Badik Buntung **

BADIK BUNTUNG
Saduran: Gan K. H
Kabut malam mulai menyelimuti seluruh kota Hangciu. Disebelah timur kota Hangciu terdapat sebuah bangunan gedung mentereng yang berdiri megah dan angker dikegelapan malam.
Dari dalam gedung yang megah dan angker ini lapat-lapat terdengar gelak tawa orang banyak.
Seorang pemuda mengenakan jubah panjang warna putih, seperti pemuda pelajar umumnya tengah beranjak cepat menuju ke arah gedung besar ini, pemuda itu berpaling menengadah melihat cuaca, memandang sang putri malam yang memancarkan cahayanya yang terang cemerlang. Ditimpah cahaya sang bulan purnama kelihatan sikap tegas dan watak keras dari wijah pemuda yang putih cakap itu.
Sejenak ia berhenti mengamat-amati gedung besar dihadapannya, ujung mulutnya mengulum senyum, sedikit pundaknya bergoyang gerak tubuhnya sudah terbang tinggi ke tengah udara langsung melesat ke atas wuwungan ruangan besar terus meluncur turun memasuki ruangan pesta itu.
Suara tawa dan percakapan ramai dalam ruangan besar seketika sirap. Dengan berputar tubuh pemuda itu menjelajahkan pandangannya keseluruh ruang besar itu. Penerangan terpasang terang benderang, meja besar perjamuan berputar tiga lingkaran. yang terletak paling tengah sana duduk seorang tua bermuka merah, dua lilin besar dibelakangnya tengah terbakar menyala menerangi sebuah huruf “SIU” (panjang umur) yang besar dari kertas mas.
Semua mata memandang heran ke arah sipemuda. Mereka merasa takjup akan kepandaian silatnya begitu lihaynya sampai sudah mendarat di dalam ruangan besar itu baru hadirin mengetahuinya.
Setelah berputar memeriksa keadaan seluruh ruangan pesta ini sipemuda langsung menghadap ke arah si orang tua bermuka merah itu, serunya sambil menjura, “Siautit Hun Thian-hi, mendapat perintah dari orangtua untuk menyampaikan salam panjang umur, setindak telah terlambat harap paman suka memberi maaf!
Waktu Hun Thian-hi memperkenalkan diri si orang tua muka merah mengerutkan kening dan mengunjuk rasa heran dan curiga, dengan tajam ia awasi Hun Thian-hi bibirnya bergerak seperti hendak berkata apa, tapi urung diucapkan. Selanjutnya air mukanya lantas menunjukkan rasa kejut dan marah. Sekilas kedua biji matanya melirik keseluruh ruang, sekejap saja wajahnya berubah lagi menjadi beringas dan gusar.
Hun Thian-hi seakan tidak merasa dan tidak tahu akan segala perubahan air muka si orang tua muka merah, acuh tak acuh seperti anak kecil yang ketarik akan sesuatu yang memincut hatinya ia berputar dan celingukan menatapi itu persatu seluruh hadirin. Setelah sepasang mata tajam berkilat menerawang seluruh isi ruang pesta ini, ujung mulutnya lagi-lagi menampilkan senyum dikulum.
Mendadak berkelebat cahaya aneh dan mengejutkan terpancar dari kedua biji matanya tanpa merasa sebelah tangannya mengelus Seruling batu pualam dipinggangnya. Ternyata bahwa dikedua samping kiri kanan si orang tua merah duduk sepasang muda mudi, sorot pandangan mereka berdua juga berkilat mengandung ketajaman yang luar biasa, pandangan muda-mudi itu juga tertuju ke arah dirinya.
Dengan muka gusar si orang tua muka merah membentak kepada Hun Thian-ki, “Siapa kau? Berani kau mengaku sebagai putra Hun Siau-thian Hun-toako untuk menyampaikan salam hormat kepadaku?”
Seluruh hadirin yang terdiri dari orang-orang gagah persilatan terkejut, begitu mendengar nama Hun Siau-thian disebut. Harus diketahui bahwa Hun Siau-thian adalah tetua dari Bulim-sam-ciat pada dua puluh tahun yang lalu, dengan menggembol dan bersenjatakan Badik buntung ia belum pernah mendapat tandingan di seluruh jagat. Selama dua puluh tahun terakhir jejaknya menghilang tak karuan paran. Sungguh diluar dugaan hari ini ada seseorang yang berhubungan dekat dengan beliau muncul disini menyampaikan salam hormat.
Hun Thian-hi mengulum senyum tawar, katanya pelan-pelan, “Jangan takut! Aku tidak akan menuntut balas, kedatanganku ini hanya mau minta balik badik buntung saja, apa kau minta bukti?” — dari dalam lengan baju tangan kanannya ia melolos keluar sarung pedang pendek sepanjang satu kaki entah terbuat besi atau mas, yang terang sarung Pedang ini memancarkan cahaya terang terus diangsurkan ke depan orang tua muka merah.
Seluruh hadirin bertambah kejut dan heran lagi. Badik buntung sudah menghilang ikut lenyapnya Hun Siau-thian selama dua Puluh tahun tak duga bisa berada disini!
Merah Padam muka si orang tua, mendadak ia berjingkrak bangun terus membentak sambil menuding Hun Thian-hi, “Badik buntung berada ditangan Hun Siau-hian, seluruh orang gagah dijagat ini mengetahui. Siapa kau sebenar-benarnya? Kau kira aku Hoan-thian-chiu Su Tat-jin gampang dihina dan dipermainkan?”
Baru lenyap suara Su Tat-jin, seseorang yang duduk disebelah samping kanannya sudah bergegas berdiri serta serunya, “Su Toako, biar kuberi hajaran kepadanya!”
Kalem saja Hun Thian-hi memutar tubuh menghadapi si orang pembicara ini, dengan seksama ia awasi orang ini. Kiranya seorang Tosu pertengahan umur mengenakan jubah pendeta warna hijau mulus. Matanya juling seperti mata garuda menyorotkan sinar dingin mendelik ke arah dirinya.
Sekonyong-konyong wajah putih Hun Thian-hi menampilkan senyum tawa yang aneh. Seketika si Tosu itu berhenti dan berdiri melongo, matanya berkilat ragu-ragu, agaknya tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah melihat senyum tawa Hun Thian-hi yang penuh arti itu.
“Harap tanya slapakah gelaran Totiang ini?” tanya Hun Thian-hi dengan nada mengejek.
Tiba-tiba Tosu pertengahan umur ini tersentak kaget seperti sadar dari suatu lamunan, dimakluminya sekarang bahwa senyum tawa Giok-liong tadi hakikatnya mengandung sindiran dan memandang ringan dirinya, saking gusar selebar mukanya menjadi merah padam, teriaknya, “Hun-tiong-it-ho Ling-ci-cu itulah aku adanya!” habis berkata kakinya terus bergerak menubruk maju ke hadapan Hun Thian-hi disertai dengan mulutnya membentak, “Lihat pukulan!” sebelah tangannya tahu-tahu nyelonong menjotos ke dada Hu Thian-hi.
Hun Thian-hi sedikit menekuk dengkul lalu menggeser mundur, ringan sekali tubuhnya ikut berputar menghindar. Maka pukulan lawan dengan mudah sekali dapat dihindarkan menyamber lewat disamping dadanya terpaut seurat saja.
Ling-ci-cu menggerung murka, tangan kiri berputar menyusul tiba terus menepuk ke punggung Hun Thian-hi.
Sambil tetap mengulum senyum Hun Thian-hi menggoyangkan sedikit badan indah sekali ia bergaja berkelit dari serangan musuh. Gerak tubuhnya enteng laksana awan mengembang seperti air mengalir ia main mundur ke tengah ruangan. Dimana sepasang matanya berkilat menyapu pandang ke seluruh keadaan meja perjamuan dalam ruang pesta besar ini.
Diam-diam terkejut hati seluruh hadirin. Siapa yang tak kenal akan ketenaran nama Hun-tiong-it-ho Ling-ci-cu yang berkepandaian tinggi, dengan gerak tubuh serta bekal Lwekangnya ternyata dua kali serangannya dengan mudah telah dihindarkan oleh pemuda pelajar ini. Ini betul-betul suatu hal yang luar biasa. Seandainya pemuda ini betul adalah anak kandung Hun Siau-thian, dengan usia yang masih muda betapapun latihannya takkan mungkin mencapai tingkat yang sempurna sekian baiknya.
Beruntun serangan berantainya dengan mudah kena kelit oleh lawan, hati Ling-ci-cu menjadi dongkol seperti dibakar, gesit sekali ia menerjang datang lagi sambil kirim serangan lebih gencar.
“Nanti dulu!” tiba-tiba Hun Thian-hi berseru menghentikan pertempuran.
Ling-ci-cu segera menghentikan aksinya, dengusnya, “Ada omongan apa lagi yang hendak kau katakan?”
Hun Thian-ki tertawa lebar, sekilas ia menyapu pandang ke sekelilingnya lalu berkata kepada Su Tat-jin, “Hari ini aku sudah datang kemari. Perihal Badik Buntung yang di tanganmu itu betapa juga pasti akan tersiar luas, dengan kemampuanmu kau takkan mungkin kuat melindunginya. Biarlah kutekankan lagi bahwa kedatanganku ini bukan hendak menuntut balas. Serahkan saja Badik buntung itu kepadaku, segalanya beres!”
Belum lagi Su Tat-jin membuka suara Ling-ci-cu telah menyelak, “Nanti dulu.”
Pelan-pelan Hun Thian-hi memutar badan menghadapi Ling-ci-cu sambil memicingkan mata.
Kata Ling-ci-cu dengan gusar, “Bocah keparat jangan kau terlalu sombong, tak perlu dikatakan apakah benar-benar Badik buntung itu berada disini. Seumpama betul ada disini, berani kau dihadapan kita sekalian hendak mengambilnya begitu gampang?”
Hun Thian-hi celingukan melihat reaksi seluruh hadirin, satu pun tiada yang berani bersuara. Terang bahwa mereka sudah setuju akan kata-kata profokasi dari Ling-ci-cu itu. Dengan sabar dan kalem ia hadapi Ling-ci-cu, lalu katanya acuh tak acuh, “Lalu bagaimana maksudmu?”
“Hatimu tahu sendiri,” jengek Li-ci-cu, “kenapa perlu tanya lagi!”
Alis lentik Hun Thian-hi terangkat tinggi, ujung mulutnya mengulum senyum manis, berturut-turut ia mundur dan mundur terus sampai diambang pintu lalu dirogohnya keluar Seruling batu giok di pinggangnya langsung diangkat ke depan mulutnya.
Gadis yang duduk di sebelah kanan Su Tat-jin bergegas bangun, matanya memancarkan sinar tajam penuh kejut dan heran, tak kuasa mulutnya juga berteriak, “Lam-siau!”
Pemuda yang duduk di sebelah kiri juga tersentak bangun berdiri.
Seluruh hadirin juga sama terkejut, siapapun tak mengira bahwa Hun Thian-hi kiranya adalah murid Lam-siau (seruling selatan) salah satu dari Hwe-siang-ki (sepasang manusia aneh dalam dunia). Tak heran dengan mudah dan seenaknya saja ia tadi berkelit dan menghindari serangan Ling-ci-cu yang cukup hebat itu.
Sejenak sorot mata Hun Thian-hi memancarkan rasa bimbang dan ragu, namun demikian mulutnya sudah mulai meniup serulingnya, dilain saat irama seruling yang merdu sudah kumandang mengalun di tengah udara.
Beramai-ramai seluruh hadirin mengerahkan tenaga murni dan Lwekang untuk mempertahankan diri.
Hun Thian-hi sendiri juga prihatin dan penuh keseriusan, karena dia sendiri harus memusatkan pikiran dan mengerahkan seluruh kekuatan Lwekangnya disalurkan ke dalam irama serulingnya untuk menundukkan musuh.
Selain kedua muda mudi itu, seluruh hadirin sudah mulai mandi keringat, mati-matian mereka tengah bertahan sekuat tenaga.
Sambil meniup serulingnya pandangan Hun Thian-hi menyapu ke seluruh ruangan besar, lagi-lagi matanya memancarkan rasa ragu dan bimbang, sejalur irama melengking tinggi memecah angkasa, dinding di empat penduru gedung ini terdengar bergetar dan mulai retak hampir roboh.
Pelan-pelan Hun Thian-hi menarik turun Serulingnya, pandangannya menyapu ke seluruh hadirin, nyata tiada satupun yang lolos semua telah tertutuk jalan darahnya oleh getaran irama serulingnya, sebentar ia menarik napas panjang terus tertawa lebar langsung ia melangkah menghampiri Su Tat-jin.
Pertama-tama ia bebaskan jalan darah Su Tat-jin yang tertutuk. Dengan penuh rasa kejut gusar dan takut-takut Su Tat-jin menyapu pandang ke seluruh tamu-tamunya. Dilihatnya kedua muda mudi itu juga telah tertutuk jalan darahnya, dengan penuh rasa murka dan hampir tak percaya ia tatap Hun Thian-hi.
Kata Hun Thian-hi tanpa menunjukkan expresi, “Su Tat-jin, semasa hidup ayahku betapa baik sikapnya terhadap kau. Tak duga, dalam keadaan beliau sedang sakit kau rebut Badik buntung itu lalu melarikan diri menghilang!”
Sambil mundur ke dalam ruangan dalam, Su Tat-jin menyahut cepat, “Bukan aku, itulah. Ling Ci-cu yang melakukan!”
Hun Thian-hi mendengus hina, katanya, “Sekarang aku tidak ingin tahu segala tetek bengek itu, serahkanlah Badik buntung itu kepadaku!”
Su Tat-jin kempas-kempis berusaha mengendalikan pembawaannya, sikapnya ragu-ragu.
“Lekas!” desak Hun Thian-hi.
Su Tat-jin membuka pintu terus membawa Hun Thian-hi masuk kerumah dalam. Setelah melewati sebuah serambi panjang mereka tiba pada pada sebuah kamar. Sekilas Hun Thian-hi memeriksa keadaan kanan kirinya, mulutnya lantas berkata kepoda Su Tat-jin, “Jangan kau mengatur tipu daya, aku takkan bisa terjebak oleh tipu muslihatmu!”
Mata Su Tat-jin berjelilatan, akhirnya apa boleh buat ia menghampiri ke depan tempat tidur.
Dengan ketat Hun Thian-hi mengintil dibelakangnya. Mendadak ia memutar tubuh sambil mengulur serulingnya menekan jalan darah di punggung Su Tat-jin lalu berpaling ke belakang ke arah pintu.
Di depan kamar tidur sana berdiri berendeng kedua muda mudi tadi, masing-masing tangannya menyoreng pedang panjang, dengan tajam dan gusar mereka tatap Hun Thian-hi….
Hun Thian-hi diam saja mengawasi mereka. Dalam hati ia menyesal kenapa waktu menutuk jalan darah mereka dengan irama serulingnya tadi tidak gunakan tenaga berat, sehingga begitu cepat mereka sudah bisa ikut mengintil datang.
Terdengar pemuda itu buka suara, “Hun Thian-hi, kau adalah murid Lam-siau, lepaskan pamanku, mari kita bicara diluar!”
Hun Thian-hi merenung sebentar, akhirnya ia menjawab, “Tidak! Suruh dia mengembalikan Badik buntung kepadaku!”
Su Tat-jin menjadi gugup, serunya, “Anak Cin, jangan kau percaya omongannya, hakikatnya aku tidak menyimpan Badik buntung apa segala.”
“Lalu kenapa kau bawa aku kemari?” jengek Hun Thian-hi menyeringai.
“Adalah kau yang mendesak aku begitu rupa!”
Hun Thian-hi mendengus hidung, sedikit menerawang hati-hati sekali mendadak sebuah kakinya menendang ke tempat tidur Su Tat-jin.
“Blang!” seketika ranjang kena ditendang terbalik dimana terdengar suara pegas berbunyi serentetan pisau terbang melesat keluar berseliweran, sigap sekali Hun Thian-hi jinjing tubuh Su Tat-jin melompat terbang keluar kamar.
Dengan selamat Hun Thian-hi mendaratkan kakinya di tanah, hidungnya mendengus hina.
Sekilas Su Tat-jin memandang ke arah muda mudi itu lalu berkata, “Memangnya Badik buntung tidak berada ditanganku, terpaksa aku berbuat begitu!”
Berbareng muda mudi itu melolos pedang panjangnya terus menerjang ke arah Hun Thian-hi. Cepat sekali biji mata Hun Thian-hi menjelajah keadaan sekitarnya, tiba-tiba tangannya diayun ke belakang melemparkan tubuh Su Tat-jin keluar rumah sana, disusul tubuhnya sendiri juga ikut berkelebat keluar hinggap di pelataran luar.
Sebetulnya Su Tat-jin bukan kaum kroco, tadi sedikit pun ia tidak berontak karena di bawah ancaman Hun Thian-hi, sekarang setelah lepas dari tangan Hun Thian-hi seiring dengan luncuran tubuhnya ini tiba-tiba ia jumpalitan ditengah udara badannya terus membalik naik hinggap di atas dahan sebuah pohon besar.
Meski kepandaian Hun Thian-hi tinggi, pengalaman masih cetek sedikit gegabah ia lemparkan Su Tat-jin keluar, setelah ia melempar tubuh orang baru menyesal juga sudah kasep.
Begitu badan Hun Thian-hi melenting keluar, kedua muda mudi itu juga sudah terbang mengejar tiba, pedang panjang mereka sebat sekali menusuk tiba dari kanan kiri.
Mendadak Hum Thian-hi memutar tubuh ditengah udara, serempak tangannya dibalikkan ke belakang sambil menyapukan Serulingnya dengan jurus Hoat-hi-pit-thian, sejalur kabut putih dari kekuatan tenaga dalamnya segera menyampok ke arah muda-mudi itu.
Baru tusukan sampai ditengah jalan sebelum pedang mereka dan seruling Hun Thian-hi saling sentuh, pedang sudah ditarik balik, disusul pedang dibalikkan berputar terus menusuk ke depan dari atas dan bawah, masing-masing mengarah temggorokan dan perut Thian-hi.
Pancaran mata Thian-hi menampilkan rasa kejut dan heran, serulingnya diputar dan disurutkan mundur, berbareng lincah sekali tubuhnya menggeser terus hinggap di atas tanah. Saat itu juga kedua muda mudi itu juga sudah meluncur turun, sesaat ketiga orang ini saling tatap tanpa bicara.
Sejenak kemudian Hun Thian-hi baru membuka mulut, “Apakah kalian murid Pak-kiam?”
“Betul!” sahut sipemuda, “Aku bernama, Su Cin. Dan ini adikku bernama, Su Giok-lan.”
Su Giok-lan mencemooh, “Apakah kau murid Lam-siau?”
Hun Thian-hi manggut-manggut, ujarnya; “Kalau begitu lebih baik, harap kalian suka bujuk paman kalian untuk mengembalikan Badik buntung itu kepadaku!”
“Kau punya bukti apa berani menuduh bahwa Badik buntung itu berada ditangan pamanku.” semprot Su Giok-lan aseran.
“Dulu pamanmu menggunakan akal muslihat licik merebut Badik buntung itu dikala ayahku terluka berat,” demikian Hun Thian-hi memberi keterangan, “Kalau nona benar-benar adalah murid Pak-kiam Siau-cianpwe tentu mengenal juga betapa pentingnya Badik buntung ini, kuharap nona suka membujuk paman kalian untuk kembalikan Badik buntung itu kepada aku yang rendah, kupandang muka kalian aku tidak akan menuntut segala peristiwa yang sudah lalu.”
“Enak benar-benar kau mengudal mulutmu,” jengek Su Giok-lan. “Ada bukti apa kau berani bicara begitu takabur?”
“Apakah murid Lam-siau juga bisa membual?”
“Apakah murid Pak-kiam bisa berlaku ceroboh?”
Berkobar hawa amarah Hun Thian-hi,
“Kau….” katanya berhenti, lalu sambungnya, “Kalau nona hendak mengetahui duduk perkara yang berbelit2 itu silakan tanyakan kepada Hun-tiong-it-ho dan pamanmu itu, tentu kalian akan jelas segalanya.”
“Jangan kau kira kau ini paling pintar,” dengus Giok-lan, “apa hakmu menyuruh kami mengompes keterangan mereka. Murid Lam-siau punya kepandaian apa?”
Mendadak bercekat hati Hun Thian-hi, pikirnya, “Ooo, jadi begitu!” — mungkin karena tadi mereka kena tertutuk jalan darahnya oleh irama seruling jadi mereka uring-uringan.
Hun Thian-hi berdiri diam, bungkam seribu bahasa.
“Adik Lan!” Cegah Su Cin sambil berpaling ke arah adiknya.
“Kenapa engkoh bantu orang luar!” teriak Giok-lan keras, lalu ia menghadapi Hun Thian-hi lagi, ujarnya, “Jangan banyak mulut lagi, tiga hari kemudian jam empat subuh kita bertemu di Giok-hong-gay di gunung Sian-sia-nia. Kalau kau menang bagaimana juga kita berusaha mengembalikan Badik buntungmu, kalau kau kalah sudah jangan cerewet lagi!”
Thian-hi berpaling ke arah Su Cin, melihat orang tidak membuka suara, lalu ia mengawasi pula ke arah Su Tat-jin, pelan-pelan baru ia berkata, “Begitupun baik, kita bertemu tiga hari kemudian!” selesai berkata ia memutar tubuh terus berlari bagai terbang sekejap saja ia sudah menghilang.
Sebentar saja tiga hari sudah mendatang. Pagi hari itu cuaca masih gelap Hun Thian-hi sudah beranjak dari penginapannya, berlari cepat menuju ke Giok-hong-gay di gunung Sian-sia-nia.
Udara gelap dingin kabut masih tebal, dengan kepandaian dan latihan Lwekang Hun Thian-hi yang sudah cukup sempurna juga tidak lebih hanya dapat melihat setombak jauhnya. Sejenak ia mengerutkan kening, sebentar ia berdiri di atas ngarai lalu memandang ke arah hutan sebelah sana.
Tak lama kemudian diantara kabut tebal muncul tiga bayangan orang, langsung berlari kencang menuju ke puncak ngarai ini. Itulah Su Tat-jin bersama Su Cin dan Su Giok-lan.
Melihat Hun Thian-hi sudah menunggu disitu, Su Giok-lan tersenyum ejek, ujarnya, “Kiranya kau bisa menepati janji?”
Hun Thian-hi menggendong tangan sambil angkat dahi tanpa bicara.
Kata Su Cin, “Hun Siauhiap! Sudah beberapa kali kutanyakan kepada pamanku, bahwa Badik buntung memang tiada ditangannya, mungkin Hun Siauhiap salah duga!”
Hun Thian-hi berpaling menatap Su Tat-jin dengan tajam tanpa bersuara.
“Keluarkan Serulingmu!” tantang Su Giok-lan uring-uringan, “ingin aku belajar kenal kepandaian hebat apa yang dimiliki oleh murid Lam-siau yang diagungkan itu!”
Diam-diam Hun Thian-hi tengah menerawang dalam hati, ia tahu pasti bahwa Badik buntung itu benar-benar berada ditangan Su Tat-jin, namun dengan adanya Su Cin dan Su Giok-lan sebagai pelindungnya urusan menjadi rada runyam. Bahwasanya Lam-siau (seruling selatan) dan Pak-kiam (pedang utara) sama tenar sama derajat, betapa juga ia tidak mungkin bermusuhan dengan mereka, sebaliknya Badik buntung itu bagaimana juga harus direbut kembali.
Tengah ia berpikir Su Giok-lan sudah tidak sabaran lagi “sreng!” ia cabut keluar pedang panjangnya, katanya menuding Hun Thian-hi, “Bagaimana, apakah murid Lam-siau sedemikian pengecut?”
Hun Thian-hi menjadi dongkol pelan-pelan ia putar tubuh, ujarnya, “Apakah nona Su mendesak aku turun tangan?”
“Bukankah kau minta kembali Badik Buntung?” dengus Su Giok-lan, “Kalau mau minta kembali silakan keluarkan serulingmu!”
Dengan angkuhnya Hun Thian-hi menyeringai tawa, pelan-pelan dikeluarkan serulingnya. Tanpa banyak mulut segera Su Giok-lan menerjang maju sambil menusuk membabat dan membacok bergantian, beruntun ia lancarkan empat jurus serangan berantai.
Seenaknya saja Hun Thian-hi menggerakkan serulingnya, entah menyampok atau menangkis gampang saja ia punahkan seluruh serangan Su Giok-lan.
Melihat serangan gencarnya tak dapat mendesak lawan Su Giok-lan menjadi sengit, sambil menggertak pedang panjangnya mendadak menekan ke bawah tiba-tiba terus menukik ke atas menusuk lambung, kiranya ia sudah mulai kembangkan pelajaran tunggal yang diandalkan pihak Pak-kiam (pedang utara) yaitu ilmu pedang yang dinamakan Hian-thian-kiam-hoat badan dan pedang seakan bersatu padu bergerak lincah mengikuti gerak badan dan samberan pedang. Sejalur pelangi panjang menggubat dan melilit kencang ke arah Hun Thian-hi.
Dengan angkernya Hun Thian-hi tetap berdiri di tempatnya tanpa menggeser sesentipun, Serulingnya terayun ke kiri menyampok kekanan lalu menekan kebawah bergantian sedikitpun tidak menjadi gugup atau terpengaruh oleh serangan gencar lawannya.
Meskipun Hian-thian-kiam-hoat yang dikembangkan Su Giok-lan mengandung banyak perubahan yang susah diraba, sayang Lwekangnya setingkat lebih rendah, sedikitpun ia tak mampu menyentuh atau mendesak Hun Thian-hi yang berlaku tenang itu.
Sekejap saja kedua belah pihak sudah saling serang sebanyak lima puluh jurus. Dimana ayunan seruling Hun Thian-hi bergerak sekarang mulai mengambil inisiatif pertempuran dari banyak membela diri mulai melancarkan serangan balasan. Begitu Lwekang dikerahkan seiring dengan ayunan serulingnya terpancarlah sinar cahaya putih bergerak lincah menari2 terus menyerang lebih deras dan ketat ke arah Su Giok-lan.
Semakin lama Su Giok-lan terdesak di bawah angin, untuk membela diri saja menjadi kerepotan jangan kata balas menyerang.
Akhirnya Su Cin menjadi cemas dan kuatir, sreng! Pedangnya lantas dilolos keluar, teriaknya, “Adik Lan, kau mundurlah!” — lalu iapun berteriak ke arah Hun Thian-hi, “Hun Siau-hiap, biarlah aku pun belajar kenal dengan kepandaianmu!”
Sambil menyapukan pedangnya Su Cin terus menerjang maju. Su Giok-lan mendapat peluang dengan sengit dan gemes ia berteriak, “Aku belum terkalahkan, buat apa kau ikut maju?” seiring dengan kata-katanya, pedang panjangnya mendadak bergerak lincah, beruntun ia lancarkan lagi serangan ketat kepada Hun Thian-hi.
Su Cin menjadi serba susah, maju mundur menjadi sulit baginya, kedua belah pihak adalah murid perguruan ternama yang sejajar ketenarannya, bagaimana mungkin dirinya melawan orang dengan cara keroyokan. Tapi keadaan Su Giok-lan sudah di ambang bahaya, tidak bisa tidak aku harus maju membantu, terpaksa mengeraskan kepala ia terus menerjang maju.
Hun Thian-hi bergelak tawa lantang, dimana Serulingnya menari kencang mendadak tubuhnya terbang ke atas, di tengah udara jumpalitan terus mengembangkan Thian-liong-cit-sek atau tujuh gaja naga langit.
Jurus pertama yang bernama Liok-liong-wi-hian (enam naga terbang berputar) dikembangkan berpetalah bayangan seruling samar-samar seperti ada seperti tiada serentak meluncur ke arah dua sasaran.
Su Cin dan Su Giok-lan merupakan murid didikan Pak-kiam yang kenamaan apalagi dengan dua mengeroyok satu sudah tentu tidak gampang mereka dikekang dan terkepung. Serempak pedang panjang mereka silang menyilang di tengah udara ke kanan kiri inilah jurus Ban-liu-ing-hong (dahan pohon liu menyambut angin) jalur sinar pedang terpancang menjadi pepat merintangi serangan melandai tiba.
Tapi di tengah jalan tubuh Hun Thian-hi mendadak melenting lebih tinggi lagi, seruling batu pualam putihnya lagi-lagi meluncur dengan serangan yang dinamakan Gin-liong-jip-cui (naga sakti masuk air) Seruling batu itu menukik dari atas meluntiur seperti burung menyambar belalang langsung menutuk ke jalan darah Bi-sim-hiat Su Cin dan Su Giok-lan.
Sekali lagi pedang panjang mereka bekerja sama bersatu padu melancarkan tipu Loan-ciok-bing-hun (batu kalut menerjang awan), sinar pedang berubah setitik bintang menutul balik merangsak ke arah Hun Thian-hi lagi.
Hun Thian-hi tertawa tawar, lagi-lagi lawan bergabung menyerang dirinya, memang inilah yang sedang diharapkan, tiba-tiba tubuhnya mengkerut turun, dimana seruling batunya terayun maju langsung memapak ke arah kedua batang pedang lawan yang terbang meninggi mengarah dirinya. Di tengah jalan jurus serangan Thian-hi ini lagi-lagi dirubah menjadi Hun-liong-pian-yu, bayangan seruling mendadak berubah menjadi beribu banyaknya, seperti menyerang tapi juga membela diri langsung menyapu ke depan.
Naga terbang menyapu baju yang dilancarkan Hun Thian-hi ini merupakan salah satu jurus dari ilmu Thian-liong-cit-sek yang paling banyak perubahan dan paling sulit di jajaki. Su Cin dan Su Giok-lan tidak mengira Hun Thian-hi bakal melancarkan jurus-jurus yang sangat lihay ini, keruan bercekat hati mereka, tak tahu mereka kemana juntrungan Hun Thian-hi melancarkan serangan berbahaya ini, tanpa merasa gerak-gerik mereka sedikit merandek.
Sementara serangan Hun Thian-hi ini sampai di tengah jalan mendadak juga memperlihatkan setitik kelemahan, dimana jurus serangan yang seharusnya menutuk maju rada2 kelihatan sedikit lamban seperti hendak membela diri malah, karuan sedikit lubang kelemahan ini cukup ketahui oleh kakak beradik didikan Pak-kiam ini, keruan bukan kepalang girang hati mereka, tanpa berjanji seperti sudah terjadin ikatan batin saja mendadak pedang mereka berbareng membabat dan menyontek ke atas membabat kaki dan menusuk perut Hun Thian-hi.
Tak kira perbuatan Hun Thian-hi ini memang disengaja untuk memancing gerakan musuh, sedikit lamban mendadak Hun Thian-hi lincah sekali menyelonong maju, lenyap gaya membela diri semula mendadak berubah menjadi serangan telak, berbareng dengan gerak tubuhnya yang lincah lantas menyelinap ke tengah diantara mereka berdua, serulingnya menutuk pundak dan mengetuk batok kepala.
Karuan Su Cin berdua berjingkrak kaget seperti disengat kala. Berbareng mereka mundur kedua samping untuk menghindar.
Dengan tipu jurus yang indah Hun Thian-hi berhasil memisahkan kedua musuhnya, mendapat angin yang menguntungkan ini serulingnya bergerak semakin sebat lagi, jurus demi jurus tipu-tipu serangan serulingnya membadai tiada habisnya, dengan jurus Jian-hong-ing-long (menuntun angin menyambut gelombang) ia tumplek seluruh kekuatan untuk menyerang kedua lawannya.
Su Giok-lan dan Su Cin harus melompat mundur kesamping lagi, namun sambil berkelit ini tiba-tiba pedang panjang mereka menukik balik, dengan jurus Yau-ci-thian-lam (jauh-jauh menuding langit selatan) pedang mereka tepat sekali memapaki kedatangan serangan Hun Thian-hi, begitu seruling dan pedang kedua belah pihak saling bentur, kontan Su Cin dan Su Giok-lan tergetar mundur satu langkah.
Gerakan Hun Thian-hi tidak berhenti sampai disitu saja, lagi-lagi serulingnya menyapu tiba dengan tipu Ci-ang-yau-sut (pelangi menggubat saka) dimana sinar putih berkelebat masing-masing menutuk ke arah jalan darah Thian-to-hiat di atas tubuh Su Cian dan Su Giok-lan. Karena terdesak untuk membebaskan diri dari tutukan berbahaya ini terpaksa mereka mundur berulang-ulang.
Wajah Hun Thian-hi menampilkan senyum tawar. seorang diri bukan saja dirinya mampu melawan keroyokan mereka malah mendesak mundur kedua musuhnya, betapa hatinya takkan senang.
Dalam pada itu dengan kesima Su Tat-jin menonton pertempuran seru ini dengan seksama, lambat laun berubah rona wajahnya, kedua biji matanya memancarkan rasa kebencian yang meluap-luap, samar-samar juga terunjuk rasa ragu sulit mengambil suatu keputusan.
Sementara itu, sinar putih kemilau dari seruling Hun Thian-hi terus berkembang berputar-putar di tengah gelanggang mengepung dua musuhnya.
Belum lama Su Cin serta adiknya kelana, baru pertama kali ini mereka menghadapi musuh tangguh, dalam waktu singkat mereka menjadi kelabakan dan keripuhan tak tahu cara bagaimana untuk bekerja sama menghadapi musuh karena kehilangan pegangan, maka gerak pedang mereka lambat laun juga menjadi tak terkontrol lagi, begitulah dalam suatu ketika mereka harus mengayun pedang untuk menangkis.
Melihat kedua musuhnya mengangkat pedang menangkis serangannya Hun Thian-hi tersenyum riang, tahu dia kalau pedang dan serulingnya saling bentrok tak ampun lagi pasti pedang kedua musuhnya bakal terpental terbang ke tengah udara terlepas dari cekalannya. Mereka adalah murid Pak-kiam yang sejajar dengan gurunya, hal inilah yang menjadikan penghambat gerak geriknya.
Semakin lama hati Su Tat-jin semakin berang dan kebat-kebit, pancaran matanya semakin buas dan mengandung hawa membunuh. Mendadak ia menghardik keras sekali, “Ni, sambutlah Badik buntung!” sejalur sinar hijau melesat terbang dari tangannya langsung melayang lewat disamping gelanggang pertempuran tiga kaki tingginya.
Begitu mendengar bentakan, Hun Thian-hi sangat terkejut, sedikitpun tiada tempo untuk ia pikir, sebat sekali tubuhnya bergerak terus mengejar ke arah Badik buntung yang meluncur itu.
Su Cin dan Su Giok-lan sendiri juga terperanjat, dengan muka merah padam mereka mengawasi Su Tat-jin.
Ditengah gelapnya kabut di sebelah sana terdengar pekik kejut yang tertahan, sinar hijau kelihatan berloncat dan terus melayang jatuh ke bawah jurang sana.
Su Cin serta adiknya berdiri terlongo tanpa membuka suara, wajah mereka menjadi pucat pias.
Tak lama kemudian Su Giok-lan membuka mulut kepada Su Tat-jin, “Paman! Ternyata Badik buntung itu betul berada ditanganmu!”
Su Tat-jin tertawa kering dua kali, ujarnya menyeringai, “Benar-benar! Badik buntung berada ditanganku. Tapi kalian harus tahu bahwa perbuatanku tadi adalah demi untuk kebaikan kamu berdua. Kalau aku tidak bertindak cepat, kukuatir kalian bakal terjungkal ditangannya”
“Tapi paman,” sela Su Cin cepat, “seharusnya kau tidak boleh berbuat demikian, dia adalah murid tunggal Seruling selatan….”
“Justru karena dia adalah murid tunggal Seruling selatan, maka aku bertindak demikian.” Demikian sambung Su Tat-jin, “apa kalian sudah lupa bahwa kalian adalah murid Pedang utara? Kalau kalian terkalahkan kemana muka guru kalian hendak ditaruh. Seruling selatan dan Pedang utara tergabung menjadi Hwe-siang-ki (sepasang manusia aneh di majapada tapi hakikatnya mereka sendiri belum pernah saling jajal kepandaian masing-masing, apa kalian sudah tahu?”
Su Cin dan adiknya bungkam. Mereka insaf bahwa dengan kekalahan mereka berdua melawan Hun Thian-hi mungkin akan merupakan noda hitam bagi ketenaran nama baik Pedang utara, bukankah sejak saat ini taraf antara Seruling selatan dan Pedang utara harus dibagi tingkatannya.
Kata Su Tat-jin pula, “Cin-ji! Lan-ji! Kalian harus tahu bahwa peristiwa pagi ini sekali2 tidak boleh diketahui orang luar, kalau tidak bukan saja kalian aku pun terseret pula, bagaimana selanjutnya kita harus berkecimpung dikalangan Kangouw. Kukira guru kalian juga menjadi sulit untuk angkat kepala di dunia persilatan!”
Berbareng Su Cin dan Su Giok-lan angkat dagu memandang ke arah Su Tat-jin, hati mereka maklum bahwa kata-kata tadi merupakan ancaman halus terhadap mereka.
Dengan tajam Su Tat-jin juga tatap mereka berdua, apa boleh buat akhirnya mereka menundukkan kepala. Su Tat-jin tertawa kering lagi dengan puas akan kemenangan, sambungnya lagi, “Sudah tentu, kalau kalian tidak mengobral mulut aku pun tetap bungkam. Sudahlah, mari kita turun gunung,” habis berkata ia mendahului berlari-lari kecil kebawah gunung.
Dengan lesu dan rawan Su Cin dan Su Giok-lan ikut turun gunung dengan langkah berat bergoyang gontai.
Dalam pada itu, begitu melihat Badik buntung meluncur tanpa pikir panjang serta melihat keadaan sekelilingnya Hun Thian-hi lantas melesat mengejar, syukur tangannya masih sempat meraih dan digenggamnya kencang, sementara itu badannya lantas meluncur turun. Tapi karena kabut sedemikian tebal pandangan menjadi gelap begitu tubuhnya meluncur turun terasa badannya koh terus melayang jatuh tanpa menyentuh tanah, keruan hatinya menjadi gugup, tanpa merasa ia lantas menjerit dengan kaget!
Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan tubuh untuk jumpalitan mumbul ke atas ngarai, tapi pandangan sekelilingnya remang-remang semuanya serba putih gelap. Begitulah badannya terus melayang kebawah, kini hatinya diliputi hawa amarah, sungguh tidak terkirakan olehnya baru pertama terjun ke gelanggang kericuhan dunia persilatan dirinya lantas masuk jebakan.
Samar-samar di depannya sana menyongsong dekat sebuah bayangan hitam besar, sekilas pandang saja Hun Thian-hi lantas tahu bahwa itulah sebatang pohon besar yang menjolor keluar dari batu-batu gunung di tengah kabut, keruan bukan kepalang girang hatinya. Sontak bangkit semangatnya tenaga dalamnya juga lantas bergairah keseluruh badan, cepat-cepat ia ulurkan tangan untuk meranggeh, ternyata usahanya tidak sia-sia dengan kencang ia kena menyekap sebatang pohon sehingga sesaat luncuran tubuhnya menjadi membal bergelantungan, baru saja hatinya kegirangan tak kira mendadak terdengar suara “krak!” dahan pohon terlalu kecil tak kuat menahan berat pantulan badannya, seketika badannya terjungkal pula kebawah.
Hun Thian-hi terperanjat, nurani untuk tetap mempertahankan hidup masih menyadarkan pikirannya, sekuatnya ia mengendalikan badan dengan kesempatan dahan pohon patah dan meluncur jatuh, kedua tangannya kuat2 menekan kebawah, sehingga tubuhnya lantas membal ke atas.
Dengan kencang ia berhasil sikap batu gunung untuk menahan badannya, suara gemuruh dari jatuhnya pohon besar tadi terus kumandang di bawah jurang sana, dengan saksama ia mendengarkan agak lama kemudian baru terdengar pohon besar itu jatuh menyentuh tanah.
Thian-hi menghela napas lega, hatinya bersyukur dan memanjatkan doa akan kebesaran hati Tuhan yang mulia. Jikalau pada batang pohon sebagai penangsang tubuhnya tadi, pasti dirinya sudah terbanting hancur lebur didasar jurang sana.
Sebentar ia mengheningkan cipta lalu angkat tangan meng-amat-amati Badik buntung ditangannya, terlihat olehnya Badik buntung itu berkilau memancarkan cahaya hijau yang cemerlang, hawa dingin meresap tulang. Dengan hati-hati ia masukkan Badik buntung ke dalam sarungnya, sejenak ia berpikir lalu pelan-pelan merambat turun kedasar jurang.
Setelah susah payah menghabiskan banyak tenaga akhirnya ia berhasil mencapai dasar jurang, didapati bahwa dasar jurang ini merupakan sebuah lembah subur akan semak belukar banyak batu-batu gunung yang berserakan pula, disebelah sana malah kelihatan onggok demi onggok tulang-ulang putih manusia.
Dengan jijik dan penuh kelelahan Hun Thian-hi berjalan menyusuri pinggir jurang terus merambat maju ke arah kiri sana. Kira-kira ia berputar setengah lingkaran. Tiba-tiba di depan sana dilihatnya sebuah gua besar. Dari dalami gua besar ini terbaur keluar hawa amis yang memuakkan, diam-diam mencelos hati Hun Thian-hi, ia menjadi kuatir dan was-was kalau gua besar ini menjadi sarang binatang buas atau berbisa yang sangat ganas sekali, itu akan membuat dirinya berabe.
Karena kesangsiannya ini segera ia menghentikan langkahnya, baru saja ia hendak berputar tinggal pergi, mendadak dari dalam gua sana terdengar suara orang bertanya, “Siapa itu!”
Hun Thian-hi tersentak kaget, sungguh diluar sangkanya bahwa gua besar ini ternyata dihuni oleh manusia. Legalah hatinya, maka dengan tertawa lebar segera ia beranjak mendekati ke arah gua besar itu, ingin ia melihat orang macam apakah kiranya yang tinggal dalam gua berbau busuk ini!
Baru saja kakinya melangkah sampai diambang gua, terdengar suara dengusan keras dari dalam, sejalur benang hitam terus melesat datang menerjang dirinya, Lagi-lagi Hun Thian-hi terperanjat dibuatnya, secara gerak reflek sebat sekali ia merogoh keluar Badik bumtung terus diayunkan keluar memapas maju.
Dimana sinar hijau berkelebat lewat bayangan hitam itu seketika putus menjadi dua terus terpental jatuh di atas tanah. Waktu ia menunduk kebawah kiranya itulah seekor ular.
Berkat ketajaman matanya dengan cermat Hun Thian-hi memandang ke dalam, samar-samar terlihat olehnya di atas sebuah batu besar duduk bersila seorang tua, berambut panjang warna merah, demikian juga jenggotnya berwarna merah, sepasang sinar hijau bening dari sorot matanya menembus keluar dari aling2 rambutnya yang awut2an menutupi mukanya, dengan seksama ia awasi Badik buntung ditangan Hun Thian-hi. Disekitar kakinya dimana ia duduk melingkar2 banyak macam ular-ular aneh besar kecil.
Sinar mata hijau bening dari orang tua berambut merah beralih dari Badik buntungnya kemuka Hun Thian-hi, biji matanya memancarkan rasa gusar dan kebencian yang meluap-luap.
Hun Thian-hi sendiri menjadi menjublek ditempatnya, hatinya tengah dirundung kecemasan.
Mendadak si orang tua berambut merah mendengus hidung, tubuhnya mendadak mumbul ke atas terus terbang maju dengan tetap bergaja duduk langsung menerjang ke arah Hun Thian-hi.
Bertambah kejut lagi hati Hun Thian-hi, orang tua berambut merah ini tanpa bergaja atau bergerak ternyata bisa mencelat tinggi terus meluruk datang, betapa tinggi kepandaiannya agaknya sudah mencapai Sia-ki-hwi-hing (terbang menghimpun hawa), kepandaian hebat begitu rupa bukan saja dirinya bukan tandingan, seumpama Suhunya sendiri Seruling selatan berhadapan secara langsung juga takkan mungkin dapat menandinginya.
Tahu ia bahwa aksi orang tua berambut merah ini tentu mempunyai tujuan yang tertentu, cepat-cepat ia bergerak mundur ke belakang seraya berseru, “Nanti dulu!”
Pedulipun tidak akan seruan Hun Thian-hi ini, si orang tua berambut merah tetap melesat tiba.
Terpaksa Hun Thian-hi mengayun tangan kanan, dengan jurus Jian-hong-in-long Badik buntungnya menyapu ke arah si orang tua berambut merah, Tampak si orang tua berambut merah mengebutkan lengan baju tangan kanan, kontan Hun Thian-hi merasa seluruh lengannya pegal, jalan darah pergelangan tangannya tertutuk, sudah tentu Badik buntung tak kuasa dipegangnya lagi langsung jatuh ke atas tanah. Tangkas sekali orang tua berambut merah menyamber dengan tangan kiri meraih Badik buntung itu. Sedang tangan kanan menjinjing tubuh Hun Thian-hi terus mencelat balik ke atas batu besar lagi. Dalam sejurus saja Hun Thian,hi teringkus oleh lawan. hatinya menjadi uring-uringan, dua jari tangan kirinya segera diulurkan untuk mencolok kedua biji mata si orang tua.
Tidak kalah lihay dan sebatnya tahu-tahu Badik buntung sudah mengancam ditenggorokan Hun Thian-hi. Baru sekarang Hun Thian-hi merasa bagaimana juga dirinya bukan menjadi tandingan si orang tua berambut merah ini, sudah terang kalah main licik pun tak unggulan. Akhirnya ia tertawa lebar sambil menurunkan” tangan kirinya.
Dengan tajam si orang tua berambut merah memincingkan mata memandangi mukanya, sorot matanya mengunjuk rasa heran dan kejut2 aneh, sejenak kemudian ia me buka suara, “Apa yang kau tertawakan?”
Dengan pandangan aneh Hun Thian-hi juga pandang si orang tua berambut merah ini, sahutnya, “Apa? Tak boleh tertawa?”
Si orang tua merenung sebentar. lalu katanya, “Badik buntung berada ditanganmu, kau tahu cara bagaimana aku akan menghadapimu?”
Sebetulnya tengkuk Hun Thian-hi sudah merinding melihat sorot pandangan si orang tua yang bengis mengandung hawa membunuh, tapi mulutnya tetap bandel, “Itu kan urusanmu, buat apa aku main tebak?”
Orang-tua berambut merah mendehem keras-keras, ujarnya, “Kau akan kujadikan umpan ular, supaya kau mati pelan-pelan.” — sambil berkata sinar matanya berkilat-kilat lalu sambungnya lagi, “Tapi jika kau minta ampun padaku, aku boleh memperingan hukumanmu!”
Hun Thian-hi tertawa dengan angkuhnya, ujarnya, “Minta ampun? Selamanya aku belum pernah minta ampun kepada siapapun juga!”
Pandangan si orang tua berambut merah berubah beringas penuh kemarahan, katanya sesaat kemudian, “Apa betul?”
Terasa oleh Hun Thian-hi kelima jari si orang tua berambut merah mencengkram semakin kencang, sampai pergelangan tangan kanannya sakit bukan main seperti tulang-ulangnya hancur luluh. Tapi akhirnya ia tetap bersikap keras kepala dan adem-ajem malah dengan congkaknya ia tersenyum simpul seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.
Akhirnya pandangan si orang tua berambut merah menjadi guram putus asa, mulutnya terdengar menggumam, “Bocah yang keras kepala!” — lalu ia menundukkan kepala, sesaat kemudian ia angkat dagu memandang muka Hun Thian-hi, wajahnya mengulum senyum sadu.
Dengan pancaran sinar yang bersifat congkak dan berani Thian-hi bersiap menerima siksaan kedua dari si orang tua berambut merah.
Ternyata pelan-pelan si orang tua berambut merah melepas pergelangan tangan Thian-hi. sekilas dilihatnya seruling batu pualam yang tergantung dipinggangnya, hidungnya lantas mendengus hina, pancaran matanya sekarang berganti penuh kemarahan dan bermusuhan.
Hun Thian-hi tak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh si orang tua berambut merah, tapi dari sinar matanya yang penuh kebencian dan bermusuhan ini tak perlu dijelaskan lagi, hatinya sudah membadek (menebak) cara bagaimana si orang tua rambut merah ini hendak menjadikan dirinya bulan2an. Apakah mungkin aku kuat menerima siksaan berat demikian, ia membatin.
Setelah berkilat-kilat sebentar si orang tua berambut merah berkata, “Cara bagaimana kau turun kemari?”
Hun Thian-hi tercengang, hatinya menjadi heran kenapa si orang tua berbalik menanyakan hal ini, sejenak ia ragu-ragu dan curiga, akhirnya ia tertawa tawar, ujarnya, “Kau tak perlu tahu.”
“Karena digasak oleh musuh besarmu?” tanya si orang tua rambut merah tak acuh.
Thian-hi semakin heran akan perubahan sikap si orang tua yang menjadi sabar dan kalem, sejenak ia tatap mata orang tanpa membuka suara.
Si orang tua rambut merah tertawa aneh, ujarnya lagi, “Akupun digasak terjungkal kesini oleh musuhku, untung tidak sampai menemui ajal, sayang kedua kikiku ini buntung, jadi tak berdaya pula untuk dapat keluar dari tempat terkurung ini!”
Sejenak ia berhenti, matanya memandang Hun Thian-hi, melihat orang tetap membisu lalu ia menyambung lagi, “Aneh, dengan bekal kepandaianmu ini, jatuh dari Ngarai curam sedemikian tinggi tidak mati ini sudah cukup untung dan besar rejekimu, tapi kenapa sedikit luka saja tidak kau derita?”
Hun Thian-hi tertawa, lebar dengan takabur, katanya, “Kau sangka aku digasak jatuh Kesini? Tidak, hanya karena kebodohankulah sehingga aku tertipu jatuh kemari!”
Si orang tua berambut merah menjengek dingin; ujarnya, “Jangan kau terlalu membanggakan dirimu sendiri, kena tipu? Apakah kau tidak merasa malu?”
Kontan mendidih darah Hun Thian-hi bagai dibakar, raut muka merah padam saking menahan gusar, namun mulutnya tetap terkancing tiada alasan untuk main debat.
Kata orang tua rambut merah lagi, “Apa kau ingin naik ke atas pula?”
Hun Thian-hi menjadi melenggong, pikirnya, “apakah orang tua rambut merah ini sudah merubah maksudnya semula? Kenapa nada perkataannya berubah begitu besar? Karena berpikir demikian ia lantas tertawa riang, katanya, “Masa kau sendiri tidak ingin naik?”
Si orang tua menengadah memandang puncak gua, tiba-tiba ia tertawa aneh lagi, katanya, “Ya, benar-benar. Aku tidak ingin naik, tapi aku dapat membantumu naik!”
Kini berbalik Hun Thian-hi mengerut kening, hatinya was-was, hidungnya mendengus tanpa bicara,
Orang tua itu menepekur sebentar lalu berkata lagi, “Tapi setelah kau naik ke atas, dengan bekal ilmu silatmu sekarang, apa pula yang dapat kau kerjakan?” habis berkata ia tertawa geli penuh nada menghina.
Hun Thian-hi pun tidak mau kalah congkaknya, debatnya, “Walaupun ilmu silatku sekarang belum cukup tinggi tapi usiaku masih muda, kau sendiri kau sudah tua bangka dan rejot, tinggal menunggu ajal saja masa kau tahu kalau kepandaianku tak bisa menandingi kau?”
Terpancar rasa bangga dan puas dalam pandangan mata si orang tua rambut merah, katanya kemudian, “Punya pambek! Tapi kalau tidak berjodoh juga akan sia-sia belaka.”
Lama, dan, lama sekali Hun Thian-hi meng-amat-amati si orang tua berambut merah tanpi membuka suara, Dia merasa heran kenapa si orang tua rambut merah ini tidak marah lagi, dan yang lebih menbuatnya tak habis mengerti kenapa orang tua ini tidak menyinggung lagi tentang Badik buntung dan Seruling batu pualamnya? Kedua benda pusaka ini hakikatnya seperti mempunyai sesuatu hubungan erat dengan orang tua renta aneh ini, kenapa ia tidak menanyakan perihal kedua benda ini lebih lanjut?
Ujar si orang tua, “Aku dapat mengangkatmu menjadi seorang tokoh silat ncmor satu di seluruh kolong langit ini!”
Hun Thian-hi mandah tertawa ewa tanpa menunjukkan sesuatu reaksi.
“Jangan kau mengejek,” ujar si orang tua, “Ketahuilah jika dulu aku jadi melancarkan jurus tunggalku, yang terjatuh ke dalam jurang sini tentu bukan aku. sebaliknya adalah mereka berdua.”
“Nah, kenapa tidak kau lancarkan?” cemooh Hun Thian-hi.
Si orang tua terkekeh dua kali, ujarnya, “Mungkin kelak kau akan tahu sendiri!”
Hun Thian-hi menebak2 dalam hati, tapi ia tidak mau banyak tanya lagi.
Si orang tua angkat tangan kirinya yang menyekal Badik buntung, katanya, “Badik pusaka tiada tandingan di kolong langit ini, ditambah dengan jurus tipu ilmuku yang kunamakan Jan-thian-ciat-te (pencacat langit pelenyap buana), kiranya cukup untuk menjagoi di seluruh dunia persilatan!” lalu ia tertawa nyengir penuh misterius, tiba-tiba ia lempar Badik buntung itu ke arah Hun Thian-hi.
Dengan gugup Hun Thian-hi menampani Badik buntung itu, hatinya penuh tanda tanya….
Setelah mengerling ke arah Hun Thian-hi sembari tersenyum simpul si orang tua mengambil sebatang pedang dari bawah batu, katanya, “Lihat dengan cermat jurusku Jan-thian-ciat-te ini!” Setelah berkata tubuhnya lantas bergerak melejit tinggi, berbareng pedang panjangnya melingkar terayun membuat setengah bundaran di tengah udara, seketika bayangan sinar pedang berkilau laksana bentuk gunung, berputar dan bergerak gesit laksana tebaran bintang-bintang di langit, hawa pedang berkembang dingin membeku laksana ular emas melingkar yang menari menjadi gambaran abstrak di tengah udara.
Lima tombak sekelilingnya dilingkupi samberan deras hawa pedang, terdengar suara “plak-plok” ledakan lirih ditengah udara berulang kali sampai memekakkan telinga!
Hun Thian-hi sendiri juga terdesak mundur keterjang angin lesus yang berputar cepat sampai terhujung beberapa tindak, diam-diam hatinya mencelos, batinnya dengan kehebatan ilmu pedang yang tiada taranya ini, ucapan si orang tua berambut merah memang bukan omong kosong belaka.
Si orang tua menarik permainan pedangnya, sekilas ia melirik ke arah Hun Thian-hi, air mukanya lagi-lagi mengunjuk senyum misterius penuh arti, tanpa bertanya dulu pada Hun Thian-hi secara tekun dan pelan-pelan ia terangkan intisari pelajaran jurus tipu Jan-thian-ciat-te ini kepada Hun Thian-hi.
Sambil memberi keterangan dengan pelan secara terperinci sekali lagi ia praktekkan secara lamban supaya dapat diselami oleh Hun Thian-hi. Dengan tekun dan cermat Hun Thian-hi berdiri diam saja mendengarkan.
Terdengar orang tua rambut merah bertanya, “Masih adakah yang belum kau paham?”
Hun Thian-hi mandah tertawa-tawa saja, Badik buntung ditangan kanannya tiba-tiba bergerak sekitar tubuhnya menjadi terang benderang disinari oleh cermerlangnya cahaya hijau pupus yang menyilaukan mata….
Terunjuk sedikit perubahan pada air muka si orang tua rambut merah, sekilas biji matanya memancarkan hawa membunuh yang menyala-nyala, tapi hanya sebentar saja lantas hilang lagi. Sungguh tidak terduga olehnya bahwa Hun Thian-hi sedemikian berbakat dan pintar. Hampir-hampir ia tidak berani percaya akan penglihatannya sendiri.
Sambil memasukkan Badik buntung ke dalam kerangkanya, Hun Thian-hi berkata tawar, “Apakah begitu cara mainnya?”
Orang tua rambut merah mendengus dongkol, matanya berputar lalu katanya, “Sungguh tak kuduga ternyata kau berbakat benar-benar, mengandal jurus tipu pedang tadi ditambah dengan Badik buntungmu itu, aku berani pastikan di seluruh kolong langit ini kau tiada tandingan. Kau dapat turun dengan selamat menggunakan Badik buntung itu pasti juga kau dapat naik, bolehlah kau segera berangkat!”
Hun Thian-hi menjadi bimbang, katanya kepada orang tua rambut merah, “Bukankah katamu semula hendak menjadikan tubuhku sebagai umpan ular, kenapa sekarang kau lepas aku?”
Lagi-lagi orang tua rambut merah menampilkan mimik wajahnya yang aneh dan lucu, serunya sambil gelak tawa, “Kelak kau akan tahu”
“Kalau kau juga ingin keluar, mari kubantu kau!” demikian ajak Hun Thian-hi.
Orang tua aneh itu tercengang, matanya memancarkan cahaya aneh, dengan tajam ia pandang muka Hun Thian-hi, sebentar kemudian baru ia membuka mulut, “Kalau aku mau keluar, siang-siang aku sudah manjat ke atas, buat apa kau harus bantu aku!”
Hati Hun Thian-hi diliputi pertanyaan yang tak terjawab, heran ia kenapa orang tua ini tidak mau diajak naik ke atas, diam-diam ia menimang, pernah Suhunya memberitahu bahwa tokoh silat kosen di seluruh kolong langit yang pernah diceritakan itu agaknya tiada seorang seperti orang tua berambut merah ini.
Sementara itu, pandangan si orang tua juga teralih ke kempat lain. Hun Thian-hi coba-coba hendak mengorek keterangan, “Tapi kau mengajari jurus lihay itu kepadaku, aku tidak sudi terima budimu secara gratis, adakah sesuatu urusanmu yang perlu kulaksanakan?”
Orang tua rambut merah berpaling, ujarnya, “Kau merasa hutang budi? Karena aku mengajar sejurus ilmu pedang itu?” sampai disini ia bergelak tawa sekian lamanya, lalu sambungnya, “Kenapa aku menurunkan sejurus ilmu pedangku ini kelak kau akan maklum sendiri, sekarang silakan kau pergi!”
Sekian lama Hun Thian-hi menjadi ragu-ragu dan tak enak mati, akhirnya menjadi kewalahan katanya, “Kalau begitu baiklah aku pergi!” sambil berkata ia putar tubuh terus keluar.
Memandang punggung Hun Thian-hi orang tua rambut merah menyengir seram dan menyeringai dingin, seolah-olah ia sudah melaksanakan sesuatu pekerjaan yang sangat menyenangkan hatinya.
Sampai diambang mulut gua, mendadak Hun Thian-hi memutar badan dan bertanya, “Tapi siapakah namamu?”
Berubah airmuka orang tua rambut merah, jawabnya mendengus tak sabaran, “Dalam kelanamu di Bulim kau akan tahu siapa aku ini Sudahlah berangkat jangan cerewet!”
Hun Thian-hi memutar tubuh terus keluar gua, tak jauh kemudian ia duddk bersila memusatkan pikiran menghimpun tenaga, lalu dikeluarkan Badik buntung dengan senjata ampuh inilah ia selangkah demi selangkah merambat naik. ke atas tebing yang curam itu.
Setelah susah payah kira-kira pada tengah hari baru ia sampai diatas, perut terasa lapar dan tenagapun seperti terkuras habis, lagi-lagi ia duduk bersila memejamkan mata beristirahat, kira-kira setengah jam kemudian matanya terbuka lagi.
Sejenak ia menerawang keadaan sekelilingnya, dalam benaknya terbayang wajah Su Tat-jin, Su Cin dan Su Giok-lan, ujung mulutnya mengulum senyum ejek dan mendengus hidung, pelan-pelan ia bangkit terus berlari pesat turun gunung.
Setelah matahari tenggelam tabir kegelapan malam mulai menelan bumi, tampak dimana-mana sudah menyulut pelita, saat itu Hun Thian-hi beranjak pula menuju kegedung Su Tat-jin yang megah dan angker itu.
Dimana tubuhnya bergerak melayang enteng ke arah samping sana seperti daun jatuh hinggap di atas wuwungan rumah, terus meluncur lagi turun ke dalam ruang besar perjamuan.
Keadaan ruang besar terang benderang suasana ramai bersuka ria, agaknya Su Tat-jin tengah merajakan kemenangannya dan menjamu para tamunya.
Begitu Hun Thian-hi melayang turun dalam ruang besar itu, seketika berubah hebat rona wajah Su Tat-jin, suasana yang riuh rendah tadi saketika menjadi sunyi senyap, begitu hening seumpama jarum jatuh juga bisa terdengar.
Pelan-pelan Hun Thian-hi menggerakkan kepalanya dengan pandangan menghina dan memincingkan mata ia tatap semua hadirin, akhirnya pandangannya berhenti pada wajah Su Cin dan adiknya
Rada lama ia tatap mereka bergantian, akhirnya tercetus jengek sinis dari mulutnya, “Bagus benar-benar sepak terjang murid Pedang utara “
Kakak beradik ini menundukkan kepala saking malu, namun dikejap lain tiba-tiba Su Giok-lan angkat kepala dengan mata mendelik ke arah Hun Thian-hi semprotnya, “Orang she Hun, jangan kau mendesak dan menghina orang, peristiwa itu bukan perbuatan kita berdua, apa maksudmu dengan murid Pedang utara apa segala!”
Hun Thian-hi menyeringai sinis kepalanya berpaling ke arah Su Tat-jin, katanya, “Sebetulnya tiada niatku mencari perkara kepadamu. Tapi sekarang aku tak bisa melepasmu lagi, marilah perhitungan lama dan baru ini kita selesaikan sekarang.
Su Tat-jin menyapu pandang kepara tamunya, matanya berjelilatan, katanya sembari bangkit dari tempat duduknya. “Banyak orang tahu, betapa besar budi Hun Siau-thian Hun-toako kepadaku laksana setinggi gunung. Meskipun aku Su Tat-jin tidak bisa membalas budi kebaikannya itu, tapi aku sudah bekerja sekuat tenagaku.”
Ia menundukkan kepala lalu merendahkan suara, sambungnya, “Waktu Hun~toako menghilang dulu aku sudah berdaya upaya dengan seluruh kemampuanku untuk mencari jejaknya, akhirnya….”
Mendadak ia angkat kepala serta bersuara keras; Akhirnya aku tahu sebab musabab menghilangnya Hun-toa, beliau menghilang karena Badik buntung yang menjadi miliknya itu. Tokoh-tokoh lihay dalam dunia persilatan ini, ada berapa banyak yang ilmu silatnya bisa mengungguli Hun-toako?”
Kata-katanya dilembari nada yang penuh keibaan, matanya dingin menyapu seluruh orang gagah yang hadir, akhirnya pandangan matanya berhenti pada wajah Hun Thian-hi.
Bercekat hati Hun Thian-hi terang dengan kata-katanya ini Su Tat-jin bermaksud mengobarkan kemarahan hati seluruh hadirin, meski ia tidak takut menghadapi profokasi ini, namun ia harus menghindari salah paham dengan orang lain.
Maka cepat2 ia bergerak dan berseru lantang, “Ucapan Su Tat-jin ini hanya bualan belaka, jangan kalian percaya akan obrolannya ini.”
“Banyak orang tahu bahwa musuh besar Hun-toako adalah Sam Kong Lama,” begitulah cepat-cepat Su Tat-jin memainkan diplomasinya, “Untuk merebut Badik buntung itulah maka ia mencelakai Hun-toako, dan Badik buntung itu kini berada ditangannya,. Coba kalian lihat, Badik buntung itu kini berada ditangan bocah yang mengakui bernama Hun Thian-hi ini, darimana ia bisa tahu sama yang hendak kukatakan? Darimana pula ia tahu kalau ucapanku ini bohong belaka?”
Hun Thian-hi membalik tubuh menghadapi Su Tat-jin, semprotnya gusar; ….Diplomasimu memang cukup lihay, kau kira kau bisa bebas dari kematian?”
Su Tat-jin melirik ke arah Su Cin dan Su Giok-lan, mestinya mereka sudah menggerakkan mulut hendak bicara, namun lantas urung dan menundukkan kepala.
Kata Su Tat-jin kepada Hun Thian-hi, “Kau tidak memandang mata seluruh orang gagah disini bukan?” demikian pancihgnya sembari menyapu pandang keseluruh gelanggang.
Hun Thian-hi menggerung keras, gesit sekali ia bergerak terus menubruk ke arah Su Tat-jin.
Tapi dalan waktu yang sama tiba-tiba seseorang membentak keras dibelakangnya, “Bocah she Hun jangan kau takabur dan menghina orang.”
Belum lenyap suara ini sepasang sumpit tahu-tahu meluncur kencang mengarah punggung Hun Thian-hi.
Laksana angin lesus sebat sekali badan Hun Thian-hi bergerak memutar dan mengacungkan kedua jari tangan kanannya tahu-tahu kedua sumpit terbang itu sudah kejepit dicelah-celah jari tangannya.
Berkilat matanya memandang ke arah sana, ternyata penyerang gelap ini adalah seorang laki-laki pertengahan umur yang mendelik memandang dirinya.
Hun Thian-hi tidak tahu sikapnya yang sombong dan perbuatannya meniup seruling itu sudah menimbulkan rasa dongkol dan tak senang seluruh hadirin, kini dibakar dan diprofokasi lagi dengan ucapan Su Tat-jin yang tajam tepat menusuk ke lubuk hati mereka, semakin besar rasa benci seluruh hadirin terhadap dirinya.
Sesaat Hun Thian-hi menjadi melongo dan menjublek di tempatnya, tak tahu ia apa yang harus diperbuatnya atas laki-laki pertengahan umur ini.
Melihat sikap Hun Thian-hi yang acuh tak acuh itu, laki-laki pertengahan umur itu mengira Hun Thian-hi sengaja bersikap tidak memandang sebelah mata pada dirinya, maka hardiknya, “Seluruh orang gagah di kolong langit banyak yang hadir disini, seumpama kau betul adalah murid Seruling selatan, kita tidak akan membiarkan kau bertingkah dan main gagah2an disini.”
Hun Thian-hi coba berlaku sabar katanya pelan-pelan, “Kelatanganku hari ini bukan ingin mencari perkara dengan kalian, tujuanku yang utama adalah Su Tat-jin.”
Selesai berkata pelan-pelan setindak demi setindak ia maju ke arah Su Tat-jin.
Su Tat-jin mandah menyeringai dingin, ia tahu sikap lun Thian-hi ini tentu dapat mengobarkan kemarahan seluruh hadirin, maka untuk peristiwa selanjutnya dirinya boleh enak-enak duduk di tempatnya tinggal menonton pertarungan saja.
Salah besar dugaan Hun Thian-hi, sangkanya dengan sekedar penjelasannya tadi cukup menyelesaikan segala urusan, tak disadarinya bahwa dengan perkataannya tadi justru lebih mempertebal keyakinan seluruh orang-orang gagah yang hadir akan sifatnya yang takabur dan memandang ringan seluruh hadirin, maka begitu ia bergerak maju, lantas terlihat dua orang bangkit berdiri malah terus menerjang ke arah dirinya, yang satu menggablok punggung sedang seorang lain membabat pinggangnya.
Terpaksa Hun Thian-hi menggerakkan Serulingnya, tanpa membalik tubuh serulingnya menutuk dan menangkis serangan kedua musuh pembokong ini, untuk menolong diri terpaksa kedua penyerang ini melompat mundur.
Seluruh hadirin terbakar kemarahannya, serempak Semua erdiri dan meluruk maju bersikap mengancam, bila perlu akan main keroyok tanpa pandang bulu lagi.
Su Cin dan Su Giok-lan menjadi gelisah, namun serta melihat Su Tat-jin tengah melirik dengan pandangan dingin ke arah mereka mencelos hatinya, kata Su Tat-jin sembari maju mendekat, “Hakikatnya Hun Thian-hi tidak percaya lagi pada kalian, buat apa kalian hendak menolong ia?”
Su Cin dan Su Giok-lan bungkam sembari menundukkan kepala, waktu angkat kepala lagi terlihat Hun Thian-hi tengah melancarkan ilmu Thian-liong-chit-sek seruling ditangannya berputar lincah gagah perwira ia tengah berkutet melawan sekian banyak pengepungnya, namun dasar kepandaiannya memang hebat setiap kali terlihat sinar putih berkelebat dan menutuk satu persatu para pengepungnya terjungkir balik dengan jalan darah tertutuk.
Berubah air muka Su Tat-jin, katanya kepada Su Cin dan Su Giok-lan, “Sudah saatnya kita tinggal pergi.”
“Tidak….” sahut su Giok-lan beragu.
Su Tat-jin berpaling menatap ke arahnya, tanyanya, “Kau tak mau pergi?”
Su Giok-lan menunduk tanpa menjawab. Maka Su Tat-jin segera mendahului beranjak masuk ke belakang.
Dengan bekal kepandaiannya yang lihay sebetulnya Hu Thian-hi tidak perlu gentar menghadapi keroyokan sedemikian banyak orang, namun semakin banyak pengerojoknya gerak-geriknya menjadi sedikit terhalang, kini melihat Su Tat-jin hendak melarikan diri, tiba-tiba ia menghardik keras jurus-jurus Thian-liong-chit-sek lantas dilancarkan semakin kencang, dengan tipu Lui-thian-hwi-theng (kilat dan geledek menyamber2), seruling pualamnya berputar menyilang menyapu mundur para pengepungnya, badannya lantas mencelat terbang mengejar.
Sudah tentu para orang gagah yang mengeroyoknya itu tak tinggal diam, be-ramai-ramai merekapun memburu dengan kencang.
Bukan kepalang gusar Hun Thian-hi, tahu-tahu serulingnya menutuk membalik telak sekali seorang yang memburu paling depan kena tertutuk jalan darahnya kontan terjungkal dan diinjak2 oleh para kawannya sendiri, gerakan Hun Thian-hi masih tidak berhenti tanpa hiraukan korbannya kakinya menjejak tanah terus meluncur mengejar ke arah Su Tat-jin. Di lain kejap ia sudah tiba diserambi panjang, sesudah memutar dua pengkolan terlihatlah ketiga orang buronannya, laksana seekor burung elang segera ia menubruk tiba.
Su Tat-jin terkejut, katanya kepada Su Cin berdua, “Kalian maju rintangi dia sebentar.”
Sejenak Su Cin “berdua” ragu-ragu, tapi akhirnya melolos pedang terus menghadang di depan Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi mengayun seruling mengembangkan tipu-tipuan ia mendesak mundur mereka berdua, mulutnya menjengek dingin, “Bukan kalian yang kucari!”
Su Cin berdua menjadi serba runyam tiada tempo buat mereka untuk menerangkan, apalagi mendengar sindiran Hun Thian-hi ini hampir-hampir Su Giok-lan melelehkan air mata, dengan mengertak gigi ia nekad merangsak maju menusuk ke arah Hun Thain-hi.
Ilmu seruling Hun Thian-hi memang cukup hebat terlihat sedikit bergetar tahu-tahu serulingnya menjungkit dan menyampok turun, sekaligus ia tangkis dan sampok miring pedang panyang lawan, sebat sekali tahu-tahu ia menerobos lewat diantara celah-celah kosong ini terus mengejar ke arah mana Su Tat-jin telah melenyapkan diri.
Dengan mengeluh tertahan Su Cin berdua kirim pukulan jarak jauh dengan kepalan tangan kiri untuk merintangi tindakan Hun Thian-hi, terpaksa ia merandek sejenak sembari dan menggerakkan serulingnya mendesak mundur mereka berdua.
Sedikit hambatan ini, sementara itu para orang gagah yang mengejar sudah tiba, tanpa kuasa Hun Thian-hi terkepung lagi dengan ketat….
Sinar pedang berkelebat menyambar2, namun bayangan seruling Thian-hi pun tidak kalah gesit bergerak, namun menghadapi sekian banyak serangan dari berbagai penjuru akhirnya Thian-hi terdesak juga di bawah angin. Apalagi dengan rangsekan Su Cin berdua yang berkepandaian cukup tinggi, semakin payah keadaannya.
Dalam pada itu bayangan Su Tat-jin sudah tidak kelihatan lagi, saking murka dada Hun Thian-hi terasa hampir meledak, dengan menggertak keras tangan kirinya tiba-tiba terayun, tahu-tahu Badik buntung sudah tergenggam ditangannya, dimana sinar hijau pupus berkelebat dua batang pedang yang menyamber tiba kontan terpapas kutung menjadi dua.
Para pengepung menjadi kaget, serempak mereka menyurut mundur dengan ketakutan. Terpecik dalam benak mereka bahwa ucapan Su Tat-jin barusan memang kenyataan. Bukankah Badik buntung sudah berada ditangan Hun Thian-hi….
Para pengepung itu hanya sedetik saja beragu lantas merangsek semakin hebat dengan kemurkaan yang berkobar.
Hun Thian-hi mandah tersenyum sinis sembari melirik ke arah Su Cin berdua.
Keruan hati Su Cin dan Su Giok-lan menjadi mendak seperti ditusuk sembilu, namun urusan sudah berkembang sedemikian larut terpaksa biarlah terus berlanjut tanpa berkesudahan.
Dengan bersenjatakan Badik buntung di tangannya, Hun Thian-hi bertambah besar, seruling pualam di tangan kanan ditanggalkan di pinggangnya, sedang Badik buntung dipindah ke tangan kanan, dengan menggerung keras segera ia terjang para orang-orang gagah yang mengepung itu.
Dimana sinar hijau pupus berkelebatan, para orang-orang gagah menjadi terdesak mundur tanpa berani melawan tajaman senjata sakti ini, akhirnya mereka mundur-mundur terus sampai di halaman belakang.
Tapi bayangan Su Tat-jin memang sudah tak kelihan lagi entah sudah merat kemana, sudah tentu rasa dongkol dan kemarahannya lantas ditimpahkan kepada para pengepungnya, gesit sekali tubuhnya bergerak terbang menerobos serambi panjang terus menerjang ke dalam halaman tengah terus meluncur di tengah gelanggang.
Baru saja ia hinggap di tanah lantas ia merasa situ rada ganjil, didapatinya bahwa perhatian seluruh hadirin ternyata tidak dipusatkan kepada dirinya sebaliknya terus mendelong mengawasi satu jurusan.
Ia memutar tubuh memandang ke arah sana terlihat di atas tembok tinggi sana berdiri dua orang, itulah Su Tat-jin dan seorang tua yang mengenakan jubah hitam, dua mata orang tua jubah hitam ini tengah menatap tajam ke arah Hun Thian-hi.
Secara langsung Hun Thian-hi lantas merasa bahwa orang tua jubah hitam im agaknya punya wibawa yang cukup angker, kalau tidak kenapa seluruh hadirin menjadi bungkam dan tak berani sembarangan bergerak, sedang Su Tat-jin sendiri juga kelihatan sangat tenang dan perhatian?
Sejenak Hun Thian-ki menyapu pandang sekelilingnya, sebaliknya orang tua jubah hitam disampingnya itu lantas membentak dengan nada rendah, “Siapa kau? berani bertingkah dan kurang ajar dihadapanku?”
Hun Thian-hi menyeringai dengan jongkak, sahutnya, “Siapa kamu aku tidak perduli.”
Su Tat-jin berkata melengking, “Haha, kiranya masih bau kerucut yang tidak tahu kebesaran nama Toh-bing-cui-hun Cu Hwi!”
Rada bercekat benak Hun Thian-hi ketenaran nama Cu Hwi sudahpernah didengarnya, bukan saja tinggi ilmu silatnya, terutama permainan senjata rahasia boleh dikatan jagoi seluruh dunia persilatan tiada tandingan. Adalah senjata rahasia pribadinya lain dari yang lain pula, begitu dikembangkan memang bukan gertakan belaka dapat mengejar sukma mencabut nyawa.
Cu Hwi tertawa dingin jengeknya, “Sungguh tak kuduga martabat seruling selatan ternyata begitu rendah.”
Berubah air muka Hun Thian-hi, dengan seringai sombong ia berkata menghina, “Aku juga tak menduga, Toh-bing-cui-hun yang kenamaan itu ternyata adalah berotak tumpul gampang diapusi bajingan tengik.”
“Memang sombong dan takabur sekali!” teriak Cu Hwi murka.
Kata Hun Thian-hi kepada Su Tat.jin, “Su Tat-jin, sungguh pintar akalmu, seluruh orang gagah di kolong langit ini gampang saja kau peralat untuk menjuai nyawa demi kepentinganmu.” habis berkata ia mendesak maju lebih dekat.
“Berhenti disitu!” bentak Cu Hwi di atas tembok.
Hun Thian-hi tak menghiraukan. Cu Hwi lantas mengulur tangan kanan jari tengahnya menjelentik, terdengarlah suara mendengung nyaring, sebuah gelang hitam berputar-putar ditengah udara terbang memutar terus melesat ke arah Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi mendengus hidung, tahu dia inilah satu senjata rahasia andalan Cu Hwi yang kenamaan dinamakan gelang mencabut nyawa.
Hun Thian-hi tak berani memandang enteng, dengan gagap dan penuh prihatin ia menggerakkan Badik buntung terus menutul ke arah gelang penyabut nyawa yang menyamber tiba. Namun ia kecele.
Gelang hitam itu terbang melintang berputar-putar di tengah udara satu bundaran lalu terbang kembali ketangan Cu Hwi.
Dengan senyum ejek dan dingin Cu Hwi menatap Hun Thian-hi.
Merah jengah muka Hun Thian-hi, terang ia sudah kalah dalam selintas jurus ini.
Alisnya bertaut dalam, tiba-tiba tubuhnya bergerak laksana burung manyar terus menerjang ke arah Cu Hwi.
“Bocah sembrono!” maki Cu Hwi, lagi-lagi tangan kanannya bergerak dua bilah pisau terbang meluncur memapak kedatangan Hun Thian-hi.
Begitu badan Hun Thian-hi meluncur cepat, Badik buntung lantas disodokkan ke depan tepat sekali menyambut kedua pisau terbang ini, maka dilain saat ia sudah hinggap di atas tembok dimana tadi Cu Hwi berdiri.
Terdengar Cu Hwi mendengus keras, hatinya dongkol dan tak senang menghadapi sikap Hun Thian-hi yang berandal dan takabur. Namun demikian toh ia tidak gampang jebak dalam tipu muslihat Su Tat-jin, tahu dia bahwa apa yang dikatakain Su Tat-jin belum tentu benar-benar, tapi juga kemungkinan ada betulnya, maka ia tidak segera ambil suatu kepastian total, yang pasti ia hanya ingin menyapu bersih sikap Hun Thian-hi yang sombong ini.
Tangannya membalik melolos pedang panjangnya terus meluncur menyerang ke arah Hun Thian-hi.
Terpaksa Hun Thian-hi juga membalikkan tangan untuk memapas pedang panjang ditangan Cu Hwi. Segera Cu Hwi kembangkan ilmu pedangnya yang lihay, seketika ia lancarkan serangan berantai lima enam jurus, maksudnya hendak mendesak Hun Thian-hi terjungkal ke tanah.
Hebat kepandaian Hun Thian,hi, sembari menggertak keras, Badik buntung bergerak lincah balas menyerang, tapi serangan Cu Hwi juga cukup gencar sehingga Hun Thian-hi terdesak mundur berulang-ulang.
Terpaksa Hun Thian-hi merogoh keluar seruling pualamnya, dalam seribu kerepotannya menjaga diri segera dikembangkan ilmu Thian-liong-chit-sek terus memberondong ke arah Cu Hwi.
Cu Hwi pun tidak mau kalah wibawa, pedang ditangannya ditarikan secepat kitiran, namun toh terdesak dua langkah, hatinya menjadi kaget sekali. Sungguh diluar perhitungannya bahwa Hun Thian-hi kiranya membekal kepandaian silat yang begitu tinggi dalam jangka dua tiga tahun mendatang mungkin tiada tandingannya, dikolong langit.
Karena pikirannya ini serempak tangan kanannya dibolang-balingkan, selarik sinar putih berkilau meluncur bergantian saling susul, itulah pisau terbang yang disambitkan ke arah Hun Thain-hi.
Untuk menyelamatkan diri terpaksa Hun Thian-hi memutar dan menggerakkan seruling dan Badik buntung bersama, namun timpukan pisau terbang musuh memang punya caranya sendiri, ditengah jalan mendadak luncuran pisau terbang itu berubah arah menukik kebawah, keruan kejut. Hun Thian-hi bukan main cepat-cepat ia menggeser kaki menyurut mundur kesamping, meski ia sudah berlaku sebat tak urung ketiga batang pisau terbang itu menembus lengan bajunya terus menancap didinding dibelakangnya…. Terdengar Cu Hwi tertawa dingin berulang-ulang.
Melihat Cu Hwi hanya main gertak belaka tiada tanda2nya hendak membunuh Hun Thian-hi, Su Tat-jin menjadi sengit segera ia berseru memberi aba-aba, “Hayo maju semua!”
Banyak diantara pengepung itu yang sudah merasakan kelihayan Hun Thian-hi, rasa dongkol dan penasaran belum sempat terlampias, kini mendengar aba-aba yang memberikan kesempatan untuk menuntut balas ini, segera mereka serabutan menerjang maju bersama secara membabi buta.
Hun Thian-hi menggembor keras dan panjang, tangan kanannya menarik sekuat tenaga “bret!” lengan bajunya yang kepanjangan sobek saparo, disusul ia mengayun Badik buntung melancarkan jurus Jan-thian-ciat-te yang ganas itu. Lima tombak sekitar gelanggang pertempuran seketika terkurung dalam jangkauan serangan jurus yang lihay ini, sinar hijau kemilau hanya berkelebat cepat laksana kilat terus lenyap tanpa bekas. Namun akibatnya adalah dahsyat sekali dan mengerikan.
Dalam gelanggang tampak mayat bergelimpangan, hanya Su Cin berdua dan Su Tat-jin serta Cu Hwi yang kehilangan sebelah lengannya saja yang masih ketinggalan hidup.
Hun Thian-hi terlongong-longong menjublek di tempatnya. Seperti patung kaju tak bergerak. Dengan dihantui kemarahannya ia melancarkan jurus pelajaran dari orang tua rambut merah, sungguh diluar tahunya bahwa akibat dari serangannya itu ternyata begitu mengerikan.
Begitu jurus ganas itu mulai dilancarkan lantas segulung tenaga yang begitu besar mengendalikan nuraninya sehingga tanpa kuasa Badik buntung ditangannya terlanjur mengarah keleher para musuhnya, dia sendiri sampai heran dan terkesima mengapa ia tak mampu mengendalikan diri lagi.
Dengan muka pucat pias Cu Hwi mendesis, “Kejam benar-benar! Asal aku Cu Hwi sehari masih hidup, akan datang saatnya pembalasanku!” habis berkata ia terus berlari sipat kuping.
Demikian juga keadaan Su Tat-jin yang pucat pasi, terhuyung-huyung ia tersurut mundur terus mendoproh dikaki dinding dengar badan lemas lunglai tak mampu bergerak lagi.
Adalah Su Cin dan adiknya yang berdiri rada jauh diluar gelanggang selamat dari bencana mengerikan ini. Namun demikian menyaksikan pemandangan yang mengerikan ini tak urung berubah pucat dan ketakutan, lama dan lama kemudian baru mereka saling pandang terus berlari sekencang-kencangnya.
Tinggal Hun Thian-hi yang kesima mengawasi mayat-mayat tak berkepala dengan muka pucat, seolah-olah ia tak sadar dan tak tahu apa yang telah terjadi barusan, yang masih terpercik dalam ingatannya hanyalah dengan jurus Jan-thian-ciat-te tadi sekaligus ia telah bunuh semua orang ini, tak tahu bagaimana ia bekerja dalam waktu sesingkat itu telah mengutungi sedemikian banyak kepala musuh, terasa pandangannya menjadi gelap otaknya seperti kosong hampa.
Agak lama kemudian baru tercetus gumam dari mulutnya, “Jurus sesat! Jurus sesat.” sembari berteriak ia berlari sempoyongan dengan kedua tangan menutup mukanya….
Bulan purnama tengah memancarkan sinar redup memutih perak menerangi seluruh jagat raja, tampak seorang pemuda tengah bergoyang gontai berjalan menyusuri jalan raja yang dipagari pohon-pohon rindang. Ditimpah sinar bulan nan menyejukkan jelas kelihatan muka si pemuda yang murung seperti dirundung kemalangan entah kekisruhan apa yang tengah membelit hatinya. Sinar kemilau bergoyang2 dari sebatang seruling batu pualam yang tergantung di pinggangnya.
Pelan-pelan ia angkat kepala memandang ke arah bulan nan jauh di cakrawala, tak terasa kakinya berhenti melangkah entah apa yang tengah dipikirkan, tak lama kemudian ia mulai beranjak lagi ke depan dengan langkah berat.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan hitam melesat keluar dari dalam rimba di pinggir jalan, persis hinggap ditengah jalan raja dan mencegat di hadapannya….
Segera si pemuda menghentikan langkahnya, pelan-pelan ia berpaling ke arah hutan gelap di pinggir kanannya lalu berputar menghadapi orang di hadapannya ini.
Kiranya itulah seorang Lama yang mengenakan jubah kuning tua, dari penerangan sinar bulan jelas kelihatan, lama jubah kuning ini tak lain tak bukan adalah musuh besar gurunya dulu, yaitu Sam Kong Lama.
Agak lama Sam Kong Lama memicingkan mata mengawasinya, baru ia membuka mulut, “Apakah kau ini yang bernama Hun Thian-hi?”
Mendengar pertanyaan ini si pemuda rada bimbang, sesaat baru ia menyahut, “Ya, betul!”
Sam Kong Lama bergelak tawa sekeras-kerasnya, ujarnya, “Sungguh besar nyalimu. Sebetulnya tiada niat aku mencari kau, tapi kudengar kau sekaligus telah membunuh puluhan tokoh-tokoh silat kenamaan, malah mengutungi sebelah lengan Toh-bing-cui-hun Cu Wi, apakah berita itu benar-benar adanya?”
Hun Thian-hi meragu, “Benar-benar!” akhirnya ia mengakui dengan lantang.
Sam Kong Lama menyeringai dingin, jengeknya, “Sungguh tak duga Seruling selatan punya murid muda yang berhati kejam telengas melebihi kebuasan binatang. Terang dia tak mampu mendidik muridnya, biarlah aku saja yang memberi hajaran!”
Hun Thian-hi tersenyum sombong, ujarnya, “Lebih baik aku bunuh diri di hadapan guruku daripada menerima hajaranmu. Ketahuilah sepak terjang murid Seruling selatan selamanya tak sudi dikekang orang lain.”
Sam Kong Lama menyeringai dingin, katanya, “Cukup gagah dan besar nyalimu, tak malu menjadi murid Lam-siau. Tapi sepak terjangmu hari ini seumpama Lam-siau sendiri hadir disini, beliau takkan berani merintangi aku untuk menghajar adat kepadamu.”
Berubah air muka Hun Thian-hi, ia maklum bahwa jurus serangan yang dilancarkan itu terlampau ganas dan besar akibatnya. Tak heran orang tua berambut merah tak membunuhnya malah mengajarkan ilmu yang hebat ini, kiranya mempunyai maksud-maksud tersembunyi. Dengan peristiwa yang telah dialaminya ini, terasa betapa menderita pukulan batin yang menimpa dirinya rasanya lebih besar derita yang menimpa dirinya dari pada dibunuh oleh si orang tua berambut merah….
Akhirnya ia tertunduk tanpa bicara, sementara Sam Kong Lama langkah demi langkah menghampiri semakin dekat.
“Tidak!” mendadak Hun Thian-hi angkat kepala dan berteriak tegas.
Sam Kong Lama terhenyak.
Dalam benak Hun Thian-hi tengah membatin, sakit hati orang tua masih belum terbalas betapapun aku tidak sudi dikekang orang lain, apalagi peristiwa ini terjadi bukan karena disengaja.
Maka kata Hun Thian-hi lantang, “Tidak, betapapun aku tidak rela menerima cercah kalian.”
Raut muka Sam Kong Lama berkerut-kerut menampilkan rasa gusar, katanya, “Semakin kau berkukuh dosamu semakin tak berumpun, akan kuseret kau kehadapan gurumu, coba kulihat cara bagaimana dia akan mendidikmu sekali lagi!”
Hun Thian-hi menanggalkan serulingnya sembari tertawa panjang, ujarnya, “Kalau kau mampu membekuk aku, dengan senang hati aku ikut kepadamu.”
Sam Kong Lama terbahak dua kali, ujarnya, “Dua puluh tahun yang lalu aku pernah bergebrak dengan gurumu, akhirnya sama-sama terluka berat. Aku harus mengakui secara pribadi gurumu adalah seseorang tokoh kenamaan yang sangat kuhormati, sungguh tak duga dia punya murid macam kau yang tak bisa mengurus diri!”
Berkilat mata Hun Thian-hi desisnya dengan kukuh, “Urusan ini tak perlu kau turut campur.”
Saking murka Sam Kong Lama bergelak tawa menggelegar, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul laksana seekor burung elang yang menyamber mangsanya langsung menubruk ke arah Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi tahu bahwa Sam Kong Lama ini merupakan tokoh nomor satu diluar perbatasan, seorang tokoh yang tidak boleh diganggu usik, melihat sedemikan hebat terjangan orang, gesit sekali ia melompat mundur, pikirnya hendak meluputkan diri dari jurus serangan pertama ini. Tak kira badan besar Sam Kong Lama tiba-tiba jumpalitan dan berputar cepat di tengah udara tahu-tahu kedua kakinya sudah menyapu datang ke arah Hun Thian-hi….
Hun Thian-hi menggeser kesamping berbareng serulingnya melintang mengetuk jalan darah Yung-cwan-hiat dimata kaki Sam Kong Lama.
“Bagus!” Sam Kong Lama berseru memuji, disusul tubuhnya bergerak lurus seperti berhenti di tengah udara, secepat kilat kedua telapak tangannya sudah menepuk datang kedada Hun Thian-hi.
Bercekat hati Hun Thian-hi, diam-diam ia kagum dalam hati akan keanehan dan kecepatan perubahan jurus tipu serangan Sam Kong Lama ini. Dalam saat2 genting ini tiada waktu untuk banyak berpikir, tangkas sekali ia bergerak memutar meluputkan diri. “Trang”, tahu-tahu Badik buntung sudah digenggam ditangan kirinya, berdiri tegap menghimpun semangat ia nantikan gebrak selanjutnya.
Baru pertama kali ini Sam Kong Lama menyaksikan Badik Buntung, maka ia menjadi was-was tak berani sembarangan menyerang, lama dan lama sekali ia menatap wajah Hun Thian-hi tanpa bergerak.
Hun Thian-hi sendiri juga tegak berdiri bersiaga tanpa berani sembarangan bergerak.
Rada lama kemudian baru Sam Kong Lama berkata lirih, “Tak malu kau menjadi murid Lam-sia!” hilang suaranya laksana geledek menyamber mendadak ia menubruk maju lagi seraya menyerang dengan dahsyat.
Hun Thian-hi bersuit nyaring, gerak tubuhnya pun tak kalah cepatnya menyongsong maju, tangan kanan membalingkan Seruling pualam mengembangkan ilmu Thian-liong-jhit-sek mengombinasikan Badik buntung di tangan kiri merangsak dengan berani ke arah Sam Kong Lama.
Kedua belah pihak tengah meluncur cepat saling terjang di tengah udara, dalam sedetik itu mereka sudah saling serang sebanyak lima jurus baru meluncur turun dan hinggap di atas tanah.
Tampak Sam Kong Lama menampilkan rasa kagum dan keheranan, katanya, “Betul-betul murid Lam-sia yang gagah perkasa!”
Sebaliknya Hun Thian-hi mematung ditempatnya tanpa bergerak dan bicara. Dalam kejap lain rona wajah Sam Kong Lama berubah putus asa dan murung, sekonyong-konyong tubuhnya mencelat lagi menerjang ke arah Hun Thian-hi.
Meski lahirnya Hun Thian-hi berlaku tenang dan wajar, sebenar-benarnya susah payah tadi ia menyambut lima kali serangan lawan secara keras lawan keras, dadanya terasa bergetar dan sakit sehingga napas rada sesak.
Kini melihat lawan menerjang lagi, maka kapok sudah ia, tak berani main kekerasan, cepat-cepat ia membuang diri ke samping.
Tapi betapa luas pengalaman tempur Sam Kong Lama, sembari mendengus hidung kedua tangannya bergerak menyilang satu di belakang dan yang lain di depan saling susul menghantam ke arah Hun Thian-hi.
Terpaksa Hun Thian-hi menyapukan Seruling pualam setengah lingkaran di tengah udara terus mengepruk ke depan. Begitu serulingnya saling bentur dengan telapak tangan lawan seketika tergetar hebat badan Hun Thian-hi, tak kuasa ia tersurut dua langkah, seketika wajahnya menjadi pucat.
Sementara serangan susulan Sam Kong Lama sudah melandai tiba pula. Dalam keadaan gawat ini tanpa disadari Badik buntung di tangan kirinya lantas bergerak memutar siap hendak melancarkan jurus Pencacat langit pelenyap bumi yang ganas itu.
Untung baru saja jurus sakti itu akan dilancarkan mendadak bergolak darah dalam rongga dadanya, nuraninya bekerja, secara reflek akan keganjilan hajat diluar kesadarannya, maka cepat-cepat ia berusaha menguasai diri sembari menghentikan aksinya, untung masih keburu menarik kembali serangan dahsyat yang bakal dilancarkan itu.
Akan tetapi serangan Sam Kong Lama pun sudah melandai tiba, telak sekali sebuah pukulan mengarah pundak kirinya, untuk menghindar agaknya sudah terlambat. Dalam keadaan krisis inilah bintang penolong telah tiba.
Mendadak ditengah udara terdengar pekik nyaring seekor burung, disusul suara seorang gadis berkata, “Siau Hong — Benar-benar itulah orangnya, coba kau turun dan bekuk dia kemari!”
Seiring dengan merdu suaranya tampak dari tengah udara melayang turun seorang gadis berbaju hijau, pakaian yang lazim dikenakan oleh seorang dayang, dengan tangan tunggalnya tepat dan persis benar-benar ia tangkis pukulan Sam Kong Lama itu, di lain saat ia sudah berdiri tegar di atas tanah
sambil tersenyum simpul Terhindarlah Hun Thian-hi dari ancaman maut.
Dayang berbaju hijau ini mendehem dengan puas dan bangga, katanya kepada Hun Thian-hi, “Mari ikut aku!”
Sejenak Sam Kong Lama menatap dayang baju hijau itu lalu tanyanya, “Siapa kau?”
Dayang baju hijau mendengus hidung, tiba-tiba tangannya bergerak melemparkan sebuah medali putih dari batu pualam. Begitu melihat medali putih batu pualam ini seketika berubah hebat air muka Sam Kong Lama, mulutnya terkancing tak berani banyak bicara lagi, diam-diam ia mengutirkan keselamatan Hun Thian-hi.
Sementara itu dengan seksama Hun Thian-hi sudah mengamati dayang kecil berusia kira-kira 15-16-an, iapun tahu siapa pemilik dari medali putih pualam itu, namun toh ia tersenyum sombong dan berkata, “Kau kira aku sudi ikut kau?”
Sedikit berubah rona wajah si dayang kecil ini, alisnya bertaut dalam, katanya menjengek, “Besar benar-benar nyali anjingmu, apa kau tidak kenal medali putih pualam ini?”
Pucat wajah Hun Thian-hi, namun sikapnya tetap angkuh, sahutnya tertawa, “Bu Bing Loni merupakan tokoh aneh yang kenamaan, aku Hun Thian-hi toh tidak berbuat dosa terhadap beliau. Kalau kau mampu silakan kau ambil kepalaku persembahkan kepadanya!”
Dayang itu bersungut, katanya, “Kapan kau dengar orang yang dipanggil dengan medali putih pualam, boleh sembarangan saja dibunuh?”
“Nanti dulu!” tersipu-sipu Sam Kong Lama berseru.
Dayang cilik itu menjadi murka, semprotnya jengkel, “Ada apa lagi yang perlu kau katakan!”
Ragu-ragu sejenak akhirnya Sam Kong Lama berkata, “Untuk apa Bu Bing Loni memanggilnya dengan medali putih pualam itu?”
Sebetulnya ia tak berani sembarang buka mulut, namun serta melihat Hun Thian-hi berani main debat, dirinya seorang angkatan yang lebih tua masa harus unjuk kelemahan di hadapan murid Lam-siau? Apalagi diam-diam timbul kecurigaan dalam benaknya, masakan dengan kepandaian yang dimiliki oleh Hun Thian-hi sekarang mungkinkah kabar yang tersebar luas di kalangan Kangouw itu benar-benar kenyataan?”
Sementara itu Dayang kecil itu semakin uring-uringan, ujarnya, “Kalau mau tanya silakan pergi tanya langsung kepada pemilik medali putih pualam itu!”
Berubah air muka Sam Kong Lama, tapi ia tertawa gelak-gelak untuk membesarkan nyalinya, dijemputnya medali putih pualam itu, katanya, “Baik, apapun yang hendak kau lakukan silakan. Tapi sebelum kau katakan sebab musababnya tak kuberi izin kau menyentuhnya.”
Dayang kecil itu semakin gusar, bentaknya, “Besar benar-benar nyali anjingmu!” seiring dengan bentakannya tubuhnya bergerak bagai angin lesus menerjang kepada Sam Kong Lama, dimana tangan kanannya bergerak tahu-tahu cakarnya Sudah mengancam muka Sam Kong.
Sam Kong juga bergerak tidak kalah cepatnya, namun ia harus lancarkan empat serangan balasan baru berhasil membendung sejurus serangan lawan, keruan basah bajunya oleh keringat dingin.
Sungguh diluar dugaannya bahwa kepandaian silat dayang kecil ini begitu lihay, dilihat naga-naganya, apa yang dinilai orang lain tentang betapa tinggi kepandaian Bu Bing Loni memang bukan omong kosong.
Melihat jurus serangannya tak membawa hasil dayang kecil itu berjingkrak murka, mukanya merah padam, tahu-tahu tubuhnya bergerak lebih cepat dan tangkas menyerang pula kepada Sam Kong.
Hun Thian-hi berpeluk tangan menonton tenang-tenang, sekilas pandang saja lantas diketahui olehnya bahwa Sam Kong Lama terang bukan menjadi tandingan dayang kecil ini.
Tak tahu dia untuk keperluan apa Bu Bing Loni memanggilnya dengan medali piutih pualam itu. Pernah didengar dari cerita orang bahwa Bu Bing Loni merupakan tokoh nomor satu di seluruh Bulim, namun sifatnya kejam dan telengas melebihi para gembong-gembong iblis yang paling jahat. Dulu waktu masih remajanya pernah patah hati, namun secara kebetulan menemukan sejilid buku pelajaran silat yang sekaligus telah mengangkat dirinya menjadi tokoh nomor satu tiada tandingan di seluruh kolong langit.
Konon kabarnya empat puluih tahun yang lalu dipuncak Hoa-san ia tempur puluhan tokoh-tokoh silat kelas wahid, semuanya kena dibunuh tanpa ketinggalan satu pun yang hidup, cara turun tangannya kejam dan sadis sekali tiada bandingannya. Para penonton menjadi bergidik dan tak tega, sebaliknya sedikit pun tak berubah airmukanya.
Meski kejadian itu sangat menggemparkan, nanum para korban itu memang bukan orang baik-baik dari golongan sesat. Palagi memang ilmu silat Bu Bing terlalu tinggi maka tiada seorangpun yang berani tampil ke depan, maka untuk selanjutnya dimana medali putih pualam ini muncul tiada seorangpun yang berani menolak.
Akan tetapi sebetulnya untuk urusan apakah, kenapa sekarang menimpa giliranku? “Hai, berhenti!” tiba-tiba ia berseru mencegah.
Tangkas sekali dayang kecil baju hijau itu jumpalitan balik, ditengah udara badannya berputar indah sekali terus meluncur turun dengan kaki menginjak tanah lebih dulu, tanyanya, “Keperluan apa pula. yang perlu kau katakan?”
Pelan-pelan Hun Thian-hi berpaling mengamati Sam Kong Lama, mulutnya menyungging senyum tawar katanya kepada. dayang kecil itu, “Urusan ini tiada sangkut paut dengan dia. Marilah kita selesaikan sendiri.”
Tak kira Dayang kecil dan Sam Kong Lama berseru berbareng tanpa berjanji, “Tidak!”
Sejenak mereka saling pandang lalu Dayang kecil itu mendengus ejek, ujarnya, “Setiap kali medali putih pualam muncul siapa yang berani membangkang?” — sejenak ia berhenti mengawasi Hun Thian-hi berdua bergantian lalu sambungnya, “Memang lain dia lain kau, tapi persoalan ini bisa dibereskan bersama, silakan kamu berdua maju bersama!”
Sam Kong Lama bergelak tawa, serunya, “Bagus! Hari ini terpaksa aku harus belajar kenal betapa, tinggi ilmu silat murid didik Bu Bing Loni!”
“Sombong benar-benar,” jengek Dayang kecil baju hijau, Mengandal kemampuan kalian masa ada. harganya belajar kenal dengan kepandaiian silat dari aliran Bu Bing loni? Aku saja yang maju sudah cukup berharga memandang kalian!”
Sam Kong Lama menjadi dongkol dipandang enteng begitu rupa, dilandasi kemarahan segera kirim sebuah pukulan kencang ke arah Dayang cilik itu.
Terdengar Dayang kecil itu tertawa dingin, sebat sekali meloncat terbang lempang ke depan, kedua ujung sepatunya menendang bergantian mengarah kedua biji mata Sam Kong Lama, betapa cepat dan tepat serangan berani ini benar-benar sangat hebat dan menakjubkan. Namun dengan suatu gerak yang sangat cepat Sam Kong Lama meloncat mundur menjauhi.
Sementara Hun Thian-hi juga tidak tinggal diam, laksana kilat iapun sudah bergerak membuntut tiba, dimana seruling pualamnya bergerak langsung ia menutuk jalan darah mematikan dipunggung Dayang kecil. Hebat benar-benar kepandaian Dayang kecil baju hijau ini, seperti tumbuh mata saja belakang kepalanya, mendadak membalik sebuah tangannya, sekali raih ia mencengkram seruling Hun Thian-hi yang menutuk datang.
Keruan bukan kepalang kejut Hun Thian-hi, cepat Badik buntung ditangan kirinya mengiris kebawah langsung membabat pergelangan tangan Dayang kecil itu.
Dilain pihak Sam Kong Lama juga tak kalah kejutnya, tergopoh2 ia lancarkan sebuah pukulan ke arah Dayang kecil untuk menolong Hun Thian-hi.
Dayang kecil itu menggeram lirih, tiba-tiba tangan kanannya digentakkan kuat2, sehingga tergetar tangan kanan Hun Thian-hi, kontan badannya mencelat ke tengah udara karena hentakan yang kuat dari gentakan tenaga Dayang kecil itu. seiring dengan gerakannya itu, lincah sekali dayang kecil itu berputar selicin belut meluputkan diri dari pukulan Sam Kong Lama, tangannya merangsang ke belakang lengan membelakangi penyerangnya, namun cukup lihay tipunya ini karena telak sekali jalan darah pelemas Sam Kong Lama tertutuk, kontan ia terjungkal roboh dengan badan lamas tak mampu bergerak lagi.
Sementara itu, Hun Thian-hi yang mencelat ke tengah udara beruntun jumpalitan dua kali baru mendarat turun di atas tanah
Sembari tersenyum ejek Dayang kecil mengawasi Hun Thian-hi, sedikit kerahkan tenaga Seruling batu pualam yang dirampasnya itu seketika dipotes menjadi dua.
Berubah hebat rona wajah Hun Thian-hi. Maklum Seruling pualam itu sudah puluhan tahun malang melintang mengikuti gurunya, Akhirnya diturunkan kepadanya sampai sekarang.
Melihat perubahan air muka Hun Thian-hi, Dayang kecil Ru malah tertawa riang, ejeknya menggoda, “Apa, tidas terima?”
Terpancar sinar kilat aneh dalam biji mata Hun Thian-hi, dengan mengertak gigi ia mengayun Badik buntung sekeras-kerasnya, sejalur cahaya hijau pupus kelihatan menari bergelombang ditengah gelanggang disertai suara mendesis yang semakin nyata terus menungkrup ke arah dayang kecil baju hijau.
Semula dayang kecil perdengarkan tawa menghina langsung ia terbang maju memapak serangan lawan. Dimana jurus Jan-thian-ciat-te dilancarkan gelanggang pertempuran menjadi seperti dicekam dalam suasana yang menusuk perasaan, begitu kedua belah pihak saling sentuh si dayang kecil lantas merasa sesuatu yang luar biasa bakal terjadi, berubah air mukanya, sejalur cahaya hijau pupus langsung menyamber ke arah lehernya.
Secara gerak reflek segera ia angkat kedua kutungan seruling di tangannya untuk menangkis. Terdengar sentuhan yang lirih nyaring, dengan pesona ia memandangi dua kutungan seruling di kedua tangannya, sekarang kedua kutungan itu telah terpapas lagi menjadi empat kutungan, dua yang lain jatuh di tanah, seruling ditangannya terpapas licin dan rajin sekali.
Waktu ia angkat kepala terlihat muka Hun Thian-hi bersemu merah kehitaman, ujung mulutnya melelehkan sealur daran segar, susah payah ia mengtiasai dirinya untuk tetap berdiri.
Dayang kecil itu semakin dibakar kemarahan, sambil menggertak nyaring ia menyerbu lagi.
Sekonyong-konyong terdengar suara merdu seorang gadis dari tengah udara, “Siau Hong. Kembali, hari ini ia telah melepas jiwamu, kitapun melepasnya sekali ini, marilah pulang!”
dayang kecil yang bernama Siau Hong itu segera menghentikan aksinya, dengan seksama ia mengawasi Hun Thian-hi, diam-diam hatinya sangat menyesal dan mendelu, keadaan Hun Tnian-hi ini terang berusaha hendak menarik dan mengendalikan serangan ganas tadi sehingga tenaga murni sendiri membalik menerjang jantung sampai terluka dalam yang berat.
Ia tahu bahwa dengan bekal yang dimiliki Hun Thian-hi terang takkan mampu melukai dirinya. namun demikian tak urung ia menjadi terharu dan merasa terima kasih.
Seekor burung besar berbulu hijau terbang rendah, pelan-pelan dayang kecil bernama Siau Hong itu lantas melompat tinggi naik ke atas punggungnya, sebentar saja burung besar berbulu hijau itu sudah menjulang tinggi ke tengah angkasa sambil berpekik nyaring dan panjang, dalam kejap lain sudah menghilang dari pandangan mata.
Mengantar menghilangnya burung besar itu Hun Thian-hi bengong sekian lamanya, lalu duduk bersila bersemadi mengembalikan tenaga dan semangatnya, setelah pikiranya jadi jernih kembali bergegas ia berdiri terus membetulkan tutukan jalan darah Sam Kong Lama.
Pelan-pelan Sam Kong Lama merajap bangun, rona wajahnya menunjukkan rasa yang malu yang tak terhingga, lambat-lambat dijemputnya medali putih pualam itu lalu katanya pada Kun Thian-hi, “Jurus yang kau lancarkan tadi itu belajar dari mana, aku tidak tahu dan belum pernah mengenalnya?”
Hun Thian-hi bungkam tak bicara. Agak lama kemudian ia angkat kepala berkata sambil tersenyum, “Bukankah lebih kau tidak mengetahui saja?” lalu ia melangkah maju menjemput potongan kecil seruling pualamnya yang kutung terpapas oleh Badik buntungnya sendiri, kutungan seruling yang lain dibawa pergi oleh dayang kecil tadi, memandangi kutungan dua seruling ditangannya Hun Thian-hi menjublek di temparnya seperti patung.
Kata Sam Kong Lama, “Medali putih pualam itu sudah berada ditanganku maka aku harus segera kembali. Aku percaya akan martabatmu, mungkin kau terdesak oleh peristiwa ini. Sekarang kau sudah bentrok dengan pihak Bu Bing Loni, kalau kau mau marilah kita pulang bersama. Ketahuilah ilmu silat dikolong langit ini hakikatnya bukan Bu Bing Loni saja yang paling tinggi.”
Hun Thian-hi angkat kepala pandangannya menampilkan rasa haru yang tertekan, sahutnya, “Terima kasih, tapi aku tak ingin pergi!”
Sam Kong Lama terlongong sesaat lama, katanya tersenyum, “Seharusnya aku tahu kau takkan sudi ikut aku, Tapi kau harus ingat Bu Bing Loni bukan sembarang tokoh yang dapat dibuat main-main jangan sampai kau mengorbankan jiwanya secara sia-sia.”
Bertaut alis Hun Thian-hi, menggelengkan kepala.
Sam Kong Lama menghela napas, ujarnya: Perangainya rada sama dengan sifat gurumu, akupun tak perlu banyak membujuk kau. Hari ini kau sangat banyak membantu kepadaku jikalau kelak kau memerlukan bantuan silakan datang ke tempatku, setelah keluar dari perbatasan jejakku akan gampang kau temukan asal kau bertanya sembarang orang disana.”
Hun Thian-hi tersenyum pahit, ia menganggukkan kepala.
Biji mata Sam Kong berkilat mengawasinya, ia menggeleng kepala dan berkata, “Sayang kau tak sudi ikut aku, kau sia-siakan kesempatan paling baik ini.” -setelah menghela napas panjang ia putar tubuh Mengantar punggung Sam Kong Lama yang semakin jauh itu, Hun Thian-hi menghela napas panjang.
Tengah ia terlongong mendadak dari dalam hutan sebelah kiri sana terdengar gelak tawa orang yang keras nyaring.
Sigap sekali Hun Thian-hi memutar tubuh sembari menghardik, “Siapa itu?”
Namun suasana hutan di depannya sangat hening lelap, gesit sekali badannya meluncur menuju ke arah dimana suara gelak tawa tadi terdengar, namun meski ia sudah bergerak begitu cepat bayangan seorang pun tak terlihat olehnya.
Bercekat hatinya. Batinnya kenapa hari ini beruntun aku bertemu dengan tokoh-tokoh kosen2, jarak dirinya berdiri tidak lebih tiga tombak saja, dengan kesebatan gerak tubuhnya ternyata bayangan orang saja tak keliahatan olehnya.
Dengan dongkol ia celingukan ke sekelilingnya Sekonyong-konyong gelak tawa tadi bergelombang keras seperti gema lonceng besar yang memekakkan telinga. Lagi-lagi Hun Thian-hi melesat cepat mengejar jejaknya ke arah sana namun ia meluncur turun bayangan setanpun tak terlihat olehnya.
Sebentar ia menerawang situasi sekelilingnya dengan ketajaman matanya, namun tak diketemukan sesuatu keganjilan apa-apa.
Meski gelak tawa tadi terdengar lagi, kali ini tak dihiraukan lagi,tanpa berpaling ia terus berlari keluar.
Tiba-tiba ia merasa tengkuknya terasa rada dingin, juga ada gatal2, keruan kejutnya bukan main, secara reflek ia menggunakan tangannya untuk mengusap ke belakang, tampak seekor ulat menggelinding jatuh dari atas tengkuknya….
Hun Thian-hi menjublek ditempatnya, sungguh hatinya berang sekali, namun hakikatnya ia merasa kagum dan kaget dengan kepandaian orang telah begitu hebat mempermainkan dirinya.
Gelak tawa yang mengalun tinggi itu bergema pula dari dalam hutan.
Tak sabaran Hun Thian-hi membentak keras, “Siapa itu yang main sembunyi seperti pancalongok. Kalau kau manusia mari unjukkan tampangmu yang sebenar-benarnya.”
Setitik bayangan melesat dari dalam hutan langsung terbang ke arah Hun Thian-hi, cepat-cepat ia angkat tangan kanannya dengan kedua jarinya hendak menjepit bayangan kecil ini, tapi luncuran titik hitam itu mendadak bertambah cepat menerobos lewat dari celah-celah jari tangannya langsung melekat di bibir Hun Thian-hi. Hun Thian-hi berjingkrak merinding sembari mengusapnya diatuh dengan tangan kiri, lagi-lagi seekor ulat kecil.
Sungguh dongkol dan gemes benar-benar sampai tak mampu bicara, akhirnya Hun Thian-hi menjadi nekad terus mengejar semakin dalam ke hutan yang semakin gelap.
Gelak tawa itu selalu membayangi dirinya terus menerobos semakin jauh ke dalam hutan, Hun Thian-hi pun terus mengejar dengan berani, kejar punya kejar akhirnya sampai di depan sebuah gua, tiba-tiba gelak tawa itu berhenti.
Hun Thian-hi menjadi ragu-ragu sebentar, namun ia nekad juga mengejar masuk ke dalam gua. Begitu ia melangki masuk dilihatnya seorang tua yang mengenakan jubah panjang dari kain bagor tengah duduk semadi didalaiH pojok gua sana. Orang tua ini berwajah merah, rambut dan jenggotnya sudah ubanan, wajaknya itu mengunjuk senyum ramah tamah, tempat dimana ia duduk dikeliling sebuah garis bundaran sebesar tiga tombak.tangannya kanan mencekal sebatang tongkat putih batu pualam panjang tiga kaki.
Hun Thian-hi ragu-ragu sejenak, tanyanya kepada urang tua itu, “Kaukah tadi yang menggoda aku?”
Orang tua itu tetap dalam keadaan samadinya tanpa bergerak, sedikitpun ia tidak hiraukan pertanyaan Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi mengerutkan kening, hidungnya mendengus lalu melangkah maju dengan uring-uringan. Namun baru saja kakinya menginjak masuk ke dalam arena garis bundaran itu. tampak tongkat ditangan si orang tua bergerak menutul ke depan, seketika ia merasa sejalur tenaga besar mendorong dirinya, tanpa kuasa karena tidak bersiaga sebelumnya Hun Thian terjungkir balik.
Sungguh kejut hati Hun Thian-hi bukan kepalang. Dengan bekal Lwekangnya sekarang masa begitu gampang kena disengkelit orang dengan sekali tutul dari jarak jauh? Bergegas ia bangkit berdiri, dengan uring-uringan ia pandang si orang tua, namun orang tua itu tetap dalam gaya semadinya tanpa bergerak sedikitpun.
Pelan-pelan Hun Thian-hi coba-coba ulur kakinya ke dalam bundaran namun segera hendak ditarik kembali, namun belum sempat bergerak lebih jauh mendadak terasa kakinya terdorong naik oleh segulung tenaga besar yang tidak kelihatan, cepat-cepat ia menghimpun tenaga dan mengendalikan pernapasannya, namun hawa murni seperti macet ditengah jalan, sementara itu tubuhnya sudah terangkat naik oleh dorongan tenaga besar itu, terpaksa ia harus jumpalitan ditengah udara baru meluncur turun ke tanah.
Orang tua itu tetap duduk ditempatnya seperti tak terjadi sesuatu.
Setelah hinggap di tanah Hun Thian-hi menjadi berdiri terlolong tak bersuara. Agak lama kemudian ia melangkah pelan-pelan memutar ke belakang si orang tua.
Si orang tua tetap tak bergerak. Setelah sampai di belakang orang, dijemputnya sebutir kerikil terus diselintikkan kepunggung si orang tua. Baru saja kerikil itu melesat sampai ditengah jalan, pandangannya seperti menjadi kabur oleh berkelebatnya selarik bayangan putih, disusul kerikil yang disambitkannya itu mendadak meluncur balik menerjang dirinya sendiri.
Tersipu-sipu Hun Thian-hi menyingkir kesamping, kerikil itu menyamber lewat disamping lehernya, “plok” amblas ke dalam dinding batu tanpa bekas.
Akhirnya Hun Thian-hi menjadi gemas dilolosnya keluar Badik buntung, dengan nekad ia menubruk masuk ke dalam bundaran. Punggung si orang tua seperti tumbuh sepasang mata, mendadak tongkat putihnya terayun ke belakang menyapu kedua kaki Hun Thian-hi.
Sigap sekali Hun Thian-hi mengayun Badik buntungnya hendak menangkis, namun lagi-lagi pandangan matanya serasa kabur oleh berkelebatnya sinar putih kemilau, kontan terasa Badik buntung ditangan kanannya tergetar keras terlepas dari cekaiannya terbang ke atas, sedang badannya sendiri juga terlempar keluar dari arena bundaran itu.
Begitu berdiri tegak lagi Hun Thian-hi menjadi kesima sekian lama, pelan-pelan dijemputnya Badik buntung lalu dengan lesu ia berjalan keluar.
Tiba-tiba si orang tua membuka matanya, katanya, “Bocah, kiranya tidak punya tekad besar!”
Hun Thian-hi menghentikan langkahnya, lalu berpaling memandang ke arah si orang tua, sahutnya, “Betapa besarpun tekadku, aku tak mampu menerjang masuk.”
Si orang tua tercengang dilain saat mendadak bergelak tawa nyaring, serunya, “Benar-benar, ucapanmu memang betul!”
Teringat akan pengalaman yang aneh yang dialaminya selama ini tergerak hati Hun Thian-hi, lekas-lekas ia berlutut ke arah si orang ua sembari ujarnya, “Cianpwe menuntunku kemari, entah ada petunjuk apa yang berharga?”
Orang tua itu tertegun sebentar lalu bergelak tawa, katanya, “Ternyata cukup pintar.”
Rada girang hati Hun Thian-hi, tahu dia bahwa ilmu silat orang tua ini pasti sangat tinggi, jikalau bisa minta petunjuknya, perbekalan ilmu silatnya tentu akan bertambah maju.
Sekian lama si orang tua tenggelam dalam pikirannya, mendadak wajahnya tegang serius, tanyanya, “Jurus Jam-thian-ciat-te itu kau pelajari dari mana?”
Hun Thian-hi tertegun, sesaat ia menjadi kememek tak tahu bagaimana ia harus menjawab.
Orang tua itu mendengus hidung, tanyanya pula, “Ang-hwat-lo-mo itu apamu?”
Mendengar orang menanyakan orang tua aneh berambut merah itu, terperanjat hati Thian-hi sahutnya, “Aku tiada hubungan apa dengan beliau!”
“Bohong!” maki si orang tua, “Kalau kau tiada hubungan dengan dia bagaimana ia bisa mengajarkan Jan-thian thiat-te kepandaian tunggal yang ganas itu kepada kau!”
Semakin kejut hati Hun Thian-hi, tengkuknya terasa merinding, bermula ia merasa heran kenapa Bu Bing Loni, bisa mencari dirinya. Pula teringat kata-kata orang tua rambut merah yang berkata sendlap-sendlup tak keruan itu, kiranya tak lain memang bertujuan mengumpankan dirinya kepada Bu Bing Loni, bukankah kematian dirinya bakal lebih mengerikan.
Karena pikirannya ini tak terasa mulut Thian-hi menggumam, “Ternyata tujuannya utama adalah hendak mencelakai jiwaku!”
Si orang tua berubah air mukanya, mengerutkan kening tanpa bicara.
Hun Thian-hi angkat kepala mengawasi si orang tua, Hanya ia bercerita pengalamannya di dalam jurang dimana Ang-hwat-lo-mo bersemajam. Sambil mendengarkan orang tua manggut-manggut, setelah Hun Thian-hi habis bercerita ia berkata, “Begitu lebih baik, kan tak usah takut menghadapi Bu Bing Loni!”
Menatap tajam ke arah si orang tua berubah pikiran Thian-hi, ia mereka-reka, ia heran siapakah orang tua di hadapannya ini, seluruh tokoh-tokoh di Bulim ini siapa yang berani berkata bahwa dia tidak gentar menghadapi Bu Bing Loni!.
Melihat sikap Hun Thian-hi ini agaknya si orang tua sudah dapat menebak isi hatinya. Mendadak ia bergelak tawa pula, tahu-tahu laksana angin lesus berputar tubuhnya melenting keluar gua, terdengar ia berkata, “Carilah aku di Tay-soat-san, jikalau Ham Gwat mencarimu lagi, ambillah ini serahkan kepadanya!” — lenyap suaranya tampak tongkat putih batu pualam itu terbang jatuh di bawah kaki Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi terpesona di tempatnya, sekian lama ia menjublek tak bergerak, dari mulutnya menggumam, “Soat-san-su-gou!”
Soat-san-su-gou juga merupakan tokoh-tokoh aneh dari kalangan persilatan, sudah puluhan tahun terakhir tak pernah berkecimpung dikalangan Kangouw. Sungguh tak duga hari ini berjodoh bisa bertemu dengan beliau, malah mengundang dirinya pergi ke Soat-san.
Hun Thian-hi menghela napas dengan riang, sungguh girang hatinya tak terkatakan. dijemputnya tongkat putih pualam itu, mendadak mulutnya berseru tertahan, ujarnya, “Eh siapakah Ham Gwat itu?”
Nama Ham Gwat ini menjadi tanda tanya dalam sanubarinya, teringat olehnya akan dayang kecil berpakaian hijau yang bernama Siau Hong serta suara gadis remaja ditengah udara itu. “Mungkinkah….” demikian ia bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya ia menjadi geli sendiri, lalu dengan langkah lebar ia keluar dari gua itu, kiranya hari sudah terang tanah, langit di sebelah timur bertambah terang, cahaya ungu suram bertambah lama bertambah kuning, dan kesudahannya timbul dibalik awan luar yang bersusun matahari. Mula-mula sepotong, sebelah dan akhirnya bulat sebagai bulan digambar2an berseri-seri laksana orang tersenyum memandang ke bumi.
Hun Thian-hi celingukan mengawasi keadaan sekelilingnya, panjang dan dalam-dalam ia menghirup hawa pagi lalu perlahan-lahan keluar dari lautan rimba raja.
Baru saja ia sampai diambang hutan gelap itu, ditengah udara didengarnya pula pekik burung besar berbulu hijau, berdetak jantungnya, lekas-lekas ia mendongak memandang ke angkasa. Tampak seekor burung besar warna hijau melayang turun dari tengah angkasa, dalam kejap lain sudah mendarat di tanah.
Dengan tajam Hun Thian-hi menatap gadis kecil di atas punggung burung besar itu, itulah dayang kecil berpakaian hijau yang bernama Siau Hong itu.
Dayang kecil itupun memandang ke arah Hun Thian-hi sembari tersenyum simpul.
Tanpa menunjukkan perubahan mimik wajahnya Hun Thian-hi terus menatap wajah orang tanpa buka suara. Entah untuk tujuan buruk atau demi kebaikanlah dayang kecil ini mencari dirinya lagi.
Seruling pemberian gurunya sudah dikutungi olehnya, ini merupakan suatu kesalahan yang tak terampunkan baginya.
Ragu-ragu akhirnya Siau Hong menundukkan kepala, namun dalam kilas lain sudah angkat kepala pula, katanya kepada Hun Thian-hi, “Nyalimu sungguh sangat besar. Kenapa tidak lekas pergi, sebentar lagi nonaku bakal tiba, beliau takkan melepasmu lagi.”
Hun Thian-hi masih sekian lama mengamati Siau Hong, melihat orang berkata setulus hati, namun ia masih segan dan tak sudi buka mulut.
Siau Hong menjengek, “Kau jangan anggap diiimu sangat jempolan, aku bermaksud baik datang kemari memberi kisikan kepadamu, kalau ganti orang lain aku takkan peduli!”
Berkerut wajah Thian-hi, katanya pelan-pelan, “Terima kasih akan maksud baikmu. Aku tak perlu takut menghadapi nonamu.”
Siau Hong mengejek lagi, ujarnya, “Sombong benar-benar kau. Sangkamu jurus pencacat langit pelenyap bumimu itu tiada bandingannya di jagat ini? Ketahuilah, sangat jauh sekali dibanding dengan kepandaian nonaku!”
Siau Hong membanting kaki sembari berkata aleman, “Aku tak mau peduli lagi!”
Terdengar sebuah suara berkata pula ditengah udara, “Siau Hong apa yang tengah kau lakukan?”
Siau Hong angkat kepala dengan kaget dan takut, sahutnya tercekat, “Nona! Tidak apa-apa.”
Hun Thian-hi mendongak, tampak seekor burung berbulu hijau mulus yang besar sekali, di atas punggung burung besar ini samar-samar kelihatan duduk seorang gadis remaja.
Terdengar gadis di punggung burung besar itu berkata pula, “Siau Hong, ringkus Hun Thian-hi dan bawa pulang…. Suhu masih menunggu kedatangan kita!”
Siau Hong mengiakan, matanya memandang gugup dan gelisah ke arah Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi malah mandah tersenyum sinis, tanyanya, “Apakah nonamu itu yang bernama Ham Gwat?”
Siau Hong manggut-manggut. katanya, “Sekarang tiada jalan lain, biarlah aku berlaku sedikit ayal2an, lekas kau bunuh diri, biar aku pulang mendapat hukuman saja.”
Hun Thian-hi tertawa-tawa tanpa bergerak.
Suara dari tengah udara berteriak mendesak, “Siau Hong, kenapa tidak lekas turun tangan?”
Hun Thian-hi menyurut mundur beberapa langkah ke belakang, tongkat putih batu pualam di tangannya diayun berputar setengah lingkaran terus dilontarkan miring ke tengah udara.
Tampak sesosok bayangan mencelat terbang dari punggung burung besar laksana bintang jatuh tangkas sekali meraih tongkat batu pualam yang melesat terbang meninggi itu, di tengah angkasa berputar satu lingkaran lalu seringan kapas meluncur pula ke atas punggung burung besar yang terbang berputar-putar di tengah udara itu….
Gerak gerik tubuhnya adalah sedemikian indahnya laksana bidadari yang menari gemulai di angkasa, kelihatannya jauh lebih ringan dan gesit dari burung camar. Sekian lama Hun Thian-hi terpesona sambil mendongak ke atas, hampir saja ia tidak mau percaya akan pandangan matanya sendiri. Selama hidup ini belum pernah ditontonnya ilmu kepandaian begitu tinggi dan menakjupkan.
Begitulah ia terlongong memandang ke angkasa. Dari bentuk bayangannya yang kelihatan sekelebat itu, dapatlah dibayangkan tentu ia seorang gadis remaja yang cantik molek berperawakan langsing menggiurkan, sayang tak terlihat jelas, sungguh besar harapannya gadis juwita itu bisa turun kemari untuk bertemu.
Gadis itu berteriak di tengah angkasa, “Siau Hong, hari ini batal saja, mari kita pulang.”
Siau Hong mengiakan, dengan pandangan ganjil ia awasi Hun Thian-hi lalu pelan-pelan naik ke punggung burung besar itu, sebentar saja mereka sudah menghilang dibalik awan.
Hun Thian-hi mendelong mengawasi ujung langit, hatinya terasa kosong dan hampa, akhirnya ia menjadi geli sendiri akan sikapnya yang seperti kehilangan semangat itu, bergegas ia meninggalkan tempat itu.
Selepas pandangan mata panorama di atas puncak pegunungan ini adalah putih bersalju melulu, pohon siong dan pek sudah berselimutkan bunga salju, selayang pandangan dunia sekelilingnya seperti dibuat dari keramik yang memutih berkilau.
Waktu sang surja pertama kali mengintipkan sinar kemuning menembus tabir gelapnya seluruh jagat raya ini, Hun Thian-hi seorang diri sudah beranjak naik menuju ke gunung salju mencari Soat-san-su-gou.
Tak terasa pagi hari itu ia sudah mencapai setengah perjalanan di lamping gunung, disini ia berhenti sebentar menghirup napas segar, pemandangan ciptaan alam yang indah molek yang terbentang di hadapannya betul-betul merupakan sebuah pesona yang seolah-olah merampas kesadarannya sehingga sekian saat ia menjublek di tempatnya.
Puncak tertinggi dari gunung bersalju sudah terbentang di hadapannya, semangat Hun Thian-hi tambah berkobar dan hatinya menjadi girang sekali, segera kakinya bergerak semakin cepat menempuh berbagai aral rintang berbahaya, namun toh semua itu dapat diatasi berkat bekal Lwekang dan ilmu ringan tubuhnya yang cukup sempurna.
Lain dari keadaan di bawah gunung, puncak. tertinggi dari gunung bersalju ini justru serba hijau dan bersih sama sekali dari bunga salju, di mana-mana bertabirkan batu hijau seluas tiga lima puluh tombak. Waktu Hun Thian-hi memanjat ke atas batu hijau itu didapatinya di tengah-tengah sana duduk bersila jajar empat orang tua yang semuanya sudah beruban dan berjenggot memutih salju pula. Mereka duduk memutar setengah lingkaran, semuanya tengah memejamkan mata bersamadi, sekali pandang membuat orang timbul rasa hidmat dan hormatnya.
Tersipu-sipu Hun Thian-hi maju berlutut serta sembahnya, “Tecu Hun Thian-hi menghadap para Cianpwe!”
Seorang tua yang duduk paling ujung membuka mata meng-angguk-angguk kepada Hun Thian-hi sembari tersenyum simpul. Baru sekarang Hun Thian-hi melihat tegas orang tua ini bukan lain si orang tua beruban yang memberi petunjuk kepadanya di dalam gua itu.
Beruntun orang ketiga juga membuka mata mengamati Hun Thian-hi sekian saat, lalu ujarnya, “Omongan Si-te memang tidak salah, bocah ini bertulang mas punya bakat yang luar biasa, benar-benar seorang tunas yang punya harapan dan masa depan yang gemilang. Sayang sifat congkak dan sombongnya terlalu besar melibatkan dirinya.”
Orang kedua lantas membuka mata dan tertawa gelak-gelak, serunya, “Hal itu tidak menjadi halangan, bukankah waktu masih muda dulu kita lebih nakal dan brandalan?”
Diam-diam Hun Thian-hi menjadi girang dalam hati, sungguh tak terkirakan olehnya bahwa Soat-san-su-gou sangat menghargai dirinya.
Orang ketiga mengerutkan kening, ia tetap menyanggah, “Tapi sifat congkak dan takabur selalu pasti menjadi rintangan kemajuan.”
Tanpa perduli sanggahan saudaranya, orang kedua itu berkata kepada Hun Thian-hi, “Kudengar Si-te memujimu, sebelum ini aku belum percaya, hari ini dengan mataku sendiri kusaksikan baru aku mau percaya. Memang tidak salah pujiannya.”
“Terima kasih akan pujian para Cianpwe!” — diam-diam Thian-hi menjadi heran akan sikap orang pertama dari Su-gou yang tetap samadi tak bergerak atau membuka mata.
Tanya si orang tua Kepada Thian-hi, “Waktu kau kemari apa kau bersua dengan Ham Gwat?.”
Hun Thian-hi manggut-manggut, segera ia ceritakan pertemuan hari itu sejelasnya.
Si orang tua manggut, sebaliknya orang tua kedua mendengus hidung, ujarnya, “Bu Bing Loni terlalu takabur, sepak terjangnya sangat keterlaluan.”
Baru sekarang tiba-tiba orang tua pertama membuka mata, dua biji matanya yang ditaungi kedua alisnya yang memutih panjang itu berkilat tajam, tersentak kaget benak Hun Thian-hi melihat ketajaman sinar pancaran mata orang.
Orang tua beralis putih ini berkata lambat-lambat, “Ji-te, Sam-te dan Si-te!” suaranya terdengar rendah namun mengandung wibawa yang besar dan angker.
Tiga, orang tua lainnya segera bungkam dan menunduk.
Sambung orang tua beralis putih kalem, “Kita jangan terlalu bangga dan percaya akan kekuatan sendiri, aku kuatir dengan gabungan kekuatan kita berempat pun masih belum bisa menandingi Bu Bing Loni!”
Orang tua kedua tak tahan lagi lantas menyeletuk, “Apakah ucapan Toako ini tidak terlalu tinggi menilai Bu Bing Loni?”
Kata orang tua beralis putih kepada Thian-hi, “Nak, kau bangunlah!”
Sembari mengawasi orang tua beralis putih ini pelan-pelan Thian-hi bangkit berdiri, orang tua pertama ini rada punya sikap yang angker dan agung dari ketiga saudaranya, setiap patah kata yang diucapkannya mempunyai pertimbangan yang masak dan masuk di akal.
Orang tua beralis putih manggut-manggut memberi tanda supaya ia maju mendekat. Thian-hi menurut melangkah maju ke hadapan orang.
Dari jarak yang dekat ini si orang tua beralis putih mengamati Hun Thian-hi dengan seksama, rada lama kemudian baru ia menghela napas, ujarnya, “Kebesaran dan kejayaan Bulim kelak bakal tercekam di tangan bocah ini!” lalu ia menunduk terpekur lagi.
Berempat semua diam tenggelam dalam pikiran masing-masing, lahirnya ia memuji akan bakat dan rejeki Thian-hi yang besar, namun helaan napas panjang itu betul-betul membuat perasaan semua orang menjadi tertekan dan berat.
Dilain saat orang tua beralis putih angkat kepalanya berkata kepada Hun Thian-hi, “Mungkin kau harus tinggal beberapa hari disini, tunggulah setelah segala sesuatu mengenai urusan ini dapat dibikin beres baru kau boleh tinggal pergi, apakah kau sudi?”
Hun Thian-hi manggut-manggut dengan melongo, tak tahu ia entah apa yang dimaksud dengan kata-katanya itu. Seperti disengat kala, ketiga orang tua lainnya berpaling kaget.
“Toako!” seru orang tua keempat lirih dan tertekan perasaannya.
Mendadak orang tua beralis putih unjuk senyum riang, katanya, “Kalian tahu ilmu silat apa yang paling diandalkan oleh Bu Bing Loni?”
Tiga yang lain menyahut berbareng, “Kita sama tahu, dia menggunakan sebilah pedang!”
Orang tua alis putih manggut-manggut, ujarnya, “Bukankah ilmu pedangnya yang dinamakan Hui-sim-kiam-hoat menjagoi di seluhuh jagat ini!” sampai disini ia merandek sebentar lalu sambungnya, “Kalau kita berempat secara langsung menghadapi Hui-sim-kiam-hwat ini cara bagaimana mengatasinya?”
Ketiganya tenggelam dalam pikirannya tak bersuara, akhirnya orang kedua buka bicara, “Menggunakan Gin-ho-sam-sek!”
Orang tua alis putih menganggukan kepala, ujarnya, “Ucapan Ji-te memang tepat, menggunakan Gin-ho-sam-sek (tiga jurus sungai perak, untuk menyerang dan bertahan!”
Sekonyong-konyong dari jauh diufuk langit Sana terdengar pekik burung yang bersahutan.
Mendengar itu orang tua beralis putih lantas unjuk senyum lebar sembari manggut. Dia memberi tanda kepada Hun Thian-hi untuk menyingkir dan duduk disamping sana.
Hun Thian-hi menurut perintah, ia menyingkir ke samping orang tua alis putih terus duduk bersila.
Sementara kedua ekor burung besar yang bentuknya seperti merak yaitu yang dinamakan burung dewata berbulu hijau pupus sudah terbang mendatang semakin dekat. Kini Hun Thian-hi sudah semakin jelas, kedua ekor burung besar itu terbang jajar mendatangi dengan cepat. Di lain kejap kedua ekor burung ini sudah meluncur turun dan hinggap di atas batu hijau tanpa mengeluarkan sedikitpun suara.
Hun Thian-hi melihat ke atas punggung burung besar itu, yang mendarat lebih dulu ditunggangi dua orang, yaitu dayang kecil yang bernama Siau Hong, seorang lain adalah gadis berpakaian serba hitam.
Thian-hi kesima mengawasi wajah gadis baju hitam, kulit wajah gadis remaja ini kelihatan putih halus, sepasang matanya bening dan hitam bersinar tajam, setelah slorot turun dari punggung burungnya hanya sekilas memandang ke arah Soat-san-su-gou, hakikatnya ia seperti tidak melihat akan kehadiran Thian-hi disitu.
Sementara itu, begitu loncat turun dayang kecil atau Siau Hong itu lantas sembunyi di belakang gadis baju hijau itu, lehernya diulur tinggi sembari jinjit2. Sepasang matanya yang jeli melotot lebar mengintip2 dari belakang pundak sinona ke arah Hun Thian-hi.
Dalam pada itu, burung dewata yang lainnya pun sudah mendarat, ditunggangi oleh seorang Nikoh tua yang mengenakan jubah keagamaan warna abu-abu. Pelan seperti malas-malasan ia turun dari punggurg burung dewata itu, matanya terpicing mengawasi Soat-soan-su-gou ganti berganti, mendadak kelihatan biji matanya terpentang lebar memancarkan napsu membunuh yang tebal.
Dilain pihak Soat-san-su-gou tetap berduduk samadi memejamkan mata tak bergerak, seperti tidak mengetahui akan kedatangan mereka.
Kelihatan Bu Bing Loni mengayun tangan kanan, dari dalam lengan bajunya ia melemparkan sebatang tongkat putih ke hadapan si orang tua pertama beralis putih itu.
Tongkat sepanjang tiga kaki yang terbuat dari batu pualam itu melesak masuk seluruhnya ke dalam tanah, tanpa mengeluarkan suara.
Perlahan-lahan orang tua alis putih angkat kepala menatap ke arah Bu Bing Loni.
Terdengar Bu Bing Loni tertawa dingin, ujarnya, “Kedatanganku hanya untuk minta orang, ngajaran dari kalian yang menamakan diri sebagai Soa san-su-gou, betapa tinggi dan ada keanehan apa dari ilmu kepandaian kalian?”
Orang tua alis putih beragu sebentar, katanya dengan suara rendah, “Ketahuilah dia bukan murid dari Ang-hwa-lo-mo itu, malah….”
Tak menanti orang bicara habis, Bu Bing Loni segera menyela, “Segala sepak terjangku sejak dulu siapa yang berani tanya kenapa?”
Sesaat orang, tua alis putih merenung, lalu katanya kalem, “Apa tidak lebih baik kau pertimbangkan sekali lagi?”
Bu Bing Loni mendengus gusar, ia berpaling ke arah gadis baju hitam serta berkata, “Ambil pedangku!”
Cepat-cepat gadis baju hitam itu mengangsurkan sebilah pedang panjang, pelan-pelan Bu Bing Loni melolos pedang itu dari sarungnya.
Orang tua alis putih mandah tertawa tawar, sebelah tangannya diulur mencabut keluar tongkat yang amblas dalam tanah di depannya terus dilontarkan kepada orang keempat, serempak mereka lantas mengeluarkan sebatan tongkat putih pula.
Dengan angker Bu Bing loni melintangkan pedangnya di depan dada, lambat-lambat ia memutar tubuh menghadapi Soat-san-su-gou dengan sikap dingin.
Berbareng Soat-san-su-gou bangkit berdiri. Selama hidup ini baru pertama kali ini Thian-hi bakal menyaksikan pertunjukan adu silat tingkat tinggi, tak terasa jantung berdebur keras dan tegang, tersipu-sipu iapun berdiri menyingkir ke samping. Diam-diam ia melirik ke arah gadis baju hitam itu, orang tengah memusatkan perhatiannya ke tengah gelanggang, sedikitpun tidak hiraukan kepadanya.
Hun Thian-hi menjadi malu sendiri, iapun segera menaruh perhatian akan pertarungan dahsyat yang bakal terjadi ini.
Sementara itu Soat-san-su-gou sudah mencari kedudukannya masing-masing, Bu Bing Loni terkepung diantara mereka berempat. Pelan-pelan Bu Bing Loni angkat dan menggerakkan pedang ditangannya, sikapnya yang angkuh dan menyungging senyum ejek hakikatnya tidak memandang sebelah mata pada keempat lawannya.
Pedang panjangnya itu bergerak lamban melancarkan jurus serangan, setelah berputar-putar setengah lingkaran ditengah udara langsung menutul ketenggorokan orang tua alis putih.
Menghadapi musuh besar yang diagulkan sebagai tokoh jahat nomor satu di seluruh jagat ini sedikitpun Soat-san-su-gou berempat tak berani berlaku ayal2an, serempak cepat tongkat pualam mereka bergerak saling silang terbang serabutan melancarkan jurus pertama dari Gin-ho-im-sek yang dinamakan Gin-poh-tam-tam-gi (gelombang perak mengalun berderai), tabir sinar putih perak laksana percikan alunan air gelombang melandai ke arah Bu Bing Loni dari berbagai penjuru.
Dimana Bu Bing Loni menggoreskan pedangnya, tiba-tiba terasa pedangnya menjadi berat seperti tertahan maju, sementara ujung pedangnya laksana disedot oleh sesuatu kuatan yang hebat, sehingga kurang leluasa bergerak lagi. Keruan kejut sekali hatinya, diam-diam ia menyedot hawa mengerahkan tenaga, pedangnya panjang digerakkan kembali lebih cepat merangsak ke arah Soat-san-su-gou.
Mendadak gerak gerik tongkat para tokoh dari Soat-san itu membaling putar balik secara tiba-tiba, kontan pedangnya Bu Bing Loni kena terkurung dan dituntun kesamping hingga menusuk tempat kosong.
Gabungan ilmu tongkat Soat-san-su-gou memang cukup hebat, perubahannya sukar diraba sebelumnya, dari menjaga diri bisa berubah menyerang dengan dahsyat, apalagi dengan kepungan dari empat penjuru ini, serempak empat batang tongkat pualam itu menutuk lempang ke seluruh badan Bu Bing Loni.
Bu Bing Loni sudah diakui sebagai tokoh silat nomor satu yang tiada bandingannya di kolong langit, ilmu pedangnya yang bernama Hui-sim-kiam-hoat merupakan ilmu pedang yang paling digdaya dan malang melintang di seluruh Bulim, masa begitu gampang ia mandah dikalahkan?
Begitu tusukan pedangnya mengenai tempat kosong lantas ia tahu akan akibat apa yang bakal dialaminya, maka dengan mendengus keras-keras, pedang panjangnya ditarik sertakan tenaganya…. Ting, ting, ting! Beruntun terdengar suara benturan nyaring yang menusuk telinga, dengan ketangkasan’
permainan pedangnya sekaligus ia tangkis kembali keempat batang tongkat kemala putih Soat-san-su-gou yang menyerampang tiba.
Dengan serangan gabungan dari empat penjuru ternyata Soat-san-su-gou masih tidak mampu mendesak Bu Bing Loni setapak kakipun, dan betul-betul luar biasa keruan mereka bercekat dan kaget dalam hati, untuk babak selanjutnya mereka tak berani gegabah main serang lebih dahulu serempak mereka loncat mundur dan berdiri menempati kedudukan semula.
Bu Bing Loni berdiri tegar dengan muka beringas meskipun secara gampang ia berhasil membendung dan menghalau serangan gabungan lawan, namun hakikatnya selama hidupnya ini kapan ia pernah terdesak di bawah angin sedemikian rupa? Matanya berkilat memancarkan sinar biru mengandung nafsu membunuh yang berkobar.
Tersapu oleh pandangan cahaya. mata Bu Bing Loni yang menyeramkan itu, tanpa terasa melonjak keras jantung Hun Thian-hi, tak kuasa matanya lantas melirik ke arah sigadas baju berbaju hitam itu. Kelihatan sikap orang tetap seperti waktu datang tadi, sedikitpun wajahnya tidak menunjukkan expresi apa-apa, matanya menatap tajam dalam gelanggang. Sebaliknya Siau Hong membelalak kedua biji matanya tengah mengawasi Hun Thian-hi.
Memang diluar dugaan Bu Bing Loni bahwa kepandaian silat Soat-soan-su-gou kiranya memang hebat diluar perhitungannya semula. Begitulah sekali lagi ia menggetarkan pedang panjangnya mengembangkan lagi Hui-sim-kiam-hoat yang telah menjagoi di seluruh kolong langit. Setitik sinar putih kemilau yang menyilaukan mata berkelebat laksana seekor ular hidup terbang menari ditengah angkasa terus membeliti dan menerjang keempat penjuru menyerang kepada musuhnya.
Soat-san-su-gou memusatkan seluruh perhatiannya. Sekali lagi mereka lancarkan jurus Gin-poh-tam-tam-ki (gelombang perak mengalun berderai), jurus ini memang peranti untuk menjaga diri tanpa balas menyerang.
Gin-ho-sam-sek merupakan ilmu gemblengan hasil pemikiran Swat-san-su-gou selama hidup ini. Betapapun tinggi kepandaian Bu Bing Loni yang sudah diagulkan sebagai jago nomor satu di seluruh jagat ini, dengan satu lawan empat dalam sementara waktu agaknya sukar dapat mengambil kemenangan dan memecahkan kepungan jang’ kepungan yan ketat itu.
Begitulah tanpa menggeser kaki tangan Bu Bing Loni terus bergerak gesit dan tangkas sekali memutar dan menarik pedang panjangnya menyerang dahsyat kepada empat lawannya, sebentar saja ratusan jurus sudah berlahu.
Saking hebat pertunjukan yang disaksikan ini Hun Thian-hi sampai melongo dan menjublek ditempatnya, darahnya berdesir semakin cepat. Pertunjukan adu kepandaian yang dilihatnya ini betul-betul belum pernah disaksikan selama hidup ini, kecepatan permainan pedang Bu Bing Loni yang banyak perrubahannya betul-betul sukar diikuti dengan pandangan matanya. Sebaliknya meskipun Soat-san-su-gou selalu hanya melancarkan jurus-jurus pertamanya tadi, namun perubahannya yang kokoh kuat itu sulit pula dapat diselaminya.
Semakin bertempur hati Bu Bing Loni semakin was-was, baru sekarang diinsafi olehnya bahwa Swat-san-su-gou merupkan lawan tertangguh selama hidupnya. Kalau tadi ia berseru angkuh dengan berdiri diam ditempatnya, sekarang mulai kelihatan kakinya bergerak maju mundur, gerak badannya mengikuti tarian kelebat sinar pedangnya, mendadak tampak permainan pedangnya berubah lagi kabut pancaran cahaya putih kemilau beterbangan memenuhi angkasa raya.
Cara perlawanan Swat-san-su-gou sebetulnya adalah dengan ketenangan menundukkan kekerasan, namun begitu permainan pedang Bu Bing Loni berubah, seketika mereka berempat merasakan tekanan tenaga dari luar semakin besar, batang pedang Bu Bing Loni kelihatan selincah naga terbang menari ditengah angkasa dan selulup timbul ditengah samudera raya, sudah beberapa kali hampir saja menerobos keluar dari kepungan.
Empat tongkat Soat-san-su-gou teracung tinggi-tinggi ke tengah begitu sedikit saling sentuh gesit sekali sebelum Bu Bing Loni sempat menerobos keluar gerak perubahan tongkat mereka sudah mendahului menghalanginya kembali.
Sekarang merekapun mulai bergerak. Jurus kedua dari ilmu gabungan Gin-ho-sam-sek mereka mulai dilancarkan yaitu yang dinamaknn Gam-lian-hun-in-ho (gabungan panjang awan dan bayangan), empat batang tongkat pualam mereka seperti tergubat menjadi satu membentuk sejalur cahaya tonggak yang mengurung ketat Bu Bing Loni.
Terdengar Bu Bing Loni menggertak nyaring, permainan pedangnya bergerak semakin cepat, mereka berlima sudah mulai lancarkan seluruh kemampuan masing-masing, setaker dari seluruh kekuatan mereka sudah dikuras seluruhnya. Gelanggang pertempuran menjadi ribut, angin menderu seperti angin lesus, angkasa menjadi gelap. Gadis baju hitam yang menonton dipinggir gelanggang menjadi kesima dan prihatin menahan napas.
Adalah Hun Thian-hi terlongong di tempatnya berdiri, pertempuran dahsyat macam ini betul-betul merupakan totonan yang jarang dapat disaksikan.
Tak terasa pertempuran dahsyat ini berjalan semakin cepat dan hebat, dilain kejap ribuan jurus sudah lewat cuaca semakin terang, sinar bintang-bintang menjadi guram berkelap-kelip bertaburan diangkasa raya menyinari puncak tertinggi Soat-san ini.
Kini kelihatan jurus permainan Bu Bing Loni dari cepat berubah lambat, namun setiap jurus tipunya dilandasi kekuatan tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya, terus memberondong ‘kepada empat lawannya.
Demikian juga Soat-san-su-gou terpaksa juga harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk bertahan dan megurung Bu Bing Loni.
Kelihatan Bu Bing Loni menyeringai dingin, tiba-tiba batang pedangnya bergerak berputar membuat lingkaran besar seperti lembayung menggubat ke arah empat musuhnya.
Langit di sebelah timur bertambah terang, selarik cahaya kuning yang terang benderang mulai timbul diufuk timur dibalik awan, pelan-pelan matahari mulai timbul dari peraduannya.
Terdengar Bu Bing Loni menggerung tertahan, cahaya sinar pedangnya mendadak menggelembung seperti lajur berkembang, itulah jurus Kek-hun-sau-liang (dibalik awan menggubat tonggak) salah satu jurus Hui-sim-kiam-hoat yang ampuh dan sakti, dimana sinar pedang berkelebat menembus tinggi keangkasa, terdengar pula suara nyaring lirih menembus kesunyian alam pegunungan. terlihat tubuh tinggi besar Bu Bing Loni menjulang tinggi keangkasa menerobos keluar dari kepungan Soat-san-su-gou, ditengah udara ia jumpalitan dengan gaja yang indah terus meluncur turun hinggap di tanah dengan enteng tanpa mengeluarkan suara.
Sambil berdiri tegap wajahnya mengunjuk senyum sinis yang dingin, pedang melintang di depan dada.
Sementara itu Soat-san-su-gou juga bergerak cukup gesit, serentak mereka loncat mundur terus berdiri sejajar bersentuh pundak.
Sesaat orang tua beralis putih merenung, lalu katanya kepada Bu Bing Loni, “Memang hebat, kita berempat m-ngaku kalah!”
Biji nmata Bu Bing Loni memancarkan cahaya aneh, sekelebat saja lantas lenyap, benar-benar diluar dugaannya dengan ketenaran Soat-san-su-gou, begitu terdesak di bawah angin lantas berani terang2an mengaku kalah, apalagi mereka selama ini mengetahui pribadinya.
Bu Bing Loni hanya mendengus saja, tak tahu cara bagaimana ia harus menjawab.
Sekilas menyapu pandang keseluruh gelanggang, orang tua beralis putih borkata lagi, “Secara jujur harus kita akui, kalau pertandingan ini diteruskan pasti kita berempat tak kuat melawan kehebatan Hui-sim-kiam-hoat!”
Bu Bing Loni menyeringai dingin, tanyanya, “Kau ada permintaan apa?”
Orang tua beralis putih berpikir sebentar lalu katanya sungguh-sungguh, “Ya, hari ini kita empat saudara mengaku kalah, malah kita rela untuk bunuh diri. Tapi kau harus melulusi dalam satu tahun ini melepaskan Hun Thian-hi!”
“Tidak mungkin!” jengek Bu Bing Loni ketus,
“Kalau tidak setuju,” kata orang tua alis putih, “kukira kau sendiri lebih tahu, setelah pulang dari sini sedikitnya kau harus menghadap dinding sepuluh tahun, apalagi kita berempat, betapapun tinggi kepandaian silatmu? jangan harap kita mandah menyerah begitu saja.”
Pandangan Bu Bing Loni memancarkan cahaya aneh dan tajam. Orang tua alis putih tahu hati orang sudah tergerak, maka segera ia menambahi, “Satu tahun, hanya setahun saja. Masa dengan kedudukanmu yang teragung sebagai tokoh nomor satu dijagat ini takut menghadapi orang bocah yang masih hijau?”
Bu Bing Loni berpaling mengawasi Hun Thian-hi, “Baik”, sahutnya menjengek hina, “terpaksa kukabulkan sekali permintaan ini!”
Orang tua alis putih bersorak girang, matanya memancarkan cahaya terang, serunya lagi, “Kau, demikian juga mereka?”
Bu Bing Loni manggut-manggut.
Orang tua aiis putih memutar tubuh menggapai kepada Hun Thian-hi, “Nak, kemarilah!”
Waktu mendengar percakapan orang tua alis putih dengan Bu Bing Loni tadi sesaat Hun Thian-hi menjadi kesima dan melongo, begitu mendengar panggilan pelan-pelan ia maju kehadapan orang tua alis putih. Dengan mematung ia bertanya kepada orang tua alis putih, “Locianpwe! Kenapa kau berbuat begitu?” habis berkata tak tertahan lagi air mata lantas mengalir keluar.
Orang tua alis putih tersenyum manis katanya, “Kelak tentu kau akan tahu, tak perlu kau bertanya lagi!”
Kata Hun Thian,hi sambil membasut airmata, “Dengan keputusan kalian ini cara bagaimana aku bisa menerima?…. Baru pertama kali ini aku berjumpa dengan kalian bukan?”
Tangan orang tua alis putih terulur mengelus kepala Hun Thian-hi, matanya memandang jauh ke ufuk timur memandangi sang surja yang mulai menongol keluar, katanya kepada Hun Thian-hi, “Coba apa kau sudah melihat matahari terbit itu, itulah lambang dirimu kelak!”
Raut muka Bu Bing Loni berkerut-kerut dan bergidik, namun sebentar saja, tanpa buka suara.
Pelan-pelan Soat-san-su-gou duduk bersila kembali, tersipu-sipu Hun Thian-hi berlutut dihadapan orang tua alis putih. Jiwa Soat-san-gu-gou berempat untuk menebus jiwanya sendiri selama setahun saja, sungguh perasaannya sangat tertekan dan haru sekali.
Orang tua alis putih menghela napas, tanyanya, “Nak kudengar kau masih mengemban tugas menuntut balas sakit hati ayahmu bukan?” Hun Thian-hi manggut-manggut.
“Siapakah musuh besar itu?”
“Mo-bin-su-seng!”
Orang tua alis putih terkejut melongo, mulutnya mendesis, “Oh kiranya dia?”
Sungguh orang tua alis putih tidak mengira bahwa Hun Thian-hi terikat permusuhan dengan dua tokoh lihay yang paling ditakuti di seluruh kolong langit ini. Bu Bing Loni merupakan tokoh paling ditakuti karena kepandaiannya yang tinggi dan sepak terjangnya yang telengas. Sebaliknya Mo-bin-su-seng (pelajar muka iblis) merupakan tokoh paling licik dan banyak akal muslihatnya.
Orang tua alis putih angkat kepala mengawasi Bu Bing Loni sebentar lalu berkata pula kepada Hun Thian-hi, “Nak, sepeninggalmu dari sini segera kau menujlu ke Tiang-pek-san, di Tiang-pek-san ada dua tokoh kosen aneh, jikalau kau dapat menerima anugerah mereka berdua, masa depanmu pasti gilang gemilang!”
Lagi-lagi terdengar Bu Bing Loni menjengek hina. Orang tua alis putih berkata pula, “Kita empat saudara sejak dua puluh tahun yang lalu mengasingkan diri bersama mempelajari dan memperdalam ilmu Gin-ho-sam-sek, sampai detik ini belum sempat menerima, seorang muridpun, hari ini agaknya kita berjodoh maka pelajaran tunggal ini harus kuturunkan kepadamu.” – lalu dari dalam bajunya dirogoh keluar sejilid buku kecil yang tersulam di atas kain sutra putih terus diangsurkan kepada Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi menerima buku itu dengan kedua tangannya, katanya tertekan hampir sesenggukan, “Terima kasih akan perhatian dan kepercayaan yang diberikan kepada Wanpwe!”
Orang tua alis putih tertawa tawar, ujarnya, “Mengandal bekal Lwekangmu sekarang kau takkan mampu mempelajarinya, tapi boleh kau simpan kelak tentu dapat kau gunakan.”
Pandangan Bu Bing Loni memancarkan cahaya aneh dan tajam. Orang tua alis putih tahu hati orang sudah tergerak, maka segera ia menambahi, “Satu tahun, hanya setahun saja. Masa dengan kedudukanmu yang teragung sebagai tokoh nomor satu dijagat ini takut menghadapi orang bocah yang masih hijau?”
Bu Bing Loni berpaling mengawasi Hun Thian-hi, “Baik”, sahutnya menjengek hina, “terpaksa kukabulkan sekali permintaan ini!”
Orang tua alis putih bersorak girang, matanya memancarkan cahaya terang, serunya lagi, “Kau, demikian juga mereka?”
Bu Bing Loni manggut-manggut.
Orang tua aiis putih memutar tubuh menggapai kepada Hun Thian-hi, “Nak, kemarilah!”
Waktu mendengar percakapan orang tua alis putih dengan Bu Bing Loni tadi sesaat Hun Thian-hi menjadi kesima dan melongo, begitu mendengar panggilan pelan-pelan ia maju kehadapan orang tua alis putih. Dengan mematung ia bertanya kepada orang tua alis putih, “Locianpwe! Kenapa kau berbuat begitu?” habis berkata tak tertahan lagi air mata lantas mengalir keluar.
Orang tua alis putih tersenyum manis katanya, “Kelak tentu kau akan tahu, tak perlu kau bertanya lagi!”
Kata Hun Thian,hi sambil membasut airmata, “Dengan keputusan kalian ini cara bagaimana aku bisa menerima?…. Baru pertama kali ini aku berjumpa dengan kalian bukan?”
Tangan orang tua alis putih terulur mengelus kepala Hun Thian-hi, matanya memandang jauh ke ufuk timur memandangi sang surja yang mulai menongol keluar, katanya kepada Hun Thian-hi, “Coba apa kau sudah melihat matahari terbit itu, itulah lambang dirimu kelak!”
Raut muka Bu Bing Loni berkerut-kerut dan bergidik, namun sebentar saja, tanpa buka suara.
Pelan-pelan Soat-san-su-gou duduk bersila kembali, tersipu-sipu Hun Thian-hi berlutut dihadapan orang tua alis putih. Jiwa Soat-san-gu-gou berempat untuk menebus jiwanya sendiri selama setahun saja, sungguh perasaannya sangat tertekan dan haru sekali.
Orang tua alis putih menghela napas, tanyanya, “Nak kudengar kau masih mengemban tugas menuntut balas sakit hati ayahmu bukan?” Hun Thian-hi manggut-manggut.
“Siapakah musuh besar itu?”
“Mo-bin-su-seng!”
Orang tua alis putih terkejut melongo, mulutnya mendesis, “Oh kiranya dia?”
Sungguh orang tua alis putih tidak mengira bahwa Hun Thian-hi terikat permusuhan dengan dua tokoh lihay yang paling ditakuti di seluruh kolong langit ini. Bu Bing Loni merupakan tokoh paling ditakuti karena kepandaiannya yang tinggi dan sepak terjangnya yang telengas. Sebaliknya Mo-bin-su-seng (pelajar muka iblis) merupakan tokoh paling licik dan banyak akal muslihatnya.
Orang tua alis putih angkat kepala mengawasi Bu Bing Loni sebentar lalu berkata pula kepada Hun Thian-hi, “Nak, sepeninggalmu dari sini segera kau menujlu ke Tiang-pek-san, di Tiang-pek-san ada dua tokoh kosen aneh, jikalau kau dapat menerima anugerah mereka berdua, masa depanmu pasti gilang gemilang!”
Lagi-lagi terdengar Bu Bing Loni menjengek hina. Orang tua alis putih berkata pula, “Kita empat saudara sejak dua puluh tahun yang lalu mengasingkan diri bersama mempelajari dan memperdalam ilmu Gin-ho-sam-sek, sampai detik ini belum sempat menerima, seorang muridpun, hari ini agaknya kita berjodoh maka pelajaran tunggal ini harus kuturunkan kepadamu.” – lalu dari dalam bajunya dirogoh keluar sejilid buku kecil yang tersulam di atas kain sutra putih terus diangsurkan kepada Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi menerima buku itu dengan kedua tangannya, katanya tertekan hampir sesenggukan, “Terima kasih akan perhatian dan kepercayaan yang diberikan kepada Wanpwe!”
Orang tua alis putih tertawa tawar, ujarnya, “Mengandal bekal Lwekangmu sekarang kau takkan mampu mempelajarinya, tapi boleh kau simpan kelak tentu dapat kau gunakan.”
Pelan-pelan Hun Thian-hi menyimpan buku catatan pelajaran Ghin-ho-sam-sek itu ke dalam kantong bajunya. Sementara itu orang tua alis putih angkat kepala memandang ke arah Bu Bing Loni katanya, “Tadi kau baru berkenalan dengan dua jurus pelajaran ilmu Gin-ho.sam-sek saja, kita berempat baru menggunakan dua jurus tapi cukup mengurung kau selama satu hari satu malam, ketahuilah perbawa jurus ketiga jauh berlipat ganda, dibanding jurus pertama dan jurus kedua. Sayang kita berempat belum selesai mempelajarinya, jikalau sudah tamat seluruhnya kutangggung kita takkan menderita kekalahan seperti ini, kau perlu selalu ingat akan peristiwa hari ini!”
Bu Bing Loni menjengek dengan nada hina tanpa mengeluarkan suara….
Sejenak orang tua alls putih terpekur lalu katanya kepada Hun Thian-hi, “Jurus pencacat langit pelenyap bumi itu sekali2 jangan kau lancarkan lagi. Ketahuilah Ang-hwat-lo-mo terlalu banyak dan mendalam mengikat permusuhan dikalangan Kangouw. Jikalau dia sendiri yang tampil ke depan mungkin para musuhnya takkan berani banyak tingkah, tapi menghadapi kau kukuatir dendam kesumat mereka akan seluruhnya ditimpahkan ke atas pundakmu, akibatnya tentu sangat berat dan menyulitkan bagi kau!”
Hun Thian-hi manggut-manggut dan menerima wejangan ini dengan patuh. Orang tua alis putih lantas bungkam dan memejamkan matanya.
Sungguh sedih dan rawan sekali perasaan Hun Thian-hi. Soat-san-su-gou rela mengorbankan jiwanya sendiri untuk mengganti jiwanya, budi teramat besar ini selama hidup ini agaknya sulit dapat membalasnya.
Segera ia berlutut dan menyembah empat kali dihadapan orang tua alis putih. Tiba-tiba orang tua alis putih membuka matanya lagi serta katanya, “Nak, sifat congkak dan takabur harus kau tindas ke-akarnya. Kalau kau selalu dibawa akan adatmu sendiri susah kau dapat mencapai tingkatan seperti apa yang kita harapkan, maka kuharap kau tidak menyia-nyiakan pengharapan kita berempat!” — habis berkata lalu memejamkan mata lagi.
Rada lama Hun Thian-hi mengheningkan cipta lalu berturut-turut berlutut dan menyembah bergantian kepada empat orahg tua itu, mereKa duduk bersila memejamkan mata tanpa bergerak atau bersuara.
Waktu tiba giliran orang tua keempat, orang tua ini mendadak membuka mata dan berseri tawa katanya, “Nak, kudoakan kau selamat sepanjang jalan, semoga memperoleh rejeki besar!”
Tak tertahan bercucur deras air mata Hun Thian-hi….
Orang tua itu tersenyum manis, ujarnya, “Kenapa kau, waktu pertama kali kubertemu dengan kau, kemana pula sikapmu yang gagah perwira tak mengenal takut itu. Sikap congkak memang boleh asal bukan tukang congkakmu saja yang melandasi segala sepak terjangmu!”
Sejenak Hun Thian-hi terpekur, mendadak ia menyeka air mata dengan tangan kanannya terus bergegas bangun dengan tangkasnya.
Orang tua itu tersenyum lebar, pelan-pelan memejamkan matanya lagi.
Sebaliknya orang tua alis putih membelalakkan kedua matanya, mulutnya menjebir dan bersuit panjang melengking, serempak mereka berempat duduk tegak menyilangkan tangan di depan dada, berbareng tangan kanan terayun kencang, empat tongkat pualam kontan melesat terbang menghilang, maka dilain saat jiwa merekapun ikut melayang dengan duduk sempurna.
Sekian lama Hun Thian-hi termangu-mangu dengan mengembeng air mata, tiba-tiba ia membalik tubuh menghadap Bu Bing Loni dan membentak, “Sehari aku Hun Thian-hi masih hidup, sakit hati ini harus kubalaskan!”
Bu Bing Loni bergantian mengawasi empat orang tua yang sudah wafat itu, lalu melirik ke arah Hun Thian-hi dengan senyum ejek, waktu pandangannya teradu pandang dengan sorot mata Thian-hi tanpa merasa terkesiap hatinya. Terasa sorot pandangan Hun Thian-hi begitu tajam dan menakutkan, selama hidup dan malang melintang di dunia persilatan rasanya belum pernah ia merasa was-was dan kekuatiran yang luar biasa. Hatinya menjadi bertanya-tanya dan heran kenapa pancaran mata Hun Thian-hi bisa begitu tajam dan menakutkan, bukan saja mengandung rasa kebencian yang menggelora terasa pula tersembunyi kepintaran luar biasa yang sulit diraba.
Dengan mengkirik segera ia memutar tubuh ke arah gadis baju hitam serta serunya, “Gwat-ji, mari kita pulang.”
Dingin-dingin saja sekilas gadis baju hitam menyapu pandang ke arah Hun Thian-hi, lalu membungkuk tubuh memberi hormat kepada Bu Bing Loni, sahutnya, “Ya, Suhu!”
Dengan rasa takut-takut dan keheranan Siau Hong mengawasi Thian-hi lalu tersipu-sipu membalikkan tubuh mengintil di belakang nonania, maka dilain kejap mereka bertiga sudah terbang makin tinggi ditengah angkasa menunggang burung dewata yang besar itu.
Entak berapa lama Thian-hi berdiri termenung seorang diri. Pandangan gadis baju hitam tadi meski hanya sekilas saja, terasa olehnya pandangan yang dibekali rasa dendam dan kebencian yang mendalam, entahlah apa dan kenapa gadis remaja itu begitu benci kepadanya.
Thian-hi mendelong mengawasi Soat-san-su-gou, suara mereka masih terkiang dalam kupingnya prihatin si orang tua alis putih serta belas kasihan si orang tua betul-betul berkesan dan takkan terlupakan olehnya. Walaupun mereka baru kenal sehari semalam, namun budi dan kebaikan yang telah tertanam akan dirinya tidaklah kalah besar dibanding gurunya sendiri Seruling selatan Kongsun Hong yang telah mengasuhnya selama puluhan tahun.
Pelan-pelan ia menghela napas lalu mendongak mengawasi angkasa, bayangan Bu Bing Loni dan gadis baju hitam bertiga sudah menghilang diujung langit.
Diam-diam Thian-hi menerawang kemana tujuan selanjutnya. Siapakah dua tokoh yang dimaksud di Ting-pek-san itu? Sekian lama ia terpekur. setelah berlutut dan menyembah lagi kepada Soat-san-su”gou terus turun gunung.
Setelah tiba dikaki Gunung salju, Thian-hi langsung mengambil jalan menuju keutara, menyelusuri tembok Besar terus beranjak menuju ketimur laut.
Dataran tinggi tanah merah di daerah utara sangat panas, disini jarang kelihatan orang berlalu lalang, dimana-mana angin menghembus keras, debu dan pasir bergulung menari ditengah angkasa. Menunggang seekor kuda Thian-hi pelan-pelan melarikan tunggangannya.
Menurut adatnya ingin rasanya tumbuh sayap lantas terbang sampai di Ting-pek-san. Tapi dirinya sudah menimbulkan bencana besar setiap saat dirinya menjadi incaran para tokoh-tokoh silat kenamaan, waktu lewat Tionggoan ia berlaku sangat hati-hati. setelah mengalami berbagai rintangan dan susah payah akhirnya bisa sampai disini, betapapun harus selalu waspada jangan sampai meninggalkan jejak.
Begitulah dengan tunggangannya pelan-pelan ia mencongklang ke arah timur. Sekonyong-konyong jauh dibelakangnya terdengar derap langkan kuda yang dilarikan cepat. tak lama kemudian tampak dua ekor kuda berbulu putih melesat lewat disampingnya. Sekilas pandang Thian-hi lantas kenal bayangan mereka, diam-diam terkejut hatinya. Dandan kedua orang itu serba ketat punggungnya mengenakan mantel berbulu warna putih bersih tanpa kelihatan kena debu, kalau ilmu silat mereka tidak lihay tak mungkin mereka berani mencari gara-gara pada dirinya, sedikit mengencangkan pedal kudanya ia menghentikan lari kuda hitamnya. Tampak kedua ekor kuda putih itu terus membedal ke depan.
Thian-hi termangu mengawasi bayangan kedua orang ini menghilang dikejauhan. Mendadak dari samping sebelah kanan terdengar lagi derap langkah kuda yang mendatangi, debu kuning mengepul tinggi, tampak seekor kuda kembang dipacuh ke arah dirinya. Bercekat hati Thian-hi, agaknya hari ini aku harus memeras banyak keringat.
Kuda kembang itu berhenti dan menghadang di depan Thian-hi, sembari bebenger keras kaki depannya terangkat naik tinggi terus berputar setengah lingkaran, kini mereka berhadapan langsung dengan Thian-hi.
Jang duduk di atas kuda kembang ini adalan seorang pemuda bermuka cakap halus berpakaian serba kuning berkilauan, mengenakan mantel besar berwarna Kuning mas pula.
Berdetak keras jantung Hun Thian-hi. Bukankah pemuda ini berjuluk Kim-i kongcu, putra tunggal Sing-hu-it-koay siiblis durjana yang sangat ditakuti itu? Entah untuk apa dia gelandangan sampai di Tionggoan, naga-naganya malah hendak cari setori pada dirinya.
Kim-ikongcu (pemuda baju mas) menyeringai dingin kepada Thian-hi, katanya, “Kau inilah Hun Thian-hi? Pasti kau sudah tahu siapa aku ini bukan?”
Walau tidak tahu apa gerangan maksud kedatangan Kim-i kongcu Leng Bu ini, namun dari sikapnya. yang garang dan takabur agaknya tidak mengandung maksud baik.
Sejenak ia amat-amati pemuda baju mas tanpa mengeluarkan suara.
Dari kejauhan tampak mendatangi lagi dua ekor kuda coklat, yang terdepan terdengar berteriak dari kejauhan, “Saudara Leng, Jangan ceroboh!”
Waktu Thian-hi berpaling tampak yang mendatangi tak lain adalah Su Cin dan adiknya Su Giok-lan, diam-diam hatinya membatin, “Payah, entah berapa banyak orang yang bakal meluruk datang.”
Su Cin dan Su Giok-lan datang berjajar. Kim-i kongcu, Leng Bu tentavwa lebar, katanya kepada Su Cin, “Urusan Kim-i kongcu selamanya tak senang dicampuri orang lain.”
Sedikit berubah rona wajah Su Cin, katanya mendengus, “kau sangka aku tukang bikin ribut? Kalau kau mau hanya kematianlah bagianmu!”
Leng Bu menyeringai sinis, pelan-pelan mantelnya dicopot terus melorot. turun dari tunggangannya serta katanya Kepada Su Cin, “Benar-benar, kunasehat kau jangan mencampuri urusan. Urusanku biar ayahku sendiri yang menanggungnya nanti.”
Berubah pucat air muka Su Cin, sekilas ia melirik Kepada Su Giok-lan, tampak muka adiknya membeku tanpa menunjukkan expresi, kini pandangan Su Cin beralih ke arah Hun Thian-hi.
Sementara itu, ganti berganti Hun Thian-hi juga sedang mengamati mereka bertiga, entah ada hubungan apa diantara mereka bertiga.
Setelah turun di tanah lambat-lambat Leng Bu melolos sebilah pedang panjang kuning emas, katanya kepada Hun Thian-hi; Hati-hatilah pedang hari ini harus menenggak sedikit darahmu!”
Hun Thian-hi tenang-tenang bercokol di atas kudanya, dingin pandangannya mengawasi Leng Bu Ia tahu ayah Leng Bu itu Sing-hu-it-koay merupakan salah satu pentolan iblis ganas yang ditakuti dikalangan Kangouw. Sing-hu-it-koay jauh menetap di Thian-lam, gurunya yang dijuluki Lam-siu (seruling selatan) pun segan untuk berhadapan tangsung dengan manusia iblis itu.
Melihat sikap acuh yang tidak menghiraukan dirinya, Leng Bu menjadi sengit, mendadak ujung pedangnya bergerak menggetar dari samping langsung ia menusuk kepinggang Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi tahu bahwa Kim-i-kongcu Leng Bu sudah lama malang melintang di Kangouw mengangkat nama, hari ini segaja mencari setori pada dirinya betapapun aku harus beri hajaran setimpal untuk menumpas sikapnya yang congkak. Seenaknya saja tangan kanan terayun tahu-tahu Badik buntung sudah berada digenggamannya, selarik sinar hijau berkelebat langsung memapas turun kebatang pedang Leng Bu yang menusuk tiba.
Gerak tubuh kedua belah pihak amat cepat dan sama berkelit mundur, dilain saat tubuh Hun Thian-hi sudah mencelat tinggi meninggalkan tunggangannya dan berdiri berhadapan dengan Kim-i kongcu Leng Bu.
Leng Bu bertengger dengan muka merah padam, betapa cepat ia menarik balik pedangnya namun tak urung ujung pedangnya sudah terkupas sebagian oleh ketajaman badik buntung.
Disebelah sana Su Cin tampak berseri dan manggut-manggut.
Leng Bu menyeringai sadis, cahaya pedangnya menari merangsak seru ke arah Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi pun menggerakkan badik buntung untuk melawan serbuan musuh. Kedua belah pihak adalah anak murid dari tokoh ternama yang berkepandaian cukup lihay, Lwekang keduanya sama kuat dalam sementara waktu sulit untuk tentukan siapa lebih unggul yang terang mereka bertempur dengan bernapsu dan cepat, sinar pedang ke-kuning2an menari2 laksana kupu2 yang lincah, sebaliknya sinar hijau pupus laksana lembayung berputar dan membabat kian-kemari.
Meski menggenggam senjata pusaka macam Badik buntung. Hun Thian-hi merasa ilmu pedang Leng Bu adalah begitu hebat dan aneh sekali, sayang seruling pualamnya sudah kutung, Badik buntng kurang leluasa baginya sehingga rada menghalangi gerak permainannya.
Begitulah pertempuan sengit itu tanpa terasa sudah mencapai ratusan jurus. Lama kelamaan dari pihak yang terdesak kini Leng Bu malah berinisiatip menyerang, sebaliknya semakin bertempur Hun Thian-hi merasa semakin payah. Ilmu serulingnya yang seharusnya cukup hebat tak kuasa dikembangkan karena tidak sesuai dengan senjata yang dipakai ini, sehingga intisari ilmu serulingnya kehilangan keampuhannya.
Dikejap lain dua puluh lima jurus telah dicapai, tapi jurus demi jurus Leng Bu semakin gencar lancarkan serangannya. Su Cin yang menonton dipinggiran menjadi gugup dan gelisah. Sungguh tak dimengerti olehnya da dalam segebrak saja Hun Thian-hi sekaligus telah dapat membunuh pukulan musuhnya. Toh-hun-cui-hun yang kenamaan dan lihay itu pun terkutung sebelah lengannya, kenapa hari ini tak kuasa menghadapi Leng Bu.
Dalam kuatirnya Su Cin melompat turun dari atas kuda. Su Giok-lan tetap duduk di atas kuda tidak membawa sikap.
Sementara itu, Hun Thian-hi semakin dibuat keheranan, bukankah Su Cin serombongan dengan Kim-i Kongcu Leng Bu, kenapa dia begitu gugup dan gelisah bagi dirinya? Besar hasratnya untuk mengetahui rahasia apa dibalik persengketaan ini. Karena pikirannya ini terpaksa ia main mundur sambil menjaga diri saja.
Sebaliknya Leng Bu menyeringai dingin, pedang panjang ditusukan semakin gencar, ia kembangkan Sing-hu-kiam-hoat, sejalur sinar kuning mas berterbangan mengurung tubuh Hun Thian-hi.
Sedikit perhatian Hun Thian-hi terpecah situasi pertempuran lantas berubah gawat, sekarang Leng Bu telah mantap pegang serangan. Betapa pun Hun Thian-hi menggerakkan Badik buntungnya untuk menangkis, menyampok gerak-geriknya mulai kacau balau, Kim-i-kongcu semakin mendapat angin.
Baru sekarang Thian-hi betul-betul terkejut dengan mengertak gigi ia empos semangatnya, segera mengembangkan ilmu Thian-liong-chit-sek, tujuannya hendak mengrangsak musuh. Tapi cahaya pedang Leng Bu keburu sudah membendung setiap penjuru dengan jurus Pek-lian-jian-cong (rantai putih ribuan kati) sehingga Hun Thian-hi seakan-akan terbelenggu tak mampu bergerak.
Berulang-ulang Hun Thian-hi lancarkan serangan balasan yang dahsyat, namun tak berarti sama sekali, karena ilmu pedang Sing-hu-kiam-hoat yang dilancarkan Lang Bu begitu hebat dengan tipu-tipunya yang lihay dan sulit diraba, dalam keadaan yang terdesak itu berapa kali sudah Hun Thian-hi hendak lancarkan jurus pencacat langit pelenyap bumi, namun setiap kali terkiang pesan orang tua alis putih sehingga niatnya dibatalkan.
Su Cin semakin gelisah seperti semut di dalam kuali panas, tidaklah menjadi soal kalau Hun Thian-hi dipihak yang menang, kalau kalah…. urusan ini terjadi gara-gara paman dan mereka berdua yang harus bertanggung jawab, apalagi….
Waktu Hun Thian-hi menghadapi serangan berbahaya lagi tak tertahan Su Cin berteriak maju, “Leng Bu, berhenti!”
Leng Bu tak menduga Su Cin bakal merintangi perbuatannya, serta merta gerak geriknya sedikit merandek. Kesempatan baik ini tak disia-siakan oleh Thian-hi, mendadak mencelat tinggi dengan gaja Lui-tian-hwi-theng (geledek dan kilat terbang menyamber) tubuhnya terbang keluar dari kepungan musuh.
Leng Bu menjadi melongo, dengan dingin ia awasi Thian-hi. Sekian lama mereka beradu pandang dengan diam. Mendadak pelan-pelan Leng Bu berpaling mengerling ke arah Su Cin.
Kata Su Cin dengan gusar, “Leng Bu! Jangan kau terlalu menghina orang. Ketahuilah dunia persilatan bukan milik Sing-hu-lo-koay ayahmu itu saja!”
Thian-hi” tertegun, apa maksud kata-kata Su Cin terhadap Leng Bu ini?
Leng Bu menyipit mata menyeringai sadis, jengeknya, “Kau selalu menghalangi perbuatanku?”
Su Cin mendengus, sebelah tangannya melolos pedang katanya, “Kau sangka murid Pedang utara gampang dibuat permainan?”
Tanpa bercakap lagi setindak demi setindak pelan-pelan Leng Bu maju menghampiri.
“Engkoh Cin! Hati-hati!” teriak Su Giok-lan dari atas kuda.
“Tak apa, aku tidak takut!” sahut Su Cin.
Sembari melolos pedang tersipu-sipu Su Giok-lan meloncat turun dan berdiri disamping Su Cin.
Hun Thian-hi tidak tahu persoalan apa yang disengketakan, terpaksa ia berdiri menonton saja.
Sebentar Leng Bu menghentikan langkahnya, matanya mengawasi Su Giok-lan lalu mendesak lagi ke arah Su Cin.
Pedang Su Cin bergerak, ujung senjatanya menusuk tepat di tengah alis Leng Bu. Sigap sekali Leng Bu angkat pedang masnya menyampok pedang lawan, tangkas sekali tahu-tahu tajam pedang masnya berbalik sudah mengancam tenggorokan Su Cin.
Su Giok-lan angkat pedangnya membacok, begitulah mereka berdua mengeroyok Leng Bu. Namun sedikitpun LengBu tidak gentar, dengan Sing-hu-kiam-hoat ia masih mampu menghadapi keroyokan kedua musuhnya, malah ia pegang inisiatif pertempuran, Su Cin berdua dicecar dengan serangan membadai. Terpaksa Su Cin berdua kembangkan Hian-thian-hui-kiam pelajaran gurunya, dengan kekuatan gabungan ini, mereka mandah membela diri saja.
Thian-hi mengikuti terus jalan pertempuran ini pikirnya, “Meski ilmu pedang Leng Bu cukup aneh dan keji. tapi pedang Hian-thian-hui-kiam dari Pedang utara juga cukup lihay paling tidak lima raus jurus kemudian baru dapat dibedakan pihak mana bakal unggul dan asor tapi pertikaian apakah yang membuat mereka bermusuhan? Naga-naganya Su Cin tiada maksud jahat terhadap dirinya, apalagi melihat martabat dan perangainya jauh lebih baik dibanding pamannya yang licik dan rendah itu. Syukur tadi ia memberi bantuan hingga aku terhindar dari malapetaka. Dengan cermat ia ikuti pula jalan pertempuran, kali ini kelihatan situasi telah berubah. Kim-i-kongcu terus lancarkan serangannya yang deras dan keras, sebaliknya. Su Cin berdua hanya memjaga diri tanpa balas menyerang. Hian-thian-tui-kiam mentabirkan bayangan pedang yang rapat dan padat membendung rangsakan Leng Bu.
Wajah Leng Bu menyungging senyum dingin, pedangnya menyerang ke timur membabat kebarat bermainan sebat sekali kakinya bergerak lincah mengikuti gaja pedangnya, berputar-putar mengeliling kedua musuhnya. Sekonyong-konyong Leng Bu melenting mundur berkelebat tiba disamping kuda terus meraih mantel mas yang berada di pungung kudanya.
Seketika berubah hebat air muka Su Cin berdua, cepat-cepat Su Cin berpaling ke arah Thian-hi, bibirnya sudah bergerak untuk berkata, namun ditelannya kembali. terasa hati Thian-hi menjadi tegang, serta merta serasa suasana tertekan ini bakal terjadi sesuatu peristiwa hebat.
Sementara itu, dengan seringai giginya yang putih, Leng Bu menyerbu lagi kepada Su Cin berdua, Sekarang kelihatan gerak-geirik Su Cin berdua yang gugup dan was-was. terpaksa mereka bergerak untuk menangkis dan mambela diri.
Melihat sikap dan air muka Su Cin berdua seperti ketakutan, pandangan Thian-hi lantas beralih kepada pedang mas yang dipegang tangan kiri Leng Bu, namun tiada sesuatu yang luar biasa entah kenapa Su Cin berdua agaknya sangat takut.
Beruntun Leng Bu lancarkan puluhan jurus serangan pedang, tiba-tiba ia ayun mantel ditangan kirinya untuk meeggubat kedua batang pedang Su Cin berdua.
Hun Thian-hi tersentak kaget, jurus yang dilancar Leng Bu barusan adalah Hwi-cwan-ciam-soat-cap-sa-si.
Itulah ilmu tunggal yang kenamaan dari Hwi-cwan-ciam-soat Ciok Hou-bu majikan Hwi-cwan-po di Kang-lam. Entah cara bagaimana ilmu hebat itu bisa dipelajari oleh Kim-i-kongcu Leng Bu.
Tengah ia menimang-nimang, Leng Bu sedang mengobat-abitkan mantel masnya itu mendesak musuhnya sehingga Su Cin berdua kepontang-panting. Sekonyong-konyong, Leng Bu menarik mantel masnya berputar begitu cepat dikombinasikan dengan pedang ditangan kanannya, beruntun ia lancarkan lima jurus serangan hebat. Terdengar Su Cin berdua menggertak bersama serentak kedua pedang mereka saling silang terus memantek ke depan.
“Tring!” tahu-tahu kedua batang pedang mereka menceng tinggi ke tengah udara tersapu mantel mas seketika tampak bayangan orang berkelebat berpencar, namun tahu-tahu Leng Bu berdiri angker disebelah samping, mantel mas digenggam ditangan kirinya, sebaliknya ujung pedangnya mengancam tenggorokan Su Cin.
Su Giok-lan hendak memburu maju.
“Jangan bergerak!” bentak Leng Bu.
Muka Su Cin penuh keringat, seikilas ia mengerling ke arah Hun Thian-hi. Thian-hi tidak menduga situasi berubah begitu cepat, seketika, ia menjublek ditempatnya tanpa suara.
Leng Bu menyapu pandang mereka berdua, pelan-pelan ia berkata kepada Su Cin, “Kau selalu merintangi perbuatanku!”
Melihat keadaan Su Cin yang mengenaskan itu mencemas perasaan Thian-hi, betapapun keadaan Su Cin in karena menolong dirinya tadi. Sebagai murid Pak-kiam masa mandah saja dihina begitu rupa. Diam-diam ia menerawang sikap Su Cin tadi waktu membantu dirinya terang ia mengajak aku bekerja sama untuk menghadapi dan merobohkan Leng Bu.
Perlahan-lahan Kim-i kongcu menarik pedang masnya. Hun Thian-hi menghela napas lega. Tapi mendadak ujung pedangg Kim-i kongcu menusuk pula ke arah Su Cin. Su Cin tidak menduga Leng Bu berbuat begitu licik dan keji untuk berkelit pun tak sempat lagi, ujung pedang telak sekali menembus dadanya sebelah kanan.
Su Giok-lan terpekik nyaring terus menubruk maju. Kim-i-kongcu mengerling ke arah Su Giok-lan, pelan-pelan menarik pedangnya, wajahnya tak berubah sama sekali, lalu mundur dua langkah.
Kedua tangan Su Cin mendekap luka didadanya, keringat dingin membasahi seluruh mukanya kedua biji matanya mendelik bagai kelereng yang hendak mencelat keluar ke arah Leng Bu penuh rasa dendam yang membwa.
Tersipu-sipu Hun Thian-hi juga memburu datang. “Perlu apa kau datang, pergi!” hardik Su Giok-lan.
Sungguh Thian-hi menyesal setengah mati. ia menjublek ditempatnya.
Kata Su Cin kepada Su Giok-lan, “Dik, jangan begitu kasar! Aku ada omongan yang perlu kusampaikan kepada saudara Hun!” — lalu ia berpaling katanya kepada Hun Thian-hi, “Saudara Hun aku ada sedikit omongan harap dengarlah!”
Lekas-lekas Hun Thian-hi maju memajang Su Cin, katanya berbisik, “Saudara Su, sungguh aku sangat menyesal!”
Su Giok-lan mendekam di tanah menangis tergerung-gerung.
Su Cin mengerling ke arah Su Giok-lan serta katanya pada Hun Thian-hi, “Bermula kusangka pasti saudara Hun takkan terkalahkan oleh Kim-i kongcu, siapa tahu….
Hun Thian-hi bertambah malu,
Kata Su Cin selanjutnya, “Peristiwa tempo hari saudara Hun sampai terfitnah secara semena2, untung Suboku sudah jelas duduk perkaranya, kelak tentu segalanya dapat dibikin terang!”
Thian-hi semakin malu dan menyesal sekali, ia tertunduk tak berani adu pandang.
Kata Su Cin, “Adikku diracun oleh Leng Bu, dipaksanya untuk kawin dengan dia. Setelah aku tiada harap kau suka melindungi dan menjaga adikku baik-baik”
Bercekat hati Hun Thian-hi mulai paham kenapa bermula tadi Su Cin kelihatan rada mengalah segan menghadapi Leng Bu, kiranya punya latar belakang yang keji ini…. Pelan-pelan ia berpaling memicingkan mata menatap ke arah Leng Bu, tampak Leng Bu berdiri jajar disam[ing tunggangannya tanpa menunjukkan sikap tertentu, pedang masih terpegang ditangannya.
Waktu Thian-hi berpaling lagi Su Cin berkata kepadanya, “Kulihat saudara Hun merupakan calon pendekar kenamaan yang bakal menjulang tinggi diantara sekian tunas muda saat ini, hari depanmu pasti gemilang, betapapun kau harus menjaga adikku baik-baik!”
Mendengar orang memuji dan mengagumi dirinya, sungguh Thian-hi merasa haru dan terima kasih, tak kuasa air mata meleleh keluar dari kelopak matanya. Sembari mengigit gigi pelan-pelan ia berkata tegas, “Aku tentu menuntut balas bagi kau!”
Wajah Su Cin mengunjuk tawa riang, katanya kepada Su Giok-lan, “Dik! Ada sedikit omongan perlu kusampaikan kepadamu!”
Su Giok-lan berdiri duduk, air mata membasahi dan mengotori mukanya yang putih bersih. Setelah menghela napas baru Su Cin melanjutkan, “Adik Lan. Apakah kau mau dengar pesan eagkohmu sebelum ajal ini?”
“Engkoh!” jerit Su Giok-lan, tangisnya semakin menjadi2.
Su Cin menghela napas, ujarnya, “Jangan bersedih adik Lan!”
Terdengar Leng Bu menjengek, “Kau menyesal sesudah sekarat siapa suruh kau selalu menghalang2i sepak terjangku!”
Berubah air muka Su Cin, cepat Thian-hi menyikapnya erat-erat, kata Su Cin megap2, “Adik Lan, lekas katakan!”
Melihat keadaan engkohnya yang semakin parah Su Giok-lan menjadi bingung dan manggut-manggut.
Tangan Su Cin menunjuk kepada Thian-hi, mulutnya terpentang namun tak kuasa mengeluarkan suara, mendadak mukanya menjadi kejang dan berubah semakin pucat, badannya berkelejotan sebentar terus menjadi kaku
Su Gip-lan semakin hebat tangisnya, dengan mengembeng air mata pelan-pelan Thian-hi rebahkan badan Su Cin di atas tanah lalu pelan-pelan bangkit berdiri. Sejenak ia amat-amati jenazah Su Cin terus memutar tubuh mengawasi Kim-i kongcu Leng Bu.
Dengan menyeringai sinis Leng Bu pun mengawasi ke arah Thian-hi. Kalem saja Hun Thian-hi merogoh keluar Badik buntungnya lagi.
Leng Bu berkata dingin, “Hun Thian-hi menggetarkan Tionggoan, ternyata begitu saja kepandaiannya.”
Hun Thlan-hi melangkah pelan-pelan menghampiri. Melihat sikap Hun Thian-hi ini diam-diam mengkirik tengkuk Leng Bu, dengan tangan kiri ia tepuk-tepuk kudanya terus menyuruhnya menjauh, tangan kanan menyoreng pedang mengawasi Thian-hi dengan tajam.
Setindak demi setindak Thian-hi maju menghampiri, Leng Bu menjidi tidak sabar, ringan sekali pedang masnya berputar terus menyerang lebih dulu kepada Hun Thian-hi.
Sebat sekali Thian-hi melompat kesamping menghindar. namun laksana bayangan ujung pedang mas lawan telah menyamber tiba pula. terpaksa Thian-hi harus mencelat berkelit lagi, kini mereka sudah ganti kedudukan yang berlawanan.
Leng Bu terus mendesak maju dengan serangan pedangnya yang gencar, Thian-hi terdesak mundur terus. Sekonyong-konyong biji mata Thian-hi memancarkan cahaya terang yang aneh, dimana Badik buntung bergerak selarik sinar hijau pupus berkelebat jurus Pencacat iangit pelenyap bumi telah dilancarkan, terus menungkrup ke arah Leng Bu.
Mendadak Leng Bu melihat perubahan permainan Thian-hi yang aneh ini, hatinya sungguh kejut bukan main, pedang mas dibolang-balingkan rapat sekali untuk melindungi badan, namun tampak sinar hijau berkelebatan rapat merekah menyamber2. disertai tekanan tenaga besar yang luar biasa memberondong mengekang dirinya dari berbagai penjuru sehingga tenaga untuk ia angkat pedang sendiri pun tak mampu lagi.
Dimana sinar hijau melintas, kontan tubuh Leng Bu terkapar di tanah tanpa bergerak lagi.
Hun Thian-hi menyimpan lagi Badik buntungnya serta berjalan balik menghampiri Su Giok-lan. Su Giok-lan mendelik mengawasi Hun Thian-hi, melihat Thian-hi menghampiri mendadak ia lompat berdiri sambil membopong jenazah Su Cin, makinya sambil mengertak gigi, “Laki-laki palsu!”
Hun Thian-hi menjadi tertegun. Kata Su Giok-lan gemes, “Terang kau dapat membunuh Leng Bu semudah itu, tapi kau biarkan engkohku mati dulu baru kau menuntut balas baginya, kau sangka aku bisa menghargai dan terima kasih kepadamu?” ~ selesai berkata air mata tak kuasa lagi membendung meleleh dengan derasnya.
Hun Thian-hi punya kesukaran sendiri yang tak mungkim dijelaskan, terpaksa ia berdiri melongo saja.
Dengan membonong jenazah Su Cin, Su Giok-lan lompat naik ke atas tunggangannya terus dilarikan ke depan sana dengan cepat.
Tersentak Thian-hi dari lamunannya, cepat ia berlari mengejar serta teriaknya, “Nona Su.”
Su Giok-lan menghentikan lari kudanya, katanya berpaling, “Kau masih ada muka mengejar kemari! Sebelum meninggal, engkohku menuding kau, apa kau tahu apa maksudnya? Gamblang sekali ia menghendaki aku menuntut balas baginya, tahu? Laki-laki palsu!” — lalu kudanya dibedal lagi ke depan sekencang-kencangnya.
Thian-hi berdiri menjublek ditempatnya, mematung seperti tunggak, sungguh hatinya sangat duka dan entahlah bagaimana pula perasaannya, teringat akan pesan Su Cin sebelum ajal ia angkat kepala hendak mengejar lagi ke depan, namun bayangan Su Giok-lan sudah tak kelihatan lagi.
Pelan-pelan ia menghela napas, Su Giok-lan adalah murid Pedang utara yang cukup kenamaan, tentu tidak akan mendapat kesusahan di depan sana, tapi dia kena dicekoki racun Kim-i kongcu Leng Bu cara bagaimana harus mengobatinya.
Teringat akan hal ini, cepat-cepat ia larikan kudanya mengajar ke depan, Tiba-tiba terdengar pekik burung ditengah angkasa, seekor burung terbang rendah di atas kepalanya terus menuju ke depan. Waktu ia angkat kepala dilihatnya orang yang menunggang burung tak lain adalah Siau Hong, tanpa merasa pelan-pelan ia meneriaki nama Siau Hong, Siau Hong berpaling ke belakang melambaikan tangan kepadanya, terus terbang ke depan.
Thian-hi menjadi lega, anak buah Bu Bing Loni muncul menalangi persoalan ini, tentu Su Giok-lan takkan menghadapi bahaya apa-apa, mungkin malah mendapat rejeki besar dari beliau. Justru Bu Bing Loni tengah bermusuhan dengan dirinya, tentu Su Giok-lan akan dibantu dan dididiknya, meski selanjutnya ia bertambah seorang musuh yang kuat, betapa pun hati menjadi lega.
Setelah pikirannia ini hati Thian-hi menjadi lapang, ia tertawa geli sendiri lalu memutar balik kudanya, pelan-pelan dilarikan ke depan menyusuri tembok besar terus menuju ke arah timur laut. Waktu ia berpaling lagi, burung dewata dan kuda tunggangan Su Giok-lan tak kelihatan lagi.
Mayat Kim-i-kongcu Leng Bu masih menggeletak di tanah, kuda kembang bebenger disamping jenazahnya, sedang seekor kuda coklat lainnya tampak berlari kencang ke arah lain.
Sementara itu, Su Giok-lan membedal kudanya lari ke depan, hatinya kosong dan hampa, benaknya dirundung kesedihan yang sangat memukul batinnya, namun tak kuasa dilampiaskan.
Kira-kira setangah li kemudian tiba-tiba terdengar pekik burung ditengah udara yang sangat nyaring seekor burung besar berbulu hijau lambat-lambat meluncur turun di depan tunggangannya. Sungguh kejutnya tak kepalang, lekas-lekas ia menarik kendali kudanya, terus melolos pedang.
Di atas burung besar ini duduk dua gadis jelita, seorang berpakaian hitam sedang yang lain dandan sebagai pelayan.
Su Giok-lan tak tahu siapakah mereka berdua, namun mereka menunggang burung besar. tentu bukan sembarang orang, entah apa maksud tujuan mereka?
Sekian lama gadis baju hitam mengamati Su Giok-lan, baru terlihat bibirnya bergerak, katanya, “Nona Su, peristiwa barusan guruku sudah tahu seluruhnya, beliau menyuruh aku datang menahanmu sebentar, beliau ada sedikit omongan ingin tanya padamu!”
Su Gio-lan rada sangsi, tanyanya, “Siapakah gurumu? Urusan apa yang ingin dia tanyakan?”
“Guruku itu bergelar Bu Bing Loni!”
“Apa Bu Bing Loni?” teriak Su Giok-lan diluar dugaan.
Gadis baju hitam manggut-manggut. Sungguh mimpipun Su Giok-lan takkan menduga Bu Bing Loni bakal mencari dirinya. Bu Bing Loni merupakan tokoh kenamaan yang menjagoi seluruh jagat, kepandaiannya tiada lawan dikolong langit, sepak terjangnya saja yang tidak menentu. Dari sikap gadis baju hitam yang wajar dan tenang agaknya mereka tak berimaksud jelek terhadap dirinya.
Ia menghela napas lega, katanya prihatin, “Untuk urusan apakah beliau mencari aku?”
“Itulah beliau sudah datang kemari!” sahut gadis baju hitam.
Memang benar-benar, waktu Su Giok-lan mendongak, tampak seekor burug dewata yang lain tengah meluncur turun pelan-pelan, dari punggung burung berbulu hijau ini berjalan turun seorang Nikoh tua yang berwajah welas asih, sepasang matanya memancarkan cahaya terang yang berwibawa….
Su Giok-lan melangkah selangkah terus menekuk lutut, sembahnya” .Wanpwe Su Giok-lan menghaturkan sembah sujud kepada Cianpwe!”
Bu Bing Loni mengamati Su Giok-lan dengan seksama, akhirnya katanya sembari manggut-manggut, “Bangunlah!”
Sembari menyeka air matanya pelan-pelan Su Giok-lan bangkit berdiri.
“Sudah jangan nangis lagi,” ujar Bu Bing Loni, “Engkohmu meninggal, kemana selanjutnya kau hendak pergi?”
Sahut Su Giok-lan sesenggukkan, “Aku hendak mencari guruku untuk menuntut balas!”
Bu Bing Loni menggeleng kepala, katanya, “Tak mungkin, gurumu pun takkan mampu menangkis jurus serangannya itu!’-
Su Giok-lan melengak, katanya, “Tentu Suhuku bisa mengundang orang lain untuk membalas dendam ini.”
“Apa kau sendiri tidak ingin membalas dendam dengan tanganmu sendiri?” tanya Bu Bing Loni.
Su Giok-lan tersentak kaget sambil angkat kepala, matanya mengawasi Bu Bing Loni sahutnya tersekat, “Aku….aku ….”
“Kalau kau mau, aku bisa menerima kau menjadi muridku.”
Su Giok-lan menjadi kegirangan, sungguh tak terkirakan olehnya bahwa tokoh nomor satu sejagat ini rela menerima dirinya sebagai murid, sesaat ia menjadi melongo.
“Eh, apa kau mau?” desak Bu Bing Loni.
“Suhu!” cepat-cepat Su Giok-lan maju berlutut dan menyembah berulang-ulang.
Bu Bing Loni berseri tawa, ujarnya, “Tulangmu bagus, belum lama berselang aku mendapat sebatang Ho-siu-oh yang berusia ribuan tahun, nanti boleh kau minum, kalau kau giat dan rajin belajar, tiga bulan saja, cukup kau dapat mempelajari Hui-sim-kiam-hoat, kalau kau mau menuntut balas gampang sekali seperti kau membalikkan tanganmu.”
Su Giok-lan merangkak bangun dengan kegirangan, sahutnya, “Aku pasti giat belajar.” lalu tanyanya tak mengerti, “Suhu atau Suci kenapa tidak memberi hajaran kepadanya sekarang saja?”
Bu Bing Loni mengerut kening, katanya, “Aku sudah sumpah, gurunya membunuh ayah Sucimu sehingga sakit hati inipun sulit dibalas!”’
Su Giok-lan mengerling memandang ke arah gadis baju hitam. Bu Bing Loni berkata lagi, “Inilah Sucimu Ham Gwat.”
Tersipu-sipu Su Giok-lan membungkuk tubuh memberi soja, “Suci, harap selanjutnya kau suka memberi bantuan dan bimbingan kepadaku yang masih hijau ini!”
“Ah Sumoay terlalu sungkan. Kulihat bakat dan rejeki Sumoy sangat besar, kelak tentu mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari aku sendiri!’
“Hun Thian-hi kan murid Lam siau? Bagaimana bisa menjadi musuh besar pembunuh ayahmu?”
Berkedip2 biji mata Ham Gwat, katanya, “Lam-siau? Dia adalah murid Ang-hwat-lo-mo!”
“Apa”, tanya Giok-lan heran dan, menegas, “Dia murid Ang-hwat-lo-mo?”’
Ham Gwat manggut-manggut, katanya, “Jurus pencacat langit pelenyap bumi yang dilancarkan tadi untuk membunuh Kim-i-kongcu adalah ilmu silat pelajaran tunggal dari Ang-hwat-lo-mo. Dulu menggunakan jurus inilah Ang-hwat-lo-mo membunuh ayahku!”
Su Giok-lan manggut-manggut, batinnya, “Kiranya Hun Thian-hi juga menjadi murid Ang-hwat-lo-mo tak heran ilmu silatnya begitu lihay. dalam segebrak saja sekaligus membunuh puluhan tokoh-tokoh silat kosen!”
Kata Bu Bing Loni, “Giok-lan, tak perlu banyak pikir, mari kita pulang!”’
Su Giok-lan mengiakan, jenazah Su Cin dijinjingnya bersama Bu Bing Loni dan lain-lain menunggang burung dewa terbang tinggi dan hilang dikejauhan.
Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Hun Thian-hi yang terus maju menyelusuri tembok besar, tahu dia bahwa urusan hari ini takkan berakhir begitu saja, di depan tentu masih banyak orang lagi yang tengah menanti kedatangannya. Tengah ia mencongklang kudanya, dari atas tembok yang tinggi itu kelihatann melayang turun bayangan seorang hinggap tiga tombak dihadapannya. Waktu Thian-hi menegasi pendatang ini berusia kira-kira empat puluhan, mengenakan jubah putih, janggut hitam menjulai di depan dadanya, pinggangnya menyoreng sebatang seruling putih, bukankah beliau Suhunya yang berbudi, Lam-siau Kongsun Hong!
Sungguh kejut dan girang sekali Hun Thian-hi, bergegas ia lompat turun terus memburu maju dan berlutut, teriaknya, “Suhu!”
Kongsun Hong mendehem keras. katanya kereng mengawasi Hun Thian-hi, “Apakah aku ini gurumu? Kau masih anggap aku ini gurumu?”
Tercekat hati Thian-hi, berulang-ulang ia menyembah tanpa berani bersuara.
Sejenak kemudian baru Kongsun Hong berkata pula, “Sebelum ajal, ayahmu pernah berpesan wanti2 kepadaku untuk mengasuh kau baik-baik, tapi kau….”
Mendengar gurunya menyinggung ayahnya terketuk sanubari Hun Thian-hi tak terasa air mata meleleh dengan dengan derasnya.
Kongsun Hong menghela napas, ujarnya, “Kalau ayahmu bukan saudara angkatku urusan hari ini aku sudah tidak peduli lagi!”
Hun Thian-hi masih tetap tak berani bicara, Kongsun Hong membentaknya lirih, “Bangun!”
Pelan-pelan Hun Thian-hi merangkak bangun dan berdiri kesamping, lama-lama Kongsun Hong mengamatinya. lalu katanya, “Kini Thi-kiam Lojin dari Bu-tong-pay, Hwi-lam-it-lo Siang Ing serta tokoh-tokoh lain tengah menantimu di depan sana, malah Pak-kiam suami-istri katanya juga sudah datang!”
Berdebar keras jantung Thian-hi, angkat kepala ia awasi Kongsun Hong.
Tanya Kongsun Hong, “Kudengar kau telah membunuh puluhan tokoh-tokoh kosen dalam segebrak saja dan mengutungi sebelah lengan Toh-bing-cui-hun, apakah berita ini benar-benar?”
Hun Thian-hi manggut-manggut.
Kongsun Hong menjadi bungkam beberapa saat, rada lama kemudian ia tanya lagi dengan nada berat tertekan, “Dari mana kau pelajari jurus itu?”
Terpaksa Hun Thian-hi menceritakan pengalamannya waktU dijehak oleh Su Tat-jin sehingga terjeblos ke dalam jurang. Tak lupa iapun ceritakan juga perihal Bu Bing Loni dan Soat-san-su-gou. Kongsun Hong menjadi ketarik akan pengalaman muridnya yang aneh2 itu, sesaat ia terbungkam tak bisa bicara.
Sekonyong-konyong terdengar gelak tawa nyaring di atas tembok tinggi sana, disusul dua bayangan orang melayang turun dihadapan mereka.
Kongsun Hong memutar tubuh, katanya tertawa, “Kiranya Pak-kiam suami istri yang telah datang!”
Waktu Thian-hi menegasi memang yang datang ini adalah sepasang suami istri berusia pertengahan.
Terdengar Pak-kiam Siau Ling berkata, “Sepak terjang muridku sangat memalukan dan membikin buruk nama perguruan saja, tak berani lapor kepadaku hanya disampaikan kepada istriku saja, sampai sekarang baru aku jelas duduk perkaranya, sengaja kita datang untuk memanggil pulang kedua muridku yang tak genah itu!”
Lam-siau Kongsun Hong tertawa, katanya, “Urusan yang sudah lalu buat apa disinggung lagi, yang terang mereka kena ditipu oleh pamannya apalagi demi nama baik perguruan maka mereka tak berani memberi laporan, maka tak perlu lah terlalu salahkan mereka.”
Pak-kiam Siau Ling menghela napas, ujarnya, “Betapa pun mereka tak bisa diberi ampun.”
“Thian-hi!” kata Kongsun Hong, “Ajo, beri hormat kepada Pak-kiam suami istri, inilah Pak-kiam Siau Ling dan Siau-siang-cu To Bwe yang sangat kau kagumi itu!”
Tersipu-sipu Thian-hi maju memberi sembah hormat, “Cianpwe berdua harap terimalah sembah sujut Wanpwe Hun Thian-hi!”
“Tak usah banyak peradatan,” ujar Pak-kiam Siau Ling, “perbuatan muridku kurang dapat dihargai, biarlah aku mewakili mereka minta maaf kepadamu!”
“Mana Wanpwe berani terima. Belum lama berselang aku berjumpa dengan saudara Su dan adiknya.”
“Dimana mereka?” tanya Siau Ling, mukanya rada berubah.
Hun Thian-hi rada sangsi, ia berpaling memandang ke arah Kongsun Hong.
Kata Kongsun Hong kepada Pak-kiam, “Ah, urusan bocah tak perlu dipikirkan!”
“Saudara Su telah meninggal.” demikian Hun Thian-hi menerangkan singkat.
Bagai disambar petir seketika Pak-kiam berdiri menjublek, Siau-siang-cu To Bwe melangkah maju menjambret baju Thian-hi teriaknya, “Apa! Kaukah yang membunuhnya?”
“Bukan!” sahut Thian-hi cepat. “Dia menemui ajal di bawah tangan Kim-i-kongcu Leng Bu!”
Siau-siang-cu To Bwe melepas tangan, gumamnya, “Kim-i-kongcu Leng Bu! Lalu kemana Giok-lan?”
Thian-hi menunduk, setelah rada sangsi ia menyahut lirih, “Sudah pergi!”
“Leng Bu! Leng Bu!” mulut Pak-kiam menggumam. Matanya terpejam dan mengalirkan air mata.
Hun Thian-hi berkata lirih, “Leng Bu juga telah kubunuh!”
To Bwe berdiri terlongong. “Kenapa tadi tidak kau ceritakan kepadaku?” tanya Lam-siau.
Thian-hi bungkam, terpekur sekian lamanya baru pelan-pelan ia mengisahkan pengalamannya yang baru terjadi belum lama berselang.
“Takdir! Takdir!” desis Siau Ling sembari menghela papas.
Dari atas tembok terdengar lagi gelak tawa yang kumandang, sesosok bayangan hijau melayang turun, teriaknya tertawa, “Kalian mengobrol begitu gembira, kita menjadi tidak sabar menunggu, maka menyusul kemari!”
Beruntun dari atas tembok melayang turun lagi dua sosok bayangan manusia.
Tawar2 saja Lam-siau tertawa, katanya, “Kiranya adalah Thi-kiam Lojin dari Bu-tong dan Hwi-lam-it-lo, dan sahabat ini kalau aku tidak salah lihat tentu Im-hong-ciang Lim Hong adanya.”
Dua orang yang datang belakangan adalah dua orang seorang membawa sebatang pedang yang terselip dipunggungnya, seorang lain menggembol sebatang tongkat warna hijau, orang ketiga adalah laki-laki berusia tiga puluhan air mukanya membeku dingin tentu dia inilah yang berjuluk Im-hong-ciang Lim Hong.
Seru Thi-kiam Lojin bergelak tawa, “Kongsun Tayhiap sendiri juga sudah hadir, sungguh baik sekali. Entah tindakan apa yang segera kau jatuhkan kepada muridmu ini Kongsun Tayhiap?”
Kongsun Hong mandah tersenyum ewa, ujarnya, “Urusan ini sulit dibicarakan, sebetulnya segala perbuatan muridku ini itu bukanlah menjadi kehendaknya, dalam hal ini masih ada latar belakang yang sulit diterangkan. Biarlah aku tuntun muridku ini bertandang ke setiap para sahabat yang kena menjadi korban untuk minta maaf dan mohon keringanan hukuman. Entah bagaimana pendapat kalian?”
“Bertandang minta pengampunan?” tiba-tiba Hwi-lam-it-lo menjengek, lalu terbahak-bahak, katanya lagi, “Apakah puluhan korban jiwa manusia itu cukup ditebus dengan bertandang minta pengampunan?”
“Biarlah para keluarganya mencacah hancur tubuh Thian-hi.” sela Im-hong-ciang Lim Bing.
“Aku tak tanya kau,” dengus Lam-siau, “di tempat ini tiada tempat bagi kau turut campur bicara.”
Im-hong-ciang Lim Bing belum lama mengangkat nama di dunia persilatan, sikapnya congkak sudah tentu dia tak mau mengalah, makinya gusar, “Kongsun Hong, apakah kau mau menjajal berkenalan dengan aku?”
Pak-kiam Siau Ling terloroh-loroh, serunya, “Aku Siau Ling tak tahu diri, ingin aku minta pengajaran kepada saudara ini!”
Rada berubah rona wajah Thi-kiam Lojin, katanya kepada Siau Ling, “Siau Tayhiap kenapa berbalik kau bantu mereka?”
Bertaut alis Siau Ling, katanya, “Bukan melulu Hun Thian-hi saja yang salah dalam peristiwa ini, dia terdesak oleh situasi dan harus melakukan apa saja yang bisa dia demi keselamatan jiwa sendiri. Kenapa kalian mejadi semena2 tanpa mencari tahu duduk perkara sebenar-benarnya. Terpaksa aku bantu mereka!”
Im-hong-ciang Lim Bing mendengus gusar, tantangnya, “Biar aku Ling Bing belajar kenal betapa tinggi kepandaian Pak-kiam yang kenamaan!” habis berkata langsung ia lancarkan serangannya ke arah Siau Ling.
Lam-siau dan Pak-kiam diberi julukan sebagai I-Lwe-siang-ki, sudah tentu mereka masing-masing punya kepandaian simpanan yang melebihi orang lain, sudah tentu angkatan macam Lim Bing yang belum lama angkat nama tidak dipandang sebelah matanya.
Sedikit bergerak mudah sekali Pak-kiam meluputkan diri dari rangsekan lawan, namun Im-kong-ciang Lim Bing tak tahu diri, ia terus menyerbu dengan ketat.
Pak-kiam Siau Ling merasa hutang budi kepada Hun Thian-hi, diam-diam ia sudah berketetapan hati untuk membela mati-matian. Gesit sekali ia berloncatan menghindari setiap pukulan Lim Bing yang cukup hebat juga. gerak jeriknya laksana kelinci seperti burung kutilang yang berloncatan di atas dahan pohon, tak kalah hebatnya iapun saban2 balas menyerang kepada Lim Bing.
Begitu saling gabrak kedua belah pihak sudah saling serang menyerang puluhan jurus, Siau Ling lancarkan jurus serangan yang gencar dan deras sehingga Im-hong-ciang Lim Bing kena terdesak mundur.
Sembari mengayun tongkat bambunya segera Hwi-lam-it-to Siang Bing menghardik, “Siau Ling, jangan kau takabur dan menghina orang!”
Lekas-lekas Siau-siang-cu pun melolos pedang serta jengeknya, “Biar aku belajar kenal dengan pentung bambu da Hwi-lam-it-lo yang kesohor itu!” segera ia menghadang maju, maka merekapun bertempur tidak kalah serunya,
Tinggal Thi-kiam Lojin saja yang masih nganggur, mukanya membesi kaku, tapi hatinya gundah, ia tahu dan menurut gelagat, besar kemungkinan mereka bertiga bakal terjungkal dan mendapat malu, menurut dugaan semula disangkanya Pak-kiam suami isteri berdiri dipihaknya, kemenangan terang dan tentu bisa dicapai oleh pihaknya.
Sungguh diluar perhitungan semula kenyataan Pak-kiam suami-isteri membantu Hun Thian-hi malah, ia sendiri tahu bahwa kepandaian sendiri bukan tandingan Lam-siau, terpaksa ia tinggal diam berpeluk tangan saja.
Dalam babak Siau-siang-cu lawan Hwi-lam-it-lo kelihatan sinar pedang dan bambu hijau berkemilauan, saling serang dengan hebat dan serunya, kedua belah pihak kerahkan setaker kepandaian masing-masing, dalam waktu singkat susah dipastikan pihak mana bakal menang.
Sebaliknya Im-hong-ciang Lim Bing jelas bukan tandingan Pak-kiam, untung Pak-kiam turun tangan tidak setakar tenaganya serta memberi sedikit kelonggaran, kalau tidak sejak tadi ia sudah terjungkal mampus. Meskipun gelisah namun Thi-kiam Lojin tak mampu bertindak.
Sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar derap langkah kuda yang dilarikan kencang tengah mendatangi, kira-kira masih berjarak puluhan tombak jauhnya, terdengarlah suitan panjang, Tampak dua sosok tubuh manusia terbang meninggalkan tunggangannya terus meluncur datang ke tengah gelanggang pertempuran.
Begitu kedua orang ini hinggap di tanah, seketika beruba air muka Lam-siau, diam-diam ia mengeluh dalam hati mengapa bisa kedua orang ini tiba disini.
Hun Thian-hi sendiri juga telah melihat tegas orang pendatang ini, bukan lain adalah dua orang penunggang kedua ekor kuda putih tadi.
Sementara itu, Pak-kiam juga telah melirik, melihat kedatangan kedua orang ini diam-diam iapun bercekat, gerakannya gesit sekali dengan telak ia tusuk jalan darah Im-hong-ciang, terus mundur berdampingan dengan Lam-siau. Demikian juga siau siang-cu dan Hwi-lam-it-lo juga meloncat mundur kembaii ke tempatnya masing-masing.
Begitu melihat kedatangan bala bantuan, legalah hati Thi-kiam Lojin, segera ia bergelak tawa girang, serunya, “Kiranya Yan-bun-siang-eng Ciok Tayhiap berdua telah datang, entah kemana hingga’sekarang kalian baru sampai!”
Berdebar keras jantung Hun Thian-hi mendengar kedua pendatang ini adalah Yan-bun-siang-eng. Dari penuturan gurunya ia pernah mendengar perihal Yan-bun-siang-eng Ciok sing dan Ciok Gi berdua, mereka masih muda dalam pengalaman kelana di Kangouw, namun selama lima tahun terakhir ini sudah tiga kali mereka pernah meluruk ke Timur tionggoan, mengandal sepasang golok Yan-hap-to dengan pengalamannya yang aneh dan lucu entah sudah berapa puluh nikoh2 Bulim yang terjungkal di bawah tangan mereka. Sudah tentu semakin hari ketenaran nama mereka semakin menjulang tinggi. Mereka berdua telah menciptakan ilmu permainan golok gabungan yang sangat lihay, selama ini belum pernah menemukan tandingan yang setimpal.
Dalam pada itu, dengan sikap gagah Siang-eng tengah menerawang keadaan kedua belah pihak, katanya dengan sombong, “Kedatangan kita bersaudara tak lain adalah untuk belajar kenal dengan tokoh-tokoh kenamaan yang menyebut dirinya I-lwe-siang-ki, betapa tinggi kepandaiannya sejati.”
Lam-siau Kongsun Hong bergelak tawa, ujarnya, “Bagus, bagus! Kita berdua pun telah lama dengar Yan-bun-siang-eng, untung hari ini kita bertemu ingin benar-benar kita minta pengajaran!”
pak-kiam Siau Ling ikut menjengek, “Walaupun aku juga pernah dengar Yan-bun-siang-eng, tapi tidak lebih mereka hanya angkatan muka belaka!”
Berubah rona wajah Siang-eng, tanpa bicara lagi serentak mereka membalingkan golok masing-masing, dimana sinar putih gemerlapan, tahu-tahu Yan-hap-to sudah digenggam ditangannya.
Lam-siau saling pandang sebentar dengan Pak-kiam diam-diam hati mereka sudah maklum betapa tinggi kepandain Yan-bun siang-eng ini dilihat cara mereka mengeluarka goloknya, paling tidak lebih rendah dari Thi-kiam Lojin kalau tidak mau dikatakan lebih tinggi, apapula mereka bisa
bermain begitu rapi dan ketat mengombinasikain permainan golok yang saling berlawanan, entah pelajaran dari tokoh manakah kepandaian mereka ini.
Pelan-pelan Pak-kiam melolos pedangnya, sedang Lam-siau menanggalkan seruling pualam dari pinggangnya. Sementara itu gesit sekali Yan-bun-siang-eng sudah bergerak kekanan kiri mengepung kedua musuhnya ditengah gelanggang.
Lam-siau dan Pak-kiam berbareng bergelak tawa panjang, mereka dijuluki I-lwe-Siang-ki, betapa. tinggi nama dan gengsi mereka serta melihat tingkah laku Yan-bun siang-eng yang sombong dan takabur ini hati mereka menjadi tak senang.
Kongsun Hong angkat serulingnya terus dilekatkan di depan bibirnya. Lam-siau sudah dua puluh tahun malang melintang di Bulim mengandal Thian-liong-chit-sek dan Siau-im-pit-hiat sudah tentu Siang-eng pun tak berani memandang rendah. Melihat Lam-siau beniat menggunakan irama serulingnya untuk menundukkm musuhnya, cepat-cepat Siang-eng menggerakkan goloknya terus menyerbu dengan garangnya.
Pak-kiam terbahak-bahak keras, dimana pedang panjangnya berputar-putar segera ia kembangkan Hian-thian-hui-kiam merintangi serbuan Yan-bun-siang-eng. Tapi permainan sepasang Yan-hap-to Siang-eng memang luar biasa, apalagi Pak-kiam sangat percaya akan tenaga dan kepandaian sendiri
secara kekerasan ia sambut serbuan musuh dari kanan kiri, kontan Siau Ling merasa tangannya tergetar keras, tahu-tahu pedangnya sudah mencelat terbang.
Melihat hasil itu Yan-bun-siang-eng semakin berbesar hati, keruan mereka semakin temberang serangan semakin dipergencar…. Kongsun Hong kaget dan merasakan langsung tekanan musuh yang semakin berat, menurut dugaan semula asal Pak-kiam Siau Ling kuat bertahan dua jurus saja cukup baginya berkesempatan untuk meniup serulingnya, maka situasi pertempuran selanjutnya boleh dikata pihak pemenang adalah mereka berdua, siapa duga kejadian justru diluar dugaannya.
Untuk menolong kawannya ia bersuit nyaring seruling ditangannya terbang menyapu dengan dahsyatnya dengan salah satu jurus Thian-liong-chit-sek yaitu yang dmamakan tipu Hwi-liong-wi-khong (naga sakti terbang ditengah angkasa) menghadapi serbuan Yan-bun-siang-eng. Kombinasi mempermainkan Yan-hap-to kedua kakak beradik dari Yan-bun memang hebat luar biasa, satu maju yang lain menjaga dan melindungi, maju mundur sangat teratur sekali, kadang-kadang serentak menyerbu bersama membacok ke arah Lam-siau dan Pak-kiam.
Sementara itu, belum lagi jurus pertama dilancarkan rampung Lam-siau sudah menarik kembali serangannya ditengah jalan terus dirubah Sin-liong-jip-cui (naga sakti masuk air) tubuhnya mencelat terbang tinggi, seruling pualam terbang menukik dari atas ke bawah, berbareng mengancam jalan darah Hoa-kay-hiat dibatok kepala kedua musuhnya.
Mendapat kesempatan ini Pak-kiam segera melejit ke tengah udara menyamber pedang panjangnya yang meluncur turun, di tengah udara jumpalitan sekali sembari lancarkan Hian-thian-hui-kiam yang hebat merangsak ke arah Siang-eng berdua.
Namun Yan-bun-siang-eng keburu sudah kembangkan Yan-hap-to-hoat yang hebat, golok mereka berputar memetakan sinar gemerdep yang bundar dan melingkar2 mengaburkan pandangan mata. Meski Pak-kiam dan Lam-siau lancarkan serangan gencar yang hebat tapi kekuatan daya Putar dari pusaran golok lawan adalah begitu hebat dan lebat sekali sehingga setiap jurus serangan mereka selalu kena tertuntun atau dipunahkan begitu gampang oleh tenaga hisap yang kuat itu, begitulah meski mereka berdi atas angin untuk waktu dekat tak mungkin mereka dapat mengalahkan Yan-bun-siang-eng dengan mudah.
Melihat keadaan yang saling bertahan dan sama kuat ini, Thi-kiam Lojin tahu paling tidak mereka harus bertempur sebanyak tiga ratusan jurus baru Yan-bun-siang-eng dapat dikalahkan. Maka menggunakan kesempatan ini segera ia mulai bergerak setelah memberi isyarat kedipan mata kepada Im-hong-ciang dan Hwi-lam-it-lo serentak mereka menubruk ke arah Hun Thian-hi.
“Sreng!” lekas-lekas Siau-siang-cu To Bwe melolos pedang terus menghadang di depan Hun Thian-hi. Terpaksa Thi-kiam Lojin juga melolos pedang, bersama Im-hong-ciang Lim Bing dan Hwi-lam-it-lo Siang Bing mengepung Hun Thian-hi berdua dari tiga jurusan.
Sudah tentu Lam-siau menjadi gelisah, cepat-cepat berteriak, “Thian-hi, lekas kau jalan dulu!”
Im-hong-ciang Lim Bing menyeringai dingin, ejeknya, “Mau lari? Tidak begitu gampang!” gesit sekali ia merintangi jalan mundur Hun Thian-hi.
Mau tak mau Hun Thian-hi harus berpikir cermat, seandainya ia betul-betul bisa merat itulah baik sekali, namun paling tidak masih ada dua musuh yang bakal mengejar dirinya, maka kepungan kepada gurunya berdua dengan sendirinya bakal kocar-kacir. Tapi tiga orang yang dihadapinya sekarang rata2 adalah tokoh-tokoh silat kosen kelas satu dari Bu-lim, seumpama Im-hong-ciang Lim Bing yang paling lemah pun jauh lebih unggul dari kemampuan sendiri. Karena pikiran ini akhirnya ia harus mengambil keputusan tegas, tangkas sekali kakinya bergerak menyelinap maju seraya kirim genjotan berantai yang deras merangsak ke arah Thi-kiam Lojin.
Melihat Hun Thian-hi menyerang dirinya dengan bertangan kosong terang tidak memandang sebelah mata kepada dirinya Thi-kiam Lojin menjadi murka, seking gusar ia tertawa gelak-gelak malah, pedang panjang bergetar melintas tahu-tahu sudah menukik balik menusuk ke belakang memapak serangan Thian-hi, pikirnya dengan serangan balasan ini ia hendak menabas buntung sebelah tangan Thian-hi.
Begitulah disaat Hun Thian-hi menggenjot dengan kerasnya, pedang Thi-kiam Lojin pun sudah menabas datang.
Keruan Siau-siang-cu To Bwe menjerit kaget. Sangkanya serangan balasan pedang Thi-kiam Lojin ini hanya bertujuan mendesak mundur Thian-hi adalah diluar dugaannya bahwa Thian-hi menyerang dengan bertangan kosong, terang sebelah tangannya itu bakal cacat tanpa ampun lagi.
Tingkat kepandaian dan kedudukan Siau-siang-cu To Bwe sangat tinggi dan hebat, mana mungkin ia mandah saja melihat seorang angkatan muda begitu saja dikutungi sebelah tangannya di depan matanya, sungguh dia tidak berani membayangkan sebelumnya kalau hal ini bisa terjadi. Akan tetapi kejadian selanjutnya justru membuat ia melongo dan heran bukan buatan.
Disaat pedang Thi-kiam Lojin hampir saja menyentuh tangan Hun Thian-hi, bukan saja Hun Thian-hi tidak berusaha melindungi atau menghindari tabasan pedang musuh kelihatan malah disorongkan ke depan, berbareng tampak selarik sinar hijau berkelebat membawa hawa dingin kontan pedang panjang Thi-kiam Lojin kutung menjadi dua potong. Seketika Thi-kiam Lojin berdiri kesima. Siau-siang-cu sendiri pun terlongo heran dan kegirangan. Begitulah sembari menggembol Badik buntung Hun Thian-hi berkelebat lewat disamping tubuh Thi-kiam Lojin terus meloncat naik ke punggung kudanya.
Terdengar Im-hong-ciang Lim Bing menggertak keras terus mengejar dengan kencang. Tapi keburu Hun Thian-hi sudah menjepit perut kudanya dan membedalnya cepat-cepat ke samping sana.
Siau-siang-cu menggertak keras sembari melintangkan pedang merintangi mereka bertiga. Thi-kiam Lojin menggeruhg keras menerjang lewat, sedang Hwi-lam-it-lo mengayun tongkat bambunya menempur Siau-siang-cu. Maka Thi-kiam Lojin dan Im-hong-ciang Lim Bing berkesempatan mengejar terus ke arah Hun Thian-ki.
Hun Thian-hi larikan kudanya kencang-kencang, Thi-kiam Lojin berdua mengejar dengan cepat. Sekejap saja lima li telah dilampaui jarak Thi-kiam Lojin berdua semakin jauh, mereka ketinggalan satu li di belakang, tahu mereka kalau mengejar terus pun takkan dapat menyusulnya, terpaksa mereka putar balik dengan uring-uringan.
Sementara itu Hun Thian-hi masih larikan kudanya sekian lamanya, waktu ia berpaling Thi-kiam Lojin berdua sudah tidak kelihatan lagi, baru sekarang ia sempat menghela napas lega. Diam-diam ia bersyukur dalam hati ditengah jalan ini ia bersua dengan gurunya yaitu Lam-siau sehingga kesulitan dirinya dapat diatasi, terutama bantuan Pak-kiam suami istri sungguh besar artinya, kalau tidak sukar dikatakan bagaimana akibatnya tadi.
Thian-hi mendongak melihat cuaca, dilihatnya hari sudah hampir gelap, namun dirinya masih ditengah perjalanan jauh dari kota atau dusun, sekelilingnya tanah tandus dan hutan lekat yang memagari gurun berpasir menguning melulu. Tak tahu Thian-hi kemana ia harus menuju. terpaksa ia biarkan saja kuda hitamnya berjalan kemana dia suka….
Hari sudah gelap gulita, samar-samar dikejauhan di depan sana kelihatan titik-titik sinai pelita yang kelap kelip, mungkin di depan sana ada perumahan atau pedusunan. Thian-hi menjadi girang, cepat-cepat ia keprak kudanya dilarikan ke arah sana.
Waktu sudah dekat, Thian-ki menjadi melongo karena tempat itu melulu sebuah hutan lebat di atas sebuah pohon besar yang tinggi tergantung beberapa buah lampion, di tengah lampu2 lampion ini duduk bersila di atas sebuah dahan besar seorang tua yang memejamkan matanya.
Hun Thian-hi hentikan kudanya, ia mendongak mengawasi orang tua di atas pohon itu sekian lamanya, diam-diam ia membatin siapakah orang tua ini, dengan lampu2 lampionnya ini ia memancing aku datang kemari apakah maksudnya?
Tiba-tiba orang tua itu membuka mata serta gumamnya, “Eh, betul-betul kepancing datang!”
Bertambah kaget hati Thian-hi mendengar perkataan si orang tua, lekas-lekas ia melorot turun dari tunggangannya terus membungkuk tubuh serta serunya, “Wanpwe Hun Thian-hi, harap tanya siapakah Cianpwe yang mulia ini?”
Tanpa menunjukkan berubahan mimik wajahnya si orang tua mengawasi Thian-hi dengan cermat, rada lama kemudian baiu membuka mulut, “Tepat, kiranya kaukah Hun Thian-hi. Akulah Jan-ting Lojin, apakah kau pernah dengar nama ini?”
Hun Thian-hi melengak, ia geleng-geleng kepala, sahutnya, “Pengetahuan Wanpwe sangat cetek, belum pernah dengar nama ini, Cianpwe menggunakan sinar pelita untuk memancing Wanpwe kemari entah ada urusan apakah?”
Dengan seksama Jan-ting Lojin (situa pelita) mengamat-amati Thian-hi, tanyanya, “Apa betul kau belum pernah dengar namaku ini?”
Hun Thian-hi geleng kepala.
Tanya situa Pelita, “Apakah gurumu tidak beri tahu kepada kau?”
Hun Thian-hi menjadi was-was dan heran kenapa Situa Pelita ini tanya akan hal ini, ia menggeleng kepala lagi.
Mendadak Situa Pelita mendongak serta terloroh-loroh, gelak tawanya begitu keras memekakkan telinga sehingga menggetarkan seluruh alam sekelilingnya, daun berjatuhan. Hun Thian-hi bercekat dan berubah air mukanya.
Setelah tertawa sekian lamanya, situa pelita ini mendesis sambil mengertak gigi, “Sangkamu kau masih bisa seperti dulu tidak memandang sebelah mata kepadaku lagi?”
Hun Thian-hi menjublek di tempatnya, ia tidak tahu kemana juntrungnya perkataan si orang tua, mendadak ia teringat sesuatu serta-merta mulutnya lantas mengiakan, katanya, “Orang yang Cianpwe maksudkan barusan bukankah Ang-hwat-lo-koay?”
Situa Pelita membelalakkan matanya mengawasi Hun Thian-hi, tanyanya, “Apa katamu?”
“Bukankah orang yang Cianpwe maksudkan tadi adalah Ang-hwat-lo-koay?”
Situa Pelita mendengus sekali, tanyanya, “Apakah orang berbaju mas itu kau yang bunuh?”
Thian-hi manggut-manggut, katanya, “Tapi Cianpwe jangan salah paham, aku bukan murid Ang-hwat-lo-koay.”
Situa Pelita berkakakan, pelan-pelan kedua telapak tangannya menepuk kebawah tubuhnya tiba-tiba mencelat ke tengah udara dan terbang melingkar satu bundaran terus hinggap pula di tempat asalnya, katanya kepada Thian-hi, “Kau sudah takut?”
Bercekat hati Thian-hi, gerak tubuh situa Pelita ini sungguh luar biasa dan mengagumkan, belum pernah dilihatnya sebelum ini, apalagi timbul tenggelam tubuhnya begitu enteng tanpa mengeluarkan sedikit suara atau desiran angin.
Tapi lahirnya Thian-hi tetap tenang, malah ia mendongak dan bergelak tawa juga serunya, “Apa yang perlu ditakuti?”
“Tidak lebih menakutkan dari ilmu pencacat langit dan pelenyap bumi yang diajarkan oleh gurumu itu bukan?”
“Perlu kutandaskan lagi bahwa aku bukan murid Ang-hwat-lo-koay” ujar Thian-hi dengan nada berat,
“Memang kenyataan ia mengajarkan sejurus ilmu ganas itu, kukira kau sendiri sudah tahu berapa banyak jiwa melayang karena ilmu ganas itu?”
Situa Pelita terbungkam seribu basa.
Sambung Thian-hi dengan nada lebih tertekan, “Betapa picik dan licik tujuannya itu, sungguh aku lebih menderita daripada dibunuh olehnya!”
Situa Pelita rada sangsi, ia mendengus tidak percaya.
Hun Thian-hi menundukkan kepala tanpa bicara lagi.
Tiba-tiba Situa Pelita bergerak meluncur tiba kedua tangannya dengan telak mencengkeram kedua pundak Thian-hi, secara gerak reflek Thian-hi meronta sekuat2nya. Sesaat tampak situa Pelita tertegun sebentar terus menggumam dengan lesu, “Ah, bukan dia!” lalu ia lepas tangan mencelat kembali ke tempatnya semula.
Thian-hi mendelong awasi si orang tua tanpa buka suara. Akhirnya situa Pelita menunduk kepala serta katanya lirih, “Pergilah, selanjutnya jangan kau gunakan lagi jurus ganas itu.”
Dilihatnya oleh Thian-hi kelopak mata situa Pelita mengembeng air mata, agaknya ia sangat kecewa dan sekejap mata saja sudah tambah tua puluhan tahun, maka katanya pelan, “Kalau Cianpwe punya dendam kesumat dengan Ang-hwat-lo-koay Wanpwe bersedia membantu sekuat tenaga, aku tahu dimana sekarang ia berada!”
Situa pelita angkat kepala, ujarnya, “Tiada gunanya, siang-siang ia sudah pindah tempat. Tak mungkin ia menetap di tempat lama menunggu para musuhnya meluruk datang mencari penyakit padanya.”
Thian-hi berdiam diri sekian lama lalu pelan-pelan putar tubuh.
“Kau kembali!” tiba-tiba situa Pelita memanggilnya kembali.
“Apakah Cianpwe masih ada urusan?” tanya Thian-hi merandek.
Situa Pelita termenung sebentar lalu katanya, “Tadi kau kata bahwa ada banyak orang telah menjadi korban karena jurus Jan-thian-ciat-te itu bukan?”
Thian-hi manggut-manggut.
Kata Situa Pelita, “Kuduga tentu kau mengalami banyak kesulitan karena jurus yang ganas itu. Demikian juga aku memancingmu kemari, walaupun kau takkan dapat membantu aku, namun maksud baikmu itu sungguh mengetuk sanubariku, biarlah kubantu sedikit kepadamu!”
