leng karena ia

berkelahi sambil memanggul tubuh Liang Hin. Tapi

kenyataannya beban di atas pundaknya tidak menjadi

rintangan bagi Siauw Cu Leng bergerak leluasa melayani Tan

Nie Ciang.

Melihat keunggulan Siauw Cu Leng barulah dua saudara itu

bergerak. Tapi sebelum mengeroyok, tiba-tiba mereka

mendengar beradunya senjata dan goloknya Tan Nie Ciang

tertabas kuntung hingga mereka sangat kaget.

Toan Bi Lomo kaget. Ia tidak mengira pedang pendek yang

bobotnya enteng itu dapat menabas kutung goloknya Tan Nie

Ciang yang kasar dan berat. Sudah beberapa kali ia

menyingkirkan dari beradunya senjata. Kalau barusan mesti

 

beradu juga, itu ia lakukan dengan terpaksa sebab waktu turun

dari lompatnya ia papaki golok Tan Nie Ciang.

Kini ia tahu pedang pendeknya sangat ampuh, maka hatinya

jadi besar.

Ia tidak ragu-ragu lagi untuk mengadu senjata. Hasilnya juga

kelihatan dengan gemilang sebab Nio Him dan Kim Giok, satu

demi satu goloknya pun dibikin kutung oleh pedang

pendeknya hingga mereka tidak berdaya, mereka hanya

melihat Siauw Cu Leng melesat keluar kuil.

Mereka tidak berkutik untuk mencegah Toan Bi Lomo. Karena

dengan senjata mereka sudah dikalahkan, bagaimana dengan

tangan kosong mereka dapat merintangi Siauw Cu Leng ?

Dengan girang si Iblis Alis Buntung sudah kabur.

Hujan pun sudah berhenti, dengan tindakan cepat ia

meninggalkan kuil. Hatinya kegirangan mempunyai pedang

pusaka yang ampuh.

"Perlahan jalan, sahabat !" tiba-tiba ia mendengar suara orang

berkata dibelakangnya hingga ia menjadi kaget. Cepat ia putar

tubuhnya berbalik. Cepat ia putar tubuhnya berbalik. Ia lihat

orang yang menegur itu, barusan keluar dari balik pohon

begitu ia melewatinya.

Ia ternyata adalah Thauto..... Memang tiada lain orang itu

adalah Kim Wan Thauto.

Kenapa Kim Wan Thauto dengan mendadak saja ada dibalik

pohon ? Bukankah ia tadi mengintip dibalik towie yang

 

rombeng ? Kiranya, waktu melihat tiga orangnya Pek-in-chung

dirobohkan, Kim Wan Thauto tidak lantas muncul diantara

mereka tapi sudah menyingkir dan keluar dari pintu samping.

Ia cegat Siauw Cu Leng diduga akan mengambil jalan itu.

Kim Wan Thauto merasa tidak leluasa kalau sampai terjadi

perkelahian dengan seru dalam kuil itu, kurang lebar. Maka ia

berusaha untuk cegat Siauw Cu Leng dijalanan, dimana

terdapat lapangan rumput yang luas untuk bertempur

menggunakan kepandaian kelas wahid. Itulah sebabnya maka

tiba-tiba Kim Wan Thauto sudah ada dibalik pohon.

Waktu melihat dihadapannya ada seorang pendeta yang

berambut panjang dan kedua telinganya memakai antinganting

emas, lantas Siauw Cu Leng kenali bahwa

dihadapannya itu tentu adalah Kim Wan Thauto yang terkenal

dengan senjata rahasia anting-anting emasnya yang sukar

dihindarkan.

"Hehehe !" tertawa Siauw Cu Leng. "Juga Taysu hendak ikut

campur dalam urusanku ? Seorang yang saleh tidak

seharusnya mencampuri urusan orang lain, maka ada lebih

baik kalau Taysu mundur saja, maka diantara kita selanjutnya

tidak apa-apa."

"Bagus." sahut Kim Wan Thauto. "Aku juga mengharap

diantara kita tidak ada apa-apa, asal kau suka turunkan Kong

Kongcu yang ada dipundakmu itu !"

"Dengan hak apa kau suruh aku turunkan milikku ?" tanya

Toan Bi Lomo.

"Sudah tentu aku ada berhak, hak sebagai pamannya Lian

 

Hin. Kong Tek Cong adalah sahabat baikku !"

"Taysu, jangan kau ngaco belo disini. Aku tidak percaya kalau

Kong Tek Cong mempunyai sahabat sepertimu !"

Siauw Cu Leng sudah mulai kasar dalam ucapan katanya tapi

Kim Wan Thauto masih bersabar. Ia berkata lagi, "Bukan aku

saja menjadi sahabat Kong Tek Cong, Chungcu dari Pek-inchung,

juga Hweeshio dan Tojin banyak yang bersahabat

degnannya karena Kong Chungcu adalah seorang yang baik

dan berbudi luhur."

"Persetan dengan berbudi luhur. Pendeknya, kau minggir.

Kalau tidak ? Hmm !"

"Hmm ! Aku baru minggir kalau kau turunkan Kong Kongcu

dari pundakmu !"

Siauw Cu Leng hanya mendengar saja tentang kegagahannya

Kim Wan Thauto tapi dia sendiri belum pernah ketemu atau

membenturnya, maka ia sangsi bahwa omongan orang belum

tentu benar karena ia belum mencobanya. Seraya tertawa

tawar ia berkata, "Aku tahu kau adalah Kim Wan Thauto, tapi

sikapmu sekarang ini membikin aku hilang sabar. Orang lain

boleh takut padamu, tapi aku Toan Bi Lomo tidak nanti jeri

menghadapi kau. Asal berani kau rintangi perbuatanku, tahu

sendiri !"

"Hahaha !" terdengar Kim Wan Thauto tertawa terbahakbahak.

"Kau tertawakan apa, Thauto linglung !" bentak Siauw Cu

Leng.

 

"Mari kita menetapkan, kau atau aku yang linglung !"

menantang Kim Wan Tahuto.

Toan Bi Lomo berpikir.

Menghadapi tiga orang dari Pek-in-chung adalah lawanan

enteng meskipun ia melayani dengan memanggul Lian Hin

dipundaknya tapi menghadapi Kim Wan Thauto yang

namanya sudah termasyur, bagaimana ia bisa samakan

dengan melawan orang-orang dari Pek-in-chung ? Maka ia

lantas turunkan Liang Hin dari pundaknya. Setelah itu, ia

menghadapi Kim Wan Thauto yang sudah siap sedia, ia

berkata, "Apa kau kira kau Siauw Cu Leng takut padamu ?"

"Siapa bilang kau takut padaku ? Aku hanya hendak mainmain

dengan kau untuk menetapkan siapa yang linglung

seperti kau kata tadi !" sahut Kim Wan Thauto dengan senyum

mengejek hingga si Iblis Alis Buntung menjadi marah.

"Thauto kesasar, kau lihat aku bikin kau sungsang sumbel

hanya 10 jurus saja hingga untuk lari pun kau tidak ada jalan !"

kata Siauw Cu Leng temberang.

"Bagus, marilah kita mulai !" tantang Kim Wan Thauto.

Segera juga kelihatan mereka sudah mulai bergebrak seru.

Berkelahi dengan tangan kosong meminta lebih banyak

tenaga lwekang untuk merobohkan lawan dengan pukulanpukulan

berat, banyak tipu-tipu silat yang membahayakan

lawan diperlihatkan oleh kedua pihak hingga pertempuran

menjadi ramai. Sambaran tangan yang mengandung tenaga

 

dalam, dahsyat sekali hingga tanah basah berterbangan.

Suara menderu-deru terdengar disebabkan oleh angin

pukulan, malah tanah banyak yang ambrol berlubang kena

sasaran angin pukulan mereka.

Nio Him dan dua saudaranya yang juga sudah datang kesitu

sangat mengagumkan ilmu pukulan dari kedua lawan yang

bertarung itu. Baik Siauw Cu Leng maupun pihak Kim Wan

Thauto, sama-sama tangkas dan gesit menyerang lawan.

Lwekang dari kedua pihak pun berimbang hingga sukar

mengatakan siapa diantaranya yang akan bakal jadi

pecundang.

Diam-diam Siauw Cu Leng mengakui ketangguhan lawan,

sebaliknya Kim Wan Thauto juga tidak mengira kalau si Iblis

Alis Buntung ini mempunyai kepandaian yang hebat. Pikirnya,

ia harus hati-hati melayaninya sebab salah tindak sedikit saja

ia bakal dikalahkan oleh Toan Bi Lomo, dimana ia harus taruh

muka untuk namanya yang sudah kesohor dikalangan

Kangouw.

Barusan hujan berhenti, maka lapangan rumput agak licin.

Kedua pihak merasa kuatir akan kuda-kudanya gempur karena

tanah licin. Oleh sebab itu masing-masing berlaku sangat hatihati

untuk menjaga diri jangan sampai dijatuhkan lawan.

Serangan-serangan Siauw Cu Leng sangat hebat. Ia seakanakan

tidak mengasih kesempatan untuk musuhnya bergerak

leluasa melayani pukulan-pukulannya yang ampuh.

Kim Wan Thauto berpikir selama ia bertempur, musuh sangat

tangkas, permainan silatnya juga bagus, kelihatan tidak ada

lowongan yang lemah. Pikirnya, ia harus menggunakan akal

 

untuk menjatuhkan musuh.

Kalau tadi Kim Wan Thauto membungkam saja, sekarang ia

mengoceh, katanya, "Toan Bi Lomo, apa janjimu barusan ?

Hmm ! Dengan kepandaianmu begini saja masih mau banyak

laga ? Sekarang sudah berapa jurus ? Aku masih belum

sungsang sumbel !"

Selagi enaknya ia mencecar musuhnya, tiba-tiba ia dengar

Kim Wan Thauto mengolok-olok, hatinya tidak enak. Ia tidak

menyahuti ocehan lawan.

"Dalam tempo sepuluh jurus, untuk lari pun aku tidak

mempunyai maksud." jengek Kim Wan Thauto pula seraya

berkelit dari serangan lawan. "Tapi buktinya sudah tiga puluh

jurus kau masih belum apa-apanya. Kesombonganmu ini kau

boleh bawa dalam impianmu saja, Toan Bi Lomo ! Hahaha,

tidak kena bukan ?" Kim Wan Thauto menggoda sambil

berkelit.

(Bersambung)

Jilid 08

Toan Bi Lomo keluarkan suara di hidung.

Ia benci pada lawan yang mulutnya bawel ini. "Kau kira aku

tidak bisa merobohkan kau, Thauto kesasap !" bentaknya

gusar.

"Kalau bisa, nah» robohkanlah ! Kenapa mesti menunggununggu

lama ?"

"Kau lihat sebentar, aku bikin kau terpelanting mampus "

 

"Jangan pakai sebentar, sekarang saja |" goda Kim Wan

Thauto ketawa.

Panas hatinya Siauw Cu Leng, ia pephebat serangannya

hingga Kim Wan Thauto keteter, ia main mundur saja.

Dalam napsunya karena olok-olok dari Kim Wan Thauto,

Toan Bi Lomo telah gunakan jurus Yap-tee-chong-tho (Di

bawah daun sembunyikan buah tho), tangan kirinya menyolok

mata sebagai pancingan» sepangan sebenarnya adalah

dengan tangan kanan menotok Hoa-kap-hiat

(jalan darah dibagian dada), dua serangan saling susul

yang membuat lawan kelabakan.

Namun Kim Wan Thauto sudah kawakan dalam

pertempuran, tidak mudah ia dibikin terjungkal oleh jurus Yaptee-

chong-tho. Tampak ia kerahkan ilmu kebalnya Tiat-pouwsan

di bagian dada sedang serangan ke arah mata ia kelit

dengan bagus sekali.

"Aduhh !" terdengar Toan Bi Lomo mengaduh ketika jarinya

menyentuh dada Kim Wan Thauto yang seperti papan besi

kerasnya. Cepat ia menarik pulang tangannya tapi agak

terlambat, jarinya Kim Wan Thauto berbareng menyentil keras

pada nadinya hingga badan Siauw Cu Leng gemetaran sambil

lompat mundur.

Kim Wan Thauto telah menggunakan gerak tipu Tiat-iekoan-

jit atau 'Baju besi menutup matahari', suatu gerakan yang

berhasil memunahkan tipu Yap-tee-cong-tho dari Siauw Cu

Leng. Sekarang si Iblis Alis Buntung tidak berani menyerang

lagi, ia berdiri menjublek seraya kerahkan lweekangnya untuk

mengusir rasa kesemutan di nadinya yang barusan kena

disentil oleh Kim Wan Thauto.

 

"Bagaimana, apa masih mau diteruskan ?" Kim Wan Thauto

mengejek.

"Baiklah, kali ini kau menang- Sampai lain kali kita jumpa

pula !" jawab Siauw Cu Leng seraya putar tubuhnya berlalu.

"Tunggu !" seru Kim Wan Thauto ketika baru saja si Iblis

Alis Buntung melangkah berapa tindak hendak berlalu hingga

ia hentikan melangkahnya dan putar kembali tubuhnya, ia

menanya, "Apa kau masih penasaran terhadap orang yang

sudah mengaku kalah ? Kau jangan terlalu menghina, ada

satu waktu kita akan berjumpa pula !"

"Bukan itu maksudku." sahut Kim Wan Thauto.

"Habis, kau mau apa ?" tanya Siauw Cu Leng gusar. "Kong

Kongcu sudah aku tinggalkan, kau mau apalagi gerembengi

aku mau berlalu ?"

"Tinggalkan pedang yagn tergantung dipinggangmu l'"

sahut Kim Wan Thauto tertawa.

"Pedang ini tidak ada sangkutannya dengan kau, kenapa

kau mau merampas milik orang ? Betul-betul kau tidak tahu

malu !"

Kim Wan Thauto tertawa gelak-gelak. "siapa bilang tidak

ada sangkutannya ? Pedang itu ada milik sahabatku,

bagaimana kau kata tidak ada sangkutannya 7" kata Kim Wan

Thauto.

Terkejut hatinya si Iblis Alis Buntung. Pedang itu ada

miliknya Kwee Cu Gie, kalau si Thauto kenali ada milik

sahabatnya, terang si Thauto ada hubungan erat dengan

Kwee Cu Gie. Namun si Iblis Alis Buntung orangnya bandel

 

dan licik, maka ia juga tertawa terbahak-bahak menyaingi

tertawanya Kim Wan Thauto.

"Kenapa kau tertawa ?" tanya Kim wan Thauto heran-

"Aku tertawakan kau, sembarangan saja mengakui pedang

orang." sahut Siauw Cu Leng. "Kalau pedang ini pedang

sahabatmu, apa buktinya ?"

"Toan Bi Lomo, kau jangan banyak tanya, kau lihat saja

pada gagang pedang ada goresan nama pemiliknya."

"Siapa pemiliknya, coba kau sebutkan !"

"Hahah, kau masih mau banyak tanya lagi- Pada goresan

itu ada disebut namanya Kwee Cu Gie bukan ?"

Kaget Toan Bi Lomo, memang pada gagang pedang itu

tertatah namanya Kwee Cu Gie.

Ternyata Kim Wan Thauto lihai mengenali pedang kawan.

Ia dapat mengenali pedang itu ketika Toan Bi Lomo

menangkis golok Tan Nie Ciang yang kontan terpapas kutung,

kemudian dengan beruntun golok Nio Him dan Kim Giok juga

telah dibikin buntung oleh pedang pendek yang tajam itu.

Dalam dunia KangoUw pada masa itu hanya pedang

pendek Kwee Cu Gie Tayhiap yang dapat

memapas golok kutung. Suatu keanehan sebenarnya

sebab pedang pendek itu selainnya pendek juga bobotnya

sangat enteng tapi bisa membikin kutung golok yang bobotnya

sangat berat.

Siauw cu Leng tak dapat memungkiri apa yang dikatakan

oleh Kim Wan Thauto.

 

Cuma saja, seperti dikatakan, ia sangat licik. Setelah tidak

ada jalan untuk memungkiri kata-kata Kim Wan Thauto, ia lalu

mencari jalan untuk meloloskan diri kabur dari situ dengan

Pedang masih miliknya.

Maka diwaktu melihat Kim Wan Thauto sedang gelak-gelak

ketauia, mentertawkan dirinya yang tidak bisa memberi

jawaban, segera ia tidak sia-siakan ketika itu. ia enjot

tubuhnya kabur. Namun belum lama lari atau terdengar

dibelakangnya ada suara benda bergemerincing menyusul

kemudian ia rasakan iga kanan dan pundak kirinya

kesemutan, menyusul tubuhnya terkulai jatuh ditanah.

Kiranya Kim Wan Thauto ketika melihat lawannya kabur,

segera ia gelengkan kepalanya. Dua senjata rahasia antingantingnya

melesat saling susul menyambar pada jalan darah

Tay-it-hiat dan Seng-hong-hiat hingga si Iblis Alis Buntung

harus mengakui kelihaiannya si Thauto beranting emas- Ia

sangat gusar harus menerima kekalahannya yang kedua kali

dari lawannya.

"Toan Bi Lomo, aku tidak mengira kalau ada demikian licik

!" menyindir Kim Wan Thauto ketika ia meloloskan pedang dari

pinggangnya Siauw Cu Leng.

Si Iblis Alis Buntung hanya mendengus gusar.

Setelah pedang berada ditangannya, Kim Wan Thauto telah

memungut kembali anting-antingnya yang jatuh tidak jauh dari

siauw Cu Leng dan dikenakannya pula ditelinganya.

"Aku tidak punya permusuhan apa-apa dengan kau, maka

kau boleh pergi !" kata Kim Wan Thauto seraya kakinya

menyepak pada pinggul Siauw Cu Leng yang seketika itu

 

bebas dari totokan anting-anting dan ia ngeloyor pergi setelah

melemparkan muka asem pada Kim Wan Thauto.

Kim Wan Thauto memeriksa pedang pendek itu. Ternyata

memang ada tertulis pada gagang pedang 'Kwee Cu Gie Toan

Kiam' (pedang pendek dari Kwee Cu Gie), pedang

sahabatnya. Diam-diam Kim Wan Thauto merasa heran

kenapa pedang si pendekar Besar bisa jatuh ditangannya

Siauw Cu Leng.

Sedangnya ia mengagumi pedang pendek itu, tiba-tiba ia

dengar opang berkata, "Paman, aku sangat berterima kasih

sekali atas pertolonganmu----11

Ketika Kim Wan Thauto berpaling, kiranya yang berkata itu

ada Kong Liang Hin, puteranya Kong Tek Cong sahabatnya.

Anak muda itu telah dibebaskan oleh Tan Nie Ciang ketika

si Iblis Alis Buntung telah dirobohkan oleh Kim Wan Thauto.

Begitu melihat Siauw Cu Leng sudah pergi, maka pemuda itu

sudah menghampiri Kim Wan Thauto yang tengah mengagumi

pedang sahabatnya.

"Anak Hin, apa kau sudah lupa pada pamanmu ?" tanya

Kim Wan Thauto ketauia.

Kong Liang Hin heran, ia lantas menatap wajah orang.

"Ah, kau... kau., paman Auw-yang..." Kong Liang Hin kenali

seraya menubruk pada si Thayto dan matanya berkaca-kaca

menangis dalam dekapannya si Thauto.

"Anak Hin, bagaimana dengan ayahmu ?*" tanya Kim Wan

Thauto.

 

"Ayah baik-baik saja tapi selalu ia mengharap paman

pulang ke kampung halaman." sahut Kong Liang Hin sepaya

menyeka air matanya.

Kong Liang Hin menangis karena ia rindu kepada Kim Wan

Thauto yang sudah lama berpisah dan baru waktu itu mereka

ketemu kembali.

Kim Wan Thauto dengan Kong Tek Cong ada sahabat baik,

malah telah angkat saudara.

Ia bertempat tinggal di Pek-in-chung juga dan sering

berkunjung ke rumahnya Kong Tek Cong dimana Liang Hin

yang masih kecil suka diberi petunjuk-petunjuk hal ilmu silat

dan Liang Hin Pandang Kim Wan Thauto seperti orang tuanya

sendiri.

Mereka bergaul akrab jikalau Kim Wan Thauto sedang ada

dikampungnya.

Ia paling suka merantau. Kalau sudah meninggalkan

kampung halamannya 2-3 tahun baru kembali- Ketika ia

meninggalkan kampungnya belakangan ini, ternyata sampai 5

tahun tidak kelihatan ia pulang hingga menimbulkan keraguraguan

dalam hatinya Tong Tek Cong kalau Kim Wan Thauto

itu telah meninggal dunia dalam perantauan.

Tidak heran Kong Liang Hin tidak kenalai Kim Wan Thauto

sebab waktu si Thauto belum menjadi pendeta, ia masih

menjadi pendekar dengan nama Auw-yang Siang Gie.

Dalam perantauan ia telah ketemu dengan seorang Thauto

jagoan ialah Tek Kim Thauto, dengan siapa Auw-yang Siang

Gie telah bertempur untuk menjajal masing-masing punya ilmu

silat siapa lebih tinggi.

 

Itulah sebagai kesudahan pertandingan hal ilmu silat, dalam

mana Auw-yang Siang Gie selalu mau lebih unggul saja.

Dalam pertempuran itu yang memakan waktu sampai 20n

jurus, Auw-yang Siang Gie telah dikalahkan Tek Kim

Thauto- Sejak mana Auw-yang Siang Gie mengaku kalah

pada Tek Kim Thauto.

Tek Kim Thauto ada seorang baik, ia suka memberi

petunjuk-petunjuk kepada Auw-yang Siang Gie hingga yang

tersebut belakangan menjadi sangat berterima kasih sekali.

Belakangan, atas maunya sendiri Auw-yang Siang Gie yang

tidak berkeluarga telah masuk menjadi Thauto. Untuk

membuat tali perhubungan lebih erat pula, Auw-yang Siang

Gie telah angkat saudara dengan Tek Kim Thauto.

Setelah angkat saudara, Tek Kim Thauto telah menurunkan

banyak ilmu silat yang Auw-yang Siang Gie belum tahu. Maka

kepandaiannya Auw-yang Siang Gie menjadi hebat, ia

menggunakan nama Kim Wan Thauto atau pendeta berantinganting

emas dalam dunia Kangouw. Oleh karena ilmu silatnya

tinggi, maka sebentar saja namanya Kim Wan Thauto telah

naik tinggi dan namanya Auui-yang Siang Gie telah lenyap-

"Paman Auw-yang, kenapa kau sekarang menjadi pendeta

?" tanya Kong Liang Hin.

"Panjang untuk diceritakan, anak Hin. Nanti, kalau aku

sudah ketemu dengan ayahmu, akan kuceritakan perjalanan

paman." sahut Kim Wan Thauto.

Nio Him, Tan Nie Ciang dan Lie Kim Giok juga sudah

datang dan mengunjuk hormat kepada si Thauto. Mereka

menyatakan tidak mengenali kalau Kim Wan Thauto adalah

Auui-yang Siang

 

Gie dan menanyakan sejak kapan menjadi Thauto. Kim

Wan Thauto berjanji akan menceritakan riwayatnya manakala

sudah jumpa dengan Kong Chungcu dari Pek-in-chung.

Demikian, mereka telah pulang ramai-ramai ke Pek-inchung,

dimana Kim Wan Tnauto telah disambut dengan

gembira sekali oleh Tong Tek Cong dan keluarga.

Begitulah ada penuturannya Kim Wan Thauto kepada Lo In

dan Bwee Hiang-

"Sekarang aku sudah menutur, maka tinggal giliranmu adik

In menuturkan riwayat perjalananmu sampai muka yang cakap

menjadi hitam legam begitu. Hahaha...." Kim Wan Thauto

berkelakar hingga Bwee Hiang juga turut ketawa.

Lo In lalu menuturkan riwayatnya ialah dari anak jembel

menjadi anak yang mempunyai kepandaian silat yang tinggi

berkat didikannya Liok Sinshe. Ia ceritakan bagaimana Liok

Sinshe sayang padanya seperti juga anak sendiri. Kalau Liok

Sinshe sedang mencari daun obat-obatan tidak pernah ia

ditinggal sendirian. Selalu ia diajak pergi sana sini dengan ilmu

meringankan tubuh. Ia sangat mengagumi kepandaiannya

Liok Sinshe yang telah loncat dari satu ke lain tebing yang

curam dengan menggendol dirinya.

Lo In tuturkan cara bagaimana Liok Sinshe jatuh ke dalam

jurang karena dibokong oleh jarum mautnya Kim Popo,

bagaimana ia mencari-cari Liok Sinshe dalam lembah sampai

menjadi sahabat dengan si burung rajawali, kemudian

kawanan kera juga telah menjadi

teman-temannya. Ia kena dibokong oleh Ang Hoa Lobo dan

dipoles hitam wajahnya, lwekangnya hampir musnah kalau

tidak mendapat pertolongan dari wetam Tokgan Siancu, ular

 

kesayangannya Eng Lian. pedang pendek kepunyaan Liok

Sinshe ia bawa, mungkin dimiliki Siauw Cu Leng sebab ia

tidak melihat lagi pedang itu. Dengan Eng Lian ia bergaul

akrab, begitu juga dengan kawanan monyet dan gorila sampai

ia dapat berbicara bahasa monyet dan pandai meniup seruling

memanggil dan menakluki ular.

panjang lebar Lo In cerita pada Kim Wan Thauto sampai

pada kejadian ia menempur Sucoan Sam-sat dan memberi

didikan ilmu silat kepada Bwee Hiang.

Setelah Lo In menutur, terdengar Kim Wan Thauto

menghela napas.

"Liok Sinshe itu pasti ada ayahmu, Kwee Cu Gie Tayhiap,

anak In." berkata Kim Wan Thauto. "Aku belum pernah

menyaksikan kepandaian lompat dari satu ke lain tebing begitu

mahir seperti Liok Sinshe, kecuali kepandaian yang dimiliki

oleh Kwee Cu Gie. Ia ada satu Tayhiap yang sangat dihormati

kawan tapi ditakuti oleh lawan. Karena sepak terjangnya yang

melindungi si lemah menumpas si kuat jahat, maka ia banyak

musuhnya dalam kalangan jahat. Mungkin ia pakai nama Liok

Sinshe sebagai nama samaran. Ia mengumpatkan dirinya dari

musuhnya yang ingin menuntut balas."

"Kalau Liok Sinshe ada Kwee Cu Gie, ayahku, kenapa dia

tidak mengaku bahwa dia ada ayahku ? Sudah sekian tahun

kami berkumpul." tanya Lo In ragu-ragu-

"Mesti ada sesuatu hal yang membuat dia Perlu untuk

sementara tidak menjelaskan dirinya siapa, anak in. Kau

jangan cemas dan menyesalkan, nanti kapan kau satu waktu

ketemu dengannya lagi kau boleh menanyakan."

 

"Liok Sinshe sudah mati, mana dapat kau ketemu pula

dengannya ?" "Ia berkepandaian tinggi, aku tidak percaya dia

mati begitu saja."

"Ya, aku juga meragukan akan kematiannya Liok Sinshe."

sahut Lo In. "Ia sangat tinggi kepandaiannya. Untuk jatuh ke

dalam jurang saja tidak mungkin dia sampai binasa, hanya

yang aku khawatirkan adalah jarum beracunnya si nenek."

"Jarum beracun Kim Popo juga tidak bisa berbuat banyak

terhadapnya. Kau percaya, anak In, ia tidak mati dan satu

waktu akan jumpa pula dengan kau !"

Lo In kegirangan meskipun hatinya agak ragu-ragu.

Ia menundukkan kepalanya, ketika ia angkat pula tampak

air mata menggenang diteiakupan matanya, ia menangis.

"Adik kecil, kenapa kau menangis ?" tanya Bwee Hiang

kaget.

"Tidak apa-apa." sahut Lo in ketawa terpaksa.

"Anak In, kau memikirkan apa sampai menangis ?" tanya

Kim Wan Thauto.

"Aku ingat kepada Liok Sinshe." sahutnya. "Omong-omong

tentang dirinya, aku jadi ingat kebaikannya terhadap diriku----"

"Adik kecil, kenapa kau sampai begitu berduka ? Orang

baik selalu mendapat perlindungannya Thian, maka ada satu

temPo kau akan ketemu lagi dengan Liok Sinshe." menghibur

Buiee Hiang dengan suara empuk menyayang.

 

Lo In ketauia nyengir. Dasar wataknya si bocah yang aneh,

maka ketika Kim Wan Thauto bantu menghiburnya, kedukaan

Lo in lantas lenyap tanpa bekas.

"Malam sudah larut, sebaiknya anak Hiang masuk tidur."

tiba-tiba Kim Wan Thauto menyatakan pikirannya.

"Aku masih belum ngantuk." sahut si nona ketawa-

"Ah, matamu sudah ngantuk. pergi sana tidur. Biar adik

kecilmu aku yang jagai, tidak nanti dia hilang-..." Kim Wan

Thauto berkelakar.

Bwee Hiang jebikan bibirnya hingga Kim Wan Thauto

ketawa terbahak-bahak.

Memang si nona sudah ngantuk, melihat adik kecilnya

menangis ia jadi tidak tega meninggalkannya. Sekarang ia

didesak untuk masuk tidur, ia lantas bangkit dari duduknya dan

ngeloyor ke kamarnya.

Buiee Hiang ambil kamar sendiri, sedang Lo In tidur samasama

dengan Kim Wan Thauto.

Setelah si nona pergi, Kim Wan Thauto berkata paa Lo In,

"Anak In, kau bawa-bawa anak orang kaya merantau, apa

tidak takut mendapat kesulitan di jalanan 7"

"Toako maksudkan enci Hiang ?" L0 In balik menanya.

"Ya, ia ada satu Siocia, kepandaiannya biasa saja aku

lihat."

"Toako, kau jangan pandang rendah pada enci Hiang."

 

"Ah, dia bisa apa ? Tempo hari dia dipemainkan oleh si

setan hitam dapi Sucoan Sarrrsat, hampir-hampir dia dapat

malu kalau tidak keburu si kerudung merah turun tangan."

"Oh, itu kejadian dulu-" sahut Lo In. "Lain dulu lain

sekarang, enci Hiang dulu dan

sekacang kepandaiannya beda seperti langit dan bumi.

Toako tidak tahu- ' "Apa iya ?" Kim Wan Thauto menanya

heran.

"Kalau toako tidak percaya, boleh saksikan kalau enci

Hiang nanti bergebrak !" Kim Wan Thauto masih meragukan

akan keterangan Lo In tapi ia tidak kata apa-apa.

Setelah omong-omong pula urusan yang tidak mengenai

jalannya cerita, Kim Wan Thauto ajak adik kecilnya masuk

tidur.

Kita melihat pada Bwee Hiang, apakah si nona tidur pulas ?

Kiranya Bwee Hiang masih belum pulas, pikirannya

melayang-layang, ia jengkel kepada adik kecilnya yang masih

belum dapat menilai kepandaiannya sampai dimana karena

beberapa orang yang ia pecundangi si adik kecil ada orangorang

dari kelas 3 dan paling atas kelas 2. Kapan ia ketemu

dengan lawan kelas 1 ? Ia tanya hati kecilnya. Girang hatinya

mana kala ia dapat merobohkan jago kelas 1 di depan adik

kecilnya, tentu ia bakal mendapat pujian.

Sementara itu matanya sudah mulai mengajak tidur.

Barusan saja ia mau pulas, tiba-tiba ia mendengar sesuatu

yang mencurigakan. Dengan pura-pura pulas, ia perhatikan

 

sekitarnya kamar. Ia kaget nampak ada seorang tinggi besar

sudah berada dalam kamarnya tengah duduk di kursi.

"Apa maunya dia tanya Bwee Hiang dalam hatinya.

Ia urungkan niatnya mau menegur orang itu ketika ia

nampak orang tinggi besar bangkit dari kursinya dan jalan

menghampiri pembaringannya. Ia telah menyingkap kelambu

dan mengawasi kepada Bwee Hiang yang tidur agak miring ke

depan.

Si nona lihat orang itu ada memakai topeng hingga ia tidak

mengenali macam apa parasnya si orang jahat yang masuk ke

dalam kamarnya itu.

Hatinya Bwee hiang berdebaran nampak orang itu telah

mengulurkan tangannya hendak menjamah lengannya yang

halus putih. Tapi entah kenapa ketika hampir menyentuh

lengan yang lunak itu, tiba-tiba tangannya ditarik pulang. Bwee

Hiang masih diam saja, mau lihat lagaknya orang itu lebih

jauh.

Sebentar lagi kelambu telah disingkap begitu rupa sehingga

seluruh badannya orang itu berada dalam kelambu. Baru saat

itu Bwee Hiang agak jeri, orang akan berbuat kurang ajar atas

dirinya.

Tiba-tiba saja orang itu telah menyergap si nona yang

sedang tidur. Tapi alangkah kagetnya ia melihat yang disergap

telah menghilang dan tahu-tahu sudah ada dibawah tempat

tidur. Bwee Hiang sangat gesit. Begitu oran merangkul dirinya,

ia sudah menggelinding menggunakan ilmu 'Kimlun-hoan-sin'

atau 'Roda emas menggelinding' jaran Lo In untuk

menyelamatkan diri dari terkaman musuh yang dilakukan

sekonyong-konyong.

 

"Manusia jahat, kau berani ganggu nonamu sedang tidur ?"

bentak Bwee Hiang. Kakinya berbareng menjejak betis orang

itu hingga keluarkan rintihan tertahan saking menahan sakit.

Orang itu lantas berbalik dan menguber Bwee Hiang yang

sementara itu dengan gerakan 'Hui-niauw-cut-lim' atau 'Burung

terbang keluar hutan', enteng sekali badannya sudah melesat

keluar dari jendela.

Gesit orang tinggi besar itu. Melihat korbannya kabur sudah

lantas menyusul keluar dari jendela, dimana Bwee Hiang telah

menanti padanya. Ternyata Bwee Hiang tidak lari, ia segan

berkelahi dalam kamar yang sempit makanya ia keluar dan

menantang berkelahi di luar.

"Heheh, binatang. Kau berani gila pada nonamu ?" bentak

Bwee Hiang ketika mereka sudah berhadapan.

"Nona, aku datang hendak menemani kau tidur, kenapa kau

jadi marah-marah ?" orang itu menyahut dengan suara Parau.

"Fui !" Bwee Hiang meludah. "Berani kurang ajar terhadap

nonamu, kau harus tanggung akibatnya ! Nah, jagalah

serangan nonamu !" berbareng Buiee Hiang menyerang

dengan pukulan yang hebat sekali hingga orang itu lompat

mundur untuk mengelakkan serangan dahsyat si nona.

Kedua orang itu jadi bertempur seru.

Bwee Hiang baru mendapat lawan alot. Ia senang

menghadapinya. Sayang waktu itu tidak ada Lo In. Pikirnya,

kalau ada pasti akan menambah kegembiraannya berkelahi

dengan musuh tangguh itu.

Orang itu telah mengeluarkan satu jurus yang aneh,

membingungkan lawan. Ia seperti hendak mencengkeram

 

dada namun kapan lengannya dekat sampai sasaran telah

berubah, tangannya dipentang merangkul berbareng menotok

hiat~to (jalan darah) di lengan lawan untuk melumpuhkan

perlawanan musuh. Inilah ada gerakan yang dinamai Hekhouw-

lok-siaUui (Harimau hitam ketawa), satu gerak tipu yang

berbahaya sekali bagi musuhnya kalau kena diterkam olehnya

sebab sang musuh akan lumpuh seketika karena lengannya

kena ditotok.

Untuk serangan yang hebat itu, Bwee Hiang gunakan jurus

'Pa-ong-gie-kah' atau "Couw Pa Ong meloloskan jubahnya'

untuk menyelamatkan diri.

Pertempuran berjalan terus dengan ramai sekali.

Tiba-tiba orang itu memutar tangan kanannya disusul oleh

tangan kirinya yang seperti kilat cepatnya telah nyelonong

hendak mengorek sepasang lentera si nona. Buiee Hiang

kaget sepasang matanya hendak dicopoti. Segera ia gunakan

'Kim-kee-yau-tauw' atau 'Ayam emas menggoyangkan

kepalanya'. Tampak kepalanya bergoyang dan sodokan

tangan lawan ke arah matanya dapat dikelit dengan indahnya-

Sayang saat itu hanya mereka berdua saja rupanya yang

bertarung. Kalau ada penontonnya pasti akan bersorak-sorak

melihat kedua lauian itu sama tangguhnya.

Orang itu heran saban-saban serangannya tidak mendapat

sasarannya.

Ia lihat si nona sangat gesit, tidak mudah dipecundangi

cepat-cepat.

Opang itu penasara, ia merangsek dengan nekad. Lantaran

sangat bernapsunya ia mengalahkan lauian, maka telah

 

menimbulkan kekalahannya, ia menggunakan gerak tipu 'Haytee-

lo-got' atau 'Di dasar laut meraup rembulan', tangan

kanannya seperti menyerang dada, tahu-tahu tangan kirinya

yang menyerang rusuk- Buiee Hiang kaget tapi ia tidak gugup.

Ia gunakan tipu 'Nelayan melintangi perahu' untuk

menyelamatkan dirinya. Namun ia tidak begitu saja. Ia balas

menyerang dengan kecepatan kilat. Dua jarinya dari tangan

kiri yang halus lunak namun seperti dua batang besi telah

nyelonong ke ketiak

orang itu, sebelum yang tersebut belakangan perbaiki

posisinya. Tidak ampun lagi orang itu merasakan kesemutan

di ketiaknya, hingga ia berdiri bagaikan patung karena ;senghoat-

hiat'nya telah kena ditotok jitu sekali.

"Hahahaha, binatang. Kau sekarang mau apa ?" jengek

Bwee Hiang ketika melihat musuhnya mudah tidak berkutik-

"Sekarang baru rasakan lihainya nonamu, ya."

Buiee Hiang menghampiri. Baru saja ia melangkah belum

jauh atau ia dibikin kaget oleh menyambarnya sebuah benda

yang menempel di pipinya, kiranya itu hanya selembar daun

kecil. Meskipun demikian cukup bikin nona kita jadi marah, ia

mendongak ke atas Pohon dan membentak, "Manusia kurang

ajar, kalau kau berani, turun ! Terimalah hukuman dari nonamu

!"

Baru saja si nona menutup perkataannya atau sesosok

bayangan melayang turun dari atas pohon. Bwee Hiang gugup

melihat orang demikian gesit sebab tahu~tahu ia sudah kena

dirangkul. Ia meronta-ronta sambil memaki-maki.

"Enci Hiang, inilah adik kecilmu. Apa kau tidak kenali ?"

terdengar suara berbisik di telinganya si nona. Kapan ia putar

 

tubuh berbalik, memang yang merangkul ia adalah si bocah.

"Adik kecil, kau bikin encimu penasaran l' kata si nona seraya

tangannya mencubit keras hingga Lo In berteriak kesakitan.

"Anak nakal, itulah bagiannya... hihihi..." tertawa Buiee

Hiang.

Si nona lanjutkan niatnya menghampiri musuhnya yang

sudah tidak berdaya.

"Tahan !" kata Lo In hingga Buiee Hiang hentikan jalannya.

"Kau mau apa campur-campurA urusanku, adik kecil ?"

tanya Bwee Hiang.

"Siapa bilang itu ada urusan enci sendiri, aku juga harus

turut campur !"

"Kau mau bikin encimu dongkol karena jengkel ?"

'Bukan begitu, urusan enci ada urusanku juga."

"Tapi aku tidak mau diganggu. Orang itu sangat kurang

ajar, aku harus kasih hajaran. Sekalipun aku tidak sampai

membunuhnya-"

"Jangan, jangan sampai begitu marahnya."

"Kenapa tidak boleh marah ?"

"Itulah ada orang kita sendiri____"

Bwee Hiang tidak percaya. "Orang kita siapa ? Kalau orang

kita, kenapa dia begitu kurang ajar pada encimu. Dia

mengganggu ketika encimu barusan mau pulas, maka tidak

boleh tidak dia harus dikasih hajaran ! "

 

Lo In ketawa gelak-gelak hingga Bwee Hiang menjadi

heran. 'Enci Hiang, kau tidak percaya ia ada orang kita sendiri

?" tanya Lo In. 'Aku tidak percaya, biarkan aku menghukum

padanya |" 'Kau akan menyesal sebab dia ada lebih tua dari

kita !"

'perduli amat, asal dia kurang ajar biarpun lebih tua 10 kali

lipat, aku tidak taku !" 'Nah, pergilah urusan dengannya." kata

Lo In.

Bwee Hiang menghampiri orang itu, kemudian dengan

sekali renggut saja topengnya orang itu telah lenyap dari

wajahnya.

"Kau, eh, kau.... toako ?" berkata Bwee Hiang ketika kenali

0rang itu.

Orang itu hanya bersenyum, tidak menyahut lantaran sudah

ditotok lumpuh. Cepat Bui^e Hiang membebaskan orang itu

dari totokan.

"Anak Hiang, maafkan padaku yang tidak mengenal

aturan____" kata orang itu.

"Tapi toako, kenapa kau berbuat yang tidak benar ?" tanya

si gadis heran.

"Itulah anak Hiang, aku didorong oleh perasaan tidak

percaya, kau sekarang sudah hebat kepandaiannya menurut

anak In, maka aku sudah mencoba-coba menyaksikan dengan

mata kepala sendiri. Aku sengaja mengolok-olok supaya kau

marah dan mengeluarkan kepandaianmu yang hebat. Aku

sekarang percaya bahwa anak Hiang kepandaiannya jauh

diatas dari dahulu ketika ketemu si bontot dari Sucoan Samsat."

 

"Nah, aku bilang apa, bukannya orang sendiri ?" nyeletuk

Lo In ketawa.

Bwee Hiang paham akan maksud dari Kim Wan Thauto,

orang tinggi besar bertopeng yang tadi bertempur dengannya

mati-matina, maka ia pun jadi tertawa cekikikan-

Kiranya itulah Kim Wan Thauto yang menggoda Bwee

Hiang.

Bwee Hiang dikatakan jempol kepandaiannya, telah

meragukan hatinya Kim Wan Thauto. Maka

ketika ia melihat Lo In sudah pulas, ia diam-diam telah

copoti anting-antingnya dan menyaru sebagai opang biasa,

tidak lupa ia mengenakan topeng supaya tidak dikenali oleh

Bwee Hiang. Ia kira Lo In tidak tahu tapi si bocah diam-diam

telah mengikuti gerak geriknya.

Kalau ia ada mengucapkan kata-kata yang agak janggal,

itulah maksud Kim Wan Thauto supaya si nona meluap

amarahnya dan mengeluarkan kepandaiannya yang tinggi.

Ia kira tadinya dapat menjatuhkan Bwee Hiang dengan

mudah, tapi kenyataannya ia berusaha dengan sia-sia malah

akhirnya ia yang kena dijatuhkan oleh si nona-

Sungguh memalukan bila mengingat kepandaiannya

sendiri. Namun, ia tidak jadi penasaran terhadap Bwee Hiang

yang menjadi adiknya sekarang.

Demikian, 3 saudara itu sambil ketawa-ketawa telah balik

pula ke kamarnya masing-masing

 

Pada keesokan harinya Kim Wan Thauto dan 2 adiknya

telah diundang makan-makan oleh Suyangtin Ngo-houw-

Perjamuan itu diadakan bergiliran oleh Lima Harimau dari

Suyangtin. Hari itu giliran pertama dirumahnya Kie Giok tong,

yang berjalan dengan sangat menggembirakan.

Keesokan harinya dirumahnya Song Cie Liang, Jiko dari

Ngo Houw- Kemudian di rumahnya Tan

Him, Samko dari Ngo Houw dan ketika pada gilirannya

Teng Hauw, Sie-ko dari Ngo Houw ada terjadi urusan.

Itulah Kim Wan Thauto yang timbulkan urusan.

Si Thauto beranting-anting emas melihat romannya Teng

Hauw ada murung saja sejak pada perjamuan pertama di

rumahnya Kie Giok Tong, membikin hatinya kurang senang. Ia

menganggap barangkali Teng Hauw tidak senang kepada

mereka, tiga suadara mendapat perlakuan yang begitu

hormat. Maka dalam perjamuan di rumahnya, melihat tuan

rumah tetap murung, ia telah menyatakan tidak senangnya.

"Kami berkumpul makan-makan, bukannya kami mintaminta.

Tapi atas undangan kalian. Maka aku tidak mengerti

melihat sikapnya Teng-heng yang selalu murung seolah-olah

yang tidak senang menjamu kepada kami orang...."

"Oh, bukan, bukan begitu...." Teng Hauw mencegat

perkataan Kim Wan Thauto.

Ia tidak bisa meneruskan kata-katanya karena ia kurang

bisa bicara, maka Kie Giok Tong yang telah menalangi ia

bicara. Katanya, "Taysu, bukannya lantaran itu. Teng-siete

kelihatan tidak gembira lantaran ia punya kesukarannya

 

sendiri yang tak dapat diutarakan kepada orang lain. Harap

Taysu jangan salah mengerti."

"Kesukaran bukannya tidak bisa diatasi, asal orang mau

berdamai. Kalian menghormati kami orang, tandanya ada

taruh kepercayaan. Kenapa kesukarannya Teng-heng tidak

suka diberitahukan kepada kami orang ? Siapa tahu kami

dapat menolong dan meringankan kesukarannya Teng-heng."

Ngo Houw bungkam mendengar perkataan Kim Wan

Thauto yang beralasan-Mereka saling lihati dengan tiada satu

yang berani buka suara.

Teng Hauui gelisah kelihatannya. Ia ingin mengutarakan

apa-apa namun ia tidak pandai merangkai perkataan, ia hanya

mengawasi saja saban-saban kepada Kie Giok T°ng.

Melihat demikian, Kim Wan Thauto bangkit dari duduknya,

ia berkata, "Kalau kalian tidak suka menaruh kepercayaan

kepada kami orang, biarlah kami mohon diri saja. Anak in dan

Hiang, mari kita berangkat !"

Lima Harimau terkejut. Mereka tampak gugup menahan

kepergiannya Kim Wan Thauto.

"Taysu, harap sabar dulu." kata Kie Giok Tong. "Duduk

dulu, kami tidak ingin membuat tamu-tamunya yang terhormat

menjadi penasaran."

Kim Wan Thauto dan dua saudaranya pada duduk pula.

"Toako." kata Teng Hauw pada Kie Giok T0ng. "Kau

ceritakan saja kepada Taysu tentang kesukaranku sUpaya dia

jangan salah mengerti."

 

Kie Giok Tong anggukkan kepalanya.

"Taysu, sebenarnya urusan ini ada rahasia. Tidak boleh

diketahui oleh orang dari luar dusun sebab akibatnya ada

sangat hebat bagi orang yang mengetahui." berkata Kie Giok

Tong yang masih ragu-ragu untuk menuturkan kesukaran

Teng Hauw.

"Aku dan dua saudaraku tidak takut akan akibatnya. Maka

Kie-heng boleh ceritakan saja, rahasia apa yang tak boleh

diketahui oleh orang dari luar dusun."

"Hari ini sudah tanggal 13. Lagi 3 hari sudah tanggal 16 dan

pada hari itulah Siete akan kehilangan puteri tunggalnya,

maka siapa yang tidak jadi murung ?" menerangkan Kie Giok

Tong yang tidak ada ujung pangkalnya hingga Kim Wan

Thauto dan dua saudaranya menjadi bengong. Sukar

menangkapnya apa yang dimaksudkan oleh si orang she Kie.

Bwee Hiang meraba-raba, setelah ketawa ia berkata,

"Tanggal 16 ada hari baik. Hari itulah puteri paman Teng

menemukan hari baiknya ketemu jodoh. Maka, urusan

perkawinan adalah lumrah. Kenapa harus dibuat duka oleh

paman Teng ?"

"Oh, bukan, bukan itu...." kata Teng Hauw lalu ia minta

supaya Kie Giok Tong cerita yang terang kepada para

tamunya.

"Bukan begitu duduknya urusan, nona Hiang." kata Kie

Giok Tong. "Kalau bukan perkawinan, habis apa ?" tanya

Bwee Hiang kepingin tahu.

"Bukan perkawinan yang lazim tapi ini persembahan

kepada Thoat Beng Mo Siauw yang setiap bulan tanggal 16

 

harus dikirimi sajian seorang gadis jelita____" kata Kie Giok

Tong.

Kim Wan Thauto yang tidak paham dengan ceritanya Kie

Giok Tong minta si orang she Kie menutur dengan rapi supaya

urusan dapat dipertimbangkan. Kie Giok Tong meskipun

dipengaruhi oleh perasaan takut telah menuturkan juga suatu

kisah yang menarik yang telah terjadi dalam dusun Suyangtin-

— 23 —

Kira-kira enam bulan berselang, dalam dusun Suyangtin

yang aman telah terjadi kegemparan dengan munculnya satu

iblis jahat yang menamakan dirinya Thoat Beng Mo Siauw (si

Hantu Ketawa pencabut Jiwa). Munculnya iblis itu telah

menggelisahkan penduduk kampung, malah yang berwajib

juga tidak dapat mengatasi gangguan itu. Sebenarnya yang

berwajib banyak menggantungkan pekerjaannya kepada

Suyangtin Ngo Houw (Lima Harimau) yang besar

pengaruhnya. Maka dalam hal urusan si Hantu Ketauia juga

mereka telah menyerahkan bagaimana baiknya diatur oleh

Lima Harimau-

Yang sangat ganas perbuatannya si Hantu Ketauia, ia telah

membikin air minum dari sumur maupun sungai telah beracun

dan penduduk yang meminumnya telah mati konyol. Binatangbinatang

piaraan pada mati keracunan apabila si Hantu

Ketawa sedang marah.

Berhubung dengan mana Suyangtin Ngo Houw telah

berunding untuk mengadakan kompromi dengan Thoat Beng

Mo Siauui. Si Hantu Ketauia tidak munculkan diri, hanya

mengirim wakilnya untuk mengadakan perdamaian.

 

Dalam perdamaian itu telah diterima baik suatu keputusan,

ialah setiap tanggal 16 penduduk Suyangting harus

menyerahkan seorang gadis jelita kepada Thoat Beng Mo

Siauw.

Penduduk banyak yang tidak rela dengan keputusan itu

sebab mereka sayang anak gadisnya dikorbankan kepada si

Hantu Ketawa. Mereka banyak yang pada pindah ke lain

dusun. Namun, hari ini pindah, besokannya mereka sudah

balik pula menjadi mayat, terdapat di masing-masing

pekarangan rumahnya yang ditinggalkan.

Lantaran mana, maka penduduk menjadi jeri untuk

meninggalkan Suyangtin dan terima nasib anak gadisnya akan

dijadikan sajiannya si Hantu Ketawa.

Untuk tidak membikin penduduk jadi iri-irian, maka

Suyangtin Ngo Houw juga mau berkorban, ialah pada setiap

pemilihan gadis yang akan dijadikan korban ada termasuk

juga satu gadisnya diantara Lima Harimau. Kalau diundi

misalnya jatuh pada nasibnya dari puteri Lima Harimau, maka

apa boleh buat disajikannya dengan rela.

Pemilihan gadis-gadis itu biasanya dilakukan tanggal 10

setiap bulan.

Gadis-gadis tidak turut dalam undian, hanya orang tuanya

saja yang maju supaya gadis-gadis itu tidak langsung menjadi

kaget karena nasibnya yang malang-

Thoat Beng Mo Siayui itu seperti yang tahu gadis mana

bulan ini akan dijadikan mangsa-Sebab kalau diganti dengan

lain gadis, orang tua gadis yang bersangkutan bakal mati

konyol dalam rumahnya- Oleh karena itu, maka tidak berani

 

satu juga yang coba-coba menukarkan gadisnya dengan lain

gadis manakala sudah sampai temponya disajikan.

Pernah ada kejadian ke dusun Suyangting ada dua

pendekar yang menamakan dirinya 'Siamsay Jie Liong' atau

'Dua Naga dari Siamsay'. Mereka ada sepasang pendekar

kenamaan dalam kalangan Kangouw yang kebetulan lewat.

Mereka tidak puas dengan perbuatannya si Hantu Ketawa.

Maka mereka sudah tawarkan diri untuk membunuh iblis

kejam itu. Mereka telah berdamai denga Suyangting Ngo

Houw.

"Kami penduduk Suyangtin sangat berterima kasih kedua

enghiong suka buang tempo guna

menumpas kejahatan dari si Hantu Ketawa." menyatakan

Kie Giok Tong ketika menjamu kedua orang gagah itu. "Cuma

saja sebelum enghiong berdua pergi ke sana hapus

dipertimbangkan dulu bahayanya. Thoat Beng Mo Siauw ada

sangat tinggi kepandaiannya dan banyak anak buahnya. Kalau

kita salah tangan bukannya berhasil dalam usaha, sebaliknya

akan mengalami nasib yang tidak diinginkan."

"Legakan hatimu, paman." menghibur Seng Liong, yang tua

dari Dua Naga. "Kami berdua sudah biasa menumpas

kejahatan demikian. Maka dalam halnya Thoat Beng Mo

Siauw juga rasanya tidak akan gagal usaha kami."

"Manusia jahat begitu, kalau lama-lama dikasih hidup lebihlebih

menyusahkan kepada rakyat. Maka selekasnya kami

akan bekerja." menimpali Keng Liong, saudara mudanya.

Kie Giok Tong manggut-manggut tapi dalam hatinya

meragukan itikad baik dari Dua Naga dari Siamsay itu.

Meragukan bukan apa-apa takut mereka mati konyol. Sebab

 

sebelum mereka sudah pernah ada tiga orang gagah yang

datang kesitu dan menawarkan tenaganya untuk membasmi

Thoat Beng Mo Siauw. penghabisannya bukan si Hantu

Ketawa yang mati, malah mereka bertiga kedapatan mayatnya

di pinggir dusun Suyangtin.

Meskipun dengan samar-samar Kie Giok Tong coba

menahan, ternyata Siamsay Jie Liong tak dapat dirubah

niatnya. Terpaksa Kie Giok Tong dan sudara-saudaranya

merestui kePergiannya. Kie Giok Tong berkata, "Atas nama

penduduk dari Suyangtin, kami berlima

mendoakan kepada Jiwie-enghiong supaya berhasil dalam

menumpas si Hantu Ketawa dan balik kembali ke Suyangtin

dengan selamat. Harap Jiwie berhati-hati l'"

jiwie-enghiong (kedua orang gagah).

Berangkatlah hari itu kedua orang gagah itu ke Pek-kut-nia

(Bukit Tualng putih), sarangnya Thoat Beng Mo Siauw. Lima

Harimau telah mendoakan dengan sujud supaya pekerjaan

mulianya Siamsay Jie Liong itu berhasil memuaskan.

BeSokan harinya tidak ada kabar apa-apa dari mereka.

Pada lusanya orang melaporkan kepada Suyangtin Ngo Houw

telah kedapatan mayatnya dua orang gagah itu di pinggiran

dusun. Keadaannya sungguh mengerikan sebab kedua

kepalanya hampir terpisah dari masing-masing lehernya. Itulah

menunjukkan kekejamannya dari Thoat Beng Mo Siauw.

Suyangtin Ngo Houw hanya bisa menghela napas.

Mereka telah menyuruh beberapa orang kampung untuk

mengurus mayatnya dua orang gagah itu guna ditanam baikbaik

serta disembahyangi.

 

Pada malamnya, Lima Harimau itu telah membikin

pertemuan untuk membicarakan urusan Thoat Beng Mo

Siauw.

Pertemuan itu diadakan di rumahnya Tan Him, orang ketiga

dari Lima Harimau, dalam ruangan dari sebuah bangunan

yang spesial dibangun untuk mengadakan rapat.

Bangunan itu pernahnya di sebelah belakang rumah besar

dari Tan Him, diperaboti lengkap dengan kursi meja dan

pigura-pigura indah sebagai pajangan. Sebagai penerangan

telah dipasang lilin-lilin besar dan kecil. Lima Harimau dari

Suyangting itu semuanya orang-orang hartawan yang

menetap disitu dari lain tempat-

Hidupnya mereka boleh dikatakan mewah dan senang.

Malam itu angin meniup tidak menentu, kadang-kadang

besar dan kadang-kadang sepoi-sepoi saja.

Manakala sang bayu sedang meniup kencang keadaan

menjadi berisik dikarenakan cabang-cabang pohon beradu

satu dengan lain dan daun-daunnya pada berguguran rontok.

"Toako." tiba-tiba Song Cie Liang, orang kedua dari Ngo

Houw berkata. "Kita sudah mendapat gelaran Lima Harimau,

sudah lama kita menjagoi dan dihormati oleh penduduk.

Sekarang dengan adanya Thoat Beng Mo Siauw, benar-benar

pengaruh kita seperti tertindih dan lenyap. Kepercayaan

penduduk kepada kita seakan-akan telah buyar....."

"Memang sungguh menyebalkan perbuatannya Thoat Beng

Mo Siauw itu." sahut Kie Giok Tong

 

dengan suara gusar- "Habis, apa kita bisa bikin karena

memang kita tak punya kemampuan mengatasi pengaruhnya

si Hantu Ketawa."

"Apa kita tidak bisa mencari seorang jago yang benar-benar

dapat mengalahkan si Hantu Ketauia ?" Tan Him menyatakan

pikirannya. "Aku rela keluar uang untuk membiayai jago-jago

yang benar-benar dapat menumpas si Hantu Ketawa."

"Thoat Beng Mo Siauw sangat tinggi kepandaiannya, sukar

diukur. Maka sulit sekali kita mencari orang-orang yang dapat

menandingi kepandaiannya. Menurut kabar, kecuali dia sendiri

berkepandaian tinggi masih ada anak buahnya yang hebat

kepandaiannya, entahlah siapa mereka itu." menyatakan Cia

sin Eng si nomor lima dari Lima Harimau.

Tampak mereka tidak dapat mengambil keputusan, maka

keadaan menjadi sepi dan masing-masing putar otak untuk

mencari daya upaya bagaimana baiknya untuk mengatasi

pengaruh Thoat Beng Mo Siauw yang membuat gurem

pengaruhnya Suyangtin Ngo Houw.

Sementara itu terdengar di sebelah luar angin meniup

kencang dan mengeluarkan suara menderu-deru. Entah

bagaimana tiba-tiba saja, semua lilin penerangan telah

menjadi padam hingga Lima Harimau itu menjadi ketakutan.

"Hahaha..... hahaha---- !" terdengar suara parau ketawa di

sebelah luar.

Itulah suara ketawa yang belum pernah mereka dengar,

menyeramkan sekali mengiang di telinga masing-masing.

Mareka menduga akan datangnya si Hantu Ketawa.

 

Tak usah mereka menduga-duga. Memang juga yang

datang itu ada si Hantu Ketawa yang lantas berkata setelah

tertawa terbahak-bahak, keras nyaring, "Suyangtin Ngo Houw,

aku Thoat Beng Mo Siauw sudah ada di depan pintu. Kenapa

kalian tidak lekas mengunjuk hormat ? Lekas keluar

menemukan majikanmu !"

Namanya saja Lima Harimau, namun mereka gemetaran

badannya tatkala itu dipanggil oleh si Hantu Ketawa. Sungguh

lucu sekali.

Sebelum keluar mereka mengintip dulu, ingin mengetahui

bagaimana romannya Thoat Beng Mo Siauw yang

menyeramkan itu.

Wujudnya si Hantu ketawa memang benar-benar seperti

Hantu. Rambutnya riap-riap seperti Thauto (pendeta piara

rambut panjang), wajahnya bengis dengan hidung bengkok

dan gigi bercaling, sedang matanya melesak ke dalam, namun

telah mengeluarkan cahaya yang berpengaruh. Itulah

menandakan bahwa lwekangnya si Hantu Ketawa sangat

tinggi. Dengan wajah demikian dan diiringi oleh suara

ketawanya yang parau menyeramkan, betul-betul telah

membuat Lima Harimau itu nyalinya berubah menjadi Lima

Tikus.

Masing-masing badannya menggigil seperti yang

kedinginan.

Thoat Beng Mo Siauw tampak berdiri sambil memondong

seorang wanita kecil langsing, entah wanita siapa itu.

Keadaannya tidak berkutik dalam pelukan si Hantu Ketawa-

Rupanya ia telah kena ditotok.

 

"Suyangtin Ngo HoUw> apa kalian tidak Punya nyali untuk

ketemu Thoat Ben Mo Siauw ?" tepdenar si Hantu Ketawa

berkata pula dengan suara yang nyaring sekali.

"Toako, mari kita keluar !" mengajak Song Cie Liang yang

lebih berani hatinya.

Kie Giok Tong dan lain-lainnya menurut.

"Hahaha.____. hahaha----!" tertawa Thoat Beng Mo Siauw

ketika melihat Suyangting Ngo

Houw pada keluar dari rumah. "Bagus, kalian menurut

perintah Mo-ong."

Si Hantu Ketawa bahasakan dirinya Mo-ong (Raja Iblis).

"Malam ini Mo-ong datang ada perintah apa untuk kami

orang ?" Kie Giok Tong berkata, memberanikan diri.

"Hahaha....... hahaha-" ketawa si Hantu Ketawa. "Mo-ong

datang untuk

memperkenalkan diri dan kasih peringatan kepada kalian

supaya lain kali harus

hati-hati. Jangan ceritakan urusan hybunan Suyangtin

dengan Mo-ong kepada orang luar. Kalau kalian tidak

Perhatikan perintah Mo-ong ini, awas ! Jangan sesalkan kalau

Mo-ong marah dan bikin ludes seisi dusun Suyangting !"

"Menurut perintah» menurut perintah Mo-ong.... I" jawab

Kie Giok Tong seraya manggut-manggut diikuti oleh saudarasaudaranya

yang lain.

 

"Bagus, bagus !" kata si Hantu Ketawa. "Untuk kelakuan

kalian yang sudah telah berhubungan dengan Siam-say Jie

Liong sebenarnya Mo-ong harus mengasih hukuman kepada

kalian, tapi tidak apa. Mo-ong hanya ambil ini saja dari

rumahnya Tan Him. Hei, Tan Him, kau lihat ini siapa ?"

Tan Him terkejut dipanggil Thoat Beng Mo Siauw. Ia cepat

melihat kepada wanita yang diunjukkan si Hantu Ketawa-

Kaget bukan main Tan Him. Ia kenali wanita itu ada budaknya

yang baru berumur 15 tahun- Ia bernama Hiang Tin, pelayan

dari puterinya. Ia sangat disayang karena anak itu menurut

sekali- Malah ada ingatan Tan Him dan isterinya, angkat ia

menjadi anak angkatnya.

Sayang, sebelum matannya Tan Him dan nyonya terkabul,

anak itu sekarang sudah menjadi korbannya si Hantu Ketawa-

Sedih hatinya tan Him hingga keluar air mata.

Ia memberanikan hati maju ke depan dan berlutut di depan

si Hantu Ketawa, katanya,

"Mo-ong, harap Mo-ong punya murah hati supaya

membebaskan budakku itu..."

"Hahaha........ hahaha.....!" Thoat Beng Mo Siauw ketawa.

"Sekali wanita jatuh ke tangan

Mo-ong, tidak akan terlepas pula !"

Tan Him sangat sayang kepada Hiang Tin, mendengar

jawaban si Hantu Ketawa ia menjadi nekad- Dengan jurus

Kie~eng-pok-toUw atau 'Elang lapar menyambar kelinci', Tan

Him coba rampas Hiang Tin dari pond0ngan Thoat Beng Mo

Siauw.

 

Tentu saja percobaan Tan Him gagal sebab dengan satu

kebasan tangan baju saja Tan Him terpukul mundur-

Melihat Tan Him berlaku nekad, saudara-saudaranya yang

lain pun ikut-ikutan nekad. Mereka dengan serempak

menerjang pada si Hantu Ketawa.

"Hahaha____ hahaha----!" Thoat Beng Mo Siauw ketawa

gelak-gelak melihat Lima Harimau

bergerak menerjang kepadanya. Kemudian badannya

berkelebat, entah bagaimana ia geraki tangannya tahu-tahu

semua harimau telah jatuh duduk dengan pundaknya

dirasakan kesemutan. Rupanya kena ditotok oleh si Hantu

Ketawa.

Hebat kepanaiannya si Hantu Ketawa. Dalam segebrakan

saja sudah menjatuhkan Suyangtin Ngo Houw yang

kepandaiannya lumayan juga.

"Untuk kelakuan kalian yang kurang ajar sebenarnya Moong

hendak menghukum mati. Tapi biarlah kali ini Mo-ong

kasih ampun. Kalau lain kali berani lagi kurang ajar di depan

Mo-ong, jangan harap kalian dapat hidup lama !"

Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya tidak bisa kata

apa-apa. Memang mereka tak dapat berkata apa-apa karena

kena ditotok. Mereka hanya mengawasi berlalunya si Hantu

Ketawa dengan membawa Hiang Tin.

Lama juga mereka harus menanti totokan si Hantu Ketawa

bebas dengan sendirinya. Mereka jengkel bukan main kena

dijatuhkan demikian mudah oleh si Hantu Ketawa. Untung

mereka tidak tersiksa lama karena tiba-tiba ada datang dua

bintang Penolong.

 

Mereka itu ada dua kakek yang wajah dan potongan

badannya sama, rupanya mereka saudara kembar. Mereka

telah membebaskan totokan Thoat Beng Mo Siauw hingga Kie

Giok Tong dan kawan-kawan menjadi sangat berterima kasih

kepada dua kakek itu.

Mereka perkenalkan diri sebagai Siam-say Ji~lo (Dua orang

tua dari Siam-say), gurunya Siam-say Jie Liong yang telah

tewas ditangannya Thoat Beng Mo Siauw.

Girang hatinya Suyangtin Ngo Houw dapat bertemu dengan

gurunya Siam-say Jie Liong.

Sepasang kakek kembar itu diundang masuk ke dalam

bangunan tempat berapat dimana Kie Giok Tong dan kawankawan

menjadi kaget karena melihat sekarang penerangan

lilin telah menjadi terang kembali. Entah siapa yang telah

memasangnya kembali. Kie Giok Tong dan kawan-kawan

tidak sempat memperhatikan itu karena kegirangan atas

kedatangannya Siam-say Jie-lo. Mereka mengharap kalaukalau

sepasang kakek itu dapat mengatasi kepandaiannya

Thoat Beng Mo Siauw. Sangat hormat memperlakukan dirinya

sepasang kakek itu.

Siamsay Jie-lo memperkenalkan namanya Lim Teng dan

Lim Keng, dua saudara kembar.

"Kedatangan Jiwie Lim-heng sungguh tidak kebetulan,

kalau siangan sedikit pasti akan ketemu dengan si Hantu

Ketawa yang telah membunuh mati Siamsay Jie Liong."

berkata Kie Giok Tong seraya menghela napas.

Dua kakek ini menyatakan menyesalnya. "Kami datang

kemari menyusul dua murid kami-" berkata Lim Teng. Mereka

ada jago-jago muda yagn kepandaiannya lumayan juga. Cuma

 

kalau dihadapi kepada si Hantu Ketawa sudah tentu bukan

tandingannya. Maka itu, ketika kami mendengar mereka

hendak menyatroni sarangnya si Hantu Ketawa, lekas-lekas

kami menyusul ke sini. Tapi siapa tahu kedatangan kami

sudah terlambat dan dua muridku itu telah mati di tangannya si

Hantu Ketawa yang kejam !"

"Baik juga kalau Jiwie hendak menyambangi kuburannya

Siamsay Jie Liong." kata Kie Giok Tong. "Akan kami antarkan

Jiwie ke sana."

"Terima kasih Kie-heng. Besok akan kami berziarah ke

sana." sahut Lim Teng.

Sebetulnya Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya takut

membicarakan halnya Thoat Beng Mo Siauw yang telah

mengancam kepada mereka. Namun mereka sangat

penasaran sekali, maka mereka tidak sungkan-sungkan

membicarakan halnya si Hantu Ketawa kepada Siamsay Jielo

dan menunjukkan sarangnya di Pek-kut-nia.

Mereka ceritakan kekejaman si Hantu Ketawa dan

untuknya setiap tanggal 16, penduduk harus menyediakan

satu gadis cantik- Sampai waktu itu sudah ada 4 gadis cantik

yang telah disajikan kepada Thoat Beng Mo Siauw, tidak

terhitung Hiang Tin, budaknya Tan Him yang cantik dan baru

saja umurnya 15 tahun.

Siamsay Jie-lo geleng-geleng kepala mendengar

kekejaman si Hantu Ketawa.

"Manusia jahat itu memang pantas dibasmi. Sayang

muridku yang paling benci sama kejahatan demikian tidak bisa

menahan napsunya. Coba kalau dapat menunggu beberapa

 

hari disini, kita bisa bersama-sama pergi ke sana

membasminya." kata Lim Teng.

"Bagaimana kalau kita sama-sama kesana ?" tanya Lim

Keng kepada Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya, yang

mana dijawab dengan gelengan kepala oleh mereka.

"Bukannya kami tidak mau bersama-sama Jiwie kesana,

lantaran kami telah terima ancaman keras dari si Hantu

Ketawa. Kalau kami muncul terang-terangan dengan Jiwie,

amarahnya si Hantu Ketawa jadi meluao. Kalau kita dapat

mengatasi kepandaiannya yang hebat itu, tidak apa. Tapi

kalau umpamanya pihak kita gagal, habislah serumah tangga

kami. Maka itu, harap Jiwie tidak menjadi kecil hati." demikian

Kie Giok Tong mewakili saudara-saudaranya menjawab

ajakannya Lim Keng.

"Tidak apa, tidak apa." menyelak Lim Teng. "Kami berdua

juga sudah cukup ke sana untuk menuntut balas murid-murid

kami yang telah dibinasakan."

Pasang omong telah dilakukan lebih jauh dengan kurang

gembira.

Besokannya dua kakek itu ziarah ke makamnya Siamsay

Jie Liong. Mereka senang melihat kuburan dua muridnya

diatur baik, untuk mana mereka menghaturkan terima kasih

kepada Kie Giok Tong dengan saudara-saudaranya.

"Kie-heng dan saudara-saudara sekalian demikian

memperhatikan kepada kuburan dari dua murid kami.

Sungguh kami harus membilang banyak-banyak terima kasih-"

kata Lim Teng.

 

"Itulah ada kehalusan dari kami, menghormat kepada

mereka yang telah berkorban untuk keamanannya

Suyangtin..." jawab Kie Giok Tong merendah-

Pada hari itu juga Siamsay Jie-lo telah pamitan kepada Kie

Giok Tong dkk untuk mereka menyatroni Pek-kut-nia-

Kie Giok Tong dkk telah memberi nasehat supaya mereka

berhati-hati karena disana bukan saja si Hantu Ketauia yang

kepandaiannya sangat tinggi» tapi masih ada lagi anak

buahnya yang berkepandaian tinggi-tinggi.

Lim Teng dan saudaranya mengucapkan terima kasih atas

semua nasehat itu.

Perjaianan ke Pek-kut-nia tidak semudah yang diduga

sebab dua kakek she Lim itu harus menempuh perjalanan

yang bulak biluk dan hanya dengan pertolongan dari tukang

cari kayu baru dapat mendekati Pek-kut-nia•

Sebagai jago Kangouui kapakan, Siamsay Jie-lo ada

sangat hati-hati dalam menempuh perjalanannya. Maka tidak

sampai mereka masuk dalam jebakan musuh. Meskipun

demikian, mereka harus melewati beberapa rintangan yagn

diatur oleh si Hantu Ketauia sebelumnya mereka dapat

bertemu dengan Thoat Beng Mo Siauw.

Dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi,

Siamsay Jie-lo dapat menyisihkan rintangan-rintangan yagn

kuat dan akhirnya bisa juga ketemu dengan Thoat Beng Mo

Siauw.

"Hahaha.--. hahaha..... !" si Hantu «etawa gelak-gelak

ketawa ketika berhadapan dengan

 

dua kakek she Lim itu. 'Tamu-tamu datang harus disambut !

Mari kita menyambutnya ! '

Si Hantu Ketauia telah mengajak dua jago yang menjadi

kaki tangannya untuk menghadapi Siamsay Jie-lo.

"Jiuii datang menghadap Mo-ong ada urusan apa ?" tanya

si Hantu Ketawa. Sepasang kakek kembar itu tidak menyahut»

hanya hidungnya mendengus.

"Hahaha..... hahaha \" ketauia Thoat Beng Mo Siauui. "Di

depan Mo-ong mau banyak lagak ? Betul-betul Jiwi tidak tahu

bakalan mampus I"

"Belum tentu kami yang mampus, mungkin kau sudah dekat

ajalnya !" jauiab Lim Keng mendahului saudaranya menjawab

kata-kata si Hantu Ketauia yang menghina itu.

"Kalian mau apa menghadap M0-ong ? Kenapa kalian bikin

susah kepada orang-orangku dan diantaranya ada yang mati

karena perbuatan kalian ?"

"Hehehe, ada yang mati sudah wajar karena mereka tidak

tahu diri menghalang-halangi perjalanan kami. Sekarang, kami

hendak minta ganti jiwa atas kematian dari kedua murid kami

yang mati ditangan kau \" berkata Lim Teng lantang.

"Hahaha.____ hahaha ! Ganti jiwa ? Ganti jiwa untuk siapa

?" tanya si Hantu Ketawa.

"Ganti jiwa untuk dUa murid kami yang kau sudah

binasakan !" sahut Lim Teng.

 

"Hahaha... hahaha... ! Ganti jiwa buat apa ? Kalian sudah

membunuh-bunuhi beberapa orang kami. flpa tidak cukup

untuk dipakai ganti jiwa ?"

"Hm ! flku minta jiwamu, Setan Ketawa \" bentak Lim Teng-

"Hahaha____ hahaha. | Mana orang, lekas tangkap dua

bangsat ini !" srunya kepada

orang-orangnya. Dengan segera yang dipanggil sudah

datang serentak.

Ternyata mereka terdiri dari orang-orang yang berbadan

kuat dan bengis-bengis wajahnya. Mereka rupanya khusus

digunakan diwaktu menggertak orang.

Sepasang kakek itu tidak keder kelihatannya, karena

mereka ketawa dengan tenang-tenang saja melihat dirinya

dikurung. Hanay tangannya masing-masing siap mencabut

pedang-

"Kalian sudah berada dalam lubang macan, berani banyak

lagak ?" bentak Thoat Beng Mo Siauw yang kemudian gelakgelak

ketawa-

Rupanya gelaran Thoat Beng Mo Siauw tepat benar

untuknya sebab setiap perkataannya kalau

tidak didahului dengan ketauia gelak-gelaknya, adalah

buntutnya disusul oleh ketauianya yang menyeramkan.

"Setan Ketauia !11 bentak Lim Teng. "Setelah kami datang

kemari, tidak akan meninggalkan tempatmu sebelum

membawa kepalamu !"

 

"Uladuh» hebat benar nyalinya orang ini. Siapa kalian ?"

tanyanya, disusul oleh ketawa seramnya.

"Kau kenali sebelum mampus ! Kami berdua ada orang she

Lim dan mendapat gelaran Siamsay Jie-lo dari dunia sungai

telaga (Kang-Ouw). Hari ini Siamsay Jie-lo datang kemari

hendak mengambil kepalanya si Setan Ketawa."

"Hahaha---- hahaha... ! Mana orang, lekas tangkap mereka

!" serunya, disusul oleh

menyerbunya kira-kira 10 orang ke arah Siamsay Jie-lo.

Sepasang kakek itu sudah siap sedia. Maka ketika melihat

gelagat tidak baik, sudah lantas pada mencabut pedang

masing-masing. Pertempuran segera terjadi dengan seru

sekali, dua iauian sepuluh. Ternyata Siam-say Jie-lo bukan

nama kosong. Mereka telah kasih lihat ilmu pedangnya yang

hebat sekali, menusuk ke kiri dan kanan tanpa ampun lagi

membikin orang-orang yang mengerubuti menjerit kena

dilanggar pedang.

Melihat 10 orang mengeroyok masih belum dapat

menangkap Siamsay Jie-lo, Thoat Beng Mo Siauui

perintahkan 2 orang kuat di kiri dan kanannya untuk turun

tangan membantu.

Dengan turunnya dua orang kuat itu, telah membikin repot

pada sepasang kakek itu.

Thoat Beng Mo Siauw tampak duduk diatas mimbar dengan

ketawa berkakakan melihat sepasang kakek dari Siamsay itu

dikeroyok anak buahnya.

 

Sungguh hebat perlawanan dari Siamsay Jie-lo. Cuma saja

mereka dikeroyok oleh orang-orang pilihan dari si Hantu

Ketawa. Maka Pelan-pelan kelihatan mereka keteter dan main

mundur saja bertempurnya.

Dilihat jalannya pertandingan demikian, Thoat Beng Mo

Siauw sudah meramalkan lnO persen kemenangan ada

dipihaknya, meskipun sepasang kakek itu sangat tangkas

bertempurnya. Makin gencar ketawanya si Hantu Ketawa

melihata anak buahnya mendesak lawannya. Namun dilain

saat si Hantu dibuat terbelalak matanya ketika melihat

sepasang kakek itu merubah cara bersilatnya dan balas

menyerang kepada lawannya dengan nekad sekali. flda

beberapa orang yang roboh kena ditusuk pedangnya si kakek

dan merintih kesakitan.

Sepasang kakek itu tambah semangat melihat banyak

lawannya yang dirobohkan.

Tapi mereka kaget sekali ketika mendengar Thoat Beng Mo

Siauw bersiul nyaring dan 10

orang pula telah muncul menggantikan mreka yang sudah

kepayahan mengeroyok Siamsay Jie-lo. Tentu saja Siamsay

Jie_lo jadi kewalahan-

Diam-diam mereka mengeluh harus melayani tenaga baru.

Namun mereka ada tokoh-tokoh kelas satu, tidak gampanggampang

mundur. Mereka telah pertunjukkan kepandaiannya

hebat sekali sehingga orang-0rang baru terpukul mundu dan

ada beberapa orang yang roboh karena disambar pedangnya

sepasang kakek jagoan itu.

"Hahaha.... hahaha... ! Semua mundur !." seru Thoat Beng

Mo Siauw nyaring.

 

Seruan itu berpengaruh benar sebab dengan serentak

mereka pada lompat mundur dari kalangan Pertempuran.

Kenapa si Hantu Ketawa meneriaki orang-orangnya

mundur ? Itulah karena ia melihat tidak ada gunanya orangorangnya

itu, mereka tidak bisa merobohkan sepasang kakek

dari Siamsay. Ia hendak maju sendiri melayani dua kakek

jagoan itu.

Seruan si Hantu Ketauia untuk orang-orangnya mundur

membikin sepasang kakek itu heran. Meskipun ada beberapa

orang yang dirobohkan, tetap mereka sebenarnya ada diatas

angin dan lambat laun dapat membikin mereka (kedua kakek)

ambruk sendiri perlawanannya karena kelelahan bertempur.

"Hahaha...... hahaha.... !" ketauia Thoat Beng Mo Siauui

setelah orang-orangnya pada

mundur. "Kalian bukankah menghendaki kepalaku ? Mari

kita main-main beberapa jurus. Kalau kalian menang dengan

rela aku hadiahkan kepalaku. Sebaliknya, kalau kalian kalah

sudah tentu aku juga menghendaki kepala kalian. Ini toh

pantas bukan ?"

Lim Teng marah betul. Ia menyahut, "Hal itu untuk apa

dikatakan pula ? Kalau tidak kami yang mati, kau yang

mampus ! Mari kita menentukan siapa kuat \"

"Hahaha____ hahaha ! Mana golok 7" kata si Hantu

Ketauia.

Sebentar saja orangnya telah menyerahkan golok besar

yang biasa dipakai oleh si Hantu Ketawa. Dilihat dari besarnya

golok, pasti bobotnya ada sangat berat dan dalam tangannya

Thoat Beng Mo Siauw, senjata itu dicekal seperti mencekal

 

golok-golokan dari kayu saja entengnya. Sungguh hebat

tenaganya si Hantu Ketauia. Mau tidak mau telah membuat

kedua kakek itu mengeluh juga dalam hatinya.

Setelah mengebaskan goloknya beberapa kali sehingga

mengeluarkan suara mengaung, Thoat Beng Mo Siauw

berkata, "Sahabat-sahabat, marilah kita mulai !"

Siamsay Jie-lo sangat benci pada si Hantu Ketawa. Tidak

heran kalau dengan tidak banyak cakap mereka telah

menyerang dengan berbareng kepada lawannya.

Mereka bertempur dengan ramai sekali disaksikan oleh

banyak penonton, ialah anak buahnya si Hantu Ketawa.

Masing-masing bersorak membatu semangat untuk

cukongnya.

Thoat Beng Mo Siauw telah mainkan goloknya dengan

tenang sekali, hal mana menunjukkan bahwa si Hantu Ketawa

bukannya orang kuat sembarangan.

Kalau tadi dikeroyok oleh belasan orang, Siamsay Jie-lo

masih dapat bernapas dan balas menyerang merobohkan

lawannya, kali ini menempur si Hantu Ketauia seorang

beratnya bukan main. Pedang mereka tak dapat dipakai

membentur goloknya si Hantu Ketauia yang sangat berat

bobotnya. Maka saban-saban mereka mengelakan beradunya

senjata. Hal mana sebenarnya ada satu kerugian untuk

mereka.

Dengan begitu, bebaslah golok si Hantu Ketawa

menyerang sana sini.

 

Benar-benar si Hantu Ketawa sangat lihai. Beberapa

serangan maut dari Siamsay Jie-lo semuanya dapat

dipunahkan dengan seenaknya saja.

Meskipun berkali-kali mereka dapat elakkan pedangnya

jangan sampai beradu dengan goloknya si Hantu Ketawa,

akhirnya toh bentrok juga dan pedang Lim Teng terlepas dari

cekaiannya, ia rasakan ngilu sekali tangannya. Di lain pihak

Lim Keng yang hendak menolongi saudaranya juga

pedangnya dibikin terbang oleh si Hantu Ketawa sampai

badannya Lim Keng gemetaran menahan rasa ngilu di seluruh

badannya.

Mereka berdiri bengong mengawasi kepada Th0at Beng Mo

Siauw yang berdiri dengan ketawanya yang menyeramkan.

Tampik sorak riuh rendah kedengaran nebat sekali memuji

kemenangan Thoat Beng Mo Siauw, sementara Siamsay Jielo

hanya berdiri dengan tundukkan kepala.