Sebentar Hun Thian-hi berpikir, lalu menggeleng serunya, “Terima kasih akan kebaikan Cianpwe. Aku terlalu banyak menanam budi orang lain, sampai pun Soat-san-su-gou berempat Cianpwe rela mati demi jiwaku seorang.”
Bertaut alis situa Pelita, katanya, “Apa katamu?”
Terpaksa Thian-hi ceritakan bagaimana Bu Bing Loni mencari dirinya untuk menuntut balas serta pertemuannya dengan Soat-san-su-gou.
Berjengkit alis situa Pelita, ujarnya tertawa, “Kiranya begitu. Kedua tokoh yang dimaksudkan oleh Pek-bi tentu kedua bangkotan tua itu. Ah pengalaman dan pengetahuannya ternyata rada cetek juga. Tapi aku dapat menunjukkan sebuah jalan penerangan, kalau dibanding kedua bangkotan tua di Tiang-pek-san itu jauh lebih kuat berapa kali lipat!”
Wajah Hun Thian-hi mengunjuk rasa sangsi dan heran. Kata situa Pelita menerangkan, “Dari sini kau langsung menuju ke utara, nanti disana kau bakal menemukan sesuatu rejeki besar. Tiga hari kemudian kau kembali ke sini menemui aku!” selesai berkata tubuhnya mencelat berputar satu lingkaran menanggalkan semua pelita yang tergantung di atas pohon terus meluncur cepat ke dalam hutan dan menghilang.
Hun Thian-hi terlongong-longong di tempatnya sekian lama menerawang pesan situa Pelita sebelum pergi tadi, pikirnya, “betapapun jadinya aku harus pergi mencobanya.”
Cuaca masih rada gelap, dengan menunggang kudanya Hun Thian-hi melanjutkan perjalanan ke arah utara, entah berapa lama berselang, hari sudah menjelang pagi, namun sepanjang perjalanan ini tiada sesuatu yang diketemukan. Jauh dikeremangan kabut. pagi kelihatan bayangan sebuah bangunan kelenteng bobrok. Setelah melakukan perjalanan sehari semalam badan terasa penat, segera ia turun berjalan kaki sambil menuntun kudanya, setelah menambat kudanya didahan pohon besar langsung ia beranjak memasuki keleteng bobrok itu.
Begitu sampai diambang pintu dilihatnya seorang Hwesio tua tengah duduk samadi di tengah ruangan besar sana. Hwesio ini begitu tua sehingga jenggotnya panjang memutih menjulai di depan dadanya, wajahnya kelihatan berwarna merah, jubah abu-abu yang dipakainya kelihatan begitu itu bersih tanpa kena debu sedikitpun, sepintas pandang seakan-akan dewata dalam dongeng.
Begitu Thian-hi melangkah masuk wajah si Hwesio tua lantas berseri tawa, serunya, “Tuan kecil ini datang dari jauh, harap maaf Lo-ceng tidak menyambut secara semestinya.”
Diam-diam kaget hati Thian-hi, tanpa membuka mata lantas Hwesio tua ini mengetahui kedatangannya, lekas-lekas ia memberi soja serta sapanya hormat, “Wanpwe Hun Thian-hi, menghadapi pada Sin-ceng!”
Hwesio tua itu menggoyangkan tangan ujarnya, “Tuan ini janganlah menggoda Lo-ceng, Lo-ceng sudah biasa mendengarkan derap langkah orang sehingga sekali dengar lantas tahu berapa usia tuan ini, apalagi sekitar sini tiada pedusunan, terang tuan pasti datang dari tempat yang cukup jauh bukan!”
Memang ucapan si Hwesio tua masuk akal, hanya dari derap langkah saja lantas dapat membedakan berapa usia seseorang, apalagi dia tak pernah membuka mata mungkin memang buta. Tapi bagaimana mungkin seorang diri cacat lagi bisa hidup di tempat yang terpencil ini.
Hwesio tua itu agaknya dapat menebak isi hati Hun Thian-hi, katanya tersenyum, “Aku punya seorang murid kecil, tapi sekarang sedang keluar.”
Hun Thian-hi manggut-manggut, batinnya, “Tak heran, kukira kau sebatang kara disini. Seorang tua buta lagi mana mungkin bisa hidup di tempat semacam ini!”
Hwesio tua itu tertawa lagi, katanya, “Silakan duduk tuan, ada beberapa persoalan yang ingin Lo-ceng bicarakan dengan tuan!”
Hun Thian-hi tertegun, pikirnya, “Aku main terobosan masuk kemari, ada urusan apakah yang hendak dibicarakan oleh Hwesio tua ini?” Dalam hati ia bertanya-tanya namun ia menurut duduk dihadapan Hwesio tua.
Rada lama si Hwesio tua terpekur, katanya. “Selama enam puluh tahun Lo-ceng menunggu disini, hanya besoklah saatnya yang kunantikan!”
Bercekat hati Thian-hi, menunggu selama enam puluh tahun, jadi paling tidak usia Hwesio tua ini sedikitnya ada delapan atau sembilan puluh tahun, atau mungkin sudah melampaui seabad.
Terdengar Hwesio tua itu sedang bicara, “Di dalam lembah di belakang kelenteng ini ada sepucuk pohon yang bernama Kiu-thian-cu-ko, enam puluh tahun yang lalu waktu aku datang kebetulan buah dan kembangnya telah gugur, besok justru adalah saatnya ia berkembang dan berbuah masak!”
Berdebur jantung Thian-hi, Kiu-thian-cu-ko adalah buah Dewata yang sukar didapat dengan khasiatnya yang sangat mujarab. Konon kabarnya setiap enam puluh tahun sekali baru berbuah, jumlah seluruhnya hanya sembilan buah, sungguh tak terduga di tempat ini dirinya bisa menemukan buah dewata yang sangat berharga itu.
Kata si Hwesio, “Lo-ceng sudah menjaganya selama enam puluh tahun, namun bagi aku kesembilan buah itu tiada gunanya, hari ini kebetulan tuan datang kemari, biarlah aku pinjam bunga persembahan kepada sang Budha (memberi sedekah), kuberikan seluruhnya kepada tuan!”
Keruan Thian-hi terkejut, serunya, “Mana boleh jadi? Benda macam KUi-thian-cu-ko yang begitu tinggi nilainya dijaga selama enam puluh tahun oleh Sinceng lagi, mana bisa diberikan begitu saja kepala orang lain?”
Hwesio tua tertawa, ujarnya, “Tapi tidak begitu gampang kau untuk mendapatkan pucuk buah ajaib ini. Ketahuilah ada seekor ular sanca besar yang juga telah menunggu selama enam puluh tahun, masih ada lagi seorang aneh yang menunggunya selama tiga puluhan tahun pula!”
“Begitupun tak mungkin jadi,” sahut Thian-hi mengiakan keterangan orang, “Besok biarlah aku pergi mencobanya, jikalau dapat kurebut, aku rela persembahkan kepada Sin-ceng!”
Hwesio tua menggeleng kepala sambil tersenyum.
Kata-Thian-hi lagi, “Meskipun tiada perlunya bagi Sin-ceng, namun kau sudah susah payah menunggunya selama enam puluh tahun. Kukira tentu sangat memerlukannya bukan?”
“Walaupun Lo-ceng tidak bisa main silat.” demikian ujar Hwesio tua sembari tertawa-tawa, “namun hidup sampai setua ini perihal seluk beluk Bulim kuketahui juga. menurut jalan pernapasan tuan ini, bakat dan tulang tuan sungguh merupakan rahmat yang terbaik, apalagi dalam usia menanjak dewasa. Murid Lo-ceng sendiri tidak becus, maka dengan sukarela dan senang hati kuberikan pucuk pohon buah ajaib itu kepada tuan, harap tuan tidak menolak lagi.”
Melihat orang bicara begitu tulus dan sungguh hati Thian-hi menjadi tidak enak dan risi. Toh disana masih ada orang lain yang ingin merebutnya juga, belum tentu dirinya bisa berhasil memetiknya, terpaksa sekarang disetujui dulu saja. maka segera ia menjawab, “Terpaksa kunyatakan banyak terima kasih akan karunia Sin-ceng.”
Hwesio tua tersenyum ujarnya, “Suatu hal perlu kutegaskan, kalau tuan sudah setuju maka betapa juga, jangan sampai buah2 ajaib itu terjatuh ketangan orang lain.”
Thian-hi menjadi terhenyak melongo, sungguh ia tak habis heran kenapa jalan pikirannya dapat diketahui oleh Hwesio tua ini, terpaksa ia menyahut, “Wanpwe akan berbuat sekuat tenaga.”
“Tuan tentu sangat lelah,” begitu ujar Hwesio tua, “silakan istirahat sebentar!” habis berkata. dengan telapak tangannya ia meng-usap2 di depan muka Thian-hi, kontan Thian-hi lantas tercatuh mendengkur dan tertidur nyenyak.
Waktu Thian-hi siuman dari tidurnya hari sudah terang benderang pada hari kedua. Tersipu-sipu Thian-hi meloncat angun, ia heran mengapa sekali tertidur dirinya sampai pulas sehari semalam, waktu ia mengerling Hwesio tua itu sudah tak berada ditempatnya, sesaat ia terlongong, baru sekarang ia sadar bahwa, Hwesio tua ini pasti seorang sakti waktu ia lari keluat tampak kuda hitamnya masih tertambat di bawah pohon sana.
Thian-hi masih teringat pesan Hwesio tua kemaren, maka segera ia menyesuri jalanan kecil menuju ke belakang kelenteng. Dengan ilmu ringan tubuhnya ia memanjat naik kebukit yang tidak begitu tinggi, tiba dipuncak bukit hidungnya lantas dirangsang bau harum semerbak. Sebenfar berdiri menerawang keadaan sekitarnya, tampak olehnya diseberang bukit sebelah depan sana terdapat sebuah gua esar, di depan gua ini melingkar seekor ular sanca besar warna putih tengah berhadapan dengan seorang tua yang mengenakan jubah kuning. Ular dan orang itu diam tak bergerak seperti ajam adonan, masing-masing tiada yang berani bergerak dulu, namun besar hasrat masing-masing untuk mendahului mendapatkan buah ajaib yang berbau wangi.
Agaknya orang tua jubah kuning itu tidak sabaran lagi, gesit sekali ia berkelebat hendak menerjang masuk ke dalam gua, namun secepat anak panah ular sanca putih itu mematuk mengarah tenggorokannya. Orang tua jubah kuning menjadi gusar, dengan menghardik keras ia melolos sebilah pedang terus membabat kemonciong ular yang ternganga lebar itu. Ternyata siular besar inipun pandai berkelahi, dengan menekuk badannya ia sampok pedang musuh kesamping tubuhnya terus meluncur hendak menerjang ke dalam gua.
Sijubah kuning menggertak keras, pedangnya berputar mempetakan setabir kabut sinar putih mendesak mundur ular putih itu keluar gua pula, begitulah mereka saling berhadapan lagi diluar gua dengan siap siaga.
Meski hanya melibat beberapa gebrak pertarungan antara ular dan manusia ini namun diam-diam bercekat hati Thian-hi, batinnya, ‘kalau kepandaianku dibanding dengan ular dan sijubah kuning terang terpaut teramat jauh sekali. Kiu-thian-cu-ko itu jangan harap dapat kuperoleh, tapi aku sudah berjanji kepada Hwesio sakti itu, masa lantas mundur begini saja.
Bau harum yang teruar keluar dari dalam gua semakin tebal, jelas sijubah kuning dan ular besar Itu semakin bersitegang leher, pelan-pelan Hun Thian-hi menggeser maju ke arah gua besar itu. Waktu ia menggeremet tiba di atas samping gua, untung saking tegang dan tumplek perhatian musuh dihadapannya ular dan sijubah kuning tidak mengetahui kehadirannya.
Kelihatan kedua musuh bertengger ini sudah tak sabar lagi, mendadak sijubah kuning mengayun pedangnya menyerang ke arah ular sanca sebat sekali ular putih berkelit tanpa hiraukan sijubah kuning lagi ia mendahului melesat masuk ke dalam gua Tapi gerak-gerik sijubah kuning cukup hebat. lincah sekali tangan kirinya bergerak dengan telak telapak tangannya memukul ketubuh siular, terdengar ular putih mendesis keras, tubuhnya melenting balik mematuk kedua biji mata sijubah kuning. Terpaksa sijubah kuning mundur selangkah, pedang ditangan kanan lagi-lagi membabat ke kepala musuh.
Siular putih terdesak dan mundur berkelit, kontan jubah kuning timpukan pedangnya mengarah kedua biji mata sang ular, tanpa melihat apakah serangannya bakal berhasil segera ia menerobos masuk ke dalam gua. Keruan ular putih menjadi gugup, tubuhnya masih cukup gesit bergerak namun tak urung badannya sudah kena luka tergores, namun ia berhasil melenting maju merintangi si jubah kuning masuk ke dalam gua, maka dengan geram sijubah kuning ayun jotosannya menghantam sekuatnya menggetar mundur sang ular, sementara waktu mereka berhadapan lagi tanpa bergerak.
Diam-diam Thian-hi menghela napas lega, katanya dalam hati “Untung! Masih belum ada ketentuan pihak mana yang menang dan asor, kalau tidak sedikitpun ak takkan punya harapan.”
Tengah ia termenung sekonyong-konyong ia merasa telinganya seperti dikili2 dengan hembusan angin silir, keruan kejutnya bukan kepalang, lekas-lekas ia berpaling dilihatnya seorang Hwesio kecil yang bertubuh tambun buntak tengah berseri tawa kepadanya.
Mengkirik kuduk Thian-hi, untung orang tiada niat mencelakai jiwanya, kalau tidak sejak tadi jiwanya tentu sudah melayang.
Sekian lama Hwesio cilik itu tertawa-tawa lucu lalu berseru lirih, “Kau ingin mendapatkan Kiu-thian-cu-ko itu bukan?”
Thian-hi manggut, baru saja ia hendak bicara, Hwesio cilik sudah mencegahnya dengan mendesis mulut dan menegakkan jari tangannya di depan mulutnya, begitu menarik tangan Thian-hi terus diajak lari kebawah bukit.
Thiar-hi mandah saja diseret kebawah bukit tanpa mampu mengeluarkan tenaga untuk meronta. Setiba di bawah Hwesio cilik itu memandang Thian-hi dan berkata, “Kalau kau ingin benar-benar, aku bisa membantu kau!”
Thian-hi rada sangsi, namun akhirnya ia berkata, “Harap tanya Siausuhu ini bergelar nama siapa?”
“Siausuhu apa?” dengus Hwesio cebol itu rada tak senang, “usiaku jauh lebih tua dari kau, orang lain sering panggil aku Siau-hosiang (Hwesio jenaka), kau panggil aku Siau-hosiang saja!”
Hati Thian-hi menjadi geli dan ingin tertawa, namun tak enak dikatakan, terpaksa ia manggut-manggut saja, katanya, “Siau-hosiang! Kau ada cara baik apa?”
Hwesio cilik bernama Siau-hosiang terkekeh-kekeh melebarkan mulutnya tanpa membuka kata.
Thian-hi tahu bahwa ilmu silat Hwesio jenaka ini jauh lebih tinggi dari kemampuannya, kalau sudi membantu betul-betul merupakan pembantu yang boleh diandalkan, maka ia menambahi, “Kalau sudah dapat nanti kita bagi rata hasilnya bagaimana?”
Hwesio jenaka menarik muka, jengeknya, “Bagi rata? Kataku tadi aku hanya membantu kepadamu, kalau aku mau gampang saja aku turun kesana mengambilnya, buat apa harus bagi rata dengan kau apa segala!”
Terpaksa Thian-hi minta maaf, sambungnya, “Tapi kau hanya tertawa-tawa saja tidak beritahu cara bagaimana harus bekerja, kalau….,”
“Ah, ada aku disini masa perlu kuatir apa lagi?” kata Hwesio jenaka sambil menepuk dada.
Melihat sikap Hwesio cilik yang takabur ini, Thian-hi menjadi uring-uringan, katanya, “Jangan kau bicara begitu takabur!”
Hwesio jenaka tertegun sebentar lantas melebarkan mulutnya lagi terkekeh-kekeh, serunya, “Memang benar-benar, tapi aku ada pegangan dan pasti berhasil. Hari ini kau ada kerja maka kubantu kau kelak kalau aku punya urusan dan minta bantuanmu apakah kau sudi membantu?”
Thian-hi tercengang, tanyanya, “Kau ada urusan apa?”
“Sekarang tiada,” sahut Hwesio jenaka dengan riang, “maksudku kelak kemudian hari kalau aku kena perkara apakah kau sudi membantu aku?”
“Tidak kau jelaskan urusan apakah itu, mana aku tahu dapatkah aku membantu?”
Hwesio jenaka menunduk berpikir sebentar lalu angkat kepala serunya, “Mari kita naik ke atas!”
Begitulah dilain saat mereka sudah tiba dipuncak bukit, waktu memandang ke depan sana kelihatan sijubah kuning dan ular putih masih bersitegang leher berhadapan.
Kata Hwesio jenaka, “Biar aku turun kesana, kau bekerja menurut isyaratku!”
Thian-hi manggut-manggut, Hwesio jenaka tertawa lebar kepadanya terus berjalan bergoyang -gontai seperti gentong! menggelinding ke bawah lembah sana. Sekilas sijubah kuning dan ular putih berpaling ke arah Hwesio jenaka lain berpaling lagi bersiaga.
Hwesio jenaka terloroh-loroh menghampiri ke arah sijubah kuning serunya, “Sicu tua ini, apakah yang kau tengkarkan dengan ular putih ini?”
Sijubah kuning mendengus hidung tanpa hiraukan dirinya.
Sembari tertawa-tawa Hwesio jenaka melangkah lebar masuk gua. Tersipu-sipu si jubah kuning dan ular putih itu menghadang di depannya, dengan pura-pura kaget Hwesio jenaka melompat mundur teriaknya, “Waduh! Hebat benar-benar!”
Teriak sijubah kuning, “Hwesio cilik, tiada urusanmu disini, lekas minggir!”
“Sicu tua,” ujar Hwesio jenaka, “salah ucapanmu, aku Hwesio cilik ini ingin masuk kesana untuk istirahat, kenapa kau menghadang merintangi aku?”
Sijubah kuning tahu bahwa kepandaian Hwiesio jenaka tidak lemah, maka katanya lagi, “Hwesio cilik, kau usir ular-ular ini, Kiu-thian-cu-ko yang berada di dalam gua nanti boleh kita bagi dua, bagaimana?”
“Kiu-thian-cu-iko apa?” Hwesio jenaka pura-pura membodoh, “aku belum pernah dengar!”
S
ijubah kuning menggeram jengkel, katanya gegetun, “Mari kau bantu aku mengusir ular ini saja.”
“Itu boleh,” -sahut Hwesio jenaka manggut-manggut, “selamanya, aku Hwesio cilik paling suka membantu kesulitan orang, tapi kalau aku bantu kau mengusir ular ini, kau jangan mengganggu tidur nyenyakku lho!”
“Baik!’ sahut sijubah kuning aseran.
Hwesio jenaka putar tubuh menghadapi siular putih, dengan gentar ular putih surut ke belakang terus melingkar bundar, kepalanya menegak tinggi dengan lidah melelet2 mengawasi Hwesio jenaka.
Hwesio jenaka sendiri kelihatan rada takut-takut, selangkah demi selangkah maju mendekat, tangan diulur ke depan lalu ditarik kembali cepat, mulutnya berkaok, “Sicu tua, marilah kau maju membantu.”
Biji mata sijubah kuning berputar-putar, ia jemput pedang panjang di tanah terus berlari kencang menerobos masuk ke dalam gua. Ular putih ternyata sudah siaga, tidak kalah cepatnya iapun melesat mengejar ke arah sijubah kuning, tangkas sekali sijubah kuning memutar badan seraya melontarkan pedangnya. mengarah siular putih, gesit sekali ular putih nenekuk badan menukik kebawah seraya pentang mulutnya mematuk pundak sijubah kuning.
Terdengar sijubah kuning menggerung keras, tangan kanannya membalik mencengkeram leher ular dengan kencang tidak dilepas!agi. Kesempatan ini digunakan oleh Hwesio jenaka lari ke dalam gua, tak lama kemudian kelihatan ia berlari keluar lagi sambil menggembol seonggok dedaunan terus berlari kencang ke atas bukit.
Sijubah kuning berteriak panjang, dengan gusar ia mengumpat caci terus bergerak mengejar dengan kencang. Sekejap saja suara teriakannya semakin jauh dan tak terdengar lagi. Thian-hi menghela napas lega, dari atas bukit ia melihat tegas, dedaonan yang dibawa lari oleh si Hwesio cilik bukan lain hanya dahan pohon yang lebat dengan daun-daunnya yang menghijau. Tapi bagi penglihatan sijubah kuning Kesekelebatan warna hijau pupus, sungguh tak terpikirkan olehnya bahwa ini merupakan jebakan memancing harimau meninggalkan sarangnya, tanpa pikir panjang segera ia lari mengejar sembari membawa ular putih itu.
Cepat-cepat Thian-hi turun ke dalam lembah terus masuk ke dalam gua, setelah membelok sebuah tikungan tampak sebelah depan sana terdapat sebuah jembangan dengan airnya yang jernih kelihatan dasarnya. Ditengah jembangan ini kelihatan tumbuh sepucuk pohon kecil berdaon sembilan berbuah sembilan biji warna merah darah, warna daonnya hijau pupus berkilau menjadi sangat kontras sekali dengan warna buahnya….
Dalam-dalam Thian-hi menyedot hawa, terasa bau harum merangsang hidung menyegarkan badan dan membangkitkan semangat. Sungguh mimpi juga tak terduga sebelumnya bahwa buah ajaib yang tak ternilai itu betul-betul berada di depan matanya.
Sesaat ia menjadi kememek dan tidak tahu cara bagaimana ia harus bekerja, tanpa mengeluarkan sedikit tenagapun ia bakal memperoleh buah dewata yang sukar didapat, kalau dikata memang sukar dipercaya, tapi kalau rejeki ini ditolak tak lama kemudian buah dan daon ajaib ini segera bakal menjadi kuju dan laju.
Tengah Thian-hi terpekur tiba-tiba sebuah bayangan orang meluncur hinggap di depannya, Thian-hi terperanjat dan menyurut mundur, waktu ia menegasi kiranya si Hwesio jenaka.
Tetap dengan sikapnya yang tertawa-tawa Hwesio jenaka berkata, “Bagaimana? Eh tidak lekas kau ambil dan menemuinya, sebentai lagi bakal laju kering lho!”
“Siausuhu kenapa kau sendiri tidak mau menelannya?” tanya Thian-hi.
“Segala sesuatu di dunia ini pasti ada sebab dan akibatnya. Jika sudah ditakdirkan bahwa buah ajaib ini bakal menjadi milikmu, lekaslah Sicu menelannya!”
Thian-hi masih rada sangsi, tiba-tiba Hwesio jenaka melompat maju menutuk jalan darahnya, cepat-cepat kesembilan buah merah itu dipetik terus dijejalkan semua kemulut Hun Thian-hi.
Terasa oleh Thian-hi rasa manis dan harum tertelan melalui tenggorokannya terus melebar keseluruh tubbhnya, tak terasa lagi kepalanya menjadi berat dan ia jatuh pingan.
Entah berapa lama berselang waktu ia pelan-pelan siuman dilihatrrja. Hwesio jenaka tengah berdiri disamping sambil tertawa riang, ditangannya masih menyekal pucuK daun warna hijau berjumlah sembilan tangkai. Sedikit bergerak lantas Thian-hi rasakan badannya sangat enteng.
“Kusampaikan selamat. tuan kecil!’“ ujar Hwesio jenaka menggoda.
“Akupun banyak terima kasih akan bantuan Siausuhu!” jawab Thian-hi sungguh-sungguh.
Hwesio jenaka memalingkan kepalanya, mulut bergerak hendak bicara namun diurungkan. Teringat oleh Thian-hi akan permintaan Hwesio jenaka di atas bukit tadi, maka katanya, “Siausuhu. kalau kau betul-betul memerlukan bantuanku, dimana dan kapan saja pasti aku membantumu sekuat tenagaku!”
Hwesio jenaka berseri tawa, “Sembilan tangkai daun ini merupakan benda yang sangat berharga, silakan kau simpan Saja!”
Melihat orang tidak menyinggung persoalan tadi, Thian-hi rada kikuk dan jadi menyesal, dengan menunduk ia sambuti kesembilan tangkai daun hijau lalu hati-hati disimpan ke dalam baju.
“Kau sudah tidur sehari lamanya,” kata Hwesio jenaka, “hari ini tepat hari ketiga boleh kau pergi menemui Situa Pelita itu!”
Thian-hi melengak, tak habis herannya dari mana Hwesio jenaka ini mengetahui perihal pertemuannya dengan situa Pelita itu. Hwesio jenaka mandah tertawa lucu, semoga Selamat berjumpa kelak!” — hilang suaranya badannya pun melenting keluar gua.
Thian-hi menjublek ditempatnya sekian lamanya baru pelan-pelan beranjak keluar dari gua, sedikit menyedot hawa dan mengempos semangat badannya lantas bergerak ringan seenteng asap seperti menunggang awan, keruan ia melengak dan keheranan, sungguh diluar tahunya bahwa khasiat buah ajaib itu ternyata begitu aneh dan mustajab.
Begitu ia ganti napas badannya lantas meluncur turun, segera ia empos semangatnya terus berlari kencang kepuncak bukit betapa cepat luncuran tubuhnya sungguh sangat mengejutkan dan diluar perhitungannya, sekejap mata ia sudah tiba di depan gunung lagi.
Waktu ia melangkah memasuki keleteng brobrok itu keadaan sunyi senyap tiada seorang pun yang tinggal hanya kasur bundar buat semadi itu. Thian-hi berlutut serta menyembah empat kali ke arah kasur bundar itu lalu keluar dari pintu samping, setelah mengambil kudanya ia berjalan balik ke arah datang semula.
Pengalaman tiga hari ini seolah-olah dalam mimpi saja, suatu kejadian yang agaknya tak mungkin terjadi, namun kenyataan telah dialami olehnya. Hwesio tua itu sudah menunggu selama enam puluh tahun akhirnya buah itu diberikan kepada dirinya secara mentah-mentah, demikian juga Hwesio jenaka suka rela membantu dirinya tanpa pamrih.
Waktu ia membedal kudanya sampai di tempat semula, tampak Situa Pelita sudah menunggunya duduk di bawah pohon besar yang rindang.
Tersipu-sipu Thian-hi turun dari tunggangannya terus menjura dalam. Dengan cermat situa Pelita mengawasi Thianhi sambil tersenyum simpul, katanya, “Apakah kau sudah bertemu dengan Go-cu Taysu?”
“Go-cu Taysu?” ulang Thian-hi dengan tak mengerti.
Situa Pelita melengak, tanyanya, “Apa kau tidak jumpa dengan beliau?”
“Apakah beliau seorang Hwesio tua yang buta sepasang matanya serta beralis dan berjenggot putih?”
“Bukan!” sahut situa Pelita, “Kedua biji mata Go-cu Taysu tidak buta. Apa kau benar-benar tidak berjumpa dengan Go-cu Taysu?”
Hun Thian-hi termenung beberapa saat tanpa buka suara lagi.
“Apakah kau sudah sampai di kelenteng bobrok itu?” desak situa Pelita.
Thian-hi manggut, sahutnya, “Tapi yang kutemukan hanya seorang padri tua yang buta!”
“Begitulah ‘jodoh’, beliau tentu Go-cu Taysu adanya. Seluruh kaum persilatan di kolong-langit ini yang paling ditakuti oleh Bu Bing Loni hanya beliau seorang. Dan hanya Bu Bing Loni dan aku saja dari seluruh jagat ini yang mengetahui adanya tokoh yang lihay ini!”
Thian-hi kesima sekian lama, katanya, “Kiu-thian-cu-ko yang beliau tunggu 5elama enam puluh tahun telah diberikan kepadaku!”
“Apa?” situa Pelita tersentak kaget.
Thian-hi lantas tuturkan pengalamannya selama tiga hari ini. Situa Pelita manggut-manggut serta katanya tersenyum, “Begitupun baik, sayang kalau Go-cu Taysu sendiri mau memberi petunjuk langsung kepadamu tentu lebih besar manfaatnya!”
Diam-diam Thian-hi bertanya-tanya dalam hati, tokoh macam apakah sebenar-benarnya Go-cu Taysu itu, betapa tinggi ilmu kepandaiannya.
Situa Pelita tertawa-tawa, ujarnya, “Namun rejeki yang kau peroleh pun merupakan karunia yang sukar didapat oleh orang lain. Tapi kau harus tahu ini baru permulaan dari ‘Sebab’ itu, kelak tentu banyak pekerjaan dari ‘akibat’ itu untuk kau selesaikan.”
“Kemanakah kiranya Go-cu Taysu sekarang, apakah Cianpwe tahu jejaknya?”’
“Orang muda jangan terlalu serakah. Jejak Go-cu Taysu selamanya. sukar diketahui orang, buat apa kau tanya kepadaku?”
“Bukan begitu maksudku, tujuanku hanya ingin tanya berbagai persoalan kepada beliau!”
Situa Pelita geleng-geleng kepala, ujarnya, “Mungkin kalau ada jodoh atau secara kebetulan saja baru kau ada kesempatan bertemu dengan beliau!”
Sesaat mereka berdiam membungkam, Situa Pelita membuka suara, “Sijubah kuning itu kuduga adalah Mo-lam-it-koay, sedang Hwesio jenaka itu aku kurang terang. Karena kejadian ini ia menanam permusuhan dengan Mo-lam-it-koay, kelak tentu banyak perhitungan yang harus kau pikul!”
Diam-diam Thian-hi mencatat nama Mo-lam-it-koay dalam sanubarinya.
“Aku masih punya urusan yang harus segera kuselesaikan. Rejekimu begitu nomplok maka kau harus hati-hati dan bisa menjaga diri baik-baik karena ilmu silatmu sekarang belum mencukupi Gin-ho-sam-sek pemberian Soat-san-su-gou boleh kau pelajari dulu, belakang hari kalau ada jodoh kita bisa berjumpa kembali!” — habis berkata terus tinggal pergi.
Setelah situa Pelita hilang dari pandangan matanya Thian-hi merasa hatinya hampa dan cemas, lama dan lama kemudian baru ia cemplak kudanya melanjutkan perjalanan ke depan.
Sejak menelan Kiau-thian-cu-ko Lwekangnya maju pesat, sepanjang perjalanan ini tak mengenal kesal ia pelajari ilmu Gin-ho-sam-sek. Tak terasa tahu-tahu tiga hari sudah lewat, selama ini ia tidak menemui rintangan apa di tengah jalan. Tapi ia tahu bahwa seratusan li di sekitarnya banyak orang tengah memata2i dirinya.
Hari itu pagi2 benar-benar Thian-hi sudah congklang tunggangannya melanjutkan perjalanan. Kira-kira puluhan li kemudian, tiba-tiba puluhan kuda tunggangan membedal datang dari belakang. Thian-hi hentikan kudanya menunggu, puluhan ekor kuda itu melesat lewat di kedua sampingnya, terus secepat kilat dihentikan dan putar balik berdiri jajar mencagat di depan Thian-hi.
Terlihat oleh Thian-hi puluhan orang itu mengenakan seragam pendek warna hijau, punggung mereka mengenakan mantel besar, hanya seorang yang ditengah adalah seorang gadis remaja yang mengenakan pakaian serba merah, mantel yang dikenakan pun warna merah menyolok.
Orang yang paling pinggir memajukan kudanya serta bertanya kepada Thian-hi, “Apakah kau ini murid Lam-siau Hun Thian-hi?”
Hun Thian-hi manggut-manggut tanpa buka suara.
Terdengar orang itu berseru lantang, “Atas perintah dari Hwi-cwan Pocu, persilahkan Hun-siauhiap mampir sebentar di Hwi-cwan-po!”
Thian-hi menyapu pandang dulu ke puluhan orang itu baru balas tanya, “Untuk urusan apa?”
“Siauhiap akan tahu setelah sampai disana!”
Thian-hi tertawa tawar, katanya, “Terima kasih akan maksud baik Pocu kalian. Harap beri lapor kembali pada Pocu kalian katakan bahwa aku Hun Thian-hi punya urasan penting, belakang hari kalau ada waktu tentu aku mampir kesana!”
Orang itu tertegun sebentar lalu berpaling ke arah gadis baju merah.
“Sekarang juga. harus kesana!” akhirnya gadis baju merah ikut bicara.
“Karena urusan Leng Bu bukan?” seru Thian-hi sembari gelak tertawa, “Siapapun boleh dan harus membunuh Leng Bu, betapa tercela sepak terjangnya masa Hwi-cwan-po ada maksud menuntut balas baginya?”
Gadis baju merah menarik muka, bentaknya, “Kau tidak mau pergi terpaksa kita gunakan kekerasan!”
Thian-hi menjengek dingin, “Ya, biar aku belajar betapa hebat tiga belas jurus Hwi-cwan-kin-soat dari Hwi-cwan-po kalian!”
Gadis baju merah tertawa dingin, para kerabatnya segera maju merubung kesekeliling Thian-hi. Thian-hi pentang lebar matanya manyapu pandang para pengepungnya, tahu dia bahwa hari ini terpaksa ia harus gunakan kekerasan lagi. Maka segera kudanya dikeprak maju terus menerjang lebih dulu.
Serentak puluhan mantel bertebaran menari2 menggulung berbareng ke arah Thian-hi.
Thian-hi menggertak keras tubuhnya mencelat tinggi ke tengah udara sedang kudanya masih membedal ke depan terus, ditengah udara Thian-hi mainkan gaja tubuhnya yang indah berkelit kian kemari dari samberan mantel2 musuh dan membelesot lewat dari tengah celah kepungan musuh terus meluncur duduk kembali dipunggung kudanya.
Baru saja belum sempat ia membetulkan tempat duduknya, terdengar teriakan nyaring merdu sekuntum awan merah disertai angin menderu keras menerpa ke arah dirinya. Tahu Thian-hi bahwa gadis baju merah telah menunjukkan aksinya. Tanpa ayal ia dorong ke depan kedua telapak tangannya memapak menyambut serangan mantel merah lawan
Begitu serangan pertama gagal, jurus kedua yang lebih hebat dari sigadis baju merah telah melandai tiba pula. Thian-hi tidak perlu gentar mengingat Lwekangnya baru saja maju berlipat ganda, enteng sekali tangan kanan dijulurkan keluar mencengkerana mantel gadis baju merah terus dibetotnya mentah-mentah, dan usahanya ternyata berhasil. Tapi seiring dengan lari kudanya yang membedal lewat cepat-cepat ia timpukkan pula mantel rampasannya kemuka gadis baju merah, maka dilain kejap ia sudah menyongklang kudanya ke depan.
Gadis baju merah kelabakan sebentar, namun dilain saat ia sudah larikan kudanya pula mengejar dengan kencang. Dari kejauhan terdengar gadis baju merah berteriak, “Berani kau lari! Ketahuilah gurumu tertawan di Hwi-cwanj-po, malah Pak-kiam suami isteri juga disana.”
Terkejut Thian-hi, segera ia tarik kendali kudanya sehingga lari pelan-pelan. Waktu ia berpaling tampak gadis baju merah memutar balik kudanya seraya berseru, “Kau mampir tidak terserah kepadamu!”’
Thian-hi menghentikan kudanya terus memutarnya balik. Melihat Thian-hi putar balik gadis baju merah tertawa senang, kakinya menendang perut tunggangannya terus dibedal ke depan.
Sungguh berat perasaan Thian-hi. Sungguh daluar tahunya, bahwa gurunya bisa tertawan oleh Hwi-cwan-po di Kanglam, tak bisa tidak ia harus percaya akan berita ini karena hari itu ia tinggal lari begitu saja Lam-siau dan Pak-kiam berdua masih bertempur seru, setelah ia lolos kemungkinan besar Thi-kiam Lojin dan Im-hong-ciang Lim Bing kembali dan mengeroyok mereka, dapatlah dibayangkan pihak mana bakal menang.
Melihat Thian-hi kena terpancing akan kata-katanya dan tunduk berpikir, gadis baju merah berpaling dan berteriak lagi, “Lekas! Apa lagi yang kau pikirkan?”
Thian-hi angkat kepala, pikirnya urusan sudah ketelanjur sedemikian jauh terpaksa aku harus ikut mereka ke Hwi-cwan-po, Karena pikirannya ini segera ia tendang perut kudanya terus dibedal ke depan.
Gadis baju merah tertawa lebar, tangannya diulapkan memberi aba-aba, puluhan anak buahnya segera bergerak mengelilingi sekitar Thia-hi berlari kencang. Sekilas Thian-hi menyapu pandang mereka, namun tak bicara apa-apa kudanya dilarikan terus mengintil di belakang gadis baju merah.
Entah berapa lama dan betapa jauh perjalanan yang sudah ditempuh ini, tiba-tiba jauh di depan sana kelihatan puluhan kuda mendatangi dengan cepat. Begitu dekat puluhan kuda itu lantas berjajar rapi menghadang di tengah jalan.
Dengan muka dingin membeku Gadis baju merah mengajukan kudanya lebih dekat, matanya yang jeli berputar menyorotkan sinar tajam menatap satu persatu para pendatang ini.
Melihat cara dandanan para pendatang ini diam-diam Thian-hi terkejut, pikirnya, kenapa anak buah Tong-ting-kun juga meluruk kemari?
Pada jauh di belakang sana berlari kencang seekor kuda putih tengah mendatangi…. seorang pemuda yang membekal pedarg panjang menerobos lewat dari puluhan pencegat itu terus menghampiri ke depan gadis baju merah.
“Nyo Seng!” teriak gadis baju merah gusar, “Kenapa kau menghadang perjalanan kita?”
Pemuda itu bergelak tawa serunya, “Nona Ciok, pihak Hwi-cwan-po kalian tiada punya permusuhan dengan Hun Thian-hi. Urusan Kim-i-kongcu Leng Bu biarlah diselesaikan oleh ayahnya Sing-hu Lojin tak perlu kalian ikut campur.
“Tapi engkohku menjadi korban ditangan Hun Thian-hi, ayah menitahkan kepadaku kemari untuk meringkusnya, bagaimana menurut pendapatanmu?”
“Hwi-cwan-kian-soat-cap-sa-sek yang dimainkan Leng Bu itu milik siapa masa kau tidak tahu?” jengek gadis baju merah dengan uring-uringan.
“Benar-benar!” Seru Nyo Seng tertawa-tawa, “Tapi kau harus tahu Hun Thian-hi membunuh engkohku, sedang Leng Bu bagi Hwi-cwan-po kalian tidak lebih hanya murid murtad melulu!”
Gadis baju merah mendengus hidung, belum sempat ia bicara Nyo Seng sudah berkata lagi, “Apakah Hwi-cwaw-po di Kanglam tidak mengenal tata tertib dunia persilatan?”
Seru gadis baju merah, “Nyo Seng! Jangan kau pura-pura, kau sangka aku tidak tahu apa yang kau pikirkan? Kalau kau benar-benar ingin minta orang, mari silakan datang ke Hwi-cwan-po saja!” sembari berkata ia jepit perut kudanya seraya mengayun tangan terus menerjang ke depan.
Nyo Seng menjengek dingin, sebelah tangannya membalik melolos pedang, para pengikutnya serempak juga melolos keiuar senjata masing-masing untuk merintangi jalan si gadis baju merah.
Terdengar gadis baju merah menghardik nyaring tangan yang lain menanggalkan mantel merah di punggungnya terus diobat-abitkan sembari menerobos maju dengan kencang.
Nyo Seng melintangkan pedangnya, dengan kekerasan ia berusaha merintangi orang, teriaknya, “Nona Ciok, kalau kau tidak mematuhi peraturan dunia persilatan jangan salahkan aku Nyo Seng tidak mengenal kasihan lagi.”
Dalam pada itu gadis baju merah sudah menerjang tiba, mantel merahnya segera dikebutkan ke arah Nyo Seng tanpa pedulikan peringatannya. Terpaksa Nyo Seng angkat pedangnya menyontek dan membabat ke arah mantel merah yang menggulung tiba. Tapi permainan mantel si gadis merah ternyata cukup lihay, terdengar ia menghardik keras, kelihatan mantel merahnya berkembang lebar seperti sekuntum awan merah berterbangan menari2 laksana kupu2 merah besar. Dengan deras si gadis baju merah lancarkan ilmu Hwi-cwan-kian-soat-cap-sa-sek mendesak kepada Nyo Seng. Tapi Nyo Seng tidak gentar, sambil tertawa dingin ia berkelit ke samping sembari memberi aba-aba kepada para pengikutnya untuk menyerbu bersama.
Para kerabat dari Hwi-cwan-po juga tidak mau unjuk kelemahan serentak mereka pun menanggalkan mantel masing terus menyerbu ke depan. Seketika terjadilah pertempuran kalang-kabut di atas kuda, suasana menjadi riuh meriah. senjata berdenting diselingi teriakan menggeledek serta pekik kesakitan yang jatuh menjadi korban terutama bebenger kuda-kuda yang luka dan sekarat. Suasana pertempuran menjadi semakin kalut karena pemandangan menjadi gelap oleh mengepulnya debu yang menabirkan kabut ke-kuning2an.
Diam-diam Hun Thian-hi menerawang” pertempuran di hadapannya dengan berbagai pertimbangan yang menggejolak dalam sanubarinya. Pertempuran kedua golongan ini pasti bukan melulu karena sakit hati atau balas dendam saja, tentu ada latar belakang yang tersembunyi mungkinkah…., terpikir sampai disini tanpa merasa ia mendengus hidung dengan gemes.
Begitulah pertempuran ini berjalan secara keras lawan keras, sorak-sorai terus terdengar untuk menambah semangat tempur mereka. Namun tak disadari oleh mereka saking nafsu untuk merobohkan lawan masing-masing bahwa kedua belah pihak sudah jatuh korban sedemikian banyak, boleh dikata separo dari jumlah mereka sudah berjatuhan menggeletak di tanah dengan berlumuran darah, namun semangat tempur kedua belah pihak tetap tinggi dan terus berkutet.
Sementara itu, kepandaian Nyo Seng memang setingkat lebih rendah dari lawannya, setelah bergebrak puluhan jurus akhirnya ia terdesak di bawah angin oleh gadis baju merah. Apalagi dilihatnya korban anak buahnya juga semakin banyak, akhirnya sembari menghardik keras:
“Berhenti!” ia meloncat mundur. Pertempuran segera berhenti dan anak buah masing-masing mundur ke tempat masing-masing.
Mengawasi para korban yang malang melintang di atas tanah, Nyo Seng menggeram dengan mengertak gigi, “Ciok Yan! Nyo Seng hari ini mengakui keunggulanmu. Tapi dalam sepuluh hari ini pasti kita berkunjung ke Hwi-cwan-po.”
Dengan sombong gadis baju merah yang bernama Ciok Yan menyahut, “Terserah kapan kau mau datang. Hwi-cwan-po selalu menanti kedatangan kalian!”
Dengan mengerling Nyo Seng memandang ke arah Hun Thian-hi, lalu mendelik ke arah Ciok Yan terus memutar kudanya dibedal lari sekencang-kencangnya….
Ciok Yan meneliti para korban di tanah lalu berpaling ke arah Hun Thian-hi, serunya, “Kita harus mengejar waktu dan cepat jalan. Bencana yang kau timbulkan terlalu besar, lihat betapa banyak orang yang ingin meringkus kau. Marilah cepat kalau tidak tentu banyak rintangan di sepanjang jalan ini!”
“Tujuan kalian adalah sama, bukankah sama saja siapa yang memperoleh,” demikian cemooh Thian-hi, “kenapa harus saling rebutan!”
Ciok Yan melengak, dengusnya, “Tawanan pihak Hwi-cwan-po kita, mana boleh direbut orang lain?”
Thian-hi tertawa dingin, serunya, “Persoalan kukira tidak begitu mudah!”
Ciok Yan mengawasi Thian-hi, mendadak ia tertawa dingin serta jengeknya, “Kau harus tahu diri, ketahuilah gurumu masih berada ditangan kita!”
Thian-hi insaf saat ini tidak menguntungkan main debat, terpaksa ia menurut saja digusur terus melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan ini Ciok Yan celingak-celinguk kuatir disergap di tengah jalan. Sebaliknya sepanjang jalan ini hati Thian-hi tengah gundah dan merancang cara bagaimana ia harus mengambil sikap. Terpikir olehnya bahwa semua peristiwa ini tak lain tak bukan tentu adalah permainan Mo-bin Suseng melulu.
Jauh di depan sana kelihatan debu mengepul tinggi. Diam-diam bercekat hati Ciok Yan, entah rombongan dari mana lagi. Adalah mungkin Su Tat-jin yang mengatur tipu daya. Namun meski ia berdesak di dalam hati, keadaan masih ditengah jalan betapapun harus mengatasi mengikuti situasi yang dihadapi nanti, kalau bisa menerjang lewat itulah baik, kalau tidak bisa mengandal ketenaran nama Hwi-cwan-po kiranya para pendatang ini takkan berani berlaku kurang ajar.
Ciok Yan menerawang sekitar dirinya lalu mengulap tangan memberi aba-aba, puluhan anak buahnya segera berpencar di sekelilingnya.
Sekonyong-konyong Hun Thian-hi mendapat firasat, biji matanya berputar, mendadak ia putar balik kudanya terus dilarikan kencang ke belakang.
Melihat Thian-hi melarikan diri keruan kejut Ciok Yan bukan main, sembari menghardik keras ia putar kudanya terus mengejar ke arah Thian-hi. Thian-hi membedal kudanya secepat-cepatnya Ciok Yan mengejar terus, dari kejauhan ia berteriak, “Orang she Hun, jangan kau lari, ingat gurumu masih berada ditangan kita!”
Waktu Thian-hi angkat kepala dilihatnya di depan sana terbentang sebuah hutan lebat, segera ia belokkan lari kudanya menuju ke arah sana terus menerobos masuk, teriaknya berpaling, “Dalam tiga hari ini Hun Thian-hi pasti berkunjung ke Hwi-cwan-po. Maaf sekarang aku tidak bisa mengiringi kalian!” dikejap lain bayangannya sudah menghilang dibalik pohon-pohon besar.
Ternyata Ciok Yan mengejar dengan nekad. Sembari mengeprak kudanya tiba-tiba tubuh Thian-hi mencelat terbang naik ke atas sebuah pohon sedang kuda hitamnya masih terus mencongklang ke depan. Ciok Yan tidak tahu ia mengejar dengan kencang, kira-kira sepanahan baru ia tahu bahwa yang dikejir melulu kuda tanpa tunggangan.
Sesaat ia menjadi melongo tak tahu apa yang harus dilakukan. Kejap lain terdengar derap langkah kuda yang riuh, puluhan anik buahnya juga telah mengejar sampai. Perlahan-lahan Ciok Yan menghela napas, ia berpaling memandang rombongan pengejar yang tengah mendatangi. Kira-kira beberapa tombak mereka berhenti, setelah tegas siapa para pendatang ini tak terasa sedikit berubah rona wajah Ciok Yan.
Para pendatang ini mengenakan seragam merah, menyoreng pedang panjang dipinggang masing-masing, mereka bercokol tegak dan kereng di atas kuda tanpa bergerak, inilah salah satu dari ketua partai merah putih yang paling disegani dikalangan Kangouw, yaitu partai merah.
Heran dan kejut pula hati Ciok Yan, sungguh diluar dugaannya bahwa partai merah pun sudah tahu tentang pertikaian ini, malah ingin turut campur lagi. Partai merah dan putih terkenal susah dilayani, anggotanya merupakan tokoh-tokoh kelas wahid dikalangan Kangouw, para ketua dari kedua partai ini selamanya tidak pernah muncul dan unjuk muka, sehingga tiada seorangpun tahu siapakah mereka sebenar-benarnya.
Tengah Ciok Yan berpikir, jauh di belakang sana mendatangi pula seekor kuda yang berlari cepat terus menerobos lewat berhenti di depan Ciok Yan…. Ciok Yan terperanjat, pendatang ini bukan lain adalah Tongcu luar dari partai merah yang bernama julukan Thian-mo-kiam (pedang iblis langit) Liong Lui.
Dengan siKapnya yang congkak Thian-mo-kiam Liong Lui menyapu pandang ke arah Ciok Yan beramai lalu jengeknya, “Mana orangnya?”
Sejak kecil Ciok Yan biasa disanjung puji dalam keluarganya, betapa tenar nama Hwi-cwan-po tiada seorang pun yang berani memandang rendah, masa mandah saja terima sikap Thia-mo-kiam Liong Lui yang gagah2an dan sombong ini. Maka dengan uring-uringan ia balik bertanya, “Kau bicara dengan siapa?”
Thian-mo-kiam Liong Lui tidak menjawab, biji matanya jelilatan menyapu pandang kesekelilingnya, tiba-tiba ia mengayun tangan serta berseru, “Lekas kejar!”
“Nanti dulu!” teriak Ciok Yan gusar.
Tapi Thian-mo-«kiam Liong Lui tidak hiraukan, para seragam merah itu segera berpencar menerjang ke dalam hutan.
Berdiri alis lentik Ciok Yan, segera iapun angkat tangannya serta memberi perintah, “Rintangi mereka!”
Serempak para kerabat Hwi-cwan-po menanggalkan mantel masing-masing terus menyerbu menghalangi sepak terjang anak buah partai merah. Anak buah partai merah segera melolos senjata dan menerjang dengan girangnya, seketika terlihat mantel hijau berkembang dimana-mana serabutan. meng-halang2i serbuan anak buah partai merah yang merangsak dengan kekerasan.
Terdengar Thian-mo-kiam Liong-lui mendengus keras, Sekali lagi tangannya terangkat memberi aba-aba, anak buahnya yang terpencar segera mundur bergabung kembali terus menerjang bersama ke arah samping kiri sana.
Para kerabat Hwi-cwan-po yang kalah latihan dan terpencar itu menjadi kalang kabut, karena keterjang serangan gabungan yang hebat bagai arus air bah ini, kontan ada dua orang terjungkal roboh dari atas kuda. Keruan gusar Ciok Yan dibuatnya, kudanya segera dibedal maju, secepat kilat laksana awan merah mantel merahnya berputar, kontan dua orang anak buah partai merah yang menerjang paling depan kena digulung terjungkal ke tanah.
Tapi gerak-gerik Thian-mo-kiam Liong Lui ternyata hebat luar biasa, tiba-tiba ia jejakkan kakinya di atas kudanya, tubuhnya lantas mencelat tinggi, ditengah udara ia berputar setengah lingkaran tepat sekali menangkap kedua anak buahnya yang tersapu oleh mantel Ciok Yan. Begitu tangkas dan cekatan gerak geriknya, setelah menyelamatkan kedua anak buahnya tubuhnya jumplitan kembali hinggap di atas panggung tunggangannya. Waktu ia menunduk melihat kedua anak buahnya seketika berubah air mukanya, kiranya kedua anak buahnya siang-siang sudah mati karena kebutan mantel merah Ciok Yan tadi.
Thian-mo-kiam merupakan tokoh yang paling ditakuti dalam kalangan partai merah, kepandaiannya hebat lagi perangainya sangat keras dan kaku, memang usahanya dalam mempertunjukkan kepandaian tadi tujuannya bukan melulu hendak menolong jiwa kedua anak buahnya, tapi tujuan yang utama demi menjaga gengsi dan nama baiknya saja, sekaligus menunjukkan kepandaiannya yang hebat supaya Ciok Yan tahu diri dan gentar. Siapa tahu anak buahnya yang ditolongnya kiranya sudah menjadi mayat, keruan betapa gusar hatinya, karena hal ini lebih menunjukkan ketidak mampuannya dan ketidak becusannya.
Pelan-pelan Liong Lui angkat kepalanya, matanya berkilat menatap tajam ke arah Ciok Yan, desisnya, “Tiga belas jurus permainan Hwi-cwan-kiam-hoat memang bukan omong bohong belaka.”
Ciok Yan sering dengar bahwa watak Thian-mo-kiam Liang Lui ini sangat culas dan keji, maka ia tetap waspada tak berani balas bicara.
Terdengar Thian-mo-kiam Liong Lui tertawa dingin, ujarnya, “Tapi aku Thian-mo-kiam Liong Lui pernah takut…. kepada siapa? Menurut sepak terjangmu hari ini seump-ma ayahmu sekarang berada disini pun tak bakal kuberi ampun kepadamu. Tapi asal kau serahkan Hun Thian-hi kepada kita Partai Merah selamanya takkan mencari perkara dengan pihak Hwi-cwan-po kalian!”
Ciok Yan menjengek dingin, “Kau bicara seenak udelmu sendiri, ketahuilah Hun Thian-hi sudah melarikan diri sewaktu kalian datang, kita tengah mengejarnya sampai disini dan belum ketemu.”
Thian-mo-kiam Liong Lui menggerung murka, matanya mendelik mengawasi muka Ciok Yan menjelajah perubahan air mukanya, tahu dia bahwa ucapan Ciok Yan memang bukan bohong belaka. Kalau menurut adatnya siang-siang ia sudah pukul mati kepada Ciok Yan, namun sang Pangcu pernah wanti2 pesan kepadanya untuk sedikit sabar dan tidak lebih banyak menimbulkan permusuhan supaya tidak mempersempit aktivitas pihak Partai Merah dikalangan Kangouw.
Sejenak Liong Lui merenung, lalu katanya kepada Ciok Yan, “Saat ini seluruh tokoh-tokoh Bulim dikolong langit ini semua ingin meringkus Hun Thian-hi. Maka nanti kalau nona Ciok pulang tolong sampaikan kepada ayahmu bahwa kita Partai Merah suka bergabung dan bekerja sama dalam persoalan ini dengan Hwi-cwan-po. Asal beliau mau setiap saat Partai Merah siap membantu!”
“Hwi-cwan-po kita selamanya tak pernah dan tak perlu bekerja sama dengan pihak lain,” kata Ciok Yan.
Liong Lui pun bersikap tidak kalah dinginnya, “Keadaan akan menentukan apakah perlu atau tidak!”- Habis berkata ia putar kudanya terus pimpin anak buah Partai Merah tinggal pergi.
Sekian lama Ciok Yan terlongong ditempatnya, sungguh diluar dugaannya bahwa peristiwa ini berkembang begitu pesat. Terang sekarang Hun Thian-hi sudah menjadi sasaran umum yang paling utama, sedang pihak Hwi-can-po juga tak mungkin bekerja sendiri lagi.
Akhirnya ia menengadah melihat cuaca, kala itu sudah menjelang tengah hari, cepat ia keprak kudanya sembari memberi aba-aba kepada anak buahnya terus dilarikan kencang keselatan.
Hun Thian-hi sembunyi di atas pohon, semua adegan di bawah dilihatnya dengan jelas. Sekarang dia lebih jelas dan paham apa sebenar-benarnya yang bakal dan tengah terjadi, pikirnya Mo-Sin Suseng betul-betul cerdik dan cukup culas, dia sendiri tak pernah unjuk muka namun sudah sekian banyak orang yang dibikin meluruk kepadanya.
Setelah Ciok Yan pergi agak jauh baru Hun Thian-hi menghela napas lega dan celingukan kekanan-kiri, mendadak ia tersentak kaget, di atas pohon sebetah kiri sana terlihat sebuah muka orang tengah mengawasi ke arahnya.
Cepat-cepat Hun Thian-hi meluncur turun ke tanah, orang itupun ikut melompat turun. Waktu Hun Thian-hi menegasi dandanan orang diam-diam ia menjadi mengerut kening. Orang itu berperawakan kecil pendek, namun mengenakan pakaian Tosu yang kedodoran, di punggungnya menyandang sebilah pedang panjang, mungkin panjang pedang sama dengan tinggi tubuhnya. Orang ini bukan lain adalah Tojin gila yang terkenal dikalangan Kangouw.
Tojin gila ini memincingkan mata mengawasi Hun Thian-hi, katanya, “Kau inikah Hun Thian-hi?”
Sudah lama Hun Thian-hi mendengar ketenaran nama Tojin gila ini, ilmu silatnya tidak di bawah kepandaian gurunya yaitu si Seruling selatan, tersipu-sipu ia manggut-manggut.
Mendadak Tojin gila bergelak tawa, sekian lama baru ia angkat bicara, “Lam-siau sungguh pintar, sungguh aku kagum dan salut kepadanya yang berani menerima kau sebagai murid!”
Hun Thian-hi menjadi tak senang, katanya, “Itukan urusan perguruan kami, tak perlu orang luar menilainya!”
Dasar ugal2an, Tojin gila tak peduli, ujarnya, “Jangan kuatir, aku tidak punya minat terhadap Badik buntungmu itu, cuma sayang dan kasihan sekali jiwa kecilmu itu bakal amblas gara-gara benda bertuah itu.”
Sebaliknya Hun Thian-hi membatin, “Seluruh manusia dikolong langit ini semua menjadi merah matanya karena benda kramat ini, adalah omong kosong belaka kalau kau tidak berminat.”
Tojin gila miringkan kepalanya, tanyanya, “Kau tidak percaya bukan?”
“Siapa yang takkan berminat dan ngiler melihat Ni-hay-ki-tin?”
Tojin gila berkakakan, serunya, “Tapi siapa yang bisa mendapatkannya?”
Hun Thian-hi menjadi geli juga akan tingkah laku orang, katanya, “O, jadi hakikatnya kau bukan tidak berminat pada Ni-hay-ki-tin itu, soalnya karena kau tidak mampu mendapatkannya bukan. Tapi kukira kau pun bukan tidak punya minat terhadap Badik buntung bukan!”
“Tepat sekali!” seru Tojin gila sambil tepuk tangan.
Hun Thian-hi paham Tojin gila takkan datang tanpa sesuatu tujuan, maka segera ia buka bicara lagi, “Kau boleh merebut Badik buntung itu. Tapi bukan karena ingin mendapat Ni-hay-ki-tin itu maka aku tidak rela kehilangan Badik Buntung, apalagi sekarang hanya kita berdua disini kalau aku tidak bicara dengan orang lain, tiada seorang pun tahu kalau Badik buntung sudah berada ditanganmu!”
Tojin gila melengak, sesaat baru ia berkata, “Adakah kau mengajukan syaratnya?”
Hun Thian-hi manggut-manggut, katanya tertawa, “Aku ingin mendapat kepala Mo-bin Suseng!”
Tojin gila terloroh-loroh sekian lamanya, lalu katanya, “Cara bagus. Tapi kau ingin kepala Mo-bin Suseng, kukira dikolong langit ini tiada seorang pun yang mampu mengerjakannya.”
Hun Thian-hi manggut-manggut, ujarnya, “Benar-benar, mungkin ucapanmu ini benar-benar.”
Lagi-lagi Tojin gila terpekur, tiba-tiba ia tertawa katanya, “Sungguh cara yang bagus, apa kau kuatir aku mundur teratur bukan?”
“Tidak,” sahut Thian-hi tersenyum, “Atau boleh saja kau beritahu muka asli dari Mo-bin Suseng, siapakah dia sebenar-benarnya, inipun cukup sebagai ganti rugi!”
Beberapa saat setelah termenung2 Tojin gila putar tubuh terus tinggal pergi, berapa langkah kemudian ia membalik dan berkata, “Kau jangan terlalu berkhayal, mustahil bisa terjadi seperti apa yang kau kehendaki. Hari ini terhitung kita berjodoh jumpa disini, belakang hari kalau kau ada urusan mungkin aku bisa memberi sedikit bantuanku.” habis berkata terus berlari pergi dan menghilang dikejauhan.
Hun Thian-hi menimang-nimang sebentar, segera kakinya melangkah kencang menuju ke selatan.
Cuaca sudah semakin guram, di ufuk barat tampak setitik sinar kuning keemasan masih mencorong dengan megahnya. Sejenak Hun Thian-hi menerawang keadaan sekelilingnya, dilihat sebelah kiri sana berderet2 hutan gelap yang tak berujung pangkal.
Sekonyong-konyong sebuah bayangan hitam menerjang keluar dari balik pohon di pinggir hutan terus menghantam ke punggung Thian-hi dengan sebelah kepalannya.
Begitu merasa kesiur angin menyamber ke arah dirinya sigap sekali Hun Thian-hi menggeser kakinya melejit ke depan, baru saja ia berpaling dilihatnya bayangan yang menyerang adalah seorang yang mengenakan kedok hitam, di belakangnya meluruk datang lagi tiga bayangan lainnya serempak menyerbu kepadanya juga.
Keruan bukan kepalang kejut Thian-hi, enteng sekali ia berkelebat menyingkir, tahu-tahu Badik buntung sudah digenggam di tangannya, selarik sinar hijau dingin berkelebat, kontan ketika musuh yang membokong itu tersurut mundur gentayangan.
Kini dengan jelas Thian-hi dapat melihat para menyergap gelap ini kiranya berseragam hitam dan mengenakan kedok hitam pula, punggung mereka menyandang pedang panjang. Berbareng mereka melolos pedang masing-masing lalu bergerak lagi menyerang kepada Thian-hi dari dua jurusan yang berlawan.
Dengan membekal Badik Buntung sedikitpun Thian-hi tidak gentar, gesit sekali ia bergerak mengayun Badik buntungnya, kontan dua pedang dari empat penyerangnya kutung menjadi dua, namun secara tak terduga-duga pedang yang lain tahu-tahu meluncur ke arah perut dan tenggorokan Thian-hi, Bukan main kaget Thian-hi, untung dalam seribu kesibukannya ia masih sempat ulurkan tangan kiri menyampok miring kedua pedang itu, tak terduga dua kutungan pedang yang lain ternyata merubah gerak serangannya dengan sebuah tikaman dan tusukan mengarah lembung dan dadanya, Sedikitpun Thian-hi tidak menduga bahwa musuh berlaku senekad itu menyerang dengan senjata kutungan, cara gerak perubahannya pun begitu cepat, tersipu-sipu ia menarik kembali Badik buntungnya untuk melindungi badan,
Baru saja tangan kirinya berhasil menyampok miring kedua pedang panjang, tahu-tahu tangan kanan tergetar keras oleh sebuah tendangan dahsyat, saking kesakitan terpaksa ia lepas tangan sehingga Badik Buntungnya terpental jatuh dan tepat kena dijemput oleh salah seorang pengerojoknya, serentak keempat penyergap gelap itu terus putar tubuh dan lari sekencang-kencangnya ke dalam hutan.
Hun Thian-hi menghardik keras dan mengejar dengan kencang. Keempat musuh itupun berlari tak kalah pesatnya.
Sejak menelan buah ajaib Hun Thian-hi belum pernah berhadapan dengan musuh secara terang2an, dia sendiri tidak tahu betapa Lwekangnya sudah maju pesat, maka begitu ia mengerahkan tenaga mengejar dengan kencang luncuran tubuhnya laksana meteor jatuh, sekejap saja ia sudah berhasil menyandak keempat musuhnya.
Keempat musuhnya itu sudah pernah dengar bahwa dalam segebrak saja Hun Thian-hi pernah membunuh puluhan tokoh-tokoh silat kenamaan, keruan nyali mereka menjadi ciut. Tapi setelah kini berhadapan, dalam dua gebrak saja mereka berhasil merebut Badik kuntung, tanpa sadar timbul rasa memandang rendah kepada musuh mudanya ini.
Dua diantara empat musuh itu mendadak membalik tubuh menghadang, dengan gencar mereka menyerang seperti banteng ketaton. yang paling dikuatirkan oleh Thian-hi kalau keempat musuhnya lari berpencar, maka begitu melihat. dua diantaranya mencegat dirinya, dengan murka ia membentak, kedua telapak tangannya menepuk ke depan memukul dengan setaker tenaganya.
“Creng!” kedua batang pedang musuh yang memapak datang menyelat jauh kena getaran pukulan dahsyat Thian-hi yang hebat itu. Tanpa menghentikan aksinya Thian-hi meluncur maju lagi, untuk kedua kalinya kedua telapak tangannya menggenjot bergantian, seketika kedua penghadang ini kena dibikin jungkir balik, sementara tubuh Thian-hi masih mengapung di tengah udara, laksana burung elang menyamber kelinci langsung ia menubruk ke arah dua musuh yang masih berlari kencang itu.
Sebetulnya kepandaian kedua musuh yang tergelincir tadipun tidak lemah, soalnya mereka rada memandang rendah musuh sehingga kena kecundang, namun mereka masih belum kapok, dengan berkaok2 mereka merangkak bangun terus mengejar ke arah Thian-hi lagi.
Baru pertama kali ini Thian-hi menjajal tenaga sendiri dan hasilnya ternyata begitu gemilang, menurut tafsirannya, kekuatan kedua musuhnya tadi tidak lebih rendah dari Im-hong-ciang Lim Hong, sungguh tak sangka begitu gampang kena dirobohkan olehnya.
Begitu tubuhnya meluncur turun kedua musuh di depan itu terpaksa berhenti dan membalik melawan lagi. Sementara kedua musuh yang mengejar di belakangpun telah tiba mengepung Thian-hi.
Sedikitpun Thian-hi tidak merasa gentar menghadapi keroyokan keempat musuhnya, setiap kali pukulannya meluncur, para musuhnya selalu menyingkir dan berkelit tak berani mengadu kekuatan secara keras lawan keras.
Semakin tempur Thian-hi semakin gagah, semakin lama ia merasa semangatnya tambah berkobar, setiap kali pukulannya seperti tenaga sendiri bertambah lipat ganda.
Sebentar saja seratus jurus sudah dicapai, mendadak Thian-hi menghardik keras, kedua kepalan bergerak serabutan sekaligus ia lancarkan pukulan hebat menyerang keempat musuhnya. Mereka merasa dengan gabungan kekuatan mereka berempat hanya berhasil bertahan saja, semakin tempur nyali mereka semakin ciut. Apalagi setiap penyerangan Thian-hi adalah main kekerasan, betapa hebat Lwekangnya sekarang jauh berlipat ganda lebih tinggi dari pertempuran semula tadi, malah rasanya jauh lebih lihay dan tinggi dari kepandaian silat dan Lwekang Lam-siau, gurunya.
Hun Thian-hi lancarkan terus serangan membadai, jelas kelihatan keempat musuhnya sudah kepayahan dan tak kuat bertahan lagi. Mendadak tampak sesosok bayangan meluncur masuk ke dalam gelanggang pertempuran, begitu tiba kedua kepalan orang inipun seperti kitiran cepatnya merangsak ke arah Thian-hi, mendesaknya mundur beberapa tindak.
Orang itu berpaling dan membentak kepada empat orang berkedok itu, “Goblok semua. Lekas pulang!”
Diam-diam bercekat hati Thian-hi, siapakah orang ini, lwekangnya terasa begitu ampuh. Namun bagaimana juga ia tidak bisa berpeluk tangan membiarkan Badik buntung dibawa lari musuh.
“Lari kemana!” bentaknya keras, tangkas sekali ia melejit ke depan.
Pendatang baru itu menjengek dingin terus merintangi di depannya, katanya, “Kalau mau Badik buntung itu hadapi aku dulu!”
Terpaksa Thian-hi meluncur turun, dengan seksama ia amat-amati orang di depannya ini, orang ini pun mengenakan pakaian serba hitam dan mengenakan kedok pula, maka dengan gusar ia membentak, “Siapa kau? Kenapa main sembunyi tak berani unjuk tampangmu asli.”
Orang itu menyeringai, desisnya, “Cerewet!”
Semakin memuncak amarah Thian-hi, segera ia lancarkan serangannya memukul ke arah musuh. Orang itu pun tak berani pandang enteng, karena jelas keempat kawannya tadi bukan tandingan lawan, sedikitpun ia tidak berani takabur, serempak kedua belah pihak lancarkan serangannya sama-sama ingin mendahului bergerak dan mengambil inisiatif penyerangan.
Dasar sifat Thian-hi memang angkuh, melihat sebegitu lama tak berhasil mendesak lawan hatinya semakin gundah dan murka, tiba-tiba ia membentak sembari lancarkan serangan membadai. Orang itu pun tak mau kalah urat, dengan cepat ia pun lancarkan serangan deras.
Thian-hi sangat bernafsu bertempur, dihitung2 waktunya keempat musuh yang lari tadi sudah tidak kelihatan bayangannya, tentu sudalh lari jauh. Mendadak ia melejit tinggi sebelah tangannya meraih memotes sebatang dahan pohon, dengan batang pohon inilah ia lancarkan serangan. Alunan gelombang berderai dari ilmu Gin-ho-sam-sek, sekuntum bayangan hijau berkembang menungkrup ke arah orang berkedok itu
Melihat Hun Thian-hi mendadak lancarkan jurus serangan aneh dan lihay ini terkejut orang berkedok, betapa pun ia berusaha menghindar dengan segala kemampuan kepandaiannya, sayang tak keburu lagi, kontan tiga jalan darah ditubuhnya kena tertutuk oleh Thian-hi.
Setelah membuang dahan pohon Thian-hi maju menghampiri dan menanggalkan kedok orang, sesaat ia terkejut kesima, akhirnya menjengek dingin, “Ternyata Kim ji-chengcu dari Kim-ke-cheng yang kenamaan dikolong langit!”
Memang Kim-ke-cheng sangat terkenal di seluruh jagad ini. di bawah pimpinan Toa-chengcu Ki-thian Lojin Kim Poan-long dan Ji-chengcu Hek-san-khek Kim Ci-ling yang berkepandaian tinggi dan tenar.
Sembari mendengus Thian-hi membebaskan tutukan jalan darah ditubuh Hek-san-khek Kim Ci-ling, katanya, “Adakah Ji-chengcu punya persoalan dengan aku Han Thian-hi, kenapa tidak bicara secara terang2an saja, buat apa mengenakan kedok menyergap ditengah jalan.”
Hek-san-khek Kim Ci-ling menggeram gusar tanpa membuka suara….
Kata Hun Thian-hi lagi, “Kim-ji-chengcu, meski akui Hun Thian-hi belum lama kelana di Kangouw, namun sejak lama aku pernah dengar dari penuturan guruku bahwa Kim-ke-cheng kedua chengcu merupakan tokoh-tokoh kosen yang gagah perwira dan paling setia kawan, tak duga….”
Mendengar sindiran Thian-hi ini, Hek-san-khek Kim Ci-ling menutup mukanya dengan kedua tangan terus lari sembunyi ke dalam hutan.
Thian-hi kaget dibuatnya, bentaknya, “Lari kemana kau?” dengan kencang iapun mengejar. Baru saja badannya meluncur tiba-tiba dilihatnya Kim Ci-ling angkat sebelah tangannya memukul ke batok kepala sendiri, keruan bukan main kejut Thian-hi, tersipu-sipu ia memburu maju, telak sekali ia menutuk jalan darah pelemas di tubuh Kim Ci-ling.
Begitu hinggap di tanah Thian-hi membuka jalan darah Kim Ci-ling lagi, serunya, “Seorang laki-laki asal tidak melakukan perbuatan yang memalukan kenapa harus mencari jalan pendek.”
Wajah Kim Ci-ting beringas, semprotnya, “Terserah apa yang hendak kau perbuat atas diriku, jangan membuat dan mengotori kupingku dengan kata-kata sindiranmu!”
Thian-hi menyeringai, jengeknya, “Jadi beginilah sikap seorang gagah yang kenamaan dari Kim-ke-cheng!”
Dengan gusar Kim Ci-ling melabrak kepada Thian-hi. Cepat-cepat Thian-hi juga menggerakkan tangan balas menyerang, untuk kedua kalinya mereka bergebrak lagi dengan sengit, cara bertempur kali ini berbeda dengan tadi, kepelan mereka bergerak begitu cepat dan tahu-tahu lima puluh jurus sudah dicapai, semakin tempur Thian-hi menjadi tak sabaran, lagi-lagi ia memotes sebatang dahan buat senjata.
Karena tak bersenjata Kim Ci-ling berlaku nekad dengan sepasang kepelannya ia melabrak musuh seperti anjing kelaparan. Tapi sementara itu Hun Thian-hi sudah lancarkan lagi jurus tipu Gelombang mengalun berderai, Kim Ci-ling papakkan jalan darah mematikan ditubuhnya menyongsong tutukan dahan Thian-hi, namun gerak tutukan jurus Thian-hi adalah begitu menakjubkan, terlihat sinar hijau berkelebat dan menderu, tahu-tahu tiga jalan darahnya telah tertutuk lagi, kontan ia roboh terkulai tak bisa berkutik.
Walaupun dapat membekuk Kim Ci-ling, mau tak mau Thian-hi harus mengerutkan kening, perbuatan neKad orang ingin mencari jalan pendek membuat hatinya heran, setelah dapat merebut Badik buntung itu kenapa harus berusaha membunuh diri? Untuk apa pula ia merebut Badik buntung itu?
Lama dan lama sekali Thian-hi menimang-nimang, akhirnya ia membuka tutukan jalan darah Kim Ci-ling, katanya, “Kim-jichengcu, sebetulnya tak menjadi soal aku serahkan Bidik buntung itu kepadamu, soalnya senjata itu menyangkut erat dengan balas dendam orang tuaku, tanpa senjata itu betapa pun aku tak mungkin menemukan jejak Mo-bin Suseng, peristiwa hari ini aku Hun Thian-hi berjanji takkan kuceritakan kepada orang ketiga. Kuharap Kim-jichengcu bisa segera mengembalikan Badik buntung itu kepadaku!”
Kim Ci-ling angkat kepala, ujarnya, “Aku sangat perlu menggunakan Badik buntung itu, kalau Hun Siauhiap sudi menyerahkan kepada kami, meski Kim Ci-ling tidak becus, aku rela mengorbankan sisa hidupku ini dan seluruh kepentingan dan tenaga Kim-ke-cheng untuk bantu mencari jejak Mo-bin Suseng itu!”
Thian-hi tertegun sebentar, tanyanya, “Sebetulnya untuk keperluan apakah Badik buntung ditangan kalian, apakah aku bisa tahu?”
Kim Ci-ling sangsi, ia termenung tak kuasa bicara.
Kata Hun Thian-hi, “Tempat ini tiada orang lain selain kita berdua, aku berani sumpah untuk menutup rahasia jni.”’
Kim Ci-ling menghela napas panjang, ujarnya, “Urusan ini menyangkut jiwa Toakoku, kalau kukatakan mungkiin kau sendiri bakal tak percaya.”
“Coba Kim-jichengcu ceritakan!”
“Ketenaran nama Ciangbunjin Bu-tong-pay Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin tentu Siauhiap pernah dengar bukan?”
Thian-hi manggut-manggut, batinnya, di seluruh kolong langit ini siapa yang tak pernah dengar ketenaran nama Giok-yap Cinjin, apakah ia tersangkut dalam peristiwa kali ini?
Kim Ci-ling menyambung, “Mungkin Hun Siauhiap sendiri belum pernah jumpa dengan beliau, namun bagaimana kesan Hun Siauhiap menurut berita yang tersiar dikalangan Kangouw?”
“Ciangbunjin Bu-tong-pay Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin merupakan tokoh teragung dari Bulim yang paling mulia. Empat puluh tahun yang lalu dipuncak Hoa-san mereka pernah menempur Bu-bing Loni, meski Bu-bing tidak takut terhadap mereka, paling tidak juga rada keder maka tokoh-tokoh lainnya menjadi selamat dari kejaran dan kekejamannya. Namun sejak saat itu, kedua tokoh kosen ini berjanji untuk mengasingkan diri dan tak ikut campur urusan dunia persilatan lagi, jasa dan tenaga mereka sungguh sangat diagungkan dan mendapat kehormatan dari seluruh lapisan kaum persilatan, apakah benar-benar berita yang kudengar ini?”
Kim Ci-ling manggut-manggut, “Benar-benar, apalagi sejak ia mengasingkan diri latihan Siau-yang-sin-kangnya tentu sudah nmencapai titik kesempurnaannya. menurut analisa sementara orang katanya kepandaian silatnya sekarang tentu tidak lebih rendah dari Bu-bing Loni.”
Hun Thian-hi mengiakan sambil manggut-manggut, namun dalam hati ia curiga dan bertanya-tanya.
Terdengar Kim Ci-ling melanjutkan, “Tiga hari yang lalu kedua muridnya yaitu Gwat Long dan Sing Poh tiba-tiba bertandang kerumah kami, mereka memaksa Toakoku menelan sebutir obat beracun, katanya Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin ingin mendapatkan Badik buntung, persoalan ini tidak boleh tersiar keluar, mereka minta Badik buntung itu untuk mengganti obat pemunah racun itu!”
Bercekkat hati Thian-hi. sungguh diluar sangkanya bahwa Giok-yap Cinjin juga tengah mengincar Badik buntungnya itu, sebentar ia berpikir mulutnya lantas merdesah, “Tak mungkin!”
“Memang siapapun takkan percaya mendengar kejadian ini.” demikian ujar Kim Ci-ling sambil menghela napas sedih, “Gwat Long dan Sing Poh adalah dua muridnya yang belum lama ini dididiknya, hal ini tak mungkin disangkal lagi, mereka berdua selalu berjaga dan melayani segala keperluan Giok-yan Cinjin, tanpa perintah dari gurunya mereka takkan berani meninggalkan tempat kerjanya.”
Mau tak mau Hun Thian-ki harus percaya, tanyanya, “Cara bagaimana Kim-chengcu lantas menelan obat beracun itu?”
Kim Ci-ling tertawa getir, sahutnya, “Gwat Long dan Sing Poh sudah memperoleh didikan langsung dari Put-lo-sin-sian, meski kami menghadapi mereka berdua, namun bukan menjadi tandingan kedua bocah itu.”
Diam-diam terkejut hati Thian-hi, pikirnya, “Menurut gelagatnya, mungkin sulit persoalan ini diselesaikan….
Rada lama Kim Ci-ling merandek lalu sambungnya, “Mungkin Put-lo-sin-sian mempunyai kesukarannya sendiri, tapi kalau kita tidak mampu menyerahkan Badik buntung itu, jiwa engkohku bakal melayang sia-sia, kaki tangannya sekarang sudah tak mampu bergerak. mulutnya tak mampu bicara lagi!”
Soal ini sangat menekan perasaan Thjan-hi betapa pun ia harus berpikir secara hati-hati dan waspada, akhirnya ia bertanya, “Apakah Put-lo-sin-sian ada menjanjikan waktu yang terbatas.”
“Beliau membatasi dalam tempo sepuluh hari, setelah lewat hari itu jiwa engkohku pasti sudah melayang!”
“Itulah baik, ujar Thian-hi manggut-manggut. “Waktunya masih keburu!”
“Apakah Hun Siauhiap punya perhitungan lain?”
“Masih siapa saja yang tahu akan kejadian ini?” tanya Thian-hi.
“Hanya empat saudara tadi dan Kita berdua saja yang tahu.”
“Adakah Gwat Long dan Sing Poh menjanjikan suatu tempat untuk menukar obat pemunah itu?”
“Ya, di atas Bu-tong-san!”
Hun Thian-hi semakin sangsi sesaat baru ia bertanya, “Menurut anggapanmu apakah dia mau menyerahkan obat pemunah itu?”
Kim Ci-ling tercengang, jawabnya, “Put-lo-sin-sian adalah tokoh Terttaggi pemimpin Bulim, kata-katanya masa bohong belaka?
Hun nThian-hi tertawa-tawa, katanya, “Yang dikuatirkan mereka membunuh kalian untuk tutup mulut, kalau kalian tidak mati apakah kalian tidak bisa menyiarkan peristiwa ini dikalangan Kangouw”’
Kim Ci-ling berjri menjublek ditempatnya.
Kata Thian-hi lagi sambil tertawa, “Peristiwa ini tentu ada latar belakangnya yang belum diketahui. Guruku sekarang berada di Hwi-cwan-po aku harus segera kesana, Tentang racun dibadan Kim chengcu aku punya obat pemunahnya”
Kim Ci-ling teerkejut girang, serunya, “Apa? Hun Siauhiap punya obat pemunahnya….?”
Dari dalam kantongnya Thian-hi merogoh keluar daon buah ajaib dan diberikan kepada Kim Ci-ling setangkai, katanya, “Kim jichengcu inilah daon Kiu-thian-cu-ko, khasiatnya dapat menyembuhkan segala keracunan, boleh kau ambll untuk menolong saudara tuamu. Tapi harap kau suruh engkohmu tetap berpura-pura seperti masih keracunan, tiga hari kemudian dari Hwi-cwan-po aku akan menyusup kesana untuk menyirapi kejadian misterius ini, bagaimana menurut pendapat Kim-jichengcu.”
Kim Ci-ling kegirangan, ujarnya, “Kebaikan dan pertolongan siauhiap ini betul-betul membuat aku bimbang dan tak tahu cara bagaimana harus bertindak selanjutnya. Urusan di Hwi-cwan-po kalau Hun Siauhiap sudi biar aku kesana ikut membantu menghadapi segala kesulitan.”
Hun Thian-hi berpikir sebentar, lantas katanya tersenyum, “Terjma kasih akan maksud baik Kim-jichengcu, guruku terkurung disana, kalau terlalu banyak tangan bisa bikin urusan sulit dibikin selesai, kuterima dalam sanubari maksud baik Kim-jichingcu ini!” demikian Thian-hi menolak secara halus.
Kim Ci-ling menjadi ragu-ragu, namun akhirnya ia terima juga daun ajaib itu sembari menjura ia berkata, “Hun Siauhiap! Terpaksa sekarang juga aku minta diri!”
Setelah berpisah Hun Thian-hi melanjutkan perjalanan, sepanjang jalan ia berpikir dan berpikir lagi, sementara kakinya terus berlari-lari kencang menuju ke Hwi-cwan-po, Pikirnya, “Put-lo-sin-sian tiada punya alasan untuk merebut Badik buntung itu, atau mungkin seperti apa yang dikatakan oleh Kim Ci-ling tadi bahwa Giok-yap Cinjin mungkin mempunyai kesukaran?”
Begitulah sepanjang jalan Hun Thian-hi tenggelam dalam pemikirannya. Tak terasa cuaca sudah terang benderang, Thian-hi angkat kepala memandang keufuk timur dimana sang surja tengah menongol keluar dari peraduannya, tanpa terasa ia mempercepat langkah kakinya.
Hwi-cwan po berdiri megah dan angker dikaki gunung Kiu-hoa di daerah Kanglam. Sinar surja yang cerlang cemerlang keemasan menyinari gapura tinggi di Hwi-cwan-po. Pagi itu baru saja pintu gerbang gapura tinggi besar itu terbentang, sebarisan penunggang kuda tiba-tiba menerjang tiba, lekas-lekas penjaga pintu gerbang maju merintangi.
Pemimpin rombongan berkuda ini adalah seorang tua berwajah merah, dengan muka bengis ia membentak dengan gusar, “Lekas laporkan kepada Ciok Hou-bu, katakan bahwa aku Tong ting kun Nyo Kwong mencarinya!”
Seorang centeng segera berlari masuk memberi laporan tak lama kemudian dua ekor kuda mencongklang keluar itulah Ciok Yan dan seorang laki-laki pertengahan umur yang mengenakan mantel abu-abu bermuka putih mendatangi, dari kejauhan ia bergelak tawa, serunya, “Kiranya saudara Nyo telah datang berkunjung, sungguh merupakan suatu kehormatan bagi Hwi-cwan po.”
Nyo Kwong mendengus. jengeknya, “Ciok Hou-bu, jangan kau main pura-pura. selamanya kita belum pernah bentrok, namun pihakmulah yang sudah dan jail dalam persoalan ini.”
Hwi-cwan-kian-soat Ciok Hou-bu bergelak tawa, katanya, “Jadi saudara Nyo datang menuntut keadilan kiranya, marilah masuk ke dalam untuk mengobrol!” — tanpa menanti jawaban ia membalik terus masuk ke dalam.
Nyo Kwong mengerung gusar, pikirnya, “Meski Hwi-cwan-po dibangun dengan tembok baja dan jeruji besi rawa naga atau sarang harimau juga aku Tong ting-ku akan menerjangnya.” — tangannya diulapkan memberi aba-aba kepada para pengikutnya, berbareng mereka beranjak maju.
Ciok Hou-bu maklum gara-gara Hun Thian-hilah sehingga Pihaknna bermusuhan dengan berbagai pihak, namun nasi sudah menjadi bubur, musuh sudah datang bertandang, betapapun harus mengeraskan kepala untuk menghadapi mereka. menyesal pun sudah kasep akan ketamakan hati sendiri.
Nyo Kwong dan rombongannya dibawa masuk keruangan besar Peranti berlatih silat.
Dengan langkah lebar Nyo Kwong terus mengintil dibelang, begitu memasuki ruang latihan diam-diam bercekat hati Nyo Kwong, bangunan gedung latihan ini begitu besar dan megah, atapnya setinggi dua puluhan tombak, lebarnya ada ratusan tombak pula. Kalau Ciok Hou-bu membawa mereka kesini, terang siang-siang ia sudah punya rencana dan siap2 maka, timbullah kewaspadaannya.
Ciok Hou-bu membimbing para tamunya duduk dibagian tengah.
Belum sempat duduk Nyo Kwong sudah bertanya tak sabaran, “Ciok Hou-bu, mana Hun Thian-hi?”
Ciok Hou-bu tertawa tawar, ujarnya, “Saudara Nyou sudah datang, kenapa tergesa-gesa?”
Tong-ting-kun Nyo Kwong terbahak-bahak, serunya, “Mari kita bicara secara gamblang, tujuan kita adalah sama karena Badik buntung yang dimilikinya itu. Pihak Hwi-cwan-po kalian hendak monopoli, ini sungguh keterlaluan!”
Berubah serius muka Ciok Hou-bu, katanya tandas, “Urusan sudah sedemikian lanjut, terpaksa akupun bicara secara langsung, apa saudara Nyo tahu peristiwa ini bukanlah hanya kau dan aku saja yang tahu, ketahuilah seluruh.kaum persilatan dijagad ini sudah mencium soal ini, apa kau belum tahu?”
Sedikit berubah air muka Nyo Kwong, tanyanya, “Dari mana mereka bisa tahu?”
Pintu ruangan terpentang seorang petugas berlari masuk menghadap ke depan Ciok Hou-bu, setelah menjura hormat ia memberi laporan, “Lapor Pocu, Tongcu luar dalam dari partai Merah Tio Hong-ho dan Liong Lui datang berkunjung!”
Ciok Hou-bu melirik ke arah Nyo Kwong lalu berseru, “Silakan masuk!”
Bergegas petugas itu mengundurkan diri. Nyo Kwong duduk ditempatnya sambil mendengus gusar. Sungguh diluar tahunya bahwa Tongcu luar dalam dari Partai merah juga datang kesini, Tongcu luar Thian-mo-kiam Liong Lui merupakan tokoh yang sulit diajak kompromi, apalagi Tong cu dalam Ko-bok-it-koay Tio Hong-ho lebih terkenal akan kekerasan wataknya.
Tak lama kemudian petugas tadi membawa kedua tamunya memasuki ruangan besar, terdengar Ciok Hou-bu tertawa lebar, serunya sembari bangkit, “Selamat datang. hari ini Jiwi Tongcu berkunjung bersama entah Ada kepentingan apakah?”
Thian-mo-kiam Liong Lui dan Ko-bok-it-koay Tio Hong ho unjuk tawa sinis, sapanya, “Ciok-pocu apa kau baik?” -Selintas pandang mereka melirik ke arah Nyo Kwong.
Cepat-cepat Ciok Hou-bu berkata, “Kukira kalian masing-masing sudah pernah kenal, tuan ini adalah Tong-ting-kun Nyo Kwong!”
Sudah tentu sedapat mungkin Nyo Kwong harus hati-hati dan prihatin, tak enak untuk banyak menimbulkan permusuhan dengan pihak lain, terwsipu-sipu ia bangkit, setelah saling menjura dan sekadar sapa basi lalu mencari tempat duduk masing-masing.
Memandang ke arah Ciok Hou-bu Tio Hong-ho hendak membuka kata namun segera diurungkan.
Ciok Hou-bu berkakakan serunya, “Tio-tongcu tentu hendak membicarakan soal Hun Thian-hi bukan? Diapun sudah tahu silakan bicara saja!”
Tio Hong-ho tertawa kering, katanya, “Baik kalau begitu, Ciok-pocu. Nyo-tayhiap, Pangcu kita ada sesuatu persoalan yang ingin dibicarakan, apakah kalian punya minat?”
“Urusan apakah?” tanya Nyo Kwong.
Tio Hong-ho melirik ke arah Ciok Hou-bu serta katanya, “Mungkin Ciok Hou-bu sudah tahu apa yang akan kau bicarakan, entah begaimana maksud Ciok-pocu?”
Ciok Hou-bu menyeringai, jawabnya, “Aku sendiri masih kurang jelas, ingin aku dengar petunjuk dari Tiong-tongcu.”
Tio Hong-ho terkekeh-kekeh, katanya, “Kita beramai adalah orang yang langsung tersangkut dalam persoalan ini, maka tak perlu putar-kayun menghabiskan waktu dan mengudal ludah melulu. Terang tiga golongan kita semua ingin merebut Badik buntung milik Hun Thian-hi, namun satu diantara kita bertiga tiada kemampuan untuk mengangkanginya, maka cara yang lebih baik adalah berserikat, nanti setelah berhasil kita bagi tiga sama rata, entah bagaimana pendapat kalian berdua….”
“Haha, memang cara yang bagus!” seru Ciok Hou-bu tertawa riang.
Sebaliknya Nyo Kwong mendengus hidung, ujarnya, “Aku sebaliknya tak sudi, tiga golongan berserikat? Apakah mungkin?”
Tio Hong-ho terkekeh-kekeh lagi, serunya, “Lantas dengan kekuatan Tong-ting-ouw apa mampu mengangkangi sendiri?”
Nyo Kwong menjadi gemes, jengeknya, “Lebih baik gagal daripada kita bertiga berserikat!”
Tiba-tiba Thian-mo-kiam Liong Lui menyelak dingin, “Kedatangan kita adalah hendak mengundang Ciok-pocu soal kau sudi atau tidak, tidak menjadi soal.”
Lekas-lekas Ciok Houw-bu bangkit dan melerai, “Harap kalian berlaku sabar, jangan mengumbar adat belaka, urusan gampang dibicarakan kenapa harus ribut mulut!”
Dengan murka Tong-ting-kun Nyo Kwong bertanya kepada Ciok Hou-bu, “Lalu mana Hun Thian-hi?”
“Hun Thian-hi sudah melarikan diri ditengah jalan, hakikatnya dia belum pernah datang kemari.”
“Omong kosong!” semprot Nyo Kwong.
“Bukan omong kosong. tapi memang kenyataan.” sela Liong Lui.
Nyo Kwong menggeram, bentaknya sambil berpaling ke arah Liong Lui, “Aku bukan bicara dengan kau.”
Thian-mo-kiam berpaling memandang ke arah Ko-bok-it-koay, Tio Hong-ho memberi isyarat dengan gelengan kepala, Liong Lui diam saja dan tak berani bertindak, ucipan Nyo Kwong selanjutnya tidak digubris olehnya.
Tio Hong-ho terloroh-loroh, katanya kepada Tong-ting-kun Nyo Kwong, “Saudara Nyo ini silakan duduk, kenapa harus tergesa-gesa, walaupun Hun Thian-hi tak berada disini, tapi Lam-siau dan Pak-kiam semula tertawan disini, tak perlu kuatir Hun Thian-hi takkan datang kemari!” ~latas ia berpaling kepada Ciok Hou-bu, sambungnya, “Benar-benar tidak Ciok-pocu?”
Diam-diam Ciok Hou-bu mengumpat dalam hati, ucapan Tio Hong-ho ini terang malah menambah musuh bagi dirinya, secara halus mendesak dirinya kesituasi yang kepepet dan terpaksa harus berserikat dengan mereka. Tapi tatkala ini belum saatnya untuk membeber duduk perkara sebenar-benarnya, maka dengan tertawa-tawa ia berkata, “Tio-tongcu, dengan kekuatan Partai Merah di Kangouw serta para tokoh-tokohnya yang kosen, buat apa harus berserikat dengan pihak kita yang lemah dan kecil?
Tio Hong-ho tertawa kering lagi. desaknya, “Jadi Ciok-pocu sudah setuju dengan saran yang diajukan oleh Pangcu kita?”
“Kalau kita benar-benar berserikat,” demikian ujar Ciok Hou-bu asmbil tersenyum, “Yang terutama siapakah yang harus kita hadapi?”
Tio Hong-ho mengumpat akan kelicikan orang yang tidak mau bicara secara terus terang, setelah terkekeh-kekeh ia berkata, “Tiba pada waktunya Ciok-pocu bakal tahu sendiri, buat apa ditanyakan sekarang?”
Melihat Tio Hong-ho tak mau menjawab pertanyaannya, Ciok Hou-bu menyeringai, desaknya lebih lanjut, “Kalau Tio tongcu punya tekad dan setulus hati memandang tinggi pihak Hwi-cwan-po kita, sudah sekarusnya sudi memberitahu kepada kita siapakah sebenar-benarnya yang harus kita hadapi lebih dulu!”
“Orang yang harus kita hadapi sudah tentu pihak golongan yang tidak sudi berserikat dengan kita, Ciok-pocu apakah betul perkataanku?” akhirnya Tio Hong-ho menerangkan juga….
“Benar-benar dan tepat sekali”, seru Ciok Hou-bu, “terutama pihak Partai Putih bukan?”
Berkilat mata Tio Hong-ho, katanya, “Kenapa Ciok-pocu menyinggung Partai Putih, ketahuilah Partai Putih dan Partai Merah selamanya seumpama air sumur dan air sungai tak pernah saling hubungan, sepak terjang mereka selamanya kita tidak pernah campur, demikian juga segala aktivitas kita mereka tak pernah ikut campur.”
“Tapi yang bisa mendesak Partai Merah sehingga terpaksa berserikat dengan golongan lain selain Partai Putih masih ada saingan mana lagi?”
Tio Hong-ho tertawa kering lagi, ujarnya, “Berita Ciok-pocu memang cukup tajam, entah dari mana dan cara bagaimana Ciok-pocu bisa tahu bahwa Partai Putih pun telah mencampuri urusan ini?”
Ciok Hou-bu mandah tertawa tawar saja tanpa buka suara lagi.
Segera Tio Hong-ho berkata lagi, “Ciok-pocu sudikah kau berserikat dengan Partai kita?”
“Partai merah dan Partai putih selamanya sama menjagoi di Kangouw,” demikian kata Ciok Hou-bu, “mana Hwi-cwan-po bisa disejajarkan. Harap Tio-tongcu memberi lapor kepada Pangcu kalian, bahwa hakikatnya Hwi-cwan-po tidak punya tenaga dan kemampuan apa-apa, maksud kebaikannya itu kami terima dengan setulus hati dan banyak terima kasih!”
“Baik,” ujar Tio Hong-ho sembari menyeringai, “kalau Ciok-pocu tidak sudi kita pun tidak memaksa! Cuma mohon Ciok-pocu suka berpikir sekali lagi, supaya tidak menyesal setelah kasep!”
Ciok Hou-bu terbahak-bahak, “Selamanya Ciok Hou-bu tak pernah salah perhitungan dan menyesal apa segala, tak perlu pikir lagi!”
“Pangcu kita ada memberi perintah kepada kita untuk membujuk Ciok-pocu berserikat….”
“Banyak terima kasih akan penghargaan itu.”
“Kalau Ciok-pocu betul-betul tidak sudi, Pangcu masih ada sebuah pesan.”
Ciok Hou-bu mengangkat alis serunya, “Apapun yang menjadi tujuan Pangcu kalian aku Ciok Hou-hu akan menyambutnya dengan senang hati.”
“Bagus! Pangcu kita mengharap supaya Ciok-pocu suka menyerahkan Lam-siau Kongsun Hong kepada kita.”
Gelak tawa Ciok Hou-hu semakin menggelegar, katanya, “Kalau demikian pesan Pangcu kalian, Ciok Hou-bu dengan senang hati menerimanya, tapi kalau tanpa memberikan sesuatu benda sebagai tumbalnya, apakah tidak terlalu memandang rendah Hwi-cwan-po kita?”
“Benda apa yang Ciok-pocu minta?”
“Asal dapat membuat aku tunduk dan menyerah, seumpama kalian ingin kepalaku inipun tidak menjadi soal!”
Tio Hong-ho terloroh kering. Tiba-tiba Thian-mo-kiam Liong Lui bergegas bangkit, “sreng” melolos pedang terus menantang kepada Ciok Hou-bu, “Hari ini Liong Lui ingin belajar kenal dengan Hwi-cwan-kian-soat cap-sa-sek dari Ciok-pocu yang menggetarkan Kangouw itu, harap Ciok-pocu suka memberi petunjuk!”
Ciok Hou-bu melirik ke arah Liong Lui, katanya, “Kenapa Liong-tongcu tergesa-gesa, musuh utama partai kalian belum datang, kalau Liong-tongcu bergebrak dengan aku apakah tidak merugikan?”
Liong Lui melengak, batinnya, “Kalau Partai putih juga, datang, memang rada berabe.”
Tengah mereka bicara, “blang” pintu tengah ruang besar itu tertendang mental, tampak tiga orang berpakaian serba putih memasuki ruang pertemuan itu, yang disebelah kanan kirinya memang adalah Tongcu luar dalam dari Partai putih, yaitu Kiong-se-khek Ki Kang dan Ciat-jit-chiu Oh Lun, yang ditengah adalah seorang pemuda.
Pemuda ini mengenakan jubah putih mulus, mukanya berkedok, pinggangnya menyoreng sebilah pedang mas panjang.
Melihat sikap dan langkah pemuda ini diam-diam bercekat hati Ciok Hou-bu, tahu dia bahwa pemuda inilah tentu Pangcu Partai putih yang sudah lama terkenal dan belum pernah dilihatnya, sungguh tak sangka, hari ini dia datang berkunjung. Waktu ia melirik dilihatnya muka Tio Hong-ho dan Liong Lui berubah pucat.
Lekas-lekas Ciok Hou-bu bangkit dan unjuk hormat, serunya, “Apakah tuan ini Pangcu dari Partai putih, harap maaf Ciok Hou-bu tidak tahu dan tidak menyambut dari jauh.”
Pemuda itu menjura kepada Ciok Hou-bu serta katanya, “Ternyata Ciok-pocu hari ini kedatangan banyak sahabat, harap maaf akan kedatangan kita yang tidak diundang ini.”
Segera Ciok Hou-bu silakan tamunya duduk, tanpa sungkan-sungkan Pemuda jubah putih itu lantas duduk dengan sikapnya yang angker, Kiong-se-khek Ki Kang dan Ciat-jit-chiu Oh Lun duduk di kiri kanannya.
Selintas pandang Ciok Hou-bu mengamati si pemuda, dilihatnya di pinggangnya masih terikat seutas cambuk putih perak, diam-diam terkejut hatinya, pikirnya, tokoh yang mampu menggunakan dua senjata sekaligus dalam Bulim sekarang sangat jarang, orang ini masih begini muda sudah mampu memimpin suatu partai menjadi Pangcu mereka, tentu punya kepandaian dan kemampuan luar biasa yang melebihi orang lain, aku harus hati-hati dan waspada jangan memandang rendah.
Maka dengan kalem ia bertanya, “Harap tanya Pangcu berjuluk nama apa?”
“Pedang mas cambuk perak!”
Melihat Pangcu Partai putih sudah hadir, Tio Hong-ho dan Liong Lui insaf gelagat dan situasi ini tentu tidak menguntungkan pihaknya, maka cepat-cepat ia bangkit dan minta diri, “Ciok-pocu hari ini kedatangan tamu agung, terpaksa kami minta diri saja.”
Sipemuda yang menamakan Kim-kiam-gin-pian itupun bangkit berdiri sembari tertawa lebar katanya, “Apakah kalian hendak segera pergi?”
Bercekat hari Tio Hong-ho dan Liong Lui, namun mereka tak mau unjuk kelemahan segera mereka berkata bersama, “Sepak terjang Partai putih selamanya kita tidak ingin turut campur, demikian juga kami harap sebaliknya.”
Kim-kiam-gin-pian tertawa lantang serunya, “Kamu berdua tak usah takut, tadi aku sudah bertemu dengan Pangcu kalian, Pangcu kalian sudah berjanji dengan aku untuk bertemu lagi disini, kenapa kamu tergesa-gesa hendak pergi!”
Terperanjat Tio Hong-ho dan Liong Lui, sekilas mereka saling pandang lalu duduk kembali ditempatnya, diam-diam mereka menggerundel dalam hati, mengapa sang Pangcu tidak memberitahu sehingga mereka bersitegang leher di hadapan orang.
Kin-kiam-gin-pian menoleh berkata kepada Ciok Hou-bu, “Ciok-pocu, sungguh maaf hari ini aku telah lancang membuat perjanjian dengan orang luar untuk bertemu ditempatmu ini, harap Ciok-pocu suka memberi maaf akan kelancangan ini!”
Ciok Hou-bu tertawa, ujarnya, “Pangcu terlalu sungkan, walaupun Hwi-cwan-po tempatnya kecil, masa harus begitu kikir untuk meminjamkan tempat.”
Kim-kiam-gin-pian berkata lagi, “Gelombang pertikaian di Bulim kali ini adalah Su Tat-jin seorang yang membuat gara-gara, kelak kalau urusan ini beres tentu harus diberi hukuman yang setimpal.”
Ciok Hou-bu tertawa lebar, katanya, “Benar-benar, tapi masih ada seorang lagi yang mana mungkin Pangcu sendiri takkan mampu berbuat apa-apa terhadap beliau.”
“Apakah Mo-bin Suseng yang Ciok-pocu maksudkan?” tanya Kim-kiam-gin-pian.
“Tidak salah”
Kim kiam-gin-pian tertawa ewa. Tampak pintu ruang besar terpentang lagi seorang centeng berlari masuk memberi lapor bahwa Toh-bing-cui-hun telah tiba.
“Lekas silakan!” tersipu-sipu Ciok Hou-bu bangkit sembari “memberi perintah dengan muka berseri girang berdiri menyambut, sapanya, “Ternyata saudara To juga berkunjung dari jauh, hari ini betul-betul merupakan pertemuan orang-orang gagah.”
Sambil sekedar basa basi, diam-diam Toh-bing-cui-hun To Hwi mengawasi satu persatu hadirin sekelilingnya, semakin pandang hatinya semakin kejut, para hadirin rata2 adalah tokon2 silat kelas satu yang kenamaan, terutama sikap dan wibawa sipemuda jubah putih itu, dengan pengiringnya dikanan kiri, sekali pandang saja lantas dapat diketahui bahwa mereka dari Partai putih, sungguh tak tersangka bahwa Pangcu Partai putih sendiripun datang.
Setelah menempati tempat duduknya To Hwi bertanya kepada Ciok Hou-bu, “Saudara Ciok, apakah kau sudah menemukan jejak Hun Thian-hi?”
Ciok Hou-bu geleng-geleng kepala, sahutnya, “Ada berapa banyak manusia dikolong langit ini yang bisa menemukan jejaknya? Tapi harap saudara To berlega hati, betapa pun dia pasti datang.” “
To Hwi celingukan kekanan kirinya, tanpa merasa hatinya merasa kasihan kepada Hun Thian-hi, dilihatnya sedemikian banyak orang yang mengincar dirinya, tak lama lagi dia bakal datang masuk perangkap, ini betul-betul harus dikasihani. Tapi bila ia teringat akan kekalahannya tempo hari, sebelah lengannya pun menjadi korban malah, berkobarlah amarahnya, tak kuasa hidungnya mendengus dengan gemes.
Ciok Hou-bu tersenyum melihat sikap orang lalu duduk kembali. Sementara itu pandangan Tio Hong-ho dan Liong Lui selalu tidak lepas dan pintu besar ruangan sana, mereka berharap2 dan menanti kedatangan Pangcu mereka.
Dilain pihak pemuda jubah putih atau Kin-kiam-gin-pian itu tengah menengadah memandang pajangan ruangan latihan silat ini dengan sikap acuh tak acuh seperti sekelilingnya tiada orang lain yang hadir.
Diam-diam Ciok Yan tengah mengawasi pemuda jubah putih, hatinya tengah heran dan kagum, sungguh tak nyana bahwa Pangcu dari Partai putih yang menggetarkan Bulim kiranya massh berusia begitu muda, berwajah tampan lagi.
Akhirnya sipemuda agaknya juga merasa bahwa dirinya tengah diawasi, dengan sebuah lirikan tajam ia balas menatap ke arah sana, Ciok Yan tersipu-sipu mengalihkan pandangannya ke arah pintu besar.
Saat itu pintu besar terbuka lagi, akhirnya Pangcu Partai merah muncul juga. Bergegas Ciok Hou-bu berdiri, dilihatnya pendatang ini adalah laki-laki tua yang mengenakan jubah merah, pandangan matanya yang berkilat tajam langsung menatap ke arah sipemuda jubah putih.
Serentak Tio Hong-ho dan Liong Lui bangkit menyambut.
Terdengar orang tua jubah merah mendehem keras katanya kepada sipemuda jubah putih, “Ternyata kau bisa menepati janji, malah datang lebih dulu.”
Pemuda jubah putih tertawa lantang, serunya, “Kau baru datang, apakah ada rintangan ditengah jalan?”
Orang tua jubah merah mendengus tanpa menjawab. kakinya melangkah terus duduk di tempat To Hohg-ho tadi.
“Bagaimana? Apakah sekarang juga kita mulai?” tanya pemuda jubah putih.
Serentar orang tua jubah merah terpekur, lalu katanya sinis, “Begitupun baik, supaya untuk selanjutnya Partai merah dan putih tidak sejajar dikalangan Kangouw.”
Pemuda jubah putih miringkan kepalanya, Ciat-jit-jhin Oh Lun lantas berdiri, serunya, “Biar aku Oh Lun turun gelanggang, sahabat mana yang suka main-main dengan aku?”
Thian-mo-kiam Liong Lui melonjak bangun, sambil melolos pedang ia memasuk gelanggang.
Ciat-jit-chiu Oh Lun tampil ke depan dengan bertangan kosong, melihat itu Thian-mo-kiam menggerung ejek, pedangnya disarungkan kembali dengan berdiri tegak ia menanti. Dia maklum bertanding dengan bertangan kosong untuk dapat mengambil kemenangan adalah mustahil, tapi bagamana pun ia tak bisa menunjukkan kelemahan menggunakan pedang melawan tangan kosong.
Malihat Thian-mo-kiam menyimpan kembali pedangnya, diam girang hati Oh Lun, menjadi kebetulan baginya dapat mengambil keuntungan malah, terang pertempuran ini bakal dimenangkan oleh dirinya, Sebaliknya meski tak punya pegangan, betapa pun Thian-mo-kiam Liong Lui punya perhitunganya sendiri, seumpama tak bisa menang, namun ia pun takkan kalah.
Begitulah setelah setelah siap dan berhadapan, tanpa banyak omong lagi kepelannya lantas melayang menggasak ke arah Ciat-jit-chiu Oh Lun.
Oh Lun tertawa dingin sebat sekali ia mengegos kesamping. Thian-mo-kiam sengaja hendak mengambil inisiatif penyerangan maka dalam kesempatan ini ia serbu musuhnya dengan serangan membadai sehingga lawannya tak berkesempatan balas menyerang. Terlihat badannya bergerak lincah dan melejit kesana kemari dengan entengnya, beruntun kepalannya memberondong dengan deras, setiap pukulannya mengarah jalan darah penting ditubuh Ciat-jit-chiu Oh Lun.
Oh Lun berjuluk Ciat-jit-chiu (sitangan gapah), sudah tentu ia punya kepandaian khusus dalam ilmu pukulan, tubuhnya berputar-putar mengembangi ajaran ilmu andalannya yang sudah mengangkat namanya dikalangan Kangouw yaitu Ciat-jit-ciang-hoat. Sambil berputar ia menangkis dan menghindar memunahkan setiap serangan Liong Lui, tapi dalam setiap kesempatan iapun balas menyerang kepada lawan.
Beruntun Thian-mo-kiam sudah lancarkan tujuh pukulan berantai tanpa membawa hasil, diam-diam hatinya bercekat, semangat gagahnya menjadi lumpuh.
Meski Oh Lun berhasil mematahkan setiap rangsekan Thian-mo-kiam yang membadai itu, tapi diam-diam hatinya terkejut juga, karena Liong Lui angkat nama justru kepandaian ilmu pedangnya yang lihay ternyata dalam hal ilmu pukulan dia pun punya kepandaian yang boleh diketengahkan.
Sedikit pikiran Liong Lui terganggu sehingga serangan kurang lancar, sedikit hambatan ini sudah cukup banyak bagi Oh Lun untuk berkesempatan balas menyerang, terlihat tubuhnya mendesak maju dengan gaja silatnya yang mempesonakan, tiba-tiba ia lancarksn. sejurus pukulan Yan-toan-mai-hun (burung belibis memotong awan pendam) telapak tangannya bergerak miring seperti golok membacok ke arah Thian-mo-kiam.
Terdengar Thian-mo-kiam mendengus ejek, kaki kirinya menggeser kedudukan sehingga tubuhnya ikut condong kesamping, berbareng telapak tangan kiri menyampok ke atas, sedang telapak tangan kanan menyodok kelambung kanan Ciat-jit-chiu Oh Lun.
Ciat-jit-chiu Oh Lun menyeringai dingin, tubuhnya bergerak selicin belut membelesut kesamping lawan, ditengah jalan ia robah pukulannya menjadi Hun-siok-san-yau (awan mengencang lamping gunung), sasarannya adalah belakang pinggang Thian-mo-kiam dengan sebuah sodokan.
Terpaksa Thian-mo-kiam Liong Lui harus melangkah ke depan untuk menghindar, namun Oh Lun mengejar maju seiring dengan gaja serangan semula itu ia hantamkam pula tangan kiri kepantat lawan, namun Thian-mo-kiam keburu putar tubuh sambil menangkis, pukulan kedua pihak beradu dengan kerasnya, Liong Lui tersurut mundur selangkah.
Begitu saling bentrok pukulan ini lantas hati masing-masing dapat menilai sampai dimana tingkat kepandaian dan Lwekang musuh, diam-diam mereka saling memperhitungkan tindakan selanjutnya, walaupun Liong Lui terdesak mundur, namun hakikatnya Lwekang mereka seimbang. Soalnya karena ia baru saja memutar tubuh sehingga kuda-kuda kakinya kurang kokoh.
Sepasang mata Ciat-jit-chiu tajam2 mengawasi Liong Lui, kakinya melangkah segesit ular melenggong, sebaliknya Liong Lui juga bergerak selincah kera, hati Oh Lun tengah merancang cara bagaimana ia harus mengambil kemenangan.
Sesaat masing-masing mulai lancarkan kembali pukulan dan tendangan, tipu lawan tipu, jotosan lawan pukulan, serang menyerang ini berlangsung cukup lama, lambat laun timbul suatu akal dalam benak Ciat-jit-chiu, beruntun ia lancarkan berbagai serangan yang cukup ganas mengincar setiap kelemahan lawan.
Liong Lui sendiri sudah maklum kalau bertempur secara kekerasan tentu Ciat-jit-chiu takkan mampu mengambil keuntungan, tapi apakah lawan begitu goblok? Begitulah waktu Oh Lun lancarkan pukulannya yang ganas itu cepat-cepat ia berloncatan menghindar, setiap kesempatan tentu tidak disia-siakan untuk menyergap dan balas menyerang.
Tiba-tiba badan Oh Lun melejit ke atas, badannya berputar dan tiba-tiba tangannya membalik terus menekan kebawah dari atas menggencet kepala Liong Lui, Liong Lui mengerahkan tenaga pada kedua kakinya untuk bergerak semakin cepat, tubuhnya berloncatan seperti kupu2 menari di atas sekuntum bunga, terdesak oleh keadaan terpaksa ia angkat tangan untuk menangkis tindihan berat serangan Ciat-jit-chiu Oh Lun.
Ditengah udara Oh Lun bisa bergerak begitu lincah seperti burung camar, mendadak badannya menggeliat sehingga, ia meluncur turun disamping Thian-mo-kiam, kedua jari tangan kirinya terangkat terus menutuk keketiak kiri Liong Lui.
Terkejut Liong Lui dibuatnya, cepat-cepat ia melangkah mundur mengegos. Tapi serangan Oh Lun ini sungguh punya gaja tersendiri, dari menutuk ia rubah menjadi pukulan telapak tangan, dengan jurus tipu Tiang-song-tiam-soat (Pohon Siong menutul salju). telapak tangannya berubah laksana kabut putih yang berlapis2 mendesak kemuka Thian-mo-kiam Liong Lui.
Terpaksa Liong Lui angkat kedua tangannya untuk menangkis dengan kekerasan. terasa kekuatan dahsyat bagai gugur gunung menerpa dan menindih bergelombang tak putus2 sehingga kakinya sempoyongan mundur tiga langkah, akhirnya ia berdiri menjublek dengan muka pucat pasi.
Ciat-jit-chiu Oh Lun lantas membalik tubuh menghadapi ke arah pemuda jubah putih sambil menjura dalam, dengan tangannya sipemuda jubah putih memberi isyarat, cepat-cepat oh Lun duduk kembali ke tempatnya.
Dengan muka pucat Thian-mo-kiam Liong Lui memutar tubuh memandang ke orang tua jubah merah, dengan kedipan mata ia menyuruh Liong Lui, mundur, dengan malu dan tunduk Liong Lui mundur ketermpat duduknya sendiri.
Tampak mata sipemuda jubah putih berkilat dengan puas dan bangga.
Dengan lirikan tajam Ko-bok-it-koay Tio Hong-ho mengawasi pemuda jubah putih bergegas ia berdiri serta menantangnya, “Aku yang rendah Tio Hong-ho, tidak tahu diri ingin belajar kenal dengan kepandaian Pangcu Partai putih yang luar biasa”
Kiong-sa-khek Ki Kang terloroh-loroh berdiri, serunya, “Tio Hong-ho, jangan kau bersikap pura-pura gede, kenapa tidak secara langsung saja kau tunjuk aku, mengandal kau rasanya tiada berharga untuk bermain-main dengan Pangcu kita.”
Sikap Tio Hong-ho juga tidak kalah dingin, jengeknya, “Pangcu Partai putih, sudah lama aku Tio Hong-ho mendengar ketenaran namamu, hari kita berjumpa disini, kenapa tidak berani unjuk muka aslinya?”
Ki Kang melangkah ke tengah gelanggang, serunya, “Tio Hong-ho kau tak usah putar bacot, marilah aku saja yang akan melayani kau.”
Saking gusar Tio Hong-ho bergelak tawa, akhirnya dengan sikap kaku ia mendesis, “Ki Kang, betapa besar jagat ini bukan hanya seorang kau yang berkepandaian tinggi, Marilah hari ini kau saksikan dan rasakan betapa aku Tio Hong-ho tidak mudah dihina.”
Sementara itu Ki Kang sudah menyoreng pedang dan berdiri menanti. Begitu maju Tio Hong-ho lantas ayun tongkat kayunya menyerang kepada Ki Kang. Begitulah merekai mulai saling serang menyerang dengan segala tipu daya untuk merobohkan lawannya, sekejap saja saking cepat gerakan mereka seratus jurus sudah dicapai. Keadaan dua belah pihak masih sama kuat sulit dibedakan siapa lebih unggul atau asor.
Mendadak pintu besar ruangan diterjang dari luar, tampak sebarisan anak buah Partai putih menerobos masuk, pemuda jubah putih berkedok bergegas berdiri, dalam hatii ia sudah menduga pasti terjadi sesuatu diluar dugaan yang sangat gawat.
Ciok Hou-bu mengerutkan kening, siang-siang sudah perintahkan kepada seluruh penghuni perkampungannya supaya tidak merintangi anak buah Partai merah dan putih, biarlah mereka saling bentrok dan bertempur mati-matian. Sekarang dilihat gelagatnya seperti Partai putih kena perkara gawat, entah apa, jika Partai putih sampai mengundurkan diri, situasi yang menguntungkan pihak dirinya bakal berantakan, mengandal tenaga sendiri mungkin Hwi-cwan-po bakal runtuh total dan tak mungkin kuasa berdiri di kalangan Kang-ouw.
Seluruh anak buah Partai Putih meluruk ke hadapan Pangcu mereka, sementara itu terpaksa Ki Kang menghentikan pertarungannya dengan Tio Hong-ho. Salah seorang anak buah Partai Putih melapor dengan gugup, “Lapor Pangcu, Thian-san-siang-long….”
Pemuda jubah putih menggertak sekali memutus laporan anak buahnya, dengan berpaling ia mendelik awasi orang tua jubah merah.
Kontan orang tua jubah merah terbahak-bahak, serunya, “Sungguh aku ikut menyesal bahwa Partai Bun-pangcu tengah terjadi suatu tragedi, kalau Bun-pangcu memerlukan bantuan dan tenaga kita beramai, setelah urusan disini selesai segera kami akan membantu sekuat tenaga.”
Biji mata pemuda jubah putih memancarkan sinar cemerlang yang aneh, sungguh tak habis herannya darimana mungkin orang tua jubah merah ini tahu bahwa dirinya she Bun? Tapi dalam situasi yang genting ini tiada tempo untuk banyak pikir, cepat ia memberi perintah kepada Kiong-sa-khek Ki Kang dan Ciat-jit-chiu Oh Lun, “Jiwi Tongcu harap segera kembali. Urusan disini biar kuselesaikan sendiri!”
Ki Kang menjadi gugup, serunya, “Pangcu seorang diri….”
“Aku punya rencanaku sendiri!” desak pemuda jubah putih.
Ki Kang dan Oh Lun tak berani banyak debat lagi, tersipu-sipu mereka mengundurkan diri. Dengan tajam orang tua jubah merah menatap pemuda jubah putih,. sorot matanya menampilkan rasa dendam yang berkobar, sangkanya tentu musuh utamanya ini akan tinggal pergi, kenyataan adalah diluar perhitungannya semula.
Dengan mendelong pandangan pemuda jubah putih terarah ke pintu besar, setelah bayangan Ki Kang beramai tak tampak lagi baru perlahan-lahan ia membalik tubuh, setajam ujung pedang pandangannya berkilat mendelik ke arah orang tua jubah merah.
Selintas pandang ia menyapu ke seluruh hadirin, pandangannya berhenti dimuka orang tua jubah merah lagi, pelan-pelan mulutnya mendesis, “Sekarang sudah tiba saatnya untuk kita menyelesaikan sendiri urusan ini.”
Orang tua jubah merah terkekeh-kekeh bangkit, ujarnya, “Benar-benar memang harus kita berdua yang menyelesaikan sendiri!” sambil berkata matanya melirik ke kanan kiri pada Liong Lui dan Oh Lun.
Liong Lui dan Tio Hong-ho segera bangkit bersama, katanya berbareng, “Untuk menyelesaikan urusan ini masa Pangcu harus turun tangan sendiri, biar kita berdua yang menghadapi saja.”
Orang tua jubah merah terloroh-loroh lagi, dengan congkak ia pandang pemuda jubah putih. Sudah tentu Pemuda jubah putih tahu apa yang tengah dipikir oleh lawan, diapun tak man kalah wibawa, dengan tertawa lebar ia berkata, “Boleh juga kalau kalian ingin belajar kenal dengan aku, Jiwi Tongcu merupakan tokoh kosen dari Partai kalian dan merupakan jago silat kelas wahid dikalangan Kang-ouw, andai kata bertekuk lutut di hadapanku seorang bocah ingusan yang tak ternama apakah tidak menjatuhkan gengsi dan nama baik kalian?”
Tio Hong-ho tertawa kering dua kali, katanya, “Pangcu Partai putih sudah tenar dan kenamaan di kolong langit, seumpama terkalahkan oleh kita berdua kaum keroco….” sampai disini ia merandek serta menyapu pandang kekiri kanan.
Pemuda jubah putih tertawa geli, ujarnya, “Begitupun baik, marilah kalian maju bersama.”
Tio Hong-ho dan Liong Lui melangkah maju bersama ke tengah arena. Mereka insaf hari ini menghadapi musuh tangguh, maka pedang dan tongkat yang menjadi senjata andalan mereka sudah disiapkan, mengkonsentrasikan diri mereka bersiap waspada.
Ujung kaki pemuda jubah putih sedikit menutul dilantai, tiba-tiba tubuhnya melejit enteng ke tengah udara seringan burung seriti, di tengah udara badannya berputar setengah lingkaran baru meluncur turun miring, berbareng kedua telapak tangannya menepuk ke arah dua musuhnya.
Tio Hong-ho dan Liong Lui bukan kaum lemah, kepandaian mereka cukup tinggi, serentak mereka menyilangkan pedang dan tongkat, berbareng balas menyerang memapak luncuran tubuh lawan.
Kelihatannya pemuda jubah putih acuh tak acuh menghadapi serangan balasan ini, tiba-tiba tubuhnya meluncur turun, begitu kaki menyentuh tanah dengan gesit kedua kakinya menggeser kedudukan tahu-tahu kedua telapak tangannya sudah menepuk maju kemuka kedua lawan.
Tio Hong-ho dan Liong Lui melompat mundur menghindar, sekarang mereka berdiri beradu punggung, setiap jurus pedang dan tongkatnya bergerak untuk melindungi badan saja tak mencari kesempatan untuk mengejar kemenangan.
Terlihat oleh Ciok Hou-bu yang menonton pertempuran ini dengan seksama, gerak-gerik pemuda jubah putih semakin tempur semakin tangkas dan cepat. Gaja permainan silatnya hampir tidak dapat diikuti oleh pandangan mata, diam-diam bercekat hatinya, bukan mustahil sebagai pejabat Pangcu suatu partai mempunyai kepandaian tunggal yang diandalkan, tapi siapakah pemuda jubah putih ini, murid siapa lagi? Ternyata begitu tinggi dan mengagumkan ilmu silatnya.
Dilain pihak orang tua jubah merah juga tengah meneliti dengan seksama setiap permainan silat pemuda jubah putih, semakin lama alisnya bertaut semakin dalan. Hatinya pun tak habis heran dan kagetnya, bukankah permainan pukulan yang diunjukan ini adalah Eng-jiong-ciang dari gurun besar diluar perbatasan itu? Apakah pemuda jubah putih she Bun ini adalah murid beliau?
Tengah ia terpekur, tiba-tiba terdengar gertakan cukup keras ditengah gelanggang. Ternyata pemuda jubah putih itu sudah tidak sabar lagi, beruntun ia bergerak melancarkan tiga pukulan berantai, tiba-tiba ia melolos keluar cambuk peraknya, tampak selarik sinar putih kemilau herkelebat kontan pedang dan tongkat lawan kena digubat dan disendak terlepas terbang dari cekalannya.
Thian-mo-kiam Liong Lui dan Ko-bok-it-koay Tio Hong-ho berdiri terlongong-longong ditempatnya, dengan seringai dingin pemuda jubah putih berputar tubuh menghadap ke arah orang tua jubah merah dengan pandangan yang mengejek.
Sekonyong-konyong cahaya matanya mengunjuk rasa kaget dan kesima, dengan melirik sekilas ia menyaksikan sebuah wajah yang penuh rasa kegirangan dan kekagumam tengah mengawasi kepadanya wajah nan aju molek itu bukan lain adalah Ciok Yan, putri tunggal dari Hwi-cwan-po.
Terdengar orang tua jubah merah menjengek dingin, ejeknya, “Murid tunggal Cek-hun Totiang ternyata benar-benar hebat.”
Kontan seluruh hadirin mengunjuk rasa heran dan kaget. Cek-hun Totiang adalah Sute dari Ciangbunjin Bu-tong-pay Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin, beberapa puluh tahun yang lalu pernah diusir dari perguruan karena melanggar undang2 perguruan, maka sejak itu entah kemana jejaknya, sungguh tidak nyana, bahwa pemuda jubah putih ini kiranya adalah muridnya.
Sedikitpun pemuda jubah putih tidak menunjukkan reaksi akan cemooh orang, dengan sikap dingin ia pandang orang tua jubah merah, sindirnya, “Kedua jagomu sudah keok, sekarang kau bagaimana?”
Orang tua jubah merah menggeram gusar, pelan-pelan ia melangkah maju. Melihat musuhnya tiada niat menggunakan senjata, segera pemuda jubah putih membelitkan lagi cambuknya dipinggang.
Sembari menyeringai orang tua jubah merah menyerang dengan sebelah tangannya kepada musuh yang masih muda belia ini. Sebat sekali pemuda jubah putih mencelat mundur, namun orang tua jubah merah mendesak maju mengejar.
Sedikit menutulkan kakinya badan pemuda jubah putih lantas melejit tinggi ke atas, beruntun kedua kakinya menendang berantai memgarah kedua biji mata orang tua jubah merah.
Orang tua jubah merah menggerung murka, terpaksa dari menyerang ia main bertahan. Mendapat angin pemuda jubah putih semakin merangsek dengan gagah berani, begitu kakinya hinggap di tanah di belakang lawan segera ia kembangkan ilmu Eng-jiong-ciang yang mempunyai delapan belas jalan pukulan, gerak-gerik badannya selulup timbul naik turun persis laksana seekor elang besar yang beterbangan ditengah udara.
Tapi gerak-gerik orang tua jubah merah pun tidak kalah licinnya, dengan kedua tangan melintang melindungi dada, kedua matanya menatap tajam setiap gerak gerik pemuda jubah putih, sedikit ada lowongan baru menyerang tanpa membuang tenaga dan kesempatan, cara tempurnya adalah main sergap dan tak main kekerasan.
Delapan belas jurus Eng-jiong-ciang sudah hampir dimainkan habis, namun sedikitpun pemuda jubah putih tak mampu mendesak lawannya, diam-diam gugup dan gelisah hati pemuda jubah putih, inilah pengalaman pertama yang dialaminya sejak berkelana di dunia persilatan.
Mendadak sebuah pikiran terkilas dalam benaknya, apakah bukan dia? Terpikir akan ini diam-diam ia mengumpat dalam hati. Segera badannya melejit lagi dengan sejurus Giok-jian-hun-kay-loh, kedua jari-jari tangannya laksana cakar burung elang mencengkeram kemuka musuhnya.
Melihat serangan ganas sipemuda, orang tua jubah merah mandah tertawa sinis, diam-diam girang hatinya, batinnya kau mimpi kalau berani mengadu kekerasan dengan aku. Kedua telapak tangannya segera menepuk keluar dengan jurus Ciang-tok-mo-thian melawan serangan pemuda jubah putih dengan kekuatan penuh.
Tak nyana gerak gerik pemuda jubah putih cukup tangkas, beluam lagi tangannya mengenai sasarannya cepat-cepat ia meluncur turun dan menghindar, setelah mendengus ejek ia menyeringai “Kukira siapa, ternyata adalah keturunan dari Thay-i-bun!”
Muka orang tua jubah merah menjadi beringas, dengan menghardik keras ia melolos sebilah pedang yang berkilauan memancarkan cahaya menyilaukan mata terus membacok serabutan kepada pemuda jubah putih.
Terpaksa pemuda jubah putih keluarkan kedua senjata, sesuai dengan nama julukannya yaitu pedang mas dan cambuk perak untuk melawan sebisanya, begitulah pertempuran babak kedua dengan menggunakan senjata ini tak kalah sengit dan serunya.
Ciok Hou-bu, Nyo Kwong dan To Hwi saling pandang, sungguh mereka tidak nyana bahwa Thay-i-bun yang dulu sudah ditumpas ternyata muncul lagi disini. kalangan Kangouw mengandal ilmu pedang yang dinamakan Thay-i-kiam-hoat dari jaya akhirnya berubah menjadi runtuh.
Dulu Thay-i-bun malang melintang dan simaharaja dijadi congkak dan takabur akhirnya karena merasa terlalu kuat dan sombong, aliran ini menjadi semakin buruk kelakuannya dari golongan lurus menjadi nyeleweng ke arah yang sesat. Terpaksa berbagai golongan dan aliran bergabung menumpasnya bersama. Sejak itu golongan Thay-i-bun lantas kelelap dari lembaran sejarah dunia persilatan, namun sebilah pedang Thay-i-kiam sejak saat itu pula menghilang tanpa diketahui jejaknya.
Orang tua jubah merah sendiri tahu bahwa golongan Thay-i-bun pihaknya memang sudah tersingkirkan dari percaturan dunia persilatan. Maka dengan sengit ia kembangkan permainan ilmu Thay-i-kiam-hoat.
Tanpa gentar sedikitpun pemuda jubah putih mainkan pedang mas dikombinasikan dengan cambuk perak. Tahu dia bahwa Thay-i-kiam merupakan pedang pusaka yang tajam luar biasa, walau pedang dan cambuknya cukup lihay bagaimana juga takan kuat melawan pedang pusaka,
Begitu Thay-i-kiam-hoat dikembangkan berkuntum cahaya putih kemilau bertaburan ditengah gelanggang menari2, begitu ketat dan rapi sekali mengurung pemuda jubah putih, sehingga terdesak mundur berulang-ulang.
Dilain pihak Ciok Hou-bu beramai juga terperanjat, merekapun insaf bila pemuda jubah putih tak kuasa melawan dan bertahan, pihak sendiripun bakal kerembet dan celaka. Setelah celingukan kekanan kekiri ia tanggalkan mantel dipunggungnya, sebat sekali ia bergerak maju sambil tarikan senjata mantelnya mengembangkan kepandaian andalannya yaitu tiga belas jurus Hwi-cwan-kian-soat.
Sejak tadi Ciok Yan sudah terpesona dan kagum kepada pemuda jubah putih, diam-diam ia kepincut akan ketangkasan anak muda ini, melihat ayahnya turun tangan ia pun tanggalkan mantelnya ikut menyerbu ke tengah gelanggang.
Tio Hong-ho dan Liong Lui menggertak bersama, segera mereka menggerakan tongkat dan pedang masing-masing maju merintangi, maka terjadilah pertempuran dalam tiga kelompok. Tiga belas jurus ilmu kepandaian mantel yang dimainkan Ciok Hou-bu memang cukup lihay, cukup dengan putaran senjata lunaknya ini yang bisa berkembang melebar ia desak Tio Hong-ho dan Liong Lui berdua, dalam waktu singkat mereka rada terdesak di bawah angin.
Nyo Kwong dan To Hwi saling pandang sebentar, To Hwi mendeugus hidung, ringan sekali tangan kirinya menjentik, sebentuk Toh-bing-ci-hoan (cincin penyabut sukma) melesat keluar mengeluarkan suara mendengung, terbang berputar melesat ke arah jalan darah mematikan ditubuh orang tua jubah merah.
Orang tua jubah merah menggertak dengan gusar, cepat sekali ia mengayun Thay-i-kiam, tapi cara sambitan cincin penyabut nyawa ini memang luar biasa, ditengah jalan mendadak putar haluan terus terbang berputar satu lingkaran, pedang pusaka membabatnya disebelah samping, tapi tahu-tahu cincin penyabut sukma ini sudah melesat dari tengah mengarah ke tengah kedua mata orang tua jubah merah.
Keruan girang bukan main pemuda jubah putih mendapat bantuan yang menguntungkan ini, pedang cambuknya dimainkan semakin gencar, dengan seluruh kekuatan dan kemampuannya ia serang orang tua jubah merah habis2an.
Orang tua jubah merah menggerung panjang, kepandaian silatnya sungguh luar biasa dalam kepungan ketat dari musuh2nya sigap sekali ia masih dapat bergerak cepat, tubuhnya miring meluputkan diri, berbareng pedangnya menyontek ke atas melancarkan jurus It-goak-hok-su, tring, tring, terdengar suara nyaring cincin penyabut nyawa yang menyamber itu kena ditangkis pecah berhamburan, sedang pedang mas pemuda putih pun telah kutung menjadi dua.
Pemuda jubah putih kaget luar biasa, cepat ia melompat mundur, namun sambil menyeringai seram orang tua jubah merah maju mengejar sambil menusukan pedangnya.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang meluncur turun dari tengah udara memasuki gelanggang. Ternyata Hun Thian-hilah yang muncul, tampak tangan kanannya menyoreng sebilah pedang, sejurus saja cukup ia mendesak mundur orang tua jubah merah.
Seluruh hadirin menjadi kaget dan berseru heran. Terutama Ciok Yan berteriak kejut, “Hun Thian-hi.”
Sesaat seluruh hadirin menjadi sunyi senyap. Sebetulnya sejak tadi Hun Thian-hi sudah menyelundup masuk keruang besar, tapi selama itu ia tidak mendengar pembicaraan mengenai gurunya. Kini setelah melihat pemuda jurus Gelonmbang perak berderai ia pukul mundur si orang baju putih terdesak dan menghadapi bahaya dengan sejurus situa jubah merah.
Sebetulnya tusukan orang tua jubah merah dapat tepat mengenai sasarannya, tentu saat ini pemuda jubah putih sudah menemui ajalnya di bawah tusukan pedang pusakanya. Tapi begitu Hun Thian-hi muncul lantas lancarkan serangan ganas dan aneh sehingga terpaksa ia harus menyelamatkan diri terlebih dulu, keruan gusar bukan kepalang hatinya.
Dasar berhati culas dan banyak akal muslihatnya lahirnya ia tetap tenang-tenang saja, namun dalam hati ia mengakui, jurus serangan Hun Thian-hi tadi meski dilancarkan secara tak terduga, namun cukup dapat mendesak dirinya, maka dapatlah diukur betapa tinggi kepandaian bocah ini. Apalagi Badik buntung masih berada ditangannya, betapa pun aku tak bisa berlaku ceroboh sehingga kehilangan rejeki.
Tenang-tenang ia menyapu pandang kewajah para hadirin dalam ruang besar ini.
Hun Thian-hi melangkah kesamping serta berkata kepada Ciok Hou-bu, “Ciok-pocu, guruku Lam-siau dimanakah beliau sekarang, harap suka menerangkan?”
Ciok Hou-bu menghirup hawa, sesaat ya menjadi kememek tak tahu cara bagaimana harus menjawab. Malah Toh-bing-cui-hun To Hwi yang menjengek dingin, “Hun Thian-hi, jiwamu sendiri belum tentu selamat, kau masih urus gurumu.”
Biji mata Hun Thian-hi berkilat tajam bagai aliran listrik menatap muka To Hwi, katanya dengan nada berat, “Hun Thian-hi berani meluruk kemari, sudah tentu tak peduli mati atau hidup. Hun Thian-hi seorang laki-laki apa yang telah kuperbuat biar aku sendiri yang bertanggung jawab, kenapa merembet pada guruku?”
Orang tua jubah merah menggerung gusar, teriaknya, “Urusan gurumu aku tidak peduli, yang terang kau sendiri sekarang disini, dengan sepak terjangmu tadi serta Badik buntung yang kau miliki itu, apakah kau harap bisa tinggal pergi dari sini?”
Pelan-pelan Hun Thian-hi berputar menerawang seklilingnya, dihhatnya pandangan semua orang mengandung rasa kepanikan dan dendam yang membara terhadap dirinya.
Tiba-tiba pemuda jubah putih dibelakangnya buka bicara, “Hari ini dia merupakan tamu teragung dari aku Bun Cu-giok, kalian berani menggangu usik dia harus tanya dulu kepadaku!” — sembari berkata ia melangkah serindak ke depan.
Kalem2 saja Hun Thian-hi berpaling, sekilas ia pandang pemuda jubah putih dengan perasaan penuh haru dan terima kasih.
Terdengar ia mendengus serta menyapu pandang keempat penjuru, jengeknya sinis, “Jikalau tadi dia tidak muncul, seluruh hadirin dalam ruang ini siapa yang masih kuasa hidup sampai sekarang ini?”
“Itukan persoalan pribadi,” tukas orang tua jubah merah, “Yang terang Hun Thian-hi telah mengobarkan kemarahan umum, sudah jamak kita bekerja mengutamakan kepentingan orang banyak, bukankah kau sendiri termasuk aliran dari Bu-tong-pay? Murid Bu-tong pun ada yang mati ditangannya, apa kau tidak tahu?”
To Hwi juga menggeram dan ikut bicara, “Aku To Hwi tidak peduli apa yang kalian persoalkan, betapapun hari ini aku harus meringkus bocah Hun Thian-hi ini.”
“Mengandal kau? Apa kau becus?” ejek pemuda jubah putih.
Toh-bing-cui-hun To Hwi bergelak tawa, dengan gerak lamban tangannya sekaligus ia semtilkan tiga buah cincin penyabut nyawa langsung melesat mengarah Hun Thian-hi.
Kim-kiam-gin-pian menggertak murka, cambuk peraknya yang sudah kulung separo disambitkan membuat sambitan cincin penyabut nyawa porak peronda ditengah jalan.
Berubah air muka To Hwi, beruntun jari tangan kanannya menjenyik bergantian menyambitkan tiga batang Cui-hun-chit-sa-cian (panah tujuh iblis mengejar sukma) yang sudah lama tak pernah dipakai lagi, ketiga batang panah kecil warna hitam kemilau meluncur ke arah Hun Thian-hi. Hun Thiari-hi bersuit ringan, badannya mendadak. mencelat mumbul ke depan menubruk ke arah datangnya tiga panah maut sambitan musuh, dimana pedang panjang ditangan kanannya bergerak dengan jurus Gelombang perak mengalun berderai sekaligus ia tangkis dan hancur leburlah ketiga Cui-hun-cian musuh.
Berubah hebat rona wajah To Hwi sungguh tidak terduga olehnya bahwa Cui-hun-chit-sa-cian yang lihay dan kenamaan itu begitu gampang telah dipatahkan. Tadi ia melihat dengan mata kepala sendiri sekali gebrak Hun Thian-hi berhasi] memukul mundur orang tua jubah merah, sangkanya merupakan serangan bokongan diwaktu orang tengah melancarkan serangan khusus pada musuhnya, sekarang kalau dilihat gelagatnya, kepandaian silat Hun Thian-hi betul-betul sangat mengejutkan sekali.
Badan Hun Thian-hi melunjjur turun dihadapan Ciok Hou-bun, katanya, “Ciok-pocu, harap tanya dimanakah jejak guruku sekarang?”
Belum sempat Tiiok Hou-bu menjjawab, tahu-tahu orang tua jubah merah sudah putar pedang pusakanya merabu ke arah Hun Thian-hi. Sejak menelan buah ajaib, Hun Thian-hi mulai melatih Gin-ho-sam-sek dengan seksama, kecuali jurus ketiga yang masih rada sulit dipahami, jurus pertama dan kedua dapat dilatihnya dengan gampang. Selama dua hari di Soat-san ia melihat Soat-san-su-gou mereka menggunakan kedua jurus itu untuk menghalau musuh tangguh, ini berarti intisari kedua jurus ilmu ini telah diturunkan langsung kepada Hun Thian-hi, sayang Lwekang Hun Thian-hi sendiri belum mencapai taraf yang diperlukan.
Sekarang waktu Hun Thian-hi lancarkan Gelombang perak mengalun berderai dari bertahan berbalik balas menyerang malah, orang tua jubah merah terdesak keripuhan. Terasa oleh orang tua jubah merah sinar perak berkemilau diempat penjurunya menyilaukan mata dan mengganggu pemusatan pikiran, hawa dingin dan tajam seperti mengiris kulit yang tak kelihatan seiring dengan kilalatan sinar pedang merangsang dan menyampok ketubuhnya, keruan ia semakin terdesak di bawah angin, terpaksa ia menjaga diri saja dengan rapat.
Melihat babak pertempuran adu pedang ini diam-diam bercekat hati Ciok Hou-bu, ia membatin kalau sampai Hun Thian-hi mengambil kemenangan tentu. situasi selanjutnya
tidak menguntungkan bagi dirinya, beruntung kalau ia mau percaya dengan keterangannya, kalau tidak….
Karena pikirannya ini segera ia berteriak, “Tahan, dengarkan kata-kataku!”
Hun Thian-hi menghentikan serangannya terus mundur dan berdiri sambil masih menenteng pedangnya, kepalanya berpaling memandang ke arah Ciok Hou-bu.
Tanpa merasa Ciok Hou-bu merasa tekanan bertamba hbesar terhadap dirinya, maka katanya menyelidik kepda pemuda jubah putih, “Bun-pangcu, apakah tujuanmu yang utama kemari?”
Bun Cu-giok bergelak tawa dijawabnya, “Memang, semula aku mengincar juga Badik buntung itu, tapi sekarang kunyatakan aku tidak memerlukannya lagi.”
Tergetar perasaan Ciak Hou-bu, ia berpaling dan memandang kekanan diri, diam-diam ia tengah menerawang situasi sekelilingnya, memperhitungkan untung ruginya, kalau seumpama dirinya bergabung, ditambah orang tua jubah merah dan seluruh kerabat dari Hwi-cwan-po kemenangan
terang bakal dapat dicapai dengan mudah. namun….
Agaknya orang tua jubah merah dapat meraba jalan pikirannya, sembari tertawa lantang ia berseru, “Kenapa Bun-pangcu tersinggung oleh peristiwa tadi, urusan sudah lewat anggap saja sudah himpas. yang paling utama sekarang adalah demi Hun Thian-hi, seumpama bisa merebut Badik buntung dari tangannya, kita masing-masing apa kuat mengangkanginya sendiri, maka jalan satu2nya adalah berserikat.” ~secara gamblang ia ajak Bun Cu-giok untuk bergabung, hakikatnya tujuan kata-katanya adalah kepada Ciok Hou-bu, secara diam-diam ia memberi kisikan supaya orang tak perlu kuatir kalau kelak ia bakal memonopoli sendiri hasil jerih payah bersama.
Bun Cu-giok menjengek gusar, “Bun Cu-giok tadi sudah menjelaskan, sekarang aku tidak sudi lagi dengan Badik buntung apa segala.”
Sudah tentu Ciok Hou-bu juga maklum akan arti kata orang tua jubah merah yang dalam, sambil tertawa ewa ia berkata kepada Hun Thian-hi, “Sebenar-benarnya gurumu tak berada disini.”
Hun Thian-hi tersentak kaget, tanyanya, “Apa?”
Ciok Hou-bu menyeringai, katanya lagi, “Hun-siauhiap, gurumu tak berada disini. Memang aku sudah menahannya, namun akhirnla gurumu pergi juga. Supaya dapat memancingmu kemari terpaksa aku menyebar kabar bohong itu.”
Gemes dan dongkol pula perasaan Hun Thian-hi, katanya dingin, “Jadi tujuan Ciok-pocu yang sebenar-benarnya adalah Badik buntung? Ketahuilah bahwa Badik buntung sekarang tak berada di tanganku.”
Ciok Hou-bu tertegun. Dasar licik adalah orang tua jubah merah yang buka bicara lagi, “Tak menjadi soal, asal kau disini, tak perlu kuatir Badik buntung takkan datang sendiri?”
Terlihat oleh Thian-hi, Ciok Hou-bu tengah memberi tanda lirikan kepada anak buahnya, tak lama kemudian sebarisan anak buahnya yang mengenakan seragam hijau berdujun2 memenuhi seluruh ruangan.
Tiba-tiba Hun Thian hi tertawa lebar, tanyanya, “Apakah Ciok-pocu betul-betul hendak menahan aku?”
“Sudah tentu!” seru Ciok Hou-bu.
Orang tua Jubah merah tahu saatnya sudah tiba, maka sembari bergelak tawa ia bolang balingkan pedang pusakanya terus menyerbu lebih dulu. Kim-kiam-gin-pian Bun Cu-giok melihat situasi sudah berkembang begitu gawat, terpaksa iapun mulai bergerak, dengan menenteng pedang ia menubruk ke arah Ciok Hou-bu.
Mata Ciok Hou-bu jelilatan melirik ke kanan kiri, segera Nyo Kwong dan To Hwi juga melolos pedang masing-masing, sedang ia sendiri menggentakkan mantel besarnya terus kembangkan tiga belas jurus Hwi-cwan-kian-soat menyerbu kepada Bun Cu-giok.
Bun Cu-giok membuang pedangnya yang sudah kutung, dengan ilmu Eng-hong-ciang ia hadapi ketiga pengerojoknya.
Sudah sekian lama Ciok Hou-bu angkat nama dikalangan Kangouw dengan ilmunya Hwi-cwan-kian-soat-cap-sa-sek, sudah tentu kepandaiannya bukan olah-olah lihaynya, tiga tokoh silat kelas wahid sekaligus mengeroyok Bun Cu-giok, pedang dan cambuknya sudah kutung dan dibuang dengan bertangan kosong sudah tentu ia terdesak di bawah angin.
Terdengar Ciok Hou-bu membujuk, “Bun-pangcu seorang gagah harus dapat melihat gelagat dan mengambil keuntungan, Bun-pangcu masih muda dan punya masa depan yang gemilang, kenapa berpandangan cupat dan mengukuhi adat sendiri?”
Bun Cu-giok menjengek sinis tanpa buka suara.
Sementara itu Ciok Yan berdiri menjublek di tempatnya, tak tahu apa yang harus dilakukan.
Di lain pihak dengan permainan Gin-ho-sam-sek seorang diri Thian-hi melawan orang tua jubah merah. Gin-ho-sam-sek merupakan ilmu tunggal yang tiada keduanya dari ilmu pedang tingkat tinggi. Bu-bing Loni yang dipandang sebagai jago nomor satu di seluruh kolong langit pun kena dikepung selama sehari semalam, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan digdaya ilmu ini.
Tapi kepandaian orang tua jubah merah dengan ilmu pedang Thay-i-kiam yang tajam luar biasa itu berusaha bertahan sekuat tenaga, sayang Hun Thian-hi menguatirkan keselamatan Bun Cu-giok yang terkepung dalam bahaya. diam-diam hatinya menjadi gugup dan kuatir.
Pertempuran tokoh silat tinggi melulu mengutamakan pengkonsentrasian pikiran dan badan sedikit perhatian terpencar orang tua jubah merah lantas balas menyerang, keadaan menjadi sama kuat. Hun Thian-hi menjadi tak sabar lagi, Gin-ho-sam-sek jurus kedua segera dilancarkan setabir cahaya putih berterbangan mengurung orang tua jubah merah. Kontan orang tua jubah merah terkurung ketat, sekuat tenaga ia bertahan dan berusaha menerobos dan bergulat dengan segala daya upaya.
Hun Thian-hi semakin mengerutkan kurungannya, sayang ia kuatir dan gentar menghadapi ketajaman Thay-i-kiam-lawan sehingga mengurangi kebebasan gerak geriknya.
Di belakang sana terdengar gelak tawa Ciok Hou-bu, kiranya kedok Bun Cu-giok ditanggalkan. Kata Ciok Hou-bu lagi, “Bun-pangcu, sekarang kesempatan terakhir aku mengundangmu ikut dalam perserikatan kita.”
Biji mata Bun Cu-giok berkilat beringas, dengan murka ia mencemooh, “Seumpama aku Bun Cu-giok hari ini harus terkubur disini jangan harap keinginan kalian bisa terkabul.”
Melihat Bun Cu-giok sudah terdesak ke dalam bahaya. Hun Thian-hi membentak keras, tiba-tiba ia melesat berkelebat, pedang panjangnya serentak merabu kepada Ciok Hou-bu bertiga.
Gentar akan kekuatan dan kehebatan kepandaian orang Ciok Hou-bu bertiga menyurut mundur.
Sementara orang tua jubah merah menghardik terus mengejar tiba, pedang panjangnya menusuk ke punggung Hun Thian-hi dari belakang.
Terpaksa Hun Thian-hi membalikkan pedang, tusukannya balas menyerang ke tengah mata orang tua jubah merah. Orang tua jubah merah tertawa riang, sedikit angkat pedang dan menyontek “tring”, kontan pedang Hun Thian-hi kutung menjadi dua dan berkerontangan jatuh di lantai.
Girang Ciok Hou-bu bukan main, berempat mereka mengepung Bun Cu-giok dan Hun Thian-hi.
Sementara Ciok Yan berdiri dengan pucat dan ketakutan diluar gelanggang. Bun Cu-giok berdiri menjublek kehilangan semangat.
Berkilat pandangan Hun Thian-hi satu per satu ia tatap keempat musuhnya, hatinya menyesal sekali bahwa seseorang menyertai kematiannya, ini adalah tidak diinginkan olehnya, otaknya tengah menerawang dan beragu apakah ia harus melancarkan jurus ganas pencacat langit pelenyap
bumi untuk mengakhiri pertempuran ini. Tempo hari ia sudah pernah berjanji kepada Situa pelita untuk tidak melancarkan jurus ganas ini, tapi Sementara itu, Ciok Hou-bu sudah unjuk muka berseri, otaknya sudah melayang membayangkan Badik buntung bakal tergenggam dalam tangannya, maka Ni-hay-ki-tin jelas sudah diambang mata.
Mendadak pintu besar diterjang dari luar, serombongan orang berkuda menerjang masuk, terus meluruk ke arah Ciok Hou-bu beramai. Keruan kaget Ciok Hou-bu bukan main, cepat ia memberi aba-aba kepada anak buahnya, pihak Partai merah juga lantas bergerak memapak maju merintangi. Pemimpin penyerbuan tak terduga ini adalah seorang tua berambut uban, tampak ia mencelat tinggi dari tunggangannya ditengah udara melolos pedang terus meluncur ke tengah diantara empat musuh Hun Thian-hi.
Begitu melihat orang tua beruban ini Ciok Hau-bu lantas berteriak, “Kim Poan-long!”
Ki-thian Lojin Kim Poan-long begitu mendaratkan kakinya lantas bertanya lantang, “Siapa Hun Thian-hi?”
Ciok Hou-bu mengulap tangan menghentikan anak buahnya, serta serunya menunjuk Hun Thian-hi, “Dia inilah, saudara Kim ada urusan apa?”
Kim Poan-long celingukan menerawang situasi sekelilingnya. Sedang orang tua jubah merah menjadi marah melihat tambah seorang lagi yang turut campur dalam pertikaian ini, dengan menggerung ia menusuk dengan pedangnya kepada Kim Poan-long.
Hakikatnya tiada ketulusan hati untuk bekerja sama dengan Ciok Hou-bu beramai kini dilihatnya tambah kedatangan seorang lagi, tadi mereka sudah berada di atas angin, seumpama Kim Poan-long bergabung dalam pihak Hun Thian— hi iapun tak perlu takut.
Melihat tusukan orang tua jubah merah, Kim Poan-long mengegos ke samping, berbareng tangannya terayun serta berteriak kepada Hun Thian-hi, “Hun-siauhiap, sambut ini, mari kita menerobos keluar!”
Terlihat secarik cahaya hijau berkelebat, tangkas sekali Hun Thian-hi sudah meraih Badik buntung di tangannya, sungguh kejut dan girang bukan main, sungguh tak terkira olehnya Ki-thian
Lojin Kim Poan-long bakal meluruk datang tepat pada waktunya.
Begitu membekal Badik buntung Hun Thian-hi seperti harimau tumbuh sayap, dimana sinar hijau menyamber sekaligus ia serang keempat pengepungnya, bersama itu ia berteriak kepada Bun Cu-giok, “Saudara Bun, lekas ikut kami menerjang keluar!”
Kedatangan Kim Poan-long betul-betul merubah situasi menjadi tegang, sekaligus Badik buntung juga muncul diarena pertempuran, sudah tentu Ciok Hou-bu berempat menjadi kalang kabut, kepungan mereka menjadi bobol dan dengan mudah ketiga orang musuhnya dapat menerobos keluar.
Ciok Hou-bu berkaok2 memberi aba-aba para kerabatnya untuk merintangi, demikian juga orang tua jubah merah memerintahkan anak buahnya menghadang, namun mana mereka kuat menghadapi ketajaman Badik buntung, sebentar saja Hun Thian-hi bertiga sudah mencemplak di atas kuda terus dilarikan pesat menerjang keluar pintu gerbang perkampungan….
Sesaat Ciok Hou-bu berempat menjadi melongo dan kesima di tempat masing-masing, hanya Ciok Yan merasa hampa nan kecut.
Setelah lolos dari Hwi-cwan-po Hun Thian-hi terus membedal kudanya sekencang-kencangnya, kira-kira lima li kemudian baru berhenti.
Segera Bun Cu-giok angkat tangan menjura kepada Hun Thian-hi, ujarnya, “Bantuan saudara Hun hari ini sampai ajalpun takkan kulupakan. Dalam partai masih banyak urusan, terpaksa Bun Cu-giok mohon diri dulu!”
“Hun-pangcu terlalu sungkan,” demikian jawab Thian-hi dengan sikap jantan dan setia kawan, “Bun-pangcu, sungguh Hun Thian-hi merasa sangat kagum dan banyak terima kasih pula.”
Bun Cu-giok juga menjura kepada Ki-thian Lojin Kim Poan-long, ujarnya, “Kalau Kim-ke-cheng memerlukan bantuan kami dari Partai putih pasti akan suka membantu dengan seluruh kemampuan. Sekarang Bun Cu-giok mohon diri!” — kudanya diputar terus dibedal kencang.
Kim Poan-long tertegun sebentar, katanya, “Diakah Pangcu Partai putih!”
Hun Thian-hi tersenyum, sahutnya manggut-manggut, “Kim-chengcu datang tergesa-gesa, apakah ada urusan?”
Pelan-pelan Kim Poan-long menundukkan kepala, ujarnya sambil menghela napas rawan, “Adikku dibokong orang, saat ini sudah wafat karena luka-lukanya yang berat.”
Berubah air muka Thian-hi, serunya kejut, “Ji-chengcu sudah mati?”
Kim Poan-long manggut-manggut tanpa bersuara, katanya, “Dengan sekuat tenaga ia bertahan kembali kerumah, setelah menceritakan pengalamannya lantas menghembuskan napasnya.”
Sungguh mimpi juga Hun Thian-hi tidak nyana bahwa Kim Ci-ling sudah meninggal dibokong orang, sekian lama ia terlongong-longong, terbayang olehnya wajah orang di depan matanya, suaranya pun seperti masih terkiang di pinggirl telinganya, pelan-pelan ia bertanya, “Apakah Ji-chengcu tahu siapakah pembokongnya?”
Kim Poan-long menghela napas, katanya, “Musuh di tempat gelap, diapun tak jelas siapakah yang membokong.”
Hun Thian-hi terpekur, mendadak ia berteriak, “Akulah yang mencelakai dia, biar sekarang juga aku pergi ke Bu-tong-san.”
“Hun-siauhiap, siapakah yang kau sangka?” tanya Ki-thian Lojin Kim Poan-long.
“Aku belum tahu,” sahut Thian-hi sambil menunduk. “tapi pasti ada sangkut paut dengan pihak Bu-tong-pay.”
“Dugaankupun begitu,” kata Kim Poan-long, “peristwa ini terjadi begitu mendadak, setiap kejadian hampir membuat orang susah percaya!”
“Kim-chengcu. sekarang juga aku mohon diri.”
“Perjalanan ini cukup berbahaya, tidakkah lebih baik kita pergi bersama “
Thian-hi manggut-manggut. sahutnya, “Begitupun baik.”
Kim Poan-long memberi pesan dan perintah pada anak buahnya lalu bersama Thian-hi beriring membedal kudanya langsung menuju ke Bu-tong-san.
Sepanjang jalan ini Hun Thian-hi mengerutkan alisnya hatinya tengah gundah dan menerawang, kejadian yang dihadapi betul-betul cukup mengherankan, betapapun aku meluruk ke Bu-tong-san menanyakan secara langsung pada Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin.
Entah berapa lama dan berapa jauh sudah perjalanan ini yang mereka tempuh, yang terang cuaca sudah berganti mulai magrib.
Secara kebetulan Hun Thian-hi sedang berpaling ke belakang, dilihatnya rada jauh di belakang sana terlihat dua sosok bayangan hitam tengah mengejar datang dengan kecepatan seperti kilat. Saking kaget Thian-hi berteriak kepada Kim Poan-long, “Lihat!”
Kim Poan-long berpaling, ia pun tersentak kaget.
Sekejap saja kedua sosok bayangan hitam itu sudah menyusul tiba terus menerobos lewat tunggangan mereka terus berhenti menghadang di depan.
Lekas-lekas Thian-hi berdua menarik kekang kuda masing-masing.
Dengan seksama seksama Thian-hi mengamati kedua orang penghadang ini, mereka adalah dua orang berseragam hitam dan berkedok hitam pula, hanya kedua biji mata masing-masing yang kelihatan berkilat tajam, mereka mencegat ditengah jalan tanpa bersuara.
Bercekat hati Thian-hi, terpikir olehnya bahwa kedua orang ini tentu meluruk dirinya karena mengincar Badik Buntungnya.
Terdengar Ki-thian Lojin buka suara, “Saudara berdua menyusul kita, entah ada urusan apakah?”
Dua orang itu tetap bungkam tanpa bersuara atau bergerak.
Dengan cermat Thian-hi pandang mereka, ujarnya, “Apakah kalian mengincar Badik buntung milikku itu?”
Kedua orang itu masih bungkam.
Hun Thian-hi menjengek dingin, kudanya dibedal menerjang ke depan. Cepat-cepat orang sebelah kiri angkat sebelah tangannya menepuk kepala tunggangan Thian-hi.
Thian-hi mengayun Badik buntung memapas kepergelangan tangan orang berkedok, terdengar ia mendengus hidung, tubuhnya mencelat naik ke udara, sebelah kakinya geledek menendang ke tangan Thian-hi yang me-Badik buntung.
Cepat Thian-hi menarik tangannya, namun kesempatan tidak disia-siakan oleh lawannya gesit sekali sebelah tangan yang lain sudah meluncur tiba menepuk ke dadanya.
Hun Thian-hi menggertak dengan gusar, sejak menelan buah ajaib Lwekangnya sudah maju berlipat ganda selama ini belum pernah beradu pukulan dengan lawan secara kekerasan, sekarang tibalah saatnya ia menjajal kemampuannya, maka sebelah tangan kiri diayunkan memampak serangan telapak tangan lawan.
Begitu kedua pukulan saling bentrok, seketika berubah rona wajah Hun Thian-hi, terasa telapak tangannya panas sekali seperti dibakar dalam bara, begitu saling sentuh lantas seluruh lengannya pati rasa.
Orang berkedok itu menjengek dingin, tangan kanannya terulur cepat sekali menyengkeram ketangan kanan Thian-hi yang memegang Badik buntung.
Thian-hi mengertak gigi, dengan nekad ia ayun tangannya melancarkan jurus Gelombang perak mengalun berderai mendesak mundur lawannya.
Melihat muka Thian-hi yang tidak wajar, Kim Poan-long menjadi gelisah, tanyanya gugup, “Hun-siauhiap, kenapa kau?”
“Tidak apa-apa,” sahut Thian-hi sambil menarik lengan kirinya yang sudah kejang.
Kedua orang berkedok saling berkedip memberi isyarat lalu mulai bergerak lagi menyerang dengan tekanan lebih besar kepada Hun Thian-hi dan Kim Poan-long.
Luka-luka Thian-hi cukup berat, namun ia bertahan sekuat tenaga, melihat musuh menyerbu lagi, dia tahu Kim Poan-long tentu tak kuat bertahan, dengan menghardik keras ia menjepit perut kudanya, tubuhnya mencelat tinggi ia atas terbang lempang ke depan sembari lancarkan Tam-lian-hun-in-hap, inilah jurus kedua dari Gin-ho-sam-sek yang hebat itu, seketika terlihat cahaya hijau pupus berkembang melebar terus menungkrup ke arah kedua musuh berkedok.
Agaknya kedua orang berkedok cukup tahu betapa hebat serangan ini, cepat-cepat mereka melompat mundur jumpalitan.
Lengan kiri Thian-hi terasa panas dan tak tertahan lagi ia insaf semakin lama bertempur tentu dirinya takkan kuat bertahan, maka setelah dengan aksinya ini, ia obat-abitkan Badik buntungnya lalu jumpalitan turun di atas pelana kudanya kembali, begitu menggertak kudanya lantas dicongklang kencang menerjang maju.
Melihat musuh hendak lari, kedua orang berkedok menjadi gugup, cepat-cepat mereka berdiri kembali sambil pasang kuda-kuda sembari berteriak panjang empat telapak tangan mereka bekerja bersama memukul ke depan, kontan kedua kuda tunggangan Thian-hi tersentak naik ke atas dan berbenger panjang terus roboh terkapar tak bergerak lagi.
Begitu melihat gaja serangan kedua musuh Ki-hian Lojin lantas berteriak kaget, “Siau….” salah seorang berkedok tampak menerjang secepat kilat, sebelah tangannya telak sekali menepuk kedada Kim Poan-long, terdengar Ki-thian Lojin menjerit ngeri terus robah terjengkang.
Saat mana Thian-hi sudah berhasil menerjang lewat dari samping serta mendengar jerit Kim Poan-long yang menggiriskan itu, kejutnya bukan kepalang, cepat-cepat ia putar balik hendak menolong tapi sudah terlambat.
Keruan Hun Thian-hi menjadi berang, seperti banteng ketaton segera ia obat-abitkan Badik buntung sekencang-kencangnya, maksudnya hendak mendesak dan merobohkan kedua musuhnya berkedok, tapi kepandaian kedua orang berkedok ternyata juga tidak lemah, enteng sekali mereka melesat mundur terus putar tubuh melarikan diri.
Hun Thian-hi melompat mengejar, kira-kira puluhan tombak kemudian seluruh mukanya sudah basah kujup oleh keringat sendiri. Bukan lari terus sebaliknya kedua musuh berkedok itu malah putar balik, Thian-hi harus kertak gigi sambil menerjang musuhnya, dimana Badik buntung berkelebat ia kembangkan Gelombang perak mengalun berderai menyerang dengan kalap.
Kedua musuh berkedok melomprt berpencar meluputkan diri, dari dua jurusan ini mereka angkat tangan balas menyerang kepada Hun Thian-hi.
Begitu melancarkan serangan pertama lantas Thian-hi merasa tenaga dalamnya rada macet tak kuat bersambung lagi, sudah tentu kejutnya sepeti disengat kala, keringat dingin mengalir keluar, pikiran otaknya menjadi rada terang. Cepat ia dapat menyadari situasi yang tidak menguntungkan dirinya ini, diam-diam ia berpikir, “Cara mengadu jiwa begini, mungkin aku sendiri bakal konyol sebelum dapat menuntut balas.”
Sementara itu kedua musuh berkedok itu telah merangsek maju lagi, sambil menggeram Thian-hi ayun Badik buntung menyerampang musuh. Begitu kedua musuhnya menyurut mundur menghindar, cepat-cepat ia melompat mundur ke belakang, diam-diam ia mencari jalan untuk meloloskan diri
Sedikit melompat menghindar kedua musuh berkedok gesit sekali sudah melejit maju pula tiba di belakang Hun Thian-hi. Saking gugup dan tiada jalan lain, terpaksa tanpa banyak pikir lagi Thian-hi sambitkan Badik buntung diantara kedua musuhnya. Sudah tentu kedua musuhnya tidak menyangka bahwa Thian-hi rela melemparkan Badik buntungnya, tanpa berjanji keduanya melejit terbang mengejar ke arah Badik buntung yang meluncur jauh kesana.
Sebat sekali Hun Thian-hi berkelebat terus melompat naik ke atas sepucuk pohon rindang.
Sesaat kemudian tampak kedua orang berkedok lari balik, sekian lama mereka ubek2an di dalam hutan mencari jejaknya, akhirnya mereka kewalahan. setelah bercakap-cakap sebentar mereka lantas berlari pergi.
Melihat kedua musuhnya pergi, Thian-hi sendiri sudah payah dan tak kuat bertahan lagi, begitu ketegangan hatinya mengendor tubuhnya lantas terjungkal roboh dari atas pohon. Begitu terbanting di tanah pikiran Thian-hi menjadi rada terang, pelan-pelan dengan segala sisa tenaganya ia merogoh keluar daon buah ajaib terus dijejalkan ke dalam mulut, seketika hawa harum mengalir dalam tenggorokannya.
Bergegas Thian-hi duduk bersila. pelan-pelan mengatur pernapasan dan mengerahkan tenaga dalam kira-kira setengah jam kemudian baru ia merasa kesehatannya pulih seperti sedia kala.
Waktu ia kembali ke tempat semula, tampak kedua ekor kuda mereka dan Kim Poan-long menggeletak di tanah. Hun Thian-hi menghela napas rawan. Segera ia gali liang lahat, jenazah Kim Poan-long lantas dikabur sekadarnya.
Setelah mengubur jasad Kim Poan-long, Thian-hi duduk di bawah pohon, pikirannya bekerja, “Siapakah kedua orang berkedok itu?”
Dipikir punya pikir mendadak ia tersentak kaget, gumamnya, “Siau! Siau-yang-sin-kang” — kedua biji matanya mendelik lebar, hidungnya mendengus, selain mereka berdua siapa lagi, demikian dalam hati ia membatin.
Tiba-tiba melonjak berdiri. seperti bakal ketiban rejeki tersipu-sipu ia berlari kencang menuju ke Bu-tong-san.
Waktu sinar surja menongol keluar di ufuk timur, memancarkan cahayanya yang cerlang cemerlang Hun Thian-hi sudah beranjak dijalanan yang menuju kepusat Bu-tong-pay, dua pucuk pohon Siong yang besar dan tinggi berdiri diam laksana raksasa menembus awan.
Dalam hati Han Thian-hi berani memastikan bahwa kedua orang berkedok itu tentu adalan Gwat Long dan Sing Poh adanya, Kira-kira baru setengah perjalanan, dari ataas gunung berjalan turun seseorang, begitu melihat Hun Thian-hj orang itu lantas mengumpat caci dengan murka.
Waktu Thian-hi angkat kepala, orang itu bukan lain adalah murid preman pihak Bu-tong-pay, tak lain tak bukan adalah Thi-kiam Lojin yang pernah mencari perkara pada dirinya.
Begitu melihat tegas pada Hun Thian-hi, kontan Thi-kiam Lojin lantas melolos pedang yang disandang dipunggungnya, bentaknya kepada Thian-hi, “Orang she Hun! Ke-mana-mana kucari kau, tak kukira hari ini kau batang sendiri.”
Hun Thian-hi tak sabar main debat dengan Thi-kiam Lojin, tanpa membuka suara cepat ia menerjang ke atas, melihat sikap acuh tak acuh Thian-hi, Thi-kiam Lojin semakin murka sembari bergelak tawa ujung pedangnya. menjojoh ke depan menusuk perut Thian-hi.
Enteng sekali badan Thian-hi mencelat tinggi, mulutnya berteriak, “Hari ini aku mencari Giok-yap Cinjin, bukan mencari kau!”
Kepandaian silat Thi-kiam Lojin cukup tinggi, sebab sekali ia pun mencelat terbang menyusul, beruntun pedangnya berkelebat menyamber, sekaligus ia sudah lancarkan tiga jurus serangan pedang kepada Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi menghardik keras. dengan sebelah tangannya ia menyampok kebatang pedang Thi-kiam yang menyamber tiba. Thi-kiam Lojin rada keder, kuatir Hun Thian-hi mengeluarkan Badik buntung memotong kutung pedang panjangnya seperti tempo hari, maka cepat-cepat ia tarik balik pedangnya, merubah gaja dan jurus tipu pedangnya ia merabu semakin kencang.
Tak terkira olehnya bahwa kepandaian Hun Thian-hi sekarang sudah jauh beda dengan Thian-hi tempo hari, beegitu ia menarik dan merubah jurus ilmu pedangnya, berbalik Thian-hi mendapat kesempatan melancarkan tiga pukulan berantai, sehingga Thi-kiam Lojin terpaksa hanya mampu bertahan dan mundur selamatkan diri dari pada balas menyerang.
Hun Thian-hi melompat tinggi ke depan berlari laksana terbang ke atas gunung. Sepanjang jalan penuh rintangan, untung mereka bukan terdiri tokoh-tokoh lihay dari Bu-tong-pay, maka dalam sekejap saja ia sudah sampai diambang Tin-yang-kiong.
Sampai disini baru Hun Thian-hi berhati lega, dia tahu Tio-yang-kiong merupakan tempat berkumpul para tokoh-tokoh kosen Bu-tong-pay, Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinji sendiri pun bersemajam di Tio-yang-kiong ini. Thian-hi sendiri insaf bahwa menghadapi Gwat Long dan Sing Poh saja dirinya bukan tandingan mereka, apalagi Giok-yap Cinji sendiri. Tapi urusan ini sudah terjadi gara-gara dirinya betapa pun harus jumpa dan menanyakan langsung kepada Giok-yap Cinjin.
Kenyataan sudah terjadi Gwat Long dan Sing Poh membunuh Kim Poan-long untuk menutup mulutnya, sudah tentu dengan gampang mereka pun dapat membunuh keempat orang lainnya. Seumpama tidak meluruk datang juga sama saja. Harapan utama sekarang adalah bahwa Gwat Long dan Sing Poh membangkang atau bekerja membelakangi Giok-yap Cinjin, kalau tidak begitu dirinya beranjak ke dalam Tio-yang-kiong bakal takkan mudah keluar kembali.
Dengan teliti dan waspada Thian-hi putar kayun mengelilingi Tio-yang-kiong seputaran, hatinya tak habis mengerti kenapa selama ini tak terdengar sedikitpun suara. Dengan enteng Thian-hi meloncat naik ke atas rumah, memandang ke dalam terlihat suasana Tio-yang-kiong sunyi senyap, seorang pendeta pun tak terlihat bayangannya.
Hati Thian-hi menjadi curiga, pikirnya, “Mungkinkah Tio-yang-kiong tidak kenyataan seperti yang dikabarkan di luaran?” ~dilain kejap ia melompat turun di sebelah dalam, dengan langkah tetap ia berjalan masuk.
Tampak di ruang sembahjang batang2 hio masih tersemat menyala, asap mengepul tinggi, tapi tak kelihatan bayangan seorangpun. Thian-hi melangkah terus ke dalam, memang rumah berhala yang sedemikian besar ini tidak dihuni seorang manusiapun. Dalam hati Thian-hi membatin, jikalau Giok-yap Cinjin, bersemajam di Tio-yang-kiong, seumpama orang lain sedang keluar karena banyak urusan, tentu beliau seorang masih ada didalam.
Jalan punya jalan dari kejauhan dilihatnya di sebelah dalam sana sebuah ruang samadi pelan-pelan ia maju ke arah sana, waktu ia melongok ke dalam terlihat seorang Tosu tengah duduk samadi tanpa bergerak.
Thian-hi terperanjat, terlihat olehnya sinar mata orang itupun memancarkan cahaya aneh dan heran, namun ia tidak bergerak dan tidak bersuara.
Setelah menenangkan gejolak hatinya Thian-hi mengamati Tosu itu, jelas Tosu ini berambut hitam dan berjenggot hitam pula, namun wajahnya pucat pasi seperti kertas, sinar matanya guram tak bersemangat, duduk mematung tanpa bergerak, jikalau biji matanya tidak terpentang dan bergerak Thian-hi pasti anggap orang telah mati.
Thian-hi maju mendekat serta menjura katanya, “Aku yang rendah Hun Thian-hi, harap tanya kepada Totiang, dimana kediaman Giok-yap Cinjin?”
Tosu itu tetap tak bergerak dan tak bersuara, namun matanya mengunjuk rasa heran dan tak mengerti.
Melihat orang tidak bicara, Thian-hi merenung sebentar, lalu katanya lagi, “Kalau Totiang tidak bisa bicara, apakah bisa mengantarku kepada beliau?”
Biji mata si Tosu berjelilatan, seolah-olah punya banyak pertanyaan yang hendak disampaikan, namun sedikitpun ia tidak mampu bergerak.
Thian-hi menjadi putus asa, pelan-pelan ia putar tubuh hendak tinggal pergi, tiba-tiba tergerak sanubarinya, sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya, pikirnya siapa lagi orang yang boleh duduk samadi di dalam ruang Tio-yang-kiong? Tiba-tiba ia putar balik serta maju bertanya, “Apakah Totiang adalah Giok-yap Cinjin Cianpwe?”
Lagi-lagi mata Tosu tua ini memancarkan cahaya yang sukar diraba juntrungannya. Terkilas dalam pikiran Thian-hi akan cerita Kim Ci-ling tempo hari, mungkin Giok-yap Cinjin mempunyai kesukaran yang sulit disampaikan?”
Thian-hi terlongong sebentar, akhirnya ia berketetapan untuk coba-coba, dari kantong bajunya ia mengeluarkan sepucuk daun buah ajaib terus diangsurkan kepada Tosu itu serta katanya, “Mungkin Totiang terkena racun jahat, inilah daun Kiu-thian-cu-ko, setelah Totiang menelan daun ini tentu penyakitmu dapat sembuh.”
Tampak Tosu itu rada beragu sebentar, namun akhirnya ia menerima juga, dengan kedua tangannya Thian-hi menyongkel gigi si Tosu yang terkatup kencang terus menjejalkan daun buah ajaib ke dalam mulutnya.
Rada lama kemudian, baru tampak si Tosu dapat menghela napas lega dengan lemah, katanya serak, “Pinto memang Giok-yap adanya. Entnh Siauhiap mencari aku ada urusan apa?”
Mendengar ucapan orang sungguh girang Thian-hi bukan main, tersipu-sipu ia berlutut dan menyembah sapanya, “Wan-pwe Hun Thian-hi menghadap pada Lo-cianpwe.”
Kata Giok-yap Cinjin perlahan, “Sekarang aku tahu untuk apa kau kemari. Aku dibokong orang sehingga tak dapat bicara, badanpun menjadi kaku tak bisa bergerak sejak sebulan yang lalu. Tadi meski kau sudah memberi daun buah ajaib, paling tidak harus memakan waktu dua belas jam baru bisa pulih seluruhnya! Eh, kau bangunlah!”
Kata Thian-hi sambil bangkit, “Wanpwe semula mengira mungkin Cianpwe dikelabui dalam peristiwa ini maka dengan lancang menghadap kemari.”
Ujar Giok-yap Cinjin memejamkan mata, “Aku dapat menduga kejadian apakah itu, tapi belum jelas akan duduk perkara sebenar-benarnya, coba Hun-siauhiap menjelaskan.”
Maka Hun Thian-hi menceritakan pengalamannya sejak ia bertemu dengan Kim Ci-ling.
Setelah mendengar cerita Thian-hi Giok-yap Cinjin membuka mata, katanya serius, “Hun siauhiap! Dosa. Gwat Long dan Sing Poh dalam peristiwa ini tak terampun lagi. Tapi apakah Hun siauhiap tahu siapakah orangnya yang berdiri di belakang lajar?”
Thian-hi berpikir sebentar, jawabnya, “Tentang hal ini Wanpwe pernah memikirkannya, memang pasti ada orang yang memegang rol di belakang peristiwa ini, dan orang itu pasti Mo-bin Suseng adanya.”
Giok-yap Cinjin manggut-manggut, tiba-tiba ia bertanya, “Apakah Siauhiap ada bermusuhan dengan Mo~bin Suseng?” Hun Thian-hi manggut-manggut mengiakan.
Kata Giok-yap Cinjin, “Beberapa tahun belakangan ini aku gemar main catur, beberapa waktu yang lalu pernah datang seorang yang mengaku bernama Hou Gwan, diapun pandai bermain catur, sungguh aku tidak menduga bahwa dia inilah Mo-bin Suseng yang kenamaan di seluruh jagad itu, diam-diam ia telah meracun kepadaku, racun yang digunakan adalah Soat-san-cu, bisa paling jahat di seluruh dunia. Karena kurang hati-hati aku terjebak oleh tipu muslihatnya. Dia ngapusi murid2ku katanya aku tersesat latihan Lwekang, tanpa Badik buntung tak mungkin dapat disembuhkan.” -setelah bercerita ia menghela napas dengan rawan.
Thian-hi sendiri juga bungkam dan menunduk. Sambung Giok-yap, “Mo-bin Suseng berhati culas dan banyak muslihatnya, jika dia tahu sekarang aku sudah sembuh tentu menggunakan akal liciknya untuk mencelakai jiwaku. Baru saja aku menelan daun buah ajaib, betapa pun jangan sampai dia mengetahui.”
Thian-hi manggut-manggut, dalam hati ia mengakui kenyataan ini, kalau Mo-bin Suseng betul-betul tahu di bawah gosokan mulut manisnya tentu Gwat Long dan Sing Poh takkan membiarkan dirinya berada di tempat ini dengan tetap bernapas. Sedang Giok-yap harus menunggu dua belas jam lagi baru bisa pulih kesehatannya. Kalau Mo-bin Suseng hendak berbuat jahat rasanya semudah ia membalikkan telapak tangan.
Karena pikirannya ini segera ia bertanya kepada Giok-yap Cinjin, “Kenapa Tio-yang-kiong kosong melompong selain Cianpwe seorang.”
“Setelah seluruh penghuni Tio-yang-kiong tahu aku keracunan mereka lantas pindah ke Siang-goan-kiong, tinggal Gwat Long dan Sing Poh saja bersama aku, tapi sewaktu2 mereka pergi, legakan saja hatimu, saat ini selain mereka berdua tiada seorangpun yang bisa kemari. Meski sepak terjang mereka sangat tercela, tapi mereka masih dengar kata-kataku!” — habis berkata ia menghela napas panjang.
Thian-hi memaklumi kesukaran dan pikiran Giok-yap Cinjin, sepak terjang Gwat Long dan Sing Poh memang patut dihukum mati, tapi betapapun perbuatan mereka itu melulu demi keselamatan Giok-yap Cinjin, maka tidaklah heran kalau Giok-yap Cinjin merasa sedih dan serba sulit.
Hun Thian-hi tunduk dan terpekur.
Begitulah selanjutnya mereka bicara panjang lebar, dalam kesempatan itu Giok-yap Cinjin menanyakan riwayat hidup Thian-hi, dengan setulus hati Thian-hi menutur apa adanya. Akhirnya Giok-yap Cinjin tenggelam dalam pikirannya, agak lama kemudian baru buka bicara lagi, “Urusan ini setelah aku sembuh tentu akan kubereskan. Tentang urusanmu tentu aku akan berusaha sekuat tenaga, meski aku ada janji dengan Bu-bing Loni untuk tidak mencampuri urusan dunia tapi kau telah menolong jiwaku, tidak bisa tidak aku harus membalas budi ini, sampai pada waktunya tentu dapat dibereskan dengan sempurna.”
Girang hati Thian-hi, lekas-lekas ia nyatakan banyak terima kasih kepada Giok-yap Cinjin, pikirnya dengan keagungan Giok-yap Cinjin bila ia mau sedikit membela dan bicara demi kebersihannya maka segala urusan tentu dapat dibikin terang.
Tengah ia kegirangan, mendadak terdengar langkah kaki yang sangat lirih di luar pintu, bercekat hati Thian-hi, waktu ia pandang wajah Giok-yap agaknya ia tidak mendengar, maklum karena kesehatan Giok-yap belum sembuh seluruhnya, mana mungkin dengar suara yang begitu lirih.
Cepat ia berkata kepada Giok-yap Cinjin, “Apakah Cianpwe mendengar suara langkah di luar? Ada orang tengah mencuri dengar pembicaraan kita!”
Berubah air muka Giok-yap, katanya, “Tentu Mo-bin Suseng adanya!”
Mendengar akan Mo-bin Suseng Thian-hi juga terkejut, sebat sekali ia bergerak melesat keluar, maksudnya hendak meringkus Mo-bin Suseng. Terdengar olehnya lapat-lapat suara derap langkah yang ringan dan lirih berlari ke depan sana. Begitu mendengar jelas suara langkah itu bergolak darah dalam rongga dadanya, sambil menghardik keras, “Lari kemana!” tubuhnya melesat seperti anak panah mengejar ke depan.
Setelah membelok tiga tikungan pandangan di depan menjadi jelas kiranya itulah seekor kucing hitam mulus. Thian-hi tertegun sebentar, hatinya lantas mengeluh, “Celaka! Giok-yap masih belum mampu bergerak, terang aku terpancing meninggalkan sarang,” karena pikirannya ini cepat-cepat ia berlari balik.
Begitu ia melangkah di ambang pintu seketika ia berdiri kesima di depan pintu. Giok-yap Cinjin tetap duduk di tempatnya tak bergerak, namun dadanya bertambah sebilah badik dengan digenangi darah segar, jelas itulah Badik buntung yang menghunjam di dadanya.
Kepala Thian-hi laksana dipukul godam, pikirannya menjadi kosong, segala harapan semula sekarang menjadi lenyap seperti gelembung air, tak perlu disangsikan lagi tentu inilah buah karya Mo-bin Suseng yang culas dan banyak muslihatnya itu.
Entah berapa lama ia menjublek di tempatnya, mendadak didengarnya derap langkah orang banyak. Walaupun Giok-yap Cinjin bukan mati oleh tangan Hun Thian-hi, namun sanubarinya dirundung suatu perasaan yang susah diraba takutnya, siapapun bila melihat ia hadir disini tentu akan curiga bahwa dialah yang telah membunuh Giok-yap Cinjin.
Dengan gelisah Thian-hi celingukan ke kanan kirinya, baru saja ia hendak lari ke kamar lain mendadak teringat akan Badik buntung, kalau Badik buntung tertublas di dada Giok-yap sedang umum tahu bahwa Badik buntung adalah miliknya, orang lain takkan mau percaya bahwa Badik buntung pernah direbut oleh Gwat Long dan Sing Poh karena tiada bukti, sekarang….
Lekas-lekas ia berlari masuk ke dalam ruang samadi, baru saja ia menarik Badik buntung dari dada Giok-yap Cinjin dan berputar, pintu kamar sudah penuh dihadang oleh anak murid Bu-tong-pay, terang Thian-hi tak punya jalan untuk meloloskan diri….
Sungguh Thian-hi tak berani membayangkan, sambil menggerung seperti singa mengaum ia kiblatkan Badik buntung terus menerjang ke arah pintu.
Tapi para penghadang itu adalah Sam-lo-chit-cu, merupakan tokoh-tokoh yang paling diandalkan oleh pihak Bu-tong-pay, mana mungkin mereka mau membiarkan dirinya melarikau diri?
Serempak Sam-lo-chit-cu melolos pedang, terus bergerak saling melintang melancarkan serangan gabungan yang dahsyat perbawanya, Thian-hi terdesak mundur ke dalam kamar semadi lagi.
Thian-hi menggertak, yang terpikir dalam otaknya hanya melarikan diri, sedikitpun tidak terpikir olehnya akibat dari peristiwa hebat ini. Dimana Badik buntung berkelebat dengan jurus Gelombang perak mengalun berderai ia merabu para musuhnya sehingga Sam-lo-chit-cu terdesak mundur oleh tabiran cahaya hijau pupus yang dingin dan tajam sekali.
Sam-lo-chit-cu merupakan tokoh-tokoh kosen yang berkepandaian tinggi, mereka insaf setiap jurus serangan Thian-hi pasti adalah jurus-jurus ganas yang membahayakan, maka sebat sekali mereka bergerak bersama, sepuluh orang sepuluh batang pedang berbareng melancarkan jurus gabungan Coan-liu-gak-lik, memang dahsyat sekali perbawa tenaga gabungan ilmu pedang ini, betapapun lihay dan hebat serangan Thian-hi tak urung ia terdesak balik oleh daya perlawanan yang kuat dari tenaga musuh.
Sekali gebrak saja lantas terdesak mundur, namun segala akibat dan sesuatunya sudah tak terpikirkan lagi oleh Thian-hi, begitu mundur ia menyerbu maju lagi, kini ia lancarkan jurus Tam-lian-hun-in-hap dari Gin-ho-sam-sek kedua.
Jurus kedua ini berlipat ganda lebih dahsyat dan hebat perbawanya, Sam-lo-chit-cu terpaksa harus menyurut mundur, Thian-hi berkesempatan menerobos lewat keluar pintu, begitu sampai diluar Sam-lo-chit-cu sudah berbaris membentuk sebuah barisan mengepung dan menghadang jalan lari Thian-hi.
Thian-hi insaf jalan satu-satunya baginya hanyalah menggunakan kekerasan, maka begitu bergerak langsung ia mengerahkan sekuat tenaga merangsak musuh. Tampak Sam-lo-chit-cu berpencar dan secepat kilat bergabung maju pula, tetap mereka mengepung Thian-hi di tengah.
Thian-hi sudah berusaha mengerahkan tenaga dan mengembangkan ilmu pedangnya mengandal ketajaman Badik buntung, namun setiap serangannya selalu kandas, ia terpaksa harus membela diri melulu.
Untung kedua jurus Gin-ho-sam-sek yang dilatihnya itu merupakan ilmu pedang tingkat tinggi yang sudah diapalkan diluar kepala, untuk membela diri jauh masih berkelebihan.
Sekejap saja lima puluh jurus sudah berlalu, dari atas gunung tampak berlari-lari mendatangi dua sosok bayangan. Dilain kejap begitu kedua orang ini tiba Sam-lo-chit-cu segera menarik serangan, pedang melintang di depan dada. Berpikirpun tidak, begitu melihat Sam-lo-chit-cu menghentikan aksinya sebat sekali Thian-hi melejit tinggi terus terbang ke depan menuju bawah gunung.
Sambil menarik muka kedua pendatang itu terus mengejar ke depan, masing-masing mengulur telapak tangan memukul ke arah Thian-hi.
Begitu melihat gaya serangan kedua orang ini, Thian-hi lantas berteriak kejut, “Gwat Long Sing Poh!” — setelah berteriak ia angkat kepala mengawasi kedua orang ini dengan seksama. Kiranya Gwat Long dan Sing Poh adalah pemuda remaja yang berusia 20-an, mengenakan jubah Tosu warna hijau, punggung masing-masing menyandang pedang panjang, biji matanya tanpa expresi mengawasi Hun Thian-hi tanpa berkedip.
Walau usia Gwat Long dan Sing Poh masih muda, namun mereka adalah murid langsung dari Giok-yap Cinjin, mereka berdua saja yang menjadi keturunan dari ilmu Siau-yang-sin-kang, maka begitu mereka unjuk diri, Sam-lo-chit-cu harus memberi muka dan mengalah kepada mereka.
Memandang Gwat Long Sing Poh, Hun Thian-hi menjengek dingin, “Cara bagaimana kematian Suhu kalian, kukira kalian berdua sudah tahu, kiranya tak perlu aku Hun Thian-hi banyak mulut. Sekarang kalian mencari perkara kepada aku, sungguh aku ikut penasaran akan kematian beliau.”
Gwat Long dan Sing Poh bungkam seribu basa, Sam-lo-chit-cu mendengus ejek, Gwat Long dan Sing Poh angkat kepala, pelan-pelan menggapai tangan, serempak Sam-lo-chit-cu menyerbu lagi.
Thian-hi bergelak tawa saking murka, Badik buntungnya berkelebat menyerang kepada Sam-lo. Gwat Long dan Sing Poh saling pandang sekilas, mereka mencabut pedang masing-masing terus berkelebat memasuki gelanggang memapas dan menusuk kepada Thian-hi.
Sambil kertak gigi Hun Thian-hi ayun Badik buntungnya untuk melawan keroyokan musuh, tapi Gwat Long dan Sing Poh adalah murid didik langsung dari Giok-yap Cinjin sejak masih kecil,
Bu-tong-pay merupakan aliran murni dari golongan Lwekeh, sejak kecil mereka sudah diberi kepandaian dasar yang kokoh kuat sudah tentu hasilnya sangat mengagumkan.
Melihat cara tempur Hun Thian-hi yang nekad dan tanpa gentar sedikitpun berbareng mereka memutar pedang dan menyampok kesamping,  dengan rangsekan berbareng dari dua jurusan ini Badik Hun Thian-hi kena dituntun miring kesamping, kesempatan ini digunakan Sam-lo-chit-cu mengacungkan pedang menusuk dan membacok bersama dari berbagai penjuru.
Jidat Thian-hi sudah basah oleh air keringat, terdengar ia menggembor keras, tanpa disadari ia mengembangkan ilmu ringan tubuh yang pernah dilihatnya dari si tua Pelita dalam rimba tempo hari, keadaan waktu itu sangat berkesan dalam benaknya, sekarang dalam keadaan genting dia kembangkan, laksana ikan berenang selicin belut ia bergoyang gontai bergerak lolos dari rangsekan pedang Sam-lo-chit-cu.
Thian-hi sendiri menjadi tercengang melihat hasil perkembangan ilmu ringan tubuhnya yang dapat ditirunya dari kepandaian Situa Pelita, bahkan girang melihat dirinya bakal lolos dari kepungan Sam-lo-chit-cu gerak-geriknya menjadi sedikit lamban, tampak selarik sinar pedang berkelebat tahu2 lengan kirinya sudah tergores luka panjang dan mengeluarkan darah deras.
Saking kesakitan Thian-hi sampai mengeluh panjang, cepat2 ia kiblatkan Badik buntung melancarkan jurus kedua dari Gin-ho-sam-sek untuk membendung serangan susulan pihak musuh. Dari menyelang ia sekarang menjadi pihak yang bertahan, meski terasa tekanan tenaga dari berbagai penjuru sangat berat, tapi dalam waktu dekat ia masih kuat bertahan.
Melihat serbuan gabungan ilmu pedang mereka tak berhasil membobol pertahanan Thian-hi, Gwat Long dan Sing Poh menjadi sengit. Mendadak mereka membalikkan pedang, serempak melancarkan ilmu simpanan pihak Bu-tong-pay yang dinamakan Cian-si-bi-ciu, dua batang pedang mereka berputar memetakan cahaya terang benderang menerangi gelanggang, seluruh kekuatan telah dikerahkan    untuk melancarkan serangan ini.
Se-konyong2 Thian-hi merasa tekanan dari empat penjuru bertambah berat, luka lengan kirinya mengalirkan darah lagi, insaf ia kalau pertempuran berlangsung terus tentu dirinya susah buat bertahan, paling lama juga hanya kuat bertahan setengah jam.
Lama kelamaan kepalanya terasa berat, matanya ber-kunang2 dan kabur, sekuatnya ia masih lancar-kan jurus2 ilmu Gin-ho-sam-sek untuk berlindung dan membela diri.
Mendadak samar2 terdengar olehnya teriakan kaget dan takut, Gwat Long dan Sing Poh, berbareng terasa tekanan serangan mereka mengendor. Kuat2 Thian-hi menggelengkan kepala, sebuah keajaiban tiba2 membuat semangatnya tersentak bangun dari kepalanya. Namun dilain saat Thian-hi sendiri juga menjadi melongo, karena terlihat olehnya Giok-yap Cinjin tengah berdiri tegak dikaki tembok sebelah dalam sana. Sekilas Thian-hi menjadi sadar bahwa entah tokoh siapa yang telah berusaha menolong dirinya. untuk menerjang keluar dari kepungan, sebat sekali ia melambung tinggi terbang kebawah gunung.
Sambil menggertak Sam-lo-chit-cu menggerakkan pedang menusuk dan membabat. gesit sekali Thian-hi menggeliat ditengah udara tubuhnya terus meluncur kedepan, serangan bersama Sam-lo-chit-cu mengenai tempat kosong. Terdengar Gwat Long dan Sing Poh menghardik keras. berbareng mereka melejit mengejar sambil menyerang dari jarak jauh.
Thian-hi berusaha untuk mengegos, namun gerak geriknya sudah rada lamban, kontan pundak kirinya kena dijotos lagi oleh musuh, seketika ia rasakan seluruh lengan kirinya seperti dipanggang diatas bara, begitu kakinya menyentuh tanah segera ia kembangkan ilmu ringan tubuh dan berlari sipat kuping kebawah gunung.
Entah sudah berapa lama dan berapa jauh ia berlari, cara bagaimana pula ia berhasil menghindarkan diri dari kejaran Gwat Long dan Sing Poh, tak diketahui pula olehnya kapan ia telah jatuh pingsan dan tak sadarkan diri lagi.
Waktu Thian-hi membuka mata terasa mukanya dingin, terlihat Hwesio jenaka tengah berdiri dihadapannya sembari cengar-cengir kepadanya.
Thian-hi merasa badannya sedikit segar, ter-sipu2 ia berusaha bangkit berduduk, segera Hwesio jenaka mencegahnya katanya tertawa, “Kesehatanmu belum pulih, jangan kesusu bangun!”
Memang Thian-hi merasa kaki tangannya lemas tak bertenaga, dengan lirih ia menyapa, “Siausuhu, hari ini aku tertolong pula oleh kau, sungguh tak ahu cara bagaimana aku harus membalas kebaikanmu ini.”
Hwesio jenaka masih cengar-cengir tanpa bicara, rada lama kemudian baru ia buka bicara, “Urusan yang kau kerjakan kali ini sungguh sangat menggemparkan. Kau tertuduh membunuh Giok-yap Cinjin, apakah kau kuat memikul dosa berat ini? Jangan kata orang luar, mungkin gurumu sendiri pun takkan berani buka bicara untuk membela kau lagi.”
Thian-hi maklum apa yang dikatakan itu memang kenyataan, ia menghela napas an bungkam seribu bahasa. Sesaat kemudian tiba2 ia bertanya, “Kenapa Siau-suhu bisa disini? Bagaimana pula kau tahu bahwa Giok-yap Cinjin bukan aku yang membunuhnya?”
Wajah Hwesio jenaka lantas mengunjuk rasa sedih dan rawan, ia berputar menghadap kejurusan lain, sejenak kemudian ia berpaling serta berkata dengan tersenyum, “Jangan kau berpikir terlalu jauh, aku mendengar kabar bahwa Mo-bin Suseng hendak mencelakai kau, waktu aku menyusul tiba tapi sudah terlambat!”
Bergegas Thian-hi bangun berduduk, tanyanya cepat, “Dimana Siau-suhu mendengar kabar ini?”
Hwesio jenaka menyengir, jawabnya, “Bukan aku tidak mau memberitahu, sebetulnya tak guna mengetahui hal itu.”
Thian-hi dirundung rasa cemas dan curiga, pelan2 ia merajap bangun menggelendot dibatang pohon, dengan seksama ia menatap Hwesio jenaka, pikirnya, “Darimana ia tahu? Mungkinkah……….”
Tampak Hwesio jenaka tetap berseri tawa tanpa menunjukkan sesuatu keganjilan.
Akhirnya Thian-hi menghela napas, ujarnya, “Siau-suhu! Aku memikul dendam kesumat sedalam lautan, kalau Siausuhu suka memberi petunjuk sehingga aku dapat menuntut balas, Siau-suhu minta apapun terhadap aku tentu dapat kulaksanakan.”
Hwesio jenaka tertawa lebar, katanya:, “Apa yang kutahu saat ini bila kuberitahu kepada kau hanya akan mengagetkan pihak musuh saja, malah mungkin membawa bencana bagi kau.”
Thian-hi menerawang sebentar, lalu katanya, “Apakah Siau-suhu anggap sepak terjangku terlalu gegabah?”
Kata Hwesio jenaka tertawa lebar, “Sekarang kau lebih baik pergi ke Siau-lim-si, berusaha mendapat bantuan dari Thian-cwan Taysu, kalau beliau yang tampil kedepan mungkin dapat menghapus penasaranmu, Sampai saatnya nanti boleh kau bicara perihal yang lain, karena saat ini kau terancam bahaja dan sulit berdiri dikalangan Kangouw.”
Terkancing mulut Thian-hi, memang kenyataan apa yang dikatakan itu. Mungkin Thian-cwan Taysu belum tentu mau membantu, beliau tidak tahu duduk perkara sebenarnya, bagaimana mungkin beliau mau membantu secara semberono?
Melihat kesangsian Thian-hi, Hwesio jenaka berkata lagi, “Selain jalan ini tidak ada cara lain untuk mengatasi kesukaranmu ini”.
Thian-hi merenung sekian lama, hatinya gundah dan bingung, memang selain jalan itu tiada cara penyelesaian lain yang lebih sempurna.
Kata Hwesio jenaka, “Kalau kau sudi aku bisa menunjukkan jalan, sepanjang jalan ini kutanggung tidak akan ada orang yang mencegat, dan tanpa rintangan kau dapat menghadap kepada Thian-cwan Taysu. Tapi persoalan lain aku tak berdaja lagi.”
Ter-sipu2 Thian-hi menyatakan banyak terima kasih. Saat itu juga segera mereka berangkat menuju ke Siau-lim-si.
Mereka menempuh perjalanan dengan gerak cepat, tak terasa lima hari sudah berlalu, luka Thian-hi sudah mulai sembuh, hari itu mereka sudah tiba dibawah kaki Siong-san. Berjalan didepan Hwesio jenaka membawa Thian-hi berlari naik keatas melalui jalan yang ber-liku2, tak lama kemudian jauh diatas tebing terlihat tembok warna merah.
Tak terasa hati Thian-hi menjadi berdebar dan tegang, dengan memikul dosa yang tak terampun ia hendak menghadap Thian-cwan Taysu, tak tahu bagaimana Thian-cwan Taysu bakal menghadapi dirinya nanti.
Hwesio jenaka terus membawa Thian-hi maju kedepan, secara sembunyi2 mereka melompati tembok merah, serta maju terus kedepan sambil berjalan merunduk. Tampak para hwesio penjaga berlalu lalang meronda. Agaknya Hwesio jenaka seperti apal betul dengan keadaan didalam kelenteng besar Siau-lim-si ini, selalu ia mencari jalan yang penuh ditumbuhi pepohonan lebat dan rimbun.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai diambang sebuah hutan bambu, dengan jari telunjuk Hwesio jenaka memberi isyarat supaya Thian-hi masuk kedalam hutan bambu itu. Girang hati Thian-hi, segera ia mencelat melesat menuju kehutan bambu itu, sayang gerak geriknya rada kasar sehingga menyentuh dedaunan dan mengeluarkan suara keresekan. Keruan Hwesio jenaka kaget sekali, cepat ia celingukan kekanan kiri, tampak olehnya seorang hwesio muda tengah beranjak maju kearah tempat sembunyi Thian-hi.
Hwesio jenaka menjadi gugup dan gelisah, namun dia sendiripun tidak boleh mengunjukkan diri, terpaksa sembunyi tanpa berani bergerak, terserah kepada nasib Thian-hi bagaimana.
Meski Thian-hi mendekam tanpa bergerak, namun tempat sembunyinya sudah korangan, mana mungkin ia dapat mengumpat lagi. Sementara itu hwesio muda itu sudah semakin dekat ketempat sembunyi Thian-hi.
Waktu Hwesio jenaka melihat tegas wajah hwesio muda itu, hatinya bercekat, kiranya hwesio muda ini tak lain tak bukan adalah murid Ciangbunjin Siau-lim-si Te-kik Taysu, yaitu Ti-hay.
Thian-hi juga mendengar derap langkah orang yang tengah mendatangi kearah dirinya, tapi ia tak berani bergerak, besar harapannya hwesio muda ini hanya salah dengar dan menuju ketempat lain.
Kira2 tiga tomtaak dari jarak tempat sembunyi Thian-hi Ti-hay menghentikan langkahnya. pelan2 ia buka bicara, “Siapakah itu? Kalau berani berkunjung ke Siau-lim-si, kenapa main sembunyi segala?”
Thian-hi tahu tak mungkin main sembunyi lagi, dilihatnya hutan bambu itu berjarak tiga lima tombak jauhnya dari tempat sembunyinya, mungkin sekali lompat saja bisa sampai, kalau bisa berjumpa dengan Thian-cwan Taysu, maka tidak sia2lah perjalanan jauh ini.
Melihat orang yang sembunyi dibalik rumpun pohon tidak bergerak dan menunjukkan reaksi, gesit
sekali Ti-hay bergerak maju, tubuhnya melayang ringan menubruk ketempat sembunyi Thian-hi.
Tepat pada saat itu juga, Thian-hi menjejakkan kedua kakinya meleset kearah hutan bambu.
Melihat orang buruannya sudah muncul lekas2 Ti-hay berse-ru, “Sicu harap berhenti!” mulut berkata gerak kakinya begitu cepat, tubuhnya meluncur kedepan mengejar kearah Thian-hi,    kedua jari dirangkapkan langsung menutuk kejalan darah dipungung Thian-hi.
Sejengkal lagi Thian-hi bakal mencapai hutan bambu, namun tutukan Ti-hay sudah hampir mengenai jalan darah dipunggung, terpaksa ia membalikan tangan kanan mengayun Badik buntung, selarik sinar hijau yang tajam dan dingin memapas kepergelangan tangan Ti-hay.
“Badik buntung?” teriak Ti-hay dengan kaget, cepat2 ia tarik tangan kanan serta mendegus gusar, sebat sekali tangan kanan sudah membalik maju lagi telapak tangan terpentang menjojoh kedepan mengandung tenaga Ciang-mo-sin-kang, yang diarah punggung Thian-hi lagi..
Melihat Ti-hay melancarkan pukulan yang lebih hebat, sementara tubuh Thian-hi sudah mencelat mumbul sampai diujung sepucuk bambu, terpaksa ia gunakan Badik buntung untuk menangkis kearah pukulan telapak tangan Ti-hay.
Tenaga pukulan Ciang-mo-sin-kang sungguh bukan olah2 hebatnya, kontan Badik buntung kena tergetar lepas dari cekalan Thian-hi. Maklum Thian-hi baru sembuh dari luka2nya setelah beradu pukulan dengan Sian-thian-cin-gi pihak Bu-tong-pay, seketika tenaga pukulan Ciang-mo-sin-kang merembes masuk ke lengan kanannya dan terus menerjang jantung, sesaat dadanya menjadi sesak, tak kuasa lagi mulutnya lantas menyemburkan darah segar.
Sementara tubuh Thian-hi melayang jumpalitan kedalam hutan bambu. Ti-hay tak berani sembarangan mengejar kedalam, cepat2 ia melompat turun dan menerobas masuk dari jalan yang menumpuh kedalam hutan bambu itu.
Sekuatnya Thian-hi mengempos tenaga untuk memusatkan semangat, waktu ia menggelinding jatuh ditanah, samar2 terlihat dalam pandangan matanya seorang Hwesio tua duduk bersila tiga tombak didepan sana. Susah payah ia merangkak maju serta sembahnya tergagap, “Wanpwe Hun Thian-hi menghadap Thian-cwan Taysu.” habis kata2nya, iapun jatuh pingsan.
Waktu Ti-hay juga memburu masuk kedalam hutan bambu tampak Thian-hi sudah menggeletak tak berkutik di tanah, ter-sipu2 ia merangkap tangan memberi hormat dan bersabda, “Thian-cwan Supek, entah untuk apa orang ini menyelundup ke Siau-lim-si. Harap Supek memberi ijin untuk kubawa keluar!”
Thian-cwan Taysu membuka mata sejenak ia menatap Hun Thian-hi lalu katanya, “Dia berkata hendak mencari aku, entah ada urusan apa. Bila Sutit berkenan bisakah kutanyakan dulu beberapa patah kata?”
Cepat Ti-hay menjawab, “Kalau Supek hendak bertanya kepadanya baiklah Sutit mengundurkan diri dulu. Tapi orang ini membekal Badik buntung, pernah membunuh banyak orang di kalangan Kangouw, kabar yang terakhir malah katanya telah membunuh Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cinjin, betapapun Supek harus hati2, jangan sampai tertipu oleh obrolannya.”
Thian-cwan Taysu tampak terkejut, setelah terpekur sebentar ia berkata, “Giok-yap Cinjin bisa mati di tangannya ?” — nadanya penuh tanda tanya dan hampir tak percaya.
Sahut Ti-hay, “Sutit pun hanya mendengar kabar saja bagaimana duduk perkara sebetulnya Sutitpun tidak tahu?”
Thian-cwan Taysu manggut2, ujarnya, “Dia datang ingin bertemu dengan aku, maka aku harus mencari tahu kepadanya. Kuduga urusan ini terselip latar belakang yang sulit diraba, apalagi mungkin hanya dia seorang saja yang tahu segala seluk beluknya.”
Ti-hay merangkap tangan didepan dada, serta berkata, “Sulit sementara mengundurkan diri saja.”
Thian-cwan manggut. Cepat2 Ti-hay membungkuk badan terus mundur keluar.
Sekian lama Thian-cwan Taysu ter-mangu2, baru pelan2 bangkit menghampiri Thian-hi, diulurkan sebelah tangannya menekan nadi pergelangan tangan Thian-hi. Lalu diangkatnya diletakkan disamping tempat duduknya, dengan jari jemarinya pelan2 ia mengurut jalan darah Thian-hi.
Tak lama kemudian dalam keadaan sadar setengah sadar Thian-hi merasa segulung hawa hangat menjalar kencang menyusup ke seluruh tubuhnya. Setiap jari Thian-cwan Taysu mengurut, hawa murni dalam tubuhnya serasa bergetar, dan tertuntun oleh hawa hangat tadi serta ikut berputar dan melandai kesegala jalan darah di seluruh tubuhnya.
Waktu Thian-hi membuka mata, dilihatnya disamping duduk seorang Hwesio tua berjenggot dan beralis putih, tahu dia mesti beliau inilah Thian-cwan Taysu adanya, bergegas ia bangun serta katanya, “Terima kasih akan pertolongan Taysu!”
Thian-cwan Tausy menggoyang tangan per-lahan2, “Siausicu tak usah banyak peradatan. Siausicu mencari aku entah ada urusan apa?”
Thian-hi segera menyembah serta serunya, “Tecu Hun Thian-hi tersangkut bencana yang penasaran harap Taysu suka membantu mencuci bersih nama baik Wanpwe.”
“Coba kau ceritakan dulu persoalan apakah itu?”
“Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cinjin tentu Taysu sudah kenal.” demikian Thian-hi mulai dengan ceritanya, “Beberapa waktu yang lalu beliau telah terbunuh secara gelap oleh musuh. Tapi seluruh tokoh2 silat dikolong langit ini semua menuduh adalah buah karya Wanpwe. Andai kata harus berkorban aku Hun Thian-hi takkan menyesal, tapi apakah kita harus membiarkan pembunuh durjana itu ongkang2 kaki dan berpeluk tangan, betapapun aku rada penasaran.”
“Hal ini baru saja kudengar beberapa waktu yang lalu,” begitulah Thian-cwan bertanya, “sebetulnya bagaimana duduk perkara sebenarnya, coba kau ceritakan.”
Per-lahan2 Thian-hi menutur pengalaman sejak dirinya berpisah dengan Suhunya Kongsun Hong secara ringkas. dan jelas.
Setelah selesai mendengar cerita Thian-hi, Thian-cwan Taysu pejamkan mata terpekur dalam pikirannya, akhirnya ia berkata, “Meski apa yang kau uraikan sangat beralasan, tapi aku tak bisa dengar kata sepihak saja, kalau menurut apa yang kau katakan kau memang seorang yang tak berdosa, atau sebaliknya kau adalah seorang durjana yang keliwat batas.”
Thian-hi menghirup hawa, desaknya, “Taysu merupakan tokoh teragung dalam dunia persilatan, perkara ini tentu bisa tercakup dalam genggaman Taysu seorang, memang Taysu tak bisa mendengar kata sepihak dari saja. Sebaliknya kalau Gwat Long dan Sing Poh tidak mau bicara sejujurnya, selanjutnya aku mesti tenggelam semakin dalam dan tak mungkin membongkar rahasia pembunuhan gelap yang misterius itu.”
Thian-cwan harus hati2 dan tenggelam dalam pikirannya lagi, katanya, “Dulu aku pernah berjanji dengan Bu-bing Loni untuk tidak turut campur urusan Kangouw, tapi Giok-yap adalah sahabat tuaku, urusannya menjadi urusanku juga, kalau kau sudi menetap dan tinggal disini selama seratus hari, supaya memberi peluang dan kesempatan aku untuk menyirapi dan menyelidiki peristiwa ini, tentu aku dapat memberikan kepastian dan keputusan, apakah kau bisa?”
Thian-hi juga ragu2, akhirnya ia berkata, “Taysupun sudah tahu, bahwa Soat-san-su-gou punya perjanjian selama setahun dengan Bu-bing Loni, jangka waktu itu sudah habis seratusan hari, kalau aku tinggal lagi disini selama seratus hari, sisa hari2 selanjutnya tidak banyak untuk menempuh segala usahaku, bagaimana enak perasaanku terhadap Soat-san-su-gou berempat Cianpwe?”
Thian-cwan Taysu menjadi bungkam, sebentar kemudian ia berkata, “Kau mementingkan persoalan itu aku pun tak bisa menyalahkan kau. Tapi dalam keadaan gawat begini apakah kau mampu dan bisa menempuh perjalanan ke Tiang-pek-san?”
Thian-hi berdesah dengan rawan, “Soat-san-su-gou berempat Cianpwe wafat karena aku, masa untuk mencoba saja aku tidak sudi?”
Thian-cwan menghela napas, ujarnya, “Maksud Soat-san-su-gou memang baik. Tapi masa mereka tahu kalau ilmu silat Ce-han-it-ki dan Ciang-ho-it-koay dapat menandingi Bu-bing Loni?”
Thian-hi terlongong2, ia tunduk dan tak kuasa bicara.
Kata Thian-cwan Taysu pelan2, “Saat ini sudah tentu siapapun tidak tahu, bukan saja mereka berdua, dulu situa Pelita pun menyangka Go-cu Taiysu bisa menandingi Bu-bing- Loni, tapi menurut hematku, belum tentu demikian.”
Thian-hi melengak dengan rasa tak percaya, tanyanya, “Apakah Bu-bing Loni betul2 tiada tandingan diseluruh kolong langit ini?”
Thian-cwan Taysu geleng2 kepala, jawabnya, “Untuk hal ini siapapun tak berani memastikan namun untuk saat ini aku sendiri juga sangsi dan belum tahu ada tokoh mana yang mampu dan kuat menandingi Bu-bing Loni.”
Thian-hi terlongong bungkam.
Thian_cwan Taysu melanjutkan, “Kalau kau mau menghimpas sakit hatimu, tiada halangan kau menetap disini selama seratus hari. tapi aku pun tidak memaksa kau, kalau tekadmu hendak pergi ke Tiang-pek-san, boleh silakan kau berangkat!”
Thian-hi angkat kepala memandang kearah Thian-cwan Taysu.
Thian-cwan Taysu tahu maksud Thian-hi, sesaat ia menatap wajah orang lalu katanya, “Aku akan suruh mereka melepas kau pergi.”
Thian-hi tertunduk lagi, katanya, “Terima kasih akan kebaikan Taysu, sekarang juga Hun Thian-hi mohon diri!”
“Siau_sicu,” ujar Thian-cwan menghela napas, “Sesat dan lurus hanya terpikir dalam kilasan otak manusia, Sicu berteksd berkecimpung di Kangouw, sungguh Hwesio tua ini merasa kagum. Sebelum berangkat ingin aku memberi sedikit bekal kepadamu, hanya bersabar dan berlaku bijaksanalah baru akan tercapai cita2mu tanpa me-nyia2kan harapan orang banyak.”
Thian-hi terlongong sebentar lalu menyembah tiga kali kepada Thian-cwan Taysu, setelah menjemput Badik buntung terus mengundurkan diri.
Terdengar Thian-cwan Taysu berseru keluar, “Ti-hay!”
Tampak Ti-hay beranjak masuk dari luar hutan. Segera Thian-cwan Taysu memberi perintah, “Hantarkan Hun-sicu keluar!”
Ti-hay tertegun, tanyanya, “Supek, mengantar dia keluar?”
“Ada urusan baru dia mencari aku,” demikian Thian_cwan menjelaskan, “Hakikatnya tiada berniat jahat, selamanya Siau-lim kita jarang turut campur urusan Kangouw, untuk urusan ini kita pun harus dapat membedakan siapa salah dan benar!”
Ti-hay lantas membungkuk tubuh dan mundur. Hun Thian-hi mengintil dibelakang Ti-hay keluar dari hutan bambu terus keluar dari lingkungan biara Siau-lim.
Setelah sampai diluar pintu, segera Ti-hay merangkap tangan serta katanya, “Hun-sicu, maaf Siauceng tidak mengantar lebih jauh lagi..”
Ter-sipu2 Hun Thian-hi menjura serta katanya, “Banyak terima kasih kepada Siausuhu.”
Ti-hay lantas membalik tubuh dan masuk kembali. Thian-hi menghirup napas lega, sejenak ia celingukan keempat penjuru, sekelilingnya sepi tanpa kelihatan bayangan seorangpun, dengan perasaan hampa dan kosong per-lahan2 ia berjalan turun gunung, hatinya tengah menerawang wejangan yang diberikan oleh Thian-cwan Taysu tadi.
Sambil berjalan turun gunung, otak Thian_hi berputar, “Apakah benar Bu_bing Loni tanpa tandingan diseluruh dunia? Menurut kata Thian-cwan Taysu Ce-han-it-ki dan Ciang_ho-it_koay dari Tiang-pek-san belum mampu menandingi Bu-bing Loni, tapi itu kan penilaian masa lalu, siapa tahu sekarang? Begitulah berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, namun ia masih bertekad hendak menuju ke Tiang-pek-san.
Baru saja Thian-hi tiba dikaki gunung dan beranjak dijalan raja, dari kejauhan lantas terlihat Thian-mo-kiam Liong Lui memimpin sebarisan anak buahnya dari Partai Merah tengah membedal tunggangannya menuju kearah dirinya.
Lekas2 Thian-hi berlari menyingkir, untung Liong Lui dan anak buahnya tidak melihat dirinya. Sedang Liong Lui dan kawan2 seperti punya kerja penting terus membedal lewat dengan kencang.
Setelah rombongan Liong Lui pergi jauh baru Thian-hi melongok keluar. Mendadak seekor kuda mencongklang mendatangi secepat terbang, untuk sembunyi sudah tak sempat lagi, sudah tentu Thian-hi menjadi kaget, waktu ditegasi pendatang itu bukan lain adalah putri Ciok Hou-bu itu majikan Hwi-cwan-po yaitu Ciok Yan adanya.
Melihat Hun Thian-hi cepat2 Ciok Yan melompat turun. Thian-hi mundur dua langkah mengawasinya dengan mendelong.
Ciok Yan berdesah, katanya, “Dimanakah Bun-pangcu sekarang?”
Kiranya orang bukan mencari dirinya dengan heran Thian-hi menggeleng kepala.
Melihat jawaban Thian-hi, Ciok Yan membanting kaki, cepat2 ia melompat naik keatas tunggangannya terus dibedal kedepan dengan kencang.
Thian-hi menjublek ditempatnya mengantar bayangan Ciok Yan yang semakin jauh, rada lama kemudian baru ia sadar dan tertawa geli sendiri akan kebodohan dirinya, diam2 ia memaki kenapa hubungan asmara antar muda mudi saja tidak dapat dirabanya.
Thian-hi jadi berpikir tentu Ciok Yan ada urusan mencari Bun Cu-giok, gerak-gerik rombongan Liong Lui pun sangat mencurigakan, tentu ada sesuatu hal telah terjadi yang tidak menguntungkan Bun Cu-giok. Sejak dirinya diusir dari perguruan hanya Bun Cu-giok seorang yang menjadi sahabat kentalnya. Entah sejak pulang tempo hari bagaimana pula dengan Partai Putih yang tengah menghadapi berbagai persoalan, bila perlu aku harus menyusul kesana membantu dia..
Ter-sipu2 Thian-hi ber-lari2 menelusuri jalan raja mengejar kedepan mengikuti telapak kaki kuda. Kira2 setengah jam kemudian ia menanjak naik keatas sebuah bukit kecil, baru saja ia sampai diatas bukit terdengar gelak tawa orang yang sudah dikenalnya, serunya, “Ternyata kau berani datang masuk perangkap.”
Waktu Thian-hi menoleh seketika ia melongo, tampak diatas bukti berdiri jajar beberapa orang, mereka bukan lain adalah Ciok Hou-bu majikan Hwi-cwan-po, Tio Hong-ho dan Liong Lui dari Partai Merah dan anak buahnya, yang berdiri paling samping adalah Ciok Yan.
Begitu Thian-hi tiba, segera Ciok Hou-bu bergelak tawa, serunya, “Hun-siauhiap, aku Ciok Hou-bu sungguh kagum akan nyalimu yang besar, berani kau bunuh Giok-yap Cinjin Ciangbunjin Bu-tong-pay, sekarang berani berlenggang kangkung berjalan di jalan raja.”
Berubah air muka Hun Thian-hi, dengan cermat ia bergantian mengawasi tiga orang didepannya, sindirnya, “Sebaliknya akupun merasa kagum akan kesetiaan kawan kalian serta berterima kasih akan kehormatan yang tinggi ini, entah ada keperluan apakah kalian menanti aku disini?”
Ciok Hou-bu ter-kekeh2 tanpa bicara, sebaliknya Tio Hong-ho tertawa kering, serunya, “Memang kita sedang menanti kedatanganmu.”
Sebentar saja otak Thian-hi yang encer sudah dapat menebak, diam2 ia membatin dalam hati; tentu mereka hendak menyebak Bun Cu-giok disini, sungguh goblok justru akulah yang masuk perangkap mereka.
Dari samping Ciok Yan berkata kepada Ciok Hou-bu, “Ajah, Bun Cu-giok tidak akan datang, masa begitu bodoh dia bisa kena pancing.”
“Budak goblok, cerewet!” semprot Ciok Hou-bu gusar.
Thian-hi tahu, kata2 Ciok Yan itu ditujukan kepadanya secara tidak langsung memberi tahu akan maksud tujuan mereka sebenarnya. Sedikit memutar otak cepat2 Thian-hi berlari turun bukit.
Sejak tadi Ciok Hou-bu selalu mengawasi gerak-gerik Thian-hi, begitu ia bergerak sebat sekali iapun sudah mengebutkan mantel abu2nya menyerang kepada Hun Thian-hi.
Sigap sekali Hun Thian-hi sudah mengeluarkan Badik buntung, dimana sinar hijau pupus berkelebat, gesit sekali ia balas menyerang kepada Ciok Hou-bu. Ciok Hou-bu menggerung gusar, terpaksa ia melompat mundur sambil mengegos. Sementara itu Tio Hong-ho dan Liong Lui melejit maju mencegat jalan mundur Thian-hi, serentak pedang dan tongkat mereka bergerak menyerang saling silang dari dua jurusan, pedang membabat pinggang sedang tongkat menyerampang kaki Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi menggertak keras, jurus Gelombang perak mengalun berderai dilancarkan, sekaligus ia punahkan serangan musuh dan merabu maju, terpaksa ketiga lawannya melawan dengan senjata dan ilmu simpanan masing2.
Thian-hi tahu bahwa ketiga seterunya ini bertujuan hendak mencelakai jiwa Bun Cu-giok sekarang Bun Cu-giok belum datang, inilah kesempatan bagi aku untuk memancing pergi mereka bertiga supaya Bun Cu-giok tidak terjebak. Karena pikirannya ini sebat sekali ia melompat jauh dengan gerak ringan tubuhnya yang pesat dan enteng, sekali ia menerobos lewat diantara samberan senjata ketiga lawannya terus berlari kencang ke arah depan Sana.
Badik buntung milik Hun Thian-hi adalah benda pusaka yang selalu diimpikan dan diincar oleh ketiga gembong silat tamak itu. Apalagi Hun Thian-hi memikul dosa dengan tuduhan sebagai pembunuh Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cinjin, siapa saja yang dapat membekuknya bakal terangkat nama dan gengsinya
Sudah tentu ketiga lawannya tidak mau melepasnya begitu saja, dengan kencang serempak mereka mengejar dengan kencang.
Bukan gentar atau gugup sebaliknya Thian-hi malah berlega hati bahwa usahanya ternyata berhasil memancing ketiga musuhnya berkisar dari tempat bukit kecil itu. Dengan demikian maka terlepaslah Bun Cu-giok dari perangkap yang telah mereka rencanakan. Apalagi kepandaian dan kemampuan ketiga lawan ini bila mau cukup dengan bekal kepandaiannya sekarang mudah sekali untuk mengalahkan mereka.
Baru pikiran ini terkilas dalam benaknya, mendadak terdengar derap lari kuda yang berlari pesat sekali, begitu dekat kontan menerjang ke arah Ciok Hou-bu, Tio Hong-ho dan Liong Lui bertiga serta merabu dengan serangan pedang yang ganas.
Waktu Thian-hi berpaling pendatang ini kiranya bukan lain Pangcu Partai Putih Bun Cu-giok si pedang mas cambuk perak.
Berhasil mendesak mundur ketiga lawan baru Bun Cu-giok berkesempatan menoleh kepada Hun Thian-hi, serunya, “Dari mana kau saudara Hun?”
“Bun-pangcu,” teriak Thian-hi,
“kenapa kau ke-mari?
Dari nona Ciok tadi kudengar katanya mereka hendak menjebak kau!”
Tergetar badan Bun Cu-giok, namun sikapnya masih tenang2 dan tertawa, tanyanya, “Saudara Hun hendak kemana kau sekarang?”
Dalam pada itu Ciok Hou-bu sudah menyerbu tiba sambil menggerung gusar, mantelnya menderu menyapu datang. Sementara pedang dan Tongkat Tio Hong-ho serta Liong Lui juga tengah mengancam dari jurusan lain.
Se-olah2 tidak terjadi apa2, seenaknya saja Bun Cu-giok tidak pandang sebelah mata keroyokan para musuhnya. Tampak batang pedang mas berkilau menggetar me-nutul2 sejurus saja sekaligus ia punahkan serangan ketiga lawannya.
Diam2 terperanjat hati Thian-hi, batinnya, “Kepandaian silat Bun Cu-giok ternyata begitu tinggi, kalau tidak mengandal ketajaman senjatanya pusaka mungkin si orang tua jubah merah Pangcu Partai Merah bukan menjadi tandingannya.
Karena ia menonton dengan seksama, pikiran pun tengah melayang sesaat ia menjadi lupa menjawab pertanyaan orang.
Melihat Thian-hi menonton dengan cermat pertempuran satu lawan tiga, diam2 girang hati Bun Cu-giok, sengaja ia ingin pamer kepandaian ilmu pedangnya, sinar pedang berkilatan selulup timbul, beruntun lima jurus ia menyerang mundur musuh ber-ulang2.
Tanya Bun Cu-giok setelah mendesak mundur ketiga musuhnya, “Dikalangan Kangouw tersiar kabar katanya saudara Hun telah membunuh Giok-yap Cinjin, bagaimana duduk perkara sebenarnya apakah saudara Hun sudi beritahu kepada aku?”
Mendadak Hun Thian-hi teringat bahwa guru Bun Cu-giok adalah Sute Giok-yap Cinjin, entah bagaimana pandangannya mengenai persoalan ini, sejenak ia tatap wajah Bun Cu-giok, dilihatnya orang tiada punya maksud buruk, maka segera ia menjawab, “Soal ini tersangkut paut dengan Mo-bin Su-seng (pelajar muka iblis). Apalagi kedua murid Giok-yap Cinjin yaitu Gwat Long dan Sing Poh juga jelas tahu peristiwa itu, Terlalu panjanglah kalau mau diceritakan.”
Setelah mendengar sekedar penjelasan Thian-hi yang singkat itu, Bun Cu-giok angkat alis dan berseru kepada Ciok Hou-bu bertiga, “Apakah kalian masih ingin bertempur?”
Ciok Hou-bu mendengus, jengeknya, “Kita mengundang kau, apa kau tahu apa tujuan kita?”
Bun Cu-giok ter-bahak2 serunya, “Go Ciok kenapa tidak datang?”
Thian-liong-kiam Liong Lui menjengek dingin, “Kita bertiga sudah lebih dari cukup untuk membereskan kau, kenapa harus Pangcu sendiri yang turun tangan?”
Bun Cu-giok menggeram, semprotnya, “Kalian dua golongan menyergap dan memusnahkan Kim-ke-cheng waktu pihak lawan tak bersiaga, kalian sangka urusan lantas beres sampai disitu saja? Gi Ciok sendiri punya sepak terjang tengik seperti bajingan, maka jangan salahkan kalau aku menghukum kalian dulu!”
Ciok Hou-bu tersenyum sinis, katanya, “Bun pangcu seorang gagah yang perwira, aku Ciok Hou-bu benar2 kagum. Urusan harus dibikin beres secepatnya menurut keadilan bagi orang yang cerdik pandai.”
Bun Cu-giok ter-bahak2, serunya, “Ciok-pocu punya cara muslihat apa untuk menundukkan aku, Bun Cu-giok ingin belajar kenal!”
Hun Thian-hi menjublek ditempatnya, dari percakapan ini baru ia tahu bahwa urusan ternyata sudah berkembang begitu jauh   Pihak Kim-ke-cheng sudah musnah begitu gampang dalam waktu singkat. Kenapa? Bukan lain hanya karena sebilah Badik buntung.
Segere Hun Thian-hi menimbrung, “Hanya karena sebilah Badik buntung milikku itu Partai Merah dan Hwi-cwan-po memusnahkan seluruh Kim-ke-cheng, aku Hun Thian-hi betul2 menjadi mati kutu. Tapi Hun Thian-hi ingin minta penjelasan langsung dari Ciok-pocu, mengandal apa Hwi-cwan-po kalian bisa malang melintang didaerah Kanglam?”
Ciok Hou-bu ter-loroh2. Tanpa menanti orang berhenti tertawa.
Bun Cu-giok menyindir dengan seringai sinis, “Ciok Hou-bu, kau hendak menjebak dan mencelakai aku. Lebih baik sekarang kau pulang ke Hwi-cwan-po, coba lihat mungkin sarangmu itu sudah kubumi hanguskan seluruhnya.”
Berubah hebat rona wajah Ciok Hou-bu.
Tio Hong-ho yang berwatak tenang mendengus, bujuknya, “Ciok-pocu, jangan kau percaya dengan obrolannya. Partai putih sedang kepepet dari dua jurusan, diutara oleh Thian-san-ji-long, diselatan ada kita beramai, masa mereka masih punya kekuatan pergi ke Hwi-cwan-po!”
“Apakah begitu gampang seperti uraianmu?” jengek Bun Cu-giok, “Aku kuatir kau hanya mengudal ludah saja.”
Segera Ciok Hou-bu menenangkan hati, bukan mustahil hal itu bisa terjadi, sesaat ia terlongong ditempatnya. Terpikirkan olehnya usaha capek lelah selama puluhan tahun telah lenyap hanya sekejap mata saja betapa tidak sayang dan murung hatinya. Saking gegetun dan gemas ia putar mantel ditangannya terus menyerbu seperti banteng ketaton.
Tampak diujung lirikan mata Bun Cu-giok, Ciok Yan tengah berlari menyingkir sambil menutupi raut mukanya dengan kedua tangan. Hatinya menjadi menyesal dan ragu2, cepat2 ia menarik tali kekang mencongklang kudanya menyingkir dari serangan Ciok Hou-bu ini.
Dengan kalap Ciok Hou-bu menyerbu terus dengan serangan gencar. Tio Hong-ho memburu maju kesamping Ciok Hou-bu dan membisiki, “Saudara Ciok! Kenapa menjadi kalap!”
Tersentak hati Ciok Hou-bu, tergugah semangatnya untuk berpikir secara terang, bukankah obrolan orang belum terbukti kenyataannya, sedang pihak sendiri masih punya tipu muslihat untuk menjebaknya. Karena itu cepat2 ia menyurut mundur, serunya, “Orang she Bun, hari ini kuampuni jiwamu, aku akan kembali memeriksa dulu!” bersama mereka bertiga terus ia membalik dan ber-lari2 meninggalkan gelanggang.
Bun Cu-giok menjengek dingin, matanya menerawang keempat penjuru, batinnya, “Aku Bun Ciok-giok masa bernyali kecil, biar kau mengatur jebakan apapun juga akan kuterjang.” Kudanya segera dikeprak mengejar serunya, “Begitu gampang kalian hendak melarikan diri ?”
Sambil berlari Ciok Hou-bu menolhi dan berteriak, “Gi-pangcu berada didalam lembah didepan sana, apa kau berani kesana?”
Bun Cu-giok ter-kakak2, sudah dalam rekaan hatinya bahwa Gi Ciok memendam diri disana hendak menyergap dirinya, sekarang terbukti kenyataannya. Kudanya dipecut berlari semangkin kencang. Terpaksa Hun Thian-hi juga ikut berlari pesat, teriaknya, “Bun-pangcu hati2 kau!’”
“Legakan hatimu saudara Hun,” teriak Bun-cu-giok sambil tertawa lebar, “Bun Cu-giok tidak gentar menghadapi Thay-i-kiam miliknya itu.”
Sementara itu Ciok Hou-bu bertiga sudah mencapai mulut lembah yang sempit itu, sebat sekali Thian-hi mengerahkan tenaga menjejakkan kaki, tubuhnya melambung tinggi dan meluncur kedepan, ditengah udara ia berteriak, “Ciok-pocu, harap berhenti sebentar.”
Namun Ciok Hou-bu menjawab dengan gelak tawanya, sekejab saja mereka sudah berkelebat hilang  dibalik mulut selat yang sempit itu.
Bun Cu-giok mencongklang kudanya masuk kedalam lemtah yang sempit, kedua lampingnya tinggi dan terjal, baru saja beberapa puluh langkah tiba2 terdengar suara gemuruh seperti gugur gunung, ber-puluh atau beribu batu besar kecil tiba2 berjatuhan dari atas tebing seperti hujan derasnya.
Keruan bukan kepalang kaget Bun Cu-giok dan Thian-hi, sigap sekali Bun Cu-giok melompat turun dari tunggangannya sambil menyeret Thian-hi menyingkir kesamping dan berdiri membelakangi dinding batu yang terjal itu, mereka menjadi repot menghindar dan memukul batu2 yang meluruk keseluruh tubuh mereka. Kira2 setengah jam lamanya hujan batu gunung itu berlangsung sampai mereka kehabisan tenaga, setelah suasana menjadi hening dan terang kembali seluruh lembah sempit itu sudah penuh tertimbun batu dan debu, Thian-hi berdua sudah kepayahan tertimbun setengah badan, dalam waktu dekat mereka tak mampu bergerak dan meloloskan diri dari himpitan batu2.
Tak lama kemudian tampak Ciok Hou-bu bertiga mendatangi. Sambil cengar cengir Ciok Hou-bu bertiga tertawa sinis kegirangan. Maju selangkah gampang sekali Tio Hong ho merebut Badik buntung yang digenggam ditangan Thian-hi. Ada niat Thian-hi hendak melawan apa daja tenaga sudah habis, untuk bergerak saja tak mampu.
Bun Cu-giok menghela napas rawan, katanya kepada Thian-hi, “Saudara Hun! Sungguh aku sangat menyesal.”
Hun Thian-hi tersenyum, ujarnya, “Ah, Bun-pangcu kenapa bicara begitu. Kalau Bun-pangcu tidak menyeret aku tadi siang2 jiwaku ini pasti sudah melayang.”
Setelah dapat merebut Badik buntung, dengan seksama Tio Hong-ho tengah memeriksanya, wajahnya dihiasi senyum kegirangan
Ciok Hou-bu menjadi mendelu, tanyanya rada tak senang, “Tio-tongcu cara bagaimana kau hendak membereskan kedua orang ini ?”
Tio Hong-ho tertawa kering, katanya, “Menurut hemat Pangcu kita untuk memulihkan kekuatan dan pangkalan Thay-i-bun kembali betapapun perlu minta bantuan Hun Thian-hi. Kalau kita meringkusnya dan diserahkan kepada Bu-tong-pay, tentu selanjutnya seluruh kaum Kangouw tidak bersikap bermusuhan lagi dengan Thay-i-bun. Sedang Bun Cu-giok punya permusuhan dengan Ciok-pocu, dia boleh kuserahkan kepada Pocu terserah bagaimana kau hendak membereskan dia.”
Seketika berkobar amarah Ciok Hou-bu, dalam hati ia mengumpat, “Jang menguntungkan kau keruk sendiri, sedang Bun Cu-giok yang bisa menimbulkan bencana kau serahkan kepada aku, apa2an sikap kalian ini!” Dalam hati ia mengumpat namun situasi yang dihadapi ini tak menginjinkan dia pengumbar nafsunya, maka dengan tertawa lebar ia berkata, “Pikiran Pangcu kalian sungguh sangat sempurna, sebaliknya aku Ciok Hou-bu punya pandangan yang rada berbeda.”
Tio Hong-ho tahu kalau Ciok Hou-bu tidak senang akan keputusan tadi, namun urusan sudah ketelanjur sedemikian jauh, bukan mustahil mereka bakal bertengkar sendiri, sekarang Hwi-cwan-po sudah musnah, mengandal kekuatan Partai merah yang tersebar luas di kalangan Kangouw kiranya tak perlu takut menghadapi Ciok Hou-bu.
Terdengar Tio Hong-ho tertawa terkekeh, serunya, “Kalau Ciok-pocu punya pendapat silakan bicarakan. Hanya aku kuatir Pangcu kita tidak bakal setuju pendapat Ciok-pocu itu.”
Semakin berkobar amarah Ciok Hou-bu, terang orang tengah menggunakan tipu menyebrang sungai memutus jembatan memukul jatuh anjing kedalam air, jelas sekali menghina Hwi-cwan-po yang sudah musnah itu. Sedapat mungkin ia menahan gelora amarahnya, setelah bergelak tawa sekian lama ia berkata, “Semula partai kalian mengajak aku berserikat, tujuan utama Ciok Hou-bu adalah Badik buntung, sedang Partai kalian menghadapi Partai putih yang merupakan musuh kebujutan. Menurut perjanjian semula sudah seharusnya Badik buntung itu diserahkan kepada aku, sedang Bun Cu-giok dan Hun Thian-hi boleh kalian urus.”
“Pendapatmu ini tidak mungkin terlaksana, perjanjian semula boleh dianggap batal.” demikian jawab Tio Hong-ho sambil menyeringai.
Tak tertahan lagi gejolak amarah Ciok Hou-bu, desisnya dingin, “Apa yang kuucapkan tadi sebetulnya sudah memberi banyak kelonggaran dan memberi muka kepada partai kalian.”
Tio Hong-ho bergelak tawa, serunya, “Ciok-pocu, kita bekerja harus menurut aturan, bagaimana menurut pendapat Ciok-pocu mengenai hal ini’”
Ciok Hou-bu mendengus, batinnya, “Apakah ini yang dimaksudkan dengan mengenai aturan?”.
Kata Tiok Hong-ho meneruskan diplomasinya, “Memang, pembagian cara ini pihak partai kita rada mengambil sedikit keuntungan. Tapi Ciok-pocu harus ingat, semula cara bagaimana dan kenapa Kita sampai berserikat?”
“Apakah perlu ditanyakan lagi?” demikian umpat Ciok Hou-bu dalam hati.
“Aku percaya Ciok-pocu sudah maklum dalam hati,” begitulah Tio Hong-ho meneruskan pidatonya, “kita bergabung karena keuntungan dan berpisah setelah keuntungan itu tercapai, ini kan sudah jamak, apakah Ciok-pocu berani menyanggah akan kebenaran ini?”