Orang-orangnya si Hantu Ketauia tanpa mendapat perintah

lagi sudah menubruk Pada Siamsay Jie-lo dan masing-masing

kedua tangannya ditelikung dengan tali yang kuat.

Mereka dengan galak menggampar dan menendangi

sepasang kakek pecundang itu.

Mendapat Perlakuan yang sangat menghina itu, Siamsay

Jie-lo tidak bisa membalas. Mereka terima nasib dirinya

diperhina oleh orang-orangnya Thoat Beng Mo Siauw.

"Kalian memasuki mereka ke dalam tahanan \" memerintah

si Hantu Ketauia, sebagaimana biasa kata-katanya itu telah

disusul oleh ketawanya yang menyeramkan

 

Mereka dijebloskan ke dalam tahanan yang sangat buruk

keadaannya. Kalau lama-lama mereka ditahan disitu, mungkin

akan mati konyol tidak tahan dengan baunya yang

memuakkan. Apa yang menyiarkan bau busuk itu ? Entahlah.

Tapi yang terang bagi Siamsay Jie-lo kamar tahanan itu akan

mengundang penyakit dan mereka akan mati konyol.

Sedih hatinya dua jagoan kolot itu- Tapi apa mau dikata.

Mereka sudah bertekad bulat untuk membalas kematian sang

murid. Tapi gagal dan akhirnya mereka harus menerima

penghinaan yang belum pernah mereka alami.

Pada waktu sore mereka menerima ransum makanan yang

jelek sekali, lebih jelek dari makanan binatang babi. Tentu saja

mereka tak dapat makan. Rasanya, meskipun mereka dikasih

makanan enak juga tak dapat mereka makan karena keadaan

dalam kamar tahanan yang buruk dan bau itu. Bagaimana

orang dapat makan dengan bebas kalau disampingnya ada

bau busuk yang menusuk hidung ?

"Koko, apa kita harus terima nasib begini saja ?" tanya Lim

Keng, sang adik. Lim Teng menghela napas panjang.

"Saban hari kita terima makanan tapi kita tidak makan.

Terang lama-lama kita akan mati kelaparan." berkata pula Lim

Keng. "Sebisanya kita pertahankan hidup kita untuk belakang

kali melakukan pembalasan kepada si Hantu Ketawa-"

"Pembalasan..." menggumam Lim Teng-

"Ya, pembalasan- Apa kok mau bikin habis saja sakit hati

kita dan dua murid kita yang

telah mendahului kita

 

"Adik Keng, soal mati hidup kita dalam kamar tahanan ini

masih suatu pertanyaan. Bagaimana kau memikirkan

pembalasan ?" kata sang kakak dengan lesu.

Lim Teng kelihatannya sudah putus harapan, sebaliknya

dengan adiknya masih ingin hidup dan melakukan

pembalasan untuk sakit hati yang mereka telah alamkan.

Lim Keng membujuk keras untuk bikin saudara tuanya tidak

putus harapan dan semangatnya terbangun. Ia berhasil sebab

pada hari-hari berikutnya Lim Teng mau juga menelan

beberapa suap makanan jelek yang disajikan untuk mereka.

Itu hanya sekedar untuk menahan jangan mereka mati

kelaparan.

Satu minggu mereka disekap dalam tahanan itu sampai

badannya kurus, namun semangatnya hidup. Mereka yakin

akhirnya mereka akan dapat keluar dari kamar tahanan yang

busuk itu untuk kemudian melakukan pembalasan kepada si

Hantu Ketauia.

Sebenarnya itu ada pengharapan kosong. Tidak mungkin

mereka dibebaskan dari kamar tahanan yang buruk itu

kemudian melakukan pembalasan. Yang lebih mungkin adalah

mereka lambat laun habis tenaganya dan mati konyol- Tapi,

sang nasib maunya lain. Pengharapan mereka seakan-akan

telah dikaburkan.

Demikian pada suatu hari mereka telah dikeluarkan dari

kamar tahanan yang buruk itu dibawa menghadap pada Thoat

Beng Mo Siauw.

Tampak si Hantu Ketawa duduk diapit oleh dua jagoan

yang menjadi kaki tangannya.

 

Keren sekali kalau melihat Thoat Beng Mo Siauw duduk

dikursi kebesarannya, apalagi saban-saban terdengar suara

ketawanya yang menyeramkan bulu badan-

Di depan si Hantu Ketawa, Siamsay Jie-lo disuruh berlutut.

Namun mereka membantah hingga kepaksa lututnya digedor

sama pentungan yang membuat akhirny mereka berlutut juga

diluar keinginannya.

"Hahaha____. hahaha.... ! Siamsay Jie-lo, sudah satu

minggu kalian mendekam dalam kamar

tahanan. Bagaimana kalian rasakan ? Enak tidur, senang

bergerak ?"

Siamsay Jie-lo tidak menyahut, hanya menundukkan

kepalanya saja.

"Hahaha..... hahaha..... ! Siamsay Jie-lo, Mo-ong mau kasih

jalan hidup asal kalian suka

menjadi pembantu Mo-on, bagaimana ?"

Lim Teng dan Lim Keng saling awasi satu dengan lain

sejenak, baru Lim jeng menyahut, "Asal Mo-ong suka kasih

kebebasan pada kami» mau disuruh apa juga kami akan

menurut

perintah Mo-ong !"

"Hahaha-... hahaha.-...! Bagus, bagus, mulai sekarang

kalian dibebaskan dan menjadi pembantu Mo-ong. Asal kalian

dapat menunjukkan jasa dalam Pekerjaan kalian pasti Mo-ong

tidak akan melupakan !"

 

Atas perintah Thoat Beng Mo Siauw, orangnya telah

membebaskan Siamsay Jie-lo dari ikatan tangannya.

Kemudian lututnya yang dibikin lemas barusan oleh pentungan

telah diobati dan mulai hari itu Siamsay Jie-lo telah menjadi

orangnya Thoat Beng Mo Siauw, sehari-hari galang gulung

dengan kawanan penjahat.

Siamsay Jie-lo mau menjadi budaknya si Hantu Ketauia

bukannya ingin hidup senang. Mereka mau merendah lantaran

ingin membebaskan diri dari pengaruh si raja iblis. Pikirnya,

kalau mereka menolak tawaran si Hantu Ketawa, terang

mereka akan dijebloskan pula dalam tahanan yang buruk itu,

sampai kapan mereka dapat merdeka ? Sebaliknya kalau

terima tawaran, keuntungan bagi mereka menemukan banyak

kans untuk dapat melarikan diri dan mewujudkan cita-citanya

menuntut balas pada Thoat Beng Mo Siauw yang gagah

perkasa itu.

Siamsay jie-lo selalu diintip gerak geriknya oleh mata-mata

dari si Hantu Ketawa, namun mereka bisa bawa diri sehingga

lama-lama kecurigaan atas dirinya menjadi lunak.

Hampir saban minggu orangnya telah membawakan

perempuan cantik untuk Thoat Beng Mo siauw

bersenang-senang. Wanita-wanita yang menjadi korbannya

itu hanya seminggu ditangannya si raja iblis kemudian

dioperkan kepada orang-orangnya yang disayang. Terutama

kaki tangannya yang diandalkan, sering mendapat hadiah

lebih dahulu dari yang lainnya-

Malah Siamsay Jie-lo juga pernah ditawari wanita bekas

kaki tangannya si raja iblis, akan tetapi dengan halus mereka

 

men0lak dengan alasan mereka sudah tua, tidak suka plesiran

dengan orang perempuan.

penghidupan dalam kekuasaan Thoat Beng Mo Siauw

sebenarnya memuakkan dalam ukuran hidupnya dua kakek

dari Siamsay itu. Namun mereka tak dapat berbuat apa-apa

sebab masih belum ada kesempatan untuk angkat kaki dari

situ.

Wanita-wanita yang menjadi korbannya Thoat Beng Mo

Siauw ada juga yang bunuh diri setelah dinodai tapi

kebanyakan mereka pada temahai hidup dan rela menjadi

bola bundar dioper ke sana sini sehingga tabiatnya berubah

menjadi genit dan merupakan wanita 'p' yagn sangat

memuakkan.

Pada suatu hari, menggunakan kesempatan Thoat Beng

Mo Siauw sedang keluar dengan beberapa jagoannya,

Siamsay Jie-lo telah angkat kaki dari situ. Namun

Perbuatannya telah diketahui oleh mata-mata si Hantu Ketawa

hingga terjadi pengepungan ramai.

Siamsay Jjie-lo telah mengamuk dan membunuh banyak

orangnya Thoat Beng Mo Siauw, namun

mereka tidak bisa lolos dari kepungan sehingga mereka jadi

nekad dan mengamuk mati-matian. Dengan badan berlumuran

darah, mereka telah dikejar oleh orang-orangnya si Hantu

Ketauia. Untuk menolong diri, dua kakek itu gunakan

ginkangnya. Benar lawannya dapat ditinggalkan, namun

keadaan mereka sangat payah. Di perjalanan Lim Keng tealh

ambruk kecapean- Kepaksa Lim Teng menolongi adiknya duu

sebelum meneruskan kaburnya. Hatinya sangat gelisah,

 

khawatir musuh keburu sampai dan mereka bakal mendapat

penghinaan yang bukan-bukan nanti.

"Koko, adikmu sudah tidak berguna lagi. Kau lekas lari

selamatkan diri. Di belakang kali

kau dapat menuntut balas dan adikmu di tempat baka juga

akan merasa senang.----"

demikian Lim Keng telah berkata kepada kakaknya.

"Tidak, kau harus hidup dan sama-sama nanti datang

kembali menuntut balas ! ' menghibur kakaknya dengan

berlinang-linang air mata.

Lim Keng bersenyum, "Sejak muda kita berkumpul samasama,

berkelana sama-sama dan dalam menghadapi suka

duka kita selalu bersama, tapi kali ini, aku harap kau tidak

bersama aku. Relakan kepergianku, pulang menemui murid

kita yang telah mendahului kita....."

Lim Teng menangis seperti anak kecil mendengar

perkataan adiknya.

Makin gelisah hatinya karena sebentar lagi, musuh akan

sudah sampai disitu.

Benar saja, begitu Lim Keng menarik napasnya yang

penghabisan, tampak banyak musuh mendatangi. Kepaksa

Lim Teng meninggalkan mayatnya sang adik, ia kabur seperti

kesetanan sehingga orang-orangnya Thoat Beng Mo Siauw

tak dapat menangkapnya. Mereka hanya boleh merasa puas

dengan mayatnya Lim Keng yang mereka bawa pulang ke

markas untuk dipakai bukti nanti Thoat Beng Mo Siauw

kembali dari kepergiannya.

 

Lim Teng dengan susah payah sampai juga di Suyangtin.

Orang yang melihat padanya telah melaporkan kepada lima

harimau yang segera pada datang menyambut Lim Teng yang

pakaiannya penuh darah, badannya banyak mendapat lukaluka.

Keadaannya payah benar. Maka ketika berjumpa dengan

Lima Harimau telah roboh terkulai saking lelahnya dan seluruh

badannya lemas terlalu banyak mengeluarkan darah. Kie Giok

Tong perintah orang-orangnya untuk menggotong Lim Teng ke

rumahnya, dimana Lom Teng ditolong sebagaimana mestinya.

Keadaannya jago tua itu sangat gawat, namun ia masih

daPat menceritakan pengalamannya kepada Kie Giok Tong

dkk dengan sangat jelas-

Pada keesokan harinya Lim Teng telah menutup mata.

Kasihan, ia dapat meloloskan diri dengan meninggalkan

mayatnya sang adik, maksudnya belakang kali ia akan

membawa banyak teman untuk membalas sakit hati kepada

Thoat Beng Mo Siauw. Tapi kenyataannya tak dapat ia

berbuat apa-apa yang dicita-citakan karena badannya tidak

mengijinkan dan telah

melepaskan napasnya yang penghabisan di rumahnya Kie

Giok Tong.

Lima Harimau sangat berduka atas kematiannya Siamsay

Jie-lo seperti juga kematiannya Siarrrsay Jie Liong (Dua naga

dari Siamsay).

— 24 —

Sejak itu tidak ada kejadian pula ada orang-orang gagah

yang datang dengan niat menumpas kejahatannya Thoat Beng

Mo Siauw. Suyangtin dapat mengalami keadaan aman dan

tentram, sebegitu lama penduduk memenuhkan peraturan

 

yang ditetapkan oleh Thoat Beng Mo Siauw ialah saban

tanggal 16 dikirim seorang gadis yang cantik jelita untuk si

Raja Iblis.

Pada bulan itu adalah bulan keenam, dimana pilihan gadisgadis

telah jatuh kepada puterinya Teng Houw dari Suyangtin

Ng0-H0uw. Puterinya Teng Houw ada putri tunggal bernama

Leng Siong, umurnya baru 17 tahun, wajahnya cantik sekali-

Oleh karena menghadapi kehilangan puterinya pada tanggal

16 yang akan datang, maka mukanya Teng Houw selalu

bermuram durja, sangat duka akan kehilangan puteri

tunggalnya-

Malah Leng Siong sendiri sekarang tengah menangis saja,

tidak mau dijadikan sajian Thoat Beng Mo Siauw.

Demikian ada penuturan Kie Giok Tong kepada Kim Wan

Thauto, Lo In dan Bwee Hiang, baru

tahu sekarang duduknya perkara. Maka Kim Wan Thauto

telah minta maaf untuk sikapnya barusan yang kasar.

"Kelakuan Taysu mana bisa disalahkan. Memang sebagai

sahabat baik Taysu pun ingin tahu duduknya urusan supaya

dapat membantu memecahkannya, bukan ?" berkata Kie Giok

Tong dengan muka berseri-seri, puas dapat menceritakan

halnya Thoat Beng Mo SiaUui kepada Kim Wan Thauto dan

dua saudaranya hingga Kim Wan Thauto tidak menaruh curiga

pula kepada Suyangtin Ngo Houw-

Penuturan itu sangat menarik sekali hatinya Bwee Hiang-

Pikirnya, "Thoat Beng Mo Siauw sangat jahat, banyak

meminta korban uiantia baik-baik- Kalau tidak buru-buru

dibasmi pasti akan menyusahkan pada kaum perempuan.

Sebaiknya aku berdamai dengan adik kecil, biar aku yang

 

gantikan Leng Siong dan adik kecil yang antar aku ke sana.

Kita berdua akan basmi kawanan jahat itu...

Matanya Bwee Hiang mengawasi kepada adik kecilnya,

disambut oleh L o In dengan menyeringai ketawa. Bwee Hiang

sudah hendak membuka mulut menyatakan pikirannya, namun

sudah didahului oleh Kim Wan Thauto yang berkata,

"Kesulitan yang dihadapi oleh Teng-heng bukannya tidak bisa

diatasi, cuma entahlah orangnya yang kita bisa andalkan suka

atau tidak campur urusan ini."

Kie Giok Tong terkejut. Ia menanya, "Orangnya siapa yang

Taysu maksudkan ?"

Kim Wan Thauto tidak menjawab hanya ia ketauia ke

arahnya Lo in.

Sekarang Kie Giok Tong mengerti akan kata-kata Kim Wan

Thauto tadi. Orang yang diandalkan itu adalah si Bocah Sakti.

"Kalau anak In suka menolong Teng-heng, urusan akan

beres sudah." kata si Thauto. "Biarlah adik kecil dengan aku

kesana..." menyela Bwee Hiang.

"Nah, ini baru betul." kata Kim Wan Thauto. "flnak In tidak

bisa bekerja betul tanpa anak Hiang yang mendorongnya.

Hahaha.... bagus, bagus____"

Bwee Hiang dan Lo In saling pandang dengan pikiran

masing-masing.

"Taysu, kau mau atur bagaimana ?" tanya Kie Giok Tong

kepingin tahu

 

"Aku mau atur begini." jawab Kim Wan Thauto. "flnak Hiang

gantikan kedudukannya nona Leng Siong, sedang anak In

yang mengantarnya. Sampai di pek-kut-nia ketemu si Hantu

Ketawa, terserah pada pertimbangan dua anak itu. Aku rasa

dengan anak in dan Hiang kesana urusan Thoat Beng Mo

Siauui akan selesai sudah. Ia akan tinggal namanya saja. Aku

Percaya anak in dapat mengatasi kepandaiannya yang

dikatakan hebat."

Kie Giok Tong saling lihati diantara saudara-saudaranya.

Teng HaUui ragu-ragu untuk menerima tawaran itu. Ia

masih meragukan kepandaiannya Lo In yang masih anak-anak

dan Bwee Hiang satu gadis cantik yang tidak ada apa-apanya

yang ditakuti, ia khawatir dua anak itu akan menjadi korbannya

si Hantu Ketawa yang kejam. Kalau sampai kejadian demikian,

bagaimana ia dapat mempertanggungjawabkan kepada orang

tuannya dua anak itu ?

Sementara Teng Hauui dalam ragu-ragu, tiba-tiba Bwee

Hiang berkata, "Paman Teng, apa kau tidak keberatan ajak

aku menemui adik Leng Siong ?"

"Tentu, tentu, masa aku keberatan. Mari ikut aku nona

Hiang." kata Teng Hauw.

Bwee Hiang kedipkan mata kepada Lo In, seakan-akan

kode suruh si bocah menunggu padanya. Lo In hanya ketawa

nyengir melihat enci Hiangnya ikut Teng Hauw masuk ke

dalam, tapi lekas juga ia kaget sebab dengan perginya sang

enci ia jadi kesepian. Ia paling ogah kumpul-kumpul dengan

orang-orang tua.

 

Bwee Hiang sementara itu sudah masuk dan menemui

nyonya Teng yang sedan berada di kamarnya sang puteri.

Leng Siong sendiri tenah menangis sambil memeluki bantal.

Teng Hauw memperkenalkan Bwee Hiang kepada istrinya

dan sebaliknya, kedua wanita itu saling merendah. Teng Hauw

keluar lagi menemui tamu-tamu yang lainnya.

"Anak Siong, kau jangan menangis saja. Lihat nih enci

Hiang datang menjenguk kau. Lekas bangun, malu ihh

menangis saja ada tamu !" kata sang ibu kepada puterinya.

Leng Siong kaget. Ia lempar bantal yang dipeluki menangis

tadi, lalu bangun dari pembaringannya menemui Bwee Hiang.

Nona Bwee Hiang lihat Leng Siong sangat cantik hanya

sayang kedua matanya pada bengul, rupanya saking

kebanyakan menagnis- Segera dua wanita itu berjabatan

tangan memperkenalkan diri, Bwee Hiang berkelakar, " Adik

Leng Siong, kau sangat cantik. Cuma kedua matamu itu pada

bengkak, jelek ihh !"

"Enci Hiang, kau bisa saja, orang jelek dikatakan cantik."

"Kalau gadis cantik macam adik Siong dikatakan jelek,

gadis yang bagaimana yang boleh dikatakan cantik 7"

"Gadis itu toh sudah ada disini....." sahut Leng Siong

ketawa mesem.

"Siapa 7" tanya Bwee Hiang kepingin tahu.

"Enci Hiang sendiri..-" sahut Leng Siong ketauia cekikikan,

lupa barusan ia menangis terus-terusan.

 

Buiee Hiang tertegun sebentar. Pikirnya, anak ini pandai

benar membaliki duduknya urusan dan suka berkelakar-

Sungguh sayang kalau dijadikan mangsanya si Hantu Ketauia.

"Bagus, kau pandai memutar duduknya urusan." kata Buiee

Hiang ketauia-

Leng Siong ajak Buiee Hiang duduk bersama diatas kursi

panjang.

Ibunya Leng Siong masih duduk di tempatnya tadi- Ia

merasa suka kepada Bwee Hiang yang begitu bertemu

dengan anaknya sudah lantas seperti teman akrab saja.

"Adik Siong." kata Bwee Hiang. "Sebenarnya aku ingin

bertemu dengan kau, mau lihat keadaan kita berimbang atau

tidak. Sebab aku akan menggantikan kau menjadi korbannya

si Hantu Ketawa....."

"Enci Hiang !•" potong Leng Siong kaget.

"Apa kau bilang ? Kau mau menggantikan aku menjadi

mangsanya si Hantu Ketawa ? Oh, jangan, jangan- Aku tidak

mau orang berkorban untuk kepentinganku. Biarlah aku yang

tanggung sendiri......"

Legn Siong berkata sambil menangis sesenggukan.

Nyonya Teng sangat kasihan kepada anaknya yang telah

putus asa-

"Anak Siong, encimu bukan betul-betul menjadi korbannya

si Hantu Ketawa. Ia hanya menggantikan kau untuk ke sana

membasmi si orang jahat itu......" menghibur Nyonya Teng.

 

Leng Siong terkejut. Rambutnya yang riap-riaP ia angkat

dan menatap wajahnya Bwee Hiang. "Enci." katanya. "Enci

mau kesana membasmi si Hantu Ketauia 7 Ah, tidak mungkin.

Kau secantik ini pergi ke sana sendirian, sama saja kau

mengantarkan jiwa."

"Hihihi...-" Bwee Hiang tertawa ngikik.

"Kenapa kau tertawa, enci Hiang ?" tanya Leng Siong

heran. "Aku mentertawakan kau, adik Siong." sahut Bwee

Hiang. "Kau tertawakan aku, kenapa ?" tanya si gadis.

"Aku kesana bukannya sendirian, ada adikku yang

kepandaiannya begini !" kata Bwee Hiang

sambil acungkan jempolnya.

"Adikmu 7 Apa kepandaiannya lebih atas dari si Hantu

Ketawa ?"

"Sudah tentu, adikku kepandaiannya susah diukur,

pendeknya kalau ia yang turun tangan, jangan hanya satu

Hantu Ketawa, biarpun ada sepuluh Hantu Ketauia pasti ia

akan tangkap semuanya. Hihihi

"Enci Hiang, kau jangan berkelakar untuk urusan kosong !"

kata Nona Teng. "Kenapa aku berkelakar dalam urusan

kosong, apa memangnya aku dapat keuntungan 7"

Leng Siong membenarkan jawaban Bwee Hiang. Ia merasa

barusan telah kesalahan omong dan khawatir menyinggung

hatinya sang teman baharu. Maka lantas berkata, "Enci Hiang,

kau jangan marah. Barusan akan kesalahan omong. Adikmu

itu tentu cakap romannya sebab kau sendiri begini cantik...."

 

Bwee Hiang terpingkal-pingkal ketawa mendengar adik

kecilnya dikatakan cakap-"Enci, kenpa kau tertawa begitu

enaknya 7"

"Tidak apa-apa- Aku ketawa geli barusan kau mengatakan

adikku cakap."

Memangnya adikmu itu berwajah jelek ?"

Ah, tidak- Cukup menarik kalau kau nanti melihatnya."

Enci Hiang, apa dia ada disini ?"

Ada. Kau mau berkenalan dengannya ?"

Tentu. Sebab dia mau menolong diriku dari cengkeraman si

Hantu Ketawa." "Baiklah, nanti aku panggil dia masuk."

Bwee Hiang permisi pada nyonya Teng keluar sebentar

memanggil adik kecilnya.

Ketika Bwee Hiang sudah berlalu, buru-buru nyonya Teng

berkata, "Anak Si0ng, mereka segera akan datang. Mana

boleh pertemuan dilakukan di dalam kamar ini. Maka itu, lekas

dandan sedikit dan menyambutnya mereka di ruangan

tengah."

Sang ibu berkata sambil bangkit dari duduknya dan keluar.

Leng Siong pikir kata-kata ibunya tadi memang benar,

maka dengan terburu-buru ia

bersolek dan tukaran pakaian akan kemudian keluar

menanti di ruangan tengah bersama ibunya. Benar saja tidak

lama Bwee Hiang dan Lo in masuk diantar oleh pelayan.

 

Leng Siong kaget melihat Lo In wajahnya hitam lega. Lebih

kaget lagi ketika ia diperkenalkan oleh Bwee Hiang, tiba-tiba

saja Lo in menubruk padanya sambil berkata, "Enci Eng Lian,

kau ada disini ? Hm, diam-diam kau mengumpat disini ya,

membuat adikmu mencari setengah mati. Hahaha.-.-"

Lo In memeluk Leng Siong dengan keras hingga si nona

meronta-ronta minta tolong pada ibunya dan Buiee Hiang.

Ibunya Leng Siong menjadi kesima melihat adegan itu,

sedang Bwee Hiang juga sangat heran dengan tiba-tiba saja

adik kecilnya merangkul Leng Siong dan mengatakan si nona

ada enci Eng Liannya.

Setelah hilang tertegunnya, Buiee Hiang cepat menarik

tangannya Lo In dan berkata, "Adik kecil, kau jangan membikin

maiu orang. Itu bukan enci Lianmu, dia ada puterinya paman

Teng. Hayo lepaskan pelukanmu !"

Lo in dengan perlahan-lahan melepaskan pelukannya, "Apa

benar kau bukan enci Lianku ?" kata Lo In seraya menatap

wajah Leng Siong yang kemerah-merahan jengah dipeluki

oleh laki-laki yang barusan saja dikenal.

"Aku bukannya enci l_ianmu..." sahut Leng Siong seraya

merapihkan pakaiannya yang kusut dan ambil tempat duduk

tidak jauh dari Bwee Hiang. Napasnya masih terengah-engah,

barusan mengerahkan tenaganya habis-habisan untuk

meloloskan diri dari pelukan Lo In, si bocah wajah hitam yang

kesalahan menerka orang.

Lo In masih ragu-ragu atas keterangan Leng Siong, maka ia

mengamat-amati lagi wajah si nona yang cantik jelita hingga si

nona menjadi kemalu-maluan diawasi terus-terusan oleh Lo In.

 

Bwee Hiang di lain pihak merasa tidak enak hatinya atas

kelakuan Lo In tadi.

"Adik kecil." tegurnya. "Lain kali jangan suka sembrono.

Kau lihat dulu yang tegas, gadis yang dihadapi ada enci

Lianmu apa bukan. Jangan main rangkul saja..."

Bwee Hiang menegur sambil tertawa terkekeh-kekeh,

hatinya tiba-tiba jadi geli mengingat kesembronoan Lo in tadi

sehingga Leng Siong menjadi ketakutan setengah mati.

"Aku masih penasaran, enci Hiang- Coba kau tolong

periksa, apa diatas alisnya yang sebelah kiri ada tanda tai lalat

tidak ?" memohon Lo In pada Bwee Hiang.

Bwee Hiang menurut. Ia minta periksa alisnya Leng Siong

yang sebelah kiri tapi tidak ada kedapatan tai lalat yang

dimaksudkan Lo In-

"Adik kecil, benar-benar ia bukan enci Lianmu. Tanda tai

lalat dialisnya tidak ada."

Lo In manggutkan kepalanya. Dengan sopan ia bersoja

meminta maaf kepada Leng Siong, juga kepada ibunya yang

masih diam saja kesima.

Nyonya Teng lihat Lo In, meskipun sifatnya agak liar namun

kelihatannya ia ada anak yang polos dan jujup, maka

kelakuannya tadi terhadap Leng Siong bukannya tidak ada

sebabnya-Maka ia lalu minta keterangan sedikit pada Lo In

tentang Eng Lian.

Lo In menutupkan tentang pengawakan dan wajahnya Eng

Lian persis sama dengan Leng Siong, hanya itu tanda tai lalat

saja tidak ada pada Leng Siong. Ia sangat merindukan enci

 

Liannya yang sudah lama berpisahan, makanya tadi tanpa

sengaja ia telah merangkul Leng Siong yang disangkanya ada

enci Liannya.

Nyonya Teng angguk-anggukkan kepalanya. Diam-diam

hatinya bergoncang mendengar penutupan Lo In. Ia ingat

sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan di depan anak-anak muda

itu.

Setelah ia omong-omong sebentar, lantas meninggalkan 3

anak muda itu duduk kongkouw dengan asyiknya. Lo In sudah

melupakan kejadian barusan, sedang Leng Siong juga dapat

memahami kesalahan Lo In yang tidak disengaja. Ia malah

sekarang suka kepada si bocah nakal yang bisa berkelakar

dan mengitik urat ketauia.

Di lain pihak, Kim wan Thauto sudah merancangkan

maksudnya ialah Bwee Hiang duduk dalam tandu, di gotong

oleh dua orang diantaranya Lo in satu ikut menggotong- Bwee

Hiang akan diantar ke Pek-kut~nia dipersembahkan kepada

Thoat Beng Mo Siauw.

Lima Harimau semuanya sudah mufakat, hanya tinggal

tunggu waktunya saja tanal 16.

Pada keesokan harinya Bwee Hiang dan Lo In dibawa ke

Giok Lie Teng (Peseban Bidadari) oleh Leng Siong, dimana

mereka bercakap-cakap dengan gembira. Kemudian Leng

Siong ajak dua kawannya untuk melihat-lihat kebonnya yang

luas.

Dalam perjalanan Bwee Hiang menggodai Leng Siong,

katanya : "Adik Siong, tepat nama beseban ini dengan

orangnya yang suka datang menangin disitu-"

 

"Enci maksudkan bagaimana ?" tanya Leng Siong.

"Nama beseban bidadari, tepat benar sebab kau sendiri

seperti bidadari, adik Siong !" jawab Bwee Hiang ketawa

ngikik.

"Enci Hiang, kau bisa saja-..." kata Leng Siong, tangannya

diulur mencubit.

"Aduh ! Kenapa aku mencubit aku, adik Siong. Kalau mau

mencubit, cubitlah tuh adik kecil !" kata Bwee Hiang seraya

monyongkan mulutnya ke arah Lo In.

Lo In ketawa menyeringai, "Mana enci Leng Siong berani

mencubit aku, dia takut dirangkul !" L o In berkelakar.

Leng Siong kemerah-merahan wajahnya, matanya menatap

Lo In dengan gergetan.

Terkejut hatinya Lo in melihat Leng Siong dalam sikap

gergetan itu, sebab Persis ia melihat Eng Lian kalau ia sedang

godai dan si nona penasaran menatap padanya dengan sorot

mata dan sikap seperti Leng Siong sekarang.

Segera juga mereka beradu Pandangan di luar tahunya

Bwee Hiang, keduanya terkejut dan pada melengoskan

pandangannya. Leng Siong menundukkan kepala sedang Lo

In pikirannya melayang-layang kepada enci Liannya.

Bwee Hiang yang memecahkan kesunyian, ia berkata,

"Mari kita duduk-duduk di bawah pohon itu yang teduh !"

Lo In mengiyakan, ia hanya mengikuti saja kemananya

kedua gadis jelita itu- Di lain saat mereka telah duduk-duduk

mengangin.

 

Selama kongkouw, matanya Lo in ketarik oleh banyak kera

yang pada lelompatan dari satu ke lain cabang. Pikirannya

melayang-layang ke lembah Tong-hong-gay dimana ia

berkawan

dengan kawanan kera dan si rajawali kapal terbangnya.

Lo In meninggalkan dua gadis yang sedang asyik

kongkouw itu dan menghampiri kawanan kera. Ia disambut

dengan har har dan wajah yang menakuti dari kawanan

monyet. Mereka seperti tidak senang didekati Lo In. Namun

setelah Lo in bicara dalam bahasanya, kawanan monyet itu

menjadi jinak dan berkumpul merubung si Bocah Sakti.

Lo In minta kawanan monyet itu tolong mencarikan buahbuahan

yang lezat untuk ia dan kawan-kawannya makan.

Kawanan monyet itu kegirangan dan berjanji akan mencarikan

buah-buahan yang dimaksudkan, setelah mana kawanan kera

itu telah bubaran lari serabutan ke beberapa jurusan dengan

masing-masing keluarkan suara cetcowetan yang ramai sekali.

Ketika Lo In putar tubuhnya hendak kembali, dibelakangnya

sudah ada Bwee Hiang dan Leng Siong sedang berdiri

mentertawakan kepadanya.

'Adik kecil, sungguh lucu sekali kau bicara barusan dengan

kawanan kera. Apakah mereka mengerti dengan bicaramu itu

7 Hihihi---- " tertawa Bwee Hiang.

Leng Siong ikut ketawa dan Lo In hanya ketawa nyengir.

"Kau katakan apa kepada mereka sehingga mereka pada

bubaran tumpang siur ?" tanya Bwee

 

Hiang kepada Lo In ketika melihat adik kecilnya hanya

ketauia nyengir saja.

"Aku suruh mereka mencarikan bebuahan yang lezat untuk

kita makan." sahut Lo In.

"Bagus." kata Bwee Hiang. "Encimu mau lihat, aPa benar

mereka nanti membawakan bebuahan yang dimaksud.

Rasanya kawanan kera itu hanya main-main saja dengan kau,

adik Kecil."

"Kau lihat saja nanti, enci Hiang." sahut Lo In.

Mereka kembali ke bawah pohon tadi, dimana mereka

meneruskan ngobrolnya-

"Adik Leng Siong, adik kecil ini katanya pandai meniup

seruling mengundang ular. Apa kau tidak ingin mendengarnya

7"

Leng Siong melirik pada Lo In dengan senyumnya yang

memikat-"APa benar, adik kecil ?" tanya Leng Siong.

"Bohong, enci Hiang hanya seenaknya saja berkata." sahut

Lo In-

"Adik kecil, kau jangan bohongi lagi enci Leng Siong."

bantah Bwee Hiang.

Lo In tidak menyahut, ia hanya ketawa nyengir.

"Adik kecil, sebagai tandanya persahabatan, apa salahnya

kau perdengarkan suara serulingmu untuk aku dengar."

berkata Leng Siong.

 

"Hayo, jangan malas- Kalau nona rumah suruh, jangan

bandel !" menyela Bwee Hiang.

Lo In kewalahan didesak kedua gadis jelita itu. Maka ia

mencabut serulingnya dan ia mulai meniupnya dengan lagulagu

gembira. Kedua gadis itu pikirannya melayang-layang

mengikuti irama lagu gembira, tampak wajahnya berseri-seri.

Kapan irama lagu membiluk pada lagu yang tegang,

berubahlah wajah kedua gadis itu menjadi tegang dan serius

sekali. Yang paling hebat, kapan irama lagu seruling Lo In

sampai pada lagu yang sedih, dirasakan oleh kedua gadis itu

seperti hatinya disayat dan sangat sedih, maka berlinanglinanglah

air mata mereka.

Ingin mereka menyetop Lo In meniup serulingnya, namun

merek tidak berdaya karena terbawa oleh ayunan lagu sedih

mencengkeram hatinya. Sampai terisak-isak kedengaran

mereka menangis mendengar irama lagu sedih dari seruling si

bocah nakal.

Tiba-tiba suara seruling dihentikan, lenyaplah lagu sedih

itu- Tampak kedua gadis itu telah menyeka masing-masing

matanya yang penuh dengan air kesedihan.

"Sungguh hebat adik kecil kita !" memuji Buiee Hiang dikala

kegembiraannya telah balik kembali.

Leng Siong sementara itu telah mengawasi kepada Lo in

yang tidak menjawab pujiannya Bwee Hiang, malah

menundukkan kepalanya seperti yang menangis.

"Adik kecil, kau kenapa ?" tanya Leng Siong, melihat Lo In

diam saja.

 

Lo In pelan-pelan angkat kepalanya dan memandang Leng

Siong.

"Aku terkenang kepada enci Lian, entahlah sekarang dia

ada dimana." sahut si bocah seraya menyeka air matanya

yang berkaca-kaca-

Leng Siong tundukkan kepalanya tatkala matanya Lo In

mengawasi saja pada wajahnya yang mirip Eng Lian.

"Kau ada begitu Perhatikan enci Lianmu. Pasti ada satu

waktu Tuhan akan pertemukan kau

dengannya- Tak usah kau sedihkan- Enci Lianmu pasti

dalam selamat____" menghibur Leng

Siong yang merasa sangat kasihan kepada Lo in.

"Biasanya adik kecil tidak cengeng kalau ingat akan enci

Liannya. Entahlah sejak dia melihat wajah adik Leng Siong,

sebentar-sebentar keingatan saja dengan enci Liannya."

nyeletuk Bwee Hiang sambil ketawa.

Leng Siong semu-semu merah wajah mendengar

perkataan Bwee Hiang.

Bwee Hiang perhatikan perubahan Leng Siong yang rada

kikuk, maka ia alihkan pembicaraan, katanya, "Adik kecil, lagu

serulingmu hanya membuat orang sedih saja. Tidak ada

hasilnya apa-apa."

"Siapa bilang tidak ada hasilnya ?" sahut Lo In.

 

"Kau kata, dengan lagu serulingmu akan dapat

mengundang kawanan ular. ' kata Bwee Hiang-Kalau itu apa

?" sahut Lo In sambil menunjuk ke depan.

Bwee Hiang dan Leng Siong memandang ke arah yang

diunjuk oleh Lo In. Tiba-tiba saja matanya kedua gadis itu

terbelalak ketakutan. Memang benar, tidak jauh dari mereka

ada berkumpul banyak ular kecil besar. Ada yang angkat

kepalanya dan menjulurkan lidanya, ada yang lugat legot

seperti yang berjoget, entah dari mana datangnya ular yang

jumlanya hitung ratusan-

Bukan saja kawanan ular itu hanya berkumpul di sebelah

depan, tapi tampak disekitarnya juga hingga Lo in dan dua

gadis itu terkurung di tengah-tengah.

"Habis, bagaimana ini ?" keluh Leng Siong yang ketakutan.

"Nah, biarkan enci Leng Siong dikawani kawanan ular. Aku

dan enci Hiang bisa keluar dari kepungan mereka !" Lo In

menakut-nakuti si gadis yang sedang ketakutan.

Bwee Hiagn ketauia ngikik.

"Enci Hiang, kau jangan ketawa saja." tegur Leng Hiong

rada keras suaranya, rupanya ia jengkel. "Carilah daya supaya

aku dapat keluar dari sini."

"Kau jangan takut, adik Leng Siong-" menghibur Bwee

Hiang- "Disini ada jago cilik kita, apanya yang ditakuti 7"

"Aku tidak berdaya menghadapi bagitu banyak ular.

Bagaimana enci Hiang kata demikian ?" kata Lo In seperti

yang putus asa.

 

Leng Siong yang tidak tahu sampai dimana kepandaiannya

Lo in telah menangis.

"Adik kecil, kau mau suruh encimu dimakan ular ?" kata

Leng Siong sesenggukan menangis. "Biarlah, sebelum kau

dimakan ular akan kucakar dulu mukamu yang hitam legam

untuk melampiaskan penasaranku. Uh, uh, uh... "Leng Siong

menangis.

Leng Siong mendekati Lo In dengan maksud mencakar

mukanya si bocah. "Adik kecil, kau jangan godai enci Lianmu

!" tegur Bwee Hiang ketawa.

Bwee Hiang sengaja menyebut namanya Eng Lian agar si

bocah muka hitam hentikan menggodai Leng Siong yang

benar-benar ketakutan melihat ular yang jumlahnya ratusan

itu.

Benar saja Lo In terkejut. Ia ingat seketika itu pada enci

Liannya, dipandangnya wajah Leng Siong yang cantik sedang

menangis.

Seraya Pegangi tangan Leng Siong yang hendak mencakar

mukanya, L0 in berkata, "Enci Leng Siong, kau jangan takut.

flku ada disini, keselamatanmu aku jamin...."

Lo In mencekal tangan yang halus lunak itu seraya matanya

mengawasi Leng Siong hingga si nona kembali pelongoskan

mukanya dan menunduk kemalu-maluan. Pikirnya, "Anak

hitam ini sudah tergila-gila sama enci Liannya. Makanya selalu

mengawasi saja wajahku yang mirip enci Liannya. Lama-lama

apa dia tidak menyulitkan diriku ?"

Tengah ia berpikir demikian, tiba-tiba dibikin kaget oleh

suara ketawa gelak-gelak dari luar lingkaran ular. Entah dari

 

mana datangnya sudah ada kira-kira dua belas orang yang

berdiri sambil tertawa ke arah mereka.

"Enci Hiang, itulah lawanmu. Lekas sambut ke sana !" Lo In

menganjurkan Bwee Hiang yang berdiri tertegun melihat ada

banyak orang laki-laki muncul dengan tiba-tiba.

Buiee Hiang paling gembira kalau disuruh bertempur. Maka

dengan tidak mengatakan apa-apa, ia enjot tubuhnya

mencelat melewati lingkaran ular dan tahu-tahu ia sudah ada

di depan dua belas laki-laki tadi. Dengan gagah ia menegur,

"Kalian siapa datang mengganggu kesenangan nonamu ?

Lekas kasih tahu, supaya nonamu jangan kesalahan tangan

membunuh orang yang tidak bernama !"

Seorang diantara dua belas orang itu rupanya menjadi

pemimpinnya telah maju ke depan dan berkata, "Nona manis,

aku Hek-liong Gouw Cin mendapat perintah untuk menangkap

kalian. Maka kau jangan bikin Perlawanan. Menyerah saja,

karena dengan membikin perlawanan kau bisa dapat susah

dikeroyok kami ramai-ramai."

Bwee Hiang tertawa cekikikan.

"Kalian bangsa gentong nasi mau bikin susah pada nonamu

? Hm ! Kalian jangan ngimpi ! Mari, aku mau lihat kau orang

macam aPa berani mengacau disini !"

Bwee Hiang seorang gadis cantik dan lemah gemulai, tidak

disangka-sangka oleh Hek-liong Gouw Cin, si Naga Hitam,

berani menentang kepada mereka. Dalam gusarnya ia

membentak,

"Budak liar, apa Bouui toaya tidak mampu tangkap kau ?"

Gouw Cin berkata seraya menyerang pada si n0na.

 

Kepandaian Bwee Hiang sekarang sudah hebat. Ia bukan

Bwee Hiang di jaman SuCoan Sanrsat menyerbu ke rumahnya

Liu Ulangwee. Ia sekarang mendapat pelajaran tinggi dari guru

kecilnya (Lo In)• Maka tidak heran kalau hanya dengan gepaki

saja sedikit badannya serangan si Naga Hitam menemukan

sasaran kosong.

Si orang she Gouw heran. Kembali ia menyerang, sia-sia

saja. Malah entah bagaimana si nona bergerak tahu-tahu ia

sudah kena ditampar dua kali sehingga terputar. Bwee Hiang

ketawa ngikik melihat musuhnya terputar ditampar olehnya.

Sementara itu kawan-kawannya GoUw Cin tidak tinggal

diam. Dengan serentak mereka menyerbu dan mengurung

Buiee Hiang ditengah-tengah. Si nona tidak gentar, apalagi ia

tahu dibelakangnya ada guru ciliknya. Semangatnya menyala

dikeroyok banyak orang-

Ia gunakan ginkangnya untuk berkelit dari seranganserangan

orang jahat itu.

Di lain pihak, Leng Siong sangat mengagumi

kepandaiannya Buiee Hiang yang bisa melesat tubuhnya

melebati lingkaran ular dan kini si nona sudah bertempur.

Ketika pandangannya beralih kepada Lo In, si nona terkejut

melihat ada dua orang yang mendekati Lo In

hendak membokong. Ia menjerit, "Adik In, awas !"

Saking ngeri Leng Siong pejamkan matanya. Ia menduga

adik kecil itu remuk kepalanya digempur oleh dua orang jahat

yang berbadan tinggi besar.

Leng Siong mencelos hatinya mendengar suara jeritan.

 

Pelan-pelan ia membuka matanya, kiranya yang menjerit

tadi bukannya Lo In, hanya kedua lawannya yang telah hancur

kepalanya dibenturkan satu dengan lain oleh jago cilik kita.

Sebelum Leng Siong menjerit kasih tahu ada bahaya, Lo In

sudah tahu bahwa ada dua orang hendakmembokong dirinya.

Maka dengan menggunakan kegesitannya ia berhasil

mencekuk dua orang itu lalu diadukan kepalanya hingga

hancur berantakan.

"Adik kecil, kau tidak apa-apa ?" tanya Leng Siong cemas.

Lo In hanya ketawa nyengir, berbareng ia jumput sebuah

batu kecil. Begitu batu itu melesat ke atas, terdengar jeritan

orang dari atas pohon, menyusul badannya telah jatuh persis

di depan Leng Siong hingga si nona menjadi sangat kaget.

"Adik kecil !" serunya ketakutan.

Orang itu tidak berkutik karena kena ditotok oleh batu kecil

tadi. Namun di tangannya

ada memegang senjata rahasia yang dekat meledak.

Leng Siong barusan saja memanggil adik kecil, Lo in

dengan gesit telah menyambar si nona ditarik dalam

pelukannya. Leng Siong kaget dan meponta-ronta dapi

pelukan Lo In, ia mengira si anak kecil mau main gila

terhadapnya. "Adik kecil, kau jangan begini terhadapku. Aku

bukannya Eng Lian..." keluhnya-

Berbareng terdengar suara 'Dar \' keras sekali hingga tanah

dimana Leng Siong duduk tadi menjadi berlubang. Si nona

leietkan lidahnya nampak kejadian itu, ia menatap wajahnya

Lo In yang ketawa kepadanya.

 

"Adik kecil, oh, kau sudah menyelamatkan encimu...." kata

Leng Siong seraya sesapkan kepalanya di dada Lo In yang

kecil.

Sekarang si nona baru tahu maksud baik dari Lo In. Maka

ia sangat berterima kasih dan tidak meronta lagi, malah ia

sesapkan kepalanya di dada si jago cilik dengan roman yang

manja.

"Enci Leng Siong, kau cantik seperti enci Lian..." bisik Lo In

ditelinga si gadis, sedang tangannya mengusap-usap

rambutnya kepalanya si nona yang hitam jengat.

"Apa iya, adik kecil... ?" sahut Leng Siong perlahan,

kepalanya mendongak menatap Lo In

yang mengagumi kecantikannya- Untuk pertama kalinya

tergetar hatinya Leng Siong beradu pandangannya dengan si

bocah muka hitam.

Leng Siong senang dalam dekapannya L0 In, ia ingin itu

berjalan iama-iamaan namun keadaan ada sangat gawat.

Buiee Hiang perlu mendapat bantuan meskipun sudah ada

beberapa kawan yang dirobohkan dengan totokan.

"Mari kita liihat enci Hiang !" kata Lo In seraya meraih Leng

Siong dan dengan sekali enjot saja tubuhnya melayang

bersama Leng Siong melewati batas lingkaran ular yang

sedang berkumpul- Dengan Leng Siong masih dalam

p0nd0ngannya, L0 in telah membantu Buiee Hiang

menendang mental dua orang baru yagn mau mengeroyok si

nona. Dua orang itu tubuhnya mental jatuh Persis diantara

kumpulan ular. Dengan enak saja mereka telah dilahap oleh

kawanan ular yang sedang lapar rupanya.

 

"Enci Hiang, cukup ! seru Lo In-

Itulah ada seruan merupakan kode untuk Bwee Hiang

mengakhiri perkelahiannya.

Sementara Leng Siong barusan saja diturunkan oleh Lo In,

Bwee Hiang telah selesaikan Pertempurannya. Semua

musuhnya dirobohkan dengan totokan.

Hebat kepandaiannya si nona hingga Leng Siong melongo

dibuatnya.

Lo In telah menotok bebas Hek-liong Gouw Cin dan

menanya, ia dengan kawan-kawannya itu suruhan siapa telah

datang kesitu.

Belum si Naga Hitam menjawab, tampak Kim Ulan Thauto

dan Suyangtin Ngo Houui jalan mendatangi hingga

pemeriksaan Lo In serahkan pada si Thauto.

Si Naga Hitam membandel tidak mau mengaku siapa yang

suruh dirinya hingga Kim Wan Thauto kewalahan.

Pemeriksaan ketunda berhubung dengan datangnya

segerombolan kera yang pada membaca bebuahan. Kim Wan

Thauto dan Suyangtin Ngo Houui heran begitu banyak kera

dari mana datang. Lo In kasih mengerti pada mereka bahwa

kawanan kera itu hendak mempersembahkan barang

bawaannya yang diminta olehnya.

Kim Wan Thauto terbahak-bahak ketawa mendengar

perkataan Lo In.

Lo In membilang terima kasih pada kawanan kera dan

minta mereka bubar.

 

Ramai mereka cetcowetan lari serabutan mendapat

perintah dari Lo In.

"Toako, para paman, enci Hiang dan Leng Siong, mari kita

makan antaran mereka !" berkata Lo In seraya ia sendiri

menjumput sebuah dan dimakannya. Ternyata bebuahan

antaran kawanan kera itu sangat lezat rasanay, semua orang

pada memuji terutama Bwee Hiang dan

Leng Siong yang bergantian mengangkat jempolnya

memuji kepada Lo In yang bisa memerintah kawanan kera.

"Itu ada banyak ular dari mana datangnya, anak in ?" tanya

Kim Wan Thauto. "Adik kecil yang memanggil dengan

serulingnya." menyela Buiee Hiang ketawa.

"Sebaiknya mereka disuruh pulang lagi saja, anak in !" kata

Kim Wan Thaut0 yang melihat Leng Siong dan Suyangtin Ngo

Houw kelihatannya ketakutan-

Lo In menurut perintah. Ia keluarkan serulingnya dan

meniupnya sebuah lagu yang empuk kedengarannya tapi

berwibawa seakan-akan perintah- Selagi orang mengagumi

tiupan seruling si bocah, kawanan ular itu perlahan-lahan telah

menggelesar pada pergi dari situ.

Kim Wan Thauto dan Suyangtin Ngo Houw sangat

mengagumi kepandaiannya si bocah-Pemeriksaan dilanjutkan

kepada Hek-liong Goyw cin.

|_egn Siong minta permisi untuk pulang lebih dahulu karena

kepalanya pusing katanya barusan menyaksikan kejadiankejadian

yang mengagetkan dan baru pernah ia alami.

 

Kim Wan Thauto dan lain-lain tidak keberatan si nona

berlalu. Malah Buiee Hiang berkata, "Sebaiknya memang kau

kembali lebih dahulu. Pemeriksaan disniakan makan waktu.

Ha^aP kau jangan keterusan kaget, nanti bisa bikin kau sakit."

Leng Siong bersenyum- Setelah melemparkan lirikan yang

berarti kepada Lo In, si nona telah meninggalkan mereka

pulang ke rumahnya.

Gouw Cin baharu mau mengaku setelah tidak tahan disiksa

oleh totokan yang menimbulkan seluruh badannya dirasakan

sakit seperti digigiti oleh ribuan semut.

"fliyoo... !" tiba-tiba Gouw Cin menjerit. Tubuhnya kontan

terkulai roboh sebelumnya ia memberi pengakuan siaPa yang

telah meberi pengakuan siapa yang telah menyuruh ia dan

kawan-kawan datang mengacau ke situ.

Kim Wan Thauto Periksa keadaan Gouw Cin, ternyata

Gouw Cin telah mati dihajar oleh senjata rahasia yang

membuat hangus dan bolong pada bagian bawah dari

teteknya yang sebelah kiri. Senjata rahasia apa itu demikian

lihainya ?

Tiba-tiba Kim Wan Thauto kaget dan menggumam, "Apa

senjatanya Tui Hun Lolo ?" Meskipun menggumamnya tidak

keras tapi terdengar oleh Kie Giok Tong dan kawan-kawan.

"Siapa ? Taysu tadi kata Tui Hun Lolo ?" tanya Kie Giok

Tong kaget.

Tui Hun Lolo ada satu wanita yang belum berapa tua

usianya, dibawah 50 tahun namun suka berpakaian neneknenek

dan senang dipanggil nenek (lolo). Sebenarnya ia

masih memiliki kecantikan yang dapat menggiurkan lelaki

 

yang rakus. Nama aslinya Siang Niang Niang tapi lebih dikenal

dengan nama Tui Hun Lolo atau si 'Nenek pengejar roh'.

Senjata rahasianya 'Siauw'sim'hwe'cian' atau 'Panah api

membakar hati' ada sangat lihai, apabila mengenakan

sasarannya sang korban tidak ketolongan jiwanya.

"Anak In, kemana dia anak In ?" tiba-tiba Kim Wan Thauto

ingat pada si bocah.

Ternyata Lo In sudah tidak ada diantara mereka, begitu

juga dengan Bwee Hiang.

Mereka menduga Lo In dan Bwee Hiang sama-sama

mengejar si penjahat yang melepas senjata rahasia tadi dan

merengut jiwanya Hek-liong Gouw Cin.

Khawatir di rumah ada timbul malapetaka, maka Kim Wan

Thauto ajak kawan-kawannya melihat. Tapi ternyata di rumah

tidak ada kejadian apa-apa. Nyonya Teng ditanyakan halnya

Lo In dan Bwee Hiang barangkali ada lihat, telah geleng

kepalanya dan ia hanya lihat anaknya pulang dan masuk

kamarnya karena kepalanya pusing.

Kapan Kim Wan Thauto ajak teman-temannya melihat pula

orang-orang jahat yang telah roboh

ditotok, untuk kekagetannya mereka tidak dapatkan mereka

ada ditempatnya tadi. Mereka semuanya sudah ditolong oleh

kawannya sebab sudah pada kabur tidak meninggalkan

bekas.

Kita melihat Lo In. Si jago kecil telah mengejar penjahat

diikuti oleh Bwee Hiang. Namun Bwee Hiang yang ginkangnya

kalah, jauh ketinggalan oleh adik kecilnya.

 

Lo In tiba-tiba merandek kehilangan jejak penjahat yang

dikejarnya, ia menyesal tapi masih penasaran kalau ilmu

meringankan tubuhnya kalah oleh si penjahat. Oleh sebab

mana ia berputar-putar disitu mencarinya. Tiba-tiba ia

mendengar suara senjata beradu, seperti ada orang yang

sedagn bertempur- Ia lantas melakukan penyelidikan, kiranya

yang bertempur itu ada seorang laki-laki tinggi besar dengan

wajah menyeramkan melawan seorang wanita lemah gemulai

berpakaian tipis. Kaget Lo In kapan ia tegasi wanita itu

wajahnya persis Leng Siong. Apakah Leng Siong yang sedang

bertempur ? tanya hati kecilnya.

"Hantu Ketawa, kau hari in ketemu Kim coa Siancu. Berarti

lelakonmu yang jahat sudah tamat dan kau tak dapat ketawa

lagi. Hihihi----"

Terkejut hatinya Lo In sebab suara empuk itu ada suaranya

Eng Lian atau Leng Siong. Namun dari lagaknya yang nakal

berandalan Lo In menduga akan Eng Lian yang sedang

berhadapan dengan si Hanu Ketawa yang ia baru lihat

romannya.

"Siancu, kau sudah sampai di Pek-kut-nia. Untuk apa kita

bertarung, lebih baik kau ikut aku untuk bersenangsenang......"

kata si Hantu Ketawa, tertawa gelak-gelak.

"Kurang ajar, kau berani omong kotor di depan nonamu ?"

bentak si wanita yang ternyata ada Kim Coa Siancu, si Dewi

Ular Emas yang ditakuti dikalangan Kangouw.

Si Hantu Ketawa haha hehe dan perhatiannya dibikin kabur

oleh pakaian si Dewi Ular yang serba tipis menggiurkan.

Lantaran mana ia jadi alpa dan kena dipencundangi, Ia kena

ditotok jalan darahnya hingga tidak bisa berkutik.

 

Kim Coa Siancu tertawa cekikikan melihat lawannya

dikalahkan.

"Enci Eng Lian, akhirnya aku kutemukan juga kau di

sini......" tiba-tiba Kim coa Siancu

kaget dalam ketawa cekikikannya mendengar orang

berkata kepadanya. Ketika ia berpaling ternyata orang yang

berkata-kata tadi ada seorang bocah bermuka hitam-

Kim Coa Siancu geli melihat wajah Lo in yang hitam seperti

pantat kuali.

"Hei, anak hitam. Kau mau apa datang kemari ?" tegurnya.

"Masa kau tidak kenali sama adik In-mu ?" balas menanya

Lo In.

"Siapa itu adik in, aku tidak kenal ! Kenapa kau panggil aku

enci Eng Lian» apa kau tidak keliru lihat orang ? Hm, anak

hitam... lekas kau menyingkir kesana sebelum Siancu marah

lantaran kau mau campur-campur urusannya."

Lo in bukannya takut malah mengulurkan tangannya

hendak mencekal tangan yang halus macam kapas itu- Kim

Coa Siancu berkelit dan membentak, "Bocah hitam, kau mau

mampus berani kurang ajar kepada Siancu ?"

"Siancu tinggal Siancu. Tapi di depanku kau adalah enci

Lian-ku." jawab Lo In.

Kim c°a Siancu heran. "Adik kecil." katanya. "Aku bukan

enci Lian_mu, aku adalah Kim Coa Siancu dari Ang H0a pay di

Coa-kok !"

 

Kim Coa Siancu harap si bocah ketakutan mendengar

disebut nama Ang Hoa Pay dan C0a-kok (lembah ular) yang

seram itu, tapi untuk keheranannya si bocah malah haha hihi

mendekati kepadanya dan berkata :

"Enci Lian, kau jangan bikin adikmu penasaran. Lama aku

mencarinya, sekarang sudah ketemu kau memungkiri

namamu Eng Lian."

"Adik kecil, memang aku bukannya Eng Lian \"

menegaskan Kim Coa Siancu.

Lo In jengkel maka tiba-tiba saja ia merangkul hingga Kim

Coa Siancu menjadi kelabakan. Siancu menggunakan

kepandaiannya yang tinggi meloloskan diri dari rangkulan si

bocah. Dalam gusar Siancu menyerang Lo In dengan hebat.

Tapi Lo in tidak membalas, ia hanya gunakan ginkangnya

yang ampuh untuk bikin Siancu lelah.

Watakanya yang nakal timbul, Kim Coa Siancu ditouiel

telinganya dan dicolek pipinya oleh Lo In hingga Siancu

menjerit-jerit mapan.

"Enci Lian." kata Lo In. "Selama kau belum mau mengaku

ada enci Lian-ku, akan kubikin kau marah tidak bisa dan

menangis juga tidak bisa...."

(Bersambung)

Jilid 09

Baru saja ia akan meneruskan kata-katanya, tiba-tiba ia

ingat sesuatu. Tetapi belum selesai ingatannya, tiba-tiba ia

melihat ada dua sinar keemas-emasan melesat dari lengan

bajunya si cantik. Untung ia sempat mengebas dengan tangan

bajunya. Sinar emas itu jatuh di tanah dan ia lihat ternyata

 

adalah dua ekor ular kecil yang warnanya kekuning-kuningan.

Itulah Kim Coa (ular Emas), senjata ampuh dari Kim Coa

Siancu.

Melihat senjata ampuhnya dapat dipunahkan, Kim Coa

siancu tidak punya pilihan dari pada lari menyingkir dari si

Bocah Sakti.

Ginkangnya hebat, akan tetapi ia kecele sebab tiba-tiba ia

rasakan- ada angin dingin lewat disampingnya, tahu-tahu Lo In

sudah menghadang di depannya.

"Kau mau main gila barusan ?" tegur Lo In dengan marah.

Barusan ketika ia teringat sesuatu sehingga bicaranya

terputus karena ia ingat bahwa kata-katanya Kim Coa Siancu

rada janggal. Tidak pernah Eng Lian memanggilnya 'adik

kecil', tetapi biasanya 'adik In'. Pikirnya mungkin wanita di

depannya ini bukan enci Liannya. Ia waspada, maka ketika

sepasang ular emasnya Kim Coa Siancu melesat dari lengan

baju Siancu, Lo In sudah siap dan mengebaskan tangan

bajunya hingga tidak sampai digigit oleh ular jahat itu.

Seperti diketahui, ular emasnya Kim Coa Siancu (Eng Lian)

sangat berbisa apabila memagut ular. Dalam tempo setengah

jam tubuh si korban akan lumer dan menjadi air, lenyap tanpa

bekas, syukur juga jago cilik kita dapat menyelamatkan

dirinya, berkat kelihaiannya menghadapi sesuatu bahaya.

"Bocah hitam Kau terlalu menghinaku " menjerit Kim Coa

siancu, saking gemas ia pada Lo In yang merintangi

kemerdekaannya.

"siapa yang menghinamu ?" tanya Lo In heran.

 

"Tadi kau menowel telingaku, kemudian mencolek pipiku,

bukankah itu suatu hinaan? Hm Bocah, kau sekarang menang

" si Dewi ular emas berkata sengit.

"Hahaha " Lo In tertawa terbahak-bahak.

"Bocah hitam gila, kau tertawakan apa ?" bentak Kim Coa

siancu.

"Perbuatan saja seperti yang kau katakan adalah wajar

diantara aku dan enci Lianku. Karena enci Eng Lian adalah

teman mainku. Tapi kalau kau bukan enci Lianku, baiklah aku

minta maaf sekarang "

si bocah menjura lalu memutar tubuh untuk meninggalkan

tempat itu. Tapi belum berapa tindak ia pergi, tiba-tiba ia

mendengar bentakan Kim Coa siancu:

"TUnggu "

Lo In merandek,

"Kau mau apa la.....gi....?" terputus kata-kata Lo In karena

berbareng tubuhnya berbalik, ia mendak untuk mengelakkan

sinar berkeredep dari tangannya Kim Coa siancu yang menuju

ke arah jidatnya, Itulah Bu im in coa (Cap ular tanpa suara),

senjata rahasia yang paling ditakuti dikalangan Bulim.

Gesit luar biasa jago cilik kita, setelah mendak lalu enjot

tubuhnya melesat ke depan si Dewi ular emas. Baru saja ia

hendak memaki Kim Coa siancu, si Dewi ular emas

membentak sambil kebutkan setangan mungilnya,

"Anak kecil, tidurlah "

 

Lo In berbareng merasa kepalanya pusing, matanya

berkunang-kunang setelah menghirup bau harum dari

setangan Kim Coa siancu yang barusan dikebaskan.

Di lain saat tampak Lo In telah roboh terlentang di tanah,

tidak ingat lagi akan keadaan disekitarnya-

"Hihihi—" tertawa Kim Coa siancu.

"Akhirnya kau dapat roboh juga, bocah hitam " ia berkatakata

sendirian. Lalu ia keluarkan satu kotak kecil dari lengan

bajunya, berjongkok dan kotak itu ia taruh di tanah- sebentar

kemudian tampak dua sinar emas melompat masuk dalam

kotak kecil itu.

Kiranya yang lompat masuk tadi adalah sepasang ular

emas Kim Coa siancu yang tadi kena dikebas jatuh di tanah

oleh Lo In.

Kotak kecil itu adalah tempatnya Kim-coa (ular emas).

Apabila ditaruh ditanah, tutupnya dibuka, dari dalam kotak

akan mengeluarkan bau harum yang menarik selera ular emas

itu untuk masuk ke dalamnya. Maka, bila Kim Coa siancu

kehilangan ular emasnya, ia taruh saja kotaknya ditanah,

lantas sepasang ular itu akan masuk kembali ke kotak itu. Bau

harum dari dalam kotak itu seakan-akan besi berani yang

dapat menyedot ular sebagai besinya.

setelah ular kesayangannya sudah masuk lagi ke dalam

kotak- la simpan pula dibalik lengan bajunya. Lalu ia bangkit

dari jongkoknya dan akan meninggalkan tempat itu, tetapi tibatiba

ia ingat dengan si Hantu Ketawa yang telah tidak berkutik

lagi.

" Hantu Ketawa." kata Kim coa siancu, cekikikan ketawa.

 

"Sekarang kau sudah tidak bisa ketawa, bukan?

Kedosaanmu sudah melewati batas. Maka daripada kau nanti

mengganas lagi, lebih baik aku kirim kau ke akherat saja "

setelah berkata demikian, si Dewi ular emas angkat

lengannya dan tiba-tiba melesat dua sinar emas menyambar

tubuhnnya si Hantu Ketawa yang tentu tak dapat menangkis

karena dalam keadaan tidak berdaya, sepasang ular itu telah

menggigitnya hingga tubuh si Hantu Ketawa tampak

bergemetaran. Kim Coa siancu lalu mendekat kotak kecilnya

pada Kim-coa dan hanya sekejap saja ular emas itu sudah

menyambar masuk lagi dalam rumahnya (kotak). Kemudian

kota itu disimpan pula dalam lengan bajunya.

"Wanita kejam " tiba-tiba Kim Coa siancu mendengar

bentakan seseorang tidak jauh

Ketika ia menoleh, kiranya ia sudah dikurung oleh

musuhnya yang tidak kurang dari 20 orang. Entah siapa

diantaranya yang membentaknya tadi-

Mereka itu perawakannya tidak sama, ada yang kurus,

gemuk, pendek dan lain-lain hingga lucu kelihatannya- Tapi

rata-rata mukanya bengis-bengis, semuanya mengenakan

pakaian serba hitam.

"siapa yang memaki aku tadi ?" tanya Kim Coa siancu, tidak

senang dia.

"Wanita jahat, kau sudah mencelakakan pemimpin kami "

teriak satu diantaranya, yang bukan lain adalah yang memaki

Kim Coa siancu tadi- Perawakannya tinggi besar.

"oo, kau-—" berbareng lengan baju si Dewi ular emas

mengebas ke arah orang tadi, yang ketika itu baru akan

 

bertindak ke depan. Tidak ampun lagi, ia sudah terdorong

mundur oleh anginnya lengan baju. Malah ia merasa sesak

dadanya dan jatuh terduduk dengan mata mendelik-

"Siapa lagi, h ayo maju " tantangan Kim Coa siancu.

Melihat pemimpinnya dalam segebrakan saja sudah

dirobohkan, maka yang lain-lainnya yang mengurung si Dewi

ular emas kelihatannya jeri juga.

Tapi mereka berpikir bahwa wanita di depannya ini

hanyalah wanita lemah gemulai dan sendirian lagi. Mana

mungkin dia dapat melawan mereka yang jumlahnya begitu

banyak-Lantaran berpikir demikian, maka mereka ramai-ramai

menyerbu ke arah Kim Coa siancu tapi sambil tertawa hihihihi

si Dewi ular emas telah permainkan mereka. Tampak

tubuhnya yang menggiurkan berputaran dikepung oleh banyak

orang.

Melihat tubuh yang ceking langsing dan menggiurkan

dibalik pakaiannya yang sangat tipis, orang banyak itu yang

sebagian besar adalah penjahat-penjahat yang doyan

pelesiran sudah tentu mengeroyok tidak sungguh-sungguh-

Mereka lebih mementingkan melihat gerakan tubuh yang

menggiurkan itu sebagai tontonannya daripada buru-buru

menangkapnya-

"Kawanan gentong nasi " tiba-tiba terdengar teriakan

seseorang diantara rombongan-rombongan yang baru datang.

"Kalian bukan bekerja tapi menonton sampai kapan

perempuan maling ini dapat dibekuk ? Hayo, kita maju "

Kiranya pendatang baru itu semuanya bergegaman senjata

tajam yang dikepalai oleh seorang yang bermuka hijau, yang

 

barusan membentak kawan-kawannya sebagai gentong nasi.

Terdengar ia menyerukan kepada mereka yang mengepung

dengan tangan kosong,

"mundur semua ambil senjata Kepung wanita liar ini jangan

kasih lo......"

Kata-katanya si muka hijau terputus sebab dia tiba-tiba

terkulai roboh- yang disusul juga oleh beberapa orang yang

juga roboh terkulai dengan tidak sempat mengeluarkan

teriakan lagi. Teman-temannya ketakutan, lantas pada

mundur. Mereka tampak lebih penting menolong kawan

daripada datang mengeroyok si nona yang ganas

mengayunkan senjata rahasia tanpa suara.

sementara itu yang lain, yang masih bengong bertambah

kaget melihat kawan-kawan yang memberikan pertolongan

pada yang mati pada bergelimpangan roboh saling susul,

Itulah bukti keganasannya senjata rahasia Bu im in coa1, ialah

Cap ular Tanpa suara yang dapat merembet korban lebih

banyak- Dan bahkan semua manusia bila memegang tubuh

korbannya.

Kim Coa siancu yang sedang tertawa cekikikan melihat

banyak korban berjatuhan akibat senjata rahasianya, tiba-tiba

dibikin kaget oleh benda yang memercikan api yang

melewatinya kira-kira lima cun (dim) dari dadanya yang putih

halus.

"Hehehe" suara ketawa dari seorang perempuan terdengar

menyusul. Belum Kim Coan siancu hilang kagetnya,

dihadapannya sudah berdiri seorang nenek tua. Terkejut si

Dewi ular emas.

"Tui Hun Lolo..." ia menggumam.

 

"Kau kenali juga aku, gadis cilik" kata si nenek tua yang

tiada lain adalah Tui Hun Lolo. Kemudian ia menghadap ke

arah Lo In yang sedang tengkurap, ia menggapai sambil

berkata,

"Anak hitam, kau kemari "

Entah bagaimana Lo In bergerak, sekali mencelat dari

tengkurapnya tahu-tahu sudah ada di depan Kim Coa siancu

dan Tui Hun Lolo.

"Heheh, kau punya kepandaian juga, h e " tertawa Tui Hun

Lolo.

si Dewi ular Emas sangat kaget, Ia mengawasi si bocah

hitam dengan mata mendelong penuh tanda tanya, Ia tidak

mengira si bocah dapat tahan dengan kebasan setangan

ajaibnya, yang biasanya paling sedikit orang harus pingsan

setengah jam kalau kena dikebas oleh setangan ajaibnya. Kini

si bocah muka hitam dalam tempo sebentaran saja sudah bisa

bangun lagi, betul-betul menakjubkan kepandaiannya.

Kim Coa siancu belum habis mengerti dengan ilmu apa si

bocah dapat memusnahkan pengaruh setangan ajaibnya, tibatiba

ia mendengar Tui Hun Lolo berkata lagi kepada Lo In,

"Kau tadi yang merintangi jarum mautku ?"

Lo In ketawa nyengir, Ia tidak menjawab, hanya anggukkan

kepalanya.

"Dengan senjata rahasia apa kau dapat memusnahkan

serangan jarumku ?"

"Hanya dengan batu kerikil saja."

 

"Bohong, mana bisa kau memusnahkan senjata jarumku

yang lihai dengan hanya memakai sebuah batu kecil saja "

Kembali si bocah ketawa haha hihi,

"Itu terserah pada nenek " sahutnya.

Kalau Tui Hun Lolo merasa sangat gemas pada bocah di

depannya ini, sebaliknya Kim Coa siancu sangat bersyukur

kepada Lo In. Bahwa tadi, percikan bunga api lima cun di

depan dadanya itu adalah jarum mautnya si nenek yang kena

dibentur batu kecil Lo In. Dengan mana berarti si bocah muka

hitam telah menyelamatkan dirinya (Kim Coa siancu). Kini Kim

Coa siancu memandang Lo In dengan perasaan penuh terima

kasih.

"siancu " bentak Tui Hun Lolo.

"Keluarkan obat pemunahmu untuk menolong si Hantu

Ketawa. Lekas, lambat sedikit jiwanya bakal melayang "

Kim Coa siancu bersenyum sinis. Katanya,

"Buat apa orang jahat ditolong, lebih lekas mati tentu ada

lebih baik, untuk di alam baka dia mempertanggungkan dosadosanya.-

Dia sangat

jahat, siapa pun tidak mau menolong si Hantu Ketawa...."

"Kau berani membangkang perintah si nenek ?" memotong

Tui Hun Lolo.

"Kenapa aku tidak berani ?" sahut Kim Coa siancu, lantang

suaranya.

 

"Kematian sudah di depan mata, masih berani main gila

sama Tui Hun Lolo ?"

"Belum tentu, nenek tua Mungkin kau yang menghadapi

kematian"

Bukan main marah Tui Hun kena diejek oleh gadis semuda

Kim Coa siancu.

Lawan-lawan tuanya tidak berani seperti si Dewi ular emas,

menantang dengan tidak berkedip mata sedikitpun. Kalau

tidak ada isinya, pikir Tui Hun Lolo, tentu si Dewi Ular Emas

tidak bakal begitu berani menantang, Ia harus waspada

menghadapinya.

Apalagi ia melihat mayat bergelimpangan, korban dari

keganasan si Dewi ular Esmas, gadis cilik itu bukan lawan

empuk juga disampingnya kelihatan ada si bocah berwajah

hitam yang kepandaiannya entah berapa tingginya.

Tapi bagi hantu wanita yang pernah malang melintang tidak

takut langit dan bumi, mana mau ia mengalah kepada dua

bocah yang bau pupur dikepalanya aja masih belum hilang

"Siancu, kau membantah keinginanku. Marilah kita

menetapkan siapa yang unggul" tantangnya seraya lompat ke

tempat yang lebar.

senjata pentunganny a yang berupa tongkat sudah ia

siapkan. Akan tetapi ketika melihat Kim Coa siancu tidak

membawa apa-apa, sambil melemparkan pentungannya ke

samping, ia berkata,

"Baik, marilah kita main-main dengan tangan kosong " si

Dewi ular Emas ketawa ngikik. Katanya,

 

" Nenek tua, kau mau berkelahi ?"

Tuii Hun Lolo melengak ditanya demikian.

"Meskpun sudah nenek-nenek, belum tentu kau yang muda

dapat menjatuhkannya " ucapnya jumawa.

Tidak biasanya Tui Hun Lolo bicara dengan tenang dan

agak ramah, tetapi karena ia masih tetap kuatir akan

kepandaian lawan. Dia begitu muda, paling-paling masih

berumur 17-tahun, bagaimana dia bisa jadi siancu kalau tidak

punya kepandaian yang diandalkan? Apalagi ia mendengar

orang cerita, munculnya Kim Coa siancu telah

mengguncangkan rimba persilatan, maka ia tidak berani

sembarangan bertindak terhadap lawan yang muda belia ini.

" Kalau begitu, baiklah, aku majukan adikku dulu." sahut

Kim Coa siancu ketawa.

si nenek melengak. sedang Lo In juga bingung si Dewi ular

Emas berkata demikian. Apa maksudnya Kim Coa siancu itu ?

Belum sempat Lo In menanya, ia sudah mendengar Kim Coa

siancu berkata kepadanya,

"Adik kecil, kau talangi encimu main-main dengan ini nenek

yang tersohor tukang mengejar roh, kau berani ?"

Kim Coa siancu berkata sambil bersenyum ke arahnya.

hingga Lo In kaget sebab senyuman memikat dari si Dewi ular

emas adalah persis senyuman enci Liannya.

Tanpa disadari si bocah nyeletuk,

"Untuk enci Lian, menghadapi siapa juga aku berani"

si Dewi ular emas melengak heran.

 

"Kembali dia memanggil aku enci Lian, apa memang aku ini

ada enci Liannya ? siapa sebenarnya aku ini ?" Kim Coa

siancu menanya pada dirinya sendiri

Pikirnya, biarlah ia menyaru seperti eng Lian sehingga si

bocah mau diadukan dengan si nenek jahat, Ia percaya -100

persen Lo In pasti akan menang.

"Adik kecil, hayo lawan. Kau mesti menang. Kalau kalah

nanti enci Lianmu marah-Hajar dia biar terkuing-kuing "

berkata Kim Coa siancu, cekikikan ia ketawa. Tui Hun Lolo

melotot matanya, hatinya panas bagaikan dibakar.

"Jangan menghina, gadis liar" bentaknya marah-

"Meskipun kalian berdua mengerubuti, aku si nenek tua

tidak akan takut"

"Aduh sombongnya " si Dewi ular emas menggodai-

"satu lawan satu masih belum tentu, mau dilawan dua lagi-

Hihihi—-" berrbareng ia berkelit dari serangan Tui Hun Lolo

yang sudah tak dapat mengendalikan panas hatinya, sambil

berkelit, Kim Coa siancu lari ke belakang Lo In.

"Adik kecil, hayo maju Apa kau tunggu encimu marah ?"

kata si Dewi ular emas.

Lo In jadi kebingungan. Persis benar, ketawa, senyuman

dan suaranya seperti Eng Lian. Akan tetapi kenapa kalau Eng

Lian memanggil ia 'adik kecil' ? Belum pernah ia, ia selalu

dengar dipanggil "adik In" oleh enci Liannya dengan mesra.

 

Tapi melihat Kim Coa siancu benar-benar tidak mau

berkelahi, sepertijuga menganggap enteng dirinya, Lo In jadi

kewalahan, Ia berkata,

" N enek tua, mari aku yang layani. Enciku baru turun, kalau

aku sudah dikalahkan "

Tui Hun Lolo yang sedang gemas pada Kim Coa siancu, ia

hentikan ubernya pada si Dewi Ular emas. Ia menatap si

bocah wajah hitam.

"oo, kau jadi tukang pukulnya ? Baik, marilah maju, sini"

menantang Tui Hun Lolo.

Lo In tidak gentar dengan tantangan si nenek, ia maju

mendekati Tui Hun Lolo.

"Bagus, bagus. Ini baru betul-betul adikku yang manis "

kata Kim Coa siancu seraya bertepuk tangan macam anak

kecil.

Kembali Lo In merasa heran dengan kelakuannya si Dewi

ular emas sebab kata-kata yang keluar dari bibirnya Kim Coa

siancu persis seperti perkataan enci Eng Liannya yang ia

sangat ingin menjumpainya. Tapi, Kim Coa siancu ini apakah

encinya atau bukan, urusan belakangan, sekarang ia harus

melayani si nenek yang ia duga kepandaiannya tidak rendah,

sebab julukannya saja si 'Nenek pengejar roh'-

Kedengarannya sudah seram

"silahkan menyerang " Lo In mengundang pada Tui Hun

Lolo.

"Awas " seru Tui Hun Lolo, tubuhnya berkelebat dan

menyerang dengan tipu pukulan 'ok miao pok cie' (Kucing

 

galak menubruk tikus) - serangan dilakukan dengan

sekonyong-konyong sebelum lawan mengambil posisi, si

nenek pikir dengan menggunakan jurus "ok miao pok cie' si

anak kecil tentu tida ada jalan untuk lari. Ia kira Lo In adalah

tikus jinak dan ia sendiri adalah kucing galaknya. Tidak

tahunya, si bocah wajah hitam belum kena disergap, siangsiang

sudah lenyap dari hadapannya.

Entah bagaimana si bocah bergerak tapi yang terang, mata

Tui Hun Lolo yang sangat lihai mendadak seperti lamur

menghadapi Lo In. Cepat ia putar tubuh, segera ia melihat Lo

In dengan tersenyum-senyum ke arahnya.

Panas hati Tui Hun Lolo, kembali ia menerjang tetapi

kembali ia kehilangan Lo In. Pikirnya, bocah ini tidak boleh di

kasih hati. Maka ia keluarkan Tui-hun-ciang-hoat1 (Ilmu

pukulan mengejar roh) ciptaannya sendiri yang meliputi 50

jurus yang hebat-hebat.

Tui-hun-ciang-hoat1 ini memang lihai, spesial diciptakan

oleh Tui Hun Lolo untuk berkelahi jarak jauh dengan

menggunakan sambaran-sambaran anginpukulan yang

disertai Iwekang.

Dengan menggunakan 'Tui-hun-ciang-hoat', maka

serangan-serangan si nenek juga berubah sangat dahsyat.

Angin pukulannya membuat debu-debu dan pasir

beterbangan. Malah ada pohon-pohon yang tumbuh di

dekatnya pada tumbang, tidak tahan dengan anginpukulan Tui

Hun Lolo yang sedang unjuk kesaktiannya.

Belum pernah Tui Hun Lolo gagal dengan Ilmu Pukulan

Mengejar Roh ciptaannya sendiri itu. Akan tetapi menghadapi

si bocah wajah hitam, ia kewalahan sendiri. Tui Hun Lolo

 

hanya menggempur tapi yang digempur saban-saban lolos

dari gempurannya yang maha dahsyat. Tak dapat

dibayangkan kalau Lo In kena digempur oleh tenaga sakti Tui

Hun Lolo, entah kemana tubuhnya akan terbang melayang.

Lo In tidak mau kurang ajar terhadap orang tua yang

sepantasnya menjadi neneknya, Ia tidak mau membalas

serangan si nenek, Ia hanya lawan dengan kegesitan

tubuhnya, bagaikan kilat cepatnya.

"Anak kurang ajar Kau berani permainkan nenekmu Hmm "

menggerang Tai Hun Lolo, berbareng ia perhebat seranganserangannya.

Kim Coa siancu yang menonton dari jauh karena kalau

dekat-dekat takut kesambar angin pukulan Tui Hun Lolo,

tampak melelerkan lidahnya, Ia merasa kuatir kalau-kalaus si

bocah nanti salah tindak sehingga menjadi mangsa dari

tenaga sakti si nenek.

Tapi, melihat kelincahan Lo In yang dengan tenang

mempermainkan si nenek, ia jadi tersenyum manis. Puas

hatinya karena kalau ia yang melayani si nenek, mungkin

siang-siang sudah dibikin terbang tubuhnya entah kemana

perginya. Melihat Tui Hun Lolo sudah mulai gelisah karena

saban pukulannya tidak mengenakan sasarannya, Lo In mulai

keluarkan jurus jurus dari Bu eng sin kang yang membikin si

nenek kebingungan.

Mula-mula Lo In gunakan jurus Thian lie pian in (Bidadari

menari di dalam awan), lincah dan gesit gerakannya, yang

membikin Tui Hun Lolo gelabakan. Ia nampak seperti ada

enam Lo In. yang mana diantaranya Lo In, ia sendiri tidak

tahu.

 

oleh karenanya, maka gempurannya jadi serabutan saja,

bukan main dahsyatnya. Tapi hasilnya ? Nfhil Lo In lalu

merubah jurusnya dengan 'Hui hong soan tah', ialah 'Angin

puyuh mengitari pagoda', gerakan ini justru lebih

mencemaskan si nenek yang sudah keriputan. Ia melihat

seperti ada enam Lo In yang mengitari dirinya, berputaran

perlahan, makin lama makin cepat sehingga mata si nenek

berkunang-kunang dan tanpa disadarinya tubuhnya juga ikutikut

berputar, makin lama makin cepat laksana gasing terlepas

dari talinya.

Kim Coa siancu sampai termangu-mangu menyaksikan

adegan yang hebat itu.

Bocah hitam ini sangat hebat kepandaiannya- Pikirnya,

alangkah baiknya kalau dia bisa ditarik menjadi kawan dalam

Ang Hoa Pay- Kepandaiannya yang menakjubkan, apakah ada

dipunyai oleh sucouwnya Lam Hay Mo Lie ? Ia bertanya-tanya

dalam hati sendiri-sementara Kim Coa siancu tengah

melamun, adalah pertempuran sudah berhenti-

Lo In tampak ketawa menyeringai kepada Tui Hun Lolo

yang pada saat itu tengah mendeprok di tanah, tengkurep

seperti anak kecil disusul dengan muntah-muntah-

"Hei, si nenek itu menangis " Kim Coa siancu keheranheranan

dalam hatinyasetelah

merasakan pusingnya hilangan, Tui Hun Lolo tidak

lantas bangkit dari deprokannya.- Hanya ia berkata,

"Bocah hitam, kau durhaka mempermainkan satu nenek

tua, diajak berputaran sampai pusing dan muntah-muntah."

 

"sebenarnya aku tidak mau bikin Popo seperti ini." kata Lo

In.

"Tapi kenapa kau bikin aku seperti ini ?"

Lo In menyeringai,

"Lantaran Popo (nenek) tadi menyerang begitu ganas. Aku

tidak punya lain pilihan selain bikin Popo jatuh duduk dan

muntah-muntah sebagai gantinya serangan balasanku

Hahaha "

Dasar anak kecil tidak punya pikiran, bukannya menolong si

nenek yang tengkurep mendeprok di tanah, ini malah ketawa

terbahak-bahak. Lucunya Lo In malah ngajakin berkelahi lagi,

katanya,

"Popo, bagaimana, masih mau diteruskan ?"

Tui Hun Lolo deliki matanya.

"ya, kali ini kau menang, bocah hitam " sahutnya kemudian,

tekanan suaranya tidak enak didengar.

"Jadi, bagaimana ?" tanya Lo In, tidak mengerti ia akan

kata-kata Tui Hun Lolo.

"Aku menyerah kalah, buat apa bertempur lagi " bentak Tui

Hun Lolo.

Lo In ketawa nyengir, baru sekarang ia mengerti kata-kata

si nenek tadisementara

itu, si nenek sudah bangkit dari deprokannya

danjalan menghampiri si Hantu Ketawa yang ternyata sudah

 

tidak bernyawa lagi dan tubuhnya sudah mulai lumer jadi air

akibat gigitan sepasang ular emasnya Kim Coa siancusi

nenek menghela napas menyaksikan kematian konyol

dari si Hantu Ketawa.

"Kim Coa siancu...." ia menggumam. Berbareng ia ingat

sesuatu, lantas ia celingukan tapi Kim Coa siancu yang dicari

oleh matanya sudah tidak ada di tempat itu, entah sejak kapan

perginya.

Melihat si nenek celingukan, Lo In juga mengikuti seraya

berseru,

"Enci Lian, enci Lian, kau dimana ?"

Kiranya Kim Coa siancu sudah lama pergi karena tidak

terdengar ia menyahut, maupun bayangannya si Dewi ular

emas yang cantik jelita. Lo In mencari sana sini tapi Kim Coa

siancu tetap tak diketemukan.

si bocah menjaid lesu. Kepalanya mendongak ke angkasa,

tampak olehnya bulan sisir sudah mulai terbungkus oleh sang

awan yang agak gelap.

Menggunakan ginkangnya yang tiada taranya, Lo In dilain

saat sudah ada pula di kampung su yang ting, dimana ia

disambut oleh Kim Wan Thauto dan Kie Giok tong serta

sekalian saudara-saudaranya. Lo In tidak melihat Bwee Hiang,

ia lalu menanya pada Kim Wan Thauto,

"Toako, enci Hiang tidak ada- Dimana dia ?"

"Hah " Kim Wan Thauto kaget-

"Bukankah bersama-sama anak In tadi ?"

 

"Celaka " seru Lo In.

"Tentu dia kesasarjalan "

"Sekarang bagaimana ?" Kim Wan Thauto kebingungan.

"Nanti aku cari dia-" sahut Lo In. segera ia hendak pergi lagi

tapi Kim Wan Thauto menahan si bocah untuk menanyakan

tentang kepergiannya barusan.

"sayang toako tidak nonton." kata Lo In ketawa nyengir.

"Aku ketemu Kim Coa siancu. Entah, siapa itu Kim...."

"Nanti dulu-" memotong Kim Wan Thauto kaget-

"Kim Co siancu kau bilang ?"

"ya, Kim Coa siancu- Apa toako kenal dengan dia ?" tanya

Lo In.

"Aku tidak kenal tapi aku pernah dengar, orangnya cantik

sekali ya ?" sahut Kim Wan Thauto-

Lo In ketawa, kepalanya manggut.

"Kau berkelahi dengannya ?" tanya Kim Wan Thauto-

Lo In anggukkan kepala- Ia berkata,

"Kim Coa siancu romannya persis enci Lianku. Entahlah,

sebab dia tidak mengaku dirinya adalah teman mainku."

Kim Wan Thauto mesem. Pikirnya, anak ini kepandaiannya

susah diukur. Tapi sifat kekanak-kanakannya belum hilang, Itu

wajar sebab Lo In baru masih hitungan -10 tahun usianya,

 

maka omongan-omongannya tentu lebih banyak kekanakkanakan.

"Anak In, bagaimana kau bisa lolos dari tangan Kim Coa

siancu ?" tanya Kim Wan Thauto ketika melihat si bocah mulai

lesu ingat sama enci Liannya.

Lo In semangat ditanya demikian, Ia lalu menutur panjang

lebar pertarungannya dengan si Dewi ular emas. orang-orang

yang mendengar merasa ngeri ketika mendengar si Dewi ular

Emas mau ambil jiwa Lo In dengan ular emasnya dan senjata

rahasianya Bu im in coa, yang menggetarkan rimba persilatan.

"Minum dulu, minum dulu " menyela Kie Giok Tong kepada

si bocah yang sedang gembira menutur pertemuannya dengan

si Dewi ular emas.

"Eh, siauhiap belum makan." menyambung Kie Giok Tong,

lantas ia minta tuan rumah menyuruh orangnya menyediakan

makanan untuk Lo In.

setelah mengisi kenyang perutnya, Lo In meneruskan

ceritanya,

"siancu sudah tidak bisa menang melawanku tetapi bila ia

menggunakan senjata ajaibnya untuk merobohakn aku, benar

dia berhasil merobohkan aku. Tapi hanya sebentaran saja aku

mabuk karena setangannya karena pada saat aku roboh, aku

sadar bahwa siancu sudah berlaku licik. Maka aku kerahkan

Iwekangku untuk mengusir pergi hawa ngantuk- Aku pura-pura

tidur tengkurup, tapi mataku waspada- Aku ingin tahu apa

yang Kim Coa siancu berbuat lebih jauh- Dia menghampiri si

Hantu Ketawa yang rebah tak berdaya kena totokannya,

setelah ngomel, siancu keluarkan sepasang ular emasnya dan

disuruh menggigit tubuhnya si Hantu Ketawa. Kesudahannya

 

tubuh si Hantu Ketawa lumer jadi air. Dan juga, ada datangnya

Tui Hun Lolo........"

"Hee, Tui Hun Lolo juga ada waktu itu, anak In ?" menyela

Kim Wan Thauto-

" ya, justru siancu sedang lengah, si nenek membokongnya

dengan jarum api membakar api. untung aku lihat. Dengan

sebuah batu kerikik aku menyentil jarumnya, luput mengarah

sasaran. Tiga-tiga jarumnya aku bikin jatuh hingga si nenek

marah-marah- Dia menantang siancu mula-mula tapi siancu

tidak mau ladeni dan majukan aku hingga akhirnya si nenek

berkelahi dengan aku- Hahaha "

setelah ketawa, Lo In lanjutkan ceritanya bagaimana ia

menjatuhkan si nenek dengan menggunakan kepandaiannya

Bu im sin kang1, semua yang mendengar pada kagum,

termasuk Kim Wan Thauto yang biarpun sudah kawakan

dalam dunia Kangouw-

"sst Ada orang datang " tiba-tiba Lo In berkata perlahan tapi

tegas berkumandang di telinga mereka yang sedang ramai

bicara, memuji-muji si bocah wajah hitam yang telah

menjatuhkan Kim Coa siancu dan bikin Tui Hun Lolo semaput.

Kaget mereka mendengar perkataan Lo In. segera suasana

menjadi sunyi, hati mereka berdebaran kecuali Lo In yang

nyalinya besar.

"Tamu diatas genteng, lekas turun Mari kita bicara " berkata

Lo in.

. . .

 

"Hihihi-..." kedengaran suara tertawa seorang wanita di atas

genteng.

"Kim Coa siancu...." kata Kim Wan Thauto perlahan, ia

punjeri kelihatannya.

Entah bagaimana Lo In menggunakan kepandaiannya

sebab tubuhnya yang sedang enak duduk di kursi tahu-tahu

sudah mencelat ke atas, genteng pada pecah ditumbuk kepala

dan badannya lolos keluar.

Di atas genteng rumah ia celingukan. Matanya yang lihai

dapat melihat berkelebatnya bayangan ke arah selatan, Ia

mengerahkan ilmu entengi tubuhnya untuk menguber.

sebentar saja, ia sudah kehilangan bayangan tadi. Dan

waktu ia sudah sampai di dekat paseban bidadari, Lo In

sangat heran sebab ia lihat betul bayangan itu lari kejurusan

Giok Lie Teng. Tetapi kenapa tidak kedapatan disitu ? Lo In

berdiri termangu-mangu.

"Adik kecil, adik kecil. Mana cnci Bwee Hiang " tiba-tiba Lo

In dengar orang memanggilnya dari jurusan kali kecil di bawah

jembatan yang menghubungi ke paseban bidadaro-

Lo In lekas menoleh- Kiranya Leng siong yang sedang jalan

mendatangi ke arahnya"

"Heheh, kau ada disini ?" kata Lo In, ketawa agak tidak

wajar.

"ya, tadi siang kepalaku pusing maka aku tiduran sebentar.

Ketika aku mendusin aku tanya ibu, apa kau dan enci Hiang

ada cari aku. Kata ibu, kau dengan enci Hiang sedang pergi

mengubar orang jahat. Aku kaget dan kuatir. setelah makan

 

malam, aku lantas masuk kamar. Tapi hatiku tidak enak saja

memikirkan kalian, maka aku datang kesini untuk menghibur

hati yang penuh kuatir......."

"Terima kasih, terima kasih-" memotong Lo In, suaranya

agak mengejek-

"Kau kenapa adik kecil ? Kenapa kau datang sendiri,

kemana enci Hiang ?" tanya nona Teng.

Lo In tidak menyahut, tapi ia mengawasi roman muka Leng

siong dengan tajam hingga Leng siong melengos kemaluan.

sambil menunduk, Leng siong berkata lagi,

"Adik kecil, mana enci Hiang ?¦

"Enci Bwee Hiang ? Mari kita bicara " berbareng ia sambar

pinggang si nona, dibawa mencelat terbang ke atas Giok Lie

Teng.

Kaget setengah mati Leng siong, dengan tiba-tiba saja

siadik kecil menyambar pinggangnya dan diajak terbang ke

Giok Lie Teng.

"Adik kecil, kenapa kau main-main begini ?" tanya Leng

siong, waktu diturunkan dalam paseban mukanya semu merah

karena jengah dipeluki si bocah muka hitam.

Leng siong tidak anggap si bocah kurang ajar, sebaliknya,

kelakuan Lo In itu dianggap satu demonstrasi untuk

memperlihatkan kepandaiannya- Lo In adalah penolongnya

dari cengkeraman si Hantu Ketawa- Kalau ia dipeluk dan

dibawa terbang seperti tadi, ia anggap perbuatannya Lo In itu

tidak janggal, malah menyenangkan.

 

Dalam senangnya, tiba-tiba ia dibikin kaget oleh pertanyaan

Lo In.

"Enci Leng Siong, apakah kau adalah Kim Coa siancu dari

Ang Hoa Pay ?"

"Adik kecil, kau bilang apa ?" tanya Leng siong setelah

tenangkan hatinya.

"Kau adalah Kim Coa siancu dari Ang Hoa Pay."

"Hei, siapa itu Kim Coa siancu ?"

"Kau jangan berpura-pura, enci Leng siong "

"Adik kecil, kau omong apa jangan sembarang tuduh. Aku

tidak kenal siapa itu Kim Coa siancu. Dengar juga baru-baru

baru sekarang ini...."

"Kau mau mengaku atau tidak ? Aku belum pernah marah,

tapi kalau kau permainkan aku, kau tahu sendiri "

"siapa mau permainkan kau? Adik kecil, jangan sembarang

tuduh "

"Brak" tiba-tiba suara meja pecah berantakan kena tepukan

Lo In yang sedang gusar.

Leng siong menjadi ketakutan.

"Kau, kau...." ia berkata gugup.

"Hehe, tidak mau mengaku ?" berbareng Lo In menyergap.

Tubuh orang dipeluk dan digoncang-goncang sambil katanya,

"Kau bukan enci Leng siong, juga bukan Kim Coa siancu,

tapi.........kau adalah enci Lianku. Hahaha.... "

 

Leng siong yang didekati Lo In biasanya merasa aman. Kini

melihat kelakuan si bocah seperti kerasukan setan, menjadi

ketakutan dan mau menangis.

"Enci Lian, kau tidak mau mengaku. Tahu sendiri akan

kucubit kau sebagai hukuman dari adik In-mu..."

"Adik kecil, kau keliru menerka orang, jangan begini kasar "

kata Leng siong serta meronta-ronta dari pelukan Lo In.

Meronta-ronta percuma.

Pelukan Lo In yang kerasukan setan rupanya, mana bisa

terlepas demikian mudah- Malah si bocah telah buktikan

ancamannya.

Ia berkata,

"Enci Lian, karena adikmu sudah habis sabar, jangan

marah ya—." terus saja ia mencubit pipi Leng siong hingga

Leng siong berteriak kesakitan.

Dari takut, Leng siong menjadi marah diperlakukan kasar

demikian oleh Lo In.

"hei, bocah gila Kau mau apakan diriku ? Meskipun kau

mampus juga, aku tidak akan mengaku sebab aku bukan enci

Lianmu "

Lo In tertegun. Apa betul gadis di depannya ini Leng siong

adanya ? Apakah bukan Kim Coa siancu yang berkepandaian

tinggi ? Ia jadi sangsi. Kalau Kim Coa siancu sudah tentu akan

melawan terhadap kelakuannya kurang sopan itu. sehingga ia

sangat kebingungan.

 

Dalam kebingungan dan agak malu dengan kelakuannya

barusan, tiba-tiba ia mendengar orang berkata di bawah

peseban,

"Hihihi, bocah hitam tidak punya malu,peluki gadis orang

ditengah malam...."

Putus kata-katanya dan orang itu sudah lantas mau lompat

pergi tapi terlambat-seperti kilat menyambar, tahu-tahu Lo In

sudah ada dihadapannya- "Hehehe, Kim Coa siancu- selamat

datang " berkata Lo In, ketawa menyeringai-orang itu memang

benar Kim Coa siancu.

Tadinya, rupanya Kim Coa siancu mau menggodai Lo In.

Tapi ia tidak tahu Lo In kepandaiannya luar biasa, Ia bukan

Bocah sakti kalau dapat diingusi si Dewi ular Emas demikian

mudah- oleh karenanya, kata-kata Lo In seperti tidak masuk ke

telinganya karena saat itu ia kesima nampak kepandaian si

bocah yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Dalam kesima

ia jadi tersenyum manis ke arah Lo In yang menghadang di

depannya.

"Enci Eng Lian, ah, kau menyaru jadi Kim Coa siancu " tibatiba

Lo In berseru, menyusul. Dengan kecepatan kilat

tangannya menyambar tangan si cantik yang lunak, halus.

Kim Coa siancu tidak berkelit, ia kasih tangannya dipegang

erat oleh si bocah wajah hitam, malah ia jadi cekikikan ketawa.

Lo In tergetar hatinya, itu persis suara ketawa Eng Lian

"Enci Lian, sudah kupegang sekarang. Kau tidak bisa lolos

lagi " kata Lo In dengan gembira sekali.

Kim Coa siancu memandang Lo In seraya tersenyum.

Tampak ia merasa kasihan pada si bocah wajah hitam yang

 

mencari enci Eng Liannya seperti orang gila. Pikirnya, kalau

dirinya ada si gadis yang dicarinya, senang sekali ia punya

kawan si bocah yang kepandaiannya sukar diukur. Malah ada

baiknya sekali, kalau Lo In dijadikan pembantunya untuk

mengepalai Ang Hoa Pay.

"Adik kecil, mari kita bicara." tiba-tiba Kim Coa siancu

berkata.

"Bagus, nah bicaralah enci Lian." sahut Lo In, senang

hatinya.

"Tidak disini, adik kecil."

"Dimana ?"

"Nah, disana " sahut si Dewi ular emas, seraya menunjuk

kepeseban.

"Baiklah, mari kita ke sana." kata Lo In.

"Kau masih belum mau lepasi tangan encimu ?" Kim Coa

siancu menegur seraya deliki matanya yang jeli.

"Aku takut, aku takut...." kata Lo In seraya dengan perlahan

melepaskan tangan si nona yang ia pegang erat-erat seperti

ketakutan orang kabur saja.

"Kau takut orang lari, bukan ?" tanya Kim Coa sincu,

ketawa manis. Lo In tidak menjawab, hanya anggukanggukkan

kepalanya.

"Kau jangan kuatir adik kecil, siancu belum pernah menipu

orang. Kalau tok aku dapat lari, bisa apa ? Di tanganmu, siapa

yang bisa melarikan diri ?" si Dewi ular emas memuji si bocah

hingga Lo In menjadi sangat bangga.

 

Dengan menggunakan ilmu entengi tubuh, dalam sekejap

saja Kim Coa siancu dan Lo In sudah ada dalam peseban,

dimana tampak Leng siong sedang menangis tersedu-sedu.

Ketika Lo In dan Kim Coa siancu melayang ke atas

peseban, mereka menginjakkan kakinya diatas lantai dengan

tidak menerbitkan suara sehingga Leng siong yang sedang

tunduk menangis tidak tahu kalau dua orang itu sudah berada

di dekatnya.

Melihat nona Teng menangis dengan sedihnya, Lo In jadi

sangat menyesal atas kelakuannya yang kasar tadi pada enci

Leng siong. Mukanya kalau tidak hitam, pasti akan kentara

sekali berubah merah saking jengah. Ketika diam-diam ia

beradu pandang dengan Kim Coa siancu yang akhirnya

tersenyum ke arahnya sambil matanya melirik pada Leng

siong seakan-akan menyesalkan menangisnya gadis itu garagara

perbuatannya tadi- sebelum si bocah minta maaf pada

Leng siong, Kim Coa siancu sudah mendahului berkata

dibelakang Leng siong,

"Adik, kau jangan menangis. Adik kecil salah paham maka

sudah perlakukan kau dengan kasar tadi "

Leng siong terkejut mendengar dengan tiba-tiba saja ada

orang berkata dibelakangnya.

Dengan masih terisak-isak ia menoleh. Lebih-lebih terkejut

dia karena ia melihat gadis didepannya itu seperti juga dirinya

sedang berkata. Wanita itu mirip betul dengan roman

mukanya, malah perawakannya juga hampir sama, kecil,

langsing menggiurkan. Dalam pakaian yang serba tipis, wajah

dan rambut kepala yang terawat baik, malah kelihatan Kim

Coa siancu ada lebih cantik dari dirinya.

 

"Enci, kau siapa ?" tanya Leng siong, setelah hilang

kagetnya.

Kim Coa siancu tersenyum.

"Kalau aku tidak salah dengar dari adik kecil tadi, kau ini

adalah adik Leng siong, bukan ?" sahut Kim Coa siancu, tidak

menjawab apa yang ditanyakan Leng siong.

"ya, betul. Kau sendiri siapa, enci ?" mengulangi Leng siong

bertanya.

sementara itu, Leng siong sudah bangkit berdiri

berhadapan dengan si Dewi ular emas yang juga merasa

terheran-heran gadis di depannya ini ada duplikat dari dirinya.

Pikirnya, apa bisa jadi dalam dunia ini ada hal demikian yang

kebetulan sekali ? untuk sejenak ia belum bisa menjawab

pertanyaannya Leng siong. Dua orang itu jadi pada berdiri

bagaikan patung saiing berhadapan.

Lo In yang nampak adegan itu jadi kegirangan, Ia bertepuk

tangan, katanya :

"sama, sama, siapa pun tak dapat membedakan enci Leng

siong dan mana Lian eh, enci Lian, enciku yang kucari-cari

baru ketemu sekarang...."

Hampir berbareng, dua gadis jelita itu melirikkan matanya

yang tajam halus ke arah Lo In. Keduanya berbareng

tersenyum melihat lagak si bocah yang lucu.

"Celaka " seru Lo In.

"Aku berhadapan dengan dua enciku yang manis...."

 

"Ngaco " bentak Kim Coa siancu, tetapi mukanya

tersenyum manis.

sementara Leng siong telah menekap mulutnya dan ketawa

ngikik melihat Lo In dengan lucunya telah melelerkan lidahnya

ketika mendengar bentakan Kim Coa siancu. Akhirnya tigatiganya

pada ketawa dengan gembira.

Leng siong yang tadi merasa sangat sedih diperlakukan

dengan kasar oleh Lo In, sekarang dapat ketawa enak- Ia

sendiri tidak tahu kemana perginya kesedihannya itu.

"Enci." kata Leng siong, setelah mereka berhenti ketawa.

"AKu berhadapan dengan kau seperti juga aku lagi

berkaca."

"sama, pikiranmu sama denganku- Kenapa kita berdua bisa

mirip sekali satu sama lain ? Betul-betul sangat mengherankan

" jawab Kim Coa siancu bersenyum-

"Mari, mari kita duduk omong-omong." mengundang Leng

siong gembira.

Kim Coa siancu dan Lo In mengikuti Leng siong ambil

tempat duduk-Ketika mereka sudah pada duduk, Leng siong

berkata,

"sayang mejanya tidak ada, barusan kena digempur adik

kecil-" matanya melirik pada Lo In.

Lo In jadijengah- Tapi hatinya sebentaran sebab ia lantas

berkata pada si gadis,

"jangan gusar enci Leng siong, aku pun merasa menyesal

sudah unjuk kelakuan yang tidak genah itu"

 

"Sudahlah-" menyela Kim Coa siancu-

"Kita bercakap-cakap toh tidak memerlukan meja sebab

tidak ada hidangan yang untuk disikat masuk ke dalam perut."

Nona Teng geli dalam hatinya mendengar kata-kata Kim

Coa siancu yang lucu.

"Enci, kau masih belum menjawab pertanyaanku-" kata

Leng siong.

"Apa itu ?" tanya Kim Coa siancu.

"Kau ini siapa sebenarnya ?"

"oo, aku Kim Coa siancu."

"Kim Coa siancu ?" Leng siong menegasi dengan mata

terbelalak-

"Jadi kau, kau yang dimaksud oleh adik kecil ?"

"Betul, adik siong." sahut Kim Coa siancu.

"Kita berdua dicurigai oleh adik kecil itu (sambil menunjuk

Lo In) bahwa kita adalah enci Eng Liannya. Hihi, memang lucu

dia, main menerka sembarangan saja "

"Memang, dia sembarangan terka saja, membikin orang

penasaran. Malah barusan dia mencubit pipiku sampai matang

biru, aku jadi menangis. Ah, malu juga aku barusan menangis,

orang sudah gede menangis, jelek bukan ?" kata Leng siong

sambil matanya melirik pada Lo In.

 

"Adik kecil, kita bukan enci Eng Lianmu. sekarang kau mau

apa ?" tanya Kim Coa siancu seraya memandang si bocah

dengan ketawa.

Lo In ketawa nyengir, Ia menjawab,

"Enci Leng siong boleh bilang dia bukan enci Eng Lianku,

tapi kau, mana bisa mungkin ?"

"Aku ?" tanya Kim Coa siancu kaget.

"Apa tandanya kau menerka aku ?"

"Itu kan mudah saja." sahut Lo In.

"Dekat alismu yang kiri ada tai lalat. Ini tak dapat

membohongi aku. Hahaha...."

Tanpa disadari tangannya Kim Coa siancu diangkat untuk

mengusut tanda yang dikatakan Lo In. Ia memang tahu,

memang ada tanda dekat alisnya tapi bagaimana si bocah

tahu, kalau ia baru kenal belum lama saja ?

oleh karena dalam paseban itu hanya diterangi oleh sinar

rembulan yang remang-remang, maka Leng siong tidak dapat

melihat tanda pada alisnya Kim Coa siancu. Hanya hatinya

berdebaran, pikirnya, gadis di depannya ini tentu Eng Lian

adanya, tapi kenapa masih mungkir saja ?

setelah sekian lama dalam kesunyian, tiba-tiba Kim Coa

Siancu berkata,

"Dari mana kau tahu aku mempunyai tanda dekat alisku ?"

"Lhooo.....ini kan pertanyaan aneh ? Mana aku tidak dapat

tahu, kalau kau memang ada teman mainku di lemah Tong

 

hong-gay." sahut Lo In ketawa nyengir. Disebutnya Tonghong-

gay, sekilas seperti Kim Coa siancu ingat tapi lantas

terlupa lagi. Begitulah ada mujizatnya obat "Ciat-jit-su-su-hun"

(obat bubuk mematikan ingatan seribu hari) dari Ang Hoa

Lobo, warisan dari Lam Hay Mo Lie. Tampak Kim Coa siancu

duduk termenung-menung.

Leng siong melihat si Dewi ular seperti merenungkan tempo

yang lalu, ia sudah mau buka suara, hanya Lo In telah

mendahului berkata,

"Enci Lian, kau tentu belum lupa ketika kita bersama-sama

naik di atas punggung rajawali, pesiar diatas lembah,

bagaimana kita main-main dengan kawanan kera kita, aku

meniup seruling menaklukan kawanan ular, ketika kau

ngambek memukul remuk buah semangka karena jengkel aku

malas antar kau

menangkap ikan. coba kau ingatkan semua itu "

Kim Coa siancu termenung-menung saja, seperti yang coba

mengumpulkan ingatannya yang sudah lalu tapi luput untuk

dapat mengingatkan lagi. sambil tersenyum, ia berkata pada

Lo In,

"Adik kecil, barangkali kau keliru kenali orang, sebab apa

yang kau katakan tadi, sama sekali aku tidak ingat."

"Baik, sekarang aku mau tanya. Apa kau masih ingat ketika

kau memberikan nyali TOk gan siancu, ular kesayangan

kepadaku untuk mengobati aku yang terluka parah ? Coba kau

ingat-ingat lagi " kata Lo In dengan sabar.

Kembali Kim Coa siancu kerjakan pikirannya yang sehat,

juga sia-sia saja.

 

"Aku tidak ingat. Tapi kenapa kau terluka parah ?" tanya si

Dewi ular Emas.

"Lantaran aku terlalu jujur, mau menolong si nenek, tidak

tahunya si nenek sangat jahat. Dia membokong aku ketika aku

mau periksa lukanya."

"siapa si nenek jahat itu ?"

"Pada rambut kepalanya biasa ia cantumkan kembang

merah- Maka ia dipanggil Ang Hoa Lobo- Dia sangat jahat-

Malah sebelum aku kenal dengan kau, enci Lian, dia sudah

menghukum kau kelaparan beberapa hari....."

"Hei, kau bilang Ang Hoa Lobo ?" memotong Kim Coa

siancu, kaget dia-

"ya, Ang Hoa Lobo, si nenek jahat itu " sahut Lo In.

Kim Coa siancu cemberut mukanya, hingga Lo In menjadi

heran.

setelah deliki matanya pada si bocah, si Dewi ular emas

berkata,

"Anak hitam, kau jangan sembarangan menyebut-nyebut

nama guruku, sekali lagi kau menyebut nama guruku. aku adu

jiwa denganmu "

Lo In jadi kebingungan mendengar kata-katanya si Dewi

ular emas. Kenapa enci Eng Liannya menjadi murid si nenek

jahat ? Bukankah Eng Lian pun juga membenci Ang Hoa Lobo

? begitu setia Eng Lian pada Ang Hoa Lobo sehingga ia

dilarang menyebutkan nama Ang Hoa Lobo- Pikirnya, pasti

 

dibalik kehilangan ingatannya enci Liannya ini ada sesuatu

yang tidak beres.

Ia tahu kalau ia mengatakan 'Ang Hoa Lobo' si Dewi ular

emas akan menyerang ia karena tidak suka nama gurunya

disebut-sebut. Tapi Lo In tidak takut. Malah ia ingin tahu

bagaimana kesudahannya kalau ia mengatakan nama Ang

Hoa Lobo lagi di depan Kim Coa siancu yang terus tidak mau

kenal kepadanya.

"Enci Eng Lian." kata Lo In.

"Biasanya aku suka mengalah kepadamu. Tapi sekarang

melihat kelakuanmu yang aneh, maaf saja kalau adikmu tidak

dengar ancamanmu tadi- Aku maksudkan Ang Hoa Lobo itu

adalah satu nenek jahat. Ang Hoa Lo....."

Putus kata-kata Lo In karena tiba-tiba saja Kim Coa siancu

menyerangnya dengan beringas.

Ia kelihatan marah betul pada Lo In. sambil menyerang ia

membentak.

"Anak hitam, kau berani menyebut nama guruku lagi

Rasakan ini"

Ganas betul serangan si Dewi ular emas tapi dengan kalem

dapat dilayani oleh Lo In. Dalam paseban itu, mereka jadi

bertempur seru.

Leng siong jadi ketakutan, Ia tadinya mengira dengan

munculnya Kim Coa siancu urusan akan menjadi beres dan Lo

In dapat menemukan enci Liannya. Tidak disangka urusan

malah menjadi ruwet. Mereka telah bertempur mati-matian.

 

Untuk melerai mereka, tentu saja mustahil bagi Leng siong.

Maka ia menjerit-jerit saja, katanya,

"Enci, jangan berkelahi- Adik kecil, kau harus mengalah-

Eh, enci, jangan pukul dia"

Ramai teriakan mulut Leng siong. serabutan ia mengatakan

sambil menjerit, melihat saban-saban Kim Coa siancu

menyerang Lo In dengan tenaga penuh hingga tiang paseban

tergetar kena angin pukulannya.

Tiba-tiba Kim Coa siancu melesat dari paseban, melayang

turun ke bawah-

"Anak hitam Mari, mari sini" ia menantang Lo In,

"Dalam paseban tidak leluasa kita bertempur Mari disini

lebih lega "

Lo In juga sudah melayang turun dari paseban.

" Kalau mau bela si nenek jahat Ang Hoa Lobo, boleh

keluarkan kepandaianmu ajarannya di depan aku orang she

Lo " kata Lo In tatkala ia sudah berada di depan si Dewi ular

Emas yang wajahnya sekarang berubah menyeramkan.

Kecantikan si Dewi ular emas menjadi lenyap seketika,

rambutnya riap-riapan menakutkan, giginya terdengar

berkeretekan, saking gemas pada Lo In yang kembali

menyebut nama gurunya, malah memaki-maki-

Hebat serangan-serangan Kim Coa siancu- Rupanya ia

hendak membuktikan, memang ia akan adu jiwa dengan Lo In

bila si bocah menyebut nama gurunya sekali lagi. serangan

hebat hanya dilakukan dari sepihak saja, ialah oleh Kim Coa

 

siancu. sedang Lo In hanya mengegos dan berkelit, tidak

membalas menyerang. Meskipun demikian. tampaknya

mereka benar-benar seperti sedang adu jiwa.

Leng siong menonton di atas tribun (paseban). Ia tidak bisa

berdaya apa-apa untuk melerai dua orang yang sedang

berkelahi- selain menjerit-jerit sampai suaranya serak, Ia pun

menangis sambil banting-banting kaki- Ia menyesal tidak

punya kepandaian silat yang lebih tinggi dari mereka. Kalau

tidak, sudah sedari tadi ia turun tangan memisahkan dua

orang yang sedang bergebrak itu.

Meskipun ia hanya mengegos dan berkelit, diam-diam Lo In

waspada juga kalau-kalau si Dewi ular emas nanti nekad dan

mengeluarkan senjata rahasianya, sengaja Lo In tidak mau

permainkan Kim Coa siancu, tidak seperti biasanya ia lenyap

darl pandangan lawan dan tahu-tahu ada di belakang orang, Ia

melayani si Dewi ular emas dengan sungguh-sungguh, ia

punya tujuan tertentu ialah ingin membikin lawan lemas

dengan sendirinya karena sudah mengerahkan tenaganya

melewati batas untuk mengumbar nafsu amarahnya yang

meluap-luap.

Tiba-tiba Kim Coa siancu hentikan serangannya, sambil

menyingkap rambutnya yang meriap ke mukanya, ia berkata,

"Kenapa kau tidak balas menyerang ?" Lo In ketawa

nyengir,

"Aku toh bukan berkelahi dengan musuh-" sahut Lo In.

"Jadi, kaupandang apa aku ini?" tanya Kim Coa siancu.

"Kau adalah enci Lianku. Habis aku pandang apa lagi?"

 

"Em Aku adalah siancu dari Ang Hoa Pay, bukan enci

Lianmu "

"orang boleh mengatakan kau adalah siancu dari Ang Hoa

Pay tapi di pandanganku, kau adalah enci Lianku "

Kim Coa siancu kewalahan, saban-saban Lo In menyebut

dirinya Eng Lian, bukan siancu yang tersohor namanya dari

Ang Hoa Pay. Betul-betul anak hitam ini sudah gila barang

kali, pikir Kim Coa siancu, sembari matanya melotot

mengawasi si bocah.

Lo In tidak gubris sikap si Dewi ular Emas. Ia percaya,

akhirnya ia bikin ingatan sang enci kembali pada asalnya, Ia

menduga enci Eng Liannya ini sudah dikasih obat yang ia tak

tahu sehingga ingatannya berubah menjadi lupa dengan

kejadian yang sudah-sudah-Dugaannya si bocah tepat benar,

hanya ia tidak tahu obat apa namanya yang begitu mujizat

untuk menguasai Eng Lian yang biasanya sangat benci pada

Ang Hoa Lobo-

"Berani sekarang kau menyebut nama guruku lagi ?" tanya

Kim Coa siancu, suaranya agak ramah, mukanya juga sudah

mulai tersenyum-

"Kenapa tidak berani ?" sahut Lo In, heran juga ia

mendengar pertanyaan si gadis-

"Coba kau katakan, kalau kau ber...."

Putus kata-katanya Kim Coa siancu lantaran dibikin lagi

meluap amarahnya ketika Lo In memotong, katanya,

"Ang Hoa Lobo, Ang Hoa Lobo, nenek jahat "

 

"Anak hitam kurang ajar Kau berani? "

berbareng serangan dahsyat telah diulangi lagi. Angin

sambaran tangannya Kim Coa Siancu sampai berbunyi siutsiut

saking hebatnya ia menggunakan Iwekangnya untuk

menggempur si bocah hitam yang bandel tiada taranya-Potpot

kembang, bangunan tembok perhiasan yang ada disapu

oleh angin pukulan Kim Coa siancu.

Lo In diam-diam berpikir, gadis di depannya ini betul-betul

sudah jadi gila. Tapi ia yakin benar si gadis jelita adalah enci

Eng Liannya. Bagaimana pun, ia harus menolong sang enci

yang diperalat oleh Ang Hoa Lobo, si nenek jahat. Tapi

bagaimana akalnya ? Sembari menangkis dan berkelit dari

serangan si Dewi ular Emas, diam-diam Lo In mencari cara

untuk menolong Eng Lian dari kehilangan ingatannya.

Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Romannya berubah kegirangan.

Entah apa yang diingat si bocah yang mendadak membuat

Romannya berubah kegirangan.

Sementara itu Kim Coa Siancu sudah lelah dengan

sendirinya karena semua serangan hebat yang meminta

banyak tenaga sia-sia saja, tidak ada hasilnya. Lo In masih

terus melayani dengan penuh kesabaran.

yang membikin si Dewi ular Emas tidak mengerti, kenapa

serangan yang begitu dahsyat tidak dibalas oleh Lo In. Ia ingin

menyerang dengan Bu im in coa ialah senjata rahasia Cap ular

Tanpa suara, tapi si bocah tidak berdosa besar. Bagaimana ia

bisa berlaku kejam membunuh orang yang tidak berdosa

besar ?

Pikirnya ia mesti ganti taktik berkelahinya, kalau tidak la

akan lemas sendiri, menggempur lawan dengan tenaga penuh

 

tapi tidak berhasil. Baru ia memikir akan ganti taktik, ia

mendengar si bocah berkata,

"Enci Lian, apa kau masih belum mau menyerah pada

adikmu ?"

"Siapa enci Lianmu ?" bentak Kim Coa Siancu. Sekaligus ia

menyerang dengan tenaga penuh lagi sampai pohon di

depannya bergoyang-goyang, akan tetapi si bocah mendadak

sudah lenyap dari hadapannya.

" Celaka " seru Kim Coa siancu, nampak si bocah ganti

taktik,

Hatinya berdebaran, kuatir dirinya akan dipermainkan Lo In

seperti yang dialami oleh Tui Hun Lolo. Baru ia memikir ke

situ, tiba-tiba ia merasa kupingnya ditowel dari belakang, Ia

berbalik cepat tapi Lo In lebih cepat lagi memutar ke

belakangnya, sekarang, pipinya kena dicolek-

Colek bukan sembarang colek seperti lagunya Titik

sandora.

"Anak hitam kurang ajar amat hah " teriak Kim Coa siancu,

parasnya semu merah karena dicolek pipinya oleh si nakal.

"Enci Lian, kalau kau belum mau menyerah kalah, jangan

sesalkan adikmu berlaku keterlaluan." kata Lo In sembari

ketawa haha hihi di belakang si gadis.

Panas hatinya Kim Coa siancu, sambil memutar tubuh ia

membentak,

 

"Nih, rasakan" laksana kilat menyambar Bu im in coa lepas

dari tangannya si Dewi ular Emas, senjata rahasia yang

sangat ganas.

Kalau sudah keluar senjata rahasia Cap ular itu adalah

tanda bahwa pemiliknya sudah sangat marah- Tadi, Kim Coa

siancu sebenarnya tidak mau gunakan senjata dahsyatnya itu,

akan tetapi ketika merasa dirinya dipermainkan Lo In dengan

sangat kurang ajar dengan menowel kuping dan mencolek

pipinya, ia jadi merubah niatannya. Tanpa banyak pikir lagi ia

sudah gunakan senjata rahasianya itu.

Hanya mengkredep remang-remang melesatnya Bu im in

coa, orang yang tiada sangka itu adalah senjata rahasia yang

sangat berbahaya. Cuma saja Kim Coa siancu ketemu Lo In,

Hek-bin-sin-tong atau si Bocah sakti Muka Hitam yang

kepandaiannya susah diukur- Maka berapa banyak juga

senjata ganasnya itu dilepas, tak akan dapat menemukan

sasarannya hingga Kim Coa siancu sangat cemas hatinya-

Makin ia ngawur melepas senjata rahasianya, makin sering

pipinya kena dicolek Lo In. saking jengkel Kim Coa siancu

kepingin menangis digodai Lo In. Habis daya dia- Akhirnya ia

berdiri menjublek kecapaian.

Lo Injuga sudah hentikan 'olok-olokannya'- sekarang ia

berada di depan si Dewi ular Emas sambil cengar cengir

ketawa-

"Menyebalkan anak hitam ini " kata Kim Coa siancu dalam

hatinyasenyumannya

yang manis memikat sudah lenyap entah

kemana tahu, sebaliknya mukanya cemberut memandang

pada Lo In. bernas betul dia, kepingin dia mencengkeram

 

berantakan muka si bocah hitam. Tapi apa daya ? Tenaga

sudah habis, senjata rahasia yang sangat ampuh sudah

diobral habis, hanya tinggal sepasang ular kesayangannya.- Ia

tidak berani sembarangan melepaskan sepasang ular

emasnya, takut kena dibunuh oleh Lo In jika ia serangannya

luput dari sasarannya.

Dalam kebingungan, tiba-tiba ia rasakan dirinya dipeluk-

Itulah si bocah nakal Lo In yang memeluk erat dirinya.

"Bocah gila, kau berani menghina siancu " bentaknya,

seraya ia berontak hendak loloskan tubuhnya.

Ini sebenarnya adalah taktik Lo In, yang membuat ia

bersenyum kegirangan tadi-

Biasanya kalau Eng Lian dalam olok-olok kena dipeluk, si

nona suka mencubit keras-keras lengannya. Pada waktu

demikian ia tidak menggunakan Iwekang, dibiarkan cubitannya

si nona supaya cubitannya mempunyai bekas matang biru,

dengan maksud untuk menyenangkan hatinya Eng Lian.

Ia bukannya mau kurang ajar, tapi perbuatan itu sering

membikin lawannya seram kalau tidak mengetahui tabiatnya

yang polos jujur.

Begitulah Lo In mau pancing Kim Coa siancu supaya

mengaku bahwa dirinya adalah enci Eng Liannya yang dicari,

Ia mengharap cubitannya si nona, tapi...

"Aduuuh " sekonyong-konyong si bocah berteriak

mengaduh karena dengan tiba-tiba Kim Coa siancu menggigit

sekerasnya hingga gigitannya si nona tertanam pada daging

lengannya-Lo In dan mulut si nona belepotan darah sewaktu ia

melepaskan gigitannya. Tinggal si bocah kesakitan teraduh

 

aduh seraya pegangi tangannya dan semetar itu pelukan pada

tubuhnya Kim Coa siancu juga dilepaskan.

Lo In tidak semudah itu dapat digigit dagingnya. Kalau si

bocah gunakan Bian-kang (tenaga lunak), maka Kim Coa

siancu bakal bukan menggigit daging tapi menggigit kapas

rasanya. Tetapi karena Lo In sedang tiada siaga sehingga

gigitan siancu itu yang tak disangka-sangka tak dapat

dihindari. Tidak heran kalau Lo In teraduh-aduh. salahnya

sendiri. Mau mancing cubotan akhirnya kena gigitan.

Kenapa Kim Coa siancu menggigit kaya anjing gila ?

Karena ketika ia meronta-ronta, buah dadanya kena ketekan.

otomatis timbul reaksi seperti tempo hari Toan Bi Lomo siauw

Cu Leng mau permainkan cuisian, tetapi belum berhasil sudah

kena digigit hingga hilang ingatannya dan lupa akan dirinya

siapa, seperti orang linglung.

Apakah Lo In juga akan jatuh dibawah pengaruhnya Kim

Coa siancu seperti Lengkoan Giok Lie dan Hek houw Ma

Liong tempo hari ? Entahlah, sebab sampai sebegitu jauh si

bocah sakti hanya mengusap-usap lengannya yang kesakitan

sambil matanya mengawasi si Dewi ular emas yang cekikikan

ketawa.

Nona Teng dari atas paseban yang sudah berhenti

menjerit-jerit merasa sangat lucu menyaksikan adegan yang

terjadi di bawah paseban. nampak Lo In digigit oleh Kim Coa

siancu teraduh-aduh dan si nona cekikikan ketawa, Leng siong

juga menekap mulutnya yang mungil untuk menahan ketawa

gelinya.

setelah cekikikan ketawa enak, Kim Coa siancu berkata

pada Lo In,

 

"Anak Hitam, enak ya kena siancu gigit. Makanya, jadi

orang jangan kurang a...."

Tiba-tiba saja Kim Coa siancu terputus omongannya,

sedang tubuhnya terkulai roboh hingga Lo In kaget dan cepat

menyangganya hingga si nona tidak sampai jatuh ke tanah.

Kembali siancu dalam pelukan Lo In, si nakal.

Kali ini Lo In tidak nakal, malah kaget ia sebab Kim Coa

siancu matanya mendelik terbalik seperti yang kesurupan,

"Enci Lian, enci Lian, kau kenapa ?" tanya Lo In sambil

goyang-goyang tangannya Kim Coa siancu. Tidak tahu ia apa

yang harus diperbuatnya untuk menolong siancu.

"Enci Leng siong kemari " teriak Lo In ketika melihat Kim

Coa siancu keadaannya menguatirkan dalam pelukannya.

Leng Siong mendengar panggilan Lo In lantas mau turun

dari paseban tapi tidak jadi sebab melihat Lo In sudah

melayang bagaikan burung membawa Kim Coa siancu dan

menclok di paseban.

Lo In rebahkan Kim Coa siancu di atas bangku panjang.

"Enci Leng siong, lekas tolong dia " kata Lo In gugup,

seraya tangannya mengoyang-goyang pipinya Kim Coa siancu

yang sedang tidak sadarkan diri

Leng siong sudah datang dekat,

"Enci Lian, enci Lian...." si nona memanggil, ketularan

panggila Lo In kepada Kim Coa siancu. si Dewi ular Emas

tidak ingat orang, Ia rebah dalam pingsan.

 

yang membuat Lo In dan Leng siong menjadi sangat kaget,

nampak mulutnya si Dewi ular Emas mengeluarkan busa,

sedang matanya mendelik ketakutan.

"ai, enci Lian, kau kenapa ? uh... uh... uh...." Leng siong

menangis seraya peluki tubuhnya Kim Coa siancu yang

mulutnya berbusa dan matanya mendelik menakutkan. Tapi

Leng siong tidak takut, malah tangannya yang halus dipakai

mengusap-usap mukanya Kim Coa siancu, mulutnya kemak

kemik berdoa memohon supaya matanya siancu jangan

mendelik saja. Benar saja permohonannya terkabul sebab

dengan perlahan-lahan si Dewi ular emas telah memeramkan

matanya. Mulutnya yang sudah dibersihkan dari busanya oleh

Leng siong, tampak menyungging senyuman seakan-akan

sedang mengimpi dalam enak tidur.

"Adik kecil, kenapa kau diam saja, bukan memanggil Taysu

datang kemari ?" tegur Leng siong ketika melihat Lo In berdiri

mematung di dekatnya.

seperti yang baru sadar, Lo In mengiakan lalu angkat kaki

hendak berlalu tapi tak jadi sebab Kim Wan Thauto dengan

diiringi Lima Harimau sudah kelihatan mendatangi. Dari jauh

Lo In sudah berteriak.

"Toako, toako, lekas kemari "

Kim Wan Thauto terkejut mendengar panggilan Lo In, maka

dengan dua tiga lompatan saja ia sudah meninggalkan

suyangtin Ngo Houw kemudian dengan satu enjotan enteng,

tubuhnya sudah berada di paseban.

"Anak In, ada apa ?" tanyanya.

 

Tapi Lo In tidak menjawab hanya lari menghampiri Kim Coa

siancu yang rebah diatas bangku panjang dimana kelihatann

Leng siong dengan menangis.

"Ai, ada apa dengan anak Hiang ?" berkata Kim Wan

Thauto seraya datang dekat pada bangku diatas mana ada

rebah sesosok tubuh wanita.

Kurang begitu terang keadaan disitu Maklum, sang

rembulan saban-saban digodai oleh melayangnya bayangan

gelap hingga saban-saban ia ketutupan. Kim Wan Thauto

berdebaran hatinya, ia lalu menanya,

"Anak In, kenapa dengan anak Hiang ?"

"Toako, dia bukan......bukan enci Hiang." sahut Lo In rada

gugup,

" Habis siapa ?" tanya Kim Wan Thauto seraya datang lebih

dekat untuk mengenali, Ia memandang pada wajah Kim coa

siancu, ia tidak kenal. Wajahnya sangat cantik, lebih cantik

dari Bwee Hiang. Cuma pakaiannya agak janggal. serba tipis,

takpantas dipakai oleh wanita-wanita sopan.

Kapan ia tegasi lagi wajah si Dewi ular emas, tiba-tiba Kim

Wan Thauto terkejut, juga Teng Hauw yang sudah ada disitu

menyaksikan hatinya berdebaran.

"Hai, mukanya mirip benar dengan Leng siong " kata Kim

Wan Thauto-

"Ya, seperti pinang dibelah dua." menimpali Teng Hauw

yang sedari tadi memang mau berkata akan tetapi telah

didahului oleh Kim Wan Thauto

 

"Siapa dia, anak In ?" tanya Kim Wan Thauto-

Dasar anak nakal, bukannya menjawab malah ia berbalik

menanya,

"Coba terka siapa dia, toako ?"

"Kim Coa siancu....." nyeletuk Leng siong dikala Kim Wan

Thauto mau mengatakan tidak kenal.

"Kim Coa siancu ?" Kim Wan Thauto mengulangi dengan

kaget,

"ya, betul katanya enci Leng siong." menetapkan Lo In.

"Bagaimana dia bisa jadi begini ?" tanya Kim Wan Thauto

heran. Lo In dan Leng siong bergilir bercerita secara ringkas.

"sebaiknya siancu dibawa ke dalam rumah untuk kita

periksa lebih jauh-" kata Kim Wan Thauto yang segera

dibenarkan oleh orang banyak.

"sekarang, cara bagaimana membawanya siancu ke sana

?" Leng siong tentu tidak kuat, maka Kim Wan Thauto melirik

pada Lo In, katanya,

"Anak In, kau yang bawa dia ke rumah-Hayo, lekas

kerjakan" ia pun lantas bertindak mendahului yang lainnya,

disusul oleh Leng siong dan Lo In yang memondong Kim Coa

siancu-

Di lain detik mereka sudah ada dalam rumah Teng Houw-

Kim Coa siancu direbahkan di atas sebuah dipan.

 

Kim Wan Thauto aad tahu juga dalam urusan pengobatan,

maka ia lalu memeriksa nadinya Kim Coa siancu yang masih

terus seperti orang pulas.

"Celaka, kenapa aku tolol benar " tiba-tiba Lo In berkata

seraya ketuk kepalanya sendiri ketika melihat Kim Wan Thauto

memeriksa nadinya si nona. "Kenapa kau bilang begitu, anak

In ?" tanya Kim Wan Thauto-

"Ah, tidak apa-apa-" sahutnya, sebenarnya ia mau

mengatakan kenapa ia lupa tadi tidak memeriksa nadinya Kim

Coa siancu. sedang ia tahu banyak dalam urusan pengobatan,

warisannya Liok sinshe- Ia mau menerangkan terus terang

apa maksudnya ia berkata

"celaka" tadi tapi ia malu. Maka ketika ditanya Kim Wan

Thauto, ia hanya kata tidak apa-apa.

Kim Wan Thauto menerukan pemeriksaannya.

"Ah, siancu tidak apa-apa. Cuma barusan terlalu banyak

mengeluarkan tenaga, badannya jadi sangat letih dan jatuh

pingsan. Anak In, kau keterlaluan menggodai orang sampai

siancu kepayahan. Kalau dia kenapa-kenapa siapa yang harus

bertanggung jawab ? Kau, bukan ? Dia toh enci Lianmu kau

bilang " berkata Kim Wan Thauto pada Lo In, ia menegur

halus.

Lo In diam saja- Ia merasa salah rupanya sebab biasanya

ia paling cepat menangkis kata-kata orang- Memang, ia sendiri

menyesal. Tahu begini akibatnya, terang ia tidak akan

lakukan. Kalau enci Eng Liannya sampai tidak bisa ketolongan

jiwanya, siapa yang akan menanggung sedih ? Bukankah

dirinya sendiri yang menderita ?

 

Dalam tergesa-gesanya, tiba-tiba ia mendengar Kim Wan

Thauto menanya,

"Anak In, bagaimana dengan anak Hiang ? sampai

sekarang dia belum kelihatan pulang "

Lo In seperti tersadar,

"ya, betul. Kemana perginya enci Hiang ? Biar aku pergi

cari-" kata si bocah, kakinya juga sudah lantas digeraki untuk

berlalu dari situ.

Kemana ia harus mencari si nona, ia tidak tahu. Ia hanya

menuruti saja kemana kakinya membawa dirinya.

sambil mengikuti kakinya membawa dirinya, pikiran Lo In

selalu melayang pada Kim Coa siancu. Pikirnya, apakah

sekarang dia sudah mendusin ? Apa tidak mendapat kesulitan

apa-apa dengan pingsannya yang mendadak? Ia jadi

kebingungan sendiri karena ia bertugas mencari Bwee Hiang

sedang hatinya kecantol oleh Kim Coa siancu di rumahnya

Teng Hauw.

Entah kemana perginya Bwee Hiang sebab dicari sampai

dekat pagi, belum dapat diketemukan jejaknya. Lo In balik ke

suyang tin.

Ketika berjumpa dengan Kim Wan Thauto yang sudah

bangun pagi-pagi, Lo In ditanya bagaimana hasilnya mencari

Bwee Hiang. Lo In hanya angkat pundak- Katanya,

" Aku sudah menggunakan ginkang ke sana sini mencari

tapi enci Hiang tidak ketemu."

Kim Wan Thauto menghela napas mendapat jawaban itu.

 

"Sekarang bagaimana tindakanmu, anak In ?" tanya Kim

Wan Thauto-

"Kita berunding saja bagaimana baiknya, toako Bagaimana

dengan keadaan siancu ? Apa dia sudah siuman dari

pingsannya ketika aku pergi?"

"Belum tapi tidak apa-apa keadaannya-"

"Apa toako yakin benar siancu tidak apa-apa ?"

Kim Wan Thauto tersenyum- Ia lihat Lo In agak gelisah, ia

menghibur,

"Kau jangan kuatir, anak In. Mungkin sekarang siancu

sudah mendusin."

"Dimana dia sekarang ?" tanya Lo In cepat.

"Dia tidur bersama-sama dengan Leng siong." sahut Kim

Wan Thauto-

Lo In anggukkan kepala- Romannya tidak demikian tegang

lagi- Tapi diam-diam ia mengharap akan kemunculannya Kim

Coa siancu pada saat itu di depannya-

Kita tinggalkan dahulu Lo In yang menantikan

kemunculannya Kim Coa siancu dan marilah kita melihat pada

Bwee Hiang. Kemana sebenarnya si nona sudah pergi ? Ia

menyusul Lo In dengan sia-sia saja, sebab ginkangnya kalah

jauh-Hatinya merasa cemas tatkala tak dapat menyusul adik

kecilnya.

"Kemana adik kecil sudah pergi ?" tanya dalam hatinya.

 

Untuk meneruskan larinya menyusul Lo In, hatinya kuatir

nanti ia akan kesasar jalan. Pikirnya, ada lebih baik kembali

saja ke suyangtin. Disana ia menantikan baliknya Lo In. Ia

tidak kuatir adik kecilnya dapat bahaya karena ia percaya 100

persen adik kecilnya ada sangat cerdik dan tinggi

kepandaiannya.

Ia putar tubuhnya hendak kembali, tapi kemana ia harus

ambil jalan ?

Ia jadi kebingungan kehilangan jalan kembali. Maklumlah ia

dibesarkan dalam rumah mewah sebagai anak gadis seorang

kaya raya. Kecuali berkunjung kepada sanak Iamili, belum

pernah ia bertindak jauh dari rumahnya. Kini ia berada di

pegunungan yang sunyi, jalan sendirian di waktu malam

demikian, rasa takut telah mencekau hatinya, oleh karenanya,

ia lari sebisa-bisanya saja, tak tahu kemana tujuannya tapi

dalam hati diam-diam ia berdoa supaya kakinya membawa

kejalan yang betul kembali ke suyangtin.

"sayang aku tidak membawa pedang." katanya dalam hati.

"Kalau tidak, dapatlah pedang itu dipakai kawan dalam

kesunyian malam ini."

Baru saja ia mengingatkan akan pedangnya yang

ketinggalan di suyangtin, tiba-tiba terdengar suara bentakan,

"Berhenti "

Berbareng berlompatan keluar tiga orang gerombolan yang

mukanya bertopeng. Bwee Hiang kaget mendengar bentakan

itu, ditambah lagi dirinya dihadang oleh lima orang, semua

wajahnya pada memakai topeng hitam. Tiga orang tadi yang

melompat keluar dari gerombolan pun sudah tiba di situ, jadi

 

ada 5 orang yang mengurung si nona dalam ketakutan, Ia

tabahkan hatinya, menanya,

"Kalian ada urusan apa menghadang dalam perjalananku

?"

"Urusan sudah tentu ada, makanya tadi aku suruh kau

berhenti, hahaha " sahut orang yang membentak tadi-

Bwee Hiang tidak senang melihat orang berlaku kurang

ajar, sebelum ia menyemprot dengan kata-kata tajam, ia

didahului oleh salah satu gerombolan yang lain, katanya,

"Nona manis, kau dari mana dan mau kemana ? Malammalam

keluyuran, kukira kau adalah setan wanita yang

gentayangan dipegunungan....."

"Tutup bacotmu " bentak Bwee Hiang memotong bicara

orang.

"Aduh, galak betul ya " menimbrung yang lainnya.

"Galak sih memang galak, cuma..."

"Cuma apa ? Coba katakan, cuma apa ?"

"Cuma seorang wanita, apa perlunya galak-galak, hahaha "

"Wanita... dan wanita itu ada dua macam."

"Ah, kau ini ada-ada saja, dua macam bagaimana sih ?"

"Dua macam Ada wanita jelek- ada wanita.... ehm, yang ini

sih-— "

Demikian, 5 orang itu saling sahutan berkata membuat si

nona tak punya kesempatan untuk menyemprotkan

 

amarahnya- tapi, ketika orang mengatakan ada "5 macam

wanita", kegusarannya sudah luber dari takaran. Tanpa pakai

kata-kata lagi, kepalannya langsung berbicara hingga seorang

diantaranya yang paling ceriwis dan paling depan berdirinya

sudah kena bogem mentah si nona dan kontan terpelanting

beberapa tindak hingga Bwee Hiang ketawa ngikik melihat

orang merangkak-rangkak dengan susahnya hendak bangun

lagi-

"Hei, kau berani pukul kami punya Lak-ko? Aduh...."

Kembali orang yang berteriak itu jadi makanan kepalan si

nona. Ia terpelanting seperti temannya barusan.

"Hehehe, kau jagoan betul nona," kata seorang yang lain,

yang maju ke depan.

Kepadanya Bwee Hiang juga mau kasih hajaran.

Kepalannya melayang seperti tadi, tapi ia kecele karena orang

itu sudah dapat bekelit dengan bagus, sambil katanya,

"Lakko dan Jiko kau bisa sesukamu, tapi terhadap aku

Citko dari 'sip sam siao mo', hehe "

Disekitar pegunungan Pek-kut-nia memang sudah lama

ada muncul kawanan pemuda yang kerjanya mengganggu

ketentraman penduduk- Mereka berkeluyuran di waktu malam

untuk mencari mangsanya, sedang di waktu siang mereka

dijadikan malam untuk tidur seharian. Kawanan pemuda itu

umur yang paling tua antara 21 tahun dan paling muda 25

tahun, semuanya ada 13 orang yang mereka namakan 'Sip

sam siao mo' atau " 13 Iblis cilik', semuanya ada

berkepandaian silat.

 

Lucunya cara mereka merunutkan kepandaian masingmasing.

Biasanya orang runutkan yang atasan ada lebih

pandai dari yang bawahan, akan tetapi "Siao sam siao mo' lain

dari yang lain. Mereka pakai sistem ganjil ialah nomor 1 paling

tinggi kepandaiannya, lalu ke-3, ke-5 dan seterusnya.Jadi

yang nomor 3,4 dan lain-lainnya yang nomor genap

kepandaiannya lebih rendahan dari nomor ganjil. Entahlah,

apa maknanya mereka atur demikian. Akan tetapi yang terang,

perbuatan-perbuatan mereka ada menyusahkan pada

penduduk di sekitarnya, sudah masuk pengaduan pada yang

berwajib tentang adanya gangguan itu dan oleh yang berwajib

sudah dikirim beberapa orang untuk mengatasinya, tapi

hasilnya nihil. Bukan saja yang berwajib kewalahan, malah

ada beberapa orangnya yang tidak pulang kembali dan

mayatnya kedapatan busuk di tengah jalan, oleh karenanya,

yang berwajib belakangan ini 'belagak pilon' saja terhadap

gangguan dari 'sip sam siao mo', meskipun banyak pengaduan

yang diterimanya dari banyak penduduk.

Lain kelucuan adalah cara 'sip sam siao mo' dalam cara

saling memanggil, tidak ada perkataan 'te' (adik), hanya yang

dipakai 'ko' (kakak), umpanya si toako (kakak yang tua)

memanggil pada saudaranya yang ke-3, mestinya samte (adik

ketiga), ia memanggil samko (kakak ketiga).

Nama-nama aslinya sudah mereka hapus hingga orang

yang kenal dengan mereka juga memanggil sama seperti

mereka sebut dalam persaudaraannya.

Bwee Hiang melihat serangannya gagal, ia jadi heran juga.

Tapi ia tidak takut, malah ia ketawa ngikik ketika mendengar si

Citko perkenalkan dirinya dari 'sip sam sio mo' dengan

bangga.

 

"hei, kenapa kau tertawa ?" tanya Citko heran.

"Aku tertawakan kau barusan menyebut 'Sip sam siao mo'.

Kurang pantas nama ini bagi kalian, masa dipanggil iblis cilik.

Kalau iblis itu biasanya orang yang sudah tua atau kakekkakek."

"Hehehe, tahu juga si manis." kata Citko ketawa. Entah

bagaimana tampangnya saat itu sebab ia memakai topeng.

"Kalau pakai nama yang pantas, tak usah berabe pakai

topeng segala." berkata Bwee Hiang, sedikltpun ia tidak

unjukkan roman takut pada mereka. "Coba kau sebutkan

nama apa yang pantas untuk kami orang " kata Citko.

"oo, mudah saja. Cuma apa hadiahnya kalau aku kasih

nama yang bagus ?"

"Hadiahnya mudah saja, kami tidak akan perlakukan kasar

padamu."

"Maksudmu ?" Bwee Hiang menegas.

"Kalau kau kami tangkap, tak akan diperlakukan kasar

"sahut Citko.

Kawan-kawan citko semua pada bergembira mendengar

tanya jawab si gadis dan citko, terutama yang menarik

perhatian mereka adalah gayanya si gadis dan romannya yang

cantik.

"Bagus," kata Bwee Hiang.

"Sekarang aku namakan...."

 

"Lekas kau sebutkan nona manis," Citko makin 'empuk'

suaranya. Rupanya mengira si gadis ada 'sir' (naksir)

kepadanya, ia maju satu tindak mendekati.

"Sebagai gantinya 'Sip sam siao mo', kau pakai 'Sip sam

siao kay', hihihi......"

"Kurang ajar" bentak Citko, marah betul dia.

Kiranya si nona ganti nama 'Sip sam siao mo' menjadi 'Sip

sam siao kay' atau artinya '13 pengemis cilik' sehingga

membuat Citko iadi sangat marah.

Bwee Hiang sih benar-benar keterlaluan, masa nama yang

ganteng '13 iblis cilik' diganti jadi '13 tukang ngemis', tidak

heran kalau omongannya menerbitkan kemurkaan bukan saja

pada Citko, tapi juga pada lain-lain saudaranya.

"Kau menghina, berani kau menghina 'sip sam sio ma' ?

Hm Rasakan ini" kata Citko berbareng ia ulur tangannya

menjotos ke muka si nona.

Bwee Hiang tidak menangkis, hanya ia berkelit ke kiri

Tangan tangannya berbareng menyambar kepalan citko Tapi

Citko tahu adanya bahaya, cepat tarik pulang kepalannya.

Kaki kirinya digeser maju dengan menggunakan tipu 'Siao

khauw tek ko' (Anak monyet petik buah), dengan kurang ajar

tangan kirinya diulur hendak mencomot buah dada si nona.

Tapi sebelum tangan sampai pada sasaran, dengan manis

Bwee Hiang mengelak, berbareng tangan kanannya yang

dibeber telah telah memotong dari samping.

"Aiyoo " teriak citko karena lengan tangannya yang nakal

yang hendak gerayangi tetek orang kena dibacok oleh tangan

Bwee Hiang yang keras.

 

Citko berteriak sambil lompat mundur kesakitan, Ia merasa

lengannya seperti terkutung disabat golok- bukan main

sakitnya. Matanya melotot mengawasi sigadis yang

tersenyum-senyum mengejek kepadanya.

Mengetahui musuh-musuhnya hendak berlaku kurang ajar

atas dirinya, maka Bwee Hiang rubah taktik berkelahinya.

Ketika ia diserbu oleh anak-anak muda berandalan itu, ia

hanya menggunakan kegesitannya hingga maksud mereka

untuk menangkap si nona saban-saban kecele.Jangankan

orangnya ketangkap, sedang ujung baju si nona saja, mereka

tidak bisa sentuh.

Sekarang mereka baru tahu kalau si nona kepandaiannya

jauh lebih tinggi dari mereka. Tak dapat mereka melakukan

pengepungan begitu saja, perlu meminta bantuan senjatanya.

Bwee Hiang melihat gerakan mereka yang pada mencabut

senjata.

Bagaimana ? Apa ia juga perlu pakai senjata atau lawan

terus dengan tangan kosong ? sayang Lo In tidak ada

disampingnya. Kalau si bocah wajah hitam itu ada

disampingnya, tentu dapat menilai lawan punya kepandaian

tinggi rendahnya.

Untuk membikin dirinya lebih aman, memang perlu ia

pegang senjata. Dimana ia bisa dapatkan itu? Matanya melirik

pada Citko yang masih berdiri bagaikan patung. Dengan satu

lompatan gesit, sebelum Citko bergerak, tahu-tahu pedangnya

sudah pindah di tangan si nona, bukan main gusarnya dia-

"Jangan kasih lolos wanita liar itu Hayo terus tangkap dia,

hidup atau mati " Citko teriaki kawan-kawannya dengan sengit.

 

"Hihihi-.. mau tangkap nonamu? Tanya dulu pada kawan

saya " kata si nona.

Citko dan saudara-saudaranya kaget mendengar si nona

menyebutkan 'kawan saya', kalau begitu si nona ada

membawa kawan, citko membentak.

"Mana kawanmu ? Lekas suruh turun ke sini berkelahi"

"Ini kawanku" sahut si nona ketawa seraya acungkan

pedang yang dapat dirampas dari Citko.

Meluap amarahnya Citko dan kawan-kawannya.

"serbu serbu " mereka saling berteriak keras hingga

kesunyian sang malam untuk beberapa detik lenyap.

Kalau dengan tangan kosong Bwee Hiang tidak gentar,

apalagi sekarang ia menggunakan pedang. Terang hatinya

makin mantap.

setelah terdengar treng treng trong beberapa kali, lalu

disusul dengan jeritan mereka yang terluka, dalam tempo

sedikit saja si nona sudah merobohkan 6 orang diantara 8

orangnya 'Sip sam siao mo'. Restan 2 orang itu adalah Citko

dan jiko yang melihat gelagat tidak menguntungkan, sudah

lantas undurkan diri dari pengeroyokannya atas dirinya si

gadis jagoan.

Tampak Bwee Hiang berdiri tersenyum-senyum mengawasi

korban-korbannya yang rebah malang melintang. Kemudian ia

menghampiri Citko danjiko yang tak dapat melarikan diri

karena kakinya lemas.Jiko yang paling ketakutan dihampiri si

nona.

 

"Pedangmu boleh juga. Mari kasihkan sarungnya sekali."

kata Bwee Hiang pada Citko dengan roman sungguhsungguhcitko

tidak menyahut, ia hanya mendengus dan buang

muka-

Tiba-tiba ia rasakan ada berkelebat bayangan di dekatnya-

Ketika ia mengawasi lagi ke arah si gadis, tampak Bwee Hiang

sedang berseri-seri sambil memasukkan pedang ke dalam

sarungnya. Citko cepat raba pinggangnya, ternyata sarung

pedang sudah tidak ada lagi di tempatnya, sudah ada di sana,

di tangannya si nona.

sambil menggantung pedang di pinggangnya, Bwee Hiang

berkata,

" Nona mu belum tahu sampai dimana kejahatan kalian,

maka untuk sementara kau ampunkan dulu. Kapan nanti aku

dengar kejahatan kalian yang bukan-bukan, tentu akan aku

datangi sarang kalian dan mengubrak-abriknya "

Bwee Hiang tutup perkataannya dengan memutar tubuh

hendak meninggalkan tempat itu. Belum berapa jauh ia

bertindak, tiba-tiba ia merasakan ada angin ke arahnya, cepat

ia mendak dan tangan bajunya mengebas ke belakang.

"Aiyoo " terdengar teriak Citko dan tubuhnya roboh untuk

tak bangun lagi.

"Hihi, mau main senjata gelap ?" kata si nona dengan suara

tawar.

Citko diam-diam sangat gemas pada Bwee Hiang. Tidak

rela ia dikalahkan si nona. Maka, tatkala Bwee Hiang bertindak

 

belum jauh, ia sudah keluarkan senjata pelurunya sebesar

telur ayam. Ia memang pandai mainkan senjata rahasia

demikian, dapat melepaskan saling susul. Biasanya ia sangat

bangga dengan kepandaiannya itu. Tapi kali ini kena batunya.

Apa boleh buat ia ketemu Bwee Hiang murid jago cilik kita Lo

In. Tidak sembarangan dapat dibokong orang.

Demikian, ketika peluru datang dekat, di kebas balik oleh

tangan bajunya si nona sehingga tepat mengenakan

tenggorokannya Citko. Ini yang disebut senjata makan tuan,

sebab Citko roboh terus melayang jiwanya.

Jiko nampak saudaranya yang ke-7 roboh dihajar pelurunya

sendiri menjadi sangat sedih, berbareng ia juga takut terhadap

Bwee Hiang, Ketika ia hampiri si nona badannya menggigil,

malah saking takutnya ia roboh pingsan.

"Hm sebegini saja nyalinya orang sip sam siao mo ?" Bwee

Hiang mendengus ketika melihatjiko roboh pingsan sebelum

ditanya olehnya.

Ia kemudian mendekati yang lain-lainnya, yang pada rebah

terluka dan merintih-rintih- semua nyalinya pada ciut, malah

ada yang minta-minta ampun ketakutan di bunuh.

Bwee Hiang pikir, orang-orang itu semua hanya 'gentong

nasi' alias tidak berguna, maka ia lalu tinggal pergi.

Ia gunakan jalan cepat. Belum berapa lama ia ingat

sesuatu, lantas merandek dan kemudian putar tubuhnya balik

lagi ke tempat tadi. Ternyata disanan sudah tidak ada orangorangnya

'Sip sam siao mo'. Ia banting-banting kaki, menyesal

atas ketololannya. Kiranya ia balik lagi hendak menanyakan

jalan ke jurusan Suyangtin, harus ambil jalanan yang sebelah

mana. Dengan lesu ia bertindak pergi.

 

Di pinggir-pinggir jalanan banyak gerombolan rumput

alang-alang dan pohon-pohon lebat, sangatlah menyeramkan

di waktu malam. Maka iajalan dengan waspada.

Tiba-tiba kupingnya mendengar keresekan, seperti orang

jalan diantara gerombolan alang-alang, Ia jalan terus belagak

pilon.

"Nona manis, mau kemana ?" tiba-tiba orang bertanya.

Berbareng Bwee Hiang diserang dari dua jurusan kiri dan

kanan- oleh dua orang yang juga mengenakan topeng.

Mereka sangat gesit. Tapi Bwee Hiang lebih gesit lagi

sebab serangan mereka tanpa hasil. Si nona sudah enjot

tubuhnya melayang ke depan kira-kira dua tombak, di mana ia

tancap kaki seraya melolos pedangnya.

Dua orang tadi ternyata punya keberanian untuk

menghadapi si gadis. Ternyata mereka bukan termasuk

rombongan citko tadi yang sudah dikasih hajaran dan

terampun-ampun. Ketika mereka datang dekat, Bwee Hiang

membentak,

"Manusia hina, kalian mau bikin susah nenekmu "

"Hahaha " satu diantaranya tertawa terbahak-bahak,

suaranya macam gembreng pecah, tidak enak di dengar,

"samko dan Kiuko sudah sampai, alamat jelek untukmu "

samko dan Kiuko ialah si nomor 3 dan nomor 9 yang

terkenal paling tinggi kepandaian silatnya maupun ilmu entengi

tubuhnya diantara ke 13 iblis cilik itu.

 

Kalau mereka berkata dengan temberang barusan,

memang wajar sebab banyak korbannya yang ketemu 3 orang

itu belum pernah dapat meloloskan dirinya-

"Hehe, dari 'Sip sam siao mo' lagi ? " si gadis menjengak-

"Tidak salah, nona manis-" sahut Kiuko, seraya cengar

cengir tertawa- Entah bagaimana roman mukanya pada saat

itu lantaran ketutupan topeng. "Kiuko, jangan banyak cakap.

Bekuk saja buat dihadapkan pada toako " kata samko.

"Enak saja kau buka mulut, memangnya nonamu anak

ayam mudah dibekuk ?" si nona berkata sambil mendengus.

"Hahaha " tertawa samko, suaranya lebih keras dari Kiuko

tadi

-"Boleh maju sekaligus dua-duanya " tantang Bwee Hiang.

"Wah, jagoan juga ya " mengejek samko

"Memang jagoan, kalau tidak, mana bisa Citko roboh

ditangannya " kata Kiuko.

"citko kalian sudah menunggu kalian dalam perjalanan.

Lekas maju, supaya bisa sama-sama menghadap Giam-lo-ong

Mari lekas "Bwee Hiang menggapai dengan pedangnya.

samko dan Kiuko marah ditantang si nona dengan jumawa.

si nomor 9 yang tidak sabaran, lantas menyerang dengan

sepasang golok pendeknya.

Trang Trang terdengar beradunya senjata. Bwee Hiang

dengan pedangnya menangkis ke kanan dan ke kiri dari

 

serangan goloknya Kiuko. Tangkisan disertai Iwekang hingga

Kiuko tergetar dan lompat mundur.

Ia merasakan sakit kedua belah tangannya, hampir-hampir

dua goloknya terlepas dari cekalannya.

"samko, maju " teriaknya seraya kembali menyerang.

Benar-benar samko tidak tinggal diam. Ia maju membantui

kawannya dengan senjata ruyung hingga Bwee Hiang

dikeroyok berdua.

Pertempuran berjalan seru. Dengan pedangnya si nona

kasih perlawanan tangkas dan lincah, tidak mengasih

kesempatan untuk dua lawannya menyerang dengan leluasa.

"Jangan kasih lolos budak liar ini, Kiuko " kata samko.

"Tentu saja. Lolos berarti kita tak dapat muka dari toako"

sahutnya.

"Budak ini wajahnya memang pantas buat jadi istri toako

kita "

"Ah, samko lihai juga matanya ya."

"Toako tentu kegirangan sebab gantinya yang mati, lebih

cantik,"

"Akur saja. Tentu kita dapat muka dan dapat hadiah dari

toako"

Bwee Hiang diam-diam menjadi gusar mendengar ucap

kata dua orang itu. Ia mengerti dirinya mau ditangkap

hidup,hidup untuk dijadikan istri ketuanya yang telah kematian

 

istrinya. Ketika samko hendak membuka mulut lagi, Bwee

Hiang mendahului berkata,

"Akan kuselot mulut bocormu Lihat.... "

Berbareng Bwee Hiang gunakan jurus ilmu pedang

kesayangannya ialah 'Bwee hiang boan wan' atau "Harumnya

bunga bwee memenuhi taman". Dalam tempo pendek saja

dua lawannya telah terdesak mundur berulang-ulang.

"Angin keras, burung hong terbang " tiba-tiba samko

berkata pada kawannya.

Itu adalah kata-kata rahasia dari 'Sip sam siao mo' yang

berarti

"Lawan alot, lekas lari1". Kode yang umum diantara

kawanan pemuda bergajul itu. Maka ketika mendengar itu

Kiuko sudah lantas siap-siap menunggu kesempatan untuk

angkat kaki-

"Nona manis, kami tidak ada tempo untuk melayani kau"

berkata samko, berbareng ia melompat ke samping kanan dan

Kiuko ke samping kiri lantas mereka lari dengan berpencar.

"Hm Mau lari?" bentak Bwee Hiang. Tapi ia kebingungan

karena harus menguber lawan yang mana diantaranya,

mereka larinya terpencarjustru

Bwee Hiang dalam sangsi, dua lawan yang ilmu

entengi tubuhnya tidak rendah, sudah menghilang di telah

kegelapan.

setelah berdiri termangu-mangu sejenak, Bwee Hiang

lanjutkan perjalanannya.

 

Lari belum berapa lama, tiba-tiba ia merandek mendengar

ada orang memanggil,

"Nona manis, nona manis, aku ada disini"

Kapan Bwee Hiang menoleh ke arah orang yang

memanggil, kiranya Kiuko yang sedang berdiri kira-kira sejarak

tiga-empat tombak jauhnya. Bwee Hiang tidak mau kasih hati,

ia cepat menguber tapi Kiuko sudah lari siang-siang dari

tempat berdirinya.

Entah berapa lama Bwee Hiang menguber masuk keluar

diantara pepohonan, Kiuko masih belum kecandakjuga.

Akhirnya ia hentikan larinya dan jalan perlahan-lahan dengan

pengharapan ada orang yang datang pula mengganggu tapi

ternyata tidak ada apa-apa lagi sampai cuaca mulai terang.

Entah dimana sekarang dirinya berada, pikirnya paling

perlu ia mencari rumah orang atau kedai makanan untuk

menanyakan jalan sembari mengisi perutnya yang sudah

berkeruyukan kepingin diisi-

"Ha, disana ada rumah-" ia berkata dalam hatinya tatkala

melihat dari kejauhan ada satu rumah, entah rumah siapa itu-

Bwee Hiang cepati jalannya, di lain detik ia sudah ada

disana. Kiranya disitu terdapat 3-4 rumah, satu sama lain

jaraknya agak berjauhan.

Di waktu pagi-pagi begitu, rupanya penghuni-penghuni

rumah malas bangun. Makanya belum ada orang satu pun

yang kelihatan di pekarangan rumah.

Bwee Hiang dengan perlahan menghampiri sebuah rumah

diantaranya. Ketika ia hendak mengetuk pintu, tiba-tiba ia

 

mendengar percakapan di sebelah dalam, Ia tidak jadi

mengetuk pintu, hanya pasang kuping untuk mendengar apa

yang dipercakapkan. Kiranya yang bercakap-cakap itu adalah

suami istri.

"Kita punya dua anak lelaki, bukannya menjadi kebanggaan

orang tua, malah belakangan ini kelakuannya menjengkelkan

saja." kata sang suami seraya menghela napas. Lalu

melanjutkan,

"sia-sia saja aku mendidik mereka dalam ilmu silat sebab

mereka gunakan pada jalan yang salah- Bukannya aku

mendoakan, tapi satu waktu mereka akan menemui bencana

atas perbuatannya itu-"

"Kau ini orang tua apa-" terdengar istrinya memotong.

"Bukannya mendoakan anak-anak hidup selamat senang,

ini malah sebaliknya, mendoakan anak-anak mendapat

bencana. Macam apa kau sebagai orang tua ?"

"Aku sudah katakan, bukannya aku ingin menyumpahnya,

hanya satu waktu mereka pasti akan menemukan bencana

karena perbuatannya yang tidak benar." bantah sang suami,

sang istri terdiam mendengar perkataan suaminya.

"Bukannya membantu orang tua berburu binatang sebagai

nafkahnya, malah masuk perkumpulan. Kalau perkumpulan

yang tujuannya benar, tidak apa. Ini malah masuk

perkumpulan yang tidak benar. Apa nama perkumpulan itu,

kau tahu ?" kembali terdengar lelaki bicara.

"Tentu saja aku tahu." sahut istrinya.

"Apa ?" menanya sang suami, suaranya mendengus.

 

"sudahlah, kita jangan bicarakan itu"

"Kenapa tidak membicarakan itu, bukankah ini menyangkut

nasib anak-anak kita ?"

"ya, habis kau mau apa ?"

"Aku mau kau turun tangan untuk menyelamatkan anakanak

kita supaya mereka undurkan diri dari perkumpulan yang

dinamai sip sam siao......."

"Hussttt jangan sebut-sebut itu" memotong istrinya.

Bwee Hiang disebelah luar dapat mendengar dengan tegas

percakapan mereka. Mendengar pembicaraan itu, Bwee Hiang

paham kalau tuan dan nyonya rumah bukan orang jahat,

hanya anak-anaknya yang brengsek ikut-ikutan 'Sip sam siao

mo-'

si nona kembali urung mengetuk pintu, ketika mendengar

yang lelaki bicara pula,

"Aku sudah tua, tambahan sakitan saja. Kalau terus

menerus si Co dan si Kian tidak merubah perbuatannya dan

jadi orang benar, bisa-bisa aku mati lantarn kesal, kau tahu ?"

Istrinya tidak kedengaran memberikan sahutannya.

"Coba kau pikir," kata sang suami lagi.

"sampai begini begini hari kemarin sore belum juga pulang,

apa-apa anak-anak kita itu ? Ini gara-gara temannya si Kim

dan si Goan yang ajak-ajak mereka masuk jadi anggota dari

sip sam siao....."

"Hussttt " memotong istrinya.

 

" orang kata jangan sebut-sebut itu, masih juga mau

diulangi. Apa kau tua bangka ini sudah bosan hidup ?"

"Aku sudah tua, paling-paling juga aku dibunuh- Takut apa "

"Ngaco Kalau kau mati dibunuh, kau kira aku bakal enakenakan

tinggal hidup ?"

Diam-diam Bwee Hiang geli dalam hatinya- Pikirnya, setia

juga perempuan itu kepada suaminya. Di dorong oleh ingin

tahu, macam bagaimana suami istri itu, maka Bwee Hiang

sudah mengetuk pintu rumah.

"Nah, mereka baru pulang " kata sang suami.

"Biar kutegur mereka " sahut istrinya.

sebntar lagi, kapan pintu dibuka, nyonya rumah jadi

keheranan karena yang berdiri di depan pintu bukan anakanaknya,

hanya seorang gadis jelita dengan menyoreng

pedang di pinggangnya.

"Nona, ada urusan apa ?" tanyanya setelah kagetnya

hilangan.

Bwee Hiang tersenyum manis, Ia menjawab,

"Aku kesasar semalaman. Kalau bibi tidak keberatan, ingin

aku menumpang tinggal sebentaran untuk menghilangkan

letih. Nanti akan kuganti ongkos sekedarnya untuk kebaikan

bibi."