Ciok Hou-bu tertawa hambar, katanya, “Kalau demikian kukuh pendapat Tio-tongcu, terpaksa Ciok Hou-bu mohon diri saja………”
“Ciok-pocu tunggu sebentar,” teriak Tio Hong-ho, “Bun-pangcu tak berguna lagi bagi kita, silakan Ciok-pocu membawanya pulang.”
Ciok Hou-bu menggeram, otaknya berpikir, “Jelas kalian gentar menghadapi gurunya yang kenamaan yaitu Ce-hun Totiang, demi mengambil hati pihak Bu-tong-pay lantas kalian serahkan dia kepadaku.” mendadak tergerak hatinya, otaknya sudah merancang suatu muslihat, dengan pura2 tertawa ia berkala, “Kalau Tio-tongcu memang berkeputusan begitu, terpaksa Ciok Hou-bu menurut saja.”
Tiok Hong-ho tertawa lebar dimabuk kemenangan. Mendadak Ciok Hou-bu menggertak keras mantel abu2nya bergulung lempang terus terbang menyerang kearah Tio Hong-ho.
Serangan dilancarkan secara tak terduga, Tio Hong-ho tak bersiaga lagi, menurut dugaannya semula Ciok Hou-bu sudah gentar dan kuncup menghadapi Partai merah yang sudah semakin menanjak dikalangan Kangouw, betapapun dia takkan berani sembarangan bergerak, apalagi kepandaian silat sendiri tidak terpaut jauh dibanding kemampuan Ciok Hou-bu.
Begitulah waktu mendengar samberan kuat menyerang kearah dirinya, sekuatnya ia bergerak mengepos. namun dimana mantel itu menyamber lewat, seketika ia menjerit se-keras2nya, tahu2 lengan kirinya sudah tersapu kutung.
Berhasil akan serangannya Ciok Hou-bu tak berhenti sampai disitu saja, tampak mantelnya berkembang me-nari2 dengan derasnya membawa deru angin yang sangat kencang, sekaligus ia sudah melancarkan kepandaian tunggal yang paling dibanggakan, yaitu tiga belas jurus Hwi-cwan-kian-soat. Tampak setabir bayangan abu2 berkembang melebar kekanan kiri menyerang kearah dua orang musuhnya.
Terpaksa Liong Lui mencabut pedangnya menangkis, susah payah ia menghalau setiap serangan Ciok Hou-bu. Dalam waktu dekat memang Liong Lui kuat bertahan, tapi lama kelamaan ia semakin terdesak dan mundur selangkah demi selangkah.
Dalim pada itu Tio Hong-ho sudah berhasil membalut luka2 dilengan kirinya mencegah mengalirnya. banyak darah, sambil kertak gigi ia mengayun tongkat senjatanya membantu Liong Lui berdua mereka mengerojok Ciok Hou-bu.
Begitulah mereka bertiga bertempur dengan sengit, dalam wuktu singkat keadaan menjadi berimbang. Sudah tentu kejadian ini sangat menguntungka Bun Cu-giok dan Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi pernah menelan buah ajaib, sedang Bun Cu-giok pun punya dasar latihan Sian-thian-cin-gi dari aliran murni, dalam waktu singkat tenaga dan semangat mereka bisa pulih kembali.
Pertempuran sudah berjalan ratusan jurus, keadaan masih tetap sama kuat. Diam2 Thian-hi dan Bun Cu-giok saling memberi isyarat, mereka membentak bersama sekaligus berhasil membongkar batu besar dan debu yang menghimpit mereka terus melompat keluar. Tapi kelihatan kedua kaki masing2 basah lembab oleh darah yang merembes dari luka2.
Sudah tentu Ciok Hou-bu bertiga kaget setengah mati, Sementara itu Bun Cu-giok serahkan pedang masnya kepada Hun Thian-hi, untuk melawan musuh ia melolos cambuk perak sebagai gaman.
Tepat saat itu juga, dari luar lembah terdengar derap kaki kuda yang berlari pesat. Seketika Tio Hong-ho dan Liong Lui mengunjuk rasa girang, pendatang ini bukan lain adalah Pangcu Partai Merah Gi Ciok adanya.
Belum lagi sampai Gi Ciok sudah melambung tinggi, ditengah udara melolos pedang pusaka terus meluncur menyerbu kearah Bun Cu-giok.
Bun Cu-giok menghardik ringan, tombak perak ditangan kanan terayun, laksana ular hidup cambuknya melilit kearah Thay-i-kiam musuh.
Terdengar Gi Ciok mendengus kaget, terasa sesuatu keganjilan diluar kesigapannya. Diketahui olehnya bahwa cambuk perak Bun Cu-giok itu kiranya bukan sembarang senjata umumnya yang terbuat dari perak biasa, tetapi adalah terbuat dari anyaman sutra perak dan benang baja yang ulet tak mempan senjata.
Maka cepat2 ia menarik pulang pedangnya. Kesempatan ini tak di-sia2kan oleh Bun Cu-giok, cambuk perak ditangan kanannya diobat-abitkan sekencang kitiran menyerbu semakin gencar, setiap lecutan tentu mengarah jalan darah mematikan diseluruh badan Gi Ciok.
Gi Ciok harus kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, meski terdesak ia masih kuat bertahan terus sampai ratusan jurus Kemudian baru ia bisa memperbaiki posisinya. Sekarang keadaan kelihatan sama kuat.
Thian-hi tahu bahwa tenaga Bun Cu-giok belum pulih seluruhnya, tentu tidak menguntungkan bertempur lama-lama, segera ia berkata, “Bun-pangcu, hari ini kita hentikan dulu sampai disini.”
Bun Cu-giok insaf hari ini tentu tak mudah mengambil kemenangan, apalagi kalau Ciok Hou-bu berbalik kepihak musuh lagi tentu semakin berabe, sambil bergelak tawa ia berkata, “Hari ini cukup sekian saja, tapi urusan ini takkan ada habisnya.”
Sementara itu Gi Ciok tengah keheran-heranan akan kepandaian silat Bun Cu-giok yang luar biasa itu, mendengar itu segera ia pura-pura menggertak, “Apa, kau hendak lari?”
Bun Cu-giok menyeringai, katanya kepada Ciok Hou-bu, “Hwi-cwan-po sebetulnya masih utuh, tapi akan datang suatu hari akan kubumi hanguskan rata dengan tanah.” — Habis berkata lalu tinggal pergi bersama Hun Thian-hi.
Ciok Hou-bu berdiri menjublek, tak tahu bagamana baiknya, bahwa Hwi-cwan-po masih utuh ini benar-benar suatu berita yang menggembirakan, namun keadaan sekarang adalah sangat berbahaya bagi dirinya Pangcu Partai Merah Gi Ciok sudah cba, apakah dia rela melepas dirinya.
Dalam pada itu Hun Thian-hi dan Bun Cu-giok sudah berlari jauh. Gi Ciok tahu dirinya takkan mampu merintangi, terpaksa ia mandah saja membiarkan mereka pergi.
Pelan-pelan Gi Ciok lantas membalik. Tio Hong-ho segera maju mempersembahkan Badik buntung katanya, “Pangcu! Badik buntung berhasil kurebut. Tapi karena Ciok Hou-bu merintangi sehingga kedua orang itu tak dapat dibekuk, harap Pangcu mendapat tahu.”
Gi Ciok manggut-manggut sambil menerima Badik buntung. Sekian lama ia mengamati dan meneliti seluruh batang Badik buntung itu. Pelan-pelan sinar matanya terangkat naik berpindah menatap kepada Ciok Hou-bu.
Tergetar jantung Ciok Hou-bu.
Terdengar Gi Ciok menjengek, “Ciok-pocu, kelakuanmu ini apakah terhitung berserikat dengan kita?” “
Ciok Hou-bu tahu bahwa Gi Ciok takkan melepas dirinya, dari kepepet ia menjadi nekad, katanya sambil tertawa lebar, “Gi-pangcu sebaliknya apakah kalian punya maksud yang serius hendak berserikat dengan kita!”
Gi Ciok menggeram gusar, tahu dia kalau Ciok Hou-bu bisa berdiri menjagoi sesuatu daerah dan membangun Hwi-cwan-po yang kenamaan tentu punya kepandaian simpanan yang diandalkan, kalau tidak turun tangan sendiri tentu takkan dapat menundukkan dia.
Gi Ciok terkekeh dingin, tantangnya, “Ciok-pocu angkat nama karena tiga belas jurus Hwi-cwan-kiaH-soat itu, hari ini Gi Ciok minta belajar kenal betapa lihay ketiga belas jurus ilmu mantelmu itu.”
Ciok Hou-bu tak mau unjuk kelemahan, tertawa bahak-bahak iapun mengejek, “Betapa beruntungnya Ciok Hou-bu mendapat pelajaran langsung dari Gi-pangcu, matipun puaslah!” — tanpa sungkan-sungkan segera ia menggentakkan mantel dari punggungnya.
“Senjataku ini adalah sebilah pedang pusaka, kalau dalam sepuluh jurus aku tidak dapat mengalahkan kau, urusan hari ini anggap himpas seluruhnya.” demikian ejek Gi Ciok.
Ciok Hou-bu insaf, jangan kata sepuluh jurus, hanya lima jurus saja mungkin dirinya takkan kuat bertahan, namun urusan sudah mendesak begitu jauh, terpaksa ia kerahkan tenaga dan menggerakkan mantelnya, dengan jurus-jurus ilmu Hwi-cwan-kian-soat ia mendahului menyerang.
Gi Ciok menyungging seringai sadis, cepat sekali ia berkelit kian kemari membebaskan diri dari samberan mantel musuh. Sekali pedangnya menyontek ke atas, dalam sejurus saja ia berhasil mengupas sebagian kecil ujung mantel Ciok Hou-bu.
Berubah air muka Ciok Hou-bu, mantelnya dikebutkan dengan jurus It-sek-hun-kian menggulung ke arah muka Gi Ciok.
Gi Ciok mengandalkan senjata pusakanya sedikit pun ia tidak gentar menghadapi musuh, bukan mundur atau berkelit sebaliknya dengan berani ia memapak maju, ujung pedangnya tahu-tahu sudah mengancam di depan dada lawan.
Terpaksa Ciok Hou-bu melompat mundur, sehingga serangannya gagal di tengah jalan. Gerak pedang Gi Ciok ternyata hebat sekali belum sempat Ciok Hou-bu memperbaiki posisinya, tahu-tahu mantelnya sudah terkutung menjadi dua oleh ketajaman pedang pusaka musuh.
Insaflah Ciok Hou-bu bahwa dirinya memang bukan tandingan lawan, terpaksa ia pasrah nasib dan menyerah mentah-mentah, dengan tertawa lebar ia buang mantelnya serta katanya, “Aku Ciok Hou-bu mengaku kalah, terserah bagaimana kalian hendak membereskan aku.”
Gi Ciok tertawa dingan, katanya kepada Tio Hong-ho, “Tio-tongcu, Ciok-pocu sudah menyerah, dia membuntungkan lenganmu, sekarang terserah bagaimana kau hendak menghukumnya.”
Sungguh Tio Hong-ho tidak menyangka bahwa Ciok Hou-bu diserahkan kepadanya untuk memberi hukuman, sesaat ia menjadi melongo tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Ciok Hou-bu punya nama dan kedudukan di kalangan Kangouw, kalau menghukumnya terlalu berat kuatir para sahabatnya nanti menuntut balas. Kalau hukuman terlalu ringan, kelak mungkin bakal menimbulkan bencana juga bagi dirinya, untuk sesaat ia menjadi bingung mengambil keputusan.
“Bagaimana?” Gi Ciok mendesak, “Apa Tio-tongcu belum tahu?”
Cepat Tio Hong-ho menjawab, “Selamanya Partai Merah mengutamakan keadilan dan kebenar-benaran, dia telah membuntungi lenganku. Aku tidak bisa menghukumnya terlalu berat, apalagi Partai Merah tidak suka mengikat permusuhan, sekarang lengan kiriku sudah buntung maka akupun mengutungi lengan kanannya saja. Bagaimana pendapat Pangcu?”
Gi Ciok manggut-manggut dengan puas. Pucat wajah Ciok Hou-bu, sebagai seorang tokoh persilatan, apalagi dalam usia yang sudah menanjak setengah abad, kalau sebuah lengannya buntung berarti menjadi cacat.
Gi Ciok maju ke hadapannya, katanya kepada Ciok Hou-bu, “Bagaimana Ciok-pocu?”
Hakikatnya Ciok Hou-bu takkan mampu melawan atau mati adalah bagiannya, terpaksa ia mengulurkan lengan kanannya, sekali bacok Gi Ciok memapas kutung lengan kanan orang. Kontan Ciok Hou-bu menjadi pucat pasi.
Gi Ciok terbahak-bahak, ujarnya, “Ciok-pocu, sebuah lengan diganti sebuah lengan, untuk selanjutnya golongan kita sudah himpas dan tidak punya hutang piutang lagi.” — lalu bersama Tio Hong-ho dan Liong Lui mereka tinggal pergi menunggang kuda.
Otak Ciok Hou-bu terasa hampa dan kosong, setelah membalut sekedarnya luka-luka lengan kanannya ia berjalan terhuyung-huyung. Dalam keadaan kehabisan darah pikirannya menjadi semakin kabur, entah berapa jauh sudah ia berjalan jatuh bangun, yang terpikir dalam otaknya melulu, “Lengan kananku sudah buntung!” — begitulah dia terus melanjutkan ke depan.
Akhirnya ia sampai di tanjakan bukit berbatu, sampai disini tak mungkin ia kuat merambat ke atas, ia berdiri menjublek dan terlongong disitu, mulutnya menggumam, “Tidak ada jalan lagi.”
Mendadak dibelakangnya terdengar sabda Budha, dengan linglung Ciok Hou-bu menoleh, tampak seorang Hwesio tua tengah beranjak mendatangi.
Sambil tersenyum Hwesio tua itu berkata kepada Ciok Hou-bu, “Kenapa Sicu tak melanjutkan ke depan?”
“Terus ke depan?” sahut Ciok Hou-bu bingung, “Depan sana tiada jalan lagi.
“Kembali tentu ada jalan!” sahut Hwesio tua.
Ciok Hou-bu melengak, desisnya, “Kembali?”
Hwesio tua manggut-manggut, katanya tertawa, “Kenapa lengan kanan Sicu buntung?”
“Dibacok buntung oleh orang.”
“Dibacok buntung orang?” Hwesio tua menegas, “Loceng kuatir mungkin lengan itu bukan dikutungi oleh orang lain.”
Ciok Hou-bu tertegun, desisnya lagi, “Bukan dibacok buntung? Kalau begitu tentu kubacok buntung sendiri, cara bagaimana aku membacoknya buntung?”
Hwesio tua tersenyum simpul tak bersuara, sesaat kemudian baru buka suara, “Benar-benar, cara bagaimana kau mengutungi lenganmu sendiri!” habis berkata ia putar tubuh terus tinggal pergi.
Ciok Hou-bu masih menjublek di tempatnya, sejenak kemudian otaknya rada tergetar sadar cepat-cepat ia berteriak, “Lo-suhu harap tunggu sebentar.”
Hwesio tua tak hiraukan panggilannya terus berjalan ke depan. Lekas-lekas Ciok Hou-bu mengejar, sampai dibelakangnya Ciok Hou-bu tak berani mendahului ke depan, begitulah ia terus mengintil di belakang Hwesio tua itu, lambat laun bayangan mereka menghilang dibayang2 hutan yang lebat.
Setelah meninggalkan lembah, ditengah jalan Bun Cu-giok menanyakan pengalaman sejak mereka berpisah tempo hari. Thian-hi tahu tujuan Bun Cu-giok ingin tahu persoalan pembunuhan atas Giok-yap Cinjin, maka dengan jelas ia menceritakan.
Bun Cu-giok termenung sebentar. lalu katanya, “Guruku sudah lama mengasingkan diri, soal ini tentu beliau tak mau urus. Tapi kita berdua sudah mengalami berbagai bencana dan bahaya sehidup semati, untuk persoalan ini kau pun tak perlu kuatir, aku akan membantumu sekuat tenaga supaya kau dapat melanjutkan ke Tiang-pek-san.”
Hun Thian-hi tertawa getir, katanya, “Bun-pangcu, banyak terima kasih akan maksud baikmu, kalau hanya aku seorang gampang saja aku mau sembunyi kemana. Sebaliknya Partai Putih untuk hari2 selanjutnya perlu tegak berdiri di Kangouw, betapapun jangan karena persoalanku sehingga timbul permusuhan dengan para sahabat Bulim!”
Bun Cu-giok tertawa tawar, katanya menggoyang tangan: Sudah lima tahun aku berkelana di Kang-ouw, hanya kaulah seorang yang menjadi sahabat kentalku. Tujuanku berkelana di Kangouw bukan mengejar nama atau mencari keuntungan pribadi. Seumpama Partai Putih harus lenyap dari Kangouw pun tak kupedulikan lagi!”
Thian-hi menjadi heran, tanyanya, “Lalu apa tujuan Bun-pangcu sebenar-benarnya?”
Bun Cu-giok tertawa getir, katanya menggeleng, “Kau tidak tahu, akupun tidak akan tahu.”
Thian-hi mengira Bun Cu-giok punya rahasia hati yang sulit dikatakan, maka iapun tak mendesak lebih lanjut.
“Mungkin usiamu lebih muda beberapa tahun baiklah aku panggil kau ajk saja,” demikian kata Bun Cui-giok sambil menghela napas, “Masih banyak urusanku yang belum dapat kau pahami kuberitahu pun tiada gunanya.”
Bertambah heran benak Thian-hi. Mendadak teringat olehnya akan sikap Bun Cu-giok yang rada ganjil waktu mendengar rasa prihatin Ciok Yan terhadapnya, tiba-tiba ia tertawa, katanya, “Apakah maksud Bun-heng mengenai asmara muda-mudi?”
Bun Cu-giok angkat kepala menatap Thian-hi, desisnya, “Lote, apakah kau….” sampai disini Bun Cu-giok menjagi geli sendiri.
Sontak Thian-hi merasa jantungnya berdebur keras, hatipun tak tenang, nada tertawa Bun Cu-giok malah membangun kembali kenangan yang tak menentu, bayangan Ham-gwat, Su Giok-lan dan Siau Hong berkelebat dalam benaknya, akhirnya bayangan jelita lenyap dan berganti wajah dingin kaku dan seram dari muka Bu-bing Loni.
Tanpa merasa bergidik tubuh Thian-hi, badannya merinding dan terasa dingin. setelah menghirup hawa ia berkata, “Saudara Bun jangan berkelakar.”
Bertaut alis Bua Cu-giok, hatinya membatin, “Kenapa kelihatannya Hun Thian-hi takut menghadapi wanita, hanya menyinggungnya saja kenapa badan sampai gemetar?”
Thian-hi menghembuskan angin dari mulutnya, ditatapnya sikap dan mimik wajah Bun Cu-giok, ia tertawa dibuat-buat, pikirnya mungkin aku terlalu serius dan tegang dalam bicara tadi. Mendadak ia tertawa lebar dan katanya, “Ucapanku tadi hanya pancingan saja, karena waktu kusinggung tentang nona Ciok kulihat mimik dan sikap saudara Bun kurang wajar.”
Terketuk sanubari Bun Cu-giok, katanya tersipu-sipu, “Lote, jangan kau sembarang ngoceh, jangan main-main dengan urusan asmara!”
Melihat kegugupan Bun Cu-giok, Thian-hi menjadi bergelak tawa ujarnya, “Siaute berpikir sampai sekarang saudara Bun belum punya istri, nona Ciok seorang gadis rupawan, lemah lembut lagi, menurut penilaian Siaute watak dan martabatnya pun boleh deh….”
Sampai disini dilihatnya. perubahan air muka Bun Cu-giok, maka segera ia berhenti kata, dan merubah haluan, “Saudara Bun, maaf akan kelancangan mulutku tadi.”
Bun Cu-giok menghela napas, ujarnya, “Tak apa, aku sedang memikirkan persoalan lain, apakah patut aku berbuat begitu.”
Hun Thian-hi bungkam, Bun Cu-giok pun tenggelam dalam renungannya. Mendadak ia bertanya kepada Thian-hi, “Lote, ada satu persoalan hendak kutanya kepadamu. Jikalau seseorang melakukan pekerjaan, tapi melanggar adat istiadat dan pengajaran, namun ia ingin beaar melakukan semua itu, apakah patut kalau dia melaksanakan terus niatnya itu?”
Mendelong mata Thian-hi mengawasi Bun Cu-giok, hatinya heran dan bertanya-tanya kenapa Bun Cu-giok menyinggung persoalan begitu kepada dirinya, sebentar ia berpikir lalu jawabnya, “Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi menurut hemadku kalau dia merasa betul, boleh saja dia melakukan keinginannya.”
Bun Cu-giok menunduk terpekur, katanya kemudian, “Lote, mari kita berangkat, coba lihat, bagaimana dandanan kita sekarang!”
Waktu Thian-hi menunduk, memang separo badan mereka sudah kotor dan lembab oleh noda2 darah tercampur debu, tak kuasa ia menjadi tertawa geli.
Cepat-cepat mereka menuju kesebuah kota kecil. Anak buah Partai Putih tersebar luas dimana-mana, tak lama kemudian mereka sudah berganti pakaian, dan menginap semalam dikota itu. Hari kedua Thian-hi berkeras hendak melanjutkan perjalanan seorang diri.
Terpaksa Bun Cu-giok mengangguk setuju.
Begitulah Hun Thian-hi lantas berangkat melalui jalan raja. Jauh dibelakangnya Bun Cu-giok berlari-lari kecil mengejar. Entah berapa lama Bun Cu-giok berlari saat mana tiba didataran tinggi. yang menghijau. Mendadak Bun Cu-giok berhenti dan berdiri terlongong, jauh di sebelah sana kelihatan sebuah bayangan orang yang sangat dikenalnya, bayangan orang bergoyang gontai berjalan pelan-pelan. Orang ifu bukan lain adalah CioK Yan adanya.
Ciok Yan berjalan menunduk dan tengah menghampiri ke arah dirinya. Jantung Bun Cu-giok seperti bertambah berdegup dan darahnya menggelora, napas pun jadi memburu. Hampir ia berniat menyingkir, namun kaki terasa berat dan mungkinkah ia tinggal pergi?
Ciok Yan sudah semakin dekat, setiap langkah Ciok Yan menambah jantung Bun Cu-giok berdetak semakin cepat, sekarang jelas kelihatan rambut panjang Ciok Yan yang awut2an, matanya yang redup dan titik-titik air mata yang membasahi pipinya.
Akhirnya Bun Cu-giok tak kuasa angkat kepala, sementara itu Ciok Yan sudah berjalan lewat di sampingnya seperti orang linglung hakikatnya seperti tak dirasakan akan kehadiran Bun Cu-giok di pinggir jalan itu.
Sungguh rawan perasaan Bun Cu-giok, hati laksana ditusuk sembilu, sekuatnya ia bertahan supaya air mata tidak meleleh keluar. Saat itulah terketuk hatinya, ia merasa tidak seharusnya ia membiarkan keadaan Ciok Yan yang menyedihkan itu, tak tertahan lagi ia berteriak, “Nona Ciok!”
Ciok Yan tersentak kaget dari lamunannya, seketika ia berdiri menjublek.
Bun Cu-giok berseru lagi, “Nona Ciok!”
Pelan-pelan Ciok Yan menoleh memandang ke arah Bun Cu-giok. Bun Cu-giok tak berani beradu pandang dengannya, cepat-cepat ia berpaling ke arah lain, namun sekilas saja ia sudah melihat jelas wajah Ciok Yan yang aju jelita, begitu menggiurkan dan menawan hati. Waktu pertama kali mereka jumpa, dia kelihatan begitu gagah dan berani, sekarang seperti seekor kelinci yang ketakutan dan terluka, ah, betapa bijaksana hatinya!
Sekian lama Ciok Yan terlongong memandang wajahnya tanpa bersuara.
Apa boleh buat akhirnya Bun Cu-giok buka suara lagi, “Nona Ciok, lekas kau pulang saja, Hwi-cwan-po hakikatnya tidak pernah kumusnakan.”
Biji mata Ciok Yan memancarkan cahaya aneh yang gemilang, matanya terbelalak kesima mengawasi Bun Cu-giok, rasa rawan dan kesedihan hatinya seketika tersapu bersih. Lubuk hatinya yang paling dalam mendadak merasa kegembiraan yang sangat aneh dan menggairahkan. Desisnya kegirangan, “Kau…. apakah ucapanmu benar-benar?”
Bun Cu-giok tersenyum dan balas pandang, ujarnya, “Kau tidak percaya kepadaku?”
“Tidak!” kata Ciok Yan kememek, air mata berlinang dikelopak matanya, “Maksudku aku kegirangan
Bun-pangcu, kau….”
Melihat air mata Ciok Yan, Bun Cu-giok menjadi terpesona, pikirannya melayang, “Ternyata dia begitu lincah dan lucu,” diam-diam ia merasa lega, namun tak terpikir olehnya kata-kata manis yang enak dikatakan, terpaksa ia berkata pendek, “Aku….? Kenapa aku?”
Melihat pandangan Bun Cu-giok yang tajam dan penuh mengandung arti itu, Ciok Yan menjadi malu dan menunduk, batinnya, “kiranya Bun Cu-giok menyusul kemari hendak mencari aku malah memberi penjelasan duduk perkara sebenar-benarnya. Usianya masih begitu muda, berkepandaian silat tinggi, sikapnya begitu baik pula terhadap dirinya.”
Melihat Ciok Yan menunduk malu tergetar hati Bun Cu-giok, tersipu-sipu ia berkata, “Nona Ciok, lekaslah kau pulang. Sekarang aku masih ada urusan, segera harus berangkat!”
Ciok Yan angkat kepala, katanya, “Apa? Kau akan berangkat kemana?”
Sedapat mungkin Bun Cu-giok tertawa sewajarnya, sahutnya, “Hun Thian-hi tengah terkepung oleh berbagai mara bahaya, aku hendak menyusul dan melindungi jiwanya.”
Lagi-lagi Ciok Yan menunduk dengan rawan, katanya tersendat, “Kalau begitu silakan kau pergi.”
“Kau sendiri, kau harus lekas pulang!” ujar Bun Cu-giok gugup karena sikap Ciok Yan yang ogah2-an.
Ciok Yan memutar tubuh tanpa bicara lagi, pelan-pelan ia tinggal pergi.
Bun Cu-giok mengejar beberapa langkah, katanya, “Nona Ciok, kupinta kepadamu, jangan kau menuju ke tempat lain, langsung pulang saja ke rumahmu.”
Sesaat Ciok Yan menatap Bun Cu-giok lalu manggut-manggut, katanya, “Terima kasih Bun-pangcu.”
Bun Cu-giok menghirup hawa panjang, dipandangnya punggung Ciok Yan semakin menjauh, sejenak ia terlongong, tiba-tiba tergetar hatinya, cepat-cepat ia memutar tubuh hendak mengejar kesana tapi begitu ia berputar kontan ia tersentak kaget, entah kapan di belakangnya sudah berdiri seorang nenek ubanan.
Bergegas Bun Cu-giok menyurut mundur, dengan seksama ia awasi nenek tua ini, sekarang baru lega hatinya, kiranya nenek ini adalah Hoan-hu Popo dari pegunungan Tangkula di daerah barat, kepandaian silatnya tidak di bawah gurunya Ce Hun Totiang.
Tersipu-sipu Bun Cu-giok menjura serta sapanya, “Nenek apa kau baik.”
Hoan-hu Popo memicingkan matanya, tanyanya tertawa, “Gadis remaja tadi baik bukan?”
Bun Cu-giok mengalihkan pandangannya, apa boleh buat ia manggut-manggut.
Kata Hoannhu popo tersenyum simpul, “Kau tak perlu takut, kulihat sikapmu terlalu baik padanya, kau harus berkumpul sama dia.”
Bun Cu-giok tergagap, jawabnya, “Jangan nenek berkelakar, Sutit masih banyak urusan lain.”
Berubah dingin wajah Hoan Hu, jengeknya, “Karena Hun Thian-hi bukan? Kau berani melindungi dia, ketahuilah kedatanganku justru hendak mencabut nyawanya.”
Bun Cu-giok menjadi gugup, serunya, “Nenek, dia orang baik. Giok-yap Cinjin bukan meninggal di tangannya, dia kena difitnah orang lain.”
“Bocah kecil jangan terlalu banyak turut campur urusan orang.” semprot Hoan-hu popo.
Keruan Bun Cu-giok semakin gelisah, bujuknya, “Kenapa nenek kemari mencarinya. Berilah muka kepadaku dan memberi ampun pada jiwanya!”
“Tidak bisa!” sentak Hoan-hu sambil menarik muka.
Bun Cu-giok menjadi heran, teraba olehnya sikap Hoan-hu yang kereng ini bukan kenyataan hendak membunuh orang, kelakuan kasarnya memang sengaja dilakukan untuk menakut2i saja. Ia beragu sebentar lalu katanya, “Nenek, adakah sesuatu urusan yang perlu kulakukan?”
Hoan-hu merengut, semprotnya, “Urusan apa yang perlu kau kerjakan? Omong kosong belaka.”
Bun Cu-giok rada kuatir kalau membuat sinenek marah mungkin urusan selanjutnya bakal lebih sulit diselesaikan, cepat-cepat ia merubah sikap, ia berkata tersenyum: ….Nenek. pandanglah muka Siautit dan berilah kelonggaran!”
Hoan-hu popo menggeram, tanyanya, “Berapa tahun kau berkelana di Kangouw. semakin lama semakin bejat dan tak tahu aturan.”
Bun Cu-giok menjadi kikuk dan bungkam tak bisa bicara.
Kata Hoan-hu popo lagi, “Apa yang terkandung dalam sanubarimu kuketahui semua, namun gurumu tak pernah mengurus kau, kalau dia tidak peduli biar aku yang mewakili dia mengajar adat kepadamu. Cepat kau susul dahulu nona kecil itu kemari.”
Bun Cu-giok melengak, tanyanya menegas, “Nona kecil yang mana?”
“Bocah goblok, jangan pura-pura linglung, lekas susul dia, jangan sampai ia lari jauh atau tak kuberi ampun kepada kau….”
Bun Cu-giok menjadi serba susah, terdengar Hoan-hu mendengus, katanya, “Ajahnya sudah cukur gundul menjadi Hwesio, kenapa kau suruh dia kembali seorang diri?”
Bun Cu-giok melengak kaget, dipandangnya mata Hoan-hu lekat-lekat. Hoan-hu mendesak lagi, “Lekas susul dia!” terpaksa Bun Cu-giok beilari mengejar’ ke depan.
Tak lama kemudian ia sudah dapat menyusul Ciok Yan. Ciok Yan masih berjalan pelan-pelan sambil menundukkan kepala. Mendengar derap langkah ia angkat kepala dan menoleh, dengan heran dan bertanya-tanya ia pandang Bun Cu-giok.
Kata Bun Cu-giok tersendat, “Nona Ciok! Seorang teman guruku bernama Hoan-hu Popo hendak mencari kau, ada berapa patah kata yang hendak disampaikan kepadamu.”
“Apa?” Ciok Yan menegas dengan terlongong.
“Cepatlah,” desak Bun Cu-giok, “Kalau sampai dia jengkel urusan bakal berabe.”
Sejenak Ciok Yan sangsi, akhirnya ia mengintil di belakang Bun Cu-giok. Mulutnya bertanya, “Untuk keperluan apa dia mencari aku?”
“Akupun tidak tahu,” jawab Bun Cu-giok singkat.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai dimana Hoan-hu popo menunggu. Dengan tersenyum manis Hoau-hu menatap Ciok Yan, bergegas Ciok Yan maju berapa langkah serta sapanya, “Wanpwe Ciok Yan menghadap pada nenek!”
Hoan-hu menarik Ciok Yan lebih dekat, dengan lekat-lekat ia mengawasi wajah orang, tak tertahan mulutnya. menggumam, “Ah, anak yang kasihan!”
Hati Ciok Yan menjadi pedih, tak tertahan airmata mengalir deras, ia menangis sesenggukan.
“Jangan nangis, jangan nangis! bujuk Hoan-hu sambil menepuk2 bahunya. Lalu ia berpaling ke arah Bun Cu-giok dan berkata, “Cu-giok, lihatlah betapa baik dan rupawan gadis ini dimana ada kekurangannya.”
Bun Cu-giok terperanjat, mulutnya ternganga tak mampu bicara, sesaat baru ia berkata, “Baik, baik sekali, tiada kekurangannya!”
“Nah kalau begitu baik kujodohkan menjadi istrimu saja. Untuk selanjutnya kau harus membimbingnya baik!”
“Apa?” Bun Cu-giok dan Ciok Yan berteriak bersama.
“Kenapa?” tanya Hoan-hu, “Bukankah menguntungkan kau malah?”
Cepat Ciok Yan menalangi, “Nenek, bagaimana bisa, ayahku….”
Hoan-hu membujuk dengan kata-kata manis, “Kau tak perlu kuatir, ayahmu diapusi Hwesio aneh itu menjadi muridnya. Tentu dia setuju dan tiada persoalan lagi.”
“Aku….aku….Bun Cu-giok hendak menolak.
“Kau kanapa?” semprot Hoan-hu, “Apa kau tidak setuju?”
“Bukan nenek tidak tahu” demikian ujar Bun Cu-giok sambil tunduk, ….Soalnya aku….”
“Jangan kau takut,”-Hoan-hu menghibur. “Akulah yang bertanggung jawab kepada gurumu, sedang calon istrimu itu, buang saja.”
Ciok Yan tersentak kaget,
“Apa?” tanyanya, Sungguh diluar tahunya bahwa Bun Cu-giok ternyata sudah punya calon istri.
Bun Cu-giok tunduk semakin dalam. Kata Hoan-hu lebih tandas, “Aku yang bertanggung jawab. kenapa takut-takut lagi. Kukira gurumu pun akan setuju.”
Sekilas Bun Cu-giok melirik ke arah Ciok Yan, dilihatnya orang pun menunduk tanpa bersuara, akhirnya iapun tunduk lagi tanpa bicara.
Hoan-hu memandang ]ekat2, katanya, “Cu-giok, tak perlu beragu, kebahagian hanya sekilas datangnya, kalau kau ingin bahagia dihari tua, cepatlah kau ambil putusan!”
Bun Cu-giok masih tunduk tak berani ambil putusan.
Hoan-hu membujuk lagi, “Dalam segala hal terang Nona Ciok lebih unggul dari Nona Ce itu, sudahlah kau jangan terlalu berat mengenangnya!”
Dilain pihak hati Ciok Yan sendiri juga tengah bimbang, pikiran dan kemauannya saling bertentangan tak tertahan lagi air mata mengucur deras.
“Nona Ciok,” ujar Hoan-hu. “Apakah kau mau?”
Pikiran Ciok Yan kusut dan bingung. jawabnya, “Nenek, aku tidak mau menikah!”
Hoan-hu menjadi heran dan menatapnya dengan tak mengerti, lalu berpaling dan berkata kepada Bun Cu-giok, “Cu-giok, kau tunggu disini sebentar, aku hendak bicara dengan nona Ciok.” Lalu digandengnya tangannya diajak menyingkir.
Ciok Yan mandah saja diseret menyingkir sambiil tunduk, entah apa yang hendak dikatakan Hoan-hu kepadanya, hatinya menjadi kebat kebit. Betapapun dia takkan begitu saja menyetujui akan perjodohan ini, sebagai seorang wanita menjadi keharusan untuk menjaga gengsi pribadinya.
Hoan-hu membawa Ciok Yan kebawah sebuah pohon besar yang rindang, dengan tangan ia suruh Ciok Yan duduk disebelahnya, mulailah ia buka mulut bicara kepada Ciok Yan, “Mungkin kau menyangka cara kerjaku terlalu sembrono bukan?”
Ciok Yan menggeleng, katanya, “Aku belum memahami jiwa dan karakternya.”
“Bukan kau tidak paham kepadanya,” ujar Hoan-hu, “yang terang kau menyangsikan rahasia dibalik pribadinya itu bukan?”
Ciok Yan tunduk tak bersuara. Hoan-hu menghela napas sambil menepuk bahunya, katanya, “Ada sebuah cerita, apakah kau mau mendengarkan?”
“Cerita?” tanya Ciok Yan heran.
“Dulu adalah seorang pendekar muda,” demikian Hoan-hu mulai ceritanya, “belum lama ia berkelana di Kangouw, waktu itu usianya masih muda dan berwajah ganteng, kepandaian silatnya pun lihay, sikapnya menjadi congkak dan mau menang sendiri, sudah menjadi kodrat alam akhirnya ia jatuh cinta dengan seorang gadis.”
Sampai disini ia berhenti sebentar. Pikiran Ciok Yan lantas melayang, mungkin ini cerita pengalamannya sendiri waktu masih muda dulu.
Memang tampak Hoan-hu tengah termenung2 dan tertawa-tawa tenggelam dalam kenangan lama.
Akhirnya ia melanjutkan, “Meski jatuh cinta, nmun ia tak berani menyatakan rasa cintanya itu. Sebaliknya gadis itupun sebetulnya merasa tertarik juga kepadanya, melihat sikapnya itu timbul salah paham, disangkanya si pemuda adalah begitu congkak dan takabur.”
Ciok Yan menunduk, dua tokoh dalam cerita itu persis benar-benar seperti bayangannya dengan Bun Cu-giok.
Kulit muka Hoan-ihu berkerut-kerut, lalu katanya lebih lanjut, “Pada suatu hari, pendekar itu tiba-tiba pergi mencarinya, secara langsung ia meminang dan mengharap sang gadis pujaan mau menjadi istrinya!”
Sampai disini ia berpaling ke arah Hoan-hu, tanyanya, “Seumpama gadis itu adalah kau, bagaimana kau hendak mengambil sikap?”
“Aku tidak tahu.” Ciok Yan menjawab singkat.
“Martabatnya baik, dari sepak terjangnya di kalangan Kangouw dapatlah dinilai jiwanya itu, tapi tiada orang yang tahu perihal asal usulnya, apalagi dia adalah begitu mendadak….” ia merandek sebentar lalu melanjutkan, “Gadis itu menjadi marah, ia merasa seolah-olah terlukakan oleh tusukan pedang di ulu hatinya, lalu memakinya kalang kabut, dikatakan dia terlalu takabur, berlawanan dengan lubuk hatinya ia menyatakan bahwa dia tidak menyukainya!”
Ciok Yan mengeluh tertahan, pikirnya kalau aku sendiri yang mengalami kejadian itu, aku pun akan berkata begitu.
“Akhirnya baru gadis itu tahu bahwa pendekar muda itu ternyata adalah murid Bu-tong Ciangbunjin, sebetulnya dia harus masuk biara menjadi imam, tapi demi sang pujaan hatinya dia rela kehilangan segala miliknya, namun gadis itu berkeras tak menyetujui.”
Baru sekarang Ciok Yan dapat meraba pendekar muda yang dimaksud dalam cerita itu tak lain tak bukan adalah Ce-hun Totiang adanya.
Hoan-hu berkata lagi, “Cu-giok adalah anak baik. Untuk ini aku berani bicara dimuka, dulu memang ia sudah mengikat tali perjodohan, namun calon istrinya itu sepak terjangnya semakin kotor, dari lurus menjurus ke sesat. Setelah mengetahui hal ini, saking duka seorang diri ia berkecimpung di dunia persilatan. Sebaliknya perempuan itu belum tahu bahwa Cu-giok sudah tahu akan tingkah lakunya, hatinya masih terkenang akan pujaan hatinya ini. Maka Cu-giok menjadi hidup sengsara dan merana, dalam hal ini kaulah yang dapat membantunya untuk melupakan perempuan itu!”
Ciok Yan semakin dalam menunduk. Hoan-hu tertawa geli, ujarnya, “Ajahmu sudah menjadi Hwesio, kalau kau sudi, Hwi-cwan-po boleh bergabung dengan Partai Putih, kupikir ayahmu tentu sangat senang mendengar berita ini.”
Terpikir oleh Ciok Yan, “Agaknya Bun Cu-giok bukan seorang tamak dan pengecut seperti yang tersiar di kalangan Kangouw, dia boleh dipercaya, apalagi sejak bertemu aku sudah memujanya, asal aku sudah mengetahui martabat dan jiwanya sudah cukup, kenapa menuntut terlalu jauh.”
Akhirnya ia tersenyum dan manggut-manggut setuju.
Hoan-hu berjingkrak bangun kegirangan, katanya sambil menarik tangan Ciok Yan, “Bangunlah Cu-giok masih menanti kita disana!”
Begitulah mereka beranjak kembali. Hati Ciok Yan menjadi was-was, kuatir Bun Cu-giok sudah tinggal pergi? Waktu sampai di tempat semula, tampak Bun Cu-giok masih berdiri terlongong tanpa bergerak. Rada terhibur hati Ciok Yan, cepat-cepat ia menunduk dengan muka merah malu.
Ooo)*(ooO
Sekarang baiklah kita ikuti perjalanan Hun Thian-hi sejak berpisah dengan Bun Cu-giok, seorang diri dengan tunggangannya langsung ia menuju ke Tiang-pek-san.
Satu jam kemudian, ia sudah menempuh kira-kira lima puluh li jauhnya. Dia insaf siapapun yang bertemu dengan dirinya pasti takkan melepas begitu saja. Sejenak Thian-hi menerawang ‘pandangan alam sekelilingnya, pikirnya, kalau aku dapat selamat tanpa gangguan hari ini, mungkin perjalanan kali ini bisa selamat sampai ke tempat tujuan.
Tengah ia berpikir2, kupingnya menangkap samberan angin kencang dari samping menyerang dirinya, secara gerak reflek ia melolos pedang pemberian Bun Cu-giok terus memapas ke arah datangnya serangan. “Tak,” kiranya itulah sebatang kayu kering kecil yang patah dua.
Bercekat hati Thian-hi, ia celingukan kian kemari tiada tampak bayangan seorangpun, ia menghembus napas sebal dari mulutnya lalu mengeprak kudanya ke depan, pedang disarungkan kembali, untuk selanjutnya ia mulai waspada dan berjaga-jaga.
Tak lama kemudian sebatang kayu kering menyamber tiba lagi, kali ini Thian-hi angkat tangan dengan kedua jari ia menjepit kayu kecil itu. Tapi tenaga luncuran kayu kecil itu begitu besar dan kuat, jepitannya menjadi gagal, kayu kecil itu terus terbang melesat dari sampingnya.
Kejut Thian-hi seperti disengat kala, sekarang dilihatnya seseorang tengah duduk bersila di atas sepucuk dahan pohon, orang itu bukan lain adalah Situa Pelita.
Bergegas Thian-hi melompat turun serta maju menyapa, “Kiranya adalah Jan-teng Cianpwe, Wanpwe tidak tahu, harap suka dimaafkan!”
Tanpa bersuara Situa Pelita menatap Thian-hi le-kat2, rada lama kemudian baru bicara, “Begitu besar nyalimu berani membunuh Giok-yap Cinjin!”
Hampir semua orang yang ketemu oleh Thian-hi tentu menuduhnya demikian, dengan sedih ia menundukkan kepala.
Situa Pelita mendengus serta katanya, “Waktu pertama kali aku melihat kau, mengingat riwayat dan pengalamanmu yang penuh derita aku rada kasihan dan membantu kau. Aku terburu-buru pergi karena punya urusan penting, untung waktu itu aku tidak turunkan ilmu Ginkang milik tunggalku itu kepadamu- Jiwa Soat-san-su-gou berempat terhitung tersia-sia, mereka salah menilai kau.”
“Cianpwe juga. mencurigai aku?” tanya Thian-hi mendongak.
“Kenapa? Kau berani tak mengakui dosa2mu itu?”
“Semua orang menuduhku begitu, apakah aku harus memberi penjelasan kepada seluruh manusia di kolong langit ini? Kiranya cukup kukatakan bahwa bukan akulah yang berbuat, aku tidak bisa menuntut kepada semua orang untuk memberi maaf kepada aku, namun dalam sanubari aku selalu berdoa, hanya Tuhanlah yang tahu apa yang telah terjadi!”
Situa Pelita menjadi bungkam, dengan mendelong ia awasi Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi berdesah sambil menunduk, ujarnya, “Cianpwe! Sikapku ini mungkin rada keterlaluan, hakikatnya aku tidak tahu cara bagaimana aku harus memberi penjelasan kepada setiap orang, aku pun takkan bisa membuat setiap orang mau percaya kepada aku.”
Setelah berpikir Situa Pelita berkata, “Sebetulnya akupun tak berani berkukuh. Aku hanya mendengar berita saja, kenyataan pihak Bu-tong-pay sudah menyebar Bu-lim-tiap, mengundang seluruh tokoh-tokoh silat dari segala lapisan dan golongan untuk mencari jejakmu bersama.”
“Thian-cwan Taysu mengatakan supaya aku bersabar, tujuan hidupku sekarang hanyalah hendak menuntut balas bagi ayah dan Soat-san-su-gou berempat Cianpwe, soal lain aku tidak ambil peduli lagi.”
Akhirnya Situa Pelita menghela napas, katanya memberi pesan, “Bagaimana duduk perkara sebenar-benarnya sulit diterangkan. Tapi kau harus selalu ingat, hasrat kita sangat besar terhadap kemajuanmu dihari depan, kau harus bisa mengendalikan diri baik-baik, sudah aku pergi!” — enteng sekali tubuhnya lantas melayang jauh ke dalam hutan dan lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Hun Thian-hi menjublek, pikirannya melayang jauh, akhirnya ia menghirup hawa panjang, meski Situa Pelita tidak membantu secara langsung, namun sikap dan kata-katanya itu sungguh membuatnya tunduk lahir batin.
Hun Thian-hi naiki kudanya dan melanjutkan perjalanan lagi. Tak lama kemudian ia memasuki sederetan hutan-hutan lebat yang semakin gelap. Jalan punya jalan lambat laun firasatnya bicara bahwa sekelilingnya telah penuh dikuntit oleh banyak perangkap. Segera Thian-hi menarik tali kekang dan menghentikan kudanya, sekian saat ia celingukan ke sekitarnya.
Benar-benar juga tahu-tahu di hadapannya melayang turun dua sosok manusia, mereka bukan lain adalah Gwat Long dan Sing Poh. Dengan sikap dingin Hun Thian-hi menatap mereka berdua. Demikian juga Gwat Long dan Sing Poh berdiri tegak dengan sikap angker di kanan kiri di hadapan kuda Thian-hi.
“Untuk apa kalian menghadang perjalananku?” jengek Thian-hi dingin.
Gwat Long dan Sing Poh berkata bersama, “Seluruh tokoh Bulim siapa yang tidak tahu bahwa kau telah membunuh guruku. Kenapa tanya lagi!”
Thian-hi tertawa dengan sombong, sindirnya, “Tapi adalah kalian berdua lebih jelas dari aku siapa sebetulnya pembunuhnya?”
“Hun Thian-hi!” maki Gwat Long gusar, “jangan cerewet lagi, apa hari ini kau sangka bisa keluar dari hutan ini? Hutan ini sudah terkepung rapat, seumpama tumbuh sayap pun jangan harap kau dapat terbang ke langit!”
Thian-hi bergelak tawa dengan congkak, katanya, “Guru kalian Giok-yap Cinjin semula menyangka kamu berdua sangat setia terhadap beliau, tapi setelah beliau wafat, sepak terjang kalian sungguh….”
“Hun Thian-hi jangan banyak bacot lagi!” teriak Gwat Long sambil mengulapkan tangan ke belakang. “Lihatlah itu!”
Tampak dari hutan sebelah depan sana muncul Kongsun Hong gurunya.
Kata Gwat Long berpaling ke belakang, “Kongsun Tayhiap, muridmu disini bagaimana menurut anggapanmu?”
Melihat gurunya Kongsun Hong mendadak muncul di tempat itu, Thian-hi tercengang heran, cepat ia nyapa, “Suhu!”
Lam-siau Kongsun Hong menatap tajam ke arah Thian-hi tanpa bersuara.
Gwat Long mendesaknya lagi, “Kongsun Tayhiap, kaulah seorang tokoh Kangouw yang bangkotan, sepak terjang dan tingkah laku muridmu ini, kau sebagai gurunya bagaimana mempertanggung jawabkan!”
Kongsun Hong menghela napas tanpa bicara. Thian-hi menunduk dengan sedih, jelas terlihat olehnya titik-titik air mata dimuka gurunya. Dibanding pertemuan dengan gurunya tempo hari Lam-siau Kongsun Hong sekarang kelihatan jauh lebih tua sepuluh tahun, rambut dipinggir telinganya kelihatan sudah mulai ubanan.
Sekian lama Kongsun Hong tenggelam dalam renungannya, akhirnya ia angkat kepala berkata kepada Gwat Long, “Aku mengusirnya dari perguruan terserah bagaimana kalian hendak menghukumnya. Aku tak perlu banyak bicara lagi!”
Habis bicara terus tinggal pergi.
Gwat Long menjengek hidung, katanya, “Kongsun Tayhiap begitu saja keputusanmu?”
Kongsun Hong membalik ke arah Gwat Long katanya, “Bagaimana? aku menyerahkan dia kepada kalian untuk menghukumnya sesuka hatimu apakah masih kurang adil?”
Gwat Long mendengus tak bicara lagi. Maksudnya semula hendak mendesak Kongsun Hong supaya memerintahkan Hun Thian-hi bunuh diri, sekarang terpaksa harus turun tangan sendiri….
Dengan berlinang air mata Hun Thian-hi mengawasi punggung Kongsun Hong yang menghilang dibalik pohon dalam hutan. Tahu dia sikap dan keputusan gurunya terhadap dirinya tadi adalah yang paling baik dan banyak memberi kelonggaran, dan terpaksa memang harus demikianlah yang dapat diperbuatnya…. di hadapan para gembong-gembong silat Kangouw. Seumpama Kongsun Hong mengetahui bahwa kematian Giok-yap bukan lantaran dirinya, diapun bakal berbuat demikian.
Gwat Long melolos pedang terus menyerang kepada Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi bergelak tawa, sigap sekali tubuhnya mencelat tinggi dari tunggangannya, sebelah tangan kiri menanggalkan pedang dengan jurus Hun-liong-pian-yu ia balas menyerang kepada Gwat Long.
Hun-liong-pian-yu adalah salah satu jurus dari Thian-liong-chit-sek yang paling hebat dan lihay. Meski Gwat Long sebagai murid Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cinjin tak urung juga terdesak mundur selangkah. Tapi dasar punya kepandaian tinggi dari didikan perguruan murni ilmu silatnya memang lain dari yang lain. Kejap lain ia sudah dapat memperbaiki posisinya, sekarang ia mulai balas menyerang, pedangnya panjang berterbangan, dengan jurus Soat-yong-lou-hwa, selarik sinar dingin berputar terus balas menyerang mengarah tenggorokan Thian-hi.
Menyaksikan Gwat Long mendesak gurunya begitu rupa sungguh benci Thian-hi bukan main, saking sengit segera ia kembangkan ilmu Gin-ho-sam-sek, tenaga dikerahkan seluruhnya untuk merobohkan lawan.
Melihat saudaranya rada terdesak Sing Poh segera mencabut pedang, sekarang berdua mengepung Hun Thian-hi. Dengan dua lawan satu Hun Thian-hi masih lancar memainkan Tam-lian-hun-in-hap untuk menyerang dan untuk membela diri.
Pertempuran sudah berjalan setengah jam, meski Thian-hi membekal pedang aliran murni dari tingkat yang paling tinggi, lama kelamaan ia merasa tenaga mulai terkuras habis, pula Gwat Long dan Sing Poh sudah mainkan Cian-si-bik-so ilmu pedang gabungan yang kokoh dan rapat sekali untuk menempur Thian-hi mati-matian.
Semakin tempur Gwat Long berdua semakin gagah dan serangan semakin gencar.
Tiba-tiba Hun Thian-hi bersuit nyaring panjang, tibalah saatnya ia kembangkan jurus ketiga Gin-sho-sam-sek yang belum selesai dilatihnya. Dimana pedangnya berputar lempang dimana jurus Hwi-ho-poh-cun-siau berkembang, cahaya mas berkilau mengembang lebar langsung menerjang dan membobol kepungan jalur sinar pedang Gwa Long dan Sing Poh, seiring dengan hasil gemilang ini tubuh Thian-hi pun ikut melesat keluar dari kepungan.
Begitu berhasil lolos dari kepungan seketika Thian-hi rasakan dadanya sesak dan mual, tanpa kuasa mulutnya lantas menyemburkan darah segar, sekali lompat ke atas punggung kudanya terus mencongklang keluar hutan.
Dalam ilmu Gin-ho-sam-sek hanya jurus ketiga inilah yang paling ganas dan merupakan jurus menyerang melulu. Dulu karena belum selesai sempurna ciptaan jurus ketiga ini maka Soat-san-su-gou tak berani melancarkan melawan Bu-bmg Loni sehingga mereka sendiri yang menjadi korban. Atau kalau terpaksa dilancarkan tentu untuk hari2 selanjutnya bilamana Hun Thian-hi melancarkan jurus ini Bu-bing Loni takkan gentar dan dapat menyelami inti sari serta pemecahannya. Kenyataan memang mereka terdesak dan bakal kalah akhirnya mereka sembunyikan jurus yang terlihay ini khusus diturunkan kepada Hun Thian-hi. Kalau Hun Thian-hi kelak berhasil mempelajari dengan sempurna tentu akan merupakan tekanan berat bagi Bu-bing.
Dengan luka-luka berat Thian-hi semampai di atas kudanya terus menerjang keluar hutan. Waktu sampai diluar hutan dimana sudah ada orang yang menunggunya. Pertama-tama Toh-bing-cui-hun yang menyerang lebih dulu, sekali ayun tangan kanan cincin pencabut nyawa dan Cui-hun-chit-sa-to sekaligus diberondong keluar, semua mengarah tempat mematikan di tubuh Thian-hi.
Meski luka dalam sangat berat, tapi musuh menghadang jalan, terpaksa ia menahan sakit dan kerahkan tenaga, dengan menggeram gusar pedangnya berkelebat miring, cukup dengan jurus Tam-lian-hun-in-hap seluruh hujan senjata rahasia kena dipukul runtuh.
Sementara itu jarak kedua belah pihak sudah semakin dekat terpaksa Toh-bing-cui-hun To Hwi menggunakan pedang menyerang Thian-hi. Di belakangnya tampak Tosu gila juga muncul, teriaknya tertawa, “Bocah, mau lari kemana lagi!”
Perasaan Thian-hi menjadi pedih seperti diiris-iris, Tosu gila yang tempo hari pernah berjanji hendak membantu dirinya sekarang berbalik memusuhi dirinya. Saking berduka ia bergelak tawa panjang, pedangnya bergerak kencang menangkis dan menyampok serangan senjata para musuh, karena gelak tawanya ini darah menyembur lagi dari mulutnya. Melihat keadaan Thian-hi, Tosu gila menjadi kaget, biji matanya memancarkan sorot cahaya aneh berkilat.
Beruntun pedang Thian-hi menutul dan menabas ke arah kedua musuh, terpaksa Tosu gila berkelit mundur, Thian-hi berkesempatan mengeprak kudanya lari.
Tidak jauh Thian-hi lari Gwat Long dan Sing Poh sudah menyusul tiba. Tubuh mereka bagai terbang mencelat tiba menghadang jalan Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi menjadi sengit bentaknya, “Jangan kalian terlalu mendesak orang!” — matanya mendelik membara ke arah kedua musuhnya.
Gwat Long dan Sing Poh menjadi gentar dan mundur ketakutan. Dengan gusar Thian-hi menggentakkan pedang menyerang lagi, karena kata-katanya tadi ia menyemburkan darah segar. Urusan sudah ketelanjur sedemikian jauh terpaksa Gwat Long berdua pun tak mau menyudahi begitu saja. Mana kuat dan mana lemah jelas dapat dibedakan, sekali balas menyerang’ pedang Thian-hi mencelat dari cekilannya.
Tepat saat itu Toh-bing-cui-hun juga telah memburu tiba, pedangnya menusuk kelambung Thian-hi karena tak membekal senjata terpaksa Thian-hi menjepit perut kudanya melecutnya ke depan untuk menghindari tusukan ganas ini.
Melihat Toh-bing-cu-hun To Hwi begitu bernafsu hendak membunuh Thian-hi, memang inilah yang menjadi maksud tujuan Gwat Long berdua, l<mbat2 saja mereka bergerak memberi peluang kepada TO Hwi. To Hwi lancarkan pula tabasan mengarah paha Thian-hi.
Sekonyong-konyong dari tengah udara meluncur sesosok bayangan orang, dimana sinar perak berayun kontan pedang To Hwi kena tergulung terbang ke tengah udara.
Tampak Bun Cu-giok meluncur hinggap di tanah, sekilas dilihatnya dari kejauhan banyak Tosu tengah memburu tiba, cepat-cepat ia berseru kepada Thian-hi, “Saudara Hun. Lekas lari!”
Sementara itu, Ciok Yan juga membedal kudanya menerjang tiba. Bun Cu-giok mainkan ilmu cambuknya yang lincah dan hebat untuk mendesak para musuh, kesempatan lain serentak mereka melarikan diri bersama.
Sudah tentu Gwat Long dan Sing Poh tak rela ikan yang sudah masuk jaring terlepas lagi. Dengan kencang mereka mengejar. Terpaksa Bun Cu-giok mainkan gabungan ilmu pedang dan cambuk untuk menandingi para pengejarnya, sambil tempur terus melarikan diri.
Sekejap saja sepuluh li sudah ditempuh, lari bertempur masih terus berlangsung, akhirnya tinggal Gwat Long dan Sing Poh yang masih terus mengejar.
Bun Cu-giok menghentikan langkah dan membalik tubuh, bentaknya kepada Gwat Long berdua, “Cara bagaimana kematian Supek kalian berdua jelas mengetahui, tahu salah tapi tak bertobat, sekarang malah berani main bunuh pada orang yang tak berdosa, dimana hati nuranimu?”
Sejenak Gwat Long berdua tercengang, akhirnya menebalkan muka berkata, “Kaukah murid Ce-hun Totiang? Meski Ce-hun diusir dari perguruan, hubungan kental dengan guruku masih kekal. Hun Thian-hi membunuh guruku, hal ini diketahui seluruh dunia, bagaimana kau bisa melepas dia.”
Bun Cu-giok menjadi murka, makinya, “Sampai matipun kalian cdak insaf?” Pedang mas dan cambuk perak bergerak bersama merabu kepada Gwat Long berdua.
Betapa girang hati Thian-hi mendapat bantuan Bun Cu-giok dan Ciok Yan, lambat-lambat ia meraba daun buah ajaib terus ditelannya, bersama Ciok Yan menonton diluar gelanggang.
Seorang diri Bun Cu-giok melawan keroyokan Gwat Long dan Sing Poh. Sama-sama murid Bu-tong dari aliran murni, setiap jurus dan tipu permainan mereka hampir sama, sekejap saja pertempuran sudah berlangsung lima puluh jurus.
Kuatir bala bantuan pihak lawan keburu tiba, segera Bun Cu-giok melompat mundur terus naik ke atas kudanya serunya, “Tak perlu kulayani kalian!” bersama Thian-hi dan Ciok Yan mereka lari pula dengan kencang.
Gwat Long dan Sing Poh juga tahu tak lama lagi bala bantuan bakal tiba mana mereka berani mengejar terus, kalau sekarang tidak beres tentu kelak menimbulkan bibit bencana. Beberapa lama kemudian Bun Cu-giok berhenti dan memutar balik, hardiknya, “Kalian benar-benar bandel?”
Gwat Long berdua tak banyak bicara begitu dekat lantas menyerang. Hun Thian-hi menggertak sengit. dengan kedua kepalannya ia lancarkan pukulan jarak jauh merabu kedua musuhnya.
Sungguh kejut Gwat Long berdua bukan main, cepat-cepat mereka jumpalitan mengegos, kelihatannya tenaga Thian-hi sudah pulih begitu cepat, pelan-pelan mereka mundur menjauh dan tak berani sembarangan bergerak. Bun Cu-giok berkakakan, baru saja mereka hendak melanjutkan lari.
Tiba-tiba meluncur turun bayangan orang dari tengah udara, tahu-tahu seorang tua muka hitam berdiri tegak dihidapan Gwat Long berdua.
Terbelalak mata Thian-hi bertiga, cara gerak tubuh pendatang ini, sungguh sangat menakjubkan, belum pernah terlihat orang bisa bergerak begitu lincah dan indah, entah apa maksud kedatangannya Orang itu menggeram ditenggorokan sambil mendelik Ke arah Thian-hi bertiga, lalu memutar menghadapi Gwat Long dan Sing Poh.
Begitu melihat jelas orang muka hitam kontan Gwat Long berdua mengunjuk rasa girang dan berseri tawa, tersipu-sipu maju menjura serta sapanya, “Wanpwe Gwat Long dan Sing Poh menghadap Cu-kat Cianpwe!”
Mendengar nama orang terkejut Bun Cu-giok, mulutnya mendesis, “Dialah jiang-ho-it-koay Cukat Tam!”
Thian-hi juga terlongong, memang ia sedang menempuh perjalanan menuju ke Tiang-pek-san hendak mencari Ciang-ho-it-koay, tapi sekarang dia sudah datang sendiri, namun situasi sekarang jelas sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya.
Kata Cukat Tam kepada Gwat Long berdua. “Kudengar berita katanya gurumu sudah wafat, apakah betul?”
Gwat Long dan Sing Poh menjawab bersama, “Harap Cukat Cianpwe suka memberi keadilan, memang begitulah kebenar-benarannya!”
Cukat Tam menoleh ke arah Bun Cu-giok, tanyanya menyerngai, “Siapakah Hun Thian-hi?”
“Akulah Hun Thian-hi!” jawab Thian-hi lantang.
Ciang-ho-it-koay mengawasi Thian-hi dengan seksama, tiba-tiba ia terbahak-bahak, nada tawanya begitu keras mendengung di pinggir telinga sampai Thian-hi merasa pusing tujuh keliling.
Terpikir dalam dugaan Thian-hi bahwa Cukat Tam ini mungkin dulu pernah mendapat kebaikan dari Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin, jelas hari ini dirinya takkan dapat terhindar dari bencana.
Hal yang paling menggelikan justru dirinya hendak pergi mencarinya.
Setelah menghentikan gelak tawanya Cukat Tam bertanya menegas, “Kau yang bernama Hun Thian-hi?”
Thian-hi tersenyum lebar, “Betul!” sahutnya manggut.
Cukat Tam mengawasi lagi dengan seksama, akhirnya ia berpaling dan berkata kepada Gwat Long Sing Poh, “Benar-benarkah guru kalian terbunuh ditangannya?”
Gwat Long Sing Poh manggut bersama, menjelaskan, “Suhu tersesat waktu latihan Lwekang, dalam keadaan tak bisa bergerak dan bicara, gampang saja dia membunuh beliau.”
Ciang-ho-it-koay bergegas membalik tubuh serta membentak kepada Thian-hi dengan gusar, “Kenapa kau membunuh Giok-yap Cinjin?”
Thian-hi tertawa-tawa, jawabnya, “Kau tanya saja kepada mereka berdua”
“Aku tanya kau!” hardik Cian-ho-it-koay murka.
Bun Cu-giok segera menyelak bicara dengan keras, “Giok-yap Supek hakikatnya bukan dibunuh oleh Hun Thian-hi.”
Ciang-ho-it-koay tercengang, jengeknya kepada Bun Cu-giok, “Siapa kau?”
“Aku yang rendah Bun Cu-giok.” sahut Bun Cu-giok lantang.
Ciang-ho-it-koay mendengus hina, ejeknya, “Bun Cu-giok merupakan kaum keroco yang tak terkenal, kenapa diagulkan!”
Bun Cu-giok tahu selamanya Ciang-ho-it-koay bicara tentang budi tak mengenai keadilan, jelas dia punya hubungan erat dengan Gwat Long dan Sing Poh, pihak sendiri terang menjadi bulan2an belaka.
Tiba-tiba tergerak hatinya, cepat ie menjura serta katanya, “Cukat Cianpwe guruku Ce-hun, apakah Cianpwe pernah dengar nama beliau?”
Bertaut alis Ciang-ho-it-koay Cukat Tam, hatinya menjadi curiga dan bertanya-tanya, dia tahu bahwa Ce-hun adalah Sute dari Giok-yap. Diantara sesama perguruan yang sedemikian banyak hubungan Giok-yap paling akrab dengan Ce-hun, kenapa para murid kedua tokoh seperguruan mereka saling bertentangan? Katanya, “Jadi kau murid Ce-hun?”
Bun Cu-giok tahu sekarang tiada untungnya membicarakan aturan, segera ia manggut-manggut katanya lagi, “Karena urusan Supek itu, maka Suhu menitahkan aku untuk bicara dengan Cianpwe.”
Ciang-ho-it-koay semakin gopoh, batinnya, “Selamanya aku tak punya hubungan dengan Ce-hun, untuk persoalan apa ia mengajak aku bicara?” — tapi kedua belah pihak adalah tokoh-tokoh ternama betapapun ia harus memberi muka, maka segera ia menegas, “Apa betul?”
Gwat Long dan Sing Poh segera menimbrung, “Cukat Cianpwe jangan kau tertipu oleh obrolannya. Coba pikir, baru saja kau orang tua mendengar kabar dan memburu datang, bagaimana mungkin dia mendapat tugas gurunya untuk mengundang kau? Jelas ia sedang menggunakan tipu memancing harimau dari gunung.”
Ciang-ho-it-koay termakan oleh hasutan ini, dengusnya kepada Bun Cu-giok, “Dimana gurumu?”
“Sudah tentu berada di Tangkula-san!”
“Itulah baik. Hun Thian-hi hendak kuringkus kesana, kupikir kau takkan menolak bukan.”
Bun Cu-giok tertegun melongo, dia tahu gurunya takkan sudi mau mengurus segala tetek bengek ini. Apalagi soal perjodohannya dengan Ciok Yan pun belum mendapat restunya. Kalau membawa Hun Thian-hi ke Tangkula-san, kalau diadu bertiga dan bicara secara berhadapan, jelas pembualanku bakal membuat marah Suhu, bukankah urusan bakal lebih tidak menguntungkan bagi Hun Thian-hi!
Melihat keraguan Bun Cu-giok Ciang-ho-it-koay menyeringai ejek. Cepat-cepat Hun Thian-hi berkata, “Apakah Cukat Cianpwe takut Hun Thian-hi bakal melarikan diri?”
Ciang-ho-it-koay terloroh-loroh, “Bocah cilik, jangan takabur di hadapanku!” sembari berkata tangan kanannya diulurkan mencengkeram ke arah Bun Cu-giok.
Melihat urusan tak bisa dibikin damai, lekas-lekas Bun Cu-giok mengegos kesamping serta berteriak, “Hoan-hu popo segera bakal tiba, apakah kau masih tidak percaya?”
Ciang-ho-it-koay semakin murka, bentaknya, “Peduli apa Hoan-hu popo!” tangannya bergerak lagi, kelima jari-jarinya seperti cakar garuda menyengkeram kemuka Bun Cu-giok.
Melihat situasi sekarang sangat menguntungkan pihaknya, Gwat Long berkesempatan bergerak lagi, sambil menggertak berbareng mereka menubruk ke arah Hun Thian-hi.
Tepat pada saat itu, kelihatan Huan-hu popo melayang datang dengan kecepatan seperti anak panah, langsung ia meluncur di hadapan Ciang-ho-it-koay, seringainya dingin, “Cukat Tam! Berani kau menghina padaku!”
Melihat Hoan-hu popo betul-betul muncul Ciang-ho-it-koay menjadi tersipu-sipu, sesaat ia tertegun. Sebaliknya Bun Cu-giok menjadi kegirangan, sebat sekali badannya melejit tinggi merangsek ke arah Gwat Long Sing Poh. Terpaksa Gwat Long Sing Poh melompat menyingkir.
Cukat Tam menjengek, “Apa pedulimu dalam persoalan ini!”
“Gadis itu adalah muridku, Bun Cu-giok adalah calon suaminya, apa yang hendak kau perbuat kepada mereka!” tanya Hoan-hu popo.
Cukat Tam menjadi sangsi, tahu dia bahwa Hoan-hu popo tidak gampang diajak bekerja, katanya, “Jadi kau sudah tahu duduk perkara sebenar-benarnya. Apakah betul Ce-hun Totiang mengundang aku?”
“Peduli dengan urusan itu. Tapi muridku dan calon suaminya betapapun tak kuijinkan kau mengganggu usik mereka.”
Kata Bun Cu-giok kepada Hoan-hu, “Nenek, bantulah aku sekali ini. Sebetulnya Hun Thian-hi tidak membunuh Giok-yap Cinjin, ini hanya fitnah belaka.
“Nak, kau jangan menjadi bodoh”’ ujar Hoan-hu, “Urusan ini sulit diketahui siapa benar-benar atau salah, jangan kau usil!”
Sementara itu Ciang-ho-it-koay sudah berpikir sekian lamanya, katanya, “Baiklah, secara sembrono mulutku mengoceh menyakiti hatimu. Hitung saja dia tak bersalah kubebaskan dia!”
“Tidak bersalah apa,” bentak Bun Cu-giok dengan gusar. “Justru kau ini yang tidak tahu duduk perkara Sebenar-benarnya, kau dengar kata sepihak dari kawanan penjahat.”
Berubah air muka Gwat Long dan Sing Poh. Rona wajah Ciang-ho-it-koay juga berubah bergantian. terdengar ia menjengek dingin, “Berani kau mengoceh lagi, awas, kupuntir kepalamu!”
“Coba kau berpikir,” semprot Bum Cu-giok dengan lantang, “Apa alasan Hun Thian-hi untuk membunuh Giok-yap Cinjin?”
“Peristiwa Hun Thian-hi membunuh puluhan jiwa aku pun sudah dengar, memang di seluruh kolong langit ini siapa yang punya alasan untuk membunuh Giok-yap Cinjin?”
Bun Cu-giok menjadi bungkam, sebaliknya Hun Thian-hi mandah tersenyum ewa, katanya kepada Bun Cu-giok, “Saudara Bun terima kasih akan kebaikanmu ini, sebetulnya aku hendak ke Tiang-pek-san mencari dia, sekarang dia sudah datang, sangat kebetulan malah.”
“Kau hendak mencari aku?” tanya Ciang-ho-itkoay mendengus hidung.
Hun Thian-hi tak mau jawab.
Kata Bun Cu-giok:”Lote, hakikatnya kau tidak melakukan kesalahan, betapapun jangan mandah menyerah saja.” — Lalu ia lemparkan pedang panjangnya kepada Hun Thian-hi.
Melihat kekukuhan pendapat Bun Cu-giok, Hoan-hu mengerut kening, ia insaf bila benar-benar-benar-benar sampai Ciang-ho-it-koay marah dan urusan sudah ketelanjur tentu berabe, segera ia maju selangkh serta berkata kepada Ciang-ho-itkoay, “Aku pulang lebih dulu!” — Sembwi berkata secepat kilat ia tutuk jalan darah Bun Cu-giok dan Ciok Yan terus dikempit dan dibawa lari.
Menyoreng pedarg mas pemberian Bun Cu-giok, Hun Thian-hi tenggelam diam pikirannya, sekarang dia menghadapi lawan tangguh, dia tahu bagaimana juga dia tak mampu menang.
Terdengar Ciang-ho-it-koay mendehem keras serta mendesak maju kehadapan Hun Thian-hi. Hun Thian-hi mengangkat alis, sebetulnya hatinya berontak untuk menyerah begitu saja, ada hasrat menggunakan jurus Pencacat langit pelenyap bumi yang ganas itu, tapi tempo hari sudah pernah berjanji terhadap Situa Pelita
Hati Ciang-ho-it-koay juga rada heran dan bertanya-tanya, dia heran atas ketenangan Hun Thian-hi, desisnya dingin, “Hun Thian-hi, sebelum ajalmu ingin aku bertanya, untuk keperluan apa kau hendak ke Tiang-pek-san mencari aku!”
Dengan mendelong Hun Thian-hi menjawab, “Urusan sudah lewat, tak perlu disinggung lagi!”
Gwat Long dan Sing Poh menjadi kuatir kalau semakin berlarut urusan bakal berabe, segera mereka mendesak, “Cukat Cianpwe, bocah ini cukup licik dan banyak muslihat, jangan sampai tertipu olehnya, cepat bunuh saja supaya tidak menimbulkan bencana dikemudian hari!”
Ciang-ho-it-koay terbahak-bahak, ujarnya, “Masa aku takut menghadapi muslihat orang?” — Sebat sekali tubuhnya berkelebat merangsak ke arah Thian-hi. kedua jari tangan kanannya dirangkap menutuk ke jalan darah Sam-kiau-hiat Hun Thian-hi.
Cepat Thian-hi menggerakkan pedang, laksana lembayung sinar mas dari pedangnya berkelebat melancarkan jurus Gelombang perak mengalun berderai, menjaga diri dan balas menyerang dengan tarian pedang yang menakjupkan.
Terdengar Cukat Tam menjengek murka, “Dengan bekal Lwekang begini berani unjuk gagah di depan seorang ahli?” — Sembari berkata tangan kanannya bergerak lincah seperti bayang2 kipas melancarkan ilmu pukulan Biau-hun-ciang, telapak tangannya berkembang terus mencengkeram ke arah
pedang mas Hun Thian-hi.
Lekas-lekas Thian-hi menarik pedang dan berusaha melompat mundur, namun pedang sudah tak kuasa dipegangnya lagi, entah bagaimana tahu-tahu sudah terampas oleh Ciang-ho-it-koay.
Cukat Tam buang pedang di atas tanah, sambil menyeringai mulutnya menjengek, “Masih punya kepandaian lihay apa lagi?”
Thian-hi menghela napas tanpa bicara. Sungguh ia sangat kejut akan kepandaian Ciang-ho-it-kaoy yang begitu lihay dan tinggi, hatinya dirundung pertanyaan mengapa Buah ajaib yang merupakan benda mujarab, sebanyak enam buah tertelan ke dalam perutnya tidak pernah menunjukkan keampuhannya? Jelas dirinya segera bakal dibunuh oleh Cukat Tam.
Terdengar Gwat Long dan Sing Poh menghasut lagi dari samping, “Cukat Cianpwe, lekas bunuh!”
Ciang-ho-it-koay masih ingin bertanya beberapa persoalan dengan Thian-hi, dengan sikap dingin ia berpaling serta dengusnya, “Kenapa kalian berdua begitu ingin membunuhnya. Apakah kalian tahu kenapa ia membunuh guru kalian?”
Gwat Long dan Sing Poh tergagap tak mampu buka suara, akhirnya Gwat Long menjawab tersendat, “Hun Thian-hi cukup licik dan licin, kita….”
“Kalian tak perlu banyak cerewet!” bentak Ciang-ho-it-koay. Lalu ia berpaling lagi ke arah Thian-hi, tanyanya, “Kenapa kau bunuh Giok-yap Cinjin, apa diantara kalian punya dendam permusuhan?”
Hun Thian-hi tertawa ewa. sahutnya, “Kau tak perlu banyak tanya lagi.”
Tiba-tiba Ciang-ho-it-koay bergerak begitu cepat sampai jak bisa diikuti pandangan mata tahu-tahu ia sudah menekan punggung Thian-hi, ancamnya, “Bagaimana! Kau mau bicara tidak?”
Hun Thian-hi pejamkan mata tanpa bersuara, ia insaf bahwa jiwanya hanya tergantung dalam satu dua detik saja, gelombang pikiran kenangan lama terbayang dalam benaknya. Mendadak ia seperti mendengar petuah Thian-cwan Taysu, “Sekarang Siau-sicu tengah terfitnah dan penasaran, hanya bersabarlah baru kau dapat mencuci diri, hanya bersabar baru kau akan berhasil menuntut balas bagi sakit hati ayahmu, hanya kesabaranlah yang tidak akan menyia-nyiakan harapan besar Soat-sun-su-gou berempat terhadap dirimu!” — tersentak hatinya, samar-samar seperti terlihat sebuah wajah buram tengah tertawa kepada dirinya.
Sanubari Hun Thian-hi tengah bergolak, terpikir olehnya dengan cara kematiannya ini hanya meninggalkan buah tertawaan orang saja, terasa olehnya bahwa Mo-bin Suseng saat mana tengah tertawa lebar.
Melihat Thian-hi tegak tak bergeming, Ciang-ho-it-koay menjadi kewalahan, katanya, “Baik kau tak mau bicara aku pun tak perlu memaksa. Aku akan menyelenggarakan Bu-lim-tay-hwe, disaat itulah kujatuhkan hukuman mati kepada kau, akan kulihat apa kau tetap bandel.”
Timbul harapan hidup Thian-hi, katanya membuka mata, “Cianpwe, aku punya sebuah cerita apa kau sudi mendengar?”
“Mana aku punya tempo mendengar ceritamu!”
“Benar-benar! Cukat Cianpwe jangan sekali2 tertipu oleh dia.” Gwat Long Sing Poh tetap menghasut.
Cukat Tam melirik ke arah mereka, terlihat olehnya sikap dan mimik wajah mereka yang rada aneh, dengusnya berkata, “Kalian sangka aku bisa tertipu olehnya? Justru aku ingin mendengar.” — lalu ia berkata kepada Thian-hi, “Coba kau mulai.”
Terpaksa Gwa Long dan Sing Poh mandah gugup dalam hati. Jika Hun Thian-hi benar-benar menceritakan duduk perkara sebenar-benarnya, mungkin siapapun paling tidak bakal percaya tiga bagian.
Sesaat Thian-hi termenung lalu berkata, “Itulah kisah tentang Badik buntung, apakah Cianpwe tahu tentang Badik buntung?”
“Katakan terus jangan bertanya kepada aku!” desak Ciang-ho-it-koay.
“Semua orang menyangka bahwa di dalam Badik buntung itu ada tersembunyi rahasia Ni-hay-ki-tin, setiap orang ingin memiliki….”
Sambil mendengar cerita Thian-hi Ciang-ho-it-koay melirik ke arah Gwat Long Sing Poh, dilihatnya rona wajah mereka yang tidak wajar, persoalan terbunuhnya Giok-yap Cinjin tentu punya latar belakang yang sulit dipecahkan, segera ia bertanya, “Sebetuhnya cara bagaimana kematian guru kalian?”
Berubah pucat wajah Gwat Long Sing Poh, kata mereka, “Cianpwe, Sam-lo-chit-cu bisa menjadi saksi bahwa Hun Thian-hilah pembunuhnya, dengan mata kepala sendiri mereka melihat Hun Thian-hi melolos Badik buntung dari dada guru kita.”
Ciang-ho-it-koay menjadi gelisah dan rada curiga, jelas kata-kata Gwat Long ini bukan obrolan belaka, katanya kepada Hun Thian-hi, “Ceritamu tak perlu diteruskan, sekarang juga kita menuju ke Bu-tong, kau punya maksud hendak membuktikan bahwa Giok-yap Cinjin bukan kau yang membunuh, itu pun baik, tapi ada orang melihat maka tiada halangan kau membela diri di hadapan mereka”
Sebetulnya Thian-hi hendak menceritakan apa tujuan si pembunuh Giok-yap Cinjin, tapi niatnya ini menjadi batal karena Ciang-ho-it-koay tak ingin mendengar lebih lanjut. Tak terasa ia menghela napas rawan. Tapi ia masih punya harapan katanya kepada Cukat Tam, “Kau ingin tahu kenapa aku hendak mencari kau?”
Hati Ciang-ho-it-koay tengah gelisah, katanya tak senang, “Nanti bicara di Bu-tong, jangan cerewet lagi.”
Hun Thian-hi bungkam.
Mendadak ditengah angkasa terdengar pekik nyaring dari burung dewata. Thian-hi terperanjat dan mendongak, pikirnya, “Hari ini baru ratusan hari, kenapa Bu-bing Loni datang mencari kemari?”
Cukat Tam sendiri juga sangat terkejut.
Tak lama kemudian tampak dua burung dewata pelan-pelan hinggap di tanah, Bu-bing Loni, Ham Gwat, Siau Hong dan Su Giok-lan muncul bersama.
Dengan tajam Hun Thian-hi mengawasi mereka, tampak olehnya Su Giok-lan berapi-api menatap dirinya. Sebaliknya sikap Ham Gwat tetap angkuh dan dingin, dengan kilatan tajam dingin Bu-bing Loni menyapu pandang seluruh hadirin.
Diam-diam bercekat hati Cukat Tam, kenapa nikoh tua inipun datang, untuk apakah ia kemari, demikian ia membatin dalam hati.
Sebaliknya Bu-bing Loni sendiri juga merasa heran bahwa Ciang-ho-it-koay Cukat Tam juga berada disitu. Selamanya Ciang-ho-it-koay bersemajam di Tiang-pek-san, selamanya jarang mengembara di daerah Tionggoan. Soat-san-su-gou pernah berpesan kepada Hun Thian-hi supaya pergi ke Tiang-pek-san mencari It-ki dan It-koay, sekarang Ciang-ho-it-koay sudah muncul tapi dilihat gelagatnya sedang bertengkar dengan Hun Thian-hi.
Lubuk hati masing-masing sedang melayangkan pikiran sendiri, sesaat mereka jadi terlongong hingga tak bersuara.
Su Giok-lan berpaling memandang ke arah Bu-bing Loni, tampak Bu-bing Loni manggut-manggut. Su Giok-lan lantas tampil ke depan katanya kepada Hun Thian-hi, “Hun Thian-hi, tebuslah jiwa engkohku!” sembari kata ia melolos pedang panjang.
Tanpa bicara Hun Thian-hi mengawasi Su Giok-lan lekat-lekat, tak tahu dia bagaimana perasaan hatinya.
Keadaan Cukat Tam menjadi serba sulit, dia tak mau bermusuhan dengan Bu-bing Loni, tapi betapa pun Hun Thian-hi tidak boleh ayal saat ini, karena masih banyak persoalan yang perlu dia tanyakan kepada Hun Thian-hi.
Melihat Hun Thian-hi diam tak bergerak, Su Giok-lan menjadi dongkol, hardiknya, “Cabut senjatamu! Bukankah kau punya Badik buntung yang tajam luar biasa? Masa kau takut menghadapiku?”
Dengan mendelong Hun Thian-hi mengawasi Su Giok-lan, dalam hati ia tengah berpikir, tentu ilmu silat Su Giok-lan sudah mencapai banyak kemajuan, tapi meski ia merasa sangat kasihan dan berhutang budi karena kematian Su Cin, namun betapapun kejadian itu bukan kesalahannya.
Su Giok-lan mendesak maju, ujung pedangnya menuding Hun Thian-hi, serunya, “Bagaimana? Kau takut mati?”
Lekas-lekas Cukat Tam tampil ke depan berkata kepada Bu-bing Loni, “Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cjnjin terbunuh oleh Hun Thian-hi, apakah kau tahu?”
Rada berubah muka Bu-bing Loni, sekian lama ia menatap Hun Thian-hi, lalu melerok ke arah Cukat Tam.
Melihat sikap Bu-bing Loni rada kurang percaya, dan pelerokan matanya itu pertanda pertanyaan terhadap dirinya, ini betul-betul rada menghina dan tidak menghargai dirinya, maka dengan menjengek ia berkata, “Oleh karena itu aku ada beberapa persoalan yang hendak kutanyakan kepadanya!”
Bu-bing Loni menyeringai dingin, pelan-pelan ia berpaling mengawasi Hun Thian-hi lagi.
Terdengar Su Giok-lan mendengus, katanya kepada Hun Thian-hi, “Lekas keluarkan senjatamu. Murid Bu-bing Loni selamanya tidak bunuh kaum keroco yang tak melawan.”
Hun Thian-hi mandah tertawa tawar, ujarnya, “Nona Su, sekarang aku betul-betul tidak tahu harus berbuat apa, berikan aku kesempatan berpikir!” habis berkata ia pejamkan mata merenung.
Melihat sikap Hun Thian-hi ini Su Giok-lan salah sangka, anggap orang tengah mempermainkan dirinya, keruan berkobar amarahnya, spontan ia melangkah maju terus menampar sekuatnya dimuka Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi menggeliat berusaha hendak menyingkir, tapi Su Giok-lan yang dihadapi sekarang jauh berbeda dibanding dulu, “plak!” tahu-tahu pipinya sudah bengap dan panas,. dari ujung mulutnya merembes keluar darah segar.
Sungguh kejut Thian-hi bukan kepalang, matanya membelalak gusar, rasa gusar yang menggelora terpancar dari sinar matanya menatap Su Giok-lan.
Su Giok-lan menyeringai dingin, jengeknya: Cabut senjatamu. Terhina oleh kaum hawa apakah kau masih takut mati?”
Hun Thian-hi malah bergelak tawa, serunya, “Segala akibat yang menimpa diriku hari ini semua justru merupakan anugerah dari paman dan kalian bertiga. Engkohmu wafat di tangan Leng Bu, memang harus kuakui ada sebagian karena diriku, tapi hatimu lebih jelas kenapa dan sebab apa ia sampai bertengkar dengan Leng Bu, sebagian besar adalah karena dirimu. Aku telah bunuh Leng Bu menuntut balas bagi engkohmu, hal itu sudah merupakan keuntungan bagi kau, sekarang….”
“Omong kosong,” sentak Su Giok-lan dengan berang, “Cabut senjatamu!”
“Cabut senjata? Haha!” Thian-hi bergelak tawa lagi, “Badik buntung sudah terjatuh ke tangan Partai Merah, kalau kau berkukuh hendak bunuh aku, ilmu silatku sekarang tak ungkulan melawan kau, silakan kau bunuh aku saja. Kenapa pura-pura main gertak segala menyuruh aku cabut senjata, asal kau berani bertanggung jawab kepada nularimu sendiri silakan turun tangan!”
Su Giok-lan menjadi kememek, ia berdiri menjublek tak kuasa turun tangan.
Berkilat sinar mata Bu-bing Loni, ia tahu sehari ia tidak bunuh Hun Thian-hi kelak tentu meninggalkan bibit bencana bagi dirinya, sudah lama ia memperhitungkan, sampai Soat-san-su-gou pun tak dipandang sebelah matanya, namun justru ia menjadi keder dan gelisah menghadapi sinar mata Hun Thian-hi yang berkilat mengandung keteguhan dan kekuatan hatinya. Meski ilmu silat Hun Thian-hi sekarang masih rada rendah, tapi kelak pasti merupakan musuh tangguh yang sulit dihadapi.
Su Giok-lan menunduk diam, lubuk hatinya merasa kurang tentram, kalau dia mau dengan mudah ia dapat bunuh Hun Thian-hi, tapi ia merasa sekarang dia tak bisa berbuat begitu. Tapi kalau sekarang ia tidak turun tangan, bagaimana sikap Bu-bing Loni selanjutnya terhadap dirinya? Akibatnya sungguh ia tidak berani membayangkan.
Hati Su Giok-lan sedang gelisah dan sangsi. Adalah hati Bu-bing Loni gusar bukan main.
Ciang-ho-it-koay tidak tahu bahwa Bu-bing Loni pernah mengadakan janji dengan Soat-san-su-gou, hatinya pun bertanya-tanya kenapa sinar mata Bu-bing Loni dirundung nafsu membunuh yang begitu tebal, tapi kenapa tidak segera turun tangan sendiri? Selamanya Bu-bing Loni tidak suka pinjam tangan orang lain untuk menjatuhkan vonisnya.
Bu-bing Loni menggeram lirih, tahu dia bahwa Su Giok-lan sekarang takkan, mau turun tangan, maka dengan dingin ia mengancam, “Giok-lan! Dalam jangka tiga hari ini, kau harus serahkan batok kepala Hun Thian-hi kepadaku, kalau tidak hm, kau sendiri juga tahu!” — Selesai terkata bersama Ham Gwat dan Siau Hong terus tinggal pergi naik burung dewata.
Dengan mendelong dan perasaan hampa Su Gio-lan mendongak mengawasi bayangan Bu-bing bertiga menghilang dikejauhan, dia tahu apa yang menjadi perkataan Bu-bing tentu akan dilaksanakan sesuai dengan kehendaknya. Kalau tempo yang ditentukan sudah tiba, mohon ampun atau keringanan pun takkan berguna.
Melihat Bu-bing tinggal pergi Cukat Tam menjadi girang, tanpa Bu-bing hadir disini bukankah dirinya yang akan merajai gelanggang? Segera ia berseru pada Thian-hi, “Mari berangkat!”
“Siapa berani membawa dia!” sela Su Giok-lan lari kesamping.
Melihat Su Giok-lan berani merintangi dirinya Cukat Tam menjadi nekad, jengeknya, “Budak lemah, jangan kau tidak tahu diuntung, Suhumu sudah lama pergi!”
Su Giok-lan mencebir bibir, jengeknya, “Orang lain takut padamu, tapi aku tidak!”
Cukat Tam terloroh-loroh, serunya, “Sombong benar-benar budak busuk kau ini. Selama hidup ini Cukat Tam belum pernah ketemu budak kecil berbau pupuk berani kurang ajar terhadap aku.”
“Hari ini justru telah kau temukan.” semprot Su Giok-lan berani.
Ciang-ho-it-koay mengira dengan menyebut namanya saja cukup membuat Su Giok-lan gentar dan mundur teratur, siapa nyana Su Giok-lan ternyata lebih bandel dan nekad. Dalam hati ia jadi membatin; ’seumpama Bu-bing hadir disini juga belum tentu aku takut, terpaksa aku hari ini harus belajar kenal Hui-sim-kiam-hoat betapa hebat dan lihay, katanya, “Kepandaianmu Hui-sim-kiam-hoat dari Bu-bing Loni terkenal di seluruh dunia, hari ini biarlah aku membuka mataku.”
Membeku dingin wajah Su Giok-lan, kelihatan rasa dongkol dan gemes yang tak terlampias darahnya semakin bergelora, dengan pekik panjang segera ya bergerak sebat sekali, ujung pedangnya meluncur dari samping menusuk jalan darah Ki kay-hiat didada. Cukat Tam.
Cukat Tam tertawa besar, laksana angin lesus badannya berputar, tahu-tahu ia melejit kesamping kiri, kedua jari tengahnya langsung menutuk ke Nau-hu-hiat di belakang batok kepala Su Giok-lan.
Gesit sekali Su Giok-lan membalikkan pedang menangkis, gerak pedangnya berubah menjadi jurus Siu-li-kan-kun, sinar pedang berkembang melebar terus mendesak dan merabu kepada Cukat Tam.
Cukat Tam terdesak mundur jumpalitan ke tempat asal.
Gebrak pertama ini berlangsung dalam kilatan waktu saja, namun kecepatan gerak serang menyerang sungguh sangat cepat sekali. Diam-diam kedua belah pihak maklum bahwa hari ini masing-masing ketemu lawan tangguh.
Sejak dibawa pergi Bu-bing Loni, Su Giok-lan telah menelan Ho-siu-oh yang berusia ribuan tahun, digembleng selama seratus hari, Hui-sim-kiam-hoat boleh dikata sudah tercangkok dalam sanubarinya. Apalagi Bu-bing Loni selalu was-was, entah malam atau siang selalu dibayangi oleh rasa ketakutan yang luar biasa. Maka cepat-cepat ia bawa Su Giok-lan untuk mencari Hun Thian-hi, tak nyana disini ia kebentur dengan Cukat Tam.
Hui-sim-kiam-hoat merupakan ilmu pedang tunggal yang paling digdaya tiada keduanya dikolong langit, dengan gabungan Soat-san-su-gou pun tak kuasa menghadapinya, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan lihay perbawanya.
Diam-diam Cukat Tam sendiri gelisah, seorang gadis kecil saja sudah begitu lihay permainan pedangnya, apalagi kalau Bu-bing sendiri yang turun tangan, terang dirinya bukan tandingannya, terpikir sampai disini kontan ia jatuh semangat.
Su Giok-lan sendiripun baru pertama kali ini memainkan Hui-sim-kiam-hoat, namun dalam gebrak serang menyerang kilasan waktu itu ia sudah dapat merasakan Lwekang Cukat Tam yang tinggi dan kokoh kuat. Kedua jari tutukan Cukat Tam yang mengancam jalan darahnya tadi membawa kesiur angin yang tajam laksana ujung golok, kalau dirinya tidak mengandal gerak kecepatan pedangnya, mungkin sejak tadi dirinya sudah roboh.
Begitulah hati masing-masing sudah waspada dan meningkatkan perhatian, siapapun tiada yang berani sembarangan bergerak menyerang lebih dulu.
Cukat Tam mendengus, diam-diam ia berpikir; mengandal kedudukan dan ketenaran namaku kenapa hari ini aku gentar menghadapi budak kecil ini, kelak masa aku masih bisa berdiri tegak dikalangan dunia parsilatan? Karena pikirannya ini segera ia bergerak, sedikit menekuk dengkul serempak ia gerakkan kedua telapak tangannya memukul kepada Su Giok-lan.
Ciang-ho-it-koay sudah puluhan tahun malang melintang di Kangouw, jelas sekali kepandaian. silatnya jauh lebih tinggi dari Su Giok-lan, kalau gebrak tadi mereka kelihatan berimbang itu bukan lain sebab Cukat Tam rada sangsi dan gentar menghadapi Bu-bing Loni, apalagi Su Giok-lan bergerak lebih dulu mengambil inisiatif menyerang. Sekarang setelah hatinya mantap, meski Su Giok-lan kembangkan Hui-sim-kiam-hoat, namun selalu terdesak dan mundur.
Begitulah dengan menghardik keras, kedua pukulan Cukat Tam berubah seperti angin lesus laksana sebuah tonggak besar menerpa ke arah Su Giok-lan. Namun penjagaan permainan pedang Su Giok-lan memang cukup ketat dan rapat sekali, kontan ia terpental terbang setombak lebih ke belakang.
Tapi begitu kaki menyentuh tanah, gesit sekali laksana burung walet kakinya menjejak terus melejit tinggi, pedang ditangannya melancarkan Tian-kong-jong-pit, inilah salah satu jurus terhebat dari Hui-sim-kiam-hoat, tahu-tahu ujung pedang telah memancah kemuka dan dada Cukat Tam.
Terdengar Cukat Tam mendehem seperti lenguh sapi. tubuhnya berputar lagi seperti gangsingan. Ditengah jalan pedang Su Giok-lan rada merandek terus dituntun balik dengan sejurus Go-gui-toan-gwat, beruntun menutuk kedua biji mata Cukat Tam.
Dasar kepandaian Cukat Tam memang jauh lebih tinggi, ringan sekali ia angkat tangan kiri melintang menepuk ke arah batang pedang Su Giok-lan yang menyerang tiba, berbareng tangan kanan menutuk jalan darah Sim-king-hiat di bawah dagu Su Giok-lan.
Su Giok-lan terdesak mundur, sekarang Cukat Tam mulai lancarkan serangan balasan yang membadai.
sedikit pun ia tidak beri kesempatan pada Su Giok-lan untuk bernapas, keruan ia terdesak di bawah angin dan mundur.
Hun Thian-hi berpeluk tangan menonton, tahu dia bahwa Su Giok-lan bakal kalah, namun dia tak kuasa maju membantu. Gwat Long dan Sing Poh selalu mengawasi gerak geriknya dari samping.
Serangan Cukat Tam semakin gencar dan cepat, terdengar ia menjengek dingin, “Dengan kepandaian bekalmu ini berani kau mengudal mulut. Betapa pun hari ini aku harus hajar kau. Supaya matamu melek betapa besar dunia ini, bukan gurumu melulu yang tinggi kepandaiannya.”
Karena bicara gerak serangan Cukat Tam sedikit lamban, kesempatan ini tak disia-siakan oleh Su Giok-lan, sambil mengertak gigi, pedangnya berputar setengah lingkaran terus menusuk kelambung Cukat Tam. Tapi gerakan Cukat Tam cukup cepat, kecepatannya sungguh diluar perhitungannya, belum lagi ia berhasil menyelesaikan serangan pedangnya, tahu-tahu ulu hatinya sudah terancam oleh kepelan lawan, terpaksa ia selamatkan diri lebih dulu.
Hun Thian-hi insaf kalau Su Giok-lan kalah pasti dirinya ikut terhina, otaknya jadi berpikir dan menerawang, mendadak sebat sekali ia melejit jauh terus lari sekencangnya ke depan.
Mendadak melihat Thian-hi melarikan diri sungguh Gwat Long dan Sing Poh terkejut, “Lari kemana!” sambil membentak berbareng mereka mengejar.
Tanpa hiraukan teriakan orang Hun Thian-hi berlari semakin kencang.
Melihat Hun Thian-hi melarikan diri, Cukat Tam menjadi gugup. Tanpa hiraukan Su Giok-lan lagi dia pun menghardik keras, suaranya melengking tinggi seiring dengan tubuhnya yang medenting jauh mengejar ke arah Hun Thian-hi.
Bagi Su Giok-lan larinya Hun Thian-hi dianggap sebagai perbuatan pengecut yang membalas air susu dengan air tuba, Dia melarikan diri tanpa hiraukan dirinya lagi, saking murka air mata mengembeng dikelopak matanya, dengan gemes ia menyentak keras” tiba-tiba pedangnya bergulung balik, dengan jurus Sing-gwat-cin-hwi, bayangan pedang terpecah kedua jurusan langsung menusuk ke arah dua sasaran ditubuh Cukat Tam.
Mendengar samberan angin deras yang mengancam jiwa ini. Cukat Tam menjadi naik darah, sambil menggembor keras ia membalik tubuh, telapak tangannya bergoyang menghantam balik batang pedang Su Giok-lan. Sementara tubuhnya masih melayang ke depan terus meluncur ke arah Thian-hi.
Sun Giok-lan tahu dengan bekal Ginkangnya sekarang takkan mungkin dapat mengejar, terpaksa ia berdiri menjublek ditempatnya.
Sementara itu, Hun Thian-hi lari terus kebawah, ia belok ketimur lalu balik lagi ke arah barat, darinya pontang panting, namun kira-kira setengah li kemudian ia sudah terkejar oleh Cukat Tam.
Ringan sekali tubuh Cukat Tam meluncur turun dihadapan Hun Thian-hi, dengan pandangan mendelik ia awasi Hun Thian-hi.
Melihat takkan berhasil lolos, Thian-hi berpaling ke belakang, dilihatnya Gwat Long dan Sing Poh juga sudah menyusul tiba. Su Giok-lan tak kelihatan bayangannya, tanpa merasa ia menghela napas lega.
“Berani kau lari!” maki Cukat Tam gusar.
Hun Thian-hi mandah tertawa ewa tanpa buka suara.
Cukat Tam berludah, katanya kepada Gwat Long berdua, “Kalian ringkus dia dan gusur kembali ke Bu-tong-san!”
Baru sadia suara Cukat Tam lenyap, dari hutan sebelah sana terdengar sebuah suara berkata, “Apakah begitu gampang? Kau belum minta izin padaku bukan?”
Kontan mereka berempat terperanjat, Cukat Tam menggerung gusar, teriaknya lantang, “Siapa itu di dalam hutan!”
Seorang tua berambut merah melayang keluar. Bercekat hati Thian-hi, bagaimana mungkin dia kemari? Demikian dalam hati ia bertanya-tanya.
Cukat Tam tertawa dingin, ujarnya, “Kiranya kau. Sejak berpisah tiga puluh tahun yang lalu, tak kira masih hidup?”
Pendatang baru ini bukan lain adalah Ang-hwat-lo-co, itu tokoh nomor satu dari aliran sesat, dengan dingin ia pun pandang Cukat Tam, katanya menyeringai dingin, “Ternyata kau berani memasuki daerah Tionggoan. Hari ini ingin aku menjajal betapa maju ilmu silatmu setelah berpisah tiga puluh tahun.!”
Sudah lama Cukat Tam mendengar nama dan kepandaian Ang-hwat-lo-co, namun sedemkian jauh belum pernah saling gebrak mengadu kepandaian, segera ia pun balas mengolok dengan tidak kalah pedasnya, “Tak nyana kau pun berani muncul kembali dikalangan Kangouw.’
Ang-hwat-lo-mo menyeringai sadis, tanpa bersuara tiba-tiba badannya mencelat mumbul ke atas terus menerjang ke depan merangsek kepada Cukat Tam dengan sebuah pukulan tangan.
Cukat Tam tahu kepandaian musuh bukan oleh2 lihaynya, dengan mengerahkan tenaga segera ia balas menyerang dengan kedua kepalannya. Begitulah mereka mulai serang menyerang dengan sengit. Badan kedua orang tampak beterbangan selulup timbul secepat burung walet bermain di atas air, laksana kupu terbang menari di atas kuntum bunga, kelihatan kedua kaki masing-masing seperti tidak menyentuh tanah, namun gerak gerik mereka begitu cepat membawa kesiur angin yang cukup deras, terdengar lambaian baju pakaian mereka yang lirih ditengah deru angin pukulan yang keras.
Dari samping Hun Thian-hi menonton pertempuran, diam-diam ia merasa heran, hatinya dirundung pertanyaan, dulu Arg-hwat-lo-co berusaha mencelakai jiwanya, kenapa sekarang malah menolongnya? Apakah mungkin ia punya muslihat lain lagi?
Dalam pada itu pertempuran masih berjalan dengan sengit, Hun Thian-hi hampir tak dapat mengikuti gerak tempur kedua orang, masing-masing bergerak begitu lincah seperti sikatan, licin bagai belut dan cepat seperti kilat menyamber. Tanpa terasa setengah jam telah lewat, perkelahian itu masih berlangsung dengan serunya, kedua belah masih kelihatan sama kuat, saling hantam dan sepak, masing-masing memberikan tekanan yang mengagumkan. Entah sudah berapa ratus jurus kemudian, tiba-tiba terdengar suara benturan yang rada lirih, suara itu tidak begitu keras, tapi kontan terlihat kedua orang sama-sama terpental mundur.
Kelihatan Ang-kwat-lo-co berdiri tegak sambil menyeringai dingin, sebaliknya Cukat Tam pucat pasi, matanya mendelik mengawasi Ang-hwat-lo-co.
Dengan tenang Hun Thian-hi menonton dari samping dan menanti perkembangan selanjutnya, tahulah dia bahwa Cukat Tam sudah terkalahkan, malah terluka dalam lagi.
Setelah menentramkan pernapasannya, air muka Cukat Tam rada baikan, katanya gusar kepada Ang-hwat-lo-co, “Hadiah pukulanmu hari ini, kelak pasti akan kubalas!”
Ang-hwat-lo-co menyeringai dingin, jengeknya, “Justru karena menanti kedatanganmu menuntut balas kelak maka hari ini kuampuni jiwamu.”
Cukat Tam menggeram gusar, matanya melirik ke arah Hun Thian-hi, serunya, “Jangan sombong! Sakit hati ini dalam setahun pasti kubalas.” — habis berkata terus ngacir pergi.
Sudah tentu Gwat Long dan Sing Poh menjadi ketakutan, pucat pias wajah mereka, serentak putar tubuh lantas melarikan diri. Terdengar Ang-hwat-lo-co bergelak tawa, dari jauh kedua tangannya mencengkeram kepada mereka berdua, mulutnya pun membentak, “Kemana kalian hendak lari?”  berbareng kedua telapak tangan didorong lantas ditarik kembali. Terdengar Gwat Long dan Sing Poh melolong panjang terkena pukulan, setelah lari beberapa langkah akhirnya jatuh terjerambab.
Ang-hwat-lo-co menjengek dingin, katanya, “Jangan kalian pura-pura mati disitu, kalian masih berkesempatan hidup satu hari lagi. Lekas pergi!”
Dengan susah payah Gwat Long dan Sing Poh merangkak bangun, setelah mendelik gusar kepada Hun Thian-hi dengan terhuyung-huyung mereka tinggal pergi saling payang.
Bercekat hati Thian-hi, ia maklum bahwa perbuatan Ang-hwat-lo-mo ini bukan menolong sebaliknya malah semakin menjerumuskan dirinya. Perbuatan ini tidak lain akan menimbulkan rasa pertentangan kaum persilatan terhadap dirinya sehingga dia tak mungkin tegak berdiri di pihak Cing-pay, dan lebih besar pula kepercayaan masyarakat umumnya kaum peisilatan bahwa Giok-yap Cinjin memang adalah dia yang membunuh. Kalau peristiwa hari ini tersiar luas mungkin Bun Cu-giok takkan mau percaya lagi akan keperibadiannya.
Terpikir oleh Hun Thian-hi, tanpa merasa ia menghela napas rawan.
Ang-hwat-lo-co terbahak-bahak, serunya, “Kenapa? Ku tolong kau, masa tidak senang?”
Hun Thian-hi berludah dengan gusar, terus tinggal pergi.
Ang-hwat-lo-co terloroh-loroh, serunya, “Kalau kau berpisah dari aku, kemana pula kau bisa pergi?”
“Seumpama harus mati akupun tidak sudi bersama kau.” semprot Hun Thian-hi gusar.
Ang-hwat-lo-co berkata, “Pertama aku melihat kau kukira kau dari aliran Cing-pay, tapi ternyata kau berani bunuh Bu-tong Ciangbun, tak lain kau pun suka mengagulkan diri saja. sia-sia kau menista golongan kita sebagai kaum sesat yang nyeleweng apa segala.
“Hakikatnya siapa lurus dan siapa sesat sukar dibedakan bukan?”
Hun Thian-hi mendengus hidung, ia tak mau banyak bicara, langkahnya dipercepat.
“Mengandal tingkah lakumu ini, apa kau masih ingin menuntut balas?” terdengar Ang-hwat-lo-co mengolok, “anggapmu kau gampang mencari kematian?”
Tersentak sanubari Thian-hi, serta merta langkahnya berhenti, betapapun dia tidak rela mati secara penasaran. Begitu berkecimpung di kalangan Kang-ouw urusan sudah mengikat dirinya, untuk mencari kematian rasanya memang tidak begitu gampang….
Terdengar Ang-hwat-lo-co berkata, “Kudengar sakit hati ayahmu belum terbalas, apalagi kau pun harus menuntut balas bagi kematian Soat-san-su-gou bukan?”
Mendengar orang menyinggung Soat-san-su-gou berkobar amarah Hun Thian-hi, serunya gusar, “Soat-san-su-gou berempat cianpwe berkorban karena aku melancarkan jurus Pencacat langit melenyap bumi yang kau ajarkan itu. Kalau aku harus menuntut balas kecuali Bu-bing Loni langkah selanjutnya adalah kau!”
Ang-hwat-lo-co terkial-kial menggila, ujarnya, “Memang benar-benar! Semula memang aku tidak bersungguh hati mengajarkan jurus ganas itu kepada kau. Tapi kau sudah dua kali melancarkan ilmu lihay itu, kedua kalinya telah menolong jiwamu, apa kau berani tidak mengakui? Kalau dulu kau tidak lancarkan jurus Pencacat langit pelenyap bumi, kau takkan hidup sampai sekarang!”
Terbayang oleh Hun Thian-hi keadaan Waktu itu, diam-diam ia mengakui kata-kata orang memang benar-benar.
Terdengar Ang-hwat-lo-co menjengek lagi, “Sejak kau meninggalkan perguruan siapa saja yang mencari perkara kepadamu? Apakah mereka itu tokoh-tokoh yang menamakan dirinya dari aliran sesat? Bukan, kebanyakan mereka adalah kaum lurus, tapi hanya karena sebuah Badik buntung, saling berebutan, cakar mencakar bunuh membunuh, kiranya juga begitu saja mereka yang mengunggulkan dirinya sebagai kaum lurus!”
Hun Thian-hi terkancing mulutnya, tiada alasan untuk balas mendebat. Ang-hwat-lo-co meneruskan ocehannya, “Kau, justru kau tidak tahu diri dan tidak bisa lihat gelagat, kau berani mendesakkan diri masuk ke dalam golongan mereka.”
“Aku bekerja bukan karena minta belas kasihan mereka, hanya menuruti hati nuraniku saja!” semprot Thian-hi.
“Lalu kenapa kau takut berada bersama aku?” olok Ang-hwat-lo-co dengan tertawa lebar, “Aku tidak merebut Badik buntungmu secara licik atau terang-terangan. Sekarangpun aku tidak ingin melukai kau. Kau hanya takut diketahui orang lain bahwa kau berkumpul erat dengan aku!”
“Memang kau ingin orang lain tahu aku berkumpul dengan kau, jelas sekali tujuanmu hendak menjerumuskan aku. Kau sendiri sudah keliwat batas kejahatan yang telah kau perbuat, kini masih ingin menyeret orang lain kejurang nista, tujuanmu nyeleweng, masih berani kau katakan hatimu suci bersih?” -Demikian Thian-hi mendebat dengan pendapatnya.
“Di seluruh kolong langit ini, sekarang aku diangkat sebagai jago nomor satu dari kalangan sesat, tapi masih ada seorang yang kutakuti!” demikian kata Ang-hoat-lo-co.
“Bu-bing Loni bukan,?” sambung Thian-hi dengan nada menghina.
Ang-hwat-lo-co manggut-manggut, katanya, “Hui-sim-kiam-hoat milik Bu-bing Loni merupakan kepandaian tunggal yang tiada taranya. Walaupun jurus Pencacat langit pelenyap bumi ciptaanku itu punya perbawa yang sangat ampuh, tapi kurasa takkan unggul melawan Hui-sim-kiam-hoat. Tapi bila kau sudi, aku bisa menunjuk sebuah jalan terang untuk kau, akibatnya kepandaian silatmu bakal jauh lebih tinggi dari kemampuan Bu-bing Loni sekarang.”
Dengan sikap dingin dan tak acuh Thia-hi pandang Ang-hwat-lo-co. rada lama kemudian ia buka suara, “Kalau mungkin, kenapa kau sendiri tidak mencobanya?”
Ang-hwat-lo-co terbahak-bahak, tanyanya menegas, “Kau sudi tidak?”
Rada, tergerak hati Thian-hi, sahutnya, “Coba terangkan dulu!”
Ang-hwat-lo-co menjelaskan, “Seluruh perhatian tokoh-tokoh goblok itu sekarang tertuju kepada Badik buntung milikmu itu. Tapi rahasia tersembunyi dari Ni-kay-ki-tin tentu tak berada di dalam Badik buntung itu, kalau cdak masa tiada akhir perebutan itu selama ini? Menurut apa yang kuketahui, Wi-thian~chit-ciat-sek yang merupakan ilmu paling hebat dan digdaya pada ratusan tahun yang lalu sekarang telah muncul kembali, malah aku tahu dimana sekarang berada kalau kau dapat memohonnya, apa perlu takut tethadap Bu-bing Loni?”’ — Habis berkata ia bergelak tawa sepuasnya.
Dengan tajam Thian-hi awasi tingkah pola Ang-hwat-lo-co, katanya dingin, “Kau tahu tempat itu kenapa kau semdiri tidak mau kesana?”
Berubah serius wajah Ang-hwat-lo-co, katanya, “Jago nomor satu dari golongan sesat adalah aku, Bu-bing Loni tidak lurus juga rada nyeleweng, tapi siapakah jago Nomor satu dari golongan Cingpay?”
Thian-hi awasi terus rona wajah Ang-hwat-lo-co lekat-lekat, tak tahu dia siapa yang harus disebutkan. Apakah Giok-yap Cinjin atau Thian-cwan Taysu? Tapi dari nada ucapan Ang-hwat-lo-co terang bukan mereka adanya, lalu siapa?
Terdengar Ang-hwat-lo-co melanjutkan sambii menyengir, “Kau tak tahu bukan? Orang ini bukan Thian-cwan Taysu, juga bukan Giok-yap Cinjin, tapi adalah Ka-yap Cuncia yang menghilang pada lima puluh tahun yang lalu!”
Thian-hi terlongong sebentar, sungguh diluar sangkanya bahwa Ka-yap Cuncia adanya. Sudah lima puluh tahun lamanya Ka-yap Cuncia menghilang dari kalangan Kangouw, konon tokoh ini merupakan orang kosen nomor satu selama ratusan tahun ini, siapa nyana beliau sekarang masih hidup.
Terdengar Ang-hwat-lo-co berkata dingin, “Kau tidak sangka bukan? Kiam-boh Wi-thian-chit-ciat-Kek justru berada ditangannya, kalau kau dapat bersua dengan beliau, tentu tiada seorang pun yang berani mengagulkan diri sebagai jago nomor satu.”
Thian-hi termenung, benar-benarkah ada kejadian itu? Mengandal tampang Ang-hwat-lo-co, seumpama betul mengetahui berita ini tentu takkan rela memberi tahu kepada orang lain, betapapun dia takkan rela ada tokoh lain punya kepandaian yang lebih tinggi dari kemampuan sendiri.
Ang-hwat-lo-co melanjutkan, “Sudah tentu, seumpama kau berhasil bertemu dengan beliau, belum tentu dia rela menyerahkan Wi-thian-cit-ciat-sek itu kepadamu, tapi selama hidupnya belum pernah membunuh seorang pun, kau tak perlu takut dan takkan ada bahaya.”
Hun Thian-hi tertawa tawar, katanya, “Hakikatnya dia tiada punya alasan harus menyerahkan Wi-thian-chit-ciat-sek itu kepada aku, akupun tak perlu kesana!”
Ang-hwat-lo-co menyeringai dingin, katanya, “Apa kau mau mendapat Kiam-boh Wi-thian-chiat-chiit-ciat-sek itu?”
Melihat sikap orang diam-diam Thian-hi mempertinggi kewaspadaannya, ia tahu bahwa orang tengah mengatur tipu muslihatnya, sambil angkat alis ia menjawab, “Siapa yang tidak mau?”
Ang-hwat-lo-co manggut-manggut, katanya. “Itulah baik, sudah tentu aku punya caraku sendiri supaya Kiam-boh Wi-thian-chit-ciat-sek itu dapat kau peroleh”
“Dengan cara apa?” tanya Thian-hi.
“Sudah tentu Ka-yap Cuncia tidak semudah itu sembarang menyerahkan Kiam-boh itu kepada kau,” demikian Ang-hwat-lo-co menerangkan, “Kau mohon dan minta2 juga percuma. Kau tak perlu mengemis, berlakulah wajar supaya dia tidak tahu bahwa kedatanganmu justru karena Wi-thian-chit-ciat-sek itu, kalau, kau kesana kau harus pura-pura tidak kenal dengan dia.”
Thian-hi tahu bahwa Ang-hwat-ho-co tengah mengatur tipu muslihatnya yang keji, tapi ingin dia tahu dan menyelami tipu muslihat apa yang tengah dirancang ini, sehingga dapat mencelakai seorang tokoh kosen seperti Ka-yap Cuncia yang dijunjung sebagai jago nomor satu dari golongan Cing-pay.
Kata Ang-hwat-lo-co menyambung, “Untuk orang lain sangat sukar, tapi bagi kau adalah sangat mudah sekali!”
“Sebetulnya bagaimana aku harus bekerja?” tanya Thian-hi pura-pura tak sabaran.
Ang-hwat-lo-co melanjutkan, “Kau pura-pura tidak mengenalnya, memang dengan usiamu ini tidak mungkin mengenal dia! Jadi dia tidak merasa curiga dan berjaga-jaga terhadap kau, lantas kau gunakan Hek-liong-ling sedikit dicampurkan ke dalam minuman tehnya sudah cukup berlebihan.”
Bertaut alis Thian-hi, dia tidak tahu apakah Hek-liong-ling (sisik naga hitam) itu, tapi dari nada perkataan Ang-hwat-lo-co, tentu merupakan suatu bisa yang sangat beracun, kalau tidak mana mungkin sebagai tokoh nomor satu dari seluruh kolong langit ini begitu terkena sedikit saja lantas bakal lumpuh dan kena dibereskan.
Ang-hwat-lo-co tertawa-tawa, ujarnya, “Mungkin kau tak percaya, tapi sisik naga hitam itu kutemukan di dalam gua ularku itu, walaupun seekor ular yang paling ganas dan beracun juga tidak berani mendekat dalam jarak tiga kaki, begitu masuk kontan mati. Sekarang aku sudah dapat menguasainya, jangan kata baru Ka-yap, seumpama dewata begitu tersentuh oleh Hek-liong-ling juga bakal pendek usianya.”
“Itulah baik,” kata Hun Thian-hi, “bolehkah aku melihatnya dulu?”
“Masa begitu gampang?” kata Ang-hwat-lo-co, “Pergilah ke selatan, akan kulindungi kau secara sembunyi, sampai pada waktunya tentu akan kuajarkan cara bagaimana kau harus bekerja.”
Hun Thian-hi termenung sebentar, akhirnya ia tertawa hambar tanpa bicara lagi.
Ooo)*(ooO
Hun Thian!-hi sudah pergi, Su Giok-lan masih berdiri melengong, sungguh dia menyesal orang macam Hun Thian-hi kenapa tadi tidak mau turun tangan saja? Keadaannya sudah payah tentu dia kena dicandak dan diringkus oleh Ciang-ho-it-koay dan dibawa ke Bung-tong-san. Kesana saja aku mengejarnya. Begitu menggentakkan kaki laksana batu meteor tubuhnya melenting tinggi terus meluncur cepat ke arah gunung Bu-tong.
Belum lagi ia sampai di Bu-tong-san sudah mendengar bahwa Ciang-ho-it-koay melarikan diri dengan luka-luka parah. Gwat Long dan Sing Poh kedua murid tunggal Giok-yap Cinjin juga sekarat menderita luka-luka dalam yang sangat berat. Hun Thian-hi tinggal pergi ikut Ang-hwat-lo-co.
Su Giok-lan menjublek, sesaat ia menjadi bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya, Hun Thian-hi sudah pergi ikut Ang-hwat-lo-co, bagaimana ia harus bertindak? Bu-bing Loni takkan memberi keringanan terhadap dirinya, pikir punya pikir dengan otak kusut dan perasaan hampa ia melanjutkan ke depan.
Entah sudah berapa lama dan berapa jauh ia berjalan, tahu-tahu hari sudah menjelang magrib. Jauh di depan sana kelihatan debu mengepul tinggi, puluhan kuda tunggangan tengah membedal cepat mendatangi. Berjengkit alis Su Giok-lan, sembari membentak ia memapak maju terus menghadang di tengah jalan.
Puluhan kuda itu tak hiraukan keselamatan Su Giok-lan, dengan kencang terus menerjang tiba. Enteng sekali tubuh Su Giok-lan mencelat mumbul ke atas berbareng kedua tangan bergerak lincah sekali, dalam sekejap mata ia berhasil memukul puluhan penunggang kuda jatuh sungsang sumbel
Waktu ditegasi puluhan orang itu mengenakan seragam merah, terang adalah anak buah Partai Merah, tanpa merasa ia mendengus dingin. Dari depan sana mendatangi pula puluhan kuda tunggangan, mengiringi tiga orang di tengah. Begitu melihat puluhan orangnya malang melintang rebah di tanah, seorang gadis berdiri angker dengan galaknya mencegat jalan segera ketiga orang itu menghentikan kudanya
Sebetulnya kesalahan dipihak Su Giok-lan, serta tahu yang dihadapi adalah pihak Partai Merah, rasa salah itu berubah menjadi rasa tuntutan yang mendesak. Sambil menyeringai dingin ia amat-amati ketiga penunggang yang terdepan.
Ketiga orang ini bukan lain adalah Pangcu Partai Merah Gi Ciok, serta Tio-hong-ho dan Liong Lui. Enteng sekali Liong Lui bergerak melompat turun dari tunggangannya, dengan muka kecut dingin ia awasi Su Giok-lan.
“Dimana Pangcu kalian?” tanya Giok-lan aseran.
Liong Lui mendengus ejek, “Kenapa harus Pangcu, aku sudah cukup!”
Di mulut Liong Lui bicara takabur, serta melihat puluhan anak buahnya yang malang melintang tak bergerak itu, hatinya rada bercekat. Puluhan anak buahnya itu menerjang dengan tunggangannya yang berlari kencang, namun dapat dirobohkan dalam sekejap mata, ini betul-betul kejadian yang luar biasa, diam-diam ia menerawang, dirinya sendiri belum tentu mampu berbuat begitu. Tahu dia bahwa dia tengah berhadapan dengan lawan berat. Tapi belum pernah di kalangan Kangouw ada muncul seorang gadis macam ini, punya kepandaian silat tinggi, entahlah kenapa dia bersikap bermusuhan terhadap kita.
Melihat Liong Lui yang maju, Su Giok-lan tersenyum dingin, tanyanya, “Siapa kau?”
“Thian-liong-kiam Liong Lui. Masa kau tidak kenal!” bentak Liong Lui gusar.
“Thian-mo-kiam?” seringai Giok-lan semakin menakutkan, “Baik! Cabutlah pedangmu!”
Liong Lui insaf lawannya ini tentu sukar dilayani, namun dengan kedudukan dan ketenaran namanya masa harus mengambil keuntungan menghadapi musuh kecilnya ini, sesaat ia menjadi ragu-ragu, tanyanya, “Sekali pukul kau dapat merobohkan puluhan anak buahku, tentu hebat sekali ilmu silatmu, entah siapakah gurumu yang mulia?”
“Kau tidak punya hak untuk mengetahui!”
Liong Lui tertawa besar, serunya, “Entah gurumu tokoh kosen dari mana, aku Liong Lui kiranya tak sembabat untuk mengetahui, terpaksa aku minta belajar kenal dengan muridnya saja!” sembari berkata pelan-pelan ia melolos pedangnya.
Su Giok-lan pun telah mencabut pedangnya, sedikit tangan kanan mengayun, dengan gaya Ci-tiam-yan-hun tahu-tahu pedang panjangnya menutuk langsung ke arah Liong Lui.
Liong Lui angkat nama karena dia seorang ahli dalam permainan pedang, begitu melihat jurus permulaan serangan Su Giok-lan ini bercekat hatinya. Kelihatannya Su Giok-lan hanya seenaknya saja mengayun dan menusukkan pedangnya, namun tenaga yang terkandung diujung pedang ternyata begitu kuat dan kokoh sekali, merupakan jurus tipu yang cukup ganas dan keji. Lekas-lekas Liong Lui menyilangkan pedang panjangnya lalu didorong kesamping.
Su Giok-lan maklum akan maksud tujuan lawan, mengandal Lwekang dan kepandaiannya sekarang lawan sebangsa Thian-mo-kiam masa bisa menjadi tandingannya. Mengikuti dorongan tenaga lawan ia pun menuntun pedang lawan berputar, seiring dengan gerak putaran pedang kakinya pun ikut bergeser, lalu dengan jurus It-sian-heng-kang pedangnya menyapu, miring, tampak selarik sinar pedang kemilau laksana bianglala melesat ke arah Liong Lui.
Kaget Liong Lui seperti disengat kala, gerak perubahan serangan Su Giok-lan begitu cepat dan belum pernah diketemukan, insaf dia bahwa hari ini ia bakal terjungkal ditangan musuh kecil ini, tersipu-sipu ia menyurut mundur serta menyampokkan pedangnya miring.
Gerak pedang Su Giok-lan berubah lagi, dari menyapu menjadi menutul, telak sekali ujung pedangnya menusuk gagang pedang Liong Lui, kontan pedang panjang ditangan Liong Lui tersontek terlepas dan mencelat jauh. Dengan ketakutan Liong Lui melompat mundur, sambil menghardik ringan Su Giok-lan melejit mengejar, dimana kilasan pedangnya bergerak, tahu-tahu kuping kiri Liong Lui kena terpapas jatuh di tanah.
Berubah hebat air muka Gi Ciok melihat kesudahan pertempuran singkat ini. Lekas-lekas ia mencabut Thay-i-kiam yang tajam luar biasa itu. katanya sambil tertawa dingin kepada Su Giok-lan, “Akulah Pangcu Partai Merah, ada urusan apa kau cari aku?”
Su Giok-lan tertawa dingin, katanya, “Urusan sepele saja, hanya ingin minta Badik buntung yang berada ditanganmu itu.”
Beringas muka Gi Ciok, katanya tertawa besar, “Sombong benar-benar, mengandal apa kau?”
“Pedang ditanganmu itu juga harus kau tinggalkan!” Su Giok-lan mengancsm semakin berani
Dengan muka beringas dan kemarahan yang memuncak Gi Ciok berpikir, ia insaf bahwa kemungkinan besar dirinya pun bukan tandingan Su Giok-lan, tapi masa harus unjuk kelemahan? Segera ia memberi aba-aba kepada anak buahnya, puluhan anak buahnya segera menyerbu, dia bersama Tio Hong-ho dan Liong Lui pun tidak ketinggalan merangsak dengan hebat
Terdengar Su Giok-lan melengking tertawa. tubuhnya tiba-tiba timbul terbang ke tengah udara, kelihatan diujung pedangnya bergetar lalu berputar satu lingkaran melancarkan jurus Heng-mi-liok-hap, begitu pedang bergerak berpetalah kuntum bunga yang menakjubkan dari sinar gemerdep batang pedangnya, sekaligus menerpa ke arah puluhan penyerangnya.
Kontan terdengar jerit dan pekik kesakitan yang menyayatkan hati, sejurus serangan ini sekaligus telah merobohkan enam orang. Keruan Gi Ciok kaget bukan main, insaf dia kalau pertempuran dilanjutkan tentu tidak menguntungkan pihaknya. Sekonyong-konyong teringat olehnya seorang tokoh kenamaan, macam Bu-bing Loni yang telah menerima murid baru bernama Su Giok-lan, bukankah musuh yang dihadapi ini bernama Su Giok-lan, tanpa merasa kuduknya berkeringat dingin, badan pun gemetar….
Cepat ia bertanya, “Apakah kau nona Su?”
“Benar-benar!” dengus Su Giok-lan.
Gi Ciok tertegun sebentar, katanya, “Nona Su, pamanmu adalah sahabat baikku….”
“Jangan singgung dia!” tukas Su Giok-lan aseran.
Teringat akan kekejaman Bu-bing Loni badan Gi Ciok semakin merinding, ia menjublek ditempatnya, sungguh diluar tahunya bahwa hari ini ia bakal ketimpa malang berhadapan dengan bintang iblis yang merugikan ini. Apa boleh buat akhirnya ia berkata, “Aku tak tahu kau nona Su, kalau tahu siang-siang tentu sudah kuserahkan Badik buntung itu.”
Su Giok-lan mandah tersenyum ejek, ia tahu Gi Ciok tentu takut akan Suhunya Bu-bing. Bergegas Gi Ciok merogoh keluar Badik buntung lalu disodorkan kepada Su Giok-lan.
“Pedang panjang itu sekalian!” pinta Su Giok-lan.
Berubah pucat air muka Gi Ciok, mana bisa Thay-i-kiam diberikan orang? Kalau TThay-i-kiam hilang, untuk selanjutnya jangan harap dirinya bisa bercokol pula dikalangan Kangouw. Dengan sangsi ia mengawasi Su Giok-lan.
“Berikan tidak!” desak Su Giok-lan dengan nada mengancam.
“Entah keinginan gurumu atau kehendak nona Su sendiri?” tanya Gi Ciok
Su Giok-lan mendengus, pikirnya; mungkin orang ini tidak rela menyerahkan pedangnya, maka dengan suara rendah ia berkata, “Apa pula bedanya?”
Gi Ciok mengeluh, katanya, “Pedang ini menyangkut jaya atau runtuh dari Partai kita. Kalau gurumu yang meminta, sudah tentu aku tak banyak bicara, tapi kalau hanya kehendak nona sendiri, aku mohon sukalah nona memberi sedikit kelonggaran.”
“Apa-apaan sikapmu ini,” jengek Su Giok-lan gusar, “Masa murid Bu-bing Loni mau ditekan orang lain?”
Mendengar Su Giok-lan menyinggung nama Bu-bing Loni, semakin kecut dan gemetar badan Gi Ciok, kalau sampai membuat beliau gusar maka celakalah dirinya, cepat-cepat dengan badan basah karena keringat dingin, ia tanggalkan pedangnya. dengan kedua tangan ia angsurkan Thay-i-kiam kepada Su Giok-lan, katanya, “Kalau nona Su memaksa, masa aku harus kikir mengangkangi pedang ini.”
Setelah menerima Badik buntung dan Thayj-i-kiam Su Giok-lan tak banyak bicara lagi, dengan ulapan tangan ia suruh mereka tinggal pergi. Dengan murung dan rawan segera Gi Ciok bawa anak buahnya berlari pergi. Menurut tujuannya semula ia hendak meningalkan daerah Tionggoan secara diam-diam, sembunyi diri mencari dan menyelami rahasia Badik buntung, sungguh diluar dugaannya ditengah jalan ia ketemu begal, semua harapan dan harta miliknya menjadi ludes.
Setelah rombongan musuh pergi jauh, lekas-lekas Su Giok-lan mengamati Badik buntung serta menarik keluar sedikit Thay-i-kiam. Alisnya bertaut semakin dalam, kedua bilah senjata merupakan benda pusaka yang ampuh, tapi apakah kedua pusaka ini bakal membantu dirinya? Mungkin dengan Badik buntung itu ia dapat mengejar jejak Hun Thian-hi, tapi batas waktu yang ditentukan sudah lewat, kalau tiga hari kemudian tidak ketemu, bagaimana sikap Bu-bing Loni terhadap dirinya?
Sungguh ia tidak berani membayangkan akibatnya, boleh dikata hatinya sangat membenci Hun Thian-hi, kalau tidak Hun Thian-hi tentu riwayatnya takkan demikian sengsara dan menderita baru sekarang ia sadar bahwa kepandaian silat takkan dapat merubah haluan hidupnya, ilmu silat tiada bawa manfaat yang berguna bagi dirinya, sungguh rela rasanya hidup sederhana dalam ketenangan jiwa yang aman sentosa tanpa mengarungi kilatan pedang dan genangan darah, tapi apakah mungkin ia merubah haluan ke arah itu?
Demikian Su Giok-lan tenggelam dalam pikirannya, dengan napas berat ia menarik hawa.
Di tengah udara nan jauh sana lapat-lapat terdengar pekik nyaring burung dewata, berdebar keras jantung Su Giok-lan, pikirnya; sekarang baru satu setengah hari, meski sikap dan watak Bu-bing Loni sukar diraba, tapi setiap kata-katanya selamanya tak pernah diubah.
Kejap lain, pelan-pelan burung dewata meluncur turun dan hinggap di tanah, pelan-pelan Ham Gwat melorot turun di hadapannya.
Diam-diam bergidik sanubari Su Giok-lan, kuduknya sampai merinding, dia jauh lebih takut terhadap Sucinya ini dari pada Suhunya Bu-bing Loni, kalau tiada urusan selamanya Ham Gwat tak pernah bicara dengan dia, menurut penglihatannya, ilmu silat Sucinya ini tidak berbeda jauh dari kemampuan Bubing Loni sendiri, tapi setiap kali ia bicara wibawanya seolah-olah lebih angker dari Bu-bing Loni, raut mukanya selalu wajar dan tak pernah berubah, senang atau duka tak pernah terunjuk pada air mukanya.
Sekarang Ham Gwat berdiri di hadapannya, hampir saja ia susah bernapas. Dengan mendelong ia awasi Ham Gwat, dengan pandangan bening Ham Gwat menatap dia, katanya, “Suhu sudah setuju untuk tidak menarik panjang urusanmu. Tapi kau harus segera kembali dan menghadap dinding setengah tahun untuk menyelami pelajaran Hui-sim-kiam-hoat!”
Dengan membelalak Su Giok-lan mengawasi Ham Gwat, hampir ia tidak percaya akan pendengarannya.
Dia tahu bahwa Bu-bing Loni selamanya tak pernah menjilat ludahnya kembali, tapi kenapa kali ini ia merubah putusannya? Mendadak ia seperti sadar, dengan suara haru ia berteriak, “Suci!” kata-kata selanjutnya tak kuasa diucapkan.
Rada lama Ham Gwat berdiam diri, akhirnya ia membuka kesunyian, katanya, “Sumoay! Sikapmu itu tidaklah salah!”
Dengan memicingkan mata Su Giok-lan menatap Ham Gwat, meski ia tidak melihat suatu expresi di wajah Ham Gwat, tapi seolah-olah ia telah menemukan wajah lain dari Ham Gwat. Dari sorot mata Ham Gwat yang bening itu terasakan perasaan welas asih yang agung, di dalam kenangan batinnya, hanya ibunya dulu yang pernah memandangnya dengan sorot pandangan begitu.
Tiba-tiba ia merasa betapa welas asih dan suci perasaan Ham Gwat itu, begitu agung dan mengesankan, mendadak Su Giok-lan merasa heran, seolah-olah sekarang dia tidak begitu takut lagi terhadap Ham Gwat seperti dulu. Tiada jurang pemisah lagi antara ia dan Ham Gwat, akhirnya tercetus perkataan dari mulutnya, “Suci, katamu aku tidak salah?”
Kata Ham Gwat lirih, “Apa tidak betul? Dia kan tidak punya kesalahan terhadap kau, bermula ia tidak membunuh Kim-i Kongcu Leng Bu karena sebelumnya dia sudah berjanji kepada Soat-san-su-gou kalau tidak dalam keadaan yang memaksa dia tidak akan lancarkan jurus ganas itu.”
Su Giok-lan mengiakan dengan menyesal, terasa olehnya dari nada orang bahwa Ham Gwat rada membela kepada Hun Thian-hi. Dia heran, Hun Thian-hi telah pergi ikut Ang-hwat-lo-co, Ang-hwat-lo-co adalah musuh besar pembunuh ayah Ham Gwat, sebaliknya sekarang Ham Gwat bicara membela kebenar-benaran bagi Hun Thian-hi.
Terpikir sampai disini tak kuasa ia lantas bertanya, “Tapi sekarang Hun Thian-hi telah pergi ikut Ang-hwat-lo-mo!”
Ham Gwat menunduk tanpa bicara. Mendadak Su Giok-lan teringat sesuatu, jelas sekali kalau Ham Gwat telah mintakan belas kasihan terhadap Suhunya, tapi apakah Bu-bing Loni betul-betul begitu gampang mau melulusinya? Tersipu-sipu ia bertanya lagi, “Suci! Urusan apa yang telah kau janjikan kepada Suhu?”
Setelah merenung sebentar Ham Gwat berkata, “Bukan soal apa, aku berkata kalau kau toh tidak mau turun tangan, biarlah aku saja yang membunuhnya, dalam jangka satu bulan setelah perjanjian satu tahun lewat aku akan membawa batok kepala Hun Thian-hi.”
Su Giok-lan berseru tertahan, pelan-pelan ia tunduk tak buka suara lagi, pikirnya, kiranya begitu perkembangan selanjutnya, entah apa maksud Ham Gwat menceritakan duduk perkara sebenar-benarnya tadi, apa mungkin ada sebab lain yang lebih istimewa?
Kata Ham Gwat kepada Su Giok-lan, “Sumoay! Jangan banyak pikir lagi, mari kita pulang!”
Su Giok-lan angkat kepala, dilihatnya wajah Ham Gwat tetap tidak menunjukkan mimik perubahan, tapi dari biji mata yang besar hitam dan bening itu terasa olehnya rasa prihatin dan kasih sayang Ham Gwat terhadap dirinya.
Pelan-pelan ia menghela napas lega, ia tertawa dibuat-buat, bersama Ham Gwat ia naik ke punggung burung dewata terus menghilang di balik awan.
Ooo)*(ooO
Melihat Ang-hwat-lo-co tinggal pergi, Hun Thian-hi lantas tenggelam dalam renungannya, ia berpikir; ‘kau suruh aku ke Thian-lam, apakah tidak bergurau dengan aku, sudah mending kalau ayah Kim-i Kongcu Leng Bu tidak meluruk ke Tionggoan mencari aku, masa aku harus kesana malahan, bukankah masuk kemulut harimau malah?’
Lalu terpikir pula olehnya; Tiang-pek-san aku tidak perlu kesana, melawan Ang-hwat-lo-co saja Ciang-ho-it-koay tidak unggulan, palagi melawan Bu-bing Loni? Tentu Ce-han-it-ki juga tidak lebih unggul dari kemampuan Ciang-ho-it-koay, sia-sialah kalau aku kesana….
Mendadak terbayang dalam pikiran Thian-hi akan Sam-kong Lama, entah bagaimana keadaannya sekarang, Sin-giok-ling berada ditangannya, sejak ia pulang ke tanah barat apakah Bu-bing Loni pernah meluruk ke tempat kediamannya. Apalagi dia pernah berkata bahwa orang aneh berkepandaian tinggi dikolong langit ini bukan Bu-bing Loni melulu, jelas bahwa tentu dia mengetahui ada orang aneh lainnya yang berkepandaian tinggi juga, kalau aku kesana mencari dia, mungkin dia punya cara untuk menolong aku.
Diam-diam Thian-hi ambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan kebarat laut, tapi Ang-hwat-lo-co pernah berkata akan melindungi dirinya secara sembunyi, bukankah ini berarti secara diam-diam hendak mengawasi setiap gerak geriknya? Untuk membebaskan diri dari kejaran dan pengawasan Ang-hwab-lo co ini sungguh tidak gampang.
Dia termenung memikirkan daya cara bagaimana ia meloloskan diri dari pengawasan Ang-hwat-lo-co. Demikianlah ia berjalan terus mengikuti langkahnya, tiba-tiba dilihatnya tak jauh di depan sana terdapat sebuah gua besar selebar setombak lebih, terkilas suatu pikiran dalam benaknya, segera ia kembangkan Ginkang terus melesat masuk ke dalam gua itu.
Setelah berada di dalam gua, Thian-hi mendapatkan gua itu lekak-lekuk tak merata, hatinya menjadi girang, inilah tempat yang memang diinginkan, beruntun ia berkelebat semakin ke dalam berusaha mencari jalan keluar dari arah lain.
Setelah ubek2an sekian lamanya, Thian-hi rada kecewa, selain celah-celah batu yang rada sempit tiada jalan lain untuk keluar dari gua ini. Terpaksa Thian-hi mencari salah satu celah rada besar lalu masuk kesana dan sembunyi disitu, untung tempat itu cukup kering, disana ia mulai duduk bersila bersamadi menenangkan pikiran dan menghimpun tenaga.
Tanpa terasa samadinya itu memakan waktu satu hari lamanya, betul juga sesuai dengan dugaan semula, tiba-tiba terdengar dengusan napas berat seseorang memasuki gua itu. Diam-diam Thian-hi membatin, “Tentu Ang-hwa-lo-co telah datang!”
Memang begitu melihat Hun Thian-hi memasuki gua Ang-hwat-lo-co lantas berputar di tempat sekitarnya untuk memeriksa apakah gua ini punya jalan keluar lainnya. Setelah melihat kenyataan baru dengan lega hati ia balik dan menunggu dengan sabar di dalam hutan.
Tetapi tunggu punya tunggu setelah satu hari satu malam masih belum kelihatan Thian-hi keluar, ia menjadi curiga dan membatin, “mungkin gua ini menembus ke tempat jauh, kalau gua ini panjang tentu Hun Thian-hi sudah pergi jauh, sekarang juga aku masuk dan mengejar kesana tentu dapat kejandak.”
Begitu dia sampai di dalam gerak geriknya sangat cekatan, melesat kesana melenting kesini, tapi setengah harian sudah ia ubek2 di dalam gua tiada sebuah jalan lain pun yang menembus keluar, tanpa merasa ia mendengus gusar, pikirnya: Hun Thian-hi sibocah keparat itu tengah bermain sandiwara apa. Lalu dengan ketajaman matanya pelan-pelan ia menjelajah seluruh pelosok gua, tapi tidak kelihatan bayangan Hun Thian-hi. Tiba-tiba tergerak pikirannya, segera ia membuka suara, “Hun Thian-hi, lekas keluar! Aku sudah melihatmu!”
Mendengar Ang-hwat-lo-co berkaok2, Hun Thian-hi mengumpat dalam hati, kalau aku melongok keluar bukanlah terjebak ke dalam akal muslihatmu malah.
Beruntun Ang-hwat-lo-co berteriak dua kali, tanpa mendapat reaksi, hatinya menjadi gusar dan memaki, “Bocah keparat yang licik!”
Dia diam berdiri sekian saat, mendadak ia berkata dalam hati; mungkin Hun Thian-hi sudah bolos pergi, kalau tidak masa begitu sabar dia mau menunggu begitu lama. Tanpa merasa Ang-hwat-lo-co menjadi gelisah, batinnya; Hun Thian-hi lolos pergi sih tidak menjadi soal yang penting adalah jangan sampai berita tentang Wi-thian-chit-ciat-sek itu tersiar luas dikalangan Kangouw, atau sebaliknya harapan dirinya menjadi kosong belaka.
Terpikir sampai disini, tiba-tiba batinnya berkata; mungkin disaat aku pergi memeriksa tadi dia lantas kabur? Kalau Hun Thian-hi betul-betul berniat melarikan diri, begitu aku tinggal pergi, setelah dia masuk gua lantas keluar pula dan melarikan diri, bebas dari pengawasanku.
Semakin dipikir Ang-hwat-lo-co menjadi gopoh, pikirnya; berapa jauh dapat kau tempuh perjalanan selama satu hari ini, betapapun akan dapat meringkusmu kembali. Tanpa banyak pikir lagi segera ia melesat keluar gua.
Dengan hati-hati dan waspada Thian-hi memasang kuping, setelah rada lama tak mendengar suara apa-apa, tapi masih kuatir Ang-hwat-lo-co belum pergi, betapapun dia tak berani melongok keluar.
Setengah jam kemudian baru ia berani mengintip dari celah-celah batu, melihat tiada kebayangan Ang-hwat-lo-co, baru ia menghela napas lega.
Thian-hi lantas berpikir, tentu Ang-hwat-lo-co tengah mengejar jejaknya, beberapa hari ini aku harus selalu waspada dan hati-hati. Akhirnya dia sembunyi lagi digua yang lain selama suatu hari.
Hari ke tiga baru ia berani keluar terus melanjutkan ke arah utara, sepanjang perjalanan ini dia tidak berani melalui kota2 besar, jalan yang ditempuh adalah alas pegunungan atau jalan kampung yang jarang dilewati manusia.
Tiga hari kemudian tibalah dia di tempat gurun pasir yang terbentang luas memanjang tak berujung pangkal. Segera ia keprak kudanya terus melanjutkan keutara.
Tempat kediaman Sam-kong Lama di Kwan— gwa, hampir tiada seorangpun yang tidak kenal akan ketenaran nama Sam-kong lama diluar perbatasan ini, maka sekali mencari tahu, segera ia diberi tunjuk alamatnya. Setelah lohor Thian-hi membelokkan kudanya ke arah barat langsung menuju kuil Bu-la.
Cuaca sudah hampir gelap, sang surja sudah hampir tenggelam sejajar dengan garis cakrawala. Tapi selepas pandang ke depan keadaan sekeliling sepi tiada kelihatan bayangan orang atau barang makhluk hidup lainnya. Hati Thian-hi menjadi gelisah dan gugup.
Tak lama kemudian dari kejauhan tampak debu mengepul tinggi memanjang tertiup angin, dua ekor kuda dicongklang kencang lewat disampngnya, sekilas pandang saja lantas Thian,hi tahu bahwa mereka adalah kaum persilatan. Thian-hi menjadi girang, melihat ada orang di daerah gurun yang sepi ini, tentu tak jauh di depan sana ada perumahan rakjat.
Segera ia tepuk-tepuk perut kuda lalu membedalnya ke depan.
Tiba-tiba kedua kuda tunggangan tadi putar balik, terdengar seorang membentak, “Berhenti!”
Thian-hi melengak, hatinya rada berang, pikirnya, “Aku tidak berbuat salah terhadap kalian, tanpa sebab kenapa kalian suruh aku berhenti? Ingin kulihat orang gagah macam apa kalian ini.” Karena pikirannya terakhir ini segera ia menarik tali kendali menghentikan tunggangannya lalu berpaling.
Kedua orang ini bertubuh tinggi kekar dan kurus kering, orang yang bertubuh kekar itu memelihara jambang bauk diselebar mukanya, melihat Thian-hi menghentikan kudanya, segera ia membentak pula, “Bocah, kemana kau hendak pergi?”
“Apa pedulimu?” dalam batin Thian-hi memaki, namun dimulut ia berkata, “Entah untuk keperluan apa kalian tanya soal ini?”
Laki-laki kekar itu menjadi gusar, hardiknya, “Toaya tanya kau berani kau tidak jawab?”
Thian-hi mendengus jengkel, tapi terpikir olehnya bahwa seluruh kaum persilatan tengah mengejar jejaknya, sampai sekarang dirinya masih dapat menyembunyikan jejak, jangan sampai kelak menimbulkan kesukaran bagi Sam-kong Lama. Segera ia berkata: .Kulihat kalian datang dari depan, kukira disana tentu ada rumah tinggal, maka aku hendak kesana untuk minta nginap semalam.”
Kedua orang itu mendengus bersama, saling pandang sekali lalu berkata, “Disana pun tiada orang tinggal, kesana pun tiada gunanya, di daerah sini jangan kau main ugal2an membedal kuda seenak udel kau sendiri, kalau sampai membuat marah Loyamu, awas jiwa kecilmu!”
Hati Thian-hi menjadi marah, dengan mendelik ia pandang kedua orang itu tanpa bicara.
Laki-laki kurus itu segera melengking berkata, “Keparat, agaknya kau tidak terima, ya!” — Kudanya dimajukan ke depan.
Thian-hi mengangkat alis, kudanya diputar terus hendak tinggal pergi.
“Tunggu sebentar!” sentak laki-laki kurus itu, “Loyamu memberi kelonggaran kepadamu, kelihatan kau tidak senang malah main delik segala!”
Amarah Thian-hi sudah memuncak, tapi dia selalu prihatin tak suka menimbulkan keributan maka tidak mengumbar adatnya, namun melihat kedua orang ini terlalu kurang ajar dia menjadi gusar dan menjengek, katanya, “Nama kalian berdua….”
Laki-laki kekar itu keprak kudanya, telapak tangannya melayang terus mengepruk kemuka Thian-hi sambil memaki, “Keparat yang tidak tahu diuntung, berani kau mencari tahu nama kebesaran loyamu!”
Mulut Thian-hi mengejek hrih, tangan kanan diangkat, tiga jarinya mencengkeram dan memuntir, telak sekali ia pegang pergelangan tangan laki-laki kekar itu terus diabitkan kesamping, kontan laki-laki kekar itu terjungkal roboh di atas pasir.
Melihat kawan sendiri kecundang begitu gampang, laki-laki kurus itu segera melolos golok, kuda ditarik mundur, dari gebrak pertama ini baru dia tahu bahwa Thian-hi bukan sembarang orang yang gampang dibuat permainan.
Thian-hi berludah, dia tidak mau menarik panjang urusan, segera ia putar kuda tinggal pergi.
Laki-laki kekar itu bergulingan di tanah, hatinya menjadi berang, melihat Thian-hi hendak pergi segera ia memburu maju sembari membentak, sekali lompat ia menubruk ke arah Thian-hi.
Thian-hi lecut kudanya ke depan, keruan laki-laki kekar itu menubruk tempat kosong.
Dari sebelah samping sana mendatangi seekor kuda putih, seorang gadis mengenakan cadar putih menyungging pedang mendatangi dengan cepat, begitu tiba ia melirik kepada kedua laki-laki itu, lalu mengamati Thian-hi sebentar tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kau Hun Thian-hi?”
Tergetar hati Thian-hi, pikirnya, “Heran! Orang daerah sinipun sudah tahu namaku, mungkin Sam-kong Lama juga sudah mengetahui pula akan persoalanku. Sesaat ia menjaj terlongong tak tahu cara bagaimana harus menjawab, jejaknya sudah konangan lebih baik aku membedal kuda melanjutkan perjalanan secepat mungkin. Segera ia putar kuda terus dibedal sekencang angin.
Baru setengah li kemudian, terdengar di belakangnya derap langkah kuda yang cepat semakin mendatangi, kiranya kuda putih itu telah mengejar semakin dekat bagai angin terbang.
Thian-hi rada kejut, waktu ia berpaling dilihatnya derap langkah kaki kuda putih itu begitu kencang dan kokoh kuat lagi, tahu dia bahwa kekuatan kuda tunggangan sendiri terang takkan unggulan, jelas tak mungkin dapat meloloskan diri, terpaksa ia hentikan lari kudanya.
Lincah sekali gadis itu kendalikan kudanya melintang menghadang di depan Thian-hi, sambil tertawa ringan ia berkata, “Kenapa begitu melihat aku lantas lari, kami tiada niat berbuat sesuatu yang bakal merugikan kau. Kedua orang tadi adalah anak buah Thian-san-siang-long. tapi sudah kubereskan supaya tutup mulut, legakan hatimu aku tidak akan mencelakai kau.”
Thian-hi menjadi bergidik merinding, sungguh ia hampir tak percaya gadis aju dihadapannya ini ternyata begitu kejam dan telengas.
Gadis itu mengerut kening, katanya, “Kenapa kau, badan kurang segar? Kukira kau takkan ketakutan begitu rupa!”
“Harap tanya siapakah nama kebesaran Lihiap, apakah aku dapat tahu?” tanya Thian-hi.
Gadis itu tertawa-tawa, katanya cekikikan, “Legakan saja hatimu, kau bejat aku pun tidak baik!”
Hun Thian-hi menunduk, diam-diam ia menghela napas rawan, kata-kata sigadis sangat meresap dalam sanubarinya, mungkin di seluruh kolong langit ini tiada seorang pun yang menganggap dirinya orang baik.
Melihat sikap Thian-hi yang murung itu, sigadis menjadi heran, tanyanya, “Kenapa kau? Apa badanmu sakit? Melihat sikapmu ini aku menjadi heran mengapa kau diberi nama julukan Leng-bin-mo-sim dikalangan Kangouw!”
Thian-hi tercengang, mulutnya menggumam, “Leng-bin-mo-sim?”
“Kenapa? Masa kau sendiri belum tahu?” olok sigadis dengan cekikikan, “Leng-bin-mo-sin Hun Thian-hi, sekarang sudah terkenal di seluruh dunia, begitu cepat kau angkat nama, sungguh membuat orang sangat kagum dan ngiler.”
Pedih perasaan Thian-hi seperti ditusuk sembilu, ia tunduk semakin dalam, tiba-tiba kedua kakinya menjepit perut kuda keras-keras, tunggangannya bebenger panjang kesakitan terus membedal kabur sekeras-kerasnya.
Otak Hun Thian-hi merasa pepat pikiran menjadi gelap, tahu dia bahwa dirinya sudah tamat dan tak mungkin bangkit kembali sebagai orang yang terpandang baik. Leng-bin-mo-sin (muka dingin berhati iblis), sungguh julukan ini sukar diterima oleh lubuk hatinya? Apakah ada muka untuk menjumpai Sam-kong Lama? Apakah tidak malu mengecewakan Lam-siau Kongsun Hong yang telah merawat dan membesarkan dirinya? Demikian juga terhadap ayah bunda yang telah dialam baka, dapatkah dirinya memberi pertanggungan jawab yang setimpal? Sungguh ia tidak berani memikirkan lebih lanjut….
Mendadak tunggangannya meringkjk panjang dan berloncatan. Thian-hi tersentak dari lamunannya, ia menjadi sadar waktu tunggangannya sudah menanjak naik ke atas sebuah ngarai, karena jalan licin kakinya terpeleset dan terperosot hampir masuk jurang.
Thian-hi menjadi tertegun mematung, tak terpikir olehnya untuk mengerahkan tenaga melompat menyelamatkan diri.
Terdengar seruan tertahan dibelakangnya, sebuah bayangan hijau melesat secepat kilat tahu-tahu sebuah tangan mencengkeram baju kuduknya terus melempar dirinya ke atas sebuah batu menonjol di Ngarai sebelah samping. Orang itu jumpalitan tiga kali ditengah udara, dimana kedua lengannya tergetar berkembang bagai burung terbang tubuhnya mencelat naik dan persis benar-benar hinggap di atas ngarai.
Melihat yang menolong jiwanya adalah gadis bercadar hijau itu, Thian-hi menghala napas, katanya kepada gadis itu, “Terima kasih!”
“Kenapakah kau tadi?” goda sigadis tertawa cekikikan, “Mendengar julukan Leng-bin-mo-sin lantas kau lari, apa kau tidak senang akan julukan ini?”
Dengan rasa hambar Thian-hi pandang gadis di depannya, tak tabu cara bagaimana ia harus memberi penjedasan.
Gadis itu tertawa lagi, katanya, “Kau tak perlu takut padaku, namaku mungkin kau pun sudah tahu, aku bernama Giok-bin-hwi-hou Sutouw Ci-ko!”
Thian-hi manggut, dia belum pernah dengar nama ini, tapi mungkinkah ia prihatin pada orang lain? Sejenak ia berdiam diri, lalu katanya, “Terima kaS5h Sutouw Lihiap, kupikir aku segera harus berangkat!”
“Kemana kau hendak pergi?” tanya Sutouw Ci-ko.
Thian-hi menerawang; naga-naganya aku tak bisa ke tempat Sam kong Lama lagi. kemana aku harus pergi?
“Sebetulnya aku malah kagum terhadapmu,” terdengar Sutouw Ci-ko berkata sungguh, “Kalau kau sudi mari kita ikat persahabatan bagaimana?”
Melihat sikap Sutouw Ci-ko begitu polos dan jujur Thian-hi menjadi cerah wajahnya, katanya tertawa, “Apa-apaan ucapanmu ini, kau adalah penolong jiwaku bukan? Kalau bukan pertolonganmu tadi mungkin aku sudah terbanting hancur di bawah sana!”
“Tak perlu sungkan,” ujar Sutouw Ci-ko. “Sungguh heran, sedikit pun aku tidak melihat dimana letak kebuasan dari kedinginanmu, kenapa kau bisa begitu gapah tangan dan berhati keji.”
Hun Thian-hi tertawa getir, tak tahu dia bagaimana harus memberi jawaban.
Selanjutnya Sutouw Ci-ko berkata lagi, “Maaf! Tidak seharusnya aku tanya hal ini kepadamu, aku hanya merasa. heran saja!”
Hun Thian-hi tertawa dibuat-buat.
Kata Sutouw Ci-ko lagi, “Kalau kau hendak sembunyi aku punya suatu tempat yang tak mungkin didatangi orang lain. Hanya aku seorang yang tahu tempat itu. Bu-tong-pay sudah menyebar Bu-lim-tiap, bermula Siau-lim-si tidak ikut, tapi begitu kedua murid Giok-yap Cinjin mati, Sute Thian-cwan Taysu yang sekarang menjabat Siau-lim Ciangbungjin Te-ciat Taysu turun gunung sendiri untuk mengurus persoalan ini. Sampai di ujung langit pun kau akan dikejar sampai dapat, kalau kau sembarangan ngelajap ke-mana-mana tentu berbahaya!”
Mulut Han Thian-hi mengiakan, tahu dia bahwa Thian-cwan Taysu sekarang pun sudah tidak percaya lagi kepada dirinya, mungkin beliau pun merasa sayang dan gegetun telah melepas dirinya tempo hari.
Diempat penjuru musuh kuat tersebar luas, tapi Sutouw Ci-ko di hadapannya ini justru mengagumi dirinya, ini betul-betul sungguh menggelikan.
“Aih, kenapa kau? Mau ikut aku saja!” ajak Sutouw Ci-ko.
Melihat Su-touw Ci-to begitu supel, Thian-hi menjadi tertarik dan tertawa-tawa, memang tiada tujuan yang hendak dituju terpaksa ia menyahut, “Terima kasih Sutouw-lihiap! Entah dimanakah tempat itu?”
“Mari kau ikut aku, tak jauh dari sini,” kata Sutouw Ci-ko lalu menuntun kuda putihnya.
Hun Thian-hi mengekor di belakang Sutouw Ci-ko terus maju ke depan, dalam hati diam-diam ia mereka siapakah sebenar-benarnya Sutouw Ci-to ini, melihat sikapnya begitu baik terhadap dirinya, dia sendiri mengatakan dia bukan orang baik, tapi tidak kelihatan di mana ada kejelekannya.
Sembari berjalan Sutouw Ci-ko berkata, “Kuajak kau ke sana, setelah tiba tentu kau akan senang tinggal di tempat itu.”
Sambil mengiakan pikiran Thian-hi melayang ke urusan lain, dia sendiri sampai tak tahu jawaban apa yang telah diberikan tadi.
Sutouw Ci-ko berpaling, tawanya semakin lincah, tanyanya, “Kenapa eh? Apa yang tengah kau pikirkan?”
“O, tidak apa-apa,” jawab Thian-hi gelagapan.
Sutouw Ci-ko mengamati mukanya, sesaat baru berkata, “Kau memang sangat menyenangkan, aku menjadi kurang percaya bahwa kau punya kepandaian begitu tinggi, coba lihat sikapmu yang rada linglung ini.”
Melihat orang selalu menyinggung persoalan itu Thian-hi rada tak senang, namun betapapun orang telah menyelamatkan jiwanya, tak enak rasanya bertingkah kasar, terpaksa ia bicara, “Sutouw-lihiap, kapan baru kita sampai disana?”
“Sebentar lagi! Itu di depan segera sampai!”
Begitulah mereka melanjutkan terus ke depan, setelah membelok di kaki gunung terlihat di depan sana terbentang sebuah gua besar setinggi dua tombak. Sutouw Ci-ko menuntun kudanya terus berjalan masuk, Thian-hi mengintil terus di belakang, setelah belok beberapa kali hadapan mereka tiba-tiba terbentang lebar, selayang pandang rumput hijau dan bunga2 liar tersebar luas laksana permadani, di tengah di depan sana terdapat sebuah kolam yang jernih airnya.
Hun Thian-hi menyedot hawa segar, batinnya, “Tempat ini betul-betul sangat menyenangkan.”
Sambil tersenyum simpul Sutouw Ci-ko bertanya, “Apakah kau senang tempat ini?”
Thian-hi manggut-manggut, sungguh girang bukan main hampir tak kuasa ia bicara, rada lama kemudian baru berkata, “Aku sungguh sangat senang.”
Sutouw Ci-ko terpingkal-pingkal sambil berlari ke pinggir kolam, pelan-pelan ia tanggalkan cadar yang menutupi mukanya. Pandangan Thian-hi menjadi terang, sesaat ia menjadi terbelalak, ternyata Sutouw Ci-ko adalah seorang gadis rupawan yang cantik jelita.
Setelah menanggalkan cadarnya Sutouw Ci-ko duduk di pinggir kolam, kepalanya mendongak terlongong memandang puncak di depan nan jauh di sana. Diam-diam Thian-hi memperhatikan tingkah laku orang, sejak tadi ia merasa orang berwatak polos dan lincah, tapi sekarang seperti tengah dirundung kesusahan dan murung.
Thian-hi dapat menyelami perasaan orang maka dia tidak akan mengganggu ketenangan orang melayangkan pikirannya, pelan-pelan ia mundur dan keluar lagi dari gua itu, pelan-pelan ia berjalan goyang gontai ke arah bawah.
Dia celingukan ke kanan-kiri, memikirkan akan diri sendiri, bagaimana aku harus membawa diri selanjutnya? Tak mungkin aku sembunyi di tempat ini selama hidup! Tionggoan tengah bergolak, seluruh aliran dan golongan persilatan disana tengah mengejar dan mencari jejaknya aku tak mungkin pulang ke sana.
Begitulah berjalan sambil melayangkan pikiran, tak diketahui sudah berapa lama ia berjalan, tiba-tiba didengarnya langkah kuda berlari mendatangi, seorang laki-laki kurus pertengahan umur mendatangi, begitu melihat Thian-hi, orang itu lantas mendengus dingin.
Thian-hi angkat kepala, melihat orang yang tidak dikenal, ia melanjutkan ke depan.
Sepintas pandang orang itu tahu bahwa Thian-hi bukan sembarang orang, segera ia menjengek dingin, “Siapa kau! Dua anak buahku dibunuh orang, apa kau tahu siapa. pembunuhnya?”
Bermula hati Thian-hi menjadi was-was menyangka utusan dari Tionggoan yang menyirapi jejaknya,
serta mendengar pertanyaan orang baru ia sadar bahwa yang dihadapi ini adalah salah satu dari Thian-san-siang-long (dua serigala dari Thian-san), sejenak ia pandang orang itu tanpa buka suara.
“Kutanya kau, apa kau tidak dengar?” sentak orang itu jengkel.
Bertaut alis Thian-hi, tanyanya, “Harap tanya tuan ini….”
Melihat Thian-hi tidak menjavvab malah balas bertanya orang itu menjadi naik darah, sambil menggerung dia melolos rujung beruas dari pinggangnya terus melecut kepada Thian-hi.
Thian-hi mengegos ke samping menghindar, dia pun menggeram gusar, sungguh liar dan tak tahu aturan benar-benar orang ini. Orang berkepandaian silat tinggi sudah banyak yang kulayani, masa kubiarkan kau bertingkah dihadapanku? Demikian pikirnya dalam hati.
Melihat Thian-hi berhasil lolos dari serangan rujungnya, tangkas sekali orang itu melejit tinggi dari tunggangannya, dimana tangan bergerak rujungnya lagi-lagi menyamber ke arah Thian-hi. Cepat-cepat Thian-hi menyurut mundur, mendapat angin orang itu beruntun lancarkan sapuan rujungnya menerpa dengan kekuatan dahsyat sehingga Thian-hi main mundur lagi. Terdengar ia menghardik sekali, tiba-tiba tubuhnya selicin belut mendak kebawah terus menubruk maju menjotos berbareng sebelah tangan yang lain meraih ke samping memotes sebatang dahan pohon.
Belum sempat Thian-hi gunakan dahan pohon sebagai senjata untuk menyerang, Sutouw Ci-ko keburu datang mencongklang kudanya, belum lagi tiba, tubuhnya sudah meluncur ditengah udara, pedangnya bergetar menusuk ke tengkuk orang itu.
Orang itu melompat menyingkir, melihat kehadiran Sutouw Ci-ko berubah air mukanya.
Kata Sutouw Ci-ko dingin, “Ih Seng! Selamanya kita seumpama air sungai tidak menyalahi air sumur,
orang ini adalah sahabatku, kenapa kau datang menganiaja orangku?”
Laki-laki ini adalah salah satu Thian-san-siang-long Ih Seng berjuluk Ceng-bin-long (serigala muka hijau), katanya, “Kiranya dia sahabatmu, sungguh aku kurang adat. Dua anak buahku dibunuh orang….”
Sutouw Ci-ko menarik muka, katanya merengur, “Mereka bermulut kotor dan berani kurang ajar terhadap aku. Akulah yang bunuh mereka.”
Ih Seng rada tercengang, katanya, “Anak buahku semua kenal kau, mungkin….” sebentar ia merandek lalu melanjutkan, “Kalau begitu, apa boleh buat, selamat bertemu!” — Memutar kuda lalu mencongKlang pergi dengan buru-buru.
Hun Thian-hi berpaling ke arah Sutouw Ci-ko, katanya tertawa pahit, “Kau menolong aku lagi….”
“Justru kaulah yang menolong dia!” tukas Sutouw Ci-ko menggoda.
Hun Thian-hi menjadi kikuk dan risi, mulutnya bungkam.
“Bagaimana?” ujar Sutouw Ci-ko tertawa ringan, “Agaknya kau punya gangjalan hati ya?”
Thian-hi menunduk tanpa bersuara.
“Bisakah kau ceritakan kepadaku?” tanya Sutouw Ci-ko dengan suara halus.
Thian-hi tersenyum, senggaknya, “Sutouw-lihiap, kulihat kau sendiri juga punya janggalan hati bukan?”
Sutouw Ci-ko angkat alis, katanya, “Untuk waktu dekat mungkin Ih Seng takkan tahu kau Hun Thian-hi adanya, tapi cepat atau lambat akhirnya dia pasti akan tahu. Lebih baik mari Kita lekas kembali.”
Thian-hi mnanggut2 dengan tersenyum bersama Sutouw Ci-ko mereka kembali ke dalam gua itu. Sekian lama, mereka berdiam diri duduk dipinggir kolam, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sekonyong-konyong Sutouw Ci-ko angkat kepala, tanyanya kepada Hun Thian-hi, “Apakah kau merasa tempat ini baik?”
Hun Thian-hi manggut-manggut, dalam hati ia membatin; ‘Bukankah tadi sudah kukatakan? Apa maksud pertanyaan ini?’
Hening sejenak, Sutouw Ci-ko membuka suara lagi, “Masih ada seorang lagi yang mengetahui tempat ini. Tapi mungkin dia selamanya takkan datang kemari lagi!”
Lapat-lapat Thian-hi dapat menebak kemana juntrungan kata-kata ini, katanya tertawa, “Sutouw-lihiap, kalau aku dapat membantu kau, sungguh aku akan senang sekali!”
“Orang itu adalah sahabat karibmu, Bun Cu-giok!”
Tersentak hati Thian-hi. Bun Cu-giok, kiranya Bun Cu-giok! Tapi Bun Cu-giok sudah bergaul begitu intim dengan Ciok Yan, baru sekarang teringat olehnya akan mimik wajah Bun Cu-giok yang aneh tempo hari itu, kiranya begitu kejadiannya. Begitulah ia menerka2.
Dengan lekat Thian-hi memandang wajah orang dari samping, terdengar ia berkata lirih, “Aku tahu, pasti dia tahu bahwa aku sudah berbuat buruk, dia tak hiraukan aku lagi.”
Thian-hi menjadi serba sulit, tak tahu bagaimana harus menjawab, pikirannya melayang; Dalam hati Bun Cu-giok tentu masih ingat akan Sutouw Ci-to, tapi disampingnya sekarang sudah ada Ciok Yan.
Terdengar Sutouw Ci-ko berkata lebih lanjut, “Dia menyangka aku belum tahu perihal dirinya, tapi aku sudah tahu segala2nya.”
Thian-hi bernapas berat, pikirnya; ‘Kiranya untuk urusan inilah Sutouw Ci-ko mencari aku,’ mulutnya lantas berkata, “Kulihat kau orang baik, kalau aku ketemu dia, tentu akan kuberitahu bahwa kau tengah menunggu dia, supaya dia suka kemari, saat mana boleh kau bicara terus terang kepadanya.”
“Ah, sungguh banyak terima kasih!” seru Sutouw Ci-ko.
Tengah mereka asjik bicara tiba-tiba di belakang mereka terdengar dengusan dingin. mereka tersentak kaget dan berpaling bersama. Tampak Bun Cu-giok berdiri jauh lima tombak dengan muka bersungut gusar.
Dengan kejut2 girang Sutouw Ci-ko berjingkrak bangun, serunya, “Cu-giok!” — Serta melihat sikap dan wajah Bun Cu-giok yang membeku dingin, kata selanjutnya ditelan kembali.
Tersipu-sipu Thian-hi berdiri, begitu melihat air muka Bun Cu-giok lantas ia dapat menerka kemana juntrungan pikiran orang, katanya dengan tersenyum, “Saudara Bun! Kita jumpt kembali!”
Bun Cu-giok tutup mulut, dengan memicingKan mata ia pandang mereka bergantian. rada lama kemudian baru berkata kepada Hun Thian-hi, “Saudara lolos dari bahaya, kuucapkan selamat. Konon saudara Hun tertolong oleh Ang-hwat-lo-mo, apakah betul?”
Dengan mendelong Thian-hi pandang orang lalu manggut, tahu dia bahwa selanjutnya ia bakal kehilangan seorang sahabat yang paling dekat.
Bun Cu-giok berkecek mulut, katanya lagi kepada Hun Thian-hi, “Kaupun tak perlu menjelaskan lagi!”
Lalu ia berpaling kepada Sutouw Ci-ko, katanya. “Ci-ko! Perjodohan kita sudah batal, kenapa begitu kau sendiri tentu paham. Kedatanganku ini memang hendak mengembalikan kalung pualam milikmu.”
Lalu ia mengeluarkan mainan kalung dari batu pualam putih terus dibuang di depan kaki Sutouw Ci-ko.
Dengan mengembeng air mata Sutouw Ci-to berkata perlahan, “Cu-giok. Apakah kau tidak hargai hubungan erat kita yang dahulu?”
“Hubungan erat apa?” jengek Bun Cu-giok. “Tak ada hubungan erat apa-apa diantara kita berdua, kau hanya erat berhubungan dengan orang di Thian-san itu. yang benar-benar sekarang kau hubungan erat dengan Hun Thian-hi!”
Hun Thian-hi menjadi naik pitam mendengar fitnah Bun Cu-giok, desisnya, “Bun-pangcu, aku dan Sutouw-lihiap hanya kenalan ditengah jalan saja, dia minta supaya aku mewakili bicara kepadamu, apa maksud kata-katamu ini?”
“Hun Thian-hi!” sentak Bun Cu-giok semakin gusar, “Dengan siapa dia bergaul aku tidak peduli. Tapi ternyata dia bersama kau, selama hidup ini aku Bun Cu-giok anggap kau seorang laki-laki, tapi….”
Lalu ia berteriak lebih keras lagi, “Hun Thian-hi! Kaum persilatan di seluruh dunia ini tengah mengejar jejakmu. Pihak Bu-tong-pay telah mengutus orang mengundang guruku turun gunung, hari ini himpas sampai disini, kelewat hari ini kau adalah musuh kebujutanku!”
Habis berkata bergegas ia membalik terus berlari keluar.
Hun Thian-hi tertawa besar, teriaknya, “Bun Cu-giok! Kuanggap kau seorang laki-laki sejati. Ternyata kau seorang pengecut!”
Bun Cu-giok membalik dengan murka, dengan mata berapi-api ia pandang mereka berdua sesaat kemudian lalu membalik dan menghilang diluar.
“Nanti dulu!” teriak Sutouw Ci-ko, “Masih ada omongan yang hendak kukatakan.”
Bun Cu-giok membalik lagi sambil menyunggjng senyum dingin, katanya, “Ada kentut apa lagi lekas lepaskan! Aku tak punya tempo mengobrol dengan kau. Ciok Yan sedan menanti aku!”
“Ciok Yan?” seru Sutouw Ci-ko dengan nada melengking.
“Betul! Ciok Yan! Puteri Ciok Hou-bu dari Hwi-cwan-po.”
Sutouw Ci-ko menjadi bingung dan melongo sekian lama, akhirnya berkata pelan, “Apapun yang kau katakan! Aku tidak punya kesalahan, urusan sudah ketelanjur sedemikian jauh, akupun tak perlu banyak mulut lagi! Silakan pergi!”
“Tidak berbuat salah apa?” ejek Bun Cu-giok sinis, .,Hm! Setiap aku ingat ingin rasanya kubunuh
“kau!” Habis berkata terus berlari pergi.
Mendadak Sutouw Ci-ko terkial-kial. Hun Thian-hi menghela napas, tanpa bicara lagi.
Sutouw Ci-ko berkata, “Kau adalah orang baik, tak peduli apapun yang pernah kau perbuat, kau tetap orang baik, aku dapat melihat itu!”’
Thian-hi tersenyum pahit, katanya, “Apa kau tahu aku pernah berbuat salah apa?”
Sutouw Ci-ko tertegun, mulutnya terkancing, pelan-pelan ia duduk kembali dipinggir kolam, hening sekian lama baru buka suara lagi, “Berita angin itu belum tentu benar-benar!”
“Sutouw-lihiap,” ujar Hun Thian-hi, “Sudah saatnya aku pergi, Bun Cu-giok tahu aku berada disini, mungkin bisa bikin susah padamu.”
Sutouw Ci-ko tertawa, aneh, ujarnya, “Kemana juga kau pergi sama saja. Tak perlu kau kesusu dalam waktu dekat ini. Apakah kau sudi mendengar perihal diriku?”
Hun Thian-hi rada sangsi, akhirnya menjawab, “Janganlah!”
Sutouw Ci-ko memandangnya halus, Thian-hi tunduk malu-malu, heran dia mengapa Sutouw Ci-ko memandangnya dengan sorot mata begitu. Terdengar ia berkata, “Kalau beberapa tahun lebih siang aku jumpa dengan kau, tentu aku bisa suka kepadamu.”
Tergetar hati Thian-hi, serta merta mukanya menjadi merah dan panas, ter~sipu-sipu ia berkata, “Sutouw li-hiap, sekarang juga aku harus berangkat!”
“Kabar berita itu belum tentu benar-benar,” Sutouw Ci-ko berkata pelan-pelan, “Banyak cerita yang ingin kukatakan kepadamu, apakah kau tidak sudi tinggal barang sebentar lagi?”
Hun Thian-hi menjadi sungkan, Sutouw Ciko memberi tanda supaya Thian-hi duduk kembali.
“Ada seorang bernama Kim-ih-kiam di Thian-san, apakah kau pernah tahu?”
Thian-hi berpikir sebentar lalu sahutnya, “Agaknya aku pernah dengar nama orang ini, tapi tak ingat lagi!”
“Selamanya dia jarang mengembara di Kangouw, apalagi usianya masih sangat muda, maka jarang orang mengetahui dia.”
Thian-hi manggut-manggut, batinnya, “Mungkin dia itulah yang dimaksud orang dari Thian-san.”
Sutouw Ci-ko merenung sebentar lalu mulai dengan kisahnya, “Kira-kira sudah lima tahun yang lalu. Kim-ih-kiam-khek menantang aku bertanding pedang. Kita bertempur tiga hari tiga malam, kita bertanding satu lawan satu dalam sebuah ruangan, akhirnya seri alias sama kuat.” — Sampai disini ia angkat kepala memandang Thian-hi lalu meneruskan, “Tapi belakangan hari baru aku tahu bahwa dia sengaja mengalah kepada aku!”
Hening sebentar lalu meneruskan lagi, “Aku jadi naik pitam. Dalam kesempatan lain dia selalu mengalah, akhirnya aku berhasil memapas secuil ujung bajunya. Tatkala itu, aku kegirangan….”
Thian-hi membatin, “Rupanya pertandingan pedang yang menimbulkan pertikaian ini, kenapa pula urusan menjadi semakin bertele2.”
“Betapa buruk watak Kim-ih-kiam-khek itu, banyak akal muslihat dan licik lagi, waktu kita bertanding pedang tiada orang ketiga yang hadir, selama tiga hari tiga malam kita bertempur, sudah tentu rada janggal dan memalukan. Setelah aku turun gunung lantas kudengar omongan buruk yang menjelekkan nama baikku.
“Bun Cu-giok juga dengar kabar buruk itu lantas tanya kepadaku, sudah tentu aku menyangkal, malah dengan riang gembira kuberitahu bahwa aku telah berhasil mengalahkan Kim-ih-kiam-khek. Dia mencurigai aku, langsung dia naik ke Thian-san mencari Kim-ih-kiam, namun dia mandah tersenyum saja tidak mau menerangkan. Saking gusar Cu-giok lolos pedang lalu menempurnya sengit. Lima ratus jurus kemudian dia dikalahkan dan lari turun gunung. Sebetulnya aku sendiri bukan tandingan Bun Cu-giok!”
Thian-hi terperanjat, cara Kim-ih-kiam-khek mengatur tipu dayanya sungguh lihay dan licik benar-benar, tujuannya begitu keji.
“Setelah kembali Cu-giok tidak bicara terus tinggal pergi,” demikian Sutouw Ci-ko melanjutkan, “Peristiwa itu aku tidak tahu, akhirnya untuk ketiga kalinya aku naik ke Thian-san mencari Kim-ih-kiam-khek, aku memakinya supaya jangan suka main-main dan menggoda orang. Dia tak mau buka suara, saking jengkel aku melabraknya tapi untuk kali ini aku kena disekap tiga hari lamanya, kejadian terakhir ini lebih menjerumuskan aku, tak dapat aku mencuci bersih namaku! Bun Cu-giok tinggal pergi dan sembunyi, kalau aku mencarinya selalu dia menghindari pertemuan.”
Thian-hi juga merasa urusan semakin runyam, pikirnya; meski perangai Bun Cu-giok tidak terlalu jelek, namun rasa cemburunya itu terlalu besar dan tidak beralasan.”
“Dibeber secara terus terang begitulah duduk perkara sebenar-benarnya, akhirnya saking jengkel melihat dia tidak datang aku lantas membunuh orang, harapanku supaya dia mau datang, tapi kenyataan tidak” demikian Sutouw Ci-ko mengakhiri ceriteranya sambil tertawa terkekeh-kekeh pilu.
Thian-hi ikut tertawa, katanya, “Hal itu tidak bisa terlalu salahkan kau!”
“Mungkin! Tapi tidak baik bukan!”
“Adakah ayah bundamu masih hidup?” Thian-hi bertanya.
Sutouw Ci-ko menggeleng kepala, sahutnya, “Aku hanya punya seorang guru, tapi belakangan beliau pun tak peduli padaku pula.”
Hun Thian-hi menghembus napas dari mulut. “Kenapa aku selalu melihat kau berkeluh kesah.”
“Aih, sama dengan aku, guruku pun mengusir aku,” kata Sutouw Ci-ko mengawasi Thian-hi,
“Kau kasihan padaku atau kasihan kepada dirimu sendiri?”
“Aku tidak kasihan pada diriku dan tidak Kasihan padamu. Aku hanya merasa hidup di dunia ini kenapa begitu gampang kena dipermainkan orang, dibuat bulan2an.”
Sutouw Ci-ko berdiam diri, lubuk hatinya yang paling dalam mendadak merasa bahwa pembawaan Thian-hi ini ternyata begitu agung dan membanggakan.
Kata Thian-hi, “Sutouw-lihiap, kupikir aku harus segera berangkat!”
“Kemana kau hendak pergi?”
Thian-hi menduga Sutouw Ci-ko takkan melepas dirinya pergi, kecuali sekedar diapusi, maka segera ia berkata, “Sam-kong Lama mengundang aku kesana, dia percaya kepada aku.”
Mata bening Sutouw Ci-ko menatap Thian-hi lekat-lekat, seperti dapat menembusi kebohongan kata-katanya, akhirnya mereka sama menundukan kepala, kata Sutouw Ci-ko sedih, “Aku tak kuasa melindungi kau, sekarang aku hanya mengharap dapat sekuat tenaga membantu kau saja.”
Thian-hi menjadi terharu, katanya tersedat, “Terima kasih!”
Setelah merenung Sutouw Ci-ko berkata, “Bun Cu-giok sudah pergi, akupun tak perlu bersedih lagi. Tapi aku mengharap dapat jumpa kembali dengan kau, pengalaman hidup kita sama, keadaanmu lebih sengsara dan menderita dari aku, tapi aku yakin akan datang satu hari kau akan berhasil, janganlah kau putus asa ditengah jalan.”
Thian-hi bungkam menelan liur, sesaat baru berkata, “Terpaksa baru guruku mengusir aku dari perguruan, tapi aku pun tak memikirkan beliau lagi, aku punya perhitungan sendiri, kau juga tak perlu kuatir akan diriku.” — sembari kata pelan-pelan ia bangkit.
“Kuda putihku itu sudah lama ikut aku, sangat berguna bagi kau, biarlah kuberikan kepada kau saja!”
Thian-hi hendak menolak, Sutouw Ci-ko keburu berkata lagi, “Kau tak usah menampik, mungkin inilah barang yang kuberikan kepadamu selama hidup ini, terimalah, daya larinya sangat kuat dan cepat, cerdik lagi, kupikir kelak akupun tak perlu menggunakannya lagi.”
Berdetak jantung Thian-hi, Sutouw Ci-ko memberikan hadiah terakhir kepadanya, apalagi untuk selanjutnya juga tak perlu menggunakan kudanya lagi ….serta merta ia bersitegang leher mengawasi Sutouw Ci-ko.
Sutouw Ci-ko tersenyum manis, katanya, “Orang-orang sekelilingku tiada satupun yang berbalas kasihan kepada aku, memang aku tidak perlu belas kasihan mereka, kau tak perlu kuatir aku bakal mencari jalan pendek. Aku akan kembali kepada guruku, pedangku ini silakan bawa sekalian!” — lalu ia menanggalkan pedangnya diangsurkan kepada Thian-hi.
Thian-hi terlongong mengawasi orang. Sutouw Ci-ko tersenyum lagi, katanya, “Selamat betemu, aku pun tinggal di Thian-san, kelak boleh kau datang mencari aku.”
Thian-hi menganggukkan kepala, Sutouw Ci-ko begitu baik terhadap dirinya, dia tertunduk menuntun kuda menenteng pedang terus keluar dari gua, katanya kepada Sutouw Ci-ko, “Kelak pasti aku tilik kepadamu.”
Melihat air mata yang mengembang dikelopak mata orang, hati Thian-hi menjadi mendelu, cepat-cepat ia berpaling terus berjalan pergi. Dalam hati ia berdoa supaya Sutouw Ci-ko selalu selamat dan sehat walafiat.
Setelah berada diluar Thian-hi menghela napas, perasaan terasa enteng, waktu berpaling Sutouw Ci-ko sudah tak kelihatan, segera ia naik kuda, pedang ditangannya diamat-amati, pedang ini rada halus lencir dan panjang, bobotnya lebih ringan dari pedang biasa. Bayangan Sutouw Ci-ko kembali terbayang dalam benaknya.
Kuda putih pelan-pelan berjalan ke depan. Haru benar-benar perasaan Thian-hi, tiada seorang pun di dunia ini yang memberi pengharapan besar terhadap dirinya, kecuali Sutouw Ci-ko seorang yang punya keyakinan akan masa depannya, ini merupakan dorongan kuat bagi dirinya sehingga ia dapat memulihkan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Terketuk sanubarinya, tanyanya pada diri sendiri; ‘Dimana jiwa gagah dan keperwiraanmu dulu?’
Thian-hi mendongak dipandangnya sekeliling yang sepi hampir gelap, tanpa merasa ujung bibirnya mengulum senyum bangga. Terpikir dalam hatinya; jangan aku membuat mereka kecewa! sebentuk bayangan yang sangat. dikenalnya terbayang di depan matanya. Dia tahu, dia tak pernah berbuat salah apapun juga, kenapa pula berkeluh kesah tanpa juntrungan? Tapi iapun amat sadar bahwa bahaya selalu mengintai disekitar dirinya.
Setelah tiba di bawah gunung, membedakan arah langsung Thian-hi menuju ke Bu-la-si. Semalam suntuk Thian-hi melakukan perjalanan jauh. Waktu terang tanah, jauh di depan sana Thian-hi melihat Bun Cu-giok sedang menanti kedatangannya.
Melihat Thian-hi menunggang kuda Sutouw Ci-ko menyoreng pedangnya pula, Bun Cu-giok mendengus ejek, pedang mas dan cambuk perak segera dikeluarkan.
Melihat tingkah Bun Cu giok itu, Thian-hi tertawa tawar, katanya, “Bun-pangcu, perbuatanmu ini. kelak kau pasti menyesal!”
“Hun Thian-hi,’“ desis Bun Cu-giok dengan muka membesi gusar, “Aku mendapat perintah dari perguruan, harus menunaikan tugas, harap kau suka ikut aku pergi ke Bu-tong!”
Thian-hi mengangkat alis, katanya tertawa bangga, “Bun-pangcu selamanya kau paling jelas bagaimana sepak terjangku, terpaksa aku harus mengecewakan kau.”
“Kau tak sudi pergi, tugas perguruanku tak bisa kubangkang, terpaksa aku harus berlaku kasar terhadapmu’.”
Thian-hi mendongak bergelak tawa, berubah air muka Bun Cu-giok, sinar perak berkelebat secepat kilat meluncur, cambuk perak terayun, ‘Tar!” membelit ke arah leher Thian-hi.
“Sreng!” Thian-hi melolos pedang, pedang panjang mengiris miring, tepat sekali berhasil menyontek ujung cambuk Bun Cu-giok.
Bun Cu-giok tertawa dingin, tubuhnya tiba-tiba melompat mumbul ditengah udara terbang jumpalitan satu lingkaran. cambuk peraknya tergentak bergulung-gulung menggulung ke arah pedang Thian-hi berbareng pedang mas ditangan kanan menyelonong maju menusuk tengah mata Thian-hi.
Thian-hi memperkuat jepitan kakinya di perut kuda, kuda putih lantas berlari maju, dimana pedang panjangnya bergetar ia kembangkan Gelombang perak mengalun berderai, sekaligus dua sasaran serangan Bun Cu-giok dari kedua jurusan kena dipunahkan.
Bun Cu-giok menggerung murka, pedang masnya kena disampok mental balik oleh daya pertahanan Thian-hi, belum lagi tubuhnya meluncur turun ditengah udara kakinya menjejak kaki yang lain, tubuhnya lantas meluncur ke depan menghalangi jalan Thian-hi, berbareng ia menyerang pula dengan tabasan yang lebih ganas.
Melihat Bun Cu-giok dapat bergerak begitu lincah dan enteng, menyerang pula dengan keji. Thian-hi menarik kekang kudanya kesamping terus lari ke pinggir jalan.
Bun Cu-giok mengejar. Thian-hi jejakkan kakinya dipedal kuda tubuhnya lantas mencelat tinggi, ditengah udara tubuhnya rada bergerak miring, dengan jurus Hun-liong-pian-yu pedangnya merabu dengan gencar.
Bun Cu-giok menghardik keras, kedua tangan bergerak bersama, pedang dan cambuk menangkis dan balas menyerang, jalan darah Thian-bun dan Ki-kut yang mematikan menjadi incaran ujung pedang mas yang berkilauan itu.
Melihat Bun Cu-giok selalu merintangi jalan, kelihatannya tak mau melepas dirinya, jengkel pula akan jiwa sempit dan pikiran picik orang, segera ia nekad menempur orang, tapi serangan telak sekaligus musuh ini, terpaksa membuatnya mundur dua langkah.
Bun Cu-giok tidak memberi hati, serangan susulan dilancarkan semakin gencar. Permainan pedang. Thian-hi pun cukup hebat, dengan pedang panjang pemberian Sutouw Ci-ko itu ia layani permainan gabungan Bun Cu-giok. Sekejap saja ratusan jurus sudah lewat, mereka masih berkutet sengit sama kuat. Walau Thian-hi tak berhasil mengambil posisi, Bun Cu-giok sendiripun tak kuasa mendesak lawannya.
Sebetulnya Bun Cu-giok sangat membanggakan kepandaian sendiri, terdengar mulutnya berteriak panjang, serangan kedua senjatanya semakin membadai, tapi cukup mengembangkan jurus Tam-liam-hun-in-hap, Thian-hi berhasil memunahkan seluruh serangan Bun Cu-giok.
Semakin serang Bun Cu-giok semakin sengit, tapi pertahanan Thian-hi memang cukup berkelebihan untuk membendung setiap jurus serangan yang betapa pun lihaynya.
Tengah mereka bertempur seru, sekonyong-konyong dari samping jalan Sana menerobos keluar dua penunggang kuda. Begitu melihat kedua pendatang baru ini Bun Cu-giok kelihatan kaget dan gusar, cepat ia menarik senjatanya lantas keluar gelanggang.
Tampak oleh Thian-hi salah satu dari kedua orang itu adalah Serigala muka hijau Ih Seng tentu seorang yang lain adalah Ce-bin-Iong Ih Ceng, salah satu dari Thian-san-siang-lo yang lain, Ang-bin-long berarti serigala muka merah.
Thian-san-siang-long semakin mendekat, begitu melihat Bun Cu-giok, mereka pun rada tercengang. Serta melihat Bun Cu-giok sedang menempur Hun Thian-hi, mereka sedikit lega.
Dengan mendelik gusar Bun Cu-giok pandang orang, katanya, “Ternyata kalian yang datang, perhitungan tempo hari belum selesai, kalian sangka lari lantas urusan menjadi beres?”
Ceng-bin-long Ih Seng tertawa dingin, katanya, “Bun-pangcu! Hari ini kita kesampingkan dulu pertikaian kita, kedatangan kita sama untuk meringkus Hun Thian-hi ini, kau seorang pun tak bakal unggul, kenapa tidak bergabung saja dengan kita?”
“Sebaliknya aku punya perhitungan untuk melabrak kalian dulu,” jengek Bun Cu-giok.
Ce-bin-long Ih Ceng bergelak tawa, serunya, “Bun-pangcu berkukuh demikian, kami berdua pun tak menolak, tapi dengan satu lawan dua, meski kami tidak becus, kami percaya takkan terkalahkan oleh Bun-pangcu. Apalagi kaki tangan kami tersebar luas disekitar daerah ini, aku kuatir nanti Bun-pangcu bakal rugi besar.”
“Sebagai pejabat Pangcu dari Partai Putih, kalian sangka aku kelujuran seorang diri?” lalu dengan muka cemberut tangan bertepuk tiga kali. Dari. semak-semak pohon dipinggiran jalan sekitar pertempuran satu persatu menongol keluar anak buah Partai Putih.
Berubah air muka Thian-san-siang-long, katanya, “Agaknya memang Bun-pangcu ingin mengajak bar2an.” dari ujung jalan pengkolan sana berderap segerombolan orang berkuda.
Terdengar Thian-san-siang-long melanjutkan, “Hanya menguntungkan Hun Thian-hi saja.”
Thian-hi bergelak tawa, serunya kepada Thian-sansiang-long. “Apakah kalian mencari aku?”
“Benar-benar,” jengek serigala muka hijau Ih Seng, “kau bunuh dua anak buahku, dengan kedudukanmu sekarang masih berani keluntang keluntung membuat perkara dimana-mana, maka jangan kau sesalkan kita mencari perhitungan terhadap kau.”
Thian-hi menyeringai sedih, pembunuhan kedua orang itu ditumplekan pula kepada dosa dirinya. Dia pun tak mau main debat, katanya, “Aku Hun Thian-hi disini, mari kalian meluruk kepada aku saja, coba kalian rasakan betapa nikmat kepelanku ini.”
Bergidik kuduk Thian-san-siang-long, serta teringat akan julukan muka dingin berhati iblis hati lantas menjadi keder, tapi dilihat gelagatnya kepandaian silat Thian-hi tidak begitu tinggi, apalagi pihak sendiri kedatangan bala bantuan, kepandaian sendiripun tak lemah, kenapa harus takut.
Pandangan kilat Thian-hi menyapu lebih tajam, hati mereka makin kuncup, serunya, “Hun Thian-hi! Jangan kau sangka kita takut kepadamu, bicara terus terang, kedatangan kita ini adalah menuntut Badik buntung dari tanganmu.”
Thian-hi rada tercengang, pikirnya; bukankah Badik buntung sudah berada di tangan Partai merah? Kenapa pula mereka menuntut kepada aku? Dalam hati ia berpikir begitu, tapi mulutnya tertawa lebar, katanya, “Bagus, asal kalian bisa menunjukkan kemampuan, jangan kata Badik buntung, batok kepalaku inipun boleh kalian ambil.” — saat itu nafsunya membunuh sudah menghangati pikirannya, kalau musuh tidak bergerak itulah baik, atau sebaliknya aku terpaksa harus menggunakan jurus Pencacat langit pelenyap bumi yang ganas itu.
Dasar sudah keder Thian-san-siang-long menjadi sangsi, tapi sebagai manusia tamak yang sangat mengincar Badik buntung itu, mereka sudah bersiap2 hendak menyerbu. Tapi keburu Bun Cu-giok mencegah dari samping, teriaknya: Nanti dulu!”
Dengan lirikannya Bun Cu-giok menyapu kedua lawannya, dia heran kenapa sikap Thian-hi hari ini rada ganjil, begitu nekad untuk mengikat permusuhan pula dengan musuh kuat ini. Badik buntung tidak berada ditangannya, kenapa dia tidak menyangkal, entahlah apa maksudnya?
Biji matanya berputar, sekilas ia melirik ke arah Thian-hi lalu berkata kepada Thian-san-siang-long, “Kalian harus tanya dulu kepadaku apakah aku setuju akan sepak terjang kalian.” — lalu iapun berkata kepada Thian-hi dengan pongah, “Jangan anggap aku membantu kau.”
Thian-hi tersenyum dengan sombong, ujarnya, “Kalau begitu, aku hendak pergi saja!” — lalu ia cemplak ke atas kudanya.
Serempak Thian-san-siang-long mengeprak kudanya maju menghadang.
Dengan dingin Thian-hi menjengek, “Apa kalian sudah tak ingin hidup lagi?”
Gemetar badan Thian-san-siang-long, tapi mereka nekad melolos rujung baja hendak merintangi jalan Thian-hi.
Biji mata Thian-hi memancarkan sorot membunuh, sembari menggeram ia menerjang maju. Tapi Bun Cu-giok bergerak lebih dulu, pedang dan cambuknya sudah bergerak merangsak kepada Thian-san-siang-long. Thian-hi hendak meneruskan perjalanan, tapi cambuk perak Bun Cu-giok menyabet balik menyerang ke arah dirinya.
Melihat perbuatan Cu-giok yang takabur ini Thian-hi rada gemes, tapi betapapun Bun Cu-giok pernah memberi bantuan yang sangat besar artinya terhadap dirinya, apalagi dia tidak berniat merebut Badik buntung, bagaimana juga aku harus mengalah terhadapnya.
Cepat ia menarik kekang mengundurkan Kudanya. Sekarang Bun Cu-giok lebih leluasa menggerakkan pedang dan cambuknya menyerang kepada Thian-san-siang-Iong.
Anak buah Partai Putin sembunyi di sekitar gelanggang, anak buah Thian-san-siang-long bisa melihat gelagat, mereka tak berani sembarangan bergerak, maka pertempuran dua lawan satu ini berjalan dengan sengit. Meski melawan dua gerak gerik Bun Cu-giok masih kelihatan lebih unggul, senjatanya bergerak lincah merangsak kepada kedua lawannya yang cukup tangguh juga.
Sekonyong-konyong terdengar Sabda Buddha mengalun di angkasa, tiga orang yang bertempur menjadi kaget dan melompat berpencar. Tampak seorang Lama berjubah kuning melangkah pelan mendatangi. Di daerah luar perbatasan kedudukan Lama punya kuasa yang tertinggi, mereka bertiga sama-sama tokoh kosen, tapi naga takkan mungkin dapat melawan ular tanah setempat, begitu melihat kedatangan Lama ini segera mereka berhenti bertempur.
Setelah dekat Lama itu merangkap tangan serta berkata, “Pinto mendapat perintah dari ketua Sam-kong Lama, kami undang kalian berempat untuk bertandang ke biara Bu-la-kiong!”
Terkejut hati Thian-hi, batinnya, “Eh? Sam-kong Lama sudah tahu kedatanganku ini?”
Sekilas Thian-san-siang-long saling pandang, mereka tengah terdesak di bawah angin, kedatangan Lama ini sungguh kebetulan bagi mereka malah.
Bun Cu-giok mendengus, katanya, “Apa Sam-kong Lama?”
“Betul!” sahut Lama jubah kuning, “tuan ini tentu Bun-pangcu adanya?”
Diam-diam Bun Cu-giok juga bercekat, bagaimana mungkin Sam-kong Lama juga kenal akan namanya, dalam hati ia menertawakan, kalau begitu, tiada halangannya aku kesana untuk berkenalan dengan Sam-kong Lama lebih dekat. Maka segera ia menganggukkan kepala, katanya, “Kalau begitu menyusahkan Tay-lama menunjuk jalan.”
Setelah pandang keempat orang bergantian, Lama jubah kuning lantas membalik dan berjalan pergi. Thian-hi menuntun kudanya mengikuti di belakangnya. Diam-diam ia berpikir, kekuasaan Sam-kong diluar perbatasan sini sungguh sangat besar. Kepandaian silat Bun Cu-giok semestinya tidak lebih rendah dari Sam-kong Lama, ternyata dia harus tunduk akan kata-kata Sam-kong Lama juga.”
Kira-kira setengah jam kemudian, rada jauh dibalik gunung sana Bu-la-si sudah kelihatan. Bu-la-si bagian luar dikelilingi tembok pendek, di dalam halaman tertanam pohon-pohon besar tersebar di mana-mana. Pintu gerbangnya kira-kira tiga puluh tombak dari pintu biara.
Thian-hi melayangkan pandangannya ke dalam, tiada kelihatan bayangan seorangpun. Lama jubah kuning langsung membawa mereka memasuki biara terus menuju ke ruang pemujaan bagian tengah. Begitu sampai di ambang pintu biara besar, sekilas pandang Thian-hi lantas melihat Sam-kong Lama tengah duduk di tengah ruang pemujaan, beliau sudah menanti kedatangan mereka.
Begitulah melihat Thian-hi, Sam-kong Lama terus menyapa dengan tertawa, “Hun-sicu, sejak berpisah sudah setengah tahun lamanya. Hun-sicu masih sehat dan selamat, sungguh menggirangkan dan harus diberi selamat.”
Thian-hi rada tercengang, hampir ia tidak percaya akan pendengarannya dan pandangan matanya bahwa Sam-kong Lama masih bersikap begitu baik terhadap dirinya. Mungkinkah Sam-kong masih belum tahu akan pengalamannya terakhir? Tapi dia mengutus orang untuk menjemput aku, jelas sekali sangat tahu akan setiap jejaknya. Bagaimana mungkin dia tak tahu akan sepak terjangku belakangan ini?
Waktu datang tadi dia berprasangka dirinya bakal ditahan, kini melihat sikap Sam-kong begitu mengindahkan, dia jadi tertegun, setelah menjublek baru ia berkata, “Cianpwe baikkah selama ini? Wanpwe tidak becus dan durhaka, aku telah diusir dari perguruan oleh Suhu!”
Agaknya Sam-hong sudah tahu persoalannya, dengan tertawa ia berkata, “Kau tak usah kuatir persoalanmu aku jelas semua.”
Melihat Sam-kong bersahabat begitu baik dengan Hun Thian-hi, luluhlah hati Bun Cu-giok, betapapun besar kekuatan Partai Putih juga tak berani mencari perkara dengan para Lama.
Sambil berseri tawa Sam-hong Lama berkata kepada Thian-san-siang-long, “Akupun jelas akan segala seluk beluk tentang kalian, menurut undang2 disini siang-siang aku sudah harus mengusir kalian kembali ke Thian-san. Tapi sekarang aku hanya perintahkan kalian segera bawa seluruh anak buahmu keluar dari wilajahku. Kalau bangkang kami akan bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku.”
Bergidik badan Thian-san-siang-long, walaupun Sam-kong bicara sambil tersenyum, tapi dengan kedudukannya sekarang di tempat itu, setiap ucapannya jauh lebih berpengaruh dari firman raja. Terpaksa mereka ngelojor pergi cepat-cepat.
Sam-kong mengalihkan pandangannya kepada Bun Cu-giok, ujarnya, “Bun-pangcu, setelah pulang kau pun harus tutup pintu merenung kembali, harap wakilkan aku menyampaikan salam kepala gurumu!”
Bun Cu-giok bersungut tak senang, serunya, “Hun Thian-hi membunuh Bu-tong-pay Ciang-bun Giok-yap Cinjin, kalau Tay-lama benar-benar hendak melindunginya, ini berarti menentang kaum persilatan di Tionggoan.”
“Terima kasih akan kebaikan Bun-pangcu,” ujar Sam-kong Lama, “Bun-pangcu masih muda belia gagah dan cakap lagi, merupakan tunas harapan kaum persilatan, tapi kalau masih ingin maju, maka kau harus berpegang pada kelurusan hati, lapangkan dada!”
Bun Cu-giok menjadi sebal mendengar khotbah Sam-kong Lama, dengan langkah lebar ia membalik terus keluar dari biara.
Sam-kong berseru menambahi, “Silakan Bun-pang-cu merenungkan lebih tenang di rumah!”
Bun Cu-giok tak hiraukan, langkahnya dipercepat.
Mengantar punggung Bun Cu-giok yang menghilang diluar pintu biara, perasaan Thian-hi menjadi hambar, untuk selanjutnya mungkin Bun Cu-giok bakal menjadi musuh kebujutannya.
Memandang muka Thian-hi Sam-kong tertawa, ujarnya, “Kau tak usah kuatir, akan datang suatu hari dia bakal menyesal. Gurunya seorang cerdik pandai, dia pun tak terlalu lama tenggelam dalam kecerobohannya.”
Dengan rasa kurang tentram, Thian-hi bertanya, “Cianpwe! persoalanku benar-benarkah kau sudah tahu?”
Sam-kong manggut-manggut, ia menjelaskan, “Hwesio jenaka telah beritahu kepadaku!”
“Hwesio jenaka?” seru Thian-hi kaget. Hatinya banyak dirundung pertanyaan, sudah beberapa kali Hwesio jenaka menolong dirinya. Apakah latar belakangnya? Sebenar-benarnya tokoh macam apakah dia?
Tanya Thian-hi lagi, “Cianpwe juga kenal Hwesio jenaka? Sebetulnya orang macam apakah dia?”
Sam-kong mengerut alis, jawabnya, “Saat ini tak berguna kuberitahu, tapi cukup kau mengetahui walau kelihatan dia bertubuh pendek kecil, tapi usianya jauh lebih tua dari aku, kau jangan anggap dia sebagai bocah kecil.”
Thian-hi menjadi tertegun, sungguh tidak nyana olehnya, Hwesio jenaka yang suka tertawa2 bertubuh pendek tambun dan mungil itu, usianya ternyata lebih tua dari Sam-kong Lama.
“Kau selalu menyebut dia Siau-suhu, dia sangat tidak senang!” sambung Sam-kong.
Mencelos hati Thian-hi, dirinya begitu ceroboh dan kurangajar, naga-naganya dia semestinya menjadi seorang Cianpwe, tapi kenapa aku begitu kasar terhadapnya!
Sam-kong menjadi geli melihat Thian-hi menjadi kikuk, katanya tersenyum, “Martabatnya memang jenaka suka guyon dan ngelajap, dia tidak pantang akan segala, kau pun tak usah kuatir apa-apa terhadap dia.”
Teringat akan bantuan Hwesio jenaka berulang kali itu, sudah semestinya aku harus nyatakan terima kasih kepada beliau, segera ia bertanya, “Sekarang dimanakah dia orang tua?”
“Jejaknya selamanya tidak diketahui orang. Persoalanmu dia pun hanya kasih tahu duduk persoalan yang benar-benar, tentang latar belakangnya dia tak mau terangkan, agaknya persoalan ini membawa buntut dan akibat yang sangat besar.”
Thian-hi manggut-manggut, diapun tak tahu bagaimana latar belakang peristiwa yang dialami itu. Menurut apa yang diketahui hanya menyangkut persoalan Ni-hay-ki-tin melulu. Tapi apakah rahasia Ni-hay-ki-tin betul berada di dalam Badik buntung, dia sendiripun tak tahu.
“Kedatanganmu hari ini sungguh tepat, kau bisa bertemu dengan seorang aneh, ada beliau disini, Bu-bing Loni tak berani datang kemari.”
Thian-hi berpikir, kecuali Ka-yap Cuncia yang pernah didengar dari mulut Ang-hwat-lo-cu tiada seorang tokoh kosen lainnya yang pernah didengarnya apalagi meski kepandaian Ka-yap mungkin lebih tinggi dari Bu-bing Loni, namun mati hidupnya merupakan tanda tanya besar.
Kira-kira setengah tahun sudah berselang, Sam-kong membekal Sin-giok-ling milik Bu-bing Loni, kenyataan dia masih sehat segar, tidak bisa tidak dia harus percaya akan adanya orang aneh itu, jangan aku menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berkenalan dengan “Wi-thian-chit-ciat-sek” .
Thian-hi mematung seperti orang linglung Sam-kong menjadi geli. tahu dia apa yang tengah dipikir oleh Thian-hi, katanya tersenyum “Beliau sudah pernah dengar tentang kau, ingin sekali bertemu dengan kau. Kalau memang berjodoh mungkin kau bakal ketiban rejeki.”
Thian-hi tertawa, pikirnya, “Aku tidak ingin rejeki apa segala, kalau benar-benar Bu-bing Loni tak berani datang, ini sudah cukup menggirangkan hatiku.”
“Mari ikut aku menghadap beliau. Tapi jangan sekali2 kau merasa takut, tahun terakhir ini wataknya suka aseran, apalagi dulu siapa saja yang sampai membuatnya gusar, celakalah dia.”
Thian-hi manggut, Sam-kong lalu membawa Thian-hi menyusuri lorong2 panjang dan serambi yang belak-belok, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah. Sam-kong memberi tanda supaya Thian-hi menunggu di luar, dia terus masuk ke dalam.
Setelah Sam-kong masuk terdengar suaranya berkata di dalam, “Tecu Sam-kong menghadap!”
Sebuah suara menyahut, “Sam-kong! Kau datang pula, di luar kau masih bawa orang, siapakah dia?”
Suara ini adalah perkataan seorang nenek, Thian-hi menjadi heran, belum pernah ia dengar ada seorang nenek yang ditakuti oleh Bu-bing Loni.
“Orang yang Tecu bawa kemari adalah Hun Thian-hi, apakah Ciangpwe sudi mengundangnya masuk?”
Rada lama nenek itu berdiam diri, akhirnya berkata, “Baiklah! Silakan dia masuk!”
Dari ambang pintu Sam-kong melambai tangan suruh Thian-hi masuk. Begitu tiba di dalam pintu, di mana matanya melihat seorang nenek tua, hampir saja dia berteriak kejut. Mana ada manusia seburuk itu, hampir menyerupai setan atau dedemit, seluruh mukanya belang bonteng malang melintang bekas luka-luka yang menonjol, kedua matanya buta, seluruh mukanya tiada secuilpun yang kelihatan halus, sungguh mengerikan.
Cepat-cepat ia tenangkan hati terus menyembah sapanya, “Wanpwe Hun Thian-hi menghadap Cianpwe!”
“Bangun!” ujar si nenek, “apa kau takut kepadaku?”
“Takut sih tidak, aku hanya heran kenapa Cianpwe bisa berubah begitu rupa.”
“Sungguh tepat jawabanmu,” sahut si nenek tertawa kering, “tak heran Hwesio jenaka sangat tertariK kepadamu, berapa usiamu tahun ini?”
“Tepat dua puluh!”
Hilang seri tawa si nenek, wajahnya menjadi kaku, gumamnya, “Dua puluh, sudah dua puluh, ja, seharusnya memang dua puluh!” air mukanya semakin sayu dan dirundung kepedihan.
Melihat mimik wajah si nenek, Thian-hi mengira orang tentu punya kenangan yang menyedihkan, dari bekas2 luka di mukanya itu, tentu dicelakai oleh musuh besarnya, entah siapakah orang yang begitu keji dan telengas.
Sam-kong Lama batuk2 lalu bicara, “Bantuan yang diminta oleh Hwesio jenaka kepada Cianpwe tidak terlupakan bukan!”
Thian-hi melengak, pikirnya, “Bantuan apa yang di minta oleh Hwesio jenaka kepada nenek ini?”
Si nenek tertawa, ujarnya, “Kau tak perlu kuatir, urusan itu pun tak perlu tergesa-gesa, sulit untuk menemukan seseorang yang tidak takut melihat rupaku ini, ada banyak omongan yang perlu kami bicarakan.”
Sam-kong lama mengiakan, si nenek lantas berkata pada Thian-hi, “Kau pernah bertemu dengan Bu-bing Loni?”
“Pernah, apa yang perlu Cianpwe ketahui, Wanpwe sedia menjelaskan.”
Si nenek termenung, lalu bertanya, “Apakah kau hanya bertemu dia seorang? Adakah dia membawa orang lain?”
“Masih ada muridnya Ham Gwat, Ham Gwat punya dayang bernama Siau Hong. Belakangan ini dia terima murid baru lagi bernama Su Giok-lan.”
Si nenek tenggelam dalam pikirannya, sekian lama tak bersuara.
Thian-hi tak tahu untuk keperluan apakah si nenek menanyakan itu.
“Ada sebuah kisah perlu kuceritakan kepada kalian,” demikian si nenek memecah kesunyian, “kisah ini mengenai aku, Bu-bing Loni dan seorang lain.” — lalu dia berkata kepada Sam-kong- “Kau layani aku selama dua puluh tahun, sudah tiba saatnya kau tahu asal usulku.”
Berhenti sebentar, lalu meneruskan, “Aku berada disini, Bu-bing Loni tentu tak berani bertingkah. Bukan karena ilmu silatnya tidak unggul dari aku. Ilmu Jiam-hun-ciang sudah sempurna kulatih. tapi masih tak bisa menang melawan dia.”
Sangat heran dan kejut pula hati Thian-hi. tak tahu dia ada permusuhan apa diantara si nenek dengan Bu-bing Loni, Bu-bing takkan mungkin kemari, dengan kekejaman Bu-bing, dia takkan gentar dan takut menghadapi siapapun juga.
Terdengar si nenek melanjutkan, “Kalian mungkin heran bekas luka-luka di mukaku ini bukan? Biar kuberi tahu, inilah karya besar tangan Bu-bing Loni!” sampai disini ia berhenti.
Diam-diam bercekat hati Thian-hi, buah karya Bu-bing Loni, tanpa merasa ia bergidik dan merinding.
Setelah berdiam diri nenek tua berkata lagi, “Dua puluh tahun! Tepat dua puluh tahun sudah! Dia masih mempermainkan aku, aku masih belum berdaya menuntut balas, kupikir saatnya sudah bakal tiba!”
Dari tengah angkasa terdengarlah pekik burung dewata yang panjang mengalun tinggi. Nenek tua itu tersenyum getir, katanya pula, “Dia masih menekan aku untuk tutup mulut lagi. Dulu memang aku pernah melulusi dia untuk tak membeber rahasia ini, tapi sekarang aku harus bicara! Apa kalian tahu apa hubunganku dengan Bu-bing Loni? Dia adalah Toaciku!”
“O, jadi kalian adalah kakak beradik, hati Bu-bing Loni sungguh sangat kejam, ada permusuhan apa diantara mereka? Begitu tega Bu-bing Loni sampai membuat adik kandung sendiri begitu rupa.” Demikian batin Thian-hi.
Ditengah angkasa terdengar pula bunyi burung dewata yang rada keras. Nenek tua itu meneruskan, “Kami semua lima saudara, aku paling muda, dia paling tua, tatkala itu dikalangan Kangouw dijuluki Ngo-hong, nama asliku bernama Ong Ging-sia. — sampai disini berubah air mukanya, katanya lagi, “Bu-bing Loni sudah tiba!”
Terkejut Hun Thian-hi. Terdengar desir lambaian kain dari luar, segera tampak Bu-bing Loni melayang masuk dari jendela.
Dengan dingin ia pandang mereka bertiga, lalu berkata kepada sinenek, “Ging-sia! Kau tahu selamanya aku membalas setiap dendam dan sakit hati. Kalau kau bicara apa-apa terhadap mereka kau maklum tindakan apa yang harus kulakukan terhadap dirimu!”
Ong Ging-sia tertawa menyeringai, ujarnya, “Sikapmu sangat keterlaluan terhadap aku. Dia akan tahu, dan kau sendiri kelak juga pasti akan menyesal!”
Berubah air muka Bu-bing Loni, jengeknya, “Dia tahu aku pun tak takut, apa kau berani menemui dia? Kupikir diapun ingin sekali melihat keadaanmu sekarang!”
Pelan-pelan Thian-hi angkat kepala memandang Bu-bing Loni. Dulu katanya Bu-bing pernah patah hati dan menjadi kortan asmara, rupa2nya begitulah persoalannya? Saingan cintanya kiranya bukan lain adalah adik kandung sendiri, tapi ternyata dia begitu culas, begitu keji dan hina dina, dengan merusak wajahnya dia menyiksa dan melukai sanubari adik kandung sendiri!
Ong Ging-sia terpekur diam. Bu-bing berkata lagi, “Kalau kau masih menepati sumpah dulu, aku pun tak perlu menjilat ludahku sendiri, silakan kau pikir dan pertimbangkan pula!” — habis berkata ia menyapu pandang Hun Thian-hi lalu berkelebat menghilang diluar pintu.
Ong Ging-sia duduk terlongong-longong. Terpaksa Sam-kong mandah membiarkan Bu-bing Loni pergi datang seenak udelnya sendiri tanpa berusaha merintangi.
Hun Thian-hi tidak tahu janji apa yang terikat diantara mereka, begitu besar penderitaan Ong Ging-sia, namun tak berani mengatakan. Dengan teliti ia menyelusuri lagi setiap perkataan Ong Ging-sia tadi, tanpa kuasa iapun mengeluh pendek, “Dua puluh tahun sudah!”
Nuraninya merasa bahwa Ong Ging-sia masih punya ganjelan hati atau sesuatu yang menjadi tanggungan pikirannya, seolah-olah dia sangat prihatin terhadap seseorang yang berada dekat bersama Bu-bing Loni, apakah Siau Hong punya hubungan erat dengan beliau?
Ong Ging-sia angkat kepala, tangannya terulur panjang, kelima jarinya terpentang lalu dirangkapkan, sebuah pentung besi sebesar lengan bocah disampingnya kontan patah menjadi dua teremas oleh jari-jarinya. Keuua biji matanya yang picak mengalirkan air mata, desisnya perlahan, “Jiam-in-ciangku sudah sempurna, tapi apakah gunanya?”
Pelan-pelan Ong Ging-sia menarik napas, lalu berkata kepada Hun Thian-hi, “Peristiwa yang lampau sudah berlalu, aku pun tak perlu ungkat2 lagi. Perihal kau menelan buah ajaib, Hwesio jenaka ada membicarakan kepada aku. Setelah kau menelan buah itu kau tidak mengerahkan Lwekang untuk melancarkan khasiatnya sehingga sekarang terkumpul di Pek-hwe-hiatmu Kecuali menggunakan Sian-thian-ciang guna menembus dan menjebol seluruh urat nadi dan jalan darah di seluruh tubuhmu, sukarlah dapat dikembangkan manfaatnya. Sebetulnya Go-cu Taysu beranggapan, lebih baik kau sendiri yang membujarkan, tapi keadaanmu sekarang tidak mungkin terlaksana. Hwesio jenaka minta kepada aku, tapi sayang sekali tenaga Jian-thian-ciang yang kulatih itu walaupun hampir mirip dengan Sian-thian-cin-gi, tapi aku hanya berlatih selama dua puluh tahun, baru rampung dan sempurna, aku kuatir kalau aku bantu kau bukan saja tidak membawa manfaat malah bakal mencelakai jiwamu!”
Hun Thian-hi tercengang, pikirnya, “Rupanya begitu ajaib adalah buah pusaka laksana makanan dewa yang mengeram kekuatan luar biasa, kenapa begitu saja manfaatnya atas diriku?”
Tiba-tiba Ong Ging-sia bertanya kepada Hun Thian-hi, “Bukankah gurumu itu Kongsun Hong adanya?”
“Benar-benar! Tapi guruku sekarang telah mengusir aku dari perguruan.”
“Dulu Hwe-siang-ki malang melintang di dunia persilatan, selamanya tak ketemu tandingan, tapi Lam-siau dan Pak-kiam sesampai pada generasi tingkat gurumu menjadi melempem, terpaut jauh sekali. Bakat gurumu sangat terbatas, dengan kepandaian Thian-liong-chit-sek dan Siau~im-pit-hiat, dulu kakek gurumu benar-benar merupakan tokoh kosen yang sangat disegani seKali. Tapi sekarang Lwekang gurumu terlalu cetek, satu sepersepuluh dari kemampuan kakek gurumu dulu saja tidak memadai. Demikian juga keadaanmu, Lwekangmu kurang kuat.”
Hun Thian-hi tunduk tanpa bicara, gurunya memang pernah membicarakan hal ini, soalnya karena dulu kakek guru meninggal terlalu pagi, dan gurunya sendiri adalah belajar tanpa guru menurut Pit-kip peninggalan keluarganya, sudah tentu hasilnya jauh dari harapan.
Kata Ong Ging-sia pula, “Kau sudah kemari tiada sesuatu yang dapat kuberikan kepadamu, serulingmu sudah patah, sekarang tak punya senjata yang cocok, aku punya sebatang seruling gading, inilah senjata kepercayaanku dulu, dengan membekal seruling ini, berangkatlah ke Thian-san dan cari Hwi-king Lo-jin, dia adalah adik iparku. Dia akan membantu kau dengan Sian-thian-cin-gi menembus urat nadi dan jalan darah di tubuhmu.” — lalu diangsurkan kepada Thian-hi sebatang seruling warna putih mulus.
Hun Thian-hi nyatakan terima kasih, lalu menerima pemberian seruling itu, tampak olehnya seruling ini begitu mulus warna putih bersemu ke-merah2an, seluruh batangnya diukir lima ekor burung Hong yang sangat indah seperti hidup.
Kata Ong Ging-sia dengan tertawa getir, “Dulu sebelum ayahku ajal beliau memberikan seruling ini kepadaku, ayah sangat cinta kasih terhadap kami lima bersaudara. Bagi kami masing-masing didirikan bangunan berloteng yang diberi nama Ngo-hong-lau, seruling ini dinamakan Hwi-hong-siau (seruling burung hong terbang), merupakan pertanda kewibawaan dari majikan Ngo-hong-lau itu, diantara kami berlima, ayah paling sayang pada aku, maka peninggalan ini diberikan kepada aku!”
Dengan rasa penuh eman Thian-hi mengelus seruling semu merah itu, hatinya merasa iba, terpikir olehnya bahwa Ong Ging-sia ini dulu waktu masih mudanya pasti seorang gadis remaja yang cantik
jelita, namun sekarang….kejadian di dunia ini sungguh sukar diduga dan diraba, siapa bakal mengira wajahnya sekarang begitu jelek menakutkan.
Terdengar Ong Ging-sia melanjutkan perlahan, “Bukan saja Bu-bing Loni berhasil memperoleh rahasia pelajaran Hui-sim-kiam-hoat, di suatu pulau di lautan timur iapun telah menemukan kemujijatan, dalam kolong langit ini mungkin tiada seorang pun yang dapat melawan dia. Kau sudah menelan buah ajaib, bila khasiatnya bisa menghasilkan manfaat yang fatal, Lwekangmu bakal tidak di bawah Bu-bing Loni. Kalian harus tahu sekarang Bu-bing Loni sudah bisa melebur Si-bu-sin-kang ke dalam permainan pedangnya untuk melukai lawan. Kalau Hui-sim-kiam-hoat dilandasi dengan Si-bu-sin-kang yang begitu kokoh dan kuat dasarnya, jurus terakhir yang berantai sebanyak tiga lintasan kilat pedang itu tiada seorang pun yang dapat menandingi.”
Hun Thian-hi merenung sebentar lalu bertanya, “Tiga jurus berantai yang hebat itu bagaimana kalau dibanding Wi-thian-chit-ciat-sek? orang kosen itu.” Demikian pikirnya.
“Dari penuturan Ang-hwat-lo-koay Wanpwe mendengar katanya Wi-thian-chit-ciat-sek telah muncul kembali. Sekarang berada ditangan Ka-yap Cuncia!” ~lalu ia ceritakan tipu daya yang direncanakan Ang-hwat-lo-koay secara jelas.
Ong Ging-sia terpekur sesaat lamanya, katanya, “Aku sendiri belum pernah menyaksikan Wi-thian-chit-ciat-sek itu. Tapi konon adalah Kiam-sut tingkat tertinggi dari Lwekeh. Tapi Hui-sim-kiam-hoat dari Bu-bing Loni itu aku pernah melihat. Dua puluh tahun sudah, tentu ilmu kepandaiannya itu lebih maju, lebih matang!”
Hun Thian-hi menjadi kecewa, pikirnya, “Kalau begitu benar-benar tiada sesuatu ilmu yang dapat menandingi Hui-sim-kiam-hoat Bu-bing Loni itu?”
Sesaat Ong Ging-sia termenung lagi baru bicara, “Tapi menurut hematku Wi-thian-chit-ciat-sek merupakan ilmu kepandaian yang tiada taranya di dunia ini, mungkin bisa menandinginya. Tapi menurut Ang-hwat-lo-koay katanya berada ditangan Ka-yap Cuncia. Selama ratusan tahun masa kini Ka-yap Cuncia merupakan tokoh wahid nomor satu dalam Bulim, andaikata beliau masih hidup dalam dunia fana ini, tanpa Wi-thian-chit-ciat-sek juga tak perlu gentar menghadapi Bu-bing Loni lagi. Tapi meski beliau masih hidup, usianya pasti sudah melebihi seabad, entahlah apakah ucapan Ang-hwat-lo-koay itu dapat dipercaya?”
“Kecuali Ka-yap Cuncia, apakah benar-benar di dunia ini tiada seorangpun yang mampu melawan Bu-bing Loni? Masa Go-cu Taysu juga tidak ungkulan?”
Ong Ging-sia berpikir sebentar, katanya, “Sudah tentu Go-cu Taysu tak menang melawan Bu-bing. Namun secara kenyataan Bu-bing pun tak berani berhadapan dengan Go-cu. Seumpama seluruh tokoh-tokoh kosen persilatan berkumpul dan bergabung juga belum tentu mampu menyelamatkan diri dari serangan tiga jurus berantai ilmu pedang yang terakhir. Tapi Bu-bing Loni sendiri juga belum pernah mainkan ilmu hebatnya itu di hadapan orang, karena ketiga jurus itu sangat menguras tenaganya!”
Dingin perasaan Thian-hi mendengar uraian Ong Ging-sia ini. Apakah benar-benar Hui-sim-kiam-hoat begitu hebat?
Ong Ging-sia berkata lagi, “Sejak Ang-hwat-lo-koay menghilang, khalayak ramai menyangka dia sudah meninggal, para iblis yang lain juga menjadi mengkeret dan sama mengasingkan diri. Sekarang Ang-hwat-lo-koay telah muncul kembali, gelombang pertikaian dan huru hara di Bulim bakal lebih hebat dan situasi bakal semakin genting. Apalagi selama berapa tahun memencilkan diri tentu Ang-hwat-lo-koay sudah punya bekal kepandaian yang lebih hebat, sehingga sekarang dia berani bersimaharaja kembali!”
“Jurus pencacat langit pelenyap bumi ciptaannya itu sudah bukan olah-olah lihaynya, kalau masih punya jurus jahat lainnya lagi, wah, dunia bakal tidak aman lagi!” demikian Thian-hi mengeluh dalam hati.
Sementara Sam-kong Lama yang sejak tadi diam saja pun ikut bercekat, beberapa lama berselang dunia persilatan aman sentosa aan sejahtera. Gelagatnya dalam waktu mendatang yang tak lama ini bakal geger dan kemelut.
Kata Ong Ging-sia sambil menghela napas, “Seumpama membekal Sin-kang tiada taranya, apa pula paedahnya bagi aku?”
“Memang tidak mengherankan keluh kesahnya ini,” demikian batin Thian-hi, “Siau Hong berada di samping Bu-bing Loni yang kejam ini, sembarang waktu dia bisa turunkan tangan jahatnya.”
Kata Ong Ging-sia kepada Thian-hi, “Sekarang berbagai golongan dan aliran di Tionggoan tengah menyelusuri jejakmu, berita adanya kau di Bu-la-si ini juga bakal cepat tersiar ke-mana-mana, meskipun kau disini tidak akan berhalangan dan berbahaya, Sam-kong Lama akan selalu melindungi kau. Namun. kaum Bulim dari Tionggoan itu pasti akan berdaya upaya dengan berbagai cara menuntut pada Sam-kong atas dirimu. Mungkin Ang-hwat-lo-koay yang penasaran itupun akan kemari membekuk kau. Maka sebelum berita ini tersebar luas lekas-lekas kau tinggalkan Bu-la-si saja. Mereka takkan menduga, bukan tidak sembunyi di tempat aman kau malah menempuh perjalanan jauh menuju ke Thian-san. Segera kau harus berangkat, sebelum jejakmu konangan oleh mereka kau harus sudah berada di Thian-san, begitu sampai disana carilah Hwi-king-ouw (danau kaca terbang), jiwamu pasti selamat dan aman!”
Hun Thian-hi mengiakan sambil membungkuk tubuh, jejaknya sudah konangan, bagaimana juga jangan sampai merembet pada Sam-kong Lama, apalagi sekarang sudah punya tujuan tertentu yaitu ke Thian-san, Kekaligus disana bisa tilik pada Sutouw Ci-ko.
Setelah menghaturkan sembah sujud dan terima kasih, Thian-hi mengundurkan diri bersama Sam-kong Lama, dengan rasa berat Sam-kong menahannya satu hari lagi, baru hari kedua ia berangkat menunggang kudanya.
Terpaksa ia balik memasuki daerah Tionggoan lalu belok ke arah barat terus menuju keutara.
Begitulah tahu-tahu sudah tiga hari selama perjalanan tanpa menemui rintangan. Di atas kuda ia menerawang sepak terjang selanjutnya. Manakala dirinya belum lagi tiba di Thian-san ditengah jalan sudah kepergok oleh musuh bagaimana. Tengah Thian-hi berpikir2, tiba-tiba jauh di depan Sana terlihat sebuah bayangan punggung orang yang seperti sangat dikenalnya…. Girang hatinya lekas-lekas ia keprak kudanya membedal ke depan.
Mendengar derap langkah kuda dibelakangnya orang itu memoleh, jelas sekali dia bukan lain, adalah Sutouw Ci-ko. Dia menunggang seekor kuda warna coklat, tengah berlari-lari kecil ke arah depan.
Sekejap saja Thian-hi sudah menyusul tiba, tanpa merasa mereka tertawa saling berpandangan, sesaat kemudian baru Sutouw Ci-ko buka suara, “Bagaimana kau ini? Bukankah kau menuju ke Bu-la-si? Disana tiada seorang pun yang berani mengganggu usik padamu, kenapa kau gelandangan disini?”
“Tak nyana bisa jumpa dengan kau ditengah jalan,” kata Hun Thian-hi tertawa, “Aku mendapat sebuah tugas dari seseorang untuk ke Thian-san mencari Hwi-king Lojin!”
Sutouw Ci-ko kejut2 girang, serunya, “Kau mencari Hwi-king Lojin, sungguh kebetulan, Hwi-king Lojin bersemajam bersama guruku, sama berdiam dipuncak utara Thian-san, mereka berdua yang satu tinggal ditimur danau yang lain disebelah barat. Untuk keperluan apa kau mencari beliau?”
Thian-hi tertawa-tawa, setelah rada sangsi ia menjawab, “Ada sedikit keperluan akan minta bantuannya!”
Lalu ia ceritakan pengalamannya di Bu-la-si kepada Sutouw Ci-ko.
Sutouw Ci-ko menghirup hawa, ujarnya tersenyum, “Sungguh aku turut senang bagi kau!”
Thian-hi merasakan hatinya menjadi hangat, pedang dikembalikan kepada Sutouw Ci-ko serta katanya, “Pedang ini milikmu, sekarang aku sudah punya gaman, pedang ini lebih baik kukembalikan saja.”
Sutouw Ci-ko menatap tajam, akhirnya menjawab, “Untuk pedang ini kuterima kembali. Tapi kuda putih jangan kau kembalikan juga kepada aku!”
Begitulah untuk selanjutnya mereka berkawan melanjutkan ke arah tujuan yang sama, sepanjang jalan ini riang gembira, hubungan mereka menjadi semakin kental. Sambil mendongak Sutouw Ci-ko berkata, “Sungguh aku kepingin punya adik semacam kau.” Lalu ia berpaling memandang Thian-hi, tanyanya: Apakah kau suka punya cici macamku ini?”
“Sudah tentu aku sangat senang,” Thian-hi tersipu-sipu.
“Kalau begitu selanjutnya kau jadi adikku saja ya?” -
Thain-hi manggut….
“Adik Thian-hi!” teriak Sutouw Ci-ko dengan riangnya.
Thian-hi mengiakan.
Kata Sutouw Ci-ko dengan berseri, “Setelah sampai dipadang rumput, akan kukenalkan kau kepada sahabatku disana, inilah adikku Hun Thian-hi, tentu mereka akan kagum dan ketarik pada kau!” Begitulah sambil bersendau gurau mereka maju terus.
Sutouw Ci-ko dibesarkan di daerah padang rumput, tehnik menunggang kudanya jauh lebih pandai. Meski kuda yang ditunggangi Thian-hi kuda jempolan, dia harus kerahkan tenaga dan segala daya upayanya baru berhasil menyandak. Akhirnya mereka larikan kudanya berendeng dan pelan-pelan!
Entah berapa lama sudah mereka tempuh perjalanan, sekonyong-konyong pandangan Sutouw Ci-ko terlongong melihat seseorang dikejauhan sana. Thian-hi berpaling ikut memandang kesana, jauh disebelah sana tampak seorang pemuda yang mengenakan pakaian perlente, menunggang kuda menghampiri ke arah mereka, kudanya berlari pelan-pelan.
Berubah ai rmuka Sutouw Ci-ko, hilang seri tawanya, katanya kepada Hun Thian-hi. “Dia itulah Kim-i-kiam-khek adanya!’
Sementara itu, tunggangan Kim-i-kiam-khek sudah mendekat, dengan berseri tawa ia berkata kepada Sutouw Ci-ko, “Sudah lama aku tak jumpa kau. Apakah kau baik-baik selama ini?” Lalu dengan lirikan ujung matanya ia pandang kepada Hun Thian-hi.
Dengan seksama Thian-hi amat-amati Kim-i-kiam-khek ini, usianya kira-kira tujuh delapan likuran. Tapi dari apa yang pernah didengar dari penuturan SutoUw Ci-ko oran ini berhati culas, banyak tipu daya serta licik, sunguh sukar diraba.
Dengan muka masam Sutouw Ci-to berpaling kepada Thian-hi, “Dik, mari kita jalan!”
“Bocah ini adikmu?” tanya Kim-i-kiam-khek dengan nada heran, “Kenapa aku belum pernah dengar sebelum ini?”’
Hun Thian-hi menjadi muak melihat tampang orang, dengan menyeringai dingin ia keprak kudanya, bersama Sutouw Ci-ko menerobos lewat ke depan.
Kim-i-kiam-khek menjadi penasaran, cepat ia membalikkan kuda dan mengejar dengan kencang, begitu kejar mengejar, sekejap saja lima li sudah dilampaui.
Mendadak Sutouw Ci-ko menarik tali kekang menghentikan kudanya, katanya berpaling kepada Kim-i-kiam-khek, “Kenapa kau mengejar aku terus?”
Sudah lama kita tak berjumpa bukan.” ujar Kim-i-kiam-khek dengan cengar-cengir. “Ada beberapa patah kata hendak kukatakan kepada kau! Apa boleh?”
Semprot Sutouw Ci-ko gusar, “Kau punya mulut sendiri, siapa larang kau bicara!”
Sorot mata Kim-i-kiam-khek beralih kepada Thian-hi katanya, “Apakah dia benar-benar adikmu?”
Hun Thian-hi menggeram gusar, katanya kepada Kim-i-kiam-khek, “Apa-apaan maksud katamu ini?”
Kim-i-kiam-khek tertawa sinis, katanya, “Kuduga hubungan kalian tidak terpaut sebagai kakak beradik saja bukan?”
Membesi muka Sutouw Ci-ko, “sreng!” ia melolos keluar pedangnya.
Kim-i-kiam-khek berkata dingin kepada Hun Thian-hi, “Kau bisa mengakui bukan?”
Sutouw Ci-ko “menggerakkan pedang menyerang kepada Kim-i-kiam-khek. Lekas-lekas Kim-i-kiam-khek menarik tali kekang berkelit kesamping. tanpa balas menyerang.
Thian-hi berseru kepada Sutouw Ci-ko, “Ci-ko cici, kenapa kau ladeni orang gila ini?” — dia maklum Kim-i-kiam-khek memang sengaja memancing kemarahan dirinya, mungkin dia berniat turun tangan keji kepada dirinya.
Berkilat sinar mata Kim-i~kiam-khek, mulutnya terpentang tertawa lebar tanpa bersuara. seakan-akan menantang, “Apakah kau berani?”
“Apa kau tidak ingin tahu siapa aku sebenar-benarnya?” tanya Thian-hi dengan seringai sinis.
Kim.i-kiam-khek tetap bungkam. Thian-hi berkata dingin, “Aku inilah Leng-bin.mo-sim Hun Thian-hi!”
Terkejut Kim-i-kiam-khek, katanya bergelak tawa, “Apakah Hun Thian-hi itu menakutkan? Kau menyamar atau meminjam namanya?”
Thian-hi menjadi geli hatinya, “aku menyamar Hun Thian-hi? Berita tentang nama, julukannya itu memang rada keteelaluan. jikalau dirinya benar-benar bermuka dingin berhati iblis, tanggung Kim-i-kiam-khek ini tidak bakal dapat hidup lebih lanjut.
Thian-hi mandah mendengus saja. Kim-i-kiam-khek semakin men-jadi2, katanya kepada Sutouw Ci-ko, “Jutru karena urusan Leng-bin-mo-sim itulah maka aku turun dari Thian-san. Siapa nyana adikmu ini berani mencatut nama Leng-bin-mo-sim!”
“Anggapmu dia palsu?” jengek Sutouw Ci-ko, sampai disini tiba-tiba ia terhenyak, terpikir olehnya bila orang benar-benar tahu kata-kata Thian-hi adalah benar-benar, bukankah bakal menimbulkan kesukaran malah.
Maka segera ia keprak kudanya serta berseru pada Thian-hi, “Mari lanjutkan!”
Sekilas itu Thian-hi melihat perubahan airmuka Sutouw Ci-ko, dasar cerdik iapun dapat meraba kemana juntrungannya. Tercekat hatinya, kenapa aku begitu ceroboh dan tak kuasa menahan sabar, kalau sampai jejak dirinya tersiar luas bukankah bakal berabe. Bergegas ia congklang kudanya cepat-cepat.
Sekian saat Kim-i-kiam-khek terlongomg ditempatnya, tiba-tiba ia tersentak dari lamunannya, pikirnya, “Kenapa aku begitu lena. jelas sekali dia adalah Hun Thian-hi, sungguh menggelikan aku menyangka dia mencatut nama orang!” Ingin dia mengejar, tapi bila kecandak, mungkin Thian-hi bisa bunuh aku supaya tutup mulut, lantas terkilas pikiran lain dalam benaknya, “Kenapa mereka harus lari? Apakah di belakang ada orang mengejar?”
Sementara itu, Thian-hi dan Sutouw Ci-ko sudah lari jauh, melihat Kim-i-kiam-khek tidak mengejar. mereka perlambat lari kudanya, kata Thian-hi kepada Sutouw Ci-ko, “Tadi hampir saja aku membunuhnya!”
“Kau? Apakah kau benar-benar Leng-bin-mo-sim? Ilmu silatnya sangat tinggi, aku saja bukan tandingannya!”
Thian-hi maklum orang tidak percaya, iapun mandah tertawa-tawar, ujarnya, “Dia mengatakan turun gunung karena aku, entah dia punya urusan apa dengan aku?”
“Sekarang tentu dia tahu bahwa aku tidak menipu dia. Mari kita lekas jalan, sekarang tidak perlu kau urus kenapa dia mencari kau. yang penting kita harus segera tiba di Thian-san.”
Thian-hi juga maklum, seluruh kaum persilatan dikolong langit tengah mengubek2 jejaknya, apa pula urusannya selain mencari perkara pada dirinya.
Beberapa hari kemudian, dengan jalan cepat tibalah mereka di daerah Ho-say dimana mereka sudah dekat disikitar Tun-hong. Sepanjang jalan ini mereka melihat banyak orang berlalu lalang dengan mengenakan pakaian ketat. Diam-diam timbul kewaspadaan mereka, mereka berjalan tergesa-gesa tanpa melirik pun juga, Thian-hi tak tahu kemana dan apa tujuan mereka.
Mereka maju terus, tanpa terasa satu hari telah mereka lewatkan lagi, namun mereka insaf bahwa musuh2 tangguh sudah mengintip disekitar mereka, sulit dapat dipercaya begitu cepat mereka telah meluruk tiba.
Di tempat duduknya Hun Thian-hi berkata kepada Sutouw Ci-ko, “Ci-ko cici, lebih baik kau lekas pergi saja, aku pikir….”
“Thian-hi!” seru Sut0uw Ci-ko tertawa merengut, “Kau panggil aku cici, sudah seharusnya aku melindungi kau, mana mungkin aku tinggal pergi, apa kau sangka aku begitu penakut?”
Thian-hi tertawa dibuat-buat. katanya, “Jumlah mereka terlalu banyak. kau disisiku menjadi serba sulit untuk bergerak.”
“Jadi kau anggap aku mengganggu kau malah?”
“Ya, begitulah maksudku.”
“Kenapa kau gunakan alasan ini untuk mengelakkan diriku, bukankah lebih baik kita bersama? Kedatangan musuh tidak sedikit jumlahnya, tapi belum kelihatan ada seorang pun yang benar-benar seorang tokoh Kosen, takut apa?”
“Memang tokoh kosen belum muncul, bila muncul sulit kami untuk melarikan diri.” lalu secara mendadak ia bertanya, “Ci-ko cici, bagaimana kalau kau naik kuda putih ini memburu ke Thian-san minta bantuan?”
Sutouw Ci-ko beragu sekian lama, akhirnya berkata tersenyum, “Untuk sampai di Thian-san pulang pergi memerlukan sepuluh hari, lebih baik kita terjang keluar saja, begitu memasuki gurun pasir disana adalah tanah tandus yang merupakan duniaku sendiri, padang rumput juga banyak terdapat sahabat karibku, setelah tiba disana tak perlu kuatir lagi. Kecuali mereka menggunakan kekerasan, mungkin air minum saja sulit didapat!”
Hun Thian-hi menjadi melongo, pengetahuan Sutouw Ci-ko ternyata begitu luas. Terdengar Sutouw Ci-ko berkata lagi, “Mungkin kau kurang percaya, bila kami bisa menerjang keluar dari kepungan mereka, secepatnya kami bakal tiba di padang rumput, tatkala itu setelah menyaksikan sendiri terserah bila kau mau percaya.”
Mendengar penjelasan ini Thian-hi rada terhibur, pikirnya, para pengejar dari Tionggoan itu pasti belum sampai, untuk menjebol kepungan yang merintang di depan sekarang, agaknya tak begitu sukar, namun entah siapakah pimpinan mereka. Begitulah mereka terus melanjutkan ke depan, tak lama kemudian terlihatlah jejak musuh, setelah menuruni segugusan pasir, tampak di depan sana berjajar sebaris kuda-kuda kekar menghadang di tengah jalan, dipimpin oleh Kim-i-kiam-khek sendiri.
Setelah rada dekat Hun Thian-hi berdua menghentikan kudanya. Dari samping segera menerjang keluar dua penunggang kuda, mereka bukan lain adalah Yan-bun-siang-eng, dengan tunggangan dikeprak kencang menerjang datang. Di empat penjuru serempak muncul sebarisan berkuda mengepung mereka berdua.
Thian-hi memicingkan mata menerawang situasi sekelilingnya, sebelah belakang adalah In-tiong-it-ho Ling-ce-cu dan Ling-it Loto. Sebelah samping sana adalah Im-hong-jiu Lim Bing dan seorang tua lagi.
Musuh sudah memblokir jalan mundurnya pula, terdengar Kim-i-kiam-khek bergelak tawa, serunya, “Para sahabat yang hadir ini kukira banyak yang telah kau kenal. Hanya Jiang-si-cu dan Ngo-tok-jiu Lim Han, dialah saudara tua dari Im-hong-jiu! Sekarang mari kuperkenalkan!”
Thian-hi menyapu pandang para pengepungnya, mereka tak lain adalah undangan Kim-i-kiam-khek, dengan tawa tawar ia menyahut, “Sungguh tak nyana, orang macam aku ini juga menggegerkan sedemikian banyak dedongkot2 silat besar.” .
Kim-i-kiam-khek bergelak tawa, serunya, “Memang tidak kunyana Ling-bin-mo-sim yang menggetarkan jagad ini kiranya orang macam tampangmu ini. Aku kuatir kabar itu terlalu digedekan melampaui kenyataan.”
“Tak nyana Kim-i-kiam-khek macammu ini juga melebihi kenyataan begitu pengecut mengundang begini banyak orang untuk mengeroyok orang. Hm, mengotorkan mulut dan memerahkan kuping saja kalau dipersoalkan .” demikian sindir Sutouw Ci-ko.
Dasar licik Kim-i-kiam-khek tetap tertawa tawa tanpa tersinggung kelihatannya, katanya, “Aku mendapat pesan orang lain, sudah tentu harus kulaksanakan sesuai dengan rencana, betapapun aku harus punya persiapan yang lengkap bukan!”
Hun Thian-hi tersenyum ewa, meski banyak para pengepungnya, situasi yang lebih genting dan lebih besarpun sudah pernah dihadapi, walau ilmu silat mereka tidak rendah, namun bila dibanding dengan Bu-bing Loni, boleh dikata punya perbedaan antara langit dan bumi.
Sebetulnya dalam hati ia sudah ambil putusan untuk menggunakan jurus pencacat langit pelenyap bumi, bagaimana juga aku tidak rela mati secara konyol, dan yang terpenting jangan sampai Sutouw Ci-ko kena terlukakan atau cidera.
Terdengar Yan-bun-siang-ing mendehem keras, lalu berkata kepada Hun Thian-hi, “Selamanya kami berdua anggap kau adalah murid Lam-siau Kongsun Hong, tak nyana ternyata kaupun punya sangkut paut erat dengan Ang-hwat-lo-koay.”
“Apakah kalian punya parmusuhan dengan Ang-hwat-lo-hoay?” tanya Thian-hi.
Ciok Sing tertawa panjang dengan nada dingin. katanya, “Bukan hanya permusuhan saja!”
Sementara itu Sutouw Ci-ko menjadi heran dan kebat-kebit melihat sikap Thian-hi yang adem ajam, apakah Thian-hi punya andalan yang dibanggakan untuk mengatasi mereka? Kenapa begitu wajar dan kelihatan tidak takut atau gentar sedikitpun. Jelas kusaksikan sendiri ilmu silatnya tidak lebih unggul dari Bun Cu-giok, kenapa sikapnya begitu takabur.
Terdengar Hun Thian-hi berkata kepada Yan-bun-siang-ing, “Begitulah baik, jikalau kalian sudi percaya, belum lama ini baru saja aku berhasil lolos dari kejarannya….”
Yan-bun-siang-ing saling pandang lalu mendengus menyatakan kurang percaya.
Tanpa hiraukan mereka lagi Thian-hi berpaling menghadapi Lim Bing, katanya, “Tempo hari kita pernah jumpa sekali, kau mengejar dan ingin meringkus aku, akupun tak perlu banyak kata lagi. Tapi sekarang perlu kutandaskan dan kuberi nasehat kepada kalian berdua, kalau tiada permusuhkan dendam kesumat, silakan kalian menyingkir cepat-cepat.”
Ucapannya memang bermaksud baik, namun Lim Bing menjengek dingin, makinya, “Hun Thian-hi kematian sudah di depan mata, masih berani kau bicara besar menghina orang.”
Sekarang giliran In-tiong-it-ho Ling-ce-cu, berkata Thian-hi kepadanya, “Kau dan aku sudah lama berkenalan. Hari ini sudah tentu kau takkan sudi mundur, akupun tidak akan melepasmu lagi.”
“Hun Thian-hi,” sela Kim-i-kiam-khek tertawa, “Para hadirin disini kebanyakan pernah menyaksikan ilmu silatmu, sekarang giliranku untuk belajar kenal sampai dimana tingkat kepandaianmu!”
“Satu lawan satu, atau kalian maju bersama?” tantang Thian-hi tersenyum.
“Satu lawan satu dulu, kalau aku kalah terpaksa kau dikeroyok.”
“Begitupun baik, siapa diantara kalian yang maju lebih dulu.”
“Kami berdua yang menempur kau lebih dulu” Yan-bun-siang-ing tampil ke depan.
Hun Thian-hi insaf bahwa Yan-bun-siang-ing sukar dilayani, tempo hari gurunya bersama Pedang utara berdua melawan mereka juga cuma lebih unggul sedikit, walau dirinya sudah menelan buah ajaib, sayang satu sepersepuluh dari khasiatnya saja tak dapat memperlihatkan perbawanya, untuk menghadapi keroyokan mereka berdua, betul-betul merupakan lawan tangguh.
Dia termenung sebentar, sementara Yan-bun-siang-ing sudah mengeluarkan Yan-hap-to, katanya, “Bagaimana? Kau takut?”
Thian-hi tersenyum hambar, sahutnya, “Apa hanya kalian berdua saja? Kupikir lebih banyak orang lebih menyenangkan, terutama paling kusambut gembira tuan Kim-i-kiam-khek dan In-tiong-it-ho berdua untuk tampil sekalian!”
Melihat Thian-hi begitu rendah menilai mereka Ciok Sing menjadi naik pitam, dengan menggerung ia berseru, “Kami berdua saudara jauh lebih cukup, buat apa tambah orang!”
Sembari kata gesit sekali mereka turun dari tunggangan, begitu menggerakkan senjata terus menyerbu kepada Thian-hi.
Thian-hi lompat berkelit turun dari kuda pula, sebelum kakinya menyentuh tanah tahu-tahu tangannya sudah menggenggam seruling putih bersemu merah itu. Dalam hati ia membatin, “Betapapun aku harus nekad dan bertindak secepat mungkin. para pengejar dari Tionggoan mungkin saat ini sudah bikin geger di Bu-la-si, tak lama lagi bakal menyusul tiba, kalau dapat lolos dari kejaran mereka ini, begitu memasuki gurun pasir, selamatlah kami berdua!”
Sementara ia berpikir Yan-bun-siang-ing sudah merangsak datang dari kiri kanan. Thian-hi mengegos menyingkir, dia insaf para musuh yang dihadapi merupakan tokoh kejam yang ingin mengambil jiwanya, kalau terpaksa akupun harus bertindak tegas bunuh mereka. Terlihat Seruling di tangannya berkelebat menangkis, bersama itu Yan-bun-siang-ing sudah lancarkan serangan gabungan gelombang ketiga.
Dalam situasi yang mendesak begini terpaksa jurus pencacat langit pelenyap bumi untuk ketiga kalinya dikembangkan pula. Jurus pencacat langit pelenyap bumi ini sudah diakui sebagai ciptaan tunggal yang ganas dari Ang-hwat-lo-mo yang sudah diakui sebagai iblis nomor satu di kalangan persilatan masa kini.
Begitu jurus ganas ini berkembang, tampak selarik sinar putih kemerahan melebar laksana bianglala dalam gelanggang, Thian-hi sendiri setiap melancarkan serangan ganas ini pasti tidak mampu menguasai diri sendiri. Di saat melompat berkelit tadi sekaligus ia sudah menyingkir jauh dari kadudukan Sutouw Ci-ko. Maka begitu melihat cahaya merah berkelebat, Yang bun-sian-ing berseru kejut, serempak mereka lompat mundur berusaha lari menyingkir, namun sudah terlambat tanpa mengeluarkan suara bersama mereka menggeletak di tanah, ditengah leher mereka jelas bertapak sebaris garis merah.
Pelan-pelan Thian-hi membasut keringat di dahinya, dengan pandangan tajam ia sapu para pengepungnya, termasuk Sutouw Ci-ko semua mematung di tempatnya.
Bergegas Thian-hi memburu maju menepuk Sutouw Ci-ko serta berseru, “Cici, mari lekas pergi!”
Sutouw Ci-ko tersentak seperti sadar dari lamunan, begitu mengempit perut kuda bersama mereka congklangkan ke depan.
Kim-i-kiam-khek sendiri juga terlongong di tempatnya, betapa tenar dan tinggi kepandaian Yan-bun-siang-ing, masa dalam segebrak saja mati ditangan Hun Thian-hi, walaupun mereka sadar, tapi siapa pula yang berani mengantar nyawa sendiri secara konyol.
Sementara itu, dengan larikan kudanya berendeng Thian-hi menjadi semakin gelisah.
Yan-bun-siang-ing pendekar angkatan muda yang menjulang namanya, tiada punya permusuhan yang mengikat, namun kenyataan sudah mati di bawah serulingnya.
Malah Sutouw Ci-ko yang membuka kesunyian, katanya tertawa, “Kenapa kau? Begitu gelisah dan murung kelihatannya. Sebetulnya kalau kau tidak turun tangan ganas, mereka bakal bunuh kau.”
Thian-hi tertawa dibuat-buat, sahutnya, “Tapi mereka tak punya dendam permusuhan dengan aku. Seharusnya aku hanya memberi hajaran setimpal saja kepada mereka, tapi aku tak kuasa.”
“Soal itu tak perlu diperbincangkan lagi, yang terang sekarang kita sudah berhasil menjebol rintangan pertama. Depan sana tanpa rintangan lagi, setelah lewat Giok-bun-koan tanah nan luas itu adalah duniaku sendiri.”
Thian-hi berdaya untuk melegakan hati, katanya, “Sungguh aku kagum dan ketarik sekali, sejak kecil sudah hidup bebas dan berderap di padang pasir nan luas segar.”
“Apa benar-benar? Kalau begitu lekaslah jalan lebih cepat lebih baik.”
Bersama mereka pecut kuda lalu membedal bagai terbang ke depan. Hari kedua hampir magrib mereka sudah tiba di luar perbatasan Giok-bun-koan, dari jauh pintu gerbang sudah kelihatan. Thian-hi menjadi girang, tempat yang dituju sekarang sudah tiba, masa depan bakal langgeng tanpa mengalami berbagai kesukaran.
Tengah ia berpikir2, Sutouw Ci-ko berkata, “Lekas! Dik! Mari berlomba, siapa lebih dulu sampai disana!” tanpa menanti jawaban ia keprak kudanya lebih dulu.
Sudah tentu Thian-hi tak mau ketinggalan, cepat iapun congklang kudanya memburu dengan kencang. Waktu hampir sampai di pintu gerbang ia berhasil mengejar Sutouw Ci-ko, mereka lari jajar, baru saja hampir menerobos lewat pintu gerbang, sekonyong-konyong sesosok bayangan abu-abu meluncur turun dari tengah udara, segelombang angin pukulan telapak tangan seketika menyurut mundurkan Thian-hi dan tunggangannya.
Menegak alis Hun Thian-hi, amarahnya berkobar gesit sekali ia mengendalikan tunggangannya lalu memandang ke depan, kiranya adalah Jan-teng Lo-jin.
Dalam pada itu Sutouw Ci-ko sudah membedal lewat pintu gerbang Giok-bun-koan, tiba-tiba ia tidak dengar Thian-hi mengejar datang, dengan kaget ia berpaling dan menarik tali kekangnya, tunggangannya berdiri dengan kedua kaki belakang dan bebenger panjang, sedikit gunakan tenaga ia putar haluan kudanya membalik. Tampak Bun Thian-hi tengah dirintangi seseorang disana, cepat ia memburu balik.
Setelah dekat terlihat Thian-hi tetap duduk di atas kuda sedang berhadapan dengan seorang tua ubanan, orang tua itu pejamkan mata dan duduk bersila di tanah. Hun Thian-hi terlongong ditempatnya, cepat ia mendekat dan bertanya, “Dik! Siapakah orang ini? Dia menghalangi kau!”
“Beliau adalah Jan-teng Lojin! Dia….”
Pelan-pelan situa Pelita membuka mata, katanya, “Hun Thian-hi, janjimu terhadapku tempo hari kau buang kemana lagi?’
Tersipu-sipu Thian-hi melompat turun terus menyembah, sahutnya, “Cianpwe, Wanpwe terdesak oleh keadaan, terpaksa harus kulakukan!”
“Tempo hari siapa yang bantu kau meloloskan diri dari kepungan?” jengek situa Pelita, Ang-hwat-lo-koay bukan?”
Hun Thian-hi manggut-manggut dengan hambar, ia insaf bawa hari ini dirinya bakal menemui kesukaran lagi. Mengandal tenaga pukulan situa Pelita tadi, jelas dirinya bukan tandingan.
Dengan murka situa Pelita mendengus, serunya, “Sebetulnya aku masih menaruh setitik harapan kepadamu, tapi sekarang aku jadi menyesal kenapa tempo hari aku tidak beri hukuman mati saja. sehingga dalam Bulim terjadi gelombang huru hara yang berkepanjangan!”
Hun Thian-hi terbungkam. Dari samping Sutouw Ci-ko menyela bicara, “Lo-cianpwe, kabar angin di Kangouw tidak boleh dipercaya!”
Tanpa melirik terhadap Sutouw Ci-ko, situa Pelita berkata kepada Hun Thian-hi, “Dulu melihat kau mengalami bencana, bermusuhan lagi dengan Bu-bing Loni, aku menaruh kasihan dan sayang akan bakat dan kepintaranmu, baru kuberi petunjuk sebuah jalan penerangan, sekarang….” ia berhenti sejenak lalu meianjutkan, “Dulu aku kebacut melepas budi kepada kau, maka hari ini akupun tidak sudi memukulmu mampus, cepat kau kembali! Tidak kuijinkan kau keluar dari Giok-bun-koan!”
Bagai mendengar guntur dipinggir telinga Hun Thian-hi tersentak kaget dan menjublek ditempatnya. Sutouw Ci-to juga tertegun. sejak mula ia tidak senang melihat sikap situa Pelita yang begitu sombong, ia berteriak dengan keras, “Itu tidak mungkin!”
Hun Thian-hi menghirup hawa, dia pandang Sutouw Ci-ko memberi tanda supaya ia tidak banyak bicara, ia menyembah lagi serta berkata kepada situa Pelita: Cianpwe, Hun Thian-hi memikul dosa yang pantas dihukum mati. Tapi Cianpwe harus beri kesempatan kepadaku untuk mencuci bersih nama baikku. Aku percaya dosa Hun Thian-hi belum setimpal sampai harus dihukuan mati, Bila Cianpwe bijaksana. harap memberi jalan kepada Wanpwe.”
Situa Pelita mendelikkan matanya, makinya, “Dosa2mu pantas aku melenyapkan jiwamu, Keputusan sudah kuambil tidak mungkin digugat lagi!”
Hun Thian-hi tertawa tawar, pelan-pelan ia bangkit serta katanya, “Selama hidup ini baru sekarang Hun Thian-hi minta2 kepada orang, soalnya sakit hati keluarga belum terbalas, tuduhan2 penasaran belum kuhimpas….” sampai disini ia merandek, ia tahu bila dia tak boleh keluar dari Giok-bun-koan, jelas Sutouw Ci-to juga pasti tak mau tinggal pergi begitu saja.
Tiba-tiba ia tertawa melolong, serunya, “Cianpwe, jiwa Hun Thian-hi tidak perlu dibuat sayang. Aku tahu bila aku kembali kaum Bulim di Tionggoan pasti tidak mau melepas aku. Tapi Sutouw-cici tidak seharusnya ikut kerembet dalam persoalan ini, Cianpwe harus memberi ijin supaya aku dapat mengantarnya keluar Giok-bun-koan, sampai di Thian-san!”
Situa Pelita merenung sesaat lamanya. sahutnya dingin, “Kalau mau pergi dia bisa jalan sendiri, aku tidak sudi banyak usil!”
Sutouw Ci-ko tertawa kepada Hun Thian-hi. katanya, “Dik, kita senasib sepenanggungan. meski bukan saudara sekandung. namun hubungan kami lebih erat lebih kental, kalau kau tidak bisa keluar, aku pun takkan tinggalkan kau, kenapa kau minta2 kepada orang!”
Sekonyong-konyong berkobar hawa amarah dirongga dada Hun Thian-hi, kalau dirinya tidak bisa keluar pasti Sutouw Ci-ko bakal ikut berkorban karena dirinya, dengan murka ia berkata pada Situa Pelita, “Masa kau tidak punya perikemanusiaan?”
“Perikemanusiaan?” teriak Situa Pelita, matanya berkilat-kilat, “Ang-hwat-lo-koay bunuh tujuh puluh lebih anggota keluargaku. dimana perikemanusiaannya?”
Hun Thian-hi menggerung gusar, seutas sinar merah melayang ditengah udara, seruling ditangannya mendadak meluncur menutuk ditengah alis Situa Pelita.
Situa Pelita terloroh-loroh dingin, tubuhnya melejit terbang berputar diudara. sebat sekali ia ulur tangan kanan, cukup dengan gerak ulur odot tangannya itu, ia sudah mendesak mundur Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi maju menyerang lagi dengan sengit, seluruh tenaga dikerahkan untuk melancarkan Thian-liong-cit-sek. laksana seekor naga terbang menari tubuhnya juga melejit mumbul ke atas, seruling ditangannya laksana ular hidup merangsak dengan gencar. Tapi dengan unjuk tawa dingin, kedua tangan situa Pelita ditarikkan rapat, tenaga pukulannya cukup menggetar mundur Hun Thian-hi lagi.
Urusan sudah sedemikian lanjut, tanpa banyak pertimbangan lagi segera Sutouw Ci-ko melolos pedang iknut menyerang kepada situa Pelita.
Situa Pelita menggertak keras, kedua tangannya melintang terus didorong ke depan, segelombang angin topan bagai hujan badai menerpa ke arah mereka berdua, kontan mereka terdesak mundur sempoyongan tiga tombak jauhnya.
Hun Thian-hi berteriak, “Cianpwe, apa kau harus membiarkan Wanpwe tenggelam dalam tuduhan penasaran ini?”
Situa Pelita tidak menjawab.
“Dik,” ujar Sutouw Ci-ko, buat apa kau banyak bacot terhadapnya, kalau tidak bisa terjang keluar, pasrah nasib saja.”
Hun Thian-hi terpekur di tempatnya, rada lama kemudian baru mengutik kepala berkata pada Sutouw Ci-ko, “Ci-ko cici, kau keluar seorang diri dari Giok-bun-koan, aku pasti berusaha untuk menyusul kau!”
Sutouw Ci-ko tertawa-ewa, sahutnya menggeleng, “Apa-apaan katamu ini, tidak bisa!”
“Cici,” ujar Thian-hi rawan sambil menunduk, “Inilah sebuah permintaanku pada akhir hidup ini, masa kau tak sudi melulusi permohonanku ini?”
“Tidak,” sahut Sutouw Ci-ko tersenyum hambar, “urusan lain boleh dipertimbangkan, soal ini tidak tawar menawar lagi.”
Thian-hi menghela napas, ujarnya, “Beliau pernah tanam budi kepada aku.”
“Tapi, mari kita coba sekali lagi!” ajak Sutuow Ci-ko sambil tersenyum.
Tegang hati Thian-hi, katanya, “Baiklah akan kucoba sekuat tenaga, harap Cici mundur rada jauh!”
Setelah Sutouw Ci-ko mundur, Thian-ki mulai mengerahkan tenaga mengempos semangat, seluruh kekuatannya dipusatkan pada seruling ditangan kanan, dimana ia bergerak untuk kesekian kalinya ia lancarkan jurus Pencacat langit pelenyap bumi. Cahaya merah dadu berkembang melebur udara terus menerjang ke arah situa Pelita. Situa Pelita bergelak tawa dengan murkanya, seenteng asap tubuhnya melejit tinggi mengembangkan Ginkangnya yang tinggi tanpa kurang suatu apapun diantara gubatan cahaya merah dadu itu.
Ditengah gelak tawanya, tiba-tiba ia menukik menerkam dengan rangsekan hebat. Thian-ki terkejut, serulingnya menggetar hebat melancarkan salah satu jurus dari Gin-ho-sam-sek yang terakhir, Tam-lian-hun-in-hap yang ampuh dan rapat, sembari membela diri ia balas menyerang akan rangsekan Situa Pelita yang lihay ini.
Tapi dasar kepandaian terpaut terlalu jauh, betapa pun Thian-hi sudah kembangkan kemampuannya, tahu-tahu ia merasa pergelangan tangan kesemutan, seruling ditangannya sudah terampas oleh situa Pelita, bukan sampai disitu saja sepak terjang situa Pelita, dengan seruling rampasannya ia menutuk ke jalan darah Hou-ciat-hiat Thian-hi. Thian-hi tahu dirinya takkan luput dari kematian, dalam detik-detik menentukan itu ia sudah pejamkan mata saja menanti ajal. Tapi serambut sebelum seruling ditangannya mengenai sasarannya mendadak situa Pelita membatalkan niatnya.
Dengan jumpalitan ia melesat mundur, dengan seksama ia amati seruling di tangannya, lalu katanya sambil membuang seruling ke arah Hun Thian-hi, “Sebetulnya siapapun yang berani menggunakan jurus Pencacat langit pelenyap bumi atas diriku harus kubunuh. Kali ini kau menggembol Hwi-hong-siau, mungkin kau punya hubungan erat dengan majikan Ngo-hong-lau, memandang muka beliau kuampuni jiwamu. Selanjutnya awas kalau kau berani menggunakan jurus ganas ini, takkan kuberi ampun lagi!”
Hun Thian-hi menjemput kembali serulingnya lalu berdiri menjublek.
“Thian-hi, apa kau takut mati?” tanya Sutouw Ci-ko sesaat kemudian.
Dengan tertawa sombong Thian-hi menjawab, “Mana aku takut mati!”
“Lalu kenapa sikapmu begitu bimbang. Kalau tidak bisa keluar Giok-bun-koan, mari kita terjang balik ke Tionggoan, seumpama mati harus secara gemilang!”
Sungguh haru perasaan Thian-hi, dengan tertawa rawan ia berkata kepada Situa Pelita, “Dulu kau tanam budi kepadaku, kebaikanmu itu takkan kulupakan. Tapi peristiwa hari ini bilamana Hun Thian-hi masih tetap hidup, akan datang suatu ketika bakal menuntut balas.” ~setelah berkata bersama Sutouw Ci-ko ia putar balik menunggang kuda.
Dengan murung Situa Pelita angkat kepala memandang punggung mereka semakin jauh. Hatinya mulai menyesal, namun pikiran lain lantas menghibur sanubarinya, dengan putar balik ini cepat atau lambat mereka bakal menempuh jalan kematian. Tetapi gadis yang bernama Ci-ko itu, membuat hatinya kurang tentram.
Sepanjang jalan ini Thian-hi berdua tidak banyak bercakap lagi, entah berapa jauh sudah mereka tempuh, akhirnya Sutouw Ci-ko membuka kesunyian, “Thian-hi! Kau memikul dendam kesumat keluarga, betapapun harus tetap hidup, kalau kau dapat hidup terus, seumpama aku harus berkorban juga rela.”
Tergugah perasaan Thian-hi, katanya tertawa: Cici, kenapa kau berkata begitu, bila kau mati, aku pun tak ingin hidup sebatangkara.”
Sutouw Ci-ko tertawa hambar tanpa bicara, tiba-tiba mukanya berubah tegang memandang ke depan. Tampak di depan sana mendatangi serombongan penunggang kuda, itulah rombongan Kim-i-kian-khek.
Begitu melihat mereka berdua Kim-i-kiam-khek dan lain-lain, menjadi melongo di tempat duduknya.
Thian-hi hanya mendengus saja, bersama Sutouw Ci-ko mereka maju lebih lanjut. Setelah dekat, berubah air muka Kim-i-kiam-khek, seringainya sinis, “Sungguh besar nyali kalian…. Seluruh tokoh kosen dari Tionggoan sudah memburu tiba, kalian berani putar balik.”
“Siapa diantar kalian yang berani maju!” demikian tantang Hun Thian-hi.
Tiada seorang pun yang berani tampil ke depan. Sudah tentu siapa yang berani mengantar jiwa secara konyol di bawah serangan ganas Thian-hi.
Thian-hi dan Sutouw Ci-ko bersama mengeprak kuda menerjang maju. Kim-i-kiam-khek dan lain-lain lekas-lekas menyingkir kesamping memberi jalan. Dengan menyeringai dingin Hun Thian-hi berdua menerobos lewat dari rombongan mereka terus membedal ke arah timur.
Memandang punggung Thian-hi berdua, Kim-i-kiam-khek menjengek dingin, “Mereka menuju ke timur hanya mengantar kematian belaka. Tak perlu kita banyak capek lagi.”
Kira-kira satu hari sudah lewat, Thian-hi terus menuju ketimur, kini mereka sudah memasuki daerah Tunyiong. Tiba-tiba tampak dua penunggang kuda mencoklang mendatangi dengan cepat. Dengan ketajaman mata Thian-hi. dari jauh ia sudah melihat jelas kedua orang ini mengenakan seragam putih. jelas adalah anak buah Partai Putih.
Setelah dekat begitu melihat Thian-hi berdua, kedua orarg itu lantas menghentikan kudanya setelah saling pandang lantas maju bertanya kepada Hun Thian-hi, “Tuan ini apakah Hun Thian-hi Hun-tayhiap adanya?”
“Benar-benar!” sahut Thian-hi lantang. Ia tahu bahwa rombongan kaum persilatan Tionggoan yang mengejar sudah tiba.
“Pangcu kami ingin bertemu dengan kau,” demikian salah seorang itu berkata, “Beliau memberi perintah bila bertemu dengan Hun-tayhiap, supaya mengatakan sebagai pendekar yang menggetarkan Bulim, bila tidak takut supaya tak usah lari lagi, sebentar beliau bakal sampai.’
Thian-hi mandah tersenyum simpul, ujarnya, “Bun-pangcu akan tiba? Memang kami hendak menuju ke Tionggoan kalian boleh pulang dulu, laporkan pada Bun-pangcu bahwa kami segera datang!”
Kedua orang merasa diluar dugaan, sekilas mereka pandang Hun Thian-hi dengan pandangan ragu dan bimbang, seolah-olah mereka curiga bahwa orang yang dihadapi ini bukan Hun Thian-hi. Melihat sikap mereka Hun Thiar-hi tersenyum geli. serunya, “Tidak akan salah, akulah Hun Thian-hi adanya!” Bersama kedua orang itu merangkap tangan menjura lalu lari balik.
Hun Thian-hi pandang Sutouw Ci-ko. mereka larikan kudanya pelan-pelan, ia insaf bahwa pertempuran mati hidup yang bakal menimbulkan banjir darah segera akan terjadi. mereka maklum lawan terlalu berat betapapun diri sendiri bukan tardingan mereka.
Kira-kira setengah jam kemudian, tampak dikejauhan sana debu mengepul tinggi terbawa angin, serombongan orag berkuda tengah mendatangi dengan cepat,
Berkilat biji mata Hun Thian-hi, betapapun ia tidak bisa menghilangkan rasa sesal dan terima kasihnya kepada Sutouw Ci-ko. Pelan-pelan ia menunduk. diam-diam ia berdoa kepada Thian yang maha kuasa supaya menolong jiwa Sutouw Ci-ko.
Tak lama kemudian derap kaki kuda semakin riuh mendatangi, debu membumbung memenuhi angkasa…. Waktu Hun Thian-hi angkat kepala, puluhan muka yang sangat dikenalnya sudah berjajar dihadapannya.
Terutama Bun Cu-giok yang paling dikenalnya, disampingnya bercokol seorang padri tua.
Mata padri tua ini meram melek memancarkan sorot berkilau, wajahnya halus welas asih namun mengandung wibawa. Kelihatan Ci-hay berada dibelakangnya. Selayang pandang lantas Hun Thian-hi tahu bahwa padri tua yang dihadapi ini pasti adalah Siau-lim Ciangbunjin Te-ciat Taysu.
Te-ciat Taysu meng-amat-amati Hun Thian-hi sebentar, lalu berkata, “Pihak Siau-lim-pay kita selamanya tidak ikut mengurus pertikaian Bulim, tapi kali ini terpaksa sebagai Siau-lim-pay Ciangbunjin aku harus turun gunung sendiri, mengundang dan mengumpulkan para kawan pendekar untuk menghalau kamu.”
“Cayhe juga insaf melulu perdebatan mulut tidak akan dapat membereskan pertikaian,” demikian ujar Hun Thian-hi tersenyum, “Sungguh aku sangat menyesal. hanya karena perkara yang tiada juntrungnya ini sampai membikin susah para pendekar. Apalagi tokoh agung sebagai Taysu ternyata pun ikut dipermainkan tanpa sadar, sungguh aku merasa penasaran dan malu.”
Sebagai pejabat tertua dari Siau-lim-pay yang diagungkan di kalangan Bulim, sebagai partai terbesar, Te-ciat Taysu mana sudi dicercah begitu hina, lambat-lambat ia berkata, “Sebetulnya aku sendiri tidak perlu datang. Tapi malam itu Sicu bertandang ke Siau-lim-si sayang Suheng melepasmu pergi, apalagi sepak terjangmu setelah turun gunung begitu buruk dan bikin keonaran di Kangouw. Sebagai Ciangbunjjn Siau-lim-pay, aku pantang membiarkan nama baik Siau-lim-pay hancur lebur karena perbuatanmu. Alasan pembelaanmu. Suheng sudah beritahu kepada aku. Beliau pun merasa sayang, dengan bakat dan kepintaranmu ternyata nyeleweng kedialan sesat. Sekarang kau harus segera bunuh diri, atau harus menerima hukum keadilan Bulim.”
Thian-hi bergelak tawa, serunya lantang, “Hun Thian-hi masih punya banyak urusan yang belum selesai dikerjakan, mana boleh bunuh diri. Taysu membawa begini banyak tokoh-tokoh silat Bulim kemari, aku lebih suka menantang berkelahi dengan kalian.”
Ci-hay segera tampil ke depan Te-ciat Taysu, katanya merangkap tangan, “Tit-ji suka menempur Hun Thian-hi seorang diri, bila kewalahan harap diganti orang lain!”
Te-ciat Taysu sedikit mengangguk. Ci-hay segera maju ke depan Thian-hi, katanya, “Harap Sicu memberi petunjuk.”
“Ci-hay suhu, tempo hari kami pernah bersua, sebagai murid Lam-siau aku menggunakan seruling sebagai senjata, harap Ci-hay suhu suka memberi pelajaran.”
Ci-hay menunduk hidmat, sahutnya, “Siauceng menggunakan Cap-pwe-lo-han-ciang untuk menghadapi Thian-liong-chit-sek!”
Thian-hi tertawa lebar, pelan-pelan ia keluarkan serulingnya, tanpa banyak bicara lagi ia mulai menyerang kepada Ci-hay. Gesit sekali Ci-hay berkelit, berbareng sebelah tangannya bergerak miring seperti golok membacok ke arah Hun Thian-hi, tenaganya begitu besar membawa deru angin yang Keras, terang Lwekangnya tidak lemah.
Hun Thian-hi membekal seruling menempur lawannya yang bertangan kosong, sudah tentu ia tidak mau direndahkan. demi gengsi maka ia bergerak selincah mungkin untuk secepatnya dapat merobohkan lawan. Begitulah dengan gaya Sinyiong-wijiong tubuhnya melambung tinggi, Serulingnya menukik turun dengan jurus serangan Hun-liong-pian-yu mengetok kebatok kepala Ci-hay.
Ci-ay adalah salah seorang angkatan muda Siau-lim-pay yang paling dibanggakan kepandaiannya. Melihat serangan dahsyat Hun Thian-hi, hatinya rada bercekat, ia tidak berani menyambut secara kekerasan. tangkas sekali ia menjejakkan kaki melejit mundur menghindar.
Namun Hun Thian-hi sudah kebajut mengembangkan permainan Thian-liong-cit-sek untuk mengekang jalan mundur Ci-hay, dalam tiga puluh jurus musuh dibuatnya kelabakan seperti burung dalam sangkar, dalam suatu ketika dengan ringan sekali seruling Thian-hi dapat menutuk bolong lengan baju Ci-hay, kemenangan sejurus ini cukup membuat Thian-hi unggul segera ia lompat mundur.
Demikian juga Ci-hay segera merangkap tangan bersabda Budha lantas mengundurkan diri.
Dengan seksama Te-ciat Taysu pandangan Hun Thian-hi. hatinya dirundung rasa heran mengapa orang macam Hun Thian-hi bisa tersesat begitu dalam, benar-benar merupakan suatu kerugian bagi kaum persilatan khususnya.
Melihat orang pandang dirinya begitu rupa, lambat-lambat Hun Thian-hi berkata, “Taysu! Persoalan hari ini merupakan tanggung jawabku seorang. Betapa, pun jangan sampai merembet Ci-ko cici.”
Sambil memicingkan mata Te-ciat pandang Sutouw Ci-ko. Su Touw Ci-ko mendengus, ancamnya, “Bila kalian mau bunuh dia, terlebih dulu harus bunuh aku!”
Disebelah sana terdengar Bun Cu-giok terkekeh hina, maju beberapa langkah ia berkata kepada Te-ciat Taysu, “Taysu, urusan ini merupakan persoalan pihak Bu-tong kami, biar aku Bun Cu-giok yang bereskan Hun Thian-hi.”
Sutouw Ci-ko menggerung gusar tanpa buka suara. Terdengar Te-ciat Taysu tertawa, “Bun-pangcu adalah murid tunggal Ce-hun Totiang, sudah tentu aku berlega hati. Bukan saja Hun Thian-hi murid Lam-siau Kongsun Hong, diapun memperoleh pelajaran dari Ang-hwat-lo-mo, sekali2 Bun-pangcu jangan pandang ringan padanya. Jurus Pencacat langit pelenyap bumi itu harus hati-hati kau hadapi!”
Bun Cu-giok mengiakan sambil memutar badan, cambuk perak dan pedang mas dikeluarkan bersama, Sutouw Ci-ko segera tampil di depan Thian-hi, katanya, “Biar aku yang layani dia.” — Sembari bicara ia melolos pedangnya.
Berubah air muka Bun Cu-giok, desisnya dingin, “Bukan kau yang ingin kugasak!”
“Tapi akulah yang hendak menggasak kau!” kata, Sutouw Ci-ko dengan geram, “Lama tahun sudah kau sebagai pejabat Pangcu, ingin aku melihat sampai dimana kemajuan silatmu!”
“Tar!” Bun Cu-giok mengayun cambuknya, serunya, “Siapa sudi menyinggung masa lalu!”
“Bun-pangcu sudah lama kenal dia?” tanya Te-ciat Taysu.
“Dia murid Thian-san Lolo yang telah dibuang, Giok-bin-hwi-hou Sutouw Ci-ko adanya. Dulu memang aku akrab dengan gurunya.”
“Ya, dan kau adalah murid kesayangan Ce-hun Totiang,” jengek Sutouw Ci-ko. “Belum lama berselang kau dan Thian-hi adalah kenalan kental, sekarang menjadi musuh besar malah, apakah yang menjadi sebabnya, kukira kau paham sekali!”
Bun Cu-giok berteriak gusar, pedang masnya terayun terus menyerang dengan sengit kepada Sutouw Ci-ko. Dalam gebrak permulaan masing-masing pihak memang sama keluarkan kepandaian simpanan yang hebat, tapi meski kepandaian Bun Cu-giok cukup tinggi, namun Sutouw Ci-ko menang dalam gerak kelincahan tubuhnya, ilmu pedangnya pun cukup tangkas dan gesit. untuk waktu dekat walaupun bersenjata dua gaman. Bun Cu-giok tidak kuasa mengurung musuhnya.
Lima puluh jurus kemudian Bun Cu-giok kembangkan Eng-hong-cap-pwe-ciang dikombinasikan dalam permainan pedangnya. Tubuhnya mendadak bergerak semakin cepat. Sudah tentu Sutouw Ci-ko mengenal permainan jurus Eng-hong-cap-pwe-ciang lawan, diam-diam iapun bercekat hatinya karena gugup ia menjadi terdesak di bawah angin.
Hun Thian-hi sendiri pernah juga menyaksikan permainan Eng-hong-cap-pwe-ciang, namun dalam kombinasi permainan pedang yang lihay ini sungguh membuatnya lebih takjub. Melihat Sutouw Ci-ko semakin terdesak, kelemahannya menjadi semakin kentara, tanpa banyak pikir lagi Thian-hi segera menerjang maju seraya membentak, cukup satu jurus serangan serulingnya lantas mendesak mundur Bun Cu-giok, katanya kepada Sutouw Ci-ko, “Serahkan padaku!”
Hitam legam muka Bun Cu-giok, dengan menggeram seperti harimau kelaparan, ia mengumbar panas hatinya, “Ingin hari ini mencoba betapa besar perbawa jurus Pencacat langit pelenyap bumi yang paling kau banggakan itu!”
Hun Thian-hi menyapu pandang seluruh hadirin, lalu berkata tawar, “Bun-pangcu sudi memberi petunjuk, Hun Thian-hi akan melayani dengan senang hati.” — ia tahu musuh kuat mengepung sekitar gelanggang, kalau keadaan berlarut begini terus, mungkin Sutouw Ci-ko menjadi sulit menyelamatkan diri. Kalau aku gunakan pencacat langit pelenyap bumi, pasti situa Pelita akan muncul pula disini, mungkin beliau dapat menyelamatkan jiwanya.
Tapi walaupun Bun Cu-giok dan Sutouw Ci-ko sudah putus percintaan, perjodohannya dengan Ciok Yan sudah terang jadi, betapapun Ciok Yan pernah jumpa beberapa kali dengan dirinya, dia seorang baik, apakah aku harus menurunkan tangan kejam kepada Bun Cu-giok? Tengah ia bimbang dan ragu inilah Bun Cu-giok sudah menggerakkan cambuk dan pedangnya menyerang kepada Hun Thian-hi.
Dengan bergaman Seruling yang memang mencocoki seleranya Hun Thian-hi kembangkan Thian-liong-chit-sek menghadapi rangsakan Bun Cu-giok yang gencar dengan Eng-hong-cap-pwe-ciang yang hebat. cambuk peraknya melontar2 seperti sapu jagat, demikian juga pedangnya laksana kilat menyamber, permainan kombinasi yang serasi ini sungguh membuat Hun Thian-hi terdesak kewalahan.
Terdengar Bun Cu-giok menggertak sekali, kedua senjatanya dibaling2kan semakin cepat, bergantian menyerang dengan berbagai serangan yang cukup ganas, dalam keadaan terdesak keripuhan ini Thian-hi tak mampu lagi melawan dengan Thian-liong-chit-sek, terpaksa ia kembangkan Tam-lian-hun-in-hap jurus terakhir dari Gin-ho-sam-sek yang punya daya tahan dan serang yang ampuh. Sekarang Thian-hi dapat bertahan lebih mantap.
Te-ciat Taysu mengenal itulah permainan jurus-jurus dalam ilmu Gin-ho-sam-sek, tanpa merasa ia mengerut kening dan berpikir; kepandaian silat yang diperoleh Thian-hi semua adalah jurus-jurus ilmu tangguh yang tiada taranya di dunia, sekarang Lwekangnya masih terlalu rendah, kalau berlatih dengan tekun dalam jangka waktu tertentu, kelak tiada seorangpun dalam Bulim ini yang mampu menundukkan dia.
Serangan Bun Cu-giok semakin membadai, namun perbawa Gin-ho-sam-sek memang bukan olah-olah hebatnya, cukup hanya menggunakan dua jurus saja Soat-san-su-gou dapat mengurung Bu Bing Loni yang tiada tandingannya itu selama satu hari satu malam, maka dapatlah dibayangkan kekuatannya.
Lama sekali Te-ciat Taysu tunduk menepekur, ia tahu bahwa Bun Cu-giok takkan mampu mengambil kemenangan, ia berpaling ke arah Ci-hay, niatnya menyuruh Ci-hay maju mengerubut, tapi dalam pertempuran tadi ia dapat melihat Ci-hay menaruh simpatik kepada Hun Thian-hi, sesaat ia menjadi sukar mendapat keputusan.
Untung saat itu Bu-tong Sam-lo-chit-cu tampil bersama kehadapan Te-ciat, katanya bersama, “Kami beramai ingin maju bantu meringkus Hun Thian-hi!”
Te-ciat manggut-manggut, menjadi sangat kebetulan malah, demikian ia berpikir, urusan ini memang menyangkut pihak Bu-tong-pay, adalah jamak kalian sendiri yang menyelesaikan.
Pucat muka Sutouw Ci-ko, cepat ia melolos pedang maju menghadang, namun mengandal kepandaiannya, cukup beberapa jurus saja Sam-lo-chit-cu berhasil mendesaknya mundur. Segera Sam-lo-chit-cu berpencar mengurung, serempak sepuluh pedang mereka bergerak menggunakan Cap-ciat-tin mengurung Thian-hi berdua. Taburan sinar pedang berkembang melebar selulup timbul ditengah gelanggang.
Semakin tempur Bun Cu-giok menyerang semakin gencar. Hun Thian-hi berdua melawan keroyokan sebelas lawan, andaikata kepandaian setinggi langit juga bakal kewalahan. Thian-hi sudah kerahkan setaker tenaganya, namun terasa kilatan angin pedang begitu tajam menyamber2, setiap kilasan pedang musuh hanya terpaut setengah inci dari badannya, sementara pedang dan cambuk Bun Cu-giok juga terasa semakin menekan berat.
Sekonyong-konyong Sutouw Ci-ko berteriak kejut, tahu-tahu pedang di tangannya tergentak lepas dari tangannya, sejalur sinar pedang berkelebat kontan lengannya kanan tergores luka berdarah.
Thian-hi menggerung murka, serulingnya melengking tinggi melancarkan Pencacat langit pelenyap bumi, keruan Sam-lo-chit-cu dan Bun Cu-giok terkejut dan ketakutan, serempak mereka angkat pedang menangkis.
Te-ciat juga terkejut, cepat ia meraih sebilah pedang dari salah seorang muridnya terus melesat terbang mengembangkan It-ti-to-kang, Ginkang tertinggi dari kepandaian tunggal Siau-lim-pay, bersamaan dengan itu pedangnya pun menyapu maju dengan kekuatan dahsyat, sinar gemerdep berkembang menungkrup ke arah Hun Thian-hi.
Begitu senjata kedua belah pihak saling bentur, kontan Te-ciat merasa pedangnya tergetar hebat, seketika Hun Thian-hi kena tergetar mundur tiga langkah, terasa darah bergolak dalam rongga dadanya, sekuatnya ia menahan napas dan menelan mentah-mentah segumpal darah yang hampir menyembur keluar dari mulutnya.
Dalam pada itu Sam-lo-chit-cu dan Bun Cu-giok menjublek di tempatnya, sebelas batang pedang dari sebelas orang sama kutung semua.
Te-ciat juga terlongong, waktu ia menunduk dilihatnya pedang sendiri juga gumpil. Diam-diam bukan kepalang kejut hatinya. Ang-hwat-lo-mo si iblis itu sungguh menakutkan, siapapun dan betapapun tinggi kepandaian atau Lwekangnya bila menghadapi Pencacat langit pelenyap bumi, betapapun pasti kena cedera.
Hun Thian-hi insaf, lama bertempur semakin tidak menguntungkan pihaknya, Sutouw Ci-ko juga berdiri tertegun. Tanpa banyak pikir lagi segera ia kempit tubuh Sutouw Ci-ko terus mencepat naik ke atas kuda putih dan dilarikan sekencangnya ke arah samping sana.
Semua orang seperti tersentak dari mimpinya. Lekas-lekas Te-ciat Taysu melejit tinggi terus lari mengejar, tubuhnya melayang bagai seekor bangau terbang terus mengudak ke arah Thian-hi.
Tunggangan Thian-hi adalah kuda jempolan yang dapat lari ribuan li sehari, mana mereka dapat menyandak. Kuda putih dipecut lari laksana angin lesus, waktu Thian-hi berpaling, dilihatnya para pengejarnya berpencar, tampak Te-ciat Taisu mengejar paling dekat hanya terpaut lima tujuh tombak saja.
Begitulah kejar-mengejar terjadi dengan sengit, para pengejarnya semakin tertinggal jauh, namun Thian-hi tahu bahwa musuh tersebar di mana-mana, kira-kira dua puluhan li kemudian, Te-ciat Taysu sudah ketinggalan dua puluhan tombak. Mendadak dari samping depan sana melayang terbang sesosok bayangan orang, waktu Thian-hi menegasi kiranya adalah situa Pelita. Mengandal Ginkangnya yang tinggi serta aneh itu, naga-naganya dirinya berdua sulit dapat lolos.
Sementara itu Sutouw Ci-ko juga sudah melihat situa Pelita, segera ia berseru, “Mari menuju ke Jian-hud-tong saja!” — dengan tangkas kedua kakinya menjepit kuda serta dibelokkan ke arah kiri terus dicongklang semakin kencang.
Situa Pelita sudah mengejar semakin dekat, Jiat-hud-tong juga sudah dekat di depan mata. Melihat Thian-hi menuju ke Gua seribu Buddha, ia menyeringai dingin, tiada seorangpun dapat keluar lagi dengan hidup dari gua itu? Selama berpuluh tahun, tiada seorangpun yang bisa keluar dengan masih hidup ke dalam Gua seribu Buddha. peduli kau seorang gembong silat yang punya kepandalan maha tinggi juga tidak berani sembarangan masuk kesana.
Sebenar-benarnya Hun Thian-hi juga tahu akan hal ini, namun dalam keadaan yang kepepet begini, tiada jalan lain yang harus ditempuh, terpaksa harus mencari jalan hidup ke arah jalan kematian secara untung2an.
Begitu masuk ke dalam gua, keadaan di dalam gelap gulita. Terdengar situa Pelita terbahak-bahak diluar gua, serunya, “Kecuali kalian selamanya takkan keluar pula!”
Lekas Thian-hi dan Ci-ko melompat turun, meminjam cahaya yang menyorot masuk dari pintu gua mereka menerawang sekelilingnya, tampak tinggi gua ada dua tiga puluh tombak, dalam dinding gua terukir banyak sekali Buddha2 dengan berbagai bentuk dan gaya, sebuah jalan berliku memanjang ke arah dalam nan gelap sana.
Sekian lama mereka meng-amat-amati ditempatnya berdiri. Diluar gua terdengar derap langkah kuda yang guruh gemuruh, rombongan pengejar dari Tionggoan telah mengejar tiba.
“Thian-hi!” kata Sutouw Ci-ko, “Mereka pasti mengejar masuk, mari maju lebih lanjut, meski harus mati juga rela daripada terjatuh ditangan mereka.”
Tengah Hun Thian-hi beragu. tampak sebuah bayangan telah berada diambang pintu gua. Tanpa banyak pikir lagi, segera Thian-hi tarik tangan Ci-ko terus berlari ke dalam. Pendatang itu bukan lain adalah Bun Cu-giok. Melihat mereka berlari masuk segera ia mundur dan keluar.
Dengan bergandeng tangan Thian-hi berdua berlari maju, baru membelok dua pengkolan, terdengar gema suara aneh dari sebelah dalam Sana…. Keadaan dalam gua gelap pekat lima jari sendiri tidak kelihatan.
Tanpa merasa mereka menjadi gemetar ketakutan.
Setelah hening sesaat lamanya. Sutouw Ci-ko berkata, “Mari maju lagi, coba lihat suara apakah itu!”
Thian-hi manggut-manggut, ia berjalan disebelah depan. setelah membelok lagi sekali, mendadak terasa kakinya menginjak tempat lunak terus ambles kebawah, keruan Thian-hi terperanjat, cepat ia menarik kakinya berusaha mundur, namun sudah terlambat, sebelah kakinya sudah ambles sampai kepahanya. terasa panas seperti direndam dalam tungku, sehingga kepalanya berkaringat. Cepat ia berseru, “Ci-ko cici, lekas mundur, tak bisa maju lagi!”
Sutouw Ci-ko tersentak kaget, cepat ia ulur lehernya pandang kedepar, lapat-lapat terlihat kabut putih bergulung di atas tanah dan berbuih, seolah-olah tengah berputar-putar. Lambat laun terasa Hun Thian-hi semakin tersedot ambles.
Bergegas ia menarik sebelah tangan Thian-hi, mereka tidak tahu bahwa Thian-hi sudah terjeblos masuk ke dalam rawa penyedot tulang yang paling ditakuti dikalangan Bulim, begitu Sutouw Ci-ko menarik Hun Thian-hi, kabut berbuih itu kelihatan berputar semakin cepat, daya sedotnya juga semakin kuat, saking bernafsu sampai Sutouw Ci-ko terhujung ketarik maju dan kakinya juga ikut terjeblos masuk ke dalam lumpur.
Mereka meronta berusaha keluar, namun semakin bergerak, kaki ambles semakin dalam, apalagi seluruh badan juga terasa panas seperti dipanggang.
Tiba-tiba Thian-hi rasakan dadanya dingin nyaman, teringat olehnya akan daun buah ajaib, lekas ia merogohnya keluar, tinggal empat lembar, dua diantaranya ia angsurkan kepada Sutouw Ci-ko, katanya, “Cici, lekas telan!”
Begitu mereka menelan daon buah ajaib, suhu panas yang merangsang badan dari bawah rawa seketika hilang. seluruh badan kini terasa nyaman dan segar kembali. Tapi Sip-kut-tam atau rawa penghisap tulang sungsum ini berputar semakin kencang, badan mereka tersedot semakin dalam. Keruan Thian-hi menjadi gugup, menghirup napas panjang kedua tangannya terangkat keluar lumpur terus menepuk kuat2 dipermukaan rawa. ia berusaha untuk melompat keluar, tak kira begitu ia kerahkan tenaga, badannya malah menceplos semakin dalam beberapa inci.
Karena gerakan Thian-hi ini, seluruh. rawa menjadi bergelombang, daya putarnya semakin kencang, cepat sekali Thian-hi sudah terseret ke tengah rawa, namun setelah sampai ditengah keadaannya lebih mending malah, badannya tidak tersedot lagi.
Mendadak ia menemukan sebuah keajaiban. sepasang titik sinar berkilat warna hijau mulus tengah menatap mereka berdua dari pinggir rawa sebelah Sana.
Bukan kepalang kejut Thian-hi. Terdengar Sutouw Ci-ko berteriak, “Thian-hi, bagaimana keadaanmu?”
Kabut putih menguap semakin banyak dan tebal dipermukaan rawa. seperti air mendidih bergolak keras dan semakin banyak.
Thian-hi mendelong mengawasi depan, tampak olehnya sepasang mata hijau itu menatap tajam tanpa berkedip. tanpa bergerak ia menyahut, “Aku tak apa-apa, tak usah kuatir.” — Selesai berkata ia berpaling, bayangan Sutouw Ci-ko sudah tidak kelihatan terbungkus kabut tebal.
Karuan kaget ia dibuatnya, teriaknya keras, “Ci-ko cici, dimana kau?”
Beruntun ia memanggil dua kali, baru mendengar sahutan Sutouw Ci-ko, “Thian-hi, aku….” sampai disini mendadak ia melengking tinggi suaranya lantas lenyap.
Melonjak jantung Thian-hi teriaknya. cepat, “Ci-ko cici! Kenapa kau?” — Beruntun ia berkaok2 tanpa mendengar balasan. tanpa terasa matanya mengembeng air mata, ia tahu bahwa Sutouw Ci-ko pasti menemui bahaya, siapa nyana dirinya masih bertahan. sebaliknya orang sudah mendahului mangkat,
Thian-hi menjublek ditempatnya, kabut semakin tebal dipermuKaan rawa, hampir tangan sendiri tak terlihat lagi. Tapi sepasang mata berkilat hijau dikejauhan sana masih kemilau menatap ke arah Thian hi.
Dengan putus asa Thian-hi menggembor memanggil nama ‘Ci-ko’, namun tak mendengar reaksi! Dengan murung ia menunduk, Sutouw Ci-ko sudah lenyap, didengar dari lengking suaranya, pasti bukan ambles tersedot ke dalam rawa, mungkin mengalami bahaya lainnya.
Thian-hi pejamkan mata, air mata mengalir deras, selamanya ia jarang menangis, sekarang entah mengapa ia tak kuasa menahan rasa pedih hatinya! Sutouw Ci-ko ikut berkorban demi dirinya, siapakah yang bersalah, dia tidak berdosa!
Biji mata berkilat itu bergerak-gerak, akhirnya sebuah suara. yang rendah dingin berkata kepada Thian-hi, “Kau mau tidak kutolong?”
Begitu mendengar suara manusia, Thian-hi tersentak kaget, dengan terbelalak ia pandang biji mata berkeliat itu, lama dan lama kemudian baru ia menghela napas ringan tanpa bicara.
Orang itu bicara lagi dengan suara rendah seram, “Sungguh besar nyalimu dengan genduk itu berani lari masuk ke dalam Jian-hud-tong. Lima puluh tahun mendatang ini, ada orang masuk tiada orang keluar!”
Thian-hi tidak hiraukan ocehan orang, dia berpikir, “Sutouw Ci-ko sudah mati, dia berkorban demi kepentinganku, jikalau dirinya bisa bertahan hidup, apa pula artinya?”
Orang itu mendengus dengan geram, setelah bungkam sesaat lamanya ia berkata lagi, “Lima puluh tahun lamanya, baru pertama kali ini kulihat kalian berdua kejeblos ke dalam rawa tanpa mati…. Kalau orang lain, tulang belulangnya pun sudah terbakar habis!”
Mendengat ucapan orang tergerak hati Thian-hi, cepat ia tanya, “Kau tahu kemana kawanku itu?”
Orang itu mandah terkekeh dingin tanpa bicara.
“Katakan. Nanti kubiarkan kau menolongku keluar.”
Orang itu menyeringai seram, katanya, “Tapi kau kuat bertahan di dalam rawa tanpa terbakar.”
“Tak mau ya sudah!” ujar Thian-hi.
Orang itu tunduk menepekur, akhirnya berkata, “Kalau kutolong kau, apa kau mau melakukan segala urusanku?”
“Kau harus beritahu dulu, kemana kawanku tadi.”
“Sudah tertolong orang, dia merupakan salah seorang dari kita bertiga yang dapat meloloskan diri selama lima puluh tahun di dalam gua ini.”
Thian-hi menjadi girang, tanyanya, “Siapakah dia?”
“Jangan cerewet!” bentak orang itu. “Aku tiada tempo untuk ngobrol dengan kau, syaratku mau kau terima tidak?”
Kiranya mereka bertiga terkurung di dalam gua ini, demikian Thian-hi menerka dalam hati. Seluruhnya berjumlah tiga orang, lolos satu tinggal dua, entah macam apa pula seorang yang lain itu.
Setelah berpikir ia berkata, “Aku tidak tahu apakah syaratmu itu, masa begitu gampang harus setuju.? Coba terangkan dulu?”
Orang itu menjengek, pelan-pelan tinggal pergi. Tahu bahwa Sutouw Ci-ko sudah tertolong orang, Thian-hi jadi kegirangan, Ilmu silat orang itu pasti luar biasa, kalau tidak masa begitu mudah dapat menolong orang keluar dari rawa ini. Jelas jiwa Sutouw Ci-ko pasti selamat.
Setelah rada jauh orang itu berpaling dan menegas, “Bagaimana setuju tidak?’
“Tolong tidak terserah kau, aku tidak ambil pusing!”
Melihat kekukuhan Thian-hi orang itu kewalahan, sesaat ia berkata lagi, “Meski sudah tertolong pergi. namun jiwa kawanmu itu juga bakal mampus belaka.”
Bercekat hati Thian-hi, tanyanya, “Apa maksud ucapanmu ini?”
Orang itu terkekeh kering dua kali tanpa bicara. Thian-hi segera menambahi, “Dia sudah tertolong masa bisa mati. Jangan kau berkelakar dan menakut2i, aku bukan bocah umur tiga tahun, begitu mudah kau tipu.”
“Kau tahu siapa yang menolong kawanmu itu?” tanya orang itu menjengek jngin.
“Siapa?” tanya Thian-hi gelisah. Orang itu diam saja.
Thian-hi menghela napas, ujarnya, “Kalau dapat. menyelamatkan kawanku, aku rela melakukan segala perintahmu.”
Agaknya orang itu tengah berpikir tanpa bicara. Kini Thian-hi juga harus berpikir, ia tidak tahu siapakah orang ini, namun dari biji matanya yang berkilat hijau itu. terang bukan dari golongan lurus,
Sesaat kemudian terdengar orang itu berkata, “Kau harus hati-hati!”
Seiring dengan peringatannya kedua telapak tangannya terayun ke depan, dua gelombang tenaga lunak dingin menerjang kepermukaan rawa sehingga menimbulkan gelombang berderai, permukaan rawa menyeruak kesamping. segulung tenaga besar timbul dikaki Thian-hi terus menyodoknya naik. Sungguh kejut Thian-hi bukan kepalang, betapa tinggi kepandaian orang ini sungguh belum pernah dilihat sebelumnya, dalam hati berpikir, berbareng kakinya menjejak kuat2, kontan badannya lantas mencelat mumbul dan terbang miring kesamping dan meluncur turun hinggap di atas tanah.
Heran hatinya, bahwa ilmu silat orang begitu tinggi, namun terkurung di dalam gua ini.
Melihat Thian-hi sudah berhasil mendarat di tanah, orang itu juga lantas menghentikan aksinya.
Dengan seksama Thian-hi amat-amati orang itu, tampak olehnya seluruh tubuh orang itu terbungkus dengan rambut panjang, hanya terlihat sepasang biji matanya yang berkilat tajam, tanpa merasa ia bergidik dan merinding.
“Kalau orang lain siang-siang sudah mampus,” demikian kata orang itu sesaat kemudian. “Kulihat kau kejeblos masuk tapi tidak terbakar mati, kupikir mungkin kau berjodoh denganku, maka suka aku menolong kau.”
Thian-hi masih ragu-ragu, orang punya kepandaian begitu tinggi. kenapa tidak mau keluar, tanyanya, “Hairap tanya nama julukan Cianpwe yang mulia?”
“Kau tanya asal usulku?” tanya orang itu lalu mendengus, “Akulah Si-gwa-sam-mo!”
Thian-hi berjingkrak seperti melihat momok yang menakutkan, badan gemetar dan terhujung dua langkah ke belakang dengan terbelalak.
“Akulah Tok-sim-sin-mo!” kata orang itu pula dengan nada dingin.
Pucat pasi wajah Thian,hi, Si-gwa-sam-mo (tiga iblis dari dunia luar) ternyata berada disini. Ternyata siapapun orang yang memasuki Gua seribu Buddha ini tiada yang bisa keluar lagi dengan hidup karena adanya Si-gwa-sam-mo ini.
Lima puluh tahun yang lalu secara mendadak Si-gwa-sam-mo sama menghilang, Ternyata mereka terkurung disini selama lima puluh tahun. Jadi Sutouw Ci-ko kemungkinan adalah tertolong oleh Kiu-yu-mo-lo, keselamatannya sungguh harus dikuatirkan.
Dengan sikap dingin Tok-sim-sin-mo pandang Thian-hi, katanya, “Seluruh kolong langit tiada seorang pun yang tahu bahwa kami bertiga dikurung disini. Sekarang Kiu-yu-mo-lo sudah lolos. Tapi sudah terlambat, lima puluh tahun telah berlalu. tentu dia sudah mati.”
Thian-hi tidak tahu kemana juntrungan ucapan Tok-sim-sin-mo. Tiga pentolan ibiis terbesar di dunia berkumpul disini, benar-benar sesuatu hal yang luar biasa. mengandal kepandaian silat mereka bertiga yang begitu tinggi, entah siapakah yang begitu punya kemampuan untuk mengurung mereka di tempat ini.
Terdengar Tok-sim-sin-mo mendengus lalu berkata lagi, “Meski Mo-lo dapat bebas lebih cepat. namun dia belum mendapat keuntungan, sedikitnya ia harus menghadapi dinding setahun lamanya baru tenaga murni dan Lwekangnya dapat dipulihkan.”
Pelan-pelan Thian-hi bernapas. setelah menenangkan hatinya ia berpikir; Tok-sim-sin-mo punya urusan yang perlu minta bantuanku, tak perlu takut lagi.
Pelan-pelan Tok-sim-sin-mo meraih ke belakangnya mengambil seutas rantai besi yang halus dan berkata, “Kau lihat, inilah penyebab kenapa aku sampai terbelenggu disini.”
Rantai itu sebesar ibu jari, terurai memanjang ke belakang terporot dibatas sebuah batu hitam yang sangat besar. Diam-diam ia kaget, “Masa rantai sekecil itu dapat membelenggu Iblis yang kejam dan ganas ini?”
“Kau sangka ini rantai besi umumnya?” tanya Tok-sim-sin-mo tertawa ejek, tiba-tiba sebelah tangannya terangkat tinggi terus mecuat ditengah udara, dinding batu disebelah depan sana lantas rontoh berhamburan.
Sungguh kejut dan heran pula Thian-hi dibuatnya. Dari jarak dua tiga tombak Tok-sim-sin-mo mampu mencengkeram hancur batu keras menjadi hancur berkeping, kepandaian yang tinggi tiada tarannya ini, boleh dikata sangat menakutkan.
“Inilah rantai yang dibuat dari Ham-thian-cin-kim. Kalau tidak masa aku mandah dibelenggu disini selama puluhan tahun!” — Sebentar merandek, lalu melanjutkan, “Terkunci di atas Kiu-thian-ham-giok,
sampai sekarang sudah terbelenggu selama lima puluh tahun! Limapuluh tahun sudah. Kau tahu betapa lama dan panjang hari2 yang harus kulewatkan!”
Sungguh tidak pernah terpikir oleh Thian-hi, dalam terbelenggu sedemikian lamanya ini, santapan apa yang dapat mereka makan.
“Untung selama itu aku tidak mampus.” demikian Tok-sim-sin-mo menutur, Lima puluh tahun aku makan kelelewar, minum air embun, akhirnya takkan lama lagi aku dapat bebas.”
“Siapakah orangnya yang mengurung kalian disini?” tanya Thian-hi.
“Siapa?” tiba-tiba Tok-sim-sin-mo bergelak tawa menggila, “Kecuali dia siapa yang mampu membuat kami pasrah nasib terima dibelenggu disini, hanya dia itulah Ka-yap Cuncia, apa kau pernah dengar perihal dia?”
Thian-hi menjadi paham, sahutnya, “Kiranya beliau! Ya, tidak perlu heran, Kecuali beliau. tiada seorang pun yang mampu mengalahkan Si-gwa-sam-mo.”
“Jangan kau anggap begitu gampang dia dapat mengalahkan kami bertiga, kecuali dia masih dibantu Hian-thian-kiam-khek dari Ui-san, Thian-toh-ih-su dari Kiu-hoa, akhirnya dua diantara mereka gugur tinggal Ka-yap seorang yang masih hidup.” Habis berkata ia bergelak tawa lagi.
“Lalu kalian?”
“Ka-yap sendiri juga kena terpukul Kiu-yu-ciang, secara kekerasan akhirnya kami bertiga kena dibekuk olehnya, tanggung dia pun takkan lama hidup lagi.”
Thian-hi berkecek mulut, katanya, “Tapi aku dengar beliau pernah muncul di Thian-lam.”
Terbelalak bengis mata Tok-sim-sin-mo, dengusnya, “Apa benar-benar?”
“Hanya kabar saja!”
“Tidak mungkin lagi, kami bertiga sama terluka parah, dapat hidup sampai sekarang sudah merupakan suatu keajaiban, dia kena pukulan Kiu-yu-ciang. selain itu terluka besar kecil lainnya, mana bisa tetap hidup.”
“Masa bisa dipastikan, kalau kalian bisa hidup masa dia tidak bisa hidup?”
Tok-sim-sin-mo menggeram gusar, serunya, “Bila dia sudah mati, akan kutiari muridnya, bunuh habis seakar2nya.”
“Kalau beliau tidak punya murid?” tanya Thian-hi.
Tok-sim-sin-mo mendelik kepada Thian-hi, Thian-hi berkata lagi, “Hakikatnya tiada seorang murid Ka-yap yang pernah muncul di Bulim.”
“Terpaksa aku akan cabut nyawa setiap orang Bulim sebagai tumbal penderitaanku selama lima puluh tahun di dalam gua ini.”
Mendengar sumpah keji dari Tok-sim-sin-mo ini bergidik tengkuk Thian-hi. sesaat lamanya baru ia tenangkan pikiran, katanya, “Apa bisa mengandal tenagamu seorang? Betapa banyak tokoh kosen dari Bulim?”
“Tokoh kosen apa, tokoh yang dapat melawan aku dalam Bulim hanya Ka-yap seorang, lain orang, tidak perlu dipersoalkan lagi.”
“Hui-sim-kiam-hoat sekarang malang melintang di Kangouw, apa kau punya pegangan dapat mengalahkan Hui-sim-kiam-hoat?”
“Memang aku ingin mencobanya.”
“Kau sendiri sekarang belum terlepas, jangan kau mimpi melakukan urusan lain.”
“Menolong jiwamu justru untuk membebaskan belenggu ini.”
“Kau pikir aku sudi menolong kau? Sumpahmu tadi terlalu menakutkan.”
“Kau sudah kutolong, tidak bisa tidak harus dengar perintahku, seumpama ingin mati juga sukar dapat terlaksana.”
Jang menjadi kekuatiran Thian-hi hanya keselamatan Sutouw Ci-ko, segera ia berkata, “Jika kau
mau menyerahkan kawanku itu, aku rela bantu mengerjakan urusanmu.”
“Kalian berdua kenapa tidak takut terhadap Rawa penghisap tulang sungsum.”
“Dimana kawanku itu?”
Mendadak Tok-sim-sin-mo menyeringai dingin, lengannya terulur panjang, kelima jarinya mencengkeram dari jarak jauh ke arah Thian-hi. Kontan Thian-hi merasa segulungan angin dingin yang punya kekuatan daya sedot menerjang ke arah dirinya, lekas-lekas ia bergerak hendak berkelit, namun sudah terlambat. terasa lengan kanannya seperti terjepit tanggem, ternyata sudah tercengkeram erat oleh Tok-sim-sin-mo.
Dengan ringan Tok-sim-sin-mo menjingjihg Thian-hi ke tempatnya, katanya, “Kau harus bekerja menurut petunjukku, kalau tidak akan kusiksa kau menjadi setengah hidup separo mati.”
Cengkeraman Tok-sim-sin-mo membuat seluruh badan Thian-hi gatal2 dan kesemutan, rasanya tak enak dilukiskan, dengan merinding ia berkata ketus, “Apa pun yang akan kau perbuat atas diriku, kau harus menyerahkan temanku itu.”
“Kiu-yu-mo-lo sudah membawanya pergi, kecuali aku bebas dan minta padanya, kalau tidak, hm, punya sepuluh jiwa juga sudah tamat seluruhnya.”
Thian-hi tertegun di tempatnya. Sambung Tok-sim-sin-mo, “Cukup sebuah perkataanku saja pasti dia mau menyerahkan kawanmu kepadaku. Tenaga murninya sudah ludas, untuk beberapa waktu takkan mampu membunuh orang, asal kau bantu aku segera. membebaskan diri saja.”
Thian-hi terlongong sekian saat, Kiu-yu-mo-lo sudah pergi, Tok-sim-sin-mo sendiri terbelenggu tak mampu berkutik, seumpama mampu ia pun tidak boleh melepas iblis laknat ini, meski ia bertujuan menolong jiwa Sutouw Ci-ko. Demikian Thian-hi menerawang tindakan sendiri.
“Bagaimana, mau tidak, kau jawab satu patah kata saja.”
“Apakah kau mampu panggil Kiu-yu-mo-lo untuk melepas kawanku itu? Hari ini aku terjatuh ke dalam cengkeramanmu, kalau kulepas kau, aku lebih celaka di tanganmu.”
“Hanya untuk urusan kecil saja, masa aku harus menipu kau”
“Baiklah,” sesaat beragu akhirnya Thian-hi ambil putusan, “Tapi sumpahmu tadi terlalu kejam, kalau kau bisa lolos, akupun harus kau bebaskan.”
“Tidak menjadi soal, bukan saja kau, seluruh snak kandungmu boleh tidak usah mencelakai mereka.”
“Itulah yang paling baik. Ilmu silatmu begitu tinggi toh tak mampu membebaskan diri, cara bagaimana aku harus membantu kau?”
“Gampang saja, kau buka gembok di belakang Kiu-thian-hom-giok ini….”
Thian-hi memeriksa batu hitam besar di belakangnya, tahu ia bahwa Tok-sim-sin-mo tak kuasa memutar dan menjangkau kesana. Tapi ia masih heran Kiu-yu-mo-lo sudah dapat membebaskan diri, kenapa dia tidak datang membantu kawannya ini, sekarang malah minta dirinya membantu?
Dalam hati ia merasa curiga, namun lahirnya tetap ia berkata, “Baik, biar aku ke belakang membuka, tapi kau tak boleh ingkar janji, bantu aku mencari kawanku itu.”
“Jangan kau main gila terhadapku, jiwa kawanmu berada di tanganku tahu.” demikian ancam Tok-sim-sin-mo sambil melepas Thian-hi
Thian-hi manggut-manggut, sebat sekali ia berlari ke belakang Kiu-thian-ham-giok, begitu tiba dibalik sebelah sana lantas ia melongok bertanya kepada Tok-sim-sin-mo, “Dimanakah Kiu-yu-mo-lo berada, apakah kau tahu?”
“Sudah tentu aku tahu, dia tidak akan pergi jauh berada dalam Jian-hud-tong ini.”
“Kenapa kau tidak suruh dia bantu kau melepaskan diri, sebaliknya menekan aku?”
“Dia sudah lama pergi!” desis Tok-sim-sin-mo sambil memicingkan mata memandang Thian-hi.
“Dia tahu kau berada disini, kenapa tidak mau bantu kau membebaskan diri?”
“Dia sudah datang!” mendadak Tok-sim-sin-mo berpaling.
Baru saja Thian-hi mau menoleh. sekonyong-konyong nalarnya merasa sesuatu yang kurang beres, secara reflek segera ia berkelebat menyingkir, segulung tenaga angin dingin menerpa ke belakang Kiu-thian-ham-giok, terlambat sedetik lagi, tentu jiwa Thian-hi sudah melayang. Hatinya menjadi kebat-kebit dan berdiri bulu kuduknya, untung tidak tertipu.
Melihat serangan pukulannya tidak mengenai sasarannya, Tok-sim-sin-mo menggeram murka, namun apa boleh buat, sebentar ia merenung lalu terkekeh-kekeh seram, serunya, “Kau cukup cerdik tidak tertipu olehku. Bicara terus terang, aku sudah bertengkar dengan Kiu-yu-mo-lo, sudah tentu dia tidak sudi membantu aku. Kalau kau mau bantu, aku suka ambil kau sebagai muridku, setelah bebas segera mencari temanmu.”
“Jiwamu sendiri tergantung di tanganku masa bisa membantu aku malah.” demikian jengek Thian-hi.
“Kiu-yu-mo-lo dapat lolos, sebaliknya kau tidak, jelas dia lebih unggul dari kau.”
Tok-sim-sin-mo mendengus, desisnya, “Jika hari ini kau tidak lepaskan aku, kelak tentu kau akan menyesal sesudah kasep.”
“Kenapa aku harus menyesal!” ejek Thian-hi dengan tertawa lebar.
“Tanpa kau bantu paling lama setahun secepatnya setengah tahun aku bakal dapat lolos sendiri, saat mana jangan kau harap dapat hidup senang.”
“Aku juga tidak tahu apakah aku bisa hidup selama itu, tapi bila sekarang kau kulepas, jiwaku akan lebih cepat melayang. Dan ini pasti benar-benar tak perlu disangsikan.”
Tok-sim-sin-mo menepekur sambil menghela napas, katanya, “Terus terang saja, diantara kami bertiga, hanya aku dan Kiu-yu-mo-lo yang punya keserasian pendapat, meski dia terbelenggu. Secara kebetulan ia menemukan sejilid Pit-kip, dengan bantuan Pit-kit itulah baru dia berhasil lolos. Tapi aku percaya kemampuannya masih belum kuasa menandingi aku. Pernah aku meminta pinjam padanya, dia berkukuh untuk mengangkangi sendiri akhirnya kami bertengkar. Lekas kau bantu aku, akan kubantu kau menuntut balas! Kalian berdua tentu terdesak lari kemari bukan?”
“Terima kasih akan kebaikanmu. Aku sangat rela bantu kesukaranmu, namun aku tidak mungkin melakukan. Meskipun aku menjadi musuh besar kaum persilatan, namun aku tidak bisa bantu kau membebaskan diri.”
“Ilmu silatmu masih terpaut jauh sekali. Kau tidak mau membantu, jangan harap kau bisa keluar dari sini.”
“Menurut katamu Kiu-yu-mo-lo masih berada di Gua seribu Budha ini, apalagi tenaga murninya sudah ludes, kan menjadi kebetulan bagi aku, biarlah aku mencari dia saja.”
Tok-sim-sin-mo menggeram keras seperti singa kelaparan.
Thian-hi menerawang sekelilingnya, tampak di atas sebelah sana terdapat sebuah lobang gua, dia tidak tahu kemana Kiu-yu-mo-lo telah lari, terpaksa harus dicari secara main gagap saja. Pelan-pelan ia merambat naik ke atas lobang itu secara hati-hati ia melongok ke sana, meski gelap masih dapat dilihat jelas, dalam gua sana tiada seorangpun.
Si-gwa-sam-mo ada tiga iblis, Thian-hi sudah melihat satu dan yang muncul sudah dua, seorang lagi yang berjulukan Pek-kut-sin-mo entah terkurung disebelah mana, kalau tidak hati-hati dan kebentrok, pasti sukar dapat melarikan diri lagi.
Dengan waspada dan bersiap siaga Thian-hi menggeremet maju terus, lobang ini rada rendah, terpaksa ia harus menundukkan kepala, semakin ke dalam semakin gelap, boleh dikata tiada setitik sinar apapun.
Selangkah demi selangkah Thian-hi maju terus, terasa olehnya jalan gua ini semakin menanjak ke atas. tiba-tiba gua ini menjadi lebar dan luas, diam-diam ia menjadi girang, mungkin ia sudah tiba di ujung gua yang lain, hati-hati ia melongok keluar lagi, kiranya ia tiba di sebuah ruang gua besar, dalam ruang besar ini rada terang dan ada cahaya yang menyorot menerangi. Tinggi dua tiga tombak, dalamnya tak kelihatan ujung pangkalnya.
Hun Thian-ki celingukan ke kanan kiri, tiada seorang pun, baru pelan-pelan ia merangkak masuk, ingin ia berteriak memanggil nama Sutouw Ci-ko, kalau dia berada disini tentu akan menyahuti. Tapi iapun takut kalau Pek-kut-sin-mo berada disini, jiwanya bakal terancam.
Dengan tegak berdiri lambat-lambat ia maju beberapa langkah. Mendadak ia tersentak kaget dan menyurut mundur cepat-cepat memet dinding serta menahan napas. Dengan takut-takut, ia melongok ke arah samping kiri, di sana terdapat sebuah lobang, seseorang tua berambut panjang tengah duduk bersila membelakangi dirinya, di atas lehernya kelihatan mengenakan kalung hiasan tengkorak manusia…. Siapa lagi dia kalau bukan Pek-kut-sin-mo, iblis sakti tulang putih.
Thian-hi tak nyana bakal kebentur dengan seorang iblis lagi, sungguh tidak beruntung.
“Kau tidak perlu main sembunyi,” terdengar Pek-kut-sin-mo berkata tanpa berpaling, “Sejak tadi sudah kuketahui kehadiranmu!”
Thian-hi maklum bahwa derap langkah kakinya yang berat tentu sudah didengar oleh Pek-kut-sih-mo yang berkepandaian tinggi itu, harapannya orang pun terbelenggu dengan rantai di atas Kiu-thian-ham-giok Terpikir sampai disini, segera ia menyurut tubuh hendak tinggal pergi.
Sekonyong-konyong Pek-kut-sin-mo melambung tinggi terus meluncur turun di hadapan Thian-hi, dengan pandangan dingin tidak bersahabat ia pandang Thian-hi.
Berjingkrak Hun Thian-hi, batinnya: kenapa Pek-kut-sin-mo tidak terbelenggu, apalagi ilmu silatnya begitu tinggi, terang dirinya bakal konyol di tangannya. Lama Pek-kut-sin-mo mengamatinya, dia pun tak berani bergerak. Mendadak Pek-kut-sin-mo mencengkeram dengan telak ke arahnya, gerakan orang begitu cepat, sebelum ia bergerak tahu-tahu sudah kena dijinjing.
“Ternyata kau bisa masuk kemari. Lima puluh tahun sudah aku tidak pernah melihat manusia hidup.”
Thian-hi pejamkan mata pasrah nasib saja tanpa hiraukan kata-kata orang. Entah cara bagaimana orang dapat lolos, konon kabarnya Pek-kut-sin-mo diantara Si-gwa-sam-mo adalah iblis yang paling kejam dan telengas, namun ilmu silatnya justru yang paling rendah, entah cara bagaimana sekarang ia telah lolos dari kurungan.
Sekian lama Pek-kut-sin-mo mengamati Thian-hi dengan seksama, akhirnya mendengus dan berkata, “Kau terjatuh di tanganku, hanya kematianlah yang harus kau tempuh, jangan harap dengan sikap galakmu ini kau akan bertahan hidup.”
Thian-hi mendelikkan matanya dengan beringas menatap muka Pek-kut-sin-mo. Pek-kut-sin-mo menjadi semakin murka, tangannya terangkat hendak mengepruk.
Sekarang baiklah kita mengikuti jejak Sutouw Ci-ko, waktu ia menyahuti seruan Thian-hi mendadak selarik tenaga besar tahu-tahu menjinjing tubuhnya ke atas, baru saja ia berteriak kejut jalan darahnya sudah tertutuk, seketika suaranya sirap. Waktu ia melirik, seseorang nenek tua mengempit tubuhnya dibawa lari terbang ke atas sebuah lobang gua lainnya, di kejap lain mereka sudah tiba di dalam sebuah ruang batu.
Sinenek meletakkannya oitanah, napasnya sengal2, wajahnya kuyu dan kecapekan, ia duduk bersila tanpa bergerak, sesaat kemudian baru ia membuka matanya, napasnya sudah teratur kembali. Segera ia membuka jalan darah Sutouw Ci-ko, dengan mendelong Sutouw Ci-ko awasi nenek tua keriputan ini, bergegas berdiri terus putar tubuh hendak lari.
Sinenek terkekeh dingin, tangannya meraut dari kejauhan, kontan Sutouw Ci-ko kena terseret mundur, terdengar sinenek bicara, “Jangan lari! Apa kau belum pernah dengar nama Kiu-yu-mo-lo?”
Pucat wajah Sutouw Ci-ko. sejak mula ia merasa bahwa sinenek bukan orang baik, namun ia tidak nyana sinenek ini adalah salah seorang’ dari Si-gwa-sam-mo, hatinya menjadi takut dan ngeri.
“Bangkotan tua itu tidak melihat.” demikian ujar Kiu-yu-mo-lo, “Tapi aku melihat tegas, bocah itu memberi kau dua lembar daun Kiu-thian-cu-ko bukan?”
Sutouw Ci-ko terlongong, sahutnya, “Benar-benar! Menang itulah daun buah ajaib!”
“Darimana kalian mendapatkan daon itu?” tanya Kiu-yu-mo-lo dengan mata mendelik beringas.
Melihat wajah orang tidak enak dipandang, Sutouw Ci-ko tahu orang pun tengah mengincar daun buah ajaib itu, dengan tertawa ia berkata, “Gampang saja, pergilah kau tolong adikku itu, dia masih punya beberapa lembar.”
Jelilatan biji mata Kiu-yu-mo-lo, dengan geram ya membanting tangan di tanah, ia tahu bahwa hati punya minat namun tenaga sendiri tidak mampu, sekarang dia sudah kehabisan tenaga untuk memutuskan rantai yang membelenggunya. Apalagi ia masih gentar menghadapi Tok-sim-sin-mo, maka ia hanya menggondol lari Sutouw Ci-ko yang jaraknya rada jauh dari Tok-sim-sin-mo. Tapi sekarang baru ia tahu bahwa Hun Thian-hi masih memiliki daon buah ajaib itu, sungguh ia sangat menyesal, kenapa tidak menyerempet bahaya menolong Hun Thian-hi saja, kalau sekerang balik kesana, tentu sudah kasep.
“Apa benar-benar?’“ demikian ia menegas dengan uring-uringan, tiba-tiba sorot matanya berkilat buas membayangkan nafsu membunuh yang tebal.
Keruan Sutouw Ci-ko sangat terkejut, ia insaf bahwa Si-gwat-sam-mo rata2 bertangan gapah berhati kejam, sekali pukul mungkin Kiu-yu-mo-lo bisa membunuh dirinya. Otaknya yang cerdik segera mendapat akal, “Masih ada sepucuk buah ajaib yang lain disuatu tempat. Kira-kira dua bulan lagi buahnya bakal masak, jikalau kau sudi menolong adikku, kuajak kau ke tempat itu.”
Obrolannya ini melulu Jalan belaka. Dengan sinis Kiu-yu-mo-lo memandang Sutouw Ci-ko, ia kurang dapat mempercayai keterangan orang, tapi bila itu benar-benar ada, tentu sangat menguntungkan dirinya. Ia tahu bahwa Lwekang Tok-sim-sin-mo lebih tinggi dari kepandaiannya, jika bisa mendapatkan buah ajaib itu masa takut lagi menghadapi Tok-sim-sin-mo.
“Bisa memperoleh sepucuk buah ajaib saja sudah merupakan suatu kurnia yang sulit didapat, masa masih ada pucuk yang kedua? Kau sangka aku bocah kecil yang gampang ditipu?”
“Demi jiwa adikku, masa aku berani menipu kau? Seumpama aku benar-benar ngapusi kau mengandal kepandaian silatmu masa kuatir apa lagi. Ketahuilah kedua pucuk pohon buah ajaib itu tumbuh dalam suatu tempat yang sama!” — Dia pernah dengar penuturan Thian-hi tentang buah ajaib itu maka segera ia menambahi, “Bukan kami berdua yang menemukan pohon buah itu adalah seorang Hwesio tua bernama Go-cu Taysu yang telah menunggunya selama enam puluh tahun.”
Sebenar-benarnya Sutouw Ci-ko hanya meng-ada2 saja, namun serta ia menyinggung nama Go-cu, maka Kiu-yu-mo-lo lantas memancarkan sinar aneh yang cemerlang, tanyanya menegas, “Apa Go-cu?”
“Apa kau kenal dia?” tanya Sutouw Ci-ko.
Kiu-yu-mo-lo adalah iblis besar pada ratusan tahun yang lalu, masa tidak mengenal tokoh macam Go-cu, diam-diam girang hatinya setitik harapan telah menyenangkan hatinya. Pasti tidak salah lagi, mengandal dua bocah ingusan masa begitu gampang bisa mendapatkan Kiu-thian-cu-ko. kalau Go-cu itu dapat dipercaya dan masih diakal.
Setelah mendengus ia berkata kepada Sutouw Ci-ko, “Kau bawa aku ke tempat dimana pucuk pohon buah ajaib itu berada.”
“Kau minta aku mencari Kiu-thian-cu-ko, maka kau harus menolong adikku dulu.”
“Sudah tentu! Tapi aku kalah menempur iblis tua itu! setelah mendapat Kiu-thian-cu-ko baru aku mampu menolong adikmu.”
“Apa?” berubah air muka Sutouw Ci-ko.
Kiu-yu-mo-lo menyeringai sinis, katanya, “Si-gwa-sam-mo terkurung bersama digua ini selama lima puluh tahun baru sekarang aku dapat lolos, orang tua yang kalian hadapi dalam rawa itu adalah Tok-sim-sin-mo, apa kau dapat mempahami keteranganku?”
Pucat pasi wajah Sutouw Ci-ko, tamatlah riwayat Hun Thian-hi, jika tidak mati ambles ke dalam rawa pasti menjadi korban Tok-sim-sin-mo, kepala terasa berat matapun berkunang-kunang, terhujung sempoyongan ia jatuh meloso, pingsan.
Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh, dengan tajam ia pandang Sutouw Ci-ko yang pingsan tak bergerak kalau bukan ingin mendapatkan buah ajaib, sejak tadi ia sudah cabut nyawa Sutouw Ci-ko.
Ia membangunkan Sutouw Ci-ko dengan meng-goyang2kan badannya, serunya, “Mari kau ajak aku mencari buah ajaib itu. kalau ketemu, kuberl jalan hidup padamu.”
Sutouw Ci-ko terlongong seperti orang linglung, matanya merah dan basah oleh air mata, sekian lama ia berdiam diri tak bergerak.
“Baru pertama kali ini aku menolong jiwa manusia selama hidup. Kalau bukan karena buah ajaib itu, sejak tadi sudah kubunuh kau.”
Sesaat kemudian baru Sutouw Ci-ko sempat membuka mulut, katanya, “Tadi sengaja kutipu kau, sebetulnya tiada pohon buah ajaib yang lain, aku pun tidak tahu dimana buah itu berada.”
Tiba-tiba terpikir oleh Kiu-yu-mo-lo, “Tindak-tanduk Gu-cu sebagai naga yang kelihatan kepalanya. tidak kelihatan ekornya, kau kenal namanya, mana mungkin tidak tahu, terang sengaja hendak mengelabui aku.” Karena pikirannya ia menjadi gusar, desisnya, “Kau anggap dapat menekan aku untuk menolong adikmu itu?”
“Kau takkan mampu menolong dia,” ujar Sutouw Ci-ko menggeleng,.Kau bunuh aku saja!”
Kiu-yu-mo-lo menggerung serak, sebat sekali ia tutuk jalan darah Sutouw Ci-ko terus dikempit diketiaknya, dibawa lari melesat ke arah pintu gua.
Diambang mulut Gua seribu Buddha kala itu penuh sesak berjejal para kaum persilatan, semua orang hanya berani longak-longok ke dalam, tiada seorang pun yang berani beranjak masuk. ‘
Kiu-yu-mo-lo menyangsikan keterangan Sutouw Ci-ko, tujuannya hendak menggondolnya keluar dari Jian-hud-tong, begitu cepat gerak tubuhnya laksana kilat berkelebat, waktu tiba diambang pintu ia rada merandek, terlihat ratusan orang tengah berjaga dan mengepung mulut gua. Dalam hati ia menjengek dingin, “orang-orang ini mencari mati kemari!” Sedikit merandek, laksana anak panah meluncur tubuhnya meluncur keluar gua.
Semua orang seperti melihat seekor burung melesat keluar secepat kilat. Sekilas Te-ciat sudah melihat jelas seorang nenek mengempit Sutouw Ci-ko, maka sambil membentak keras ia melompat naik ke atas seraya kerahkan delapan bagian tenaga murninya terus menepuk ke arah Kiu-yu-mo-lo.
Melihat ada orang berani merintangi, Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh dingin, sebelah tangannya dijulurkan memapak, begitu pukulan kedua belah pihak saling bentrok. masing-masing terpental mundur terus menyurut tiga langkah.
Keruan bukan kepalang gusar Kiu-yu-mo-lo, latihan selama lima puluh tahun di dalam Jian-hud-tong terhitung sia-sia, baru saja keluar pintu lantas dirintangi orang, apa-apaan ini.
Dilain pihak Te-ciat Taysu sendiri juga bukan olah-olah kejutnya, Siau-lim-pay diagungkan karena ilmu pukulannya yang lihay, dengan mengerahkan delapan tenaga murninya, dirinya masih tak kuasa berdiri tegak, sebagai seorang pejabat Ciangbunjin, mana mandah terhina dihadapan begini banyak orang.
Kiu-yu-mo-lo melengking tinggi dengan murka, tubuhnya melompat naik ke atas terus menyerang dengan penuh kegusaran. Lekas-lekas Te-ciat Taysu juga mengaum seperti harimau berang, dengan kekuatan dua belas bagian tenaga murninya ia pukulkan telapak tangannya memapak ke arah serangan Kiu-yu-mo-lo.
Begitu melihat kedahsyatan pukulan lawan, Kiu-yu-mo-lo insaf bahwa hawa murni sendiri sudah ludes tenaga juga kurang kuat, sebelah tangan saja takkan kuat melawan, sigap sekali ia lemparkan tubuh Sutouw Ci-ko ke tengah udara, serempak kedua telapak tangannya terus menekan ke arah pukulan Te-ciat Taysu.
Melihat perbawa tekanan Kiu-yu-mo-lo, terkejut Te-ciat Taysu, tahu ia bahwa dirinya bukan tandingan lawan, namun untuk menghindar sudah terlambat, apalagi tekanan tenaga musuh bagai gugur gunung telah melanda tiba, terpaksa ia sambut dengan kekerasan. “Blum!” — Terlihat Te-ciat Taysu terpental jumpalitan terus rebah tak bergerak lagi.
Sementara itu, Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh seperti bunyi burung kokok beluk, setangkas burung walet tubuhnya jumpalitan ditengah udara, tepat sekali meraih tubuh Sutouw Ci-ko yang melayang turun, dalam kejap lain ia sudah terbang pergi laksana burung elang.
Seluruh orang-orang gagah diluar Gua seribu Budha menjadi kesima kaget, orang aneh yang mendadak muncul ini begitu enteng membawa Sutouw Ci-ko pergi. Te-ciat sendiri begitu beradu pukulan lantas terbanting jatuh dan pingsan, terang terluka dalam yang sangat parah.
Sekejap saja bayangan Kiu-yu-mo-lo sudah menghilang dikejauhan dengan mengempit Sutouw Ci-ko. Lalu kemanakah Hun Thian-hi? Tiada seorang pun yang berani masuk ke dalam Jian-hud tong.
Dilain pihak, Thian-hi sudah pejamkan mata pasrah nasib saja, pukulan dahsyat Pek-kut-sin-mo dengan telak mengenai kepalanya, tapi mendadak ia merasa tenaga pukulannya yang hebat itu seperti tenggelam didasar lautan, sirna tanpa bekas, keruan bukan kepalang kejut Pek-kut-sin-mo, sesaat ia terlongong ditempatnya.
Waktu pukulan Pek-kut-sin-mo mengenai kepalanya kontan Thian-hi merasa kepalanya tergetar seperti dipukul godam, namun sedikit pun ia tidak kurang suatu apa, seketika terasa segulung hawa hangat mengalir dan menerjang berputar keseluruh badannya. Mendadak teringat olehnya akan penuturan majikan Ngo-hong-lau, bahwa khasiat buah ajaib semua tersekam di dalam jalan darah Pek-hwe-hiatnya, sedang pukulan hebat Pek-kut-sin-mo tadi secara kebetulan tepat mengenai Pek-hwe-hiat, bukan saja kepalanya tidak pecah hancur dan mati, malah secara tidak sengaja orang telah bantu membujarkan khasiat buah ajaib ke dalam seluruh badannya.
Thian-hi insaf kesempatan untuk melangsungkan hidup selanjumja hanya kilasan waktu saja cepat-cepat ia kerahkan hawa murninya menuntun hawa panas itu menjalar kesegala urat nadi dan jalan darah di seluruh tubuhnya. Hawa hangat itu secepat kilat sudah bergulung-gulung tiga putaran mengelilingi seluruh tubuh Thian-hi. Tatkala itulah pukulan kedua Pek-kut-sin-mo sudah menepuk tiba kepunggung Thian-hi. secara gerak reflek Thian-hi bersuit panjang, tubuhnya mencelat bangun berbareng mengebaskan sebelah tangannya ke belakang menyambut pukulan Pek-kut-sin-mo.
Dengan murka Pek-kut-sin-mo menambah tenaga dengan membarengi tangan kanan ikut memukul. gelombang badai segera menerpa dengan dahsyat ke arah Thian-hi. Dilain kejap kekuatan kedua belah pihak beradu ditengah jalan. Meminjam tenaga benturan kedua tenaga raksasa ini tubuh Hun Thian-hi mencelat terbang ke depan semakin menjauh. Sementara Pek-kut-sin-mo tergetar mundur beberapa langkah. Gema benturan yang dahsyat mendengung di dalam gua nan sunyi itu, seperti gunung meletus…..
Pek-kut-sin-mo menggembor panjang seperti geledek mengguntur, sebagai bangkotan silat dengan latihan masa lima puluh tahun di dalam gua masa setanding melawan bocah ingusan, bukankah sia-sia hidup lima puluh tahun dalam gua ini. Bagai elang menukik ke angkasa tubuhnya mumbul ke atas, serangan kedua sudah dilancarkan. Mendadak di belakangnya kedengaran sabda Buddha yang nyaring menggema. Lekas-lekas Pek-kut-sin-mo melorot turun serta berpaling ke belakang, dengan kejut kegirangan ia menubruk maju serta menyembah hormat, “Ka-yap Cuncia, kapan kau orang tua datang kemari!”
Thian-hi sendiri kala itu tengah dimabuk kegirangan bahwa Lwekangnya ternyata maju berlipat ganda dalam sekejap waktu, ini terbukti bahwa khasiat buah ajaib sudah bujar dan mendarah daging di dalam tubuhnya karena pukulan Pek-kut-sin-mo tadi.
Melihat Pek-kun-sin-mo begitu murka dan menyerang dengan kalap, ia lebih waspada dan siaga untuk menghadapi segala kemungkinan, sekonyong-konyong didengarnya sabda Buddha yang menggetarkan sanubarinya, di lain saat dilihatnya Pek-kun-sin-mo menubruk maju kehadapan seorang Hwesio tua dan menyembah hormat. Dengan tersenyum Hwesio tua itu mengelus kepala Pek-kun-sin-mo.
Ka-yap Cuncia sudah tersohor dikolong langit, sekarang secara beruntung dirinya bisa jumpa di tempat ini, tersipu-sipu ia maju berlutut serta sapanya, “Tecu Hun Thian-hi, menghadap Sin-ceng!”
“Kalian bangunlah!” ujar Ka-yap Cuncia tertawa. Berbareng mereka bangkit berdiri, dengan mendelik Pek-kut-sin-mo pandang Hun Thian-hi. Sebaliknya Thian-hi tengah pikirkan urusan lain, ia tak hiraukan sikap galak orang.
Dengan tersenyum Ka-yap Cuncia berkata kepada Pek-kut-sin-mo, “Lima puluh tahun lamanya watak berangasan Pek-sicu masih belum luntur!”
Terperanjat Pek-kut-sin-mo, cepat katanya, “Entah darimana bocah ini, kukira dia hendak mencari pusaka itu, maka tidak akan kuberi ampun!”
“Dia kemari tentu punya tujuan,” demikian ujar Ka-yap Cuncia, “bukankah kau sudah melulusi aku untuk tidak sembarangan membunuh orang. Kenapa tadi begitu gegabah. Untung khasiat kekuatan buah ajaib mengeram di Pek-hwe-hiat, kalau tidak masa jiwanya bisa hidup karena pukulanmu tadi.”
Ka-yap Cuncia pejamkan mata, sesaat kemudian ia berkata pula, “Lima puluh tahun yang lalu, karena kesalahan pikiran, demi kebajikan, sekarang berbuah meninggalkan bibit bencana. Kedatanganku ini justru untuk menyelesaikan urusan terakhirku selama hidup ini.”
“Apakah Taysu punya janggalan hati?” tanya Pek-kut-sin-mo.
Ka-yap Cuncia tersenyum, pandangannya beralih kepada Hun Thian-hi, katanya, “Soal ini punya sangkut paut dengan Hun-sicu ini.”
Tersentak sanubari Thian-hi, percakapan Ka-yap dan Pek-kun-sin-mo sudah cukup membuatnya bingung dan keheranan, sekarang masih ada persoalan dari lima puluh tahun yang tertangguhkan itu punya hubungan erat dengan dirinya, betapa hatinya takkan kejut.
“Dengan bocah ini?” tanya Pek-kut-sin-mo melengak.
“Ya,” sahut Ka-yap tersenyum. “Untuk urusan Hun-siculah aku menyusul kemari dari Thian-lam.”
Demi aku? Demikian Thian-hi dirundung pertanyaan, begitu jauh Ka-yap menyusul kemari, entah untuk urusan penting apakah?
Dengan tersenyum lebar Ka-yap mengawasinya, ujarnya, “Pengalamanmu aku tahu semuanya. Setelah mendengar berita itu, aku lantas tahu siapakah Mo-bin Suseng itu. Tak nyana, disaat aku tak berada dia kembali menimbulkan huru hara pula di Tionggoan.”
Tergetar hati Thian-hi, cepat ia bertanya, “Siapakah Mo-bin Suseng?” — pertanyaan ini menjadi teka-teki selama puluhan tahun, tiada seorang pun yang tahu nama dan muka asli dan Mo-bin Suseng. Tapi terhadap setiap tindak tanduknya yang serba pintar dan rapi itu, semua orang menjadi gentar dan segan mendengar nama julukannya. Sekarang hanya Ka-yap Cuncia yang diagungkan sebagai tokoh nomor satu sejagad ini tahu seluk beluk perkara itu.
“Ih-lwe-tok-kun, apakah kau masih ingat dia?” demikian tanya Ka-yap Cuncia terhadap Pek-kut-sin-mo.
Pek-kut-sin-mo manggut-manggut dengan hambar dan mendelong, entah untuk apa Ka-yap menyinggung tokoh jahat itu.
Thian-hi juga melengak heran. Ih-lwe-tok-kun, itulah iblis besar setingkat lebih tua dari angkatan Ang-hwat-lo-mo, dulu pernah dengar nama ini, namun sudah lama dilupakan.
Kata Ka-yap, “Mo-bin Suseng adalah duplikat Ih-lwe-tok-kun dulu itu.” — pelan-pelan ia menghela napas.
Thian-hi menjublek, menurut kabarnya ilmu silat Mo-bin Suseng tidak terlalu tinggi, tapi sekarang diketahui bahwa tokoh jahat itu adalah seorang iblis besar yang telah lama menghilang itu, sungguh sukar dipercaya.
Ganti berganti Ka-yap pandang mereka berdua. melihat mereka menaruh curiga dan keheranan ia tertawa geli, ujarnya, “Dulu sebelum aku bersua dengan kalian bertiga, pernah dipuncak Thay-san aku menempurnya selama tiga hari tiga malam, meski dia kalah, aku juga sedikit terluka. Kamu tahu selamanya belum ada seorang pun yang mati ditanganku, secara suka rela ia bersumpah tidak muncul lagi di Kangouw, maka ilmu silatnya lantas kupunahkan dan melepasnya pergi. Tapi sungguh tidak kuduga sedemikian jauh ia masih mencari Ni-hay-ki-tin, sehingga menimbulkan gelombang pertikaian di dunia persilatan.”
Lalu dengan tertawa ia berkata kepada Hun Thian-hi, “Urusanmu aku tahu dengan jelas, pandangan Soat-san-su-gou memang tepat, mereka benar-benar. Mereka tahu kau berani berkorban demi tidak melancarkan jurus Pencacat langit pelenyap bumi itu, jelas bahwa kau punya hati yang bijaksana, seseorang yang bajik tidak akan menyeleweng ke jalan yang sesat!”
Sungguh girang dan menyesal pula hati Thian-hi mendengar pujian Ka-yap Cuncia terhadap dirinya, bergegas ia menyembah, “Terima kasih akan petuah Sinceng.”
“Sayang aku tidak akan lama lagi tinggal di dunia yang fana ini, banyak urusan yang harus kuserahkan padamu untuk kau kerjakan.” demikian kata Ka-yap sambil tertawa.
Thian-hi dan Pek-kut-sin-kun sama terkejut, “Apa kata Taysu?” teriak Pek-kut-sin-mo.
“Tiada kenangan abadi di dalam dunia fana ini, Pek-sicu, maukah kau kelak membantu Hun-sicu melakukan tugasnya?”
“Petunjuk Taysu, aku Pek Si-kiat masa tidak tunduk, apakah Taysu terluka karena pertempuran dulu itu, kalau benar-benar, sungguh aku sangat menyesal.”
Teringat oleh Thian-hi akan ucapan Tok-sim-sin-mo, memang benar-benar bahwa Ka-yap Cuncia menderita luka dalam yang sangat parah, menurut perhitungan Tok-sim-sin-mo tentu Ka-yap sudah mati, tapi kenyataan sekarang Ka-yap masih belum wafat, namun dalam waktu dekat ini bakal wafat. tanpa merasa ia menunduk dengan rasa duka dan pedih.
“Hidup atau mati sudah menjadi takdir Thian. Lolap sudah melampaui seabad, usia yang terlalu tua, kenapa Pek-sicu harus kuatir bagi aku.” — lalu ia melanjutkan, “Sekarang Kiu-yu-mo-lo sudah bebas, lak lama lagi Tok-sim-sin-mo juga bakal lolos, dalam dunia ini takkan ada seorang pun yang mampu menundukkan mereka. Lwekang Lolap sendiri sebagian besar juga sudah bujar!”
Mendengar Lwekang Ka-yap Cuncia sudah bujar, terkejut Hun Thian-hi, serta merta ia bertanya, “Sin-ceng tahukah kau akan Bu-bing Loni?”
“Ya, Bu-bing sudah memperoleh intisari Hui-sim-kiam, namun mana dia kuasa merintangi Tok-sim-sin-mo dan Kiu-yu-mo-lo meloloskan diri!”
Hun Thian-hi menjadi bungkam, dari nada perkataan Ka-yap Cuncia, jelas memang diakui bahwa Hui-sim-kiam-hoat Bu-bing Loni tiada taranya dan tiada tandingan dikolong langit, meski dirinya pernah menelan buah ajaib, apa pula yang dapat dilakukan.
Terdengar Ka-yap Cuncia berkata pula: Tadi kulihat Kiu-yu-mo-lo sudah pergi, dia menggondol seorang gadis, apakah temanmu?”
Bercekat hati Thian-hi, cepat ia bertanya, “Sin-ceng, bagaimana keadaannya sekarang?”
Ka-yap pejamkan mata dan berpikir sesaat lamanya, pelan-pelan jia buka mata serta berkata, “Kau tak usahlah gugup, aku bisa membereskan soal ini.”
Berhenti sebentar, lalu, melanjutkan, “Mengandal Lwekang yang kau bekal sekarang masih jauh dari pada cukup, kelak kau harus menjadi pemimpin kaum pendekar di dunia ini, kau harus punya Lwekang yang hebat melebihi kaum persilatan umumnya, dari perjalananku keselatan kali ini terhitung tidak sia-sialah hasil yang kucapai. Wi-thian-cit-ciat-sek telah terjatuh ketanganku, untuk menandingi Hui-sim-kiam-hoat hanya Wi-thian-cit-ciat-seklah!”
“Taysu.” sela Pek-kut-sin-mo Pek Si-kiat “Apakah Hui-sim-kiam-hoat itu adalah ilmu warisan dari Hui-sim?”
Ka-yap Cuncia manggut-manggut, ujarnya, “Hui-sim Sinni adalah Ciangbunjjn Ngo-bi-pay pada ratusan tahun yang lalu, Ngo-bi-pay merupakan pentolan teragung dikalangan Bulim pada jaman itu dengan sebatang pedang Hui-sim berhasil menindas para gembong-gembong iblis yang merajalela, akhirhja setelah beliau wafat Hui-sim-kiam-hoat juga ikut lenyap, tapi sekarang telah muncul ditangan Bu-bing Loni!”
Merandek sebentar lalu meneruskan, “Sekarang kau belum boleh unjuk muka di depan umum, perjalanan jauh keselatan kali ini, aku menemukan sebuah negara kecil di Thianyam, tiada seorang dari Tionggoan yang bisa menjejakkan kakinya di tempat itu, kau harus mempelajari dan menyelami pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek dan Pan-yok-hian-kang disana, Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan pelajaran pedang tingkat wahid, melulu beberapa hari saja takkan mungkin dapat dicangkok pelajarannya, kalau bukan seorang cerdik pandai takkan dapat menyelami intisari pelajarannya yang paling tinggi, apalagi harus senyawa dan membekal Lwekang yang dalam dan kokoh kuat baru dapat mengembangkan kehebatannya…. Kau harus segera menuju kesana, kalau tidak kau takkan berhasil mencapai hasil yang diharapkan di Tionggoan ini”
Kejut dan girang pula perasaan Thian-hi, dalam hati ia membatin; apakah benar-benar begitu sukar pelajaran Wi-thian-ciat-sek itu?
Kata Ka-yap Cuncia pula, “Tapi kau harus mematuhi sebuah pesanku, sebelum kau berhasil dalam pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, jangan sekali2 kau mainkan ilmu silat, jangan sampai masyarakat umumnya tahu bahwa kau adalah seorang kosen dalam bidangmu. Kalau kau membangkang, bencana bakal menimpa dirimu bila para gembong-gembong iblis meluruk datang, sebeJum pelajaranmu berhasil kau bakal konyol ditangan mereka.”
Mendengar orang berpesan begitu serius, Thiian-hi semakin prihatin keringat dingin membasahi tengkuknya, cepat ia menyahut, “Sekali2 Wanpwe tak….” kemudian baru bersuara, “Wi-thian-cit-ciat-sek ku kan berani menggunakan ilmu silat.”
Dengan seksama Ka-yap pandang Thian-hi, sesaat kemudian baru bersuara, “Wi-thian-cit-ciat-sek kuserahkan kepada kau, dimana ada pelajaran Pan-yok-hian-kang juga, mari kau ambillah.” ia angsurkan sejilid buku tipis terbungkus sutera kepada Hun Thian-hi.
Dengan kedua tangannya Thian-hi menerima serta menyatakan terima kasih,”
Ka-yap berpesan lagi, “Sebelum kau berhasil dan sukses, kularang kau meninggalkan tempat itu, aku akan selalu jsampingmu.” — Sebentar ia pejamkan mata, sesaat lalu berkata kepada Pek-kut-sin-mo Pek Si-kiat, “Apa yang telah kukatakan kepadanya kau pun sudah dengar, nanti sebentar aku punya pesan lain untuk kau!”
“Setelah pelajaranmu sukses.” demikian kata Ka-yap terhadap Thian-hi, “Kau harus minta bantuan Pek-sicu. Walaupun dulu dia disebut salah seorang dari Si-gwa-sam-mo, soalnya karena dulu ia ketiban bencana, dimana seluruh keluarganya musnah, karena tekanan batin yang terlalu berat sehingga pikirannya tersesat. Sekarang ia telah menyesal dan kembali kejalan yang lurus soal di Tionggoan kau tak usah kuatir, aku bisa mengurusnya bersama dia, kau boleh belajar dan memperdalam ilmu dengan tekun dan rajin saja.”
Hun Thian-hi mengiakan, hatinya menjadi lega dan terhibur. Asal Ka-yap sudi bicara sekecep saja. tanggung kaum persilatan di Tionggoan akan patuh dan tunduk pada kata-katanya, dosa2 tanpa alasan yang dituduhkan pada dirinya akan himpas seluruhnya. Demikian juga soal Sutouw Ci-ko Ka-yap sendiri juga sudah melulusi untuk mengurusnya.
“Gembong-gembong silat dari berbagai aliran dan golongan diluar gua seribu Buddha masih belum bubar, tentu berabe kau keluar dari sana, aku punya jalan rahasia lain dapat membawamu keluar dengan selamat. Harta benda tak bernilai di dalam gua ini terlalu banyak, jalan-jalan rahasia yang menyesatkan tak terhitung banyaknya, aku kuatir kelak….s ampai disini ia berhenti, matanya menjadi redup dan ragu-ragu, Thian-hi celingukan kekanan kiri. lapat-lapat ia pun merasakan firasat apa-apa. Terdengar Pek Si-kiat bergelak tawa, serunya, “Sekarang masih ada aku disini, takut apa?”
“Besok pagi kau boleh ikut aku menuju ke Thian-bi-kok!” Demikian kata Ka-yap.
Ooo)*(ooO
Dalam pada itu dengan menggondol lari Sutouw Ci-ko yang tertutuk jalan darahnya Kiu-yu-mo-lo terus berlari-lari tanpa tujuan, setelah napas ngos2an baru berhenti dar membebaskan jalan darahnya. Pelan-pelan Sutouw Ci-ko bangun duduk lalu celingukan kesekitarnya tanpa bicara….
“Budak aju,” kata Kiu-mu-mo-lo kepada Sutouw Ci-ko, “Dimanakah pohon buah ajaib itu? Lekas katakan, kalau tidak jangan kau salahkan aku berlaku keji kepadamu.”
Sutouw Ci-ko menunduk tanpa bicara. ia tahu bahwa Kiu-yu-mo-lo menjadi percaya obrolannya setelah ia menyebut nama Go-cu Taysu, sekarang ia bicara jujurpun tidak akan dipercaya olehnya.
Kiu-yu-mo-lo menggeram gusar, katanya, “Jikalau kau mau terangkan mungkin aku suka ambil kau sebagai murid, kuajarkan pelajaran silat tingkat tinggi, malah kepandaian baru yang baru saja dapat kuperoleh yaitu Hian-thian-mo-kip juga akan kuajarkan kepadamu. Tapi bila kau tetap tutup mulut? Hm ….”
Sutouw Ci-ko tetap bungkam, mendadak ia berpikir, masa aku harus mati secara konyol begini, bukanlah luka-luka Kiu-yu-mo-lo belum sembuh, kalau saat ini tidak dapat menumpasnya, kelak tentu menjadi bibit bencana.
Lekas-lekas ia angkat kepala serta katanya, “Aku tak perlu belajar kepandaianmu, yang penting setelah memperoleh buah ajaib kau harus kembali lagi ke Jian-hud-tong, bila adikku masih hidup kuharap kau sudi menolongnya keluar, begitu saja harapanku.”
Jang dipikir oleh Kiu-yu-mo-lo hanyalah buah ajaib. dengan tertawa melengking ia berkata, “Boleh, boleh, itu soal gampang, bila adikmu mati aku pun rela membalaskan dendamnya, membunuh bangkotan tua itu.”
Mendengar lengking suara orang saja cukup membuat Sutouw Ci-ko bergidik merinding, pelan-pelan ia menghela napas, katanya, “Buah itu berada di Hwi-king-ouw dipuncak Thian-san.”
Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh girang, menurut pendapatnya setelah mendapat buah ajaib, tentu dia dapat menjagoi dan bersimaharaja di Bulim, dia memiliki Hian-thian-mo-kip, bila kepandaian ini dapat dipelajari dengan sempurna mendapat bantuan buah ajaib tentu ia dapat malang melintang semau gue.
Dengan mengempit Sutouw Ci-ki di bawah ketiaknya, tubuhnya mencelat terbang secepat anak panah terus menuju ke Thian-san. Entah berapa jauh sudah ia menempuh perjalanan, sekonyong-konyong sebuah bayangan laksana angin lesus telah mengejar datang, begitu cepat gerak tubuh itu tahu-tahu sudah melesat ke depan menghadang di depan Kiu-yu-mo-lo. Keruan Kiu-yu-mo-lo terkejut, walaupun ia masih terluka, malah mengepit seseorang lagi, namun tak terpikirkan olehnya ada tokoh mana yang mampu mengejar dirinya.
Segera ia menghentikan langkahnya, dengan cermat ia awasi orang di depannya, lalu bertanya dengan nada ingin, “Siapa kau?”
Pendatang ini bukan lain adalah Situa Pelita, mulutnya menyungging senyum sinis serta dengus dingin, nenek tua renta di depannya ini ternyata begitu sombong dan takabur, jengeknya dingin, “Aku bernama Situa Pelita. Siapa kau? Kenapa berada di dalam Gua seribu Buddha?”
Kiu-yu-mo-lo melengking terloroh-loroh lagi dengan suaranya seperti bunyi kokok beluk, katanya, “Ternyata ada orang berani menghadang jalan Kiu-yu-mo-lo, berani pula menyebut nama mengagulkan diri dihadapanku.”
Situa Pelita tersentak kaget seperti disengat kala, air mukanya berubah, nenek tua renta ini kiranya adalah salah satu dari Si-gwa-sam-mo yang bernama Kiu-yu-mo-lo. Lima puluh tahun sudah tak pernah ketemu, ternyata sekarang muncul lagi dikalangan Kangouw….
Sejenak ia tenangkan pikiran, lalu berpikir, “Terhadap Ang-hwat-lo-mo yang diagulkan sebagai Iblis besar nomor satu di seluruh Bulim masa kini saja aku tidak gentar, masa aku harus takut menghadapi nenek rejot tinggal kulit membungkus tulang ini!” — sambil menyeringai sinis segera ia berkata, “Si-gwa-sam-mo melulu gabungan badut2 kecil belaka, berani begitu sombong mengundal mulut besar!”
Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh kering dua kali, serunya, “Kami bertiga sudah lima puluh tahun tidak muncul di Kangouw, kiranya sudah banyak dilupakan oleh kaum persilatan. Ingin aku melihat betapa tinggi kemampuan para angkatan muda dari kalangan lurus.”
Kiu-yu-mo-lo pelan-pelan meletakan Sutouw Ci-ko di atas tanah, dilain kejap tiba-tiba kedua telapak tangannya sudah terangkat memukul ke arah Situa Pelita dengan dahsyat.
Kelihatannya cara pukulannya biasa saja, namun hakikatnya sudah mengerahkan kekuatan Kiu-yu-ciang-lat yang sangat berbahaya dan ampuh, Segulung angin dahsyat yang dikerahkan dari pukulan tenaga dalam segera menerpa ke arah musuh.
Melihat datangnya serangan dahsyat ini. Situa Pelita tidak berani menyambut dengan cara kekerasan, sebab sekali mengandal kegesitan tubuhnya ia mengegos mundur. Kiu-yu-mo-lo terkial-kial laksana bayangan mengikuti bentuk tubuhnya terbang mengejar tampak kedua telapak tangannya terkembang menggetar, gelombang demi gelombang angin pukulan yang menderu hebat terus bergulung menerjang ke arah Situa Pelita dari berbagai penjuru.
Kontan Situa Pelita merasa tenaga pukulan Kiu-yu-mo-lo adalah sedemikian dingin membekukan darah, kuatir tenaga sendiri tak mampu bertahan dan tak kuat melawan, akhirnya bakal celaka sendiri terpaksa ia main kelit mengandal Ginkangnya yang tiada taranya itu. Namun serta dirinya dirabu sedemikian gencar dengan serangan ganas, timbul juga amarahnya, dalam suatu kesempatan ia berhasil lolos mencelat mundur, serempak ia tarikan juga kedua kepalan tangannya memukul dengan kekuatan tenaganya memukul miring dari samping kiri, berbareng tubuhnya mencelat terbang mumbul terus mendesak maju, tahu-tahu telapak tangannya sudah terjulur menampar pipi Kiu-yu-mo-lo dari sebelah pinggir.
Melihat orang berkelahi main sergap dan tidak berani melawan secara berhadapan, Kiu-yu-mo-lo menjenget dingin, enteng sekali telapak tangannya kiri terangkat terus memapak ke arah tamparan Situa Pelita.
Dalam melancarkan serangannya ini Situa Pelita sudah matang dalam perhitungan, melihat aksi lawannya ini, selicin belut tahu-tahu ia menyergap ke belakang orang, sembari lancarkan pukulan dahsyat juga, sasarannya adalah punggung Kiu-yu-mo-lo.
Lima puluh tahun yang lalu nama Kiu-yu-mo-lo sudah cukup menggetarkan berbagai kalangan persilatan, sudah tentu ia punya bekal kepandaian yang lihay, masa mandah saja diserang oleh Situa Pelita, tidak kalah gesitnya tubuhnya berputar, lagi-lagi telapak tangannya kanan sudah memapak menangkis pula.
Situa Pelita menjadi gusar, batinnya, “Masa kekuatan pukulan dua telapak tanganku tidak kuasa melawan sebuah pukulan tanganmu?” seiring dengan pikirannya, serempak kedua telapak tangannya menghantam dengan kekerasan tujuannya hendak memukul mundur Kiu-yu-mo-lo.
Namun Kiu-yu-mo-lo sendiri juga tahu bahwa lawannya ini tidak boleh dipandang ringan, masa begitu goblok ia mau menempuh bahaya, jurus permainannya ini tidak lain hanyalah pancingan belaka, gerak geriknya serba guna bisa kosong dapat diisi juga. Begitu Situa Pelita mendesak maju, cepat sekali ia menarik tangannya kanan, berbareng tubuhnya berputar terbang, beruntung kedua kepalan tangannya menggenjot bergantian kepada Situa Pelita.
Melihat lawan bermain begitu lincah dan berbuat licik, mendadak mencebak dengan pukulan berisi menjadi kosong, keruan bukan kepalang kejut Situa Pelita, tak kalah sebatnya ia berloncatan, sambil mainkan pukulannya secara gencar, namun usahanya sia-sia untuk membendung arus tenaga pukulan lawan, akhirnya terpaksa ia harus menyembut dengan kekerasan.
Dengan menyeringai dingin Kiu-yu-mo-lo kerahkan tenaganya, Situa Pelita menyambut dengan tergesa-gesa, begitu kedua pukulan saling beradu, seketika ia rasakan segulung hawa dingin meresap ke dalam telapak tangannya terus merembas masuk ke dalam badan melalui sendi2 tulang dan urat nadinya.
Sudah tentu tersirap kaget Situa Pelita, cepat ia empos semangat dan kerahkan hawa murni untuk menutup semua jalan darahnya, namun demikian tak urung mukanya sudah pucat pasi tak enak dipandang.
Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh mengumbar rasa puas yang tak terhingga, tubuhnya mencelat naik dan menerjang kembali dengan pukulan hebat yang mendampar laksana hujan topan diprahara mengincar kepala Situa Pelita.
Situa Pelita insyaf bahwa dirinya sudah terluka dalam yang cukup parah, mana berani ia melawan dan mengulur waktu lagi, dasar Ginkangnya memang hebat luar biasa, seenteng asap badannya melambung tinggi terus terbang laksana burung camar melarikan diri sipat kuping.
Karena menguatirkan keadaan Sutouw Ci-ko, maka Kiu-yu-mo-lo segan mengejar, cepat ia putar balik, dilihatnya Sutouw Ci-ko masih berdiri menjublek disana tanpa bersuara, begitu tenang dan agaknya sangat asjik menonton pertempuran yang hebat tadi sehingga tidak ingin tinggal pergi.
Diam-diam Kiu-yu-mo-lo mengucapkan syukur dalam hati, bila Sutouw Ci-ko mau lari, waktu Situa Pelita baru datang tadi mestinya ia punya cukup waktu untuk melarikan diri, bagaimana juga ia tidak akan mampu mengejar, apalagi tentu Situa Pelita akan melibatkan dirinya dan merintangi dirinya mengejar. Walaupun ia tidak takut menghadapi Situa Pelita, namun tak perlu disangsikan lagi pasti Sutouw Ci-ko sudah berkesempatan menghilang. Sekarang kenyataan dia tetap berdiri disitu, jelas sudah rela mengikuti dirinya.
Sebetulnya Sutouw Ci-ko punya perhitungannya sendiri, bila mau lari sejak tadi memang ia sudah lolos, tapi apakah ia boleh lari? Bukankah dia harus menuntut balas, betapapun tak bisa membiarkan Kiu-yu-mo-lo bebas keluntang-keluntung kemana dia suka. Menurut hematnya dengan kekuatan gabungan gurunya dan Hwi-king Lojin pasti dapat mengalahkan Kiu-yu-mo-lo, namun setelah menyaksikan pertempuran yang seru tadi, diam-diam bercekat hatinya, dengan membekal luka dalam yang cukup parah ternyata Kiu-yu-mo-lo masih kuasa mengalahkan Situa Pelita.
Tengah ia tenggelam dalam renungarunya, terdengar Kiu-yu-mo-lo berseru, “Mari berangkat!”
Waktu Sutouw Ci-ko angkat kepala, tahu-tahu Kiu-yu-mo-lo sudah mengepitnya terus dibawa lari, perjalanan kali ini ditempuh dengan cepat, selama tiga jam Sutouw Ci-ko hanya pejamkan mata, terasa angin menderu keras dipinggir telinganya. yang terpikir dalam benaknya hanyalah Hun Thian-hi, entah bagaimana keadaannya, masih hidup atau sudah mati.
Entah sudah berapa lama lagi, akhirnya Kiu-yu-mo-lo berhenti dan menurunkan Sutouw Ci-ko katanya, “Istirahat dulu sebentar!”
Sutouw Ci-ko membuka mata, ia pandang keadaan sekelilingnya, ternyata mereka berada di atas sebuah bukit, rumput hijau nan subur seperti permadani terbentang luas tak berujung pangkal, di sebelah sana hanya terdapat beberapa buah pohon yang jarang tersebar diberbagai tempat.
Tanpa bersuara Sutouw Ci-ko duduk menggelendot di atas sebuah pohon kecil, otaknya berpikir membayangkan Gurunya, Hwi-king-ouw dan Hun Thian-hi.
Dengan cermat Kiu-yu-mo-lo pandang Sutouw Ci-ko, lama kelamaan hatinya menjadi ketarik pada gadis ini, Sutouw Ci-ko sudah meninggalkan kesan mendalam bagi sanubarinya. Menurut ketenaran namanya, andaikata Sutouw Ci-ko berhasil menunjukkan Buah ajaib, jiwanya juga tidak akan selamat dari tangannya yang sudah lama berlepotan darah. Ia heran dan bertanya-tanya, kenapa Sutouw Ci-ko tidak melarikan diri. Ia heran apa yang tengah dipikirkan Sutouw Ci-ko? Apakah dia selalu terkenang akan adiknya? Maka bertanyalah ia, “Tok-sim-sin-mo jauh lebih telengas dari aku, adikmu itu mungkin tidak terlepas dari kekejamannya.
“Berkat buah ajaib pasti aku dapat menyembuhkan luka-luka dalamku, tatkala itu pasti aku bantu kau menuntut balas, ingin aku angkat kau sebagai muridku ….”
Sutouw Ci-ko tetap bungkam dan tidak bergerak, Kiu-yu-mo-lo menjadi rada gemas, katanya, “Bagaimana,” selamanya aku belum ketarik pada seseorang apa kau tidak senang dan sudi menjadi muridku?”
Melihat Sutouw Ci-ko tidak memberi reaksi, Kiu-yu-mo-lo menjadi dongkol, desisnya, “Bagaimana? selamanya aku belum pernah penujui orang, sekarang kuangkat kau menjadi muridku apa kau tidak kegirangan?”
Sutouw Ci-ko mengerling, katanya sesaat kemudian, “Kalau bukan karena adikku itu, aku tiada minat untuk hidup lagi, bila benar-benar dia telah meninggal, apa pula artinya aku hidup merana?”
“Jadi kau tidak ingin hidup?” jengek Kiu-yu-mo-lo tertawa kering, “Lima puluh tahun lamanya aku dikurung di dalam Jian-hud-tong oleh Ka-yap Cuncia, tapi aku ingin hidup, sebaliknya di alam bebas begini kau ingin mati.”
Sutouw Ci-ko menunduk tak bicara lagi. Kata Kiu-yu-mo-lo lebih lanjut, “Apa betul orang itu adalah adikmu? Dari nada dan rasa prihatinmu kulihat bukan melulu antara kakak beradik saja hubungan kalian.”
Tergetar sanubari Sutouw Ci-ko, pelan-pelan ia mendongak memandang langit nan cerah membiru, ia membatin, “Apa betul? Mati hidup Hun Thian-hi kau jadikan pegangan mati hidupmu, hubungan ini memang melampaui hubungan antar kakak beradik.”
“Apa betul dia adalah adik kandungmu?” desak Kiu-yu-mo-lo dengan sinis.
“Kau tidak perlu urus soal ini, itu adalah urusanku sendiri.” senggak Sutouw Ci-ko gemas.
Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh dingin, ejeknya, “Sekarang kau pikirkan dia. juga tak berguna, dia tentu sudah mampus, jenazahnya saja kau tak mampu melihat dan menemukan lagi. Maka turutlah nasehatku, kelak aku akan bantu kau menuntut balas, kalau tidak, huh, aku kuatir jiwamu sendiripun kau tak mampu menjaganya.”
Sutouw Ci-ko tertawa tawar acuh tak acuh, diam-diam ia tengah terpekur apakah perlu ia harus menggantungkan mati hidup dirinya kepada keselamatan Hun Thian-hi.
Terdengar Kiu-yu-mo-lo mendengus dan berkata, “Mari melanjutkan perjalanan lagi!” tanpa menanti Sutouw Ci-ko membuka suara, sekali jinjing terus dikempitnya dibawa lari bagai terbang.
Tanpa terasa tiga hari telah berlalu, dengan menjinjing tubuh Sutouw Ci-ko, hari itu Kiu-yu-mo-lo sudah tiba di pesisir danau kaca terbang, keadaan Hui-king-ouw hening tentram, di pinggir danau tumbuh sebarisan pohon-pohon bunga Bwe yang rindang, di sebelah timur dan barat kedua tepi danau tampak dibangun sebuah gubuk dari anyaman daun-daun welingi.
Sampai disini baru Kiu-yu-mo-lo merasa lega dan menghela napas panjang, setelah menurunkan Sutouw Ci-ko ia berkata, “Sudah tiba di Hwi-king-ouw, dimana tempat buah ajaib, lekas bawa aku kesana!”
Dari kejauhan Sutouw Ci-ko mendelong mengawasi gubuk sebelah timur, hatinya kebat-kebit dan segan, meski sejak kecil ia dibesarkan oleh gurunya, namun betapapun ia sudah diusir dari perguruan, apakah ada muka ia menemui gurunya lagi.
“Ajo, lekas!” desak Kiu-yu-mo-lo gegetun.
Sesaat Sutouw Ci-ko menjadi sangsi, teringat olehnya kata-kata Hun Thian-hi terhadap dirinya tempo hari, tanpa merasa pelan-pelan ia menggerakkan langkahnya menuju ke arah gubuk itu.
Melihat Sutouw Ci-ko menuju ke arah gubuk itu, timbul rasa curiga Kiu-yu-mo-lo, tanyanya, “Kemana kau!”
“Gubuk itu adalah tempat tinggalku, sudah lama aku berdiam disana.”
“Maksudmu kau tinggal dalam gubuk itu menjaga buah ajaib itu?”
Dengan sangsi Sutouw Ci-ko manggut, kakinya melangkah terus.
Orang yang tinggal dalam gubuk sudah mendengar percakapan dan kedatangan mereka, tampak pintu terbuka keluarlah seorang perempuan pertengahan umur, begitu melihat Sutouw Ci-ko berubah air mukanya, putar tubuh terus masuk ke dalam gubuk lagi.
Melihat gelagat yang ganjil ini Kiu-yu-mo-lo menyeringai dingin, tanyanya, “Siapa dia? Akal busuk apa yang tengah kau rancang?”
Sekilas tadi Sutouw Ci-ko sudah melihat gurunya Pek-bwe Siancu Tang Siau-hong, namun gurunya tak mau peduli lagi pada dirinya, saking duka air mata mengembeng di kelopak matanya, otak menjadi bebal sehingga ia tidak hiraukan pertanyaan Kiu-yu-mo-lo.
“Jangan kau main gila dengan aku,” demikian kata Kiu-yu-mo-lo, “aku tidak gampang bisa kau tipu!” — lalu sebelah tangannya mencengkeram jalan darah di pundak kiri Sutouw Ci-ko, katanya pula, “Selama ini aku tidak membuat kau menderita, ketahuilah belum pernah selama hidup aku memberi kelonggaran kepada tawananku.” — lalu ia terkekeh-kekeh begitu kelima jarinya mencengkeram semakin keras, seketika Sutouw Ci-ko rasakan seluruh badan lemas lunglai tak bertenaga lagi, tanpa kuasa ia meloso roboh di tanah.
Pintu gubuk terbuka lagi, tampak Pet-bwe Siancu dengan muka merengut membesi dingin membentak seraya menuding, “Hentikan! Siapa bernyali besar berani bertingkah di danau kaca terbang!”
Kiu-yu-mo-lo terkial-kial dingin, tangannya melepas Sutouw Ci-ko, tiba-tiba tubuhnya melejit terbang secepat kilat tahu-tahu sudah berada dihadapan Tang Siau-hong, sembari menyeringai dingin ia mendesis, “Lima puluh tahun aku tidak muncul di Kangouw, kiranya tiada seorangpun yang kenal lagi kepada aku.”
Sebenar-benarnya Tang Siau-hong tahu siapakah sebetulnya Kiu-yu-mo-lo itu, serta melihat keadaan Sutouw Ci-ko yang mengenaskan rebah di tanah, hatinya menjadi gusar, semprotnya, “Kenapa begitu kejam kau aniaja anak kecil.”
Kiu-yu-mo-lo tertawa aneh, dulu golongan hitam atau putih bila mendengar namanya saja mesti lari terbirit2 ketakutan, namun sekarang tiada seorang pun yang memberi muka kepadanya, semakin pikir semakin jengkel, pikirnya; Kalau aku tidak memberi tanda mata apa-apa, tentu kalian tidak akan ingat siapa aku ini.
Tiba-tiba secepat kilat kedua telapak tangannya berkiblat terus menghantam ke arah Tang Siau-hong.
Berdiri alis Tang Siau-hong, meski pun Sutouw Ci-ko sudah diusir dari perguruan, namun rasa kasih sayangnya terhadap gadis remaja yang diasuhnya sejak kecil masih tetap kental, sudah tentu ia tidak tinggal diam melihat orang menganiaja Sutouw Ci-ko begitu rupa, dengan murka ia pun menggerakkan kedua tangannya memukul ke arah Kiu-yu-mo-lo. Sedetik sebelum kedua pukulan lawan saling bentur, sekonyong-konyong ia merasakan firasat jelek, segesit tupai melompat enteng sekali ia jejakkan kakinya jumpalitan mundur ke belakang. Terdengar Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh menggila, kedua telapak tangannya ditarikan semakin cepat dan melancarkan serangan yang gencar. Untuk sesaat Tang Siau-hong yang belum sempat pernahkan diri menjadi kelabakan dan terdesak di bawah angin, sedikitpun ia tidak mampu balas menyerang.
Pada saat itulah pintu gubuk disebelah utara sana terbuka, melangkah keluar seorang kakek tua, yaitu Hwi-king Lojin adanya. melihat pertempuran yang gawat ini, segera tubuhnya mencelat terbang, ditengah udara ia bersuit panjang melengking tinggi, seenteng burung walet tubuhnya beirlari terbang melewati permukaan air danau terus menerjang ke arah Kiu-yu-mo-lo.
Melihat Hwi-king Lojin menyerang datang, bertambah murka hati Kiu-yu-mo-lo. Dia insaf bahwa dirinya terluka dalaim yang cukup parah, kalau satu lawan satu jelas ia lebih unggul dan pasti menang, namun melawan keroyokan dua orang ia menjadi mati kutu, terang tenaganya bakal terkuras habis untuk membela diri saja.
Sebat sekali kakinya melangkah berputar, selicin belut selincah kera ia berloncatan mencari posisi penyerangan dari berbagai penjuru, bertempur main petak melawan kedua lawannya.
Semakin tempur diam-diam Hwi-king Lojin bertambah kejut, kecuali Bu-bing Loni belum pernah ia menemukan musuh sehebat dan setangguh seperti nenek rejot ini. Segera ia membuka suara bertanya kepada Tang Siau-hong, “Siau-moay! Siapa dia, ini?”
“Kiu-yu-mo-lo!” sahut Tang Siau-hong singkat.
Terperanjat Hwi-king Lojin serunya, “Bangkotan tua renta ini ternyata merajap keluar lagi dari liang kuburnya!”
Kiu-yu-mo-lo berteriak melengking saking gusar mendengar olok2 orang, kedua telapak tangannya bergerak seperti kupu2 lincah menari di atas kuntum bunga. Tapi kepandaian Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong tidaklah lemah, apalagi lwekang Hwi-king Lojin jauh lebih tinggi dari Tang Siau-hong, dengan gabungan kekuatan mereka, untuk waktu dekat mereka berhasil mendesak Kiu-yu-mo-lo di bawah angin.
Kiu-yu-mo-lo berkaok2 dengan beringas seperti kesetanan gerak-geriknya seperti serigala kelaparan yang ingin menelan bulat2 lawannya, namun sedemikian jauh ia terdesak dan tak mampu menempati posisi yang lebih menguntungkan. Sekejap saja ratusan jurus sudah berlalu, Kiu-yu-mo-lo insaf bahwa bertempur terus tidak akan menguntungkan dirinya, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul, beruntun ia tepukan telapak tangannya berantai empat lima kali, waktu Hwi-king dan Tang Siau-hong menyambut pukulannya, sigap sekali tubuhnya melayang jauh terus meluncur turun disamping Sutouw Ci-ko, sekali raih ia cengkeram tengkuk Sutouw Ci-ko.
Tercekat hati Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong mereka menjadi keder dan kuatir atas keselamatan Sutouw Ci-ko, sesaat mereka berdiri melongo tak berani bertindak lebih lanjut.
Kiu-yu-mo-lo menyeringai iblis, desisnya, “Ketahuilah hari ini aku sedikit terluka, maka kuhentikan saja pertempuran sampai disini.”
Dengan mengalirkan air mata Sutouw Ci-ko berteriak kepada Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong:
“Suhu, Supek, jangan kalian hiraukan aku, bunuh saja iblis laknat ini!”
Kiu-yu-mo-lo menjadi geram, dengan jengkel tangan kanannya bergerak, beruntum ia tutuk beberapa tempat jalan darah penting ditubuh Sutouw Ci-ko. Kontan Sutouw Ci-ko mengeluh panjang terus jatuh pingsan.
Kejut dan perih perasaan Tang Siau-hong, baru saja ia hendak memburu maju, namun sorot panjangan Kiu-yu-mo-lo yang tajam bengis mengancam itu mengurungkan niatnya.
Sebetulnya ia sudah sangat benci dan tidak mau gubris lagi Sutouw Ci-ko, seumpama Sutouw Ci-ko mati ia pun takkan bersedih, dasar sifat manusia memang bijaksana dan luhur, melihat anak asuhannya sejak kecil kena siksa dan menderita ia menjadi terpukul perasaannya dan menjadi gugup akan keselamatannya.
Terdengar Kiu-yu-mo-lo mendengus ejek, “Kalau kalian ingin dia tetap hidup hanya ada satu cara untuk menolong jiwanya. Lekas serahkan Kiu-thian-cu-ko kepadaku!”
“Apa?” seru Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong berbareng.
“Bagaimana! Tidak mau serahkan?” desak Kiu-yu-mo-lo mengancam.
Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong mengeluh dalam hati, namun apa daya, terpaksa mereka saling pandang saja tanpa buka suara, dalam hati masing-masing sedang berpikir cara bagaimana mencari akal untuk mengatasi situasi tegang ini.
“Jiwa bocah ini sebagai tumbal dari buah ajaib itu terserah cara bagaimana kalian hendak menyelesaikan jual-beli ini.”
Setelah merenung sesaat lamanya, Tang Siau-hong buka bicara, “Apakah yang kau maksudkan Kiu-thian-cu-ko?”
“Benar-benar!” dengus Kiu-yu-mo-lo, cahaya matanya memancar terang, “Muridmu ini membawa aku kemari, tentu kau juga tahu dimana jejak buah ajaib itu!”
Hati Tang Siau-hong menjadi rada marah dan sesalkan tindakan Sutouw Ci-ko yang ceroboh dan brutal itu, hidungnya mandah mendengus tanpa buka suara lagi.
Segera Hwi-king Lojin menalangi, setelah tertawa kering ia berkata, “Gurunya pun tidak tahu dimana buah ajaib itu berada, justru karena dia tidak mau beritahu kepada gurunya maka gurunya ini mengusirnya dari perguruan. kalau mau tanya, silakan tanya kepadanya saja!”
Mereka maklum bahwa maksud tujuan kedatangan Kiu-yu-mo-lo adalah buah ajaib itu, maka segala tanggung jawab urusan ini ditumplekkan kepada Sutouw Ci-ko, demi mencapai tujuan dan hasratnya tentu Kiu-yu-mo-lo takkan mencelakai jiwa Sutouw Ci-ko.
Dengan memicingkan mata Kiu-yu-mo-lo pandang air muka kedua musuh tua ini ganti-berganti dengan cermat, diam-diam hatinya mengumpat caci akan kelicikan akal Sutouw Ci-ko, serta merta terbayang olehnya waktu Tang Siau-hong pertama kali melihat Sutouw Ci-ko tadi sikapnya memang kurang senang dan tak mau gubris padanya. Sejenak ia berpikir, lalu berkata, “Baik! Sementara ini aku percaya akan obrolan kalian, akan kuperas keterangannya.” — selesai berkata ia memutar tubuh hendak tinggal pergi.
“Nanti dulu!” teriak Tang Siau-hong, melihat orang hendak membawa Sutouw Ci-ko ia menjadi gugup.
“Kenapa?” tanya Kiu-yu-mo-lo sambil berpaling, “Apa kalian hendak menahan aku?” — wajahnya mengunjuk senyum sinis yang menyebalkan.
Hwi-king segera memberi aba-aba kepada Tang Siau-hong serempak mereka bergerak pencar kedua arah cepat sekali mereka mencari kedudukan menggencet Kiu-yu-mo-lo di tengah antara mereka.
Kiu-yu-mo-lo menyeringai dingin, ujarnya, “Kalian sangka aku takut, kalau kalian tidak mau lepas aku, terpaksa kita harus gugur bersama, atau kalian sudah tidak hiraukan lagi mati hidup bocah ini?”
Hwi-king rada sangsi, katanya, “Kalau kulepas kau, apakah jiwanya masih bisa hidup?”
“Itu terserah kepada sikapnya selanjutnya!” jengek Kiu-yu-mo-lo dingin.
“Serbagai murid murtad aku tidak mengharapkan dia lagi,” demikian kata Tang Siau-hong tanpa emosi, “Tapi kami pun tidak bisa melepas kau membuat keonaran di kalangan Kangouw.”
Berubah air muka Kiu-yu-mo-lo, kalau Tang Siau-hong berdua tidak mementingkan jiwa Sutouw Ci-ko dirinya betul-betul bisa konyol di tempat ini.
Dengan tertawa dingin segera ia berkata, “Kau sangka aku takut kepada kamu berdua?” di mulut ia bicara garang, hakikatnya hatinya sangat membenci Sutouw Ci-ko, diam-diam ia menerawang mencari akal cara bagaimana harus meloloskan diri, kalau Sutouw Ci-ko tidak tahu tempat dimana beradanya buah ajaib itu, sungguh ingin rasanya ia bunuh bocah kurang ajar ini.
Mulut Tang Siau-hong memang mengancam dengan angkernya, namun iapun ragu-ragu untuk bertindak Jikalau Sutouw Ci-ko tidak berteriak supaya mereka tidak hiraukan jiwanya lagi, mungkin sekarang ia sudah bertindak demi kepentingan kaum persilatan umumnya, namun situasi sekarang sudah membuatnya serba sulit.
Melihat kedua lawannya tidak bergerak, diam-diam timbul rasa curiganya, pikirnya, “Bukankah kalian juga tidak tega melihat kematian Sitouw Ci-ko? Sama saja mereka pun ingin mendapatkan buah ajaib itu!”
Sejak mula Kiu-yu-mo-lo hanya memikirkan kepentingan pribadinya untuk memperoleh buah ajaib itu, mimpipun ia tidak mengira bahwa sejak permulaan ia sudah masuk perangkap Sutouw Ci-ko.
Sekonyong-konyong timbul sebuah pikiran dalam benaknya; Sekarang aku sedang kepepet, kalau mereka ngotot menahan aku, aku pun tak mampu meloloskan diri, sepucuk buah ajaib itu berbuah enam butir, hanya perlu sebutir saja aku sudah cukup, lebih baik kuajak mereka kompromi saja. Sutouw Ci-ko berada di tanganku, masa mereka tidak mau terima saran baikku ini.
Tengah ia berpikir2, tiba-tiba tampak sesosok bayangan orang melambung tiba, begitu menginjak tanah baru terlihat tegas, itulah seorang laki-laki tua bermuka putih tanpa jenggot, begitu melihat kedatangan orang ini bermula Kiu-yu-mo-lo sangat kejut dan heran, namun dalam kilas lain hatinya menjadi kegirangan. Karena orang tua ini bukan lain adalah Pek-kut-sin-mo Pek Si-kiat yang juga telah menghilang selama lima puluh tahun itu, entah cara bagaimana pula ia berhasil lolos dari belenggu.
“Samte!” teriak Kiu-yu-mo-lo kegirangan, “Kau pun datang kesini! Lekas bantu aku.”
Bukan kepalang kejut Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong, Pek-kut-sin-mo juga meluruk datang. Si-gwa-sam-mo malang melintang dan sudah menghilang sejak lima puluh tahun yang lalu dari dunia persilatan, sungguh tak duga hari ini bakal muncul dua diantara tiga, ini benar-benar sangat mengejutkan dan menakutkan.
Kedatangan Pek-kut-sin-mo seketika lebih menyempitkan kedudukan mereka berdua, mungkin untuk mati pun tidak akan bisa dengan jasad tetap utuh. Meski ajal betapa pun harus turun tangan lebih dulu, serempak mereka membentak bersama terus menyerang ke arah Kiu-yu-mo-lo.
Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh. Mendapat bantuan Pek-kut-sin-mo umpama musuh ditamboh dua lagi iapun tak perlu takut, pelan-pelan ia letakkan Sutouw Ci-ko di atas tanah, gesit sekali ia menggerakkan kedua kepelannya menyambut serbuan musuh….
Sedikit bergerak tubuh Pek-kut-sin-mo melesat masuk ke dalam kalangan pertempuran, dimana kedua kepelannya bergerak seketika segulung uap putih dari kekuatan angin pukulannya menyampok mundur Hwi-king dan Tang Siau-hong.
Serasa arwah sudah keluar badan kejut Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong, insaf mereka bahwa diri sendiri bukan lawan musuh, sebat sekali mereka melompat mundur rada jauh, namun begitu mereka segan untuk melarikan diri.
Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh kering, katanya kepada Pek-kut-sin-mo, “Samte! Pek-kut-sin-kangmu jauh lebih maju dari lima puluh tahun yang lalu!”
Kedengaran oleh Pek-kut-sin-mo akan pujian orang yang mengandung rasa kekecutan hatinya maksud tujuannya kemari bukan melulu untuk itu, segera ia buka bicara, “Ji-ci! Apakah bocah ini bernama Sutouw Ci-ko?”
Berubah serius air muka Kiu-yu-mo-lo, sekilas ia menyapu ke arah Hwi-king berdua lalu menjawab, “Benar-benar! Dia tahu dimana buah ajaib berada, kalau ketemu boleh kami bagi dua sama rata dengan kau.”
“Ji-ci terluka di dalam bukan?” tanya Pek Si-kiat dingin
Kiu-yu-mo-lo tersenyum ewa.
Melihat Kiu-yu-mo-lo dan Pek-kut-sin-mo main debat sendiri sudah tentu Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong menjadi senggang dan tidak mau tinggal pergi saja, betapa pun Sitouw Ci-ko harus ditolong.
Sebagai kawan lama sudah tentu Pek Si-kiat tahu tabiat dan karakter Kiu-yu-mo-lo, dengan mendengus ia berkata, “Kalau tidak aku tidak mau turut campur pertikaian kalian”
Dengan sendirinya Kiu-yu-mo-lo juga tahu bahwa Pek-kut-sin-mo selamanya berlaku kejam dan telengas terhadap orang luar, diantara mereka bertiga hanya dia yang berhati jujur dan lapang dada, entahlah kenapa hari ini sikapnya begitu, akhirnya ia membuka suara, “Samte! Apa hendak kau kangkangi sendiri?”
Pek-kut-sin-mo bergelak tawa, serunya, “Ketahuilah Sutouw Ci-ko tidak tahu menahu tentang buah ajaib itu. yang terang aku mendapat perintah dari Ka-yap Cuncia kemari, untuk menolong Sutouw Ci-ko juga untuk minta kembali Hian-thian-pit-kip.”
Laksana geledek mengguntur dipinggir telinganya Kiu-yu-mo-lo melonjak kaget, tiba-tiba ia melengking tinggi seraya melemparkan tubuh Sutouw Ci-ko ke tengah udara begitu keras lemparannya sampai badan Sutouw Ci-ko melambung tinggi dan jauh, berbareng ia sendiri lantas melenting jauh melarikan diri.
Kuatir diketahui oleh Pek-kut-sin-mo maka waktu melontarkan tubuh Sutouw Ci-ko ia tidak berani membuat cedera ditubuhnya.
Keruan bukan kepalang gusar Pek Si-kiat. Ia insaf bahwa Hwi-king dan Tang Siau-hong tidak akan mampu menolong Sutouw Ci-ko. terpaksa ia melejit tinggi menolong jiwa Sutouw Ci-ko.
Mendengar Pek-kut-sin-mo diutus oleh Ka-yap Cuncia, Hwi-king dan Tang Siau-hong menjadi girang, serempak mereka bergerak bersama Tang Siau-hong memburu ke arah Sutouw Ci-ko sedang Hwi-king Lojin mengejar dan merintangi jalan mundur Kiu-yu-mo-lo.
Dilain pihak Kiu-yu-mo-lo tahu bahwa dirinya bukan tandingan Pek-kut-sin-mo, maka begitu melejit jauh terus lari sipat kuping, waktu Hwi-king Lojin mengejar tiba di belakang dan menyerang dengan sebuah pukulan tangan. ia mandah saja kena hantaman sampai muntah darah, mulutnya berteriak kesakitan, suaranya serak dan panjang sampai bergema dialam pegunungan, namun kakinya bergerak lebih cepat lagi, sebentar saja ia sudah menghilang.
Waktu Pek-kut-sin-mo berhasil menolong Sutouw Ci-ko, sementara Kiu-yu-mo-lo pun sudah lari jauh, dengan gegetun ia membanting kaki, sungguh ia sangat menyesal terburu nafsu membuka mulut. Tapi nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun sudah kasep.
Dengan mendelong Tang Siau-hong mengawasi Sutouw Ci-ko ditangan Pek-kut-sin-mo, ia tidak berani maju memapah. Setelah berkeluh kesah sendiri baru Pek Si-kiat teringat akan Sutouw Ci-ko yang dipondongnya itu, cepat-cepat ia membebaskan tutukan jalan darah Sutouw Ci-ko.
Pelan-pelan Sutouw Ci-ko membuka mata, setelah celingukan kekanan kiri, tiba-tiba merangkak bangun terus berlutut dihadapan Tang Siau-hong, serunya sesenggukan, “Suhu!”
“Siapa Suhumu?” jawab Tang Siau-hong ketus.
Tangis Sutouw Ci-ko semakin jadi, terdengar Pek Si-kiat bertanya, “Apa yang telah terjadi, coba tuturkan kepada aku!”
Kesannya sangat baik terhadap Hun Thian-hi, melihat keadaan Sutouw Ci-ko yang bersedih ini tak tertahan lagi lantas mengajukan pertanyaan. Sutouw Ci-ko angkat kepala, dia tahu bahwa orang tua irnilah yang tadi membebaskan tutukan jalan darahnya, melihat sikap kaku dan kukuh Tang Siau-hong terpaksa ia menjawab pertanyaan Pek Si-kiat, “Te-rima kasih pada Cianpwe telah menolong jiwaku.”
Pek Si-kiat menyengir dengan girang, seolah-olah baru pertama kali inilah selama hidup ia pernah berbuat kebaikan, sekarang baru pertama pula ada orang menyatakan terima kasih kepadanya. Setelah mengawasi Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong lalu ia berkata tertawa, “Bocah ini baik dan cantik rupawan lagi, untuk urusan apa kalian tidak mau kenal dia lagi?”
Tahu bahwa Pek-kut-sin-mo diutus oleh Ka-yap, Tang Siau-hong mengira bahwa Pek-kut-sin-mo tentu sudah kembali kejalan lurus, terpaksa ia membungkuk serta menyahut, “Cianpwe tidak tahu, sekarang ia sudah menyeleweng….”
Pek Si-kiat merengut dan rada gusar, katanya, “Mungkinkah Ka-yap Taysu menyusuh aku menolong seorang jahat? Jika kau tidak mau, biar dia ikut aku saja!”
Segera Sutouw Ci-ko menyembah lagi kepada Tang Siau-hong. selanya, “Suhu tidak sudi aku kembali, sebetulnya aku belum pernah melakukan kejahatan apa, di dunia ini aku sudah sebatangkara, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi, mohon Subu suka mengakui aku sebagai murid sebelum ajal ini.” — Sampai kata-kata terakhir suaranya hampir lenyap oleh sengguk tangis dan air mata yang membanjir sedih.
“Apa,” teriak Pek Si-kiat keras, “Hun Thian-hi mohon Ka-yap Cuncia supaya aku menolong kau, kenapa kau ingin mati pula?”
“Apa?” Sutouw Ci-ko juga berjingkrak kegirangan, “Apa benar-benar dia?”
Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong beradu pandang, dalam hati mereka berpikir, “Bagaimana bisa terlibat pula dengan Hun Thian-hi!”
“Benar-benar,” jawab Pek Si-kiat, “Dia selamat dan ikut bersama Ka-yap Cuncia diangkat sebagai murid angkat, diberi pelajaran Pan-yok-hian-kang dan Wi-thian-cit-ciat-sek, mungkin dalam satu setengah tahun ini kau tidak bisa bertemu dengan dia.”
Saking kegirangan suara, Sutouw Ci-ko sampai gemetar, katanya tersekat, “Aku….aku mengira dia
tentu sudah mati!” — Sekarang dia menangis karena kegirangan.
Mendengar semua kejadian ini melulu karena tujuan dan kemauan Ka-yap Cuncia. Apalagi Hun Thian-hi yang berjuluk Leng-bin-nio-sin itu juga telah diangkat menjadi muridnya. Ka-yap adalah tokoh teragung nomor satu pada ratusan tahun yang lalu, sungguh tak nyana beliau masih hidup, setiap ucapannya lebih mempertebal kepercayaan dirinya sendiri, hanya kejadian ini benar-benar diluar dugaan.
Sesaat melongo akhirnya Tang Siau-hong bertanya, “Cara bagaimana kau berkenalan dengan Hun Thian-hi?”
Dengan mengembeng air mata, Sutouw Ci-ko menjawab sambil tersenyum senang, “Dia terhitung adik angkatku!”
Dengan tajam Tang Siau-hong menatap Sutouw Ci-ko, dalam hati membatin, “Melihat gelagatnya
bukan melulu hubungan antar kakak beradik …. tapi masih ada Bun Cu-giok lagi, ai, memang sudah ditakdirkan kiranya!”
Terdengar Sutouw Ci-ko berkata lagi, “Bermula dia berangkat kemari bersama aku, dia mendapat tugas dari majikan Ngo-hong-lau untuk menemui Hwi-king Supek!”
“Kakak misanku?” seru Hwi-king Lojin terkejut, “Dimana beliau sekarang?”
Sutouw Ci-ko beragu sebentar, lalu menjawab, “Beliau tidak suka orang lain tahu alamatnya. Beliau memberi sebatang Hwi-hong-siau kepada Thian-hi, tapi waktu sampai di Giok-bun-koan kami bentrok dengan seorang tuan yang bernama Situa Pelita, dia melarang kami kemari!”
Hwi-king Lojin tidak tanya lebih lanjut, dengan rawan ia menghela napas.
Dengan tertawa berseri Pek Si-kiat pandang Sutouw Ci-ko sungguh girang dan berterima kasih pula Sutouw Ci-ko, katanya, “Dapatkah aku mengetahui nama Cianpwe yang mulia!”
“Akulah Pek-kut-sin-mo!” jawab Pek Si-kiat sambil tertawa lebar.
Sutouw Ci-ko melengak kaget, rada lama kemudian baru berkata, “jangan kau gertak orang, aku tidak takut.”
Pek Si-kiat terbahak-bahak, serunya, “Hampir saja Hun Thian-hi mampus ditanganku, sungguh kamu berdua bernasib mujur, terjeblos ke dalam Sip-kut-tam tidak mati, kalau orang lain, sudah mati konyol tanpa bekas lagi.”
Sutouw Ci-ko menenangkan hatinya lalu bertanya, “Sekarang dimanakah Hun Thian-hi?”
“Aku juga tidak tahu, cuma hari ini kiu-yu-mo-lo berhasil lolos membawa serta Hian-thian-pit-kip, kelak tentu menimbulkan banyak bencana, Ka-yap Taysu menugaskan banyak urusan yang perlu kulaksanakan. Aku betul-betul ketarik kepada kau, lain waktu aku pasti datang menjenguk kau kemari.”
Sutouw Ci-ko berjingkrak kegirangan, tanyanya, “Kapan kau akan datang?”
“Tidak perlu kuatir untuk menemukan kau? Kau tak usah gelisah!” — demikian kata Pek Si-kiat seraya melambaikan tangan terus berlari pergi dengan cepat.
Pelan-pelan Sutouw Ci-ko membalik badan, dengan penuh rasa kasih sayang Tang Siau-hong mengelus rambutnya serta berkata, “Nak, mungkin aku terlalu terburu nafsu salahkan kau.”
Sutouw Ci-ko menubruk ke dalam pelukan Tang Siau-hong dan menangis gerung-gerung.
“E, eh, kenapa ni? Kukira kau bukan bocah lagi, lima tahun sudah, masa sikapmu masih aleman seperti kanak-kanak” demikian goda Tang Siau-hong.
Sutouw Ci-ko angkat kepala seraya membasut air matanya, pelan mereka menggeser menuju ke dalam gubug sambil berpelukan, saat itu sinar matahari sudah tergantung tinggi ditengah cakrawala.
Waktu mereka memandang sekelilingnya, ternyata Hwi-king Lojin sudah tinggal pergi diam-diam, Tang Siau-hong berdua menjadi geli dan saling pandang.
Ooo)*(ooO
Waktu sinar cahaya sang surja mulai menongol keluar dari peraduannya menyorot sebuah tebing tinggi ratusan tombak, cuaca masih terlalu pagi, tebing itu terlalu tinggi dan lurus lempang, seperti dipapas dengan kapak atau senjata tajam lainnya.
Dibawa tebing sebelah sana pelan-pelan mendatangi seorang pemuda cakap ganteng, pendatang ini bukan lain adalah Hun Thian-hi, setelah sampai di bawah tebing ia mendongak meneliti tebing tinggi ini. Jikalau dapat melampaui tebing tinggi maka di dalam sana adalah sebuah negara kuno yang terasing dari dunia luar di daerah selatan ini yaitu Thian-bi-kok seperti yang dikatakan oleh Ka-yap Cuncia itu.
Menurut pesan Ka-yap Cuncia ia harus memanjat tebing tinggi ini dan menyelundup masuk kenegeri kuno bernama Thian-bi-kok ini.
Setelah meneliti sekian lamanya diam-diam Thian-hi mengerut alis, tebing setinggi ratusan tombak begini cara bagaimana bisa masuk kesana, entah cara bagaimana orang yang menemukan negara kecil itu bisa masuk kesana.
Pelan ia berjalan menyusuri kaki tebing mencari jalan. Tiba-tiba dilihatnya disebuah lekukkan diujung tebing sana ada sebaris retakan batu, garis retak ini sudah penuh ditumbuhi lumut sangat licin susah untuk tempat berpegang atau berpijak, boleh dikata sulit sekali untuk dapat memanjat ke atas.
Sekian lama ia berpikir mencari akal, akhirnya dilolos keluar seruling dipinggangnya, diam-diam ia kerahkan tenaga murni sekali tusuk ternyata mudah sekali serulingnya amblas ke dalam batu tebing. keruan girangnya bukan kepalang, lekas ia keluarkan pula kutungan serulingnya sendiri, tusuk demi tusuk bergantian dengan gegamannya ia mulai merambat ke atas. Entah berapa lama kemudian dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencapai puncak tebing juga, namun terasa kaki linu pinggang pegal, telapak tangan pun lecet. Dengan menghela napas lega ia berpaling memandang kebawah, tebing sedemikian tinggi, setapak demi setapak ia berhasil manjat ke atas, hampir ia tidak percaya akan kenyataan ini.
Setelah beristirahat seperlunya pelan-pelan ia mulai beranjak masuk ke dalam sebuah lembah, di dalam lembah tumbuh hutan lebat, tiada kelihatan jejak manusia seorangpun.
Dengan hati-hati Thian-hi menyusuri hutan lebat ini terus maju ke depan. entah berapa lama kemudian, akhirnya pohon-pohon mulai jarang tibalah ia diujung hutan, lapat-lapat dikejauhan sana kelihatan perumahan orang, ladang sawah nan subur, lebih jauh di depan sana samar-samar kelihatan bentuk sebuah kota.
Dengan saksama Hun Thian-hi memandang ke depan nan jauh sana, dalam hati ia menerawang, betapapun aku harus melihat-lihat situasi dan keadaan kota di depan itu. Begitulah melalui gili2 sawah ia terus maju ke depan, langsung menuju kekota. Tak lama kemudian ia sudah tiba diambang pintu kota, tamtak orang berlalu lalang dengan ramainya, kiranya itulah sebuah kota yang cukup besar. Sambil celingukan kekanan kiri seperti orang desa yang pertama kali masuk kota Hun Thian-hi maju terus ke depan melihat-lihat keadaan kota kuno yang terasing dari dunia luar ini.
Tiba-tiba dilihat orang-orang yang berlalu lalang dikejauhan menjadi ribut dan berlari-lari minggir kedua samping jalan, tampak sebarisan sepasukan seragam hijau membedal kudanya mendatangi bagai terbang. Cepat-cepat Thian-hi juga ikut menyingkir kepinggir, namun sekilas dilihatnya tak jauh di depan sana seorang anak kecil tengah berlari ditengah jalan, tanpa banyak pikir lagi segera ia memburu maju menarik bocah kecil itu, namun saat mana juga barisan berkuda itupun sudah tiba, baru saja Thian-hi hendak gunakan Ginkangnya untuk melesat berkelit, mendadak teringat akan pesan Ka-yap Cuncia, supaya orang lain tidak tahu bahwa dia seorang persilatan, orang-orang yang berkerumun disekitar jalanan itu menjadi menjerit ngeri dan gempar, tak ampun lagi Thian-hi keterjang ke depan, meminjam daya terjangan ini ia menggelundung kesamping sambil mengempit bocah itu.
Kuda itu lantas berdiri dengan kedua kaki belakangnya sambil bebenger panjang. penunggangnya tak kuasa mengendalikan kudanya lagi terus lompat turun. terpaksa rombongan berkuda itu harus berhenti semua.
Dari pinggir jalan sebelah sana memburu seorang gadis dengan muka pucat, katanya kepada Hun Thian-hi. “Banyak terima kasih akan pertolonganmu!” sekali tarik ia terus bopong bocah itu terus bawa lari dan menghilang dipagar manusia yang menonton dipinggir jalan.
Belum lagi Thian-hi sempat inenjawab, tiba-tiba didengarnya sebuah bentakan caci maki, segulung angin menerpa tiba mengarah mukanya, baru saja ia hendak berkelit tapi kuatir diketahui ia bisa main silat terpaksa pura-pura terhujung mundur dan tepat sekali terhindar dari serangan keras yang mengarah mukanya. Melihat lecutannya tidak mengenai sasarannya, orang itu semakin marah, maju setapak ia ayun pula cambuknya menghajar kepada Thian-hi.
Thian-hi tak berani, menghindar lagi, sekali ia berkelit tentu bisa mengunjuk kepandaiannya silat, dia pun tak berani mengerahkan tenaga untuk melawan sekali kena pecut, kontan terasa kulitnya pedas dan kesakitan, waktu matanya melirik baju yang dipakainya sudah kojak2 kena pecutan, kulithja pun membekas segaris merah darah,
Mendapat hasil orang itu semakin bernafsu, lagi-lagi pecutnya terayun tinggi, Thian-hi menjadi berangan, namun apa boleh buat betapapun ia tidak boleh mengunjuk kepandaiannya silat, terpaksa mandah saja kena lecut sampai babak belur.
Sambil menghajar orang itu memaki, “Bocah keparat. Besar nyalimu berani menghalangi perjalanan rombongan dari istana, sudah bosan hidup ya?” — sembari maki pecutnya sekali lagi melecat dengan keras. Baru saja ia hendak meneruskan hajarannya, dari kejauhan tiba-tiba seseorang berteriak mencegah, “Hentikanlah!”
Dari luar kota sana mendatangi serombongan pasukan berkuda, penunggangnya mengenakan seragam Busu, Pemimpinnya yang terdepan adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi besar berusia pertengahan, laki-laki tegap ini bertanya, “Apakah Tan Siangkok ada?”
Begitu melihat laki-laki pertengahan umur ini orang itu berubah air mukanya, cepat ia turunkan tangannya, sahutnya, “Ma-ciangkun, orang ini berani menghadang ditengah jalan, terpaksa harus kuhajar. Joli Siangya sebentar lagi bakal tiba.”
Thian-hi angkat kepala mengamati laki-laki pertengahan yang dipanggil Ma-ciangkun itu, tampak mukanya kereng sikapnya gagah, kedua biji matanya berkilat terang, naga-naganya membekal Lwekang yang cukup tinggi juga.
Ma-ciangkun itu mengamati Hun Thian-hi sebentar lalu berkata, “Kalau begitu jangan sampai mengejutkan Siangkok, orang ini biar kubawa pergi dia berani menghadang jalan, dihajar dua kali lecutan juga sudah cukup, bagaimana menurut maksudmu?”
Cepat orang itu membungkuk, sahutnya, “Cukup hanya sekecap kata saja Ma-ciangkun boleh bawa orang ini.”
Ma-ciangkun manggut kepala lalu mengulapkan tangan ke belakang, seorang bawahannya segera menuntun seekor kuda diberikan kepada Thian-hi, lalu katanya kepada Hun-hian-hi, “Mau kau ikut aku!”
“Terima kasih akan pertolongan Ma-ciangkun!” sahut Thian-hi sambil menekuk dengkul kirinya.
Agaknya Ma-ciangkun itu sudah biasa mendengar pernyataan terima kasih, cukup ia goyang tangan saja terus membedal kudanya ke depan. Sebetulnya Thian hi tidak mau ikut, namun melihat sikap Ma-ciangkun terpaksa ia naik ke atas kuda. Punggungnya ada dua jalur berdarah bekas kena cambukan tadi, semua orang dikedua pinggir jalan yang menonton menjadi bergidik dan mengelus dada, Thian-hi sendiri juga menjadi kikuk dan malu ditonton begitu banyak orang.
Setelah melewati beberapa jalan raja dan membelok kesebuah gang besar tibalah mereka di depan sebuah gedung mentereng, Ma-ciangkun segera melompat turun dari atas kuda, para Busu pengawalnya segera mertuntun kudanya masuk. Dengan langkah tegap dan cepat ia berjalan masuk naik undakan batu hijau, sikapnya sungguh gagah dan penuh wibawa.
Hun Thian-hi tidak tahu orang macam apakah Ma-ciangkun ini namun melihat sikapnya yang gagah dan perwira serta pakaiannya yang serba lengkap dengan pangkat militernya, tentu seorang pejabat tinggi pemerintahan, setelah turun dari kudanya ia berdiri menjublek tak tahu harus berbuat apa.
Setelah beranjak diundakan batu baru Ma-ciangkun seperti teringat kepadanya, segera ia merandek dan berpaling serta menggapai tangan, lalu berjalan masuk lagi.
Melihat orang memanggil dirinya dengan ragu-ragu akhirnya Thian-hi ikut beranjak masuk, setelah melewati pintu besar tibalah mereka disebuah ruang besar, Ma-ciangkun itu menanggalkan jubah perangnya seraya bertanya kepada Thian-hi, “Siapa namamu?”
Thian-hi menjadi sangsi sesaat lamanya, menyebut nama aslinya pun tidak seorang pun yang bakal mengetahui, segera ia menjawab, “Aku bernama Hun Thian-hi!”
Ma-ciangkun manggut-manggut, ujarnya, “Sepak terjangmu dari kejauhan tadi sudah kulihat, kau cukup berani, dengan keadaanmu yang lemah itu kau berani menolong orang, sungguh tidak tahu diri. jikalau bukan karena bernasib baik sejak tadi kau sudah mampus.”
“Terima kasih akan budi pertolongan Ma-ciangkun!” segera Hun Thian-hi menjura.
Kelihatan Ma-ciangkun merasa simpatik terhadapnya, dengan tertawa ia berkata lagi, “Tak perlu ditaruh dalam hati. Kulihat kau seorang sekolahan bukan?”
Tujuan Hun Thian-hi justeru hendak menutupi keadaan dirinya yang sebenar-benarnya, segera ia manggut-manggut serta menjawab dengan hormat, “Benar, benar, aku seorang pelajar!”
Ma-ciangkun tertawa-tawa ujarnya, “Kulihat usiamu masih terlalu muda, apalagi seorang pelajar yang punya keberanian yang pantas dipuji, sungguh sukar didapat, sungguh aku ketarik kepada kau, adakah famili lain dirumahmu?”
“Ajah bundaku sudah lama wafat, hanya aku sebatangkara!”
“Itulah baik,” ujar Ma-ciangkun sesaat berpikir, “Kalau kau sudi, aku punya seorang putra, apakah kau mau jadi gurunya?”
Sungguh girang dan senang Thian-hi sukar dilukiskan. sungguh tak nyana olehnya baru pertama kali ia datang lantas mendapat tempat menetap yang cukup aman dan selamat, setelah terlongong sebentar ia menyaJhut, “Terima kasih kepada Ma-ciangkun!”
“Sejak hari ini juga kau kuangkat menjadi guru anakku dan menempati bilik sebelah barat sana. Aku bernama Ma Bong-hwi, lekas kau pergi ganti pakaian dan menemui aku diruang belakang.” — Selesai bicara terus tinggal pergi ke dalam.
Seorang pelayan segera membawa Thian-hi kesebuah kamar pakaian untuk mengganti bajunya yang sudah butut dan kojak2 tadi. tak lama kemudian ia sudah beranjak menuju keruang dalam.
Gedung panglima besar ini kiranya cukup mentereng dan megah, segala perabotnya serba mewah, seorang pelayan menuntunnya menelusuri serambi panjang yang belak-belok ditanam bunga, lalu memasuki sebuah bangunan besar yang terdiri dari sebuah ruangan besar. Tampak Ma Bong-hwi sudah menunggu disana bersanding seorang wanita pertengahan umur.
Selamanya Thian-hi belum pernah menghadapi keadaan serba megah dan angker ini, begitu memasuki kamar besar itu sikapnya menjadi prihatin dan kikuk, dengan laku hormat segera ia memberi hormat kepada Ma Bong-hwi dan wanita pertengahan umur itu.
Disamping perempuan itu berdiri seorang laki-laki berusia 12-an, begitu melihat Hun Thian-hi masuk segera berpaling dan bertanya kepada Ma Bong-hwi, “Ajah, apakah dia ini bakal guruku?”
Ma Bong-hwi manggut-manggut sambil berseri tawa, segera ia silakan Thian-hi duduk.
Tahu Thian-hi bahwa bocah laki-laki ini adalah bakal muridnya itu tanpa merasa ia awasi bocah ini dengan seksama, bocah ini cukup tampan dan jenaka, lincah lagi berani, sepasang biji matanya bundar bening mengawasi Hun Thian-hi tanpa berkedip, kelihatannya sangat nakal.
Segera Ma Bong-hwi memperkenalkan Hun Thian-hi, bocah itu bernama Siau-hou, Perempuan pertengahan umur itu adalah istrinya.
Ma Siau-hou meninggalkan ibunya, maju mendekati ke depan Hun Thian-hi lalu berputar mengelilingi Thjan-hi seperti memeriksa sesuatu barang yang menarik perhatiannya. Hun Thian-hi menjadi jengah dan risi. Dalam hati ia membatin; ‘bocah ini cukup nakal, mungkin rada sukar mengatasinya.’
Segera Ma Bong-hwi mengucapkan kata-kata sapa-sapi sekadarnya serta menjelaskan keadaan dirinya. dengan patuh Thian-hi mengiakan saja. Akhirnya Ma Bong-hwi surah seorang pelayan mengantar Bun Thian-hi pergi memeriksa kamar dan ruang bukunya.
Di dalam kamar buku ini terletak sebuah harpa, terdapat sebuah meja tulis juga serta beberapa buah kursi, keadaan kamar tidurpun serba lengkap dan nyaman. Dengan menghela napas panjang pelan-pelan ia duduk di atas sebuah kursi, pelayan itu segera minta diri terus keluar pintu.
Diam-diam Thian-hi merasa was-was dan hampir tidak percaya akan pengalaman sendiri, sungguh suatu pengalaman yang cukup aneh dan menggetarkan sanubarinya.
Tengah ya melayangkan pikirannya, mendadak terdengar derap langkah lirih tengah mendatangi, diam-diam ia terkejut, namun ia cukup waspada untuk tidak mengunjuk kepandaian silatnya, terpaksa ia pura-pura tidak dengar saja.
Tak lama kemudian derap langkah lirih itu sudah sampai di depan pintunya, dengan acuh tak acuh Thian-hi pura-pura tidak dengar, di dalam kamar ia berjalan bolak-balik menggendong tangan membelakangi pintu kamar.
Sesaat kemudian baru ia memutar tubuh, tampak orang itu adalah putra Ma Bong-hwi yang bernama Ma Siau-hou itu, dia tengah longak-longok ke dalam. Begitu Thian-hi putar tubuh dan melihat dia, bocah itu menjadi kaget dan mengkeret sembunyi dibalik pintu, sesaat kemudian baru berani berjalan keluar.
Dengan tersenyum Hun Thian-hi segera menyapa, “Ada urusan apa Siau-hou? Kemarilah!”
Pelan-pelan Ma Siau-hou berjalan masuk, dengan terlongong ia awasi Thian-hi, sesaat kemudian baru buka suara, katanya, “Hun-losu (pak guru), aku datang untuk merundingkan suatu hal dengan kau!”
“Ada urusan apa boleh silakan silakan saja!”
“Aku tidak ingin membaca buku. dan kau pun tak usah ajarkan aku membaca?”
“Lalu apa yang hendak kau pelajari?”
“Kau bawa sebatang seruling, kau ajarkan aku meniup seruling saja, belajar membaca aku tidak suka!”
Thian-hi merenung sesaat baru menjawab, “Kau mau belajar meniup seruling pun boleh, asal kau sudah belajar membaca lalu kuajarkan kau meniup seruling!”
“Tidak mau! Aku tidak punya begitu banyak tempo. Waktu yang lain aku harus berlatih silat”
Thian-hi menjadi serba sulit, bocah ini sungguh sukar dilayani, akhirnya ia mengada2 saja, “Waktu terlalu panjang untuk belajar, aku bisa mengatur waktumu secukupnya.”
Ma Siau-hou miringkan kepala berpikir. tanpa bicara lagi segera ia berlari keluar. Diam-diam Thian-hi mengerut kening, entah cara bagaimana ia harus menghadapi kebinalan bocah ini.
Tak lama kemudian cuaca sudah mulai gelap, setelah makan malam Thian-hi teringat akan Wi-thian-cit-ciat-sek pemberian Ka-yap Cuncia itu, sembunyi di dalam kamar tidurnya pelan-pelan ia keluarkan buku itu dan dibaca di bawah penerangan pelita. Omslag buku tipis itu terbuat dari sutra halus, dengan saksama ia periksa dari halaman ke halaman terakhir, buku itu melulu memuat gambar2 manusia dalam berbagai bentuk dengan keterangan huruf yang cekak saja. Seluruhnya ada tujuh jurus gerak pedang serta empat posisi duduk. Keempat posisi duduk ini kelihatan rada baru, mungkin tambahan belum lama berselang. Diam-diam Thian-hi membatin mungkin inilah posisi duduk pelajaran dari ilmu Pan-yok-hian-kang,
Dengan saksama Thian-hi memeriksa dan mempelajari ajaran Wi-thian-cit-ciat-sek yang menggetarkan kolong langit ini, sesaat ia menjadi melongo, beruntun ia membalik lembar demi lembar, ternyata ketujuh gambar jurus ilmu pedang itu semuanya sama dan persis benar-benar. Keruan bukan main kejut hatinya, setelah diteliti dari sebarisan huruf2 kecil yang memberi keterangan itu baru ia paham duduk perkara sebenar-benarnya, tampak di baris paling depan ada sebuah pernyataan yang cukup serius, huruf2 itu berbunyi; Perhatian: Tanpa mempelajari Pan-yok-hian-kang, takkan dapat menyilami intisari Wi-thian-cit-ciat-sek.”
Baru sekarang Thian-hi dapat menghela napas berlega hati, segera ia tutup buku itu, rada lama kemudian baru ia buka pula, setelah sampai halaman terakhir ia amat-amati posisi2 duduk itu dengan seksama, dibawahnya ada kalimat yang memberi penjelasan dan keterangan prakteknya dengan sempurna.
Perlahan-lahan ia mendongak sambil menepekur sesaat kemudian baru mendadak seperti teringat memahami, sekali lagi ia meneliti keempat posisi duduk itu, lalu memadamkan pelita, duduk bersila mulai memusatkan pikiran dan berlatih.
Di luar dugaan latihannya berhasil dengan baik, hawa murni dapat dituntun berputar selingkaran dalam tubuhnya, waktu ia membuka mata terasa badannya enteng segar dan nyaman, keruan girang hatinya bukan buatan, memandang keluar jendela, kelihatan cuaca sudah terang tanah.
Segera ia bangun dan berjalan keluar, dengan langkah ringan ia memasuki taman bunga. Mendadak didengarnya suara orang mendatangi, sekilas saja lantas ia tahu itulah Ma Bong-hwi beserta anaknya, mereka tengah mendatangi ke arahnya. Thian-hi berpaling ke kanan kiri, jelas tiada tempat untuk sembunyi terpaksa pura-pura tidak tahu dan tidak dengar saja terus berlenggang ke depan sambil menikmati bunga2 yang mekar segar.
Sebentar saja Ma Bong-hwi dengan Ma Siau-hou sudah mendekat, begitu melihat Hun Thian-hi, Hun Thian-hi segera menyapa lebih dulu, “Ma-ciangkun! Selamat pagi!”
Ma Bok-hwi juga berseri tawa, sahutnya, “Kau juga bangun pagi2 benar-benar, matahari belum lagi terbit kau sudah berada disini. Apakah semalam tidurmu nyenyak?”
Belum lagi Thian-hi sempat menjawab, dari samping Siau-hou sudah menyela dengan suara keras, “Kenapa ayah perlu tanya lagi, tentu dia mengatakan tidur nyenyak sekali.”
“Hus, bocah kecil sembarangan omong!” segera Ma Bong-hwi membentak anaknya.
Thian-hi mandah tertawa tawar saja tanpa bersuara.
Siau-hou berkata lagi, “Ajah! Pak guru pintar meniup seruling, suruh dia mengajar aku. Aku tidak mau belajar membaca.”
Ma Bong-hwi pelototi Siau-hou lalu berkata kepada Hun Thian-hi, “Kau bawa sebatang seruling, tentu kau pandai meniupnya, kalau ada tempo tiada halangannya kau ajarkan Siau-hou.”
Hun Thian-hi tersenyum, jawabnya, “Seruling ini kuperoleh dari seorang Cianpwe sebagai tanda kenangan. Aku sendiri tidak begitu baik meniupnya, digantung disini juga sebagai perhiasan saja!”
“Pak, guru!” seru Siau-hou sambil berlari ke depan Hun Thian-hi, “bolehkah pinjam lihat serulingmu ini?”
Hun Thian-hi tanggalkan serulingnya lalu diberikan kepada Siau-hou, dengan saksama Siau-hou membolak-balik dengan semaunya, katanya, “Bagus sekali Bolehkah kuperlihatkan kepada bibiku?”
“Siau-hou,” segera Ma Bong-hwi membentak, “lekas kembalikan, mana boleh begitu nakal.”
Dengan cemberut dan monyongkan mulut Ma Siau-hou angsurkan kembali seruling itu kepada Thian-hi.
Ma Bong-hwi berkata lagi, “Aku akan berlatih silat kesana dengan Siau-hou, silakan kau jalan-jalan dalam taman bunga ini.”
Thian-hi manggut sambil mengiakan. mengantar Ma Bong-hwi dan putranya pergi jauh dengan pandangan mendelong, dalam hati ia membatin; ‘bocah ini sungguh binal dan susah dilayani.’
Hun Thian-hi tak punya selera jalan-jalan lagi, setelah berputar rada jauh lalu kembah ke kamarnya. Setelah makan pagi, tampak Ma Siau-hou berlari datang, tangannya menjinjing sebatang seruling kehitaman terbuat dari besi.
Begitu masuk pintu Ma Siau-hou lantas berlari duduk di atas sebuah kursi bundar katanya tertawa kepada Thian-hi, “Kau boleh mulai ajarkan aku meniup seruling. Baru saja kutemukan. seruling ini!”
Hun Thian-hi mengerut kening, katanya, “Baik! Lagu apa yang suka kau pelajari?”
Ma Siau-hou berpikir sambil miringkan kepalanya, pikir punya pikir akhirnya ia berkata, “Aku juga tidak tahu, lagu apa yang sering dipetik oleh bibi.” Berhenti sebentar lalu melanjutkan sambil loncat berdiri, “Kau tunggu sebentar, ada sejilid buku musik, biar kuambil kemari.” Habis berkata lalu berlari-lari pergi.
Thian-hi jadi berpikir cara bagaimana baru ia berhasil memberi pelajaran kepada Ma Siau-hou, tak lama kemudian Ma Siau-hou memburu tiba pula serta berseru kepada Thian-hi, “Coba lihat, kubawa kemari!”
Begitu melihat buku yang dibawa Ma Siau-hou itu kontan berubah air muka Hun Thian-hi. Buku musik yang tipis dan sudah tua itu di atas sampulnya ada tertera tulisan yang berbunyi, “Tay-seng-ci-lao.” (Lagu sempurna abadi).
Hun Thian-hi adalah murid Lam-siau (seruling selatan), aliran Lam-siau dapat menggetarkan Bulim lantaran ilmu pelajaran Thian-liong-cit-sek dan Siau-im-pit-hiat, terutama pelajaran menutuk jalan darah menggunakan gelombang irama serulingnya ini, sudah tentu hasil pelajaran yang sempurna ini membuat Hun Thian-hi tambah luas dan dalam mengenai pengetahuan musik, waktu mulai terjun kedunia persilatan ia sudah menggemparkan Kangouw karena berhasil menutuk roboh begitu banyak gembong silat ternama, namun sejak itu tiada kesempatan menggunakan lagi, sebab setiap musuh yang dijumpai belakangan Lwekangnya semua cukup tinggi dan lebih lihay dari kemampuannya.
Dari penuturan gurunya ia tahu bahwa waktu kakek gurunya masih hidup, hanya karena dapat mencangkok sebagian dari “Tay-seng-ci-lao” ini sehingga ia cukup malang melintang menjagoi Kangouw. Tapi sejak kakek mojang meninggal pelajaran ini tidak diturunkan kepada gurunya, sekarang, Tay-seng-ci-lou ternyata muncul di tempat ini. Betapa ia takkan kejut dan heran.
Sebelumnya ia tidak pernah perhatikan siapakah bibi Siau-hou itu tapi sekarang membuatnya was-was dan waspada, gedung besar ini kiranya juga menyembunyikan seorang tokoh aneh, semula ia menyangka dirinya bisa aman dan tentram sembunyi di tempat ini, ah sungguh menggelikan.
Sebentar ia mem-balik-balik, airmukanya semakin pucat, cepat ia berkata dengan nada rendah, “Siau-hou! Kau tak boleh ambil buku ini, lekas kembalikan!”
Baru saja suaranya lenyap, muncullah seorang gadis diambang pintu kamarnya, begitu Siau-hou menoleh lantas berdiri dan berteriak, “Bibi!”
Gadis itu tanpa buka bicara, cepat-cepat ia meraih buku Tay-seng-ci-lao itu lalu bergegas keluar lagi dengan terburu-buru.
Gadis itu pergi datang begitu cepat, sehingga Thian-hi tak berhasil memperhatikan wajahnya, yang jelas ia mengenakan pakaian serba hijau mulus, perawakannya langsing menggiurkan, selain itu tiada apa yang dapat disimpulkan. Namun untuk sekilas saja cukup membuat jantung Thian-hi mendebur keras, diam-diam ia mengeluh celaka, kalau darinya pura-pura tidak tahu masih mending, tadi ia suruh Siau-hou mengembalikan, kalau ucapannya ini didengar oleh bibinya itu, wah, bukankah membongkar jejaknya sendiri.
Sesaat kemudian baru pikirannya tenang kembali, dilihatnya Siau-hou masih menjublek diam, akhirnya ia angkat kepala berkata kepada Thian-hi, “Selamanya bibi belum pernah bersikap begitu kasar terhadap Siau-hou, buku itu telah direbutnya kembali.”
Hati Thian-hi semakin gelisah, lebih jelas lagi ucapan Siau-hou, bahwa bibinya itu tentu sudah mengetahui kedok aslinya. Pikir punya pikir akhirnya ia keluarkan serulingnya, katanya, “Kau ingin belajar meniup seruling? Tapi kau harus tahu, untuk meniup seruling sebelunnnya kau harus belajar teorinya dulu, dan untuk mempelajari teori ini kau harus belajar membaca pula, semakin pintar membaca, cara meniup serulingnya pun semakin bagus.”
Habis berkata ia angKat serulingnya, mulai meniup sebuah lagu kanak-kanak yang sangat popular di Kang-lam, yaitu lagu ‘dendang jenaka’, iramanya mengalun lincah dan merdu, sekian lama Siau-hou sampai terpesona mendengarkan.
Mendadak Thian-hi menghentikan lagunya serta berkata, “Siau-hou kau suka lagu ini? Apa kau mau belajar?
Saking girangnya Ma Siau-hou manggut-manggut sekuat tenaganya. Hun Thian-hi ada ganjalan hati, maka segera ia mengakhiri sampai disitu saja, katanya, “Untuk belajar meniup kau harus belajar membaca dulu hari ini cukup sekian saja. Besok boleh dimulai!”
Ma Siau-hou lari pergi berloncatan, diam-diam ia berpikir, aku harus belajar lebih pandai meniup seruling dari guru.
Thian-hi jadi tersenyum geli, tahu ia bahwa Siau-hou sekarang sudah punya kegemaran, apalagi sudah punya kepercayaan terhadap dirinya, mau dengar kata nasehatnya lagi. Entahlah apakah bibinya itu bakal membongkar rahasianya tidak.
Duduk seorang diri di dalam kamar ia menjadi bebal dan gundah. Diam-diam terpikir oleh Thian-hi, “Orang macam apakah sebenar-benarnya bibi Siau-hou itu.”
Begitulah sampai lohor, keadaan masih tetap sunyi aman, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Thian-hi sendiri menjadi tidak sabar lagi segera keluar dari kamar bukunya terus berjalan keluar gedung. Maksudnya. hendak jalan-jalan dan melihat-lihat keadaan kota besar ini, tempo hari ia belum sempat menyaksikan keramaian kota seluruhnya.
Para Centing banyak yang sudah mengenal dirinya, maka dengan leluasa ia dapat keluar gedung. Setelah berada diluar pintu gerbang Thian-hi. menyelusuri jalan be«ar terus berlenggang ke depan, dilihatnya didua sisi jalan semua adalah bangunan gedung besar dan mentereng, naga-naganya jalan ini merupakan komplek perumahan para pejabat tinggi pemerintah setempat.
Thian-hi berjalan terus sambil menikmati pemandangan beraneka warna dari bangunan gedung yang banyak ragam dan modelnya, tapi sebegitu banyak keadaan disini tidak ubahnya seperti keadaan kota2 besar di Tionggoan, boleh dikata tiada perbedaannya yang menyolok.
Thian-hi berlenggang terus ke depan, dari depan sana berjalan pelan-pelan mendatangi seekor kuda putih yang ditunggangi seorang pemuda ganteng mengenakan jubah sutra yang serba perlente. Tangannya pelan-pelan mengayun dan mempermainkan pecut pendek, wajahnya berseri tawa riang gembira, mungkin hatinya sedang senang.
Dimana kudanya lewat orang-orang yang berlalu lalang di jalan segera menyingkir memberi jalan, sedapat mungkin menyingkir jauh, seolah-olah ada sesuatu di atas pemuda itu yang menakutkan.
Thian-hi sendiri menjadi heran, dengan seksama ia perhatikan Kongcu jubah sutra itu, wajahnya kelihatan tersenyum simpul, mulutnya bersiul-siul riang, entah kenapa orang itu menyingkir ketakutan.
Sementara itu tunggangan Kongcu jubah sutra itu sudah mendekat, sekilas dilihatnya Hun Thian-hi berdiri di tengah jalan tiada niat menyingkir, kontan wajahnya cemberut dan kurang senang,
segera ia menghentikan kudanya, baru Thian-hi tersentak sadar, tersipu-sipu ia menyingkir ke pinggir jalan, dalam hati ia membatin, “Sekali2 aku tidak boleh membuat keributan disini!”
Kongcu itu tersenyum lagi, baru saja hendak tinggal pergi, mendadak dilihatnya sebatang seruling putih gading yang tergantung di pinggang Thian-hi itu, segera ia berseru, “Hai, berhenti, kemari kau!”
Hun Thiah-hi melengak, tak tahu dimana ia telah membuat salah terhadap Kongcu ini, setelah membalik tubuh ia berdiri di tempatnya mengawasi Kongcu perlente itu.
“Apa kau tidak kenal aku sebagai putra kesayangan dari Sianghu (istana) yang bernama Tan Goan-mo?” demikian tanya Kongcu itu uring-uringan.
Hun Thian-ki kaget tersipu-sipu ia membungkuk sambil menyapa, “Kongcu! kau baik, entah untuk apa kau panggil aku?”
Tan Goan-mo mendengus hidung, ujarnya, “Ternyata kau kenal aku juga, kenapa tadi tidak menyapa lebih dulu, apa aku dulu yang harus menyapa kepada kau?” Apa kerjamu disini.”
Thian-hi tidak ingin membuat perkara, segera ia minta maaf. Anggapannya dengan minta maaf tentu urusan menjadi beres, diluar tahunya bukan saja urusan selesai sampai disitu malah hampir saja merembet kepada Ma Bong-hwi. Sayang tadi ia tidak mengatakan bahwa dirinya sebagai guru sekolahan di gedung kediaman Ma-ciangkun, tentu selanjutnya tiada perkara apa lagi.
“Baru sekarang kau minta maaf demikian jengek Tan Goan-mo, “Kau berani kurang ajar kepada aku, maka serahkan seruling di pinggangmu itu sebagai penebus dosamu.”
Thian-hi semakin tertegun bingung, sahutnya, “Mana boleh jadi!”
Berubah air muka Tan Goan-mo, teriaknya, “Apa? Tidak boleh? Mari kau ikut aku ke gedung balai kota!”
Diam-diam timbul hawa amarah Thian-hi, tapi setelah dipikir lebih lanjut segera ia berkata, “Tan-kongcu, seruling ini adalah tanda mata yang diberikan oleh seorang Cianpwe mana boleh diberikan kepada orang lain! Kalau Kongcu ingin memiliki seruling kelak tentu kucarikan sebatang yang lain yang lebih bagus lagi!”
“Bedebah!” maki Tan Goan-mo dengan murka, “Tar!” cambuknya melecut mengenai dagu Thian-hi, Thian-hi menjadi gemas dan membatin; kenapa keluarga dari Sianghu begitu brutal dan bersimaharaja!
Sementara itu pecut Tang Goan-mo sudah menyamber tiba lagi, cepat-cepat Thian-hi melangkah mundur menghindar.
“Berani kau berkelit?” maki Tar Goan-mo lebih murka, lagi-lagi pecutnya terayun menghajar kepada Thian-hi.
Sudah tentu Thian-hi tidak mau dihajar semena-mena, ia berhasil menghindar lagi. Keruan semakin berkobar amarah Tan Goan-mo. Dari sebelah belakang mendatangi pula seekor kuda, Tan Goan-mo segera berpaling dan berteriak, “Hoan Kim-pa! Mari kau bantu menghajar bocah kurangajar ini!”
Waktu Thian-hi angkat kepala, dilihatnya pendatang ini adalah seorang laki-laki besar bermuka hitam mengenakan pakaian warna hijau, mendengar teriakan Tan Goan-mo segera ia melompat turun katanya kepada Tan Goan-mo, “Kongcu, siiakan kau lihat saja!” — sambil menenteng cambuknya yang besar dan panjang ia mendekati Thian-hi.
Bercekat hati Thian-hi, kelihatannya laki-laki ini bukan orang biasa, agaknya membeka! kepandaian silat yang cukup lumajan, pakaiannya sederhana dan preman, mungkin bukan orang dari istana atau anggota Busu.
Sambil menyeringai sadis Hoan Kim-pa mengayun cambuknya, Tar! Tar! langsung ia memecut ke arah Thian-hi. Sudah tentu Thian-hi tidak rela dihajar begitu saja, cepat ia mundur ke belakang dua langkah dengan pura-pura terhujung, untung bisa terhindar.
Namun ayunan cambuk Hoan Kim-pa tidak berhenti, lagi-lagi ia melangkah maju, beruntung ia memecut lagi dua kali. Kedua serangan pecut terakhir ini sebetulnya sudah tak mungkin dihindari lagi.
Betapa murka hati Thian-hi, namun terdesak oleh keadaan, apa boleh buat ia berusaha mundur lagi selangkah, ia berhasil menghindari pecutan pertama, sedang pecutan kedua dengan telak mengenai pundaknya, kontan bajunya sobek, pundaknya pun berdarah. Hampir Thian-hi tak kuasa menahan gelora amarah hatinya, cara turun tangan Hoan Kim-pa ini sungguh sangat kejam dan keji, bila ada kesempatan pasti kubalas penasaran ini.
Hoan Kim-pa menyeringai semakin kejam, ia mendesak lebih dekat lagi. Sekonyong-konyong terdengar suara kelintingan yang riuh dan congklang kuda yang ramai tengah mendatangi. Seketika berubah air muka Tan Goan-mo, cepat ia ulurkan tangannya, segera Hoan Kim-pa menurunkan cambuknya.
Sebuah kereta kencana yang terukir indah ditarik enam ekor kuda putih berlari kencang mendatangi, yang mengendalikan kereta ternyata adalah seorang gadis rupawan berbaju merah, begitu cepat keretanya mendatangi, melihat keramaian ini segera ia berseru heran dan menghentikan kereta, meski dengan cekatan ia berhasil menghentikan kudanya tak urung kudanya sudah melampaui ke depan tiga tombak jauhnya, segera ia putar keretanya mendekat ke arah mereka bertiga.
Tersipu-sipu Tan Goan-mo maju menyapa dengan hormat, “Tuan putri! apa kau baik?”
Ganti berganti Tuan putri mengawasi mereka bertiga lalu bertanya kepada Tan Goan-mo, “Apa yang telah terjadi disini?”
Tan Goan-mo tersenyum, sahutnya, “Orang ini punya sebatang seruling pualam semu merah, aku ingin membelinya untuk dipersembahkan kepada Tuan putri, tapi orang ini tidak mau menjual”
Sementara itu, Hun Thian-hi juga sudah mengamati Tuan putri itu, matanya begitu bening dan jeli, sungguh seorang putri remaja yang cantik rupawan, begitu mahir ia mengendalikan keretanya, mungkin sudah biasa, demikian ia membatin.
Di lain pihak Tuan putri juga tengah mengawasi Thian-hi, katanya kepada Goan-mo, “Jika dia tidak suka jual ya sudah, apa kau telah memukul dia?”
Tan Goan-mo berpaling ke arah Thian-hi dengan mata mendelik gusar, lalu menjawab pertanyaan Tuan putri dengan tertawa, “Seruling pualam semu merah itu sungguh baik sekali, bukankah Tuan putri paling gemar warna merah. Maka aku ingin membelinya untuk Tuan putri.”
Mulut Tuan putri mengiakan dengan lirih, lalu berkata kepada Thian-hi, “Seruling pualam semu merah milikmu itu bolehkah kupinjam lihat sebentar?”
Hun Thian-hi bersangsi sebentar, lalu menanggalkan serulingnya diangsurkan kepada Tuan putri. Dengan seksama Tuan putri perhatikan seruling itu, kelihatannya sangat ketarik, ia mendongak ke arah Thian-hi, melihat sikap Thian-hi yang wajar tiada maksud hendak berikan kepada dirinya, ia menjadi kecewa, apa boleh buat akhirnya ia kembalikan kepada Thian-hi.
Dengan kedua tangannya Thian-hi menerima kembali serulingnya, Tuan putri lantas tanya pula, “Kau bisa memiliki seruling sebagus ini, tentu bukan sembarangan orang, dimana kau tinggal sekarang?”
Sejenak beragu Thian-hi lantas menjawab, “Aku tinggal di gedung Ma-ciangkun.”
“Di gedung Ma-ciangkun?” tanya Tuan putri menegas.
Thian-hi manggut-manggut. Dari belakang sana mendatang sepasukan pengawal yang mengenakan mantel serba merah. Tuan putri berpaling seraya berkata, “Aku harus segera pulang, kalian tidak perlu bertengkar lagi.”
Selesai berkata ia ayun pecutnya membedal kuda keretanya kencang-kencang. Rombongan pengawal merah itu segera mengejar di belakangnya.
Dengan murka Tan Goan-mo pandang Hun Thian-hi, dengusnya dingin, “Kiranya warga dari Ma-ciangkun, tak heran berani bertingkah terhadap aku Tan Goan-mo!” — lalu ia ulapkan tangan bersama Hoan Kim-pa naik kuda tinggal pergi, kejap lain mereka sudah menghilang di pengkolan jalan.
Setelah Tan Goan-mo tak kelihatan, Thian-hi masih berdiri menjublek, hatinya berpikir anggota keluarga dari Sianghu kenapa begitu telengas dan bertingkah kasar. Mungkin negeri ini tidak begitu makmur dan aman sentosa. Tapi entahlah Siangkok (perdana menteri) seorang baik atau orang jahat kejam.
Hilang selera jalan-jalannya tadi, segera ia jalan pulang, ditengah jalan teringat pula akan bibi Siau-hou yang serba misterius itu, entah bagaimana keadaannya sekarang, sebetulnya orang macam apakah dia, Tay-seng-ci-lau kenapa bisa berada di tangannya. Demikian Thian-hi bertanya-tanya dalam hati.
Sekembali Thian-hi di gedung Ma-ciangkun, sampai petang mendatang keadaan masih tetap tenang dan tiada terjadi apa-apa, lambat laun Thian-hi baru merasa tentram. Malam itu, ia mengulang lagi pelajarah Pan-yok-hian-kang.
Hari kedua baru ia mulai ajarkan Siau-hou meniup seruling dan membaca buku. Sebagai murid tunggal Lam-siau, Lam-siau sebagai keturunan aliran kenamaan pula di daerah Kanglam, seluruh kepandaian sastra dan ilmu silatnya sudah diturunkan semua kepada Thian-hi. Untuk mengajar kepada Siau-hou adalah soal sepele bagi Thian-hi…. Apalagi Siau-hou sangat ketarik dan punya minat besar mempelajari Seruling, sudah tentu segala petunjuk dan nasehatnya dipatuhi.
Sang waktu berjalan dengan cepat tanpa terasa, tahu-tahu tiga bulan sudah lewat, waktu pertama kali datang, beruntun terjadi dua perkara, sejak itu ia tidak berani keluar pintu lagi, dengan tekun ia memperdalam pelajaran Pan-yok-hian-kang. Agaknya kerjaan Ma Bong-hwi juga sangat banyak dan sibuk, jarang mereka bertemu muka. Selama itu belum pernah ada kesempatan ia melihat bibi Siau-hou, waktu yang cukup lama ini sudah mempererat hubungannya dengan Siau-hou semakin intim.
Tiga bulan telah lewat, diam-diam Thian-hi berpikir; sudah tiga bulan aku mempelajari Pan-yok-hian-kang, kalau sekarang aku mulai mempelajari Wi-thian-cit-ciat-sek, kukira tiada halangannya. Setelah hari menjadi gelap ia mulai mem-balik-balik buku pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek. Dari jurus pertama secara seksama ia perhatikan ganti berganti sampai jurus ketujuh, setelah selesai diam-diam bercekat sanubarinya. Tiga bulan yang lalu waktu ia melihat ketujuh jurus itu kelihatannya serupa dan tiada perbedaannya, namun sekarang terasa jauh berlainan sama sekali. Ketujuh jurus ini hanya terpaut beberapa mili saja, namun di dalam pergerakan pedang yang hanya beberapa mili dalam waktu singkat itu, ternyata tersembunyi kekuatan yang luar biasa besarnya.
Diam-diam kejut dan girang pula hatinya, dengan penuh perhatian ia menekuni dan mempelajari dengan hati-hati, namun sedemikian jauh ia masih kurang paham cara bagaimana ia harus menggunakan tenaga besar yang tersembunyi itu Begitulah dilihat lalu dipikir, dipikir dan diperiksa lagi dengan seksama, tanpa merasa ia habiskan waktu semalam suntuk tanpa membawa hasil.
Malam kedua ia menyelami pelajaran Wi-thian-ci-ciat-sek lagi kira-kira sampai tengah malam, terasa sesuatu keganjilan olehnya, mendadak diluar diatap rumah sana ia mendengar lambaian ujung baju orang berjalan malam. Thian-hi terkejut, timbullah kewaspadaannya, cepat ia padamkan pelita dan menyimpan buku Wi-thian-cit-ciat-sek ke dalam bajunya, dengan tenang ia duduk menanti dan mendengarkan dengan cermat.
Orang itu berjalan berputar-putar di atas genteng, tahu Thian-hi bahwa orang ini pasti bukan lewat jalan saja, terang sengaja sedang mencari tahu atau main selidik, entah siapa dan darimana dia bernyali besar berani meluruk ke gedung Panglima besar. sedikit mengempos napas ringan sekali Thian-hi melayang keluar dari jendela terus berkelebat sembunyi di bawah atap.
Selepas pandangannya yang cukup tajam pada malam hari, kelihatan orang itu masih terpaut puluhan tombak disebelah sana, rupanya tidak begitu tegas, hanya kelihatan muka sampingnya mengenakan pakaian serba hitam legam, ia berdiri sekian lama, seolah-olah sedang berpikir apa-apa.
Diam Thian-hi membatin, “Sungguh besar nyali orang ini, di atas gedung Panglima besar masih berani berdiri main terang-terangan, seolah-olah sangat ceroboh dan takabur.”
Setelah berhenti sekian lamanya, orang itu berputar-putar lagi di atas genteng. Cepat Thian-hi mengkeret mepet tambok.
Seperti tiada orang lain saja orang itu berkelebat melompat turun ditaman bunga, ternyata berdiri anteng tak bergerak lagi. Sejenak kemudian terdengar ia menghela napas panjang, naik ke atas genteng hendak tinggal pergi. Thian-hi masih ingat akan peringatan Ka-yap Cuncia ia tidak berani mengejar, baru saja ia hendak tinggal masuk kembali ke kamarnya, dari dalam rumah samping sana terdengar seseorang berkata, “Hai, kenapa tinggal pergi!”
Jelas terdengar oleh Thian-hi bahwa itulah suara Ma Bong-hwi.
Kejap lain tampak Ma Bong-hwi melompat naik ke atas genteng sambil menenteng pedang, pakaiannya ringkas, katanya kepada orang itu, “Kau sengaja kemari hendak bertemu mengapa mau pergi?”
Orang itu pandang Ma Bong-hwi seraya bertanya, “Apakah aku berhadapan dengan Ma-ciangkun?”
“Benar-benar! Siapa kau? Ada urusan apa malam2 kemari?” demikian tanya Ma Bong-hwi.
“Aku yang rendah Hou Cong-ceng!” sahut orang itu, “Entah apakah Ciangkun masih ingat?”
“0, kiranya kau!” sahut Ma-ciangkun.
“Ma-ciangkun bertindak terlalu jujur dan tegas dalam segala urusan, sehingga menimbulkan sirik orang. Ada orang mengutus aku kemari untuk membunuh Ciangkun, untuk selanjutnya harap Ciangkun suka hati-hati, aku harus segera pulang.”
Diam-diam Thian-hi mengeluh kiranya orang memang sengaja hendak mengunjukkan jejak sendiri, namun sedemikian jauh dirinya tidak dapat mengetahui.
“Nanti dulu!” terdengar Ma Bong-hwi menahan, “Coba kau beri keterangan lebih jelas!”
Hou Cong-ceng rada sangsi, akhirnya berkata, “Maaf, aku tak bisa banyak bicara, dulu Ciangkun pernah tanam budi terhadap aku, maka aku tidak peduli keselamatan sendiri memberi kisikan kepada Ciangkun, bila diketahui orang lain, tentu jiwaku terancam bahaya, sekarang juga aku harus mengundurkan diri.” Habis berkata terus berlari pergi.
Ma Bong-hwi terlongong di atas genteng, sekian lama ia tidak bergerak, agaknya otaknya sedang diperas untuk memikirkan persoalan rumit ini, rada lama kemudian baru ia turun ke dalam taman dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Baru saja Thian-hi hendak kembali ke kamarnya, sekilas dilihatnya di para2 bunga sebelah kiri sana
mendekam sebuah bayangan orang, bercepat hatinya, tadi Hou Cong-ceng bilang bahwa dia menyerempet bahaya kemari memberi kisikan, dan takut diketahui orang lain. Ternyata sejak tadi orang ini sudah mencuri dengar disitu, dengan seksama Thian-hi perhalikan orang itu, tampak pelan-pelan ia menggeremet keluar dari rumpun bunga Seruni hendak melarikan diri.
Segera Thian-hi paham duduk perkara sebenar-benarnya. Insaf ia kalau orang ini sampai dapat lolos dengan selamat, pasti jiwa Hou Cong-ceng terancann bahaya, entah siapa yang mengutus dia menyelundup kemari.
Thian-hi ingin bertindak, tapi tidak leluasa untuk mengunjukkan diri, akhirnya ia meremas pecah genteng menjadi sebuah batu kecil, dengan kedua jarinya menyelentik ringan mengarah belakang kepafa orang itu. Kontan terdengar orang itu berteriak kesakitan.
Cepat Thian-hi kembali ke dalam kamarnya, terdengar suara Ma Bong-hwi berteriak, “Siapa!” Lalu disusul dengusannya lagi, “Lari kemana kau?”
Terdengar senjata berdentang beradu, beberapa jurus kemudian terdengar pula orang itu menjerit. Tahu Thiau-hi bahwa orang itu sudah kena dibunuh oleh Ma Bong-hwi, dengan lega iapun berbaring untuk istirahat.
Hari kedua air muka Ma Bong-hwi tampak kecut, begitu melihat Thian-hi. Siau-hou lantas mengoceh, katanya, “Guru! Semalann rumah kita kebobolan pencuri, apa kau tahu?”
Thian-hi menggeleng pura-pura terperanjat, serunya, “Apa benar-benar?”
Siau-hou, manggut-manggut dengan sungguh, katanya, “Kau tak tahu, orang itu adalah seorang anak buah ayah sendiri, tapi sudah dibunuh oleh ayah. Jikalau aku belum tidur, wah pasti hebat tontonan ini.”
Thian-hi tertawa-tawa, ujarnya, “Kau masih kecil, jangan turut campur urusan orang tua, lebih baik kau pelajari isi buku yang sangat bermanfaat ini!”
Dengan lucu Siau-hou pandang Thian-hi, sambil tertawa cengar-cengir, lalu goyang2 kepala, seolah-olah ada banyak urusan jauh ia lebih tahu, dari Thian-hi, seumpama dituturkan belum tentu Thian-hi paham. Sudah tentu Thian-hi makfum akan maksud Siau-hou, namun iapun tak banyak bicara lagi, seperti biasa ia ajarkan Siau-hou meniup seruling dan membaca buku.
Malam itu Hun Thian-hi mengulangi latihan Wi-thian-cit-ciat-sek, sedemikian jauh dapatlah diselami perbedaan dari ketujuh jurus permainan pedang, dengan pejamkan mata ia menepekur berusaha memecahkan inti rahasianya, setiap gerak perubahan ketujuh jurus ilmu pedang ini satu sama lain berbeda dan berlainan arah dan sasaran, tenaga yang dilontarkan pun juga berlainan, dengan tangannya ia bergerak-gerak menirukan dalam gambar, namun terasa kurang leluasa, lantas terpikir olehnya untuk mencoba dan mempraktekkan latihan ini dengan pedang sungguhan.
Selain Badik buntung Thian-hi tidak membekal senjata tajam apapun, kecuali menggunakan serulingnya, namun di tempat sempit begini mana mungkin, bila sampai konangan orang lain dan dlketahui dirinya bisa main silat tentu berabe dan terbukalah kedoknya.
Tapi intisari dan kehebatan dari ilmu pedang ini harus dipraktekkan atau harus latihan menggunakan pedang, baru bisa diselami. Akhirnya ia bangkit menyimpan Kiamboh Wi-thian-cit-ciat-sek, lalu berjalan keluar ketaman, ia tahu di tempat sepi paling ujung belakang sana ada sebuah gunungan palsu, sebidang tanah datar di belakang gunung palsu inilah yang paling sepi dan tidak pernah diinjak kaki manusia.
Secara diam-diam Thian-hi menuju kesana, setelah celingukan kesekitarnya dan jelas tak ada orang
lain, hatinya rada lega dan gembira, namun hatinya. masih merasa kuatir, segera ia berjalan memutar memeriksa keadaan sekitarnya baru kembali lagi ke belakang gunungan palsu itu. Pelan-pelan ditanggalkan serulingnya, segera ia pasang kuda-kuda dan mulai bergaja, namun terasa seruling di tangannya ini kurang cocok dipakai sebagai gaman pedang. Ia mengerut kening, batinnya, “Kenapa aku harus takut dan beragu menggunakan alat senjata, atau akan batal berlatih Wi-thian-cit-ciat-sek saja!’
Kejap lain ia sudah menghimpun tenaga dan pusatkan semangat, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul, tubuhnya berputar setengah lingkaran ditengah udara, dimana tangan kanannya bergerak jurus pertama dari Wi-thian-cit-ciat-sek mulai dikembangkan, waktu serulingnya menutuk keluar, segulung hawa tenaga semi merah kontan memberondong keluar dari batang seruling itu melesat ke depan, namun hanya sekejap mata saja lantas sirna.
Sebetulnya Thian-hi bermaksud melanjutkan gerak susulannya, namun tenaganya sudah tak kuasa lagi menyambung, terpaksa ia meluncur turun ke tanah, duduk di atas gunungan palsu, ia berpikir dan menyelaminya dengan seksama. Tak lama kemudian ia mempraktekkan sekali lagi, begitulah secara tak mengenal lelah ia ulangi terus permainan jurus pertama ini sampai akhirnya ia paham sendiri dan dapat diapalkan diluar kepala., hatinya rada gembira, untuk gerak yang terakhir ia sudah berhasil mengendalikan tenaga kekuatan jurus pedang itu sesuka hatinya.
Tatkala itu hari sudah mulai terang, terpaksa Hun Thian-hi menghentikan latihannya. Meski semalaman tidak tidur dan berlatih dengan capek lelah lagi, dasar latihan Pan-yok-hian-kangnya sudah kuat, pernah menelan buah ajaib lagi, maka Lwekangnya boleh dikata sudah sangat tinggi jarang tandingan, biasanya cukup cuma semadi beberapa waktu saja sudah cukup, dan tidak perlu tidur lagi.
Setelah mendongak melihat cuaca, dengan memejamkan mata ia mengingat kembali permainan jurus pertama ini, untuk selanjutnya ia melatih Thian-liong-cit-sek, tak lupa ia berlatih juga Gin-ho-sam-sek yang diajarkan oleh Soat-san-su-gou itu. Gin-ho-sam-sek sekarang boleh dikata sudah mendarah daging, bisa dilancarkan sesuka hatinya secara mudah. Begitu pula Thian-liong-cit-sek lebih apal lagi.
Setelah langit semakin terang cepat-cepat Thian-hi kembali ke dalam kamarnya untuk istirahat.
Keesokan harinya setelah pulang dari piket tampak air muka Ma Bong-hwi sangat murung, Hun Thian-hi menjadi curiga, namun tidak leluasa menanyakan karena persoalan pribadinya, apalagi dirinya berusaha menyembunyikan keadaan sebenar-benarnya, mana boleh banyak turut campur urus perkara orang lain. Dalam hati ia hanya menerka2 bahwa mungkin Ma Bong-hwi menghadapi urusan yang tidak menyenangkan hati.
Pikir punya pikir, akhirnya Thian-hi berkeputusan untuk tinggal diam berpeluk tangan saja.
Malamnya setelah duduk samadi berlatih Pan-yok-hian-kang, menjadi kebiasaan untuk hari2 selanjutnya ia mulai tenggelam dalam memikirkan pemecahan rahasia inti jurus-jurus Wi-thjan-cit-ciat-sek. Semalam suntuk ia bersusah payah tanpa hasil m mahami jurus kedua.
Setelah makan pagi, seperti biasa Siau-hou datang belajar, namun kali ini tidak membawa Seruling besinya. Begitu masuk Siau-hou lantas berkata, “Pak guruku! ayahku panggil kau, ada urusan hendak dibicarakan dengan kau!”
Hun Thian-hi rada melengak, selama ini Ma Bong-hwi belum pernah ajak dirinya bicara, sekarang diluar dugaan memanggil aku, entah ada urusan apa, menguntungkan atau merugikan dirinya.
Ia berpikir sebentar lalu berkata kepada Siau-hou, “Siau-hou! Apa kau tahu untuk urusan apa?”
Siau-hou menggeleng, katanya, “Aku tidak tahu.”. Tapi segera ia merendahkan suara dan menambahi dengan sungguh-sungguh, “Tapi aku tahu, tentu soal yang sangat penting.”
Sangsi dan lebih curiga lagi Hun Thian-hi, sebetulnya untuk urusan penting apakah. Selamanya Ma Bong-hwi anggap dirinya sebagai penolong jiwa dirinya diluar dugaan hari ini dia sudi mencari dirinya, sungguh sulit diduga dan diraba juntrungnya.
Akhirnya ia manggut-manggut, “Baiklah. segera aku datang!”
Siau-hou segera berlari pergi. Setelah dipikir2 ia tidak bisa ambil kesimpulan positip, terpaksa ia beranjak keluar. Begitu tiba di ruang belakang, kelihatan Ma Bong-hwi sudah menanti disana, begitu melihat Hun Thian-hi masuk segera ia bangkit berdiri seraya berkata tertawa, “Losu! Apa kau baik?”
“Selamat pagi, Ma-ciangkun!” segera Thian-hi menyapa dan memberi hormat. “Ma-ciangkun hari ini tidak keluar, entah untuk urusan apakah Ma-ciangkun mengundang aku?” ~Lahirnya ia berlaku tenang, tapi batinnya kebat-kebit, entah mengapa Ma Bong-hwi hari ini berlaku sangat sungkan dan ramah terhadap dirinya.
Ma Bong-hwi tertawa kikuk serta berkata lembut, “Sudah tiga bulan Losu berada disini, selamanya Siau-hou sangat nakal tak mau dengar nasehat, berkat didikan Losu sekarang dia mau mendengar katamu. Sebagai seorang tua selamanya tidak pernah aku mengurusnya, terhadap Losu juga terlalu bebas tanpa sungkan-sungkan lagi.”
“Ah, ucapan Ma-ciangkun membuat aku menjadi risi, Ma-ciangkun adalah tuan penolongku, apalagi berkat Ma-ciangkun sudi menerima aku berteduh disini, sehingga aku tak terlantar, Hun Thian-hi sangat berterima kasih tak terhingga.” sekilas matanya melirik, ternyata ruang besar ini menjadi begitu sunyi karena tiada orang lain, jelas para pelayan sudah diperintahkan mengundurkan diri semua, hal ini lebih mempertebal kecurigaan Thian-hi.
“Ternyata Losu suka berkelakar.” demikian ujar Ma Bong-hwi tertawa, “Akulah yang terlalu ceroboh, adik kandungku justru menyalahkan kelalaianku ini, selalu mengagulkan diri sebagai tuan penolongmu, sebetulnya…. ai!”
Melonjak jantung Thian-hi, adik kandungnya (perempuan), bukankah berarti bibi Siau-hou. kalau begitu tentang dirinya bisa main silat sudah dapat diketahui olehnya? Terpikir sampai disini tanpa merasa keringat dingin telah membasahi sekujur badannya.
Thian-hi menjadi tergagap tak bisa bicara, terang dia tak bisa menyangkal dan tidak bakal mengakui, kalau menyangkal bahwa dirinya bisa main silat, ucapan Ma Bong-hwi tadi tidak atau belum secara langsung ditujukan kepada dirinya, jelas malah akan memperlihatkan kedoknya sendiri, tapi kalau ia tidak bersuara berarti membenar-benarkan.
Akhirnya Thian-hi buka suara dengan menyengir, “Ma-ciang-kun, aku tidak paham apa yang kau maksudkan.”
“Adikku pernah berkata, tidak seharusnya aku bersikap terlalu dingin terhadap kau. Apakah Losu sesalkan perbuatanku ini?”
“Ucapan Ma-ciangkun terlalu berat untuk kuterima, sikap Ma-ciangkun sangat baik terhadapku. Hun Thian-hi merasa sangat berhutang budi dan entah kapan dapat membalas kebaikan ini.”
Ma Bong-hwi berkata, “Aku tengah dihadapi sebuah perkara yang sangat menyulitkan kedudukanku, adikku bilang supaya aku minta bantuan kepada Sian-seng, katanya kecuali Sianseng tiada orang lain yang bisa membereskan. Aku harap Siangseng suka bantu kepada kesukaranku ini.”
Berubah air muka Thian-hi, katanya, “Tenagaku pasti sangat terbatas, aku kuatir akan mengecewakan harapan Ciangkun belaka.” — diam-diam ia mengeluh dalam hati, entah cara bagaimana ia harus mengambil sikap, kalau tahu bakal terjadi kejadian hari ini, lebih baik siang-siang aku tinggal pergi saja, soalnya ia terlalu kemaruk akan keselamatan diri sendiri sehing-ga sekarang sulit membebaskan diri dari pertanggungan jawab ini.
“Selamanya adikku tidak bicara sembarangan, dia beritahu kepada aku bahwa Siangseng adalah seorang kosen yang menyembunyikan diri. Bila aku punya kesukaran selalu dialah yang bantu aku membereskan kesulitanku, setiap ucapannya selalu tepat tak pernah salah.”
“Ma-ciangkun terlalu memuji, Hun Thian-hi mana terhitung seorang tckoh aneh apa segala, ini betul-betul suatu hal yang menggelikan belaka”
“Malam tempo hari bukankah Siangseng juga telah menanam budi kepada aku, jika tiada mendapat bantuan Sianseng tentu mata2 yang menyelundup itu tak bisa diringkus dan dibereskan.”
Mendengar lebih lanjut Thian-hi semakin menjublek ditempatnya, mulutnya terkancing rapat tak kuasa bicara lagi. Ternyata siang-siang jejaknya sudah dapat dilihat oleh orang, perbuatannya tempo hari menurut anggapannya sudah sangat tersembunyi, tak konangan juga. Kalau begitu perihal dirinya bisa main silat jelas sudah diketahui oleh mereka, entahlah waktu aku latihan ilmu pedang apakah juga sudah diintip oleh mereka.
Thian-hi menjadi serba salah, tak tahu bagaimana ia harus bertindak, akhirnya ia berkata dengan hambar, “Ma-ciangkun! Apa katamu? Aku tidak mengerti!”
Dengan kecewa Ma Bong-hwi pandang dia, akhirnya menghela napas rawan, ujarnya, “Apakah Sianseng betul-betul tidak sudi membantu?”
Lambat laun Hun Thian-hi tertunduk, hatinya menjadi gundah, sepihak ia pernah mendapat pertolongan orang, sebagai seorang gagah apakah ia mandah saja melihat kesulitan orang, sungguh malu rasanya bila dirinya berpeluk tangan melihat orang ketimpa malang.
Terdengar Ma Bong-hwi berkata lagi, “Adikku menyangka bila aku mau mohon bantuan, tentu Sian-seng suka membantu. Kukira dugaannya sekali ini meleset.”
Tersentak sanubari Thian-hi. Katanya, “Bila aku dapat, sekuat tenagaku aku suka membantu.”
Setelah memberi jawaban ini baru ia sadar, kenapa tadi aku selalu menghindari, sebetulnya Ma Bong-hwi mengalami kesukaran apa aku toh belum menanyakan jelas, bila sudah jelas duduk perkaranya, kan lebih gampang untuk menolaknya.
“Apa betul!” Ma Bong-hwi berteriak kegirangan.
Thian-hi manggut-manggut, tanyanya, “Mengenai soal apakah, harap Ma-ciangkun suka jelaskan.”
“Asal Siangseng suka membantu tanggung urusan ini bisa dibikin terang.” demikian kata Ma Bong-hwi berseri tawa.
Kedengarannya Ma Bong-hwi sudah anggap bahwa Thian-hi pasti mau membantu, keruan Thian-hi rada gugup, cepat ia menambahi, “Ma-ciangkun, tenagaku seorang sangat terbatas….”
Baru sampai disini ucapannya, mendadak terdengar suara “tring” yang nyaring dari kamar sebelah, itulah suara petikan sinar harpa yang nyaring merdu, begitu mendengar suara petikan harpa ini seketika berubah air muka Thian-hi.
Diam-diam Thian-hi mengeluh dalam hati, bibi Siau-hou itu pasti hendak menggunakan Tay-seng-ci-lau (lagu sempurna abadi) untuk mendesak dirinya mengunjukan ilmu silatnya. Baru saja terkilas pikirannya ini, petikan gelombang suara harpa kedua sudah kedengaran lagi, kali ini lebih kuat, tajam dan melengking menusuk telinga, kontan melonjak hati Thian-hi.
Thian-hi tengah mencari akal cara bagaimana baru dia bisa tidak mengunjukkan kepandaian silatnya, sebuah pikiran berkelebat secepat kilat dalam benaknya, hanya satu cara saja, meskipun hasil cara ini sangat minim terpaksa harus dicoba dulu.
Segera ia menanggalkan serulingnya terus ditempelkan dibibirnya, dengan pejamkan mata ia mulai meniup serulingnya, tujuannya berusaha membendung gema suara harpa. Tapi Tay-seng-ci-lau merupakan buah karja seorang ahli yang sangat lihay, setiap petikan suara harpa mengetuk sanubarinya seperti dadanya dipukul godam. Apalagi dengan cara dari dalam keluar, bukan dari luar ke dalam yang rada mudah ditangkis. Lambat laun Thian-hi kepayahan akhirnya tak kuasa meniup serulingnya lagi, bila dia tidak membekal ilmu sakti macam Pan-yok-hian-kang, mungkin sejak tadi jantung di hatinya sudah hancur lebur.
Dengan putus asa Thian-hi pandang Ma Bong-hwi, kelihatan orang berdiri seenaknya sambil menggendong tangan, seperti menikmati musik yang mengasjikkan.
Kongsun Hong guru Thian-hi pernah menuturkan, bahwa Tay-seng-ci-lau punya keanehan yang mujijad, dapat dilancarkan sesuka orang yang melagukan, tanpa dapat mengganggu atau memcelakai orang lain, namun kekuatannya sungguh luar biasa dan sulit dibayangkan.
Tak kuat mendengar irama petikan harpa, terpaksa Thian-hi kerahkan Pan-yok-hian-kang untuk melindungi jantungnya, segera ia duduk bersila dan samadi, seketika terasa irama harpa itu kena terusir dari dalam badannya, pikirannya yang kalut dan gundah tadi pun lantas tersapu bersih.
Agaknya irama harpa juga tidak mau mengalah, beruntun ia merubah nada dan berganti lagu, mulailah lagu Sempurna abadi dikembangkan lebih lengkap. Tapi setelah Thian-hi berhasil samadi menggunakan Pan-yok-hian-kang, bukan saja tidak kena diganggu usik, malah dengan cermat ia bisa meng-ingat2 irama lagu Tay-seng-ci-lau yang hebat ini.
Sambil mengingat lagu, diam-diam hatinya merasa heran, orang yang memetik harpa ini kelihatan tidak bisa ilmu silat, alangkah lucu dan anehnya, begitu pintar orang dapat mengetahui segala seluk beluknya, namun sedikit pun ia tidak bisa main silat, ini benar-benar aneh bin ajaib. Atau mungkin dia sengaja mengalah atau hendak memberi muka kepadanya? Atau sengaja ia hendak menyembunyikan kepandaian silatnya? Tay-seng-ci-lau merupakan lagu tiada taranya yang dapat mencabut jiwa hanya dalam lintasan petikan senar harpa saja, tapi orang ini tidak pandai silat, kejadian ini betapapun sangat mengejutkan.
Tiba-tiba irama harpa berhenti. Thian-hi juga lantas menyedot hawa sejuk, Ma Bong-hwi segera maju menghampiri serta berkata, “Ternyata Sianseng benar-benar seorang tokoh aneh, aku biasa mengagulkan diri sebagai orang kosen, tapi sungguh diluar dugaan Sianseng adalah lebih kosen lagi. Begitu lama menyembunyikan diri di rumah kita tanpa diketahui.”
Dengan murung Thian-hi bangkit berdiri, secara tak sengaja ia sudah melanggar pantangan Ka-yap Cuncia. Jikalau…. bilamana berita beradanya ia disini sampai tersiar ke Tionggoan, mungkin sebuah tragedi yang menimbulkan banjir darah bakal terjadi.
Melihat sikap murung Thian-hi Ma Bong-hwi menjadi heran. Dari kamar sebelah berjalan keluar seorang gadis, waktu Thian-hi angkat kepala seketika ia berdiri kesima, gadis ini begitu canck rupawan lagi, seumpama dibanddng dengan Ham Gwat juga tidak kalah ayunya. Kalau mimik wajah Ham Gwat selalu kaku dingin tanpa expresi sebaliknya gadis di depannya ini bermuka merah jengah laksana buah Tho yang sedang masak. Melihat Thian-hi memandang kesima pada dirinya, tersipu-sipu ia menunduk malu.
Mendadak Thian-hi sadar akan sikapnya. yang kurang hormat, cepat-cepat ia menundukkan kepala.
Ma Bong-hwi bergelak tawa, ganti berganti ia pandang mereka berdua, katanya, “Inilah adikku Ma Gwat-sian!”
Gwat-sian berarti dewi bulan.
Dengan tertawa malu-malu Ma Gwat-sian bersuara, “Laguku tadi tentu mengotori pendengaran Sianseng belaka.”
“Petikan harpa Ma-siocia mungkin tiada bandingannya dikolong langit ini,” demikian puji Thian-hi. “Sebagai orang biasa, dapat mendengar irama dewa sungguh bahagia selama hidup ini.”
Ma Gwat-sian tersenyum lebar.
Thian-hi menghela napas, katanya, “Kita hanya bertiga disini, selanjutnya akupun tidak perlu menyembunyikan diri lagi. tapi aku sudah berjanji kepada orang supaya orang lain tidak tahu bahwa aku pandai main silat. Harap kalian suka merahasiakan.”
“Soal yang kuhadapi ini betapapun harus Sianseng bantu membereskan,” demikian mohon Ma Bong-hwi sekali lagi, “Mengandal iimu silat Sianseng, tanggung segampang membalikkan tangan saja. Sudah tentu kita tidak akan membuka rahasia Sianseng pandai main silat. Persoalan itu sendiri pun juga tetap dapat dirahasiakan.”
Ma Gwat-sian pandang Thian-hi dengan rasa menyesal dan minta maaf, Thian-hi maklum dan manggut-manggut. Ma Bong-hwi menjadi kegirangan, segera ia menceritakan sebuah peristiwa besar yang sangat mengejutkan.
Kata Ma Bong-hwi, “Belakangan ini gudang istana sering kebobolan. setiap kehilangan benda pusaka, tentu terlebih dulu mendapat pemberitahuan, namun siapakah pencurinya selama ini sulit dapat meringkusnya. Tan-siangkok memberi lapor kepada sang Baginda bahwa aku dapat membongkar perkara pencurian ini. Tapi kemaren telah hilang pula sebuah pusaka, kali ini yang dicuri adalah cap kerajaan.”
“Oo,” Thian-hi mengiakan lalu bertanya, “Biasanya bagaimana hubungan Ma-ciangkun dengan Tan-siangkok? Entah bagaimana pula karakternya?”
“Bicara terus terang,” ujar Ma Bong-hui sembari menghela napas, “kesanku terlalu jelek kepadanya, dia terlalu mengumbar putra dan para centengnya. dia sangat benci kepadaku katanya aku terlalu suka banyak urusan, mencampuri sepak terjang keluarganya.”
Hun Thian-hi merenung sesaat kemudian lalu bertanya lagi, “Bagaimana karakter Tan-siangkok?”
Ma Bong-hui pandang Thian-hi dengan perasaan heran, mengapa dia tidak mengetahui, setelah beragu akhirnya ia berkata, “Umumnya masyarakat berkesan terlalu buruk terhadap dia. Dia memegang tampuk pimpinan dan kekuasaan negara, kecuali Ing-ciang-kun Thian-seng dan aku, seluruh kerabat diistana raja boleh dikata hampir seluruhnya menjadi penyanjungnya.”
“Toako,” tiba-tiba Ma Gwat-sian menyela, “Apa kau melupakan Toh-ciatsu?”
“Benar, benar,” ujar Ma Bong-hwi tersenyum, “Kenapa aku melupakan dia, Toh-ciat-su justru menjadi lawan Tan-siangkok yang sembabat, setiap kali Tan-siangkok menjalani kesalahan pasti dialah pertama kali yang tampil ke depan mencercahnya.”
Thian-hi manggut-manggut, samar-samar ia dapat meraba bahwa urusan ini tentu punya sangkut paut dengan Tan-siangkok, kenapa pula Tan-siangkok menunjuk kepada Ma Bong-hwi? Segera ia bertanya, “Siapakah sebetulnya yang berkuasa digudang istana?”
“Seluruh istana dalam kekuasaan komandan Gi-lim-kun. yang menjabat komandan Gi-lim-kun adalah adik kandung Ing-ciangkun, sekarang sudah dipecat dari jabatannya, sebagai gantinya akulah yang diangkat sebagai komandan Gi-lim-kun sementara.”
“Menurut maksud Toakoku hendak mohon kau suka menjabat sebagai wakil komandan Gi-lim-kun membantu dia menyelidiki peristiwa ini.” demikian Ma Gwat-sian menimbrung.
Berubah air muka Thian-hi, katanya, “Masa aku mampu. kukuatir….”
“Kau boleh gunakan nama palsu,” sela Ma Gwat-sian tersenyum penuh arti. “Apalagi dandananmu sekarang sebagai pelajar kutu buku, bila berganti mengenakan pakaian seragam, tanggung takkan ada seorang pun yang mengenal kau lagi.”
Hun Thian-hi hendak menolak, segera Ma Gwat-sian maju dua langkah, dengan suara lirih dan kalem ia berbisik di pinggir telinga Thian-hi, “Kau baru datang dari Tionggoan, ya bukan?”
Waktu Ma Gwat-sian maju mendekat, kontan Thian-hi mencium bau harum semerbak, namun serta mendengar bisikannya, suara yang lirih itu bagi pendengarannya bagai suara guntur menggelegar dipinggir telinganya, keruan kagetnya bukan kepalang.
Kontan Thian-hi merasa kepalanya seperti dikemplang dengan godam, pandangannya gelap dan pusing, secara reflek mulutnya bertanya, “Apa?”
“Siaumoay!” seru Ma Bong-hwi sambil mengerut kening. “Apa yang kau katakan?”
Ma Gwat-sian mundur selangkah seraya menjawab, “Tidak apa-apa.”
Otak Hun Thian-hi masih terasa butek, sungguh ia heran cara bagaimana Ma Gwat-sian dapat mengetahui rahasianya, kelihatannya dia tidak bisa main silat, soalnya dirinya pernah menelan buah ajaib serta melatih ilmu sakti macam Pan-yok-sin-kang sehingga tanpa disadari telah membongkar kepandaian sendiri sebagai ahli Lwekang yang tangguh, apakah ilmu silat Ma Gwat-sian jauh lebih tinggi dari kemampuan sendiri serta telah mencapai puncak kesempurnaannya sehingga dapat menyembunyikan kepandaiannya itu?
Karena terkaannya ini serta merta ia awasi Ma Gwat-sian, dengan seksama ia pandang dan amati muka dan badan orang dengan cermat. Melihat sikap Thian-hi ini. sudah tentu Ma Gwat-sian menjadi malu jengah dan lekas-lekas menunduk.
Dengan bergelak tawa keras Ma Bong-hwi menepuk pundak Hun Thian-hi. Keruan Thian-hi tersentak kaget, kontan ia sadar akan kelakuannya yang kurang pantas, cepat ia tenangkan hati serta jantungnya yang berdebur keras. Dalam sekilas itu, ia gagal dalam selidikannya.
“Lote,” ujar Ma Bong-hwi, “Betapa pun kau harus membantu aku mengatasi persoalan ini.”
“Ma-ciangkun!” seru Thian-hi sambil menyengir.
“Selanjutnya harap kau tidak panggil aku Ma-ciangkun lagi,” demikian pinta Ma Bong-hwi, “Bila kau suka pandang mukaku, silakan kau panggil Ma-toako saja kepada aku.”
“Ah. rasanya kurang enak, bukankah kau adalah….”
“Kalau begitu kau pandang rendah pribadiku?” kaata Ma Bong-hwi mengerut kening.
Apa boleh buat terpaksa Thian-hi berkata, “Matoako, apaan ucapanmu ini, mana bisa jadi?”