"oh, kau kesasar ? Mari, mari masuk-" mengundang nyonya

rumah

 

Bwee Hiang bertindak masuk- Di dalam ia dapatkan

seorang lelaki dari usia pertengahan, romannya pucat dan

agak lesu. Rupanya dia ini tuan rumah, pikir si gadisorang

laki-laki itu bangkit dari duduknya ketika melihat

Bwee Hiang bertindak masuk dengan membekal pedang, Ia

menyambut dengan hormat, sedang si gadis menjura

kepadanya sambil berkata,

"Mohon paman memaafkanku, pagi hari begini datang

mengganggu ketentramanmu. Aku semalaman kesasar jalan,

maka aku minta kepada bibi tadi menumpang tinggal

sebentara disini untuk menghilangkan lelah-"

"oo, boleh- Kenapa mesti bilang mengganggu ketentraman

segala." sahutnya ramah-

"Mari duduk disini-" mengundang nyonya rumah-

Bwee Hiang tidak pakai malu-malu, ia menghampiri bangku

dan duduk diatasnya-

Tuan dan nyonya rumah temani sigadis yang tengah betuli

ikat rambut kepalanya yang aduk-adukan. Mereka mengawasi

parasnya Bwee Hiang yang cantik,

setelah kesengsem dengan kecantikan si nona, nyonya

rumah melirik pada suaminya yang ketawa nyengir ke arahnya

ketika istrinya mengedip kepadanya dan acungkan jempolnya.

sang suami rupanya mengerti akan alam pikiran sang istri

yang menghendaki seorang anak gadis yang demikian

cantiknya.

"oh " tiba-tiba nyonya rumah berkata, seperti baru sadar.

Berbareng ia sudah bangkit dari duduknya, pergi ke belakang.

 

Tidak lama ia sudah muncul lagi dengan barang hidangan

sekedarnya.

"Wah, aku jadi membikin repot bibi saja." kata Bwee Hiang

ketika nyonya rumah meletakkan barang hidangan di atas

meja.

"Ah, tidak sama sekali." sahutnya.

"Kau semalaman kesasar di pegunungan, sudah tentu

sangat kelaparan bukan ?"

Bwee Hiang anggukkan kepala melihat nyonya rumah

tersenyum ke arahnya.

Air teh hangat segera dituan ke dalam cangkir masingmasing

oleh nyonya rumah, sambil berkata,

"Mari nona, silahkan minum dan coba kuenya yang ada."

Bwe Hiang girang hatinya menemui nyonya rumah

demikian ramah tamah-

"Mari paman, kita mulai." mengundang Bwee Hiang.

Dengan tidak malu-malu lagi ia angkat cangkir teh, dihirup

isinya sampai habis. Hawa hangat terasa dalam badannya

setelah minum air teh, lalu ia menjumput kue dan disikatnya

dengan bernapsu.

Dari tanya jawab yang berlangsung, Bwee Hiang dapat

tahu kalau tuan rumah itu she Phang, lengkapnya Phang Leng

cu. Tinggal dalam daerah pegunungan pek-kut-nia sudahtahun

bersama istri dan dua anak lelakinya, pekerjaannya

berburu binatang yang hasilnya dijual untuk menutup ongkos

sehari-hari

 

"Dua anak lelaki itu kembar." menerangkan Leng cu.

"Mereka biasa membantu aku berburu. Tapi belakangan ini

sangat malas dan malah ma....."

sang istri deliki mata ke arahnya, hingga ia tidak

meneruskan omongannya-Leng cu menundukkan kepala

seraya menghela napas-

Bwee Hiang lihai matanya, dapat melihat kode dari nyonya

rumah tadi yang melarang sang suami meneruskan bicaranyasi

gadis mengerti karena sudah mendengar percakapan

mereka, yang dimaksud Leng cu adalah 'masuk sip sam siao

mo'.

Si nona menghibur, katanya,

"Anak-anak belum dewasa, memang suka menjengkelkan

orang tua. Tapi paman, jangan lekas putus asa. Kalau mereka

sudah cukup dewasa dan bisa menggunakan pikirannya,

sudah tentu tabiatnya akan berubah."

"Kau bicara betul, nona. orang tua ini sebagai ayahnya,

tidak punya pikiran ke situ. Maunya uring-uringan saja dan

menyesalkan si Co dan si Kian tidak berbakti, tanpa memberi

nasehat kepada anak-anaknya." kata nyonya rumah-

"Nona rupanya pandai ilmu silat, maka pedangnya tidak

ketinggalan." kata Leng cu, menyimpangkan pembicaraan

barusan.

"Ah, aku hanya belajar silat kampungan saja." sahut si

gadis merendah

 

"Aku bawa-bawa pedang hanya sebagai teman saja,

menghilangkan kesepian dijalanan."

"Sebenarnya nona hendak kemana ?" tanya nyonya Leng

cu.

Bwee Hiang pikir, tidak perlu ia memutar sewajarnya, maka

ia menjawab,

"Aku keluar bersama teman, tapi dijalanan aku berpisahan

untuk suatu urusan. Mungkin temanku itu sudah balik ke

suyangtin. Aku hendak pulang ke sana tapi tak menemui

jalanan, malah kesasar dan sampai disini-"

Leng cu manggut-manggut. "Aku tinggal disini sudah lama,

tapi belum pernah pergi sana sini. Maka tidak tahu dimana

letaknya suyangtin." berkata ia kepada Bwee Hiang.

"Kalau kutahu, tentu aku bisa unjukkan dimana letaknya,

meskipun aku tidak mengantar sendiri nona ke sana."

Bwee Hiang tadinya hendak menanyakan dimana letaknya

suyangtin, tapi tidak jadi karena sekarang sudah mendengar

tuan rumah tidak tahu dimana letaknya dusun dari Lima

Harimau itu. Hatinya menjadi tidak tentram, kuatir tidak

berjumpa pula dengan Kim Wan Thauto dan adik kecilnya Lo

In.

Tengah ia termenung-menung memikirkan nasibnya, tibatiba

pintu digedor secara kasar dari sebelah luar. Tampak

nyonya rumah tergopoh-gopoh lari ke pintu dan membukanya.

Dua anak muda kelihatannya berjalan masuk- Mukanya

sama, perawakannya juga sama. hanya yang jalan

 

belakangan ada sedikit tinggian. Tidak jelek wajah dua

pemuda itu, cuma sikapnya kasar terhadap orang tua.

Mereka anggap sang ibu yang membukai pintu sebagai

pelayannya saja. Malah mereka menyahut kasar sekali ketika

ditegur ibunya, kenapa mereka baru pulang sejak pergi

kemarin sore.

"Ibu untuk apa banyak tanya ?" bentak Teng Co-

"Apa ibumu tidak boleh menanya ?" balik tanya sang ibu-

"Pergi dan pulang kami berdua tak usah ditanya, pekerjaan

ibu hanyalah membukai pintu, selesai " kata Teng Kian, sang

adik,

"sstt Jangan omong keras-keras- Di dalam ada tamu-" kata

sang ibu.

"Tamu siapa ? Pakai terima tamu segala " menggerutu

Teng Co, seaya hendak berjalan masuk tetapi dicegah oleh

adiknya Teng Kian sambil berkata, "Kita intip saja siapa tamu

itu"

Mereka mengintip di balik tirai yang memisahkan dua

ruangan, depan dan tengah- Bwee Hiang di ruangan tengah

sedang bercakap-cakap dengan tuan rumah-

Kapan mereka lihat siapa yang berada di dalam, hampir

berbareng mereka mundur setindak dan saling pandang

hingga sang ibu menjadi heran.

"Kalian kenapa ?" tanya ibunya, tidak mengerti akan

kelakuan dua anaknya.

 

"sstt " Teng co tempelkan jari di mulutnya, sekarang ia yang

memberi tanda pada sang ibu agar jangan omong keras-keras.

"Memangnya kenapa ?" tanya lagi sang ibu perlahan.

"Nona itu adalah nona yang semalam menghajar kami

orang dari sip sam siao mo-" jawab Teng co perlahan, hampir

berbisik,

"Aku kuatir dikenali dia, bisa runyam "

sang ibu terkejut, Ia bertanya,

"Apa kalian berdua juga turut mengeroyok ?" Teng Co dan

Teng Kian manggut berbareng.

" Celaka " seru sang ibu perlahan.

"Dengan berapa orang kalian mengeroyok?"

"Delapan orang, malah Citko binasa ditangannya " sahut

Teng Kian.

Nyonya rumah menggigil badannya, Ia ketakutan, dalam

hatinya mengira kedatangan si nona tentu mencari dua

anaknya. Mungkin akan dibinasakan

"Ai, kenapa kalian ikut-ikutan ?" menyesalkan si nyonya.

"Bagaimana tidak ikut-ikutan kalau perintah toako "jawab

Teng co-

Nyonya rumah tak sempat bicara karena matanya berkacakaca.

Ia sedih akan kelakuan anak-anaknya. Pikirnya, apakah

kedatangan Bwee Hiang seperti apa yang dimaksudkan oleh

 

suaminya tadi, bahwa anak-anaknya bakal menemui bencana

?

"twako, mari kita keluar lagi " ajak Teng Co pada saudara

mudanya.

"Nanti dulu." sahut Teng Kian.

"semalam kita mengeroyok dia pakai topeng, kalau kita

ketemu dia sekarang, mana dapat dikenali ?"

"Ah, aku takut dikenali." kata Teng Co, jeri ia untuk masuk

ke dalam.

"Tidak. coba mari ikut aku " mengajak Teng Kian, yang

ternyata ada jauh lebih tabah dari sang kakak- Karena begitu

ia habis mengucapkan kata-katanya lantas membuka tirai dan

berjalan masuk-

Teng Co kepaksa mengikuti di belakangnya.

Di depan sang ayah, dua anak itu memberi hormat dan

menanyakan kesehatannya hingga Leng cu menjadi melengak

keheranan sebab tidak biasanya dua anak itu berlaku

demikian. Diam-diam ia jadi girang, dua anaknya itu bisa unjuk

kelakuan sopan di depannya sang tetamu, Ia berkata pada

dua anaknya,

"Heeiii, kalian memberi hormat pada cici ini yang kebetulan

mampir dalam rumah kita."

Teng Kian dan Teng Co menurut, yang mana dibalas oleh

si nona dengan semestinya.

 

Bwee Hiang sudah termasuk gadis Kangouw, tidak kikukkikuk

lagi menghadapi dua pemuda itu, malah ia belaga pilon

atau seakan-akan ia baru ketemu dengan mereka.

Hanya sebentaran Teng Co dan Teng Kian pasang omong,

la lalu permisi meninggalkan tamunya dengan alasan ada

urusan yang harus dibereskan. Mereka menganggap si nona

sudah kena dikibuli, tidak mengenali mereka.

"Nah, aku bilang juga apa ?" kata Teng Kian ketika mereka

sudah berada berduaan dalam kamarnya.

"Tentu dia tidak mengenali kita, sebab kita mengenakan

topeng semalam."

"Coba kita ngeloyor keluar, tentu akan menerbitkan

kecurigaan."

"Kau benar, bisa memikir panjang, Pweko (kakak ke-8?)-"

kata Teng Co-

"siko (kakak ke-4) suka gampang mundur saja sih-

Selamanya kita tak dapat mengerjakan urusan besar dan

mendapat pujian dari toako" kata Pweko alias Teng Kian

dengan bangga barusan dipuji sang engko

"Kau bilang urusan besar, apa maksudmu dengan kata-kata

itu ?" tanya siko

"Haha, kalau kita dapat mempersembahkan dia untuk

toako, bukan itu suatu perbuatan yang besar yang kita sudah

lakukan?"

"Dia begitu lihai, mana bisa kita berdua dapat

menggempurnya ?"

 

"ah, kau benar-benar sangat tolol. Kalau kita terangterangan

berkelahi dengannya, sama saja dua ketimun

ketemu duren. Tentu tidak bakal menang Tapi kita haru

menggunakan akal untuk menangkapnya, hahaha "

siko menjadi heran melihat tingkah laku adiknya, Ia lalu

menanya akal apa yang akan diandalkan untuk menangkap

Bwee Hiang.

"Mari aku kasih tahu." sahut si adik denagn bangga, siko

mendekati adiknya yang lalu berbisik di telinganya.

"Ah, kau benar-benar jempol " memuji siko seraya

acungkan jempolnya. setelah berunding, kakak beradik itu

lantas masuk tidur.

Hulah kerjanya anggota 'Sip sam siao mo', siang dipakai

malam, malam dipakai siang, jadi terbalik menggunakan

tempo seperti dengan orang-orang biasa.

Di lain ruangan, tampak Bwee Hiang enak-enak saja

ngobrol dengan Leng cu dan nyonya rumah- Kalau sang suami

kelihatan gembira kongkouw dalam hal ilmu silat dengan Bwee

Hiang, adalah sang istri kelihatan murung saja-

Leng cu mengira istrinya mendongkol pada dua anaknya,

maka ia tidak menanyakan sebab apa kemurungannya itu.

Akan tetapi Bwee Hiang diam-diam sudah tahu kekesalan

nyonya rumah yang merasa kuatir akan keselamatan dua

putranya, si gadis yang lihai pendengarannya sudah dapat

menangkap pembicaraan mereka dibalik tirai tadi-

Mula-mula ia lihat nyonya rumah sangat gembira melayani

ia bicara, itu sebelum anak-anaknya pulang. Akan tetapi

sesudah anak-anaknya ada di rumah, kelihatannya nyonya

 

rumah berubah sikapnya seperti sedang berduka. Tapi, untuk

itu, si nona belaga pilon.

"Aku masih merasa letih." tiba-tiba Bwee Hiang berkata.

"Bagaimana kalau aku malam ini menginap semalam disini-

Apa kalian tidak keberatan ?"

Nyonya rumah diam, tapi Leng cu lantas menjawab,

"Tidak, tidak, malah kita senang sekali kalau nona tidak

mencela rumah kami yang buruk ini-"

Nyonya rumah melengak- ia melengak terkejut- Pikirnya, si

nona menginap dalam rumahnya, apakah hendak melakukan

pembunuhan atas mereka serumah diwaktu malam? oh,

sungguh ngeri sekali kalau sampai ada kejadian demikian.

Ia sebisa-bisanya tindak perasaan takutnya, tampak

mulutnya tersenyum ramah dipaksakan hingga Bwee Hiang

dlam-diam merasa geli dalam hatinya.

"Nah, aku sudah makan cukup hidangan kalian. Aku akan

pergi dulu dan sebentar sore aku balik untuk menginap disini-"

kataBwee Hiang tiba-tiba permisi berlalu.

"Kau hendak kemana, nona ?" tanya Leng cu.

"Aku hendak cari tahu dimana letaknya dusun suyangtin."

sahut si nona.

"Baiklah kalau begitu." kata Leng cu.

"Beberapa lie dari sini, kau akan ketemu beberapa rumah

yang juga penghuni-penghuninya adalah memburu binatang

 

seperti aku. Kau tanyakan saja disana, barangkali saja mereka

tahu."

"Terima kasih, paman. Nah, bibi, saya permisi dulu " kata

Bwee Hiang seraya bangkit dari duduknya dan bertindak

keluar dari rumah diantar oleh nyonya rumah dan tuan rumah.

setelah si nona pergi dan tidak kelihatan bayangannya lagi,

Leng cu menanya pada istrinya,

"Aku lihat kau hilang kegembiraan terhadap si nona.

Apakah kau tidak senang kepadanya ? Tidak biasanya kulihat

kau perlakukan tamu macam begini-"

"Aku bukannya tidak senang." jawab sang istri.

"Dia itu adalah algojo yang akan membasmi kita serumah,

kau tahu ?"

"Hah " Leng cu terkejut bukan main. "siapa bilang ? Dari

mana kau tahu ?"

sang istri lalu cerita apa yang ia dengar dari dua anaknya,

bahwa si nona semalam sudah menghajar kawanan 'Sip sam

siao mo' kocar kacir.

"Aku menduga kedatangannya si nona itu adalah alamat

bencana bagi kita sekeluarga." kata sang istri, tubuhnya

menggigil.

"Bagaimana baiknya sih, uh, uh, uh-..." ia menangis sedih

dan ketakutan.

Jangan ketakutan dulu." membujuk sang suami.

 

"Apa sudah jelas niatnya itu ? Memangnya dia sudah

mengenali bahwa anak-anak kita anggota kumpulan brengsek

itu ? Belum pasti duduknya soal sudah menangis ketakutan "

(Bersambung)

Jilid 10

Nyonya rumah rupanya anggap kata-kata suaminya

beralasan, maka perlahan-lahan nangisnya berhenti. Lalu

berkata,

"Biar pun begitu, kita harus sedia payung sebelum hujan.

Kita harus cari akal supaya kita lolos dari bencana "

"Dasar anak-anak kita yang membawa sial, maka kita jadi

menghadapi kesulitan ini."

"Sekarang sudah terjadi begini, kau masih mau sesalkan

anak-anak kita ?" Leng Cu membungkam.

"Memangnya kau sudah tidak punya otak untuk mencari

pikiran baik ?" kata nyonya rumah ketika melihat suaminya

membisu seribu bahasa.

"He hehe," ketawa Leng Cu.

"Sekarang begini saja. Sebentar sore si nona akan balik

untuk menginap di rumah kita. Nah, saat aku benah-benahku

dan apa yang perlu supaya datang sudah beres tempat tidur

untuknya. Kita nanti lihat, bagaimana sikapnya terhadap kita.

Kalau melihat gelagat baik, tidak apa. Tapi kalau sebaliknya,

tidak ada salahnya kalau kita berdua berlutut minta ampun

kepadanya."

 

Nyonya rumah tidak berkata-kata lagi. Ia sudah lantas

ngeloyor tinggalkan suaminya untuk menyiapkan kamar bagi si

nona.

Bwee Hiang keluar hari itu telah mencari keterangan halnya

Sip sam siao mo. Dari keterangan yang dikumpul, ia dapat

kenyataan bahwa 'Sip sam siao mo' sangat sewenang-wenang

dalam sepak terjangnya. Bukan sedikit yang dibikin susah

olehnya. Malah ada beberapa penduduk yang punya gadisgadis

cantik parasnya sudah diculik. Kabar halnya gadis-aadis

diculik yang membuat si nona amat gusar dan menimbulkan

keinginan untuk membasmi 'Sip sam siao mo', guna

membebaskan penduduk dari gangguannya.

Ketika cuaca mulai remang-remang gelap, tampak Bwee

Hiang pulang ke rumahnya Leng Cu, disambut Leng Cu suami

istri dengan ramah- Mereka tidak nampakkan perubahan apaapa

wajahnya, malah nyonya Leng Cu yang Bwee Hiang lihat

paling belakangan ada murung, kini ia lihat dalam gembira.

senang Bwee Hiang ketika nampak ia sudah disediakan

tempat yang serba bersih untuk melewatkan sang malam

dalam rumahnya Leng Cu.

"Bagaimana, apa sudah dapat keterangan dimana letaknya

suyangtin ?" tanya Lengcu pada Bwee Hiang sambil ketawa.

"Menyesal, tidak seorang pun yang tahu letaknya." sahut si

nona.

sebentar lagi Bwee Hiang dijamu makan sekedarnya, tapi si

nona menolak- Katanya ia sudah kenyang makan diluaran.

Tuan dan nyonya rumah tidak memaksa, mereka lantas

makan berduaan saja.

 

Bwee Hiang heran melihat mereka makan berduaan saja,

kemana perginya dua anaknya ? Maka ia lalu menanya,

"Bibi, kemana anak-anakmu ? Kenapa tidak diajak makan

bersama ?"

"oo, mereka ada urusun diluaran. Mungkin besok pagi baru

kembali. Mereka sangat repot dengan pekerjaannya yang baru

rupanya." sahut nyonya rumah-

Bwee Hiang bersenyum- Ia tidak menanyakan lebih jauh,

hanya ia berkata.

"Aku sangat lelah- Maafkan aku, aku ingin masuk tidur lebih

dahulu "

Bwee Hiang berkata sambil kakinya melangkah ke sebuah

kamar yang hanya teraling oleh kain panjang yang merupakan

tirai.

sang malam pun sudah bertambah larut hingga kedengaran

suara ngeros Bwee Hiang yang kecapaian rupanya. Tuan dan

nyonya rumah pun sudah pada masuk setelah mereka

bercakap-cakap sebentaran.

Dalam kesunyian sang malam, tiba-tiba tirai yang

menghalangi ruangan Bwee Hiang tidur pelan-pelan telah

tersingkap. Di lain detik dua orang sudah berdiri dekat

pembaringan memandang pada si nona yang tidur telentang.

si nona tidur dengan tidak tukar pakaian, pedangnya juga

tetap tersoren di pinggangnya. Melihat itu, kedua orang itu

menjadi seram juga. sebaliknya, melihat si nona tidur pulas

dengan mulut menyungging senyuman dan wajahnya yang

cantik menarik, membuat jantungnya mereka berdebaran.

 

"siko, sayang amat gadis begini cantik dikorbankan untuk

toako kita yang sangat kasar."

kedengaran seorang berbisik, tiada lain adalah suara

Pweko-siko tidak menyahut, ia hanya angguk-anggukan

kepalanya-

Matanya terus mengawasi parasnya Bwee Hiang.

"ya, apa mau dikata, kita sudah janjikan. Masa kita tarik

pulang janji kita ?" sahut siko kemudian.

"sekarang bagaimana kita bawa dia kesana ?" tanya pweko

"Kita ringkus saja. Dia toh sudah tidak berdaya kena

pengaruh asap hio pulas kita yang mujarab. Paling sedikit dia

akan kepulesan satu jam lamanya. Kita tentu sudah sampai

disana. Apalagi toako janjikan mau kirim kereta untuk

menyambut kita dalam perjalanan."

"Begitupun bagus." sahut Pweko

"Mari kita mulai kerja "

Pweko berkata sambil ulur tangannya memengang lengan

si nona yang halus untuk dikasih duduk dan ditelikung kedua

tangannya.

"Nanti dulu Pweko " kata siko ketika melihat si nona sudah

dikasih duduk dan mulai hendak ditelikung kedua tangannya,

sambil berkata siko mendekati si nona, memandang paras

orang dari dekat. Bau harum telah menusuk hidungnya hingga

napsu birahi dari anak muda yang sedang galaknya tak

tertahankan, mukanya nyelonong dengan tiba-tiba hendak

mencium bibir yang merah semringah itu

 

'cuh ' tiba-tiba ludah kental melesat dari mulut Bwee Hiang

mengarah mata kirinya si bangor hingga siko berteriak

mengaduh dan tangannya menekap matanya yang kesakitan.

Belum sempat mulutnya dibuka untuk memaki, kembali suara

'cuh' terdengar lagi dan mata kanannya kini yang kesakitan

dan siko menjadi buta oleh karenanya.

Kedua tangannya serabutan untuk mencari pegangan,

sebelum pegangan dapat dipegang, ia merasa dadanya sesak

kena dihantam sepatunya Bwee Hiang. Ia roboh terpelanting

dan tidak bangun lagi.

Kemana Pweko, kok diam saja ? Kiranya ia sudah terlebih

dulu roboh kena ditotok jalan darahnya bagian dada (Ubunhiat).

Pweko roboh tak berdaya masih mending, tidak cacat,

sedang kakaknya (siko) roboh dengan kedua matanya buta

kena diludahi si nona yang disemprotkan dengan Iwekang-

Cepat si nona bangkit ketika melihat dua orang sudah

menjadi korban totokannya. Baru ia melangkah melewati tirai,

ia dihadang oleh dua orang yang tengah berlutut hingga ia

menjadi terkejut.

Kiranya yang berlutut itu tiada lain adalah tuan dan nyonya

rumah-

Bwee Hiang lihat nyonya rumah bercucuran air matanya,

sedangkan suaminya matanya berkaca-kaca ketika

memandang ke arahnya.

"Liehiap." kata Leng Cu dengan suara parau.

"Kami berdua suami istri menyerahkan diri untuk menerima

hukuman atas perbuatan dua anak kami yang durhaka "

 

"Hehehe, terima salah ?" kata Bwee Hiang.

"Kalian bersekongkol untuk menyusahkan nonamu, ya ?

Bagus, bagus perbuatan kalian."

Bwee Hiang sudah memperhitungkan akan kejadian malam

itu- Ia menggeros tidur hanya pura-pura saja, sementara ia

sudah menelan pil pemunah obat pulas pengasi Lo In hingga

asap hio pulasnya Pweko yang mujarab tidak mempan.

Lo In sengaja bekali si nona pil pemunah obat pulas itu

sebab ia kuatir Bwee Hiang pada suatu ketika psti akan

mengalami kesulitan dari orang jahat dalam perantauannya

karena dalam setiap rumah penginapan mereka tidur terpisah

hingga si bocah tak dapat melindunginya. Bwee Hiang

percaya penuh akan nasehat guru ciliknya. Maka setiap ia

masuk tidur, ia selalu menelan satu pil untuk menjaga segala

kemungkinan yang tidak diingini-Kejadian barusan itu adalah

satu pengalaman, yang membuktikan kebenaran nasehat Lo

In itu hingga si nona diam-diam bersyukur pada guru ciliknya

itu.

Lo In masih kecil, belum ada pengalaman dalam dunia

Kangouw. Tapi soal itu ia dapat keterangan dari Liok sinshe

yang spesial menasehatkan di dalam perantauan jangan

melupakan pil mujizat itu. Tempo hari, kebasan Kim Coa

siancu dengan setangannya tidak akan mempan bila si bocah

sudah menelan pil anti yang mutajab itu. Mendengar teguran

Bwee Hiang, Leng cu suami istri jadi gemetaran.

"Lantaran takut dengan ancaman Toako dari 'Sip sam siao

mo', akan membunuh mati sekeluarga kalau kami tidak

menurut perintahnya, maka kami menjadi takut sehingga

terpaksa kami membuat kesulitan pada nona. si Co dan si

 

Kian menggunakan obat tidur atas perintahnya toako dengan

ancaman dibunuh mati kalau mereka tidak dapat menangkap

Liehiap- sekarang kejadian sudah begii, kami pun tidak perlu

kabur untuk menyelamatkan diri kami yang berdosa. Nah,

hunuslah pedang Liehiap dan tebaskan pada leher kami suami

istri yang tidak beruntung....."

Demikian Leng cu menerangkan di depan Bwee Hiang

sambil berlinang-linang air mata, sedang istirnya menangis

tersedu-sedu.

Leng cu berkata bahwa obat pules yang digunakan itu atas

titahnya toako, sebenarnya dusta sebab itu atas usaha

anaknya si Teng Kian.

Bwee Hiang merasa kasihan pada suami istri itu. Ia percaya

mereka memang tidak jahat, sebagaimana ia dapat dengar

dari percakapan mereka ketika ia mau masuk ke rumahnya

Leng cu.

"Liehiap, lekaslah habiskan jiwa kamiJ angan tunggutunggu

lagi." kata Leng cu ketika ia melihat si nona tinggal

menjublek.

Bwee Hiang sudah membuka mulut hendak berkata, tibatiba

terdengar pintu rumah digedor dengan kasar dari sebelah

luar. Tuan dan nyonya rumah tidak bergerak meskipun

gedoran pada pintu makin lama makin keras, hingga suaranya

rumah mau roboh-Mereka tahu bahwa yang datang itu adalah

kawanan 'sip sam siao mo'.

" Lekas buka " perintah Bwee Hiang pada nyonya rumah

yang biasanya tukang buka pintu, setelah mendengar

perintah, baru ia bangkit dari berlututnya dan lari menghampiri

pintu yang hampir terbuka karena gedoran makin hebat

 

segera lima orang sudah menerobos ke dalam- Mereka

pada mengenakan topeng dengan golok terhunus di tangan

masing-masing.

"Mana siko dan Pweko ? Kenapa mereka terlambat

mengantar orang ke sana ?" tanya satu diantaranya kepada

nyonya rumah-

"Mereka, mereka-— ada di....." nyonya rumah terputus-putus

bicaranya hingga orang yang menanya tadijadi marah-

"Mereka, mereka apa ?" bentaknya, kakinya pun berbareng

melayang menendang nyonya rumah hingga jatuh tersungkur

ke kolong meja-

"Hahaha, hahaha " tertawa orang kejam itu, setelah

menendang nyonya rumah hingga masuk ke kolong mejasebelum

ia berhenti ketawa, tiba-tiba ia merasakan lehernya

dingin-Cepat ia menoleh- Tampak olehnya seorang dara jelita

sedang tersenyum ke arahnya dengan pedang ditempelkan

pada lehernya-

Kagetnya bukan main, hingga seorang kejam mendadak

merasa lemas-Kiranya penyebab rasa dingin tadi adalah

pedang yang menempel di lehernya-

Ia melirik pada kawan-kawannya, entah sejak kapan

kawan-kawannya sudah roboh di sana sini hingga ia seorang

yang masih ketinggalan untuk menghadapi kematian.

yang tadinya begitu gagah berani, main hantam dan main

tendang, sekarang orang itu berubah menjadi pengecut yang

ketakutan. Tak tahan lututnya lemas, maka ia terkulai

mendeprok- Tapi ujung pedang Bwee Hiang masih mengikuti

terus dilehernya.

 

Dengan satu sontekan ujung pedang, topeng orang itu

sobek dan wajahnya lantas kelihatan pucat ketakutan, Ia

ternyata seorang pemuda belum masuk 20 tahun, dengan

suara gemetar ia berkata,

" Ampun Liehiap, ampunkanjiwa semutku. Aku masih punya

dua adik dan dua orang tua yang harus kurawat. Kalau aku

dibunuh, siapa yang akan merawat mereka ? oh, ampun"

Tidak senang Bwee Hiang terhadap pemuda yang begitu

pengecut. Akan tetapi mendengar kata-katanya bahwa ia

mempunyai banyak tanggung jawab di rumah, maka mau tak

mau si nona merasa kasihan juga.

"Untuk mengampuni jiwamu tidak sudah asal kaujawab

dengan betul pertanyaanku." kata Bwee Hiang seraya ujung

pedangnya digores-goreskan pada leher orang.

"Katakan, Liehiap mau menanya apa ?" sahut orang itu

sangat ketakutan.

"Pertama kutanya, siapa nama pemimpinmu ?"

"Toako yang Liehiap maksudkan ?"

"ya, lekas sebutkan "

"Dia she Coa bernama Pang.... Aiyoo— "

Terputus bicara orang itu, tubuhnya terkulai dengan kepala

pecah dihantam senjata gelap yang berupa peluru besi yang

menyambar dari jendela mengarah tepat dijidatnya. membuat

ia roboh tidak bangun lagi.

Dengan gerakan 'yan cu coan lim' atau 'Burung walet

terbang masuk hutan'. Bwee Hiang enjot tubuhnya, melesat

 

molos dari jendela. Meskipun demikian gesit, ia masih

terlambat sebab orang yang melepas senjata gelap itu sudah

lari kira-kira beberapa tombak di sana. si nona penasaran dan

lantas gerakan kakinya menguber. Dalam kegelapan malam,

tampak dua orang saling kejar.

Mengejar sudah beberapa lama, Bwee Hoang masih belum

dapat menyandak orang itu, yang masih lari di sebelah

depannya, Ia merasa bahwa ilmu entengi tubuhnya hanya

berimbang dengan orang yang dikejarnya, maka hati si nona

menjadi cemas.

selagi sangsi untuk mengejar terus, tiba-tiba ia rasakan

badannya melayang. Kiranya ia telah menginjak lubang

jebakan yang dalam, Bwee Hiang terjatuh ke dalamnya.

Tapi si nona lihai. Begitu kakinya menginjak dasar lubang,

sudah enjot tubuhnya membal lagi. Cuma sayang lubang itu

terlalu dalam hingga si nona terpaksa harus jatuh pula ke

dalam lubang, tak dapat ia mencapai pinggiran lubang untuk

menolong dirinya. Baru sekarang si nona menjadi kaget dan

kuatir. Dalam lubang keadaan sangat gelap dan baunya tidak

enak hingga Bwee Hiang hampir muntah-muntah, kalau tidak

keburu ambil setangan untuk menekap lubang hidungnya.

"Hahaha " terdengar orang tertawa di sebelah atas.

Kemudian disambung dengan kata-kata,

"Mau tahu nama toako dari 'sip sam siao mo' tidak sukar-

Asal kau bersedia untuk menjadi isterinya yang tercinta "

Bwee Hiang sangat mendongkol, tapi ia tak berdaya.

 

"Bagaimana, nona manis ? Apa kau jadi istriku atau mati

dipendam hidup, hidup dalam lubang ini ? Hayo, lekas pilih

Aku tidak banyak tempo disini "

Bwee Hiang sudah mau membuka mulutnya untuk mencaci

maki, tapi kata-katanya urung dikeluarkan karena ia ingat satu

akal. Ia hanya dia terus, pura-pura jatuh pingsan kejeblos

dalam lubang jebakan sehingga kemungkinan toako akan

mengirim orang ke dasar lubang untuk cari tahu dirinya-

Disitulah ia akan mendapat kesempatan untuk menolong

dirinya yang sudah tidak berdaya-

Toako sudah berteriak-teriak keras tetap tidak ada jawaban

dari dalam lubang- Pikir toako, si nona mesti mendapat

halangan apa-apa, kalau tidak jatuh pingsan. Benar tepat

perhitungan si nona sebab tidak lama lagi ia dapat lihat dua

orang dikerek turun dengan membawa obor. Mereka yang

dikirim ke dalam lubang itu adalah Ngoko dan Lakko (nomor 5

dan nomor 6), sebab Lakko tidak berani turun sendiri Ia minta

supaya Ngoko temaninya.

Ketika mereka mencapai dasar lubang, dari penerangan

obor mereka lihat si nona tengah terlentang pingsan.

"Betul dugaan Toako, anak ayam ini sedang tidur nyenyak

disini-" berkata Lakko-

"Huss, jangan banyak cakap- Lekas bekerja " sahut Ngoko

Lakko segera turun dari keranjang kerekan, menghampiri si

nona yang tidak berkutik, obor ia dekati pada wajah si nona

untuk memandang paras Bwee Hiang yang cantik jelita.

 

"Ah, nona begini manis, sayang betul jadi korbannya toako

kita yang kasar" ia menggumam perlahan tapi terdengar tegas

di telinganya Ngoko

"Apa yang kau lakukan ? Lekas angkat dia " kata Ngoko

yang tidak memberi kesempatan Lakko Lakko cepat

memondong si nona. Di lain saat mereka bertiga sudah berada

di atas pula. Ketika Lakko mau meletakkan si nona di atas

rumput, tiba-tiba toako berkata,

"Mari, kasih aku yang pondong "

Lakko serahkan tubuh si nona di tangan sang pemimpin.

"Mari kita pulang " kata toako yang segera di dahului oleh

kakinya bergerak sambil memondong si gadis.

Bau harum pakaiannya yang membungkus si nona

menusuk hidung toako hingga ia sambil memondong,

pikirannya melayang-layang jauh di awan.

Pikirnya bagaimana bahagianya ia kalau dapatkan si cantik

sebagai ganti isterinya yang sudah mati sebulan yang lalu.

Menurut siIatnya yang kejam, sebenarnya Bwee Hiang

seharusnya dibunuh lantaran sudah membunuh beberapa

orangnya- Akan tetapi kecantikan si nona telah membuyarkan

amarah toako.

Citko sudah binasa, dua orang (siko dan Pweko) tertotok,

empat orang dibunuh oleh Bwee Hiang dalam rumah Leng cu,

satu orang dibunuh peluru besinya toako hingga sang

pemimpin dari 13 Iblis Cilik (sip sam siao mo) kini hanya

ditemani oleh empat orang saudaranya. Tapi semuanya itu

tidak dipikirkan lagi oleh toako- Pokoknya ia sudah dapat si

 

cantik Bwee Hiang sebagai penghiburnya-Demikian, tidak

lama lagi mereka sudah sampai di markasnya. Kiranya yang

digunakan sebagai markas oleh 13 Iblis Cilik itu adalah satu

kuil tua yang disana sini sudah mengalami perbaikan.

Rupanya kuil itu sudah lama ditelantarkan, hanya ketika 13

iblis cilik bermarkas disitu sudah diperbaiki.

setelah berada di dalam kuil, dengan perlahan tubuh Bwee

Hiang direbahkan diatas sebuah dipan.

"sungguh cantik dia." kata toako dalam hati. Ia memandang

dengan tidak merasa bosan pada wajah Bwee Hiang yang

seolah-olah sedang tersenyum dalam tidurnya yang nyenyak-

Tak tahan ia dengan debaran hati, bergejolaknya sang nafsu

birahi yang muncul dengan tiba-tiba, maka cepat ia

meloloskan topengnya lalu mencondongkan, badannya

hendak mencium bibir yang menggiurkan itu.

Tiba-tiba ia merasakan iganya kesemutan dan seluruh

badannya menjadi lemas- Ia roboh terkulai dengan tidak bisa

mengucapkan apa-apa dari mulutnya-

Kiranya, selagi bibirnya hendak ditempelkan pada bibirnya

si gadis, hiat-to dibagian iganya sudah ditotok oleh Bwee

Hiang yang sejak diangkat dari lubang jebakan si gadis purapura

pingsan.

Empat kawannya yang melihat sang toako hendak

mencium si gadis, dalam hati masing-masing sangat ngilar.

Tapi alangkah kagetnya tatkala nampak toakonya dengan

sekonyong-konyong telah roboh terkulai sebelum menunaikan

keinginannya untuk mencium si gadis-

"Hei, toako kenapa ?" seru satu dlantara empat orang itu.

 

si gadis berbareng bangkit dengan tiba-tiba- Terdengar

sret-sret beberapa kali-seflera juga kepala empat orang dari

13 Iblis Cilik menggelundung ke lantai- Itulah Bwee Hiang

yang menghunus pedangnya secara kilat ditebaskan kepada

empat batang leher orang

hingga kehilangan kepalanya.

si nona lalu menghampiri toako, katanya, "Dimana kau

simpan perempuan-perempuan culikanmu ?"

Toako tidak menyahut, ia diam saja.

"Kau tidak menjawab ?" tanya Bwee Hiang galak-

Toako hanya kedap kedip matanya, tidak mengeluarkan

suara.

Kapan Bwee Hiang mau menampar si pemimpin dari 13

Iblis Cilik tapi ia urung menampar orang tersebut karena ia

ingat sesuatu.

"Kenapa aku jadi tolol ?" ia tegur dirinya sendiri, seraya

kakinya menendang pada hiat-to yang membuka jalan darah

toako

Toako sampai bergulingan mendapat tendangan sepatu

sigadis yang berujung lancip. Kiranya si nona tegur dirinya

tadi, ternyata alpa membuka totokan pada tubuh toako sebab

bagaimana juga toako tak dapat bicara sebelum totokannya

dibebaskan terlebih dahulu. Kapan toako sudah berdiri bebas,

ia tertawa tawar pada si gadis.

 

Bwee Hiang lihat, toako bukan termasuk pemuda lagi

sebab umurnya ditaksir sudah melampaui 40 tahun, si nona

berkata,

"Kau tua bangka ini, mengepalakan anak-anak melakukan

penyelewengan. Betul-betul dosamu tidak bisa diampuni"

Toako nyalinya besar, Ia tidak takut melihat Bwee Hiang

barusan telah membunuh mati empat orangnya sekaligus,

malah ia ketawa ketika ditegur si gadis,

"simpananku tidak perlu orang lain mau tahu " katanya

tawar.

"Kematian sudah diambang pintu, masih mau berlagak ?"

"Belum tentu." mendengus toako

"Kematianmu tentu belum puas kalau tidak menyaksikan

kepandaianmu nonamu, maka aku kasih kesempatan untuk

kau membela diri- Lekas cabut pedangmu " "He he, lantaran

kecantikanmu aku terjebak dalam akalmu. Kalau tidak, hm "

"Kalau tidak, apa kau maksudkan ?" tanya Bwee Hiang.

"Kalau tidak, siang-siang sudah kumampusi kau " seru

toako dengan gusar.

"Hihihi, makanya jadi pemimpin jangan suka kepincut sama

paras cantik-" kata Bwee Hiang menggodai-

"Sekarang kau jatuh di tanganku. Terang ajalmu sudah

dekat"

"sret" terdengar pedang toako dihunus.

 

Di bawah penerangan lampu, pedang itu bergemerlapan

tajam sampai Bwee Hiang terkejut dalam hatinya.

"Pedang bagus " katanya diam-diam.

Melihat si nona mengawasi pedangnya dengan kesima, ia

kira si nona takut padanya. Maka ia lantas berkata,

"Menyerahlah kalau kau takutjadi istriku toh tidak bakal

menjadi rendah derajatmu. Malah kau bakal di........."

Toako terputus kata-katanya karena si nona sudah

menyerang dengan sengit, sambil membentak.

"Kentut, jangan banyak lagak Lihat, kuambil jiwamu"

"Belum tentu, nona yang manis "

toako ngeledek si gadis sambil berkelit.

"Hehe, kau pintar juga selamatkan diri, ya "sigadis ketawa

tawar.

"Masih terlalu siang buang menghitung kemenanganmu,

nona manis "

"Kau berani ngeledek nonamu ? Nih, rasakan"

Mulutnya bicara, berbareng pedangnya berkelebat

menyerang.

"Trang " suara kedua senjata beradu, pedang si nona

ditangkis sekerasnya oleh toako-Berbareng dengan suara

"trang " pedangnya si nona terkutung kira-kira sepuluh

sentimeter hingga Bwee Hiang sangat kaget.

 

"Aku sudah kata, lebih baik kau menyerah untuk jadi

nyonya ku- Tak usah kau capek-capek memainkan pedang

per...." berbareng toako berkelit karena si nona sudah

menerjang dengan gusar.

" Lihat, dengan pedang buntungku, akan kuselot mulut

bocormu " teriak si gadis-

Mereka jadi bertempur seru- Ternyata kepandaian toako

tidak lemah- Ia dapat melayani serangan si gadis- Ia tidak

berniat menjatuhkan Bwee Hiang dengan kekerasan. Tapi apa

mau, pedang buntungnya Bweee Hiang telah menabas kutung

rambut kepalanya, membuat ia jadi sangat gusar.

"Budak liar, kau berani main gila pada toako? Hm "

berbareng ia gerakan permainan pedangnya lebih cepat.

Toako mengira si gadis memainkan pedangnya begitu saja.

Ia tidak takut, malah pikirnya kalau barusan ia tidak lengah

tidak bakal rambutnya kena dipapas buntung oleh si gadissekarang

ia gerakkan pedangnya lebih cepat, pasti Bwee

Hiang akan kewalahan dan menyerah kalah-

Ia tidak tahu kalau si gadis menggempur ia hanya mainmain

saja, mau lihat kepandaiannya sampai dimana. Ketika si

gadis sudah tahu bahwa menggempur toako hanya buang

tempo saja, bukan mendapat pandangan, maka ia pun

merubah taktik- sekarang, bukan pedang yang berkelebat

saja, akan tetapi dibarengi dengan tubuhnya yang sebentarsebentar

lenyap dari pandangan toako hingga pemimpin dari

13 Iblis Cilik itu menjadi ngos-ngosan napasnya.

Pada saat tidak terduga-duga, tahu-tahu nadi tangan kanan

toako kena ditepuk dan kontan pedangnya jatuh berkelontrang

di lantai.

 

Tepukan si gadis meskipun perlahan tapi sakinya bukan

main dirasakan oleh toako, sampai nyelusup kejantung. Ia

masih penasaran dan cepat bungkukkan badannya mau ambil

pedangnya. Tapi pedang siang-siang sudah diinjak oleh

kakinya Bwee Hiang.

"Kau tidak pantas memiliki pedang mustika " kata Bwee

Hiang, berbareng sepatunya yang menginjak pedang

'salaman' dengan jidat toako hingga ia terpelanting

bergulingan seraya teraduh-aduh.

sambil menjumput pedang toako, Bwee Hiang cekikikan

ketawa.

"Nah, aku ganti pedangmu " kata si gadis seraya

melemparkan pedangnya sendiri pada toako yang masih

teraduh-aduh karena jidatnya berleleran darah kena dicium

sepatu.

Ketika Bwee Hiang masukan pedang barunya dalam

sarung yang ada dipinggangnya, ternyata tidak pas,

kepanjangan sedikit. Matanya lantas melirik pada sarung

pedang yang ada dipinggangnya toako, kiranya sarung

pedang itu adalah sarung pedang yang bagus.

" Lekas serahkan sarungnya " ia membentak-

Toako tidak berani ayal karena sudah tahu kelihaiannya si

gadis sekarang.

Cepat ia loloskan sarung pedangnya dan dilemparnya pada

Bwee Hiang. Dengan satu tangkapan bagus, Bwee Hiang di

lain saat sudah masukkan pedang barunya ke dalam

sarungnya yang asli. girang hatinya Bwee Hiang ketika ia

sudah menyoren pedang barunya.

 

Pikirnya, dengan kawan yang sakti itu ia dapat malang

melintang dalam dunia Kangouw dengan atau tidak dengan

guru ciliknya yang sekarang entah ada dimana.

"Lekas unjukkan dimana tempat penyimpanan wanitawanita

yang kau culik " bentak Bwee Hiang dengan bengis

hingga toako jadi ketakutan.

"Itu, itu—" ia berkata gugup hingga Bwee Hiang tidak

sabaran.

"Itu, itu apa ?" kakinya berbareng menendang hingga toako

bergulingan dan membentur meja abu tepekong yang sudah

amoh hingga berantakan.

Bwee Hiang ketawa cekikikan melihat abu tepekong

berhamburan diatas kepalanya toako dari 13 Iblis cilik. Bukan

main marahnya toako, tapi apa yang ia bisa bikin- Ia toh sudah

tidak bisa menang lawan si gadis-

Dalam merenungkan nasibnya pada saat itu, ia terkejut

ketika Bwee Hiang membentak sambil menghunus

pedangnya-

"Tidak lekas bicara, mau tunggu kapan ?" Toako sudah

kenal tajamnya pedang bekas miliknya itu, maka ia ketakutan.

"Semua wanita yang diculik tidak ada disini." menerangkan

toako.

"Lalu, kau umpatkan dimana ?" tanya Bwee Hiang.

"Mereka sudah dikirim ke Pekskut-nia, dipersembahkan

kepada Thoat Beng Mo Siauw." sahutnya.

"Betul bicaramu ?"

 

"Kenapa tidak betul, aku adalah orangnya Thoat Beng Mo

Siauw-"

Bwee Hiang berpikir- Adik kecilnya menyusul si Hantu

Ketawa ke Pekskut-nia- Ia juga menyusul tetapi kehilangan

jejaknya- Entahlah, apakah Lo In masih ada disana.

Tapi si nona masih kurang percaya atas keterangannya

toako. Maka ia lalu mendekati toako dan menotoknya. setelah

mana ia lantas menggeledah dalam kuil tua itu, ternyata tidak

ada wanita yang ditahan disitu. Ketika ia keluar lagi, lalu

menotok bebas si toako.

Kiranya ia tadi menotok toako, kuatir orang nanti kabur

selama ia melakukan penggeledahan, Ia lalu berkata pada

toako,

"Mari kita ke Pekskut-nia " Mendengar perkataan si nona,

diam-diam toako merasa girang.

Pikirnya,

"Kau ajak aku ke Pekskut-nia, sama juga kau mencari

mampus Di sana ada si Hantu Ketawa dan banyak kawannya,

kau mana dapat meloloskan diri Cuma sayang kau yang

berparas cantik harus jatuh ditangannya Thoat Beng Mo

Siauw......."

Di lain saat mereka sudah berlari-larian di tengah malam

buta menuju ke Pekskut-nia.

Tidak sampai mencapai puncaknya bukit, mereka berhenti

di depan sebuah rumah besar yang dibangun panjang dan

luas pekarangannya.

 

Bwee Hiang memperhatikan bangunan rumah itu. Kiranya

bekas kuil tua yang sudah dipermak jadi lebih besar.

"Apa ini tempatnya Thoat Beng mo siauw ?" tanya si nona

kepada toako yang tengah berdiri menjublek.

Toako anggukkan kepala tanpa menyahut. Rupanya ia

sedang keheranan kenapa markas besarnya demikian sepi-

Tidak seorang pun ada di luar, biasanya ada beberapa orang

yang menjaga di sekitarnya rumah.

Ketika ia sedang menduga-duga apa yang sudah terjadi di

situ, tiba-tiba ia kaget mendengar bentakan Bwee Hiang,

" Jalan"

Toako makin merasa heran ketika ia membuka pintu

pekarangan tidak terkunci, Ia jalan terus membawa Bwee

Hiang masuk ke dalam rumahsi

nona sudah siap dengan pedang di tangan, Ia

mengharap akan ketemu dengan adik kecilnya di situ, tapi ia

sangsi karena kelihatan rumah itu sunyi-sunyi saja seperti

yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya.

ruangan depan keadaannya sepi. Ketika toako dan Bwee

Hiang masuk ke dalam ruangan tengah, tiba-tiba dihadang

oleh tiga orang yang berpakaian hitam, satu diantaranya telah

menegur toako, katanya,

"Hei, toako, kau bawa apa itu ?" Ia berkata sambil matanya

melirik pada Bwee Hiang dengan ceriwis sekali. Bwee Hiang

meludah, muak ia melihat orang berkelakuan tengik itu. Toako

tidak menyahut, ia hanya angkat tangan kanannya di taruh di

dada. Itu adalah kode bahwa dirinya ada dalam bahaya.

 

orang yang menanya tadi menjadi kaget, lalu mengawasi si

nona yang membawa pedang tajam di tangannya. Lalu ia

melirik pada dua kawannya, kemudian dengan berbareng

mereka menyerang si nona.

"Bagus " seru Bwee Hiang. Berbareng terdengar tiga kali

suara "sret", tiga kepala orang-orang tadi telah menggelinding

di lantai. Darah menyembur keluar dari leher masing-masing

korban tapi Bwee Hiang sedikit pun tidak merasa ngeri,

sebaliknya dengan toako, badannya menjadi menggigil

ketakutan.

"Kau orang jahat, dikasih hidup juga percuma " kata si nona

pada toako, tahu-tahu sebelum ia melihat bagaimana si nona

bergerak, kepalanya telah menggelinding pula dilantai hingga

dalam halaman itu banjir darah-

Bwee Hiang ketawa tawar menyaksikan itu. Ia tidak merasa

ngeri dan tidak merasa menyesal atas perbuatannya yang

ganas, mengingat perbuatannya itu belum ada

sepersepuluhnya dari perbuatan su coan sam-sat yang

membasmi markas Ceng Giee Pang dan membunuh-bunuh

seisi rumah tangganya.

setelah membereskan empar orang di ruangan tengah, si

nona lantas hendak masuk ke lain ruangan lagi. Tapi

sebelumnya ia telah dihadang oleh dua orang yang romannya

bengis-bengis. Cuma saja roman yang bengis-bengis itu tidak

lama berhadapan dengan si nona. sebelum mereka bergerak,

dengan pedangnya Bwee Hiang sudah mendahului dan

kembali ruangan tengah itu tambah dua kepala manusia yang

menggelinding. Cepat Bwee Hiang lompat masuk ke lain

ruangan.

 

Keadaannya sunyi-sunyi saja. Ketika ia jalan makin ke

dalam, tiba-tiba ia mendengar suara wanita cekikikan ketawa.

Ia heran, masa ada wanita yang ketawa ditangannya orang

jahat, bukannya menangis ketakutan.

Ketika Bwee Hiang mendekati kamar dari mana ada

terdengar ketawa tadi, ia mendengar si wanita berkata,

"Dasar lelaki tidak ada kenyangnya, aduh, kan sakit tuh

tetek orang di.....hihihi...."

Bwee Hiang yang masih 'hijau' tentu saja menjadi heran

mendengar kata-kata si wanita dari dalam kamar. Apa yang

mereka sedang lakukan ? tanyanya dalam hati.

si nona sudah angkat kaki hendak menendang pintu, tidak

jadi, ketika mendengar yang lelaki berkata,

"siauw Cui, kau adalah kembang diantara wanita yang

menjadi gula-gulanya si hantu tua. sekarang si hantu tua

sudah mati. Bagaimana pun kau akan menjadi milikku."

"Pintar juga kau memilih-" terdengar si wanita yang

dipanggil siauw Cui menjawab-

"Apa kau tidak takut pada orang she Kan yang sudah

memiliki aku lebih dulu ? Hm Aku tidak percaya kau berani

bergebrak dengannya untuk rebutkan diriku yang hina Hihi....."

"ah, kau nakal......."

"siauw Cuui, aku orang she Tan, bagaimana cun akan

memilikimu......"

 

sampai di situ Bwee Hiang dengar ada suara jalan yang

perlahan mendatangi, mereka, cepat ia menyingkir ke samping

dan mendekati jendela kamar.

Kembali si nona mendengar suara si wanita berkata,

"Kau mau ambil diriku yang hina, sungguh aku sangat

berterima kasih- Nanti setelah kita menjadi suami istri barulah

kita bisa merdeka- sekarang sudahlah, kau lekas keluar- Nanti

keburu datang orang she Kan, kau bisa berabe-"

"Nanti atau sekarang sama saja, malam ini kau harus

melayani aku......."

"Brakk " terdengar suara pintu ditendang terbuka.

Bwee Hiang hatinya menjadi makin kepingin menonton

adegan di sebelah dalam- Ia mengintip dari jendela- Ia lihat

wanita dan laki-laki yang bercakap-cakap tadi sedang

berpelukan dalam pakaian setengah telanjang. Matanya

tampak terbelalak memandang kepada orang yang barusan

masuk dengan menendang pintu.

Lelaki yang barusan masuk lebih besar, tapi tingginya kalah

dengan lelaki yang tengah memeluki si wanita yang dipanggil

siauw Cui.

"Hahaha. Bagus perbuatanmu siauw Cui." kata orang she

Kan yang barusan masuk-

"Kau kata mau ikut aku dengan setia, tidak tahunya diamdiam

simpan lelaki dalam kamar. Kalau aku tidak membunuh

kalian, tentu orang akan menyangka aku adalah seorang

pengecut" berbareng ia menghunus goloknya.

 

siauw Cui berontak dari pelukan orang she Tan dan lompat

ke arah si orang she Kan, katanya.

"Jangan. jangan engko Hok Hu. Aku sumpah selanjutnya

akan setia pada....."

"Nah, inilah bukti kesetiaanmu" bentaknya sebelum wanita

itu habis kata-katanya, berbareng kepalanya terpisah dari

lehernya disabat golok tajam

si orang sheTan yang sudah merapikan pakaiannya,

nampak Siauw Cui ditabas batang lehernya menjadi merah

matanya saking gusar-

" orang she Kan, apa memangnya aku takut pada mu?"

sambil menyerang dengan goloknya yang sudah dihunusnya

hingga mereka jadi bertempur dalam kamar yang tidak

seberapa lebar. Dua-dua berkelahi dalam kegusaran, tentu

saja serangan-serangan yang dilancarkan oleh masing-masing

adalah serangan-serangan yang mematikan.

Untuk sementara kelihatan orang she Tan dapat

memberikan perlawanan bagus, tapi ia kalah pengalaman dan

perlahan-lahan terdesak sampai ke pojok-

"Nah, susullah roh si sundalmu ke neraka " bentak si orang

she Kan berbareng ujung goloknya sudah menikam pada dada

lawannya hingga amblas dan ujung golok baru berhenti

menusuk sesudah ditahan dengan tembok kamar.

Cepat orang she Kan menarik goloknya kembali, tapi bukan

untuk dibersihkan dari darah musuhnya hanya disabetkan

kepada batang leher lawan yang sudah tidak berdaya. Roh

orang she Tan benar-benar telah menyusul sang kekasih yang

sudah jalan dahulu.

 

Puas kelihatannya orang she Kan, sudah membunuh dua

orang cabul tadi- Setelah menendang mayatnya siauw Cui, ia

keluar dari kamar, di depan pintu ia menggumam,

"Aku adalah Kan Hok Hui, cukup mempunyai kepandaian

silat. Kenapa tidak bisa menggantikan si tua yang sudah

mampus ? Hahaha, pantas, pantas..........."

Ia jalan terus ke ruangan belakang, sama sekali tidak tahu

kalau geark geriknya ada yang membayangi ialah Bwee Hiang

jago perempuan kita. Bwee Hiang kenapa tidak menebas saja

batang lehernya Kan Hok Hui ?

Itu karena si nona ada maksud lain. Ia mau tahu gerak gerik

Kan Hok Hui lebih jauh yang menurut gumamannya tadi ingin

menjadi kepala disitu.

Kan Hok Hui telah membunyikan lonceng tanda buat orangorang

berkumpul dalam ruangan belakang yang luas lebar-

Rupanya disitu biasa dipakai rapat oleh mereka. sebentar lagi

tampak berkumpul kurang lebih 20 orang, mereka pada duduk

diatas bangku-bangku panjang. Banyak tempat yang lowong.

Rupanya kawan penjahat sudah banyak kurang orangnya

karena tempo hari dibasmi oleh Kim Coa siancu. Tampak

sebuah mimbar, diatas mana ada di taruh sebuah meja

dengan tiga buah kursi.

Tampak kursi yang tengah diduduki oleh Kan Hok Hui,

sedang kursi di kanan kirinya tidak ada yang duduki. Biasanya

kursi yang tengah diduduki oleh Thoat Beng Mo Siauw, yang

kanan oleh Kan Hok Hui dan yang kiri oleh Thio Jin Liong. Dua

orang ini adalah tangan kanan si Hantu Ketawa (Thoat Beng

mo siauw).

 

sekarang si Hantu Ketawa danjin Liong sudah mati. Maka

Kan Hok Huilah yang mengepalai kawanan orang jahat itu.

setelah orang-orang pada berkumpul, terdengar Kan Hok

Hui berkata,

"Saudara-saudara sekalian, seperti kalian tahu, Thoat Beng

mo siauw dan jin Liong sudah mati dan kini tinggal aku sendiri

yang masih hidup- Aku mau menggantikan si orang tua

(dimaksudkan si Hantu Ketawa) menjadi kepala disini-

Bagaimana pendapat sekalian saudara-saudara ?" semua

orang bersorak menanda kan persetujuannyagirang

hatinya Kan Hok Hui. Ia berkata lagi,

"Kalian jangan ikut-ikutan saja- Kalau diantaranya ada yang

tidak setuju boleh angkat tangan. Aku tidak memaksanya.

Hayo, siapa yang tidak setuju ?"

Ada diantaranya yang sebenarnya tidak merasa setuju.

Akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena takut akan

kekejamannya Kan Hok Hui. Mereka jadi ikut-ikutan saja

setuju. Meskpun begitu, tampak dua orang yang

mengacungkan tangannya.

Kan Hok Hui diam-diam sangat tidak senang ada orang

yang menentangnya, Ia kata,

"Bagus. Coba terangkan oleh dua orang saudara yang

mengacungkan tangannya, kenapa kalian tidak setuju dengan

pengangkatan diriku menjadi pemimpin ?"

"oh, kami bukannya tidak setuju." salah sahut satu

diantaranya.

 

"Kami sekarang lihat, hanya saudara Kan saja yang

memimpin, sedang yang sudah-sudah kita dipimpin oleh 3

orang."

"oo, begitu." sahut Kan Hok Hui, reda perasaan tidak

senangnya.

"Hal itu mudah dirundingkan belakangan, setelah aku

memegang tampuk pimpinan."

"Mufakat kalau begitu." kata dua orang hampir berbareng.

"Tidak mufakat " terdengar suara yang lain berbareng

orangnya muncul dari balik tirai yang memisahkan ruangan

yang disebelahnya.

semua mata ditujukan pada orang tadi. Kiranya dia adalah

seorang gadis cantik jelita hingga mereka jadi melongo heran

memandang si gadis yang tiada lain adalah Bwee Hiang.

Mereka menanya-nanya pada dirinya masing-masing, gadis

siapa yang muncul malam-malam dalam ruangan rapat itu.

Apakah dia manusia atau setan.

Tapi Kan Hok Hui lantas perdengarkan suara ketawanya. Ia

kemudian berkata,

"Kau bukan anggota kita, bagaimana mungkin kau dapat

mengemukakan suaramu ? sebenarnya siapakah kau ?

Malam-malam ada disini- Apa kau tidak takut dengan kami

orang ?"

"Hihi " ketawa Bwee Hiang.

" Kalau takut masa aku datang kemari ?"

"Jadi, kau mau apa ?" tegur Kan Hok Huu.

 

"Biasanya, dalam pemilihan pemimpin, yang kuat dialah

yang dipilih sebagai pemimpin, sekarang belum ketentuan

kekuatanmu, lantas saja mengangkat diri sebagai pemimpin,

Itu tidak adil " Bwee Hiang menyatakan.

Perkataan Bwee Hiang bikin semua orang saling lirik satu

dengan lain.

Kata-kata si nona memang benar, akan tetapi siapa

orangnya yang dapat mengalahkan Kan Hok Hui yang sudah

jelas kepandaiannya di atas semua orangnya.

"Hahaha " Kan Hok Hui tertawa terbahak-bahak-

Meskipun ia merasa aneh atas kedatangannya si nona

yang tiba-tiba, ia tidak memikirkan untuk menangkapnya- Ia

tahu si nona parasnya cantik, maka ia ingin takluki Bwee

Hiang dengan kehalusan hingga hatinya si nona akan terpikat

sendiri olehnya-

Kan Hok Hui sangat licin dan cerdik. Melihat si nona ada

membekal pedang di pinggangnya, lantas tahu bahwa wanita

itu bukan sembarangan wanita. Kedatangannya pun tentu

mempunyai maksud tertentu, Ia tidak mau sembarangan

membenturnya, ia percaya dengan kecerdikannya ia dapat

menguasai si nona. siapa tahu si gadis memang sudah

menjadi jodohnya untuk menjadi istrinya.

Maka dalam gembiranya, ia tertawa, setelah tertawa ,ia

berkata,

"Nona ini adalah tamu kita, apa yang dia katakan barusan

memang benar, sekarang siapa dlantara saudara-saudara

yang ada minat untuk main-main dengan aku ? Ada baiknya

 

juga untuk membuka matanya tamu kita yang ingin melihat

pengangkatan pemimpin dilakukan dengan adil"

"Nah, itu baru benar" kata Bwee Hiang, ketawa manis.

setelah sepi sejenak, seorang yang beralis tebal dan muka

lebar kelihatan bangun dari bangkunya dan maju ke depan, Ia

berkata,

"Maaf, aku un Hoa ingin coba-coba peruntungan. Harap

saudara Kan berlaku murah "

un Hoa berkata sambil angkat tangannya memberi hormat

pada Kan Hok Hui.

Kan Hok Hui bangkit dari kursinya, turun dari mimbar dan

jalan menghampiri un Hoa.

Jarak antara bangku-bangku dan mimbar, lebar juga.

Disitulah mereka bertemu untuk memperebutkan jabatan

pemimpin.

Bwee Hiang senang dapat mengadu domba kan kawanan

penjahat itu. sebaliknya Kan Hok Hui mendongkol. Tapi

karena ia sudah punya maksud untuk menakluki si nona

dengan halus, terpaksa ia harus tunjukan kepandaiannya.

Tidak banyak cakap lagi antara Kan Hok Hui dan un Hoa.

Mereka sudah lantas saling serang. Ternyata kepandaiannya

un Hoa kalah jauh, maka hanya dalam dua jurus saja ia sudah

kena ditendang nyungsep ke kolong bangku.

"Mari, siapa lagi yang maju " tantang Kan Hok Hui

 

Beberapa orang yang panas hatinya sudah maju bergiliran.

Tapi semua bukan tandingan Kan Hok Hui, semua dijatuhkan

dengan mudahnya.

setelah tidak ada orang yang berani maju lagi, maka sambil

unjuk senyuman bangga, Kan Hok Hui berkata,

"setelah kalian tidak ada yang berani maju lagi, terang

jabatan pemimpin aku yang dapat, bukan ?"

"Nanti dulu, masih ada yang belum dijatuhkan" kata Bwee

Hiang, ketawa riang,

"siapa ?" tanya Hok Hui.

"Aku....."jawab Bwee Hiang.

"Kalau toh tidak masuk hitungan orang kami, bagaimana

mau merebut jabatan pemimpin? Kau pergi sana Dimana

rumah mu sebenarnya ?"

"orang mau merebut jabatan pemimpin, ini malah menanya

rumah orang segala, Itu kan tidak masuk dalam rumah. Hihihi-

.."

"Kau tidak pantas menjadi pemimpin, lebih pantas jadi

nyonya pemimpin"

Bwee Hiang deliki matanya ke arah Hok Hui, yang sedang

ketawa memandangnya.

Delikan mata Bwee Hiang yang tajam, bukan membikin

marah Kan Hok Hui, sebaliknya hatinya tergoncang dengan

serentak.

 

"Awas, akan kuselot mulut bocormu " mengancam Bwee

Hiang.

Kan Hok Hui tertawa gelak-gelak mendengar kata-kata si

nona yang lucu.

"Kau ketawa kan apa, hah " bentak Bwee Hiang.

"Aku ketawa kan kau nona manis, jadi isteri....."

"Plok " Kan Hok Hui rasakan pipi kirinya ditampar hingga

perkataannya putus setengah jalan, yang tadinya ia hendak

mengatakan jadi isitriku lebih baik.......

Tamparan si nona bukannya tidak dirasakan oleh Kan Hok

Hui, sebab seketika itu meluap amarahnya.

"Gadis liar, kau berani" bentaknya sambil menerjang si

nona di depannya, tapi Bwee Hiang dengan manis berkelit.

"Heheh, pintar juga kau berkelit, ya " kata Kan Hok Hui,

segera ia melancarkan serangan susulan. Lagi-lagi ia mesti

menyerang tempat kosong sebab si nona sudah berkelit

sambil memutar ke samping kirinya.

Kan Hok Hui kaget si nona demikian gesit. Baru saja ia

berbalik dan hendak melancarkan serangan ketiga kalinya,

tiba-tiba ia rasakan pipi kanannya ditampar. Belum tahu ada

berapa biji giginya yang rontok ketika ditampar pipi kirinya,

sekarang pipi kanannya lagi kena tamparan si nona. Entah

berapa biji lagi giginya yang rontok, tapi yang terang ketika ia

semprotkan dari mulutnya yang berboboran darah, ada lompat

keluar sampai lima buah giginya.

 

Terang marahnya Kan Ho Hui sudah sampai di rambut

kepala.

"Perempuan hina, kau berani main-main dengan tua

besarmu ? Hm " bentaknya.

Tapi sebelum ia bergerak menyerang si gadis, ia telah

didahului dengan satujotosan tepat ke dagunya hingga ia jatuh

terpelanting.

Melihat Kan Hok Hui merangkak-rangkak dengan susah

mau bangun, Bwee Hiang ketawa geli, tidak tahan ia kalau

tidak cekikikan.

Kawan-kawannya Kan Hok Hui tidak satu yang berani turun

tangan melihat pemimpinnya dihajar babak belur oleh si nona.

Ketika Kan Hok Hui dapat bangun lagi, ia hanya mengawasi

si nona denganpenuh kegusaran tapi mulutnya membungkam.

"Nah, apa kau mulai percaya dengan ancamanku ? Aku

sudah selot mulutmu yang bocor " kata Bwee Hiang seraya

ketawa terpingkal-pingkal.

Kan Hok Hui tidak menjawab perkataan si nona, sebaliknya

dengan mulut belepotan darah ia berkata pada kawankawannya,

"Kalian mau tunggu apa lagi ? Lekas tangkap gadis liar itu "

Reaksi dari seruan ini ternyata mengecewakan, sebab

mereka seperi yang berlagak pilon, diam saja tak bangkit dari

duduknya.

"siapa yang dapat menangkap dia, akan kuangkat jadi

pemimpin" seru Kan Hok Hui lagi.

 

seruan ini ternyata ada pengaruhnya sebab hampir

serentak semuanya pada bangun berdiri dan mengurung

Bwee Hiang yang masih enak-enak ketawa.

Kapan si nona melihat dirinya dikepung, bukannya takut

malah ketawa cekikikan, katanya,

"Kalian mau tangkap nonamu ? Bagus, silahkan tangkap "

"Kau ini budak hina dari mana, kesasar ke....."

Hulah un Hoa yang berkata. Mendingnan kalau ia tidak

buka mulut dan diam-diam mengeroyok si nona. Ini dia buka

mulut keluarkan perkataan kotor membuat Bwee Hiang sengit.

Maka ketika ia belum habis bicara, sudah dihajar mulutnya

oleh si nona.

seperti Kan Hok Hui, dari mulutnya yang belepotan darah ia

semprotkan beberapa buah giginya yang rontoh- Ia tidak

berani membuka mulut lagi tapi dengan gemas ia bantu

kawan-kawannya menerjang si gadis.

Bwee Hiang sekarang bukan Bwee Hiang jamannya si

kerudung merah, sebagai murid jago cilik kita (Lo In) si nona

tidak mengecewakan. Tambahan ia sudah berpengalaman

dalam pertempuran keroyokan. Maka dikepung dengan 30

orang, ia anggap sepi saja. Dengan lincahnya ia kelit sana sini

mengelakkan serangan. Kakinya cun tidak tinggal diam hingga

banyak yang rubuh kena ditendang jin-tiong-hiat dan jalan

darah di jidat kena dicium ujung sepatunya si nona yang

mungil. Kan Hok Hui di lain pihak berteria-teriak menganjurkan

supaya kepungan dipererat, jangan kasih si nona lolos.

sedang ia sendiri tinggal berdiri, tidak turut mengeroyok

karena dirasakan kepalanya mendenyut-denyut sakit, itulah

efek dari mulutnya yang berboran darah

 

Tapi melihat orang-orangnya makin kurang karena sudah

pada rebah dirobohkan Bwee Hiang, mau tidak mau ia

kepaksa turun tangan juga- Ia tidak bertangan kosong, tapi

dengan goloknya ia menyerang Bwee Hiang.

"Kau datang lagi ? Hehehe " Bwee Hiang menjengeki,

ketika ia kelit dari serangan golok Kan Hok Hui yang tajam.

"Budak hina, kalau malam ini aku tidak bisa tangkap kau,

benar-benar aku bukan orang she Kan, murid kesayangan si

Hantu Ketawa dari Pek-kut-nia " berkata Kan Hok Hui dengan

sombongnya.

Kini Bwee Hiang tahu kalau orang she Kan ini adalah murid

kepala dari si Hantu Ketawa. Barangkali lebih baik ia tidak

menyebutkan dirinya siapa, sebab dengan menyebutkan

dirinya adalah murid dari si Hantu Ketawa, bukan membuat si

nona jeri malah menjadi benci terhadapnya. Pikir si nona,

kalau dia ini murid si Hantu Ketawa, sudah tentu sangat jahat

seperti juga dengan gurunya yang kesohor.

sisa 10 orang yang masih belum roboh, hanya dari

kejauhan saja membantu Kan Hok Hui yang sedang kalap

menyerang Bwee Hiang.

Dalam babak yang menentukan Kan Hok Hui telah

menggunakan tipu 'Ngo seng boan goat' (Lima bintang

mengurung rembulan), goloknya diputar dan mengurung rapat,

beberapa kali menuju ke arah tubuh lawan yang berbahaya.

Bwee Hiang kaget sedikit, ia tidak mengira Kan Hok Hui punya

kepandaian boleh juga. Tapi serangan itu ia anggap ada

serangan enteng, meskipun dirinya seperti sudah terkurung

golok

 

sekonyong-konyong, la kelebatkan pedangnya yang tajam

pada depan mukanya Kan Hok Hui. Dalam gugup, Kan Hok

Hui menangkis.

"Trang " suara senjata keduanya beradu, kontan goloknya

Kan Hok Hui terpapas kuntung. Belum sempat orang she Kan

tenangkan hatinya yang kaget, tiba-tiba jari tangan kiri Bwee

Hiang menyelonong ke 'sam-li-hiat',jalan darah di lengan

kanan, seketika itu juga ia roboh terkulai dengan golok

buntungnya sekali, si nona telah menggunakan salah satu

jurus dari Bwee-hoa Kiam-hoat yang dinamai 'Bwee lie kian

goat' atau 'Dibalik bunga bwee mengintip rembulan', suatu

gerakan yang lihai sekali untuk memunahkan tipu 'Lima

bintang mengurung rembulan' yang digunakan oleh Kan Hok

Hui-

Melihat pemimpinnya tidak berdaya, mendeprok di lantai,

maka sisa yang 10 orang lagi yang berhati macam kertas,

semuanya berlutut minta ampun pada jago betina kita hingga

Bwee Hiang ngikik ketawa.

Di luar dugaan, kecuali Kan Hok Hui, Bwee Hiang telah

menotok bebas kawanan orang jahat yang mengeroyoknya

tadi semuranya pada berlutut di depannya Bwee Hiang.

Seperti yang masih kekanak-kanakan pikirannya, Bwee

Hiang tampak senang dirinya dipuja demikian oleh orangorang

di depannya, Ia lantas bertindak naik ke atas mimbar

dimana ia duduk diatas kursi kebesaran (pemimpin).

Sambil ketok-ketok meja dengan pedangnya, Bwee Hiang

berkata,

"Sekalian dengar, Aku sekarang sudah jadi pemimpin

kalian lantaran sudah mengalahkan kalian semua. Kalian mau

 

takluk apa tidak ? Siapa yang masih penasaran, boleh bangun

"

Semua orang manggut-manggut kepalanya, Hampir

berbareng semua orang berseru,

"Hidup,"

hidup Lie-tay-ong segala, aku bukannya kepala berandal.

Aku hanya pemimpin"

"Hidup, hidup ketua kita " terdengar pula suara berseru

ramai-ramai.

Kali ini Bwee Hiang tidak menegur, Ia kelihatan senang

dipanggil ketua. Lie-tay-ong itu ada panggilan kawanan

berandal kepada kepala berandal wanita, maka Bwee Hiang

tidak mau dipanggil Lie-tay-ong.

"sekarang aku tanya, siapa diantara kalian yang mau

mewakili bicara dengan aku. Perlu aku mengajukan beberapa

pertanyaan" berkata Bwee Hiang.

semuanya berdiam, tidak seorang yang berani bangkit dari

berlututnya.

"Hei, kenapa kalian takut ? Lekas maju satu orang untuk

aku tanyakan apa-apa."

Mendengar nada suaranya seperti yang gusar, mereka

yang berlutut pada ketakutan. Syukur ada satu diantaranya

yang bangkit dari berlutut, siapa ? Kiranya dia si un Hoa yang

coba peruntungan mengadu silat dengan Kan Hok Huiun

Hoa maju ke depan mimbar, sambil menjura memberi

hormat, ia berkata,

 

"Apa yang liehiap hendak tanyakan, tanyalah padaku. Apa

yang aku tahu, akan aku jawab sejelasnya. Harap Liehiap

jangan kuatir dibohongi."

Bwee Hiang diam-diam ketawa geli dalam hatinya. Belum

apa-apa un Hoa sudah mencegah orang jangan kuatir

dibohongi. Memangnya ia (un Hoa) tukang ngebohong ? Tapi

kalau dilihat tampangnya, un Hoa kelihatan ada jujur dan

besar nyalinya, Ia senang, maka Bwee Hiang menanya,

"Siapa itu tukang bohong (dusta) ?"

"Aku bukan bilang tukang bohong, tapi sebagai penegasan

bahwa aku tidak akan membohongi Liehiap dalam tanya jawab

yang kuberikan pada Liehiap."

"Bagus." kata Bwee Hiang.

"Sekarang yang pertama kutanya, apa kau pernah lihat ada

anak berwajah hitam, kira-kira berusia 16 tahun ada datang

kemari ?"

"Tidak pernah kulihat ada anak muka hitam kemari-"

Heran Bwee Hiang, si adik kecil tidak datang kesitu.

sebaliknya hatinya merasa lega. Cuma kemana perginya si

adik kecil itu.

"Lalu, matinya Thoat Beng Mo siauw lantaran apa ? Kalau

sakit, sakit apa dan kalau dibunuh siapa yang membunuhnya

pemimpin kalian itu ?"

"Pemimpin klta dibunuh oleh Kim Coa siancu."

"Hah siapa itu Kim Coa siancu ?"

 

"Aku tidak tahu, hanya menurut kata teman-teman

orangnya sangat cantik-"

"He, cantik mana dengan aku ?"

un Hoa membisu- Tapi dalam hatinya diam-diam merasa

geli atas pertanyaan si nona.

"Bagaimana, cantik mana dengan aku "

"Aku tidak tahu karena aku tidak melihat dengan mata

sendiri Kim Coa siancu itu. Jadi kau tidak bisa

membandingkannya dengan Liehiap."

"Bagaimana Kim Coa siancu dapat membunuh pemimpin

yang terkenal lihai ?"

"Dia kena digigit ular emasnya."

"stop soal Kim Coa siancu. sekarang kutanya, ada berapa

banyak wanita yang ada dikurung disini ?"

"Tidak tahu persis jumlahnya tapi lebih dari sepuluh orang."

"Bagus, semuanya baik-baik saja tinggal disini ?"

"Ia semuanya baik-baik saja. Semuanya menurut, cuma

ada satu gadis dari ong-ke-chung yang kemarin diculik sampai

sekarang menangis saja."

"Hah, kenapa demikian ? Lekas kau bawa dia kemari "

un Hoa mengiyakan. Ia putar tubuhnya dan pergi ambil si

gadis she ong. sebentar lagi gadis itu sudah dibawa

menghadap Bwee Hiang. Ternyata un Hoa mendapat

kesulitan untuk membawanya karena si gadis meronta-ronta

 

dan menggigit, tidak mau dibawa keluar kamarnya. Disamping

menggigit dan mencaci maki un Hoa, si gadis juga berjeritan

menangis.

Kapan sudah berhadapan dengan Bwee Hiang, si gadis

memandang jago betina kita dengan roman menghina, tidak

lagi menangis dia.

Bwee Hiang menjadi heran, ia menanya,

"Kau berasal dari ong-ke-chung ?"

"Kalau sudah tahu, buat apa tanya ?" sahut si gadis ketus.

"Hei, kenapa kau marah-marah ?" tanya Bwee Hiang.

" Aku pantas marah sebab aku benci padamu. Kau sesama

jenis denganku tapi perbuatanmu sangat cabul " si gadis ong

menuduh Bwee Hiang hingga si nona jadi kebingungan. Tapi

segera Bwee Hiang dapat menyelami pikiran si gadis ong itu,

rupanya ia menyangka bahwa dirinya adalah komplotan dari si

Hantu Ketawa.

"Hehe, adik ong, kau jangan sembarang sangka- Apa kau

kira aku ini anggota komplotannya si Hantu Ketawa ?"

si gadis terbelalak matanya, memandang tajam pada Bwee

Hiang, malah mengucek-ngucek matanya seperti ingin melihat

lebih tegas- Memang wanita yang dilihatnya itu cantik betul

tapi tidak ada sifat-sifat genit- Duduk disampingnya pun tidak

ada orang lelaki- Ia heran, lalu menanya,

"Kau siapa ?"

"Mari kau naik, akan kuperkenalkan siapa encimu " Bwee

Hiang menggapai.

 

Ketika si gadis sudah naik di atas mimbar dan berhadapan

dengannya, Bwee Hiang menanya perlahan,

"Namamu siapa, adik ?"

"Aku ong Kui Hoa, dan enci siapa ?" si nona balik menanya.

"Bagus, adik Hoa. Aku sendiri Bwee Hiang she Liu." sahut

Bwee Hiang.

"Tapi enci, kenapa kau ada disini ? Ini tempat kotor " tegur

Kui Hoa.

"Justru ini tempat kotor aku mau bikin bersih, adik Hoa."

kata Bwee Hiang lalu perlahan-lahan dengan singkat ia

menerangkan maksud kedatangannya kesitu.

Tiba-tiba saja Kui Hoa jatuhkan diri, berlutut sambil berkata,

"Enci, kau ada injin (tuan penolong) yang kuharap-harap,

oh, sungguh tidak terduga-duga....." berbareng ia memeluk

kakinya Bwee Hiang hingga si nona

tersipu-sipu mengangkat bangun Kui Hoa serta katanya,

"Adik Hoa, kau jangan begini- Nanti bila semua urusan

beres, akan kuantar pulang kau kerumahmu."

Bukan main girangnya ong Kui Hoa, hampir ia memeluk

dan mencium pipi Bwee Hiang saking merasa sangat

berterima kasih. kalau tidak Bwee Hiang menggoyang

tangannya dan matanya mengedipi supaya si nona berlaku

tenang

 

Kui Hoa berdiri di sampingnya, ia tidak mau duduk

meskipun beberapa kali Bwee Hiang menyuruh ia duduk

disampingnya-

Bwee Hiang lihat paras Kui Hoa cukup cantik meskipun

tidak secantik dirinya- Hanya kedua matanya pada benggul,

rupanya si nona menagis terus-terusan.

"Hei, un Hoa " kata Bwee Hiang.

"Coba kau kumpulkan wanita-wanita lainnya semua."

un Hoa menurut. Agak lama juga baru keluar dengan

menggiring kira-kira 15 orang wanita. Mereka dikumpulkan

dibawah mimbar untuk diperiksa oleh Bwee Hiang. setelah

memandang agak lama juga, Bwee Hiang menanya pada Kui

Hoa,

"Adik Hoa, bagaimana pendapatmu tentang mereka ?"

"Ah, semuanya perempuan tidak benar-" sahut si gadis-

Memang tepat kata-katanya Kui Hoa, sebab semuanya

pada genit-genit- Alisnya yang disipat, bibirnya yang dimerahi

serta wajahnya yang dipoles medok dengan pupur sebagai

tanda bukti bahwa sekumpulan wanita itu adalah wanita tidak

benar- Hanya menjadi wadah lelaki dapat melampiaskan

napsu birahinya. Tegasnya merupakan wanita 'mainan' kaum

lelaki dalam tempat kotor itu.

Bwee Hiang anggukkan kepalanya mendengar jawaban Kui

Hoa.

Tapi mengingat bahwa wanita-wanita itu tadinya adalah

perempuan-perempuan benar, karena berbuah demikian itu

 

gara-gara paksaan dari lelaki yang ganas. Bwee Hiang masih

dapat mempertimbangkan keputusannya.

Bwee Hiang lalu suruh un Hoa kumpulkan semua harta

yang ada dalam kuil itu, tapi ternyata tidak seberapa sebab

benda-benda yang mahal dan berharga katanya sudah

diangkut pergi oleh Tui Hun Lolo ke Hek-liong-tong. un Hoa

dan kawan-kawannya menyatakan tidak tahu dimana letaknya

gua Naga Hitam itu, ketika ditanya Bwee Hiang.

"Adikku." kata Bwee Hiang pada Kui Hoa-

"Kau tunggu sebentar disini- Aku akan bicara dengan

mereka-" Berbareng Bwee Hiang sudah turun dari mimbar, Ia

menghampiri Kan Hok Hui dan membebaskan ia dari totokan

sehingga ia dapat berdiri bebas.