Ma Bong-hwi tertawa girang. Sementara itu Ma Gwat-sian angkat kepala serta berkata, “Kalau begitu untuk selanjutnya aku pun harus panggil kau Hun-toako. Apa boleh?”
“Kenapa tidak boleh? Aku merasa beruntuhg malah.”
Ma Gwat-sian Tertawa lebar, katanya, “Kata-kataku tadi tiada seorang lainpun yang tahu, legakan saja hatimu!”
Hun Thian-hi tidak enak untuk menjawab. Seolah-olah Ma Gwat-sian tidak memberi kesempatan pada Thiani-hi untuk membual, namun entah bagaimana ia bisa tahu. Namun urusan sudah sedemikian lanjut, terpaksa mengikuti perkembangan selanjutnya.
Kata Ma Bong-hwi, “Untuk mengejar kembali cap kerajaan itu, terpaksa harus minta bantuan kau Lote!”
Apa boleh buat Thian-hi hanya menyengir saja, urusan sudah demikian lanjut, terpaksa harus terjun dalam persoalan rumit ini. Kalau hanya urusan pencurian ini melulu, kiranya aku dapat mengatasi. Demikian pikirnya.
“Pencuri itu teiah meninggalkan sepucuk surat, katanya hari ini dia hendak mengambil Ce-kim-cu (mutiara merah mas), asal Lote mau tampilkan diri, tentu pencuri itu dapat dibekuk.” demikian Ma Bong-hwi memberi keterangan.
Hun Thian-hi tertawa pahit, katanya, “Kalau begitu, terpaksa aku membantu sekuat tenagaku.”
Setelah makan malam, Thian-hi mengenakan seperangkat pakaian dinas kemiliteran, dalam kamarnya ia menanti kedatangan Ma Bong-hwi, terasa olehnya gerak-geriknya menjadi kurang bebas dan badan sangat gerah, maklum pakaian perang jaman itu terbuat dari bahan tebal yang tidak mempan senjata, saking kepanasan Thian-hi melangkah keluar ke taman bunga.
Waktu sampai di rumpun bunga, tampak olehnya Ma Gwat-sian sedang berdiri disana, sesaat ia menjadi melengak. dalam hali ia membatin; ’selamanya Ma Gwat-sian jarang keluar kamar dan belum pernah selama ini melihat dia jalan-jalan di taman bunga, entah kenapa hari ini toh berada disini.’
Waktu Thian-hi mendekat Ma Gwat-sian berpaling sembari tertawa manis, katanya, “Aku tahu kau pasti akan kemari, sejak tadi sudah kutunggu kau disini!”
Diam-diam Thian-hi sangsi dan curiga, entah ada omongan apa yang hendak disampaikan Ma Gwat-sian kepadanya, tidak bicara di dalam rumah sebaliknya menunggu di kebon, setelah melengak ia baru bertanya, “Adakah urusan luar biasa yang perlu dirundingkan?”
“Banyak perkataan yang tidak bisa kuucapkan di hadapan engkohku, umpama kukatakan dia pun takkan mau percaya. Terus terang aku merasa curiga kepada Ing-ciangkun!”
Hun Thian-hi merasa diluar dugaan, mulutnya mengiakan, lalu katanya dengan pandangan kejut dan heran, “Menurut dugaanmu….”
Ma Gwat-sian geleng-geleng kepala sambil tertawa, katanya, “Pencurian ini bukan perbuatan Ing-ciangkun. Dia bertempat tinggal di Thian-seng, biasanya ia sangat benci dan mencercah Tan-siangkok lebih hebat dari engkohku, untuk urusan rumit ini secara logis seharusnya dialah yang diserahi tugas untuk membongkar perkara besar ini! Tapi diluar dugaan justru engkohkulah yang dia tunjuk.”
“Jadi menurut anggapanmu bahwa Ing-ciangkun hakikatnya adalah sekomplotan dengan Tan-siangkok?”
“Belum pasti, tapi ada kemungkinan. Menurut anggapanku Tan-siangkok sangat ambisius, sedemikian jauh dia sedang berusaha hendak menjodohkan tuan putri dengan putra kesayangannya, tujuannya supaya kelak dapat mewarisi kedudukan sang raja. Jikalau usahanya ini gagal, aku kuatir dia bakal mata gelap dan melakukan perbuatan terkutuk, jikalau hanya kehilangan satu dua barang berharga rasanya tidak perlu kau sendiri mesti ikut tampil ke depan.”
“Sebetulnya kepandaian silatku juga cuma cakar kucing melulu, tak perlu diagulkan.”
“Mengenal ilmu silat, aku bukan bidangnya, tapi bagi seseorang yang mampu bertahan dari Tay-seng-ci-lau, ilmu silatnya tentu sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna. Meskipun aku tidak mengerti ilmu silat, tapi semua ini aku mendapat tahu dari cerita guruku.”
Diam-diam heran hati Thian-hi, orang macam apakah guru Ma Gwat-sian itu, tak perlu disangsikan lagi pasti seorang tokoh kosen yang lihay.
Tengah ia terpekur, terdengarlah derap langkah kaki berat tengah mendatangi. Cepat Ma Gwat-sian berkata, “Itulah engkohku datang, selamat jumpa nanti!” habis berkata ia terus menyelinap diantara rumpun bunga dan menghilang.
Dengan termenung Thian-hi terpekur, sementara itu Ma Bong-hwi sudah mendatangi, segera Thian-hi membalik tubuh, kelihatan Ma Bong-hwi tercengang, katanya tertawa, “Hampir saja aku tidak mengenalmu lagi, dandananmu ini sungguh cukup ganteng dan perwira, tampan sekali sebagai panglima muda!”
Hun Thian-hi mandah tertawa saja tanpa membuka suara.
“Mari sekarang juga kita masuk ke istana!” demikian ajak Ma Bong-hwi.
Thian-hi manggut-manggut, dengan langkah lebar mereka taerderap keluar dari gedung panglima besar. Diluar pintu sudah siap dua ekor kuda, cepat mereka naik kuda terus dicongklang pelan-pelan menuju ke pintu selatan, setelah berada di luar pintu selepas pandang ke depan nan jauh sana, kira-kira lima li jauhnya tampak sebentuk kota besar pula, bentuk kota di depan itu lebih besar, lebih megah, diantara kedua belah pintu gerbangnya yang menjulang tinggi adalah sejalur jalan batu mengkilap yang lebar dan bersih,
Thian-hi berpikir pasti itulah Thian-seng adanya.
Letak Thian-seng membelakangi pegunungan yang menghijau dan diselubungi mega nan mengembang, pemandangannya sungguh menakjupkan.
Kata Ma Bong-hwi kepada Thian-hi, “Adikku itu sangat mengagulkan kau, selamanya belum pernah ia merasa kagum dan memuji seseorang.”
Hun Thian-hi tersenyum simpul, katanya, “Sebetulnya tiada suatu keistimewaan atas diriku, kalau dia betul-betul memuji aku, sungguh lebih disesalkan.”
“Setiap ucapannya selamanya tidak pernah meleset, sejak kecil ia diangkat murid oleh seorang tokoh aneh yang menyembunyikan diri. Berturut-turut aku mengalami berbagai kesukaran semua adalah dia yang bantu aku mengatasi dan membereskannya! Siapakah gurunya tiada seorangpun yang tahu kecuali dia sendiri.”
Tengah mengobrol tanpa terasa mereka sudah tiba di Thian-seng, mereka langsung keprak kuda mencongklang ke dalam kota. Belum jauh mereka berjalan dari depan sana mendatangi seorang panglima pertengahan umur yang memimpin serombongan orang berkuda, masih rada jauh lantas Ma Bong-hwi memberitahu kepada Thian-hi, “Pendatang ini adalah Ing Si-kiat Ing-ciangkun….”
Setelah dekat dengan berseri tawa Ing Si-kiat maju menyapa, “Ma-ciangkun baru datang, dosa adikku itu, melulu mengandal tenaga Ma-ciangkun untuk menolongnya!”
“Ah, Ing-ciangkun terlalu sungkan,” ujar Ma Bong-hwi. Betapapun masih mohon bantuan Ing-ciangkun juga.!”
Ing Si-kiat tertawa-tawa, katanya, “Aku akan memberi perintah kepada mereka supaya menutup pintu empat gerbang rapat2. tiada seorang pun diperbolehkan keluar masuk!” — Lalu ia berpaling memandang Hun Thian-hi serta katanya, “Yang ini adalah….”
“Benar-benar, aku masih belum memperkenalkan kalian. Inilah adik angkatku! Dia bernama….” sampai disini ia merandek sebentar lalu meneruskan “Tio Kun-Kah ini aku hanya bawa dia untuk berdinas, dia kuangkat sebagai wakilku.”
Bergegas Hun Thian-hi menjura serta menyapa, “Ing-ciangkun! Selamat bertemu!”
Sekilas Ing-ciangkun melirik ke arah Hun Thian-hi; seolah-olah ia tidak pandang orang sebelah matanya, katanya tertawa, “Selama ini aku masih belum tahu bahwa Ma-ciangkun ternyata punya seorang adik angkat, Saudara Tio Kun masih muda belia serta gagah lagi, kelak tentu punya harapan besar yang tak terukur!”
Dengan tertawa-tawa Hun Thian-hi menjura serta merendahkan diri dan main sungkan, diam-diam ia perhatikan wajah serta tingkah laku Ing Si-kiat. Terasa olehnya bahwa sikap Ing Si-kiat kelihatan merasa curiga terhadap dirinya.
“Tak heran Ing-ciangkun tidak mengetahui,” demikian jawab Ma Bong-hwi memberi keterangan, “baru hari ini aku angkat saudara dengan dia, adik angkatku ini jauh lebih kuat dan pintar dari aku, untuk mengatasi peristiwa ini aku sangat mengandalkan tenaganya.”
Sekali lagi Ing Si-kiat perhatian Hun Thian-hi. lalu berkata, “Kalau begitu urusan adikku itu juga mohon bantuan pada. Tio-huciangkun untuk membantu.”
Cepat Hun Thian-hi menyahut, “Ing-ciangkun menggoda saja. saudaraku ini memang suka omong, sebenar-benarnya kemampuanku mana dapat membantu, selanjutnya masih harap Ing-ciangkun suka memberi petunjuk….”
“Kalian masih punya urusan penting, aku Ing Si-kiat minta diri dulu, semoga kalian sukses dalam tugas.”
Berbareng Thian-hi berdua angkat tangan memberi hormat terus melanjutkan menuju ke istana raja. Tak lama kemudian mereka sudah tiba dibelakang. setelah turun dari atas kuda, waktu Thian-hi angkat kepala, tampak istana raja ini sedemikian tinggi megah dan mewah sekali, hanya undakan batu pualamnya saja begitu lebar dan panjang tak kurang dari delapan puluh tingkat, sambil berjajar dan menyoreng pedang Thian-hi berdua beranjak ke atas.
Gerbang istana terjaga ketat oleh pasukan Gi-lim-kun, begitu melihat kedatangan Ma Bong-hwi berdua, bergegas mereka maju memberi hormat, menunjuk Thian-hi Ma Bong-hwi berkata pada mereka, “Inilah Tio-ciangkun, selanjutnya kalian juga harus dengar petunjuknya!”
Serempak para Gi-Lim-kun itu mengiakan sambil menjura, selanjutnya mereka maju lebih jauh ke dalam istana, setiap pelosok istana terjaga ketat, beberapa grup pasukan berlalu lalang meronda, bersama Thian-hi Ma Bong-hwi mengadakan pemeriksaan dan meronda keberbagai pelosok lalu kembali ke tempat semula.
Ce-kim-cu yang diincar pencuri itu terporotkan di atas belandar besar beberapa meter dari bawah, dibawahnya terjaga kuat oleh pasukan Gi-lim-kun. Begitulah Thian-hi berdua ikut berjaga dengan waspada sambil mengobrol sekadarnya menunggu waktu. hingga tanpa terasa tahu-tahu sudah tengah malam keadaan tetap sunyi hening tiada kejadian apa-apa.
Kira-kira dua jam kemudian, keadaan masih tenang dan aman tentram, Ce-kim-cu jelas masih terpancang, disana dengan memancarkan sinarnya yang cemerlang kelap kelip.
Tatkala itu cuaca sudah hampir terang tanah, Ma Bong-hwi mendengus hidung; segera ia melolos pedang dan bersiap waspada. Para pasukan Gi-lim-kun juga segera mempersiapkan diri masing-masing, sementara, pasukan panah pun sudah memancang anak panah di atas busur tinggal menunggu perintah.
Sementara Hun Thian-hi juga merasa was-was dan kebat kebit, dengan penjagaan begitu ketat bagaimanapun si pencuri itu takkan dapat membawa lari Ce-kim-cu. Sebentar lagi ufuk timur sudah mulai bersemu kuning, keadaan masih tetap tenang dan aman. Sekelilingnya hening senyap, mereka tinggal menugggu saat gelap berganti terang tanah saja.
Sekonyong-konyong seorang anggota Gi-lim-kun tergopoh2 lari keluar dari dalam istana terus maju kehadapan Ma Bong-hwi serta melapor, “Lapor Ma-ciangkun! Sang Baginda minta Ciangkun segera menghadap!”
Ma Bong-hwi pandang kanan kirinya, lalu bertanya pada anggota Gi-lim-kun itu, “Baginda ada bilang apa tidak?”
“Tidak!” sahut orang itu sambil membungkuk.
Timbul rasa curiga Ma Bong-hwi. namun disini masih ada Hun Thian-hi dan tak perlu kuatir segera ia masukkan pedang ke dalam kerangkanya serta berseru, “Baik, segera aku menghadap!” — Lalu dengan langkah lebar ia beranjak masuk.
Namun baru dua tiga langkah Ma Bong-hwi berjalan orang itu berkata pula, “Baginda juga minta Tio-ciangkun menghadap bersama.”
Semakin tebal curiga Ma Bong-hwi segera ia membalik serta berseru, “Tio-ciangkun, junjungan belum tahu akan dia!” mendadak ia menggeram serta menghardik, “Siapa kau?”
Cepat orang itu menjura, serta berkata, “Tadi baru saja sang Baginda bangun, mendengar bahwa Ce-kim-cu tidak hilang lantas menanyakan Ciangkun, tahu bahwa Ciangkun bersama Tio-ciangkun menjaga bersama, beliau perintahkan hamba kemari mengundang Ciangkun berdua!”
Ma Bong-hwi menjengek, hatinya dirundung kecurigaan, saat ini hari belum lagi terang tanah, pencuri itu masih punya cukup waktu untuk bekerja, bagaimana mungkin dirinya tinggal pergi. Tapi benar-benar atau palsu sulit diketahui, mana bisa memberi keputusah begitu cepat, dengan seksama ia awasi orang itu lalu bertanya, “Siapa namamu?”
Badan orang itu kelihatan bergetar namun segera menjawab lantang, “Hamba Li Gun!”
Ma Bong-hwi mendehem, lalu berkata kepada Thian-hi, “Lebih baik kau tetap tinggal disini, biar aku masuk dulu!” — Selesai berkata dengan langkak lebar ia menuju keistana.
Melihat keputusan Ma Bong-hwi yang tegas itu, Li Gun menjadi gugup, dengan mendelong ia awasi punggung Ma Bong-hwi yang hampir menghilang disebelah dalam…. segera ia berdiri dan membalik tubuh serta melolos pedang, tiba ia berteriak kejut, “Hai, dimana Ce-kim-cu?”
Semua hadirin menjadi berjingkrak kaget, serentak mereka angkat kepala memandang ke atas belandar, Hun Thian-hi sendiri juga angkat kepala, hatinya rada bercekat, batinnya, “Jika dalam sekejap ini Ce-kim-cu benar-benar hilang, memang harus diakui bahwa kepandaian pencuri itu entah betapa tingginya?”
Waktu ia angkat kepala benar-benar juga Ce-kim-cu sudah hilang tanpa juntrungan, keruan bukan kepalang kagetnya, dikolong langit ini mana mungkin ada tokoh kosen begitu lihay ilmu silatnya, ia percaya pada diri sendiri seumpama pencuri itu seorang tokoh lihay pun, kesiur angin lambaian bajunya tentu dapat ditangkap oleh ketajaman kupingnya, namun kenyataan Ce-kim-cu sudah lenyap dalam waktu sesingkat itu.
Para pasukan Gi-lim-kun menjadi gempar serempak mereka mengacungkan pedang dan mempersiapkan panah. Hun Thian-hi segera berseru dengan suara kereng, “Semua jangan ribut!”
Dengan tajam ia menyapu pandang kesekitarnya. hatinya dirundung curiga yang tebal, tanpa disadari timbullah perasaan congkak dan tinggi hati, sungguh ia merasa penasaran telah dipermaiankan begitu rupa, dengan keras ia membuka suara, “Dimana Li Gun?”
Orang-orang sekelilingnya saling pandang dan celingkukan, tiada seorang pun yang menjawab.
Semakin memuncak rasa gusar Thian-hi, serunya, “Siapa diantara kalian yang kenal Li Gun?”
Dengan seksama ia sapu pandang setiap raut muka orang disekitarnya, tiada seorang pun yang memberi jawaban.
Keruan semakin gugup dan gelisah hati Thian-hi, baru sekarang dia betul-betul kebentur pada seorang tokoh kosen yang benar-benar lihay, baru saja ia bernat melompat naik untuk memeriksa, kelihatan Ma Bong-hwi sudah memburu keluar. Begitu melihat keadaan yang kalut ini kontan ia merasa firasat yang jelek.
Sungguh menyesal dan malu lagi, cepat Thian-hi maju menjura serta berkata, “Sungguh aku tidak becus, Ce-kim-cu telah hilang dalam sekejap ini. Li Gun pun melarikan diri disaat terjadi keributan.”
Sesaat Ma Bong-hwi menjublek ditempatnya, akhirnya, ia menggoyangkan tangan sambil berkata, “Tak dapat salahkan kau, seharusnya aku tahu bahwa Baginda tidak mungkin mengundang aku tapi aku terburu nafsu hendak membongkar permaian licik ini, sehingga tanpa sadar terjebak ke dalam tipu muslihatnya”
Sungguh pedih perasaan Thian-hi, katanya, “Aku ingin memeriksa ke atas sana, akan kulihat cara bagaimana Ce-kim-cu itu telah lenyap!”
Ma Bong-hwi manggut-manggut, ujarnya, “Kali ini Ce-kim-cu hilang secara misterius, bolehlah kau naik kesana memeriksanya!”
Thian-hi membungkuk tubuh sambil mundur dua langkah, ia berlaku hati-hati supaya tidak mempertunjukkan kepandaian aslinya, sedikit menekuk dengkul kakinya segera menjejak tanah terus merambat naik melalui tiang belandar yang besar itu. Begitu tiba di atas belandar dengan seksama. ia memeriksa kekanan kiri. tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis yang aneh, selain itu tiada sesuatu yang dapat diketemukan sebagai sumber penyelidikan.
Dengan cermat ia periksa terus sekitar belandar besar yang dapat untuk bersembunyi manusia namun jejak atau telapak kaki orang pun tidak diketemukan. Kecuali orang itu bisa terbang dan lari pergi, kalau tidak tentu dapat kepergok.
Disebuah sudut belandar sebelah sana ia menemukan secarik kertas yang bertuliskan beberapa huruf yang menyolok, tulisan itu berbunyi, “Besok malam, kuambil Giok-hud!”
Dengan ringan Thian-hi melompat turun? langsung ia angsurkan secarik kertas itu kepada Ma Bong-hwi. lalu berdiri menunduk tanpa buka suara.
Setelah membaca tulisan itu, dengan menghela napas Ma Bong-hwi berkata, “Ternyata ada orang berani menyelundup masuk ke dalam pasukan Gi-lim-kun, sungguh besar nyali orang itu.”
Selamanya Thian-hi belum pernah mendapat malu dihadapan umum, orang lain biasanya menyanjung puji dirinya, dengan berbagai daya upaya mohon dirinya membantu dan mengundang dirinya kemari ikut menanggulangi peristiwa pencurian misterius ini, tapi kenyataan barang yang dilindungi itu tetap hilang juga. malah sebuah sumber penyelidikan macam Li Gun juga sampai berhasil lolos, betapa malu dirinya. Seharusnya begitu Ce-kim-cu lenyap aku segera harus meringkus Li Gun, tapi orang itu toh berhasil merat juga.
Sekian lama mereka berdiri berhadapan tanpa bersuara, tak lama kemudian cuaca sudah terang benderang. Ma Bong-hwi berkata, “Thian-hi, kau bukan pembesar dinas secara resmi, boleh silakan kau menyingkir dulu ke kamar sebelah, bila Baginda mengundang kau baru kau menghadap.”
Tak lama kemudian terdengar derap langkah ribut, disusul lonceng istana berdentang keras suaranya menggema diangkasa, seketika seluruh istana menjadi hening lelap.
Setelah para pembesar menghadap dan melakukan upacara kehormatan terdengarlah Ma Bong-hwi tampil ke depan dan memberi laporan, “Hamba tidak becus bekerja. Ce-kim-cu telah hilang lagi, harap Baginda suka memberi hukuman setimpal!”
Kedengarannya sang raja sangat murka, dengan menggeram ia berseru, “Apa pula yang diincarnya nanti malam? sia-sia belaka aku memberi makan kalian para pembesar tinggi, entah mengapa seorang maling kecil saja tidak becus menangkapnya.”
Setelah berludah dengan sebal ia melanjutkan, “Istana raja buat lalu lalang maling sesuka hatinya, barang berharga satu persatu telah dicurinya, apakah tiada seorang pun diantara kalian yang mampu berbakti kepada kerajaan?”
Sebuah suara serak dan bernada rendah segera menyahut, “Harap junjungan tidak marah, urusan ini tidak bisa semua menyalahkan Ma-ciangkun, paling tidak Lojen (hamba) juga ikut bersalah.”
Dalam hati Thian-hi membatin pembicara ini tentu Tan-siangkok adanya, bila dia mau menghasut atau mencelakai jiwa Ma Bong-hwi adalah sekarang kesempatan yang paling baik, entah apa sebetulnya maksud hatinya, ternyata dia tampil ke depan melindungi Ma Bong-hwi.
Dengan gusar sang raja mendengus, lalu katanya, “Tan-siangkok, kaulah yang menjadi sandaran Ma Bong-hwi, sudah tentu kau pun bersalah.”
Terdengar Ing Si-kiat juga ikut menimbrung, “Harap Baginda suka mempertimbangkan kembali, Ma-ciangkun seorang cerdik pandai, hanya karena sedikit kecerobohannya sehingga Ce-kim-cu telah hilang, kalau malam ini orang itu berani datang lagi pasti dapat dibekuknya.”
Sebuah suara tua dan rendah yang lain ikut bicara, “Hamba juga berani menjadi sandaran Ma-ciangkun!”
“Toh-ciatsu, kau pun mau melindungi dia!” demikian tanya sang raja.
Akhirnya Tan-siangkok bicara lagi, “Lojen berani tanggung sekali lagi, Ma-ciangkun seorang pembesar yang mengetahui kepentingan tugasnya, aku percaya malam ini tidak bakal kehilangan barang lagi. Seumpama benar-benar hilang lagi, Lojen rela meletakkan jabatan, dan seluruh keluarga Ma-ciangkun boleh dipenggal kepalanya sebagai penebus dosa!”
Bercekat hati Thian-hi, diam-diam ia kertak gigi, batinnya, “Tipu daya yang keji dan culas sekali. Kiranya kau mengatur tipu daya secara begitu licik, semula kusangka kau bertujuan baik ingin membantu meringankan bebas orang, kiranya bertujuan menumpas habis seluruh keluarga Ma-ciangkun.”
Kedengarannya sang raja juga merasa diluar dugaan, katanya lantang, “Apa? Begitu besar kepercayaan Tan-siangkok kepada Ma-ciangkun?”
“Menurut hemat Lojen, Ma-ciangkun pasti dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.”
“Baiklah, kegagalan hari ini tidak perlu kutarik panjang lagi.”
Bersama para pembesar yang lain Ma Bong-hwi berlutut. serta nyatakan terima kasih akan pengampunan lalu mengundurkan diri. Dengan lesu dan putus semangat Ma Bong-hwi memasuki kamar dimana Hun Thian-hi tengah menunggu.
Thian-hi bangkit berdiri serta berkata penuh menyesal, “Ma-ciangkun, akulah yang salah sehingga kau yang ketimpa akibatnya.”
Ma Bong-hwi goyang2 tangan dengan lesu, sebelumnya ia sangat percaya akan kemampuan Hun Thian-hi, namun kenyataan Ce-kim-cu telah hilang, sumber penyelidikan yang utama pun sampai lolos, ini yang menjadikan kekecewaan hatinya.
Sungguh rawan dan pedih perasaan Thian-hi melihat sikap orang, betapa pun malam ini Giok-hud (patung Budha) tidak boleh hilang pula. Demikian Thian-hi bertekad.
Kata Ma Bong-hwi, “Hari ini kita tak usah pulang, nanti akan kuutus seorang memberi tahu rumah.
Sementara menunggu waktu kau holeh jalan-jalan sambil memeriksa keadaan sekitarnya supaya apal akan situasi nanti malam, tapi jangan sekali2 kau menuju ke istana dalam.”
Thian-hi manggut mengiakan, Ma Bong-hwi lantas tinggal pergi ke arah lain. Duduk di atas kursi Thianhi merasa kesepian akhirnya ia bangkit dan jalan-jalan, pikirannya masih diliputi keheranan, sungguh tidak masuk diakal, cara bagaimana pencuri itu dapat bekerja begitu rapi dan cepat membawa kabur Ce-kim-cu tanpa diketahui, begitulah sambil berjalan otaknya terus bekerja, tanpa merasa kakinya melangkah ke dalam sebuah taman bunga.
Pada jaman ini orang yang dapat mengambil Ce-kim-cu dan tanpa diketahui olehnya jumlahnya dapat dihitung dengan jari, apakah mungkin pencuri itu seorang tokoh kosen aneh yang berkepandaian tiada taranya? Kalau benar-benar, masakah dia sudi melakukan perbuatan tercela begini. Bagi seorang berkepandaian tinggi tak mungkin mau melakukan perbuatan bangsa kurcaci.
Begitulah pikirannya terus bergelombang tak tentram, mendadak kupingnya mendengar suara seruan kaget yang perlahan, Thian-hi berjingkrak kaget, waktu angkat kepala tampak Tuan putri tahu-tahu sudah berdiri tak jauh di depannya.
Keruan gugup dan gelisah hatinya, tahu dia tanpa disadari dirinya sudah melanggar larangan memasuki istana dalam, cepat ia membungkuk tubuh memberi hormat, serunya, “Tuan putri! Kau baik, karena pikiran kalut hamba sampai melanggar larangan masuk kemari, harap tuan putri tidak marah.”
Tuan putri mendengus katanya, “Apakah kau wakil komandan Gi-lim-kun?”
Tersipu-sipu Thian-hi mengiakan sambil menjura.
“Kenapa kau berani memasuki daerah terlarang?” semprot tuan putri dengan merengut.
Thian-hi menjadi tergagap, “Baru kemaren hamba ikut Ma-ciangkun kemari, apalagi benakku sedang gundah memikirkan tugas yang berat ini, sehingga tanpa sadar masuk kemari!”
“Kemaren?” tanya tuan putri menegas sambil mengerut kening, “Baru kemaren kau masuk istana?”
Thian-hi manggut-manggut.
“Tapi kulihat mukamu seperti sudah kukenal, seperti pernah kulihat kau dimana, apa kau tidak bohongi aku?”
Saat itu dua petugas ronda dalam lewat, begitu melihat Hun Thian-hi, mereka saling pandang terus maju menyembah kepada tuan putri, “Harap tuan putri memberi ampun, karena kelalaian kami sehingga orang ini masuk kemari, biarlah kami yang mengusirnya keluar!-’
“Tidak perlu, akulah yang memanggilnya kemari waktu dia lewat disana, tiada urusan kamu disini, hayo pergi!”
Kedua peronda itu saling pandang, sahutnya, “Tapi….”
“Tapi apa lagi! Ajo lekas enyah jangan cerewet!”
Kedua peronda itu menjadi gemetar dan apa boleh buat terpaksa mereka mengundurkan diri.
Tuan putri menepekur sekian saat, lalu berkata lagi, “Sungguh sebal kenapa tidak bisa kuingat, eh, kenapa kau tunduk saja, coba angkat kepalamu supaya kulihat lebih tegas.”
Thian-hi angkat kepala, tampak tuan putri mengenakan pakaian serba putih, yang dikenakan ini adalah pakaian kebesaran dalam istana, jauh berlainan dengan sikapnya tempo hari di atas kereta. Dibelakangnya mengintil dua dayang, dengan pakaian yang panjang melambai ini tuan putri terasa lebih agung dan cantik, sehingga Thian-hi tak berani metmandang ke depan.
Setelah mengamati sekian lamanya, mendadak tuan putri bertepuk dan berseru tertawa, “Benar-benar! Kini kuingat, bukankah kau tinggal digedung Ma-ciang-kun?”
Terperanjat hati Thian-hi, tak duga ingatan tuan putri ternyata begitu tajam, kejadian tempo hari sudah sekian lamanya, malah sekarang dirinya sudah ganti pakaian. kiranya masih tak berhasil mengelabui sepasang biji matanya yang bening dan jeli itu.
Apa boleh buat Thian-hi menjura, “Tempo hari hamba terlalu kurang hormat, sampai lupa nyatakan terima kasih akan pertolongan tuan putri.”
Kelihatannya tuan putri sangat senang, katanya tertawa lebar, “Sungguh hampir tak kukenal, tempo hari dandananmu sebagai pelajar kutu buku, sekarang sebagai wakil komandan Gi-lim-kun, ai, sungguh aneh!”
Thian-hi menjadi geli oleh banyolan tuan putri.
Kata tuan putri lagi, “Tempo hari putra Tan-siangkok menghajar kau dengan pecut, kenapa kau tidak mau melawan? O. ja, dimana serulingmu itu? Apa kau bawa kemari?”
Thian-hi tertawa-tawa, keadaan dirinya lebih jelas lagi dibelejeti, sungguh tajam dan lihay benar-benar tuan putri ini, ia geleng kepala untuk jawaban.
“Ada omongan hendak kukatakan kepada kau, mari kau ikut aku! Kesana, ke gardu itu!” Lalu ia mendahului menuju kesebuah gardu yang terdekat.
Thian-hi mengekor di belakang tuan putri memasuki gardu itu, tuan putri ulapkan tangan suruh Thian-hi duduk, Thian-hi geleng kepala, tuan putri berkata dengan tersenyum, “Kusuruh kau duduk. takut apa kau? Duduklah!”
Terpaksa Thian-hi menduduki sebuah kursi, dengan seksama tuan putri meng-amat-amatinya, Thian-hi menjadi risi dan kikuk, tuan putri terkikih geli, katanya, “Kiranya kau begitu pemalu, orang lain takkan menduga kau sebagai wakii komandan Gi-lim-kun, apakah kau pandai main silat?”
Bergejolak hati Thian-hi, mendengar suara tawa tuan putri pikirannya lantas melayang mengenangkan keadaan di Tionggoan, seolah-olah ia merasa orang yang berada di depannya ini adalah Sutouw Ci-ko, wataknya memang periang seperti watak Sutouw Ci-ko, entah bagaimana dan dimanakah Sutouw Ci-ko sekarang.
Tuan putri mendesiskan mulut, ujarnya, “Sedang kutanya kau! Apa yang sedang kau pikirkan?”
Thian-hi tersentak kaget, sahutnya dengan rikuh, “Apa yang tuan putri tanyakan? Aku tidak jelas mendengar!”
Tuan putri menjadi kurang senang, katanya, “Bagaimana kau ini, aku bicara dengan kau kenapa menjadi linglug, kukatakan cabutlah pedangmu, aku ingin bertanding pedang dengan kau.”
Thian-hi tersentak kaget sampai bangkit dari tempat duduknya, serunya: .Tuan putri, mana boleh jadi!”
Tuan putri dan kedua dayang dibelakangnya menjadi terkekeh geli, Thian-hi sendiri semakin tersipu-sipu tak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Tuan putri segera berkata. “Jangan bersitegang leher, aku hanya menggertakmu saja, sebetulnya. umpama Ma-ciangkun sendiri kemari dia pun bukan menjadi tandinganku!”
Baru saja Thian-hi dapat menghela napas lega, serta merta ia lantas mengerut kening mendengar bualan tuan putri, dengan cermat diam-diam ia amat-amati tuan putri, kelihatan raut mukanya bundar telor, pipinya bersemu merah laksana buah tho, biji matanya bening sejernih air, dengan tajam orangpun senang menatap dirinya, cepat-cepat ia alihkan pandangan matanya. sekilas ini terasa olehnya bahwa tuan putri ternyata begitu elok dan rupawan, sampai ia tidak berani memandang lebih lama lagi.
“Belakangan ini aku pun suka meniup seruling, apakah kau sudi mengajarkan aku?” demikian ujar tuan putri.
“Mana aku berani mengajarkan kepada tuan putri!” tersipu-sipu Thian-hi mengiakan.
Tuan putri tak hiraukan ucapan Thian-hi dari dalam lengan bajunya ia mengeluarkan seruling terus diangsurkan kepada Thian-hi sembari berkata, “Coba kau periksa bagaimana seruling ini?”
Terpaksa Thian-hi menerima seruling itu, tampak seruling ini begitu mulus dan bening laksana terbuat dari kaca, waktu dipegang terasa hangat, seluruh batangnya terukir sembilan naga bergulat seperti sedang bermain di tengah angkasa, kelihatannya jauh lebih bagus dari seruling miliknya itu.
Tuan putri tertawa bangga, ujarnya, “Bagaimana? Tidak kalah bukan dibanding serulingmu?”
Thian-hi tersenyum, katanya, “Seruling tuan putri ini jauh lebih bagus dari serulingku!”
Tuan putri berkata, “Coba kau tiup sebuah lagu untuk kudengar!”
Thian-hi melengak, tanyanya, “Sekarang juga?”’
Tuan putri manggut-manggut. “Ya, sekarang juga!”
Thian-hi menjadi bimbang, katanya, “Tiupan serulingku tidak begitu mahir, semoga tidak menjadi buah tertawaan tuan putri.”
Tuan putri manggut-manggut, dengan mendelong ia perhatikan Thian-hi serta menanti.
Pelan-pelan Thian-hi angkat seruling kedekat mulutnya, sejenak ia berpikir lalu mulai memup seruling melagukan sebuah irama yang halus mengalun pelan, itulah lagu ‘indahnya alam’, nada lagunya rendah dan datar mengembang laksana mega berlalu seumpama air mengalir terus mengalun tak putus2.
Sedemikian merdu dan mempesonakan irama seruling lagu Indahnya alam ini sehingga Tuan putri dan kedua dayangnya terlongong kesima, sekian lama setelah lagu selesai ditiup baru Tuan putri menghirup hawa segar, katanya, “Selamanya belum pernah kudengar irama seruling sedemikian bagus, sungguh enak dan menyegarkan badan, seharusnya kau menjadi guru musik saja.”
Thian-hi tertawa-tawa, ujarnya, “Tiupan serulingku masih kurang sempurna, tak perlu dibanggakan.
Sebetulnya Ma-ciangkun….” sebetulnya ia hendak menyinggung soal Ma Gwat-sian, tapi serta dipikir menjadi kurang enak rasanya, maka segera ia urungkan.
“Kau cukup pintar dalam ilmu silat dan sastra, aku menjadi kurang paham dari mana Ma-ciangkun dapat mencari orang sepandai kau ini.”
“Tuan putri terlalu memuji, sebenar-benarnya bisaku juga sangat terbatas!”
“Apakah kau mau sering kemari menemani aku?”
“Apa?” tanya Thian-hi melongo.
“Maksudku, tiupan serulingmu begitu bagus, selanjutnya seringlah datang mengajarkan kepada aku!”
Hun Thian-hi tersenyum getir, sahutnya, “Aku kuatir tidak mungkin!”
“Apa kau tidak sudi?”
Thian-hi serba sulit tak tahu cara bagaimana harus menjawab, terpaksa ia meng-ada2 saja katanya, “Tuan putri juga tahu, tadi aku sudah gagal dalam tugas pertama, kehilangan Ce-kim-cu merupakan kelalaianku, sehingga Ma-ciangkunlah yang ketimpa akibatnya, hatiku….”
“Tak perlu kau takut menghadapi urusan itu, biar aku yang mintakan ampun kepada ayah baginda bagi kau dan Ma-ciangkun, ayah baginda tentu melulusi!”
“Sekali2 tuan putri tidak boleh berbuat demikian. Hatiku akan lebih menyesal lagi, kebaikan tuan putri sungguh Huh Thian-hi menyatakan banyak terima kasih.”
Dengan tajam tuan putri pandang Hun Thian-hi, katanya, “Kau ini sungguh sombong, kebaikan lain orang sedikit pun kau tidak mau terima, untung aku ini seorang tuan putri, kalau tidak betapa kau akan lebih sombong lagi.”
Thian-hi menjadi tergagap dan tak kuasa menjawab lagi, diam-diam ia membatin dalam hati, apakah begitu watakku, demikian ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah sikapku ini betul?
Tuan putri tertawa, ujarnya, “Bila Giok-hud sampai hilang pula nanti malam, apakah kau hendak berpeluk tangan saja melihat seluruh keluarga Ma-ciangkun dipenggal kepalanya?”
Thian-hi terlongong diam, sesaat kemudian baru menjawab, “Terima kasih tuan putri!”
“Hari ini cukup sekian saja, mungkin ayah baginda mencari aku, aku harus segera pulang, kau sendiri juga lekas keluar dari tempat ini!” — habis berkata lalu balik masuk ke dalam sebentar saja bayangan punggungnya menghilang dibalik rumpun kembang.
Diam-diam bergejolak perasaan Thian-hi, sungguh ia merasa sangat terima kasih dan haru, tuan putri ternyata seorang budiman yang baik hati, tapi sayangnya ia dilahirkan dalam kalangan bangsawan, mungkin dia tidak menyadari betapa culas hati manusia yang sedang saling berebutan kekuasaan harta dan kedudukan.
Tanpa merasa ia menghela napas rawan, sekonyong-konyong ia merasa tangannya masih memegang sebuah benda apa, waktu menunduk kiranya seruling itu masih belum sempat ia kembalikan kepada tuan putri. Keruan ia menjadi bingung dan menjublek sekian lama, tak mungkin ia mengejar ke dalam terpaksa dalam kesempatan lain saja baru bisa dikembalikan.
Thian-hi tak berani tinggal terlalu lama di tempat terlarang ini, sambil menyimpan seruling ke dalam bajunya bergegas ia lari keluar dari taman bunga, Waktu sampai di bilangan istana luar tampak Ma Bong-hwi tengah ubek2an mencari dirinya, melihat kedatangannya cepat ia bertanya, “Thian-hi, kemana kau, sukar mencari kau!”
“Maaf toako, secara tidak sadar aku melanggar masuk kebun, tadi bicara sebentar dengan tuan putri!”
“Kau ketemu dengan tuan putri?” Ma Bong-hwi menegas dengan terbelalak.
Thian-hi manggut-manggut. Ma Bong-hwi menghela napas panjang, ujarnya, “Untung kau masih bisa keluar lagi. Selanjutnya jangan sembarang terobosan!”
Thian-hi mengiakan.
Selanjutnya mereka berdua pergi istirahat untuk menghimpun semangat supaya nanti malam lebih segar menjaga Giok-hud (patung Budha). Thian-hi duduk samadi di atas dipan dalam sebuah kamar khusus yang disediakan untuk dirinya, dalam kesunyian ini ia dapat melatih Pan-yok-hian-kang. Tanpa merasa waktu ia selesai dalam latihannya cuaca sudah gelap, pelita juga suaah dinyalakan, bergegas ia keluar menemui Ma Bong-hwi, tampak muka orang kejut dan semangatnya lojo, terang ia tidak bisa tidur.
Ma Bong-hwi masuk ke dalam istana mengeluarkan Giok-hud, tampak Patung Budha ini tinggi tiga inci seluruh patung ini mengkilap bening terbuat dari pualam pilihan, betul-betul merupakan barang antik yang tak ternilai harganya.
Ma Bong-hwi segera suruh anak buahnya memasang tangga dan perintahkan supaya patung Budha ini ditaruh di atas belandar…. Mendadak Thian-hi tersentak oleh sebuah pemikiran lain, cepat ia berkata, “Ma-ciangkun! Siapa yang mengusulkan supaya patung ini diletakkan di atas belandar?”
“Ing-ciangkun yang mengusulkan, menurut hematku memang tepat diletakkan disana, apakah kurang tepat tempat itu?”
Tergerak hati Thian-hi, teringat olehnya akan kecurigaan Ma Gwat-sian yang mengatakan kalau Ing-ciangkun ini kurang dapat dipercaya, segera ia buka suara, “Hari ini lebih baik kita tidak meletakkan patung ini di atas belandar, coba sekali ini diletakkan di lantai saja!”
Semula Ma Bong-hwi beragu, akhirnya setuju juga meletakkan patung Budha itu di atas lantai, ternyata malam itu berlalu dengan tenang dan aman tanpa terjadi suatu apa.
Hari kedua semua tercengang dan kejut2 heran. Ma Bong-hwi sendiri juga merasa heran dan takjup. Memang Ce-kim-cu itu hilangnya secara misterius. Apakah belandar besar itu yang kurang beres? Bagaimana mungkin pencuri itu datang pergi begitu cepat tanpa suara lagi seakan-akan bisa menyulap Ce-kim-cu itu masuk ke dalam kantongnya sendiri Sungguh aneh!
Thian-hi sendiri sudah curiga sejak mula bahwa di atas belandar itu tentu ada rahasianya. Mengandal taraf kepandaian Lwekangnya, betapapun pencuri itu takkan dapat lolos dari pengawasan begitu saja, kecuali pencuri itu sebelumnya memang sudah sembunyi di atas belandar, bila sembunyi di atas memang orang di bawah tak dapat melihat, waktu perhatian semua orang di bawah sedang terpencar gampang saja ia mengambilnya, namun orangnya masih sembunyi di sana, tanpa dapat meninggalkan tempat sembunyinya itu, kalau tidak, tiada alasan tanpa perbuatannya itu bisa konangan oleh begitu banyak orang.
Tapi analisa ini pun tidak mungkin terjadi, bila orang itu tetap sembunyi di atas, siang hari lebih tak mungkin bisa lari, masa dalam sehari semalam dia bisa tahan lapar dan dahaga sembunyi terus di atas belandar? Hal ini terang tidak mungkin.
Hari kedua pagi2 benar-benar, serta mendengar patung Budha tidak hilang sungguh girang sang Baginda bukan main, tapi segera iapun keluarkan perintahnya, memberi jangka waktu sepuluh hari untuk mengejar kembali barang-barang mestika yang hilang itu.
Apa boleh buat Ma Bong-hwi terpaksa mengiakan saja. Betapapun karena patung Budha tidak sampai hilang perasaannya yang tertekan rada kendor dan berlega hati. Setelah mengundurkan diri cepat bersama Thian-hi ia pulang ke gedungnya di Bi-seng.
Belum lagi sampai di rumah, seluruh anggota keluarganya sudah mendengar berita gembira ini semua berbondong keluar menyambut. Mereka dielu2kan memasuki rumah, setelah basa basi sekadarnya, Ma Bong-hwi lantas masuk istirahat, Thian-hi tahu beruntun beberapa malam dia tidak tidur maka iapun cepat kembali ke kamar bukunya.
Seorang- diri ia termenung dalam kamarnya memikirkan cara bagaimana sebenar-benarnya pencuri itu mengambil Ce-kim-cu, sekian lama ia tidak berhasil memecahkan persoalan ini. Kecuali belandar besar itu ada rahasianya yang tersembunyi.
Tengah ia terpekur, Ma Gwat-sian datang bertandang. cepat Thian-hi menyilahkan duduk, sekadarnya mereka bicara urusan biasa, akhirnya pembicaraan mereka beralih ke persoalan pencurian barang-barang mestika itu. Thian-hi menceritakan pengalamannya cara bagaimana Ce-kim-cu itu hilang dalam sekejap mata kepada Ma Gwat-sian.
Ma Gwat-sian berpikir sekian lamanya, akhirnya ia bertanya, “Menurut sangkamu di atas belandar itu dapat bersembunyi si pencuri itu bukan?”
“Itu hanya suatu kemungkinan saja!”
“Apa pula kemungkinan yang lain?”
“Kemungkinan lain perbuatan ini bukan dilakukan oleh manusia!”
“Hun-toako, jika aku harus memilih satu diantara kedua kemungkinan itu, aku memilih kemungkinan kedua. Istana raja bukan kediaman pribadi seseorang, betapapun takkan ada kesempatan bagi seseorang membuat tempat-tempat rahasia di belandar istana, kemungkinan kedua hanyalah kesimpulan dalam perkataan saja,”
Setelah mendengar ucapan Ma Gwat-sian seketika ia berjingkrak bangun, teringat olehnya akan bau amis yang aneh itu, ja, benar-benar, itu bukan perbuatan manusia, tapi adalah….
Semula ia tidak perhatikan bau amis yang aneh itu, sekarang setelah diingat, terasa olehnya bau semacam itu dulu ia pernah menciumnya sekali, itulah pada saat ia mempelajari jurus pencacat langit pelenyap bumi di dalam gua ular yang dlajarkan oleh Ang-hwat-lo-mo itu. Ja, bau amis itu adalah bau yang keluar dari badan ular.
Sambil menepuk kepalanya Thian-hi berseru kegirangan, “Sekarang aku tahu sebab musabab menghilangnya barang mestika itu!”
Ma Gwat-sian tersenyum manis, ujarnya, “Perbuatan ular, ya bukan!”
Terkeaima Thian-hi memandangi muka Ma Gwat-sian, orang begitu yakin akan kesimpulannya, sudah tentu Thian-hi terkejut akan kecerdikan gadis rupawan yang lemah ini, atau sebetulnya memang dia membekal kepandaian silat yang tiada taranya?
Sedikitpun ia tidak berani menyangkal dugaan Ma Gwat-sian. Ma Gwat-sian sendiri pernah mengatakan bahwa dia tidak pandai main silat, namun kecerdikan yang luar biasa ini serta keyakinannya yang teguh ini benar-benar sangat mengagumkan.
“Jikalau bukan perbuatan orang, sudah pasti perbuatan binatang, binatang lain yang bisa merambat ke atas belandar dan tanpa diketahui oleh orang, apalagi punya gerak gerik yang gesit dan cekatan kecuali ular tiada binatang lainnya lagi. Orang itu dapat mengendalikan ular untuk mencuri mestika itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, jelas bahwa orang ini pasti seorang kosen juga, jangan kau pandang remeh dia.”
Thian-hi manggut-manggut, sungguh ia takjup akan kecerdikan Ma Gwat-sian, setiap perkataannya seolah-olah dikatakan seperti dia sendiri yang menghadapi perkara itu, atau lebih jelas lagi seperti ia sendiri yang melakoni. Dihadapan Ma Gwat-sian ia merasa betapa bodoh dirinya ini.
Ma Gwat-sian menunduk menghindari pandangan Thian-hi, sambungnya, “Untuk mengendalikan ular gampang, tapi mengendalikan secara diam-diam tanpa bersuara justru sangat sukar. Aku harus istirahat, kudoakan semoga kau sukses malam nanti.” -habis berkata terus dia keluar mengundurkan diri.
Thian-hi bangkit mengantar orang sampai diambang pintu. sekian lama ia termenung2 lagi, lalu mulai pula dengan latihan Pan-yok-hian-kangnya, tak lupa iapun menyelami pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek. Sang waktu berjalan sangat cepat, tahu-tahu hari sudah menjelang magrib setelah makan malam bersama Ma Bong-hwi mereka berangkat lagi menunaikan tugas diistana.
Malam ini Thian-hi mengusulkan lagi kepada Ma Bong-hwi supaya patung Budha pualam itu diletakan di atas belandar saja.
“Bukankah di bawah lebih gampang dijaga dan diawasi?”
“Tapi tujuan kita adalah hendak menancing pencuri itu datang baru bisa menangkapnya, kalau di bawah dia tak mau datang bagaimana kita bisa meringkusnya!”
Ma Bong-hwi rada kuatir patung Budha itu bisa menghilang secara misterius lagi, namun Baginda memerintahkan dirinya dalam jangka sepuluh hari harus mengejar pulang mestika yang tercuri, cara menunggu lobang untuk menangkap kelinci bukanlah cara yang baik untuk menyelesaikan perkara pencurian ini, adalah lebih baik memancing pencuri itu datang sendiri lebih tepat, karena pikiran ini segera ia manggut-manggut dan menyuruh anak bUahnya meletakkan patung Budha itu ke atas belandar.
Hakikatnya Thian-hi tidak memberi tahu jalan pikirannya kepada Ma Bong-hwi, namun dia sudah punya pegangan, hanya dia meraba-raba, entah ular macam apakah yang begitu lihay dapat bekerja secerdik manusia sampai sekarang dia belum mendapat akal cara bagaimana ia harus mengatasi ular lihay ini.
Akhirnya ia berkata pada Ma Bong-hwi, “Ma-ciangkun menjaga bagian bawah, biar aku mengawasi bagian atas!”
Ma Bong-hwi manggut-manggut. Malam ini Thian-hi menghimpun seluruh semangat dan mencurahkan seluruh perhatiannya dengan waspada menanti kedatangan simaling, diam-diam dalam hati ia sudah bertekad harus dapat meringkusnya, seperti kegagalan semula pihak lawan tentu menggunakan cara licik untuk memencar perhatian seluruh penjaga itu lalu melepas ularnya untuk bekerja dengan cepat, akan kulihat cara apa yang dia gunakan malam ini.
Tengah ia bepikir, suasana hening dan sunyi tiba-tiba terdengar seseorang berseru, “Baginda datang!”
Baginda benar-benar muncul dihadapan mereka keruan semua orang tersentak kaget dan tersipu-sipu menyembah memberi hormat, Baginda menyapu pandang kepada mereka lalu berkata, “Ma-ciangkun mengundang aku kemari ada urusan apa?”
Ma Bong-hwi melongo. Sementara Thian-hi mengeluh dalam hati, cepat ia mendongak, dalam waktu sekejap itu benar-benar juga patung Budha sudan lenyap, hanya tampak selarik cahaya bergerak lantas lenyap. Sebat luar biasa ia jejakkan kaki mencelat naik ke atas.
Perbuatan Thian-hi ini sungguh sangat mengejutkan sang Baginda, ia tersurut dua langkah, sementara itu Ma Bong-hwi sedang menjawab, “Hamba sekalian tiada pernah mengundang Baginda. Terang kita telah kena tipu lagi!”
Begitu tiba di atas belandar Thian-hi melihat seekor ular hitam panjang empat kaki tengah melata cepat sekali ke depan sana sambil menggigit patung Buddha itu, gerak geriknya begitu gesit secepat angin, sekejap saja sudah tiba di ambang sebuah lobang dan hampir menghilang.
Tanpa ayal segera Thian-hi sambitkan pedang ditangannya, tepat sekali menancap di depan lobang itu sehingga jalan lari siular kebuntu, cepat sekali ia ulur tangan mencengkeram keleher ular terpaut tujuh senti dari bawah kepala ular, dimana terletak kelemahannya.
Melihat jalan lari sudah putus, ular itu agaknya tahu bahaya tengah mengancam cepat buntutnya melingkar terus melecut naik menyerang jalan darah pergelangan Thian-hi.
Disebelah bawah Ma Bong-hwi sudah perintahkan seluruh pintu ditutup rapat dan dijaga ketat mulai mengadakan penggeledahan.
Sudah tentu Thian-hi tidak gampang kena diserang oleh siular, tangannya membalik berbareng jarinya menyelentik tepat sekali menjentik ujung ekor siular, ular itu berteriak kesakitan, tapi mulutnya tetap menggondol patung Buddha itu tak mau meletakkan, gesit sekali mendadak hendak menerobos keluar. Ketiga jari tangan Thian-hi lantas mencengkeram ke tempat kelemahan siular di bawah kepalanya, cara kerjanya cepat dan telak, apalagi dia sudah bertekad hendak menangkap ular lihay ini.
Tapi disaat ia berhasil, mendadak dari belangkangnya terasa menyerang datang sejalur angin kencang menerjang ke arah jalan darah Ling-tai-hiat dipunggungnya, keruan kejut hati Thian-hi, tangkas sekali ia membalikkan telapak tangannya yang lain menyampok ke belakang, seekor ular putih telak sekali kena ditamparnya sampai jatuh di atas belandar tak bergerak lagi.
Ular hitam itu lari lagi ke depan, namun mana bisa lolos dari kesigapan tangan Thian-hi, sekali berkelebat ia mengejar maju dan tepat sekali berhasil menggencet kelemahannya di bawah kepalanya, ular itu dipaksa mengeluarkan patung Budha, lalu sambil menjinjing patung Buddha itu Thian-hi melompat turun ke-bawah.
Cepat Thian-hi maju menghadap kepada Baginda memberi lapor, “Pencurinya adalah seekor ular, sudah berhasil hamba ringkus, di atas belandar masih terdapat seekor ular putih yang lain juga berhasil kupukul mampus!”
Baginda berseri tawa, ujarnya, “Jasa Hun-ciangkun sungguh tidak kecil, ilmu silatnya juga hebat sekali, Yim (aku) berkeputusan untuk memberi anugerah dan pahala kepada kau.”
Tuan putri mengikik tawa dan melangkah maju, katanya, “Ilmu silatmu ternyata begitu lihay. Sungguh aku tidak mengira kaulah orangnya yang naik ke atas belandar!”
Hun Thian-hi merangkak bangun.
Dengan heran sang Baginda bertanya kepada tuan putri, “Jadi kalian sudah kenal?”
“Ya,” sahut tuan putri, “Belum lama berselang aku udah pernah melihat dia, kemarin pagi akupun baru teromong2 dengan dia!”
Sang Baginda melenggong. Thian-hi berkata, “Pemelihara ular ini pasti berada di dalam istana juga, ular ini belum mati, harap sang Baginda menyingkir, aku mau melepasnya untuk mencari pemiliknya.”
Sang Baginda rada sangsi, akhirnya berkata, “Aku sudah berada disini tak perlu menyingkir lagi. Aku ingin ikut menyaksikan!”
Apa boleh buat Thian-hi lantas melepas ular hitam tu. Ular itu merambat cepat sekali berputar-putar di dalam istana lalu melata keluar, begitu cepat dan gesit sekali gerak geriknya, namun selama itu Thian-li membuntuti di belakangnya dengan ketat.
Setelah melewati sebuah serambi panjang mereka memasuki sebuah taman, kesanalah ular hitam itu menuju terus menuju ke sebuah gunung2an palsu, untung Thian-hi bergerak sangat cepat sebelum si ular menyusup masuk ke dalam sebuah lubang di bawah gunung2an palsu itu ia berhasil menawannya pula. Sementara itu sang Baginda, tuan putri dan banyak orang lagi pun telah tiba. Segera sang Baginda memberi perintah, “Panggil orang untuk mengeduk gunung2an palsu ini, apakah barang-barang yang hilang tu berada di sana.”
Tak lama kemudian beberapa orang telah datang lalu mencangkul dan menggali lobang itu, setelah gunung2an itu roboh tampak di bawahnya situ memang terpendam barang-barang mestika yang hilang itu.
Baginda jadi berpikir, katanya tertawa, “Siapakah pemelihara ular ini sulit diketahui dalam waktu singkat ini, bunuh saja ular itu habis perkara!”
Apa boleh buat, terpaksa Thian-hi melaksanakan perintah raja. Tapi dia tahu bahwa belakangan hari kejadian ini pasti bakal menimbulkan bibit bencana yang lebih besar.
Tatkala itu cuaca sudah gelap gulita. Baginda suruh Thian-hi besok pagi harus masuk piket dan memberi lapor selengkapnya. Setelah itu ia lantas tinggal pergi bersama tuan putri.
Ma Bong-hwi tertawa puas, katanya kepada Thian-hi, “Kalau Lote ingin mencapai kedudukan yang lebih tinggi besok pagilah saatnya. Kejadian hari ini sungguh diluar dugaanku, kiranya hanya seekor ularlah yang membuat gara-gara. Kalau bukan atas tindakanmu yang cepat sungguh aku tidak berani membayangkan akibatnya.”
Hun Thian-hi tertawa tawar. katanya., “Inipun berkat adikmu yang beritahu kepada aku!”
Ma Bong-hwi melengak, katanya tertawa, “Dia lagi, Dia tidak beritahu kepada aku, kini memberitahu kepada kau malah.” dengan cengar-cengir pandang Thian-hi.
Thian-hi kehabisan kata-kata untuk menjawab. Begitulah segera mereka keluar dan pulang bersama. Sepanjang jalan diam-diam Thian-hi ambil keputusan, ia sudah penujui gunung gemunung yang tinggi dan luas di belakang Thian-seng itu. Ingin dia mencari suatu tempat disana untuk mengasingkan diri sementara.
Begitu tiba di gedung Ciangkun, sudah tentu terjadi keramaian dengan sambutan yang meriah sekali. Tengah malam itu juga diam-diam Thian-hi sudah mempersiapkan diri, setelah ganti pakaian ia menulis sepucuk surat diletakkan di atas meja, diamat-amati kedua batang seruling itu lalu disimpan ke dalam butalannya, gesit sekali ia melompat keluar dari jendela terus tinggal pergi.
Begitu tiba di luar ia terus memasuki taman bunga belum berapa langkah ia berjalan tiba-tiba ia menjublek di tempatnya, kelihatan Ma Gwat-sian tengah berdiri disana menantikan dirinya.
Kata Ma Gwat-sian tertawa, “Hun-toako! Aku tahu kau pasti akan tinggal pergi, maka sejak tadi ku-tunggu kau disini.
Thian-hi menunduk tanpa buka suara, segala gerak geriknya ternyata sudah di dalam perhitungan Ma Gwat-sian.
“Mari kau ikut aku,” ajak Ma Gwat-sian, “Ada beberapa patah kata hendak kuucapkan kepada kau.”
Hun Thian-hi menguntit di belakangnya, Ma Gwat-sian mencari sebuah batu hijau besar lalu duduk di sana. Diapun suruh Thian-hi duduk di sebelahnya, setelah rada sangsi Thian-hi duduk juga di sampingnya. Kata Ma Gwat-sian, “Guruku beritahu kepada aku, katanya jika kau mau menyembunyikan jejak dan asal usulmu, ada lebih baik kau sembunyi di dalam kota besar saja. Kau punya harapan untuk menjabat sebagai komandan Gi-lim-kun. Tapi bila kau berkukuh hendak pergi, cara menghilangmu yang mendadak ini malah akan menimbulkan prasangka.”
Thian-hi menjublek tanpa bicara, otaknya tengah berpikir.
Kata Ma Gwat-sian pula, “Watakmu rada congkak, tapi bila kau sudi menjabat pangkat, orang lain tidak akan mengira ada seorang tokoh kosen menyembunyikan diri sebagai pejabat tinggi pemerintahan. Sebaliknya kalau kau tinggalkan pangkat dan kedudukan ini, justru bakal membongkar rahasiamu sendiri.”
Thian-hi juga menginsyafi hal itu, katanya, “Jadi maksudmu supaya aku tetap tinggal saja?”
Ma Gwat-sian tertawa. ujarnya, “Itupun menurut omongan guruku, aku hanya menyampaikan saja kepada kau!”
Heran dan ketarik hati Thian-hi, tanyanya, “Sebenar-benarnya siapakah gurumu itu? apa boleh beri tahu padaku?”
“Kau tak usah kuatir akan hal itu! Guruku tidak akan mencelakai kau!”
Hun Thian-hi tak enak untuk bertanya lebih lanjut, terpikir olehnya ucapan Ma Gwat-sian tadi memang cukup masuk di akal, tiada halangannya ia menurutkan nasehat itu, tanyanya, “Apakah kau tahu asal usulku sejelasnya?”
“Juga tidak! Tempo hari guruku pernah berjalan-jalan sampai dipinggir tebing curam itu, dilihatnya sebarisan lobang2 kecil, tahu ia bahwa pasti ada seseorang Tionggoan yang telah menyelundup masuk kenegeri ini, dan akupun menemukan kau pula, dan kaupun menggunakan seruling, maka tahulah aku bahwa pasti kau datang dari Tionggoan, tidak salah bukan rekaanku?.”
Dengan cermat Thian-hi pandang sepasang biji mata Ma Gwat-sian yang jeli bening berkilat, wajahnya begitu halus elok bak umpama sang dewi dari rembulan, serta merta kepalanya manggut-manggut. diam-diam bercekat hatinya, kiranya tanpa disadari aku telah meninggalkan jejak waktu menyelundup masuk ke Thian-bi-kok ini.
Kata Ma Gwat-sian lagi, “Orang yang mengetahui nama Tay-seng-ci-lau sedikit sekali jumlahnya, yang bisa menyelami intisarinya jarang pula terdapat. Sebaliknya begitu kau melihat Tay-seng-ci-lau dengan gugup lantas suruh Siau-hou mengembalikan, dapatlah diselami bahwa kau pasti sudah paham akan Tay-seng-ci-lau itu, malah hatimu juga baik dan lurus!”
Diam-diam mengeluh hati Thian-hi, setiap tujuan gerak-geriknya seolah-olah telah dipaparkan secara jelas dihadapan Ma Gwat-sian.
“Pada malam itu, ada seseorang datang menyatroni engkohku, setelah orang itu pergi salah seorang pengawal telah dibunuh oleh engkohku. Tapi pengawal itu mengeluarkan suara lebih dulu, sebetulnya tiada alasannya dia berteriak kecuali ada seseorang yang memaksanya begitu. Dan lagi dalam gedung kita ini tiada orang lain kecuali kau!”
Thian-hi bungkam seribu busa, tak kuasa ia mendebat. menunduk saja tanpa bersuara.
Ma Gwat-sian tersenyum. ujarnya, “Itu melulu analisaku yang cukup cermat belaka. untung benar-benar semuanya. Guruku sudah menghapus jejak yang kau tinggalkan itu, kau tak usah kuatir.”
“Gurumu itu pasti seorang aneh yang kosen, aku tiada jodoh untuk menghadap menyatakan terima kasih kepada beliau, harap kau suka mewakili aku menyatakan hormat dan sembah sujudku.”
“Kenapa begitu sungkan, sekarang apa kau pasti hendak pergi? Atau tetap tinggal disini?”
Thian-hi beragu dan tak bersuara.
“Menurut aku, aku harap kau tetap tinggal disini. urusan disini belum selesai, masih banyak hal yang harus kuminta bantuanmu.
Akhirnya tanpa bersuara Thian-hi manggut-manggut setuju.
Benar-benar juga besok paginya Thian-hi diangkat menjadi Bu-wi Ciangkun, kedudukannya sebagai komandan Gi-lim-kun.
Setelah lewat lohor, tuan putri minta Thian-hi menyiapkan kereta, dia ingin mengendalikan kereta pergi pesiar. minta Thian-hi sebagai pengiringnya. Terpaksa Thian-hi turuti permintaannya, tak lupa iapun menyiapkan tunggangannya.
Tak lama kemudian tuan putri sudah berdandan mengenakan seperangkat pakaian ketat serba merah langsung naik ke atas kereta, katanya kepada Hun Thian-hi, “Kau harus hati-hati menguntit dibelakangku jangan sampai ketinggalan!” Selesai berkata kudanya segera dibedal dengan kencang.
Thian-hi membawa empat orang pengikut. Begitu enam ekor penarik kereta tuan putri membedal kencang bersama pengikutnya Thian-hi segera menyusul. Setelah keluar dari pintu selatan mereka berputar-putar mengelilingi kota tiga putaran lalu luruS menuju ke selatan.
Menginsafi tugasnya yang berat Thian-hi tidak berani lena dengan kencang iapun mengikuti dibelakang. keenam ekor kuda penarik kereta, adalah kuda pilihan, keruan keempat pengikutnya itu jauh ketinggalan dibelakang. Hun Thian-hi sendiri juga ketinggalan beberapa tombak dibelakang.
Entah berapa jauh dan berapa lama mereka seolah-olah berlomba, akhirnya tuan putri memperlambat lari keretanya. Lambat laun Hun Thian-hi dapat mengejar dekat, sambil memandang ke arahnya tuan putri tersenyum geli. sambil membetulkan letak rambutnya ia berkata, “Selamanya belum pernah ada orang mampu mengejar aku sedemikian dekat!”
Setelah dekat Thian-hi merogoh keluar seruling batu Giok putih itu dikembalikan kepada tuan putri. katanya, “Tempo hari tuan putri lupa membawa kembali seruling ini, harap tuan putri suka terima kembali.”
“Tidak usah. kuberikan kepadamu!” Thian-hi melengak, tuan putri berkata lagi, “Sebetulnya aku tidak bisa meniup seruling kau ambil saja!”
“Aku sendiri sudah punya, harap tuan putri suka terima kembali.”
“Kenapa?” tanya tuan putri kurang senang. “Apa kau tidak sudi menerima pemberianku? Serulingmu sendiri itu justru sangat baik, kalau kau ingin kembalikan, boleh ditukar dengan milikmu itu saja!”
Thian-hi menjadi serba sulit. katanya, “Sebetulnya serulingku itu harus dipersembahkan kepada tuan putri, soalnya seruling Itu pemberian seorang Cianpwe sebagai kenang2an tak boleh hilang!”
Tuan putri mendengus hidung, waktu berpaling dilihatnya keempat pengikut itu sudah kelihatan bayangannya, pecutnya segera terayun “tar!” keenam kuda penarik kereta itu segera mencongklang lagi seperti kesetanan. Terpaksa Thian-hi menyimpan seruling dan mengejar lagi.
Kali ini tuan putri membelokkan keretanya memasuki hutan pegunungan, keretanya menjadi bergoyang2 seperti menari2 di atas pegunungan yang belukar dan tidak rata itu. Thian-hi menjadi kuatir, betapa pun baiknya tuan putri dapat mengendalikan kereta. namun dijalanan yang tidak rata ini bukanlah mustahil nanti bisa terjadi sesuatu diluar diluar dugaan.
Dengan sekuat tenaga dan segala daya upaya Thian-hi berusaha mengejar, namun tunggangan sendiri kalah kalau dibanding keenam kuda pilihan penarik kereta itu, jarak mereka tetap beberapa tombak. Mendadak didengarnya Tuan putri menjerit2 ketakutan, Thian-hi terkejut dan membedal maju. tampak keenam kuda itu berdiri berbareng dan menjadi beringas liar ketakutan,
Kiranya tak jauh disebelah depan sana tampak dua ekor beruang besar tengah mendatangi pelan-pelan, tuan putri menjadi pucat ketakutan. Thian-hi sangat kalut, cepat ia lonmpat turun seraya melolos pedangnya. lalu memburu ke depan mencegat di depan kedua biruang besar itu.
“Tio Gun” teriak tuan putri. “Lekas kembali, seorang diri mana kau mampu melawan!”
Terlihat oleh Thian-hi kedua biruang ini jauh lebih besar dan tinggi dari tubuhnya sendiri, tinggi kepalanya hanya sebatas pinggang kedua ekor biruang itu. Diam-diam ia heran dan kejut akan kebesaran kedua ekor biruang ini, namun mana Thian-hi gentar menghadapi kedua binatang ini.
Katanya tertawa, “Tuan putri tak perlu takut, hari ini anggap saja kita berburu biruang.”
Melihat Thian-hi berani maju sambil menenteng pedang, kedua ekor biruang itu seperti merasa heran dan saling pandang, sambil mengaum keras serempak menubruk ke arah Thiani-hi.
Thian-hi juga membentak keras, badannya berkelit menyingkir ke samping, seluruh tenaga dikerahkan ditangan kanan begitu sebat gerak geriknya, begitu berada disamping kiri salah seekor biruang itu. kontan pedangnya lantas bekerja menusuk ambles seluruh batang pedangnya ke dalam lambungnya.
Biruang itu menggerung kesakitan dan murka. seekor yang lain segera mengulur sebelah tangannya mengemplang kekepala Thian-hi. Thian-hi berusaha menutupi kepandaian sendiri, sambil menarik pedangnya ia melompat berkelit lagi rada jauh, dari kejauhan ini segera ia ayun pedangnya, laksana anak panah selarik sinar pedangnya meluncur ke depan dan ambles seluruhnya kedada biruang yang lain itu.
Meski terluka berat kedua biruang itu masih belum mati, namun sebelum ajal mereka pantang menyerah, berbareng menggerung keras terus menubruk maju lagi dengan cakar terpentang! Tatkala itu jarak mereka semakin dekat, keruan tuan putri menjerjt ketakutan. dilihat pula oleh Thian-hi keenam ekor kuda itu tak jauh disebelah sana, sedikit beragu kedua ekor biruang itu sudah menyerbu datang. tanpa banyak pikir lagi mulut Thian-hi bersuit nyaring, Pan-yok-hian-kang yang dilatihnya selama beberapa lama ini segera digunakan. seenaknya saja ia menepuk ke depan. kontan kedua ekor biruang yang tinggi besar itu diterpa gelombang tenaga pukulan yang dahsyat sehingga terpental tiga tombak jauhnya, rebah tak berkutik lagi.
Sekian lama Thian-hi berdiri menjublek. hatinya sungguh sangat menyesal, tidak seharusnya ia melancarkan Pan-yok-hian-kang, bagi seseorang yang punya landasan pelajaran silat, begitu melihat seluruh isi perut kedua biruang ini hancur luluh pasti mereka bakal tahu bahwa keduanya terpukul mati oleh sebuah pukulan tenaga dalam yang sangat hebat.
Tengah ia tenggelam dalam pikirannya. tiba-tiba terasa sebuah tangan meraba pundaknya, kontan ia tersadar dari lamunannya. tampak tuan putri berdiri di depannya, kelihatannya ia sangat takut sehingga seluruh tubuhnya lemas lunglai hampir roboh.
Serta merta Thian-hi harus memajangnya katanya: Tuan putri tak perlu takut lagi!”
Saking lemas tubuh tuan putri lantas menggelencut ke dalam pelukan Thian-hi. katanya, “Disini tiada orang lain, tak usah kau panggil aku tuan putri, aku bernama Ih-gi!”
Tergetar hati Thian-hi, cepat ia memajangnya berdiri. katanya, “Tuan putri! Biruang itu sudah mampus, silakan tuan putri berdiri, tak usah takut!”
Setelah berdiri tegak dengan berang tuan putri pandang Thian-hi, katanya, “Apa kau tidak suka kepada aku?”
Merah jengah dan panas muka Thian-hi, jawabnya tergagap, “Tuan putri berbadan agung berkedudukan tinggi. mana bisa aku….”
“Bukankah kau sendiri sekarang sebagai panglima tinggi yang pegang kekuasaan. masa kau tidak berani menyukai aku?”
Thian-hi menghela napas, katanya, “Tuan putri kau dan aku baru bertemu beberapa kali, mana bisa membicarakan soal ini.”
Tuan putri cemberut dan kurang senang, tanyanya. “Kudengar Ma-ciangkun punya seorang adik perempuan, apa benar-benar?”
“Benar-benar, tapi apa sangkut pautnya dengan kau?”
Tuan putri menjengek tanyanya, “Apakah kau pernah bertemu dengan dia”
Thian-hi manggut-manggut.
“Sejak lama sudah kudengar bahwa dia punya seorang adik perempuan yang sangat cantik, tapi selamanya belum pernah keluar pintu, tiada seorang pun yang pernah melihat dia, banyak orang mengajukan lamaran semuanya gagal, dia cantik bukan?”
Bicara sampai disini tuan putri menjadi rawan, pelan-pelan ia menunduk. dilain saat ia angkat kepala dan bertanya tegas, “Jangan kau bohongi aku. Sebetulnya kau suka aku atau suka dia.”
Thian-hi terlongong sekian lamanya, dilihatnya sikap tuan putri begitu murung dan sedih sungguh sangat kasihan, setelah menarik napas, ia berkata, “Kejadian di dunia ini siapa yang berani mengira sebelumnya!”
Sungguh dia tidak mengira setelah berada di Thian-bi-kok ini dia harus menghadapi berbagai kesulitan ini.
Angkat kapala dilihatnya tuan putri masih menantikan jawabannya, terpaksa ia berkata, “Tuan putri! Menurut hemadku, tidak lebih kita sebagai sahabat yang baru berkenalan saja!”
Tuan putri membalikkan tubuh dengan jengkel langsung ia naik ke atas kereta. Thian-hi memburu datang serunya berteriak, “Tuan putri tak boleh menuju ke dalam sana.”
Tak usah kau urus aku!” semprot tuan putri gusar Keretanya dilarikan lagi ke depan dengan cepat,
Thian-hi menjadi gugup dan berteriak-teriak, terpaksa ia memburu dengan kencang. untung jalanan disebelah depan sangat jelek lari kereta menjadi lambat, Thian-hi bisa mengejar semakin dekat. Akhirnya kereta berhenti juga karena jalan terlalu sempit. Thian-hi lantas tampil ke depan serta berkata, “Tuan putri. mari putar haluan saja!”
“Tidak mau. Kau temani aku disini, orang lain takkan mampu mencari kemari.” Begitulah tuan putri merengek2.
Thian-hi angkat pundak tanpa bersuara.
Begitulah mereka berdiri tanpa bersuara, sejenak kemudian tuan putri membuka suara, “Hatiku kesal, coba kau tiup serulingmu untuk menghibur hatiku.”
Apa boleh buat Thian-hi keluarkan serulingnya. di lain saat irama yang merdu mengasjikkan mengalun merdu di alam pegunungan yang sunyi, dengan asjik dan menjublek tuan putri mendengarkan tanpa merasa air mata mengalir membasahi pipinya yang putih molek, setelah lagunya habis, ia lantas berkata sesenggukkan, “Kenapa kau bersikap dingin terhadap aku?”
Thian-hi tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. sesaat kemudian baru ia bersuara, “Cita-cita dan tujuan hidup kita berlainan, kau dan aku bukan manusia dalam satu tingkatan.”
Tuan putri terlongong memandang Thian-hi katanya, “Yang kuinginkan hanyalah kau. Apabila kau megejar kedudukan pangkat dan harta, semuanya dapat kuberikan kepada kau, apakah kau menyangsikan kemampuanku?”
Thian-hi tersenyum, ujarnya, “Banyak kejadian di alam fana ini yang belum diketabui oleh tuan putri, tak pernah terpikir olehku untuk mengejar pangkat dan harta, yang terang memang tuan putri bersikap sangat baik terhadap aku. sungguh aku harus nyatakan banyak terima kasih, menurut pendapatku tuan putri tak lain karena terburu oleh perasaan belaka, dulu aku juga pernah mengalami hal demikian.’
“Bukan begitu jalan pikiranku, kau pandai silat dan pintar sastra lagi, apalagi watakmu cukup baik dan lurus, tidak seperti putra Tan-siangkok itu, sikapnya takabur dan licik. Kau punya bakat sebagai pemimpin, calon suamiku kelak pasti dapat mewarisi kedudukan raja. menurut pilihanku kaulah yang paling tepat!”
Thian-hi tertawa getir, katanya, “Kelak kau akan tahu sendiri bahwa justru aku orang yang paling tidak tepat.”
Tuan putri menunduk menepekur, beberapa lamanya tak bersuara lagi.
“Tuan putri,” panggil Thian-hi pelan-pelan, “aku bicara menurut kenyataan.” — suaranya begitu lirih hampir kupingnya sendiri juga tak dapat mendengar.
Mereka menjadi menjublek di tempat masing-masing tanpa bersuara sampai sekian lamanya. Akhirnya Thian-hi yang membuka kesunyian lagi, “Cuaca hampir gelap, kita harus lekas pulang!”
Dengan menunduk tuan putri memutar keretanya kembali, dia biarkan saja keenam kuda putih itu berjalan pelan-pelan, kedua biji matanya lempang mengawasi depan tanpa berkesip, seolah-olah tenggelam dalam pemikiran yang tiada berujung pangkal.
Dengan menunggang kuda Thian-hi berjalan disisi kereta, dari samping terlihat olehnya rambut tuan putri yang terurai dihembus angin memanjang, ujung matanya basah oleh air mata. Sambil menghela napas ia menunduk tak berani melihat lagi.
Begitulah dengan legak-legok kereta itu akhirnya sampai juga di jalan raja, jauh di ufuk barat sana sang surja sudah hampir tenggelam. Keempat anggota Gi-lim-kun itu dengan gelisah masih menanti diluar hutan.
Setelah tiba di istana, Thian-hi rasakan seluruh badannya capai, setelah makan malam ia terus masuk kamar berlatih. Pan-yok-hian-kang. Tapi sekian lama ia menjadi gundah karena pikirannya tak bisa tenteram. Akhirnya dengan kesal ia berjalan keluar dan mondar-mandir di serambi panjang lalu meronda ke berbagai pos penjagaan, tampak rombongan demi rombongan pasukan Gi-lim-kun mondar mandir meronda, tanpa tujuan kakinya melenggong sampai ufuk timur mulai terang.
Hari kedua dari istana dalam didapat kabar bahwa tuan putri rebah di tempat tidur tak bisa bangun, jatuh sakit. Diam-diam Thian-hi menghela napas.
Setelah piket, Ma Bong-hwi mengundangnya Thian-hi kerumahnya, tapi Thian-hi takut bertemu dengan Ma Gwat-sian, menggunakan alasan kerena repot di istana, ia menolak ajakan itu. Tak lupa ia menanyai alamat tempat tinggal Tan-siangkok, Ma Bong-hwi rada sangsi, namun akhirnya memberi tahu juga.
Diam-diam Thian-hi sudah berkeputusan untuk menyatroni gedung kediaman Tan-siangkok untuk membuat penyelidikan, orang macam apakah sebenar-benarnya Tan-siangkok itu, setelah segala urusan disini dapat dibereskan lebih baik akupun harus segera membebaskan diri dari segala kerepotan.
Baru saja cuaca menjadi gelap Thian-hi lantas salin pakaian hitam yang ketat. Gedung kediaman Tan-siangkok juga berada di Thian-seng ini, segera ia beranjak menuju ke gedung Tan-siangkok. Tak lama kemudian ia sudah tiba diambang pintu gedung Tan-siangkok, setelah celingukan tak melihat bayangan orang, sekali berkelebat enteng sekali ia lompat naik ke atas tembok lalu melejit lebih tinggi ke atas wuwungan. Pelan-pelan ia menggeremet maju terus loncat turun ke sebuah taman bunga. Baru saja kakinya menyentuh tanah, di dalam keremangan malam terdengar seseorang bicara, “Tan Su! Hari sudah gelap! Lekas lepaskan anjing!”
Terkejut Thian-hi, sebat sekali tubuhnya melejit tinggi hinggap di atap rumah. Dengan seksama ia awasi keadaan sekelilingnya, didapatinya gedung Tan-siangkok ini jauh lebih besar dan megah dibanding gedung Ma-ciangkun, empat penjuru dikelilingi tembok tinggi dan pohon-pohon rindang dan tanam2an kembang. Di lain saat terlihat oleh Thian-hi bayangan hitam besar2 berlari-lari kian kemari, Thian-hi dapat melihat tegas itulah anjing2 besar sebangsa serigala yang buas.
Baru saja ia berniat maju lebih lanjut ke dalam, tiba-tiba pintu besar terbuka, dari luar masuk seseorang. Diam-diam bercekat hati Thian-hi, karena dilihatnya orang yang baru datang ini tak lain tak bukan adalah Ing-ciangkun Ing Si-kiat.
Thian-hi berpikir, ternyata benar-benar orang ini tidak bisa dipercaya, malam2 dia kemari tentu punya intrik dengan Tan-siangkok. Tidak salah kecurigaan Ma Gwat-sian terhadapnya.
Tampak Ing Si-kiat menggunakan pakaian preman, Tan-siangkok sendiri menyongsong keluar menyambut tamunya ini, setelah sekedar sapa sapi mereka masuk bersama. Diam-diam Thian-hi menguntit mereka dari atas genting.
Mereka memasuki sebuah ruang besar, empat penjuru ruang besar itu terjaga ketat, dengan hati-hati Than-hi berkelebat keluar terus sembunyi di bawah pajon untuk mencuri dengar.
Terdengar Tan-siangkok bertanya kepada Ing Sikiat, “Apakah Ing-ciangkun tahu asal usul Tio Gun itu?”
Ing Si-kiat menjawab, “Ma Bong-hwi cukup percaya kepada aku, namun soal ini dia tidak pernah beritahu kepada aku, aku sendiri juga tidak enak menanyakan!”
Diam-diam hati Thian-hi, pikirnya; Ing Si-kiat ternyata sedang menyelidiki asal usulku terang memang sekongkol dengan Tan-siangkok. Tapi entah apa yang sedang hendak mereka lakukan.
Tan-siangkok mengerutkan alis, katanya, “Tio Gun itu memang cukup menyebalkan, ilmu silatnya benar-benar hebat, Baginda kelihatannya sangat sayang dan bangga kepadanya. Sebetulnya Komandan Gi-lim-kun dijabat oleh adikmu, kini berada di tangannya, kukira urusan akan lebih menyulitkan kita!”
Bercekat hati Thian-hi, batinnya, “Ternyata mereka hendak berontak, tak heran Ma Gwat-sian bilang kecuali peristiwa kehilangan barang-barang mestika itu, Thian-bi-kok ini masih punya bencana lain yang bakal terjadi.”
“Entah bagaimana dengan putramu itu” terdengar Ing Si-kiat bertanya….
Tan-siangkok mendengus, sahutnya, “Dia kurang becus, tuan putri melirik pun tidak mau melihat dia!”
“Menurut berita yang kuperoleh dari Gi-lim-kun, katanya tuan putri sangat simpatik terhadap Tio Gun, apalagi sebelum ini mereka sudah pernah berjumpa.”
“Apa benar-benar?” Tan-siangkok menegas.
Ing Si-kiat manggut-manggut.
Thian-hi menjadi was-was, ternyata diantara anggota pasukan Gi-lim-kun itu ada mata2 pihak musuh, tak heran orang itu tempo hari begitu leluasa melenyapkan dirinya. Memang pejabat komandan Gi-lim-kun yang terdahulu adalah adik kandung Ing Si-kiat, maka tak perlu dibuat heran bahwa diantara mereka masih ada terdapat bawahan kepercayaannya. Setelah kembali nanti aku harus mengadakan razia dan pembaharuan di dalam tubuh Gi-lim-kun.
Tan-siangkok berjalan mondar-mandir, katanya, “Tio Gun ini lebih menakutkan dari Ma Bong-hwi, bagaimana juga orang ini harus dilenyapkan.”
“Kelihatannya Baginda juga semakin ceroboh, mengangkat orang tanpa tahu asal usul orang itu, hanya mengandal kesenangan hati belaka.”
Tan-siangkok mendengus dua kali, katanya, “Apakah dia tidak mencari tahu siapakah dalang pencurian barang-barang mestika itu?” — pada perkataannya penuh rasa cemooh dan membanggakan diri sendiri. Merandek sejenak lalu melanjutkan, “Tuan putri justru sangat teliti dan cermat, Goan-mo anakku itu kiranya tidak memenuhi seleranya! Jah, apa boleh buat!”
“Kalau Tio Gun disingkirkan kukira putramu masih punya harapan. Angkat dia sebagai komandan Gi-lim-kun, tanggung kelak ia bakal menonjol diantara rekan2nya.”
Tan-siangkok berhenti lalu mendongak memandang atap rumah, di lain saat ia mondar-mandir lagi, katanya: .,Toh-ciatsu situa renta itu tak perlu ditakuti, dulu hanya Ma Bong-hwi seorang, dia pegang kekuasaan militer, sekarang tambah lagi seorang Tio Gun.”
“Sepak terjang Tio Gun selama ini rada mencurigakan, entah darimana Ma Bong-hwi menemukan bocah keparat itu.”
Tan-siangkok berhenti lagi memandang Ing Si-kiat. katanya, “Jika tiada Ma Bong-hwi dan tak ada Tio Gun pula, apa pula yang hendak kau lakukan?”
Ing Si-kiat tertawa, sahutnya, “Meskipun Ma-ciangkun berdinas luar, tapi kekuatan tentaranya jauh lebih kuat dari aku, apalagi bala tentaranya juga jauh lebih terlatih, melulu Tio Gun dan ratusan pasukan Gi-lim-kun tak perlu dibuat takut.”
“Jikalau tiada mereka berdua, pasti Toh-ciatsu takkan berani banyak bacot. Tatkala itu putraku bakal dapat menumpas huru-hara dan mendirikan jasa dan memperoleh pahala, jikalau kita melamar putrinya, Baginda tak bisa tidak mesti menerima pinangan ini.”
Thian-hi semakin jelas akan duduk perkara sebenar-benarnya. Kiranya Tan-siangkok sedang berusaha supaya putranya menikah dengan tuan putranya menikah dengan tuan putri, supaya kelak dapat mewarisi kedudukan raja, dengan jalan yang licik tapi cukup nyata ini tentu tiada seorangpun yang tidak akan tunduk.
Ing Si-kiat tertawa, katanya, “Baginda raja tentu akan setuju!”
Tan-siangkok juga tertawa senang, ujarnya, “Kali ini tidak mungkin menggunakan ular lagi. Tak kukira Tio Gun itu pandai menangkap ular!”
Ing Si-kiat berpikir sekian lama, katanya, “Bagaimana menurut pendapat Tan-siangkok?”
Tan-siangkok menyeringai sinis, dari atas rak buku diambilnya alat2 tulis terus menulis apa-apa di atas telapak tangannya. Melihat huruf2 itu Ing Si-kiat tertawa, katanya, “Akupun punya maksud demikian.” — terdengar gelak tawa mereka yang keras kumandang.
Thian-hi tidak tahu apa yang tengah mereka lakukan, tapi samar-samar ia dapat meraba tentu mereka merencanakan sesuatu yang bertujuan jahat, entah tipu daya jahat apa lagi yang sedang mereka rancang.
Terdengar Ing Si-kiat berkata, “Cara ini dapat membabat rumput sampai ke-akar2nya, cukup kita hadapi Tio Gun itu dengan cara yang lebih hati-hati saja!”
Tan-siangkok bergelak tawa, ujarnya, “Untuk pelaksanaannya kuharap Ing-ciangkun membantu sekedarnya.”
“Ah, kenapa Tan-siangkok begitu sungkan? Untuk pelaksanaan rencana ini harap Tan-siangkok memikirkan lebih matang.”
“Urusan jangan terlambat, pukul besi mumpung masih panas, Tio Gun baru saja diangkat menjadi panglima, kesempatan inilah yang paling baik untuk melaksanakan rencana itu.”
“Menurut maksud Tan-siangkok….”
“Besok saja!”
“Besokpun baik, tapi kalau rencana kali ini gagal belakang hari tentu bakal menimbulkan bibit bencana.”
“Besoklah saatnya pembukaan dasar. masa kita tidak berlaku hati-hati. Bagaimana menurut pendapat Ing-ciangkun mengenai pasukan yang berada di Bi-seng itu?”
“Yang aku kuatirkan hanyalah Ma Bong-hwi seorang, orang lain sedikit pun tidak kupandang sebelah mataku.”
Lalu mereka bergelak tawa sambil berjabatan tangan. Ing Si-kiat lalu bangkit dan minta diri, katanya, “Sekarang aku minta diri, rencana kerja di dalam seluruhnya tanggung jawab Tan-siangkok, mengenai penjagaan diluar akulah yang akan mengatur.”
Tan-siangkok bangkit mengantar tamu, sahutnya, “Aku tak menahanmu lebih lama lagi, waktu terlalu mendesak, harap Ing-ciangkun banyak membantu….”
Ing Si-kiat tertawa sambil manggut-manggut, mereka berjajar keluar pintu. Thian-hi berkelebat di atas wuwungan, dilihatnya Tan-siangkok mengantar Ing Si-kiat sampai di pintu luar.
Thian-hi menghirup napas panjang, setelah meneliti keadaan sekelilingnya, sebat sekali tubuhnya melesat terbang keluar dari lingkungan Gedung Tan-siangkok ini, terdengar anjing di bawah meng-gonggong2 bersahutan Terpaksa Thian-hi mendekam di atas pojokan atap tanpa berani bergerak, seluruh gedung menjadi ribut dan ramai, tak lama kemudian baru kembali menjadi sunyi.
Sementara itu hati Thian-hi masih menerawang, entah tipu daya apa yang sedang direncanakan oleh kedua orang itu, dalam pada itu ringan sekali kakinya melangkah bagai terbang berlari menuju keistana raja.
Dari kejauhan tampak istana yang megah menjulang tinggi, tanpa terasa terbayang olehnya muka tuan putri yang sedih menangis, pelan-pelan ia menghela napas.
Begitu sampai diistana Thian-hi langsung kembali ke kamarnya. Ternyata Ma Bong-hwi sedang menunggu disana.
Begitu melihat Thian-hi pulang segera Ma Bong-hwi memapak maju serta tanyanya, “Lote, kau menyelidik ke gedung Siangkok bukan?”
Thian-hi tidak menduga hari sudah begitu malam namun Ma Bong-hwi masih berada di tempatnya, sebagai jawaban ia manggut-manggut saja
“Lote,” kata Ma Bong-hwi, “Bukan aku suka cerewet sebetulnya tindakanmu ini terlalu bahaya, di dalam gedung Tan-siangkok ada memelihara ratusan anjing2 galak, sekali jejakmu konangan. pasti kau bakal menghadapi banyak rintangan.”
“Ucapan Toako memang benar-benar, malam2 Toako kemari entah ada urusan apa?”
“Bukan keperluanku adikku yang mengundang kau kesana, ada omongan yang perlu dikatakan kepada kau.”
Berdetak jantung Thian-hi, Ma Gwat-sian mencari aku? Malah ada urusan lagi. kelihatannya urusan yang cukup genting!
Thian-hi terlongong. Ma Bong-hwi mendesak, “Marilah sekarang juga berangkat, dalam istana tiada pekerjaan penting, malam ini kau menginap dirumahku saja,”
Apa boleh buat Thian-hi segera ganti pakaian, setelah memberi pesan kepada anak buahnya bersama Ma Bong-hwi naik kuda terus berangkat.
Tiba dipintu gerbang kota, kebetulan bersua dengan Ing-ciangkun. Begitu melihat mereka berdua Ing Si-kiat segera maju menyapa, “Kiranya saudara Ma dan Tio-lote! Hendak kemana kalian?”
“Ternyata Ing-ciangkun, Ing-ciangkun selalu berdinas ronda sungguh tidak mengenal lelah, kami hendak pulang kerumah Ma-ciangkun.”
“Tentu kalian punya urusan penting! Silakan!” segera ia perintahkan membuka pintu. Cepat Thian-hi berdua mencohgklang kuda keluar. Langsung mereKa menuju ke Bi-seng. ditengah jalan Ma Bong-hwi menutur bahwa Siau-hou sangat kangen bertemu dengan Thian-hi. Thian-hi tertawa senang, setelah sampai langsung mereka masuk keruang belakang.
Thian-hi segera menyampaikan salam kepada Ma-hujin serta, menjumpai Siau-hou. Tak lama kemudian tampak Ma Gwat-sian juga keluar. Setelah bercakap-cakap sekadarnya Ma Bong-hwi dan istrinya minta diri sambil menyeret Siau-hou masuk ke dalam.
Ma Gwat-sian unjuk senyuman manis, Thian-hi membalas dengan senyuman pula.
Kata Thian-hi, “Kudengar katanya kau punya urusan dengan aku, apa benar-benar?”
“Benar-benar. mungkin bagi kau cukup penting, sebab guruku sudah tahu sebab musabab kau sembunyi dinegara kecil ini, tak lain untuk menghindari bencana bukan?”
Terkejut Thian-hi, berubah air mukanya, katanya tersekat, “Gurumu….”
“Beberapa hari yang lalu guruku baru pulang dari perjalanannya ke Tionggoan, beliau rada kurang percaya akan sepak terjangmu dulu, beliau berkata kau bukan orang macam itu. Tetapi kenyataan kau sembunyi di tempat ini!’
“Adakah orang lain pula yang mengetahui?”
“Kau tak usah gelisah.” ujar Ma Gwat-sian, “Hanya guruku dan aku saja yang tahu. Menurut guruku hanya ingin mencari tahu dulu, apakah berita itu dapat dipercaya.”
Thian-hi mandah tertawa ewa, seolah-olah ia mendapat firasat apa-apa sampai pada tahap sekarang agaknya aku tidak usah pedulikan segala tetek bengek lagi. katanya, “Adakah gurumu membicarakan keadaan di Tionggoan?”
Sekian lama Ma Gwat-sian pandang Thian-hi lalu katanya tertawa, “Situasi di Tionggoan sangat kalut, katanya banyak gembong-gembong iblis bermunculan membuat huru hara…. Tiada seorang toKoh kosen dari aliran lurus yang mampu mengatasi gelombang huru hara ini.”
Thian-hi manggut dengan maklum, tahu ia bahwa Kiu-yu-mo-lo sudah lolos, tentu dia bakal menimbulkan keonaran, entah apakah Tok-sim-sin-mo juga sudah berhasil lolos, kalau dihiturg waktunya, perjanjian Soat-san-su-gou dengan Bu-bing Loni bakal habis waktunya, entah apakah beliau bisa mencari dirinya di tempat ini.
“Apakah kau masih punya sanak kadang di Tionggoan?” demikian Ma Gwat-sian main selidik.
“Guruku masih hidup, aku punya seorang taci angkat, entah bagaimana keadaan mereka.”
Ma Gwat-sian menunduk, sesaat kemudian bertanya, “Orang lain adakah yang membuat hatimu rindu padanya?”
“Memang banyak orang di Tionggoan menyangka aku ini sesuai dengan berita yang tersebar luas itu, namun banyak pula orang-orang yang menanam budi kepada aku, selamanya hatiku terkenang dan berterima kasih kepada mereka.” demikian Thian-hi berdiplomasi.
Ma Gwat-sian tertawa, katanya, “Thian-bi-kok ini selamanya melarang orang asing menyelundup kemari, memang orang luar tidak akan mampu datang kemari. Kalau kau diketahui datang dari Tionggoan pasti kau akan mengalami kesulitan.”
“Terima kasih akan peringatanmu ini, aku pun terpaksa datang kemari….”
“Asal guruku tidak membuka rahasia ini. selamanya tidak akan ada orang tahu.”
“Kukira tidak lama lagi aku harus meninggalkan tempat ini, kedatanganku ini tidak punya perhitungan untuk menetap selamanya disini.”
Ma Gwat-sian rada melengak, katanya, “Benar-benar kau hendak pergi?”
“Ya, aku tidak bisa menetap terlalu lama disini. Banyak urusan yang harus kukerjakan di Tionggoan, tak bisa aku menyembunyikan diri saja disini.”
“Apa kau tidak takut? Apakah kau unggulan melawan mereka?”
“Seumpama tidak unggulan aku juga harus pulang ke sana.”
“Kau tak usah kuatir,” ujar Ma Gwat-sian lirih, “Aku bisa minta guruku bantu kau, asal beliau mau, kau tentu tak perlu kuatir lagi. Ketahuilah gunung gemunung di belakang Thian-seng yang bernama Thian-ting itu, banyak bersemajam orang-orang aneh, guruku adalah orang aneh diantara orang-orang aneh itu.”
“Ada kalanya suatu urusan yang tidak bisa diselesaikan dengan bantuan orang luar, apalagi gurumu sekarang sedang menyelidiki keadaanku, betapapun tak mungkin membantu, untuk kebaikan ini, aku terima setulus hati.”
“Sekarang kau tak usah gelisah, segalanya akulah yang mengatur, guruku tidak akan bertindak terhadap kau.”
“Terima kasih akan kebaikanmu ini.” ujar Thian-hi tertawa dibuat-buat.
“Tak perlu sungkan, bagaimana keadaanmu di istana?”
“Cukup baik!”
“Tadi pagi engkohku mengundang kau kemari, kenapa kau tak mau datang?”
“Aku baru saja terima jabatan, disana ada urusan pula maka tiada senggang kemari.”
“Hun-toako,” ujar Ma Gwat-sian menunduk, suaranya lirih, “Aku merasa….seolah-olah kau segan bertemu dengan aku!.”
“Tak ada kejadian itu!” cepat Thian-hi menyahut gugup.
“Kau tak usah kelabui aku,” ujar Ma Gwat-sian lirih, “aku sudah tahu! Tapi aku tidak tahu kenapa kau tak sudi bertemu dengan aku!”
“Mana ada kejadian begitu, hubungan kami seperti saudara sekandung, mana bisa aku tak sudi bertemu dengan kau!”
Ma Gwat-sian angkat kepaja mengawasi Thian-hi dengan seksama, katanya, “Coba beritahu aku apakah karena urusan tuan putri, kemarin siang kau keluar pesiar bersama tuan putri, pulangnya air muka tuan putri rada berbeda dengan keadaan biasanya, hari ini kudengar kabar dia jatuh sakit lagi! Kenapa?”
Sungguh gugup dan gelisah hati Thian-hi, kata-kata Ma Gwat-sian memang tepat dan sulit untuk dielakkan, terpaksa ia menjawab, “Tiada kenapa, di atas gunung kami berjumpa dengan dua ekor biruang yang tinggi besar, dia ketakutan tapi biruang itu berhasil kubunuh.”
“Kukira bukan itu sebabnya, aku tahu watak tuan putri, tak mungkin karena gangguan kedua ekor biruang itu lantas menjadi murung, kedua ekor biruang itu tak perlu dibuat heran, semestinya dia perintahkan orang untuk mengangkutnya pulang serta memberikan pujian muluk2 kepada kau, tapi semua ini tak pernah terjadi.”
“Tapi kami memang benar-benar disergap oleh kedua ekor biruang itu.” Thian-hi meng-ada2 membela diri.
“Jadi kau sudah mengakui bukan karena kedua ekor biruang itu sehingga tuan putri bersikap dingin dan murung. Pasti ada kejadian lain yang lebih penting lagi, kalau tidak tak mungkin dia begitu sedih sampai jatuh sakit!”
“Tuan putri adalah putri tunggal Baginda, kelak dialah yang bakal mewarisi kedudukan ayahnya, ada omongan yang tidak bisa ku utarakan.”
“Beritahu kepadaku,” tiba-tiba Ma Gwat-sian menyela, “Apakah dia. jatuh hati kepada kau?”
Bergetar tubuh Thian-hi, kepalanya terangkat ia mengamati Ma Gwat-sian, katanya, “Kenapa kau bisa memikirkan ke arah itu?”
“Betul bukan?” ujar Ma Gwat-sian bangkit berdiri sambil tertawa-tawa, “Kudengar dari engkohku katanya kau pernah bertemu dengan dia dalam istana, tentu sikapnya sangat simpatik terhadap kau. Kau jauh lebih kuat dan baik dibanding putra Tan-siangkok. Kau dapat menduduki jabatanmu sekarang sebagai Komandan Gi-lim-kun kukira dia punya andil yang cukup besar.”
Thian-hi menjadi sebal, segera ia mengalihkan pembicaraan, katanya, “Tadi baru saja aku menyelidiki ke gedung Tan-siangkok. Disana kulihat Ing-ciangkun sedang mengadakan perundingan rahasia.”
“0,” Ma Gwat-sian mengiakan, katanya, “Mereka sedang berunding cara bagaimana untuk menghadapi kalian bukan?”
“Akhirnya Tan-siangkok menulis entah apa di atas telapak tangannya, dia tidak membacakan, jadi akupun tidak tahu apa sebenar-benarnya rencana mereka.” — lalu secara singkat jelas ia menceritakan pengalamannya kepada Ma Gwat-sian.
Ma Gwat-sian berpikir, katanya, “Kelihatannya mereka sudah mempersiapkan segalanya, menggunakan kekuatan tentara lagi untuk menghadapi kau dan engkohku. Tentu besok mereka akan mengadakan Hong-bun-yam (perjamuan) mengundang kalian berdua.”
Thian-hi juga berpikir demikian, namun ia bertanya, “Tapi kenapa menggunakan cara halus dan mempersiapkan kekuatan lagi?”
“Untuk perjamuan itu kukira mereka sudah mempersiapkan arak beracun, sepihak menggunakan tipu daya yang licik. dipihak lain sudah mempersiapkan bala tentara, bila rencana licik terbongkar mereka menggunaKan kekuatan pasukannya untuk menumpas kamu.”
“Kiranya begitu!” ujar Thian-hi bingung.
“Tidak bisa tidak kalian harus hadir dalam perjamuan itu, kalau tidak pergi berarti kalian sudah secara terang-terangan berdiri dipihak yang berlawanan. Apa-lagi Ing-ciangkun juga pasti hadir, mungkin pula Toh-ciatsu juga diundang, kalau kalian pergi jangan sekali2 minum arak.
Thian-hi manggut-manggut. katanya, “Mereka menyiapkan tentara, cara bagaimana mengatasinya?”
“Urusan itu aku tidak tahu dan bukan bidangku, silakan kau tanya engkohku saja. Perjamuan besok malum itu sangat penting. merupakan titik tolak dari segala keselamatan negara, jangan sekali2 dihadapi secara serampangan. Selamanya engkohku anggap Ing Si-kiat sebagai sahabat lama, Ing Si-kiat tidak akan mencelakai jiwanya, tepat pada waktunya harap kau suka menjaga dan melindungi dia!”
“Sudah tentu aku akan berusaha sekuat tenaga dan kemampuanku betapapun aku pasti melindungi engkohmu,”
“Tuan putri jatuh sakit, bagaimana menurut maksudmu?”
Melihat Ma Gwat-sian menyinggung persoalan itu pula. Thian-hi tertawa, sahutnya, “Mati atau hidup besok malam susah diketahui, kenapa membicarakan urusan itu!”
Ma Gwat-sian tersenyum, ujarnya, “Sekarang sudah larut malam, pergilah tidur, besok kau harus menghadiri Hong-bun-yam itu!” — habis berkata segera ia mengundurkan diri.
Thian-hi berdiri mengantar Ma Gwat-sian, setelah menyendiri terasa hatinya hambar entah berapa lama ia menjublek ditempatnya. mendadak terbayang raut wajah Ham Gwat, lalu terbayang pula akan Su Giok-lan, tak lama lagi teringatlah kepada Sutouw Ci-ko, demikian juga bentuk wajah Ka-yap Cuncia yang welas asih itu terbayang dalam benaknya. Kemana pula jejak Lam-siau Kongsun Hong sang guru berbudi berkelebat juga dalam otaknya.
Tak lama kemudian didengarnya. langkah kaki mendekat, tampak Ma Bong-hwi mendatangi, Thian-hi tersentak dari lamunannya, kata Ma Bong-hwi tertawa, “Tadi Gwat-sian sudah menjelaskan seluruhnya kepada aku sungguh aku hampir tak mau percaya!”
“Tiada jeleknya Toako percaya untuk kali ini. Jikalau Tan-siangkok benar-benar mengadakan Hong-bun-yam itu, bagaimana Toako hendak menghadapinya?”
“Mengandal Ing Si-kiat, aku tidak perlu takut, kekuatan pasukannya jauh lebih lemah dari aku. jikalau tidak pulang pada waktu yang ditentukan. diapun takkan bisa hidup lebih lama lagi!”
“Toako hendak menggunakan kekerasan atau cara halus?”
“Gwat-sian minta aku tidak membocorkan rahasia ini. selamanya aku patuh akan nasehatnya. Demikian juga untuk hal ini, kau sendiri bagaimana pendapatmu?”
“Jika berada dalam gedung Tan-siangkok, bila musuh kuat dan pihak kita lemah, tindakan yang utama adalah kita harus berdaya untuk meloloskan diri, setelah lolos baru kita pikirkan cara menghadapinya!”
Ma Bong-hwi tenggelam dalam pikirannya, katanya, “Sedianya aku sudah siap menghantamnya untuk hancur bersama, sekarang aku menjadi beragu malah, rasanya tiada harganya hancur bersama mereka, apakah kau punya cara untuk meloloskan diri itu!”
“BUat kita tidak minum arak beracun mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa atas diri kita. Kalau tepat pada waktunya kita belum keluar dari gedung Tan-siangkok, akan kuutus seseorang menggunakan perintah raja untuk menarik mundur kita berdua secara kilat. Bila mereka sedikit lena tentu akan terjebak ke dalam tipu daya ini.”
“Ini merupakan salah satu cara. Lebih baik kita bekerja menurut gelagat!”
Begitulah setelah bercakap-cakap sekadarnya. mereka masuk istirahat. Thian-hi mulai berlatih dan samadi di dalam kamarnya. Ka-yap Cuncia menyuruh aku kemari untuk terlatih Wi-thian-cit-ciat-sek, sekarang tiga bulan sudah berselang, sedikit pun aku belum memperoleh hasil, Tionggoan sudah semakin kemelut, bagaimana aku bisa hidup tentram disini.
Lalu dikeluarkan buku pelajaran Wi-thian-citciat-sek, dengan seksama ia memeriksa dan meneliti meski pun dalam kamarnya. petang gelap, namun gambar2 Wi-thian-cit-ciat-sek itu dapat dilihat dan dibacanya secara jelas, otaknya bekerja. Tahu-tahu cuaca sudah mulai terang. Pagi2 benar-benar Ma Bong-hwi sudah bangun, Thian-hi pun menyimpan Wi-thian-cit-cia-sek lalu berangkat ke Thian-seng.
Sebagai komandan Gi-lim-kun yang berkuasa di istana Thian-hi tidak perlu piket setiap pagi, setelah upacara berakhir. Tan-siangkok melangkah masuk ke dalam kamar kerja Thian-hi sembari berseri tawa, katanya, “Tio-ciangkun. Tio-ciangkun seorang panglima yang gagah perwira, merupakan panglima tinggi yang paling muda dan berani dalam sejarah Thian bi-kok kita, hari ini aku mengadakan perjamuan untuk merajakan pengangkatan Bu-wi Ciangkun, kuundang pula para pembesar istana. harap kau sendiri tidak menampik untuk hadir dalam perjamuan nanti malam.”
Cepat Thian-hi menjawab, “Siauciang baru saja berkedudukan di istana, Tan-siangkok begitu tinggi menghargai kami, sungguh kami tidak berani terima.”
Sementara itu Ing Si-kiat juga ikut melangkah maju, katanya, “Tio-lote merupakan tunas harapan bangsa kita, Tan-siangkok dan aku sering berdebat seru sampai kepala panas, namun betapapun kita merupakan satu rumpun, satu keluarga dalam satu negara. Malam nanti aku pun bersedia hadir, demikian juga Ma-ciangkun. sedang Toh-ciatsu menolak. maklum dia sudah tua dan berpenyakitan lagi. Banyak pula pembesar lain yang akan hadir semua. Harap Tio-ciangkun tidak menolak.”
Thian-hi tahu, katanya, “Para pembesar semua adalah angkatan yang lebih tua, kalau aku tidak hadir berarti aku tidak tahu penghargaan, baiklah nanti aku hadir, sebelumnya kunyatakan banyak terima kasih terlebih dulu kepada Tan-siangkok.”
Tan-siangkok tertawa lebar, katanya, “Tio-ciangkun merupakan tunas harapan kita semua, masih begitu muda sudah menjabat kedudukan begitu tinggi, kelak pasti punya harapan lebih tinggi dari kita semua. Tak usah sungkan-sungkan!” lalu dengan berseri tawa bersama Ing Si-kiat mengundurkan diri.
Ma Bong-hwi lantas melangkah masuk, Thian-hi tersenyum penuh arti, kata Ma Bong-hwi, “Sungguh tak nyana, ternyata seperti dugaan semula. Baik aku pulang dulu menyiapkan segala sesuatunya!”
Thian-hi mengantar Ma Bong-hwi sampai di ambang pintu, tak lama kemudian datang seorang Thaykam memberi lapor bahwa Baginda raja mengundangnya untuk bicara.
Diam-diam bergejolak hati Thian-hi, entah ada urusan apa Baginda mengundang dirinya, tersama Thaykam itu ia ikut masuk ke dalam istana.
Setelah menyembah kepada Baginda raja, tampak olehnya sang raja sedang murung dan bersedih. katanya, “Setelah pergi bersama kau tuan putri lantas jatuh sakit tanpa mau bicara, sebetulnya apa ang telah kalian alami?”
Bercekat hati Thian-hi, sesaat ia menjadi bingung, akhirrja menjawab, “Mungkin hamba yang kurang becus menjaga tuan putri sehingga beliau ketakutan, kami disergap dua ekor biruang besar di atas gunung, mungkin saking takut itulah sehingga beliau jatuh sakit.”
Baginda goyang2 tangan, ujarnya, “Tidak mungkin, nyali tuan putri tidak sekecil seperti apa yang kau katakan, tak mungkin hanya karena urusan sekecil ini menjadi ketakutan dan sakit. Sejak kecil dia jarang sakit, menurut tabib katanya punya janggalan hati, itulah sakit rindu, sebetulnya apa yang telah kalian alami lagi?”
“Hamba tidak tahu sebetulnya tiada kejadian lain yang luar biasa.”
Baginda menarik muka, katanya rada gusar, “Apa! Kau tak mau bicara?”
“Apakah tuan putri sekarang sudah siuman?”
“Dia baik-baik saja, hanya tidak mau berkata atau bersuara, selalu terlongong-longong ngelamun, coba kau bicara terus terang, aku tidak akan salahkan kau.”
“Apakah Baginda dapat mengijjnkan hamba bertemu dengan tuan putri?”
“Kau….” Baginda melengak. Mendadak ia seperti tersadar, dengan seksama ia amat-amati Thian-hi, sesaat kemudian berkata, “Berapa umurmu sekarang?”
“Hamba berusia dua puluh satu!”
“Apakah kau sudah punya calon jodoh?”
Tergetar jantung Thian-hi, setelah terlongong ia menjawab, “Belum!”
Baginda manggut-manggut tak bicara lagi. Thian-hi pun tidak bersuara lagi, hatinya menjadi gelisah, pertanyaan Baginda ini merupakan suatu pernyataan yang paling dikuatirkan untuk diterima. Diam-diam ia berdoa semoga tuan putri dapat menyelami perasaannya.
“Sekarang aku tahu, kau boleh keluar. Urusan ini aku tidak salahkan kau.”
Thian-hi menyembah lalu mundur, sungguh ia tidak bisa melukiskan bagaimana perasaan hatinya saat itu.
Baru saja cuaca menjadi gelap Tan-siangkok sudah mengirim utusan mengundangnya, sejak siang Thian-hi sudah berpesan seperlunya kepada anak buahnya, segera ia naik kuda terus berangkat bersama utusan itu. Gedung Tan-siangkok dihias begitu indah dan megah, ramai luar biasa, ratusan pembesar2 militer dan sipil sudah hadir, ruang yang besar itu menjadi penuh sesak. Tak lama kemudian Ma Bong-hwi juga sudah datang, banyak pembesar mengelilingi Thian-hi, Thian-hi menjadi keripuhan berbagai pertanyaan dan sanjung puji yang berkelebihan, kepala menjadi pusing, namun dengan tersenyum sedapat mungkin ia layani mereka.
Tan-siangkok menyeruak orang-orang yang merubung itu terus mendekati Thian-hi, katanya, “Kedatangan Tio-ciangkun sungguh merupakan suatu kehormatan bagi aku orang tua ini.”
“Demi permintaan Siangkok Tayjin, mana Siau-ciang berani tidak hadir. Siangkok Tayjin mengadakan perjamuan bagi diriku, sungguh membuat aku malu dan terima kasih, budi kebaikan Siangkok ini sungguh sulit aku membalasnya.”
Tan-siangkok bergelak tawa, ujarnya, “Tio-ciang-kun masih muda ganteng lagi, setiap orang akan kagum dan memujimu, kalau punya gadis perawan sungguh ingin rasanya kau kuambil mantu.”
Seluruh hadirin ikut bergelak tawa akan kelakar ini, Thian-hi sendiri menjadi kikuk, diam-diam hatinya rada dongkol. Tak lupa Tan-siangkok pun sekedar basa basi dengan Ma Bong-hwi, akhirnya mereka dipersilahkan duduk di kursi teratas. Tan-siangkok sendiri duduk di sebelah kanan Thian-hi, di sebelah yang lain duduk Ma Bong-hwi.
Setelah seluruh hadirin menempati tempat duduknya masing-masing, tampak serombongan gadis2 aju membawa poci arak dan cawan berbondong-bondong tersebar ke seluruh ruangan menyuguhkan hidangan pertama.
Segera Thian-hi berdiri dan berkata kepada Tan-siangkok, “Siangkok, maaf aku tidak bisa minum arak!”
Tan-siangkok lekas bangun berdiri pula, katanya, “Kenapa Tio-tiiangkun begitu sungkan, apakah sengaja hendak membuat aku serba runyam!”
“Sebetulnyalah aku pernah berjanji di hadapan ibunda sebelum beliau ajal, selamanya tidak akan minum arak.” begitulah Thian-hi kemukakan alasannya.
Tan-siangkok menjadi kewalahan, matanya melirik ke arah Ing Si-kiat, segera Ing Si-kiat bangun serta bertanya kepada Thian-hi, “Waktu ibundamu wafat entah berapa umur Tio-ciangkun?”
Thian-hi merandek, jawabnya, “Kira-kira empat belas tahun!”
“Nah tatkala itu Tio-ciangkun masih bocah kecil, sudah tentu ibunda Tiong-ciangkun melarang minum arak, sekarang Tio-ciangkun naik pangkat mendirikan pahala, usia sudah dewasa!”
“Tapi ibundaku….”
“Bagaimana kalau Baginda yang menganugrahi secawan arak?” tanya Ing Si-kiat mendesak.
Thian-hi menjadi bungkam, sebetulnya sengaja ia mengada2 menggunakan pesan ibunya untuk menolak, tapi pertanyaan Ing Si-kia+ ini membuatnya serba sulit, tidak bisa tidak ia harus minum, sesaat ia bingung dan berdiri terlongong.
Lekas Ma Bong-hwi bangkit serta menalangi. ujarnya, “Tan-siangkok, Ing-ciangkun sudahlah kenapa begitu bersitegang leher. Apalagi aku dan Tio-lote sudah melulusi permintaan adikku untuk tidak minum arak.”
Sesaat Ing Si-kiat tampak melongo, katanya, “Kenapa? Apa Ma-ciangkun juga tidak sudi minum arak?”
“Pesan adikku tidak bisa tidak harus kupatuhi. Bukankah Ing-ciangkun juga tahu hal ini.”
Apa boleh buat Ing Si-kiat menyeringai sinis. Selamanya Ma Bong-hwi sangat mematuhi setiap patah kata adiknya memang sudah diketahuinya dengan jelas. Sekarang Ma Bong-hwi bicara secara gamblang, diapun menjadi kewalahan.
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini, segera Tan-siangkok berkata, “Kenapa Ma-ciangkun tidak sudi minum arakku, apakah curiga dan merasa sirik terhadapku?”
“Ah, Siangkok berkelakar saja!”
“Biasanya aku tak senang mengurus segala urusan tetek bengek dalam keluarga, sehingga putra anjingku itu suka bersimaharaja di luaran. Tapi hari ini secara langsung biarlah aku mohon maaf sebesar2nya kepada Ma ciangkun di hadapan sekian orang-orang gagah, apakah Ma-ciangkun masih tidak sudi mencicipi arakku?”
Melihat orang sudah naik pitam Ma Bong-hwi mandah tersenyum saja, ujarnya, “Mana aku membenci dan sirik terhadap Siangkok, soalnya aku terpaksa.”
Tan-siangkok memberi isyarat dengan kedipan mata, seorang gadis pelayan segera menuang arak, tanpa banyak cincong lagi Tan-siangkok segera menyamber cawan arak di hadapan Thian-hi dan Ma Bong-hwi terus ditenggak habis. Para pembesar militer atau sipil lainnya beramai ikut angkat cawan dan tenggak habis arak masing-masing.
Tan-siangkok suruh kedua gadis pelayan yang lain menuang lagi dua cawan arak dipersembahkan kepada Thian-hi dan Ma Bong-hwi. Melihat tingkah laku Tan-siangkok ini semakin besar curiga Ma Bong-hwi, timbul kewaspadaannya, namun dalam hati ia berpikir: ‘mungkin Thian-hi dan adikku yang banyak curiga, belum lagi mereka jelas duduk perkaranya, mana mereka tahu bahwa arak ini mengandung racun! Sebaliknya bagi pandangan Thian-hi kelakuan Tan-siangkok itu malah mempertegas akan keyakinannya atas kelicikan orang. Untuk dirinya tiada halangan ia minum arak itu, karena Lwekangnya jauh mencukupi untuk menolak segala racun, tapi bagaimana dangan Ma Bong-hwi, bila dia ikut minum bukan berarti aku pun menyelakai jiwanya?’
Tan-siangkok tertawa lebar katanya sambil angkat cawan, “Para hadirin sekalian, marilah kita minum menyampaikan selamat kepada Tio-ciangkun.” — lalu ia angsurkan cawannya ke depan Hun Thian-hi.
Thian-hi pun angkat sebelah tangan, katanya, “Terima kasih akan kebaikan Tan-siangkok, baiklah dengan tangan kosong ini kuterima pemberian arak ini.” seperti orang menenggak arak tangannya terangkat ke depan mulutnya lalu mendongak.
Melihat Thian-hi dan Ma Bong-hwi mengukuh tidak mau minum arak, Tan-siangkok dan Ing Si-kiat saling pandang sebentar. Dengan sebuah lirikan beringas Tan-siangkok memberi isyarat, kedua gadis pelayan itu segera digusur ke belakang.
Bertaut alis Thian-hi, tak tahu ia apa yang akan diperbuat atas kedua gadis pelayan itu. Tapi dalam hati ia berkata; ‘akan kulihat bagaimana kau akan bertingkah, betapapun hari ini aku pantang minum setitik arak pun.’
Tak lama kemudian dua laki-laki menyanggah dua nampan perak maju menghadap ke hadapan Tan-siangkok, di atas nampan perak itu jelas terletak dua kepala kedua gadis pelayan tadi. Saking terperanjat Thian-hi sampai berjingkrak bangun.
Tan-siangkok berkata, “Kedua pelayan tidak becus tadi sudah kubunuh dan sekarang kupersembahkan kepada kalian!”
Ma Bong-hwi juga berubah pucat air mukanya.
Dari samping suara Ing-ciangkun berkata lantang, “Tan-siangkok terlalu banyak minum!”
Dengan mengunjuk senyum lebar, Tan-siangkok menggapai dua pelayan lain yang membawa poci dan cawan pula.
Terkejut hati Thian-hi, kelihatan tangan kedua gadis pelayan itu gemetar dan ketakutan, begitu dekat salah seorang menuang arak di depan Thian-hi serta berkata bergidik, “Tio-cjangkun! Silakan minum arak!”
Karena takut dan gemetar arak banyak tumpah di atas meja. Tan-siangkok mandah tersenyum manis, matanya melirik congkak menyapu pandang ke sekelilingnya. Dua laki-laki berseragam hijau segera maju menyeret gadis itu, cepat gadis itu berlutut di hadapan Thian-hi serta meratap, “Tio-ciangkun, tolonglah jiwaku!”
“Nanti dulu!” Thian-hi berjingkrak bangun. matanya menyapu ke seluruh hadirin.
Sikap Tan-siangkok acuh tak acuh, duduk dengan angkernya. Keruan bukan kepalang gusar Thian-hi. Serunya, “Siangkok Tayjin, apakah boleh pandang mukaku, ampuni jiwanya?”
Tan-siangkok tertawa, katanya, “Apakah Tio-ciangkun benar-benar tidak mau memberi muka?”
Pandangan Hun Thian-hi menyapu keadaan sekelilingnya.
Ing Si-kiat segera bangkit seraya berkata, “Sungguh Tio-ciangkun membuat Tan-siangkok serta runyam dan kena malu!”
Dilihat oleh Thian-hi air muka Ma Bong-hwi yang geram, seperti tidak tahan sabar lagi, dengan lirikan matanya ia mencegah orang berbuat gegabah, lalu katanya tersenyum kepada Tan-siangkok, “Kalau Siangkok memaksa terpaksa tak dapat kutolak lagi, namun Ma-ciangkun terang tak bisa minum, biarlah aku yang mewakili saja, bagaimana menurut pendapat Siangkok?”
Baru saja Tan-siangkok hendak bicara, Ing Si-kiat keburu mendahului, katanya, “Begitupun baik, ucapan adik perempuan Ma-ciangkun seolah-olah lebih tinggi dari perintah raja bagi dia, maka Tan-siangko kpun tak perlu memaksanya lagi.”
Sekaligus Thian-hi tenggak habis dua cawan arak, begitu masuk perut terasa perutnya seperti dibakar, terang itulah arak beracun yang sangat jahat, heran dia kenapa tadi Tan-siangkok bisa minum, mungkinkah mereka sudah minum obat pemunah sebelumnya.
Melihat sikap Thian-hi yang masih berdiri tegak tanpa bergeming dengan gagah, diam-diam terkejut hati Ing Si-kiat dan Tan-siangkok, serta merta mereka saling berpandangan.
Menurut perhitungan Ing Si-kiat dia terlalu tinggi menilai ilmu silat Hun Thian-hi, melihat orang rela mewakili Ma Bong-hwi minum arak, dalam hati ia membatin; hanya meringkus Thian-hi seorangpun bolehlah, soal Ma Bong-hwi gampang saja dihadapi dengan pasukan pendam yang sudah dipersiapkan diluar. Siapa kira setelah Hun Thian-hi minum arak itu sedikitpun ia tidak kurang suatu apa.
Keruan kejut dan gentar hatinya, mungkinkan arak beracun itu tidak mujarab lagi khasiatnya?
Bergegas Tan-siangkok berdiri minta diri ke belakang untuk tukar pakaian, karena gemetar Ing Si-kiat berlaku kurang hati-hati tangannya menyenggol jatuh sebuah cawan arak. Ma Bong-hwi melonjak bangun sambil meraba pedangnya, dia siap menghadapi segala kemungkinan. Tapi kenyataan keadaan tetap tenang tiada terjadi apa-apa. Dengan tajam matanya menyelidik ke empat penjuru, akhirnya berhenti di muka Ing Si-kiat, katanya tertawa tawar, “Ing-ciangkun menjatuhkan cawan membuat aku kaget!”
Sudah tentu Ing Si-kiat yang paling kaget dan pucat mukanya, bagaimana mungkin pasukan sebanyak lima ratus orang yang telah dipersiapkan diluar itu satupun tiada yang muncul, apakah telah terjadi sesuatu di luar dugaan?”
Dasar licik, sebentar saja dia dapat mengendalikan perasaannya, dengan tersenyum simpul ia berkata, “Minumku juga terlalu banyak, sebuah cawan saja sampai tak kuasa kupegang.”
Ma Bong-hwi mandah tertawa ejek, hatinyapun heran dan bertanya-tanya, kenapa suasana masih demikian tenang, sampai dimana tingkat kepandaian ilmu silat Ing Si-kiat ia tahu jelas, takkan mungkin sebuah cawan saja tak kuasa memegangnya, apalagi arak yang diminumnya tidak banyak, tak mungkin kena mabuk, tapi kenyataan pasukan terpendam itupun tidak muncul.
Begitulah hatinya bertanya-tanya, dia pun heran apakah arak yang diminum itu beracun? Tan-siangkok sendiri tidak kurang suatu apa, demikian juga Hun Than-hi tetap segar bugar, sungguh hatinya bingung dan tak mengerti.
Demikian juga hati Thian-hi dirundung rasa heran yang sama, kenapa pasukan pendam yang dipersiapkan itu tidak muncul menyerbu. Tengah ia bertanya-tanya dalam hati, tampak seseorang pengawal yang mengenakan seragam Busu serba merah muncul langsung menghadap ke depan Thian-hi, “Lapor komandan, sekarang juga Baginda raja ingin bertemu dengan Komandan dan Ma-ciangkun, diperintahkan untuk segera menghadap!”
Thian-hi bersama Ma Bong-hwi lantas berdiri, katanya kepada Ing Si-kiat, “Perintah Baginda memanggil, terpaksa kami tak bisa tinggal lebih lanjut, harap Ing-ciangkun mewakili kami mohon diri kepada Tan-siangkok.”
Habis berkata angkat tangan menjura lalu melangkah lebar keluar, dengan hambar dan terlongong Ing Si-kiat berdiri di tempatnya, sesaat lamanya mulutnya terbungkam tak kuasa bicara…. Bagaimana ia harus bertindak selanjutnya, mau menahan orang terang dirinya tidak mampu, kalau membiarkan mereka berdua pulang, bak umpama membiarkan harimau kembali kesarangnya. Kejadian hari ini betapa pun harus dirahasiakan. Bila besok pagi waktu piket dihadapan Baginda Ma Bong-hwi membeber intrik kejahatan ini, Tan-siangkok sendiripun takkan terhindar dari bencana….
Begitulah waktu ia mendongak lagi, Thian-hi berdua sudah pergi jauh, tersipu-sipu ia memburu keluar dan memeriksa ke empat penjuru, tampak olehnya kelima ratus tentara pendamnya yang bersenjata lengkap itu semua rebah di tanah, sebagai seorang ahli silat sekali pandang saja lantas dia tahu duduk perkaranya, ternyata seluruh pasukan pendamnya telah tertutuk jalan darah penidurnya, keruan kejut dan murka pula hatinya, darimana datangnya tokoh kosen yang telah menggagalkan rencananya, merobohkan lima ratus pasukan pendamnya tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, sungguh lihay dan tinggi kepandaian tokoh silat itu.
Sekonyong-konyong tersentak sanubarinya, pikirnya mungkinkah semua ini hasil berpuatan Bu-wi Ciangkun Tio Gun itu? Sekujur badannya menjadi basah oleh keringat dingin, arak beracun dipandangnya minuman nikmat yang menyegarkan badan, betapa tinggi lwekangnya sungguh tak berani dibayangkan. Semakin pikir Ing Si-kiat menjadi semakin takut, mengandal ilmu silat Hun Thian-hi yang begitu menakjupkan itu, bila mau memenggal kepala mereka rasanya segampang mengambil barang di dalam kantong bajunya sendiri.
Sementara itu, begitu keluar dari gedung Tan-siangkok langsung Thian-hi berdua naik kuda terus dibedal ke depan cepat-cepat, setelah di perjalanan, Thian-hi ulapkan tangan, lari kuda diperlambat, segera ia kerahkan tenaga mendesak arak beracun itu keluar dari perutnya. Begitu arak itu menyemprot di tanah, rumput sekitarnya yang kecipratan arak itu kontan menjadi kuning terbakar.
Diam-diam bercekat hati Ma Bong-hwi, begitu jahat arak beracun ini, namun lebih kagum lagi akan kekuatan Thian-hi yang bisa bertahan lama mengendom arak beracun dalam perutnya.
Setelah mengeluarkan arak beracun, badan Thian-hi terasa lemas dan kesal, batinnya; jahat benar-benar arak beracun ini.
Melihat keadaan temannya itu Ma Bong-hwi segera berkata, “Lote, lebih baik malam ini kau menginap dirumahku saja!”
Thian-hi tertawa-tawa, katanya, “Badanku masih cukup kuat, mungkin Baginda ada urusan dengan aku, aku harus berada di tempat tugasku.”
Begitulah akhirnya mereka berpisah ditengah jalan, Thian-hi langsung pulang keistana. Dalam hati selalu ia heran dan bertanya-tanya kenapa pasukan pendam Ing Si-kiat tidak muncul. Begitu memasuki kamarnya, tampak di atas mejanya terletak secarik kertas. dimana tertulis, “Besok tengah malam, bertemu dipuncak Thian-ting datanglah dan jangan membangkang!” — surat ini tidak dibubuhi tanda tangan, hanya tergambar sepasang pedang.
Berkerut alis Thian-hi. pikirnya, aku belum ada kenalan di tempat ini, darimana orang ini bisa mengundang aku untuk bertemu muka, tanda sepasang pedang ini entah apa pula maksudnya, mungkin merupakan julukan seseorang.
Begitulan hati Thian-hi menjadi gundah, mau pergi atau tidak. kalau orang itu bisa keluar masuk dalam istana dan meninggalkan secarik kertas ini di atas meja, ilmu silatnya tentu tidak lemah, tapi apa tujuannya dia mengundang aku?
Tengah Thian-hi terpekur, seorang Gi-lim-kun beranjak masuk, lapornya, “Baginda minta Tio-ciangkun segera menghadap diistana!”
Thian-hi rada melengak, sembari menyimpan kertas itu ia mengiakan terus melangkah tersipu-sipu menuju keistana raja.
Setelah Thian-hi melakukan sembah sujudnya segera Baginda berkata kepadanya, “Apa kau tahu cara bagaimana sehingga kau dapat memangku jabatan Komandan Gi-lim-kun ini.”
Berdetak jantung Thian-hi, sahutnya, “Sebetulnya hamba masih banyak kekurangan, semua itu berkat budi dan anugrah Baginda raja.”
Baginda menggeleng pelan-pelan, ujarnya, “Tidak! Menurut maksudku semula hendak kuangkat kau sebagai wakil Ma Bong-hwi, namun tuan putri sangat simpatik terhadap kau, katanya jabatan komandan Gi-lim-kun masih kosong, kaulah yang paling cocok mendudukinya!”
Thian-hi bungkam, Ma Gwat-sian ternyata menebak betul. Kiranya memang maksud hati tuan putri yang mencalonkan dirinya pada kedudukan sekarang ini.
Dengan lesu Baginda menghela napas, katanya, “Apa kau tahu kenapa aku tidak mengusut lebih lanjut perkara hilangnya benda-benda mestika itu?”
“Hamba tidak tahu!”
“Begitu melihat situasi dan keadaan selama ini lantas aku maklum, tujuan orang itu bukan melulu mencuri barang-barang mestika itu, para pembesar dalam lingkungan istana saling berebutan pegang kuasa, aku menjadi pusing dan tak mau urus mereka lagi!” — Selesai bicara, ia menunduk dengan lemas lunglai. hatinya tampak sangat sedih dan murung.
Sungguh haru dan tergugah perasaan Thian-hi, Baginda raja ini kiranya bukanlah raja lalim yang begitu ceroboh seperti dugaan mereka semula. Bagi seorang raja, ternyata setiap hari setiap saat dirundung kerisauan hati yang memuncak. Memang kalau dia mengusut perkara ini labjh lanjut, pasti selurah negara bakal terjadi keonaran besar.
Terdengar Baginda berkata lagi, “Tuan putri adalah anakku satu-satunya, aku mengharap dia baik, tanpa dia mau bilang akupun tahu perasaannya. Selamanya dia pasti dapat memperoleh barang apa saja yang diinginkan, ternyata sekarang dia tidak sudi mendesak dan memaksa pada kau, aku sendiri aku pun tidak akan paksa kau. kalau mungkin saja, kuharap kau tidak menyia-nyiakan harapannya yang suci.”
Thian-hi tunduk semakin dalam tanpa buka suara.
Setelah menghela napas. Baginda berkata pula, “Cara bicaraku ini tiada perbedaan antara raja atau pembesar lagi, aku bicara sebagai orang tuanya!”
“Baginda,” kata Thian-hi sambil angkat kepala, “Apakah kau tahu asal usulku?”
Dengan seksama Baginda pandang mata Thian-hi. katanya, “Aku sendiri kurang jelas, tapi aku tahu bahwa kau adik angkat Ma Bong-hwi, dan yang terpenting aku percaya penuh kepada kau!”
“Nama asliku bukan Tio Gun, yang benar-benar aku bernama Hun Thian-hi, aku juga bukan rakjat dari Thian-bi-kok ini, aku menyelundup datang dari Tionggoan.”
Terkejut Baginda, “Apa?” serunya berjingkrak bangun.
Thian-hi menunduk lagi, sahutnya, “Aku tahu akibat apa setelah aku menjelaskan asal usulku, tapi sekarang aku terpaksa harus bicara terus terang. tak lama lagi aku harus kembali ke Tionggoan.”
Baginda pandang Thian-hi lekat-lekat, sesaat lamanya bungkam dan duduk kembali, katanya, “Kau cukup jujur. Bagi orang yang menyelundup ke Thian-bi-kok ini hukumannya adalah penggal kepala, betapa pun tinggi kepandaian silatmu, puncak Thian-ting sana tidak kurang tokoh-tokoh kosen yang mampu meringkus kau. Rahasia ini hanya aku saja yang tahu, jangan kau katakan kepada orang lain!”
“Terima kasih akan budi dan keluhuran Baginda!”
“Dikala kita bersemajam bersama, aku tidak mau kau bicara begitu rupa, aku simpatik akan sikapmu yang perwira dan pambekmu yang tinggi. Kuduga tuan putri pasti ketarik juga akan sifat2mu ini!”
Thian-hi tidak bicara, dalam hati ia sangat bersyukur akan kemurahan hati Baginda. Sejenak merandek, Baginda meneruskan, “Sebelum kau pulang meninggalkan kami, apakah kau sudi tetap tinggal di istana saja?”
“Dengan senang hati hamba akan tetap tinggal dan menunaikan tugas sekuat tenaga.”
“Apa kau mau bertemu dengan tuan putri?”
Thian-hi sangsi sebentar, akhirnya manggut-manggut.
Baginda segera bangkit membawa Thian-hi masuk ke istana keputrian. waktu mereka memasuki sebuah kamar tidur yang besar, para dayang segera menyingkir minggir serta memberi sembah hormat. Di tengah sebelah pojok dinding sana terletak sebuah ranjang, disanalah tuan putri rebah, wajahnya kelihatan pucat dan rada kurus, kedua biji matanya terpejam, kelihatannya sedang tidur nyenyak.
Baginda menghela napas ringan, ujarnya, “Dia tidur nyenyak, mari kembali keluar saja!”
Mendadak tuan putri membuka biji matanya, sekilas pandang dilihatnya Thian-hi berada di situ dengan kaget tersipu-sipu ia berusaha bangun duduk dengan sikut menahan badannya, kedua matanya terbelalak besar, serunya, “Kau….”
Cepat Thian-hi membungkuk memberi hormat, sapanya, “Tio Gun memberi hormat pada tuan putri, semoga tuan putri lekas sembuh dan sehat walafiat!”
Baginda bergegas maju mendekat, sekian lama tuan putri terlongong memandangi Thian-hi, akhirnya dengan rasa hambar ia lepaskan topangan tangannya, badannya rebah lagi dengan lesu.
Thian-hi menunduk, diam-diam dalam hatinya ia mencercah diri sendiri, “Apakah harus aku kemari menemui dia? Tetapi tinggal di istana belum tentu lantas benar-benar, pengalaman yang kuhadapi di Thian-bi-kok ini sungguh belum pernah terbayangkan sebelumnya.”
Sementara itu Baginda sudah dipinggir ranjang, tuan putri masih terlongong bungkam, Baginda menjadi rawan dan menghela napas, ujarnya, “Ih-ji….jangan kau membuat aku bersedih hati!”
Kelopak mata tuan putri mengembeng air mata, sesaat kemudian baru bersuara dengan sesenggukkan, “Hanya hatiku saja yang rasanya kurang enak, sebentar saja tentu sudah baik, aku tidak apa-apa, ayah tidak perlu bersedih!”
“Dia memang benar-benar, tak lama lagi dia akan segera kembali ke Tionggoan, untuk kau dia kurang cocok!”
Tuan putri termangu-mangu, sesaat lamanya baru tersenyum dan berkata, “Aku tidak akan salahkan dia!”
Dengan mengembeng air mata Baginda manggut-manggut, katanya, “Aku hanya punya seorang putri, kau tahu aku tidak bisa kehilangan kau!”
Thian-hi tahu dirinya tidak enak tinggal terlalu lama di tempat itu, secara diam-diam ia mundur keluar terus kembali ke tempatnya sendiri. Dalam hati ia berpikir Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna, bagaimana juga aku jangan menyia-nyiakan waktu untuk berlatih, maka malam itu semalam suntuk ia tekun dan lebih giat mempelajari Wi-thian-cit-cit-sek.
Hari kedua setelah selesai piket Ma Bong-hwi datang, Thian-hi lantas bertanya soal tanda sepasang pedang itu merupakan julukan siapa?
Dengan heran Ma Bong-hwi berkata, “Apa Thian-bi-siang-kiam juga tidak kau kenal?”
Melihat sikap Ma Bong-hwi ini bercekat hati Thian-hi, mungkin Thian-bi-siang-kiam itu merupakan tokoh aneh yang berkepandaian sangat tinggi, namun sediki tpun aku tidak tahu, jangan sampai aku memperlihatkan kebodohanku ini. Maka segera ia menjawab tak acuh, “Selamanya aku tidak tahu akan seluk beluk hal ini!”
Ma Bong-hwi mengawasinya dengan pandangan tidak percaya, serunya, “Apa! Jadi mereka mencari dirimu?”
Thian-hi mandah tertawa-tawa tanpa bersuara lagi. “Ini bukan soal main-main, mereka berdua mengasingkan diri di Thian-ting, kecuali urusan yang sangat besar selamanya mereka segan turut campur menguruS segala tetek bengek, bila benar-benar mereka mencari kau, jelas kau bakal menemui kesulitan, bila urusan baik itulah tak menjadi soal, kalau urusan buruk, kukuatir….”
“Tiada apa-apa, aku hanya bertanya sambil lalu saja,” tukas Thian-hi.
Ma Bong-hwi tidak percaya, katanya, “Dalam istana tiada tugas yang penting, mari kau ikut pulang ke rumahku, hanya adikku saja yang rasanya dapat mengorek keteranganmu, terhadap aku agaknya kau tidak sudi bicara blak2-an!”
Thian-hi menampik dengan alasan, namun Ma Bong-hwi memaksa dan menariknya keluar, apa boleh buat terpaksa Thian-hi ikut pergi.
Setelah sampai di rumahnya Ma Bong-hwi suruh Thian-hi duduk menunggu di ruang tamu, tersipu-sipu ia masuk memanggil Ma Gwat-sian, tak lama kemudian tampak mereka keluar sambil bicara.
Melihat Ma Gwat-sian keluar Thian-hi lantas bangkit dan menyapa, “Toa-moaycu, kau baik?”
Ma Gwat-sian tersenyum, katanya sambil duduk, “Apakah Thian-bi-siang-kiam mencari kau?”
Dengan kikuk Thian-hi manggut-manggut, seolah-olah dihadapan Ma Gwat-sian sedikit pun ia tidak berani membual, daya pikir dan analisa Ma Gwat-sian membuat dia sulit untuk bohong di hadapannya.
Ma Gwat-sian tertawa geli, Ma Bong-hwi segera menyeletuk, “Nah apa aku bilang? Setiap kali kau bertemu dia seperti tikus melihat kucing!”
Benak Thian-hi dan Ma Gwat-sian bergetar bersama, sekilas mereka saling beradu pandang, otaknya lantas membayangkan pikiran sendiri, tanpa bersuara.
Akhirnya Ma Gwat-sian tertawa, katanya, “Menurut dugaanku mungkin karena kedua biruang itulah sebabnya!”
“Biruang?”
“Apakah yang sedang kalian perbincangkan, apa boleh dijelaskan kepada aku?” Ma Bong-hwi menukas.
“Soal ini tak ada sangkut paut dengan kau, maka kaupun tidak perlu banyak tanya!” sahut Ma Gwat-sian.
Ma Bong-hwi menghela napas, ujarnya, “Begitulah aku yang menjadi engkoh ini, setiap urusan selalu harus dengar ucapan adik! Baiklah aku menyingkir saja supaya tidak mengganggu keasjikan kalian bicara!” ia bangkit terus tinggal pergi sambil tertawa lebar.
Merah jengah selebar muka Ma Gwat-sian, katanya tersenyum manis, “Sebagai seorang pejabat tinggi engkohku bicara terlalu bebas!”
Thian-hi juga tertawa, katanya, “Mungkin sekedar kelakarnya saja untuk menyenangkan hati belaka!”
Sejenak mereka berdiam diri, lalu Ma Gwat-sian berkata, “Apakah benar-benar kau gunakan tenaga dalam untuk memukul mati kedua biruang itu!”
Thian-hi manggut-manggut. Tatkala itu dia sudah punya pikiran bila hal ini diketahui orang lain pasti bakal menimbulkan buntut perkara yang menyulitkan dirinya, sayang waktu itu dia tidak memendam saja kedua ekor biruang itu, sekarang menyesalpun sudah kasep.
Kata Ma Gwat-sian, “Thian-bi-siang-kiam pasti sudah tahu bahwa orang yang membunuh kedua ekor biruang itu tentu kau adanya. Lwekang mereka sangat tinggi, mungkin kau bukan tandingan mereka. Tapi sebagai Bu-wi Ciangkun tentu mereka tidak berani berlaku kasar terhadapmu, yang penting hanya mencari tahu asal usul perguruanmu saja.”
Thian-hi tenggelam dalam pikirannya, tanyanya, “Orang macam apakah sebenar-benarnya Thian-bi-siang-kiam itu?”
“Kalau kau tidak tahu bila ketemu mereka mungkin lantas dapat diketahui asal usulmu, bahwa kau
bukan warga Thian-bi-kok asli, dalam wilajah Thian-bi-kok ini tua muda laki perempuan tiada seorang pun yang tidak kenal akan kebesaran nama Thian-bi-siang-kiam!”
Bercekat hati Thian-hi; ‘untung hari ini aku kemari, kalau tidak kesulitan bakal lebih besar kuhadapi!’
Setelah merandek Ma Gwat-sian melanjutkan, “Mereka bernama Giok-hou-sian dan Pek-bi-siu. Sepuluh tahun yang lalu, dari Tionggoan ada serombongan gembong-gembong iblis yang menyelundup kemari segera mereka yang tampil ke depan membunuh seluruh gembong-gembong iblis itu. Maka seluruh rakjak Thian-bi-kok tiada yang tidak kenal ketenaran mereka.”
Thian-hi lantas membatin, “Thian-bi-siang-kiam ini pasti bertangan gapah dan kejam, yang jelas ilmu silat mereka pasti sangat lihay!”
Sekian lamanya mereka tenggelam lagi ke alam pikiran masing-masing, akhirnya Ma Gwat-sian menunduk serta bicara kalem, “Hun-toako, apakah benar-benar kau rada takut terhadapku seperti yang dikatakan oleh engkohku itu? Terhadap urusan orang lain aku dapat meraba dan memberikan pandanganku, namun serta menghadapi urusan yang melibatkan diriku sendiri, hatiku menjadi bingung dan kehilangan akal sehatku!”
Thian-hi tertawa, katanya, “Sebetulnya aku sangat kagum pada kau, kau benar-benar seorang cerdik pandai!”
“Kata Ma Gwat-sian, “Guruku sudah pergi lagi, entah kapan beliau baru akan pulang. Bila beliau ada disini, mungkin aku bisa minta pertolongannya. Bolek dikatakan guruku merupakan tokoh paling aneh di seluruh negeri kecil ini, ada beliau yang tampil ke depan, urusan sebesar gunungpun akan dibikin beres segampang membalikkan tangan.”
Thian-hi tertawa seraya menyatakan terima kasih, katanya, “Ini menyangkut urusanku sendiri tak enak kalau gurumu ikut campur, apalagi gurumu sedang pergi, mungkin sedang menyelidiki persoalanku di Tionggoan!”
Ma Gwat-sian mengawasi Thian-hi lekat-lekat, katanya, “Guruku menyuruh aku jangan terlalu dekat dengan kau, katanya waktu berada di Tionggoan kau dijuluki Leng-bin-mo-sin, sedang kau sendiri kau memang berwatak tinggi hati ya bukan?”
“Benar-benar,” Thian-hi mengakui, “Dikala gurumu pulang, saat itulah bencana bakal menimpa diriku. Sebelum kemari guruku pemah berpesan supaya aku tidak menunjukkan ilmu silatku, atau sebaliknya aku bakal ketimpa bahaya besar!”
“Kalau begitu jadi gurumu juga seorang tokoh aneh yang tinggi kepandaiannya, apalagi cara bagaimana beliau bisa mengetahui adanya tempat terasing ini?”
Thian-hi geleng-geleng kepala sembari tertawa tanpa buka suara.
“Ketahuilah guruku seorang yang cukup bijaksana dan mengenal aturan, bila kau tidak melakukan perbuatan yang tercela kau tidak perlu takut terhaday beliau, dia tidak akan sembarangan turun tangan tanpa alasan, apalagi….apalagi aku bisa mohon pengampunan pada beliau.”
“Aku sendiri tidak merasa takut, sudah sering aku kebentur urusan yang menyulitkan diriku, aku sendiri juga bisa mengakui akan julukan Leng-bin-mo-sin itu, julukan ini memang cukup menakutkan bukan?”
Ma Gwat-sian termangu-mangu, agak lama kemudian mendadak bertanya, “Hun-toako, apa kau sudi beritahu lebih banyak tentang dirimu kepada aku?”
Thian-hi beragu sesaat lamanya, ujarnya, “Sekarang aku belum bisa bicara, bila kukatakan seakan-akan memberi bahan kepada kau untuk minta pengampunan terhadap gurumu, lebih baik setelah gurumu memberitahu kepada kau baru akan kujelaskan, begitu lebih jelas lebih baik!”
“Selalu aku merasa sikapmu terlalu congkak, apa kau merasa akan hal ini?”
“Selamanya aku pantang meminta2 kepada orang lain, pernah aku mengalami pahit getir yang mengenaskan, toh aku tidak pernah mendapat simpatik dan belas kasihan orang lain!” — teringat olehnya peristiwa di Giok-bun-koan dimana dia berhadapan secara langsung dengan Situa Pelita, yang dia minta dan pengampunan bukan untuk dirinya, tapi demi hidup Sutouw Ci-ko, saudari angkatnya itu!
“Aku tahu akan watakmu ini! Cara bagaimana kau akan menghadapi Thian-bi-siang-kiam nanti malam?”
“Aku sendiri belum tahu apa tujuan mereka mencari aku, mana bisa aku ambil kepastian?”
“Watak mereka juga sangat takabur dan tinggi hati, kecuali guruku selamanya tidak mau tunduk pada orang lain, mereka tentu akan menanyakan perguruanmu, dan kau tentu sulit untuk menerangkan. Urusan ini tentu sulit diselesaikan secara damai.”
“Kalau begitu aku menjadi tak berminat untuk kesana!”
“Kau harus pergi, kalau tidak mereka tentu akan mencari kau. Dengan kehadiranmu disana malah mempelihatkan jiwa ksatriamu, kau bisa membawa sikapmu yang sombong tapi jangan keterlaluan, atau mereka tidak akan memberi angin kepada kau, jiwa mereka rada sempit!”
“Terima Kasih akan nasehatmu ini, tiba pada waktunya tentu akan berbuat seperti apa yang kau katakan!”
“Aku pernah dengar kau mengajar meniup seruling kepada Siau-hou, tiupan seruling yang merdu itupun pernah kudengar juga, namun kau belum pernah mempelajari intisari keindahan seninya. Bila kau mempelajari Tay-seng-ci-lau segala persoalan tentu bisa dibereskan.”
Thian-hi tertawa-tawa tanpa bersuara.
Ma Gwat-sian melanjutkan, “Guruku pantang pandangan subjektif, kesan beliau akan sepak terjangmu selama berada di Thian-bi-kok ini sangat baik, namun soal urusanmu di Tionggoan rada kurang dapat menerimanya, bila kesannya terhadapmu baik mungkin beliau bisa menurunkan ilmu Tay-seng-ci-lau kepada kau, pada waktu itu kau akan menjadi seorang tokoh tanpa tandingan di seluruh jagad!”
“Beliau belum lagi pulang, dari mana kau bisa tahu? Jangan kecewa dan berputus asa!”
“Bahwasanya kau sendiri juga paham akan persoalan inj, kenapa kau ngapusi dirimu?”
Kecut perasaan Ma Gwat-sian, dengan mendelu ia menundukkan kepala. Sebetulnya dia sendiri tahu akibat apa yang bakal terjadi, namun sungguh aneh dan heran kenapa selalu ia berpikiran- ke arah yang baik, menurut anggapannya Hun Thian-hi pasti bisa merubah haluan dari sesat menuju kejalan benar-benar, sehingga dia mau sembunyi di tempat ini. Bila gurunya pulang dan mengetahui liku2 hidupnya tentu Hun Thian-hi bakal mendapat hukuman yang setimpal apakah adil sikap dan keputusan demikian ini?
Lama dan lama sekali Ma Gwat-sian menepekur. tiada memperoleh jawaban cara bagaimana ia harus membantu Hun Thian-hi, kecuali ia turunkan ilmu Tay-seng-ci-lau kepadanya, tapi dia tidak berani, karena bila dia mengajarkan ilmu hebat itu akan membuat gurunya lebih murka lagi, mungkin Hun Thian-hi akan menerima akibat yang lebih berat.
Entah berapa lama mereka berdiam diri, tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Tahu-tahu Ma Bong-hwi berjalan mendatangi. serunya, “Kalian sudah selesai bicara belum?”
Hun Thian-hi tersipu-sipu bangun, Ma Siau-hou memburu kehadapannya, serunya, “Guru! Jangan kau pulang keistana lagi, lebih baik tinggal dirumahku saja, ajarkan aku meniup seruling!”
“Siau-hou sendiri bisa belajar! Aku tiada tempo lagi, kelak bila ada waktu pelan-pelan kuajarkan kepada kau!”
“Siau-hou selalu terkenang pada kau, tahu bahwa kau pun pandai main silat, diapun ingin berguru kepadamu!” demikian ujar Ma Bong-hwi.
“Guru,” seru Ma Siau-hou mendongak. “Kapan kau tinggal lagi dirumah kami?”
Hun Thian-hi tertawa, sulit untuk memberi jawaban.
“Siau-hou,” kata Ma Bong-hwi. “Gurumu sangat repot. lekas kau masuk membantu ibumu!”
Siau-hou menarik tangan Thian-hi dan tak mau pergi, sesaat ia celingukan memandang Ma Gwat-sian, lalu katanya nakal, “Aku tahu!”
“Bocah kecil Kau tahu apa?” tanya Ma Bong-hwi.
Ma Siau-hou berlari masuk, serunya, “Ajah berkata pada ibu katanya pak guru sedang berkencan dengan Bibi. mungkin pak guru hendak menikah dengan bibi. setelah menikah tentu pindah tinggal disini!”
Keruan merah malu muka Ma Gwat-sian, demikian juga Thjan-hi menjadi kikuk dan geli. Ma Bong-hwi segera membentak dan suruh anaknya pergi.
Ma Gwat-sian lantas minta diri kembali ke kamarnya. Thian-hi juga minta diri kepada Ma Bong-hwi. Setiap kali ia selalu mendapatkan Thian-hi bicara dengan Gwat-sian di belakang orang lain, diam-diam ia girang hatinya, pikirnya: ‘kelak Thian-hi pasti bakal menjadi iparku.’
Cuaca sudah gelap, dengan tetap mengenakan pakaian seragam kebesaran Thian-hi naik kuda terus dicongklang menuju ke Thian-ting. Sepanjang jalan hatinya menerawang cara untuk menghadapi mereka, supaya urusan ini tidak berlarut dan membawa akibat yang buruk, terpikir pula olehnya bahwa sebelum guru Ma Gwat-sian pulang ia harus sudah menyelesaikan pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, seumpama terjadi sesuatu diluar dugaan, dengan mudah ia bisa tinggal pergi dengan cepat.
Tak lama kemudian ia sudah tiba dipegunungan Thian-ting. langsung ia bedal kudanya manjat ke atas, alam pegunungan gelap gulita, pekik burung malam sebangsa kokok-beluk saling bersahutan membuat suasana sunyi di pegunungan bertambah seram.
Jalan pegunungan semakin lelak lekuk, akhirnya kudanya tak kuasa lagi berjalan, terpaksa Thian-hi tinggalkan kudanya, meski pun latihan Lwekang Thian-hi belum mencapai puncak kesempurnaan, namun boleh dikata sudah cukup ampuh dan hebat.
Segera ia empos semangat dan menarik napas, cukup mengerahkan lima bagian tenaganya. tubuhnya lantas meluncur naik laksana roket menembus angkasa, ringan sekali setiap kakinya menutul tanah badannya lantas mumbul pesat kepuncak gunung. Setiba dipuncak tertinggi keadaan hening lelap, tiada kelihatan bayangan seorang pun, angin malam di atas pegunungan mengbembus kencang menderu dipinggir telinga, namun sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi sedikitpun Thian-hi tidak terganggu oleh keadaan alam yang ribut ini.
Tak lama ia menanti sambil celingak-celinguk tampak di bawah sana dua titik putih kecii sedang meluncur mendatangi dengan pesat. Tahu dia itulah Thian-bi-siang-kiam. Sejap lain Thian-bi-siang-kiam sudah hinggap di pucak gunung. Sambil tersenyum lebar Thian-hi awasi mereka satu persatu.
Kelihatan kedua pendatang ini orang-orang yang berpakaian aneh dan sudah lanjut usia, yang satu rambut dan jenggotnya sudah ubanan namun seorang yang lain rada lucu, rambut dan jenggotnya ternyata tetap menghitam, punggung mereka memanggul pedang panjang, sekali pandang saja lantas dapat diketahui yang berambut ubanan itulah Pek-bi-siu dan seorang lain sudah tentu Giok-hou-sian adanya.
Sementara itu dengan seksama mereka berdua juga tengah mengamati Thian-hi, segera Thian-hi maju selangkah serta menjura, sapanya, “Wanpwe Tio Gun, sesuai dengan Undangan kedua Cianpwe kemari, entah ada petunjuk apakah para Cianpwe?”
Pek-bi-siu tertawa, katanya, “Hanya ketarik dan heran saja kita mengundang Tio-ciangkun kemari, ada beberapa omongan ingin kami tanyakan kepada Tio-ciangkun.”
Giok-hou-sian menimbrung bicara, “Dalam Thian-bi-kok mendadak muncul seorang tokoh kosen yang lihay, kami merasa sangat heran dan kejut, maka kami merasa ketarik!”
“Sebetulnyalah Wanpwe bukan seorang kosen apa segala, ilmu silat aku hanya belajar secara sambil lalu dan cakar kucing belaka, bila Cianpwe berdua begitu memuji, sungguh Wanpwe merasa sangat malu!” demikian Thian-hi merendah.
Pek-bi-siu tertawa lebar, kelihatannya ia simpatik akan sikap Thian-hi yang merendah diri dan tahu tata kehormatan, katanya, “Tio-ciangkun, setelah melihat biruang yang kau bunuh dengan pukulanmu itu, meskipun harus kau tambahi dengan sebuah tusukan pedang lagi, namun Lwekangmu yang hebat itu sungguh jarang kami lihat selama ini. Entahlah apakah Tio-ciangkun sudi beritahu kepada kami siapakah gurumu yang mulia?”
Thian-hi tersenyum, sahutnya, “Sebetulnya tusukan pedangku itulah yang tepat mengenai sasarannya, tiada yang perlu dibanggakan.”’
Melihat Thian-hi bicara menyimpang tidak mau menyinggung gurunya, Giok-hou-sian tidak sabar dan mendesak, “Siapakah sebenar-benarnya guru Tio-ciangkun….”
“0,” Thian-hi seperti tersentak sadar, sahutnya, “Pelajaranku ini kuperoleh dari sebuah buku saja!”
“Jadi Tio-ciangkun belajar sendiri?” tanya Pek bi-siu menegas.
Sudah tentu Thian-hi tak leluasa menyebut nama gurunya Lam-siau atau menyinggung kebesaran Ka-yap Cuncia terpaksa ia manggut-manggut membenar-benarkan.
Terangkat alis Giok-hou-sian, tampak mukanya merengut berang, katanya, “Dinilai dari usiamu mungkinkah kau belajar sendiri dapat memperoleh tingkat kepandaian yang begitu tinggi?”
“Secara kebetulan aku memperoleh rejeki, aku pernah memakan Kiu-thian-cu-ko!”
Thian-bi-siang-kiam saling pandang, tanya Pek-bi-siu, “Di tempat mana kau dapat?”
Thian-hi beragu sesaat lamanya, tahu dia bahwa jawaban kali ini tidak boleh ngelantur. sambil tertawa ia berkata, “Apakah Cianpwe berdua harus mengetahui?”
Pek-bi-siu mendengus, jengeknya, “Di dalam wilajah Thian-bi-kok ini, bila di tempat mana ada tumbuh buah ajaib seperti yang kau katakan itu, masa ada keserapatan giliranmu?”
Bercekat hati Thian-hi, namun lahirnya tetap tenang dan tersenyum simpul, katanya, “Dengan alasan apa Cianpwe berdua berani begitu yakin? Rejeki yang berjodoh tiada punya sangkut paut dengan tinggi rendah kepandaian seseorang!”
Diam-diam curiga dan sangsi pula hati Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian, namun dalam batin mereka mengakui akan kebenar-benaran kata-kata Thian-hi ini.
Kata Giok-hou-sian, “Soalnya kau main sembunyi2, tak berani bicara terang-terangan supaya diketahui oleh kami berdua?”
“Soalnya kenapa pula aku harus beritahu kepada kalian?” demikian Thian-hi tak mau kalah debat, “Selamanya aku belum saling kenal dengan kalian, kalian pun baru saja tahu adanya seseorang macam aku ini, apakah seseorang yang punya sekedar kepandaian silat harus kalian periksa dan diselidiki asal usulnya?”
Giok-hou-sian menjadi murka oleh debat Thian-hi yang beralasan itu. dengan menggeram ia melangkah setindak, jengeknya, “Tajam benar-benar mulutmu, kami mengajukan pertanyaan, selamanya tiada seorang pun yang berani tidak menjawab!”
Thian-hi pura-pura melengak dan angkat pundak keheranan, serunya, “Kalian adalah tokoh kosen dari aliran lurus bukan? Kenapa berkata demikian, aku tiada punya permusuhan atau sakit hati dengan kalian, kenapa pula aku harus menjawab setiap pertanyaan kalian?”
“Sahabat kecil,” Pek-bi-siu cukup licin, ia mengubah sikap dan merubah suasana yang semakin tegang ini. “Maksudmu bila ada permusuhan atau ada hutang budi baru boleh mengajukan tanya jawab?”
Thian-hi melenggong, tak tahu ia apakah Pek-bi-siu ada permusuhan atau pernah menanam budi terhadap dirinya, dalam hati bertanya-tanya, namun lahirnya tetap bersenyum, jawabnya, “Boleh dikata begitulah!”
“Kami Thian-bi-siang-kiam tiada sebab takkan mengajukan pertanyaan kepada kau, sebelum ini kamipun pernah sekedar membantu kau mengerjakan urusan kecil saja. Ketahuilah lima ratus pasukan pendam digedung Siangkok yang bersenjata lengkap itu, semua berhasjl kami tutuk jalan darah penidurnya. Anggaplah perbuatan kami ini sebagai budi kecil belaka!” — habis berkata Pek-bi-siu tertawa lantang. seolah-olah ia sangat bangga akan buah karyanya itu, bahwa sebenar-benarnyalah Thian-hi harus mengetahiii bahwa Thian-bi-siang-kiam bukan golongan tingkat rendah yang boleh diajak main-main.
Baru sekarang Thian-hi sadar, “Kiranya adalah perbuatan kalian”
“Bagi kami kejadian itu tidak perlu dibanggakan. tapi sekarang kau boleh menjawab pertanyaan kami bukan?” demikian desak Pek-bi-siu.
“Kiranya Cianpwe berdualah yang turun tangan, “Kemaren aku heran kenapa pasukan pendam itu seperti mati kutu, kalau begitu aku harus ucapkan banyak terima kasih pada kalian!”
“Kami sudah menerimanya dan tidak perlu disinggung lagi,” kata Pek-bi-siu, “yang penting kau harus menjawab pertanyaan yang kuajukan tadi.”
Thian-hi tahu kalau dirinya menjelaskan urusan bakal semakin runyam, Thian-bi-siang-kiam sudah puluhan tahun menetap di Thian-bi-kok, tempat mana saja yang tidak diketahui oleh mereka, maka katanya, “Seharusnya aku menjelaskan. Soalnya aku pernah berjanji kepada seseorang supaya tidak membocorkan rahasia tempat itu, harap Cianpwe berdua maklum dan memberi maaf!”
Giok-hou-sian mendengus, jengeknya, “Jelas kau hanya membual belaka! Menurut aku asal-usulmu kurang jelas, mungkin kau datang dari Tionggoan, betul tidak?”
Bercekat hati Thian-hi, sahutnya tertawa, “Cianpwe main menuduh karena aku tidak sudi menjelaskan dimana aku menemukan buah ajaib itu?”
Giok-hou-sian semakin berang, sebaliknya Pek-bi-siu tertawa, katanya, “Kalau begitu cobalah kau sebutkan nama orang yang melarang padamu itu!”
“Aku tidak tahu siapa namanya, diapun tak mau menerangkan padaku!”
“Usiamu masih muda, tapi berani membual hendak menipu kami berdua,” demikian jengek Giok-hou-sian, “masa ada urusan begitu gampang, dia yang kasihkan kau atau kau sendiri yang memperoleh buah ajaib itu?” .
Jelas kelihatan oleh Thian-hi bahwa Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian ini masing-masing berwajah warna merah dan putih, karena diberondong oleh pertanyaan terus ia menjadi jengkel, sahutnya dingin, “Apakah Cianpwe berdua anggap pernah menanam budi lantas mendesakku sedemikian rupa? Kenapa sikap kalian begitu kasar dan kurang terhormat? “
Pek-bi-siu merengut membesi, katanya kereng, “Soalnya karena asal usulmu yang tidak jelas jangan kau sangka ilmu silatmu sudah lihay, usiamu masih begitu muda berani memandang rendah orang lain!”
“Jika kalian tiada urusan lain lagi, maaf, aku mohon diri saja, tugas di istana menjadi bebanku, tidak bisa aku meninggalkan dinas terlalu lama!”
Tiba-tiba Giok-hou-sian terloroh-loroh dingin panjang, serunya, “Baru hari ini aku melihat ada seseorang berani bersikap begitu kurang ajar terhadap kami, ingin aku melihat betapa lihay bocah macammu yang belajar sendiri tanpa bimbingan guru ini!”
“Cianpwe tidak berhasil memeras dan mengorek keterangan, lantas hendak menggunakan kekerasan adu kepandaian?”
“Sungguh besar nyalimu, tapi dengan sikapmu yang jumawa terhadap angkatan tua, sudah seharusnya kami berdua mengajar adat terhadapmu, tapi kau tak perlu takut. kami tidak akan mengeroyok kau seorang!”
Mendengar orang hendak menghajar adat pada dirinya, Thian-hi insaf bahwa hari ini sulit terhindar bentrok, betapapun sanubari Thian-hi tidak mau turun tangan, terutama ia tidak suka memperlihatkan ilmu silat aslinya. Dengan tertawa tawar ia berkata, “Satu lawan satu boleh! Satu lawan dua pun tidak menjadi halangan.”
“Bocah sombong!” teriak Giok-hou-sian menyeringai dingin, “bila kami tidak menghajar adat padamu, kau tidak akan tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi, mari aku saja yang menjajal kepandaianmu, dalam dua puluh jurus bila kau tidak terkalahkan. pasti kami berdua tidak akan mempersulit lagi kepada kau!”
Girang hati Thian-hi, memang kata-kata inilah yang hendak dipancingnya dari mereka, serunya tertawa besar, “Sikap dan pembawaan yang gagah ini sungguh tidak malu kalian diangkat menjadi Thian-bi-siang-kiam!” lalu pelan-pelan ia melolos pedang serta katanya lagi, “Mari silakan Cianpwe mulai dulu!”
Walaupun Giok-hou-sian tahu bahwa dirinya sudah tertipu oleh pancingan Thian-hi, serta melihat tantangan Thian-hi yang mengumpak itu, hatinya menjadi girang juga. Pelan-pelan iapun mengeluarkan pedangnya, katanya, “Mari kau saja yang mulai serang!”
Thian-hi angkat kedua tangannya sedikit menjura lalu dari kejauhan menyodokkan pedangnya ke depan lalu ditariknya kembali dan berdiri tegak tak bergerak lagi.
Melihat Hun Thian-hi tidak sudi diberi hati dan tidak mau mengalah jengkel hati Giok-hou-sian, tanpa banyak cingcong lagi, tahu-tahu pedangnya melesat miring, segulung angin pedang yang menderu tajam kontan menerpa ke arah Thian-hi.
Diam-diam Thian-hi sudah ambil keputusan, ia tidak mau banyak urusan lagi, asal dirinya sudah menyambut dua puluh jurus serangan musuh berarti urusan dapat selesai begitu saja. Maka pedang panjangnya terangkat naik sedikit dengan jurus Tam-lian-hun-in-hap ujung pedangnya memapak maju, begitu permainan pedangnya dikembangkan, segulung bayangan pedang yang kelabu memutih berkembang melebar di sekitar tubuhnya, membendung serangan pedang Giok-hou-sian.
Tujuan serangan Giok-hou-sian . ini adalah hendak menjajaki sampai dimana Lwekang Hun Thian-hi, serta serangan pedangnya dilancarkan, tahu-tahu kekuatan tusukan pedangnya ternyata sirna dan amblas di tengah jalan, hakikatnya dia gagal menjajaki betapa tinggi atau rendah Lwekang Thian-hi, sekali lagi pedang terputar membuat sebuah bundaran melancarkan tipu Hohg-sa-liu-co (pasir angin mengalir), kontan berkembanglah gugusan bayangan pedang yang kemilau merangsak dari berbagai penjuru menyerang kepada Thian-hi.
Melihat jurus serangan Giok-hou-sian yang aneh dan lihay ini, terkejut hati Thian-hi, serta merta hatinya sedikit gentar, demikian juga permainan jurus pedangnya menjadi merandek dan sedikit lamban, bahwasanya sejak mulai ia tidak kerahkan seluruh Lwekangnya, begitu kedua pedang masing-masing saling bentrok, kontan ia tergetar mundur dua langkah.
Mendapat hasil Giok-hou-sian tidak memberi hati, kaki melangkah maju pedang bergerak pula melancarkan serangannya yang lebih gencar. Kali ini Thian-hi lancarkan jurus lain dari Gin-ho-sam-sek yaitu Gelombang perak mengalun berderai, bayangan sinar pedangnya sekokoh gunung tegak memunahkan seluruh rangsekan Giok-hou-sian yang hebat itu.
Penjagaan Thian-hi begitu rapat begitu kokoh kuat, sedikitpun Giok-hou-sian tidak bisa lihat atau menyelami jurus permainan apa yang digunakan oleh Thian-hi, demikian juga ia merasa jurus permainan pedang Thian hi sangat aneh, tanpa terasa ia berseru memuji, “Kepandaian yang hebat!” Pedangnya bergerak dan menyerang lagi lebih sengit.
Menurut perkiraannya semula, sejurus ia dapat menjebol bendungan lawan jurus-jurus selanjutnya pasti gampang mengocar-kacirkan pertahanan lawan, tak nyana perubaban permainan Thian-hi ternyata begitu cepat dan cekatan. meskipun rangsekannya cukup cepat, namun sekarang tidak mampu lagi mendesak mundur Thian-hi meski hanya setengah tindak saja.
Sekejap saja sepuluh jurus telah lewat. Sungguh kejut dan gusar pula hati Giok-hou-sian, selama ini Thian-hi melulu gunakan kedua jurus permainannya itu saja. sehingga serangannya yang lihay dan hebat itu selalu kandas ditengah jalan. Semula ia beranggapan betapa tinggi kedudukan Thian-bi-siang-kiam dan betapa tenar namanya di Thian-bi-kok, menghadapi bocah macam Hun Thian-hi ini meskipun dengan perjanjian dua puluh jurus, rasanya sudah berkelebihan dan sudah menurunkan derajatnya sendiri, maka selama puluhan jurus ini ia tidak mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya.
Separo dari perjanjian sudah dilewati, serangannya selalu kandas pula ditengah jalan, bila tidak kerahkan segala kemampuan lagi, mungkin dirinya bakal terjungal ditangan seorang bocah muda yang dianggap masih berbau pupuk ini.
Karena kekuatiran hatinya inilah serta merta kerahkan Lwekang di atas batang pedangnya. Diiringi dengan kegesitan gerak tubuhnya yang lincah, pedang panjangnya berkelebat melayang seperti bianglala kelap-kelip, kemilau sinar pedangnya berputar terbang mengelilingi Thian-hi dengan rangsekan membadai.
Kontan Thian-hi rasakan empat penjuru sekelilingnya bertamhah gencetan tenaga yang besar sekali, karena kuatir dapat dilihat dan diketahui seluk beluknya Thian-hi tidak berani kerahkan kekuatannya, namun ia insaf bila dirinya tidak menyambut serangan musuh, mau tidak mau, akhirnya dirinya mesti terdesak untuk mengerahkan Lwekangnya. Sebat sekali ia mengegos miring, kakinya menjejak tanah tubuhnya lantas melayang naik keudara, dengan menukik turun inilah ujung pedangnya menutul kebawah dengan jurus Hun-liong-pian-yu salah satu jurus terlihay dari Thian-liong-cit-sek, yang diarah adalah ubun-ubunnya kepala Giok-hou-sian.
Melihat Thian-hi mulai lancarkan serangan balasan Giok-hou-sian lebih waspada dan bersikap hati-hati, tanpa berani ayal sedikitpun ia kerahkan seluruh kekuatannya untuk melawan serangan musuh. Ujung pedangnya teracung tinggi lalu berputar membabat dan membacok serabutan,
Sejak mula pertempuran Thian-hi tidak mau kerahkan Lwekangnya, sudah tentu dia punya perhitungan permainan pedangnya. melihat rangsekan balasan lawan pedangnya diputar turun naik merabu dengan berbagai tipu serangan gertak sambel saja, sedikit mengancam musuh terus ditarik pulang kembali tanpa benar-benar hendak melukai lawan.
Giok-hou-sian gusar mencak-mencak, lima enam belas jurus sudah berlalu, sedemikian jauh ia masih belum berhasil menjajaki sampai dimana tinggi atau rendah Lwekang Hun Thian-hi. Tiba-tiba ia bersuit nyaring panjang, pedangnya berubah memainkan jurus Hou-tiong-jit-gwat, Serangan pedang ini dilancarkan dengan penuh variasi yang menakjubkan, dikata satu jurus sebetulnya mengandung perubahan yang tidak terhitung banyaknya, bayangan pedang seperti sebuah poci pendek bundar saja menungkup ke atas kepala Thian-hi.
Melihat itu bukan kepalang kaget Giok-hou-sian, serentak secara reflek ia lancarkan tiga jurus kembangan berantai untuk merintangi luncuran serangan balasan Thian-hi itu. Namun ia tidak berhasil menahan terjangan musuh. Dua puluh jurus pun tepat telah berakhir. Dilain saat Hun Thian-hi sudah jumpalitan hinggap di tanah, segera ia rangkap tangan serta menjura, katanya, “Atas kemurahan hati Cianpwe. Wanpwe sudah menandingi dua puluh jurus!”
Betapa pedih dan pilu hati Giok-hou-sian, anggapannya semula sepuluh jurus saja Thian-hi tidak akan mampu bertahan, tapi sekarang dua puluh jurus mampu ditandingi, malah dirinya sendiri yang terdesak dipihak yang runyam. tanpa merasa ia goyang2 tangan dengan rawan.
Kun Thian-hi menjadi girang, sangkanya urusan sudah selesai sampai disitu saja, baru saja ia niat tinggal pergi, tiba-tiba Pek-bi-siu membentak, “Nanti dulu!” — dengan kejut dan heran Thian-hi berpaling memandang Pek-bi-siu.
Kata Pek-bi-siu tertawa sinis, “Dimulut kau berkata sungkan, namun sepak terjang dan tingkah lakumu sangat takabur, kau memakai seragam militer, mengenakan mantel panjang lagi, dan yang lebih menjengkelkan kau tidak mau terima kebaikan orang lain!”
“Jadi maksudmu hendak menahan aku lagi?” demikian batin Thian-hi, namun lahirnya ia berkata, “Cianpwe! Sebetulnya Wanpwe terpaksa, kalau tidak mengenakan seragam ini, mana aku bisa pulang masuk kota!”
Pek-bi-siu menyeringai, ujarnya, “Itu bukan soal, yang jelas kulihat aliran silatmu dari Tionggoan, untuk hal ini kau harus memberi keterangan sejelasnya, ketahuilah selamanya Thian-bi-kok tidak akan membiarkan orang Tionggoan menyelundup kemari!”
Bercekat hati Thian-hi, namun lahirnya tetap tenang, sahutnya, “Kalau Cianpwe menuduh demikian aku pun tidak bisa main debat, tapi ingin aku tanya, uraiannya ilmu silat tiada perbedaan dengan garis yang tegas, entah apa yang disebut aliran Tionggoan atau golongan Thian-bi”
“Permainanmu ada beberapa jurus yang aneh, ada beberapa jurus pula seperti pernah kulihat entah dimana, tapi yang pasti bahwa dalam wilajah Thian-bi-kok tidak ada jurus permainan silat seperti itu.” demikian jengek Pek-bi-siu dingin.
Dalam pada itu Giok-hou-sian tengah menjublek, kelihatannya iapun dibuat keheranan, meskipun mereka melarang orang-orang Tionggoan kemari, tapi dulu sering mereka ke Tionggoan. Diapun merasa walau pun permainan silat Thian-hi rada aneh, samar-samar seperti pernah dilihatnya.
“Bagaimana! Kau datang dari Tionggoan bukan?” desak Pek-bi-siu.
Belum lagi Thian-hi menjawab, mendadak Giok-hou-sian berseru keras, “Tadi waktu kau balas menyerang aku apa namanya jurus itu?”
Berdetak jantung Thian-hi, jurus itu adalah Han-liong-pian-yu, Ilmu Thian-liong-cit-sek memang hebat, tidak sedikit kaum Kangouw yang pernah melihat dan tahu akan kehebatannya. Dari nada seruan Giok-hou-sian ini kelihatan memang dia pernah menyaksikan ilmu ini.
Sejenak ia merandek lalu jawabnya, “Jurus kesebelasankah yang kau maksudkan?”
Mendadak Giok-hou-sian berkata lagi, “Dulu pernah aku melihat ada orang menggunakan jurus permainanmu ini!”
Thian-hi tertawa geli, ujarnya, “Permainan silat yang sama di seluruh dunia ini tidak terhitung banyaknya, jurus permainanku itu belum rampung seluruhnya, masa kau tahu apa betul jurus yang kau maksudkan tadi?”
“Siapapun yang datang dari Tionggoan harus diberantas lenyap!” seru Pek-bi-siu, “Sebelum kami jelas duduknya perkara, bila kau mengaku terus terang, kami akan beri jalan hidup padamu, paling-paling hanya larang kau pamerkan ilmu silatmu selamanya menetap di Thian-bi-kok. Tapi setelah dapat kami selidiki jelas, kematianlah jalan yang harus kau tempuh.”
Sudah tentu Thian-hi tidak sudi pilih satu diantara kedua cara yang ditunjuk ini, ia geleng-geleng kepala katanya, “Aku tidak mau main debat dan bertengkar dengan Cianpwe berdua. Kenyataan aku sudah bertahan sebanyak dua puluh jurus sesuai dengan janji kalian sendiri aku harus pulang, apakah Cianpwe berdua hendak menjilat ludah sendiri?”
Melihat sikap Thian-hi begitu tenang, namun kata-katanya selalu menghindari pertanyaan langsung Pek-bi-siu menjadi dongkol, katanya mendengus, “Kuanjurkan bicaralah terus terang!”
Selama ini memang Thian-hi sengaja men-cari2 alasan, tapipun tidak berani membual secara langsung. katanya tertawa, “Silakan kalian menyelidiki saja, sekarang mungkin Baginda sedang mencari aku, aku harus cepat pulang.”
“Pek-bi!” tiba-tiba Giok-hou-sian berteriak. “Pernahkah kau dengar Thian-liong-cit-sek dari Tionggoan?” — dengan seringai sinis ia tatap tajam muka Thian-hi.
Bercekat hati Thian-hi, bila orang tahu akan nama Thian-liong-cit-sek, terang mereka bisa tahu akan nama-nama jurus permainannya tadi.
Pek-bi-siu manggut-manggut, sahutnya, “Ya, sekarang aku ingat lagi!”
Dengan lekat Giok-hou-sian awasi Thian-hi, katanya pelan, “Kiranya kau sealiran dengan Lam-siau, apakah kau tidak mau mengaku?” — seringainya lebih seram.
Thian-hi tersenyum, sahutnya, “Kapan Cianpwe pernah dengar nama Lam-siau?”
Giok-hou-sian menggerung gusar, serunya, “Lam-siau Kongsun Thoan! Apakah dia ayahmu?”
Mendengar nama Kongsun Thoan, itulah nama Sucou Thian-hi, atau ayah Kongsun Hong, Thian-hi tertawa, sahutnya, “Selamanya Thian-liong-cit-sek tidak diturunkan kepada orang luar!”
“Apakah nama Tio Gun itu bukan nama aslimu?” desak Giok-hou-sian.
Belum lagi Thian-hi membuka mulut, Pek-bi-siu bergelak tawa panjang, katanya, “Darimana bisa kau tahu sedemikian banyak, urusan Bulim di Tionggoan ada berapa banyak orang di Thian-bi-kok ini yang mengetahui? Thian-liong-cit-sek tidak diturunkan orang luar, baru sekarang aku tahu dari mulutmu, dari mana kau bisa tahu begitu jelas? Apakah kau masih tidak berani mengaku bahwa kau datang dari Tionggoan?” sampai disini mendadak mereka mencelat berpencar kekanan kiri mengepung Thian-hi dari depan dan belakang.
Thian-hi insaf tidak mungkin mengelabuhi lagi, terpaksa katanya tertawa, “Buat apa kalian begitu bersitegang leher, apakah kalian takut menghadapi aku seorang?”
“Sepuluh tahun yang lalu dari Tionggoan ada meluruk kemari delapan orang, mereka dapat merambat naik ke Thian-bi-kok sudah tentu bukan tokoh silat kelas kambing, namun mereka berhasil kami bunuh seluruhnya, masa sekarang kami takut menghadapi kau seorang! Tapi kau bisa menetap disini begitu lama tanpa konangan kedok aslimu, sekarang malah menjabat kedudukan Komandan Gi-lim-kun lagi, kau betul cukup licin!”
Sesaat Thian-hi menjadi mati kutu tidak tahu harus menjawab apa. ujarnya, “Banyak orang yang sudah tahu, melulu kalian saja yang ketinggalan!”
Pek-bi-siu menggerung murka, semprotnya, “Tapi kamilah yang tidak akan beri ampun padamu.”
Sembari berkata telapak tangannya menyelonong maju menepuk kepunggung Thian-hi. Caranya turun tangan cepat dan ganas, kekuatannyapun bukan olah-olah katanya.
Melihat Pek-bi-siu turun tangan, terpaksa Thian-hi harus mengadu jiwa, namun pertarungan ini menang atau kalah untuk selanjutnya terang dirinya tidak akan bisa menetap lama lagi diwilajah ini. Kecuali ia bunuh kedua orang ini supaya tutup mulut dan rahasia tidak diketahui umum!
Seiring dengan jalan pikirannya ini, ia membalik sebuah tangannya menyambut pukulan orang, menggunakan daya pental kekuatan benturan pukulan itu tubuhnya mencelat terbang kesamping terus berkelebat menyingkir, maksudnya mau tinggal merat saja.
Dilain pihak Giok-hou-sian sudah bersiaga diluar gelanggang sudah tentu ia tidak mandah membiarkan Thian-hi melarikan diri begitu saja, segera tubuhnya mencelat terbang, sebelah tangannya menindih ke atas kepala Thian-hi dengan pukulan berat.
Cepat-cepat Thian-hi menyedot hawa, sekonyong-konyong badannya terbang jumpalitan ditengah udara, badannya mumbul lebih tinggi. lolos dari serangan lawan.
Pek-bi-siu menjadi murka serunya, “Jangan harap hari ini kau dapat lolos?”
Sembari mengancam tubuhnya ikut melesat tinggi mengejar, kedua telapak tangannya didorong keluar memukul dari jarak jauh dengan setaker tenaganya.
Begitu mendengar kesiur angin pukulan musuh yang dahsyat ini terkejut Thian-hi. Kepandaian Pek-bi-siu memang tidak rendah, kecuali Si-gwa-sam-mo, mungkin tokoh-tokoh macam Situa Pelita pun tidak akan lebih ungkulan dibanding mereka berdua ini.
Untung Thian-hi membekal latihan Pan-yok-hian-kang, Lwekangnya maju pesat berlipat ganda Untuk menang dari keroyokan kedua orang ini memang tidak mudah, kalau untuk meloloskan diri saja cukup berkelebihan segampang membalikkan telapak tangan.
Begitu melihat serangan dahsyat yang menerpa tiba ini, Thian-hi memutar balik kedua telapak tangannya terjulur maju, kekuatan Pan-jok-hian-kang terkerahkan penuh, memukul balik ke arah serangan musuh.
Pek-bi-siu menjadi geram, pikirnya, “Bukankah kau cari mati ini?” Kontan ia kerahkan seluruh kekuatannya terus memapak maju secara kekerasan.
“Blang!” kekuatan pukulan sama bentur ditengah udara, menimbulkan gelombang angin yang menderu laksana angin topan, batu pasir beterbangan. Tampak tubuh Thian-hi terpental terbang ke belakang, sementara Pek-bi-siu melorot jatuh mentah-mentah terus sempoyongan beberapa langkah, setelah berdiri tegak mulut terpentang terus menyemprotkan darah segar.
Masih untung baginya karena Thian-hi rada memberi kelonggaran padanya, kalau tidak mungkin luka-luka yang dideritanya bakal lebih berat. Melihat Pek-bi-siu kalah dan terluka, sungguh kejut dan heran pula Giok-hou-sian, cukup sekali pukul pemuda yang masih bau pupuk bawang ini berhasil melukai Pek-bi-siu, lwekang sendiri setingkat lebih rendah dari saudaranya jelas diri sendiri jauh bukan lawannya.
Namun betapapun ia tidak rela membiarkan Thian-hi tinggal pergi begitu saja. dengan menghardik keras ia terbang mengejar, namun jaraknya sudah setengah li ketinggalan oleh Thian-hi, tampak tubuh Thian-hi melesat turun seperti meteor jatuh secepat kilat. Sungguh murka bukan kepalang hatinya, namun apa yang dapat dilakukan?
Sungguh Thian-hi merasa girang bukan kepalang. siapa nyana sekali pukul ia berhasil membuat Pek-bi-siu terluka parah, kini dapat membebaskan diri lagi dari kecokan mereka, namun demikian hatinya rada was-was pula, mungkin musuh terlalu pandang ringan dirinya, selanjutnya bagaimana untuk menghadapi kericuhan ini?
Thian-bi-siang-kiam jelas sudah mengetahui bahwa dirinya datang dari Tionggoan, soal ini bakal menimbulkan keonaran di seluruh negeri kecil ini, mungkin tiada tempat berpijak lagi dalam wilajah Thian-bi-kok bagi dirinya.
Tengah pikirannya melayang, sementara kakinya masih berlari kencang secepat anak panah. sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar petikan irama kecapi. Kontan berubah air muka Thian-hi, itulah irama kekal abadi, tempo hari ia pernah dengar lagu ini, namun orang yang memetik harpa kali ini jauh lebih pandai iramanya juga lebih mantap, jelas bukan petikan Ma Gwat-sian, jika bukan Ma Gwat-sian tentu gurunyalah yang sudah kembali. Dan yang lebih menguatirkan justru Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna dilatih olehnya
Irama harpa semakin tegas dan kumandang dialam pegunungan nan sunyi ini, tenaga Thian-hi masih belum bujar, ia masih cukup bertahan. sambil kertak gigi dan menyedot napas, tubuhnya meluncur turun semakin pesat. Hampir tiba pada tunggangannya, dia sudah tidak kuat bertahan lagi…. Dia insaf bila menerjang terus kebawah pasti seluruh isi perutnya bakal hancur lebur oleh tekanan dahsyat irama harpa itu.
Pemetik harpa itu menggunakan irama getar yang paling dahsyat seolah-olah dia tahu bahwa dirinya masih berusaha lari, kedengaran suara harpa semakin tegang dan membawa hawa membunuh yang tebal.
Akhirnya Thian-hi tidak kuat lagi, pelan-pelan ia duduk bersila menentramkan pikiran memusatkan semangat, Pan-yok-hian-kang dikerahkan untuk membendung serangan dari luar pelan-pelan ia berhasil menghimpun seluruh hawa murni dipusarnya. lambat laun tenanglah hati dan pikirannya. Tapi dia tidak berani sembarangan bergerak.
Sementara itu Giok-hou-sian tidak berputus asa. meski ketinggalan ia nekad mengejar terus, sekonyong-konyong didengarnya suara harpa keruan girang bukan main, tahu dia bahwa tokoh aneh yang tertinggi di Thian-bi-kok sudah muncul dan turun tangan, seumpama kepandaian Thian-hi setinggi langit juga jangan harap dapat lolos lagi. Begitulah dengan kencang ia mengejar kebawah, tampak Thian-hi masih berlari seperti sipat kuping. diam-diam tengetar hatinya, betapa tinggi Lwekang Hun Thian-hi ini, bila aku sendiri jelas tidak kuat bertahan lagi. Akhirnya dilihatnya Hun Thian-hi berhenti dan duduk bersila. Giok-hou-sian menjadi girang cepat ia memburu datang, waktu tiba. disamping Thian-hi, dilihatnya Thian-hi samadi dengan tenangnya. Kagum dan memuji dalam hati, usianya masih begini muda sudah membekai Lwekang sehebat itu, ada berapa banyak tokoh di dunia ini yang dapat memadainya! Sesaat lamanya ia berdiri menjublek di tempat itu, tak tahu apa yang harus dilakukan.
Begitu Thian-hi mengerahkan Pan-yok-hian-kang, irama harpa menjadi kalem, tekanan sedikit ringan perasaannya juga rada enteng. Hatinya senang. diam-diam ia membacn; Pan-yok-hian-kang latihanku ini ternyata begini sakti mandra guna, kiranya irama kekal abadi yang hebat itu juga tidak mampu menyerang masuk melukai diriku lagi.
Sementara itu, lagu kekal abadi masih terus berkembang mengalun tinggi laksana awan berlalu seperti gelombang berderai, bak umpama air sungai mengalir terjun kebawah. Begitulah lagu nan merdu ini meresap pelan-pelan ke bawah, sekonyong-konyong Thian-hi merasakan sesuatu keganjilan, kiranya irama harpa di dalam keadaan yang tidak terasa olehnya telah meresap masuk mengeram dalam badannya, baru saja ia hendak laksanakan rontaan terakhir, tiba-tiba irama harpa berhenti putus, kontan seluruh jalan darah tubuhnya seperti tertutuk oleh Jiong-jiu-hoat tanpa dapat berkutik lagi. Kesadaran Thian-hi masih segar bugar, tahu dia bahwa dirinya sudah tamat, tanpa kusadari ternyata aku telah teringkus begitu gampang.
Tak lama kemudian badan Thian-hi tergetar, lantas ia rasakan tekanan badannya menjadi enteng, seluruh jalan darah yang tertutuk bebas seluruhnya, waktu ia buka mata dan celingukan, tampak dirinya masih berada di tengah hutan, di sebelah kiri sana terdapat sebuah pohon besar di bawah pohon terdapat pula sebuah batu besar, di atas batu besar ini duduk tenang seorang Nikoh pertengahan umur, Thian-bi-siang-kiam tampak berdiri tegak menjulurkan tangan dikedua sampingnya.
Pelan-pelan Thian-hi bangkit berdiri, dengan cermat ia awasi Nikoh itu, tampak wajahnya bersih dan welas asih, mengenakan jubah hijau mulus, dipangkuannya terletak sebuah harpa kuno sikapnya serius dan sungguh-sungguh.
Tahu Thian-hi bahwa Nikoh ini pasti guru Ma Gwat-sian adanya, lekas-lekas ia menjura serta menyapa, “Wanpwe Hun Thian-hi, menghadap pada Cianpwe.”
Thian-bi-siang-kiam saling berpandangan. Nikoh pertengahan itu mengamati Thian-hi lekat-lekat, ujarnya, “Urusanmu aku tahu jelas sekali.”
Thian-hi mandah tertawa-tawar saja, dalam hati ia membatin, “Apa benar-benar kau tahu seluruhnya?”
Terdengar Nikoh itu menyambung lagi, “Mungkin kau pun tahu, bahwa aku adalah guru Gwat-sian.”
Thian-hi manggut-manggut, sahutnya, “Aku sudah tahu!”
Kata Nikoh itu lagi, “Sejak kau menetap di Thian-bi-kok, selama ini belum pernah melakukan perbuatan tercela, jika boleh dikata malah melakukan pekerjaan baik. Aku tidak peduli sepak terjangmu waktu kau berada di Tionggoan dulu, berdiri pihak Thian-bi-kok sini, bolehlah aku melanggar larangan biasanya, kau harus segera meninggalkan Thian-bi-kok.”
Thian-hi tercengang, ia berdiri bingung tak bersuara. Pek-bi-siu menjadi gugup, selanya, “Mana boleh begitu, setiap orang luar yang menginjak kakinya di Thian-bi-kok tidak boleh dilepas pulang.”
Nikoh itu tidak hiraukan protes Pek-bi-siu, kata-katanya tetap tertuju kepada Hun Thian-hi, “Sekarang juga kuperintahkan kau meninggalkan Thian-bi-kok!”
Thian-hi serba bingung dan gundah, ia tenggelam dalam pikirannya, akhirnya ia mendongak kata-kata Ka-yap Cuncia seperti terkiang di pinggir telinganya, “Sebelum Wi-thian-cit-ciat-sek sempurna kau latih, kularang kau meninggalkan Thian-bi-kok.” — sejak mula datang ia sudah melanggar salah satu pantangan Ka-yap Cuncia, memperlihatkan kepandaian silatnya, sekarang mana boleh mengingkari pula pesan beliau?
Dengan tajam Nikoh itu pandang muka Thian-hi, dia tidak bisa meraba kemana jalan pikiran Thian-hi yang kebingungan itu.
Akhirnya Thian-hi menunduk sambil tertawa, katanya, “Wanpwe ada sebuah permintaan, entah apakah Cianpwe bisa memberi persetujuan!”
Hati si Nikoh menjadi rada berang, selamanya tiada seorang pun yang berani melanggar setiap patah katanya, sekarang apa pula yang diatur Hun Thian-hi ini. ingin aku mendengar apa yang akan dikatakan olehnya, maka tanyanya, “Coba kau katakan!”
Kata Hun Thian-hi, “Waktu Wanpwe hendak kemari, aku pernah berjanji pada seseorang untuk mematuhi dua buah pesannya. Pesannya yang pertama tidak mungkin tertolong lagi, urusan yang kedua ya itu bahwa aku harus tinggal lagi selama sepuluh hari baru bisa menyelesaikan pesannya yang kedua. Apakah Cianpwe suka memberi ijin supaya aku menetap sepuluh hari lagi disini?”
Timbul amarah si Nikoh, alisnya terangkat tinggi, sahutnya tegas, “Tidak bisa!”
Diam-diam Giok-hou-sian dan Pek-bi-siu mengumpat dalam hati, begitu besar nyali Thian-hi main tawar menawar untuk tinggal lagi sepuluh hari disini.
Thian-hi menunduk lagi menepekur, akhirnya ia berkata pula, “Lima haripun bolehlah, dapatkah Cianpwe melulusi?”
Nikoh itu duduk tak bergerak dengan angkernya, dingin-dingin ia awasi Thian-hi, katanya, “Kau sangka aku tidak berani bunuh kau?”
Thian-hi tersenyum kecut, katanya, “Tiga hari juga bolehlah!”
Nikoh itu bergegas bangun, matanya mendelik dan membara gusar mengandung hawa membunuh, dengan tajam ia pandang Hun Thian-hi. Tapi tanpa mengenal takut Thian-hi pun balas pandang dia. Terketuk sanubari si Nikoh, begitu tinggi kepandaian silat Hun Thian-hi, belum pernah ia ketemukan lawan yang begitu lihay, kelihatannya juga begitu tawar hati dan perasaannya, kelihatannya sedikit pun ia tidak gentar bila aku membunuhnya.
Lama dan lama sekali ia pandang orang lekat-lekat, akhirnya dia tak kuasa turun tangan Waktu pertama datang dulu Thian-hi tidak mau unjuk kepandaian silatnya, sampai mandah dihajar orang dengan pecut dan dihina, namun justru karena hubungannya dengan Ma Gwat-sian, akhirnya ia terdesak dan memperlihatkan kepandaiannya yang sejati. Hari ini dia kena tertawan dan terjadi peristiwa yang tidak enak ini, betapapun dirinya harus ikut mempertanggung jawabkan akibatnya.
Akhirnya ia duduk lagi pelan-pelan, katanya, “Urusan apakah itu, coba kau tuturkan pada aku, biar aku yang bantu kau menyelesaikan.”
“Terima kasih Cianpwe,” ujar Thian-hi tersenyum, “urusan ini harus kukerjakan sendiri orang lain tidak akan bisa membantu!”
“Apa yang hendak kau kerjakan, beritahu aku, biar kupertimbangkan.”
“Maaf Wanpwe tidak bisa memberitahu!”
Melihat kekukuhan Thian-hi, Thian-bi-siang-kiam menjadi gegetun, pikirnya, “Bila aku, sejak tadi sudah kubunuh kau!”
Nikoh itu merenung sesaat lamanya, akhirnya berkata, “Kali ini aku baru pulang dari Tionggoan, banyak kudengar persoalanmu, sebetulnya aku harus bunuh kau, namun ada sebuah urusan menurut aku latar belakangnya masih belum jelas dan tidak bisa kupercaya demikian saja, maka kuputuskan hanya mengusirmu keluar dari Thian-bi-kok. Sebab lain karena kulihat selama disini kau tidak punya maksud-maksud jelek, malah pernah melakukan tugas dengan baik!”
Sampai disini ia pandang Thian-hi lagi lalu sambungnya, “Kudengar katanya kau kejam dan telengas, seluruh golongan dan aliran Kangouw di Tionggoan semua ingin meringkus dan membekuk kau, tapi hanya pihak Siau-lim-pay saja yang tidak ikut campur, akhirnya karena sepak terjangmu terlalu mengumbar nafsu dan kelewatan, terpaksa Siau-lim-pay baru ikut bergabung, tapi soal itu jauh lebih kecil dibanding kau membunuh Ciangbunjin Bu-tong-pay. Kalau semula Siau-lim-pay tidak turut campur, maka persoalan belakangan seharusnya juga tidak usah turun tangan, kenyataan toh mereka ikut meng-uber-uber kau. Akhirnya seluruh kaum persilatan disana mulai menguber jejakmu, kemanapun kau pergi selalu dikuntit, terpaksa kau menyelundup ke Thian-bi-kok dan sembunyi disini.”
Berhenti Sebentar, ia pandang Thian-hi lagi, lalu sambungnya, “Tapi setengah bulan kemudian, pihak Siau-lim mengundurkan diri pula.”
Thian-hi menjadi heran dan bertanya-tanya, Siau-lim Ciangbun Te-coat Taysu sendiri memimpin pengejaran itu dan mengurung dirinya dengan Sutouw Ci-ko di Jian-hud-tong, bagaimana mungkin bisa mengundurkan diri! Mungkinkah Ka-jap Cuncia sendiri sudah mengunjukkan diri? Tidak mungkin, bila Ka-yap Cun-cia mau bicara sekejap saja bukan saja pihak Siau-lim. Seluruh kaum Kangouw tiada yang tidak akan mendengar nasehatnya. Ini betul-betul hal yang sangat ganjil. pikir punya pikir tanpa merasa mulutnya lantas menggumam, “Ini tidak mungkin!”
Dengan heran si Nikoh pandang Thian-hi, katanya, “Konon kabarnya Te-coat Taysu terluka parah, baru pihak Siau-lim mundur, tapi tidak mungkin, karena Te-coat sudah lama terluka, hampir luka-luka parahnya sembuh baru pihak mereka mengundurkan diri.”
Thian-hi tertunduk menepekur tanpa buka suara.
Kata si Nikoh itu lagi, “Maka aku bertindak tidak berdasarkan sepak terjangmu di Tionggoan, yang jelas tingkah lakumu disini tidak jelek pernah mendharma-baktikan kemampuanmu demi keselamatan, negara ini lagi, maka keputusanku cukup mengusirmu keluar! Ini cukup bijaksana.”
Thian-hi tertawa geli, seperti mentertawakan kelakuannya selama ini.
“Aku sudah bicara panjang lebar, apakah kau maklum maksud juntrunganku?” tanya si Nikoh.
Thian-hi tahu, maksud si Nikoh adalah supaya dirinya lekas meninggalkan tempat ini, katanya tawar, “Tidak! Paling sedikit aku harus tinggal tiga hari lagi!”
Kau hendak mohon Gwat-sian mintakan ampun bagi kau?” jengek si Nikoh.
Hun Thian-hi tertawa-tawa, sahutnya, “Bila begitu, buat apa melulu tiga hari saja?”
Si Nikoh menghela napas, sedemikian kukuh dan teguh pendirian Thian-hi, membuat ia merasa kewalahan, akhirnya dia manggut-manggut, katanya, “Baiklah! Kuijinkan kau menetap lagi tiga hari saja!”
Tersipu-sipu Thian-hi menjura dengan senang. serunya, “Terima kasih Cianpwe!”
Si Nikon mengulapkan tangannya ujarnya, “Kau pergilah!”
Cepat Thian-hi lari ke kudanya terus dicemplak cepat kebawah gunung langsung pulang ke istana.
Si NikOh terlongong memandangi punggung Thian-hi yang semakin menjauh, mantel merah yang melambai-lambai terhembus angin di belakang punggungnya membuat pikirannya membayangkan adegan yang baru saja terjadi. setiap gerak gerik Hun Thian-hi sedemikian tegas dan punya wibawa yang besar. Sikapnya angkuh dalam keadaan yang gawat tadi sedikit pun tidak kelihatan menjadi gugup atau gentar. sungguh sukar didapat orang macam ini!
Dari lahirnya yang bersikap sopan dan halus, tiada seorang pun yang bakal menduga bahwa dia diberi julukan sebagai Leng-bin-mo-sin (hati iblis muka dingin).
Dalam pada itu setelah tiba di dalam kota, langsung Thian-hi mengadakan perondaan kesekeliling kota. setelah memberi petunjuk-petunjuk seperlunya kepada bawahannya, langsung ia pulang ke kamarnya terus mengunci pintu, mulailah ia memperdalaan pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek.
Seluruh pikiran dan semangatnya dipusatkan untuk menyelami pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, dalam jangka tiga hari ia harus berhasil mencangkok seluruh pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek ini. supaya dapat meninggalkan Thian-bi-kok dengan bekal ilmu yang mencukupi untuk membela dan menjaga diri.
Sebelumnya dia sudah memberi pesan kepada anak buahnya. siapapun dan ada perlu apa juga dilarang mengganggu dirinya, seumpama sang Baginda ingin bertemu juga harus ditolak.
Tanpa tidur dan tidak mengenal istirahat seluruh perhatian Thian-hi ditumplekkan pada pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek itu, dia sendiri tidak tahu berapa hari dan berapa lama ia sudah menyekap diri dalam kamarnya ini. yang jelas bahwa lambat laun ia sudah berhasil menyelami Wi-thian-cit-ciat-sek lebih dalam lebih sempurna, terasa olehnya semakin hebat dan ampuh intisari pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek yang sakti dan digdaya
Pada saat itu ia tengah tenggelam dalam memecahhkan sejurus permainan. sebatang pedang terpegang
ditangnnya sedang mempraktekkan pelajaran menurut apa yang tercatat di atas buku. Mendadak diluar ada orang menggedor pintu, “blang” tahu-tahu pintu kamarnya diterjang terbuka.
Begitu cahaya matahari menyorot masuk menerangi kamarnya baru Thian-hi tersentak sadar.
Tampak seseeorang anggota Gi-lim-kun menerjang masuk. teriaknya, “Ing-ciangkun memberontak!” habis berkata lalu menjerit ngeri dan roboh tak berkutik lagi.
Terkesiap hati Thian-hi, tampak ditubuh Gi-lim-kun itu tergubat seekor ular panjang tiga kaki. Seluruh istana ribut kalang kabut. Lekas Thian-hi menerjang keluar sambil menenteng pedangnya, begitu tiba di luar dilihatnya dimana-mana dalam istana ini ular besar kecil melata, para anggota Gi-lim-kun menjadi panik dan lari serabutan dengan ketakutan, pintu gerbang Utama sudah tertutup, namun dari luar pintu digedor dan diterjang dengan keras, mungkin tak lama lagi bakal dijebol rusak.
Sungguh Thian-hi tidak mengira situasi berubah begitu gawat, mulutnya bersuit panjang, serentak dengan kegesitan gerak tubuhnya pedang ditangannya bekerja lincah laksana bianglala beterbangan ke-mana-mana, setiap kali sinar pedangnya melesat ular di badan para Gi-lim-kun itu dibabatnya kutung semua. Sekaligus ia memutar tubuh seraya mengayun pedangnya, ular-ular yang memenuhi lantai menjadi ketakutan dan lari serabutan, sekejap saja ia berhasil membunuh separoh diantaranya.
Seluruh anggota Gi-lim-kun berjingkrak kegirangan begitu melihat Thian-hi muncul dengan memperlihatkan perbawa ilmu silatnya, bangkitlah semangat dan keberanian mereka, serentak mereka angkat senjata serta menyerbu ke pintu gerbang untuk berjaga-jaga dan menahan serbuan dari luar bila pintu gerbang benar-benar kena dijebol.
“Dimana baginda?” tiba-tiba Thian-hi berseru keras.
“Baginda masih berada di istana!” sahut salah orang Gi-lim-kun yang terdekat.
Selayang pandang Thian-hi menyapu keadaan sekelilingnya, situasi gawat tadi sudah dapat diatasi, kekacauan sendiri diantara para anggota Gi-lim-kun karena serangan ular-ular tadi sudah mereda. Beban yang paling dikuatirkan melulu keselamatan Baginda raja dan tuan putri, lekas-lekas ia memburu masuk ke-istana dalam, tampak Baginda raja tengah mengalangi di depan tuan putri menghadapi seekor ular besar yang melata mendekat, ular ini cukup besar dan panjang setombak lebih.
Muka Baginda tampak pucat kehijauan, seluruh mukanya penuh keringat dingin. Cepat Thian-hi memburu maju seraya membentak, sekali ayun tangan kanan, pedangnya panjang segera melesat ke depan secepat kilat, telak sekali menancap amblas di bawah leher, siular kontan roboh dan binasa….
Bergegas Thian-hi maju memberi hormat serta serunya, “Hun Thian-hi terlambat datang menolong membuat Baginda kena kejut!”
Baginda raja terlongong ditempatnya, sesaat kemudian baru bisa bicara, “Darimana kau datang?”
Karena apa Ing-ciangkun angkat senjata memberontak?” tanya Hun Thian-hi cepat.
Baginda menghela napas, katanya, “Karena Tan-siangkok gagal melamar tuan putri untuk putranya, segera Ing-ciangkun kerahkan bala tentaranya menawan Ma-ciangkun, sekarang sedang pimpin anak buahnya untuk menggedor pintu gerbang istana.”
Kejut dan gugup pula hati Thian-hi, Ma Bong-hwi telah ditawan berarti bala bantuan dari luar sudah tak mungkin diharapkan lagi karena memikirkan keadaan yang lebih gawat diluar istana segera ia berkata, “Harap Baginda ikut hamba keluar supaya dapat melindungi dari segala kemungkinan” Habis berkata bergegas ia melangkah keluar.
Tanpa bicara lagi Baginda dan Titan putri mengintil dibelakangnya. Setiba diluar tampak masih banyak ular dimana-mana, seluruh kekuatan Gi-lim-kun dikerahkan untuk menahan gedoran pintu gerbang Istana, sebagian diantarania dikerahkan untuk menyapu ular-ular yang menjijikkan itu.
Sungguh geram hati Thian-hi bukan main. Tan-siangkok berani menggunakan ular untuk menyerbu dan mengacau, kontan ia putar pedangnya, sebentar saja seluruhnya dapat dibinasakan oleh pedang Hun Thian-hi.
Lalu ia kumpulkan seluruh pasukan Gi-lim-kun, jumlah seluruhnya cuma seratus dua puluh orang, perusuh di luar semakin gencar menggedor pintu.
Segera Hun Thian-hi mengertak gigi, katanya kepada Baginda, “Keadaan semakin gawat. kita tidak bisa bertahan melulu disini dengan kekuatan yang kecil ini. Harap Baginda beramai ikut menyerbu keluar kepungan, kalau bisa terjang sampai ke Bi-seng tentu keadaan jauh lebih baik.”
Sesaat Baginda terlongong dan sangsi katanya, “Mana boleh begitu. tentu mereka sudah menutup seluruh pintu kota!”
“Tidak usah takut, hamba punya kemampuan untuk menerjang keluar.” Segera ia perintahkan anak buahnya mempersiapkan kuda. tak lama kemudian seluruh keperluan telah dipersiapkan.
Sementara itu pintu gerbang istana yang kokoh tebal itu pun telah retak. Thian-hi suruh seluruh anggota Gi-lim-kun naik kuda, mempersiapkan anak panah, sedang tuan putri mengendalikan kereta membawa Baginda didalamnya. Dalam pada itu Thian-hi pun sudah membawa seluruh keperluannya dan siap di atas kudanya pula. Kebetulan saat itu juga pintu gerbang telah bobol dan terbuka lebar, pasukan pemberontak segera berbondong-bondong menyerbu masuk sambil berteriak-teriak.
Thian-hi memberi aba-aba untuk lepas anak panah. seketika hujan panah menyambut serbuan para pemberontak, kontan sebagian besar diantaranya roboh mati, sisanya yang masih hidup menjadi ketakutan dan mundur keluar.
Hun Thian-hi memberi aba-aba pula, semua lemparkan anak panah dan menjinjing tombak, di bawah pimpinan Thian-hi sambil melindungi kereta tuan putri terus menerjang keluar. Pasukan pemberontak tidak menduga akan serbuan Thian-hi beramai, dimana pedangnya terputar. kontan sinar pedangnya merobohkan banyak perintangnya. Tiada seorangpun yang mampu bertahan.
“Tio Gun!” lapat-lapat terdengar oleh Thian-hi seruan kaget seseorang dikejauhan. Sekali dengar lantas Thian-hi dapat mengenali suara Ing Si-kiat, namun keadaan cukup genting tiada kesempatan membuat perhitungan dengannya, kudanya dicongklang ke depan terus menuju pintu utara….
“Lekas perintahkan tutup seluruh pintu kota!” Ing Si-kiat berteriak memberi perintah.
Namun keburu pasukan Gi-lim-kun sudah menerjang keluar, melihat kegagahan Hun Thian-hi pasukan pemberontak menjadi gentar mana kuat menahan serbuan mereka. Tak lama kemudian mereka berhasil menerjang tiba di pintu utara, pasukan yang menjaga di atas pintu gerbang segera lepaskan anak panah menyambut kedatangan mereka. Sungguh gusar Thian-hi bukan kepalang, tubuhnya melambung maju ke tengah udara, kedua telapak tangannya mengerahkan Pan-yok-hian-kang. Seluruh anak panah kena disampoknya runtuh, para Gi-lim-kun di belakangnya serempak melontarkan tombak2, sebagian besar pasukan pemberontak di atas gerbang pada terjungkal roboh binasa tertembus tombak.
Di lain kejap Hun Thian-hi telah mencelat mumbul lagi ke tengah udara, seluruh kekuatannya dikerahkan lagi di kedua tangannya, “blang!” pintu kota yang tebal dan kuat itu kena dipukulnya roboh berantakan, pasukan mereka segera berbondong-bondong menerjang keluar, sebentar saja mereka berhasil menempuh ke Bi-seng.
Setiba di Bi-seng, tampak oleh Thian-hi jauh di belakang sana debu mengepul tinggi, tahu dia bahwa Ing Si-kiat membawa pasukan pemberontak mengejar kemari. Tanpa ayal Thian-hi bawa pasukannya memasuki Bi-seng serta perintahkan tutup pintu rapat. Thian-hi memeriksa kekuatan pasukannya, ternyata hanya delapan tunggangan saja yang roboh binasa kena panah musuh. Panglima tentara yang menjaga di kota Bi-seng segera memburu turun memberi sembah hormat kepada Baginda raja
Thian-hi tahu sebentar lagi pasti Ing Si-kiat memburu tiba…. segera ia memberi petunjuk pada pasukannya serta menyuruh bawahannya mengantar Baginda dan tuan putri ke rumah gedung Ma-ciangkun. Seluruh pasukan Gi-lim-kun dikerahkan di atas pintu kota. Tak lama kemudian Ing Si-kiat sudah tiba dengan pasukannya, teriak Ing Si-kiat kepada Hun Thian-hi, “Tio Gun, lekas buka pintu, saudara angkatmu Ma Bong-hwi berada di tanganku, berani kau tidak buka pintu kubunuh dia!”
“Ing Si-kiat,” seru Hun Thian-hi tertawa, “Awas kau! Saudara angkatku di tanganmu mungkin aku rada kuatir akan keselamatannya, bila kau bunuh dia, aku bisa bikin kau mati tidak ingin hidup pun sukar, kau tahu akan kemampuanku ini!”
Ing Si-kiat menjublek di atas kuda, secara langsung tadi ia melihat sendiri betapa tinggi dan lihay ilmu silat Hun Thian-hi, hatinya memang rada gentar dan was-was, biasanya ia rada takut menghadapi Ma Bong-hwi, namun sekarang justru Hun Thian-hi yang paling ditakuti. Dua hari mendatang ini tidak kelihatan bayangan Hun Thian-hi, inilah kesempatan baik sesuai dengan intriknya dengan Tan-siangkok, mengancam Baginda raja dengan pasukan pemberontak untuk meminang tuan putri atas putranya. Pikirnya sekali gebrak pasti berhasil, tak nyana sebelum rencananya berhasil tahu-tahu Hun Thian-hi menerjang keluar sambil melindungi Baginda dari istana, semakin besar takut hatinya menghadapi Hun Thian-hi.
Mendengar ancaman Hun Thian-hi semakin ciut nyalinya, bila dia bunuh Ma Bong-hwi jelas jiwanya sendiri juga tidak akan hidup lama. Ia insaf untuk menyerbu dan menggempur Bi-seng bak umpama mimpi di siang hari bolong, bila Hun Thian-hi betul membuka pintu lebar-lebarpun belum tentu dia berani menerjang masuk.
Terpaksa dia harus berpikir, lebih baik kembali saja untuk berunding dengan Tan-siangkok, akhirnya tanpa banyak omong lagi ia tarik pasukannya kembali.
Thian-hi mendongak melihat cuaca, matahari sudah tinggi di tengah cakrawala, sudah lewat lohor, ini berarti bahwa dirinya sudah dua hari dua malam mengunci diri di dalam kamarnya mempelajari ilmu pedangnya. Malam nanti ia harus meninggalkan negeri ini, namun urusan disini belum lagi dapat diatasi, cara bagaimanakah baiknya? Badannya terasa letih, dilihatnya panglima wakil Ma Bong-hwi sudah tiba, segera ia serah terimakan penjagaan pada mereka terus mengundurkan diri pulang ke gedung Ma-ciangkun.
Begitu masuk ke dalam tampak Baginda raja, tuan putri semua hadir disitu ditemani istri Ma Bong-hwi, Ma Siau-hou dan Ma Gwat-sian. Muka mereka semua mengunjuk rasa kuatir dan lesu.
Begitu Hun Thian-hi melangkah masuk, pandangan semua orang terhadapnya rada berlainan. Setelah memberi hormat ala kadarnya, segera Baginda bertanya, padanya, “Apakah Ing-ciangkun sudah menarik tentaranya?”
“Untuk sementara waktu dia mengundurkan diri, tapi Ma-ciangkun berada ditangannya, kitapun tidak bisa terlalu mendesaknya!”
Baginda manggut-manggut, tanyanya, “Bagaimana menurut pendapat Tio-ciangkun?”
Thian-hi menunduk, sahutnya, “Kejadian ini timbul karena hamba melalaikan tugas, hamba rela seorang diri menyerbu ke Thian-seng untuk menolong Ma-ciangkun, soal yang lain kukira cukup gampang untuk diatasi.”
“Mana boleh begitu,” teriak tuan putri, “kau sediri sudah sangat letih, mana boleh seorang diri ke sana!”
Sekilas Ma Gwat-sian pandang tuan putri lalu menundukkan kepala.
Hun Thian-hi menunduk tanpa bicara, memang dia sudah merasa cukup letih dan lesu, dua hari ini ia terlalu tekun mempelajari Wi-thian-cit-ciat-sek, teringat olehnya Thian-bi-siang-kiam, terbayang akan guru Ma Gwat-sian, ia heran kenapa mereka begitu acuh tak acuh terhadap kemelut di negeri sendiri ini.
Terdengar Baginda berkata, “Untuk sementara kuduga Ing Si-kiat tidak berani bertindak terhadap Ma-ciangkun, kau memang sudah letih, pergilah istirahat dulu. Soal ini tak kesusu diselesaikan!”
Hun Thian-hi tertawa getir, sampai pada detik ini temponya tinggal beberapa jam lagi, bagaimana dirinya tidak akan gugup, sambil mendongak ia berkata, “Bagi hamba soal ini sangat penting dan genting. sekarang juga hamba harus berangkat.”
Baginda menghela napas tanpa bersuara lagi. Dengan langkah lebar Hun Thian-hi segera beranjak keluar.
“Tio-ciangkun!” tiba-tiba Ma Gwat-sian berseri.
Langkah Hun Thian-hi merandek dan berputar mengawasi Ma Gwat-sian.
Kata Ma Gwat-sian: ….Kemaren Suhu kemari, tanpa diberitahu aku pun sudah tahu Permintaanmu! Kau tidak perlu kesusu pergilah istirahat!”
Terbayang oleh Thian-hi akan kata-kata si Nikoh itu, “Kau ingin Gwat-sian minta ampuh bagi kau?”
Ia menjadi geli dan berkata, “Tidak apa-apa, aku tidak seletih seperti yang kalian bayangkan!” segera ia memutar tubuh terus berlari pergi.
Setelah melihat bayangan Hun Thian-hi menghilang diluar Ma Gwat-sian menunduk, Dengan lekat tuan putri mengawasi dirinya.
Setelah keluar dari gedung Ma-ciangkun, seorang diri Hun Thian-hi menuju ke arah Thian-seng. Sekonyong-konyong didengarnya sebuah suara yang sangat dikenalnya dari ufuk sebelah utara nan jauh sana, sejenak ia terlongong, dilihatnya di sebelah utara sana seekor burung dewasa tengah menukik turun ke arah utara kota Bi-seng, itulah letak dimana tebing curam itu berada, hatinya semakin tegang, kiranya Bu-bing Loni telah mengejar tiba sampai disini, dihitung2 waktunya, memang jangka perjanjian setahun sudah tiba diambang mata.
Baru sekarang Thian-hi sadar, kenapa Thian-bi-siang-kiam dan guru Ma Gwat-sian tidak muncul selama ini, terasa olehnya sang waktu semakin mendesak segera ia keprak kudanya dilarikan sekencang mengejar angin, sekejap saja tibalah dia di Thian-seng, pintu gerbangnya yang diterjang jebol masih belum sempat diperbaiki maka dengan gampang saja Thian-hi terus menerjang masuk, para tentara yang berjaga menjadi takut dan lari cerai berai berkaok2.
Thian-hi tahu dimana Ing Si-kiat berada maka langsung ia keprak kudanya membelok ke arah kiri, dari depan ia dipapaki sebarisan tentara yang membawa tameng dan tombak terus menerjang dan mencegat dihadapannya, namun tanpa gentar sedikit pun Thian-hi menerjang dengan kudanya. Belum lagi dekat mendadak dari depan sana Thian-hi dihujani anak panah yang tidak terhitung banyaknya. Cukup dengan sepasang tangan sambil mengerahkan Pan-yok-thian-kang seluruh anak panah itu kena disampoknya jatuh, sementara kudanya masih mencongklang pesat ke depan langsung menuju ke gedung Siangkok.
Sepanjang jalan ini dirinya disongsong oleh ke-lompok2 tentara yang bersenjata lengkap berusaha merintangi dan mencegat Thian-hi. namun dengan kehebatan tenaga dan ilmu saktinya, Thian-hi dapat membikin seluruh perintangnya bercerai berai, pontang panting tak bangun lagi. Waktu hampir sampai digedung Siangkok. tiba-tiba didengarnya lengking suara seruling bambu yang mengalun halus, bertepatan dengan itu, dari pintu besar Siangkok berbondong-bondong menyerbu keluar banyak sekali ular besar kecil dari berbagai jenis.
Thian-hi menggeram gusar, ia berpaling dan mengawasi dangan tajam. tampak di atas sebuah pohon tinggi di dalam halaman gedung Siangkok ada seorang berpakaian baju putih sembunyi disana sambil meniup seruling bambu itu.
Dengan membekal ilmu sakti mana Thian-hi takut menghadapi ular-ular ini, tapi terhadap si orang yang meniup seruling bambu mengendalikan ular-ular itulah ia benci sekali, sekali menyedot napas, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul ke tengah udara secepat kilat terbang menerjang ke arah si orang baju putih di atas pohon itu.
Orang baju patih itu terkejut dan menjadi ketakutan. cepat ia diumpalitan turun dan hinggap di atas tanah, maksudnya hendak melarikan diri. Tapi sementara itu Thian-hi sudah melampaui tembok tinggi pagar gedung Siangkok, dari ketinggian ia menukik seraya menepuk sebelah tangannya kebawah, kontan si orang baju putih menjerit ngeri dan muntah darah. tubuhnya terguling dan tidak bergerak lagi.
Luncuran tubuh Thian-hi terus menerjang ke dalam, langsung menuju keruang besar belakang, baru saja kakinya melangkah masuk lantas dirinya dihujani anak panah pula, cepat Thian-hi tarikan sepasang telapak tangannya, untuk melindungi. tubuh, karena rintangan ini serta merta dirinya menjadi terhalang sebentar.
Sebuah suara lantas berkaok dari dalam, “Tio Gun! Kularang kau masuk, kalau tidak jiwa saudara angkatmu she Ma ini akan lenyap!” suara ancaman ini terdengar gemetar.
Waktu Thian-hi melihat ke dalam. tampak dua baris tentara berpanah siap dibusur menghadap kepintu, sedang Tan-siangkok dan Ing Si-kiat kelihatan berdiri sebelah samping, Ing Si-kiat sendiri juga menentang busur menjujuhkan ujung panahnya kepunggung Ma Bong-hwi, asal ia lepaskan panahnya itu. kontan jiwa Ma Bong-hwi pasti melayang.
Thian-hi menjadi bingung, sesaat ia merandek sambil melolos keluar pedangnya, hatinya bekerja cepat menerawang tindakan selanjutnya.
Dengan mendelik Ing Si-kiat berseru, “Lekas keluar, kalau tidak jiwa Ma Bong-hwi menjadi jaminan!”
“Thian-hi!” teriak Ma Bong-hwi “Jangan kau hiraukan aku, bila dia bunuh aku, kaupun bunuh dia menuntutkan balas sakit hatiku.”
Ing Si-kiat menjengek, seringainya, “Ma Bong-hwi, apakah kau rela mati konyol? Keluargamu sedang menanti kedatanganmu!”
“Ing Si-kiat!” teriak Hun Thian-hi lantang, “Berani kau mencabut seujung rambutnya saja, akan kubuat kau mati konyol lebih seram dan lebih mengenaskan!”
Bercekat hati Ing Si-kiat, nyalinya menjadi ciut saking gentar kakinya rada lemas dan mundur selangkah, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Thian-hi, kontan ia ayun pedangnya, selarik sinar terang segera melesat ke depan. Tepat pada waktu itu anak panah dibusur Ing Si-kiat juga menjepret ke punggung Ma Bong-hwi, tujuan Ing Si-kiat menamatkan jiwa Ma Bong-hwi namun pedang Thian-hi secara tepat berhasil mengutungi anak panahnya di tengah jalan.
Seiring dengan ayunan tangan melemparkan pedangnya Thian-hi melesat seperti burung elang menubruk maju, barisan pemanah segera menyongsong dirinya dengan puluhan anak panah yang diberondongkan kepada dirinya, namun secara mudah Thian-hi berhasil meruntuhkan semua anak panah dengan pukulan saktinya, melihat kesaktian Thian-hi para pemanah itu menjadi ketakutan dan lari sipat kuping.
Terlihat oleh Thian-hi Ing Si-kiat juga terbirit2 lari ke dalam, namun didapatinya Ma Bong-hwi rebah di lantai, tiada tempo ia mengejar Ing Si-kiat, cepat atau lambat pasti durjana itu bakal dihukum setimpal, maka cepat ia membuka melenggu Ma Bong-hwi serta menolongnya bangun, dijemputnya sebatang pedang diserahkan kepadanya.
Dengan malu dan penuh sesal Ma Bong-hwi berkata, “Lote! Untung kaulah adanya, bila aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan!”
“Toako tidak usah main sungkan lagi, yang penting kita harus cepat menerjang Keluar!”
Begitulah sambil menenteng pedang mereka menerjang keluar, melihat Thian-hi begitu gagah, keluar masuk begitu gampang seolah-olah rintangan yang dihadapi dianggap rumput yang gampang diinjak2 para tentara yang berjaga di luar menjadi kuncup nyalinya, apalagi Ma Bong-hwi sudah lolos maka mereka tidak berani maju merintangi. Setelah berhasil merebut dua ekor kuda mereka langsung mencongklang keluar kota langsung menuju ke Bi-seng.
Begitu memasuki Bi-seng, seluruh rakjat dan pasukan di sana menyambut mereka dengan sorak sorai yang gegap gumpita. Ma Bong-hwi sedikit kikuk, langsung mereka menuju ke gedung kediamannya.
Begitu masuk di dalam, Baginda segera menyongsong keluar, betapa girang hatinya sungguh sukar dilukiskan, sampai tidak bisa berkata-kata.
Segera Ma Bong-hwi sembah hormat, serunya, “Hamba terlalu tidak becus sampai terjatuh di tangan Ing Si-kiat, hampir saja membuat malapetaka bagi seluruh negeri, harap Baginda suka memberi hukuman yang setimpal.”
Baginda tertawa, ujarnya, “Soal ini sulit diduga sebelumnya, kau bisa selamat dan situasi sudah dapat diatasi, tidak perlu kau salahkan diri sendiri lagi!” — lalu ia berpaling dan berkata pada Hun Thian-hi, “Tio-ciangkun sungguh gagah perwira, tentu kau sudah banyak capai.”
Hun Thian-hi tertawa, sahutnya, “Sekarang Ma-ciangkun sudah pulang dengan selamat, segala sesuatunya pasti dapat dibereskan. Hamba masih ada sedikit urusan, mohon ijin untuk keluar sebentar!”
Tuan putri menjadi gugup, serunya, “Kau sudah begitu letih, ada urusan apa lagi, apakah tidak bisa besok saja?”
“Urusan ini sangat penting, aku sendiri merasa sudah terlambat, bila segera tidak kususul kesana, entah apa akibatnya nanti!”
“Jadi maksud Tio-ciangkun sekarang juga hendak berangkat?” sela Ma Gwat-sian gelisah.
“Belum tahu,” sahut Thian-hi, ia tahu orang salah paham, maka sambungnya, “Tapi gurumu pasti juga disana, bila itu benar-benar selanjutnya aku tidak akan kembali lagi.”
“Apa!” teriak Tuan putri gugup, “Kau hendak pulang ke Tionggoan?”
Ma Bong-hwi berjingkrak kaget, teriaknya, “Apa! Thian-hi! Kau….”
Hun Thian-hi tersenyum lebar, katanya, “Terdesak oleh keadaan, sekarang juga aku harus pergi!” lalu ia menjura memberi hormat kepada seluruh hadirin, cepat-cepat terus berlari keluar.
Baginda sendiri merasa diluar dugaan, namun tiada alasan ia mencegah pemberangkatan orang, terpaksa ia berteriak, “Tio-ciangkun, bila kau sudi, Thian-bi-kok selamanya menyambut kedatanganmu dengan tangan terbuka!”
Thian-si melambaikan tangan serta nyatakan terima kasih, setelah segala barang-barangnya diamhil langsung ia melayang cepat keluar. Seluruh penghuni kota Bi-seng berbondong-bondong keluar mengantar pemberangkatan Thian-hi.
Thian-hi sudah siap untuk meningalkan tempat ini, namun selama empat bulan ia menetap di Thian-bi-kok kesannya terlalu mendalam, ia menjadi berat untuk meninggalkan negeri kecil ini. Tapi serta teringat kejadian yang bakal terjadi di tebing tinggi sana, kakinya menjadi semakin cepat melangkah. langsung ia menuju ke utara keluar lewat pintu utara. Para penjaga di atas benteng kota menjadi heran, tak tahu mereka kemana Hun Thian-hi hendak pergi.
Waktu Thian-hi mendongak tampak burung dewata itu masih terbang berputar-putar di atas tebing curam itu, berdebuk jantung Thian-hi, gebrak perkelahian kali ini pasti sangat seru dan sengit, sampai lama ternyata masih belum ada kepastian siapa lebih unggul atau asor. Tengah ia berpikir2 dan melangkah lebih cepat, tiba-tiba burung dewata itu terbang di atas kepalanya, berputar dua kali. Waktu Thian-hi mendongak, tampak Siau Hong tengah bercokol di atas punggung burung dewata itu, baru saja ia hendak berteriak memanggil, burung dewata itu sudah menukik turun hinggap di tanah. Di lain saat Siau Hong sudah muncul di depan matanya, kedua biji matanya yang bundar besar terkesima mengawasi dirinya.
“Siau Hong!” panggil Thian-hi tertawa.
Siau Hong berkata kaget, “Tak nyana kau berada disini. kenapa kau berdandan demikian?”
.”Mencari aku bukan?” tanya Thian-hi tertawa
Siau Hong tertawa, katanya, “Bersama Siocia kami mencarimu ke-mana-mana, kelihatannya puncak tebing ini rada aneh, baru saja kami turun lantas kepergok dengan seorang Nikoh dan dua orang kakek. Kontan mereka lantas bertempur begitu sengit.”
Tersentak jantung Thian-hi, batinnya, “Kiranya Ham Gwat juga telah datang.” sembari tertawa ia berkata pula, “Akupun tengah menuju ke sana!”
“Apa!” teriak Siau Hong kejut, “Kau mau mengantar kematianmu?”
Thian-hi mandah tersenyum tanpa buka bicara lagi, secepat terbang mereka melayang menuju ke arah tebing itu. Melihat Thian-hi lari begitu cepat seperti tidak menggunakan tenaga sedikitpun, batin Siau Hong menjadi heran dan bertanya-tanya, segera ia kerahkan tenaganya untuk adu kekuatan lari cepat.
Lwekang Thian-hi saat itu boleh dikata sudah mencapai tingkat kaki melangkah berjalan di udara, langkah kakinya itu sudah bergerak paling lamban. Tapi bagi Siau Hong masih terlalu cepat, keruan bercekat hatinya, sungguh ia heran akan ilmu silat Hun Thian-hi yang maju begitu pesat.
Waktu mereka tiba di pinggir tebing, sementara itu dengan pedang tunggalnya Ham Gwat tengah menghadapi keroyokan Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian, pedang Ham Gwat bergerak begitu lincah dan gesit sekali mendesak kedua musuhnya, Pek-bi-siu sudah kerahkan seluruh tenaga dan bojong keluar seluruh kemampuan, namun kepandaian mereka memang kalah setingkat, betapapun mereka berusaha tetap terdesak di bawah angin. Sebaliknya seperti menari mendemonstrasikan gaya permainan pedangnya yang indah gemulai, Ham Gwat bergerak lamban dan seenaknya saja.
Diam-diam Thian-hi menjadi kagum akan Lwekang Ham Gwat yang tinggi dan hebat ini, selama ini belum pernah lihat Ham Gwat bertempur lawan orang, kini sekali dia turun tangan. melihat permainan pedangnya itu, hatinya menjadi mencelos dan mengeluh dalam hati.
Dalam pada itu, dengan lirikan matanya Ham Gwat pun sudah melihat kehadiran Thian-hi, dilihatnya pakaian Thian-hi yang aneh itu, pandangan sinar matanya mengunjuk rasa heran dan tak mengerti, namun hanya sekejap saja lantas pulih seperti sediakala, kaku dingin tak berperasaan.
Dilihat oleh Thian-hi si Nikoh menggembol kecapinya menonton di pinggiran…. Diam-diam ia turut kuatir akan keselamatan Ham Gwat, begitu lagu irama abadi dikembangkan, mungkin dia tidak akan kuat bertahan.
Sementara itu, kedudukan Ham Gwat jelas dipihak yang menang, setiap jurus gerak pedangnya pasti membawa kesiur angin yang menderu keras merangsak kepada kedua musuhnya. Meski bergabung namun Thian-bi-siang-kiam dibikin pontang panting menjaga diri keadaannya begitu runyam, sungguh mereka tidak akan menduga bahwa hari ini mereka bakal terjungkal di bawah tekanan sebatang pedang seorang gadis muda belia.
“Kau sudah datang!” terdengar si Nikoh menyapa kepada Hun Thian-hi.
Segera Thian-hi menjura, sahutnya, “Gadis ini datang mencari aku, harap Cianpwe melepasnya pulang, kami akan segera berangkat bersama!”
“Tidak boleh!” sahut si Niko;i dingin, “Jangan asal sebagai murid Bu-bing Loni lantas dia berani main terobosan di Thian-bi-kok, seumpama Bu-bing Loni sendiri pun tidak kuijinkan.”
Sudah tentu Ham Gwat juga dengar percakapan mereka, namun sinar matanya seperti tidak menunjukkan perubahan perasaan hatinya, sikapnya masih tetap dingin dan kaku.
“Cianpwe perhitungan ini biarlah aku saja yang menyelesaikan bagaimana?” tanya Thian-hi.
“Kau?” dengus si Nikoh geram, “Keselamatanmu sendiri belum kau urus mau mohonkan ampun bagi orang lain?”
Dari samping Siau Hong segera menimbrung bicara, “Buat apa kau bicara padanya, yang jelas Siocia berada di atas angin, suruh mereka berlutut kepada Siocia belum tentu Siocia sudi memberi ampun!”
Kelihatan amarah si Nikoh mulai memuncak, dengan tajam ia menyapu pandang ke tengah gelanggang, memang Thian-bi-siang-kiam sudah semakin payah dan tidak kuat bertahan lagi. Segera ia gerakkan tangan kanannya ke arah Thian-hi sedang mulutnya berkata, “Kau sendiri urus dirimu, jangan cerewet dan turut campur urusan orang lain!”
Begitu mendengar suara kecapi kelihatan Ham Gwat juga tahu akan kelihayan musuh, cepat pedangnya menyabet balik menyongsong ke arah datangnya suara kecapi.
Thian-bi-siang-kiam berdua menjadi terkejut, cepat mereka jumpalitan mundur ke belakang.
Melihat permainan pedang Ham Gwat begitu lihay, dengan sebatang pedangnya ia mampu menangkis dan membendung serangan irama kecapinya, diam-diam si Nikoh bercekat, ia percaya bahwa lagu kekal abadi merupakan ilmu yang tiada taranya di alam maja pada ini, segera kesepuluh jarinya bergerak lincah memetik snar bergantian, melagukan Tay-seng-ci-lau.
Thian-hi sendiri menjadi kejut dan was-was, cara pertempuran macam ini baru pertama kali ini dilihatnya, Hui-sim-kiam-hoat memang belum pernah mendapat tandingan yang setimpal, namun Tay-seng-ci-lau pun sama hebatnya tiada yang kedua di seluruh kolong langit ini.
Setiap petikan irama kecapi si Nikoh tentu dapat disampok atau ditangkis oleh pedang Ham Gwat, pedang yang bergerak lincah dan hebat di tangannya itu setiap saat selalu memancarkan cahaya pedang yang putih’kemilau dari desakan tenaga dalamnya yang hebat untuk membendung rangsakan irama Tay-seng-ci-lau.
Lambat laun lagu Tay-seng-ci-lau semakin keras dan cepat, lapat-lapat terasa adanya nafsu membunuh yang mulai menghayati serangan irama lagunya. Akhirnya Ham-Gwat meletakkan pedangnya di tanah dan dia sendiri duduk bersila seperti orang semadi.
Kedua belah pihak bertahan sekian lamanya, saling serang menyerang, sekonyong-konyong irama harpa si Nikoh berubah. jari jemarinya sekarang memetik lagu Le-liong-jut-cui seluruh lwekangnya dikerahkan melalui irama lagu ini untuk menyerang kepada Ham Gwat.
Raut muka Ham Gwat semakin pucat dan berkeringat, kelihaiannya sudah tidak kuat lagi.
Tahu bahwa Ham Gwat sudah terdesak segera Siau Hong berseru kepada Hun Thian-hi, “Lekas kau tolong Siocia kami!”
Hun Thian-hi insaf bila Ham Gwat tetap bertahan dan melawan mati-matian akhirnya pasti bakal terluka dalam yang teramat parah, atau mungkin seluruh perutnya hancur dan sungsang sumbel sampai menemui ajalnya dengan mengenaskan.
Thian-hi tidak berayal lagi, sembari berkelebat ia meloloskan pedang. kontan ia lancarkan jurus pertama dari ilmu Wi-thian-cit-ciat-sek yang bernama Thian-wi-te-tong (bumi bergerak langit berputar), pedangnya terangkat tinggi ke depan seperti tidak bergerak. namun dalam gerak terpaut beberapa mili saja itu sudah kerahkan seluruh Lwekangnya di atas ujung pedang. Setabir sinar perak kemilau dari batang pedang melesat keluar menggetar balikkan tenaga serangan si Nikoh melalui irama lagunya yang hebat itu.
Biji mata Ham Gwat rada terbuka mengawasi Thian-hi, sedikitpun ia tidak merasa heran atau aneh. seolah-olah ia sudah tahu bahwa Thian-hi membekali ilmu yang teramat sakti ini.
Sebaliknya Siau Honglah yang kegirangan seperti putus lotre beberapa juta, teriaknya, “Siocia! Lihatlah Hun-siangkong, ilmu pedangnya ternyata begitu lihay. ilmu pedang Suthay kiranya juga hanya begitu saja!”
Adalah si Nikoh itu yang bercekat, dua hari saja Thian-hi menyekap diri, namun ilmu pedangnya ternyata sudah maju melompat beberapa kali lipat hebatnya. Ternyata ia mampu menggunakan hawa pedang untuk menyerang musuh, sejak dulu ia pernah dengar mengenai penggunaan hawa pedang untuk menyerang musuh dan belum pernah menyaksikan sendiri. Sekarang dengan mata kepalanya sendiri ia saksikan seorang pemuda berusia likuran dapat menggunakan ilmu sakti yang tiada taranya itu justru untuk melawan dirinya, keruan kejutnya bukan main.
“Hun-siangkong!” teriak Siau Hong pula dari samping, “Ilmu pedang apakah yang kau mainkan ini! Kenapa batang pedangmu sedikitpun tidak bergerak!”
Mendengar seruan Siau Hong ini, bertambah besar kejut si Nikoh, kenapa aku begitu gegabah. segera ia hentikan petikan harpanya serta berkata kepada Thian-hi, “Adakah yang kau gunakan ini Wi-thian-cit-ciat-sek?”
Thian-hi rada tercengang. Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan ilmu sakti yang sudah putus turunan sel ma beberapa ratus tahun lamanya. Latihan dirinya pun belum sempuma paling-paling baru mencapai 80%, namun sekali dirinya menggunakan ilmu ini lantas dapat dikenali asal usulnya.
Mendengar akan nama Wi-thian-cit-ciat-sek, meski raut wajah Ham Gwat selalu kaku dingin ini tak urung sinar matanya memancarkan cahaya terang yang sangat aneh, kelihatannya heran. kaget dan aneh namun juga mengandung rasa kurang percaya. tapi juga sangat kegirangan, akhirnya seperti rada kecewa pula. Perubahan pancaran sinar matanya ini terjadi dalam kilasan waktu saja, tiada seorangpun yang tahu.
Thian-hi merenung sebentar, dia ragu-ragu untuk menerangkan dihadapan Siau Hong dan Ham Gwat karena mereka adalah murid dan pembantu Bu-bing Loni, apalagi Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna dilatih olehnya, bila mereka memberitahu rahasia ini kepada Bu-bing Loni, mungkin jiwanya bakal terancam bahaya, Namun sesaat ia bersangsi akhirnya ia manggut-manggut sambil mengiakan.
“Darimana kau pelajari ilmu ini?” tanya si Nikoh.
Hun Thian-hi awasi si Nikoh, dia guru Ma Gwat-sian, tidak seharusnya aku bohong padanya, katanya, “Ka-yap Cuncia yang menganugerahkan kepada aku!”
“Beliau!” teriak si Nikoh dengan kejut.
Diam-diam Thian-hi curiga, dari nada teriaknya kelihatannya ia cukup kenal siapa itu Ka-yap Cuncia.
Akhirnya si Nikoh menghela napas panjang, tanyanya, “Siapa kau sebenar-benarnya?”
“Aku sebagai murid angkatnya!”
“Beliaukah yang suruh kau kemari?”
Thian-hi manggut-manggut, sahutnya, “Benar-benar, Taysu memberi pesan supaya aku tidak menonjolkan ilmu silat sebelum Wi-thian-cit-ciat-sek kulatih sempurna dilarang meninggalkan tempat ini.”
“Kalau begitu akulah yang salah. Seharusnya aku tidak membocorkan rahasiamu kepada Gwat-sian. Apakah Wi-thian-cit-ciat-sek sudah kau latih sempurna seluruhnya?”
Thian-hi geleng kepala, sahutnya, “Belum seluruhnya, soalnya terjadi huru-hara dalam negara tadi sehingga latihanku tertunda beberapa bagian!”
“Aku bernama Po-ci,” si Nikoh memperkenalkan dirinya. “Bila jumpa dengan gurumu, tolong sampaikan salamku pada beliau. Apakah kau tidak mau tinggal lagi beberapa lama?”
“Tidak perlu lagi, sekarang juga aku sudah siap untuk berangkat!”
“Terpaksa aku tidak menahanmu lagi, kelak bila kau memerlukan tenagaku akan kubantu sekuat tenaga!” demikian ujar si Nikoh, lalu sambungnya, “Sekarang bolehlah kalian berangkat bersama!” habis berkata bersama Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian mereka tinggal pergi.
Dengan suara lirih Siau Hong bertanya pada Thiani-hi, “Benar-benarkah kau murid Ka-yap Cuncia?”
Thian-hi tertawa kikuk, katanya, “Belum terhitung muridnya, yang benar-benar memang dia serahkan ilmu Wi-thiat-cit-ciat-sek kepada aku, dianggapnya aku sebagai murid angkat belaka.”
Siau Hong meleletkan lidahnya, katanya, “Tak heran ilmu psdangmu begitu lihay, hampir lebih tinggi dari kepandaian Suthay!”
Thian-hi tertawa tawar. Katanya, “Sunggun menyesal pesan beliau tiada satupun bisa kulaksanakan dengan baik.”
“Kau hendak tinggalkan tempat ini. maksudmu hendak pulang ke Tionggoan?”
“Aku sendiri masih bingung apa yang harus kulakukan, yang jelas aku memang harus meninggalkan tempat ini!”
“Belum pernah kulihat orang setolol kau. kemana dirinya hendak pergi kok tidak tahu, menurut perasaanku sikap dan watakmu sudah jauh lebih baik daripada waktu pertama kali aku jumpa dengan kau dulu!’
Thian-hi mandah tersenyum saja. ia berpaling memandang ke arah Ham Gwat, saat mana Ham Gwat sedang bangkit berdiri, katanya, “Jikalau aku adalah kau, sebelum Wi-thian-cit-ciat-sek sempurna kulatih aku tidak akan tinggal” pergi!”
Wajah Ham Gwat memang tetap kaku dan dingin. namun sinar matanya memancarkan cahaya jernih dan kalem yang melimpah dari kemurnian hatinya. Hati Thian-hi menjadi hangat, katanya, “Terimakasih, pasti akan kusempurnakan!”
Ham Gwat menunduk ujarnya, “Sekarang Tionggoan sudah di bawah cengkeraman Tok-sim-sin-mo. Sejak ia lolos dari Jian-hud-tong mengandal kepandaiannya yang hebat ia berhasil menundukkan Partai Merah dan mengusir Partai Putih keluar perbatasan, Jian-hud-tong dibangun sebagai sarang pangkalannya. Guruku tidak mau saling bentrok padanya maka mengumbar saja perbuatannya. yang bersimaharaja itu.”
Thian-hi rada kaget akan perkembangan situasi yang tidak diduga ini. tanyanya cepat, “Lalu bagaimana dengan Kiu-yu-mo-lo dan Pek-kut-sin-mo?”
“Soal mereka aku tidak tahu! Mengandal ilmu kepandaianmu sekarang. seorang diri menghadapi gerombolan Tok-sim-sin-mo itu masih jauh dari cukup Ketahuilah anak buahnya semua adalah gembong-gembong iblis yang sudah lama mengasingkan diri dan kenamaan, berkepandaian tinggi lagi.” *
“Terimakasih akan penjelasanmu ini!”
“Kedatanganku hari ini sebenar-benarnya mencari kau, untuk menyeretmu kehadapan guruku. tapi tadi kau menolong jiwaku, sekarang aku harus pulang, biarlah lain kesempatan saja kubalas kebaikan badimu ini!”
“Nanti dulu!” seru Thian-hi tergesa-gesa.
“Aku tahu, maksud baikmu, mungkin tidak berguna lagi, tapi aku terima maksud baikmu ini!” lalu bersama Siau Hong ia naik ke atas panggung burung dewata dan terbang tinggi menghilang.
Thian-hi terlongong dipinggir tebing, baru pertama kali ini sejak kenal dulu ia langsung berhadapan dan bicara dengan Ham Gwat, apa yang terasa sekarang olehnya bahwa Ham Gwat ternyata begitu lemah lembut, berperasaan halus dan simpatik, jauh berlainan dengan kesannya dulu yang kaku dingin dan congkak itu. Waktu bicara tadi kelihatan rasa simpatiknya terhadap dirinya. ia prihatin akan keselamatan dirinya.
Pikir punya pikir, akhirnya hatinya menjadi mencelos, bukankah Ham Gwat masih anggap dirinya sebagai musuh besarnya. Begitulah Thian-hi menjublek dipinggir tebing, perasaannya panas dingin bergantian, akhirnya pelan-pelan ia memutar tubuh hendak tinggal pergi. Mendadak ia merasa segulung angin keras menerpa datang dari belakang, keruan kejut Thian-hi begitu mendengar kesiur angin ini lantas ia tahu bahwa yang datang ini pasti seorang tokoh silat yang berkepandaian tinggi, bukan saja tokoh malah seorang kosen lagi.
Lincah sekali kakinya bergerak pindah kedudukan seraya memutar balik. sekali pandang tanpa terasa ia menjadi berjingkrak kegirangan, kiranya pendatang ini bukan lain adalah Pek-kut-sin-mo Pek Si-kiat adanya.
“Paman Pek!” teriak Thian-hi kegirangan.
Pek Si-kiat tertawa lebar, katanya, “Ka-yap Taysu berpesan supaya aku kemari menjemput kau pulang, apa kau tahu kenapa beliau antar kau ke tempat ini?”
“Disini aku tidak akan direcoki orang lain.”
“Bukan begitu, Ka-yap Taysu tahu betapapun kau akan menggunakan ilmu silatmu, karena kau manusia, manusia punya hati dan dapat berpikir, betapapun kau tidak akan dapat menyembunyikan kepandaian silatmu.”
Thian-hi terlongong, katanya, “Jadi buat apa Ka-yap Taysu menyuruh aku kemari?”
“Tiada maksudnya yang tertentu, yang utama dia hendak melatih kesabaranmu, beliau menjelaskan kepadaku supaya aku menerangkan pula kepada kau, ilmu silatmu baik sekali, kau punya keberanian dan ketekunan melakukan segala sesuatu yang harus kau kerjakan, yang kurang ialah bahWa kau jarang menggunakan otakmu untuk beipikir!”
Terlihat oleh Thian-hi dibalik senyum Pek Si-kiat itu samar-samar terbayang kekuatiran yang mencekam hatinya. ia menjadi heran dan bertanya-tanya, namun bila Pek Si-kiat tidak menjelaskan iapun tidak enak menanyakan. Dalam hati ia membatin, “Orang lain selalu memuji aku pintar kenapa Ka-yap Cuncia mengatakan aku masih kurang cerdik?”
“Beliau berkata selamanya kau bertindak tanpa memikirkan akibatnya, sepak terjangmu membabi buta dan serampangan. Dan sekarang kau sudah rela tunduk kepada orang lain, setiap tindak tandukmu tidak akan gegabah dan ceroboh lagi. itulah kesabaran yang melandasi sanubarimu dan itulah kecerdikan hanya sabar dan bijaksana baru akan timbul akal cerdikmu!”
“Paman Pek. kenapa guru tidak langsung menjelaskan saja kepada aku?”
Pek Si-kiat menghela napas rawan, ujarnya, “Beliau sudah lama mangkat!”
Thian-hi terlongong-longong sedih, dia menunduk berdoa.
Selanjutnya Pek Si-kiat memberi gambaran situasi kalangan Kangouw di Tionggoan, selama ini ia menjelajahi jejak Kiu-yu-mo-lo tanpa berhasil. Tok-sim-sin-mo sudah lama lolos, untuk kesekian kalinya ia main bersimaharaja di Kangouw. Karena menghilangnya Thian-hi sekian lamanya berbagai aliran dan golongan yang meng-uber-uber dirinya itu sekarang menjadi putus asa dan tawar. Apalagi Tok-sim-sin-mo malang melintang membuat huru hara dimana-mana.
Memang berbagai aliran dan golongan dari kaum lurus beberapa kali niat bergabung menghantam Tok-sim-sin-mo, dasar licik dan banyak kaki tangannya, pihak Tok-sim-sin-mo selalu dapat bertindak lebih cepat menumpas para aliran lurus itu, lambat laun kekuatan aliran besar kecil dari Bulim menjadi lemah dan tidak berdaya lagi. Melulu Siau-lim-pay saja yang masih tetap jaya, berdiri tegak tanpa tergoyahkan. Soalnya mereka jarang turut campur urusan dunia persilatan, pihak Tok-sim-sin-mo sendiri juga segan mencari gara-gara terhadap mereka, yang jelas karena Thian-cwan dan Te-coat kedua Taysu yang teragung dari pihak Siau-lim masih sehat kuat, betapapun Tok-sim-sin-mo harus berpikir dua belas kali untuk memancing kerusuhan terhadap pihak yang paling kuat ini.
Begitulah sambil bercakap-cakap Thian-hi berdua menempuh perjalanan, terlihat oleh Thian-hi wajah Pek Si-kiat dirundung hawa kekuatiran yang melesukan hati, beberapa kali ia niat bertanya namun selalu urung.
Diam-diam heran Thian-hi, akhirnya tak tertahan ia bertanya, “Paman Pek, apa pula yang perlu kau katakan?”
Pek Si-kiat beragu sebentar, katanya, “Hun-hiantit, ingin kutanya kau, Wi-thian-cit-ciat-sek sudah sempurna kau latih belum?”
Mendengar orang menanyakan soal itu, berdetak jantung Thian-hi, tahu dia bahwa urusan pasti rada janggal, atau pasti terjadi sesuatu yang menyulitkan, soalnya Pek Si-kiat masih kuatir bila Wi-thian-cit-ciat-seknya belum sempurna sulit untuk mengatasi soal ini, maka dia tidak berani membuka mulut.
Dari sikap dan raut muka Pek Si-kiat dapat diraba bahwa persoalan ini tentu sangat penting dan genting, katanya, “Yang lain tidak berani kukatakan, melulu menghadapi Tok-sim-sin-mo kiranya cukup berlebihan!”
“Apa benar-benar?” Pek Si-kiat menegas dengan muka kegirangan. “Hian-tit, ada sesuatu hal yang harus kau sesalkan terhadapku, harap kau suka memaafkan!”
“Soal apakah sebenar-benarnya, harap paman suka menjelaskan?”
“Kalau dibicarkan sungguh memalukan, aku kehilangan taci angkatmu Sutouw Ciko!”
“Apa?” tanya Thian-hi berjingkrak.
“Ka-yap Taysu menyuruh aku menunggu sampai burung dewata muncul, bila kau turun segera kami harus langsung pulang ke Tionggoan, bila kau tidak turun, sepuluh hari kemudian aku harus naik ke atas tebing menyambut kau. Tapi aku kehilangan Sutouw Ci-ko terpaksa aku memburu ke atas.”
Thian-hi menenangkan hati, katanya, “Paman tahu cara bagaimana menghilangnya?”
“Diculik oleh Tok-sim-sin-mo!”
“Bukanlah Ci-ko tidak punya permusuhan apa dengan mereka.”
“Benar-benar, tapi Ci-ko bersama aku. kubawa dia mengembara di Kangouw, entah bagaimana akhirnya Tok-sim tahu bahwa aku juga sudah lolos, berulang kali ia mengutus anak buahnya mencari aku minta aku masuk menjadi anggota gerombolan mereka, namun dengan tegas kutolak, siapa kira dia malah menculik Ci-ko sebagai sandera.”
Thian-hi menjadi gugup, katanya, “Entah bagaimana pula keadaan Ci-ko?”
“Dia minta aku menjadi anggota dan diangkat sebagai Wakil Pangcu, sudah tentu dia tidak berani siksa atau mempersulit Ci-ko, namun bila terlalu lama kurasa kurang leluasa juga. Aku tahu tenagaku bukan lawan Tok-sim, jalan yang terbaik hanya mencari kau. Bila Wi-thian-cit-ciat-sek sudah sempurna kau latih, apa pula yang perlu ditakuti?”
Thian-hi sudah melulusi permintaan Ham Gwat untuk menyempurnakan dulu latihan Wi-thian-cit-ciat-sek di Thia-bi-kok ini baru pulang ke Tionggoan. Tapi kejadian ini terpaksa harus merubah pula keputusannya, bgaimana juga ia harus segera menyusul kesana untuk menolong Sutow Ci-ko meski ilmu pedangnya belum sempurna. Karena itu terpaksa Thian-hi harus menyelusuri pula jejak2 berdarah di kalangan Kangouw, dan seluruh dunia persilatan bakal gempar pula karena Thian-hi muncul pula di Kangouw, yang jelas dia harus langsung berhadapan dengan para gmbong2 iblis yang lihay dan jahat itu.
Dunia persilatan bakal bergelombang dan tiada ketenteraman hidup lagi.
Justru karena Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna latihannya, Thian-hi sendiripun harus menempuh mara bahaya yang selalu mengancam jiwanya.
Begitulah bersama Pek Si-kiat mereka melakukan perjalanan cepat siang malam untuk menolong Sutouw Ci-ko dari cengkeraman sarang iblis.
Hari menjelang magrib. sang surja sudah hampir terbenam diutuk barat, cahayanya nan kuning keemasan terang benderang menerangi jagat raja, di atas tanah tandus yang berdebu ke arah timur tampak bayangan dua ekor kuda yang memanjang ke depan. di atas kuda ini masing-masing bercokol Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat.
Hun Thian-hi sekarang mengenakan jubah panjang seperti pakaian sastrawan umumnya. Sudah beberapa hari ini mereka menempuh perjalanan jauh dengan tidak mengenal lelah. tujuan utama adalah Jian-hud-tong.
Menurut perhitungan Pek Si-kiat, ia mengharap sebelum Sutouw Ci-ko berhasil digondol pulang masuk ke Jian-hud-tong mereka harus mencegatnya dulu ditengah jalan, menurut situasi dan keadaan menolong Sutouw Ci-ko dari cengkeraman musuh.
Lambat laun cuaca menjadi gelap, seluruh jagat raja ini dicekam kesunyian dan kegelapan tabir malam. Mendadak Hun Thian-hi menarik tali kendali serta berkata kepada Pek Si-kiat, “Paman Pek, ada orang mendatangi dari depan!”
Pek Si-kiat kaget, tahu ia orang yang dimaksud oleh Thian-hi ini tentu seorang tokoh luar biasa, maka cepat iapun menghentikan lari kudanya, dengan cermat ia pandang ke depan. Benar-benar juga tak lama kemudian dilihatnya seorang mendatangi. kiranya pendatang ini adalah Bing-tiong-mo-tho (siiblis bungkuk dari Bing-tiong) Sukong Ko.
Sejak Si-gwa-sam-mo kena dibelenggu dan disekam di dalam Jian-hud-tong oleh Ka-yap Cuncia, Sukong Ko tahu diri, ia mengundurkan diri dari percaturan dunia persilatan. Kini setelah Si-gwa-sam-mo lolos dari hukuman, tujuan yang utama adalah menggabung seluruh kekuatan golongan hitam untuk menyelidik dan mencari tahu soal mati hidup Ka-yap Cuncia yang ditakuti itu.
Disamping itu keadaan yang cukup menguntungkan bagi golongan mereka pula sehingga mereka dapat melebarkan sayap dan kekuasaannya ke-mana-mana, karena pihak aliran lurus sedang merosot semangat dan tercerai berai. Oleh karena itulah Bing-tiong-mo-tho Sukong Ko berani menampilkan diri pula dalam gelanggang adu kekuatan antar golongan sesat melawan aliran lurus ini.
Sudah tentu Pek Si-kiat tahu dan mengenal pribadi Sukong Ko ini melihat munculnya orang ini, ia insaf bahwa Tok-sim-sin-mo pasti sudah bertindak lebih cepat dari dugaan mereka, tentu kedatangan Sukong Ko ini tanpa sebab dan tujuan.
Bagaikan angin lesus Bing-tiong-mo-tho Sukong Ko mendatangi kehadapan mereka, setelah menyapu pandang sebentar ia berkata tertawa kepada Pek Si-kiat, “Pek-heng! Pho-toako mengutusku kemari untuk menyilahkan kau kesana!”
Thian-hi tidak tahu siapakah Bing-tiong-mo-tho ini. ia heran dan terkejut akan kehebatan kepandaian orang yang tinggi, dengan cermat ia amati orang, lalu tanyanya kepada Pek Si-kiat, “Paman Pek! Siapakah orang ini?”
Pek Si-kiat mendengus lirih, sahutnya, “Mo-tho-cu! (iblis bungkuk).”
Selama hidup Sukong Ko paling benci dan sirik bila ada orang memanggilnya si Bungkuk, mendengar kata-kata Pek Si-kiat, kontan berubah airmukanya, katanya, “Pek-heng! Ketahuilah kedatangan Sukong Ko hari ini bertujuan baik dan menguntungkan bagi kau, jangan kau sangka aku gentar menghadapi kau, sekarang aku menjalankan tugas engkohmu untuk mengundangmu kesana, kau sangka Sukong Ko sudi meminta2 sesuatu terhadap kau!”
Thian-hi belum pernah dengar nama Sukong Ko, namun dari ilmu silat orang dari sikapnya yang kaku serta punya hubungan erat dengan Pek Si-kiat lagi, ia kira orang sebagai salah satu gembong-gembong iblis yang telah mengundurkan diri dan sekarang muncul pula di Kangouw.
Pek Si-kiat menyeringai dingin, jengeknya, “Dimana Sutouw Ci-ko sekarang? Lekas kau bebaskan dia!”
Sukong Ko pun tidak kalah dingin, dengusnya, “Bila kau masuk anggota, jabatan wakil Pangcu jelas dapat kau duduki, kenapa pula kau terburu nafsu, bukan aku tidak tahu perangaimu, kenapa kau tidak mau bekerja sama dengan kita? Apakah kau tidak lagi ingin menuntut balas pada Ka-yap Cuncia yang telah mengurung kalian sekian lamanya?”
“Tutup mulutmu!” hardik Pek Si-kiat. hatinya marah sekali.
Bercekat hati Sukong Ko, betapapun hatinya masih gentar menghadapi Pek Si-kiat, meskipun. sebagai salah seorang gembong iblis yang jahat dan berkepandaian tinggi, namun bila dibanjng dengan Si-gwa-sam-mo rasanya masih kalah jauh beberapa tingkat. Membayangkan sepak terjang Pek Si-kiat dulu, sungguh hatinya jadi mengkirik dan beku darahnya. Tak tahu dia kenapa Pek Si-kiat melepaskan diri dari hubunngan eratnya dengan Tok-sim-sin-mo. Pek Si-kiat dapat mengendalikan diri, ia tahu tak boleh membawa sikapnya yang keras dan ketus, soalnya Sutouw Ci-ko masih berada ditangan mereka, yang dikuatirkan justru adalah keselamatan Sutouw Ci-ko. Dengan memincingkan mata ia pandang muka Sukong Ko lalu katanya pelan-pelan, “Kau pulang dan suruh Pho Cu-gi kemari bicara langsung dengan aku!”
Dengan heran dan bertanya-tanya Sukong Ko pandang Pek Si-kiat, ia menjadi melengak akan perubahan
sikap Pek Si-kiat yang mendadak dapat mengendalikan hawa marahnya ini. Sebentar kemudian ia menyeringai dingin, katanya, “Pek-heng! Apapun yang kau inginkan bakal dikabulkan. Jangan kau lupa bahwa Sutouw Ci-ko sudah dibawa masuk ke Jian-hud-tong. Lima puluh tahun sudah menjelang, apakah kau masih takut dan gentar menghadapi Ka-yap si Hwesio tua itu?”
Memang Sukong Ko pernah dengar bahwa Ka-yap Cuncia belum wafat, namun dia tidak tahu bahwa Pek Si-kiat sekarang sudah berubah haluan, dari tersesat sudah kembali kejalan lurus. Malah mendapat kebebasan langsung dari Ka-yap Cuncia sendiri. Sekarang Ka-yap Cuncia sudah ajal, namun sikap Pek Si-kiat ini dianggapnya masih takut menghadapi Ka-yap seperti dulu.
Pek Si-kiat angkat alis, katanya mendengus lirih, “Aku tak sudi banyak mulut pada kau, aku ingin bicara berhadapan dengan Pho Cu-gi. Dimana dia sekarang?”
“Pek-heng!” sindir Sukong Ko. “Kau tak perlu takut pada Ka-yap lagi, meskipun Pan-yok-hian-kangnya itu merupakan kepandaian tunggal yang tiada taranya, namun kita sudah punya cara yang paling sempurna untuk mengatasi ilmunya ini!”
Pek Si-kiat semakin murka, semprotnya, “Dimana Pho Cu-gi sekarang?”
Sukong Ko sengaja menghindari pertanyaan ini, matanya melirik ke arah Thian-hi lalu bertanya pula kepada Pek Si-kiat, “Konon kabarnya Pek-heng menempuh perjalanan bersama seorang yang bernama Hun Thian-hi, apakah benar-benar bocah ini adanya?”
Pek Si-kiat menyeringai, ejeknya, “Apakah Pho Cu-gi tidak sudi menemui aku? Atau takut melihat aku?”
Sukong Ko tertawa sinis, sahutnya, “Kau bersaudara dengan dia sekian lamanya. masa tidak tahu tabiatnya? Emangnya dia pernah takut pada siapa? Bila tidak mendapat persetujuannya aku sendirilah yang tidak sudi kemari menemui kau, sekarang kaulah yang perlu menemui beliau, terpaksa akulah yang menunjukkan jalan, tapi jangan kau lupakan tabiatnya!”
Pek Si-kiat mendengus hidung, jengeknya, “Dia pun bukan tidak tahu akan watakku, masa perlu kau orang luar ikut campur dalam urusan ini. Cukup asal kau bawa aku kepadanya saja!”
“Kalau begitu, akupun tidak akan merintangi perjalananmu sekarang dia berada di Jian-hut-tong, mari ku antar kesana!” — habis berkata sebelah tangannya diayun ke belakang, seekor burung dara segera dilepaskan terbang cepat ke arah barat-laut. Pek Si-kiat cukup melirik saja, dengan kaku ia awasi Sukong Ko.
“Sekarang aku sudah memberi lapor, tidak bisa tidak kau harus datang ke sana!”
“Kau kira aku takut berhadapan dengan dia?”
Sukong Ko mandah menyeringai dingin, segera ia putar kudanya terus dilarikan dengan cepat.
Sepanjang jalan ini diam-diam Thian-hi pasang mata dan kuping, memang kenyataan kekuatan gerombolan Tok-sim-sin-mo sudah sedemikian luas dan kokoh kuat di daerah utara dan selatan sungai besar. Banyak aliran lurus di daerah Tionggoan yang digencet dan diancam sehingga mereka tutup pintu dan menyarungkan pedang. Daerah kekuasaan dan tempat rebutan antara Partai Merah dan Partai putih sekarang sudah menjadi sarang pusat Tok-sim-sin-mo dengan ganti nama menjadi Hek-liong-pang.
Singkatnya sepuluh hari kemudian rombongan Thian-hi bertiga tibalah dalam wilajah yang berdekatan dengan Jian-hud-tong. Dari kejauhan Hun Thian-hi memandang ke arah Jian-hud-tong yang ditinggalkan beberapa bulan yang lalu, kini sudah ganti rupa, mulut Jian-hud-tong sekarang sudah diperlebar menjadi semacam pintu gerbang yang megah.
Baru saja mereka tiba diambang pintu gua, Tok-sim-sin-mo sudah menyongsong keluar, tampak oleh Thian-hi Tok-sim-sin-mo mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya berseri tawa lebar, jenggot dan kumisnya sudah dicukur kelimis, hanya sepasang matanya itu yang tetap mencorong dingin berkilau seperti mata kucing, hampir Thian-hi tidak kenal bahwa yang dihadapi ini kiranya adalah Tok-sim-sin-mo.
Berkatalah Tok-sim-sin-mo lemah lembut kepada Pek Si-kiat, “Samte! Watakmu seperti dulu, antara saudara sendiri kenapa main sungkan-sungkan apa segala. Sekarang kita sudah sama bebas seharusnyalah kita gabung dan kerja sama lagi untuk menghadapi Ka-yap. kenapa kau suka menyendiri dan tidak sudi bekerja sama!”
Pek Si-kiat menarik muka dan tidak bersuara.
Kata Tok-sim-sin-mo kepada Hun Thian-hi, “Kau pun ikut datang. Sejak kapan kau bergaul dengan Samteku, sekarang kami tidak perlu mempersoalkan perhitungan lama, kau sudah gaul bersama Samte berarti menjadi keluarga kami pula, mari silakan masuk!” — lalu ia mendahului memberi jalan ke dalam.
Dengan waspada Thian-hi amat-amati beberapa orang di belakang Tok-sim-sin-mo, diam-diam bercekat sanubarinya, para pengikutnya itu semua adalah tokoh-tokoh lihay atau gembong-gembong silat yang menakutkan, hampir seluruhnya dapat setingkat dijajarkan melawan Situa Pelita. Entah darimana Tok-sim-sin-mo dapat menggaruk begini banyak botoh2 silat ini!
Dengan lirikan matanya Pek Si-kiat mengajak Hun Thian-hi masuk. Begitu berada di dalam didapati oleh Thian-hi, keadaan disini tidak banyak berbeda dengan keadaan dulu, hanya sekarang keadaan di dalam terang benderang ditimpah cahaya sinar mutiara yang diporotkan di atas dinding di berbagai tempat.
Tampaknya Pek Si-kiat tidak pedulikan keadaan sekelilingnya, dengan langkah lebar ia beranjak masuk terus ke dalam gua. Akhirnya mereka dibawa masuk ke dalam sebuah kamar batu yang cukup luas dan besar. Setelah seluruh hadirin mengambil tempat duduk, belum lagi Pek Si-kiat sempat membuka mulut menuntut kebebasan Sutouw Ci-ko, Tok-sim-sin-mo sudah membuka suara lebih dulu, katanya, “Samte! Aku punya sebuah barang ingin kuperlihatkan kepada kau!” Tangannya bertepuk dua kali.
Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi sama heran, entah Tok-sim-sin-mo sedang main sandiwara apa! Segera mereka mendapat jawaban, tampak sebuah dinding di depan sana pelan-pelan terbuka, seorang berpakaian hijau segera keluar menyanggah sebuah kotak besi panjang dipersembahkan ke hadapan Tok-sim-sin-mo,
Dengan berseri tawa Tok-sim-sin-mo meraih kotak besi itu terus dibuka, dari dalamnya ia menjemput keluar sebilah pedang panjang, pedang dan sarungnya lantas ia angsurkan kepada Pek Si-kiat serta katanya, “Samte! Coba kau periksa, inilah pedang pusaka yang baru saja kusuruh orang membuatnya, bagaimana menurut penilaianmu?”
Berdetak jantung Pek Si-kiat, kiranya Tok-sim-sin-mo mampu cari seorang ahli untuk membuatkan pedang pusaka, sekarang diperlihatkan pada dirinya pula, entah kemana maksud juntrungannya.
Dengan kedua belah tangannya pelan-pelan Pek Si-kiat melolos pedang itu keluar, baru saja separo diantaranya tercabut selarik sinar kemilau yang menyilaukan mata memancar keluar dari batang pedang itu. Begitu melihat cahaya berkilau yang menyilaukan mata ini kontan Pek Si-kiat berjingkrak kaget, otaknya lantas teringat akan seseorang, tanpa merasa mulutnya lantas berseru, “Ling-lam-kiam-ciang!” hatinya menjadi was-was bila pandai pedang dari Ling-lam ini kena dipelet oleh Tok-sim-sin-mo, sungguh akibatnya sukar dibayangkan.
Terdengar Tok-sim-sin-mo terkekeh-kekeh dingin, ujarnya, “Benar-benar. Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo memang berada disini, oleh karena itu kau tidak perlu takut lagi bukan!”
Hun Thian-hi juga ikut kaget. Tiada seorang pun kaum persilatan yang tidak tahu dan kenal akan seorang pandai pedang yang kenamaan macam Coh Jian-jo dari Ling-lam ini. Bukan saja ia pandai membuat pedang, iapun pandai membuat bermacam2 senjata tajam lainnya yang hebat, beliau merupakan seorang jenius dari kaum Bulim. Tapi konon sudah ratusan tahun lamanya menghilang dan tidak pernah membuat lagi senjata tajam, bila sekarang dia masih hidup usianya paling tidak sudah mencapai seratus lima puluh tahun, siapa nyana sekarang ahli pedang itu kena dipelet oleh Tok-sian-sin-mo.
Pek Si-kiat bungkam tak bersuara, hatinya semakin mencelos. seperti yang dikatakan Bing-tiong-mo-tho tak perlu takut lagi menghadapi Pan-yok-hian-kang kiranya beginilah kenyataannya Kalau begitu pasti Tok-sim-sin-mo sudah memperoleh sebuah alat senjata yang jahat dan ganas dapat memecahkan ilmu Pan-yok-hian-kang itu. Kalau ini benar-benar maka Hun Thian-hi tidak akan mampu bertahan mengandal Pan-yok-hian-kang latihannya itu menang atau kalah menjadi sulit diperkirakan lagi.
Terdengar Tok-sim-sin-mo mendesak, “Samte! Sampai detik ini apa pula yang perlu kau pertimbangkan?”
Pek Si-kiat menunduk berpikir sebentar, mendadak ia angkat kepala serta katanya: Dimana Sutouw Ciko sekarang?’
“Samte!” ujar Tok-sim-sin-mo, “Kulihat sikapmu sekarang tidak sewajar dulu lagi. Apa kau belum tahu tabiatku? Dari sikapmu ini jelas kau masih tidak rela bekerja sama dengan aku. sebetulnya apakah sebabnya?”
Pek Si-kiat tertawa tawar, sahutnya, “Kau tak perlu tanya soal ini. Coh Jian-jo sudah berada disini, apa pula yang perlu kau takuti? Kaupun tidak perlu menarik diriku supaya bantu kau lagi!”
“Kukira soal apa, kiranya soal sepele ini.” ujar Tok-sim-sin-mo tertawa, “Watakmu seperti dulu, diantara kita bertiga hanya kaulah yang paling kupercayai, soal ini tiada halangannya kujelaskan kepada kau. Siapapun tiada yang kutakuti, tapi aku dapat membatasi diri tidak melebarkan sayapku keluar perbatasan dan juga tidak mencari perkara pada pihak Siau-lim, apa kau tahu apa sebabnya?”
Pek Si-kiat juga tahu tabiat Tok-sim-sin-mo, maka ia mandah diam saja, terdengar orang melanjutkan kata-katanya, “Ang-hwat dia tidak akan mau dengar kata-kataku. Kau tahu tabiatku. lebih baik aku tidak mencari perkara pada pihak Siau-lim dan Ce-hun sitojin kerdil itu, tapi aku tidak akan membiarkan Ang-hwat bersimaharaja, sekarang diapun tengah mengumpulkan banyak kaki tangannya, tujuannya hendak mendirikan sebuah aliran yang bertentangan dengan pihak kami.”
Pek Si-kiat tertawa, katanya, “Ya, tapi bagi kau dia tidak lebih seperti seekor lalat belaka yang dapat ditimpuk mati.”
Tok-sim-sin-mo menyeringai iblis, ujarnya, “Seluk beluk soal ini belum kau ketahui, meskipun aku tidak gentar menghadapi dia, tapi Hwe-tok-kun sekarang sedang membantu dia.”
Thian-hi tersentak kaget. Hwe,tok-kun bukankah nama lain dari Mo-bin-suseng? Hampir dia berjingkrak bangun, setiap kali mendengar nama Mo-bin-suseng, darahnya lantas bergolak dirongga dadanya.
Dengan kalem Pek Si-kiat manggut-manggut. setelah berpikir sebentar ia berkata, “Darimana kau toako tahu bahwa Hwe-tok-kun sedang membantu usaha Ang-hwat?”
Tok-sim-sin-mo terkekeh kering. ujarnya, “Kalau bukan dia yang bergerak di belakang layar pasti Ang-hwat sudah tergenggam dalam telapak tanganku,” lalu ia awasi Pek Si-kiat, sambungnya, “Samte! Kau tahu maksudku bukan?”
Pek Si-kiat maklum bahwa Tok-sim-sin-mo mengharap dirinya suka bergabung dalam komplotannya untuk menghadapi Hwe-tok-kun. maka dengan tertawa ewa ia menyahut, “Aku takkan mampu bantu kau menyelesaikan persoalan ini.”
“Apa betul?” dengus Tok-sim-sui-mo sembari bergegas bangun. kedua biji matanya memancarkan cahaya berkilat mengandung hawa membunuh.
“Aku punya kepentinganku sendiri yang harus segera kuselesaikan. Sekarang aku sedang menjelajahi jejak Ji-ci. masa kau sendiri kau tidak pikirkan dia?”
Lekat-lekat Tok-sim-sin-mo awasi Pek Si-kiat, sesaat kemudian, baru berkata, “Kiranya kaupun tahu soal itu, akupun tidak perlu menjelaskan lagi. Ketahuilah kupanggil kau tujuanku justru supaya menghadapi dia. Sekarang tentu dia sedang giat memperdalam ilmu Hian-thian-mo-kip untuk menghadapi aku. Kalau kau tinggal disini pasti dapat mencarinya, bukankah malah meringankan bebanmu!”
“Tidak, aku tidak sudi melakukan kejahatan lagi. Malah aku sudah menyesal akan perbuatanku yang penuh noda dulu!”
Terpancang pandangan heran dari biji mata Tok-sim-sin-mo, sesaat kemudian ia bergelak tawa serunya, “Kau sudah menyesal? Kenapa kau harus menyesal? Apa tidak terlambat kau menyesal sekarang?”
Kata Pek Si-kiat menghela napas, “Bila kau anggap antara kau dan aku masih punya hubungan persaudaraan, aku harap kau suka menyerahkan Sutouw Ci-ko kepadaku sekarang juga!”
Tok-sim sin-mo rada melengak, dengan pandangannya berkilat ia menyapu seluruh hadirin lalu berkata, “Kau minta aku menyerahkan sekarang juga dihadapan sekian banyak orang?” terdengar hidungnya mendengus lalu melanjutkan, “Memang hubungan kami seperti saudara sekandung layaknya, bila hanya kepentinganku seorang tentu segera kuserahkan Sutouw Ci-ko kepadamu, tapi soalnya sekarang berlainan, urusan umum harus diselesaikan secara umum, kecuali kau masuk menjadi anggota kumpulan kita, kalau tidak aku tidak bisa mementingkan urusan pribadi mengingkari kepentingan umum.”
Pek Si-kiat tertawa sinis, ia pandang Hun Thian-hi sebentar lalu menyapu pandang semua orang yang hadir, katanya pula, “Apakah urusan ini tiada kompromi lagi?”
Tiba-tiba Tok-sim-sin-mo terbahak-bahak, ujarnya, “Begitupun baik, berpisah selama lima puluh tahun, ingin aku melihat sampai dimana kemajuan ilmu silat Samte selama ini?”
Habis berkata dengan lirikan matanya ia pandang Bing-tiong-mo-tho. Bing-tiong-mo-tho segera bangkit dan berseru kepada Pek Si-kiat, “Sukong Ko ingin mewakili Pangcu mohon pengajaran kepada Pek-heng!”
Pek Si-kiat bersikap tenang, sembari menyeringai pelan-pelan ia bangkit, tapi Thian-hi yang berada disampingnya juga melonjak bangun. katanya, “Paman Pek, untuk gebrak ini biarlah aku saja yang turun gelanggang!”
Sebentar Pek Si-kiat pandang Hun Thian-hi, ia tahu kepandaian dan kemampuan Hun Thian-hi jauh mencukupi untuk menghadapi musuh, maka dia manggut-manggut lalu mundur dan duduk kembali.
Sementara Tok-sim-sin-mo malah pandang Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat bergantian dengan perasaan aneh dan heran. Adalah Bing,tiong-mo-tho yang berjingkrak gusar, serunya, “Selamanya Sukong Ko belum pernah lihat ada orang berani kurang ajar memandang rendah diriku!”
Hun Thian-hi mandah tersenyum manis, ujarnya, “Aku bernama Hun Thian-hi, tidak lebih sebagai Wanpwe, angkatan muda!” Lalu ia memutar menghahadapi Tok-sim-sin-mo. katanya pula, “Bila Sukong Ko dapat kukalahkan, apakah Pho-pangcu rela menyerahkan Sutouw Ci-ko kepada kami?”
Hati Tok-sim-sin-mo rada was-was, biji matanya berjelilatan, katanya, “Jadi maksudmu kau ingin main taruhan dalam pertandingan babak pertama. ini?”
Hun Thian-hi mandah tersenyum saja tanpa bersuara.
Kata Tok-sim-sin-mo lagi, “Apa yang kau taruhkan dalam pertandingari ini?”
Baru saja Thian-hi mau buka mulut. dari belakang Pek Si-kiat sudah keburu bicara, “Bila dia kalah, kami berdua suka masuk menjadi anggota. Kau dengar, kami akan bekerja demi kepentinganmu!”
“Bagus!” teriak Tok-sim-sin-mo menepuk paha. “Aku terima syarat pertandingan ini, bila kau yang menang, Sutouw Ci-ko segera kuserahkan. tapi bila kalah kalian harus menepati janji dan harus tunduk pada perintahku!”
Bing-tiong-mo,tho Sukong Ko beranggapan kepandaiannya cukup lihay dan berkedudukan tinggi pula, kecuali beberapa tokoh silat kosen jaman ini yang ditakuti hanya beberapa orang saja. ia tidak pernah tunduk pada siapapun juga, sekarang justru harus berhadapan dengan Hun Thian-hi yang dianggap masih pupuk bawang, keruan hatinya murka sekali.
Dengan pandangan berapi-api ia pandang Pek Si-kiat sembari menggerung geram, ia sangka Pek Si-kiat sengaja memajukan Hun Thian-hi untuk mempermainkan dan menghina dirinya. Bahwasanya ia tidak pandang Hun Thian-hi sebelah matanya….
Sambil menyungging senyum lebar pelan-pelan Hun Thian-hi beranjak masuk gelanggang, sikapnya tenang tanpa gentar. Diam-diam Tok-sim-sin-mo terkejut dan tak habis herannya, melihat kewajaran sikap Thian-hi. seolah-olah ia punya pegangan untuk memenangkan gebrak pertama ini. Sebaliknya tampak sikap congkak Bing-tiong-mo-tho yang berkelebihan, tanpa merasa sanubarinya mendapat firasat jelek, seakan-akan Bing-tiong-mo-tho jelas bakal kalah. Ia heran kenapa dia bisa punya pikiran demikian, memang kepandaian antara Hun Thian-hi dan Bing-tiong-mo-tho dalam pandangannya terpaut antara bumi dan langit. Hun Thian-hi tidak akan kuat bertahan, sekali pukul.
Begitu Hun Thian-hi memasuki gelanggang Bing Cong-mo-tho lantas menggeram keras seperti harimau kelaparan, mendadak tubuhnya berkelebat menubruk maju seraya mencengkeram dengan cakar tangan kanannya. Gebrak pertama ini ia sudah lancarkan kepandaian khususnya yang sangat dibanggakan yaitu Jian-yu-mo-jiu (cakar iblis beribu bayangan), maksudnya sekali cengkeram ia hendak membuat Thian-hi sebagai kelinci, makanan empuk yang dapat dibuat permainan, tindakannya ini bukan saja supaya Pek Si-kiat tahu bahwa dirinya tidak gampang dihina dan dipermainkan, tujuan yang utama adalah hendak memperlihatkan kepandaian silatnya sejati.
Gerakannya ini memang cepat luar biasa, telak sekali cengkeramannya ini mengenai pundak Hun Thian-hi. Tampak biji mata Hun Thian-hi memancarkan sinar aneh, diam-diam ia menerawang situasi yang tidak menguntungkan ini, maka harus menyelesaikan pertandingan babak pertama ini secara kilat, maka Pan-yok-hian-kang segera dikerahkan tanpa berkelit lagi.
Begitu tangannya kena mencengkeram pundak orang, kontan berubah airmuka Bin-tiong~mo-tho Sukong Ko, terpancang rasa heran dalam sorot matanya, begitu kelima jarinya mencengkeram seketika terasa tangannya kesemutan tak mampu mengerahkan tenaga. Keruan bukan kepalang kejutnya. Kiranya pemuda yang dihadapi ini membekal ilmu sakti yang hebat sekali, sungguh aku terlalu memandang ringan padanya!
Dasar ingin menangnya sendiri sedikitpun ia tidak gentar atau mumdur teratur, sambil mendengus ia kerahkan seluruh kekuatannya dikelima jarinya untuk mencengkeram lebih keras, pikirnya kecuali Ka-yap Cuncia. tiada seorang pun yang akan mampu bertahan dari cengkeraman jarinya yang lihay seperti jepitan tanggem besi ini.
Dalam pada itu Thian-hi kerahkan seluruh Lwekangnya untuk bertahan, memangnya iapun rada memandang ringan pada Bing-tiong-mo-tho, apalagi Cian-kin-hiat dipundak kena dicengkeram, seolah-olah sipenunggang harimau yang sulit turun. terpaksa ia harus melawan dengan segala kemampuannya. sebab ia harus menang dalam pertandingan babak pertama ini.
Tampak Tok-sim-sin-mo mengunjuk rasa kaget dan tak habis herannya, kehebatan Lwekang Thian-hi benar-benar diluar perhitungannya semula. yang lebih mengejutkan hatinya lagi justru dari tubuh Hun Thian-hi yang berdiri sekokoh gunung itu seolah-olah terbayang duplikat Ka-yap Cuncia yang sangat ditakuti itu. Bukankah Lwekang yang dikerahkan itu adalah Pan-yok-hian-kang yang diandalkan Ka-yap Cuncia untuk malang melintang dan menjagoi dunia persilatan dulu?
Sekian lamanya kedua belah pihak bertahan berdiri seperti tonggak kayu, kedua musuh ini sama tokoh kosen ahli Lwekeh yang lihay, adanya adu kekuatan tenaga dalam ini membuat seluruh hadirin menonton dengan jantung berdebar dan menahan napas, keadaan ruang batu itu menjadi sunyi senyap.
Entah berapa lama berselang, mendadak Hun Thian-hi menjebir bibir bersuit lirih pendek. dimana kelihatan pundaknya sedikit bergerak terdengarlah suara “Duk!” yang keras kontan badan Bing-tiong-mo-tho yang tinggi besar itu terpental jauh tiga empat tombak terus terbancng roboh dan berkelejetan, Banyak orang segera merubung maju memajang Bing-tiong-mo-tho ke dalam untuk diobati.
Pundak kiri Thian-hi sendiri juga terasa sakit dan kesemutan lekas-lekas ia menyedot napas lalu mengerahkan hawa murninya untuk memulihkan kesegaran badannya. Pek Si-kiat mengunjuk seri tawa lebar, ia sangat bangga akan hasil kemenangan Hun Thian-hi…. dengan tersenyum sinis ia pandang Tok-sim-sin-mo.
Tok-sim-sin-mo menggeram gusar, tanyanya kepada Hun Thian-hi, “Apa hubunganmu dengan Ka-yap? Dimana dia sekarang?”
Lihay benar-benar Tok-sim-sin-mo ini, demikian pikir Thian-hi dengan kaget. Namun lahirnya ia tetap tenang, sahutnya tawar, “Soal ini dibicarakan nanti. yang terang aku sudah menang lekas kau serahkan dulu Toaciku!”
Tok-sim,sin-mo menyeringai iblis, jengeknya, “Hari ini bila kalian tidak masuk menjadi anggota, untuk meninggalkan tempat ini. sesulit memanjat langit!”
Pek Si-kiat berjingkrak bangun, pedang pusaka ditangannya diangsurkan kepada Thian-hi, serunya, “Jadi kau mau ingkar janji?”
“Samte!” teriak Tok-sim-sin-mo mendongak sambil terbahak-bahak, “Kau sangka aku gentar oleh sebatang pedang pusaka itu? Aku berani memperlihatkan pedang pusaka itu kepada kau sebelum kalian menentukan haluan, sudah tentu aku punya cara untuk mengatasi dan menundukkan Kamu berdua!”
Pek Si-kiat berdua bungkam.
“Kau harus tahu!” sambung Tok-sim-sin-mo, “kenapa aku angkat nama dengan Hek-liong-pang! — Lalu ia terkekeh-kekeh dingin sambil menyapu pandang keseluruh hadirin.
“Seumpama kau punya tipu daya yang keji kamipun tidak perlu gentar.” demikian ujar Pek Si-kiat,
“Kau tahu watakku, apa yang hendak kulakukan kecuali aku lepas tangan, kalau tidak aku tidak merubah haluan sebelum tujuanku tercapai!”
Tok-sim-sin-mo tertawa kering dua kali, katanya kepada Hun Thian-hi, “Aku tahu tentu kau pernah bertemu dengan Ka-yap. malah mendapat pelajaran. ilmu saktinya, namun semua pengalaman itu akupun tidak perlu main selidik lagi. Bila kau mau masuk anggota, kami tidak akan menyia-nyiakan bakat dan segala kemampuanmu. Apalagi Sutouw Ci-ko masih berada ditanganku, mau atau tidak, kau harus pilih satu diantaranya. Kalau kau benar-benar keras kepala dan tidak mau, aku kuatir kelak kau akan menyesal!”
Hun Thian-hi tersenyum manis. katanya, “Setelah kau tahu aku sebagai ahli waris Pan-yok-hian-kang, maka tiada halangannya kita bicara secara blak2an saja. Kau sebagai Pangcu, aku menuntut supaya Sutouw Ci-ko segera kau lepaskan, soal masuk jadi anggota, saat ini aku tidak suka membicarakannya, karena kurasa pembicaraan ini tidak akan menguntungkan.”
Lalu bagaimana menurut maksudmu?” semprot Tok-sim-sin-mo dengan mata berapi-api.
“Pak-yok-hian-kang cukup berkelebihan untuk menggetarkan Bulim,” ujar Thian-hi sinis, “Hek-liong-pang kalian mengundang aku masuk menjadi anggota, dengan apa kalian hendak melemaskan hatiku?”
“Samteku menjabat wakil Pangcu, sedang kau bagaimana kalau kuangkat menjadi kepala dari empat pelindung kumpulan?”
Hun Thian-hi menggeleng dengan menjebir bibir. jengeknya, “Bila demikian tawaranmu ini terlalu merendahkan derajatku, tidak sukar kau undang aku menjadi anggota, asal kau mau serahkan kedudukan Pangcu kepada aku!”
Tok-sim-sin-mo mendongak tertawa menggila, serunya, “Sombong benar-benar, kau belum pernah lihat dan menjajal kekuatan Hek-liong-pang kami, bukankah kau mengandalkan Pan-yok-hian-kang yang tiada tandingannya di Bulim? Akan kupertunjukkan kepada kalian betapa hebat dan lihaynya, Pek-tok-kek-liong-ting! (paku naga hitam beratus racun)” — lalu ia ulapkan sebelah tangannya empat orang berpakaian seragam hitam segera muncul, tangan masing-masing membawa selaras besi hitam, langsung diarahkan kepada mereka berdua.
Pek Si-kiat kaget bukan main, dengan tajam ia pandang keempat orang itu.
Ia tahu Pek-tok-hek-liong ting khusus untuk memecahkan Lwekang aliran Lwekeh yang terhebat, cara pemhuatannya sangat sukar, ratusan tahun yang lalu senjata macam ini sudah lenyap dari percaturan dunia persilatan. Sekarang mendadak muncul disini. jikalau Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo berada disini, tentu Tok-sim mampu membuat senjata jahat ini, tapi untuk membuat laras senjata ini diperlukan Besi murni laksaan tahun, entah dari mana Tok-sim-sin-mo mampu memperoleh bahan bakunya yang sulit didapat ini.
“Dalam dunia ini tokoh mana yang mampu melawan Pek-tok-hek-liong-ting? Pan-yok-hian-kang memang ilmu sakti yang tiada taranya, namun mana bisa melawan kehebatan Pek-tok-hek-liong-ting.
Pek Si-kiat menggeram gusar, serunya, “Jangan kau kira setelah memiliki Pek-tok-hek-liong-ting lantas kau dapat malang-melintang bersimaharaja. Apakah senjatamu itu tulen atau tiruan belum diketahui, bila benar-benar, kaupun akan kena ditumpas oleh seluruh kekuatan kaum persilatan!”
Tok-sim-sin-mo tertawa besar, ujarnya, “Kau sangka senjataku itu tiruan? Kiu-thian-ham-giok merupakan bahan terpilih yang paling cocok untuk membuat Pek-tok-hek-liong-ting. Apalagi kekuatanku sedemikian besar ini masa takut ditumpas kaum persilatan apa segala?”
Hun Thian-hi berpikir sebentar lalu menyela bicara, “Dalam kehidupan di dunia ini terdapat dua unsur positip dan negatif yang saling berlawanan. Kau sangka Hek-liong-tingmu ini tiada benda lain yang dapat mengatasinya?”
“Kau hendak mencari tahu? Sayang tiada suatu benda apapUn yang dapat mengatasinya. Dalam tempo sesulutan batang hio kuberikan kesempatan pada kalian untuk berpikir memberikan keputusan kalian.” dari samping sana seorang menyulut hio lalu ditancapkan di atas meja.
Thian-hi harus berpikir secara cermat, mencari jalan untuk mengatasi situasi yang gawat ini, namun sesaat lamanya ia tidak memperoleh jalan keluar untuk menghadapi Tok-sim-sin-mo.
Sementara Pek Si-kiat sendiri pejamkan mata tanpa berkata-kata, ia mengandal kecerdikan otak Thian-hi, entah punya cara apa yang sempurna, buat dia sendiri tiada punya pegangan.
Tak lama kemudian batang hio itu sudah terbakar separo, Thian-hi lantas buka suara kepada Tok-sim-sin-mo, “Apakah benar-benar Hek-liong-ting kalian bisa memecahkan segala Lwekang aku belum tahu, dengan cara ancamanmu ini kau hendak menarik kami menjadi anggota, kukira kalian bertindak kurang bijaksana.”
“Jadi maksudmu kau ingin tahu kekuatan Hek-liong-ting ini lebih dulu?”
“Begitulah maksudku!”
Pek Si-kiat membuka mata, dia heran kenapa Thian-hi begitu gegabah, masa Hek-hong-ting dianggap barang mainan yang boleh dicoba apa segala, seumpama pedang pusaka atau senjata tajam lainnya juga tiada kemungkinan mematahkannya.
“Begitupun baik,” seru Tok-sim-sin-mo terloroh-loroh, “Aku sendiri juga belum tahu apakah Hek-liong-ting dapat memecahkan Pan-yok-hian-kang, melalui percobaan ini ingin aku saksikan ilmu saktimu yang hebat itu, terlebih penting akan kuketahui betapa lihay Hek-liong-ting milik kita ini!”
“Tapi cara bagaimana mencobanya?”
“Gampang saja. Hek-liong-ting seluruhnya ada tujuh batang, kusuruh keempat orang itu bergantian menyerang kepadamu, kau boleh melawan dengan Pan-yok-hian-kangmu.”
“Cara ini tidak bisa dilaksanakan!” dengus Pek Si-kiat. Dia tahu akan kelicikan pihak lawan, bila Thian-hi benar-benar tak kuasa bertahan, bukankah bakal menjadi korban secara konyol.
“Kenapa? Kalau tidak begitu cara bagaimana pula?”
Hun Thian-hi tertawa tawar, ujarnya, “Paman Pek, cara ini memang cukup baik, kau tidak perlu kuatir padaku!”
Dengan sorot heran dan tak mengerti Tok-sim-sin-mo pandang wajah Thian-hi, Hun Thian-hi berani mempertaruhkan jiwanya untuk percobaan yang berbahaya ini. Bagi perhitungan Hun Thian-hi bila dia berhasil memunahkan serangan Kek-liong-ting lawan, nyali Tok-sim-sin-mo tentu ciut dan gentar menghadapi dirinya, serta menyerahkan Sutouw Ci-ko. Seumpama dirinya yang kalah, dirinya tidak akan hidup lama lagi, maka sasaran utama bagi musuh adalah dirinya, meski harus ajal di bawah paku naga hitam yang jahat ini, betapapun Pek Si-kiat harus berkesempatan meloloskan diri dari sarang iblis ini.
Tok-sim-sin-mo menggeram, dalam hati ia mencemooh, “Anak muda, kau terlalu congkak!”
Bahwasanya ia tahu bahwa Hun Thian-hi tidak akan mampu melawan Hek-liong-ting, namun betapapun ia tidak mau kehilangan kesempatan paling baik yang sukar dicari ini.
Pelan-pelan Hun Thian-hi maju ke tengah gelanggang, pedang disarungkan di dalam serangkanya, terkilas olehnya akan Wi-thian-cit-ciat-sek, tergeraklah hatinya, bila Hek-liong-ting benar-benar khusus untuk memecahkan ilmu Lwekang, kenapa aku tidak gunakan saja Wi-thian-cit-ciat-sek untuk memenangkan percobaan ini? Seumpama gagal juga tidak menjadi soal, apalagi Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan ilmu pedang dari aliran Lwekeh yang tiada taranya, apakah benar-benar tidak mampu bertahan dari serangan Pek-tok-hek-liong-ting?
Melihat Thian-hi menunduk memandangi pedang di tangannya, seperti sedang memikirkan apa-apa, Tok-sim-sin-mo mengejek dingin, “Kau menggunakan pedang juga boleh, tapi kukuatir Hek-liong-ting tidak semudah itu dapat ditangkis atau dilawan!”
Dengan tangannya Thian-hi obat-abitkan pedangnya sambil tertawa tawar tanpa bersuara.
“Kau sudah siap belum?” tanya Tok-sim-sin-mo.
Hun Thian-hi angkat kepala, dengan pandangannya yang tajam ia awasi seluruh hadirin, lalu manggut pelan-pelan.
Tok-sim-sin-mo menyeringai iblis seperti serigala yang kelaparan bakal menggares mangsanya, biji matanya berkilat mengandung hawa membunuh. Dalam angan2nya, Hun Thian-hi segera bakal mati konyol di hadapannya….
Pelan-pelan ia sedikit angkat tangannya, salah seorang seragam hitam yang berdiri paling kanan segera angkat longsong besinya serta memijatnya, “cret” setabur sinar hitam kontan melesat keluar, seluruhnya menerjang ke depan dada Hun Thian-hi.
Sejak menelan buah ajaib jasmani Hun Thian-hi luar biasa melebihi orang bjasa. maka ia menjadi terkejut waktu melihat Pek-tok-hek-liong-ting melesat mengarah dirinya. Dalam sekilas pandang saja ia melihat jelas formasi ketujuh Hek-liong-ting yang menerjang datang ini begitu sempurna dan lihay benar-benar, yang membuatnya terkejut adalah formasinya yang mengincai berbagai tempat, mungkin tiada seorang tokoh kosen dari Bulim yang mampu terhindar dari incaran Hek-liong-ting yang ganas ini. Seumpama SitUa Pelita yang mengagulkan ilmu Gin-kang yang tiada keduanya dijagat ini juga takkan mampu menyelamatkan diri.
Sementara itu laksana kilat ketujuh paku naga hitam itu, sudah meluncur tiba, tiada tempo lagi bagi Hun Thian-hi untuk berpikir. lekas-lekas ia angkat tangan kiri menepuk ke depan, ia kerahkan Pan-yok-hian-kang menyongsohg kedatangan ketujuh Hek-liong-ting itu dengan pukulannya.
Baru saja Thian-hi melancarkan pukulannya lantas dia merasa firasat jelek, tampak olehnya ketujuh Hek-liong.ting itu masih menerjang tiba dengan kecepatan yang ada, sedikitpun tidak menjadi terhalang atau menyimpang dan merandek oleh tenaga pukulan Thian-hi tadi. Sebat sekali Thian-hi menggeser mundur seraya mengayun tangan, tahu-tahu pedang pusaka sudah berada ditangannya terus membalik ke depan, dengan jurus gelombang perak mengalun berderai salah satu jurus dari Gin-ho-sam-sek ia tangkis ke depan, cahaya pedangnya yang gemerdep segera mengurung luncuran senjata rahasia musuh.
Ketujuh paku naga hitam itu seperti terhenti sekilas ditengah udara, namun lantas meluncur maju lagi dengan kekuatan yang sama. Apa boleh buat terpaksa Thian-hi lancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek dengan tujuan men-coba-coba. Dengkul ditekuk tubuhnya rada mendak kebawah pedang panjangnya lantas teracung miring ke depan, dimana pedangnya sedikit bergerak beberapa mili saja, (gerak pedang yang hanya beberapa mili ini sulit diikuti oleh pandangan mata) ia sudah kerahkan seluruh Lwekangnya. seketika hawa pedang mengembang memenuhi udara sekitar gelanggang, benar-benar juga usahanya ternyata berhasil, ketujuh paku naga hitam beracun itu kena terhalang.
Keruan girang hati Thian-hi, dengan kekuatan hawa pedangnya ia bermaksud menghancur leburkan semua paku2 beracun itu, namun begitu pedangnya berputar terdengarlah suara Trang-tring yang ramai, terasa olehnya bahwa ketujuh paku itu adalah sedemikian keras pedangnya tak berhasil mematahkannya. Sudah tentu kejut sekali hatinya, sembari bersuit nyaring cepat ia putar pedangnya pula menyapu jatuh ketujuh Hek-liong-ting itu tercerai berai di atas lantai….
Tok-sim-sin-mo kaget bukan main, tanpa kuasa ia melonjak bangun seraya berteriak, “Itulah Wi-thian-cit-ciat-sek!”
Waktu pertama melihat Hun Thian-hi tidak berhasil melumpuhkan luncuran paku naga hitam musuh, berubah airmuka Pek Si-kiat. Kini dilihatnya Thian-hi berhasil menyapu rontok seluruh paku berbisa dan ganas itu, keruan bukan kepalang senang hatinya, dengan suara lantang iapun berteriak, “Benar-benar, itulah Wi-thian-cit-ciat-sek. Dalam kotong langjt ini siapapun yang mampu melawan Wi-thian-cit-ciat-sek?”
Tok-sim-sin-mo menggeram gusar, matanya berapi-api. Dilihatnya Thian-hi berdiri tegak lurus dengan gagahnya pelan-pelan menyarungkan kembali pedangnya. tanpa merasa hatinya menjadi gentar dan kuncup nyalinya. Sekali sapu Thian-hi dapat menyampok runtuh senjata rahasia yang paling dibanggakan ini. mungkin Wi-thian-cit-ciat-sek benar-benar sudah sempurna dilatihnya, betapapun dirinya bukan tandingannya, bagaimana tindakan selanjutnya? Ia menjadi bingung.
Tapi tidak terpikir olehnya bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-sek Thian-hi justru belum sempurna, sebelumnya tadi ia sudah lancarkan Pan-yok-hian-kang dan sejurus Gin-ho-sam-sek. sehingga daya luncuran Hek-liong-ting yang keras dan cepat itu kena dipunahkan seoagian besar, begitu ia lancarkan sejurus Wi-thian-cit-ciat-sek dengan sendirinya mudah sekali ia rontokkan seluruh Hek-liong-ting itu. Bila Tok-tim-sin-mo tadi memberi perintah pada anak buahnya supaya menyerang bergantian, betapapun tinggi kepandai Hun Thian-hi tidak akan lolos dari renggutan elmaut, dan kelak ia akan benar-benar dapat menjagoi dan bersimaharaja di seluruh dunia persilatan.
Justru karena kagetnya ini sehingga otak Tok-sim-sin-mo tidak dapat berpikir secara jernih, sesaat lamanya ia tak kuasa buka suara, entah berapa lama kemudian baru ia berkata, “Kalau begitu, akupun tidak akan memaksa kalian masuk anggota lagi, Sutouw Ci-ko akan kuserahkan kepada kalian!”
Thian,hi dan Pek Si-kiat menjadi girang.
“Tapi ada syaratnya!” demikian tambah Tok-sim-sin-mo.
Pek Si-kiat mendengus, jengeknya, “Syarat apa? Apa kau mampu melawan Wi-thian-cit-ciat-sek? Ketahuilah Pek-tok-hek-liong-ting tidak lebih sebagai barang rongsokan belaka!”
“Benar-benar. memang aku tidak kuasa melawan Wi-thian-cit-ciat-sek.” Tok-sim-sin-mo mengakui terus terang. “Tapi ingat Sutouw Ci-ko masih berada ditanganku, masa kalian berani mengusik-usik kepada aku?”
Pek Si-kiat terbungkam. Dia tahu tabiat Tok-sim-sin-mo, bila ia sudah nekad segala apapun berani dilakukan, seumpama gugur bersamapun akan dia lakukan, dalam keadaan yang mendesak dan genting ini terpaksa ia harus berlaku sabar dan mengalah, maka katanya, “Coba kau katakan dulu syarat apa yang kau ajukan?”
“Paling tidak sampai pada detik ini, setelah aku menyerahkan Sutouw Ci-ko, diantara kita tiada ikatan permusuhan dan dendam sakit hati lagi. Kelak peduli apapun yang kami lakukan, kalian berdua dilarang turut campur dan menghalangi, inilah syaratnya. gampang dan sepele saja apakah kalian mau setuju dan mematuhi syarat yang kuajukan ini?”
Hun Thian-hi berpikir sebentar, ia insaf bahwa situasi tetap gawat dan belum menguntungkan pihaknya, bila ia tidak setuju akan syarat yang diajukan ini, bila Tok sim-sin-mo murka dan nekad, paling-paling kepandaian sendiri setingkat sama Tok-sim belum lagi anak buahnya yang banyak jumlah dan tinggi kepandainnya, akan merupakan tekanan berat juga bagi pihaknya, maka ia berkata, “Tapi bila tindakan kalian merugikan sanak kadang dan para sahabat kita bagaimana?”
“Tidak mungkin! Kalian harus cepat membawa Sutouw Ci-ko meninggalkan Tionggoan, sanak kadang atau teman2 kalian tidak akan kami recoki, bagaimana pendapat kalian?”
Thian-hi berpikir, bila aku mengajukan imbalan yang terlalu rumjt juga belum tentu mereka mau setuju, pula tidak mungkin hanya karena urusan kecil lantas aku mengingkari urusan besar ini, akhirnya ia tertawa mauggut2, ujarnya, “Begitupun baiklah!”“
Melihat Hun Thian-hi begitu wajar dan tanpa curiga sedikitpun menyetujui syarat2 yang diajukan Tok-sim-sin-mo menyeringai tawa lebar, katanya, “Kau harus pegang teguh janji ini, kau tahu aku pernah kau tipu sekali, tempo hari kau tinggal merat sendiri tanpa hiraukan aku lagi, apakah kau masih ingat?”
Berdeguk jantung Thian-hi, sahutnya tertawa, “Kau harus percaya kepada ucapanku sekarang!”
Tok-sim-sin-mo tertawa aneh, katanya, “Segera kuantar Sutouw Ci-ko keluar gua, sekarang kalian boleh keluar dan tunggu diluar.” — habis berkata ia melangkah ke ruang sebelah dan menghilang. Thian-hi berdua keluar diantar anak buah Tok-sim-sin-mo.
Tak lama kemudian tampak Tok-sim-sin-mo beranjak keluar sambil menggusur Sutouw Ci-ko. Begitu melihat Hun Thian-hi Sutouw Ci-ko berteriak kegirangan, “Thian-hi, kau sudah pulang!” — Begitu senang hatinya sampai matanya mengalirkan air mata.
“Mari lekas kita tinggalkan tempat ini!” demikian ujar Thian-hi sambil menggandengnya.
Tok-sim-sin-mo mengunjuk tawa sinis yang aneh, tangannya segera diulapkan, anak buahnya segera menuntun tiga ekor kuda putih, katanya, “Aku tiada punya tanda mata yang harus kuberikan, ketiga ekor kuda ini anggap saja sebagai tanda kenangan.”
Pek Si-kiat rada heran dan bertanya-tanya kenapa Tok-sim-sin-mo hari ini begitu sungkan dan bersikap begitu baik. malah begitu gampang kena diapusi lagi. Siapa pun tahu Hun Thian-hi tidak mungkin mau pegang janjinya yang merugikan itu, tapi orang mau percaya begitu gampang, tentu ada udang dibalik batu. Demikian ia menerawang dan berpikir.
Tok-sim-sin-mo mengangsurkan selempit kertas kepada Hun Thian-hi, katanya, “Setelah meninggalkan tempat ini boleh kau baca surat ini seorang diri!”
Bercekat hati Pek Si-kiat, katanya cepat, “Hun-hiantit, lekas kau lihat, apa yang dia tulis di atas kertas itu?”
Tanpa bersuara Thian-hi awasi Tok-sim-sin-mo dengan pandangan berkilat. pelan-pelan ia membuka lempitan kertas itu. Terdengar Tok-sim-sin-mo tertawa dingin, mendadak tubuhnya berkelebat menghilang kedalaan gua.
Begitu melihat apa yang tertulis di atas kertas itu, sejenak Hun Thian-hi melengak dan terlongong, lalu ia meremas hancur kertas itu dengan tangan kanannya, katanya kepada Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko, “Mari lekas berangkat!”
Melihat perobahan sikap Hun Thian-hi yang mendadak ini, Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko berbareng mengajukan pertanyaan, “Apa yang tertulis dalam kertas tadi?”
Thian-hi menunduk sambil tertawa tawar, sahutnya, “Tiada persoalan bagi kalian!” mulutnya bicara begitu, namun jelas ia mengetahui bahwa urusan bakal berlarut-larut berkepanjangan, karena surat itu berbunyi;
“Sutouw Ci-ko sudah menelan Pek-tok-hoan (pil seratu5 bisa) setiap tahun pada pertengahan musim rontok, datanglah mengambil obat penawarnya….”
Hun Thian-hi punya perhitungan, bila sekarang dia bersikap keras dan bermusuhan menghadapi Tok-sim-sin-mo, pihak sendiri terang tidak unggulan, dan pada pihak sendiri yang bakal konyol lebih baik bersabar dan main ulur waktu sembari menyempurnakan Wi-thian-cit-ciat-sek sebelum Tok-sim-sin-mo menyadari bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-seknya belum sempurna ia harus cepat-cepat meninggalkan daerah yang penuh ancaman mam bahaya ini. Maka segera ia keprak kudanya serta berseru kepada mereka berdua, “Kita keluar dulu dari Giok-bun-koan baru bicara lagi lebih lanjut!” — dalam bicara ini kudanya sudah dibedal sekencang angin.
Terpaksa Sutouw Ci-ko dan Pek Si-kiat mengikuti jejak Thian-hi, merekapun mencongklang tunggangannya secepat angin pula, debu mengepul tinggi memenuhi angkasa. Sekejap saja mereka sudah pergi jauh dan tidak kelihatan lagi.
Sementara itu Tok-sim-sin-mo sedang termenung memikirkan keadaan Hun Thian-hi, lambat laun timbul rasa kecurigaannya. masa Hun Thian-hi mandah saja mau tinggal pergi begitu saja? Rasanya tidak mungkin, atau mungkinkah dia punya urusan penting lainnya. sehingga harus cepat menyusul kesana.
Begitulah ia menepekur dan menerawang adegan yang terjadi tadi, semakin dipikir terasa kejanggalan yang semakin menyolok, dia mendengus lirih, tingkah laku itu Hun Thian-hi terakhir ini sudah membuatnya curiga, maka terbayang pula. gerak-gerik Hun Thian-hi sejak ia memasuki Jian-hud-tong tadi. Mendadak terbayang olehnya waktu Hun Thian-hi melolos pedang, sikapnya rada ragu-ragu dan sangsi. Kontan terpancar sorot “tajam berkilat dari biji matanya, ia berpaling dilihatnya seluruh anak buahnya berdiri tegak meluruskan tangan. Gerak gerik Hun Thian-hi selanjutnya lantas terbayang pula di dalam ingatannya. Akhirnya ia menggerung dengan murkanya, baru sekarang ia paham kenapa Hun Thian-hi bersikap demikian. Adegan Hun Thian-hi menangkis dan menghadapi Pek-tok-hek-liong-ting tadi lantas terhenti dalam bayangannya. jelas kelihatan cara Hun Thian-hi menghadapi serangan itu begitu runyam dan terpaksa. Sungguh sesal dan dongkol dibuatnya kenapa waktu itu dirinya tidak perhatikan jurus permainan Wi-thian-cit-ciat-sek itu sendiri hakikatnya belum begitu sempurna dilancarkan oleh Hun Thian-hi.
Baru sekarang ia sadar justru dirinyalah yang kena tipu malah. Cepat ia berteriak, “Lekas siapkan kuda. Kita kejar Hun Thian-hi bertiga!”
Sebagai salah satu Huhoat (pelindungl Hek-liong-pang Bing-tiong-mo-tho merasa berkewajiban dalam tugas2 berat ini, sejenak ia tertegun lantas berkata, “Mereka sudah berangkat satu jam yang lalu, apakah sekarang masih dapat kecandak?”
Tok-sim-sin-mo melongo, dengan kertak gigi ia berkata, “Lekas kau lepas burung dara! perintahkan Siang-tongcu mencegat dan merintangi mereka, kita segera menyusul tiba. Bagaimana juga aku harus bunuh bocah keparat itu sebelum ia berhasil menyempurnakan Wi-cian-cit-ciat-sek!”
Bing-tiong-mo-tho rada terkejut cepat ia mengundurkan diri melaksanakan perintah, tak lama kemudian merexa sudah mencongklang kuda be-ramai-ramai dibedal menuju ke Giok-bun-koan.
Dalam pada itu Hun Thian-hi bertiga tengah membedal kuda masing-masing cepat-cepat, ditengah jalan ia memperingatkan kepada Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko, “Tok-sim-sin-mo pasti mengejar datang. Kita harus cepat keluar dari daerah kekuasaannya.”
“Apa yang dia tulis dalam kertas tadi?” tanya Pek Si-kiat.
“Tidak apa-apa. Tok-sim-sin-mo mampu membunuh kami bertiga, kenapa dia tidak akan mengejar? Coba pikir apakah dia bisa menepati janjinya?”
Sebagai seorang kawakan Kangouw, serta mengetahui tabiat Tok-sim-sin-mo, sedikit berpikir lantas Pek Si-kiat maklum akan keadaan yang berbahaya ini. tahu dia kemana juntrungan kata-kata Hun Thian-hi.
Begitulah tanpa berhenti dan tidak mengenal lelah mereka bertiga membedal tunggangan mereka, selama sehari semalam tanpa berhenti istirahat. Untung tujuan Tok-sim-sin-mo semula supaya mereka lekas pergi dan meninggalkan wilajah kekuasaannya, maka kuda yang diberikan pada mereka rata2 adalah kuda pilihan yang dapat lari ribuan li sehari. dalam waktu sehari semalam itu mereka sudah hampir tiba di Giok-bun-koan.
Mereka larikan kudanya berjajar. sebelum memasuki Giok-bun-koan jauh di depan sana tampak jejak musuh telah menanti dan mencegat ditengah jalan. Pek Si-kiat bertiga tidak tahu siapa dan apa tujuan mereka mencegat mereka? Apalagi sudah tiba diambang pintu Giok-bun-koan tidak perlu merasa kuatir yang berkelebihan, segera bersama menghentikan kuda dan menanti kedatangan rombongan musuh.
Setelah dekat baru Pek Si-kiat melihat tegas, diam-diam hatinya bercekat melihat siapa yang menjadi pemimpin rombongan pencegat ini, dia bukan lain Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong. Nama julukan Lam-bing-it-hiong memang tidak begitu tenar di daerah Tionggoan. Tapi Pek Si-kiat dulu pernah menjajal ilmu silatnya, kepandaian Lam-bing-it-hiong (si durjana dan selatan) tak terpaut jauh dibawahnya. Sekarang Tok-sim-sin-mo sudah melebarkan sayapnya dan menggaruk sedemikian banyak gembong-gembong iblis, Siang Bu-wong adalah satu diantara gembong-gembong iblis itu, betapapun kita harus hati-hati menghadapi mereka, demikian Pek Si-kiat.
Sambil memincingkan mata Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong menyapu pandang mereka bertiga lalu berkata sembari tertawa aneh, “Kiranya Pek-heng masih gemar tamasya naik kuda untuk melemaskan tulang-ulang tua. Aku mendapat perintah dari Pangcu untuk menahan kalian bertiga.”
Pek Si-kiat tahu Tok-sim-sin-mo sangat mengandalkan tenaga dan kemampuan Siang Bu-wong ini, dia merupakan salah seorang tangan kanannya yang paling diandalkan. Dia diutus bercokol di tempat ini tujuannya adalah untuk menghadapi Kiu-yu-mo-lo yang telah menghilang diluar perbatatan.
Sambil menjengek dingin segera Pek Si-kiat balas mengolok, “Siang Bu-wong kiranya kau. Kau hendak menahan aku, haha, mampukah kau?”
Ternyata Lam-bing-it-hiong seorang yang licik dan licin, sedikitpun ia tidak terpengaruh oleh olok2 ini, dengan sikap dingin mendadak ia angkat sebelah tangannya memperlihatkan sebuah benda. teriaknya, “Aku sendiri memang tidak mampu, namun kupercaya senjata ini akan mampu menahan kalian disini.”
Berjingkrak kaget Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi, benda yang diacungkan Lam-bing-it-hiong itu bukan lain adalah laras Pek-tok-hek-liong-ting.
Dengan lirikan matanya Hun Thian-hi memberi aba-aba kepada Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko, ‘Sreng!’ cba2 tangan kanannya mencabut keluar pedang pusaka itu.
Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong mandah tersenyum sinis, begitu tangan kirinya menepuk ke atas laras besi panjang itu kontan setabur bayangan hitam kontan menungkrup ke arah Hun Thian-hi.
Sambil menghardik keras tubuh Thian-hi tiba-tiba mencelat mumbul dari tunggangannya. pedang pusaka ditangannya lantas melancarkan jurus pedang dari ilmu Wi-thian-cit-ciat-sek, itulah tipu Thian-wi-te-liu (langit berputar bumi mengalir), hawa pedang yang menyerupai kabut putih kehijauan pupus menguap keluar dari batang pedang terus memberondong maju menerjang ke arah samberan Pek-tok-hek-liong-ting.
Dalam pada itu. Pek Si-kiat juga sedang berteriak, “Ci-ko. lekas terjang!” Secepat kitiran kedua telapak tangannya bergerak. dia kerahkan Pek-kut-sin-kang terus menerjang ke depan dilindungi kekuatan angin pukulannya terus menyerbu ke arah rombongan Lam-bing-it-hiong.
Lam-bing-it-hiong tahu begitu ia turun tangan. pasti Pek Si-kiat juga tidak akan tinggal diam dan menerjang pada dirinya. Cepat ia ayun laras Pek-tok-hek-liong-ting, terus menutuk kejalan darah Siau-hou-hiat ditenggorokan Pek Si-kiat. hebat benar-benar serangan ini, kekuatannya pun ia kerahkan seluruhnya.
Pek Si-kiat rada kaget menghadapi rangsekan musuh yang lihay, tapi sebagai seorang ahli silat yang waktu mudanya merupakan seorang Gembong iblis juga kepandaian Pek Si-kiat sudah tentu tak terukur tingginya, mana ia gentar menghadapi serangan jurus yang lihay ini, tiba-tiba ia menggentakkan kaki, seketika tubuhnya mencelat tinggi meninggalkan tempat duduknya, berbareng kedua telapak tangannya terpentang ke kanan kiri terus melancarkan ilmu pukulan Pek-kut-mo-ou-ciang yang pernah menggetarkan kalangan Kangouw dulu, dimana kedua tangannya bergerak, dengan setaker tenaganya ia balas merangsak kepada Lam-bing-it-hiong.
Dalam pada itu, waktu Hun Thian-hi melancarkan Thian-wi-te-tong dengan seluruh kekuatan Lwekangnya untuk menghalau senjata rahasia musuh, namun Pek-tok-hek-liong-ting musuh masih menerjang maju terus sampai ke depan dadanya kira-kira setengah kaki baru kena dihalau dan tertangkis jatuh tercerai berai. Betapa kejut hatinya bahwa Pek-tok-hek-liong-ting ternyata benar-benar begitu hebat, bila musuh melancarkan dua laras senjata rahasia yang lihay ini, jelas dirinya tidak akan mampu melawan. Bila musuh sampai berhasil memproduksi laras2 senjata rahasia yang hebat ini, mungkin seluruh Kangouw ini tiada seorangpun yang bakal mampu melawan.
Pikiran ini hanya berkelebat dalam alam pikirannya, waktu ia berpaling dilihatnya Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko memang sudah berhasil mengacau balaukan perlawanan musuh dan berada di atas angin, namun selama itu belum berhasil menerjang lolos dari kepungan musuh.
Laksana seekor burung garuda tiba-tiba Thian-hi melompat jauh mencemplak ke atas kudanya terus dikeprak maju, berbareng pedang di tangannya menyerang dengan jurus Gin-go-sam-sek yang ketiga.
Gin-ho-sam-sek merupakan ilmu pedang yang maha sakti tiada taranya. jurus ketiganya justru merupakan tipu yang paling hebat dan tepat untuk menggempur kepungan, dimana pedang panjangnya berkelebat, hawa pedangnya ikut berkembang melebar, kontan Siang Bu-wong kena terdesak mundur, tanpa ayal mereka bertiga segera menerjang lewat dan terus dibedal menuju ke Giok-bun-koan.
Melihat Thian-hi bertiga berhasil meloloskan diri dengan menghela napas rawan Siang Bu-wong mendelong mengawasi bayangan mereka yang semakin kecil dan hilang dikejauhan. Waktu ia membalik tubuh jauh di arah yang barlawanan sana dilihatnya rombongan Tok-sim-sin-mo tengah mendatangi dengan cepat, sayang kedatangan mereka setindak telah terlambat, Hun Thian-hi bertiga sudah tidak kelihatan lagi bayangannya….
Dari jauh Tok-sim-sin-mo sudah melibat bayangan Siang Bu-wong dan anak buahnya, kontan dingin perasaannya, tahu dia bahwa Hun Thian-hi pasti sudah berhasil meloloskan diri, bila mereka sudah keluar dari Giok-bun-koan jelas dirinya tidak mungkin dapat membekuknya Kembali.
Setelah dekat mereka memperlambat lari kuda, cepat Siang Bu-wong beramai maju memapak serunya memberi lapqr, “Aku sendiri tidak becus, mereka bertiga sudah lolos pergi.”
Tok-sim-sin-mo ternyata mandah tertawa besar, ujarnya, “Siang-lote, bukan salahmu, kami sudah tahu mereka pasti berhasil lolos, cuma coba-coba saja merintangi, bila tidak berhasil tak perlu diambil dalam hati, kelak tentu aku punya cara untuk mengatasinya, Betapapun Hun Thian-hi pasti akan kembali ke Tionggoan, tatkala itu akan kami beri sebuah jalan kematian kepadanya!” habis berkata ia bergelak tawa pula.
“Maksud Pangcu adalah….” Siang Bu-wong bicara ragu-ragu.
Dengan pandangan dingin Tok-sim-sin-mo menyapu pandang seluruh anak buahnya, ujarnya, “Hun Thian-hi tidak lebih seorang bocah angkatan muda, dimana wibawa dan kegagahan kita pada waktu dulu? Masa takut terhadap bocah keroco itu? Aku bersumpah harus membunuhnya lebih dulu sebelum Wi-thian-cit-ciat-sek berhasil ia latih sempurna. Aku harus bunuh dia.”
Habis berkata ia menggeram dengan gegetun, lalu katanya pula kepada Siang Bu-wong, “Kau tetap bertugas disini, bila Hun Thian-hi masuk perbatasan jangan kau ganggu usik dia, cukup asal kau memberi kabar dengan burung pos.” lalu ia putar kudanya dan kembali ke arah timur diikuti anak buahnya.
Setelah keluar dari Giok-bun-koan, terbentang padang rumput nan luas di hadapan Hun Thian-hi bertiga. Entah berapa lama kemudian, akhirnya mereka turun dan beristirahat. Sutouw Ci-kolah yang paling merasa lelah, dengan suara lesu ia berkata tertawa, “Setelah sampai disini, kita tidak perlu takut lagi terhadap Tok-sim-sin-mo. Dia tidak akan berani mengejar keluar dari Giok-bun-koan.”
Begitulah sambil istirahat mereka menutur pengalaman masing-masing sejak berpisah, kira-kira satu jam kemudian, setelah badan terasa segar dan perut sudah kenyang, mereka berangkat lagi menuju ke Hwi-king-ouw (telaga kaca terbang) di Thian-san.
Entah berapa lama sudah mereka, menempuh perjalanan, tiba-tiba di hadapan mereka muncul seseorang, begitu melihat orang itu Hun Thian-hi lantas berteriak kegirangan, “Siau-suhu! Bagaimana bisa kau berada disini?” cepat ia turun dan memburu maju.
Hwesio jenaka tertawa lebar, serunya, “Aku sedang tunggu kau disini…. Eh, kenapa kau tidak panggil Siau-suhu lagi?”
Hun Thian-hi tersipu-sipu malu. Hwesio jenaka berpaling dan merangkap tangan ke arah Pek Si-kiat, ujarnya, “Tuan ini bukankah Pek Si-kiat Pek-sicu. Apakah Pek-sicu baik selama ini?”
Begitu melihat tegas Hwesio jenaka kontan berubah air muka Pek Si-kiat, serunya kaget, “Kau kiranya?”
Sambil cengar-cengir Hwesio jenaka manggut-manggut, tangannya sedikit digoyangkan, ia memberi tanda kepada Pek Si-kiat supaya tidak membocorkan rahasia dirinya. Pek Si-kiat mandah tersenyum penuh arti tak bicara lagi. Sungguh dia tidak nyana orang ini bisa berubah menjadi berbentuk seperti sekarang.
Sutouw Ci-ko pernah dengar mengenai Hwesio jenaka ini dari penuturan Thian-hi…. cepat ia loncat turun dan memberi hormat pada Hwesio jenaka.
Dengan cengar cengir Hwesio jenaka amat-amati Sutouw Ci-ko, lalu katanya berpaling pada Thian-hi, “Ci-ko sudah berhasil kau tolong. Sekarang kau tidak punya urusan yang lebih penting bisakah sekarang kau ikut aku ke Bu-la-si?”
Thian-hi bertiga kaget.
“Sekarang?” tanya mereka bersama, “Adakah keperluan penting disana?” tanya Pek Si-kiat lebih lanjut.
Hwesio jenaka tertawa lebar, katanya pada Pek Si-kiat, “Dalam hal ini kau jangan turut campur saja.” — Lalu katanya pula pada Hun Thian-hi, “Pergilah nanti kau akan tahu. Kukira kau akan lebih berprihatin dari aku.”
Thian-hi terlongong sejenak, katanya, “Baiklah sekarang juga aku berangkat, Tapi sebetulnya ada kejadian apakah, bolehkah kau beritahu aku dulu?”
Hwesio jenaka tertawa, sesaat kemudian baru bicara, “Soal mengenai Ham Gwat.”
Thian-hi melengak, hatinya menjadi gugup, bukankah Ham Gwat diutus Bu-bing Loni untuk meringkus dirinya pulang? Dengan pulang bertangan kosong tentu Bu-bing Loni akan memberi hukuman berat padanya. Cepat ia berkata pada Pek Si-kiat, “Paman Pek, terpaksa aku harus pergi ke Bu-la-si dulu!”
Pek Si-kiat mengerut alis, akhirnya manggut-manggut. Ia tidak bicara karena dalam anggapannya semula ia mengira hubungan kental Thian-hi dan Sutouw Ci-ko merupakan pasangan yang setimpal. Tapi dari keadaan sekarang dapatlah da meraba bahwa sebetulnya hati Thian-hi sudah tertambat pada gadis lain. memang nasib SutOuw Ciko harus menjadi kakak angkatnya saja.
Kata Thian-hi kepada Sutouw Ci-ko, “Ciko-ci, ada urusan lain yang harus kuselesaikan. Setelah urusan beres biar kudatang mendenguk kau, tunggulah aku di Hwi-king-ouw.!”
Sutouw Ci-ko sendiri tidak bisa mengatakan bagaimana perasaan hatinya pada saat itu, seakan-akan ia merasa hatinya sangat pedih. namun terasa juga rada girang. Matanya berkejap2, dengan berseri tawa ia manggut-manggut, katanya, “Pergilah, kutunggu di Hwi-king-ouw, tapi kau harus hati-hati menghadapi Bu-bing Loni.”
“Terima kasih Ciko-ci, aku akan cepat pulang.” — Lalu ia serahkan kudanya pada Sutouw Ci-ko, setelah ambil berpisah bersama Hwesio jenaka menuju ke selatan.
Ditengah jalan ia bertanya pada Hwesio jenaka, “Siau-suhu, apa kau tahu bagaimana keadaan Ham Gwat sekarang?”
Hwesio jenaka berpaling mengawasinya, katanya tertawa, “Kau tak perlu gugup. dia tidak kurang suatu apa. Bu-bing Loni tidak akan berani menyakiti dia. Tapi Bu-bing Loni sekarang berada di Bu-la-si, petentengan dengan Ngo-hong Locu, kau sendiri sudah mendapat berkah dari Ka-yap Cuncia, Wi-thian-cit-ciat-sek sudah kau pelajari meski belum sempurna, perlu juga kau memburu kesana selekasnya.”
Thian-hi menjadi kaget. kenapa Hwesio jenaka ini begitu jelas segala gerak geriknya, bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-sek dirinya belum sempurna juga sudah diketahui. Karena pikirannya ini, dengan heran dan melenggong ia. pandang Hwesio jenaka.
“Kau tak perlu heran, soal ini ada orang yang beritahu kepadaku, baru saja aku menyusul datang dari Bu-la-si.”
Sambil berlari-lari kencang otak Thian-hi bekerja, tak lama Kemudian ia bertanya lagi, “Bagaimana keadaan Bun Cu-giok sekarang? Apakah baik-baik saja?”
“Dia kena diusir dari Tionggoan oleh Tok-sim-sin-mo, untung dia didukung oleh gurunya Ce-hun dan Hoan-hi dua orang. Sam-kong Lama juga mau membantu dia, kalau tidak sejak lama dia sudah runtuh total, tapi keadaannya sekarang pun sudah payah, jikalau Tok-sim-sin-mo sedang tekun menghadapi perlawanan Hwe-tok-kun, mungkin dia sudah habis berantakan.”
Thian-hi manggut-manggut, dalam hati ia merasa bahwa Bun Cu-giok hakikatnya bukan seorang jahat. Hanya jiwanya rada sempit, dalam suatu ketika juntrungannya kurang lapang dan kurang dapat dihargai. tapi untunglah bila dia tidak sampai dicelakai oleh Tok-sim-sin-mo.
“Sekarang dia sudah menikah dengan putri Ciok Hou-bu!” demikian tutur Hwesio jenaka.
Dingin perasaan hati Thian-hi, entah betapa perasaan sanubarinya sekarang, sebelum ia tahu hubungan antar Bun Cu-giok dan Sutouw Ci-ko, dia pernah merasa adalah jamak dan lumrah hubungan eratnya dengan istrinya sekarang. Tapi lain pula keadaan sekarang, terasa olehnya bahwa Bun Cu-gioklah yang salah dalam hal ini, diam-diam ia sesalkan tindakan Bun Cu-giok yang tidak punya pribadi seorang laki-laki sejati.
Sesaat lamanya ia berdiam diri, lalu tanyanya lagi, “Untuk apa Bu-bing Loni mencari urusan dengan Ngo-hong Locu?”
“Mengandal ilmu silatmu sekarang, kau boleh mengetahui.” demikian ujar Hwesio jenaka sambil tertawa lebar. Sesaat kemudian baru melanjutkan, “Sebab beliau adalah ibunda Ham Gwat.”
Melonjak jantung Thian-hi, saking kaget kakinya sampai berhenti berlari, sekian lama menjublek ditempat. Ong Gin-sia adalah ibu Ham Gwat? Kalau begitu…. Sungguh hal ini diluar dugaannya.
Waktu ia angkat kepala, Hwesio jenaka sudah jauh setengah li lebih di depan sana, cepat ia angkat kaki mengejar dengan kencang, sambil lari pesat hatinya merasa heran, setelah direnungkan sekian lama baru ia sadar. Tapi hatinya masih dirundung keheranan. Lalu bagaimana pula bisa terjadi ayah Ham Gwat bisa dibunuh oleh Ang-hwat-lo-mo?
Setelah dekat mengejar Hwesio jenaka ia bertanya, “Siau-suhu, apakah benar-benar ayahnya mati terbunuh oleh Ang-hwat-lo-mo?”
Hwesio jenaka tidaK hiraukan pertanyaannya, setelah rada jauh mereka berlari baru tiba-tiba ia berpaling dan jawabnya, “Siapa yang bilang? ayahnya masih sehat baik-baik, bagaimana bisa mati dibunuh Ang-hwat?”
Thian-hi menjadi bingung. ia heran kenapa segala kejadian itu begitu ganjil, tidak diketahui olehnya cara bagaimana peristiwa macam itu bisa terjadi. Lebih heran lagi kenapa Bu-bing Loni bilang kepada Ham Gwat bahwa ayahnya terbunuh oleh Ang-hwat-lo-mo, sehinggga hampir saja dirinya mati secara konyol oleh Ham Gwat.
Ujar Hvosio jenaka, “Jangan kau percaya obrolan Bu-bing Loni. Semua itu hanyalah bualannya terhadap Ham Gwat waktu masih kecil, namun sekarang dia sudah dewasa. Bu-bing Loni masih mengelabui padanya!”
Thian-hi menjadi paham sekarang. Tapi entahlah sekarang Ham Gwat sudah tahu rahaSia ini belum?
Terdengar Hwesio jenaka berkata pula, “Tapi jangan kau bocorkan rahasia ini kepada siapapun juga. Kelakuan Bu-bing Loni selamanya sangat kejam dan telengas, tapi terhadap Ham Gwat ia sangat sayang dan baik. Tapi Ham Gwat cukup cerdik betapa pun Bu-bing tidak kuasa menutupi bualannya, karena itu entahlah bagaimana kelak akibat dari penyelesaiannya.”
Hun Thian-hi menjadi prihatin akan persoalan ini, sesaat lama kemudian ia bertanya, “Apakah Ham Gwat sendiri tahu akan hal ini? Apakah dia tahu siapa ayah bundanya?”
Hwesio jenaka tertawa lebar, ujarnya, “Soal ini hanya dia sendiri yang tahu, tiada seorang pun yang tahu seluk beluknya, tapi nanti bila kau ketemu dia jangan sekali2 kau bocorkan rahasia ini!”
Thian-hi manggut melulusi. Hatinya jadi bertanya-tanya kenapa Hwesio jenaka berpesan wanti-wanti kepadanya mengenai hal ini? Hatinya rada menyesal, waktu Hwesio jenaka membantu dirinya dulu, kenapa ia tidak melulusi syarat yang diajukan itu. Sekarang untuk bicara rasanya tidak gampang. Hatinya mendelu dan menyesal.
Begitulah mereka berlari-lari kencang tanpa berhenti, lama kelamaan Hun Thian-hi menjadi heran. Betapa tinggi Lwekang Hwesio jenaka ini kiranya tidak lebih rendah dari Situa Pelita, namun kenapa selama ini dirinya beluim pernah. dengar ketenaran namanya dikalangan Kangouw.
Sekejap saja tiga hari sudah berlalu, Thian-hi berdua melanjutkan menuju ke Bu-la-si. Setelah semakin dekat pada tujuan Hwesio jenaka berkata pada Thian-hi, “Aku tak enak bertemu dengan Bu-bing Loni, silakan kau masuk sendiri, mungkin beliau masih belum pergi!”
Thian-hi sangsi sebentar, akhirnya ia manggut-manggut, pelan-pelan ia masuk ke dalam biara besar itu. Baru saja kakinya melangkah masuk tampak Sam-kong Lama sudah menunggu diruang pendopo, tersipu-sipu ia maju memberi hormat kepada Sam-kong Lama.
Sambil berseri tawa Sam-kong mengawasinya, katanya, “Kata Hwesio jenaka dia pergi mencari kau, ternyata benar-benar dapat ketemukan kau.”
“Cianpwe, apakah Bu-bing Loni masih berada didalam?”
“Mari ikut aku. Dia masih disini. Baik sekali kau datang, kukira takkan ada persoalan lagi.”
Thian-hi cuma tertawa, dia tahu untuk mengalahkan Bu-bing Loni, saat ini jelas tidak mungkin, apalagi Su Giok-lan pasti juga mengintil kemari. Entah bagaimana keadaannya sekarang, sebelum ajal Su Cin kakaknya pernah berpesan supaya aku perhatikan dan mengasuhnya, tapi sekarang dirinya malah saling bermusuhan.
Begitulah dia ikut di belakang Sam-kong Lama masuk ke dalam, melewati serambi panjang dan sebuah pekarangan besar, dimana terlihat dua ekor burung dewata bertengger disana, itulah burung piaraan Bu-bing Loni.
Setelah melewati pekarangan, mereka memasuki sebuah kamar batu. Di dalam kamar batu ini tampak Ong Ging-sia sedang duduk berhadapan dengan Bu-bing Loni, mereka sama pejamkan mata dan tidak bergerak. SU Giok-lan berdiri di belakang Bu-bing Loni membelakangi pintu.
Begitu Hun Thian-hi memasuki kamar, tanpa berpaling tiba-tiba Bu-bing Loni mendengus serta bersuara, “Siapa itu yang datang?”
Hun Thian-hi diam saja. Sepasang biji mata Ong Ging-sia sedikit dibuka, seketika matanya mengunjuk rasa girang dan aneh.
Su Giok-lan berpaling ke belakang, begitu melihat kehadiran Hun Thian-hi, ia terkejut sampai mundur setindak. Segera Bu-bing Loni bersuara pula tanya pada Su Giok-lan, “Lan-ji, siapakah yang datang.”
“Hun Thian-hi!” sahut Su Giok-lah pelan-pelan.
Bu-bing Loni tersentak kaget, kedua biji matanya terbelalak ke depan, hampir dia tidak mau percaya, begitu mendengar langkah orang lantas dia dapat mengukur betapa tinggi kepandaian pedatang ini. Meski betapapun besar rejeki Hun Thian-hi, lwekangnya tidak mungkin maju begitu pesat dan mencapai tingkat teratas, pelan-pelan ia berpaling, dilihatnya yang baru datang ini memang Hun Thian-hi.
Dengan sinis Hun Thian-hi pandang Bu-bing Loni dan Su Giok-lan, mulutnya bungkam.
Hidung Bu-bing Loni mendengus lirih, sekarang dia harus percaya, sekilas ia pandang Hun Thian-hi lalu menoleh pula, seolah-olah ia tidak pedulikan kehadiran Thian-hi, namun mulutnya berkata pada Su Giok-lan, “Lan ji, aku sedang ada urusan disini, coba kau usir dia keluar!”’
Su Giok-giok mengiakan, segera ia melolos pedang.
“Nanti dulu!” seru Thian-hi.
“Toaci!” seru Ong Ging-sia tertawa, “kau tak usah repot2, akulah yang mengundangnya kemari, bukankah kau hendak mencari dia? Kenapa pula kau usir dia?”
Bibir Bu-bing mengejek, dengusnya, “Itu urusanku kau tak usah ikut campur. Bila Ham Goat sampai mencari kemari, itulah tanda saat kematiannya!”
Berdetak jantung Thian-hi, ia melangkah maju menjura kepada Ong Ging-sia, “Wanpwe Hun Thian hi, menghadap pada Cianpwe!”
“Tak usah banyak beradatan, apa kau baik selama ini?” sapa Ong Ging-sia lemah lemhut.
“Berkat doa Cianpwe segalanya baik, terima kasih akan perhatian ini. Cuma tempo hari bikin repot Cianpwe saja.” — Waktu bicara ia angkat kepala mengawasi Ong Ging-sia. Perasaannya kali ini jauh berbeda dengan tempo yang lalu, Ong Ging-sia adalah ibunda Ham Gwat, dia menjadi risi dan kikuk malah entahlah apa yang harus diperbuat selanjutnya.”
BU-bing melirik hina, semprotnya kepada Thian-hi, “Apa saja yang telah kau ucapkan kepada Ham Gwat? Kemana dia sekarang?”
Sesaat Hun Thian-hi menjublek, “Apa dia sudah pergi?” tanyanya berseri girang.
Bu-bing menggeram marah, jengeknya, “Bila kau mendengar apa dan berani mengadu domba diantara kami, aku tidak akan gampang memberi ampun pada kau. Selama ini kemana pula kau berada?”
Hun Thian-hi mandah tertawa tawar, ujarnya, “Apa yang kau tanyakan aku tidak tahu!”
Bu-bing Loni menyeringai sinis, katanya, “Baik. mungkin kau temukan rejeki aneh, ilmu silatmu sekarang sudah tinggi, aku harus membuat perhitungan selama setahun ini padamu. Lalu ia berpaling ke arah Su Giok-lan dan berkata pula, “Lan.ji, belakangan ini bagaimana latihan Hui-sim-kiam-hoat mu?”
Su Giok-lan bersangsi sejenak, sahutnya, “Murid sendiri kurang jelas, paling tidak dapat mencapai taraf yang ditentukan oleh Suhu!”
“Itupun sudan cukup,” ujar Bu-bing mendengus, “Gunakanlah Hun Thian-hi untuk mencoba latihan ilmu pedangmu!”
Su Giok-lan mengiakan dan patuh. Memang kesannya terhadap Hun Thian-hi rada jelek, meski tempo hari Hun Thian-hi pernah menolong dirinya, namun sekarang dia merasa tidak puas dan sirik terhadap Thian-hi, orang telah menjerumuskan Ham Gwat, sejak mula Su Giok-lan sangat simpatik dan patuh sekali terhadap Ham Gwat, terutama beberapa bulan belakangan ini, sikap Ham Gwat terlalu baik terhadapnya. Sekarang Ham Gwat telah lari mengkhianati gurunya, sebab musababnya adalah karena Hun Thian-hi yaitu karena Ham Gwat telah melepasnya pula itu berarti dia membangkang terhadap perintah gurunya.
Su Giok-lan melangkah maju sambil menenteng pedang.
“Nona Su,” kata Hun Thian-hi tertawa, “Apakah harus bergebrak dengan aku?”
“Jangun cerewet.”
Pelan-pelan Hun Thian-hi melolos Hwi-hong-siau dari pinggangnya, ujarnya, “Kalau begjtu harap nona Su memberi petunjuk!”
Tanpa ayal pedang Su Giok-lan lantas terangkat dan mulai menyerang, beberapa bulan terakhir ini ia rajin dan tekun melatih Hui-sim-kiam-hoat, Hui-sim-kiam-hoat merupakan ilmu pedang dari aliran Lwekeh yang tertinggi dan sangat menakjupkan. Begitu Su Giok-lan menggerakkan pedang sejurus permainannya saja lantas terlihat sinar pedangnya berkelebat memutih laksana lembayung menggulung ke arah Hun Thian-hi.
Biji mata Hun Thian-hi berputar mengikuti samberan sinar pedang, mulutnya menyungging senyum manis, sebat sekali ia angkat serulingnya, dengan mengembangkan Gim-ho-sam-sek ia melawan serangan musuh, pancaran cahaya merah dadu dari seruling ditangannya berkembang melebar seperti kabut merah, melindungi badannya, sinar pedang Su Giok-lan berubah berkuntum2, mengembang keempat penjuru merangsak dari berbagai jurusan, sedemikian gencar serangan pedangnya, namun sedemikian jauh ia tidak mampu mendesak maju setengah Undakpun.
Begitulah setengah jam sudah lewat, yang satu menyerang dengan bernafsu yang lain bertahan dengan rapat dan kuat, Hun Thjan-hi cukup menggunakan jurus Gelombang perak mengalun berderai dari Gin-ho-sam-sek ajaran Soat-san-su-gou, seluruh rangsakan pedang Su Giok-lan berhasil dihalau ditengah jalan.
Menyaksjkan pertempuran ini, lama kelamaan bercekat hati Bu-bing Loni, mengandal kepandaian Thian-hi yang tinggi sekarang, jangan kata Su Giok-lan bukan tandingannya, seumpama dirinya sendiri yang maju juga belum tentu pasti bisa menang dalam waktu singkat secara gampang.
Beberapa jurus lagi, segera ia berseru, “Lan-ji, kau mundurlah!”
Su Giok-lan menarik pedang mundur beberapa langkah, hatinya pun dirundung keheranan, kepandaian silat Hun Thian-hi kiranya sudah maju begitu cepat berlipat ganda, sungguh sukar dipercaya kalau tidak menyaksikan dan membuktikan sendiri.
Disamping heran hatinya pun menjadi dengki, betapapun ilmu silat Hun Thian-hi selalu lebjh maju lebih tinggi dari kemampuannya, sanubarinya yang paling dalam diam-diam merasa sirik karena akhir2 ini ia beranggapan setelah pelajaran ilmu pedangnya maju pesat, kecuali Bu-bing Loni dan Ham Gwat dua orang, seluruh kolong langit ini tiada orang ketiga yang dapat mengalahkan dirinya.
Sambil tersenyum Hun Thian-hi pun mundur sambil menyimpan serulingnya, sekilas tampak olehnya rasa kurang puas dari pancaran mata Su Giok-lan, terlihat pula rasa penasaran dan hawa pembunuh dari sorot mata Bu-bing Loni.
Kata Bu-bing Loni kepada Hun Thian-hi, “Selama ini kemana saja kau pergi?”
Ong Ging-sia malah yang menjawab pertanyaannya ini, “Ketahuilah dia adalah murid angkat Ka-yap Cuncia.”
Kontan berubah hebat air muka Bu-bing Loni. selama hidupnya ini, otaknya terlalu berangan2 bahwa dirinya tiada tandingannya di seluruh kdlong langjt. konon bahwa Ka-yap jauh lebih kuat dari dirinya, namun sudah sekian lamanya menghilang dari percaturan dunia persilatan. Siapa nyana sekarang Hun Thjan-hi diangkat menjadi murid angkat Ka-yap Cuncia. Dari kepandaian Thian-hi yang begitu hebat dan tinggi ini dapatlah diukur sampai dimana tingkat kepandaian Ka-yap Cuncia.
Bu-bing terlongong sesaat lamanya, akhirnya sambil bangkit ia tertawa dingin, “Kalau begitu, kutantang kau tiga hari lagi bertemu di Yan-bun-koan, kau tidak datang, aku pun bisa temukan kau dimana saja kau berada.” — Selesai bicara sekilas ia pandang Ong Ging-sia, tampak mulut orang sudah bergerak, namun urung bicara.
Bu-bing mendengus hidung berjalan di depan ia bawa Su Giok-lan keluar dari kamar batu terus naik burung dewata, dikejap lain mereka sudah terbang tinggi dan menghilang.
Hun Thian-hi menganiar dengan pandangan matanya, setelah tidak kelihatan lagi baru dia menoleh kembali. Seketika jantimgnya berdetak keras, tampak sapasang biji mata Ong Ging-sia mengembang air mata, seolah-olah ada banyak ucapan sedih yang ingin dilimpahkan, namun tak kuasa diucapkan.
Pelan-pelan Hun Thian-hi menunduk. ia berdiri bungkam.
Sebentar kemudian. Ong Ging-sia menghasut air matanya, serta berkata, “Hun-siauhiap, belum lama, ini kau pernah ketemu Ham Gwat bukan?”
Thian-hi manggut-manggut. sahutnya, “Jangan Cianpwe panggil aku demikian, panggil aku Hun Thian-hi saja!”
Pancaran mata Ong Ging-sia mengunjuk rasa senang, katanya, “Baiklah aku pun tidak perlu sungkan-sungkan, Bu-bing Loni mengurungnya, namun ia berKesempatan melarikan diri dengan pelayannya. Bu-bing menyangka aku telah membocorkan perkara ini kepada kau, sehingga Ham Gwat datang kemari menemui aku, ingin dia tahu apakah betul Ham Gwat pernah kemari!”
Thian-hi manggut-manggut lagi tanpa bersuara, diapun tengah heran, sebetulnya kemanakah Ham Gwat telah pergi?”
Kata Ong Ging-sia pula setelah menghela napas, “Kukira Hwesio jenaka sudah memberitahu pada kau bahwa Ham Gwat sebetulnya adalah putriku. Waktu kau ketemu dia tempo hari bagaimana keadaannya?”
Thian-hi tersenyum, sahutnya, “Dia baik sekali, dia….” ia menjadi kememek tak tahu apa yang harus dia ucapkan….
“Bagaimana kesanmu terhadapnya?” tanya Ong Ging-sia tersenyum.
Merah dan panas muka Thian-hi, ia menunduk malu. sesaat baru menjawab, “Dia seorang baik, pintar
dan tidak congkak. malah….” sampai disini ia merandek dan tertawa geli sendiri, tak melanjutkan kata-katanya.
“Benar-benarkah begitu?” seru Ong Ging-sia kegirangan,
“Meski ini menurut ucapanku saja. namun aku bicara setulus hati, aku percaya siapapun bila kenal dan bergaul dengan dia lantas akan merasakar hal-hal itu.”
Ong Ging-sia menunduk, otaknya tepmenung mengenang kembali masa dua puluh tahun yang lalu. sampai sekarang berarti dua puluh tahun sudah ia tidak pernah bertemu dengan Ham Gwat putri tunggalnya sendiri yang sudah dewasa dan tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik rupawan.
Sungguh ingin sekali ia bertemu, tapi aku…. mukaku seburuk ini, seumpama ketemu Ham Gwat, hanya membuat hatinya seram belaka, terpikir sampai disini ia menghela napas dengan rawan dan murung.
Suasana menjadi sepi sekian lama, akhirnya Thian-hi membuka suara pula, “Dia cantik sekali, Cianpwe ingin bertemu dengan dia?”
Ong Ging-sia angkat kepala, tanyanya, “Dia tahu bahwa aku berada disini?”
“Mungkin dia tidak tahu, kita tahu pasti dia sudah memburu kemari.”
“Jangan kau beritahu dia, kuharap dia tidak menemui aku….” berhenti sebentar lalu menambahkan, “Bila kau bisa, setelah bertemu dengan dia, beritahu padaku dimana dia berada, biar aku pergi melihat dia.” — Ia menunduk sambil menitikkan air mata kesedihan.
Thian-hi menjublek tak Bersuara. Ong Ging-sia menggeleng, katanya, “Perjanjian tiga hari itu. jangan kau layani tantangan Bu-bing. kau kerjakan urusanmu yang lain saja, aku….aku tak mampu bantu kau untuk menghadapj dia, hatinya kejam dan telengas. yang penting kau harus sempurnakan dulu Wi-thian-cit-ciat-sek lebih dulu. Sementara ini boleh kau menetap disini saja, bila Bu-bing meluruk kemari biar aku yang hadapi dia!”
Thian-hi berpikir, akhirnya ia manggut-manggut sahutnya: .Begitu pun baiklah!”
Ong Ging-sia menunduk, diam-diam hatinya senang, Hun Thian-hi terang menaruh cinta terhadap Ham Gwat. ia berpikir lagi lalu berkata angkat kepala, “Thian-hi pernahkah terpikir olehmu, kemanakah sebenar-benarnya Ham Gwat telah pergi?”
“Aku juga tidak tahu, tapi pasti ada sasaran tempat bagi tujuannya sehingga dia berani merat. Kupikir waktu masih ada dua hari, selama ini dapat kusempurnakan pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, beberapa hari lagi biar kumencari jejaknya!”
Rasa senang Ong Ging-sia terunjuk pada air muka dan sinar matanya, tentu Hun Thian-hi sudah sangat rindu dan kangen betul terhadap Ham Gwat, mendapat calon suami seperti Hun Thian-hi, Ham Gwat pasti bahagia dan akupun harus lega dan terhitung sudah menyempurnakan tuntutan hidup putrinya.
Melihat reaksi perkataannya mengubah sikap dan air muka Ong Ging-sia, tanpa merasa Thian-hi menjadi tegang sendiri, Ong Ging-sia adalah ibunda Ham Gwat, hubungan dirinya dengan Ham Gwat belum lagi intim, mana bisa menampilkan rasa hatinya sedemikian rupa, apakah tidak terburu nafsu? Entah bagaimana pendapat dan penerimaan Ong Ging-sia?
“Kalau begitu bikin susah padamu saja,” ujar Ong Ging-sia tertawa. “Sementara ini kau tinggal saja di Bu-la-si ini….”
Baru saja ia selesai bicara, mendadak Hwesio jenaka melangkah masuk dari luar, katanya Kepada Thian-hi, “Aku baru saja tiba. Apa benar-benar kau mau menetap sementara di Bu-la-si?”
Thian-hi manggut-manggut. Ia tidak tahu kemana Hwesio jenaka telah pergi, namun melihat kedatangannya ini, diam-diam Thian-hi berpikir pasti ada sesuatu peristiwa besar telah terjadi, terasa olehnya hati seperti dibebani ribuan kati batu besar.
Kata Hwesio jenaka kepada Ong Ging-sia, “Kurasa saat ini tidak mungkin. Ketahuilah Tok-sim-sin-mo sudah bersumbar dalam waktu sepuluh hari dia sendiri hendak meluruk ke Siau-lim-si dan menumpasnya habis2an bila kau tidak menyusul kesana dalam jangka waktu yang ditetapkan ini!”
Berubah air muka Thian-hi, cara kerja Tok-sim-sin-mo sungguh cukup ganas dan jahat, belum lagi racun di badan Sutouw Ci-ko dipunahkan, sekarang sudah menekannya dengan urusan lain pula, apakah aku harus kesana masuk perangkapnya?”
Kata Hwesio jenaka pula tertawa, “Ang-hwat-lo-co juga ingin supaya kau pergi ke Thian-lam, katanya gurumu Kongsun Hong sudah terjatuh di tangannya bila kau meluruk pada tantangan Tok-sim-sin-mo berarti jiwa Kongsun Hong tak bisa diselamatkan lagi!”
Lebih kejut dan gugup lagi hati Thian-hi, tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.
Akhirnya Ong Ging-sia bersuara sambil menghela napas, “Terpaksa kau harus memburu ke Tionggoan saja!”
“Benar-benar,” timbrung Hwesio jenaka, “kau pergi ke Siongsan dulu, bekerja menurut situasi dan keadaan…. Soal Thian-lam biar aku kesana lebih dulu, Ang-hwat tidak akan berani turun tangan seceroboh itu. Jelasnya kau harus hati-hati melawan kelecikan Tok-sim-sin-mo.”
Thian-hi berpikir mantep, akhirnya ia ambil berpisah dengan Ong Ging-sia, langsung menuju ke Tionggoan.
Siau-lim-si selama berdirinya tetap digdaya dan diagungkan, banyak anak muridnya yang pandai dan berbakat tinggi. Bila benar-benar Siau-lim-si runtuh, maka kaum persilatan di daerah Tionggoan sini pasti akan tenggelam dalam hidup kegelapan, betapapun tinggi kemampuan seseorang takkan mampu mengembangkan kembali kejayaan semula. seperti sepandai Thian-cwan Taysu yang teragung dan terpandang di mata dunia.
Sekarang terpaksa Thian-hi harus kembali pula ke Tionggoan. mengandal ilmu silat dan kecerdikan otaknya, mungkin dapatlah menggagalkan atau menolong bencana yang bakal melanda ke seluruh kepentingan kaum persilatan disini. Tapi betapapun ia tidak tega dan sangat menguatirkan keselamatan guru pembimbingnya Kongsun Hong yang telah mengasuhnya sejak kecil.
Selama menempuh perjalanan dari Bu-la-si ke Siau-lim-si, belum pernah pikiran Thian-hi menjadi tentram. hatinya selalu dirundung kekusutan dan kegugupan. Perjanjian tiga hari dengan Bu-bing sudah terlupakan olehnya…. Juga tidak terpikir olehnya apakah kelak Bu-bing mandah mau membiarkan dirinya yang ingkar janji ini?”
Cuaca sudah gelap. Sebuah bayangan hitam melesat terbang diantara semak-semak pegunungan. orang itu bukan lain adalah Hun Thian-hi adanya. Sekonyong-konyong pekik burung dewata berkumandang di tengah udara. Thian-hi menjadi tersentak kaget dan sadar, hari ini tepat tiba perjanjiannya tiga hari itu. Kenapa aku melupakan perjanjian beradu pedang dengan Bu-bing Loni.
Sesaat ia terlongong dan menghentikan langkahnya, dari tengah udara meluncur turun sesosok bayangan, sekejap saja sudah berdiri tegak dihadapannya, siapa lagi kalau bukan Bu-bing Loni.
Dengan memicingkan mata Bu-bing pandang Thian-hi dengan sikap kaku, “Kemana kau hendak lari?” demikian jengeknya.
Mulut Thian-hi terbungkam, ia pandang Bu-bing lekat-lekat. Dia tahu sepak terjang Bu-bing selalu dilandasi kemauan hati melulu, dia tidak pernah kenal apa itu keadilan, maka dengan tawar ia menyahut, “Apakah sekarang saja dimulai bertanding pedang,”
Melihat sikap Hun Thian-hi yang demikian congkak, Bu-bing Loni menjadi murka, alisnya terangkat tinggi, serunya, “Jangan kau kira Pan-yok-hian-kang dan Gin-ho-sam-sekmu dapat menjagoi di seluruh Kang-ouw. Hari ini akan kuperkenalkan padamu kepandaian ilmu pedang yang sejati!”
Thian-hi mundur setengah tindak seraya melolos pedang di punggungnya, kedua biji matanya lekat-lekat mehgawasi gerak gerik Bu-bing Loni.
Pelan dan acuh tak acuh Bu-bing menanggalkan pedang dari serangkanya, pelan-pelan ia melolosnya keluar, seenaknya saja ia buang serangka pedangnya ke samping, dengan mengawasi batang pedang mulutnya bicara, “Seluruh kaum persilatan di dunia ini belum ada seorang pun yang benar-benar pernah melihat Hui-sim-kiam-hoatku seluruhnya. Terutama tiga gerak serangkai dari jurus yang terakhir, sekarang sebelum kau ajal akan kupertunjukkan kepada kau!”
Melihat Bu-bing Loni bicara begitu enak dan enteng saja, seolah-olah tidak pandang sebelah mata dirinya, dingin perasaan Thian-hi. Wi-thian-cit-ciat-sek latihan dirinya belum lagi sempurna, bila sekarang dia kembangkan untuk melawan Hui-sim-kiam-hoat, bukan saja tidak mampu menandingi tiga rangkai serangan pedang musuh, malah mungkin akan menambah gelora angkara murka hati Bu-bing Loni untuk melenyapkan dirinya.
Karena pikirannya ini tanpa merasa hatinya menjadi lemas. Tapi dendam ayah belum terbalas, merabahaya sedang mengancam keselamatan hidup kaum persilatan di seluruh Tionggoan, mana boleh aku ayal begitu gampang saja.
Pandangan mata Bu-bing dari batang pedang pelan-pelan beralih kemuka Thian-hi. Terasa oleh Thian-hi dalam pandangan mata Bu-bing Loni ini terkandung rasa penghinaan dan merendahkan dirinya yang berkelebihan, agaknya hatinya akan menjadi senang setelah melihat orang lain menjadi mayat.
Sontak terbangkit rasa kejantanannya, alisnya tegak berdiri, darah menggelora, dengan pandangan berkilat gusar ia balas pandang ke arah Bu-bing Loni.
Melihat Hun Thian-hi tidak mengunjuk rasa gentar atau takut berjengkit alis Bu-bing Loni, katanya sambil menjengek bjbir, “Mungkin kau belum tahu cara kerjaku. Kau tidak akan bisa segera mati, akan kusayat dan kukuliti kulit dan dagingmu sedikit2 sampai kau mampus. Aku akan bekerja pelan-pelan, mungkin tiga hari atau mungkin sampai setengah bulan baru badanmu habis kusayati!”
Hun Thian-hi mandah menyeringai tawa, ujarnya, “Kedengarannya memang enak dan nikmat sekali. tapi apakah kau mampu?’“
Bu-bing Loni menggeram gusar sambil membanting kaki, tiba-tiba wajahnya mengunjuk senyum-tawa yang sangat aneh, katanya, “Mungkin aku tidak mampu, tapi mungkin pula bisa bukan! Nanti akan kamu buktikan dan kau akan tahu akibatnya!”
Melihat senyum aneh diwajah Bu-bing Loni, sontak terbit suatu rasa ketakutan dalam sanubari Hun Thian-hi, selamanya belum pernah ia melihat tertawa aneh Bu-bing Loni semacam itu. Bukan saja tawanya itu tidak bersahabat, malah sebaliknya terasa adanya hawa kesadisan sedang mengancam setiap waktu di sekelilingnya.
Sekilas saja ai rmuka Bu-bing Loni pulih seperti sedia kala, tanpa expresi ia berkata, “Kau sudah siap belum? Aku akan segera turun tangan awaslah kau.”
Kaki kanan Hun Thian-hi mundur setengah langkah. pedang siap melintang di depan dada, ia berdiri tegak siap siaga.
Laksana awan mega nan enteng tubuh Bu-bing Loni melejit maju. ringan tanpa menimbulkan kesiur angin pedangnya terayun, menjojoh ke depan tengah alis Hun Thian-hi. Sigap sekali dalam waktu yang bersamaan Hun Thian-hi juga menggerakkan pedangnya dengan jurus Gelombang perak mengalun berderai dari ilmu Gin-ho-sam-sek untuk memapaki serangan musuh, begitu jurus permainan kedua belah pihak sedikit kebentur, lantas Hun Thian-hi rasakan gaya gerak pedang Bu-bing Loni yang kelihatan bergerak enteng itu mengandung tekanan tenaga yang luar biasa besarnya menggetar mundurkan tubuhnya, keruan kejutnya bukan kepalang, tak berani menyambut secara kekerasan ia melejit mundur.
Terdengar Bu-bing Loni menjengek dingin. pedangnya terbang membalik lagi. jurus kedua ini lebih hebat, berbareng dengan samberan batang pedang hawa sekelilingnya seperti menjadi dingin ikut menerpa ke arah Hun Thian-hi. Thian-hi harus beruntun menggerakkan dua tipu pedangnya baru berhasil memunahkan daya kekuatan serangan jurus pedang Bu-bing Loni yang kedua ini. Serta merta timbul keheranan dalam hatinya, karena cara permainan jurus-jurus ilmu pedang yang dimainkan Bu-bing Loni ini jauh berlainan dengan permainan Su Giok-lan tempo hari. Terbit pancaran heran dari sorot pandangan Bu-bing Loni melihat Thian-hi mampu memunahkan gelombang tekanan serangan kekuatan pedangnya, namun rasa heran itu hanya sakilas saja. Dilain saat tubuhnya sudah melejit mumbul terbang ke tengah udara, berbareng ia lancarkan ilmu Hui-sim-kiam-hoat yang tulen, seketika Hun Thian-hi terkurung dalam kilatan sinar pedangnya.
Hun Thian-hi menyedot napas dalam-dalam, Pan-yok-hian-kang dikerahkan selurufhnya ke arah batang pedang, dengan Gin-ho-sam-sek yang kuat dan rapat serta kokoh penjagaannya itu ia layani rangsak membadai dari serangan pedang BU-bing Loni.
Saking cepat permainan mereka, sekejap saja lima puluh jurus sudah berlalu Sambil mengunjuk rasa hina dan mengejek Bu-bing Loni mengurung Hun Thian-hi dalam kurungan kilat sinar pedangnya. Pertempuran mereka berdua kali ini, rasanya jauh lebih hebat dan seru dibanding Bu-bing Loni melawan Swat-san-su-gou dipuncak Soat-san setahun yang lalu itu. Begitu menakjupkan seolah-olah dapat menyedot sukma bagi setiap orang yang menonton. Hanya bedanya kalau dulu Soat-san-su-gou satu melawan empat, sebaliknya sekarang Thian-hi satu lawan satu, dan keadaan selama ini masih tetap seimbang.
Selama tempur terasa oleh Thian-hi tekanan dari empat penjuru semakin besar, begitu besar gencetan ini sampai dada terasa sakit dan susah bernapas. Tapi kelihatannya Bu-bing bergerak begitu bebas dan seenaknya saja, seperc belum mengerahkan setaker tenaganya. tujuannya tak lain tak bukan adalah hendak mengurung Thian-hi sampai mati lemas.
Lama kelamaan Thian-hi naik pitam, bahwa dirinya dipermainkan seperii kucing mempermainkan tikus merupakan suatu penghinaan terhadap dirinya, dengan menghardik keras, mendadak pedangnya mencorong terang, ia kerahkan seluruh kekuatannya melancarkan jurus ketiga dari Gin-ho-sam-sek yang terhebat yaitu jurus Ho-jong-boh-hun-siau (bangau terbang menembus awan mega), dengan kekerasan ia terjang dan merangsak ke arah tembok pertahanan sinar pedang Bu-bing Loni yang mengepung dirinya
Melihat Hun Thian-hi mendadak melancarkan jurus permainan pedangnya. yang aneh rada bercekat hati Bu-bing, cepat pedangnya berkelebat membandir dengan jurus Lian-so-kim-liong (merantai naga mas) pedangnya menekan dan menggubat seluruh badan Hun Thian-hi.
Sudah tentu Thian-hi tidak mau mandah terima binasa begitu saja, mau tak mau ia harus kerahkan seluruh tenaga dan kemampuan untuk menjebol segala rintangan, kedua belah pihak menjadi sama kerahkan setaker tenaga masing-masing. Begitu pedang kedua belah pihak saling bentur “Creng”, kontan tubuh Hun Thian-hi mencelat tinggi ke tengah udara. tubuhnya terbang keluar dari lingkaran sinar pedang Bu-bing Loni yang mengurung dirinya.
Tapi setelah ia berhasil hinggap di tanah kembali seketika berubah pucat air mukanya, karena pedang pusaka ditangannya sudah patah menjadi dua tergetar oleh benturan dahsyat tadi. Dilain pihak Bu-bing Loni juga menarik mukanya yang membeku dingin. Sungguh tak nyana olehnya kurungan sinar pedangnya yang begitu ampuh dan hebat itu berhasil dijebol oleh Hun Thian-hi. Dengan kaku dan dingin ia pandang Hun Thian-hi, lama sekali mereka berdiri saling pandang tanpa buka suara.
Sekonyong-konyong tubuh Bu-bing Loni melambung tinggi lagi, pedang panjang bergerak cepat menyerang pula kepada Hun Thian-hi. Tak sempat Thian-hi banyak pertimbangan lagi, dimana tangan kanannya terayun ia sambitkan kutungan pedang buntung itu ke arah Bu-bing sekuat tenaganya. Tanpa susah Ba-bing Loni menggerakkan pedangnya menyampok jatuh sambitan kutungan pedang Hun Thian-hi, mulutnya menyungging seringaj sadis. dimana pedangnya terayun ia menusuk kejalan darah Jian-kin-hiat dipundak Hun Thian-hi.
Gesit sekali Hun Thian-hi meloncat berkelit berbareng tangannya meraih kepinggang merogoh keluar seruling pemberian Ong Ging-sia. Tanpa, banyak berpikir lagi Hwi-hong-siau menuding miring ke depan, ia kembangkan jurus Wi-thian-cit-ciat-sek jurus pertama yang dinamakan Thian-wi-te-liu (langit berputar bumi mengalir).
Dengan permainan pedangnya yang hebat tiada taranya itu Bu-bing menyangka jurus serangan kali ini pasti berhasil melumpuhkan perlawanan Hun Thian-hi, tak lebih tiga jurus belaka. selanjutnya Hun Thian-hi harus tunduk dan patuh mendengar perintahnya.
Tak nyana begitu tusukan pedangnya dilancarkan, mendadak dilihatnya Hun Thian-hi mengacungkan senjata seruling, sedikitpun ia tidak ambil perhatian, tapi tiba-tiba tusukan pedangnya belum lagi mengenai sasarannya mendadak terasa tangan kanannya kesemutan, segulung angin berkekuatan dahsyat melanda tiba dengan daya kisaran yang hebat sekali. Hampir saja ia terdesak melepaskan pedang sendiri.
Keruan bukan main rasa kejutnya, lekas-lekas ia menyurut mundur beberapa langkah. dengan dingin ia tatap muka Hun Thian-hi. Selamanya memang ia belum pemah kebentur dengan Wi-thian-cit-ciat-sek, tapi sejak lama pernah dengar namanya. Kini Wi-thian-cit-ciat-sek ternyata muncul atas bocah keras kepala yang menjadi musuhnya ini, bila sekarang tidak diberantas dan ditumpas, bila dia sampai melatihnya sampai sempurna kelak pasti bakal merupakan lawan tangguh yang paling berbahaya bagi dirinya.
Dasar culas dengan dingin mulutnya menggeram seperti binatang kelaparan. Thian-hi insaf tibalah kini saatnya bagi dirinya untuk berjuang bagi hidup dalam menghadapi mara bahaya yang mengancam ini. Sedikit berpikir segera mulutnya bersuit panjang, tiba-tiba tubuhnya meluncur terbang lempang dan lurus ke depan, ditengah jalan tubuhnya menjulang ke atas lalu menukik pula meluncur dengan kecepatan kilat, dimana tubuhnya bergerak memutar seruling ditangan melancarkan pula tipu-tipu Wi-thian-cit-ciat-sek, yang diarah adalah batok kepala Bu-bing Loni.
Tidak malu Bu-bing Loni diagungkan sebagai jago pedang nomor satu di seluruh dunia ini, tanpa gugup ia sambut serangan hebat Thian-hi ini dengan tipu-tipu Hui-sim-kiam-hoat yang sakti itu, dimana kekuatan tenaganya terpancar dari ujung pedangnya serangan seruling Thian-hi kena tergetar miring. Tapi Wi-Thian-cit-ciat-sek memang bukan olah-olah hebatnya, ditengah udara Thian-hi terbang berputar, sedikit serulingnya bergerak saja, setabur kekuatan hawa yang berkisar besar menerjang ke arah Bu-bing Loni.
Dengan tenang Bu-bing Loni pandang permainan Thian-ni, cukup ia gerakkan pedangnya pula setiap jurus serangan Thian-hi kena dibendung diluar lingkaran. Tapi tak urung hatinya kaget juga. dia heran bahwa kepandaian Hun Thian-hi bisa maju pesat sedemikian tingginya,
Wi-thian-cit-ciat-selk yang digjaya dan hebat ini memang bukan ilmu sembarang ilmu yang dapat dihadapi secara serampangan, untung latihan Hun Thian-hi belum matang. Kalau tidak mungkin hari ini dirinya sendiri yang bakal terjungkal ditangan musuh mudanya ini.
Melihat rangsakannya berulang kali selalu gagal Hun Thian-hi semakin gugup dan kaget. Memang tidaklah malu Bu-bing Loni disebut tokoh kosen nomor satu di seluruh dunia ini. dibanding Tiang-pek-lokoay boleh dikata terlalu jauh bedanya, tidaklah heran bahwa Ang-hwat-lo-mo juga gentar terhadapnya. malah begitu takut dan takutnya ini tidaklah bukan beralasan.
Sekarang Thian-hi baru insaf jangan kata untuk menang, supaya tidak kalah saja juga rasanya tidak mungkin lagi, aku tidak bisa mati demikian saja dan tidak bisa mati secara konyol. Sembari tempur Hun Thian-hi memutar otak, akhirnya ia berkeputusan. seketika tubuhnya melambung tinggi pula, disaat Bu-bing Loni hanya bertahan menyelami serangan Wi-thian-cit-ciat-sek, tiba-tiba ia meluncur jauh dan lari sipat kuping ke depan sana.
Bu-bing menggerung gusar, sebagai tokoh yang banyak pengalaman perbuatan Hun Thian-hi masa dapat mengelabui kejelian matanya, begitu tubuh Hun Thian-hi melambung ke depan, ia lantas dapat meraba maksud tujuan Hun Thian-hi, tahu-tahu tubuhnya pun sudah berkelebat mengejar.
“Mau lari kemana kau?” jengeknya sambil menghadang jalan lari Thian-hi.
Thian-hi tidak bicara, serulingnya menggempur dengan seluruh kekuatannya. Bu-bing menyeringai dingin ringan sekaii ujung pedangnya menutul ke depan, ia balas serang dada Hun Thian-hi sebelum serangannya tiba.
Sementara itu. tenaga Hun Thian-hi sudah terkuras tidak sedikit, apalagi serangannya selalu gagal. tenaganya sudah habis lagi, ia insaf bahwa dirinya tidak akan mampu menempur Bu-bing lebih lanjut terpaksa ia puter tubuh dan lari lagi.
“Mau lari pula kau? Cobalah rasakan Lian-hoan-sam-kiamku ini!” — Pedang panjang ditangan Kanannya teracung, hawa pedang segera merembes keluar dari batang pedang, seiring dengan gerak pedang tubuhnya ikut menggeser kedudukan, hawa pedang yang semakin padat laksana lembayung segera menyapu dan merangsak ke arah Hun Thian-hi.
Thian-hi menyedot napas panjang, ia insaf bahwa dirinya hari ini sulit menyelamatkan diri pula, terpaksa harus mengadu jiwa. cepat seruling disapukan miring ke depan, ia sambut rangsekan hebat musuh ini dengan Wi-thian-cit-ciat-sek pula.
Bu-bing sudah tidak perlu gentar menghadapi serangan Wi-thian-cit-ciat-sek, namun ia sendiri belum mendapatkan cara untuk memecahkan perlawanan Thian-hi ini, kecuali dengan kekuatan Lwekangnya yang ampuh untuk menekan seret gerak serangan musuh tiada jalan lain untuk mengatasinya. Begitulah sekilas ia berpikir tiba-tiba tajam pedangnya meluncur laksana bintang jatuh melesat ke ulu hati Hun Thian-hi.
Thian-hi menekuk dengkul mendakan tubuh untuk menghindar, bersamaan tangannya menggentak senjata dengan tipu-tipu Wi-thian-cit-ciat-sek menghalau rangsekan Bu-bing selanjutnya. Bu-bing sudah berkeputusan hari ini betapapun ia harus bunuh Thian-hi dengan pedangnya, memang dengan perhitungan yang cukup masak, serangan kali ini hanya gertak sambel belaka, tiba-tiba badannya menerjang maju ke depan, berbareng pedang panjang dibalikkan berputar terus disambitkan lempang ke depan, ia sudah kerahkan seluruh Lwekangnya utk melontarkan pedang, tujuannya sekaii gebrak harus berhasil melumpuhkan perlawanan Hun Thian-hi.
Tapi kepandaian Hun Thian-hi sekarang sudah bukan olah-olah tingginya, begitu melihat serangan balasan serulingnya mengenai tempat kosong mulutnya lantas membentak mengguntur, berbareng kaki kiri menggeser setengah langkah badan ikut berputar setengah lingkaran. serulingnya lantas menjungkit dari bawah ke atas, ia sendal ke arah pedang panjang lawan yang meluncur tiba dengan kekuatan dahsyat itu.
Usaha Thian-hi memang berhasil, ujung serulingnya telah dapat menyungsang pedang lawan tapi diluar perhitungannya bahwa lontaran pedang Bu-bing kali ini menggunakan seluruh Lwekangnya yang ada, apalagi ia hanya sempat menggerakkan tenaga dengan kuda-kuda sedikit jongkok dan tubuh miring, maka tenaga sendalannya bukan saja tidak berhasil menyampok jatuh pedang musuh, malah luncuran pedangnya menusuk ke atas sedikit dan tahu-tahu amblas ke dalam pundak kirinya, begitu deras daya luncuran pedang ini sehingga pundaknya tertembus lewat sampai ke punggung, keruan sakitnya bukan kepalang, sesaat seperti seluruh badan menjadi kejang.
Tujuan serangan Bu-bing adalah Jian-kin-hiat, jalan darah di atas pundak, namun hanya terpaut beberapa mili saja yang kena cuma tulang pundak Thian-hi saja. Tapi hasil tusukan pedang cukup menghabiskan tenaga perlawanan Hun Thian-hi, mandah saja dicincang atau disiksa oleh musuh.
Dengan terpaku oleh selaras pedang yang menembus pundak kirinya, Thian-hi mengeraskan hati berdiri tegak, separo tubuhnya sudah basah kuyup oleh darah, tangan kanan masih kencang-kencang menggenggam seruling, dengan pandangan berapi-api ia deliki Bu-bing Loni.
“Kau masih ingin melawan?” ejek Bu-bing Loni.
Terasa oleh Thian-hi kesakitan yang luar biasa di pundaknya kiri, darah menyembur semakin deras. seluruh tubuhnya semakin lemah dan seperti hampir lumpuh, diam-diam ia tutup jalan darah sendiri berusaha membendung darah yang bocor keluar. Tapi luka yang begitu berat, mana mungkin dapat ia atasi begitu saja di saat ia harus menghadapi musuh yang masih mengancam jiwanya ini.
Pelan-pelan selangkah demi selangkah Bu-bing mendesak maju. Thian-hi gentakkan serulingnya menyerang, namun tenaganya sudah lemah, sekali raih saja Bu-bing berhasil merampas serulingnya, sebat sekali ia merabu beruntun ia tutuk tiga jalan besar di atas tubuh Thian-hi.
Setelah Thian-hi tidak berdaya, ia menyeringai dingin, otaknya menerawang, cara bagaimana ia harus memberi hukuman pada Hun Thian-hi. Sekonyong-konyong kupingnya mendengar pekik burung dewata yang penuh kekuatiran dan takut, berubah air mukanya, cepat ia menengadah ke belakang sana, hatinya menjadi terkejut, belum pernah terjadi hal seperti sekarang, kecuali ketemu lawan berat, atau ketemu orang yang sudah dikenal, burung dewata tidak sembarangan berpekik demikian.
Dengan sebelah tangan mengempit Hun Thian-hi ia berlari-lari menuju ke selatan, setelah keluar dari hutan, ia mendongak, tampak burung dewata sedang bertempur hebat dengan seekor burung rajawali yang cukup besar pula.
Beringas muka Bu-bing. Begitu melihat kedatangan Bu-bing burung dewata berusaha menukik turun, tapi selalu kena dihalangi dan terdesak naik pula ke tengah udara. Bu-bing menjadi gusar mulutnya menjebir hina, kelihatannya burung rajawali ini peliharaan orang, setelah mengukur jarak ketinggiannya, hidungnya mendengus, batinnya, “Kau kira jarak begini tinggi aku tidak mampu naik?” segera ia letakkan tubuh Thian-hi di tanah, tubuhnya mendadak mencelat tinggi ke tengah udara, laksana burung besar kedua tangannya berkembang terus meluncur tinggi tepat sekali hinggap di atas punggung burung dewata, berbareng ia ayun pedang di tangannya membacok ke arah burung rajawali.
Rajawali itu berpekik kejut dan ketakutan, agaknya ia tahu akan kelihayan Bu-bing Loni. cepat ia melambung tinggi terus terbang meninggi hendak lari. Tapi Bu-bing sudah keburu gusar, pedang panjang disambitkan seperti anak panah melesat ke arah burung rajawali itu. Burung rajawali itu memang cukup cerdik ia jumpalitan sekali terus menukik turun, tapi sudah terlambat tak urung sayapnya sudah tertusuk pedang, terdengar mulutnya berpekik kesakitan, membawa pedang yang menancap di badannya ia terbang rendah terus menghilang di balik lembah sebelah sana.
Bu-bing menyeringai sinis dengan kemenangan, waktu ia menunduk melongok ke bawah, Hun Thian-hi yang diletakkan di tanah tadi sudah tidak kelihatan pula bayangannya, sejenak ia terlongong, lantas meluncur turun memeriksa dan mencari ubek2an, namun tidak berhasil menemukan jejaknya.
Sungguh terbakar rongga dadanya, gusarnya bukan kepalang, siapakah yang telah memancing dirinya dengan burung rajawali tadi lalu menolong pergi Hun Thian-hi. Terpaksa ia naik ke punggung burung dewata, ia periksa dan obrak-abrik seluruh pelosok gunung ini namun hasilnya nihil. Akhirnya dengan rasa gusar dan penasaran ia tinggal pergi.
Bu-bing tak habis herannya, ia bertanya-tanya dalam hati siapakah yang tahu jelas akan tabiatnya dapat mengatur tipu daya sebegitu rapi dan cermat sekali, bukan saja dirinya dapat dikibuli jejak musuhpun tak berhasil dicarinya.”
Dalam pada itu, Thian-hi sejak ditutuk tiga jalan darah besar di atas tubuhnya lantas jatuh pingsan, tutukan hebat itu melumpuhkan seluruh sendi2 badannya, apalagi pundaknya terluka parah, keadaannya sangat lemah dan payah. Entah berapa lama kemudian, waktu pelan-pelan ia rasakan pulih kesadarannya, pelan-pelan ia membuka mata, terasa ia rebah di atas ranjang batu, lambat laun pandangan matanya menjadi terang, terlihat bentuk sesosok tubuh orang yang sangat dikenalnya berdiri di hadapannya, keruan kagetnya bukan main, hampir saja ia melonjak bangun. Orang yang berdiri di hadapannya ini bukan lain adalah Ham Gwat.
Melihat Thian-hi sadar dan membuka mata. Ham Gwat berkata lirih dan lemah lembut, “Hun-siauhiap! Bagaimana perasaanmu?”
Dengan terlongong Thian-hi pandang sepasang mata Ham Gwat yang bening cerah, ia heran bagaimana mungkin dia mendadak muncul di hadapannya, bukankah dia sudah minggat dan melepaskan diri dari ikatan sama Bu-bing Loni. Sebenar-benarnya apakah yang telah terjadi? Adakah terjadi sesuatu atas dirinya? Serta merta mulutnya menggumam tanya, “Kenapa kau berada disini?”
Dengan seksama Ham Gwat juga awasi wajah orang, sahutnya lirih, “Kau jangan kesusu tanya. Jelasnya sekarang kau sudah aman, Bu-bing Suthay sekarang sudah pergi!”
Sekian lama Thian-hi terlongong, pelan-pelan ia berkata pula, “Kiranya kaulah yang menolongku!”
Ham Gwat manggut-manggut, pandangannya mendelong ke arah jauh sana, ujarnya, “Bukan begitu sebetulnya. Luka-lukamu belum lagi sembuh, kelak kau akan tahu duduk perkara sebenar-benarnya.”
Melihat Ham Gwat tak mau banyak bicara, Thian-hi pejamkan matanya, Sungguh tak nyana bahwa di tempat ini ia bakal bersua kembali dengan Ham Gwat, banyak kata yang sebenar-benarnya ingin diutarakan, namun tak kuasa diucapkan.
Tiba-tiba Ham Gwat bersuara, “Sudah jangan terlalu banyak pikiran, istirahat saja supaya lukamu lekas sembuh!”
“Berapa lama lagi baru luka-lukaku bisa sembuh?”
“Tiga lima hari tentu bisa sembuh!”
Mencelos hati Thian-hi, tiga lima hari lagi, bagaimana mungkin dirinya bisa menyusul ke Siongsan Siau-lim-si dalam jangka waktu sepuluh hari yang ditentukan itu? Bukankah menyia-nyiakan perkara besar.
Ham Gwat mengawasinya dengan tajam, katanya, “Tiada gunanya kau menyusul ke Siong-san, ketahuilah bahwa Tok-sim-sin-mo sudah menyebar jaringan kaki tangannya ke-mana-mana menanti kau masuk ke dalam perangkapnya. Sekarang dia tidak berani mendesakmu menjadi anggota, tujuan yang utama adalah melenyapkan jiwamu yang dipandang saingan terberat bagi kehidupan gerombolannya!”
“Bagaimana juga situasi yang akan kuhadapi nanti, betapapun aku harus menyusul kesana,” kata Hun Thian-hi tegas.
“Memang kau harus pergi ke sana. Baiklah akan kubantu kau tepat pada waktunya dapat menyusul ke sana!” — sekian lama ia termangu memandangi Thian-hi lalu katanya pula, “Aku keluar sebentar, kau istirahatlah baik-baik” ia memutar tubuh terus keluar dari kamar batu itu.
Mengantar punggung Ham Gwat pikiran Thian-hi melayang tak menentu arahnya. Ia merasa bahwa diri Ham Gwat ini penuh diliputi kemisteriusan, jejaknya tidak menentu dan sulit diraba juntrungannya.
Entah cara bagaimana ia bisa menolong dirinya dari cengkeraman Bu-bing Loni. Entah berapa lama ia termangu dan berpikir, selama itu tak memperoleh kesimpulan yang diharapkan, akhirnya ia menghela napas panjang.
Mendadak didengarnya derap langkah lirih yang mendatangi dengan cepat, waktu ia berpaling, dilihatnya yang muncul adalah Siau Hong. Sembari berseri tawa Siau Hong maju menghampiri, serunya lincah, “Sungguh berbahaya keadaanmu kemarin, syukur Siocia menggunakan akal memancing Suthay dan berhasil menolong kau, kalau tidak mungkin saat ini kau sudah menderita oleh siksaannya yang kejam itu!”
“Cara bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?” tanya Thian-hi.
Siau Hong meleletkan lidahnya, sahutnya, “Aku sendiri juga tidak tahu, siocia yang membawa aku kemari, kebetulan mendengar pekik burung dewata, siocia lantas suruh aku sembunyi, belum lama setelah dia pergi, ia perintahkan Kim-ji memancing pergi Suthay, lalu ia berkesempatan menolong kau kemari. Tapi Kim-ji sendiri sekarang juga terluka parah.”
Hun Thian-hi terlongong heran, tanyanya, “Siapakah Kim-ji itu?”
“Kim-ji adalah seekor burung rajawali yang besar. Pemberian dari seorang kakek tua ubanan kepada siocia!”
Baru sekarang Thian-hi menjadi sadar, mungkin Ham Gwat memperoleh suatu pengalaman aneh di tempat ini bersua dengan seorang tokoh kosen aneh, entah siapakah beliau?
“Keadaanmu sungguh sangat berbahaya, banyak orang ingin membekuk kau, sedang kau berkeras kepala ingin ke Siau-Iim-si, aku menjadi kuatir dan takut bagi keselamatanmu!”
“Kenapa kau kuatir dan takut bagi diriku?”
Siau Hong mengejapkan matanya, sahutnya tertawa jenaka, “Kenapa tidak? Bukankah kau seorang baik! Sayang nasibmu terlalu jelek, jikalau aku punya kepandaian silat yang tinggi tentu aku bantu kau!”
“Aduh sungguh bahagia dan terima kasih pada kau!”
“Kau harus terima kasih kepada siocia baru betul!” demikian goda Siau Hong sembari tertawa penuh arti.
“Sudah tentu, bukankah kali ini dia yang menolong jiwaku.”
“Bukan itu yang kumaksudkan. sungguh bodoh kau, aku tak mau bicara lagi padamu.” — Lalu ia berlari keluar dan menghilang.
Thian-hi tercengang, ia menjadi bingung, tak tahu dia kemana juntrungan maksud kata-kata Siau Hong, pikir puhja pikir ia menjadi keletihan, akhirnya ia himpun semangat dan mengatur napas mulai samadi.
Kecuali luka dipundaknya kiri masih terasa sakit. mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan darah sehingga kepalanya terasa pusing dan mata berkunang-kunang. Serta merta terpikir dan terbayang lagi wajah Ham Gwat, entah kemana dia selama ini?
Sedang ia termangu, derap langkah lirih mendatangi pelan-pelan, yang muncul memang Ham Gwat adanya. Setelah tiba disamping Thian-hi, Ham Gwat berkata, “Bagaimana kau ini. dari keadaanmu ini jelas bahwa tadi kau tidak istirahat secara baik-baik!”
Thian-hi tertawa kikuk, sahutnya, “Banyak urusan yang tidak bisa tidak harus kupikirkan.” — Tak tertahan ia tertawa geli.
“Kau punya janggalan hati, tiada halangannya turun berjalan-jalan. cuma badanmu rada lemah karena terlalu banyak keluar darah, jalan-jalan melemaskan otot dan melapangkan pikiran juga ada faedahnya bukan!”
Thian-hi termangu tak bicara.
“Aku masih ada urusan,” demikian ujar Ham Gwat. “Kau jalan-jalan sendiri atau nanti aku panggil Siau Hong untuk temani kau?”
Pelan-pelan Thian-hi merangkak bangun, katanya tertawa dibuat-buat, “Tak usahlah! Aku jalan-jalan sendiri saja.”
Ham Gwat termenung sebentar, mulutnya terbuka namun urung bicara, setelah Thian-hi berdiri ia berkata, “Kalau begitu aku pergi dulu!” — Ia tinggal pergi.
Hun Thian-hi menjadi merasa hambar melihat sikap Ham Gwat yang tidak menentu itu, kadang-kadang hangat simpatik, dilain saat dingin, wajahnya tak pernah mengulum senyum manis, akhirnya Thian-hi tertawa geli sendiri. Batinnya, “Bagaimana aku ini, seorang laki-laki sejati kenapa tak punya pendirian tetap, seumpama aku punya rasa cinta terhadap Ham Gwat, tak seharusnya aku berpikiran tidak genah, apalagi aku belum begitu mengenal pribadi dan keadaannya, mana bisa bicara soal cinta terhadap dia!” Pelan-pelan ia menggeremet maju dan keluar dari kamar.
Begitu berada diluar didapatinya dirinya berada di dalam sebuah hutan bambu, hawa disini rada sejuk dingin, sebuah jalan berliku memanjang tepat di depan pintu. Pelan-pelan Thian-hi menyelusuri jalan kecil ini keluar dari hutan bambu. Tanah luas dan subur terbentang dihadapannya, kembang liar tumbuh dimana-mana. Pikiran Hun Thian-hi lantas melayang, sekarang sudah musim semi, selama kelana setahun ini bukan saja tidak membawa hasil yang diharapkan malah dirinya memikul dosa berlimpah dan berkepanjangan tiada penyelesaian, sehingga gurunya sendiri berpendapat bahwa aku sudah tersesat semakin dalam dan mengusir dari perguruan. Ia menghela napas dengan murung, kepalanya mendongak celingukan kesekelilingnya.
Terpikir oleh Thian-hi bahwa segala sesuatu dalam lingkungan yang melibatkan dirinya adalah begitu aneh begitu misterius. Sekarang ini betul-betul ia belum mengetahui keadaan sekeliling Ham Gwat, sebetulnya siapakah yang telah ditemui oleh Ham Gwat? Ibu Ham Gwat Ong Ging-sia sangat terkenang dan ingin jumpa dengannya. entah apakah dia tahu bahwa ibu kandungnya masih hidup dan sehat walafiat di dunia ini, haruskah aku memberitahu hal ini padanya?
Thian-hi sendiri tak kuasa memberi jawaban. Kini pikiranmja melayang pada persoalan dirinya sendiri, Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna. Bu-bing Loni begitu lihay pula, bila tidak ditolong oleh Haim Gwat, mungkin dirinya sudah ajal ditangannya. Begitulah duduk di atas tanah berumput ia menengadah mengawasi mega yang mengembang dilangit, terpikir olehnya apa yang harus kulakukan selanjutnya?
Tengah pikirannya melayang mendadak terasa olehnya dibelakangnya ada seseorang, gesit sekali tiba-tiba ia membalikkan tubuh, pendatang ini kiranya adalah Ham Gwat, ia menghela napas lega, ujarnya, “Kiranya kau!”
Sorot mata Ham Gwat memancarkan senyum manis, tiba-tiba ia menunduk malu-malu, katanya, “Tak tahu aku apa yang sedang kau lakukan disini, aku datang menengok kau!”
“Wah banyak terima kasih akan perhatianmu!”
“Tadi kau termangu dan asjik berpikir, kedatanganku malah mengejutkan kau, maaf ya!”
“Aii, berkelebihan ucapanmu. Kau harus salahkan aku berlaku kurang waspada!”
“Tentu kau merasa sangat heran terhadapku bukan?” tiba-tiba tanya Ham Gwat.
“Tidak! Aku hanya merasa kau rada misterius sepak terjangmu Sulit diraba, aku merasa ada sesuatu yang kurang kupahami atas dirjmu!”
“Kelak pasti kau akan paham!” desis Ham Gwat lirih.
Sampai disini mereka tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Thian-hi merasa kehabisan kata-kata, setiap kali berhadapan ia menjadi mati kutu dan tak kuasa membuka isi hatinya.
“Mengandal ketekunan dan keyakinanmu pasti kelak kau berhasil. Wi-thian-cit-ciat-sek sudah berhasil kau pelajari kelak tentu kau akan menjagoi dan memimpin rimba persilatan. Sayang kau sekarang belum dapal menyelami intisarinya, perlahan-lahan aku yakin akan dapat membantu kesukaranmu ini.”
Thian-hi lantas bangkit, katanya, “Kalau begitu kuharap nona sudi memberi petunjuk!”
“Bukan diriku yang kumaksud. Aku kenal seorang kosen yang aneh, tentu beliau dapat bantu kau, bila Kau sudi, aku dapat membawamu kepada beliau.”
“Apakah beliau sudi menerima aku?”
“Mungkin, tapi coba kutanyakan dulu, kau tunggu sebentar disini!” lalu ia membalik tubuh dan menghilang di rumpun bambu.
Setelah Ham Gwat tidak kelihatan, Thian-hi bertanya-tanya dalam hati, entah siapakah tokoh kosen yang dimaksudkan? Tengah pikirannya bekerja, sekonyong-konyong dilihatnya sesosok bayangan hitam berkelebat lewat, sekilas pandang saja ia dapat mengukur betapa tinggi kepandaian orang itu, keruan terkejut hatinya.
Memang luncuran tubuh orang itu juga mendadak berhenti, agaknya iapun sudah melihat kehadiran Thian-hi di tempat itu, kiranya itulah seorang nenek tua renta yang ubanan.
Dengan cermat Thian-hi awasi nenek tua ini tanpa bicara, hatinya kejut dan heran, ilmu silat nenek tua ini begitu lihay, sekarang berhenti dan mengawasi dirinya, kelihatannya sudah kenal pada dirinya.
Nenek tua itu menyeringai iblis, katanya, “Kau tidak kenal aku, tapi aku kenal kau, kau adalah Hun Thian-hi, ya bukan?”
“Siapa kau?” tanya Thian-hi melongo.
“Tiada halangannya kuberitahu pada kau, aku bernama Kiu-yu-mo-lo, kukira kau sudah kenal nama besarku itu bukan?”
Thian-hi benar-benar terperanjat, batinnya, “Kiu-yu-mo-lo sudah muncul kembali, dia memperoleh Hian-thian-mo-kip, kepandaian silatnya sekarang tentu sudah teramat lihay, entah apa tujuannya dengan menampakkan dirinya ini?”
Kiu-yu-mo-lo menyeringai tawa dua kali, ujarnya, “Kiranya kau tidak mampus, dimana Tok-sim-sin-mo? Aku ingin mencarinya untuk membuat perhitungan padanya!” — sebelum Thian-hi sempat menjawab, mendadak Kiu-yu-mo-lo menubruk maju serta berkata, “Mari kau ikut aku saja!”
Hun Thian-hi menjejakkan kakinya mundur dengan cepat, namun kedua telapak tangan Kiu-yo-mo-lo bergerak mencomot dan meraih dari kanan kiri, dua gelombang tenaga lunak menerpa keluar dari telapak tangannya mencengkeram ke arah Hun Thian-hi.
Thian-hi mengeluh dalam hati, sungguh celaka pengalamannya hari ini, baru saja dirinya keluar jalan-jalan menyegarkan badan tak nyana kepergok oleh Kiu-yu-mo-lo yang kebetulan lewat, dia punya pertikaian dengan Sutouw Ci-ko yang belum terselesaikan, tentu diapun tak mau melepaskan dirinya.
Thian-hi berdaya berkelit sekuat tenaganya, sayang darahnya keluar terlalu banyak sehingga kelincahan gerak-gerik tubuhnya banyak berkurang, namun Lwekangnya memang jauh lebih hebat dibanding dulu, meski gerak-geriknya rada lamban, sekuatnya ia masih berhasil lolos dari sergapan Kiu-yu-mo-lo yang pertama. Keruan Kiu-yu-mo-lo sendiripun bukan kepalang kejutnya, jikalau hari ini ia tidak berhasil membekuk Hun Thian-hi, cara bagaimana ia harus mencari Pek-kut-sin-mo dan Tok-sim-sin-mo kelak?
Terdengar ia menggeram murka, tubuhnya bergerak begitu lincah dan sebat sekali, sekali berkelebat, kelima jarinya secepat kilat mencengkeram kejalan darah di pundak Thian-hi.
Insaf bahwa dirinya tidak akan mampu membebaskan diri lagi, saking gugup Thian-hi berteriak, “Tahan!”
Tapi serangan Kiu-yu-mo-lo tidak berhenti karena bentakannya ini, tahu-tahu Thian-hi rasakan kepalanya berat, mata berkunang-kunang, pundak kirinya sudah dicengkeram keras oleh jari-jari Kiu-yu-mo-lo yang kurus dan berkuku runcing itu, jengeknya, “Apa yang hendak kau katakan?”
Memandang muka orang Hun Thian-hi menjadi kecewa dan putus asa, Kiu-yu-mo-lo bicara setelah berhasil meringkus dirinya, untuk mengulur waktu sudah tak mungkin lagi, tawar2 saja ia menyahut, “Sekarang tak ada apa-apa lagi!”
“Kau kira aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan?” jengek Kiu-yu-mo-lo, “Sangkamu aku hanya ingin tahu jejak Tok-sim-sin-mo belaka? Apa yang ingin kudapat belum tentu bisa kuperoleh dari atas tubuhmu!”
Mendengar nada perkataan orang, tahu Thian-hi bahwa Kiu-yu-mo-lo ini tentu sangat congkak dan takabur akan kepandaian dan kemampuannya sendiri, maka ia bersuara, “Tidak!”
“Kau masih punya teman bukan?” Kiu-yu-mo-lo menyeringai sadis, “Kau main ulur waktu supaya kawanmu menolong kau bukan?”
“Pikiranmu ini sungguh sangat menggelikan.”
Terpancang hawa membunuh dalam sorot mata Kiu-yu-mo-lo, namun sekilas lantas lenyap. Ejeknya, “Lalu kau tadi menyuruh aku ‘tahan’ apa maksudmu? Berani kau mentertawakan aku?”
Thian-hi mandah tersenyum ewa, batinnya, “Kiu-yu-mo-lo tentu sudah sekian lama mengasingkan diri, sembari mengobati luka-lukanya sembari mempelajari ilmu yang diperolehnya dari Hiari-thian-mo-kip itu. Sekarang sudah berhasil jadi ia berani muncul di Bu-lim untuk mencari perhitungan sama Tok-sim-sia-mo dan Pek-kut-sin-mo, secara kebetulan di tempat ini melihat diriku, tahulah dia bahwa Tok-sim-sin-mo tentu juga sudah lolos, dia menyangka bahwa aku tentu dapat mengetahui dimana jejak Tok-sim-sin-mo, tentu dia minta aku membawanya mencari musuh besarnya itu….”
Karena rekaannya ini segera ia buka bicara, “Tok-sim-sin-mo sekarang menjadi Pangcu Hek-liong-pang, kekuatannya sudah menjangkau selatan dan utara sungai besar, dia punya persenjataan Pek-tok-hek-liong-ting yang amat ampuh lagi, kau berani mencari dia, bakal konyol belaka.”
Kiu-yu-mo-lo menjengek mulut, matanya bersinar beringas, mulutnya terbungkam.
Melihat sikap orang senang hati Thian-hi, ujarnya, “Banyak kejadian di Kangouw belakangan ini yang tidak kau ketahui. Semua kejadian itu banyak yang punya sangkut paut terhadap dirimu!”
Kiu-yu-mo-lo termangu, entah, apa yang sedang dipikir, sesaat kemudian ia bersuara, “Kau sudah angkat Tok-sim sebagai gurumu bukan?”
$
“Kau kira aku sudi?” jawab Thian-hi tawar. “Meski ilmu silatku tidak becus masa aku sudi angkat guru padanya? Ketahuilah dia sedang menarik Pek-cianpwe yaitu saudara kecilmu yang ketiga untuk membantu pergerakkannya, tapi beliau pun tidak sudi!”
Melihat orang tidak mengunjukan reaksi apa-apa, Thian-hi lantas meneruskan, “Belum lama aku berpisah dengan beliau, sekarang dia bersama Sutouw Ci-ko!”
“Sangkamu aku mencari kau karena segala urusan tetek bengek itu?” demikian tukas Kiu-yu-mo-lo dengan keras, “Ketahuilah aku masih punya urusan lain yang lebih penting.”
“Hwe-tok-kun sekarang bersama Ang-hwat-lo-mo, mereka sama mendirikan sebuah partai lain sebagai tandingan yang kuat dari Hek-liong-pang pimpinan Tok-sim-sin-mo!”
“Aku tidak peduli segala peristiwa itu, bukan itu tujuanku ….” — tiba-tiba tangannya mencengkeram lebih keras serta membalik tubuh secara mendadak, sehingga mereka sama berputar.
Ham Gwat berdiri tegak tiga tombak di belakang sana. Biji matanya memancarkan sorot aneh mengawasi Kiu-yu-mo-lo.
“Siapa kau?” tanya Kiu-yu-mo-lo.
Ham Gwat berdiri tegap tak bersuara, lambat laun sinar matanya tenang kembali, seakan-akan selamanya perasaannya begitu tenang tapi dingin dan kaku.
Secara langsung terasa oleh Kiu-yu-mo-lo bahwa Ham Gwat bukanlah orang yang gampang dapat digertak dan gebah pergi begitu saja, sebelah tangannya membalik beruntun ia menutuk beberapa jalan darah ditubuh Hun Thian-hi, lalu dengan waspada ia awasi Ham Gwat.
“Kenapa kau harus menutuk jalan darahnya?” tanya Ham Gwat pelan-pelan.
“Persetan dengan kau? Siapa kau?” teriak Kiu-yu-mo-lo, suaranya melengking tinggi.
Kelihatannya Ham Gwat memeras otak, entah apa yang sedang dipikirkan, sekian lama ia berdiam diri. Kiu-yu-mo-lo sendiri menjadi risi dan bingung, serunya geram, “Kutanya kau apakah kau tidak dengar?”
Tawar2 saja Ham Gwat pandang orang, ia sedang menggunakan kecerdikan otaknya mencari akal cara untuk menolong Thian-hi. Tanpa bicara tiba-tiba ia membalik tubuh terus jalan kembali dari arah datangnya semula.
Dada Kiu-yu-mo-lo menjadi terbakar, dengan wataknya yang begitu berangasan dan congkak itu, masa dia terima dipandang hina dan tidak direwes oleh Ham Gwat, dengan murka ia menghardik, “Berhenti!”
Seperti tidak mendengar Ham Gwat terus berjalan ke depan pelan-pelan. sedikitpun ia tidak peduli apakah orang akan marah atau mencak-mencak. yang terang ia kerahkan Lwekang tingkat tinggi mengembangkan Ginkang Ling-khong-pou-si, tubuhnya bergerak laksana awan mengembang dan air mengalir melesat terbang cepat sekali.
Karuan Kiu-yu-mo-lo semakin murka. sambil mengempit Thian-hi segera ia kembangkan ilmu ringan tubuhnya mengejar ke arah Ham Gwat. Ham Gwat berjalan beberapa langkah lebih dulu, Kiu-yu-mo-lo sendiri juga mengempit Hun Thian-hi, sudah tentu kecepatan gerak tubuhnya tidak dapat mengungguli Ham Gwat.
Sementara itu Ham Gwat sudah berkelebat memasuki hutan bambu, semakin murka Kiu-yu-mo-lo dibuatnya, diam-diam iapun merasa kejut akan Lwekang Ham Gwat yang tinggi dan Gingkangnya yang lihay, masa gadis kecil yang masih remaja tidak kuasa dikejar olehnya, apa pula yang telah berhasil dilatih selama beberapa bulan mengasingkan diri belakangan ini. Tok-sim-sin-mo sudah lolos dari belenggu kurungan, dilihat keadaan sekarang, apakah dirinya dapat menghadapi Tok-sim-sin-mo kelak menjadi suatu pertanyaan besar, tengah pikirannya melayang, dilihatnya Ham Gwat sudah tiba di belakang sebuah gunung dan membelok kesana terus memasuki hutan pohon jati dan menghilang.
Kiu-yu-mo-lo menjerit enteng, cepat ia menyedot napas tubuhnya lantas menerjang ke depan laksana anak panah. Tanpa sangsi dan banyak pikir ia terus menerobos masuk ke dalam hutan jati itu, namun jejak Ham Gwat sudah menghilang, sambil mengempit Hun Thian-hi ia melangkah terus ke depan, pikirnya, setelah menembus hutan pohon jati ini hendak kulihat kemana pula kau lari.
Begitulah Kiu-yu-mo-lo berlari-lari kencang mengejar terus ke depan, kira-kira setengah jam sudah berlangsung pengejaran itu, selama itu tidak kelihatan bayangan Ham Gwat tapi hutan jati ini tidak kunjung habis dari kaget lambat laun hati Kiu-yu-mo-lo menjadi ciut dan takut, waktu ia angkat kepala, pohon nan subur itu sedang berkembang mengluarkan baunya yang wangi, waktu ia celingukan kian kemari jalan menjadi buntu, sekelilingnya dilingkungi oleh pohon-pohon besar kecil yang tumbuh subur.
Sekian lama ia berdiri terlongong, semakin pikir hatinya semakin ciut dan kejut, tak tahu dia cara bagaimana dirinya nanti keluar dari hutan jati yang lebat dan membingungkan ini. Pikir punya pikir Kiu-yu-mo-lo menggeram dengan aseran, tiba-tiba ia berlari lagi menerobos hutan, tapi loncatan tubuhnya hanya tiga empat kaki tingginya, seolah-olah daun-daun pohon di atas kepalanya tak mampu dicapainya.
Bukan kepalang kejut hatinya, seketika ia menjadi sadar dan terpikir olehnya suatu kabar berita yang pernah didengarnya dulu, seketika mukanya berubah pucat, tangannya menjadi lemas, Hun Thian-hi yang dikempit di bawah ketiaknya melorot jatuh di tanah. Ia berdiri terlongong dengan putus asa.
Menurut kedaan yang dihadapinya sekarang, apakah dirinya sudah masuk ke dalam barisan Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin? Sejak dulu pernah kudengar nama barisan yang hebat itu, apakah hari ini aku mengalami sendiri jatuh ke dalam barisan penggugah iblis itu?
Karena dipengaruhi oleh pikirannya ia berdiri tegak terkesima dengan muka pucat, bila sudah terjebak masuk ke dalam barisan menggugah iblis itu seumpama kepandaian maha lihay setinggi langi tpun jangan harap dapat keluar dari kurungan, demikianlah keadaan dirinya sekarang harus pasrah nasib jiwa sendiri tergenggaan ditangan orang.
Waktu ia angkat kepala celingukan sekelilingnya hening lelap. Mendadak teringat olehnya akan Hun Thian-hi segera ia menyeringai dingin, teriaknya, “Apakah jiwa Hun Thian-hi tidak kalian hiraukan lagi? Awas kubunuh dia!” sembari mengancam ia angkat tangannya mengincar batok kepala Hun Thian-hi, sedang kuping dipasang serta mata memeriksa keadaan sekelilingnya.
Sekonyong-konyong sebuah suara yang lirih seperti bunyi nyamuk terkiang dipinggir kupingnya, “Setelah masuk ke dalam Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin masih berani timbul angan2 jahatmu?”
Berubah air muka Kiu-yu-mo-lo, kiranya benar-benar dirinya sudah terjebak ke dalam Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin konon kabarnya barisan ini setiap seabad muncul sekali di Kangouw, tujuannya adalah menggugah kesadaran jiwa setiap gembong iblis yang sudah terlalu banyak membuat kejahatan, tapi selama itu tiada seorangpun yang tahu alamat dan keadaan sebenar-benarnya dari barisan yang lihay itu. tapi itu kenyataan bukan khayal belaka, dan buktinya sekarang dirnya telah berada di dalam barisan yang sangat ditakuti oleh kaum sesat itu.
Ilmu silat yang dipelajari dari Hian-thian-mo-kip belum lagi mendapat hasil yang memuaskan, sungguh penasaran kalau dirinya harus berkorban secara konyol disini. setelah terlongong, akhirnya ia berseru, “Hun Thian-hi berada ditanganku, dia menggembol rahasia Ni-hay-ki-tin, dengan segala rahasia yang berharga itu untuk menebus jiwaku, apakah belum setimpal? Ingatanku sekarang masih segar bugar, bila kudapati rahasia Ni-hay-ki-tin itu pasti akan kuhancurkan lebih dulu, kuharap kau tidak menyesal setelah terlambat!”
Sesaat kemudian suara lirih seperti nyamuk itu berkata lagi, “Kejahatan yang kau pernah lakukan terlalu banyak. dosamu tak berampun, masih kan berani menggunakan Hun Thian-hi untuk mengancam padaku. dosamu lebih tak bisa diampuni lagi. kau kira kau masih segar dan belum hilang ingatan? Bila ingatanmu masih segar, sejak tadi kau sudah keluar dari barisan itu!” — Lenyap suaranya suasana sekelilingnya kembali menjadi lelap.
Dengan rasa kebencian yang berlimpah Kiu-yu-mo-lo mengumpat caci. pelan-pelan tangan yang terangkat tinggi diturunkan, rasanya kurang tepat bila membunuh Hun Thian-hi sekarang. pikirnya bila Hun Thian-hi berada ditanganku. dengan adanya sandera yang kuat ini akan kulihat sampai kapan kau kuat bertahan mengurung aku.
Begitulah ia lantas duduk bersimpuh, tangan kanannya masih mencengkeram pergelangan tangan Hun Thian-hi, ia pejamkan mata dan pelan-pelan mulai melatih ilmu yang dipelajari dari Hian-thian-pit-kip.
Angin menghembus sepoi-sepoi, dedaunan pohon disekitarnya terdengar berkeresekan seperti bergerak. Kiu-yu-mo-lo duduk tenang tanpa bergerak. tahu dia bahwa Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin sudah mulai bergerak. tapi terpikir olehnya bahwa semua itu tak lebih sebagai pandangan khayal yang mengaburkan ingatan manusia belaka, asal aku kuat mengendalikan hati dan pikiran, apa yang harus kutakuti!
Hawa nan sejuk di dalam hutan semakin terasa panas, pohon-pohon disekelilingnya kelihatannya berubah menjadi serba merah, seluruh hutan jati ini seperti terbakar jago merah yang membara lambat laun kobaran api semakin besar, seluruh hutan jati ini menjadi lautan api. Kian lama Kiu-yu-mo-lo merasa seluruh badan makin panas seperti dipanggang, sungguh tidak tartahan lagi suhu panasnya.
Ia menengadah celingukan ke arah sekitarnya, tampak dimana-mana api sudah menjilat semakin besar, berulangkali ia ingin bangkit dan lari keluar dari lingkungan kobaran api ini, tapi selalu gagal dan urung, akhirnya ia duduk bersimpuh kembali.
Akhirnya Kiu-yu-mo-lo berpikir; bila aku benar-benar ingin lari juga tidak mungkin lolos dari Kepungan kobaran api yang begini besar. Seumpama mati juga ikhlas karena Hun Thian-hi akan menyertainya ke jalan alam baka, bila kalian memang tidak ingin menyelamatkan jiwa Hun Thian-hi, apa boleh buat, biar aku gugur bersama dia.
Demikian ia berpikiran secara nekat Karena tujuan orang mengurung dirinya di dalam barisan ini terang bertujuan untuk menolong Hun Thian-hi. Dengan adanya Hun Thian-hi sebagai sandera apa lagi yang perlu dilakuti.
Sementara itu bara api disekitarnya lambat laun mulai mengecil dan akhirnya padam. Empat penjuru menjadi gelap gulita, pulih seperti sediakala. hutan jati yang lebat dan sejuk, sunyi dan lelap.
Kiu-yu-mo-lo menjadi terlongong, baru sekarang ia sadar, kiranya tadi matahari sedang terbenam, sebaliknya dirinya mengira dirinya terkurung di dalam lautan api. Begitulah ia termangu-mangu, tiba-tiba terasa hawa mulai dingin dan angin menghembus keras. Kiu-yu-mo-lo mandah mendengus hidung, waktu ia melirik ke arah Hun Thian-hi yang rebah disampingnya. tampak orang seperti tertidur pulas tak kurang suatu apa, ia kertak gigi pikirnya pasti aku terombang-ambing di dunia khayalan belaka, kenapa aku urus segala gejala yang menyesatkan ini?
Batinnya memang merasa akan gejala yang tidak wajar itu dan tak mau peduli lagi, tapi hembusan angin kenyataan semakin dingin seperti hampir membekukan seluruh sendi tulangnya. Ia kertak gigi dan berpikir, “Hembusan angin dingin betapapun tidak akan mempersukar dan meruntuhkan kekuatan batinku!” — begitulah ia duduk tenang tanpa bergeming.
Berselang tak berapa lama, hawa semakin dingin tiba-tiba ia membuka mata mengawasi Hun Thian-hi, tiba-tiba timbul pikirannya, “Bila dia siuman bagaimana perasaannya?” — Segera ia kebutkan lengan, bajunya membebaskan seluruh jalan darah Thian-hi yang tertutuk.
Pelan-pelan Hun Thian-hi siuman dan membuka mata, kuatir orang melarikan diri cepat-cepat Kiu-yu-mo-lo menggencet urat nadi pergelangannya. Pelan-pelan Hun Thian-hi merangkak bangun duduk bersila, sekilas ia pandang Kiu-yu-mo-lo tanpa bersuara, ia tidak tahu cara bagaimana dirinya bisa sampai di tempat itu, yang terang dirinya masih tertawan oleh Kiu-yu-mo-lo jadi Ham Gwat tak berhasil menolong dirinya.
Sikap Hun Thian-hi tenang dan acuh tak acuh akan keadaan sekelilingnya, Kiu-yu-mo-lo jadi heran. tanyanya, “Tahukah kau dimana sekarang kita berada?”
Thian-hi memandangnya tawar, ia rada curiga akan sikap pertanyaan Kiu-yu-mo-lo ini, mimpipun ia tidak mengira bahwa dirinya ternyata ikut terjeblos di dalam barisan menggugah iblis yang lihay itu. Tanpa bersuara ia menundukkan kepala.
Kata Kiu-yu-mo-lo menjelaskan, “Ketahuilah kita berdua sudah terperangkap ke dalam Thay–si-ciang-soat-lian-mo-tin oleh kawan baikmu itu!”
Thian-hi tersentak kaget sambil menengadah mengawasi Kiu-yu-mo-lo, sungguh kejut dan girang pula hatinya, sungguh tidak nyana bahwa dirinya sekarang berada di dalam Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin. Entah dengan cara apa Ham Gwat bisa berhasil mengurung Kiu-yu-mo-lo ke dalam barisan ini.
“Kelihatannya kau sangat girang ya?”
Thian-hi tertunduk diam. Kiu-yu-mo-lo menjadi berang, jengeknya, “Jangan kau merasa senang lebih dulu. Ketahuilah bila, aku tidak bisa keluar kau pun takkan bisa hidup. Dengan ada kau disini, betapa pun mereka takkan berani berbuat apa-apa terhadap diriku.”
Thian-hi manggut-manggut, ujarnya, “Benar-benar, aku sendiri menjadi tidak tega bila kau terkurung sendirian disini, Apalagi bila kau dapat keluar paling tidak dapat memberi tekanan berat terhadap Tok-sim-sin-mo!”
Mendengar nada perkataan Hun Thian-hi berubah cegitu cepat, sesaat Kiu-yu-mo-lo menjadi melongo dibuatnya. Tanpa hiraukan Kiu-yu-mo-lo. Thian-hi bersimpuh dan mejamkan mata, pelan-pelan ia kerahkan Pan-yok-hian-kang untuk memulihkan kesegaian badannya.
Sementara itu Kiu-yu-mo-lo sudah merasa hawa semakin dingin sehingga badannya yang tua renta itu gemetar. Dilihatnya Thian-hi duduk tenang-tenang seperti tidak kurang suatu apa, hatinya merasa aneh tak habis herannya, akhirnya iapun menghimpun semangat dan memusatkan pikiran mulai samadi.
Hari kedua, waktu terang tanah badan Hun Thian-hi sudah pulih kesegarannya, sebaliknya keadaan Kiu-yu-mo-lo semakin lesu dan jompo. Hun Thian-hi menjadi heran dan bertanya-tanya. Tapi terpikir olehnya mungkin Kiu-yu-mo-lo sudah terseret ke dalam alam khayal yang mulai menyedot sukmanya yang sesat kalau keadaah begitu terus berlarut dalam jangka dua hari lagi mungkin dia sendiri takkan kuasa mengendalikan dirinya lagi.
Sebetulnya Kiu-yu-mo-lo juga menyadari akan hal ini. Waktu ia melihat cara latihan Thian-hi yang begitu wajar dan tenang, Lwekangnya yang tinggi dan ampuh itu sebetulnyalah bahwa dirinya takkan mampu lagi mengendalikannya, diam-diam terpikir cara lain untuk mengatasinya.
Hun Thian-hi menyedot hawa segar, Kiu-yu-mo-lo segera melepaskan cengkeraman tangannya katanya, “Jangan mimpi kau dapat lari dari hadapanku!”
Hun Thian-hi mandah tertawa ewa, jalan darah pergelangannya dicengkeram musuh sehingga ia tak kuasa menyempurnakan latihannya menurut kesukaan hatinya, tapi dari persentukan tangan ini diam-diam ia dapat mengukur sampai dimana sebenar-benarnya kepandaian sejati Kiu-yu-mo-lo. sebenar-benarnyalah bahwa Lwekang Kiu-yu-mo-lo jauh di bawah perkiraannya semula, juga terlalu jauh dibanding dengan Tok-sim-sin-mo. Tak tahu kenapa ia harus kelana pula di Kangouw sebelum ilmu yang dipelajari dari Hian-thian-mo-kip sempurna, malah katanya hendak membuat perhitungan dengan Tok-sim-sin-mo apa segala. Atau mungkim dia punya tujuan lain, justru yang ketemu adalah dirinya.
“Lekas kau suruh perempuan baju hitam itu melepas kita keluar!” demikian desak Kiu-yu-mo-lo dengan aseran.
Hun Thian-hi tersenyum, sahutnya, “Aku sendiri pun ingin keluar, tapi bila kau ikut keluar pasti dia tidak akan melepaskan kau. Ka-yap Cuncia sudah membelenggu kau selama lima puluh tahun, hukuman selama itu masih belum bisa membuat kau bertobat dan mencuci hati membina diri, kembali menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, sebaliknya kau berbuat kejahatan pula di Bulim, aku sebagai manusia biasa tak kukenal parbedaan antara berat dan ringan. Coba bila kau sendiri yang menjadi dia, bagaimana sikap dan apa yang akan kau lakukan?”
Kiu-yu-mo-lo menyeringai sinis. katanya, “Kau menggembol rahasia Ni-hay-ki-tin, bekal yang kau bawa itu jauh cukup dapat menjadikan kau bersimaharaja di Bulim, masa kau sendiri tidak tahu atau pura-pura tidak tahu!”
Hun Thian-hi tartawa tawar, ujarnya, “Maksudmu Badik buntung itu bukan? Ketahuilah bahwa Badik buntung sudah terjatuh ketangan Bu-bing Loni, kau belum tahu.”
Kiu-yu-mo-lo rada tercengang, tanyanya, “Serangkanya juga maksudmu?”
Melonjak keras jantung Hun Thian-hi, pikirnya, “Apakah rahasia Ni-hay-ki-tin itu berada di atas serangka Badik buntung itu?” — ia manggut-manggut membenar-benarkan.
Kiu-yu-mo,lo menghela napas lesu, dengan putus asa ia menunduk, katanya sesaat kemudian, “Kalau begitu, tiada halangannya kuberitahu soal ini kepada kau. Ketahuilah rahasia Ni-hay-ki-tin di seluruh kolong langit ini hanya aku dan Tok-sim-sin-mo serta I-lwe-tok-kun bertiga yang tahu, Samte atau Pek Si-kiat kita kelabui, sengaja kami tidak mau memberitahu padanya.”
Bercekat hati Hun Thian-hi, kiranya mereka bertiga sama dalam satu gerombolan.
“Bicara terus terang, yang benar-benar tahu jelas segala rahasia ini bukan melulu kami bertiga saja.” demikian sambung Kiu-yu-mo-lo. “Itulah Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo, dia paling tahu dan jelas sekali mengenai rahasia ini, ketahuilah bahwa Ni-hay-ki-tin adalah warisan dari leluhurnya. turun temurun sampai jaman ini, tapi Badik buntung selalu berpindah tangan. Kami bertiga pun tiada yang mau mengalah satu sama lain, kami masing-masing insyaf diri sendiri tidak akan kuat menghadapi dua orang yang lain maka tiada berani sembarangan turun tangan merebut Badik buntung itu.”
Sampai disini ia menepekur sekian saat baru melanjutkan, “Coh Jian-jo pernah tertawan oleh kami bertiga, sayang ia berhasil melarikan diri. Dan tidak lama setelah kejadian itu Si-gwa-sam-mo sama dikurung oleh Ka-yap Cuncia di dalam Jian-hud-tong!”
“Jadi maksudmu rahasia Ni-hay-ki-tin itu sebetulnya berada di atas serangka Badik buntung itu?” tanya Hun Thian-hi.
Kiu-yu-mo-lo manggut-manggut, sahutnya, “Mungkin begitu. tapi kebenar-benarannya harus tanyakan langsung kepada Coh Jian-jo!”
Diam-diam Thian-hi mengutuk kejahatan Mo-bin Su-seng, meski dia sudah dibikin cacat dan dipunahkan ilmu silatnya oleh Ka-yap Cuncia, namun masih tidak mau menyerah, begitu tamak dengan segala kelicikan dan kekejamannya berusaha mendapatkan Badik buntung sehingga dunia persilatan menjadi geger dari kemelut karena perebutan Badik buntung itu, secara licik ia hendak menunggangi keuntungan dalam perebutan ini, yang diincar melulu serangkanya saja, untung dalam dua kali peristiwa perebutan itu tidak tercapai harapannya.
Teringat oleh Thian-hi akan serangka Badik buntung yang sekarang masih tersimpan di dalam kantong bajunya, ingin rasanya dikeluarkan untuk diperiksa, sebetulnya macam apakah rahasia menemukan Ni-hay-ki-tin itu, sehingga menimbulkan perebutan manusia-manusia tamak dan mengambil banyak korban.
“Mungkin kau heran, kenapa kami ingin memiliki Ni-hay-ki-tin itu bukan?” demikian tanya Kiu-yu-mo-lo, “Bahwasanya jarang kaum persilatan yang tahu, mereka menyangka disana terpendam harta benda yang tak ternilai harganya, sebetulnyalah disana tiada sepeserpun barang-barang berharga, yang ada hanyalah pelajaran ilmu silat yang maha lihay.”
“Tapi sekarang kau telambat untuk dapat memilikinya!”
“Tidak, kukira aku masih punya harapan untuk keluar, setelah keluar aku akan langsung mencari Bu-bing Loni!”
“Anggapmu Bu-bing Loni kamu keroco? Janganlah kau lupa beliau adalah keturunan dari ilmu Hui-sim-kian-hoat dari Ngo-bi-pay!”
Kiu-yu-mo-lo menjadi tertegun, katanya, “Kalau keturunan murid Ngo-bi-pay emangnya mau apa. Anggapmu aku tidak kuasa menempur dia?”
“Kukira kau bukan tandingannya, semestinya kau sendiri juga jelas akan hal ini. Tentu kau menghadapi kesukaran dalam berlatih Hian-thian-mo-kip bukan?”
Mendelik gusar biji mata Kiu-yu-mo-lo, desisnya, “Darimana kau bisa tahu? Kau ….” mendadak
ia sadar mana boleh dia membocorkan rahasia ini begitu saja sehingga Hun Thian-hi ikut mengetahui, meskipun batinnya sangat berang, tapi segera ia tutup mulutnya.
“Pelajaran Hian-thian-mo-kip tidak bakal berhasil dilatih dalam waktu singkat, jelas kau pasti menemui kesukaran, tapi sudah mendapat hasil yang lumajan, kuatir bila Tok-sim-sin-mo lolos dari belenggu dan sukar diatasi, kau ingin pula mengangkangi Ni-hay-ki-tin itu, maka terpaksa kau muncul pula di Kangouw, benar-benar tidak?”
Kiu-yu-mo-lo menyeringai dingin, katanya, “Analisamu memang benar-benar, yang penting aku hanya ingin mencari seseorang, orang ini dapat membantu aku menyempurnakan latihan pelajaran yang termuat di dalam Hian-thian-mo-kip itu!”
Berkilat mata Hun Thian-hi, mulutnya bungkam.
Kiu-yu-mo-lo menengadah memandangi pohon-pohon jati nan jauh di depan sana, suaranya lirih, “Kau belum tahu akan kelicikan dan keganasan Tok-sim-sin-mo, dia merupakan satu pasangan dengan I-lwe-tok-kun itu, tapi daya pikirnya masih rada ketinggalan oleh kecerdikan I-lwe-tok-kun Kalau aku bisa keluar dari barisan ini tujuan yang pertama aku harus bunuh dia!”
Hun Thian-hi tersenyum geli, katanya, “Duduk saja tenang-tenang, selama hidup ini takkan ada harapan dapat keluar!”
Kiu-yu-mo-lo menghela napas rawan, ujarnya, “Kau kira Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin ini begitu gampang? Kecuali yang pasang perangkap sengaja melepas kita, kalau tidak selama hidup ini kau dan aku memang harus tetap disini, jangan harap bisa keluar!”
Melihat orang menghela napas Hun Thian-hi rada heran, Kiu-yu-mo-lo sudah mulai lemah, agaknya batinnya mulai sadar. Terpikir olehnya bila setiap hari berada di tempat ini apalagi pikiran dan pandangan selalu tenggelam dalam khayalan, betapapun sebagai manusia biasa kita takkan kuat bertahan, justru Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin merupakan alat penyadar dan penggugah kesesatan yang tidaklah gampang dihadapi begitu saja!
Sambil terengah-engah Kiu-yu-mo-lo bangkit sembari menyeret Hun Thian-hi, katanya, “Kau ikut aku, jangan mimpi untuk lari. jika kau lari, segera kubunuh kau!” lalu mereka beranjak ke depan, entah kemana tujuannya.
Begitulah pelan-pelan ia seret Thian-hi maju terus ke depan, entah berapa lama dan berapa jauhnya, mendadak dilihatnya di depan Sana terbentang daun-daun pohon nan subur menghijau, itulah rumpun pohon-pohon bambu yang kelihatan sangat menyolok dan menyegarkan.
Dengan kejut ia kucek2 kedua matanya, ia ragu-ragu dengan apa yang dia lihat, tapi kenyataan apa yang dia lihat ini bukan khayalan belaka, keruan bukan kepalang girang hatinya, syukurlah akhirnya toh aku bisa keluar dari kurungan pohon jati ini.
Tengah Kiu-yu-mo-lo kegirangan, mendadak terasa tangannya kesendal oleh saluran tenaga dalam yang kuat, kontan pegangan kelima jarinya terlepas, sembari menggerung gusar ia membalik tubuh, kedua telapak tangannya bersama menepuk ke arah Hun Thian-hi.
Gesit sekali Hun Thian-hi sudah menyurut mundur terus menggelinding dan menghilang di dalam rumpun daun-daun semak belukar.
Kiu-yu-mo-lo tidak berani mengejar, ia takut kehilangan kesempatan untuk keluar dari barisan, terpaksa ia mengumpat caci dan melampiaskan gusarnya dengan menghantamkan tangannya ke arah semak-semak, keadaan yang rapi dari semak pohon-pohon itu seketika menjadi porak peronda, daun berguguran.
Waktu Kiu-yu-mo-lo membalik tubuh, tampak daun-daun menghijau di depan Sana masih kelihatan, pelan-pelan ia lantas beranjak menghampiri, setelah dekat itulah serumpun hutan bambu, keluar dari hutan bambu ini dihadapannya berdiri tegak sebuah bangunan gedung berloteng, sejenak ia berdiri menjublek, pikirnya, setelah sampai disini kenapa harus takut-takut masuk kesana. Begitulah ia maju lagi setiba diambang pintu ia mendongak tempak di atas pintu bertuliskan empat huruf besar “Thay-si-yu-king” (Alam khayalan), mencelos hatinya, setitik harapan yang bersemi dalam sanubarinya tadi seketika amblas, kabut berbondong-bondong mengepul dari tanah disekitar kakinya, lambat laun dirinya seperti dibungkus oleh kabut putih yang bergulung-gulung itu, selayang pandang melulu warna putih yang tidak berujung pangkal lagi. Pikirannya Kiu-yu-mo-lo juga menjadi kosong dan seperti memutih sama sekali,
Sekian lama ia menjublek, akhirnya meloso duduk kelelahan. otaknya sudah berhenti bekerja. yang terasa bahwa sang waktu selalu berhenti di dalam kejap yang sama, dunia ini terasa sepi dan hening seolah-olah tiada kehidupan lagi dimajapada ini, hatinya semakin dikili2 seperti ingin meronta, rela sudah bila aku mati saja daripada tersiksa macam ini!
Entah berapa lama, keadaan masih seperti itu, sungguh sedih dan rawan sekali batin Kiu-yu-mo-lo, akhirnya ia berteriak-teriak seperti orang gila sesambatan, namun yang didengar hanyalah gema suaranya sendiri dari empat penjuru. Akhirnya ia berhenti berteriak. dengan putus asa ia celingukan ke sekitarnya, ‘aku sudah kejeblos ke dalam alam khayal yang menyesatkan pikiran. mungkin selama hidup ini tidak akan bisa keluar lagi.’
Duduk bersimpuh pikiran Kiu-yu-mo-lo sekarang mulai bekerja, tapi kalut dan berpikir secara abnormal. Terpikir olehnya bila dia berhasil keluar pekerjaan apa yang harus dia lakukan, aku akan bunuh seluruh manusia yang tidak kusenangi, aku harus mendapatkan Ni-hay-ki-tin, menjadi jago silat nomor satu di seluruh kolong langit yang tiada tandingan, barisan macam setan yang menyesatkan ini akan kuhancur leburkan, tidak ketinggalan pencipta dari barisan gaib inipun akan kusiksa sampai mampus….
Begitulah alam pikirannya melayang-layang. entah berapa lama ia memutar otak, kadang-kadang mulutnya menggeram, tangan menepuk tanah, matanya berkilat menyapu sekelilingnya, tapi yang dilihatnya sama adalah alam keputihan yang menyilaukan pandangan matanya, akhirnya ia menghela napas. Sekarang otaknya terasa kosong pula, yang terpikir tadi melulu hanyalah khayalan hatinya belaka. pikiran yang tidak mungkin dicapai dan dilakukan olehnya.
Kini teringat olehnya akan waktu mudanya. sejak ia masih bocah mengangkat guru belajar silat sampai dia kelana di Kangouw, ganti berganti pengalaman dulu terbayang dikelopak matanya, heran dia kenapa aku bisa mengenangkan masa lalu, belum pernah aku terkenang akan masa yang telah silam itu tapi masa silam yang penuh kenangan itu sekarang terbayang dalam alam pikirannya.
Hatinya mulai mengeluh dan merasa derita. Terbayang betapa takut hatinya waktu pertama kali ia membunuh orang, dari kelakuan lurus aku semakin terperosok kejalan sesat dan menyeleweng dari ajaran guru, akhirnya malang melintang sebagai salah seorang dari Si-gwa-sam-mo yang ditakuti, perbandingan dari awal mula dan babak terakhir ini, perubahan yang begitu cepat betul-betul membuat sanubarinya merasa heran dan kejut.
Dalam Jian-hud-tong tanpa disadarjnya ia menetap lima puluh tahun lamanya, meski dalam waktu yang begitu lama selalu aku berpikir mencari akal untuk meloloskan diri untuk menuntut balas kepada Ka-yap Cuncia. terutama waktu secara tak terduga memperoleh Hian-thian-mo-kip, angan2 untuk menuntut balas semakin membakar sanubarinya. Tatkala itu aku bertahan untuk hidup dan hidup ini memang untuk menuntut balas, tapi bagaimana sekarang?
Entahlah aku tidak tahu lagi. di dalam dunia kehidupan yang serba memutih ini, apa pula yang harus kutuntut untuk kubalas? Lambat laun ia menyesal dan putus asa, “Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin tidaklah begitu gampang dibobol atau dipecahkan seperti dugaannya semula, keadaan yang abstrak tidak berbentuk ini, betapapun jauh lebih hebat lebih sukar dihadapi daripada belenggu rantai dari Ka-yap Cuncia. Untuk meloloskan diri harapannya sangat nihil.
Kiu-yu-mo-lo menepekur lagi, pikirannya melayang kembali mengenang pengalamannya dahulu, ia duduk dengan hampa dan perasaan kosong. entah apa yang harus dilakukan, ia mandah terima nasib saja. Lambat laun ia merasa menyesal dan bertobat. perbuatannya dululah yang justru membuat dirinya sekarang menerima akibatnya ini. Dengan mendelohg ia pandang ke sekelilingnya tak berani ia kenang masa silam pula, ia menjadi sebal dan gegetun karena keadaan sekelilingnya” tetap sama tak pernah berubah seakan-akan sang waktu berhenti berjalan tak bergerak lagi. Dibanding di dalam Jian-hud-tong jauh lebih sunyi dan lelap.
Tak tahan lagi ia bergegas melompat bangun, kedua telapak tangannya terayun menepuk dan menghantam serabutan ke segala penjuru, kemana angin pukulannya yang dahsyat itu menyamber keluar, sedikitpun tidak dengar desir angin atau gelombang pergerakan akibat dari pukulannya, akhirnya ia berteriak melengking putus asa, tapi gema teriakannya pun tak terdengar lagi, ia meloso duduk lemas, airmata meleleh keluar. suaranya sendiri pun tak kuasa dikendalikan lagi.
Dengan lemas ia bersimpuh memejamkan mata, lambat laun timbul rasa sesal dalam benaknya dan rasa menyesal ini semakin besar sampai mengetuk sanubarinya, ja, sepak terjang dulu waktu masih muda harus disesalkan, batinnya mulai bertobat.
Hati kecilnya berteriak dengan kekosongan jiwa yang menggersang, sungguh ia sendiri pun tidak nyana bahwa akhirnya ia harus menyesal, terasa betapa kerdil jiwanya ini begitu bejat dan kejam serta telengas hidup jiwanya ini, suka membunuh dan selalu ingin membunuh seolah-olah jiwa manusia tidak berharga sepeserpun, membunuh manusia seperti membabat rumput layaknya. Sebenar-benarnyalah setiap manusia sangat menghargai jiwa masing-masing. tapi kenapa aku tidak menghargai jiwa mereka?
Karena rasa sesalnya ini sekian lama ia terlongong. Baru sekarang ya sadar dan insaf bagaimana mungkin dirinya terjeblos ke dalam barisan penggugah iblis ini, seharusnya ia tidak punya rasa benci dan dendam, apa pula salahnya jiwaku tergugah dari kesesatan disini! Detik demi menit berlalu, lambat laun keadaan sekitarnya terasa mulai berubah, keadaan menjadi terang benderang dan bercahaya menyegarkan hati, namun ia masih duduk tenang tak bergerak.
Dalam pada itu. setelah luput dari pengejaran Kiu-yu-mo-lo Hun Thian-hi berhasil lari sembunyi ke dalam gerombolan semak-semak rumput tinggi, waktu ia merangkak bangun dan celingtikan tiba-tiba dari semak-semak rumput di depannya sana muncul sebuah wajah nan jelita, itulah Ham Gwat yang muncul dari balik semak-semak sana, berdiri tegak dihadapannya, dengan cermat ia pandang dirinya.
Thian-hi menjadi haru dan sangat berterima kasih, katanya melangkah mendekat, “Kali ini nona pula yang menolong jiwaku!”
“Bukan aku melulu yang menolong kau,” ujar Ham Gwat pelan-pelan, “Lo-cianpwe yang kukatakan itu ingin menemui kau, mari kau ikut aku menemui beliau!”
Tanpa bicara Hun Thian-hi ikut di belakang Ham Gwat, hatinya dirundung berbagai pikiran hatinya rada malu dan menyesal, biasanya aku selalu membanggakan dan mengagulkan kepandaian sendiri, beberapa kali kena diringkus atau tertawan oleh musuh selalu Ham Gwat yang menolong diriku.
Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari hutan jati, Hun Thian-hi berpaling ke belakang sungguh ia hampir tidak percaya bahwa hutan jati ini adalah Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin yang tenar dan ditakuti di Bulim, jadi orang aneh yang ingin ditemui atas prasaran Ham Gwat ini pasti adalah Thay-si Lojin yang kenamaan di seluruh kolong langit tapi belum ada orang pernah melihat akan ujudnya. Kalau begitu sungguh beruntung nasib Ham Gwat.
Ham Gwat membawa Thian-hi memasuki sebuah kamar batu, kata Ham Gwat, “Silakan kau masuk sendiri menemui beliau, kutunggu kau disini!”
“Terima kasih!” kata Thian-hi, sejenak ia pandang Ham Gwat lalu pelan-pelan berjalan-jalan masuk.
Dalam kamar batu yang remang-remang tampak duduk bersila seorang tua. setelah dekat baru jelas bahwa kedua kaki orang tua ini sudah buntung, kelihatannya terpotong oleh senjata tajam.
Raut wajah orang tua ini sudah penuh keriput. namun selebar mukanya mengulum senyum manis, dia mengangguk kepada Thian-hi, segera Thian-hi berlutut dan menyembah, sapanya, “Wanpwe Hun Thian-hi menghadap Cianpwe!”
“Lekas bangun,” ujar si orang tua lemah lembut, menurut kata Gwat-ji kau adalah keturunan atau ahli waris dari Wi-thian-cit-ciat-sek?”
Thian-hi manggut-manggut, sahutnya, “Terima kasih pada Cianpwe yang telah menolong jiwaku.”
Si orang tua menggoyang tangan, ujarnya, “Kau tak usah sungkan, sebagai ahli waris “Wi-thian-cit-ciat-sek seharusnyalah aku menolong kau, apalagi kau harus segera menyusul ke Siau-lim-si bukan!” Lalu ia melanjutkan, “Menurut Gwat-ji kau hanya memperoleh Kiam-boh dari Wi-thian-cit-ciat-sek itu, tapi belum mempelajarinya secara sempurna, intisari yang dalam itu?”
Hun Thian-hi manggut-manggut, sahutnya, “Memang begitu, harap Cianpwe suka memberi petunjuk,” dari lubuk hatinya yang dalam timbul suara perasaan bahwa si orang tua dihadapannya ini agaknya bersikap sangat baik terhadap Ham Gwat. kalau tidak salah mungkin punya hubungan dalam yang sangat erat. sehingga iapun bersikap ramah dan baik terhadap aku. tapi dari sorot matanya itu kelihatan bahwa hatinya pasti dirundung janggalan hati yang belum terlampias.
Kata pula si orang tua sembari tertawa, “Ham Gwat bersikap baik terhadap kau, kaupun bagus, aku…. kuharap kau ingat kata-kataku ini, berlakulah baik terhadapnya, dia….” sampai disini ia menghela napas, lalu melanjutkar dengan suara lebih lirih, “Bila kau tahu riwayat hidupnya. pasti kau akan merasa dan tahu bahwa hidupnya sungguh harus dikasihani!”
Hun Thian-hi terbungkam menunduk, akhirnya tak tertahan ia bertanya, “Cianpwe tahu akan riwayat hidupnya?”
Pelan-pelan orang tua manggut-manggut, ujarnya, “Ya, tapi dia sendiri justru tidak tahu.”
Heran dan terperanjat hati Thian-hi, heran dia kenapa orang tua ini bisa tahu jelas akan riwayat hidup Ham Gwat, tapi kenapa tidak memberitahu kepadanya, entah apakah sebabnya.
Dengan seksama orang tua awasi Thian-hi, sesaat baru buka suara, “Kaupun sudah tahu riwayat hidupnya bukan?”
Thian-hi rada sangsi, dia tidak tahu apa hubungan orang tua ini dengan Ham Gwat, namun tentu tiada maksud jahat terhadapnya, akhirnya ia manggut-manggut, sahutnya, “Tahu sedikit.”’
Terpancar cahaya tegang dan rasa heran dari sinar mata si orang tua, tanyanya, “Darimana kau ketahui?
“Kudengar langsung dari penuturan ibundanya!”
Tergetar badan si orang tua, matanya semakin berkilat dan memancarkan sinar aneh, bibirnya gemetar, agaknya banyak kata-kata yang ingin diucapkan tapi urung, akhirnya ia tertunduk.
Heran Thian-hi dibuatnya, hatinya bertanya-tanya, tapi ia tutup mulut.
Berselang lama si orang tua menepekur, akhirnya ia angkat kepala dan berkata, “Kalau begitu, banyak omongan yang perlu kuberitahu pada kau. Tapi kau harus berjanji sementara tidak memberitahu hal ini kepada Ham Gwat!”
Thian-hi menjadi ragu-ragu malah, tanyanya, “Apakah aku perlu mengetahui hal-hal itu?”
Orang tua itupun berpikir, katanya, “Tahukah engkau siapakah aku? Aku adalah Suheng ibundanya, juga menjadi Suheng dari Bu-bing Loni. Tapi aku banyak berbuat kesalahan terhadap ayah bundanya, agaknya Ham Gwat sudah mendapat firasat ini, dia selalu tidak mau menerima segala bantuanku, tapi kali ini demi kau dua kali ia memohon kepada aku!”
Kejut dan girang pula hati Thian-hi, sungguh tak diketahuinya akan terjadinya hal-hal itu. Orang tua ini pasti sedang menyesali perbuatannya dulu, entahlah kesalahan besar apa yang dulu sudah dia perbuat atas diri ayah bunda Ham Gwat.
“Selama hidupku ini aku hanya sesalkan perbuatanku itu,” demikian tutur si orang tua, “Tapi kesalahanku itu selama hidup ini mungkin takkan mungkin dapat kutebus lagi.” ia menghela napas rawan.
“Tahu bersalah dapat mengubahnya itulah perbuatan seorang susilawan, kenapa pula harus berkeluh kesah, cobalah kau lakukan segala sesuatunya yang kau pandang baik demi perikemanusiaan, mungkin Segala perbuatan dharma bhaktimu itu akan menebus segala dosa2 yang lalu. Kau belum lagi pernah melaksanakan darimana kau bisa tahu bahwa kesalahanmu takkan dapat ditebus”
Orang tua itu manggut-manggut, ujarnya, “Kau sudah pernah ketemu ibunya, kau harus tahu yang mencelakai ibunya adalah Bu-bing Loni, tapi algojonya adalah aku. Aku pernah sirik dan menjelusi ayahnya, sehingga aku melakukan segala perbuatan tercela yang tidak mungkin dapat kusesali pula selama hidup ini, aku ingin menyesal dan sesalanku itu harus kutebus pada diri Ham Gwat, namun dia selalu menampik secara halus segala bantuanku!”
“Tapi yang jelas akhirnya kau sudah menyesal bukan?” tanya Hun Thian-hi prihatin.
Orang tua tertawa tawar, kepalanya menengadah matanya mengawasi jauh ke depan, sesaat baru bersuara, “Akhirnya! Akhirnya Bu-bing membacok buntung kedua kakiku ini, mempunahkan seluruh ilmu silatku lagi, tatkala itu baru aku sadar, baru aku merasa menyesal setelah kasep. Untung Thay-si Locin sudi menerima aku sebagai muridnya, setelah beliau wafat aku lantas berdiam disini mengurus dam menjaga Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin ini!”
“Tidak terlambat, belum terlambat, kau sudah pernah menyesal, maka sesalanmu itu belum lagi terlambat, ketahuilah bahwa kesadaran dari sesal itu selamanya tidak mengenal terlambat.”
Tanya si orang tua ragu-ragu, “Dimanakah ibunda Ham Gwat sekarang? Bagaimana keadaannya?”
“Beliau sekarang baik-baik, dia tidak akan menyalahkan kau!” jawab Thian-hi tersenyum.
Si orang tua terduduk, akhirnya dia berkata tertawa, “Seumpama dia tidak mau memberi ampun padaku, akupun harus bertobat kepadanya, aku harus menerima segala hukuman karena dosa2ku itu!”
Kembali mereka tenggelam dalam alam pikiran masing-masing, sesaat lamanya tak bicara.
“Tak lama lagi kau harus segera menyusul ke Siau-lim-si,” demikian ujar si orang tua membuka kesunyian. “Sudah tentu, disana kau memerlukan tenagamu sendiri untuk menyelesaikan segala pertikaian. Wi-thian-cit-ciat-sek belum kau sempurnakan, aku sendiri tiada mampu membantu kau, cobalah kau gembleng dan kau latih sendiri menurut praktek. Tapi perlu kuberitahu pada kau, sudah ratusan tahun lamanya Wi-thian-cit-ciat-sek malang melintang di dunia persilatan, dia melulu hanya sejurus saja, kau harus ingat, sejurus, hanya sejurus saja!”
Bercekat sanubari Thian-hi, maka permainan Wi-thian-cit-ciat-sek secepat kilat lantas terbayang dalam kelopak matanya, memang melulu hanya sejurus dengan tujuh kembangan yang penuh variasi yang sulit diraba, menggunakan dasar Lwekang tinggi, serta gerak ilmu pedang yang lihay tiada taranya, dalam sekejap kilasan mata beruntun melancarkan tujuh gerak kembangan jurus pedangnya. Otaknya timbul tenggelam membayangkan serentetan ilmu yang sudah menghayati batinnya.
Betapa girang hatinya, jika bisa terlaksana seperti yang terbayang dalam angan2nya ini mungkin gerak pedang yang digdaya, ini takkan ada lawannya dikolong langit ini.
Tersipu-sipu ia menyembah serta berseru kegirangau, “Terima kasih akan petunjuk Cianpwe!”
“Tak perlu sungkan-sungkan,” ujar si orang tua tertawa, “apa yang kujelaskan tadi kudapat baca dari catatan peninggalan Thay-si Locin, sayang ilmu silatku sendiri sudah punah!”
Mulut Thian-hi mengiakan lirih, ia rada kejut, sangkanya sebagai murid Thay-si Lojin tentu ilmu silatnya lihay luar biasa, siapa nyana beliau ternyata. tak bisa main silat.
“Sekarang kau boleh keluar, Ham Gwat tentu sedang tunggu kau diluar pintu.”
Thian-hi maklum segera ia bangkit dan mohon diri lalu keluar dari kamar batu. Benar-benar juga Ham Gwat sedang menunggu dirinya diluar, begitu melihat Thian-hi keluar segera ia bertanya, “Kau kembali dulu mengobati luka-lukamu, setelah sembuh segera menyusul ke Siong-san!”
Thian-hi mengiakan sambil menyatakan terima kasih.
Ham Gwat berdiri menanti sambil mengawasinya tajam, entah mengapa Thian-hi tak berani adu pandang, cepat ia menunduk menghindari pandangan orang. Terpancar sinar aneh dari biji mata Ham Gwat, kelihatan sorot matanya itu rada mengandung kekecewaan, akhirnya mulutnya berkata lirih, “Tak perlu sungkan, kau pun pernah menolong aku!”
Terketuk sanubari Thian-hi, iapun merasakan kemana juntrungan pandangan Ham Gwat tadi, ia dapat membayangkan apa yang sedang berpikir dalam benak Ham Gwat, tapi bisakah aku memberitahu kepadanya?
Tak lama kemudian ia sudah berada di kamar batunya, Ham Gwat berdiri sebentar lalu pamit dan meninggalkannya.
Perasaan Thian-hi menjadi hambar, duduk bersimpuh pelan-pelan ia kerahkan Pan-yok-hian-kang untuk mengobati luka-luka dalamnya.
Sekejap saja tiga hari telah berlalu, kesehatan Hun Thian-hi sudah pulih sebagian besar, selama tiga hari ini Ham Gwat entah kemana tidak pernah muncul menemui dirinya, mungkin ada keperluan menempuh perjalanan ke tempat yang jauh.
Thian-hi tanya pada Siau Hong, kelihatannya Siau Hong rada berat menerangkan, katanya Ham Gwat sudah berpesan supaya dia tidak banyak bicara soal dirinya.
Fajar telah menyingsing, sang surya menyinarkan semarak merah bercahaya. Waktu Hun Thian-hi bangun tidur, datanglah Siau Hong ke dalam kamarnya, kiranya ia sudah mempersiapkan hidangan,
Setelah makan sekadarnya Thian-hi berkata, “Siau Hong, aku ingin hari ini juga berangkat. ingin aku ketemu Siociamu untuk nyatakan terima kasihku padanya!”
Siau Hong tertawa, ujarnya, “Siocia sudah tahu, beliau suruh aku memberitahu pada kau tak usah banyak sungkan lagi, Kim-ji (burung rajawali) sudah menunggu di depan pintu. kau naik burung menuju ke Siong-san, kelak masih ada kesempatan bertemu!”
Hun Thian-hi terlongong, mulutnya sudah terbuka tapi tak kuasa berbicara.
Kata Siau Hong pula, “Sudah jangan melamun, kata-kata Siocio tidak akan salah.”
Mendelu rasa hati Thian-hi, pikirnya; kenapa Ham Gwat berlaku demikian terhadap diriku, si orang tua itu mengatakan bahwa dia sangat baik terhadapku. memang sikap dan lakunya sangat baik terhadap aku, namun kenapa ia menghindari pertemuan dengan aku, sebelum aku berangkat untuk meninggalkan dia kenapa tidak mau datang, mungkinkah ada suatu persoalan yang tidak disenangi akan diriku? Demikian hatinya mereka-reka, akhirnya ia tertunduk.
Melihat keadaan Thian-hi berkilat biji mata Siau Hong, matanya melirik keluar lalu pelan-pelan maju mendekat dan katanya lirih, “Bodoh. Kelakuan Siocia ini adalah demi kebaikanmu, hayo berangkat, jangan melamun lagi!”
Tergetar sanubari Thian-hi, dengan kaget ia angkat kepala mengawasi Siau Hong. Siau Hong kegelian menutup mulut terus berlari keluar.
Thian-hi menjublek lagi ditempatnya, dia masih belum paham kemana maksud juntrungan kata-kata Siau Hong tadi, tapi ia percaya bahwa Siau Hong tidak akan ngapusi dirinya, akhirnya bergegas ia memburu keluar, terpikir olehnya Kim-ji pernah memancing Bu-bing Loni sehingga terluka parah oleh pedangnya, sekarang aku harus meniliknya dan melihat bagaimana keadaan sebenar-benarnya.
Diambang pintu kamar batu. Benar-benar juga berdiri seekor burung rajawali besar. Tingginya melebihi badan manusia, matanya merah berkilat, lehernya berkilau mas membundar, sekilas pandang perawakannya memang sangat angker dan gagah.
Melihat Thian-hi sudah keluar segera Siau Hong berlari datang, serunya, “Coba kau lihat, bagaimana Kim-ji ini?”
“Sangat gagah dan kereng, seperti seorang jendral saja layaknya!”
Siau Hong senang dan tertawa geli, dengan tangannya ia peluk leher burung rajawali serta katanya, “inilah orang yang tempo hari kau tolong itu, dia adalah sahabat karib Siocia kami, bawalah dia pergi ke Siong-san!”
Rajawali itu berpaling dan memandang tajam kepada Hun Thian-hi, mulutnya bersuara rendah. Siau Hong menggerakkan tangan minta Hun Thian-hi maju mendekat, dengan tertawa ia berkata sambil mengelus-elus bulu leher sang burung, “Terima kasih akan pertolonganmu kepadaku tempo hari!”
Burung itu berpekik keras sekali lalu manggut-manggut. kedua sayapnya dipentang lebar. Terlihat oleh Thian-hi sepasang sayap burung itu terbentang ada dua tombak lebih, diam-diam ia kejut dan girang.
Kata Siau Hong, “Dia minta kau lekas naik, cepatlah kau berangkat saja.”
Setelah berada dipunggung burung rajawaJi, Thian-hi mengapai tangan kepada Siau Hong serunya, “Selamat bertemu!”
Siau Hong membalas lambaian tangan. serunya, “Berangkatlah, mungkin bersama Siocia kami juga akan menyusul kesana, hati-hatilah kau, Tok-sim-sin-mo sangat jahat.”
Thian-hi manggut-manggut, sementara itu burung rajawali sudah mengembangkan sayapnya terus melambung ke tengah udara, sebentar saja mereka sudah berada ditengah angkasa menuju ke Siong-san.
Ooo)*(ooO
Senjakala tiba, Thian-hi pun tiba di Siong-san, burung rajawali segera menukik turun dan hinggap di atas puncak yang berdekatan. Setelah turun dan menginjak tanah Thian-hi menepuk leher Kim-ji serta berkata, “Kim-ji! Silakan kau pulang, sampaikan salam hormat dan terima kasih pada majikanmu!”
Kim-ji berbunyi sekali sambii manggut-manggut terus terbang kembali dan menghilang.
Setelah Kim-ji tidak kelihatan lagi, Thian-hi celingukan memandang sekitarnya, lalu pelan-pelan ia menuju ke Siau-lim-si. Tempo hari ia pernah ikut Hwesio jenaka kemari tapi diwaktu malam. keadaan disini tidak diingat terlalu jelas, maka sekarang dia harus main selidik dan celingukan mencari jalan lalu pelan-pelan menuju ke Siau-lim-si.
***
Setelah melompati pagar tembok Hun Thian-hi melesat naik sembunyi di atas puncak pohon, dengan ke jelian matanya ia mengawasi keempat penjuru, rada jauh di depan sana terdapat sebidang hutan bambu, tergerak hati Thian-hi, pikirnya, “Bukankah disana tempat tinggal Thian-cwan Taysu?
Thian-hi berlaku sangat hati-hati, setelah melihat sekelilingnya sunyi sepi tanpa ayal segera ia melesat ke arah hutan bambu sana, karena sekelilingnya tidak terjaga, maka tubuhnya seenteng burung langsung meluncur tiba dan hinggap di atas pucuk sebatang bambu. Waktu ia menunduk memandang kebawah, tampak olehnya seorang Hwesio tengah duduk bersimpuh berhadapan dengan seorang tua bermata putih kemilau, itulah Thian-cwan Taysu dan Tok-sim-sin-mo dua orang.
Terdengar Tok-sim-sin-mo sedang berkata pada Than-cwan Taysu, “Hun Thian-hi segera bakal tiba. Sangat kebetulan kedatangannya, sekaligus aku bisa menumpasnya bersama Siau-lim kalian.” lalu ia terkekeh-kekeh dingin.
Thian-cwan Taysu pejamkan mata, sesaat baru bicara, “Mungkin tidak begitu gampang, kunasehati pada kau supaya cepat merubah haluan dan lakukan perhitungan lain, ketahuilah I-lwe-tok-kun dia tidak akan membiarkan cita-citamu ini terlaksana seenak udelmu sendiri.”
Tok-sim-sin-mo menjengek hidung, ancamnya, “Bila dia berani masuk ke Tionggoan, mungkin datangnya hidup tapi takkan dapat pulang dengan jiwa masih hidup ke Thian-lam.”
Thian-cwan duduk tenang tak menghiraukan dia lagi.
Dengan pandangan dingin berkilat Tok-sim-sin-mo pandang Thian-cwan Taysu lekat-lekat, sekonyong-konyong ia menengadah menyapu pandang ke pucuk bambu.
Berdetak jantung Thian-hi, pikirnya, “Hati-hati jangan sampai konangan olehnya!” ia menahan napas, otaknya harus bekerja cepat mencari cara untuk bertindak nanti.
Tok-sim-sin-mo menunduk lagi. Hun Thian-hi celingukan ke sekelilingnya, tak terlihat sebuah bayangan orangpun, sebuah pikiran mendadak berkelebat dalam benaknya, “Dalam keadaan sekarang ini,
Tok-sim-sin-mo hanya. seorang diri, kenapa aku tidak turun saja berhadapan secara langsung? Dengan kekuatan dua orang untuk membekuk Tok-sim-sin-mo rasanya segampang membalikkan telapak tangan!”
Karena dilandasi pikirannya ini, segera tubuhnya melejit maju lalu melayang turun dengan ringan ke bawah.
Begitu mendengar kesiur angin lambaian baju Hun Thian-hi, sebat sekali kelihatan Tok-sim-sin-mo melejit mundur dua tombak, sepasang matanya berkilat mengawasi Hun Thian-hi. Terpancar rasa heran yang aneh dari sorot matanya itu.
Begitu hinggap di tanah Hun Thian-hi tersenyum simpul, ia celingukan ke kanan kiri lalu maju dua langkah di hadapan Thian-cwan serta memberi hormat membungkuk badan, “Wanpwe Hun Thian-hi menghadap pada Taysu!”
Thian-cwan Taysu juga membuka mata mengawasi dirinya dengan heran, katanya, “Hun-sicu apakah baik selama berpisah ini?”
“Terima kasih akan perhatian Taysu. Kudengar katanya Tok-sim-sin-mo berada disini maka Wanpwe juga menyusulnya kemari!”
Dengan sikap dingin mulut Tok-sim-sin-mo mengulum seringai sadis, katanya, “Ternyata kau berani datang seorang diri. Besar benar-benar nyalimu!”
Hun Thian-hi berpaling memandang ke arah Tok-sim-sin-mo sekejap lalu berkata pula kepada Thian-cwan Taysu, “Taysu! Tok-sim-sin-mo si durjana ini jangan diberi pengampunan lagi…. kenapa tidak dilenyapkan saja!”
Thian-cwan Taysu menghela napas panjang, tak bicara.
Tok-sim-sin-mo tertawa panjang, serunya, “Kau ingin mengeroyok aku bersama dia bukan? Kalau begitu salah besar perhitunganmu, ketahuilah ilmu silatnya sudah punah sejak lama!”
Tersentak jantung Hun Thian-hi.
Terdengar Tok-sim-sin-mo menjengek pula, “Kedatanganmu hari ini justru menempuh jalan kematian!” baru habis ucapannya seekor burung dara melayang turun dari angkasa terus hinggap di tangan Tok-sim-sin-mo.
Berubah air muka Tok-sim-sin-mo, dari kaki burung ia mengambil selarik surat terus dibaca, tampak berubah hebat air mukanya, desisnya dengan mata mendelik, “Kiranya begitu, jadi kau sudah berserikat bersama I-lwe-tok-kun.”
Timbul rasa heran dalam benak Thian-hi, kenapa Tok-sim-sin-mo mengajukan pertanyaannya ini, sepintas lalu pikirannya bekerja, lantas ia menjadi paham, “Mungkin Ang-hwat-lo-mo dan I-lwe-tok-kun sudah meluruk bersama ke Tionggoan, dan mungkin juga sedang menempuh perjalanan kesini sehingga dia menuduh diriku punya intrik dengan mereka.”
Tengah mereka bersitegang leher berdiri diam berhadapan, sekonyong-konyong sesosok bayangan merah melambung datang memasuki gerombol hutam bambu, begitu hinggap di tanah baru kelihatan jelas, itulah Ang-hwat-lo-mo adanya. Di belakangnya menguntit seorang tua bertubuh kecil kurus. Begitu hinggap di tanah mereka berpaling ke kanan kiri, akhirnya pandangan Ang-hwat-lo-mo berhenti pada tubuh Hun Thian-hi.
Dari belakang dibalik rumpun bambu sana terdengar derap lirih orang banyak. tampak Bing-tiong-mo-tho Su-kong Ko dan Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong dan lain-lain beranjak masuk. Ada dua diantaranya tidak dikenal oleh Thian-hi. Mereka berdiri siap siaga.
Terdengar Ang-hwat-lo-mo berkakakan dua kali sikapnya sangat congkak, setelah berpaling ke arah Thian-cwan Taysu ia bicara pada Hun Thian-hi, “Berani kau tidak menyusul ke Thian-lam. Ketahuilah gurumu Lam-siau Kongsun Hong sudah berada di tempat kediamanku, kenapa kau tidak mau datang?”
Tok-sim-sin-mo tertawa lebar, jengeknya dingin kepada Ang-hwat-lo-mo, “Tak kunyana kau bisa datang begitu cepat!”
“Benar-benar aku telah datang, dan hanya membawa Seorang sahabat belaka.” sambung Ang-hwa-lo-mo dengan sombong sambil menunjuk orang kate di belakangnya, serunya pula, “Mari kuperkenalKan, inilah Ting-hou-it-koay Lenghou Khek!”
Thian-hi mengamati si orang tua kate, dalam hati ia berkata, “Kiranya orang ini adalah ayah Kim-i Kongcu yang kubunuh Sing-hou-it-koay, entah mengapa selama ini dia tidak meluruk mencari diriku.”
Tok-sim-sin-mo mandah tersenyum ejek, tanpa bicara ia maju menghampiri kehadapan Thian-cwan Taysu terus duduk.
Ang-hwat-lo-mo juga tertawa-tawa, dengan ulapan tangan ia mempersilakan Sing-hou-it-koay duduk, sedang dia sendiri juga lantas duduk. Melihat Tok-sim-sin-mo tetap berdiam diri akhirnya Ang-hwat-lo-mo bergelak tawa. serunya, “Bagaimana! Apakah si tua dari Si-gwa-sam-mo menjadi gentar dan ketakutan terhadap diriku?” — ia bergelak tawa pula!”
Tok-sim-sin-mo masih menyeringai iblis saja tanpa memberi reaksi. Sungguh hatinya murka sekali akan sikap takabur Ang-hwat-lo-mo, namun ia punya perhitungan dalam situasi seperti sekarang ia harus bertindak hati-hati. terpaksa bersabar ulur waktu dan mencari jalan yang lebih mantap dan matang.
Menghadapi sikap tenang Tok-sim-sin-mo rada kejut perasaan Ang-hwat-lo-mo, bila Tok-sim-sin-mo mengumbar nafsu amarahnya, dia akan merasa terhibur dan senang malah, karena itu menandakan bahwa pihak lawan tiada persiapan. tapi sekarang Tok-sim-sin-mo bersikap diam menanti dan tidak banyak bicara. terang kalau punya persiapan yang sudah matang, jangan karena urusan kecil melalaikan tugas besar? Demikian pedoman kerja pihak lawan. Maka dengan cermat ia menyelidik keadaan empat penjuru, tapi tiada persiapan apa-apa.
Sekonyong-konyong tampak pula berkelebat dua sosok bayangan hitam yang melesat masuk ke dalam hutan bambu ini. waktu Thian-hi angkat kepala yang datang ini kiranya adalah salah seorang dari Tiang-pek-siang-ki yaitu Ciang-ho-it-koay Cukat Tam, seorang yang lain laki-laki tua beruban yang mengenakan juhah kuning.
Ang-hwat-lo-mo terbahak-bahak. serunya, “Sungguh hari ini sangat beruntung. Tiang-pek-siang-ki sudi berkunjung datang bersama, hari ini Siau-lim-si bakal menjadi tempat kumpulan tokoh-tokoh kosen yang cukup ramai dan menyenangkan!” — kelihatan betapa rasa girang hatinya melihat kedatangan kedua orang tokoh dari Tiang-pek-san ini, entah apa tujuan kedatangan kedua orang ini? Menghadapi dirinya atau mencari perkara kepada Tok-sim-sin-mo?
Tanpa merasa Hun Thian-hi melirik lebih tajam ke arah orang tua berjubah kuning, kiranya orang tua ini bukan lain adalah Ce-han-it-ki, It-ki dan It-koay sama muncul di tempat ini, entah apa tujuannya.
Melayangkan pandangan matanya Ce-han-it-ki membuka suara, “Kedatangan kami hanya ingin ikut menyelesaikan perkara di Siau-lim-si sini, tentu Tok-sim-sin-mo sudah berada disini bukan?”
Sementara itu Ciang-ho-it-koay juga sudah melihat kehadiran Hun Thian-hi. mulutnya menggerung gusar, matanya mendelik besar ke arah Thian-hi. mukanya diliputi hawa membunuh. dengan lirikan tajam iapun melerok ke arah Ang-hwat-lo-mo.
Tok-sim-sin-mo masih tetap bersikap tenang tanpa peduli percakapan dan kedatangan lain orang. Adalah Ang-hwat-lo-mo yang bersorak dalam hati begitu mendengar Ce-han-it-ki hendak mencari Tok-sim-sin-mo, musuh yang utama justru adalah ToK-sim-sin-mo, maka segera ia bersuara menuding kepada Tok-Sim-sin-mo, “Tuan inilah tertua dari Si-gwa-sam-mo itu.”
Dengan cermat Ce-han-it-ki mengawasi Tok-sim-sin-mo. mulutnya terkancing tak bersuara.
“Bocah keparat!” seru Ciang-ho-it-koay kepada Hun Thian-hi, “Panjang benar-benar nyawamu, belum mampus kau ya! Hari ini aku tidak akan memberi ampun lagi pada kau. setelah urusan disini selesai, kuharap kau jangan lari” — Lalu ia berpaling ke arah Ang-hwat-lo-mo dan sambungnya, “Demikian juga kau!”
Melihat sikap Tok-sim-sin-mo yang jumawa itu mendengus berang Ce-han-it-ki, kakinya beranjak menghampiri ke belakang Tok-sim-sin-mo.
Dengan gaya tetap duduk bersila mendadak tubuh Tok-sim-sin-mo mencelat naik ke tengah udara, berhenti sebentar seperti mengembang lalu terbang berputar setengah lingkaran, menghindar diri bila Ce-han-it-ki menyergap dari belakang.
Keruan seluruh hadirin melengak dibuatnya, betapa mereka takkan terkejut melihat pertunjukan Cin-kang Leng-kong-pau-si maha lihay dan menakjubkan itu, seluruh hadirin adalah tokoh-tokoh kosen yang bisa juga mempertunjukan Ginkang macam begitu, sulitnya untuk berhenti mengembang sebentar ditengah udara itulah yang tiada seorangpun mampu melaksanakan, bukanlah tidak beralasan bila mereka sama terkejut.
Dari luar lantas berkelebat masuk pula sebuah bayangan orang, yang datang ini adalah Pek Si-kiat. Begitu tiba sepasang matanya segera menyapu selidik keseluruh gelanggang, melihat Hun Thian-hi juga sudah hadir, kelihatan ia rada terkejut. Melihat Pek Si-kiat juga datang sungguh girang Thian-hi bukar main, pihak sendiri terhitung tambah seorang tenaga yang sangat dapat diandalkan. segera ia memburu maju serta menyapa, “Paman Pek, kau baik!”
Pek Si-kiat manggut-manggut. sahutnya, “Sungguh tidak nyana kaupun sudah tiba, aku bergegas menyusul kemari dari barat daya. sangkaku bisa datang lebih cepat dari kedatanganmu, siapa duga aku terlambat satu tindak!”
Ce-han-it-ki dan Ciang-ho-it-koay rada asing terhadap masing-masing Pek Si-kiat dan Tok-sim-sin-mo, dengan penuh rasa curiga dan tanda tanya mereka awasi dua orang tokoh dari Si-gwa-ji-mo bergaantian. mereka tidak tahu akan hubungan dua orang ini.
Melihat kehadiran Pek Si-kiat, Tok-sim-sin-mo bangkit berdiri, serunya kalem, “Memang kedatanganmu sedang kutunggu!”
“Masih ada aku seorang lagi!” terdengar orang berkata dingin dari luar hutan dalam kejap lain ia sudah meluncur turun dan hinggap di tanah. Pendatang baru ini bukan lain adalah Situa Pelita.
Thian-hi kaget dibuatnya, kenapa hari ini seluruh tokoh-tokoh lihay sama meluruk datang.
Situa Pelita mendelik dan berludah ke arah Ang-hwat-lo-mo, pelan-pelan ia memutar tubuh lalu berkata kepada Tok-sim-sin-mo, “Kau memaksa dan menindas seluruh golongan dan aliran persilatan di Tionggoan menutup pintu dan menyimpan pedang, sekarang kau pun main kekerasan pula terhadap Siau-lim, selama kaum gagah masih hidup jangan harap kau dapat melaksanakan angan2 gilamu, seluruh kaum persilatan akan bangkit dan menumpas kau. Sebentar lagi Ce-hun dan Hoan-hu juga akan meluruk kemari untuk membuat perhitungan pada kau, jangan kau takabur dan bersimaharaja disini!”
Tok-sim-sim-mo memicingkan mata, dengan mengejek dingin ia pandang Situa Pelita, bentaknya, “Besar benar-benar bualanmu, siapa kau?”
Malu dan murka pula hati Situa Pelita, di hadapan sekian banyak tokoh-tokoh kosen Tok-sim-sin-mo bersikap begitu merendahkan terhadap dirinya, sambil membanting kaki ia menggerung gusar. serunya, “Kau dibekap lima puluh tahun oleh Ka-yap Cuncia, sudah tentu kau tidak kenal aku.”
Pelan-pelan Tok-sim-sin-mo duduk kembali, katanya kalem, “Kalau begitu, kunanti setelah bantuan kalian datang semua baru bicara lagi!”
Situa Pelita mengalihkan pandangan matanya yang berapi-api ke arah Ang-hwat-lo-mo.
Ce-han-it-ki berpaling ke arah Cukat Tam, ujarnya, “Begitupun baik!” bersama Cukat Tam mereka duduk berendeng.
Baru sekarang Thian-cwan Taysu membuka mata, dengan pandangan kalem ia awasi seluruh hadirin satu persatu, akhirnya ia menghela napas panjang.
“Kenapa Taysu menghela napas!” tanya Situa Pelita.
Thian-cwan Taysu menunduk, sesaat kemudian baru bicara, “Jalan suci cukup panjang, akal iblis harus dijaga, para sicu harus hati-hati, janganlah sampai diperalat oleh musuh.”
Thian-hi pun merasakan akan situasi yang terpecah belah diantara sekian banyak hadirin ini, hati masing-masing punya rasa permusuhan terhadap yang lain, terutama Ciang-ho-it-koay dan si Tua Pelita punya pertikaian sama dirinya, entah apa yang bakal mereka lakukan terhadap dirinya sebelum Ce-hun dan Hoan-hu keburu datang, demikian juga rasa permusuhan mereka terhadap Ang-hwat-lo-mo.
Terdengar Ang-hwat-lo-mo tertawa besar, serunya, “Harap kutanya pada kalian, apa tujuan kita kemari?”
Bagi golongan putih semua sama pasang kuping dan meningkatkan kewaspadaan mendengar pertanyaannya itu, mereka gentar dan rada jeri menghadapi iblis ini, semua orang tahu bahwa orang ini adalah iblis laknat yang harus ditumpas dari percaturan hidup manusia, entah mengapa hari ini mendadak mengajukan pertanyaan ini? Entah apa tujuannya!
Thian-cwan Taysu menanggapi dengan helaan napas panjang lagi, matanya dipejamkan.
Kata Ang-hwat-lo-mo pula, “Kita jangan mengulur waktu lagi, dosa2 Tok-sim-sin-mo tidak terampun lagi, demikian juga aku punya pertikaian terhadap kalian, tapi kenapa sekarang harus persoalkan pertikaian kecil ini, yang penting kita harus bersatu lebih dulu menumpas kelaknatan sepak terjang Tok-sim-sin-mo, soal urusan kita marilah kesampingkan dulu!”
Mendengar propokasi ini Tok-sim-sin-mo tidak bisa tinggal diam, segera iapun menimbrung, “Kau sangka aku gentar terhadap kalian semua!” lalu ia mendengus, pelan-pelan bangkit sambil mendelik ke arah seluruh hadirin.
Hati Ciang-ho-it-koay menjadi jeri, serunya, “Kalau begitu mari kita sama-sama menumpas Tok-sim-sin-mo lebih dulu!”
Situasi menjadi tegang, semua orang saling pandang. Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat mundur ke samping, mereka insaf bahwa Tok-sim-sin-mo bukanlah kaum keroco yang mudah ditundukkan. Terutama senjata Pek-tok-hek-liong-tingnya itu sulitlah dihadapi, mana boleh bertindak begitu ceroboh.
Tok-sim-sin-mo menyeringai sadis, sambil tertawa sinis ia pandang Thian-hi berdua lalu melambaikan tangau. serunya, “Kalian sudahkah pernah dengar nama Pek-tok-hek-liong-ting?” seiring dengan ucapannya ini dari empat penjuru segera terpancang puluhan laras Pek-tok-hek-liong-ting ke arah seluruh hadirin.
Keruan berubah pucat muka seluruh hadirin, mereka adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi adalah mustahil bila tidak mengenal asal usul kehebatan Pek-tok-hek-liong-ting.
Tok-sim-sin-mo menyeringai lagi. ujarnya, “Kalian sendiri agaknya sudah bosan hidup, janganlah salahkan aku bila aku turun tangan kejam pada kalian. Tapi aku tidak akan turun tangan sekarang, tadi kudengar Ce-hun dan Hoan-hu juga akan datang, baiklah aku tunggu kedatangan mereka baru bekerja!”
Meski Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat sudah mundur disamping, namun merekapun masuk dalam kepungan. Diam-diam ia menerawang situasi dalam gelanggang, ia maklum untuk melarikan diri sendiri adalah tidak sulit bagi dirinya, apalagi Wi-thian-cit-ciat-sek sekarang sudah dapat diselami dalam sanubarinya, petunjuk si orang tua itu sungguh sangat berharga sehingga ia dapat menembus kesukaran yang dialami dalam latihannya. Hanya latihan prakteknya saja memang belum sempurna dan matang.
Para hadirin terdiri dari golongan sesat dan aliran lurus, kedua belah pihak sama punya rasa permusuhan yang menghayati sanubari masing-masing, mana mungkin dia turun tangan menolong mereka?
Sedang Ang-hwat-lo-mo adalah tokoh kosen dari golongan sesat. Meski dalam nada perkataan Tok-sim-sin-mo tadi tidak menaruh sebelah mata pada dirinya, tapi Thian-hi jelas mengetahui bahwa Ang-hwat-lo-mo bukan tokoh sembarang tokoh yang boleh dipandang ringan, entah mengapa Tok-sim-sin-mo begitu menghina dan memandangnya rendah.
Tapi dapatkah dia tidak menolongnya? Bukan saja dia sendiri yang harus lolos, bahwa seluruhnya hadirin jelas bersikap memusuhi Tok-sim-sin-mo, bila mereka semua roboh Siau-lim-si pun bakal runtuh secara total dapatkah aku menguasai situasi?
Hatinya sedang bimbang, seluruh hadirin tiada satu pun yang buka suara, seolah-olah mereka sedang dicekam tekanan batin akan ancaman kematian yang sedang dihadapi ini, begitu Ce-hun dan Hoan-hu datang, semua orang tidak akan bisa hidup lebih lama lagi.