"Semua bangun" seru Bwee Hiang. Dengan serentak

semua yang berlutut pada bangun berdiri

"Kalian tentu tahu kewajiban terhadap pemimpinnya, segala

titahnya harus dituruti, tidak boleh dibantah, bukan?"

demikian Bwee Hiang menanya pada mereka. semua orang

mengiyakan dengan berbareng.

"Nah, sekarang begini-" kata Bwee Hiang lagi.

"Aku sebagai pemimpin memerintah kepada kalian untuk

pulang ke masing-masing kampung halaman dan carilah

usaha dengan jalan halal. Masing-masing akan dapat bagian

bekal hidup sederhana. Tapi ingat Apabila aku dengar kalian

membuat sarang lagi dan mengumpulkan kawan-kawan untuk

melakukan kejahatan, akan kudatangi kalian. Disitu, selain

 

sarang kalian, jiwa kalian pun akan aku musnahkan untuk

dikirim ke akhirat tanpa ampun"

semua orang yang mendengarnya pada bergidik, berdiri

bulu badannya. Bwee Hiang lalu menggapai Kan Hok Hui yang

lalu datang menghampiri

"sebenarnya," kata Bwee Hiang,

"siang-siang aku sudah mau tebas batang lehermu untuk

menyusul rohnya siauw Cui dan si orang she Tan menghadap

ciiam-lo-ong. Tapi biarlah kuampuni sekali ini"

Kan Hok Hui kaget mendengar rohnya mau dikirim

menyusul rohnya siauw Cui dan si orang she Tan. Apakah si

nona ada menyaksikan adegan ia membunuh dua orang cabul

itu ? Tanyanya dalam hati kecilnya.

Bagaimana pun ia merasa sangat berterima kasih kepada

Bwee Hiang yang mengasih kesempatan untuk ia hidup. Ia

menjura pada si nona, katanya,

"Liehiap, budimu yang besar tidak mengambil jiwaku, aku

tak akan melupakan. Kalau aku tak dapat membalas sekarang,

biarlah di lain penitisan aku dapat membalasnya. Aku berjanji

selanjutnya akan menuntut penghidupan yang halal "

"Bagus, bagus." kata si nona, girang ia mendengar katakatanya

Kan Hok Hui.

"sekarang aku kuasakan padamu untuk mengatur

pembagian harta untuk bekal kau dan kawan-kawan dalam

hidup selanjutnya. Nah, mulailah kau bekerja "

 

Dengan dibantu un Hoa, Kan Hok Hui sudah

menyelesaikan perintah Bwee Hiang. Harta yang ada di bagi

rata diantara mereka.

Bwee Hiang sementara itu sudah ada diatas mimbar lagi,

tengah duduk bersama-sama Kui Hoa yang sekarang tidak

menolak lagi untuk diajak duduk bersama-sama oleh Bwee

Hiang. Mereka omong-omong seperti kenalan lama saja

hingga Kui Hoa merasa sangat senang terhadap teman

barunya ini.

sebentar lagi Kan Hok Hui dan Un Hoa melaporkan bahwa

pekerjaan pembagian harta sudah selesai, si nona mau suruh

apa lagi ?

Tindakan selanjutnya dari Bwee Hiang adalah membakar

habis sarang penjahat itu, kemudian ia bubarkan mereka

setelah terlebih dahulu diancam akan diambil jiwanya kalau

lain kali mereka diketemukan masih melakukan kejahatan.

Kemudian Bwee Hiang antar Kui Hoa pulag ke ong-kechung.

Kita kembali kepada Kim Coa siancu yang tidur bersamasama

Leng siong.

Malam itu Leng siong dan ibunya menjaga Kim Coa siancu

dengan penuh perhatian. Istimewa nyonya Teng, yang sabansaban

melongok ke dalam kelambu dan memandang

parasnya Kim Coa siancu yang cantik dengan tidak merasa

bosan.

"Ibu, dia lagi tidur, jangan diganggu " kata Leng siong ketika

melihat sang ibu beberapa kali telah melongok ke dalam

kelambu.

 

Tapi peringatan Leng siong seolah-olah tidak diacuhkan

oleh nyonya Teng sebab di lain saat kembali ia menyingkap

kelambu dan memandang parasnya si Dewi ular emas dengan

termenung-menung.

Lama-lama Leng siong menjadi curiga, ia menanya,

"Ibu, kau kelihatannya tidak bisa diam. saban-saban

melongok ke dalam kelambu. Ada apa sih dengan siancu ?"

Nyonya Teng menghela napas dan parasnya agak kusut,

seperti ada urusan ruwet yang ia pikirkan. Leng siong menjadi

heran, ia menanya,

"Ibu, ada apa sih dengan siancu ? Kelihatannya ibu sangat

tertarik olehnya."

"Anak siaong, dia......." terputus bicaranya ketika terdengar

pintu kamar diketuk perlahan dari luar.

"Siapa ?" tanya Leng siong seraya menghampiri pintu.

"Ayah, anak siong." terdengar jawaban dari sebelah luar.

Leng siong cepat membuka pintu, tampak di depannya ada

ayahnya yang berdiri-

"Bagaimana keadaannya, sudah mendusin dia ?" tanya

sang ayah, mendahului sang puteri yang sudah membuka

mulutnya hendak bicara.

"Tengko yang datang ? Lekas masuk kemari " berkata

nyonya Teng dari sebelah dalam. Tengko artinya kakak Teng,

panggilan sehari-hari nyonya Teng kepada suaminya.

 

Teng Hauw lantas masuk, menghampiri isterinya yang

berdiri di tepi pembaringan sambil menyingkapkan kelambu.

"Tengko, coba kau lihat " kata sang isteri-

Teng Hauw cepat mendekati isterinya dan ikut memandang

pada parasnya Kim Coa siancu yang seperti tengah tidur

nyenyak-

Paras cantik itu menyungging senyuman yang tak mudah

dilupakan oleh siapa yang melihatnyasetelah

suami isteri itu memandang agak lama, keduanya

lalu saling bertukar pandang dan tersenyum hingga Leng

siong yang menyaksikan gerak gerik kedua orang tuanya itu

merasa heran.

"Kalian lagi bikin apa ?" kata Leng siong, seraya

menyelipkan badannya diantara mereka dan turut memandang

ke arahnya Kim Coa siancu.

Kini pandang suami isteri itu dialihkan kepada parasnya

Leng siong.

"Tengko, tidak bisa salah lagi dianya....." kata nyonya Teng

perlahan kepada suaminya yang segera angguk-anggukkan

kepalanya mendengar kata-kata sang isteri.

Leng siong menjadi bingung, Ia menanya,

"Dianya siapa, ibu ?"

"Dia tidak salah lagi tentu encimu." jawab nyonya Teng

tersenyum.

 

"Aah Aku ada punya enci ? Kenapa ibu tidak mengatakan

itu kepadaku ?"

"Ceritanya panjang, kejadian itu pa da........" nyonya Teng

terputus bicaranya mendengar siancu ngelindur, katanya,

"Adik In, adik In kau nakal betul "

Leng siong terkejut. "Aha Tidak bisa salah lagi siancu

adalah Eng Lian yang dicari-cari si bocah muka hitam" kata

Leng siong dalam hatinya.

"Dia adalah enci Eng Lian yang tengah dicari setengah mati

oleh adik kecil." kata Leng Siong pada ayah dan ibunya.

"segala sesuatu nanti akan terang, apabila siancu sudah

siuman." sahut nyonya Teng, lalu kembali memandang

parasnya siancu yang cantik jelita.

"Adik In, nanti encimu marah......" kembali siancu ngelindur,

parasnya tampak tersenyum-senyum akan tetapi matanya

terus meram saja.

"Nanti aku panggil Taysu." kata Teng Hauw seraya

ngeloyor keluar. Tidak lama lagi Kim Wan Thauto sudah

masuk ke dalam kamar.

Kali ini kelambu bukan disingkap lagi, malah dipentang

lebar supaya semua orang dapat melihat siancu dan

mendengar ngelindurnya. Kie Giok Tong dan tiga saudaranya

tidak turut masuk, mereka hanya mendengarkan di sebelah

luar.

Agak lama juga siancu ditunggu berkata-kata pula dalam

ngelindurnya.

 

Ketika Kim Wan Thauto kegerahan berada di dalam kamar

lama-lama, baru saja ia hendak ngeloyor keluar sebentar, tibatiba

ia

mendengar siancu berkata,

"Adik In, kau tidak mau turut perintah encimu ? Awas, kalau

encimu sudah marah— Hihihi......"

Kim Wan Thauto geleng-geleng kepala. "Dia benar Eng

Lian, teman mainnya anak In." kata si Thauto-

"Cuma herannya, kenapa dia bisa jadi Kim Coa siancu ?"

"sebelum dapat keterangan, memang kita dalam gelap,

Taysu-" menjawab nyonya Teng ketawa.

"Nanti kalau siancu sudah siuman, baru kita dapat

pemecahannya."

"Hujin (nyonya) benar." kata Kim Wan Thauto.

"Tolong dijaga, coba bagaimana sikapnya kalau dia sudah

mendusin."

"Terang kami akan jaga betul, sebab si nona mungkin

bukan orang lain." nyeletuk nyonya Teng, membuka rahasia

dia-

"Bukan orang lain bagaimana ?" tanya Kim Wan Thauto

ingin tahu.

"Mungkin si nona adalah anak kita." menyahut Teng Hauw.

"Hahaha.....bagus, bagus." Kim Wan Thauto tertawa.

 

"Bagaimana riwayatnya, coba kasih cerita sedikit untuk

menambah pengetahuanku. "

"Ah, nanti saja kalau si nona sudah siuman." sahut nyonya

Teng.

Kim Wan Thauto mengangguk-angguk- Ia tidak memaksa,

sebaliknya menghela napas. Katanya,

"sekarang anak In sekarang tidak ada disini, coba ada,

bagaimana girangnya dia menemukan enci Liannya kembali."

"Dia pergi kemana ?" nyeletuk Leng siong, hingga Kim Wan

Thauto heran si gadis nyeletuk tanpa banyak pikir lagi.

Leng siong merasa keterlepasan omong, wajahnya semu

merah- Tapi ia tidak menyesal, memang ia sangat ingin tahu

kemana si bocah muka hitam itu perginya-

"Dia lagi menyusul atau boleUi dikatakan mencari Bwee

Hiang." kata Kim Wan Thauto, tersenyum ke arah si gadis-

Leng siong juga tersenyum, lalu menundukkan kepala.

setelah Kim Wan Thauto dan Teng Hauw pada keluar untuk

omong-omong lagi di ruangan pertengahan, Leng siong lalu

menanya pada ibunya,

"Ibu, kau tidak menceritakan padaku bahwa aku ada

mempunyai cici. Nah, sekarang kau harus cerita. Tidak mau

aku menunggu lama-lama."

"sabar, anak siong. Kapan encimu belum mendusin..." si

nyonya hentikan omongannya, nampak pembaringan

bergoyang- goyang dan kelambu yang barusan sudah ditutup

lagi seperti disingkapkan.

 

"Hei, aku ada dimana ini ?" tiba-tiba Leng Siong dan ibunya

dibikin kaget oleh kata-kata yang keluar dari dalam kelambu.

Disusul oleh turunnya Kim Coa siancu dari pembaringan

dengan tiba-tiba.

"Eh, enci, enci, kaujangan bangun dulu." kata Leng siong

seraya memburu dan mendorong Kim Coa siancu supaya tidur

kembali-

Tentu saja dorongan Leng siong tidak ada artinya bagi si

Dewi ular emas karena Leng siong merasa ia seperti

mendorong tiang besi yang tidak bergeming.

"Kau siapa ?" tanya si Dewi ular emas, ketika melihat Leng

siong mendorong-dorong ia untuk naik kembali ke atas

pembaringan.

"Aku adikmu, Leng siong." jawab si nona.

" Enci, jangan turun dulu, harus tiduran, enci terlalu lelah "

"Leng siong, adikku ? Aku tidak kenal " kata si Dewi ular

Emas seraya duduk di tepi pembaringan dan mengawasi

parasnya Leng siong dengan tajam.

Leng siong melihat siancu sudah duduk di tepi

pembaringan dan mengawasi saja kepadanya, dengan

tersenyum ia berkata,

"Enci Eng Lian, kau heran wajahku mirip dengan wajahmu,

bukan ?" siancu hanya duduk termangu-mangu, tidak

menjawab pertanyaan Leng siong.

Ia seperti sedang mengumpulkan ingatannya yang sudahsudah.

Leng siong tidak mengganggu, ia hanya berdiri di

 

dekatnya siancu. Di lain pihak, perlahan-lahan nyonya Teng

datang menghampiri mereka. sebagai orang tua yang sudah

berpengalaman, nyonya Teng mengerti siancu membutuhkan

banyak waktu untuk dapat mengumpulkan ingatannya yang

sudah terlupakan, Ia dan Leng siong menunggu sampai siancu

sebentar dapat bicara.

Tidak lama atau siancu sudah berpaling kepada nyonya

Teng,

"Bibi ini siapa ?" ia menanya tapi nyonya Teng tidak lantas

menyahut, hanya tersenyum ke arahnya.

Kembali siancu termangu-mangu- Ia tidak menghiraukan

pertanyaan tadi tidak dijawab oleh nyonya Teng. sampai tibatiba

ia berkata,

"Ah, sekarang aku ingat. Adik ini yang ada dipaseban

menonton aku bertarung dengan si bocah muka hitam, bukan

?"

" ya." jawab Leng siong singkat.

"Eh, itu si bocah hitam, bukan adik In ?" kata pula siancu,

setelah sejenak ia termenung-menung lagi.

"Kenapa aku berkelahi dengan adik In ? Aduh, kasihan dia

kena kugigit sampai borboran darah...."

"Enci Eng Lian, bukan ?" Leng siong menanya perlahan.

"ya, aku Eng Lian." sahutnya, seraya matanya mengawasi

pada pakaiannya.

"Eh, kenapa pakaianku macam ini ?"

 

Leng siong dan ibunya saling melirik dan tersenyum.

"Dimana aku berada sekarang, adik ?" tanyanya pada Leng

siong.

"Enci berada dikamarku." sahut si nona rumah-

"Hei, kenapa aku bisa berada di dalam kamarmu ?"

"Coba enci ingat-ingat dengan perlahan, kenapa bisa

berada disini." Eng Lian tersenyum, Ia kembali kumpulkan

ingatannya.

"oh, ya, aku ingat sekarang." tiba-tiba siancu alias Eng Lian

berkata.

"Setelah aku menggigit lengannya adik In, lantas aku

merasakan kepalaku pusing dan tidak ingat lagi. Bukan

lantaran itu, aku dibawa kemari"

Leng siong anggukkan kepala seraya tersenyum, Ia tidak

mau banyak-banyak omong supaya ingatan siancu lebih cepat

kembali.

Ia mau kasih kesempatan Eng Lian bicara lebih banyak,

menandakan bahwa ingatannya sudah kembali betul-betul.

"Dimana adanya adik In ?" Eng Lian menanya.

"Dia ada disini-" sahut Leng siong.

"Coba kau tolong panggilkan dia kemari."

"oh, dia lagi keluar. Mungkin besok pagi baru balik,"

"Ah, si nakal itu. Kemana saja dia sudah pergi ? Tidak ingat

kepada encinya "

 

"Adik kecil selalu ingat kepadamu enci, malah sekali tempo

aku lihat dia menangis memikirkan enci-"

"Apa iya ? Akan kucubit dia kalau ketemu "

Leng siong melengak. Pikirnya, enci Eng Uan ini benarbenar

masih kekanak-kanakan.

Pantas si bocah wajah hitam selalu merindukan dia sebab

teman mainnya ada demikian manja terhadapnya. sampai

begitu jauh nyonya Teng tidak campur bicara tapi setelah

melihat siancu atau Eng Lian mulai berkumpul ingatannya,

tentu ia nimbrun bicara hingga lama-lama dalam kamar itu

menjadi ramai dengan tertawa mereka. Eng Lian bisa

membanyol, sudah tentu saja ia mudah mengitik urat ketawa

Leng siong dan ibunya sehingga bukan sekali dua kali mereka

tertawa terpingkal-pingkal.

sementara itu malam pun sudah larut. Maka nyonya Teng

meninggalkan dua gadis jelita itu untuk balik ke kamarnya

sendiri.

Balik kepada jago cilik kita yang pagi-pagi pulang habis

mencariBwee Hiang dengan sia-sia. Ia menanti di ruang

depan atas kemunculannya Kim Coa siancu.

Ketika cuaca sudah makin terang, belum juga kelihatan

siancu atau enci Eng Lian muncul, Lo In menjadi gelisah- Ia

berkata pada Kim Wan Thauto,

"Toako, kenapa belum juga kelihatan enci Eng Lian keluar

?"

 

Kim Wan Thauto ketawa ke arahnya- sebelum ia

menjawab, tiba-tiba muncul satu pelayan wanita kecil

menyuruh Lo In masuk ke dalam-

"Nah, suruhan itu sudah datang, jangan kuatir, enci Eng

Lianmu tidak akan lari." goda Kim Wan Thauto kepada jago

cilik kita.

Lo In ketawa nyengir, seraya bangkit dari duduknya

mengikuti si pelayan masuk ke dalam, sebelum sampai di

dalam, Lo In menanya pada si pelayan,

"Hei, adik kecil, siapa yang undang aku masuk? Apa

nonamu, nona tamu atau nyonya besar ?"

si pelayan tersenyum,

"Tiga-tiganya." sahutnya ketawa geli-

"Ah, kau main-main. Nona tamu itu yang undang, bukan ?"

tanya Lo In lagi-

"Lihatlah nanti." sahut si pelayan singkat.

sementara itu mereka sudah sampai diruangan dalam,

dimana sudah menanti nyonya Teng Hauw- si bocah kecewa

karena tidak melihat Kim Coa siancu maupun Leng siong di

situ-

"Bibi Teng, mana enci Eng Lian dan Leng slong ?" ua lantas

saja menanya pada nyonya rumah.

"Sabar" sahut nyonya rumah-

"Mari, mari duduk, menunggu sebentar"

 

Malas-malasan Lo In ambil tempat duduk- Hatinya kecewa

lagi tatkala nampak Teng Hauw, Kim Wan Thauto, Kie Giok

Tong dan lain-lain saling susul muncul dalam ruangan itu.

Mereka disilahkan dengan hormat oleh nyonya rumah untuk

mengambil tempat duduk-

Kim Wan Thauto melihat Lo In tidak gembira nampak

kedatangan mereka ke dalam ruangan itu, lantas berkata,

"Anak In, pagi ini ada kejadian yang tak dapat dilupakan

seumur hidupmu. Maka kami orang ingin turut

menyaksikannya -"

Lo In tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh sang Toako,

tapi ia terpaksa unjuk ketawa nyengirnya yang terkenal.

setelah semua ambil tempat duduk, nyonya Teng berkata

pada si bocah,

"Hiantit (keponakan), aku sudah tua. Mataku sudah lamur

untuk membedakan barang yang hampir serupa warnanya.

Maka aku undang kau datang untuk menolong

membedakannya dua barang yang sama bentuknya "

"Bibi Teng bisa saja-" kata si bocah-

"Dengan sejujurnya aku mengatakan, aku juga tak dapat

membedakan barang yang hampir sama bentuknya-"

"Hiantit masih muda, mata masih terang, aku tidak percaya

kalau tak dapat membedakan barang yang hampir serupa

warnanya." berkata lagi nyonya rumah, matanya melirik

kepada para tamu sambil tersenyum-senyum

 

Kim Wan Thauto mesem, Kie Giok Tong anggukanggukkan

kepalanya, lainnya pada menahan ketawa gelinya,

semua itu tanpa disadari oleh Lo In, jago cilik kita.

"Mana barangnya, bibi Teng ?" kata Lo In tidak sabaran.

Pikirnya, orang mau ketemu enci Lian, ini malah menyuruh

orang membedakan barang sebala. Benar-benar bibi Teng ini

brengsek orangnya

"Nanti aku akan suruh orang mengambilnya." sahut nyonya

rumah seraya menyuruh satu pelayan perempuan masuk ke

dalam.

Katanya untuk mengambil barang, tidak tahunya yang

muncul.........dua bidadari kembar keluar dari balik tirai dengan

tersenyum-senyum riang.

"Hianti, nah tuh dia, coba kau bedakan mana adalah enci

Lianmu ?" berkata nyonya Teng ketika melihat Lo In bengong

terlongo-longo di tempat duduknya.

Dua nona yang baru muncul itu wajahnya seperti pinang di

belah dua, pakaiannya sama, gerak geriknya sama, semua

sama, dari mana bisa dibedakan yang mana Eng Lian dan

yang mana Leng siong ?

Bukan hanya Lo In tapi juga Teng Hauw, Kim Wan Thauto

dan yang lain-lainnya duduk terpesona di atas kursinya

masing-masing menampak sepasang anak kembar itu muncul.

Cantik menggiurkan sepasang dara kembar itu, siapa pun tak

dapat membantahnya.

 

Dara kembar itu tidak menghampiri meja perjamuan, hanya

berpose tidak jauh dari Lo In duduk, tersenyum-senyum ke

arahnya.

Lo In kucek-kucek matanya sambil menggeleng-geleng

kepala.

"Bibi Teng, mana enci Lian, enci Leng siong ?"tanyanya

pada nyonya Teng.

"Kenapa jadi menanya padaku ?" sahut nyonya rumah

ketawa.

"Bibi Teng, jangan main-main. Lekas unjukkan yang mana

adalah enci Eng Lian."

"Anak In, kau jangan suruh bibi Teng yang unjuk Mana dia

tahu tahu yang mana Eng Lian atau Leng siong. Bukankah tadi

dia minta pertolonganmu untuk membedakannya ?"

Lo In ketawa nyengir, Ia sudah kepingin peluk enci Eng

Liannya untuk melepaskan rindunya kepada teman mainnya

itu, akan tetapi siapa diantara dua dara itu adalah enci Liannya

yang tepat ? lantaran ceroboh, bisa-bisa ia memeluk Leng

siong, bukankah itu akan menggelikan orang ? Bingung luga

Lo In.

Ketika nyonya rumah mendesak supaya Lo In lekas

menyebutkan yang mana adalah enci Eng Liannya, ia berkata,

"Baiklah, aku nanti pilih- Paling-paling juga aku nanti

kesalahan menyebut enci Leng siong adalah enci Eng Lian,

tidak apa toh "

"oo, tidak bisa begitu" kata Kim Wan Thauto

 

"Habis bagaimana ? Toako ini suka banyak urusan"

"Kalau anak In salah tebak, artinya anak In tidak sungguhsungguh

mengenangkan enci Lianmu. Maka Eng Lian juga

akan kembali menjadi Kim Coa siancu."

Lo In menjublek mendengar kata-katanya Kim Wan Thauto-

"Celaka tiga belas, memang seharusnya aku mengenali

enciku- Kalau gagal, enci Lian akan marahi aku." demikian

pikir si bocah- Sembari berpikir ia mengawasi dengan tajam ke

arah dua dara di depannya- Tapi meskipun matanya lihai

dapat melihat jauh, ia tak dapat menemukan tanda tai lalat di

atas alis kirinya Eng Lian.

Rupanya tanda itu sudah ditutupi oleh nyonya Teng ketika

dua dara itu di make-up-

Tapi Lo In adalah bocah cerdik luar biasa. Pantang

menyerah, kalau hanya kehilangan tanda tai lalat pada alis

kirinya Eng Lian, ia sudah lantas mencari akal lagi.

"Aku sekarang hendak menanya pada kedua enci, siapa

aku ini ?"tanya Lo In.

"Lo In, si bocah hitam " terdengar dua dara itu menyahut

berbareng.

Lo In kaget. Pikirnya,

" Celaka, dua dara ini menyebut aku si bocah hitam,

semestinya enci Lian tak akan menyebut demikian."

Bingung dia karena suaranya dua dara kembar itu sama,

tak dapat dibedakan.

 

Ia memandang ke arah sepasang dara itu, mereka

tersenyum sama, melirik sama, habis yang mana satu adanya

enci Lianku ? Tanya hati kecilnya.

"Dari mana aku asalnya ?" ia lalu menanya lagi.

"Dari lembah Tong-hong-gay." sahut sepasang dara

berbareng.

"siapa orang yang sayang padaku selama diatas Tonghong-

gay ?"

"Liok sinshe-"

"Di mana sekarang adanya Liok sinshe ?"

sepasang dara itu saling pandang sejenak, tapi lantas

menyahut,

"Belum diketemukan."

Tadinya Lo In sudah kegirangan, pertanyaannya paling

belakang tak dapat dijawab oleh salah satu diantaranya, tapi

mengapa jawabannya jitu benar dua-duanya ? Lo In berpikir

sebentar- Pusing ia, buntu jalan.

"Sudahlah enci Lian, jangan godai adikmu."

"yang mana enci Lianmu ?"

"Tunggu, tunggu aku akan unjukan." kata Lo In seraya

bangkit dengan tergesa-gesa dari duduknya hingga lengannya

kebentur sana sini. Baru ia bertindak dua langkah

menghampiri si dara kembar tiba-tiba ia berjengit-

"Aduh, sakit lengan ku bekas digigit- Aduh, aduh "

 

Lo In berteriak mengaduh sambil pelangi lengan yang

bekas digigit Kim Coa siancu hingga Kim Wan Thauto dan

lain-lainnya jadi kaget- sebelum mereka memberikan

pertolongan, dua dara kembar sudah ada di dekat Lo In pada

memegangi lengan Lo In.

Dara yang dikiri yang memegangi lengan kirinya yang tidak

terluka berkata,

"Adik kecil, kau kenapa ?"

Dara yang memegangi lengan kanannya yang terluka

berkata,

"Adik In, kau kenapa ?"

Tiba-tiba saja Lo In tertawa terbahak-bahak hinga dua dara

kembar itu menjadi terperanjat.

"Apa yang kau ketawakan, adik kecil ?" tanya dara yang di

sebelah kiri

"Apa yang kau ketawakan, adik In ?" tanya dara yang

disebelah kanan.

Pertanyaan sepasang dara jelita itu, bukannya dijawab oleh

Lo In, ia malah tertawa makin keras dan terpingkal-pingkal,

semua orang heran kenapa Lo In tertawa demikian enaknya.

setelah Lo In berhenti ketawa, entah bagaimana si bocah

bergerak, tahu-tahu dara yang disebelah kanannya sudah

jatuh dalam pelukannya.

"Adik In, adik In, kau jangan gila-gilaan begini " si dara

meronta-ronta.

 

"Hahaha, inilah enci Eng Lianku " berkata Lo In dengan

suara gembira.

Eng Lian yang sudah ketahuan siapa dirinya, kontan ia

mencubit Lo In.

"Anak nakal, kau belum mau lepaskan encimu ?"ia

membentak si bocahsambil

tertawa berkakakan Lo In lepaskan pelukannya dan

kembali ke tempat duduknya-semua orang kebingungan,

apakah benar yang dipeluk Lo In tadi adalah nona Eng Lian.

Mereka hampir berbareng melirik pada nyonya Teng yang

tampak anggukan kepalanya sambil tersenyum.

" Lihai, lihai " kata Kie Giok Tong sambil tunjukkan

jempolnya.

Eng Lian dan Leng siong sementara itu sudah turut duduk

menghadapi meja perjamuan seraya ketawa riang.

"Bagaimana kau bisa membedakan enci Lianmu, anak In ?"

tanya Kim Wan Thauto, penasaran ia sebab sepasang dara itu

sukar dibedakan.

"sebenarnya dia sulit juga, beberapa pertanyaanku dijawab

betul semuanya, malah suaranya enci Eng Lian dan Leng

siong tidak ada bedanya. Barusan aku mengaduh hanya purapura

saja, mau lihat reaksi dari mereka terhadapku. Dua-dua

perhatiannya sama mesranya, cuma mereka lupa satu hal

yang membuka rahasia. Hahaha " Demikian Lo In

menerangkan, hingga Eng Lian dan Leng siong penasaran.

Hampir berbareng mereka menanya,

 

"Apakah yang membuka rahasia ?"

"Panggilan padaku. Hahaha " Enci Leng siong panggil 'adik

kecil', sedang enci Eng Lian 'adik In' yang sudah meresap

dalam telingaku-"

Leng siong ketawa ngikik.

Eng Lian deliki matanya yang bagus ke arah si nakal- Kalau

tidak banyak orang mungkin Kim Coa siancu yang sekarang

kembali pada Eng Lian akan mencubit Lo In-

Leng siong nampak Lo In dan Eng Lian beradu pandangan

mesra rada-rada tergetar hatinya- Tapi la yang wataknya

halus, kejadian itu hanya sejenak saja menggetarkan, lantas

sudah hilang tanpa bekassemua

orang kagum akan kecerdikan si bocah hitam.

Perjamuan makan sementara itu sudah dimulai-

Kiranya perjamuan makan itu diadakan oleh tuan dan

nyonya rumah untuk kehormatan d memberi selamat kepada

Lo In dan Eng Lian, sudah berpisah dua tahun lamanya,

sekarang dapat berkumpul kembali-Lo In dan Eng Lian diamdiam

merasa girang atas kebaikannya keluarga Teng.

si bocah kelihatan makan banyak, rupanya hatinya sangat

gembira menemukan kembali teman mainnya yang sangat

dirindukannya, sering-sering mereka beradu pandang disusul

oleh senyuman masing-masing yang sudah dikenalnya.

"Nona Lian." tiba-tiba Kim Wan Thauto berkata,

"Hari ini adalah hari baik- sungguh aku dan saudarasaudara

yang lainnya turut merasa girang bahwa kau dengan

 

anak In sudah dapat berkumpul kembali. Dalam kesempatan

yang sebaik ini, bagaimana kalau kau mendongeng halmu

sampai menjadi Kim Coa siancu."

Eng Lian ketawa manis mendengar permintaannya n Kim

Wan Thautosi

nona ada satu dara yang luwes dan tidak pemalu, tidak

keberatan ia menceritakan hal dirinya di depan hadirin yang

baru dikenalnya-

Ia mulai ketika ia diculik dari lembah oleh Ang Hoa Lobo

dan siauw Cu Leng. si Nenek Kembang Merah dan si Iblis Alis

Buntung siauw Cu Leng memperlakukan dirinya baik-baik

saja, malah kelihatan mereka sangat sayang, Ia tidak

keberatan si Nenek Kembang Merah minta belajar cara

menakluki ular, ketika padanya dijanjikan akan dikembalikan

pula ke lembah dan bertemu dengan adik In-nya. Tidak

tahunya ia kena dikibuli, malah ia dicekoki obat 'Cian-jit-su-suhun'

yang membikin ia lupa ingatan yang sudah-sudah- Ia lupa

kepada Lo In, Kim-tiauw kawanan kera teman mainnya, hanya

yang diingat bahwa ia adalah muridnya Ang Hoa Lobo kepada

siapa ia harus mentaati segala perintahnya.

Ang Hoa Lobo dan siauw Cu Leng besar ambekannya dan

hendak mendirikan Ang Hoa PI mereka sudah culik-culiki

banyak gadis dan pemuda untuk dijadikan prajuritnya.

Ia mendapat didikan langsung dari Ang Hoa Lobo hingga ia

pandai ilmu silat, malah ketika Lamhay Mo Lie yang menjadi

sucouw-nya datang ke Coa Kok- Hantu Wanita dari Lamhay itu

sangat sayang pada dirinya dan memberi banyak petunjukpetunjuk

yang berharga soal ilmu silat dan Iwekang sehingga

kepandaiannya meningkat, baik dalam hal Iwekang maupun

mengenakan ilmu silatnya sendiri, sucouw Lamhay Mo Lie ada

sangat lihai, belum menemukan tandingan menurut katanya

Ang Hoa Lobo.

Selama obat 'Cian-jit-su-su-hun' (obat bubuk memtikan

ingatan seribu hari) masih bekerja, tegasnya belum

dipunahkan (dikasih obat penawarnya) ada tiga pantangan

menyentuh tubuh si korban obat mujizat itu, yaitu tidak boleh

disentuh bagian jidat, tetek dan perutnya. Kalau orang

menyentuh salah satu bagian ini, orang yang menyentuhnya

digigit kontan oleh si korban dan yang kena digigit dalam

tempo pendek akan berubah pikirannya, tidak ingat lagi

kejadian-kejadian yang sudah lalu, hanya yang diingatnya taat

kepada perintah siancu.

"sungguh mengerikan" kata Kie Giok Tong.

"Tapi kenapa gigitanmu pada anak In tidak membikin anak

In berubah ingatannya ?" tanya Kim Wan Thauto yang merasa

heran atas keterangan Eng Lian.

"Aku juga heran." sahut si nona.

"Bukan saja adik In tidak apa-apa, malah aku bisa jatuh

pingsan dan ingatanku kembali seperti asal."

Lo In pun merasa heran. Menurut penuturan Eng Lian,

semestinya ia jatuh dibawah pengaruhnya Eng Lian (Kim Coa

siancu pada saat itu), tapi kenapa tidak apa-apa ?

Dalam ingatannya yang cerdik, Lo In ingat sesuatu, maka ia

lantas berkata,

"Enci Lian, mungkin nyali Toksgan sian-cu yang menolak

racun 'Cian-jit-su-su-hun' hingga aku tidak apa-apa."

 

"Adik In, kau bicara ada alasannya." sahut si nona ketawa.

"Tapi...." "Tapi apa ?" tanya Lo In cepat-

"Tapi bagaimana ingatanku bisa kembali ?" sahut Eng Lian.

"Itu mudah saja ditebak-" kta Lo In.

"Bagaimana pendapatmu, adik In ?" tanya si nona.

"Ketika enci menggigit daging lenganku sampai nyoplok

dan borboran darah, sedikit banyak enci ada menelan juga

darah dari daging gigitan. Darah inilah yang merupakan obat

penawar untuk melenyapkan pengaruhnya 'Cian-jit-su-su-hun'.

coba masuk diakal tidak ?"

"Benar, benar, adik In." kata Eng Lian seraya menepak

meja hingga mangkok piring sayur yang diatas meja pada

berdansa. Malah ada mangkok sayur yang tumpah dan

muncrat mengenakan baju Tan Kim dan song cie Liang. —

Mereka cepat bangkit dari duduknya dan menggiberikberikan

bajunya sedang matanya melotot kepada Eng Lian.

"Menyebalkan kelakuan gadis liar ini." piketnya dalam hati,

akan tetapi mereka tidak berani mengatakan terang-terangan,

masih memandang kepada Lo In dan Kim Wan Thauto-

"Maaf, maaf, barusan aku kelupaan." kata Eng Lian atas

kelakuannya yang tidak disengaja tadi. Ia tidak gubris

pelototan matanya Tan Him dan song cie Liang.

Lo In ketawa nyengir. Tapi diam-diam ia merasa sedikit

tidak enak enci Liannya mengumbar keberandalannya di

depan banyak orang tua. Meskipun begitu, ia tidak berani

 

menegur enci Liannya, yang bisa menghilangkan kegembiraan

mereka yang telah berkumpul kembali, Ia berkata,

"Para paman, harap memaafkan atas kelakuan enciku yang

tidak disengaja."

"oh, urusan kecil, urusan kecil." kata Kie Giok Tong,

mendahului tuan rumah bicara.

"Masa buat urusan begitu kecil kami orang menaruh hati ?

Hahaha "

Kie Giok Tong pandai bergaul danjuga bisa melihat gelagat,

Ia sembunyikan kedongkolannya di balik wajahnya yang

ramah tamah-

Bwee Hiang ia sudah kenal kegagahannya, tapi si Dewi ular

Emas ini ada gadis liar. Entahlah berapa tinggik

kepandaiannya. Demikian Kie Giok Tong diam-diam terpikir

dalam hatinya.

Kim Wan Thauto pun tampak kurang senang melihat

kelakuan Eng Lian yang kasar.

Teng Hauw dan nyonya hanya geleng-geleng kepala,

sebaliknya Leng siong sudah ketawa cekikikan melihat Tan

Kim dan song Cie Liang kepanasan kena kesiram sayur.

setelah makanan yang tumpah diganti, perjamuan dilanjutkan

dengan kurang gembira.

Eng Lian tidak perdulikan orang punya pandangan terhadap

dirinya, ia makan seenaknya saja ditemani oleh Leng siong.

 

"Adik In, kau tidak mau temani encimu makan ?" tegur Eng

Lian ketika melihat Lo In diam saja menonton mereka makan

dengan gembira-

Lo In ketawa nyengir, Ia juga lantas hantam makanan tanpa

sungkan-sungkan untuk membikin Eng Lian senang hatinya.

Tapi diam-diam Lo In sedang kerjakan otaknya mencari akal

supaya Kim Wan Thauto dan Lima Harimau pun menghargai

Eng Lian seperti juga mereka menghormati Bwee Hiang.

Belum sempat Lo In memecahkan persoalan, tiba-tiba ia

dibikin terperanjat oleh kejadian yang tidak terduga-duga sama

sekali.

Lo In melihat Eng Lian menyumpit mie dari mang kok besar,

ditaruh dalam mangkok makannya, Ia tidak lantas makan mie

dalam mang koknya itu, sebaliknya ia bakal main dikutik sana

dikutik sini. Lo In heran, apa maknanya enci Eng Lian main

dengan mie itu.

Ketika ia hendak membuka mulut menanya, sekonyongkonyong

ia lihat ada dua potong mie sekira panjang dua cun

(dim) masing-masing dipisahkan oleh sumpitnya Eng Lian.

"Hahah, enci Lian kau lagi bikin apa-apaan itu ?" tanya Lo

In.

Berbareng dengan pertanyaan Lo In, dua potong mie tadi

dikutik, sumpit mencelat dari mang koknya, seketika itu

terdengar teriakan mengaduh dari Tan Him dan song cie

Liang, tubuhnya berbareng terkulai dari duduknya dan roboh

dilantai.

Kaget bukan main Lo In nampak kejadian itu, Eng Lian

telah unjuk kenakalannya. Cepat ia memburu pada Tan Him

 

dan song cie Liang yang sedang dirubung oleh Kim Wan

Thauto, Kie Giok Tong dan lain-lainnya. Keadaan Tan Him dan

song cie Liang tidak berkutik, seperti kena ditotok-

Kim Wan Thauto heran, bagaimana dua orang itu roboh

dengan tiba-tiba saja. Pasti mereka sudah diserang dengan

senjata gelap-

Tapi siapa penyerangnya ? Di situ ada Lo In, jago cilik yang

lihai, siapa berani main gila dengan sesukanya ?

Tiada seorang yang tahu kecuali Lo In bahwa perbuatan itu

adalah perbuatan Eng Lian yang main-main, malah Leng siong

yang duduk di dekatnya Eng Lian pun, tidak engah kalau Kim

Coa siancu sudah unjuk kepandaiannya yang istimewa.

Keadaan menjadi tegang. Hanya Lo In yang diam-diam

ketawa melirik pada Eng Lian, siapa telah menyambut dengan

senyuman puas. Malah Eng Lian telah mencekikik dengan

tiba-tiba hingga Leng siong di sebelahnya menjadi heran.

Kim Wan Thauto coba membebaskan Tan Kim dan song

cie Liang dari totokan tapi sia-sia saja. Malah korban itu

meringis-ringis kesakitan ketika jalan darah membebaskan

diurut-urut oleh Kim Wan Thauto- si Thauto menjadi gelisah-

"Anak In, ini bagaimana ?" Kim Wan Thauto menanya pada

si bocah ketika melihat Lo In sudah ada di dekatnya-

" orang jahat sudah datang mengacau " kata Kie Giok Tong

ketakutan.

semua orang sudah merubung-rubung song cie Liang dan

Tan Him, kecuali Eng Lian dan Leng siong tinggal enakenakan

meneruskan makannya.

 

Nyonya Teng pucat pasi wajahnya mendengar Kie Giok

Tong mengatakan ada orang jahat datang mengacau.

" Hiantit, bagaimana ini ?" ia menanya pada Lo In.

semua perhatian ditumplek pada Lo In sebab mereka tahu

hanya si boacah wajah hitam yang sakti itu yang dapat

menyelamatkan mereka.

"Anak In, kenapa kau diam saja ? Lekas tolong paman Tan

dan song " kata Kim Wan Thauto yang putus asa tak dapat

membebaskan totokan orang.

"ya, siaohiap, tolonglah " Kie Giok Tong kata dengan wajah

memohon.

"orang jahat sih tidak ada." kata Lo In.

"Mungkin kedua paman ini menerbitkan perasaan tidak

senang pada orang pandai hingga mereka dikasih rasa."

Kim Wan Thauto dan Kie cHiok Tong heran mendengar

kata-kata Lo In.

"Anak In, siapa orang pandai itu ?" tanya Kim Wan Thauto-

"Coba aku periksa apanya yang kena ditotok-" sahut Lo In

seraya jongkok memeriksa, Ia tidak menjawab langsung atas

pertanyaan sang toako.

Lo In pura-pura memeriksa bagian mana yang ditotok

'orang pandai', ketika ia memeriksa wajah Tan Him, persis

pada jidatnya ada menempel sepotong mie yang panjang dua

cun tengah melingkar seperti ular, melekat bagaikan masuk ke

dalam kulit. Lalu diperiksanya pula keadaan song cie Liang,

 

kiranya ia senasib dengan Tan Him pada jidatnya menempel

mie yang melingkar macam ular.

Kie Giok Tong sangat heran, akan tetapi Kim Wan Thauto

sebaliknya telah mengerutkan keningnya, Ia berkata,

"Anak In, lekas bebaskan mereka dari totokan"

"Toako, jangan marah, aku tidak bisa membebaskannya."

sahut Lo In.

" Habis, habis bagaimana ini ?" kata Kie Giok Tong

kebingungan, pikirnya, Lo In sendiri tak dapat membebaskan

totokan pada dua saudaranya, siapa lagi yang dapat diharap ?

Apa ada yang lebih tinggi kepandaiannya dari si bocah ?

"Jangan cemas." menghibur Lo In.

"Ada orangnya yang dapat membebaskan.

"siapa, siapa ?" Kie Giok Tong memotong dengan

bernapsu.

"Tapi dengan satu syarat." Lo In masih pelit untuk

menunjukkan orang itu.

"Syarat apa Lo In Hiantit maksudkan ?" tanya Kie Giok

Tong.

"Kalau kedua paman sudah dibebaskan, aku harap urusan

tidak ditarik panjang. Bikin habis sampai disini- Titik" Lo In

majukan syaratnya.

Kie Giok Tong heran mendengar perkataan Lo In.

"Kenapa pakai ada syarat begitu segala ?" ia menanya.

 

"Itu untuk kebaikan kedua pihak-" sahut Lo In tenangtenang

saja-

Kie Giok Tong melirik pada Kim Wan Thauto yang lantas

anggukkan kepalanya sedikit.

"Baiklah-" kata Kie Giok Tong kemudian.

" orang pandai itu boleh dipanggil"

"orang itu ada disini-" sahut Lo In seraya melirik pada meja

perjamuan, dimana Eng Lian dan Leng siong sedang asyik

makan-makan seakan-akan mereka tidak menghiraukan

kepada kejadian yang mengejutkan itu.

Melihat gerakan Lo In, baru Kim Wan Thauto sadar siapa

yang main-main di depannya. sebagai jago kawakan, tidak

senang ia orang main-main diluar tahunya- sebab itu satu

penghinaan. Maka menuruti hatinya yang panas, seketika itu

ia bangkit dari jongkoknya, kepalanya la lalu digelengkan, tibatiba

sepasang anting-anting emasnya melesat saling susul ke

arah Eng Lian yang sedang ulur tangan untuk menyumpit

daging ayam.

"Toako, kau berbuat apa ?" kata Lo In kaget ketika melihat

sepasang anting-anting emas, senjata ampuhnya Kim Wan

Thauto melesat ke arahnya Eng Lian.

Lo In tidak keburu mencegah, sebab perbuatan Kim Wan

Thauto itu ada diluar perhitungannya.

" Celaka, enci Lian " dalam hatinya mengeluh.

Tapi kekagetan Lo In hanya sejenak sebab di lain detik

kelihatan ia kegirangan dan bertepuk tangan, sebaliknya Kim

 

Wan Thauto berdiri termangu-mangu memandang ke arah Eng

Lian yang berkata kepada Leng siong,

"Adik siong, aku mau sumpit daging ayam, kenapa jadi

kesalahan menyumpit ini ?" seraya unjukkan sepasang antinganting

emas Kim Wan Thauto yang terjepit pada sepasang

sumpit makannya si nona.

Leng siong terheran-heran sebab ia tidak tahu apa yang

sudah terjadi.

Kim Wan Thauto berdiri menjublek lantaran menyaksikan

kepandaian Eng Lian diluar dugaannya sama sekali. Boleh

dikatakan ia menyerang Eng Lian separuh membokong karena

si nona pada saat itu tengah menyumpit daging ayam. Eng

Lian tarik pulang sumpitnya ketika mengetahui ada senjata

rahasia menyerang dirinya. Dengan hanya acungkan

sumpitnya, sepasang anting-anting emasnya Kim Wan Thauto

pada nempel terjepit, bagaikan anting-anting besi karatan

yang nempel pada besi berani.

sungguh menakjubkan kepandaiannya Kim Coa siancu dan

toh ia tidak menegur kepada yang melepaskan senjata

gelapnya, malah ia memperlihatkan hasilnya kepada Leng

siong dengan mengatakan bahwa ia kesalahan mau

menyumpit daging ayam kena mencomot anting-anting orang.

Bukan main malunya Kim Wan Thauto tapi Lo In sudah datang

menghibur, katanya,

"Toako, kita adalah orang sendiri tidak usah malu. Enci Lian

dapat menangkis serangang toako tentu saja mudah lantaran

toako tidak dengan sungguh-sungguh ikutkan Iwekang toako

yang dahsyat. Coba kalau toako menyerang dengan betulbetul,

mana dapat enci Lian memusnahkan serangan toako ?"

 

Kim Wan Thauto tertawa terbahak-bahak-

"Aku menyerah, aku menyerah-" katanya kemudian seraya

jalan menghampiri Eng Lian.

"Enci Lian, itu Taysu datang. Mungkin dia hendak menagih

anting-antingnya." berkata Leng siong seraya tangannyaa

menowel Eng Lian.

"Biarkan dia datang." sahut Eng Lian.

"Kalau dia tidak minta maaf, siapa mau pulangi antinganting

emasnya. Boleh juga kita bagi seorang satu sebagai

tanda peringatan, bukan ? Hihihi—."

"Nona Lian," Kim Wan Thauto menyetop ketawanya Eng

Lian.

"Aku si Thauto tidak tahu diri dan mohon maaf atas

kelakuanku barusan. Kepandaian nona Lian yang

menakjubkan, aku si Thauto mengaku kalah- Tolong nona

kembalikan anting-anting rongsokanku untuk menghias

telingaku yang kedinginan ditinggalkan penghuninya-"

"Hihi— hihi—" Eng Lian ketawa cekikikan, malah terpingkalpingkal

ia ketawa mendengar kata-katanya Kim Wan Thauto

yang lucu, malah Leng siong juga ikut-ikutan ketawa-

Kim Wan Thauto ada satu pendeta kesatria, tidak merasa

malu ia mengaku kalah di hadapan lawan, seperti tempo hari

dipecundangi Lo In. Ia tidak gusar melihat Eng Lian ketawa

terpingkal-pingkal sebab memang ada menjadi maksudnya

untuk bikin si nona nakal ketawa enak dengan kata-katanya

yang lucu tadi

 

setelah berhenti ketawa, Eng Lian berkata,

"Taysu, ini aku kembalikan. Lain kali jangan main-main

begitu. Kalau dengan tidak cara kebetulan aku dapat

menyambuti senjata anting-anting Taysu yang ampuh,

barusan aku bisa celaka, syukur Taysu hanya main-main saja

menyerangnya." Eng Lian berkata sambil menyerahkan

kembali anting-anting si Thauto, sedang air mukanya sedikit

pun tidak mengunjuk rasa tidak senang, malah tersenyum

manis ke arahnya Kim Wan Thauto-

Si pendeta rambut panjang menerima kembali barangnya

dengan menghaturkan terima kasih tapi diam-diam ia merasa

gegetun akan kata-katanya Eng Lian yang menutupi

ketidakbecusannya (Kim Wan Thauto). Ia tidak menyangka

bahwa dibalik tingkah laku yang berandalan, Eng Lian ada

gadis cilik yang simpatik. Dalam ucap katanya seakan-akan

menghibur orang punya rasa cemas dan malu. Wataknya

sama dengan Lo In. ternyata si bocah begitu akur dengan enci

Liannya. Demikian Kim Wan Thauto berkata-kata dalam hati

kecilnya selama berhadapan dengan Eng Lian.

Lo In di lain pihak sangat senang hatinya karena enci

Liannya tidak mengecewakan baik dalam kepandaiannya yang

istimewa maupun dalam ucap katanya kepada orang yang

dipecundangi olehnya.

"Enci Lian, kaujangan enak-enakan duduk. Ada kerjaan

yang meminta bantuanmu " kata Lo In tiba-tiba.

"Adik In, kau kejam menegur encimu selagi makan." sahut

Eng Lian mesem. Lo In ketawa nyengir.

"Bukannya kejam. Enci Lian, hayo tolongi orang "

 

"Kau sendiri dapat menolongnya, kenapa mesti minta

bantuanku ?" Lo In kerutkan keningnya.

"Baiklah, siapa yang kuharus tolong ?" kata Eng Uan

ketawa melihat adik In- ny a seperti mendongkol.

"Enci Lian berlagak pilon lagi-" kata Lo In nyengir seraya

menunjuk Tan Him dan song Cie Liang yang masih rebah di

lantai dirubung oleh saudara-saudaranya

Eng Lian bangkit dari duduknya lalujalan menghampiri dua

korban totokannya. Ia berkata ada Kie Giok Tong,

"Lopek, bicara terus terang, kalau aku masih jadi siancu,

kedua paman ini jangan harap sekarang masih bisa

bernapas."

"Nona Lian, kenapa kau begitu marah kepada mereka ?"

tanya Kie Giok Tong.

"Lantaran aku tidak sengaja menggebrak meja." sahut si

nona.

"sayur menyiram bajunya mereka. Rupanya mereka tidak

senang terus-terusan, matanya selalu melotot kalau berpaling

ke arahku, siapa tidak jadi dongkol ? Aku toh sudah memohon

maaf, bukan ? Dengan sedikit kepandaian, aku bikin mereka

tahu rasa "

Kie Giok Tong sekarang baru tahu duduknya urusan, si

nona tidak terlalu disalahkan dalam tindakannya, karena

saking gemasnya ia dipelototi terus menerus, Ia sesalkan

perbuatan dua saudaranya.,

 

"Nona Lian, biarlah aku lebih dulu minta maaf atas

kekasaran saudara-saudaraku. Kapan mereka sudah bebas

dari totokan akan kusuruh mereka minta maaf pada nona.

sekarang, tolonglah nona bebaskan mereka dari totokan."

Belum habis Kie Giok Tong berkata, Tan Him dan song cie

Lian sudah mendapat kebebasannya. Tampak Eng Lian hanya

mengetuk jidatnya masing-masing, mie yang menempel

dijidatpada copot melompat dan dua saudara dari suyangtin

Ngo-houw kontan bebas dari totokan. Rupanya mie yang

nempel tadi merupakan kunci dari totokan Eng Lian karena

ketika si nona ketuk jidatnya orang dan mie copot dari

melekatnya, lantas saja Tan Him dan song cie Liang dapat

kembali kemerdekaannya.

Lo In bukannya tidak bisa membebaskan totokan Eng Lian

meskipun dengan lain caranya. Ia sengaja mengaku tidak bisa

karena ia ingin orang minta pertolongannya Eng Lian, supaya

Eng Lian mendapat nama dan dihormati seperti Bwee Hiang.

sebelumnya ia telah majukan syarat, maksudnya supaya

Lima Harimau dari suyangtin tidak mendendam kepada enci

Liannya. Ia tidak mengira kalau Kim Wan Thautojuga mau

coba-coba kepandaiannya Eng Lian. Syukur enci Liannya

menyimpan kepandaian hebat hingga kembali menggirangkan

hatinya si bocah melihat Kim Wan Thauto dapat ditakluki oleh

Eng Lian.

Melihat dua saudaranya sudah merdeka kembali, Kie Giok

Tong dengan cepat menyuruh mereka minta maaf kepada Eng

Lian. Tan Him dan song cie Liang tidak sampai disuruh untuk

kedua kalinya, mereka sudah lantas melakukan apa yang

diingin oleh toakonya.

 

" Kedua saudara masih belum kenal dengan watakku yang

setengah liar." kata Eng Lian merendah-

"Tidak heran kalau dengan secara tak disadari sudah

Jengkel kepadaku. Tapi satu dua kali paman-paman sudah

tahu watak aku Eng Lian, pasti akan memaafkan dan

menyayangku."

Tan Him dan song cie Hiang kagum akan kata-kata si nona

yang mengandung banyak arti. Mereka pun lantas menghapus

rasa dendamnya pada Eng Lian. sambil omong-omong dan

ketawa-ketawa gembira, orang-orang sudah pada duduk pula

mengitari meja perjamuan dimana mereka meneruskan makan

minumnya dengan gembira.

Eng Lian dan Leng siong yang sudah makan kenyang, tidak

turut makan-makan lagi, hanya mereka menonton saja orang

yang sedang makan.

"Anak Lian dan siong, kenapa kalian tidak makan ?" tanya

nyonya Teng ketika melihat dua dara itu hanya asyik

kongkouw saja.

"Aku sudah kenyang, ibu." sahut Leng siong. Kemudian ia

kutik tangannya Eng Lian dan berkata,

"Mari kita ke Giok Lie Teng. Di sana kita bisa omong-omong

dengan leluasa, tidak campur dengan orang tua-tua."

"Adik siong ini pikirannya sehat. Mari" sahut Eng Lian. Ia

pun sudah lantas bangkir dari duduknya, permisi pada para

hadirin untuk mengundurkan diri-

Kim Wan Thauto dengan Lima Harimau termasuk nyonya

Teng tidak keberatan mereka meninggalkan perjamuan,

 

kecuali Lo In yang matanya tak kedip-kedip mengikuti

berlalunya Eng Lian dan Leng siong.

Lo In masih sempat melihat Eng Lian melemparkan

senyuman ke arahnya, ketika lenyap dibalik pintu. si bocah

hatinya tidak tenang, Ia kepingin menyusul dua dara itu tapi

perasaan malu menahan dirinya. Apalagi perjamuan itu

diadakan spesial untuk kehormatan ia dan Eng Lian, maka

kalau ia juga meninggalkannya tidak baik sikapnya terhadap

tuan rumah dan lain-lainnya. Terpaksa si bocah menjublek di

kursinya.

sebenarnya ia paling tidak senang kalau kongkouw dengan

para orang tua, tapi pada waktu itu ia kepaksa melayaninya.

"Anak In, sekarang kau sudah berkumpul pula dengan enci

Eng Lian-mu, tapi bagaimana dengan enci Bwee Hiang-mu ?"

tiba-tiba Kim Wan Thauto menimbulkan soal Bwee Hiang.

Lo In terkejut mendengar disebutnya Bwee Hiang. Ia seperti

yang baru tersadar dari tidurnya, seperti diketahui, wataknya

Lo In ada aneh- Dalam sesuatu hal ia anggap remeh, tidak

suka memikirkan dengan serius kecuali terhadap Liok sinshe,

orang yang ia sangat puja-puja. Meskipun demikian, dengan

ditimbulkannya soal Bwee Hiang, mau tidak mau ia harus

memikirkannya juga.

"Toako, bagaimana pendapatmu soal enci Hiang ?"ia malah

balik menanya pada Kim Wan Thauto-

"sampai sekarang belumjuga dia kembali, kemana saja dia

perginya ?"

"Bwee Hiang pergi dari rumahnya, gara-gara kau yang ajak-

" kata Kim Wan Thauto, seperti menyesalkan pada si bocah.

 

"Sekarang dia menghilang, kau tinggal enak-enakan saja

lantaran sudah ada enci Lian. Mana dapat begitu, anak In "

(Bersambung)

Jilid 11

Lo In tidak menjawab, ia hanya duduk dengan termenungmenung,

Ia pun bingung, kemana ia harus mencari enci

Hiangnya.

"Begini saja." kata Lo In kemudian.

"Kalau dalam dua tiga hari ini belum juga enci Hiang

pulang, kita bersama-sama mencarinya. Bagaimana toako

pikir?"

Kim Wan Thauto diam saja, tidak meniawab.

Mendengar kata-katanya si bocah, Kim Wan Thauto

menduga Lo In malas mencarinya lantaran berat untuk

meninggalkan Eng Lian.

"Lo Hiantit." kata nyonya Teng campur bicara.

"Perkataan Taysu adalah perkataan seorang tua yang

menyayangi pada anak-anaknya, harus Hiantit perhatikan.

Tidak ada jeleknya diwaktu senggang selama Hiantit ada disini

pergi mencari nona Hiang. Aku pun sangat kuatir, kalau-kalau

nona Hiang mendapat halangan."

Juga Kie Giok Tong menimbrung menasehati Lo In

sehingga si bocah tak dapat alasan untuk dalam, dua tiga hari

ia menanti di Suyangtin tinggal enak-enakan saja dengan Eng

Lian. Pikirnya, ia akan berdamai dengan enci Liannya,

bagaimana baiknya soal Bwee Hiang yang hilang itu.

 

Sementara itu, perjamuan pun sudah selesai.

Lo In permisi pada nyonya Teng untuk pergi menemui enci

Liannya.

Nyonya Teng tersenyum, katanya,

"Pergilah, jangan sungkan-sungkan disini- Anggap saja

seperti rumah sendiri"

sambil ngeloyor masuk ke dalam, hatinya Lo In merasa

senang atas kebaikannya nyonya rumah- sementara Kim Wan

Thauto tinggal duduk bertigaan dengan ruan (Teng Hauw) dan

nyonya rumah sebab Kie Giok Tong dan saudara-saudaranya

sudah pada pulang ke masing-masing rumahnya dengan

urusannya sendiri-sendiri

"Anak In sebenarnya adalah satu anak baik, kepandaiannya

susah diukur, cuma wataknya aneh. Kalau ada yang baru suka

melupakan yang lama, inilah cacatnya. Aku kuatir dengan

berkumpulnya kembali ia dengan Eng Lian, ia akan melupakan

Bwee Hiang."

Kim Wan Thauto menyatakan kuatirnya kepada tuan dan

nyonya rumah-

Teng Hauw tidak bisa bicara, isterinya yang mewakili,

katanya,

"Taysu, kau benar. Tapi, aku nanti coba turut campur dalam

urusan ini dan akan membujuknya langsung atau melalui Eng

Lian dan Leng siong. Aku percaya Lo Hiantit akan ingat pada

nona Hiang yang belum pulang sampai sekarang."

"Bagus." kata Kim Wan Thauto

 

"Inilah yang aku harap. Kalau Hujin mau turun tangan,

rasanya urusan dapat berjalan lancar. Aku mengharap sekali

bantuan Hujin- Di samping anak In, aku juga tidak tinggal

diam- Akan kucari Bwee Hiang sampai ketemu- Kasihan anak

itu sudah piatu, meskipun ada mempunyai kekayaan yang

berlimpah-limpah yang untuknya ada lebih baik tinggal di

rumah daripada merantau dalam dunia Kangouw yang banyak

berbahanya."

Teng Hauw dan isterinya kaget mendengar Kim Wan

Thauto mengatakan kekayaan Bwee Hiang berlimpah-limpah.

Nyonya Teng lalu menanya,

"Nona Hiang itu anaknya siapa, Taysu ?"

"Dia adalah anaknya Liu In Ciang, seorang hartawan

terkenal di Kunhiang-" sahut Kim Wan Thauto- Kemudian ia

cerita dengan ringkas halnya Liu Wangwee dan puterinya

Bwee Hiang- Tentang permusuhan dengan sucoan sam-sat

sehingga Liu Wangwee serumah tangga dibasmi oleh tiga

algojo dari sucoan.

"Perginya nona Hiang dari rumah tentu akan mencari

musuh-musuhnya." kata nyonya Teng yang sangat tertarik

dengan riwayat Liu Wangwee dan hatinya merasa kasihan

kepada Bwee Hiang yang sudah piatu.

"Aku kira demikian maksudnya-" jawab Kim Wan Thauto-

"Anak itu mengandalkan Lo In untuk menuntut balas- Aku

kuatir ia gagal dengan niatannya, bila melihat anak In adatnya

angin- anginan."

Nyonya Teng tersenyum.

 

"Taysu," katanya.

"Kita jangan bicara demikian dahulu, siapa tahu Lo In sudah

menyanggupi. Kalau tidak, tentu nona Hiang juga tidak berani

keluar rumah mencari musuh-musuhnya yang ganas itu-

Juga......."

"Juga apa, Hujin ?" potong Kim Wan Thauto.

"Juga, sekarang ada tambahan tenaga dari Eng Lian."

sahut nyonya Teng- "Empat orang termasuk Taysu, rasanya

bukan main kuatnya untuk menghadapi Sucoan sam-sat yang

kesohor buas itu. Malah disini aku sekeluarga pun akan

mendoakan akan berhasilnya kalian menumpas kejahatan "

Kim Wan Thauto ketawa mendengar perkataan nyonya

rumah-

Dengan alasan hendak jalan-jalan mencari keterangan

halnya Bwee Hiang disekitar suyangtin, Kim Wan Thauto

mengundurkan diri dari Teng Hauw suami isteri-

Kim Wan Thauto kesal hatinya, memikirkan Bwee Hiang. Ia

kuatirsi gadis mendapat halangan yang sukar diatasi karena

Bwee Hiang sebagai gadis hartawan baru saja menginjakkan

kakinya dalam dunia Kangouw yang banyak bahayanya.

si Thauto pikir, meskipun Bwee Hiang ada berkepandaian

tinggi, ia hanya satu wanita tanpa pengawal. Romannya yang

cantik, lebih banyak mengundang bahaya daripada

keselamatan. Bagaimana ia dapat membela dirinya ? orang

licik dan jahat terlalu banyak dalam kalangan Kangouw, inilah

yang sangat menguatirkan hatinya si Thauto-Diam-diam Kim

Wan Thauto berdoa supaya Tuhan melindungi si gadis

 

Ia jalan tanpa disadari kemana kakinya membawa dirinya,

tahu-tahu ia sudah duduk bercokol dalam sebuah warung

arak- sebagai pendeta, ia tidak pantang minum arak- Maka ia

minta pelayan supaya menyediakan arak baik untuknya-

Ia pasang kuping kalau-kalau ia mendapat kabar tentang

dirinya Bwee Hiang. Tapi luput, ia tidak mendengar apa-apa

yang dikira dapat mencari jejaknya si gadissetelah

minum satu dua cawan, karena tadi di dalam

perjamuan ia sudah minum banyak arak, ia lalu keluar lagi dari

warung itu dengan maksud hendakputar kayun.

"Hehehe, ada disini ?" tiba-tiba ia dengar orang berkata

sambil menepuk bahunya. Kim Wan Thauto berpaling, kiranya

di depannya ada berdiri kenalan lama.

"sudah lupa ?" tanya orang itu, sambil tertawa ngekeh-

"Masa lupa, nenek yang kujemur dua jam di panasnya

matahari-" sahutnya-

"Benar tajam ingatanmu-" kata si nenek, yang tiada lain

adalah Kim Popo yang sudah lama kita tinggalkan dalam

cerita ini.

"Mau apa kau datang kesini ?" tanya Kim Wan Thauto-

"Aku mencari kau sudah lama-" sahut Kim Popo-

"Aku toh bukan suamimu, kenapa kau mencari aku ?" goda

Kim Wan Thauto-

" Kurang ajar" bentak Kim Popo merengut hingga

tampangnya tambah jelek

 

"Kau kira mukamu kebagusan diuber-uber aku si nenek ?

Hm Taruh kata aku masih muda, untuk dijadikan isterimu nanti

dahulu."

Kim Wan Thauto tertawa terbahak-bahak-

"Thauto edan, kau tertawakan apa ?" bentak Kim Popo

melotot matanya-

"Hatiku geli mendengar kata-katamu barusan." sahut Kim

Wan Thauto-

" gelinya ?" Kim Popo membentak lagi. Rupanya Kim Wan

Thauto sudah gemas sekali pada Kim Wan Thauto sebab

suaranya main bentak saja.

.Justeru dibentak-bentak malah Kim Wan Thauto makin

suka menggodainya.

"gelinya ? Tampangmu sekarang jelek, apalagi masih

mudanya tentu brengsek " Kim Wan Thauto menggodai si

nenek lagi.

Meluap amarahnya Kim Popo- Memang ia paling tidak

sabaran menghadapi sesuatu soal, apalagi menghadapi Kim

Wan Thauto yang jail.

"Aku mencari kau untuk menagih hutang, kau tahu ?" kata

si nenek gemas.

" Aku tidak punya uang, bagaimana kau mau menagih

hutangku?"

"Kau bukan hutang duit, Thauto brengsek"

"Habis, aku hutang apa padamu, nenek jahat ?"

 

"Wut Wut " terdengar sambaran angin tongkat Kim Popo

yang menyambar pada tubuhnya Kim Wan Thauto, saking

gemas digodai, Ia suruh tongkatnya yang bicara.

"Bagus " seru Kim Wan Thauto seraya kelit sana sini hingga

tongkat si nenek saban-saban tidak mengenakan sasarannya.

"Thauto kurang ajar Kalau tidak dikasih rasa, memang

mulutmu terus-terusan bocor-Rasakan kemplangan tongkat

nenekmu " berkata Kim Popo seraya menyerang bertubi-tubi.

Kim Wan Thauto kaget juga melayani Kim Popo karena

kepandaiannya beda dengan dua tahun yang lalu. Tadi ia

begitu memandang rendah pada si nenek, sekarang setelah

dicecar dengan tongkat si nenek, la tidak berani lengah lagi.

Bingung juga si Thauto karena ia harus melayani Kim Popo

dengan tangan kosong.

"Nenek bagus " tiba-tiba ia membentak-

"Kalau berani kau berkelahi, jangan pakai tongkat Mari kita

berkelahi dengan tangan kosong "

"Hehe, takut ya ? Baik, nenekmu penuhi keinginanmu "

sahut Kim Popo seraya melemparkan tongkatnya ke samping.

sementara itu, sudah banyak orang yang menonton mengitari

mereka.

"Nanti dulu " kata Kim Popo seraya lompat ke samping,

memungut lagi tongkatnya dan ia lantas usir-usir penonton

yang mulai banyak jumlahnya.

Kim Wan Thauto sudah lantas siap sedia mendengar Kim

Popo berkata 'nanti dulu' mengira si nenek akan mengirim

 

pukulan maut Tidak tahunya Kim Popo mengambil tongkatnya

untuk melabrak para penonton, tidak mau ia bertempur

ditonton orang banyak-

"Memang aku orang gila ditonton kalian ?" teriak Kim Popo,

seraya putar tongkatnya hingga bersuara gemuruh dan

anginnya menyambar-nyambar bukan main kerasnya.

Penonton pada ketakutan dan lari tumpang siur, mengira si

nenek itu adalah nenek sinting, tidak boleh didekati.

Kim Wan Thauto terkejut melihat si nenek memutar

tongkatnya mengeluarkan suara gemuruh, Ia tidak sangka Kim

Popo sekarang jauh bedanya dengan Kim Popo pada dua

tahun yang lalu. Pikirnya, Kim Popo rupanya berlatih keras

selama dua tahun itu untuk pertemuan dengannya yang kedua

kali.

setelah mengusir bubar penonton, Kim Popo lemparkan

pula tongkatnya dan menghampiri Kim Wan Thauto- Ia

berkata,

"Mari kita menguji, siapa unggul ?"

"Sudah tentu aku yang unggul " sahut Kim Wan Thauto-Kim

Popo deliki matanya,

"Hehe, mau menang ?" katanya mengejek.

Kim Wan Thauto ketawa- Tapi diam-diam hatinya rada jeri

juga menghadapi nenek ini yang kepandaiannya berubah jauh

dari tempo hari-

Kim Popo buka serangan dengan 'Kim tiau tian ci' (garuda

emas pentang sayapnya), tampak dua tangannya dipentang,

mendadak kecepatan kilat telah menyergap Kim Wan Thauto

 

yang coba berkelit dengan memutar tubuh, tapi tak urung

terdengar suara 'bret' itulah baju Kim Wan Thauto di bagian

dekat dadanya kena dicengkeram robek oleh si nenek.

"Hehe, ini baru bajunya " katawa Kim Popo seraya unjukkan

robekan bajupada lawannya- Lain kali dadamu kubikin remuk

dan isinya berantakan" Kim Wan Thauto hanya tersenyum

saja-

"Masih berani ? Lekas tekuk lutus dan jemur dirimu d ipa

nasnya matahari dua jam seperti aku tempo hari, barulah aku

ampunkan jiwamu" berkata lagi Kim Popo dengan congkaknya

hingga lawan tertawa terbahak-bahak-

"Masih sempat ketawa sedang kekalahan sudah nyata ?"

bentak Kim Popo-

"Kau masih belum menang, lihat ini apa ?" kata Kim Wan

Thauto sambil membuka telapakan tangannya, diunjukkan

pada Kim Poposi

nenek terbelalak matanya. Cepat ia meraba kondenya,

memang sudah tidak ada bunga yang diselipkan disitu, sudah

pindah di telapak tangan Kim Wan Thauto.

"Kurang ajar, kau berani main-main pada Kim Popo?"

"Kurang ajar, kau berani main-mainpada Kim Wan Thauto?"

si nenek gemas betul pada lawan yang mulutnya paling

bisa menggodai orang. Dalam gusarnya, kembali ia

menyerang lawannya.

 

Kim Wan Thauto melayani dengan waspada, ia tidak berani

memandang rendah pada lawannya seperti tempo hari. oleh

karenanya pertempuran menjadi seru sekali.

Kim Popo mainkan ilmu pukulan 'Thian lok sin kun'

(Kepalan sakti jatuh dari langit) warisan dari ayahnya si

Tongkat sakti Kong Tek Liang.

sejak dipecundangi Kim Wan Thauto, Kim Popo telah

memperdalam kepandaiannya dengan membaca buku

pelajaran ilmu Tongkat sakti dan Kepalan sakti, yang dulu ia

abaikan karena terlalu dimanja oleh ayahnya.

Kekalahan tempo hari dari Kim Wan Thauto seolah-olah

merupakan cambuk untuk ia belajar tekun ilmu saktinya, ialah

ilmu turunan untuk memperdalam kepandaiannya-

Memang otaknya si nenek tua tidak tumpul. Maka dalam

ketekunan memperdalam ilmunya Kim Popo telah berhasil

seperti kenyataannya sekarang dihadapkan pada musuh lama

(Kim Wan Thauto), membuat lawan-lawannya rada-rada keder

menghadapinya.

Ilmu pukulan Thian loksin kun banyak perubahannya yang

membingungkan. Kim Wan Thauto repot juga mengelakan

serangan-serangan Kim Popo-

Untuk kekurangannya, Kim Wan Thauto coba gunakan akal

cerdiknya ialah membuat musuh panas hatinya sehingga

mengacaukan pikirannya.

"Nenek bagus." ia menggoda,

"sebaiknya kita berhenti saja berkelahi-"

 

"Aku bukannya takut, nenek bagus." sahut Kim Wan Thauto

tenang-tenang saja.

"Kalau tidak takut, kenapa minta berhenti berkelahi ?"

"sebab, aku tahu kau toh tidak bisa menang "

Kim Popo makin bertubi-tubi menyerangnya hingga Kim

Wan Thauto gelagapan.

"Nenek je—. eh, nenek bagus." kata lagi Kim Wan Thauto-

"Meskipun kau keluarkan isi perutmu semua, tak mungkin

dapat menjatuhkan aku si Thauto-"

Kim Popo masih tetap dengan serangan-serangannya, juga

tidak kelihatan panas hatinya mendengar kata-katanya Kim

Wan Thauto yang hendak memancing kemarahan orang.

"Hehe, tidak tahu malu" tiba-tiba Kim Popo menyemprot si

Thauto-

"Kenapa aku malu ? Memangnya aku kenapa ?"

"Akal bulusmu tidak laku- Biarpun kau mengoceh sampai

mulutmu robek, tak nanti Kim Popo kejebak dengan tipu

muslihatmu. Hm "

Kim Wan Thauto terkejut. Kiranya akalnya sudah kena

diraba siang-siang oleh si nenek- Pantasan seranganserangan

Kim Popo tidak ada perubahan, terus mantap.

Makin lama Kim Popo bertempur makin gagah hingga Kim

Wan Thauto agak gelisah juga sebab akalnya sudah dapat

diketahui oleh lawan.

 

Kalau sampai ia kena dirubuhkan si nenek, benar-benar

runyam. Terang si nenk akan menghinanya dengan suruh

menjemur dipanasnya matahari barang dua jam, seperti dulu

ia pernah berbuat atas dirinya si nenek.

yang membuat ia lebih bingung, tangannya si nenek bisa

memanjang dan mengkeret.

Kalau tangan kanan diulur, tangan kirinya mengkeret. Itu

yang menyulitkan Kim Wan Thauto untuk berkelit dari

serangan Kim Popo-Entah ilmu apa yang dimainkan Kim

Popo-

Kim Wan Thauto bingung. Tapi lama-lama ia kenali juga

itulah yang dinamakan 'Thong pie-kong' ilmu mengkerat dan

memanjangkan tangan.

Kim Wan Thauto menanya pada dirinya sendiri, dari mana

si nenek belajar yang begituan, Ia tidak tahu bahwa Kim Popo

selama galang gulung dengan The sam, ex darlingnya, ia

sudah menjiplok juga ilmu 'Thong pie-kong' bekas kekasihnya

itu. Ia sudah pelajarkan ilmu itu hingga mahir- Mungkin The

sam sendirinya sekarang kalah pandai menggunakan ilmu

'Thong-pie-kong' itu. Melihat lawannya keteter, Kim Popo

ketawa terkekeh-kekeh.

"Thauto bagus-" ia balik menggoda Kim Wan Thauto yang

sudah kepayahan.

"sebentar, sebentar kalau sudah kujemur kau dipanasnya

matahari, baru boleh obral kentut busukmu Hehehe......"

Kim Wan Th auto mendongkol. Biasanya ia paling Jenaka

menggodai orang. Belum pernah ia kerutkan alisnya apabila ia

menghadapi musuh yang bagaimana pun tangguhnya. Tapi

 

kali ini betul-betul ia kewalahan. Tambahan modalnya

memancing kemarahan lawan sudah tidak laku, Kim Popo

barusan sudah menelanjangi akal bulusnya.

Tapi ia masih terhibur juga, karena ia masih mengandal

pada 'Tiat-pou-san', ilmu kebalnya baju besi. Pikirnya, si nenek

tidak bisa berbuat banyak atas diriya- Melihat dirinya terusterusan

kedesak, Kim Wan Th auto nekad juga. Tangan

kanannya tiba-tiba diputar, tahu-tahu tangan kirinya dengan

kecepatan kilat nyelonong ke muka, dua jarinya telunjuk dan

tengah bagaikan kaitan besi hendak copoti lentera (biji mata)

orang, itulah gerakan 'siang liong coan tah' (Dua naga

menembusi menara) yang sangat diandalkan oleh Kim Wan

Th auto, jarang lawannya dapat mengelit serangannya yang

dilakukan laksana kilat itu.

Tapi Kim Popo bukan si nenek pada dua tahun yang lalu.

Kim Popo egoskan serangan berbahaya itu sambil memutar

tubuh ke kiri Dalam terkejutnya melihat si nenek demikian

gesit memusnahkan serangannya, tahu-tahu Kim Wan Thauto

rasakan 'gudang makanan' (perut) digedor sepatunya si

nenek- Persis ujung sepatu Kim Popo menotok 'tiong-kek hiat',

jalan darah diperut hingga siThauto tak berkuasa lagi akan

tubuhnya yang roboh mendeprok di tanah- Indah sekali

gerakan Kim Popo yang dinamai 'Ko hong liu sui' atau 'Air

mengalir burung hong lewat'-

"Hehe, Thauto bagus " kata Kim Popo melihat lawannya

sudah tidak berdaya.

"Rasakan panasnya matahari dua jam dan boleh keluarkan

kentut busukmu.

 

Kim Wan Thauto hanya kedap kedip matanya, tak dapat ia

mengeluarkan suara.

Dalam hatinya ia mendongkol, tapi hanya sejenak saja.

sebagai kesatria, ia harus menerima kekalahannya dengan

rela. Ia dulu pernah menjemur Kim Popo dipanasnya matahari.

Kalau si nenek sekarang berbuat demikian atas dirinya, itu

jamak saja. Mereka jadi tidak punya hutang satu dengan yang

lain. orang banyak yang menonton dari kejauhan perlahanlahan

pada bubaran, karena pertempuran sudah habis. Hanya

mereka heran, si paderi rambut panjang tinggal mendeprok di

tanah, tidak bangun berdiri menghadapi si nenek yang sedang

memaki-maki rupanya. Mereka tidak tahu kalau Kim Wan

Thauto sudah kena ditotok oleh Kim Popo-

"Di sini banyak yang berlalu lalang, mungkin ada orang

yang hendak mendong membebaskan kau. Maka aku akan

menunggui kau selama dua jam, baru akan kutinggalkan kau

dan dengan begitu hutangmu sudah terbayar lunas. Kita satu

sama lain tidak punya sangkutan apa-apa lagi. Nah, selamat

menjemur badan " berkata Kim Popo seraya terpingkal-pingkal

ketawa meninggalkan Kim Wan Thauto di bawah matahari

siang yang sedang panasnya.

Kim Wan Thauto hanya senyum-senyum saja ketika si

nenek meninggalkan dirinya.

"Benar tidak enak-" kata Kim Wan Thauto dalam hatinya-

"Belum lama dijemur sudah begini panasnya. Entahlah

kalau sebentar sudah dua jam lewat- Apa aku masih bisa

tahan untuk tidak pingsan."

 

sementara itu, Kim Popo sudah ada di warung arak di sana,

meneduh sambil mengawasi ke arah Kim Wan Thauto yang

sudah berlepotan keringat kepanasan.

orang banyak yang berlalu lalang tapi tidak ada yang berani

menanyakan apa-apa kepada Kim Popo yang duduk dengan

keren sambil memegangi tongkat besinya. Kim Wan Th auto

sudah mulai merasakan tenggorokannya kering, haus sekali

rasanya.-

Diam-diam ia membayangkan bagaimana Kim Popo tempo

hari ia hukum dua jam dipanasnya matahari, kepanasan dan

kehausan, seperti yang sekarang ia alami, sangat menyesal ia

akan perbuatannya yang kelewatan dulu, terlalu menuruti

emosi hatinya.

Pada waktu itu ia anggap dirinya jagoan, belum

menemukan tandingan, dapat berlaku sedikit sewenangwenang

menghukum si nenek- Tidak tahunya belakangan ini

banyak kejadian yang membuka matanya, Ia melihat

kepandaian si kerudung merah yang membikin sucoan samsat

jatuh bangun, suatu kepandaian yang tak dapat dimiliki

olehnya. Kemudian ia ketemu Lo In, dijatuhkan mutlah oleh si

bocah sehingga tujuh senjata rahasia anting-anting emasnya

tidak berdaya dihadapkan pada anak kecil itu, lalu ia mencoba

kepandaiannya Bwee Hiang, gagal. Hampir-hampir ia

dijatuhkan dengan konyol, sekarang pertandingan ulang

dengan Kim Popo, kembali ia keok.

Mengingat itu semua, kalau mula-mula ia bangga dengan

kepandaiannya kini rasanya kepandaiannya terlalu rendah-

Terlalu berlebih-lebihan orang Kangouw menjunjung dirinya

sebagai jagoan diantara jago kelas wahid

 

sebenarnya ia sudah tidak tahan, ketika lewat satu jam ia

dijemur. Tapi ia keraskan hatinya, tidak mau ia kalah oleh Kim

Popo yang tahan dua jam. Ia pejamkan matanya menerima

nasibnya yang malang.

"Thauto bagus, bagaimana kau rasakan ? Hehe, enak ya ?"

sekonyong-konyong ia mendengar pula suaranya Kim Popo.

Kim Wan Thauto tidak mau ladeni si nenek, la diam

memeramkan matanya.

"Sebenarnya, enak banget sekarang aku kemplang

kepalanya berantakan, tapi kita tak bermusuhan bukan?"

terdengar pula suaranya Kim Popo-

"Masih ada setengah jam kau harus lunasi hutangmu,

setelah itu akan kutinggalkan kau"

Matahari menyorot keras, untuk omong-omong beberapa

patah kata saja Kim Popo tidak tahan akan panasnya,

sebenarnya ia merasa kasihan pada Kim Wan Thauto, tapi

karena adanya yang sableng hanya sekilas saja perasaan

kasihan itu timbul dalam hatinya. Tetapi ia mau balas Kim Wan

Thauto dengan dua jam seperti yang dlalami oleh dirinya

tempo hari-

Kapan ia sudah kepanasan dan memutar tubuh untuk

meneduh pula di warung arak tadi, ia terkejut di depannya ada

menghadang bocah berwajah hitam, ketawa ke arahnya.

sambil bertolak pinggang.

Entah berapa lama si bocah berada disitu, tentu sudah

mendengarkan percakapannya dengan Kim Wan Thauto- Kim

Popo terkejut karena ia mempunya kepandaian mendengar

yang tajam tapi tidak sadar akan kehadirannay si bocah

 

"Bocah hitam, kau mau apa datang ke sini " bentak Kim

Popo-

Justru disebutnya 'bocah hitam', matanya Kim Wan Thauto

yang meram saja dengan mendadak dibuka lebar, Ia melihat

Lo In yang datang. Hatinya kegirangan bukan main sebab

pikirnya ia tidak harus menunggu setengah jam lagi dijemur.

Lo In tidak menjawab si nenek, hanya lengan bajunya

mengebas ke arah Kim Wan Thauto-Kontan sipaderi rambut

panjang sudah terbebas dari totokan si nenek-

Kim Popo terkejut bukan main melihat anak kecil itu, hanya

dengan sekali kebas dengan lengan bajunya, si Thauto sudah

terbebas dari totokan. Itu adalah kepandaian yang jarang

terlihat. Dari terkejut si nenek menjadi gusar. sambil melotot

matanya mengawasi Lo In, ia berkata,

"Anak—. kau berani turut campur dalam urusanku ?"

"Hahaha " Lo In tertawa terbahak-bahak hingga Kim Popo

heran.

"Anak sinting, kau tertawakan apa ?" bentaknya keras.

"Kau katakan aku sinting, apa Popo tidak sinting " sahut Lo

In masih ketawa.

"Aku sinting kenapa ?"

"Menjemur orang di panasnya matahari. Bukan itu

perbuatan orang sinting "

"Itu urusanku dengan si Thauto brengsek, tidak ada

sangkutan dengan kau"

 

"siapa bilang tidak ada sangkutan denganku ?"

Kim Popo melengak mendengar perkataan Lo In. pikirnya,

apa bisa jadi anak hitam ini ada urusan dengannya ? Tapi ia

tidak mau menanya lebih jauh, hanya tongkatnya yang bicara,

Ia kemplang Lo In tidak menggunakan Iwekang, takut si bocah

mati dibawah tongkatnya, Ia tidak menyangka, kemplangan

tongkatnya mengemplang angin, karena si bocah sudah

berkelit dengan tangkasnya.

"Popo, tongkatmu terlalu berbahaya.Jangan main-main,

nanti nimpa kepalaku " Lo In menggodai si nenek yang sedang

keheranan kemplangannya tidak mengenakan sasaranya.

"Nenek bagus." menimbrung Kim Wan Thauto-

"Sekarang ketemu adikku, asal kau bisa menyentuh ujung

bajunya saja, dengan rela aku hadiahkan kepalaku padamu "

Heran Kim Popo mendengar anak kecil disebut adiknya-

Sejak kapan paderi berambut panjang itu punya adik hitam

kayak pantat kuali ?

"Heheh, adikmu dia ?" tertawa Kim Popo-

"Terlalau kelebihan, kalau kau mengatakan aku tak dapat

menyentuh ujung bajunya saja. Bukan saja ujung bajunya, tapi

akan kukemplang mampus dia " berbareng tongkatnya

menyabet disertai Iwekang hingga bersuara. Menyusul suara

'bat bet bat bet' beberapa kali. Itulah suara tongkat Kim Popo

yang menyabet berulang-ulang, sayang sabat kali sabetan

yang dahsyat itu saban kali juga menyabet tempat kosong.

Kim Popo heran saban-saban kehilangan sasarannya, Ia

membentak,

 

"Bocah hitam, siapa kau ? Lekas kasih tahu sebelum Popo

kirim jiwamu menghadap Giam-lo-ong " Kata-kata Kim Popo

bukan membikin takut lawan, malah Lo In tertawa terbahakbahak-

"Masih terlalu pagi aku menghadap Giam-lo-ong, aku masih

anak-anak- Mau juga Popo yang sudah usia lanjut menghadap

raja akherat- Hahaha "

Kim Popo melengak- Memang juga lebih pantas ia yang

menghadap Giam-lo-ong di banding si bocah yang masih

anak-anak- Ia tahu anak kecil itu mengejek dirinya, justru

lantaran itu ia menjadi marah- Tongkatnya diputar. Kali ini

bukan hanya menyabet, tapi mengemplang dan menusuk,

tongkatnya bergerak lihai sekali.

Dalam gusarnya ia menyerang bertubi-tubi. Tiba-tiba ia

rasakan ada angin dingin berkesiur seperti menghembus di

pinggangnya, ia lompat mundur, Ia periksa pinggangnya tidak

apa-apa, bajunya juga tidak kurang suatu apa. Lalau ia

memandang Lo In yang ketawa ke arahnya.

"Bocah hitam, kau main gila ?" bentaknya, kembali

tongkatnya bekerja.

Kim Popo sekarang insyaf ia menghadapi lawan alot,

meskipun lawannya hanya satu bocah hitam saja. Maka ia

keluarkan ilmu tongkatnya yang dinamai 'Thian-lok-sin-koay1'

(flmu Tongkat sakti jatuh dari langit).

Tampak Lo In bergerak cepat untuk menghindarkan

serangan Kim Popo yang hebat.

 

Makin lama Kim Popo mainkan tongkatnya makin cepat dan

mengurung Lo In yang melayani ia dengan kegesitannya saja,

tidak mau si bocah balas menyerang.

Kim Popo gelak-gelak ketawa melihat Lo In seperti yang

kesurupan. Sampai ia lengah, ketika tiba-tiba Lo In meraba

dadanya yang kemudian lompat mundur.

"Hehehe, takut ya ?" ejek Kim Popo, masih ketawa ia.

"Terima kasih, barusan aku usut di pinggang takut kotak

yang baru aku usut dari dadamu jatuh. Hahaha......"

Lo In ketawa, terpingkal-pingkal.

"Bocah hitam, apa kau kata ?" tanya Kim Popo seraya

meraba dadanya.

Bukan main kagetnya Kim Popo, sebab barang yang sangat

dijaga-jaga sudah terbang dari dadanya. Lalu matanya

memandang pada Lo In yang saat itu sedang main-mainkan

sebuah kotak kecil, Hulah kotak kecil yang berisi Tiam-hiat Pitkoat,

buku pelajaran menotok darah karangan The Leng Tong,

jago Thiam-hiat (menotok jalan darah) pada 80 tahun

berselang.

Buku yang tak ternilai harganya. Dengan susah payah ia

berusaha mendapatkannya dari tangan Lo In, jatuh pada Kim

Wan Thauto, jatuh pada The sam, jatuh padanya (Kim Popo),

lalu sekarang kembali jatuh di tangan Lo In.

"Hei, itu adalah kotakku yang hilang di hotel " kata Kim Wan

Thauto ketika melihat Lo In sambil ketawa-ketawa mainkan

kotak mungil itu.

 

"Kentut busuk " bentak Kim Popo-

"Kau yang merebut dari aku, mau mengatakan punyamu ?

sungguh tidak tahu malu "

Kim Wan Thauto ketawa nyengir, Ia berasa salah sebab

memang juga kotak itu ketika ia memiliki adalah dari tangan si

neneksementara

itu Kim Popo sudah memandang dengan tajam

pada Lo In.

"oo, kalau begitu kau ada si bocah dari Tong-hong-gay ?"

berkata Kim Popo-

"Bagus, bagus, kalau Popo masih kenali aku yang rendah-"

sahut Lo In.

selama melayani Kim Popo, Lo In ingat akan buku 'Tiamhiat

Pit-koat'. Maka dengan kepandaiannya yang sakti ia

mengusut orang punya pinggang. Ketika disini tidak

kedapatan, maka Lo In sudah cari di dada orang. Benar saja,

kotak mungil itu ada di situ dan ia sudah comot tanpa Kim

Popo merasa sedikit pun. Itulah menandakan kepandaiannya

Lo In ada luar biasa.

Mengetahui siapa si bocah hitam, Kimpopo membayangkan

pada kejadian yang sudah lalu. Dulu ia bisa puntir tangan si

bocah dan paksa ia keluarkan kotak 'Tiam-hiat Pit-koat'-

sekarang, kepandaiannya malah sudah tambah, tidak bisa

menangkap si bocah, Itu menandakan bahwa ia bukan

tandingan Lo In.

Meskipun wataknya angin-anginan, Kim Popo tahu juga

gelagat. Cuma sayangnya ia punya cacat, bandel, sudah

 

terang ia melihat gelagat tidak menguntungkan kalau masih

mau melawan Lo In, tapi tidak rela buku pentingnya dirampas

si bocah dan ia mau coba-coba lagi sekali bertarung, Inilah

sifat bandelnya, yang sering membikin ia kejeblos seperti

tempo hari ia melawan Liok sinshe.

"Bocah-" tiba-tiba Kim Popo berkata, setelah termenung

sebentaran.

"Asal kau mau menyerahkan kembali barang itu padaku,

urusan akan Popo bikin habis sampai disini saja. sebaliknya,

kau tahu sendiri, Kim Popo tak akan gentar menghadapi siapa

juga. Apalai kau cuma satu anak kecil yang bau tetek emakmu

sja belum hilang "

"sudah terang keok. masih banyak lagak lagi " menyela Kim

Wan Tiiauto. Mata Kim Popo mendelik pada Kim Wan Thauto-

"Nah, bocah, nenekmu akan layani kau dengan sungguhsungguh.

Lekas cabut pedangmu. " menantang Kim Popo

dengan tidak merasa malu-malu atas jengekan Kim Wan

Thauto tadi-

"Pedang Liok sinshe, mana aku berani sembarang gunakan

" sahut Lo In.

Kim Popo terkejut bukan main disebutnya nama 'Liok

sinshe', tiba-tiba saja badannya menggigil seperti yang panas

dingin.

"Bocah, apa Liok.....Liok........" kata Kim Popo gugup,

suaranya gemetar.

"ya, Liok sinshe, Liok sin.... she " Lo In dengan sengaja

menandaskan.

 

Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, Kim Popo putar

tubuhnya dan enjot kakinya melayang jauh, dari mana ia lari

terbirit-birit ketakutan. Kim Wan Thauto ketawa terbahakbahak

melihat lagaknya Kim Popo-sebaliknya Lo In telah

menundukkan kepala sambil memainkan kotak mungilnyasetelah

habis tertawa enaknya, Kim Wan Thauto

menghampiri Lo In yang masih berdiri sambil menundukkan

kepala.

"Anak In," katanya seraya pegang dagu orang dan

didongaki mukanya,

"Hei, kenapa kau menangis ?" Kim Wan Thauto melihat

matanya Lo In berkaca-kaca.

"Hatiku terkenang kepada Liok sinshe-" sahutnya seraya

menyusut air matanya dengan tangan bajunya, Ia

menyambung,

"Entahlah, Liok sinshe sekarang ada dimana. Dia adalah

orang baik, yang menyayangi aku seperti anaknya........"

"Anak In." kata Kim Wan Thauto menghibur.

"Kalau Liok sinshe masih hidup, satu waktu kau akan

menjumpainya. Kenapa mesti disedihkan ? Bukankah kau kata

bahwa kau tidak percaya Liok sinshe mati karena dia

mempunyai kepandaian sangat tinggi ? Nah, buat apa kau

bersedih. Berdoalah supaya satu waktu Tuhan akan ajak kau

menjumpai Liok sinshe dengan sehat walafiat. Hahaha."

Kesedihan Lo In pun lantas lenyap tanpa bekas mendengar

kata-kata Kim Wan Thauto yang ditutup terbahak-bahak

gembira, Hulah wataknya si bocah yang aneh- Berduka karena

 

sedih seketika, bergembira karena ketawa seketika, Hulah

rupanya ada "motto" Lo In dalam hidupnya.

sementara itu suyangtin Ngo Houw juga sudah ada disitu

dan beberapa orang yang menonton tadi kelihatan masih

penasaran ingin melihat wajahnya si bocah dari dekat. Mereka

sangat kagum akan kepandaian Lo In yang dengan tangan

kosong menggempur si nenek yang bertongkat besi sangat

berat.

"Tidak ada apa-apa yang harus ditonton, hayo kalian pada

pergi " mengusir Kie Giok Tong hingga orang-orang yang

sangat menghargai pada suyangtin Ngo Houw pada bubaran

tanpa diusir sampai dua kali.

Bagaimana Lo In dapat tahu kalau Kim Wan Tiiauto dapat

kesulitan dari Kim Popo ? Itulah gara-gara si bocah A Kong,

anak tanggung yang menjadi orang kepercayaan suyangtin

Ngo Houw- Dengan cara kebetulan mendapat tahu kesulitan

yang dialami Kim Wan Thauto setelah si Thauto dijemur satu

jam lebih lama.

Buru-buru A Kong kasih tahu pada Kie Giok Tong yang

sudah lantas pergi ke rumahnya Teng Hauw untuk

mengabarkan kejadian itu pada Lo In yang waktu itu sedang

Eng Lian dan Leng siong.

Mendapat tahu toakonya dalam kesulitan, tidak buang

tempo lagi Lo In sudah lantas menyusul, Ia tidak mengira

bahwa si nenek yang mempersulit itu adalah Kim Popo,

kenalan lamanya. Dengan diam-diam menggunakan ilmu

entengi tubuhnya ia sudah dekati Kim Popo yang sedang

menggodai Kim Wan Thauto-.

 

Dalam perjalanan pulang Kim Wan Thauto menanya pada

Lo In,

"Anak In, kau kata Kim Popo yang membokong Liok sinshe

hingga jatuh kejurang. Kenapa tadi kau tidak menuntut balas

akan jarumnya yang jahat itu ?"

Lo In ketawa nyengir jawabnya,

"Aku sangsi Liok sinshe mati. Maka aku sangsi mengambil

jiwa Popo, apalagi aku lihat Popo bukannya orang jahat "

"Bagus, bagus." kata Kim Wan Thauto seraya menepuknepuk

pundak Lo In.

"Mungkin tidak ada anak keduanya yang mempunyai jiwa

luhur sepertimu. Kaupantas nanti akan menjadi satu Tayhiap

(pendekar besar) seperti Kwee Cu Gie ayahmu."

"Toako, apa Kwee Cu Gie itu ayahku ?" tanya Lo In heran.

"Aku yakin benar kau adalah anaknya Kwee Cu Gie-"

"Lalu, dimana ibuku ? Dimana ayahku sekarang ?" Kim

Wan Thauto bungkam diberondong pertanyaan Lo In.

sementara itu, mereka sudah sampai di rumahnya Teng

Hauw, dimana mereka disambut oleh Eng Lian dan Leng

siong, malah nyonya Teng juga ada serta.

"Adik In, bagaimana ? Kau sudah usir si nenek yang

mengganggu Taysu?" tanya Eng Lian, ramai mulutnya,

sedang Leng siong hanya tersenyum-senyum saja ke arah si

bocah wajah hitam yang tengah ketawa-tawa nyengir.

 

"Dia bukan diusir oleh anak In." menyela Kim Wan Thauto

ketawa.

"Wah, habis siapa yang bisa usir dia ?" tanya Eng Lian.

"Dia lari terbirit-birit mendengar namanya Liok sinshe

disebut anak In"

"Masa sampai begitu ketakutan ?"

"Dia yang membokong Liok sinshe dengan 'touw-kut tok

ciam', mungkin dia kira Liok sinshe ada berserta kita, makanya

dia lari ketakutan."

Eng Lian ketawa terpingkal-pingkal.

"Ah, dia takut sama bayangannya sendiri" katanya setelah

enak ia ketawa.

sementara Kim Wan Thauto bercakap-cakap di ruang tamu,

Eng Lian dan Leng siong diikuti Lo In sudah kembali ke Giok

Lie Teng, dimana mereka teruskan kongkouwnya yang

tertunda karena urusan Kim Wan Thauto dijemur Kim Popo.

Kiranya yang mereka percakapkan adalah urusan

menghilangnya Bwee Hiang.

"Enci Lian." kata Leng siong.

"Enci Hiang orangnya sangat riang, macam enci juga. siapa

yang kenal dia, dalam tempo singkat seperti sudah kenal

lama."

"sayangnya dia tidak ada disini, kalau tidak- kita bisa

bercakap-cakap dengannya." sahut Eng Lian tersenyum.

Kemudian ia menyambung berkata pada Lo In,

 

"Adik In, bagaimana kau dapat berkenalan dengan enci

Hiang ?"

Lo In lalu menuturkan riwayat Ia tengah mencari-cari Eng

Lian dengan cara kebetulan ketemu dengan Liu Wangwee

dalam rumah penginapan yang lalu membawanya ke

rumahnya. Di sana ia berkenalan dengan Bwee Hiang.

Panjang lebar ia menutur, bagaimana ia kasih hajaran pada

Sucoan sam-sat, tentang pembunuhan oleh Sucoan sam-sat

di markas cabang Ceng Gee Pang, dibunuhnya seisi rumah

Liu Wangwee- Hanya tentang ia membuka selimut yang

menutupi mayatnya Ling Ling, ia tidak sebut-sebut. Rupanya

ia ngeri enci Liannya akan melotot padanya.

"Untung enci Hiang ikut aku ke markas cabang ceng Gee

Pang. Kalau tidak, ia pun tidak akan luput mendapat bahaya."

LoIn menutup penuturannya.

"Lalu seterusnya bagaimana adik In dengan Bwee Hiang ?"

tanya Eng Lian ketawa.

setelah nyengir sebentar, Lo In berkata,

"Aku tidak bisa meninggalkan dia karena dia minta aku

mengajari ilmu silat sebab katanya untuk bekal menuntut balas

pada sucoan sam-sat. Dia mau supaya dengan tangannya

sendiri membunuh orang-orang jahat yang membasmi

serumah tangganya "

"Ringkasnya, adik kecil ini menjadi guru cilik dari enci

Hiang," menyela Leng siong sambil tersenyum melirik ke

arahnya Lo In.

 

"Ai, aku kurang hormat pada siao suhu (guru cilik)-" kata

Eng Lian seraya bangkit dari duduknya dan menjura pada Lo

In.

"Jangan seeji (sungkan) Liehiap-" Lo In menyambuti

hormatnya Eng Lian.

Lucu gerak geriknya muda mudi itu sehinga Leng siong

terpingkal-pingkal ketawa.

"Enci dan adik kecil." kata Leng siong setelah ia berhenti

ketawa.

"Benar-benar aku akan kehilangan kalau kalian sudah pergi

meninggalkan rumahku. Aku ingin kalian tinggal tetap saja

disini, bagaimana ?"

"Adik siong boleh kalau suka ke tempat bocah hitam."

membanyol Eng Lian,

"Hitam juga bukan sembaran hitam, nona." sahut Lo In

ketawa.

"sudah buktinya hitam, disikat juga toh tinggal hitam "

"Bagaimana kalau dibedaki? kan jadi putih."

Geerr Leng siong ketawa sampai terbahak-bahak diikuti

oleh Eng Lian.

"Dia ini memang paling bisa, rasakan ya " Eng Lian

berbareng mencubit lengan Lo In hingga si bocah teraduhaduh.

"Ah, sayang......." berkata Lo In seraya mengusap-usap

lengannya yang dicubit.

 

"Sayang? Sayang apa ?" semprot Eng Lian tapi manis air

mukanya.

"Kalau dicubit begini sudah biasa." sahut Lo In.

"Jangan digigit, kaya tikut menggigit kucing......"

Kembali Leng siong tertawa terpingkal-pingkal sampai

memegangi perutnya. Kata-kata Lo In mengingatkan kembali

ketika Kim Coa siancu menggigit lengannya si bocah sampai

berboran darahsementara

Leng siong tertawa enak, dua tangan Eng Lian

berbareng menyergap lengan Lo In dan dicubitnya kuat-kuat

sambil berkata,

"Kalau tidak dikasih hajaran begini, memang anak nakal ini

main sindir-sindir saja."

Tiba-tiba Eng Lian menjerit, lengan Lo In yang dicubitnya

sekuat-kuatnya dirasakan jari-jarinya yang kepanasan.

"Kau mainkan encimu, hah " bentak Eng Lian cemberut,

berbareng tangannya diulur mencubit pipi Lo In hingga si

bocah teraduh-aduh kesakitan.

sebenarnya Lo In juga bisa salurkan tenaga saktinya

(siauw-thian-sin-kang) untuk membikin pipinya panas

membara macam tadi, tapi tidak berani melihat Eng Lian

cemberut. Maka ia antapkan enci Liannya mencubit pipinya

hingga matang biru-setelah begitu, baru si nona puas- Tapi toh

ia kelab akan.

"Adik In, oh, sakit ? sakit ?" Eng Lian cepat mengusap-usap

pipi Lo In yang bekas dicubit, wajahnya seperti ketakutan.

 

Dasar anak nakal, bukannya menghibur sang enci yang

ketakutan malah dia membanyol, katanya,

"Tidak apa, hilang sakitnya kalau sudah ada ini" seraya

pegang tangan Eng Lian yang putih halus ditekankan pada

bibirnya.

"Ah, adik In, kau sudah angot " kata Eng Lian seraya tarik

pulang tangannya, disusul oleh mulutnya yang dimonyongkan

ke arahnya Lo In. geli hatinya Leng siong nampak lagak

lagunya Lo In dan Eng Lian.

"Makanya jadi adik jangan suka nakal." berkata Leng siong.

"Kalau enci sudah marah dan mencubit, nah, baru tahu

rasa "

"Dicubit sih tidak apa, asal ? Ah, sudahlah......." sahut Lo In

ketawa.

Leng siong penasaran perkataan Lo In setengah-setengah.

"Adik kecil, kau mau bilang apa ? Asal apa sih ?" tanya

Leng siong kepingin tahu-

"Asal jangan nangis.......orang sudah gede nangis jelek kan

?" sahut Lo In ketawa.

Kontan bersemu merah seluruh muka nona Leng siong.

wajahnya yang berseri-seri memikat, berubah cemberut, si

nona merasa tersinggung karena dialah yang dicubit Lo In

menangis dan mengaku kalau orang sudah gede, menangis itu

jelek

 

Eng Lian ketawa terpingkal-pingkal melihat Leng siong

cemberuti Lo In yang mengolok-oloknya tadi- Tapi Lo In

berlagak pilon dicemberuti enci Leng siong ny a.

"Hajar, jangan kasih hati Cubit yang keras, biar dia teraduhaduh

" kata Eng Lian pada Leng siong yang mengawasi si

bocah dengan penasaran.

"Adik kecil, kau menyindir aku barusan ?" tanya Leng siong

penasaran.

"cubitanku mungkin lebih keras dari enci Lian dan dapat

bikin kau semaput semalaman"

"Biar, aku nangis juga tidak kenapa, sebab aku anak kecil.

Hehehe" sahut si nakal.

Dari tadi memang Leng siong kepingin menggasak

lengannya si bocah nakal, ketika mendengar dirinya disindir-

Tapi ia malu pada Eng Lian. Tapi setelah mendapat anjuran

Eng Lian, ia jadi berani. Maka ia mengancam akan mencubit

lebih keras.

Dalam emasnya, benar-benar ia mencubit Lo In sekeraskerasnya.

Pikirnya, biar si bocah hitam terkuing-kuing

kesakitan. Mula-mulai ia rasakan benar daging yang dicubit

hingga ia kegirangan dan berkata,

"Adik kecil, enak ya ?" Tiba-tiba ia terkejut, daging lengan

Lo In mendadak berubah lunak seperti juga mencubit kapas.

Cepat si nona tarik pulang tangannya, ketika mau dipegang si

nakal.

"Bagaimana, sudah puas ?" tanya Eng Lian ketika melihat

Leng Siong menarik pulang tangannya, mengira orang sudah

 

melampiaskan penasarannya. Leng siong dengan muka

merah mengangguk.

"Jangan malu-malu, kita orang sendiri" menghibur Eng Lian

melihat Leng siong seperti merasa sangat malu sehabis

mencubit Lo In.

"oh, tidak, tidak, cuma........." sahut Leng siong.

"Cuma apa ?" tanya Eng Lian ketawa.

"Cuma daging adik kecil kenapa kayak kapas ?" sahut Leng

siong.

sementara Lo In ketawa nyengir, sebaliknya Eng Lian

ketawa ngikik, mentertawakan Leng siong yang duduk

keheran-heranan. sementara itu...........

" Celaka " tiba-tiba saja Eng Lian hentikan ketawa ngikiknya

berbareng ia sudah lompat turun dari paseban disusul oleh Lo

In hingga Leng siong tinggal sendirian.

Ketika Lo In dapat menyandak Eng Lian di dalam rumah, si

bocah hitam lihat enci Liannya pucat pasi wajahnya, Ia heran,

lalu menanya,

"Enci Lian, kau kenapa ?" Eng Lian tidak menyahut,

romannya seperti ketakutan.

"Mari duduk " kata Lo In seraya tuntun tangan si nona

diajak duduk pada sebuah bangku panjang.

"Tenangi dulu pikiranmu, enci." menghibur Lo In sementara

dalam hatinya tidak habis mengerti, mengapa dengan tiba-tiba

saja sang enci menyebut "celaka " lalu lompat turun dari

paseban.

 

"Adik In, kau tidak lihat barusan ada sinar keemas-emasan

berkeredep di udara ?" kata Eng Lian setelah hilang kagetnya.

"Aku tidak begitu perhatikan." sahut Lo In.

"Memangnya kenapa ?"

"Itu adalah 'Lamhay-sian' (Benang emas dari Lautan Kidul),

alamat kedatangannya sucouw." kata Eng Lian.

" Aku tidak pulang, rupanya sucouw telah mencari aku."

"Ah, kenapa kau begitu ketakutan, enci Lian ?" kata Lo In.

"Sudah tentu aku ketakutan. Aku tentu akan disuruh pulang

olehnya. Habis bagaimana ? Aku tentu akan berpisah lagi

dengan kau "

"Wah, celaka " kali ini LoIn yang kaget, dengan sekonyongkonyong

tubuhnya berbareng melompat keluar rumah- Dalam

sekejapan saja ia sudah ada diatas paseban.

Eng Lian tidak berani tongolkan dirinya. Maka ketika Lo In

lompat pergi ia tidak turut pergi, hanya dalam hatinya

bertanya-tanya adik In-nya ada urusan apa sampai Ia menanti

pulangnya Lo In. Tidak lama Lo In sudah kembali dengan

paras lesu-

"Adik In, kau kenapa ?" tanya Eng Lian melihat Lo In lesu.

"Dia sudah tidak ada-" sahutnya dengan tidak bernafsu-

"siapa yang tidak ada, adik In?" tanya Eng Lian pula-

"Enci Leng siong........."

"Hah Adik siong tidak ada ?"

 

"ya, dia sudah tidak ada di paseban."

"Mungkin dia sudah pulang."

" kalau pulang tentu dia lewat sini dan mencari kita."

"Habis, kemana dia sudah pergi ?"

"Terang sudah dibawa sucouwmu."

"Ah, adik In, mana bisa jadi- Leng siong toh bukannya aku

?"

"Memang betul bukan enci, tapi wajahnya yang sama, siapa

bisa bedakan ?"

Baru sekarang Eng Lian mengerti kenapa Lo In barusan

tergopoh-gopoh pergi ke paseban. Kiranya si bocah

menguatirkan Leng siong disambar sucouwnya. Eng Lian

menjadi tidak enak hatinya menghadapi soal Leng siong.

"Habis, sekarang bagaimana baiknya, adik In ?" Ia

menanya dengan gelisah-

"Lain kali," kata Lo In.

"Menghadapi kesulitan jangan kesusu......"

"Habis, aku takut terhadap sucouw. Kenapa kau ikut-ikutan

lari ?"

"Aku menyusul enci lantaran kuatir enci menghadapi

sesuatu yang tak dapat diatasi oleh enci."

Eng Lian melirikan matanya yang tajam, Ia tersenyum

senang atas perhatian sang adik. Tapi ia heran adik In-nya

 

tidak menyambut senyuman sebagaimana biasanya, wajahnya

Lo In agak tegang.

"Jadi bagaimana sekarang ?"tanya Eng Lian.

"Kalau aku tahu sucouwmu yang datang, barusan aku tidak

tinggal pergi." kata Lo In.

"Tidak sampai enci Leng siong hilang "

"Kau berani lawan sucouw? Dia sukar dilawan, mana kau

bisa menang ?"

"Menang atau kalah, itu urusan belakang, setidak-tidaknya

aku sudah membela enci Leng siong sehingga tidak akan

disalahkan oleh paman dan bibi Teng." Eng Lian tundukkan

kepalanya. Ia menyesal atas perbuatannya tadi, sehingga

menyebabkan hilangnya anak orang.

sementara Lo In dan Eng Lian belum dapat pemecahan

dalam soal Leng siong, tiba-tiba muncul nyonya Teng dan

menanya,

"Kemana anak siong ? Kenapa tidak bersama-sama kalian"

Lo In kebingungan untuk memberi Jawabannya, tapi Eng

Lian sebaliknya- Ia berkata,

"Adik siong dibawa sucouwku ke Coa-kok "

"Ah, anak Lian, jangan main-main." nyonya Teng

tersenyum lirih-

"Buat apa aku main-main. Memang adik siong dibawa

sucouw." menegaskan Eng Lian yang sedikit pun ia tidak

 

memikirkan akan kekagetannya seorang ibu manakala

mendapat tahu kalau anaknya dalam bahaya.

Nyonya Teng hanya senyum-senyum saja mengira

perkataan Eng Lian sebab mengira si nona yang pintar

membanyol tengah menggodai dirinya. Tapi setelah Eng Lian

menuturkan duduknya urusan, sekonyong-konyong saja

nyonya Teng jatuh terkulai dan rubuh dilantai kalau tidak Lo In

dengan cepat sudah datang menyangga.

"Wah, dia pingsan" berkata Eng Lian, sedikit juga ia tidak

unjukkan rasa kaget atas kejadian itu.

"Bawa, hayo bawa ke dalam " ia suruh Lo In memondong

nyonya Teng dibawa masuk ke dalam.

Lo In lantas memondong si nyonya yang sudah tidak ingat

orang.

oleh Lo In, seorang pelayan disuruah mengabarkan pada

Teng Hauw dan Kim Wan Thauto-Tidak lama lagi masuk Teng

Hauw, sedang Kim Wan Thauto tidak turut datang.

Bingung Teng Hauw melihat istrinya jatuh pingsan, Ia lalu

menanya pada Lo In,

"Lo Hiantit, kenapa bibimu ? Eh, mana Leng siong ?"

Belum Lo In menjawab, Eng Lian sudah nyeletuk

mendahului,

"Aku kasih tahu bibi, adik siong dibawa sucouw lantas dia

jatuh pingsan, antahlah, apa memang bibi ada punya penyakit

ayan ?"

 

Mendengar Leng siong dibawa sucouwnya Kim Coa siancu,

kagetnya Teng Hauw bukan kepalang dan ia jatuh duduk

dikursi. Termenung-menung ia dan kedua matanya berkacakaca

hingga Lo In merasa kasihan, sebaliknya Eng Lian

tinggal tenang-tenang saja. Betul-betul watak Eng Lian lebih

aneh dari si bocah wajah hitam.

"Hiantit, bagaimana ini.............?" berkata Teng Hauw

dengan suara lirih.

"Paman Teng." sahut Lo In.

"Kita sudah tahu siapa ujang culik enci Leng siong. Aku

harus menyusul ke Coa-kok untuk mengambil kembali enci

Leng siong dari tangannya Lam-hay Mo-lie-"

"Hei, kau jangan ke sana " Eng Lian mencegah-

"Kalau ke sana, bisa masuk tak bisa keluar, kau tahu

Apalagi sekarang ada sucouw yang sangat lihai "

Lo In ketawa hambar. "Enci Liang." katanya "Kita harus

tanggung jawab atas hilangnya enci Leng siong. Kalau kau

tidak maupergi, biar aku sendiri yang kesana "

"Tidak- tidak, aku mau ikut " kata Eng Lian, seperti anak

kecil lagaknya.

sementara itu nyonya Teng sudah siuman dan menangis

tersedu-sedu sambil sesambatan memanggil-manggil Leng

siong, puterinya yang hilang.

Lo In melihat itu menjadi tidak enak hatinya.

 

Sebentar lagi Kie Giok Tong yang mendapat kabar Teng

Hauw dalam kesulitan, sudah datang bersama-sama

saudaranya yang lain.

Mendapat kabar dari Lo In tentang hilangnya Leng Siong,

Kie Giok Tong dan lain-lainnya juga menjadi kaget. Toako dari

Lima Harimau itu sebisa-bisanya menghibur hati nyonya Teng

yang menangis saja.

"Hilangnya anak Siong," kata Kie Giok Tong. Justru sedang

bersama-sama Lo Hiantit. Maka untuk mendapatkan dia

kembali pun sebaiknya Lo Hiantit yang berusaha. Kami

mengharap sekali bantuan Lo Hiantit. Kami percaya dengan

kepandaian Lo Hiantit yang tidak ada taranya, rasanya tidak

susah untuk merampas pulang Leng Siong "

Kie Giok Tong dalam kata-katanya ada menyesalkan Lo In.

Tapi ia atur perkataannya demikian rupa, supaya tidak

menyinggung perasaannya Lo In. Tapi biar bagaimana juga,

Lo In yang cerdik sudah dapat menangkap bahwa dirinya

disesalkan.

"Kie Lopek bicara dari hal yang wajar." kata Lo In.

"Baik, aku nanti berusaha sebisanya mendapatkan kembali

enci Leng Siong meskipun apa pun yang akan terjadi atas

diriku yang tidak berguna "

"Lo Hiantit, kau jangan salah paham." berkata Kie Giok

Tong yang pandai melihat gelagat.

"Apa yang aku barusan bilang, bukannya menyesalkan kau.

Hanya kami dari suyangtin Ngo-houw mau minta bantuanmu.

Habis, kalau tidak minta bantuan Hiantit yang berkepandaian

tinggi, sama siapa kita dapat minta bantuan lagi ?"

 

Lo In tidak mau debat, ia hanya anggukkan kepalanya.

Kapan ia melihat ke sekitarnya, ia tidak nampak Kim Wan

Thauto- Lalu ia menanya pada tuan rumah,

"Paman Teng, kemana perginya toako ?"

" Entah dia pergi kemana, hanya dia ada menitipkan surat

ini untuk Hiantit." sahut Teng Hauw seraya keluarkan sebuah

sampul dari kantongnya dan diberikan pada Lo In. Ketika Lo In

sobek sampul dan baca surat Kim Wan Thauto, hanya pendek

saja bunyinya :

"Anak In, toako tidak berguna. Mengikuti anak In hanya

membuat berabe saja. sampai disini saja, kita berpisahan.

Toako akan berusaha mencari anak Hiang, semoga toako

berhasil. Harap anak In bisa jaga diri dalam perjalanan. Kim

Wan Thauto"

Benar-benar pusing kepalanya Lo In. urusan yang satu

belum beres, muncul lagi yang lain. Lo In menduga perginya

Kim Wan Thauto lantaran tidak begitu cocok dengan tabiatnya

Eng Lian, tidak seperti terhadap Bwee Hiang. Memang

tabiatnya dua gadis ini sangat jauh bedanya seperti langit dan

bumi. Kalau Eng Lian berandalan dan tidak begitu

memandang pada orang yang lebih tuaan, sebaliknya dengan

Bwee Hiang yang halus tutur katanya dan bisa menyesuaikan

diri hingga orang menaruh simpati bergaul dengannya.

Mungkin disebabkan usianya Bwee Hiang ada lebih tua dan

lebih 'matang'. Tapi bagaimana pun, Bwee Hiang memang

seorang gadis yang terdidik (terpelajar) dan arahnya bergaul

ada sangat simpatik, hingga orang suka kepadanya.

 

sampai pada waktu malam, baru nyonya Teng kelihatan

reda sedihnya- Ia panggil Lo In dan Eng Lian berkumpul, juga

Teng Hauw ada hadir-

"Anak Lian." kata nyonya Teng-

" Aku panggil kau berkumpul ada satu hal yang ingin

kusampaikan padamu- soal apa, kau tahu ?"

"Mana aku tahu, bibi belum omong." sahut Eng Lian

ketawa.

Nyonya Teng tersenyum lirih-

"Sebenarnya yang aku ingin ceritakan padamu, anak siong

turut serta mendengarkan ada terlebih baik. Tapi dia tidak ada,

tidak apalah kuceritakan padamu-"

"Urusan apa itu, bibi Teng ?" tanya Eng Lian.

"Urusan hubungan kita bersama." sahut nyonya Teng

tersenyum.

Eng Lian mendesak supaya nyonya Teng lekas bercerita.

Lantas nyonya Teng mengisahkan satu kejadian yang cukup

menarik untuk dituturkan disini-Itu kejadian kira-kira delapan

belas tahun yang lalu.

Di suatu dusun yang bernama Cenghiang, kira-kira 200 lie

di sebelah barat dari suyangtin, masa itu ada hidup seorang

gadis bersama kakeknya, si kakek bernama Tan Giok siong

dan si gadis namanya Lie Gin Hoa.

Hidupnya Gin Hoa sangat tertekan oleh kakeknya yang

bengis. Tidak diperbolehkan ia berpakaian rapih dan merawat

 

dirinya hingga kecantikannya mengumpat dibalik wajahnya

yang kotor dan pakaian yang kumal.

Biasanya seorang kakek sangat memanjakan cucunya dan

kepingin cucunya lekas-lekas lalu, tapi Giok siong sebaliknya,

ia menekan kemerdekaan cucunya seakan-akan sang cucu

tidak boleh kawin dan sampai mati terus merawat dirinya.

Entahlah, dalam dunia yang lebar ini ada macam kakek

yang begituan.

Untunglah Gin Hoa bukannya gadis yang suka dimanja, ia

dapat menyesuaikan dirinya terhadap kakeknya yang bengis.

Cuma saja, parasnya yang kotor dan pakaiannya yang kumal

membuat Gin Hoa sampai usia lewat 20 tahun belum ada yang

naksir.

Pada suatu hari, ketika ia habis mencuci pakaian di kali

yang letaknya agak jauh juga dari rumahnya, ia turun mandi di

kali dengan hanya bagian bawahnya saja yang tertutup

sedang bagian atas tubuhnya telanjang. Tampak tubuhnya

yang halus putih mempesonakanpada yang melihatnya, Ia ada

bersama dua orang temannya mencuci di kali itu. Terdengar

satu diantara temannya itu berkata kepadanya,

"Enci Gin, tubuhmu begini halus putih macam sutera,

kenapa wajahmu kotor amat ?"

"ya, enci Gin. Bersihkan sekali, aku ingin lihat kecantikan

aslimu " menimpali temennya yang lain.

Gin Hoa hanya tersenyum sambil mandi terus.

"Kakekmu terlalu kejam, menekan enci- sampai begini"

 

"Rupanya kakek enci Gin tidak senang melihat wanita

cantik "

"Dengan romanmu yang sembarangan, mana dapat

pasaran?"

"Aku sendiri yang jelek, sudah 3 tahun laku."

"Hihi, bisa saja enci Soen jangan gitu dong "

" Emang, kalau enci Gin unjukkan kecantikan aslinya, 3

tahun yang lalu sudah tentu disambar orang. Tidak seperti

sekarang, sudah masuk 23 tahun masih belum punya pacar

satu juga."

"Emangnya kalau berpacaran mesti punya dua tiga pacar?"

"Tentu, kalau yang ini lolos, yang itu, kalau yang itu gagal,

ada yang ini."

"Hihi, enci soen bisa saja- Mari kita pulang, kita kan sudah

selesai-"

"Baru aku mau ajaki kau pulang- Biar kita tinggal enci Gin

sendirian merendam dirinya lama-lama. Biar daki-dakimu pada

rontok- Hihihi—-"

Demikian 3 orang itu mengocok Gin Hoa yang sedang

merendam diri dalam kali yang jernih.

"Hei, kalian tega amat meninggalkan aku sendirian" teriak

Gin Hoa, ketika melihat dua kawannya sehabis mengocok

dirinya (Gin Hoa) pada meninggalkan pgrgi

 

Tapi teriakannya tidak dihiraukan, malah mereka ngikik

ketawa sambiljalan terus meninggalkan Gin Hoa yang masih

mandi-

"Biar mereka pergi, aku boleh merendam badan lamalamaan."

kata Gin Hoa ketawa. Tiba-tiba ia mendengar suara

seruling menggema di bawa sang bayu.

"Lebih enak lagi aku merendam diri diiringi seruling." kata si

gadis sambil gosoki tubuhnya yang putih halus, cuma

herannya mukanya sendiri ia tak ambil pusing. Malah ketika

tangannya kesalahan waktu mau menggosok pipinya, dia

menggumam,

"Hei, di sini kakek tidak mau " Lucu lagaknya si gadis.

Ia dengar suara seruling makin lama makin dekat, akan

kemudian......lenyap tak terdengar pula.

Kesal mendengar lenyapnya suara seruling Gin Hoa

menggerutu,

"Siapa sih yang meniup seruling ? Lagi enak-enak nonamu

mendengarkan, lantas dihentikan"

Gin Hoa berkata seraya naik ke darat. Tapi.........alangkah

kagetnya nampak pakaiannya tidak ada di tempatnya tadi-

"Celaka " pikirnya. "Aku dalam keadaan telanjang begini,

dari mana aku dapat penutup tubuhku? Kurang ajar, siapa sih

yang begitu jail? Akan kugasak dia kalau aku ketemukan

orang jail itu "

Tubuh yang berdiri dalam pakaian..........ehm Tentu saja

bikin pria yang lihat bisa jatuh lemas mendadak- Tapi Gin Hoa

 

tidak memikir ke situ, pikirnya ditempat itu jarang atau belum

pernah ia lihat kaum pria yang lalu lalang.

Dalam kebingungan mencari penutup badan, ia ingat akan

cuciannya tadi- Maka ia buka bakul cuciannya dan mengambil

pakaiannya yang basah dan dipakainya seketika itu sedang

mulutnya menggerutu,

"Tidak salah, tentu si soen dan si sin tadi yang main gila

menggodai orang terlalu kelewatan. Masa pakaian orang

dibawa pergi diam-diam. Baik, kalau kuketemu mereka, akan

kumaki habis-habisan"

Dengan mengenakan pakaian yang barusan dicuci,

entenganjuga bobot bakul yang dikempit dipinggangnya, Ia

pulang dengan perasaan mendongkol pada dua temannya

yang ia anggap menggodainya keterlaluan.

Belum berapa tindak ia berjalan, ia nampak di sebelah

depan ada sepotong kain yang terpancang dipokoknya pohon.

Kapan ia dekati, alangkah terkejutnya, sebab itu adalah

baju dan celananya yang hilang. Cepat ia menjambret, kiranya

pakaian itu terpancang pada sebatang seruling yang nancap

pada pokoknya pohon.

Ia coba cabut seruling itu tapi sampai berkutatan, ia tak

dapat mencabutnya hingga ia uring-uringan. Katanya,

"orang yang punya seruling, kenapa kau jail amat sama

nonamu ? Awas Kalau sampai jumpa dengan nonamu, akan

kuhajar batang hidungmu yang kaya

ser......."

 

Ia terperanjat ketika sekonyong-konyong menempel ke

mulutnya yang sedang nyerocos hingga terputus kata-katanya,

Ia coba mengelak, percuma, malah hidung tadi makin

melengket di mulutnya dan tubuhnya dipeluk prang erat-erat

hingga rasanya 'ngap'.

Ketika ia sadar, siapa orang yang berlaku kurang ajar itu,

bukannya Gin Hoa marah malah dari menronta keras ia jadi

jinak dan kasihkan bibirnya dicium lama-lama.

"Koko, kau bikin aku rasanya "ngap " kata Gin Hoa setelah

terlepas dari pelukan orang sambil tundukkan kepala.

"Adik Gin, kalau tidak dengan cara begini, selalu kau mau

lari saja dari aku." sahut orang itu dengan suara halus dan

ramah-

Di balik wajahnya yang kotor, matanya melirik tajam pada

orang itu yang juga telah tergetar hatinya. Dengan tiba-tiba ia

lantas ulur tangannya hendak memeluk lagi.

"Jangan, koko" kata si gadis seraya mundur satu tindak-

"Adik Gin, lama aku mimpikan kau. sayang selalu kau

menjauhkan diri saja dari aku. Barusan aku sudah saksikan

keindahan tubuhmu, membikin aku hampir jatuh dari pohon,

sudah lama kutahu kau umpatkan kecantikanmu di balik

wajahmu yang kotor. Tapi untuk menyaksikan tubuhmu yang

menggiurkan tadi, belum pernah aku mengimpi.........."

"Koko," memotong si gadis, seraya tundukkan kepala. Malu

rupanya ia tubuhnya yang indah ditonton orang di depannya.

"Kau bikin aku penasaran atas kelakuanmu."

 

"AKu Gouw Tay Lie, tak bakal bikin kau penasaran.

sekarang juga aku akan pergi pada kakekmu untuk melamar

dirimu. Dikasih atau tidak- aku akan memaksanya "

Gouw Tay Lie adalah pemuda umur tiga puluhan, wajahnya

cakap dan tampan. Entah dari mana datangnya dia sebab

dalam dusun cenghian itu ia tinggal belum berapa lama. Ia

sering-sering perhatikan Gin Hoa kalau pergi cuci di kali

bersama-sama temannya.

Teman-teman Gin Hoa sering ketemu si pemuda dalam

perjalanan mencuci ke kali, mengira bahwa Gouw Tay Lie

naksir pada dirinya, sudah unjuk kegenitannya kepada si muka

tampan. Tapi Gouw Tay Lie tidak meladeni mereka, hanya

matanya berpusat kepada Gin Hoa.

Dari gerak gerik dan lirikan Gin Hoa yang tajam, Tay Lie

mengerti bahwa perhatiannya pada si nona mendapat

sambutan, Ia sudah berusaha mendekati, tapi selalu si nona

menjauhkan diri Malah kalau pergi cuci di kali tanpa ada yang

temani, Gin Hoa tidak mau pergi. Tay Lie tahu bahwa si nona

bukan tidak mau melayani, ia hanya takut pada kakeknya yang

bengis dan mengekang dirinya.

setelah berkali-kali untuk mendekati si gadis berwajah kotor

tidak berhasil, akhirnya ia ambil jalan nekad seperti yang

dilukiskan diatas.

Mendengar kata-kata si pemuda yang hendak melamar

dirinya dan akan memaksanya kalau si kakek tetap bertahan,

Gin Hoa jadi kaget, Ia berkata. "Jangan, jangan. Kakek adanya

luar biasa. Kalau dia marah, aku yang jadi korban nanti."

Tay Lie mau percaya akan keterangan si nona.

 

Pemuda itu sudah mencari keterangan halnya si kakekmemang

adanya luar biasa. Ada beberapa tetangganya

diminta perantaranya untuk melamarkan Gin Hoa, tidak ada

yang berani. Malah menasehatkan Tay Lie untuk jangan dekati

si nona, lebih baik cari yang lain saja.

Malah pernah ada kejadian, si nona dipukuli si kakek

karena ada orang yang meminang si gadis untuk dijadikan

istrinya yang sah. orang yang melamar itu kedudukannya

dalam dusun itu boleh juga. sengaja ia mencari wanita yang

romannya tidak berapa cantik, asal boleh

dipakai'Pendaringan', dimaksudkan yang setia dan sabar

untuk merawat dua anaknya yang masih kecil, belum lama

ditinggal mati oleh ibunya. Lantaran ini, maka segan orang

berurusan dengan si kakek dalam hal cucunya itu.

gara-gara si kakek yang adatnya aneh, bisa-bisa Gin Hoa

jadi perawan tua.

Tadinya Tay Lie sudah nekad dan mau datangi si kakek

untuk minta dirinya Gin Hoa. Mendengar kata-kata Gin Hoa

yang separuh meratap, ia menjadi kasihan pada si nona dan

urungkan niatnya- Tapi, ia mencintai Gin Hoa- Cara

bagaimana ia dapatkan si gadis ? Inila h yang membuat

kepalanya pusing.

sejak dari mulutnya kena ditempel hidung Tay Lie, si nona

jadi berpikiran.

orang demikian tampan, mau sama dirinya yang berwajah

kotor menjijikkan, sungguh ia tidak habis mengerti, Ia tidak

sadar kalau Tay Lie sudah tahu bahwa dibalik wajah yang

kotor itu ada mengumpat kecantikan yang bercahaya

 

sejak itulah Tay Lie dan Gin Hoa makin rapat hubungannya

di luar tahunya sang kakek yang bengis, sering mereka bikin

pertemuan rahasia di tempat-tempat yang sunyi.

Hari lewat hari, Giok siong (si kakek) lihat badannya sang

cucu berubah- sering tiduran siang, biasanya tidak pernah

dilakukan Gin Hoa, malah terkadang tampaknya si nona

sangat lesu, tidak bersemangat untuk mengerjakan apa-apa.

Giok siong menjadi heran. Dari heran ia menjadi curiga

ketika nampak perutnya sang cucu seperti melembung.

Pada suatu malam tampak romannya Giok siong sangat

tegang, kadang-kadang beringas. Entah kenapa si kakek

mendadak berubah demikian menakutkan, sebentar lagi ia

masuk ke dapur, dimana ia ambil golok, piranti membelah

kayu.

Ketika melihat golok itu puntul, lalu ia dekati batu asahan,

dimana ia mengasah golok itu sampai tajam benar. Kalau

orang yang melihat tingkah lakunya si kakek malam-malam

mengasah golok, tentu orang akan menanya : Apa-apaan dia

mengasah golok malam-malam ? Memangnya tidak ada waktu

siang untuk membuat golok tajam ?

sebentar lagi, setelah melihat golok sudah tajam, Giok

siang tampak pentil-pentil bagian tajamnya, Ia ketawa, tidak

sampai terbahak-bahak, seakan-akan takut ada orang dengar.

Dengan golok itu ia masuk lagi ke dalam, Ia duduk pada

sebuah dipan, piranti tidurnya.

"Gin Hoa, Gin Hoa Kemari sebentar" tiba-tiba si kakek

teriaki cucunya yang belum lama masuk kamarnya untuk tidur.

 

Gin Hoa yang memang belum pulas, kaget mendengar

panggilan sang kakek-

Cepat ia turun dari pembaringan, keluar menghampir

kakeknya yang tengah duduk ditepi pembaringannya.

"yaya (kakek), ada perintah apa kau memanggil aku ?"

tanyanya.

"Gin Hoa, bukan tidak ada alasannya aku memanggil kau."

"yaya mau suruh apa ? Katakanlah, aku lantas akan

mengerjakannya."

"Hehehe, cucuku yang manis." si kakek ketawa asem.

Gin Hoa tidak enak hatinya melihat gerak g erik sang kakek

yang aneh.

"Aku mau tanya kau, harus kau mengaku terus terang."

berkata Giok siong.

"Aku memangnya kenapa, yaya?" tanya si gadis ketakutan.

"Kau sudah berhubungan dengan siapa ? Lekas mengaku "

"Tidak, aku selalu merawati yaya, tidak berhubungan

dengan siapa juga."

"Bagus " kata Giok siong seraya bangkit mendekati

cucunya yang tengah gemetaran.

"Weekk " tiba-tiba terdengar suara robeknya kain. Kiranya

pakaian bagian perutnya Gin Hoa kena dijambret oleh si

kakek.

 

"Hahahaha, tidak ada hubungan ? ini apa ?" si kakek kata

sambil menunjuk pada perutnya Gin Hoa yang sudah mulai

mengembung.

Tersipu-sipu Gin Hoa coba menutupi perutnya yang

telanjang, sambil menangis, ia putar tubuhnya lari ke kamar

dengan maksud mau tukaran. Tapi satu tendangan dari Giok

siong bikin Gin Hoa jatuh meloso- Kembali terdengar suara

"wekk wekk1 beberapa kali. pakaian Gin Hoa yang sudah

robek bertambah robek lagi di sana sini hingga si nona

separuh telanjang.

"Hehe, bagus ya berani kelabui yayamu " kata Giok, siong

seraya mengambil golok dari dekat bantal tidurnya.

"Kau lihat ini apa ?" berkata Giok siong seraya acungkan

goloknya.

Gin Hoa tengah merang kak-rangka k bangun sambil

menangis, Ia singkap rambutnya yang terurai ke mukanya

untuk melihat barang apa yang si kakek suruh lihat, Ia menjerit

nampak Giok siong memegang golok tajam.

"yaya, kau mau apakan aku ? uh.....uh.....uh......." ia

menangis keras.

"Aku mau belah, keluarkan anak haram dari perutmu "

sahut Giok siong bengis. Mendengar perkataan si kakeksekali

menjerit lantas Gin Hoa pingsan-,

"Bagus-" kata Giok siong ketika melihat cucunya pingsan.

"Aku tak usah menelikung tanganmu lagi untuk

mengeluarkan anak haram dari perutmu " Ia berkata sambil

mendekati Gin Hoa yang menggeletak separuh telungkup,. si

 

kakek kelihatan cucunya jadi rebah terlentang hingga tergetar

juga hatinya si tua tampak tubuhnya Gin Hoa separuh terttup.

Perutnya yang melembung dibungkus oleh kulit yang putih

halus, membikin Giok siong jongkok termangu-mangu.

"Kurang ajar." tiba-tiba ia menggerutu.

"Siapa manusianya yang berani ganggu cucuku ? Betulbetul

dia berani main-main dengan kumis "

Nyata si kakek sudah ambil keputusan tetap untuk

mengeluarkan bayi dari dalam perutnya Gin Hoa, melihat ia

sudah menyobek lagi pakaian si nona sehingga sekarang

tampak jelas perutnya Gin Hoa yang sedang mengandung.

Kasihan Gin Hoa akan menjadi korban kekejaman

kakeknya sendiri Isi perutnya akan dikeluarkan dengan paksa-

Gin Hoa matanya masih terus tertutup ketika golok dapur yang

sudah diasah tajam mulai menyentuh pusarnya. Rupanya si

kakek hendak mulai membelah perut cucunya dari situ.

"Trang " huara golok terbentur benda keras, berbareng

goloknya Giok siong juga sudah terlempar diluar kemaunnya si

kakek-

Kiranya benda yang membentur golok si kakek adalah

sebuah batu yang sebesar jempol tangan, yang jatuh persis

diatas perutnya Gin Hoa- Bukan main kagetnya Giok siong.

cepat ia bangun berdiri dan membentak.

"Bangsat, kau berani main gila pada orang she Tan ? Lekas

unjukan cecongormu "

"Aku ada disini-" terdengar orang menyahut dari belakang.

 

Cepat cilik, siong memutar tubuh. Kiranya dia seorang

muda dari usia tiga puluhan yang menyahut bentakan tadi-

Wajahnya tampan, tinggi kurus, tengah berseri-seri ke arahnya

sambil menjura hormat.

si kakek bukannya senang melihat pemuda sopan dan

berwajah tampan, sebaliknya ia sangat gusar. Bentaknya,

"Anak sialan, tentu kau yang bikin cucuku jadi melembung

perutnya. Hm, bagus, bagus "

Meskipun ia sangat gusar dan memaki si pemuda yang

tiada lain adalah Gouw Tay Lie adanya, tidak berani ia

sembarang bergerak melihat si pemuda dengan sebuah batu

sudah bikin golok terlempar dari cekalannya.

"Mohon maaf pada kakek-" kata Tay Lie.

"Urusan adik Gin, aku yang tanggung jawab. Aku tidak akan

sia-siakannya."

"Hm, bagus-bagus." kata si kakek sambil anggukanggukkan

kepalanya.

"Adat kakek ada luar biasa. Maka terpaksa aku ambil jalan

seperti yang sekarang kakek sudah tahu untuk aku dapatkan

dirinya adik Gin,"

"Hm Bagus, bagus...."

"selanjutnya, adik Gin akan menjadi istriku"

"Hm Bagus, bagus........"

"Apa yang bagus ?" tanya Tay Lie yang jengkel bicaranya

hanya dijawab dengan 'bagus, bagus' saja.

 

"Memang bagus, kau sudah bikin melembung perut cucuku

tanpa permisi dulu dari aku. Apa perbuatanmu itu aku harus

bilang jelek ?"

Tay Lie melengak mendengar jawaban si kakek seperti

sinting.

Ia melirik pada Gin Hoa yang tengah telentang tidak ingat

orang dengan badan hampir kehilangan tutupnya sama sekali.

Hatinya sangat kasihan, cepat ia jongkok, kemudian

memondong si nona.

"Hei, kau mau bawa kemana cucuku ?" Giok siong tiba-tiba

menanya.

"Aku mau rebahkan dia diatas pembaringan dan

menolongnya." sahut Tay Lie seraya terus bertindak

menghampiri dipan si kakek-

"Hei, itu tempat tidurku, tak boleh ditaruh disitu, kotor " kata

Giok siong.

Tay Lie tidak meladeni si kakek- sambil mendengus ia

bawa si nona ke dalam kamarnya, dimana ia rebahkan dan.

menutupi badan Gin Hoa yang telanjang.

Ia segera mulai mengurut-urut urat-urat dari jalan darah

yang ia tahu untuk membikin Gin Hoa tersadar. Lama juga ia

berusaha menyadarkan si gadis.

"Hei, kau lama-lama dalam kamar lagi apa-apaan ?"

kedengaran suara si kakek dari sebelah luar.

Tay Lie melengak- jadi melengak keheranan ia jadi geli

ketawa sendiri menyaksikan tindak tanduk si kakek- Pikirnya,

 

orang sedang repot menolong gin Hoa, bukannya bantu

menolongi, ini malah menanya yang bukan-bukan. Benarbenar

orang tua itu sudah sinting atau linglung.

Tay Lie tidak meladeni si kakek- terus ia berusaha

menolong Gin Hoa.

"sudah tanpa permisi bikin perut cucuku kembung,

sekarang lama-lamaan di dalam kamar cucuku. Betul-betul

kau bikin si kakek jadi penasaran" kedengaran Giok siong

kembali mengucapkan kata-kata yang melantur, sebentar lagi

tampak Gin Hoa siuman.

"Koko, kau juga datang ?" tanya si gadis lemah-

"Adik Gin, aku datang unuk melindungi kau." sahut si

pemuda, ketawa.

"Memangnya aku kenapa ?" tanya si gadis, seperti

mengigau.

"Adik Gin, anak kita mau dikeluarkan dari perutmu oleh

kakekmu."

"Koko" menjerit Gin Hoa sambil bangun dan menubruk Tay

Lie yang duduk di tepi pembaringan.

"AKu takut.....aku takut......" katanya dalam pelukan si

pemuda. Gin Hoa lupa akan pakaian yang sudah koyak-koyak-

"Adik Gin, tenang, tenang " menghibur Tay Lie seraya

membelai-belai rambutnya si gadis yang hitam jengat bagus.

"Hei, lagi apa-apaan ?" si kakek berkata sambil tongolkan

kepalanya dari balik muilie (terai pintu) sebab kamarnya Gin

Hoa tidak berpintu.

 

Gin Hoa kaget- Ia dorong Tay Lie dan masuk lagi ke dalam

selimut- Kini ia sadar bahwa dirinya hanya berpakaian

separuh-

"Koko, itu kakek datang mau membelah perutku.........."

meratap Gin Hoa dari dalam selimut, Ia sudah menutup

seluruh badannya dengan selimut saking ketakutan-

Tay Lie tidak menjawab, sebaliknya ia bangkit dan berjalan

keluar dimana Giok siong sudah duduk menantinya di ruang

tengah, seraya tangannya memegang golok yang tadi mau

dipakai membelah perut cucunya. Tay Lie tidak gentar si kakek

memegang golok-

Ia jalan menghampiri dan duduk di depannya- Ia berkata,

"Urusan sudah jadi begini, kau sekarang mau apa ?"

" urusan tidak jadi begini kalau tidak gara-garamu tanpa

permisi melembungkan perut cucuku." sahut Giok siong

dengan mata bersinar rasa penasaran.

Tay Lie anggap orang tua ini benar-benar sinting. Masa

saban-saban menyebut kehamilan cucunya tanpa permisi.

Kalau tidak sinting, orang ini tentu kakek cabul. Dalam

jengkelnya Tay Lie berkata kasar, katanya,

"ya sudah, aku tanpa permisi melembungkan perut cucumu.

Kau mau apa ?"

"Heheh, kau mau ngaku juga kesalahanmu, ya " Giok siong

ketawa aneh-

"Aku Gouw Tay Lie, berani berbuat tentu berani tanggung

jawab "

 

"Tanggung jawab apa " mendengus si kakek- matanya

melotot.

"Aku tanggung jawab buat kehidupannya adik Gin. Aku

tidak nanti sia-siakan dan akan menjadikan istri yang

tersayang "

"Hahaha " giok siong tertawa terbahak-bahak-

"Kau lihat ini ?"

Tay Lie lihat cilik, siong acungkan goloknyasebelum

ia bicara, cilik, siong sudah mendahulu,

"Aku Tan.........."

".........Giok siong " terdengar orang menyambung dari

sebelah luar. Lalu disusul dengan tertawa yang terbahakbahak,

si kakek dengan mendadak saja agak bergidik

badannya-

Tay Lie heran, dengan mendadak sontak setelah

mendengar tertawanya orang diluar rumah si kakek bergidik

sampai badannya gemetaran. Entah siapa orang yang datang

itu. "Brak " tiba-tiba pintu ditendang terbuka.

Tampak berjalan masuk seorang pria bermuka persegi dan

gemuk badannya. Dari muka dan perawakannya, Tay Lie

heran, tidak ada yang harus ditakuti- Kenapa si kakek

bolehnya bergidik sampai gemetaran badannya ?

orang itu tidak memandang pada Tay Lie yang ada disitu,

hanya langsung berkata kepada Giok siong,

 

" Kakek sinting, tidak nyana kau mengumpat disini Tujuh

tahun sudah aku mencari-cari kau. Mana cucu perempuanmu?

Lekas keluarkan"

si kakek tidak menyahut, hanya matanya saja memandang

pada orang gemuk itu dengan roman agak pucat, seakan-akan

melihat setan.

"Aku ciu-kui Gouw TOa (si setan Arak) belum pernah

mengampuni anak buahnya yang berkhianat Tapi untukmu,

aku bisa kasih kelonggaran, asal cucu perempuanmu lekas

kasih keluar. Dimana dia, lekas Hahaha, sekarang kau tak

punya alasan untuk mengatakan cucumu masih di bawah

umur"

Gin Hoa dikamar mendengar suara Gouw Toa juga

ketakutan, ia tutup rapat-rapat semua badannya dengan

selimut, takut orang itu nanti masuk ke dalam kamarnya dan

melihat dirinya. Diam-diam ia jengkel, kemana sih perginya

Tay Lie, tidak kedengaran suaranya.

Ia barusan saja tukaran pakaiannya yang koyak-koyak dan

mau memanggil Tay Lie masuk untuk menasehati supaya si

anak muda jangan kasar-kasar bercakap dengan yayanya, tapi

niatannya urung karena ia mendengar suara yang ia kenali

betul.

"Patung, kau diam saja " bentak Gouw Toa, si setan Arak-

Untung Giok siong sudah menguasai keadaan maka ketika

dibentak demikian, bukan makin menggigil ketakutan malah

tiba-tiba ia ketawa dan tampangnya berubah tidak ketakutan

lagi seakan-akan dalam benaknya sudah mendapat

pemecahan untuk menghadapi Gouw Toa.

 

Bukan Tay Lie saja yang heran, juga Gouw Toa jadi

melengak sejenak nampak si kakek tidak bergemetaran

mendengar bentakannya yang nyaring

"orang she Gouw, kau sudah terlambat datang." sahut Giok

siong ketawa.

"Apanya yang terlambat datang ?" tanya Gouw Toa heran.

"Cucuku sudah melembung. Hahaha...."

"Apanya yang melembung "

"Sudah tentu perutnya, hahaha "

Gouw Toa memang pandang Giok siong ada satu kakek

yang sinting, ucap katanya suka melantur ketika si kakek

masih menjadi anak buahnya. Tapi mendengar kata-kata

melembung perut cucu perempuannya si kakek- mau tak mau

ia menjadi terkejut dan memandang ke arahnya si kakek

dengan muka bengis.

"Jadi, cucu perempuanmu sudah punya suami?" ia

menanya, cemas hatinya.

"Punya suami sih belum, cuma dia sudah melembung."

sahut si kakek haha hihi.

"siapa yang bikin dia melembung ?" bertanya Gouw Toa

sangat gusar.

Giok siong tidak menjawab, hanya matanya saja melirik

pada Tay Lie yang enak-enakan mendengari orang bertanya

jawab. "Brak Prang Preng Prong....."

 

Itulah suara meja terbalik diatas mana ada ditaruh piring

mang kok, tempat teh dan lain-lain hingga ramai

kedengarannya.

Meja itu terbalik ditendang sekerasnya oleh Gouw Toa,

yang seketika itu meluap amarahnya kepada Tay Lie- si setan

Arak penasaran, bakal miliknya didahului oleh si pemuda yang

tak dikenal dan juga tidak dipandang mata olehnya, cilik, siong

kembali gemetaran nampak si setan Arak mulai umbar

amarahnya.

Tapi Tay Lie tinggal tenang-tenang saja dan memandang

pada Gouw Toa dengan tersenyum sinis. Tampaknya ia tidak

gentar kepada si setan Arak-si kakek tidak menjawab, hanya

matanya kedap kedip pada Tay Lie.

" Lekas katakan" kembali si setan Arak membentak-

Giok siong dengan muka ketakutan, melihat ke kamar Gin

Hoa yang tidak berpintu

"Hahaha " si setan Arak tertawa keras, tubuhnya berbareng

melompat ke pintu kamar

dan ia akan menerobos masuk kalau tidak tertahan oleh

suara halus dari dalam kamar. "Jangan.. Jangan masuk- Aku

lagi tukar pakaian, segera aku keluar"

"Hehehe, nona manis, kau masih kenali juga pada Gouw

Toaya ?" kata Gouw Toa ketawa.

"Aku tahu Gouw Toaya yang datang, tunggu sebentar"

sahut Gin Hoa, empuk suaranya.

 

si setan Arak yang merangkap juga jabatan setan

Perempuan, tampak berseri-seri kegirangan, menunggu

keluarnya si elok dari kamarnya.

Tay Lie sudah muak melihat lagaknya Gouw Toa. Tadi

ketika si setan Arak mau menerobos ke kamarnya sang

kekasih, ia sudah mau menghadang tapi urung ketika

mendengar suara Gin Hoa yang dapat menyetop kelakuan si

setan Arak yang kasar.

Ia masih mau lihat, apa yang Gin Hoa bisa bikin untuk

menghadapi Gouw Toa Juga ia masih samar-samar untuk

mengetahui duduknya urusan. Maka ia tidak mau turun tangan

dulu. Hanya yang sudah terang baginya adalah Giok siong,

memang dia ada seorang kakek sinting. Bagaimana

lantarannya Giok siong mengekang kemerdekaan cucunya,

inilah yang ia kepingin tahu.

Tidak lama Gin Hoa telah keluar dari kamar.

Ia tertawa kepada Gouw Toa, sebaliknya Gouw Toa

terbelalak matanya memandang kepada si nona.

"Apa kau si Gin dari tujuh tahun yang lalu ?"

"siapa bilang bukan si Gin yang dulu ? Waktu itu aku baru

berumur lima belas, sudah tentu sekarang lain rupanya. Lain

dulu lain sekarang, Gouw Toa y a Hihihi......" Gin Hoa ketawa

tapi tidak membuat guncang hatinya si setan ciila Perempuan,

malah ia seram rupanya, matanya kedap kedip seperti orang

tolol.

Tadinya Gouw Toa mengira dari dalam kamar akan keluar

satu gadis yang cantik jelita dengan senyuman yang memikat

dan lagak lagunya yang Jenaka, tidak tahunya di depannya

 

sekarang berdiri satu wanita yang mukanya buruk bagaikan

restan penyakit cacar. Matanya belekan (tai mata di sana sini),

pakaiannya kumel seperti yang sudah tahunan lantaran tidak

dicuci-cuci, mulutnya juga seperti mengok ke kiri seketika

berbayang di depan Gouw Toa roman cantik jelita Gin Hoa

pada usianya yang mulai mangkat dewasa. Luwes dan

cekatan, omongannya serba Jenaka penghibur lara. Tapi

sekarang kenapa jadi begini ? Dalam usia dewasa Gin Hoa

semestinya lebih cantik dan mempesonakan. Ini malah lebih

buruk dari wanita yang disebut jelek-

Tak dapat Gouw Toa memecahkan persoalan itu sebab

buktinya memang si nona berwajah buruk menyeramkan.

"Kalau benar si Gin, kenapa wajahmu berubah seburuk ini

?" si setan Arak menanya perlahan, seperti cemas hatinya.

"Kalau dulu wajahku cantik dan sekarang buruk, itu

perubahan yang wajar." sahut Gin Hoa, melirik pada Gouw

Toa seraya tersenyum, Gouw Toa main muak melihat lirikan

dan senyuman Gin Hoa-

Kenapa ? Gouw Toa lihat lirikan Gin Hoa bukan memikat

tapi seperti berjatuhan tai matanya, senyumannya

menyeramkan sebab mulutnya yang mengok seperti lebih

mengok lagi. Tapi betul seperti katanya cilik, siong, cucunya

sudah melembung perutnya.

Mungkin si nona sudah mengandung tujuh delapan bulan.

Dalam keadaan mengandung, tubuhnya Gin Hoa berubah

makin menggiurkan sebenarnya. Tapi si setan Arak tidak

melihat itu, hanya yang dibuat pikiran wajah si nona yang

buruk.

Dari merasa cemas dan heran, ia menjadi marah,

 

"Kau bilang perubahan yang wajar, apa artinya itu ? Lekas

katakan"

setelah tersenyum yang memuakkan Gouw Toa, si nona

menjawab,

"Aku diserang penyakit cacar, makanya wajahku jadi

berubah begini- Kapan Gouw Toaya pulang Jangan lupa ajak

aku, ya"

"Ajak kau pulang ?" kata si setan Arak dengan sinis.

"ya, sejak aku pulang ke rumahmu ?"

"siapa yang mau bawa orang macam kau ?"

"Dari jauh kau cari aku, kenapa sekarang berubah

pikiranmu "

"siapa yang cari kau, budak buruk "

"Lho, kenapa kau jadi memaki si Gin ?"

"Memaki maish bagus, sebagai ganti tendangan Gouw

Toaya "

"Ajak dong, kan kau mencari aku ?" Gin Hoa dengan berani

mendekati si setan Arak dan hendak mencekal tangan orang

dengan tangannya yang kotor.

"Kurang ajar Kau berani..........?" kakinya pun melayang

hendak menendang Gin Hoa.

Tendangan itu berat ratusan kati, tambahan mengarah

perut. Kalau saja mengenai sasarannya terang perutnya Gin

Hoa akan berantakan dan bayi didalamnya mati seketika. Hal

 

mana membuat Gin Hoa sangat kaget, sebab perbuatan si

setan Arak ada diluar perhitungan, Ia sudah pejamkan

matanya untuk terima binasa. "Bluk " terdengar suara tubuh

yang jatuh.

Gin Hoa terkejut, cepat dia membuka matanya.

Kiranya suara "bluk1 tadi adalah suara tubuhnya Gouw Toa

yang berat, jatuh meloso di lantai dan sedang merangkak

bangun. Di dekatnya kelihatan Tay Lie berdiri sambil senyumsenyum.

Apakah yang sudah terjadi ? Gin Hoa tak usah putar

otak untuk mencari tahu, karena lantas terdengar bentakan

Gouw Toa kepada Gouw Tay Lie,

"Binatang Hm Bagus, bagus, bagus......."

"Apa yang bagus ?" tanya Gouw Tay Lie keheranan.

"Bagus perbuatanmu bikin bunting anak orang tanpa

dinikah " sahut Gouw Toa.

"Itu ada urusan pribadiku, ada sangkut apa dengan kau?"

"sangkutan apa ? Hm Kau tidak tahu Gin Hoa kepunyaanku

?"

"Kalau kepunyaanmu, kenpa kau tidak mau bawa kau,

malah ini menendang kayak kuda kelaparan" menyela Gin

Hoa dengan berani.

Gouw Toa melengak- Ia tidak menduga Gin Hoa berani

mengejek demikian.

"Kau kira wajahmu kebagusan untuk dibawa oleh Gouw

Toaya ?" bentaknya.

 

"Hihi, orang sinting." kata gin Hoa.

"Kakekku kau katakan sinting, tidak tahunya kau lebih

sinting lagi........."

"Kau berani.......?" mengancam Gouw Toa, tangannya

diulur hendak memukul.

"Nah, pukullah " menantang Gin Hoa dengan lucu sebab ia

berkata sambil sodorkan perutnya yang barusan mau

ditendang si setan Arak-

Bukan main gusarnya Gouw toa,

"Budak hina, kau menantang " katanya nyaring, kepalanya

juga sudah lantas melayang hendak menghantam dadanya si

nona.

sayang, sebelum tinju sampai pada sasarannya, ditengah

jalan sudah dipegang oleh Gouw Tay Lie- Entah bagaimana

Tay Lie, bergerak- Rupanya ia pandai kuntauw, tahu-tahu

tubuhnya si setan Arak disengkilit dan untuk kedua kalinya

terdengar suara -'bluk', tampak Gouw Toa meloso-loso lagi di

lantai.

Dengan susah payah baru ia bisa bangun berdiri

"Anak muda, siapa namamu ?" tanyanya.

"Aku Gouw Tay Lie- Kalau masih penasaran, boleh lain kali

cari aku" sahutnya.

"Bagus, kali ini kau menang. Lain kali giliranku yang

menang." kata Gouw Toa. Ia berkata sambil kebas-kebas

pakaiannya yang berdebu, barusan jatuh sampai dua kali.

 

"Kali ini aku menang, lain kalijuga aku pasti tetap menang."

Tay Lie menyindir.

"Baiklah, kita sama-sama she Gouw. Lain kali kita tetapkan

si Gouw yang mana yang unggul." kata Gouw Toa seraya jalan

ngeloyor ke pintu, akan kemudian ia menghilang dalam

kegelapan sang malam.

Tay Lie tidak perdulikan Gouw Toa yang ngeloyor pergi,

sebaliknya ia menghampiri Gin Hoa yang sedang ketawa,

mulutnya mengok dan wajahnya buruk- Ia berkata,

"Adik Gin, kau pandai benar membuat wajahmu seburuk ini

" sambil menowel pipi orang hingga si nona ngikik tertawa.

"Koko, bagaimana kalau wajahku lebih buruk dari ini, tentu

kau muak ?" tanya Gin Hoa.

"Lebih buruk lagi tidak berarti bagiku." sahut Tay Lie tegas.

"Cintaku padamu sebesar gunung. Mang dapat digoyang

oleh wajahmu yang buruk."

"Betul ?"

"Kenapa tidak betul ?"

"TUnggu sebentar, ya ?" kata Gin Hoa seraya terus

ngeloyor ke belakang.

Lama juga si nona dibelakang. Membuat Tay Lie tidak

sabaran. Ia lalu menyusul, baru saja ia mendekati pintu

belakang, ia kesomplokan dengan seorang gadis yang luar

biasa cantiknya hingga ia berdiri bengong.

 

Kalau Tay Lie tidak mengenali pakaiannya si gadis cantik

jelita itu kumel menjijikan, pemuda itu tentu tidak mengenali

kalau gadis yang berdiri di depannya sambil tersenyum

memikat adalah Gin Hoa, sang kekasih.

"Adik Gin, kau....." Tay Lie berkata perlahan sambil

menyergap si gadis dan segera si cantik jatuh dalam

pelukannya.

"Koko, kau suka sama wajah seburuk ini ?" bisik si gadis

mesra.

"Adik Gin, aku sudah duga kau adalah satu bidadari." Tay

Lie balas berbisik,

"Kalau aku bidadari, habis kau apa ?"

"AKu bataranya.........."

"Ah, koko, kau bisa saja. Mana ada batara segala "

"Adik Gin, kalau ada bidadari mesti ada bataranya. Kapan

ada wanita mesti ada pria, bukan begitu ?"

"Koko........." Gin Hoa seraya dongaki mukanya,

memandang paras Tay Lie yang tampan.

"Pintar sekali kau ini..........." Gin Hoa melanjutkan sambil

jari telunjuknya yang mungil ditempelkan pada bibirnya Tay

Lie-

"Adik Gin.........." suara Tay Lie agak gemetaran.

"Ko......ko..........." Gin Hoa suaranya hanya sampai disitu

sebab dua pasang bibir sudah melekat tak terpisahkan.

 

Hangat dan aman si nona rasakan dalam pelukan sang

kekasih.

Mungkin hanya bayi yang ada dalam perut Gin Hoa yang

menonton ayah dan ibunya bermain asmara. oh, tidak Masih

ada si kakek sinting yang menyaksikan adegan itu.

Kiranya si kakek tidak sesinting seperti anggapan orang.

Karena seketika melihat dua anak muda itu ada demikian

besar cintanya satu sama lain, pikirannya yang gila-gilaan

telah berubah- Ia tertawa terkekeh-kekeh sambil berkata,

"Bagus, bagus......."

Terkejut sepasang muda mudi yang tengah menikmati

kebahagiaannya. Dua pasang bibir terpisahkan dan masingmasing

dengan sendirinya melepaskan pelukannya. Dua

pasang mata memandang ke arah si kakek yang terkekehkekeh

ketawa.

"Bagus, apa maksudmu bilang bagus, kakek ?" tanya Tay

Lie agak kasar.

"Bagus, kalian berdua setimpal betul buat jadi suami isteri.

Ha ha ha ha........"

Gin Hoa dan Tay Lie melengak- Mereka heran si kakek

mengatakan demikian.

"yaya, kau suka aku diambil istri oleh koko ?" tanya Gin

Hoa.

"suka, suka, hahaha "si kakek ketawa kegirangan.

Tay Lie dan Gin Hoa saling bertukar pandang seraya

tersenyum.

 

Apa yang dikatakan Giok Siong memang keluar dari hati

yang tulus sebab selanjutnya si kakek tidak mengungkatungkat

lagi soal perut melembung1 dari cucunya.

Di samping senang bahwa cucunya mendapat jodoh yang

setimpal, juga cilik, siong ada menghargai kepandaiannya Tay

Lie yang dengan mudah dapat menyengkilit jatuh dua kali si

setan Arak dan ngeloyor dengan ketakutan.

Tay Lie selanjutnya tinggal bersama-sama dalam satu

rumah.

Dalam omong-omong, Tay Lie ada menanyakan halnya si

kakek kepada Gin Hoa- Kiranya si kakek itu adatnya memang

ada sedikit sinting, bicaranya rada linglung. Tapi tidak sejahat

sebagaimana orang duga. Tentang dirinya dikekang dalam

soal bersolek dan berpakaian rapih, atas keinginannya si

kakek karena ia takut cucunya diambil Gouw Toa, seorang

jagoan dari sebuah dusun yang jaraknya kira-kira Go lie dari

tempat tinggalnya yang sekarang.

Gouw Toa banyak anak buahnya, termasuk kakeknya yang

pada waktu itu tidak selinglung seperti sekarang, Giok siong

ada punya kepandaian membuat panah tangan, maka ia

dipekerjakan sebagai anak buahnya oleh Gouw Toa. Waktu

itu, Gin Hoa usianya baru lima belas tahun, nakal dan Jenaka,

sering berkunjung ke tempat kakeknya bekerja. Disitulah

Gouw Toa melihat Gin Hoa yang sedang meningkat dewasa

cantik parasnya, Jenaka orangnya, lalu meminang pada Giok

siong.

Gouw Toa menduga Giok siong dengan senang akan

menerima lamarannya, cucunya dijadikan bininya yang

keempat. Kenyataannya ia hanya dikasih janji bahwa soal

 

lamarannya baru akan dipertimbangkan kalau Gin Hoa sudah

berumur dua puluh tahun, sekarang masih terlalu kecil.

Gouw Toa sangat berpengaruh, Ia mengancam si kakekkatanya

kalau mesti tunggu sampai Gin Hoa umur dua puluh

tahun, ia keburu mampus, Ia mendesak si kakek supaya

dalam usia 17 - l8 tahun, Gin Hoa sudah diserahkan

kepadanya.

Lantaran takut si kakek muIakat akan menyerahkan Gin

Hoa kalau sudah berumur l8 tahun. Tapi diam-diam Giok siong

sudah berdamai dengan cucunya untuk melarikan diri dari

kekuasaannya gouw Toa yang jahat, Ia tidak mau cucunya

dikorbankan kepada seorang bandot seperti gouw Toa yang

tidak kenyang punya tiga istri.

Maka itu, Gin Hoa dengan kakeknya pindah dengan diamdiam

ke kampung yang sekarang mereka tinggal, Giok siong

suruh cucunya umpatkan kecantikannya dibalik wajahnya

yang kotor dan pakaian kumel, takut dikenali oleh Gouw Toa,

sedang si kakek sendiri tidak suka bertetangga atau

bercampur dengan teman-teman sekampungnya, Giok siong

terkenal galak dan kejam pada cucunya, malah ada yang

melamar ditolak dan dimaki-maki, bukannya ia tidak mau lepas

cucunya kawin, ia sebenarnya sayang pada cucunya dan mau

cucunya dapatkan jodohnya yang setimpal.

Gin Hoa juga salah sangka bahwa kakeknya benar-benar

tidak kasih dirinya menikah, maka ketika Tay Lie mau majukan

lamarannnya sudah dicegah oleh si nona. Ia tidak tahu kalau

benar-benar Tay Lie datang melamar, belum tentu ditolak si

kakek yang sedang mengharapjodohnya sang cucu yang

setimpal.

 

Mungkin si kakek akan memukuli Gin Hoa ketika ia

mengembalikan wajah buruknya ke wajah aslinya, kalau tidak

ada Tay Lie yang cakap ganteng disampingnya.

Giok siong diam-diam merasa beruntung dengan

perjodohan cucunya. Meskipun mereka "menikah" tanpa ijin

dahulu darinya. Ia percaya Tay Lie dapat melindungi isterinya,

melihat kepandaian Tay Lie yang ia saksikan.

Demikian, Tay Lie dan Gin Hoa mencicipkan

kebahagiaannya bersama-sama Giok siong yang tidak begitu

sinting lagi setelah melihat keberuntungan cucunya.

Kegirangan memuncak tatkala Gin Hoa telah melahirkan

anak kembar perempuan.

Anak kembar itu mungil-mungil, hingga bukan saja Tay Lie

dan Gin Hoa sebagai ayah ibunya yang menyayang mereka,

juga si kakek Giok siong bukan main sayangnya.

Tay Lie ada mempunyai teman Teng Hauw, anak orang

hartawan, dengan siapa ia bergaul rapat. Bukan jarang Teng

Hauw suka datang ke rumah Tay Lie hingga dengan Gin Hoa,

tamunya tidak kikuk-kikuk lagi bergaul.

Kalau datang ke rumah Tay Lie, mesti Teng Hauw

membawakan oleh-oleh untuk dua anak kembarnya yang Gin

Hoa namakan Leng siong dan Leng sian.

Dasar ibunya lincah Jenaka, maka anak-anaknya juga

menuruni. Kecil-kecil dalam usia hampir dua tahun, mereka

sudah bisa mengirik urat ketawa ayah ibunya.

 

Apa lagi Leng sian, selain mulutny bawel, ia ada lebih

Jenaka dari adiknya Leng siong. Teng Hauw kelihatan sangat

sayang pada dua anak kembar itu.

Pada suatu hari kedukaan telah menimpa pada keluarga

Teng Hauw. Istrinya telah meninggal dunia lantaran sakit, Ia

meninggalkan dua anak laki-laki umur lima dan enam tahun.