Sang waktu berjalan terus, hati masing-masing tengah memikirkan urusan sendiri, sudah tentu apa yang mereka pikirkan satu sama lain berlainan. Tok-sim-sin-mo mengulum senyum sinis, biji matanya yang memutih berkilat dengan dingin memandangi seluruh hadirin, begitu Ce-hun berdua tiba. segera ia akan bikin mampus semua orang yang hadir disini.
Mata Hun Thian-hi berkilat, akhirnya sambil kertak gigi ia membuka suara kepada Tok-sim-sin-mo, “Kuharap sementara ini jangan kau terlalu takabur, tempo hari aku tidak berbuat kelebihan terhadap kau karena Wi-thian-cit-ciat-sek memang belum sempurna kulatih, sekarang, apakah kau ingin coba perbawa Wi-thian-cit-ciat-sek yang tulen?”
Thian-hi maklum untuk meloloskan diri dari Kepungan adalah mudah. Tujuan Tok-sim-sin-mo adalah menumpas seluruh hddirin lalu menghadapi dirinya seorang, bagi dirinya untuk mengatasi situasi gelanggang supaya semua orang dapat menyelamatkan diri adalah terlalu sulit dan berat, tapi aku sudah hadir dan ikut terjun dalam gelanggang yang genting ini, masa aku harus mundur dan ragu-ragu, terpaksa harus kucoba lebih dulu.
“Anggapmu dengan kekuatanmu seorang dapat menandingi kakuatan Pek-tok-hek-liong-ting?” demikian jengek Tok-sim-sin-mo, tiba-tiba tangannya bertepuk lagi, dari empat penjuru muncul pula puluhan laras Pek-tok-Hek-liong-ting.
Tercekat hati Thian-hi, tanpa ayal segera tubuhnya mencelat terbang lempang ke depan, sembari melesat terbang ini, tangannya meraih keluar serulingnya terus menerjang keluar.
Tok-sim-sin-mo berjingkrak gusar. tangan kanan segera diangkat tinggi, seketika puluhan laras Pek-tok-hek-liong-ting terpancang ke arah Hun Thian-hi, dimana terdengar pegas2 berbunyi, udara seketika diliputi hujan Hek-liong-ting yang menerjang bersama ke arah Thian-hi.
Pek-tok-hek-liong-ting merupakan senjata rahasia yang paling ganas dan jahat dikalangan persilatan bukan saja perbawanya sangat besar, di bawah ciptaan seorang ahli sehingga dia dapat meluncur dengan kekuatan deras yang hebat sekali, apalagi setiap pakunya sudah direndam racun berbisa yang sangat jahat, begitu kena kulit lantas melepuh, meresap ke dalam darah jiwa segera bakal melayang.
Seluruh hadirin sama merasa kuatir bagi Hun Thian-hi, meskipun diantara mereka ada yang berasa benci dan ingin membunuhnya, tapi serta melihat sepak terjangnya sekarang tiada yang tidak merasa kagum dan memuji dalam hati. Sungguh mereka akan merasa sayang dan gegetun bila seumpama dia berkorban demi keselamatan lain orang, bila diantara mereka ada yang memiliki kepandaian setinggi dan setingkat dengan Hun Thian-hi belum tentu mereka rela untuk berkorban diri demi keselamatan orang lain menghadapi keganasan Pek-tok-hek-liong-ting seorang diri.
Demikianlah sambil mengeluarkan suara desisan yang ramai seluruh paku2 naga hitam yang tak terhitung banyaknya itu serabutan saling samber ditengah udara. Tampak tubuh Hun Thian-hi jumpalitan setengah lingkaran ditengah udara, mulutnya bersuit panjang bagai pekik naga yang marah mengalun tinggi menembus angkasa. Bersama dengan itu Wi-thian-cit-ciat-sek telah dikembangkan. Dimana seruling pualamnya bergerak seketika terbit gelambung kabut memutih mengepul kesekitar gelanggang, kelihatan batang seruling itu rada tergetar, diantara pergerakan yang beberapa mili itu saja ia sudah melancarkan tenaga hebat yang tak terbendung. tujuh jalur gelombang tenaga dengan kekuatan berkisar yang dahsyat memberondong keluar dari tujuh jurusan yang berlainan, berbareng menyambut maju ke arah Hei-liong-ting yang beterbangan diudara.
Para tokoh-tokoh kosen yang hadir semua menjadi melongo dan menahan napas, mereka manjadi kesima dan seperti lupa diri menyaksikan pertempuran hebat yang tiada bandingannya di seluruh dunia persilatan.
Seperti telah diketahui bahwa Wi-thian-cit-ciat-sek adalah ilmu pedang tingkat tinggi yang tiada taranya yang diagungkan dalam dunia persilatan, bersama Hui-sim-kiam-hoat mempunyai perbawa dan menjunjung keangkerannya masing-masing, tapi dia menpunyai bidang yang lain dari Hui-sim-kiam-hoat itu yaitu cara Kui-sim-kiam-hoat melancarkan tenaganya memerlukan gerakan besar, justru berlainan dengan Wi-thian-cit-ciat-sek. cukup dengan gerakan yang beberapa mili meter belaka sudah dapat mengembangkan tenaga atau melancarkan kekuatan dahsyat yang tiada bekas dan tidak kelihatan.
Begitu kekuatan dua rangsakan yang berlawanan saling bentrok, Pek-tok-hek-liong-ting kepergok oleh perbawa kekuatan Wi-thian-cit-ciat-sek, daya luncurannya yang cepat dan hebat itu seketika menjadi merandek dan lembek tenaganya.
Begitu Hun Thian-hi kerahkan seluruh kekuatan Lwekangnya, seluruh Pek-tok-hek-liong-ting seperti berhenti ditengah udara, akhirnya bergerak berpular menurut tuntunan tenaga gerakan seruling Hun Thian-hi terus meluncur keluar dan berjatuhan tercerai berai diluar hutan.
Diam-diam Hun Thian-hi bersyukur, ia sendiri menjadi sangsi bahwa dirinya sekarang telah membekal Lwekang yang begitu dahsyat. Sebaliknya mata Tok-sim-sin-mo memancarkan sinar aneh yang menakutkan dengan dada berkembang kempis ia menatap Hun Thian-hi lekat-lekat.
Dari iuar hutan tampak melangkah masuk Ce-hun Totiang dan Hoan-hu Popo. dibelakangnya mengintil pula Bun Cu-giok dan Ciok Yan, melihat keadaan situasi gelanggang, seketika mereka pun melengak dan mencelos
Setelah menyapu pandang seluruh hadirin berserulah Tok-sim-sin-mo, “Penyelesaian urusan hari ini baiklah aku tunda sementara waktu, biar kita selesaikan lain kesempatan saja, sekarang aku permisi lebih dahulu!” lalu ia pimpin Lam-bing-it-hiong dan lain-lain meninggalkan hutan bambu itu.
“Nanti dulu!” tiba-tiba terdengar Situa Pelita dan Ciang-ho-it-koay membentak bersama sebelum Tok-sim-sin-mo dan lain-lain tinggal pergi.
Tok-sim-sin-mo membalikkan tubuh, ganti berganti ia pandang kedua orang ini sambil memicingkan matanya.
Seru Ci-ing-ho-it-koay Cukat Tam, “Anggapmu hari ini dapat tinggal pergi sesuka hatimu?”
Tok-sim-sin-mo terkekeh dingin, katanya memandang ke arah Hun Thian-hi, “Kekuatan Pek-tok-hek-liong-ting tadi kalian sudah menyaksikan, diantara Kalian siapa lagi yang mampu bertahan dari serangannya?” — Lalu ia menambahkan kepada Hun Thian-hi, “Jangan lupa, Sutouw Ci-ko sudah minum obat racunku!” lenyap suaranya tubuhnya pun berkelebat keluar menghilang.
Mendengar ucapan Tok-sim-sin-mo sebelum berlalu itu Pek Si-kiat menjadi tertegun. serunya kepada Thian-hi, “Apa benar-benar ucapannya?”
Pelan-pelan Hun Thian-hi manggut-manggut, ia tidak bersuara lagi.
Seluruh pandangan hadirin tertuju ke arah Hun Thian-hi, semua adalah tokob2 kosen tapi dalam hati mereka maklum, bahwa tiada diantara mereka yang kuat melawan Hun Thian-hi lagi.
Pek Si-kiat menjadi gugup serunya pula, “Kalau begitu mari lekas kita kejar!”
Hun Thian-hi hanya tersenyum tawar, matanya memandang pada para hadirin.
Situa Pelita segera menjengek dingin, “Ingin lari segampang itu kau?”
Pek Si-kiat menggeram gusar, matanya mendelik, semprotnya kepada Situa Pelita, “Sombong benar-benar
kau. mengandal kau seorang berani menahan kami?”
Saking murka Situa Pelita tergellak tawa. serunya, “Hun Thian-hi berbuat dosa dan durhaka, dosa2nya tak berampun lagi, kau sendiri jiwamu belum tentu dapat kau selamatkan berani kau hendak melindungi orang lain?”
Bertaut alis Pek Si-kiat, bentaknya, “Jikalau Hun Thjan-hi tadi tidak mengunjuk kepandaiannya, sejak tadi kalian sudah mampus di bawah serangan Pek-tok-hek-liong-ting sekarang berani kau mengumbar mulut!”
Seketika Situa Pelita terbungkam seribu basa, memang kenyataan ucapan Pek Si-kiat dan tidak dapat dibantah lagi, betapapun lincah lidahnya pandai bermain sekarang dia terbungkam mulutnya.
Thian-cwan Taysu pelan-pelan bangit berdiri, katanya, “Kalian harus tahu bahwa kematian Bu-tong Ciangbunjin Giok-yap Cinjin bukan terbunuh oleh Hun Thian-hi, untuk hal ini aku berani mengatas nama seluruh keagungan nama Siau-lim-pay sebagai jaminan, bila urusan ini masih berkepanjangan biar akulah yang bertanggung jawab.”
Ucapan Thian-cwan Taysu ini seketika membuat seluruh hadirin tertegun kaget. Demikian juga Hun Thian-hi tidak kepalang kejutnya, sungguh haru dan terima kasih yang tak terhingga kepada padri agung ini. Sungguh tidak habis herannya mengapa Thian-cwan Taysu mau menjamin akan kesucian dirinya, sebagai bekas Ciangbunjin dari Siau-lim-pay yang terdahulu, ucapannya dapatlah mewakili nama seluruh partai Siau-lim. Ucapannya ini tak perlu disangsikan lagi sekaligus akan mencuci bersih segala dosa2 berlimpah yang dituduhkan atas dirinya.
Tapi Ang-hwat-lo-mo memang licik segera ia coba mendebat, “Tapi ada orang melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Hun Thian-hilah yang membunuh Gjok-yap. Coba kau jelaskan?”
Dasar licin ia mempunyai perhituagan demi keuntungannya sendiri. Bahwa Hun Than-hi rela mengabaikan dendam pribadi dan mengunjuk kepandaian yang tiada taranya demi menolong jiwa seluruh hadirin tadi, meski pun Lam-siau Kongsun Hong berada dicengkeraman tangannya.
Thian-hi pun takkan mau diperas dan diancam oleh dirinya.
Apalagi kepandaian silat Hun Thian-hi sudah begitu hebat, beberapa waktu lagi tentu ilmu silatnya bakal lebih maju, bila sekarang tidak mencari kesempatan untuk melenyapkan jiwanya, kelak mungkin merupakan lawan terberat yang bakal merugikan kepentingannya.
Sekarang perhatian seluruh hadirin terpusatkaa pada Thian-cwan Taysu. terdengar sipadri agung inj menjawab pelan-pelan, “Itu hanya sekedar permainan Mo-bin Suseng belaka, kalian semua harus percaya akan ucapanku!”
“Ucapan Thian-cwan Taysu selamanya memang benar-benar,” demikian jengek Ang-hwat-lo-mo, “Sebagai tokoh yang diagungkan kaum persilatan sudah pantas kalau kami percaya setiap nasehatnya. Tapi kami pun harus sadar, bahwa ilmu silatnya sudah dipunahkan oleh Tok-sim-sin-mo, kami sendiri pun sudah kenal akan permainan Tok-sim yang keji dan licin itu, apakah Thian-cwan Taysu melulu hanya dipunahkan ilmu silatnya?” — Sampai disini ia bergelak tawa, lalu sambungnya lagi mempertegas tuduhannya tadi, “Ingat ada orang yang melihat sendiri bahwa Hun Thian-hilah yang membunuh Giok-yap Cinjin!”
Nada perkataannya jelas menerangkan akan kesangsian hatinya bahwa kemungkinan besar Thian-cwan Taysu sudah diperalat oleh Tok-sim-sin-mo, entah itu dengan cara obat beracun atau dengan jalan keji yang lain.
Thian-cwan angkat kepala, pancaran matanya main selidik dimuka semua hadirin. melihat sikap mereka ia tahu bahwa situasi tidak menguntungkan bagi Hun Thian-hi, terpaksa ia berkata pula, “Aku hanya dapat menerangkan seringKas tadi, terserah kalian mau percaya? Aku tiada punya hak untuk tanya pada kalian. Tapi kalian juga harus ingat dan sadar bahwa Ang-hwat adalah gembong iblis yang durjana pula!”
Lalu ia berpaling ke arah Hun Thian-hi serta katanya pula, “Hun-sicu, karena sedikit kecerobohan. Lolap sehingga aku perintahkan Suteku pimpin anak muridnya mengejar dan mengepung Sicu. sekarang aku sudah berusaha sekuat tenagaku untuk menebus kesalahan itu, harap Hun-sicu suka maklum dan memaafkan dosa2 ini!”
“Terima kasih Lo-cianpwe.” ujar Hun Thian-hi menjura, “Begitu besar kepercayaan Cianpwe terhadap diriku, betapa besar rasa terima kasih Hun Thian-hi!”
Thian-cwan Taysiu manggut-manggut sembari menghela napas, ia berpaling kekanan diri. dalam hati ia membatin, “Dengki dan dendam kesumat, membuat semua orang ini luntur hatinya” — Lalu katanya pula kepada Thian-hi, “Siau-sicu harap berlaku hati-hati. Lolap segera minta diri terlebih dulu. Siau-sicu kali ini telah menolong bencana yang bakal menimpa dan menimbulkan kemusnahan bagi Siau-lim kita, Lolap beserta, seluruh anak murid Siau-lim akan selalu mengingat kebaikan ini sepanjang masa.”— Selesai berkata pelan-pelan ia tinggal keluar hutan bambu. Ia insaf sebentar lagi tempat ini tentu bakal timbul pertempuran besar.
Melihat Thian-cwan Taysu sudah pergi, tertawalah Ang-hwat-lo-mo, serunya, “Kalian tentu heran kemanakah juntrunganku bukan? Kenapa aku bicara seperti tadi, kelihatannya sedang mengadu domba kalian. Bicara terus terang, meskipun karena kalian tapi juga karena aku sendiri. Dulu aku pernah menolongnya karena dia bejat, tapi ilmu silatnya tidak becus. Dan sekarang dia tidak berubah baik, malah bergaul keluntang keluntung dengan salah seorang Si-gwa-sam-mo yaitu Pek-kut-sin-mo itu. tapi ilmu silatnya sudah tinggi tiada tandingan, bila hari ini kita tidak memberantasnya, kelak siapa yang kuasa mengendalikan dirinya?”
Seluruh hadirin menjadi saling pandang, hampir tiada seorang yang hadir merasa simpatik dan bersahabat terhadap Hun Thian-hi, pertunjukan kehebatan ilmu pedangnya justru menimbulkan rasa sirik dan dengki hati mereka, kalau bisa melenyapkan jiwa Hun Thian-hi memang merupakan keentengan suatu beban yang sekarang terasa memberati sanubari masing-masing.
Pek Si-kiat terkial-kial dingin, suara tawanya panjang bergelombang, dengan tajam ia menyapu pandang keseluruh hadirin, jengeknya dingin, “Hun Thian-hi adalah ahli waris dari Wi-thian-cit-ciat-sek. murid angkat dari Ka-yap Cuncia. diantara kalian siapa yang berani bicara bahwa pandangan kalian jauh lebih cermat dari Ka-yap Cuncia? Demi kepentingan pribadi kalian sendiri sehingga kalian rela melakukan perbuatan tercela yang memalukan!”
Ce-hun Totiang yang baru datang segera tampil ke depan, katanya dingin, “Siapa yang bisa memberi bukti bahwa bukan dialah yang membunuh Suhengku Giok-yap Cinjin? Ketahuiliah banyak orang menyaksikan bahwa dialah yang membunuh Giok-yap Cinjin!”
Terbakar rongga dada Pek Si-kiat, amarahnya tidak terkendali lagi, dengan delikan mata berapi-api ia pandang Ce-hun Tocang. dengusnya, “Pertanyaanmu memang tepat. Apakah benar-benar ada seseorang yang telah melihat Hun Thian-hi menghunjamkan Badik buntung kedada Giok-yap Cinjin? Hayo jawab!”
Ce-hun Totiang tertegun, mulutnya kememek tak mampu menjawab, sesaat kemudian ia berkata tersekat, “Sudah cukup bila ada orang melihat dia sedang mencabut Badik buntung dari dada Suhengku. Apalagi Badik buntung memang miliknya dan berada ditangannya, jelas tiada lain orang yang mampu berbuat demikian, kecuali dia sendiri bisa membuktikan bahwa bukan dialah yang melakukan pembunuhan itu.”
“Besar benar-benar mulutmu, ja” jengek Pek Si-kiat.
“Pek-kut!” teriak Situa Pelita, “Kaupun seharusnya sudah bertobat. Ka-yap Cuncia mengurungmu lima puluh tahun, kau masih belum mampus. justru hari inilah saat kematianmu.”
Pek Si-kiat menggeram sambil menahan gusar dan kertak gigi, pelan-pelan ia membalik dan setindak demi setindak menghampiri ke arah Situa Pelita.
Ciut nyali Situa Pelita, serta merta kakinya melangkah mundur. Terdengar Ciang-ho-it-koay menggerung juga. ia maju selangkah mendekat ke arah Situi Pelita. Bertambah besar nyali Situa Pelita. segera ia berdiri tegak sambil mengerahkan tenaganya.
Pek Si-kiat melangkah lagi setindak. Berbareng Si tua Pelita dan Ciang-ho-it-koay melejit maju seraya melancarkan serangannya dari kanan kiri ke arah Pek-kut-sin-mo. Mereka sama sebagai tokoh kosen tingkat tinggi, dengan serangan gabungan, sudah tentu perbawanya bukan kepalang hebatnya, seluruh hadirin menjadi berdetak jantungnya.
Terdengar Pek Si-kiat menjerit lantang, sebagai Si-gwa-sam-mo sudah tentu kepandaiannya merupakan ilmu2 yang hebat pula. sedikit bergerak miring kekanan kiri, enteng sekali kedua telapak tangannya ditepuk menyongsong ke depan, berbareng kakinya bergerak selincah kera melejit keluar dari lingkungan kedua musuhnya berbareng membalikkan pukulan balas menyerang Situa Pelita dan Cian-ho-it-koay sama bercekat hatinya, tak terduga oleh mereka bahwa Pek Si-kiat bergerak segesit itu, baru sekarang terpikir oleh mereka bahwa julukan nama Si-gwa-sam-mo niscaja bukan nama kosong belaka, kepandaian Pek Si-kiat yang terkecil dari Si-gwa-sam-mo sudah begitu hebat apalagi kepandaian Tok-sim-sin-mo dapatlah dibayangkan….
Begitulah Situa Pelita berdua pun bergerak tidak kalah sebatnya, begitu berputar berbareng layangkan pukulannya menyambut dengan gertakan, tapi ditengah jalan tiba-tiba mereka mencelat berpisah dan menubruk pula kepada Pek Si-kiat.
Pek Si-kiat menjadi murka. tahu dirinya diledek demikian rupa, serentak ia tambah tenaga dan pergencar serangan. Diam-diam ia sudah menerawang situasi gelanggang, seluruh hadirin adalah tokoh-tokoh yang berkepandaian silat cukup lihay, dengan satu lawan dua ia percaya dirinya tidak akan terkalahkan. tapi untuk menang ia pun rada ragu-ragu.
Sekonyong-konyong ia mencelat mundur rada jauh. menjengek dingin kepada dua lawannya lalu berpaling kepada Hun Thian-hi, katanya, “Kau terjang dulu keluar, biarlah aku yang menghalangi sepak terjang mereka.”
“Masa ada kejadian begitu gampang.” demikian seru Ang-hwat-lo-mo sambil bergelak tawa. Dimana ia menggerakkan tangan tahu-tahu sebilah pedang pendek yang memancarkan, sinar kekuning mas sudah dicekal ditangannya, pedang ini panjang tiga kaki sinarnya nenyilaukan mata. Terang bukan senjata sembarangan.
“Kau tidak lebih hanya seorang Siaupwe saja. jangan anggap bahwa kau tiada tandingannya di jagat ini!” demiKian maki Pek Si-kiat dengan nada menghina.
Ang-hwat-lo-mo tertawa panjang, pedang ditangan kanan terayun kontan ia lancarkan jurus ciptaan tunggalnya yang ganas yaitu Jan-thian-ciat-te (mencacat langit pelenyap bumi) taburan sinar kuning keemasan seperti lembayung memancar ke tengah udara terus menungkrup ke atas kepada Pek Si-kiat.
Rada terkejut hati Pek Si-kiat menghadapi serangan hebat ini, sekilas pandang saja lantas ia dapat menjajaki bahwa kepandaian dan Lwekang Ang-hwat-lo-mo sebetulnya memang sangat tinggi tak dapat dipandang ringan. terutama Lwekangnya jauh lebih tinggi dari bayangannya semula, memang tidaklah bernama kosong dan tiada sebabnya bila Ang-hwat-lo-mo diagungkan sebagai gembong iblis yang ditakuti pada jaman ini, dibanding dirinya sendiri kiranya juga cuma terpaut beberapa tingkat saja. Apalagi sekarang Ang-hwat-lo-mo menyerang dengan senjata tajam yang luar biasa menghadapi kedua tangannya yang kosong. jelas dia sudah mengambil keuntungan.
Pek Si-kiat menjadi beringas, seluruh kekuatan Pek-kut-sin-kangnya dikerahkan untuk menghantam dan melawan rangsakan pedang lawan, hawa memutih dari uap pukulan tangannya yang sakti meluber laksana air bah terus melandai ke depan menyongsong pedang lawan, pikirnya bila perlu biar gugur bersama, betapa pun ia pantang mundur.
Sedetik sebelum kekuatan dua belah pihak yang dahsyat itu saling bentur, tiba-tiba Hun Thian-hi bersuit panjang, tubuhnya mencelat tinggi ke atas, Dari samping ia menonton dengan jelas bila kedua belah pihak benar-benar mengadu kekuatan secara kekerasan pasti berakhir dengan sama luka parah kalau tidak sampai meninggal, sudah tentu Thian-hi tidak menghendaki bila Pek Si-kiat sampai terluka parah, maka begitu tubuhnya mencelat mumbul lempang. serulingnya segera menutuk ditengah antara kedua rangsakan tenaga raksasa yang hampir bentrok itu, dengan jurus Burung bangau menjulang tinggi menembus awan ia pecahkan kekuatan tenaga yang hampir saling bentur itu, berbareng seperti menunggang awan tubuhnya mengikuti gelombang tenaga dua belah pihak yang bocor itu terus jumpalitan turun pada diarah yang berlawanan.
Bercekat hati Ang-hwat-lo-mo sekian lama ia terlongong-longong memandangi diri Thian-hi.
Sementara Thian-hi sendiri juga dirundung keheranan, waktu tubuhnya mencelat tinggi tadi ia sudah memperhitungkan hendak melancarkan sejurus dari kembangan Wi-thian-cit-ciat-sek. tapi serta sudah berlangsung ditengah jalan tanpa disadari ia melancarkan jurus ketiga dari Gin-ho-sam-sek itu ternyata hasilnya juga begitu memuaskan dan diluar perkiraannya, begitu mudah ia memisah suatu bentrokan yang sulit dibayangkan akibatnya sebelumnya. Maka terasa olehnya sendiri bahwa Lwekangnya sekarang sudah maju pula berlipat ganda, tenaganya dapat dikendalikan sesuka penggunaannya.
Dalam pada Itu Ce-han-it-ki juga tengah memandang Thian-hi dengan rasa heran. tanyanya, “Apa hubunganmu dengan Soat-san-su-gou?”
Semula Thian-hi melengak mendengar pertanyaan ini. Sudah lama ia tidak dengar orang menyinggung nama Soat san-su-gou, sekarang Ce-han-it-ki menyinggung nama suci para beliau itu mungkinkah orang ini punya hubungan yang sangat erat dengan mereka? Soat-san-Su-gou tergolong lurus dan bermartabat gagah, betapa tinggi kepandaian silat mereka. rasanya tidak lebih rendah dari setiap hadirin disini. Kebaikan para beliau2 itu rasanya hanya guru budiman Kongsun Hong yang memgasuh dan membesarkan dirinya yang bisa membandingi.
Dengan tersenyum ia menjawab, “Entah apa hubungan Cianpwe dengan mereka berempat?”
Mendadak Ang-hwat-lo-mo menghardik murka, rambutnya sampai berdiri dan mata beringas ia menubruk pula, kali ini pedangnya bergerak menyerang dengan jurus Thian-ko-te-wi langit tinggi bumi berputar sasarannya adalah perut Hun Thian-hi.
Laksana ular hidup berlaksa banyaknya yang melenggang dari segala penjuru sekaligus merangsek bersama ke arah Thian-hi. Terangkat tinggi alis Thian-hi, seruling segera diacungkan miring, kontan ia lancarkan sejurus Wi-thian-cit-ciat-sek. seluruh kekuatan rangsakan Ang-hwat-lo-mo kena tergulung berkisar hebat menerpa balik keempat penjuru pula.
Dipihak lain sepasang biji mata Situa Pelita pun Sudah memancarkan sorot berkilat yang menakutkan, seluruh keluarganya dibabat habis oleh kekejaman Ang-hwat-lo-mo, selama ini ia sudah tekun dan rajin belajar mempertinggi kepandaian silatnya. sekarang kebetulan secara langsung sudah berhadap dengan musuh besarnya, tapi dia punya pikiran dan perhitungan pula. dia ingin supaya Ang-hwat-lo-mo menempur Hun Thian-hi lebih dahulu, adalah lebih baik dan menguntungkan bila kedua belah pibak sama gugur. Tapi dilihatnya waktu Ang-hwat-lo-mo melancarkan Pencacat langit dan pelenyap bumi ternyata dapat dipecahkan oleh Thian-hi begitu gampang, sekarang mengembangkan pula langit tinggi dan bumi berputar. Maka terbayanglah akan adegan dimana seluruh keluarganya kena dibabat dibacok dan ditendang serta entah diapakan lagi dengan cara kekejaman yang luar biasa, timbul kesadaran dalam benaknya akan sifat egoisnya sehingga sanubaarinya terketuk, badannya gemetar tanpa kedinginan. sungguh ia merasa sangat sesal, dia beranggapan bahwa dirinya sudah melepas budi setinggi2nya kepada Hun Thian-hi. sekarang dia menjadi heran kenapa aku mendadak mengharap Hun Thian-hi gugur bersama musuh besarnya ini?
Sungguh dia tidak habis herannya tak tahulah kenapa mendadak punya perasaan yang tercela ini, mungkin secara mendadak ia merasakan bahwa beranggapan dirinya telah kena ditipu oleh Hun Thian-hi, rasa harga dirinya yang melibatkan pendiriannya ke arah yang nyeleweng ini, sehingga tanpa beralasan tanpa punya dasar yang kuat ia mengharap Hun Thian-hi gugur, seumpama ia sudah menyadari bahwa angan2nya itu salah. namun ia pun takkan mau memperbaiki kesalahannya itu pula.
Baru sekarang Situa Pelita mulai insaf, ia sadar dan menyesal, untunglah ia belum terlibat untuk memberikan kepercayaannya terhadap Hun Thian-hi. Sesaat ia menenangkan pikirannya waktu ia mendongak melihat keadaan gelanggang pertempuran. situasi sudah banyak berubah, tampak Ang-hwat-lo-mo, Ce-han-it-ki, Ciang-ho-it-koay dan Ce-hun Totiang serta Hoan-hu Popo bersama sedang menempur Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat. Keadaan mereka berdua sudah rada payah.
Keruan ia tersentak kaget, seluruh tokoh-tokoh silat yang hadir sudah menerjunkan diri dalam pertempuran sengit ini, masa dirinya masih menjublek dan melamun….
Dengan sekuat tenaga dan seluruh kemampuannya Hun Thian-hi layani segala serangan dan rangsakan musuh2 kuatnya. Betapa ilmu silat Ang-hwat ia sudah dapat menyelaminya. Kepandaian Ce-hun Totiang dan Ce-han-it-ki secara diluar dugaannya kiranya juga tidak lebih rendah dari Ang-hwat-lo-mo,
Betapapun Hun Thian-hi tidak akan menyerah, dengan sengit ia tempur lawan2nya, namun lama kelamaan ia rasakan tekanan dari empat penjuru semakin berat hampir ia susah bernapas. Insaf dia bahwa untuk menang hari ini agaknya sangat sulit dan tak mungkin lagi. Harapannya terakhir hanyalah melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek. memang secara coba-coba saja meski tidak berguna paling tidak Pek Si-kiat akan dapat diberi peluang untuk meloloskan dirinya.
Sesaat lamanya Situa Pelita masih bingung, entah apa yang harus dilakukannya, ingin dia membantu Hun Thian-hi supaya orang dapat menerjang keluar kepungan, tapi apakah kekuatannya mampu untuk menjebol masih tanda tanya, bukan mustahil malah dirinya bakal menimbulkan rasa marah mereka dan aku sendiri yang bakal konyol nanti. Pikirnya ia hendak meminjam tenaga orang banyak untuk membunuh Ang-hwat. tapi keadaan yang sengit ini tak mungkin keinginannya bisa tercapai.
Hun Thian-hi bersuit panjang, seruling teracung miring ke atas, terpaksa ia harus lancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, semua pengepungnya terdesak mundur, kesempatan yang baik ini segera mereka menjejakkan kaki bersama Pek Si-kiat terbang keluar melarikan diri.
Ang-hwat-lo-mo segera melancarkan pula Jan-thian-ciat-te yang ganas itu untuk menyerang dari belakang. Tanpa berjanji Thian-hi berdua membalik tubuh menangkis, musuh yang lain jadi berkesempatan memburu tiba pula, Hun Thian-hi berdua terkepung pula.
Soalnya Thian-hi segan melukai siapa saja bagi setiap pengerojoknya ini, tapi dalam keadaan terpepet, setelah usahanya meloloskan diri gagal, sekarang terkepung lagi, sinar matanya menjadi berkilat, akhirnya dalam hati ia ambil ketetapan, sang waktu tidak boleh diulur pula. Untunglah tepat pada saat itu juga Situa Pelita menghardik keras, tubuhnya terbang mencelat menubruk ke arah Ang-hwat-lo-mo, sebelah tangannya dengan kekuatan dahsyat menggempur ke punggung Ang-hwat-lo-mo.
Keruan Ang-hwat-lo-mo terkejut, sungguh ia tidak menduga dalam situasi gawat yang menguntungkan ini mendadak Situa Pelita menyerang dirinya, dengan mendengus gusar, pedang masnya membabat balik ke belakang, secara gencar iapun balas menyerang ke pada Situa Pelita.
Dasar cerdik dan cukup cekatan Hun Thian-hi tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini sekonyong-konyong serulingnya menyelonong miring ke depan menutuk jalan darah mematikan di depan dada Ang-hwat-lo-mo. Tapi bersamaan waktunya Ciang-ho-it-koay pun sedang memukulkan kedua telapak tangannya menghantam punggung Thian-hi.
Begitu merasa angin keras menyerang tiba terkejut Ang-hwat-lo-mo dibuatnya, sungguh tak nyana olehnya di bawah serangan gencar para musuhnya itu Thian-hi masih sempat menyerang balik kepada dirinya pula, agaknya ia tidak hiraukan keselamatan diri sendiri pula, mungkin sudah nekad. Namun bila lawan main nekad dan ingin gugur bersama, adalah dirinya tidak mau roboh begitu saja secara konyol, apalagi seruling Hun Thian-hi menutuk begitu telak, sehingga ia kehilangan kesempatan untuk balas menyerang kepada Situa Pelita, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan diri sendiri.
Dengan sendirinya Situa Pelita juga tak mau kehilangan kesempatan untuk melukai musuh. Di bawah gencetan dari dua jurusan rangsakan dua tokoh hebat Ang-hwat-lo-mo masih berusaha berkelit tapi tak urung lengan kirinya kena tertutuk seruling Thian-hi, demikian juga pukulan keras Situa Pelita telak sekali mengenai sebelah kiri punggungnya. Kontan Ang-hwat menjerit keras, darah segera menyemprot dari mulutnya, tubuhhja pun terhujung hampir roboh.
Tujuan tutukan Hun Thian-hi akan menamatkan riwayat Ang-hwat-lo-mo, sayang rangsakan Ciang-ho-it-koay yang memukul dari belakang itu pun tak kuasa dihindari lagi, betapa hebat pukulannya, kontan iapun tersampuk sempoyongan ke samping, lengannya kanan kesakitan dan kesemutan, hampir saja ia tidak kuasa memegang serulingnya lagi.
Terdengar pula suara bentakan dan teriakan keras saling bersahutan. Sekuat tenaga Ang-hwat menghimpun tenaga dan semangatnya menggempur balik ke arah Situa Pelita, kedua belah pihak gunakan kekerasan untuk saling serang dengan seru, keadaan pertempuran semakin gegap gempita.
Meski Hun Thian-hi membekal Lwekang maha tinggi, karena lengan kanan sudah terluka tenaganya menjadi banyak berkurang, cara gerak jurus permainannya sudah tidak sehebat dan sekuat tadi.
Sementara itu Situa Pelita pun ikut terkepung di tengah keroyokan orang banyak, terdengar ia berteriak, “Kenapa kalian tidak bunuh Ang-hwat si durjana ini?”
Ciang-ho-it-koay menggeram jengeknya, “Setelah bunuh Hun Thian-hi masih belum terlambat melenyapkan Ang-hwat sekalian. Kejahatan dan ketelengasan Hun Thian-hi jauh lebih berbahaya dari Ang-hwat si iblis laknat ini.”
Hun Thian-hi menengadah bergelak panjang, serunya pada Pek Si-kiat dan Situa Pelita, “Mari kubantu kalian, membobol keluar kepungan dulu!”
“Boleh kau coba!” jengek Ce-han-it-ki seraya melintangkan pedang panjangnya untuk membendung arus rangsakan seruling Hun Thian-hi.
Badan Hun Thian-hi terbang lempang ke depan serulingnya menukik dari atas kebawah, dimana ia kerahkan tenaga dalam kembangan jurus Wi-thian-cit-ciat-sek. kontan para pengepungnya seperti terdorong mundur oleh tenaga dahsyat seperti air bah yang tidak kelihatan, kepungan yang rapat saketika menjadi bobol. yang lebih hebat lagi kedua senjata ditangan Bun Cu-giok dan Ciok Yan kontan terbang lepas dari cekalannya. Bersamaan waktunya terdengar Ce-hun Totiang dan Hoan-hu Popo membentak berbareng seraya membacok dan menusuk pedang masing-masing ke arah Hun Thian-hi, mati-matian mereka bekerja keras untuk mencegat jalan lari mereka bertiga.
Tapi Hun Thian-hi sudah menyerbu membabi buta. seperti banteng ketaton, sayang lengan kanannya terluka, terpaksa ia harus mundur ditengah jalan. kepungan kembali diperketat, kedua belah pihak kembali terlibat dalam pertempuran mati-matian yang cukup seru.
Dalam sekejap lagi cuaca bakal gelap gulita meskipun mereka sudah bekerja sekuat tenaga tapi selama itu mereka tak berhasil merobohkan musuh dan tidak mungkin berhenti begitu saja ditengah jalan. dalam keadaan saling berkutat dan bisa maju dan tak mungkin mundur, pertempuran berjalan terus sama kuat, kegelapan sang malam akhirnya berganti dengan sang fajar yang telah menyingsing tiba. Jadi mereka sudah bertempur sehari semalam tanpa ada kesudahan yang menentukan.
Sebenar-benarnya Ang-hwat-lo-mo sudah tidak kuat bertahan lagi. Dia tabu bahwa luka-luka tubuhnya tidaklah ringan. tapi betapa pun ia tidak rela melepas kesempatan yang bagus ini, kalau sekarang dia melepas Hun Thian-hi pergi, mungkin kelak bakal menjadikan bibit bencana atau perintang utama bagi pergerakan cita-citanya. Apalagi Hun Thian-hi sendiri juga sudah terluka, sekejap lagi tidak akan kuat bertahan. dan akhirnya yang bakal roboh justru Hun Thian-hi sendiri.
Luka lama Hun Thian-hi belum lagi sembuh dan pulih seluruhnya, kini ia terluka pula tidak ringan, apalagi sudah bertempur sekian lama badan pun sudah lelah dan kehabisan tenaga. Nuraninya benar-benar berharap, meski pun ini hanya angan2 kosong supaya Ham Gwat bisa segera tiba menolong dirinya seperti kejadian beberapa waktu yang lalu…. Bukan saja dirinya bakal bebas dari ancaman bencana, Ang-hwat-lo-mo juga pasti dapat ditumpas.
Pertempuran terus berlangsung, masing-masing pihak terus berkutat dan tiada yang mau mengalah, segala kepandaian dan ilmu dibojong keluar demi mempertahankan hidup dan mati, tapi selama itu keadaan tetap sama kuat alias setanding.
Suatu kesempatan Hun Thian-hi mendongak melihat Angkasa, tampak rasa putua asa membayang dalam sinar matanya, bila Ham Gwat mau datang sejak tadi ia sudah hadir dalam pertempuran ini, atau mungkinkah dia punya urusan lain yang tebih penting?
Ce-han-it-ki dapat melihat perubahan air muka Hun Thian-hi segera ia memberi isyarat kedipan mata pada teman2 lainnya, serempak mereka merabu lagi dengan segala daya upaya, udara seperti menjadi bergolak dan angin badai kontan menerpa ke arah Hun Thian-hi bertiga.
Hun Thian-hi kertak gigi, baru saja ia menghimpun seluruh kekuatan untuk melawan secara kekerasan, sekonyong-konyong dari luar hutan bambu sana terdengar irama harpa yang dipetik ringan lincah. seketika perasaan Hun Thian-hi menjadi enteng dan segar kembali semangatnya. Bukankah itu irama Kekal abadi? Serta merta mulutnya mencebir dan bersuit panjang mengalun tinggi. ia empos seluruh tenaga dan kekuatannya terus diberondong keluar, Pek Si-kiat dan Situa Pelita segera juga membantu dengan setaker tenaga masing-masing, seketika mereka merasa tekanan dari luar menjadi enteng, berbareng mereka mencelat jauh dan keluar dan kepungan.
Tampak Po-ci dan Ma Gwat-sian melangkah ringan memasuki hutan bambu ini, sebelah tangan Po-ci mengemban sebuah harpa kuno biji matanya yang jeli pelan-pelan dan kalem menyapu pandang seluruh hadirin.
Tersipu-sipu Hun Thian-hi maju menjura serta sapanya, “Terimakasih akan budi pertolongan Cianpwe” — dalam berkala2 ini tarasa kepalanya menjadi pening pandangan menjadi gelap, tahu dia tadi terlalu banyak mengeluarkan tenaga sehingga kedua kakinya menjadi lamas, lekas ia mengendalikan badan berdiri tegak pula.
Lekas-lekas Ma Gwat-sian memburu maju dan memapah badan Hun Thian-hi, ujarnya dengan lemah lembut dan prihatin, “Bagaimana keadaanmu?”
Melihat laku Ma Gwat-sian yang begitu wajar dan menunjukkan perhatian yang berkelebihan dihadapan umum, merah jengah selebar muka Hun Thian-hi. Cepat ia menyahut: .,Terima kasih, aku tidak apa-apa.”
Ma Gwat-sian tersenyum manis, Katanya. “Baru saja Suhu dan aku menyusul tiba. Begitu memasuki wilajah Conggoan lantas kami mendengar kabar. katanya kau meluruk ke Siau-lim-si, maka bergegas kami menyusul kau kemari!”
Hun Thian-hi rada kikuk. sesaat ia bungkam tertawa. “Kalau begitu aku harus lebih berterima kasih
akan kebaikan kalian!” demikian kata Thian-hi sesaat kemudian.
Ma Gwat-sian pandang wajah Thian-hi lekat-lekat. sesaat baru ia bersuara pula dengan suara lirih, “Kau…. diantara kau dan aku kenapa harus berlaku begitu sungkan. kenapa kau harus berterima kasih pula padaku?”
Tergetar jantung Thian-hi, tak tertahan ia tunduk diam. Ucapan Ma Gwat-sian sudah sangat jelas kemana juntrungannya, bagaimana aku harus bersikap terhadapnya? Demikian ia bertanya terhadap dirinya sendiri. Sulit ia mengambil ketetapan.
Melihat hubungan mereka yang kelihatan begitu intim Pek Si-kiat menjadi maklum. gadis remaja dihadapannya ini pasti bukan perempuan yang bernama Ham Gwat itu, kalau begitu….ai…. asmara…. tak berani ia memikirkan lebih lanjut.
Tanpa bersuara dengan tenang Po-ci awasi mereka berdua dengan muka berseri, disangkanya bahwa Hun Thian-hi memang ada ketarik terhadap Ma Gwat-sian, kalau tidak masa sikapnya kelihatan begitu mesra. Mana dia tahu bahwa sebenar-benarnyalah dalam benak Hun Thian-hi sudah terkait oleh Ham Gwat, batinnya tengah bergejolak, entah cara bagaimana ia harus menempatkan dirinya.
Sambil menenteng pedangnya panjang Ce-hun Totiang maju menghampiri Po-ci, serunya, “Siapa kau? Kau ingin membantu Hun Thian-hi dan mencari permusuhan dengan seluruh kaum persilatan?”
Dengan lirikan hina Po Ci menyapu pandang para hadirin. sahutnya, “Baru hari ini aku pertama kali kebetulan hadir dalam pertemuan besar kaum persilatan. Ternyata golongan kependekaran Bulim di Tionggoan juga cuma begini saja!”
Ce-hun semakin berang, hardiknya, “Siapa kau?”
Po-ci menyahut tawar, “Jangan kau urus siapa diriku. terangkat jari-jarinya dengan lincah memetik senar, Hun Thian-hi akan kubawa pergi. Siapa diantara kalian yang tidak terima silakan mencari perkara terhadapku. Ketahuilah aku tidak gentar kalian keroyok!”
“Kenapa harua keroyok, biar aku saja yang mencoba sampai dimana kepandaianmu sejati, berani kau bicara takabur disini!” seiring dengan kata-katanya Ce-hun Totiang lancarkan sejurus serangan dengan tipu Poh-hun-kian-jit (menyingkap awan melihat matahari), sekaligus ujung pedang panjang bergerak begitu cepat menusuk beberapa kali mengarah jalan darah yang berlainan diberbagai tempat ditubuh Po-ci.
Poci mandah tertawa ejek, dimana tangan kirinya bergerak serentetan irama musik lantas mengalun dari nada yang rendah terus menjulang tinggi seperti hampir menembus angkasa. samar-samar terasa adanya nafsu memburnuh yang segera melingkupi perasaan orang, seketika hati semua hadirin menjadi tertekan tegang, yang paling hebat justru Ce-hun seperti kena pukulan godam, belum lagi serangan pedangnya mengenai sasarannya, dadanya sudah sesak dan sempoyongan mundur, keruan kagetnya bukan main, lekas ia empos semangat dan kendalikan napas, berbareng pedangnya dibolang balikkan di depan dada, tapi tak urung mukanya sudah basah oleh keringat dingin.
Hun Thian-hi sendiri juga ikut terkejut, waktu Poci mengembangkan irama kekal abadi tempo hari. kepandaiannya tidak begitu lihay seperti sekarang. Kiranya tempo hari sengaja ia memberi kelonggaran.
Melihat Ce-hun payah kepontang panting Hoan-hu juga terkejut, cepat ia meraih sebatang pedang terus menubruk maju, pedangnya berubah menjadi setabur titik-titik kunang-kunang kecil terus merangsak kepada Poci.
Kelopak mata Poci sedikit pun tidak bergerak, sikapnya tetap tenang. Waktu ia mulai memasuki wilajah Tionggoan lantas ia dengar kabar katanya Ce-hun dan Hoan-hu berada diluar perbatasan mendapat perlindungan dari Sam-kong Lama, dia jelas mengetahui hubungan kental antara Sam-kong dengan Hun Thian-hi. Sekarang seumpama Hun Thian-hi memang dipihak yang salah paling tidak mereka harus memberi muka dan kesempatan, bukan saja mereka tidak merasa sungkan malah meluruk ke Tionggoan dan mencari perkara disini.
Memang sengaja ia hendak memperlihatkan akan kelihayan Tay-seng-ci-kou untuk menghajar adat pada kedua orang tua2 yang sudah dianggapnnya pikun ini. kelihatan lengan kirinya terangkat dan naik turun jari-jarinya bergerak lincah, suasana semakin tegang dengan lingkupan hawa membunuh yang semakin tebal. Batok dan leher Hoan-hu sudah basah kuyup oleh keringat tak kuasa ia pegang pedangnya lagi, terpaksa duduk bersimpuh mengerahkan Lwekang untuk melawan mati-matian.
Dilain pihak Ang-hwat-lo-mo yang licik dan mengenal gelagat itu bercekat pula hatinya, bahwa pendatang ini membekal ilmu Tay-seng-ci-lou yang dikabarkan sudah putus turunan itu. dalam gerak gerik beberapa jari yang lincah memetik harpa itu telah berhasil merobohkan Ce-hun dan Hoan-hu berdua. Insaf ia bahwa dirinya pun bukan tandingan, apalagi dirinya terluka berat, kecuali melarikan diri tiada jaian lain untuk hidup lebih lanjut.
Karena pikirannya ini sepasang biji matanya segera melirik, menerawang situasi gelanggang dicarinya kesempatan untuk melarikan diri. Karena Tay-seng-ci-lou tidak bisa dibanding senjata tajam umumnya, dia dapat dilancarkan dilain bentuk yang tidak kelihatan, untuk lari kecuali dapat menyandak jarak yang cukup jauh dalam sekejap waktu, seumpama kedua tangan menutupi kuping pun tidak akan kuat bertahan dari getaran musik yang hebat itu!
Orang yang paling diperhatikan Situa Pelita. justru musuh besarnya yaitu Ang-hwat-lo-mo begitu biji mata Ang-hwat pelirak-pelirik, ia lantas dapat menebak isi hati orang segera ia bersiap siaga melejit ke depan terus menubruk ke arah musuh besarnya ini. mulutnya menjengek, “Apa hari ini kau masih ingin lari?”
Ang-hwat-lo-mo tertawa dingin, serunya, “Bila aku memang mau pergi. masa kau mampu merintangi.”
Dengan gerungan yang mengguntur Situa Pelita dorongkan kedua telapak tangannya menggenjot kedada musuh. Ang-hwat-lo-mo melintangkan pedangnya membabat dan menutuk kejalan darah ditelapak tangan lawan, tapi gerak gerik Situa Pelita yang cukup lincah dengan kehebatan Ginkangnya sudah tentu tak begitu gampang mandah tangannya dilukai. Dengan sengit ia rangsak semakin gencar, begitulah mereka bertempur seru pula tanpa dapat diketahui siapa yang lebih unggul. Soalnya Ang-hwat sudah terluka, tapi ia membekal pedhng menghadapi sepasang pukulan Situa Pelita, untuk waktu dekat Situa Pelita tiada mampu merobohkan lawan. sebaliknya Ang-hwat punya rencananya sendiri untuk lari, maka pun tiada minat untuk mengejar kemenangan.
Mata Po Ci menyapu pandang ke arah mereka berdua, katanya kepada Hoan-hu dan Ce-hun, “Meski kalian tidak kenal aku, tapi aku kenal kalian, di daerah barat daya sana kalian sudah menerima budi kebaikan orang, bukan saja tidak berusaha untuk membalasnya, sekarang berbalik kerja sama dengan manusia macam Ang-hwat-lo-mo untuk mengeroyok Hun Thian-hi. Kalian juga tahu bahwa Hun Thian-hi adalah sahabat kental Sam-kong Lama, murid angkat Ka-yap Cuncia, apakah kalian anggap punya pandangan yang lebih cemerlang dari Ka-yap Cuncia?”
Lambat laun lemas semangat Ce-hun, tangan yang menyekal pedang semampai turun, biji matanya memancarkan rasa penyesalan yang tak terhingga, sungguh kata-kata orang sangat menusuk perasaannya, akhirnya ia tertunduk dengan penuh sesal, setelah membanting kaki tanpa bicara lagi terus berlari pergi. Melihat kelakuan orang Hoan-hu mendelik ke arah Poci, lalu ia memberi isyarat kepada Bun Cu-giok dan Ciok Yan, bersama mereka mengundurkan diri.
Sementara itu pertempuran Ang-hwat-lo-mo melawan si Tua Pelita masih berlangsung terus dengan serunya, sambil tempur Ang-hwat-lo-mo main mundur dan semakin jauh dari gelanggang pertempuran semula.
Terdengar Poci berkata pula, “Marilah kita pergi, urusan orang-orang Tionggoan biar diselesaikan mereka sendiri, buat apa kita lama-lama di tempat ini.”
Ang-hwat-lo-mo menjadi berlega hati, sebat sekali ia melejit jauh terus terbang lari sekencang angin. Dengan kencang Situa Pelita mengejar di belakangnya, tampak Siang-hou-it-koay juga berlari mengejar.
Semua hadirin satu persatu bubar. Sementara itu dengan menengadah mengawasi awan di atas langit lapat-lapat terasa sesal dalam benak Hun Thian-hi, kenyataan Ham Gwat tidak kunjung datang seperti yang diharapkan, justru yang datang malah Ma Gwat-sian, sungguh kedatangannya diluar dugaannya, demikian ia berpikir.
Melihat sikap Hun Thian-hi yang kaku itu dingin perasaan Ma Gwat-sian, sebagai seorang yang cerdik dan dapat melihat gelagat, terasa olehnya bahwa sikap Hun Thian-hi terasa kurang hangat dan simpatik, tidak seperti harapan dalam angan2 pikirannya sebelum tiba disini. Kelihatannya Hun Thian-hi sedang dirundung kekesalan hati dan entah apakah yang sedang dipikirkan, mungkin dia sedang menguatirkan seseorang lain, demikian ia memtatin, tanpa merasa hatinya menjadi pilu, air mata hampir menetes keluar.
Dari samping dengan tenang Poci awasi kedua insan muda ini, iapun merasa perkembangan keadaan sekarang benar-benar sangat menyesatkan perasaan, berdiri berendeng seolah-olah mereka tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.
Terdengar Pek Si-kiat membuka suara kepada Hun Thian-hi, “Hun-hiantit, kau harus menyembuhkan lukamu dulu, aku masih ada urusan lain yang perlu kuselesaikan, kelak kita jumpa lagi.”
Hun Thian-hi maklum bahwa Pek Si-kiat tidak ingin mengganggu dirinya. maka setelah merenung ia menjawab, “Begitupun baik, dalam satu bulan ini aku pasti kembali, harap paman tidak usah kuatir akan diriku.”
Pek Si-kiat minta diri terus tinggal pergi.
Pelan-pelan Ma Gwat-sian membalik tubuh, katanya tertawa kepada Hun Thian-hi, “Thian-hi Toako. kau sedang terluka sementara biarlah bersama kami saja, setelah luka-lukamu sembuh nanti kita bicarakan lagi tindakan selanjutnya!”
Hun Thian-hi tersenyum dipaksakan, sahutnya, “Kalau begitu merepotkan kalian saja.”
Segera Ma Gwat-sian melangkah maju, lengan baju Hun Thian-hi segera disobek, katanya, “Biar kuperiksa dulu bagaimana keadaan lukamu.”
Hun Thian-hi menjadi kikuk dan risi, tapi. Ma Gwat-sian bermaksud baik, tempat itu kecuali tinggal gurunya tiada orang luar lainnya, akhirnya ia membiarkan saja orang memeriksa lukanya.
Dengan seksama Ma Gwat-sian memeriksa luka-luka Hun Thian-hi, diam-diam hatinya mendelu, air mukanya yang kaku prihatin, setelah terluka Thian-hi harus menguras tenaga lagi, sehingga seluruh pundaknya sudah berubah warna hitam karena darah bumpet dan membeku.
Hun Thian-hi memang merasa pundaknya kaku kesakitan, waktu ia menunduk tiba-tiba di atas kepalanya terdengar pekik burung yang nyaring itulah suara rajawali besar itu yang terbang melayang di atas kepalanya, begitu cepat daya terbang burung itu samar-samar dilihatnya bayangan Ham Gwat di atas punggungnya.
Mencelos perasaan Hun Thian-hi dengan mendelong ia awasi arah dimana burung rajawali tadi
menghilang. Tahu dia bahwa Ham Gwat telah tinggal pergi lagi, bagaimana juga dia tidak akan muncul di saat keadaan yang serba runyam ini, lalu selanjutnya.
Ma Gwat-sian juga menengadah dan terlongong memandang ke arah hilangnya burung rajawali sana, pelan-pelan ia turunkan kedua tangannya, hatinya terasa pilu dan sedih, tak tertahan air mata mengalir dari ujung matanya.
Poci mandah menghela napas panjang dengan rawan, ia bungkam.
Entah berapa lama Thian-hi menjublek di tempatnya, pelan-pelan akhirnya ia menunduk, dilihatnya Ma Gwat-sian mengembeng air mata, tahu dia bahwa bayangan yang dilihatnya tadipun telah dilihat pula oleh Ma Gwat-sian, sesaat ia menjadi bingung cara bagaimana ia harus berbuat.
Pelan-pelan Ma Gwat-sian membalik tubuh, terus melangkah keluar hutan bambu.
Hun Thian-hi sangat menyesal. Bahwa Ma Gwat-sian dari tempat yang begitu jauh menyusul dirinya kemari, menolong jiwanya lagi dalam keadaan gawat tadi, kenyataan dirinya bersikap begitu dingin dan tak berperasaan sama sekali. Setelah rada sangsi. dengan tertawa dibuat-buat ia memanggil, “Gwat-sian!”
Ma Gwat-sian berpaling sambil mengembeng air mata, mulutnya tetap bungkam. Sesaat Hun Thian-hi kehilangan kata-kata. dengan mendelong ia awasi Ma Gwat-sian.
Poci melangkah ke depan Hun Thian-hi dan pandang muka orang dengan seksama, Thian-hi tertunduk malu. pelan-pelan Poci bertanya, “Dia siapakah, dia?”
“Ham Gwat! Murid Bu-bing Loni!” sahut Hun Thian-hi dengan suara tertelan di tenggorokan.
Poci menjadi serba runyam, ia pandang Ma Gwat-sian lalu berkata kepada Hun Thian-hi, “Mari kesini, ada omongan yang perlu kubicarakan dengan kau!” lalu ia mendahului melangkah keluar hutan.
Dengan penuh perasaan dan prihatin Hun Thian-hi pandang Ma Gwat-sian sekejap lalu membuntut di belakang Poci. Sementara Ma Gwat-sian masih menunduk tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. melirik pun tidak ke arah Hun Thian-hi.
Tiba di tempat yang rindang Poci segera membalik tubuh dan berkata pada Hun Thian-hi, “Nak! Ada suatu hal yang perlu kujelaskan kepada kau. selanjutnya terserah bagaimana kau hendak menyelesaikannya!”
Kata Poci selanjutnya, suaranya tertekan, “Gwat-sian adalah warga dari Thian-bi-kok, menurut aturan tidak pantas kubawa dia ke Tionggoan sini. Bagaimana juga aku tidak akan melakukan pelanggaran ini. Tapi kenyataan aku sudah membawanya ke Tionggoan sekarang, malah langsung kubawa dia ke Siau-lim-si sini. Apa kau tahu. kenapa aku lakukan hal ini?”
Hun Thian-hi bungkam tak bersuara.
Poci meneruskan dengan tertawa tawar, “Mungkin kau beranggapan karena dia cinta pada kau maka lantas kukabulkan permintaannya untuk menyusul kau ke Tionggoan bukan?”
Kali ini Thian-hi angkat kepala, sahutnya tertawa getir, “Bahwasanya Wanpwe tidak tahu apakah alasannya!”
“Sejak kecil Gwat-sian angkat guru kepadaku,” demikian Poci melanjutkan, “Dengan tekun kuajarkan Tay-seng-ci-lou kepadanya, tapi apakah kau tahu kenapa aku tidak ajarkan dia ilmu silat? Bakatnya luar biasa, otaknya cerdik dan pandai lagi, aku hanya ajarkan seni musik macam Tay-seng-ci-lou dan tidak memberi ajaran silat, menurut umumnya adalah tidak adil dan kurang bijaksana!”
Tergerak hati Thian-hi, batinnya waktu aku pertama ketemu Ma Gwat-sian juga timbul pertanyaanku ini, kuduga dia merupakan tokoh terpendam yang kosen, siapa duga bahwa dia sama sekali tidak pandai main silat.
Poci tertawa rawan, sambungnya, “Sebab hakikatnya dia tidak mungkin bisa berlatih silat. Sejak kecil dia sudah kena penyakit Liok-im-coat-tin, (bisul dalam urat nadi) setelah usianya mencapai dua puluh tahun ia bakal meninggal dunia!”
Tergentak jantung Hun Thian-hi, sesaat ia berdiri kesima, katanya, “Apa? Gwat-sian….dia….” mimpi juga tidak terpikir olehnya bahwa Ma Gwat-sian sudah terserang penyakit berbahaya yang mematikan itu, malah tidak akan lebih melampaui dua puluh tahun dalam usianya yang masih remaja ini. mungkinkah terjadi?
“Dengan mengajarkan Tay-seng-ci-lou maksudku demi untuk mengurangi tekanan batinnya yang selalu dirundung kemurungan, mungkin dengan keriangan hatinya jiwanya akan bertambah lama hidup, tapi….” sampai disini Poci tak kuasa melanjutkan, ia menghapus air matanya. Lalu sambungnya lagi, “Tapi akhirnya kudapati pula bahwa seluruh usahaku akhirnya bakal sia-sia belaka, sekarang jiwanya tinggal tiga bulan lagi untuk hidup, dia sendiri masih belum tahu akan keadaannya yang sebenar-benarnya!”
Hun Thian-hi menjublek di tempatnya, seolah-olah jantungnya dipukul godam yang berat, sungguh pedih dan seperti ditusuk sembilu perasaan hatinya, aku masih demikian kikir memberikan cintaku terhadap seorang gadis remaja yang aju rupawan dan lemah dan sekarang jiwanya tidak kurang cukup hidup tiga bulan belaka, kenapa selama ini aku menyembunyikan perasaanku, apakah Ma Gwat-sian buruk rupa? Apakah dia berhati jahat? Tidak! Wajahnya begitu rupawan tidak kalah dibanding Ham Gwat, malah dia punya kelebihan dari sifat kelincahan pada gadis remaja umumnya.
Apakah Ma Gwat-sian goblok? Tidak sama sekali, kepintarannya dalam segala bidang aku Hun Thian-hi sedikitpun tak mampu memadainya, tapi kenapa selama ini belum pernah bersemi rasa cintaku terhadapnya? Sungguh diapun merasa heran!
Akhirnya Poci membuka kesunyian pula, katanya menghela napas, “Cintanya terhadap kau adalah sedemikian murni, begitu suci dan luhur, aku sendiri berharap dalam jangka sisa hidupnya yang masih ketinggalan tiga bulan ini dapat membawa kebahagiaan dan kesenangan terhadapnya. Aku tidak akan paksa kau, boleh kau pikirkan sendiri, terserah bagaimana keputusanmu!”
Kembali Hun Thian-hi menengadah ke atas langit. Sementara Poci pelan-pelan tinggal pergi.
Hun Thian-hi maklum kemana juntrungan ucapan Poci tadi, harapan orang adalah dirinya bisa hidup bahagia bersama Ma Gwat-sian dalam jangka melulu tiga bulan ini.
Thian-hi meragukan akan hal ini, bayangan Ham Gwat selalu terbayang di kelopak matanya, tapi sebagai manusia yang punya nalar sehat dan dapat menerima rasio dengan perasaan hati membuat Hun Thian-hi merasa simpatik dan kasihan akan nasib Ma Gwat-sian, timbul dalam benaknya bahwa dia harus memberikan kesenangan dan kebahagiaan itu kepada Ma Gwat-sian dalam jangka tiga bulan yang pendek itu, aku harus berbuat sekuat mungkin demi keluhuran jiwa manusia. Karena keputusan lahir batin ini akhirnya ia pelan-pelan menyusul ke dalam hutan sana.
Teringat Ham Gwat ia menjadi kuatir bagaimana orang akan bersikap kepadanya kelak. mungkin Ham Gwat bisa salah paham kepada dirinya, tapi ia yakin bahwa pengorbanannya kali ini adalah benar-benar demi kemanusiaan, yakin siapa saja bagi orang yang punya perasaan akan menempuh jalan yang sama dengan keputusannya ini.
Ketika tiba di dalam hutan ia menjadi terlongong, suasana di dalam hutan hening lelap tiada kelihatan bayangan seorangpun, Ma Gwat-sian telah menghilang tanpa bekas, kiranya sejak tadi ia telah meninggalkan hutan bamfou ini.
Resah dan gelisah pula perasaan Hun Thian-hi, sunggguh ia merasa betapa dirinya tidak dapat diberi maaf lagi, teringat olehnya, sejak dirinya memasuki Thian-bi-kok dulu, hati kecilnya telah terisi pula bayangan bentuk Ma Gwat-sian, selama hidupnya ini dia tidak akan pula melupakan raut wajah nan aju semampai itu. Selama hidup dan mengalami berbagai kesulitan betapa Ma Gwat-sian telah memberikan bantuannya yang tak ternilai kepadanya, jelas bahwa hidupnya ini tidak mungkin membebaskan diri dari kebaikan2 Ma Gwat-sian itu.
Kini setelah kembali ke Tionggoan, jarak yang ribuan li jauhnya, namun Ma Gwat-sian telah menyusulnya kemari, bukan saja dia harus meninggalkan negara dan kampung halamannya, tempat indah dimana ia dilahirkan, dan yang terutama bahwa dia telah mengejar cinta pada dirinya, tepat kedatangannya dan menolong pula jiwanya dari renggutan dewa elmaut. Sekarang justru karena keingkaran hatinya ia telah tinggal pergi, bagi siapapun bila dia menempatkan dirinya dipihak Ma Gwat-sian dia pun pasti akan tinggal pergi, entah dia pergi kemana, meski ia harus hidup merana yang terang karena dia masih punya harga diri, dan bagi dirinya mungkin harga diri ini jauh lebih tebal dari milik orang lain.
Begitulah Hun Thian-hi terlongong ditempatnya. Sementara itu Poci juga sudah pergi entah kemana, ia pergi meninggalkan Ma Gwat-sian untuk dirinya, tanpa banyak bicara aku telah menerima peninggalan ini, namun sekarang terjata Ma Gwat-sian juga telah pergi dan menghilang, entah kemana.
Entah berapa lama kemudian mendadak ia tersentak sadar dari lamunannya, didapatinya ia masih menjublek ditempatnya, lekas-lekas ia membanting kaki, seketika tubuhnya melenting tinggi menerobos pohon-pohon terus mengejar keluar hutan.
Betapa sedih dan pilu hati Ma Gwat-sian waktu ia tahu bahwa relung hati Hun Thlan-hi kiranya sudah terisi blbit asmara bagi orang lain. Meski Po-ci mengira bahwa Ma Gwat-sian tidak tahu bahwa jiwanya tinggal bisa hidup tiga bulan lagi. memang meski Ma Gwat-sian tidak tahu bahwa dirinya tinggal dapat hidup tiga bulan lagi, tapi ia sudah mendapat firasat bahwa tubuhnya rada berlainan dengan orang lain. Sering ia merasakan tubuhnya letih dan lemas, apalagi Poci bersikap begitu baik, segala permintaannya pasti dituruti, insyaf dia bahwa sikap sang guru ini bukan mustahil ada latar belakang tertentu atas tubuhnya yaitu bahwa dia sedang terserang suatu penyakit yang tidak mungkin tersembuhkan, kalau tidak. tidak mungkin Poci bersikap begitu manja dan mengumbar pada dirinya.
Demi gengsi dan harga dirinya, ia tidak rela bila Hun Thian-hi berkasihan pada dirinya dan menyerahkan cinta orang lain kepada dirinya.
Setelah Poci dan Hun Thian-hi menyingkir jauh pelan-pelan iapun meninggalkan hutan bambu itu, langsung menuju ke arah hutan yang lebih lebat jauh lebih belukar dan menanjak tinggi. Setelah berada diatas. Ma Gwat-sian berpaling, tampak gereja Siau-lim jauh di belakang bawah sana, dengan ringan ia mengnela napas panjang, hampir tanpa tujuan kaki melangkah menuju ke arah yang tidak menentu, bagaimana selanjutnya aku harus menempatkan diriku? Hal ini tidak pernah terpikir olehnya!
Beberapa kejap kemudian tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, sepasang matanya yang jeli berkedip mengawasi ke depan dengan terbelalak. Dihadapannya berdiri seorang gadis rupawan mengenakan pakaian serba hitam, disampingnya berdiri pula seekor rajawali, orang pun sedang mengawasi dirinya dengan sikap dingin dan kaku. Tahu Ma Gwat-sian bahwa inilah orang yang terbang melampaui di atas kepalanya tadi, inilah murid Bu-bing Loni yang bernama Ham Gwat.
Begitulah untuk sekian lamanya kedua belah pihak saling pandang tanpa berkesip. Gwat-sian tidak tahu bagaimana perasaan hatinya saat itu. hampir ia merasakan akan kerendahan dirinya Bukankah dia dihinggapi penyakit yang tidak dapat ditolong lagi!
Sebetulnya ia sangat bangga, akan dirinya, akau kepintaran dan bentuk wajahnya sendiri. Kalau dulu ia merasa bahwa kecantikan dirinya adalah yang nomor satu di seluruh kolong langit ini, tapi Ham Gwat yang berdiri dihadapannya sekarang kiranya juga mempunyai bentuk wajah yang tidak kalah agung dan cantiknya. Dia bangga bahwa Tay-seng-ci-lou atau ilmu yang dipelajarinya itu tiada tandingan di seluruh jagat, tapi jelas bahwa Ham Gwat yang berdiri dihadapannya ini justru adalah ahli waris Hui-sim-kiam-hoat, itu ilmu pedang nomor wahid tanpa tandingan di seluruh dunia persilatan.
Adalah aku sendiri sedikitpun tidak pandai bermain silat.
Akhirnya Ma Gwat-sian tertunduk dengan sedih, tapi dilain saat ia angkat kepala pula tidak mau tunduk begitu saja, begitulah ia adu pandang pula dengan Ham Gwat.
Entah berapa lama mereka beradu pandang tanpa berkesip, dalam hati kecil Ma Gwat-sian mengharap Ham Gwat suka mengalah setindak padanya, tapi kenyataan tidak, dari sorot pandangan Ham Gwat ia merasakan, bahwa sedikitpun Ham Gwat tidak akan mengalah pada dirinya.
Serta merta terasa oleh Ma Gwat-sian air mata telah mengembeng memenuhi kelopak matanya, lekas-lekas ia menunduk dan memejamkan mata, sambii mengemban harpanya ia berlari kencang ke depan lewat samping Ham Gwat.
Tanpa bergeming Ham Gwat tetap berdiri, biji matanya memancarkan sorot cahaya yang sangat aneh, kelihatannya seperti senang, tapi seperti sedih dan menyesal pula, akhirnya ia pelan-pelan membalik tubuh, dipandangnya punggung Ma Gwat-sian yang mengghilang dikejauhan.
Sambii tertunduk ia berpikir, kakinya melangkah pelan, sekonyong-konyong terasa angin berkesiur sesosok bayangan orang melayang hinggap di depannya. Itulah Poci yang mendatangi pelan-pelan. Dengan pandangan penuh selidik ia pandang Poci yang semakin dekat.
Untuk sesaat lama Poci harus mengendalikan perasaan sebelum bicara, akhirnya ia membuka suara dengan suara tertekan, “Nona Ham Gwat, ada beberapa patah kata yang perlu kusampaikan kepada kau, apakah kau sudi mendengar?”
Sebetulnya Ham Gwat rada heran pada sepak terjang Poci dan tingkah laku Ma Gwat-sian, mungkinkah mereka tadi sudah bertengkar dengan Hun Thian-hi? Karena rekaan hatinya ini, ia manggut-manggut.
Setelah menghela napas Poci berkata, “Betapa dalam dan suci cinta Hun Thian-hi terhadap kau.
hal ini aku tahu dengan jelas. “demikian ia mulai dengan uraiannya. Sampai disini ia berhenti.
Ia pandang air muka Ham Gwat, melihat orang tidak mengunjuk perubahan pada mimik mukanya, lalu ia melanjutkan, “Tapi haruslah kau ketahui bahwa Ma Gwat-sian juga kepincut terhadap Hun Thian-hi, begitu besar rasa cintanya terhadap Hun Thian-hi seperti cinta Hun Thian-hi terhadap kau. Tapi dia….”
Tersekat sekian saat Poci tak kuasa melanjutkan kata-katanya karena terganggu oleh perasaan hatinya, “Ma Gwat-sian sendiri juga belum tahu,” demikian ia melanjutkan lagi, “Bahwa jiwanya kini tinggal dapat hidup tiga bulan lagi, ini adalah tinggal harapannya yang terakhir, kuharap nona suka berkorban diri demi kebahagiaannya yang sangat pendek ini.”
Begitu mendengar penjelasan terakhir ini, otak Ham Gwat seperti dipalu godam, terhujung mundur sempoyongan, matanya terbelaiak dan menjublek ditempatnya, sesaat kemudian baru ia kuasa membuka suara, “Baru saja dia lewat kesana!”
Poci tertegun. Ia sangka Ma Gwat-sian masih berada dihutan bambu dan sekarang tengah bersama Hun Thian-hi, tapi ternyata kejadian benar-benar diluar perhitungannya, keruan ia tersentak kaget, teriaknya, “Apa?” — tanpa banyak bicara lagi segera ia berlari mengejar.
Ham Gwat menjadi melongo, sunguh ia tidak tahu bahwa Ma Gwat-sian tinggal dapat hidup selama tiga bulan lagi, Ma Gwat-sian menyusul dari tempat yang ribuan li jauhnya, Poci tidak akan menipu dirinya akan hal-hal yang tidak benar-benar. Sebetulnya. rasa cintanya terhadap Hun Thian-hi setinggi gunung sedalam lautan, adakah jiwaku begitu sempit, begitu tega aku tanpa memberi sedikitpun kelonggaran terhadap seorang gadis remaja yang tinggal hidup tiga bulan lagi.
Dengan mengeluh ia mendongaK memandang ke-cakrawala. Sekarang hanya ada satu jalan dapat menolong keadaan yang sudah kronis ini, kalau jalan ini dapat ditempuh dan bisa terlaksana betapa ringan perasaan yang mengunjal sanubarinya. Sebat sekali segera ia melesat ke arah, Siau-llm-si.
Setelah melewati Ham Gwat, sanubari Ma Gwat-sian seperti diserang rasa sedih yang bergelombang tak kenal putus, air mata tak terbendung lagi mengalir dikedua pipinya, hampir saja ia berteriak nyaring dengan tangis yang gerung-gerung.
Dia terus berjalan ke depan tanpa membedakan arah, mendadak rasa letih menyerang seluruh sendi2 tulang dan urat nadinya, tubuhnya terasa lemas lunglai, ia berdiri sekejap memejamkan mata, waktu ia buka mata lalu menuju ke arah sebuah gua yang dilihat ada di depan sana. Semakin jauh aku pergi meninggalkan mereka akan lebih enak dan ringan perasaanku, biar mereka selama hidup ini tidak akan menemukan aku lagi, tanpa sangsi2 langsung ia memasuki gua itu. Begitu berada di dalam ia celingukan kian kemari, meski tidak besar dan luas, tapi lorongnya cukup panjang ke dalam sana. entah bakal menembus kemana.
Rada sangsi sebentar Ma Gwat-sian lalu beranjak maju lebih lanjut, semakin dalam ia berjalan badan semakin lemas, tiba-tiba dilihatnya sebentuk batu giok putih menggeletak di atas tanah, karena ketarik tanpa ambil pusing dijemputnya terus melanjutkan ke depan.
Beberapa puluh langkah kemudian rasa letih dan pening mendadak merangsang kepala dan kaki tangannya, serta merta ia lantas berdiri menggelendot didinding gua, sekian lama ia berdiam diri sambii memejamkan mata.
Sekonyong-konyong ia tersentak bangun oleh langkah-langkah kaki ringan yang mendekat, waktu ia membuka mata dengan siaga, dilihatnya seorang laki-laki tua dengan muka kurus berdiri dihadapannya, dengan penuh perhatian orang pandang dirinya.
Terkejut hati Ma Gwat-sian, batinnya, “Kiranya gua ini ada penghuninya.” dengan seksama dan tanpa berkesip iapun pandang orang tua. entahlah apa yang akan diperbuat pada dirnya.
“Nak,” tiba-tiba orang tua itu tertawa lebar penuh welas asih, “Kenapa kau tertidur di tempat ini, bila ada ular atau sebangsa binatang buas lainnya bagaimana kau.” — terangkat sebelah tangannya untuk mengelus-elus rambut Ma Gwat-sian.
Dengan kejut dan takut Ma Gwat-sian berusaha mundur menghindar, serta melihat orang tua dihadapannya ini tidak mengandung maksud jahat, ia biarkan saja kepalanya diusap2.
Sekian lama si orang tua mengelus-elus rambut Ma Gwat-sian sembari menghela napas rawan, lalu ia pun tenggelam dalam renungannya, akhirnya ia angkat kepala dan tertawa, katanya, “Nak. kau tadi pernah menangis kenapa?”
Serta merta terbit rasa hormat dan bersahabat dalam relung hati Ma Gwat-sian. sambil angkat kepala ia balas bertanya, “Paman tua, kenapa seorang diri kau menetap di dalam gua ini?”
Si orang tua tersenyum ewa, katanya, “Cahaya disini kurang terang, mari kau ikut aku.” — lalu diajaknya Ma Gwat-sian menuju kegua yang lebih dalam.
Semakin dalam keadaan gua semakin terang dan lebar, setelah membelok beberapa kali lekukan. tibalah mereka disebuah kamar batu, kamar batu ini hanya terdapat sebuah dipan dan sebuah meja kecuali itu banyak buku tertumpuk disana.
Dari luar kamar batu sebelah sana menyorot masuk cahaya terang, jauh diluar sana tampak sebuah air terjun mencurah tumpah dengan mengeluarkan suaranya yang gegap gempita. dari reflek cahaya air terjun inilah, keadaan kamar batu itu semakin terang benderang.
Sembari tertawa lebar si orang tua menggerakkan tangan supaya Ma Gwat-sian duduk, dia sendiri juga lantas duduk di atas dipan
Ma Gwat-sian beragu sebentar, pelan-pelan ia duduk. Kata si orang tua dengan tertawa. “Sudah lima aku tidak pernah ketemu dengan orang asing, entah cara bagaimana kau bisa masuk kamari?”
Sembari berkata itu si orang tua mengamati Ma Gwat-sian dengan seksama. tiba-tiba dilihatnya sebentuk batu giok pttih ditangan Ma Gwat-sian, serunya terkejut, “Kau tidak bisa main silat?”
Ma Gwat-sian manggut-manggut. Heran dia mengapa orang mengajukan pertanyaan ini, kedengarannya seperti daerah ini adalah tempat terlarang bagi orang luar. terutama bagi orang-orang yang pandai main silat menjadi pantangan untuk memasuki daerah itu.
Si orang tua menghela napas ringan, ujarnya, “Para padri dari Siau-lim-si masa tiada seorangpun yang merintangi kau?”
Ma Gwat-sian menggeleng. sahutnya. “Mereka sendiri sekarang sedang repot. mana ada waktu merintangi kedatanganku kemari?”
Si orang tua menghela napas lega, katanya kalem, “Kau sudah datang sudah tentu kau memang berjodoh denganku. Tapi kau harus tahu, bahwa batu giok yang kau pegang itu adalah Sim-giok-ling milik Bu-bing Loni, setelah melihat Sin-giok-ling bukan saja kau tidak mundur dan meninggalkan tempat ini malah kau jemput dan kau anggap sebagai mainan. Bu-bing Loni” tidak akan membiarkan kau hidup lebih lama!”
Ma Gwat-sian mandah tertawa tawar, ujarnya, “Jadi miliknyakah batu giok ini!” — kelihatannya sendikitpun ia tidak ambil perhatian akan mara bahaya yang bakal menimpa dirinya. Dia tahu nama dan siapakah itu Bu-bing Loni. tapi ia tidak tahu Sin-giok-ling itu. Dia percaya dengan kehebatan Tay-seng-ci-lou gurunya, apa perluja takut menghadapi Hui-sim-kiara-hoat Bu-bing Loni? Kenapa pula harus takut menghadapi dia?
Terunjuk rasa heran dan kesangsian pada sorot mata si orang tua, hatinya bertanya-tanya siapakah sebenar-benarnya Ma Gwat-sian ini? Dikata dia tidak bisa main silat, tapi kelihatannya koq tidak gentar menghadapi Bu-bing Loni, bila dikata ia bisa main silat, siapa pula orangnya dikolong langit ini yang pandai main silat yang tidak gentar menghadapi Bu-bing Loni?
Demikian ia. merenung, akhirnya ia berkata tertawa. “Nak, siapakah tadi yang telah menyakiti hatimu, kenapa kau bersedih hati?”
Tersentak Ma Gwat-sian dibuatnya, cepat ia angkat kepala memandang si orang tua. tampak orang tersenyum welas asih serta memandanginya dengan kasih sayang, seolah-olah jalan pikiran dan janggalan hatinya sudah dapat diraba dan diketahui semua.
“Tidak apa-apa!” akhirnya Ma Gwat-sian menjawab singkat setelah termenung sesaat lamanya.
“Jangan kau kelabui aku,” ujar si orang tua tertawa. “Kalau kau katakan mungkin tekanan batinmu akan lebih ringan, jangan kau sekam perasaan hatimu sehingga nanti bisa merusak kesehatanmu sendiri. Kau masih muda maka kau harus dapat membuka dada dan berpandangan jauh ke depan,”
Ma Gwat-sian tertawa. sahutnya, “Paman, tak perlu membicarakan soal itu. kenapa seorang diri kau tinggal di tempat ini? Apalagi kau tadi berkata sudah lama tidak pernah ketemu orang luar?”
“Aku bernama, Kiang Cong-bing!” akhirnya si orang tua memperkenalkan diri, “Nak. pertanyaanku tadi belum lagi kau jawab bukan!”
Melihat orang menarik kembali kepersoalan semula Ma Gwat-sian menjadi bimbang sahutnya, “Sebetulnya tiada apa-apa, hanya karena badanku terasa kurang sehat belaka!”
Si orang tua menghela napas, untuk sekian lama mereka sama bungkam, suasana menjadi lelap. Sebetulnya terketuk perasaan Ma Gwat-sian, si orang tua bersikap begitu baik malah sudah memperkenalkan nama dirinya, sebaliknya aku masih mengelabui keadaan diriku yang sebenar-benarnya sudah tentu teraSa betapa hancur sanubarinya, setelah sangsi sekian lama akhirnya bibirnya bergerak namun suaranya tertelan kembali.
Mendadak si orang tua tertawa, ujarnya. “Sebetulnyalah aku tidak pantas banyak bertanya pada kau, seumpama aku tahu kesulitanmu akupun tidak bakal bisa bantu kau mengatasi persoalanmu, soalnya, entah mengapa aku menjadi ketarik terhadap segala persoalan yang menyangkut dirimu itu.” Sampai disini ia menghela napas, lalu sambungnya pula, “Mungkin aku hanya terbawa oleh keadaan yang kuhadapi ini sehingga mengetuk lubuk hatiku saja. Ketahuilah akupun punya seorang putri, mungkin sekarang juga sebesar kau ini!”
“Dimanakah dia sekarang?” tanya Ma Gwat-sian.
Kiang Tiong bing menghela napas, sahutnya, “Akupun tidak tahu dimana dia sekarang. Raut wajah dan bentuk tubuhnya sama benar-benar dengan ibunya, sekarang sudah dua puluh tahun, bila dia berada disini, mungkin secantik kau ini.”
“Apakah kau dikurung Bu-bing Loni di tempat ini? tiba-tiba Ma Gwat-sian bertanya.
Kiang Tiong-bing manggut-manggut, katanya perlahan. “Ya, dua puluh tahun sudah aku terkurung disini!”
“Apakah aku bisa bantu mengatasi kesulitan paman?”
“Banyak terima kasih. Kau sudah menjemput Sinn-giok-ling itu. kukira takkan lama lagi Bu-bing Loni bakal kemari. Bila dia benar-benar datang aku kuatir kau tidak akan bisa melarikan diri.”
“Begitu juga baik, aku tidak takut!”
“Apa!’ teriak Kiang Tiong-bing tersentak kaget, “Apa! katamu” serunya pula menegas.
Sungguh tak habis herannya, kenapa Ma Gwat-sian punya nyali begini besar?. Apakah benar-benar dia kuat menerima akibat yang bakal menimpa dirinya nanti?
Ma Gwat-sian berkata terbawa oleh perasaan hatinya, setelah melihat reaksi dari Kiang Tiong-bing hatinya menjadi menyesal, serta didesak pertanyaan oleh Kiang Tiong-bing pula ia hanya menjawab tawar, “Berani Bu-bing Loni membunuh aku? Pasti guruku juga akan bunuh dia.”
Kiang Tiong-bing tercengang, tanya, “Gurumu adalah….”
“Aku datang dari Thian-bi-kok, bukan warga dari Tionggoan sini….!”
Kiang Tiong-bing manggut-manggut, katanya kalem, “Benar-benarkah gurumu mampu membunuh Bu-bing Loni?”
Melihat mimik wajah Kiang Tiong-bing yang begitu serius tergerak hati Ma Gwat-sian, katanya tertawa, “Tay-seng-ci-lou apakah paman Kiang pernah mendengar akan ilmu ini.”
“Jadi nona adalah ahli waris dari Tay-seng-ci-lou?”
“Tapi sekarang aku tidak tahu entah dimana guruku berada!”
Seolah-olah Kiang Tiong-bing tidak mendengar lagi ucapannya, kepalanya menengadah memandangi air terjun, air tampak berpercik berhamburan kemana-mana, terbitlah cahaya reflek dari timpaan sinar matahari yang indah dan menakjupkan, titik harapan tampak semakin tumbuh dalam cahaya lembayung yang dilihatnya itu.
Melihat orang tenggelam dalam pikirannya, Ma Gwat-sian maklum bahwa orang tentu pernah mengalami masa2 kehidupan pahit getir yang sangat menekan batinnya, sekarang biarlah ia berkesempatan menikmati harapan hidup baru dalam angan2-nya.
Tak lama kemudian Kiang Tiong-bing tersentak dari lamunannya, ia menunduk lalu tertawa dan berkata pada Ma Gwat-sian, “Sesaat aku menjadi kehilangan akal dan nalar, harap nona jangan salah paham!”
“Bukan maksudku membuat Lo-ciangpwe terlalu bergirang hati, kalau tidak keputus-asaan bakal menimpa lebih berat lagi. Saat ini aku tidak tahu dimana guruku berada, apalagi menurut apa yang dia pernah katakan bahwa Hui-sim-kiam-hoat tidak boleh dipandang enteng, dia sendiripun tiada punya pegangan dapat mengalahkannya!”
Dengan mendelong Kiang Tiong-bing menatap Ma Gwat-sian.
Ma Gwat-sian tertunduk, lalu dengan suara kering ia berkata, “Tapi aku tahu ada seseorang yang dapat membantu pada kau. Orang ini adalah ahli waris dari Wi-thian-cit-ciat-sek.”
“Siapakah dia?” seru Kiang Tiong-bing kegirangan.
Sekonyong-konyong didapatinya nada ucapan Ma Gwat-sian ada ganjil, seolah-olah ada sesuatu ganjalan hati yang menyekam sanubarinya, dengan rasa penuh tanda tanya ia awasi Gwat-sian.
“Dia bernama Hun Thian-hi!” sahut Ma Gwat-sian sembari tertawa getir.
“Apakah dia seorang pemuda?”
Terketuk lubuk hati Ma Gwat-sian, terangkat kepalanya, matanya terkesima menatap Kiang Tiong-bing, wajahnya rada bersemu merah, seperti ia merasa bahwa Kiang Tiong-bing telah dapat mengorek rahasia hatinya yang sesungguhnya.
Sambil tersenyum Kiang Tiong-bing berkata pelan-pelan, “Aku punya seorang putri tahun ini berusia dua puluh. Begitu melihat nona lantas aku teringat padanya.” sampai disini ia berhenti sambil tersenyum lebar, lalu melanjutkan, “Aku belum lagi mengetahui nama harum kau nona.”
“Aku bernama Ma Gwat-sian!” sahut Ma Gwat-sian lirih, “Apakah paman tidak percaya akan ilmu silat Hun Thian-hi?”
Terasa dari pertanyaan orang tadi bahwa Kiang Tiong-bing rada menyangsikan kepandaian sejati Hun Thian-hi, agaknya ia menyangsikan apakah benar-benar Hun Thian-hi mampu membantu dirinya, maka selanjutnya ia tidak banyak bertanya pula.
“Gwat-sian, Gwat-sian, Gwat-sian!” mulut Kiang Tiong-bing menggumam, dengan cermat ia tatap Ma Gwat-sian sekian lamanya, akhirnya menghela napas, katanya, “Berapa usiamu sekarang?”
Dengan menahan sabar Ma Gwat-sian menyahut, “Hampir dua puluh!”
Kiang Tiong-bing tersenyum lebar, tanyanya pula, “Lalu berapa usia Hun Thian-ni?”
“Kurang lebih dua puluh tahun juga!”
“Dua puluhan tahun sudah,” akhirnya Kiang Tiong-bing terhenyak. “hampir dua puluh tahun sudah aku menetap disini.”
Habis berkata ia menghela napas dengan rawan.
Ma Gwat-sian juga menghela napas, pikirnya, “Bila Hun Thian-hi terketuk sanubarinya dan menyesal serta mengejar kemari, alhasil yang ditemui pasti hanyalah Ham Gwat belaka, setelah ketemu dengan Ham Gwat mungkinkah dia mau kemari lagi?”
Terdengar Kiang Tiong-bing berkata pula dengan suara kalem, “Sudah dua puluh tahun aku terkurung disini, aku tidak perlu takut mati. tapi aku tidak berani keluar, soalnya, kalau aku keluar putriku itu akan dibunuh oleh Bu-bing Loni!”
Mendengar penjelasan ini Ma Gwat-sian berjingkrak bangun, matanya terbelalak besar menatap Kiang Tiong-bing, bibirnya bergerak berkata lirih tertekan, “Jadi kau adalah ayahnya Ham Gwat!”
Kiang Tiong-bing juga tersentak bangun, teriaknya, “Ham Gwat! Apakah kau pernah melihatnya?”
Ma Gwat-sian meloso duduk lagi dengan lunglai, sahutnya pelan, “Baru belum lama berselang diluar gua yang tak jauh sana kulihat dia, tapi sekarang…. mungkin dia sudah pergi!”
Terbayang perasaan hambar dari sorot mata Kiang Tiong-bing, iapun jatuh terduduk lagi dengan lesu dan murung, sekonyong-konyong kepalanya terangkat dan bertanya pada Gwat-sian, “Apakah Ham Gwat bersama Hun Thian-hi itu?”
Ma Gwat-sian menggeleng, ia tertunduk tak buka suara.
“Ai, akhirnya dia datang juga,” demikian keluh Kiang Tiong-bing, “Tapi dia tidak tahu bahwa ayah kandungnya sedang merana di tempat ini, tidak diketahui pula olehnya bahwa ibunya berada jauh diujung langit sana!” — tanpa kuasa air mata mengalir membasahi pipinya.
Tiba-tiba terasa oleh Ma Gwat-sian bahwa riwayat hidup Ham Gwat kiranya juga begitu kasihan dan penuh liku-liku yang tidak diketahui olehnya sendiri. Sejak kecil dia dibesarkan dan dibimbing oleh musuh besarnya sendiri tanpa dia sadari, malah diangkat sebagai ahliwarisnya lagi.
Baru pertama kali ini ia dapat mengecap betapa manisnya madu cinta itu, namun sayang harapan yang dinantikan setiap saat itu ternyata telah terebut oleh orang lain, betapa hati ini takkan merana, betapa hati ini takkan menjadi gersang. Oh, nasib, apakah aku memang ditakdirkan lahir dalam kehidupan yang sengsara penuh derita ini? Air mata meleleh deras menetes ke atas tanah dan terhisap tanpa bekas.
Dengan rada terkejut Kiang Tiong-bing meng-amat-amati Ma Gwat-sian, ternyata Ma Gwat-sian pun dirundung rasa kesedihan yang begitu berlimpah, tapi apakah sebab kesedihannya?
“Paman!” ujar Ma Gwat-sian sambil bangkit berdiri, “Mari kubantu kau keluar mencari dia mungkin saatt ini dia belum lagi pergi, atau biar aku saja yang mencarinya kemari!”
Dengan penuh haru dan rasa terima kasih yang tak terhingga Kiang Tiong-bing berkata, “Terima kasih akan kebaikanmu. Nona Ma, kukira dia sudah tiada lagi disana. Jangan kau mencapaikan dirimu!”
“Tapi ada lebih baik ku-coba-coba pergi mencarinya!”
Melihat sikap dan kekukuhan hati Ma Gwat-sian ini, Kiang Tiong-bing maklum bahwa Ma Gwat-sian pasti berdiri di pihak lawan berat dalam bidang asmara, tapi adalah sikap Ma Gwat-sian yang tanpa pamrih ini sungguh mengetuk jiwanya, sungguh haru dan pilu benar-benar hati si orang tua yang hidup penuh derita ini.
Maju dua langkah ia rangkul Ma Gwat-sian ke dalam pelukannya, ujarnya sesenggukan, “Nak, aku
entahlah cara bagaimana aku harus membalas kebaikanmu ini!”
Tak tertahan air mata Ma Gwat-sian pun mengalir dengan derasnya.
Berselang lama baru Ma Gwat-sian kuasa buka suara, “Biarlah aku segera keluar, kalau terlambat kuatir dia sudah pergi!” — begitu ia putar tubuh seketika ia menjerit kaget dan mundur dua langkah. Tampak seorang Nikoh tua sedang berdiri tegak di ambang mulut gua, dengan wajahnya yang membeku dingin, sorot matanya yang kaku ia awasi mereka berdua tanpa bersuara.
Betapa kejut hati Ma Gwat-sian, tahu dia bahwa si Nikoh tua pasti Bu-bing Loni adanya….
Beranjak masuk ke dalam kamar batu dengan pandangannya yang dingin Bu-bing Loni menjengek sinis, dengusnya, “Tak usah pergi. Sudah sejak tadi Ham Gwat meninggalkan tempat ini.”
Kiang Tiong-bing maju dua langkah, tampak air mukanya mengunjuk kekerasan hatinya yang nekad, dengan kedua tangannya ia tarik Ma Gwat-sian ke dekat tubuhnya, matanya setajam pisau mengawasi Bu-bing Loni.
Bu-bing Loni mendengus hidung, katanya kepada Ma Gwat-sian, “Siapa kau? Begitu besar nyalimu berani masuk kemari setelah melihat Sin-giok-ling!”
Ma Gwat-sian tertawa tawar, sahutnya, “Guruku berada di sekitar sini, segera dia bakal kemari. Tay-seng-ci-lou apakah kau pernah dengar?”
Terpancar sorot cahaya aneh berkelebat di rona Bu-bing Loni, sesaat ia berpikir lalu katanya, “Tapi mungkin kedatangannya sudah terlambat nanti! Karena sekarang juga kau sudah harus menuju ke alam baka!” selesai berkata setindak demi setindak ia menghampiri Ma Gwat-sian.
“Tak kuijinkan kau mengusik dia!” bentak Kiang Tiong bing menghadang ke depan.
Terpancar pula rasa aneh di kelopak mata Bu-bing Loni, serta merta kakinya merandek, kepalanya tertunduk berpikir, sekian lamanya ia bungkam. Akhirnya ia angkat kepala pula serta ujarnya, “Apakah itu permintaanmu kepadaku?”
Kiang Tiong-bing mandah menjengek saja tanpa bersuara.
Kata Bu-bing Loni pula, “Bila kau yang memohon kepadaku segala permintaanmu pasti kukabulkan!”
“Tutup mulutmu!” bentak Kiang Tiong-bing. “Kalau begitu aku minta segeralah Kau mampus!”
Beringas muka Bu-bing Loni, tampak hawa marah telah membakar dadanya, maju dua langkah telapak tangannya lantas menampar ke arah Kiang Tiong-bing.
“Plak”, kontan Kiang Tiong-bing terhujung mundur dua langkah, pipinya bengap, Ma Gwat-sian terlepas dari cekalannya, ujung mulutnya mengalirkan darah segar, tapi tanpa takut dengan muka gusar dan pandangan berapi-api yang penuh dendam ia deliki Bu-bing Loni.
Bu-bing Loni terlongong menjublek di tempatnya, sesaat baru ia bersuara dengan penuh derita, “Tiong-bing, begitu baik sikapku terhadap kau, sebaliknya kau selalu begitu….”
“Benar-benarkah kau bersikap baik terhadapku?” teriak Kiang Tiong-bing, “Apa yang telah kau lakukan terhadap Ging-sia, kau telah merusak wajahnya, kau mengurungnya selama dua puluhan tahun, apakah perbuatan kejimu ini kau anggap baik terhadapku?” — waktu berkata-kata ia mengepal tangan, sungguh betapa murka dan gemas hatinya.
“Semua perbuatanku ini karena cintaku terhadap kau. Kenapa sampai sekarang kau masih merindukan
Ging-sia saja. Dalam hal apa dia lebih baik dari aku?”
“Hatinya lebih baik, jiwanya jauh lebih baik dari kau. Sebaliknya hatimu jauh lebih jahat dari bisa ular, apakah yang kau lakukan kukira kau sendiri paham!”
Dicercah sedemikian rendah sungguh bukan kepalang murka Bu-bing Loni, matanya membelalak gusar menatap Kiang Tiong-bing.
Dari samping Ma Gwat-sian mengelus dada, ia paham apa yang telah terjadi, tidak lebih karena ikatan asmara pula. Tampak olehnya dari muka Bu-bing yang semakin beringas sebuas binatang itu, timbul nafsunya untuk membunuh. Sesaat ia beragu lalu tanpa ayal lagi segera jarinya bergerak lincah memetik harpanya, begitu irama lagu mendengung kontan menerjang ke arah Bu-bing Loni.
Begitu mendadak mendengar getaran irama harpa yang deras itu, cepat Bu-bing berpaling ke arah Ma Gwat-sian, hawa membunuh semakin tebal menyelubungi wajahnya.
Lekas Ma Gwat-sian duduk bersimpuh, kedua jari tangannya bergerak lincah, irama lagunya segera memberondong keluar dengan tekanan berat mengandung nafsu2 membunuh.
Ooo)*(ooO
Hun Thian-hi meloncat naik kepucuk hutan bambu. matanya celingukan ke arah sekitarnya, namun bayangan Ma Gwat-sian sudah tidak kelihatan lagi, sesaat ia beragu dan menjadi kesal, entah kejurusan mana Ma Gwat-sian telah pergi.
Mendadak terpikir olehnya, “Mungkinkah Ma Gwat-sian beranjak ke arah biara? Bila dia masuk kesana sebaliknya aku mencarinya di luar sudah tentu takkan ketemu lagi” karena pikirannya ini segera ia terbang melesat ke arah gereja Siau-lim….
Para padri dalam biara besar itu kelihatannya sedang sibuk. kelihatan mereka berlalu lalang kian kemari, sekilas pandang dilihatnya sebentuk tubuh yang dikenalnya, lekas ia meluncur turun, setelah dekat betul juga padri itu bukan lain adalah Ti-hay. segera ia menjura dan menyapa kepada Ti-hay.
“Ti-hiay Suheng. Harap tanya apakah kau ada lihat seorang perempuan masuk kemari?”
Ti-hay beranngkap tangan dan menjawab dengan penuh hormat. “Kiranya Hun-sicu, sejak tadi aku berada di sekitar ini, tiada kulihat ada seorang perempuan masuk kemari!”
Berkerut alis Hun Thian-hi, katanya pula, “Terima kasih akan penjelasanmu, aku sedang mencari seseorang, maaf tidak dapat kuberada disini terlalu lama, harap sampaikan salam hormatku kepada Suhumu!” — Habis berkata lantas ia terbang melesat dan menghilang.
Sepanjang jalan ini ia keheranan dibuatnya, kemanakah sebenar-benarnya Ma Gwat-sian. Demikianlah, dalam berpikir itu tubuhnya melesat terus ke depan. laksana bintang jatuh mengejar ke arah jalanan yang menuju kebawah gunung. Tapi sampai di bawah gunung bayangan Ma Gwat-sian masih belum dilihatnya, dengan putus asa ia menengadah mengawasi mega di atas langit.
Mendadak tampak di ujung barat sebelah sana terbang mendatangi seekor burung rajawali yang teramat besar, tergetar hatinya, bukanlah itu Ham Gwat yang putar balik pula? Sungguh girang dan kuatir pula hatinya, sesaat waktu ia kebingunan, disaat burung rajawali sudah semakin dekat tiba-tiba ia membelok dan terbang ke arah timur sana terus menuju ke arah yang lain.
Hun Thian-hi terlongong ditempatnya, kenapa Ham Gwat membelok ke arah lain pula? Demikian ia bertanya-tanya, sekonyong-konyong dilihatnya pula dua burung dewata, muncul diujung barat sebelah sana, berdebur keras jantung Thian-hi, Bu-bing Loni muncul pula di tempat ini, tidak heran Ham Gwat segera harus tinggal pergi, tapi untuk apakah Bu-bing Loni ke tempat ini?
Ditengah jalan kedua burung dewata itu berpencar. seekor langsung menuju ke arah dirinya, sedang seekor yang lain putar kesamping terus menukik ke arah pegunungan sana. Setelah dekat dan hinggap di tanah baru terlihat oleh Thian-hi Su Giok-lan meloncat turun dari burung dewata. Agaknya Su Giok-lan juga terkejut melihat kehadiran Thian-hi ditetmpat itu.
Sesaat Hun Thian-hi menjadi serba salah, sikap Su Giok-lan terhadap dirinya masih rada disangsikan, entah kawan atau lawan, dilain saat terpaksa ia maju menyapa, “Nona Su apa kau baik!” — Mulutnya bicara. hatipun berpikir; ‘mungkin Ma Gwat-sian menuju ke arah pegunungan yang lebat sana. Sekarang Bu-bing pun menyusul kesana, apakah yang harus kulakukan?
Mendengar sapa Huh Thian-hi Su Giok-lan mandah mendengus hidung saja. setiap kali melihat pemuda ini selalu hatinya merasakan sesuatu yang ganjii, terasa olehnya selalu ia pasti merasa ingin bermusuhan saja tapi setelah kejadian berlangsung akhirnya pasti ia akan menyesal sendiri. Ia maklum bahwa Hun Thian-hj bahwasanya tidak pernah berlaku kasar atau membuat suatu dosa terhadap dirinya, bicara secara lahir batin. justru dirinyalah yang berbuat salah dan menyakiti hati Hun Thian-hi malah, apalagi selama beberapa bulan terakhir ini terasakan pula olehnya betapa kejam dan telengas segala tindak tanduk dari perbuatan Bu-bing Loni, terlihat kedok aslinya yang sudah terbuka itu. Tapi kenapakah aku harus menlcari permusuhan dengan Hun Thian-hi? Entah dia sendiri pun tak kuasa menjawab pertanyaan hatinya.
Memang Hun Thian-hi sendiri juga masih beragu apakah Su Giok-lan dipihak lawan atau menjadi kawan, melihat sikap uring-uringan Su Giok-lan, ia berkata. “Aku punya urusan yang harus kukerjakan dipedalaman sebelah sana!” — demikian katanya sambil menunjuk kemana tadi Bu-bing Loni menghilang.
“Guruku berpesan melarang siapapun menuju ke tempat sana!” demikian Kata Su Giok-lan tegas.
“Jadi gurumu datang karena persoalan itu,” demikian kata Hun Thian-hi tawar, “Tapi Tok-sim-sin-mo dan gembong silat lainnya sudah pergi semua!”
Begitu ketemu Hum Thian-hi lantas hendak pergi. sudah tentu Su Giok-lan merasakan sesuatu kejanggalan sikapnya ini. katanya, “Guruku tidak menjelaskan tentang persoalannya, yang jelas kau dilarang kesana!”
“Maksud nona Su aku benar-benar dilarang kesana?”
“Ya siapapun dilarang kesana!’
“Nona Su,” ujar Thian-hi tertawa, “Kau angkat Bu-bing Suthay sebagai gurumu, bermula aku ikut bergirang bagi kau, sebaD ilmu silat Bu-bing Suthay nomor satu di seluruh jagad, dengan memperoleh petunjuk dan bimbingannya pastilah harapan dan masa depanmu tak dapat diukur. Tapi toh akhirnya aku merasa kuatir dan kasihan pula terhadap nasibmu, ketahuilah bahwa kekejaman hati Bu-bing Suthay juga merupakan rahasia umum lagi, bila kau selalu tunduk dan harus tunduk melakukan perintahnya aku kuatir kau harus melakukan perbuatan yang melanggar azas2 kemanusiaan. Misalnya aku inilah. sejak berkecimpung di dunia persilatan, segala sepaK terjangku kau pernah melihat dan pernah mendengar pula. satu hal yang paling membuatku paling menyesal adalah bahwa aku telah mempelajari ilmu ganas dari Ang-hwaat-lo-mo!”
sampai disini ia menghela napas dengan kesal. waktu ia pandang Su Giok-lan tampak orang menuduk dengan muka pucat dan murung. Giok-lan maklum bahwa segala pengalaman Thian-hi itu adalah akibat dari perbuatan paman, engkohnya dan dirinya bertiga.
Thian-hi berkata lagi, “Sebenar-benarnya tidak menjadi soal mempelajari jurus ganas itu, tapi bagi seorang yang Lwekangnya belum mencapai tingkat yang dibutuhkan bukan saja tidak dapat memanfaatkan ajaran itu menurut kehendak hatinya, malah kadang kala terbawa oleh nafsu kesetanan, tanpa disadarinya bahwa dirinya telah diperalat untuk membunuh manusia.” — sampai disini ia menghela napas lalu sambungnya, “Waktu pertama kali aku melancarkan jurus ganas itu kau pun pernah menyaksikan. Dan akibatnya kau sendiripun telah lihat dengan mata kepalamu sendiri.”
Su Giok-lan terbungkam seribu basa, ia maklum bahwa Hun Thian-hi tengah membujuk dirinya supaya jangan mau diperalat oleh Bu-bing Loni, mau tidak mau ia harus berpikir dan merenungkan persoalan ini, akhirnya ia berkata tawar, “Seluruh tokoh silat di kolong langit ini adakah seseorang yang ilmu silatnya lebih unggul dari Bu-bing Suthay?”
“Benar-benar, seumpama ilmu silatnya tiada tandingannya di seluruh dunia, bagaimana juga ia tidak kuasa mengubah jalannya sejarah dan jaman, mampukah dia mengendalikan hati nurani manusia?”
Su Giok-lan menggeleng dengan pilu, ia menunduk.
“Bu-bing Suthay sedang mencarinya ke-mana-mana, bila ketemu pasti celakalah akibatnya. Tapi mungkin ada seseorang tokoh lihay yang sengaja menyembunyikan dirinya kalau tidak mengandal ketajaman mata burung dewata, betapapun ia tidak bakal bisa menghilangkan jejaknya, kalau aku bicara
terus terang, aku tidak berani!”
Hun Thiani-hi menghela napas, tak bicara lagi.
Su Giok-lan tidak tahu entah mengapa mendadak timbul rasa haru dan terima kasihnya terhadap Hun Thian-hi, terketuk benar-benar hatinya bahwa sedemikian besar perhatian Hun Thian-hi terhadap dirinya. Akhirnya ia buka suara pula, “Mo-bin Suseng mengutus seseorang meminta pada beliau untuk membunuh kalian semua, lekaslah kau tinggalksn tempat ini, kalau sampai kepergok dengan dia bagaimana jadinya nanti!”
Bercekat hati Thian-hi, “Mo-bin Suseng!” mulutnya menggumam lirih Seketika berkobar amara hatinya bahwa Mo-bin Suseng kiranya berintrik dengan Bu-bing Loni, terbayang olehnya waktu pertama kali di puncak gunung salju berjumpa dengan Bu-bing Loni, tatkala itu Soat-san-su-gou ada menyinggung nama Mo-bin Suseng tampak biji mata Bu-bing Loni memancarkan sinar aneh yang menakutkan sekali.
Rongga dadanya hampir meledak rasanya, namun ia masih tetap berdiri dengan tenang, dua puluh tahun, dua puluh tahun yang lalu, keluarga Ham Gwat tertimpa bencana, dan ayahnya pun karena Badik Buntung sehingga menemui ajalnya dibunuh oleh Mo-bin Suseng, bukankah sangat kebetulan sekali. yang lebih kebetulan lagi justru pada dua puluh tahun yang lalu dikala Ka-yap Cuncia meninggalkan Tionggoan menuju ke Thian-bi-kok, pasti semua kejadian ini bukan terjadi secara kebetulan belaka!”
“Kenapa kau?” tanya Su Giok-lan terkejut melihat perubahan air muka orang.
Hun Thian-hi tersentak sadar, ia menyedot hawa dalam-dalam, katanya, “Tiada apa, mungkin sejak mula kita sudah salah langkah, yang terang kita hanya dipermainkan dalam genggaman telapak tangan Mo-bin Suseng tanpa kita sadari, sebaliknya kita anggap diri sendiri terlalu pintar, tapi sampai pada detik ini, belum pernah aku melihat tampang asli dari Mo-bin Suseng!”
“Lalu bagaimana sekarang aku harus bersikap?”
“Kemana tujuan Bu-bing Loni tadi?”
“Aku tidak tahu, kemana dia pergi selamanya tidak pernah beritahu padaku, apalagi tanpa ajakannya kita dilarang ikut, kalau kita membandel kematianlah bagiannya.”
Hun Thian-hi beragu, kemanakah Bu-bing Loni, ia insaf bahwa kepandaian sendiri masih bukan tandingan Bu-bing Loni, menyusul kesanapun hanya mengantar jiwa saja. Sedang ia berdiri bingung sesosok tubuh kecil pendek tiba-tiba muncul di balik pohon-pohon sana, seketika ia berteriak kejut:
“Siau-suhu!”
Hwesio jenaka berjalan keluar, katanya tertawa, “Kau baik?”
“Siau-suhu, bukankah kau berada di Thian-lam? Masa begitu cepat bisa sampai di Siong-san apakah kau ada ketemu dengan guruku?”
“Gurumu sudah ditolong keluar, kau tidak usah kuatir!” ujar Hwesio jenaka, lalu sambungnya kepada Su Giok-lan, “Bukankah nona Su Giok-lan adalah murid Pedang utara Siau-sicu?”
Mendengar orang menyinggung gurunya yang lama yaitu Pedang utara Siau Ling, Giok-lan menjadi hambar, sahutnya, “Wanpwe memang Su Giok-lan, apakah Siau-suhu ada ketemu dengan guruku?”
“Suami istri Pedang utara gurumu itu sekarang sedang bersama dengan guru Hun Thian-hi Seruling selatan Kongsun Hong. Mereka baik-baik saja, cuma mereka rada kangen pada kau.”
Su Giok-lan menunduk rawan, sejak kecil dia dan engkohnya dibesarkan dan dibimbing oleh Pak-kiam suami istri, dianggapnya mereka sebagai anak kandung sendiri, sekarang engkohnya sudah meninggal, sedang dirinya bertekuk lutut angkat guru kepada Bu-bing Loni, sekian lamanya ia tidak pernah jumpa lagi dengan guru tercinta, betapa hati takkan bersedih, terutama bahwa dirinya telah ingkar terhadap ajaran2nya.
Begitulah ia berpikir dan menerawang sepak terjangnya selama ini, ia menista dan menyesali perbuatannya yang dianggap durhaka, akhirnya dengan tekad yang keras ia angkat kepala memandang Hun Thian-hi lalu bertanya pada Hwesio jenaka, “Dimana sekarang mereka berada?”
Hun Thian-hi sendiri juga sedang dirundung berbagai pertanyaan dan keheranan, gerak-gerik Hwesio jenaka yang serba cepat dan cekatan ini benar-benar sangat mengejutkan dan mencurigakan, kecuali siang malam Hwesio jenaka tidak berhenti menempuh perjalanan dan begitu sampai lantas putar balik, kalau tidak mustahil bisa begitu cepat dia muncul lagi di Siong-san sini.
Hwesio jenaka tertawa katanya, “Kau sekarang sudah menjadi murid Bu-bing Loni, apakah dia mau membiarkan kau pergi?”
Apa boleh buat Su Giok-lan pandang Hun Thian-hi katanya, “Bagaimanakah aku ini?”
“Lam-siau dan Pak-kiam sekarang sama menetap di Jian-hong-kok dipuncak Ui-san. Kalau dugaanku tidak salah dalam waktu dekat ini Bu-bing Loni tidak akan keluar, harus bagaimana kukira kau sendirilah yang mesti memutuskannya.”
Su Giok-lan tertunduk diam, otaknya bekerja. Lalu Hwesio jenaka berkata kepada Hun Thian-hi. “Hun-sicu, bila kau tidak anggap aku lancang mulut, menurut hemadku seharusnyalah segera kau berangkat ke Cian-hud-tOng.”
Tergetar hati Hun Thian-hi, kepalanya terangkat dan pandangannya penuh selidik batinnya, “Kenapa? Ada peristiwa apa pula yang terjadi? Gelombang pertikaian lama belum lagi menjadi tenang gelombang pertikaian baru bergejolak lagi, aku sendiri belum lagi menemukan Ma Gwat-sian, mana bisa pergi ke tempat yang begitu jauh? Apakah benar-benar terjadi perkara besar disana?”
“Sudah tentu, pergi atau tidak terserah kepada kau!” demikian tambah Hwesio jenaka tertawa, “Tapi perlu kau ketahui, bahwa tuan penolong jiwamu sekarang sedang menempuh perjalanan kematian!”
“Siapa yang Siau-suhu maksudkan?”
“Seharusnya kau tahu, orang itu tak lain adalah Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo!”
“Coh Jian-jo,” keluar dengusan lirih dari mulut Thian-hi, dia merasa sedikit terkejut, dan karena kejutnya ini timbul rasa kecurigaannya….
Hwesio jenaka manggut-manggut mengiakan, “Bila tiada Coh Jian-jo sejak lama kau sudah mampus di bawah berondongan Pek-tok-hek-liong-ting, seharusnya kau paham. Tok-sim-sin-mo pun sudah tahu seluk beluk rahasia ini, maka cepat-cepat ia balik pulang ke Jian-hud-tong. Tindakan Coh Jian-jo membuat segala rencananya gagal total, sekembali disarangnya dapatlah kau bayangkan tindakan apa yang akan dia lakukan terhadap Coh Jian-jo?”
Thian-hi terlongong, memang dia harus segera menyusul ke Jian-hud-tong. tapi bagaimana pula ia lega meninggalkan Ma Gwat-sian? Seorang diri Ma Gwat-sian menghilang. dapatkah aku tinggal pergi dengan lega hati?
“Nak,” ujar Hwesio jenaka menarik muka, “Jangan kau terbelenggu oleh ikatan asmara. segala perbuatan Bu-bing Loni itu justru karena dikejar oleh perasaan tali asmarat itu pula. Janganlah kau tenggelam menjadi pikun karena cinta. pula!”
“Siau-suhu” ujar Thian-hi menghela napas, “Ada kalanya sesuatu urusan yang tidak dapat kau selami dari pendirianmu, tapi aku akan bekerja menurut petunjukmu juga,” lalu ia berpaling ke arah Su Giok-lan, katanya, “Nona Su. selamat ketemu!”
“Nanti dulu,” seru Su Giok-lan, “Mari kuantar dengan burung dewata.”
Sesaat Thian-hi bimbang akhirnya manggut-manggut. “Urusan disini biarlah aku bantu kau menyelesaikan. hati-hatilah sepanjang jalan ini,” demikian Hwesio jenaka berpesan dan berjanji.
Lekas-lekas Su Giok-lan naik kepunggung burung dewata diikuti Hun Thian-h:. Kejap lain mereka sudah terbang tinggi ditengah angkasa dan menghilang di ufuk barat.
Hati masing-masing dirundung pikiran, sekian lama mereka terbang meninggi tanpa bicara, akhirnya Su Giok-lan yang membuka suara tanyanya, “Tahukah kau orang macam apakah sebenar-benarnya Hwesio jenaka itu?”
“Kurang jelas,” sahut Thian-hi menggeleng, “Tapi dia sering membantu banyak kepadaku, beberapa kali malah dia telah menolong- jiwaku.”
Su Giok-lan manggutZ, dengan suara penuh perasaan ia berkata, “Hun-toakO, setelah urusan di Jian-hud-tong selesai, kita bersama pulang ke Jian-hong-kok menengok guru kita bagaimana?”
“Sudah tentu baik sekali.” sahut Thian-hi tertawa dibuat-buat. “Kuatirnya waktunya sangat mendesak, aku masih perlu mengerjakan sesuatu di Siong-an.”
“Kenapa? Urusan penting apa lagi yang perlu kau kerjakan?”
Sudah tentu Thian-hi tidak enak menjelaskan, sahutnya meng-ada2, “Urusan Kecil belaka, tapi cukup penting dan mendesak, kalau tidak aku bakal menyesal dan selalu akan mengganjal dalam sanubariku.”
Su Giok-lan terdiam, lapat-lapat ia merasa kemana juntrungan kata-kata Thian-hi ini. Bukankah tadi Hwesio jenaka ada memberi nasehat pada Thian-hi supaya jangan kelelap karena ikatan asmara, dan yang dimaksudkan sudah pasti bukan diriku, maka segera ia bertanya lebih lanjut. Apakah urusan itu yang dimaksud oleh Hwesio jenaka tadi?”
“Giok-lan,” ujar Thian-hi menghela napas, “Aaa. ucapani yang perlu kukatakan pada kau, coba, Kutanya kau, sudikah kau selamanya menjadi adikku? Aku akan berusaha mencintaimu seperti engkohmu dulu.”
Merah mata Su Giok-lan, airmata meleleh keluar, ia tertunduk diam.
Thian-hi tahu urusan ini harus secepatnya dijelaskan, supaya kedua belah pihak tidak terjerumus semakin dalam karena ikatan perasaan yang tidak terlampias. Katanya pula, “Adik Giok-lan, isi hatiku selamanya belum pernah kulimpahkan kepada siapapun juga, ketahuilah orang yang paling kucintu dalah Sucimu!”
“Ham Gwat Suci!” seru Su Giok-lan sambil berpaling ke belakang, berpaling kemuka hatinya berpikir; ‘kiranya Ham Gwatlah yang dicintai Hun Thian-hi, untuk ini ia tidak perlu banyak komentar lagi. Giok-lan tahu dibanding Ham Gwat dirinya jauh ketinggalan dalam segala bidang, sampaipun dalam pengendalian perasaan, diapun tidak selembut dan seagung Ham Gwat, begitu suci dan murni, rupawan lagi.’
Su Giok-lan terlongong diam, entah apa yang sedang dipikirkan, mendapat hati Hun Thian-hi bicara lebih lanjut, “Aku sendiri belum tahu bagaimana sikapnya terhadapku, tapi dia sudah beberapa kali menolong aku.”
Sekarang Su Giok-lan angkat kepala, katanya, “Perasaan Ham Gwat Suci jarang dicurahkan dilahirnya, tapi sebenar-benarnyalah dia seorang gadis yang baik dan bijaksana, dia sangat baik sekali terhadapku.”
Mendengar ucapan Giok-lan ini, legalah hati Thian-hi, sunggguh ia tidak menduga bahwa Ham Gwat bisa membawa diri begitu rupa sehingga Su Giok-lan bersikap begitu hormat dan simpatik terhadap dirinya, ini betul-betul aneh dan mengherankan.
“Yang menolong aku tempo hari adalah Sucimu pula, dia menolong diriku dari cengkeraman Bu-bing Loni, malah dengan burung rajawalinya dia antar aku ke Siong-san, tadi pun dia muncul di Siong-san, tapi entah kemana dia sekarang.”
“Apakah tadi kau sedang menunggu dia?”
“Bukan, aku sedang mencari seorang lain!”
“Kau sedang mencari seorang perempuan lain?”
Thian-hi manggut-manggut, dengan ringkas pelan-pelan ia menceritakan perihal Ma Gwat-sian kepada Su Giok-lan.
Su Giok-lan mendengar begitu asjik, sesaat ia berpikir lantas bertanya, “Dia cantik bukan? Dan lagi kau pun rada ketarik pula padanya?”
Thian-hi manggut dengan keraguan, ujarnya, “Itu pun benar-benar, waktu pertama kali kuketemu dia memang hatiku sudah kecantol, akhirnya karena kutahu dia terlalu pintar aku menjadi takut malah, meskipun diapun sangat cantik tapi dibanding dengan Sucimu, kecantikannya tidak lebih unggul dari Ham Gwat!”
“Ketahuilah Ham Gwat Suci juga sangat pintar, kelak kaupun bakal takut padanya?” demikian goda Su Giok-lan.
“Rada2 saja,” sahut Thian-hi tersenyum geli, “Bukan karena dia terlalu pintar, adalah karena selama ini aku belum pernah melihat senyum manis di Wajahnya yang kaku dingin itu.”
“Ajah bunda Ham Gwat Suci sudah meninggal semua, riwayat hidupnya sangat mengenaskan.”
“Tidak! Aku pernah jumpa beberapa kali dengan ibundanya, sedang ayahnya dikurung di suatu tempat oleh Bu-bing Loni. Ayah ibunya masih hidup dan sehat, cuma dia sendiri tidak tahu!”
Su Giok-lan tercengang, serunya, “Kau tahu hal ini kenapa tidak beritahu kepadanya?”
“Dimana ayahnya berada aku belum tahu, sedang jbunya ada pesan supaya aku tidak memberitahu dulu kepadanya.” — lalu ia tuturkan pertemuannya dengan Ong Ging-sia tempo hari.
Su Giok-lan terlongong-longong tak bersuara, begitu kejam dan keji benar-benar tindanan Bu-bing Loni sampai adik kandung sendiri pun disiksa dan dibuat cacat begitu rupa, kalau dipikirkan sungguh mendirikan bulu roma.
Jalan punya jalan tak lama kemudian mereka sudah tiba di Jian-hud-tong, setelah turun di tanah Giok-lan mengulap tangan membiarkan burung dewata terbang pergi, langsung mereka menuju ke mulut Jian-hud-tong.
Kata Hun Thian-hi, “Mungkin Tok-sim-sin-mo sekarang belum pulang, mari kita masuk menyelidiki dulu, lebih baik kalau dapat menolong Coh Jian-jo keluar, supaya tidak menimbulkan bencana di kelak kemudian!”
“Tapi siapa tahu dimana Coh Jian-jo berada?”
“Kita terobos dulu ke dalam saja!”
Tempo Hun Thian-hi dan Sutouw Ci-ko terkurung di Jian-hud-tong dulu, Hun Thian-hi tertolong keluar oleh Ka-yap Cuncia, waktu keluar melalui sebuah jalanan rahasia lain. Maka kali ini Thian-hi membawa Su Giok-lan ke belakang gunung dan menyelinap masuk ke dalam Jian-hud-tong melalui jalan rahasia itu.
Beberapa kejap kemudian tampak bayang2 manusia di depan lorong Sana, tampak di berbagai pengkolan dipasang penjaga dan peronda hilir mudik. Thian-hi memperhatikan dengan cermat. pikirnya alat2 rahasia tentu sudah tersebar dimana-mana, dimana letak kurungan Coh Jian-jo belum lagi diketahui, aku harus bertindak hati-hati dan jangan sampai konangan lagi, kalau tidak, besar akibatnya.
Sesaat ia menjadi bingung mengawasi orang-orang di dalam gua sana, tak tahu cara bagaimana untuk mencari tahu dimana Coh Jian-jo disekap, dan yang terpenting cara bagaimana nanti dapat membawanya keluar dengan selamat tanpa kurang suatu apa.
Su Giok-lan pun mengerutkan alis, hatinya gundah, pikirnya: kecuali menerjang dengan kekerasan, kalau tidak mana mungkin Coh-jian-jo dapat ditolong keluar.
Thian-hi celingukan kesekitarnya, tiba-tiba ia berkelebat sembunyi ke dalam sebuah lorong lain, cepat-cepat Su Giok-lan mengikuti jejaknya, mereka sama sebagai tokoh persilatan tingkat wahid, gerak-gerik cukup cermat lagi, maka tindakan mereka sedikit pun tidak bersuara.
Tak lama kemudian tampak sepasukan peronda dari anak buah Hek-liong-pang mendatangi, penjaga di berbagai pos itu satu persatu diganti, kiranya tibalah saatnya aplusan, begitu rombongan peronda itu lewat di depan, sebat sekali Thian-hi ulur tangannya mencengkeram satu diantaranya yang berjalan paling belakang terus diseret ke dalam lorong.
Sayang gerak tangannya yang begitu cepat itu toh masih konangan juga, kontan suitan panjang tanda bahaya segera melengking keras dan bersahutan di empat penjuru. Keruan kejut Thian-hi, cepat ia seret orang itu ke dalam lorong terus mepet dinding bersama Su Giok-lan.
Suasana dalam Jian-hud-tong menjadi gempar, anak buah Hek-liong-pang sama mengacungkan obor tinggi2, mereka mulai menggeledah dan memeriksa keberbagai tempat. Gugup hati Thian-hi, sungguh diluar tahunya bahwa penjagaan di dalam Jian-hud-tong ternyata begitu keras dan ketat.
Mereka ubek2an tanpa hasil, lambat laun suasana menjadi sepi dan akhirnya terang kembali Hun Thian-hi jadi berlega hati. Sekonyong-konyong tampak seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berusia pertengahan lambat-lambat beranjak mendatangi, kelihatannya orang ini adalah komandan jaga, sepasang biji matanya berkilat terang, kelihatannya seorang tokoh persilatan.
Sembari jalan kedua biji matanya menjelajah keadaan sekitarnya. Terkejut Thian-hi dibuatnya
orang ini begitu cermat, bukan mustahil jejak dirinya bakal konangan olehnya.
Akhirnya sepasang mata orang itu mencapai ke atas gua, tanpa ayal segera Hun Thian-hi lemparkan tawanannya ke arah orang itu, lalu bersama Giok-lan melesat turun dan lari sipat kuping kelorong lainnya….
Gesit sekali orang itu melejit kesamping berbareng sebelah tangan menyanggah ke atas, sedang tangan kanannya terayun ke belakang, rombongan pemanah dibelakangnya segera menghujani Thian-hi berdua dengan berondongan anak panah. Bagaikan asap entengnya Thian-hi berdua sudah menyelinap hilang ke lorong yang lain.
Orang itu mendengus dingin, ia berpaling kekanan kiri lalu berseru dengan suara berat, “Turunkan dua pintu dinding dikedua samping, periksa lagi lebih ketat, paksa mereka mengunjukan diri!” dia juga heran bahwa pendatang gelap ini berkepandaian begitu tinggi, sungguh ia tidak dapat membayangkan cara bagimana dia berhasil menyelinap masuk ke dalam gua bagian belakang yang serba rahasia. disangkanya orang menyelundup dari pintu muka.
Terdengarlah suara gemuruh, pintu samping diantara lorong2 yang menembus kesana sini mulai diturunkan. Thian-hi berdua sembunyi disebelah lain, melihat pintu dinding yang besar dan tebal itu pelan-pelan turun, terkejut dan bimbang pula mereka, tapi urusan sudah sedemikian lanjut terpaksa bertindak menurut perkembangan selanjutnya.
Cahaya obor terang benderang menerangi segala pelosok gua, sorotan cahaya pelita berseliweran disamping tubuh mereka. Thian-hi sedang berpikir, jeli dan tajam benar-benar sinar mata orang tadi, agaknya ia punya sedikit kesan terhadap orang itu, hanya bayangannya rada kabur.
Tiba-tiba, selarik sinar tepat menyorot kemukanya, mendadak teringat olehnya, bukankah orang ini tokoh yang terkenal di Bulim dengan julukan Wan-pi-sin-gan Nyo Ceng yang kenamaan itu? Siapa nyana dia pun terima menjadi antek Tok-sim-sin-mo.
Pikiran ini berkelebat cepat dibenaknya, pandangannya serasa kabur, tahu-tahu sebatang tombak melesat menusuk ketenggorokannya.
Thian-hi mengayun tangan kanan menyampok jatuh tombak itu, berbareng ia tarik Giok-lan melompat menghilang kebagian lain yang gelap.
Sambil menyoroti dengan sinar pelita ke arah mereka, anak buah Hek-liong-pang itu memburu datang sembari berkaok2.
Seketika anak buah Hek-liong-pang memburu datang dari empat penjuru. Thian-hi menggerung gemas, seenaknya ia mencomot kedinding terus meremas hancur menjadi kerikil batu dinding yang keras itu terus disambitkan ke depan, terdengarlah suara kesakitan beberapa orang, obor2 di tangan merekapun padamlah keadaan menjadi gelap gulita.
Beruntun jari jemari Thian-hi menjentik dua butir kerikil ke atas dinding terus terbang ke depan, laksana dua orang terbang lewat menyentuh dinding ke depan. Seketika semua orang berlari mengejar ke arah sana. Sesaat mereka kena ditipu oleh cara sambitan batu Thian-hi ini.
Wan-pi-sin-gan (mata sakti berlengan kera) Nyo Ceng melayang datang, suaranya berat berwibawa, “Jangan ribut!” kedua matanya menyapu lambat-lambat kesekitarnya.
Thian-hi berdua berdiri pematung diam, Nyo Ceng pandang mereka dengan tajam, dengusnya, “Ternyata Hun Thian-hi adanya, besar nyalimu berani menerjang masuk kemari!”
Thian-hi tertawa tawar, jengeknya, “Aku bisa terjang masuk kesini tidak perlu dibuat heran. yang lucu dan mengherankan justru Wan-pi-sin-gan Nyo Ceng ternyata terima menjadi antek Tok-sim-sin-mo.”
Wan-pi-sin-gan Nyo Ceng adalah seorang tokoh suci yang kenamaan akan kelurusan dan kejujuran hatinya, sejak lahir ia mempunyai pembawaan yang luar biasa, yaitu sepasang matanya tajam luar biasa melebihi orang lain, ilmu silatnya jarang orang mengetahui sampai dimana tingkatannya, soalnya selamanya jarang ia pamer kepandaian sendiri dihadapan orang, tapi konon kabarnya kepandaiannya tidak lebih rendah dari Giok-yap Cinjin dan Thian-cwan Taysu dari Siau-lim. Entah mengapa sekarang ternyata terima mengekor menjadi anak buah Tok sim-sin-mo.
Dingin-dingin saja Nyo Ceng pandang mereka, jengeknya, “Kalian datang karena Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo bukan? Hm, kau kira dia sudi pergi bersama kalian?”
Hati Thian-hi semakin heran, kiranya Nyo Ceng sudah tahu akan hal ini, diluar tahunya bawa dim-na ia main terobosan ini justru tempat sekitar dimana Coh Jian-jo disekap, maka penjagaan disini justru diperketat dan keras sekali.
“Ada aku disini, jangan harap kalian bisa keluar dari tempat ini.” demikian ancam Nyo Ceng menyeringai dingin.
Su Giok-lan melolos pedang dari punggungnya, serunya sambil maju ke depan, “Ingin aku mencoba apakah kau punya kepandaian asli sejati, berani kau takabur!”
Nyo Ceng menyeringai lebar…. tangannya terangkat lagi, hujan anak panah memberondong pula ke arah mereka berdua, Thian-hi menekuk dengkul jadi tubuhnya rada mendak kebawah berbareng kedua telapak tangannya didorong ke depan, Pan-yok-hian-kang dikerahkan menerpa ke depan, kontan hujan anak panah kena disapu runtuh berjatuhan di tanah.
“Blang” tiba-tiba sebuah pintu batu disamping sana meluncur jatuh pula, sekarang mereka menjadi terhimpit diantara alingan dua pintu batu yang tebal.
Dari luar suara Nyo Ceng terdengar dingin, “Selama hidupku bila tidak terpaksa tidak pernah aku main silat dengan orang lain!”
Thian-hi pandang kedua dinding pintu yang tebal itu, beratnya paling ringan ribuan kati, jarak antar kedua pintu ini empat kaki, bila tidak bisa keluar, ter paksa mereka harus menunggu ajal terkurung disitu.
Su Giok-lan menyimpan pedangnya, dengan kedua tangan ia menepuk2 pintu, terdengar suara mendengung yang berat, sedikitpun pintu itu tidak bergeming.
Thian-hi berpikir dengan gabungan tenaga dalam dua orang mungkin dapat merobohkan, tapi lalu cara bagaimana menolong Coh Jian-jo? Kelihatannya panjang lorong ini setiap berjarak empat lima meter pasti terpasang sebuah daun pintu, mungkinkah satu persatu dapat membobolnya?
Akhirnya Su Giok-lan menghela napas, tanyanya. “Hun-toako, bagaimana sekarang?”
Thian-hi melolos serulingnya, katanya, “Giok-lan! Akan kugempur pintu ini, begitu pintu ini runtuh kau harus cepat menerjang keluar. Jangan sampai Nyo Ceng melarikan diri!”
Mendengar ucapan Thian-hi begitu mantap Su Giok-lan manggut-manggut, pedang dikeluarkan dan siap-siap. ‘
Hun Thian-hi mengerahkan ilmu saktinya, tiba-tiba tubuhnya melambung ke tengah udara berputar satu lingkaran terus menutulkan serulingnya keluar, begitu Wi-thian-cit-ciat-sek dilancarkan pintu itu tergoyang gontai lalu pelan-pelan ambruk ke arah samping sana. “Blum!” batu krikil dan pasir serta debu bertebangan. laksana anak panah Su Giok-lan melesat keluar, dimana ia gerakkan pedangnya dengan jurus Jiu-si-jjan-tiu setabir sinar pedang laksana ribuan benang sutera mengurung semua hadirin.
Berubah air muka Nyo Ceng, setindak pun ia tidak berani maju. dengan bungkam ia menatap Thian-hi berdua. Ujung pedang mengancam tenggorokan.
Thian-hi tersenyum manis, serunya, “Nyo-tayhiap! Sekarang boleh kau ajak kami menemui Coh Jian-jo bukan?”
Nyo Ceng tertawa-tawa, sahutnya. “Kalian ingin benar-benar kesana? Aku kuatir kau dapat masuk takkan dapat keluar pula!”
“Kalau kita mau pergi sudah tentu ada kau Nyo Tayhiap yang menunjukkan jalannya, tidak menjadi soal tak bisa keluar. Pintu2 penghalang macam ini tidak menjadi soal bagi aku!”
Nyo Ceng tertawa, ujarnya, “Sekarang aku sudah bekerja bagi Tok-sim-sin-mo, sudah tentu aku harus setia pada tugasku, jangan kau nanti salahkan aku, dapat masuk tak dapat keluar, hal ini kutegaskan sekali lagi pada kau!”
“Aku tidak ambil perhatian soal itu!” sahut Thian-hi dengan sikap wajar.
Nyo Ceng tertawa lebar, tanpa bicara lagi ia mendahului jalan di depan, Thian-hi menyapu lihat kedua dinding samping, benar-benar juga banyak terdapat daun pintu yang terporot didinding2 itu, penjagaan diatur sedemikian rapi dan ketat, sungguh sulit dibayangkan.
Rada jauh mereka berjalan belak belok akhirnya tercegat sebuah daon pintu yang terbuat dari besi, tebal pintu besi ini kira-kira setengah kaki. pintu bisa tertutup dari luar. Nyo Ceng berkata, sambil tertawa, “Kunasehatkan pada kalian sekali lagi, janganlah masuk kesana!”
Sambil memincingkan mata Thian-hi pandang Nyo Ceng, terasa olehnya bahwa kata-katanya ini memang bermaksud baik, sesaat ia berpikir lalu sahutnya tertawa, “Bagaimana juga aku harus masuk kesana!”
Sesaat Nyo Ceng termeming lalu ia beranjak masuk lebih dulu, katanya, “Aku tiada punya permusuhan apa dengan kalian, kenapa kalian harus memaksa aku?”
“Lekas jalan!” bentak Su Giok-lan, “Kita masih punya urusan penting yang lain.”
Pandangan Nyo Ceng rada kecewa, akhirnija ia membalik tubuh dan melangkah lebih lanjut, pintu besi itu pelan-pelan tertutup sendiri dengan mengeluarkan suara gemuruh dan “Blum” tertutup rapat dan kokoh.
Nyo Ceag berpaling kepada mereka. ia melanjutkan ke depan. Thian-hi merasa memang tidak mungkin keluar pula dari sini. Setelah menyelusuri lorOng panjang tibalah mereka disebuah kamar persegi, dalam kamar ini terdapat banyak perabot dan peralatan besi, seorang laki-laki tua beruban tampak duduk di atas kursi sedang tenggelam dalam lamunannya.
Begitu mendengar langkah kaki orang ia tersentak kaget dan angkat kepala, dengan pandangan dingin dan tak bersahabat ia lirik mereka bertiga lalu tunduk menepekur lagi.
Nyo Ceng tertawa, katanya, “Dia itulah Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo.”
Segera Thian-hi tampil ke depan Coh Jian-jo, katanya. “Wanpwe Hun Thian-hi, sengaja kemari untuk nyatakan terima kasih akan budi pertolongan Cianpwe.”
Coh Jian-jo angkat kepala, ia pandang Thian-hi lekat-lekat. sesaat baru bersuara, “Aku belum pernah menolong jiwamu!”
“Kalau bukan Cianpwe, sejak lama aku sudah mampus di bawah serangan Pek-tok-hek-liong-ting milik Tok-sim-sin-mo itu!”
Kelihatannya Coh Jian-jo mulai ketarik, dengan nanar ia pandang Thian-hi lalu pelan-pelan berdiri, dengan menggendong tangan ia berjalan sebundaran dalam kamar, katanya, “Meski aku telah mengubah sedikit peralatan itu, mengandal kau rasanya tidak mungkin. terhindar dari bencana!”
“Cianpwe!” sela Nyo Ceng. “Kau harus tahu dia ahli waris dari Wi-thian-cit-ciat-sek!”
Agaknya Coh Jian-jo rada terkejut, ia pandang Thian-hi lekat-lekat dengan rasa kurang percaya, ia berpikir sejenak lalu geleng-geleng kepala, agaknya ia tidak mau percaya,
Nyo Ceng tertawa, katanya. “Sekarang kita takkan mampu keluar dari sini, seluruh pintu sudah tertutup rapat dan tak mungkin terbuka lagi!”
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Coh Jian-dio aseran.
“Tok-sim-sin-mo sudah tahu akan kesengajaanmu memperlemah daya kekuatan Pek-tok-hek-liong-ting itu, tak lama lagi ia bakal kembali, maka kuanggap mungkin cianpwe perlu sesuatu bantuan dari aku!”
Coh Jian-jo manggut-manggut, katanya, “Apa gunanya kau menyusul kemari? Bila mereka berani bunuh aku, sejak lama mereka sudah mencabut jiwaku, aku tidak akan bisa hidup sampai sekarang. Perbuatan kalian ini boleh dikata berkelebihan belaka, malah bisa bikin susah aku pula, apakah kalian bisa keluar sendiri dari sini?”
“Bukan melulu karena persoalan itu saja kami k-mari, kecuali itu besar harapan kami dapat menyambut Cianpwe keluar dengan bebas.”
Coh Jian-jo pandang mereka dengan bingung, ia tertunduk bungkam, dengan langkah cepat ia berjalan putar kayun dalam bilik batu itu, agaknya ia sulit mengambil suatu keputusan.
“Tiada gunanya Cianpwe tinggal terlalu lama disini”, demikian bujuk Thian-hi, “Kalau toh bisa keluar kenapa pula harus main ulur waktu dan menyekat diri terima derita.”
Terangkat kepala Coh Jian-jo, pandangan matanya mendelik gusar, serunya, “Lekas kau pergi! Tak butuh kudengar ocehanmu. Aku sendiri yang suka tinggal disini, kau ingin bawa aku lari, sedang kau sendiri saja belum tentu mampu keluar dari sini.”
Thian-hi tertegun, sungguh tidak nyana bahwa Coh Jian-jo bersikap begitu keras kepala, sesaat ia menjadi kememek dan tak tahu apa yang harus dilakukan karena kebandelan orang.
Ooo)*(ooO
Melihat Bu-bing Loni sudah dihayati nafsu membunuh, terpaksa Ma Gwat-sian memetik harpanya melagukan Tay-seng-ci-lou untuk membela diri. Begitu irama harpa mengalun, Bu-bing Loni mendelik gusar kepada Ma Gwat-sian, Gwat-sian pejamkan mata, kedua jari jemarinya selincah kupu2 menari di atas kuntum bunga, laksana air mengalir awan mengembang irama harpanya mengalun enteng terus berkembang.
Bu-bing menggerung murka, ia kerahkan ilmu sakti pelindung badan untuk pertahankan urat nadi dan dadanya, setindak demi setindak ia mendesak maju.
Melihat rangsekan irama lagunya tidak kuasa merintangi Bu-bing Loni, semakin gugup dan gelisah hati Ma Gwat-sian, tapi keadaan sudah sedemikian gawat, dengan segala kemampuan yang ia pelajari selama ini mulailah ia kerahkan tenaga mengembangkan lagu Tay-seng-ci-lou cukup untuk membela diri saja.
Meski tidak takut Bu-bing Loni segan membuka suara, diam-diam hatinya pun kaget, bila guru gadis ini tiba, kalah atau menang sulit ditentukan, bila sekarang tidak lekas-lekas melenyapkan gadis ini kelak pasti merupakan bibit bencana. Karena tekadnya ini pelan-pelan ia melolos pedang dari punggungnya.
“Jangan kau usik dia!” bentak Kiang Tiong-bing murka.
Kiang Tiong-bing menoleh ke arah Ma Gwat-sian, ia maklum bila urusan berlarut begitu terus Ma Gwat-sian pasti berkorban ditangan Bi-bing Loni, maka segera ia menambahi, “Kau sebagai seorang tokoh kenamaan di Bulim, tidakkah kau malu menghadapi seorang gadis remaja!”
Bu-bing tertawa sinis. ie menyedot napas melindungi urat nadinya lalu berkata, “Hari ini tak kubunuh dia, besok tentu dia yang akan membunuh aku!”
“Dia adalah anak angkatku, bila kau berani bunuh dia, selama sehari aku masih hidnp, akan kubunuh kau juga!” demikian ancaman Kiang Tiong-bing,
Bu-bing Loni terbungkam. pelan-pelan ia simpan kembali pedangnya, dengan dingin ia sapu pandang mereka berdua serta katanya, “Kecuali selama hidup ini tinggal disini, kalau tidak kubunuh dia, meski sembunyi ke ujung langit.” berhenti sebentar lalu ia menambahi, “Dan juga Ham Gwat sekalian!”
Kiang Tiong-bing diam saja, ia maklum bahwa Bubing Loni bisa melakukan apa saja sesuai dengan ancamannya, sikap dan kekkuannya terhadap dirinya ini boleh dikata merupakan pemberian ampun dan mengalah.
Habis mengancam tadi Bu-bing Loni lantas putar tubuh tinggal pergi.
Tersipu-sipu Gwat-sian bangkit, katanya, “Terima kasih banyak akan pertolonganmu paman.”
“Nak,” sahut Kiang Tiong-bing, “tak perlu kau sungkan-sungkan, terpaksa aku harus bertindak keras, tujuannya juga bukan melulu demi kepentingan kau, aku pun mengambil keuntungannya!’
“Betapa pun kau telah menolong aku!’ ujar Ma Gwat-sian tertawa getir.
Begitu pahit dan getir tawa Ma Gwat-sian. hal ini terasakan oleh Kiang Tiong-bing, dia pun tersenyum kecut, katanya, “Nak, harus tahu, ada kalanya hidup manusia itu bukan melulu demi kehidupannya sendiri!”
Ma Gwat-sian terlongong sekian lamanya, tak tertahan lagi ia menubruk ke dalam pelukan Kiang Tiong-bing dan menangis gerung-gerung. Begitulah mereka bertangis2an.
“Nak.” ujar Kiang Tiong-hing sesaat kemudian. “Sudah jangan nangis lagi!”
“Paman! Benar-benarkah kau sudi angkat aku sebagai putrimu?”
“Oh, nak sungguh aku girang memperoleh anak seperti kau!” kata Kiang Tiong-bing mengembeng air
mata. “Yah! kaupun tidak perlu menangis lagi!”
Pandangan Kiong Tiong-bing melayang ke arah air terjun diluar sana, terpikir olehnya bila Ham Gwat juga berada disitu betapa senang dan bahagia hatinya. tanpa merasa ia menghela napas kesal, katanya, “Nak, ada sesuatu yang perlu kukatakan kepada kau.”
Ma Gwat-sian duduk bersimpuh di bawah lutut Kiang Tiong-bing. Setelah menghela napas dan memandang keluar Kiang Tiong-bing mulai bicara, “Empat puluh tahun lebih, Bu-bing Loni masih begini kejam!” demikian gumamnya, lalu ia melanjutkan kepada Ma Gwat-sian, “Nak, urusan ini selamanya belum pernah kututurkan kepada siapapun, inginkah kau mengetahui persoalanku dengan Bu-bing Loni?”
Ma Gwat-sian manggut-manggut. ia duduk diam dan tenang.
“Dulu,” dutur Kiang Tiong-bing tersenyum, Kangouw Ngo-hong adalah kaum remaja yang menjadi incaran dan kejaran pemuda2 persilatan pada masa itu, Ngo-hong sama punya kepandaian silat yang tinggi, sama cantiknya pula!”’ merendek sebentar lalu melanjutkan, “Tatkala itu aku baru saja berkecimpung dikalangan Kangouw. Ngo-hong Locu adalah sahabat kental dari keluargaku, sudah tentu dalam pengembaraanku itu aku harus mampir kesana menyampaikan sembah sujud dan hormatku kepada beliau.”
Mendengar sampai disini lantas Ma Gwat-sian dapat menebak kejadian apa selanjutnya yang telah dialaminya.
Kiang Tiong-bing tersenyum geli, sambungnya. “Adalah jamak kalau akupun bertemu dengan kelima putrinya yang remaja itu. Nama asli Bu-bing Loni adalah Ong Ging-hong. dialah yang terbesar diantara lima bersaudara. Sedang ibu Ham Gwat justru yang paling kecil.”
Sampai disini ia berhenti dan tertawa-tawa, agaknya geli tapi juga seperti menyesali nasibnya sendiri, kelihatannya ia sangat prihatin dan menderita, “sudah tentu!” demikian ia melanjutkan, “Akhirnya aku menikah dengan ibunda Ham Gwat. Ngo-hong Locu -sang Mertua juga paling sayang pada ibunya Ham Gwat, waktu itu ia jatuh sakit dan keadaan sudah payah, maka ia wariskan kekuasaan dari Ngohong Locu kepada ibunya Ham Gwat.” sampai disini ia terbatuk lirih dan menghela napas.
“Maklum sebagai anak yang tertua tidak mendapat warisan keluarga, cintanya pun tidak terbalas lagi, maka akhirnya Bu-bing Loni menghilang dari kalangan Kangouw. Tahun kedua mendadak muncul pula di Bulim, wajahnya kelihatan sudah sepuluh tahun lebih tua, tapi justru ia telah memperoleh pelajaran ilmu silat mujijat. Selama kelana di Kangouw, barang siapa sampai mengganggu atau menyakiti hatinya tentu dibunuh tanpa belas kasihan. Betapa kejam dan Telengas perbuatannya itu sungguh menggiriskan hati.” sampai disini ia geleng-geleng dan mengkirik membayangkan kekejaman2 yang diperbuat Bu-bong Loni dahulu.
Sambungnya:”Sudah tentu kau dapat membayangkan, cara bagaimana selanjutnya dia menghadapi kami berdua, meski adik kandung sendiri pun tidak terlepas dari perbuatan keji dan kekejamannya.”
Mencelos hati Ma Gwat-sian, terasakan olehnya, kasihan riwayat hidup Ham Gwat, adalah lumrah kalau dia mengalah, setindak demi kebahagiaan Ham Gwat….
Kiang Tiong-bing tertawa getir, tuturnya “waktu dirumah ia sesumbar bila anak pertamaku lahir itulah saatnya bencana bakal menimpa keluarga kami. Setelah itu tinggal pergi, semula kami takut melahirkan anak! Tapi betapa pun kita harus keturunan! Akhirnya Ham Gwat lahir, kami lantas lari ke tempat yang jauh tersembunyi, tapi kemana pun kami lari tidak terlepas dari kejaran burung dewata bermata jeli dan tajam itu. Aih!”
Mendadak tawa digin yang menggiriskan terkiang dipinggir kuping mereka, dengan kaget mereka tersentak bangun. tampak Bu-bing Loni berdiri diluar kamar batu, mulutnya mengulum seringai sadis setindak demi setindak ia melangkah masuk, giginya gemeratak desisnya, “Semua mengkhianati aku, kalian semua adalah berhati busuk dan pembual.”
Kiang Tiong-bing tertegun sebentar. katanya dengan nada berat, “Segala akibat hari ini adalah maha karya kekejamanmu. tidakkan kau lihat kepada kedua tanganmu sudah berlepotan darah?”
Bu-bing menyeringai semakin beringas desisnya, “Aku bersikap sangat baik terhadap kalian, tapi kalian berkhianat terhadapku!” sekonyong-konyong ia terkial-kial tawa seperti kicauan kokok beluk dimalam sunyi.
Kiang Tiong-bing diam saja, ia tahu bahwa orang tentu telah tinggal minggat dan tidak hiraukan lagi pesan dan perintahnya.
Pelan-pelan Bu-bing Loni menghunus pedang. katanya, “Selama hidupku ini aku bersikap paling baik terhadap kau. Tapi adalah kau pula yang bersikap paling buruk terhadapku.” — rona wajahnya semakin kaku dan diselubungi bahwa memutih, jelas napasnya membunuh semakin berkobar.
Kiang Tiong-bing tertawa tawar, ujarnya, “Jadi Ham Gwat telah meninggalkan kau?”
“Sudah lama ia meninggalkan aku!” gerung Bu-bing Loni menyeringai iblis.
Bukankah itu baik malah?” seru Kiang Tiong tertawa girang. “Dia akan lebih aman dan terjamin keselamatannya bila meninggalkan kau, bila berada di sampingmu. kalau kau sedang marah2 mungkin jiwanya bisa terancam!”
Tangan Bu-bing yang memegang pedang menjadi lemas semampai. mendadak ia angkat kepala, katanya beringas, “Kau tahu. sesaat aku menemukan dia saat itu pula tibalah ajalnya!”
Mencekat hati Kiang Tiong-bing. Bu-bing bisa melaksanakan segala ancamannya.
Sinar matanya yang dingin menatap ke arah Ma Gwat-sian, katanya, “Dan kau pun tidak usah ingin lebih lama lagi. Giok-lan pun berani mengkhianati aku, tiada gunanya kau tetap hidup….”
Tadi kau sendiri berkata membebaskan dia dari renggutan pedangmu,” demikian bentak Kiang Tiong-bing. Kenapa sekarang kau jilat ludahmu sendiri”
Baru tadi aku tahu. kau bersikap begitu kasar terhadapku karena aku bersikap terlalu baik terhadap kau. Aku tidak bunuh Ging-sia dan mengasuh Ham Gwat sampai dewasa memberi pelajaran ilmu silat. semua itu hanya untuk Kau seorang, dan sekarang akan kusuruh kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, akan kubunuh semua orang yang kau kenal dihadapanmu.”
Kiang Tiong-bing bergidik seram, kekejaman Bu-bing Loni tidak perlu disangsikan lagi akan ancamannya yang serius ini. Ia mandah tertawa getir, katanya, “Mungkin kau mampu melakukan segala ancamanmu, tapi mungkin pula kau tidak mampu melaksanakan hasratmu. Aku tidak akan sudi menonton atau menjadi penonton, seumpama aku harus mati aku tidak akan mau menonton.”
“Aku kuatir hal ini tidak segampang menurut kemauanmu saja. Kau harus tunduk akan perintah dan kemauanku!”
Kiang Tiong-bing pandang Ma Gwat-sian dengan rasa iba, pelan-pelan ia bangkit lalu keluar menuju ke air terjun. Sekali melejit Bu-bing Loni mencengkeram Kiang Tiong-bing, kontan tutuk jalan darah pelemas tubuhnya terus membaringkannya di atas dipan, seringainya, “Kau harus menjadi penonton!”
Kiang Tiong-bing pejamkan matanya. Bu-bing Loni tertawa dingin. ujarnya, “Meski tidak melihat, kau pun bisa mendengar, akan kubuat kau mendengar mereka satu persatu meregang jiwa….”
Selama itu dengan tenang Ma Gwat-sian duduk ditempatnya, dengan wajar ia awasi Bu-bing Loni, ia saksikan kelakuan orang yang hampir setengah gila ini, setelah membaringkan Kiang Tiong-bing sekarang dia menghampiri ke arah dirinya.
Pelan-pelan ia menghela napas panjang, dia sudah siap siaga, bila Bu-bing Loni benar-benar mendesak dirinya, ia sudah berkeputusan untuk bunuh diri dengan kekuatan getaran senai harpanya, untuk sesaat hatinya menjadi pilu dan bersedih, sebentuk bayangan yang sangat dikenalnya terbayang dikelopak matanya. Hun Thian-hi bersikap gagah dan ganteng. tapi dia kelihatan berdiri berendeng disana bersama Ham Gwat. Biji matanya basah oleh air mata, engkohnya dan para famili nan jauh dinegeri kelahiran sana terbayang dalam bintik2 air matanya dan menjadi buram dan akhirnya menghilang menetes di tanah.
Bu-bing Loni mendesak lebih dekat, tiba-tiba terbayang bentuk tubuh gurunya Poci diambang kelopak matanya yang terkaca2. Akhirnya ia tertunduk, tangannya kanan terangkat siap memetik senar harpa.
“Jangan begerak!” Poci membentak keras.
Ma Gwat-sian tersentak kaget, cepat ia angkat kepala, bayangan yang dilihat tadi ternyata bukan ciptaan alam pikirannya belaka, tampak Poci berdiri angker sambil memeluk sebuah harpa yang lain pula, sikapnya dingin dan gusar memandang Bu-bing Loni.
Bu-bing Loni menyeringai dingin, sebetulnya hatinya rada gentar, dengan penuh selidik ia awasi Poci, begitulah mereka jadi berdiri berhadapan saling pandang, tiada yang berani bergerak lebih dulu….
Akhirnya Poci membuka suara lebih dulu, “Bu-bing! Kau seorang tokoh nomor satu di seluruh Bulim, tidakkah kau malu menggerakan pedang terhadap seorang bocah kecil?”
“Siapa kau?”
“Persetan dengan siapa aku,” jengek Poci, “Cukup kau tahu saja akulah gurunya!” karena yang dihadapi Bu-bing Loni. tokoh kosen yang lihay, hingga sedikitpun ia tidak berani melirik ke arah Ma Gwat-sian, sedikit lalai besar akibatnya.
“Kudengar kau sebagai ahli waiis Tay-seng-ci-lou. Kau berani meluruk ke Tionggoan sebagai lazimnya. satu gunung pantang hidup dua harimau yang menjagai, cepat atau lambat memang kita harus berhadapan, kini tibalah saatnya kita tentukan siapa unggul siapa asor” habis kata-katanya pedangnya terangkat terus membabat miring.
Tampak tangan kiri Poci bergerak, irama kekal abadi kontan berkembang seiring dengan gerak gerik jarinya yang lincah di atas senar harpanya. Seketika Bu-bing Loni berdegup jantungnya, keruan kejutnya bukan main, selanjutnya ia harus bertindak sangat hati-hati, namun setiap gerak pandangnya selalu kandas ditengah jalan, akhirnya ia duduk bersimpuh mengerahkan Lwekang untuk melawan.
Puci sendiri sedikitpun tidak berani takabur menghadapi ahli waris Hui-sim-kiam-hoat pertemuan kali ini merupakan pertempuran yang menentukan mati hidup, bila dirinya kalah bukan saja dirinya bakal konyol. Ma Gwat-sian pun takkan tertolong jiwanya.
Akhirnya iapun duduk bersila, lagu kekal abadi terus dikembangkan mencapai puncaknya.
Ma Gwat-sian dan Kiang Tiong-bing menonton dengan mata terbelalak, sungguh takjub mereka menyaksikan pertempuran lucu dari kedua tokoh terbesar jaman kini. pertempuran macam ini jarang terjadi selama ratusan tahun terakhir ini.
Begitulah Bu-bing duduk mematung seperti semadi, jari-jari Poci sementara itu terus bergerak dengan lincah, kedua belah pihak tetap bertahan sampai setengah jam. Mendadak Bu-bing Loni membuka mata, sorot tajam berkilat dari biji matanya menatap ke arah Poci laksana ujung pisau tajamnya, sekonyong-konyong tubuhnya bergerak mencelat bangun, pelan-pelan pedang dilolos keluar pula. Sembari menggerung rendah kaki kanannya terangkat pelan-pelan maju selangkah.
Demikian juga tiba-tiba Pici membelalakkan biji matanya, kedua tangannya berhenti bergerak, seketika irama musiknya terputus berhenti. Lekas-lekas Bu-bing Loni menarik balik kaki kanan yang sudah melangkah ke depan itu.
Hawa dalam kamar batu rasanya menjadi bergolak tegang, suasana sangat hening lelap sehingga bernapaspun ditahan.
Ma Gwat-sian tahu bahwa Poci gurunya sedang mempersiapkan diri untuk melancarkan gelombang suara musiknya yang lihay yaitu Toan-liong-loh-yun, bila perlu biar gugur bersama musuh.
Kedua belah pihak harus hati-hati sebelum bertindak, karena sedikit salah langkah akibanya bakal hancur lebur. Dengan cermat Poci awasi setiap tingkah laku Bu-bing Loni, setelah berdiam diri sekian lamanya, lagi-lagi ia angkat kakinya hendak melangkah maju.
Sekali lagi tangan kiri Poci menjentik senar, lengking irama harpa yang meninggi terbang keluar langsung menerjang ke arah Bu-bing Loni.
Lakas2 pedang ditangan Bu-bing Loni disampokkan ke depan, batang pedangnya memancarkan cahaya kemilau. sekuat tenaga ia berusaha menangkal balik gelombang suara harpa. Tapi kelihatan usahanya sangat memakan tenaga, apa boleh buat kaki kanannya harus ditarik mundur pula.
Rona wajah Poci kaku serius, selama ia mempelajari Yay-seng-ci-lou baru hari ini pertama kali menggunakan ilmu saktinya untuk menghadapi musuh tangguh, justru lawannya adalah jago nomor satu dari Tionggoan, yaitu Bu-bing Loni.
Lagi-lagi jari-jari tangan kirinya bergerak, serangkaian suara musik bergelombang mengalun pula menyerang ke arah Bu-bing Loni. Kedua biji mata Bu-bing Loni menatap lurus ke depan, seolah-olah ia sedang memikirkan sesuatu persoalan yang maha penting, pedang ditangan kanannya bergerak pula maju mundur lalu menusuk ke depan menghalau seluruh rangsakan irama harpa, tapi tak urung ia terdesak mundur sampai dua tindak ke belakang.
Poci tercekat, sekarang kelima jari tangan kiri-kanannya menjentik bergantian, dengan seluruh yang paling dahsyat. Dia sudah berkeputusan hari ini kekuatan latihannya, ia lancarkan jurus serangan harus merobohkan Bu-bing Loni atau dirinyalah yang bakal terjungkal kalah.
Sementara itu Bu-bing Loni sedang menerawang cara bagaimana memecahkan gempuran musuh yang dahsyat, tapi irama lagu lawan sambung menyambung melandai bagai gelombang samudra membuat segala daya pkirannya kena dikacau balaukan, terpaksa ia pusatkan perhatiannya untuk melawan serangan musuh.
Tampak tangan kanan Poci bergerak pula, Bu-bing Loni angkat kepala, air mukanya kelihatan. rada pucat, namun sorot matanya malah mengunjuk rasa girang yang terpendam. lekas pedangnya dilayangkan ke depan, dengan hawa pedangnya yang membentuk seperti kabut putih mengembang lebar menerpa ke depan ia tangkis gelombang suara lawan.
Bahwa seluruh usaha penyerangannya selaliu gagal membuat Poci semakin gugup dan kaget, jari telunjuknya segera membelesot di atas senar, suaranya persis seperti gambreng digesek menusuk telinga melesat ke depan. Bu-bing Loni mandah tertawa dingin, pedangnya melintang maju terus diputar ke atas lalu disendal ke samping, gelombang suara musuh kena didesak bujar oleh kekuatan hawa pedangnya. Sekarang Bu-bing Loni mendesak maju sambil melintang pedangnya, selangkah demi selangkah ia menghampiri Poci. Jidat Poci sudah basah oleh keringat dimana telunjuk jari tangan kirinya menggantol. sebuah lengking suara senar harpanya menerjang pula ke arah Bu-bing Loni.
Pelan-pelan Bu-bing masih melangkah ke depan, dengan ketajaman pedang dan kekuatan hawa pedangnya ia menyampok pula serangan musuh kesamping, ujung mulutnya mengulum senyum sinis yang dingin, seolah-olah Poci sudah bakal dicengkeram dalam genggamannya.
Beruntun Poci kirimkan tiga gelombang suaranya yang berlainan bentuk dahsyat dan hebat serangan tiga rangkaian gelombang musiknya ini sehingga Bu-bing terdesak dan tidak sempat lagi menangkis dengan pedang, ia terdesak mundur setindak, tapi dilain saat kaKinya mendesak maju pula pelan-pelan. Mau tidak mau ia harus meningkatkan kewaspadaan, baru sekarang ia sadari bahwa Tay-seng-ci-lou tidak boleh dihadapi secara hadap berhadapan.
Poci diam tak bergerak, biji matanya menatap Bu-bing Loni lekat-lekat. Sudah lama ia mendengar ketenaran nama Bu-bing Loni, kenyataan sekarang ia sudah merasakan kelihayan orang. Bila Bu-bing Loni berani maju setindak lagi apa boleh buat dia harus lancarkan gelombang putus dari senar harpanya untuk gugur bersama Bu-bing Loni.
Melihat Poci tidak bergerak Bu-bing Loni juga tidak berani sembarangan maju. Dia tahu akan kehebatan Tay-seng-ci-lou adalah pantang untuk memandang ringan pada musuh, soalnya kepandaian silat sejati Poci terpaut terlalu jauh dibanding dirinya, kalau tidak mungkin sejak tadi Bu-bing Loni sudah menggeletak tak bernyawa lagi.
Bu-bing Loni melangkah pula, Poci masih tak mau bergerak, kedua biji matanya tajam laksana ujung pisau menatap muka Bu-bing, sedikitpun tidak kelihatan rasa takutnya. Adalah Bu-bing sendiri yang menjadi merinding dan berdiri bulu romanya dipandang begitu rupa, serta merta ia menghentikan langkahnya, sesaat ia menjadi bingung maju atau mundur. ia tahu bahwa Poci pasti masih menyimpan jurus-jurus terlihay yang belum dilancarkan, soalnya menanti kesempatan terakhir untuk merobohkan dirinya. Untuk sesaat ia menjadi ragu-ragu, ia berpikir cara bagaimana ia harus meruntuhkan rangsakan musuh yang teramat hebat itu.
Suasana gelanggang menjadi sunyi senyap. Ma Gwat-sian terlongong mematung, biji matanya saja yang bergerak. ganti berganti ia melirik ke arah Poci dan Bu-bing Loni. Ia insaf bahwa Poci sudah terdesak di bawah angin, kelihatannya ia sudah bertekad untuk gugur berrama Bu-bjng Loni.
Pelan-pelan Bu-bing menudingkan pedangnya ke depan. diapun sudah berkeputusan menggunakan tiga jurus terakhir dari Hui-sim-kiam-hoat untuk menempuh kemenangan, jalan inilah yang dianggapnya paling aman untuk menyelamatkan jiwa sendiri.
Poci juga percaya akan kekuatan Hui-sim-kiam-hoat yang tenar itu, pelan-pelan ia angkat jari-jarinya siap untuk bergerak bila pedang Bu-bing Loni menyerang, dengan irama musiknyai a harus bertahan dan mengadu kekuatan terakhir.
Tapi Bu-bing menjadi bimbang lagi, sedetik sebelum mengambil keputusan. terasakan olehnya kacuali ia menghentikan pertempuran hari ini sampai disini, kalau tidak bila keadaan sama bertahan begini terus berlangsung dan tiada kesudahannya.
Pedangnya sudah teracung sampai titik ketinggian diharapkan, kebetulan lurus dan selaras dengan alisnya. Inilah letak posisi yang paling serba guna untuk menyerang musuh dan untuk menjaga diri. Sekian lama ia tatap muka Poci, pedang sudah siap dilancarkan dengan serangan yang paling ganas sekonyong-konyong biji matanya memancarkan rasa takut dan gusar yang berlimpah2. Ujung pedangnya yang lempang ke depan itu tampak sedikit gemetar. Ah, besar tekadnya untuk segera mulai menyerang tapi entah mengapa hatinya seperti mengkeret dan tak berani lagi turun tangan.
Pandangan Poci mengunjuk rasa hambar dan kosong, tak tahu dia siapakah yang telah muncul karena dia tidak berani menoleh. Pedang Bu-bing masih teracung ke arah dirinya. mungkin orang segera lancarkan serangan fatal yang menentukan.
Ooo)*(ooO
Melihat Coh Jian-jo tiba-tiba murka Hun Thia-hi tertawa tawar, katanya, “Cianpwe! Meski kedatanganku untuk nyatakan terima kasih akan budi pertolonganmu, tapi kau harus tahu, betapa banyak orang telah menjadi korban di bawah keganasan Pek-tok-hek-liong-ting, mereka akan menuntut jiwa mereka kepada kau!”
Biar mereka kemari!” bentak Coh Jian-jo dengan suara serak. “Aku toh tidak kenal mereka, tapi justru sanak kadangku harus menjadi korban kelicikan Tok-sim-sin-mo. Itulah yang paling kuperhatikan!”
Hun Thian-hi bergelak tawa, serunya, “Kau tidak kenal mereka, memangnya aku kenal mereka!” lalu berpaling pada Su Giok-lan, katanya, “Sungguh kami menyesal telah datang kemari, marilah kita pulang!”
Coh Jian-jo terlongong memandangi punggung mereka. mendadak ia berseru, “Apakah kalian mampu keluar? Pintu besi diluar sudah tertutup semua!”
Thian-hi berdua tidak hiraukan seruannya, bersama Su Giok-lan beranjak terus ke depan.
Su Giok-lan tidak tahu apa maksud kelakuan Hun Thian-hi ini ia duga mungkin punya tujuan tertentu maka ia menurut saja diseret oleh Thian-hi.
Coh Jian-jo menjublek tak bersuara, matanya berkilat-kilat, agaknya sedang memutuskan suatu perkara besar. namun ia masih ragu-ragu dan bimbang untuk memberikan jawabannya.
Akhirnya Hun Thian-hi berdua tiba diambang pintu besi, kata Su Giok-lan, “Hun-toako, bisakah kita keluar?”
Hun Thian-hi tertawa getir, sahutnya, “Tidak, bisa keluar!”
Su Giok-lan jadi melongo, kedengarannya nada ucapan Thian-hi begitu wajar, begitu acuh tak acuh, seakan-akan soal pintu besi yang menghalang jalan ini tidak menjadikan persoalan baginya. Hatinya menjadi heran, tak kuasa ia bertanya lagi, “Lalu untuk apa kita berada disini?”
“Selama hidup aku tidak sudi bergaul dengan dua macam manusia,” demikian sahut Thian-hi dengan suara lantang. “Seseorang yang sangat pelit dan ogoistis, dan seorang lain yang berhati ganas dan telengas tidak punya rasa prikemanusian. Umpama tok-sim-sin-mo dan Bu-bing Loni merupakan manusia terganas dan keji, sedang Coh Jian-jo ini justru lebih jahat dan lebih menjemukan, sungguh aku menjadi muak melihat tampangnya pula!”
Su Giok-lan melengak, pikirnya, “Sejelek2 Coh Jian-jo juga tidak seburuk yang dikatakan ini. Soalnya sanak kadangnya sendiri kena ditawan dan dijadikan sandera oleh Tok-sim-sin-mo sehingga kena diperalat untuk menciptakan berbagai alat senjata rahasia demi kepentingan Toksim-sin-mo!”
Coh Jian-jo dan Nyo Ceng menyusul keluar. dengan muka beringas Coh Jian-jo berkata, “Coba kau jelaskan, bagaimana aku jauh lebih buruk dari Tok-sim-sin-mo?”
Thian-hi tertawa tawar, katanya kepada Su Giok-lan, “Mari kita istirahat sebentar, kalau Tok-sim-sin-mo kembali suatu kesempatan bagi kita untuk menjebol alat2 rahasia itu untuk lari keluar!” — dalam bicara sedikitpun ia tidak hiraukan kehadiran Coh Jian-jo dan Nyo Ceng, setelah mendapatkan tempat yang rada bersih ia duduk bersimpuh dan tak peduli orang lain.
Sekilas Su Giok-lan pandang muka Coh Jian-jo, sekarang ia rada paham kemana juntrungan maksud Hun Thian-hi terhadap Coh Jian-jo ini, iapun mencari tempat untuk duduk istirahat,
Ganti berganti Coh Jian-jo pandang mereka berdua, air mukanya ganti berganti putih hitam dan merah pula, sesaat mulutnya menggerung lalu katanya, “Kalian hendak memancing kegusaranku bukan? Sayang aku tidak bakal tertipu oleh kalian, selama hidup ini kalian jangan harap bisa keluar. Bila Tok-sim pulang. dia tidak akan begitu gampang mau melepaS kalian dari sini.”
Thian-hi pejamkan mata, anggap tidak dengar akan ocehan Coh Jian-jo, ujung mulutnya malah menyungging senyum hina dan pandang rendah.
Coh Jian-jo menggeram sambil membanting kaki, badannya sudah berputar hendak tinggal pergi. tapi matanya masih pandang Hun Thian-hi, melihat orang tidak mengunjuk reaksi apa? ia hentikan pula kakinya. serunya, “Bila kau tidak katakan alasanmu, aku bisa membuat jiwamu melayang ke alam baka, jangan kau sangka dengan sembarangan obral mulut lantas kau dapat memancing aku.”
Sesaat kedua belah pihak sama menjublek tak bicara, akhirnya Hun Thian-hi membuka mata. ujarnya, “Bukan saja aku beranggapan demikian, mungkin seluruh manusia di kolong langit inipun punya keyakinan yang sama. Meski kau mampu bunuh aku, apakah kau mampu bunuh seluruh manusia di kolong langit ini? Percaya hati nuranimu tidak akan tentram, kau akan menyesal dan dirundung kekesalan selama hidup!”
Agaknya hati Coh Jian-jo menjadi lemas. katanya, “Kalau kau punya alasan dan itu benar-benar. coba terangkan, ingin aku mendengar lebih lanjut.”
“Masa kau sendiri belum tahu?” ejek Thian-hi, “Bila kau suruh s(eseorang membunuh orang. dosamu yang lebih besar apa dosa orang itu yang lebih besar?”
Coh Jian-jo berpikir sebentar, sahutnya, “Cucuku perampuan dijadikah sandera, dia menekan aku untuk membuatkan alat2 itu, apakah ini terhitung aku yang suruh dia membunuh orang.”
Hun Thian-hi tertawa, katanya, “Tahu betapa besar akibat dari perbuatanmu, tapi tetap kau laksanakan inilah merupakan dosa terbesar dosa yang tak berampun lagi.”
Coh Jian-jo terlongong diam. Thian-hi lanjutkan, “Kau tidak kenal mereka, demikian pula aku tidak kenal mereka, tapi ingat bahwa mereka juga punya sanak kandang, apakah kita pantang berbuat sedikit kebaikan demi keselamatan atau kehidupan orang lain?”
Coh Jian-jo tertunduk ia menghela napas panjang lalu berbalik berjalan masuk ke dalam kamar.
Dari belakang Hun Thian-hi berseru pula, “Mungkin aku sendiri juga rada egois, supaya kau mau membantu sengaja aku menjatuhkan dosa2mu lebih berat, sebenar-benarnya dosa2 itu tidak seberat seperti yang kuucapkan tadi. Bila kau mau, kau rela, aku harap dapat membantu kau!”
Coh Jian Jo geleng-geleng kepala, ujarnya, “Biar kubantu kau membuka pintu besi ini, boleh silakan kau pergi. Ynag terang kau tidak akan dapat bantu apa-apa padaku, dan bagimu tiada daya untuk membantu apa-apa kepadamu!”
“Tujuan kedatanganku kemari bukan hanya itu belaka, bila ntuk meloloskan diri saja aku pikir tidak perlu datang Hwesio Jenaka membujuk aku supaya kemari menyatakan terima kasihku kepada kau orang tua. Tapi aku maklum tujuan yang sebenar-benarnya adalah agar aku bisa menolong kau dan cucumu keluar dari tempat kotor ini. Dan sekarang aku sudah datang sudah tentu pantang pulang dengan tangan kosong.”
Coh Jian Jo mengacungkan tangan, selanya, “Kau memang pandai bicara, tapi pandai bicara belum tentu dapat menangkan suatu perkara.”
“Bila kau sudi membantu kami, itu berarti sudah menambal kekurangan itu!”
Coh Jian-jo tertawa ewa, katanya, “Apa gunanya kau tolong aku keluar? Setelah berada diluar, dalam tiga hari pasti aku bakal mampus, apa pula gunanya?”
Thian-hi terlengak, pikirnya, “Kiranya begitu, Tok-sim-sin-mo pasti mencekoki semacam obat beracun padanya, obat pemunah Sutouw Ci-ko belum lagi dapat dicari, kecuali aku mendapatkan obat pemunah itu, tiada jalan lain untuk dapat melemaskan hatinya. Dalam waktu dekat ini terang tiada daya untuk menolong Coh Jian-jo keluar.”
Coh Jian-jo masuk ke dalam kamar, tak lama kemudian keluar pula dengan membawa sebuah gergaji, panjang gergaji ini cuma satu kaki tapi mengkilap hitam agaknya terbuat dari Kiu-thian-ham-giok, tanpa banyak kata segera ia berkerja menggergaji sela-sela antara pintu besi dan batu karang itu, lalu tertawa berkata kepada Hun Thian-hi, “Sekarang kalian boleh tinggal pergi!” Lalu ia membalik tubuh masuk ke dalam pula….
Sekonyong-konyong teringat suatu hal oleh Thian-hi, cepat ia berseru keras, “Coh-cianpwe. harap tunggu sebentar!”
Coh Jian-jo merendek dan berpaling ke arah Hun Thian-hi, katanya, “Aku sendiri punya perhitunganku, kau tidak usah kuatir akan diriku, tak lama lagi kau akan tahu sendiri!”
“Bukan itu maksud saya,” ujar Hun Thian-hi.
“Ada sebuah benda yang ingin kuperlihatkan kepada kau!”
Coh Jian-jo melenggong. tak tahu ia benda apa yang akan diperlihatkan kepadanya. Tampak Hun Thian-hi pelan-pelan merogoh keluar sarung Badik buntung dari dalam bajunya terus diangsurkan kepada Coh Jian-jo.
Mengawasi, sarung Badik buntung itu terpancar sorot aneh dan berkilat dari biji mata Coh Jian-jo, begitu kesima ia mengawasinya tanpa berkedip, akhirnya dia tertawa ujarnya, “Jadi sarung Badik buntung berada ditangan Hun-siauhiap?”
Thian-hi manggut-manggut, sahutnya. “Wanpwe ada dengar kabarnya rahasia dari Ni-hay-ki-tin hanya Cianpwe seorang saja yang tahu, maka dengan lancang berani kukeluarkan sarung Badik buntung ini mohon petunjuk. Ingin aku tahu mengapa kaum persiliatan sama ingin memperoleh Ni-hay-ki-tin itu?”
Coh Jian-jo tertawa tawar, katanya, “Mengenai soal itu. hakikatnya aku tidak tahu menahu mungkin Hun-siauhiap salah dengar dari obrolan orang yang suka membual!”
Tahu bahwa Coh Jian-jo segan membocorkan rahasia ini. Hun Thian-hi pun tertawa saja, katanya, “Sarung Badik buntung ini tiada gunanya selalu ku-bawa2, harap Cianpwe suka menerimanya, mungkin jauh lebih selamat bila Selalu ku-bawa2.” — Lalu ia berikan sarung Badik buntung itu kepada Coh Jian-jo lalu menyeret tangan Su Giok-lan menerjang-keluar.
Sambil memegangi sarung Badik buntung Coh Jian-jo terlogong ditempatnya, sesaat ia menjadi bingung apa yang harus dilakukan. Sungguh mimpi juga ia tidak mengira bahwa Hun Thian-hi sudi menyerahkan sarung Badik buntung itu kepada dirinya.
Melihat Hun Thian-hi berdua hendak pergi. cepat Nyo Ceng berseru, “Hun tayhiap, diluar ada Biau-biau-cu berjaga, jangan Hun-siauhiap memandangnya terlalu enteng!”
“Blang” tanpa banyak pikir Hun Thian-hi tendang pintu besi itu hingga terpental ambruk. Ia insaf sepanjang jalan lorong2 ini pasti terpasang berbagai alat rahasia, yang berbahaya, bersama mengembangkan Ginkang Ling-khong-pu-si (berjalan di tengah udara) mereka berdua melesat keluar laksana anak panah.
Peringatan Nyo Ceng akan Biau-biau-cu yang berjaga diluar menimbulkan kewaspadaan Hun Thian-hi, karena Bu-ing-sin-sa atau pasir beracun tiada bayangan Biau-biau-cu merupakan kepandaian tunggal yang paling disegani juga di Bulim.
Begitu menerjang keluar dari kamar batu mereka melesat terus ke depan, beberapa jauh kemudian tiba-tiba di depan mereka tampak berdiri seorang Tosu tua, sekilas pandang lantas Thian-hi tahu, pasti dia itulah Biau-biau-cu, cepat ia melolos keluar Serulingnya, bersama Su Giok-lan mereka menerjang terus ke depan.
“Berhenti!” Biau-biau-cu membentak dengan suara berat.
Hun Thian-hi. tertawa besar. serunya, “Tergantung dari kepandaianmu sejati!” -dia pernah dengar bahwa sambitan Bu-ing-sin-sa tiada mengeluarkan suara dan tiada bayangannya, maka sedikitpun ia tidak berani lalai, seruling ditangannya segera ditaburkan dengan putaran cepat seperti kitiran untuk melindungi badan sendiri dan Su Giok-lan.
Keruan Biau-biau-cu naik pitam bahwa seruannya tidak digubris, sambil menggerung gusar kedua telapak tangannya dihantamkan ke depan menyongsong ke arah Thian-hi.
Sementara itu Su Giok-lan juga sudah mengeluarkan pedangnya panjang, bersama ia putar senjatanya menyerbu kepada musuh.
Melihat betapa hebat dan dahsyat gabungan rangsakan kedua musuh mudanya ini, bukan kepalang kejut Biau-biau-cu, insaf bahwa dirinya terang bukan tanjngan, dasar berotak cerjk, lekas-lekas ia melejit mundur dan mundur terus.
Hun Thian-hi menarik Su Giok-lan berlari terus ke depan, sepanjang jalan ini mereka menjadi leluasa terus menerobos melalui serambi panjang dan lorong sempit akhirnya tibalah mereka dijalan rahasia yang menembus keluar itu.
Setelah berada diluar gua mereka sama berpandangan. sejenak Hun Thian-hi berpikir lalu katanya kepada Su Giok-lan, “Giok-lan, kau berangkat dulu ke Jian-hong-kok bagaimana? Setelah urusan disini selesai segera aku menyusul kesana!”
Su Giok-lan beragu, katanya tertawa, “Kenapa harus begitu? Biar kutunggu kau menyelesaikan urusan disini lalu berangkat bersama. Kau ingin menolong, Coh Jian-jo dan pula harus mendapatkan obat pemunahnya itu bukan?”
Thian-hi manggut-manggut, ujarnya. Urusan ini sangat mendesak, menurut perhitunganku. mungkin Tok-sim-sin-mo segera bakal tiba paling lambat besok pagi. Maka°aku harus bekerja secepatnya sebelum dia kembali! Kalau tidak mereka berjumlah begitu banyak. seorang diri mana aku kuasa melawan mereka.”
Su Giok-lan manggut-manggut katanya, “Tapi Coh Jian-jo toh tidak mau keluar!”
“Dia akan mau keluar. Betapapun aku tidak akan meninggalkan dia seorang diri bukan saja Tok-sim akan menyiksanya dengan berbagai cara keji, apalagi kepandaian tehniknya yang hebat tadi sudah kita saksikan’ sendiri. Betapa tinggi kepandaiannya itu cukup hanya beberapa gerakan tangan yang tidak berarti saja dia mampu membuka pintu besi. Bila dia sampai kena diperalat oleh Tok-sim, dapatlah kau bayangkan akibatnya!”
Lalu ia merenung sebentar, katanya, “Dan bukan itu saja persoalannya. Menurut apa yang kudengar dari penuluran Kiu-yu-mo-lo, hanya dialah satu-satunya orang yang jelas tahu akan rahasia disarung Badik buntung itu. Maka dia pulalah orang yang sedang diperebutkan antara I-lwe-tok-kun dan Tok~sim-sin-mo. Maka aku harus dapat menolongnya keluar dari mara bahaya ini, malah harus kulindungi keselamatan jiwanya!”
Su Giok-lan tunduk diam, hatinya berpikir. “Entah orang macam apakah sebenar-benarnya Mo-bin Suseng itu, kenapa selama ini belum pernah muncul, tapi dengan langkah-langkahnya yang tersembunyi itu cukup dapat membuat geger seluruh dunia persilatan, sebetulnya apakah tujuan sebenar-benarnya? Apakah benar-benar dia adalah duplikat I-lwe-tok-kun? Hal inilah yang cukup mencurigakan, bila benar-benar dia adalah i-lwe-tok-kun. sudah pasti banyak orang yang mengenalnya, lalu kenapa pula dia harus merahasiakan muka aslinya, bertindak serba misterius?”
“Sudah lama gurumu tidak melihat kau, adalah baik bisa sekarang kau menjenguk mereka kesana.” demikian ujar Thian-hi, “Kalau Tok-sim-sin-mO belum kembali, urusan disini cukup dapat kuatasi sendiri. Jika dia sudah pulang. meski kau bantu juga bukan menjadi tandingan mereka!”’
Su Giok-lan masih tunduk menepekur tak bersuara. Thian-hi lantas melanjutkan, “Tolonglah setiba disana kau sampaikan salam hormatku kepada guruku, katakan tak lama lagi aku akan segera menyusul datang menghadap pada beliau. Sudah begitu saja, berangkatlah!”
Melihat Thian-hi bersitegas menyuruh dirinya pergi Su Giok-lan menjadi geli. katanya, “Terpaksa aku mengalah saja!” — mereka memutar kegunung depan memanggiil burung dewata, dilain saat Su Giok-lan sudah terbang tinggi dipunggung burung dewata.
Setelah bayangan Su Giok-lan dan burung dewata tidak kelihatan Hun Thian-hi dapat menghela napas lega, sesaat ia menepekur memikirkan cara bagaimana untuk mendapatkan obat pemunah itu untuk menolong Coh Jian-jo dan cucunya perempuan.
Mendadak didengarnya langkah kaki yang sangat perlahan di belakang tubuhnya, sudah tentu kagetnya bukan main, di tempat dan disaat seperti itu, ada orang muncul disini, tidak perlu diragukan lagi pasti dia komplotan dari Hek-liong-pang. Sigap sekali ia memutar tubuh, tampak seorang Hwesio tua sedang tersenyum manis menghadapi dirinya.
Hun Thian-hi berjingkrak kegirangan seperti putus lotre, Hwesio tua ini bukan lain adalah padri tua yang memberikan buah ajaib dulu kepadanya. Terlihat olehnya si Hwesio tua ini masih segar bugar, wajahnya masih kelihatan begitu welas asih penuh kerendahan hati, namun kedua biji matanya tetap terpejam.
Tersipu-sipu Thian-hi maju memberi hormat, sapanya, “Losuhu, apakah kau baik!”
Hwesio itu tertawa. sahutnya, “Nak! Apakah kau baik selama berpisah?”
Thian-hi membungkuk tubuh, sahutnya, “Terima kasih atas perhatian dan bimbingan Losuhu tempo hari!”
Dengan lekat Thian-hi amati muka orang, tampak orang masih mengunjuk senyum dikulum, timbul rasa hormat dalam hati, tanyanya, “Apakah nama julukan Losuhu adalah Go-cu?”
Padri tua itu tertawa-tawa, sahutnya menggeleng, “Salah! Ada seorang lain yang bernama Go-cu Tay-su. Aku bukan Go-cu Taysu!”
Hun Thian-hi melengak keheranan, banyak orang mengatakan bahwa padri tua yang ditemui itu adalah Go-cu Taysu, tapi secara langsung sekarang disangkal oleh sipadri tua ini, lalu siapakah sebenar-benarnya padri tua ini? Mungkin seorang Cianpwe lain yang menyembunyikan nama dan asal usulnya. tapi entah apakah nama julukannya?
Kata padri tua jambil tersenyum, “Hun-sicu tak perlu banyak pikiran, soal ini kelak Hun-sicu bakal tahu sendiri, tapi sekarang ada sebuah urusan yang perlu kuberitahukan kepada Hun-sicu!”
“Ada urusan apa pula harap Cianpwe suka memberi petunjuk!”
“Apakah Hun-sicu tahu bahwa Mo-bin Suseng sekarang sudah tiba di Tionggoan. Dan sekarang kira-kira sudah berada disekitar Jian-hud-tong ini. Dia ingin menculik Coh Jian-jo dari sarang musuhnya.”
Thian-hi tercengang, sejenak ia celingukan keempat penjuru, ingin dia menemukan dimana jejak Mo-bin Suseng.
Padri tua tertawa dan katanya, “Hun-sica sekarang tidak akan dapat melihatnya, tapi akan kuberitahu kepada kau, hal ini sudah lama ingin kau ketahui, walaupun sebetulnya sudah kau ketahui, cuma apa yang kau ketahui itu belum lagi pasti dan tepat!”
Merandek sebentar lantas ia melanjutkan, “Ketahuilah Mo-bin Suseng bukan I-lwe-tok-kun!”
“Bukan?” desis Hun Thian-hi sesaat kemudian.
Padri tua manggut-manggut, ujarnya, “Tapi Mo-bin Suseng adalah murid I-lwe-tok-kun, selamanya tiada seorang pun yang pernah melihat wajah aslinya, tapi bila kau sendiri yang melihat dia, pasti kau kenal padanya!”
Hun Thian-hi garuk2 kepalanya yang tidak gatal, ia tidak paham kemana juntrangan kata-kata sipadri tua ini!
Terdengar ia melanjutkan, “Mo-bin Suseng adalah saudara kembar Hwesio jenaka! Bentuk tubuh dan wajah mereka satu sama lain sangat mirip sekali!”
Lagi-lagi Thian-hi melengak dibuatnya, teringat olehnya waktu ia mendapatkan buah ajaib dulu, adalah Hwesio jenaka yang membantunya sehingga ia berhasil mendapatkan buah ajaib itu. Pernah juga Hwesio jenaka mengajukan syarat yang ditampiknya saat itu, kiranya….Thian-hi menjadi
serba sulit, betapa besar budi bantuan Hwesio jenaka terhadapnya, laksana gunung tingginya sedalam lautan pula, bila Hwesio jenaka minta dia menghapus dendam kesumat ini, bagaimanakah dia harus menjawab?
Sekian lama mereka berdiam diri, akhirnya si padri tua berkata pula, “Perlu kau ketahui bahwa mereka tiga bersaudara kembar. Orang yang pertama kau temui itu bukan Hwesio jenaka, yang membantu kau dulu adalah muridku, seorang iblis kenamaan di Bulim dulu yang bernama julukan Siau-bin-mo-in (orok iblis bermuka tawa), sekarang nama gelarnya adalah Ngo-sing!”
Thian-hi semakin menjublek ditempatnya, tak tahu dia bagaimana perasaannya setelah mengetahui rahasia ini. Kiranya mereka tiga bersaudara kembar, teringat olehnya waktu Pek Si-kiat pertama kali ketemu dengan Hwesio jenaka sikap dan lagak mereka kelihatannya seperti sudah kenal lama, tapi siapa tahu bahwa Hwesio tambun itu kiranya adalah Siau-bin-mo-in.
Terdengar sipadri tua menghela napas. lalu sambungnya, “Diantara mereka tiga bersaudara, Mo-bin Suseng adalah yang tertua, Hwesio jenaka paling kecil. Tapi Hwesio jenaka alalah murid Siau-bin-kim-hud Hoat-pun yang kenamaan itu. Hubungan mereka bertiga justru sangat akrab dan kental sekali, sayang menyajangi. Mo-bin Suseng berbuat begitu lantaran dia harus menolong gurunya, dia ingin membantu gurunya untuk memulihkan ilmunya yang dicapainya dulu, diluar kesadarannya bahwa perbuatannya itu justru telah menimbulkan gelombang pertikaian yang berkepanjangan di Bulim!”
Thian-hi menunduk prihatin, akhirnya ia bertanya, “Dapatkah Wanpwe tahu nama gelaran Lo-suhu yang mulia?”
Padri tua tertawa ewa, katanya, “Ka-yap sudah meninggal, dalam dunia ini mungkin tiada lagi seorang yang mengenal siapa aku. Tidak tahu lebih baik, aku harus segera pergi, kau harus jaga dirimu baik-baik!”
Melihat sipadri tua tidak mau memperkenalkan diri, Thian-hi menjadi bungkam.
Padri tua sudah memutar tubuh ke arah hutan, tiba-tiba ia memutar ke arah Thian-ni serta serunya, “Tiada seorangpun dikolong langit ini yang dapat mengatasi tipu daya kelicikan Mo-bin Suseng, kau harus lebih hati-hati.” habis berkata tubuhnya melayang pergi.
Thian-hi terlongong ke depan, entahlah bagaimana perasaan hatinya sekarang. Hanya terasa olehnya bahwa segala sesuatu yang diketahuinya sekarang adalah diluar dugaan dan perhitungannya. Hwesio jenaka ternyata ada tiga orang, sedang padri tua ini bukan Go-cu pula, entah siapakah dia, pastilah tingkat kedudukannya sangat tinggi tidak di bawah tingkatan Ka-yap Cuncia.
Pikir punya pikir akhirnya ia menghela napas panjang, pelan-pelan kakinya melangkah ke belakang gunung dalam hati ia membatin, “Sementara kukesampingkan dulu soal ini, yang penting sekarang aku harus menolong Coh Jian-jo dan cucunya perempuan!”
Begitu ia tiba di belakang gunung, mendadak ia berdiri melongo, seseorang yang bentuk dan raut mukanya persis Hwesio jenaka tengah bertengger di puncak sebuah batu besar diketinggian sana, orang itu tersenyum lebar memandang dirinya.
Sudah tentu Hun Thian-hi terperanjat, tadi si-hwesio tua yang buta itu memberitahu, padanya bahwa Mo-bin Suseng dan Hwesio jenaka adalah saudara kembar yang sangat mirip rupa satu sama lain. Terpikir olehnya bahwa Siau-bin-mo-in tentu masih berada dibarat laut, sedang Hwesio jenaka jauh berada di Siongsan, jadi Hwesio cebol gemuk dihadapannya ini terang adalah Mo-bin Suseng adanya, mengawasi musuh besar dihadapannya ini seketika menggelora darah dalam ronggo dadanya.
Sebaliknya Hwesio cebol gemuk itu masih berseri-seri tawa menghampiri ke arah Hun Thian-hi, ujar-nya, “Hun-sicu, kau tidak menyangka aku bisa selekas ini muncul pula disini bukan!”
Dengan cermat kedua pasang mata Hun Thian-hi menatap Hwesio cebol di depannya ini, orang ini memang sangat mirip sekali dengan Hwesio jenaka, mendadak teringat olehnya, walaupun Siau-bin-mo-in berada dibarat laut, tapi dia masih ada kemungkinan bisa muncul juga di tempat ini. Bukankah dirinya sendiri baru saja berpisah dengan Hwesio jenaka di Siong-san toh kenyataan sekarang aku sudan berada disini. Maka bukan mustahil bahwa Hwesio jenaka bisa juga muncul disini?
Dalam pada itu Hwesio cebol itu setindak demi setindak menghampiri ke arah Thian-hi. Sesaat itu Thian-hi menjadi bingung tak dapat ia membedakan siapakah sebenar-benarnya orang tambun yang berada di depannya ini, hatinya lebih condong bahwa pastilah orang ini adalah samaran. dari Mo-bin Suseng, karena katanya ia berada di sekitar Jian-hud-tong.
Orang tambun itu mendekat lagi dua langkah, hati Thian-hi masih dirundung kegoncangan yang belum menentu. Jika benar-benar adalah Mo-bin Suseng, betapa pun tidak boleh membiarkan orang mendekati diriku, sebaliknya bila benar-benar adalah Hwesio jenaka atau Siau-bin-mo-in yang bergelar Ngo-sing lalu bagaimana? Pikir punya pikir tanpa merasa jidatnya basah oleh keringat. Sulit ia menarik suatu kesimpulan.
Akhitnya ia kertak gigi, pikirnya, “Tak peduli apa pun yang akan terjadi nanti, bila dia, berani mendekati lebih jauh, akan kupancing siapakah sebenar-benarnya kau adanya!”
Begitu diam-diam Thian-hi sudah bertekad dalam hati, sementara dengan tajam ia awasi orang tanpa bergerak.
Mendadak orang tambun itu menghentikan langkahnya agaknya ia heran akan sikap kaku Hun Thian-hi yang ganji ini, tanyanya, “Hun-sicu kenapakah kau? Apakah nona Su telah menghilang?”
Hun Thian-hi melengak, pikirnya; apakah benar-benar Hwesio jenaka adanya? Kalau bukan kenapa ia bisa tahu bahwa Su Giok-lan ada bersama diriku? Karena rekaannya ini mulutnya sudah bergerak hendak bicara, tapi ia menarik kesimpulan lain pula, bukan mustahil Mo bin Suseng tadi sudah melihat pula bahwa aku berada bersama Su Giok-lan, maka tidak perlu diherankan jika dia mengajukan pertanyaannya ini.
Tergerak hatinya, jangan harap kau dapat mengelabui aku, baik biarlah kucoba isi hatinya. segera ia bertanya, “Siau-suhu! Begitu cepat kau dapat menyusul kemari dari Thay-san yang begitu jauh!” Setelah mengajukan pertanyaan ini hatinya berpikir; ‘coba kulihat cara bagaimana ia menjawab pertanyaanku ini, dari jawabannya akan kuketahui siapa kau sebenar-benarnya!’
Orang itu agaknya melengak, sahutnya, “Hun-sicu, apa yang kau tanyakan?”
Hun Thian-hi menyedot napas. pikirnya, “Sebenar-benarnya Hwesio jenaka atau Mo-bin Susengkah orang ini?” — Terpaksa ia bertanya pula, “Kenapa Siau-suhu menyusul kemari pula dari Thay-san?” dengan lekat ia awasi perubahan air muka orang…. pikirnya; betapapun licik kau akan kukenali siapa kau sebenar-benarnya.
Ingin Hun Thian-hi coba mencari tahu siapakah orang dihadapannya ini, Hwesio jenaka asli atau Mo-bin Suseng? Maka ia ajukan pertanyaannya pula, “Siau-suhu, bukankah kau berada di Thay-san? Kenapa menyusul kemari pula?”
Sejenak orang itu tertegun. sahutnya, “Apa katamu?”
Berkilat sorot mata Hun Thian-hi, ia ulangi pertanyaannya.
Orang itu tertawa, sahutnya, “Kudengar katanya Mo-bin Suseng hendak kemari, maka cepat-cepat aku susul kemari!”
Mendengar jawaban orang Thian-hi membatin pula, “Pintar kau main pura-pura, meski Hwesio jenaka! menanam budi sedalam lautan padaku, terpaksa kebaikannya itu kubalas kelak kemudian hari. Kalau kau ingin lolos dari tanganku, mungkin kau sedang mimpi” Ujung mulutnya mengulum senyum dingin, pelan-pelan ia maju menghampiri ke depan Mo-bin Suseng, mulutnya pun berkata, “Sungguh cepat langkah Siausiuhu!”
Agaknya Mo-bin Suseng dirundung persoalan lain, ia berpaling terlongong ke arah hutan lebat di belakang sana, mulutnya pun bersuara, “Urusan ini cukup serius, sudah tentu harus kususul secepatnya?”
SetetLah berada di depan Mo-bin Suseng, tangan kanan Hun Thian-hi meraba seruling dipinggangnya, katanya dingin, “Siau-suhu! Apakah kau langsung menyusul kemari dari Thay-san?”
Mo-bin Suseng tertawa, katanya, “Hun sicu! Ada sebuah hal perlu kuberitabukan kepada kau!”
Menghadapi Mo-bin Suseng dendam kesumat bertahun2 yang mengeram dalam rongga dada Hun Thian-hi seketika bergolak seperti api membara. tapi bagaimana juga ia masih rada gentar menghadapi Mo-bin Suseng musuh besar yang belum pernah dilihatnya ini. Betapa licik dan jahat tipu daya Mo-bin Suseng ia tahu dengan jelas, sekarang ia tidak boleh memberi kesempatan pula pada orang untuk melaksanakan muslihatnya.
Dia sudah tidak kuat menahan sabar lagi, kalau ia tahu apa akibatnya bagi diri sendiri bila ia terlambat turun tangan. Dia belum tahu bagaimana kepandaian silat Mo-bin Suseng, bila sekali sergap tidak berhasil pasti sulitlah dibayangkan bagaimana nanti kesudahannya.
Pikiran ini secepat kilat berkelebat dalam benaknya, serta merta ia menjengek dingin dan tertawa terkial-kial. serunya, “Mo-bin Suseng, kembalikanlah jiwa orang-orang yang menjadi korban keganasanmu dulu!” — seiring dengan bentakannya seruling ditangannya sudah teracung tinggi melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek menyerang Mo-bin Suseng.
Sekilas tampak sorot mata Mo-bin Suseng mengunjuk rasa takut dan heran yang aneh, mulutnya sudah bergerak hendak bicara, tapi rangsakan jurus Wi-thian-cit-ciat-sek yang hebat itu sudah melandai tiba, sekuat tenaga ia jejakkan kakinya melompat mundur jumpalitan, berbareng kedua telapak tangannya berputar menepuk ke atas menyongsong ke arah gelombang tekanan serangan Hun Thian-hi.
Namun betapa hebat dan dahsyat kekuatan serangan Wi-thian-cit-ciat-sek ini, menghadapi musuh besar pula sudah tentu Hun Thian-hi menyerang dengan sekuat tenaga. Bagaimana cepat dan gesit Mo-bin Suseng berusaha berkelit atau menghindar diri, tak urung ia terpental juga oleh terjangan tenaga dahsyat bagai gugur gunung yang menerpa datang, terdengar mulutnya. menguak seperti babi disembelih kontan badannya terguling2 menyemburkan darah, empat jalan darah mematikan di tubuhnya kena tertutuk buntu, seumpama dewa juga tidak akan mampu hidup kembali.
Hun Thian-hi menarik kembali serangan selanjutnya yang sudah disiapkan, dengan berdiri terlongo ia pandang tubuh Mo-bin Suseng yang menggeletak tidak bergerak. Sekarang dendam sudah terlampias, ia sudah menuntut balas sakit hati keluarganya. Tapi benar-benarkah ia sudah menuntut balas? Hati kecilnya tidak merasakan kepuasan sesuai dengan tuntutan nuraninya. Sekarang terbayang olehnya sorot mata dan air muka Mo-bin Suseng sesaat sebelum serangannya mengenai badan orang, terketuk dalam relung hatinya suatu firasat jelek yang menghantui sanubarinya.
Mendadak tampak olehnya badan Bo-bin Suseng bergerak-gerak, rasa ketakutan menggedor hati Hun Thian-hi, serta merta kakinya menyurut mundur. Dengan pandangan tidak mengerti ia pandang badan Mo-bin Suseng yang berkelejetan itu. Ternyata Mo-bin Suseng belum lagi mati, sungguh ia tidaK berani membayangkan, setelah kena tertutuk empat jalan darah kematian di tubuhnya orang ternyata masih mampu bertahan hidup sekian saat.
Dengan kencang Thian-hi genggam serulingnya, meski ia tahu seumpama Mo-bin Suseng tidak segera mampus, terang jiwanya juga tidak mungkin diselamatkan lagi. Bagi manusla yang tertutuk buntu jalan darah kematiannya adalah tidak mungkin berkepanjangan umurnya, apalagi kena diterjang begitu hebat oleh kekuatan Wi-thian-cit-ciat-sek yang begitu ampuh, terang urat nadi dan sendi tulangnya sudah putus dan hancur, harapan hidup sudah tiada lagi.
Mo-bin Suseng menggeliat tubuh dan terbalik celentang, dengan susah payah ia berusaha merangkak bangun. Menyaksikan keadaan yang menyedihkan ini telapak tangan Hun Thian-hi berkeringat dingin, ia tak tahu kekuatan darimana yang dapat melandasi kekerasan hati Mo-bin Suseng sehingga ia mampu bertahan hidup, suatu hal yang mustahil dan tak mungkin terjadi, tapi kenyataan disaksikan di depan matanya.
Mo-bin Suseng meronta bangkit dua kali, dua2nya gagal dan akhirnya ia rebah kelemasan, dengan putus asa ia menghela napas panjang, terdengar suaranya lirih dan kalem, “Hun-sicu! Aku bukan Mo-bin Suseng. Kemarilah kau, ada beberapa patah yang perlu kusampaikan kepadamu!”
Seakan-akan kepala Thian-hi dipukul godam mendengar ucapan orang, terasa olehnya ketulusan ucapan seseorang yang menjelang ajal adalah jujur, seketika pucat pasi selebar mukanya, keringat segede kacang mengalir dari jidatnya, dengan tertegun mulutnya bicara, “Apa? Kau bukan Mo-bin Suseng? Benar-benarkah itu? Lalu Siapa kau sebenar-benarnya?”
Orang itu menghela napas tak bersuara, sesaat setelah menghimpun tenaga baru bersuara lagi, “Kemarilah kau!”
Tiba-tiba Hun Thian-hi seperti tersadar siapa sebetulnya orang di hadapannya, serunya terlongong, “Jadi kau adalah Ngo-sing Suhu?”
Orang itu berdiam diri!
Hati Hun Thian-hi seperti menciut, rasa ketakutan menjalar seluruh sanubarinya bergegas ia memburu maju serta berjongkok disamping orang terus memampah badannya.
Pelan-pelan orang itu membuka mata, katanya dengan suara tak bertenaga, “Hun-sicu, aku tidak akan tertolong lagi, tapi sebelum ajal ada sebuah permohonanku terhadap kau, kau harus memberi persetujuanmu….”
Hwesio cebol yang tambun ini ternyata benar-benar adalah Ngo-sing adanya, sungguh pedih dan seperti ditusuk sembilu perasaan hati Hun Thian-hi, air mata meleleh deras membasahi pipinya, sungguh ia menyesal akan perbuatannya yang gegabah dan ceroboh, sedikitpun tidak terpikir olehnya bahwa bukan mustahil orang yang dihadapi ini adalah Ngo-sing Suhu alias Siau-bin-mo-in.
Ngo-sing tertawa halus, katanya lirih, “Hun-sicu tidak perlu bersedih, dosa2ku dulu terlalu keliwat takaran, memang aku sudah ditakdirkan begini, Hun-sicu tidak perlu menyalahkan diri dan menyiksa dirimu karena nasib yang menimpa diriku ini, ini sudah suratan takdir!”
“Ngo-sing Suhu!” ujar Hun Thian-hi mengembeng air mata, “sungguh aku sangat menyesal akan perbuatanku yang bodoh ini!”
Ngo-sing pejamkan mata sesaat lamanya, baru kuasa bicara lagi, “Hun-sicu! Selama hidupku ini ada sebuah cita-citaku yang belum terlaksana kukerjakan, aku ingin mohon supaya Hun-sicu suka mewakili aku mengabulkan cita-citaku ini.”
“Ngo-sing Suhu silakan katakan saja, selama jiwa masih dikandung badan Hun Thian-hi pasti akan melaksanakan pesanmu sekuat tenaga!”
Ngo-sing menghela napas lega, katanya tertawa, “Semula aku tidak paham kenapa kau bisa panggil aku Mo-bin Suseng, sampai detik terakhir ini baru aku sadar, tentu kau tadi sudah ketemu dengan guruku bukan?”
Hun Thian-hi manggut sambil sesenggukkan, sahutnya, “Benar-benar, baru saja aku jumpa dengan beliau. Menurut katanya Mo-bin Suseng ada memperlihatkan jejaknya di sekitar Jian-hud-tong, dan kenyataan kaulah yang muncul, maka kusangka kaulah Mo-bin Suseng adanya!”
“Itulah yang dinamakan takdir,” demikian kata Ngo-sing perlahan, “Kudengar Mo-bin suseng akan tiba disini, dia adalah engkohku tertua maka hendak kutolong jiwanya. sekali2 dia tidak boleh bertemu muka dengan kau, siapa nyana justru kau telah tahu beluk-beluk persoalan ini.” — sampai disini napasnya memburu dan berhenti bicara, sesaat kemudian baru melanjutkan lagi, “Hwesio jenaka ada beritahu padaku dia berada di Siong-san, sebaliknya pertanyaanmu bilang aku menyusul datang dari Thay-san Kusangka entah karena urusan apa Hwesio jenaka telah pergi ke Thay-san pula.”
Sungguh Thian-hi menyesal dan gegetun lagi akan perbuatan bodohnya yang tidak punya perhitungan ini, ingin untung menjadi buntung, orang baik-baik macam Ngo-sing yang beberapa kali pernah membantu dirinya disangkanya Mo-bin Suseng dan melukai berat begini rupa, terang tiada harapan hidup lagi,
Ngo-sing tersenyum halus. katanya: .Hun-sicu tidak usah menyesal dan salahkan diri sendiri, nasiibku ini memang sudah suratan takdir aku tidak salahkan kau. Mungkin hanya guruku seorang yang mengetahui rahasia persaudaraanku ini di seluruh dunia.”
Meski Ngo-sing berkata tanpa pamrih, tapi betapa pedih dan pilu perasaan Hun Thian-hi sungguh susah dilukiskan. Dia kuasa menerima segala cercah dan nista yang ditimpakan dirinya oleh seluruh golongan persilatan di Bulim, tapi dia tidak akan kuasa menerima kesalahan yang diperbuatnya hari ini. Tempo hari dirinya telah dibebani dosa tak berampun oleh seluruh kaum persilatan. tapi dia tolak mentah-mentah. Justru hari ini Ngo-sing mewakili dirinya menolak pula dosa2 ini pula, meski perbuatan ini merupakan suatu kesalah pahaman yang tidak dimengerti, tapi ia tahu, bahwa segala akibat dari perbuatan kelalaian ini harus menjadi beban dan tanggung jawabnya.
Sekian lama Ngo-sing pejamkan mata, tiba-tiba ia membuka suara pula, “Guruku itu adalah Suheng Ka-yap Cuncia, beliau bernama gelar Ah-lam Cuncia. Ka-yap Cuncia juga sudah anggap beliau sudah wafat. Beliau paling pantang seseorang mengetahui nama dan asal usulnya.”
Terbayang oleh Thian-hi akan Hwesio tua yang picak itu, sungguh tidak nyana bahwa Hwesio tua itu ternyata adalah Suheng Ka-yap Cuncia
Ngo-sing berkata pula, “Selama hidupku inj tidak sedikit aku menerima budi besar dari beliau orang tua. tapi kedua matanya yang picak sehingga seluruh kepandaian silatnya pun musnah menjadi cacat badan juga lantaran diriku!”
Hun Thian-hi berdiam diri. terasa hatinya hambar dan kosong, dia berdiri menjublek tak tahu apa yang sedang terpikir dalam benaknya.
“Ai, beliau terkena racun Ban-lian-ceng. meski kepandaian silatnya setinggi langit, tapi sekarang sudah punah dan tak berguna lagi. Untuk menyembuhkan sepasang mata dan memulihkan Lwekangnya kembali. cuma dapat memohon pada seseorang saja!” demikian Ngo-sing melanjutkan ceritanya.
Mendadak tersedar Thian-hi dari lamunannya, tanyanya, “Maksud Ngo-sing Suhu supaya aku pergi mencari orang itu bukan? ‘
Ngo-sing harus mengempos semangat dan mengatur napas sebentar baru bisa melanjutkan bicara, “Orang ini adalah Suheng Thaysi Lojin yang kenamaan di Bulim dulu bemama Jing-san-khek. Dulu aku pernah ketemu beliau, tapi selama hidup ini dia membisu diri tak mau bicara sekecap pun Orang ini merupakan seorang cerdik pandai, tiada persoalan yang tidak dapat dibereskan oleh beliau. Akhirnya dapat kuselidiki alasan kenapa dia membisu diri, ternyata karena dia kehilangan semacam barang, dan barang itu adalah milik istrinya yang tercinta. Bila kau dapat menemukan barang itu dan menghadap pada beliau, pasti hasilnya diluar dugaan.” — Sampai disini napasnya menburu lagi dan terbatuk2 hebat, akhirnya jatuh kelemasan.
Cepat-cepat Thian-hi memajangnya bangun, tanyanya cepat, “Barang apakah itu?”
Dengan lemah Ngo-sing membuka mata, suaranya tergagap. “Kata mereka….itulah ….seekor….seekor kuda….kuda hijau….sampai disini melayanglah jiwanya.
Dengan mengembeng air mata pelan-pelan Thian-hi letakkan badan orang terus berdiri, otaknya seperti butek dan tidak punya pegangan lagi, mulutnya menggumam, “Kuda hijau? Kuda yang berwarna hijau?” -Mana mungkin ada kuda warna hijau di dunia ini? Dan lagi Ngo-sing sudah meninggal, dia meninggal begitu saja. Betapa aku takkan malu berhadapan dengan para sahabat Kangouw?
Tengah ia terlongong, tiba-tiba dilihatnya Hwesio tua picak yang bernama Ah-lam Cuncia seperti penuturan Ngo-sing berjalan keluar dari hutan.
Dengan mendelong Hun Thian-hi pandang Ah-lam Cuncia, hatinya menjadi was-was dan takut, hampir saja ia melarikan diri, Ah-lam Cuncia pernah menanam budi pada dirinya, demikian juga Ngo-sing tidak kecil pula bantuannya terhadap dirinya, Tapi kenyataan Ngo-sing sekarang sudah menjadi korban kelalaiannya.
Dengan, perasaan hampa segera ia melangkah kehadapan Ah-lam Cuncia, terus bertekuk lutut dan menangis gerung-gerung dihadapan kaki orang.
Ah-lam Cuncia mengelus-elus kepalanya, rada lama kemudian baru ia bersuara, “Dalam hati Siau-sicu sekarang sedang berpikir apa, apakah Siau-sicu sendiri tahu?”
Hun Thian-hi geleng-geleng kepala sahutnya sambil sesenggukan, “Wanpwe tidak tahu, harap Taysu suka memberi petunjuk!”
Ah-lam Cucia berkata pelan-pelan, “Kalau Siau-sicu sendiri tidak tahu, lalu siapa bakal tahu?”
Tergetar dada Thian-hi walau Ah-lam Cuncia mengucapkan kata-katanya ini sangat lirih dan enteng, namun setiap katanya seperti meresap dan memasuki sanubarinya.
Sekonyong-konyong sadarlah ia dari pulasnya, bayangan masa lampau dari segala sepak terjangnya yang penuh noda2 berdarah laksana air bah yang menerjang ke dalam relung hatinya, sadarlah ia bahwa dosa2nya membunuh terlalu berat, akhirnya ia berkata perlahan, “Untuk selanjutnya Tecu pasti tidak akan membunuh sembarangan orang!”
Lalu perlahan-lahan ia mendongak melihat wajah Ah-lam Cuncia, seketika ia melenggong kaget, tampak kedua biji mata Ah-lam Cuncia terbuka melek, dengan senyum welas asih ia pandang dirinya, biji matanya memancarkan sorot tajam yang menembus kerelung hati orang. Hun Thian-hi masih berlutut dengan mendelong ia pandang muka Ah-lam Cuncia.
Ah-lam cuncia tampak tersenyum, ujarnya, “Hawa membunuh Siau-sicu sudah kabur, namun nafsu asmara masih bersemi dalam hati, selanjutnya kau masih perlu berhati-hati dalam segala tindak tanduk. Loceng segera minta diri bila kelak masih jodoh, pasti akan jumpa pula!” habis berkata
dimana lengan jubahnya mengebut jenazah Ngo-sing tahu-tahu sudah berada dikempitannya, sekali berkelebat dilain saat beliau sudah melesat menghilang tanpa bekas.
Hun Thian-hi menjublek ditempatnya, hampir ia tidak percaya pada penglihatan matanya sendiri, Ah-lam Cuncia sudah sembuh kembali, kedua matanya sudah melek dan dapat melihat, betapa tinggi Kepandaiannya, sungguh sukar diukur dan sangat menakjubkan. Apa yang sekarang disaksikan sungguh berbeda terlampau jauh dari penuturan Ngo-sing tadi.
Entah berapa lama Hun Thian-hi terlongong tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba ia tersentak sadar akan tugas apa yang harus segera dilaksanaKan sekarang, cepat ia berlari menuju kejalan rahasia yang menembus kegua seribu Buddha.
Baru saja ia berada di dalam kegelapan lorong gua, mendadak terasa dua gelombang angin deras menerjang tiba dari kanan kiri, betapa kuat terpaan jalur kedua angin pukulan ini, benar-benar merupakan rangsakan dari tokoh kelas wahid dalam kalangan persilatan umumnya.
Sedikit terkejut lantas Hun Thian-hi siaga dengan seluruh kemampuannya, ia insaf bahwa jalan rahasia ini sudah konangan orang lain, malah musuh kedatangan bala bantuan lagi, atau mungkin Tok-sim-sin-mo sendiri sudah kembali pulang dan berada si Jian-hud-tong pula sekarang.
Tanpa ada tempo untuk banyak pikir, sebat sekali ia berkelit mundur seraya mengembangkan kedua tangannya kekanan kiri untuk menyampok serangan musuh, berbareng kakinya menjejak tanah, kontan tubuhnya menerjang maju ke depan, lolos dari gencetan dua arus pukulan dahsyat.
Begitu menerobos lewat dari gencetan dua arus pukulan angin musuh, gesit sekali ia berdiri membalik dan memasang kuda-kuda siap waspada, dilihatnya dari tempat gelap dari dua samping muncul Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho. Tahu dia sekarang bahwa Tok-sim-sin-mo pasti benar-benar sudah kembali, tanpa merasa berdegup keras jantungnya.
Melihat Hun Thian-hi mampu meloloskan diri dari serangan gabungan yang begitu dahsyat dilancarkan secara membokong lagi, sungguh Biau biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho menjadi kesengsem, tanpa banyak bicara mereka bergerak pula dari jurusan masing-masing dengan serangan telak ke arah Hun Thian-hi Tiba-tiba tergerak hati Hun Thian-hi, ia menduga bahwa kedua musuhnya ini pasti belum sempat memberitahu akan jalan rahasia yang ditemukan ini pada kawan2nya yang lain, maka ia berpikir harus bertindak secepatnya, sebaliknya kedua lawannyapun ingin dapat membekuk Hun Thian-hi secara diam-diam pula tanpa mendapat bantuan orang lain yang berarti menurunkan derajat dan mengurangi jasa2 mereka pada pemimpinnya. Begitulah kedua belah pihak sama bertekad untuk merobohkan lawannya. maka masing-masing melancarkan ilmu pukulan dan tipu-tipu yang paling diandalkan.
Tiga gelombang pukulan dahsyat seketika berkutet dan saling bentur dengan kekerasan yang dahsyat sehingga menimbulkan suara ledakan yang gemuruh. Badan Hun Thian-hi tergetar sempoyongan tersurut mundur ke belakang. Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho serempak menghardik Keras, mereka mengejar datang pula serta menambahi pula dengan tamparan dan sodokan yang mematikan, sementara kelima jari Bing-tiong-mo-tho terjulur panjang mencakar kemuka Hun Thian-hi. Demikian juga Biau-biau-cu merubah sodokan sikutnya dengan sebuah tutukan jari yang mengarah jalan darah Yu-kin-hiat. Besar hasrat mereka dalam serangan serempak yang dahsyat ini dapat membinasakan Hun Thlan hi seketika itu juga.
Tiba-tiba Hun Thian-hi menjengkangkan atas tubuhnya ke belakang, berbareng kedua kakinya terangkat ke atas bergantian menendang ketenggorokan kedua musuhnya yang menyerang maju dengan nafsu yang berkobar itu.
Keruan kedua musuhnya kaget bukan kepalang, sungguh mereka tidak nyana bahwa Hun Thian-hi dapat bergerak begitu lincah dan pintar, dalam keadaan terdesak berbalik balas menyerang dengan serangan telak yang sekaligus telah membebaskan diri dari renggutan maut serangan musuh.
Lebih diluar dugaan pula bagi kedua musuhnya bahwa gerak serangan Hun Thian-hi ini melulu hanyalah serangan pancingan belaka, begitu kedua kakinya terangkat dan menendang, mendadak tubuhnya melejit mumbul ke atas berbareng berputar satu lingkaran, dimana kedua tangannya menyamber kontan kedua lawannya kena terpukul mundur sempoyongan.
Keruan ciut nyali Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho bahwa dengan dua lawan satu ternyata Hun Thian-hi masih mampu mendesak kedua lawannya dan berada di atas angin, bila pihak sendiri tidak mengundang bala bantuan pasti sulit dapat mengatasi keadaan yang terdesak ini.
Mendapat angin Hun Thian-hi pun melancarkan serangan yang lebih dahsyat, begitu lincah gerak geriknya terus mendesak maju, sekonyong-konyong kedua telapak tangannya terkembang terus menepuk ke atas batok kepala kedua musuhnya.
Melihat Hun Thian-hi melancarkan serangan denganb kekerasan tanpa menjaga lobang kelemahan tubuhnya Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho mendengus gusar, serempak mereka memiringkan tubuh mkenyongsongkan telapak tangan masing-masing menyambut pukulan Hun Thian-hi, cara tangkisan mereka ini cukup licik bukan saja dapat memunahkan sebagian tenaga pukulan Hun Thian-hi berbareng mereka susulkan pula pukulan telapak tangan yang lain dengan tenaga yang lebih dahsyat.
Tapi Hun Thian-hi punya perhitungannya sendiri, mana begitu gampang ia bisa dikelabuhi oleh kedua musuhnya. Ia insyaf bila bertempur secara kekerasan jelas dirinya bukan tandingan Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho. Tapi bila kedua musuhnya ini tidak dapat bekerja sama dan dirinya dapat bertindak menggempur kelemahan mereka masing-masing, meski satu lawan dua ia percaya masih mampu mengatasi, malah ia percaya dapat menang’ mengandal kecerdikan otaknya.
Begitulah seiring dengan jalan pikirannya ini, tampak kedua musuhnya sudah melancarkan pula serangan yang bertujuan sama hendak menggempur dadanya, seketika otaknya yang cerdik dapat meraba cara bagaimana ia harus bertindak, sebat sekali kedua telapak tangannya terkembang berputar di tengah jalan ia robah pukulan telapak tangan menjadi tutukan jari yang mengarah jalan darah Sim-hu-hiat di depan dada kedua lawannya.
Sim-hu-hiat adalah salah satu jalan darah mematikan yang berjumlah tiga puluh enam di seluruh tubuh manusia, begitu kena tertutuk jiwa segera melayang. Angin tutukan jari Hun Thian-hi laksana ujung pedang tajamnya, menembus lewat dari arus pukulan mereka sendiri terus menerjang kejalan darah Sim-hu-hiat.
Serasa arwah terbang keluar dari badan kasar Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho, mereka insyaf bila dengan gabungan mereka berdua main adu kekerasan sama Hun Thian-hi belum tentu dapat menamatkan jiwa Hun Thian-hi, malah bukan mustahil pihak sendiri yang terkapar binasa di tanah, sedetik sebelum benturan yang menentukan terjadi sebat sekali mereka menarik diri terus menyurut mundur, sekali mundur terus mundur berulang-ulang.
Siang-siang Hun Thian-hi sudah bersiap dan sudah memperhitungannya bahwa kedua musuhnya pasti
akan mundur. maka segala persiapannya segera diberondong keluar dengan tubrukan maju serta gempuran yang dahsyat dilandasi Pan-yok-hian-kang. gelombang angin pukulan laksana angin topan dan prahara menerpa mereka berdua.
Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho terdesak mundur terus tanpa mampu balas menyerang, tubuh mereka sungsang sumbel gentayangan, sementara Hun Thian-hi terus mendesak maju dengan gempuran yang susul menyusul, sehingga mereka berdua kena terdesak mundur keluar lorong sempit jalan rahasia itu.
Tanpa memberi kesempatan pada kedua musuhnya untuk bertindak sesuatu yang memungkinkan, cepat-cepat Thian-hi angkat sebuah batu besar terus disumbatkan kemulut gua, dilain saat ia sudah berlari keluar dan menghilang dari belokan jalan rahasia yang lain. Begitu Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho terdesak keluar gua setelah dapat menenangkan diri baru tahu bahwa mulut gua sudah tersumbat oleh batu besar, sesaat mereka berdiri berpandangan, serempak mereka lancarkan dua pukulan telapak tangan, “Blang” batu besar itu kena dibobol hancur berantakan.
Tapi keadaan dalam gua sunyi senyap tak kelihatan bayangan orang. Mereka tidak tahu apakah Hun Thian-hi masih berada di dalam sana untuk menyergap mereka bila menerjang masuk ke dalam gua.
Untuk sesaat lamanya mereka berdiri tertegun tak berani bergerak, sekian lama mereka menjadi serba susah dan kebingunan.
Sesaat lamanya mereka berpandangan, dasar licik masing-masing tidak mau mendahului menerjang masuk supaya tidak menjadi korban lebih dahulu, tapi apakah selamanya mereka harus berdiri terlongong di tempat itu? Bila Hun Thian-hi masih berada disana itulah mending, bila dia sudah merat dan menerjang ke dalam gua sebelah dalam dan menimbulkan huru hara, bukankah celaka dan merupakan dosa bagi mereka yang kurang cermat menjalankan tugas? Karena terpikir akan akibat dari hukuman yang berat, akhirnya mereka nekad, perlahan-lahan mereka menggeremet maju bersama memasuki gua rahasia disebelah depan.
Begitu sampai di dalam bayangan Hun Thian-hi sudah tidak kelihatan lagi, keruan mereka berseru kaget, bergegas mereka lari mengejar kesebelah dalam.
Sementara itu, setelah Thian-hi keluar dari lorong rahasia, dia tidak berani lari menuju langsung ke tempat tahanan Coh Jian-jo, bila dirinya sampai terkurung lagi disana, mungkin sangat fatal bagi dirinya untuk membebaskan diri.
Apalagi Tok-sim-sin-mo sudah kembali, bukan mustahil saat ini dia berada disana pula, lalu apa gunanya aku meluruk langsung kesana. Adalah lebih baik disaat Tok-sim-sin-mo tidak berada ditempatnya bila aku dapat mencari obat pemunah itu, dan tindakan selanjutnya baiklah bekerja melihat gelagat.
Begitulah sambil menerawang tindakan selanjutnya kakinya berlari-lari kecil ke depan. Jalan-jalan lorong dalam Jian-hud-tong itu seperti jaringan laba-laba yang rumit sekali, sesaat Hun Thian-hi menjadi bingung dan mengerutkan alis, entah kemana ia harus mencari jurusan yang benar-benar!.
Setelah menempuh perjalanan belak belok yang cukup jauh, mendadak dilihatnya Tok-sim-sin-mo sedang berjalan mendatangi dari arah sebelah sana. Berdetak jantung Hun Thian-hi, pikirannya, “mungkin Tok-sim-sin-mo hendak menuju ke tempat kurungan Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo.”
Dalam pada itu tampak kaki Tok-sim-sin-mo melangkah enteng lewat di bawah Hun Thian-hi terus beranjak ke depan.
Secara kebetulan baru saja ia lewat di bawah Hun Thian-hi, mendadak ia menghentikan langkahnya, sejenak ia berdiri terlongong seperti sedang memikirkan sesuatu lalu bergegas melanjutkan kelorong sebelah samping.
Diam-diam Hun Thian-hi merasa heran. entah mengapa setelah beberapa tindak ke depan Tok-sim-sin-mo memutar kesamping sana, apakah dia sudah mengetahui akan jejakku? Atau melupakan sesuatu? Demikian ia mereka-reka dalam hati.
Karena ingin tahu secara diam-diam ia menguntit di belakang Tok-sim-sin-mo, ingin ia tahu kemana tujuan orang. Tampak Tok-sim-sin-mo terus maju ke arah depan tanpa menoleh lagi, tidak lama kemudian ia membelok kesebuah pengkolan, mendadak keadaan disini tampak menjadi terang benderang, kesanalah Tok-sim-sin-mo terus beranjak masuk.
Hun Thian-hi menguntit terus, baru saja ia tiba di tempat terang itu, tampak Tok-sim-sin-mo membelok pula ke arah sebuah tikungan di sebelah sana, baru saja ia hendak menyusul kesana, sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh dibelakangnya. Sungguh kejut Thian-hi bukan main, ternyata jalan mundur dibelakangnya kini telah tertutup rapat oleh pintu besi, tahu dia bahwa ia masuk perangkap, cepat ia berlari ke depan mejusul ke arah dimana Tok-sim-sin-mo tadi menghilang.
Keruan Thian-hi melengak keheranan. sungguh ia tidak habis mengerti cara bagaimana Tok-sim-sin-mo dapat mengetahui bahwa dirinya sedang menguntit dibelakangnya. Apa boleh buat dengan langkah lemas lunglai pelan-pelan ia melanjutkan ke depan. Bahwa Tok-sim-sin-mo sengaja memancing dan mengurung dirinya di tempat ini pasti dia mempunyai tujuan tertentu.
Waktu Thian-hi angkat kepala mendongak ke atas dinding, dengan seksama ia memeriksa keadaan sekitarnya. Bahwa Tok-sim-sin-mo dapat menghilangkan jejaknya dalam waktu yang begitu singkat, pastilah tempat itu ada sebuah jalan rahasianya yang tersembunyi tapi dimana letaknya.
Mendadak dilihatnya mutiara besar yang terporotkan di atas dinding itu terbayang bentuk badannya sendiri, baru sekarang ia sadar, meski tadi dirinya sembunyi di atas dinding yang tersembunyi tapi dari bayangan yang terkaca di atas mutiara itu pastilah Tok-sim-sin-mo sudah mengetahui jejaknya, bukan mustahil bahwa dia sudah mengetahui akan kehadiran dirinya. di dalam sarangnya ini.
Teringat olehnya waktu Tok-sim-sin-mo mendadak menghentikan langkahnya tadi. persoalannya pasti tidak begitu gampang, tentu dia sedang menerawang cara bagaimana mencari akal untuk menghadapi atau menjebak dirinya. Bila Ling-lam-kiam-ciang terkurung disekitar sjni, bukan mustahil bahwa dalam lorong2 gua yang sempit itu tersembunyi berbagai alat rahasia. Adalah jamak bila Tok-sim-sin-mo tidak sudi mengeluarkan banyak tenaga dan pikiran, cukup dengan alat2 rahasia sudah berkelebihan untuk menghadapi dirinya.
Keadaan gua dimana sekarang ia berada jauh lebih benderang dari keadaan gua yang lain. Sesaat Hun Thian-hi menjadi was-was dan curiga. Dari suara gemuruh turunnya pintu besi yang tebal itu dapatlah ia mengukur bahwa mengandal tenaganya tidaklah mungkin ia kuat mencebolnya keluar.
Tok-sim-sin-mo sekarang sudah menghilang, kecuali dapat menemukan alat rahasia dan jalan keluarnya, kalau tidak dirinya harus terima nasib mati kelaparan atau bunuh diri saja.
Dengan cermat Thian-hi meraba-raba dinding sekitarnya, diperiksanya setiap jengkal dinding batu yang dicurigai apakah disana letak alat rahasia yang bakal menolong dirinya keluar. Tapi kecuali mutiara yang cerlang cemerlang terporot di atas dinding itu…. ia tidak menemukan sesuatu yang dapat menolong dirinya.
Mendadak ia seperti menemukan sesuatu yang menimbulkan perhatiannya, di bawah mutiara itu, lapat-lapat seperti ada sebuah goresan anak panah yang menunjuk kesuatu arah tertentu, goresan itu begitu ringan sekali sehingga sukar dapat dipandang dengan mata biasa, tapi bagi sepasang biji mata Thian-hi yang jeli dengan bekal Lwekangnya yang tinggi. ia dapat melihat dengan jelas sekali, memang bila tidak diperhatikan orang tidak akan tahu adanya tanda rahasia ini.
Berdetak jantung Thian-hi. dengan adanya petunjuk ini apa pula yang perlu kutakuti, mengiringi petunjukan tanda rahasia yang tergores di bawah mutiara2 itu setindak demi setindak ia maju ke depan.
Beberapa lama kemudian mendadak ia mendapat firasat yang kurang baik, penerangan dalam gua tetap sama, tapi lambat laun tanah sekitarnya semakin lembab dan basah, empat dinding sekitarnya kelihatan basah dan meneteskan air.
Wilajah Tun-hong terkenal dengan gurun pasir yang teramat luas. tanah disini tandus dan kering, letak Jian-hud-tong berada di dalam pegunungan tandus yang geesang pula, tapi kenapa dirinya seperti berada di dalam bawah tanah yang sangat rendah, pikir punya pikir lambat laun timbul rasa ketakutan yang semakin menghantui sanubarinya, pikirnya; ‘Entah apakah yang berada disebelah dalam sana?’
Thian-hi merasakan keganjilan rasa dalam relung hatinya, timbul was-was dan kewaspadaannya, pelan-pelan ia beranjak maju terus ke depan.
Tapi mendadak ia melihat sesuatu yang luar biasa ganjilnya muncul di depan sana, sudah tentu kejutnya bukan kepalang, tanpa terasa ia tersentak mundur selangkah.
Dalam lobang gua sebelah dalam sana, ada seseorang sedang berjalan mondar-mandir, orang itu berpotongan sebagai Tojin dan sekilas pandang saja cukup jelas bahwa Tosu ini bukan lain adalah Giok-yap Cinjin itu Cianbunjin Bu-tong-pay yang pernah dikenalnya dan akhirnya terbunuh secara gelap.
Jantung Thian-hi melonjak-lonjak sangat keras, apa yang dilihatnya sekarang sungguh sangat mengejutkan hati dan perasaannya, bahwa Giok-yap ternyata belum mati dan muncul di tempat ini, adalah Tok-sim-sin-mo pula yang sengaja memancing dirinya kemari. entahlah kemana maksud tujuannya!
Thian-hi menahan gejolak hatinya, sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba terpikir olehnya, tadi aku hanya melihat dari bayangan samping orang itu, mungkin memang bentuk tubuh dan raut muka orang itu rada mirip dengan Giok-yap Cinjin, yang benar-benar dia adalah seorang yang lain. Tujuan Tok-sim-sin-mo memancingku kemari adalah supaya orang ini membunuh aku. Karena pikirannya ini ia melongokkan kepalanya pula ke dalam, pandangan sekali ini, hampir saja membuat semangat dan arwahnya seperti copot dari badan kasarnya.
Ternyata Tosu itu sekarang tahu-tahu sudah berdiri dihadapannya tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Begitu ia melongok ke dalam hampir saja ia beradu muka dengan orang, sekarang lebih jelas dan boleh dipastikan, siapa lagi kalau Tosu ini bukan Giok-yap Cinjin adanya?
Meski Hun Thian-hi membekal kepandaian silat setinggi langit, walaupun nyalinya sebesar gajah, menghadapi keadaan yang seram ini tanpa merasa ia tersurut mundur berulang-ulang, seluruh tubuhnya gemetar merinding, dengan pandangan penuh ketakutan ia pandang ke dalam lorong sana.
Ooo)*(ooO
Munculnya Ham Gwat secara mendadak sungguh merupakan suatu pukulan batin bagi Bu-bing Loni, sedikit terkejut konsentrasinya menjadi bujar, pedang yang sudah bergerak hendak menyerang menjadi batal di tengah jalan.
Sesuai dengan tatapan matanya yang dingin Ham Gwat menyapu pandang para hadirin dalam gua itu, rona wajahnya masih kelihatan begitu beku dan kaku
Sekonyong-konyong terketuk rasa ketakutan yang menyelubungi sanubari Bu-bing Loni, agaknya ia merasa terketuk dan gentar menghadapi sinar mata Ham Gwat yang kaku dingin dan cemerlang itu, apalagi secara langsung dihadapan Kiang Tiong-bing.
Mendadak ia merasa terketuk pula bahwa wibawa dan keangkeran dirinya sudah diinjak2, Ham Gwat adalah asuhannya sejak kecil, sekarang berada di hadapannya berani begitu kurang ajar tidak tahu sopan santun dan tata krama, maka dengan rasa gusar yang berapi-api ia deliki Ham Gwat, mulutnya pun menggeram desisnya, “Ham Gwat! Di hadapanku berani kau berlaku kurang hormat ya!”
Sekilas agaknya Ham Gwat terpengaruh akan wibawa dan kekerasan gurunya, pelan-pelan pandangannya tertunduk kebawah, namun dalam kejap lain ia sudah angkat kepala lagi memandang Bu-bing Loni dengan tidak bersuara dan tidak berkedip.
Kedua biji mata Bu-bing pun menatap Ham Gwat lekat-lekat, kalau menurut adat kebiasaannya, sejak tadi ia sudah pukul mampus Ham Gwat, tapi betapa pun Ham Gwat adalah buah asuhannya sejak masih baji, seluruh harapan hidupnya ia tumplekkan kepada bimbingannya kepada Ham Gwat pula, sungguh ia tidak rela begitu saja melenyapkan Ham Gwat dari kehidupan ini, apalagi masih ada Poci pula, bila dirinya menyerang Ham Gwat bukan mustahil dia akan bantu mengeroyok dirinya.
Bagaimana kepandaian silat Ham Gwat ia paling jelas, tingkat kepandaian silat Ham Gwat tidak terlalu jauh bedanya dengan kemampuannya terutama Ginkangnya malah sudah sebanding dengan dirinya.
Bu-bing mendengus, jengeknya gusar, “Dua puluh tahun jerih payah mengasuh dan membesarkan kau sampai sekarang, dan apa yang kudapat sekarang adalah sikap kurang ajaranmu kepadaku ini?”
Ham Gwat tidak gubris ucapannya, pelan-pelan sepasang biji matanya beralih memandang ke arah Kiang Tiong-bing, agaknya ia merasakan sesuatu yang aneh, terketuk perasaan sanubarinya bahwa orang tua laki-laki di hadapannya ini seolah-olah adalah familinya yang terdekat, terpancar dalam sorot matanya harapan akan buaian cinta kasih yang belum pernah dirasakan dan diresapi selama hidup ini.
Dari samping Poci membuka suara, “Orang tua itu adalah ayah kandungmu!”
Tergetar hati Ham Gwat, terasakan olehnya berita yang datang secara mendadak merupakan suatu pukulan yang sulit untuk diterima dengan nalarnya yang masih kebingungan, hampir ia tidak percaya akan pendengaran telinganya, sesaat ia terlongong dan menjublek di tempatnya.
Jang paling terkejut justru adalah Bu-bing Loni, ia tahu bahwa rahasia ini sekali2 pantang diketahui oleh Ham Gwat, karena bila Ham Gwat mengetahui seluk beluk persoalan ini, bagaimana akibatnya siang-siang ia sudah dapat membayangkan. Demikian juga Poci telah mengetahui rahasia ini, bertambah pula rasa kejutnya, tapi ini memang akibat yang pasti terjadi, kalau toh Ham Gwat mendadak bisa muncul disini, mana mampu dirinya menutupi atau merahasiakan terus persoalan ini.
Sekonyong-konyong berkobar nafsunya, biji matanya berubah buas dan beringas kenyataan mendesak dia harus cepat-cepat turun tangan sebelum Ham Gwat dapat memulihkan kesadaran pikirannya. Bila terlambat lagi sesaat lamanya, mungkin kesempatan yang ada dan baik ini sulit dicapai lagi.
Pedang di tangan kanannya terayun melengkung, sinar pedangnya berkelebat laksana biang lala menusuk dan membabat ketubuh Ham Gwat dalam dua sasaran atas dan tengah.
Melihat Ham Gwat mendadak terlongong mematung di tempatnya, tiba-tiba terasa oleh Poci keadaan yang membahayakan jiwanya ini, Poci menjadi sadar bahwa ucapannya tadi sudah terlalu pagi di katakan sehingga terjadi akibat yang diluar dugaan ini.