Dengan istrinya Teng Hauw, Gin Hoa kenal baik hampir

seperti saudara, gara-gara perkenalan yang akrab antara Teng

Hauw dan Tay Lie-

Maka berhubung dengan kematian nyonya Teng, Gin Hoa

pergi bantu di rumahnya Teng Hauw dengan membawa Leng

siong sedang Leng sian ditinggalkan di rumah karena

kelihatan Leng sian lebih rapat pada kongconya.

Hulah malam yang gelap petang ketika Gin Hoa dan Leng

siong tidak ada di rumah-

Pada waktu itu Leng Sian sudah tidur bersama kongconya,

sedang Tay Lie masih duduk membaca buku dipertengahan

rumah- Tiba-tiba ia dibikin kaget mendengar pintu digedor dari

sebelah luar, disusul dengan suara menantang,

"Hei, gouw Tay Lie lekas keluar sini untuk menentukan si

orang she Gouw yang mana yang unggul"

Lantas saja Tay Lie menduga akan kedatangannya gouw

Toa yang hendak menuntut balas, Ia tadinya mengira urusan

sudah habis saja sebab sudah hampir dua tahun tidak ada

kabarnya ceritanya tentang gouw Toa. Mendadak sekarang si

setan Arak datang, sedikitnya ia tentu tidak bersendirian,

makanya berani datang menantang.

 

sebenarnya ia tidak mau sembarangan keluar kalau tidak

Gouw Toa berteriak lagi menantang yang bukan-bukan,

katanya,

"Gouw Tay Lie, kalau tidak berani keluar, potong saja

kepalamu untuk jadi wanita Keluar kau bakal mati, tinggal di

dalamjuga kau bakal mampus sama saja "

Di dorong oleh kegusarannya yang meluap seketika, Tay

Lie sudah sambar sebatang golok dan membuka pintu keluar.

Benar saja dugaan Tay Lie- si setan Arak datang tidak

sendirian, ia ada membawa kira-kira sepuluh kawannya-

Bagaimana gagahnya juga Gouw Tay Lie, dikepung oleh

banyak orang, ia tidak bisa berbuat banyak- Malah setelah ia

keletihan melakukan perlawanan, ia sudah kena dibacok

Gouw Toa pundaknya sehingga membikin Tay Lie roboh tak

ampun lagi. segera ia dihujani bacokan, setelah ia

mengeluarkan teriakan yang menyayatkan hati, lalu nyawanya

melayang.

Giok siong di dalam bersama buyutnya, Leng sian sudah

mendusin dan mendengarkan pertarungan di sebelah luar

rumah- badannya si kakek menggigil ketika mendengar

teriakan cucu mantunya yang menyayatkan hati-

"Dia mati dibunuh " menggumam si kakek-

Belum sempat ia memikir lain, tampak di depan

pembaringannya sudah berdiri Gouw Toa dengan golok

terhunus hingga si kakek mukanya pucat ketakutan.

"Sebenarnya aku mau tebas kutung batang lehernya, tapi

biarlah aku kasih ampun" berkata Gouw Toa. Berbareng

 

punggung goloknya menghajar pundaknya si kakek hingga ia

jatuh pingsan seketika.

"Hei, kau jangan pukul kongco " kata Leng sian tiba-tiba.

"siapa kau ?" bentak Gouw Toa.

"Aku anak kecil " sahut Leng sian.

"Anak siapa kau ?"

"Baru kenal, buat apa tanya ?"

"Kau anak siapa ? Tidak takut ini ?" kata Gouw Toa sambil

sodorkan ujung golok yang masih berlepotan darah pada

mukanya Leng sian.

"Hei, golokmu ada darahnya. Kau habis potong ayam ?"

tanya si kecil lucu.

Gouw Toa sebaliknya dari marah, ia ketawa terbahakbahak

nampak Leng siang begitu lucu dan tidak gentar sedikit

pun dengan golok mengkilatnya, Ia tinggalkan Leng sian dan

masuk ke kamar Gin Hoa tanpa permisi.

Dari mata-matanya, ia dapat kabar bahwa Gin Hoa tidak

buruk rupanya seperti yang ia lihat, malah sangat cantik dan

hidup bahagia dengan Gouw Tay Lie.

Kabar itulah yang membuat Gouw Toa naik darah- Ia

merasa dirinya sudah kena ditipu Gin Hoa. Entahlah, si gadis

waktu itu sudah melabur mukanya dengan bahan apa

sehingga kelihatan wajahnya begitu buruk- banyak tai

matanya, mulutnya mengok dan ada terotolan di wajahnya

seperti restan penyakit cacar

 

Kedatangannya sekarang, ia sudah membayangkan akan

dapat memeluk Gin Hoa yang cantik menggiurkan, biar si nona

sudah bekas orang juga. Tapi, ketika ia masuk dalam kamar,

tidak ada si cantik yang dibayangkan, Ia aduk-aduk orang

punya tempat tidur, malah memeriksa ke kolong pembaringan,

mengira si nona mengumpat, luput ia dapatkan Gin Hoa sebab

memang juga si nona tidak ada di rumah lagi, ke tempat

kematian di rumahnya Teng Hauw.

Dengan marah-marah Gouw Toa balik lagi ke tempatnya

Giok Siong pingsan.

"Hei, kau masuk ke kamar tadi cari apa ?" tanya Leng sian,

ketawa nyengir.

Gouw Toa melengak ditanya si gadis cilik demikian.

"Kemana ibumu ?" tanya gouw Toa dengan sabar-

"Mana aku tahu. Aku sedang main-main sama kongcoku-"

"Eh, anak. kasih tau kemana ibumu, nanti aku kasih mainan

bagus-"

"Mana aku tahu, aku sedang main-main sama kongcoku-"

"Betul, aku nanti kasih mainan yang begini untukmu." gouw

Toa membujuk seraya acungkan jempolnya

"Manan aku tahu, aku sedang main-main sama kongco-"

Jengkel Gouw Toa melihat Leng sian saban dibujuk

jawabannya serupa saja.

Ia ganti taktik, ia membentak,

 

"Kau tidak mau kasih tahu ? Awas "

"Hihi, paling banyak aku pukul aku tidur seperti kongco-"

Kewalahan Gouw Toa, ia hampiri lagi Giok Siong.

"Hei, kau mau apakan lagi kongco ?" tanya Leng sian

melihat Gouw Toa menghampiri Giok Siong yang menggeletak

pingsan.

Mendengar perkataan si nona cilik, timbul dalam pikirannya

Gouw Toa suatu akal untuk bikin Leng sian membuka

mulutnya mengasih tahu kemana pergi ibunya.

"Anak kecil, aku lihat kongcomu akan kupotong kepalanya "

Gouw Toa berkata sambil beraksi dengan goloknya mau

menyembelih batang lehernya Giok siong.

"Hihi, boleh juga aku nonton orang dipotong " kata si nona

cilik hingga Gouw Toa jadi berdiri melongo- Ia mengira tadinya

Leng sian bakalan nangis ketakutan kongconya mau dipotong,

tidak tahunya malah ketawa ngikik dan mau nonton kepala

orang dipotong. Pikirnya, lebih baik ia culik Leng sian untuk

dijadikan anaknya-

Begitu berpikir, begitu ia bekerja sebab Leng sian dilain

detik sudah dipondong pergi meskipun ia menjerit-jerit tidak

mau meninggalkan kongconya-sampai diluar, Gouw Toa ajak

kawan-kawannya berlalu.

setelah yakin kawanan penjahat sudah berlalu, Giok Siong

yang pura-pura pingsan sudah bangun berdiri- Ia menangis

sedih buyutnya dibawa penjahat- Lalu ia keluar untuk melihat

keadaan cucu mantunya. Kaget bukan main ia melihat Tay Lie

 

rebah dengan badan hancur dicincang golok kawanan

penjahat.

Giok Siong lalu pergi lapor pada Gin Hoa yang segera

pulang dengan diantar oleh Teng Hauw. Tidak menghiraukan

Tay Lie yang berlepotan darah, Gin Hoa sudah menubruk

suaminya dan menangis gegerungan.

Dengan susah payah Teng Hauw dapat meredakan

kesedihannya Gin Hoa. Teng Hauw lalu suruh urus mayatnya

Tay Lie untuk dikebumikan.

Ketika sembahyang di depan kuburan Tay Lie, Teng Hauw

berkata,

"Toako, legakan hatimu. Toaso dan anak-anak akan

kurawat serta melindunginya................"

Benar-benar saja Teng Hauw telah merawat dan

melindungi Gin Hoa. setelah dapat kecocokan kedua fihak.

mereka mengikat menjadi suami istri, Inilah kejadian yang

kebetulan. Teng Hauw kehilangan isteri yang dapat mendidik

dua anaknya yang masih kecil, Gin Hoa kehilangan suami dan

memerlukan perlindungan. Kedua fihak sama menutup

kebutuhannya. Maka setelah berdamai dan mendapat

kecocokan, mereka mengikat jodoh setelah tiga tahun

berselang Gin Hoa lepas putih atas kematian suaminya yang

tercinta..............

"Jadi, aku ini Leng sian, ibu ?" kata Eng Lian dengan mata

berkaca-kaca setelah nyonya Teng menutur habis ceritanya

yang panjang.

"siapa lagi kalau bukan anakku Leng sian yang hilang ?"

sahut nyonya Teng ketawa sedih.

 

"oh, ibu......." tiba-tiba saja Eng Lian alias Leng sian

menubruk nyonya Teng dan menjatuhkan diri dalam

pelukannya sang ibu. Kedua-duanya jadi menangis sedih-

"Anakku." bisik nyonya Teng alias Gin Hoa dengan suara

sedih- "Ibumu siang malam mengharap akan bertemunya kita

kembali- syukur Tuhan sudah melindungi dan kita bisa

berkumpul pula, ibu dan anak yang sudah tujuh belas tahun

berpisah- oh. Tuhan, terima kasih atas kemurahanMu..........."

nyonya Teng menangis sedih.

Eng Lian tidak menyahut, ia masih terisak-isak menangis.

Teng Hauw berseri-seri kegirangan, stelah ia juga menepas

air mata melihat pertemuan yang mengharukan diantara ibu

dan anak itu. Lo In dilain pihak duduk membisu 1001 bahasa.

Meskipun demikian, pikirannya melayang-layang. Dalam

hatinya berkata,

"Apa Liok sinshe itu Kwee Cu Git adanya ? Kim Wan

Tahuto kata, Kwee Cu Git adalah ayahku. Tapi kenapa Liok

sinshe diam-diam saja tidak mengaku aku sebagai anaknya ?

Dimana Liok sinshe dan Kwee Cu Git sekarang ? Lalu, dimana

ibuku ? Apakah dia sudah mati ? Eng Lian sudah menemukan

kembali ibunya- oh, bagaimana girang kalau aku juga dapat

menemukan ibu yang melahirkan aku ke dunia ini............

Diam-diam Lo In juga jadi berkaca-kaca matanya, sedih

rupanya ia ingat akan nasibnya yang belum ketentuan ayah

ibunya. Ketika ia sedang menyusut air mata dengan tangan

bajunya, Lo In mendengar Eng Lian berkata,

"Adik In, kau harus memberi hormat pada ibu. Eh, kenapa

kau menangis ?"

 

Eng Lian cepat melepaskan pelukan ibunya dan

menghampiri Lo In.

"Adik In, kau kenapa ?" Eng Lian ulangi pertanyaannya

seraya mengusap-usap bahu Lo In.

"Aku menangis karena terkenang akan ibuku pula melihat

kau menemui ibumu. Entah dimana ibuku sekarang." sahut Lo

In, kembali si bocah berlinang-linang air mata.

"Kenapa kau sampai begini sedih ?" kata Eng Lian

menghibur,

"sekarang aku ketemu ibu, lain kali giliranmu ketemu ibumu.

Kan sama juga ?"

Meskipun hiburan Eng Lian ada ceplos-ceplos sekenanya,

tapi dianggap oleh Lo In benar juga perkataannya sang enci.

Ia ketawa nyengir pada Eng Lian lalu bangun dari duduknya

menghampiri nyonya Teng untuk memberi hormat. Nyonya

Teng senang nampak si bocah mendengar kata-kata anaknya,

tapi diam-diam ia merasa gegetun akan wataknya Lo In yang

barusan demikian sedihnya, sebentaran saja sudah berubah

gembira seperti tak ada kejadian apa-apa.

Juga kelakuan Eng Lian membuat ia bingung. Barusan si

gadis menangis sedih, berpelukan dengannya, sekarang

menuntun tangan Lo In untuk diajak duduk lagi berdampingan

sambil ketawa-ketawa, tidak nampak bayangan kesedihannya

barusan. Nyonya Teng jadi saling pandang dengan suaminya.

"Anak sian, seharusnya kau mengucapkan terima kasih

kepada Teng siokhu yang telah melindungi dan merawat ibu

 

serta adikmu dengan tak kurang suatu apa-" berkata nyonya

Teng sambil tersenyum.

Eng Lian melirik pada Teng Hauw yang duduk tersenyum.

"Ibu, nama Eng Lian sudah melekat padaku. Maka

sebaiknya ibu panggil Eng Sian saja dari pada Leng sian yang

asing untukku." jawab sang anak seraya bangun dari

duduknya menghampiri Teng Hauw.

Nyonya Teng ketawa anaknya menolak mengganti

namanya dengan yang lama.

sementara itu Eng Lian sudah menjura pada Teng Hauw

seraya berkata,

"Paman Teng, aku Eng Lian mengucapkan banyak terima

kasih, paman sudah ajak ibu dan adik tinggal sama-sama dan

semoga adik siong punya adik lagi..........."

"Hust " nyonya Teng memotong sang anak yang melantur

bicaranya, sambil ketawa nyonya Teng melanjutkan,

"Ibumu sudah jadi nenek-nenek, apa-apaan omong

melantur begitu ?"

Eng Lian melengak heran dikatakan bicaranya jadi

melantur, Ia panas dan lalu menanya,

"Ibu, apa salah omonganku barusan ? Bukan lebih baik

kalau ada adik lagi untuk temani adik siong ?"

Teng Hauw ngakak ketawa mendengar perkataan Eng Lian

yang polos. sebaliknya nyonya Teng deliki matanya pada sang

suami dengan paras semu-semu merah

 

Tapi nyonya Teng dapat menyelami watak sang anak yang

Jenaka berandalan ini, ia berkata,

"Anak Lian, sudah ada kau sekarang, buat apa adik lagi

buat menemani Leng siong ?"

"Mana bisa aku tinggal disini, aku mau pulang....." sahut

Eng Lian.

"Pulang kemana ?" tanya sang ibu, memotong bicaranya

Eng Lian.

"Pulang ke lembah Tong-hong-gay dengan adik In untuk

sama-sama lagi naik Tiauw-heng dan main-main dengan Jiehek

dan siao-hek- Hihihi........." Eng Lian ketawa ngikik seraya

melirik manis ke arah Lo In yang tengah ketawa nyengir

mendengar enci Liannya berkata mau pergi ke lembah Tonghong-

gay.

"Siapa itu Tiauw-heng Jie-hek dan siao-hek ?" tanya

nyonya Teng, yang menjadi keheranan anaknya yang baru

ditemui kembali itu tidak mau tinggal sama-sama dengannya.

"Hihi, ibu tidak kenal Tiauw-heng, adik In " kata Eng Lian

(Bersambung)

Jilid 12

Nyonya Teng sudah mau buka mulut lagi menanya, Lo In

sudah mendahului menerangkan siapa yang Eng Lian

maksudkan dengan Tiauw-heng,jie-hek dan Siao-hek. Ialah si

rajawali emas dan gorila-gorila yang menyeramkan apabila

orang baru melihatnya.

"Selainnya itu," menjelaskan Lo In dalam ceritana,

 

"Kami juga ada punya banyak teman kawanan kera kecil

besar yang selalu menyediakan makanan berupa buahbuahan

untuk kami makan setiap hari. Di sana kami hidup

senang dan merdeka."

Nyonya Teng dan suaminya terbelalak matanya dan

berdebaran hatinya mendengarkan penuturan Lo In. Dalam

hatinya nyonya Teng berkata,

"Pantasan anak Sian wataknya agak liar, kalau begitu

campurannya dengan segala buronan-buronan hutan." Pedih

hatinya mengingat akan ditinggalkan pula oleh Eng Lian.

Tampak la murung. Sebentar lagi ia seperti kaget, katanya,

"Anak Sian, eh, Lian, bagaimana dengan adikmu siong

yang dibawa oleh Sucouwmu ?"

"Sucouw ? Idiiih, aku takut sama sucouw." sahutnya sambil

melirik pada Lo In. si bocah tidak enak hatinya ketika semua

mata pada memandang padanya.

"Bibi dan paman harap legakan hati. Meskipun

kepandaianku rendah, tapi untuk merebut pulang enci Leng

Siong, aku sanggup lakukan. Kalau enci Lian takut, biar aku

sendiri yang pergi ke Coa Kok dan........"

"Tidak, tidak- Aku mesti ikut kau, adik In " memotong Eng

Lian seraya tangannya repot menekap mulutnya Lo In yang

tengah menghibur ibu dan ayahnya.

Nyonya Teng dan suaminya merasa lucu melihat tingkah

laku anaknya yang satu dari si kembar dua hingga mereka jadi

ketawa geli.

 

Meskipun sangat duka dengan lenyapnya Leng siong, hati

mereka terhibur akan janji Lo In, si bocah sakti yang akan

merampas pulang anaknya yang tercinta Juga mereka tidak

kuatir Leng siong mendapat halangan apa-apa ditangannya

Lam hay Mo Lie seperti yang mereka dengar dari Eng Lian

bahwa Hantu Wanita dari Lautan Kidul itu sangat sayang pada

Eng Lian. Kepada Leng siong juga pasti Lamhay Mo Lie akan

menyayangnya, ditangannya malah bukan mustahil Leng

siong akan mendapat kepandaian silat yang tinggi seperti Eng

Lian.

Dalam omong-omong lebih jauh, tiba-tiba nyonya Teng

merandek dalam kata-katanya,

"Tunggu " katanya seraya bangkit dari duduknya dan

masuk ke dalam.

sebentar ia sudah keluar lagi dengan roman berseri-seri. Ia

mendekati Lo In dan berkata,

"Lo Hiantit, aku tidak punya apa-apa sebagai tanda kenangkenangan.

Kau terimalah ini warisan dari ayahnya Eng Lian."

Nyonya Teng berkata sambil angsurkan sejilid kitab mungil.

Lo In bermaksud menolak, tapi melihat barang yang

diangsurkan itu merupakan sejilid buku dan nyonya rumah

mengatakan adalah warisan dari ayah Eng Lian, ia jadi

kepingin tahu juga. Ia menyambuti seraya menghaturkan

terima kasih-Terus saja ia masukkan ke dalam sakunya tanpa

dilihat lagi apa judulnya buku.

Dengan mendapat restunya Teng Hauw suami isteri, Lo In

dan Eng Lian pada hari berikutnya memohon selamat berpisah

untuk menolong Leng siong. Belum jauh mereka jalan tiba-tiba

ada yang memanggil dari belakang. Lo In berpaling. Kiranya

 

yang memanggil ada Kie Giok Tong dan tiga saudaranya.,

masing-masing pada membawa bungkusan. Lo In dan Eng

Lian merandek untuk menantikan.

"Mereka apa-apaan menahan perjalanan kita ?" nyeletuk

Eng Lian kurang senang.

"Husstt " kata Lo In.

"orang demikian hormat, masa kita tidak ladeni ?"

"Sengaja kita ngumpat-ngumpat pergi, siapa sih yang kasih

tahu mereka "

"sudah tentu ayahmu yang kasih tahu mereka."

"Kapan aku sudah pesan jangan bikin berabe mereka.

Kalau kita sudah pergi boleh saja ayah dan ibu mengabarkan

pada mereka."

"Tentu dengan diam-diam ayahmu mengabarkan karena

tidak enak untuknya kalau tidak mengabarkan sama sekali hal

kepergian kita."

Eng Lian hanya mendengus mendengar penjelasan Lo In.

sementara itu Kie Giok Tong dan tiga saudaranya sudah

sampai.

"Lo Hiantit, kau terlalu. Kalau kami tahu kau hari ini bakal

meninggalkan suyangtin, tadi malam kami tentu mengadakan

satu meja perjamuan untuk memberi selamat jalan kepada

kalian. Kami hanya mengantarkan barang-barang yang tidak

berharga ini, harap Lo Hiantit dan nona Lian suka terima baik,"

demikian Kie Giok Tong berkata seraya ia angsurkan barang

yang dibawanya, diturut oleh yang lain-lainnya.

 

"Terima kasih, terima kasih." kata Lo In.

"Menyesal tak dapat aku terima, lantaran berabe dibawa di

perjalanan."

Melihat bungkusan-bungkusan diterimakan oleh suyangtin

si-houw (empat macan) tidak memberabekan kalau diterima,

maka Eng Lian menyela,

"Adik In." katanya.

"orang demikian baik kepada kita, kenapa menolak tanda

kecintaannya ? Mari aku yang mewakili terima " seraya

menerima bungkusan-bungkusan yang disodorkan oleh Empat

Macan.

"Bagus, memang benar apa katanya nona Lian." kata Kie

Giok Tong, setelah ia menyerahkan bungkusannya, kecil tapi

agak berat.

Lo In tidak bisa berkata apa-apa kalau encinya sudah

bertindak. Karena kalau ia tetap menolak bakal dapat delikan

tidak enak dari Eng Lian. Lalu ia punjadi menghaturkan terima

kasih kepada mereka yang menaruh simpati itu.

setelah omong-omong sebentar, dalam mana Kie Giok

Tong mengulangi pengharapannya agar si bocah sukses

dalam usaha mengambil pulang Leng siong. Mereka lalu

berpisahan.

"Enci Lian, kan kita jadi berabe bawa-bawa bungkusan

begini banyak ?" kata Lo In dalam perjalanan selanjutnya.

"Berabe apa sih?"sahutsi nona ketawa.

 

"Mari kita cari tempat penginapan untuk memeriksa barangbarang

apa saja yang mereka bekali untuk kita."

Lo In tidak menyahut, hanya ia ketawa nyengir.

"Tapi ini apa, bungkusan kecil-kecil juga berat2 benar." kata

Eng Lian seraya angkat tinggi-tinggi bungkusan kecil yang

dihadiahkan oleh Kie Giok Tong.

"Coba kita lihat apa isinya." sahut Lo In seraya menyambuti

bungkusan tadi yang disodorkan Eng Lian kepadanya.

Ketika Lo In periksa isinya, ia menjadi kaget.

"Enci Lian, mari sini" katanya pada sang kawan yang

sedang repot, lagi memeriksa dan menaksir-naksir barangbarang

apa yang ada dalam bungkusan lain-lainnya.

Eng Lian menghampiri Lo In. Ia juga kaget melihat isi

bungkusan yang dibuka Lo In. Kiranya bungkusan yang berat

itu terisi lempengan uang emas dan perak. entah berapa

banyak timbangannya.

Meskipun hati mereka kurang enak mendapat hadiah

demikian, mereka kegirangan juga sebab merupakan bekal

yang sangat dibutuhkan dalam perjalanan mereka yang

berkantong kosong. Apalagi Lo In tidak punya uang sama

sekali sebab dalam perjalanan dengan Bwee Hiang, selalu si

nona yang mengeluarkan biaya untuk makan, sewa

penginapan dan lain-lainnya.

Beberapa orang yang berlalu lalang tidak dihiraukan oleh

mereka, karena perhatian mereka dipusatkan pada isinya

bungkusan kecil yang berat itu.

 

setelah beberapa bungkusan lainnya dibagi dalam buntelan

masing-masing, mereka lalu meneruskan perjalanan.

Bungkusan uang disimpan pada Lo In. Bobotnya ada berat

juga. Tidak enak kalau bungkusan itu harus dibawa oleh Eng

Lian sebagai perempuan.

Mereka berjalan dengan gembira. Keakraban mereka pada

3 tahun yang lalu tidak menjadi hilang disebabkan usia mereka

yang bertambah-

Kegembiraan mereka meluap ketika melalul jalanan-jalanan

pegunungan yang pemandangannya mirip seperti di lembah

Tong-hong-gay.

"Adik In, selama kau berpisahan denganku, apa kau tidak

merindukan pulang ke lembah kita di Tong-hong-gay ?" tibatiba

Eng Lian menanya, ketika mereka meneduh dibawahnya

sebuah pohon yang daunnya rindang.

"Aku merindukan." sahut Lo In.

"Cuma saja, ah, sudahlah........"

"Nah, tuh- Belum apa-apanya lagaknya sudah angot lagi."

Lo In heran dikatakan angot. Ia menanya.

" Angot apanya, enci Lian ?"

"Angot, kalau ngomong suka dipotong-potong. Kau kata

'sudahlah', apa maksudmu ?"

"oo, tentang itu. Aku maksudkan, kalau tidak dengan enci

Lian bersama-sama mana aku bisa betah tinggal di lembah

kita "

 

Eng Lian tekap mulutnya yang mungil dan ketawa ngikik-

"Jadi, kalau tidak encimu, kau takut tinggal sendirian ?"

katanya.

"Bukannya takut, cuma saja..........."

"Cuma saja apa ?" memotong si nona ingin tahu.

"Kalau aku sendirian jadi kesepian, pikiranku jadi linglung

dan bisa-bisa jadi gila "

"gilanya kenapa ?"

"Gila karena memikirkan enci Lianku yang bawel........"

Tiba-tiba saja dua jari Eng Lian, telunjuk dan jempol

mencubit lengan Lo In.

"Anak nakal, masih belum kapok ? Ah, tidak, jangan......."

si nona ngawur kata-katanya sambil cepat menarik pulang

tangannya yang mencubit.

Kiranya Eng Lian mendadak kaget, setelah jari jarinya

mencubit. Cepat ia tarik tangannya takut Lo In menyalurkan

"siauw-thian-sin-kang" atau "Tenaga sakti membakar langit"

yang panasnya seperti besi dibakar.

Lo In mengerti maksud Eng Lian menarik pulang

cubitannya. Maka ia tertawa terbahak-bahak, sebaliknya Eng

Lian tampak merengut.

si bocah melihat encinya jengkel lantas mencari akal. Ia

kata,

 

"Enci Lian, mari kita lihat buku warisan ayahmu, pengasih

bibi Teng."

sambil berkata Lo In merogo sakunya dan kasih keluar

buku pemberian nyonya Teng.

"Buku apa sih ?" tanya Eng Lian sambil duduk mendekati si

bocah- Hilang marahnya seketika dan tersenyum-senyum

manis lagi seperti biasa. Diam-diam Lo In geli hatinya melihat

sang enci yang aneh adatnya tapi ia lucu bahwa dirinya juga

ada aneh bin ajaib wataknya.

Muda mudi itu duduk berdempetan memeriksa judul buku.

Kiranya kita itu isinya adalah pelajaran caranya menggunakan

7- pisau terbang yang dinamai "Hui-to Pit-kip"-

Lo In balik-balik lembaran buku dan membaca isinya.

Dalam tempo singkat saja si bocah sudah dapat menangkan

inti sari dari "Hui-to Pit-kip" yang mencakup pelajaran melatih

Iwekang (tenaga dalam), sebab pisau terbang itu kurang

faedahnya kalau tidak disertakan dengan kekuatan tenaga

dalam.

Jago cilik kita sudah sempurna Iwekangnya dan tinggi,

kepandaian silatnya- Tidak memerlukan segala senjata

rahasia, apalagi senjata pisau terbang segala-

Kepandaian Liok sinshe yang luar biasa sudah diwariskan

semua kepada si bocah-Belakangan ternyata tidak terbatas

pada kepandaian Liok sinshe saja sebab diam-diam Lo In

sudah menggodok lebih sempurna dan menciptakan tipu-tipu

serangan yang lebih mudah dan lebih lihai dari apa yang ia

dapat pelajari dari ajaran Liok sinshe.

 

Tampak ia kerutkan keningnya, setelah membaca isinya

buku.

"Mari kasih aku yang meyakinkan." kata Eng Lian seraya

merebut buku yang tengah dipegangi Lo In.

" Kau sudah tidak memerlukan pula yang beginian, tapi aku

sebaliknya. Aku harus mempelajarinya karena ini adalah

warisan dari ayahku."

Lo In ketawa serta angguk-anggukan kepalanya.

"Tapi enci Lan." kata Lo In.

"Bukankah kau juga tidak memerlukan senjata rahasia

pisau terbang ? senjata rahasiamu Bu-im-in-coa1 sudah lebih

dari cukup kau gunakan."

"Itu kan punyanya Kim Coa siancu. Aku sudah tidak

menjadi Siancu lagi, mana dapat aku menggunakannya. Bisabisa

aku mendapat hukuman sucouw."

"Dan itu, Kim-coa, bagaimana ?"

"Ah, tidak sembarangan aku menggunakan ular emasku."

"Kenapa tempo hari kau sembarangan gunakan menyerang

adikmu ?"

"Adik In, kau gila ? Masa encimu begitu kejam kalau tahu

kau adalah adikku ?"

"ya, tapi boleh dikata kau sudah berlaku sembarangan."

" Kapan ? Waktu itu aku masih menjadi siancu."

 

Lo In termenung, pikirnya, benar juga perkataan sang enci.

Ia berkata,

"Baiklah, kau pelajari senjata rahasia pisau terbang itu. Apa

yang kau kurang terang boleh tanyakan aku. Nanti adikmu

akan memberi penjelasan."

senang hatinya Eng Lian.

"Adik In, kenapa kau demikian memperhatikan aku ?"

"sebab kau sangat baik sekali padaku, enci Lian."

"Bagaimana dengan enci Bwee Hiangmu?"

Kaget Lo In mendengar disebut namanya Bwee Hiang

seperti saat itu barusan saja ia ingat, sedang Bwee Hiang

sudah lama menghilang dan perlu dicari-

"Enci Lian dan enci Hiang sama baiknya padaku." sahut Lo

In kemudian.

"sama artinya tidak ada perbedaan sedikit juga ?" tanya

Eng Lian ketawa-

Lo In juga ketawa nyengir jawabnya,

"Tentu saja ada- Perasaanku lebih dekat dengan enci Lian

dan juga enci Lian ada lebih..........ah, sudahlah-"

"Nah, tuh, mulai angot lagi dengan watakmu- Lebih apa sih

?"

"Enci Lian lebih cantik dari enci Hiang......." Lo In

menyatakan polos.

 

Meskipun begitu, si bocah sudah siap sedia untuk

menyambut tangannya Eng Lian yang diduga bakal

menyambar lengan atau pipinya untuk dicubit.

Tapi Lo In kecele, Eng Lian tidak melakukan penyerangan,

sebaliknya ia ketawa ngikik dan kasih lirikan manis

mempesonakan ke arah si bocah, siapa, meskipun belum tahu

apa-apa sedikit banyak terkesiap juga nampak tingkah laku

sang enci. Ia pun lantas ketawa dan keduanya jadi pada

ketawa gembira.

"Adik In, encimu akan bantu kau mencari enci Hiang mu."

kata Eng Lian wajar. Lo In jadi kegirangan mendengar

perkataan Eng Lian.

Mendengar perkataan Lo In bahwa si bocah lebih dekat

padanya dan ia lebih cantik dari Bwee Hiang, hati Eng Lian

merasa senang dan tidak khawatir si bocah berwajah hitam

akan dimiliki Bwee Hiang. Ia sendiri heran kenapa hatinya

tidak menginginkan Lo In dimiliki orang lain. entah kenapa, ia

juga tidak tahu.

Demikian, dua muda mudi itu dibawah pohon sambil

mengadem telah meyakinkan "Hui-to Pit-kip"" Ada beberapa

bagian yang kurang jelas, Eng Lian lantas menanyakan pada

si bocah yang dengan gembira telah memberi penjelasan.

setelah lama juga mereka belajar, Lo In kelihatan bangkit

dari duduknya dan ngeloyor mendekati pohon yang tidak jauh

dari mereka, Ia memotong dua cabang pohon itu dengan

pedangnya (pedang Liok sinshe)- Ia heran nampak tajamnya

pedang seperti baru nempel cabang pohon tertabas kutung, Ia

coba ke dahannya, eh, putus juga dengan mudahnya. Lalu

 

bongkot pohon ia tabas perlahan,juga terpapas dengan

mudahnya.

"Enci Lian, coba kau kemari " serunya kepada si nona yang

sedang asyik membaca "Hui-to Pit-kip"-

"Ada apa sih adik In ?" sahutnya seraya bangkit dari

dudukna, akan tetapi matanya masih terus membaca buku

yang dipegangnya.

Ketika Eng Lian sudah datang dekat, Lo In berkata,

"Enci Lian, coba lihat " sambil berbareng ia menabas

perlahan pada bongkot pohon yang sebesar mang kok. pohon

mana segera tumbang seketika.

Eng Lian terbelalak matanya-

"Adik In, kenapa tajam amat pedangmu ?" tanyanya, seraya

mendekati Lon dan minta lihat pedang luar biasa itu.

Lo In sudah lantas menyerahkan. Eng Lian meneliti muka

dan belakang pedang, tidak ada yang istimewa. Pikirnya

pedang begini jelek, kenapa begitu tajam.

" E h, adik In, ini apa ?" seru si gadis ketika ia meneliti

sampai pada gagangnya.

"Kwee Cu Gle Toan-kiam, bukan ?" sahut Lo In yang sudah

menduga lebih dahulu.

"Betul, betul. Apa kau sudah tahu ?" tanya si nona-

"Tadinya aku tak tahu, tapi toako (dimaksudkan Kim Wan

Thauto) yang kasih tahu padaku. Tapi aku heran, kenapa dia

berada di tangan Liok sinshe."

 

"Mungkin Liok sinshe adalah Kwee Cu Gie- siapa sih Kwee

Cu Gie ?"

" orang bilang Kwee Cu Gie adalah ayahku, tapi entahlah "

"Bagus, bagus. Kalau begitu kau masih punya ayah. Mari

kita cari sekalian."

Lo In diam. termenung. tiba-tiba melayang pada waktu ia

berkumpul dengan Liok sinshe, orang baik yang

memperhatikan dirinya. Liok sinshe itu apakah ayahnya yang

bernama Kwee Cu Gie ? Tapi, kenapa dia tidak mengaku anak

pada dirinya ? Ia ingat ketika Liok sinshe mau menuturkan

suatu kisah, tiba-tiba lilin ditiup padam oleh Liok sinshe,

kemudian mereka diberondong senjata piauw beracun.

Pertempuran hebat dibawahnya hujan lebat, dimana Liok

sinshe dikeroyok banyak orang, berbayang saat itu di depan

matanya.

"Hei, kau lagi ngelamun apa ?" Eng Lian menegur, seraya

menowel lengan orang.

Lo In seperti baru sadar, cepat pungut dua cabang pohon

yang ia barusan tebang. Kemudian bersama Eng Lian

menghampiri ke bawah pohon pula.

"Adik In, ini adalah pedang mustika, kasih aku pakai saja,

boleh ?" Eng Lian tanya.

"Tentu saja boleh- Malah maksudku untuk menghadiahkan

itu pada enci."

"Hihi, pedang orang mau dihadiahkan pada encimu." si

gadis ketawa.

 

"Pedang orang, bukan orang lain. Boleh kan barang punya

ayah sendiri dikasih enci untuk tanda mata. Hahaha........."

Lo In berkata sejujurnya, tidak bermaksud apa-apa dalam

perkataannya, sebaliknya Eng Lian yang sudah "matang",

kata-kata Lo In dianggap serius, maka parasnya lantas saja

berubah semu merah dan menundukkan kepala.

Si nakal tidak tahu apa yang sedang dipikirkan sang enci, ia

berkata,

"Enci Lian, mari aku pinjam dahulu pedangnya untuk

membikin pisau-pisauan guna kau latihan."

si nona angsurkan pedangnya yang diminta si nakal tanpa

kata apa-apa. Ia kemudian duduk pula seraya membuka-buka

lembaran kitab "Hui-to Pit-kip", seakan-akan yang betul-betul

tengah meyakinkan isinya buku, padahal pikirannya melayanglayang

ngelamun akan kebahagiaannya yang bakal datang.

Tapi dasar gadis nakal berandalan, apa yang dipikirkan

barusan, hanya sebentaran saja mengganggu otaknya sebab

dilain saat ia sudah melupakan itu semua.

Ia menegur Lo In,

"Adik In, mana pisaunya ? Lama amat membuat tujuh bilah

pisau saja- Kau bikin apa lagi ?"

"Enci, kau main gampang saja, kan sudah bikinnya." sahut

Lo In.

"Jangan bagus-bagus, asal berbentuk sedikit pisau saja

sudah cukup "

 

Baharu si gadis berkata "cukup", Lo In sudah ada di

depannya, sambil kasih lihat tujuh bilah pisau buatannya, si

bocah berkata,

"Nih, lihat buatan adikmu, bagus tidak ?" Eng Lian

menyambuti,

"Kenapa bagus amat ?" katanya, setelah memeriksa.

"Ini kepanjangan." sahut Lo In.

"Pisau yang aslinya nanti kita suruh orang bikin, palingpaling

juga panjangnya empat cun (dim)-Eng Lian kegirangan

melihat adik In-nya bisa kerja cepat.

si nona sudah memiliki Iwekang, tidak perlu lagi ia

menghapal dari kitab "Hui-to Pit-kip", cukup ia meyakinkan

cara menyambitkan pisau.

otaknya terang, maka dalam tempo pendek ia sudah dapat

mengingat petunjuk-petunjuk di dalam kita. Maka ia lantas ajak

Lo In untuk melatih diri si bocah yang sangat cerdik, dapat

memimpin Eng Lian berlatih dengan pisau terbangnyasedang

mereka kelelap dalam kegembiraan melatih Hui-to,

tiba-tiba mereka berhenti berlatih ketika nampak ada kira-kira

sepuluh orang datang menghampiri dengan masing-masing

ada membawa senjata tajam ditangannya-Lo In heran melihat

kedatangan mereka, begitu banyak dengan membawa senjata

-"Mereka mau apa-apaan datang kemari ?" tanya Eng Lian

pada Lo In. Lo In geleng kepala dan menunggu mereka datang

dekat.

 

seorang dengan muka berewokan bengis berkata pada Lo

In,

"Anak kecil, barusan kau ada bawa-bawa buntelan kecil

berisi mas dan perak- Mana dia ?"

"Dari mana kau tahu ?" tanya Lo In heran.

"Barusan orangku melihat kau ada membuka bungkusan

kecil"

"Habis, kau mau apa kalau aku betul membawanya ?"

"Aku minta kau serahkan bungkusan itu kepaaku Hek-in

Touw Liong (si Mega Hitam). Kalau kau tidak menurut, kau

lihat ini apa ?" sambil acungkan goloknya.

"Hihihi " tiba-tiba saja Eng Lian ketawa terpingkal-pingkal.

"Apa yang kau tertawakan, budak kecil ?" tanya Hek-in

Touw Liong heran.

"Barang itu memangnya kau punya, makanya minta

diserahkan?" sahut Eng Lian.

"Bukan aku punya, tapi justru aku mau dapati itu dari

kalian."

"Enak saja kau ngomong. Bisa tidak dapatinya ?"

"Kenapa tidak bisa ? Kalau secara halus kalian tidak mau

menyerahkan, melakukannya dengan kekerasan. Kalian anakanak,

bau pupuk di kepala aja masih belum hilang. Mau

melawan dengan apa ?"

 

"Matamu buta, tidak mengenali nonamu siapa ?" bentak

Eng Lian.

"Aku tahu sebab kaujuga akan kami ringkus untuk

dipersembahkan kepada pemimpin kami."

"siapa pemimpin kamu namanya dan dimana tinggalnya ?"

"Tidak perlu banyak tanya, lekas serahkan barang yang

diminta "

"Kalau aku tidak mau kasih ?" ngeledek Eng Lian, gembira

ia kelihatannya kalau sudah menghadapi pertempuran.

Lo In tinggal berdiri saja menonton encinya bertengkar.

"Maju semua " berseru si berewokan kepada temantemannya.

Mereka itu ada orang-orang jahat yang mengacau

keamanan sekitar tempat itu. Tadi ketika Eng Lian dan Lo In

memeriksa bungkusan pemberian Kie Giok TOng, rupanya

ada salah satu orangnya yang melihat dan mengabarkan pada

kepalanya- Maka juga Lo In dan Eng Lian yang sedang enakenakan

melatih Hui-to telah disatroni. Apa mau mereka

kebentur tembok, bukannya kebentur pagar bambu yang

amoh. Lo In sama sekali tidak bergerak melihat sepuluh orang

datang menyerbu.

Ia menonton enci Liannya dikepung. Kaget dan dan heran

juga ia melihat sang enci gunakan pisau kayunya yang

barusan dilatih, satu demi satu kena disambit roboh oleh pisau

kayunya. Malah serangannya jitu benar sebab yang dituju

persis jalan darah pada tubuh orang sehingga mereka pada

roboh tanpa dapat bangun lagi.

 

Hek-in touw Liong merasa cukup tujuh orangnya untuk

menangkap Eng Lian, maka ia dengan dua kawannya

menghampiri Lo In. Maksudnya hendak menangkapnya.

Dengan beringas mereka menyerang, tapi dengan meringis

mereka mundur kesakitan. Mukanya seperti dihantam

segumpal pasir dengan hanya dikebas tangan bajunya Lo In.

Dengan ketakutan mereka memutar tubuh hendak lari, tapi

dengan satu kebasan lengan baju si bocah sakti membuat

mereka roboh berbareng. Kakinya lemas, tak dapat diperintah

untuk lari. Kepaksa mereka mendeprok dengan ketakutan.

semuanya telah dibikin rebah tak berdaya. Tujuh orang oleh

Eng Lian dengan totokan pisau kayunya, tiga orang dengan

totokan angin lengan bajunya Lo In. si nona dan si bocah

ketawa terkekekh nampak semua itu.

Kemudian mereka melanjutkan latihannya tanpa

menghiraukan pada orang-orang yang rebah tertotok itu.

Ketika mereka sudah merasa cukup berlatih, Lo In berkata

pada Eng Lian,

"Hui-to Pit-kip rupanya berjodoh dengan enci Lian. Maka

juga dengan sedikit waktu saja kau telah dapat yakinkan

hampir mahir betul. Baik kita membuat Hui-to yang bagus

pada satu pandai besi yang ahli- Kita nanti pilih salah satu

yang baik bikinannya, kepada siapa kita boleh suruh bikini"

"Dimana kita dapat cari pandai besi yang baik, adik In ?"

tanya si nona.

"Kita toh dalam perjalanan, sepanjang jalan kita boleh

tanya-tanya pada penduduk-siapa tahu kita kebetulan

menemui pandai besi yang ahli, bukan ?" Eng Lian kegirangan

mendengar perkataan Lo In.

 

"Mari kita jalan." kata lagi si bocah seraya memungut

pedang yang menggeletak ditanah kemudian menyerahkan

pada Eng Lian sambil katanya,

"Kau lebih memerlukan. Maka peganglah pedang ayahku

ini sebagai tanda mata." Lo In berkata sambil ketawa nyengir

seorang bocah-

"Terima kasih-" kata Eng Lian seraya menyambuti lalu

gantung pedang "tanda mata" itu dipinggangnya yang ceking

langsing, Ia tidak ketawa kegirangan, hanya lantas mendahului

Lo In, jalan seperti malu.

sejenak Lo In merasa aneh dengan kelakuan sang enci

diluar kebiasaannya. Hanya sejenak perasaan aneh itu timbul,

lantas ia sudah menyusul dan berseru,

"Enci Lian, jangan cepat-cepat jalan. Memangnya mau

menyusul siapa ?"

Lucu lagaknya si bocah. Ia tidak tahu akan perasaan si

gadis cilik yang hatinya mulai dikacaukan oleh panah dewi

asmara.

Eng Lian juga hanya sepintas lalu timbul perasaan kikuknya

karena segera ia kembali kepada sikapnya yang riang

gembira-

"Adik In." katanya sambil menantikan adik In-nya yang

menyusul di belakang.

"Kau jalan lambat amat sih- Mana ada waktu encimu

menungguimu- Aku sebal melihat itu sepuluh manusia tidak

tahu diri"

 

Lo In ketawa nyengir setelah berada di samping Eng Lian.

"Anak penakut " kata Eng Lian berguyon seraya mencubit

perlahan pipi si hitam.

"Baru ditinggalkan sebegitu saja sudah ketakutan. Hihi......."

"Memang aku ketakutan." sahut Lo In kontan.

"Ketakutan pada teman-temannya itu sepuluh orang yang

tidak punya guna ?"

"oo, bukan itu. Manusia begituan, biar didatangkan

segerobak lagi juga tidak aku tinggal lari."

"Habis, kau ketakutan sama siapa ?"

"Aku ketakutan kehilangan enci Lian." Lo In kata, mukanya

yang hitam ketawa.

"Ah, adik In........." hanya ini yang keluar dari mulut Eng Lian

yang mungil lalu ia ajak Lo In untuk melanjutkan

perjalanannya.

Dalam sedikit waktu saja, sikapnya Eng Lian sudah wajar

lagi. Ia banyak ketawa ngikik lantaran si bocah ngobroinya

membikin urat-urat ketawa tergerak-

"Ah, ada kerjaan lagi " kata Lo In tiba-tiba-

"Kerjaan apa, adik In ?" Eng Lian menanya heran.

"Mereka menyusul kita." sahut Lo In.

"Mari kita gunakan jalan cepat saja supaya mereka tak

dapat menyusul kita."

 

"Jangan." kata Eng Lian.

"Kita harus kasih hajaran dulu, baru kita tinggal mereka

pergi."

"Tapi, aku harap kau jangan bikin luka mereka "

"Buat apa aku membikin luka orang. Aku hanya mau mainmain

saja."

"Baiklah, mari kita tunggu." kata Lo In seraya tarik

tangannya Eng Lian buat diajak duduk dipinggiran jalanan

dimana ada terdapat batu besar. Mereka duduk menunggu.

Lama juga belum kelihatan mereka datang. Eng Lian

ketawa ngikik dengan tiba-tiba.

"Adik In, kau hanya ingin duduk berdekatan dengan encimu

saja sebab apa kau katakan tidak ada orang-orangnya " kata

Eng Lian.

"Aku barusan bilang mereka masih jauh- Tapi sekarang

sudah dekat. Bukankah itu banyak suara kaki orang

mendatangi ? Malah ada yang naik kuda segala

kedengarannya"

si bocah kata seraya diam pasang kuping. Eng Lian juga

pasang telinganya.

Belum sempat Eng Lian berkata kepada Lo In, segera

dihadapan mereka sudah ada tiga orang penunggang kuda

yang ketawa terbahak-bahak nyarinG sekali. Setelah berhenti

ketawa, satu diantaranya yang mulutnya agak mengok ke

kanan telah berkata,

 

"Aku kira tadinya dua orang dengan badan tinggi besar

menyeramkan dan masing-masing bertangan empat. Tidak

tahunya hanya dua bocah ingusan saja. Hahaha— haup oho,

oho........."

kata-katanya terhenti karena selagi ketawa ada menyambar

suatu benda ke mulutnya hingga ia gelagapan dan batukbatuk-

Ia rasakan seperti ada yang nyangkut

ditenggorokannya.

"Kau kenapa, toako ?" tanya temannya heran,

si mulut mengok tidak menjawab, sebaliknya ia berkutat

untuk mengeluarkan benda yang nyangkut dalam

tenggorokannya. Air matanya bercucuran keluar tidak nangis,

mulutnya owa owe bertahak tak hentinya.

setelah lama ia disiksa oleh benda yang nyangkut dalam

tenggorokannya, akhirnya dapat juga benda itu dikeluarkan.

Kiranya benda itu hanya selembar rumput alang-alang yang

panjangnya kira-kira tiga cun berujung tajam.

sementara itu, orang-orang yang berjalan kaki mengikuti

tiga penunggang kuda itu sudah ada disitu, pada berdiri siap

dengan senjatanya masing-masing. Mereka pun heran

nampak pemimpinnya owa owe seperti wanita ngidam

(mengandung bayi) sampai bercucuran air mata dan payah

benar kelihatannya, malah hampir-hampir ia jatuh dari

kudanya.

sambil melemparkan rumput alang-alang yang menyulitkan

tenggorokannya tadi, si mulut mengok mendelik matanya ke

arah Eng Lian yang saat itu tengah ketawa terpingkal-pingkal

sembari memegangi perutnya.

 

"Budak liar " bentaknya.

"Kau yang main gila barusan pada tuan besarmu Hm "

seiring dengan kata-katanya, cambuk kudanya diangkat

untuk menghajar si gadis nakal.

"Pluk " terdengar suara barang jatuh yang semestinya

berbunyi "Tar Tar " tandanya cambuk kuda bekerja. Tapi ini

suara "Pluk "yang kedengaran. Kiranya suara pluk adalah

suara pecut si mulut mengok yang jatuh sebelum dia dapat

digerakkan menghajar Eng Lian, tetapi telah didahului oleh

Eng Lian yang mengirim pisau terbang kayunya mengarah

jalan darah dibahunya.

Kembali si mulut mengok dirugikan, sebelum ini ia dirugikan

oleh Lo In yang mengirim rumput alang-alang ke mulutnya

sehingga bersemayam ditenggorokannya karena si bocah

merasa sebal dengan lagaknya yang tengik si mulut mengok

tertegun di atas kudanya.

"Toako, dua bocah ini rupanya bukan sembarangan bocah-

Mari kita bereskan saja " berkata temannya yang bermuka

lonjong.

" ya, jangan kita buang tempo-" menimpali temannya yang

satu yang berjenggot kambing.

si mulut mengok sudah lantas turun dari kudanya diikuti

oleh dua temannya la la u menghampiri Eng Lian yang ada

disampingnya Lo In.

"Adik In." bisik si dara cilik,

 

"Kau diam saja nonton. Biar aku yang bereskan tiga kurcaci

ini. Akan kubikin satu persatu jatuh duduk dan berlutut

padaku"

Lo In diam saja, hanya manggut sambil ketawa nyengir.

"Hei, kalian ini anak siapa ?" tiba-tiba si mulut mengok

membentak nyaring. Eng Lian dan Lo In diam saja, tidak

menjawab bentakan yang nyaring itu.

"Kalian tidak dengar pertanyaan Lie Toaya ?" bentaknya

lagi lebih nyaring. Lie Toaya artinya tuan besar Lie.

Melihat dua anak itu tinggal diam saja, si mulut mengok jadi

gusar. Bentaknya lagi lebih nyaring,

"Aku Lie Kiang tidak pernah membunuh anak kecil. Maka

itu lekas kalian panggil orang tua kalian datang terima binasa

di ujung golok Toaya "

Tadi Lo In dan Eng Lian mau tinggal diam saja menonton

lagaknya si mulut mengok dan mau lihat apa yang ia bisa

bikin- Tapi mendengar kata-kata si Lie Toaya yang mengitik

urat ketawa, tiba-tiba saja Eng Lian ketawa ngikik-

Tiga orang yang naik kuda itu tiga saudara she Lie, bukan

seayah seibu- yang tua Lie Kiang (si mulut mengok), kedua Lie

Sun (si muka lonjong) dan ketiga Lie Bin (sijeng got kambing).

Dalam desa Tiokschung mereka dikenal dengan nama

Tiokschung-sam-lie (Tiga Saudara Lie dari Tiokschung) dan

menjadi jagoan yang tak terkalahkan dalam kampungnya.

Maka juga mereka ada sangat sombong dan pandang

sesamanya sangat rendah-Melihat Eng Lian ketawa ngikik, Lie

Kian atau si mulut mengok menjadai heran.

 

"Kau ketawakan apa ?" bentaknya bengis.

"Aku ketawakan lagak tengikmu " sahut Eng Lian kontan.

"Dengan anaknya masih belum tentu menang, mau

menantang orang tuanya. Apa-apaan ?"

"Toako" nyeletuk Lie sun.

"sudah jangan banyak cakap- Timpa saja sekali dengan

gagang golok, biar dia tahu rasa "

"Ah, yang beginian sih, ginikan saja.......aduh " Lie Bin

berjengit sambil lompat mundur dan meraba jenggot

kambingnya yang telah kehilangan beberapa lembar hingga

matanya mendelik ke arah Eng Lian yang nakal.

Kiranya si jenggot kambing ada sedikit nakal juga terhadap

cewek (wanita). Melihat si dara cilik demikian cantik dan

Jenaka, mendadak timbul napsunya ingin memeluk Eng Lian.

Maka ketika ia kata "ginikan saja............1 berbareng ia hendak

memeluk si dara cilik- Tidak tahunya bukan Eng Lian kena

dipeluk dan meronta-ronta ketakutan, sebaliknya si dara cilik

lenyap dari depannya sambil mencuri beberapa lembar

jenggot kambingnyasementara

Lie Bin mendelik matanya, Eng Lian di

depannya ketawa ngikik- sambil angkat tangannya yang

menggenggam beberapa lembar jenggot Lie Bin, ia berkata,

"Awas Kalau kau berani kurang ajar lagi, akan kucabut

semua jenggotmu yang macam jenggot kambing itu"

Lie Kiang dan Lie Bin tak dapat menahan hatinya yang

mendelu. Tanpa banyak cakap, mereka menerjang Eng Lian.

 

Mereka hendak menangkap si nona untuk dikasih berapa

cambukan pantatnya sebagai hajaran.

Lie sun tidak turut. Karena pikirnya ia harus mengawasi si

bocah hitam. Kalau-Kalau Lo In nanti membantu kawannya, ia

lantas dapat merintanginya. Pikirannya sih memang baik,

hanya ia tidak tahu si bocah wajah hitam itu ada Hek-bin-sintong

atau siBocah sakti muka hitam. Kalau ia tahu siapa

dirinya Lo In, tentu ia sudah lari tunggang langgang dengan

tidak menengok ke belakang lagi-

Lo Inpun tidak ada maksud membantu kawannya karena ia

sudah dipesan Eng Lian bahwa ia hanya disurun nonton enci

Liannya berkelahi-

Lie Kiang dan Lie Bin yang semula hanya bermaksud

menangkap si dara cilik untuk dihajar dengan cambukmenjadi

sengit dan menyerang dengan pukulan-pukulan yang

ganas, melihat Eng Lian telah mempermainkan dirinya-

Tapi Eng Lian tidak takut- Memang maunya dia, dua jago

dari Tiok-chung itu mengeluarkan kepandaiannya yang aslisaking

gemas dan sengitnya, serangan-serangannya mereka

telah menimbulkan angin keras yang membikin orangorangnya

yang menonton disekitarnya pada mundur jauh-jauh

takut kesambar angin pukulan.

Melihat dua saudaranya tidak bisa berbuat apa-apa

terhadap si gadis cilik, diam-diam hatinya Lie sun menjadi

cemas, Ia tinggalkannya Lo In dan bantu mengepung Eng

Lian.

"Bagus, kalian sudah datang komplit " seru Eng Lian

Jenaka.

 

"Awas, aku nanti bikin kalian satu demi satu jatuh berlutut di

depan nona kecilmu. Hihihi........" Eng Lian ngeledek

Tiokchung-sam-lie sehingga tiga jago itu menjadi sangat

gusar.

Benar bukan omong kosong kepandaian tiga benggolan

Tiokchung itu. serangan-serangan mereka dilakukan dengan

teratur dan hebat sekali hingga diam-diam Lo In kuatirkan

encinya salah tangan dan celaka di tangan mereka. Dengan

turunnya Lie Sun jalan perkelahian tambah seru lagi.

Tampak Eng Lian dikurung rapat oleh tiga saudara Lie, tiputipu

serangan yang berbahaya dilancarkan dengan sengit ke

arah Eng Lian. Timbullah seketika keganasan mereka untuk

melenyapkan si dara cilik dari muka bumi ini.

sampai dimana tingginya kepandaian Eng Lian dapat dinilai

dari caranya ia melayani tiga orang lawannya yang bukan

rendah kepandaiannya, sampai angin pukulan mereka

menghembus dan menakutkan para begundalnya yang

menonton disekitarnya. sampai begitu jauh si nona tidak balas

meyerang, hanya berkelit saja.

"Awas " tiba-tiba Eng Lian berseru. Berbareng

bayangannya berkelebat dan jenggotnya Lie Bin kena

dijambret sehingga seketika Lie Bin berhenti mengeroyok dan

berdiri tertegun sambil meraba jenggotnya yagn sudah mulai

gundul. Meluap amarah Lie Bin dan ia menerjang lagi Eng

Lian dengan sengitnya-

"Awas " kembali si nona berseru- "Plak Plak " menyusul

suara tamparan dua kali-

Tampak tubuhnya Lie Kian terhuyung-huyung kemudian

jatuh duduk- Ia rasakan dunia berputar, kepalanya pusing

 

tujuh keliling, dari mulutnya keluar kecap segar. Lucu

kelihatannya Lie Kiang, mulutnya yang agak mengok seperti

betul-betul mengok akibat kerasnya tamparan si dara nakal-

Untuk merobohkan Lie Kiang sampai semaput demikian,

Eng Lian telah menggunakan jurus ketiga dari "Lam-hayciang-

hoat" (Ilmu pukulan dari laut kidul) yang dinamakan

"Lam-hay-liu-sui" atau "Air mengalir dari Laut Kidul"- Lihainya

jurus ketiga dari "Lam-hay-ciang-hoat" itu dapat menimbulkan

perasaan aneh bagi korbannya- Tamparan Eng Lian bukan

sembarang tamparan sebab taparan biasa paling-paling juga

membikin kecap serta ada dua sampai tiga buah giginya yang

rontok atau copot. Tetapi akibat tamparan dari "Lam-hay-liusui"

nya, Lie Kiang mulutnya melelehkan darah tapi giginya

tidak apa-apa, kuat dan segar, Ia terkulai jatuh untuk tidak

bangun lagi. Badannya terasa lemas tak bertenaga seperti

kena ditotok jalan darahnya, Inilah keistimewaan dari jurus

"Lam-hay-liu-sui" (Air mengalir dari Laut Kidul), ajaran sucouwnya

Eng Lian ialah Lamhay Mo Lie, pada waktu si nona masih

dalam tangan Ang Hoa Pay menjadi Kim Coa siancu (Dewi

ular emas).

Demikianlah, melihat saudara tuanya yang hanya ditampar

saja sudah roboh dengan tidak bangun lagi, Lie sun dan Lie

Bin menjadi cemas hatinya. Tapi mereka tidak mengurangi

serangan-serangannya yang berbahaya, malah makin gencar

saking gemasnya pada si dara cilik yang lincah yang tak dapat

ditawan.

Penonton dibikin kagum oleh gerakan si nona yang

istimewa. Waktu Eng Lian dengan enteng badannya mencelat

ke atas sampai lima meter tingginya, ketika mengelakkan

serangan kombinasi dua lawannya yang hendak menggunting

pinggangnya.

 

Di tengah udara si dara cilik bikin gerakan yang

mengagumkan, setelah terputar badannya, ia turun ke bawah

dengan gerakan kaki seperti menendang saling susul hingga

Lie sun dan Lie Bin ragu-ragu untuk menyergap si nona begitu

Eng Lian menancapkan kakinya di tanah lagi.

Tapi mereka sudah sangat gemas pada si dara cilik.

Buktinya, begitu Eng Lian menyentuhkan kakinya di tanah tiga

meter jaraknya dari mereka, dengan berbareng mereka lompat

menyergap. Tapi si nona seperti ada dipasang per pada

kakinya, lantas membal lagi dan jumpalitan ke belakang

mereka.

Lie sun dan Lie Bin terkejut bukan main. Lekas mereka

putar tubuh untuk menghadapi si nona pula. Tapi sudah

terlambat karena ia rasakan seketika bahunya kesemutan

kemudian lemas tak bertenaga dan tubuhnya menyusul

terkulai roboh-

Dengan sekaligus dapat merobohkan dua musuh tangguh,

itu bukan pekerjaan mudah-Tidak heran kalau Lo In yang

berkepandaian sangat tinggi telah bersorak dengan tiba-tiba

dan berkata,

"Enci Lian, benar-benar kau hebat Kionghi " sambil angkat

tangannya dengan lucu menyoja pada Eng Lian.

si nona deliki matanya yang halus sambil tersenyum pada

si wajah hitam.

Eng Lian barusan telah menggunakan gerakan kombinasi

"Lian-hoan-tui-kong" (Tendangan berantai di angkasa) dan

"Hay-tee-tancu1 (Mencari mutiara di bawah laut), juga

termasuk tipu serangan yang si nona yakinkan dari "Lam-hayciang-

hoat1. gerakan "Tendangan berantai di angkasa1

 

adalah ketika Eng Lian melambung tubuhnya ke udara dan

kakinya bergerak saling susul seperti menendang, Ini

sebenarnya untuk menghadapi musuh yang sama-sama

terapung di udara, tapi kalau Eng Lian sudah berbuat

demiikian, itu hanya ia mendemonstrasikan kepandaiannya

saja.

Yang kedua "Mencari mutiara di bawah laut adalah gerakan

yang tidak diduga-duga karena begitu kakinya menginjak

tanah, si nona sudah mumbul lagi dan jungkir balik ke

belakang lawan, yang dari mana otomatis kedua lengannya

bekerja untuk menotok jalan darah lawan pada bagian

belakang pundaknya sebelum kedua lawannya membalikkan

tubuhnya. Tiga musuhnya sekarang sudah mendeprok di

tanah dengan tak dapat bangun lagi.

Benar-benar si nona telah buktikan perkataannya kepada

adik In-nya, bahwa ia akan jatuhkan satu persatu lawannya

dan berlutut padanya.

Begitu lama Eng Lian bertempur, tidak menunjukkan bahwa

ia lelah- Itu membuktikan bahwa tenaga dalam si nona

sempurnagirang

bukan main hatinya Lo In menyaksikan kelihaian

enci Liannya yang tadinya ia sangsi, kuatir si nona salah

tangan dan dibikin celaka musuh-musuhnya. Syukur ia tidak

keburu napsu ceburkan diri datang membantu Eng Lian. Kalau

sampai kejadian begitu, paling sedikit ia akan diomeli encinya

kalau tidak dicubit keras pipinya lantaran tidak mendengar

perkataan sang enci yang kosen.

"Mari, maju semua " tantang Eng Lian ketika melihat begitu

banyak begundalnya Tiokschung-sam-lie hanya pada berdiri

 

bengong mengawasi tiga cukongnya mendeprok di tanah tak

dapat bergerak-

Mereka tidak bergerak di tangan si nona, malah saling lihati

satu sama lain.

Ketika Eng Lian menggertak seperti hendak menghampiri

mereka seperti yang hendak berdamai satu dengan lain,

mereka segera pada lari serabutan ketakutan.

"Enci Lian, aku mau apakan ini tiga ekor kambing ?" tanya

Lo In melihat mereka hanya berlimaan saja setelah begundalbegundalnya

Tiokschung-sam-lie pada kabur.

"Seperti yang sudah, kita tinggalkan saja." sahut Eng Lian

yang tengah membereskan rambut dan pakaiannya,

tampaknya ia tidak menghiraukan pada tiga pecundangnya.

"Ah, jangan enci Lian " kata Lo In.

"Kenapa jangan ?" tanya si dara cilik heran, sementara itu

ia sudah rapih-

"Mereka terkena ilmumu beratjuga. Kasihan mereka kalau

dibiarkan."

Lo In tidak menyebut "totokan" tapi "ilmu" untuk membikin

Eng Lian senang.

Cerdik juga si bocah, menerka jalan pikirannya sang kawan

sebab sehabis ia berkata demikian, tampak si nona ketawa

manis, senang hatinya rupanya.

"Ah, adik In, kau bisa saja. Masa totokan biasa dikatakan

ilmu ?" kata Eng Lian..

 

"Siapa bilang bukannya ilmu ? Malah kalau ditambah

"sakti"juga ada tepat sekali sebab kepandaiannya enci sangat

hebat"

Eng Lian tertawa ngikik mendengar si bocah berkokoh

dengan pendiriannya.

"Totokan biasa dikatakan ilmu sakti. Kau sih ada-ada saja,

adik In"

"orang menggampar lawannya, biar bagaimana keras

paling-paling hanya si korban kesakitan dan giginya pada

nyoplok. Tapi enci gamparannya ada lain coraknya, tamparan

enci adalah tamparan sakti sebab lawan lantas roboh terkulai

dengan tidak dapat bangun lagi. Malah dari mulutnya tidak

menyemburkan gigi yang copot selain darah meleleh

dibibirnya."

"Hihihi—" Eng Lian ketawa ngikik,

"Habis apalagi kesaktian encimu ?"

"Ketika kaki enci menyentuh tanah dan mumbul lagi,

berjumpalitan ke belakang lawan berbareng menotok tanpa

memberi kesempatan pada lawan, apakah itu bukannya ilmu

sakti ? Ha h a, coba adikmu periksa, apa kaki enci dipasangi

per?"

Lo In berkata, serentak berbuat dan mau pegang kaki Eng

Lian hingga si nona jadi gugup dan tarik wajahnya tersenyum

manis.

"orang mau periksa ada per tidaknya, kok dikatakan sinting

" Lo In bergurau Jenaka

 

"Mari adikmu periksa, boleh apa tidak"

"Tidak- tidak......" kata si dara cilik sambil angkat naik turun

kakinya, berkelit dari tangan Lo In yang paksa mau

memegangnya.

"Aduuuh " Lo In menjerit dan lompat mundur sambil

pegangi pipinya.

"Nah, rasakan ya, anak nakal. Kalau encimu sudah sengit "

berkata Eng Lian cekikikan ketawa melihat Lo In meringisringis

ketawa melihat Lo In meringis-ringis pelangi pipinya

yang barusan ia cubit.

"Enci Lian, awas akan kubalas " seru Lo In, badannya

lantas bergerak menubruk si dara cilik. Tapi Eng Lian sudah

keburu lompat ke dekatnya kuda Lie Kiang. Ia berkata,

"Adik In, mari kita belajar menaik kuda saja dari pada kau

balas mencubit encimu "

Lo In kegirangan.

"Benar, benar." katanya lucu. segera ia juga lantas

memegang tali kendali kuda Lie Bin. Dengan satu lompatan

saja tanpa menginjak pelana, ia sudah bercokol di atas kuda.

sementara itu si gadis juga sudah meniru caranya Lo In

menaiki kuda. Mereka berseri-seri diatas kudanya masingmasing.

"Adik In, kau sudah bisa belum naik kuda ?" tanya Eng

Lian.

"Kapan kita baru belajar-" sahut Lo In

 

"Mari kita coba-coba."

"Adik In, kita jangan larikan dulu kuda kita. Kita jajal dulu

perlahan, nanti kalau sudah gapah dan tetap kita

mengendalikannya, barulah perlahan-lahan kita suruh dia lari.

Bukankah itu lebih bagus ?"

"Bagus, bagus." sahut Lo In yang tadinya hendak main

larikan saja, sedang ia belum pernah naik kuda.

Eng Lian senang usulnya diterima baik oleh si adik nakal.

Mereka jalankan masing-masing kudanya dengan perlahan

jalan berendeng sambil saban-saban saling lirik ketawaketawa.

Kebetulan kuda yang diambil itu, dua-duanya jinak.

Coba kalau salah satu dari dua bocah itu mengambil kudanya

Lie sun, pasti akan gagal belajar menunggang kuda karena

kudanya Lie sun belum lama dibeli dan masih liar. Bisa-bisa

Lo In atau Eng Lian yang menaikinya jatuh terbanting.

Dasar dua-dua anak nakal dan berani, belum lama mereka

jalankan kudanya perlahan, tiba-tiba Lo In sudah mencambuk

perlahan supaya sang kuda jalan lebih kencang. Tidak

tahunya kuda itu telah mengangkat kakinya sambil meringkik.

Tapi Lo In tidak takut, malah ia ketawa terbahak-bahak

kesenangan di atas kuda. Mendadak kudanya menaruh pula

dua kaki depannya ditanah dan membawa Lo In kabur entah

kemana.

Eng Lian kaget nampak kawannya dibawa kabur. Tanpa

disadari ia juga memecut kudanya hinga berjingkrak dan

menyusul adik In-nya. Mereka kelihatan saling kejar dijalanan

pegunungan yang luas lebar. Eng Lian lihat Lo In dengan

kudanya sedang mendaki sebuah bukit, Ia cambuk dan

 

cambuk lagi kudanya supaya dapat mengudak si bocah yang

sudah jauh meninggalkannya.

sungguh ajaib kepandaian dua bocah itu- Tadinya belajar

dan takut-takut menaiki kudanya. sekarang tampak demikian

gapahnya mereka menunggang kuda seperti yang sudah

biasa. Rupanya kesatu didorong oleh nyalinya yang besar,

kedua dipaksa oleh kudanya. Maka dengan mendadak saja

mereka menjadi kampiun naik kuda.

Ketika Eng Lian mendaki bukit yang barusan ia lihat

darijauh Lo In mendakinya, ia kehilangan jejak Lo In di balik

bukit.

Eng Lian kebingungan, Ia tahan kudanya dan pasang mata

ke sekelilingnya tapi tidak kelihatan Lo In dengan kudanya.

Makin tidak enak hatinya Eng Lian ketika ia berusaha

mencarinya Lo In tidak juga ia ketemuku n adik nakalnya itu.

Dalam putus asanya ia jadi mewek (nangis).

"Adik In, kenapa kau tinggalkan encimu ?" berkata Eng Lian

sendirian sambil menyusut air matanya yang berlinang-linang

pada pipinya yang botoh-

Eng Lian menantikan disitu Kalau-Kalau Lo In nanti kembali

lagi. Akan tetapi ditunggu sampai matahari tenggelam ke barat

tidak kelihatan mata hidungnya si bocah wajah hitam.

sampai disini kita kembali kepada Bwee Hiang yang sudah

lama kita tinggalkan.

Bwee Hiang sudah antar ong Kui Hoa sampai di rumahnya

dengan selamat hingga kedua orang tuanya Kui Hoa sangat

 

berterima kasih kepada jago betina kita atas pertolongannya

kepada puterinya.

Pulangnya Kui Hoa sangat menggemparkan ong-ke-cnung,

sebuah kampung yang tidak begitu banyak penduduknya.

Banyak sanak Iamili dan sahabat-sahabat keluarga ong pada

datang untuk memberi selamat kepada keluarga ong yang

puterinya sudah kembali dengan selamat.

Diantara yang datang ada on Lian dengan puterana

bernama Keng Siang, satu pemuda yang Idt^nrns cakap umur

32 tahun.

Kui Hoa diminta oleh para hadirin untuk menuturkan

riwayatnya diculiktau lebih tegas dirampas dengan paksa oleh

orang-orang Thoat Beng mo Siauw atau si Hantu Ketawa yang

menyeramkan penduduk ong-ke-chung.

Si nona tidak menutur banyak hal dirinya sebab keburu

mendapat pertolongan dari Bwee Hiang. Ia kata,

"Kalau tidak ada enci ini", sambil menunjuk paria Bwee

Hiang,

"entahlah bagaimana dengan nasibku ?"

Dalam paria itu, si nona telah menceritakan halnya Bwee

Hiang telah menaklukan kawanan penjahat hingga yang

mendengarkan terkagum-kagum keparia si nona she Liu yang

gagah perkasa. Mereka telah memberikan pujiannya tapi

Bwee Hiang merendahkan diri.

katanya, "Kepandaianku tidak tinggi, kalau mereka sudah

dapat aku tumpas adalah dengan cara kebetulan saja. coba

 

Thoat Beng siauw Mo masih hidup, mungkin pekerjaanku tidak

semudah itu..........."

"Hah Thoat Beng Mo siauw sudah mati ?"

tiba-tiba ong Keng siang si pemuda cakap, menanya

dengan mata terbelalak-

" Aku sendiri tidak menyaksikan kematiannya." sahut Bwee

Hiang.

"Aku hanya dapat kabar dari anak buahnya bahwa si Hantu

Ketawa telah binasa di tangannya Kim Coa siancu dengan

gigitan ular emasnya yang amat lihai."

ong Keng siang seperti yang belum hilang kagetnya,

tampak ia seperti terpaku duduk dikursinya hingga diam-diam

Bwee Hiang menhadi heran dalam hatinya.

"Kenapa pemuda ini ada demikian memperhatikan pada si

Hantu Ketawa ? Apakah dia ada hubungannya ? Ah, tidak bisa

jadi- Pemuda begini cakap untuk apa ia bikin hubungan

dengan seorang jahat dan buas ? Demikian rupa-rupa

pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Meskipun demikian,

tampak Bwee Hiang tenang-tenang saja, belaga pilon

terhadap kelakuannya Keng siang yang anehorang

banyak kegirangan mendengar kabar kematiannya si

Hantu Ketawa, hanya Keng siang yang kelihatannya tidak

mengunjuk reaksi apa-apa.

Bwee Hiang matanya lihai. Sejak hatinya merasa aneh

akan gerak gerik si pemuda cakap, ia jadi merasa curiga.

 

" Kalau Thoat Beng Mo siauw sudah mati, terang bekas

markasnya itu sekarag telah menjadi kosong, bukan ?"

Keng siang menanya sambil ketawa dipaksakan.

"oo, markasnya sudah habis dimakan api." nyeletuk Kui

Hoa.

"siapa yang emmbakarnya ?" Keng siang menanya

kepingin tahu.

"Enci Bwee Hiang yang suruh anak buahnya si Hantu

Ketawa membakarnya-" sahut Kui Hoa seraya melirik pada

Bwee Hiang-

"Lalu, kemana anak buahnya sekarang ?" Keng siang

menegas-

"sudah dibubarkan oleh enci Bwee Hiang-" jawab Kui Hoa

Keng siang manggut-manggut akan selanjutnya ia

membisu- Tidak lama kemudian ia sudah ngeloyor pergi

dengan diam-diam dan tidak ada yang memperhatikan selain

ayahnya yang diminta permisi untuk pulang lebih dahulu-

Kepergiannya dengan diam-diam ia pikir tidak ada orang

yang tahu- Ia lupa kalau Bwee Hiang yang matanya awas tak

dapat diselomoti-

Kui Hoa tidak enak kalau ia terus menerus dirubung-rubung

oleh orang banyak, terutama ia melihat tamunya seperti

merasa sebal melayani mereka, maka Kui Hoa sudah lantas

mohon diri untuk masuk ke dalam.

Kui Hoa bawa Bwee Hiang ke dalam kamarnya sendiri,

dimana ia tukaran pakaian.

 

"Adik Hoa, kamarmu begini indah- sudah tentu kau

menangis waktu dijebloskan dalam tahanan." berkat Bwee

Hiang menggoda.

"Enci Hiang, entah dengan apa aku dapat membalasnya

atas pertolonganmu." sahut si nona ong, tengah merapikan

pakaiannya di muka cermin,

"soalnya asal kau sudah selamat, untuk apa bicara tentang

membalas budi ?"

"Tapi enci, biar bagaimana aku tak dapat melupakan

pertolonganmu-"

"Baiklah." Bwee Hiang tertawa.

"sekarang aku mau menanya pada adik Hoa. Tapi aku

harap kau dapat menjawab dengan terus terang "

"Enci, kau tanyalah- Aku nanti akan menjawab dengan

sejujurnya."

Dalam pada itu, tampak Kui Hoa sudah selesai berdandan

dan duduk berhadapan dengan Bwee Hiang. Baharu saja ia

duduk- ia harus bangun lagi ketika mendengar pintu kamarnya

ada yang ketuk- Ia membukai, tampak satu pelayannya masuk

dengan membawakan penampan yang berisi hidangan untuk

siocia dan tamunya.

setelah mengatur hidangan di atas meja, pelayan tadi

lantas berlalu lagi setelah permisi pada siocianya. Pintu kamar

ditutup lagi. Kui Hoa lantas duduk menghadapi tamunya.

Ia mengundang.

 

"Enci Hiang, mari makan apa yang ada. Harap kau jangan

mencelanya. Besok-besok tentu akan aku jamu enci dengan

meja yang penuh hidangan lezat. Kau tidak menolak, bukan ?"

"Untuk apa kau menjamu aku sampai demikian ?" tanya

Bwee Hiang ketawa.

" Untuk kehormatan ha Liu Lie-hiap (pendekar wanita) yang

sudah menolong aku."

"Hihi, ada-ada saja nona Kui Hoa yang manis ini.

"Eh, adik Kui. Wajahmu sekarang benar-benar sudah

berubah, tidak seperti waktu di markasnya Thoat Beng Mo

siauw."

"Berubahnya bagaimana ?" tanya Kui Hoa kepingin tahu.

"Kau berubah sangat cantik- tidak heran Thoat Beng Mo

siauw tergila-gila- Hihi....."

Wajahnya Kui Hoa tampak semu merah

"Enci Hiang, kau memuji terlalu berlebihan."

katanya agak kikuk- Bwee Hiang lantas tahu bahwa nona

ong seorang gadis pendiam.

"Mari kita makan." Bwee Hiang mengundang untuk

menghilangkan rasa kikuk Kui Hoa. Ia pun sudah mendahului

menyumpir makanan.

"Aku sudah biasa tidak malu-malu. Ketambahan aku sudah

lapar- Maka barusan aku yang mengundang makan,

semestinya kau, adik Hoa."

 

"Itu sama saja." sahut Kui Hoa yang juga lantas turun

tangan untuk menyikat makanan diatas meja.

Kedua gadis itu bercakap-cakap dengan gembira, sampai

pada pokoknya soal yang ditanyakan Bwee Hiang tadi- Kui

Hoa menanya lagi,

"Enci, kau mau tanya apa padaku?"

"oo, ya- Hampir aku lupa." sahut Bwee Hiang sambil

menaruh sumpitnya.

"Dalam urusan apa, enci Hiang ?" tanya Kui Hoa kepingin

tahu.

"Aku mau tanya kau, siapa pemuda cakap itu yang sabansaban

menanyakan urusannya Thoat Beng Mo siauw ? Aku

lihat sikapmu seperti yang ketakutan terhadapnya."

Kui Hoa wajahnya pucat mendengar pertanyaan Bwee

Hiang yang diluar dugaannya.

sejenak ia tidak menyahut sampai Bwee Hiang berkata lagi,

"Adik Hoa, kalau kau merasa keberatan untuk

menerangkan padaku, tidak apa. Biarlah kutarik pulang

pertanyaanku tadi dan anggaplah bahwa aku seperti tidak

menanyakan apa-apa padamu."

"oo, tidak, tidak-" kata Kui Hoa lantas.

"Dia bernama Keng siang dan menjadi saudara cintong

denganku, sebab ayahnya adalah adik ayahku."

"Begitu ?" sahut Bwee Hiang.

 

"Tapi kenapa kau seperti yang ketakutan melihat dia ?"

"soalnya, soalnya...........eh, aku tak dapat menceritakan

kepadamu enci." kata Kui Hoa terputus-putus bicaranya

seperti menyembunyikan sesuatu rahasia.

Nampak Kui Hoa demikian gugup, makin curiga Bwee

Hiang ada apa-apa yang Kui Hoa sukar menuturkannya

kepada orang luar. Ia kepingin tahu, tapi tidak baik kalau ia

mendesak si nona. Apa daya ? Tapi dasar murid jago cilik kita

(Lo In) cerdik otaknya. Hanya sebentaran saja Bwee Hiang

termenung, lantas ia kelihatan tersenyum seperti sudah dapat

jalan keluar.

Ia berkata, "Adik Kui, aku kira tadinya kau ada sahabat baru

yang bisa pegang janji, tidak tahunya aku kecele Biarlah aku

sekarang mohon diri saja "

Bwee Hiang berkata sambil bangkit dari duduknya, sudah

tentu membikin Kui Hoa jadi kelab akan. Cepat-cepat ia juga

bangun dan memegangi tangan Bwee Hiang, disuruh duduk

lagi. Katanya,

"Enci Hiang, jangan marah Aku akan bicara terus terang

tentang dirinya engko Keng siang. Duduk, duduklah enci

Jangan bikin aku ketakutan, kau pergi meninggalkan aku

begitu saja."

"Bagus, itu baharu sahabat baikku." sahutBwee Hiang

ketawa sambil duduk lagi.

Itu hanyalah taktik Bwee Hiang untuk membikin nona ong

membuka rahasianya tentang dirinya Keng siang yang nona

Liu curiga pemuda cakap itu ada hubungannya dengan Thoat

Beng Mo siauw. Pikirnya, kalau benar Keng siang ada

 

begundalnya si Hantu Ketawa, sekalian saja ia bekerja untuk

membereskannya.

Kui Hoa menutur pada Bwee Hiang dengan tidak pakai

tedeng aling-aling.

Kiranya ong Keng siang dalam kampungnya ada terkenal

tidak baik kelakuannya. sayang dibalik wajahnya yang cakap,

ia ada menyembunyikan kekejaman dan suka main

perempuan.

sudah berulang kali ia tukar bini sampai paling belakang

adik cincongnya sendiri, ialah Kui Hoa tanpa mengingat

hubungan keluarga ia mau ganggu.

Keng siang berwajah cakap ganceng, mulutnya manis dan

pintar merayu.

Kui Hoa yang usianya baru memasuki 18 tahun tidak kenal

akan kepalsuannya seseorang pria yang wajahnya cakap tapi

hatinya tidak baik- Dalam buaian kata-katanya yang merayu

Kui Hoa dapat di"nina bobo"kan.

ong seng, ayahnya Kui Hoa sangat sayang pada puterinya

itu lancaran belum lama ia sudah kehilangan encinya Kui Hoa

yang mati karena sakit- Ia tidak merintangi anak gadisnya

yang ia anggap masih kecil bergaul dengan Keng siang

keponakannya. Apalagi saban Keng siang berkunjung

alasannya adalah hendak memberi pelajaran surat kepada

adik cincongnya hingga kedua orang tuanya Kui Hoa merasa

senang atas kesudian Keng siang memberi pelajaran surat

kepada puterinya.

Pada suatu sore, dalam memberikan pelajaran di kamar

tulis, Keng siang berkata pada Kui Hoa,

 

"Adik Hoa, kau sangat cancik, Ibarat kembang sedang

mekarnya dan aku ingin menjadi kumbangnya. Apa kau suka

kokomu menjadi kumbang mendekati kau ?"

Kui Hoa tengah menulis, ia diam saja. Tapi lama-lama ia

mengerti akan maksud omongan sang engko cincong maka ia

ketawa manis dengan pipi semu merah-

"Adikku, lama aku impikan wajahmu yang cancik-" Keng

siang berkata lagi-

"Ingin aku memilikinya- Apakah kau bersedia untuk.jadi

isteriku ?"

si nona menatap wajah Keng siang yang cakap sementara

hatinya berdebaran mendengar engko cincongnya secara

blak-blakan membuka rahasia hatinya-

"Aku sendiri tidak keberatan, asal ayah dan ibu setuju."

sahut si gadis sambil tundukkan kepala malu-malu.

"Cuma kata ibu, tidak baik kalau kita mengikat jodoh karena

masih ada hubungan darah. Tidak baik untuk keturunan."

"oh, apa kau sudah kasih tahu tentang urusan kita ?" tanya

Keng siang kaget.

"Kasih tahu terang-terangan sih tidak, hanya aku samarsamar

tanya ibu apakah kakak dan adik cintong menikah

dibolehkan atau tidak. Lantas kata ibu, itu tidak boleh sebab

masih ada hubungan keluarga dan bisa mencelakakan pada

turunan,"

"Adik Hoa, apakah kau percaya omongan ibumu itu ?"

 

" Aku percaya. Masa ibu membohong iku ? setiap ibu yang

mengasihi anaknya tentu ingin melihat anaknya beruntung

dalam hidup berkeluarga."

Keng siang diam. Lama ia tidak berkata-kata seperti yang

memikirkan apa-apa dalam otaknya yang jahat. Kemudian ia

berkata,

"Bagaimana juga kau akan menjadi isteriku. Kau jangan

percaya sama omongan ibumu yang melantur."

"Hei, kau berani menuduh ibu omong sembarangan " kata

Kui Hoa tidak senang.

"Kenapa tidak berani ? sudah terang kita boleh menikah

berdasarka suka sama suka, kenapa ibumu mengatakan

perkataan yang janggal itu? seakan -akan menghalangi jodoh

kita. Pendeknya kau setuju atau tidak, toh kau akan jadi

milikku"

Kui Hoa tidak senang mendengar perkataan Keng siang

demikian kasar.

"Kau mau paksa aku bila aku tidak setujui ?" katanya tidak

senang.

"sudah tahu, untuk apa kau menanya ?" Keng siang mulai

unjuk kekasarannya.

sampai sebegitu jauh Kui Hoa pandang engko cintongnya

ada seorang yang tamah dan berwajah cakap, senang ia

saban-saban mendapat kunjungan engkonya itu. Ia pandang

Keng siang sebagai engko sendiri yang sangat baik hati,

memberi pelajaran surat kepadanya. Tapi lambat laun si gadis

merasakan kelakuannya Keng siang agak janggal

 

terhadapnya, seperti yang mempunyai maksud tertentu atas

dirinya, bukan dengan sewajarnya ia mengajari surat

kepadanya. Hal itu pun baginya menjadi jelas ketika Keng

siang mulai mengeluarkan kata-kata yang merayu, hingga

hatinya menjadi guncang masuk perangkap asmara.

Mengingat ia dengan Keng siang bukanlah orang lain,

maka dengan samar-samar ia menanyakan pada ibunya kalau

kakak dan adik sama-sama she, tegasnya saudara cintong,

apakah boleh menikah- sang ibu paham akan maksud

puterinya yang mulai kena panah dan tahu bahwa orang yang

dimaksudkan si gadis adalah Keng siang. Tapi sebagai ibu

yang bijaksana ia tidak mau membuka rahasia anaknya.

Hanya ia mengatakan dengan jujur bahwa perjodohan itu tidak

dibenarkan oleh siapa juga karena akibatnya akan merusak

keturunan.

Kui Hoa sangat menyesal kenapa ia dilahirkan menjadi adik

cintongnya Keng siang. Kalau tidak- ia setuju sekali pada

pemuda yang berwajah tampan itu.

Ingin hal itu ia katakan pada Keng siang tapi tidak ada

jalan, sebab sebagai wanita, mana boleh lebih dahulu

memberi tahukan hal demikian kepada seorang lelaki yang

tengah mengharapkan dirinya.

Dengan cara kebetulan pada sore itu, dalam omong-omong

dapat ia memberitahukan pada Keng siang. Tidak tahunya

Keng siang bukannya merundingkan mencari jalan keluar,

sebaliknya malah menghina ibunya dan mengancam dengan

kekerasan akan memiliki dirinya.

Meskipun hatinya setuju pada Keng Siang, tapi tatkala

melihat Keng Siang berlaku kasar demikian, Kui Hoa menjadi

 

tidak senang. Dalam kesalnya Kui Hoa bangkit dari duduknya

dan berkata,

"Sudahlah, urusan kita sampai disini saja "

Tapi sebelum Kui Hoa sempat melangkahkan kakinya, tibatiba

ia rasakan tangannya dipegang Keng siang.

"Adik Kui Hoa, tidak semudah ini kau berlalu Hehehe" kata

Keng siang dengan roman beringas seperti kerangsekan

setan. Kui Hoa menjadi marah melihat engko cincongnya

berlaku kurang ajar

"Binatang, kau berani berlaku kasar begini ?" ia

mendamprat sambil tarik tangannya dari cekalan Keng siang.

Bukannya tangan terlepas, malah Keng siang datang lebih

dekat padanya dan sebelum ia sempat mencaci maki lagi, si

pemuda ganas sudah memeluk dirinya, Ia coba beroncak dan

sudah membuka mulutnya untuk berteriak minta tolong, apa

mau mulutnya kena didekap tangan Keng siang.

Kui Hoa meronca-ronca untuk meloloskan diri tetapi

percuma saja. Malah hidungnya yang kena ketutupan tangan

Keng siang membuat ia tak dapat bernapas dan perlahanlahan

ia jadi lemas, lalu ia merasakan badannya terangkat

dipondong oleh Keng siang.

Ia menjadi kaget menghadapi maksud jahat sang engko

cincong, tapi ia tidak berdaya untuk, melawan. Hanya ia tahu

bahwa dirinya telah direbahkan diatas dipan dan sang engko

yang sudah kerangsekan setan telah menciumi pipi dan mulut

dengan seenaknya saja tanpa ia dapat melawan untuk

mempertahankan dirinya.

 

Pada saat itulah, ketika Keng siang hendak memperkosa

Kui Hoa, tiba-tiba pintu kamar tulis terbuka dan dua orang

tidak dikenal lompat masuk.

satu antaranya telah membentak.

"Manusia bergajul, kau mau berbuat apa ?"

seiring dengan bentakannya , orang itu menyerang Keng

siang. Dengan berani Keng siang melawan tapi lantaran

dikeroyok dua orang akhirnya ia kalah dan lari keluar kamar

dengan tidak berpaling lagi ke belakang.

Mereka tertawa gelak-gelak melihat Keng siang lari

tunggang langgang. yang membentak tadi seorang tinggi

kurus dengan matanya yang sebelah kiri seperti meram.

Rupanya matanya sudah rusak satu. Dengan laku kasar ia

pondong Kui Hoa yang sudah tidak berdaya lantaran lemas

seluruh badannya. Tapi si nona masih sempat menanya,

"Kalian mau bawa aku kemana ?"

"Hahaha, mau tanya lagi nona manis." katanya ceriwis.

"sayang aku menjalankan tugas. Kalau tidak, kita tentu

boleh bersenang-senang.........."

"hush.. jangan ngaco belo " kata temannya.

"Kalau ada yang dengar dan dilaporkan pada orang tua,

kau bisa susah "

orang terrsebut menjadi ketakutan. Tanpa banyak cakap ia

pondong terus si nona keluar kamar. Kui Hoa seperti

mendapat tenaga baru. Ia meronta-ronta dan memaki,

 

"Kau mau bawa kemana nonamu ? Binatang, lekas

lepaskan nonamu"

"Baik, aku nanti lepaskan kau kalau sudah sampai di Pekkut-

nia " sahut orang itu.

"Pek-... kut.....nia....." Kui Hoa mengulangi dengan terputusputus

dan berbareng seketika itu ia telah jatuh pingsan.

Rupanya hatinya diserang oleh perasaan takut yang hebat

karena ia tahu bahwa dirinya akan menjadi korban si Hantu

Ketawa di Pek-kut-nia. Ia sering dengarkan ayah dan ibunya

mengatakan bahwa disana ada tinggal satu hantu tua jahat

yang suka mengganggu anak perawan orang.

"Nah, itulah keteranganku, enci Hiang." kata Kui Hoa.

"Kau lihat aku ketakutan ketika berpandangan dengan

engko Keng siang lantaran adanya perasaan bahwa aku

belum bebas. Engko Keng siang pasti akan membuat susah

lagi pada diriku setelah ia tahu bahwa Thoat Beng Mo siauw

sudah mati. sudah tidak ada yang ia takuti dan tentu ia punya

suka untuk melampiaskan kelakuannya yang buruk "

"Adik, kau jangan takut " menghibur Bwee Hiang.

"Ada aku disini, takut apa ?"

"Tapi enci, kau toh tidak tinggal selamanya bersamaku."

"Aku akan tinggal selama kau belum aman, adikku"

"Terima kasih enci yang baik," kata Kui Hoa.

"Aku senang sekali kalau kau bisa selamanya disamping

enci Hiang."

 

"Masa selamanya mau bersamaku saja. Kalau kau nanti

punya suami, bagaimana ?" menggoda Bwee Hiang sambil

ketawa hingga Kui Hoa merah seluruh wajahnya.

"Enci, aku tidak akan menikah kalau kau selamanya ada

disamping ku." kata Kui Hoa sambil menundukkan kepala.

" Kalau aku yang menikah, bagaimana ?" Bwee Hiang

menggoda lagi. Rupanya Bwee Hiang sekarang sudah

ketularan guru ciliknya yang nakal suka menggodai orang. Kui

Hoa tidak menyahut, matanya yang bagus deliki sang enci

yang nakal. Akhirnya keduanya jadi pada tertawa.

senang Kui Hoa mendapat teman seperti Bwee Hiang yang

Jenaka sepak terjangnya, disamping sebagai jago betina yang

belum menemukan tandingan.

Dua hari sudah Bwee Hiang tinggal di rumahnya Kui Hoa,

ia tidak nampak kejadian apa-apa- Pada malam yang ketiga,

ketika dua gadis itu sedang omong-omong dengan asyiknya,

tiba-tiba Bwee Hiang merasa seperti ada apa-apa yang tidak

beres melihat Kui Hoa saban-saban menguap ngantuk. Malah

sembari bicara, Kui Hoa matanya tampak meram.

Bwee Hiang juga merasa sangat ngantuk- Cepat ia rogoh

sakunya mengeluarkan pil pengasih Lo In dan ditelan dengan

air teh sebagai alat pengantarnya.

setelah mana ia menguap beberapa kali. Lalu pondong Kui

Hoa yang sudah dari setadian tidur tanpa terasa diatas meja,

direbahkan dipembaringan. Ia juga lantas naik tidur dan

menutup kelambu, selama dirumah Kui Hoa, Bwee Hiang

memang tidur bersama-sama dengan nona rumah yang ramah

tamah itu.

 

Lewat sekian lama, tampak ada bayangan masuk melalui

jendela kamar yang memang terpentang. Dengan berjingkatjingkat,

kuatir suara tindakannya kedengaran, orang itu telah

menghampiri pembaringan dan menyingkap kelambu. Hatinya

berdebar-debar keras nampak dua nona cantik sedang tidur

lupa daratan dalam pakaian tidurnya yang serba tipis.

"Hehe " orang itu tertawa perlahan.

"Kiranya seorang Liehiap juga tak dapat lolos dari hio

pulasnya yang manjur. Dasar peruntungan yang mujur, yang

mana antaranya yang harus aku pilih ? Ah, biar aku ambil dulu

si pendekar wanita yang lihai. Asal dia sudah jadi "mainanku",

apa dia bisa bikin ? Paling-paling juga dia marah-marah-

Untuk membunuh aku sudah tidak mungkin karena nasi sudah

jadi bubur. Kepaksa dia nanti turut aku Haha Adik Kui Hoa aku

titipi saja dulu, lagi tiga malam baru aku ambil sebab waktu itu

tentu aku sudah bosa sama si Liehiap "

Kebetulan Bwee Hiang yang diincar tidurnya di sebelah

pinggir, hingga dengan mudah saja sudah dipondong pergi

oleh orang itu setelah mengucapkan perkataan,

"Nona manis, mari kita berangkat "

Gesit bayangan itu, meskipun membawa beban ia dapat lari

cepat, sebentar saja ia sudah berada di luar ong-ke-chung.

Tidak lama ia sampai pada sebuah bangunan rumah tua di

pegunungan yang jauh bila hendak kemana-mana. Tampak

ada dua orang yang menyambutnya dengan sangat hormat.

Rupanya mereka adalah centeng rumah itu karena itu

keduanya membawa golok di pinggang.

Ketika orang itu sudah masuk ke dalam, terdengar orang

dibelakangnya berkata,

 

"Loji, kongcu kita bawa barang baru. Besok pagi tentu kita

akan mendapat hadiah dua botol arak. Hahaha.......Biar kita

doakan lebih banyak bawa barang baru hingga kita dapat

minum arak mabuk-mabukan "

"Loa-toa, kau jangan kegirangan dulu. Kalau arak sudah

ditangan, barulah kita boleh girang." sahut temannya si Lo-ji-

Dalam pada itu, orang yang membawa Bwee Hiang tadi

yang bukan lain Keng siang adanya sudah ada di dalam,

tengah menyalakan dua batang lilin besar. Keadaan dalam

ruangan itu menjadi terang ketika Keng siang telah tambah

lagi dengan dua lilin yang lebih kecilan.

Itu berada di ruangan tengah yang merupakanjuga ruangan

kamar sebab disitu tampak ada dua buah pembaringan yang

dihias indah sekali dan serba harum di dalamnya.

Kapan orang tidur dalam salah satu pembaringan itu, pasti

akan merasa segar dan pikiran melayang-layang disebabkan

bau harum sedap menusuk hidung dan perlengkapan

pembaringan yang serba bersih dan indah-

Keng siang bawa Bwee Hiang ke pembaringan yang

letaknya sebelah dalam, yang lebih indah dari yang satunya, di

atas mana si nona direbahkan dengan tidak berkutik, sambil

merebahkan Bwee Hiang, Keng siang berkata,

" Nona pendekar, terimalah nasibmu sebagai nyonya Keng

siang. Tunggu aku ambil lilin untuk menerangi wajahmu yang

sangat cantik," Ia berkata sambil berlalu mengambil lilin dan

ditaruh diatas meja tidak jauh dari pembaringan yang harum

semerbak itu.

 

Keng siang kegirangan bukan main bahwa sebentar lagi ia

akan "naik surga" dengan si cantik Bwee Hiang yang

keadaannya sudah tidak berkutik di atas pembaringan.

Biasanya kalau hendak menerkam korbannya, Keng siang

meloloskan pakaian luarnya. Kali ini rupanya ada kecualian

karena tak tertahankan dengan getaran hatinya melihat

wajahnya Bwee Hiang yang cantik seperti tersenyum ke

arahnya. Bibirnya merah menyala menantang lawan

tampaknya.

"Nona cantik, biarlah aku kasih persekot du.........."

"cuh Cuh " terdengar dua kali Bwee Hiang meludahi Keng

siang tepat mengenai kedua matanya, disaat Keng siang

menundukkan kepalanya hencak mencium si nona.

Itulah ludah kental yang lama disiapkan oleh Bwee Hiang.

Ia meludahi kedua matanya si cakap Keng siang dengan

Iwekang, tidak heran kalau Keng siang menjerit teraduh-aduh

sambil menekap kedua matanya, ia lompat mundur.

Ketika ia coba buka matanya, ternyata penglihatannya

menjadi gelap, tak ada benda yang ia dapat lihat, kedua

matanya sudah menjadi buta.

Keng Siang menjadi ketakutan. Dari ketakutan ia menjadi

nekad- Dengan tenaga penuh ia sudah menyergap ke atas

pembaringan sambil menghajar kedua tangannya hebat sekali.

Pikirnya dengan serangan mendadak itu, si nona yang

meludahinya akan melayang jiwanya seketika itu juga. Ia salah

hitung sebab musuh yang ditemuinya adalah Bwee Hiang si

jago betina yang belum menemukan tandingan yang dapat ia

bikin celaka, mana dapat bung.

 

Hanya suara pembaringan yang terdengar dihajar oleh

Keng siang sebab Bwee Hiang sudah sedari tadi ada

dibelakangnya.

"Manusia hina " bentak si nona.

"Percuma kau dikasih hidup, hanya menyusahkan orang

saja " berbareng kakinya Bwee Hiang bekerja dan Keng siang

roboh dengan jidat membentur tepi ranjang besi. Kontan

jidatnya tambah daging hingga tangannya repot mengusapi

jidatnya yang benjol-

"Manusia hina " terdengar Bwee Hiang kembali membentak

ketika Keng siang sudah berdiri pula dengan tangan merabaraba

mencari pegangan.

"Banyak korban tentu kau lakukan dan inilah hukuman dari

seorang wanita "

"Duk— Bluk " menyusul terdengar suara itulah bebokong

Keng siang yang dihajar dan tubuhnya roboh di lantai

mengeluarkan suara "bluk"

"Liehiap, ampuni selembar jiwaku, oh....." Keng siang

meratap kesakitan.

"Plak Plak " suara dua kali gamparan Bwee Hiang

mengenakan dua belah pipinya Keng siang, cukup membuat

beberapa giginya si muka tampan rontok dengan berboran

darah dari mulurnya. Keadaannya sangat kasihan, tapi Bwee

Hiang hatinya tidak merasa kasihan lagi. Ketika si nona

hendak angkat Keng siang bangun dan hendak dihajar lagi,

tiba-tiba ia rasakan ada angin dingin dari belakangnya. Cepat

ia berputar dan berbalik berada

 

dibela kang Keng siang.

"cras " menyusul suara. Kiranya tubuh Keng siang terbabat

kutung oleh golok tajam yang disabetkan oleh centengnya

sendiri.

Tatkala si nona merasa ada angin dingin di belakangnya, ia

tahu akan datangnya senjata tajam. Maka cepat tubuhnya

berputar ke belakang Keng siang, tubuh Keng siang didorong

untuk mengganti kedudukannya tadi- Maka tidak ampun lagi

tubuh Keng siang yang terbabat kutung yang semestinya

tubuh Bwee Hiang. Kejadian cepat dan hanya beberapa detik

saja terjadinya hingga si centeng jadi melongo sendiri.

sebelum ia sadarakan kagetnya, tiba-tiba badannya terasa

enteng melayang. Kiranya Bwee Hiang sudah menendang

dengan kaki dari bawah ke atas, mengarah pantat si centeng

sehingga tubuhnya melayang dan "buk" saja tubuhnya jatuh

dilantai.

Ketika ia hendak bangun lagi, ia tidak merasakan apa-apa

lagi sebab kepalanya sudah menggelinding disabet oleh

goloknya sendiri melalui tangan Bwee Hiang.

seorang kawannya datang, ialah Lo-toa dan membentak

Bwee Hiang,

" Wanita liar, dari mana kau datang kemari ?"

Bwee Hiang dalam pada itu sudah siap dengan goloknya,

Ia menjawab,

"Hehe, masih belum terlambat kau menyusul roh saudara

dan cukongmu menghadap ciiam-lo-ong "

 

Lo-toa nama aslinya adalah sie Giam, bekas guru silat di

ong-ke-chung.

sengaja Keng siang undang ia untuk menjadi centeng di

rumah "simpanannya" dengan upah yang cukup untuk

mengongkosi rumah tanganya- Maka kepandaian silatnya

boleh juga dibanding dengan si Lo-ji yang sudah melayang

jiwanya-

Waktu ia melihat Kongcu dan kawannya sudah binasa,

kemurkaannya telah meluap seketika- sekarang ditambah

dengan kata-kata Bwee Hiang yang suruh ia menyusul arwah

majikan dan kawannya, terang kemurkaannya menjadi dobel.

"Perempuan liar, lihat ini" tanpa memikirkan lagi

kepandaian musuh, ia menyerang dengan kalap- gerakannya

baikjuga, ia menggunakan jurus "Elang lapar menyambar

kelinci" yang sangat ia banggakan, belum pernah gagal

menyerang musuh.

serangannya pasti tidak gagal kalau ia menyerang jago

jago kampungan. Tapi Bwee Hiang adalah murid Lo In, si

bocah sakti- Maka belum sempat ia menggunakan tipu

serangan yang lainnya, tiba-tiba ia rasakan dadanya ditembusi

golok si nona yang dengan tanpa sadar cara bagaimana si

nona barusan bergerak-

Ia jadi ketakutan setengah mati waktu golok Bwee Hiang

menembusi dadanya- sudah terlambat baginya untuk minta

ampun, sebab waktu golok dicabut dari dadanya, lantas saja

darah segar membanjir keluar dari lukanya dan seketika itu

juga ia terkulai badannya untuk tidak bangun selama-lamanya.

Itulah Liu Bwee Hiang, puterinya Liu Wangwee dari

Kunhiang yang tidak menyesal sudah melakukan pembunuhan

 

itu mengingat perbuatannya tidak seberapa kalau dibanding

dengan sucoan sam-sat yang telah membasmi habis seluruh

isi rumah tangganya.

Dengan seenaknya saja ia melenggang keluar dari rumah

tua itu, setelah ia melemparkan golok di tangannya. Di luar

rumah, dengan ginkang (ilmu entengi tubuh) yang tinggi dalam

tempo pendek saja ia sudah sampai di rumah ong seng.

Dengan melalui jendela, si nona masuk ke dalam kamarnya

Kui Hoa dimana ia lihat nona masih tidur nyenyaksetelah

menukarkan pakaiannya yang kecipratan darah

tadi, Bwee Hiang lantas naik ke pembaringan dan tidur pulas

seperti kejadian yang barusan ia hadapi tidak artinya bagi si

nona jagoan.

Pada keesokannya sesudah kematian Keng siang tidak ada

kejadian apa-apa, tapi pada hari kedua keadaan dalam ongke-

chung menjadi gempar dengan diketemukannya mayatmayat

dalam bangunan tua dipegunungan yang sunyi.

sudah tentu ong Liang dan istrinya menjadi sangat sedih

ketika mendengar diantara mayat-mayat itu terdapat mayatnya

sang anak- ong seng, ayahnya Kui Hoa datang ke rumah ong

Liang untuk menyaksikan mayatnya sang keponakan.

sungguh mengerikan Tubuhnya Keng siang terpotong dua.

Entah siapa yang telah demikian kejam membunuh ong

Kongcu. orang kira pembunuhnya tentu orang dari luar daerah

ong-ke-chung karena di dalam kampung itu tak ada jagoan

yang melebihi Keng siang. Pengusutan pada pembunuhan

dilakukan. Malah ong Liang sebagai hartawan di ong-ke-chung

telah menyediakan hadiah besar kepada siapa yang dapat

menangkap pembunuh anaknya.

 

ong Kui Hoa juga dapat dengar tentang kematian sang

engko cintong. Disamping ia merasa aman dengan lenyapnya

ong Keng siang tetapi hatinya sedih juga bila mengenangkan

saat-saat yang bahagia ketika ia duduk berduaan dengan si

pemuda cakap. Demikian nikmat ia rasakan dalam buaian

kata-kata merayu ong Keng siang.

Ia suka menarik napas kalau mengenangkan tempo yang

lampau. Setelah itu ia masuk ke kamar menemui Bwee Hiang

sebab Bwee Hiang tidak ingin menampakkan dirinya kepada

yang lain kecuali Kui Hoa, nona rumah telah berkata seperti

memancing Bwee Hiang,

"Enci Hiang, kau tahu siapa pembunuh dari engko Keng

siang ?"

"Mana aku tahu." sahut Bwee Hiang.

"Aku kira tentu orang luar yang membunuh engko Keng

siang."

"Mungkin juga, tapi kenapa ? Apa kau berduka dengan

kematiannya Keng Siang "

"Bukan begitu, hanya aku kepingin tahu saja siapa

pembunuhnya."

" Kalau demikian, nah, kau tebak-tebak saja." kata Bwee

Hiang ketawa.

Kui Hoa melihat Bwee Hiang ketawa, ia jadi curiga. Lalu

menanya sambil ketawa,

"Enci, kalau aku tidak salah tebak- pembunuhnya tentu ada

disini."

 

Bwee Hiang ketawa ngikik hingga Kui Hoa bertambah

curiga-

"Enci Hiang, kau mengaku saja. Kau tentu yang

membunuh, ya ?"

"Dari mana kau bisa tahu ? Jangan sembarangan menuduh

orang "

"Ah, aku sudah tahu. Pembunuhnya ada di depanku

sekarang." Kui Hoa berkata lagi sambil tersenyum pada Bwee

Hiang.

"Dari mana kau bisa tahu ?" Bwee Hiang menanya dengan

heran.

"Aku toh tidak kemana-mana, tiap detik ada bersamamu,

bukan ?"

"Enci Hiang, bajumu yang membuka rahasia." Kui Hoa

ketawa.

"Membuka rahasia bagaimana, adik Hoa ?" Bwee Hiang

kepingin tahu.

"Nenek ciang, si tukang cuci, ada lapor padaku bahwa

bajumu ada banyak noda darah ketika ia mencucinya." Kui

Hoa menerangkan.

Bwee Hiang melengak- Lantas ia ingat pada malam itu,

setelah ia berada pula dalam kamar Kui Hoa, ia membuka

bajunya yang banyak noda darahsi

nona lalu tersenyum kepada Kui Hoa. Ia berkata,

 

"Adik Hoa, kau cerdik juga. Tapi aku bukan pembunuhnya

Keng siang, engko cintongmu "

Kui Hoa melengak heran.

" Habis, siapa yang bunuh engko Keng siang " tanyanya.

"yang membunuh Keng siang, orangnya sendiri" sahut

Bwee Hiang yang lalu menuturkan kejadian malam itu, hampirhampir

saja mereka jadi korban obat pulasnya Keng siang

kalau tidak keburu ia (Bwee Hiang) sadar bahwa ada orang

yang ingin membius mereka.

Diceritakan dengan jelas kepada Kui Hoa, bagaimana ia

membiarkan dirinya dibawa ke tempat "penyimpanan" Keng

siang, bagaimana ia menghajar Keng siang berkesudahan

dengan kematiannya dan tiga orang yang melayang jiwanya.

Mendengar itu, diam-diam Kui Hoa berdiri bulu pundaknya.

"Enci, sebenarnya kau siapa ?" kata Kui Hoa setelah

sejenak ia termenung.

Bwee Hiang tidak keberatan untuk menerangkan siapa

dirinya. Maka si nona secara ringkas telah menuturkan

perjalanannya, hingga Kui Hoa terkagum-kagum

mendengarnya.

"Enci, tidak salahnya bila aku menyebut kau seorang

Liehiap-" berkata Kui Hoa setelah Bwee Hiang habis bercerita.

"Cuma sayang aku tidak berjodoh ketemu dengan adik

kecilmu yang lihai itu. oh, aku sangat bangga sekali kalau

dapat berkenalan dengan jago cilik seperti adik kecilmu itu."

 

"Adik Hoa, adik kecilku sangat Jenaka." Bwee Hiang kata

dengan ketawa.

" Kalau kau dapat berkumpul dua tiga hari saja dengannya,

kau akan merasa umurmu bertambah dua tiga tahun,

antahlah, kapan aku dapat bersua lagi dengannya."

si nona menghela napas Kui Hoa mengerti akan kedukaan

sang enci yang kehilangan jejak adik kecilnya.

Tapi nona ong diam-diam merasa heran atas perkataan

Bwee Hiang bahwa kalau ia berkumpul dua tiga hari dengan

Lo In, umurnya dapat bertambah dua tiga tahun, Ia lalu

menanya,

"Enci, apa yang kau maksudkan dengan tambah umur dua

tiga tahun ?"

"Adik kecilku mukanya hitam legam macam pantat kuali tapi

pribadinya sangat polos Tiap kali ia melucu, tiap kali orang

yang mendengarnya akan tergerak urat ketawanya. selama

kita berkumpul, belum pernah satu hari pun tidak ketawa

terpingkal-pingkal oleh kejenakaannya. Disamping

kepandaiannya bikin tergerak urat ketawa orang, ilmu silatnya

tinggi luar biasa, susah diukur."

Kui Hoa sangat tertarik dengan penuturan Bwee Hiang,

"Enci," katanya.

" Kalau kau sudah dapat menemui adik kecilmu, tolong kau

bawa kesini supaya aku dapat belajar kenal, boleh tidak ?"

"Boleh saja, asal urat ketawa mu nanti jangan putus." sahut

Bwee Hiang ketawa.

 

Kui Hoa tersenyum manis mendengar itu Ia berkata,

"Enci, kau juga rupanya ketularan penyakit adik kecilmu

yang lucu itu. setiap kali kau berkata, membikin aku kepingin

ketawa."

Bwee Hiang ketawa ngikik,

"Eh, adik Hoa." katanya tiba-tiba.

"Apa kau bisa tolongi aku?"

"Tolongi apa ? Katakanlah, kalau bisa tentu akan kutolongi

kau " sahut Kui Hoa.

"T0long belikan pakaian pria. sudah tentu bukan kau yang

pergi tapi kau suruh orangmu untuk membelinya." kata Bwee

Hiang.

Kui Hoa melengak- Ia kira Bwee Hiang mau minta tolong

apa, tidak tahunya minta dibelikan pakaian pria. Ia heran, buat

apa si nona beli yang begituan, lalu ia menanya.

"Enci, untuk apa pakaian pria ?Juga, disini mana ada yang

jual?"

" Untuk aku pakai dalam perjalanan mencari adik kecilku-

Dengan pakaian perempuan, aku rasa kurang leluasa

menghadapi mata2 alap- Tapi bagaimana ya ? Kau kata tadi

disini tidak ada yang jual "

"Jangan kuatir, aku akan bikinkan untukmu, enci"

Tiba-tiba saja Bwee Hiang memeluk Kui Hoa hingga nona

ong jadi gelagapan.

 

"Adik Hoa, sungguh kau baik sekali pada encimu. Tolong

bikinkan yang bagus, ya " kata Bwee Hiang sambil tidak lupa

ia kecup pipinya Kui Hoa yang botoh-Kui Hoa berdebar juga

hatinya ketika pipinya dikecup (dicium) Bwee Hiang.

Memang pandai Kui Hoa membuat pakaian. Tidak makan

tempo banyak sebab pada malam berikutnya Bwee Hiang

sudah dapat memakai pakaian pria tersebut di depan cermin

dalam kamarnya Kui Hoa.

sungguh cakap parasnya Bwee Hiang dalam pakaiannya

yang baru. sambil berpose di depan Kui Hoa, sang enci

berkata,

"Adik Hoa, apa hatimu tidak bergolak melihat pemuda

seperti ini ?"

Kui Hoa terpesona. Memang hatinya berdebaran nampak

Bwee Hiang demikian cakapnya dalam pakaiannya yang

baharu.

"Sungguh pria yang sangat cakap " ia berkata dalam hati

kecilnya, parasnya tampak bersenyum-senyum tanpa

menjawab pertanyaan Bwee Hiang.

seminggu sudah lamanya Bwee Hiang berkumpul dengan

Kui Hoa. Pada suatu pagi, Bwee Hiang mohon diri dari si nona

dan ayah bunda nona Kui Hoa untuk meneruskan perjalanan

mencari adik kecilnya. Mereka coba menahan tapi nona Liu

menolak dengan halus-

Keluarga ong membekali ia uang banyak sekali untuk ia

pakai di perjalanan. Tapi Bwee Hiang hanya ambil separuhnya

saja. Bwee Hiang terpaksa menerima sumbangan orang

karena ia membutuhkan sebab buntalan dan pakaiannya

 

ketinggalan disuyangtin (rumahnya Leng siong) dimana di

dalamnya ia bekal banyak uang dari rumahnya.

Benar saja, dengan pakaian pria, si nona lebih leluasa

dalam perjalanannya- Tidak banyak 'mata liar' yang

memandangnya, sebaliknya "mata halus" (wanita) banyak

yang terpesona oleh parasnya yang cakap-

Bwee Hiang pikir kurang baik kalau ia sudah menyaru

lelaki, namanya tidak dirubah-Maka ia lalu pikirkan satu nama

yang mengingatkan ia pada adik kecilnya- Tidak ragu-ragu lagi

lantas ia menggunakan nama In Hiang, Liu In Hiang.

sementara Bwee Hiang menyaru jadi Laki-Laki, untuk

memudahkannya kita pakai namanya yang baru iaLah In

Hiang, Liu In Hiang.

seteLah keLuar dari ong-ke-chung, In Hiang bingung juga

kemana ia harus tujui untuk mencari adik kecilnya. Dengan

sendirian menyatroni sarangnya sucoan sam-sat, itu tidak

mungkin- Tanpa bantuan adik kecilnya (Lo In) yang hebat

kepandaiannya, meskipun ia punya dua kepaLa dan empat

tangan, In Hiang akan pikir-pikir dulu menghadapi kebuasan si

Tiga ALgojo dari Sucoan.

Ia jaLan semau kakinya saja tanpa tujuan.

Tanpa disadari ia sudah memasuki Kunhoa, sebuah kota

kecil. Tampak keadaan disitu amat ramai, kebetulan sedang

haripasar rupanya-

In Hiang melihat ke kiri dan ke kanan, mengharap dengan

cara kebetulan dapat ketemu dengan adik kecilnya- Ia lihat

tidak jauh darinya ada banyak orang berkumpul sedang

menaksir-naksir harga kuda yang diperjualbelikan di situ.

 

In Hiang memang suka tunggang kuda dan sering pesiar

dengan ayahnya dipegunungan. Tapi sejak ia kenal Lo In,

kegemarannya pada kuda menjadi hilang, sekarang ia ketemu

pasar kuda, hatinya menjadi tertarik- Pikirnya, kalau ia dapat

membeli seekor kuda untuk kawan perjalanan, barangkali ada

lebih baik,

Iseng-iseng ia datang menghampiri pasar kuda untuk

memilih kuda yang baik. Pilih punya pilih akhirnya tidak ada

yang ia setujui hingga In Hiang menjadi kecewa, Ia lantas mau

meninggalkan pasar kuda itu. Tapi belum berapa langkah ia

bertindak, mendengar ada suara kuda meringkik. Cepat In

Hiang menoleh- Ia lihat kuda yang baru dituntun datang

dengan warna merah mengkilap, kepalanya saban-saban

diangkat dan perdengarkan suaranya yang nyaring.

"Ah, inilah kuda bagus." kata In Hiang dalam hatinya, Ia

tidak jadi berlalu dari situ, sebaliknya ia menghampiri orang

yang menuntun kuda merah tadi-

"saudara." katanya hormat-

"Apakah kau mau jual kudamu itu ?"

yang menuntun kuda tidak lantas menyahut, hanya

mengawasi pada pemuda1 kita yang cakap dengan mata tidak

berkedip-

In Hiang rada-rada kikuk diawasi si tukang kuda demikian

rupa-

"Apa saudara baru Lihat manusia seperti aku ?" tegur In

Hiang kurang senang.

"Tidak, tidak"" sahut si tukang kuda gugup.

 

"Aku Lihat kau sangat cakap, maka barusan aku jadi

kesemsem. sukaLah kau memaafkannya, adik kecil."

Tukang kuda itu usianya kira-kira sudah setengah abad-

Tapi sikapnya gagah dan tindakannya mantap seperti yang

pandai silat, In Hiang tahu ini tapi ia tidak ambil perduli. Ia

kesitu hanya mau membeLi kuda, bukannya untuk mencari

onar.

"Bagaimana ? Apa kau maujuaL kudamu itu ?" tanya In

Hiang pula.

KembaLi si tukang kuda tidak menyahut. KaLi ini ia tidak

mengawasi wajah orang, hanya pedang In Hiang yang

tergantung dipinggangnya ia awasi dengan kagum.

"Hei, kau mau juaL kudamu tidak ?" In Hiang mulai jengkeL.

"Aku tidak maujuaL kudaku, hanya aku mau tukar." sahut si

tukang kuda.

"Tukar dengan apa ?" tanya In Hiang kepingin tahu.

"TUkar dengan pedangmu itu." sahut si tukang kuda sambil

menunjuk pinggang In Hiang.

"Ah, mana boLeh- Tukar dengan uang toh sama saja."

"Tidak- aku mau tukar dengan pedangmu-"

In Hiang tidak mau Layani si tukang kuda yang kukuh mau

minta kudanya ditukar dengan pedang. Maka ia Lantas mau

ngeloyor pergi- BeLum berapa Langkah ia bertindak, tiba-tiba

ia dengar orang membentak dari beLakangnya.

"Tunggu "

 

In Hiang merandek dan putar tubuhnya. Kiranya yang

membentak tadi adaLah si tukang kuda yang ngotot mau tukar

kudanya dengan pedang.

In Hiang kata,

"Kuda ada kudamu, pedang ada pedangku, sudah tidak ada

urusan Lagi kalau aku tidak mau tukar "

Dalam pada itu si tukang kuda sudah datang menghampiri,

"Bagus, pedang ada pedangmu dan kuda ada kudaku.

Kalau aku mau tukar, kau bisa apa adik kecil. Hahaha "

Kiranya si tukang kuda ada "cabang atas" {jagoan) juga

dalam kota Kunhoa itu. Makanya begitu temberang dan mau

berbuat sewenang-wenang. Pasar kuda yang tadi ramai lantas

berubah sepi ketika melihat si tukang kuda bertengka dengan

anak muda.

"Mungkin kau orang baru datang, maka aku perkenalkan

padamu. Aku adalah Hek-him Toan Ceng, murid kelima Tiat-ci

Hweshio dari Thian-ong-bio. Hahaha Kau boleh tanya orang,

siapa Hek-him Toan Ceng, adik kecil"

Dengan memperkenalkan namanya Hek-him Toan ceng (si

Beruang Hitam) dan gurunya Tiat-ci Hweshio, si Pendeta jari

Besi, orang itu mengira In Hiang bakal gemetaran badannya

seketika. Tidak tahunya In Hiang malah ketawa meniru

terbahak-bahaknya si Beruang Hitam tadi hingga Hek-him

Toan ceng jadi mendelik matanya karena gusar ketawanya

di"ciplok" oleh In Hiang, si anak muda yang cakap ganteng.

"Binatang, kau mau main gila dengan Hgo Toaya (Tuan

besar kelima) ?" bentaknya nyaring.

 

"Aku kurang paham." ngeledek In Hiang

."Kau sebenarnya mau apa ?"

"Lepas pedangmu Baru kau boleh berlalu dari sini"

"Lepas kudamu Baru kau boleh pergi dari sini"

Dari suaranya yang tegas ngeledek lawan, terang jago

betina kita mulai naik pitam menghadapi Hek-him Toan ceng

yang mencari gara-gara.

"Anak kurang ajar, berani kau ngeledek Ngo Toaya ?"

"Tua bangka kurang ajar, berani kau mengganggu Siauya

?"

Digodai begitu, si Beruang Hitam menjadi sangat gusar.

Dalam katanya, jangan lagi ia digodai begitu, orang

memandang mukanya lamaan dikit, ia pelototi lantas lari sipat

kuping ketakutan. Tidak pernah sebelumnya ia hadapi pemuda

yang demikian berani. Dalam gusarnya ia hunus goloknya

yang berat dan berkata,

"Anak muda, aku sayangkan mukamu yang cakap

mendapat tanda dari golokku Tapi, apa boleh buat "

"sret " In Hiang mencabut pedangnya lalu menjawab,

" orang tua, aku sayangkan daun kupingmu bakal hilang

sebelah gara-gara pedangku Tapi, apa boleh buat "

Betul-betul menjengkelkan kata-kata sambutan In Hiang

hingga si Beruang Hitam hilang sabar dan lantas saja

menyerang dengan jurus 'Hek-him-pay-yang' atau 'Beruang

hitam menyembah matahari'- Golok mula-mula diputar, terus

 

menusuk dada, tapi setengah jalan tusukan berubah arah

mengarah perut, sungguh hebat serangan kombinasi dari si

Beruang Hitam. Pantasan namanya ditakuti oleh kawan dan

lawan dalam kotanya.

In Hiang kaget juga nampak serangan si Beruang Hitam

yang berubah arah cepat sekali. Baiknya ia sudah dapat

gemblengan guru ciliknya yang sakti. Pedangnya yang

dilintangkan tadi untuk menangkis serangan tusukan golik ke

dada, sudah lantas berubah arah juga menekan golok lawan

yang nyelonong ke perutnya.

Dua senjata jadi melekat satu sama lain. Hek-him TOan

ceng coba tarik pulang goloknya yang ditindih pedangnya In

Hiang, tapi gagal, Golok seperti melengket dan tekanan

pedang dirasakan sangat berat, Ia kerahkan lwekangnya,juga

sia-sia saja ia menarik pulang goloknya hingga ia

mengeluarkan peluh dingin.

Ia tak menduga bahwa lawan yang muda belia itu

mempunyai tenaga dalam yang hebat. Matanya mendelik ke

arah In Hiang yang sedang mentertawakannya yang tidak

becus membebaskan goloknya yang ditindih pedangnya.

Tiba-tiba saja In Hiang menggentak pedangnya terlepas

menyusul dengan kecepatan kilat pedang menabas dari

bawah ke atas, sembari memegangi telinganya yang kiri yang

sudah hilang daunnya.

Itulah In Hiang menggunakanjurusnya yang indah sekali

yang dinamakan 'Liu-sui-pian-lou' atau "Air mengalir berubah

arah" hingga si Beruang Hitam dirugikan, daun telinganya

disuruh istirahat di tanah.

 

Dalam murka si Beruang Hitam lupa bahwa lawannya itu

bukan tandingannya, Ia menerjang seperti yang kerangsokan

setan, Golok besarnya membabat pinggang In Hiang tetapi

telah dielaknya dengan lompat mundur dua langkah- Hek-him

Toan ceng merangsek, goloknya sekarang menebas dari atas

ke bawah pada bahu lawan, In Hiang tahu bahayanya

serangan itu. Cepat ia tangkis golok dengan keras dari bawah

ke atas. Trang ", suara senjata beradu, seketika tampak Toan

ceng berdiri melongo sambil pegangi goloknya yang sudah

kutung bagian tengahnya.

sungguh tajam pedang In Hiang yang ia dapatkan dari si

Toako "sip-sam-siau-mo".

Dengan golok utuh Toan ceng tidak bisa apa-apa, maka

sekarang goloknya sudah buntung, apa ia bisa bikin terhadap

In Hiang yang jauh lebih tinggi kepandaiannya. Maka, Hek-him

Toan ceng sudah melemparkan golok buntungnya lalu jalan

ngeloyor meninggalkan In Hiang.

"Hei, kudamu ini, apa kau kelupaan ?" teriak In Hiang.

si Beruang Hitam menoleh- Ia berkata,

"Kau sudah menang, ambillah "

setelah berkata, si Beruang Hitam lantas putar tubuhnya

lagi dan berlalu dengan cepat hingga In Hiang melongo

dibuatnya karena ia tak menduga kemenangannya barusan

diberi hadiah kuda jempolan yang lengkap dengan pelananya.

sambil masukkan pedang pada sarungnya pula, In Hiang

menghampiri kuda hadiah Hek-him Toan Ceng. Ia mengusapusap

dan tepuk-tepuk lehernya kuda itu dengan sikap sayang.

Kuda itu bebenger, kepalanya diangguk-anggukkan dan kaki

 

depan yang kanan digaruk-garuk ke tanah seolah-olah

menyuruh si nona lekas naik di punggungnya untuk berlalu

dari tempat berbahaya itu. sayang In Hiang tak mengerti akan

"kode" si kuda cerdik itu. Ia terus mengusap-usap dengan

penuh rasa sayang.

In Hiang memandang sekitarnya, ternyata sudah sepi-

Hampir tidak ada kelihatan satu orang juga. Pikirnya, apakah

disitu biasanya begitu kalau ada orang bertempur ? Pada

ketakutan lari atau masing-masing menutup pintu rumahnya ?

Ia ketawa geli- Baru saja ia menyemplak kudanya, tiba-tiba

dari jauh terdengar bentakan nyaring,

"Anak muda, jangan pergi dulu- Tunggu, tunggu "

sebentar saja orang yang berteriak-teriak tadi sudah ada

dihadapannya-

Kiranya ia ada Hek-him Toan ceng yang diantar oleh empat

kawannya, satu orang biasa dan tiga hweshio masih mudamuda.

Mereka adalah saudara seperguruan dengan Hek-him

Toan Ceng.

Ketika si Beruang Hitam berlalu daripada suhunya Tiat-ci

Hweshio bahwa ia sudah dikalahkan musuh dan minta sang

guru membalaskan sakit hatinya agar pamornya dalam kota

Kunhoa tidak jatuh.

Letaknya Thian-ong-biojauh diluar kota, bagaimana ia bisa

mencapai ke sana sementara musuhnya belum meninggalkan

kota. Ini adalah urusan yang memusingkan kepalanya.

Mendadak ia jadi kegirangan ketika bertemu dengan sisuhengnya

(kakak ke-4) yang bernama Leng Hian yang

mengatakan bahwa Toa-suheng,ji-suheng dan sam-suheng

 

(kakak ke-i, ke-3 dan ke-2) ada dalam kota sedang

menjalankan tugas memungut derma.

Cepat-cepat Toan ceng ajak Leng Hian untuk menemui tiga

saudara tuanya yang waktu itu sedang beristirahat dalam kuil

cabang Thian-ong-bio. Kepada 3 saudara tuanya, Toa Ceng

melapor tentang pertempurannya dengan seorang muda yan

dikalahkan. Tentu saja dalam laporan itu ia kasih bumbu yang

bukan-bukan supaya tiga saudara tuanya menjadi panas

hatinya, sedang kelakuannya hendak memeras In Hiang, ia

tidak sebut-sebut.

Begitu berhadapan dengan In Hiang, siBeruang Hitam

berkata pada Hweshio muda yang kepalanya gede, umurnya

kira-kira 50 tahun.

"Toa-suheng, dia ini yang merampas kuda kita. Aku sudah

cukup mempertahankan jangan sampai kena dirampas, nyata

tidak berhasil lantaran bocah ini menggunakan pedang pusaka

"

si Hweshio kepala gede lantas saja marah, ia membentak.

"Binatang, kau berani merampas orang punya kuda

mentang-mentang kau ada punya pedang pusaka ?"

In Hiang jadi melongo mendengar omongannya Toan Ceng,

kemudian disusul oleh makian si Hweshio kepala gede yang

tidak mengetahui ujung pangkalnya.

"Hai, Beruang Hitam " kata In Hiang nyaring, suara

wanitanya lenyap karena ia sudah melatih suara pria dalam

penyaruannya.

 

"Kenapa kau jadi ngaco belo ? Bukankah kau sudah

hadiahkan kudamu lantaran kau kalah berkelahi ? Kenapa

sekarang kau menuduh aku merampasnya ? Kau kira no....oh

tuan mudamu boleh kau permainkan"

In Hiang keseleo lidahnya, barusan hampir ia mengatakan

"nonamu", baru sampai di "no..." untung ia ingat, lantas dia

ganti dengan "tuan mudamu".

"Ah, anak kecil, kau jangan banyak lagak- Lekas

kembalikan kudaku dan terima hukumanku rangket 10 kali,

baru kau dapat ampun meninggalkan tempat ini" kata Hek-him

Toan Ceng, pulih lagi kesombongannya yang sudah.

In Hiang menjadi gusar, sebelum ia balas memaki, tiba-tiba

saja dua Hweshio dan Leng Hiang sudah menyergap di diatas

kuda. In Hiang tidak kasihkan dirinya disergap. Dengan

meminjam injakan pelana, ia enjot tubuhnya terbang dan

meluncur turun kira jarak 4 meter dari mereka-

"srett " ia mencabut pedangnya dan siap untuk bertempur.

"oo, kau mau main pedang ? Hehe " ketawa Toasuhengnya

Toan ciang.

"sam-suheng, coba kasih pinjam golokmu. Aku mau jajal

dia sampai dimana dapat menggunakan pedang pusakanya."

Berbareng Hek sam suheng sudah menyodorkan goloknya.

girang hatinya Toan Ceng, Toa-suhengnya akan bergebrak

sebab ia yakin 100 persen Toa-suhengnya akan menang

diatas angin, pikirnya, mungkin hanya 5 jurus saja si pemuda

bakal sudah terjungkal. Pedang tajamnya akan ia miliki,

apabila si pemuda dirobohkan.

 

"Kepala gundul, hanya buang tempo saja siaoya mu

melayani kau seorang, sebaiknya maju semua Dan kau, hei.

Beruang Hitam, mau sekalian" tantang In Hiang.

si Hweshio kepala gede bukan main panas hatinya

diremehkan oleh pemuda yang tidak ada apa-apanya untuk

ditakuti-

"Jangan sombong, terima dulu golok Taysu " bentaknya

dan konta menerjang In Hiang hingga mereka jadi bertempur.

Dalam pada itu, Hek-him Toan cenng anjurkan pada

saudara-saudaranya untuk mencari Genggaman untuk

mengeroyok In Hiang apabila Toa-suhengnya keteter.

sebentar saja mereka sudah siap, dua Hweshio pada

pegang pikulan, Toan ceng golok sedang Leng Hian sebatang

besi yang merupakan toya panjang.

Persiapan mereka memang diperlukan sebab sebentar lagi

kelihatan benar-benar Toa-suheng mereka telah keteter,

hanya dibikin pembelaan saja dengan goloknya, tidak

kelihatan membalas menyerang. Mereka kuatir akan Toasuhengnya

dilukai si pemuda, maka dengan serentak mereka

sudah turun tangan mengeroyok In Hiang.

"Bagus, semua sudah turun" seru In Hiang, suaranya

seperti kegirangan.

Kepandaiannya murid-murid Tiat-ci Hweshio memang

bukannya rendah, apalagi mereka berlima bergabung

mengeroyok lawannya, terang telah membuat lawannya repot

bukan main.

 

Dalam kerepotannya In Hiang menjadi naik pitam. Tadinya

bermaksud hanya untuk main-main saja melayani mereka dan

mengasih hajaran satu demi satu. Tapi setelah ia merasakan

tekanan berat juga dan mereka kelihatan menyerang dengan

telengas seolah-olah menginginkan jiwanya, pikirannya jadi

berubah dan hendak balas menyerang dengan kejam

"Awas " seru In Hiang lalu disusul dengan suara "sret sret1

beberapa kali. Tampak senjata lawan saling susul berjatuhan

di tanah dibarengi dengan suara jeritan kesakitan. Dalam

beberapa detik saja, pedang pusaka In Hiang sudah

mengambil lima korban sekaligus, si Hweshio kepala gede,

kutung lengannya sebatas sikut, dua Hweshio lainnya

mendapat tusukan di masing-masing bahunya, Leng Hian

copot tangan kanannya sebatas pergelangan dan paling

menderita adalah siBeruang Hitam, kecuali lengan kanannya

terpapas kutung sebatas pundak, dadanya juga memancarkan

darah segar bekas ujung pedang bertamu ke situ. Hek-him

Toan ceng sudah tak ketolongan jiwanya karena setelah

terkulai roboh, ia sudah lantas menarik napasnya yang

penghabisan.

ciut nyalinya 4 saudaranya Toan ceng. seketika itu juga

mereka sudah pada lari meninggalkan si Beruang Hitam yang

sudah menjadi bangkai.

Demikian adalah jalannya nasib Dasar si Beruang Hitam

mesti mati di ujung pedangnya In Hiang yang sebenarnya bila

ia tidak kembali lagi, tentu jiwanya tidak melayang.

setelah membikin bersih pedangnya, In Hiang masukkan

kembali pedang ke dalam sarungnya.

 

Keadaan tempat itu jadi bertambah sepi dari sebelumnya si

Beruang Hitam menemukan ajalnya, tidak seorang manusia

tampak menongolkan kepalanya.

In Hiang menghampiri kudanya, lalu menyemplaknya.

Dengan beberapa tepukan pada lehernya si merah sudah

lantas angkat kakinya untuk bawa In Hiang ke arah selatan.

sekarang kita kembali pada Lo In, kemana sebenarnya ia

dibawa kabur kudanya hingga membuat enci Liannya mewek

kehilangan jejaknya.

Dasar anak besar nyalinya dan nakal berandalan, Lo In

dibawa kabur kudanya demikian rupa bukannya takut malah

berkikikan ketawa di atas kudanya, Ia biarkan kudanya

membawa dirinya. Pikirnya, sampai dimana sih kekuatan

tenaga kuda. Biarka ia lari sampai napasnya habis sendirinya,

setempe ia berpaling ke belakang dan melihat enci Liannya

sedang menyusul dengan cepatnya, cambuk lantas dikerjakan

supaya sang kuda bawa dirinya lebih kencang meninggalkan

encinya. Diam-diam hatinya geli, ketika nampak ke belakang

tidak kelihatan bayangan Eng Lian menyusul.

Pikirnya, sang enci tentu gelabakan mencari jejaknya yang

hilang. Tapi, biarlah sebentar ia akan kembali untuk menerima

hukuman "cubitan" sang enci karena perbuatannya yang

sudah membuat encinya kebingungan.

Lo In berpikir demikian, tapi ia lupa sudah berapa jauh la

dibawa sang kuda- Dan kudanya, apakah masih bisa

membawa ia kembali, yang napasnya sekarang sudah

kempas kempis kecapaian lantaran kehabisan tenaga-

Tampak kuda Lo In tiba-tiba menekuk lututnya dan mendeprok

tak dapat jalan.

 

Dasar anak kecil, tidak memikirkan akan keadaan sang

kuda yang setengah mampus. Ketika ia lompat turun dari

pelana malah ia menanya,

"Hei, kenapa kau berhenti? gara- gara kau, sebentar enciku

akan datang menyusul nanti"

Dalam pada itu, Lo In merasa lapar. Rupanya tadi diatas

kuda banyak terkocok perutnya, Ia lalu meninggalkan

kudanya, mencari buah-buahan di sekitar situ untuk mengisi

perutnya, senang ia rupanya berkeliaran di tempat itu yang

mengingatkan ia kepada lembah TOng-hong-gay yang sudah

lama ia tinggalkan. Di tempat itu ia dapat bergaul dengan

kawanan monyet.

Lantaran ia mengerti dan bisa berbicara bahasa kera, maka

dalam tempo pendek saja ia sudah dikerubungi oleh banyak

kawanan kera- Lo In minta dipetikkan buah-buahan yang lezat.

Dalam tempo pendek- banyak kera berdatangan dengan

masing-masing membawa persembahannya berupa buahbuah

yang lezat.

selama menggayang (menguyah) bebuahan, Lo In

terkenang akan Eng Lian. pikirnya, kalau disampingnya saat

itu ada Eng Lian bagaimana senang hatinya mereka

dikerubungi oleh kawanan kera seperti di lembah Tong-honggay.

Tiba-tiba kawanan monyet itu bubar sambil cetcowetan.

Lo In mengerti ada orang yang datang tapi ia tidak bergerak

dari duduknya seperti tidak tahu apa-apa. sementara kawanan

monyet ramai cetcowetan, seolah-olah yang menganjurkan

supaya Lo In lekas meninggalkan tempat itu, ada kedatangan

orang asing ke situ

 

Tapi Lo In dalam bahasa kera menjawab bahwa ia tidak

takut dan suruh kawan-kawannya berlaku tenang-tenang saja

karena itu kawanan kera itu tidak ramai lagi cetcowetan.

sebentar lagi, benar saja ada tiga orang datang

denganjalans sempoyongan seperti orang mabuk arak- Lo In

lihat dari kejauhan usia mereka rata-rata sudah lewat

setengah abad, masing-masing membawa senjata pedang

dan badannya kokoh kuat. Rupanya mereka itu jago jago silat

kelas wahid- Yang mengherankan Lo In, kenapa mereka jalan

sempoyongan seperti kehilangan tenaga.

Kira-kira jarak tiga tombak dari Lo In duduk, mereka tidak

lihat adanya si bocah disitu sebab kealangan pohon, mereka

telah jatuh duduk mendeprok di tanah, satu diantaranya malah

lantas merebahkan diri

"Sungguh berbahaya, sungguh berbahaya sekali."

tiba-tiba Lo In dengar satu diantaranya dari tiga orang itu

berkata. Lalu melanjutkan,

"Toako sudah pesan kita hati-hati, agar kita sebelum

mendekati gua menelan dulu pil penahan serangan racun

ternyata tidak ada faedahnya. Tetap kita dirugikan. Hawa

racun sangat jahat, siapa yang bisa masuk ke dalam gua

angker itu."

"ya, kalau dilihat begitu jahat hawa racunnya sampai

banyak para jago Bu-lim bergelimpangan menemukan ajalnya,

siapa orangnya yang bisa dapatkan It-sin-keng yagn sangat

diidam-idamkan oleh setiap orang."

demikian Lo In mendengar percakapan mereka. Terdengar

beberapa kali elahan napas.

 

Lebih jauh Lo In dapat dengar tanya jawab dua orang itu

berikut:

"samko, apa sih isinya It-sin-keng sampai jago jago berani

berkorban untuk mendapatkannya ? Keterlaluan, aku ngeri

melihatnya orang-orang pada gelimpangan mati di depan gua

ular yang menghembuskan hawa racun itu-"

"Menurut kata toako, It-sin-keng adalah kitab sakti yang

memuat lima pelajaran meyakinkan Iwekang, ilmu pedang,

pukulan tangan kosong, ginkang (imu entengi tubuh) dan caracara

memusnahkan serangan lawan yang bagaimana tinggi

pun ilmunya."

"Tapi samko, kita sudah meyakinkan Iwekang, ilmu pedang

dan lain-lain mencakup semua isinya It-sin-keng. Apa gunanya

kita mesti pertaruhkan jiwa untuk mendapatkan kitab sakti itu

?"

"Ha ha, Ngote, kau terlalu meremehkan kitab mujizat itu.

Isinya sudah tentu lain dari pada yang lain. Kalau orang

memiliki kitab itu dan dia dapat meyakinkan isinya sampai

mahir, orang itu akan menjadi sakti dan malang melintang di

kalangan Kangouw tanpa tandingan. Makanya, tidak ada jagojago

persilatan yang tidak menghendakinya "

(Bersambung)

Jilid 13

"Ah, Samko. Apa itu berkelebihan ? Coba kau terangkan

salah satu pelajarannya yang maha sakti. Tentu kau sudah

dapat keterangan dari toako."

"Makanya aku berani pertaruhkan jiwa karena ketarik oleh

perkataan toako. Katanya Iwekang dari kitab mujizat dapat

 

menyedot Iwekang lawan, ginkangnya sudah jangan ditanya

mujizatnya lagi, dapat membuat kabur penglihatan musuh dan

menghilang tanpa bayangan. Ilmu pukulan tangan kosong

hebatnya bukan main, ilmu pedangnya hanya mencakup lima

jurus saja, tapi cukup untuk menghadapi lawan yang

bagaimana tangguh ilmu pedangnya- Lawan tak dapat lewat

dari lima jurus sudah terjungkal. Entah bagaimana dengan

pelajaran cara-cara memusnahkan serangan lawan yang

mahasakti yang terdapat dalam It-sin-keng. Kata toako,

kemujizatannya sudah jangan ditanya lagi" Lalu terdengar

elahan napas saling bergantian.

"Sayang kita tidak punya jodoh untuk mendapatkannya.

Kalau tidak, dengan memiliki kitab mujizat itu Cit-seng-pay

(partai 7 bintang) bakal menjagoi diantara partai-partai lain

termasuk Siauw-lim-pay dan Bu-tong-pay yang sangat

kesohor itu."

Lalu terdengar yang diajak bicara menghela napas panjang.

"Ngote, bagaimana keadaan Lakte ? Apa dia sudah bisa

jalan lagi ?"

"Oh, oh, Samko, kau lihat Lakte sudah tidak ada napasnya "

Lalu terdengar suara menangis. Rupanya dua orang itu

sedang menangisi saudaranya yang telah putus jiwanya,

korban hawa racun yang jahat.

Lo In dalam pada itu diam saja duduk mendengarkan tanya

jawab mereka. Dalam hatinya sangat ketarik dengan

pengalaman mereka, Ia sudah mempunyai kepandaian sangat

tinggi. Pikirnya, tidak perlu ia dengan It-sin-keng segala.

Hanya ia ingin lihat isinya, bagaimana macam sampai

menggemparkan dan banyak jago-jago ingin mendapatkannya

 

tanpa menghiraukan jiwanya lagi. untuk mendapatkan kitab

itu, apakah ia juga harus mati ? Dalam hati kecilnya menanya.

"samko, It-sin-keng itu asalnya dari mana ?" tiba-tiba Lo In

mendengar pula orang bicara.

"Menurut toako, kitab sakti itu ditulis oleh seorang hweshio

angkatan tua dari siauw-lim-sipada 100 tahun yang lalu. Dia

telah mengasingkan diri dalam gua yang berbahaya itu

dengan ditemani oleh seekor ular besar yang dapat menelan

manusia-"

"Mungkinkah hweshio itu masih hidup sekarang ?"

"Rasanya tidak mungkin. Karena tatkala itu dia

mengasingkan diri umurnya sudah mencapai 70 tahun. Tapi

mungkin ularnya belum mati dan menjagai kerangka si

hweshio dengan kitab mujizatnya. Rasanya tidak ada orang

yang mampu datang dekat pada gua pertapaannya si hweshio,

apalagi mau mendekatinya. Kau saksikan sendiri, di dalam

jarak dua tombak, orang masih dicabut nyawanya oleh hawa

racun yang dihembuskan dari mulut gua. sekarang, marilah

kita tanam mayatnya Lakte-"

"Mari, tapi— aduh Kepalaku pusing, samko......"

Lo In lihat orang yang berteriak aduh tadi telah merebahkan

diri dekat mayat temannya, sedang yang satunya jadi

kebingungan dan menggoyang-goyang lengannya orang yang

barusan merebahkan diri, sambil berkata,

"Ngote, Ngote, kau kenapa ? Ai, kau juga turut Lakte

meninggalkan aku sendirian. Ah, bagaimana ini.........?"

 

Lo In tidak tega hanya duduk menonton saja orang sedang

dalam kesusahan. Maka seketika itu ia bangkit dari duduknya

dan menghampiri mereka.

Orang itu sedang repot gegerungan menangisi saudaranya

yang mati hingga tidak tahu kalau Lo In sudah berdiri di

depannya hingga ia sangat kaget ketika Lo In berkata,

"Lopek, maaf aku anak kecil mengganggu kau dalam

kesusahan. Dapatkah barangkali aku menolongnya"

Orang itu tidak menyahut, sebaliknya memandang Lo In

dari atas sampai ke bawah dan sebaliknya, Ia lihat yang

datang hanya satu bocah berwajah hitam, apa artinya

pertolongannya ? Cuma saja, barusan Lo In omong perlahan

tapi terdengar mengiang tegas dalam telinganya, orang itu

terkejut juga dalam hatinya.

Biar bagaimana, melihat si bocah tidak ada apa-apanya

yang aneh, orang itu tidak percaya si bocah ada mempunyai

Iwekang yang tinggi, Ia menanya,

"Anak kecil, dengan siapa kau ada disini ? sebaiknya kau

lekas-lekas pergi dari sini sebab disini tempat yang berbahaya,

Sayang kalau kau nanti mati konyol "

"Lopek, kematian itu sudah takdir- Dimana juga kalau mau

mati, orang tak dapat menghindarkan kematiannya. Buat apa

ditakuti ?" jawab Lo In ketawa nyengir.

"Hahaha " orang itu tertawa gelak-gelak tapi mendadak ia

hentikan ketawanya dan matanya menatap Lo In dengan tajam

lalu berkata,

"Kau, kau.......Hek bin-sin-tong "

 

Orang itu menganggap Lo In sangat lucu telah

mengucapkan kata-kata sebagai kakek yang memberi petuah-

Dalam ketawanya tergelak-gelaknya, tiba-tiba ia ingat akan

cerita toakonya bahwa dalam dunia Kangouw ada muncul satu

anak yang kepandaiannya susah diukur, maka seketika itu

juga ia hentikan ketawanya dan menatap tajam pada Lo In.

"Itu hanyalah julukan kosong saja, Lopek-" kata Lo In ketika

melihat orang itu memandangnya dengan mata tak berkedip-

"Aku anak kecil bisa apa ?"

"Tapi siaohiap, apa kau datang juga buat urusan klta

mujizat ?" tanya orang itu kepingin tahu, seraya matanya terus

mengawasi Lo In.

"sama sekali aku tidak bermaksud ke situ. Aku sampai

disini dibawa kabur oleh kudaku, soal It-sin-keng baru aku

dengar ketika Lopek sedang bercakap-cakap dengan teman

Lopek-

"Oo, kau jadi mendengarkan apa yang kita percakapkan ?"

tanya orang itu.

"Aku hanya mendengar dengan cara kebetulan, bukan

sengaja mencuri dengar-"

"Kau mendengar dengan cara kebetulan atau mencuri

dengar, tidak menjadi soal bagiku. Hanya aku nasehatkan kau

jangan pergi ke sana. Aku ikut menyayangkan kepandaianmu

yang tinggi akan menemukan kematian yang sia-sia."

"Terima kasihi Lopek" sahut Lo In.

 

"Lebih baik aku pulang mencari enci Lianku dari pada pergi

ke gua yang seram itu."

"Siapa itu enci Lian yang kau sebut barusan ?"

"Dia ada teman mainku. Mungkin sekarang dia sedang

gelabakan mencari aku yang barusan aku tinggalkan jauh di

belakang kudaku."

Mendengar jawaban Lo In yang kekanak-kanakan, diamdiam

orang itu geli dalam hatinya-

Ia yang tadinya memanggil siaohiap (pendekar cilik),

sekarang dirubah menjadi "adik kecil", panggilan mana

memang sangat disuka oleh si bocah daripada siaohiap

"Adik kecil, mungkin aku juga tidak bisa pulang lagi ke

rumah- Maka aku ingin menuturkan sesuatu dan minta

pertolonganmu- Apa kau kau suka dengar?"

"Tentu, tentu aku senang mendengar Lopek cerita-" kata Lo

In kontan.

Orang itu ketawa mesem. Lalu ia mulai bercerita.

Orang itu bernama Lim Kek Ciang. Dengan enam

kawannya ia membangun partai yang dinamakan cit-seng-pay

(partai 7 bintang) di kota Gukwan, dibawahnya kaki gunung

Hengsan.Berkat usahanya yang sungguh-sungguh dari

saudara itu, maka Cit-seng-pay telah berkembang baik dan

mendapat banyak anggota.

selama memajukan perkumpulannya, tujuh saudara itu

tidak henti-hentinya berusaha untuk mendapatkan kepandaian

lebih tinggi supaya dengan kepandaian yang tinggi mereka

 

dapat memimpin partainya sebanding dengan partai-partai

besar seperti siauw Lim dan Bu Tong.

Mendadak dalam waktu belakangan ini ada tersiar kabar

tentang adanya It-sin-keng. Barang siapa yang mendapatkan

akan menjadi jago tak terkalahkan. Mereka lalu berunding

untuk mendapatkanya- Mereka tahu akan bahayanya orang

yang pergi ke sana (gua ular), sudah banyak yang mati, akan

tetapi mereka ambil keputusan untuk mencoba-coba pergijuga

dengan melihat gelagat.

Maka oleh toako dari Cit-seng-pay telah diutus tiga

saudaranya yang berkepandaian tinggi dan cerdik, ialah Lim

Kek Ciang, Tan Liong Ho dan cia Kiang. Dalam partai, mereka

menjabat pemimpin ketiga, kelima dan keenam.

Ketika mereka sampai di sin-coa-tong (gua ular sakti),

nampak sudah banyak mayat yang terkapar di depan gua.

Mereka yang sudah menjadi mayat itu termasuk dalam

lingkaran satu tombak jauhnya dari mulut gua, sedang yang

dalam lingkaran dua tombak masih ada kedapatan yang masih

belum putus jiwanya. Melihat mereka sangat kasihan sekali,

dan megap-megap seperti hendak putus jiwanya.

Diantara mereka yang dalam keadaan menyedihkan itu,

Kek Ciang dapat lihat ada yang ia kenali, ialah salah satu tocu

dari Ceng-gee-pang.

Kek ciang dan dua saudaranya menghampiri. Apa mau,

belum mereka sempat mengulurkan tangannya menarik sang

kenalan dari daerah kematian, mereka sudah dihantam oleh

hawa racun hingga sempoyongan mundur buat kemudian

jatuh duduk

 

syukur mereka sudah menelan pil penahan racun terlebih

dahulu hingga mereka tidak sampai menjadi korban seperti

Tocu dari Ceng-gee-pang tadi-

Mereka jadi ketakutan dan Kek Ciang ajak dua saudaranya

untuk pulang kembali saja. Ia tak sanggup mengemban tugas

yang dibebankan toakonya. Dengan susah payah mereka

dapat bangun dari duduknya. Mereka jalan sambil

berpegangan satu dengan lain lantaran kakinya lemas.

sebenarnya mereka ingin mengaso lama-lamaan tidak jauh

dari tempat berbahaya, akan tetapi mereka takut masih akan

kena hawa racunjuga. Maka dengan paksakan diri mereka

meneruskan perjalanannya.

Demikianlah, sampailah mereka di tempat yang Lo In

sedang duduk menikmati buah persembahan dari kawanan

kera.

setelah habis menutu, Kek ciang berkata pada Lo In,

"Adik kecil, aku merasakan diriku juga bakal menyusul

arwahnya dua saudaraku, maka aku minta tolong kalau aku

mati, kau tolong kuburkan satu lubang dengan dua

saudaraku."

" Ah, jangan kata begitu, Lopek-" menghibur Lo In ketika

tampak orang kelihatan cemas dan ketakutan.

" Lopek masih kuat-kuat saja. Marilah kita kubur dua

saudara Lopke yang telah meninggal dunia."

"Adik kecil, tolong kau nanti ketemuka toako dan laporkan

kejadian disini. Toako akan percaya dengan keteranganmu

 

manakala dia sudah melihat pedangku ini. Nah, tolong kau

simpankan pedang....ku. Ah, kepala......ku.... be........"

Terputus-putus kata-katanya Kek Ciang, sementara itu

badannya juga sudah terkulai roboh dan ketika Lo In periksa

ternyata Kek Ciang sudah tidak ada nyawanya lagi. Lo In

merasa terharu juga akan kematian tiga jago dari Cit-seng-pay

itu.

Untuk memenuhi permintaannya Kek Ciang, benar Lo In

sudah mengubur Kek Ciang bertiga dalam satu lobang yang ia

gali dibantu oleh kawanan kera.

setelah mana ia gantang pedang Kek Ciang di pinggangnya

untuk kemudian ia serahkan kepada toako dari Cit-seng-pay

beserta laporannya-

Lo In setelah beres mengadakan upacara penguburan,

tidak lantas meninggalkan tempat itu, hanya ia melamun

duduk di bawah pohon tadi mengganyang bebuahan.

Pikirannya melayang-layang. Dimana adanya Liok Sinshe,

Kwee Cu Gie dan ibunya, ia tidak tahu. yang ia tahu bahwa

dirinya sebatang kara. Ia belum mencicipkan kesayangannya

seorang ayah, seorang ibu yang lahirkan ia ke dunia, yang

pertama-tama ia rasakan hangat adalah kecintaannya Liok

sinshe- Tapi dimanakah Liok sinshe sekarang berada ?

Kemudian Eng Lian, teman mainnya yang ia ketemukan dalam

lembah, ada sangat memperhatikan dirinya, lalu Bwee Hiang

yang ia ketemukan di Kun hiang baik sekali terhadap dirinyasekarang,

dimanakah kedua kedua enci yang baik hati itu ?

Ia merasa bahwa dirinya adalah anak "buang-buangan".

Kalau ia mati, paling-paling juga enci Lian dan enci Hiangnya

yang akan menangisi dirinya. Maka itu timbullah keinginannya

 

untuk spekulasi dengan dirinya, mencoba memasuki sin-coatong

yang sudah banyak meminta korban jiwasebagai

anak kecil yang belum pernah mengalami bahaya,

si bocah wajah hitam malah kegirangan setelah timbul

pikirannya akan pergi ke sin-coa-tong. Ia lalu kumpulkan

kawanan kera dan menanyakan dimana letaknya sin-coa-tong.

Tampak kawanan monyet itu ramai cecowetan seperti

ketakutan lagaknya. Memang juga mereka ketakutan dan

membujuk Lo In supaya jangan ke sana.

Dengan sabar Lo In balik membujuk kawanan kera itu

supaya jangan takut, Ia mempunyai daya untuk mengatasi

bahaya, untuk membikin kawanan monyet itu lebih percaya

lagi, Lo In tidak segan-segan mempertunjukkan dua tiga

macam kepandaiannya yang menakjubkan seperti berdiri

diatas ranting pohon, tubuhnya mencolot ke atas macam roket

setelah lebih dahulu berputar, lalu lengan bajunya mengebas

ke batang pohon hingga pohon itu tumbang. Melihat

kepandaian itu, semua kera memberi sambutan yang gemuruh

saking merasa kagum dan mereka percaya akan

kepandaiannya si bocah cilik.

Dengan girang, kawanan monyet itu mengantar Lo In ke

sin-coa-tong di lembah "Sian-jin-gay" (Jurang Dewa).

Kiranya untuk sampai ke sana, Lo In harus menempuh

jalanan yang bulak biluk dan beberapa kali menemukan

jalanan sempit yang hanya dapat dilalui oleh satu orang saja.

Makin dekat pada gua ular keadaannya makin menyeramkan

dan Lo In sampai di sin-coa-tong hari sudah mulai sore-

Kawanan kera hanya berani mengantar sampai jarak empat

lima tombak dari gua ular dan setelah memberi beberapa

 

petunjuk pada Lo In, mereka lantas pada bubaran seperti

ketakutan.

Perlahan-lahan Lo In mendekati sin-coa-tong. Keadaan

memang seram, disekitar gua hingga dua tombak, banyak

pepoNonan dan ada pohon yang mereyot demikian rupa

hingga menutupi mulut gua. sepintas lalu saja, orang tidak

akan tahu kalau disitu ada mulut gua yang angker dan banyak

meminta korban.

Dari jarak tiga tombak, Lo In sudah melihat adanya banyak

mayat yang terkapar. Malah bukan sedikit yang sudah menjadi

rangka. Lo In jadi menghela napas melihat pemandangan

yang mengerikan itu. semestinya menurut teori, Lo In sudah

harus urungkan niatnya melihat pemandangan yang

menyeramkan itu. Akan tetapi bagi Lo In pemandangan itu

malah makin membesarkan nyalinya untuk memasuki gua

sakti itu.

Dalam hatinya ia berkata, "Liok sinshe, enci Lian dan enci

Hiang, selamat tinggal. Aku akan memasuki gua ular sebagai

tempat kuburanku Jangan kalian menangisi aku sebab dalam

gua aku tidak sendirian, ditemani Lo-cianpwee yang maha

sakti dan ular besar lawannya TOk gan siancu. Hehehe......"

Benar-benar Lo In telah ketawa tatkala hatinya

mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang

sayang kepada dirinya.

Tampak ia berdiri tepekur seperti memohon doa restu dari

yang Maha Kuasa-sementara itu, cuaca juga sudah mulai

remang-remang gelap

 

Tidak takut ia bersendirian di tempat yang demikian sepi

dan menyeramkan. Perlahan-lahan ia jatuhkan diri untuk

bersila. Matanya mengawasi jauh ke mulut gua.

Tiba-tiba ia ingat sesuatu yang membuat ia seperti kaget.

"Aku mau coba........" demikian ia menggumam sedang

tangannya lantas meraba ke pinggangnya dimana ada

diselipkan sebatang serulingnya, sebentar lagi terdengar suara

seruling mengalun di lembah sunyi itu.

Keadaan sudah menjadi gelap, hanya ada bintang-bintang

saja yang menerangi jagat. Tapi gua terkadang ketutup oleh

mega hitam yang berlalu lalang, jagat berubah menjadi gelap-

Bunyinya serangga dan burung hantu di waktu malam gelap

demikian menambah keseraman dan membuat bulu kuduk

pada mengkirik.

Tapi walaupun malam bertambah larut, Lo In makin senang

meniup serulingnya-

Itu karena sembari meniup seruling, ia mendapat banyak

ilham untuk menciptakan ilmu pukulan yang baru-baru.

sembari meniup serulingnya, ketika sang malam sudah larut,

perlahan-lahan ia berdiri dan lalu berjalan maju ke arah gua

ular.

Ia jalan seperti orang yang ngelindur (mengigau) turun dari

ranjangnya dan berjalan keluar rumah tidak menyadari dirinya

ada dimana.

suara seruling mengalun makin merdu dan mengharukan.

Tiba-tiba dari dalam gua, ada nongol kepala ular yang

besarnya luar biasa. Matanya sebesar kepalan petinju,

menyorot terang seperti lampu bateri yang menyilaukan mata,

 

membuat Lo In heran tapi tidak kaget. Hatinya tenang dan

berani, terbukti dari jalannya tidak ia hentikan.

Entah bagaimana ular yang luar biasa besarnya itu turun

dari guanya yang dua tombak tingginya dari bawah, sebab

tahu-tahu Lo In lihat ia sudah ada di hadapannya sambil

kepalanya diangkat tinggi-tinggi, lidahnya yang seperti centong

nasi dilelet-lelerkan.

Bukannya takut, malah senang Lo In dengan usahanya

yang berhasil. Makin merdu ia meniup serulingnya, makin

berjingkrakan kelihatan si ular di depannya dan seperti sedang

joget. Padahal, melihat besarnya ular seperti gulungan kasur,

sekali caplok saja si bocah wajah hitam akan ditelan masuk

menjadi penghuni perutnya sang ular. Perlahan-lahan Lo In

maju melewati sang ular dengan masih terus meniup

serulingnya.

Makin mendekati ia kepada gua ular, dibuntuti oleh ular

raksasa itu yang jalan melegot-legot menyeramkan, sampai

dibawah gua, tiba-tiba saja, tanpa mengenjot tubuhnya lagi

tubuh Lo In sudah mencelat ke atas dan hinggap di tepi mulut

gua. Melihat si peniup seruling memasuki guanya, ular

raksasa itu menjadi gugup.

Tampak badannya melegot pergi datang beberapa kali,

tahu-tahu tubuhnya sudah ngapung dan sampai di tepi mulut

gua, sementara Lo In sudah menghilang masuk ke dalamnya,

suara seruling sekarang menggema di dalam sin-coa-tong.

Apakah si ular raksasa akan menelan Lo In yang memasuki

guanya tanpa permisi ?

Tadinya Lo In menduga dalam gua keadaan gelap gulita.

Tapi kenyataannya tidak demikian. Di sebelah dalam ada

 

penerangan yang cukup- Ketika Lo In memeriksa, ternyata

penerangan itu berasal dari pancaran tiga buah batu mustika

yang digantung disitu.

si ular raksasa juga sudah sampai di dalam, Ia mendekati

Lo In tapi tidak menyerang dan menelan si bocah- sebaliknya

badannya menggelesar bulak balik dikakinya Lo In. Kemudian

ia melingkarkan badannya di depan Lo In setelah lebih dahulu

mengangkat kepalanya seperti memberi hormat.

"Coa-heng (Saudara ular)" tiba-tiba si bocah berkata.

"Terima kasih kau tidak marah aku berkunjung dalam

istanamu tanpa permisi dulu. Aku harap selanjutnya kau akan

menjadi temanku dalam gua ini........."

sekonyong-konyong ular raksasa itu mengangkat

kepalanya dan mendesis keras, hingga rasanya tergetar

dalam gua itu. Lo In ada sedikit kaget, mengira ular raksasa itu

marahi Tapi melihat ia lantas melingkarkan pula kepalanya,

maka Lo In berpikir bahwa perbuatan ular tadi yang

menggetarkan gua itu sebagai tanda pernyataan senangnya

atas kata-katanya tadi.

girang hatinya Lo In. Lantas saja ia memeriksa keadaan

gua disebelah dalam, dimana ia dapatkan kerongkang

(kerangka manusia) dalam sikap duduk bersila. Masih

kedapatan kain yang menempel. Rupanya bekas jubahnya,

tapi sudah sangat amohi Ketika Lo In pegang sudah seperti

debu rasanya.

Di depan kerangka ada tertulis perkataan:

"YANG MASUK KESINI ADALAH MURIDKU- DIA HARUS

MENGUBUR JENAZAHKU "

 

Setelah membaca tulisan itu, Lo In lantas saja berlutut di

depan kerangka itu dan berkata,

"Suhu, tecu sudah lancang masuk- Harap suhu suka

mengampuni dosa tecu. Mohon diberi petunjuk selanjutnya. "

Bangkit dari berlututnya Lo In lantas memeriksa lebih jauh

tapi tidak kedapatan kitab yang dinamai "It-sin-keng",

meskipun ia sudah mencari kemana dalam gua itu.

Pikirnya, "Tidak apalah kitab itu tak diketemukan. Baiklah

aku mengubur jenasah suhu saja. setelah itu aku baru

meninggalkan pula gua ini" Kemudian ia menggali lubang

dengan medang Lim Kek Ciang.

setelah mana, ia lantas berlutut lagi dan manggut tiga kali,

katanya

"Suhu, tecu akan mengubur jenasah suhu. Harap suhu

memberi petunjuk kepada tecu."

Bangkit dari berlututnya, lantas ia menghampiri kerangka

gurunya dan mengangkatnya untuk dikebumikan. Dengan

penuh hikmat Lo In mengubur kerangka suhunya. Entah siapa

namanya, si bocah tidak mau ambil pusing.

setelah beres dikebumikan, depan kuburan suhunya Lo In

kembali berlutut,

"Suhu, tecu sudah menunaikan tugas, sekarang tecu

mohon diri untuk berlalu......."

Pada saat itulah tiba-tiba Lo In merasakan ada berkesiur

angin yang menumbuk dadanya hingga ia terdorong dan

membentur dinding gua dibelakangnya. Bukan main kagetnya

 

si bocah- Pikirnya, jago yang mana juga yang Iwekangnya

hebat, tak bakalan dapat mendorongnya sampai membentur

dinding. Apalagi saat itu ia dalam keadaan berlutut. Cuma

herannya, angin yang menumbuk dadanya itu ia rasakan tidak

ada efeknya, pernapasannya berjalan sebagaimana biasanya-

Cuma pantatnya saja sedikit nyeri kebentur gua.

Ia jadi geli sendirinya ketika melihat kesana sini tidak ada

orang asing