Begitu pedang Bu-bing Loni menyamber ke arah Ham Gwat segera ia berteriak memperingatkan;
“Awas!” — baru mulutnya berseru, sebuah pikiran berkelebat pula dalam benaknya, secara reflek tangan kanannyapun segera bekerja menarik kelima senar harpanya keras-keras, begitu kelima senar harpanya putus dan mengeluarkan gelombang suara yang nyaring melengking menembus langit menerjang ke depan, Sungguh dahsyat dan hebat benar-benar suara kelima senar harpa yang terputus itu.
Bu-bing Loni tidak men-duga-duga. tubuhnya bergetat hebat. sedang pedang panjang ditangannya pun terlepas jatuh di atas tanah, sekilas pandangan matanya mendelik berapi-api penuh dendam kebencian ke arah Poci, sebat sekali tiba-tiba tubuhnya berkelebat melayang keluar gua dan menghilang
Poci masih duduk bersimpuh di tanah, begitu bayangan Bu-bing lenyap kontan mulutnya terpentang menyemburkan darah segar, badannya pun terus roboh lemas.
Lekas-lekas Ma Gwat-sian dan Ham Gwat memburu maju. dengan raut muka dibasahi air mata Ma Gwat-sian berteriak-teriak, “Suhu! Suhu! Bagaimana keadaanmu?
Perlahan-lahan Poci membuka mata, ia tersenyum manis ke arah Ma Gwat-sian, ujarnya, “Nak, aku tidak apa-apa, kau tak usah kuatir!”
Lalu ia berpaling ke arah Ham Gwat serta sambungnya, “Lekas kau tengok keadaan ayahmu!”
Sungguh Ham Gwat merasa sesal dan terima kasih pula, tahu dia bahwa Bu-bing Loni pasti terluka dalam yang cukup parah karena serangan getaran suara kelima senar harpa yang putus tadi, kalau tidak masa ia melarikan diri. Tapi luka dalam yang diderita Poci rasanya jauh lebih berat pula, demi akulah sehingga orang terluka berat, tapi sikapnya masih begitu baik pula terhadap aku, demikian batin Ham Gwat dengan haru.
Maka dengan penuh keharuan Ham Gwat berkata, “Terima kasih Cianpwe. kelak Wanpwe pasti akan membalas budi kebaikan ini!” — Lalu tersipu-sipu ia berlari ke arah Kiang Tiong-bing dan membuka jalan darah yang tertutuk ditubuhnya.
Mengawasi Ham Gwat tak tertahan lagi mengalir deras air mata Kiang Tiong-bing, tiba-tiba ia peluk Ham Gwat erat-erat, katanya sesunggukan, “Nak! Beberapa tahun ini sungguh kau banyak menderita.”
Mendadak Ham Gwat seperti merasai hatinya menjadi kosong. terasa bahwa kekesalan lubuk hatinya selama ini mendadak meledak dan semua membanjir keluar, baru pertama kali ini ia mengalirkan air mata, malah begitu deras dan tak terbendung lagi air mata kesedihan dan kegirangan, serta merta mulutnya berteriak seperti orang histeri, “Ayah! ayah….”
Ma Gwat-sian terketuk sanubarinya, perlahan-lahan ia menundukkan kepala, tanpa tertahan air matanya pun mengalir juga.
Baru sekarang ia mendadak memahami, lambat laun dirinya semakin terpaut menjauh dari rasa kebahagiaan yang didambakan selama ini, berlawanan dengan keadaannya Ham Gwat ia sedang melangkah menuju ke arah bahagia yang sudah tiba diambang sanubarinya, ia sadar bahwa ia harus lekas-lekas kembali ke Thian-bi-kok.
Dalam pada itu, Kiang Tiong-bing dan Ham Gwat masih berpelukan dan bertangisan entah berapa lama kemudian. Kiang Tiong-bing tertawa serta berkata, “Nak. sudah jangan bertangisan lagi. Coba kulihat kau!”
Lalu ia cekal kedua pundak Ham Gwat dan dipanpangnya dihadapan mukanya dengan cermat ia amati wajah Ham Gwat yang aju rupawan itu, berselang lama baru terdengar pula suaranya tertawa girang, “Dua puluh tahun lamanya, kau sudah tumbuh sedemikian besar, sungguh mirip benar-benar dengan ibumu semasa muda. malah kecantikan ibumu rasanya masih kalah tiga bagian dibanding kau sekarang!”
Pertama Kali mendapat pujian dan yang memuji justru ayahnya sendiri Ham Gwat menjadi kegirangan dan malu-malu kucing, lekas ia menunduk dan memukul lengan ayahnya dengan aleman.
Kiang Tiong-bing terlongong memandangi muka Ham Gwat, akhirnya ia menghela napas, ujarnya, “Tapi. entah dimana sekarang dia berada!” — Ucapannya penuh nada derita dan pilu.
“Benar-benar ayah, dimanakah ibu sekarang berada?” tanya Ham Gwat.
Pelan-pelan Kiang Tiong-bing menggeleng kepala. sahutnya tertawa getir, “Ma Gwat-sian adalah seorang anak yang baik, aku sudah menerima dia sebagai putri angkatku. Gurunya tadi pun sudah menolong jiwamu kelak jangan kau membuatnya kecewa!”
Ham Gwat mengiakan, dipandangnya Ma Gwat-sian.
Ma Gwat-sian maju menghampiri katanya tersenyum, “Ham Gwat Cici, selamat akan pertemuan kalian ayah dan anak!”
“Teriina kasih padamu Gwat-sian!” sahut Ham Gwat terharu.
Sekarang terasa oleh Ma Gwat-sian bahwa sebenar-benarnyalah Ham Gwat jauh lebih sjmpatik dan gampang bergaul dari dugaannya semula. Memang lahirnya bersikap kaku dan berwibawa tidak boleh sembarangan diganggu usik, dia punya keagungan yang suci dan dapat melumpuhkan semangat orang, tapi bila sudah dapat berdekatan dengan akrab akan terasakan bahwasanya iapun mempunyai perasaan luhur yang wajar Tidak congkak atau sombong oleh perasaan sementara orang yang segan kepadanya.
Kata Ma Gwat-sian, “Tadi ayahpun telah melindungi aku, kalau tidak mungkin sejak tadi aku sudah mampus oleh keganasan Bu-bing Loni!”
Ham Gwat pandang muka Gwat-sian lalu menunduk berpikir, teringat olehnya akan penuturan Poci itu. sadar ia cara bagaimana ia harus bersikap dalam persoalan ini. Meski pun Ma Gwat-sian sangat pintar, tapi dalam hal buah pikiran dia masih belum cukup matang.
Sesaat kemudian baru Ham Gwat membuka suara, katanya, “Hun Thian-hi sekarang sedang mencari kau, hati kecilnya sangatlah merindukan kau. soalnya karena kau terlalu baik terhadapnya. Kau harus tahu, bila seorang laki-laki merasa sangat berterima kasih dan jatuh cinta, ada kalanya ia tidak berani menyampaikan rasa cintanya itu secara berhadapan terhadap kekasihnya!”
Ma Gwat-sian tertunduk dalam, ucapan Ham Gwat terlalu mendadak bagi relung hatinya untuk menerima dengan nalar dan pikirannya. malah iapun merasa rada kurang senang karena anggap Ham Gwat hanya membujuk dan ngapusi dirinya sebagai anak2 yang mendambakan kasih sayang dan cinta kasih.
Namun setelah ia mendongak melihat sorot mata Ham Gwat tulus ikhlas, hatinya menjadi menyesal pula, menyesal akan perasaan curiganya terhadap kebaikan Ham Gwat.
Terdengar Ham Gwat telah berkata pula, “Kau sudah lama bergaul bersama dia, seharusnya kau tahu, bahwa ia terlalu banyak menerima budi kebaikan orang lain, maka dia tidak mau lagi menerima budi pertolongan orang lain, inilah yang dinamakan harga diri dan gengsi. Adalah aku murid dari musuh besarnya!”
Ma Gwat-sian tertawa, ujarnya, “Ham Gwat Cici, kumohon kau tak perlu membicarakan persoalan ini!”
Ham Gwat manggut-manggut, segera ia menghampiri Poci, katanya, “Cianpwe terluka parah, aku bisa bantu kau berobat diri, marilah lancarkan jalan darah dulu!” ~tanpa menanti jawaban Poci kedua telapak tangannya segera menempel dipunggungnya, segera ia kerahkan tenaga dalamnya disalurkan melalui telapak tangannya menembus berbagai jalan darah ditubuh Poci yang buntu.
Sebenar-benarnya Poci hendak menolak, tapi belum sempat membuka mulut orang sudah bekerja dengan cekatan, ia tahu bahwa tindakan Ham Gwat ini memang dapat membantu penyembuhan dirinya lebih cepat, tapi akan banyak menguras tenaga Ham Gwat, apalagi bila Bu-bing Loni datang kembali pada saat yang genting ini, mungkin tiada seorang pun yang bisa menyelamatkan diri dari keganasannya.
Kira-kira gelombang hawa panas mengalir tiga putaran, seluruh jalan darah dan hawa murni Poci sudah lancar dan bekerja secara normal kembali. Tapi tak urung mereka berdua pun lemas tak bertenaga. Saat itu pula terdengar lambaian baju melayang masuk ke dalam kamar batu itu, tahu-tahu Bu-bing Loni telah muncul pula diambang pintu.
Keruan semua yang hadir dalam kamar batu sama terkejut, sekilas Bu-bing melirik ke arah Poci dan Ham Gwat lalu jengeknya dingin, “Kalian heran kenapa aku balik kembali bukan?” — ia tertawa terkekeh-kekeh lalu sambungnya, “Selamanya aku tidak pernah menyerah kalah, dan memang tidak pernah kalah, hari ini seumpama aku yang kalah, aku tidak akan begitu saja lantas mengundurkan diri”, sampai disini mulutnya menggeram dan hidung mendengus, ejeknya pula, “APalagi aku belum lagi kalah, luka-luka yang kau derita jauh lebih berat dibanding luka-lukaku!”
Lalu ia berpaling ke arah Ham Gwat, katanya pula, “Sejak kau lahir lantas kuasuh dan kurawat sehingga kau dewasa, kau anggap aku tidak menyelami watak dan perangaimu? Kau pasti akan memberi pertolongan dengan cara pengobatan khusus, sudah kuperhitungkan waktunya, meski aku datang terlambat setindak, tapi masih keburu waktu.” Seringainya semakin beringas, mukanya masam dan biji matanya sudah berubah buas seperti binatang kelaparan.
Ham Gwat pelan-pelan bangkit berdiri, katanya, “Tahukah kau siapa yang menolong Hun Thian-hi dari tanganmu? Itulah aku adanya!”
Bu-bing Loni rada melengak heran, mulutnya menggeram gusar.
Terdengar Ham Gwat melanjutkan kata-katanya, “Kau heran bukan? Kau kira kau hanya takut terhadap Ka-yap Cuncia atau Ah-lam Cuncia, jangan kau melupakan seorang yang lain, orang inilah yang merupakan tandinganmu setimpal, seharusnya kau sadar siapakah orang yang kumaksudkan ini. Dan yang lebih penting kau harus menyadari kenapa aku harus meninggalkan kau, kenyataan bahwa kau tidak mampu menemukan jejakku.”
Bu-bing Loni tertawa sinis, katanya, “Ham Gwat! Sejak kecil kau kubesarkan, sekarang kau mengkhianati aku, malah sekongkol dengan orang luar melawan aku. Bagaimana sepak terjangmu dahulu aku tidak peduli, yang jelas sekarang kau harus mampus ditanganku!”
Dengan tenang dan bersikap tetap dingin Ham Gwat balas menjengek tanpa gentar. “Kau masih ingat Thay-si Lojin tidak?”
Berubah air muka Bu-bing Loni, ia tahu bahwa Thay-si Lojin tidak gampang dilayani. Masih segar dalam ingatannya pada dua puluh tahun yang lalu Thay-si Lojin telah menolong seseorang dari cengkeraman tangannya, ia tidak akan melupakan peristiwa itu, itulah tragedi rahasia pribadinya yang disembunyikan kejadiannya, kalau toh Ham Gwat menyinggung soal itu, pasti ia sudah tahu seluk beluk peristiwa itu, sejak waktu itu selama dua puluhan tahun terakhir ini ia sedapat mungkin mengekang diri, tidak lagi mengumbar nafsu dan sifat jahatnya, hari ini betapapun harus menghindari bentrokan dengan orang tua itu.
Dahulu Mo-bin Suseng bekerja sama dengan dirinya, hasil dari intrik mereka ia dapat mencapai keinginannya, dan semua itu adalah hasil tipu daya yang diatur oleh Mo-bin Suseng, sekejap saja dua puluh tahun telah berselang, segala akibat yang dihadapi sekarang adalah karena kesalahan pikiran belaka, adalah karena Mo-bin Suseng yang mensetir segala kejadian itu dari belakang.
Berkilat-kilat sinar mata Bu-bing Loni, katanya, “Apa gunanya kau katakan itu semua, kau sangka aku takut? Bagaimanapun nanti kesudahannya kau harus mati lebih dulu dari aku! Camkanlah, dengan kedua tanganku inilah aku bimbing kau sampai besar, tapi dengan sepasang tanganku ini pula akan kurenggut jiwamu, memangnya kau anggap aku hendak melepas kau pergi begini saja?”
Sikap Ham Gwat juga tidak kalah dinginnya, ujarnya, “Hun Thian-hi juga berada disekitar tempat ini, demikian juga Giok-lan, Hun Thian-hi sudah mengenal burung rajawaliku, bilamana mereka menyusul tiba janganlah saat itu kau menyesal. Wi-thian-cit-ciat-sek latihan Hun Thian-hi sudah jauh lebih maju lagi setelah mendapat petunjuk dari orang tua itu. Kau kan tahu bila Wi-thian-cit-ciat-sek sudah sempurna jauh lebih hebat dan unggul dari tiga rangkaian pedang kepandaianmu itu!”
Bu-bing Loni menjemput pedangnya yang menggeletak di tanah tadi, pelan-pelan ia maju menghampiri ke arah Ham Gwat.
Diam-diam Ham Gwat menarik napas panjang, tenaga dalamnya belum lagi pulih, ia tahu bahwa Bu-bing Loni tidak akan mau menyerah kalah begitu saja, pedang panjang ditangannya sementara itu sudah terbang menyamber tiba. yang diarah adalah tenggorokan Ham Gwat.
Begitu Bu-bing Loni menggerakkan pedangnya lantas Ham Gwat dapat meraba jurus tipu apa yang dilancarkannya. Tapi tidak mudah untuk menangkis atau melawan, bila ia lancarkan serangan balasan atau menangkis tentu Bu-bing Loni sudah tahu juga jurus apa pula yang dilancarkan dirinya. Antara guru dan murid sama membekal kepandaian yang serupa, betapapun sang murid bukan menjadi tandingan sang guru.
Beruntun ia menangkis dua kali, Bu-bing Loni mandah menjengek dingin, mulutnya, haha….hehe…. mengejek, tapi sebetulnya iapun heran dan takjup akan kemajuan ilmu silat Ham Gwat yang diluar ukurannya, tapi kenyataan sekarang Ham Gwat membekal Lwekang yang tinggi diluar tahunya.
Sementara itu Bu-bing Loni sudah melancarkan lima gelombang jurus pedangnya, jurus demi jurus semakin gencar dan ganas, baru saja Ham Gwat angkat pedangnya untuk menangkis tahu-tahu pedang Bu-bing sudah menyelonong tiba menutup jalannya mundur, begitulah berulang kali terjadi, sedang Ham Gwat sendiri tidak berani menggunakan kekerasan, terpaksa ia mandah terdesak mundur, begitu lima jurus kemudian Ham Gwat sudah terdesak mundur dan mundur terus mepet dinding.
Poci menjadi kaget, cepat ia rebut harpa yang dipegang Ma Gwat-sian terus jari-jarinya dimainkan, dengan gelombang suara harpa ia berusaha menyerang Bu-bing Loni.
Bu-bing menyeringai dingin, tiba-tiba pedangnya berputar balik terus disambitkan ke arah Poci, dimana selarik sinar pedang menyamber tiba kontan harpa dipangkuan Poci tertusuk pecah menjadi dua.
Setelah menyambitkan pedangnya Bu-bing Loni menyeringai bengis, Poci sampai merinding melihat tampangnya yang sadis itu. Bahwa Bu-bing berani putar balik pastilah dia sudah bertekad bulat, meski dirinya pun sudah terluka parah betapapun ia tidak rela melepas beberapa orang yang merupakan makanan empuk ini, betapa hebat Lwekang yang dibekalnya itu sungguh sangat mengagumkan memang sulit dicari tandingan.
Begitu Bu-bing Loni menyambitkan pedangnya, Ham Gwat menjadi berkesempatan balik menyerang, beruntun ia lancarkan serangan pedang yang hebat. Tapi Bu-bing Loni berani menyambitkan pedangnya pasti dia mempunyai perhitungan yang matang, setiap jurus setiap tipu permainan Ham Gwat adalah hasil ajarannya, dimana badannya berkelebat dan melejit sana melompat sini ia hindari setiap rangsakan Ham Gwat yang hebat, soalnya iapun sudah apal benar-benar jurus apa yang akan dilancarkan Ham Gwat selanjutnya. Meskipun ia sudah tumplek seluruh kepandaiannya kepada Ham Gwat, tapi sedikit banyak masih ada lobang kelengahan yang belum sempurna terlatih oleh Ham Gwat, dan kelemahan2 itu sampai saat itupun belum lagi disempurnakan, justru adanya kelemahan itu pula menjadi kebetulan pula bagi Bu-bing sekarang.
Apalagi Ham Gwat sekarang mengkhianati dirinya, meski gencar rangsakan Ham Gwat seenaknya saja seperti berlenggang Bu-bing Loni dapat menghindarkan diri.
Sekejap mata puluhan jurus sudah berlangsung. tiba-tiba Ham Gwat lancarkan pula sejurus ilmu pedang, mendadak badan Bu-bing mencelat mumbul ke atas, berbareng kaki kanannya mendadak menendang ke arah jidat Ham Gwat. Terpaksa Ham Gwat harus menolak badan atas ke belakang berbareng ujung pedangnya menusuk ke atas pula tak duga kaki kiri Bu-bing ternyata pun sudah menyusul dengan tendangan yang telak pula, ‘Tring’. Ham Gwat tak kuasa menyekal pedangnya lagi, kontan terbang ke tengah udara dan menancap di atas dinding batu.
Bu-bing terloroh-loroh panjang, tubuhnya jumpalitan hinggap di tanah, dengan nanar ia pandang Ham Gwat. Tanpa gentar Ham Gwat juga mendelik pandang, ia insaf kekalahan hari ini menjadikan harapan untuk hidup semakin mengecil, bagaimana cara Bu-bing Loni menghadapi musuhnya ia tahu jelas.
Apalagi kalau dirinya tertawan hidup2, untuk mencari kematian sendiripun tidak mungkin lagi, bagi dirinya sih tidak menjadi goal, bagaimana dengan keadaan ayahnya, Poci dan Ma Gwat-sian? Akhirnya ia berkeputusan dengan suatu akibat yang cukup mending.
Terdengar Bu-bing menjengek dingin, “Tidak berguna, kau kan tahu bagaimana kesukaanku. Dulu waktu aku menempur Soat-san-su-gou bukankah kau juga hadir, dengan Gin-ho-sam-sek mereka berempat mengepung diriku, akhirnya kuberi kelonggaran bagi mereka untuk bunuh diri, kau kira persoalan itu begitu gampang dan begitu sederhana? Sebenar-benarnyalah bahwa aku sebelumnya sudah ada perjanjian dengan Mo-bing Suseng, dia minta supaya aku memberi cara kematian yang cukup nyaman bagi mereka, meskipun mereka berempat tidak tahu siapakah Mo-bin Suseng itu sebenar-benarnya, tapi adalah sebaliknya dia tahu siapa mereka berempat. Karena mereka berempat adalah sahabat kentalnya.”
Ham Gwat masih bungkam. Bu-bing melanjutkan, “Bagaimana juga diantara kau dan aku masih ada hubungan guru dan murid, akupun tidak akan berlaku keterlaluan terhadap kau, cukup dengan minyak mendidih akan aku goreng daging dan tulang-ulangmu sampai mati.”
Lagi-lagi ia terloroh-loroh panjang seperti sudah kesetanan, tapi tiba-tiba sebuah suara tawa dingin yang menggiriskan terdengar pula bergelombang dalam ruang batu itu, keruan Bu-bing Loni tersentak kaget bukan main, sebat sekali ia memutar tubuh dilihatnya di ambang pintu sana berdiri seorang nenek peot yang tua renta.
Begitu melihat orang ini timbul setitik harapan dalam benak Ham Gwat, karena nenek tua ini bukan lain adalah Kiu-yu-mo-lo, segera ia menghela napas lega. Tapi ia masih bingung kenapa orang tua itu bersikap begitu baik terhadap dirinya, dalam hal ini pasti ada latar belakang yang cukup rumit.
Bu-bing Loni membalik ke arah Kiu-yu-mo-lo, dengusnya dingin, “Siapa kau?”
Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh katanya, “Jangan kau pura-pura alim, sebenar-benarnyaJah hatimu lebih jahat dari ular, jauh lebih jahat dari aku dulu, terhadap murid sendiri pun kau begitu jahat”
Menjengkit alis Bu-bing Loni, ada orang berani bicara begitu takabur padanya, tapi kalau ia begitu besar nyalinya berani bicara besar tentu dia punya pegangan untuk datang kemari, maka selagi ia mendesak, “Siapa kau? Untuk apa kau kemari?”
“Akulah Kiu-yu-mo-lo dari salah satu Si-gwa-sam-mo,” sahut Kiu-yu-mo-lo, “Konon kabarnya belakangan ini kalangan Kangouw muncul pula seorang tokoh macam tampangmu ini. tapi mengandal kau masih berani kau mengagulkan she dan nama busukmu ya!”
Bu-bing tertawa dingin, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas mencabut pedang Ham Gwat yang menancap dilangit2, disaat tubuhnya meluncur turun pedang ditangannya diobat-abitkan langsung menerjang ke arah Kiu-yu-mo-lo, sinar pedangnya laksana bianglala. menungkrup ke atas kepala Kiu-yu-mo-lo.
Bukan dia takut menghadapi Kiu-yu-mo-lo, tapi nama Kiu-yu-mo-lo sebagai salah setorang Si-gwa-sam-mo bukanlah diperoleh secara kebetulan belaka, maka dia harus bertindak lebih dulu dan lebih ijepat. Apalagi Ham Gwat masih ada kemampuan untuk berkelahi, kalau ia tidak bertindak secara kilat mengakhiri pertempuran disini, mungkin dia sendirilah yang bakal dikeroyok dan akibatnya pasti konyol bagi dirinya.
Sebenar-benarnyalah hatinya masih dirundung keheranan, kenapa Kiu-yu-mo-lo bisa ikut campur dan menolong keadaan Ham Gwat yang terdesak ini, hakikatnya Ham Gwat tidak pernah saling berkenalan dengan Kiu-yu-mo-lo dan tidak punya sangkut paut apa-apa. Demikian juga dirinya tiada punya dendam permusuhan dengan Si-gwa-sam-mo, kenapa dia meluruk kemari mencari permusuhan. Demikian Bu-bing berpikir2 dalam hati.
Setelah memasuki Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin pikiran sesat Kiu-yu-mo-lo akhirnya dapat digugah dan sadar dari penyelewengannya dan karena kembali kejalan lurus dengan pikiran yang sudah jernih itulah maka ia dapat keluar dari sana, setelah mendapat petunjuk serta petuah dari si orang tua itu lantas ia menyusul kemari.
Dengan pedang berada ditangan Bu-bing Loni seperti harimau tumbuh sayap, adakah ilmu Hui-sim-kiam-hoat terkenal hebat sekali. maka ribuan sinar pedang Bu-bing bukan kepalang lihaynya dalam gebrak permulaan Kiu-yu-mo-lo rada memandang rendah musuh sehingga ia terdesak mundur terus.
Terdengar Bu-bing Loni mendengus hina, hatinya membatin; Si-gwa-sam-imo kiranya juga cuma sebegini saja kemampuannya.
Begitulah sinar pedangnya berputar, kontan ia lancarkan Lian-hoan-Ban-kiam, jurus ilmu pedang terakhir dari Hui-sim-kiam-hoat yang terdahsyat dan terlihay, besar hasratnya dalam gebrak terakhir ini ia bikin mampus jiwa Kiu-yu-mo-lo, adalah gampang nanti untuk membereskan yang lain.
Begitu sinar pedang Bu-bing menimbulkan gelombang sinar berlapis2 lekas-lekas Ham Gwat menjemput pedang Bu-bing Loni yang ditimpukan tadi. langsung ia merabu dari belakang ke arah Bu-bing. Disebelah depan sana Kiu-yu-mo-lo juga menarikan sepasang telapak tangannya untuk menjaga diri dan balas menyerang.
Bu-bing menjengek dingin, tanpa berpaling ia sudah tahu jurus dan tipu serangan apa yang akan dilancarkan Ham Gwat, adalah mudah sekali ia dapat memunahkan serangan bokongan ini. Tapi baru sekarang pula ia mendapatkan bahwa Lwekang Kiu-yu-mo-lo ternyata tidak serendah seperti yang dikiranya tadi bila dalam waktu singkat ia tidak mampu mengalahkan kedua musuhnya ini, akibatnya pasti sangat fatal bagi dirinya karena dikepung dari muka dan belakang.
Biji matanya berjelilatan, bagaimana juga ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat pendek ini untuk mengambil kemenangan, menurut perhitungannya meski Ham Gwat ikut menerjunkan diri dalam pertempuran. tapi mereka belum dapat bergabung dan bekerja sama dengan rapat, diantara lobang kelemahan yang sulit didapat ini bila aku tidak memanfaatkan dengan tepat, aku sendirilah yang bakal cidera.
Sebagai seorang tokoh nomor satu dalam kalangan persilatan pandangan Bu-bing sudah tentu cukup luas, seiring dengan keputusan tekadnya, gerak badannya mendadak berhenti, tahu-tahu membalik tubuh tangkas sekali tumit kakinya melayang ke atas menendang batang pedang Ham Gwat. Tujuan Bu-bing adalah sementara mengendorkan dulu tekanan serangan Ham Gwat dari belakang dengan kesempatan ini ia tumplek seluruh kekuatan dirinya untuk merangsak dan merohohkan Kiu-yu-mo-lo.
Tapi begitu kakinya melayang. Ham Gwat juga sudah tahu kemana tujuan serangan Bu-bing ini, maka sengaja ia buang pedangnya, tahu-tahu telapak tangannya yang menyelonong ke depan menepuk keleher Bu-bing Loni.
Begitu tendangannya. luput lantas Bu-bing bercekat hatinya. seketika ia rasakan dua arus gelomhang pukulan dahsyat melandai tiba dari belakang dan depan. Terdengar ‘mulutnya berpekik panjang dan nyaring, pedang panjangnya berputar disekitar tubuhnya, dengan seluruh sisa tenaganya iapun berondong keluar kekuatannya untuk menangkis.
“Blang” pukulan dan pedang saling beradu ditengah jalan. Ham Gwat dan Kiu-yu-mo-lo tersurut mundur dan berputar-putar, sebaliknya air muka Bu-bing kelihatan tambah pucat pias, ia terhujung dua langkah baru bisa berdiri tegak lagi, pedang panjang ditangan kanannya tergetar mengeluarkan su-ra mendenging.
Setelah berdiri tegak dan memasang kuda-kuda Kiu-yu-mo-lo dan Ham Gwat saling pandang sebentar, serempak mereka berjongkok dua telapak tangan masing-masing didorong ke depan memukul ke arah Bu-bing dari dua jurusan yang berlawanan.
Tiba-tiba badan Bu-bing Loni melejit mumbul ditengah udara badannya berputar satu lingkaran, gerak geriknya cukup sigap sehingga ia dapat terhindar dari benturan tenaga yang dahsyat dan begitu kaki hinggap pula tubuhnya sudah berdiri diambang pintu air mukanya masih pucat dan kaku tanpa menunjukkan perasaan hatinya.
Ham Gwat dan KAu-yu-mo-lo merasa diluar dugaan, sungguh mereka tidak nyana dalam keadaan terluka dalam begitu berat Bu-bing Loni masih mampu bergerak begitu lincah menghindari diri dari serangan yang dahsyat itu.
Bu-bing maklum bahwa dirinya hari ini tidak akan dapat menang, tapi demi nama dan gengsinya ia tidak rela tinggal pergi begitu saja, apalagi mandah menyerah kalah, terlebih pula bila membebaskan hukuman mati orang-orang dihadapannya ini. Begitulah sambil menenteng pedangnya ia berdiri di ambang pintu dengan pandangan mata berapi-api.
Kiu-yu-mo-lo menjadi murka, dengan sengit ia terjang ke arah Bu-bing. sebetulnyalah ia tidak pandang sebelah mata Bu-bing Loni. tapi baru saja bergebrak lantas ia kena terdesak di bawah angin. Sergapan Bu-bing selanjutnya yang lebih hebat tadi kalau dirinya tidak memperoleh bantuan Ham Gwat mungkin tubuhnya sudah berlobang dan mampus oleh tusukan pedang lawan. Adalah sekarang Bu-bing sendiri sudah terluka parah. ia harus mengambil keuntungan secara licik mengadu kekuatan dengan satu lawan satu ingin ia menjajaki sampai dimana tinggi kepandaiannya.
Melihat hanya Kiu-yu-mo-lo seorang yang mendesak madiu. dengan pandangan dingin Bu-bing menanti, dalam hati rada menganggap ringan, maka matanya segera menantang ke arah Ham Gwat, maksudnya supaya kau pun maju sekalian memang aku gentar?
Tapi Ham Gwat tahu maksud Kiu-yu-mo-lo yang ingin bertanding sendiri melawan Bu-bing Loni. maka iapun tinggal diam saja berdiri ditempatnya, bila Kiu-yu-mo-lo memang terdesak dan hampir kalah terpaksa aku harus bantu dia. Bu-bing sendiri sudah terluka dalam betapapun Kiu-yu-mo-lo tidak bakal kena dikalahkan dalam gebrak permulaan. Maka ia jemput pula pedangnya dan berdiri siap waspada.
Sementara itu Kiu-yu-mo-lo sudah semakin dekat. Bu-bing mendengus hidung, pedang panjangnya teracung tinggi ke samping terus membabat miring ke arah Kiu-yu-mo-lo. Bu-bing sendiri juga maklum begitu Kiu-yu-mo-lo terdesak pasti Ham Gwat akan segera menerjunkan diri dalam pertempuran ini, luka dalamnya cukup parah, betapapun ia pantang menggunakan tenaga dalam yang berkelebihan untuk melawan kekerasan dengan Kiu-yu-mo-lo, kiranya cukup ia hadapi dengan kelihayan gerak pedangnya untuk merobohkan musuh saja. Memang bila perlu harus terluka lebih parah juga tidak jadi soal, asal dengan kekuatan terakhir dapat merobohkan atau membunuh Kiu-yu-mo-lo. Demikian Bu-bing sudah bertekad dalam hati.
Kiu-yu-mo-lo juga sudah kerahkan tenaganya, kedua telapak tangannya terangkat naik kesamping menyampok batang pedang, ia insaf dalam keadaan terluka parah tentu Bu-bing cukup mengandalkan kehebatan permainan pedangnya, maka ia harus tumplek seluruh perhatiannya kebatang pedang musuh yang hebat itu. Apalagi setelah luka parah Bu-bing tidak ngacir pergi, pastilah ia bertekad untuk gugur bersama. Kalau musuh ingin mati adalah ia masih ingin hidup, maka telapak tangannya bergerak lincah memngiringi serangan permainan pedang lawan, disamping main sergap ia pun mencari kelemahan musuh untuk bertindak. ingin dia bentrok secara kekerasan untuk menetukan siapa unggul dan siapa asor.
Permainan pedang Bu-bing memang sangat lihay, kelihatannya pedangnya melayang miring dengan babatan biasa saja, namun sebetulnya mengandung tusukan berlainan yang cukup mematikan bila mengenai sasarannya. Kiu-yu-mo-lo tahu akan kelihayan perubahan permainan pedang ini, maka kedua tangannya menyamping dan ditekuk ke atas menggetar batang pedang Bu-bing, sehingga serangan lawan kena dipunahkan ditengah jalan.
Bu-bing menggeram gusar, ia tarik kembali pedangnya, ia tahu cara permainan Kiu-yu-mo-lo hendak mengulur waktu dan menguras habis tenaganya, cara bertempur begini sangat tidak menguntungkan pihaknya, kalau tidak menggunakan kekerasan sulit dapat memperoleh kemenangan. maka ia harus memancing supaya Kiu-yu-mo-lo menyerang edan2an dengan seluruh kekuatannya.
Pikiran ini berkelebat dalam benaknya, sebat sekali mendadak ia lancarkan pula sebuah tusukan yang berbahaia, cara tusukannya ini sengaja diperlihatkan seperti tenaganya sudah hampir habis ditengah jalan dan tak bisa menyambung lagi, tapi ia masih berlaku nekad melancarkan serangannya untuk menutupi kelemahan sendiri!
Melihat keadaan Bu-bing, sebagai seorang kawakan Kangouw Kiu-yu-mo-lo maklum akan tipu pancingan lawan, teringat olehnya tadi Bu-bing dapat meloloskan diri dari serangan gabungan yang begitu dahsyat, sekarang dia berbuat demikian bukan mustahil memang sengaja hendak menjebak dirinya.
Tapi kenyataan Bu-bing memang sudah terluka parah, tapi toh ia masih dapat lolos dari rangsakan, yang hebat tadi.
Sesaat lamanya Kiu-yu-mo-lo menjadi bimbang.
kalau Bu-bing terluka pasti lambat laun tenaga dalamnya pasti bakal terkuras habis, kenapa aku tergesa-gesa, yang penting berlaku hati-hati jangan sampai tertipu olehnya,.
Begitulah gebrak2 selanjutnya kedua belah pihak masih sama dalam taraf coba-coba dan saling memancing saja, beruntun beberapa jurus sudah berlalu, selama ini Bu-bing Loni belum lagi menunjukkan keletihannya dalam gebrak2 yang berlalu itu kedua belah pihak belum lagi menggunakan tenaga yang berarti.
Akhirnya Kiu-yu-mo-lo yang berangasan itu menggerung gusar, kedua telapak tangannya dengan deras melancarkan pukulan sengit, setelah tangannya mencengkeram pundak sedang tangan yang lain menjojoh lambung.
Tubuh Bu-bing mendadak bergerak dengan gesit, beruntun ia berloncatan menghindar berbareng pedangnya berputar memunahkan kekuatan tenaga serangan Kiu-yu-mo-lo. Melihat serangannya yang lihay kena dipunahkan musuh, hati Kiu-yu-mo-lo menjadi lesu, mendadak dilihatnya pula gerak pedang Bu-bing Loni mengendor dan gemetar.
Berkilat biji mata Kiu-yu-mo-lo, sekarang ditemukan titik kelemahan Bu-bing Loni, sudah berulang kall Bu-bing sengaja menutupi titik kelemahannya ini, tapi sekarang ia tidak mudah lagi dikelabui. Maka sambil menjengek dingin mendadak sepasang telapak tangannya menyerang ketiak dari lambung Bu-bing Loni dengan dilandasi seluruh kekuatannya.
Girang hati Bu-bing Loni bahwa pancingannya berhasil, tapi air mukanya malah mengunjuk rasa gugup yang dibuat-buat. Semenbara sepasang telapak tangan Kiu-yu-mo-lo memberondong dengan serangan berantai yang ketat, beruntun Bu-bing menyambut dan menangkis dengan tajam pedangnya.
Sekonyong-konyong Kiu-yiu-mo-lo merasakan suatu keganjilan, tadi ia tidak kerahkan setaker tenaganya, sebaliknya Bu-bing mengunjuk rasa kejut dan gugup, sekarang setelah dirinya menggempur mati-matian dengan penuh kekuatannya, sedikitpun tiada berhasil mendesak mundur setapakpun kepada Bu-bing Loni. jelas sekali bahwa mungkin dirinya sudah masuk dalam perangkap kelicikan musuh. Karena rekaannya ini serta merta hatinya menjadi was-was dan gerak geriknya menjadi lamban.
Waktu ia angkat kepala mengawasi Bu-bing tampak sorot matanya tetap tajam tidak kelihatan rasa keletihan sedikitpun juga, sebaliknya orang seperti tumplek seluruh perhatian untuk mencari titik kelemahannya sendiri, keruan terperanjat ia dibuatnya. Begitu merasakan tekanan serangan lawan mengendor lantas pedang Bu-bing teracung ke atas, tapi Kiu-yu-mo-lo berlaku nekad tanpa memikirkan keselamatannya, sepasang telapak tangannya ia menindih kebatang pedang Bu-bing Loni.
Dasar licik sedikitpun Bu-bing tidak kena kecundang, sebat sekali ia menyurut mundur berbareng pedang ditarik mundur terus terbang ke belakang. Keruan sepasang telapak tangan Kiu-yu-mo-lo menindih tempat kosong. terdengar Bu-bing menyeringai dingin dari jarak yang cukup jauh itu tiba-tiba ia timpukkan pedang panjangnya, pedang meluncur ketenggorokan Kiu-yu-mo-lo.
Sudah tentu kejut Ham Gwat bukan main, meski ia dapat meraba bahwa Kiu-yu-mo-lo masuk dalam perangkap Bu-bing Loni. tapi sungguh diluar dugaannya bahwa situasi bakal berubah begitu buruk.
Karena tidak bersiaga sebelumnya. tahu-tahu pedang Bu-bing sudah meluncur ditengah jalan, untuk menolong terang tidak sempat lagi, terpaksa ia pun timpukkan pedangnya sendiri ke arah Bu-bing Loni, berbareng tubuhnya juga mencelat terbang menyusul ke arah Kiu-yu-mo-lo, sedapat mungkin ia harus selamatkan jiwa orang tua ini.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan tubuh manusia berkelebat masuk dari luar, tepat sekali kedatangannya, begitu tiba kedua telapak tangannya segera menyamber miring memukul jatuh pedang sambitan Bu-bing Loni, tahu-tahu dalam gelanggang tambah seorang laki-laki tua.
Waktu Kiu-yiu-mo-lo angkat kepala dengan jantung berdebar, serta merta ia berteriak kegirangan
“Samte, kaukah itu!” Pendatang ini bukan lain adalah tokoh terkecil dari Si-gwa-sam-mo yaitu Pek-kut-sin-mo Pek Si-kiat.
Pek Si-kiat tertawa, sahutnya, “Ya, ditengah jalan tadi kulihat kau, maka kuikuti jejakmu kesini”
Dalam pada itu Bu-bing Loni berkelebat kesamping menangkap kembali pedangnya yang disambitkan, oleh Ham Gwat, inilah pedang miliknya yang tadi ditimpukkan untuk menghancurkan harpa itu kembali ketangannya. Air mukanya berubah ganti berganti. dari pucat menjadi merah dan berubah hijau pula. sorot matanya penuh kegusaran mendelik ke Pek Si-kiat yang telah menggagalkan usahanya.
Pek Si-kiat juga angkat kepala mengawasi Bu-bing lekat-lekat ujarnya, “Kau anggap tiada tandingan di seluruh kolong langit. Jangan kau lupa, bukan melulu kau seorang hidup dalam dunia, ini.”
Tiba-tiba laksana kilat Bu-bing melejit ke tengah gelanggang beruntun pedangnya berkelebat laksana bianglala memencar ketiga jurusan menyerang mereka bertiga dengan sembilan taburan kilat pedang yang hebat.
Ham Gwat bertiga menjadi kelabakan membela diri dengan tarian sepasang telapak tangan masing-masing. Sungguh mereka sangat terkejut akan kehebatan Lwekang Bu-bing Loni yang tigggi ini, tidaklah malu ia berani malang-melintangdi Kangouw dengan bekal kepandaiannya ini, sudah terluka parah, namun masih berani melancarkan serangan kekerasan yang mengandung banyak risiko.
Pelan-pelan Ham Gwat bertiga berpencar ketiga jurusan, kedududkan mereka berbentuk segi tiga, dari jurusan masing-masing mereka bergantian menggempur dengan gencar.
Rangsakan kesembilan jurus kilatan pedang Bu-bing Loni tadi maki hebat, dan ketiga musuhnya terkejut akan kehebatan lwekangnya yang tiada taranya itu, namun Bu-bing sendiri maklum bahwa tenaga sendiri sudah hampir ludes, sekarang ia harus gunakan sisa tenaganya u8ntuk bertahan supaya mengelabui musuh, tapi pengerahan tenaga yang berkelebihan sudah ia rasakan akibatnya, dalam tubuh, urat nadinya sudah semakin lemah, semakin lama ia rasakan hawa murni sudah tak mampu disalurkan kembali. Jelas harapan untuk menang tidak mungkin lagi.
Si-gwa-sam-mo sudah muncul dua diantara tiga, ditambah Ham Gwat yang cukup lihay, bila pertempuran diteruskan, mungkin jiwa sendiri bakal melayang secara konyol ada lebih baik gugur bersama, cuma kuatir usahanya bakal sia-sia.
Timbul niat melarikan diri secara teratur, diam-diam ia menerawang keadaan, hari masih cukup panjang, tanpa harus tergesa-gesa dalam waktu singkat ini. kalau Poci dengan suara harpanya tadi itulah yang menyebabkan keadaan menjadi fatal, kalau tidak dengan dua lawan satu jelas ia akan unggul berkelebihan. Getaran senar putus yang hebat itu telah membuat kedua pihak terluka berat, menurut pendapatnya kekuatannya jauh lebih hebat tiga bagian dari perbawa Wi-thian-cit-ciet-sek yang dipelajari Hun Thian-hi.
Sekarang Bu-bing berdiri tegak mengkonsentrasikan seluruh perhatian dan semangatnya. Ham Gwat bertiga juga was-was akan kehebatan rangkaian sembilan jurus pedang kilatnya itu sehingga tak berani sembarangan bergerak. Untung Bu-bing sudah kelelahan dan cukup payah, kalau tidak betapa hebat Lian-hoan-sam-kiamnya itu, terang tak mungkin mereka bertiga mampu terhindar dari bencana.
Begitulah empat orang sama berdiri diam, tekad Bu-bing Loni untuk mengundurkan diri semakin besar, dirinya tidak rela berkorban secara konyol dan sia-sia, tapi sebelumnya ia harus menggempur ketiga musuhnya ini pontang-panting, ia tidak percaya mereka bertiga mampu bekerja sama menjalin kekuatan yang tak terpecahkan.
Setelah tetap keputusannya serta tenagapun sudah terhimpun kembali mendadak Bu-bing angkat pedangnya di depan dada, matanya menyapu pada tiga musuhnya.
Bercekat hati ketiga lawannya, dengan rasa tegang mereka meningkatkan kewaspadaan. Sekonyong-konyong badan Bu-bing terbang ke tengah udara. dimana pedangnya berputar dan membacok turun serta membabat miring, beruntun ia lancarkan pula Lian-hoan-sam-kiam yang paling diandalkan, tiga jurus ilmu pedang sekaligus meluncur laksana lembayung menukik turun menyapu deras ke arah lawannya,
SerempaK Ham Gwat bertiga kerahkan tenaga dan menggabungkan tenaga pukulan telapak tangannya untuk membendung rangsakan tenaga kibasan pedang yang hebat itu, sementara mereka repot membela diri, tahu-tahu badan Bu-bing terus meluncur keluar hendaK tinggal merat.
Ham Gwat sudah maklum akan sepak terjang Bu-bing ini sebelumnya, maka ia pula yang mendahului mengejar ke arah Bu-bing, begitulah Pek-si-k-at berdua juga segera mengejar datang, mereka insahari bila b ini Bu-bing sampai berhasil melarikan diri, gelombang pertikaian dikalangan Kangouw tidak akan pernah berhenti.
Begita tiba diambang pintu gua terdengar Bu-bing bersuit nyaring panjang, dari luar seekor burung dewata segera menukik turun.
Ham Gwat sudah hampir dapat menyusul, tiba-tiba dilihatnya langkah Bu-bing Loni sempoyongan sejalur darah segar menyembur dari mulutnya. tubuhnya pun tersungkur ke depan dan kebetulan jatuh jatas punggunng burung dewata, dalam kejap lain burung itu sudah terbang tinggi tak terkejar lagi.
Ham Gwat menjadi melongo, ia tidak” mengejar lebih lanjut. Betapapun Bu-bing Loni adalah bekas gurunya yang mengasuh dirinya sejak kecil. dulu ia malang melintang tiada tandingan, namun hari ini ia harus terima kekalahannya secara total malah terluka parah lagi. tak tertahan lagi hatinya menjadi tidak tega dan bersedih.
Sementara burung dewata sudah melesat terbang pesat sekali. dalam kejap lain tinggal setitik bayangan yang menghilang dibalik awan.
Ooo)*(ooO
MendadaK melihat Giok-yap Cinjin muncul dihadapannya, malah berada di dalam Jian-hud-tong lagi, karuan kejut Hun Thian-hi seperti arwahnya luput dari badan kasarnya, beruntun ia menyurut mundur ketakutan.
Waktu ia mempertegas memang raut wajah orang ini persis benar-benar dengan, Giok-yap Cinjin, cuma rada pucat dan sepasang biji matanya pun rada lesu. seperti muka mayat hidup. Tapi sepasang matanya itu dengan tajam menatap lempang kepada dirinya, seakan-akan sedang menyeringai dingin.
Tiba-tiba hidungnya dirangsang bau amis yang memualkan. serta merta Hun Thian-hi menyurut mundur lagi, dari pinggangnya dicabutnya seruling jade, dengan nanar ia awasi orang di hadapannya ini.
Mendadak dilihatnya di atas muka orang itu terdapat bundaran benang merah, mendadak ia julurkan keluar kedua telapak tangannya seperti cakar setan, setiap jari-jarinya berwarna hitam, begitu kesepuluh jarinya saling jentik bergantian, segulung kabut hitam kontan menyerbu ke arah Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi terperanjat, entah siapakah orang ini sebenar-benarnya, tapi jelas bahwa orang ini bukan
Giok-yap Cinjin yang sudah meninggal itu. Ia membekal ilmu jahat yang sangat berbisa, sungguh sangat menggetarkan sukma dan nyali orang.
Cepat ia tepukkan telapak tangan kiri untuk menangkis dengan dilandasi Pan-yok-hian-kang, seketika kabut hitam itu bujar tercerai-berai tersapu balik.
Gerak-gerik orang itu cukup cekatan, mendadak ia berkelebat. Lagi-lagi Thian-hi kaget dibuatnya, ia tahu lawan sengaja hendak mencegat jalan mundurnya. sebat sekali ia melompat mundur, telapak tangannya melintang dengan pukulan angin yang cukup keras, ia berusaha merintangi sepak terjang orang,
Tapi dalam gerak berkelebat ini orang dapat menerobos lewat dari jurusan tidak terduga sama sekali oleh Hun Thian-hi, sekarang berbalk Hun Thian-hi yang tercegat jalan mundurnya, malah. Sejenak Hun Thian-hi terlongong, dengan pandangan rasa keheranan dan was-was ia pandang orang itu. Sungguh ia tidak mengerti darimana Tok-sim-sin-mo dapat mengundang tokoh aneh macam ini, sungguh menggiriskan dan menciutkan nyali manusia….
Betapa aneh dan lihay ilmu silat orang ini benar-benar belum pernah dilihatnya, bilamana ilmu silatnya memang tinggi dan aneh, tak mungkin ia mandah dikurung begitu saja di tempat itu, benar-benarkah ia terbelenggu oleh Tok-sim-sin-mo, masih merupakan tanda tanya, entah mengapa ia rela tinggal menetap di tempat itu?
Setelah dapat mencegat jalan mundur Hun Thian-hi dengan seksama orang itu juga mengamatinya. sorot matanya mengunjuk rasa keheranan, sekian lama mereka beradu pandang, tiba-tiba orang itu berkelebat pula merangsak maju pula.
Melihat orang begitu berani bertangan kosong menempur senjata serulingnya, mau tak mau Hun Thian-hi merasa kagum, seumpama Bu-bing Loni sendiri juga tidak akan berani begitu takabur memandang pada dirinya.
Seruling Hun Thian-hi mendadak terangkat ke atas ujungnya telak sekali mengarah jalan darah Hou-kiat-hiat. Tapi baru saja ia bergerak, tiba-tiba serasa pandangan matanya kabur, berbareng serumpun angin keras menerjang ke arah badannya, entah cara bagaimana tahu-tahu orang itu sudah mendesak tiba sampai dekat sekali dihadapannya, sebelah telapak tangannya menyelonong tiba terpaut satu dim dari tulang iganya.
Keruan Hun Thian-hi terkejut, cepat ia tarik serulingnya terus putar balik menutuk punggung orang, berbareng kakinya menggeser mundur mencari posisi yang lebih menguntungkan, dalam jarak yang hanya terpaut beberapa mili saja secara untung2an ia berhasil terhindar dari pukulan musuh. Tapi tak urung keringat dingin sudah membasahi punggungnya saking kagetnya. Gerak gerik yang begitu aneh benar-benar belum pernah dilihat selama ini, apalagi orang aneh ini membekal racun berbisa yang teramat jahat, sedikit kena seumpama tidak mati pasti celaka jiwanya.
Melihat Hun Thian-hi dapat berkelit dari rangsekan pukulannya orang itupun mengunjuk rasa heran, adalah sangat mustahil ada orang yang bisa lolos dari serangan jahat yang sangat berbisa dan ampuh dari pukulan mautnya.
Tidak heran kalau Hun Thian-hi mengalirkan keringat dingin, tujuan Tok-sim-sin-mo cukup keji, jelas ia sengaja menjebak dirinya kemari supaya dirinya mampus di tangan manusia berbisa yang lihay ini. Begitulah dengan pandangan mata berkilat warna kebiruan, beruntun ia lancarkan pula tiga pukulan berantai yang aneh, Hun Thian-hi menjadi kelabakan tak tahu dia cara bagaimana ia harus menghadapi atau melawan ilmu silat yang aneh dan lucu itu, terpaksa ia mundur dan menjaga diri.
Semakin dalam, keadaan gua di dalam semakin gelap gulita, kelima jari sendiripun tidak kelihatan lagi. Tiga pukulan berantai musuh berturut-turut telah disambut oleh Hun Thian-hi secara kekerasan sembari mundur, sampai babak terakhir ini baru Thian-hi mendapatkan bahwa Lwekang musuh ternyata tidak sehebat seperti permainan pukulannya yang lihay dan aneh itu, orang tidak lain cuma mengandalkan gerak tubuh dan langkah kakinya yang aneh.
Dalam pada itu, orang laki-laki itu telah melancarkan pula sebuah pukulan kepada Thian-hi. Sekonyong-konyong Hun Thian-hi merasakan sesuatu keganjilan. terasa olehnya orang ini merabukan serangkaian pukulannya dengan gencar tujuannya tak lain tak bukan hanya mendesak dirinya masuk mundur ke dalam gua yang lebih gelap sana, cepat timbul rasa was-was dalam hatinya, entah ada apa di dalam gua gelap dibelakangnya sana, betapapun harus hati-hati supaya tidak terjebak oleh musuh.
Karena kekuatirannya ini segera ia layangkan serulingnya dengan jurus Liu-si-jian-tiu melintang ke depan, sekonyong-konyong ia mendapat firasat jelek, betapapun ia tidak bisa mundur lebih lanjut ke dalam gua gelap sana.
Jurus permainan seruling Thian-hi ini punya ragam yang berlainan, dapat menyerang juga dapat menjaga diri, tapi lagi-lagi orang itu menggerakan badannya dengan kelakuan yang teramat aneh, tahu-tahu sebelah telapak tangannya sudah menyelonong tiba, tiba-tiba pula tubuhnya sudah menyelundup masuk ke dalam taburan sinar serulingnya.
Semakin ciut nyali Thian-hi, sungguh tidak habis otaknya berpikir cara rangsakan serulingnya yang rapat itu tidak mampu merintangi gerak tubuh lawan menurut penilaiannya jurus Liu-si-jiang-tiu merupakan tipu penjagaan yang teramat rapat dan ketat sekali tiada jurus tipu permainan silat lainnya yang dapat dibanding dengan kehebatannya. Tapi kenyataan dihadapi olehnya sendiri bahwa musuh begitu gampang menyelundup masuk ke dalam tabir sinar serulingnya yang ketat itu, betapa hatinya takkan ciut dan gentar.
Terpaksa Hun Thian-hi mencelat jauh ke belakang, baru saja kakinya menyentuh tanah. mendadak segulung angin keras menerjang tiba dari arah belakangnya, terjangan angin keras ini begitu pesat dan besar sekali, sehingga Hun Thian-hi tambah terkejut. Cepat seruling diayun ke belakang dengan seluruh kekuatannya ia sambut terjangan angin keras itu.
Tapi terjangan angin keras itu seperti hidup saja mendadak membelok ke atas mengarah jalan darah mematikan dipunggung Thian-hi, jaraknya terpaut tiga dim saja. Jantung Thian-hi seperti hampir meledak saking kejut dan takutnya, cara gerak serangan yang membokong dari belakang ini hakikatnya sama dengan permainan Tosu di hadapannya ini, malah cara serangan dan tenaganya yang aneh itu jauh lebih hebat….
Untuk berkelit terang tidak sempat lagi, terpaksa Hun Thian-hi menghardik keras secara reflek serulingnya menyendal ke atas pula melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, dengan kekuatan jurus ilmu pedang yang tiada taranya ini. segulung tenaga Lwekang yang ampuh berputar menggulung balik menyongsong serangan musuh.
Betul juga usahanya rada berhasil, terjangan angin keras di belakang itu sementara kena dibendung mundur, cepat Hun Thian-hi berdiri mepet dinding dan memiringkan badannya, waktu ia berpaling ke arah sana dilihatnya yang menyerang dari belakang tadi kiranya seekor ular warna putih laksana salju. Panjang ular ini tidak lebih tiga kaki, kedua biji matanya merah darah menyorong menakutkan, pelan-pelan badannya melingkar dan melata dari tempat yang gelap sana, dengan tajam kepalanya terangkat mengawasi Hun Thian-hi, mulutnya terpentang dan lidahnya terjulur keluar.
Tosu tinggi besar itu mencegat jalan keluar, dengan pandangan keheranan ia awasi Thian-hi, kesudahan dari gebrak terakhir antara Hun Thian-hi melawan ular putih itu sungguh diluar perhitungannya. Sungguh hebat Hun Thian-hi dapat menangkis serangan si ular putih kecil yang hebat itu. Tidaklah berkelebihan rasa kejutnya itu karena ia pun mengenali Wi-thian-cit-ciat-sek yang dilancarkan oleh Thian-hi.
Semakin mencelos hati Thian-hi, si Tosu seorang sudah begitu lihay dan sulit dilayani, kini ketambahan seekor ular yang tidak kalah hebatnya, betapapun dirinya tidak akan mampu melawan, untuk lolos dari kepungan seorang manusia dan ular berbisa yang lihai ini, boleh dikata sesulit memanjat ke atas langit.
Sambil memicingkan mata setindak demi setindak si Tosu tinggi besar itu mendesak maju. Hun Thian-hi berdiri tegak melintangkan seruling di depan dada dan otaknya beruntun memikirkan berbagai persoalan yang tidak terpecahkan olehnya. Ia curiga akan pengalaman yang aneh ini, masakah aku harus mati secara konyol di tempat ini? Bagaimana mungkin Tosu tinggi besar ini berbentuk begitu mirip dengan Giok-yap Cinjin, apakah dia punya sangkut paut dengan Ciangbunjin Bu-tong-pay itu? Mungkin seperti Hwesio jenaka dan Mo-bin Suseng mereka adalah saudara kembar.
Tengah pikirannya melayang, Tosu itu sudah mendesak dekat, Hun Thian-hi mengertak gigi seruling ditangannya teracung miring ke depan dengan setaker tenaganya ia lancarkan pula Wi-thian-cit-ciat-sek seiring dengan gerak serulingnya badannya pun menerjang maju ke depan.
sergapan mendadak Hun Thian-hi memang cukup dahsyat. Tosu besar itu rada terkejut dan menyurut mundur ke belakang. Dengan melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek tujuan Thian-hi bukan melukai orang, maka begitu badannya terbang ke depan terus menerjang kemulut gua. Tapi ular putih kecil di belakangnya itupun tidak tinggal diam laksana anak panah iapun terbang mengejar, secepat kilat mematuk kepunggung Thian-hi.
Keruan Thian-hi menjadi merinding dan terperanjat, ia tahu bahwa ular macam itu pasti sangat beracun, sedikit kulit kena terluka oleh giginya jelas tidak akan tertolong lagi jiwanya, terpaksa ia harus membalikan tubuh dengan Wi-thian-cit-ciat-sek untuk membela diri mendesak mundur siular putih itu.
Sedikit merandek karena gangguan serangan siular kecil ini kesempatan lolos Hun Thian-hi menjadi sia-sia, ia terkepung pula diantara gencetan si Tosu dan ular putih kecil yang lihay itu. Kedua belah pihak sama berdiam diri sama memikirkan cara untuk merobohkan lawan, ketegangan mencekam sanubari mereka.
Tanpa berjanji sebelumnya, mendadak si Tosu dan ular kecil itu sama bergerak dari dua jurusan menerjang kepada Hun Thian-hi. Bercekat jantung Thian-hi, terpaksa serulingnya ditaburkan pula dengan Wi-thian-cit-ciat-sek, tujuh gelombang angin dahsyat menerpa hebat ke arah si Tosu dan ular kecil itu.
Gesit dan lincah sekali tiba-tiba ular putih melejit lebih tinggi dan menyendal maju melesat ketenggorokan Hun Thian-hi. Keruan bukan kepalang kejut Thian-hi, bahwa si ular kecil tidak takut keterjang tenaga pukulan Wi-thian-cit-ciat-sek yang dahsyat itu, ia berdiri mepet dinding untuk mundur sudah tidak bisa lagi, terpaksa hanya mengandal keampuhan Wi-thian-cit-ciat-sek saja untuk menggempur dan merintangi serangan ular putih itu.
Diluar dugaan ular kecil itu tersapu mental tiga tombak jauhnya oleh ketukan seruling Hun Thian-hi, tapi karena sampokan kepada ular putih itu sehingga gerakan seruling Hun Thian-hi rada lamban. dan kesempatan ini dipergunakan pula oleh si Tosu untuk mendesak maju dengan tepukan kedua telapak tangan kedada Hun Thian-hi.
Tanpa banyak pikir Hun Thian-hi berkelit kesamping, tapi sudah terlambat, pukulan lengan orang itu telak sekali mengenai pundak kiri Hun Thian-hi, seketika Thian-hi rasakan seluruh pudaknya kiri kesemutan dan hilang rasa. Waktu ia menoleh dalam sekejap waktu seluruh lengan kirinya sudah melepuh besar tiga kali lipat.
Thian-hi insaf bahwa ia telah kena racun yang teramat jahat, mungkin jiwa sendiri sudah tidak tertolong lagi, dengan rasa kecewa dan lesu perlahan-lahan ia meloso duduk bersimpuh.
Begitu pukulannya berhasil melukai Hun Thian-hi Tosu itupun lantas mundur. gesit sekali ia melejit ke arah ular putih serta memeriksanya dengan teliti. Ular putih itu rebah dengan lemas, agaknya jatuh pingsan, rada lama kemudian baru bisa bergerak dan melata dengan amat payahnya.
Melihat siular putih sudah dapat bergerak baru si Tosu berdiri lagi. dengan pandangan dingin mengancam ia awasi Hun Thian-hi.
Sementara itu Thian-hi kerahkan lwekangnya untuk mendesak hawa racun supaya tidak menjalar lebih jauh ke dalam tubuhnya.
Tosu itu menyeringai, jengeknya, “Ilmu silatmu cukup tinggi, tapi akan kubuat kau mati berangsur-angsur. Kau sudah terkena racunku, kau kira kau bisa mendesaknya supaya tidak menjalar ke dalam tubuhmu?”
Dengan tajam Thian-hi pun pandang orang itu, sesaat kemudian ia bertanya, “Siapa kau sebenar-benarnya? Kenapa kau harus bunuh aku?”
“Jangan kau peduli siapa aku,” jengek orang itu pula. “Siapapun yang masuk kemari jangan harap bisa hidup ditanganku, dan kenapa sebabnya kau tidak perlu tahu!”
Waktu berkata-kata sedikitpun Tosu ini tidak menunjukkan perasaan hatinya, semakin mencelos hati Thian-hi menghadapi manusia sadis yang tidak diketahui asal-usulnya ini. Dari nada perkataan orang kedengarannya jiwa sendiri terang tidak tertolong lagi. Terpaksa ia tinggal diam saja dan memejamkan mata, ia duduk bersimpuh dengan tenang dan mengerahkan tenaga.
Orang itu mengamat-amati Thian-hi lagi, hatinya rada heran, dengan usia Hun Thian-hi yang masih begitu muda, ilmu silatnya ternyata begitu lihay, betul-betul sangat mengejutkan hatinya, kalau tidak menghadapi sendiri ia tidak akan mau percaya.
Mendadak hatinya seperti semakin menciut dan mencelos, air muka Hun Thian-hi tadi sudah berubah ungu dan membiru, tapi sekarang lambat laun semakin menghilang dan segar bugar kembali, ini boleh dikata suatu hal yang luar biasa dan tidak mungkin terjadi. Barang siapa yang terkena racunnya, mana dapat hidup? Ia yakin betapapun tinggi ilmu silat orang itu umpama setinggi langitpun jangan harap bisa mendesak bujar racun yang mengeram dalam tubuhnya. Apalagi racun itu adalah racun ciptaannya yang teramat jahat,
Saking tidak percaya akhirnya ia bertanya pada Thian-hi, “Siapa kau? Apa tujuanmu kemari?”
Dengan Lwekangnya Thian-hi berusaha membendung menjalarnya racun dalam tubuhnya, namun hasilnya tetap nihil karena hawa racun terus merembes masuk melalui sendi urat nadinya tersebar luas di seluruh tubuh, ia menjadi putus asa, dengan, membuka mata ia berkata tawar, “Sekarang baru kau bertanya, apa gunanya?”
Orang itu mendengus, katanya, “Ingin aku tahu siapa kau sebenar-benarnya?”
Thian-hi pejamkan mata lagi tanpa bersuara. sesaat kemudian baru ia berkata dengan kalem, “Apa kau ingin mendirikan batu nisanku? Kukira tidak perlulah.”
Orang itu rada terkejut, katanya dingin, “Kau tidak akan mati. Cuma aku ingin tahu dengan cara apa kau dapat memunahkan racunku itu.”
Thian-hi tersentak kaget sambil membelalakkan matanya, lambat laun memang ia merasakan semangat semakin segar dan pulih kembali seperti sedia kala, dengan cermat ia menepekur sekian lamanya ia belum mendapat jawaban yang tepat. Sekonyong-konyong hatinya seperti sadar. Buah ajaib! Tentu oleh khasiat buah ajaib itulah. Bukankah ia pernah menelan beberapa butir buah ajaib, maka seluruh tubuhnya sekarang tidak perlu takut menghadapi segala bisa atau racun.
Hatinya menjadi girang, katanya riang, “Kalau kau ingin tahu sudah tentu boleh kuberitahu kepada kau. Tapi kau harus beritahu lebih dulu padaku, siapa kau sebenar-benarnya. Kenapa bentuk wajahnya serupa benar-benar dengan Ciangbunjin Bu-tong-pay?”
Raut muka orang itu berkerut-kerut agaknya ia menjadi berang, dengusnya, “Tapi akupun perlu tanya kau lebih dulu. Untuk apa kau kemari? Untuk mencari harta benda itu bukan?”
Thian-hi melengak, bahwasanya ia tidak tahu bahwa di dalam Jian-hud-tong ini ada tersimpan harta benda apa maka ia menyahut tawar, “Untuk mencari harta? Kalau untuk harta benda apa perluku kemari. yang terang aku dipancing Tok-sim-sin-mo masuk ke tempat ini.”
Agaknya orang itu juga merasa diluar dugaan.
“Tok-sim-sin-mo?” gumamnya, matanya segera memancarkan rasa gusar yang berapi-api, sesaat kemudian baru ia bersuara pula, “Kau ahliwaris dari Wi-thian-cit-ciat-sek? Siapa kau? Dan murid siapa?”
Melihat sikap orang sudah tidak segarang semula, Thian-hi menjadi lega, sahutnya kemudian, “Benar-benar aku ahliwaris Wi-thian-cit-ciat-sek, Aku bernama Hun Thian-hi. Murid Lam-siau!”
“Lam-siau?” dengus orang itu.
“Ya!” sahut Thian-hi tersenyum ewa. “Tapi Ka-yap Cuncia menganugerahkan Wi-thian-cit-ciat-sek kepada aku, apakah ada salahnya? Sudan banyak yang kau tanyakan padaku, sekarang giliranku bertanya pada kau. Siapa kau sebenar-benarnya?”
Agaknya orang itu rada melengak akan jawaban dan pertanyaan Thian-hi, sesaat baru ia menjawab, “Tak menjadi soal kau tahu siapa aku. Akulah Pek-tok-kau Kaucu Pek-tok Lojin!”
Thian-hi tercengang. Pek-tok-kau bercokol di daerah barat daya. Pek-tok Lojin merupakan calon seorang iblis yang sangat disegani pada jamannya dulu, sepuluh tahun yang lalu mendadak menghilang dari percaturan dunia persilatan hingga kini belum diketemukan jejaknya, sehingga Pek-tok-kau pun menjadi cerai berai dan bubar karena tiada orang yang memimpinnya. Siapa duga sepuluh tahun kemudian, Pek-tok Lojin muncul pula di dalam gua yang sempit dan gelap ini, malah membekal ilmu silat yang lebih aneh dan lihay lagi. sungguh sulit dibayangkan akan kebenar-benarannya.
Dan yang menambah keheranannya bahwa Pek-tok Lojin kenapa bermuka mirip sekali dengan Giok-yap Cinjin. Tokoh macam Pek-tok Lojin yang diberitakan di Kangouw dulu tidak menyerupai bentuknya sekarang.
Agaknya Pek-tok Lojin tahu apa yang tengah di sangsikan oleh Thian-hi, katanya tertawa dingin, “Kau heran kenapa aku berubah seperti bentukku ini bukan? Baiklah kujelaskan. Sepuluh tahun yang lalu aku masuk ke Jian-hud-tong dengan tujuan mencari Ni-kay-ki-tin, tapi sepuluh tahun kemudian baru aku berhasil dapat keluar.”
Tersentak hati Thian-hi, serunya, “Ni-hay-ki-tin?” — Hampir ia tidak percaya pada pendengarannya bahwa Ni-hay-ki-tin berada di dalam Jian-hud-tong ini, mimpi juga tidak menduga sebelumnya.
“Ya, berada di dalam gua ini,” jengek Pek-tok Lojin. “Jika masuk lebih dalam sana tibalah di Mi-kiong (istana sesat), aku masuk kesana dan menghabiskan waktu sepuluh tahun baru berhasil keluar. Waktu berjalan keluar aku sudah kehabisan tenaga, kebetulan bentrok dengan Tok-sim-sin-mo. Dalam keadaan payah sudah tentu aku bukan tandingannya, gampang saja aku teringkus olehnya, dia mengupas kulit mukaku dan mengganti dengan bentuk lain, ia menekan aku harus mendengar perintahnya!” ~ sampai disini ia bergelak tawa saking murka dan penasaran.
Sekarang baru jelas bagi Thian-hi duduk perkara sebenar-benarnya Tok-sim-sin-mo memang sengaja hendak membuat geger dunia persilatan dengan rencana jangka panjang secara diam-diam ia menculik jasat Giok-yap Cinjin dan mengelupas kulit mukanya untuk ditempelkan di muka Pek-tok Lojin, secara berani ia coba-coba melaksanakan rencana jahatnya. Untung Pek-tok Lojin tidak sampai kena diperalat olehnya, kalau tidak entah bagaimana jadinya dengan gelombang pertikaian dunia persilatan.
Terdengar pula Pek-tok Lojin melanjutkan, “Beruntung akhirnya aku dapat lolos dari genggamannya itu, aku sembunyi di tempat ini dan kebetulan ketemu dengan Siau pek-mo (siular putih kecil, pernah terjadi hampir saja Tok-sim~sin-mo menemui ajalnya di bawah keganasan bisa Siau-pek-mo. Sayang ia takut melihat sinar cahaya!” — Sampai disini ia merandek lalu sambungnya mendengus dingin, “Kalau tidak mungkin sejak lama bersama Siau-pek-mo aku sudah keluar dari gua ini. Tapi selama mengeram diri disini aku berhasil juga mempelajari Ling-coa-pou, tapi aku tak kuasa meninggalkan tempat ini.”
Hun Thian-hi berpikir sejenak. lalu katanya, “Cara Bagaimana kau bisa punya hasrat untuk mencari Ni-hay-ki-tin itu. Kalau kau tidak memiliki Badik buntung mana bisa menemukan Ni-hay-ki-tin itu?”
Pek-tok Lojin terkekeh dua kali, ujarnya, “Bagaimana juga, aku harus menemukan Ni-hay-ki-tin itu. Sepuluh. tahun aku berdiam dalam gua ini, selama sepuluh tuhun ini aku sudah menjelajahi seluruh Mi-kiong (istana sesat), di setiap tempat penting ada kutinggalkan tanda2 rahasia, aku tahu cara bagaimana masuk juga tahu cara bagaimana keluar. Aku percaya sekali lagi aku masuk kesana pasti dapat menemukan Ni-hay-ki-tin itu!”
Hun Thian-hi tertawa tawar, katanya, “Mungkin kau bisa, apakah kau yakin benar-benar sekali lagi hendak kesana, kau tidak bakal tinggal terkurung lagi selama sepuluh tahun?” — berhenti sejenak lalu ia melanjutkan, “Kau sudah berkorban sepuluh tahun, sehingga Pek-tok-bun lenyap dan dilupakan para sahabat Kangouw, kau mendapat lebih banyak atau kehilangan lebih banyak? Coba kau renungkan antara untung dan ruginya.”
Pek-tok Lojin menggeram, ia menunduk tanpa bersuara.
Hun Thian-hi berkata lebih. lanjut, “Kalau kau sudah tahu bahwa Ni-hay-ki-tin pasti tersimpan di dalam Jian-hud-tong, masa tiada orang lain pula yang tahu? Kenapa mereka tidak meluruk kemari? Bukan mustahil kehilangan atau kerugian yang mereka derita jauh lebih besar dari apa yang mereka dapatkan.”
Pek-tok Lojin menggeram sekali lagi, meski wataknya keras dan seperti penasaran tapi hatinya sudah mulai menyesal, tekadnya mencari Ni-hay-ki-tin semula memang menyala-nyala, dan usahanya ini merupakan suatu taruhan yang sangat berbahaya bagi jiwa dan raganya. Alhasil ia kalah dalam taruhan, apakah aku harus melanjutkan permainan judi ini? Atau berhenti sampai disini saja? begitulah ia sedang menerawang apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Sementara itu Hun Thian-hi juga sedang melayangkan pikirannya, ia rasakan betapa culas dan keji jiwa Pek-tok Lojin ini, bila sekarang dia dapat keluar, pasti harus dua orang bersamaan, tak mungkin seorang diri ia keluar dengan selamat tanpa kurang suatu apa. Tapi bila dapat keluar. pasti Pek-tok Lojin bakal menimbulkan bencana bagi kaum persilatan umumnya, ini merupakan suatu persoalan pelik yang sulit dipecahkan.
Ia berpikir cara bagaimana supaya Pek-tok Lojin tidak mengganas pula di Bulim bila nanti bisa keluar? Kecuali Pek-tok Lojin’ dapat digugah watak dan pikiran sesat menjadi lurus, kalau tidak tiada jalan lain yang lebih sempurna.
Akhirnya Pek-tok Lojin angkat kepala, katanya kepada Hun Thian-hi, “Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Aku terpikir bila seseorang dapat melanjutkan kehidupannya dalam keadaan keputus-asaan, lalu apa yang harus dia lakukan?”
Berkilat biji mata Pek-tok Lojin, dua kali hidungnya mendengus, katanya, “Aku pun tidak tahu. Kenapa kau harus berpikir sedemikian banyak dan begitu rumit?”
Thian-hi menyahut pelan-pelan, “Aku merasa itu sangat penting. Sekarang kita harus siap dan menyadari lebih dulu apa yang harus kulakukan sesudah aku dapat keluar?”
“Jangan kau berangan2.” demikian jengek Pek-tok Lojin, “Kita berdua tidak akan mampu keluar, seorang diri aku sudah terkurung sepuluh tahun, mendapat kau sebagai teman juga bolehlah”
“Memang mungkin tak bisa keluar. Tapi apakah kau tidak ingin keluar?”
“Keluar? Kerdil benar-benar pikiranmu. Seumpama tiada orang yang merintangi kau, kau takkan mampu keluar seorang diri, apalagi Tok-sin-sim-mo ada diluar sana, memasang berbagai alat rahasia lagi. untuk keluar sesulit memanjat ke atas langit.”
Hun Thian-hi tersenyum, katanya, “Betapapun sukarnya, aku harus keluar. Masih banyak tugas yang harus kurkerjakan, aku harus keluar!”
“Anggapmu aku sendiri tidak punya urusan?”
Hun Than hi pandang Pek-tok Lojin, terlihat sorot matanya mengunjuk rasa kepedihan hatinya ia tertawa lalu berkata, “O, begitu? Semula kusangka kau tidak ingin keluar?”
Melihat sikap Pek-tok Lojin, ia mereka-reka orang pasti mempunyai ganjalan dalam lubuk hatinya, tapi entah persoalan apa. Pikirnya siapa saja, setiap manusia bila dia masih punya rasa perikemanusiaan. hatinya tentu takkan terlalu bejat, sebelum watak kemanusiaannya pudar pasti dia dapat diinsafkan dari perbuatan jahatnya, manusia sejak dilahirkan memang bersifat bijaksana dan kenal cinta kasih. soalnya cara bagaimana ia menjalani hidupnya dalam pergaulan masyarakat. Demikianlah Pek-tok Lojin, meskipun ia jahat dan keji. namun dia masih mempunyai kesadaran jiwa yang masih bisa ditolong dari jurang kesesatannya.
Pek-tok Lojin menjengek hidung, ia menengadah dan berpikir.
Hun Thian-hi tertawa-tawar, katanya, “Di mulut saja aku bicara; tapi asal percaya bahwa setiap orang tentu mempunyai gagasan hidupnya. masih banyak urusan yang mesti kukerjakan. Dan karena semua urusan itulah aku harus berjuang untuk hidup, maka aku harus keluar dengan tetap hidup. Entahlah dengan persoalanmu!’“
“Seumpama kau tadi sudah ajal di tanganku bagaimana?”
“Kenyataan aku masih hidup! Sepuluh tahun lamanya kau tersekap dalam gua ini kau masih tetap hidup, kenapa?”
Pek-tok Lojin tertunduk lebih dalam. terketuk sanubarinya.
Hun Thian-hi berkata pula, “Selama kita masih hidup, meski hanya satu hari. maka kita harus menjadi manusia, secara baik-baik. Kau tahu apakah manusia itu? Manusia itu adalah yang punya jiwa dan prikemanusiaan, bila seseorang telah kehilangan prikemanusiaan, maka dia bukan manusia lagi.”
Mendadak Pek-tok Lojin angkat kepala, matanya mendelik gusar kepada Thian-hi desisnya, “Kau sedang memberi pengajaran kepadaku?”
“Kau tersinggung?” ujar Thian-hi tawar, “Aku tidak tahu asal-usulmu, tidak tahu karaktermu, mana bisa aku menyinggung kau?” sampai disini ia menepekur sebentar lalu sambungnya, “Kau pun tidak tahu riwayat hidupku. Ketahuilah ayahku menjadi korban secara konyol karena memiliki Badik buntung, akhirnya beliau meninggal di tangan Mo-bin Suseng.” dengan kalem lalu ia menceritakan pengalaman hidupnya selama ini.
Pek-tok Lojin mendengarkan dengan seksama, hatinya mulai tergugah, lambat laun ia seperti baru siuman dari tidurnya yang pulas dan masih ragu-ragu akan impian yang dialaminya. dalam tidur pulasnya itu. Dia masih belum mau percaya begitu saja akan ketulusan hati Thian-hi menceritakan segala urusan yang melibatkan dirinya dengan panjang lebar. Tapi keadaan mau tidak mau mengharuskan dia mesti percaya. Segala urusan sampai yang paling mendetail semua diceritakan oleh Hun Thian-hi tanpa malu-malu, satupun tiada yang disembunyikan.
Begitulah dalam pendegaran itu, hatinya pun ikut bergejolak akan situasi Kangouw yang timbul tenggelam, ia merasa kuatir pula akan urusan dirinya yang masih mengganjal dalam sanubarinya Ia merasa masih banyak urusan atau pekerjaan yang harus segera ia lakukan.
Sesaat lamanya cerita Hun Thian-hi berakhir, sambil tertawa ia menambahkan, “Adalah sangat gampang bagi seorang manusia untuk berbuat kelewat batas diluar kesadarannya, sebuah urusan yang dianggap sepele atau tidak berarti bagi orang itu, dapat meninggalkan kesan yang mendalam dan diukir di lubuk hati orang lain. Umpamanya aku dengan menggunakan jurus Pencacat langit pelenyap bumi sekaligus kubunuh puluhan jiwa manusia, tatkala itu aku merasa aku tidak berdosa, mungkin tujuanku melulu untuk membela diri dan demi keselamatan jiwa, tapi orang lain sebanyak puluhan orang harus dikorbankan, seumpama mereka tidak menyesali perbuatanku, aku pun akan menyesal dan selalu menjanggal dalam sanubariku…. yang jelas keluarga atau sanak famili orang-orang yang menjadi korban itu akan membenci dan dendam kepadaku selama hidup ini!”
Pek-tok Lojin menepekur diam, agaknya benaknya mulai menyadari akan perbedaan antara baik dan buruk, asal kita berbuat berlandaskan kebenar-benaran dengan kebijaksanaan pula, dengan adanya cinta kasih bagi sesama umat manusia pula, orang akan tergugah dari pikiran sesatnya dan kembali ke jalan benar-benar.
Dengan tertawa Hun Thian-hi menandaskan, “Aku harus keluar, bagaimanapun akibatnya!.”
Pek-tok Lojin menunduk, tekad Hun Thian-hi begitu besar, membuat hatinya merasa sesal dan terketuk, akhirnya ia membuka mulut dan tersenyum, katanya, “Sepuluh tahun yang lalu waktu aku meninggalkan rumah, keluargaku melarang aku kemari, tapi akhirnya aku kemari juga. Diwaktu aku terkenang pada mereka, mereka sudah tidak berada di sampingku lagi!”
Mendengar ucapan dan sikap Pek-tok Lojin, sungguh berjingkrak hati Thian-hi katanya, “Mengandal kekuatan kita bersama, mungkin dapat menjebol keluar gua.”
Pek-tok Lojin menunjuk memandangi si ular putih kecil yang melingkar di tanah, sambil menghela napas ia ulapkan tangannya ke arah si ular putih serta berkata, “Kau masuklah, aku hendak pergi, kelak kutengok disini.”
Ular kecil putih itu seperti bisa mendengar ucapan manusia, ia berputar satu lingkaran di bawah kaki Pek-tok Lojin sambil menengadahkan kepalanya lalu melata masuk ke dalam gua yang dalam dan gelap sana.
Setelah melihat si ular putih itu menghilang, Pek-tok Lojin menghela napas panjang, keadaan memaksa dia harus meninggalkan tempat ini, mendadak merasa kepercayaan pada dirinya bertambah kuat dan teguh, seolah-olah ia sudah mendapat firasat dan yakin benar-benar bersama Hun Thian-hi mereka akan dengan mudah bebas dari kurungan.
Akhirnya ia berpaling ke arah Thian-hi, katanya, “Baik, mari kita berangkat!”
Hun Thian-hi tertawa lebar dan puas, terasa olehnya bahwa sekarang Pek-tok Lojin sudah pulih kembali akan kesadaran kemanusiaannya, seolah-olah ia seperti kehilangan suatu tekanan sehingga hatinya terasa longgar dan enteng. Sementara racun di lengan tangannya pun sudah lenyap dan sudah pulih seperti sediakala. Begitulah mereka beranjak keluar, dia belum tahu apakah mereka bakal mampu menerjang keluar dari kepungan yang ketat dalam gua yang penuh alat2 rahasia, tapi mereka harus mencoba dan berjuang.
Setelah Tok-sim-sin-mo memancing dan menjebak Hun Thian-hi masuk ke jalan rahasia itu, akhirnya ia meloloskan diri melalui jalan rahasia lainnya, sambil mengulum senyum kemenangan dan sinis ia tinggal pergi, ia tahu akan tabiat Pek-tok Lojin kalau Hun Thian-hi masuk ke sana jelas kematianlah yang bakal menimpa dirinya, apalagi. muka Pek-tok Lojin sudah dikelupas dan diganti dengan kulit muka Giok-yap Cinjin, dalam keadaan kaget dan ketakutan melihat keadaan yang seram itu, bukan mustahil Hun Thian-hi mesti terbunuh oleh Pek-tok Lojin yang ganas itu.
Begitulah sambil berpikir2 dengan keriangan hatinya langsung ia melangkah ke kamar tahanan Coh Jian-jo. Kira-kira beberapa kejap kemudian, waktu ia tiba di sebuah jalan lorong yang lurus, dilihatnya Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho berlari-lari mendatangi tergesa-gesa, kontan ia mengerut alis, cepat Bing-tiong-mo-tho maju memberi hormat serta memberi lapor, “Pangcu! Hun Thian-hi sudah menyelundup masuk di Jian-hud-tong!”’
Tok-sim-sin-mo menyapu pandang mereka, katanya, “Dia sudah kupancing menuju ke tempat Pek-tok Lojin, mari kita tengok keadaan Coh Jian-jo!”
Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho saling pandang dengan terkejut, mereka terbungkam seribu basa, betapapun Tok-sim-sin-mo jauh lebih hebat dan lihay dalam segala tindak tanduk, begitulah mereka mengintil di belakang orang.
Waktu mereka sampai di kamar batu itu, tampak Coh Jian-jo sedang duduk terpekur entah memikirkan apa. Pelan-pelan Tok-sim-sin-mo maju menghampiri, katanya menjengek dingin, “Coh Jian-jo! Pek-tok-hek-liong-ting buatanmu itu sungguh baik sekali, ja, aku harus berterima kasih kepada kau. Apakah kau pernah memikirkan cucumu perempuan?” — Nadanya sinis matanya berapi-api mengunjuk hawa membunuh.
Pelan-pelan Coh Jian-jo bangkit sahutnya, “Hal itu sejak mula memang kuketahui, meski aku tahu cara membuatnya, tapi baru pertama kali itu kupraktekkan pembuatannya bukan mustahil ada kekurangannya.”
Tiba-tiba telapak tangan Tok-sim-sin-mo melayang dan “Plok” Coh Jian-jo ditamparnya sampai tersungkur jatuh, mulut Tok-sim-sin-mo mendesis dengan kejam, “Benar-benarkah begitu?”
Perlahan-lahan Coh Jian-jo merangkak bangun, dengan bungkam ia berdiri tegak.
Tok-sim-sin-mo menj< i katanya, “Tidak menjadi soal bila kau ingin modar, tapi kau harus ingat
cucumu perempuan berada ditanganku, hati-hatilah aku bisa menyiksanya dengan berbagai alat kompes, tahu!”
Raut mata Coh Jan-jo berkerut-kerut dan gemetar, katanya, “Kau tak perlu berlaku kasar padaku, bila kau baik kepadanya, aku akan bekerja lebih baik bagi kau, persetan dengan orang lain yang terang kau harus baik-baik terhadap cucuku.”
Biji mata Tok-sim-sin-mo jelalatan, katanya, “Jangan kau main-main dengan aku, bila hasilnya tidak memuaskan, akan kupertontonkan kepadamu betapa dia menderita!”
Ternyata Coh Jan-jo menyahut dengan tawar, “Hun Thian-hi memperoleh Wi-thian-cit-ciat-sek, meski sekarang belum sempurna latihannya sehingga Lwekangnya tidak bisa disalurkan sampai puncak tertinggi, tapi kau sendiri punya perhitungan dan tahu benar-benar lambat atau cepat Pek-tok-hok-liong-ting tidak akan dapat melawannya. Jikalau aku tidak bantu kau, kau akan roboh dan jatuh di tangannya.”
Mendengar nada ucapan Coh Jan-jo mendadak berubah begitu ketus jauh berlainan dengan sikapnya semula, Tok-sim-sin-mo rada diluar dugaan, namun dasar cerdik terpikir olehnya dengan sikap Con Jian-jo yang aneh ini, pasti dia mempunyai suatu rahasia yang belum diketahui orang lain, kenapa aku tidak memanfaatkan tenaga dan pikirannya demi kepentinganku? Serta merta ia tertawa menyeringai lagi, ujarnya, “Sayang ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek sekarang sudah mampus!”
Coh Jian-jo tersentak tertegun, ia tunduk termenung tanpa bersuara lagi!
“Bagaimana?” desak Tok-sim-sin-mo. “Adakah yang perlu kau beritahukan kepadaku? Kalau tidak segera aku harus segera kembali, ingat cucumu perempuan berada di genggamanku!”
Coh Jian-jo tertawa tawar, katanya, “Kalau kau mau melulusi satu permintaanku, akan kubuatkan semacam alat rahasia yang teramat jahat dan berbisa pada Kau, para orang-orang gagah di seluruh kolong langit ini tiada seorang pun yang mampu menyelamatkan diri dari serangan buah tanganku ini”
Terpancar sinar terang dari biji mata Tok-sim-kin-mo, katanya, “Senjata rahasia apa, coba kau sebutkan dulu!”
“Setelah alat rahasia itu dapat kuciptakan, seluruh kaum persilatan di Bulim pasti takkan memberi pengampunan kepadaku, tatkala itu seumpama kau melepas aku pergi, akupun takkan dapat keluar seorang diri. Tapi hanya satu pengharapanku kepada kau, lepaskan cucuku perempuan. sungguh aku akan sangat berterima kasih kepadamu!”
Tok-sim-sin-mo terkekeh-kekeh, sejenak ia berpikir lalu katanya. “Kau katakan dulu barang apakah ciptaan barumu itu?”
“Tidak!” sahut Coh Jian-jo menggeleng kepala. Kali ini aku tidak akan sebutkan lebih dulu!”
Tok-sim-sin-mo tertawa kering, katanya, “Kau harus tahu. sekarang kaulah yang memohon kepadaku bukan aku yang meminta2 kepada kau, sedang cucu perempuanmu masih di tanganku, ingatkah kau!”
“Aku tidak akan dapat kau ancam pula sekarang. kau sendiri akan paham, selamanya adalah kau yang meminta2 kepadaku, soalnya karena kau tangkap cucuku untuk dijadikan sandera belaka. Seumpama benar-benar Hun Thian-hi sudah meninggal, toh aku bukan tidak tahu orang pandai dan lihay di dunia ini bukan melulu dia seorang…. Terutama Ka-yap Cuncia belum lagi muncul, Bu-bing Loni kau jauh bukan tandingannya. meski jiwamu seorang dapat kau pertaruhkan atas jiwa kita kakek dan cucu tapi cobalah kau berpikir sekali lagi atau akan kutunggu sampai kau berpikir dua belas kali.”
Berkilat-kilat sorot kekejaman dimata Tok-sim-sin-mo, dengan geram ia membanting kaki, dengusnya, “Urusan tidak segampang seperti yang kau katakan, aku boleh mati ditangan Ka-yap Cuncia, atau terbunuh oleh Bu-bing Loni, tapi mungkin cucumu bisa segera mampus dihadapanmu.”
Coh Jian-jo rada terpengaruh akan ancaman ini, katanya sember, “Kau pun tahu Ka-yap Cuncia selamanya tidak membunuh orang, bila dia meringkus kau, mungkin kau bisa disekap lagi selama lima puluh tahun!”
Biji mata Tok-sim-sin-mo semakin mendelik gusar, desisnya, “Kau sangka aku bakal tunduk akan ancamanmu?”
“Aku tidak tahu apakah kau bakal menyerah,” ujar Coh Jian-jo, “Tapi bila kau melebarkan pandanganmu mungkin kau akan berbuat menurut usulku!”
“Coba kau terangkan dulu, senjata rahasia macam apa?”
Sesaat Coh Jian-jo beragu, akhirnya ia membuka mulut, “Namanya Kiu-siau-biat-hun-tan! Terbikin dari bahan pembakar yang paling ganas, tiada seorang pun yang kuat bertahan dari semburan api yang dahsyat.”

“Baik. sesaat berpikir Tok-sim-sin-mo lantas menyetujui, “Sekarang juga kusiapkan peralatannya, besok dapat kau mulai bekerja” — lalu ia menyeringai dingin dengan penuh kemenangan, bergegas ia membalik terus tinggal pergi.
Setelah Tok-sim-sin-mo pergi Coh Jian-jo menghela napas, dilihat dari sikap orang terang dia tidak punya ketulusan hati sesuai dengan janjinya, entah apa pula alasan yang diajukan besok pagi, urusan sudah telanjur sedemikian jauh, inilah tindakan terakhir bagi jalan yang harus ditempuh dirinya, jikalau tidak berhasil terpaksa ia harus berbuat menurut rencana, begitulah sambil berpikir2 ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
Betapapun Tok-sim-sin-mo tidak perlu disangsikan akan keculasan hatinya, kelihatannya memang dia rada mengalah, namun bukan mustahil dia memang punya rencana dan caranya sendiri. Dia tahu bahwa yang dikuatirkan Coh Jian-jo melulu keselamatan cucunya perempuan, bila cucunya dilepas jadi dia tidak punya kekuatiran pula, maka selanjutnya tidak perlu membuat segala peralatan untuk dirinya. yang terpenting sekarang ia harus cepat bertindak, kelihatannya sikap Coh Jian-jo mulai ketus dan teguh pendirian, kalau salah langkah pasti segalanya akan menjadi runyam, bukan mustahil pula orang akan rela gugur bersama!”
Cepat sekali, hari kedua sudah tiba, disaat Coh Jian-jo masih mondar-mandir berpikir2 Tok-sim-sin-mo sudah mendatangi. Segera ia perintah anak buahnya meletakkan segala peralatan di pinggir kamar, lalu berkata pada Coh Jian-jo, “Silakan sekarang kau mulai bekerja!”
Coh Jian-jo malah tinggal duduk tenang tanpa bersuara, dengan tenang ia pandang Tok-sim-sin-mo. Hatinya mulai gundah, ia tahu bahwa Tok-sim-sin-mo tidak akan menepati janjinya, dengan kesabaran dan ketenangan ia duduk ingin ia melihat apa yang hendak dilakukan Tok-sim-sin-mo. Semalam suntuk ia tidak pejamkan mata, betapapun ia tidak boleh mundur setapakpun dari urusan ini!
Tok-sim-sin-mo menyeringai, katanya, “Kau persoalkan cucumu perempuan bukan? Biar kuberitahu padamu, tidak mungkin kulepas dia!”
Coh Jian-jo mandah tertawa hambar tak bersuara.
“Bila kulepas dia tiada membawa manfaat bagi kau, sewaktu2 aku bisa menangkapnya kembali, apalagi bila dia tidak tergenggam olehku, maukah kau membuatkan peralatan senjata rahasia itu kepadaku?”
“Persetan bagaimana kelak jadinya yang terang sekarang juga kau harus melepas dia pergi, segala urusan aku tidak perlu urus dan tidak mau tahu.”
“Besok kuringkus dia kembali, kau tidak mau peduli?”
“Itupun tiada halangannya!”
Tok-sim-sin-mo melangkah kehadapan Coh Jian-jo, ancamannya, “Jangan kau main-main dengan tipu daya kepadaku, kau tahu, aku tidak bakal tertipu olehmu!”
“Mau tidak kau melepas cucuku terserah pada kau. Tapi kelak bila Kiu-siau-biat-hun-tan terjadi pula kerewelan jangan kau salahkan aku!”
Bukan kepalang gusar Tok-sim-sin-mo kontan tangannya terayun, Coh Jian-jo kena dihantamnya roboh telentang di tanah.
Bersamaan itu terdengar suara gemerincing, Tok-sim-sin-mo berseru heran, dilihatnya sebuah serangka pedang pendek menggeletak di tanah, sambil menyeringai dingin pelan-pelan dijemputnya, katanya tertawa lebar, “Ternyata serangka Badik buntung berada di tanganmu. Tapi diluaran sana sedang geger saling berebutan karena barang ini!”
Pukulan Tok-sim-sin-mo cukup keras, sekian lamanya Coh Jian-jo rebah di tanah, sesaat lamanya baru pelan-pelan merangkak bangun lagi.
“Hayo cepat kerjakan,” bentak Tok-sim-sin-mo, “Kalau tidak awas akan kubeset kulit cucumu, kau tahu, aku dapat berbuat sesuai dengan ancamanku.”
Melihat Badik buntung jatuh ke tanah Tok-sim-sin-mo sungguh Coh Jian-jo sangat menyesal. Kenapa ia tidak beritahukan saja rahasia di dalam sarung Badik buntung itu kepada Hun Thian-hi, sekarang terjatuh ke tangan manusia durjana ini, dia pasti akan memaksa pula, aku membocorkan rahasianya, bagaimanakah baiknya?
Tok-sim-sin-mo mengamat-amati sarung Badik buntung dengan seksama, akhirnya ia menyeringai senang, katanya, “Coh Jian-jo, orang yang mengetahui rahasia Ni-hay-ki-tin mungkin cuma kau seorang, banyak orang saling memperebutkan sarung badik ini, aku tidak perlu capai mengeluarkan tenaga, soalnya kau berada di tanganku, sekarang….”
“Bahan bakar Kiu-siau-biat-hun-tan perlu diramu dan diaduk sembilan kali, cobalah kau saksikan hasil buatanku yang pertama, bila kau merasa puas silakan kau bebaskan cucuku, sebaliknya bila hasil kerjaku tidak memuaskan terserah apa yang kau hendak lakukan terhadapnya, setuju?”
Tok-sim-sin-mo berpikir sebentar, katanya, “Baik, syaratmu ini dapat kusetujui, memang jalan inilah satu-satunya yang harus ditempuh. Tapi aku berpendapat ada lebih baik bila dia kubawa kemari supaya dekat dengan kau?”
“Tidak perlu, aku tidak perlu dia berada disini!”
Berubah air muka Tok-sim-sin-mo, tanyanya, “Kenapa? Apakah kau punya sesuatu rencana keji?”
“Dia masih merupakan gadis kecil yang hijau, setiap hari harus hidup dalam kegelapan dan dalam kamar tahanan yang lembab, kukira kurang baik bagi kesehatannya.”
“Sebaliknya aku berpendapat lain!” jengek Tok-sim-sin-mo lalu ia ulapkan tangannya keluar serta berteriak, “Gusur cucunya kemari, biar mereka kakek dan cucu bersua disini!” seringainya lebih sadis, ia mendekat lagi serta katanya, “Sekarang tibalah saatnya kutanyakan soal rahasia Ni-hay-ki-tin itu, sebenar-benarnya dimanakah tersimpan Ni-kay-ki-tin itu, cepat beritahu kepadaku!”
“Sarung badik buntung ini adalah peninggalan leluhurku,” demikian sahut Coh Jian-jo tertawa ewa, “Tapi baru beberapa hari yang lalu Hun Thian-hi memberikan kepadaku, aku belum lagi membukanya, darimana aku bisa tahu?”
“Takdir sudah menentukan aku bakal sukses, tak mengapa kau tidak mau buka mulut, coba nantikan bila cucumu perempuan sudah diantar kemari!”
Coh Jian-jo berjalan dua lingkaran dalam kamar itu, ia insaf bahwa ia harus nekad melaksanakan tekadnya.
Sementara terdengar pula Tok-sim-sin-mo berkata, “Jangan kau mengatur tipu dayamu terhadapku, cucumu perempuan berada di tanganku, bila sampai terjadi hasil kerjamu kurang memuaskan atau kurang sempurna, cucumulah yang akan menerima akibatnya!”
Baru saja kata-katanya habis diucapkan, dari luar pintu terdengar seseorang menyanggah, “Belum tentu!”
Tok-sim-sin-mo tersentak kaget. cepat ia memutar tubuh, tampak di ambang pintu kamar tahanan itu berdiri tegak Hun Thian-hi, di sampingnya berdiri pula seorang gadis remaja berpakaian kuning, dia bukan lain adalah cucu Coh Jian-jo yang bernama Coh Siau-ceng!
Sudah jamak kalau Tok-sim-sin-mo merasa kaget karena ia menyangka Hun Thian-hi pasti mampus di dalam gua sana, sungguh diluar dugaannya bahwa mendadak Hun Thian-hi muncul dihadapannya laksana setan gentayangan. malah menolong keluar pula cucu Coh Jian-jo dari tempat kurungannya yang terjaga kuat dan terahasia. itu.
Setelah menenangkan hati dan gejolak darahnya, ia menyeringai dua kali lalu katanya dingin, “Hun Thian-hi, kiranya kau belum mampus!”
“Benar-benar!” sahut Hun Thian-hi mendengus, “Aku tidak mati, diluar dugaanmu bukan? Bukan saja tidak mati malah sekarang kuberdiri dihadapanmu!”
“Kau beruntung terhindar dari kematian, tapi kau tidak akan mampu lari keluar dari Jian-hud-tong. hari ini kau akan mampus dalam gua ini tanpa ada tempat untuk mengubur kau!”
“Masa begitu gampang? Apakah tidak pernah terpikir oleh kau cara bagaimana aku bisa keluar? Berani kau takabur mengobral bacotmu!”
“Apa bedanya. Setelah kubunuh kau, buat apa memeras keringat memikirkan cara kau lolos keluar! yang jelas kau bakal mati!”
Tiba-tiba Hun Thian-hi menggapai ke samping, katanya, “Coba kau lihat siapa dia!”
Bagai dedemit tiba-tiba Pek-tok Lojin muncul di samping Hun Thian-hi. Sudah tentu bukan kepalang kejut Tok-sim-sin-mo, begitu hebat terguncang perasaannya sampai ia tersurut mundur. Sungguh tidak habis terpikir olehnya bahwa Pek-tok Lojin bakal bergabung dengan Hun Thian-hi untuk menjebol kurungan. Betapa jahat racun Pek-tok Lojin ia tahu betul, ditambah Wi-thian-cit-ciat-sek” Hun Thian-hi yang tiada taranya itu. mau tidak mau hatinya menjadi ciut dan gentar ketakutan.
Pek-tok Lojin batuk2 dua kali lalu menyeringai tawa, serunya, “Tok-sim-sin-mo selamat jumpa kembali! Aku akan bertindak menurut budi dan dendam. Cara bagaimana tempo hari kau perlakukan diriku, kurasa masih segar dalam ingatanmu bukan, sekarang tibalah saatnya aku membalas, akan kukupas pula kulit muka dan seluruh tubuhmu!”
Tok-sim-sin-mo melangkah mundur setindak saking ngeri mendengar ancaman orang. namun dasar licik ia masih main garang, jengeknya. “Jangan kau lupa, Jian-hud-tong berada dicengkeraman kekuasaanku. dalam waktu singkat bakal ada bala bantuanku yang datang, hati-hatilah kalian, setelah tiba saatnya bukan aku yang mati tapi adalah kalian yang mampus.”
Pek-tok Lojin melangkah maju mendesak ke arah Tok-sim-sin-mo, tiba-tiba kedua tangannya didorong ke depan menepuk ke arah lawan. Tok-sim menjengek dingin, kedua tangannya pun diangkat terus menyongsong ke depan merangsak juga ke arah Pek-tok Lojin.
Tiba-tiba Tubuh Pek-tok Lojin gentayangan seperti hampir roboh, dengan menggunakan langkah Ling-coa-poiu, tiba-tiba tubuhnya menyusup ke dalam angin pukulan musuh, kedua cakar tangannya langsung mengancam kemuka dan tenggorokan orang….
Pandangan Tok-sim-sin-mo menjadi kabur dan tahu-tahu Pek-tok Lojin sudah mendesak tiba di depan, hidungnya, keruan kejutnya seperti disengat kala, sebat sekali kakinya menjejak badannya lantas mencelat mundur ke belakang, tapi tak urung baju di depan dadanya kena tercengkeram robek oleh cakar Pek-tok Lojin.
Bergidik dan gemetar seluruh tubuh Tok-sim-sin-mo, bulu romanya berdiri merinding. Melihat kedua cakar tangan Pek-tok Lojin yang mempunyai kuku yang panjang dan runcing melengkung penuh ditaburi racun2 berbisa, hatinya menjadi dingin dan merinding. Dulu waktu Pek-tok Lojin melarikan diri, ia mengejar dan akhirnya kebentur mundur karena terdesak oleh siular kecil putih yang lihay sekali itu. Sekarang gerak-gerik aneh dan lucu itu sudah dapat dipelajari oleh Pek-tok Lojin, untuk menempur dan mengalahkannya dalam waktu dekat rasanya bukan soal gampang.
Pek-tok Lojin melangkah ke depan, sebaliknya Tok-sim-sin-mo mundur terdesak, Pek-tok Lojin mengejek, “Kiranya kau pun tahu rasanya ketakutan sekarang?”
Dalam pada itu Coh Jian-jo sudah memburu ke depan saling berpelukan dengan cucunya Coh Siau-ceng dan bertangisan gerung-gerung.
Cepat Hun Thian-hi berkata, “Sebentar lagi pasti ada orang datang, mari lekas kita mundur.”
Baru saja ucapannya selesai, didengarnya derap langkah orang banyak berlari mendatangi, Keruan Thian-hi terperanjat, tahu dia bahwa orang-orang yang tadi kena mereka tutuk jalan darahnya itu sekarang sudah keburu datang bersama kawan2nya yang lain.
Mendadak Tok-sim-sin-mo mendongak dan bergelak tawa. Pek-tok Lojin mendengus ejek, “Hidupku sudah kebacut hampa, tiada tujuan tiada keperluan, dan yang perlu kuperjuangkan hanyalah mencabut jiwamu! Anak buahmu datang pun tak berguna, yang terang kau bakal mampus ditanganku.”
Tok-sim-sin-mo memusatkan perhatian dan mengerahkan tenaga. dengan waspada ia hadapi musuh dihadapannya ini, sedikitpun tak berani lalai. soalnya bila dia mendapat kesempatan lebih dulu melancarkan dua kali serangan sudah pasti ia dapat mengambil inisiatif pertempuran, dari terdesak menjadi dipihak yang mendesak dan menang.
Tiba-tiba Pek-tok Lojin bergerak pula dengan langkah gentayangan dan badan berlegat-legot menyerupai gerak-gerik ular, begitu aneh ia bergerak tahu-tahu sudah melancarkan serangannya yang sangat berbahaya. Saking gentarnya Tok-sim-sin-mo mengembangkan kelincahan tubuhnya, sebat sekali ia berloncatan terbang, namun gerak gerik Pek-tok Lojin cukup lincah dan aneh pula, kemanapun Tok-sim-sin-mo melejit menghindar selalu diikuti dengan ketat, bagaimana juga ia tidak mampu lolos dari kejaran dan ancaman elmaut.
Seperti layaknya seekor anjing yang kepepet dan dihajar pun akan nekad berani melawan dan menggigit majikannya. Demikianlah keadaan Tok-sim-sin-mo, dalam ruang kamar yang tidak begitu besar ia menjadi kelabakan lari pontang-panting seperti tikus dipermainkan kucing, akhirnya ia nekad dan menghardik keras, berbareng kedua telapak tangannya memukul sekuat tenaga kemuka dan perut Pek-tok Lojin.
Mulut Pek-tok terdengar mengeram, tubuhnya berkelebat menghilang tahu-tahu melejit tiba di belakang Tok-sim-sin-mo, dengan cara penyerangan yang aneh, ia menyerang sambil membelakangi badan dan yang diarah adalah panggung Tok-sim-sin-mo pula.
Begitu mendadak merasakan angin kencang melandai dari belakang, lagi-lagi Tok-sim-sin-mo berjingkrak kaget dibuatnya, sebetulnya ia sudah siap melompat mundur bila serangannya tidak membawa hasil, dan sekarang terpaksa dia harus menghindar ke depan, memang keadaan yang tegang dan membahayakan jiwanya ini memaksa dia harus menjatuhkan diri ke depan.
Begitu Tok-sim-sin-mo roboh menyentuh tanah, Pek-tok mengira bahwa serangannya telah mengenai sasaran, ternyatalah Tok-sim cukup licik dan cerdik menghindar dengan cara yang tak terduga.
Keruan gusarnya bukan kepalang, dengan sengit ia angkat kakinya kanan terus mendepak ke belakang dan telak sekali tubuh Tok-sim kena didepak mencelat terbang, tanpa menghiraukan keadaan tubuh yang luka-luka Tok-sim berusaha mengendalikan tubuh mengerahkan tenaga untuk meluncur turun pula di tanah sehingga tidak terbanting jatuh.
Tatkala itu diluar kamar tahanan sudah penuh sesak berjubel anak buah Hek-liong-pang, diantara mereka terdapat Bing-tiong-mo-tho, Biau-biau-cu, Lan-bing-it-hiong dan lain-lain yang setingkat dengan mereka serta kaki tangannya, mereka berusaha menerjang masuk ke dalam kamar batu itu, namun tak berani sembarangan bertindak.
Sejenak Hun Thian-hi menerawang situasi, dengan tajam ia awasi mereka, ia insaf hari ini takkan terhindar dari pertempuran sengit, menang atau kalah sulit diduga pula sebelumnya.
Kebetulan Tok-sim-sin-mo melorot jatuh di sebelah samping kamar, tubuhnya sebelah kiri bagian yang kena didepak terasa kesemutan, seolah-olah seluruh tulang belulangnya sudah pecah dan berantakan, tapi ia masih bersyukur dalam hati, untung ia kena tedepak oleh kakinya Pek-tok Lojin, bila kena terpukul atau kesentuh tangannya, jiwanya pasti takkan dapat hidup lebih lama lagi.
Jarak tempat dimana ia berdiri dengan Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain kira-kira cuma tiga tombak. tapi dia tidak berani meloncat terbang langsung ke arah mereka. soalnya ia tahu luka-luka dalamnya tidaklah ringan, sedikit bergerak pasti dapat diketahui oleh lawan, apalagi bila Hun Thian-hi melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek menyergap dirinya di tengah jalan, celakalah dirinya.
Karena adanya perhitungan ini, sambil menahan sakit ia menyedot napas lalu berseru tertawa, “Kalian berempat hari ini jangan harap dapat lolos dari kamar batu ini!” — lalu ia mengumbar tawa gelak-gelak.
Hun Thian-hi mengawasi terus segala gerak-gerik lawan, ia tahu bahwa Tok-sim-sin-mo pasti terluka, entahlah berat atau ringan luka-lukanya itu, cara untuk dapat menyelamatkan diri cuma berusaha meringkus benggolannya ini dan dijadikan sandera baru mereka dapat melarikan diri.
Melihat Thian-hi mengamat-amati dirinya, rada bercekat Tok-sim-sin-mo, nelan2 kakinya bergerak menggelemet keluar, tiba-tiba ia mengulapkan tangan, memberi syarat kepada anak buahnya untuk mengepung dan meluruk ke arah mereka berempat.
Thian-hi kaget, sekarang ia yakin bahwa luka-luka Tok-sim-sin-mo pasti cukup parah kalau tidak masa dia nekad memberi perintah pada anak buahnya.
Dalam pada itu Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain sudah menubruk tiba, kontan Hun Thian-hi merasa bila ia tidak segera mencegat jalan mundur dan berusaha meringkus musuh utama ini, keselamatan mereka bakal terancam bahaya, kecuali secara mengadu untung dapat membekuk Tok-sim-sin-mo sebagai sandera untuk lolos, tiada cara lain lagi.
Cepat ia mengerahkan hawa murni dari pusernya, mulut bersuit panjang, berbareng seruling jadenya terlolos keluar terus teracung miring ke depan melancarkan Wi-thian-ci-ciat-sek, tabir perak terpancar cemerlang. dalam kamar batu itu terus menerjang ke arah Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya.
Memang tiada jalan lain kecuali tindakannya yang terpaksa ini, harapannya cuma begitu ia lancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, secepat itu pula Pek-tok Lojin dapat menyadari kemana tujuannya, disaat ia membendung serbuan dari luar, dengan kesempatan ini Pek-tok Lojin harus melaksanakan tugasnya membekuk Tok-sim-sin-mo, inilah jalan yang paling sempurna untuk mereka berempat lolos.
Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya bukanlah lawan lemah. sebelum Hun Thian-hi melancarkan serangannya, mereka sudah sama-sama melolos senjata, serempak sinar pedang berkelebat gemerlapan, kekuatan bergabung membendung serangan Hun Thian-hi yang hebat itu.
Dalam detik-detik yang sangat berharga itu, dalam waktu dekat Pek-tok Lojin tidak bisa menyimpulkan kemana tujuan Hun Thian-hi sebenar-benarnya, sambil menggerung keras ia melejit ke tengah udara terus menerjang ke arah pintu, niatnya membantu Hun Thian-hi namun ditengah jalan lantas ia sadar akan kesalahannya bertindak, cepat ia menekuk tubuh dan mencelat balik.
Dilain pihak begitu melihat Hun Thian-hi melancarkan serangannya yang hebat itu lantas Tok-sim-sin-mo dapat meraba kemana tujuan Thian-hi sebenar-benarnya, dasar cerdik sekilas berpikir saja lantas ia mendapat akal, tidak lari keluar sebaliknya ia menubruk ke arah Coh Jian-jo yang masih berpelukan dengan cucunya.
Sudah tentu Pek-tok Lojin menjadi kaget luar biasa, sungguh hatinya menyesal akan tindakannya yang salah langkah, kenapa tidak sejak tadi meringkus Tok-sim-sin mo saja.
Ternyata Tok-sim-sin-mo dapat bertindak selangkah lebih cepat, dimana tangannya meraih, Coh Jian-jo beserta cucunya kena diseret mepet dinding, dengan menyeringai ia berkata pada Pek-tok Lojin, “Berani kau maju selangkah kedua orang ini akan melayang jiwanya!”
Yang paling terkejut mendengar ancaman ini adalah Hun Thian-hi, ia mengeluh bahwa usahanya ternyata gagal di tengah jalan, Coh Jian-jo jatuh ke tangan musuh, apakah mereka berdua harus menyerah dan terima diringkus pula? Apalagi saat mana ia tengah menghadapi tekanan kekuatan besar dari sekelilingnya, setiap kali Wi-thian-cit-ciat-sek dikembangkan, cukup dalam pergeseran gerak serulingnya dalam jarak beberapa mili saja menyalurkan seluruh kekuatan Lwekangnya untuk menyerang musuh, tapi sekarang ia menghadapi tekanan gabungan dari para musuhnya yang teramat hebat dan kuat, sehingga tekanan yang hebat ini menyulitkan dirinya sampai Wi-thian-cit-ciat-sek sulit dikembangkan lebih lanjut.
Ia tahu dan insaf bahwa percaturannya telah kalah dan gagal, Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain pun melancarkan rangsakan yang lebih hebat, mereka berusaha menjebol kekuatan Wi-thian-cit-ciat-sek untuk menerjang masuk ke dalam kamar.
Tiba-tiba, berkelebat sebuah pikiran dalam benak Thian-hi. ‘Bukankah Tok-sim-sin-mo masih berada di dalam kamar itu pula, asal orang tidak sampai lolos keluar serta kuat bertahan membendung Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain tidak menerjang masuk, keadaan yang kaku dan sama bertahan ini, akan jauh lebih menguntungkan bagi harapan hidup mereka berempat.’
Sekilas memperoleh ilhamnya ini, Thian-hi serempak menghardik keras, seruling jadenya menggentak ke atas melancarkan sisa kekuatan Wi-thian-cit-ciat-sek yang belum selesai dilancarkan tadi, beruntung ia dapat mendesak Bing-tiong-mo-tho keluar kamar. mulutnya lantas berterlak, “Kalian dilarang masuk kamar, kalau tidak Pangcu kalian segera kubunuh tahu!”
Lawan2nya menjadi keder dan sesaat kebingungan.
Di belakang sana Tok-sim-sin-mo mengejek tawa, “Hun Thian-hi, kau harus tahu, Coh Jian-jo dan cucunya berada di tanganku, sembarang waktu aku dapat bikin mampus mereka!”
Dengan membelakangi Tok-sim-sin-imo. Thian-hi balas mengancam tanpa berpaling, “Masa kau berani?” suaranya begitu tegas dan penuh rasa kecongkakan, mau tak mau membuat Tok-sim-sin-mo bergidik dan merinding.
Tok-sim-sin-mo maklum bila Thian-hi melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek menyerang dirinya, pasti jiwanya bakal melayang, tapi dia mengeraskan kepala berseru ke arah Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain, “Kalian terjang masuk saja, dia takkan berani berbuat banyak!” — dalam berkata-kata itu ia sendiri menjadi ragu-ragu, bagaimana akibatnya nanti hal itulah yang ditakutkan.
Sementara Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain masih beragu, maju atau mundur mereka susah berkepastian. Ucapan Tok-sim-sin-mo seperti menganjurkan mereka menerjang masuk, tapi kedengarannya juga seperti menjajal reaksi Hun Thian-hi.
“Silakan kalian coba-coba.” demikian tantang Hun Thian-hi. Nadanya begitu tegas dan berwibawa, sehingga keberanian Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain untuk maju menjadi sirna.
Beruntun Tok-sim-sin-mo menjengek dua kali, ia sudah dapat menerawang situasi, pihaknya berada dalam posisi yang menguntungkan, Hun Thian-hi tidak lebih seperti binatang buas yang terperangkap dalam kurungan, setindak ia salah langkah begitu Hun Thian-hi nekad dan mengadu jiwa untuk gugur bersama. pasti runyam akibatnya. Sebenar-benarnyalah ia hanya menggertak saja, hakikatnya ia tidak suka menyuruh Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain menerjang masuk.
Menyusul ia menggoyangkan tangan memberi isyarat kepada Bing-tiong-mo-tho supaya tidak usah masuk kemari, matanya berkilat-kilat ia pandangi punggung Hun Thian-hi, sementara Pek-tok Lojin berdiri di samping sana mengawasi dirinya.
Tok-sim-sin-mo tahu untuk mencapai kemenangan secara gemilang terang tidak mungkin. Cara yang terbaik adalah bertahan seperti sekarang, disamping itu mencari daya upaya untuk tetap menahan Coh Jian-jo dan cucunya di lain pihak berusaha mengantar Hun Thian-hi dan Pek-tok Lojin keluar. Atau tetap menahan Pek-tok Lojin pula dan hanya melepas Hun Thian-hi seorang? Tapi soalnya cara bagaimana ia melaksanakan daya pikirannya ini. Ini tergantung cara bagaimana ia dapat menguasai situasi yang dihadapi sekarang.
Sebaliknya Hun Thian-hi seorang yang cerdik pandai, kalau Tok-sim-sin-mo dapat berpikir ke arah itu masa Hun Thian-hi tidak berpikir lebih sempurna, apa yang terpikir oleh lawan paling tidak dapat terpikir pula delapan sembilan bagian dari keseluruhan tujuan Tok-sim-sin-mo. Dalam hati ia sedang memperhitungkan, untuk mundur secara sempurna tanpa kurang suatu apa, kecuali ia menunggu sesuatu keajaiban yang bakal muncul secara kenyataan, untuk dapat keluar iapun harus menunggu perkembangan selanjutnya, tindakan apa yang akan dilakukan oleh Tok-sim-sin-mo.
Adalah Pek-tok Lojin yang paling menyesal, bila tadi ia bisa bertindak secara cermat dan berhasil membekuk Tok-sim-sin-mo, jelas mereka berempat pasti dapat keluar dengan selamat dan tidak kurang suatu apa, sekarang keadaan menjadi sama bertahan dan entah bagaimana perkembangan selanjutnya.
Tok-sim-sin-mo terus memutar otak mencari akal, tiba-tiba ia berkata, “Hun Thian-hi, ingatkah kau sekarang berada di Jian-hu-tong, disini adalah tempat kekuasaanku, kalau bertahan lebih lanjut, keadaan akan lebih memburuk bagi kalian!”
“Hal itu aku tidak banyak tahu dan tidak perlu tahu, yang terang sekarang kau berada dikekuasaanku. sembarang waktu aku dapat menghabisi jiwamu!”
Keruan Tok-sim-sin-mo menjadi berjingkrak gusar, “Kau berani?” seringainya geram.
“Kenapa tidak berani!” jengek Hun Thian-hi, “Yang mengganas dan bersimaharaja di dunia persilatan kau yang paling menonjol, kalau bisa melenyapkan manusia semacam kau, terhitung aku telah mendharma baktikan diriku bagi kepentingan masyarakat umumnya, seumpama harus berkorban akupun tidak perlu menyesal.”
“Mari, boleh kau coba-coba!” demikian tantang Tok-sim-sin-mo.
“Aku berani meluruk kemari sudah tentu tidak kuhiraukan keselamatan diriku, tapi bukan itu maksud tujuanku yang sebenar-benarnya!”
Selama bicara itu Hun Thian-hi tetap menghadap ke ambang pintu dan tidak memutar balik menghadapi Tok-sim-sin-mo,
Tok-sim-sin-mo menjadi mati kutu, ujarnya, “Manusia mana di dunia ini yang tidak takut mati? Bila aku mati, maka kalian berempat juga akan mampus dengan tiada tempat untuk mengubur kalian, orang mati takkan hidup kembali. dendam ayahmu belum lagi terbalas, kau harus berpikir pula sebelum mengambil keputusan terakhir!”
Mendengar ucapan yang terakhir terbayang dalam benak Thian-hi akan wajah Siau-bin-mo-in, tanpa merasa hatinya menjadi pilu. dilain kejap terbayang pula akan wajah Ma Gwat-sian, Ham Gwat. Mukanya masam terpengaruh oleh perasaan hatinya, sesaat ia menjadi terbungkam.
Biji mata Tok-sim-sin-mo berjelalatan, ia sedang meraba-raba jalan pikiran Hun Thian-hi, akhirnya pelan-pelan ia berkata lagi, “Apalagi kau satu-satunya ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek kau pula calon utama dari pimpinan kaum persilatan golongan kependekaran yang akan datang. Cuma Wi-thian-cit-ciat-sek pula yang cukup kuat dan berharga dapat menandingi Hui-sim-kiam-hoat yang hebat itu.”
“Apakah benar-benar seperti katamu?”
“Benar-benar atau tidak kau sendiri lebih paham dari aku!”
Secara langsung Hun Thian-hi merasakan akan kebenar-benaran kata-kata Tok-sim-sin-mo mengenai dirinya. Bukan mustahil pula Tok-sim-sin-mo sudah merebut serangka Badik buntung dari tangan Coh Jian-jo, sehingga ia berani begitu takabur, kalau tidak tentu dia akan mengukuhi pendapatnya semula dan tidak akan rela melepas dirinya pergi. Dan itu tidak akan menjadi hal yang mustahil pula bila dia sudah mengetahui rahasia Ni-hay-ki-tin itu.
Terdengar Tok-sim-sin-smo berkata pula, “Tapi kau pun harus ingat, bahwa kau merupakan musuhku yang paling utama inilah kesempatanku yang paling baik untuk melenyapkan kau dari muka bumi ini. Tapi selama hidup ini aku belum pernah ketemu tandingan yang setimpal, dan kau pulalah justru yang menjadi musuhku yang setanding. Sekarang dengan senang hati dengan kelapangan dadaku kulepas kau keluar, ingin aku mengadu segala kepintaran dan kecerdikan, kutantang kau untuk mengadu kekuatan dalam langkah-langkah selanjutnya, biarlah kenyataan yang menjadi wasit siapa lebih unggul atau asor!”
“Kau melepas aku, banyak terima kasih. Tapi kau harus tahu apakah aku sudi melepas kau?”
Terdengar Pek-tok Lojin yang berdiam sejak tadi tertawa terloroh-loroh, selama ini hatinya selalu bersitegang leher. Ia kuatir kalau Hun Thian-hi tinggal pergi begitu saja. tanpa hiraukan pula dirinya, sebagai ahli waris Wi-thian-cit-ciait-sek tidak mungkin ia bisa menjadi korban secara konyol di tempat ini, betapapun hatinya akan penasaran sekali sekarang setelah mendengar ucapan Hun Thian-hi, mau tak mau ia memuji dan merasa kagum akan sikap Thian-hi, lain hal bila dirinya lolos dulu lebih penting, soal membalas dendam baiklah diperhitungkan kelak.
Saking gusar Tok-sim-sin-mo sampai membanting kaki seraya menggeram, serunya, “Kecuali kau ingin melihat Coh Jian-jo dan cucunya kupukul mampus, Kalau tidak kuperingati kepada kau jangan sembarang bergerak!”
Coh Jian-jo tertawa getir dengan penuh kesedihan, serunya, “Hun-siauhiap jangan kau hiraukan aku, aku sudah tua renta tak berguna lagi. tapi berulangkali menyulitkan Hun-siauhiap saja!”
“Coh Jian-jo!” bentak Tok-sim-sin-mo, “Jangan lupa pada cucumu perempuan.”
Bergetar badan Coh Jian-jo, ia melirik melihat ke arah cucunya perempuan, tampak dengan lemah dan penuh ketakutan cucunya sedang angkat kepala memandang ke arah dirinya, cepat Coh Jian-jo tertunduk, katanya dengan suara lirih tak bertenaga, “Aku kuatir justru sekarang kau tidak berani mengganggu usik seujung rambutnya pun!”
Tok-sim-sim-mo terkekeh menyeringai mengunjuk gigi2nya yang sudah banyak ompong sekali gentak ia dorong cucu Coh Jian-jo tersungkur jatuh di tanah. Tapi gadis remaja itu tidak mengenal takut malah. dengan mata mendelik dan berapi-api penuh kebencian ia mendeliki Tok-sim-sin-mo.
Berubah hebat air muka Coh Jian-jo, tak tertahan lagi air mata mengalir deras, ia berteriak dengan suara gemetar dan tersendat, “Siau-ceng! Siau-ceng!” betapa pedih dan pilu rasa hatinya.
Tiba-tiba Hun Thian-hi membalikkan badan. matanya mendelik tajam ke arah Tok-sim-sin-mo, begitu biji mata Tok-sim-sin-mo bentrok dengan sorot mata tajam Hun Thian-hi, kontan ia merasa bulu tengkuknya merinding, badan gemetar.
Sekilas memandang ke arah Coh Siau-ceng Hun Thian-hi lalu berkata dengan suara berat, “Agaknya kau suka memilih untuk gugur bersama dalam kamar ini bersama Kita? Jangan kau beranggapan setelah kubunuh kau lantas kita tak mampu keluar, seumpama memang tidak berhasil, paling tidak anak buah Hek-liong-pang pasti banyak yang menjadi pengiring kita!”
Tok-sim-sin-mo menyeringai lebar, sekarang hatinya lebih mantap bahwa Hun Thian-si sudah merasakan punya pertanggungan jawab yang besar, maka ia berkata dingin, “Sangkamu setelah kau bunuh aku kalian masih bisa keluar? Meski Wi-thian-cit-ciat-sek sangat hebat, paling-paling kau baru mempelajari kulitnya belaka, masa kau ingin merebut kemenangan, masih terpaut terlalu jauh!”
Tergerak hati Thian-hi, diam-diam ia mengeluh dalam hati, bila Tok-sim-sin-mo diberi angin dan berada di atas angin dalam perang urat syaraf ini, sungguh konyol dan memalukan, pelan-pelan dengan sikap dingin membeku ia mengacungkan seruling jadenya.
Tok-sim-sin-mo juga tidak mau unjuk kelemahan, pelan-pelan ia menggeser kaki kirinya mendekat ke arah Coh Siau-ceng, maksudnya bila Hun Thian-hi berani maju selangkah atau banyak bertingkah, Coh Siau-ceng akan segera diinjaknya mampus.
Biji mata Hun Thian-hi tidak tenang, sanubarinya sedang bergejolak menghadapi suatu pertempuran lahir dan batin, darah seperti berontak dalam rongga dadanya, diam-diam ia berkeputusan dalam hati, hanya jalan satu-satunya itulah yang harus ditempuh, atau paling sedikit pihak sendiri harus berkorban dua orang, betapapun dalam saat begini dirinya pantang mengunjuk kelemahan.
Seruling jade ditangan Thian-hi semakin terangkat tinggi. Semua orang yang hadir sama menahan napas dan tutup mulut, perhatian semua orang terhanyut oleh ketegangan yang melingkup sanubari mereka.
Pek-tok Lojin berkilat biji matanya, diam-diam ia menerawang situasi sekeliingnya, kegagalannya tadi merupakan suatu pengalaman pahit yang harus ditebus mahal dengan perkembangan yang berbuntut seperti keadaan sekarang ini, maka sekarang ia harus meningkatkan kewaspadaannya, ia harus menjaga dan bila perlu mengadu jiwa andaikata Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain menerjang masuk.
Coh Jian-jo sudah tak kuasa berdiri lagi, matanya dipejamkan dengan mengalirkan air mata, kaki Tok-sim-sin-mo sudah terangkat tinggi di atas jidat Coh Siau-ceng, Coh Siau-ceng sendiri rebah celentang tak bergerak, kedua biji matanya dengan penuh ketekadan dan keberanian yang menyala-nyala mendelik kepada Tok-sim-sin-mo.
Rona wajah Hun Thian-hi memperlihatkan keteguhan hatinya, tiba-tiba mulutnya bersuit melengking panjang, pergelangan tangannya rada ditarik menekan kebawah.
Sekonyong-konyong Tok-sim-sin-mo merasakan hatinya seperti tertekan berat dan dilumuri ketakutan yang luar biasa, ia yakin benar-benar seyakin2nya bahwa Hun Thian-hi tidak akan berani melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, tapi ia tidak kuasa menerima rasa ketakutan yang luar biasa ini, memang gampang saja bila dia mau sedikit tenaga saja cukup menamatkan jiwa Coh Siau-ceng, namun ia tidak berani membayangkan apa akibat dari perkembangan selanjutnya.
Seluruh tubuhnya menjadi basah kuyup oleh keringatnya dingin, tiba-tiba ia berseru keras, “Nanti dulu!”
Hun Thian-hi menunda gerakan tangannya, telapak tangannya pun sudah basah oleh keringat, dia sendiri juga menyadari akibat apa yang bakal dihadapi, soalnya keadaan sudah kepepet kecuali ia berani bertindak secara drastis pihaknya tidak akan menang.
Disebelah sana Tok-sim-sin-mo sudah menarik turun kakinya, baru pertama kali ini ia kena dikalahkan dalam situasi yang tegang ini, ia menjadi patah semangat dan lesu serta uring-uringan, katanya menjengek, “Hari ini terhitung kau yang menang, apa maumu? Coba kau katakan!”
“Mari kita adakan pertukaran yang adil, kami tidak akan mempersukar kau, dan kaupun harus melepas kami berempat keluar dari Jian-hud-tong!”
“Apakah pertukaran ini kau anggap adil?”
“Dengan mempertaruhkan jiwa ragamu, masa kurang setimpal?”
“Aku tidak punya jiwa yang sedemikian besar dan berharga!”
Thian-hi terdiam, ia tahu bahwa Tok-sim-sin-mo tidak akan mau menyetujui usulnya, ia lantas berpikir, bila tadi waktu berada di atas angin lantas aku bertindak lebih lanjut mungkin hasilnya bakal diluar dugaan.
Maka dengan tertawa tawar ia berkata, “Akupun tahu kau tidak setimpal dan tidak berharga bagi aku, tapi masa tidak berharga bagi kau sendiri?” terkilas senyum dikulum mulutnya.
“Jangan kau lupa Coh Jian-jo dan cucunya masih berada digenggamanku, bila kau tidak merasa gentar dan memikirkan keselamatan mereka, cobalah sekarang kau bertindak!”
“Agaknya kau memang keras kepala dan mengukuhi pendapatmu, tidak menjadi soal untuk mencobanya sekali lagi!”
Tok-sim-sin-mo mengawasi Hun Thian-hi dengan cermat, dalam hati ia mereka-reka, apakah kata-kata Hun Thian-hi betul-betul berani dilaksanakan ataukah melulu gertakan sambel belaka? Kalau dirinya mengukuhi dan tak mau mengalah, apakah dia bakal berlaku nekad tanpa memikirkan akibatnya? Dia tenggelam dalam pemikiran dan pertimbangan, soalnya gebrak selanjutnya merupakan langkah yang menentukan bagi mati hidupnya.
Sementara Hun Thian-hi sendiri juga sedang menerawang, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Tok-sim-sin-mo, akhirnya ia bersuara, “Suheng Ka-yap Cuncia yang bergelar Ah-lam Cuncia sekarang sudah muncul, ilmu silatnya pun sudah pulih kembali, kau tak usah menguatirkan aku tiada seorang yang dapat menguasai Bu-bing Loni, bila Ah-lam Cuncia sudi mengulurkan tangannya, dua orang Bu-bing Loni juga tidak perlu ditakuti lagi!”
Bercekat hati Tok-sim-sin-mo, sedapat mungkin ia tekan gejolak hatinya supaya tidak sampai kentara pada roma wajahnya, ia berpikir sekarang tinggal beberapa langkah permainan caturku saja bila terus kujalankan, dunia persilatan bakal geger, soalnya cara bagaimana ia bisa keluar dengan selamat dan tidak kurang suatu apa.
Teringat akan langkah-langkah permainannya Tok-sim-sin-mo jadi menyesal, kenapa ia pancing Hun Thian-hi ke tempat Pek-tok Lojin, sekarang segala rencananya semula gagal total malah. Begitulah ia berpikir2, mendadak ia tersentak sadar kenapa aku berpikiran tidak karuan, yang penting bagaimana aku harus menghadapi kenyataan di hadapanku ini?
Maka ia angkat kepala meanandang ke arah Hun Thian-hi, Katanya kalem, “Kalau begitu bila kulepas kau, bukankah keselamatan jiwaku malah terancam bahaya?”
“Lalu bagaimana menurut kemauanmu?”
“Kau seorang tokoh Bulim kelas wahid, demikianlah aku pula, mari jadikan pertukaran antara aku dan kau saja, akan kuantar kau keluar dari Jian-hud-tong!”
“Demikian saja?” ejek Hun Thian-hi. “Umpama usulmu ini kuterima, apakah kau tidak beranggapan tindakanmu ini malah lebih menguntungkan bagi aku?”
Tok-sim-sin-mo terbungkam. diam-diam ia mengakui akan kecerdikan Hun Thian-hi, sungguh ia merasa kaget dan heran akan diplomasi Hun Thian-hi yang cukup lihay ini, sesaat ia menjadi terbungkam tak kuasa menjawab.
Hun Thian-hi menarik muka lalu melanjutkan, “Menguntungkan bagi aku, tapi sangat tidak adil bagi mereka bertiga!” — Lalu ia tuding ke arah Pek-tok Lojin, sambungnya, “Bila kau bikin dia gusar, lalu menyerang pula kepada kau aku yakin kau bakal konyol pada detik-detik yang mendatang!” ia menyeringai dingin dan sinis, katanya pula, “Kalau begitu bukankah kau terlebih rendah menilai dirimu sendiri?”
“Agaknya kau tidak sudi gugur bersama, marilah kita cari jalan atau penyelesaian lainnya. Marilah kita bicara terus terang. dan sebelumnya perlu kutandaskan bila mau kulepas paling banyak cukup dua orang saja, yaitu kau dan Pek-tok Coh Jian-jo berdua harus tetap tinggal disini, aku masih memerlukan tenaga mereka.”
Hun Thian-hi tertawa besar serunya, “Sungguh menggelikan ucapanmu ini, kalau begitu kami menjadi kena dirugikan seorang. tadi bila kami bertiga tidak muncul kemari bagaimana kau selanjutnya?”
“Bicaramu jangan begitu muluk2, seumpama kalian tidak kemari, betapapun tidak mungkin kalian bisa keluar dengan selamat dari gua ini, apa lagi bertiga!”
“Belum tentu, aku mampu menolongnya keluar sudah tentu aku punya caraku untuk mengantarnya keluar!”
Tok-sim-sin-mo terdiam lagi. dalam hati ia sudah berkeputusan untuk bertindak menurut rencananya, kalau tidak ia bakal kehilangan segala miliknya. Andai itu sampai terjadi sungguh merupakan Suatu hal yang luar biasa.
Hun Thian-hi tertawa tawar pula, katanya, “Kenyataan aku telah muncul bers;ma. malah terkurung di dalam kamar batu ini, tujuanku kemari demi tolong Coh Jian-jo tapi tidak berhasil. Musuh sasaran yang utama adalah aku, menurut hematku biarlah aku saja yang tinggal disini dan biarkan mereka bertiga keluar, bagaimana?”
Dengan gusar Tok-sim-sin-mo terkekeh dua kali, ujarnya, “Bicara terus terang tindakkanmu ini hanya cuma merintangi aku supaya Ni-hay-ki-tin tidak terjatuh ketanganku bukan!”
Ia merendek sebentar, ujung mulutnya Menyungging senyum sinis lalu menyapu pandang ganti berganti antara Hun Thian-hi dan Pek-tok Lojin, katanya, “Tudiuanku hari ini adalah untuk menemukan Ni-hay-ki-tin itu, jikalau aku bisa memperoleh Ni-hay-ki-tin apa pula yang perlu kutakuti terhadap kalian. Jikalau sebaliknya akupun sudah insaf sulit untuk dapat bercokol selamanya di Bulim. harapanku terlalu kecil. Maka aku harus menahan Coh Jian-jo berdua disini, kalian berdua boleh silakan pergi.”
“Enak benar-benar kau putar bacot, ketahuilah seluruh manusia dikolong langit ini tidak akan mandah membiarkan kau melaksanakan angan2mu yang gila itu.”
“Sekarang aku bisa memberi kelonggaran dengan langkahku yang terakhir. cucu Coh Jian-jo ini boleh kau bawa serta, tapi aku tidak akan mengalah lagi, coba kau pikir2 dulu!”
Hun Thian-hi maklum setelah mengalah dan memberi kelonggaran sedemikan banyak, betapapun Tok-sim-sin-mo tidak akan sudi mundur lagi, lalu bagaimana ia harus bertindak selanjutnya?
“Hun-siauhiap!” seru Coh Jian-jo biji matanya berkilat-kilat, “Sudah kau setujui saja, aku tidak akan membocorkan rahasia Ni-hay-ki-tin itu kepadanya!”
Hun Thian-hi menunduk, hatinya merasa hambar, ia tahu bahwa penyelesaian inilah yang paling sempurna bagi mereka berdua, iapun yakin bahwa Coh Jjan-jo tidak bakal membocorkan’ Ni-hay-ki-tin kepada Tok-sim-sin-mo, tapi bila ia harus tinggal pergi begini saja, betapapun hatinya tidak tenteram.
Waktu ia menunduk sorot mata Coh Siau-ceng justru bentrok dengan pandangannya, sinar matanya penuh mengandung permohonan, meski ia tidak bicara, tapi rasanya ia memohon supaya Hun Thian-hi cepat bertindak.
Hun Thian-hi masih beragu sesaat lamanya, akhirnya ia angkat kepala ke arah Tok-sim-sin-mo.
“Bagaimana?” tanya Tok-sim-sin-mo dengan pandangan dingin.
“Apa boleh buat akhirnya Hun Thian-hi manggut-manggut, baru saja ia manggut lantas ia merasakan suasana yang ganjil, dilihatnya sorot mata Tok-sim-sin-mo begitu terpengaruh oleh perasaan hatinya, apakah dia mempunyai muslihat keji? Atau mungkin dia punya pegangan untuk mengompes Coh Jian-jo supaya membocorkan rahasia Ni-hay-ki-tin itu? Dengan nanar ia pandang Tok-sim-sin-mo.
Tampak biji mata Tok-sim-sin-mo mengunjuk sinar aneh dan kejut. secara tiba-tiba pula Hun Thian-hi merasa ada seseorang telah berada diambang pintu kamar. sigap sekali ia membalikkan tubuh.
Muncul sebuah bentuk manusia yang sangat dikenalnya. hatinya berdetak keras. orang ini muncul disini secara mendadak. keruan hatinya sangat kaget.
Jang lebih terkejut justru Tok-sim-sin-mo. ia berdiri melongo dan mematung tanpa bergerak. otaknya sedang diperas untuk mencari daya untuk menghadapi situasi yang berkembang lebih lanjut ini.
Waktu Hun Thian-hi membalik tubuh menengok ke belakang tanpa merasa iapun ikut terkejut. yang datang ini ternyata bukan lain adalah Mo-bin Suseng, atau mungkin pula Hwesio jenaka, karena bentuk dan wajahnya mirip benar-benar dengan Ngo-sing alias Siau-bin-mo-in yang telah meninggal belum lama berselang.
Tok-sim-sin-mo tidak tahu siapakah orang yang baru datang ini, cuma sudah jelas bahwa orang adalah musuh dan bukan kawan, otaknya bekerja cepat, diam-diam ia mencari akal untuk menghadapi perkembangan yang tak terduga ini.
Mendadak Ham Gwat dan Su Giok-lan juga ikut muncul. Sebenar-benarnya hati Hun Thian-hi teramat kejut dan heran sekali, ia tahu bahwa Mo-bin Suseng berada di sekitar Jian-hud-tong, selama ini belum pernah muncul lagi, maka sembilan puluh persen dapatlah diyakinkan bahwa manusia cebol tambun ini adalah Mo-bin Suseng adanya. Tapi setelah melihat Han Gwat dan Su Giok-lan ikut muncul, baru ia sadar bahwa orang ini tentu Hwesio jenaka adanya, keruan hatinya sangat senang dan mantep.
Kalau pikiran dan hati Hun Thian-hi menjadi tenang dan mantap sebaliknya Tok-sim-sin-mo semakin gentar ketakutan, Su Giok-lan dan Ham Gwat sama adalah murid Bu-bing Loni, entah apakah maksudnya mereka muncul di tempat dan diwaktu yang genting ini, dirinya terluka cukup parah, musuh berada di sekelilingnya lagi, dengan ditambah mereka berdua keadaan dirinya semakin terjepit dan lebih berbahaya.
Sekilas melihat situasi dalam kamar lantas Ham Gwat dapat merasakan keadaan yang menyulitkan. Tapi dengan kedatangan bala bantuan mereka berdua posisi Hun Thian-hi sekarang menjadi lebih menguntungkan, cuma Tok-sim-sin-mo terang semakin kukuh menggunakan Coh Jian-jo dan cucunya sebagai sandera untuk mengancam mereka.
Su Giok-lan bergerak hendak bertindak, cepat Ham Gwat menarik tangannya, diam-diam Hwesio jenakapun sudah hampir bertindak, tapi melihat isyarat Ham Gwat lantas ia maklum kemana juntrungannya, ia batalkan niatnya.
Dengan sikap dan raut wajahnya yang memang dingin Ham Gwat maju selangkah, ia berdiri tegak dan tak bicara, sedikit banyak ia sudah paham akan situasi dalam gelanggang, namun dalam sesingkat ini ia belum berani mengambil keputusan, apalagi bagaimana duduk perkara sebenar-benarnya ia belum jelas, maka lebih baik bersikap diam untuk menumpas segala pergerakan, biarlah salah satu pihak diantara kedua belah pihak ini bicara baru dirinya ikut menimbrung dan bersiap cara bagaimana ikut terjun dalam persengketaan ini.
Tok-sim-sin-mo sendiripun seorang yang cerdik pandai, sedikit menerawang lantas ia tahu diantara tiga orang pendatang baru ini, adalah Ham Gwat yang menjadi pentolannya, otaknya terus bekerja mencari akal untuk memecahkan situasi yang Semakin menjepit dirinya. Tapi sebetulnya apa yang hendak dilakukan oleh Su Giok-lan? Dimana pendirian dan kemana tujuan mereka? Inilah pertanyaan yang ingin diketahui.
Setelah meneliti sebentar, lantas ia buka bicara kepada Ham Gwat, “Apakah kalian kemari untuk menolong Hun Thian-hi?” — dengan cermat ia awasi air muka Ham Gwat. dengan pancingannya ini ia ingin mengetahui dimana pendirian Ham Gwat, bila Ham Gwat benar-benar hendak menolong Hun Thian-hi, maka kedudukannya jelas berlawanan dengan dirinya, maka dengan adanya Coh Jian-jo berdua sebagai sandera ia harus cepat-cepat berlindung keluar. Bila mereka punya tujuan lain, maka perlulah ia berpikir lebih lanjut bagaimana ia harus menghadapi mereka pula.
Memang muka Ham Gwat selalu kaku dingin tanpa expresi, laksana kilat otaknya berputar menerawang, pertanyaan Tok-sim-sin-mo adalah pancingan untuk mengetahui tujuan kedatangan mereka bertiga, otaknya dengan cermat memikirkan berbagai jawaban dan berbagai akibatnya pula, bila dia menjawab begini, bagaimana pula akibatnya?
Semua berkelebat cepat sekali dalam benaknya, ia harus mencari suatu jawaban yang cukup diplomatis supaya Tok-sim-sin-mo tidak tahu bahwa kedatangannya tidak punya maksud tertentu.
Terpikir olehnya segala peristiwa dan kejadian sejak Su Giok-lan meninggalkan Jian-hud-tong ini, maka pelan-pelan ia lantas berkata, “Kudengar katanya serangka Badik buntung terjatuh di tangan Ling-lam-kiam-ciang, kuluruk kemari untuk memintanya kembali!”
Tok-sim-sin-mo menggeram dalam mulut, otaknya pun bekerja keras mempertimbangkan kebenar-benaran jawaban Ham Gwat ini, benar-benarkah Ham Gwat kemari karena serangka Badik buntung? Masa tujuannya pun hendak mendapatkan Ni-hay-ki-tin itu? Segera ia dapat meneguhkan jawabannya yang terakhir ini, maka dengan menyeringai ia bertanya, “Apakah gurumu yang suruh kau kemari?”
Sejak tadi Ham Gwat sudah meraba. Mungkin sejak Su Giok-lan meninggalkan Jian-hud-tong, Tok-sim-sin-mo pun kebetulan sampai kembali di Jian-hu-tong, dan menemukan Badik buntung berada ditangan Coh Jian-jo. Maka dengan situasi yang dihadapi sekarang, jelas sekali yang paling diberati oleh Tok-sim-sin-mo melulu adalah Coh Jian-jo seorang yang harus tetap tinggal. soalnya cuma dia seorang yang mengetahui rahasia dalam Badik buntung itu, jikalau bisa mendapatkan Ni-hay-ki-tin, tak perlu lagi ia takut menentang seluruh kaum persilatan di dunia ini.
Agaknya rekaannya sebagian besar tepat, segera ia memikirkan tindakan lebih lanjut, cara bagaimana kedatangan mereka bertiga bisa membawa manfaat yang paling mengesankan.
Ham Gwat menyambung pula dengan suara kalem, “Banyak bertanya tiada manfaat bagi kau. Guruku tidak datang tapi kau harus tahu, sekarang aku minta orang dan minta serangka pedang itu dari tanganmu, apa yang akan kau lakukan dan bagaimana akibatnya, kukira kau sudah maklum!”
Memang keadaan semakin runyam dan menyulitkan bagi Tok-sim-sin-mo. Tujuan Ham Gwat bukan menolong Hun Thian-hi, tapi justru demi Coh Jian-jo pula, ia insaf sangat fatal akibatnya bila main keras dengan Ham Gwat, tapi bagaimana juga ia tidak rela menyerahkan Coh Jian-jo apalagi serangka Badik buntung itu, lalu bagaimana baiknya? Otaknya harus diperas dan bekerja keras untuk memecahkan situasi yang serba kontras bagi dirinya ini.
Untuk mengulur waktu segera ia meng-ada2 bertanya kepada Ham Gwat, tapi tangannya menuding
Hwesio jenaka, “Entah siapakah”
Hwesio jenaka meringis lebar, serunya, “Jangan kau bertanya siapa aku, aku toh tidak utang apa-apa pada kau, lebih penting kau lekas jawab pertanyaan penting tadi, apa yang hendak kau lakukan hayo lekas jawab!”
Tiba-tiba tergerak hati Tok-sim-sin-mo, mereka bertiga tidak sejalan dengan Hun Thian-hi, tapi tujuan mereka sehaluan sama hendak menolong Coh Jian-jo, kenapa tidak kuadu domba mereka dulu, setelah mereka berhantam sampai keletihan, keadaan selanjutnya bukankah jauh sangat menguntungkan bagi diriku? Segera ia angkat bicara, “Soalnya aku sudah terluka parah, terjepit pula oleh Hun Thian-hi, aku tak kuasa ambil keputusanku sendiri, kalau kau ingin jawaban silakan kau tanya dia, bila ia setuju, aku pun tak perlu banyak bacot lagi!”
Terpikir olehnya bahwa Bu-bing Loni merupakan musuh kebujutan Hun Thian-hi, betapapun tak mungkin menyerahkan Coh Jian-jo kepada Ham Gwat soalnya permainanku semula sudah salah langkah sehingga seluruh percaturan ini kalang kabut, seolah-olah aku terjerambab masuk ke dalam jebakan yang kugali sendiri.
Dalam pada itu Hun Thian-hi tersenyum tawar, katanya, “Terima kasih akan kebaikanmu untuk menyerahkan Coh Jian-jo kepadaku, tapi entahlah kau memang bertujuan baik ataukah cuma tipu daya belaka!”
“Jangan kau kira dengan kata-katamu ini kau hendak membakar kemarahan orang, orang lain tidak berpikiran begitu goblok seperti otakmu yang tumpul itu!”
Ham Gwat segera menimbrung, serunya, “Persetan dengan pertikaian kalian, yang terang Coh Jian-jo dan serangka Badik buntung harus segera diserahkan kepadaku!”
“Tapi harini aku tak kuasa lagi!” demikian ujar Tok-sim-sin-mo, lalu ia berdiri minggir kesamping serta melepas tangan Coh Jian-jo, dalam hati diam-diam ia bersorak, ingin ia saksikan Hun Thian-hi dan Ham Gwat dua generasi muda yang sama-sama tokoh kelas wahid, yang satu ahli waris Hui-sim-kiam-hoat yang hebat, dan yang lain adalah ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek, biarlah mereka sama bertanding mengadu kepandaian, ingin aku menyaksikan siapakah sebenar-benarnya lebih unggul dan asor.
Setelah ia lepas tangan dan menjauhkan diri ia ulapkan tangan menyuruh Bing-tiong-mo-tho memecah diri kedua samping. Ham Gwat lantas melangkah masuk ke dalam kamar sekarang dia berhadapan dengan Hun Thian-hi, pandangan mereka sama berkilat memancarkan sorot aneh yang menakjupkan.
Pandangan Hun Thian-hi langsung mengawasi Ham Gwat, dilihatnya orang begitu agung, sederhana dan cukup berwibawa, selamanya belum pernah ia mengawasi orang secara langsung begitu jelas dan cermat, laksana sebuah patung dewi yang membuat ia bertekuk lutut dan memujanya.
Mereka berdiri mematung sekian lamanya tak bergerak dan sama bersikap aneh, masing-masing melayangkan pikirannya kembali ke alam yang sudah silam. Lambat laun Tok-sim-sin-mo melihat keganjilan sikap mereka, timbul kecuriagannya, namun cuma sekilas saja karena ia menyangka kedua belah pihak tak berani memandang enteng musuh. keadaan mana sering dilihat sebelum pertempuran sengit antara dua tokoh tingkat tinggi berlangsung. Sungguh diluar tahunya bahwa diantara mereka sebenar-benarnya sudah terjalin tali asmara yang semakin mendalam dan terikat semakin kencang.
Sesaat lamanya baru terdengar Ham Gwat membuka suara dingin, “Sekarang Coh Jian-jo berada di tanganmu, apa kau mau kata?”
Perasaan Hun Thian-hi menjadi hambar, dia tidak tahu apa yang terpikir oleh Ham Gwat, sebab ia tahu keadaan Tok-sim-sin-mo cukup kepepet dan hanya dapat bergerak dalam lingkungan yang terbatas, kalau tidak mungkin sejak tadi ia sudah keluar melarikan diri.
Melihat keraguan sikap Hun Thian-hi, Ham Gwat menjengek dingin, katanya, “Apa pula yang perlu kau katakan?”
Thian-hi tahu Ham Gwat terlalu jauh dan panjang menilai persoalan disini, tapi ia segan menghalangi maksud dan segala sesuatu yang telah dipikirkan oleh Ham Gwat, maka dengan tertawa tawar ia berkata, “Ni-hay-ki-tin merupakan incaran setiap insan manusia, umpama Bu-bing Loni sendiri datang pun aku tidak takut, masa aku gentar menghadapi kau!”
“Aku belum pernah belajar kenal Wi-thian-cit-ciat-sek marilah kita buktikan apakah Hui-sim-kian-hwat lebih unggul atau wi-thian-cit-ciat-sek lebih hebat!”
Hati Tok-sim-sin-mo menjadi mendelu dan keheranan, nada tanya jawab kedua orang agaknya ngelantur semakin jauh dari persoalan, tanya jawab mereka kedengarannya memang saling mengancam, tapi jelas sekali menyimpang dari adat dan kebiasaan sepak terjang mereka pada umumnya. Terutama watak Thian-hi berbeda dengan biasanya, jika menurut rekaannya, Hun Thian-hi pasti tidak akan mengalah dan memberi angin pada lawannya, malah bukan mustahil minta kembali sekalian Badik buntung dari Ham Gwat. Tapi apa yang disaksikan sekarang jauh menyimpang dari dugaannya yang sebenar-benarnya.
Sekilas Thian-hi melirik ke sekitarnya, dilihatnya sorot mata Tok-sim-sin-mo yang tajam, sedang mengawasi mereka, ia tahu bahwa pandangan orang hendak menembus isi hati atau sikapnya, tapi perkembangan selanjutnya membuat hatinya semakin tabah, memang ia ingin benar-benar Tok-sim-sin-mo mengumbar adatnya bila perlu memancing kemarahannya malah.
Ham Gwat sendiri juga merasa was-was, bila sandiwara mereka berdua kali ini sampai konangan oleh Tok-sian-sin-mo pasiti akan terjadi pertempuran sengit secara terbuka.
Terdengar Hun Thian-hi tiba-tiba bergelak tawa lantang, “Kalau kita berdua berhantam. disini bukankah menguntungkan Tok-sim-sin-mo malah?”
Diam-diam Tok-sim-sin-mo mengumpat dalam hati, secara tidak langsung ucapan Thian-hi memutar balik mengadu domba antara dirinya dengan Ham Gwat. dan memang itulah tujuan Tok-sim-sin-mo, terpaksa ia menjengek dengan gusar, “Apa kau takut?”
Ham Gwat tahu bahwa maksud Thian-hi mendesak supaya Tok-sim-sin-mo memberi peluang pada mereka untuk bertempur keluar gua. Ia diam-diam saja, biji matanya berputar mengawasi To-sim-sin-mo.
Bercekat hati Tok-sim-sin-mo, ia menjadi gentar bila Ham Gwat sampai berbalik memusuhi dirinya,
Dalam Jian-hud-tong di mana-mana tempat banyak dipasang berbagai alat rahasia yang bisa menembus kesegala penjuru, cuma kamar batu tempat tahanan Coh Jian-jo inilah yang terkecuali, bila disini dipasang pula pintu2 rahasia tentu sejak lama Coh Jian-jo sudah merat menghilang.
“Jikalau kalian kurang lega,” demikian kata Tok-sim-sin-mo, “Mari kuantar kalian keluar, lapangan diluar gua sana cukup besar.”
“Sepanjang jalan ini ada terpasang berbagai alat2 dan pintu rahasia, cara bagaimana kita harus berjaga-jaga dari akal licikmu?” demikian jengek Thian-hi
Tok-sim-sin-mo tertawa panjang, ujarnya, “Kalian mengharap berhantam diluar gua, tapi tidak berani keluar, apakah kau punya cara lain yang lebih sempurna?”
“Benar-benar,” sahut Thian-hi lantang, “Kau ingin kami bertarung maka kau sendiri pun perlu mempertaruhkan dirimu sebagai sandera, marilah kau saja yang melindungi kita beramai sampai di luar gua?”
Usul Thian-hi ini cukup pelit, bila dirinya tidak mau menandakan bahwa dirinya tidak tulus hati, bila sebaliknya menyetujui seakan-akan sengaja hendak mengadu mereka bertempur mati-matian, apalagi sekarang dirinya di bawah belenggu Thian-hi, siapa tahu peristiwa apa pula yang bakal terjadi selanjutnya? Akibatnya itulah yang menyulitkan untuk dipikirkan, dengan terlongong ia menepekur, ia menemui kesulitan untuk menjawab.
‘Kau takut apa?” ejek Thian-hi, “Bila aku mau bertindak terhadap kau sejak tadi aku sudah turun tangan, seumpama sekarang aku bertindak pada kau apa pula yang dapat kau lakukan?”
Ucapan Thian-hi memang bukan bualan, bila Thian-hi sekarang turan tangan. Ham Gwat pasti tinggal berpeluk tangan menjadi penonton saja. Sesaat ia terbungkam.
Adalah hati Ham Gwat bercekat malah, baru sekarang ia menyadari bahwa kamar batu ini ternyata tiada terpasang alat2 rahasia, jadi sejak tadi bahwasanya Tok-sim-sin-mo sudah menjadi bulus yang terkurung di dalam gentong, hampir saja tadi dirinya melepasnya keluar,
Berkilat biji mata Tok-sim-sin-mo, ia semakin merasa situasi semakin buruk dan tidak menguntungkan bagi dirinya. Ia insaf bila Ham Gwat dan Thian-hi sampai bergabung mengeroyok dirinya, jelas jiwanya takkan tertolong lagi, lapat-lapat teraba olehnya bahwa permusuhan antara Ham Gwat dengan Thian-hi tidaklah begitu mendalam seperti yang dia bayangkan sebelumnya. malah secara tidak langsung kelihatannya ada terjalin perjanjian yang tidak mengikat diantara mereka berdua.
Sekarang dia insaf cara mengadu domba kepada kedua lawannya ini terang tiada membawa manfaat, akhirnya ia tertawa lebar. katanya kepada Hun Thian-hi, “Begitupun baiklah. kalian sama adalah keturunan dari aliran kenamaan, Bu-bing Loni selamanya tidak pernah menjilat ludahnya sendiri. Lam-siau pun merupakan tokoh pendekar yang budiman, untuk sementara ini baiklah terpaksa aku mempercayai ucapan kalian sekali ini!”
Semula Thian-hi yakin bahwa Tok-sim-sin-mo tidak akan menyetujuj usulnya itu, diluar dugaan ia telah setuju, mau tak mau hatinya berdegup dan melengak, diam-diam iapun kagum akan perubahan sikap Tok-sim-sin-mo yang pintar melihat angin memutar haluan dengan cara memuji guru mereka menjadi seperti dipantek supaya tidak berbuat curang.
Sebaliknya Ham Gwat yang cerdik dan cermat itu dapat menangkap kemana juntrungan maksud Tok-sim-sin-mo, ia merasa lebih baik ia membekuk Tok-sim-sin-mo walaupun kehilangan kepercaan, ini lebih penting, segera ia mengerling ke arah Su Giok-lan, dengan sebuah kedipan ia beri tanda padanya supaya siap menghadapi musuh.
Pelan-pelan Su Giok-lan melolos pedang dari punggungnya, dengan menyoreng pedang ia berdiri siaga.
Tok-sim-sin-mo menjadi tegang, terasa olehnya keadaan yang rada ganjil ini, segera ia mengajukan pertanyaan kepada Ham Gwat, “Bagaimana pendapatmu terhadap usulnya?”
“Usul kami sama supaya secepatnya membunuh kau. Bila kami biarkan umurmu berkepanjangan menimbulkan bencara di Kangouw, bukankah dosa2 kami yang patut diberi hukuman berat!”
Baru sekarang Tok-sim-sin-mo mendadak tersadar akan sikap berlainan dan luar biasa dari Thian-hi dan Ham Gwat, kontan ia bergelak tawa, ia berpaling ke arah Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya, anak buahnya itu kira-kira cukup kuat untuk menghadapi Hun Thian-hi dan Ham Gwat berdua, bila memang bukan tandingannya terpaksa menerjang keluar saja meloloskan diri.
Beruntun ia menengadah tertawa kering dua kali, serunya, “Kalian selalu mengagulkan diri sebagai kaum pendekar yang pegang janji dan kebenar-benaran, kiranya sedemikian rendah sampai sifat2 keadilan kebijaksanaan pun kalian injak2 menjiiat ludah sendiri, perbuatan dan kelakuan kalian sungguh hina dan memalukan, bahwasanya kalian sekomplotan kenapa main tipu dan pura-pura bermusuhan dihadapanku?”
Ia menyeringai dingin, lalu sambungnya pula, “Tahukah kalian? Inilah penipuan!”
Dari samping Hun Thian-hi menyela, “Tidak boleh kehilangan kepercayaan demi untuk memperkosa kebenar-benaran atau keadilan, sejak jaman dulu kala soal ini sudah menjadikan ajaran yang tersurat di dalam setiap ejaan buku. Demikianlah keadaan sekarang, tidak boleh karena kehilangan kepercaan lantas kami melepas kau, apalagi bila sampai kau mengganas dan menimbulkan banyak malapetaka di Kangouw!”
Tok-sim-sin-mo tertawa panjang, ia insaf bahwa Ham Gwat dan Hun Thian-hi akan bergabung menumpas dirinya, sungguh dia sangat menyesal, kenapa tadi ia melepas Coh Jian-jo dan cucunya, harapan untuk hidup menjadi semakin kecil.
Tiba-tiba biji matanya memancarkan sinar tajam menghijau seperti mata binatang jalang yang kelaparan, hanya menerjang dengan kekerasan jalan satu-satunya yang harus ditempuh, asal dapat keluar dari kamar batu ini, diluar sana sekali tangannya bergerak mengerahkan alat2 rahasianya, dalam sekejap saja ia akan dapat meloloskan diri bersama seluruh anak buahnya.
Sejenak Tok-sim-sin-mo berpikir, tiba-tiba tangannya kanan diulapkan. Serempak Bing-tiong-mo-tho, Biau-biau-cu, Lam-bing-it-hiong dan lain-lain menggerakkan senjata masing-masing menyerbu ke arah Ham Gwat.
Ham Gwat tahu Tok-sim-sin-mo sudah kepepet orang pasti menerjang keluar dengan kekerasan, sedang tenaga dalam sendiri belum pulih seluruhnya, sembari melolos keluar pedangnya kakinya menyurut selangkah. ia berdiri jajar bersama Su Giok-lan, dua jalur sinar pedangnya memetakkan segundukan cahaya gemerdek yang rapat tak tertembuskan membendung terjangan para musuhnya.
Hwesio jenaka segera menyingkir kesamping, sambil menggendong tangan ia menonton saja sambil berseri tawa.
Hun Thian-hi juga tahu Tok-sim-sin-mo pasti akan menjadi nekad dan berontak, Ham Gwat berdua pasti akan menghadapi banyak kesulitan dikeroyok para musuhnya, sejak tadi ia sudah bersiap, begitu Lam-bing-it-hiong melolos pedang, bersamaan waktunya seruling jadenya segera menutuk dan mengetuk kepunggung Lam-bing-it-hiong dan lain-lain.
Sementara itu Tok-sim-sin-mo sudah memperhitungkan, bahwa Hun Thian-hi pasti tidak tinggal diam, begitu melihat Thian-hi bergerak iapun cepat bertindak, langsung ia menyergap ke arah Coh Jian-jo berdua.
Thian-hi tahu bahwa Coh Jian-jo berdua berada dalam lindungan Pek-tok Lojin ia percaya dengan kepandaian Pek-tok Lojin akan mampu mengatasi Tok sim-sin-mo maka ia diam-diam saja tanpa menghiraukan lawan, sebaliknya serulingnya dimainkan secepat kilat menyerang Bing-tiong-ho-tho dan lain-lain dari belakang.
Adalah diluar perhitungannya bahwa Tok-sim-sin-mo sendiri juga punya pengangan yang cukup mantep, kalau tidak sekali2 ia tidak akan mengambil banyak resiko menempuh bahaya besar melaksanakan niatnya.
Begitu ia menerjang ke arah Coh Jian-jo, Pek-tok Lojin lantas menyeringai dingin, pikirnya aku belum lagi mencari kau malah kau sudah meluruk datang sendiri, sungguh kebetulan malah.
Gesit sekali ia bergerak melancarkan ilmu pukulannya yang beracun dikombinasikan dengan langkah kakinya yang aneh gentayangan, tahu-tahu telapak tangannya sudah menyelonong tiba di depan dada musuh, sekali tepuk pasti dapat menamatkan jiwa musuh besarnya ini.
Tiba-tiba Tok-sim-sin-mo tertawa dingin, di saat telapak tangan Pek-tok Lojin hampir saja mengenai sasarannya sekonyong-konyong selarik sinar putih kemilau melesat datang langsung menusuk ke tenggorokan Pek-tok Lojin.
Keruan bukan kepalang kaget Pek-tok Lojin, bila telapak tangannya diteruskan menepuk ke dada musuh, Tok-sim-sin-mo jelas bakal mampus, tapi dirinya sendiri juga pasti menjadi korban tusukan pedang lawan, sudah tentu ia tidak mengira bahwa Tok-sim-sin-mo masih punya simpanan sebilah pedang tajam, secara reflek cepat luar biasa ia mencelat mundur, batal menyerang sekaligus menyelamatkan diri.
Begitu ia mundur cukup setindak saja Tok-sim-sin-mo sudah melintangkan pedang pendeknya dileher Coh Jian-jo, sembari tertawa besar ia berseru, “Semua berhenti!”
Waktu ia berpaling pergolakan angin samberan senjata mereka yang bertempurpun sudah mereda, tapi kesudahan pertempuran itu sungguh sangat mengejutkan hatinya. Tampak Lam-bing-it-hiong dan lain-lain sudah kena tertutuk oleh seruling Hun Thian-hi, mereka berdiri kaku mematung.
Sedetik dalam waktu yang bersamaan dari hasil seruling Thian-hi menutuk para musuhnya mendadak ia mendengar seruan Tok-sim-sin-mo waktu ia membalik tubuh, iapun dibikin kaget, diam-diam ia gegetun kenapa tadi terlalu mengentengkan penilaiannya pada lawan, sekarang menyesal pun sudah kasep, Coh Jian-jo terjatuh pula ke tangan Tok-sim-sin-mo.
Coh Jian-jo memejamkan mata tak bergerak atau bersuara. Pedang pendek Tok-sim-sin-mo mengancam tenggorokannya, nalurinya merasa bahwa pedang Pek-bong-kiam bikinannya yang paling dibanggakan sekarang ternyata dibuat mengancam jiwa penciptanya sendiri, betapa pedih hatinya sungguh seperti diiris-iris pisau.
“Bagus!” seru Thian-hi terlongong, “Sungguh aku kagum akan kecerdikanmu, baiklah hari ini kami mengampuni jiwamu sekali ini!”
“Ya, Coh Jian-jo berada ditanganku, apa yang kuperintah pada kalian harus segera dilaksanakan, kalau tidak bagaimana akibatnya kukira kalian cukup paham!”
“Benar-benarkah ucapanmu itu? Meski Coh Jian-jo berada di tanganmu, tapi apa yang berani kau lakukan terhadapnya?”
“Bebaskan tutukan jalan darah anak buahku!” seru Tok-sim-sin-mo, nadanya meninggi dan dingin.
Perang batin sedang bergejolak dalam benak Hun Thjan-hi, ia berdiri tegak mengawasi Tok-sim-sin-mo kelihatannya tekanan Tok-sim-sum-mo bisa berhasil dengan gemilang, bila aku tidak menuruti perintahnya mungkin jiwa Coh Jian-jo bisa terancam atau piaing ringan mendapat siksaan yang cukup membuatnya menderita, apakah yang harus dilakukan? Mengorbankan Coh Jian-jo atau menuruti perintah Tok-sim-sin-mo yang berarti bertekuk lutut padanya?
Tok-sim-sin-mo menyeringai sadis, bentaknya. “Bagaimana kau tidak patuh?”
Dalam hati Thian-hi masih rada bimbang, serunya mendengus, “Apa yang berani kau lakukan pada Cih Jian-jo silakan kau laksanakan. Tapi sekali kau salah bertindak awaslah kau, seumpama harus mengorbankan dia seorang kita tidak akan memberi ampun kepada kau…. Kau harus tahu semakin keji dan telengas cara turun tanganmu mungkin kau sendiri nanti pun tidak akan tahan menerima pembalasannya!”
Tok-sim-sin-mo mengertak gigi, baru saja ia siap bertindaj mendadak terkilas dalam pikirannya bahwa betapapun seluruh jerih payahnya ini akhirnya bakal sia-sia, Hun Thian-hi cukup hebat, betapa pun ia tidak mau mengalah sehingga ia mati kutu, Memang ia tidak akan berani bertindak apa-apa kepada Coh Jian-jo, akhirnya ia mengalah dengan penuh kekecewaan, serunya, “Baiklah, kalian minggir. mari kuantar keluar sampai dipintu Jian-hud-tong, nanti kuserahkan dia kepada kalian!” — Besar harapannya sepanjang menuju keluar gua sana, banyak kesempatan dapat digunakan untuk mengubah keadaannya yang terdesak ini menjadi orang yang dipihak unggul.
Thian-hi tahu bahwa perjalanan ini teramat berbahaya, namun kecuali cara ini tiada penyelesaian yang lebih baik. Betapapun Tok-sim-sin-mo tidak akan sudi mengalah pula. Tapi jika ia menyetujui prakasa ini. lalu cara bagaimana ia harus bersikap dan berjaga-jaga dari segala kemungkinan? Dasar Tok-sim-sin-mo memang seorang licik dan licin yang sulit dihadapi, apalagi Coh Jian-jo berada ditangannya lagi, maka dia akan lebih pongah dan takabur, untuk menghindari segala tipu muslihatnya sungguh sulit sekali.
Terpaksa akhirnya ia manggut-manggut, “Baik! Tapi jangan kau main curang, kalau tidak kau tidak akan bakal lolos dalam lima tindak cukup lima langkah aku dapat membereskan jiwamu dengan seluruh tubuhmu hancur lebur!”
Tok-sim-sin-mo menyeringai leoar, hatinya melonjak kegirangan, ia pernah melihat kepandaian silat Hun Thian-hi, naga-naganya memang rada lebih unggul dari kemampuannya, tapi alat2 rahasia dalam Jian-hud-tong ini teramat banyak dan sulit diraba, betapa pun tinggi ilmu silatnya, juga sulit mengembangkan dengan sempurna. Lima langkah? Hanya tiga langkah saja dirinya dapat menghilang, kenapa harus lima langkah?
Sampai berpikir2 dalam hati diam-diam ia tertawa geli, sungguh senang dan bersorak hatinya, tak perlu disangsikan bahwa kali ini ia bakal gagal lagi, menang atau kalah merupakan babak yang menentukan, maka jangan sekali2 menyia-nyiakan kesempatan ini, Begitulah sembari tertawa dingin Tok-sim-sin-mo beranjak keluar sambil menyeret Coh Jian-jo. Rona wajah Coh Jian-jo yang sedih dan lesu mendadak lenyap sama sekali, biji matanya memancarkan cahaya berkilat yang terang, terunjuk keteguhan hati pada air mukanya, ia mandah saja diseret oleh Tok-sim-sin-mo keluar dari kamar batu itu.
Sebelum berangkat Hun Thian-hi melirik ke arah Bing-tiong mo-tho dan lain-lain, sesaat ia kehilangan akal, mereka sama adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi, kalau dilepas bakal menambah beban kalau tidak dilepas tak bisa digusur keluar, sesaat ia menjadi kebingungan.
Kebetulan Pek-tok Lojin maju mendekat, berturut-turut ia amat-amati orang-orang itu lalu satu persatu membuka tutukan jalan darah mereka. Semula Hun Thian-hi rada terperanjat, tapi karena Pek-tok Lojin yang melakukan ia tahu pasti perbuatannya punya alasannya sendiri.
Setelah dapat bebas Lam-bing-it-hiong dan lain-lain tanpa kuasa sama bergidik dan gemetar. hati semua orang sama mendelu. mereka tahu bahwa Pek-tok Lojin sudah menaruh racun pada tubuh mereka, entah kapan racun itu bakal kumat dan tibalah ajal mereka.
Pek-tok Lojin merupakan tokoh tertinggi dan terlihay dari Pek-tok-bun. cara buatan dan permainannya dalam menggunakan racun punya kepandaian khusus yang amat lihay, bagi korban yang kena racunnya sulit dapat diobati sendiri.
Sudah tentu Tak-sim-sin-mo samgat gusar, namun ia dapat berpikir panjang, nanti bila dapat membekuk Hun Tnian-hi dan lain-lain, pertama-tama ia harus menekan Pek-tok Lojin untuk menyerahkan obat pemunahnya.
Setelah mengerjain para korbannya Pek-tok Lojin lantas berkata, “Sekarang kalian sudah terkena racunku, dimana kusimpan obat pemunahnya tiada seorang pun yang tahu.” — Habis berkata ia tertawa dingin.
Kejadian ini merupakan suatu tekanan pula bagi sepak terjang Tok-sim-sin-mo selanjutnya, soalnya orang-orang ini masih sangat diperlukan tenaganya untuk menghadapi Ang-hwat-lo-mo kelak, tapi urusan sudah lanjut maka ia harus dapat bertindak secara tepat dan tegas. Begitulah segera ia berseru, “Marilah kita berangkat!”
Sambil menenteng serulingnya Hun Thian-hi memburu dibelakangnya, Su Giok-lan menggandeng Coh Siau-ceng berada dibelakangnya, sedang Lam-bing-it-hiong dan lain-lain berada ditengah, sedang Ham Gwat berada dipaling belakang.
Begitu berada diluar kamar. Coh Jian-jo lantas bersuara, “Hun-sauhiap hati-hatilah, di depan sebelah kiri ada sabuah pintu rahasia, malah ada jebakannya pula!”
Mendengar peringatan ini lekas-lekas Hun Thian-hi melangkah dua tindak lebih dekat, sudah tentu Tok-sim-sin-mo gusar bukan main, tapi apa yang dapat ia perbuat pada Coh Jian-jo. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. dan menyeringai kepada Coh Jian-jo. Sungguh diluar dugaannya bahwa Coh Jian-jo dapat menunjuk tempat-tempat rahasia itu sedemikian’hapal dengan cara yang sepele lagi kalau keadaan ini berlangsung lebih lanjut, mana dirinya dapat menjebak dan meringkus Hun Thian-hi dan lain-lain. Kecuali menggunakan akal licik lainnya, begitulah otaknya berputar memikirkan cara yang lebih bagus dan lebih licik.
Dari belakang Hun Thian-hi mengejek, “Jangan kau mengatur tipu dayamu yang lain, aku berani bertaruh kau tidak akan mendapat keuntungan apa-apa, mungkin malah mempercepat keruntuhan cita-citamu yang gila2an itu!”
Sebagai seorang ahli bangunan dengan kepandaian tehniknya yang luar biasa, adalah mustahil kalau mau mengelabui Coh Jian-jo akan segala peralatan rahasia di dalam Jian-hud-tiong ini, tapi justru Tok-sim-sin-mo harus mencari akal cara bagaimana ia harus menghilangkan duri yang merupakan ancaman langsung bagi tindakan dirinya selanjutnya. Sedikit berpikir akhirnya ia seret pula Coh Jian-jo melanjutkan ke depan.
Sepanjang jalan ini sering Coh Jian-jo memberi peringatan dimana ada dipasang alat2 rahasia, tapi kelihatannya Tok-sim-sin-mo sudah tidak terpengaruh akan hal-hal ini, ia terus gusur Coh Jian-jo dengan pelan-pelan.
Lambat laun tekanan batin Hun Thian-hi semakin kendor, dengan adanya Coh Jian-jo disitu menjadi banyak lega dan tidak perlu kuatir lagi akan segala lintangan alat2 rahasia itu.
Berselang agak lama perjalanan itu terus dilanjutkan dengan situasi yang sama Hun Thian-hi semakin lega tapi mendadak Coh Jian-jo berseru keheranan, seakan-akan ia menemukan sesuatu keganjilan yang menarik perhatiannya. Thian-hi menjadi tegang mendengar seruannya itu, cepat ia mendekat dua langkah.
Terdengar Coh Jian-jo berkata, “Sepanjang jalan ini bukankah tadi sudah pernah kita lalui?”
“Apakah kau tidak salah lihat, Jian-hud-tong ini seperti istana sesat di belakang sana, cara bangunannya sangat mirip dan serupa!”
Dalam percakapan itu mereka beranjak terus ke depan, Hun Thian-hi menjadi was-was, sebagai seorang ahli pasti Coh Jian-jo punya alasan mengucapkan kata-katanya. Tapi Tok-sim-sin-mo tidak peduli apa yang terpikir oleh Hun Thian-hi, ia seret terus Coh Jian-jo ke depan.
Memang Coh Jian-jo punya pandangannya sendiri. ia tahu siapapun meski ia seorang ahli dalam bidangnya, tak mungkin dapat menciptakan dua barang yang sangat mirip bentuk dan rupanya.
Sekarang Tok-simsin-mo berputar-putar dalam gua yang rumit dan menyeramkan ini, entah apakah tujuannya.
Sementara Tok-sim-sin-mo sendiri belum tahu bahwa akal liciknya ini sudah diraba oleh Coh Jian-jo tapi dia harus bertindak secepat mungkin sebelum Hun Thian-hi dan lain-lain tahu kemana tujuannya lantas melaksanakan tindakan selanjutnya itulah yang bakal menjadi kunci penentuan.
Tiba-tiba ia menyeret Coh Jian-jo melangkah lebih cepat mencapai sebuah serambi panjang tiba di sebuah pengkolan lalu secepat kilat menyusup ke dalam belokan itu.
Ham Gwat lebih dulu dapat meraba permainan licik Tok-sim-sin-mo ini. Orang sengaja membawa mereka putar kayun sehingga ketegangan semakin mengendor dan perhatianpun tidak terhimpun lagi. lalu dengan caranya yang kilat ia berkelebat menghilang ke dalam jalan rahasia. Tangkas sekali tubuh Ham Gwat. Tiba-tiba melambung tinggi terus menukik turun menubruk ke arah Tok-sim-sin-mo.
Tetapapun Tok-sim-sin-mo merupakan seorang yang licik dan licin punya pengalaman luas, langkah permainan ini sudah dipersiapkan begitu rapi dan sulit diketahui sebelumnya, begitu cepat ia bergerak sampai Coh Jian-jo tidak sempat berteriak, tahu-tahu badannya ikut terseret masuk ke jalan rahasia itu.
Cepat sekali jalan rahasia itu sudah tertutup kembali, sedikit terlambat sedetik Ham Gwat sudah tercegat di depan pintu, pedangnya panjang membacok di atas pintu batu yang keras itu, sehingga memercikkan lelatu api.
Sesaat semua orang sama berdiri terlongong, Ham Gwat menghela napas dengan kecewa, Hun Thian-hi sendiri yang paling menyesal akan kelalaiannya, otaknya diperas dengan keras memikirkan cara meloloskan diri, tiba-tiba ia dapat firasat betapa berbahayanya mereka tetap tinggal di tempat itu, segera ia berseru, “lekas! Kita tinggalkan tempat ini dulu!”
Tapi Lam-bing-it-hiong dan kawan2nya tegap berdiri tak bergerak, melihat Tok-sim-sin-mo dapat lolos, terang Hun Thian-hi terjatuh pula dalam belenggu majikannya, harapan mereka untuk hidup lebih besar, asal mereka tidak mau pergi, apa yang Hun Thian-hi dapat perbuat pada mereka, bagaimana juga Hun Thian-hi masih memerlukan lindungan mereka.
Hun Thian-hi menjadi gemes dan gegetun, ia paham akan situasi yang berbahaya ini bakal digunakan Tok-sim-sin-mo untuk mengatur tipu daya yang lebih keji sekali ia menggerakkan alat2 rahasianya, mereka pasti menjadi korbannya yang pertama.
Maka Lam-bing-it-hiong dan lain tidak boleh ketinggalan, segera ia mengancam, “Hayo jalan! Kalau tidak kubunuh kalian, kalian sudah kena racun, masa dapat hidup berapa lama lagi!”
“Justru karena tidak dapat hidup lebih lama lantas kau berani berbuat apa terhadap kami, bila kami mati kau pun bakal modar dengan tiada tempat kubur kalian!” demikian jengek Bing-tiong-mo-tho.
Sekilas Ham Gwat pandang Siang Bu-ki dan lain-lain, lalu berkata tawar, “Biar mereka tinggal disini, mari kita tinggal pergi saja!”
Sesaat Hun Thian-hi beragu, akhirnya ia manggut-manggut bersama Pek-tok Lojin dan lain-lain mereka maju ke depan. Ia insaf sebagai manusia durjana Tok-sim-sin-mo tidak akan melepas mereka hanya karena Bing-ting-mo-tho dan lain-lain berada bersama mereka. Sebagai musuh besar rasanya. Tok-sim-sin-mo tidak akan lega sebelum mereka sama dilenyapkan.
Baru saja mereka mulai bergerak, tiba-tiba diempat penjuru sekelilingnya terdengar suara gemuruh, tampak dua lembar papan batu tebal pelan-pelan maju menghimpit dari dua samping mereka, jadi mereka terkurung di tengah lorong gelap itu.
Hun Thian-hi tertegun, menurut perkiraannya setiap lembar papan batu ini paling ringan ada ribuan kati beratnya, tenaga manusia tidak akan mungkin kuasa menjebolnya keluar. Jelas mereka terkurung rapat dan tinggal menunggu waktu untuk ajal belaka. Untung Tok-sim-sin-mo masih memerlukan tenaga Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain, sehingga mereka masih punya. setitik harapan. kalau dapat bertindak secepat-cepat dan tepat mungkin nanti ada kesempatan untuk meloloskan diri meskipun cuma satu atau dua diantara mereka.
Selama itu Hwesio jenaka tinggal berdiri diam menggendong tangan. Melihat orang teringat oleh Hun Thian-hi akan Siau-bin-mo-in, serta merta hatinya terharu dan pedih rasanya.
Semua orang sama melayangkan alam pikirannya masing-masing, tapi mereka sama pula harus meronta untuk hidup sebelum ajal mendatang.
Lapat-lapat terdengar gema gelak tawa Tok-sim-sin-mo yang menggila kesenangan dalam gua sebelah dalam sana, begitu lantang dan bergelombang suara tawa itu, bagi pendengaran Hun Thian-hi sangat menusuk perasaan.
Dari tempat yang agaknya sangat jauh itu Tok-sim-sin-mo berteriak, “Bagaimana, sebenar-benarnyalah siapa yang menang dan siapa yang kalah?” suara begitu bangga dan mendengung, “Syarat apa yang hendak kau ajukan, lekas katakan!” Lalu terdengar pula tawanya terbahak-bahak.
Dengan pandangan dingin Thian-hi pandang Bing-tieng-mo-tho dan lain, katanya, “Lepaskan kami keluar nanti kami serahkan anak buahmu ini.”
Tok-sim-sin-mo tergelak-gelak menggila, serunya, “Begitu saja.”
Thian-hi menjadi gusar, serunya, “Cukup begitu saja, hanya itulah syarat yang dapat kuajukan!”
“Kalau hanya itu syaratmu aku tidak bisa terima, kau kan paham, akupun ingin ajukan syaratku yang tidak boleh dibantah lagi, kau, Ham Gwat dan Pek-tok bertiga tetap tinggal disana, tiga orang yang lain boleh silakan pergi untuk mengganti jiwa mereka!”
“Jadi syarat yang kuajukan tidak dipertimbangkan sama sekali.”
“Jangan kau tekan aku dengan alasan seenak udel-mu sendiri, sekarang kaulah yang meminta2 kepadaku, tidak menjadi soal bagi aku sembarang waktu dapat ku turun tangan tanpa pedulikan mati hidup mereka! coba kau berpikir kembali!”
“Kaum persilatan bukan melulu beberapa orang seperti kami ini, seumpama kami mati semua, bulu sayapmu juga bakal dipreteli, akibat ini teramat fatal bagi kau sendiri ingat Ang-hwat-lo-mo akan semudah membalikKan tangan menumpas kau serakang. Kau memutar balik persoalan, coba kau pikir lebih lanjut adalah kepentinganku terhadapmu? Cobalah kau pikirkan dengan seksama!”
Gelak tawa Tok-sim-sin-mo terdengar semakin menjauh dan akhirnya sirna tiada terdengar suaranya pula. Sementara dua papan batu dikiri kanan itu pelan-pelan pula bergerak menggeser ke tengah menggencet mereka.
Bercekat hati Thian-hi. kelihatannya Tok-sim-sin-mo punya pegangan yang sudah matang, pertanyaan Thian-hi ia jawab dengan reaksi yang kenyataan ini, kelihatannya sedikitpun ia tidak ragu-ragu lagi mengambil keputusannya.
Semula Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya memang mengemban setitik harapan, tapi dalam keadaan yang sudah gawat dan kenyataan ini, mau tak mau mereka menjadi mencelos hatinya. ternyata Tok-sim-sin-mo begitu tega membuang mereka seumpama membuang sampah, dan yang lebih celaka mereka bakal ikut menjadi korban keganasannya bersama musuh2nya.
Hwesio dienaka yang jarang buka bicara itu, tiba-tiba berseru kepada Tok-sim-sin-mo, “Tadi kau hendak melepas aku keluar, apakah kau tahu siapa aku sebenar-benarnya, begitu rendah kau menilai diriku?”
Dari jauh terdengar jawaban Tok-sim-sin-mo, “Persetan siapa kau, setelah kubereskan kau siapa kau adanya tak berguna lagi!”
Berkilat-kilat mata Hwesio jenaka, serunya, “Akulah saudara Lam Im!”
Agaknya Tok-sim-sin-mo tersentak kaget. kedua papan batu itu segera berhenti” bergerak, sebenar-benarnya ia hanya ingin menggertak dan menakut2i Hun Thian-hi dan lain-lain, demi mendegar ucapan Hwesio jenaka, segera ia berhenti menggerakkan alat2 rahasianya.
Hatinya berpikir2, apakah benar-benar? Benar-benarkah Lam Im punya saudara? Ia jelas sekali akan watak dan tabiat Lam Im, bila smpai membikin dia gusar, urusan pasti sulit diselesaikan, cuma soalnya apakah benar-benar Lam Im punya saudara sedikitpun ia tidak tahu, maka ia pun tidak berani segera mengambii kepastian.
Hwesio jenaka mengunjuk seri kegirangan. waktu pertama kali melihat tampang Pek-tok Lojin lantas ia pernah mimikirkan ke arah itu, orang yang dapat mengulupas kulit manusia dengan cara yang begitu rapi dan bagus mungkin hanya Sin-jiu-mo-ih Lam Im seorang. Kalau benar-benar dia, betapapun Tok-sim-sin-mo pasti merasa segan turun tangan kepadanya.
Begitu Hwesio jenaka buka bicara lantas Hun Thian-hi maklum kemana juntrungannya. dikolong langit ini mungkin memang hanya Sin-jiu-mo-ih seorang yang dapat mengoperasi muka orang dengan begitu sempurnanya.
Adalah Tok-sim-sin-mo ragu-ragu dan bimbang, raut wajah dan bentuk tubuh Hwesio jenaka jauh berbeda dengan Lam Im, apalagi sesudah keadaan mendesak baru Hwesio jenaka mengajukan persoalan ini, kemana juntrungannya, sungguh mencurigakan.
Tapi iapun heran dari mana Hwesio jenaka kenal akan Lam Im, pikirannya; bila hal ini sampai tersiar luas dikalangan Kangouw, pasti besar akibatnya, sebentar ia berpikir lalu serunya kepada Hwesio jenaka, “Seumpama benar-benar kau adik kandungnya pun tak berguna, ketahuilah dia sudah meninggal!”
Hwesio jenaka melengak, tapi bukan kesana tujuannya, segera ia menyahut tertawa, “Aku hanya ingin tahu siapakah orangnya yang begitu pintar dapat mencari jenazah Giok-yap Cinjin, setelah sekian lama aku mereka-reka baru sekarang kuteringat pada beliau!”
Tok-sim-sin-mo tertawa dingin., ia insyaf akan akibatnya terlalu fatal bila hal ini sampai diketahul orang luar kalau sampai geger pasti Lam Im tidak mau keluar pula membantu dirinya.
Begitu hwesio jenaka selesai mengucapkan kata-katanya. papan batu itu pelan-pelan bergerak lagi, bercekat hati Hwesio jenaka, serunya, “Kenapa begitu sempit pikiranmu, bila kau ketemu dia harap bertanya kepadanya bahwa orang yang ingin dia cari sekarang sudah datang, nama gelaranku adalah Ceng Gwat!”
Tek-sim-sin-mo berjingkrak mundur saking kaget, matanya terbelalak, ucapan Hwesio jenaka terakhir ini bukan main-main, Ceng Gwat adalah murid Siau-bin-kim-hud yang berhubungan kental dengan Lam Im! Tapi dalam keadaan yang kontras ini ia tak bisa banyak pikir lagi, ia harus tetap bertindak menurut keputusan terakhir, cuma Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain cukup disayangkan.
Dinding batu itu bergerak terus semakin dekat hati semua orang sudah sama diliputi pikiran gelap dan bayangan kematian, mereka insaf bahwa dewa elmaut sudah dekat dan siap mencabut nyawa mereka bersama.
Sekonyong-konyong, sebuah batu bergeser disebelah samping depan sana dan terbukalah sebuah lobang yang cukup besar, tampak Pek Si-kiat seperti melayang turun dari kajangan bagai dewa penyelamat saja layaknya berdiri diambang lobang besar itu,
Hun Thian-hi sampai tersurut kaget, dilain saat ia berjingkrak kegirangan, sebenar-benarnya ia sudah siap begitu dinding batu itu bergerak semakin dekat Ia hendak kerahkan seluruh kekuatan gabungan semua orang untuk berontak bersama, apakah dinding batu setebal itu mampu bertahan terhadap pukulan bersama dari sepuluh lebih tokoh-tokoh kelas wahid.
Pek Si-kiat segera menggapai tangan ke arah Hun Thian-hi, bergegas Thian-hi seret Ham Gwat dan lain-lain memburu kelorong rahasia sebelah sana, katanya sembari berlari. “Paman Pek, kenapa kau mendadak muncul disini?”
Pek Si-kiat tertawa, ujarnya, “Empat puluh tahun lamanya aku bersemajam dalam gua ini, daerah mana saja sudah pernah kujelajahi!”
Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain jadi serba runyam. Untung segera Pek Si-kiat berkata, “Aku jauh lebih mendalami sifat Tok-sim. Kalian harus sadar, sesuatu yang bergabung demi kepentingan pribadi akhirnya pasti akan bujar pula karena kepentingan itu pula. Dan ini kenyataan, disaat dia tidak lagi meimerlukan tenaga kalian, atau dia tidak akan ragu-ragu lagi untuk meninggalkan kalian tetap hidup!”
Dalam pad itu begitu Tok-sim-sin-mo menggerakkan alat2 rahasianya lantas tinggal pergi, tapi meski ia sudah tak hadir di tempat itu, ia tahu bahwa urusan sudah menyimpang atau telah terjadi sesuatu perubahan. yang jelas bahwa Hun Thian-hi dan lain-lain sudah berhasil meloloskan diri dan menghilang dilorong yang lain. Keruan kejut dan murka pula hatinya, siapakah orang yang datang menolong, begitu pintar dia mampu menolong keluar Hun Thian-hi dan lain-lain.
Sementara itu Pek Si-kiat membawa Thian-hi dan lain-lain menyusuri lorong2 panjang yang belak belok, dia jauh lebih apal akan segala seluk beluk lorong2 itu dari Tok-sim-sin-mo. Ia tahu bahwa Tok-sim-sin-mo pasti juga sudah tahu bahwa seseorang telah datang membebaskan para tawanannya, mungkin tindakan selanjutnya segera bakal terjadi, sejenak ia menerawang sekelilingnya, lalu berkata, “Menyelusuri sepanjang lorong ini bila tidak terjadi suatu perubahan kita bakal tiba diluar gua, Thian-hi harus cepat putar balik bersama aku untuk mengejar Tok-sim-sin-mo. kalau terlambat, mungkin dia sudah menghilang!”
Thian-hi merasa diluar dugaan akan tekad Pek Si-kiat yang teguh itu. Apakah dia akan menurut
usul orang, samar-samar ia merasa rada berat untuk meninggalkan sesuatu tapi mau tak mau harus segera mengintil di belakang Pek Si-kiat, beberapa langkah kemudian ia berpaling memandang ke arah Ham Gwat wajah orang kelihatan tetap dingin kaku, sedikitpun tidak memperlihatkan perasaan hatinya. Mencelos hati Thian-hi, cepat ia memburu di belakang Pek Si-kiat.
Pek Si-kiat juga tahu akan tindak tanduknya, tapi saat ini lebih penting dari persoalan asmara muda mudi, segera ia bawa Hun Thian-hi menyusup kesebuah jalan rahasia disebelah samping.
Beberapa kejap kemudian, Pek Si-kiat membalik tubuh dan berkata lirih kepada Hun Thian-hi, “Perlahan-lahan sedikit. kalau tidak salah dia semestinya berada disekitar sini!”
Perasaan Hun Thian-hi menjadi tegang, berulang kali Tok-sim-sin-mo dapat berinisiatif mengambil kedudukan yang menguntungkan dari posisi yang terdesak, ini merupakan hal yang tidak terlalu enteng dan mudah, mau tak mau ia harus memuji dan kagum akan kecerdikan otaknya, kini ia harus berhadapan pUla, dengan Tok-sim-sin-mo lawannya yang setimpal, sedang Ling-lam-kiam-ciang berada ditangannya pula, bukan saja ia harus berhadapan secara kekerasan bila perlu iapun harus mengadu kecerdikan otak dan kepintaran.
Dengan seksama Pek Si-kiat meneliti keadaan sekelilingnya, iapun merasa bahwa musuhnya sulit dihadapi, kalau tidak ia tidak perlu minta bantuan Hun Thian-hi.
Pek Si-kiat sendiri juga merasa was-was apakah Tok-sim-sin-mo dapat mengetahui akan kedatangannya, yang jelas dia pasti sudah tahu bahwa Jian-hud-tong telah kedatangan seseorang tamu yang tak diundang, malah bisa menggunakan alat2 rahasia dalam gua ini untuk menolong para tawanannya, entahlah dimanakah Tok-sim sekarang berada.
Sebelum melihat jejak dan orangnya Pek Si-kiat sulit menentukan dimana kedudukan Tok-sim-sin-mo sekarang, ia tidak perlu takut Tok-sim-sin-mo bakal menggunakan alat2 rahasia dalam gua mengurung dirinya, soalnya seluk-beluk mengenai alat2 rahasia dalam gua ini ia jauh lebin matang dari Tok-sim-sin-mo sendiri malah mungkin lebih jelas dan menyeluruh, tapi bagaimana juga ia harus berjaga-jaga dari segala muslihat musuh, seumpama Tok-sim-sin-mo menyergap dengan caranya yang licik, bukan mustahil dalam kalapnya ia gunakan segala daya upayanya untuk menyerang mereka kalau itu terjadi mereka bisa terdesak dalam bahaya.
Setelah menyelusuri sebuah serambi panjang, mendadak terdengar jengekan dingin dari tempat yang gelap disebelah sana, mereka berpaling bersama, tampak sepasang biji mata yang terang kemilau berkelap kelip di kegelapan sana, Tok-sim-sin-mo beranjak keluar dari sebuah jalan rahasia yang lain katanya, “Jite! Sungguh tak kuduga Kau adanya. Ternyata kau jauh lebih apal keadaan seluruh Jian-hud-tong ini dari aku!”
“Benar-benar atau tidak, kau sendiri paham,” sahut Pek Si-kiat masam, “Empat puluh tahun lamanya kita tersekam bersama dalam gua ini, kalau kau dibelenggu tak mampu bergerak sebaliknya aku dapat bebas bergerak kemana aku suka, sudah tentu aku jauh lebih jelas segala seluk beluk dalam gua ini.”
“Marilah sekarang kita bicara secara gamblang, segala peralatan dalam gua ini aku tidak sepaham kau, untuk melawan kau, jangan kata dua lawan satu, apalagi aku sudah terluka, satu lawan satu diantara kalianpun aku bukan tandingan lagi. Tapi perlu kuingatkan Coh Jian-jo masih berada di tanganku, kalau kau ingin dia tetap hidup kalian harus dengar ucapanku, aku masih mampu untuk melaksanakan rencanaku yang terakhir!”
Thian-hi ikut beragu, ia rasakan juga situasi sekarang yang menyulitkan, secara gamblang Tok-sim-sin-mo gunakan Coh Jian-jo untuk menekan dan mengancam mereka, terpaksa ia ikut bicara, “Kau punya permintaan apa silakan katakan saja.”
“Yang terang aku tidak akan bebaskan dia sebelum Ni-hay-ki-tin dapat kucapai. Tatkala itu aku pasti punya caraku sendiri untuk meloloskan diri!”
“Menanti kau memperoleh Ni-hay-ki-tin? Bukankah terlalu ngelantur dan jauh persoalannya? Seumpama kau tidak mampu memperoleh Ni-hay-ki-tin itu lalu bagaimana?”
“Coh Jian-jo tidak akan kubebaskan. Begitulah keputusanku!”
“Syarat yang kau tawarkan ini terlalu tinggi, begitu besar hasratmu untuk mendapatkan Ni-hay-ki-tin, tapi kenyataan kau tidak akan mungkin memperolehnya!”
“Kau kan belum tahu akan kemampuanku!”
“Bilamana kau mampu mencapainya, sejak lama orang lainpun sudah mengambilnya. Bukti menunjukkan selama sepuluh tahun Pek-tok Lojin masuk kesana, akhirnya ia kembali dengan bertangan kosong, agaknya kau menilai urusan ini menurut pandanganmu yang sempit, ketahuilah banyak aral rintangan yang tidak mungkin dapat kau jebol atau dapat kau atasi menurut akal sesatmu yang cupat itu. Jikalau kau mengukuhi pendapatmu, betapapun kami tidak akan tinggal diam!”
“Ucapanku cukup sampai disini saja. Terserah apa yang hendak kalian lakukan!”
“Begitu pun baiklah,” ujar Hun Thian-hi sambil mengeluarkan seruling jadenya, “sebelum kau lepas kan Coh Jian-jo, kau pun takkan kulepaskan, Ingin kulihat apa yang berani kau perbuat atas dirinya.”
“Begitupun baik, akupun tidak perlu takut apa yang bakal kau lakukan terhadap diriku, memangnya kalau tidak bisa memperoleh Ni-hay-ki-tin aku sudah bertekad untuk mati. Tapi kau perlu berpikir dua belas kali, seumpama kau yang melakukan hal-hal itu dapatkah kau mengambil keuntungan? Jiwa Coh Jian-jo masih tergenggam dalam tanganku.” Habis berkata ia mandah bergelak tawa dengan sikap acuh tak acuh.
Hun Thian-hi jadi mati kutu. kalau orang sudah pasrah pada nasib dan menyerah dengan cara demikian, apa pula yang dapat aku perbuat atas dirinya, tapi bukan mustahil ia hanya pura-pura….
Hanya sebuah kemungkinan saja untuk menghadapi sikap Tok-sim-sin-mo ini, tapi betapapun ia tidak bisa mempertaruhkan jiwa Coh Jian-jo dalam langkah-langkah perhitungannya yang berbahaya ini, dia perlu menyelidiki dan main sandiwara pula seumpama Tok-sim-san-mo memang berpura-pura muka belum terlambat ia bertindak selanjutnya. Sebaliknya bila tindak tanduknya ini memang kenyataan tiada soal kali ini ia membahayakan jiwanya. Biarlah situasi lebih matang dan jalan lebih lapang bagi dia, tapi menurut anggapannya adalah sebaliknya bagi dirinya.
Sejenak menerawang Thian-hi lantas bertanya pada Tok-sim-sin-mo, “Apakah kau tahu benar-benar bahwa Ni-hay-ki-tin berada di dalam sana?”
“Memang aku belum tahu pasti, tapi itu soal waktu saja bila kutanyakan pasti segera dapat kuketahui. Ingat Coh Jian-jo pasti tahu, menurut Pek-tok katanya berada di dalam sana, tapi itu menurut. dugaan belaka, aku justru tidak sepaham akan pendapatnya itu, mana mungkin Ni-hay-ki-tin berada dalam Jian-hud-tong ini?”
“Apakah kau sudah pasti bahwa Coh Jian-jo benar-benar mengetahui rahasia Ni-hay-ki-tin itu, mengandal apa dia bisa tahu?”
Tok-sim-sin-mo menyerihgai lebar, katanya, “Rahasia Ni-hay-ki-tin adalah rahasia turun temurun dari kakek mojangnya, masa perlu disangsikan lagi?”
Hun Thian-hi tertawa, ujarnya, “Belum tentu bukan? Warisan keluarganya cuma Badik buntung, yang dia ketahui melulu bahwa tempat rahasia penyimpanan harta benda itu tersembunyi di dalam serangka pedang, sebelum dia berhasil mengeluarkan gambar rahasia itu dari serangka pedang itu takkan seorangpun yang dapat tahu!”
Tok-sim-sin-mo mendengus tanpa bicara, diapun tidak bisa menyangkal akan kebenar-benaran analisa Thian-hi ini, jikalau tiada gambar petanya, ia percaya Coh Jian-jo sendiri juga tidak akan mampu menunjukkan tempatnya.
Kata Hun Thian-hi pula, “Katamu tadi setelah berhasil mendapatkan Ni-hay-ki-tin kau punya caramu sendiri untuk meloloskan diri, jadi jelasnya seorang diri cukup kau dapat bekerja, kenapa pula Coh Jian-jo harus menyertai kau?”
“Pendek kata begitulah syarat yang kuajukan, terserah kau setuju atau tidak.”
“Tapi kau harus berpikir dua belas kali, perbuatanmu ini tidak bakal mendatangkan keuntungan bagi kedua belah fihak, malah mungkin ada manfaat bagi kau, bagaimanapun aku tidak setuju!”
ToK-sim-sin-mo mengawasi sekelilingnya lalu berkata pula” “Kalau begitu tiada kompromi lagi, silakan kalian maju aku tidak akan mundur setapakpun juga!”
Berkilat biji mata Hun Thian-hi, ia tahu bahwa sikap Tok-simsin-mo ini hanya pura-pura belaka, aku harus bertindak secara cermat dan mencobanya secara untung2an. Sudah lama Tok-sim-sin-mo mengatur segala sesuatunya dalam rencana mendapatkan Ni-hay-ki-tin, betapapun ia tidak akan nekad dan rela rencananya sampai gagal, jalan satu-satunya aku mau mencoba dengan main gertak saja.
“Kalau begitu apa boleh buat, demikian ujar Hun Thian-hi sambil menggeser kakinya melangkah kehadapan Tok-sim-sin-mo, sementara itu mulutnya bicara lebih lanjut, “Kalau begitu seumpama kami setuju juga tiada gunanya, sebaliknya bila kami berhasil meringkus kau, buat Coh Jian jo pasti lebih melegakan” .
“Umpama kalian bisa menawan aku. Coh Jian-jo pasti segera mampus!”
Thian-hi tertawa lebar, katanya, “Kalau itu benar-benar maka cara kematianmu bakal lebih mengenakan, tidak percaya marilah kita coba!”
Tok-sim-sin-mo berdiri tegak dan siaga, biji matanya lekati mengawasi gerak gerik Hun Than-hi. Sementara itu Hun Thian-hi sudah melolos seruling jadenya, sesaat lamanya mereka beradu pandang tanpa bergerak.
Pek Si-kiat mundur selangkah kesamping, ia tahu menghadapi orang macam Tok-sim-sin-mo harus menabahkan hati dan berani bertindak dengan segala resiko, dengan mundur selangkah ia memberi peluang pada mereka berdua untuk mengadu kekuatan, disamping itu sengaja iapun ingin mepet dinding untuk mengendalikan alat2 rahasia supaya dapat merintangi Tok-sim-sin-mo melarikan diri.
Sekilas Tok-sim-sin-mo melirik kesamping, lambat laun timbul rasa gentar dalam sanubarinya, jelas ia sudah punya langkah-langkah yang sempurna untuk jalan mundurnya, diam-diam ia menerawang apakah perlu ia main gertak dan main ancam terhadap musuhnya, kalau langkah itu bisa mempermudah dirinya mencapai tujuannya paling tidak bisa mengurangi tekanan batin yang terasa gentar dan takut ini.
Pikir punya pikir akhirnya ia berkata, “Jikalau Coh Jian-jo mau bantu aku memperoleh gambar peta rahasia Ni-hay-ki-tin serta sudah dapat kuselami, tiada halangannya kulepas dia.”’
“Begitu sederhana? Apa kau tidak kuatir tempat rahasia itupun dapat kita ketahui? Bukankah kau memperoleh saingan malah?”
“Itu, urasanku sendiri. kenapa kau kuatir malah. Aku punya caraku sendiri untuk mengetahui pul rahasia gambar peta, kukira tidak semudah seperti kalian duga!”
“BaiKlah, aku tidak perlu kuatir lagi. Tapi aku masih sangsi cara bagaimana kau dapat menemukan Ni-hay-ki-tin itu seorang diri? Bila berita ini sampai bocor, bukan saja kami berdua, mungkin para tokoh-tokoh persilatan semua bakal meluruk datang mengikuti jejakmu. Tatkala itu cara bagaimana kau akan menghadapi mereka?”
Memangnya Tok-sim-sin-mo sudah merasa jeri terhadap Hun Thian-hi, serta mendengar ucapan Thian-hi mau tak mau ia merasa kuatir pula. Bukan tidak beralasan ucapan Hun Thian-hi yang mengandung kebenar-benaran ini.
Kata Hun Thian-hi pula, “Hendaklah Pek-tok Lo-jin dijadikan contoh, sepuluh tahun ia meluruk masuk ke dalam Jian-hud-tong dan istana sesat baru bisa keluar, sekarang masih berusaha untuk keluar. Dengan berani menempuh bahaya tentu diapun punya pegangan dan yakin akan tekadnya. Siapa tahu bahwa Ni-hay-ki-tin benar-benar berada di Jian-hud-tong, kalau itu benar-benar bukankah banyak menghemat tenaga dan pikiran malah.”’
Dengan sorot mata yang mengandung pertanyaan dan curiga Tok-sim-sin-mo pandang Thian-hi lekat-lekat, ia jadi sangsi kenapa Hun Thian-hi begitu baik hati mau memberri saran dan jalan sempurna kepada dirinya, mau tidak mau ia harus meningkatkan kewaspadaan, bagaimana juga Thian-hi merupakan musuh besarnya yang utama. pikir punya pikir akhirnya ia mendengus, mulutnya bicara tawar, “Betulkah begitu?”
“Jangan kau terlalu curiga terhadapku,” demikian Thian-hi tersenyum, “Kuharap urusan ini lekas selesai supaya tidak membawa buntut yang berkepanjangan dan membawa manfaat bagi dua belah pihak. Apalagi aku percaya umpama kau tahu jelas dimana letak simpanan Ni-hay-ki-tin itu belum tentu kau mampu mengambilnya.
“Berani kau berkata begitu, lalu bagaimana menurut maksudmu? Adakah cara lain yang lebih sem purna?”
Sebelum menjawab Thian-hi berpaling ke arah Pek Si-kiat seraya mengedipkan matanya, ia memberi isyarat supaya Pek Si-kiat memperhatikan segala gerak gerik Tok-sim-sin-mo, lalu ia berpaling kemuka pula dan berkata kepada Tok-sim-sin-mo, “Aku punya usul. Silakan kau bawa Coh Jian-jo kemari, bila kau yang tanya belum tentu dia sudi memberi tahu, sebaliknya, bila kami yang mengajukan pertanyaan mungkin dia mau menjelaskan, sesudah itu kita berunding lebih lanjut. Seumpama Ni-hay-ki-tin benar-benar berada di dalam Jian-hud-tong ini, urusan menjadi lebih mudah, kau lari masuk pun kami tidak akan berani mengejar. Sebaliknya seandainya tidak berada dalam Jian-hud-tong kita pun boleh mencari jalan lainnya yang lebih sempurna!”
Mendengar uraian ini Tok-sim-sin-mo beranggapan bahwa Hun Thian-hi teramat goblok dan ceroboh, urusan selanjutnya bakal lebih menguntungkan bagi dirinya. Maka sambil menyeringai dingin baru saja badannya bergerak mendadak hati kecilnya merasakan bahwa urusan tidaklah begitu gampang, masakan benar-benar Hun Thian-hi begitu baik hati memberi kelonggaran kepada dirinya, bukankah perbuatannya ini demi keselamatan Coh Jian-jo. Bilamana urusan belum mencapai titik penyelesaiannya lantas mempertemukan mereka sama Coh Jian-jo, situasi pasti akan semakin menyulitkan dirinya. Serta terpikir hal ini ia merandek dan putar balik, wajahnya mengulum senyum dingin, naga-naganya ia bersyukur bahwa dirinya belum sampa, kena tipu. Tapi tanpa disadarinya perbuatannya ini justru telah memperlihatkan tanda2 yang mencurigakan, cuma tidak diketahui olehnya.
Selama itu Pek Si-kiat selalu mengawasi gerak gerik Tok-sim-sin-mo, begitu orang bergerak hendak memutar tubuh ia lebih memperhatikan, meskipun badan Tok-sim-sin-mo belum seluruhnya berputar tapi sudah membalik sebagian besar, di bawah pengawasan Pek Si-kiat dapatlah diketahui kemana tujuan pandangan kedua biji matanya, serta merta lantas tersimpul dalam benaknya, bukan mustahil disanalah Coh Jian-jo disembunyikan. Bukankah tadi dia mengatakan bahwa Coh Jian-jo ada disekitar sini.
Agak lama Tok-sim-sin-mo mandah menyeringai dingin tanpa bicara, matanya mengawasi Thian-hi Sekian lamanya baru berkata, “Usulmu tadi tidak dapat kulaksanakan, biar aku sendiri yang tanya padanya.” Tita2 Hun Thian-hi memberi tanda kepada Pek Si-kat, serempak mereka bergerak bersama, Pek Si-kiat langsung terbang miring kesamping berbareng kedua telapak tangannya memukul ke arah dinding samping, kontan dinding batu itu pecah berhamburan dan munculah dua pintu dari dua kamar kurungan. Benar-benar juga Coh Jian-dio ada di dalam salah satu kamar itu.
Sementara dalam waktu yang sama Hun Thian-hi menubruk ke arah Tok-sim-sin-mo sambil berusaha mencegat jalan mundurnya.
Begitu melihat Hun Thian-hi memberi tanda kepada Pek Si-kiat lantas ToK-sim-sin-mo mendapat firasat jelek. seketika dilihatnya Pek Si-kiat mencelat terbang menerjang ke arah kamar tahanan Coh Jian-jo, keruan kejutnya bukan kepalang, tahu dia bahwa urusan semakin mendesak dan tidak mungkin tertolong lagi, hari ini dirinya kena dikalahkan dan gagal total, terpaksa harus lari untuk menyelamatkan diri.
Maka tanpa ayal iapun bergerak teramat gesit dan cepat, kedua telapak tangan bergerak kedua jurusan, tangan kanan menghantam ke arah Thian-hi merintangi tubrukan lawan, sedang sebelah tangan yang lain menggempur dinding di sebelah belakangnya membuka sebuah jalan rahasia terus melesat masuk dan menghilang.
Tanpa banyak pikir Hun Thian-hi menerjang masuk mengejar, demikian juga Pek Si-kiat tak mau ketinggalan, mereka. mengejar dengan kencang. Diam-diam bercekat hati Pek Si-kiat, Tok-sim-sin-mo lari ke arah lorong2 sempit dibagian gua paling belakang dimana merupakan jalan-jalan yang paling rumit dan penuh terpasang alat rahasia, bila Tok-sim-sin-mo sampai mencapai daerah itu untuk membekuknya tentu sukar sekali .
Begitulah kejar mengejar berlangsung sekian lamanya, mereka keluar masuk lorong2 panjang mengejar Tok-sim-sin-mo. Meski Pek Si-kiat jauh lebih apal jalan-jalan lorong itu, soalnya gerak-gerik Tok-sim-sin-mo sulit diduga sebelumnya, kemana ia hendak menuju, maka jarak mereka bertahan sekian jauhnya, kelihatan bayangannya. tapi tak kuasa meringkusnya.
Sembari lari kencang seperti dikejar setan diam-diam Tok-sim-sin-mo berpikir, “Pek Si-kiat bersama Hun Thian-hi mengejar terus seperti bayangan tubuh sendiri, betapapun akhirnya dirinya takkan kuasa lolos, kalau hal ini berlangsung lama, luka dalamnya bisa kambuh dan semakin berat, beberapa kejap lagi pasti dirinya akan kehabisan tenaga dan terima dibekuk saja.” Begitulah sembari lari ia mencari akal cara bagaimana ia harus meloloskan diri.
Namun Hun Thian-hi berdua sudah semakin dekat, jarak mereka tinggal sepuluh tombak, keruan kejut dan gugup pula hatinya, tiba-tiba tergerak hatinya biji matanyapun berkilat terang, mendadak ia membelok memasuki sebuah lorong rahasia.
Hun Thian-hi berdua terus mengejar masuk ke sana. Jalanan dalam lorong itu menjurus ke arah tempat yang semakin rendah dan lembab, jadi semakin lama semakin menurun. Tok-sim-sin-mo tidak hiraukan keadaan sekelilingnya, ia lari terus turun kebawah. Sebaliknya Hun Thian-hi berdua menjadi kaget, lorong jalan ini justru yang menjurus ke arah istana sesat itu. Bila Tok-sim-sin-mo sampai menerjang masuk kesana, betapapun mereka berdua tidak akan mampu mencapainya. Cepat ia menyedot napas tiba-tiba tubuhnya melayang seringan asap secepat anak panah melesat ke depan.
Tok-sim-sin-mo sendiri juga insaf bila ingin hidup satu-satunya jalan hanyalah masuk ke dalam istana sesat, Thian-hi berdua takkan berani mengejar kesana. Kalau Pek-tok Lojin sepuluh tahun tidak mampus di sana, kenapa aku harus takut? Apalagi aku menggembol serangka Badik buntung, Ni-hay-ki-tin pasti dapat kutemukan, demikian pikirnya.
Dalam pada itu suara, pernapasan Hun Thian-hi seakan terdengar begitu dekat jbelakangnya, cepat ia mengempol semangat dan menyedot napas dalam-dalam. tubuhnya segere melejit tinggi terus meluncur turun laksana meteor jatuh langsung melayang masuk ke dalam istana sesat.
Hampir saja Hun Thian-hi sudah dapat menyandak tinggal kurang sejangkauan tangan, namun Tok-sim-sin-mo berhasil pula meloloskan diri dari kejarannya, sungguh hatinya teramat menyesal tak terperikan.
Dalam detik lain Pek Si-kiat juga sudah mengejar datang, sejenak ia terlongong. lalu katanya kepada Hun Tnian-hi, “Sudahlah! Mari kami pulang. Jalan selanjutnya tiada pintu. untuk dapat kembali, tak usah dikejar ke dalam sana!”
Pelan-pelan Hun Thian-hi manggut-manggut, bersama Pek Si-kiat ia putar balik ke tempat semula dimana Coh Jian-jo masih menunggu. Setelah dapat bergerak bebas Coh Jian-jo bertanya, “Kemana Tok-sim-sin-mo? lari masuk ke dalam istana sesat bukan?”
Perlahan-lahan Thian-hi manggut sebagai jawaban, lalu katanya, “Apakah Coh-cianpwe tahu bahwa Ni-hay-ki-tin benar-benar berada di dalam istana sesat sana? Atau mungkin merupakan lagenda belaka?”
“Sebenar-benarnyalah bahwa Ni-hay-ki-tin memang berada, di dalam istana sesat itu,” demikian ujar Coh Jian-jo kalem, “Tapi mungkin tiada seorang pun yang bakal mampu menjangkaunya. Demikian juga Tok-sim-sun-mo akan sia-sia masuk kesana!”
“Kenapa begitu?” tanya Thian-hi tidak mengerti.
Coh Jian-jo menghela napas panjang seraya menggeleng kepala, agaknya ia segan bicara, sesaat setelah merenung baru ia buka suara pula, “Istana sesat memang punya sangkut paut yang sangat erat dengan leluhurku. Dulu kala pernah terjadi gelombang pertikaian dalam dunia Kangouw, seorang-orang gembong iblis yang berkepandaian tinggi entah dari mana dapat memperoleh sejilid buku Ni-hay-pit-kip, kemudian kepandaian silatnya teramat tinggi dan sukar diukur, tiada seorangpun tokoh-tokoh persilatan dalam Bu-lim yang menjadi tandingannya, entah berapa banyak yang sudah menjadi korban keganasannya. Tapi akhirnya, ia insaf dan sadar akan kelalimannya. ingin ia membakar Ni-hay-pit-kip itu, tapi merasa sayang dan eman2. Belakangan ia memperoleh suatu ilham, bersama seluruh benda-benda mestika koleksinya yang tak ternilai itu ia suruh leluhurku membuat istana sesat itu. seluruh miliknya ia pendam dan simpan di dalam istana sesat itu, harapannya supaya segaia milik yang bakal ditinggalkan itu akan selalu terpendam dan tidak bisa muncul pula dialam semesta ini.” sampai disini ia menghela napas, lalu menunduk diam, sesaat kemudian baru melanjutkan pula, “Tapi tak lupa ia meninggalkan sebuah peta bergambar yang teramat rahasia.”
Thian-hi maklum kemana arah tujuan ucapan Coh Jian-jo ini. Kalau tokoh lihay itu tidak suka mewariskan seluruh miliknya kepada generasi mendatang, jadi leluhur Coh Jian-jo itulah yang secara sembunyi dan terahasia mewariskan gambar peta itu, maka tidaklah heran jika Coh Jian-jo sukar membuka mulut.
Sekali lagi Coh Jian-jo menghela napas, ujarnya, “Menurut ajaran dan pesan leluhur kami turun temurun supaya jangan timbul sifat tamak dan mengincar Ni-hay-ki-tin itu, malah dilarang pula untuk membicarakannya.
Pek Si-kiat tertawa tawar, timbrungnya, “Kalau begitu Ni-hay-ki-tin akan lebih memincut perhatian khalayak ramai. Kalau toh dia menyimpannya di dalam istana sesat dan tidak menghancurkan benda-benda itu, ini berarti bahwa dia sengaja memang hendak mewariskan kepada generasi mendatang.”
Coh Dian-jo tertawa getir. ujarnya, “Biarlah aku bicara terus terang saja, Leluhurku itu memang akhirnya timbul sifat tamaknya, dengan nekad ia masuk ke dalam istana sesat itu hendak mengambilnya keluar, tapi sekali masuk selamanya tidak pernah keluar lagi. Putranya menunggunya sampai sepuluh tahun dan diapun menyusul masuk kesana, setelah kembali saketika pun ia tidak bicara dan tidak pernah menyinggung persoalan ini. Gambar peta itu ia simpan ke dalam kerangka Badik buntung itu, dan untuk selanjutnya persoalan Ni-hay-ki-tin ini menjadi terpendam dan dilupakan orang. dan untuk selanjutnya pula beliau menegakkan undang2 keluarga itu.”
Pek Si-kiat tak bicara lagi. Sebaliknya Hun Thian-hi membatin, “urusan ini rada ganjl, istana sesat yang dibangunnya sendiri kenapa setelah dia masuk kesana tidak bisa keluar pula, entah peristiwa apa yang telah terjadi?”
Begitulah dengan langkah tenang dan mantap mereka beranjak keluar beriringan. Dari saku bajunya Pek Si-kiat merogoh keluar buntalan kantong obat diangsurkan kepada Hun Thian-hi, katanya, “Obat pemunahnya semua dapat kurampas!”
Sebenar-benarnya hati Thian-hi juga sedang memikirkan obat pemunah racun ini, ia merasa sangat kebetulan serta ujarnya tertawa, “Untuk selanjutnya hakikatnya Tok-sim-sin-imo tidak akan punya pegangan untuk mengancam dan menekan kami. Lam-bing-it-hiong dan lain-lain selanjutnya juga bisa merubah haluan kejalan lurus. Persengketaan Bu-lim utk selanjutnya mencapai titik penyelesaiannya, semoga selanjutnya semua orang dapat hidup sejahtera dan sentosa!”
Tak lama kemudian mereka sudah tiba diambang mulut gua, Ham Gwat dan lain-lain sedang menunggu dengan hati kebat kebit. Begitu mereka keluar Coh Siau-ceng lantas berpekik kegirangan dan memburu maju ke dalam pelukan Coh Jian-jo, mereka menangis berpelukan.
Sekilas Thian-hi pandang Ham Gwat lalu menghampiri ke arah Hwesio jenaka, katanya tergagap, “Siau-suhu….” tak kuasa ia melanjutkan kata-katanya, kepala tertunduk.
Berkilat biji mata Hwesio jenaka, katanya tertawa lebar, “Tak perlu diungkat lagi, soal itu aku sudah tahu seluruhnya. Sebab musahabab persoalan ini kelak kau akan tahu jelas. Bila kau ketemu Ah-lam Cuncia, beliau bisa memberi penjelasan kepadamu hal-hal yang ingin kau ketahui, sekarang jangan kau risaukan persoalan ini.”
Thian-hi tidak paham akan kata-kata Hwesio jenaka.
Dalam pada itu, Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain maju ke depan Hun Thian-hi serta kata mereka, “Sekakarang kami sudah sadar, untuk selanjutnya kami tidak akan turun gunung dan berkecimpung di Kang-ouw. Hun-siauhiap kami mohon diri!”
“Ah kenapa para Ciaupwe begitu sungkan!” cepat Thian-hi menyahut
Lam-bing-it-hiong berkata sambil menghela napas, “Kelak bila Hun-siauhiap memerlukan tenaga kami silakan panggil saja, kami pasti bantu sekuat tenaga, Hun-siauhiap tidak usah rikuh!”
“Memang tidak lama lagi mungkin aku perlu bantuan kalian, biarlah lain waktu kita bicara lagi, bila ada waktu aku pasti bertandang ke tempat Cianpwe masing-masing.”
Be-ramai-ramai Lam-bing-it-hiong dan lain-lain lantas ambil berpisah.
Sekarang ganti Ham Gwat yang maju kehadapan Hun Thian-hi katanya perlahan, “Hun-siauhiap. Gwat-sian sudah berangkat pulang ke Thian-bi-kok!”
Thian-hi jadi melongo, tahu dia bahwa Ham Gwat pasti sudah bertemu dan bicara dengan Gwat-sian, dan yang jelas bahwa hubungan mereka adalah begitu intim.
Melihat sikap Thian-hi itu Ham Gwat melanjutkan berkata, “Dia adalah adik angkatku, kuharap kau tidak me~nyia-nyiakan cintanya. Bagaimana keadaannya kau kan sudah jelas, sekarang juga kau harus cepat menyusul kesana.”
Sekian lama Thian-hi terlongong, bicara menurut sanubarinya memang ia harus segera menyusul ke selatan, apalagi jiwa hidup Ma Gwat-sian tinggal tiga bulan lagi, betapapun ia tidak tega meninggalkan kesan buruk kepada gadis remaja yang lemah lembut. Soalnya adalah kata-kata ini terucapkan oleh Ham Gwat maka kepentingan ini menjadi lain pula artinya, seolah-olah ia dibayangi kekuatiran lain, bahwa dia tidak sepantasnya melakukan hal itu,
Mendadak terasa olehnya bilamana ia melakukan hal ini, berarti dia telah menipu Ma Gwat-sian, dapatkah dibenar-benarkan kelakuanku ini. Begitulah perang bathin berkecamuk dalam benaknya, entahlah sesaat ia sulit mengambil kepastian.
Kata Ham Gwat lagi, “Kuharap kau segera Berangkat, tapi bila kau tidak sudi menyusul kesana akupun tidak memaksa, tapi dapatkah kau mempertanggung jawabkan kepada sanubarimu?”
Thian-hi mengertak gigi, ia menunduk penuh penderitaan batin, bayangan Gwat-sian selalu terbayang dalam benaknya. Tapi sekarang dia menghadapi Ham Gwat. sedang Ham Gwat minta dia segera pergi, bila benar-benar dia melaksanakan kehendaknya, entah bagaimana akibatnya kelak. Tak berani ia memikirkan lebih lanjut, apalagi kedengarannya Ham Gwat menggunakan nada yang ganjil bicara padanya. serta merta timbul rasa sungkan dalam hatinya untuk menampik permintaannya itu, tapi ia tidak kuasa menampilkan rasa hatinya itu dengan kata-kata, seolah-olah dadanya menjadi sesak dan sulit terlampias.
Dengan lekat Ham Gwat pandang Thian-hi agaknya iapun dapat memaklumi perasaan Thian-hi, pelan-pelan ia menambahkan, “Ajahku pergi mencari ibuku, sengaja kukemari memberitahu akan hal ini!” lalu ia menunduk serta sambungnya, suaranya lebih lirih, “Kecuali itu aku tiada cara lain untuk mengatasi persoalan ini! Gwat-sian adalah anak angkat ayah, hubungan kami sangat baik, aku tidak tega melihat ia pulang dengan hati yang hancur dan putus asa, ini akan membawa akibat yang lebih fatal bagi kesehatan badannya yang lemah itu.”
Thian-hi menjadi haru, katanya angkat kepala, “Biarlah kuajak dia kembali, nanti kubawa ke Bu-lu-si untuk mencari kalian bagaimana?”
Ham Gwat manggut-manggut dengan tersenyum.
Thian-hi berdiri kesima, matanya mengawasi Ham Gwat tanpa bicara, sejak ia melihat Ham Gwat dulu selamanya belum pernah melihat orang unjuk tawanya. Baru pertama kali ini ia melihat senyum dan tawa orang. Senyum laksana sekuntum bunga mekar berpeta di wajahnya nan aju elok, hatinya menjadi hangat dan terhibur, segala kerisauan hatinya seketika tersapu lenyap.
Dikejap lain senyum Ham Gwat hilang dan matanya mengawasi tajam memancarkan sorot aneh, seketika Thian-hi seperti dibuat sadar, mukanya menjadi panas, katanya cepat, “Sekarang juga aku berangkat menyusul ke Thian-bi-kok!”
“Hun-toako,” segera Su Giok-lan maju menghampiri, “Aku sudah pergi ke tempat Suhu dan lain-lain, malah ayahku juga berada disana. Bersama Ham Gwat Cici kami menuju ke Bu-la-si lalu membawa ibunya tinggal di Jian-hong-kok, kau langsung kesana saja menunggu kami!”
Thian-hi manggut-manggut, tanyanya, “Apakah Suhu dan lain-lain baik-baik saja?”
“Mereka ada berpesan setelah ketemu kau supaya kau tidak usah kuatir pada mereka malah keadaanmu yang serba sulit ini harus hati-hati.”
Thian-hi manggut-manggut.
“Untuk menyusul ke selatan pasti sulit dapat menemukan jejak mereka, dan belum tentu bisa kecandak, lebih baik kau naik burung dewata saja lebih cepat.” demikian usul Giok-lan.
Thian-hi mengiakan sambil tertawa.
Su Giok-lan segera memanggil burung dewata, cepat Thian-hi naik ike atas punggungnya terus ambil berpisah sama Ham Gwat dan lain-lain, kejap lain burung dewata sudah pentang sayap dan langsung terbang ke arah selatan.
Begitulah selama satu hari satu malam Thian-hi diajak bertamasya di atas udara, hari itu burung dewata menukik turun dan masuk ke dalam hutan mencari buah2an, menurut perhitungan Thian-hi dimana. sekarang dia berada sudah termasuk wilajah Thian-tom, tak lama lagi pasti ia dapat menyusul Ma Gwat-sian. Thian-hi duduk di bawah sebuah pohon rindang untuk istirahat.
Begitulah tengah ia menepekur mengawasi awan yang berbondong-bondong di atas langit, mendadak sebuah suara lirih berkeresek di belakangnya.
Sebagai seorang persilatan lantas Thian-hi tahu bahwa seorang tokoh lihay telah muncul berada di belakangnya, ia pura-pura duduk tenang, pikirnya; ‘dalam hutan belukar begini tokoh-tokoh persilatan macam apakah yang muncul disini.’
Suara keresekan itu semakin dekat dan jelas, tak tahan lagi secepat kilat Thian-hi mencelat berputar, tubuhnya melayang ke depan, waktu ia berdiri menginjak tanah dalam jarak setombak lebih badannya sudah berputar ke arah hutan.
Terdengarlah gelak tawa yang menggila, tampak Ang-hwat-lo-mo muncul dari dalam hutan.
Bercekat hati Thian-hi, pikirnya, “Keparat kenapa ketemu dia lagi, apakah dia memang sedang menguntit aku? Tidak mungkin!” — alisnya segera terangkat tinggi, jengeknya, “Kukira siapa, ternyata kau!”
Thian-hi heran waktu di Siong-san Ang-hwat-lo-mo mengadu domba sebelum melarikan diri kenapa sekarang berani muncul pula di hadapannya, pasti dia punya pegangan untuk menghadapi dirinya. Serta merta Thian-hi meningkatkan kewaspadaannya.
Setelah puas dengan gelak tawanya, Ang-hwat-lo-mo membuka kata, “Aku tahu kau pasti datang, maka kutunggu kau disini!”
Thian-hi tatap orang dengan pandangan curiga, ia tidak percaya bahwa Ang-hwat-lo-mo bisa tahu bahwa dirinya bakal datang, sesaat kemudian baru ia membuka kata pula, “Begitukah? Aku sendiri tidak tahu sebelumnya bahwa aku akan kemari.”
“Sebaliknya aku tahu pasti bahwa kau akan datang,” demikian ujar Ang-hwat-lo-mo, “Demi Ma Gwat-sian masakah kau tidak kemari?” lalu ia menyeringai dengan sinis.
Tersentak sanubari Thian-hi, serta merta terasa olehnya bahwa Ma Gwat-sian pasti sudah mengalami kesulitan, kalau tidak mustahil Ang-hwat-lo-mo bisa menyinggung dan mengetahui persoalan ini, sedapat mungkin ia kendalikan gejolak hatinya, sesaat baru berkata, “Ma Gwat-sian yang kau maksudkan? Sekarang aku sedang mencarinya!”
“Selamanya aku teramat kagum dan simpatik terhadap kau, Dalam keadaan yang terpaksa baru aku ambil sikap yang bermusuhan dengan kau. Seperti peristiwa di Siong-san tempo hari, kenyataan mendesak aku untuk berbuat menurut tuntutan nuraniku. Kalau tidak masa aku suka bersikap berlawanan dengan kalian!”
Mendengar orang tidak mau menyinggung persoalan Ma Gwat-sian hati Hun Thian-hi menjadi gundah, namun ia pendam dalam batin, supaya Ang-hwat-lo-mo tidak bersikap terlalu takabur dan main paksa terhadap dirinya.
Dengan tawar ia berkata, “Apa gunanya kau kagum atau simpatik terhadapku. yang terang justru aku sangat benci padamu, terutama sepak terjangmu terlalu memualkan.” Dengan cercahannya ini ia berusaha memancing kemarahan Ang-hwat-lo-mo supaya orang suka memberitahu sampai dimana keadaan bahaya yang dialami Ma Gwat-sian. Dengan demikian ia bisa mempersiapkan diri mencari daya untuk menolongnya.
Tapi Ang-hwat-lo-mo adalah seorang yang licik dan pintar juga, ia mandah tertawa tawar saja, ujarnya, “Meski kau membenci aku, tapi ada kalanya kau harus bekerja sama dengan aku, betul tidak?”
“Bisa saja kau berkesimpulan begitu, tapi mungkin pula selamanya aku tidak akan sudi kerjasama dengan kau!”
“Jangan kau bicara begitu pasti. kerja sama yang kumaksudkan bukan dalam arti yang sesungguhnya, adalah kau yang harus melaksanakan sesuatu kepentingan untukku.” — lalu ia angkat pundak dan melebarkan tangannya, sambungnya, “Anak muda jangan mengumbar adat, sesuatu peristiwa kadang kala terjadi diluar dugaan, maka jangan kau terlalu yakin akan dirimu, benar-benar tidak?”
Hun Thian-hi mendengus tanpa bersuara.
“Bukankah kau sedang mencari Ma Gwat-sian? Aku dapat mempertemukan kau dengan dia, baiklah kujanjikan besok pagi2 di Bik-hiat-kok terletak di depan yang tak jauh sana boleh kau ke sana untuk menemuinya.” — habis berkata ia tersenyum penuh arti, tubuhnya mendadak berkelebat dan berlari pergi sekencang angin.
Thian-hi melenggong, akibat ini sudah sejak tadi terpikir olehnya, namun mau tak mau ia berkuatir juga bahwa Ma Gwat-sian terjatuh ke tangan Ang-hwat-lo-mo.
Meski ilmu silat Ang-hwat-lo-mo menurut ukuran Thian-hi sekarang tidak begitu tinggi, namun dia lebih sukar dilayani dan lebih licin dari Tok-sim-sin-mo, bukan saja lebih pintar dia pun jauh lebih sabar dan tahan uji, benar-benar sulit untuk menghadapi persoalan rumit ini….
Pikiran Thian-hi semakin gundah dan kusut, berbagai persoalan sama menumpuk di dalam benaknya, bagaimana karakter Ang-hwat-lo-mo ia paham benar-benar, dialah manusia telengas dan kejam. mampu melaksanakan segala kekejian tanpa pandang bulu dan tidak hiraukan akibatnya, entah rencana apakah jaug hendak diatur oleh Ang-hwat-lo-mo untuk menyambut kedatangannya di Bik-hiat-kok besok pagi.
Apakah aku pantang kesana? Tidak mungkin, Ma-Gwat-sian berada di tangan Ang-hwat-lo-mo entah akibat apa yang bakal menimpa dirinya.
Begitulah Thian-hi merenung dan berpiklr bolak-balik, terasa bahwa selama ia belajar silat kepada gurunya dan terjun di dunia persilatan belum pernah ia hidup sehari pun dalam ketenangan, setiap waktu selalu menghadapi berbagai ancaman dan kesulitan yang melibatkan diri sehingga selalu terancam elmaut, dan yang lebih celaka bahwa setiap persoalan itu semua memeras keringat dan daya pikirnya sehingga akhirnya tentu tele2 kehabisan tenaga.
Mendadak terdengar suara lirih dibelakangnya, bercekat hati Thian-hi, pengalaman mengetuk nalarnya bahwa disebelah belakang ada seorang tokoh persilatan kelas wahid, suara lirih itu adalah pertanda orang memberitahu kepada dirinya akan kehadirannya.
Hati-hati sekali Thian-hi berpaling ke belakang, sesosok bayangan abu-abu mencelat tinggi terus menerobos masuk ke dalam hutan laksana segulung asap, gerakannya begitu gesit dan seenteng burung walet.
Melihat gerak-gerik orang Thian-hi menjadi ragu-ragu entah pendatang ini kawan atau lawan, yang terang ia memberi tanda supaya dirinya mengejar kesana, sedikit berpikir tanpa ayal segera ia melejit terbang-mengejar dengan kencang pula.
Kepandaian silat bayangan abu-abu itu ternyata cukup hebat, kejar mengejar ini tetap berlangsung dalam jarak antara beberapa tombak, meski lari mereka cukup pesat tapi Thian-hi tahu bahwa orang belum menggunakan seluruh tenaganya, yang terang memang ia sengaja memancing supaya Thian-hi mengikuti jejaknya.
Dalam kejap lain mereka sudah menempuh jarak lima li lebih, bayangan orang itu mendadak menyelinap hilang ke dalam hutan disebelah depan. Diam-diam Thian-hi merasa heran, kalau toh orang itu memancing dirinya kemari kenapa dia menyembunyikan diri tidak mau memberi petunjuk seperlunya? Adakah persoalan lainnya?
Karena pikirannya serta merta timbul kecurigaannya larinya pun diperlambat, namun ia maju terus sampai tiba di depan hutan, keadaan sekelilingnya hening lelap tak kelihatan lagi jejak orang itu.”
Tanpa sangsi sedikitpun Thian-hi langsung menerobos masuk ke dalam hutan, di atas sebuah dahan terlihat olehnya tergantung secarik kertas, Thian-hi lantas meraihnya, tampak kertas itu tertulis demikian, “Tidak begitu menakutkan seperti yang dihebohkan.” Tulisan ini tiada tanda tangan dan juga tidak dibubuhi nama terang, Thian-hi mandah tertawa tawar saja lalu melempitnya dan disimpan di dalam sakunya sementara matanya menjelajah kesekitarnya.
Disebelah kanan diujung hutan sana tampak sebuah aliran sungai yang mengalir keluar. Tahu-tahu jantungnya berdetak dan menjadi tegang, karena secara mendadak didapatinya bahwa sekarang dirinya sudah tiba diambang mulut Bik-hiat-kok yang dijanjikan Ang-hwat-lo-mo itu dalam mengejar bayangan abu-abu tadi. Entah Ang-hwat-lo-mo sudah tahu belum akan kedatangannya ini. Baru saja pikiran ini berkelebat dalam benaknya, ternyata Ang-hwat-lo-mo tiba-tiba muncul dimulut lembah darah kemala.
Ang-hwat-lo-mo tertawa-tawa, serunya, “Agaknya kau terburu nafsu, kujanjikan kau datang besok pagi, ternyata malam2 begini kau sudah meluruk kemari, apakah kau tidak merasa terlalu berbahaya?”
Thian-hi terpikir, “Menemui Ma Gwat-sian lebih pagi agak baik, apalagi Ang-hwat-lo-mo tentu belum selesai mengatur tipu muslihatnya, siapa tahu ak